www.bacaan-indo.blogspot.com ruang mesin penuh ikan warna-warni, kami tidak menemukan
patung-patung itu. Kami justru berhadapan dengan manusia ber-
darah dan berdaging. Memandang dari jarak tiga meter aku me-
lihat Margareth berusaha mendekat ke arah pria tersalib yang se-
dang dililit sepasang ular. Kepala sepasang ular itu saling berebut
hendak melahap pria menyerupai Kristus.
”Selamatkan Ia!” aku berteriak.
Margareth tidak menjawab. Ia malah mendekat ke arah perem-
puan yang senantiasa membopong pria bermahkota duri yang ter-
kulai dan berusaha meminta mereka menjauhkan diri dari bang-
kai perahu.
”Selamatkan Ia!” aku berteriak lagi.
Margareth masih tidak menjawab. Bersama perempuan yang
memancarkan aurora ungu, ia melesat ke arah permukaan laut. Ia
meninggalkan aku justru pada saat mataku bertumbukkan dengan
mata sepasang ular yang kian kuat melilit tubuh pria tersalib.
”Jangan pedulikan aku. Inilah takdirku. Percayalah pada apa
yang kaulihat dan segera bantulah Margareth menyelamatkan
Ibuku...”
Tak kupedulikan suara teduh itu. Aku mencoba mendekat dan
berusaha menghalau sepasang ular jahanam yang sangat ingin
menelan bulat-bulat pria tersalib di tiang pancang besi itu.
”Pulanglah. Kau atau siapa pun tidak bisa menyelamatkan aku.
Bahkan Ia pun akan membiarkan aku terkulai dan mati pada saat
tak seorang pun paham mengapa seorang penjahat harus diadili
mengapa seorang pahlawan harus mati.”
Sekali lagi tak kupedulikan suara teduh itu. Aku kian mendekat
dan ingin segera membebaskan pria tersalib dari belitan ular-ular
itu dengan berbagai cara. Ah, aku salah duga. Semula kusangka
ular-ular itu akan beralih mangsa. Ternyata cukup menyabetkan
37
www.bacaan-indo.blogspot.com sepasang ekor, mereka bisa melemparkan tubuhku ke permukaan
laut. Tubuhku begitu cepat melesat menembus asin air dan akhir-
nya kembali berada di balkon hotel tanpa basah sedikit pun.
Edan! Bagaimana aku harus menjelaskan peristiwa ini? ”Kau
telah berjalan sambil tidur, Sayang. Kau telah berjalan mengelilingi
bukit dan mengigau tentang Kristus dan penyelamatan. Hmm,
jangan-jangan semua itu terjadi karena kau mengenakan kalung
Kristus yang kubeli di Afrika Selatan?”
Tak kupersoalkan apakah Margareth atau aku yang berjalan
sambil tidur. Sambil meremas pria tersalib dililit sepasang ular di
kalungku dengan ketakjuban yang tak tertahankan, aku meman-
dang ke arah Bukit Coogee. Aku jadi ingat nubuat yang dibaca
Margareth berulang-ulang saat ia mandi saat ia diamuk oleh wa-
ngi Martini. ”Apakah aku harus mengajakmu menyelam ke dasar
laut lagi agar kau mau mempercayai kisah yang tak pernah ter-
maktub dalam segala kitab dan puisi ini, Margareth? Apakah aku
harus terus-menerus mengajakmu tersesat ke labirin mimpi yang
absurd dan ganjil lagi?”
Tak perlu Margareth menjawab pertanyaan itu. Toh pada
akhirnya nanti di Bukit Coogee Perempuan Suci dari Negeri Suci
menampakkan diri di hadapan orang-orang yang dicintai.
Semarang, 13 Maret 2009
38
www.bacaan-indo.blogspot.com Sirkus Api
Natasja Korolenko
AKU tak tahu mengapa Natasja Korolenko selalu menyebut
rumah Virginia Grey di Jalan Denison, Bondi Juction, sebagai
penjara para binatang. Setahuku tak ada satu hewan pun di da-
lam bangunan berarsitektur liar dalam balutan warna permen
itu. Akan tetapi, sehabis berpesta Vodka semalaman denganku,
perempuan Moskow yang senantiasa ingin dipanggil sebagai Pela-
gia Nilovna itu selalu mengigau dan bilang, setiap memasuki
kamar-kamar atau toilet di rumah Virginia, kau akan mendengar
harimau mengaum, ular mendesis, atau keributan seribu tikus hi-
tam yang menjijikkan.
”Kali pertama menyusup ke kamar Virginia, aku diselimuti
ribuan kelelawar. Dan ketika bercumbu dengan perempuan asal
Inggris itu leherku penuh cupang, berdarah, dan bagai ditancap
taring Ratu Kelelawar,” Natasja Korolenko mendengus sambil
terus menyaruk-nyarukkan kaki di hamparan pasir Pantai Bondi.
Tak kubantah cerita perempuan macho 60 tahun yang kisah
hidupnya sebagai imigran Rusia di Australia sedang ingin kujadi-
kan novel grais itu. Dalam situasi yang tak memungkinkan un-
tuk menggunakan keajaiban otak, memang lebih baik aku meng-
anggap Natasja Korolenko sebagai Scheherazad yang tak berhenti
39
www.bacaan-indo.blogspot.com menciptakan cerita-cerita 1001 Malam yang menarik. Jika aku
menghentikan ceracau Korolenko, maka sama saja aku memenggal
leher perempuan yang segala isi kepalanya sedang kukorek dengan
susah payah itu.
”Aku menduga tato di punggung Virginia bisa benar-benar ber-
ubah menjadi naga. Kau pernah mendengar dengus naga?”
Aku menggeleng.
”Jika ingin tahu setiap partitur yang didenguskan oleh sang
naga, sekali waktu kau harus tidur di rumah perempuan sableng
itu?”
”Hanya dengus naga? Tadi kaubilang akan muncul juga aum
harimau dan keributan seribu tikus?”
”Jika ingin mendengar keributan segala satwa di hutan, kau
harus bercinta dengan Virginia.”
”Bercinta?”
”Ya, Ivanovna, hanya dengan cara itu kau bisa menatap seluruh
tato mengerikan di sekujur tubuh perempuan yang telah selama
20 tahun terakhir bercinta sepanjang waktu denganku. Selain tato
naga di punggung, kau akan terpesona pada tato sepasang tikus
di betis, kalajengking dan capung di leher, dan serigala telapak
tangan. Hanya dengan cara itu kau bisa mengerti mengapa aku
menyebut rumah Virginia sebagai penjara para satwa.”
”Bercinta?” aku mengulang pertanyaan, ”Kau menyangka aku
akan bisa melakukannya?”
”Jika tak bisa, bersandiwaralah, Ivanovna. Bersandiwaralah se-
bagaimana Madonna membayangkan bercinta dengan para perem-
puan jelita.”
Tentu aku menganggap anjuran Natasja Korolenko sebagai
ceracau konyol perempuan perkasa yang sedang mabuk. Namun
meskipun begitu, terus terang aku membayangkan dalam novel
40
www.bacaan-indo.blogspot.com graisku nanti Virginia Grey akan kugambarkan sebagai perempuan
sableng yang ingin memindahkan seluruh penghuni hutan ke
sekujur tubuhnya. Tak akan kusisakan sedikit pun tubuh, kecuali
wajah, dari tato segala hewan buas dan menjijikkan yang pernah
kusaksikan di kebun binatang.
2
Terus terang sedikit pun aku tidak tertarik membuktikan apakah
segala roh binatang menempel di dinding rumah Virginia Grey.
Jika pada akhirnya pada April yang penuh debu aku berhasil me-
nyusup ke rumah yang di setiap dindingnya terpampang lukisan
Kristus dalam berbagai pose dan penderitaan, termasuk dalam
posisi tersalib dengan kepala terkulai penuh ulat dalam gaya
Salvador Dali, itu karena aku ingin mendapatkan gambaran lebih
utuh karakter Natasja Korolenko dari kekasih sejatinya. Juga jika
pada akhirnya aku bisa menatap seluruh tato Virginia dari cermin
bundar di kamar yang secara tak sengaja kutatap dari balik pintu,
aku juga tak ingin membuktikan segala hewan di tubuh indah
perempuan 61 tahun itu sebagai binatang-binatang ajaib yang
bisa menjelma hantu-hantu yang menakuti-nakuti siapa pun yang
ingin membuka rahasia setan di rumah itu.
Segala yang kulakukan di rumah Virginia Grey, tentu sambil
terus-menerus menikmati sihir Vodka, kau tahu, hanya untuk mem-
pertajam sisi-sisi dramatis kehidupan sepasang perempuan yang
diberkati alam untuk saling mencintai dengan sepenuh hati itu.
”Apakah kau benar-benar mencintai Natasja Korolenko, Virgi-
nia?” aku memulai wawancara sambil melihat bayangan sepasang
tubuh Kristus dalam goresan Picasso saling berangkulan di langit-
langit ruang tamu.
41
www.bacaan-indo.blogspot.com ”Ya, aku mencintainya, Ivanovna. Hidup bersama Natasja Koro-
lenko membuat aku tak punya kesempatan untuk memikirkan bu-
nuh diri atau bercinta dengan laki-laki paling perkasa sekalipun.”
”Apakah kau benar-benar mengenal siapa Natasja Korolen-
ko?”
Tak mendapat jawaban dari Virginia, aku melirik patung ber-
wajah Kristus penuh darah dililit daun dan segala ganggang di
bibir balkon.
”Apakah....”
”Ya. Aku tahu siapa dia sebagaimana Natasja tahu siapa aku,”
Virginia mendesis.
”Dan kalian tetap saling mencintai?”
”Ya, kami tetap saling mencintai.”
Aku tak heran mendengar jawaban Virginia Grey yang di-
ucapkan dalam desis tertahan yang menggemaskan itu. Jauh se-
belum menyusup ke rumah perupa yang mahir menghadirkan
penyaliban Kristus dalam berbagai gaya mulai dari goresan ala
Vincent van Gogh hingga Jean Michael Basquiat itu, aku telah
mendapatkan bocoran kisah cinta Virginia dari Natasja.
”Bagaimana jika tiba-tiba Natasja meninggalkanmu?”
”Dia tak akan pernah bisa meninggalkan aku.”
”Sebaliknya, apakah kau tidak ingin meninggalkan dia?”
”Apakah menurutmu aku punya hasrat meninggalkan Na-
tasja?”
Tak bisa kujawab pertanyaan Virginia yang tak terduga itu.
Dan agar tak tampak sebagai perempuan konyol dan bodoh,
kulemparkan pandanganku pada lukisan Kristus dihajar para pra-
jurit bertopeng. Agar tampak sebagai pengamat profesional, aku
mendekat ke arah kanvas berlatar serbahijau yang melekat di
dinding serbahitam itu.
