www.bacaan-indo.blogspot.com
www.bacaan-indo.blogspot.com
vi
www.bacaan-indo.blogspot.com
Ular
di Mangkuk
Nabi
www.bacaan-indo.blogspot.com Sanksi Pelanggaran Pasal 72
Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Hak Cipta
1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan se-
bagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 49 Ayat (1) dan Ayat (2)
dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/
atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara
paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00
(lima miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau men-
jual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak
terkait sebagai dimaksud pada Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus
juta rupiah).
www.bacaan-indo.blogspot.com Ular
di Mangkuk
Nabi
Kumpulan Cerita
TRIYANTO TRIWIKROMO
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta
www.bacaan-indo.blogspot.com Ular di Mangkuk Nabi
Kumpulan Cerita
Triyanto Triwikromo
GM 201 01 09 0014
Copyright © 2009 oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Kompas Gramedia Building, Blok I Lantai 4-5
Jl. Palmerah Barat No 29-37
Jakarta 10270
Anggota IKAPI
Desain sampul oleh Putut Wahyu
Setting oleh Sukoco
Cetakan pertama: Juni 2009
Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari Penerbit
ISBN: 978-979-22-4742-8
Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta
Isi di luar tanggung jawab Percetakan
www.bacaan-indo.blogspot.com Kau tak akan pernah membayangkan gerimis tangisNya
akan seruncing ini, Cintaku, kau tak akan pernah merasakan...
www.bacaan-indo.blogspot.com
vi
www.bacaan-indo.blogspot.com Daftar Isi ix
Pengantar Goenawan Mohamad 1
Sederet Cerita, dengan Dua Ketukan 9
17
• Iblis Paris 31
• Dalam Hujan Hijau Friedenau 39
• Delirium Mangkuk Nabi 53
• Sepasang Ular di Salib Ungu 61
• Sirkus Api Natasja Korolenko 73
• Matahari Musim Dingin 83
• Badai Bunga 93
• Lumpur Kuala Lumpur 99
• Pelayaran Air Mata 109
• Neraka Lumpur 119
• Malaikat Kakus 129
• Sayap Kabut Sultan Ngamid 139
• Hantu di Kepala Arthur Rimbaud
• Kalanaga 149
• Malaikat Tanah Asal
151
Riwayat Penerbitan Cerita 161
Penutup Budi Darma
Perihal Retorika dan Worldview dalam
Cerita Penuh Motif
Biodata Penulis
vii
www.bacaan-indo.blogspot.com
viii
www.bacaan-indo.blogspot.com Pengantar
Sederet Cerita,
dengan Dua Ketukan
Oleh Goenawan Mohamad
Menakjubkan dengan dua ketukan—itulah yang dicapai oleh Tri-
yanto Triwikromo dengan cerita-cerita pendek ini.
Ketukan pertama: lanskap imajiner Triyanto—orang bisa meli-
hatnya sebagai varian dari ”realisme magis” yang berpengaruh
ke dalam prosa Indonesia sejak Borges dan Marquez beredar di
sini—dihuni oleh hal-hal yang datang dan pergi seperti dalam
waham atau mimpi paling gila. Daftar hal-hal itu bisa panjang:
ada 99 pasang malaikat yang bermaksud datang ke sebuah pesta
perkawinan, ada Iblis Hijau, tubuh yang diselimuti beribu kele-
lawar, dengus naga, tato di tubuh perempuan berumur 61 tahun
yang berupa tikus, kalajengking, capung dan serigala…
Ketukan kedua: seperti dalam tradisi ”realisme magis”, cerita-
cerita ini (bersama hal-hal yang ajaib di dalamnya) mendorong
kita untuk menerima semuanya sebagai bagian yang wajar dari
kehidupan sehari-hari. Dan kita tidak menggugat; bukan karena
ada niat yang kuat untuk percaya kepada apa yang ganjil, melainkan
ix
www.bacaan-indo.blogspot.com lebih karena tak cukup lagi kehendak untuk tak percaya. Dan ini
karena, dari kisah pertama sampai dengan yang terakhir, dunia
cerita-cerita ini tak hanya dibangun oleh imajinasi, tapi juga oleh
data, ritme, dan struktur.
Data: pada Triyanto ada ketekunan seorang reporter yang men-
catat dengan baik fakta dan benda yang ditemukannya sendiri
atau dari laporan jurnalisme dan catatan sejarah. Bahkan bukan
hanya ketekunan, tapi juga keasyikan—terutama jika ia memakai
sebagai latar belakang tempat-tempat di luar negeri (”Paris”,
”Friedenau”, ”Sydney”, ”Melbourne”). Ada bahaya bila ia terlalu
asyik dengan data-data itu: ia bisa terasa berlebihan (sebuah ke-
cenderungan dalam ”Dalam Hujan Hijau Friedenau”). Tapi bila
Triyanto dapat mengendalikan dan memainkan datanya, ia meng-
hasilkan sebuah cerita yang prima (”Iblis Paris”)—seakan-akan
sintesis yang pas dari realisme dan ”yang magis”.
Dalam ”Iblis Paris” kita dapatkan fragmen dan tokoh imajiner,
tapi keduanya diselipkan ke dalam cerita tentang Khun Sa, tokoh
nyata yang menguasai ladang opium dan gerakan perlawanan di
sekitar Burma. Ini sama dengan dalam ”Sirkus Api Natasja Koro-
lenko”: sang tokoh dikaitkan dengan peristiwa terbunuhnya man-
tan agen rahasia Rusia Alexander Litvinko yang beberapa waktu
yang lalu luas tersiar di TV. Dalam ”Hantu di Kepala Arthur
Rimbaud” kita mendapatkan sebuah catatan sejarah yang jarang
dikenal tentang penyair surealis Prancis itu: di tahun 1876 ia per-
nah datang ke Jawa sebagai anggota batalion infantri Belanda.
Data: Triyanto dengan cermat menyebut nama kota-kota de-
ngan detailnya, nama jalan dan nomor alamat (”North Robertson
692”), nama orang asing yang ganjil dari wilayah yang hampir tak
pernah disebut, juga tanggal, juga kutipan, misalnya dari Babad
Dipanegara.
x
www.bacaan-indo.blogspot.com Data semacam itu menunjukkan, cerita tak tercetus menye-
berangi kegelapan, di mana kata-kata bergerak berkasak-kusuk
sendiri. Alir naratifnya berjalan menapak melalui data demi data
—yang dalam cerita-cerita ini dipasang dengan kesadaran seorang
penata panggung yang gemar.
Ritme dan struktur: bagaimanapun ganjilnya peristiwa yang
digambarkannya, cerita-cerita pendek ini tidak pernah awut-awut-
an. Ada koreograi yang necis. ”Pelayaran Air Mata” ditutup de-
ngan empat baris yang disusun untuk mempunyai efek puitis:
Masih kelam juga
Masih suram juga
Masih jelaga
Tak terbaca
Triyanto juga memakai penampilan estetis yang jelas ketika
ia membagi sebuah cerita dalam ”bab-bab” kecil (contoh terbaik
”Delirium Mangkuk Nabi”). Struktur ini atraktif: aneh tapi enak.
Ia menghindarkan cerita menjadi sebuah tesis yang monoton; de-
ngan ”bab-bab” kecil itu ia membentuk suspens.
Dengan kata lain, dua ketukan dalam penyampaian cerita-
cerita ini adalah dua ketukan yang dimaksudkan untuk saling
mengimbangi.
Mungkin itulah akhirnya ”pesan” yang muncul dari ”medium”
yang dipilih Triyanto: yang ajaib dan ganjil bisa apik, yang seram
dan bizar bisa ditata bagaikan ornamen. Semuanya bisa sedap
dipandang dan didengar. Agaknya kumpulan cerita pendek ini
berangkat dari premis bahwa hidup tidak gila, tetapi kegilaan
itu bisa indah, dan dalam saat-saatnya yang paling baik, bisa me-
nakjubkan.
xi
www.bacaan-indo.blogspot.com
xii
www.bacaan-indo.blogspot.com Iblis Paris
Ya, jika pada malam yang liar dan panas, kekasihmu tiba-tiba menu-
sukkan moncong pistol ke lambungmu, sebaiknya dengarlah kisah
brengsekku ini
SEGALANYA begitu cepat berubah setelah Khun Sa mening-
gal. Aku, boneka kencana Raja Opium Segitiga Emas yang di-
sembunyikan dan kelak kau kenal sebagai Zita, memang tidak
mungkin mengikuti upacara kremasi bersama-sama gerilyawan
Shan. Aku tak mungkin mencium harum abu kekasih atau seka-
dar membayangkan mati perkasa dalam amuk api percintaan.
Aku juga tak mungkin berjalan tertatih-tatih di belakang keranda
dan mencoba menembakkan pistol di jidat sebelum kekasih lain
mempertontonkan kesetiaan hanya dengan menangis sesengguk-
an. Sejak 1996 yang menyakitkan, Pangeran Kematian memang
menyuruhku menghilang ke Prancis. Ia yakin benar Mong Thay
Army, serdadu kepercayaannya, tak mungkin bisa melindungi-
ku dari kekejaman para petinggi junta, sehingga memintaku me-
nyingkir ke negeri yang tak terjangkau oleh bedil dan penjara
Burma.
”Bukankah kau ingin sekali bertemu dengan Maria di Lourdes?
Bukankah kau ingin mendapatkan tuah Bernadette Soubirous?”
1
www.bacaan-indo.blogspot.com Tak memilih tanah indah bagi para peziarah itu, sambil me-
manggul kekecewaan yang teramat sangat, aku terbang ke Lyon.
