Lembaga dan Persekutuan
Hasil Kerja Zendeling
Pada tahun 1899 NZV mencatat bahwa di wilayah Jawa bagian Barat
terdapat 11 Persekutuan umat Kristen dengan jumlah anggota 677
Jiwa. Sedangkan pada tahun 1908, diperoleh data bahwa di Jawa Barat
terdapat 26 Sekolah yang didirikan oleh atau mempunyai hubungan
dengan dan bagian dari NZV dengan jumlah murid 1.700 orang. Untuk
mendukung minat para misionaris memberikan pelayanan medis bagi
masyarakat di Jawa Bagian Barat, maka Pada tahun 1910, didirikanlah
Rumah Sakit Immanuel di Bandung. Kemudian hari, menyusul rumah-
rumah sakit di tempat lain seperti Cibadak dan Purwakarta. Pada tahun
1915 , NZV mencatat ada 24 Jemaat Kristen yang dilayani yang tersebar
di Karesidenan Jawa Barat dengan jumlah anggota 2.956 jiwa.
RS Imanuel (kiri) dan RS Cideres (Kanan) buah karya para Zendeling dalam upaya
mengabarkan Injiil di Jawa Barat, serta menjadi bagian perjalanan sejarah GKP.
https://www.google.co.id
Menuju GKP Yang Mandiri
Pada tahun 1917, Tata Gereja yang diberi nama Atoeran Perkoempoelan
Orang Kristen di Pasoendan disahkan dalam konferensi para Zendeling
NZV di Jawa Barat. Pada tahun 1917, ketenagaan pendeta pribumi
yang pertama ditahbiskan yaitu Pdt. Titus. Sebelum ditahbiskan Titus
adalah seorang Penginjil yang terintegrasi dengan pelayanan NZV.
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 29
Pada tahun 1932, diperoleh data bahwa jumlah orang Kristen pribumi
dan keturunan Tionghoa yang berada di wilayah pelayanan NZV
mengalami pertambahan menjadi 5.497 jiwa.
Pada tahun 1933, Dr. H. Kraemer seorang utusan Lembaga Alkitab
Belanda (Nederlands Bijbelgenootschap) sesudah meninjau Jawa Barat
menganjurkan agar Jemaat-jemaat di Tanah Pasundan dipersatukan
menjadi sebuah Gereja yang mandiri terlepas dari pemeliharaan sehari-
hari oleh NZV. Anjuran itu akhirnya terwujud pada tahun 1934. Tepatnya
pada hari Rabu, 14 November1934, Jemaat-jemaat di Tanah Pasundan
sebagaimana dimaksudkan oleh Dr. H. Kraemer, resmi menjadi satu
Gereja yang berdiri sendiri dengan nama Gereja Kristen Pasundan.
Peresmian dilakukan dalam suatu upacara resmi di Gedung Gereja
Jemaat Bandung. Peresmian ditandai dengan pembacaan piagam
penyerahan sekaligus melantik Rad Ageng (Majelis Besar) sebagai
badan pimpinan semua jemaat Kristen di Jawa Barat oleh Dr. N.A.C
Slotemaker de Bruine, konsul Zending yang bertindak mewakili
pimpinan NZV di negeri Belanda.
Peserta rapat perdana Perhimpunan Gereja Pasundan pada tanggal 14 Nopember 1934
dalam rangka proses pendewasaan Gereja Pasundan. (sumber: (https://www.google.co.id;
pinterest.com dan Persekutuan Taman Harapan Menjadi GKP Ebenhaezer Cawang hl.56)
30 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
Selanjutnya pada hari yang sama, diadakan Sidang pertama Rad Ageng.
Dan dari persidangan tu terpilih sebagai Ketua Pengurus Harian Rad
Ageng yaitu Zendeling J. Iken dari NZV, Penulis D. Abednego dan Tan
Goan Tjong sebagai Bendahara. Sesudah menjadi Gereja yang mandiri,
yang bernama Gereja Kristen Pasundan (GKP), maka ditahbiskan
sejumlah Guru Injil Pribumi menjadi Pendeta. Dan pada tahun 1936,
GKP yang pada waktu itu disebut de Christelijke Kerk van West Java
disahkan menjadi Gereja dengan status Badan Hukum.
GKP Menjelang Dan Diawal Kemerdekaan RI
Dan Gerakan Pengacau Keamanan
Pada tahun 1942, Kepemimpinan GKP mulai dipegang sepenuhnya
oleh orang-orang pribumi (Bumiputra) karena dalam masa
pendudukan Jepang para Zendeling Belanda tidak lagi dapat melakukan
kegiatannya. Akibatnya, Pengurus Harian Rad Ageng mulai saat itu
tak ada lagi yang berasal dari unsur Zendeling. Orang-orang pribumi
yang menjadi pengurus Rad Ageng adalah Pdt. Aniroen (Ketua),
J. Elia (Sekretaris), Martinus Abednego (Bendahara) dan Pdt. Kasdo
Tjokrosiswondo (anggota). Karena pendudukan Jepang yang tidak
memperbolehkan Zendeling melakukan kegiatan, maka di tahun ini
juga NZV menyerahkan pekerjaan pelayanan dan semua harta miliknya
berupa Sekolah-sekolah dan Rumah-rumah sakit kepada GKP.
Kurun waktu tahun 1945-1949, boleh dibilang menjadi masa transisi
Bangsa Indonesia. Sebab Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
(RI) baru dikumandangkan tahun 1945, Sehingga secara politis, sampai
dengan tahun 1949 keberadaan RI masih tergolong muda usia. Dalam
kurun waktu tersebut, terjadi peristiwa gedoran yang mengintimidasi
dan melakukan tindakan perusakan yang menakutkan jemaat-jemaat
GKP yang ada di Cigelam, Gunung Putri dan Kampung Sawah.
Akibatnya, banyak anggota jemaat yang terpaksa mengungsi atau
pindah ke tempat-tempat lainnya yang lebih aman. Situasi dan kondisi
keamanan di masa transisi memang belum menjamin dan belum
kondusif. Pdt. J.v.d. Weg yang sudah dibebaskan dari Kamp tawanan
tentara Jepang bertekad akan kembali bekerja dalam pelayanannya di
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 31
Juntikebon. Namun tragis, setibanya di Juntikebon Pdt. J.v.d.Weg di
bunuh oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Belum adanya perubahan situasi dan kondisi di masa belum adanya
perubahan situasi dan kondisi di masa transisi, bukan saja mengancam
keberadaan orang-orang Kristen saat itu. Lembaga Gereja pun menjadi
kurang nyaman dalam melakukan kegiatannya. Oleh karenanya pada
sekitar tahun 1946-1947, kedudukan Pengurus Harian Darurat GKP
dipindahkan dari Bandung ke Garut. Karena di Bandung terjadi
pertempuran yang gencar antara Pasukan RI dengan pasukan Belanda.
Akibat lain dari pertempuran ini adalah terjadinya pengungsian besar-
besaran pada penduduk kota itu ke berbagai daerah di sekitar Bandung
yang lebih aman termasuk daerah Garut. Pada tahun 1949 terjadi
pemberontakan DI/TII. Gerakan ini tidak saja mengganggu stabilitas
Negara, tapi berimbas juga ke beberapa jemaat GKP di pedesaan.
Salah satu jemaat yang mengalami gangguan DI/TII yang paling parah
adalah jemaat di Tamiyang. Dan Pdt. Usman Sarin yang ada di sana pun
ditembak mati oleh gerombolan yang ada di dalam gerakan tersebut.
https://www.google.co.id
Balai Pertemuan Kaoem Kristen di Jalan Kramat Raya 65, sekarang menjadi
gedung Gereja GKP Kramat, GPDI dan GMIST.
32 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
Gerakan Oikumene GKP
Sekalipun dibayangi masa sulit karena masih transisi dari kemerdekaan,
GKP tetap bergerak mewujudkan tugas panggilannya terutama dalam
gerakan oikumene. Dan itu terbukti, pada bulan Mei 1946, GKP ikut
ambil bagian dalam upaya pembentukan Dewan Permusyawaratan
Gereja-gereja di Jawa (DPG) yang diadakan di Yogjakarta. DPG
merupakan wadah oikumenis 6 Gereja di Pulau Jawa.
Bukti lain gerakan oikumene yang dilakukan oleh GKP di masa awal
pertumbuhannya adalah, pada tahun 1950. Pada tahun ini, Persidangan
VIII Rad Ageng di Bandung memutuskan, istilah Rad Ageng diubah
menjadi Sinode, dan istilah pengurus harian diubah menjadi Badan
Pekerja. Dengan penetapan perubahan tersebut, maka sejak itu nama
lengkap pengurus harian Rad Ageng berganti nama menjadi Badan
Pekerja Sinode GKP.
Logo Gereja Kristen Pasundan 33
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
Kantor Sinode GKP saat ini di Jln Dewi Sartika No. 119 Bandung, sebelumnya di Jalan
Pasirkaliki 121-123, Bandung. (Foto Arie Sairoen)
34 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
Sebagai satu sinode yang baru, namun dengan semangat beroikumene
yang tinggi, maka setelah persidangan Rad Ageng selesai pada tahun
1950, GKP di usia mudanya dan dengan keyakinan penuh, berkeputusan
untuk ambil bagian dalam Konferensi pembentukan Dewan Gereja-
gereja di Indonesia (DGI) dan sekaligus berkomitmen menjadi
anggotanya. Saat ini lembaga Oikumene yang di dalamnya GKP turut
mendirikan dan beranggota ini, kini dikenal dengan nama Persekutuan
Gereja-gereja di Indonesia (PGI).
https://www.google.co.id
Gerakan oikumene berikutnya, pada tahun 1959, GKP resmi menjadi
anggota Dewan Gereja-gereja di Asia Timur (East Asian Christian
Conference, yang kemudian berubah menjadi Dewan Gereja-gereja
Asia (Christian Conference of Asia/CCA).
https://www.google.co.id
Pada tahun tersebut GKP tercatat memiliki 32 Jemaat, dengan anggota
sebanyak 9.127 jiwa. Pada tahun 1961, GKP resmi juga menjadi anggota
Dewan Gereja-gereja se-Dunia (World Council of Churches/WCC).
