The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

BISMILLAH MODUL TPS UTBK GABUNGAN NEW (1)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Zulhijrah Zahara, 2020-10-06 23:27:20

E- UTBK - Pangsoed 2020

BISMILLAH MODUL TPS UTBK GABUNGAN NEW (1)

KATA PENGANTAR

Kami memanjatkan puji dan syukur kehadirat Alloh subhanahuwata’ala atas terbitnya
buku Pendalaman Materi Tes Potensi Skolastik Ujian Tulis Berbasis Komputer ( UTBK ) ini.
Buku ini memuat materi Pemahaman Bacaan dan Menulis, Pengetahuan Kuantitatif,
Penalaran Umum serta Pengetahuan dan Pemahaman Umum.
Kami mengucapkan terima kasih kepada:

1. Drs.H. Agus Riyanta, M.Pd selaku kepala Sekolah SMA Islam PB Soedirman Bekasi,
yang sudah mengijinkan dan memotivasi kami untuk menyusun buku ini.

2. Fatimah Fatmawati,S.Pd, penyusun materi Pengetahuan Kuantitatif
3. Jamaludin,S.Pd, penyusun materi Pemahaman Bacaan dan Menulis
4. Atif Solehudin, S.Pd, penyusun materi Pengetahuan dan Pemahaman Umum Bahasa

Indonesia
5. Zulhijrah Zahara,S.S, penyusun materi Pengetahuan dan Pemahaman Umum Bahasa

Inggris sekaligus editor yang sudah merangkai semua materi menjadi e-book PM
UTBK
6. Tim Kurikulum SMA Islam PB Soedriman I Bekasi
Kelebihan buku ini adalah:
• Penjabaran materi disampaikan secara sistematis dengan bahasa sederhana sehingga
mudah dipahami dan diingat.
• Soal-soal evaluasi untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami materi yang
sudah diajarkan.
Semoga dengan kelebihan tersebut di atas, buku ini dapat menjadi sumber pembelajaran bagi
siswa, guru dan orang tua.
Kami menyadari bahwa buku ini belum sempurna, Oleh karena itu kami senantiasa menerima
kritik, saran yang bersifat membangun buku ini di masa mendatang.

Wakil Kurikulum SMA Islam PB Soedirman Kota Bekasi,
Muhroni,S.Si

ii

MODUL TPS UTBK

PEMAHAMAN BACAAN
DAN MENULIS

Disusun Oleh :
Jamaludin, S.Pd

SELEMBAR PEMBUKA
i|SELEMBAR PEMBUKA

ANALISIS MATERI UTBK PEMAHAMAN BACAAN & MENULIS

NO LINGKUP MATERI INDIKATOR
Membaca Menentukan unsur-unsur paragraf, ide pokok, kalimat
Memahami isi dan utama, kalimat penjelas.
bagian-bagian paragraf Menentukan isi paragraf: fakta, opini,
suatu artikel teks pernyataan/jawaban pernyataan sesuai isi, tujuan
nonsastra, tajuk rencana, penulis, arti kata/istilah, isi, biografi.
laporan, karya ilmiah, Menentukan opini penulis dan pihak yang dituju
teks pidato, biografi dalam tajuk rencana/editorial.
Menentukan isi dan simpulan grafik, diagram atau
1 tokoh, serta berbagai tabel.
bentuk dan jenis paragraf Menentukan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik
nonsastra; sastra melayu klasik/hikayat.
Memahami teks sastra Menentukan unsur-unsur instrinsik/ekstrinsik novel/
berbentuk puisi lama, cerpen/drama.
puisi baru, hikayat/sastra Menentukan unsur-unsur instrinsik puisi
Melayu klasik, cerpen, Menentukan isi puisi la,ma, pantun, gurindam.
novel, dan drama. Menulis paragraf padu.
Melengkapi berbagai bentuk dan jenis paragraf
Menulis dengan kalimat yang padu.
Mengungkapkan pikiran, Melengkapi paragraf dengan kata baku, kata serapan,
gagasan, pendapat, kata berimbuhan, kata ulang, ungkapan, peribahasa.
perasaan, dan informasi Menyunting penggunaan
dalam berbagai jenis dan kalimat/frasa/konjungsi/pronomina/istilah dalam
berntuk paragraf, teks paragraf.
pidato, surat resmi, dan Melengkapi teks pidato.
karya ilmiah dengan Menulis surat resmi.
mempertimbangkan Menyunting kalimat dalam surat resmi
kesesuaian isi dengan Menulis judul sesuai PUEBI.
2 konteks, kepadanan, Menulis karya ilmiah (latar belakang dan rumusan
kepaduan, ketepatan masalah).
kalimat, penggunaan Melengkapi larik puisi lama/baru (dengan kata
bahasa, diksi, struktur kias/berlambang/berima/bermajas).
kalimat, dan ejaan; Melengkapi dialog drama.
Mengungkapkan pikiran Menentukan kalimat resensi.
dan gagasan dalam Menentukan kalimat kritik.
bentuk puisi, cerpen, Menentukan esai.
novel, drama, kritik, esai,
dan resensi.