Di kota penuh katedral itu, ia membelikan aku rumah kuno dan
segera kusulap bangunan mirip kastil seram milik Pangeran Kele-
lawar itu menjadi hotel sederhana. Jika suatu saat tersesat di Jalan
Saint Michel, percayalah, kau akan menemukan aku dan Anjeli,
adik perempuanku, mengelola hotel untuk para turis miskin itu.
”Di Negeri Napoleon, kau tak perlu berbisnis heroin lagi, Zita.
Percayalah, sampai aku mati, hotel itu akan tetap berdiri.”
Tanpa ia berkata semacam itu, aku memang berniat membe-
baskan diri dari apa pun yang mengingatkan aku pada segala
yang kulakukan bersama 25.000 serdadu di hutan perbatasan
Thailand, Laos, dan Burma. Aku tak ingin lagi dikejar-kejar oleh
para cecunguk sialan yang mau dibayar murah untuk memenggal
kepalaku. Jika harus membela bangsa Shan, aku tak ingin lagi
mengirimkan serbuk iblis ke berbagai penjuru dunia. Ya, ya, aku
toh bisa menggunakan cara lain untuk menghabisi para serdadu
bengis itu. Kerling mata, jari lentik, dan gairah yang meletup-
letup saat aku menari, kurasa cukup menjadi senjata.
Hanya, aku heran mengapa ia tak mengembalikan aku ke
Dhaka. Ke kota kali pertama ia memungutku saat aku bermain-
main dengan Anjeli di Sungai Buriganga setelah banjir muson
reda. Aku masih ingat pada 1971—saat kotaku menjadi ibu kota
Bangladesh—Khun Sa meminta ayahku, Ghuslan, agar mengurus
bisnis heroin di perbatasan Thailand-Burma. Karena tak ingin ber-
pisah dari keluarga, Ayah mengajak Ibu dan kedua anak perempu-
an bergabung.
”Masa depan kita bukan di negeri ini,” kata Ayah kepada ibu-
ku, Katra.
Aku yang waktu itu masih berusia tujuh tahun sama sekali tak
2
www.bacaan-indo.blogspot.com mengerti maksud Ayah. Yang kutahu setahun sebelum peristiwa
itu Ayah dan Ibu tak pernah lagi mengajak aku dan Anjeli ke
gereja, tak suka lagi mempercakapkan sayap malaikat, dan juga
tak mengenakan kalung salib di leher.
”Cepat atau lambat, kita akan terusir,” kata Ayah, ”Karena itu
ada baiknya kita terima saja tawaran Khun Sa. Percayalah, ini
hanya sementara, Katra. Setelah punya cukup bekal, kita akan
berimigrasi ke Prancis. Bukankah kau ingin hidup berlumur kasih
Maria di Lourdes?”
Antara lupa dan ingat, setahuku Ibu tak menjawab. Hanya,
malam itu juga dijemput sebuah jeep, kami kemudian mening-
galkan Dhaka. Meninggalkan alunan musik Gombhira-Bhatiali-
Bhawaiya dan Delta Gangga-Brahmaputra yang subur. Belakangan
aku baru tahu, kami juga harus menghapus kenangan pada angin
tropis dengan musim dingin yang sejuk pada Oktober-Maret dan
musim panas Maret-Juni. Dan yang tak mungkin kulupakan tentu
saja musim monsun yang hangat dan lembab serta Kota Chitta-
gong yang memiliki pantai terpanjang di dunia. Andai saat itu
boleh memilih, aku tentu tak ingin jauh dari Kuil Dakeshwari,
Istana Bara Katra, Hoseni Dalan, dan Benteng Lal Bagh yang
membuatku bangga sebagai putri Bangladesh.
Rupa-rupanya Ayah tak menduga setelah malam itu kami hanya
akan hidup di hutan bersama pasukan bangsa Shan. Akan tetapi
jangan membayangkan dikepung pepohonan kami tak mengenal
dunia. Khun Sa tak membiarkan putri-putri indah seperti kami tak
bisa menghitung jumlah bintang di langit. Dengan mengundang
guru privat dari Inggris dan legiun asing dari Prancis, ia juga tak
membuat kami asing dari peta, kata-kata, dan bahkan senjata
dari berbagai bangsa. Dan yang tak terduga, para istri pangeran
pendiam itu, mengajari kami menari, mengenal bahasa tubuh,
3
www.bacaan-indo.blogspot.com erang dahsyat percumbuan, serta memahami keindahan melawan
kekejaman para junta.
Karena itu tak perlu heran pada usiaku yang kedua puluh, aku
telah mahir membunuh apa pun yang berkelebat dengan pistol
andalan. Juga tak perlu kaget pada usiaku yang kedua puluh lima,
Khun Sa memintaku menjadi kekasih tersembunyi.
”Siapa pun tak akan pernah tahu bahwa kau telah menjadi
pewaris tunggal kekuasaanku. Kelak junta boleh menghabisiku,
tapi kau tak akan pernah tersentuh. Kelak aku mungkin akan
pura-pura menyerah, tetapi kau akan menyelamatkan bangsa
Shan dari penindasan,” desis Khun Sa sambil terus-menerus men-
cakar punggungku.
Ah, menjadi kekasih tersembunyi, sangat makan hati. Dengan
cara apa pun, kau akan kesulitan mengekspresikan rasa cinta.
Hanya memandang takjub keperkasaan kekasih pujaan di hadapan
serdadu lain, kau akan kesulitan. Hanya mencuri-curi pandang saat
pria yang seharusnya lebih pas jadi ayah memberikan maklumat
kepada pasukan, mata-mata lain akan memelototimu. Karena itu,
aku hanya hidup dalam rahasia sedih sang kekasih. Hanya ketika
ia mengajakku—juga secara sembunyi-sembunyi—ke negeri-
negeri yang jauh aku bisa merebahkan tubuh di dadanya. Hanya
ketika ia meninggalkan puluhan kekasih di Burma aku bisa me-
ngukuhkan diriku sebagai sisihan.
”Pada akhirnya aku akan tua, Zita. Pada akhirnya hanya kau
yang bisa meneruskan perjuangan bangsa Shan,” kata dia sesaat
sebelum memintaku berimigrasi ke Prancis, ”Dan aku tak memin-
tamu kembali ke Dhaka karena kau tak mungkin bisa memimpin
pergerakan di negeri yang hanya memberimu keindahan...”
Keindahan? Ah, aku telah melupakan keindahan sejak hanya
kukenal pertempuran dengan para polisi yang mengejar-ngejar
4
www.bacaan-indo.blogspot.com kami dari hutan ke hutan. Aku telah melupakan keindahan sejak
para junta memaksa kami untuk segera menyerah dan memaksa
tinggal di Rangoon tanpa kebanggaan sebagai pejuang. Aku tak
lagi mengenal keindahan sejak cintaku pada sang Pangeran Ke-
matian hanya bisa disembunyikan di rerimbun dahan. Keindahan,
kau tahu, hanya muncul, sesaat ketika bulan seiris jeruk meman-
carkan sinar tepat di pucuk Katedral Saint Jean. Dan sayang,
sebagai orang yang terpenjara oleh pekerjaan rutin sebagai penge-
lola hotel, sungguh tak mudah dan butuh perjuangan panjang
agar sampai ke situs peribadatan tak jauh dari Forviere itu. Paling
tidak aku harus berjalan kaki dengan tertatih-tatih ke Stasiun
Saxe Gambetta, berganti-ganti kereta bawah tanah yang disesaki
para imigran, untuk pada akhirnya merangkak ke tebing yang
nyaris tegak lurus dengan langit dengan furnicular, dengan kereta
yang lebih mirip sebagai ular melata menembus lorong-lorong
gedung sunyi yang selalu kubayangkan penuh kelelawar itu.
Kau mungkin menyangka setelah riwayat Khun Sa habis, ber-
akhir pula nasib hotel tua dan sepasang perempuan yang kesepian.
Oo, justru kini kehidupan yang sebenarnya sedang dimulai. Tak
terikat pada siapa pun, aku justru berani berbisnis serbuk iblis
kembali. Tak mungkin menggerakkan perjuangan melawan keke-
jaman junta hanya dengan mengandalkan doa para biksu dan
duit kropos dari tabungan para pejuang Shan. Aku juga mulai
tak suka pada kelembekan Aung San Su Kyi yang tidak segera
habis-habisan menghajar para junta dengan bayonet atau sekadar
cakar. Karena itu, ketika bercermin, aku kerap membayangkan
diri sebagai serdadu lagi, dan mencoreng-coreng wajah dengan
water colour warna hijau. Aku juga mulai berkhayal menganggap
semua gedung kuno di Lyon sebagai pohon-pohon raksasa di
perbatasan Thailand-Burma. Serbahitam, magis, dan penuh ular
5
www.bacaan-indo.blogspot.com yang bisa memangsa musuh yang terjebak dan kehilangan cara
untuk menemukan sinar matahari kembali.
Tentu aku masih sangat mencintai Khun Sa, meskipun kurir
heroin keturunan Aljazair-Spanyol, Aljir Duarte, yang memang
bermata nakal, mulai berani meremas pantat dan mengajakku
mandi bersama dalam kucuran shower yang sering macet, atau
memelukku dari belakang ketika aku sedang berdandan di depan
cermin buram, di kamar pribadiku yang berdekatan dengan gu-
dang.
Dan mencintai Khun Sa, kau tahu, haruslah selalu mengang-
gap diri sebagai pisau atau pistol mematikan bagi para musuh
almarhum. Karena itu kepada siapa pun aku tak pernah bercerita
mengenai burung-burung dan ratusan angsa Khun Sa yang ribut
tak keruan setiap mendengar derap kaki kuda kami beradu dengan
tanah berdebu atau saat melihat kami bercumbu di rerimbun po-
hon benuh benalu.
Juga kepada Duarte, aku selalu waspada dan tak pernah ku-
katakan mengapa aku tak pernah mau tinggal di Paris atau sekadar
berdoa di Katedral Notre Dame dan menikmati panas matahari
musim dingin dari Sungai Seine.
”Paris adalah neraka. Iblis manis akan membunuhmu jika kau
bermimpi tinggal di kota brengsek itu. Ketahuilah, Zita, sejak sa-
lah seorang kepercayaanku mengetahui aku mencintaimu, saat itu
pula ia berniat membunuhmu. Kau dianggap akan melemahkan
perjuangan. Karena itu, begitu tahu kau akan berimigrasi ke Pran-
cis, saat itu pula ia mengirim pembunuhmu ke Prancis. Jadi, per-
cayalah kepadaku, Zita, jangan pernah ke Paris. Dan jika aku su-
dah mati, jangan juga pernah bercinta dengan laki-laki dari kota
penuh iblis itu.”
Dulu aku tertawa keras-keras saat Khun Sa mendesiskan kata-
6
www.bacaan-indo.blogspot.com kata busuk itu ke telingaku. Dan kini aku juga tertawa terpingkal-
pingkal ketika Duarte memamerkan rumah mungil di kawasan
bekas biara di Jalan Notre Dame yang di foto terlihat seperti gang
penuh reptil, kodok, pengemis, dan sepeda bobrok itu.
”Ayolah, Zita, aku akan mengubah segala yang tampak seperti
neraka sebagai surga. Setiap hari akan kuajak kau bercinta dalam
boat putih sebelum badai tiba,” dengus Duarte sambil menyeretku
ke gudang penuh debu.
Hmm, pada mulanya aku memang agak tergoda untuk mening-
galkan Lyon. Aku juga mulai berpikir untuk mengakhiri segala
urusanku dengan bangsa Shan. Namun selalu saja ketika dengus
napas Duarte mulai memburu, aku selalu membayangkan lelaki
kencana itu berubah menjadi iblis bersayap merah dengan mon-
cong anjing yang melelehkan air liur bacin. Selalu saja aku tak
sanggup memeluk atau sekadar mencium kening lelaki indah
yang telah malih rupa jadi hewan berbulu runcing itu.
Kalau sudah begitu, Khun Sa akan muncul dari cermin dan
membisikkan kata-kata aneh serupa mantera dari Negeri Kematian
dan menyuruhku mengusir Duarte.
”Kau yakin, dia yang akan membunuhku?” desisku sambil ber-
harap Khun Sa akan menggeleng.
Khun Sa bergeming. Ia tidak menggeleng, tetapi juga tidak
mengangguk.
”Kau yakin, dia musuh terakhir yang harus kubunuh?” kataku
sambil merogoh pistol yang selalu kusimpan di pinggang.
Dan karena dengan sangat cepat aku mengacungkan pistol ke
kening Duarte, lelaki yang hendak mencumbuku dengan berahi
yang meluap-luap itu kulihat menggigil ketakutan.
Menggigil ketakutan? Tidak! Tidak! Matakulah yang lamur.
Dengan gerakan yang sangat cepat dan tak terduga, ia merebut pis-
7
www.bacaan-indo.blogspot.com tol yang siap kuletuskan. Kini ganti Duartelah yang menusukkan
ujung pistol itu ke perutku.
”Ya, sudah lama aku menguntitmu, Zita. Sudah lama aku
akan membunuhmu. Tapi Khun Sa telah mati. Jenderal-jenderal
lain juga sudah kabur ke negeri tetanga, apalagi yang akan kita
bela?”
Tak kujawab pertanyaan Duarte. Kupejamkan mataku dan di
layar serbahitam itu, kulihat Khun Sa bersama ratusan serdadu
berkuda meletuskan seluruh senapan ke jantung Duarte yang tak
terlindung oleh apa pun.
Dan karena peristiwa itu terjadi berulang-ulang—juga ketika
Duarte serius meminangku—kini aku kian yakin, di Paris, aku
tak akan pernah meninggalkan sepasang sandal, sehelai gaun dan
cincin pengantin.
Di Paris, kau tahu, hanya ada iblis yang tergesa-gesa mengetuk
pintu dan menusukkan pistol di lambungku yang ringkih tanpa kendhit
pengaman.
Sudah mati jugakah Thian?
Paris September 2007-Sydney Januari 2008
8
www.bacaan-indo.blogspot.com Dalam Hujan
Hijau Friedenau
KERETA yang sesaat berhenti di Stasiun Friedenau itu memang
semula ingin menumpahkan aku dan 99 pasang malaikat yang
ingin merayakan pernikahanmu dengan Ellen Adele, Arok. Dari
Apartemen Carstennstr 25 B—tempat kita (sepasang iblis manis
pemuja Mozart), menggambar percintaan ribuan kelelawar di
kanvas bekas dan menciptakan komposisi kebrengsekan Berlin
di gamelan sengau dan piano busuk—aku memang merayu para
malaikat itu agar mau mengunjungi makamku di Waldfriedhof
Zehlendorf. Tentu aku tak bisa lagi melihat tubuhku yang hingga
Agustus yang biru masih disorot kamera dan asyik masyuk dalam
pemotretan untuk reklame sabun bagi para perempuan uzur itu.
Tentu di bawah langit Berlin yang senantiasa menyerupai ben-
tangan kain teteron abu-abu aku hanya mendapatkan guci abuku
dililit akar dan digerogoti para cacing. Dan setelah kremasi yang
indah pada Rabu tersaput salju di kuburku, aku memang tak bisa
lagi merasakan teduh cemara zedar perkasa yang kini mungkin
dilupakan oleh siapa pun yang berjalan tergesa-gesa mengejar
kereta. Namun, sebelum menghadiri pesta pernikahanmu, aku
memang perlu merasakan sihir cinta yang pernah kausepuhkan
di pohon-pohon dan dedaunan penuh embun itu.
9
www.bacaan-indo.blogspot.com Arok, Arok, mein Herz1, hingga kini aku tak pernah menyesal
mencintaimu. Dan aku kian tahu betapa kematian tak menghapus
partitur asmara karena kau tak pernah menganggap aku mati justru
saat itu sebentar lagi tubuhku meleleh dilahap api pembakaran.
Dan aku paham, ketika memberiku musik menggairahkan pada
upacara duka, sesungguhnya kau hendak mengatakan, tak perlu
siapa pun takut pada taring maut jika mereka tak pernah mengang-
gap kehidupan sebagai berlian yang harus disimpan di almari besi
tanpa kunci dan gembok sembarangan.
Ya, saat kau memutar ”La Cathédrale Engloutie” Debussy yang
khidmat, agung, dan gaib, aku memang terkenang perkenalan
pertama kita. Perkenalan sepasang manusia yang sama-sama di-
asingkan oleh manusia lain. Kau disingkirkan oleh para serdadu
Alas yang tak suka pada komposisi ”Genjer-genjer” yang telah
kaudekonstruksi dalam nada-nada gamelan magismu, sedangkan
aku harus menyingkir dari ancaman mata bengis tentara yang
menganggap para perempuan keturunan Yahudi sepertiku hanya
sebagai anjing kudisan yang setiap saat harus menyerahkan ba-
tang leher untuk digantung atau diberondong tembakan. Ah,
apakah kau mengerti saat itu aku ingin sekali mengajakmu menari
serampangan untuk melawan pesona musik yang melenakan itu?
Sudah kuduga kau juga akan ingat Chopin. Kau pasti memilih
”Mazurka a-moll, opus 68 nr 2” untuk mengenang masa remajaku
sebagai binatang buangan yang bertahun-tahun hidup ilegal di
Kota Danzig, ketika aku menyembuyikan diri dari buronan Nazi
sekitar 68 tahun silam. Untuk apa kaukenang rasa sakitku itu,
Arok? Apakah kau ingin menjadi trubador sinting yang setiap
1buah hatiku
10
www.bacaan-indo.blogspot.com hari mewartakan ketakjuban manusia pada derita orang-orang
yang terusir dari kesunyian tanah yang dipuja sepanjang hayat?
Tapi terus terang aku terkejut saat kau memutar ”Der Mond
im Wassertropfen”2, komposisi ngelangut yang menjeratku. Aku
jadi geli sendiri saat kau menghadirkan suaraku yang agak retak
melantunkan bait-bait sajak yang kita buat bersama itu. Apakah
cinta memang bisa membuat siapa pun jadi sepasang angsa hitam
yang cerewet melengkingkan nada-nada kacau di biru kolam,
Arok? Tak perlu kau jawab pertanyaan itu. Aku toh tak akan
pernah mendengarkan apa pun ketika sedang menikmati ”La mi
darem la mano” dari opera Mozart, ”Don Giovanni”. Dan karena
kau mempersembahkan aria favoritku itu dalam kesedihan yang
agung, itu berarti pada saat yang sama kau ingin meniadakan
dirimu. Kau ingin menghilang dari kesunyian pekuburan. Kau
ingin moksa bersamaku dalam saputan salju biru, dalam saputan
keheningan yang berseteru dengan waktu.
Mengenang segala yang kini sering tampak mengabur di langit
yang membentang di atas Kanal Landwehr itu, aku jadi malu
mengapa pada suatu senja yang pucat aku bilang kepadamu, ”Arok,
mein Schatz3, janganlah kamu bicara tentang hari depan. Apakah
kamu tak melihat gelagat ini, bahwa waktu hidupku bersamamu
sudah menjelang habis?”
Ya, kau juga tidak menduga pada malam karut-marut seusai
mendengarkan Bach, aku mengajakmu membicarakan perihal
2komposisi musik karya Paul Gutama. Saya perlu berterima kasih kepada
komponis yang kini tinggal di Berlin ini karena bertolak dari semacam catatan
harian tentang kematian Eva Ebner bertajuk ”Protokol Sebuah Kedukaan” yang
ia tulis untuk para kerabat dan saudara, cerita ini terlahir.
3kekayaanku.
11
www.bacaan-indo.blogspot.com teknik bunuh diri yang paling indah. Dengan tenang aku bilang
bunuh diri ala Eva Braun, istri Hitler, bukanlah strategi mati yang
lebih indah daripada cara bunuh diri para perempuan Jepang,
jigai. Ya, sangatlah menggetarkan menusukkan jarum rambut atau
pisau ke ulu hati, sebagaimana Yukio Mishima melakukan hara-
kiri atau seppuku dengan menusukkan wakizashi, pisau kecil yang
tajam, itu ke perut.
Setelah menulis jisei no ku atau puisi kematian, dengan mu-
dah, mungkin aku bisa menyobek perut sesuai dengan prosedur
jumonji-giri dan ususku bakal memburai, tetapi aku yakin benar
kau tak akan mau menjadi algojo yang dengan cepat memenggal
kepalaku dengan samurai. Kau tak akan bersedia menjadi Kai-
shaku-Nin karena tak pernah belajar Seiza Nahome Kaishaku. Dan
kalaupun kau belajar ilmu memancung kepala dengan cepat dan
baik itu, kau tak akan tega melihat darah segar muncrat dari ba-
tang leherku.
Tentu saja keinginanku untuk mati secara tak lazim, ini mem-
buatmu tegang, waspada, dan akhirnya mendorongmu mengawasi
segala gerak-gerikku.
Aku juga mengerti hatimu pasti tersobek-sobek saat di ran-
jang ketika sebagai mayat hidup, aku menangis tersedu-sedu dan
mendesis, ”Arok, mein Herz, mari, mari tolonglah diriku kaukeluar-
kan dari kungkungan hidup yang tak berguna dan tak berharga
ini! Selama hidupku aku mencintai kamu; ayolah Arok, mein
Süsser4, tolonglah diriku ini!”
O, mengapa aku begitu cengeng? Bukankah jika aku gigrik
pada maut sudah sejak dulu kuserahkan tubuhku pada amuk gas
yang diembuskan para tentara di ghetto? Bukankah jika aku lebih
4manisku
12
www.bacaan-indo.blogspot.com karib pada kematian, sudah sejak dulu kusongsong saja peluru
atau runcing bayonet para serdadu? Tidak, Arok, tidak, aku sangat
memuja hidup. Dan 90 tahun hidup di dunia—meskipun tak se-
lamanya bersamamu—dengan cinta dari lelaki dari Negeri Ke-
pulauan yang tak tertandingi tentu lebih berharga dari bunuh diri
yang paling patriotik sekalipun.
Karena itu, aku biarkan Malaikat Maut mencabut nyawaku
pelan-pelan. Aku biarkan dia mempermainkan denyut jantungku
menyerupai irama dentuman bedhug Kitaro atau gesekan biola
ngawur Vanessa Mae. Dan tahu betapa insuisiensi jantungku
bakal tak bisa disembuhkan, aku justru bersemangat menjalani
hidup. Kau tahu, Arok, menjelang kematianku pun, aku masih
bergembira membuat ilm. Aku juga masih mengendarai mobil,
berbelanja, atau bertemu teman-teman mudaku. Malah, ketika
titik nadir kehidupan mulai tampak, aku masih punya jadwal ken-
can dengan para ahli akupunktur.
Apakah pada saat itu kau kerap mendengarkan aku bercakap-
cakap dengan Claudia Okonek, fotografer yang sangat karib de-
nganku, mengenai keindahan tubuh orang-orang mati? Tubuh
orang mati memang tak seindah Kristus tersalib yang melayang-
layang di angkasa dalam lukisan Penyaliban Putih March Cagal
yang mengerikan. Tubuh orang mati juga tak seburuk dan sesunyi
raga Isa yang terbujur kaku, kurus, kering, dan tak berdaya
diimpit semacam sarkofagus dalam lukisan Hans Holbein, Tubuh
Kristus dalam Makam. Tubuh orang mati, menurutku, menyerupai
keagungan badan Yesus saat ia mikraj, saat Raja Orang Yahudi
itu melayang-layang menembus awan. Kau tak perlu mencari Sal-
vador Dali atau Kollwitz untuk mempercakapkan keindahan yang
tak tepermanai itu. Di setiap rumah orang-orang Eropa yang ma-
sih memuja keagungan katedral, kau akan mendapatkan tubuh
13
www.bacaan-indo.blogspot.com pualam pria dari Nazareth itu terpajang di sembarang dinding, di
sembarang ruang.
Tapi, kau sangat tahu, Arok, aku bukanlah pemuja kemolekan
tubuh. Juga terhadap tubuhku, tubuh yang kerap kauanggap se-
bagai boneka asing yang dibentuk oleh penggerabah paling kam-
piun itu. Karena itu, kubiarkan saja segala yang terjadi pada
tubuh. Kubiarkan badanku yang tiba-tiba susut menjadi kecil dan
sangat ramping. Kubiarkan juga ketika tubuhku yang kian menge-
riput seakan-akan tak bisa lagi menempati cangkang. Aku mem-
bayangkan tak sekadar menyusut, tidak lama lagi tubuh itu akan
meleleh seperti lilin yang terus-menerus dibakar, seperti plastik
yang hangus, seperti cacing berlendir yang baru saja disiram ben-
sin dan menggelepar di semak belukar.
Pada saat-saat seperti itu, aku ingin memberimu hadiah terin-
dah, Arok. Ketika usiaku menjelang 90 dan kau baru 70 tahun,
rasanya tidak adil jika aku tetap mengharapkan kau hidup dalam
dekapan sunyi tubuh yang telah berjingkat-jingkat menjadi ma-
yat. Karena itu, pada saat masih hidup, aku sangat berharap Adele,
perempuan pualam 60 tahun dari New Zealand, asisten kita yang
memahami nada-nada anehmu, itu bersedia menjadi mempelai
barumu.
Namun aku yakin benar, sambil memainkan gamelan dengan
lengking paling thing, kau akan menolak mentah-mentah permin-
taan ganjilku itu.
”Apakah kini kau menganggapku sebagai iblis paling rapuh,
sehingga perlu memberiku malaikat pelindung? Apakah kau tidak
lagi menganggapku memiliki kekudusan cinta, sehingga perlu
memberiku kisah percumbuan yang lain?”
Tak kugubris teriakan tak keruanmu. Aku yakin segalanya
gampang kausangkal. Jika kelak pada akhirnya kau tetap menolak
14
www.bacaan-indo.blogspot.com mencintai perempuan yang sejak dulu sangat memujamu itu, tidak
ada cara lain, aku yang senantiasa kau anggap kesurupan gairah
Eva Braun saat bercumbu, akan menyusup ke dalam jiwanya yang
masih ranum.
Namun, mengertilah, Arok, aku tidak ingin mencintaimu de-
ngan cara yang sekonyol itu. Karena itu, sebelum mati, aku ber-
usaha menciptakan situasi yang membuat hidup kalian saling ber-
gantung. Kadang-kadang kubiarkan kalian berjalan-jalan sendiri
ke hutan-hutan tropis atau kota-kota romantis. Kadang-kadang
—ini yang tak kalian sadari—aku telah memengaruhi siapa pun
agar memperbolehkan kalian menikah pada saat lampu-lampu
di Berlin menguarkan warna hijau, pada saat hujan membentur-
bentur kaca jendela apartemen dalam nada yang mengingatkan
kita kepada desau angin ketika Adam dan Eva diusir dari Eden,
dari taman yang senantiasa kauanggap sebagai surga.
Tetapi jangan sekali-kali menganggap Adele hanya sebagai
boneka rapuh atau hewan persembahan dalam persekongkolan
cinta kita, Arok. Dia, aku tahu, pada saatnya nanti akan menjadi
malaikat termanis yang mengembangkan sepasang sayap untuk
melindungimu dari hajaran bengek dan encok. Dia pula yang akan
menemanimu kembali menikmati harum pohon kelapa, wangi
kemangi, dan sedap makanan tanah asal di Negeri Zamrud Kha-
tulistiwa. Kelak kau akan paham betapa segala yang kaucurah-
kan padaku, pada tubuh jeruk keriput ini, membuahkan Adele
yang mengerti bahwa dalam keindahan cinta, tak perlu lagi se-
pasang hewan yang senantiasa mendesis di keheningan sofa mem-
pertanyakan mengapa mereka senantiasa menjadi kanak-kanak
tanpa dosa.
”Tapi aku beranjak tua dan pikun, sedangkan Adele masih cu-
kup ranum,’’ kubayangkan kau tetap menolak keinginanku.
15
www.bacaan-indo.blogspot.com Ya, dulu saat kau mencintaiku, saat kau mencintai hewan uzur
yang terusir dari kebun binatang Berlin, aku juga merasa mencintai
kanak-kanak yang berwajah serigala. Kadang-kadang aku bahkan
merasa menjadi Jocasta bagi Oedipus, sehingga ingin kucungkil
bola mataku, agar tak kulihat keranuman bocah yang kucinta.
