The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

"Dasar Ilmu Gizi" adalah sebuah panduan komprehensif yang membahas prinsip-prinsip dasar ilmu gizi. Dalam buku ini, pembaca akan dibawa dalam pemahaman yang mendalam tentang berbagai aspek penting terkait gizi, termasuk nutrisi, metabolisme, dan kebutuhan gizi bagi tubuh manusia.
Penulisnya mungkin menjelaskan berbagai konsep dasar, seperti macronutrien (karbohidrat, protein, dan lemak) dan mikronutrien (vitamin dan mineral), serta peran masing-masing dalam menjaga kesehatan tubuh. Buku ini juga bisa membahas topik-topik seperti kebutuhan nutrisi pada berbagai tahap kehidupan, dari bayi hingga lanjut usia, serta masalah-masalah kesehatan yang terkait dengan gizi seperti obesitas, malnutrisi, dan gangguan makan.
Dengan gaya penulisan yang jelas dan mudah dipahami, buku ini bisa menjadi sumber pengetahuan yang berharga bagi siapa pun yang tertarik untuk memahami dasar-dasar ilmu gizi dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by PERPUSTAKAAN CV. CAHAYA BINTANG CEMERLANG, 2024-05-22 08:28:15

DASAR ILMU GIZI

"Dasar Ilmu Gizi" adalah sebuah panduan komprehensif yang membahas prinsip-prinsip dasar ilmu gizi. Dalam buku ini, pembaca akan dibawa dalam pemahaman yang mendalam tentang berbagai aspek penting terkait gizi, termasuk nutrisi, metabolisme, dan kebutuhan gizi bagi tubuh manusia.
Penulisnya mungkin menjelaskan berbagai konsep dasar, seperti macronutrien (karbohidrat, protein, dan lemak) dan mikronutrien (vitamin dan mineral), serta peran masing-masing dalam menjaga kesehatan tubuh. Buku ini juga bisa membahas topik-topik seperti kebutuhan nutrisi pada berbagai tahap kehidupan, dari bayi hingga lanjut usia, serta masalah-masalah kesehatan yang terkait dengan gizi seperti obesitas, malnutrisi, dan gangguan makan.
Dengan gaya penulisan yang jelas dan mudah dipahami, buku ini bisa menjadi sumber pengetahuan yang berharga bagi siapa pun yang tertarik untuk memahami dasar-dasar ilmu gizi dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Keywords: DASAR ILMU GIZI

139 mengkonsumsi makanan manis, 93,5% kurang konsumsi sayur dan buah, 26,1 % kurang aktifitas fisik. 1. Dampak Kelebihan Gizi (Obesitas) Obesitas jika tidak ditangani dengan baik akan berdampak sangat merugikan bagi kesehatan penderitanya pada masa yang akan datang. Obesitas dapat menurunkan kualitas hidup seseorang dan meningkatkan pengeluaran dana bagi kesehatannya. Hal ini disebabkan karena obesitas adalah awalan dari beberapa penyakit degeneratif yang sangat mematikan, seperti; penyakit kardiovaskular, jantung, stroke, hipertensi, diabetes melitus, kanker, alzheimer, sleep apnea. Hingga tidak jarang kita menemukan obesitas sebagai penyebab kematian dini atau kematian pada usia dini. Obesitas juga tidak hanya menyebabkan gangguan kesehatan fisik, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan psikis, karena banyak penelitian yang melaporkan kasus rendah diri dan depresi pada penderita obesitas dan bahkan ada kecenderungan putus asa pada penderita obesitas yang berlebihan. Hal ini dikarenakan anak atau orang dengan obesitas sering dijadikan bahan tertawaan atau bahan ejekan oleh teman-temannya.


140 Kecenderungan depresi ini akan meningkatkan ketika anak-anak mulai masuk dalam fase remaja atau masa pubertas. Dalam masa ini, mereka mulai memperhatikan penampilan fisik dan mulai tertarik dengan lawan jenis. Dengan demikian, jika ia mengalami obesitas dan menjadi bahan ejekan temannya, rasa putus asa atau malu akan sangat membekas dalam kehidupannya. Ditambah lagi, banyak di antara kita sering menganggap orang yang mengalami obesitas atau kegemukan itu berperilaku lucu sehingga menjadi bahan tertawaan, padahal di sisi orang yang mengalami obesitas, humor dari teman-temannya itu menyakitkan hatinya dan tidak jarang sangat membekas dalam pikiran dan perasaannya. Obesitas juga akan berdampak pada aspek sosial ekonomi bahkan juga berdampak ke aspek spritual penderitanya. Jika obesitas tidak segera ditangani dengan benar, dapt diprediksi pada masa depan penderita obesitas tersebut akan dihadapkan dengan masalahmasalah kesehatan (penyakit kronis yang serius). Penyakit-penyakit seperti DM, jantung, hipertensi, kanker, dan sebagainya, memerlukan biaya besar untuk mengobatinya. Akibatnya kualitas hidup dari penderita obesitas akan mengalami penurunan seiring dengan


141 meningkatnya biaya kesehatan yang harus dikeluarkannya. Pada kondisi sakit parah, pasien dengan obesitas, tidak jarang mengalami rasa putus asa karena tidak kunjung sembuh dari penyakit kronis yang dialaminya. 2. Penyebab Kelebihan Gizi (Obesitas) Penyebab obesitas adalah multi-faktor yang kompleks, biasanya kita akan mengatakan dan selu berpikir bahwa obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara jumlah kalori yang dikonsumsi (masuk) dan jumlah kalori yang dibakar menjadi energi (keluar). Namun sebenarnya tidak hanya itu, dan ternyata banyak faktor yang terlibat dalam kejadian obesitas ini. Secara umum, setidaknya ada tiga faktor utama yang memengaruhi kejadian obesitas, yaitu : a. Genetik atau Keturunan Perlu diketahui bahwa seseorang yang memiliki satu atau dua orang tua yang mengalami obesitas, cenderung lebih berisiko menderita obesitas dibandingkan dengan orang yang tanpa keturunan obesitas. Selain karena ada pengaruh obesitas secara


142 genetik, tetapi juga dipengaruhi oleh pola perilaku dari orang tua yang cenderung ditiru/diadopsi oleh anaknya. Contohnya jika orang tuanya malas berolahraga biasanya anaknya juga akan malas berolahraga sehingga dua faktor tersebut saling berkait dalam meningkatkan risiko terjadinya obesitas pada anak yang orang tuanya juga mengalami obesitas. Hal ini diperkuat hasil penelitian yang melporkan bahwa diet, kebiasaan olahraga, dan status berat badan orang tua serta gaya hidup keluarga memengaruhi obesitas pada anak. b. Kebiasaan Makan Yang Salah Saat ini makanan siap saji yang tinggi akan gula/karbohidrat dan tinggi lemak, banyak dijual dan menjadi gaya hidup bagi sebagian orang, khususnya yang tinggal di perkotaan. Pola makan tinggi karbohidrat dan tidak suka makan sayur dan buah juga masih menjadi masalah yang banyak ditemui, khususnya pada anak-anak. Masih banyak contoh lain kebiasaan makan kita yang salah sehingga menyebabkan terjadinya obesitas.


