The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sejarah GKP Jemaat Kampung Tengah

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by hermanarema2, 2022-03-09 10:54:47

Dari Satu Menjadi Sebelas

Sejarah GKP Jemaat Kampung Tengah

Keywords: GKP,Kampung Tengah

DINAMIKA PERSEKUTUAN
PASCA MENJADI JEMAAT DEWASA

Dinamika Persekutuan
Antara 1971-1981

Penambahan Komisi
dan Aktivitas Kebaktian

Masa yang sarat dengan dinamika atau perubahan kecil dan besar
di GKP Jemaat Kampung Tengah dimulai sejak diresmikan menjadi
jemaat dewasa yaitu mulai tanggal 4 April 1971. Dinamika yang
terjadi di GKP Jemaat Kampung Tengah tidak saja dalam hal-hal yang
bersifat organisasi atau kelembagaan, akan tetapi terhadap aktivitasnya
menandakan pula adanya dinamika di dalam jemaat. Menandai
dinamika yang terjadi di bidang organisasi, salah satunya adalah di
dalam jemaat semakin diperlengkapi kebutuhan organisasi dengan
personil yang mampu bekerja, dan juga terjadinya penambahan komisi
seperti pembentukan Komisi Remaja pada tahun 1974. Dari sisi
aktivitas pun mengalami dinamika, terutama kebaktian yang semula
hanya bertumpu pada Kebaktian Minggu dan Kebaktian Rumah
Tangga, maka ketika berada di era ini justru bertambah dengan adanya
kebaktian-kebaktian kategorial.
Untuk mendukung keseluruhan penatalayanan jemaat, selain dibentuk
kelengkapan dan perangkat organisasi yang fungsional kategorial, juga
diupayakan penyiapan fasilitas akomodasi yang diperuntukan bagi
rumah dinas Pendeta (pastori).

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 79

Pos Pelayanan Anak-Anak

Sekitar tahun 1977-1980 GKP Jemaat Kampung Tengah membuka
pos pelayanan bagi anak-anak di rumah keluarga Willem Tolken di
Kampung Lembur (sekarang Pinang Ranti) dan Keluarga Neho Bone
di Kampung Dukuh (sekarang dikenal Keramik). Sementara di wilayah
Condet dibuka di rumah keluarga Timisela dan di Kampung Makasar di
rumah Bapak Kobiran (keluarga dari sdri. Mistiari/mba Mis). Setelah
sempat berjalan sekitar satu tahunan, kegiatan pelayanan anak-anak di
Kampung Lembur dan Kampung Dukuh dan juga Kampung Makasar
terhenti. Selang beberapa waktu kemudian pelayanan kegiatan sekolah
minggu di Kampung Dukuh di buka kembali yakni di rumah keluarga
Buang Baiin. Kegiatan pelayanan anak-anak ini dilakukan oleh para
Pemuda dan Pemudi serta melibatkan para remaja yang saat itu tengah
mengikuti katekisasi. Kegiatan pelayanan anak-anak di rumah Keluarga
Buang Baiin ini berjalan sampai sekitar 1 tahunan lamanya. Karena
dalam perkembangannya jumlah anak tidak mengalami pertambahan,
bahkan cenderung menurun (mungkin akibat keberhasilan program
KB saat itu), maka hal itu mengakibatkan pertambahan jumlah anak
menjadi stagnan. Adanya kondisi inilah yang akhirnya membuat
keberadaan pos pelayanan anak-anak yang ada di Kampung Dukuh,
Kampung Lembur, Kampung Makasar dan juga di wilayah Condet
tidak dilanjutkan dan kembali kegiatannya di pusatkan di Gereja.

Masa Penantian Kehadiran
Pendeta Jemaat

Sejak diresmikan sebagai Jemaat dewasa tahun 1971, GKP Jemaat
Kampung Tengah hingga tahun 1979 tidak memiliki pendeta jemaat
yang tetap. Untuk memenuhi kebutuhan itu, GKP Jemaat Kampung
Tengah tetap melakukan kerja sama pelayanan dengan GKP Jemaat
Cawang yang mantan induknya. Pendeta Muhali Sairoen, cukup banyak
terlibat dalam penatalayanan jemaat Kampung Tengah, baik untuk
kebaktian minggu maupun tengah minggu. Selain bekerja sama dengan
GKP Jemaat Cawang, Majelis GKP Jemaat Kampung Tengah juga

80 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

bekerja sama dengan jemaat GKP lainnya yang ada di Klasis Jakarta,
yang saat itu wilayah Klasis Jakarta terbentang dari Rangkasbitung
hingga Purwakarta. Lewat kerja sama pelayanan inilah, kebutuhan
rohani dan pembinaan warga jemaat GKP Jemaat Kampung Tengah
cukup terpenuhi.
Menerima kehadiran mahasiswa STT Jakarta yang praktek, adalah hal
yang juga dilakukan oleh Majelis Jemaat untuk menambah kualitas dan
kuantitas pelayanan bagi jemaat. Terkait kehadiran mahasiswa STT
Jakarta, yang pertama kali hadir di GKP Jemaat Kampung Tengah adalah
Cornelius Weirata. Kehadirannya dalam rangka praktek kejemaatan
sangat membantu GKP Jemaat Kampung Tengah dalam mewujudkan
pelayanannya.
Bagi GKP Jemaat Kampung Tengah, menghadirkan mahasiswa STT
Jakarta dimaknai sebagai salah satu upaya mendukung Majelis Jemaat
melakukan proses pembinaan terutama kaum remaja yang saat itu
situasi lingkungan masyarakat cukup rawan untuk pertumbuhan kaum
ramaja. Dan dalam kenyataannya, kehadiran mahasiswa STT Jakarta,
sangat dirasakan manfaatnya oleh kaum remaja dalam beraktivitas
di Gereja. Lewat kehadiran mahasiswa STT Jakarta, kaum remaja
mendapat pengalaman menarik dalam dunia seni drama kontemporer
dan dalam seni musik, khususnya vocal group. Di masa penantian
ini juga, Majelis Jemaat GKP Jemaat Kampung Tengah dengan jeli
memanfaatkan warga simpatisan yang berstatus sebagai pendeta dan
bekerja di Dinas Pembinaan Rohani Kristen Protestan Angkatan Darat
yaitu Letkol. Pendeta Waldus Are. Pendeta ini berdomisili di kompleks
Bulak Rantai yang tidak jauh dari lokasi Gereja. Pemanfaatan tenaga ini
untuk memberikan pelayanan bagi jemaat ternyata efektif. Artinya, dari
pelayanan yang dberikan selain dapat mendorong motivasi jemaat untuk
aktif berkegiatan di Gereja, juga dapat memberikan wawasan jemaat
tentang pemahaman Alkitab dan dasar kehidupan dalam persekutuan.
Manfaat kehadiran Pendeta Waldus Are ini begitu dirasakan oleh warga
jemaat terutama di dalam kebaktian Rumah Tangga yang dahulu dikenal
dengan nama SOMAHAN. Bagi kaum remaja, kehadiran Pendeta
Waldus Are sebagai pengajar katekisasi selama kurang lebih 5 (lima)
tahun, pun dirasakan sangat bermanfaat. Melalui pengajarannya, kaum

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 81

remaja yang ikut katekisasi benar-benar memperoleh wawasan yang
luas dan dalam tentang pengetahuan Alkitab terutama yang berbasis
pada Perjanjian Lama.
Di masa penantian ini pula, GKP Jemaat Kampung Tengah yang
sudah memiliki gedung Gereja, tetap berharap akan hadirnya seorang
pendeta tetap. Bersamaan dengan harapan itu, GKP Jemaat Kampung
Tengah juga menyiapkan dirinya dengan membangun sarana yang
kelak dibutuhkan bagi Pendeta yang akan dihadirkan. Karena itulah di
masa penantiannya GKP Jemaat Kampung Tengah antara tahun 1975
– 1977 membangun pastori di atas sebidang tanah yang terletak di
sebelah barat (berhimpitan) gedung Gereja. Di atas tanah seluas sekitar
7x8 m itulah didirikan bangunan semi permanen untuk Pastori yang
kemudian menjadi rumah dinas untuk Pdt. Roby Erich Rumbayan dan
keluarga.

Pembentukan Wadah
Kaum Remaja

Berangkat darirealitaskeberadaankaumremajadiGKPJemaatKampung
Tengah yang secara kuantitas cukup banyak, serta situasi dan kondisi
kehidupan sosial masyarakat yang saat itu cukup mengkhawatirkan bagi
pertumbuhan dan perkembangan kaum remaja, terutama maraknya
tingkat kejahatan, penggunaan obat-obat terlarang, narkotika dan
minuman keras. Keadaan yang demikian bukan saja membahayakan
kaum remaja yang ada di Gereja, tapi juga membahayakan masa
depannya termasuk proses regenerasi kepemimpinan di dalam Gereja.
Atas dasar pemikiran dan pertimbangan itulah, Majelis Jemaat GKP
Jemaat Kampung Tengah memandang perlu mengambil satu langkah
organisasional dengan membentuk wadah bagi kaum remaja agar dapat
menyalurkan potensi yang dimiliki sekaligus dapat melakukan kegiatan
yang bermanfaat bagi Gereja dan juga agar kaum remaja sendiri
mendapat pelayanan yang memadai dari Gereja.
Pembentukkan wadah organisasi untuk remaja di dalam jemaat berjalan
cukup panjang. Hal ini disebabkan ketentuan Tata Gereja dan Peraturan
Pelaksanaan Tata Gereja GKP tidak mengatur hal tersebut. Namun atas

82 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

dasar kebutuhan internal jemaat dan demi kepentingan regenerasi
dan kebutuhan penatalayanan jemaat, maka Masjelis Jemaat sepakat
untuk membentuk wadah bagi Kaum Remaja GKP Jemaat Kampung
Tengah yang saat itu sudah bernaung dalam kelembagaan yang tidak
formal dengan nama Persatuan Remaja Gereja Kristen Pasundan
(PRGKP) Kampung Tengah. Pembentukkan wadah bagi kaum
remaja ini disekapati bukan untuk menjadi rujukan seluruh bagian
GKP, tapi hanya untuk GKP Jemaat Kampung Tengah semata. Dan
pembentukan wadah kaum remaja di GKP Jemaat Kampung Tengah
dalam kenyataannya tidak mendapat tanggapan negatif dari seluruh
bagian GKP termasuk Majelis Sinode. Bahkan setelah diketahui di GKP
jemaat Kampung Tengah ada wadah khusus bagi kaum remaja di dalam
jemaat, beberapa bagian GKP membentuk juga wadah tersebut bahkan
sampai tingkat Sinode. Pembinaan iman kaum remaja di GKP Jemaat
Kampung Tengah yang saat itu belum memiliki pendeta jemaat, secara
khusus dilakukan oleh Majelis Jemaat bekerja sama dengan Pendeta
Waldus Are. Pembentukan wadah organisasi resmi bagi kaum remaja di
GKP Jemaat Kampung Tengah dilakukan pada tanggal 11 Maret 1974
dengan susunan Komisi :
Ketua : Samskiren Tandi
Sekretaris : Dadi Hudaya Baiin
Bendahara I : Winarni Lampung
Bendahara II : Yusniati Baiin
Koordinator : Yoram Baiin
Pembina Koor : Malsianus Baiin, Tego Suwarno
dan Warga Tjenteng.

Sembilan Tahun Berjalan
Tanpa Pendeta Jemaat

Sekitar Sembilan tahun lamanya GKP Jemaat Kampung Tengah
berjalan tanpa pendeta jemaat. Kenyataan Ini benar-benar dialaminya
setelah GKP Jemaat Kampung Tengah menjadi Jemaat Dewasa.
Meski demikian iring-iringan persekutuan tetap bergerak dengan
menunjukan dinamika persekutuan yang ditandai adanya kemajuan

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 83

dan perkembangan. Dari sisi kualitas terlihat adanya semangat jemaat
untuk hadir di dalam kegiatan minggu dan tengah minggu. Dari sisi
kuantitas, jumlah keanggotaan jemaat terus bertambah.
Sekalipun telah menjadi jemaat dewasa, namun perjalanan persekutuan
yang dilakukan terasa belum lengkap karena belum hadirnya Pendeta
jemaat yang tetap. Namun dari sisi pelayanan, jemaat tetap merasakan
sentuhan rohani lewat pelayanan beberapa pendeta terdekat di
antaranya Pdt. Waldus Are (Pendeta Disbintal Protestan AD),
Pdt. Habil Atje, Pdt. Muhali Sairoen dan Pdt. Tresna Purnama, S.Th.

