MDaenrijaSdaituSebelas
TUMBUH GEREJA KRISTEN PASUNDAN
JEMAAT KAMPUNG TENGAH
Rangkaian Kisah Dalam Perjalanan dan
Lintasan Waktu Yang Dilalui GKP Jemaat
Kampung Tengah Saat Merintis Keberadaanya
dan Dinamika Selama 50 Tahun Menjadi
Jemaat Dewasa 4 April 1971 - 4 April 2021
Penyunting :
Dadi Hudaya Baiin
WA . 0813 1085 0038
WA . 0813 1085 0038
http://www.pressuretank.co.id/
http://www.pressuretank.co.id/
15 Company Pro?e CV. Karya Penta
DARI SATU MENJADI SEBELAS
TUMBUH GEREJA KRISTEN PASUNDAN JEMAAT KAMPUNG TENGAH
DARI SATU MENJADI SEBELAS
Tumbuh Gereja Kristen Pasundan Jemaat Kampung Tengah
Penyunting : Dadi Hudaya Baiin
Design Cover dan Isi : Herman Budhi Kristanto
Cover Depan : Gedung Gereja Tampak Luar
bangunan tahun 1968
Cover Belakang : Gedung Gereja Tampak Luar
bangunan tahun 2013 hingga saat ini
Hak Cipta : Gereja Kristen Pasundan
Jemaat Kampung Tengah
Alamat Gereja
GKP JEMAAT KAMPUNG TENGAH
Klinik Eka Dharma No. 44-45, RT 001 RW 08, Kelurahan Tengah,
Kecamatan Kramat Jati, Jakata Timur 13540, Telp. 021-8004309
Cetakan Pertama : Februari 2022
Nama Percetakan : RED ANT Printing
Isi diluar tanggung jawab percetakan
“untuk kalangan sendiri/tidak diperjualbelikan”
Sumber Referensi
Rangkaian kisah ini ditulis berdasarkan bendel/lembaran informasi
tentangGKPJemaatKampungTengah,keteranganbeberapawargajemaat
dan pengalaman serta perjalanan hidup penulis bersekutu, melayani
dan bersaksi selama menjadi anggota jemaat GKP Jemaat Kampung
Tengah sejak berada di sekolah minggu sebelum menjadi jemaat dewasa,
hingga berlanjut ketika berada di Komisi dan di kemajelisan setelah
menjadi jemaat dewasa sampai GKP Jemaat Kampung Tengah berusia
50 tahun di tahun 2021.
Sumber lain yang dipakai untuk memperoleh informasi buat bahan
tulisan ini antara lain :
Surat-surat Keputusan Majelis Jemaat
https://www.google.co.id
pinterest.com
Website Sinode GKP
Profil GKP 2007
Persekutuan Taman Harapan Menjadi GKP Ebenhaezer Cawang
Antara Leuwidamar dan Rangkasbitung (Halson Nainggolan)
Materi Seminar Pdt. Supriatno, M.Th
Koreksi, saran, masukan dan informasi/keterangan dari Drs. Asikin
Baiin, MM selaku generasi perintis dan pelaku sejarah; serta para
fungsionaris Gereja yang terlibat langsung dalam penatalayanan di
GKP Jemaat Kampung Tengah di antaranya adalah Pendeta Paulus
Wiyono, S.Th. MM, Pdt. Tri Hartono, Sm.Th, Pdt. Daryatno, M.Th dan
Pdt. Magyolin Carolina Tuasuun, M.Th dan Elly Wiyana Baiin, serta
Arie Sairoen, dan Tatung Sairoen.
DAFTAR FOTO/GAMBAR
1. Foto Gedung Gereja Bangunan Tahun 1968 (Cover depan)
2. Foto Zendeling F.L. Anthing (24)
3. Foto Sierk Coolsma Bersama Isteri (27)
4. Foto Gedung Gereja GKP Tamiyang,
Palalangon dan Cikembar. (28)
5. Foto RS Imanuel dan RS Cideres Tempo Dulu. (29)
6. Foto Peserta Rapat Perdana
Perhimpunan Gereja Pasundan. (30)
7. Foto Balai Pertemuan Kaoem Kristen Kramat. (32)
8. Foto Logo GKP. (33)
9. Foto Kantor Sinode Jln. Dewi Sartika 119, Bandung. (34)
10. Logo PGI. (35)
11. Logo CCA. (35)
12. Logo WCC .(35)
13. Sekolah Dasar Mardi Utama di GKP Rangkasbitung. (40)
14. RS Imanuel Tempo Dulu. (41)
15. Foto dan Gambar Peralatan Sekretariat Gereja di era RT 05/03
dan RT 001/08. (44)
16. Foto Keluarga Yoram Baiin Keluarga Kristen Pertama di
Kampung Tengah. (46)
17. Foto Sebelas Keluarga Cikal Bakal GKP Jemaat Kampung
Tengah (47-50)
18. Foto Pdt. Efraim Rikin dan Isteri (54)
19. Foto Pdt. Emil Empi, S.Th (54)
20. Tulisan Slogan di Dinding Belakang Mimbar Ruang Kebaktian di
Pos Kebaktian GKP Jemaat Cawang di Kampung Tengah. (58)
21. Foto Surat Keterangan Pihak Kelurahan yang Menyatakan
Keberadaan GKP Jemaat Kampung Tengah Sejak Tahun 1962 (59)
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah i
22. Stempel GKP Jemaat Kampung Tengah. (63)
23. Foto Pdt. Habandi, Pdt. Odeh Suwardi, Pdt Kurnia Atje dan
Maan Bone. (63)
24. Foto Gedung GKP Jemaat Kampung Tengah hasil pembangunan
tahun 1968. (71)
25. Foto lonceng Gereja GKP Jemaat Kampung Tengah yang terbuat
dari Velg bekas mobil Truck. (72)
26. Foto para Pendeta yang turut membina umat Kristen di dalam
persekutuan di Kampung Tengah. (84)
27. Foto Pdt. Robby Erich Rumbayan, pendeta pertama GKP
Jemaat Kampung Tengah. (85)
28. Foto Kumpulan Takeb KRT Jaman Pdt. Robby. (86)
29. Foto Gedung GKP Jemaat Jati Asih. (87)
30. Foto Gedung GKP Jemaat Jati Asih dan Pastori. (91)
31. Foto Pendeta Chita Ruspiadi Baiin, S.Th. (96)
32. Foto Pendeta Ruswanda Tjenteng, S.Th. M.Min. (96)
33. Foto Pendeta Lelly Frida Yohanes Sundoro, S.Th. M.Pd. (97)
34. Foto Pendeta Deru Utama Noron, S.Th. M.Min. (97)
35. Foto Pendeta Tri Hartono pendeta kedua di GKP Jemaat
Kampung Tengah. (102)
36. Foto Pastori GKP Jemaat Kampung Tengah. (107)
37. Foto Sertifikat Hak Milik Pastori. (108)
38. Foto Pendeta Paulus Wiyono Pendeta Konsulen. (109)
39. Foto Pendeta Daryatno pendeta ketiga di GKP Jemaat
Kampung Tengah. (111)
40. Foto Pendeta Magyolin C. Tuasuun sebagai Pendeta Konsulen.(117)
41. Foto Pendeta Magyolin C. Tuasuun Pendeta keempat
GKP Jemaat Kampung Tengah. (117)
42. Foto Buku Tata kebaktian. (120)
43. Foto Pendeta Supriatno, M.Th pendeta konsulen. (121)
ii Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
44. Logo Komisi MIK (123)
45. Foto Girik dan akta Hibah murni sebidang tanah untuk Gereja
dari keluarga Yoram Baiin. (130-131)
46. Foto surat pernyataan hibah murni sebidang tanah untuk Gereja
dari keluarga Yason Baiin. (132)
47. Surat pernyataan hibah non murni atas sebidang tanah dari
keluarga Idris Sanglir untuk Gereja. (132)
48. Surat pernyataan hibah non murni atas sebidang tanah dari
keluarga Enoch Daud untuk Gereja. (133)
