www.bacaan-indo.blogspot.com 3
Begitulah, akhirnya kau selalu berkata kepadaku, ’’Mari percakap-
kan dengan lirih saja kilau badai batu peluru yang beterbangan di
tengah erang orang-orang yang cemas meremas air mata. Jangan
kau ceritakan penderitaanmu: sebagai peluru aku ingin tinggal
lebih lama di kegelapan liang luka itu.’’
’’Sebagai desing, aku hanya ingin memekik dalam nada gerimis
riwis. Hening di bawah sepatu larsku.’’
Ya, selalu kau berkata kepadaku, ’’Aku tajam bagai duri bu-
kan? Jangan! Jangan percaya pada radio yang telah meleleh. Men-
dentinglah di atas sayatan bayonet yang kutorehkan dengan pelan.
Nanti kau akan mencintaiku. Nanti kau akan mengajariku mena-
nam kelewang di dada lawan dengan pelan dan tanpa dendam.’’
Jadi, apa yang harus kulakukan? Seperti Nuh, ingin kumulai
pelayaran air mata ini dari sungai cinta yang mengalir di hutan-
hutan gelapmu. Dan doa (jurusampan buta itu) kubiarkan tetap
menjaga akar-akar sunyi yang melilit pohon-pohon mati.
Lalu pada gelombang dingin dan beku, pada angan dan ingin
yang menunggu, tak akan kutarikan lagu jiwa batu. Lagu yang
tak kenal peta pulau-pulaumu. Lagu yang tak kenal perih risau-
risaumu
’’Tetapi kota-kota telah terbakar. Orang-orang telah menjelma
patung beringas. Apakah Tuan masih ingin singgah di kota itu
juga?’’ kata Nyonya Bangsa sambil menunjuk peta 1998 yang ka-
bur. Menunjuk pistol dan monumen pahlawan yang meleleh ber-
sama waktu dan gunung-gunung.
Maka, seperti Nuh ingin kuanggap kota penuh panser itu
sebagai Sinai; tempat aku mengenal pelangi dan bunga-bunga
Nyonya Bangsa mengaduh kembali.
87
www.bacaan-indo.blogspot.com Ya, ya, apakah kita masih merindukan air mata yang lain?
Mungkin tidak. Bukankah kau tahu, bom-bom yang menyala
di kepalamu itu masih berkeras meledakkan diri? Bukankah kau
sangat paham; bersama Aceh yang menggigil anak-anak masih
juga menggambar negeri penuh bendera dari nanah dan serpihan
daging sisa pembantaian?
Atau mungkin mereka sungguh tak mengerti bahwa di televisi
tikus anjing lalat dan kalajengking terus saja menggerogoti kursi
parlemen. Kelelawar membentangkan sayap. Tahi dan taringnya
mengotori poster-poster dan spanduk perlawanan.
Tentu seperti katamu belum ada kejaksaan dan bunga-bunga
anyelir pada percakapan dari telepon yang disadap hari itu. Belum
ada hakim dan sop wortel untuk makan siang. Film porno negeri
para petinju dan apel hijau belum juga disajikan untuk hidangan
penyegar.
Apa menu hari ini? Negeri lendir yang diciptakan oleh para
politikus dari pidato busuk penuh larva? Pizza Hut, cacing, kela-
bang, jutaan hewan melata yang belum diberi nama atau kelamin
ganda yang kaupancang di poros jalan?
Sudahlah, Tuan. Bersama sejarah yang bopeng mari bunuh
diri saja. Bukankah di gang-gang kumuh itu Cut Nya’ dan televisi
seribu chanel sedang melahirkan pulau-pulau dari aurat dan
galaksi yang serba baru?
Halo, kau masih mendengar aku, Tuan?
4
Begitulah, di negeri ini tak ada lagi yang layak mendadani tubuh-
mu dengan kostum dan parfum rakyat. Ayahku juga begitu; ingin
88
www.bacaan-indo.blogspot.com menjadi raja bagi istri dan anak-anaknya yang telah membangun
kota dari ketapel dan batu-batu, dari darah yang dikucurkan
bayonet serdadu-serdadu bengis itu.
Di jalan-jalan ayah saya mengibarkan bendera dan memberi
blow kiss sambil terus nyerocos, ’’Inilah reformasi baru. Mengapa
tak kaupilih aku jadi rajamu? Mengapa tak kaujadikan ibumu
sebagai ratu segala ratu?’’
Begitulah, Tuan, di negeri ini aku tak boleh mengenakan ke-
baya hanya karena ayah suka mengenakan jas dan pantalon. Aku
tak boleh mencuci pakaian di wastafel hanya karena ayah suka
tank-tank, senapan dan mencium tamu laki-laki dengan dengus
yang menggebu.
Mengapa harus begitu? Mengapa ibu hanya disimpan di kul-
kas, dimasak di dapur, dan disetubuhi di rawa-rawa yang gelap?
Mengapa dia tak boleh mengulum aurat di depan televisi? Menga-
pa tak boleh menelanjangi ayah di keramaian mal dan super-
market?
Jadi, kupikir tak perlu ada bunga, rama-rama, dan senja biru,
kalau semua harus jadi lembing jadi zakar yang memburu waktu.
Tak harus ada cermin, lipstik, dan maskara di ujung sepatu kalau
semua harus jadi radio jadi anjing jadi angkuh yang membatu.
Ah, apakah ayah mendengar suara kulit tubuhnya yang mulai
mengelupas? Apakah tak ada lagi batu-batu yang melakukan upa-
cara pertobatan di saku pantalon yang penuh dengan palawija
yang dirampasnya dari rakyat itu?
Seperti biasa kau hanya membatu saja, Tuan. Seperti biasa
ayah terus mengacungkan tangan; menyangka telah dapat wahyu
kaprajan dari keheningan malam.
89
www.bacaan-indo.blogspot.com 5
Baiklah, sebaiknya kuceritakan makan malam terakhir ayah de-
ngan Nyonya Bangsa. Kata ayah, semua bedil telah disusupkan
ke kepala. Kata ayah, pelangi di punggung Nyonya Bangsa telah
mengelupas dan semua orang diam saja. ’’Pada akhirnya, mereka
juga akan memancung leherku. Ya, mereka, orang-orang yang
yang mengaku ingin membangun seribu patung kencana pikiran-
pikiranku di dada pualamnya.’’
”’Apakah mereka juga akan memancung leherku juga, Kang-
mas?’’
’’Seperti laut…, seperti langit....’’
’’Apakah mereka akan mencuri mahkota, kursi kencana, dan
selendang tanpa darah yang melilit di bahuku?’’
’’Seperti kupu-kupu..., seperti rama-rama....’’
’’Mengapa tak kaujawab, Kangmas?’’
’’Seperti senja, seperti pelita kehabisan minyak pembakar-
nya.’’
’’Kau telah kapok menulis sejarah, Kangmas?’’
Tak ada jawaban. Aku melihat ayah menangis. Aku juga me-
lihat Nyonya Bangsa melepaskan selendang, melepaskan mahkota,
dan meninggalkan kursi kencana.
Apakah kau akan mengikuti dia, Ayah?
Wahai, aku bicara kepadamu: Kekuasaan telah mati. Kau dan
aku hanya jadi bising. Hanya jadi angin. Hanya jadi pelangi bagi
lepra bangsa.
Idih! Jangan kaucium aku, Ayah. Aku telah mengelupaskan
seluruh cinta. Beri aku pisau. Beri aku perih. Beri aku keberanian
menolak hidup yang brengsek dan sialan.
Apakah pelangi masih menggurat di punggungmu, Ibu?
90
www.bacaan-indo.blogspot.com Nyonya Bangsa menari. Laut juga menari. Bolam di balkon
makin menghitam.
Kelam.
Kelam.
Kelam.
…
(Sekarang apa simpulan Anda? Siapa yang telah menulis cerita
yang diksi-diksinya kadang-kadang membingungkan itu? Saya menduga
penyair Hanumaen telah mencontoh secara serampangan cara menulis
Afrizal yang sok absurd. Saya juga menduga di kepala Hanumaen ber-
tengger kosakata-kosa kata aneh yang dimiliki Goenawan Mohamad.
Saya mengira Hanumaen tak pernah bergaul dengan Sapardi Djoko
Damono sehingga pikiran-pikirannya tak pernah jernih. Hemat saya
cerita itu jangan diakhiri dengan sesuatu yang muram dan suram. He-
mat saya paragraf terakhir berhenti pada: Nyonya Bangsa menari.
Laut Menari. Setelah itu, bolam di balkon jangan dibiarkan menghi-
tam. Biarkan bolam itu menyala menyaksikan segala yang sok absurd
menelanjangi dirinya…
Apakah Anda setuju?)
Masih kelam juga
Masih suram juga.
Masih jelaga.
Tak terbaca.
Semarang, 2005
91
www.bacaan-indo.blogspot.com
92
www.bacaan-indo.blogspot.com Neraka Lumpur
KARENA mataku, mata yang pernah menatap tarian 99 malaikat
di atas kubah masjid, telah menjadi lumpur, kini kupilih belajar
mencintai gelegak berahi dan cecakar rucingnya. Akan kupeluk
dia agar penjelmaanku menjadi air peneduh sempurna. Karena
telingaku, telinga yang pernah mendengar Nyanyian Tuhan me-
nyusup pelan-pelan di jiwa rapuh, telah menjadi lumpur, kini ku-
pilih belajar mencintai kabut hijau dan tetangis sunyinya. Akan
kuninabobok dia agar penjelmaanku menjadi api penyuci sem-
purna.
Karena mulutku, mulut yang pernah gagal menyelamatkanmu
dari api duri dan palang salib ombak telah menjadi lumpur, kini
kupilih belajar mencintai sengit sakit dan derita perih luka-luka-
nya. Akan kucium dia agar penjelmaanku menjadi tanah pemurah
sempurna. Karena kakiku, kaki yang pernah meninggalkan jejak
percumbuan Arjuna-Sembadra telah menjadi lumpur, kini ku-
pilih belajar mencintai kubur-kubur amis yang ditawarkannya.
Akan kucumbu dia agar penjelmaanku menjadi angin penyejuk
sempurna.
Sempurna seperti salib yang melayang-layang penuh darah. Sem-
purna seperti lumpur yang hangus penuh bara. Sempurna seperti ta-
ngis terakhirku sebagai manusia.
93
www.bacaan-indo.blogspot.com Masih adakah yang tak lumpur? Kelingkingku lumpur tumitku
lumpur pahaku lumpur zakarku lumpur pusarku lumpur. Masih
adakah yang tak lumpur? Jantungku lumpur hatiku lumpur
leherku lumpur tenggorakanku lumpur? Masih adakah yang tak
lumpur? Mulutku lumpur lidahku lumpur otakku lumpur? Masih
adakah yang tak lumpur? Pikiranku lumpur perasaanku lumpur
tindakanku lumpur perbuatanku lumpur. Masih adakah yang
tak lumpur? Masjidku lumpur gerejaku lumpur candiku lumpur
viharaku lumpur pura-puraku lumpur? Masih adakah yang tak
lumpur? Dangdutku lumpur keroncongku lumpur ludrukku lumpur
reogku lumpur. Masih adakah yang tak lumpur? Iblisku lumpur
tuhanku lumpur hantuku lumpur mambangku lumpur malaikatku
lumpur. Masih adakah yang tak lumpur? Laparku lumpur hausku
lumpur kencingku lumpur berakku lumpur.