42
www.bacaan-indo.blogspot.com ”Apakah kau ingin melihat hantu yang selalu menguntit Kris-
tus dalam lukisan itu?” tiba-tiba Virginia bertanya dalam suara
sengau yang mengingatkan aku pada cekikikan Ratu Kelelawar
dalam ilm-ilm Vampire gaya Prancis.
”Hantu yang selalu menguntit Kristus?”
”Tak perlu kaget, Ivanovna, siapa pun bisa dikuntit oleh han-
tu.”
”Ya, tetapi tidak untuk Kristus,” aku memprotes.
”Kau keberatan jika aku memberi judul lukisan itu Hantu yang
Memburu Tuhan?”
Aku mengangguk meskipun tahu di Alkitab Kristus memang
pernah bersitegang dengan iblis. Aku memang tak percaya pada
Tuhan, tetapi aku tidak rela mendengarkan perempuan Inggris
yang mengaku sangat karib dengan Kristus, menghina sang Putra
Nazareth itu dengan menganggap ada hantu yang melayang-
layang dalam lukisan dan sekali waktu menempel di dinding de-
ngan posisi tersalib.
”Hmm, baiklah, kau boleh menyebutnya sebagai Hantu Hijau.
Bersama Natasja aku menggambar hantu buruk itu dalam warna
favoritku, hijau kekuningan atau kuning kehijauan. Aku berharap
suatu saat nanti kau akan bertemu dengan dia sebelum kau dan
Natasja Korolenko kuundang minum vodka atau sampanye di
balkon atau beranda. Ada pertanyaan lain, Ivanovna?”
Aku menggeleng. Terus-terang aku gemetar sekaligus takjub
melihat lukisan Kristus dihajar prajurit bertopeng yang menurut
Virginia berbayang-bayang hantu di background-nya yang serba-
hijau itu.
Aku berjanji saat datang ke rumah Virginia lagi akan kubawa
samurai untuk menyobek-nyobek lukisan yang sangat menghina
Kristus, putra Maria, yang meskipun tak kupercaya sebagai Tuhan
sangat kupuja setengah mati itu.
43
www.bacaan-indo.blogspot.com 3
Keinginan mengorek segala hal yang berkait dengan Natasya
Korolenko dan Virginia Grey sementara kutangguhkan. Bahkan
bocoran tentang keterlibatan Virginia meracun Alexander Litvi-
nenko1, seorang mantan agen rahasia Rusia yang menetap di Ing-
gris, juga kuabaikan. Bahkan jika Natasja Korolenko mengaku
telah membantu Virginia menyembunyikan mobil dan membunuh
perawat yang merawat Litvinenko pun, segala igauannya tak akan
kupedulikan.
Sebenarnya dari beberapa teman di Moskow aku tahu racun
yang digunakan membunuh Litvinenko merupakan bahan radio-
aktif yang hanya dapat ditemukan di laboratorium nuklir super-
canggih. Aku juga paham Presiden Vladimir Putin berada di be-
lakang pembunuhan itu. Tapi aku hanya seorang pelukis yang
sedang ingin menggambarkan sisi-sisi gelap kehidupan manusia
dalam sebuah novel grais. Sedikit pun aku tak tertarik membong-
kar persengkongkolan politik yang memungkinkan seseorang mem-
bunuh lawan seperti menghabisi babi busuk.
Karena itu jika pada akhirnya aku terpaksa tahu bahwa ternyata
Natasja dan Virginia merupakan agen ganda yang saling bahu-
membahu untuk membunuh lawan-lawan politik Putin, tak akan
kuanggap data-data itu sebagai sesuatu yang luar biasa. Aku baru
menganggap bersentuhan dengan peristiwa istimewa jika sepasang
kekasih itu tiba-tiba saling mengasah taring dan pada akhirnya
keduanya terbunuh dengan luka lucu di leher masing-masing.
”Apakah pada akhirnya kau bisa melihat semua hantu yanng
1Kisah Litvinenko di media antara lain bisa disimak di ”Paradoks kekuasaan”
dalam b-i-k-o-n-s-i-u-s BLOG
44
www.bacaan-indo.blogspot.com bersemayam di rumah Virginia Grey, Ivanovna?” kata Natasja
saat bertemu denganku di Kebun Binatang Torongga.
”Ya, aku telah melihat semuanya, Natasja.”
”Juga segala satwa di tubuh Virginia?”
”Juga segala satwa di tubuh Virginia.”
”Hmmm, semula kusangka kau benar-benar tak bisa bercinta
dengan dia, Ivanovna. Nyatanya...”
”Nyatanya...aku memang tak pernah bercinta dengannya, Na-
tasja. Aku hanya...”
”Hanya apa?”
”Hanya mabuk dan memperbincangkan apa pun yang hampa,
apa pun yang sia-sia...”
”Apakah ia bercerita tentang sepasang malaikat yang tak bisa
pulang ke surga karena sayap-sayapnya terbenam di lumpur? Mak-
sudku apakah ia mendongeng tentang sepasang perempuan ber-
wajah kucing yang kehilangan hasrat untuk patuh kepada Tuhan
dan lebih memilih tinggal di hutan penuh ular?”
”Mungkin.”
”Mengapa mungkin?”
”Aku tak ingat benar apa yang diceritakan Virginia Grey. Aku
hanya ingat ia mengeluhkan Rusia yang hampir runtuh dan karena
itu tak perlu menggaji siapa pun untuk jadi mata-mata Rusia di
Australia...”
”Apakah ia juga bercerita tentang kemungkinan Putin mengi-
rim tentara siluman ke Sydney?”
Aku menggeleng.
”Apakah ia bercerita banyak tentang pertemuan pertamaku
dengan dirinya di Festival Mardi Grass di New Orleans?”
”Seingatku ia bercakap tentang Ratu Kelelawar yang senantia-
sa bercinta dengan sepuluh perempuan pedesaan di sepuluh peti.
45
www.bacaan-indo.blogspot.com Ratu Kelelawar itu, kau tahu, senantiasa mengajak perempuan-
perempuan ranum itu menari-nari di kebun tomat sebelum pada
malam paling busuk membunuh korban-korban bermata sial
itu.”
”Tidakkah ia bercerita tentang Hitler yang menghanguskan
ribuan manusia yang dianggap konyol hanya karena ia tidak per-
nah bisa menatap sepasang pria erotis berciuman di sudut taman?
Tidakkan ia bercerita tentang serdadu-serdadu Gestapo bengis
yang mencincang para perempuan ranum hanya karena iri me-
mandang sepasang gadis saling meremas tangan di kegelapan ke-
bun apel?”
Aku menggeleng. Kukira Virginia lebih suka bercakap tentang
hujan abu saat Kristus terkulai dalam lukisan Menjelma Sunyi yang
ia corat-coret dengan gaya Andy Warhol. Kukira Virginia nyaris
tidak pernah bercakap tentang segala yang berkabut atau apa pun
yang menyerupai kegelapan.
”Kalau begitu, Ivanovna, kau sesungguhnya belum tahu apa-
apa mengenai Virginia Grey. Kau hanya tahu serbasedikit segala
yang kauanggap sebagai kebenaran. Jadi sekali lagi, bercintalah
dengan Virginia, kau akan tahu segalanya. Kau harus mengalami.
Jangan hanya mencatat. Jangan hanya menggoreskan pensil tum-
pulmu di selembar kertas.”
Kali ini aku tak bisa menolak keinginan Natasja Korolenko.
Setidak-tidaknya di otakku terbit keinginan untuk membayangkan
meremas tangan Virginia saat menemani perempuan misterius
itu menggambar sketsa serdadu menghunjamkan tombak beracun
ke lambung Kristus dalam gaya Chagall yang disusupi teori-teori
pengorbanan manusia Rene Girard.
”Kau tidak akan cemburu, Natasja?”
Perempuan berkalung manik-manik Brasil itu menggeleng.
46
www.bacaan-indo.blogspot.com 4
Tak mudah menaklukkan Virginia Grey. Tak mudah memunculkan
hantu-hantu binatang yang melekat di tubuh perempuan yang
senantiasa kubayangkan sebagai manusia ajaib yang melahirkan
Maxim Gorki, sastrawan Rusia, yang sangat karib dengan keteguhan
dan ketabahan para perempuan pejuang itu. Sebagai satwa manis
40 tahun yang tak pernah dihajar nikotin dan disentuh hewan-
hewan bertulang belakang pemuja keindahan bulan, kukira aku
bisa menjadi perempuan ranum yang tak habis-habis direguk oleh
Virginia Grey. Nyatanya otak iblis menakjubkan ini nyaris tidak
pernah bergeser sedikit pun dari pesona Natasja Korolenko.
Ketika ia mulai terbuka dan tak hendak menyimpan rahasia
apa pun di hadapan seorang yang senantiasa mencatat dan men-
catat segala kata-kata yang melesat, Virginia justru tidak pernah
menceritakan siapa dirinya. Ia justru mengajakku belajar mema-
hami karakter Natasja.
”Kau jangan mau menjadi budak Natasja, Ivanovna. Korolenko
itu penyihir yang mudah memengaruhi siapa pun untuk melakukan
apa pun yang diinginkan. Kau diminta bercumbu denganku hanya
untuk membukan rahasia hantu di rumah ini bukan?”
Aku terkejut tetapi kusembunyikan kekagetan tak terduga yang
mendera secara tiba-tiba itu.
”Tanpa menggunakan dirimu pun, Korolenko akan bisa mem-
bebaskan segala satwa yang menurut dia kupenjara di rumah ini.
Ia bisa saja dengan mudah membakar rumah ini, mengelupas kulit
dan menghilangkan tato segala binatang di tubuhku hanya dalam
sekejap. Tapi ia tidak pernah melakukannya. Ia sesungguhnya tahu
betapa aku—ini kali pertama kuungkapkan kepadamu—adalah
musuh utama yang harus dibunuh karena memiliki kesetiaan tak
47
www.bacaan-indo.blogspot.com tertangguhkan kepada Vladimir Putin—laki-laki indah yang meng-
utusku bertingkah seperti imigran Inggris di Negeri Kanguru ini.
Tapi ia tak ingin membunuhku. Cinta, kau tahu, telah mengubah
singa betina rakus menjadi angsa putih yang jinak.”
Aku terdiam dan berusaha menafsir ke arah mana percakapan
yang lebih didominasi oleh Virginia Grey itu.
”Sebaliknya aku sama sekali tak sanggup membunuh Natasja
Korolenko sekalipun beberapa kali ia mengirim hewan bantaian
sepertimu kepadaku sekadar untuk menjebakku, menjebak perem-
puan kencana yang sangat ia cintai. Ia, kau tahu, adalah musuh
yang terpaksa bertekuk lutut sebelum berperang karena tak sang-
gup meletuskan pistol di lambung kekasih yang sangat dicintai.
”Karena itu ia dan aku bukan agen rahasia Rusia yang baik. Ia
dan aku adalah serdadu-serdadu busuk yang mungkin pada suatu
hari kepergok para pemimpin dan tak sanggup melawan keke-
jaman senapan atau pisau mereka. Jadi, sesungguhnya, kami adalah
manusia-manusia yang ringkih, Ivanovna, tapi kami sok perkasa.