49. Foto Peletakan batu pondasi pertama bangun dua lantai
tahun 2000. (136)
50. Foto pastori lama sebelum dibongkar total dan area bekas
gedung Gereja yang sudah dibongkar total dan siap didirikan
tiang utama bangunan dari besi Habim. (137)
51. Lantai dua gedung Gereja masih berupa kerangka. (138)
52. Foto pemasangan bondek untuk cor dag lantai atas. (138)
53. Jemaat berkegiatan di suasana gedung dalam pembangunan. (139)
54. Foto Buku Saku Panitia Renovasi dan Pembanguan 2009-2013. (142)
55. Foto folder renovasi dan pembangunan. (144)
56. Foto gedung GKP Jemaat Kampung Tengah saat ini hasil
pembangunan tahun 2013. (145-146)
57. Foto Majelis Jemaat periode tahun 2021-2025
yang pertama kali diberikan jabatan sebagai Penatua. (151)
58. Foto Vikaris Alfa Gracia Kaniagara Setra. (152)
59. Foto Penyunting. (168)
60. Foto gedung GKP Jemaat Kampung Tengah saat ini
tampak atas luar. (cover belakang)
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah iii
iv Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
KONTRIBUTOR v
Kontributor Informasi, Korektor, Sekaligus Editor Materi
1. Drs. Asikin Baiin, MM
2. Pdt. Paulus Wiyono, S.Th.MM
3. Pdt. Tri Hartono, Sm.Th
4. Pdt. Daryatno, M.Th
5. Pdt. Magyolin Carolina Tuasuun, M.Th
6. Pdt. Supriatno, M.Th
7. Majelis Sinode GKP (Pdt. Edward Tureay, S.Th)
8. Majelis Jemaat GKP Jemaat Kampung Tengah
9. Warga Jemaat GKP Jemaat Kampung Tengah
10. Sekretariat GKP Jemaat Kampung Tengah
Kontributor Foto/Gambar
1. Keluarga Yoram Baiin
2. Keluarga Yotam Baiin
3. Keluarga Idris Sanglir
4. Keluarga Yoel Tjimi
5. Keluarga Yosua Tjimi
6. Keluarga Elia Tjimi
7. Keluarga Yason Baiin
8. Keluarga Martinus Baiin
9. Keluarga Leman Yonas
10. Keluarga Zakeus Sandang
11. Keluarga Sakeus Petrus
12. Keluarga Pdt. Waldus Are
13. Keluarga Pdt. Muhali Sairoen
14. Keluarga Pdt. Tresna Purnama
15. Keluarga Pdt. Kurnia Atje
16. Keluarga Rahmat Madjan
17. Keluarga Pdt. Efraim Rikin
18. Sekretariat Majelis Sinode (Bpk Tatung Sairoen)
19. Staf PT GKP (Bpk Arie Sairoen)
19. Komisi MIK GKP Jemaat Kampung Tengah
20. Komisi Harlik GKP Jemaat Kampung Tengah
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
vi Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
DAFTAR ISI
PROLOG 1
DARI PENYUNTING 3
Ada Catatan Sejarah Yang Belum Dibukukan 5
PESAN DARI PERJALANAN WAKTU 7
Sejarah Bertutur Tentang Cinta Tuhan Yang Besar 9
Ada Nilai Histroris Yang Otentik 11
Ladang Tuhan Yang Subur di Gang Kecil 14
Ada Jati Diri Yang Mendasar 16
Warisan Sosial Yang Harus Dipertahankan 18
Jemaat Yang Kritis dan Terbuka 20
Hubungan Baik Usaha Pendahulu Gereja 22
SEJARAH GEREJA KRISTEN PASUNDAN 1851-1970 24
Lembaga GIUZ 24
Pengiriman Para Zendeling 25
Gerakan Pekabaran Injil Para Zendeling 26
Sinergitas Pekabaran Injil 27
Lembaga dan Persekutuan Hasil Kerja Zendeling 29
Menuju GKP Yang Mandiri 29
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah vii
GKP Menjelang dan Diawal Kemerdekaan RI 31
Dan Gerakan Pengacau Keamanan
Gerakan Oikumene GKP 33
ANTARA GKP DENGAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN 37
GKP Jemaat Kampung Tengah DI DUA JAMAN 42
KELUARGA-KELUARGA KRISTEN
MERINTIS PERSEKUTUAN 45
Dari Satu Menjadi Sebelas 45
Selepas Bekerja Merintis Persekutuan 50
Pelayanan Katekisasi dan Sidi Yang Pertama Kali 52
PENETAPAN STATUS KEJEMAATAN
TAHUN 1960-1971 55
Berkorban Dengan Tulus 55
Status Pos Pelayanan (Tahun 1960) 56
Status Pos Kebaktian (Tahun 1962) 57
Pertambahan Jemaat Dari Beberapa Wilayah Sekitar 60
Status Anak Jemaat (Tahun 1970) 61
Status Jemaat Dewasa (4 April 1971) 62
KEBERSAMAAN DALAM SATU MISI DAN VISI 64
Kegiatan Kelompok Anak, Pemuda dan Ibu 64
Kegiatan Kaum Bapak 65
viii Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
PERSEKUTUAN MEMBANGUN GEDUNG GEREJA 67
Realisasi Gagasan Untuk Membangun 67
Mencari Kayu Balok Ke Hutan Nyalindung Sukabumi 68
Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung Gereja 70
Natal Di Gedung Baru Dan Lonceng Gereja 71
Gedung Gereja Di Kelilingi Keluarga Kristen 73
BP EKA DHARMA DAN GKP Jemaat Kampung Tengah 74
Dibilangnya Gereja Pak Yoram 74
Pelayanan Balai Pengobatan Sebagai Strategi 75
Beli Tanah, Satu Bidang Dihibahkan 76
PERISTIWA DALAM PERJALANAN STATUS POS PELAYANAN
HINGGA ANAK JEMAAT 77
DINAMIKA PERSEKUTUAN PASCA 79
MENJADI JEMAAT DEWASA
Dinamika Persekutuan Antara 1971-1981 79
Penambahan Komisi dan Aktivitas Kebaktian 79
Pos Pelayanan Anak-Anak 80
Masa Penantian Kehadiran Pendeta Jemaat 80
Pembentukan Wadah Kaum Remaja 82
Sembilan Tahun Berjalan Tanpa Pendeta 83
Pendeta Robby Erich Rumbayan, Sm.Th 85
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah ix
Dinamika Persekutuan Antara 1982-1992 87
Menabur Benih Persekutuan Di Usia Muda 87
Benih Yang Ditabur Tumbuh Subur Di Jati Asih 87
Respons Positif Warga Kristen Coca Cola 88
Ada Dinamika Komunikasi Internal 89
Hibah Tanah Dan Peresmian Jemaat Jati Asih 90
Berkomitmen Demi Masa Depan Gerreja 92
Kelompok Potensial Yang Selalu Diandalkan 92
Sepakat Tidak Lebih Dari 60 Tahun 94
Anak Kampung Tengah Jadi Pendeta 95
Bermitra Pelayanan Dengan POUK Imanuel Kopassus 98
Kemitraan Hasil Pembinaan Hubungan Baik 99
Dinamika Persekutuan Antara 1993-2003 101
Tugas Pendeta Selesai, Konsulen Mulai 101
Pendeta Tri Hartono, Sm.Th 102
Pembentukan Wadah Organisasi Bagi Kaum Bapak 103
Mulanya Sewa Rumah Untuk Pastori 104
Rencana Renovasi Gedung Gereja Bangunan Tahun 1968 105
PPJ Pertama Di GKP Jemaat Kampung Tengah 106
Akhirnya Terwujud Juga Di Tahun 2000 106
x Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
Dinamika Persekutuan Antara 2004-2014 109