Gambar : https://www.google.co.id 35
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
Pada tahun 1967, GKP menjalin hubungan kerjasama dengan
Presbyterian Church of New Zealand. Pada tahun 1968, GKP memulai
hubungan kerjasama dengan Basel Mission, Swis. Dan baru pada tahun
1970, GKP menjadi anggota Aliansi Gereja-gereja Reformasi se-Dunia
(World Alliance of Reformed Churches - WARC).
Sumber tulisan Sinode GKP
36 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
ANTARA GKP DENGAN
PENDIDIKAN DAN KESEHATAN
Penyelenggaraan pendidikan dan kesehatan dalam perjalanan sejarah
Gereja Kristen Pasundan (GKP) memiliki kaitan yang sangat erat.
Artinya pelayanan pendidikan dan kesehatan adalah dua bidang
kegiatan yang sangat beperan sebagai sarana dalam pekabaran Injil di
Jawa Barat.
Pelayanan pendidikan yang saat ini dikembangkan dan dilanjutkan
oleh GKP dengan segala keberadaannya, sesungguhnya merupakan
hasil rintisan dan upaya yang dilakukan oleh para Zendeling yang
tergabung dalam lembaga Nederlandsche Zendelings Vereeniging
(NZV) pada masa pemerintahan Hindia Belanda yang datang ke Jawa
Barat pada 16 Agustus 1862.
Sejak awal, lembaga Zendeling ini begitu menaruh perhatian kepada
pelayanan pendidikan. Bagi para Zendeling pelayanan pendidikan adalah
strategi yang tepat untuk membuka jalan agar dapat berkomunikasi
dengan penduduk asli Jawa Barat. Karena itulah para Zendeling
membangun sekolah-sekolah di beberapa jemaat yang dibinanya.
Dalam hal pendidikan para Zendeling juga memberikan kesempatan
kepada anak-anak yang tergolong pandai dan berbakat untuk
melanjutkan pendidikan ke sekolah guru atau sekolah perawat yang
juga dikelolanya saat itu. Lewat pendidikan guru dan perawat inilah
para Zendeling merekrut bagian masyarakat Jawa Barat untuk menjadi
guru Injil dan para mantri kesehatan yang selanjutnya dimanfaatkan
untuk kepentingan pekabaran Injil melalui bidangnya masing-masing.
Secara khusus, para guru selain memberikan pendidikan umum,
juga diperankan sebagai guru Injil. Jadi, pada saat itu, guru sekolah
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 37
merangkap sebagai guru Injil.
Pada tahun 1908 diketahui ada 26 sekolah yang didirikan pada Zendeling
dengan jumlah murid sekitar 1.700 orang. Sedangkan pada tahun 1920
mengalami perkembangan sehingga jumlah sekolah bertambah menjadi
33 sekolah dengan murid sekitar 2.000 orang. Pada tahun 1950 hingga
1959, di Bandung didirikan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama,
Taman Kanak-kanak dan Sekolah Menengah Atas.
Beberapa jemaat GKP yang tumbuh dan berkembang bersamaan dengan
di selenggarakannya pendidikan adalah GKP Jemaat Bandung, GKP
Jemaat Rangkasbitung, GKP Jemaat Cideres dan GKP Jemaat Depok.
Disamping dunia pendidikan, para Zendeling juga melihat adanya
kebutuhan mendasar lainnya yang ada di tengah kehidupan penduduk
asli jawa Barat yaitu masalah kesehatan. Berdasarkan keyakinan atas
kebutuhan tersebut, para Zendeling kemudian mengandengkan bidang
kesehatan dengan bidang pendidikan yang telah dimulai lebih dahulu.
Penggandengan bidang pendidikan dan kesehatan, bagi para Zendeling
adalah bentuk sinergitas pelayanan yang yang berdampak positif pada
dua sisi, yaitu baik bagi keberadaan para Zendeling sendiri dan juga
bagi penduduk asli Jawa Barat.
Dalam rangka menjawab kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan,
sekitar kurun waktu tahun 1910-1934 didirikanlah oleh para Zendeling
beberapa rumah sakit di beberapa wilayah. Di Bandung Rumah Sakit
Immanuel, di Karawang Rumah Sakit Bayu Karta dan Rumah Sakit
Bayu Asih. Di Cideres Rumah Sakit Cideres dan beberapa poliklinik
yang merupakan jejaring Rumah Sakit Immanuel. Beberapa waktu
kemudian sekitar tahun 1989 GKP memiliki rumah Sakit khusus ibu
dan anak yakni Ridogalih di Sukabumi dan sejak tahun 2013 rumah
sakit ini statusnya ditingkatkan menjadi rumah sakit umum.
Semakin berkembangnya pelayanan pendidikan dan kesehatan,
maka kedua bidang pelayanan tersebut tidak saja menjadi sarana
berkomunikasi dengan penduduk asli, akan tetapi telah dijadikan
sarana pelayanan khusus untuk pekabaran Injil di Jawa Barat oleh para
Zendeling maupun para guru Injil dan juga para mantri kesehatan yang
telah direkrutnya. Atas dasar itulah, kegiatan pelayanan pendidikan
dan kesehatan bagi GKP menjadi salah satu catatan khusus dan penting
38 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
terhadap pertumbuhan dan perkembangannya.
Menurut Pdt. Supriatno, M.Th, duet profesi guru dan mantri tidak
diragukan lagi masuk dalam catatan penting GKP. Para guru dan mantri
menjadi bagian kekayaan GKP. Sebagai generasi yang kompeten secara
profesional, berkarakter secara moral dan berdaya semangat missioner
yang tinggi. Kedua profesi tersebut juga merupakan keberadaan yang
memiliki daya terima dari masyarakat yang baik. Beberapa jemaat
yang ada sekarang merupakan rintisan para mantri kesehatan adalah
GKP Jemaat Kampung Tengah oleh Mantri Yoram Baiin, GKP Cibubur
oleh Mantro Yotam Sairin, GKP Cikampek oleh Mantri Raleda, GKP
Ciranjang oleh Mantri Arta Yunus, GKP Sukamandi oleh Mantri Aman
Noron, Pos Cipatat oleh Mantri Paulus Sairun, Pos Teko oleh Mantri
Sairin dan GKP Ciwidey oleh mantri Gerard.
Berdasarkan kenyataan yang ada, terdapat korelasi antara profesi mantri
dan guru dalam pertumbuhan beberapa jemaat GKP. Posisi mantri dan
guru ke lingkungan mampu melakukan fungsi perekat dan jembatan,
sehingga keberadaan dan peranannya menjadikan masyarakat welcome
terhadap kekristenan.
Begitu juga yang terjadi di Jemaat GKP yang berlokasi di wilayah
Kampung Tengah, Kramat Jati, Jakarta Timur, upaya pelayanan kesehatan
yang dilakukan sebuah Balai Pengobatan Umum, yang dikelola secara
swadaya oleh seorang mantri kesehatan bernama Yoram Baiin, terbukti
menjadi catatan sejarah otentik dari kehadiran dan pertumbuhan GKP,
khususnya Jemaat Kampung Tengah.
Referensi Profil GKP Tahun 2007
Materi Seminar Pdt. Supriatno, M.Th Tentang Diaspora
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 39
Sumber: https://www.google.co.id
Sekolah Dasar Mardi Utomo dh Mardi Oetama School di bangun tahun 1928 di
lingkungan GKP Jemaat Rangkasbitung, Banten sekolah tersebut dibangun oleh
Zendeling Otte van der Brug (buku Antara Leuwidamar dan Rangkasbitung/
Halson Nainggolan hl.37). Selain sebagai sarana mencerdaskan masyarakat, juga
menjadi bagian upaya kesaksian Gereja dan Pekabaran Injil kepada masyarakat.
40 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
Sumber : https://www.google.co.id
Rumah Sakit Immanuel di Bandung, bukan saja bukti sejarah perjuangan
pekabaran Injil di Jawa Barat, tetapi pelayanan kesehatan yang diberikan telah
memungkinkan para Zendeling dapat berinteraksi dengan pendudukan asli yang
semuanya telah memungkinkan lahirnya GKP.
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 41
GKP Jemaat Kampung Tengah
DI DUA JAMAN
Kampung Tengah, secara geografis berada di wilayah Provinsi DKI
Jakarta. Secara adminsitratif, menjadi bagian dari wilayah Kota
administratif Jakarta Timur. Dalam wilayah kelurahan dan kecamatan,
keberadaan Kampung Tengah menjadi bagian dari Kelurahan Tengah,
Kecamatan Kramat Jati. Di Kelurahan Tengah, saat ini wilayah
administrasinya memiliki Rukun Tetangga sebanyak 89 RT dan Rukun
Warga 10 RW. Wilayah tempat GKP Jemaat Kampung Tengah berada
sekarang, dulunya adalah wilayah RT 05 RW 02 dengan jumlah warga
di sekitar Gereja hanya sekitar 44 Jiwa.
Dalam perjalanan waktu sekitar tahun 1980-an di Kelurahan Tengah
dilakukan penataan kewilayahan di tingkat RT dan RW. Hal tersebut
dilakukan karena hampir di seluruh wilayah Kelurahan Tengah
terjadi pertambahan dan pertumbuhan jumlah penduduk sebagai
akibat lajunya pembangunan rumah tinggal dan proses perkawinan
yang mengakibatkan pertumbuhan keluarga baru. Penyebab lainnya
adalah terjadinya perpindahan tempat tinggal atau domisili individu
atau keluarga dari wilayah lain ke wilayah Kelurahan Tengah. Proses
penataan wilayah dengan perubahannya tidak dapat dihindarkan.
Pertambahan warga yang cukup pesat di Kelurahan Tengah, mau tidak
mau mengharuskan pihak kelurahan menata kembali kewilayahannya
yaitu dengan cara melakukan pemekaran di tingkat RT dan RW. Akibat
penataan dimaksud, maka wilayah RT 05 RW 02 yang awalnya hanya
satu wilayah, pun berubah menjadi dua wilayah yaitu RT 01 RW 08,
yang sekarang ini menjadi lokasi GKP Jemaat Kampung Tengah berada
dan RT 02 RW 08 yang letak wilayahnya di sebelah utara dan dipisahkan
42 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
oleh Gang Senggol. Jadi kalau saat ini di RW 08 terdapat dua wilayah
yakni RT 01 dan RT 02, itu dulunya adalah satu wilayah yaitu RT 05
RW 02.