Kami tato tubuh kami hanya agar orang lain keder dan tak mampu
menyakiti kami dengan segores kecil ujung pisau tumpul.”
Aku masih terdiam. Aku hanya berpikir memang tak mungkin
siapa pun melukai Natasja Korolenko dan Virginia Grey pada saat
mereka tak kehilangan kesadaran. Sungguh, dalam amuk Vodka
pun, mereka selalu tak pernah kehilangan cara untuk menghardik
atau menghajar siapa pun yang mereka anggap sebagai musuh.
Kau tahu, terhadap aku pun mereka tak pernah benar-benar mem-
buka tirai kegelapan yang menutup rahasia kehidupan. Aku yakin
jika saat ini mereka membocorkan sedikit kisah hidup mereka,
semua itu pasti sudah diperhitungkan akibat-akibatnya. Mungkin
mereka sedang menjebakku. Mungkin mereka juga menganggap
aku sebagai kontra-agen sehingga semua bocoran kehidupan me-
48
www.bacaan-indo.blogspot.com reka sebagai mata-mata tak lebih dan tak kurang adalah taktik
untuk mengecoh lawan.
”Jadi camkan, Ivanovna, menyingkirlah dari kehidupan kami
dan akhiri penyamaranmu sebagai penganggit novel grais.”
Aku ingin tertawa mendengar kata-kata ngawur Virginia Grey.
Tapi kali ini aku memang sangat ingin menikmati kekonyolan dan
kengawuran itu. Aku ingin merasakan sensasi sebagai perempuan
ringkih yang dianggap sebagai agen rahasia Rusia.
”Kalau aku tak mau menyingkir?”
”Aku dan Natasja Korolenko akan membunuhmu,” dengus
Virginia Grey mengancam.
Hmm, kurasakan dengus naga mulai menjalar di rumah itu.
Kurasakan arwah puluhan binatang buas berebut mengepungku.
Merasa terancam, aku bergegas meninggalkan rumah yang bagiku
apa boleh buat memang lebih tampak sebagai kebun binatang
untuk para hantu itu.
5
Setelah lima bulan kemudian, sangat keliru jika kau menggangap
aku tak akan kembali ke rumah Virginia Grey.
”Ivanovna, kau akan segera mendapatkan akhir indah untuk
novel graismu, Sayang. Kau sedang di Pantai Bondi bukan? Se-
geralah ke rumah Virginia. Kami akan memberikan kejutan untuk-
mu,” suara Natasja Korolenko mencerocos dari seberang.
”Kejutan?” aku berteriak sekuat mungkin untuk mengalahkan
desau angin pantai agar suaraku yang ringkih terdengar keras di
gagang telepon Natasja Korolenko.
”Ya, kau tahu akibatnya jika sebuah rumah menjadi kremato-
rium bukan?”
49
www.bacaan-indo.blogspot.com Tak kujawab pertanyaan itu. Aku justru membayangkan sebuah
ruang penuh api menghajar tubuh-tubuh ringkih. Kubayangkan
juga tubuh-tubuh di dalam rumah itu meleleh pelan-pelan dan
akan muncul ledakan-ledakan kecil, leleran cairan busuk, dan
bunyi tulang-tulang yang meretak.
”Apa yang akan kalian lakukan, Natasja,” aku bertanya setelah
bisa menjinakkan keterkejutan.
”Kami akan membakar diri, Ivanovna?”
Aku tak perlu bertanya mengapa mereka senekat itu. Aku
yakin semua berkait dengan tekanan fundamentalis yang tak
menginginkan Australia dipenuhi para parempuan indah yang ber-
cumbu sepanjang waktu di keheningan taman di keriuhan jalan.
Aku sangat percaya pawai perempuan-perempuan tersalib yang
diarak dan digerakkan oleh Virginia Grey serta Natasja Korolenko
di Jalan Oxford dan Taman Hyde dalam Festival Mardi Grass telah
menyinggung perasaan banyak orang.
”Kalau jasad kami tak ada lagi, kalau tubuh kami tak mereka
temukan lagi...”
Tak perlu Natasja meneruskan kata-kata itu, aku sudah tahu
ke mana arah ratapan itu. Karena itu segera kumatikan telepon
genggam dan tanpa minta persetujuan Virginia Grey atau Natasja
Korolenko, aku meminta pemadam kebakaran Sydney agar segera
melesat ke Bondi Juntion, ke Jalan Denison.
Aku tak rela Natasja dan Virginia mati percuma.
6
Terlambat. Rumah Virginia Grey telah terbakar.
50
www.bacaan-indo.blogspot.com 7
Terbakar? Dibakar? Entahlah. Tak ingin kuceritakan bagaimana
pemadam kebakaran menjinakkan api yang seakan-akan sangat
berhasrat menjilat-jilat langit itu. Aku hanya ingin mengatakan
kepadamu di antara asap dan api, aku seperti melihat tikus-tikus
tanpa sayap, kelelawar, sepasang naga kembar, segala ular, dan pu-
luhan laki-laki tersalib—yang semuanya pernah kutatap di lukisan
dan patung Virginia Grey—melayang-layang dengan sepasang ta-
ngan yang membentang bersama-sama melesat menembus awan.
Terbakar? Dibakar? Entahlah. Ketimbang membayangkan tu-
buh Virginia Grey dan Natasja Korolenko hangus di antara rerun-
tuhan rumah dan segala hantu di rumah itu, aku lebih ingin mem-
bayangkan Natasja Korolenko memang sengaja membakar rumah
Virginia, menyeret kekasih pujaan ke pelabuhan udara Sydney,
dan terbang ke Rusia dengan pesawat tercepat. Natasja, kau tahu,
bisa saja menciptakan hologram tentang puluhan laki-laki tersalib
yang melesat miraj ke langit di antara sirkus api yang menjadikan
rumah di Jalan Denison itu sebagai abu, sebagai sesuatu yang ke-
lak hanya bisa kaukenang dalam novel graisku.
Terbakar? Dibakar? Tak ada isyarat yang benar-benar memberi-
kan kesempatan kepadaku untuk menjawab pertanyaan: mengapa
api begitu mudah membakar sepasang kekasih dan menjadikannya
hanya sebagai kayu rapuh, hanya sebagai keindahan yang busuk dan
menjijikkan...
Sydney 2008-Semarang 2009
51
www.bacaan-indo.blogspot.com
52
www.bacaan-indo.blogspot.com Matahari
Musim Dingin
JANGAN pernah percaya pada apa pun yang kaulihat di bawah
matahari Melbourne. Mungkin kau pernah menganggap makhluk
bersayap merah-biru yang bertengger di genteng rumah berarsitek-
tur Yunani itu hanya sepasang burung Rosella yang menggigil kedi-
nginan. Namun bukan tidak mungkin mereka adalah para Koo-
kabbura yang menjerit memekakkan telinga karena memandang
wajahmu yang tegang dan tersipu-sipu tak keruan. Jangan pula
mudah menebak bau kelelawar yang bergelantungan di pepohonan
Cenntenial Avenue sebagai sesuatu yang mengingatkanmu pada
mayat-mayat perempuan kuning gading Jakarta yang dibakar para
lelaki zombi pada Mei 1998 yang perih. Sebab bisa saja dalam se-
kejap bekas kibasan sayap vampir jalanan itu memberimu harum
bawang sehabis kauiris pelan-pelan atau menyengatmu dengan
busuk petai sebelum makan malam.
Kau juga tak perlu tersedu-sedan seharian hanya karena bersi-
tatap dengan warna pagi yang seharusnya disapu matahari oranye,
tetapi tiba-tiba didera hujan yang muncul dari mata langit yang
menghitam. Hari ini winter atau summer? Autumn atau spring? Ma-
na yang harus dipercaya? Tak ada yang harus dipercaya. Segalanya
53
www.bacaan-indo.blogspot.com begitu cepat bertukar rupa dan tak ada yang peduli. Kau juga tidak
peduli pada perubahan wajah Arendt yang pagi itu dihajar per-
tanyaan-pertanyaan bodoh Onan, Finley, atau Sandra saat mereka
makan roti bakar di beranda, bukan?
Wajah Arendt, kau tahu, pada mulanya seperti Stasiun Flinders
ditimpa cahaya senja yang melesat dari Federation Square. Begitu
menyala, begitu menebarkan bianglala. Namun paras manis itu
begitu cepat menjelma sebagai Sungai Yarra menjelang malam.
Keruh. Penuh amarah dan kehilangan pesona.
”Kalau tidak berniat membunuh Christ Soros, mengapa waktu
itu kau tidak bergabung dengan kami di Open Bar,” serang Onan
sambil menenggak jus jeruk.
O, andai tahu segala peristiwa yang terjadi malam itu, Onan
tidak akan berkata begitu. Di poros perempatan jalan yang meng-
hubungkan Stasiun Flinders dan Federation Square, sehabis me-
nonton pertunjukan teater bersama Arendt, entah tergerak tenaga
gaib dari mantera orang Aborigin atau ingin berakting secara liar
Soros tiba-tiba menelentangkan tubuh mirip orang tersalib di
tengah jalan. Mula-mula ia memejamkan mata seperti Siddharta
Gautama yang tengah bertapa dan berharap nirwana akan menge-
cil dan menyusup ke dalam dada. Sejenak kemudian ia bentangkan
tangannya sebagaimana patung malaikat-malaikat kecil di gereja-
gereja antik mengibaskan sayap. Berulang-ulang seakan-akan de-
ngan gerakan semacam itu Melbourne bisa ditinggal terbang dan
ia menjelma burung kecil ke titik langit yang tak tersentuh oleh
jari telunjuk yang mengacung tegang.
Arendt takjub. Ia tak menduga Soros akan bertingkah ugalan-
ugalan di perempatan jalan yang kian ramai oleh mobil-mobil
yang hendak melata ke jembatan penuh lampu hias yang melintasi
Sungai Yarra.
54
www.bacaan-indo.blogspot.com Oo, semua ini harus dicegah. Semua gerak harus dihentikan.
Mobil-mobil, sepeda motor, atau trem tak boleh menggilas tubuh
ringkih Soros. Karena itu waktu harus dibekukan. Semua benda
yang melesat ke arah Soros sebaiknya melambat dan mandek se-
depa sebelum kecelakaan terjadi. Bahkan ujung kilatan cahaya-
cahaya dari neonsign tak perlu menyentuh kornea dan secara serem-
pak mengerem satu centimeter dari alis atau selaput mata. Atau
sebaiknya waktu berjalan mundur ke saat-saat Arendt dan Soros
bercinta habis-habisan dalam guyuran hujan di kebun binatang,
di antara koala dan kangguru, di antara ulat-ulat dan belalang sem-
bah.
Tidak! Tidak! Sebaiknya waktu melesat melampau segala yang
tak terduga saja. Siapa tahu karena terlalu cepat melaju ke titik tuju
penuh salju, Arendt dan Soros dipertemukan di Bukit Golgota, di
sepasang tiang yang mengapit salib lelaki suci dari Nazareth.