143 c. Gaya Hidup Saat ini, kita hidup pada zaman milenial. Zaman yang memungkinkan semua dapat dilakukan dengan mudah, ornag akan lebih banyak duduk di depan komputer atau juga handphone-nya sehingga sangat kurang dalam aktivitas yang menggunakan fisik dan juga aktivitas di luar ruangan. Anak-anak sudah tidak ada lagi yang bermain diluar ruangan. Mereka hanya bermain dengan play station atau hanphone-nya sehingga sangat kurang dengan gerakan fisik yang dapat membakar kalori dalam tubuhnya. Ibu-ibu sudah tidak repot-repot belanja keliling pasar atau supermarket, karena cukup dengan menekan handphone semua belanjaan dapat dipili, dibeli, dan diantar ke rumah. 3. Pencegahan Kelebihan Gizi (Obesitas) Untuk mencegah obesitas, sangatlah penting untuk melakukan hal-hal penting berikut: a. Konsumsi makanan sehat dan gizi seimbang, konsumsi buah sayur minimal 5 porsi per hari. b. Konsumsi gula, garam dan lemak dengan pedoman G4 G1 L5 (konsumsi Gula maksimal 4 sendok makan


144 atau 50 gram per hari, konsumsi Garam maksimal 1 sendok teh atau 2 gram per hari, konsumsi Lemak maksimal 5 sendok makan atau 67 gram per hari). c. Rajin melakukan aktivitas fisik secara teratur seperti berjalan kaki, membersihkan rumah, dan berolah raga, upayakan dilakukan secara BBTT (Baik, Benar, Teratur dan Terukur). d. Jaga berat badan agar tetap ideal dan tidak berisiko dengan mempertahankan Indeks Massa Tubuh (IMT) di kisaran 18-23 kg/m2 . 4. Penanganan Kelebihan Gizi (Obesitas) a. Perubahan pola makan: Bekerja sama dengan ahli gizi untuk membuat rencana makan yang sehat dan sesuai dengan kebutuhan individu. b. Meningkatkan aktivitas fisik: Meningkatkan aktivitas fisik secara bertahap dan memilih jenis aktivitas yang disukai. c. Terapi perilaku: Mendapatkan bantuan dari psikolog atau terapis untuk mengatasi faktor psikososial yang berkontribusi pada kelebihan gizi.


145 d. Obat-obatan: Dalam beberapa kasus, obat-obatan dapat diresepkan untuk membantu menurunkan berat badan. e. Operasi bariatrik: Operasi penurunan berat badan dapat menjadi pilihan bagi orang dengan obesitas parah yang tidak dapat menurunkan berat badan dengan cara lain. 5. Peran Penting dalam Pencegahan dan Penanganan Kelebihan Gizi Pemerintah Melakukan edukasi tentang pola makan sehat dan gaya hidup aktif, menyediakan akses makanan bergizi dan air bersih, dan meningkatkan layanan kesehatan. Masyarakat Menerapkan pola hidup sehat dan bergizi, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, dan berpartisipasi dalam program pencegahan dan penanganan kelebihan gizi. Media massa Memberikan informasi yang akurat dan edukatif tentang pola makan sehat dan gaya hidup aktif.


146 C. Gangguan Metabolik Gangguan metabolisme merupakan kondisi di mana tubuh tidak dapat memproses zat gizi dengan normal, sehingga berakibat pada berbagai masalah kesehatan. Gangguan ini dapat disebabkan oleh faktor genetik, pola makan yang tidak sehat, gaya hidup kurang aktif, dan penyakit tertentu. 1. Jenis-jenis Gangguan Metabolisme a. Gangguan Metabolisme Karbohidrat: Diabetes, hipoglikemia, galaktosemia. b. Gangguan Metabolisme Lemak: Hiperlipidemia, penyakit hati berlemak, obesitas. c. Gangguan Metabolisme Protein: Fenilketonuria, albinisme, penyakit Gaucher. 2. Gejala Gangguan Metabolisme Gejala ganggua metabolisme bervariasi tergantung pada jenis gangguannya. Berikut beberapa gejala umum: Kelelahan Kelemahan otot Penurunan berat badan Peningkatan berat badan Rasa haus berlebihan


147 Sering buang air kecil Mual dan muntah Nyeri perut Ruam kulit Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan (pada anak-anak) 3. Dampak Gangguan Metabolisme Gangguan metabolisme dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, seperti: Penyakit jantung Stroke Gagal ginjal Kerusakan saraf Gangguan penglihatan Kanker Kematian 4. Pencegahan dan Pengobatan Gangguan Metabolisme Pencegahan dan pengobatan gangguan metabolisme tergantung pada jenis gangguannya. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan: a. Konsultasi dengan dokter


148 Penting untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan rencana pengobatan yang tepat. b. Perubahan pola makan Dokter atau ahli gizi akan membantu Anda membuat rencana makan yang sesuai dengan kebutuhan Anda. c. Pengobatan Tergantung pada jenis gangguannya, dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan untuk membantu mengontrol metabolisme Anda. d. Terapi Terapi fisik, okupasi, atau wicara mungkin diperlukan untuk membantu Anda mengatasi komplikasi dari gangguan metabolisme. e. Gaya hidup sehat Menjaga pola makan sehat, berolahraga secara teratur, dan mengelola stres dapat membantu Anda mengontrol metabolisme Anda dan mencegah komplikasi.


149 BAB VIII GIZI DAN PENYAKIT A. Hubungan Antara Gizi dan Penyakit Hubungan antara gizi dan penyakit sangatlah erat. Gizi yang buruk atau kurang dapat meningkatkan risiko terkena berbagai penyakit kronis seperti obesitas, diabetes, penyakit jantung, hipertensi, osteoporosis, dan beberapa jenis kanker. Kekurangan gizi juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan risiko infeksi, dan memperlambat proses penyembuhan. Sebaliknya, konsumsi gizi yang seimbang dan mencukupi dapat menjaga kesehatan tubuh serta menurunkan risiko terkena penyakit-penyakit tersebut. Makanan sehat yang mengandung berbagai macam nutrisi penting seperti vitamin, mineral, protein, lemak sehat, dan serat, membantu menjaga fungsi tubuh dan sistem kekebalan tubuh agar tetap optimal. Menerapkan pola makan seimbang dengan mengonsumsi beragam jenis makanan yang sehat serta memperhatikan kebutuhan gizi individu merupakan langkah penting dalam menjaga kesehatan dan mencegah terjadinya penyakit. Selain itu, edukasi mengenai