Tetapi sudahlah, Arok, hari ini toh akhirnya kau menikahi
Adele. Hari ini toh kaubiarkan hujan menerpa neon-neon hijau,
sehingga bahkan kereta yang melewati Stasiun Friedenau pun tam-
pak seperti binatang purba serupa anaconda membelah kota.
Apakah cinta telah menghijau pula? Tak perlu kita persoalkan
apakah warna cinta menyerupai maut atau cemara. Aku hanya
ingin kau tahu kereta yang sesaat berhenti di stasiun itu memang
semula ingin menumpahkan aku dan 99 pasang malaikat yang
ingin merayakan pernikahan indahmu dalam hujan hijau, dalam
sihir angin Friedenau. Tetapi tak ingin menjadi hantu pengganggu,
mungkin kuurungkan keinginanku mampir di apartemen barumu.
Mungkin aku hanya akan menatap sepasang reptil bercinta dari
kejauhan. Mungkin aku hanya akan mendengar suara dengus tak
keruan berkejaran di keheningan.
Mungkin aku hanya akan…
Berlin, September 2007-Benhil, April 2008
16
www.bacaan-indo.blogspot.com Delirium
Mangkuk Nabi
Seperti Guernica, Seperti Skizofrenia
KAUPIKIR aku gila? Kaupikir setelah otakku dioperasi, segala
yang ada di kepala hanyalah dunia aneh orang-orang yang terbu-
nuh percuma di Spanyol ketika Basque dibombardir pesawat Nazi
pada April getir 1937 dalam lukisan Picasso, Guernica? Kausangka
aku skizofrenia? Kausangka setelah dokter mengacak-acak otakku
seluruh energiku hanya terpusat untuk menghitung mayat-mayat
berusus memburai yang tergeletak di jalan-jalan Kuta saat mereka
yang mengaku sebagai pemuja fanatik Allah membunuh dirinya
sendiri dengan bom rakitan sederhana? Karena itu jugakah saat
tampak di matamu aku menggendong bayi Aborigin berlumur da-
rah, lantas kauanggap makhluk ajaib dari langit itu hanya sebagai
boneka plastik biasa?
Jangan juga menganggap aku sedang menderita delirium.1
WuuuuufffffZzggggggWuuuufffffZggggg1414Ciqummm
zqq987rcirqumzzzzzzzKlingKlangzzzqircum1426zqqstdp
1Delirium adalah gangguan mental.
17
www.bacaan-indo.blogspot.com Kling12KlangxxxxxrwKlang.aotqwuuuufKlang.
xyrqxrukKlingklang 14ktpnkk.rzowqtk90000. KlingKlang!
Kau tahu saat iseng naik kereta dari Newtown ke Circular
Quay, Redfern, Town Hall, Museum, Saint James, bahkan ke
Bondi Junction, dan Pelabuhan Udara Internasional Sydney, aku
memang selalu ingin membopong bayi-bayi merah yang dibuang
oleh para perempuan sableng berwajah celeng begitu saja di ta-
man ke beranda ibu-ibu mandul di sembarang rumah.
Selalu ada sosok iblis berwajah hijau memintaku melakukan
perbuatan konyol itu. Semua tindakanku—termasuk kadang-
kadang menyeret mayat bayi-bayi di jalanan dan tak peduli pada
bunyi gesekan kepala dengan pedestrian—digerakkan oleh bisikan
menyerupai desis ular yang berkecamuk di hati.
”Jika semua perintahku kaulakukan, kau akan mendapat Mang-
kuk Nabi.”
”Mangkuk Nabi?”
”Rahasia Mangkuk Nabi hanya akan kauketahui jika kau me-
lakukan seluruh perintah tanpa mempersoalkan baik buruk perin-
tah itu. Jika kau tak melakukan...”
Jika aku tak melakukan, iblis kurang ajar itu akan memukul
kepalaku dengan palu. Jika kemarahannya kian memuncak dan
tidak terkendali, ia selalu menggorokkan ribuan gergaji liliput
nun di labirin otakku yang penuh simpul-simpul syaraf.
”Kali ini bawalah bayi-bayi yang telah kami simpan di salah
satu ruang pamer Galeri Nasional ke Taman Botani. Sembunyi-
kan bayi-bayi itu di bawah pohon penuh kelelawar. Beberapa pe-
rempuan Aborigin yang sedang menari untuk ulang tahun kemer-
dekaan akan mengambil dan mengasuh mereka. Jangan sampai
polisi tahu....”
Tak bisa bertanya mengapa bayi-bayi itu harus disembunyikan
18
www.bacaan-indo.blogspot.com di Galeri Nasional dan tak mungkin menolak perintah itu, aku
melesat ke ruang-ruang sejuk yang dinding-dindingnya dipenuhi
oleh lukisan-lukisan Sidney Nolan yang menggambarkan perjuang-
an Ned Kelly melawan polisi-polisi kolonial Inggris rakus yang
senantiasa menindas orang-orang miskin. Karena tidak tahu di
ruang mana orok-orok itu dionggokkan, aku terpaksa menyusup
dari ruang ke ruang. Itulah sebabnya, aku jadi tahu bagaimana pe-
lukis Nolan memindahkan realitas perburuan para polisi terhadap
pejuang tangguh berbaju dan bertopeng besi keturunan Irlandia
itu dari kota-kota kelabu ke hutan-hutan rimbun Victoria yang
liar ke kanvas penuh warna hijau daun, cokelat tanah, dan hitam
besi. Aku jadi mengerti betapa pada suatu masa Kelly—yang en-
tah mengapa digambarkan telanjang bulat—sangat kelelahan me-
nembus hutan menunggang kuda yang juga kelelahan.
Tak tahan merasakan penderitaan dalam lukisan bersaput
warna cokelat tanah yang memancarkan kesedihan yang seakan-
akan tak bisa ditanggung bahkan oleh Kristus, aku berhasrat me-
ninggalkan tempat yang lebih pas kusebut sebagai Neraka Kelly
itu. Namun belum sempat mencari pintu keluar, suara sengau iblis
hijau menghardik di telingaku, ”Kau tidak ingin bernasib seperti
dia bukan? Atau dengan tubuh yang juga telanjang mungkin kau
malah ingin kami salib tepat di undak-undakan Sydney Opera
House?”
Tak kujawab pertanyaan itu. Daripada mendapatkan siksaan
yang lebih menyakitkan –kadang-kadang Iblis Hijau memasukkan
sepuluh semut merah membara ke mata—aku kemudian mencari
orok-orok itu. Ternyata tepat di kaki kuda merah Kelly, aku mene-
mukan tiga orok yang masih berselimut darah.
Dan setelah itu, aku tak perlu menceritakan bagaimana orok-
orok itu kusembunyikan bukan? Namun, mengertilah, Tuan, pada
19
www.bacaan-indo.blogspot.com pagi yang belum terlalu mekar, pada saat orang-orang Aborigin
menari-nari di taman dan ditonton turis dari segala penjuru du-
nia, lima pasang mata polisi mengintip dari balik pohon penuh
ulat itu. Mereka bisa saja menembakku. Dan kalau mereka mem-
bunuhku tamatlah karierku sebagai desainer gaun pengantin.
Tamat pula kegemaranku mengoleksi lukisan-lukisan klasik dari
segala penjuru.
Karena itu sebelum mereka melesatkan peluru ke jidat, sebelum
mereka meledakkan jantungku dengan beringas, sebaiknya aku
segera bergegas ke vending machines. Kau tahu, di penjara minuman
ringan yang dingin itulah teman-temanku disekap polisi. Aku
akan segera melepaskan mereka....Aku berharap mereka akan ber-
juang bersamaku melawan polisi-polisi rakus yang ingin mengubah
benua indah ini hanya sebagai burger murahan.
Seperti Penjara, Seperti Jurang Menganga
Tak ada cara lain aku harus melesat ke kereta. Aku harus mencari
gerbong yang paling sulit dijangkau oleh para pembunuh sialan
dan segera mendapatkan vending machines yang paling banyak me-
nyedot para pejuang negeri ini.
Dan tentu saja siapa pun bisa menebak aku akan ke mesin
minuman yang dipajang di pelabuhan udara, karena di tempat
itulah para polisi tidak punya cara lain untuk menangkap para
penjuang yang hendak migrasi ke negeri-negeri atau benua tak
tergapai, kecuali menggunakan sihir vending machines.
Tak tahu siapa yang merancang penjara konyol itu. Yang je-
las selalu saja—dalam pandanganku yang kian lamur—setiap
kawan-kawanku yang mereka sangka sebagai pemberontak itu
20
www.bacaan-indo.blogspot.com bergegas menuju ke pesawat, selalu saja mesin-mesin pemenjara
itu menyedot ke semacam labirin selang-selang gelap dan mem-
bekukan mereka.
Karena itu untuk membebaskan mereka, aku harus segera me-
masukkan koin-koin kesayangan sebanyak mungkin agar banyak
pula yang bisa segera menyembul dari mesin dan membantuku
mengumpulkan bayi-bayi yang terbuang di lorong-lorong—ter-
utama yang mengonggok di pusat prostitusi atau red light district
King’s Cross—dan memberikan nabi-nabi masa depan itu kepada
ibu-ibu yang dipilih oleh alam untuk mengasuh mereka.