Dia Kembali Jadi Pendeta Konsulen 109
Pendeta Paulus Wiyono, S.Th 109
Kemitraan Dengan POUK Imanuel Kopassus Berakhir 110
Pendeta Daryatno, S.Si 111
Pembentukan Komisi Musik 112
Pembentukan Unit Pelayanan Kedukaan 112
Pembentukan Komisi Lansia 113
Pembentukan Komisi Litbang 114
Pembentukan Komisi Harlik Gereja 115
Pendeta Konsulen Jadi Pendeta Jemaat 116
Pendeta Magyolin C.T. Sebagai Pendeta Konsulen 117
Pendeta Magyolin C.T. Sebagai Pendeta Jemaat 117
Dinamika Persekutuan Antara 2015-2021 119
Kegiatan Kebersamaan Yang Beragam 119
Pencetakan Tata Kebaktian Minggu I Hingga IV 120
Kembali Tanpa Pendeta Jemaat 121
Pendeta Supriatno, M.Th. Pendeta Konsulen 121
Pembentukan Komisi MIK 122
GERAK JEMAAT DAHULU DAN SEKARANG 124
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah xi
Dalam Konteks Visi dan Misi, Dahulu dan Sekarang 124
Dalam Konteks Kemandirian Saat Ini 125
MEMORI PEMBANGUNAN GEDUNG GEREJA
SAAT MENJADI JEMAAT DEWASA 129
Asal-Usul Tanah Gereja 129
Rencana Bangun Gedung Satu Lantai 134
Perubahan Pembangunan Dari Satu Lantai Menjadi Dua Lantai 135
Pembongkaran Gedung Lama dan Pindah Sementara ke Koinonia 136
Sekitar Lima Tahun Renovasi dan Pembangunan Vakum 139
Pelaksanaan Pembangunan Gedung Gereja Dua Lantai 143
Tahun 2013-2017
HASIL PEMBANGUNAN GEDUNG GEREJA 2 (DUA) LANTAI 145
WARGA JEMAAT YANG PERNAH MENJADI
MAJELIS JEMAAT KURUN WAKTU 1960-2021 147
JABATAN GEREJAWI PENATUA 150
ANGGOTA MJ PERTAMA SEBAGAI PENATUA 150
KEHADIRAN VIKARIS DI BEBERAPA LANGKAH
USIA 50 TAHUN 152
IDENTITAS KHAS KELUARGA KRISTEN
DI KAMPUNG TENGAH 153
MOMEN-MOMEN PEMBENTUKAN KELENGKAPAN
PELAYANAN 157
xii Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
EKSPRESI PERJALANAN WAKTU DALAM UNTAIAN KATA 158
EPILOG 167
DATA PENYUNTING 168
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah xiii
PROLOG
Dari satu menjadi sebelas begitulah awal kisahnya
Seperti seorang anak yang dulu diasuh orang tua,
kini sudah menjadi dewasa dalam kemandirian dirinya
GKP Jemaat Kampung Tengah
Dalam setiap waktu dan jaman yang dilalui di sana
ada masa merintis
ada masa bertumbuh
Bahkan ada masa berkembang
Keberadaan kerap mengalami perubahan
Tapi tetap bertahan dan terus berjalan dalam kesetiaan
Kerja belumlah usai
Panggilan Tuhan masih berkumandang
Jangan tanya sampai kapan itu bergaung
Simak, renungkan dan lakukan
Itulah yang terbaik
Kampung Tengah, 4 April 2021
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 1
dari
penyunting
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 3
4 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
ADA CATATAN SEJARAH
YANG BELUM DIBUKUKAN
Perjalanan waktu dengan berbagai peristiwa dan kejadian yang dialami
serta hal-hal yang dilakukan, jika ditata dan didokumentasikan dengan
baik akan memiliki nilai-nilai positif. Bisa menumbuhkan rasa syukur
akan berkat Tuhan dan penyertaanNya di sepanjang kehidupan. Bisa
dimanfaatkan untuk kepentingan proses regenerasi kepemimpinan yang
berkelanjutan di dalam jemaat.Bisa memudahkan jemaat memperoleh
informasi tentang keberadaannya dan juga bisa bermanfaat untuk
kepentingan membangun motivasi, kesadaran serta semangat juang di
kalangan setiap generasi di dalam Gereja dan jemaat.
Pendokumentasian catatan perjalanan, memiliki obyek yang luas karena
selain bersumber dari banyak kegiatan atau aktivitas yang dilakukan
atau peristiwa yang terjadi, juga dari aspek kebijakan dan keputusan
yang diambil dan ditetapkan yang meliputi banyak hal.
Buku“DariSatuMenjadiSebelas,TumbuhGKPJemaatKampungTengah”
yang di dalamnya memuat catatan perjalanan GKP Jemaat Kampung
Tengah, ini pun merupakan salah satu bentuk pendokumentasian
yang diharapkan lebih orisinal dan tertata. Sekalipun demikian, untuk
kepentingan Gereja, setelah cetakan pertama ini, tentunya bagian-bagian
isi buku masih terbuka untuk mendapat koreksi guna penyempurnaan.
Hal yang melatarbelakangi pencetakan buku ini adalah karena sampai
usia 50 tahun GKP Jemaat Kampung Tengah sebagai jemaat dewasa
bahkan sekitar 65 tahun sebagai persekutuan keluarga Kristen, belum
memiliki catatan sejarah yang dibukukan dengan baik. Selain itu, karena
pada saat isi buku ini ditulis masih ada figur orang tua yang menjadi
pelaku sejarah dan saksi hidup bagi perjalanan GKP Jemaat Kampung
Tengah.
Berkaitan dengan materi dan substansi yang disajikan, diharapkan dapat
menjadi bagian penting dan memiliki nilai reflektif bagi perjalanan
persekutuan, pelayanan dan kesaksian GKP Jemaat Kampung Tengah.
Pada sisi lain, buku ini dapat juga menjadi sumber referensi atau
semacam katalog atau untuk kepentingan lainnya bagi warga jemaat
dan siapapun dalam mengenal lebih jauh keberadaan GKP Jemaat
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 5
Kampung Tengah.
Catatan sejarah bukan sekadar informasi masa lalu yang pernah terjadi
di tengah kehidupan persekutuan, akan tetapi substansi dan esensinya
adalah bagian dokumen penting dari Gereja yang mempunyai nilai dan
sangat berharga bagi kehidupan persekutuan. Karena itu, catatan sejarah
menjadi salah satu sumber pelajaran dan sumber pengajaran untuk
membangun serta mengembangkan sikap hidup setiap anggota Gereja/
jemaat menjadi lebih apresiatif, hormat dan lebih bertanggungjawab
terhadap kehidupan Gereja dan jemaat.
Manfaat lain adanya catatan sejarah jemaat ini, setidaknya
memungkinkan setiap warga jemaat memiliki informasi tentang
keberadaan persekutuannya, dan akan tumbuh perasaan memiliki
serta kecintaan kepada persekutuan semakin kuat yang akhirnya akan
mendorong pergerakan pelayanan dan kesaksian dapat berlangsung
dengan maksimal.
