Kisah Sepasang Anak Harimau
“Baik kek, perhatikan guru,” seru raden Purbaya
kemudian dalam satu gerak cepat putra mahkota karang
Sedana itu memperagakan jurus-jurus dari Mamang
Kuraya, kincir metu tingkat pertama, gerbang dewata
disusul jurus kincir metu tingkat dua, tiga, empat dan
ditutup dengan jurus kincir metu tingkat lima. Dan semua
rangkaian gerak kincir metu itu diperagakan raden
Purbaya hanya bertumpu dengan satu kaki. Kedua mata
cekung Jerangkong Hidup terbelalak bilamana sang murid
menyelesaikan gerakanya.
“Hehehe…, terkapar sudah gurumu itu,” teriak
Mamang Kuraya. Nah pecahkan jurusku itu dalam satu
hari ini.” Pungkasnya.
“Kurang ajar. Hemmm…, aku akui jurus kincir
metu mu itu memang hebat Kuraya. Sekarang giliranku.
Ayo Purbaya.” Kata Jerangkong Hidup. Kedua murid dan
guru itupun pergi meninggalkan Mamang Kuraya.
“Purbaya apa kau berhasil mendapakan pil itu?”
“Ini guru,” kata raden Purbaya sambil
menyerahkan satu butir pil berwarna kuning. Beberapa
lama mata Jerangkong Hidup tatap pil yang kini berada
dalam telapak tangan kanannya.
“Apa maksud Kuraya, semudah ini kakekmu itu
memberikan pil dewa ini padaku?”gumam Jerangkong
Hidup.
“Percayalah guru. Kakek tulus ingin membantu
guru.”
“Baiklah,” sela Jerangkong Hidup kemudian
dengan cepat menelan pil tersebut.
“Nah Purbaya kini perhatikan jurus khusus yang
akan aku berikan padamu ini.”
151
Babad Tanah Leluhur
“Baiknya guru istirahat, sambil menunggu reaksi
dari pil tersebut.”
“Ini pil mujarap. Ia akan bekerja dengan
sendirinya. Nah perhatikan jurus khusus ini,” kata
Jerangkong Hidup kemudian dengan mengandalkan kedua
tanganya dia mulai memperagakan jurus yang dikatakan
khusus tersebut.
“Purbaya. Apa kau sudah paham dengan gerakan
itu.”
“Paham guru.”
“Sebagai tambahan. Diakhir gerakmu lemparkan
benda ini pada kekek mu.” Kata Jerangkong Hidup sambil
menyerahkan dua benda bulat pipih pada Raden Purbaya.
“Sekarang ayo kita temui kakek mu itu.”
“Baik guru,” kedua lanyas keluar dari lamping
batu dimana selama itu Jerangkong Hidup membimbing
raden Purbaya.
“Hai Kuraya. Aku sudah siap memperlihatkan
jurus pamungkasku.”
“Belum setengah hari kau sudah muncul
Jerangkong.”
“Tunggu dulu, aku merasakan beberapa orang
menuju kemari. Akan aku bereskan mereka,” seru
Jerangkong Hidup kemudian melesat menyongsong tiga
orang yang datang ke arahnya.
“Teryata kalian lagi? Minta mati rupanya.” geram
Jerangkong Hidup.
“Kami tidak ada urusan dengan kalian,” sungut
sang gadis manis yang tak lain dari Anting Wulan, saat ini
bersama Sariti dan raden Karmapala yang akan menuju
152
Kisah Sepasang Anak Harimau
kali Cagak dimana gurunya resi Wanayasa tinggal untuk
semantara waktu.
“Hemmhhh, kurang ajar kau berani membentakku,
rasakan ini,” sentak Jerangkong Hidup lantas menggempur
Anting Wulan dan Sariti. Kedua gadis manis itu segera
menyambut serangan Jerangkong Hidup bersama-sama.
Namun apalah daya keduanya bukan tandingan
Jerangkong Hidup. Sariti dan Anting Wulan terlempar
beberapa depa ke belakang kemudian muntah darah.
Terkapar di rerumputan. Keduanya menderita luka dalam
yang cukup parah.
“Jerangkong apa yang kau lakukan?”
“Akan kubunuh mereka.”
“Apa kau sudah menyerah kalah Jerangkong.
Jangan kau jadikan alasan kedua gadis itu. Ayo kita
lanjutkan, kau belum memperlihatkan jurusmu padaku.
“Purbaya, gara-gara kau aku terus sial. Aku
menyesal mengenalmu. Pangeran miskin.” Kata raden
Karmapala yang tiba-tiba membuka suaranya.
“Cukup raden, aku muak dengan semua
ucapanmu.”
“Eh, kau berani menentangku. Rasakan ini
pangeran miskin, pangeran sudra.” Sentak raden
Karmapala lantas menerjang raden Purbaya. Namun yang
dihadapinya kali ini bukan Purbaya kemarin, sekarang
putra mahkota Karang Sedana itu adalah seseorang yang
sudah mendapat gemblengan selama beberapa hari dari
kedua tokoh maha sakti di zamanya, maka dalam satu
gerak raden Karmapala terkapar mencium tanah.
“Hehehe…, menarik sekali,” gumam Jerangkong
Hidup. “ Aku akan memelihara dua anak harimau. Akan
153
Babad Tanah Leluhur
aku sediakan waktu luas untuk kalian berkelahi
sepuasanya. Hehehe…”
“Purbaya perlihatkan jurus yang barusan aku
ajarkan itu pada kekek mu, cepat.”
“Baik guru. Nah kek, perhatikan,” kata raden
Purbaya lantas memperagakan jurus khusus dari
Jerangkong Hidup itu dengan cepat. Dan diakhir gerak
seperti yang diperintahkan Jerangkong Hidup, raden
Purbaya lempar dua buah benda bulat pipih pada Mamang
Kuraya.
“Hehehe…, jurus mengadu nyawa rupanya,”
gumam Mamang Kuraya yang tidak curiga sama sekali dia
tangkap kedua benda bulat pipih itu dengan kedua
tangannya. Seketika jarum-jarum halus yang berada di
dalam benda bulat pipih itu mencuat keluar dan menusuk
telapak tangan Mamang Kuraya.
“Ahhh…, kau…, kau curang Jerangkong.” Sentak
Mamang Kuraya, dia segera salurkan tenaga inti untuk
menanggulangi sengatan jarum-jarum beracun namun kali
ini bisa ular api menjalar lebih cepat sampai ke jantung
Mamang Kuraya membuat pendekar kosen itu meregang
nyawa seketika.
“Haaa. Hehehe…, kita berhasil Purbaya,” seru
Jerangkong Hidup lantas berkelebat mendekati Mamang
Kuraya.”
“Bagaimana Kuraya?” kata Jerangkong Hidup
sambil mengoyang tubuh lawannya yang mulai kaku.
“Huh…, sudah mati kau Kuraya.”
Jerangkong Hidup tampak meraba sekujur tubuh
Mamang Kuraya, dari balik lipatan pakaian dia
menemukan sebuah kitab kecil dan satu bumbung kecil.
154
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Obat dewa dan kitab pusaka semadi dewa gila,”
gumam Jerangkong Hidup kemudian bergegas menyambar
raden Karmapala dan mengajak pergi raden Purbaya yang
tapak kebingungan dengan apa yang baru saja dia lakukan
pada kekeknya. Seperti kerbau dicocok hidung pangeran
mahkota itu mengikuti Jerangkong hidup
“Hai jangan kau bawa pergi raden Karmapala!”
sentak Anting Wulan. Pendekar ning sewu dan Sariti yang
terluka dalam cukup parah hanya bisa duduk nanar di
rereumputan.
“Aku pinjam dia dalam beberapa tahun dan aku
kembalikan setelah dia menyerap semua ilmu kesaktianku.
Akan aku jadikan pendekar tangguh, dunia persilatan
tanah Jawa dan Pasundan akan kembali geger.
Hahahaha…” Sentak Jerangkong Hidup sambil melesat
cepat sembari memanggul tubuh raden Karmapala di bahu
kiri dan mencekal tangan raden Purbaya. Sosok ketiganya
kini sudah terlihat jauh dan menghilang ketika melewati
dinding-dinding karang bukit batu larang.
“Bagaimana keadaan mu Sariti?”
“Dadaku sesak sekai Wulan.”
“Aku coba membantumu dengan tenaga murniku,
Sariti tempelkan kedua telapak tanganmu.”
“Baik Wulan.”
Beberapa saat setelah Anting Wulan menyalurkan
tenaga murninya, Sariti merasakan dadanya sedikit lega.
“Cukup Wulan, aku sudah baik, dadaku sedikit
lega.”
“Aku khawatir sekali Sariti. Bagaimana
mengatakan semua ini pada eyang resi.”
155
Babad Tanah Leluhur
“Kau katakana saja dengan jujur, apa yang
sebenarnya terjadi.”
“Aku khawatir raden Karmapala kelak mejadi iblis
seperti Jerangkong Hidup dan durjana licik seperti raden
Purbaya yang tega membunuh eyang guru Mamang
Kuraya.
“Baikya kita tutupi tubuh eyang gurumu ini dengan
bebatuan.”
“Ayolah Sariti.”
Matahari mulai meninggi ketika kedua gadis
perkasa itu usai mengubur jenazah Mamang Kuraya.
“Sariti. Apa rencanamu selanjutnya?”
“Aku akan menemui paman Camar Sulung di kota
Rupada. Ada beberapa hal yang harus aku laporkan. Kau
sendiri mau kemana Wulan?”
“Aku ke kali Cagak, menemui eyang resi dan
melaporkan dengan jujur apa yang terjadi sesuai
saranmu.”
“Baiklah Wulan. Kita berpisah di sini.”
“Hati-hatilah kau Sariti dan sampaikan salamku
pada paman Camar Sulung dan ki Parang Pungkur,
gurumu.”
“Baik Wulan.”
Setelah tidak ada lagi yang dilakukan di tempat itu,
kedua gadis perkasa itupun berpisah. Suasana bukit batu
larang kembali hening, sepi dan sunyi seakan tidak pernah
terjadi apapun sebelumnya di tempat itu.