Semua membeku menjelma lumpur.
Maka pada mulanya Adam terbiasa berenang di keheningan
lumpur pada mulanya Nuh berlayar di kegelapan lumpur pada
mulanya Ibrahim menggali segala nur di kuburan lumpur pada
mulanya Yunus dimangsa paus lumpur pada mulanya Isa tertusuk
lembing di salib lumpur pada mulanya Muhammad menyerah
pasrah sumarah pada kehendak lumpur pada mulanya Siddharta
bercinta dengan Kamala di ranjang lumpur pada mulanya dunia
sunyi tanpa lumpur.
Masih adakah yang tak lumpur? Matahariku lumpur bulanku
lumpur lautku lumpur bintangku lumpur anjingku lumpur celeng-
ku lumpur nerakaku lumpur surgaku lumpur arwahku lumpur ku-
burku lumpur sungaiku lumpur jurangku lumpur lembahku lum-
pur gunungku lumpur. Masih adakah yang tak lumpur? Mautku
lumpur mayatku lumpur matiku lumpur senjaku lumpur cakrawala-
ku lumpur ganggangku lumpur.
94
www.bacaan-indo.blogspot.com Semua membatu menjelma lumpur.
Lalu pada selain lumpur masih bisakah kita jadi angin? Pada
selain lumpur masih bisakah kita jadi batu? Pada selain lumpur
masih bisakah kita menjadi kupu-kupu? Pada selain lumpur masih
bisakah kita jadi tubin?
O, Mahawaktu, kenapa Kausengatkan lebah pembunuh ke
mata butaku, hingga tak bisa kulihat Firdaus baru di seberang
embun di seberang halimun lumpur-Mu?
”Karena aku pun telah kaumistik hanya menjadi lumpur, anakku.
Karena aku pun tak kauberi kesempatan menjadi anggur atau pohon
tidur yang meneduhkan hidupmu.”
Tak ada jalan keluar?
”Tak ada jalan keluar.”
Kau tak berhasrat kembali menjadi kabut?
”Aku hanya berhasrat menjadi laut.”
Hanya laut?
”Hanya maut”
Tanpa raut?
”Tanpa lutut.”
Hore!
”Mengapa hore?”
Kalau begitu kau bukan lumpur yang menyembur ke lubang
mimpi kalau begitu kau bukan lumpur yang menggelegak di su-
mur tidur para penganggur kalau begitu kau bukan lumpur yang
bangkit sebagai hantu di negeri batu negeri culas negeri derap se-
patu biru negeri kentut dewa negeri semangka busuk negeri bunga
bangkai negeri angin puting beliung negeri tanah marah negeri
kambing amis negeri kuda rakus kehabisan bensin negeri api hijau
negeri sulapan para politikus anyir negeri kucing kerah kehabisan
daging.
95
www.bacaan-indo.blogspot.com Jadi mengapa mesti tak hore, Pangeran? Mengapa hanya men-
jadi batu. Bisu. Tanpa lidah. Tanpa riuh. Tanpa aduh. Mengapa
tetap kaupaksa kami hanya menjadi lumpur, Gusti? Lumpur luka
di rusuk kiri-Mu. Lumpur buta di kedua mata gelap-Mu. Lumpur
sedih di kedua tangan-Mu yang terkulai di salib itu. Lumpur
brengsek di kubah terakhirmu menjelang magrib busuk-Mu.
O, Mahalumpur, masih adakah yang tak lumpur, Gustiku? Ma-
sih adakah yang tak kubur?”Ada yang masih anggur kalau kau tak
menyangka Aku telah mati berselimut kubur kabur. Ada yang masih
anggur kalau kau tak menyangka Aku telah hilang di laut sunyi tanpa
ganggang tanpa sulur.”
Hore!
”Mengapa hore lagi?”
Mengapa tak boleh hore lagi, Gusti?
Mengapa tak boleh hore jika kudapatkan cinta di selain lum-
pur jika kudapatkan subuh di selain lumpur jika kudapatkan
mata di selain lumpur jika kudapatkan putih di selain lumpur
jika kudapatkan bunga di selain lumpur jika kudapatkan matahari
di selain lumpur jika kudapatkan kata di selain lumpur jika kuda-
patkan Dikau di selain lumpur jika kudapatkan yang tak kudapat-
kan di selain lumpur.
”Jadi telah kautemukan manunggaling sunyi dengan lumpur.”
Ya telah kutemukan manunggaling cinta dengan lumpur.
”Dalam nada mati?’
Dalam nada sunyi
”Dalam hening samadi?”
Dalam hening Mahaapi.
”Dalam suwung tanpa nang ning nung?”
Dalam suwung tanpa ujung.
”Dalam syahwat duka?”
96
www.bacaan-indo.blogspot.com Dalam syahwat cinta.
”Dalam sakit sejati?”
Dalam perih abadi
”Tak ada Aku?”
Tak ada Kamu
”Semata-mata lumpur?”
Semata-mata kabur
”Jadi kabar-Ku telah hablur?”
Kabar-Mu telah terkubur. Telah terkubur. Telah terkubur.
Jadi masih adakah yang selain lumpur, Gustiku? Masih adakah
yang selain kubur?
2008
97
www.bacaan-indo.blogspot.com
98
www.bacaan-indo.blogspot.com Malaikat Kakus
MENDADAK penjara ini seperti baru saja melahirkan putra ter-
kasih. Waktu itu malam belum lengkap, angin busuk menusuk
tengkuk, dan sipir berkali-kali menatap arloji sambil berjalan
terbungkuk-bungkuk. Namun sungguh di luar dugaan terlihat
dari ceruk kakus menyembul bocah kecil dengan sayap bertulang
ranum. Tak berani kukatakan kepada teman-teman satu sel be-
tapa pada malam asin dan anyir itu sesosok malaikat kecil telah
tersesat. Dan karena menyembul dari lubang gelap, tentu sayap-
sayapnya menguncup, belepotan tinja, lumpur, oli, dan segala ko-
toran yang tak pernah kaubayangkan baunya. Meski demikian,
kau tak boleh menyebut bocah kencur 14 tahun itu sebagai malai-
kat kecil yang senantiasa menebarkan parfum terwangi. Sebab
kali pertama kulihat ia lebih menyerupai anjing yang selalu men-
dengus-dengus. Matanya menatap jeruji dengan liar dan ganas.
Dari mulutnya yang penuh ludah sesekali menyalak keras-keras
suara srigala dan berbagai hewan purba.
”Jangan kau sakiti dia,” tiba-tiba sipir menghardikku sambil
menggandeng laki-laki kecil rupawan itu ke sel paling ujung.
”Aku tak akan pernah menyakiti dia,” kataku sambil membun-
cahkan desis tak keruan yang mungkin belum pernah didengar
oleh sipir atau kepala penjara sekalipun.
99
www.bacaan-indo.blogspot.com Ya, aku tak akan pernah menyakiti malaikat kecil itu. Tak akan
kubiarkan dia tidur bersama tikus-tikus bui. Tak kubiarkan siapa
pun di penjara ini mencumbu dia semalam suntuk. Akan aku ajak
berkelahi lelaki perkasa yang akan menggasak anus ranumnya itu.
”Kau tahu siapa bocah tengik ini?’’ sipir bertanya padaku.
Jemarinya yang lentik membelai rambut malaikat kecil itu.
Aku menggeleng. Namun dalam hati aku berkata, ”Dia mesias
kami. Dialah yang akan memerdekakan kami dari penjara busuk
ini.”
***
SUATU hari—saat kami mencabuti rumput liar di lapangan—
aku menyapa malaikat kecil itu. ”Masih ingat aku, bocah rem-
bulan?”
”Assssssb Asssssssb Assssssssb Assssssssb,” jawab bocah harum
itu sambil menggeleng.
”Apakah ganja juga yang menerbangkan dirimu ke surga busuk
ini?”
”Assssssb Asssssssb Assssssssb Assssssssb.”
”Apakah kau juga telah melihat Kristus disalib di Ujung Du-
nia?”
”Asssssssssb Assssssb Asssssb Asssssssssb,” ia terus menggeleng
sambil menatapku curiga.
”Baiklah…sudah 30 hari kau di penjara gila ini. Tak takut
disodomi?”
Dia menggeleng lagi. Meski demikian, tiba-tiba mata dalam wa-
jah yang menghijau itu melotot. Berpaling dariku, dia melenguh,
”Oto-san! Oto-san! Assssssssssbbb. Asssssssssb. Asssssssssb.”
Waktu itu aku sama sekali tak tahu siapa yang dimaksud de-
100
www.bacaan-indo.blogspot.com ngan Oto-san. Aku juga tak tahu mengapa dia selalu melenguh-
kan bunyi ”Asssssssssssbbb” yang sama sekali tak kuketahui mak-
nanya. Semula aku menduga malaikat tentu memiliki bahasa
lain, sehingga kubiarkan saja dia mencerocos dengan sabda-sabda
purba semacam itu. Namun aku juga ingat pada bahasa lidah
yang dimiliki Lucifer, malaikat pengkhianat surga yang kukaribi
selama ini. Karena itu, kadang-kadang aku menyimpulkan, bocah
tengik yang tiba-tiba nongol dari ceruk kakus itu tak lebih dari
iblis kecil yang tersesat saja.
Aku bersimpulan seperti itu, karena segala tanda yang dimiliki
iblis juga melekat di wajahnya. Selain memiliki sayap kokoh—
kalau dipandang terlalu lama justru tiba-tiba menghilang—, dia
juga punya lidah api, rambut ular, mata burung hantu, dan sepa-
sang cula runcing di dahi. Namun, yang membuatku bingung,
segala tanda yang dimiliki malaikat juga melekat di sekujur tubuh.
Ya, selain tak bersayap hitam, di setiap jemari tumbuh cahaya.
Segala bunyi yang keluar dari mulutnya, kau tahu, menebarkan
wewangian yang membuat siapa pun yang mendengarkan seperti
akan hidup teduh sampai ribuan tahun tak terjangkau.
Tak butuh waktu lama untuk mengetahui segala hal yang ber-
kait dengan Oto-san. Aku tahu siapa dia ketika pada siang yang
berdebu, lelaki itu menjenguk malaikat kecil itu diruang bezuk.