Semoga materi dan substansi yang dituangkan di dalamnya menjadi
sumber inspirasi, informasi yang edukatif bahkan dapat membangun
dedikasi segenap warga jemaat terhadap tugas panggilannya sebagai
orang percaya.
Kepada semua pihak yang sudah berupaya membantu proses
penyuntingan, kompilasi, koreksi hal-hal yang substantif dan bersifat
redaksional, serta berbagai kontribusi atas materi yang disajikan hingga
penerbitannya, diucapkan terima kasih.
Dadi Hudaya Baiin
6 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
PESAN
PERJALANAN WAKTU
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 7
8 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
SEJARAH BERTUTUR TENTANG
CINTA TUHAN YANG BESAR
Gereja ada di dunia ini karena prakarsa Allah. Proses kehadirannya
bukanlah tiba-tiba dan tanpa makna. Dengan kasih dan rancanganNya,
Allah menempatkan dan menghadirkan Gereja di dunia ini. Allahlah
yang menghimpun manusia dari berbagai latar belakang untuk
masuk ke dalam persekutuan yang dibentukNya dan Allah Bapa di
dalam Yesus Kristus serta Roh Kudus adalah yang menjadi pemilik
dan kepala Gereja. Karena itu, Gereja tidak bisa hadir untuk dirinya
sendiri dan Gereja tidak berada karena dirinya sendiri. Itulah sebabnya,
Gereja harus melihat dirinya dalam rancangan besar rencana Allah.
Dalam rancangan Allah itu jugalah Gereja diajak untuk melihat bahwa
keberadaannya untuk melaksanakan misiNya.
Kami menyambut dengan sukacita penyusunan buku bernilai sejarah
tentang keberadaan GKP Jemaat Kampung Tengah, karena kami yakin
buku dimaksud berkisah bukan hanya soal tahun, lokasi dan orang-
orang yang ada di dalamnya, namun lebih dari itu bertutur tentang
Cinta Tuhan yang besar. Cinta Tuhan yang membuat manusia menjadi
berharga dan yang menggerakan manusia melihat sesamanya juga jadi
berharga. Hal inilah yang membuat buku sejarah Gereja atau Jemaat
bermakna dan hidup. Sebab dari dalamnya cinta Tuhan bisa dituturkan.
Menghimpun kisah orang-orang yang hadir sejak awal berdirinya
Persekutuan dan juga catatan-catatan peristiwa yang ada dan diperoleh
dari berbagai sumber kemudian disajikan dalam buku sejarah ini,
sesederhana apapun sesungguhnya memiliki nilai-nilai iman Kristen
yang sangat kaya. Kisah perjalanan GKP Jemaat Kampung Tengah juga
menjadi bagian fragmen penting dalam sejarah GKP.
Secara pribadi memberikan apresiasi kepada semua pihak yang
mendukung dalam proses penyusunan, penghimpunan potongan-
potongan kisah dan informasi bahkan menerbitkannya menjadi satu
buku yang penting dan bernilai sejarah.
Membaca buku sejarah hendaknya tidak terpaku hanya pada masa lalu,
tetapi lihatlah Cinta Tuhan yang tidak pernah berhenti menyertai langkah
menuju masa depan. Membaca buku sejarah bukanlah membangun
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 9
romantisme masa lalu, tapi sesungguhnya sedang memproses diri
untuk menumbuhkan dan memiliki harapan membangun masa depan
bersama cinta Tuhan yang tak pernah usai.
Pdt. Edward Tureay, S.Th
Ketua Umum Majelis Sinode GKP
10 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
ADA NILAI HISTORIS
YANG OTENTIK
Sejarah perjalanan GKP Jemaat Kampung Tengah tidak lepas dari
peranan pekerjaan Roh Kudus yang berawal dari kehadiran satu
keluarga Kristen yang berasal dari Kampung Sawah yaitu Keluarga
YORAM BAIIN. Melalui satu keluarga inilah, dihadirkan beberapa
keluarga Kristen lainnya yang sebagian besar berasal dari Kampung
Sawah dan satu keluarga asal Cigelam.
Keluarga-keluarga dimaksud kemudian berhimpun dalam aktivitas
kerohanian di dalam komunitas atau persekutuan yang dibangunnya
sendiri. Jumlah mereka saat awal tercatat sebanyak 11 (sebelas) keluarga.
Secara Administrasi Gerejawi keluarga-keluarga tersebut diketahui
ada yang berstatus anggota GKP Jemaat Ebenhaezer Cawang, GKP
Rehoboth Jatinegara dan juga GKP Jemaat Bethani Tanah Tinggi.
Semangat mewujudkan panggilan Tuhan tumbuh begitu nyata lewat
gencarnya kegiatan persekutuan, pelayanan dan kesaksian yang
dilakukan, baik bagi anak-anak, orang muda dan juga bagi keluarga.
Semangat yang sama juga ditunjukkan dengan usaha membangun
sarana persekutuan berupa tempat kebaktian secara swadaya.
Melihat perkembangan kegiatan keluarga Kristen di Kampung Tengah
yang di dalamnya terdapat anggota jemaatnya, maka atas kenyataan
ini, GKP Jemaat Cawang (Ebenhaezer) yang semula hanya menjadi
lembaga support bagi persekutuan keluarga Kristen di Kampung
Tengah akhirnya menyatakan secara resmi menjadi induknya. Dan
dalam perjalanannya, GKP Jemaat Cawang secara pasti menetapkan
perkembangan kelembagaan persekutuan yang dibinanya ini menjadi
Pos Pelayanan, Pos Kebaktian dan Bakal Jemaat hingga akhirnya pada
tanggal 4 April 1971 jadilah sebuah jemaat GKP yang dewasa yang
mandiri di wilayah Kampung Tengah.
Sekalipun tulisan sejarah ini terbilang singkat dan sederhana, tapi
substansinya tetap mempunyai nilai historis yang otentik dan tetap
dapat dijadikan motivasi serta refleksi konstruktif dalam melanjutkan
tugas paggilan Tuhan di setiap perjalanan iman warga GKP Jemaat
Kampung Tengah.
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 11
Merintis, menumbuhkan dan mengembangkan sebuah jemaat, bukan
pekerjaan yang mudah yang sekali dilakukan bisa menghasilkan
yang diinginkan. Pekerjaan itu, membutuhkan proses panjang yang
di dalamnya membutuhkan komitmen, kesetiaan, kesungguhan dan
penuh penyerahan pada kuasa Tuhan.
Bagaimanapun, dalam merintis, menumbuhkan dan mengembangkan
serta membangun jemaat GKP Jemaat Kampung Tengah, realitasnya
memang membutuhkan hal-hal sebagaimana disebutkan di atas.
Bahkan lebih dari itu, karena situasi dan kondisi yang menyertai banyak
diwarnai berbagai kesulitan dan keterbatasan, maka sacara langsung
ataupun tidak langsung menuntut banyak pengorbanan, baik pikiran
dan tenaga, keringat dan air mata, maupun waktu dan kesempatan
bahkan materi dan harta benda.
Kenyataan seperti itulah yang juga dialami ketika keluarga Krsten yang
hadir di Kampung Tengah sekitar tahun 1958-1960, mulai merintis,
menumbuhkan dan mengembangkan persekutuan untuk memenuhi
kebutuhan imannya.