-o0o-
156
Kisah Sepasang Anak Harimau
Karang Sedana.
Dua purnama sudah ki Dalem Sentana yang kini
telah menabalkan diri sebagai raja baru Karang Sedana
dengan gelar Prabu Jaya Sentana mengambil alih
pemerintahan dari prabu Aji Konda yang keberadaanya
sampai sekarang tidak diketahui rimbanya setelah dalam
pertempuran kudeta berdarah itu diselamatkan oleh satu
sosok misterius berjubah dan bertopeng hitam.
Suasana kota raja Karang Sedana mencekam.
Hampir tiap hari prajurit-prajurit ronda keluar masuk desa-
desa di sekitar kaki Gunung Ciremai tersebut, tujuannya
tidak lain yakni mempersiapkan prajurit-prajurit baru baik
secara sukarela ataupun paksaan. Hal itu disebabkan janji
ki Dalem Sentana pada Rahyang Purbasora atau Prabu
Sora. Penguasa baru Karang Sedana itu menjanjikan
menyediakan lima ribu prajurit untuk membantu
kepentingan dan rencana besar Prabu Sora yang dulu
pernah membantunya menggulingkan takhta prabu Aji
Konda.
Hari masih sangat pagi ketika sepuluh orang
prajurit yang bertugas mengumpulkan para pemuda dan
orang tua yang masih sehat mendatangi satu per satu
beberapa rumah di pinggir ibu kota Karang Sedana.
“Ada apa tuan prajurit?” kata seorang tua paruh
baya ketika pintu rumahnya digedor secara kasar.
“Mana keluargamu?”
“Bukankah sepekan lalu tuan prajurit sudah
membawa anak laki-laki saya?”
“Aku tahu, kau masih mempunyai seorang anak
leleki lagi. Dimana dia?”
157
Babad Tanah Leluhur
“Eh, anu tuan…, sedang berkunjung ke desa
sebelah bersama ibunya. Tapi…, tapi dia tidak tertarik
menjadi prajurit tuan. Dia ingin meneruskan usaha saya
sebagai pedagang.”
“Kami tidak peduli. Kalau begitu kau sebagai
penggantinya. Ayo ikut kami!” sentak prajurit ronda itu
bengis.
“Ehh.., tunggu tuan prajurit, saya ada sesuatu bauat
tuan,” kata lelaki itu lantas masuk ke dalam kamar dan
keluar kembali sambil membawa sesuatu ditangan
kanannya.
“Kalung ini untuk tuan.”
“Hemmm…,”
“Besok akan saya kasih yang lebih besar lagi tuan,
tapi tolong saya jangan dibawa ya, tuan…,”
“Heh, baiklah. Kau bebas, besok aku akan datang
lagi kemari.”
“Iya, iya tuan. Terimaksih.”
Tanpa menjawab beberapa prajurit ronda itupun
pergi begitu saja meningalkan lelaki paruh baya yang
tampak menghebuskan napas lega.
“Aku harus meninggalkan Karang Sedana. Mereka
bukan prajurit tapi para perampok,” sungut lelaki paruh
baya dan setelah segala sesuatunya siap diapun segera
pergi meninggalkan kota raja Karang Sedana.
Begitulah kondisi kota raja Karang Sedana setelah
dipegang oleh ki Dalem Sentana bekas penasehat Prabu
Aji Konda yang kini bergelar Prabu Jaya Sentana.
Kehidupan rakyat yang sudah susah semakin menderita
dengan kenaikan dan pungutan pajak semana-mena. Pun
158
Kisah Sepasang Anak Harimau
dengan apa yang dialami ki Cengkara, paman dari Intan
Pandini.
Lalaki tua itu tampak gusar ketika baru datang dari
membayar pajak. Beberapa luka yang masih meneteskan
darah tampak di sekujur tubuhnya. Sang istri dan
keponakannya Intan Pandini menyambut lelaki tua itu
dengan rasa terkejut.
“Ada apa aki? Apa yang terjadi dengan dirimu.”
“Hehh, mereka itu bukan prajurit, nini. Tapi para
perampok. Mereka merampas cincin permataku. Katika
aku mempertahankannya mereka ramai-ramai
memukuliku.”
“Kita harus melaporkannya pada patih Darpo, ki.”
“Ahh, dia sama saja dengan para prajurit itu nini.
Patih Darpo ada di sana ketika aku dipukuli. Tapi dia
hanya diam saja.”
“Paman tidak apa-apa?” kata Intan Pandini. Gadis
ayu itu begitu mengkhawatirkan kondisi pamannya.
“Intan tolong ambil air hangat untuk mengompres
luka pamanmu.”
“Baik bi,” gadis ayu itupun bergegas ke dapur.
“Kota raja Karang Sedana seperti neraka saja nini.
Pajak melambung tinggi. Banyak para penduduk
meninggalkan rumahnya.”
“Lalu apa rencana aki?”
“Kita juga harus meningalkan neraka dunia ini.”
Dari pintu dapur muncul Intan Pandini membawa
semangkok air hangat. Dengan telaten gadis ayu itu mulai
membersihkan luka-luka ki Cengkara dibantu bibinya.
“Maksud aki, kita mengungsi?”
159
Babad Tanah Leluhur
“Betul nini. Kita tinggalkan Karang Sedana.”
“Kita mau kemana paman?”
“Sumedang Larang, Intan. Ayo lekas beres-beres.
Kalian berangkat duluan, kita bertemu di luar gerbang.”
“Baik paman.”
Intan Pandini dan nyai Cengkara segera
mempersiapkan segala sesuatunya. Setelah dirasa cukup
keduanya bergegas meninggalkan rumah besar itu dari
pintu belakang.
Senja temaram melingkupi kota raja Karang
Sedana. Hembusan angin dingin menerpa pucuk-pucuk
pohon janakeling yang banyak tumbuh di kawasan bukit
batu, dari perbukitan sebalah selatan terlihat anak gembala
menggiring kerbaunya pulang kandang. Ki Cengkara yang
akan meyusul istri dan keponakanya terhalang oleh
beberapa penjaga pintu gerbang.
“Hai mau kemana kau, ini menjelang senja dan
sebentar lagi pintu gerbang akan ditutup.”
“Ana, anu tuan prajurit saya mau ke desa karang
kamulyan.”
“Karang Kamulyan. Mau apa kau ke sana?”
“Saya mau barobat tuan. Bukankah tuan juga yang
memukuli saya pagi tadi, ketika saya selesai membayar
pajak.”
“Oh kau rupanya, baiklah. Segera kau obati luka-
lukamu itu dan cepat kembali.”
“Baik tuan prajurit. Terimakasih.”
Tertatih ki Cengkara meninggalkan pintu gerbang
Karang Sedana. Di sebuah hutan kecil dia hentikan
langkah.
160
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Nini, Intan…, dimana kalian.”
“Di sini aki, kemarilah.” Terdengar suara parau
seorang wanita tua disusul munculnya dua orang
perempuan dari semak belukar.
“Nini, Intan. Kenapa kalian bersembunyi?”
“Tadi banyak prajurit ronda lewat aki.”
“Iya paman. Kami takut dan akhirnya sembunyi.”
“Ayolah kita tinggalkan tempat ini.”
Ketiganya tampak berjalan beriringan meniggalkan
hutan kecil tersebut seiring rembang petang mulai
melingkupi kawasan sekitar. Hembusan angin dingin
terasa mencucuk persendian begitu ki Cengkara dan istri
serta keponakannya sampai dipinggiran hutan Cikarawan.
“Kita harus melalui hutan itu. Di balik hutan ini
Sumedang Larang tidak jauh lagi.”
“Bagaimana dengan luka-lukamu aki?”
“Ah, tidak apa-apa nini.”
“Kalau aki tidak kuat. Baiknya besok kita kembali
saja, aki.”
“Tidak…, tidak nini. Aku tidak mau kembali ke
neraka dunia itu.”
“Tapi kondisi paman semakin lemah.”
“Sudahlah tidak usah mempedulikan kondisiku,
Intan.”
Susana pinggir hutan Cikarawan semakin kelam, di
angkasa gemuruh samar terdengar disusul kilat melintas
dan gelegar halilintar. Tak berapa lama gerimis tipis turun
dari langit.
“Ahh, hujan aki.”
161
Babad Tanah Leluhur
“Ayo ke sana paman. Sekilas ketika kilat melintas
saya melihat sebuah wuwungan dari ijuk.” Kata Intan
Pandini. Gadis ayu dan bibinya segera memapah ki
Cengkara mendekati sebuah gubuk yang sepertinya sudah
lama ditingalkan pemiliknya. Intan Pandini segera mencari
dan mengumpulkan ranting-ranting dan kayu kering untuk
membuat api unggun di tengah guyuran hujan yang
semakin lebat.
“Intan, aku khawatir api unggun itu memancing
mereka kemari.”
“Tapi paman membutuhkan api ini untuk
menghangatkan badan.”
“Hyahh, kau benar. Tapi…”
Belum kering kalimat ki Cengkara dari bibirnya
derap dan ringkik kuda terdengar berherhenti di depan
gubuk tersebut.
“Celaka. Mereka datang, aku tidak mendengar
kedatangannya karena hujan ini,” gumam ki Cengkara.
“Siapa di dalam. Buka pintu ini cepat, kami
prajurit ronda Karang Sedana.” Terdengar gedoran dan
suara lantang dari luar.
Tergopoh ki Cengkara membukakan pintu.
“Ah, mari tuan-tuan prajurit, menghangatkan
badan dekat api unggun ini.”
“Hem, siapa kau? Apa yang kalian lakukan di
tempat ini.”
“Kami dari Galuh, mau ke Sumedang Larang, tuan
prajurit.”
“Galuh ke Sumedang Larang, bukankah lebih
cepat lewat pinggiran sungai Cimanuk? Kenapa kalian
162
Kisah Sepasang Anak Harimau
malah lewat hutan Cikarawan ini. Dan mengapa tubuhmu
penuh luka.”
“Ini aki. Bajumu sudah kering, pakailah,” sela nini
Cengkara sambil mengangsurkan baju suaminya.