150 pentingnya gizi yang baik juga merupakan bagian penting dari upaya pencegahan penyakit dalam masyarakat. Memahami hubungan ini sangat penting untuk membangun pola makan yang sehat dan mencegah berbagai penyakit. 1. Dampak Kekurangan Gizi pada Kesehatan Kekurangan zat gizi penting dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti: Kurang energi dan kelelahan Tubuh membutuhkan zat gizi untuk menghasilkan energi. Kekurangan zat gizi seperti karbohidrat, protein, dan vitamin B dapat menyebabkan kelelahan dan kekurangan energi. Sistem kekebalan tubuh lemah Kekurangan zat gizi seperti vitamin A, vitamin C, dan zinc dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga mudah terserang penyakit. Pertumbuhan dan perkembangan terhambat Kekurangan zat gizi pada anak-anak dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental mereka. Penurunan fungsi kognitif


151 Kekurangan zat gizi seperti zat besi dan omega-3 dapat memengaruhi fungsi kognitif dan meningkatkan risiko masalah belajar dan memori. Meningkatkan risiko penyakit kronis Kekurangan zat gizi tertentu dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, dan kanker. 2. Dampak Kelebihan Gizi pada Kesehatan Konsumsi berlebihan zat gizi tertentu juga dapat berakibat buruk bagi kesehatan, seperti: Obesitas Kelebihan kalori dan lemak dapat menyebabkan obesitas, yang merupakan faktor risiko utama berbagai penyakit kronis. Penyakit jantung Kelebihan lemak jenuh dan lemak trans dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah, yang dapat menyumbat arteri dan menyebabkan penyakit jantung. Diabetes Kelebihan karbohidrat olahan dan gula dapat meningkatkan kadar gula darah dengan cepat dan


152 menyebabkan resistensi insulin, yang merupakan faktor risiko utama diabetes tipe 2. Penyakit ginjal Kelebihan protein dan fosfor dapat membebani ginjal dan meningkatkan risiko penyakit ginjal. Penyakit hati Kelebihan lemak jenuh dan lemak trans dapat menyebabkan perlemakan hati dan penyakit hati lainnya. Kanker Kelebihan kalori dan obesitas dapat meningkatkan risiko berbagai jenis kanker, termasuk kanker payudara, endometrium, dan kolon. B. Pencegahan dan Pengelolaan Penyakit melalui Gizi Gizi bagaikan perisai dan pedang dalam pertempuran melawan penyakit. Asupan gizi yang tepat dan seimbang dapat menjadi pencegahan dan pengelolaan penyakit yang efektif. Mari kita telusuri strategi jitu ini untuk meraih kesehatan optimal. 1. Mencegah Penyakit a. Membangun Fondasi Sehat o Gizi Seimbang Sejak Dini


153 Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama dan MPASI bergizi seimbang untuk anak. o Pola Makan Sehat untuk Semua Ajak seluruh keluarga untuk mengonsumsi makanan beragam dari semua kelompok makanan, dengan fokus pada buah, sayur, karbohidrat kompleks, protein tanpa lemak, dan lemak sehat. o Batasi Makanan Olahan, Gula, dan Lemak Jenuh Hindari konsumsi berlebihan makanan olahan, tinggi gula, dan lemak jenuh yang dapat memicu berbagai penyakit. o Jaga Berat Badan Ideal Bantu anak dan keluarga untuk menjaga berat badan ideal dengan pola makan sehat dan aktivitas fisik yang cukup. b. Menangkal Infeksi o Vitamin dan Mineral Esensial Pastikan asupan vitamin A, C, E, zinc, dan zat gizi lainnya terpenuhi untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh.


154 o Probiotik Konsumsi makanan kaya probiotik seperti yogurt dan tempe untuk meningkatkan kesehatan pencernaan dan melawan infeksi. c. Memperkuat Tulang dan Sendi o Kalsium dan Vitamin D: Penuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D untuk menjaga kesehatan tulang dan gigi, serta mencegah osteoporosis. d. Menjaga Kesehatan Jantung o Lemak Sehat: Ganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh tunggal dan ganda yang terdapat pada minyak zaitun, alpukat, dan kacang-kacangan untuk menjaga kesehatan jantung. o Serat: Konsumsi serat yang cukup untuk membantu menurunkan kolesterol jahat (LDL) dan menjaga tekanan darah. e. Mencegah Kanker o Antioksidan Konsumsi banyak buah dan sayur kaya antioksidan untuk melawan radikal bebas yang dapat memicu kanker. o Batasi Konsumsi Daging Merah Olahan


155 Kurangi konsumsi daging merah olahan seperti sosis dan kornet untuk menurunkan risiko kanker usus besar. 2. Mengelola Penyakit a. Diabetes o Karbohidrat Kompleks Pilih karbohidrat kompleks seperti nasi merah, roti gandum, dan oatmeal untuk mengontrol kadar gula darah. o Serat Konsumsi serat yang cukup untuk membantu memperlambat penyerapan gula ke dalam darah. b. Penyakit Jantung o Lemak Sehat Ganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh tunggal dan ganda untuk menurunkan kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kolesterol baik (HDL). o Tekanan Darah Konsumsi makanan kaya kalium dan magnesium untuk membantu menurunkan tekanan darah.


156 c. Penyakit Ginjal o Protein Batasi konsumsi protein sesuai anjuran dokter untuk mengurangi beban kerja ginjal. o Fosfor Hindari makanan tinggi fosfor seperti daging organ dan minuman bersoda. d. Kanker o Antioksidan Konsumsi banyak buah dan sayur kaya antioksidan untuk membantu tubuh melawan sel kanker. o Sistem Kekebalan Tubuh Pastikan asupan vitamin dan mineral terpenuhi untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh. Gizi seimbang merupakan alat utama dalam mencegah dan mengelola berbagai penyakit. Dengan menerapkan pola makan sehat dan bergizi seimbang, Anda dapat meningkatkan kualitas hidup dan mencapai kesehatan optimal. Konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi untuk mendapatkan panduan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda.


157 BAB IX GIZI DALAM BERBAGAI KELOMPOK POPULASI A. Gizi Pada Anak-anak Kebutuhan gizi setiap orang berbeda-beda, tergantung pada usia, jenis kelamin, tingkat aktivitas, dan kondisi kesehatan. Memahami kebutuhan gizi yang spesifik untuk setiap kelompok populasi sangat penting untuk memastikan kesehatan dan perkembangan yang optimal. Pada kesempatan ini, mari kita fokus pada kebutuhan gizi pada anak-anak. Masa kanak-kanak merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Pada masa ini, anak-anak membutuhkan asupan zat gizi yang lengkap dan seimbang untuk mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan mental, dan sistem kekebalan tubuh. 1. Kebutuhan Gizi Anak Karbohidrat Merupakan sumber energi utama bagi tubuh. Pilih karbohidrat kompleks seperti nasi merah, roti gandum, dan ubi jalar. Protein