Lelaki itu tak tampak sebagai pria perkasa yang layak memiliki anak
manis seranum malaikat kecilku itu. Datang bersama perempuan
bermata sipit berkulit kuning gading, dia justru tampak seperti
anjing mabuk. Matanya cekung. Mulutnya penuh kata-kata dan
selalu tampak menceracau saat berbicara.
”Kau kian kagum pada para penjahat ketimbang sipir dan ke-
pala penjara bukan?” Pria anjing mulai membelai malaikat kecil
yang kelak kuketahui bernama Sakram itu.
101
www.bacaan-indo.blogspot.com ”Oto-san! Oto-san! Aku kangen sinar matahari. Namun me-
reka hanya memberiku Assssssssb! Assssssb! Asssssssb!”
Pria anjing tak mendengar dengus malaikat. Meski demikian,
berlagak sebagai ayah yang memiliki segala alasan untuk merasa
lebih benar dari anak-anaknya, dia menggonggong tak keruan,
”Kau mulai dendam pada keadilan bukan?”
Malaikat kecilku menggeleng. Namun, mendadak dalam bahasa
yang kumengerti, dia mendesis pelan, ”Januari aku selalu ingin
melihat penjara, April aku tato bahuku dan mulai minum ciu di
belakang kantor polisi, dan Mei aku bertemu Andi lalu ngganja
urun seribu. Setelah itu aku ditangkap polisi, Oto-san. Setelah itu
aku menunggumu.”
”Menungguku? Untuk apa?”
”Aku berharap kau mau menemaniku, Oto-san. Aku ingin kau
melihat tikus sebesar anjing menggerogoti kaki saat kita terlelap
tidur atau pusing menghitung kapan disidang kapan dibebaskan.
O, di tempat ini, aku juga melihat anjing sebesar Oto-san. Anjing
itu hanya muncul saat aku kangen Oto-san. Kadang-kadang ia me-
miliki sayap sehingga bisa terbang, keluar dari penjara brengsek
ini.”
Pria anjing tergagap mendengar permintaan yang sangat tak
terduga itu.
”Apakah polisi mendengar dengus-desisku, Oto-san? Apakah
polisi melarang aku bertemu denganmu, Oto-san? Apakah aku
tidak boleh jadi kecoa pujaanmu?”
Pria anjing tetap bungkam. Tidak. Tidak. Rupa-rupanya dia
berusaha meledakkan kata-kata, tetapi tak seletup pun bunyi mem-
buncah dari mulutnya yang sangat dipenuhi bau nikotin itu.
”Sudahlah, Oto-san. Siapa pun memang tak bisa kuandalkan
di tempat ini. Aku harus melawan siapa pun sendiri. Aku harus
102
www.bacaan-indo.blogspot.com memilih kawan dan lawan sendiri. Aku harus bertahan dan me-
lawan ketakutan sendiri.”
Edan. Hampir saja, aku, Darbol, lelaki yang didewakan di tem-
pat yang memungkinkan aku meminang siapa pun yang ingin
kucumbu, memekik kegirangan karena mendapatkan juru selamat
sejati yang kelak tak akan bisa ditaklukkan oleh kekerasan atau
siksaan paling keji itu.
”Sekarang pulanglah, Oto-san.”
Pria anjing tak berani menggonggong. Dia beranjak dari ruang
tunggu dan sesegera mungkin meninggalkan tempat itu. Pada
saat semacam itu, aku baru tahu di kedua bahunya juga tumbuh
sayap tua rapuh yang mungkin tak lagi berguna. Tentu aku tak
perlu terkejut melihat pemandangan semacam itu. Di kota ini
siapa pun bisa berpenampilan seperti malaikat atau iblis. Iblis dan
malaikat hanyalah atribut yang bisa dipilih saat seseorang hendak
pergi ke pesta, ke kantor dewan, bahkan ke penjara busuk.
Karena itu pula, aku tak terkejut sama sekali ketika Sakram
tiba-tiba menyembul dari kakus. Menyembul dari lubang gelap
atau pintu resmi yang dijaga para sipir bukanlah persoalan penting.
Kami, para pria iblis, hanya peduli pada anus dan keganasan me-
reka saat mencium atau mencumbu pejantan-pejantan perkasa
di sel ini.
Aku tak sempat menyaksikan pria anjing keluar dari jeruji
yang membatasi penjara dengan dunia luar. Mataku lebih tertarik
menatap Sakram yang asyik membaca kitab besi bersama ibunya.
”Apa saja yang telah kaupelajari di sini, Sakram?” sang ibu
bertanya sambil menunjuk gambar iblis di kitab tua, ”Kau menda-
patkan pelajaran mencium kawan-kawanmu dari iblis lembut se-
perti ini?”
Sakram mengangguk. Sambil melirik ke arahku, dia memper-
103
www.bacaan-indo.blogspot.com kenalkan siapa pun yang ditemui di penjara kepada sang ibu. ”Iblis
pertama yang kutemui bernama Darbol, Mam. Dia mengajariku
memukul pria-pria ranum yang lebih kecil. Dia juga membelai
dan meraba-raba pantatku setiap malam.”
Merasa Sakram bakal terancam sepanjang malam, wajah pe-
rempuan bermata senja itu menghijau. Segala yang bersekutu de-
ngan kegelapan menghunjam ke mata dan jiwa.
”Darbol juga mengajariku melawan sipir, menipu jaksa, dan
hakim. Kata Darbol, percuma jujur di hadapan mereka. Malaikat
paling perkasa pun kalau tak punya duit, bisa mereka jebloskan
ke penjara.”
Aha! Hanya dengan memahami segala bunyi ”Assssbbbbb”
yang selalu meletup dari mulut malaikat kecil itu, aku memang
mengajari Sarkam agar lebih sadis memukul atau menempeleng
penghuni penjara lain. Aku juga mengajari bagaimana menyun-
dutkan rokok ke wajah atau leher penghuni baru. ”Kalau tak
sadistis atau kejam, mereka akan membunuh atau menghajarmu
dengan cara yang lebih ganas dan menyakitkan.”
Sebagaimana biasa, Sarkam hanya membisu. Di hadapanku,
selain hanya meletupkan bebunyian aneh, dia memang lebih
suka memoncong-moncongkan mulut. Sebagaimana biasa pula,
dia tak mau mempercakapkan apa pun denganku. Tak ada bahasa
dan kata-kata di antara kami.
Sebenarnya tanpa kuajari, malaikat ranum itu bisa mencang-
kok tabiat apa pun yang dilakukan oleh para penghuni penjara.
Lambat laun Sarkam akan mahir melakukan segala tindakan yang
tak pernah dia kerjakan di luar sel.
”Iblis kedua bernama Kirik, Mam. Kirik, kau tahu, karena ingin
libur sekolah sepanjang hari, dia membakar sekolah di desanya.
Dan kini, secara sembunyi-sembunyi bersamaku dia merencana-
kan membakar penjara ini.”
104
www.bacaan-indo.blogspot.com ”Membakar penjara? Bukankah dengan membakar tempat ini
kalian akan turut terbakar?” kata perempuan bermata senja itu
mengingatkan.
Sayang sebelum Sakram merespons kata-kata sang ibu, waktu
kunjung telah berakhir. Semua pembezuk, siapa pun mereka, ma-
laikat atau iblis, harus meninggalkan ruangan ini. Itu berarti jam
kekuasaan para sipir—yang kerap terima sogokan dari para pem-
bezuk yang ingin menambah waktu berkunjung—juga berakhir.
Pada saat-saat semacam itu, ganti aku yang berkuasa. Ganti
aku merampas atau meminta paksa makanan, mainan, pil koplo,
atau apa pun yang bisa disusupkan secara legal atau tak legal.
Meski demikian, sedikit pun tak kusentuh segala yang dimiliki
oleh Sakram dan Kirik. Mendekati sel dua bocah ranum itu, aku
seperti berhadapan dengan medan api yang siap melahap wajah-
ku. Kadang-kadang sel mereka dililit naga bermulut gua. Kalau
sudah begitu, aku hanya berani meneriakkan kata-kata jorok agar
mereka terangsang dan segera bercumbu dengan ganas di hadap-
anku.
Sayang sekali Sakram bukan malaikat bloon. Merasa sepanjang
hari sepanjang malam tak bisa melepaskan diri dari kebuasaan
mataku, suatu hari dia mengajak Kirik membakar selku.
”Aku sudah mencegah, tetapi dia tetap akan mewujudkan ren-
cananya. Dia akan membakar sel dan kalau perlu wajah Sampean,”
kata Kirik membocorkan rencana busuk Sakram kepadaku.
Saat itu aku tak bisa menahan tawa yang meledak. Meski demi-
kian, aku tak meremehkan rencana Sakram. Aku yakin, bukan
tak mungkin dia membakar sel dan merontokkan keberanianku.
Karena itu, malam itu aku menunggu aksi Sakram. Aku menunggu
dia menyemburkan api ke sel. Aku menunggu dia menjilatkan pa-
nas neraka ke wajah ganjilku.
105
www.bacaan-indo.blogspot.com ***
”Ayo malaikat kakus, bakarlah wajahku. Hanya dengan cara ini,
kau bisa menjadi mesias bagi segala iblis laknat di penjara ini.
Hanya dengan membakar aku, kau akan jadi gali sejati,” pekikku
dengan syahwat merindu mati.
Sebagaimana biasa, Sakram tak mau membuncahkan kata-
kata. Sebagaimana biasa dia hanya memandangku dengan sinis
dan meletupkan mantera malaikat purba.
”Kalau kau tak mau membakar aku, aku yang akan membakarmu.
Kau kira mulutku tak bisa menyemburkan panas neraka? Kau kira
aku hanya iblis biasa. Kau kira aku tak bisa menciptakan seratus
Lucifer dan memerintahkan mereka berjubel di selmu?”
Malaikat kakus itu tetap diam.
”Camkan, Sakram, aku juga bisa membakar diriku sendiri.
Namun, krematorium semacam itu, tak akan melahirkan jagoan
masa depan. Krematorium seperti itu hanya akan melahirkan iblis
pengecut sepertimu.”
Kini wajah malaikat kakus itu tampak menegang. Meski demi-
kian rupa-rupanya Sakram tak bisa kujebak dengan kata-kata
bodohku. Matanya malah tampak menghardikku. Tidak! Tidak!
Mata itu menatapku dengan pandangan kasihan yang melena-
kan. Mata itu seperti menjadi telaga yang memungkinkan aku ber-
cermin dan menatap coreng-moreng perjalanan hidupku sebagai
iblis. Lihatlah! Lihatlah, di telaga itu wajah 14 tahunku saat
kali pertama mengganja begitu manis dan bercahaya. Dan itu
tak terlalu berbeda dari wajah 16 tahunku ketika menyundutkan
rokok ke mata pelacur tua yang mengolok-olokku sebagai coro.
Ah, wajahku juga tak berubah ketika pada usia 17 tahun aku
membunuh Toar, bromocorah terkuat di kampungku.
106
www.bacaan-indo.blogspot.com ”Wajahmu tak akan pernah berubah, Darbol. Sekalipun kau
membakar penjara ini, garis-garis iblis akan menggurat di pipi.
Jadi, bunuhlah keinginanmu menjadikan siapa pun di penjara ini
sebagai iblis. Jangan sampai aku mengatakan tiga kali kutukan
ini, Darbol. Jangan sampai wajahmu menyerupai ceruk kakus.
Jangan sampai kau cuma jadi coro yang tiba-tiba menyembul dari
lubang penuh tinja itu!”
Mula-mula aku berani menatap mata Sakram. Mata kami
bahkan beradu sehingga menimbulkan bunyi dentang pedang
yang saling bersentuhan. Namun, akhirnya aku tertunduk lemas
ketika hardikan Sakram tak bisa kubendung dan tiba-tiba sudah
menyusup ke telinga dan menghunjam ke dadaku. Tanpa harus
melihat gerak mulut bocah brengsek itu, aku yakin Sakramlah
yang mengasah dan menghunuskan kata-kata busuk.
”Kau jangan pernah berpikir berhasil mengubahku menjadi
iblis, Darbol. Hari ini juga aku akan meninggalkan sel busuk ini.
Kau mungkin bisa mengubah Kirik menjadi anjing, tetapi kau
tak akan bisa mendidik iblis yang lebih iblis, malaikat yang lebih
malaikat darimu menjadi boneka mainan. Kau…”
Aku tak mau mendengarkan lagi kata-kata dia. Mendengarkan
hardikan Sakram sama saja dengan menyorongkan dan meng-
hanguskan wajah dalam nyala api yang menjilat-jilat. Yang paling
mungkin kulakukan adalah membayangkan malaikat kakus itu
berjalan pelan-pelan ke pusat lapangan, membentangkan tangan
seperti padri tersalib, menjejakkan kaki—yang kemungkinan
telah bersayap—tujuh kali, lalu terbang meninggalkan penjara
anyir ini. Tidak! Tidak! Mungkin dia memang terbang. Namun,
sangat mungkin melesat ke ceruk kakus. Kembali ke asal. Ke
lubang gelap yang menguncupkan sayap. Ke lubang gelap yang
menguncupkan harapan.
107
www.bacaan-indo.blogspot.com Ah, apakah dalam hidupmu, kau juga pernah melihat malaikat
kecil menyembul dari ceruk kakus? Kalau pernah menatap makh-
luk menjijikkan itu, kupastikan dia bukan Sakram. Aku telah
menggelontorkan berember-ember air di ceruk kakus. Aku yakin
dia telah hanyut ke sungai amis yang melintasi rumah sakit jiwa
di kotamu.
Atau kalau sayapnya tak menguncup, dia pasti tak mau hidup
di kota ini. Aku mendengar dari Kirik, ia akan terbang ke Negeri
Seribu Matahari. Ke negeri asal api. Ke negeri tempat pria anjing
dan wanita peri membiakkan air mata di segala bunga dan kolam-
kolam sunyi.
Aku sama sekali tak mengharapkan dia menjadi bangau bodoh
yang selalu merindukan sarang hanya karena terlalu karib pada
dengus pria anjing dan wanita peri yang melenakan. Dia harus
selalu pergi dan tak perlu memikirkan jalan pulang yang sewaktu-
waktu bisa membunuh secara perlahan-lahan.
Pergi, wahai bajingan kecil, pergi ke neraka pujaan.
Magelang-Semarang, Juni-November 2005
108
www.bacaan-indo.blogspot.com Sayap Kabut
Sultan Ngamid
YA, kau juga tahu, hari itu, Minggu 28 Maret 1830, Ramadan
telah berlalu. Karena itu, dalam lukisanku, aku yakin kabut lembut
dan matahari susut saja yang mengepung Rumah Karesidenan itu.
Tak ada gerimis riwis yang menghardik tiang-tiang tua. Tak ada
pula petir mendera Merapi yang samar mengonggok di bumi fana.
Jadi, sangat tak keliru jika kutorehkan warna terang di sekujur
kanvas. Tak salah jika kukesankan Allah menebarkan cahaya
cokelat keemasan di wajah siapa pun yang menyaksikan de Kock
menghardik sang Pangeran.
Bau wangi tanah masih mengepul saat terjadi keributan. Jejak
suara unggas juga belum terhapus dari ingatan. Dan orang-orang,
terutama aku, percaya tak akan ada pertempuran selama dan
sehabis Ramadan. Karena itu, sekalipun de Kock membentangkan
tangan memerintah Pangeran menuju kereta yang akan membawa
ke pengasingan, aku tetap tak ingin mengubah kegentingan itu
menjadi Lebaran sedih berwarna muram.
Memang keheningan dan kebeningan menguar dari pagi yang
baru mekar, tetapi aku tak mungkin menorehkan kabut dan di-
ngin Magelang terlalu dalam di kanvas. Jadi, sekalipun dikepung
109
www.bacaan-indo.blogspot.com wajah-wajah tegang staf de Kock dan disaksikan rakyat dalam
sedu-sedan, Pangeran harus kulukis tegak menantang. Hanya aku
saja yang boleh sedih. Hanya aku—yang kausangka telah belajar
teknik melukis dari Horace Varnet dan Eugene Delacroix—boleh
menyusupkan diriku pada wajah prajurit yang takzim membungkuk
di hadapan Pangeran dan pasukan cemas yang mewaswaskan nasib
sang Junjungan.1
***
ANDAIKATA Raden Saleh hadir di Rumah Karesidenan ber-
sama Pangeran Dipanegara Muda, Raden Mas Joned, dan Raden
Mas Raib2 pada 28 Maret 1830 yang ajaib itu, mungkin dia tak
akan melukiskan Sultan Ngamid sebagai sebagai pangeran ber-
sorban saja. Ya, jika dia berdiri di dekat Haji Ngisa dan Haji
Badarudin—penasihat-penasihat agama terkasih Pangeran—pasti
lukisannya tak akan sekadar menggambarkan Sultan Ngamid
sebagai manusia biasa.
Sebab dalam pandangan Haji Ngisa yang masih sangat awas,
ketika ketegangan terjadi dan Jenderal de Kock mengharap Pa-
ngeran agar segera naik kereta, di kedua bahu Sultan tumbuh
sayap Rajawali ungu yang menyilaukan mata. Sayap-sayap itu se-
1Bagian ini bertolak dari reproduksi lukisan Raden Saleh yang terdapat da-
lam sampul buku Dr Peter Carey, Asal-usul Perang Jawa, Pemberontakan Sepoy &
Lukisan Raden Saleh yang diterbitkan oleh LkiS, Juli 2004. Saya perlu berterima
kasih kepada Sutanto Mendut yang mengingatkan saya betapa Dipanegara di-
perdaya oleh Jenderal de Kock pada Lebaran hari kedua. Reproduksi lukisan itu
pula yang digunakan oleh koreografer Sardono W Kusumo sebagai pancatan
lakon Opera Diponegoro.
2Anak-anak Sultan Ngamid.
110
www.bacaan-indo.blogspot.com akan tak sabar menerbangkan sang Junjungan ke langit suci, ke
langit sarat sriti. Namun di luar dugaan, Sultan Ngamid menang-
galkan bulu-bulu indah yang barangkali diberikan oleh Malaikat
Jibril itu. Bahkan dia memberi isyarat pada Haji Ngisa agar tak
terpesona pada setiap keajaiban yang mengucur setelah seseorang
khusyuk berpuasa. Lewat bisikan batin, Sultan juga meminta agar
Haji Ngisa tak perlu takjub pada segala peristiwa tak masuk akal
yang menyelimuti Rumah Karesidenan yang telah dikepung para
serdadu itu.
Haji Ngisa yang telah mengerti betapa kegaiban bisa meng-
hunjam kepada siapa pun yang dipilih Allah hanya mengangguk.
Sambil menempelkan jari telunjuk ke bibir, dia juga memberi
isyarat kepada panakawan Banthengwareng dan Jayasutra agar
tak memekik. Haji Ngisa tak ingin pekikan ketakjuban itu akan
mengganggu takdir Allah yang telah ginaris. Dia tak ingin de
Kock atau Valck, Residen Kedu berwajah batu itu, terkejut dan
kemudian lari tunggang langgang. ”Segalanya sudah diatur,” desis
Haji Ngisa, ”Bahkan mungkin Jibril pun dititahkan tidur dan tak
mencampuri segala yang terjadi dalam silaturahmi indah ini.”
Haji Ngisa tahu benar jika Sultan Ngamid tak menanggalkan
sayap atau menyemburkan kelabang beracun kepada lawan, Roest,
de Stuers, atau Perie akan menganggap Sultan menciptakan sihir
dan menghina para perwira yang mengajak berunding menghenti-
kan Perang Jawa itu. ”Kalau mau Sultan Ngamid bisa menghilang.
Kalau mau segala yang ada di Rumah Karesidenan ini bisa dikutuk
menjadi batu. Nah, apakah Sampean mau dikutuk jadi tengu?”
Karena itu, Haji Ngisa lebih memilih memandang kilau sena-
pan dan pakaian para serdadu yang dipimpin du Peron di anjung-
an dalam ketimbang menatap wajah Sultan Ngamid yang karena
terlalu benderang tak lagi bisa dipandang.
111
www.bacaan-indo.blogspot.com ”Sampean juga jangan menatap wajah Sultan, Jenderal. Kalau
berani menatap, hati Sampean bisa terbakar,” desis pria yang
senantiasa berzikir itu teramat pelan.
Tentu de Kock tak mendengarkan isyarat halus itu. Tentu dia
tak terlatih menangkap pertanda yang hanya berupa gelengan
kepala Haji Ngisa itu. Ya, memang tak semua tanda bisa diraba
dan membuncahkan makna. Tetapi, mengapa sejak pemandang-
an menakjubkan itu terjadi, de Kock tidak peka? Mengapa dia
tak membiarkan Sultan Ngamid pulang setelah selesai bersila-
turahmi?
”Mengapa saya tidak diperkenakan pulang, Jenderal? Apa yang
harus saya lakukan di sini? Saya datang dengan bersahabat semata-
mata untuk kunjungan singkat sebagaimana yang diadatkan oleh
orang Jawa setelah mereka selesai berpuasa selama sebulan.3 Saya
datang tidak dengan keris terhunus dan pedang meradang.”
”Saya ingin menyelesaikan persoalan kita hari ini juga,” kata
de Kock.
”Jadi, Anda ingin mengadili saya? Anda ingin mengajak ber-
kelahi? Jika itu yang Jenderal inginkan, saya tak membutuhkan
keadilan dari tangan Sampean. Jika ingin berkelahi, saya pun tak
mau berkelahi dengan Sampean.”
Ya, saat mendengarkan semburan kata-kata semacam itu Haji
Ngisa berharap de Kock segera mengurungkan niat menangkap
dan mengasingkan Pangeran. Namun, de Kock tak punya alasan
untuk tak segera melakukan perintah Johannes van den Bosch.
Telinganya bahkan lebih berisi instruksi-instruksi sang Gubernur
Jenderal ketimbang luapan amarah Sultan Ngamid. Bahkan jika
3Kata-kata Sultan Ngamid dalam Babad Dipanegara.
112
www.bacaan-indo.blogspot.com tak mungkin menangkap atau membunuh Sultan Ngamid, de
Kock pun sudah punya cara untuk menaklukkan Pangeran. ”Sa-
ya akan mempreteli kekuasaan Sampean dengan cara apa pun,
Pangeran. Kalau perlu saya akan menggorok leher perempuan-
perempuan terkasih Anda pada Lebaran hari ketiga. Setelah itu,
saya tembak putra-putra Sampean. Dan, jangan lupa Haji Ngisa
dan para panakawan juga kami jebloskan ke sumur tua.”
Sultan Ngamid bisa membaca pikiran de Kock. Karena itu,
sambil mendongakkan kepala, dia menyemburkan amarah ter-
akhir kepada Jenderal yang kini telah dia anggap sebagai penjahat
paling hina itu. ”Hei, Jenderal, ketahuilah, saya yang sejak dulu
Sampean panggil sebagai Pangeran Dipanegara,4 tidak takut
mati. Saya siap dibunuh kapan pun. Kematian toh hanya kabut
halus. Kematian toh hanya tirai yang yang memungkinkan saya
menyatu dengan istri saya di Imogiri. Sekarang, silakan bunuh
saya. Saya yakin inilah puncak kemenangan yang saya peroleh
setelah sebulan berpuasa.”
Haji Ngisa kian tak tahan mendengarkan semburan kata Sul-
tan Ngamid yang menguarkan bau berbagai wangi-wangian itu.
Karena itu, dia berjingkat mendekati Ali Basah Gandakusuma
dan membisikkan pertanyaan-pertanyaan tak terduga.
”Apakah Sultan tak mengerti akan terjadi peristiwa seperti
ini, Kisanak?”
Gandakusma mengangguk. Saat itu dia justru melihat Sultan
Ngamid mulai memungut sayap Rajawali ungu yang semula ditang-
galkan. Dengan hati-hati dia mengenakan sayap itu. Dengan hati-
4Sultan Ngamid adalah nama tua Pangeran Dipanegara. Begitu memosisikan
sebagai Ratu Pangageng Panatagama ing Tanah Jawi, nama Dipanegara ia beri-
kan kepada putranya.
113
www.bacaan-indo.blogspot.com hati pula, dia berseru, ”Allahu! Allahu! Allahu! Segalanya telah
rampung, Gusti. Segalanya telah kukembalikan pada-Mu!”
Setelah itu, kau tahu, seperti Isa yang tersalib, dia memben-
tangkan tangan dan mengibas-ibaskan sayap, moksa ke langit,
membumbung menembus kabut, menghilang dari pandangan
Haji Ngisa yang tak lagi takjub.
Mengapa Sampean tak lagi takjub, wahai Kiai waskita? Karena
memang tak semua hal harus ditakjubi. Takjublah pada mengapa
Sultan Ngamid berani mati pada saat ruang dan waktu memberi
kesempatan untuk hidup. Takjublah mengapa dia tak menunjuk-
kan sayap-sayap ungu itu kepada de Kock dan serdadu-serdadu
yang juga dibutakan. Ketahuilah, Tuan, andaikata de Kock dan
para serdadu tahu, seluruh Rumah Karisidenan akan terbakar.
De Kock akan tinggal arang. Serdadu akan jadi abu tanpa jejak
kehidupan. Apakah Sampean tak cemas? Aku tak bisa cemas lagi
sejak de Kock kehilangan kepekaan. Jadi, Sampean tahu segalanya
berakhir mengenaskan? Mengenaskan? Apa yang mengenaskan? Ke-
ajaiban sayap-sayap Jibril di tubuh Pangeran, Sampean anggap
peristiwa mengenaskan? O, jadi Sultan Ngamid memang benar-
benar punya sayap? Punya sayap atau tidak, bukan urusan Sam-
pean. Urusan siapa? Urusan saya, urusan Haji Ngisa. Apakah Allah
telah mengirimkan jutaan malaikat untuk mengarak Sultan Ngamid
ke surga? Mengapa bertanya seperti itu? Mengapa tak boleh ber-
tanya seperti itu? Saya kira bukan hanya saya yang melihat jutaan
malaikat mengarak Sultan Ngamid surga. Ada orang lain yang tahu
peristiwa sulapan itu? Bertanyalah pada Gandakusuma. Bertanyalah
kepada pria yang setiap subuh shalat berjamaah dengan Sultan
Ngamid itu. Apakah saya boleh bertanya pada de Kock? Kenapa
tidak? Apakah dia akan menganggap Sultan Ngamid sebagai dajjal tak
aturan? Apakah dia menangkap Sultan Ngamid karena membayangkan
diri sebagai mesias yang mampu menghentikan perang?
114
www.bacaan-indo.blogspot.com Haji Ngisa tak mau menjawab pertanyaan itu. Sambil meng-
gamit tangan Ali Basah Gandakusuma, dia menyingkir dari Ru-
mah Karesidenan yang kian tampak sebagai hantu rakus itu. ”Ja-
ngan katakan kepada siapa pun apa yang Sampean lihat. Saya
percaya Sampean tak akan menyebarkan sesuatu yang mungkin
bisa menyesatkan umat. Ketakjuban, Sampean tahu, kadang-
kadang bisa menjauhkan kita dari Sang Penabur Keajaiban!”
***
YA, Ali Basah Gandakusumalah yang sebenarnya sejak subuh
pada 28 Maret 1830 itu, sudah memergoki di kedua bahu Sultan
Ngamid tumbuh sayap. ”Sayap kematian,” pikir dia, ”Sayap yang
akan menghentikan perang.”
Meski demikian, Gandakusuma tak berani mempertanyakan
segala sesuatu yang berkait dengan perang dan kematian. Tak baik
pada Lebaran yang baru mekar mempersoalkan amis darah, wangi
bunga kubur, dan Matesih menjelang Sultan Ngamid berunding
di Rumah Karesidenan.
”Saya kira semua prajurit harus menyertai Panjenengan, Sul-
tan.”
”Allah tak menghendaki seperti itu, Gandakusuma.”
”Maaf, Sultan, saya khawatir Jenderal de Kock akan…”
”Ya, ya, Sampean boleh khawatir. Namun, saya lebih khawatir
jika prajurit kita akan mengejutkan mereka.”
”Jadi, kita hanya akan bersilaturahmi, berlebaran pada Jenderal
de Kock, Sultan?”
”Ya. Jangan kaukenakan tanda pangkat atau jabatan. Kenakan
saja pakaian santai sebagaimana kita hendak pelesir atau berjalan-
jalan.”
115
www.bacaan-indo.blogspot.com Sampai pada percakapan yang kian tak terpahami itu, Ganda-
kusma melihat sayap Rajawali ungu di bahu Sultan Ngamid kian
melebar. Sayap itu kian menelan tiang-tiang dan segala yang bisa
teraba dan terjamah tangan. Karena itu, sekali lagi, Gandakusuma
menyangkal.
”Kita memang akan bersilaturahmi, Sultan, tetapi de Kock te-
lah menjelma iblis. Dan sebagai iblis, dia akan membunuh siapa
pun yang tak takluk pada dirinya.”
”Iblis? Kitalah yang iblis kalau tak bisa memaafkan orang-
orang yang hendak membunuh dan memperdaya kita.”
Kali ini Gandakusuma tak berani menatap wajah sang Sultan.
Dia tahu sebentar lagi, setelah pada pukul 08.00 Sultan berangkat
ke Rumah Karesidenan, de Kock akan mengerahkan ratusan iblis
untuk membekuk Junjungan yang kian tak peduli pada pekik
kemenangan di medan perang itu. Dia yakin benar sayap-sayap
Sultan akan rontok pada saat de Kock menghardik dan memerin-
tahkan Pangeran beranjak menuju kereta pengasingan.
”Segalanya sudah diatur oleh sang Jenderal sialan, tetapi me-
ngapa Sultan percaya bahwa apa pun yang terjadi telah diatur
oleh Tuhan dan tak lagi bisa dihindarkan?” desis Gandakusuma
dalam kecamuk pikiran tak keruan.
”Sudahlah, Gandakusuma,” kata Sultan seperti mengerti segala
yang dipikirkan oleh panglima utamanya itu, ”Pada saat berperang
pikirkanlah peperangan. Namun pada saat Lebaran pikirkanlah
Lebaran. Ayolah, bersenang-senanglah bersama Jenderal de Kock
dan para perwira. Nanti kuberi kuda baru. Nanti kuberi sajadah
dan sorban baru. Nanti….”
Gandakusma tahu nanti dia hanya akan mendapatkan sayap
yang rontok, mata yang kehilangan keperkasaan, dan jiwa yang
tak lagi terpesona pada kabut Merapi. O, mengapa kekalahan
116
www.bacaan-indo.blogspot.com begitu wangi? Mengapa ia muncul ketika puncak kemenangan hadir
telanjang serupa bidadari?
***
Kini kau tahu bukan mengapa aku tak mau melukiskan Sultan
Ngamid mengenakan sayap Rajawali ungu. Digambarkan bersayap
atau tak bersayap, Sultan Ngamid adalah Sultan Ngamid. Ia akan
menanggalkan apa pun yang bukan miliknya. Juga sayap dan ke-
megahan dunia. Juga sayap dan segala yang dicinta.
Ya, namaku Saleh, kau telah melihat Sultan Ngamid dalam
lukisanku5 pada senja yang hampir kehilangan doa-doamu Aku
bahagia karena tak menganggap dia sebagai malaikat atau dewa
bermata ungu.
Semarang, 19 Oktober 2005
117
www.bacaan-indo.blogspot.com
118
www.bacaan-indo.blogspot.com Hantu di Kepala
Arthur Rimbaud
Todongan Pria Cantik Bertangan Ular
”HANYA malaikat atau iblis yang pada 1876 atau 46 tahun sete-
lah Perang Jawa berakhir, mampu melesat dari salah satu tangsi di
Salatiga ke bandar keruh Semarang. Karena itu, aku tidak percaya
pada catatan Van Dam. Aku tak mau dikibuli oleh omong kosong
tentang Rimbaud yang mampu berjalan kaki 48 kilo meter. Jadi,
ayolah, Raden, kita bikin riwayat lelaki manja yang bergabung
dengan batalion infantri Belanda itu di Archipel atau Le Tour du
Monde. Siapa tahu catatan kitalah yang kelak akan digunakan
dunia saat mereka membedah riwayat penyair jenius ini!”
Edan! Aku ini bukan sejarawan. Aku hanya laki-laki culun
yang gemar menggambar apa pun yang tampil serbadahsyat di
mataku. Ya, aku telah menggambar harimau yang tiba-tiba melon-
cat ke punggung banteng dan menghunjamkan kuku-kuku tajam
ke daging kenyal. Aku juga menggambar seorang Pangeran Jawa
yang tetap tegar ketika puluhan serdadu mengarahkan moncong
senapan ke mata kencananya secara bersamaan. Dan lewat jejak-
jejak di kanvas itu, siapa pun tahu, tak layak aku disebut sebagai
penyelamat riwayat orang. Tapi kenapa pria cantik yang jari-
119
www.bacaan-indo.blogspot.com jemarinya senantiasa menjulur-julur seperti ular ini memaksaku
menulis kisah orang yang tidak terlalu kukenal?
”Ayolah, Raden, Sampean pasti bisa. Aku hanya ingin Sampean
menulis tentang kisah serdadu sinting itu dari perspekstif yang
musykil,” kata pria berbibir ranum yang mengaku sebagai musuh
bebuyutan Van Dam itu sambil membelitkan sepasang tangan.
Perspektif musykil? Ah, aku ini tukang gambar yang lurus-lurus
saja. Aku tak mau berurusan dengan segala sesuatu yang tinggal
di luar nalar. Ketika menggambar orang-orang Jawa yang dengan
gagah berani menaklukkan macan, banteng, kijang, atau singa,
tak sedikit pun aku ingin bilang kepada para serdadu Belanda,
betapa pada suatu saat mereka akan dicincang oleh orang-orang
tertindas dan terabaikan.
Juga ketika menggambar pertarungan yang menegangkan an-
tara dua ekor singa melawan seekor banteng, aku tak sedang
menunjukkan perkelahian abadi antara kebajikan melawan keja-
hatan. Aku tak sedang berhadapan dengan sesuatu yang musykil
saat menggoreskan garis dan warna di sebidang kanvas. Jadi, bagai-
mana aku bisa meriwayatkan sebuah peristiwa dengan sudut pan-
dang yang tak lazim? Bagaimana mungkin merangkai kata atau
frasa aneh, jika berhadapan dengan sesuatu yang asing—termasuk
pria berbibir liar ini—aku gemetaran?
”Oo, aku tak peduli Sampean tahu sejarah atau tidak, Raden.
Yang, jelas Sampean orang Jawa dan Rimbaud pernah tinggal di
Salatiga. Aku akan bayar mahal tulisan Sampean dengan harga
lebih dari sepuluh lukisan.”
Hmm...pria sinting ini benar-benar tak tahu segala yang ku-
lakukan di Paris sejak 23 Januari 1845. Ia juga tidak tahu betapa
aku pernah mabuk bunga di taman-tamannya yang penuh ular
dan segala buah-buahan. Jika saja tahu aku membenci segala
120
www.bacaan-indo.blogspot.com yang berbau Paris dalam gambar-gambarku, tentu ia tidak akan
merengek-rengek memintaku menulis kisah tentang serdadu yang
romantis atau penyair yang sok ingin merasakan gelegar suara
meriam di medan perang.
Ya, ya, pada Juli 1875, aku memang kembali ke Paris untuk
mencari gambar-gambarku yang pernah dikoleksi oleh para pe-
tinggi Prancis. Karena gambar-gambar itu hancur oleh perang, aku
kembali lagi ke Jawa. Aku memang kemudian memilih tinggal di
kota yang setiap hari menciptakan gerimis hanya dari senandung.
Aku sama sekali tak tertarik tinggal di Semarang atau Salatiga.
Karena itu, keliru kalau, di kafe yang sumpek ini pria yang sepan-
jang hidupnya ingin mengalahkan Van Dam itu, memintaku men-
ciptakan sejarah baru Rimbaud dari serpihan-serpihan informasi
yang justru telah ditemukan sejarawan militer Belanda yang me-
nerbitkan kisah perjalanan Rimbaud di De Fakkel.
Tapi baiklah, seorang tukang gambar, kau tahu, mungkin bisa
menulis riwayat siapa pun dari warna, garis, bidang, ruang, waktu,
dan badai yang tiba-tiba mengacak-acak beranda atau studio yang
berlepotan cat dan kenangan. Seorang yang hanya mengerti asin
kabut, bukan tidak mungkin akan menulis Rimbaud dalam ba-
lutan gerimis dan ratusan undan yang beterbangan.
Hujan Api
Seorang tukang gambar memang menulis riwayat hidup Rimbaud
dengan prosa surealistis tak keruan. Raden, tukang gambar dari
Jawa itu, menyangka jiwa Rimbaud yang rapuh mudah dikuasai
oleh hantu-hantu dan mambang. Itu karena ia tahu pernah men-
jadi pedagang budak, penjual senjata, dan serdadu bayaran. Ia
121
www.bacaan-indo.blogspot.com menyangka penyair yang menyerah pada kuasa kegelapan, akan
lebih pas jika riwayatnya ditulis dengan gaya yang menggabung-
kan fantasi para sui dan sedikit bau magis desa-desa di Hutan
Tuntang.
Aku menduga sesaat sebelum menulis salah satu kisah Rimbaud
yang paling ngawur, Raden membaca sajak-saja Rimbaud yang
menghuni setiap rak intelektual Paris. Bahkan mungkin ia telah
meneriakkan, ”Laparku, Anne, Anne, lari di atas keledaimu”1 ber-
ulang-ulang.
Pengaruh kespontanan dan keliaran sajak-sajak Rimbaud sung-
guh-sungguh sangat memengaruhi sekujur tulisan yang kutemu-
kan di tong sampah tak jauh dari kantor De Fakkel. Karena itu
saat Raden menulis: Rimbaud telah diberi sayap oleh Lucifer saat me-
ninggalkan Tuntang, aku cuma bisa bilang, tukang gambar bodoh
ini memang layak disebut sebagai laki-laki paling sialan. Aku
juga tak bisa bilang apa-apa ketika dengan percaya diri Raden me-
nulis: Rimbaud terbang dalam kawalan 12 malaikat. Bersama malai-
kat-malaikat itu ia membentuk konigurasi aneh sehingga jika dilihat
dari kejauhan seperti bunga matahari yang memancarkan air mata
sepanjang zaman.
Dan agar memunculkan kesan mistik, ia juga membawa-bawa
nama Nyai Danyang Tuntang, dalam perjalanan Rimbaud. Sebenar-
nya saat lari dari tangsi, Rimbaud sedang mabuk. Dalam mabuk yang
akut itu ia merasa bertemu perempuan berwajah burung. Perempuan
itulah yang memohon kepada para malaikat pengkhianat agar sesegera
mungkin menerbangkan Rimbaud dari Tuntang ke Semarang.
Edan! Edan! Bahkan Van Dam pun aku kira tak akan mengang-
1Petikan bait pertama sajak ”Pesta Lapar” karya Athur Rimbaud yang diter-
jemahkan oleh Sitor Situmorang dari ”Fetes de la Faim”.
122
www.bacaan-indo.blogspot.com gap tulisan Raden sebagai omong kosong. Rimbaud memang tiba
di Jawa sebagai serdadu Belanda pada 1876 dan memulai per-
jalanan ugal-ugalan serta petualangan sableng pada 1874 setelah
ia menulis sajak yang membuat banyak orang tergila-gila kepada-
nya, ”Semusim di Neraka”. Pada 18 Mei 1876 Rimbaud datang ke
Haderwijk dan mendaftarkan diri sebagai serdadu Belanda yang
juga dikenal sebagai legiun asing Eropa itu.
Kau tahu, saat itu ia mendapat tunjangan 300 gulden. Tentu
saja harta karun sejumlah itu bisa berubah menjadi kapal mabuk
yang bisa membawa Rimbaud ke surga dang dang ding ding, ke lagu
menara tertinggi, ke pesta lapar, ke lamunan-lamunan si miskin,
atau musim dingin yang tidak habis-habis.
Akhirnya saat melaut ke Jawa, ia tak lagi membayangkan diri
sebagai serdadu atau relawan gagah, tetapi justru sebagai setan
sakit jiwa yang tak layak menghuni tangsi paling kotor sekalipun.
Bahkan ketika dengan kapal Minister Fransen Van de Putte tiba
di Semarang, bandar panas penuh debu itu, menurut versi Raden,
dia bilang, ”Tunggu aku, kota yang sakit. Aku akan segera me-
ngunjungimu lagi begitu para serdadu konyol ini melepaskan aku
di Salatiga.”
Oo, sudah kuduga dia tak akan kerasan tinggal di Salatiga.
Kota ini terlalu sejuk dan tertib untuk hantu-hatu liar yang menari
dan berteriak-teriak di kepala Rimbaud. Karena itu sebelum sam-
pai di kota penuh lamboyan itu, setelah naik kereta api dari
Semarang ke Kedungjati dan berjalan kaki ke arah Tuntang sam-
bil memandang sungai yang jernih, sekali lagi menurut versi tulis-
an Raden, dia bergumam, ”Kelak iblis akan menerbangkan diriku
dari kercik sungai Tuntang ke bandar besar.”
Ya, ya, kau kemudian tahu, lewat catatan Van Dam, pada 30
Agustus 1876 dia dilaporkan hilang saat apel. Sejarah kemudian
123
www.bacaan-indo.blogspot.com tidak bisa mencatat perjalanan Rimbaud. Dan Raden-lah yang
dengan kecerdasan licik mengisi riwayar pelarian Rimbaud yang
penuh hantu. Kata Raden: Rimbaud sesungguhnya bukan penyair
atau serdadu. Ia adalah hantu yang ke mana pun berusaha menjelma
tentara atau apa pun yang bisa mengacaukan kehidupan orang-orang
yang layak tinggal di neraka. Hutan Tuntang adalah tempat yang paling
sering dikunjungi Rimbaud selama dua minggu tinggal di Salatiga. Di
hutan penuh pinus, ular, dan kelelawar itu, ia kerap melakukan upa-
cara kibas sayap bersama para malaikat pengkhianat. Api menjilat-jilat
langit di kawasan itu saat Rimbaud meletupkan mantera bersama 12
hantu bersayap. Kau tahu, sejak saat itu, aku menyebut hutan merah
menyala itu sebagai neraka.
Neraka itu, kau tahu, konon kelak menjelma lukisan hutan
terbakar penuh binatang panik.
”Aku sebenarnya ingin menghadiahkan lukisan itu kepada
Rimbaud. Sayang aku tak sanggup membeli lukisan mahal itu,”
kata seorang kawan yang konon sangat mengenal Raden saat
tukang gambar sialan itu tinggal di Paris.
Ah, aku, editor pecatan De Fakkel yang tahu sedikit tentang
Rimbaud, mengira tak mungkin penyair sinting itu menerima ha-
diah yang sangat meledek riwayat hidupnya di hutan kelabu yang
tak akan pernah dia saksikan di Eropa yang penuh jendela kaca
dan kastil-kastil suram sarat vampir itu.
Pengakuan Ular Terbang
Mereka menyebutku Ular hanya karena jari-jemariku mahir melata
ke sekujur tubuh para laki-laki mabuk yang bersempoyongan di
depan apartemen kecil di avanue des Veuves, dekat Champs-
124
www.bacaan-indo.blogspot.com Elysées. Dan karena aku begitu mudah melesat dari apartemen
satu ke apartemen lain untuk urusan percintaan atau sekadar per-
cumbuan, mereka juga menyebutku sebagai Ular Terbang.
Aku tidak keberatan mendapat ledekan semacam itu. Nama,
julukan, gelar, atau sapaan lembut tidaklah terlalu penting. Yang
terpenting bagiku, kau tahu, adalah mendapatkan duit sebanyak-
banyaknya, menulis riwayat orang-orang besar Prancis yang doyan
seks menyimpang, dan menghancurkan reputasi musuh bebuyut-
anku, Van Dam.
”Kau tidak akan pernah mengalahkan Van Dam,” kata seorang
teman yang kerap kuajak berdebat mengenai Rimbaud, ”Pria-pria
cantik seperti kita tak mungkin menulis sejarah dengan benar.
Kau bisa menulis secara tepat riwayat penderitaan bibir atau
rambutmu, tetapi akan terus-menerus melenceng saat mencatat
kegemaran-kegemaran kecil para pelanggan. Termasuk pelanggan
abadimu, Rimbaud dan Van Dam.”
’’Tapi aku telah bekerja sama dengan Raden. Dan kukira kisah
Rimbaud terbaik telah ia tulis dengan cara menawan. Aku yakin
De Fakkel akan menendang Van Dam setelah kami selesaikan
bagian Rimbaud di Hutan Tuntang...”
Bisik-bisik Sepasang Malaikat
Pada akhirnya sambil memandang hujan yang kadang-kadang
membuncahkan kilau air serupa berlian, kudengar sepasang malai-
kat bercakap-cakap di sebuah rumah sakit jiwa, setahun setelah
Rimbaud menendang diriku dari ranjang. Ranjang yang heran
menatap kami, sepasang laki-laki anjing, yang senantiasa ngos-
ngosan saat saling membelai atau berciuman.
125
www.bacaan-indo.blogspot.com ”Sebenarnya saat Rimbaud tersesat di Hutan Tuntang, aku telah
menyiapkan upacara pemakaman untuknya,” kata malaikat bersayap
hijau sambil menangis sesenggukan, ”Tapi kau menggagalkan dan
menerbangkan laki-laki sesat itu ke Paris. Kini...kita justru tak bisa
mengendalikan dia. Lucifer telah memberi dia sepasang sayap besi
yang bisa digunakan untuk menembus langit gelap.”
”Jangan sedih! Barangkali tak lama lagi seseorang akan menem-
bak jidatnya. Barangkali ajal akan menghentikan kesintingan-
nya,” ujar malaikat berparuh kuda sambil mengibas-ngibaskan
sayap merah.
”Ah, jangan ngawur...Tahun ini ajal tak akan sanggup menca-
but seribu nyawa laki-laki sialan ini! Ia masih akan bercinta de-
ngan sekian banyak perempuan dan sekian lusin laki-laki.”
”Karena itulah...mestinya ia kubunuh di Tuntang...”
Ah, kedua malaikat sinting itu sama sekali tidak mengerti ten-
tang Rimbaud. Mereka—sekalipun bertugas mendampingi Rim-
baud di segala musim—ternyata tak pernah benar-benar hidup
bersama penyair setan itu. Jika benar-benar menjadi malaikat
pendamping, seharusnya mereka juga tahu siapa aku. Mereka seha-
rusnya tak hanya terbang ke sana kemari dan hinggap di atap ru-
mah sakit jiwa ini, tetapi sekali-kali juga menyusup ke kamarku.
Pernah sih mereka menyusup ke kakus saat aku berak. Akan
tetapi pada saat semacam itu, mereka hanya melongo melihat
aku menggumamkan puisi-puisi Rimbaud. Mereka sama sekali tak
bereaksi ketika dengan nyaris berbisik aku bilang, ”Datanglah, ya
datang saat bercinta. Datanglah, ya datang saat bercinta!”2
2Petikan sajak ”Lagu Menara Tertinggi” karya Rimbaud yang diterjemahkan
oleh Wing Kardjo dari ”Chanson de la Plus Haute Tour”.
126
www.bacaan-indo.blogspot.com Ya, ya, aku ingat...setelah aku keluar dari kakus, barulah me-
reka mempercakapkan tindakan konyolku.
”Lelaki ini tak pernah tahu siapa Rimbaud.”
”Barangkali...kalau tahu Rimbaud dengan penuh seluruh....
bukan tidak mungkini ia akan bunuh diri?”
”Bunuh diri?”
”Ya...lelaki ini terlalu mencintai Rimbaud. Ia tidak tahu betapa
Rimbaud tak pernah bisa mencintai siapa pun.”
He he he he kedua malaikat itu sok tahu. Mereka sungguh-
sungguh tak pernah melihat aku dan Rimbaud sebagai sepasang
laki-laki kembar yang selalu bertukar peran di sembarang waktu
di sembarang ruang. Mereka juga tidak tahu betapa aku telah
menguntit Rimbaud saat ia suntuk mempelajari puisi Charles
Baudelaire atau bercinta dengan Paul Verlaine.
Apakah mereka juga tak tahu aku juga menyertai pengembaraan
Rimbaud saat ia berjual beli budak di pedalaman Afrika dan ter-
sesat di Hutan Tuntang? Aku tak butuh jawaban. Semua jawaban
pada akhirnya hanyalah versi konyol3 dari impian para penyusun
riwayat yang bersekutu dengan setan. Semua jawaban pada akhir-
nya hanya ingin menceritakan ada hantu serdadu sinting yang
berteriak-teriak di kepala Arthur Rimbaud.
Jadi, jangan percaya pada siapa pun.
Juga pada sepasang malaikat yang dalam kilau hujan lama-
lama makin tampak seperti hantu itu...
Semarang, November 2006
3Dalam cerita ini Rimbaud diolah dari versi ”Pengalaman Arthur Rimbaud,
Penyair Terkenal, di Tangsi Belanda Salatiga Jawa Tengah 1876” tulisan Denys
Lombard dalam Orang Indonesia& Orang Prancis dari Abad XI sampai dengan XX
oleh Bernard Dorleans.
127
www.bacaan-indo.blogspot.com
128
www.bacaan-indo.blogspot.com Kalanaga
SEPERTI ada naga merah melintas di depan gereja kuno pada
senja yang sedang dihajar hujan itu. Ada juga gemerincing sisik-
sisik emas dan kibasan ekor api; tapi kau tak bisa mendengarkan
bunyi-bunyi purba itu. Dan pada Oktober 1965 yang penuh bang-
kai perempuan bertato palu arit yang mengapung-apung di sungai
atau mengonggok di kuburan cina, memang tidak mungkin di Alas
berseliweran barongsai atau arak-arakan anak yang menyanyikan
lagu ”Ular Naga”.
Ular naga panjangnya bukan kepalang menjalar-jalar selalu kian
kemari...
Namun di gereja—tempat setiap manusia merasa tersalib dan
menjadi korban agung—segalanya bisa berubah. Gwat Nio—pe-
rempuan bunting yang selalu kaunggap memiliki sepasang sayap
hijau—justru merasa sedang berkisar di antara keriuhan tambur,
lonceng gereja, dan teriakan-teriakan para serdadu. Sebagaimana
Kristus, ia memanggul salib di antara ledekan dan cacian para peng-
hujat. Tak ada mahkota duri di kepala, tetapi ia didera kepeningan
luar biasa. Otak terbelah, mata meretak, dan segala yang terlihat
tampak sebagai api, sebagai jalaran naga yang menyala-nyala.
Dan gereja—dengan bau ratus yang menyengat serta percikan
air suci di kening orang-orang berdosa—bagi Gwat Nio kini se-
129
www.bacaan-indo.blogspot.com perti berubah menjadi Bukit Golgota. Di bukit pembantaian itu,
seribu perempuan atau siapa pun yang dianggap melawan pengua-
sa bisa disalib dan kemudian ditembak bersama-sama.
”Aku tak pernah melihat kau mengikuti rapat-rapat akbar partai,
mengapa kau hendak disalib juga?” dengus seorang perempuan
berpipi merah sambil menahan beban salib di pundak.
Rapat akbar? Oo, baru sekali Gwat Nio mengikuti pawai partai.
Itu pun lantaran setelah kirab berakhir, ia diminta menari dan
menyanyi di hadapan Bung Besar. Tentu bukan mempertontonkan
nomor-nomor rumit tari topeng cina atau melantunkan lagu-lagu
berbahasa Cia-Im bersyair Chu Yuan, tetapi mempertunjukkan
Srimpi dan macapatan.
Tak keliru jika para pemuja penguasa memilih Gwat Nio
sebagai penghibur bagi Bung Besar. Meskipun berdarah Tionghoa,
ia mewarisi kulit perempuan-perempuan pribumi; kuning langsat,
tidak pucat seperti mayat. Ini membuat ia mencorong di antara
penari-penyanyi lain. Kelak orang-orang tahu betapa paras dan
tingkah Gwat Nio menyerupai seorang perempuan cantik dari
Negeri Seribu Bangau yang diperistri oleh Bung Besar.
”Jangan-jangan kau salah satu penyiksa para jenderal. Aku
dengar mereka merekrut Gerwani dari daerah untuk menari-nari
dan menyilet-nyilet tubuh para serdadu...,” salah seorang perem-
puan berlidah ular menghardik dari belakang.
Gwat Nio berusaha mengabaikan segala pertanyaan yang ter-
lontar. Ia memejamkan mata dan menghalau segala peristiwa
yang berkelebat. Dalam pandanganmu—yang selalu tak bisa ku-
percaya—di lingkar perut bunting perempuan itu tumbuh pisau-
pisau tajam. Senjata-senjata runcing itu bisa melesat ke mata para
serdadu atau siapa pun yang ingin merangsek Gwat Nio setiap
perempuan itu mengedutkan perut.
130
www.bacaan-indo.blogspot.com ”Ayo mengakulah...kau juga ikut merencanakan penculikan
para padri bukan? Jadi wajar jika sekarang mereka beramai-ramai
menyalib dan sebentar lagi membunuhmu,” desis perempuan ber-
tanduk sambil menjilat pipi Gwat Nio.
Kali ini perempuan yang menurutmu bisa menghalau para ser-
dadu penyalib dengan kibasan-kibasan sayap, itu tak ingin lagi
mendengarkan suara apa pun. Salah satu cara yang paling mung-
kin dilakukan adalah keluar dari gereja; keluar dari kotbah indah
pastur yang tiba-tiba berubah jadi mahkota duri dan puluhan
salib yang mengepung serta minta dipanggul itu.
Keluar dari gereja dengan payung hitam tak lantas membuat
Gwat Nio aman dari sergapan pembokong. Baru saja mendengar
gemuruh hujan dan dentang lonceng, sebuah truk berhenti tepat
di pintu pagar gereja. Lima orang berseragam hitam membekuk
dan menendang perut buntingnya. Kau bilang para penciduk itu
membentangkan tangan Gwat Nio dan mematahkan kedua sayap
yang tak mau menguncup meskipun hujan berusaha merontokkan
bulu-bulunya.
Rumah Jagal
KAU juga mengatakan kepadaku pada malam setelah pencidukan,
Gwat Nio dibunuh di kuburan cina. Matanya dicungkil. Leher-
nya dijerat kawat. Dan yang tak ingin kudengar: di perut yang
membuncit diterakan tanda salib seukuran lengan. Darah mengu-
cur. Usus memburai. Orok yang belum lengkap sebagai bayi mu-
ngil lenyap entah ke mana.
Aku yakin setiap bercerita tentang Gwat Nio, kau tidak sedang
mengigau. Tapi bagaimana aku bisa percaya pada setiap detail
131
www.bacaan-indo.blogspot.com kisahmu jika riwayat perempuan bunting bersayap versi warga
Alas lebih berjodoh dengan otakku?
Jadi, mari kudongengkan kepadamu tentang Gwat Nio yang
bersama-sama puluhan perempuan lain dijejal-mampatkan dalam
satu truk pada malam berbadai sampah dan penuh bau bangkai
itu.
Mula-mula, kau tahu, truk dengan suara yang menderum itu
melaju ke selatan, memasuki hutan karet, dan menyusup ke kege-
lapan. Karena setiap mata ditutupi kain hitam pekat, para perem-
puan itu sama sekali tidak mengerti ke mana arah binatang besi
itu melaju.
”Mungkin kita akan dibunuh di Gua Kesanga. Meski mataku
tak melihat apa pun, aku bisa merasakan bau hutan karet yang
mengepung jalan berkerikil menuju tempat pembantaian itu,” de-
ngus perempuan berambut cokelat pelan.
”Tidak! Tidak! Aku justru merasakan bau mawar menyebar dari
segala penjuru. Aku pernah mengenal tempat semacam ini. Ya,
kita barangkali akan dihabisi di ceruk hutan Candi Sembilan.”
”Ah, indera penciuman kalian ternyata sangat buruk. Sejak
tadi aku justru merasakan bau eceng gondok membelit-belit tak
keruan. Itu berarti mereka membawa kita ke Rawa Pening dan
menggiring kita ke Bukit Cinta. Setelah sampai di puncak, kau
tahu, mereka pasti memberondongkan peluru ke lambung ringkih
kita.”
”Mereka mati semua? Mereka menembak dada Gwat Nio dengan
satu peluru?”
Oleh para penciduk, hutan rupa-rupanya dianggap sebagai
tempat yang salah untuk membunuh para perempuan perkasa itu.
Menjelang subuh, tubuh-tubuh yang menggigil itu ternyata di-
muntahkan ke sebuah ruang sempit di tengah kota. Karena terlalu
132
www.bacaan-indo.blogspot.com berimpitan, setiap orang seperti harus merasakan kedinginan,
kegemetaran, dan ketakutan tubuh-tubuh yang lain.
”Mengapa mereka tidak jadi membunuh kita di hutan?” bisik
seseorang bertato kupu-kupu di lengan kepada Gwat Nio.
Tak ada jawaban. Masih dengan mata tertutup Gwat Nio me-
najamkan telinga dan hidung. ”Ini tempat bermain-mainku wak-
tu kecil,” ia membatin.
Dugaan yang tepat. Para perempuan itu memang digiring ke
Rumah Pemotongan Hewan. ”Bau anyir darah yang mengucur
dari leher sapi dan kambingnya sungguh-sungguh tak bisa kulupa-
kan. Tapi mengapa mereka membawaku ke tempat ini? Mereka
hendak memotong leher kami sebagaimana mereka menghabisi
babi?”
Hening. Para penciduk seakan-akan memang membiarkan para
perempuan malang itu dililit misteri yang tak akan bisa segera di-
pecahkan.
”Gwat Nio!” suara salah seorang penciduk tiba-tiba menghar-
dik.
”Ya, aku Gwat Nio? Siapa sesungguhnya kalian?”
Lagi-lagi tak ada jawaban. Tapi mendadak punggung Gwat Nio
seperti dihantam sebuah senapan. Setelah itu, kau tahu, perempu-
an itu hanya mendengar suara-suara menyayat dan darah mengu-
cur setiap penjagal menebas leher binatang-binatang bantaian.
Setelah itu...
”Setelah itu Gwat Nio berubah jadi naga bukan?”
Setelah itu aku hanya tahu Gwat Nio dirawat para tentara
di sanatorium. Kabar resmi dari serdadu menyatakan, pahlawan
pujaanmu itu menderita radang paru-paru akibat terlalu berkarib
dengan para pemberontak yang tak henti-henti merokok saat
merundingkan bagaimana cara terbaik membunuh para jenderal.
133
www.bacaan-indo.blogspot.com Sanatorium Sunyi
”AYO salib aku sekarang juga!” Gwat Nio berteriak sekeras mung-
kin saat empat suster membentangkan tangan dan kaki di tempat
tidur bersprei putih.
”Ya, kamu memang layak disalib,” canda salah seorang suster
sambil mengikat tangan Gwat Nio yang senantiasa bergerak de-
ngan tali lembut ke salah satu lonjoran besi yang membujur di
ranjang.
”Sebentar lagi akan ada pula serdadu yang menusukkan sangkur
ke lambungmu,” desis seorang suster lagi seraya cekikikan.
”Dan jangan kaget jika mereka menggorok sayap yang masih
melekat di bahumu dengan gergaji paling tajam!”
Mendengar olok-olok semacam itu, Gwat Nio kian kalap. Ia
ingin menonjok suster-suster genit itu, tetapi tak memiliki sedikit
pun tenaga untuk menggerakkan kedua tangan yang terbebat tali
sialan.
Merasa tidak memiliki pilihan lain, perempuan yang senantiasa
menganggap dirinya dihamili oleh lelaki kencana dari Nazareth
itu hanya bisa berserah pada keajaiban alam.
”Ah, kalian toh tidak tahu betapa sebentar lagi gempa akan
akan menghancurkan sanatorium ini dan seluruh Alas,” Gwat
Nio membatin, ”Kalian toh tidak tahu pada saat para serdadu
menyalibku kegelapan akan memusnahkan bumi yang membelah-
belah tak keruan. Jadi...ayo salibkan aku sekarang juga dan tak
perlu menunggu waktu makan siang.”
Tak ada yang memahami bahasa hati, para suster malah kem-
bali menggoda Gwat Nio dengan lebih seru dan kian cengenges-
an.
”Sampean itu benar-benar Gerwani atau hanya penari dan
134
www.bacaan-indo.blogspot.com penyanyi untuk Bung Besar to? Kalau cuma penyanyi dan penari,
mengapa mereka mencidukmu?”
Gwat Nio tak mau menjawab. Ia merasakan sesosok malaikat
kecil kian menendang-nendang rahim yang sepanjang waktu dia
elus-elus dengan sepasang tangan.
”Ah, kalian toh tak tahu, betapa bayiku kelak akan menjadi
putra kencana yang sangat dicintai oleh Bung Besar. Ayo salib
aku sekarang! Aku akan melahirkan bayiku setelah para serdadu
menusuk lambungku dengan sangkur paling beracun dan memati-
kan!”
Para suster kali ini terdiam. Mereka seperti sedang berhadapan
dengan babi gila yang hendak melahap tikus-tikus remeh dengan
dengus yang menjijikkan.
Dan radang paru-paru akhirnya menewaskan Gwat Nio?
Radang paru-paru, kau tahu, terlalu ringkih untuk berhadapan
dengan pahlawan perkasamu itu. Tapi, karena sepanjang hari
Gwat Nio hanya berteriak tak keruan dan senantiasa menghujat
para jenderal, para penciduk memborgol dan memaksa perempuan
itu tinggal di Rumah Sakit Jiwa.
”Di tempat itu—kau menyebutnya sebagai Firdaus—anakmu
akan lahir. Di taman itu kau tak akan pernah dikejar-kejar lagi
oleh para penciduk dan serdadu,” seorang suster pendamping dari
Rumah Retreat Salib Putih membelai Gwat Nio sambil menangis
tersedu-sedu.
Taman Jiwa
IHIK! IHIK! Jadi kau tetap percaya pada dongengku tentang
perempuan yang sepanjang waktu menceracau tentang hujan,
135
www.bacaan-indo.blogspot.com gereja, naga, dan perempuan-perempuan manis yang berhasil mem-
bunuh para jenderal? Mengapa kau percaya pada kisah bohong
itu? Mengapa tak kau pertanyakan siapa yang menghamili Gwat
Nio? Mengapa kau tak mempermasalahkan kisah percintaan Gwat
Nio dengan Ong Tjie Liang? Mengapa kau lebih percaya Gwat
Nio bercumbu sepanjang waktu dengan laki-laki kencana yang
pernah disalib di Bukit Golgota? Mengapa kau juga takjub pada
sepasang sayap hijau yang tidak pernah tanggal dari bahunya? Ha
ha ha seharusnya kau tidak perlu memuja perempuan yang ter-
lalu memuja pidato-pidato Bung Besar? Seharusnya jangan sekali-
kali memahami tato palu arit di leher jenjang sebagai ihik...ihik.
Sepanjang hidup perempuan itu tidak pernah meminta ditato.
Sepanjang hidup ia telah merasakan sakit. Ia tidak mau menam-
bah luka di leher atau di punggung tangan.
Ya, ya, apakah kau masih akan bertanya kepadanya tentang
hujan, naga, dan kartu bergambar palu arit yang terselip di Alkitab
saat pencidukan itu? Tidak perlu bukan? Mari, kita bercakap ten-
tang serdadu bodoh yang tak pernah bisa menangkap hidup-hidup
Gwat Nio saja.
Ihik! Ihik! Apakah kau tahu di mana Gwat Nio berada? Mari
kuberi tahu. Namaku Gwat Nio. Mereka menyeretku di taman ini.
Mereka bilang aku telah menjadi ibu bagi para malaikat kecil yang
beterbangan di pohon lamboyan atau bergantungan di dahan-
dahan. Ihik! Ihik! Mereka itu ngawur wur. Di taman ini aku tidak
pernah merasa hidup seperti di Alas yang bersungai jernih dan
berembulan kuning keemasan. Di taman ini tidak ada malaikat!
Ini hanya taman ihik, tempat aku menunggu kelahiran Naga Api,
anakku yang paling rupawan, anakku yang paling jagoan.
Ya, ya, namaku Gwat Nio. Kau masih ingin membunuhku,
Tuan Serdadu?
136