“Itulah tuan prajurit. Baru saja beberapa perampok
menghadang kami.” Sela ki Cangkara.
“Kau mempu mengusir mereka?”
“Be…, benar, tuan prajurit. Saya mampu mengusir
mereka.”
“Hemm, kau membohongi kami pak tua.” Tandas
salah seorang prajurit ronda.
“Maksud tuan prajurit?”
“Luka-luka itu bekas penganiayaan. Jangan-jangan
kau komplotan perampok.”
“Tidak, bukan-bukan tuan prajurit,” kata ki
Cangkara sambil mendekap buntalan kain di dadanya.
Membuat prajurit itu semakin curiga.
“Berikan buntalan kain itu, kami akan
memeriksanya.”
“Jangan, ehh…, ini hanya baju-baju saja tuan
prjurit.”
“Berikan…!”
Tarik menarik antara ki Cengkara dan prajurit
ronda Karang Sedana semakin sengit.
“Sudahlah aki. Berikan saja,” sela nini Cengkara
dengan cemas sambil berangkulan dengan Intan Pandini.
Apa daya, akhirnya buntalan kain itu berpindah tangan
dengan paksa. Mata prajurit peronda itu terbelalak liar
ketika membuka buntalan kain dan melihat isinya.
163
Babad Tanah Leluhur
“Permata dan batu mulia lainya. Jelas sudah kau
gembong perampok. Biar aku amankan barang ini.”
“Tidak. Berikan barang itu padaku. Kalianlah
perampok itu, itu milikku.”
“Ehh, kau berani melawan petugas kerajaan.”
“Kurang ajar kalian semua, ayo berikan barang itu
atau,” secara mengejutkan ki Cengkara cabut golok dari
balik bajunya membuat kedua prajurit itu tambah beringas
dangan sekali gerak bilah tajam prajurit tersebut sudah
bersarang tepat di dada kiri ki Cengkara membuat lelaki
tua itu tewas seketika.
Nini Cengkara menjerit histeris melihat suaminya
tergeletak di lantai gubuk tanpa nyawa. Perempuan tua
itupun kalap dengan segenap kekuatan tuanya dia
berusaha menyerang. Kembali salah seorang prajurit
berkelebat cepat detik berikut senjatanya telah
mengantarkan perempuan tua itu ke alam kelangengan.
Mengetahui paman dan bibinya tewas, Intan
Pandini yang dicekam rasa takut semakin histeris
manakala dengan kasar kedua prajurit ronda itu
menariknya keluar dari gubug. Saat itulah dari balik
kelamnya malam dan derasnya guyuran hujan satu
bayangan hitam sudah berdiri dihadapan ke dua prajurit
tersebut.
“Siapa kau? Orang atau jurig!”
“Anak muda. Lepaskan gadis itu.”
“Hah, hahaha…., kaupun rupanya…,”
“Cuci otak kotormu. Lepaskan gadis itu dan kalian
bisa pergi dengan tenang.”
“Sombong, ayo Lindep kita bereskan dulu orang
tua ini,” sentak salah seorang prajurit lalu mencabut
164
Kisah Sepasang Anak Harimau
pedang disusul rekanya. Namun, cepat dari apa yang
kedua prajurit itu duga. Dalam sekali gerak, tongkat merah
yang dipegang sang orang tua berkelebat melingkar dan
dalam satu detik kedua prajurit Karang Sedana itupun
roboh tanpa nyawa.
“Aku sudah peringatkan…,” kata orang tua
bertongkat merah itu lantas mendekati Intan Pandini.
“Jangan takut anak ayu, saya hanya ingin
menolong.”
“Terima kasih kek, di dalam masih ada paman dan
bibi saya yang sudah mereka bubuh.”
“Marilah kita temui paman dan bibimu itu.”
Keduanya lantas masuk ke dalam gubuk. Intan
Pandini sontak menjerit histeris menyaksikan kedua orang
yang sangat dikasihinya itu sudah tewas mengenaskan.
“Sudahlah anak ayu. Relakan kepergian paman dan
bibimu ini. Mari kita kuburkan dengan layak.”
Intan Pandini hanya menganguk lemah, hujan
sudah reda ketika Intan pandini dan kakek bertongkat
merah selesai menguburkan paman dan bibinya.
“Siapa namamu anak ayu dan mengapa kalian
berurusan dengan prajurit Karang Sedana?”
“Saya Intan Pandini kek, bermaksud ke Sumedang
larang. Tapi kini saya tidak puya siapa-siapa lagi kek.”
“Bagaimana kalau anak ayu ikut kekek?”
“Nama kekek siapa?”
“Orang-orang memanggil ku ki Camar Sulung.”
“Maap kek. Apakah kakek ini dari kelompok
pengemis.”
165
Babad Tanah Leluhur
“Benar, kami berasal dari Jawa. Bagaimana apakah
anak ayu mau ikut kekek.”
“Kalau kakek berkenan antarkan saya ke
padepokan goa larang.”
“Goa larang, apakah anak ayu mengenal seseorang
di sana?’
“Iyah, kakang Saka. Saka Palwaguna.”
“Hemm Saka Palwaguna, baiklah. Tapi sementara
waktu anak ayu ikut ke rumah kekek dulu di kota Rupada.
Setelah itu salah seorang anggota kelompok pengemis
anak mengantarmu.”
“Baiklah kek.”
Setelah tidak ada lagi yang dilakukan di tempat itu
Intan Pandini dan ki Camar Sulung salah seorang anggota
pengemis tongkat merah bergegas meningalkan hutan
Cikrawan menuju kota Rupada.
Menjelang pajar, Intan Pandini dan ki Camar
Sulung telah sampai di kota Rupada. Di depan sebuah
rumah sederhana ki Camar Sulung hentikan langkah.
“Nah, anak ayu silahkan masuk, ini rumah saya.”
Intan Pandini mengangguk, dangan langkah
perlahan gadis ayu itupun masuk ke dalam rumah. Betapa
terkejutnya Intan Pandini ketika sudah berada di dalam.
Suasananya jauh berbeda. Dari luar rumah itu kelihatan
sederhana bahkan terkesan kumuh namun kondisi dalam
rumah itu sangat mewah. Lantainya beralaskan permadani
dari kulit harimau, dinding-dindingnya dari batu granit
dan langit-langit rumah itu terbuat dari papan kayu yang
sangat tebal dan halus. Dalam kekagumanya Intan Pandini
tidak menyadari seorang gadis manis kini sudah berada di
hadapanya.
166
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Ah, Paman Camar Sulung sudah kembali dan ada
tamu rupanya.”
“Heheh, kau benar Sariti. Anak ayu ini kehilangan
paman dan bibinya yang dibunuh prajurit Karang Sedana.”
“Eh, saya Sariti dan siapa namamu adik?”
“Intan Pandini.”
“Oh, adik Intan Pandini.”
“Sariti, anak ayu ini mau ke goa larang.”
“Goa larang. Apakah adik sudah tahu apa yang
sudah terjadi dengan padepokan itu?”
“Tidak, apa yang terjadi dengan goa larang kakak
Sariti.”
“Ehh, tidak terjadi apa-apa. adakah seseorang yang
adik Intan kenal di sana?”
“Kakakng Saka. Iyah, kakang Saka.”
“Saka Palwaguna?”
“Betul kakak Sariti. Kakang Saka Palwaguna.”
“Baiklah adik Intan. Saya akan memberi kabar
Saka Palwagua tentang dirimu. Sekarang istirahatlah
dulu.”
“Baik kakak Sariti.”
Sariti mengangguk dan mengajak gadis ayu itu
masuk ke dalam. Dan siang itu juga Sariti memerintahkan
salah satu anggota tongkat merah ke kali Cagak untuk
mengundang Saka Palwaguna.
Semantara itu di kali Cagak. Resi Wanayasa dalam
beberapa bulan itu tercekam rasa kegelisahan memikirkan
nasib cucunya Raden Karmapala yang diculik Jerangkong
167
Babad Tanah Leluhur
Hidup. Dan ketika utusan dari kota Rupada datang, resi
Wanayasa segera memanggil ke empat muridnya.
“Ehh, bagaimana kondisi kalian. Wulan, Seta?
“Saya sudah sehat eyang.”
“Begitupun dengan saya eyang. Sudah puluh
seperti sedia kala,” kata Seta Keling.
“Bagus. Anak-anakku dalam beberapa hari ini aku
merasa ada sedikit gangguan pada semadi, bahkan dalam
tidur sekalipun.”
“Apakah eyang memikirkan raden Karmapala?”
“Iyahh, kau benar Wulan. Kita tidak bisa
berpangku tangan di kali Jagak. Kita harus menemukan
raden Karmapala.”
“Benar eyang. Kita harus mengadu nyawa dengan
iblis Jerangkong itu.”
“Tidak, Saka. Kita merebut raden Karmapala dari
Jerangkong Hidup dengan berbagai cara. Bukan mengadu
nyawa.”
“Jadi, apa yang harus kita lakukan eyang?”
“Seta. Kita harus terlebih dahulu menemukan
markas Jerangkong Hidup. Baru memikirkan tindakan
selanjutnya.”
“Kita mencari markas iblis itu bersama-sama atau
berpencar, eyang?”
“Wulan. Kita berpencar, itu mengapa aku tidak
mengizinkan kalian melakukan tindakan apapun. Seta dan
Awuk ke selatan, selidiki sampai dataran tinggi
parahiyangan, dan kau Wulan bersama kakangmu Saka, ke
utara. Selidiki di sekitar Haurgeulis juga hutan Loyang.
Jika memungkinkan selidiki sampai pantai utara. Sedang
168
Kisah Sepasang Anak Harimau
aku bersama Cempaka menyelidiki ke barat, hingga
gunung Kendang dan gunung Halimun.”
“Kapan kami harus berangkat eyang?”
“Seta. Besok pagi kalian harus segera berangkat.
Dan untukmu Saka, kau diharapkan singgah di kota
Rupada.”
“Apakah ada hubungannya dengan perguruan
pengemis tongkat merah yang membawa surat tadi
eyang?”
“Benar Saka. Surat itu berasal dari Sariti, dia
mengharapkan kau datang ke sana. Katanya ada seseorang
yang ingin bertemu dengan mu Saka. Orang itu bernama
Intan Pandini.”