Pdt. Muhasli Sairoen Pdt. Habil Atje

Pdt. Tresna Purnama Pdt. Waldus Are

Foto-foto Koleksi Keluarga

84 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

Memasuki tahun kesembilan setelah menjadi jemaat dewasa, akhirnya
kerinduan panjang jemaat terjawab. Kerja sama Majelis Jemaat GKP
Jemaat Kampung Tengah dengan Majelis GKP Jemaat Cawang pun
berhasil menghadirkan Pendeta Robby Erich Rumbayan pada tahun
1980 menjadi pendeta tetap GKP Jemaat Kampung Tengah. Sejak tahun
itulah, GKP Jemaat Kampung Tengah mulai berjalan bersama Pendeta
tetap. Sebelum menjadi Pendeta Jemaat GKP Jemaat Kampung Tengah,
Pdt. Robby Erich Rumbayan adalah Pendeta jemaat GKP Jemaat Pacet,
Cipanas, Cianjur.

Pdt. Robby Erich Rumbayan, Sm.Th

Pendeta Pertama GKP Jemaat Kampung Tengah

Periode 1980-1991 Pendeta Robby Erich Rumbayan

adalah pendeta jemaat pertama di GKP
Jemaat Kampung Tengah. Sebelum
ke Kampung Tengah, pendeta Robby
panggilan akrabnya, bertugas menjadi
Pendeta di jemaat GKP Jemaat Pacet,
Cipanas, Cianjur. Selama berada di
pelayanannya, GKP Jemaat Kampung
Tengah mengalami kemajuan, baik
kualitas jemaat maupun kuantitasnya.
Rangkulan pelayanan terasa kepada
Foto Koleksi Keluarga semua lapisan jemaat, secara individu
atau keluarga. Kedekatan dengan kaum pemuda begitu dirasakan,
sehinggakaummudasaatitumengalamijugakemajuandalamberaktivitas
di jemaat. Salah satu hasil kerja yang dilakukan adalah diterbitkannya
buku Tata Kebaktian Rumah Tangga dan Kategorial dengan cover
berwarna kebiru-biruan telor asin. Dan buku ini dipakai cukup lama di
GKP Jemaat Kampung Tengah. Pengakhiran tugasnya di GKP Jemaat
Kampung Tengah karena pertimbangan kebutuhan pelayanan di jemaat
lain, khususnya pada saat itu GKP Bekasi yang tengah menghadapi
permasalahan internal. Melepaskan Pendeta Robby dari GKP Jemaat
Kampung Tengah adalah kebijakan yang telah dipertimbangkan
demi kebersamaan dan mendukung jemaat GKP yang lainnya.

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 85

Sekretariat Gereja/Foto Pribadi
Kumpulan Tata Kebaktian KRT/Tengah Minggu

Produk jaman Pdt. Robby Erich Rumbayan

86 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

Dinamika Persekutuan
Antara 1982 – 1992

Menabur Benih Persekutuan
Di Usia Muda

Salah satu indikator dilakukannya Pekabaran Injil oleh GKP Jemaat
Kampung Tengah pada 1982-1992 ketika pelayanannya berjalan
bersama Pendeta Robby Rumbayan adalah upaya pengembangan
wilayah pelayanan. Hal yang dapat dicatat secara khusus adalah
pengembangan persekutuan dan pelayanan yang dimulai pada tahun
1982 di Jati Asih, Bekasi.
Dari sisi usia, jika dianalogikan sebagai usia manusia, GKP Jemaat
Kampung Tengah saat itu tak ubahnya seorang anak remaja berusia
sekitar 12 tahun. Secara manusiawi, keberadaannya masih muda bahkan
boleh dibilang masih labil dan masih mencari identitas diri. Tapi sebagai
persekutuan kenyataannya tidak demikian. Di usia mudanya GKP
Jemaat Kampung Tengah sudah mampu mengembangkan persekutuan
dan pelayanan keluar wilayahnya. Dari upaya yang dilakukannya itu,
benih yang ditabur, akhirnya tumbuh menjadi jemaat yang dewasa yang
kini menjadi ladang dan kebun anggur Tuhan di Jati Asih, Bekasi.

Benih Yang Ditabur

GKP Jati Asih Tumbuh Subur di Jati Asih

Benih persekutuan, pelayanan dan kesaksian
yang ditabur GKP Kampung akhirnya
tumbuh juga menjadi tunas di wilayah Jati
Asih, Bekasi. Penaburan benih di wilayah
ini mulai dilakukan dalam kebersamaan
pada sekitar tahun 1982 ditandai dengan
Foto Pdt. Rudolfo Damanik upaya merintis pelayanan untuk satu

keluarga asal jemaat GKP Kampung Tengah yang berdomisili di
Jati Asih yaitu Keluarga Wiyana Baiin. Pertumbuhan tunas itu semakin

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 87

terlihat dan memberikan pertanda ada perkembangan menggembirakan.
Berangkat dari situlah, akhirnya bagian rumah keluarga Wiyana Baiin
disepakati menjadi basis kegiatan GKP Jemaat Kampung Tengah. Dan
dari tempat ini pulalah mulai dirintis persekutuan, pelayanan dan
kesaksian untuk menuju menjadi sebuah jemaat.
Perintisan secara perlahan diawali dengan memberikan pelayanan
kebaktian secara rutin bagi anak-anak (sekolah minggu), kemudian
pelayanan Kaum Wanita (sekarang KPP) hingga pelayanan Kebaktian
Rumah Tangga (KRT). Pdt. Robby Erich Rumbayan, Majelis Jemaat
dan Asikin Baiin selaku fungsionaris jemaat dan warga jemaat lainnya,
secara bergantian dengan semangat melakukan tugasnya untuk
memenuhi kebutuhan rohani warganya yang ada di Jati Asih.
Gaung tumbuhnya benih dan mekarnya tunas persekutuan, pelayanan
dan kesaksian di Jati Asih, rupanya terdengar di lingkungan beberapa
jemaat yang ada di Klasis GKP Wilayah di Jakarta. Oleh karena itu, dalam
semangat kebersamaan klasikal, beberapa jemaat GKP di lingkungan
Klasis Jakarta, yakni GKP Jemaat Tanah Tinggi, Cibubur dan Tanjung
Barat sempat pula memberikan dukungan pelayanan untuk Jati Asih.
Dengan adanya dukungan kebersamaan tersebut, berarti perjuangan
GKP Jemaat Kampung Tengah, dalam menumbuh suburkan
persekutuan, pelayanan dan kesaksian di Jati Asih benar-benar
mendapat suport dan dukungan penuh dari jemaat lain yang ada di
lingkungan Klasis Jakarta.

Respons Positif
Warga Kristen Coca Cola

Pada sisi yang lain, dalam perjalanan persekutuan. pelayanan dan
kesaksian yang dilakukan di Jati Asih, ternyata mendapat respons
positif dari beberapa warga Kristiani yang ada di lingkungan tersebut
teruatama di area kompleks perumahan Pemda Blok A yang dikenal
dengan kompleks Coca Cola (Karena dihuni oleh banyak karyawan
coca cola). Dan respons itulah yang memberi dampak terjadinya
pertambahan jumlah umat yang dilayani dan akhirnya terakumulasi
menjadi semacam komunitas/kelompok persekutuan.

88 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

Jati Asih memang berproses awal dari pelayanan yang sifatnya rutin di
rumah keluarga. Namun dengan penyertaan Roh Kudus, Tuhan dengan
nyata bekerja. Hasilnya pun terlihat dengan jelas melalui keberadaan
kelompok persekutuan di Jati Asih yang ditetapkan menjadi Pos
Pelayanan dari GKP Jemaat Kampung Tengah. Kerja Tuhan lewat orang-
orang percaya yang ada terus berlanjut dengan hasil meningkatnya
status Pos Pelayanan menjadi Pos Kebaktian. Dan akhirnya persekutuan
yang berstatus Pos Kebaktian diperkenan oleh Tuhan memperoleh
status sebagai Bakal Jemaat. Dalam status inilah persekutuan Jati Asih
dipersiapkan secara intensif oleh Pendeta, Majelis Jemaat dan para
fungsionaris serta warga jemaat GKP Jemaat Kampung Tengah untuk
menjadi jemaat yang dewasa dan mandiri.

Ada Dinamika
Komunikasi Internal

Saat Jati Asih masih berstatus sebagai Pos Kebaktian, ternyata sempat
pula terjadi dinamika komunikasi internal antara Majelis Jemaat GKP
Jemaat Kampung Tengah dengan beberapa orang yang berhimpun di
Pos Kebaktian Jati Asih. Dinamika komunikasi berkisar pada persoalan
prinsip-prinsip penatalayanan dan organisasi kelembagaan untuk
kepentingan pengembangan Pos kebaktian Jati Asih. Akibat dinamika
komunikasi itu, beberapa keluarga yang sempat bergabung dengan Pos
Kebaktian Jati Asih akhirnya memisahkan diri dan hijrah ke Gereja lain
yang ada di wilayah itu di antaranya adalah GKI. Sekalipun demikian,
sekitar 12 keluarga masih tetap setia berada di Pos Kebaktian Jati Asih
untuk melanjutkan penatalayanan yang sudah dirintisnya. Keduabelas
keluarga dimaksud adalah :
1. Kel. Wiyana Baiin; 7. Kel. Simanjuntak;
2. Kel. Abner Hutabarat; 8. Kel. Girsang;
3. Kel. Salmon Maikari; 9. Kel. Sony Maihulu;
4. Kel. Manulang; 10. Kel. Sahetapi;
5. Kel. V. Siahaan; 11. Kel. Siahaan;
6. K el. Hutajulu; 12. Kel. Lexi Gerungan
Upaya peningkatan status menuju Bakal Jemaat demi kepentingan
pendewasaan jemaat tetap berjalan, proses terus dilakukan dan untuk

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 89

melancarkan komunikasi dan juga kegiatan penatalayanan di Pos
Kebaktian Jati Asih, Badan Pelaksanaan Klasis Jakarta bersepakat dengan
Majelis Jemaat GKP Jemaat Kampung Tengah untuk membentuk satu tim
khusus pengembangan Jati Asih. Berdasarkan hal itu, dibentuklah Tim
Pelayanan khusus untuk Pos Kebaktian Jati Asih yang beranggotakan
dari beberapa Pendeta Jemaat GKP yang ada di wilayah Klasis Jakarta
dan juga unsur dari GKP Jemaat Kampung Tengah. Adapun anggota
Tim Pelayanan Khusus adalah :

1. Pdt. Djoni S. Abednego, S.Th (Pdt. GKP Tanah Tinggi)
2. Pdt. Kurnia Atje Sudjana M.Th (Pdt. GKP Jatinegara)
3. Drs. Asikin Baiin (Unsur GKP Jemaat Kampung Tengah)
Lewat Tim inilah pelayanan untuk Pos Kebaktian Jati Asih dikoordinasi
dan dilakukan secara intensif. Walhasil bukan saja kegiatan dapat
berjalan, tapi terjadi juga pertambahan jumlah anggota yang masuk
sehingga memungkinkan Pos Kebaktian Jati Asih naik statusnya menjadi
Bakal Jemaat. Hasil lain yang dicapai oleh Tim Pelayanan khusus
tersebut adalah terjadinya normalisasi komunikasi yang kondusif antara
Bakal Jemaat GKP Jati Asih dengan GKP Jemaat Kampung Tengah
selaku induknya. Dengan adanya dinamika komunikasi internal yang
kembali kondusif dan penatalayanan jemaat berjalan dengan harmoni,
maka semua itulah yang akhirnya mendatangkan berkat Tuhan berupa
perubahan status dari Bakal Jemaat Jati Asih ke status selanjutnya.

Hibah Tanah Dan
Peresmian Jemaat Jati Asih

Salah satu keluarga Kristen yang bergabung dalam pelayanan GKP
Jemaat Kampung Tengah di Jati Asih adalah keluarga Abner Hutabarat.
Dari keluarga inilah dihibahkan sebidang tanah seluas 91 M2 untuk
kepentingan persekutuan. Dan di atas tanah itu dibangunlah gedung
Gereja yang cukup permanen secara swadaya.
Peletakan batu pertama pembangunan gedung GKP Jati Asih dilakukan
pada 13 Nopember 1983. Proses pembangunan berjalan secara swadaya
yang dilakukan sepenuhnya oleh segenap warga persekutuan di Jati
Asih dan mendapat dukungan dari Kel. Yoram Baiin yang ada di GKP

90 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

Jemaat Kampung Tengah. Begitu juga keluarga Siahaan yang ada di Jati
Asih turut melengkapi sarana tempat duduk dengan menyumbangkan
sejumlah kursi untuk jemaat yang datang berkebaktian.
Setelah semua tahapan yang ditentukan dapat dilalui dengan baik, maka
Majelis Jemaat GKP Jemaat Kampung Tengah bersama Tim Khusus
dan Pengurus Bakal Jemaat di Jati Asih melakukan proses lanjut untuk
mendewasakan Bakal Jemaat Jati Asih menjadi Jemaat Dewasa. Proses
koordinasi yang dilakukan dengan Badan Pekerja Sinode GKP di
Bandung, akhirnya menghasilkan kesepakatan yang menggembirakan.
Atas dukungan Tim Pelayanan Khusus akhirnya Majelis GKP Jemaat
Kampung Tengah dengan Badan Pekerja Sinode GKP sepakat untuk
mendewasakan Bakal Jemaat Jati Asih.
Berbekal kesepakatan yang sudah dibuat, berbagai persiapan teknis pun
dilaksanakan. Koordinasi intensif Majelis Jemaat GKP Jemaat Kampung
Tengah yang didukung Tim Pelayanan Khusus dengan Pengurus Bakal
Jemaat terus dilakukan. Warga persekutuan di Jati Asih pun didorong
untuk mempersiapkan segala sesuatu guna memenuhi kebutuhan
persemian. Lewat persiapan yang maksimal akhirnya pada tanggal
10 Oktober 1989 dilakukan peresmian jemaat GKP di Jati Asih oleh
Badan Pekerja Sinode GKP dengan nama GKP JEMAAT JATI ASIH.
Sedangkan untuk hari jadinya disepakati tanggal 13 November 1983
yang merupakan hari peletakan batu pertama pembangunan gedung
Gereja.