Harus diakui, bahwa perjuangan para orang tua terdahulu yang merintis,
menumbuhkan dan mengembangkan persekutuan sungguh tidak sia-
sia. Mereka berjuang bukan semata untuk diri dan keluarganya, akan
tetapi untuk kepentingan perwujudan panggilan Tuhan yang bukan
di saat itu saja, melainkan untuk masa yang akan datang yang akan
dilewati oleh generasi selanjutnya termasuk kita sebagai generasi
penerusnya saat ini. Keberadaan GKP Jemaat Kampung Tengah sejak
dahulu hingga kini adalah bukti nyata adanya pekerjaan Roh Kudus
dalam setiap upaya merintis, menumbuhkan dan mengembangkan
persekutuan, pelayanan serta kesaksian di wilayah Kampung Tengah.
Selaku pribadi warga jemaat yang diperkenankan Tuhan dapat
melewati fase-fase perjalanan GKP Jemaat Kampung Tengah, mulai
dari perintisan, pertumbuhan dan perkembangan hingga saat ini, maka
sangat disadari, semua yang dialami GKP Jemaat Kampung Tengah
adalah karena kuasa Roh Kudus semata. Konsekuensi logis bagi kita
selaku pewaris iman Kristen dan tugas panggilan Gereja di Kampung
Tengah, adalah berkewajiban melanjutkan perjuangan yang sudah
dirintis, ditumbuhkan dan dikembangkan oleh para orang tua terdahulu.
12 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
Bahkan wajib meneruskannya ke generasi selanjutnya sampai titik akhir
kehidupan yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Perjuangan mewujudkan
dan mempertahankan warisan iman serta merealisasi panggilan Tuhan
adalah perjuangan yang tidak sia-sia. Tuhan memberkati.
Drs. Asikin Baiin, MM
Generasi Perintis dan Pelaku Sejarah
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 13
LADANG TUHAN YANG SUBUR
DI GANG KECIL
Sebagai sosok yang pernah mendapat kepercayaan untuk melayani GKP
Jemaat Kampung Tengah selama 2 (dua) periode sebagai pendeta Jemaat
(1993-2003), sungguh saya merasakan suasana kehidupan pelayanan
seperti berada di dalam keluarga besar yang akrab dan rukun. Betapa
tidak, karena kenyataan yang saya alami benar-benar menorehkan
kesan dan pengalaman yang sangat khusus, baik untuk saya pribadi
maupun untuk keluarga.
GKP Jemaat Kampung Tengah bagi saya bukan sekedar jemaat GKP
yang ada di wilayah Kampung Tengah yang menjadi bagian dari wilayah,
Kramat Jati, Jakarta Timur. Akan tetapi merupakan ladang Tuhan yang
subur di gang kecil yang dapat memberikan kebutuhan bagi warga
Gereja dan juga warga masyarakat.
Bagi warga Gereja, jelas keberadaan GKP jemaat Kampung Tengah
adalah wadah persekutuan yang dapat memenuhi kebutuhan iman
lewat penyelengaraan kegiatan penatalayanan, baik secara umum,
khusus maupun secara kategorial dan non kategorial.
Bagi warga masyarakat, keberadaaan warga jemaat, juga sangat dirasakan
peran sertanya dalam mengelola kegiatan sosial di tengah lingkungan.
Begitu juga fasilitas yang dimiliki Gereja, kerap menjadi andalan bagi
warga masyarakat khususnya ketika di lingkungan dilakukan kegiatan
bersama yang dihadiri oleh banyak orang.
Sebagai ladang Tuhan yang subur di gang kecil, GKP Jemaat
Kampung Tengah saat ini semakin jelas dibutuhkan oleh masyarakat
lingkungannya, baik kalangan Gereja maupun umum. Tak berlebihan
tentunya, jika keberadaan GKP Jemaat Kampung Tengah dapat
dikatakan menjadi salah satu alternatif tempat ideal untuk berkegiatan,
baik kegiatan kebersamaan Gereja di aras Klasis dan Oikumene,
maupun bagi masyarakat dalam kegiatan pelayanan kesehatan dan
lainnya.
Ladang subur GKP Jemaat Kampung Tengah ini adalah kasih karunia
Tuhan yang harus disyukuri dengan terus dipelihara, dirawat,
dipertahankan dan ditumbuhkembangkan dengan baik dan benar.
14 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
Generasi terdahulu telah berhasil membuka lahan pepohonan dan
belukar menjadi ladang Tuhan yang subur. Penuai yang semula satu
hingga sebelas keluarga, kini sudah menjadi ratusan. Sejarah perjalanan
telah membuktikan, Tuhan selalu hadir dengan tetap memberikan
kesuburan bagi ladangnya di Kampung Tengah.
Catatan perjalanan GKP Jemaat Kampung Tengah yang ada di dalam
buku ini, tentu sangat bermanfaat bagi setiap warga jemaat dan
siapapun untuk mengenal lebih jauh kebaradaan GKP Jemaat Kampung
Tengah. Bahkan dapat membantu siapapun untuk merefleksikan diri
dan imannya bahwa penyertaan Tuhan memang benar adanya. Tuhan
memberkati.
Pdt. Tri Hartono, Sm.Th
Pendeta GKP Jemaat Kampung Tengah
Periode 1993 – 2003
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 15
ADA JATI DIRI
YANG MENDASAR
Sebagai seorang Pendeta yang pernah melayani di GKP Jemaat Kampung
Tengah di era perkembangannya, sebagai Pendeta Konsulen, tentu amat
memahami bahwa siapapun warga GKP Jemaat Kampung Tengah punya
tanggung jawab yang besar dan sama atas keberlangsungan kehidupan
persekutuan, pelayanan dan kesaksian yang menjadi panggilan Gereja.
GKP Jemaat Kampung Tengah yang tumbuh dan berkembang, tentu hal
itu harus diakui sebagai buah karya penyertaan Tuhan melalui RohNya
yang Kudus. Namun penyertaan Tuhan di dalam Roh Kudus tidak serta
merta begitu saja terjadi, tapi melalui proses yang panjang. Paling tidak
ada hal-hal yang dilakukan oleh setiap orang percaya. Bagi GKP Jemaat
Kampung Tengah sendiri proses itu berjalan melalui para orang tua,
para pendahulu yang mungkin saat ini masih ada ataupun yang sudah
tidak ada.
Karya Tuhan di dalam Roh Kudus melalui proses kerja yang dilakukan
para penduhulu GKP Jemaat Kampung Tengah, saat ini tengah
dinikmati dan dilanjutkan oleh generasi penerus di jaman milenial
ini. Namun demikian, sudah sepatutnya generasi sekarang harus tetap
menyadari, bahwa keberadaan GKP Jemaat Kampung Tengah, adalah
tanggung jawab seluruh warga jemaat, termasuk generasi yang akan
datang dengan segala bentuk jamannya.
Menyikapi keberadaan GKP Jemaat Kampung Tengah di era perubahan
yang menyertainya di saat ini, baik perubahan internal maupun
eksternal, maka secara langsung atau tidak langsung menuntut GKP
Jemaat Kampung Tengah untuk menyesuaikan diri dengan perubahan
yang terjadi tanpa harus menanggalkan dan menghilangkan jati diri
yang mendasar baik sebagai bagian GKP secara sinodal maupun sebagai
GKP di aras lokalnya.