Kau boleh tak percaya bagaimana para pejuang—yang mereka
sangka sebagai pemberontak dan bramacorah—menggelinding dari
vending machines dan kemudian melesat menyibak dan mengejut-
kan kerumunan turis yang takjub pada pemandangan yang tidak
pernah mereka saksikan itu. Tapi berkali-kali bersama koreografer
Shaun Parker di beberapa halte, stasiun, dan pelabuhan udara aku
sungguh-sungguh menyaksikan peristiwa-peristiwa yang kadang-
kadang membuat aku bersimpulan betapa Tuhan punya kisah-
kisah masa lalu yang perih di kota ini.
Memang tak ada cahaya hujan di halte itu. Namun hampir
setiap orang yang teronggok di tempat yang dikelilingi cermin
itu seperti sedang bermain-main dengan cahaya merkuri yang
dipantulkan oleh hujan yang cukup deras. Dua perempuan kembar
yang kulihat saat itu, misalnya, berkali-kali mencoba saling ingin
mengekspresikan bagaimana warna sakit yang diderita Kristus
saat tersalib. Di depan cermin, mereka membentangkan sepasang
tangan sambil menyeringai dan kemudian menangis bersama-
sama. Setelah itu mereka saling berbisik, menangis, dan akhirnya
berteriak, ”Kapan lagi akan kausalib kami, wahai budak setan?”
Ada juga seorang laki-laki berwajah Itali yang tengil memainkan
21
www.bacaan-indo.blogspot.com biola sambil sesekali menirukan setiap gerakan yang dilakukan
oleh semua orang yang tersesat di halte itu. Aku menduga setiap
tindakan laki-laki sinting ini hanya digerakkan oleh keisengan
yang akut. Mula-mula ia menirukan tarian kupu-kupu laki-laki
remaja bermata China yang senantiasa memanggul skateboard,
setelah itu ia berperilaku sebagai belibis yang terbang tak keruan,
dan pada akhirnya bergerak menuju vending machines, memasukkan
beberapa koin, dan berteriak kegirangan begitu melihat beberapa
manusia (ya sungguh-sungguh manusia) menggelinding dari mesin
minuman dan makanan ringan itu dalam baju warna-warni yang
harum dan tubuh yang segar.2
Wuuuuuuzzzzzzzzzzglbrglbr14qmwzzzzzglbrqm14zzzzzzzzzzzzopp
glbrglbrqmzzzzzwkmqmwzzzzzzzglbrglbr14qm14qmqgbrgbr
Selalu peristiwa itu hanya berlangsung sekejap. Selalu setelah
itu beberapa polisi datang dan menyergap lelaki berwajah Itali,
menyalib atau menggantung si gila di tiang listrik dan meminta
mesin jahat menyedot segala benda yang berseliweran di halte.
Tidak! Tidak! Bukan hanya orang-orang yang disedot ke semacam
jurang gelap menganga, tetapi halte itu lenyap dalam sesaat dan
jadi benda liliput di dalam vending machines.
Wuuuuuuuuuuzzzzzzzzwrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrwuzzzzzz
zzzzzzwrglbrglbrrirzirqwirzirqwr
Sejak saat itu aku beranggapan Tuhan atau siapa pun yang
hendak menjadi mesias bagi dunia yang sakit disedot oleh mesin
pemenjara yang tolol itu. Sejak itu aku juga percaya cahaya hujan
2Dalam koreograi This Show is about People yang dipentaskan di Sydney Op-
era House koreografer Shaun Parker juga menggunakan vending machines untuk
mempertajam setting halte. Kadang-kadang mesin minuman itu juga berfungsi
sebagai pintu keluar masuk pemain.
22
www.bacaan-indo.blogspot.com atau apa pun yang meneduhkan kehidupanmu dipenjara oleh
polisi dan tidak diberi kesempatan bebas, kecuali ada orang-orang
berhati tulus yang memasukkan koin-koin kesayangan ke dalam
penjara aneh yang menyeramkan itu.
Dan karena aku yang kerap dirasuki oleh mimpi-mimpi me-
nakjubkan dalam sentuhan irama J.S. Bach yang melarat-larat
memang kerap secara tidak sengaja berada di halte-halte busuk
itu, sehingga aku terdorong untuk selalu membebaskan siapa pun
yang dipenjara oleh para polisi hanya karena mereka tersesat di
sebuah halte, stasiun, atau bandara yang sedang disterilkan atau
dibebaskan dari para teroris yang berkeliaran.
Semula aku tak punya keberanian terlibat dalam urusan-urus-
an musykil itu. Namun sejak otakku dioperasi, sejak aku bertemu
dengan sosok iblis berwajah hijau yang memintaku menjadi se-
macam mesias untuk menyelamatkan Australia dari polisi-polisi
yang telah dikendalikan sebuah jaringan internasional yang ingin
menghabisi orang-orang Aboirigin—bahkan sejak saat mereka
masih bayi—aku jadi belajar melawan ketakutan.
Seperti saat ini aku harus melawan ketakutan berlari dari ger-
bong ke gerbong menghindari kejaran polisi, menghindari hukum-
an penyaliban di tengah kota, menghindari kemungkinan Tuhan
akan memiliki tambahan kisah masa lalu yang perih karena tidak
bisa menyelamatkan salah satu putra terkasih yang Ia utus dari
kejaran setan-setan Sydney yang merasuk dalam kehidupan para
polisi sialan.
Aku berharap pada saat-saat semacam ini cahaya merkuri yang
mengabur dalam hujan mendera kaca kereta. Aku berharap jika
para polisi bisa menangkapku ia akan menyalibku dalam suasana
indah tidak seperti saat Yesus menyeringai dalam kegelapan Bukit
Golgota.
23
www.bacaan-indo.blogspot.com Kini aku bertanya kepadamu: apakah para polisi masih mengejarku?
Apakah mereka akan melesatkan sebutir peluru ke lambungku?
Seperti Iblis Hijau, Seperti Salib Hijau
Tak perlu lama menemukan jawaban dari pertanyaan konyol itu.
Iblis Hijau—yang seharusnya tidak perlu kurahasiakan kepada-
mu bahwa ia tak lain dan tak bukan adalah pria cantik Inggris
bermaskara ungu yang mengingatkan aku pada Paul Capsis saat
memainkan Boulevard Delirium di Malthouse Theatre Melbourne
—ternyata sejak tadi menguntitku. Ia tidak punya sayap, tetapi
ia selalu seperti bisa mengejar ke mana pun aku melesat. Ia tidak
pernah tinggal serumah denganku di Newtown tetapi seakan-
akan justru mengendon di dalam otak. Seperti saat ini ia sudah
berada di gerbong paling belakang. Ia melambaikan tangan dan
meminta aku duduk di sebelahnya.
”Akhirnya harus kukatakan kepadamu: para polisi memang
sengaja menjebakmu di kereta ini, Vern. Jika kau ingin selamat,
tidak ada cara lain, kau harus meloncat dari kereta ini. Sembunyi-
lah di tempat pembuangan sampah. Tunggu kereta lain dan segera-
lah ke pelabuhan udara.”
”Apa yang akan terjadi jika aku tertangkap? Kau tak akan
membelaku?”
”Jika kau tertangkap saat ini, kau tak akan tahu rahasia
Mangkuk Nabi. Dan yang lebih parah lagi, kau akan akan diseret
ke kamar penyaliban yang terletak di belakang ruang masinis.”
”Kamar penyaliban?”
”Ya di kamar bergorden hijau itu terpancang salib hijau yang
khusus dipersiapkan untuk menyalibmu. Menurut nubuat yang
24
www.bacaan-indo.blogspot.com kubaca dalam Kitab Salib Hijau, korban akan disalib tanpa penu-
tup mata lalu para polisi akan menembak lambung sosok yang
mereka anggap sebagai bramacorah itu. Dan sebelum mening-
gal ke dalam mata mata si tersalib akan dimasukkan semut me-
rah.”
”Jadi...”
”Meloncatlah sekarang....”
Seperti Gaun Merah, Seperti Langit Merah
Kau pasti tidak tahu apa yang ada di dunia sampah. Mula-mula
kutemukan apel busuk. Di apel itu masih tersisa bekas lipstick me-
rah menyala dan sedesisan kata-kata aneh. Kata-kata yang meng-
ingatkan aku pada ratapan Eva saat dikhianati seekor ular di Ta-
man Eden. Ada juga sobekan majalah bergambar Kristus tersalib
dan kalimat ”Setiap Tuhan Punya Masa Lalu yang Perih. Apakah
Ia Punya Luka yang Tak Tersembuhkan Juga?”
Yang tak kuduga ada korek api Zippo bergambar semacam hujan
yang menyala merah. Di korek itu ada tanda salib dan grairan agak
kabur berbunyi ”I hate J.”. Tak tahu siapa yang membuang benda
indah itu di sini. Yang jelas jika saja aku mau iseng menyalakan
korek itu, Sydney bisa terbakar. Tapi kau tahu oleh Iblis Hijau aku
diperintah untuk menjadi juru selamat, sangat tidak mungkin aku
melakukan tindakan yang bakal menyengsarakan banyak orang
itu.
Sampah yang kubenci adalah ayam junk food dan kentang go-
reng tengik di tong sempit yang untungnya bisa digunakan un-
tuk membuang rongsokan apa pun seukuran lebih dari seorang
dewasa ini. Di dalam dunia potongan-potongan ayam yang telah
25
www.bacaan-indo.blogspot.com berbelatung itu aku seperti dalam ruang penjagalan tanpa udara:
menjijikkan sekaligus menyeramkan.
Sangat beruntung di tong sampah itu ada harum gaun merah.
Secara seksual, aku memang tidak menyukai perempuan mana
pun. Tapi harum gaun itu mengingatkan aku pada ibuku. Ibu yang
selalu dihajar oleh Ayah. Ibu yang berani minggat hanya dengan
mengenakan gaun merah. Ibu yang dibunuh di sebuah kamar
kapal pesiar yang sedang berlabuh dalam busana kesayangan. Apa-
kah di dunia ini ada yang lebih indah dari warna merah darah?
Apakah di dunia sampah kau bisa melihat langit merah? Mung-
kin bisa. Namun karena segala peristiwa terjadi pada pagi berlumur
segala semburat cahaya berwarna biru, warna senja tentu tak bisa
dilihat dengan mata telanjang. Namun sesungguhnya kau bisa
melihat bias sinar senja kapan pun. Segala yang kaulihat hanyalah
ilusi dan karena itu kau bisa mengatur ilusi itu menjadi apa pun.
Aku pun begitu. Mengintip dari tong sampah yang tutupnya ku-
buka sedikit aku menatap langit penuh kelelawar itu dalam warna
yang kuinginkan, warna gaun Ibu yang menawan.
”Kereta sudah datang...kau jangan terlalu terpesona pada ilusi
warna senja. Seindah apa pun senja itu bukan milikmu jika kau
kau tidak mendapatkan rahasia Mangkuk Nabi,” suara sengau
Iblis Hijau tiba-tiba bergema begitu keras dan membentur-bentur
dinding tong sampah.
”Aku harus meloncat ke kereta lagi?”
”Ya, kau harus segera ke pelabuhan udara.”
Seperti Pusaran, Seperti Boneka Mainan
Aku sampai di pelabuhan udara. Yang tak kuduga, begitu banyak
bayangan berkelebat ke arah sama, ke sebuah vending machines
26
www.bacaan-indo.blogspot.com yang mengonggok di ruang tunggu orang-orang yang akan ber-
gegas ke luar negeri. Beberapa sosok yang melesat itu sering ku-
lihat di televisi. Sebagian besar aktivis yang membela hak-hak
warga Aborigin. Sebagian yang lain para penentang keterlibatan
Australia dalam persoalan-persoalan terorisme di negara-negara
tetangga. Hanya, yang tak kumengerti, wajah orang-orang yang
berkelebat itu seperti topeng-topeng ungu zombie yang kehabisan
bedak. Mereka mirip hantu-hantu Frankenstein yang menghuni
kastil-kastil Eropa yang gelap dan berdebu.
Wuuuuuuuuuuzzzzzzzzwrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrwuzzzzzz
zzzzzzwrglbrglbrrirzirqwirzirqwr
Gila! Ini sungguh gila! Tak seorang pun—juga Iblis Hijau—
tak berinisiatif menyelamatkan para pejuang yang tak memiliki
kekuatan menolak sedotan mesin jahat itu. Karena itu, hanya
satu cara, aku harus segera menyiapkan koin-koin kesayangan dan
memasukkan benda-benda paling berharga dalam hidupku itu ke
dalam vending machines.
”Kau akan segera mengerti Rahasia Mangkuk Nabi, Vern,”
suara Iblis Hijau menguar dari mikrofon tersembunyi yang melekat
di beberapa dinding pertokoan parfum.
Kuabaikan suara sengau itu.
”Hanya dengan menyelamatkan mereka dan menggalang per-
lawanan untuk menghabisi para polisi kau akan mendapat surga
yang sudah kauburu sepanjang hidupmu.”
Masih kuabaikan suara konyol itu dan lebih memilih melesat
sesegera mungkin ke vending machines. Sungguh tujuan utamaku
kini menyelamatkan para pejuang yang terperangkap di dalam
mesin dan sama sekali tak peduli pada segala hal yang menyangkut
Rahasia Mangkuk Nabi. Jika rahasia itu bisa mempertemukan aku
dalam perkawanan yang intim dengan Kristus pun, tetap saja ia
27
www.bacaan-indo.blogspot.com tak menjadi titik tolak usaha-usaha penyelamatan yang akan ku-
lakukan. Jika rahasia itu bisa membuat aku menjadi mesias utama
untuk menyelamatkan dunia yang sakit pun, tetap saja ia bukan
menjadi energi dari seluruh upayaku menyelamatkan kehidupan.
”Sekarang palulah mesin itu! Hancurkan ia! Hancurkan ia!”
teriak Iblis Hijau dalam nada sengau yang sangat kacau.
Tak akan kupalu mesin sialan itu. Sebagaimana biasa, aku akan
memasukkan koin-koin kesayangan agar mereka yang terjebak di
penjara pengab dan dingin itu menggelinding keluar, menghirup
udara segar, dan memulai pertempuran baru.
”Hancurkan!”
Edan! Jangankan menghancurkan, berusaha memasukkan
koin perlahan-lahan pun aku tak mampu. Di luar dugaan, me-
sin jahat itu dengan sekuat tenaga ternyata berusaha menyedot-
ku. Tentu saja aku bertahan dan melawan. Wuuuuuuzzzzzzzzzz-
glbrglbr14qmwzzzzzglbrqm14zzzzzzzzoppglbrglbrqmzzzzzwkmqmw
zzzzzzzglbrglbr14qm14qmqgbrgbr. Tentu saja aku berusaha mundur
sehingga membuat sebagian kulitku terasa mengelupas.
Dan ya, Tuhan, ternyata aku begitu rapuh. Ternyata mesin itu
bisa menyedotku sehingga bersama segala benda: kursi-kursi, poster-
poster, botol-botol parfum, brosur-brosur penerbangan, patung
Maria menimang bayi dan Kristus tersalib, serta pelabuhan udara
yang megah ini semua menjadi benda liliput nun di labirin selang-
selang di dalam vending machines. Kami seperti menjadi boneka
mainan di dalam pusaran gaib yang tidak pernah kami kenal di
keriuhan cahaya-cahaya lampu Sydney. Kami seperti onggokan
benda tak berharga yang hendak dikirim ke pusat pembuangan
sampah terakhir di Pantai Coogee.
Wuuuuuuuuuuzzzzzzzzwrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrwuzzzzzz
zzzzzzwrglbrglbrrirzirqwirzirqwr
28
www.bacaan-indo.blogspot.com Kini kukatakan kepadamu: selamatkanlah kami. Masukkan
koin-koin kesayanganmu ke vending machines yang mengonggok
di pelabuhan udara yang tak lama lagi akan diledakkan para teroris
ini. Kami akan menggelinding keluar dari penjara dingin ini. Kling
klang! Kami akan membentuk gelindingan bola salju perlawanan.
Kling klang! Kling Klang! Kling Klang! Kling Klang!
Kami akan...
Wuuuuuuuuuuzzzzzzzzwrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrwuzzzzzz
zzzzzzwrglbrglbrrirzirqwirzirqwr
Kling Klang!
Sydney 2008-Semarang 2009
29
www.bacaan-indo.blogspot.com
30
www.bacaan-indo.blogspot.com Sepasang Ular
di Salib Ungu
AKHIRNYA setelah mencicipi sihir James Bond Martini di
balkon The Coogee Bay Hotel yang disaput dingin dan asin
angin, Margareth Wilson, yang kupastikan berjalan sambil tidur,
membaca juga nubuat tentang perahu kencana dalam Kitab Ular
Kembar yang kabur dan penuh bercak darah itu. Kubayangkan
ia harus memaknai segala tanda, gambar, simbol-simbol, dan
kadang-kadang menyelam ke lautan misteri huruf-huruf latin
yang distilasi menjadi semacam reptil-reptil kecil dari gurun yang
purba dan jauh itu.
Nubuat itu, kau tahu, agak berbelit-belit, sehingga untuk
memahami pesannya, siapa pun akan seperti seekor koala yang
kesulitan mencari jalan keluar dari labirin busuk yang menge-
pung dan membelit. Meskipun demikian seperti seorang penafsir
peta harta karun piawai, Margareth tak kesulitan sedikit pun me-
nyusupkan wahyu semesta yang mungkin penting itu ke lorong-
lorong otak.
Walaupun sudah tiga hari tiga malam aku menemani Margareth
menyisir pantai, memandang bintang lama-lama, dan berteriak
keras-keras menyemangati orang-orang yang sedang hanyut dalam
lomba dayung perahu, tak sedikit pun aku tahu apa isi ramalan
31
www.bacaan-indo.blogspot.com itu. Hanya secara tak terduga, saat memandang Bukit Coogee
didera sinar bulan kuning keperakan, aku mendengar penari yang
kucintai itu mendesiskan semacam ayat yang tak pernah kudengar
di kitab-kitab suci mana pun.
Pada akhirnya perahu kencana itu menghunjam dari langit kelabu.
Setelah amblas ke dasar laut tak jauh dari pantai, seorang penari cantik
bakal menyelam mencari bangkai perahu itu dan menemukan patung
pria tersalib, lelaki terkulai di pangkuan perempuan tanpa dosa, dan
iblis yang tertawa tak kunjung henti. Patung-patung itu kelak akan
ditata oleh sang penari di sebuah bukit sehingga membuat Perempuan
Suci dari Negeri Suci menampakkan diri di hadapan orang-orang yang
dicintai.
Pada saat mendesiskan kata-kata aneh di bawah kucuran air
dari gagang shower, Margareth kadang-kadang meloncat-loncat
seperti kanguru, kadang-kadang melenggak-lenggok bagai Medusa
menari di ujung jalan, dan tak jarang berdiri tegak seperti patung
gladiator sesaat sebelum berkelahi dengan singa kelaparan. Aku
sebenarnya keberatan melihat tingkah sableng Margareth, tetapi
cinta telah menyihir perempuan tangguh sepertiku cuma jadi
kucing penurut. Aku bahkan tak bisa mencegah Margareth mem-
buktikan betapa pada suatu malam nubuat tentang perahu ken-
cana menjadi kenyataan.
”Dan akulah penari yang akan menemukan patung-patung itu,
April. Aku bakal menyelam ke kabin tergelap, setelah sebelumnya
melewati ruang mesin penuh ikan warna-warni.”
”Kau tak takut disambar ikan setan?” aku mendengus tak mam-
pu menyembunyikan kepanikan.
”Tak akan ada binatang buas dari samudera paling ganas yang
berani memangsaku, Sayang. Hanya binatang rakus sepertimu
yang boleh melahapku. Bukan gurita sialan. Bukan hiu urakan.”
32
www.bacaan-indo.blogspot.com ”Apakah aku boleh menemanimu menyelam?”
Margareth tak segera menjawab pertanyaanku. Ia justru meme-
lukku dari belakang dan mendengus-dengus tak keruan. ”Kecuali
Sang Utusan, tidak seorang pun boleh menyusup ke kabin suci,
Sayang. Jadi, tunggulah aku di atas bukit agar kelak kau menjadi
penyaksi pertama keajaiban semesta yang ditumpahkan dari la-
ngit sebagaimana Tuhan mencurahkan cahaya aneh pada kercik
hujan.”
Tentu aku tak bisa mempercayai semua ucapan Margareth
yang kadang tertata seperti baris-baris puisi Octavio Paz itu. Mar-
gareth, sebagaimana aku, hanyalah penari murahan di teater-
teater kecil yang tersebar di Sydney. Ia juga tidak ke gereja atau
vihara sehingga kecil kemungkinan kelinci kecil indahku itu di-
pilih oleh Tuhan dari agama apa pun menjadi nabi atau sekadar
orang suci untuk menyembuhkan dunia dari kegilaan dan kiamat
yang menyedihkan.
Tetapi sekali lagi cinta telah menumpulkan otak sehingga aku
terpaksa mendukung apa pun yang dilakukan Margareth. Dan
malam itu dalam amuk harum Martini, aku sama sekali tidak bisa
menolak ketika Margareth menyeretku ke atas Bukit Coogee.
Tidak! Tidak! Mungkin dengan setengah terpejam, ia menyangka
menggandengku dengan lembut sebagaimana Bapa Abraham mem-
bimbing putra terkasih ke gunung untuk disembelih. Mungkin ia
malah membayangkan diri menjadi Musa yang menyeret rasa cin-
ta untuk bertemu dengan Tuhan di Puncak Sinai.
”Dari bukit inilah kita akan melihat perahu kencana menghun-
jam dari langit, Sayang. Jangan sekali-kali kaupejamkan matamu.
Jangan sekali-kali kau berpaling dari pemandangan menakjubkan
itu.”
Kali ini aku tak memedulikan dengus dan desis Margareth.
33
www.bacaan-indo.blogspot.com Saat itu, kau tahu, aku hanya takjub mengapa aku bisa mencintai
perempuan bergaun hijau dalam dandanan model Kimora Lee
Simmons yang dalam tidur sambil berjalan pun semenawan Ratu
Cleopatra. Ketakjuban tanpa kesadaran itulah yang membuat aku
tak peduli apakah saat itu bakal muncul perahu kencana atau
sekadar desau angin busuk di perbukitan. Apa pun tak lebih pen-
ting daripada sihir kekasih yang sedang kasmaran bukan? Apa
pun tak lebih berguna ketimbang memuja cinta yang sedang me-
kar seperti cahaya halilintar yang berpendar di samudera hambar
bukan?
”April, tugasmu hanya satu, Sayang. Lindungilah aku dari po-
lisi pantai yang sebenarnya sejak tadi menguntit kita. Lucifer, iblis
paling galak, telah menyusup ke otak polisi sialan itu, sehingga
membuat ia bisa lebih ganas dari teroris mana pun. Jika kau lengah
atau sedetik saja terpejam, ia akan menembak jantungmu dan
setelah itu lambungku. Ia akan menjadikan serpihan-serpihan da-
ging kita yang tak berguna sebagai makanan hiu...,” desis Margareth
di telingaku sambil memberikan pistol kecil bergagang hijau.
Tak kupedulikan setiap kata Margareth yang menjulur-julur
dari lidah dan tertatih-tatih menyusup ke telingaku seperti lipan
kepanasan itu. Aku justru membayangkan pada saat polisi mengejar
Margareth terjun ke laut, aku akan melesatkan peluru-peluru pa-
nas ke tubuhnya. Dan karena udara terlalu dingin, mungkin darah
tidak akan mengucur dari jantung yang berlubang. Mungkin tetes-
an darah itu akan mengkristal, melayang pelan-pelan bersama
debu, dan akhirnya membentur air laut yang berdebur.
Kau tentu tak mendengar bunyi benturan itu. Tapi kau tak mung-
kin menampik keberadaan swara yang berbaur dengan gesekan
sirip-sirip ikan dengan kelembutan air laut yang kian mengkristal
dalam beku udara musim dingin itu.
34
www.bacaan-indo.blogspot.com Tetapi menunggu perahu kencana menghunjam dari langit
tak bisa disetarakan dengan saat Estragon dan Vladimir menanti
Godot dalam lakon Samuel Beckett. Godot, menurutku, masih
memberikan harapan kepada kedua badut sinting yang mengang-
gap waktu telah berhenti itu. Meskipun kedatangannya tertunda,
Godot juga memberikan kepastian penyelamatan, sedangkan
perahu kencana bukan tidak mungkin hanya berlayar di kepala
Margareth.
Dan waktu tak berhenti di Pantai Coogee. Malam kian lingsir.
Bayang-bayang gedung yang meruncing ke langit sedikit demi
sedikit bergeser. Beberapa pasang kekasih mengakhiri ciuman pan-
jang dan bergegas berjalan ke mobil atau pintu hotel. Semua yang
bergerak dalam irama ritmis itu cukup membuktikan tak ada yang
dibekukan oleh waktu bukan?
Justru karena semua bergerak—juga ingatan saat bersama Mar-
gareth tersuruk-suruk menatap dengan takjub bagaimana para ser-
dadu menghajar Kristus dalam patung-patung kencana di Lourdes
—aku jadi bosan menghadapi ketidakpastian yang menyiksa. Ka-
rena itu dengan bersungut-sungut aku berbisik pada Margareth,
”Tuhan tak akan pernah lagi memberikan keajaiban kepada manu-
sia-manusia busuk seperti kita. Jadi, sudahlah, Sayang, mari kita
kembali ke hotel. Kita reguk Martini yang tersisa. Kita percakapkan
tentang sepasang tikus putih dan ular-ular hijau yang kita biarkan
berkeliaran di kamar. Kita...”
Belum sempat merampungkan ajakan yang menggoda itu, mata-
ku dihajar oleh cahaya kencana yang menyilaukan. Sial! Sesilhuet
perahu begitu cepat menghunjam ke ceruk mata dan tak kulihat
apa pun kecuali bias segala benda yang kutatap sebelumnya.
Mataku telah buta? Tidak. Begitu bisa membebaskan diri dari
pengaruh kilau sinar brengsek itu, aku segera mencari Margareth.
35
www.bacaan-indo.blogspot.com Ia ternyata telah berada di bibir bukit dan bersiap terjun ke
laut.
Kau tentu tahu apa yang bakal kulakukan. Kau tentu paham
tidak mungkin aku membiarkan Margareth menyelam ke dasar
laut sendirian. Membiarkan Margareth tenggelam sama saja aku
seperti ribuan orang bodoh lain yang memperbolehkan Herodes
membunuh setiap bayi laki-laki hanya karena keder terhadap ke-
perkasaan Yesus. Membiarkan ia dimangsa hiu atau ikan setan
urakan hanya akan membuat aku kehilangan kesempatan menye-
lamatkan manusia pilihan yang diberi kesempatan membuktikan
keajaiban nubuat perahu kencana.
Dan sekadar kau tahu, dalam amuk Martini dan situasi antara
terjaga dan tidur, kau tidak bisa terus-menerus menggunakan
otak. Segala tindakan lebih digerakkan oleh insting dan semacam
perintah halus yang menyusup ke kalbu. Karena itu ketimbang
tetap menunggu di atas bukit dan berkemungkinan mendapat
hajaran dari polisi pantai, aku lebih memilih menyusul Margareth.
Aku memilih ikut terjun ke laut. Apa pun risikonya.
Baik Margareth maupun aku bukanlah perempuan-perempuan
ikan yang bisa leluasa menyelam ke dasar laut. Tetapi dalam pan-
danganku yang samar, dalam penglihatan yang segalanya berubah
menjadi ungu, Margareth tampak seperti ikan duyung yang telah
bertahun-tahun mengenal setiap lekuk-liku laut. Tenyata bukan
hanya Margareth yang bermetamorfosis. Kian dalam menyelam
aku seperti berjalan di keriuhan pasar. Tak diperlukan semacam
insang untuk menjadi makhluk laut.
Apakah kami benar-benar menemukan bangkai perahu? Apa-
kah kami menemukan patung pria tersalib, lelaki terkulai di pang-
kuan perempuan tanpa dosa, dan iblis yang tertawa tak kunjung
henti? Menyelam ke kabin tergelap, setelah sebelumnya melewati
36