Pastori (kiri) dan Gedung GKP Jati Asih (kanan). Foto Pdt. Rudolfo Damanik. 91
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

Berkomitmen
Demi Masa Depan Gereja

Salah satu bentuk tekad yang kuat yang muncul dari dalam perjalanan
persekutuan, pelayanan dan kresaksian GKP Jemaat Kampung Tengah
adalah adanya komitmen terhadap masa depan Gereja baik untuk
kepentingan internal maupun eksternal persekutuan yang dibangunnya.
Lahirnya komitmen untuk masa depan ini dibidani oleh kesadaran
jemaat yang dikelola oleh Majelis Jemaat dengan baik dan bijaksana
dengan tetap melihat dan mempertimbangkan kepentingan masa depan
Gereja. Proses melahirkan komitmen memang harus menempuh jalan
yang cukup panjang, karena harus melalui upaya pemberian pemahaman
serta penjelasan yang baik dan benar, bahkan dengan sosialisasi yang
kontinyu dalam berbagai kesempatan yang ada, baik kebaktian umum,
Kebaktian Rumah Tangga ataupun kebaktian kategorial termasuk
momen rapat jemaat. Komitmen yang menjadi catatan penting yang
dilahirkan GKP Jemaat Kampung Tengah untuk kepentingan internal
dirinya adalah upaya melakukan kaderisasi kepemimpinan di dalam
jemaat dengan memberi perhatian khusus kepada potensi orang
muda dan membuat kesepakatan bersama batasan usia untuk menjadi
Majelis Jemaat yaitu maksimal 60 tahun. Sedangkan komitmen untuk
kepentingan eksternal berupa pengutusan warga jemaatnya untuk studi
teologi di STT Jakarta untuk dipersiapkan menjadi pendeta GKP dan
kemitraan pelayanan dengan POUK Imanuel Kopassus Cijantung.

Kelompok Potensial
Yang Selalu Diandalkan

Kepercayaan kepada kaum muda untuk ikut serta dalam menata
pelayanan jemaat di GKP Jemaat Kampung Tengah tak pernah
luntur. Hal ini memang benar adanya. Karena pandangan klasik yang
menganggap bahwa pemuda adalah harapan masa depan, masih ada
dan berlaku dalam pandangan kaum tua di GKP Jemaat Kampung
Tengah. Maka dari itulah, dalam perjalanan pelayanan GKP Jemaat
Kampung Tengah, kaum muda menjadi kelompok potensial yang selalu

92 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

diandalkan. Dari pandangan itu jugalah kaum muda selalu mendapat
kesempatan dan peluang yang cukup untuk ambil bagian dalam
penatalayanan di jemaat. Dalam prakteknya kaum muda memang
mampu untuk melakukan tugas pelayanan. Ini terbukti bukan saja di
dalam jemaat tapi juga di lingkup Klasis.
Komitmen kaum tua jemaat dalam bentuk kepercayaan kepada potensi
kaum muda, yang sudah ada sejak merintis GKP Jemaat Kampung
Tengah, rupanya tetap terpelihara. Setelah GKP Jemaat Kampung
Tengah menjadi Jemaat Dewasa pun masalah kepercayaan kepada
potensi kaum muda tetap menjadi perhatian dalam keseharian bergereja
dan berjemaat.
Begitu juga pada tahun 1973-1974 ketika di jemaat dibentuk wadah
bagi kaum remaja yang semula berama Persatuan Remaja GKP Jemaat
Kampung Tengah (PRGKP KP Tengah), yang kemudian secara resmi
oleh Majelis Jemaat ditetapkan sebagai Komisi dengan nama Komisi
Remaja (11 Maret 1974), maka sejak itulah perhatian kaum tua jemaat
kembali muncul, khususnya kepada potensi para remaja selaku kaum
muda semakin intensif.
Setiap kaum remaja mengadakan aktivitas, baik di dalam maupun
diluar Gereja yang berkaitan dengan panggilan persekutuan, pelayanan
dan kesaksian, kaum tua tak pernah ketinggalan berada di sekitar kaum
remaja. Kehadiran kaum tua di sekitar aktivitas kaum remaja, bukan
sekedar memperhatikan kegiatan kaum remaja, bukan sekedar ingin
tahu apa yang dilakukan, dan bukan didorong oleh rasa khawatir atas
dunia remaja, tapi rupanya tengah mengamati tentang keberadaan dan
potensi kaum remaja untuk masa depan Gereja. Dari kebersamaan
dengan kaum remaja, lalu kaum tua berhasil merumuskan pemikirannya
ke dalam satu komitmen yang intinya adalah memberikan kesempatan
kepada kelompok remaja selaku kaum muda untuk beperan maksimal
dalam kegiatan jemaat. Oleh karena itu dikurun waktu tahun 1975
hingga 1980, kaum muda GKP Jemaat Kampung Tengah dibina untuk
mengembangkan dirinya agar mampu berkiprah dalam penatalayanan
jemaat. Salah satu bentuk kongkrit pembinaan yang diberikan, adalah
menghadirkan mahasiswa STT Jakarta untuk berkegiatan dengan
kaum muda GKP Jemaat Kampung Tengah dengan mengadakan

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 93

berbagai kegiatan seni pentas dan vocal group termasuk dalam hal
pelayanan Firman Tuhan. Begitu juga jemaat, demi kaum muda, jemaat
memberikan keleluasaan berkegiatan di Gereja dan memfasilitasi
kebutuhannya walaupun masih terbatas. Mendukung kaum muda
untuk menimba pengetahuan tentang GKP melalui kunjungan ke
jemaat-jemaat GKP yang hampir rutin dilakukan, adalah bagian sikap
jemaat yang dinyatakan bagi kaum muda. Dengan memegang prinsip
kaum muda menjadi generasi penerus, maka kaum tua jemaat termasuk
Majelis Jemaat tidak pernah merasa keberatan jika kaum muda
melakukan kunjungan ke jemaat GKP yang lain, baik atas dasar rencana
kegiatan, maupun dalam rangka mendampingi pelayanan pendeta ke
salah satu jemaat.
Tak berhenti sampai di situ, karena komitmennya berhubungan dengan
masa depan Gereja, rupanya kaum tua jemaat, baik yang menjadi
Majelis Jemaat maupun sebagai warga jemaat, akhirnya bersikap
terbuka dan percaya kepada potensi kaum muda. Walhasil, komitmen
itu dapat dipraktekkan oleh kaum muda di dalam kehidupan jemaat di
GKP Jemaat Kampung Tengah.
Bagi kaum tua dan Majelis Jemaat, komitmen memberi kesempatan
maksimal kepada kaum muda berakitivitas di Gereja adalah bentuk
kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan di GKP Jemaat Kampung
Tengah. Dengan adanya komitmen demikian, kaum remaja di masa
pertumbuhannya mendapat bimbingan khusus dari Majelis Jemaat
yang bekerja sama dengan Pendeta Waldus Are, terbukti mampu secara
maksimal berkiprah di dalam jemaat bersama jemaat yang ada. Bahkan
ada juga yang akhirnya mampu berkiprah sebagai Majelis Jemaat,
sebagai fungsionaris dan aktivis di tingkat Klasis, Sinode, Oikumene
dan Masyarakat.

Sepakat Tidak Lebih Dari 60 Tahun

Ada juga komitmen lain sebagai salah satu strategi kaderisasi dan
regenerasi yang kerap dipikirkan oleh kaum tua jemaat, yang kemudian
dirancang oleh Majelis Jemaat sebagai satu kebijakan khusus.
Komitmen dimaksud adalah menyepakati usia yang diperkenankan

94 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

dipilih menjadi Majelis Jemaat yaitu maksimal 60 tahun. Di atas 60
tahun tidak diperkenankan untuk dipilih menjadi Majelis Jemaat.
Kebijakan ini dilontarkan Majelis Jemaat kepada jemaat sekitar tahun
90-an. Jika ditinjau dari Tata Gereja atau Peraturan Pelaksanan Tata
Gereja saat itu, sebenarnya bisa dibilang kebijakan Majelis Jemaat
tidak ada dasar hukumnya. Bahkan menjadi suatu yang tidak lazim,
karena di dalam realitasnya, jemaat-jemaat GKP lainnya tidak ada yang
membuat kebijakan seperti itu. Namun demi kepentingan regenerasi
dan kaderisasi internal jemaat, maka komitmen itu tetap dilontarkan
ke jemaat. Gayung pun bersambut. Jemaat setuju dan tidak keberatan.
Oleh karenanya, sejak tahun 1990-an, proses pemilihan Majelis Jemaat
di GKP Jemaat Kampung Tengah tidak memilih warga jemaat berusia
60 tahun. Dan hingga saat ini GKP Jemaat Kampung Tengah tetap
konsisten kalau personalia Majelis Jemaat dipercayakan kepada generasi
muda yang berusia tidak lebih dari 60 tahun.

Anak Kampung Tengah Jadi Pendeta

Hal lainnya yang dapat membuktikan terjadinya dinamika Jemaat
GKP Jemaat Kampung Tengah, selain pengembangan kegiatan
penatalayanan jemaat, adalah pengutusan beberapa anggota jemaat
sidi untuk studi teologi di STT Jakata. Hal ini dilakukan, disamping
adanya komitmen beberapa warga jemaat untuk menjadi pendeta di
GKP yang harus didukung, juga dilatarbelakangi oleh keinginan GKP
Jemaat Kampung Tengah ambil bagian dalam panggilan tugas Gereja,
sekaligus mendukung upaya Pekabaran Injil yang dilakukan GKP.
Secara kelembagaan keinginan itu diwujudkan dengan memberikan
rekomendasi kepada beberapa warganya untuk studi teologi di STT
Jakarta. Sebanyak 5 orang diutus, dan 4 orang berhasil ditahbiskan
sebagai Pendeta GKP yaitu Pdt. Chita Ruspiadi Baiin, Pdt. Ruswanda
Tjenteng, Pdt. Lelly Frida Yohanes Sundoro dan Pdt. Deru Utama Noron.
Sedangkan satu orang mengalami kegagalan yaitu Sabarna Tjimi.

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 95

Pdt. Chita Ruspiadi Baiin, S.Th.
Ditahbiskan sebagai Pendeta GKP di GKP
Jemaat Cirebon. Karna itu, GKP Jemaat
Cirebon bagi dirinya adalah titik awal kiprah
hidupnya sebagai seorang pendeta. Dari
GKP Jemaat Cirebon, pindah tugas menjadi
Sekretaris Umum (Sekum) Majelis Sinode
GKP. Setelah itu, Pendeta Cita Ruspiadi Baiin
dipercayakan sebagai Ketua Umum Majelis
Sinode GKP. Selesai melaksanakan tugas
di Majelis Sinode, Pendeta Chita Ruspiadi

Baiin kembali bertugas di Jemaat dan menjadi Pendeta Jemaat
GKP Jemaat Awiligar, Bandung. Dari Awiligar pindah tugas ke GKP
Jemaat Cimahi. Di jemaat Cimahi inilah tugas pelayanannya dilakukan
sampai masa tugas kependetaannya berakhir (emeritus). Pelaksanaan
acara emeritasinya di lakukan Majelis Sinode bekerja sama dengan
Jemaat Cimahi.
Pdt. Ruswanda Tjenteng, S.Th, M.Min.

Perjalanan tugas pelayanan, Pendeta
Ruswanda Tjenteng diawali sebagai pendeta
Jemaat GKP Jemaat Sumedang, kemudian
GKP Jemaat Cawang dan terakhir menjadi
pendeta Jemaat di GKP Jemaat Tanjung
Barat hingga emeritus yang pelaksanaan
emeritasinya dilakukan di masa pandemi
covid-19 tahun 2020. Disamping sebagai
pendeta jemaat, juga pernah menjadi Anggota
Majelis sinode dan juga menjadi Pembina dan
pengurus di Badan-Badan Pelayanan GKP.