Dalam dingin tak terperi itu, siapa tahu mereka bisa menatap
motif tusukan-tusukan lembing serdadu serupa tato daun-daun hi-
jau ungu di sekujur tubuh Kristus yang tertunduk pasrah menerima
kehendak Allah, di salib yang tak kelihatan, di tangan yang telah
kehilangan paku-pakunya, di kaki yang tak lagi menetes-neteskan
darah kental.
Tetapi karena tak mungkin menyulap segala peristiwa membeku
dalam sebuah bingkai seperti lukisan impresionistik di sebuah
kartu pos, Arendt kemudian berusaha setengah mati menghalau
segala benda bergerak—mobil, sepeda motor, trem, orang-orang,
dan angin santer yang hendak melabrak mereka.
Lalu dengan sigap perempuan bergaun motif bunga matahari
itu mengangkangi tubuh Soros sambil menggerak-gerakkan tangan
dan berusaha menghadang laju kendaraan atau apa pun yang hen-
dak menghimpit mereka.
55
www.bacaan-indo.blogspot.com ”Apakah kau pernah melihat wajah Kristus yang damai justru
pada saat para serdadu bosan menghajar dan menancapkan lem-
bing beracun ke lambung lembut manusia indah dari Nazareth
itu, Arendt?” seru Soros, masih dalam posisi telentang.
Tak mungkin Arendt menjawab pertanyaan bodoh semacam
itu. Mobil-mobil kian mendekat. Orang-orang makin merapat.
Angin kian santer menusuk-nusuk tubuh hingga ke sungsum se-
gala tulang. Karena itu tindakan konyol ini harus diakhiri.
”Lihatlah aku! Lihatlah aku! Segala yang yang dirasakan Kris-
tus menjelang ajal telah aku rasakan. Lihatlah wajahku yang
damai, Arendt. Kini selesailah semua...dan aku tak perlu bilang,
’Eli Eli Lama Sabakhtani’ lagi.’’
Arendt bergeming. Meskipun demikian, ia tetap tak sanggup
menghentikan segala peristiwa yang berpacu begitu cerpat, tak
terduga, dan seakan-akan berebutan menyusup ke lorong mata.
Sebaliknya Soros justru merasa lembing serdadu bengis kian me-
nancap di lambung dan lama-lama tumbuh sepasang sayap halus
di bahu.
”Ayolah ikut terbang bersamaku, Arendt. Kita tinggalkan
Melbourne yang keruh. Kita tinggalkan kota bising yang segala
gedungnya meruncing melukai langit ini,” Soros terus meracau
dan kali ini muncul semacam gangguan pada susunan sarafnya
yang membuat tubuhnya mengejang.
Setelah itu Arendt hanya bisa memanggil ambulans dan me-
nyerahkan segala urusan kepada dokter dan paramedis. Sudah
barang tentu ia tak ingin menyerahkan lelaki urakan itu kepada
ajal. Jika sampai mati, ajallah yang dengan ganas menancapkan
lembing ke lambung lembut atau mengiris urat-urat saraf Soros
dengan pisau yang tak kelihatan.
Apakah kau bisa mendengar segala yang kukatakan?
56
www.bacaan-indo.blogspot.com ***
DAN benar Onan bukanlah perempuan yang gampang percaya
pada bisikan gaib seseorang yang telah terbunuh atau roh Kookab-
bura yang ditembak secara serampangan. Hanya Arendt dan
Soroslah yang mengerti betapa burung, kelelawar, ular, belalang,
bahkan tikus-tikus pengerat itu bisa membisikkan kabar dari se-
suatu yang tak pernah kaulihat di balik lembut kabut, di dalam
basah tanah, atau di luar gurit langit.
Karena itu, Onan, Sandra, dan Finley tak pernah bisa mema-
hami mengapa di rumah sewaan mereka yang sempit Arendt me-
melihara begitu banyak belalang sembah. Mereka juga tidak pernah
mengerti menjelang tengah malam belalang-belalang itu terbang
ke kamar Arendt. Lalu bergabung dengan belalang-belalang lain
yang muncul dari cermin, binatang-binatang cokelat menjijikkan
itu membungkus sekujur tubuh Arendt, sehingga mata, hidung,
telinga, dan mulut saja yang tersisa. Ya, dari belalang-belalang
itulah Arendt mengerti segala tingkah laku mereka.
Jadi, aku tidak heran jika pada saat mereka bersitegang menge-
nai kematian Soros di beranda, Onan terus menyerang Arendt
dengan tuduhan-tuduhan konyol. Aku sangat tidak kaget jika
hanya karena Arendt bersahabat dengan Pauline Hanson, politikus
rasialis itu, mereka menganggap Arendt akan menyingkirkan
siapa pun yang rasnya ternoda oleh kotoran-kotoran peradaban
dari luar bangsa ini.
”Ada yang bilang Soros mati karena dibakar oleh orang-orang
suruhanmu di ujung Sungai Yarra. Ada yang bilang kau meng-
anggap dia akan menghalang-halangi keinginanmu. Mengapa tak
kaubunuh aku, Finley, dan Sandra sekalian, Arendt?”
Mulut Arendt terus terkunci. Meskipun demikian, sebagai te-
57
www.bacaan-indo.blogspot.com man dekat mereka, Arendt sangat tahu betapa Onan lahir dari
pasangan Yunani-Australia dan Finley dari Jepang-Aborigin. Ha-
nya Sandralah yang lahir dari pasangan Australia-Australia.
”Orang-orang menemukan tubuh gosong Soros dalam posisi
tersalib di tiang yang juga telah terbakar. Ditemukan juga sema-
cam kimia yang menyebabkan tubuh Soros tetap utuh. Mengapa
bertindak sekejam itu, Arendt?” Onan mendelik.
Arendt memejamkan mata. Ia berharap Onan, Finley, Sandra,
atau siapa pun percaya betapa ia sangat mencintai Soros. Kini ia
tak lagi bernafsu menyantap roti bakar dan jus jeruk. Menatap
hitam kecokelatan arang di roti bakar dan lendir kuning di jus
jeruk, ia seperti melihat api menyala-nyala tak keruan dan segala
cairan menguar dari semua lubang di tubuh Soros.
”Kita memang sudah disumpah untuk membunuh siapa pun
yang menghalangi gerakan suci ini, Arendt. Tetapi tidak dengan
cara terang-terangan seperti itu,” bisik Sandra.
Tentu saja Arend tidak tahu maksud Sandra. Si Schizofrenia ini
selalu saja menganggap dirinya sebagai agen rahasia Hanson itu.
”Apakah kau juga akan membunuh Eliezer Chang,” Finley
mulai membuncahkan amarah.
Arendt menggeleng, tapi sejurus kemudian mendelik. Ia tatap
mata Finley dan Onan dengan tajam. Ia sama sekali tak menduga
mengapa sahabat-sahabat terkasih sejak kuliah Jurusan Arsitektur
itu begitu tega menuduh dia sebagai pembunuh.
Khawatir Arendt akan membuka rahasia segala kisah yang ber-
sangkut paut dengan pemurnian ras, Sandra segera merebut ken-
dali. ”Oke, Onan, segala omong kosong ini harus segera diakhiri.
Tak ada waktu lagi untuk bercakap dengan Ratu Belalang. Biarkan
ia mengurusi binatang-binatang penunggu rumah ini. Ayo, waktu
kita telah habis. Trem sudah menunggu.”
58
www.bacaan-indo.blogspot.com ***
DAN aku atau roh Kookabbura, yang setiap cicitnya tidak pernah
bisa diterjemahkan dalam bahasa manusia, memang tak sedikit
pun ingin membuka segala rahasia alam dan kematian kepada
Onan. Aku bisa saja memberi tahu kepada Onan segala yang ter-
jadi pada Soros. Aku bisa saja mengatakan, setelah melewati Jalan
Spencer, mobil ambulans yang hendak mengantarkan Soros ke
rumah sakit dicegat oleh lima orang berkerudung bersepeda motor
besar. Tak ada perlawanan. Para medis, sopir, dan dokter yang tidak
bersenjata itu memilih menyerahkan Soros bersama ambulans itu
ketimbang dihajar atau ditusuk belati oleh gerombolan berwajah
bengis itu. Setelah itu, ada semacam sihir yang ditebar di jalanan
yang membuat aku tak bisa mengikuti ke mana para manusia ber-
kerudung itu melesat.
Ya, semua itu, bisa kuceritakan kepada Onan tanpa mengurangi
satu atau dua kalimat. Tetapi, kau tahu, aku sebenarnya hanya mau
bercerita kepada Arendt. Sayang beberapa orang mengenakan ju-
bah berkerudung runcing mirip seragam anggota Ku Klux Klan
itu telah jauh-jauh hari menculik dan menembak jidatku saat
hendak menyeberang Jalan William menjelang tengah malam.
”Yang ini juga ancaman bagi kita,’’ kata salah seorang penculik.
Lalu, mereka menebar sihir di jalanan, sehingga aku, Eliezer Chang,
tidak dapat mengetahui di mana Soros disembunyikan.
Karena itu jika pada suatu saat kau mendapat kabar tentang
siapa yang membunuhku atau menculik Soros, jangan mudah
percaya. Sekali lagi, tak ada yang harus dipercaya. Di dunia ini,
kau tahu, segalanya begitu cepat bertukar rupa dan tak ada yang
peduli. Jika sekarang Finley mati atau Sandra bunuh diri, kau juga
tak akan peduli. Jika Onan membunuh Arendt dan membakar
59
www.bacaan-indo.blogspot.com seluruh belalang yang disimpan di kotak kaca, kau juga tak akan
bertindak apa-apa. Jadi percuma saja kau atau siapa pun berla-
gak menyelamatkan kemanusiaan atau peradaban di kota ini.
Karena itu hentikan saja waktu saat aku bercinta dengan Finley.
Hentikan saja waktu saat Arendt memeluk Soros dari belakang
dan membisikkan desis cinta berulang-ulang.
”Tidak! Tidak! Biarkan Soros dan Chang mati. Biarkan roh
mereka terbang ke negeri tanpa matahari!”
Suara Sandra atau Arendt? Kau tetap saja tak peduli. Kau te-
tap saja membiarkan kota ini menggigil dililit oleh lidah hantu
dan kabut teka-teki.
Melbourne 2005-Semarang 2006
60
www.bacaan-indo.blogspot.com Badai Bunga
SUNGGUH kau harus berterima kasih pada lima perempuan
Meksiko yang memaksamu membeli buket bunga mawar saat
bersama Michael kau belajar mencicipi escargot di Le Claufotis
Restaurant. Jika saja di keriuhan Sunset Boulevard kau tak men-
desiskan kata-kata cinta di telinga malaikat tanpa sayap itu sam-
bil memberikan bunga-bunga harum yang kaubeli dengan harga
murah, bukan tidak mungkin kekasih Hollywood-mu itu mem-
buru pria lain di The Abby Est 191. Di klub gay yang tak pernah
pindah dari North Robertson 692 itu, bisa saja ia menggaet pria
sembarangan dan pada puncak malam menyeret sang kuda tung-
gangan ke rumah mewahnya di Bell Air. Dan bukan rahasia lagi
siapa pun akan menjadi rising star atau berkesempatan memainkan
peran-peran penting jika satu jam saja bercinta di ranjang bersprei
motif macan kesukaan Michael.