158 Membangun dan memperbaiki jaringan tubuh. Pastikan anak mendapatkan protein dari berbagai sumber seperti daging tanpa lemak, ikan, telur, kacang-kacangan, dan produk susu. Lemak Sehat Penting untuk perkembangan otak dan penyerapan vitamin. Pilih lemak tak jenuh tunggal dan ganda yang terdapat pada minyak zaitun, alpukat, dan kacangkacangan. Vitamin dan Mineral Berperan penting dalam berbagai fungsi tubuh. Pastikan anak mendapatkan vitamin dan mineral yang cukup dari buah-buahan, sayur-sayuran, dan sumber makanan lainnya. Air Putih Menjaga tubuh terhidrasi dan membantu fungsi tubuh optimal. Pastikan anak minum air putih yang cukup setiap hari. B. Gizi Pada Remaja Remaja yang berstatus gizi baik menjadi salah satu upaya pencegahan stunting dan penurunan angka kematian ibu dan anak. Remaja menurut Peraturan Menteri Kesehatan


159 RI Nomor 25 tahun 2014 adalah penduduk dalam rentang usia 10 – 18 tahun. Saat seseorang memasuki masa remaja, anak akan mengalami masa pubertas. Pada fase tersebut, remaja akan mengalami pertumbuhan fisik yang disertai oleh perkembangan mental, kognitif, dan psikis. Tidak terpenuhinya gizi pada masa ini dapat menyebabkan gangguan dan hambatan dalam pertumbuhan remaja. Masa remaja merupakan periode transisi penting dalam kehidupan, ditandai dengan pertumbuhan fisik dan perkembangan mental yang pesat. Kebutuhan gizi pada remaja pun berbeda dengan anak-anak dan orang dewasa. Memahami kebutuhan gizi yang spesifik untuk remaja sangat penting untuk memastikan mereka mendapatkan asupan yang tepat untuk mendukung pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan secara optimal. Adapun kebutuhan gizi pada remaja, antara lain: a. Energi Faktor yang perlu diperhatikan untuk menentukan kebutuhan energi remaja adalah aktivitas fisik, seperti olahraga yang diikuti baik dalam kegiatan di sekolah maupun di luar sekolah. Remaja yang aktif dan banyak melakukan olahraga memerlukan asupan energi yang lebih besar dibandingkan yang kurang aktif.


160 Angka kecukupan gizi (AKG) energi untuk remaja dan dewasa muda perempuan 2000 - 2200 kkal, sedangkan untuk laki-laki antara 2400- 2800 Kkal setiap hari. AKG energi ini dianjurkan sekitar 60% berasal dari sumber karbohidrat. Makanan sumber karbohidrat adalah: beras, terigu dan hasil olahannya (mie, spagetti, macaroni), umbi-umbian (ubi jalar, singkong), jagung, gula, dan lain-lain. b. Protein Kebutuhan protein meningkat pada masa remaja, karena proses pertumbuhan yang sedang terjadi dengan cepat. Pada awal masa remaja, kebutuhan protein remaja perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki, karena memasuki masa pertumbuhan cepat lebih dulu. Pada akhir masa remaja, kebutuhan protein laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan karena perbedaan komposisi tubuh. Kecukupan protein bagi remaja 1,5 - 2,0 gr/kg BB/hari. AKG protein remaja dan dewasa muda adalah 48- 62 gr per hari untuk perempuan dan 55- 66 gr per hari untuk laki-laki. 3. Lemak Lemak tak jenuh tunggal dan ganda penting untuk perkembangan otak, penyerapan vitamin, dan kesehatan


161 jantung. Sumber lemak sehat termasuk minyak zaitun, alpukat, kacang-kacangan, dan biji-bijian. 4. Kalsium Kebutuhan kalsium pada masa remaja relatif tinggi karena akselerasi muscular, skeletal/kerangka dan perkembangan endokrin lebih besar dibandingkan masa anak dan dewasa. Lebih dari 20 persen pertumbuhan tinggi badan dan sekitar 50 persen massa tulang dewasa dicapai pada masa remaja. AKG kalsium untuk remaja dan dewasa muda adalah 600-700 mg per hari untuk perempuan dan 500- 700 mg untuk laki-laki. Sumber kalsium yang paling baik adalah susu dan hasil olahannya. Sumber kalsium lainnya ikan, kacang-kacangan, sayuran hijau, dan lainlain. 5. Zat Besi Kebutuhan zat besi pada remaja meningkat karena terjadinya pertumbuhan cepat. Kebutuhan besi pada remaja laki-laki meningkat karena ekspansi volume darah dan peningkatan konsentrasi haemoglobin (Hb). Setelah dewasa, kebutuhan besi menurun. Pada perempuan, kebutuhan yang tinggi akan besi terutama disebabkan kehilangan zat besi selama


162 menstruasi. Hal ini mengakibatkan perempuan lebih rawan terhadap anemia besi dibandingkan laki-laki. Perempuan dengan konsumsi besi yang kurang atau mereka dengan kehilangan besi yang meningkat, akan mengalami anemi gizi besi. Sebaliknya defisiensi besi mungkin merupakan limiting factor untuk pertumbuhan pada masa remaja, mengakibatkan tingginya kebutuhan mereka akan zat besi. 6. Seng (Zinc) Seng diperlukan untuk pertumbuhan serta kematangan seksual remaja, terutama untuk remaja lakilaki. AKG seng adalah 15 mg per hari untuk remaja dan dewasa muda perempuan dan laki-laki. 7. Vitamin Kebutuhan vitamin juga meningkat selama masa remaja karena pertumbuhan dan perkembangan cepat yang terjadi. Karena kebutuhan energi meningkat, maka kebutuhan beberapa vitamin pun meningkat, antara lain yang berperan dalam metabolisme karbohidrat menjadi energi seperti vitamin B1, B2 dan Niacin. Untuk sintesa DNA dan RNA diperlukan vitamin B6, asam folat dan vitamin B12, sedangkan untuk pertumbuhan tulang


163 diperlukan vitamin D yang cukup. Dan vitamin A, C dan E untuk pembentukan dan penggantian sel. C. Gizi Pada Orang Dewasa Tubuh dalam keadaan normal, akan mengatur keseimbangan antara energi yang diperoleh dari makanan dengan energi yang diperlukan oleh tubuh manusia guna mempertahankan kelangsungan fungsi tubuh. Pada orang dewasa, di mana pertumbuhan sudah tidak terjadi, kebutuhan akan zat-zat gizi tergantung pada aktivitas fisiknya. Umumnya, laki-laki lebih memerlukan energi karena secara fisik lebih banyak bergerak daripada wanita. Dewasa telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat, dibagi menjadi 3 fase: masa pembentukan usia 20 – 30 tahun, masa konsolidasi usia 30 – 40 tahun (karier) dan masa transisi di atas 40 tahun (evaluasi). Usia 20 tahun pertumbuhan berhenti sama sekali (linear) kebutuhan gizi relative konstan, kecuali terjadi kondisi khusus. Selain itu, semakin tinggi dan semakin berat badan seseorang, maka kebutuhan energinya juga perlu ditambahkan. Secara lebih rinci, kecukupan gizi yang dianjurkan untuk orang dewasa per hari yaitu Energi (kkal)


164 perempuan umur 20-45 tahun memerlukan sekitar 2.200 Kkal, sedangkan untuk protein perempuan umur 20-45 tahun adalah sebanyak 60 gram. Energi diperoleh dari karbohidrat, lemak dan protein yang berada di makanan. Kandungan karbohidrat, lemak, dan protein suatu bahan makanan menentukan nilai energinya. 1. Status Gizi pada Orang Dewasa Zat gizi pada masa dewasa dipentingkan untuk mempertahankan kebugaran tubuh dan mencegah terjadinya penyakit serta untuk mempertahankan produktivitas dan kualitas hidup Makanan (terutama yang berasal dari tanaman) dapat mengoptimalkan fungsi pencernaan dan sistem detoksifikasi hati dan fungsi sistem organ tubuh lainnya, termasuk sistem imunitas. 2. Penilaian Status Gizi Indeks Masa Tubuh (IMT) Dihitung dgn rumus: IMT = () 2


165 Interpretasi Klasifikasi IMT (kg/m2 ) Kurang < 18,5 Normal 18,5 – 22,9 Pre-Obesitas 23 – 24,9 Obesitas I 25 – 29,9 Obesitas II >30 3. Kecukupan dan Kebutuhan Gizi Kebutuhan gizi dapat menggunakan KGA KGA dipergunakan untuk mengetahui kebutuhan gizi orang sehat atau survei gizi pada populasi yang besar dan tidak bisa dipakai untuk perencanaan diit seseorang Perencanaan diit atau kebutuhan gizi orang dewasa dapat mengacu pada kebutuhan energi sebesar 30-50 kal/kg BB/hr, protein 1 g/kg BB/hr, lemak dibatasi25% dari energi total atau menggunakan rumus Harris-Benedict dengan cara: menghitung BMR, aktivitas dan SDA. D. Gizi pada Lansia Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari proses kehidupan yang tak dapat


166 dihindarkan dan akan dialami oleh setiap individu. Pada tahap ini individu mengalami banyak perubahan baik secara fisik maupun mental, khususnya kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan yang pernah dimilikinya. Perubahan penampilan fisik sebagian dari proses penuaan normal, seperti rambut yang mulai memutih, kerut-kerut ketuaan di wajah, berkurangnya ketajaman panca indera, serta kemunduran daya tahan tubuh, merupakan ancaman bagi integritas orang usia lanjut. Golongan usia lansia, antara lain: Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pengertian lansia digolongkan menjadi 4, yaitu: Usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun Lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun Lansia sangat tua (very old) diatas 90 tahun. Penuaan adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari, berjalan secara terus menerus, dan berkesinambungan. Selanjutnya akan mengakibatkan perubahan anatomis, fisiologis, dan biokimia pada tubuh, sehingga akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan. Penuaan seringkali diiringi dengan munculnya berbagai gangguan kesehatan, mulai dari


167 gangguan metabolisme hingga penurunan daya tahan tubuh. Penurunan kondisi fisik pada lansia seperti kehilangan gigi, indera pengecap dan penciuman menurun, tidak mudah merasa lapar, mudah diare , sembelit dan kembung sangat mempengaruhi asupan makan atau daya terima terhadap makanan. Cara mengatasinya adalah dengan mengatur pola makan. Deteksi dini (Penapisan dan Pengkajian) dan pemberian zat gizi adekuat sebagai tata laksana awal merupakan hal yang penting dilakukan untuk mencegah terjadinya masalah gizi pada lansia. a. Status Gizi Lansia Status gizi dapat diukur indeks massa tubuh (IMT). IMT didapatkan dari Berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan dalam meter kuadrat. Kategori : IMT < 18> IMT 18,5 – 15 = normal IMT 26 – 29 = kegemukan IMT > 29 = obesitas Nutrisi yang baik pada lansia dapat mencegah malnutrisi, mendukung fungsi fisik, mengurangi resiko penyakit kronik, mendukung kesehatan mental serta


168 mencegah disabilitas. Untuk mendapatkan nutrisi yang baik, lansia harus mengkonsumsi makanan seimbang. b. Makanan Seimbang Bagi Lansia Asupan lemak dan garam sebaiknya dikurangi Protein sebaiknya tidak dikurangi dan tidak ditambah. Kalsium ekstra sangat penting, khususnya untuk perempuan postmenopause, diet kaya kalsium dipadukan dengan suplementasi vitamin D dan minum susu secara teratur. Vitamin D biasanya tidak perlu ditambah. Makanan yang digoreng, sereal, tepung, dan krim cokelat manis sebaiknya dihindari. Memperbanyak konsumsi serat dari diet untuk mengatasi berbagai gangguan yang berkaitan dengan penuaan seperti konstipasi, diabetes, dan penyakit jantung yaitu buahan seperti papaya. Memilih ragam makanan seperti produk susu, puding, telur rebus, sayuran (yang telah dikukus), salad yang telah dipotong kecil-kecil, buah lembut seperti pisang dan jeruk.


169 Pilihlah makanan yang berwarna, menarik, dan lezat serta sajikan dengan cara menyenangkan yang bisa membangkitkan selera. Kurangi asupan karbohidrat, khususnya glukosa/ gula. Mengonsumsi berbagai jenis makanan sesuai dengan pedoman diet sehat dan seimbang. Meningkatkan frekuensi makanan dalam sehari dengan kudapan (selingan) di antara waktu makan utama (3 x makan utama 3 x makan selingan, porsi kecil tapi sering). Menghindari perut kosong di malam hari (> 12 jam) dengan memundurkan jam makan malam serta mengawalkan sarapan pagi dan atau memberikan kudapan. Memberikan makanan dengan nilai kalori tinggi dan atau protein tinggi. Mendesain menu sesuai dengan keinginan/preferensi pasien dan memodifikasi tekstur makanan menurut kemampuan mengunyah dan menelan. Memberikan suasana yang menyenangkan saat makan.


170 c. Perhitungan Kebutuhan Gizi a. Kebutuhan Energi (Kalori) BB aktual digunakan pada pasien dengan IMT kurang dan normal. Kebutuhan energi pasien dengan IMT kurang dapat berubah sesuai dengan perubahan berat badan aktual yang di dapatkan saat monev. BB ideal digunakan pada pasien dengan IMT lebih atau obese. Kebutuhan energi lansia sehat dimulai dari 25 - 30 kkal/kg/hari. Kebutuhan energi pasien lasia dengan kondisi stress metabolik 30 -35 kkll/kg/hari. b. Kebutuhan Protein Asupan protein untk lansia disarankan lebih tinggi dibandingkan dewasa muda. PROT-AGE merekomendasikan : 1 – 1, 2 gram protein/kg BB/ hari untuk lansia sehat, pasien lansia dengan risiko malnutsrisi 1, 2 – 1, 5 gram/kg BB/hari, pasien dengan diagnosa malnutrisi dan infeksi parah : 2 gram/kg BB/hari. Kebutuhan ini tidak berlaku untuk lansia dengan gangguan ginjal atau pada lansia yang harsus membatasi konsumsi protein. c. Kebutuhan Lemak


171 Jenis Lemak Total Lemak As Lemak Jenuh (SFA) As. Lemak Trans (TFA) As. Lemak Tidak Jenuh Ganda (PUFA) As. Lemak Tidak Jenuh Tunggal (MUFA). Total lemak – SFA – PUFA – TFA < 300> d. Kolesterol Kebutuhan 20 -35?ri total kalori e. Kebutuhan Cairan Kebutuhan cairan harian lansia dihitung berdasarkan berat badan: 25 – 30 ml/kg BB. Faktor yang mempengaruhi kebutuhan cairan: Faktor Demam Berkeringat Hiperventilasi Hipertiroid Peningkatan Kebutuhan Cairan 12, 5% untuk setiap kenaikan suhu 10 C di atas normal 10 – 25%, 10 – 60%, 25 – 60%. E. Gizi Pada Ibu Hamil dan Menyusui 1. Gizi pada Ibu Hamil Asupan zat gizi untuk bayi di dalam kandungan berasal dari simpanan zat gizi di dalam tubuh ibunya. Olehkarena itu sangat penting bagi calon ibu hamil mempunyai status gizi yang baik sebelum memasuki kehamilannya, (misalnya tidak kurus, tidak anemia, tidak gemuk), untuk memastikan cadangan zat gizi ibu hamil


172 mencukupi untuk memenuhi kebutuhan janinnya. Pemantauan Berat Badan selama Hamil merupakan salah satu indikator yang dapat menunjukkan terpenuhinya asupan makanan bagi janin. Seorang ibu berisiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah jika ibu dalam kondisi kurus pada saat memasuki kehamilannya, dan atau mengalami penambahan berat badan selama hamil yang tidak adekuat. Penambahan Berat Badan selama Hamil yang optimal sesuai dengan status gizi Ibu yang diukur dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) sebelum hamil atau pada masa trimester pertama. Selain berdasarkan IMT, status gizi Ibu Hamil juga dapat digambarkan melalui Lingkar Lengan Atas (LiLA). Ukuran LiLA <23,5 cm mengindikasikan bahwa Ibu Hamil berisiko mengalami Kurang Energi Kronis (KEK) sehingga perlu mendapatkan perhatian terkait dengan asupan selama kehamilan. Peningkatan LiLA tidak sepeka peningkatan berat badan dalam menggambarkan perbaikan status gizi Ibu Hamil, yaitu hanya sekitar berkurang atau bertambah sebesar 1 cm selama kehamilan, sehingga perubahan LiLA tidak dapat menjadi cara pengukuran yang baik untuk proses monitoring status gizi Ibu Hamil.


173 1. Kebutuhan Gizi Ibu Hamil Untuk mencapai Penambahan Berat Badan selama hamil yang optimal, perlu memperhatikan halhal berikut: 1) Zat Gizi Makro 1) Kebutuhan Energi selama Hamil Ibu Hamil membutuhkan tambahan sekitar 300 kalori/hari selama kehamilan. Perhitungan ini berdasarkan perkiraan tambahan energi sebesar 80.000 kalori yang dibutuhkan untuk mendukung kehamilan 9 bulan penuh yang tidak hanya meningkakan metabolisme Ibu dan janin, namun juga untuk mendukung pertumbuhan janin dan plasenta. Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa selain tambahan 300 kkal tersebut, ibu mempraktikkan pola makan bergizi seimbang sehingga terpenuhi semua zat gizi yangdibutuhkan oleh ibu dan janin. Pada trimester pertama, umumnya tidak ada perbedaan kebutuhan energi dengan perempuan tidak hamil, karena walaupun terjadi pembentukan semua cikal bakal organ tubuh


174 pada trimester pertama, energi yang dibutuhkan sedikit. Namun pada trimester kedua dan ketiga, kebutuhan energi meningkat berturut-turut menjadi 340 kalori dan 452 kalori/hari. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya laju metabolisme basal Ibu hingga mencapai 60% dibandingkan sebelum hamil. Di samping itu, kebutuhan energi tersebut juga bervariasi pada setiap Ibu, bergantung pada usia, IMT, dan Tingkat aktivitasnya. 2) Kebutuhan Protein selama Hamil Asupan protein yang dianjurkan untuk perempuan dewasa adalah 55-65 g/hari. Selama kehamilan, kebutuhan protein berturut-turut meningkat sebanyak 1 g, 10 g, dan 30 g/hari pada trimester I, II, dan III. Karbohidrat harus menopang 60 atau 65% energi harian dan ini termasuk sekitar 3-4 porsi makanan pokok setiap hari. Asupan lemak total harus terdiri dari 20- 35% kalori harian, meningkat sebanyak sekitar 2 g/hari dibandingkan dengan perempuan yang tidak hamil. Sebagai gambaran


175 atas terpenuhinya kebutuhan zat gizi tersebut, kenaikan berat badan ibu yang optimal setiap trimesternya harus dicapai (Tabel 1). Konsumsi pangan sumber protein hewani selain untuk memenuhi kebutuhan asam amino esensial (protein penting yang tidak dibentuk oleh tubuh), juga untuk memenuhi kebutuhan zat besi. b. Zat Gizi Mikro Secara umum, ibu hamil membutuhkan mineral dan vitamin yang sangat penting untuk mencegah komplikasi selama kehamilan dan persalinan dan untuk pertumbuhan/ perkembangan janinnya. Mineral esensial tersebut adalah: besi, kalsium, tembaga, iodium, magnesium, selenium, dan zinc. Sedangkan vitamin, semua vitamin diperlukan, terutama adalah Asam Folat, sesuai dengan besarnya risiko bila kekurangan, seperti spina bifida. Kekurangan mineral dan vitamin juga dapat berakibat gangguan pada fungsi imun, gangguan perkembangan otak dan sistem syaraf, anemia, preeklampsia, BBLR, dan prematuritas. Secara


176 umum, ibu hamil membutuhkan tambahan vitamin A, berbagai vitamin B, dan vitamin C. Sedangkan kebutuhan mineral yang meningkat selama kehamilan adalah Ca, Besi, Iodium, seng, Selenium, Mangan, Chromium, dan Tembaga. Secara rinci, kebutuhan beberapa jenis zat gizi mikro Ibu Hamil dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Zat Besi Zat besi merupakan mineral yang penting tidak hanya pada masa kehamilan, bahkan sejak remaja. Berdasarkan AKG 2019, kebutuhan zat besi bervariasi pada setiap kelompok umur perempuan. Namun, kebutuhan zat besi tertinggi ada pada kelompok usia produktif atau perempuan usia subur (13 – 49 tahun) yakni sebesar 15 – 18 mg/hari dan meningkat sebanyak 9 mg/hari untuk perempuan hamil pada trimester 2 dan 3. Untuk memenuhi kebutuhan zat besi, dianjurkan untuk mengonsumsi makanan kaya zat besi termasuk daging merah, hati, ayam, ikan, dan sayur berdaun hijau tua serta buah berwarna oranye seperti pepaya.