ii | M A T E R I U T B K

1|RANGKUMAN MATERI

2|RANGKUMAN MATERI

3|RANGKUMAN MATERI

4|RANGKUMAN MATERI

5|RANGKUMAN MATERI

6|RANGKUMAN MATERI

7|RANGKUMAN MATERI

8|RANGKUMAN MATERI

9|RANGKUMAN MATERI

10 | R A N G K U M A N M A T E R I

11 | R A N G K U M A N M A T E R I

12 | R A N G K U M A N M A T E R I

13 | R A N G K U M A N M A T E R I

14 | R A N G K U M A N M A T E R I

15 | R A N G K U M A N M A T E R I

16 | R A N G K U M A N M A T E R I

17 | R A N G K U M A N M A T E R I

18 | R A N G K U M A N M A T E R I

19 | R A N G K U M A N M A T E R I

20 | R A N G K U M A N M A T E R I

21 | R A N G K U M A N M A T E R I

22 | R A N G K U M A N M A T E R I

23 | R A N G K U M A N M A T E R I

24 | R A N G K U M A N M A T E R I

25 | R A N G K U M A N M A T E R I

26 | R A N G K U M A N M A T E R I

27 | R A N G K U M A N M A T E R I

28 | R A N G K U M A N M A T E R I

29 | R A N G K U M A N M A T E R I

30 | R A N G K U M A N M A T E R I

31 | R A N G K U M A N M A T E R I

32 | R A N G K U M A N M A T E R I

33 | R A N G K U M A N M A T E R I

34 | R A N G K U M A N M A T E R I

35 | R A N G K U M A N M A T E R I

36 | R A N G K U M A N M A T E R I

37 | R A N G K U M A N M A T E R I

38 | R A N G K U M A N M A T E R I

39 | R A N G K U M A N M A T E R I

NOVEL, CERPEN, DAN PUISI

A. NOVEL DAN CERPEN
- Novel adalah karya imajinatif dalam bentuk prosa yang mengisahkan kehidupan seorang atau

beberapa tokoh.
- Cerpen adalah karangan pendek berbentuk prosa yang menyajikan peristiwa yang cermat dan jelas,

berfokus pada satu aspek cerita, dan isi ceritanya logis dengan kehidupan nyata.
1. Perbedaan Novel dan Cerpen

a. Dilihat dari segi cerita, novel mengemukakan cerita dengan lebih rinci dan detail (alur
sederhana), dengan permasalahan yang kompleks sehingga alur menjadi lebih panjang yang
ditandai dengan perubahan nasib pada diri tokoh, sedangkan cerpen mengemukakan cerita
dengan lebih ringkas.

b. Novel memungkinkan munculnya banyak tokoh dalam berbagai karakter, sedangkan dalam
cerpen tokoh yang dimunculkan hanya beberapa orang saja.

c. Tema dalam novel lebih kompleks, sedangkan pada cerpen tema relatif sederhana.
d. Latar dalam novel dilukiskan secara rinci, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih

jelas, konkret dan pasti. Sebaliknya, cerpen tidak memerlukan detail-detail khusus tentang
keadaan latar.
2. Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel dan Cerpen
a. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra dan secara langsung ikut serta
membangun cerita.
b. Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra dan secara tidak langsung
mempengaruhi bangunan karya sastra.

a. Unsur Intrinsik Novel dan Cerpen

 Tema
Tema adalah gagasan atau amanat utama yang menjalin struktur isi cerita. Tema juga dapat
diungkapkan sebagai dasar cerita atau gagasan dasar umum novel dan cerpen. Tema biasanya
menyangkut masalah kehidupan, seperti cinta, kecemasan, dendam, religius, harga diri,
kesetiakawanan, keadilan, kebenaran, dan sebagainya.

 Alur
Alur merupakan cerita yang berisi urutan kejadian dan setiap kejadian dihubungkan secara sebab
akibat.
Berdasarkan jumlah pengembangan ceritanya, alur dibedakan menjadi berikut.
1) Alur tunggal, yaitu alur yang hanya mempunyai satu pengembangan cerita.
2) Alur ganda, yaitu alur yang mempunyai beberapa pengembangan cerita.
3) Berdasarkan kepaduannya, alur dibedakan menjadi berikut.
4) Alur erat, yaitu alur yang mempunyai hubungan padu antara peristiwa yang satu dengan yang
lain.
5) Alur longgar, yaitu alur yang hubungan antar- peristiwa di dalamnya terjalin renggang.

 Latar atau setting
- Latar atau setting mengacu pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial
tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.
- Latar dalam karya fiksi, seperti novel dan cerpen, tidak terbatas pada penempatan lokasi-
lokasi tertentu yang bersifat fisik saja, tetapi juga berwujud tata cara, adat istiadat,
kepercayaan, dan nilai-nilai yang berlaku di tempat yang bersangkutan.

40 | R A N G K U M A N M A T E R I

 Penokohan
Penokohan adalah perlukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam
sebuah cerita.
Tokoh dilukiskan dengan teknik langsung dan tidak langsung.
- Teknik langsung diungkapkan oleh pengarang dengan memberikan deskripsi, uraian, atau
penjelasan secara langsung, seperti penjelasan tentang sifat, tingkah laku, dan ciri fisik tokoh.
- Teknik tidak langsung diungkapkan oleh pengarang melalui cakapan yang dilakukan oleh
tokoh, tingkah laku tokoh, pikiran dan perasaan tokoh, reaksi tokoh terhadap suatu kejadian,
dan reaksi tokoh lain.

 Sudut pandang
Sudut pandang adalah posisi pengarang dalam membawakan cerita atau posisi peristiwa dan
tindakan. Sudut pandang dapat dibedakan menjadi dua.
- Sudut pandang orang pertama menempatkan pengarang sebagai seseorang yang terlibat di
dalam cerita.
- Sudut pandang orang ketiga menempatkan pengarang sebagai seseorang yang berada di luar
cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama dan kata gantinya.

-

 Gaya
Gaya menyangkut cara khas pengarang dalam mengungkapkan ekspresi berceritanya dalam
novel atau cerpen yang ia tulis. Gaya tersebut menyangkut bagaimana seorang pengarang
memilih tema, persoalan, meninjau persoalan, dan menceritakannya dalam sebuah novel atau
cerpen. Dengan kata lain, gaya berkaitan dengan nada cerita dan cara pemakaian bahasa yang
spesifik oleh pengarang.

 Amanat
Amanat merupakan sesuatu yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca,
merupakan makna yang terkandung dalam sebuah karya dan disarankan melalui cerita.

b. Unsur Ekstrinsik Novel dan Cerpen
Unsur ekstrinsik yang terdapat dalam sebuah karya sastra antara lain berupa sikap, keyakinan, dan
pan-dangan hidup pengarang yang mempengaruhi karya yang ditulisnya. Selain itu, terdapat pula
unsur ekstrinsik berupa keadaan lingkungan pengarang, seperti ekonomi, politik, dan sosial.

3. Nilai Moral Novel dan Cerpen
- Moral, akhlak, atau budi pekerti mengandung dua pengertian, yaitu: ajaran baik buruk yang
diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; ajaran kesusilaan yang
terungkap dari suatu cerita.
- Karya sastra tidak hanya berisi cerita, tetapi di dalamnya terkandung berbagai ajaran kesusilaan,
ajaran tentang bagaimana harus berbuat dan bersikap, baik kepada diri sendiri, sesama manusia,
binatang, alam, maupun terhadap Tuhan.

B. PUISI

Puisi merupakan jenis karya sastra (karangan terikat) yang biasa diungkapkan dengan bahasa
yang padat, menekankan pemakaian kata konotatif yang penuh dengan perbandingan, asosiasi,
perlambang, kiasan, dan sering bermakna ganda (ambigu), serta memerlukan kemerduan
pengungkapan.

1. Unsur Puisi

41 | R A N G K U M A N M A T E R I

a. Unsur Bentuk
Unsur bentuk meliputi hal-hal berikut.
 Bunyi
Unsur bunyi dalam puisi berperan agar puisi tersebut merdu ketika dibaca dan didengarkan.
Unsur bunyi terdiri atas rima dan irama.

1) Rima
Rima disebut juga sajak, yaitu bunyi yang berselang atau berulang, baik di dalam (tengah)
maupun di akhir baris atau larik.

 Berdasarkan perulangan bunyi dalam puisi tersebut.
a) Rima sempurna adalah perulangan bunyi yang timbul sebagai akibat ulangan kata tertentu.
b) Rima paruh merupakan perulangan bunyi yang terdapat pada sebagian baris dan kata-kata
tertentu.
c) Aliterasi adalah perulangan bunyi konsonan.
d) Asonansi adalah perulangan bunyi vokal yang terdapat pada baris-baris puisi.

 Berdasarkan posisi kata yang mendukungnya.
a) Rima awal merupakan perulangan bunyi yang terdapat pada tiap awal baris.
b) Rima tengah mengalami perulangan bunyi pada tengah baris.
c) Rima akhir mengalami perulangan bunyi pada akhir baris.

 Berdasarkan hubungan antarbaris dalam tiap bait.
a) Rima merata (terus) ditandai dengan adanya perulangan bunyi a-a-a-a pada semua akhir
baris.
b) Rima berselang atau rima silang (a-b-a-b).
c) Rima berangkai (a-a-b-b).
d) Rima berpeluk (a-b-b-a).

2) Irama
Irama adalah paduan yang menimbulkan unsur musikalitas, baik berupa alunan keras-lunak,
tinggi-rendah, panjang-pendek, dan kuat-lemah, yang mampu menimbulkan kemerduan, kesan
suasana dan makna tertentu. Dengan kata lain, irama dalam sebuah puisi berfungsi mendukung
makna dan menimbulkan suasana tertentu.

Berdasarkan suasana yang ditimbulkan, dibedakan adanya bunyi euphony, cacophony, dan
anomatope.
- Euphony: bunyi yang menimbulkan suasana menyenangkan.
- Cacophony: bunyi yang menimbulkan suasana muram dan tidak menyenangkan.
- Anomatope: bunyi berupa peniruan atas bunyi-bunyi yang terdapat di alam, seperti bunyi

angin, laut, dan binatang.

 Diksi
Diksi adalah pilihan kata atau frase dalam karya sastra.

 Bahasa Kias
Bahasa kias merupakan penyimpangan dari pemakaian bahasa yang biasa, yang makna katanya
atau rangkaian katanya digunakan dengan tujuan mencapai efek tertentu. Bahasa kias dalam puisi
dibedakan menjadi beberapa jenis.

1) Personifikasi: bentuk kiasan yang me- nyamakan benda dengan manusia.
2) Metafora: bentuk kiasan yang menya- takan sesuatu sebagai hal yang sebanding dengan hal lain

yang sesungguhnya tidak sama.
3) Perumpamaan (simile): kiasan yang me- nyamakan satu hal dengan hal lain dengan menggunakan

kata-kata pembanding se- perti bagai, laksana, seperti, seumpama, dan lain-lain.
4) Metonimia diartikan sebagai pengertian yang satu digunakan sebagai pengertian lain yang

berdekatan.

42 | R A N G K U M A N M A T E R I

5) Sinekdok dibedakan menjadi sinekdok pars prototo (sebagian untuk mewakili keseluruhan) dan
sinekdok totem proparte (keseluruhan untuk menyebut atau mewakili sebagian).

6) Alegori: cerita kiasan atau lukisan yang mengiaskan hal lain, alegori merupakan perluasan dari
metafora.

 Citraan
Citraan merupakan gambaran-gambaran angan dalam puisi yang ditimbulkan melalui kata-kata.
Citraan dibedakan menjadi citraan penglihatan, pendengaran, rabaan, pengecapan, penciuman,
dan gerak. Misalnya, citra pengecapan dapat dirasakan pada kutipan puisi: ingin kuhalau hidup
yang terasa pahit tembakau, berganti manisnya madu….

 Bentuk Visual
Bentuk visual meliputi penggunaan tipografi dan susunan baris. Tipografi berfungsi membuat
penampilan puisi menjadi artistik dan memberikan nuansa makna dan nuansa tertentu. Baris dalam
puisi disebut juga larik. Beberapa contoh bentuk tipografi puisi adalah sebagai berikut.

1) Bentuk seperti prosa
Kalau ada daham-daham terdengar di malam hari, aku tahu itu saudara kembarku. Ia menanti
aku di pekarangan, karena aku melarang ia masuk.
Pernah ia begitu rindu kepadaku dan tiba-tiba hadir di tengah keluargaku dengan tamu-tamu
yang sedang berpesta merayakan hari lahirku. Mereka semua ketakutan melihat ia duduk di
dalam, karena muka saudara kembarku sangat buruk. Aku malu dan minta ia menunggu di luar
kalau mau bertemu dengan aku.
(Saudara Kembarku) Subagio Sastrowardoyo

2) Bentuk konvensional
hatiku angin
mengembara
mengalir
terhirup nafasmu

hatiku angin
menyebar
kosong tak terlihat
mencemari nadi
meracun darah
hingga kaku
bagai patung diriku

(Hatiku Angin) Evi Idawati

3) Bentuk zigzag
Contoh puisi: (Tragedi Winka & Sihka) Sutardji Calzoum Bachri

2. Unsur Makna
Berbeda dengan unsur bentuk yang dapat diamati secara visual, makna merupakan unsur puisi
yang hanya bisa ditangkap melalui kepekaan batin dan daya kritis pembaca. Secara umum, makna
puisi terdiri atas perasaan (sense), pokok persoalan (subject matter), sikap penyair (feeling), dan
nada (tone).

 Perasaan (sense)
Perasaan (sense) merupakan gambaran dunia yang diciptakan oleh penyair.

43 | R A N G K U M A N M A T E R I

 Pokok Persoalan (subject matter)
Pokok persoalan (subject matter) merupakan rincian perasaan dalam bentuk satuan-satuan
yang problematik.

 Sikap Penyair (feeling)
Sikap penyair (feeling) merupakan unsur makna yang terkandung di dalam puisi yang
berhubungan dengan pendirian penyair terhadap pokok-pokok persoalan yang dihadapinya.

 Nada (tone)
Nada (tone) merupakan sikap pengarang terhadap pembaca. Sikap penyair kepada pembaca
dapat berupa sikap menasihati, menyindir, masa bodoh, memberikan sebuah solusi, dan
sebagainya.

2.Jenis Puisi

a. Puisi Lama
Puisi lama merupakan puisi rakyat yang tidak dikenal nama pengarangnya dan sangat terikat
oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima. Puisi lama
terbagi atas pantun, syair, dan gurindam.
 Pantun
Ciri-ciri pantun:
1) Setiap bait terdiri atas empat baris.
2) Setiap baris atau larik terdiri atas empat kata dan 8-12 suku kata.
3) Baris pertama dan kedua berisi kiasan yang disebut sampiran, baris ketiga dan keempat
merupakan isi atau maksud yang sesungguhnya.
4) Pola rima pantun adalah a-b-a-b.
5) Isi pantun berupa curahan perasaan.

Berdasarkan jumlah larik atau baris, pantun dibedakan menjadi berikut.
1) Pantun biasa, yaitu pantun yang terdiri atas empat baris.
2) Karmina atau pantun kilat, yaitu pantun yang terdiri atas dua baris (pantun dua seuntai).
3) Talibun, yaitu pantun yang tiap bait terdiri atas 6, 8, atau 10 baris.
4) Pantun berkait atau pantun rantai atau seloka.

Berdasarkan isinya, pantun dapat dibedakan menjadi pantun nasib, pantun adat, pantun agama,
pantun cinta kasih, pantun anak, pantun muda-mudi, pantun nasihat, pantun teka-teki, dan pantun
jenaka.

 Syair
Syair merupakan bentuk puisi lama yang berasal dari Arab. Syair tidak hanya berisi cerita atau
kisah tetapi berisi nasihat, ajaran ilmu, kemasyarakatan, adat, dan sebagainya.

Ciri-ciri syair yaitu sebagai berikut.

1) Setiap bait terdiri atas empat baris.
2) Setiap baris merupakan kalimat lengkap yang terdiri atas 8-12 suku kata dan 3-4 kata.
3) Memiliki pola sajak a-a-a-a.
4) Semua baris merupakan isi.
5) Rangkaian bait satu dengan bait berikutnya merupakan rangkaian cerita.

44 | R A N G K U M A N M A T E R I

 Gurindam
Gurindam merupakan puisi lama yang timbul akibat adanya pergaulan dengan orang-orang Hindu.
Gurindam memiliki ciri-ciri berikut.

1) Terdiri atas dua baris dengan pola rima a-a-a-a.
2) Kedua baris pada gurindam mempunyai hubung-an sebab-akibat, baris pertama merupakan

syarat dan baris kedua adalah jawabannya.
3) Pada umumnya, gurindam berisi nasihat.

b. Puisi Baru
Puisi baru muncul pada tahun 30-an. Puisi baru terbagi menjadi delapan, yaitu sebagai berikut.

 Distikon (puisi dengan untaian 2 baris).
 Terzina (untaian 3 baris).
 Kuatren (untaian 4 baris).
 Kuin (untaian 5 baris).
 Sekstet (untaian 6 baris).
 Septima (untaian 7 baris).
 Oktaf (untaian 8 baris).
 Soneta (untaian 14 baris).

c. Puisi Bebas
Puisi bebas adalah puisi yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah puisi, seperti rima, irama,
baris, dan bait.

d. Puisi Kontemporer
Puisi kontemporer terdiri atas jenis puisi berikut.
 Puisi mini kata, yaitu puisi yang menggunakan sedikit kata.
 Puisi mantra, yaitu puisi yang mengutamakan kata sebagai unsur bunyi.
 Puisi konkret, yaitu puisi yang membuat bunyi dan kata menjadi berwujud.
 Puisi tipografi, yaitu puisi yang mengutamakan bentuk atau bangun.
 Puisi mbeling, yaitu puisi yang berisi kelakar atau humor dengan permasalahan yang
sederhana.
 Puisi tanpa kata, yaitu puisi yang menguta- makan titik-titik, garis, dan simbol-simbol
lain.

3. Menafsirkan Puisi

Sebuah puisi dapat ditafsirkan dalam bentuk tulisan atau prosa. Untuk dapat memahami isi
sebuah puisi, dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut.

a. Memparafrasekan puisi, yaitu dengan memberi penanda makna atau mencari makna setiap
kata yag digunakan oleh penyair.

b. Merasakan dan menghubungkan kata-kata secara lugas, kias, dan lambang dengan tidak
hanya mengandalkan pikiran.

c. Memperhatikan pengiasan dan pelambangan penyair, penggunaan kata-kata abstrak,
lukisan yang hidup, dan nilai-nilai yang dikandung.

C. DRAMA

Drama adalah cerita tentang konflik manusia yang ditampilkan dalam bentuk dialog atau
percakapan dan action pada pentas di hadapan penonton (audience).

45 | R A N G K U M A N M A T E R I


Click to View FlipBook Version