”Ya, tetapi aku benci pada perempuan-perempuan Meksiko
yang selalu muncul dengan mantera dan bunga-bunga merah da-
rah saat Michael dengan kasar dan penuh berahi meremas jari-
jemari tanganku yang lentik,” katamu sambil berkali-kali mereguk
anggur merah di sudut teremang bar yang setiap malam tak pernah
sepi itu.
Hmmm masih beruntung kau hanya merasakan harum bunga,
61
www.bacaan-indo.blogspot.com teror mantera, doa mekanis, atau desis lagu-lagu penuh sihir dari
mereka. Kalau saja pernah menjadi penduduk Macondo1, setiap
saat kau akan didera puting beliung berbadai daun, melihat mayat-
mayat dari kota penuh lumpur bergelimpangan di depan gereja,
menatap salib-salib kayu rapuh bertumbangan dari katedral, me-
nyaksikan nisan-nisan kotor berterbangan dan menyangkut di
atap rumah, dan tak bisa menghindar dari luapan sungai penuh
tinja setiap Rabu.
”O, mengertilah kau, Julieta, di Sunset Boulevard saat para
perempuan itu datang, mendadak seakan-akan muncul badai
bunga,...segala bunga..., mendera siapa pun yang sedang menikmati
makan malam di restoran,” kau melenguh menirukan desis Monica
Bellucci di Paris saat disodomi pria gila di subway.2
Badai bunga? Bukankah surga semacam itu yang diharapkan
siapa pun yang sedang asyik masyuk dalam kegilaan cinta?
”Bukan hanya bunga, Julieta, bukan hanya bunga. Tepat pada
saat Michael berusaha mendekapku, dengan mantera purba selalu
para perempuan itu mengubah segala yang bisa kupandang menjadi
onggokan sampah busuk penuh tubuh perempuan yang dimutilasi.
Kau pun tahu, pada saat seperti itu siapa pun akan mual dan bisa
muntah di piring penuh escargot. Dan sebagai asisten Michael,
kau juga tahu, bajingan indah itu paling tidak suka melihatku
hoek-hoek di sembarang tempat,’’ kau mencericit seperti tikus dan
berusaha memesan lagi seteguk dua teguk anggur.
1Macondo adalah nama kota imajiner yang senantiasa digunakan oleh Gabri-
el Garcia Marques, termasuk dalam kumpulan cerpen Badai Daun (Leaf Storm/
La Hojarasca).
2Dalam ilm Irreversible garapan sutradara Gaspar Noe, berperan sebagai
Alex, Monica Belluci mendesiskan bunyi yang kerap dipahami sebagai suara
orang yang merasakan ketersiksaan dan kenikmatan secara bersamaan.
62
www.bacaan-indo.blogspot.com Meskipun begitu, tetap saja kau harus berterima kasih kepada
para penjaja bunga yang dengan begitu telaten menjadikan Sunset
Boulevard sebagai surga. Jika tidak, jika Michael saat kencan de-
nganmu hanya menatap orang-orang negro berkelahi dengan para
petarung Meksiko, ia bisa saja tidak menawarimu menjadi penata
rias utama dalam ilm terbaru.
’’Ya, Julieta, ya... Michael memang memberi kesempatan pada-
ku. Tapi tetap saja aku muak dengan para penjaja bunga yang
mengingatkan aku pada nenek-nenek tua yang berebutan mena-
warkan bunga-bunga mawar saat aku nyekar ibuku di pemakaman
kampung selatan hutan Blora, di pinggir Bengawan Solo. Dan ini
sangat menggangu mood bercintaku dengan Michael. O, Julieta,
sayangku, bisakah kau mengusir mereka saat Michael mengajakku
makan malam di tempat sialan itu?’’
Tentu akan aku usir, Carter. Tentu akan aku hajar perempuan-
perempuan itu. Tapi tidakkah lebih baik kita bunuh Michael dulu.
Bukankah aku tidak mungkin mengupetikan kekasih pujaan hanya
agar bajingan tengik itu memberikan peran utama perempuan
kepadaku.
”Nah, kalau begitu, apa gunanya aku berterima kasih kepada
para penjaja bunga?’’ kau mulai menemukan cara terbaik untuk
mendebatku.
Tetap harus berterima kasih, Carter. Karena sihir merekalah,
Michael jadi tergila-gila padamu. Karena badai bunga merekalah,
Michael tak memburu laki-laki lain di klub-klub gay yang kini
kian bejibun di L.A. Karena merekalah kau jadi bisa bertahan
hidup tanpa harus jadi tikus got di East Downtown atau labirin
busuk lain.
”Tapi kenapa kita harus membunuhnya? Bukankah aku bisa
hanya berpura-pura mencintainya? Bukankah di apartemenmu
63
www.bacaan-indo.blogspot.com aku tetap bisa mendekapmu sambil mendengarkan desah Sarah
Brightman atau Enya?’’
Hmm. Selalu saja kau berpikir dan bertindak praktis, Carter.
Selalu saja kau tidak ingin memperumit cinta.
Tikus Harum
Kali pertama aku melihatmu merias Asia Carera dalam ilm busuk
Michael, aku kian yakin kau akan menjadi tikus terharum yang
bakal memesona siapa pun. Tak seperti perias lain, jari lentikmu
bisa mengubah paras para bintang yang mulai pudar menjadi
wajah-wajah indah yang seakan-akan baru saja diturunkan dari
surga. Memang di dunia ini tak pernah ada tikus wangi, Carter.
Tetapi kau bisa mengubah sesuatu yang tak mungkin menjadi
kenyataan. Kau bisa menjadi tikus sekaligus menebarkan parfum
harum memabukkan.
”Kalau penata riasnya tetap aku, aku jamin Michael akan tetap
memajang Carera hingga lima tahun ke depan,” katamu kepadaku
sambil meremas tanganku di kamar rias di ujung studio.
”Aku dan Michael tak terlalu memusingkan Carera. Setiap hari
bisa lahir bintang di jalanan Hollywood. Publik membutuhkan
ilm yang lebih yahud. Kini kami sedang mencari pria seksi yang
bisa bercinta dengan siapa pun. Bisa bercumbu dengan laki-laki
berotak katak. Bisa bersikap romantis terhadap perempuan ganas.
Bisa memeluk pria manis bergaun dengan kemesraan tiada tara.
Adegan semacam ini tak akan bisa dilakukan oleh TT Boy3,”
kataku membalas remasanmu.
3TT Boy adalah bintang ilm yang hampir selalu muncul dalam ilm-ilm por-
no.
64
www.bacaan-indo.blogspot.com ”Aha! Bukankah aku akan bisa memainkan peran-peran se-
macam itu. Ayolah, Julieta, katakan kepada Michael, aku akan
melakukan apa pun untuk ilm yang diinginkannya,” katamu me-
lenggak-lenggok kenes menirukan gaya Marilyn Monroe berjalan
di trotoar sepi.
Saat itu aku tak menjawab pertanyaanmu. Aku tahu belum
pernah ada penata rias artis tiba-tiba menjadi bintang utama se-
buah ilm. Tetapi jika saja bisa mencuri pandang parasku di cer-
min, kau akan tahu betapa aku tak bisa menyembunyikan rasa
girang yang tak tertahankan. Ya, ya, saat itu kau lebih peduli pada
bibirku yang kaugigit dengan mata terpejam ketimbang mem-
perbincangkan tentang surga para bintang atau ilm-ilm terbaru
Michael yang didominasi oleh adegan para gay di toilet jorok pe-
nuh tong bergraiti dan sampah yang mulai membusuk.
”Julietaku, Sayang, tidakkah kaurasakan kadang-kadang aku
bisa menjadi Rambo bagimu? Tidakkah kaulihat aku juga bisa
menjadi Madonna yang ingin bercinta semalam suntuk dengan
perempuan ganas sepertimu? O, tidakkah kau telah membuktikan
aku juga kerap menjelma she-male yang menerbangkanmu ke
surga kencana sepanjang waktu,” kau terus membisikkan tawaran
yang tak bisa ditolak kepadaku.
Ah, tetap saja aku tak merespons segala yang kaudesiskan.
Yang menarik saat itu, Carter, hanyalah mencakar punggungmu
dan membayangkan diriku sebagai perempuan macan dari hutan
terlarang. Jika saja kau tahu, saat itu juga aku tak percaya kau akan
bisa bercumbu dengan Michael. Apalagi bercinta dengan para
lady-boy di apartemen-apartemen yang tak pernah terjamah sinar
matahari.
Karena itu, aku hanya mendengus, ”Carterku, Sayang, semua
boleh kaulakukan dalam ilm. Tapi tak boleh kau tidur di semba-
65
www.bacaan-indo.blogspot.com rang ranjang jika tidak bersamaku. Juga tak di ranjang Michael.
Juga tak di ranjang pejantan Hollywood paling kaya sekalipun.”
Saat itu ganti kau yang tak merespons kata-kataku. Kau lebih
senang mencium keningku dan segera menyeretku agar segera
pulang saja ke apartemen. Di apartemen sambil menenggak red
wine kau bercerita padaku tentang para perempuan di dusunmu
yang begitu bangga menjadi penari tayub dan petani-petani lugu
yang kesurupan setelah menabuh kendang.
”Kadang-kadang aku ingin jadi tayub yang menari menggoda
setiap laki-laki buaya. Kadang-kadang aku ingin menjadi penabuh
kendang yang senantiasa berceloteh cabul di antara egolan tayub
dan teriakan-teriakan jorok para laki-laki jagoan,” katamu menge-
nang dusunmu, mengenang hari-hari indah terakhirmu sebelum
seorang pria L.A. yang kaukenal di Surabaya memboyong dan men-
cumbuimu di lorong-lorong East Downtown sepanjang waktu.
Ya, pada akhirnya, kau memang bisa meyakinkan Michael.
Pada akhirnya kau tidak hanya menjadi perias dalam ilm-ilm
kami, tetapi juga menjadi bintang utama yang berkesempatan
tidur di ranjang panas Michael. Kau sangat beruntung, karena
akan bisa mewarisi kekayaan malaikat busuk itu dan bisa menjadi
produser baru dalam industri ilm erotis yang senantiasa dianggap
sebagai tontonan kotor itu.
Karena itu, Carter, kau—tikus kecil yang kutemukan di se-
buah lorong dan kuajari jadi perias piawai itu—memang sudah
diciptakan untuk menjadi binatang terharum.
Kau tahu, pada usia 11 tahun, aku kerap menatap tikus-tikus
yang setiap malam nongol di got-got. Tikus-tikus itu begitu be-
rani menyusup ke kaki-kaki para bandit yang tengah berpesta
kokain sambil sesekali menggigit jempol para perempuan negro
yang telah teler. Saat itu aku menduga tikus-tikus itu memang
telah lama menjadi nenek moyang para negro, sehingga siapa pun
66
www.bacaan-indo.blogspot.com takut membunuh atau sekadar mengusir dengan teriakan atau
sekadar desisan.
Menurutku—tentu pada saat usiaku masih tipis—tikus bisa
menjadi omnivora, pemakan segala, karena tumbuh-tumbuhan dan
binatang-binatang lain merelakan diri menjadi santapan hewan-
hewan pengerat itu.
Jadi jika sekarang siapa pun ingin menjadi binatang atau tum-
buhan santapanmu, itu karena mereka tahu ada roh tikus purba
yang diembuskan ke dalam tubuhmu. Jika kau saat ini juga menjadi
pelahap segala, itu karena takdirmu memang harus menyusuri ja-
lan hidup para tikus.
Dan tikus yang baik, Carter, tak boleh hidup berlama-lama
dengan kucing seganas Michael. Jadi, segera bunuh pria itu, dan
hanya hiduplah bersamaku.
”Akan kaubayar dengan apa kalau aku bisa membunuh pria
yang pernah menjadi kekasihmu itu?’
”Akan aku bayar dengan apa pun yang kauminta sepanjang
hidupmu.”
Ah, seharusnya aku tak perlu berkata begitu. Aku tahu dalam
hidupmu yang penuh warna, kau tak membutuhkan cinta atau
apa pun yang tidak berarti ketimbang duit atau apa pun yang
kauanggap sebagai duit. ”Kalau saja duit bisa dianggap sebagai
tuhan, aku akan menyembahnya sepanjang waktu sepanjang ha-
yat. Siapa pun boleh berkencan denganku. Aku ini pecumbu se-
gala4,” desismu kali pertama kau kubayar pada kencan pertamaku
denganmu di gay bar.
4Pecumbu segala dalam teori-teori mengenai relasi seks disebut sebagai omni-
sex. Orientasi seks mereka tak hanya pada lawan jenis, sejenis, tetapi bisa ber-
cumbu dengan apa pun, termasuk binatang, mayat, atau apa pun yang menim-
bulkan rangsangan seksual.
67
www.bacaan-indo.blogspot.com Pada mulanya aku memang jijik mendengar omongan jorokmu.
Tapi kini kutahu kau memang tikus harum yang demi kejujuran
tak bisa dibandingkan dengan pejantan lain di mana pun. Karena
itu, tak seorang pun boleh memilikimu, Carter. Juga Michael atau
pria-pria atau malaikat berduit dari zaman Luth5 sekalipun.
”Baiklah...cepat atau lambat...aku akan membunuh pria bloon
itu!” katamu sambil tak henti-henti menyemperotkan air hangat
yang mengucur dari gagang shower warna jingga itu ke sekujur
tubuhku.
Setelah itu, aku tahu, Carter, kau akan menjelma tikus air yang
tak henti-henti mendengus-dengus dan menjilat-jilat apa pun yang
kauanggap sebagai dendeng atau ikan asing di piring kesayangan.
Setelah itu, aku tahu, aku akan habis kautelan. Aku akan...
Sihir Mawar
Jika kau benar-benar raja para tikus, Carter, hewan pengerat dari
manakah engkau? ”Aku hanya binatang tak berguna dari hutan
Blora. Semula aku hanyalah Seto, pria kecil, yang dicumbu polisi
di dekat kuburan. Setelah itu aku diculik perempuan gendut dan
disimpan di losmen murah di Surabaya,’’ selalu kau mendesis
semacam itu kalau kuajak menenggak martini atau sekadar kahlua
cream di klub-klub penari telanjang.
Jika kau tak punya nenek moyang di kota ini, dari got manakah
engkau nongol, Carter? ”Mungkin aku lahir dari Mama Oni, she-
5Pada zaman Nabi Luth memang ada malaikat yang menjelma pria rupawan.
Pria indah itu menjadi rebutan pria Sodom dan Gomora yang tidak lagi tertarik
bercinta dengan istri-istri atau para perempuan lain.
68
www.bacaan-indo.blogspot.com male tercantik Surabaya yang pernah mengajariku mejeng di Jalan
Irian Barat dan mengajakku orgy dengan para brondong di salon.
Dari Mama Oni, aku tahu, perempuan gendut itu menjualku dengan
harga mahal. Karena tak ingin rugi, Mama Oni mendandani dan
menyulapku menjadi Catty dan memintaku mengeruk duit dari
para pejantan yang kelayapan malam-malam.”
Setelah itu? ”Setelah itu, kau tahu, Mama Oni pun menjualku
pada laki-laki Downtown. Sejak itu, sejak pria tambum yang seha-
rusnya lebih cocok jadi ayahku itu mengubah namaku menjadi
Carter, aku—yang mulai bisa menggunakan Bahasa Inggris acak-
acakan—tinggal di negerimu. Negeri yang kian meyakinkanku
betapa tak ada yang lebih berarti kecuali uang.”
”Karena uang jugakah kau mau kusuruh untuk membunuh
Michael?”
”Ya. Apa pun kulakukan demi uang. Apakah ada yang salah
dari jawabanku ini, o, Julietaku, Sayang?’’
Siapa pun, juga aku, tak akan menjawab pertanyaan seperti
itu pada saat mabuk bukan? Siapa pun tak akan peduli apa pun
pada saat tubuhnya dibelit oleh tangan-tangan nakal para penari
itu bukan?
Aku yang kadang-kadang juga kepingin bercumbu dengan salah
satu penari itu memang tak terlalu peduli pada gigitan Carter di
telingaku yang kian menebal. Aku juga tak peduli apakah Carter
bisa membunuh Michael atau sekadar membuat raja ilm erotis
itu setengah pingsan.
Dan di luar dugaan aku tiba-tiba berharap agar ada seribu pe-
rempuan penjaja bunga yang menawarkan mawar kepadaku. Aku
ingin memberikan bunga-bunga itu kepada setiap penari yang
sepanjang hidup kegemulaian tubuhnya hanya dihargai oleh para
lelaki jalang dengan paling banyak seratus dolar.
69
www.bacaan-indo.blogspot.com Kau tahu, Carter, pada saat seperti itu, aku justru mengharap-
kan badai bunga muncul lebih dahsyat di Sunset Boulevard. Aku
berharap seluruh jalan terkubur oleh segala bunga dan siapa pun
bisa bercinta dalam keharuman mawar.
Racun Pisau
SEMULA aku sendirilah yang akan membunuh Michael. Terus
terang sejak tahu dia tak hanya bercinta denganku dan lebih kerap
mengajak brondong ke Bell Air, aku selalu mendapat bisikan dari
para leluhurku di Meksiko agar pria semacam itu dilenyapkan
dari bumi saja. Kata mereka jika dibiarkan hidup Michael akan
mengganggu keindahan cinta dan meledek keagungan gereja.
Umat Nabi Lut, warga Sodom dan Gomora, saja dihukum! Apa-
lagi hanya pria celeng seperti dia!
Ah, aku abaikan perintah-perintah malaikat atau para leluhur.
Aku membunuh karena memang ingin membunuh. Aku ingin
membunuh karena Michael mengabaikan cintaku dan dengan
terang-terangan mengulum ganas bibir para aktor baru di ruang
rias sesaat sebelum para pejantan seksi itu saling cium di sembarang
ranjang di sembarang ruang.
Tetapi Michael begitu licin. Mungkin lantaran tahu jiwanya
terancam, ia memecatku dari peran indahku sebagai kekasih dan
asisten sutradara sekaligus co-producer. Ia lalu kian menjauh dariku
dan menendang tanpa bisa kulawan. Tapi aku toh masih punya
kamu, Carter. Aku toh masih punya pisau yang lebih tajam dari
segala pisau yang bisa digunakan untuk membunuh Michael sialan.
Aku toh punya racun yang lebih kuat dari segala racun yang bisa
memabukkan bajingan serupa setan. Pisau itu kamu, Carter. Racun
70
www.bacaan-indo.blogspot.com itu kamu. Kaulah yang akan dengan mudah membunuh raja babi
itu dalam sekali tusuk dalam sekali reguk.
Apakah sekarang kau sudah siap membunuhnya, Carter?
Mantera Malam
AH ternyata kau pun keok oleh Michael, Carter. Lihatlah, mirip
Pangeran Kelelawar yang ganas, Michael telah mereguk darahmu
hingga kau tampak tak memiliki kekuatan apa pun untuk sekadar
mengulum bibirku sepulang syuting. Kau tak lagi mencumbuku
hanya karena setiap melihat mataku kau seperti menatap puluhan
penjaja bunga mawar menebarkan mantera kematian. Apakah
kau tak punya lagi keinginan untuk membunuh Michael, Carter?
Apakah kau tak ingin lagi jadi tikus pujaan?
O, aku kini tahu, Carter: sebagaimana korban vampire lain,
kaupun kini telah menyerupai Michael. Kau bahkan tampak le-
bih ganas dan menggasak apa pun melebihi tikus paling rakus
yang setiap saat bisa kaulihat di Downtomn.
Apakah kau benar-benar tak ingin lagi membunuh Michael,
Carter?
Kau tak mungkin menjawab, Carter.
Sejak kupaksa menonton karnaval penjaja bunga di Sunset
Boulevard semalam, kau pingsan dan mengira hari ajalmu telah
datang justru pada saat kau telah menaklukan Michael dan aku
dalam satu pelukan.
Kau tak mungkin menjawab, Carter.
Kau mengira badai mawar telah menguburkan dirimu di ma-
kam yang tak kauinginkan. Kau kini benar-benar cuma jadi tikus
dalam badai yang tak pernah kauharapkan.
71
www.bacaan-indo.blogspot.com Kini kuputuskan aku tak perlu meminjam tangan untuk mem-
bunuh vampire atau kucing setan bekakrakan.
Los Angeles-Las Vegas, 2007
72
www.bacaan-indo.blogspot.com Lumpur
Kuala Lumpur
Siapa pun boleh menari, untukmu Gusti. Tapi tak seorang pun
boleh menceritakan gerimis-Mu yang menghanyutkan kisah-kisah
orang-orang yang teraniaya di penjara-penjara penuh kalajengking
dan lipan itu. Maka, dengarkanlah ceritaku, Gusti. Dengarkanlah
lengking mataku yang kehabisan sungai dan embun sejuk itu.
Ayat-ayat Sunyi Ramli
Mengapa masih kaucari Kresna di ujung rambutmu, Ramli? Bukan-
kah teriakan Kumar Kundu dalam lagu-lagu pedih itu tak juga
bisa menghentikan kereta perang yang melesat ke ujung malam
dan pekat darahmu? Bayangkan saja Kresna telah mati, sehingga
kau tak perlu lagi menari di pantai, memedihkan mata dengan
getir pasir, mencari surga yang tak pernah diciptakan di telapak
kaki, dan membaca sutra—ayat-ayat suci yang perih itu—dengan
telinga yang disumbat derita.