“Ada apa dengan Intan Pandini kakang Saka?”
“Bagaimana saya tahu adik Wulan. Bukankah
besok kau pergi bersama ku, kita lihat saja nanti.”
“Ehhh, apakah Sariti tidak mengatakan hal lain
tentang gadis itu eyang?”
“Tidak Wulan. Sariti hanya menulis Intan Pandini
ingin bertemu dengan kakangmu Saka. Itu saja. Nah
beristirahatlah kalian.”
“Baik eyang,” kata keempatnya takzim.
Keesokan harinya sebelum matahari terbit keempat
murid utama padepokan goa larang itu sudah terguncang-
guncang di atas punggung kudanya masing-masing
menjakankan perintah gurunya eyang resi Wanayasa
melacak keberadaan markas Jerangkong Hidup. Ketika
matahari sudah mamancarkan sinarnya Saka Palwaguna
dan Anting Wulan sampai di kota Rupada. Kota besar
yang berada di Kerajaan Galuh.
169
Babad Tanah Leluhur
“Adik Wulan kita sudah sampai di perbatasan kota
Rupada. Ayo istirahat sebentar. Adik Wulan lihatlah
perahu-perahu itu membawa banyak barang dagangan. Eh
adik Wulan kau tidak mendengarkan perkataanku.”
“Kakang Saka. Kau berangkatlah sendiri, aku
menunggumu di sini.”
“Kenapa adik Wulan? Ada apa denganmu.”
“Ehh, aku…, khawatir mengganggu pertemuanmu
dangan Intan Pandini. Bukankah surat itu hanya
mengundangmu saja, kakang.”
“Ha, hahaha…, jika hanya itu, kau bisa menunggu
di ruangan lain saat aku bicara dengannya.”
“Kakakng apakah kau mencintai Intan Pandini?”
“Ada apa adik Wulan. Kenapa kau menayakan hal
itu?”
“Jawablah kakang. Aku hanya ingin tahu.”
“Entahlah adik Wulan. Tapi aku merasakan ada
getaran lain saat bertatapan dengannya. Apakah itu
namanya cinta? Aku tidak tahu, aku tidak bisa
menjawabnya dengan pasti.”
“Ehh, apakah kakang yakin gadis itu memiliki
perasaan sama dengan kakang?”
“Aku kira demikian.”
“Ayolah kakang, kita lanjutkan perjalanan. Aku
ikut menemuinya jika kakang tidak merasa terganggu.”
“Hahaha, Wulan…, Wulan, masa aku
menganggapkau pengganggu, justru aku harap kau jadi
perantara antara aku dengannya.” Kata Saka Palwaguna
lalu gebrak kuda tungganganya menuju kota Rupada.
Melalui anggota pengemis tongkat merah keduanya
170
Kisah Sepasang Anak Harimau
dipandu menuju sebuah ruangan dengan lorong-lorong
yang tidak terlalu panjang. Di tempat itu Sariti telah
menunggu kedatangannya.
“Ohh, kalian sudah tiba rupanya, mari silahkan
masuk Wulan, kakang Saka.”
“Bagaimana dengan luka dalammu Sariti?”
“Sudah tidak terasa lagi, berkat bantuan dari eyang
resi Wanayasa dan juga kakekku ki Parang Pungkur
dengan bantuan tenaga murninya selama tiga hari berturut-
turut.”
“Eh, Sariti antarakan kami menemui kekek
Pungkur,” sela Saka Palwaguna.
“Sudah satu pekan kekek pergi, pastinya ada
sesuatu yang serius beliau kerjakan.
“Ehh, lalu dimanakah gadis yang kau katakana
dalam suratmu Sariti.”
“Oh iya, dia sudah menunggumu sejak tadi pagi.
Temuilah dia berada di ruang sebelah dalam.”
“Emmh, aku…”
“Temui saja kakang Saka. Biar kami menunggu di
sini, bukan begitu Wulan?”
“Ehhh, iyah…, iyah.”
“Baiklah, aku temui dia sebentar,” kata Saka
Palwaguna kemudian masuk ke dalam, setelah melalui
lorong-lorong panjang di satu tempat terbuka Saka
Palwaguna melihat seorang gadis ayu yang sedang duduk
di tepi kolam ikan. Mata gadis ayu itu berbinar cerah
ketika mengetahui siapa yang datang.
“Intan….”
“Ohh.., kakang…, kakang Saka.”
171
Babad Tanah Leluhur
“Intan apa yang terjadi dengamu?”
“Kakang pada siapa lagi aku harus
menggantungkan diriku, kakang tolonglah aku, kaulah
satu-satunya orang yang aku kenal dan manjadi harapanku
kakakng.” Kata Intan Pandini diiringi isak tangisnya.
“Intan apa yang terjadi dengan dirimu, dimana
paman adan bibimu?’
“Keduanya telah tewas dibunuh oleh prajurit
Karang Sedana.” Dengan terbata dan diiringi isak tangis
Intan Pandini menceritakan ihwal dirinya hingga dia
diselamatkan oleh ki Camar Sulung dan dibawa ke markas
pengemis tongkat merah kota Rupada.
“Paman Camar Sulung, siapa dia?’
“Kakek pengemis kawan kakak Sariti.”
“Ohhh…”
“Kakang, aku tidak tahu lagi bagaimana menjalani
hidup ini seorang diri.”
“Ohh, Intan, kau dapat tinggal bersama kami di
kali Cagak. Tapi sekarang kami sedang menjakankan
perintah guru, jadi aku kira tinggallah di sini untuk
beberapa waktu, jika tugasku sudah selesai, aku akan
menjemputmu.”
“Tidak kakang. Aku tidak mau menyusahkan
kakak Sariti. Tolong carikan sebuah gubuk kecil di kota
ini, biarlah aku menunggu kakang digubugku sendiri.”
“Intan apakah kau kecewa denganku?”
“Ohh, tidak kakang. Justru aku kecewa dengan
keterbatasanku.”
172
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Kalau itu ganjalamu, kelak aku akan
menjadikanmu seorang wanita tangguh. Tapi untuk saat
ini tinggalah bersama Sariti di tempat ini.”
“Kakang seperti yang aku katakana. Carikan saja
aku sebuah gubuk kecil.”
“Baiklah jika itu keputusanmu Intan. Aku akan
membicarakanya dengan Sariti.”
Tidak berapa lama melalui bantuan Sariti, Intan
Pandini mendapatkan sebuah gubuk mungil dipinggiran
kota Rupada.
“Nah, aku kira tempat ini cocok adik Intan, dan
nyai Bayan akan menemanimu.” kata Sariti.
“Iya benar, nyai akan menemani nak Intan,”
“Terimakasih nyai Bayan.”
“Intan, tempat ini agak jauh dari markas kami. Jadi
kalau memerlukan sesuatu kau bisa menyampaikannya
pada anggota tongkat merah yang kebetulan melintas. Kau
sudah tahu kan ciri-ciri perguruan kami?”
“Iyah, tongkat berwarna merah, baju tambalan tapi
bersih.”
“Betul. Itu cukup sebagai ciri perguruan kami.”
“Terimakasih kak Sariti.”
“Iyah, jika demikian aku pergi dulu,” kata Sariti
lantas berlalu meningalkan pondok Intan Pandini.
“Eh, Wulan. Apakah kau ada waktu untuk singgah
di pondokku?”
“Hemm, maap kami harus segera melanjutkan
perjalanan.”
173
Babad Tanah Leluhur
“Iyah, kami akan pergi dan kembali secepatnya
untuk menemuimu.” Kata Saka Palwwguna.
“Kakakng ayo kita berangkat,” sela Anting Wulan
kemudian tarik tali kekang kudanya hingga binatang itu
meringkik keras dan segera berlari cepat.
“Kau pergilah duluan adik Wulan. Aku akan
segera menyusulmu,” teriak Saka Palwaguna.
“Intan. Melihat perhatian nyai Bayan dan Sariti
padamu. Aku jadi tidak khawatir meningalkanmu di
tempat ini.”
“Iya kakang.”
“Intan ehhh…, aku harap kau mengerti akan isi
hatiku, perasanku serta pandanganku selama ini padamu.
Mudah-mudahan aku tidak salah menduga tidak salah
tafsir pandangan matamu selama ini padaku. Intan aku
yakin aku tidak salah tafsir. Namun aku memerlukan
pernyatan khusus. Intan…sejak pertemuan kita pertama
kali aku sudah merasakan getaran aneh dalam dadaku.
Yang mengakar dan akhirnya menimbulkan getaran dalam
sanubariku. Intan…aku mencintaimu sepenuh hatiku.”
“Ohh…, kakang…, pernyataan sikapmu itu
membuat aku tidak ragu lagi untuk tetap menunggumu di
tempat ini.”
“Intan aku harus pergi, namun percayalah cintaku
tulus padamu.”
“Pergilah kakang, aku akan menunggu mu hingga
kembali.”
“Intan aku akan pergi dan secepatnya aku akan
melamarmu.”
“Pergilah kakang. Mungkin saudaramu Wulan
sudah kesal menunggumu.”
174
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Oh iya, baiklah Intan. Baiklah aku pergi Intan,”
kata Saka Palwaguna kemudian melompat ke punggung
kuda dan menggebrak binatang itu menyusul Anting
Wulan. Di sebuah hutan kecil Saka Hentikan kudanya.
“Dimana adik Wulan, ahh…, aku terlalu lama
bersama Intan. Tentu dia merasa kesal denganku, coba
kulihat di sebelah sana,” Saka Palwaguna jalankan kuda
tunggangannya menembus rumpun perdu hingga di satu
pedataran dia melihat kuda yang ditunggangi Anting
Wulan sedang asik merumput di pinggir sebuah sendang.
“Ah itu dia, dasar anak nakal,” gumam Saka
Palwaguna ketika melihat Anting Wulan yang tengah
tiduran di atas batu besar pinggir sendang.
“Adik Wulan, kenapa kau tiduran di sini.
Bangunlah kita lanjutkan perjalanan. Hari sudah hampir
senja,”
“Ah, kenapa terburu-buru kakang. Aku ingin
istirahat di sini.”
“Kita istirahat di desa depan sana adik Wulan,
ayo.”
“Kenapa? Apa aku tidak boleh istirahat. Kakang
pergi saja dulu, nanti saya menyusul.” Sela Anting Wulan
dengan nada ketus.
“Oh, hahaha…, agaknya kau marah, terlalu lama
menungguku. Baiklah kita istirahat dulu di sini,” kata
Saka Palwaguna lantas turun dari kuda dan duduk di dekat
Anting Wulan.
“Ahh, kau benar adik Wulan. Nyaman sekali
duduk-duduk di tempat ini,” gumam Saka Palwaguna.
Namun pemuda tampan ini tertegun bilamana Anting
175
Babad Tanah Leluhur
Wulan yang semula duduk di atas batu, dalam satu gerak
ringan tubuhnya sudah berada di atas kudanya.
“Ayo kakang kita lanjutkan perjalanan,” kata
Anting Wulan lantas gebrak kuda tungganganya
meninggalkan Saka Palwaguna.
“Ahh, anak ini agaknya kembali kumat sipat
usilnya,” gumam Saka Palwaguna yang juga segera
melenting dan duduk kembali di atas kuda tunggangannya
dan menggebrak binatang itu menyusul Anting Wulan.
Dan selepas senja keduanya beristirahat di sebuah
penginapan sebuah desa pertama yang ditemuinya.
Malam merambat ke dini hari didalam biliknya
Anting Wulan tampak gelisah, pikirannya kalut, seribu
rasa khawatir mengganjal di sanubari gadis perkasa
tersebut.
“Duhh Dewata agung…, kekhawatiran itu semakin
nyata, anak itu tidak tahu malu mengundang kakang Saka
menjenguknya. Benar-benar tidak tahu malu, ohh dewata
agung, apa yang harus aku lakukan supaya aku dapat
mengambil hati kakang Saka dan gadis itu tidak mejadi
tumpuan harapan kakang Saka.”
Kekalutan batin yang dialami Anting Wulan
membuatnya nalar dan pikiran gadis manis ini dirasuki
hawa amarah, cemburu yang tidak bisa ditahannya lagi.
“Aku harus menyingkirkan anak itu. Hyah…,
kakang Saka tidak boleh bertemu lagi dengan Intan
Pandini. Ahhh…, malam belum lagi larut, dengan aji
kidang mamprung aku akan tiba sebelum tengah malam,
dan kembali lagi ke sini sebelum fajar. Baiklah….”
Melalui jendela kamar penginapan, Anting Wulan
berkelebat pergi menembus dinginnya malam, tujuannya
sudah jelas menyingkirkan sainganya Intan Pandini. Cinta
176
Kisah Sepasang Anak Harimau
buta membuat gadis manis itu kehilangan nalar dan akal
sehatnya.
Semantara itu dipondoknya. Intan Pandini baru
saja selesai mendengar cerita-cerita rakyat dari nyai
Bayan. Gadis ayu itu masih tergolek di atas ranjang
empuk, kantuk sudah mulai menyerang, beberapa kali dia
menguap dan mengucek matanya yang berair.
“Nah, nak Intan. Besok malam kita lanjutkan
ceritanya, sekarang saya permisi dulu ya nak Intan.”
“Iya nyai Bayan. Hati-hati di luar gelap sekali.”
“Wahh, boleh diuji keawasan mata nyai dengan
mata nak Intan. Walau sudah tua saya masih bisa melihat
jelas dalam gelap seperti ini. Mari nak Intan,” kata nyai
Bayan kemudian berlalu meningalkan pondok Intan
Pandini. Belum berapa langkah nyai Bayan berjalan dia
seperti ingat sesuatu dan dengan tergesa dia kembali
menuju pondok Intan Pandini.
Sedang Intan Pandini yang kembali naik ke tempat
tidurnya menjadi kaget bilamana terdengar ketukan pintu
dari luar.
“Ah.., apakah nyai Bayan kembali lagi,” gumam
Intan Pandini. Gadis ayu itu kembali turun dari tempat
tidur dan menuju pintu.
“Intan…, Intan, ini aku Wulan.”
“Ada apa Wulan? Apakah ada sesuatu yang
terjadi.’
“Ehh, iya, iya…, sesuatu akan terjadi dengan
dirimu Intan. Beberapa prajurit Karang Sedana sedang
menuju kemari. Karena itu kau harus meninggalkan
tempat ini sekarang juga.”
“Ohh, lalu dimana kakang Saka?”
177
Babad Tanah Leluhur
“Kakang Saka memerintahkan aku untuk
membawamu dari sini.”
“Apakah kalian tidak sanggup menghadapi
mereka?”
“Mereka banyak mendatangkan prajurit. Kami
tidak mungkin menghadapinya. Ayolah jangan buang
waktu Intan.”
“Baiklah, saya pamit dulu pada nyai Bayan.”
“Jangan buang waktu Intan. Dia akan tahu besok
dari Sariti.”
“Setidaknya beberapa potong pakaian, sebentar
Wulan.” Kata Intan lantas membereskan pakiannya dan
mebawa barang seadanya.”
“Ayolah Wulan.”
“Ayo Intan. Berhati-hatilah tundukan kepalamu,”
bisik Anting Wulan.
“Wulan kenapa kakang Saka tidak bersamamu?”
“Kakang Saka tengah berusaha menghadang
sebagian dari mereka. Eh, sebaiknya kau kugendong saja
Intan.”
“Kau…,” belum sempat Intan Pandini meneruskan
kalimatnya Anting Wulan menyarangkan totokan dan
setelah menggendong Intan Pandini gadis perkasa itu
jejakan kaki dan dengan aji kidang mamprung sosoknya
lenyap dibalik bayang-bayang pepohonan. Anting Wulan
tidak menyadari dari sejak tadi sepasang mata mengawasi
gerak-gerinya, begitu dia melesat menggendong Intan
Pandini sosok bayangan itupun bergegas pergi dari tempat
itu. Suasana malam kembali tenang, sepi dan sunyi seakan
tidak pernah terjadi sebelumnya di tempat itu.
178
Kisah Sepasang Anak Harimau
Intan Pandini yang digendong Anting Wulan coba
membuka kedua matanya, kilasan-kilasan capat membuat
gadis ayu itu segera pejamkan matanya kembali. Beberapa
saat kemudian dirasakanya Anting Wulan hentikan
larinya. Sebuah bangunan tua terbuat dari kayu dengan
kondisi rusak parah, di tempat itulah Anting Wulan akan
menyembuyikan gadis ayu tersebut.
“Kita sudah sampai Intan.,” kata Anting Wulan
lantas membebaskan totokan pada tubuh gadis itu.
“Dimana ini Wulan? Suasananya gelap sekali. Lalu
dimana kau akan menyembuyikan ku.”
“Inilah satu-satunya tempat aman, jauh dari kota
Rupada. Di dalam sana kau akan sembuyi.”
“Ah, kau gila Wulan, di dalam tumpukan kayu
itu?”
“Ahhh, sudah janga manja. Kau dalam bahaya, nah
masuklah ke dalam sana,” kata Anting Wulan sambil
mendorong tubuh Intan Pandini.
“Lalu, kau biarkan aku sendiri di sini?”
“Kau mau ada yang menemanimu. Kakang Saka,
begitu?”
“Kau…, kau…”
“Sudahlah, kau diamlah di sini. Aku akan
membantu kakang Saka yang sedang bertempur.”
“Wulan, benarkah kakang Saka menyuruhmu
menyembunyikan aku di tempat ini?’
“Ahhh, sudahlah janga cerewet. Diam saja kau di
sini.”
“Aku…, aku takut sekali di sini Wulan. Bawa
kembali aku ke kota Rupada.”
179
Babad Tanah Leluhur
“Maap. Demi keselamatanmu aku terpaksa
membuatmu tidak bisa berjalan,” setelah berkata demikian
secepat kilat Anting Wulan menyarangkan totokan kebali
ke tubuh Intan Pandini.
“Wulan…, apa yang kau lakukan dengan kakiku?”
“Baik-baiklah kau di sini. Jika lapar kau makan
perbekalan yang ada di dekatmu itu, nah aku pergi dulu.”
Setelah berkata demikian Anting Wulan berkelebat cepat
meninggalkan Intan Pandini, dia kembali ke penginapan.
Malam bergulir menuju dini hari, ketika tiba di peginapan
seperti tidak terjadi apa-apa gadis perkasa itupun tidur
dengan pulasnya.
Matahari semburat menerangi mayapada Saka
Palwaguna yang sudah bersiap hanya duduk-duduk di
depan teras penginapan. Pemuda gagah itu tidak berani
membangunkan adiknya Anting Wulan yang masih tidur,
dia menunggu sampai akhirnya Anting Wulan bangun.
Setelah siap kedua murid padepokan goa larang itupun
melanjutkan perjalannya menuju arah utara. Belum berapa
jauh keduanya memacu kuda, dari kejauhan terlihat
kepulan debu berterbangan melaju cepat ke arah mereka.
“Tunggu adik Wulan, agaknya orang itu sedang
mengejar kita?”
“Ahhh, biarkan saja kakang. Kita tidak punya
urusan dengan orang itu.”
“Sebentar adik Wulan. Penungang kuda itu
anggota pengemis tongkat merah, pasti terjadi sesuatu.”
Tidak menunggu lama penunggang kuda yang
tidak lain dari anggota pengemis tongkat merah itu
berhasil menyusul keduanya.
180
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Tuan Saka. Saya mendapat perintah dari nona
Sariti untuk…, untuk.”
“Untuk apa? apakah terjadi sesuatui dengannya.”
“Tidak. Nona Sariti baik-baik saja, tapi ini
menyangkut nona Intan Pandini.”
“Ada apa dengan Intan Pandini?”
“Nona Intan Pandini, pagi tadi sudah tidak ada di
gubugnya, kami sudah mencari tapi belum
menemukannya.”
“Ehh, lalu dimana Sariti?”
“Nona kami itu masih terus mengadakan pencarian
bersama kawan-kawan kami yang lain.”
“Gila…, peristiwa apa lagi ini.”