Ketika masih menjadi wilayah RT 05 RW 02, di saat itulah GKP Jemaat
Kampung Tengah dirintis oleh 11 keluarga Kristen. Salah satu sisi
keadaan Kampung Tengah pada waktu itu masih menyatu dengan sawah
yang ada di sebelah barat. Antara tanah dan permukiman warga dengan
sawah tidak ada semacam pagar atau tembok pembatas permanen yang
memisahkan perkampungan dengan pesawahan. Pesawahan yang
terbentang dari selatan ke utara masih dapat dilihat dengan jelas dari
beberapa tempat tinggal warga. Bahkan warga masyarakat pun saat
itu masih dapat berlalu lalang dengan leluasa untuk menuju ataupun
meninggalkan sawah. Pesawahan yang terasa begitu menyatu dengan
pemukiman dan dekat dengan Gereja, dalam perkembangannya, secara
berangsur-angsur menghilang. Sekitar mulai tahun 1964 hingga 1970-
an, pesawahan yang semula hanya sebagian area yang diubah menjadi
bangunan rumah, akhirnya secara perlahan tapi pasti, sampai terjadi
perubahan wilayah dari RT 05 RW 02 menjadi RT 01 RW 08, pesawahan
yang membentang di sisi barat Kampung Tengah akhirnya lenyap dari
pandangan mata warga. Semua area pesawahan telah menjadi deretan
bangunan perumahan TNI. Dan sekarang deretan perumahan perwira
Angkatan Darat itu dikenal dengan nama Kompleks Bulak Rantai. Salah
satu dampak pembangunan Kompleks tersebut, adalah tertutupnya
untuk selamanya akses jalan warga ke arah barat (kulon) yang saat itu
membentang di tengah pesawahan.
Dalam hal fasilitas Gereja, baik untuk kebutuhan kebaktian dan kegiatan
jemaat, saat berada di era RT 05 RW 02, memang masih sangat terbatas
dijamannya. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena keberadaan GKP
jemaat Kampung Tengah masih dalam proses pengembangan, baik dari
sisi organisasi, persekutuan maupun sumber daya manusianya. Begitu
juga fasilitas dan sarana pendukung kerja bidang sekretariat Gereja yang
merupakan motor penggerak organisasi, keberadaan sangat sederhana
hanya didukung sebuah mesin ketik manual.
Namun seiring perjalanan waktu dan sejalan dengan terjadinya
perubahan kewilayahan di Kelurahan Tengah, wilayah domisili Gereja
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 43
dan warganya yang semula di RT 05 RW 02 pun diubah menjadi RT
01 RW 08. Perubahan ini dilakukan bersamaan pertambahan dan
pertumbuhan jumlah warga masyarakat di Kelurahan Tengah. Dan
secara kuantitas hal ini berimbas pada pertambahan dan pertumbuhan
warga jemaat GKP Jemaat Kampung Tengah, termasuk di dalamya
perubahan terhadap penggunaan fasilitas pendukung untuk kerja bidang
sekretariat yakni dari mesin ketik manual ke sistem komputerisasi dan
saat ini ditambah dengan sistem komunikasi berbasis jaringan internet.
Dari kisah di atas sesungguhnya dapat memaknai bahwa keberadaan
GKP Jemaat Kampung Tengah sejak lahir, tumbuh dan berkembang
sampai saat ini, hadir di dua jaman yang dilaluinya yaitu saat Kampung
Tengah menjadi wilayah RT 05 RW 02 yang notabene belum begitu
padat dan masih banyak pepohonan, bahkan dalam keterbatasan,
hingga berubah menjadi wilayah RT 01 RW 08 sekarang ini yang
penduduk dan rumahnya jauh lebih padat dan di tengah era digital dan
jaman milenial.
Model mesin ketik seperti ini yang menjadi sarana utama
Sekretariat Gereja di era RT 05 RW 02 . (Properti Harlik)
Komputer dan
jaringan internet
fasilitas andalan
Sekretariat Gereja di
era RT 01 RW 08
(Sketsa)
44 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
KELUARGA-KELUARGA KRISTEN
MERINTIS PERSEKUTUAN
Dari Satu Menjadi Sebelas
Berawal dari 1 (satu) keluarga Kristen asal Kampung Sawah, Pondok
Gede, Bekasi, yaitu keluarga YORAM BAIIN yang berprofesi sebagai
mantri kesehatan dan berdinas di TNI Angkatan Udara yang pada
tahun 1956 keluarga ini membeli tanah di Kampung Tengah, kemudian
membangun rumah dan baru pada tahun 1958 keluarga ini resmi
menetap di Kampung Tengah.
Seiring perjalanan waktu kehidupan yang dilaluinya, keluarga ini
berusaha mengajak keluarga dan kerabat lainnya yang seiman untuk
tinggal dan berdomisili yang berdekatan dengan tempat tinggalnya di
Kampung Tengah.
Selain dengan mengajak, langkah lainnya yang ditempuh agar kerabat
Yoram Baiin bisa tinggal di Kampung Tengah adalah bisnis kecil-kecilan
yang dilakukan oleh isteri Yoram Baiin (Mimi Yoram). Salah satu bisnis
itu adalah jual beli tanah yang ada di sekitar rumah tinggalnya di
Kampung Tengah. Tanah yang dijual pihak lain kepadanya itulah yang
kemudian ditawarkan kepada beberapa kerabatnya untuk dibeli.
Dari bisnis kecil-kecilan yang dilakukan oleh Mimi Yoram akhirnya
berhasil menghadirkan 10 keluarga dan mereka pun kemudian tinggal
menetap berdekatan satu dengan lainnya. Dengan bertambahnya 10
keluarga Kristen yang tinggal di Kampung Tengah, maka keberadaan
keluarga Kristen bersama keluarga Yoram Baiin jumlahnya menjadi
11 keluarga. Dalam satu harapan dan kerinduan yang sama terhadap
panggilannya sebagai orang percaya, maka sekitar tahun 1958 sampai
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 45
Foto Koleksi keluarga
Keluarga YORAM BAIIN, Keluarga Kristen pertama yang tinggal di Kampung
Tengah. Berdiri di sisi kiri, Asikin Baiin, Kusdia Baiin, Malsianus Baiin,
Yustelia Baiin (wanita berdiri di kanan). Duduk Yoram Baiin, Inoh Sanami
(Ibu Yoram), Pdt. Chita Ruspiadi Baiin dan Dadi Hudaya Baiin (dipangku).
dengan 1960 kesebelas keluarga ini menghimpun diri MENJADI
SEBUAH PERSEKUTUAN. Tujuan utama adalah selain untuk
mewujudkan tugas panggilannya sebagai orang percaya, juga dalam
rangka memenuhi kebutuhan rohani keluarga masing-masing.
Kesebelas keluarga yang ada sekitar tahun 1958 – 1960 adalah :
1. Kel. Yoram Baiin 7. Kel. Yasson Baiin
2. Kel. Yotam Baiin 8. Kel. Martinus Baiin
3. Kel. Idris Sanglir 9. Kel. Leman Yonas
4. Kel. Yoel Tjimi 10. Kel. Sakeus Sandang
5. Kel. Yoswa Tjimi 11. Kel. Sakeus Petrus
6. Kel. Elia Tjimi
46 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
Yoram Baiin dan Inoh Sanami (Koleksi keluarga)
Yotam Baiin dan Halimah (Koleksi keluarga) 47
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
Idris Sanglir dan Saomi Saian (Foto Koleksi keluarga)
Makam Yoel Tjimi dan Wilhelmina Baiin di Jamblang Kampung Sawah
Yosua Tjimi dan Ibu Mumun (Foto Koleksi keluarga)
48 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
Yason Baiin dan Nyi. Rosita (Foto Koleksi keluarga)
Martinus Baiin dan Lucia Nathanael (Foto Koleksi keluarga)
Leman Yonas dan Kartina Niman (Foto koleksi keluarga) 49
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
Elia Tjimi Zakeus Sandang
(Foto Koleksi keluarga)
Sakeus Petrus dan Saeti Amban (Foto Koleksi keluarga)
Selepas Bekerja, Merintis Persekutuan
Kesebelas keluarga yang ada, selain bekerja dengan profesi masing-
masing, di antaranya sebagai anggota TNI, Polri, Pegawai Negeri/guru,
Tenaga medis dan wiraswasta, selepas bekerja mereka saling bertemu,
berbincang-bincang soal berbagai masalah kehidupan masing-masing
yang akhirnya berbicara juga soal kegiatan persekutuan dan pembinaan
iman. Dari situlah mereka mulai merintis upaya pembinaan iman
dengan membentuk persekutuan.
Masalah lain yang menjadi pokok perbincangan keluarga adalah soal
pembinaan iman anak-anak mereka. Oleh karena itu, dengan rasa
50 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
tanggung jawab atas pembinaan anak-anak, maka fokus perhatian para
orang tua, yang semula berfokus penuh kepada pembinaan keluarga,
akhirnya sebagian dialihkan kepada pembinaan iman anak-anak.
Talenta mengajar dari beberapa anggota keluarga dimanfaatkan untuk
membina iman Kristen anak-anak. Sekalipun tenaga pembinanya ada
dan anak-anak yang akan dibina juga ada, tapi tempat pelaksanaan
rupanya belum ada. Atas persoalan yang dihadapi tersebut, keluarga
Yoram Baiin mempersilakan kegiatan pembinaan iman anak-anak
dilakukan di salah satu ruangan sederhana miliknya yang berada di
bagian belakang. Dengan terbukanya ruangan sederhana itu, maka
harapan memperoleh tempat pembinaan iman anak-anak akhirnya
terwujud. Di ruang sederhana inilah kegiatan pembinaan bagi anak-
anak berlangsung dengan lancar. Dan dari kegiatan anak-anak inilah
terjadi pembentukan Pos Pelayanan GKP Jemaat Cawang di Kampung
Tengah. Pembentukan Pos Pelayanan ini peruntukan bukan bagi
persekutuan keluarga Kristen, melainkan untuk pelayanan anak.