Memang biola Naranjan Bival telah menidurkan Kuala Lum-
pur. Namun Kresna tak bisa bermimpi tentang Sungai Buloh
tanpa penjara, tanpa cambukan. Kresna akan selalu menghapus
jejak cinta dan menatah candi penuh tumbal dan kesengsaraan.
73
www.bacaan-indo.blogspot.com Karena itu, dengarlah lengking seruling Abhiram Nanda yang
mengembuskan tangis indah Arjuna. Bersekutulah dengan tari-
anmu sendiri, karena Kresna telah mati, dan Kurusetra tak mela-
hirkan pahlawan lagi.
”Tapi Tuhan tak pernah mati!” katamu tersedu-sedu.
Ya, tapi keretanya telah remuk. Ia tak bisa mengamuk. Tak
bisa mengutuk.
”Aku hanya ingin mencari jejak-Nya.”
Ia tak lagi punya jejak. Jika tak percaya, bertanyalah pada Guru
Dhaneswar Swain tentang kaki-kaki yang dipatahkan, kepala yang
dilindas truk, dan malam yang kehilangan rembulan.
”Kalau begitu aku akan mendengarkan tangis-Nya.”
Ia tak bisa lagi menangis. Chakraborty telah menyalib tubuh
Kresna di tengah kota. Dengan petikan sitar gaib, dia telah menu-
sukkan segala kepedihan orang-orang miskin ke lambung Kresna
yang senantiasa menganga.
”O, darah yang terus mengucur, di mana dikuburkan mata kebe-
naran?”
Tak di mana-mana, Ramli. Tak di mana-mana.
”Tak di mata yang menyimpan surga.”
Tak di mata yang menciptakan surga. Maka, mengapa masih
kauburu Kresna sampai di ujung matamu, Ramli?
Kopi Terakhir Lukman
”Ini mungkin kopi terakhir sebelum cambuk dan nyamuk mem-
bunuhku. Ini mungkin senja terakhir setelah mereka merubuhkan
bedeng dan menghancurkan keberanianku.’’
Dan kopi atau topi—mungkin dengan sebatang rokok—bisa
menerbangkan Lukman ke surga, ke jalanan becek bertabur roti,
74
www.bacaan-indo.blogspot.com ke got becek untuk mandi, ke gaji yang terhapus dari catatan yang
terbuang di selokan.
”Aku hanya minta segelas air dan seembus kemungkinan untuk
hidup. Aku hanya berharap mereka mengerti kami juga bisa jadi
gelombang yang merubuhkan jembatan dan kondominium.”
Kamu cuma budak haram, Lukman.
”Ya, aku memang cuma budak haram. Tapi bayangan tubuhku pun
tak layak dipenjara hanya karena pasporku hanyut di sungai. Hanya
karena pasar tak bisa memajang bekas cambukan pantat di etalase-
etalase toko, di keriuhan stasiun kereta pukul delapan. Hanya…”
Maka, pulanglah ke negeri ibumu, Lukman. Negeri Ludruk
sarat tawa semalaman. Negeri Celurit penuh darah dan pertikaian.
Negeri Ilusi tak sepi duri dan impian.
”Ya, aku akan pulang. Aku bilang pada Yeni Abdurrahman
di desaku sungai menjalar seperti ular. Tapi tunggu dulu! Jevan-
der Sing—tauke Keling itu—masih berutang padaku. Ringgit-
ku masih disimpan di laci busuk para juragan.”
Ya, tetapi segera pulanglah. Nanti kamu dipenjara. Nanti ka-
mu didenda. Nanti kamu dicambuk algojo dan para tuan.
”Mereka tak akan berani mencambuk aku dan 800.000 budak
haram.”
Mereka akan berani dan tak peduli kau anak setan atau malai-
kat Tuhan.
”Mereka tak punya algojo. Mereka hanya punya ringgit dan
telepon genggam. Mereka hanya berani menggertak orang-orang
miskin yang cuma bisa tidur di bedeng-bedeng penuh lipan.”
Tentu kau boleh punya keberanian seperti Hang Tuah, Lukman.
Tapi di negeri ini kau hanya semut di lubang yang gelap. Kau
hanya cacing yang banyak cakap dan tak tahu undang-undang.
Ayolah, Lukman, segeralah pulang.
75
www.bacaan-indo.blogspot.com ”Pulang? Ke mana harus pulang kalau utang masih segudang?”
Pulang ke rumah ibumu, Sayang.
”Ibu? Ibuku telah mati. Kalaupun masih hidup, ia akan men-
cekikku karena pulang tak membawa keranjang penuh gobang.”
Kalau begitu pulanglah ke matamu sendiri, Sayang.
”Ke gua gelap itu?”
Ya, ke sungai keruh itu?
”Ke harapan yang menghilang pelan-pelan?”
Ya, ke kopi terakhirmu. Ke puntung-puntung rokok yang tak
habis-habis kauisap itu.
”Setelah itu…”
Setelah itu Tuhan akan memejamkan matamu, menguburmu
dengan bunga mimpi. Menguburmu dalam haribaan ibumu yang
senantiasa memaknaimu sebagai nabi sejati.
”Kalau begitu aku tak mau pulang.”
Kau tak takut pada cambuk itu?
”Aku tak takut pada maut itu. Aku tak takut pada kabut yang
menghalang pandanganku pada hidup yang carut-marut itu.”
Begitulah Cara Waktu Mengaduh, Rahma
Begitulah cara Waktu menyembunyikan kilau mata yang bisa mem-
bakar masjid-masjid di Kuala Lumpur sekadar menjadi abu sekadar
menjadi ngilu, Rahma. Karena itu, ia menyelimuti tubuhmu de-
ngan dedahan asam di Rimbun Dahan. Ia biarkan kau menari di
taman penuh Sedap Malam. Ia biarkan kau mengguratkan kata-
kata getir di hening anyelir.
”Aku tak mengerti mengapa mereka begitu membenci tubuh
perempuan? Aku tak mengerti mengapa para perempuan hanya
76
www.bacaan-indo.blogspot.com disembunyikan di almari atau dipingit di dapur atau halaman
belakang? Mengapa keindahan harus disembunyikan?” katamu
sambil mengajakku memahami bahasa hujan dan menyingkirkan
cambukan petir dari rambut yang kian menguban.
Tentu keindahan tak harus disembunyikan, Rahma. Kau tentu
bisa telanjang di tengah hutan, telentang sambil membentangkan
sepasang tangan dalam kegaiban hujan, dan mendesahkan doa-doa
paling kasmaran. Kau tentu bisa menjelma ikan, menyelam di hijau
danau sambil mendesiskan gumam-gumam paling urakan. Tapi tidak
di jalan-jalan penuh kosmetik, Rahma. Tidak di jalan-jalan.
”Tidak di keriuhan?”
Ya. Tidak di benak orang-orang yang menganggap seribu masjid
bisa menerbangkan jiwamu ke surga idaman. Tidak di benak orang-
orang yang menganggap tak ada surga bagi perempuan yang suka
menari dan mendendangkan segala tembang di jalan-jalan.
”Aku harus menari di dasar kolam?” Tentu tidak, Rahma. Kau
tahu bukan Redana, Pangeran Kelelelawar itu, lebih ingin mena-
tapmu menarikan berahi malam di pucuk gunung. ”Apakah aku
harus ngelindur di ranjang setan?” Tentu tidak, Rahma. Kau tahu
bukan Romo Sindu, Padri Minohek itu, tak suka melihatmu tidur
sambil menenggak anggur. ”Apakah aku harus cuma meniti sepi
mencari bayang-bayang matahari yang tak mati-mati?” Tentu ti-
dak, Rahma. Kau tahu bukan Harry Roesli telah pergi dan kita
hanya menangkap jejak tanpa bunyi.
”Kalau begitu kota ini sungguh sialan.” Ya, kota ini memang
sialan. Ia bukan cermin yang memantulkan tarian belantaramu
yang penuh siul murai. Ia bukan langit yang menumpahkan hujan
cintamu yang penuh salju dan hutan gaib itu.
”Jadi mengapa aku tak pergi saja dari kota munaik ini?” Kau
tak akan pernah bisa pergi karena kau tak pernah pulang, Rahma.
77
www.bacaan-indo.blogspot.com Kau telah menyerupai Waktu yang melampau di batu-batu. Kau
telah menyerupai batu yang melesat ke bianglala esok yang kabur
dan berdebu.
Maka begitulah cara Waktu mengaduh, Rahma. Ia menangis
dalam gerimis. Ia ngelindur di Kuala Lumpur yang abai pada tubuh-
mu yang berlumur anggur. Tetapi aku tahu, Rahma. Kau tak akan
akan peduli amuk waktu atau apa pun yang hendak memelukmu di
senja yang getir itu. Kau akan terus menari dan mengguratkan api
ke ujung api, ke ujung mati.
Bukan di Kurusetra, Kunti, Bukan di Kurusetra
Bukan di Kurusetra, Kunti. Tetapi mereka hendak dibunuh ju-
ga.
Bukan di padang pembantaian, Kunti. Tetapi mereka hendak
dijagal juga.
”Jangan lari. Kami polisi!” mereka menyalak seperti, Rahwana,
Kunti, mereka melenguh seperti kerbau api.
”Namaku Petro Sale, 37 tahun, aku hanya ingin menegakkan
sepasang kaki, aku hanya ingin mereguk gelegak cinta pada ilusi
kendi. Aku hanya…’’ Dor!
”Namaku Guspar Hasan, 23 tahun, aku hanya ingin tidur dan
menjaring mimpi, aku hanya ingin bersembunyi setelah tak bisa
kembali ke rumah sendiri. Aku hanya…” Dor!
”Namaku Markus Taji, 25 tahun, aku hanya membawa tikar
menuju belukar. Aku tinggalkan bedeng karena takut pada razia
yang mengerikan. Aku hanya…” Dor!
”Namaku Remi Guis. Aku…” Dor!
Lalu kau pun tahu, Kunti, hospital menolak menyembuhkan
78
www.bacaan-indo.blogspot.com luka dan sakit hati. Tak ada obat. Tak ada kiblat untuk cari sela-
mat dan harga diri.
”Halo, kami polisi dan kalian cuma maling yang tak tahu diri.”
Danau Gaduh Hijjaz Kasturi
Telah kauciptakan hutan dan danau gaduh untuk Angela, ya Kas-
turi. Lalu kaulepaskan angsa, buaya, musang, tikus, ular, dan kisah
sepasang nabi yang tak henti-henti mempercakapkan mimpi,
kuldi, dan keheningan setelah Selangor memolek diri dalam ilusi.