96 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

Pdt. Lelly Frida Yohanes Sundoro, S.Th, M.Pd.
Pendeta Lelly Frida Yohanes Sundoro, dalam
perjalanan tugas pelayanannya sebagai
pendeta pernah menjadi Pendeta Jemaat

GKP Jemaat Gunung Putri, GKP Jemaat
Depok, GKP Jemaat Bogor dan akhirnya
kembali ke Gunung Putri. Selain menjadi
pendeta jemaat, Pendeta Lelly juga pernah
menjabat sebagai anggota Majelis Sinode
GKP dan menjadi Pembina serta Pengurus di
beberapa Badan Pelayanan GKP.

Pdt. Deru Utama Noron, S.Th. M.Min.
Pendeta Deru Utama Noron, untuk pertama
kali mendapat tugas pelayanan sebagai
pendeta, di GKP Jemaat Ciwidey, Bandung
Selatan. Dari GKP Jemaat Ciwidey, pindah
ke GKP Jemaat Sukabumi. Kemudian pindah
lagi ke Jemaat GKP Jemaat Purwakarta.

Dari Purwakarta pindah ke GKP Jemaat
Karawang. Dan dari Karawang pindah ke

GKP Jemaat Ciranjang, Cianjur. Selain
sebagai pendeta jemaat, Pendeta Deru Utama

Noron pernah menjabat sebagai Pengawas Perbendaharaan Sinode
GKP.

Catatan :
Foto Pdt Chita Ruspiadi Baiin (Koleksi keluarga)
Foto Pdt. Ruwanda Tjenteng (Koleksi pribadi)
Foto Pdt. Lely Frida Sundoro (Koleksi pribadi)
Foto Pdt. Deru Utama Noron (Sekretariat Sinode)

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 97

Bermitra Pelayanan
Dengan POUK Imanuel Kopassus

Menjelang tahun 1990 diakhir masa jabatan Pendeta Robby Erich
Rumbayan, GKP Jemaat Kampung Tengah mengembangkan
pelayanannya ke POUK Imanuel Kopassus Cijantung. Pengembangan
pelayanan tersebut merupakan salah satu bagian dari dinamika GKP
Jemaat Kampung Tengah di era 1982-1992. Proses terjadinya kemitraan
dirintis oleh Asikin Baiin yang saat itu menjadi Pengurus POUK
Imanuel Kopassus Cijantung dan secara administrasi organisasi menjadi
anggota jemaat GKP Jemaat Kampung Tengah. Pembinaan hubungan
dilakukan melalui berbagai upaya pendekatan dan pengenalan atas
keberadaan GKP Jemaat Kampung Tengah kepada jemaat dan Pengurus
POUK Imanuel Kopassus Cijantung. Salah satu wujud dari proses
dimaksud adalah lewat Pelayanan Firman dan kehadiran pendeta serta
beberapa warga jemaat GKP Jemaat Kampung Tengah dalam aktivitas
kebersamaan. Dari proses itu, lambat laun membuat Pengurus dan
Jemaat POUK Imanuel Kopassus Cijantung semakin akrab dengan
Majelis dan Jemaat GKP Jemaat Kampung Tengah.
Pada bagian lain, dalam perjalanan penatalayanan POUK Imanuel
Kopassus selanjutnya, Pengurus POUK merasakan adanya kesulitan
dan tantangan ketika anggotanya ada yang ingin membaptiskan
anaknya, ketika ada yang ingin sidi atau pengakuan iman bahkan ketika
ada yang akan melangsungkan pernikahan. Masalah ini semakin rumit
karena beberapa anggota POUK keanggotaanya berada di Gereja lain
yang notabene berjarak jauh di daerah sehingga sulit berkoordinasi
dan berkomunikasi dengan jemaat asalnya. Kondisi tersebut terus
berlangsung di POUK Kopassus, karena anggota POUK Kopassus
sebagian besar TNI aktif yang tugaskan di Cijantung. Hal lain yang
mendorong POUK Imanuel Kopassus bermitra dengan GKP Jemaat
Kampung Tengah adalah karena saat itu POUK Imanuel Kopassus
belum menjadi bagian dari POUK yang berada di bawah pembinaan
PGI.

98 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

Kemitraan Hasil Pembinaan
Hubungan Baik

Kedekatan yang sudah dijalin antara POUK Imanuel Kopassus dan
GKP Jemaat Kampung Tengah yang dimediasi oleh Asikin Baiin,
akhirnya mendorong Pengurus POUK Kopassus untuk melakukan
kemitraan dalam hal keadministrasian dan pembinaan. Kemitraan ini
disepakati bersama dan dilegitimasi melalui surat perjanjian kerja sama
semacam MOU yang ditanda tangani masing-masing pihak. Dalam
perjanjian tersebut ditegaskan bahwa GKP Jemaat Kampung Tengah
berhak dan berkewajiban memberikan pelayanan Baptisan, Sidi dan
Pernikahan bagi anggota POUK dan mengeluarkan surat keterangan
berkaitan dengan hal tersebut. Sementara POUK Kopassus berhak dan
berkewajiban mengajukan permohonan atas pelayanan anggotanya
yang akan di Baptis, Sidi dan menikah. Walhasil prosesnya berjalan
lancar dan membuat hubungan kemitraan GKP Jemaat Kampung
Tengah dengan POUK Imanuel Kopassus semakin baik dan kondusif.
Sekalipun hanya sebatas pada pelayanan administrasi dan pembinaan
yang terbatas, bagi GKP Jemaat Kampung Tengah, kemitraan dengan
POUK Imanuel Kopassus adalah bagian dari pengembangan pelayanan
yang memiliki nilai tambah bagi perjalanan panggilan GKP Jemaat
Kampung Tengah. Pelayanan administrasi yang diperjanjikan adalah
kewajiban GKP Jemaat Kampung Tengah mengeluarkan surat
keterangan terkait dengan Baptisan, Sidi dan Pernikahan. Sedangkan sisi
pembinaannya yang wajib dilakukan meliputi Pelayanan Firman dalam
Kebaktian Minggu, Tengah Minggu, Sakramen Baptisan, Perjamuan
Kudus, Pengakuan Iman dan Pemberkatan Pernikahan.
Pasca masa tugas Pendeta Robby Erich Rumbayan di GKP Jemaat
Kampung Tengah, kemitraan dengan POUK Imanuel Kopassus
Cijantung tetap berlangsung. Dan kemitraan itu dilanjutkan oleh
Pendeta Tri Hartono yang pada tahun 1993 ditetapkan menjadi Pendeta
Jemaat GKP Jemaat Kampung Tengah. Dari sisi waktu, kemitraan POUK
Kopassus dan GKP Jemaat Kampung Tengah berlangsung sekitar 14
(empat belas) tahun.

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 99

SURAT PERJANJIAN KERJA SAMA

GKP Jemaat Kampung Tengah
DENGAN

POUK IMANUEL KOPASSUS CIJANTUNG
TENTANG

PELAYANAN BAPTISAN, SIDI, PERNIKAHAN, PERJAMUAN
KUDUS DAN PELAYANAN KHUSUS LAINNYA
NOMOR : 401/GKP.KPT/III/1996
NOMOR : 018/GIM/III/1996

Dikutip dari aslinya.
Arsip GKP Jemaat Kampung Tengah

100 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

Dinamika Persekutuan
Antara 1993 - 2003

Tugas Pendeta Selesai,
Konsulen Mulai

Tahun 1990 adalah tahun akhir masa jabatan Pendeta Robby Erich
Rumbayan sebagai pendeta jemaat. Tahun itu pula Pendeta Roby mutasi
ke GKP Jemaat Bekasi. Kekosongan dari pendeta jemaat pun terjadi
kembali hingga tahun 1993. Dan keadaan ini dialami GKP Jemaat
Kampung Tengah hampir tiga tahun lamanya. Akibat mutasi tersebut,
kegiatan penatalayanan GKP Jemaat Kampung Tengah sempat pula
mengalami sedikit perubahan. Hal ini adalah konsekuensi logis dari
adanya kekosongan pendeta.
Baru pada tahun 1991, setelah ada komunikasi dan koordinasi dan
adanya kesepakatan antara Majelis Jemaat GKP Jemaat Kampung
Tengah dan Majelis Sinode serta dengan Majelis Jemaat GKP Jemaat
Jatiranggon dan juga Pendeta Paulus Wiyono, akhirnya Majelis Sinode
menugaskan Pendeta Paulus Wiyono yang saat itu menjadi pendeta
GKP Jemaat Jatiranggon, untuk menjadi pendeta konsulen GKP Jemaat
Kampung Tengah.
Jemaat menerima dengan senang hati kehadiran Pendeta Paulus Wiyono
sebagai pendeta konsulen. Karena jemaat menyadari bahwa salah satu
tugas utama pendeta konsulen adalah mempersiapkan kehadiran
Pendeta Jemaat tetap di GKP Jemaat Kampung Tengah.
Pelaksanaan konsulensi berjalan lancar tanpa ada hambatan di dalamnya.
Antara Majelis Jemaat dan Pendeta Konsulen terjadi komunikasi yang
baik. Hubungan kerjasama terbangun dalam suasana kondusif. Oleh
karenanya, melalui kerja sama yang baik dan kondusif itu, akhirnya
Pendeta Paulus Wiyono dapat menghadirkan pendeta tetap untuk
jemaat GKP Jemaat Kampung Tengah yaitu Pendeta Tri Hartono.
Pendeta Tri Hartono yang sebelumnya menjadi pendeta Jemaat GKP
Jemaat Rangkasbitung, begitu berakhir masa tugasnya segera di boyong
bersama keluarganya ke Kampung Tengah untuk menerima tugas yang

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 101

baru. Peresmian dan penetapan tugasnya sebagai pendeta jemaat GKP
Jemaat Kampung Tengah berlangsung tahun 1993. Dengan peresmian
tersebut, berakhirlah masa konsulensi Pendeta Paulus Wiyono di
GKP Jemaat Kampung Tengah. Dan bersamaan dengan itu dimulailah
perjalanan jemaat GKP Jemaat Kampung Tengah dengan seorang
Gembala yang baru.
Pdt. Tri Hartono, Sm.Th

Pendeta GKP Jemaat Kampung Tengah Periode
1993-2003 Pendeta Tri Hartono adalah pendeta
jemaat kedua di GKP Jemaat Kampung Tengah.
Sebelumnya Pendeta Tri, panggilan akrabnya,
bertugas sebagai pendeta di jemaat GKP Jemaat
Rangkasbitung, Banten. Bersama Pendeta
Tri Hartono, GKP Jemaat Kampung Tengah
sangat merasakan sentuhan yang mendalam

Foto Koleksi keluarga dari pelayanan pastoralnya yang berupa
kunjungan, baik kepada individu maupun keluarga. Kunjungan pastoral
yang menjadi salah satu keunggulan pelayanan Pendeta Tri Hartono,
kerap dilakukan, baik berdasarkan jadwal yang ditetapkan Majelis Jemaat
maupun dilakukan atas inisiatif pribadi karena keterpanggilannya sebagai
gembala jemaat. Di masa pelayanannya, selain fokus di Kampung Tengah,
juga di POUK Imanuel Kopassus Cijantung. Karena saat itu, POUK
Kopassus Cijantung masih terikat kerja sama pelayanan administrasi
dan pembinaan dengan GKP Jemaat Kampung Tengah. Pengakhiran
masa tugas sebagai pendeta jemaat di GKP Jemaat Kampung Tengah
berlangsung secara alami sesuai periode yang ada dan yang berlaku.