Bagi kesebelas keluarga yang ada saat itu, kebutuhan rohani anak-anak
diakui sebagai hal yang sangat penting. Bagi mereka, dari anak-anak
inilah akan muncul generasi selanjutnya yang dapat meneruskan segala
cita-cita generasi yang lebih dahulu, baik dalam proses kehidupan
keluarga, terlebih lagi dalam hubungannya dengan kehidupan
persekutuan yang saat itu tengah dirintisnya.
Dengan berfokus pada pembinaan rohani anak-anak, para orang
tua dari kesebelas keluarga ini juga memahami bahwa melakukan
pembinaan anak-anak bukan berarti tidak peduli atau abai terhadap
pembinaan anggota keluarga yang dewasa, termasuk anak-anak mereka
yang mulai remaja dan memasuki usia pemuda. Kebutuhan rohani atau
pembinaan iman keluarga-keluarga atau orang muda dan para orang
tua, tetap dilakukan. Selain secara mandiri di tengah keluarga masing-
masing, juga di dapat sepenuhnya melalui kegiatan persekutuan di
Gereja tempat mereka beranggota yaitu GKP Jemaat Cawang, Rehobot
dan Tanah Tinggi.
Upaya membangun persekutuan terus dilakukan di tengah segala
keterbatasan yang ada saat itu. Semangat yang dimiliki pun tidak
membuat mereka surut untuk mewujudkan cita-cita yang ada. Dan
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 51
keinginan untuk membangun persekutuan di Kampung Tengah terus
bergelora.
Selepas bekerja, biasanya keluarga-keluarga memanfaatkan waktunya
untuk istirahat untuk memulihkan tenaga buat melaksanakan pekerjaan
esok hari. Akan tetapi tidaklah demikian bagi sebelas keluarga yang ada.
Mereka selepas bekerja bahkan sampai larut malam, berusaha untuk
saling berjumpa guna membicarakan rencana kegiatan persekutuan
untuk pembinaan anggota keluarga, untuk mewujudkan tugas panggilan
orang percaya, termasuk bagaimana mereka bisa memperoleh sarana
persekutuan yang memadai, mengingat untuk bersekutu ke jemaatnya
cukup jauh dan sarana yang tersedia saat itu masih terbatas.
Menjadi catatan penting, bahwa semangat sebelas keluarga saat itu
adalah semangat perjuangan iman yang berorientasi pada kecintaannya
terhadap hidup persekutuan, pelayanan dan kesaksian yang merupakan
panggilan tugas orang percaya.
Pelayanan Katekisasi dan Sidi
Yang Pertama Kali
Sekitar tahun 1961 di saat keluarga Kristen dan juga kelompok anak-
anak di Kampung Tengah mendapat bimbingan terkait kehidupan
persekutuan dari Majelis Jemaat GKP Ebenhaezer Cawang dan Pendeta
Efraim Rikin selaku pendeta jemaat, kaum muda yang menjadi bagian
beberapa keluarga Kristen di Kampung Tengah juga mendapat
pembinaan secara khusus dari Pendeta Efraim Rikin. Pelayanan khusus
kaum muda ini, diberikan bersamaan dengan dilakukannya pembinaan
kaum muda di GKP Jemaat Cawang dalam bentuk pelayanan katekisasi.
Pelayanan khusus ini, dalam prosesnya, dilakukan dengan cara jemput
bola yaitu Pendeta Efraim Rikin mendatangi para pemuda yang
ada di Kampung Tengah pada setiap hari rabu pagi untuk diberikan
pembinaan katekisasi. Pola pelayanan jemput bola ini dilakukan agar
kaum muda yang ada di Kampung Tengah saat itu dapat mengikuti
katekisasi dan terpenuhi kebutuhan serta pembinaan imannya dengan
baik. Hal yang menjadi alasan pelaksanaan katekisasi dilakukan pagi
hari adalah karena kaum muda Kampung Tengah yang menjadi peserta
52 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
katekisasi semuanya sekolah di siang hari. Dan pelaksanaan katekisasi
berlangsung antara pukul 09.00 sampai dengan pukul 11.00 di rumah
keluarga Yoram Baiin.
Pelayanan pembinaan kaum muda melalui katekisasi dimaksud,
selain sebagai upaya pembinaan iman juga sabagai upaya penyiapan
ketenagaan dan kaderisasi oleh GKP Jemaat Cawang terhadap
kelanjutan persekutuan di Kampung Tengah dan untuk kepentingan
yang salah satunya adalah kelanjutan pembinaan kelompok anak-anak
y ang notabene saat itu sudah dilakukan lebih dahulu.
Bagi perjalanan GKP Jemaat Kampung Tengah, pelayanan katekisasi
yang dilakukan tahun 1961 ini merupakan bentuk pembinaan yang
petama kali bagi kaum muda yang menjadi bagian dari keluarga
Kristen di Kampung Tengah. Adapun kaum muda yang menjadi peserta
katekisasi saat itu sebanyak empat orang yaitu :
1. Asikin Baiin
2. Kusdia Baiin
3. Lazarus Jaman
4. Johan Leman Yonas
Pelayanan pembinaan katekisasi ini dilakukan sepenuhnya oleh Pendeta
Efraim Rikin. Namun dalam perjalanannya, di sekitar bulan keenam
pelaksanaan katekisasi, Pendeta Efraim Rikin mengalami sakit. Akibat
keadaan ini, pelayanan katekisasi tidak dapat dilakukan oleh Pendeta
Efraim Rikin. Dan untuk kelanjutannya, katekisasi dilayani oleh Pdt.
Emil Empi selaku pendeta pengganti dari Pendeta Efraim Rikin.
Malalui pelayanan katekisasi inilah, untuk pertama kalinya empat
pemuda Kampung Tengah melakukan pengakuan iman/sidi yang
pelaksanaannya dilakukan pada tahun 1964 di GKP Jemaat Cawang
bersamaan dengan pelaksanaan sidi kaum muda jemaat setempat.
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 53
Pdt. Efraim Rikin dan Isteri, Martha
Mintardja.
Pdt GKP Jemaat Cawang yang pertama
kali melayani katekisasi kaum muda
dari keluarga Kristen yang ada di
Kampung Tengah pada tahun 1961.
(Foto Koleksi keluarga).
Pdt. Emil Empi S.Th
Pendeta GKP Jemaat Cawang yang
melanjutkan pelayanan katekisasi kaum
muda dari keluarga Kristen yang ada di
Kampung Tengah hingga mengikuti sidi
di GKP Jemaat Cawang tahun 1964.
(foto koleksi buku untaian data dan
fakta, Weinata Sairin 1990)
54 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
PENETAPAN STATUS KEJEMAATAN
TAHUN 1960– 1971
Berkorban Dengan Tulus
Sepanjang tahun 1960 sampai dengan tahun 1971, adalah perjalanan
panjang sebelas keluarga Kristen merintis dan membangun persekutuan.
Pertumbuhan persekutuan yang dirintis secara perlahan pun terjadi. Hal
yang menjadi tanda salah satunya adalah pertambahan jumlah keluarga
baru yang kemudian bergabung ke dalam persekutuan dan bersama-
sama turut mewujudkan persekutuan di Kampung Tengah. Berbagai
pengorbanan diberikan dengan tulus untuk kepentingan membangun
persekutuan. Bukan saja waktu, tapi juga tenaga, keringat, dan air mata.
Bahkan uang dan harta benda berupa tanah, bangunan dan material
lainnya.
Upaya yang dilakukan saat itu memang tidak mudah. Tapi keluarga
persekutuan memiliki keyakinan iman yang sungguh, bahwa
Tuhan akan menyertai dan memberkati setiap kerja yang dilakukan
persekutuan. Secara perlahan, hasil kerja yang dilakukan mulai terlihat
dan dapat dirasakan. Hasil awal yang diperoleh sekalipun belum berupa
sarana persekutuan yang dibutuhkan yaitu tempat kegiatan yang
permanen, akan tetapi berupa status kejemaatan, namun bagi keluarga-
keluarga Kristen yang ada saat itu, hasil yang diperoleh berupa status
kejemaatan juga bagian yang diperlukan dan sangat menggembirakan.
Alasannya adalah karena prasarana tersebut bukan semata pemberian
Gereja dalam rangka memenuhi syarat organisasi, melainkan sebagai
berkat Tuhan yang nyata. Secara kongkrit status kejemaatan yang
diperoleh dari upaya kesebelas keluarga Kristen dan keluarga baru
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 55
yang sudah bergabung ke dalam persekutuan Kampung Tengah saat
itu, adalah berupa status kejemaatan yang berjenjang sesuai ketentuan
untuk pembentukkan jemaat yang berlaku di lingkungan GKP. Benih
persekutuan yang ditabur oleh kesebelas keluarga dan keluarga lainnya
yang sudah bergabung, ternyata tumbuh bertunas dengan baik. Dan
seiring perjalanan waktu, tunas yang tumbuh pun secara perlahan
semakin besar dan mulai berbunga yang kelak akan menjadi buah yang
menyegarkan.
Status Pos Pelayanan (Tahun 1960)
Pada tanggal 27 Desember 1960, Persekutuan keluarga Kristen di
Kampung Tengah mulai memetik buah dari benih persekutuan yang
pernah ditaburnya yaitu ditetapkannya sebagai POS PELAYANAN bagi
kelompok kategorial anak-anak sekolah minggu. Penetapan status POS
PELAYANAN dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan perayaan
Natal Sekolah Minggu pada tanggal, bulan dan tahun tersebut.
Penetapan sebagai Pos Pelayanan dilakukan atas dasar kesepakatan
antara keluarga Kristen yang ada di Kampung Tengah dengan Majelis
Jemaat GKP Jemaat Cawang.
Dampak penetapan sebagai Pos Pelayanan Sekolah Minggu, bukan
saja semakin bertambah aktivitas yang dilakukan persekutuan, akan
tetapi ada juga beberapa keluarga di Persekutuan Keluarga Kristen di
Kampung Tengah menginduk keanggotaannya ke GKP Jemaat Cawang.