“Nyai Bayan yang menjaga nona Intan
mengatakan tidak mungkin dia pergi sendiri.”
“Hehhh…, kurang ajar. Siapa lagi yang
mengganggu anak itu, ayo kita kembali ke kota Rupada.”
Secepat kilat Saka Palwaguna putar arah dan gebrak
kudanya dengan kencang menuju ke kota Rupada.
“Kau mengganggu tugas kami dengan berita itu,”
geram Anting Wulan yang juga membalikkan kudanya
dan dengan cepat meluncur menyusul Saka Palwaguna.
Anggota pengemis tongkat merah itu hanya diam dan
menundukan kepala. Begitu sosok Anting Wulan sudah
jauh di depan diapun kembali menggebrak kuda
tunggangannya menuju kota Rupada.
Sambil memacu kudanya Anting Wulan tampak
gelisah, perang batin berkecamuk hebat di dalam dadanya.
“Kau tidak akan menenukannya kakang. Anak itu
sudah aku sembunyikan ke tempat yang cukup jauh. Kelak
181
Babad Tanah Leluhur
jika aku punya banyak waktu akan ku bawa di ke paling
ujung timur pulau ini kalau perlu keluar dari pulau ini.
Aku tidak ingin dia merebut dirimu dariku. Ohh…,
kakang Saka aku begitu mencintaimu.” Perang batin terus
berkecamuk di dada gadis perkasa ini, dia sekuat mungkin
menahan air matanya, walau tahu itu adalah perbuatan
tidak terpuji, namun rasa cinta dan cemburunya yang
terlalu besar membuat gadis perkasa itu tidak punya
pilihan lain, hingga akhirnya dia sampai kebali di kota
Rupada.
Di tempat kediaman Intan Pandini beberapa orang
sudah tampak berkumpul. Setelah melompat dari kuda,
Saka Palwaguna segera menayakan Intan Pandini pada
nyai Bayan.
“Nyai Bayan, ada apa dengan Intan Pandini?
Bukankah nyai yang menjaganya.” Kata Saka Palawaguna
dengan raut wajah diliputi kecemasan.
“Iya memang nyai yang berjanji untuk menjaganya
tapi kejadian itu berlangsung pada malam hari.” Kata nyai
Bayan terbata.
“Apakah mungkin dia meningalkan pondoknya ini
seorang diri nyai?”
“Iyah, tidak mungkin nak Intan meningalkan
pondoknya ini seorang diri.”
“Lalu kira-kira apa yang terjadi dengan Intan
Pandini, nyai. Apakah ada seseorang yang menculiknya?”
“Ehh, nyai kira…,” belum sempat nyai Bayan
melanjutkan kalimatnya Anting Wulan sudah keburu
datang membuat wanita tua itu segera menekuk wajahnya
ke bawah.
“Bagaimana kakang Saka?”
182
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Entahlah adik Wulan. Belum ada kejelasan di
mana keberadaan Intan.”
“Aneh sekali. Mungkin anak itu kesal karena sore
kemarin kita tinggalkan. Lalu dia pergi.”
“Ehh, iyah adik Wulan. Mungkin Intan kecewa
karena aku tinggalkan. Tapi aku kira dia tidak mungkin
sampai berbuat seperti ini.”
“Iya raden. Saya merasa yakin, kalau nak Intan
kecewa tidak mungkin dia pergi dari sini. Pasti ada
seseorang yang menculiknya,” sela nyai Bayan membuat
hati Anting Wulan bergetar hebat.
“Ehh, wanita tua. Bagaimana kau yakin di
diculik?”
“Saya kira ada pihak lain yang…,”
“Ahhh…, kau mengada-ada saja wanita tua.”
“Sudahlah adik Wulan. Memang tidak menutup
kemungkinan ada pihak lain yang melakukannya.” Ujar
Saka Palwaguna menengahi kemarahan Anting Wulan
pada nyai Bayan.
“Pihak lain yang mana lagi kakang? Ingatlah kita
masih memiliki tugas yang sangat penting yang harus kita
selesaikan.”
“Betul adik Wulan. Tapi tugas kita itu juga tidak
terikat oleh tempat yang pasti. Kita mencari dan kini
daerah sekitar kita inipun harus kita selidiki.”
“Kakang hanya membuang-buang waktu saja.”
“Tidak adik Wulan. Kita harus mencari dan
menemukan Intan sambil menjalankan tugas. Ayolah adik
Wulau kau bantulah aku mencarinya. Aku akan mencari di
pinggiran barat kota ini, kau coba di bagian timur, kita
183
Babad Tanah Leluhur
bertemu nanti malam,”kata Saka Palwaguna kemudian
melompat ke punggung kuda dan mengebrak binatang itu
ke barat kota Rupada.
“Biarlah kakang Saka memuaskan dirinya mencari
gadis itu, satu saat dia akan lelah dan berhenti mencari
gadis itu,” mambatin Anting Wulan. Kembli perang batin
antara keburukan dan kebaikan berkecamuk di rongga
dada gadis perkasa ini.
“Kasihan kau Intan. Kau tidak bersalah, tapi
karena kau mencintai dan dicintai kakang Saka. Maka kau
harus jadi seperti ini.” Membatin Anting Wulan sambil
menjalankan kudanya dengan pelan. Tidak berapa lama
gadis perkasa itu sudah berada kembali di tempat Intan
Pandini disembunyikannya.
“Pintu itu masih sama seperti kemarin aku
tinggalkan.” Membatin Anting Wulan kemudian
melangkah masuk ke dalam bangunan.
“Siapa…siapa?”
“Aku Intan. Aku membawakan makanan
untukmu.”
“Kau…, Wulan. Lepaskan aku dari sini, biarkan
aku kembali ke kota Rupada. Aku rela mati daripada
dibiarkan sendirian di tempat ini.”
“Ini makanan untuk mu,” sela Anting Wulan
sambil menyodorkan bungkusan daun pisang pada Intan
Pandini setelah melepaskan totokannya pada gadis ayu
tersebut.
“Kau keterlaluan Wulan.”
“Sudahlah makanlah, aku kira tambahan bekal ini
cukup untuk tiga hari.”
184
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Apa Wulan. Kau mau menahanku selama itu di
tempat ini.”
“Iya. Sampai tidak ada lagi orang jahat yang
mencari-carimu.”
“Wulan…, maapkan aku. Aku tidak mempercayai
semua kata-katamu.” Tandas Intan Pandini. “ Aku tidak
percaya semua yang kau lakukan ini atas sepengetahuan
kakang Saka. Aku tidak percaya ada orang jahat
mencariku.”
“Diam kau. Kalau bukan karena itu untuk apa aku
membawamu ke tempat ini anak manja,”sela Anting
Wulan dengan nada bicara sedikit ditekan. Menandakan
gadis manis pendekar Ning Sewu itu mulai terpancing
kemarahannya.
“Kakakng Saka tidak mungkin tega berbuat seperti
ini padaku, Wulan. Walau aku baru mengenalnya, tapi
semua isi hatinya aku sudah tahu. Kakangmu sangat
mencintaiku. Hyah…, sangat mencintaiku.”
“Aku sudah tahu. Untuk apa kau katakana itu
padaku?”
“Biar lebih jelas. Akan aku ulangi lagi. Kakang
Saka sangat mencintaiku. Sangat mencintaiku Wulan. Dan
dia…, tidak mencintaimu.” Tandas Intan Pandini.
“Kurang ajar kau Intan. Dengus Anting Wulan.
Gadis pendekar Ning Sewu itu akhirnya tidak mampu
menahan gejolak rasa dan emosinya. Sebuah tamparan
keras dilayangkannya pada pipi Intan Pandini membuat
gadis ayu itu terhuyung dan duduk menjelepok di tanah.
“Kau menghinaku Intan.”
185
Babad Tanah Leluhur
“Jadi benar. Kaupun mencintai kakang Saka dan
perbuatanmu ini, apakah kau ingin menyingkirkan aku?
Atau kau ingin membubuhku. Ayo…, laukanlah Wulan.”
“Kau…, kau keterlaluan Intan.”
“Jika semua tuduhanku salah. Lepaskan aku dari
tempat ini. Kembalikan aku ke kota Rupada.”
“Tidak. Kau harus tetap di sini. Kau tidak boleh
bertemu lagi dengan kakang Saka. Hyahhh…, aku
memang sengaja membawamu ke tempat ini tanpa
sepengatuan kakang Saka. Kau mencintai dan dicintai
kakng Saka. Oleh karena itu, kau harus kusingkirkan.
Kakng Saka adalah milikku. Dan selamanya, dia milikku.”
Sentak Anting Wulan.
“Nah, kau tinggalah di sini. Kelak, aku akan
membawawu lebih jauh lagi dari kakang Saka.”
“Wulan. Kau tidak akan bisa memisahkan kami.
Kakang Saka tidak akan pernah mencintaimu. Kau bukan
harapan dan dambaan cinta kakang Saka.
“Tinggalah ditempat ini,” tandas Anting Wulan
kemudian kembali menotok kaki Intan Pandini hingga
gadis atu itu kembali tidak berdaya.
“Kau tidak akan bisa mendapatkan cinta kakang
Saka. Walau kau membuat kakiku lumpuh seperti ini. Kau
bunuh saja aku Wulan.”
“Huh…, jangan berisik. Diamlah kau jika ingin
terhindar dari bencana yang lebih mengerikan dari
kematian. Nah selamat tinggal.” Tandas Anting Wulan
dan tanpa mempedulikan umpatan dan makian Intan
Pandini. Anting Wulan segera berlalu dari tempat itu.
“Kakang Saka. Dimanakah kau, apakah kau tidak
mengetahui perbuatan adik seperguruanmu ini padaku.
186
Kisah Sepasang Anak Harimau
Kakang Saka tolonglah aku…, tolonglah aku….” Ratap
Intan Pandini dalam ke tidak berdayaannya. Suasana hutan
dimana Intan Pandini disekap di dalam rumah kosong itu
kembali tenang, sepi dan sunyi seakan tidak pernah terjadi
apapun sebelumnya di tempat itu.