102 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

Pembentukan Wadah organisasi
Bagi Kaum Bapak

Kaum bapak sebenarnya memiliki eksistensi dan peranan penting
sepanjang perjalanan perintisan, pertumbuhan dan perkembangan
GKP Jemaat Kampung Tengah. Pada masa perintisan dan pertumbuhan
awal, eksistensi dan peranan yang dimainkan memang tidak secara
kelembagaan tapi secara personal atau dalam prinsip kolegalitas,
secara informal dan berafiliasi langsung ke Majelis Jemaat, karena
beberapa kaum bapak menjadi anggota Majelis Jemaat. Jadi hal-hal
yang dilakukan oleh kaum bapak, terutama yang berkaitan langsung
dengan keberadaan Gereja atau jemaat akan disampaikan dan diterima
sehingga Majelis Jemaat dapat mengikuti perkembangan yang terjadi
yang punya pengaruh terhadap keberadaan Gereja atau jemaat. Situasi
dan kondisi inilah yang terjadi dalam aktivitas kaum bapak sebagai
warga jemaat terhadap keberadaan Gereja atau jemaat dan juga
terhadap tugas dan tanggung jawab Majelis jemaat. Jika realitas tersebut
bisa terjadi, adalah karena Majelis jemaat memiliki keterbukaan dan
pemahaman bahwa sejauh yang dilakukan oleh kaum bapak untuk
kepentingan Gereja/jemaat, dipandang bukan sebagai suatu yang
bertentangan tapi merupakan dukungan positif bagi pelaksanaan tugas
dan tanggung jawab Majelis Jemaat. Selain itu Majelis Jemaat saat itu
sangat menyadari bahwa membangun kolegalitasnya tidak terbatas
hanya pada lingkungan Majelis Jemaat tapi juga dengan warga jemaat
secara individu ataupun keluarga.
Melalui eksistensi yang dimiliki dan peranan yang dimainkan oleh
kaum bapak, bukan saja mampu mendorong keberadaan keluarganya
masing-masing (isteri dan anak-anaknya) untuk ambil bagian dalam
aktivitas persekutuan dan jemaat, akan tetapi mampu menjalin dan
membina hubungan baik dengan masyarakat yang memungkinkan
Gereja/jemaat atau umat Kristen dapat berinteraksi dengan dan
diterima oleh masyarakat. Begitulah kontribusi kaum bapak sekalipun
secara organisasi tidak memiliki wadah resmi kategorialnya.
Namun dalam perjalanannya, tuntutan organisasi atas keberadaan
wadah kaum bapak memang hal yang wajar dan logis. Hal ini

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 103

dirasakan perlu, agar kaum bapak dalam melakukan aktivitas bergereja
dan berjemaat lebih terkoordinasi, terlebih lagi dalam mendukung
penatalayanan jemaat secara kategorial. Dengan demikian di jemaat
memang ada kebutuhan organisasional bagi kaum bapak untuk
kepentingan pelaksanaan tugas panggilan sebagai orang percaya yang
lebih terorganisir dengan baik. Untuk itulah pada tanggal 23 Februari
1997 dibentuk wadah resmi bagi kaum bapak di GKP Jemaat Kampung
Tengah yang selanjutnya wadah organisasi dimaksud dinamai sebagai
Komisi Pria dengan susunan sebagai berikut :
Ketua : Levi Lampung
Sekretaris : Usman Tambunan
Bendahara : Elan Novatika Amban
Koordinator : Yulianto Tripujo

Mulanya Sewa Rumah
Untuk Pastori

Salah satu kebutuhan primer untuk mendukung dan juga menunjukan
kesiapan jemaat atas kehadiran pendeta jemaat yang tetap adalah
tersedianya tempat tinggal atau rumah dinas pendeta (Pastori) dalam
bentuk rumah yang permanen, baik hasil sewa ataupun milik sendiri.
Sejak GKP Jemaat Kampung Tengah menghadirkan pendeta tetap
memang upaya itu sudah dipenuhi. Salah satu buktinya adalah yang
ditempati oleh Pendeta Robby Erich Rumbayan bersama keluarga.
Namun jika mencermati jumlah anggota keluarga pendeta, kapasitas
tempat tinggal, perlengkapan yang ada dan juga kepentingan pelayanan
pendeta itu sendiri, pastori yang saat itu bersebelahan dengan gedung
Gereja memang dirasakan belum memadai.
Berangkat dari realitas pastori yang ada dan lokasinya berdampingan
dengan gedung Gereja yang konon kurang memadai, maka Majelis
Jemaat mengambil satu kebijakan untuk menyewa rumah, untuk tempat
tinggal pendeta yang kelak nantinya akan menjadi pendeta jemaat
pengganti Pendeta Robby Erich Rumbayan. Rencana itu akhirnya
terkabulkan bersamaan dengan hadirnya Pendeta Tri Hartono menjadi
pendeta jemaat GKP Jemaat Kampung Tengah pada tahun 1993 hingga

104 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

tahun 2003. Sejalan dengan keinginan yang ada dan sesuai dengan
rencana yang telah disepakati, maka untuk memperoleh pastori yang
lebih memadai, Majelis Jemaat menyewa sebuah rumah dari keluarga
Yoram Baiin yang berada di belakang Gereja. Rumah sewa itulah yang
selanjutnya dijadikan rumah tinggal pendeta atau pastori yang selama
sepuluh tahun ditempati oleh Pendeta Tri Hartono bersama keluarga.

Rencana Renovasi Gedung Gereja
Bangunan Tahun 1968


Pada tahun 1996, Majelis Jemaat membentuk satu kepanitiaan untuk
melakukan renovasi gedung Gereja yang merupakan bangunan tahun
1968. Panitia saat itu diketaui oleh Djoko Wijanto. Peletakan batu
pertama renovasi bangunan gedung Gereja yang dibangun tahun 1968
dilakukan oleh Pdt. Tri Hartono pada tahun 1996. Upaya renovasi
dimaksud dilatarbelakangi adanya pertambahan jumlah anggota
jemaat yang mengakibatkan kapasitas ruangan gedung Gereja tidak lagi
memadai terutama jika jemaat hadir dalam Kebaktian Minggu. Selain
itu, upaya renovasi dikarenakan usia bangunan yang ada secara fisik
cukup tua, sehingga kontruksi utamanya yang sebagian besar terbuat
dari kayu memang perlu untuk diremajakan.
Hal ini yang menjadi catatan penting ketika upaya renovasi ini hendak
diwujudkan, selain jemaat menghimpun dana, juga melakukan
kebaktian khusus dalam rangka mewujudkan kegiatan renovasi setiap
hari senin pagi. Dari segi pelaksanaan, kegiatan renovasi berjalan
lamban disebabkan adanya keterbatasan dana. Karena progresnya
belum memperlihatkan adanya kemajuan, akhirnya kegiatan renovasi
mengalami kevakuman dan terhenti. Kegiatan renovasi baru mulai
kembali pada tahun 2013 dengan rencana yang dikembangkan yakni
merombak seluruh bangunan yang ada dan mengganti dengan
bangunan baru dua lantai (di bagian atas ruang kebaktian dan di bagian
bawah ruang serba guna termasuk kantor Gereja). Sedangkan bangunan
gedung baru didirikan di atas luas tanah yang ada.

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 105

PPJ Pertama
Di GKP Jemaat Kampung Tengah

Dalam mewujudkan kebersamaan secara sinodal dan sebagai tindak
lanjut ketentuan Gereja Kristen Pasundan, pada tahun 2000, GKP Jemaat
Kampung Tengah membentuk dan menetapkan kelengkapan pelayanan
jemaat yang keberadaan selanjutnya menjadi mitra kerja Majelis Jemaat
dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya di bidang keuangan.
Kelengkapan pelayanan dimaksud secara kelembagaan dinamakan
Pengawas Perbendaharaan Jemaat (PPJ). Peneguhan atas personalia
yang dipercayakan, dilakukan dalam Kebaktian Jemaat hari Minggu 2
April 2000 yang dipimpin oleh Pendeta Jemaat Pdt. Tri Hartono, Sm.Th.
Struktur organisasi yang ditetapkan dan personalia yang diteguhkan
serta dipercayakan untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab
sebagai PPJ yang pertama di GKP Jermaat Kampung Tengah adalah :
Ketua : Yopi Inkiriwang
Sekretaris : Prevorin Mensosya Kumolontang
Anggota : Djoko Wijanto
Masa tugas yang diberikan selama 4 (empat) tahun yang berlangsung
sejak tahun 2000 hingga tahun 2004.

Akhirnya Terwujud Juga
Di Tahun 2000

Bersamaan dengan rencana renovasi gedung Gereja berlantai dua yang
mulai dilakukan, muncul juga harapan untuk memiliki pastori yang
baru yang lebih memadai. Hal ini dilatarbelakangi oleh keadaan pastori
lama yang akan dibongkar dan seluruh lahannya akan digunakan untuk
membangun gedung Gereja, dan juga karena pastori untuk pendeta
saat itu masih mengontrak di rumah salah satu keluarga Yoram Baiin
yang berada di belakang gedung Gereja.
Rencana renovasi gedung Gereja sudah dimulai dan ditandai dengan
peletakan batu pondasi pertama. Penghimpunan dana juga sudah
mulai berjalan, namun berjalan lamban. Dua keinginan tersebut yakni

106 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

merenovasi gedung Gereja dan menginginkan adanya pastori menjadi
kepentingan yang dilematis, yang mana yang harus didahulukan.
Mempertimbangkan kesempatan yang baik yang ada, karena diluar
dugaan ada penawaran sebidang tanah yang di atasnya berdiri sebuah
rumah semi permanen, yang ada di belakang Klinik Eka Dharma, oleh
keluarga Asikin Baiin, maka dengan mempertimbangkan kesempatan
yang baik dan kebutuhan Gereja akan rumah dinas pendeta (Pastori)
yang baru, serta Keluarga Asikin Baiin menawarkan secara khusus
hanya kepada Gereja untuk membeli tanah dan bangunan tersebut,
Majelis Jemaat merespons dengan suka cita dan memprioritaskan
untuk membeli tanah dan bangunan yang ditawarkan. Dari kebijakan
prioritas itulah, akhirnya terwujud keinginan jemaat untuk mendapat
pastori yang baru. Sebagai bukti pembelian tanah dan bangunan
dimaksud, pada tanggal 1 Mei 2000, Asikin Baiin (Pemilik) dan Ketua
serta Bendahara Majelis Jemaat Dadi Hudaya Baiin dan Elan Novatika
Amban (mewakili GKP Jemaat Kampung Tengah) melakukan transaksi
pembayaran harga tanah dan bangunan sebesar Rp 55.000.000,- (lima
puluh lima juta rupiah) di atas tanda bukti yang bermeterai.

Pastori setelah direnovasi tahun 2012 (Foto Pribadi) 107
Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

Pada tanggal 2 Mei 2000 kepemilikan pastori diperkuat dengan surat
pernyataan jual beli yang ditandatangani Bapak Asikin Baiin selaku
pemilik dan Pdt. Tri Hartono mewakili GKP Jemaat Kampung Tengah.
Sejak GKP Jemaat Kampung Tengah memiliki rumah Pastori yang lebih
memadai, pendeta yang pertama kali menempatinya adalah Pendeta
Daryatno. Setelah Pendeta Daryatno mengakhiri masa tugasnya, pada
tahun 2012 Pastori direnovasi. Dan selesai direnovasi tahun 2013,
Pastori ditempati oleh Pdt. Magyolin C. Tuasuun bersama keluarga.
Pada tahun 2019 melalui program Pendaftaran Tanah Sistem Lengkap
(PTSL), BPN mengeluarkan sertifikat Hak Milik No. 03831 untuk
Pastori dengan pinjam nama Dadi Hudaya Baiin yang saat itu sebagai
Majelis Jemaat Bidang Harlik.

Sertifikat Hak Miliki Gereja atas Tanah Pastori (Dokumen pribadi)
108 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

Dinamika Persekutuan
Antara 2004 - 2014

Dia Kembali
Jadi Pendeta Konsulen

Jabatan Pendeta Paulus Wiyono sebagai pendeta konsulen di GKP
Jemaat Kampung Tengah rupanya berlanjut untuk yang kedua kali. Kali
ini dilakukan di pasca berakhirnya masa tugas Pendeta Tri Hartono
yang pada tahun 2003 mutasi tugas ke GKP Jemaat Tangerang. Secara
definitif, masa konsulensi dilaksanakan tahun 2004. Di masa konsulensi
yang kedua, Pendeta Paulus Wiyono berhasil juga menghadirkan pendeta
jemaat bagi GKP Jemaat Kampung Tengah dengan ditahbiskannya
Vikaris Daryatno. Hal yang menjadi catatan penting bahwa tahun
2006 bagi Pendeta Paulus Wiyono adalah masa akhir dari tugasnya
sebagai pendeta konsulen kedua kali di GKP Jemaat Kampung Tengah.
Sedangkan bagi Pendeta Daryatno tahun 2006 adalah tahun mulainya
bertugas sebagai Pendeta tetap GKP Jemaat Kampung Tengah. Dari
semua itu, akhirnya tahun 2006 menjadi bukti yang pasti dimulainya
kembali penatalayanan GKP Jemaat Kampung Tengah berjalan dan
dikelola Majelis Jemaat bersama dengan pendeta jemaat.

Pdt. Paulus Wiyono, S.Th
Periode 1991-1993 & 2004-2006

Dua kali menerima Jabatan sebagai Pendeta
Konsulen di GKP Jemaat Kampung Tengah,
Foto Koleksi Keluarga tentu bukan tugas yang ringan. Selain membawa
amanat Majelis Sinode, juga dibayangi harapan
Jemaat. Tugas itu memang berat, tapi itu risiko
jabatan sebagai pendeta. Karena itu penugasan
pertama tahun 1991-1993 dan kedua tahun
2004-2006 semuanya diterima dengan sepenuh
hati.

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 109

Dalam perjalanannya, tugas paling berat menjadi Pendeta Konsulen
adalah menghadirkan pendeta bagi jemaat tempat berkonsulensi.
Namun Pdt. Paulus Wiyono tetap menunjukan semangat dan tanggung
jawabnya. Pendeta yang dinantikan jemaat pun dapat dihadirkan, baik
di masa konsulensi pertama maupun kedua. Menjadi Pendeta Konsulen
di GKP Jemaat Kampung Tengah, ternyata Pdt. Paulus Wijono tidak
saja dapat menghadirkan pendeta untuk jemaat, tapi dari jemaat GKP
Jemaat Kampung Tengah, Tuhan menghadirkan belahan jiwanya yaitu
Sdri. Ferlina Tamauka yang hingga sekarang menjadi isterinya dan
melahirkan satu orang anak laki-laki.