Dengan penetapan sebagai Pos Pelayanan dimaksud, sebagian harapan
untuk melakukan pembinaan khusus bagi anak-anak dari sebelas
keluarga Kristen yang ada di Kampung Tengah mulai terpenuhi. Upaya
pembinaan yang intensif pun berproses melalui GKP Jemaat Cawang
yang menjadi induknya. Sementara proses pembinaan yang dilakukan
GKP Jemaat Cawang berjalan, kesebelas keluarga persekutuan yang ada
pun melakukan upaya untuk mempersiapkan beberapa tenaga pengajar
sekolah minggu yang berasal dari anggota kesebelas keluarga yang ada
agar pembinaan anak-anak lebih mandiri.
Proses mempersiapkan tenaga pengajar sekolah Minggu akhirnya
berhasil. Proses pengajaran pun beralih dari GKP Jemaat Cawang ke
56 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
tenaga pengajar yang berasal dari internal persekutuan. Beberapa
tenaga pengajar yang dipersiapkan dari dalam keluarga persekutuan
di Kampung Tengah dan melanjutkan pembinaan anak-anak melalui
sekolah minggu adalah:
1. Ibu Saeti Amban Petrus (Status guru SR/SD)
2. Bapak Yotam Baiin
3. Sdr. Asikin Baiin
Status Pos Kebaktian (Tahun 1962)
Bersamaan dengan peningkatan aktivitas kerohanian dan pertambahan
jumlah keluarga Kristen serta penyebaran wilayah yang saat itu hingga
ke Kampung Makasar, Kampung Dukuh dan Condet, maka pada tahun
1962 status yang semula sebagai POS PELAYANAN bagi kelompok
anak-anak sekolah minggu, diubah dan ditetapkan oleh Majelis Jemaat
GKP Jemaat Cawang menjadi POS KEBAKTIAN dari GKP Jemaat
Cawang. Status Pos Kebaktian diberikan untuk keberadaan persekutuan
di Kampung Tengah.
Ketika berada di dalam status Pos Kebaktian, persekutuan mengalami
perkembangan. Hal ini ditandai dengan pertambahan jumlah keluarga
dengan berbagai latar belakang dan perluasan wilayah pelayanan. Akibat
perkembangan tersebut, keberadaan persekutuan membutuhkan
penataan kegiatan yang lebih terencana dengan baik. Untuk keperluan
itulah, dalam status Pos Kebaktian dibentuk kepengurusan yang
bertugas menata kegiatan pelayanan persekutuan. Pengurus yang
dibentuk secara organisasi bertanggung jawab penuh kepada Majelis
Jemaat GKP Jemaat Cawang.
Dengan didorong keinginan untuk menata kegiatan pelayanan
yang lebih baik, dan untuk mempersiapkan diri memasuki tahapan
kejemaatan selanjutnya, maka dibentuklah kepengurusan Pos Kebaktian
yang difasilitasi oleh Majelis Jemaat GKP Jemaat Cawang selaku jemaat
induknya.
Adapun bagian keluarga yang berada di perse kutuan keluarga Kristen
di Kampung Tengah yang ditetapkan sebagai Pengurus Pos Kebaktian
adalah sebagai berikut :
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 57
Ketua : Yoram Baiin,
Penulis : Decca Noron
Bendahara : Abraham Titawano
Pembantu I : Martinus Baiin
Pembantu II : Yotam Baiin
Sejak ditetapkan menjadi Pos Kebaktian dari GKP Jemaat Cawang,
kegiatan penatalayanan termasuk kebaktian Minggu di pusatkan
di bagian belakang rumah keluarga Yoram Baiin dengan ruangan
berukuran sekitar 5 x 7 m. Ruangan sederhana berlantai tanah merah
dan berdinding papan itulah tempat yang nyaman saat itu untuk
bersekutu, melayani dan bersaksi. Penggunaan ruang ini bertahan
sampai sekitar tahun 1968.
Foto Redesain
Tulisan Slogan di dinding belakang mimbar di ruang
kebaktian saat Persekutuan di Kampung Tengah masih
berstatus Pos Kebaktian.
58 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
Arsip Gereja
Keterangan tentang keberadaan Gereja Kristen Pasundan di Kampung Tengah
RT 01/08 yang sudah ada sejak tahun 1962. Surat dikeluarkan tahun 1989 oleh
Kelurahan Tengah yang ditandatangani oleh Lurah Tengah Suhaeri Masni.
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 59
Pertambahan Jemaat
Dari Beberapa Wilayah Sekitar
Sebelum GKP Jemaat Kampung Tengah menjadi Jemaat Dewasa dalam
status antara sebagai Pos Kebaktian dan Anak Jemaat, pertambahan
jumlah keluarga yang menjadi anggota cukup dirasakan. Hal ini dapat
diketahui lewat kehadiran beberapa keluarga baru, baik di Kampung
Tengah maupun beberapa wilayah yang ada di sekitar Kampung
Tengah. Misalnya di Kampung Tengah hadir Keluarga Musa Niman, di
Kampung Makasar ada keluarga Saria Saian, Keluarga Ibu Eti Susiana
(Ibu Eci) dan Keluarga Kobiran (Sdri. Mistiari). Di Kompleks Pusdikes,
Keluarga Mardowo, Keluarga Ngadiyo, Keluarga Sumardjan dan
Keluarga Yasin. Di Kampung Dukuh, Keluarga Buang Baiin, Keluarga
Neho Bone, Keluarga Karman Bone, Keluarga Hari Bone. Keluarga
Endang Suryadi, Keluarga Sunaryun, Keluarga Sudarno Prawirodirdjo,
Keluarga Rugiati (Herman) Rikin, Di Kompleks Bulak Rantai Keluarga
Pdt. Waldus Are dan Sdr. Sulaeman TB. Di wilayah Condet Keluarga
Yan A. Aheru, Keluarga Tresna Purnama, Keluarga Matius Maulani,
Keluarga Sudarsono dan Keluarga Timisela.
Pertambahan keluarga-keluarga tersebut secara de facto menjadi
salah satu indikator semakin beragamnya latar belakang warga jemaat
dan menjadi salah satu pertimbangan yang kuat untuk pendewasaan
persekutuan di Kampung Tengah yang saat itu masih berstatus sebagai
Anak Jemaat. Sedangkan pertambahan keluarga selanjutnya dari wilayah
Kampung Tengah, Kampung Makasar, Kampung Dukuh, dan wilayah
Condet bersamaan adanya pengembangan wilayah, sebagaimana
keberadaan jumlah keluarga seperti sekarang ini, yakni terjadi setelah
tahun 1971 ketika GKP Jemaat Kampung Tengah sudah berstatus
sebagai Jemaat Dewasa yang diresmikan pada tanggal 4 April 1971.
60 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
Status Anak Jemaat (Tahun 1970)
Sejalan dengan adanya pertumbuhan dan perkembangan persekutuan
saat menjadi Pos Kebaktian terutama kegiatan dan wilayah pelayanannya
termasuk jumlah keluarga yang berhimpun, maka atas dasar itu, kembali
Majelis Jemaat GKP Jemaat Cawang mengubah status yang ada dan
menetapkan status kejemaatan yang baru bagi persekutuan keluarga
Kristen di Kampung Tengah. Status persekutuan yang diubah adalah
status sebagai Pos kebaktian, menjadi ANAK JEMAAT. Perubahan
status dilakukan pada tahun 1970.
Sejalan Dengan rencana penetapan status sebagai Anak jemaat, Majelis
GKP Jemaat Cawang juga telah mempersiapkan kepengurusan Anak
Jemaat dengan susunan yang ditetapkan sebagai berikut :
Ketua : Decca Noron
Wakil ketua : Sumardjan
Sekretaris I : Musa Niman
Sekretaris II : Asikin Baiin
Bendahara : Ngadiyo
Anggota : Abraham Titawano
Idris Sanglir.
Sementara untuk mewakili kehadiran keluarga Kristen asal Kampung
Tengah sebagai bagian integral GKP Jemaat Cawang, maka saat
peningkatan status menjadi Anak Jemaat, Bapak Yoram Baiin ditetapkan
menjadi anggota Majelis Jemaat GKP Jemaat Cawang. Kehadirannya
sebagai wakil unsur Anak Jemaat yang menjadi Majelis Jemaat GKP
Jemaat Cawang, memiliki nilai strategis bagi perkembangan status Anak
Jemaat yang disandang oleh Kampung Tengah. Melalui kehadirannya
sebagi anggota Majelis Jemaat di GKP Jemaat Cawang, peranan Bapak
Yoram Baiin sangat membantu percepatan dan kepastian proses
peningkatan status Anak Jemaat untuk menjadi jemaat dewasa.
Demikian juga Pdt. Habil Atje yang masa itu menjadi pendeta konsulen
GKP Jemaat Cawang dirasakan cukup besar peranannya dalam
membina kehidupan persekutuan keluarga-keluarga Kristen yang ada
di Kampung Tengah yang tengah bersiap diri menuju jemaat dewasa.
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 61
Status Jemaat Dewasa ( 4 April 1971)
Persekutuan keluarga Kristen di Kampung Tengah, pada tahun 1970
ditetapkan sebagai Anak Jemaat, Pendewasaannya pun diproses oleh
Majelis Jemaat GKP Jemaat Cawang. Proses yang terbilang cukup cepat
ini dilakukan salah satunya karena Koordinasi yang intensif antara
Majelis Jemaat GKP Jemaat Cawang dengan Pengurus anak jemaat
yang dimediasi oleh wakil unsur keluarga Kristen Kampung Tengah
yang duduk sebagai Majelis Jemaat GKP Jemaat Cawang. Selanjutnya
melalui koordinasi Majelis Jemaat GKP Jemaat Cawang dengan
Badan Pekerja Sinode yang saat itu dipimpin oleh Pdt. Habandi selaku
Ketua dan Pdt. Odeh Suwardi selaku Sekretaris Umum, akhirnya
menghasilkan kesepakatan bahwa Anak Jemaat GKP Jemaat Cawang
yang ada di Kampung Tengah dapat didewasakan. Untuk koordinasi
lanjut pasca kesepakatan tersebut, Majelis Jemaat GKP Jemaat Cawang
dan Pengurus Anak jemaat di Kampung Tengah, sepakat menugaskan
Asikin Baiin selaku Sekretaris II Pengurus Anak jemaat untuk
berkoordinasi terutama dengan Sekum BP Sinode dan hanya berkaitan
pelaksanaan peresmian. Hal tersebut dilakukan mengingat GKP Jemaat
Cawang saat itu memiliki keterbatasan karena tidak memiliki pendeta
tetap tapi pendeta konsulen yaitu Pdt. Habil Atje, yang berstatus sebagai
pendeta jemaat di GKP Jatinegara. Dari proses koordinasi lanjut atas
kesepakatan pendewasaan yang sudah dibuat, akhirnya pada tanggal 4
April 1971 Badan Pekerja Sinode GKP, meresmikan Anak Jemaat GKP
Jemaat Cawang yang ada di Kampung Tengah menjadi jemaat yang
dewasa, dan diberi nama GEREJA KRISTEN PASUNDAN JEMAAT
KAMPUNG TENGAH. Saat peresmian BP Sinode diwakili Pdt. Kurnia
Ajte Sudjana, S.Th, selaku pengganti Pdt. Odeh Suwardi yang telah
melepaskan jabatan Sekum BP Sinode GKP karena bertugas ke Jerman.
Dan turut menyaksikan peresmian tersebut antara lain Ketua dan
anggota Majelis Jemaat GKP Jemaat Cawang yaitu Bapak Maan Bone
dan Bapak Yoram Baiin serta Pengurus Anak Jemaat dan beberapa
warga jemaat di Kampung Tengah.
62 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
Bersamaan perubahan status tersebut, kepengurusan Anak Jemaat
berubah juga menjadi Majelis Jemaat GKP Jemaat Kampung Tengah
dengan susunan :
Ketua : Decca Noron
Wakil ketua : Sumardjan
Sekretaris I : BMusa Niman
Sekretaris II : Asikin Baiin
Bendahara : Ngadiyo
Anggota : Abraham Titawano "Stempel resmi yang dipakai
Idris Sanglir GKP Jemaat Kampung sejak diresmikan
sebagai jemaat dewasa"
Adapun masa tugas Majelis Jemaat saat itu berlangsung selama 5 (lima)
tahun.
Kiri atas : Pdt. Habandi Ketua BP Sinode (1969-1972)
Kanan atas : Pdt Odeh Suwardi Sekum BP Sinode(1969-1972)
(Sumber Buku Untaian Fakta dan Data, Weinata Sairin 1990)
Kiri bawah : Pdt Kurnia Atje, Sekum BP Sinode(1969-1972) yang hadir meresmikan
GKP Jemaat Kampung Tengah. Pdt Kurnia Atje adalah pengganti Pdt Odeh
Suwardi yang bertugas ke Jerman. (Foto Koleksi keluarga)
Kanan bawah : Maan Bone, Ketua Majelis Jemaat GKP Jemaat Cawang yang hadir dalam
peresmian pendewasaan GKP Kampung Tengah. (Foto Koleksi keluarga)
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 63
KEBERSAMAAN
DALAM SATU VISI DAN MISI
Kegiatan Kelompok
Anak, Pemuda dan Ibu
Di masa awal merintis keberadaan jemaat GKP Jemaat Kampung
Tengah, organisasi persekutuan sudah ditata walau masih terbatas.
Bukti atas penataan dimaksud adalah sudah dibentuknya kelompok-
kelompok kategori pelayanan, yaitu Kelompok Anak, Kelompok
Pemuda dan Kelompok Ibu. Dalam gerak pelayanan atau kegiatan yang
dilakukan, Kelompok-kelompok tersebut ditata dan diarahkan untuk
bermuara pada satu visi dan misi yang sama yaitu membangun dan
mengembangkan persekutuan.
Prinsip yang kuat terhadap visi dan misi pembangunan dan
pengembangan persekutuan sebagai Gereja yang mandiri sangat
disadari dan dipegang teguh oleh setiap kelompok. Begitu juga ketika
status kejemaatan yang sudah ditetapkan seperti Pos Pelayanan, Pos
Kebaktian dan Anak Jemaat, kerap ditanamkan oleh Pengurus kepada
kelompok anak, pemuda dan ibu yang ada atau secara umum, agar
status kejemaatan yang dimiliki dipertahankan dan terus diperjuangkan
sampai memperoleh status sebagai jemaat dewasa dan Gereja yang
mandiri.
Dalam kesadaran terhadap visi dan misi itulah Kelompok Anak-anak
terus digalang kegiatannya. Kelompok Pemuda pun terus melakukan
kegiatannya sambil mencari jiwa-jiwa untuk bergabung bersamanya.
Begitu juga kaum Ibu melakukan hal yang sama di tengah kegiatannya
di rumah tangga. Semua itu dilakukan dalam kebersamaan.
64 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
Kegiatan Kaum Bapak
Khusus kaum Bapak, meskipun di saat awal belum membentuk wadah
organisasi seperti halnya anak-anak, Pemuda dan Ibu-ibu, namun Kaum
Bapak dan kegiatannya banyak terafiliasi langsung ke dalam kegiatan
Pengurus Jemaat dan juga kegiatan yang lebih bersifat eksternal.
Adalah fakta kalau di masa perintisan jemaat, kaum bapaklah yang
tidak memiliki wadah organisasi. Walaupun demikian bukan berarti
kaum bapak tidak melakukan kegiatan seperti anak-anak, pemuda dan
ibu-ibu. Meski tanpa wadah organisasi, kaum bapak tidak tinggal diam
untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi persekutuan. Pembinaan
hubungan baik dengan lingkungan masyarakat, dengan pemerintah
desa RT, RW dan Kelurahan, itu adalah bagian kegiatan informal yang
dilakukan oleh bapak-bapak. Kegiatan lain yang dilakukan kaum bapak,
adalah mewujudkan perannya sebagai kepala keluarga dengan menjadi
mentor keluarga yang mempersiapkan isteri dan anak-anaknya agar
semangat melakukan kegiatan di dalam jemaat. Jadi peran kaum bapak
memang tidak berada di dalam wadah kelembagaan persekutuan, tapi
lebih bersifat personal dalam kolegialitas antar kaum bapak yang lebih
informal. Dan semua yang dilakukan kaum bapak tetap bermuara
juga pada kepentingan persekutuan bahkan biasanya dikoordinasikan
langsung ke pengurus jemaat, karena di antara bapak-bapak saat itu ada
yang menjadi pengurus persekutuan. Pekerjaan-pekerjaan lain yang
dilakukan kaum bapak lebih bersifat fisik terutama di saat membangun
dan mengadakan sarana gedung yang dibutuhkan persekutuan.
Dengan demikian di masa perintisan sangat terlihat sinergitas antara
kelompok di dalam jemaat. Kegiatan Anak-anak, Pemuda dan Ibu-Ibu
yang mengarah ke dalam untuk kepentingan membangun dinamika
kehidupan jemaat. Sedangkan kaum bapak membina keluarganya agar
bagian keluarganya memiliki kesadaran dan semangat untuk beraktivitas
di tengah jemaat. Kegiatan keluar jemaat yang dilakukan kaum bapak,
adalah membina hubungan baik serta menciptakan situasi dan kondisi
yang kondusif, agar kegiatan bergereja dan berjemaat terlebih lagi
dalam rangka membangun sarana kegiatan persekutuan dapat terjamin
keberlangsungan dan keamanannya. Begitulah kaum bapak berkegiatan
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 65
meski tanpa wadah organisasi yang menaunginya.
Kegiatan anak-anak, kaum muda, kaum ibu ke dalam jemaat dan kaum
bapak sebagai mentor keluarga serta berkegiatan keluar jemaat, adalah
bentuk sinergitas dengan kebersamaan di dalam satu visi dan misi yaitu
mewujudkan panggilan Gereja serta dalam rangka membangun dan
mengembangkan persekutuan untuk menjadi jemaat yang dewasa.
Kegiatan tersebut di dalam perjalanan merintis persekutuan di GKP
Jemaat Kampung Tengah adalah hal yang nyata. Semua kegiatan selain
sebagai bentuk kesaksian, juga diorientasikan kepada kepentingan
bersama sebagai persekutuan yang tengah dikembangkan dan
diperjuangkan keberadaannya.
Oleh karena itu, di setiap status kejemaatan yang ditetapkan untuk
persekutuan di Kampung Tengah, baik sebagai Pos Pelayanan, Pos
Kebaktian maupun Anak Jemaat hingga jemaat dewasa, itu sangat
dirasakan sebagai buah kegiatan bersama, kegiatan sinergitas seluruh
bagian persekutuan, baik anak-anak, kaum muda, kaum ibu dan kaum
bapak.
Melalui kebersamaan dalam visi dan misi, kegiatan di kalangan
anak-anak, kaum muda, kaum ibu dan kaum bapak, justru membuat
kehidupan persekutuan di masa perintisan semakin terlihat. Dinamika
jemaat juga semakin terasa. Pertambahan jumlah jiwa juga dialami.
Sejalan dengan semua itu, tanpa maksud mengabaikan peranan dan
kerja Roh Kudus, maka kegiatan kelompok tersebut adalah salah satu
dari fakta yang melatarbelakangi pertumbuhan dan pekembangan
ketika persekutuan merintis keberadaannya untuk menjadi jemaat
dewasa.
66 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
PERSEKUTUAN MEMBANGUN
GEDUNG GEREJA
Realisasi Gagasan Untuk Membangun
Kerinduan dan gagasan keluarga-keluarga Kristen di Kampung Tengah
untuk membangun dan mendirikan gedung Gereja secara tersendiri
memang sudah muncul sejak kegiatan persekutuan di pusatkan di
salah satu bagian belakang rumah Keluarga YORAM BAIIN. Hal ini
dikarenakan ruangan kebaktian yang ada yang tergolong sederhana,
dirasakan semakin kurang refresentatif bahkan jauh dari memadai.