”Aku mencintai Hang Tuah, Soekarno, dan pagi yang selalu
meneriakkan revolusi,” katamu sambil menawariku mencecap
kopi dan kue cina serupa roti komuni.
”Dan aku sedang tersesat di rumahmu yang indah sambil sese-
kali mencari pekerja-pekerja Indonesia yang tersakiti. Sayang, revo-
lusi telah patah, Soekarno kehilangan tuah, dan kita belum me-
nemukan korek api untuk menyalakan lilin ulang tahun Angela,”
kataku sambil membaca wajah pengantin Australiamu yang gaib
dan sarat tanda itu.
”Aku tak pernah menyakiti apa pun yang kauandaikan sebagai
budak. Sebab di hadapan Sang Waktu, kita adalah budak yang
tak punya malu. Oke, kita juga tak punya korek api dan Angela
tetap saja mengaku bahagia. ”
”Ah, kau keliru, Hijazz, dia tampak bahagia, karena memang
tak punya kesempatan untuk menangis.”
”Ya, kalau dia menangis, danau akan gaduh, burung-burung
terbang ke langit entah, dan kita akan kesepian.’’
”Kita kesepian karena kita tak hadir di taman ini sebagai se-
pasang nabi atas sepasang ikan tanpa sirip. Kita kesepian karena
79
www.bacaan-indo.blogspot.com kita cuma hidup seperti kodok,” kataku mengolok-olok, ”kita
cuma eng-krok, eng-krok, krok, krok, krok.”
”Aha! Aku suka metaforamu, kita memang kodok. Melompat
dari waktu batu ke waktu yang terpeleset ke liang lukakau dan
lukaku. Ya, kita memang bahagia, tua, dan selalu mereguk tuah
cinta dari gelas kencana,” tiba-tiba Angela menyela.
”Jadi, kenapa harus bersedih?” Hijazz bertanya.
”Aku sedih karena tak punya taman dan sepasang nabi bersayap
cinta. Aku sedih karena aku cuma musair kikir yang kehilangan
rasa getir. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa bahagia?’’
Lalu bayangan menyerupai sepasang nabi mendadak mengga-
duhkan danau dengan mengepakkan sirip yang menyala. ”Lihat
Hijazz, itu aku dan engkau. Bukan kisah maya sepasang nabi yang
diciptakan secara serampangan dan tergesa-gesa.”
Aneh, aku pun tersihir menatap Hijazz-Angela, suami-istri
yang kian merenta itu. Mereka sungguh seperti sepasang ikan yang
mahir menceritakan kisah sepasang nabi yang tak pernah diasing-
kan dari surga. Mungkin mereka memang malaikat yang menjelma
sebagai sepasang kekasih yang tak pernah bersedih meski gerimis
kian mendera.
Hikayat Ambalat
Kita masih bercinta di hotel penuh vampir ketika kapal-kapal
di Karang Unarang saling menggertak dan melepaskan amarah
agung, Cintaku. Ciuman memang bikin mata kehilangan mata.
Karena itu, liurmu lebih ingin kurampok ketimbang kugenggam
lautmu di sela-sela jemari yang bocor. Apakah kau ingin mende-
siskan juga desah-desah sampah sebelum kapal-kapal itu saling
80
www.bacaan-indo.blogspot.com membakar diri, Kekasihku. Apakah kau ingin kita juga bercinta
dengan liar di mercusuar itu?
Gusti, semua ternyata hanya lumpur. Lumpur-Mu. Dan Kau tahu,
mataku yang lamur tak bisa menceritakan kisah sedih yang membius-
Mu itu.
Kuala Lumpur-Selangor, 2005
81
www.bacaan-indo.blogspot.com
82
www.bacaan-indo.blogspot.com Pelayaran
Air Mata
Saya baru saja menemukan kertas-kertas bernoda tumpahan kopi
yang telah mengering di sebuah lorong yang menghubungkan kampung
penyair Hanumaen dengan jalan raya. Saya tertarik pada tulisan-tu-
lisan yang tertera di kertas itu. Ada kalimat-kalimat aneh yang be-
lum pernah saya baca di buku mana pun. Ada kata-kata jorok yang
melenting-lenting tak keruan di sekujur tulisan. Ah, mungkin ia cuma
sebuah cerita pendek. Mungkin esai tentang kekuasaan atau percinta-
an terlarang. Tidak! Tidak! Ia memang sebuah cerita yang ditulis oleh
seseorang yang tak mau mencantumkan nama di ujung karangan.
Namun menyembunyikan nama dari mata saya akan percuma.
Saya tahu hampir semua gaya yang digunakan oleh para penyair ter-
baik di negeri ini. Karena itu, saya tak berani mengklaim cerita ini
sebagai karya penyair Hanumaen. Atau kalaupun kisah buangan ini
ditulis oleh Hanumaen, dia pasti meniru gaya Afrizal Malna atau men-
contoh secara sembarangan pengucapan Goenawan Mohamad.
Tentu saja simpulan saya bisa salah. Mungkin Afrizal atau Goena-
wan, atau Sapardi Djoko Damono memang pernah membuang kertas
di lorong jalan anyir dan gelap itu. Mungkin mereka kesal pada teks-
teks yang pernah ditulis. Karena itu, sebaiknya saya tulis ulang saja
tulisan-tulisan mereka yang terkadang tak lagi jelas lantaran tertutup
83
www.bacaan-indo.blogspot.com tumpahan kopi itu. Saya susun semau saya saja tulisan-tulisan mereka
yang kadang-kadang konyol itu.
1
Seperti Kumbakarna yang termangu-mangu di balkon aku men-
dengarkan percakapan busuk orang-orang yang mendenguskan
suara kelelawar dari mulutnya yang penuh got. ’’Rakyat telah
menjadikan kita sebagai boneka plastik yang tak henti-henti
mengunyah sabun,’’ kata mereka. Seperti pemuda-pemuda yang
kehabisan alasan untuk tawuran, aku terus saja mengunyah permen
dan sedikit kepedihan. Mikrofon di atas mimbar melengking dan
mereka sibuk menghafal 200 pasal undang-undang negara sambil
bertengkar tentang 210 juta orang buta yang ngotot membangun
monumen di kepalanya masing-masing. ’’Rakyat tak sedang mem-
bakar hotel dan peri-peri. Rakyat tak sedang menangisi hari
kematian bangsa, mengapa kita tak menghabiskan hari-hari me-
negangkan ini bersama gadis 200 ribu perak,’’ salah seorang ber-
wajah sphink bersuara.
Rokok mulai tanggal dari stresku. Jam mulai meratapi lonceng
yang tak mau menghardik para wakil rakyat yang murah senyum
itu.
”Apakah rakyat mengerti hari indah untuk melakukan bunuh
diri massal? Apakah rakyat tahu bisik-bisik kita di balik roda tank
dan meriam? Shiiiiit, aku tak sudi jadi pelayan 100 perak yang
harus memuja-muja pengemis dan gelandangan,’’ bisik perempuan
berbedak pelangi pelan-pelan.
Lalu bolam di balkon mulai menghitam. Sejarah yang ditulis
dengan arang dan erang menggorok leher orang-orang yang tak
84
www.bacaan-indo.blogspot.com kunjung henti memuja kelam. Kata mereka, rakyat telah mati.
Telah mati di hadapan parlemen yang sedang main pingpong di
ruang sidang negeri tanpa hati nurani. Lalu seperti melukiskan
kembali topeng Hitler di ujung gua, mereka telah membangun
negeri di bawah karpet sambil mematikan bolam dan sinyal
kereta yang hendak berangkat. Tak ada Kurusetra atau Pandawa
yang terbunuh malam itu. Tetapi televisi masih mendenguskan
parfum darah, batu, dan gas air mata busuk ke pelupuk mata.
Dan mereka yang ingin menjelma Topeng akhirnya memin-
dahkan juga gudang senjata, opium, kasino, dan kebusukan kecoa-
kecoa itu ke mulutku. Seperti yang disangka sebelumnya, saat
itu tak akan ada isyarat jari telunjuk yang mendoakan kematian
orang-orang yang menyerupai Kurawa atau Bisma yang terbantai.
Tak akan ada negeri yang menari-nari di poros matahari.
Lalu sekali lagi mereka membangun negeri di bawah karpet
dengan menggertakkan grafiti-grafiti busuk dan angka-angka pal-
su ke wajahku. Ke wajah dan mulutku yang tak henti menghirup
racun itu.
Apakah siang telah mengelupas, Tuan Presiden? Apakah bom
molotov dan serdadu telah mencorengkan lagu lain di kolong jem-
batan? Tetapi, sudahlah! Toh weker bernanah itu meludah dan
menghardik mereka dengan ting yang sengau. Dengan nanah yang
mengucur dari senja yang kaukubur tanpa air mata penyesalan.
Tentu mereka boleh tetap jadi pengembara buta. Membatu di ke-
pala jutaan kecoa. Menggenang di gang-gang yang penuh lumpur
dan labirin cinta.
Jadi, apa maumu? Seharusnya kau telah dikutuk sebagai lumut
liar, mengapa memaksa diri menjelma losmen; tempat segala din-
ding mendengarkan cicak dan lendir-lendir kelamin bercakap ten-
tang gua-gua dari planet lain?
85
www.bacaan-indo.blogspot.com Maka, biarkan kelam menggorok leher. Tetapi, jangan biarkan
hujan darah membentur atap rumah sakit jiwa. Biarkan orok-orok
mengunyah duri. Tetapi, jangan biarkan mereka mati di bawah
pendar bulan.
Jadi, untuk siapa kau mengelupas mata indahmu itu? Untuk
laut yang menguduskan doa lumpur. Untuk karang yang sedang
mengandung seribu pulau? O, humormu itu Tuan, kini telah men-
jelma teror.
2
Ya, ya, pada akhirnya mereka memang meledakkan juga gardu-
gardu listrik di bibir indah Nyonya Bangsa. Karena itu ia tetap jadi
batu. Diam. Bodoh dan tak memahatkan sejarah di udara beku.
Tetapi dia adalah meteor yang bergegas meninggalkan kelam.
Seperti negeri yang habis terbakar dia merindukan gerimis. Me-
rindukan salju berpendar di keharuman semak belukar doanya
yang penuh bianglala.
Lalu seluruh satwa menyihir dirinya menjadi batu kembali.
Sebuah dunia tandus mengintip dari jendela saat mereka mengi-
gaukan ratu adil yang lahir dari perkawinan bunga zaitun dan
burung ababil. Maka kini pun dia tak mungkin disebut sebagai
batu atau semacam perih yang dipungut dari jalanan yang dike-
pung serdadu pada hari yang penuh peluru itu.
Tetapi tetap saja dia hanya sebuah batu. Jangan jadikan dia
monumen. Revolusi memang sialan: ia telah membunuh ayahnya,
sepasang kadal yang bercinta, dan arsitektur tua. Ia telah menculik
ibunya, serangga bernanah, dan penjaga taman.
Nah, selamat tidur. Mimpikan dia dalam badai darah yang
penuh peluru dan amuk itu.
86