Kemitraan Dengan POUK Imanuel
Kopassus Berakhir

Perjalanan hidup di dunia ini memang tidak akan ada yang abadi. Dan
perjalanan kemitraan GKP Jemaat Kampung Tengah dengan POUK
Imanuel Kopassus Cijantung adalah salah satu buktinya. Pasalnya,
pada tahun 2004, kemitraan formal GKP Jemaat Kampung Tengah
dengan POUK Imanuel Kopassus Cijantung yang sudah terjalin
sekitar 14 tahun lamanya resmi berakhir. Hal ini terjadi bersamaan
ditetapkannya Pendeta Engkih Gandakusumah oleh Majelis Sinode
GKP menjadi pendeta konsulen POUK Imanuel Kopassus Cijantung.
Meskipun kemitraan formal berakhir, namun jalinan hubungan yang
sudah lama terjalin dengan baik tak serta merta membuat semua
berakhir. Kerjasama antara POUK Imanuel Kopassus dan GKP Jemaat
Kampung Tengah tetap berlangsung, baik dalam kegiatan persekutuan
dan pelayanan di lingkup Klasis, Sinode ataupun Oikumene termasuk
dalam aksi-aksi sosial kemasyarakatan.

110 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

Pdt. Daryatno, S.Si,
Pendeta GKP Jemaat Kampung Tengah
Periode 2006 – 2011

Pendeta Daryatno, adalah pendeta jemaat GKP
Jemaat Kampung Tengah yang dipersiapkan
mulai dari vikaris hingga ditahbiskan menjadi
pendeta. Pentahbisan kolektif yang dilakukan
di GKP Jemaat Garut tidak berarti
Pendeta Daryatno bukan pendeta yang
ditahbiskan di GKP Jemaat Kampung Tengah.
Pentahbisan kolektif hanya sistem yang
mempertimbangkan faktor kemudahan dari

Foto Koleksi Keluarga sisi penyelenggaraan dan faktor kemurahan
dari sisi pembiayaan. Namun berdasarkan hakekat pelaksanaan
penahbisan pendeta itu sendiri yakni adanya panggilan jemaat dan
kesepakatan tiga pihak yaitu Majelis Jemaat, Pendeta dan Majelis Sinode,
maka atas dasar hal tersebut, Pendeta “Dar” panggilan akrabnya adalah
pendeta jemaat GKP Jemaat Kampung yang pertama kali dihadirkan
di GKP Jemaat Kampung Tengah melalui proses sebagai vikaris hingga
penahbisannya sebagai pendeta. Selama berada di dalam pelayanannya,
GKP Jemaat Kampung Tengah mengalami perkembangan hubungan
yang baik dengan masyarakat. Disamping Pendeta sendiri suka
bergaul dengan berbagai kalangan, juga sang isteri yang berprofesi
sebagai dokter kesehatan, dengan sendirinya telah memperkuat jalinan
hubungan yang terus dibangun oleh pendeta Dar antara GKP Jemaat
Kampung Tengah dengan masyarakat. Jalinan hubungan yang dibangun
oleh isteri pendeta Dar (dr. Niken) tidak dapat dipungkiri semakin
terasa. Apalagi di Kampung Tengah kerap dilakukan pelayanan aksi
pengobatan gratis yang di dalamnya isteri pendeta Dar ikut serta
sebagai dokter yang memeriksa kesehatan masyarakat. Hal itu semakin
membuktikan betapa jalinan hubungan Gereja dan masyarakat benar-
benar terbina dengan baik. Pengakhiran masa tugas Pendeta Daryatno
di GKP Jemaat Kampung Tengah terjadi karena ditugaskan oleh Majelis
Sinode untuk studi lanjut S2 di Universitas Kristen Duta Wacana.

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 111

Pembentukan Komisi Musik

Dalam rangka memenuhi kebutuhan penatalayanan kebaktian dan
pembinaan jemaat di bidang musik dan nyanyian Gereja, Majelis Jemaat
GKP Jemaat Kampung Tengah pada tanggal 14 Mei 2000 menetapkan
pembentukan Komisi Musik. Diawal pembentukan susunan personalia
Komisi Musik yang pertama sebagai berikut :
Ketua : Sumarsono
Sekretaris : Dandy Sendayu Noron
Bendahara : Eka Aria Lampung
Pembina Teknis : Samskiren Tandi
Bugi Prima Niman
Koordinator : Purnama Lampung

Pembentukan Unit
Pelayanan Kedukaan

Padatanggal1April2007adalah tahunbersejarahjugayangmenandakan
adanya dinamika persekutuan. Di tahun ini GKP Jemaat Kampung
Tengah membentuk Unit Pelayanan Kedukaan. Pembentukan unit ini
melalui proses yang cukup panjang yaitu berlangsung sekitar 3 (tiga)
tahun. Suasana pro kontra atas rencana pembentukan unit ini terjadi
bukan saja di tubuh Majelis tapi juga dalam pandangan jemaat. Alasan
kontranya yang mengemuka saat itu adalah, adanya pandangan di
tengah jemaat bahwa membentuk unit Pelayanan Kedukaan tak ubahnya
menyiapkan kematian yang tidak diketahui waktunya. Dan pandangan
lainnya menganggap upaya itu mendahului kehendak Tuhan. Namun
setelah adanya peristiwa kematian yang dialami beberapa keluarga warga
jemaat, dan terlihat betapa banyak kesulitan yang dihadapi, terutama
dalam hal kesiapan dana yang minim sementara kebutuhannya cukup
besar. Kenyataan itu rupanya membuat warga jemaat dan juga Majelis
Jemaat menyadari, betapa pentingnya program Dana Kedukaan. Setelah
beberapa kali kejadian kematian yang memperlihatkan kesulitan di
dalamnya dan setelah melewati proses sosialisasi yang penuh kesabaran,
akhirnya jemaat menyetujui dan Majelis Jemaat pada tanggal 1 April

112 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

2007 mengesahkan Unit Pelayanan Kedukaan sekaligus personalia yang
melaksanakannya. Selain meresmikan unit dan personalianya, juga
disahkan dan ditetapkan aturan pelaksanaannya. Dari pelaksanaan
kegiatan ini selama sekitar 13 tahun diperoleh berbagai catatan untuk
perbaikan. Oleh karena itu, melalui beberapa kali peninjauan atas
pelaksanaan dan aturannya, akhirnya pada tahun 2021 Majelis Jemaat
menetapkan keputusan final bahwa Unit Pelayanan Kedukaan diubah
menjadi Komisi Khusus Pelayanan Kedukaan (KKPK) dengan aturan
dasar yang juga diperbaharui. Kekhususan Komisi ini karena beberapa
hal. Pertama, sebagai komisi karena secara organisasi komisi khusus
Pelayanan Kedukaan berada di bawah koordinasi Majelis Jemaat. Kedua,
memiliki aturan khusus tersendiri. Ketiga, Pengurusnya bermasa tugas
tiga tahun. Keempat, yang dikelola adalah sejumlah dana amanah yang
bersumber dari iuran dan uang pangkal anggota jemaat yang menjadi
peserta program dana kedukaan.
Susunan Pengurus Unit Pelayanan Kedukaan yang pertama atau
sekarang Komisi Khusus Pelayanan Kedukaan adalah sebagai berikut :
Ketua : Saria Saian
Sekretaris : Sadilah
Bendahara : Ribka Juliana Takoy
Anggota : Samekto dan B. Sembiring

Pembentukan Komisi Lansia

Masih di era 2004-2014, tepatnya tanggal 29 Mei 2009, GKP Jemaat
Kampung Tengah kembali diwarnai dinakmika persekutuan dengan
pembentukan kelengkapan pelayanan kategorial bagi kaum lansia.
Kelengkapan pelayanan ini dinamai Komisi Lansia. Latar belakang
pembentuknya selain wadah tersebut sangat dibutuhkan, juga
disebabkan keberadaan kaum lansia secara kuantitas jumlahnya cukup
banyak. Bahkan lebih dari itu, kelompok ini disadari betul sebagai
bagian integral jemaat yang juga memerlukan sentuhan pelayanan yang
sama seperti kaum dalam kategorial lainnya yang ada.
Susunan Komisi Lansia adalah sebagai berikut :
Ketua : Rachel Sanglir (Ibu Yonar Baiin)
Sekretaris : Elan Novatika Amban
Bendahara : Srie Untari (Ibu Dahlan Kusuma)
Koordinator : Noor Yantoro

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 113

Pembentukan Komisi Litbang

Kebutuhan perolehan data jemaat yang lebih terupdate dan tingkat
akurasi serta validitasnya yang tinggi, menjadi tuntutan yang tidak
dapat dihindari. Apalagi perkembangan, pertumbuhan dan penyebaran
keluarga yang menjadi anggota persekutuan ke beberapa wilayah, adalah
kenyataan yang terus terjadi. Sementara di balik realitas itu keberadaan
data keanggotaan yang dimiliki dirasakan belum terkelola sesuai dengan
harapan, baik melalui pencatatan buku besar keanggotaan maupun
peremajaannya. Keadaan data anggota jemaat yang belum dikelola
dengan baik, jika dibutuhkan terkadang menimbulkan kesulitan untuk
mengetahui secara pasti, baik dari sisi statusnya maupun domisili dan
jumlah anggota yang menjadi bagian keluarga.
Dengan diilatarbelakangi keinginan untuk mengelola data anggota
jemaat yang lebih baik guna mendukung penatalayanan jemaat, maka
dibentuklah kelengkapan pelayanan di dalam jemaat yang dapat
melaksanakan tugas-tugas berkaitan dengan pendataan anggota jemaat
yaitu Komisi Penelitian dan Pengembangan. Penetapan secara formal
dilakukan oleh Majelis Jemaat pada tanggal 31 Mei 2009, dengan
Susunan personalia Komisi untuk yang pertama sebagai berikut :
Ketua : Hendra Paskalis
Sekretaris : Leonard Adi Putra
Bendahara : Dini Yulianah
Anggota : Arisye Kristinawati
Suharta Baiin
Daniel Setiawan

114 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

Pembentukan Komisi Harlik Gereja

Renovasi dan pembangunan gedung Gereja yang dilakukan di atas
seluruh luas tanah yang ada dan dengan adanya pembongkaran
total untuk pelaksanaan rencana dimaksud, telah mengakibatkan
berpindahnya seluruh harta milik dan sekretariat Gereja ke rumah
milik Gereja yang ada di belakang klinik Eka Dharma yang rencananya
akan dijadikan Pastori. Proses pemindahan bukan saja dihadapkan
dengan persoalan tempat penampungannya yang terbatas, akan tetapi
terkendala juga dengan keberadaan tenaga-tenaga yang menjaga
dan mengelola keberadaan harta milik Gereja yang jumlahnya cukup
banyak. Pada awalnya yang menjaga dan mengelola harta milik Gereja
yang sebagian besar berupa peralatan rumah tangga, dilakukan oleh
personil dari Komisi dan kaum Wanita/Perempuan dibantu Ruly
Balerante. Sedangkan peralatan lainnya diluar peralatan rumah
tangga dipercayakan kepada pekerja Gereja di bidang kebersihan Heri
Sudarsono. Untuk harta milik yang dibutuhkan untuk mendukung
pelayanan jemaat terutama kebaktian jemaat dan kegiatan Sekretariat
dikelola langsung oleh Tego Suwarno yang saat itu menjadi pertugas
sekretariat Gereja.
Pengelolaaan yang dilakukan saat itu meski berjalan dan berada di
bawah koordinasi Majelis Jemaat, tetapi dirasakan kurang efektif, masih
jauh dari harapan terutama segi keamanan, keutuhan, kerapihan dan
kebersihannya. Oleh karena itu untuk mengantisipasi kemungkinan
buruk atas keberadaan harta milik Gereja, maka pengelolaannya
dipandang perlu dilakukan dengan baik oleh satu unit kerja tersendiri
dengan tugas dan tanggung jawab yang lebih jelas. Atas pertimbangan
tersebut, Majelis Jemaat menetapkan kelengkapan pelayanan untuk
tugas tersebut yaitu Komisi Harta Milik (Harlik) Gereja. Penetapannya
secara formal dilakukan pada tanggal 18 April 2010 dengan susunan
personalia untuk yang pertama sebagai berikut :
Ketua : Suli Setiadi Djaja Baiin
Sekretaris : Stephanus Eko Suyanto
Bendahara : Henri Sutanto Adi
Anggota : Iskandar Lukman, Fajar Yuli Kristanto,
Eliazar Ivan Titawanno, Herman Budi Kristanto,
Osborn Karamoy, Troy Hermawan

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 115

Pendeta Konsulen
Jadi Pendeta Jemaat

Sisi lain yang menandakan dinamika Jemaat GKP Jemaat Kampung
Tengah di era 2004-2014 adalah berakhirnya masa tugas Pendeta
Daryatno, karena mendapat tugas dari Majelis Sinode untuk studi
lanjut S2. Pengakhirannya efektif sejak tahun 2011. Dan bersamaan
dengan itu muncul dinamika baru di GKP Jemaat Kampung Tengah.
Pasalnya, pengganti pendeta belum ada, sementara penatalayanan
sangat membutuhkan pendeta.
Keadaan ini tidak berlangsung terlalu lama, karena sesuai permohonan
GKP Jemaat Kampung Tengah dan juga persetujuan Majelis Jemaat
GKP Jemaat Jati Asih dan kesediaan Pendeta yang bersangkutan,
maka Majelis Sinode menugaskan Pendeta Magyolin Carolina Tuasuun
yang saat itu menjadi pendeta GKP Jemaat Jati Asih menjadi Pendeta
Konsulen di GKP Jemaat Kampung Tengah. Peresmiannya dilakukan
pada tahun 2011 di GKP Jemaat Kampung Tengah.
Dalam perjalanannya, rupanya Tuhan berkehendak lain, Pendeta
Magyolin sebagai pendeta konsulen bukannya menghadirkan pendeta
di luar dirinya untuk jemaat GKP Jemaat Kampung Tengah, tapi
justru Majelis Jemaat dan Majelis Sinode sepakat menetapkan pendeta
Magyolin menjadi Pendeta GKP Jemaat Kampung Tengah. Atas
kesepakatan tersebut, dan juga karena masa tugas Pendeta Magyolin di
GKP Jati Asih akan berakhir, maka pada tahun 2012 Pendeta Magyolin
menerima dengan sepenuh hati dan sukacita untuk diresmikan menjadi
pendeta GKP Jemaat Kampung Tengah. Bagi GKP Jemaat Kampung
Tengah, peristiwa Pendeta Konsulen menjadi Pendeta Jemaat adalah hal
yang baru pertama kali terjadi. Ya, begitulah rencana Jemaat memang
bukan rencana Tuhan.

116 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

Pdt. Magyolin Carolina Tuasuun, S.Th
Pendeta Konsulen GKP Jemaat Kampung Tengah
Tahun 2011-2012

Jabatan sebagai Pendeta Konsulen Kampung
Tengah diberikan Majelis Sinode kepada
Pendeta Magyolin Carolina Tuasuun, terjadi
pada tahun 2011-2012. Saat menjadi pendeta
konsulen, ia adalah pendeta jemaat GKP Jati
Asih. Masa konsulensi yang dijalani memang
tidak berhasil menghadirkan seorang Pendeta
buat GKP Jemaat Kampung Tengah. Tapi

Foto koleksi keluarga di balik itu Tuhan berkehendak lain, masa
konsulensi justru menjadi pintu gerbang baginya untuk memasuki
jabatan sebagai pendeta di GKP Jemaat Kampung Tengah. Masa
konsulensi selesai, Majelis Jemaat dan Majelis Sinode sepakat, Pendeta
Magyolin pun menerima. Kesepakatan tiga pihak yang seharusnya
dilakukan untuk menghantar seorang pendeta diluar dirinya buat
GKP Jemaat Kampung Tengah, tapi ceritanya jadi lain justru dialah
yang dihantarnya masuk ke GKP Jemaat Kampung Tengah. Sebelum
ke GKP Jemaat Kampung Tengah, Pendeta Magyolin Carolina Tuasuun
mengakhiri masa tugasnya di GKP Jemaat Jati Asih pada tahun 2012

Pdt. Magyolin C. Tuasuun, M.Th,
Pendeta GKP Jemaat Kampung Tengah
Periode 2012-2018

Pendeta Magyolin Carolina Tuasuun, M.Th,
adalah Pendeta jemaat ketiga di GKP Jemaat
Kampung Tengah. Sebelum ke GKP Jemaat
Kampung Tengah, Pendeta Yolin panggilan
akrabnya, bertugas sebagai pendeta jemaat
di GKP Jati Asih. Selama pelayanannya, GKP
Jemaat Kampung Tengah mengalami perubahan
nuansa dalam mengikuti kebaktian. Salah

Foto koleksi keluarga satunya adalah lewat gaya pembacaan ayat-

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 117

ayat Alkitab dan pengucapan doa Bapa Kami dengan intonasi dan
aksen yang terasa amat baik dan benar serta penuh penghayatan. Proses
pembacaan Alkitab dan pengucapan Doa Bapa Kami yang dilakukan
Pendeta Magyolin, diakui menjadikan jemaat dapat mengerti walaupun
tidak mendalam atas maksud kalimat atau kata-kata doa yang diucapkan
dan ayat Alkitab yang dibacakan. Melalui pengucapan Doa Bapa Kami,
Jemaat dapat memahami bahwa mengucapkan doa itu bukan sekedar
hafal, tapi harus disertai dengan kesungguhan dan penuh penyerahan
diri dan kerendahan hati. Sentuhan kewanitaan dan keibuannya juga
menjadi bagian penting dari pelayanan yang dilakukan di jemaat.
Bagi lingkungan masyarakat, kehadiran Pendeta Magyolin juga sangat
dirasakan, keahlian bercerita atau berdongeng adalah sisi lain yang
disenangi masyarakat terutama anak-anak. Sabtu Ceria yang dimulai
pada 22 September 2012 dan menjadi media utama, adalah wadah
penting yang dimanfaatkan oleh Pendeta Magyolin untuk membangun
kesadaran anak-anak dan masyarakat dalam menjalani kehidupan
dengan prinsip toleransi. Lewat gerakan Sabtu ceria yang kemudian
menjadi Komunitas Anak Sabtu Ceria itu pula, kehadiran Pendeta
Magyolin yang tandem dengan Elang Darmawan sang suami, tidak
dapat dipungkiri selain mengangkat keberadaan Gereja, juga mampu
mengangkat eksistensi Kampung Tengah dan warganya menjadi begitu
terkenal termasuk ketua RT 01 Neng Herti dengan jargon toleransinya.
Minggu 18 Agustus 2018 adalah akhir masa tugas Pendeta Magyolin
sebagai Pendeta Jemaat di GKP Jemaat Kampung Tengah. Pengakhiran
dikarenakan mendapat tugas dari Majelis Sinode untuk studi lanjut S3
di STFT Jakarta.

118 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

Dinamika Persekutuan
Antara 2015 – 2021

Kegiatan Kebersamaan
Yang Beragam

Kurun waktu ini Jemaat GKP Jemaat Kampung Tengah banyak
diwarnai oleh kebersamaan dengan Pdt. Magyolin Carolina Tuasuun
yang menjadi pendeta jemaat. Ada banyak dinamika persekutuan yang
muncul dengan indikator yang beragam serta volume dan frekuensi
yang meningkat. Aktivitas kebersamaan GKP Jemaat Kampung
Tengah selain rutin di aras klasis, dan sinode juga dilakukan di aras
oikumene dan masyarakat. Di aras oikumene dilakukan melalui
kerja sama pelayanan Kaum Perempuan di Badan Kerjasama Wanita
Kristen Katolik Jakarta Timur (BKS-WKK), Kelompok Kerja Pelayanan
Lembaga Pemasyarakatan PGI (LPP-PGI) melalui Komisi Diakonia,
dan Wadah Kerjasama Pelayanan antar Umat Beragama (WKPUB)
Jakarta Timur, melalui Bidang Hubgermas. Demikian juga kerjasama
pelayanan antar Gereja diluar GKP yang berada dalam naungan PGI
dilakukan sesuai kebutuhan pelayanan jemaat. Kerja sama dengan
masyarakat, secara defakto GKP Jemaat Kampung Tengah aktif
memfasilitasi sarana dan tenaga pelayanan kesehatan bagi para lansia
dan Posyandu untuk lingkungan RT dan RW sekitar Gereja. Kerjasama
periodik secara kelembagaan dan personal juga dilakukan dengan
Polsek, Koramil dan RT, RW, Kelurahan Tengah hingga Kecamatan
Kramat Jati. Kebersamaan lainnya adalah kegiatan yang dilakoni
Pdt. Magyolin Carolina Tuasuun yang bertajuk Sabtu Ceria. Kegiatan
yang didukung Wahana Visi Indonesia (WVI) ini mampu membangun
jalinan hubungan yang kondusif antara Gereja dan masyarakat. Dari
kebersamaan yang dibangun di era itu, bukan saja menghasilkan
kedekatan hubungan secara personal, tapi juga secara kelembagaan.
Bahkan dari kebersamaan itu pula tercipta situasi dan kondisi yang
kondusif bagi pelaksanaan kegiatan Gereja.

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 119

Pencetakan Tata Kebaktian
Minggu I Hingga IV

Dalam melengkapi kebutuhan penatalayanan
jemaat yang terus mengalami perkembangan,
khususnya untuk mendukung pelaksanaan
kebaktian umum di jemaat GKP Jemaat
Kampung Tengah, Majelis Jemaat periode 2017-
2021 pada Januari tahun 2018 secara mandiri
mencetak dan menerbitkan buku himpunan
Tata Kebaktian Minggu I sampai dengan Minggu
IV. Pencetakan secara mandiri ini bisa dibilang
untuk yang pertama kali dalam perjalanan GKP

Jemaat Kampung Tengah. Materi tata kebaktian itu sendiri diperoleh
dari tata kebaktian yang ditetapkan Majelis Sinode yang belum
dibukukan secara baku dan biasanya dikirim ke jemaat hanya untuk
setiap minggu sebelum kebaktian minggu dilaksanakan. Terkait
himpunan tata kebaktian, memang pernah ada tapi itu diterbitkan dan
cetak oleh Majelis Sinode pada kurun waktu yang sudah sangat lama
sekitar tahun 70-an. Pertimbangan pencetakan buku himpunan tata
kebaktian tersebut agar warga jemaat mendapat panduan tertulis yang
sekaligus dapat mengetahui serta memahami bagaimana pola, model
dan juga materi yang ada yang menjadi tata urutan kebaktian jemaat.
Selain itu, dengan pencetakan himpunan tata kebaktian tersebut,
setidaknya ketika jemaat melihat dan membacanya akan terjadi
transformasi pengetahuan terkait unsur-unsur tata kebaktian dan narasi
yang kontekstual dengan tata kebaktian yang semuanya merupakan
satu kesatuan dalam perjalanan sebuah kebaktian. Di sampimg itu,
pencetakan tata kebaktian dimaksudkan sebagai bentuk lain dari upaya
pembinaan wawasan jemaat.

120 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

Kembali Tanpa Pendeta Jemaat

Mulai tangal 18 Agustus 2018, GKP Jemaat Kampung Tengah kembali
harus berjalan tanpa pendeta jemaat yang tetap. Pasalnya Pendeta
Magyolin pada tanggal tersebut mengakhiri masa pelayanannya di GKP
jemaat Kampung Tengah karena mendapat tugas dari Majelis Sinode
untuk studi lanjut S3 di STFT Jakata. Kekosongan dari pendeta jemaat
pasca pengakhiran Pdt. Magyolin Carolina Tuasuun pun terjadi di GKP
Jemaat Kampung Tengah dan keadaan ini berlangsung sekitar setahun
lamanya. Baru pada tahun 2019, Majelis Sinode atas permohonan Majelis
Jemaat kemudian menugaskan Pendeta Supriatno, M.Th, pendeta GKP
Jemaat Jatinegara menjadi pendeta konsulen di GKP Jemaat Kampung
Tengah. Tak cukup waktu satu tahun berkonsulensi. Akhirnya Majelis
Sinode menambah menjadi dua tahun. Hal ini karena situasi dan
kondisi yang sulit akibat pandemi Covid-19 yang menyebabkan
pembatasan berbagai kegiatan sosial termasuk kegiatan Gereja dan juga
kegiatan pendeta konsulen. Sekalipun pendeta konsulen belum berhasil
menghadirkan pendeta untuk jemaat GKP Jemaat Kampung Tengah,
tapi dari pelayanannya secara umum cukup memberikan sentuhan bagi
jemaat dan juga Majelis Jemaat.

Pdt. Supriatno, M.Th Pendeta Konsulen
GKP Jemaat Kampung Tengah Tahun 2019-2021

Jabatan sebagai Pendeta Konsulen GKP Jemaat
Kampung Tengah diberikan Majelis Sinode
kepada Pendeta Supriatno, pada tahun 2019-
2021. Jabatan pendeta konsulen selama dua
tahun diberikan karena ada faktor kesulitan
yang di hadapi yakni situasi dan kondisi
tahun 2019 hingga 2021 terjadi pandemi
Covid-19, yang dialami secara nasional
bahkan secara internasional di hampir

Foto koleksi keluarga seluruh dunia. Pandemi Covid-19 sangat jelas
berdampak pada pembatasan kegiatan dan gerakan sosial, di berbagai

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 121

aspek kehidupan individu, keluarga, masyarakat dan bangsa. Pembatasan
kegiatan dan gerakan inilah yang membuat salah satu kegiatan Gereja
termasuk kegiatan pendeta konsulen ikut pula terbatas. Pemberian
kesempatan dua kali, adalah salah satu bentuk pengharapan, semoga
di tahap yang kedua, kegiatan pendeta konsulen dapat bergerak lebih
leluasa. Namun kenyataan tidak bisa juga. Situasi sulit tetap dihadapi
pendeta konsulen. Salain masih berlangsungnya pandemi, ternyata
disebabkan juga oleh ketiadaan tenaga Pendeta yang siap mutasi dan
calon pendeta yang siap direkrut untuk GKP Jemaat Kampung Tengah.
Meski tugas utama konsulen belum membuahkan hasil, namun
pelayanan yang diberikan cukup memberi sentuhan jemaat. Bahkan
bagi Majelis Jemaat, wawasan yang dimilki pendeta konsulen dirasakan
telah menambah pengetahuan yang bermanfaat.Saat menjadi pendeta
konsulen, Pendeta Supriatno adalah pendeta jemaat GKP Jemaat
Jatinegara, yang konon berada di akhir masa kependetaannya di GKP
alias akan memasuki masa emeritasi pada tahun 2022

Pembentukan Komisi MIK

Kembali dinamika perjalanan organisatoris dan pelayanan di GKP
Jemaat Kampung Tengah diwarnai satu peristiwa bersejarah. Karena
pada tanggal 21 Mei 2021 GKP Jemaat Kampung Tengah kembali
membentuk kelengkapan organisasi dan pelayanan yaitu Komisi
Media Informasi dan Komunikasi (MIK). Komisi ini bertugas menata
kebutuhan audio visual untuk menopang pelaksanaan kegiatan jemaat.
Selain itu, Komisi ini dipercayakan pula untuk mengelola kegiatan
publikasi melalui sarana yang dimiliki termasuk lewat media sosial
dan juga channel Youtube terkait live streaming bagi kegiatan jemaat.
Kehadiran Komisi yang baru ini merupakan pengembangan dari Tim
Audio Visual yang selama ini berada di bawah koordinasi Komisi Harlik
dan juga menyesuaikan dengan sturktur organisasi di lingkungan GKP,
baik di aras Klasis maupun Sinode.

122 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

Susunan Komisi MIK yang pertama adalah sebagai berikut :
Ketua : Deden Yulianes Petrus
Sekretaris : Enrico Julio Benyto Siahaan
Bendahara : Callfine Deo Ferdian Kaarubi
Anggota : Herman Budhi Kristanto, Natasya Alpha Petrus
Sandra Margaretha, Dadi Hudaya Baiin,
Benaya FitoAdi, Nielsen christian Kansil,
Erwyndo Oksival
Koordinator : Pnt. Haris Noldy Suwuh

" LOGO KOMISI MIK"
adalah logo pertama kali yang dimiliki oleh komisi yang ada

di GKP Jemaat Kampung Tengah

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 123

GERAK JEMAAT
DAHULU DAN SEKARANG

Dalam Konteks Visi Dan Misi
Dahulu dan Sekarang

Indikator dinamika organisasi dan pelayanan GKP Jemaat Kampung
Tengah yang lainnya adalah masalah kuantitas anggota jemaat yang
dilayani. Pada awal perintisannya sekitar tahun 1960-1962 hanya
11 (sebelas) keluarga. Persekutuan yang dirintis pada masa sebelum
menjadi jemaat dewasa, boleh dibilang bergerak dalam visi untuk
membentuk jemaat yang mampu bersekutu, melayani dan bersaksi dalam
kemandirian dan kedewasaannya. Sedangkan misi kongkritnya berupa
perwujudan penatalayanan bagi anak-anak, keluarga dan pembinaan
hubungan baik dengan masyarakat dalam upaya membangun sarana
persekutuan tempat berkegiatan.
Saat ini sebagai jemaat dewasa dengan usia genap 50 tahun (4 April
1971 - 4 April 2021), GKP Jemaat Kampung Tengah melayani sebanyak
224 kepala keluarga atau sekitar 560 jiwa yang memiliki latar belakang
sosial budaya, pendidikan dan profesi yang lebih beragam dan tersebar
di Kampung Tengah, Condet, Kampung Gedong, Kampung Makasar,
Kramat Jati, Pinang Ranti, Ciracas, Jatiwaringin, Kampung Sawah,
Kranggan, hingga Bekasi dan Tangerang.
GKP Jemaat Kampung Tengah menyadari keberadaannya, bahwa sebagai
bagian dari GKP, saat ini dan kedepannya tetap terhisap dalam gerak
kebersamaan, baik secara lokal, klasikal, sinodal, oikumenikal, sosial
maupun nasional dan internasional. Oleh karena itu, dalam menata

124 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

kehidupan bergereja dan berjemaat, berorientasi pada visi bersama yang
menjadi komitmen GKP yaitu Menjadi Gereja Bagi Sesama. Sedangkan
dalam mewujudkan visi tersebut, dilakukan melalui implementasi
misi berupa proses pelaksanaan tugas panggilannya yaitu bersekutu,
bersaksi dan melayani dengan mengembangkan Tri Kemandirian
GKP, untuk menyatakan kasih, sukacita, kebenaran, keadilan dan
damai sejahtera kepada sesama di tengah kehidupan. Perwujudan visi
melalui implementasi misi yang tercermin dalam pelaksanaan tugas
panggilannya, diselaraskan dengan konteks kehadirannya di tengah
perkembangan jaman dan realitas yang dihadapinya.

Dalam Konteks
Kemandiran Saat ini

GKP Jemaat Kampung Tengah saat ini menyadari bahwa keberadaannya
sangat memiliki korelasi dengan substansi Tri Kemandirian GKP yaitu
kemandirian di bidang Teologi, di bidang Daya dan di bidang Dana.

1. Dalam Konteks Kemandirian Teologi.
Dalam konteks ini warga GKP Jemaat Kampung Tengah secara
menyeluruh mendapat pembinaan lewat berbagai kegiatan, baik
bersifat umum maupun khusus dan juga gabungan keduanya. Bersifat
umum berarti pembinaan yang diperuntukan secara terbuka untuk
siapa saja tanpa ada batasan dari sisi usia, jenis kelamin ataupun status
lainnya. Pembinaan umum dalam rangka kemandirian teologi ini
di antaranya adalah Kebaktian Minggu, Kebaktian Tengah Minggu,
Kebaktian Syukur, Kebaktian Kedukaan dan Kebaktian Padang.
Bersifat khusus berarti pembinaan yang diperuntukan bagi jemaat
dengan memberlakukan batasan tertentu, baik dari segi usia, jenis
kelamin ataupun status lainnya. Pembinaan khusus ini di antaranya
adalah, Kebaktian Kategorial, Pemahaman Alkitab, Katekisasi,
Kunjungan Pastoral, Penggembalaan, Kebaktian Kedukaan dan
Kebaktian Syukur Keluarga.
Bersifat gabungan umum dan khusus berarti pembinaan diberikan
baik dalam momen yang umum tapi di dalamnya juga ada momen
yang khusus.

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 125

Pembinaan gabungan umum dan khusus di antaranya adalah
Kebaktian Minggu dan Sakramen Baptisan Kudus, Kebaktian
Minggu dan Sakramen Perjamuan Kudus serta Kebaktian Minggu
dan Pengakuan Iman.
Narasumber pembinaan untuk kemandirian teologi, di jemaat GKP
Jemaat Kampung Tengah bertumpu pada Pendeta dan Majelis Jemaat.
Sedangkan sumber utama materi pembinaan kemandirian teologi
pada Alkitab dan ajaran yang diberlakukan di lingkungan GKP. Untuk
saat ini diera keterbukaan dan digital, tidak tertutup kemungkinan
pembinaan kemandirian teologi diperoleh dari berbagai akses media
sosial yang berkembang begitu pesat dan juga sulit di filter manfaat
dan kebenarannya, sehingga memiliki tingkat risiko tersendiri bagi
perkembangan dan pertumbuhan kemandirian teologi warga jemaat.
2. Dalam Konteks Kemandirian Daya
Dalam konteks ini, keberadaan sumber daya manusia yang ada di GKP
Jemaat Kampung Tengah, secara kategorial dapat diklasifikasikan ke
dalam empat kelompok besar yaitu :
a. Kelompok anak-anak
b. Kelompok remaja/pemuda
c. Kelompok orang tua (Ibu/Bapak)
d. Kelompok lansia (Kakek/Nenek).
Dari latar belakang, juga sangat beragam, baik tingkat pendidikan,
etnis budaya maupun status sosialnya. Dari segi pendidikan mulai
dari tingkat menengah hingga perguruan tinggi. Dari segi etnis
budaya boleh dibilang plural (bineka). Dari segi status sosial ada
pegawai negeri, swasta, TNI/Polri, Pensiunan, wiraswasta, wirausaha,
pelajar dan mahasiswa.
Berdasarkan data yang ada, saat ini jumlah Jemaat sebanyak 224 KK
atau sekitar 560 Jiwa. Di dalam jumlah itulah terhimpun di dalamnya
empat kelompok sebagaimana disebut di atas yaitu, anak-anak,
remaja/pemuda, orang tua dan lansia.
GKP Jemaat Kampung Tengah yang sejak tahun 1990-an
berkomitmen memberikan kesempatan kepada potensi orang muda,
maka kemandirian dayanya bertumpu pada keberadaan atau potensi

126 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah

kaum mudanya. Hal yang menjadi pertimbangan adalah proses
regenerasi di dalam jemaat harus berjalan, karena kaum tua secara
perlahan tapi pasti dan secara alami pada waktunya tidak akan dapat
lagi melaksanakan tugas karena banyak keterbatasan.
Berdasarkan komitmen itulah, Kemandirian Daya di internal
GKP Jemaat Kampung terutama untuk kepentingan regenerasi
kepemimpinan jemaat, terfokus kepada potensi orang muda.
Karena itu sejak tahun 1990-an GKP Jemaat Kampung Tengah telah
membatasi usia yang yang dapat dipilih menjadi Majelis jemaat yaitu
maksimal berusia 60 tahun saat dipilih. Di atas itu tidak dapat dipilih.
Dari aspek realitasnya, memang proses regenerasi bukan hal yang
mudah, karena gaya hidup orang saat ini sangat banyak dipengaruhi
oleh faktor-faktor eksternal yang terkadang lebih menarik dan sesuai
dengan kebutuhannya, baik dalam aspek pergaulan, aspek komunikasi,
aspek pekerjaan, aspek finansial dan juga aspek sosial lainnya. Belum
lagi gaya hidup yang bersifat individualisme, sekularisme, hedonisme
dan materialisme yang begitu kuat mengusai kehidupan saat ini.
Aspek dan gaya hidup sebagaimana disebut itulah yang kini menjadi
tantangan berat dalam upaya mewujudkan kemandirian daya di
dalam jemaat.

3. Dalam Konteks Kemandirian Dana
Dalam konteks ini, GKP Jemaat Kampung Tengah sekalipun secara
sinodal masuk dalam kategori A, hal itu bukan otomatis memiliki
kemampuan yang sudah mencukupi untuk melaksanakan kegiatan
internalnya dan juga eksternalnya. Upaya mewujudkan kemandirian
dana, sejak dulu hingga saat ini lebih diutamakan pada kesadaran
memberi persembahan dan ucapan syukur di kalangan warga
jemaat. Oleh karena itu, upaya GKP Jemaat Kampung Tengah dalam
menumbuhkan kemandirian dana adalah upaya menumbuhkan
kesadaran jemaat memberi persembahan ataupun mengucap syukur.
Dalam keberadaan jemaat yang mayoritas tergolong menengah
ke bawah, maka untuk mencapai kemandirian dana yang optimal
memang diperlukan waktu dan kesabaran, karena pertumbuhan
kesadaran jemaat untuk memberi dan mengucap syukur juga

Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah 127

membutuhkan waktu yang lama dan proses yang panjang. Upaya
yang dilakukan memang tidak mudah. Apalagi saat ini di mana gaya
hidup individualisme, sekularisme, hedonisme dan materialisme
begitu kuat pengaruhnya.
Karena GKP Jemaat Kampung Tengah bertumpu pada kesadaran
jemaat untuk memberi dan mengucap syukur, maka kamandirian
dana di internal jemaat, sekalipun berjalan namun realitas tidak
secepat atau semulus yang diharapkan.
Sekali lagi ditekankan bahwa membangun kesadaran untuk memberi
dan mengucapkan syukur, harus disertai kesabaran namun ketekunan
mengingat pertumbuhan kesadaran untuk memberi dan mengucap
syukur di kalangan warga jemaat membutuhkan waktu dan proses
yang cukup panjang.

128 Dari Satu Menjadi Sebelas~Tumbuh GKP Jemaat Kampung Tengah


Click to View FlipBook Version