Anting Wulan pacu kuda tunggananya laksana
angin. Dadanya terasa sesak, kecamuk batin menggelora
dalam diri gadis perksa tersebut.
“Maapkan aku Intan. Kau tidak bersalah. Aku
melakukan semua ini demi cinta suciku pada kakang Saka.
Ohh…, kakang Saka. Kau tidak boleh lepas dari sisiku.
Semantara itu. Raden Saka Palwaguna yang sudah
kembali ke pondok Intan Pandini dikejutkan dengan
kehadiran nyai Bayan. Perempuan paruh baya itu tampak
gelisah manakala pendekar ning sewu tersebut menyapa
dirinya.
“Ehh, nyai Bayan. Kau sudah kembali.”
“Iya den. Saya sudah cukup lama berada di sini. “
“Apakah nyai Bayan ada perlu dengan kami,
dengan saya?”
“E…, e, anu, anu den. Tidak, tidak den. Saya haya
main saja kemari. Siapa tahu aden sudah berhasil
menemukan nak Intan.”
“Saya belum menemukannya nyai Bayan. Tapi
saya akan terus mencarinya bila perlu sampai kota raja
Galuh atau seluruh tanah Jawa dan Pasundan ini.”
“Saya harap, satu saat nanti raden pasti akan
menemukan nak Intan.
“Iya nyai. Terimakasih.”
187
Babad Tanah Leluhur
“Apakah raden mancintai nak Intan? Maapkan jika
pertanyaan saya ini tidak pada tepatnya. ”
“Kenapa nyai bertanya seperti itu.”
“Maapkan nyai. Jika raden tersinggung dengan
pertanyaan itu.”
“Ehh, iya. Aku mencintai Intan, kami saling
mencintai. Tapi ada apa sebenarnya?”
“Tidak ada apa-apa raden. Eh, kalau saya boleh
tahu siapakah nona Anting Wulan itu dan apa hubunganya
dengan raden.”
“Dia adalah adik seperguruan saya. Kami sudah
seperti adik dan kakak dalam arti sebenarnya.”
Saat itulah Anting Wulan terlihat memasuki
halaman pondok Intan Pandini. Seketika raut wajah nyai
Bayan berobah pucat.
“Bagaimana adik Wulan. Apakah kau menemui
tanda-tanda keberadaan Intan?”
Sebelum menjawab pertanyaan Saka Palwaguna,
Anting Wulan untuk beberapa kejap tatap mata nyai
Bayan dengan tajam membuat perempuan tua itu tersurut
mundur beberapa tindak.
“Tidak kakang. Bahyanganyapun belum aku
temukan. Ada apa lagi hai kau wanita tua.”
“Tidak.., kalau begitu…, saya, saya permisi,” kata
nyai Bayan lantas berlalu dari hadapan Saka Palwaguna
dan Anting Wulan.
“Bagaimana adik Wulan. Apa pendapatmu tentang
Intan Pandini?”
188
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Kakang Saka. Ada baiknya kakang kembali pada
tugas yang kita emban dari eyang guru. Kita dapat
mencari Intan sambil menjakankan tugas itu.”
“Adik Wulan. Tidak mungkin aku menjalankan
tugas itu ketika pikiranku bercabang. Ohh…, maapkan aku
adik Wulan. Aku mendahulukan kepentingan pribadiku.
Tapi aku yakin, apa yang aku lakukan ini bukan hal yang
tidak benar.”
“Kakang Saka. Apakah kau mengerti benar dengan
tugas yang kita sandang ini. Tugas ini dapat dikatakan
sebagai tugas Negara. Karena menyangkut keselamatan
dari putra mahaprabu Sanna di Galuh.”
“Hahhh…, tugas kita cukup panjang waktunya,
adik Wulan. Aku kira tidak ada salahnya kau membantu
aku. Tapi kalau kau keberatan kau bisa pergi dulu tanpa
aku. Nanti akan aku susul.”
“Kakang Saka. Sampai begitukah kau
mendahulukan kepentinganmu. Kau benar-benar
keterlaluan kakang.” Pungkas Anting Wulan kemudian
berlalu maninggalkan Saka Palwaguna.
“Hyahh…, adik Wulan benar. Aku terlalu
mandahulukan kepentingan pribadiku. Ohh…, tapi aku
tidak bisa meninggalkan Intan Pandini dalam situasai
seperti ini. Biarlah besok pagi aku coba membujuknya
lagi,” gumam Saka Palwaguna kemudian pemuda perkasa
inipun masuk ke dalam biliknya untuk istirahat.
Matahari baru saja menyemburatkan sinarnya yang
hangat. Hembusan angin dingin menerpa daun-daun
bidara yang banyak tumbuh di kawasan tersebut. Nyai
Bayan hentikan langkahnya begitu sapai di depan pondok
perkumpulan pengemis tongkat merah. Tidak menunggu
lama wanita tua itu sudah berbincang dengan Sariti.
189
Babad Tanah Leluhur
“Ada apa Nyai Bayan? Pagi-pagi sudah
menemuiku.”
“Iya nona Sariti. Ada hal yang ingin saya
sampaikan.”
“Soal apa nyai Bayan?”
“Sebenarnya, eh…, begini. Saya akan
menceritakan sesuatu tentang hilangnya nak Intan.”
“Kau tahu tentang hal itu dan apakah nyai bayan
tahu siapa yang menculik Intan Pandini?”
“Iya nona Sariti.”
“Ceritakanlah nyai?”
“Malam itu ketika saya baru saja meningalkan
pondok nak Intan. Saya baru ingat pintu belakang pondok
belum saya kunci. Jadi saya kembali lagi, saat itulah dari
kejauhan saya melihat ada seorang wanita masuk ke dalam
pondok dan keluar lagi bersama nak Intan mereka berdua
berjalan mengendap-endap meningalkan pondokan.”
“Tunggu nyai. Jadi maksud nyai Bayan, Intan
hilang bukan karena diculik, dia pergi degan seseorang
atas kehendak sendiri.”
“Iyah, nona Sariti. Semula saya beranggapan
begitu. Tapi setelah hari ini saya yakin nak Intan diculik.”
“Jika Intan diculik bagaimana dia keluar bersama-
sama dengan wanita itu tanpa paksaan.”
“Ehh, maap nona Sariti. Baiklah saya jelaskan saja.
Saya yakin dengan pandangan mata saya ini, yang
membawa nak Intan adalah nona Wulan.”
“Maksudmu apa nyai Bayan? Kau jangan
mengada-ada.”
190
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Maapkan jika saya salah. Kalau begitu saya
permisi saja.”
“Tunggu nyai Bayan. Ehhh, iya yah…, nyai boleh
pergi.”
“Baik nona Sariti saya pamit.”
Sariti tertegun cukup lama setelah mendengar
penjelasan nyai Bayan. Gadis manis anggota tongkat
merah itu tidak habis pikir jika yang menculik Intan
Pandini justru adik seperguruan Saka Palwaguna sendiri.
“Ahh, aneh sekali. Apakah mungkin wanita seperti
Wulan melakukan perbuatan itu. Baiknya aku minta
pendapat pada paman Camar Sulung, apa yang harusnya
aku lakukan” gumam Sariti kemudian bangkit dari tempat
duduknya untuk menemui pamannya, Camar Sulung.
Setelah mendapat pencerahan dari ki Camar
Sulung. Sariti segera bergegas menemui raden Saka
Palwaguna di penginapan.
“Ohh,Sariti silahkan masuk.”
“Iya kakang Saka terimakasih. Eh, dimana
Wulan?”
“Mungkin sepagi ini sedang membersihkan diri.”
“Oh iya, bagaimana perkembangan Intan
Pandini?”
“Tidak ada perkembangan apapun Sariti.”
“Aku sudah menyebarkan banyak anggota untuk
melacak keberadannya.”
Saat itulah Anting Wulan masuk dan bergabung
dengan keduanya.
“Adik Wulan. Ini ada Sariti.”
191
Babad Tanah Leluhur
Anting Wulan hanya mengangguk sambil
tersenyum.
“Wulan. Kita akan mencari Intan bersama-sama.
Pagi ini kami akan perikasa desa-desa di sekitar kota
Rupada, kau Wulan carilah di sebelah barat yaitu desa
Cangkuring dan desa Sawah gede. Saya ke selatan ke desa
Karang Panjang dan desa Rawa Tilu. Dan kakang saka
memeriksa di sepanjang sungai Cimanuk. Kita akan
bertemu kembali nanti sore.”
“Baiklah kami setuju,” jawab Saka Palwaguna.
Setelah dirasa cukup ketiganya pacu kuda masing-
masing sesuai saran Sariti. Kembali, gejolak yang
dirasakan Anting Wulan berkecamuk dengan hebat.
Sepanjang parjalan gadis manis itu tampak berpikir keras.
“Mereka semakin melusakan daerah pencariannya.
Ahh, kebetulan sekali aku kebahian arah dimana Intan aku
sembunyikan. Baiklah aku akan pindahkan gadis itu lebih
jauh lagi.
Sementara itu Saka Palwaguna yang tengah
terguncang-guncang di punggung kuda dikejutkan dengan
teriakan dari Sariti yang tampak mengejarnya.
“Kakang Saka tunggu dulu kakang,” kata Sariti
membuat Saka Palwaguna segera hentikan laju kudanya.
“Eh ada apa Sariti kenapa kau mengikuti aku.
Bukankah kau katakana arahmu menuju selatan kota
Rupada.”
“Aku sengaja mengejarmu kakang, ada sesuatu
yang ingin aku katakana.”
“Ada apa Sariti?”
“Ehh, aku ingin menyampaikan kabar dari
seseorang tentang Intan Panadini.”
192
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Katakanlah Sariti.”
“Ehh, aku tidak tahu harus memulai dari mana.”
“Sariti katankah jangan ragu.”
“Ehh, baiklah kakang. Intan Pandini kemungkinan
besar disembunyikan oleh…, Anting Wulan.”
“Ahh, kau jangan bergurau Sariti.”
“Nyai Bayan yang memberitahukannya pada ku.
Dia menyaksikan sendiri kedatangan Wulan menemui
Intan. Lagi pula paman Camar Sulung dua kali melihat
saudaramu Wulan berklebat ke sebelah barat kota Rupada
lalu hilang di sekitar desa Cangkuri.”