Perubahan sudah pasti tidak dapat dielakan, karena hal itu bukan saja
terus diupayakan untuk menyesuaikan tuntutan jaman dan keadaan,
melainkan menjadi kebutuhan di tengah kemajuan dan perkembangan
jaman. Jati diri GKP Jemaat Kampung Tengah sebagai bagian GKP
secara jelas tertuang dalam aturan dan ketentuan yang berlaku di aras
16 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
sinodal yaitu TATA GEREJA DAN PERATURAN PELAKSANAAN
TATA GEREJA GKP dan Peraturan Majelis Sinode dengan segala
aspek permasalahannya. Sedangkan jati diri khusus GKP Jemaat
Kampung Tengah dalam aras lokalnya adalah berupa eksistensi yang
sudah terbentuk sejak lama karena keberadaannya sebagai bagian dari
lingkungan masyarakat sekitarnya. Menjadi komunitas yang TERBUKA,
KOOPERATIF, DAN PEDULI begitulah jati diri GKP Jemaat Kampung
Tengah yang dalam implementasinya diwarnai dengan keakraban,
kekeluargaan dan kebersamaan.
Jaman milenial ditambah lagi dengan era digital sekarang ini, terkadang
membuat siapapun terlena dan menjadi sibuk sendiri tanpa peduli
dengan situasi dan kondisi sekitarnya termasuk terhadap keberadaan
Gereja. Apalagi terhadap masa lalu yang menjadi bagian perjalanan
penting dalam kehidupan bergereja dan berjemaat, tentu bukan tidak
mungkin akan terabaikan dan terlupakan.
Jati diri yang TERBUKA, KOOPERATIF DAN PEDULI dengan
gaya hidup yang akrab, kekeluargaan dan kebersamaan, janganlah
hal itu tergilas dan terlupakan dengan kesibukan yang tidak peduli
sama sekali. Jati diri yang dimiliki bagaimanapun harus disadari dan
diimplementasikan dengan baik dan benar. Jati diri itu bukannya sekedar
identitas, akan tetapi merupakan salah satu alat ukur atau indikator
dari kualitas keberadaan GKP Jemaat Kampung Tengah.
Pdt. Paulus Wiyono, S.Th. MM.
Pendeta Konsulen GKP Jemaat Kampung Tengah
Tahun 1991 dan Tahun 2004
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 17
WARISAN SOSIAL
YANG HARUS DIPERTAHANKAN
Ketika mendengar selintas kisah lisan sejarah perjalanan GKP Jemaat
Kampung Tengah dari beberapa warga RT 01 RW 08 yang menjadi warga
GKP Jemaat Kampung Tengah, secara pribadi sangat mengesankan.
Karena dari cerita itu betapa kehidupan umat beragama, Kristiani dan
Muslim, di lingkungan RT 01 RW 08 begitu rukun dan damai bahkan
penuh kekeluargaan dan kebersamaan.
GKP yang ada di lingkungan RT 01 RW 08 adalah sebuah komunitas
yang memiliki sikap terbuka. Buat lingkungan masyarakat,
GKP Jemaat Kampung Tengah selalu bersedia bekerja sama dan peduli.
Berbagai fasilitas pendukung yang dimiliki, jika warga atau lingkungan
membutuhkan, GKP Jemaat Kampung Tengah membuka diri untuk
mempersilakan lingkungan memanfaatkannya dengan baik.
Begitu juga warga GKP Jemaat Kampung Tengah, khususnya yang
berdomisili di RT 01 RW 08, memiliki peran yang cukup tinggi menjadi
penggerak kegiatan sosial masyarakat, baik sebagai pengurus RT
maupun sebagai partisipan. Bagi warga yang non Kristiani, keberadaan
GKP Jemaat Kampung Tengah sangat dimaklumi karena kehadirannya
sudah cukup lama ketika warga lingkungan jumlahnya masih sedikit.
Hal yang kini menjadi salah satu ciri dari keberadaan lingkungan
masyarakat RT 01 RW 08, adalah bahwa sejak dulu hingga saat ini
suasana kehidupannya diwarnai dengan keakraban, kekeluargaan
dan kebersamaan. Kondisi ini rupanya sudah lama dirintis oleh para
pendahulu di kampung ini termasuk beberapa warga Gereja yang
saat itu boleh dibilang menjadi tokoh masyarakat. Jadi, keakraban,
kekeluargaan dan kebersamaan itulah warisan sosial yang dititipkan
oleh para pendahulu di Kampung Tengah ini.
Menyadari hal tersebut, sebagai pribadi yang pernah dipercayakan
sebagai pendeta jemaat di GKP Jemaat Kampung Tengah, disamping
melaksanakan tugas dan tanggung jawab persekutuan pelayanan dan
kesaksian, juga mempunyai tanggung jawab moral untuk memelihara,
mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai sosial tersebut. Upaya
ini bukan hal yang mudah, tapi dalam semangat kebersamaan, ternyata
18 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
GKP Jemaat Kampung Tengah bersama warga masyarakat RT 01 RW
08 bisa menjaga, memelihara dan mengimplementasikan nilai yang
menjadi warisan sosial di Kampung Tengah dalam kehidupan sehari-
hari.
Pdt. Daryatno, M.Th.
Pendeta Jemaat GKP Jemaat Kampung Tengah
Periode 2006-2011
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 19
JEMAAT YANG KRITIS
DAN TERBUKA
Sebelum menginjakan kaki sebagai Pedeta Jemaat GKP Jemaat Kampung
Tengah, ada kesan begitu kuat tentang kekritisan warga jemaat GKP
Jemaat Kampung Tengah terhadap Pendeta Jemaat ataupun Pendeta
non jemaat yang melayani termasuk juga Majelis Sinode. Jika ada pesan-
pesan yang kurang pas didengar dan diketahui oleh Jemaat, maka tak
segan-segan warga jemaat mengkritisinya dengan mengkonfirmasi
untuk memperoleh kejelasan dan kebenaran.
Sikap kritis yang demikian, terkadang memunculkan banyak pertanyaan.
Bahkan sempat terbesit perasaan kawatir dan takut dalam diri jika
hal itu harus dialami juga atau ketika harus bertugas di GKP Jemaat
Kampung Tengah. Yang jelas bagian kecil kondisi yang diketahui dari
GKP Jemaat Kampung Tengah adalah sikap jemaat yang kritis terhadap
pendeta yang melayaninya.
Bersamaan masih adanya kesan yang demikian terhadap GKP Jemaat
Kampung Tengah, rupanya perjalanan waktu tak diduga mengajak tiba
pada sebuah panggilan tugas pelayanan yang tidak mungkin dielakan
dan ditolak bagi seorang pendeta.
GKP Jemaat Kampung Tengah rupanya membutuhkan Pendeta
Konsulen dan sekaligus meminta untuk melaksanakan tugas itu di
GKP Jemaat Kampung Tengah. Dengan adanya permintaan itu, kesan
kritis GKP Jemaat Kampung Tengah malah semakin menjadi. Tapi apa
boleh buat, tugas panggilan menanti di depan dan kesan yang ada harus
diterima dan kalaupun dialami itupun harus siap dihadapi.
Kesan itu memang benar adanya, apalagi ketika bertugas sebagai
Pendeta jemaat, bukan saja soal penatalayanan yang dikritisi, tapi juga
soal performance diri yang dianalogikan sebagai publik figur kerap
mendapat kritik untuk menjadi lebih baik.
Tidak sampai di situ hal yang lain diketahui lebih jauh dari GKP Jemaat
Kampung Tengah adalah keterbukaan sikap jemaatnya, baik terhadap
sesama anggota, terhadap Majelis Jemaat, terhadap Pendeta, terhadap
Gereja-gereja lain dan juga terhadap masyakarat sekitarnya. Setelah
mencoba memahami semua itu, ternyata keterbukaan sikap ini adalah
20 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
salah satu warisan leluhur para pendahulu jemaat yang bertujuan untuk
menciptakan suasana kekeluargaan dan kebersamaan yang guyub dan
akrab yang memungkinkan terjadinya dukungan kegiatan Gereja secara
internal ataupun di tengah lingkungan masyarakat.