177 2) Asam Folat Asam folat adalah salah satu jenis vitamin B yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan sel yang cepat, pembelahan sel, dan pembentukan sel-sel saraf dalam perkembangan janin dan plasenta. Kebutuhan folat meningkat selama kehamilan untuk mendukung pertumbuhan janin. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) Tahun 2019, kebutuhan perempuan tidak hamil akan folat adalah sebesar 400 mcg/hari dan meningkat menjadi 600 mcg/hari selama kehamilan. Sumber bahan makanan kaya folat adalah buah jeruk, sayuran berdaun hijau tua, kacangkacangan, dan hati. 3) Vitamin A Vitamin A sangat penting untuk pembelahan dan perkembangan sel, perkembangan tulang belakang, jantung, mata, dan telinga. Anak dari ibu yang mengalami kekurangan vita min A, memiliki risiko kematian yang lebih tinggi, yang mungkin terkait dengan penurunan fungsi kekebalan


178 tubuh. Meskipun sebagian besar zat gizi mikro memiliki ambang batas toleransi yang tinggi untuk dikonsumsi, vitamin A merupakan salah satu pengecualian. Konsumsi vitamin A (dalam bentuk retinol, bukan karoten seperti yang secara alami terkandung dalam wortel) yang berlebihan (>10.000 IU atau 3.000 RE/hari), misalnya dari suplemen, dapat memberikan efek teratogenik, seperti cacat jantung, langitlangit dan rongga mulut. 4) Kalsium Kalsium merupakan mineral yang paling banyak kandungannya didalam tubuh, 99% berada di dalam tulang, sisanya didalam darah dan cairan interstitial sel. Kalsium sangat penting untuk pertumbuhan/ perkembangan janin, oleh karenanya kebutuhan Kalsium ibu meningkat selama kehamilan. Sejak kehamilan usia 20 minggu, kandungan Kalsium di dalam sirkulasi darah janin lebih tinggi dibandingkan di dalam plasma ibu. Kekurangan Kalsium saat kehamilan dikaitkan dengan risiko berat badan lahir rendah (BBLR), prematuritas dan


179 kenaikan tekanan darah ibu hamil. WHO merekomendasikan suplementasi Kalsium selama hamil pada populasi yang konsumsi Kalsiumnya rendah, sebesar 1.5 g - 2 g per hari dibagi dalam 3 dosis (3 x 500 mg), yang dimulai pada kehamilan usia 20 minggu. Sumber utama Kalsium dalam makanan adalah adalah susu, sereal dan sayur. 5) Probiotik dan Prebiotik Probiotik didefinisikan sebagai mikroorganisme hidup yang bila dikonsumsi dalam jumlah yang cukup dapat bermanfaat bagi kesehatan manusia. Salah satu mekanisme dari probiotik adalah mampu menekan atau menghambat pertumbuhan dari bakteri jahat dari dalam saluran pencernaan, khususnya usus besar, jika dikonsumsi dalam jumlah yang sesuai. a. Kebutuhan Gizi pada Ibu Menyusui Setelah melahirkan, ibu senantiasa tetap harus menjaga kesehatan dan status gizinya dalam keadaan baik, tidak hanya untuk kepentingan dirinya sendiri,


180 namun juga untuk bayinya sebab kebutuhan gizi untuk bayi dipenuhi dari ASI selama 6 bulan pertama kehidupannya. Hal ini penting untuk dipahami mengingat seluruh anggota organisasi kesehatan dunia (WHO) mendukung pernyataan bahwa ASI adalah standar global pemberian makanan bayi dan pemberian ASI Eksklusif (hanya ASI) hingga bayi berusia 6 bulan sangat direkomendasikan. Hal ini juga sejalan dengan amanat Undang Undang Kesehatan No 36 Tahun 2009 Pasal 128 Ayat 1, bahwa setiap bayi berhak mendapatkan ASI Eksklusif selama 6 bulan, kecuali atas indikasi medis. Dilanjutkan dengan pemberian makanan pendamping, ASI dapat terus diberikan hingga anak berusia 2 tahun atau lebih. ASI merupakan satu-satunya makanan di dunia yang mengandung semua jenis zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia untuk menunjang/menjamin kesehatan yang baik selama 6 bulan pertama kehidupan, mulai darikarbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral hingga berbagai komponen bioaktif yang mendukung pematangan sistem kekebalan tubuh sehingga dapat melindungi bayi dari berbagai jenis penyakit. ASI juga sangat


181 mudah diserap dan efisien digunakan oleh tubuh. Kandungan ASI pun senantiasa berubah menyesuaikan kebutuhan zat gizi bayi seiring dengan pertumbuhannya. Pada umumnya, wanita hamil menyimpan cadangan sebesar 2-5 kg jaringan tubuh yang menyimpan kira-kira 19.000-48.000 kkal energi, sebagian besar terdiri dari lemak yang berguna sebagai persiapan fisiologis menyusui, sehingga jika seorang Ibu Menyusui tidak mengonsumsi tambahan energi seperti yang direkomendasikan, lazim jika Ia kehilangan 0,5 – 1,0 kg berat badannya per bulan setelah melahirkan. Kehilangan berat badan ini umumnya tidak mempengaruhi kuantitas maupun kualitas ASI, namun jika Ibu Menyusui mengalami defisiensi Magnesium, Vitamin B6, Folat, Kalsium, Potasium dan Seng, kualitas dan kuantitas ASI mungkin terpengaruh. Selain itu, semua jenis vitamin, baik yang larut lemak (vitamin A, D, K) dan larut air (vitamin C, B1, B6, B12, dan Folat) juga dikeluarkan melalui ASI sehingga jika Ibu Menyusui mengalami kekurangan vitamin tersebut, jumlahnya dalam ASI juga akan berkurang. Kabar baiknya, hal ini dapat


182 diatasi dengan konsumsi makanan dengan gizi seimbang dan suplementasi jika perlu. Namun dari berbagai studi, diketahui bahwa berat badan Ibu, IMT, persen lemak tubuh dan kenaikan berat badan selama kehamilan tidak mempengaruhi produksi ASI. Dengan demikian, sejatinya, sebagian besar Ibu memilikikemampuan yang sama untuk menyusui. 1. Kebutuhan Gizi Ibu Menyusui Simpanan zat gizi ibu menyusui dapat berkurang akibat kehamilan dan perdarahan saat melahirkan, serta untuk memproduksi kolostrum dan ASI yang persiapannya dimulai sejak kehamilan. Sementara itu ibu harus dapat menyusui dan memenuhi kandungan gizi bayinya dengan baik. Oleh karena itu, makanan ibu menyusui perlu diperhatikan, untuk memenuhi kebutuhan bayinya. Seperti Ibu Hamil, Ibu Menyusui juga memiliki kebutuhan energi dan gizi yang lebih tinggi, yakni sebesar 330 kkal/hari untuk 6 bulan pertama dan 400 kkal/hari untuk 6 bulan kedua dibandingkan dengan orang dewasa lain yang tidak hamil. Perhitungan ini dilakukan berdasarkan volume rata-rata ASI yang diproduksi


183 per hari, yakni 780 mL (berkisar 450 – 1200 mL), mengingat kandungan energi dalam ASI adalah sebesar 67 kkal/100 mL. Tidak hanya dari jumlah produksi ASI, menyusui dianggap berhasil jika bayi mengalami peningkatan berat badan yang sesuai. Jika kebutuhan gizi ibu selama menyusui tidak terpenuhi, maka kenaikan berat badan bayi yang optimal akan sulit dicapai, sehingga dapat meningkatkan risiko penyakitinfeksi pada bayi dan semakin menurunkan napsu makan atau menyusunya. Pada akhirnya anak sulit naik berat badan dan meningkatkan risiko terhambatnya pertumbuhan, termasuk sehingga anak berisiko mengalami stunting. Untuk mendukung keberhasilan menyusui, berdasarkan AKG 2019, Ibu Menyusui membutuhkan tambahan protein sebesar 20 g/hari pada 6 bulan pertama dan 15 g/hari pada 6 bulan kedua selama menyusui, dan tambahan lemak sebesar 2 g/hari dibandingkan perempuan tidak hamil. Khusus untuk kebutuhan zat gizi mikro, Secara umum, ibu menyusui membutuhkan tambahan vitamin A, vitamin E berbagai vitamin


184 B, dan vitamin C (Lampiran 12). Sedangkan kebutuhan mineral yang meningkat selama menyusui adalah Ca, Iodium, Seng, Selenium, Mangan, Chromium, Kalium, dan Tembaga. Ibu menyusui membutuhkan tambahan 350 RE vitamin A menjadi 950 RE/hari (lebih tinggi 50 RE dibandingkan saat hamil) dan 100 mcg Folat menjadi 500 mcg/hari (100 mcg lebih rendah dibandingkan saat hamil) per hari. Karenanya, disarankan agar Ibu Menyusui terus mengonsumsi vitamin prenatal setiap hari selama menyusui. Meskipun demikian, berbeda dengan Ibu Hamil, Ibu Menyusui tidak membutuhkan tambahan zat besi untuk bayinya dibandingkan saat sebelum hamil oleh karena zat besi tidak dapat disalurkan melalui ASI. Namun demikian ibu menyusui perlu menambah konsumsi besi melalui asupan makanan yang seimbang selama menyusui dan konsumsi TTD selama masa nifas, untuk mengganti simpanan besi yang menurun saat hamil, atau memperbaiki status Hb-nya bila ibu menyusui mengalami anemia.


185 Secara umum, Ibu Menyusui lebih rentan terhadap kekurangan zat gizi mikro dibandingkan dengan kekurangan protein atau energi. Sebagian zat gizi mikro cenderung mempengaruhi komposisi ASI dan perkembangan status gizi bayi. Suplementasi atau intervensi makanan lainnya dapat meningkatkan sekresi berbagai zat gizi tersebut melalui ASI, sehingga pada akhirnya dapat memperbaiki status gizi bayinya. Pada umumnya, kadar zat gizi di dalam ASI dipengaruhi oleh asupan vitamin yang larut dalam air, sedikit dipengaruhi oleh vitamin yang larut dalam lemak, dan tidak dipengaruhi oleh kandungan mineral dan status mineral ibu. Pada sebagian zat gizi mikro, seperti folat, sekresi dalam ASI baru terpengaruh pada keadaan defisiensi ibu yang berat atau asupan yang sangat rendah. Dalam hal ini, status gizi ibu menurun selama menyusui sedangkan konsentrasi zat gizi dalam ASI dijaga. a. Anjuran dan Pesan Khusus untuk Ibu Menyusui Biasakan Mengonsumsi Anekaragam Pangan yang Lebih Banyak


186 a. Selama menyusui, makanlah 3 kali makanan utama ditambah dengan 2 kali kudapan dalam sehari. Dianjurkan gunakan pedoman isi piringku, agar dapat memenuhi kebutuhan berbagai zat gizi tambahan zat gizi makro dan mikro melalui keragaman pangan yaitu: Isi separuh bagian piring makan anda dengan makanan pokok dan lauk pauk, lebih banyak makanan pokoknya; dan isi separuh piring lainnya dengan buah dan sayur, lebih banyak sayurnya. b. Konsumsi beragam jenis pangan lokal setiap hari sesuai kemampuan, misalnya roti, telur, dan tomat untuk sarapan, nasi, ikan, dan sayur bening bayam untuk makan siang, serta sayur lodeh dengan tempe, ubi dan ayam untuk makan malam, dilengkapi dengan buah jeruk/pepaya/pisang, dan sebagainya. Selama menyusui, makanlah 3 kali makanan utama ditambah dengan kudapan yang bergizi dalam sehari sesuai dengan anjuran porsi makan. Dianjurkan gunakan pedoman isi piringku, agar dapat memenuhi kebutuhan berbagai zat gizi


187 tambahan zat gizi makro dan mikro melalui keragaman pangan yaitu: Isi separuh bagian piring makan anda dengan makanan pokok dan lauk pauk, lebih banyak makanan pokoknya; dan isi separuh piring lainnya dengan buah dan sayur, lebih banyak sayurnya. c. Disiplin dalam menjalankan prinsip keamanan pangan dan kebersihan diri (Lima Kunci Keamanan Pangan dan PBHS), seperti: 1) Simpan makanan pada tempat yang bersih dan gunakan alat makan yang bersih 2) Pisahkan tempat penyimpanan makanan basah dan kering untuk menghindari kontaminasi 3) Konsumsi hanya makanan matang sempurna, hindari makanan mentah, seperti daging, ikan, telur mentah atau setengah matang, dll 4) Cuci bersih sayuran, masak dan konsumsi segera untuk mempertahankan kandungan gizinya 5) Cuci bersih sayur (misalnya lalapan) dan buah sebelum dikonsumsi


188 6) Rajin mencuci tangan menggunakan sabun, terutama sebelum makan, setelah buang air, sebelum mempersiapkan makanan atau memasak, setelah membersihkan kotoran anak, dll agar terhindar dari diare dan penyakit lainnya d. Konsumsi air putih yang cukup Seiring dengan produksi ASI, kebutuhan air minum ibu menyusui sedikit lebih banyak dibandingkan ibu hamil, yakni 14 gelas air putih untuk 6 bulan pertama dan 12 gelas air putih sehari untuk 6 bulan kedua. e. Istirahat lebih banyak terutama selama bulanbulan pertama melahirkan. Pada bulan-bulan pertama setelah melahirkan, ibu membutuhkan lebih banyak istirahat untuk mendukung proses pemulihan dan penting pula untuk produksi ASI yang optimal. Untuk itu, peran anggota keluarga lainnya, khususnya suami sangat dibutuhkan. Suami diharapkan dapat membantu secara fisik maupun psikologis, seperti meringankan pekerjaan rumah tangga, mendampingi istri setiap melakukan pemeriksaan kesehatan,


Click to View FlipBook Version