“Ahhh…, tidak mungkin. Rasanya tidak masuk
akal.”
“Baiknya kakang periksa saja ke sekitar desa
Cangkuri. Keterangan kedua orang itu sangat kuat
kakang.”
“Baiklah, aku akan ke tempat yang kau katakana
itu.” kata Saka Palwaguna. Pemuda tampan itu segera
gebarak kuda tungangannya ke arah barat seperti
ketrangan yang dikatakan Sariti.
“Biarlah mereka menyelesaikan urusannya.
Sepertinya urusan itu bersipat pribadi,” gumam Sariti
kemudian bergegas mengikuti laju kuda Saka Palwaguna.
Raden Saka Palwaguna pacu kudanya bagai kilat.
Ladam kuda itu melesat seakan berlari di atas angin.
Perasaan pemuda murid goa larang itu bergejolak dengan
hebat. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika
benar Anting Wulan. Adik sepergurunnya itu yang telah
menculik Intan Pandini, kekasih hatinya. Saka Palwaguna
terus memacu kudanya dengan cepat.
193
Babad Tanah Leluhur
Semantara itu Anting Wulan yang tengah menuju
tempat Intan Pandini disembunyikan, jiwa gadis cantik ini
kembali gelisah. Batinnya berkecamuk dan perasaannya
tidak menentu.
“Perguruan tongkat merah tida bisa dibuat main-
main. Banyak anggotanya tersebar di kawasan ini. Aku
harus segera memindahkan Intan Pandini.” Membatin
Anting Wulan yang terus memacu kudanya dengan
kencang. Tidak menunggu lama gadis perkasa pendekar
ning sewu itu sudah sampai di depan pondok rusak di
mana Intan Pandini disembunyikan.
“Hemm, tempat ini masih belum berubah sejak aku
tinggalkan. Coba kulihat ke dalam sana.” Dengan sekali
lentingkan badan, sosok Anting Wulan melesat dari atas
punggung kuda, menginjakkan kaki dengan ringan di atas
tanah kemudian melesat masuk ke dalam pondok.
“Tidak ada suara. Apakah dia tidak mendengar
ringkik dan derap kudaku.” Gumam Anting Wulan.
“Ohh, anak itu tertidur rupanya, kasihan sekali,
ohh…, maapkan aku Intan. Kau tidak bersalah, tapi aku
tidak ada jalan lain untuk memisahkan kau dengan kakang
Saka. Kau telah merebut kakang Saka dariku. Selama
lebih dari delapan tahun bersama kakang Saka, dia harus
tetap menjadi milikku. Aku harus menyingkirkanmu jauh-
jauh dari sini.”
Anting Wulan dekati tubuh Intan Pandini yang
masih tertidur. Perlahan dia lepaskan totokan pada tubuh
gadis pesaingnya itu. Seketika itu juga Intan Pandini
terjaga dari tidurnya.
“Kau…, kau datang lagi. Kau ingin membunuhku?
Ayo bunuh aku, aku tidak takut sedikitpun. Bunuhlah aku
Wulan!”
194
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Eh, ini ada air, minumlah dan sisanya buat
membasuh wajahmu.”
“Huh. Aku tidak butuh minum. Tidak butuh
membersihkan wajah. Tidak ada artinya lagi bagiku.”
“Kau, kau sakit Intan. Badanmu panas sekali.”
Kata Anting Wulan sambil memegang kening gadis di
hadapanya. Intan Pandini langsung menepis tangan Anting
Wulan dari keningnya.
“Apa pedulimu. Aku kotor, sakit, tidak makan atau
minum. Kenapa kau tiba-tiba peduli padaku, apakah agar
aku berjanji melepas kakang Saka untukmu.” Tandas Intan
Pandini membuat darah muda Anting Wulan seketika
menggelegak panas.
“Kita harus segera meningalkan tempat ini. Intan.”
“Huh, agaknya kakang Saka sudah mencium
tempat ini. Jadi kau hendak membawaku ke tempat lain.”
“Hyah, aku akan membawamu ke tempat lain.
Mereka sudah hampir menemukan tempat ini. Ayohh…,
bersiaplah jangan manja seperti itu, totokanmu sudah aku
lepaskan.”
“Aku tidak sudi ikut denganmu lagi. Wulan.”
“Kurang ajar. Jangan membuatku marah, aku bisa
membubuhmu sekarang juga, ayo jalan…!.”sentak Anting
Wulan sambil mendorong tubuh gadis ayu itu keluar
halaman rumah.
“Sudah aku katakana, aku tidak takut mati Wulan,
ayo bunuh aku sekarang juga, aku lebih suka mati
ditanganmu, ditangan seorang perampok cinta!”
“Bedebah…, kau menghinaku. Kaulah yang telah
merampok cintaku dari kakang Saka. Kau tidak tahu malu,
195
Babad Tanah Leluhur
dengan kedok penderitaan kau jerat kakang Saka dengan
cintamu.”
“Heh…, tidak tahu malu. Tidak malu kah kau
menggunakan kata-kata itu untuk diriku. Kaulah
sesunggunya yang tidak tahu malu. Wulan. Perempuan
tidak tahu malu. Cintamu bertepuk sebelah tangan masih
saja mengemis cinta pada kakang Saka.”
“Kurang Ajar! Kubunuh kau…, kubunuh kau,”
gejolak jiwa Anting Wulan sudah tidak tertahankan lagi.
Gadis pendekar ning sewu itu segera mencabut pedang
dan menempelkannya pada leher Intan Pandini. Namun
gadis ayu itu agaknya sudah tidak memperdulikan keadaan
dirinya lagi walau dirasakan dinginnya bilah pedang tepat
di tenggorokannya dan pada saat kritis tersebut sebuah
teriakan terdengar membahana di tempat itu di susul satu
sosok tubuh telah berdiri tiga tindak di hadapan kedua
gadis tersebut.
“Heyy…, tahan adik Wulan!”
“Hah, kakang Saka,” sentak Anting Wulan kaget.
“Kakang Saka…!” jerit Intan Pandini lantang.
Gadis ayu yang sudah pasrah itu segera membuka
matanya kembali, luapan hatinya menggelora melihat sang
kekasih datang. Intan Pandini segera melompat memburu
Saka Palwaguna. Dan tidak dapat dicegah lagi bilah
pedang yang masih menempel ditenggorokanya itu dengan
cepat menyayat leher Intan Pandini.
“Intannn…!”
Saka Palwaguna segera menubruk tubuh Intan
Pandini yang menggelepar sambil memegang lehernya.
Sedang Anting Wulan yang tidak menyangkan
kejadiannya seperti itu hanya tegak mematung.
196
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Kakang…, kakang Saka….”
“Oh.., Intan.”
“Kakang.., katakanlah bahwa kau mencintaiku….”
“Intan…, ada apa denganmu?”
“Kakang…, katakanlah…, bahwa kau
mencintaiku, kakang Saka…”
“Hyah…, aku mencintaimu Intan.”
“Bukankah…, kau berjanji akan menjemputku
kelak jika tugasmu sudah selesai kakang…,”
“Sudahlah jangan bicara lagi. Aku akan coba
menolongmu.” Kata Saka Palwaguna kemudian menotok
beberapa jalan darah di tubuh Intan Pandini. Namun,
kondisi gadis ayu itu semakin lemah, bersamaan derai
hujan yang mualai turun Intan Pandini menghembuskan
napasnya yang terakhir di pelukan raden Saka Palwaguna.
Semantara Anting Wulan yang menyakasikan
semua kejadian itu bagai kena sirep. Gadis pendekar ning
sewu itu sebagian jiwanya melayang entah kemana.
Pedang yang masih menitikan darah terlepas dari
tangannya.
“Kau adik Wulan. Apa yang sudah kau lakukan?”
“Aku.., aku tidak sengaja kakang Saka.”
“Kau harus bertanggung jawab adik Wulan. Ayo
ambil pedangmu itu. kita buktikan. Siapa yang lebih
pantas hidup di dunia ini.” Sentak Saka Palwaguna sambil
mencabut pedangnya.
“Aku tidak sengaja kakang. Aku tidak bermaksud
membunuhnya.”
“Adik Wulan. Kau iri dengan Intan Pandini.”
197
Babad Tanah Leluhur
“Kakang, aku…, aku…,”
“Cukup adik Wulan. Ayo ambil pedangmu.”
“Mapkan aku kakang Saka,”kata Anting Wulan
setelahnya gadis perkasa murid goa larang itu lentingkan
badannya ke udara dan dengan mengetrapkan aji kidang
mamprung tubuhnya segera melesat cepat meningalkan
Saka Palwaguna yang masih termenung di sisi jasad Intan
Pandini.
“Ohh. Anting Wulan. Kau adalah adik
seperguruanku yang manis. Kau adalah adikku yang
gendis. Kau nakal. Kau suka mengganggu. Akan tetapi…,
sebenarnya aku suka padamu…, dan semua orang di goa
larangpun mencintaimu, pun dengan eyang guru sangat
mengasihimu. Lalu mengapa terjadi peristiwa seperti ini.
Kau berobah menjadi pembunuh kejam yang sanggup
membunuh kekasih dari kakangmu sendiri.”
Selesai.
Indramayu, 2021
Nantikan….
Rahasia Bukit Tengkorak.
198
Kisah Sepasang Anak Harimau
Tentang Penulis.
KUSYOTO, lahir di Indramayu 02
Juli 1977 bergiat di Dewan Kesenian Indramayu, Komite
Sastra, beberapa tulisannya baik puisi dan cerpen di muat
di berbagai media Koran dan majalah nasional, menulis
baginya adalah sebuah terapy hati dan ajang silaturahim
dalam menyampaikan ide, pesan dan gagasan, selain
menulis cerpen dan puisi ia juga menulis novel genre fiksi
Sejarah, ia juga seorang praktisi kesehatan di sebuah
Rumah Sakit Swasta di bilangan Indramayu.
Penulis dapat dihubungi di Email. [email protected]
Atau WA. 081380790380.
199
Babad Tanah Leluhur
200