The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Ular di Mangkuk Nabi (Triyanto Triwikromo)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-05-12 17:59:36

Ular di Mangkuk Nabi

Ular di Mangkuk Nabi (Triyanto Triwikromo)

www.bacaan-indo.blogspot.com Krematorium Cinta

SEPERTI ada naga merah melintas pada senja yang sedang dihajar
hujan itu. Ada juga gemerincing sisik-sisik emas dan kibasan ekor
api; tapi kau tak bisa mendengarkan bunyi-bunyi purba itu.

Namun memang ada api yang menjalar-jalar di ruangan itu.
Memang ada pula tetabuhan tak terduga yang mengingatkan aku
pada segala benda yang dibunyikan secara bersama-sama. Ihik!
Itulah anakku, Naga Api, yang mengamuk karena melihat sepu-
luh lelaki serupa misdinar berpakaian serbaputih menyeret dan
membentang-bentangkan tanganku.

Dan segala suara yang memenuhi gendang telingamu, ihik, ada-
lah gemerincing amarah yang meletup-letup dari sisik-sisik besi
yang beradu dengan udara dan lantai yang teramat panas dan
mengepulkan asap biru.

”Panggul salibmu!” teriak salah seorang dalam nada lembut.
Salib? Kurang ajar benar misdinar kecil itu memintaku melaku-
kan tindakan yang telah lama kutinggalkan. Segala salib, kau
tahu, telah lama menyusup menjadi mainan seukuran bandul ka-
lung. Jadi, kalau seandainya serdadu itu juga memintaku menyeret
puluhan salib yang mengepungku sepanjang hidup di kamar tidur
atau di taman penuh capung, sebaiknya ia cukup melihat kalung
di leherku. Ah, bukankah ia juga bisa melihat tato Kristus yang
kugoreskan di lengan kiri?
”Panggul salibmu!”
”Mengapa harus kupanggul?” aku memprotes.
”Mengapa tidak harus kaupanggul?” ia menggertak dan berusaha
menakut-nakuti aku dengan mengacung-acungkan semacam pe-
dang yang pernah digunakan para malaikat saat menghardik dan
mengusir Adam dari keindahan dan keheningan taman.

137

www.bacaan-indo.blogspot.com Tak kulakukan perintah konyol itu.
”Berdoalah!”
Tak kulakukan juga instruksi yang lebih kedengaran sebagai
intimidasi menggelikan itu.
”Kalau begitu, kamu akan kami bakar!” kata seseorang yang
dalam sekejap astaga wajahnya bisa berubah-rubah menjadi Ong
Tjie Liang kekasih sejatiku, Bung Besar yang senantiasa meng-
anggapku sebagai Amaterasu saat membelai rambut dan menggigit
bibir tipis, dan lelaki dari Nazareth yang senantiasa tersenyum
dan melambaikan tangan gaib ketika melihatku menarikan tarian
ngawur sambil melantunkan tembang ”Genjer-genjer”.
O, dalam situasi kasmaran seperti itu tak kupedulikan aku mau
dibakar atau disalib. Tak kupedulikan juga jenazahku dianggap
sebagai jasad Gerwani atau penari idaman. Pembakaran dan pe-
nyaliban hanyalah ihik ihik. Gerwani atau penyanyi urakan toh
tak berbeda dari genjik atau kirik pujaan.
Kini memang ada naga merah melintas pada senja yang sedang
dihajar hujan itu. Ada juga gemerincing sisik-sisik emas dan
kibasan ekor api; tapi kau tetap tak bisa mendengarkan bunyi-
bunyi purba itu. Hanya aku yang mendengar. Hanya aku yang
merasakan tangis Naga Api di kepala heningku mengucur seperti
hujan. Apakah kau, ihik, juga punya jagoan yang kelak menjadi
juruselamat kehidupan?

Semarang 22 Maret 2007

138

www.bacaan-indo.blogspot.com Malaikat Tanah Asal

KETIKA jendela surga dibuka, ketika pintu neraka ditutup, dan
setan-setan dibelenggu, seorang malaikat yang lahir dan tumbuh
dari doa serampangan perempuan kencur yang dianggap gila, se-
kali waktu akan merindukan tanah asal yang kabur. Tanpa sayap,
dia akan menumpang kereta, menyusuri rel dan pelacur, menatap
kabut dan maut, dan menceracau tentang hutan yang gaduh.

Lalu setelah sampai di stasiun—biasanya pada akhir Ramadan
yang sarat debu—ia akan terbang ke kota sejuk penuh bunga,
berhenti di batas desa, dan mencoba menggapai wajah perempuan
cilik yang mengabur di sendang bening itu.

”Wahai, gadis kecilku, seharusnya kaulah yang lebih berhak
menjadi penjaga jagat. Bukan aku atau sesuatu yang menyerupai
waktu!” lolong malaikat itu sambil memerintahkan angin meng-
gesek-gesekkan kesedihan di bilah seribu bambu.

Tak lama kemudian ia akan memburu wangi rambut gadis
kecil itu dan segera menidurkan dalam dekapan sayap halus dan
usapan tangan tulus. ”Kotamu sungguh indah, manisku, kotamu
sungguh seperti sungai yang seluruh tetes kristalnya berasal dari
embun atau sisa tangis Kristus sesaat sebelum menjemput ajal
kelabu.”

139

www.bacaan-indo.blogspot.com Daerah Asal Bernama Alas

Para pendahulu, babad menyebutnya sebagai pria bersorban yang
tersesat dan perempuan yang tidak pernah tepat menunjuk arah kiblat,
memberi nama Alas pada kota itu. Alas memang bukan Macondo.
Bukan kota yang setiap Rabu dipenuhi daun pisang, badai bangkai,
reruntuhan gedung-gedung arsip, dan lumpur panas. Alas juga bu-
kan Firdaus. Bukan taman penuh apel busuk dan ular yang men-
desis-desis tak keruan. Namun di kota kecil itu hujan turun dari
langit bagai sulu-sulur benang merah yang menjulur-julur menjerat
tanah basah.

Kalau beruntung, setiap sore kau juga bisa merasakan angin
segar berembus dari gunung, berduyun-duyun serupa tabib ber-
selimut kain serbaputih, menyusup ke ruang-ruang sunyi di sana-
torium. Karena itu, tak ada orang mati di pusat perawatan penyakit
paru-paru itu ketika senja luruh. Malaikat hanya mencabut nyawa
pada malam hari saat tulang-tulang, mata, telinga, dan apa pun
dibekukan di ujung waktu.

Alas juga bukan kota yang tumbuh setiap Senin. Di Alas, di
kawasan yang pada tahun penuh bunyi mortir menjadi rumah
indah istri salah satu presiden pernah, setiap hari orang berusaha
merancang dan membangun kota. Karena itu, kau tidak perlu ter-
kejut menyaksikan terminal bawah tanah yang eksotik berubah
jadi shoping centre acak-acakan. Kau tak perlu sedih menatap kota-
praja mengonggok jadi sampah dan gedung bioskop jadi toilet
murahan.

Alas, kau tahu, justru mirip kota para penjagal. Setiap pagi—
selepas subuh—dari Rumah Pemotongan Hewan, berbondong-
bondong orang-orang berwajah keras memanggul daging sapi,
babi, dan kambing yang masih menetes-neteskan darah segar ke

140

www.bacaan-indo.blogspot.com pasar. Karena bertahun-tahun tetesan darah segar itu tak terha-
pus dari mata, akhirnya terbentuklah selokan merah matang yang
membelah kota.

Aha! Kau mungkin lebih ingin menyebut Alas sebagai kota
para malaikat. Saban tahun, ketika surga tak berdaun pintu, se-
orang malaikat memang berkunjung ke kota ini. Sebagian yang
tersesat akan menyusup ke gereja-gereja dan menjadi patung yang
melindungi seonggok batu yang dianggap sebagai penjelmaan
bayi Isa. Sebagian lagi—yang tak ingin kembali ke surga—menjel-
makan diri sebagai kaligrai penuh cahaya di masjid-masjid dan
mushala.

”Dan kini kami memang sedang menunggu kedatangan malai-
kat. Malaikat yang akan mengajari aku dan Maya terbang. Ter-
bang melintasi gunung. Terbang melintasi hutan,” igau gadis
kecil berambut wangi menjelang malam.

Seorang malaikat, kau tahu, memang akan datang di kota itu.
Tapi tidak sekarang.

Seorang malaikat, kau tahu, memang akan tersesat di kota itu.
Tapi hanya perempuan kecil yang kauanggap gila tahu kapan ia
akan datang dan memberi isyarat aneh di keheningan bulan.

Sayap Halus, Sayap Tulus

”Malaikat itu akan datang tepat ketika ayahku, Abilawa, menjagal
sapi paling tambun di kota ini. Itu berarti ia akan menemui aku
pada saat ibuku, Gendari, meninggal di sanatorium,” bisik Hayati,
perempuan tengil itu, sambil menjilat telinga Maya, kawan seper-
mainan.

”Maksudmu ia akan datang sesaat setelah pintu neraka dibuka

141

www.bacaan-indo.blogspot.com lagi, ketika iblis tak dibelenggu, ketika...,” bisik Maya balas meng-
gigit telinga gadis kecil 11 tahun itu.

”Ah, kau tak akan pernah tahu kapan malaikat itu memberikan
sepasang sayap kepada kita, Nona Kelelawar. Yang kutahu, ihik-
ihik, ia akan menebarkan wewangian ke seluruh penjuru kamar
dan mendekapku dengan sayap-sayap yang halus dan tulus. Jadi,
sebaiknya malam ini kau tidur di rumahku saja. Kau tidak kebe-
ratan tidur dengan tikus cantik, bukan?”

Tentu, seperti malam-malam sebelumnya, Maya tidak bisa
menghindar dari ajakan Hayati. Sebab, kau tahu, sepanjang hidup,
setidaknya hingga menjelang usia 11 tahun, Maya memang tidak
pernah tidur di rumah sendiri. Di mata orang tua, Maya hanyalah
makhluk semu. Ada dan tiada tidak penting. Karena itu, para
orang dewasa hanya melihat senyum, rambut ikal, dan tarian
Maya, pada siang hari. Begitu malam tiba, Maya tak lagi tinggal
di pelupuk mata warga Alas. Begitu matahari menghilang, Maya
berlari sekencang mungkin menuju ke rumah Hayati, ke kamar
gelap yang lebih meneduhkan hidup.

Tak jijik bergaul dengan bocah tengil yang dianggap gila itu?
Oo, Maya tak pernah menganggap Hayati sebagai gadis kencur
yang harus diseret ke Rumah Sakit Jiwa. Hayati, perempuan kecil
berbibir tebal itu memang suka menceracau, membaca isyarat
aneh yang dilukiskan oleh gelandangan telanjang di tembok-tem-
bok, dan kadang-kadang seharian bercakap-cakap dengan Min-
kebo atau Maryuni (orang-orang gila Alas), tetapi warga kota
tahu, mereka hanya bercakap tentang malaikat yang tersesat
menjelang pintu surga ditutup dan jendela neraka dibuka lebar-
lebar. Bahkan belakangan bersama Giuk, perempuan cantik istri
tentara yang kurang waras, pun Hayati hanya mempercakapkan
berapa jumlah bulu sayap malaikat dan terbuat dari besi apakah

142

www.bacaan-indo.blogspot.com tulang-tulang yang bisa dikepak-kepakkan dengan keras itu, se-
hingga kukuh sepanjang waktu. Karena itulah, tak ada alasan
untuk menyebut Hayati gila hanya karena ia tidak memiliki ke-
inginan lain, kecuali menghitung berapa malaikat yang telah ter-
sesat di Alas, berapa yang menjadi kawan karib, dan berapa yang
membelot mengikuti Lucifer ke neraka berlumur anggur.

”Aku mau tidur di sini asal kau mengajari aku berzikir, Hayati.
Kau tahu bukan setiap Ramadan terakhir ada kemungkinan se-
orang malaikat mencari putri-putri yang paling dikasihi,” tiba-
tiba Maya merajuk.

”Ihik-ihik, malaikat tidak akan datang seperti kelelawar. Ia akan
datang seperti pencuri. Bisa akhir Ramadan. Bisa saat Lebaran.
Jadi, kita sebaiknya tidak tidur. Kita jemput saja malaikat itu di
batas kota.”

”Bukankah kau pernah mengatakan malaikat itu akan muncul
dari lubang gelap serupa tikus? Kalau memang begitu, sebaiknya
kita temui ia di pekuburan ujung kota. Kau tahu bukan, tak ada
tempat yang lebih gelap dari pemakaman orang-orang terhormat
itu?”

Hayati tak membantah pendapat Maya. Kedua perempuan
kecil itu mengenakan selendang serupa sayap melesat menembus
lorong, menyibak semak-semak, dan akhirnya sebagaimana bu-
rung hitam kelam kelelahan nyekukruk di sebuah makam yang
berlubang.

”Kau yakin malaikat itu akan muncul dari lubang kuburan?
Mengapa tidak dari cahaya lampu yang menerangi taman?” desis
Maya dalam desah napas tak keruan.

Hayati mengangguk. Tapi takbir penanda Lebaran belum juga
datang. Seekor tikus melintas ke utara. Seekor kelelawar melintas
ke selatan. Hanya seekor tikus, hanya seekor kelelawar, dan malai-

143

www.bacaan-indo.blogspot.com kat belum menyembul dari lumpur atau gerowong makam yang
kaucemaskan.

”Ibuku, Gendari, sebentar lagi mati. Ayahku, Abilawa, akan
menjagal sapi yang dagingnya tak habis-habis kaumakan,” Hayati
mendesah sambil melemparkan pandangan ke sanatorium dan
Rumah Pemotongan Hewan.

Kini ganti Maya yang mengangguk. Tapi ia tak berani menatap
bayangan anyir bersayap yang melintas dari makam serupa kapal
ke nisan serupa pedang. Maya tahu bayangan itu bukan malaikat
yang akan memberikan keteduhan sepanjang siang sepanjang
malam.

Menyembul dari Lumpur

Ketika seorang malaikat menanggalkan sayap, kau tahu, segala
mukjizat yang dimiliki juga harus diluruhkan. Karena itu, saat
tiba di Alas, aku tak sanggup menggunakan mataku untuk me-
lacak rumah Hayati atau Maya, dua perempuan kecil yang men-
ciptakan aku dari tangis dan doa serampangan. Karena itu, ber-
gegas ke jalan utama, pada malam seribu takbir, aku bertanya
kepada orang-orang yang baru saja keluar dari masjid mengenai
dua gadis kecil yang senantiasa menghitung malaikat yang tersesat
di Alas.

”Jangan berlagak seperti Nabi Khidir. Di Alas hanya ada em-
pat orang gila. Kami menyebutnya sebagai Mbah Nyai, Minkebo,
Maryuni, dan Giuk. Dua gadis kecil yang Sampean sebut mung-
kin tinggal di kota lain,” kata laki-laki berwajah onta sambil
mencibir.

”Jangan meniru-niru Jibril yang ingin memberi berkah kepada

144

www.bacaan-indo.blogspot.com gadis-gadis gila. Kami membenci segala yang dipalsukan,” teriak
laki-laki babi seraya melengos.

”Oo, kami sangat mengenal Ibrahim yang pengasih itu. Jadi
jangan sekali-kali memperkenalkan diri sebagai manusia paling
dipercaya hanya karena ingin memungut dua gadis gila dari Alas
dan memberi mereka sayap untuk terbang ke surga bertabur ang-
gur! Tinggalkan kota ini. Jika tidak mau, kami, para serdadu,
akan membakar Sampean di alun-alun,” seru perempuan anjing
serupa orang sinting.

Wah! Tak mungkin aku bertanya kepada mereka. Kota ini,
kau tahu, kian dipenuhi oleh umat Nabi Luth. Mereka memiliki
masjid, tetapi tak menggunakan tempat suci itu untuk menabur-
kan ketakwaan kepada Allah. Mereka bersembahyang di jalan-
jalan, tetapi tidak untuk menebarkan rasa cinta kepada Sang
Junjungan.

Tak bisa bertanya kepada orang-orang waras di kota ini, aku pun
menemui orang-orang yang dianggap gila. Aku temui Minkebo
dan lelaki yang membalut tubuh dengan kain perca serbahijau
itu berkali-kali bilang hanya Hayati dan Maya-lah yang layak
kuberkati di kota ini. Aku bercakap-cakap mesra dengan Maryuni
dan perempuan yang selalu berdandan menor itu bercerita hanya
dua gadis kecil tengil itulah yang kelak menjadi cahaya kota.

”Di mana mereka sekarang?” aku bertanya kepada Giuk.
Giuk tertawa. Ia menatap sesuatu yang bertengger di kedua
bahuku. ”Jangan berpura-pura tak tahu. Sampean boleh menyem-
bunyikan sayap dari mata siapa pun. Tapi di mataku, siapa pun
tidak bisa bersembunyi. Nabi dan Tuhan Sampean pun ada di
genggaman mata sunyiku.”
”Sebaiknya Sampean segera ke pekuburan di ujung kota,” kata
Mbah Nyai yang juga memergoki segala mukjizat yang kumiliki,

145

www.bacaan-indo.blogspot.com ”Percayalah, Tuan, dalam sekejap mata Sampean akan membim-
bing sang sayap untuk segera mendekap dua gadis idaman.”

”Jadi, apa yang harus kulakukan?”
”Menyembullah dari lubang makam seperti tikus berlepotan
lumpur,” kata Maryuni.
”Mengapa harus begitu?”
”Karena Hayati dan Maya berharap Sampean akan muncul
dari kegelapan serupa tikus wangi. Jadi, jangan nodai keinginan
mereka. Jangan sekali-kali malaikat tidak memberikan segala yang
diharapkan bocah-bocah kecil dalam doa serampangan mereka.”
”Baiklah, aku akan menyembul dari lumpur bersama kalian.
Dari lubang makam paling besar di pekuburan itu, kita akan me-
nyembul dengan sayap terkepak pelan-pelan.”
”Kami tak punya sayap.”
”Aku akan memberi kalian masing-masing sepasang sayap
yang tak gampang dipatahkan!”
”Tak gampang dipatahkan?”
”Ya. Tak gampang dipatahkan!”
Apakah orang-orang yang dianggap gila itu menyadari di ke-
dua bahu tumbuh sayap yang bisa digunakan untuk terbang dan
menyusup ke tanah atau sungai paling dalam? Kau tidak perlu
tahu. Yang jelas, mereka akan bersama-sama denganku, melesat
menemui sepasang gadis yang nyekukruk bertafakur di lubang ma-
kam penuh lumpur anyir itu.

Namamu Maya, Namaku Wangi

Gendari, ibuku, telah mati di sanatorium. Ayahku, Abilawa, te-
lah menjagal sapi paling tambun. Namamu Maya, bukan? Seka-

146

www.bacaan-indo.blogspot.com rang namaku Wangi. Dulu mereka menyebutku sebagai tikus
kota. Malam ini ketika jendela surga dibuka, ketika pintu neraka
ditutup, dan setan-setan dibelenggu, seorang malaikat yang lahir
dan tumbuh dari doa serampanganku, sekali waktu akan merin-
dukan tanah asal yang kabur. Tanpa sayap, ia akan menumpang
kereta, menyusuri rel dan pelacur, menatap kabut dan maut, dan
menceracau tentang hutan yang gaduh. Lalu setelah sampai di
stasiun—biasanya pada akhir Ramadan yang sarat debu—ia akan
terbang ke kota sejuk penuh bunga, berhenti di batas desa, dan
mencoba menggapai wajah perempuan cilik yang mengabur di
sendang bening itu.

Apakah kau juga sudah bertemu dengan malaikat yang mengi-
bas-ngibaskan sayapnya di kubangan lumpur yang anyir itu, Maya?
Apakah ia sudah mendekap dan menidurkanmu? Ihik! Ihik! Jangan
risau, manisku, kalau kudapat satu malaikat berwajah kelabu, akan
kubagi separo lidah ganjilnya untukmu.

Maya terdiam; takjub oleh kilau lumpur yang menyala-nyala dari
lubang makam yang kian membesar. Ia tahu sebentar lagi seluruh kota
akan dililit cahaya. Hingga jendela surga sirna. Hingga pintu neraka
tak ada.

O, engkau masih menatap para malaikat menari di kubangan
lumpur itu, Maya?

”Ya, Hayati, malaikat-malaikat itu akan segera mengajak kita
belajar terbang ke segala gunung dan hutan pada saat jendela
surga ditutup untuk ayah dan ibu kita.”

Semarang, 12 Oktober 2006

147

www.bacaan-indo.blogspot.com

148

www.bacaan-indo.blogspot.com Riwayat Penerbitan Cerita

Iblis Paris, Kompas, 3-2-2008
Dalam Hujan Hijau Friedenau, Kompas, 13-7-2008
Delirium Mangkuk Nabi, Koran Tempo, 8 Maret 2009
Sepasang Ular di Salib Ungu, Kompas, 12 April 2009
Sirkus Api Natasja Korolenko, Jawa Pos, 3 Mei 2009

Matahari Musim Dingin, Kompas, 25-3-2007
Badai Bunga, Jawa Pos, 15-7-2007

Lumpur Kuala Lumpur, Kompas, 15-5-2005
Pelayaran Air Mata, Koran Tempo, 16-10-2005
Neraka Lumpur, Galery4A, Asia-Australia Art Centre, Agustus 2008

Malaikat Kakus, Media Indonesia, 4-12-2005
Sayap Kabut Sultan Ngamid, Kompas, 6-11-2005
Hantu di Kepala Arthur Rimbaud, Koran Tempo, 19-11-2006

Kalanaga, Media Indonesia, 8-4-2007
Malaikat Tanah Asal, Kompas, 22-10-2006

149

www.bacaan-indo.blogspot.com

150

www.bacaan-indo.blogspot.com Penutup

Perihal Retorika dan Worldview

dalam Cerita Penuh Motif

Oleh Budi Darma

Pada zaman dahulu kala, seseorang yang mampu berbicara dengan
baik dinamakan retor, dan dari kata inilah kemudian muncul isti-
lah retorik dan retorika. Karena zaman selalu berubah, makna retor
bukan hanya orang yang mampu berbicara dengan baik, tapi juga
orang yang mampu menulis dengan baik. Titik berat kekuatan
retor bukan dalam menyampaikan gagasan, namun dalam me-
nyampaikan kalimat-kalimat indah dan menarik. Seseorang yang
mampu mempunyai gagasan yang baik tapi kurang mampu me-
nyampaikan gagasannya dengan baik, dengan demikian, tidak
dianggap sebagai retor. Karena itulah, dalam discourse atau wacana,
ada dua komponen penting yang saling menunjang, yaitu content
atau gagasan, dan form atau bentuk, yaitu cara menyampaikan
gagasan.

Dalam sastra Indonesia, sementara itu, dominasi retorika sangat
terasa pada tahun 1920-an, yaitu pada saat-saat bahasa Melayu

151

www.bacaan-indo.blogspot.com akan meninggalkan ke-Melayu-annya dan siap untuk berubah
menjadi bahasa Indonesia. Pada waktu itu bahasa-bahasa kiasan,
seperti yang terdapat dalam pantun, syair, pepatah-petitih, di satu
pihak masih cukup dominan, namun, di pihak lain, siap untuk
kehilangan dominasi. Karena itulah, retorika banyak mewaranai
karya-karya sastra pada tahun 1920-an, sebagaimana yang tampak
antara lain dalam Sitti Nurbaya. Namun, begitu tahun 1920-an
berlalu, dominasi retorika makin meredup. Kendati keseimbangan
content dan form tetap harus dipenuhi oleh sastra, form cenderung
tidak identiek lagi dengan kalimat-kalimat yang indah. Bahasa
sastra, dengan demikian, cenderung untuk lebih starightforward,
langsung, dan lugas. Setelah tahun 1920-an berlalu, tampaknya
retorik pada umumnya lebih banyak didominasi oleh efesiensi
dan ekonomisasi bahasa.

Kalau tokh kemudian dalam sastra ada gejala untuk kembali
ke retorik dalam pengertian jaman dahulu, gejala ini juga ter-
jadi karena memang jaman selalu berubah. Kendati content tetap
memegang peran penting, tampaknya form dalam retorik seka-
rang memegang peran yang lebih penting. Karena itu, bukan ha-
nya bahasanya saja yang cenderung untuk tidak starightforward,
tapi plot atau alur dan setting atau latarnya pun mengalami per-
ubahan.

Sekarang, tengoklah kumpulan cerpen Triyanto Triwikromo
Ular di Mangkuk Nabi. Ada kecenderungan, bahasanya tidak lang-
sung menuju sasaran. Karena itu pula, ada kecenderungan plot-
nya bukan hanya tidak linear, tapi juga cenderung didesak oleh
dominasi penggunaan bahasa. Setting-nya pun bisa meloncat ke
sana kemari, kurang terikat oleh waktu tertentu dan tempat ter-
tentu.

Proses kreatif, sementara itu, tampaknya mempunyai konsen-

152

www.bacaan-indo.blogspot.com sus tidak tertulis: begitu bahasa memegang peran yang amat domi-
nan dan menyisihkan peran komponen-komponen lain, seperti
misalnya plot, setting, dan bahkan tokoh dan penokohan, maka
bahasa yang amat dominan itu harus asosiatif, konotatif, dan
ekspresif. Inilah tampaknya salah satu ciri kumpulan cerpen ini,
sebagaimana tampak dalam cerpen ”Malaikat Tanah Asal”:

Ketika jendela surga dibuka, ketika pintu neraka ditutup, dan
setan-setan dibelenggu, seorang malaikat yang lahir dan tumbuh
dari doa serampangan perempuan kencur yang dianggap gila,
sekali waktu akan merindukan tanah asal yang kabur. Tanpa
sayap, dia akan menumpang kereta, menyusuri rel dan pelacur,
menatap kabut dan maut, dan menceracau tentang hutan yang
gaduh . . . . Lalu setelah sampai di setasiun—biasanya pada akhir
Ramadan yang sarat debu—ia akan terbang ke kota sejuk penuh
bunga, berhenti di batas desa, dan mencoba menggapai wajah
perempuan cilik yang mengabur di sendang bening itu”

Manakala dalam retorik ada keseimbangan antara content dan
form, maka retorik memerlukan argumentasi dan logika: segala
sesuatunya bukan hanya enak didengar, namun logis (Luxemburg,
et. al, 1986; 100). Karena itu, sastra terikat oleh kaidah plausibility
(mungkin terjadi) atau life-likeness (seperti dalam kehidupan nya-
ta) (Perrine, 1996: 69), tentu saja, tergantung pada genrenya.
Dalam sastra konvensional, dengan sendirinya plausibility dan
lifekeness bisa bermakna hariah, yaitu mungkin terjadi dalam
kenyataan, dan benar-benar seperti kenyataan. Namun, dalam
cerita anak, binatang dapat berbicara dengan sesama binatang,
dapat berbicara dengan pohon, dan dapat pula berbicara dengan
manusia adalah juga plausible dan lifelike dalam alam pikiran anak-
anak. Dalam cerita absurd, plausibility dan lifelikeness, dengan

153

www.bacaan-indo.blogspot.com demikian, juga sesuai dengan hakikat cerita absurd, dan tidak
perlu sesuai dengan hakikat cerita tradisional.

Bila pembaca menghadapi kumpulan cerpen Triyanto Triwi-
kromo Ular di Mangkuk Nabi, dengan demikian, pembaca juga tidak
perlu berpikir logis, dan tidak perlu pula menuntut bahwa segala
sesuatu dalam kumpulan cerpen ini harus mirip seperti kehidupan
nyata. Pembaca cenderung untuk tidak dibuai oleh logika dan
kemiripan dengan kehidupan nyata, tapi oleh bahasa asosiatif,
konotatif, dan ekspresif. Kalau tidak demikian, setidaknya inilah
pendapat Luxemburg, kalimat-kalimat dalam karya sastra hanya
”menyajikan berbagai akal dan sulapan” (Luxemburg, et. al., 1986:
103). Karena itulah, Triyanto Tiwikromo menyajikan bahasa yang
benar-benar kuat, agar melalui bahasa, secara tersirat Triyanto Tiwi-
kromo dapat menyampaikan pandangan-pandangannya, meski-
pun actio, yaitu cara penyampaian pandangan pengarang kepada
pembaca, lebih penting daripada pandangan-pandangannya itu
sendiri. Penguatan bahasa sekali lagi, menjadi kunci sentral, dan
karena itu, form menjadi lebih eksplisit daripada content.

Karena bahasa memegang peran sentral, maka, dengan sen-
dirinya, diksi juga memegang peran sentral. Diksi mirip-mirip
sumpah-serapah, sementara itu, benar-benar mewarnai kumpulan
cerpen Ular di Mangkuk Nabi, seperti misalnya ”busuk,” ”seram-
pangan,” ”sinting,” ”sableng,” ”iblis,” ”kurangajar,” ”rakus,” ”mu-
rahan,” ”tengil,” ”gila,” ”tolol,” ”konyol,” ”jorok,” ”ngawur,” dan
lain-lain. Sikap pembaca terhadap diksi semacam ini tentu saja
tergantung pada pembacanya, sebab, masing-masing pembaca mem-
punyai hak untuk memaknai bacaannya. Namun, sebagaimana
diingatkan oleh I.A. Richards, dalam membaca pada hakikatnya
pembaca dihadapkan pada ”verbal understanding and understanding”
(Richards, 1936: 23).

154

www.bacaan-indo.blogspot.com Lalu, bagaimana? Tunggu dulu. Tengok kalimat ini terlebih da-
hulu: ”Margareth kadang-kadang meloncat-loncat seperti kanguru,
kadang-kadang melenggak-lenggok bagaikan Medusa menari di
ujung jalan, dan tak jarang berdiri tegak seperti patung gladiator
sesaat sebelum berkelahi dengan singa kelaparan” (cerpen ”Sepa-
sang Ular di Salib Ungu”), dan banyak lagi kalimat-kalimat se-
perti itu.

Terceritalah, dahulu, ketika orang-orang Indonesia masih me-
ngenal istilah ”Meester in de Rechten” dan belum mengenal istilah
”Sarjana Hukum” karena istilah itu memang belum diciptakan,
ada seorang pengacara terkenal tinggal di Jalan Gondangdia La-
ma, Jakarta. Pengacara ini mempunyai saudara kandung, seorang
professor hukum di Universitas Gadjah Mada. Mereka sama-sama
hasil pendidikan Fakultas Hukum, yang satu dari Fakultas Hukum
di Belanda, dan yang lain dari Fakultas Hukum di Batavia. Pen-
dirian mereka mengenai ciri-ciri hasil pendidikan hukum sama:
dalam berhadapan dengan segala sesuatu, orang-orang hukum ti-
dak gampang percaya, bahkan cenderung curiga.

Kalau mereka benar, maka orang-orang hukum tidak bisa mene-
rima begitu saja cerita orang lain mengenai apa pun. Pasti orang-
orang hukum akan bertanya: ”Jangan-jangan orang yang bercerita
ini hanya mengada-ada.” Atau, lebih serem lagi, ”jangan-jangan
orang ini berbohong.”

Lalu, mengapa psikologi masuk ke dalam sastra? Tidak lain, ka-
rena psikologi juga selalu mencurigai pengarang, karena, jangan-
jangan pengarang adalah ”a man who turns from reality because
he cannot come to terms with the demand for the renunciation of ins-
tinctual satisfaction as it is irst made,” yaitu ”seseorang yang asal
mulanya lari dari kenyataan ketika untuk pertama kalinya ia tidak
dapat memenuhi tuntutan untuk menyangkal pemuasan insting”

155

www.bacaan-indo.blogspot.com (Wellek & Warren, 1956: 81). Menulis, dengan demikian, adalah
bentuk pelarian pengarang untuk memuaskan insting karena da-
lam kehidupannya sehari-hari pengarang tidak dapat memenuhi
insting itu.

Sastra, dengan demikian, adalah ekspresi ”the secret unconscious
desires and anxieties of the author,” yaitu, ”rahasia keinginan-ke-
inginan yang tidak disadari oleh pengarangnya sendiri, dan kere-
sahan pengarang yang juga tidak disadari oleh pengarangnya
sendiri.” Karena itu, sastra adalah ekspresi neurosis pengarangnya
sendiri, dan karena itu pula, sangat mungkin tokoh-tokoh dalam
karya sastra adalah psyche pengarangnya sendiri” (http://www.
wsu.edu/~delahoyd/psycho.crit.html). Apa lagi, kalau bahasanya
berbunga-bunga, meloncat ke sana-ke mari, sehingga dalam satu
kalimat atau paragraph ada sekian banyak setting dan tokoh, dan
karena itu penuh dengan simile dan metapfor, dan ada miripnya
dengan bahasa puisi” (Freud, Rpt. 1993: 26).

Sekarang, tengoklah bahasa dalam kumpulan cerpen Triyanto
Triwikromo Ular di Mangkuk Nabi. Kalimat-kalimatnya berbunga-
bunga, retoristik, tokoh-tokohnya banyak dan hampir semuanya
berlompat-lompatan dari satu kalimat ke kalimat lain atau satu
paragraph ke paragrah lain, demikian pula settingnya. Mayoritas
tokoh dan setting-nya diambil dari luar negeri, itu pun luar negeri
yang melompat-lompat pula, dari negeri ini sekonyong-konyong
melompat ke negeri itu, lalu sekonyong-konyong melompat ke
negeri lain lagi, dan begitu seterusnya.

Bukan hanya itu. Kumpulan cerpen ini juga penuh dengan
motif (bahasa Jerman, bukan motif dalam bahasa Indonesia atau
motive dalam bahasa Inggris), seperti misalnya warna hijau, sa-
yap, malaikat, salib, gereja, dan lain-lain. Kumpulan cerpen ini,
dengan demikian, diperkaya oleh apa yang dalam psikologi sastra

156

www.bacaan-indo.blogspot.com dinamakan ”symbolism” (the repressed object represented in disguise),
”condensation” (several thoughts or persons represented in a single
image), and ”displacement” (anxiety located onto another image by
means of association) (http://www.wsu.edu/~delahoyd/psycho.crit.
html), istilah-istilah yang sukar untuk diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia.

Ingat, apa yang dikatakan oleh I. A. Richards sebagaimana
yang telah diperkatakan di atas, yaitu ”verbal understanding and
understanding” (Richards, 1936: 23). Kita berhadapan dengan du-
nia verbal, dan kita berusaha untuk memaknai dengan baik, dan
bukan untuk memaknainya dengan keliru. Kata-kata dalam sastra
tidak mungkin dimaknai secara verbalistik.

Lalu, dalam psikologi sastra ada pula semacam dalil, ”in not
concerning itself with ’what the author intended,” but what the author
never intended (that is, repressed) is sought (http://www.wsu.edu/
~delahoyd/psycho.crit.html). Kita justru mengaduk-aduk bukan
apa yang sebetulnya dimaksudkan oleh pengarangnya, tapi justru
apa yang sebetulnya tidak dimaksudkan oleh pengarangnya. Da-
lam membaca kumpulan Triyanto Triwikromo Ular di Mangkuk
Nabi kita justru tidak menilai apa yang ditulis oleh pengarangnya,
tapi justru apa yang tidak ditulis oleh pengarangnya. Apa yang
tidak ditulis, itulah justru maksud dan tujuan pengarang yang se-
benarnya. Kata-kata sumpah-serapah justru bisa bermakna sebalik-
nya, demikian pula tokoh dan setting yang melompat-lompat.

Ada dua istilah, sementara itu, yang makna denotatifnya sama,
namun makna konotatifnya berbeda. Weltanschauung dari bahasa
Jerman dan worldview dari bahasa Inggris, pada dasarnya mem-
punyai makna sama, yaitu ”pandangan terhadap dunia.” Namun,
konotatifnya, Weltanschauung lebih mengacu pada ”inilah yang aku
perjuangkan,” dan worldview lebih mengacu pada ”inilah pandang-

157

www.bacaan-indo.blogspot.com an saya mengenai dunia ini, mengenai kehidupan ini, mengenai
masalah ini.” Titik berat kumpulan cerpen Ular di Mangkuk Nabi,
sementara itu, adalah worldview, bukan Weltanschauung. Dalam
kumpulan cerpen ini Triyanto Triwikromo, mungkin secara ti-
dak sadar, dengan tidak langsung menyampaikan pandangan-
pandangannya mengenai kehidupan yang tampaknya a-simetris,
muram, dan penuh persoalan yang tidak mungkin diungkap. Na-
mun, melalui gaya bahasanya yang berlompat-lompatan, mungkin
pula Triyanto Triwikromo berpandangan sebaliknya.

158

www.bacaan-indo.blogspot.com Kepustakaan

(http://www.wsu.edu/~delahoyd/psycho.crit.html)
Freud, Sigmund. ”On Dreams.” Excerpts. Art in Theory 1900-

1990. Ed. Charles Harrison and Paul Wood. Cambridge:
Blackwell Pub., Inc., 1993. 26-34.
Luxemburg, Jan van, et. al. Pengantar Ilmu Sastra. Terj. Dick Har-
toko. 1986. Jakarta: Gramedia.
Perrine, Laurence. Literature: Structure, Sound and Sense. Rpt.
1996. New York: Harcourt
Richards, I. A. The Philosophy of Rhetoric. 1936. New York:
Oxford University Press
Wellek, Rene & Austin Warren. Theory of Literature. 1956. New
York: Harcourt, Brace & World, Inc.

159

www.bacaan-indo.blogspot.com

160

www.bacaan-indo.blogspot.com Biodata Penulis Cerita

TRIYANTO TRIWIKROMO bekerja se-
bagai sebagai editor untuk rubrik sastra Edisi
Minggu Suara Merdeka dan dosen Penulisan
Kreatif di Universitas Diponegoro, Semarang.
Selain menganggit puisi, ia menulis kumpulan
cerita pendek Rezim Seks (Aini, 2002), Ragaula
(Aini, 2002), Sayap Anjing (Penerbit Buku Kompas, 2003), Anak-
anak Mengasah Pisau (Children Sharpening the Knives) (Masscom
Media, 2003), dan Malam Sepasang Lampion (Penerbit Buku Kom-
pas, 2004).
Cerpen-cerpennya antara lain ”Mata Sunyi Perempuan Ta-
kroni”, ”Seperti Gerimis yang Meruncing Merah”, ”Malaikat Ta-
nah Asal”, ”Sayap Kabut Sultan Ngamid”, ”Belenggu Salju”, ”Iblis
Paris” dan ”Dalam Hujan Hijau Friedenau” masuk dalam cerpen
pilihan Kompas. Cerpennya ”Cahaya Sunyi Ibu” dan ”Lembah
Kematian Ibu” termuat dalam 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008
dan 2009 Anugerah Sastra Pena Kencana..
Pada 2005 dan 2007 mengikuti Utan Kayu International Lite-
rary Bienalle. Setelah itu, 2005, ia menjadi peserta Wordstorm:
Northern Territory Writer Festival di Darwin dan Januari 2008
mengikuti Gang Festival dan residensi sastra di Sydney, Australia.

161

www.bacaan-indo.blogspot.com Pada tahun sama ia juga menjadi pembicara dalam Ubud Writer and
Reader Festival. Bersama Budi Darma, Eka Kurniawan, Nugroho
Suksmanto, dan Chavchay Saifullah, ia menulis L.A. Underlover
(Katakita, 2008), kumpulan cerpen tentang persentuhan orang-
orang Indonesia dengan manusia-manusia Los Angeles.

162

www.bacaan-indo.blogspot.com Terima Kasih

terima kasih
untuk inspirasi yang tak pernah habis (Allah), keikhlasan menjadi
yang daif (Muhammad), penyaliban dan penderitaan tak terperi
yang mengilhami seluruh cerita (Isa)

terima kasih
untuk pengantar yang tak terduga (mas goenawan mohamad), pe-
nutup yang kritis (pak budi darma), endorsement yang tulus (gus
mus dan jan cornall), semacam grant ke los angeles (mas nugroho
suksmanto), pejalanan budaya ke eropa (bu agnes widanti), resi-
densi sastra ke sydney (mbak lili widojani, mas imam suroso, bu
benita arijani, hilda dan hendra), dukungan kreatif (semua teman
di suara merdeka)

163

www.bacaan-indo.blogspot.com

Buku

TRIYANTO TRIWIKROMO

yang lain

www.bacaan-indo.blogspot.com

www.bacaan-indo.blogspot.com

Buku

TRIYANTO TRIWIKROMO

yang lain

www.bacaan-indo.blogspot.com

www.bacaan-indo.blogspot.com

www.bacaan-indo.blogspot.com

www.bacaan-indo.blogspot.com Fiksi/Cerpen

Penerbit
PT Gramedia Pustaka Utama
Kompas Gramedia Building
Blok I Lantai 4–5
Jl. Palmerah Barat 29–37
Jakarta 10270

www.gramedia.com


Click to View FlipBook Version