Sikap kritis yang dimiliki GKP Jemaat Kampung Tengah, bukan
karena sentiment individu atau keluarga atau kelompok, tapi lebih
dilatarbelakangi untuk memperoleh kebenaran, baik atas dasar firman
Tuhan maupun ketentuan yang ada di GKP dan nilai kehidupan
masyarakat. Sedangkan sikap yang terbuka bukan sekedar basa-basi
agar bisa diterima lingkungannya. Tetapi hal itu muncul sebagai ekspresi
kesadaran hidup yang memang keberadaan GKP Jemaat Kampung
Tengah harus ada dalam situasi dan kondisi yang penuh kekeluargaan,
kebersamaan yang guyub, akrab dan saling menerima satu dengan
yang lain. Itulah dua warisan leluhur yang sangat bernilai. Tentunya
warisan itu harus tetap ada dan harus terus dipertahankan bahkan
dikembangkan sekalipun GKP Jemaat Kampung Tengah harus berganti
generasi dari waktu ke waktu.
Pdt. Magyolin Carolina Tuasuun, M.Th
Pendeta Konsulen 2011
Pendeta Jemaat 2012 – 2018
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 21
HUBUNGAN BAIK
USAHA PENDAHULU GEREJA
Menjadi Pendeta Konsulen di GKP Jemaat Kampung Tengah selama
dua tahun berturut-turut di saat negeri ini dilanda pandemi Covid-19
rasanya menjadi tidak mudah. Apalagi dikaitkan dengan salah satu
tugas utama Pendeta Konsulen yaitu menghandirkan pendeta jemaat.
Masa pandemi ini benar-benar menyulitkan. Pasalnya, bukan saja
ketidaktersediaan SDM Pendeta dan lulusan teologi yang siap direkrut
menjadi pendeta jemaat, akan tetapi terbatas ruang gerak melaksanakan
tugas terutama berkoordinasi, dengan Majelis Jemaat GKP Jemaat
Kampung Tengah dan juga Majelis Sinode GKP yang menugaskan.
Untuk tugas di Kampung Tengah, meski dirasakan kurang optimal tapi
masih bisa dilakukan lewat pelayanan rutin hari minggu dan tengah
minggu ataupun pelayanan yang bersifat mendadak dan juga pertemuan
dengan Majelis Jemaat.
Dua tahun masa konsulensi dijalani ternyata sempat melewati momen
ulang tahun ke-50 GKP Jemaat Kampung Tengah sebagai jemaat
dewasa. Perjalanan persekutuan selama setengah abad adalah perjalanan
yang cukup panjang. Walau kenyataanya tidak ada informasi tertulis
yang cukup tersedia dan memadai untuk mengetahui sejarahnya, tapi
lewat cerita-cerita yang disampaikan beberapa warga jemaat dapat
dibayangkan betapa perjalanan 50 tahun persekutuan pasti banyak
diwarnai dengan berbagai dinamika. Apalagi setelah mendengar
cerita perjalanan persekutuan keluarga Kristen sebelum terbentuknya
GKP Jemaat Kampung Tengah, betapa perjuangan keluarga-keluarga
pendahulu sangat luar biasa. Modal utama yang dimiliki saat itu
hanyalah kesetiaan, pengorbanan dan tanggung jawab yang tinggi dalam
merintis persekutuan sehingga menjadi GKP Jemaat Kampung Tengah.
Sangat diyakini dalam proses perjalanan itu ada perjuangan yang tidak
mudah yang dilakukan, baik oleh keluarga-keluarga maupun secara
bersama dalam persekutuan. Dari perjuangan itu bukan saja para
pendahulu berhasil menghadirkan GKP di wilayah Kampung Tengah,
akan tetapi mampu menciptakan sikap lingkungan masyarakat menjadi
kondusif terhadap keberadaan GKP Jemaat Kampung Tengah dalam
22 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
mengemban tugas panggilan Gereja.
Kebersamaan GKP Jemaat Kampung Tengah dengan lingkungan
masyarakat, adalah realitas yang sudah lama terbina dengan baik.
Kehadiran Ketua RT dan beberapa warga di sekitar Gereja saat
acara perkenalan sebagai pendeta konsulen GKP Jemaat Kampung
Tengah yang berlangsung pertengahan tahun 2019, sungguh telah
membuktikan adanya hubungan yang begitu baik antara GKP Jemaat
Kampung Tengah dengan warga masyarakat sekitarnya.
Penerimaan yang baik dan tulus masyarakat sekitarnya terhadap
keberadaan GKP Jemaat Kampung Tengah adalah anugerah Tuhan yang
tak terkira. Itu adalah realitas yang sangat berharga dan bernilai bagi
GKP Jemaat Kampung Tengah dan juga bagi generasi sekarang yang
melanjutkan. Sikap menerima masyarakat terhadap keberadaan GKP
Jemaat Kampung Tengah sesungguhnya tidak datang dengan sendirinya
atau begitu saja. Tapi pasti melalui proses yang panjang. Setidaknya lewat
berbagai upaya pembinaan hubungan baik yang dilakukan oleh para
pendahulu Gereja di Kampung Tengah. Begitulah sisi lain kondisi yang
menjadi sejarah perjalanan GKP Jemaat Kampung Tengah. Kondisi itu
harus dipahami oleh setiap generasi sampai kapanpun. Setiap warga
jemaat wajib sadar punya tanggung jawab menjaga dan merawatnya.
Pdt. Supriatno, M.Th
Pendeta Konsulen GKP Jemaat Kampung Tengah.
Tahun 2019 - 2021
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 23
SEJARAH
GEREJA KRISTEN PASUNDAN
1851 – 1970
Lembaga GIUZ
Tahun 1851 Lembaga Pekabaran Injil Genootschap voor Inen Uitwendige
Zending te Batavia (GIUZ) didirikan di Jakarta oleh beberapa orang
Eropa dan beberapa Lembaga Pekabaran Injil. Lembaga ini bekerjasama
antara lain dengan Lembaga Pekabaran Injil Zendeling Werkman di
Negeri Belanda. Di antara tokoh-tokoh pendiri GIUZ adalah Mr. F.L.
Anthing dan Pdt. E.W. King.
Mr. F.L. Anthing adalah orang pertama
yang melakukan Pekabaran Injil kepada
penduduk asli di Jawa Barat, dengan prinsip
kerja: "Mengabarkan Injil oleh Penginjil
Bumiputra". Di kemudian hari Mr. F.L.
Anthing berhasil mendirikan Pos-pos
Pekabaran Injil di Jakarta dan sekitarnya,
yang sering kali disebut sebagai "Jemaat-
jemaat Anthing", antara lain: Kampung
Sawah, Pondok Melati, Gunung Putri,
https://www.google.co.id Cigelam, Cikuya (Banten), Tanah Tinggi,
Cakung dan Ciater (dekat Serpong).
Tahun 1854 Zendeling Adolf Muhinickel dikirim oleh Zendeling
Werkman ke Jakarta dan ditampung oleh GIUZ. Ia bekerja di Cikuya,
24 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
Banten tahun 1854-1859 sebagai Guru Sekolah Swasta dan diberi
keleluasaan untuk mengabarkan Injil kepada penduduk pribumi.