Dalam Kegelisahan keluarga persekutuan atas keberadaan ruangan
tempat berkegiatan yang kurang nyaman, dan di tengah harapan
untuk mendapat tempat yang lebih memadai, tanpa di duga, berita
menggembirakan hadir di tengah-tengah mereka. Pasalnya sekitar
tahun 1966-1967, keluarga Kristen yang benaung di dalam komunitas
persekutuan mendapatkan hibah sebidang tanah dari keluarga Yoram
Baiin untuk dijadikan lahan pembangunan gedung Gereja yang baru
yang lebih memadai.
Baru pada sekitar tahun 1968 kerinduan dan gagasan itu mulai
diperjuangkan dan direalisasi dengan membangun gedung baru.
Peletakan batu pertama untuk pembangunan tersebut dilakukan pada
tanggal 4 April 1968 di atas tanah yang dihibahkan oleh Keluarga
YORAM BAIIN. Bersamaan dengan berjalannya proses pembangunan,
lahan untuk bangunan gedung Gereja bertambah lagi luasnya dengan
adanya hibah dari keluarga YASON BAIIN untuk keperluan ruangan
altar/mimbar.
Semangat membangun gedung untuk kegiatan persekutuan yang lebih
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 67
memadai semakin berkobar. Keluarga-keluarga yang berjemaat saat itu
bahu-membahu dan berusaha mengumpulkan dana. Salah satu cara
yang dilakukan adalah melalui persembahan natura yang dimasukan
ke dalam kaleng persembahan yang telah disiapkan oleh pengurus Pos
Kebaktian. Persembahan natura berupa beras dan juga berupa uang,
secara khusus setiap hari rabu malam dalam kebaktian rumah tangga
(Somahan) dibuka untuk dihitung dan didoakan bersama. Persembahan
natura jemaat yang dihimpun berupa beras dan sesudah dihitung
jumlahnya dan sudah pula didoakan, kemudian dijual ke jemaat dan
hasil penjualan diterima sebagai pemasukan kas jemaat. Itulah salah
satu sumber dana pembangunan gedung Gereja saat itu.
Keterbatasan dana memang tantangan yang berat. Tapi karena keluarga-
keluarga di dalam persekutuan memiliki semangat yang tinggi untuk
membangun gedung Gereja, maka tantangan yang dihadapi tidak
menjadi hambatan untuk mewujudkan cita-cita.
Dengan dana dan tenaga yang ada yang boleh dibilang serba terbatas,
namun tekad telah menyatukan kebersamaan, sehingga keluarga-
keluarga meski dalam keterbatasan tetap dimampukan untuk
mengadakan material bangunan yang dibutuhkan untuk pembangunan
gedung Gereja. Sedikit demi sedikit, batu kali, batu bata, lobang angin
dan semen dihimpun untuk membuat pondasi dan dinding gedung.
Begitu juga material lainnya untuk keperluan kerangka atap, dihimpun
lewat pembelian di luar Kampung Tengah bahkan diluar Jakarta.
Mencari Kayu Balok
Ke Hutan Nyalindung, Sukabumi
Untuk kayu balok yang akan dijadikan tiang utama dan atap, sesuai
informasi yang di dapat Pengurus Persekutuan, bisa diperoleh secara
khusus melalui Dinas Kehutanan Sukabumi, Jawa Barat. Dan dari
komunikasi dan koordinasi ke dinas tersebut yang dilakukan oleh
Asikin Baiin, diperoleh informasi bahwa stok kayu yang diinginkan
yang berasal dari hutan dan perbukitan di daerah Nyalindung sekitar
15 km dari kota Sukabumi, ada dan bisa dibeli asalkan diambil dan
dibawa sendiri.
68 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
Atas dasar informasi itulah akhirnya pembelian kayu dilakukan.
Untuk mendapatkan kayu pilihan yang baik di daerah Nyalindung,
Sukabumi, memang harus menempuh perjalanan yang saat itu tidak
mudah dan tidak menyenangkan. Jarak perjalanan yang cukup jauh.
Kondisi jalan dan penerangannya yang saat itu benar kurang layak
dan tidak memadai menjadi medan yang banyak sekali tantangannya.
Begitu juga kendaraan yang digunakan, kondisinya juga cukup
mengkhawatirkan. Kenyataan menyedihkan pun harus dirasakan,
mobil sempat mogok karena habis bensin, ban sempat gembos karena
jalan yang buruk, cuaca tak bersahabat karena suhu dingin dan hujan.
Pokoknya, lengkap sudah rasanya kesulitan yang dihadapi oleh tim
pencari kayu.
Sekalipun medan yang dihadapi begitu menyulitkan, namun semangat
yang tinggi untuk membangun sarana persekutuan, itulah yang membuat
tim pencari kayu tak merasa lelah dan putus asa. Keberadaan tim yang
selalu kompak. Kegigihan untuk mendapatkan kebutuhan kayu pilihan
yaitu KAYU RASAMALA tak pernah surut. Perjuangan terus dilakukan
tanpa merasa lelah. Dan dengan penyertaan Tuhan, akhirnya Tim dapat
kembali ke Kampung Tengah dengan selamat, dengan membawa satu
mobil truck kayu balok rasamala yang kemudian dijadikan tiang utama
sebagai penyangga dinding dan bagian atas gedung Gereja.
Ketika sampai di Kampung Tengah mereka bukan saja bersyukur pada
Tuhan, tapi ada rasa sukacita dan bahagia dapat memberikan yang
terbaik lewat kerja keras dan perjuangan yang tidak sia-sia.
TIM PENCARI KAYU
Pengemudi : Bastian (Abas) Bone (Anggota GKP Jemaat Cawang)
Negosiator : Asikin Baiin,
Pelaksana
Asikin Baiin, Decca Noron, Idris Sanglir, Yosua Tjimi, W.
Sinaga(Kopassus), Sakeus Petrus, Kusdia Baiin, Samosir
dan Yordan Titawano (anak-anak).
Kendaraan yang digunakan oleh Tim pencari kayu adalah sebuah
truck besar milik Bapak Yason Baiin.
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 69
Peletakan Batu Pertama
Pembangunan Gedung Gereja
Peletakan batu pertama pembangunan gedung Gereja di atas lahan hibah
keluarga YORAM BAIIN dilakukan pada tanggal 4 April 1968. Untuk
pelaksanaannya sendiri dilakukan secara swadaya dan secara bersama
oleh warga jemaat. Proses pembangunan berjalan tidak terlalu cepat.
Namun tidak mengalami hambatan apapun termasuk yang datang dari
luar. Secara keseluruhan, prosesnya berjalan aman dan lancar.
Realitas yang menjadi catatan penting dalam proses pembangunan
gedung Gereja saat itu adalah adanya kebersamaan di antara anak-
anak, orang muda dan orang tua, baik laki-laki maupun perempuan.
Kaum Bapak, Kaum Ibu, Pemuda, Remaja dan anak-anak, semua bahu
membahu. Ada yang menjadi tukang, menjadi kenek, serta menjadi
penyedia makanan dan minuman, terutama ibu-ibu. Ada satu hal penting
yang memiliki nilai dan makna terdalam dari proses pembangunan
gedung Gereja saat itu yakni adanya dukungan langsung dari Lurah
Kampung Tengah RODJALI dan jajarannya. Dukungan yang diberikan
itu, bagi warga jemaat bukan saja memperkuat upaya pembangunan
gedung Gereja, tetapi membuktikan semakin diterimanya keberadaan
persekutuan di tengah masyarakat dan sekaligus membuktikan betapa
Tuhan menyertai dan memberikan perlindungan atas seluruh proses
pembangunan.
Kesediaan Lurah Kampung Tengah mendukung pembangunan gedung
Gereja di Kampung Tengah, lahir dari proses pembinaan hubungan
informal yang baik yang dilakukan oleh para orang tua terdahulu
terutama kaum bapak yang notabene walaupun saat itu belum memiliki
wadah kategorial di dalam persekutuan. Salah satu faktor utama
yang dapat menjalin hubungan baik itu adalah upaya mempraktekan
kehidupan dalam kebersamaan termasuk kepada beberapa warga
terdekat yang juga aktif berkegiatan di tingkat kelurahan. Begitu juga
peranan pelayanan kesehatan Balai Pengobatan (Klinik) Eka Dharma
yang juga dikenal baik oleh jajaran kelurahan adalah faktor lainnya
yang turut menciptakan terjadinya hubungan baik dengan pihak Lurah
Kampung Tengah.
70 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
Natal Di Gedung Baru
Dan Lonceng Gereja
Di ujung penyelesaian pembangunan gedung baru di masa perintisan,
pada bulan Desember 1968, persekutuan Keluarga Kristen yang saat
itu berstatus sebagai Pos kebaktian, untuk pertama kalinya merayakan
Natal jemaat di gedung baru yang belum sepenuhnya rampung.
Agar pelaksanaan kegiatan di gedung Gereja yang menjelang selesai,
persekutuan keluarga Kristen mendapat sumbangan sebuah mimbar
dan beberapa kursi dari STT Jakarta yang saat itu tengah merenovasi
dan mengganti beberapa bagian bangunan yang dimiliki.
Ada kesan sukacita di wajah anggota keluarga Kristen di Pos Kebaktian
Kampung Tengah saat itu. Pasalnya bukan saja karena merayakan hari
natal bersama keluarga atau secara berjemaat. Melainkan lebih dari itu,
sukacita yang amat sangat juga dirasakan karena keluarga jemaat bisa
menempati gedung Gereja yang baru yang berhasil dibangunnya, yang
selama ini diidam-idamkan. Sebuah gedung sederhana, yang meskipun
secara keseluruhan pembangunannya memang belum rampung, tapi
secara fisik sudah memperlihatkan wajahnya dan sudah bisa difungsikan
sesuai harapan. Pembangunan itu sendiri akhirnya bisa dirampungkan
di awal tahun 1969.
GEDUNG GEREJA BANGUNAN TAHUN 1968
Foto Dokumen Gereja
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 71
Untuk melengkapi sarana komunikasi bagi jemaat yang akan kebaktian
minggu, Gereja memanfaatkan velg bekas mobil truck dari bengkel
mobil Yason Baiin untuk dijadikan lonceng. Dalam penggunaanya
lonceng ini selain untuk tanda waktu jam kebaktian minggu dan
sebagai panggilan buat jemaat untuk kebaktian, akan tetapi secara
rutin lonceng ini dibunyikan di setiap malam perayaan natal di jemaat
sebagai pengiring lagu Malam Kudus. Pemukul setia lonceng, adalah
Decca Noron.
Lonceng Gereja dari velg mobil truck (Dokumen pribadi)
72 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
Gedung Gereja
Di Kelilingi Keluarga Kristen
Dalam perjalanan waktu setelah 11 keluarga Kristen yang ada telah
membentuk persekutuan, maka hal itu menjadi salah satu daya pikat
bagi kerabat Yoram Baiin yang lainnya yang belum tinggal di Kampung
Tengah berkeinginan untuk tinggal di Kampung Tengah. Terlebih lagi
setelah di Kampung Tengah berstatus antara Pos Kebaktian dan Anak
Jemaat bahkan setelah menjadi jemaat dewasa, datanglah keluarga-
keluarga baru yang juga masih kerabat keluarga Yoram Baiin dan
lainnya di antaranya adalah Keluarga Decca Noron, Keluarga Abraham
Titawano,KeluargaMusaNiman, KeluargaDanurejaBaiin,KeluargaLevi
Lampung, Keluarga Yonar Baiin, Keluarga Amos Lawenu dan akhirnya
Keluarga Pdt. Tri Hartono. Beberapa keluarga yang hadir kemudian
itu selain menambah jumlah keluarga Kristen yang ada di Kampung
Tengah, juga telah menjadikan gedung GKP Jemaat Kampung Tengah
tidak saja berdampingan dengan keluarga Yoram Baiin dan beberapa
kerabat lainnya yang tercatat di dalam sebelas keluarga terdahulu,
melainkan terkesan dikelilingi oleh keluarga-keluarga Kristen.
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 73
BP EKA DHARMA
DAN GKP Jemaat Kampung Tengah
Dibilangnya Gereja Pak Yoram
Bagian penting lainnya dari perjalanan persekutuan keluarga Kristen di
Kampung Tengah adalah kegiatan pelayanan kesehatan yang dilakukan
Balai Pengobatan (BP) Eka Dharma yang dikelola secara swadaya oleh
YORAM BAIIN, yang notabene berprofesi sebagai mantri kesehatan.
Secara defakto keberadaan BP Eka Dharma ini telah menjadi salah satu
mediator sekaligus sumber informasi yang mampu memperkenalkan
masyarakat terhadap keberadaan persekutuan di Kampung Tengah.
Sentuhan pelayanan kesehatan yang dilakukan langsung oleh Mantri
Yoram Baiin telah membuat masyarakat umum tidak hanya merasakan
khasiat pengobatan, akan tetapi dapat mengetahui dan mengenal
adanya persekutuan keluarga Kristen, yang selanjutnya oleh masyarakat
dipandang dan dianggap sebagai Gereja, karena keluarga-keluarga
Kristen kerap berkegiatan dan bersekutu dengan kegiatan berupa
kebaktian yang bertempat di bagian belakang rumah keluarga Yoram
Baiin.
Kehadiran sosok Yoram Baiin yang selalu ada di dalam persekutuan
keluarga Kristen, yang saat itu sudah dipandang sebagai Gereja,
maka kesetiaan dalam kehadiran itulah kemudian sosok Yoram Baiin
diidentikkan dengan persekutuan yang ada. Bahkan akhirnya ada
sebagian masyarakat yang menyebut persekutuan keluarga Kristen
di Kampung Tengah yang berkegiatan di bagian belakang rumahnya
disebut sebagai GEREJA PAK YORAM.
Dan sebutan ini menjadi salah satu patokan lokasi RT 05 RW 02 hingga
menjadi RT 01 RW 08. Dengan dikenalnya persekutuan keluarga Kristen
74 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
di Kampung Tengah seperti itu, maka setiap kegiatan keagamaan dan
persekutuan yang dilakukan oleh keluarga-keluarga Kristen dapat
berjalan dengan baik, aman dan lancar hingga saat ini.
Pelayanan Balai Pengobatan
Sebagai Strategi
Sentuhan pelayanan yang sangat dirasakan oleh masyarakat dari BP
Eka Dharma, selain dalam bentuk pelayanan pengobatan berstandar
kesehatan/medis, juga tidak memaksakan setiap penderita yang
membutuhkan pelayanan kesehatan harus membayar sesuai tarif
yang ditentukan. Bahkan dalam kenyataannya tidak hanya sampai
di situ, pelayanan ke rumah pun dilakukan, terutama bagi para
penderita yang memang kondisinya tidak mungkin datang ke klinik.
Melalui pelayanan kesehatan BP Eka Dharma, diketahui banyak warga
masyarakat mendapat pelayanan yang sangat murah dan terjangkau
oleh kemampuan yang dimiliki warga masyarakat. Tak jarang juga para
keluarga pasien yang tidak memiliki uang terpaksa membayar dengan
buah-buahan, rambutan, durian, petai bahkan dengan makanan.
Semua bentuk pembayaran itu diterima dengan sukacita. Demikian
juga bagi mereka yang memang tidak mampu membayar, namun
sangat membutuhkan pertolongan, BP Eka Dharma tetap memberikan
pelayanan kesehatan yang sama seperti kepada yang lainnya.
Pelayanan pengobatan yang dilakukan Mantri YORAM BAIIN lewat
BP Eka Dharma, ternyata bukan semata untuk kepentingan masyarakat
yang membutuhkan kesembuhan, akan tetapi dimaksudkan juga
sebagai salah satu cara untuk mengembangkan keberadaan persekutuan
di Kampung Tengah. hal penting yang dapat dicatat dari pelayanan
kesehatan itu adalah, sekat-sekat perbedaan ras, suku dan agama yang
ada saat itu dapat dibuka, bahkan dapat menjumpakan antar umat
beragama yang ada termasuk umat Kristen dan umat lainnya. Usaha itu
ternyata tidak sia-sia bagi keluarga Kristen di Kampung Tengah yang
sedang merintis keberadaannya menjadi Gereja yang mandiri.
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 75
Beli Tanah,
Satu Bidang Dihibahkan
Hasil usaha yang didapat dari BP Eka Dharma yang berbasis pelayanan
sesungguhnya tidak besar. Tetapi dari yang didapat, tidak seluruhnya
digunakan untuk kepentingan keluarga. Oleh mantri Yoram Baiin
dan Isterinya disisihkan untuk kepentingan lain yang bersifat sosial
kemasyarakatan, untuk membantu kerabat dan mendukung kegiatan
keagamaan atau Gereja. Dalam hal mendukung kegiatan keagamaan
atau Gereja, keluarga Yoram Baiin lewat hasil usaha Kliniknya membeli
beberapa bidang tanah yang ada di belakang rumahnya yang saat itu
banyak ditumbuhi pohon rambutan dan lainnya. Dari beberapa bidang
tanah yang dibeli, salah satu bidang dihibahkan untuk dibangun di
atasnya sebuah bangunan (gedung Gereja) bagi persekutuan keluarga-
keluarga Kristen. Dan pada tahun 1968, di atas tanah yang dihibahkan
itu, dibangunlah gedung untuk kegiatan persekutuan, pelayanan dan
kesaksian keluarga-keluarga Kristen di Kampung Tengah.
Bagi persekutuan keluarga-keluarga Kristen di Kampung Tengah,
pelayanan kesehatan BP Eka Dharma yang dikelola secara swadaya oleh
Mantri Yoram Baiin, telah menjadi semacam ujung tombak pekabaran
Injil. Bahkan keberadaannya diakui telah memberi dampak yang sangat
positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan keluarga-keluarga
Kristen dalam membangun persekutuan hingga menjadi Gereja yang
mandiri. Tentu tak berlebihan rasanya kalau pelayanan BP Eka Dharma
dibilang sebagai realitas yang menjadi saluran berkat Tuhan, yang salah
satu wujudnya dengan menghadirkan kenyamanan, keamanan bagi
keberlangsungan kegiatan Gereja di tengah lingkungan masyarakat
yang mengitarinya.
Menyusul hibah tanah yang telah dilakukan oleh keluarga Yoram Baiin
dan saat proses pembangunan gedung Gereja dilakukan di lahan yang
baru yang dihibahkan tersebut, keluarga Yason Baiin pun menghibahkan
sebagian bidang tanahnya untuk menambah perluasan pembangunan
yang tengah dilakukan.
76 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah
PERISTIWA DALAM PERJALANAN
STATUS POS PELAYANAN
HINGGA ANAK JEMAAT
27 Desember 1960
Pembentukan Komisi Sekolah Minggu
Ketua : Haryono Sunaryun;
Penulis : Marsudi;
Bendahara : Suryati Sandang;
Pengajar : Asikin Baiin, Kusdia Baiin, Johan Jonas,
Suparwo, Elizabeth Tjimi, Mistiari,
Sunartono, Lazarus Jaman
Tahun 1962
Kebaktian Hari Minggu pertama di bagian belakang rumah Keluarga
Yoram Baiin, pukul 19.00 wib
Tahun 1967
Kebaktian KRT pertama di bagian belakang rumah Yoram Baiin
dipimpin oleh Pdt. Waldus Are, Pendeta Pembina Rohani Protestan
(Binrohprot) TNI AD.
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 77
5 Mei 1967
Pembentukan Komisi Ibu
Ketua : Ibu Rugiati Rikin,
Penulis : Ibu Yanes Bone,
Bendahara : Ibu Yoram Baiin,
Penasehat : Ibu Waldus Are.
20 April 1969
Kebaktian Hari Minggu pertama di gedung yang baru selesai dibangun,
berlangsung pukul 15.00 wib
17 Agustus 1969
(17 Agustus sebagai kesepakatan Jemaat)
Pembentukan Komisi Pemuda
Ketua : Asikin Baiin,
Penulis I : Suparwo,
Penulis II : Sulaiman TB,
Bendahara : Suryati Sandang
78 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah