The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Annisa Zainul Baiti, 2023-01-03 03:11:59

PTK PPG UIN (1)

PTK PPG UIN (1)

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MATERI PAI DENGAN

MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA KELAS XI MIPA 2 DI
SMA N 2 SRAGEN TAHUN AJAR 2022/2023

Disusun untuk memenuhi tugas Lokakarya PPG dalam Jabatan 2022
LPTK UIN Raden Mas Said Surakarta

Disusun Oleh:
ANNISA ZAINUL BAITI

PENDIDIKAN PROFESI GURU DALAM JABATAN
LPTK UIN RADEN MAS SAID SURAKARTA

DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM
KEMENTERIAN AGAMA RI
2022

i

LEMBAR PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN KARYA ILMIAH

Setelah membaca dan mencermati karya ilmiah yang berjudul “Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Materi PAI Dengan Model Problem Based Learning Pada Kelas Xi Mipa 2 Di Sma N 2 Sragen Tahun Ajar
2022/2022 “ yang merupakan karya dari:

1. Identitas Peneliti

Nama : ANNISA ZAINUL BAITI

Unit kerja : SMA N 2 SRAEGN

Guru Mapel : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

2. Lokasi Penelitian : SMA N 2 SRAGEN
3. Lama Penelitian : 2 bulan (November- Desember 2022)

Menyetujui dan mengesahkan untuk diajukan sebagai syarat Pendidikan Profesi
GuruDalam Jabatan di LPTK UIN Raden Mas Said Surakarta.

Sragen , 26 Desember 2022
Kepala SMA N 2 SRAGEN

Purwadi, M.Pd
NIP. 19860818 198404 1 00166

ii

Annisa Zainul Baiti. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Materi PAI Dengan Model Problem
Based Learning Pada Kelas Xi Mipa 2 Di Sma N 2 Sragen Tahun Ajar 2022/2022.PTK
Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan, UIN Raden Mas Said Surakarta

Kata Kunci : Problem Based Learning (PBL) , Hasil Belajar, Pendidikan Agama Islam

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar belajar
siswa dengan penerapan model Problem Based Learning (PBL). Guru menyampaikan
tujuan, pokok-pokok pembelajaran, melaksanakan diskusi kelompok, latihan soal,
memberikan motivasi belajar dan kesimpulan. Penelitian ini merupakan penelitian
tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 3 siklus. Dalam penelitian ini disajikan apa
adanya kemudian dianalisis secara deskriptif untuk mendapatkan gambaran mengenai
fakta yang ada dan mendiskripsikan sesuai dengan fenomena. Penelitian ini merupakan
penelitian tindakan kelas yang bersiklus. Tiap siklus terdiri dari 4 tahapan dasar yaitu
perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pelaksanaan penelitian berlangsung
pada bulan November s.d Desember 2022. Adapun yang menjadi subjek penelitian
adalah siswa kelas XI MIPA 2 SMA N 2 SRAGEN yang berjumlah 16 siswa yang
beragama Islam. Pengumpulan data dilaksanakan dengan perecanaan, observasi an tes
Teknik analisis datayang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kuantitatif.

Hasil belajar siswa saat pembelajaran sangat diperlukan agar proses
pembelajaran yang bermakna dapat berlangsung efektif. Hasil belajar saat pembelajaran
sangatlah penting, sebab hasil belajar siswa menjadi penentu bagi keberhasilan
pembelajaran yang dilaksanakan. Permasalahan yang ditemukan di kelas XI yaitu
kurangnya hasil belaja Pendidikan Agama Islam pada siswa kelas XI MIPA 2 SMA N 2
SRAGEN. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar
Pendidikan Agama Islam pada siswa kelas XI MIPA 2 SMA N 2 SRAGEN dengan
menggunakan Strategi Problem Based Learning (PBL) .

Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi Problem Based Learning (PBL)
dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PAI . Hal ini dilihat dari
hasil penelitian yang menunjukkan bahwa adanya peningkatan hasil belajar dilihat dari
rata-rata hasil belajar seluruh siswa maupun rata-rata hasil belajar tiap indikatornya
sesuai dengan target yang telah ditentukan. Indikator keberhasilan penelitian ini adalah
rata- rata hasil belajar KKM 75 dengan Rata-rata hasil belajar dari keseluruhan siswa
adalah pada tahap pra siklus sebesar 43,75%, siklus I sebesar 56,25% siklus II sebesar
68,75% dan sikuls III sebesar 93% . Penelitian dihentikan pada siklus ketiga mengingat
indikator kinerja telah tercapai.

iii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat
dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal Penilitian Tindakan Kelas
(PTK) yang berjudul “Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Materi Pai Dengan Model
Problem Based Learning Pada Kelas XI Mipa 2 Di SMA N 2 Sragen Tahun Ajar
2022/2022”.
1. Prof. Dr. H. Baidi, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN

Raden Mas Said Surakarta telah memberikan ijin serta dukungan secara moral maupun
materiil dalam penyelenggaraan PPG Dalam Jabatan 2022.
2. Dr. Subar Junanto, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Program Studi PPG di FTIK UIN Raden
Mas Said Surakarta yang telah memberikan layanan dan fasilitas dalam menempuh
kegiatan PPG Dalam Jabatan 2022.
3. Dr. Retno Wahyuningsih, S.Si., M.Pd., selaku dosen pengampu Lokakarya Penelitian
Tindakan Kelas yang telah banyak memberikan bimbingan dan motivasi dalam
penyusunan laporan PTK ini.
4. Siti Rohayati, S.Pd.I., selaku guru pamong dalam Lokakarya Penelitian Tindakan
Kelas yang telah banyak memberikan motivasi dan bimbingan dalam penyusunan PTK
5. Purwadi M.Pd, selaku Kepala Sekolah SMA N 2 Sragen Kecamatan Sragen
Kabupaten Sragen, yang telah memberi kesempatan dan ijin untuk melakukan
Penelitian Tindakan Kelas
6. Seluruh tim panitia penyelenggaraan PPG Dalam Jabatan 2022 yang telah memfasilitasi
dan mendampingi rangkaian kegiatan dengan sabar.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan proposal ini masih belum sempurna dan
masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif sangat kami
harapkan demi kesempurnaan proposal kami. Penulis berharap mudah-mudahan penelitian
ini bermanfaat bagi semua pihak terkait.

Penulis

ANNISA ZAINUL BAITI

iv

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ................................................................................................. i

LEMBAR PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN ................................................ ii

ABSTRAK................................................................................................................. iii

KATA PENGANTAR ............................................................................................... iv

DAFTARI ISI ............................................................................................................ v

DAFTAR TABEL...................................................................................................... viii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................................ ix

DAFTAR LAMPIRAN.............................................................................................. x

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 1

A. Latar Belakang Masalah ...................................................................... 1

B. Identifikasi Masalah ............................................................................ 5

C. Pembatasan Masalah ........................................................................... 5

D. Rumusan Masalah ............................................................................... 5

E. Tujuan Penelitian................................................................................. 6

F. Manfaat Penelitian............................................................................... 6

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN ................................... 8

A. Kajian Teori......................................................................................... 8

1. Model Based Learning........................................................................... 8

a. Pengertian Model Based Learning.................................................... 8

b. Strategi Problem Based Learning (PBL) ........................................... 15

v

2. Pendidikan Agama Islam............................................................... 17
a. Pengertian Pendidikan Agama Islam ...................................... 18
b. Tujuan Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam .................. 19
c. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam ............................. 19

3. Hasil Belajar 20
a. Pengertian Hasil Belajar ................................................ 28
b. Prinsip Prinsip Hasil Belajar…………………………. 30
c. Hasil Belajar ………………………………………….. 30
31
B. Penelitian Terdahulu .......................................................................... 32
C. Kerangka berfikir ............................................................................... 34
D. Hipotesis Tindakan............................................................................. 34
BAB III MODEL PENELITIAN .......................................................................... 35
A. Pendekatan Penelitian......................................................................... 36
B. Setting Penelitian................................................................................. 36
C. Subjek Penelitian................................................................................. 36
D. Indikator Kinerja ................................................................................ 37
E. Teknik Pengumpulan Data .................................................................. 38
F. Teknik Analisis Data ........................................................................... 43
G. Prosedur Tindakan .............................................................................. 43
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN......................................... 50
A. Deskripsi Kondisi Awal ...................................................................... 51
B. Deskripsi Hasil Setiap Siklus ............................................................. 55
70
1. Siklus I ..........................................................................................
2. Siklus II ........................................................................................
3. Siklus III .......................................................................................

vi

C. Pembahasan ......................................................................................... 83
BAB V Penutup ..................................................................................................... 87
87
A. Kesimpulan.......................................................................................... 87
B. Saran.................................................................................................... 88
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................

vii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Matrik penelitihan terdahulu ................................................... 25
Tablel 3.1 Waktu penelitian ....................................................................... 27
Tabel 4.1 Hasil nilai tes belajar siswa XI prasiklus ................................. 28
Tabel 4.2 Rekapitulasi hasil prasiklus .................................................... 34
Tabel 4.3 Pengelolaan pembelajaran …….............................................. 35
Tabel 4.4 Hasil nilai tes belajar siswa siklus 1 ....................................... 36
Tabel 4.5 Rekapitulasi hasil belajar siswa siklus 1................................... 37
Tabel 4.6 Pengelolaan pembelajaran siklus II ......................................... 45
Tabel 4.7 Pengelolaan pembelajaran siklus II……………….................. 47
Tabel 4.8 Hasil nilai tes formatif siklus II…………………......................... 48
Tabel 4.9 Rekapitulasi hasil tes belajar siklus II....................................... 49
Tabel 4.10 Hasil belajar siswa prapenelitian per-siklus ............................. 50
Tabel 4.11 Pengelolaan pembelajaran pada siklus III.................................. 60
Tabel 4.12 Hasil nilai tes formatif siswa siklus III ..................................... 61
Tabel 4.13 Rekapitulasi hasil formatif pada siklus III ................................. 63
Tabel 4.14 Hasil belajar siswa persiklus ...................................................... 75

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.3 Diagram hasil belajar siklus 1 ……………………………. 58
Gambar 4.4 Diagram rata-rata hasil belajar siswa tiap siklus I .............. 59
60
Gambar 4.5 Diagram Rata-rata hasil belajar siswa pra siklus dan siklus 1.. 65
62
Gambar 4.6 Diagram Perbandingan presentase rata-rata hasil belajar 62

Gambar 4.7 Diagram Hasil belajar siklus II ………………………….. 65
Gambar 4.8 Diagram rata-rata hasil belajar siswa siklus II ...................
Gambar 4.9 Rata-rata hasil belajar siswa pra siklus, siklus 1 dan siklus 68
II ……………………………………………………………… 72
Gambar 4.10 Diagram perbandingan presentase rata-rata hasil belajar 72
pra siklus, siklus I dan siklus II ………………....................
Gambar 4.11 Diagram hasil belajar siklus III ..…………………………... 84
Gambar 4.12 Diagram Rata-rata hasil belajar siswa siklus III ...................
85
Gambar 4.13 Diagram Rata-rata hasil belajar siswa pra siklus, siklus I,
Gambar 4.14 siklus II dan siklus III ……………………………………….

Diagram Perbandingan presentase rata-rata hasil belajar
pra pra siklus, siklus I, siklus II dan siklus III …

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1a Kisi-kisi dan instrumen hasil belajar pra siklus .................. 93
Lampiran 1b Kisi-kisi dan instrumen hasil belajar siklus I ...................... 98

Lampiran 1c Kisi-kisi dan instrumen hasil belajar siklus II .................... 101

Lampiran 1d Kisi-kisi dan instrumen hasil belajar siklus III ................... 106
Lampiran 2a Lembar observasi kinerja guru siklus I ………………………. 109
Lampiran 2b Lembar observasi kinerja guru siklus II ……………………... 111
Lampiran 2c Lembar observasi kinerja guru siklus III ……………………. 113
Lampiran 3a 115
Lampiran 3b Data Induk Hasil Belajar Tahap pra Siklus ……………… 116
Lampiran 3c Data Induk Hasil Belajar Tahap Siklus I ...……………… 117
Lampiran 3d Data Induk Hasil Belajar Tahap Siklus II ………………. 118
Lampiran 4a Data Induk Hasil Belajar Tahap Siklus III ……………… 119
Lampiran 4b Rencana Pelaksanaan pembelajaran tahap siklus I . ………… 126
Lampiran 4c Rencana Pelaksanaan pembelajaran tahap siklus II …………. 132
Lampiran 5a Rencana Pelaksanaan pembelajaran tahap siklus III ………... 140
Lampiran 5b Foto kegiatan pembelajaran tahap pra siklus ………………… 141
Lampiran 5c Foto kegiatan pembelajaran tahap siklus I ………………….. 142
Lampiran 5d Foto kegiatan pembelajaran tahap Siklus II ………………… 143
Lampiran 6a Foto kegiatan pembelajaran tahap siklus III ……………….. 144
Foto observasi ……………………………………………….

x

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Keberhasilan proses pembelajaran sebagai proses pendidikan di
Lembaga Pendidikan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor- faktor
yang dimaksud misalnya profesionalime guru, peserta didik, kurikulum,
lingkungan sosial, sarana prasarana dan faktor lainnya. Namun dari faktor-
faktor tersebut, guru dan siswa merupakan faktor terpenting. Pentingnya faktor
guru dan siswa tersebut dapat dilihat melalui pemahaman hakikat pembelajaran,
sebagai upaya sadar guru untuk membantu siswa agar dapat belajar sesuai
kebutuhan bakat sertahasilnya.
Firman Alloh Swt yang Artinya: "Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu,
maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu,
dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan
yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS At-
Taubah: 105). Guru sebagai unsur pokok penanggung-jawab terhadap
pelaksanaan dan pengembangan proses belajar mengajar, diharapkan dapat
meningkatkan kualitas serta kemampuannya dalam proses belajar mengajar.
Untuk mencapai efektifitas dan efisiensi tersebut, maka diperlukan
adanya Model serta strategi yang tepat dalam mencapai tujuan belajar mengajar
yang diharapkan. Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa
proses pembelajaran dilingkungan sekolah pada hakikatnya adalah upaya yang
dilakukan oleh guru untuk membuat peserta didik, di SMA Negeri 2 Sragen
masih banyak guru (Pendidika Agama Islam) yang mengalami kesulitan dalam
menggunakan strategi pembelajaran yang tepat untuk mencapai tujuan belajar

Mengajar yang diharapkan. Karena masih terdapat sebagian besar guru
yang menggunakan Model ceramah dalam proses pembelajaran sehingga
membuat peserta didik menjadi jenuh, dan pada akhirnya berdampak pada
sulitnya memahami materi, Dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam
tentu sangat dibutuhkan banyak variasi Model, media, maupun sumber belajar
yang berhubungan erat dengan kebutuhan tersebut. Karena dalam muatanmata
pelajaran Pendidikan Agama Islam banyak terdapat materi yang memerlukan
praktik langsung (pengamalan). Melalui praktik (pengamalan) siswa akan
memperoleh pengalaman dan pengetahuansebagai pengalaman dan wawasan
baru.

Keberhasilan pengajaran Pendidikan Agama Islam juga tergantung pada
keberhasilan pemahaman dan peningkatan kemampuan siswa dalam proses belajar
mengajar, guru mempunyai posisi yang sangat strategis dalam meningkatkan prestasi
siswa dalam penggunaan Model serta strategi pembelajaran yang tepat. Sejalan dengan
perkembangan dunia pendidikan, ditemukan sebuah pendekatan pengajaran yangdisebut
dengan sebagai salah satu model pembelajaranyang memungkinkan siswa belajar secara
optimal. Model pembelajaran ini merupakan model percepatan belajar (Accelerated
Learning). Dalam kenyataannya, model pembelajaran tersebut belum banyak diterapkan
dalam proses pendidikan di Indonesia. Di samping model itu tergolong baru dan belum
banyak dikenal oleh komunitas pendidikan di lndonesia, kebanyakan guru lebih suka
mengajar dengan model konvensional, yaitu model pembelajaran yang berpusat pada guru
(teacher centred instruction).

Dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yangdiperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Sekolah Menengah Atas (SMA) SMA merupakan bentuk satuan
pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan pada jenjang
pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau lanjutan dari
hasil belajar yang diakui sama setara SMP/MTs. Dalam pendidikan menengah
ada beberapa komponen pelajaran yang harus dikuasai siswa, salah satunya
adalah Pendidikan Agama Islam. Sedangkan Di SMA N 2 Sragen terdapat 30
Rombel dan masing masing di bagi menjai 3 rombel jenjang yaitu jenjang
X,XI,XII. Setiap kelasnya terdapat 36 siswa laki laki dan perempuan 1.080
siswa di SMA N 2 Sragen.

Menurut data yang didapatkan peneliti fokus meneliti di jenjang XI dan
mengabil sampel di kelas XI MIPA 2 yang berjumlah 16 siswa (26 perempuan dan
10 laki laki) dari hasil ulangan harian terakhir yang dilakukan di kelas XI MIPA 2,
menunjukan bahwa masih banyak siswa yang memperoleh nilai ulangan di bawah
KKM yang sudah ditetapkan oleh pihak sekolah yaitu 75. Tercatat 7 dari 16 siswa
yang ada di KELAS XI MIPA 2 yang memperoleh nilai di atas KKM, sedangkan 9
lainnya belum memperoleh nilai diatas KKM yang sudah ditetapkan. Dengan
demikian tingkat keberhasilan belajar siswa KELAS XI adalah 43,75%, dengan
presentase belum tercapai karena beberapa faktor penyebab hasil belajar siswa
kurang maksimal. Diantaranya faktor tersebut yaitu kurangnya konsentrasi siswa
dalam pembelajaran ketika guru menyampaikan materi ajar, proses pembelajaran
yang belum efektif sehingga beberapa siswa cepat merasa jemu dengan materi yang
disampaikan.

Permasalahan tersebut diharapkan dapat diatasi diantaranya dengan cara
guru menerapkan model dan teknik pembelajaran yang inovatif sehingga
mampu menciptakan suasana kelas aktif dengan melibatkan partisipasi antar
siswa dalam proses pembelajaran. Alternatif model pembelajaran yang dapat
diterapkan untuk peningkatan hasil belajar siswa salah satunya adalah model

problem based learning
Model pembelajaran Problem Based Learning Model problem

based learning atau pembelajaran berbasis masalah adalah model
pembelajaran yang menyajikan masalah sehingga merangsang peserta
didik untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran ini,
peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia
nyata (real word). Pembelajaran dengan model ini merupakan
pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana
belajar” bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari
permasalahan dunia nyata. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk
mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu terhadap pembelajaran yang
dimaksud. Masalah diberikan kepada peserta didik, sebelum peserta
didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah
yang harus dipecahkan Nurrohma, R. I., & Adistana, G. A. Y. P. (2021).
Sedangkan Almas, A. F. (2018) memberikan pengertian bahwa Problem
Based Learning merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang
menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa
untuk belajar melalui berpikir kritis dan keterampilan pemecahan
masalah Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa Problem
Based Learning merupakan model pembelajaran yang memfokuskan
pada pelacakan akar masalah yang ada di dunia nyata sebagai konteks
pembelajaran dengan melibatkan siswa dalam proses pemecahan

masalah melalui tahap-tahap Model ilmiah sehingga siswa belajar
berpikir kritis dan belajar melalui pengalaman pemecahan masalah
dalam rangka memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari
materi pelajaran.

Model pembelajaran menurut Meliana, I. (2019) adalah Model
manusia dengan cara memperagakannya, sehingga secara bersama-sama
siswa dapat mengeksplorasi perasaan, sikap, nilai dan berbagai strategi
pemecahan masalah. Dalam siswa sebagai subjek pembelajaran, secara
aktif melakukan praktik bersama teman-temannya. Karena Model inipada
dasarnya adalah permainan dengan melibatkan seluruh siswa, maka
Model ini dapat memberikan kesenangan pada siswa dengan tanpa
menghilangkan nilai yang terkandung dalam materi yang diajarkan serta
dapat melengkapi kekurangan dari Model PBL. Diharapkan dengan
menggunakan Model pembelajaran model Problem Based Learning dapat
peningkatan hasil belajar siswa terutama pada mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti mengfokuskan Penelitian
Tindakan Kelas dengan judul meningkatkan hasil belajar siswa materi PAI
dengan model problem based learning pada kelas xi mipa 2 di sma n 2
sragen tahun pelajar 2022/2023

B. IDENTIFIKASI MASALAH
1. Terdapat kelas bermasalah dengan kasus Siswa ramai di kelas, bahkan
sering membolos terutama kelas XI MIPA 2 karena kelancaran belajar
kurang optimal pada materi PAI sehingga hasilbelajar tidak optimal.
2. Model mengajar materi PAI dikelas XI MIPA 2 kurang bervariasi
sehingga siswa kurang memiliki pemahaman hasil dalam belajar
3. Apakah Model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar
PAI pada siswa kelas XI MIPA 2 di SMA N 2 Sragen?

C. PEMBATASAN MASALAH
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan pada latar belakang

masalah dan identifikasi masalah di atas, maka ruang lingkup masalah
penelitian ini dibatasi pada penggunaan Model Problem Based Learning
dalam upaya meningkatkan hasil belajar PAI pada kelas XI MIPA 2 SMA N 2
Sragen

D. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada penelitian

ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah penggunaan Model Problem Based Learning (PBL) Dapat
Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Dengan Siswa Kelas
XI SmaNegeri 2 Sragen Tahun Pelajaran 2022/2023”

E. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian merupakan harapan yang akan dicapai dalam

penelitian dan menjadi tolak ukur keberhasilan penelitian. Adapun tujuan
dari penelitian ini yaitu:
1. Mendapatkan gambaran objektif tentang proses Apakah penggunaan

Model Problem Based Learning (PBL) Dapat Meningkatkan Hasil
Belajar Materi Pendidikan Agama Islam Dengan Siswa Kelas XI
MIPA 2 SMA Negeri 2 Sragen Tahun Pelajaran 2022/2023”

F. MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat teoritis
Hasil Penelitian ini dapat dijadikan sebagai pengetauan atau
landasan teori untuk penelitian selanjutnya dalam peningkatan hasil
belajar siswa dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dengan
Model Problem Based Learning
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Siswa
1) Menarik perhatian siswa dalam pembelajaran.
2) Mampu memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
3) Peningkatan hasil serta prestasi belajar.

b. Bagi Guru
1) Mengetahui kelemahan/kelebihan guru dalam menyampaikan
materi pelajaran/ refleksi.
2) Memberikan alternatif pemecahan masalah dalam suatu
pelajaran.
3) Membantu dalam mengembangkan Model dan model
pembelajaran sebagai perbaikan pada pelajaran Pendidikan
Agama Islam.

c. Bagi Peneliti
Memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan

pembelajaran dengan menggunakan strategi Problem Based
Learning (PBL)
d. Bagi Sekolah
1) Dapat peningkatan mutu pendidikan sekolah.
2) Dapat meningkatkan kualitas disekolahan melalu iIHT
3) Sebagai alternatif Model pembelajaran di sekolah
4) Sebagai dasar pertimbangan dalam meningkatkan kualitas

19

BAB II

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. KAJIAN TEORI

1. Model Problem Based Learning

a. Pengertian Model Problem Based Learning

Model adalah bentuk representasi akurat sebagai proses
aktual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang
mencoba bertindak berdasarkan model itu. Model pembelajaran
merupakan pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial (Agus
Suprijono, 2009: 45-46). Model pembelajaran dapat digunakan
untuk menyusun kurikulum, merancang bahan pembelajaran, dan
menuntun pelajaran di dalam kelas atau pada kondisi lainnya.
Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based
Learning) Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah dari
beberapa ahli

yaitu:
1) Menurut Agus Suprijono. Pembelajaran berbasis masalah

adalah belajar penemuan atau discovery learning. Berdasarkan
belajar penemuan peserta didik didorong belajar aktif dengan
konsep-konsep dan prinsip-prinsip (Agus Suprijono, 2009:68).

2) Menurut Wina Sanjaya. Pembelajaran berbasis masalah adalah
rangkaian aktifitas pembelajaran yang menekankan pada proses
penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah (Wina
Sanjaya, 2008:114)

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa

20
pembelajaran berbasis masalah merupakan model pendekatan
pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa baik aktifitas
berfikir, berperilaku dan berketerampilan dalam memecahkan suatu
masalah yang dihadapi. Pembelajaran berbasis masalah (Problem
Based Learning), merupakan salah satu model pembelajaran
inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa.

Pembelajaran berbasis masalah merupakan model
pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu
masalah melalui tahap-tahap Model ilmiah sehingga siswa dapat
mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah
tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan
masalah tersebut.
b. Karakteristik Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Karakteristik model Problem Based Learning(PBL) yaitu:
1) Pengajuan pertanyaan atau masalah. Pembelajaran berdasarkan

masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan
masalah yang keduanya secara sosial penting dan secara pribadi
2) Berfokus pada keterkaitan antar disiplin. Masalah yang akan
diselidiki telah dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya
siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran.
3) Penyelidikan autentik. Siswa dituntut untuk menganalisis dan
mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, membuat
ramalan, mengumpulkan dan menganalisa informasi, inferensi, dan
merumuskan kesimpulan.
4) Kolaborasi. Pembelajaran berdasarkan masalah dicirikan oleh siswa
yang bekerjasama satu dengan yang lainnya, secara berpasangan
atau dalam kelompok kecil.

21
Berdasarkan karekteristik tersebut, pembelajaran berdasarkan

masalah memiliki tujuan:
1) Membantu siswa mengembangkan keterampilan berfikir dan

keterampilan pemecahan masalah
2) Belajar peranan orang dewasa yang autentik.
3) Menjadi pebelajar yang mandiri.

Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa karakteristik
model Problem Based Learning (PBL) yaitu suatu rangkaian
aktivitas pembelajaran yang menitikberatkan masalah sebagai
bahan pembelajaran yang akan dicari penyelesaiannya menggunakan
Model ilmiah. Tetapi masalah tersebut harus sesuai dengan materi
pembelajaran yang dikaitkan dengan dunia nyata.

c. Strategi Penerapan Model Problem Based Learning (PBL)
Tidak semua materi pembelajaran dapat diterapkan dengan

model Problem Based Learning (PBL), karena tidak semua materi
cocok untuk digunakan dalam penerapan model tersebut.

Adapun strategi dalam penerapan model ini adalah:
1) Apabila guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekedar

dapat mengingat materi pelajaran, akan tetapi menguasai dan
memahaminya secara penuh.
2) Apabila guru bermaksud untuk mengembangkan keterampilan
berpikir rasional siswa.
3) Apabila guru menginginkan kemampuan siswa untuk
memecahkan masalah.
4) Apabila guru ingin mendorong siswa untuk lebih bertanggung

22

jawab dalam belajarnya.

5) Apabila guru ingin siswa memahami hubungan antara apa

yang dipelajari dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari

(Wina Sanjaya, 2009: 215).

Materi pelajaran yang digunakan dalam penerapan model ini

tidak terbatas pada materi pelajaran yang bersumber dari buku saja,

akan tetapi juga dapat bersumber dari peristiwa tertentu sesuai

dengan kurikulum yang berlaku dan berdasar kriteria tertentu.

Kriteria pemilihan bahan pelajaran dengan model Problem Based

Learning (PBL) yaitu:

1) Bahan pelajaran harus mengandung isu-isu yang

mengandung konflik yang bisa bersumber dari berita,

rekaman video dan lain-lain.

2) Bahan yang dipilih adalah bahan yang bersifat familiar

dengan siswa, sehingga setiap siswa dapat mengikutinnya

dengan baik.

3) Bahan yang dipilih merupakan bahan yang berhubungan

dengan kepentingan orang banyak sehingga terasa

manfaatnya.

4) Bahan yang dipilih merupakan bahan yang mendukung
kompetensi yang harus dicapai.

5) Bahan yang dipilih sesuai dengan minat siswa sehingga setiap
siswa merasa perlu untuk mempelajarinya

23
d. Prinsip-prinsip Penerapan Model Problem Based Learning (PBL)

Prinsip-prinsip penerapan model Problem Based Learning yaitu:
1. Melibatkan siswa bekerja pada masalah dalam kelompok kecil

yang terdiri dari kurang lebih lima orang.
2. Guru membimbing siswa dalam penyelesaian masalah tersebut.
3. Masalah disiapkan sebagai konteks pembelajaran baru.
4. Analisis dan penyelesaian terhadap masalah itu menghasilkan

perolehan pengetahuan dan keterampilan pemecahan masalah.
5. Permasalahan dihadapkan sebelum semua pengetahuan relevan

diperoleh dan tidak hanya setelah membaca teks atau mendengar
ceramah tentang materi subjek yang melatar belakangi masalah
tersebut (C.Ridwan, 2009).

e. Langkah-langkah Pelaksanaan Model Problem Based Learning
Pada model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based

Learning) terdapat lima tahap utama, antara lain:
1) Orientasi siswa kepada masalah
Yaitu menjelaskan tujuan pembelajaran, dan menjelaskan
logistik yang dibutuhkan, serta memotivasi siswa untuk
terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilihnya. Siswa
merumuskan masalah yang akan dipecahkan.
2) Mengorganisasi siswa untuk belajar
Mengorganisasikan kegiatan pembelajaran yang
berhubungan dengan masalah tersebut. Siswa merancang
pemecahan masalah sesuai permasalahan yang telah
dirumuskan.

24
3) Membimbing penyelidikan Individual maupun kelompok

yaitu mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang
sesuai, melaksanakan observasi/eksperimen untuk
mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. Siswa
berdiskusi berbagi informasi setelah mencari dan
mengumpulkan informasi yang diperlukan dari berbagai
sumber untuk memecahkan masalah.
4) Mengembangkan dan Menyajikan hasil karya
yaitu membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan
karya yang sesuai seperti laporan, poster, puisi dan model
yang membantu mereka untuk berbagi tugas dengan
temannya. Siswa menampilkan karyanya/menjelaskan hasil
kegiatan pemecahan masalahnya.
5) Menganalisis dan mengevaluasi Proses pemecahan masalah yaitu
membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasiterhadap
penyelidikan mereka dan proses-proses yang merekagunakan.
Siswa melakukan refleksi/evaluasi terhadap kegiatanpeemecahan
masalah yang telah dilakukan

f. Keunggulan dan Kelemahan Problem Based Learning
Model Problem Based Learning mempunyai beberapa

keunggulan dan kelemahan yang diantaranya:
Keunggulan:
1) Pemecahan masalah merupakan teknik yang baik untuk lebih
memahami isi pelajaran.

25

2) Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta
memberi kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru.

3) Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas peserta didik.
4) Pemecahan masalah membantu bagaimana mentransfer

pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan
nyata.
5) Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk
mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab
terhadap pembelajaran yang mereka lakukan.
6) Melalui pemecahan masalah bahwa belajar tidak hanya dari guru
dan buku.
7) Pemecahan masalah dianggap pembelajaran yang lebih
menyenangkan.
8) Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa
untuk berfikir kritis dan mengembangkan pengetahuan mereka
untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
9) Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan kepada siswa
untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam
dunia nyata.
10) Pemecahan masalah dapat membangun minat siswa untuk
secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikaan
formal berakhir.

26

Kelemahan:
1) Jika minat siswa kurang atau masalah kurang menarik siswa, maka

siswa akan merasa enggan untuk mencoba.
2) Keberhasilan strategi pembelajaran berbasis masalah

membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
3) Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha memecahkan

masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar
apa yang ingin mereka pelajari (Wina Sanjaya, 2009: 220-221).

27

2. Pendidikan Agama Islam

a. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan dalam Sujana, I. W. C. (2019) merupakan

sebuah sistem yang mengandung aspek visi, misi, tujuan,
kurikulum, bahan ajar, proses belajar mengajar, guru, murid,
manajemen, sarana prasarana, biaya, lingkungan, dan lain
sebagainya.Pendidikan dalam Islam dimaknai sebagai al-ta’lim,
al-tarbiyah, dan al-ta’dib. Al-ta’lim berarti mengajar atau
menyampaikan pengetahuan. Al-tarbiyah berarti mendidik dan
al-ta’dibberarti mendidik dalam penyempurnaan akhlak. Siddik,
H. (2022) pendidikan Islam yaitu pertama adalah sasaran
atau obyek pendidikan adalah Adam Dari ketiga istilah tersebut
dalam praktik pendidikan Islam adalah al- tarbiyah yang
mengarah kepada memelihara, menjaga fitrah peserta didik
menjelang dewasa dan mengembangkan potensi serta melakukan
pendidikan secara bertahap. Iskandar, J. (2019) menyimpulkan
bahwa pendidikan islam adalah suatu usaha yang dilakukan
pendidik untuk membentuk karakter peserta didik agar sesuai
dengan Al Qur’an dan As-Sunnah.

Pendidikan Agama Islam menurut Priatmoko, S.
(2018) yaitu usaha mengkaji ilmu secara terencana untuk
membentuk peserta didik menjadi manusia beriman, serta
dengan sadar dan tulus menerapkan nilai-nilai

28

islam dalam segala sektor kehidupan. Definisi
pendidikan agama islam menurut Minarti, S. (2022) yaitu
pertama, adanya usaha dan proses penanaman sesuatu
secara kontinyu. Kedua, adanya hubungan timbal balik
antara orang pertama dan orang kedua. Ketiga, adalah
akhlakul karimah sebagaitujuan akhir

b. Tujuan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Tujuan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di
Sekolah Shodiq, S. F. (2019) adalah untuk:
a. Menumbuh kembangkan akidah melalui
pemberian, pemupukan, dan pengembangan
pengetahuan, penghayatan, pengamalan,
pembiasaan, serta pengalaman peserta didik
tentang agama Islam sehingga menjadi manusia
muslim yang terus berkembang keimanan dan
ketakwaannya kepada Allah Swt.
b. Mewujudkan manusia Indonesia yang taat
baragama dan berakhlak mulia yaitu manusia
yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas,
produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin,
brtoleransi, menjaga keharmonisan secara

29

c. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam dibakukan sebagai

nama kegiatan dalam mendidikkan Agama Islam.
Materi yang dibahas dalam Pendidikan Agama Islam
yaitu materi-materi pokok ajaran islam, yaitu akidah,
syariah dan akhlak dengan segala cabang-cabangnya
(Deden Makbuloh,2016:76).

Dalam penelitian ini peneliti mengambil materi
akidah akhlak yangberkaitan dengan akhlak terpuji pada
materi Rendah Hati, Hemat dan Pantang menyerah.

3. Hasil Belajar
a. pegertian hasil belajar

Ada beberapa definisi menurut para ahli, antara lain:
Menurut Oemar Hamalik (2005: 36), belajar merupakan modifikasi
atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Artinya, belajar
adalah suatu proses, suatu kegiatan, dan bukan suatu hasil atau
tujuan. Belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu
melalui interaksi dengan lingkungan. Belajar dapat dipahami
sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang
relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan
lingkungan yang melibatkan proses kognitif ( Muhibbin Syah,
2006: 68).

30

Menurut Thorndike (Asri Budiningsih 2005: 21) belajar adalah
proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang
dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar. Sedangkan respon yaitu
reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat
berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Dari definisi belajar
tersebut maka menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat dari
kegiatan belajar itu dapat berwujud kongkrit yaitu yang dapat diamati,
atau tidak kongkrit yaitu yang tidak dapat diamati.. Dengan demikian,
belajar itu merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan,
dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca,
mengamati, mendengarkan, meniru dan lain-lain. Belajar itu akan
lebih baik, kalau si subjek belajar itu mengalami atau
melakukannya sendiri

Belajar akan membawa suatu perubahan yang tidak hanya
berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga
berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri,
minat, watak, penyesuaian diri. Contoh, orang yang belajar itu
dapat membuktikan pengetahuan tentang fakta-faktDengan
demikian belajar merupakan serangkaian kegiatan jiwa raga,
psiko-fisik untuk menuju ke perkembangan pribadi manusia
seutuhnya, yang berarti menyangkut unsur cipta, rasa dan karsa,
ranah kognitif,

31

b. Prinsip Hasil Belajar
Seorang guru/pembimbing diharuskan bisa menyusun

sendiri prinsip-prinsip belajar, yaitu prinsip belajar yang dapat
dilaksanakan dalam situasi dan kondisi yang berbeda, dan oleh
setiap siswa secara individual. Menurut Slameto (1995: 27-28)
cara menyusun prinsip- prinsip belajar itu antara lain: Berdasarkan
prasyarat yang diperlukan untuk belajar.

1. Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan partisipasi aktif,
meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai
tujuan instruksional.

2. Belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan
motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan
instruksional.

3. Belajar perlu lingkungan yang menantang di mana anak
dapat mengembangkan kemampuannya bereksplorasi dan
belajar dengan efektif

4. Belajar perlu ada interaksi siswa dengan lingkungannya.

32

C. Tujuan Hasil Belajar
Belajar merupakan kegiatan penting yang harus dilakukan

setiap orang secara maksimal untuk dapat menguasai atau
memperoleh sesuatu. Adapun tujuan belajar antara lain:
11)Perubahan perilaku.

Belajar bertujuan untuk mengadakan perubahan di dalam diri
antara lain tingkah laku, misalnya yang tadinya tingkah lakunya
jelek, setelah belajar tingkah lakunya berubah menjadi baik.
12)Mengubah kebiasaan.
Belajar bertujuan untuk mengubah kebiasaan dari yang buruk
mejadi lebih baik. Kebiasaan buruk adalah penghambat atau
perintang jalan menuju kebahagiaan.
13)Mengubah sikap
Belajar bertujuan untuk mengubah sikap, dari yang negatif
menjadi positif, tidak hormat menjadi hormat, dari benci
menjadi sayang.

33

d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Proses belajar dan hasil belajar secara umum dipengaruhi

oleh dua faktor yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor internal
adalah faktor yang berasal dari dalam individu sendiri. Faktor
eksternal adalah faktor yang berasal dari luar individu, meliputi
kondisi sosial ekonomi, sarana dan prasarana, biaya, kondisi
lingkungan dan sebagainya. Faktor internal terbagi lagi menjadi dua
bagian yaitu psikis dan fisiologis. Psikis menyangkut kondisi
kejiwaan seseorang dan fisiologis berhubungan dengan kondisi
fisik seseorang.

Hasil belajar adalah proses penentuan tingkat kecakapan
penguasaan belajar seseorang dengan cara membandingkannya
dengan norma tertentu dalam sistem penilaian yang disepakati.
Objek hasil belajar diwujudkan dengan perubahan tingkah laku
seseorang dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Secara
umum, faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah (1)
ada materi atau mata pelajaran yang dipelajari, (2) faktor
lingkungan peserta didik, (3) faktor instrumental, (4) keadaan
individu peserta didik, dan (5) proses belajar mengajar. Jenis mata
pelajaran atau materi yang dipelajari juga turut mempengaruhi
proses dan hasil belajar, misalnya belajar tentang pengetahuan yang
bersifat konsep berbeda dengan belajar tentang pengetahuan yang
bersifat prinsip.

34

Nana Sudjana (2008: 39) mengemukakan beberapa hal yang
mempengaruhi hasil belajar dan kemudian akan mempengaruhi
pencapaian belajar. Faktor-faktor tersebut adalah faktor dari
dalam siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor
lingkungan. Faktor kemampuan sangat besar sekali pengaruhnya
terhadap hasi belajar yang dicapai.

Di samping faktor kemampuan yang dimiliki siswa, juga ada
faktor lain, seperti motivasi, minat dan perhatian, sikap dan
kebiasan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan
psikis. Sedangkan Wina Sanjaya (2009: 52) hasil belajar
dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya faktor guru, faktor
siswa, sarana, alat, dan media yang tersedia, serta faktor Guru
adalah komponen yang sangat menentukan dalam implementasi
suatu strategi pembelajaran. Tanpa guru bagimanapun bagus dan
idealnya suatu strategi, maka strategi itu tidak mungkin dapat
diaplikasikan.
14) Faktor Siswa adalah organisme yang unik yang berkembang
sesuai dengan tahap perkembanganya. Perkembangan anak
adalah perkembangan seluruh aspek kepribadianya, akan tetapi
tempo dan irama perkembangan setiap masing-masing anak pada
aspek tidak selalu sama. Proses pembelajaran dapat dipengaruhi
oleh perkembangan anak yang tidak sama, disamping
karakteristik yang lain yang melekat pada diri anak.

35

15) Faktor lingkungan Dilihat dari dimensi lingkungan ada dua faktor
yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran, yaitu faktor
organisasi kelas dan faktor sosial psikologis. Faktor organisasi kelas
yang didalamnya meliputi jumlah siswa dalam satu kelas
merupakan aspek penting yang bisa memengaruhi proses
pembelajaran. Faktor iklim sosial maksudnya, hubungan
keharmonisan antara orang yang terlibat dalam proses pembelajaran.
Iklim sosial ini dapat terjadi secara internal atau eksternal, internal
ialah antara hubungan orang yang terlibat dilingkungan sekolah
misalnya, iklim sosial antara guru dan murid, antara guru dengan
guru, bahkan antara guru dan pimpinan sekolah.

16) Faktor sarana dan prasarana Sarana adalah segala sesuatu yang
mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses
pembelajaran, misalnya media pembelajaran, alat-alat pelajaran,
perlengkapan sekolah dan lain sebagainya.
Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak
langsung dapat mendukung keberhasilan proses pembelajaran,
misalnya jalan menuju sekolah, penerangan sekolah, kamar kecil dan
lain sebagainya .

36

Menurut pemikiran Gagne dalam Agus Suprijono 2009 Hasil
belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian,
sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Merujuk pemikiran Gagne,
hasil belajar berupa :
1) Informasi Verbal Yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam

bentuk bahasa, baik lisan maupuntertulis.
2) Keterampilan Intelektual Yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan

lambang. Keterampilan intelektual terdiri dari kemampuan mengategorisasi,
kemampuan analitis-sintesis fakta-konsep dan mengembangkan prinsip-
prinsip keilmuan.
3) Strategi Kognitif Yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas
kognitifnya sendiri. Konsep ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah
dalam memecahkan masalah.
4) Keterampilan Motorik Yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak
jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak
jasmani.
5) Sikap Adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan
penilaian terhadab objek tersebut. Sikap merupakan kemampuan menjadikan
nilai-nilai sebagai standar perilaku.

Dari penjelasan diatas jelas telihat bahwa keberhasilan
pembelajaran salah satunya dapat dilihat dari hasil belajar yang
dicapai, untuk mencapai hasil belajar yang baik salah satu faktor
yang menentukan adalah seorang guru dan strategi pembelajaran
yangditerapkanya.

37

D. PENELITIHAN TERDAHULU

Tabel 2.1

Matrik Penelitian Terdahulu

No Peneliti/Tahun/ Hasil Penelitian Perbedaan/Persamaan

Judul Penelitian

1 Khabib Ashidiq, 2017, Implementasi Persamaan:

judul: “Implementasi pendidikan karakter 1. Sama-sama

Pendidikan Karakter religius pada siswa menggunakan Model
Religius Pada Siswa MTs Ma’arif Minhajut kualitatif

MTs Ma’arif Minhajut Tholabah dilakukan

Tholabah Kembangan dengan program Perbedaan:
1. Penelitian Khabib
Kecamatan Bukateja pengembangan diri
Kab. Purbalingga”. yang terdiri dari meneliti karakter
religius, sedangkan
kegiatan rutin meliputi penelitian ini meneliti
hasi belajar
kegiatan rutin harian, 2. Penelitian Khabib
meneliti siswa MTs,
kegiatan rutin

mingguan, kegiatan

bulanan, dan kegiatan sedangkan penelitian

tahunan. ini meneliti siswa
SMA

37

38

2 Alik Ansori, 2017, Pendidikan karakter Persamaan:
judul: “Pendidikan berbasis nilai-nilai 1. Sama-sama

Karakter Berbasis religius di SDIT menggunakan Model
kualitatif
Nilai-Nilai Religius di Harapan Umat

SD Islam Terpadu Kembaran secara
Harapan Umat
Kembaran Kabupaten Perbedaan:
Purbalingga”. umum dilakukan secara

optimal, setiap 1. Penelitian Alik meneliti
pembelajaran baik di karakter religius,
dalam kelas maupun sedangkan penelitian
pembelajaran di luar ini meneliti hasil
belajar Hormat dan

kelas yang dilakukan patuh terhadap guru
selalu disisipi nilai- 2. Penelitian Alik meneliti
nilai karakter religius,
siswa SDIT, sedangkan

didukung penggunaan penelitian ini meneliti

Kurikulum 2013 yang siswa SMA N

berbasis karakter,

proses penanaman

yang dilakukan melalui

beberapa Model yang

disesuaikan dengan

materi dan keadaan

peserta didik.

Fuani Tikawati Upaya guru dalam
3 pembentukan karakter
38

39

Maghfiroh, 2016, disiplin siswa di MI Persamaan:
judul: “Upaya Guru Nurul Huda yaitu 1. Sama-sama

Kelas dalam dengan menggunakan menggunakan Model
kualitatif
Pembentukan Karakter Model pembiasaan, 3. Sama-sama meneliti
siswa
Disiplin Siswa di MI keteladanan, ceramah

Nurul Huda dan simulasi. Dari

Kecamatan Belik Model-Model Perbedaan:
Kabupaten tersebut, lulusan dari 1. Penelitian Fuani
Pemalang”. MI ini, karakter yang meneliti karakter disiplin,
harus dimiliki setiap sedangkan penelitian ini
peserta didiknya, meneliti hasil belajar
diantaranya disiplin

yang berasal dari

dalam individu dan

yang datangnya

dariluar dirinya.

39

40

E. KERANGKA BERFIKIR
Proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu siswa,

guru, metode, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada
kurikulum, serta lingkungan fisik, sosial, budaya yang merupakan input untuk
melaksanakan proses pengajaran. Guru merupakan tenaga pengajar dan pendidik
siswa. Karakteristik siswa termasuk remaja akhir karena telah berusia antara 17-18
tahun dimana keadaan perasaan maupun emosinya belum stabil, sudah mampu
berpikir kritis, dan kemauannya tinggi. Metode pembelajaran yang digunakan belum
bervariasi, dominan ceramah tanya jawab serta diskusi. Metode yang kurang
bervariasi tersebut menyebabkan keaktifan kurang dan hasil belajar siswa belum
optimal.

Terkait dengan hal tersebut, perlu adanya suatu tindakan yang dapatmembantu
meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Tindakan yang cocok adalah
diterapkannya model pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung. Hal itu
dapat dilakukan dengan menerapkan model Problem Based Learning (PBL), karena
dalam model tersebut siswa dapat terlibat untuk aktif berpikir, menemukan konsep
baru dalam memecahkan permasalahan pembelajaran yang dikaitkan dengan
masalah dunia nyata (a real world problems). Pada proses pembelajaran dengan
penerapan model ini diharapkan dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar
siswa. Tetapi, apabila antara input dan proses pembelajaran tidak saling mendukung,
maka tidak akan terjadi peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa.

40

41
F. HIPOTESIS TINDAKAN

Hipotesis diturunkan dari kerangka pemikiran. Berdasarkan
rumusan masalah penelitian, tinjauan pustaka, dan kerangka pemikiran,
maka dapat diturunkan hipotesis atau dugaan. Hipotesis tindakan dalam
penelitian ini adalah “Model Problem Based Learning dapat meningkatkan
hasil belajar materi pendidikan agama islam siswa kelas XI Mipa 2 SMA
Negeri 2 sragen tahun pelajaran 2022/2023”

41

42

BAB III
MODEL PENELITIAN

A. PENDEKATAN PENELITIAN
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan deskriptif. Penelitian
Tindakan Kelas adalah suatu kegiatan penelitian dengan mencermati sebuah
kegiatan belajar yang diberikan tindakan, yang secara sengaja dimunculkan
dalam sebuah kelas, yang bertujuan memecahkan masalah atau
meningkatkan mutu pembelajaran dikelas tersebut. Tindakan yang secara
sengaja dimunculkan (Paizaluddin dan Ermalinda, 2016:7). Pendekatan
deskriptif merupakan penelitian yang berusaha menggambarkan dan
mempresentasikan objek sesuai keadaan yang sesungguhnya dan apa
adanya. Tidak ada penambahan dan tidak ada pengurangan. Penelitian ini
disebut juga sebagai penelitian non eksperimen sebab tidak ada rekayasa
dan pengkondisian khusus terhadapa objek yang diteliti (Muliawan,
2018:205).

PTK merupakan bentuk kajian yang sistematis reflektif, dilakukan oleh
pelaku tindakan dan dilakukan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran
(Kisyani dan Tatag, 2018:4). Tujuan utama PTK adalah untuk mengubah
perilaku pengajaran guru, perilaku siswa di kelas, peningkatan atau perbaikan
praktik pembelajarann dan atau mengubah kerangka kerja melaksanakan
pembelajaran kelas yang diajar oleh guru tersebut sehingga terjadi
peningkatan layanan profesional guru dalam menangani proses
pembelajaran. PTK

42

43

B. SETTING PENELITIAN

1. Tempat Penelitian
Tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data

yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di SMA N 2 SRAGEN jalan Angrek

No 34 Sragen.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian

ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada November-Desember 2022

yang disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 3.I Waktu Penelitian

WAKTU

No Kegiatan NOVEMBER DESEMBER

1234 12 3 4

1 Penyusunan Rancangan Penelitian V

2 Pelaksanaan Siklus I V

3 Analisis Siklus I V

4 Pelaksanaan Siklus II V

5 Analisis Siklus II V

6 Pelaksanaan Siklus III V

7 Analisis Siklus III V

8 Penulisan Laporan Penelitian VV

43

44

C. SUBYEK PENELITIAN
Dalam penelitian ini subyek yang melaksanakan

tindakan adalah Guru PAI dan teman sejawat, sedangkan
subyek yang menerima tindakan adalah siswa-siswi Kelas
XI MIPA 2 SMA N 2 SRAGEN.
D. INDIKATOR KINERJA

Indikator yang digunakan untuk mengukur
peningkatan hasil belajar siswa ada tiga indikator
pemahaman. Apabila siswa dinyatakan tuntas belajar jika
telah mencapai tingkat pemahaman materi 85% yang
ditunjukkan dengan perolehan nilai tes formatif lebih
KKM 75.

E. TEHNIK PENGUMPULAN DATA
Dalam penelitian ini digunakan empat teknik

pengumpulan data yaitu sebagai

Gambar 3.1 Desain Penelitian

45

Teknik pengumpulan data yang digunakan:
1. Perencanan Tahapan ini berupa menyusun rancangan tindakan
yang menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh
siapa dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Pada
penelitian tindakan kelas dimana peneliti dan guru adalah orang
yang berbeda, dalam tahap menyusun rancangan harus ada
kesepakatan antara keduanya. Rancangan harus dilakukan
bersama antara guru yang akan melakukan tindakan dengan
peneliti yang akan mengamati proses jalannya tindakan. Hal
tersebut untuk mengurangi subjektivitas pengamat serta mutu
kecermatan amatan yang dilakukan Pada tahap perencanaan
peneliti menentukan fokus peristiwa yang perlu mendapatkan
perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah
instrumen
2. Observasi atau pengamatan berjalan bersamaan dengan
saat pelaksanaan. Observasi dilakukan dengan
menggunakan lembar observasi keaktifan siswa yang
telah dipersiapkan.
3. Tes, soal tes yang telah dibuat diberikan kepada siswa
kemudian diselesaikan secara individu. Tes dilaksanakan
pada setiap awal siklus (pre test) dan akhir siklus (post
test). Tes

Tes yang akan diberikan pada siswa dalam penelitian
adalah tes awal siklus dan tes akhir siklus (tes formatif). Tes
awal siklus digunakan untuk mengetahui nilai sebelum
siklus. Sedangkan tes akhir siklus/ tes formatif dimaksudkan
untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diterapkan

model Problem Based Learning. Materi yang dijadikan 46

bahan tes adalah materi yang diajarkan pada siklus Nomor
Soal
sebelumnya.
1.2.3.4.5
Tabel 2.2
Kisi-kisi Tes

Standar Kompetensi: Mengoperasikan software aplikasi dan gambar.

No. Kompetensi Dasar Indikator Jumlah
Soal
Pra - 3.6.1 Menganalisis
Siklus 3.6 Memahami maknahormat 5 soal
dan patuh
makna hormat kepada kedua
dan patuh orang tuadan
kepada kedua guru, dan empati
orang tua dan terhadap sesama.
guru, dan (C4)
empati terhadap
sesama

3.6.2 Mengevaluasi
maknahormat
dan patuh
kepada kedua
orang tua dan
guru, dan empati
terhadap sesama.
(C5)

Siklus 3.6 Memahami 3.6.1 Menganalisis
1 makna maknahormat
hormat dan dan patuh
patuhkepada kepada kedua 5 soal
kedua orang orang tuadan
tua dan guru, dan empati
guru, dan terhadap sesama.
empati (C4)
terhadap
sesama 3.6.2 Mengevaluasi 1.2.3.4.5
maknahormat
dan patuh
kepada kedua
orang tua dan
guru, dan empati
terhadap sesama.
(C5)

Siklus II 3.2. Menganalisis 3.2.1 Mengidentifikasi 47
Q.S. al- makna dan tajwid 1.2.3.4.5
Isra’/17: 32, Q.S. al-Isra’/17: 32, 5 soal
dan Q.S. an-
Nur/24 : 2, dan Q.S. an-
serta Hadis Nur/24: 2. (C4)
tentang
larangan 3.2.2 Menganalisis
pergaulan keterkaitan antara
bebas dan larangan berzina
perbuatan dengan berbagai
zina. kekejian
(fahisyah) yang
ditimbulkannya
dan perangai yang
buruk (saa-a
sabila) sesuai
pesan Q.S. al-
Isra’/17: 32, serta
hadis
terkait.(C4/HOTS

Siklus III 3.8 Menganalisis 3.8.1Menganalisis 5 soal
pelaksanaan hikmah dan
khutbah, tablig, manfaat ketentuan
dan dakwah khutbah,tablig dan
dakwah. (C4)

3.8.2Membedakan 1.2.3.4.5
contoh
pelaksanaan
antara khutbah,
tablig, dan
dakwah.(C5)

48

F. Tehnik Analisis Data :

1. Instrumen yang digunakan meliputi
1. Tes
Tes untuk materi yang berkaitan dengan KD 3 Tentang materi
PAI, Teknik ini dilakukan untuk memperoleh data hasil belajar siswa.
diterapkan Model Problem Based Learning Peneliti Membuat tes
pilihan ganda yang diberikan kepada siswa setiap akhir pembelajaran
dengan ketentuan :
1) Secara individualsSiswa mendapatkan nilai sama atau melebihi
Ketuntasan Belajar Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh
sekolah yaitu KKM 75 pada mata pelajaran Pendidikan Agama
Islam. Menghitung skor hasil belajar siswa pada setiap
aspek dengan rumus:

Keterangan :
P = Angka persentase aktivitas belajar siswa
F = Jumlah skor yang didapat
N = Jumlah skor maksimal

2. Analisis Antar Siklus
Pada setiap siklus akan dilihat persentase peningkatan hasil

belajar siswa, baik peningkatan nilai rata-rata kelas, maupun
peningkatan nilai yang dicapai oleh masing-masing siswa.
Hal itu dapat dilihat dari peningkatan persentase penguasaan
dan kategori hasil belajar siswa.

49

Analisis data dilakukan di kelas XI MIPA 2 ini dengan
membandingkan antara skor nila tiap siklus dengan KKM yang
telah ditentukan yaitu 75. Teknik analisis data dilakukan dengan
membandingkan antara skor nilai tiap siklus dengan KKM yang

telah ditentukan yaitu 75. Dengan demikian Pengolahan data dengan
analisis, bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar sesudah
menggunaan Model Problem Based Learning Analisis data dilakukan
dengan melihat gaya daya serap, ketuntasan belajar secara individu dan
klasikal.
G. Kriteria Keberhasilan Tindakan

Keberhasilan penelitian tindakan kelas ini dapat diukur dari
indikator hasil belajar siswa. Indikator keberhasilan dalam penelitian
ini adalah :
1. Meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar materi PAI yang dicapai

siswa. Tingkat keberhasilan hasil belajar siswa berdasarkan
perolehan nilai yang lebih tinggi dari rata-rata nilai siklus atau tes
formatif sebelumnya. Sedangkan untuk indikator keberhasilan
hasil belajar siswa adalah di atas Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM) Ketuntasan Minimal (KKM) 85%, maka hasil belajar
siswa dapat dikatakan berhasil. Namun apabila rata-rata nilai kelas
tes formatif pada penelitian ini bawah nilai Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM) 85%, maka hasil belajar siswa dapat dikatakan
belum berhasil.

50

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Kondisi Awal

SMA N 2 Sragen merupakan salah satu sekolah Negeri yang berada di
wilayah kecamatan Sragen.yang beralamat di Jl. Anggrek No
34 Sragen, Sragen Kulon, Kec. Sragen, Kab. Sragen Prov. Jawa Tengah, SMA N 2
Sragen memiliki 30 kelas yang terdiri dari kelas X 10 kelas yang terdiri dari A-M,
kelas XI terdiri 7 kelas MIPA dan 3 kelas IPS sedangkan kelas XII, terdiri 7 kelas
MIPA dan 3 kelas IPS. Pada penelitian kali ini, dilakukan di kelas XI MIPA 2.
Kelas XI MIPA 2 terdiri dari 16 siswa. Siswa yang ada di kelas XI memiliki
kemampuan yang bervariasi dari siswa yang pandai sampai dengan siswa yang
memiliki kemampuan akademik yang kurang.

Pada kondisi awal atau kondisi pra siklus, nilai yang diperoleh siswa dalam
meningkatkan materi PAI belum mencapai nilai KKM yang telah ditentukan.
Selain itu persentase ketuntasan belajar materi Hormat dan patuh kepada orang
tua dan guru pada siswa kelas XI MIPA 2 SMA N 2 SRAGEN belum memenuhi
kriteria ketuntasan yaitu sebesar 85%. Hal ini dikarenakan guru yang kurang
memberikan siswa kesempatan lebih aktif di dalam kelas selama proses
pembelajaran. Guru lebih sering menggunakan Model ceramah, sehingga
keaktifan siswa di dalam kelas sangat kurang. Materi yang di sampaikan guru
kurang dapat dimengerti siswa. Siswa hanya mendengarkan apa yang guru
sampaikan mengerjakan tugas yang diberikan guru. Selain itu, guru kurang jelas
dalam menjelas bagaimana tata cara hormat dan patuh terhadap orang tua dan


Click to View FlipBook Version