Pada 11 Juli1855, dua orang pribumi dari daerah Cikuya, yakni
Minggu dan Sarma menerima Baptisan Kudus dalam sebuah pelayanan
oleh Pdt. Bierhans di Jakarta. Pelayanan Baptisan Kudus dilakukan
di Jakarta karena Muhinickel tidak mempunyai wewenang untuk
melakukan pelayanan tersebut. (Di kemudian hari, GKP meresmikan
dan memperingati Tanggal 11 Juli sebagai Hari Pekabaran Injil GKP).
Satu tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 7 Mei 1856, diketahui
ada delapan orang lagi penduduk pribumi Cikuya-Banten menerima
pelayanan Baptisan Kudus.
Pengiriman Para Zendeling
Lembaga Pekabaran Injil Nederlandsche Zendelings Vereeniging
(NZV) yang didirikan di Rotterdam tanggal 2 Desember 1858 oleh
orang-orang dari Gereja Hervormd, pada tahun 1862 lembaga ini
mulai mengirimkan para Zendelingnya ke Jawa Barat. Rombongan
Zendeling NZV yang pertama, baru tiba di Jawa Barat pada 5 Januari
1863. Rombongan tersebut adalah C.J. Albers, D.J. v.d. Linden dan G.J.
Grashuis tiba di Jakarta. Tugas C.J. Albers, D.J. v.d. Linden yang juga
merupakan misionaris adalah untu mendirikan Gereja. Dari Jakarta,
mereka melanjutkan perjalanan ke Bandung pada bulan Maret 1863.
Tetapi ketika di Bandung, mereka harus menunggu 2 tahun untuk
memperoleh izin kerja dari Gubernur Jenderal Pemerintah Kolonial
Belanda saat itu. Karena belum memperoleh izin kerja, Zendeling D.J.
v.d. Linden pindah ke Cirebon. Bagi D.J. v.d. Linden di wilayah Cirebon
merupakan tempat pelayanan yang pertama kali dilakukannya. Namun
karena ijin tugas tidak keluar, seorang ibu peribumi yang berminat
dibaptis yaitu Ibu Saleber tidak dapat dilakukannya, tetapi akhirnya
baptisan atas Ibu Saleber dapat dilakukan atas bantuan rekannya yaitu
pendeta Indesche Kerk yang bernama JGW Krol.
Sedangkan Zendeling C.J. Albers pindah ke Cianjur dan mulai
melakukan Pekabaran Injil di daerah itu. Dan pada 26 Desember 1863
dua orang (suami-isteri) penduduk pribumi Cianjur, yakni Ismail dan
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 25
Murti menerima Baptisan Kudus. Sementara itu Pdt. E.W. King tetap
berada di Jakarta dan berhasil mendirikan Jemaat Rehoboth di daerah
Jatinegara-Jakarta.
Sementara itu G.J. Grashuis ditugaskan untuk menterjemahkan Alkitab
ke Bahasa Sunda. Namun hasil kerja yang dilakukan ternyata dipandang
kurang baik sehingga upaya penerjemahan Alkitab ke dalam Bahasa
Sunda dilanjutkan oleh Coolsma.
Gerakan Pekabaran Injil
Para Zendeling
Gerakan pekabaran Injil selain dilakukan oleh hasil pengiriman para
Zendeling di tahap pertama tahun 1863. Juga mulai dilakukan oleh
para zendeling lainnya di datangkan juga oleh NZV ke Jawa Barat. Pada
tahun 1864 Zendeling A. Dijkstra mulai bekerja di Cirebon. Dan pada
tahun 1868, dua orang penduduk pribumi dan satu keluarga keturunan
Tionghoa di Cirebon menerima Baptisan Kudus oleh Dijkstra.
Sementara pada tahun itu, S. Coolsma yang dikirim ke Bogor mulai
mengabarkan Injil di sana. sampai tahun 1883. Dari pekabaran Injil
yang dilakukan tercatat ada 4 orang penduduk pribumi dan 2 orang
keturunan Tionghoa yang menjadi Kristen.
Pada tahun 1876 A. Geedink mulai mengabarkan Injil di Bandung sampai
tahun 1877. Dari pekabaran Injil yang dilakukan tercatat ada 25 orang
menjadi Kristen. Pada tahun 1872 P.N. Gijsman mulai mengabarkan
Injil di Sukabumi sampai dengan tahun 1883. Dari pekabaran Injilnya
tercatat ada 25 orang menjadi Kristen. Pada tahun 1876, Zendeling J.
Verhoeven mulai bekerja di Majalengka dan sekitarnya.
Sebagai upaya mengkader ketenagaan guna mendukung kegiatan
Pekabaran Injil yang dilakukannya, para Zendeling NZV, memanfaatkan
lembaga Seminari Theologia Depok, (Cikal-bakal dari STT Jakarta,
yang didirikan pada tahun 1878), untuk mempersiapkan orang-orang
pribumi untuk membantu mereka mengabarkan Injil. Begitu juga
penerbitan Alkitab Perjanjian Baru dalam bahasa Sunda pada tahun
1879, adalah bagian lain yang sangat membantu para Zendeling bertugas
di Jawa Bagian Barat.
26 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
Catatan sejarah lainnya yang juga penting dari pekerjaan pekabaran
Injil para Zendeling adalah peristiwa Baptisan yang dilakukan para
Zendeling di wilayah Majalengka pada tahun 1882. Melalui Zendeling
Verhoeven, dua orang wanita pribumi di Majalengka menerima Baptisak
Kudus. Dari Majelengka kemudian ia pindah ke Cideres yang tidak jauh
dari Majelengka. Di daerah ini Zendeling Verhoeven membaptiskan
tujuh orang pribumi asal Cideres.
Sierk Coolsma(1840-1926) bersama isteri,
penerjemahn Alkitab ke dalam Bahasa Sunda (Historia.id)
Sinergitas Pekabaran Injil
Pada tahun 1885 Jemaat di Cikuya-Banten yang dibina Mr. F.L. Anthing
dan "Jemaat-jemaat Anthing" lainnya serta jemaat peninggalan
pelayanan Pdt. E.W. King diintegrasikan ke dalam lingkup pelayanan
NZV. Dengan adanya integrasi pelayanan tersebut, maka sejak itulah
pelayanan Pekabaran Injil dikalangan masyarakat di Jawa Barat tidak
sepenuhnya dilakukan oleh NZV, akan tetapi mendapat bantuan dari
para Penginjil pribumi. Gerakan pekabaran Injil bersama penginjil
pribumi semakin terlihat jelas, dengan didirikannya Desa Kristen
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 27
Pangharapan di Cikembar-Sukabumi oleh S. Van Eendenburg pada
tahun 1886. Setelah itu didirikan desa Kristen Tamiyang yang menjadi
bagian wilayah Cirebon. Dan pada tahun 1902 didirikan juga desa
Kristen di Palalangon, Ciranjang-Cianjur.
GKP Tamiyang, GKP Palalangon
di Indramayu, Cirebon di Cianjur
Di tiga wilayah itulah dibangun
Desa Kristen Pangharepan oleh
para Zendeling untuk kepentingan
penginjilan di Jawa Barat.
GKP Cikembar,
di Sukabumi.
Sumber Profil GKP 2007
Pekabaran Injil yang yang bersinergi antara para Zendeling dengan para
Penginjil Pribumi jelas membutuhkan media yang efektif untuk dapat
menyampaikan pesan penginjilan dari sumber utama yaitu Alkitab.
Memenuhi kebutuhan ini, pada tahun 1891, Zendeling S. Coolsma,
yang mendapat tugas dari Lembaga Alkitab Belanda dan atas bantuan
beberapa orang Penginjil pribumi, berhasil menterjemahkan Alkitab ke
dalam Bahasa Sunda, kemudian diterbitkan sesuai kebutuhan.
28 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah