The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

BUKU KUMPULAN CERPEN KARYA MURID KELAS 9B(1)(1)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Awl, 2023-05-07 05:52:45

BUKU KUMPULAN CERPEN KARYA MURID KELAS 9B(1)(1)

BUKU KUMPULAN CERPEN KARYA MURID KELAS 9B(1)(1)

Kumpulan Cerpen Karya Murid Kelas 9B Buku Kuno, Blue Azter, Atlantis, Dunia Malam, Rintik Hujan, Jikuu's no Kimyou na Bouken, Changed, Misteri Rawa Pembunuhan, Misteri Daftar Belanja Aneh, Salah, Penyesalan, Aku dan Mimpiku, Segalanya untuk Semua Orang, Catatan Akhir Sekolah, Bestie, Sahabat Kecilku, dan Masih Banyak Cerita Seru Lainnya. IX-B


KUMPULAN CERPEN Karya Murid Kelas 9B Tahun Angkatan: 2022/2023 @_kelas9behh


ii KUMPULAN CERPEN: Karya Murid Kelas 9B Penulis: Penyunting: Auramega Astiadhara Rilys Dayana Editor: Auramega Astiadhara Rilys Dayana Layout: Auramega Astiadhara Rilys Dayana Desain Sampul: Aulia Tarra Sennapatya Diterbitkan oleh: SMP Negeri 8 Semarang Jl. Cinde Raya Barat, No. 18, Jomblang, Kec. Candisari, Kota Semarang, Jawa Tengah. Telp. (024)8315851 Instagram: @smpn8_smg Email: [email protected] Aditya Ibrahim Agista Shafa Pratama Andini Permata Sari Arvin Satya Sulistiyo Aulia Tarra Sennapatya Auramega Astiadhara Rilys Dayana Aurellifah Putri Az-Zahra Banyubiru Putra Dewa Bilqis Evelyna Setiawan Farel Saputra Maulana Febrian Wahyu Sudrajat Fridha Wijaya Hafizh Yassar Arrahman Intan Nur Kholifah Kalista Nadine Maria Aulia Ramadhani Khairunissa Muhammad Desga Ainun Warda Muhammad Jagad Satria Muhammad Reyfan Permana Nadinda Putri Elysia Natasya Dwi Rahmadani Nayantra Fitria Chandra Maheswari Nayla Noer Ayomi Neesha Abigail Nhena Lestari Mustofa Putra Al-Malik Arditya Raefa Rosada Puteri Rahma Aulia Rosyaada Reza Janya Riswanto Saskia El Malika Shakira Beauty Zahra Setiawan Vinza Yulia Restu Putri


iii PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT. Berkat karuniaNya, kami dapat menyelesaikan penulisan buku “Kumpulan Cerpen: Karya Murid Kelas 9B”. Dalam penyusunan buku Kumpulan Cerpen ini kami telah berusaha semaksimal mungkin. Akan tetapi, penulis amatir seperti kami pasti tidak luput dari kesalahan dan masih butuh banyak belajar. Kami menyadari tanpa adanya arahan dari guru pembimbing dan masukan dari berbagai pihak maka tidak mungkin kami bisa menyelesaikan buku Kumpulan Cerpen ini. Buku ini dibuat sedemikian rupa untuk membangkitkan kembali minat baca dan memotivasi dalam berkarya khususnya karya tulis. Kami para penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang dapat terlibat sehingga buku “Kumpulan Cerpen: Karya Murid Kelas 9B” ini dapat terselesaikan dengan baik. Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis dan khususnya bagi para pembaca.


iv Daftar Isi Pengantar .....................................................................III Daftar Isi.......................................................................IV Hutan Keramat Jati.......................................................... 1 Sahabat Kecilku............................................................. 10 Penyesalan ..................................................................... 14 Blur Azter ...................................................................... 16 Misteri Daftar Belanja Aneh.......................................... 20 Salah .............................................................................. 30 Suka Duka Tamasya ke Ngrembel................................. 41 Mimpi Sang Dara .......................................................... 46 Secercah Cahaya Harapan Masa Depan ........................ 50 Arti Kejujuran................................................................ 53 Dunia Malam................................................................. 56 Arti Seorang Teman....................................................... 62 Misteri Rawa Pembunuhan............................................ 65 Rintik Hujan .................................................................. 69 Buku Kuno..................................................................... 73 Changed......................................................................... 88 Jikuu's no Kimyou na Bouken: Great Rebellion ......... 102 Atlantis ........................................................................ 124 Sebuah Awal Baru ....................................................... 137 Persahabatan Sejati...................................................... 143 Mimpi .......................................................................... 146 Teman .......................................................................... 150 Catatan Akhir Sekolah................................................. 152 Kera yang Pintar.......................................................... 156 Segalanya untuk Semua Orang.................................... 161 Aku dan Sobatku ......................................................... 163 Bestie ........................................................................... 166 Di Antara yang Tersayang ........................................... 171 Teman Pertama ............................................................ 177 Harga Kejujuran .......................................................... 182 Beranjak Dewasa ......................................................... 185 Aku dan Mimpiku........................................................ 187 Tentang Penulis.......................................................... 192


1 HUTAN KERAMAT JATI 9B-01 Aditya Ibrahim Jaka menghela nafas berat, sekali lagi ia melihat ulang video konten yang ia buat bersama Bima. Ia merasa bosan dengan konten yang berisi itu-itu saja. Lantas ia menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya dan di waktu yang bersamaan Bima pun datang. “Lu kenapa, Jak?” ucap Bima. “Gue bosen nih, Bim,” saut Jaka. “Hah? Bosen?” “Iya. Lihat dah, konten yang kita buat gitu-gitu aja nggak sih?” jelas Jaka. “Gitu-gitu gimana maksud lu?” tanya Bima kebingungan. “Yaa gitu-gitu aja… Gue udah bosen sama konten prank yang kita buat,” jawab Jaka. “Hmm… Kalau gitu, gimana kalau kita buat konten yang horror? Kayak ekspor tempat angker gitu. Saat ini konten horor kan juga lagi rame viewer-nya,” ujar Bima dengan idenya.


2 “Boleh juga tuh. Okelah!” Mereka pun setuju untuk membuat konten horror. Kemudian, Jaka menanyakan kepada followers-nya di mana tempat yang bagus untuk membuat konten horor mereka. Tak berselang lama, Jaka mendapatkan email yang berisi suatu tempat yang menarik untuk diekspor. Lantas Jaka memberitahu Bima tempat tersebut. “Bim, lihat nih kayaknya bagus kalau kita ekspor di tempat ini,” ujar Jaka. “Nih, nama tempatnya Hutan Keramat Jati yang sering disebut Hutan Kraji. Letaknya di Sulawesi Selatan. Di sana juga katanya ada desa yang tak berpenghuni karena keangkerannya disebabkan dulu desa itu dijadikan tempat pemujaan setan,” lanjutnya. “Wah boleh juga tuh! Pasti bakal rame nih konten kita kalau kita ekspor hutan itu terus ketemu desa angker itu juga,” cetus Bima. “Nah bener, Bim! Kalau gitu besok lusa kita berangkat ke sana ya,” ajak Jaka. “Siap kawan!” jawab Bima menyetujui. Segala persiapan telah mereka lakukan untuk menuju Sulawesi Selatan, tepatnya di Hutan Kraji. Hari ini mereka melakukan perjalanan menggunakan pesawat. 3 jam duduk di


3 transportasi udara itu, dan akhirnya mereka pun telah sampai di tempat tujuan. “Selamat datang di Hutan Kraji, Mas. Perkenalan saya Sutrisno yang kerap dipanggil Sutris. Saya adalah penjaga Hutan Kraji ini,” sapa Pak Sutris si penjaga hutan. “Perkenalkan juga saya Jaka dan ini teman saya Bima,” jawab Jaka. “Ada perlu apa ya, Mas?” tanya Pak Sutris. “Kedatangan kami berdua di sini ingin membuat konten ekspor Hutan Kraji ini, Pak. Apakah boleh?” tanya Bima balik. “Waduh, maaf, Mas. Kalian boleh bikin konten di sini, tapi hanya di perbatasan hutan saja, tidak sampai masuk ke dalam hutan. Karena warga setempat percaya, kalau ada seseorang yang masuk ke dalam Hutan Kraji orang tersebut tidak akan pernah kembali lagi,” ujar pak Sutris. “Emang pernah kejadian ya, Pak? Ada seseorang yang masuk ke dalam Hutan Kraji ini terus orang tersebut nggak bisa kembali?” tanya Jaka penasaran. “Iya pernah, Mas. Kata warga setempat sih orang itu diculik sama penunggu Hutan Kraji dan dijadikan tumbal di desa yang


4 ada di dalam Hutan Kraji. Jadi, Mas Jaka dan Mas Bima bikin kontennya di perbatasan Hutan Kraji saja. Jangan sampai masuk ke dalam biar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,” jelas pak Sutris. “Owalah baik, Pak. Terima kasih atas informasi dan perhatiannya,” ucap Bima. “Iya, Mas. Sama-sama,” jawab pak Sutris. Mereka berdua memutuskan pulang ke penginapan terlebih dahulu untuk memutuskan jadi apa tidak membuat konten di Hutan Kraji. “Ini kami mau pulang ke penginapan dulu aja, Pak. Mau diskusi jadi apa tidak untuk membuat konten di sini. Nanti kalau jadi, kita akan kabari.” ujar Bima. “Iya, Mas. Hati-hati di jalan.” Jawab pak Sutris. Sesampainya di penginapan Jaka mengajak Bima untuk tetap mengekspor Hutan Kraji tersebut. Tetapi Bima menolaknya, karena dia tau risiko kalau masuk ke dalam hutan Kraji adalah hal yang berbahaya. Jaka yang antusias kukuh untuk tetap mengekspor Hutan Kraji tersebut. “Ayo lah, Bim, kita ekspor tempat itu!” bujuk Jaka.


5 “Lu udah gila ya? Kita sudah dilarang untuk masuk ke dalam!” tegas Bima. “Bim, kita udah keluar budget banyak lo masa nggak jadi sih?” “Ya gimana lagi, emang kita nggak boleh masuk kok. Kita mending cari tempat lain aja di sekitar sini,” jawab Bima dengan idenya. “Kalau lu nggak mau ikut gak apa-apa dah terserah lu. Gue masih mau ekspor itu tempat walaupun sendirian.” “Arrghh!!! Iya-iya gue ikut lu. Nanti kalau ada apa-apa gue juga yang repot!” jawab Rama dengan kesal. “Nah, gitu dong! Ini baru teman sejati… HAHAHA.” Dengan berat hati, Bima memutuskan untuk ikut bersama Jaka mengekspor Hutan Kraji. Mereka kembali ke Hutan Kraji tanpa memberi tau Pak Sutris. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.45, Pak Sutris memilih untuk pulang sejenak. Mengetahui Pak Sutris pulang, mereka berdua memanfaatkan momen tersebut untuk menerobos masuk ke dalam hutan. Sesampainya di dalam, mereka menyiapkan peralatan untuk mengekspor. Setelah semua persiapan sudah mereka siapkan,


6 mereka mulai untuk mengekspor Hutan Kraji tersebut. Bima memberi penanda saat mereka jalan untuk berjaga-jaga jika mereka berdua tersesat. Hari semakin malam dan semakin gelap, tetapi mereka belum juga menemukan desa yang ingin diekspor. “Eh, Jak, gimana nih kok nggak ketemu-temu tuh desa?” tanya Bima sambil memberi penanda jalan. “Aelah sabar aja kalik, kita telusuri dulu nih hutan. Nanti juga ketemu tuh desa,” ucap Jaka yang sedang fokus melihat sekitar hutan. 3 jam sudah mereka lalui untuk mencari desa yang dimaksud, namun hasilnya nihil. Jaka dan Bima yang sudah kelelahan pun memutuskan untuk tidak melanjutkan penulusuran. Mereka kembali ke titik awal dengan petunjuk yang telah dibuat Bima tadi, tapi anehnya mereka selalu lewat jalan yang sama seperti sebelumnya. “Lah?! Kok di sini lagi sih?” tanya Jaka. “Kenapa, Jak?” balas Bima yang sudah kelelahan. “Lu bener apa nggak sih ngasih tandanya?!” tanya Jaka kesal. “Ya bener lah, ya kali kagak,” jawab Bima.


7 “Terus kenapa kita selalu lewat jalan yang sama kayak sebelumnya?” tanya Jaka dengan heran. “Lah, iya juga ya. Dari tadi kayaknya kita ngelewatin batu itu terus,” jawab Bima sambil menunjuk batu. “Iya kan. Coba lu tunggu di batu itu sebentar dah, gue coba jalan lagi,” ujar Jaka. “Hm... Okelah, hati-hati, Jak.” Setelah menunggu beberapa menit, benar saja Jaka kembali dari arah yang berlawanan. “Bim??” tanya Jaka dengan kebingungan “Lah… Bukannya lu tadi dari depan dah? Kenapa tiba-tiba ada di belakang gue?” ucap Bima yang juga kebingungan. Jaka dan Bima pun kebingungan karena kejadian tadi. Akhirnya mereka tetap melanjutkan perjalanan untuk kembali ke titik awal. Saat sedang berjalan, Bima dan Jaka mendengar suara gemuruh di balik semak-semak. “Ih, suara apa itu jak?” tanya Bima. “Mana gue tau,” jawab Jaka ketus.


8 “Eh, itu suaranya dibalik semak-semak, Jak. Coba lu cek sana!” pinta Bima pada Jaka. “Kok gue sih yang ngecek?!” tanya Jaka. “Udah lah gak apa-apa gue ada di belakang lu kok, santai aja,” jawab Bima sambil mendorong-dorong Jaka. “Iya-iya gue cek, tapi jangan dorong-dorong juga napa?” ujar Jaka. “Hehe... Maaf Jak, panik gue soalnya.” Jaka memberanikan diri untuk mengecek semak-semak tersebut. Namun tidak terdapat apa-apa. Saat Jaka membalikkan badannya untuk memberitahu Bima, ia melihat sesosok makhluk yang besar. Makhluk tersebut berwarna merah menyala, mulut yang lebar, gigi tajam tak beraturan, tubuh terbuat dari kayu jati yang sudah hancur, memiliki tangan yang panjang, serta kuku yang tajam. Makhluk tersebut menusuk perut Bima dari belakang menggunakan tangannya yang panjang dan kukunya yang tajam. Jaka yang melihat kejadian tersebut sontak berteriak dan berlari meninggalkan Bima seorang diri. Jaka terus berlari dan berlari sampai tidak sadar bahwa dia sudah masuk kedalam rumah salah satu desa yang terdapat di Hutan Kraji tersebut.


9 “Aduh gimana nih… Bima udah mati sama makhluk itu…” Jaka menangis ketakutan. Roarr!!! Teriakan keras dari makhluk tersebut. “Tadi kenapa gue antusias sih ekspor ini tempat? Kalau bukan karena gue, kejadian ini nggak bakal terjadi,” ucap Jaka menyesali perbuatannya. Brakk!!! Suara atap rumah yang hancur karena di tepis oleh makhluk besar tersebut. Jaka panik mengetahui atap rumah tempat bersembunyinya hancur. Kemudian, ia berlari untuk menghindari serangan dari makhluk misterius tersebut. Namun sayang, kaki Jaka terikat oleh akar yang dikeluarkan dari makhluk tersebut yang membuatnya tidak bisa apa-apa. Ia hanya bisa pasrah saat makhluk tersebut mendekatinya. Ya, kini Jaka menjadi mangsa selanjutnya. Tanpa bisa menyelamatkan diri, ia dibunuh oleh makhluk tersebut.


10 SAHABAT KECILKU 9B-02 Agista Shafa Pratama Kisah sahabat masa kecil menjadi salah satu peristiwa berharga yang pernah dijalani. Pada tiap kalimat yang kususun, aku ingin menceritakan seutas memori. Ini tentang sosok yang pernah jadi tawaku. Dia adalah teman semasa kecilku. Sebut saja namanya Zaza. Kami berdua adalah makhluk di bumi pemilik zodiak Leo dan Scorpio. Si ramah yang suka senyum, tersenyum untuk menutupi kesedihannya. Lokasi tempat tinggal kami berdekatan hanya terhitung beberapa meter saja. Kami sering menghabiskan momen bersama. Aku tak jarang bermain di rumahnya. Kadang kami bermain kelereng atau bola dan aku selalu berakhir dengan kekalahan. Tapi, mau bagaimanapun permainan anak laki-laki juga menyenangkan bagiku. Meski aku selalu kalah, dia tipe anak yang mau mengalah. Mungkin yang penting kami bermain. Saat kami duduk di bangku sekolah dasar kelas 3 ayahnya meninggal dunia karena penyakit jantung. Ayahnya memang sering bolak-balik masuk rumah sakit. Hari itu, meski langit tampak cerah seketika terlihat buram. Zaza harus kehilangan ayahnya untuk selamanya. Saat itu, kami masih berusia 8 tahun.


11 Waktu berlomba dengan cepat, kami memasuki sekolah menengah pertama. Sejak itu, kami bagaikan dua orang yang terlampaui jauh untuk dibilang kenal. aku yang lebih sibuk dengan duniaku dan dia pun begitu. Diriku baru menyadari betapa tidak enaknya jika aku harus terus berhadapan dengannya sebagai sahabat. Di balik rasa suka yang dia miliki dan sederet ejekan yang menggema di telingaku. Istilah 'murni' dalam hubungan persahabatan laki-laki dan perempuan jadi kata paling tak mungkin yang mengakar di otakku sejak kejadian itu. 3 tahun kemudian… Kami lulus dari sekolah menengah pertama yang sama. Meski demikian, aku dan Zaza tak pernah berada di kelas yang sama. Sepertinya itu lebih baik untuk kami. Berlanjut memasuki sekolah menengah atas, kami memilih sekolah yang berbeda. Awalnya, bundaku menyuruh aku bersekolah di tempat yang sama dengan Zaza. Katanya, biar nanti aku bisa bareng Zaza pulang-pergi ke sekolah. Tapi, aku menolak. Zaza memilih sekolah kejuruan, sedangkan aku lebih memilih sekolah dengan jurusan IPA. Keinginan kami berbanding terbalik. Hubungan pertemanan itu pun tak pernah lagi membaik seperti semula.


12 Baru beberapa bulan memasuki sekolah menengah atas, bunda Zaza meninggal dunia karena suatu penyakit. Aku melihat dia turun dari mobil jenazah bundanya. Tangis tak henti mengalir dikedua bola matanya. Hatiku ikut rapuh. Kenyataan memang menyakitkan, di usianya yang masih 15 tahun harus menerima kondisi sebagai yatim piatu. “Semesta kau ambil bundanya, saat kebersamaan dengan ayahnya sebentar sekali,” kalimat itu yang terus kucoba lafalkan. Sepasang permata telah meninggalkan Zaza. Tanpa kata pamit, pergi untuk tak kembali. Menabur miliaran duka di hatinya. Entah datang darimana, tanpa permisi air mataku ikut menetes. Dia menangis begitu sesenggukan. Ingin sekali jadi penawar rasa sedihnya. Tapi, jarak itu sudah membentang sangat jauh di antara kami. Dunia Zaza tak lagi sama. Tentang cita-cita sudah seperti mimpi semata. Setiap pulang sekolah, tak jarang aku melihatnya menyapu halaman rumah. Tersenyum ke arahku, seolah semua baik-baik saja. Padahal saat ibunya masih ada, aku tak pernah melihat dia menyapu halaman rumah. Berulang kali aku melihat itu dan menyadari dia telah berubah menjadi lebih baik. Sejak kepergian kedua orang tua Zaza, aku merasa dia jadi lebih banyak tersenyum. Entahlah, hanya itu yang dapat tersalur dalam diriku,


13 justru membuatku sesak. Senyuman yang dia tabur, kadang menyakitkan untukku. Sementara mimpi tentang berkuliah seperti matahari terbenam. Keinginan bundanya itu, tak terwujud. 'Andai' jadi kata paling sering yang aku ucapkan. Siapa yang mau membiayai? Pastinya dalam pikiran Zaza pun, dia juga akan memilih untuk bekerja. Lulus sekolah menengah atas, dia diterima bekerja. Tentu aku ikut senang, meski hubungan kami hanya sekadar berjabat tangan setahun sekali. Tapi, memori dan dialog-dialog masa kecil tetap terkenang tak mungkin sekejap hilang. Zaza, terima kasih sudah menjadi ingatan yang baik dalam masa kecilku. Mungkin takdir tak begitu baik padamu. Tapi, aku percaya senyuman yang kau pancarkan akan menyinari untuk hidupmu dan teruslah menjadi versi terbaik. Berjalan perlahan saja, ketika dunia memang begitu menyulitkan kau boleh untuk bersedih.


14 PENYESALAN 9B-03 Andini Permata Sari Di sebuah kampung terdapat satu keluarga yang terdiri dari ayah ibu dan kedua anak perempuannya. Ayahnya bernama Eko dan ibunya bernama Sri, mereka memiliki dua anak perempuan kembar yng bernama Dina dan Dini. Dina dan Dini memiliki sifat yang buruk. Ia seringkali memaksa orang tuanya untuk memenuhi keinginan gengsinya, karena ia tak mau kalo teman sekelasnya mengetahui bahwa dia orang miskin maka dia memaksa orang tuanya untuk membelikan barang barang mewah. Sedangkan sang ayah hanya bekerja sebagai buruh pabrik dan sang ibu hanya berjualan jengkol di pasar. Suatu ketika Dina melihat temannya membeli hp baru lalu ia berkata kepada sang ayah, “Ayah aku Ingin membeli hp baru, hp yg ini suda jelek dan harganya pun paling murah di antara teman temenku yg lain.” “Hpmu itu kan baru saja dibeli 2 bulan yang lalu, kenapa ingin membeli hp baru lagi? Kamu tau kan nak ayah membeli hp itu harus pinjam uang dulu ke Pak RT.” Dina kesal mendapatkan


15 jawaban seperti itu. Ia masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu. Dulu, keluarganya adalah orang yang berada mereka bisa membeli apa saja yg mereka mau. Memiliki rumah yang besar dan dianggap menjadi orang penting di kampung. Tetapi karena sang ibu selalu memanjakan kedua anaknya sedari kecil mereka pun bangkrut karena terlilit hutang oleh bank. Dina dan Dini selalu mengatakan bahwa ia menyesal telah dilahirkan oleh keluarga miskin. Dina dan Dini yang tak ingin bekerja padahal usianya sudah beranjak dewasa tetapi mereka malah memaksa ortunya untuk bekerja dan memberikan uang untuknya. Sang ayah yang sudah sakit sakitan karena faktor usia ia pun meninggal dikarenakan serangan jantung. Dina dan dini yg mendapatkan kabar seperti itu dari ibunya sangat bersedih karena dia tak memikirkan bagaimana kesehatan ayahnya yang ia paksa untuk berkerja lagi dan malam. Ia menyesali perbuatannya, ia sadar bahwa tanpa ayahnya rela berkorban demi kebutuhan sehari hari keluarganya.


16 BLUE AZTER 9B-04 Arvin Satya Sulistiyo Jay si remaja muda seorang introvert yang hobi bermain sepeda. Di suatu hari, Womin sang ketua kru sepeda sekaligus teman sekelas Jay melihat bakat Jay dalam bermain sepeda dan berniat merekrut Jay ke dalam anggotanya. “Hei, Jay! Ayo ikut dalam kru sepedaku.” Namun, Jay menolak ajakan tersebut karena ia sama sekali tak tertarik dengan lomba balap sepeda, “Tidak, makasih.” Pada keesokan paginya, ada kabar bahwa kru yang Womin buat malah menghianati dirinya. Kemudian, Womin berniat membalas kru tersebut dengan menjuarai lomba dan mengalahkan kru yang sebelumnya ia buat. Namun, saat ini ia belum mempunyai kru baru untuk bisa mengikuti pertandingan tersebut. Ia pun mulai merekrut beberapa orang, di antaranya ia kembali membujuk Jay. Womin yang mengetahui bahwa Jay menyukai sepeda karena sang paman. Mulai menyemangati Jay yang akhirnya Jay termotivasi dan berniat masuk ke dalam kru Womin.


17 Setelah Jay sepakat masuk ke dalam kru Womin, saat bertemu di sekolah mereka malah dikejutkan dengan murid wanita baru yang tiba-tiba ingin masuk ke dalam kru Womin. Ternyata murid baru ini tertarik dengan Jay dan ingin mendekati Jay. Sementara itu, Kangnam dan Yubin sang preman kelas juga tertarik dalam kru Womin. Karena fisik mereka yang kuat, Womin pun menyetujui hal tersebut. Namun, ada satu hal yang kurang dalam kru yaitu seorang pemimpin yang memandu mereka. Jay yang punya kenalan dalam hal tersebut memberi usul untuk merekrut kakak kelas. Kru yang sudah lengkap dengan anggotanya pun kini mulai mengikuti pertandingan besar tersebut. Mereka menamai kru nya dengan nama Blue Azter. Setelah pendaftaran, Blue Azter mulai berlomba. Di hari pertama mengikuti perlombaan, mereka belum terlalu mengenal satu sama lain sehingga belum terlalu mengerti cara memenangkan pertandingan pertama hari itu. Namun, Jay yang ahli dalam berbagai trik sepeda mulai menunjukkan aksinya dan berhasil membawa kemenangan bagi krunya. Dalam aksinya tersebut banyak menarik perhatian pesepeda lainnya. Yang kini membuat dirinya terkenal. Setelah pertandingan hari pertama itu, mereka yang menyadari kurangnya kekompakan tim, Lalu, mereka mulai melatih diri mereka masing-masing dan menemukan posisi mereka di dalam tim. Kangnam yang memiliki kekuatan fisik


18 yang luar biasa hingga mampu menempuh jarak yang jauh dengan kecepatan tertinggi di antara yang lain, kini ia diposisikan sebagai sprinter. Yubin dan Jay yang ahli dalam trik sepeda diposisikan sebagai finisher pada pertandingan tertentu. Kini Blue Azter lebih baik dalam menghadapi berbagai rintangan yang ada. Pada pertandingan hari selanjutnya, Blue Azter bertemu lawan yang cukup berat karena mereka sudah mengetahui cara bermain Blue Azter, mereka mulai mengincar Jay yang memiliki banyak trik sepeda. Namun, Blue Azter yang sudah mengenal satu sama lain kini dapat memanfaatkan hal tersebut. Kangnam sebagai sprinter di saat-saat terakhir dapat memenangkan pertandingan hari kedua. Setelah melewati banyak pertandingan kini mereka tiba pada pertandingan final. Pada pertandingan final ini pasti tim yang kuat bukan? Kini mereka lebih waspada. Pada awal pertandingan Kangnam langsung melaju cepat karena fisiknya lah yang paling kuat untuk mengalahkan tim pada final ini. Tak perlu waktu lama tim lain pun menyusul. Karena tidak ada peraturan pada pertandingan final, tim ini pun melakukan kekerasan kepada Kangnam sehingga Kangnam jatuh pada pertengahan jalan. Ternyata inilah strategi awal Blue Azter. Mereka menyerahkan semuanya pada Jay dari awal pertandingan, mereka sengaja menghabiskan tenaga kru lain dengan memanfaatkan kekuatan


19 fisik Kangnam yang melaju cepat dari awal pertandingan agar tenaga mereka habis mengejar Kangnam. Setelah Kangnam jatuh, giliran Jay untuk menyelesaikan pertandingan ini. Dengan berbagai trik sepeda Jay dapat menyusul kru lain dengan cepat. Tentunya Penonton dan pesepeda lain terkejut dengan aksi Jay. Dan akhirnya, Blue Azter memenangkan pertandingan final kali ini. Kini mereka menjadi terkenal setelah memenangkan lomba ini.


20 MISTERI DAFTAR BELANJA ANEH 9B-05 Aulia Tarra Sennapatya Siang ini matahari bersinar terik, menerobos masuk ke dalam rumah pohon yang dibangun oleh Arga dan Felis di depan pekarangan rumah mereka. Rumah pohon itu biasa ditempati mereka untuk mengerjakan PR, bersembunyi, berdiskusi atau bahkan hanya bersantai seperti hari minggu ini. “Bosennn.” Keluhan Felis membuat Arga yang sedang memejamkan matanya bangun dan menatap temannya. “Kamu yakin bilang bosen? Tugas Bu Arin aja belum kita selesaikan, Fel.” Tatapan mata malas hanya diberikan Felis Ketika mendengar balasan Arga. “Besok dikumpulkan, kalau kamu lupa,” lanjut Arga yang lalu menciptakan dengusan kesal Felis. “Ck males banget sih! Yaudah ayo kerjain sekarang.” Selanjutnya, Felis mengambil buku dan alat tulis di rumahnya lalu kembali ke rumah pohon untuk mengerjakan tugas matematika dari Bu Arin bersama Arga.


21 Mereka masih sibuk mengerjakan tugas hingga tanpa disadari bunyi Adzan Maghrib sudah menyapa telinga kedua remaja pemilik rumah pohon itu. Akhirnya, mereka memutuskan untuk pulang dan bertemu di sekolah esok hari. “Felissss!” Suara cempreng Diva memekakkan telinga Felis yang bahkan baru menopang tubuhnya di kursi tempat duduknya. “Eh, Hai Arga,” tambah gadis itu ketika melihat Arga yang duduk di sebelah Felis dan hanya dibalas anggukan. Setelah itu Diva Kembali memusatkan perhatian kepada temannya. “Pasti mau minta contekan tugas matematika ya?” Pertanyaan tepat sasaran yang dilontarkan Felis membuat Diva tersenyum malu lalu menjawab, “Hehehehe itu tauu.” Felis yang melihat tingkah temannya hanya menggeleng gemas dan mengambil buku tulis matematika dari tas biru dongker miliknya. “Makasih Fel!” Lalu mengacir pergi ke tempat duduknya yang lumayan jauh dari tempat duduk Felis. Bel tanda selesai sekolah sudah dibunyikan, setelah berdoa seluruh siswa menghambur keluar dari dalam kelas untuk menuju ke rumah masing-masing. Tak terkecuali Arga dan Felis yang saat ini sedang asik mengayuh sepeda untuk pulang. Rumah


22 mereka memang tidak terlalu jauh dari sekolah, hanya sekitar 1,5 km atau 10 menit perjalanan dengan menggunakan sepeda. Seperti biasa, setelah berganti baju serta makan mereka menyempatkan waktu untuk bersantai di rumah pohon kesayangan mereka. “Arga, liat ini deh. Berita melaporkan ada pencuri perhiasan yang masih buron di kota kita. Aduh, serem banget.” Felis buka suara selesai ia membaca berita lewat handphone-nya yang mengabarkan ada komplotan buronan pencuri perhiasan bersembunyi di kota mereka. “Hah?! Bahkan di daerah Jalan Rengas? Deket banget dong sama kita,” tambahnya dengan terkejut karena ternyata buronan itu bersembunyi tak jauh dari tempat mereka tinggal. “Coba liat!” Perhatian Arga yang sedang membaca buku teralihkan ke berita yang baru saja di berikan temannya. Ia juga penasaran dengan isi berita tersebut. Anggukan kepala berkali-kali diberikan Arga seusai membaca berita itu. “Ohh… Ini. Kemarin ayah juga membicarakan ini di rumah, makanya ia ditugaskan untuk patroli bahkan diluar jam piketnya.” Lalu, ia balikkan handphone kepada sang pemilik.


23 Pak Bagus, adalah ayah Arga. Ia juga seorang polisi, tepatnya ditugaskan di bagian Satreskrim atau satuan reserse dan kriminal, yang bertugas untuk melaksanakan penyelidikan, penyidikan, dan pengawasan penyidikan tindak pidana. “Semoga aja cepat ketemu deh! Bahaya banget kalo dibiarin.” Final Felis yang mengakhiri pembicaraan tentang buronan pencuri perhiasan sore ini. Setelah cukup puas di rumah pohon kedua remaja itu pulang ke rumah masing-masing. “Felis! Tolong belikan cabai dan bawang putih di Mpok Gula bisa?” cekatan Felis langsung menyanggupi permintaan sang ibu dan mengambil uang yang sudah disiapkan sebelumnya. Felis cukup senang jika diminta membelikan sesuatu oleh ibunya, karena pasti kembalian dari uang yang dibawa bisa menjadi hak miliknya. Di tengah perjalanan, ia melihat sesosok gadis yang familiar. Itu Diva. Ia berjalan pulang sambil membawa banyak sayuran belanjaan di keranjang belanja yang digenggamnya. “Ey, Diva!” Seruan Felis membuat sang pemilik nama memutar kepalanya kebelakang. “Felis! Haii,” balas Diva sambil melambai.


24 “Sore gini kok belanja banyak banget? Ibu kamu nggak belanja tadi pagi?” tanya Felis begitu melihat Diva kewalahan membawa seluruh sayuran belanjaan yang dibelinya. “Bukan. Ini untuk Om Ravi, tetangga sebelahku yang minta. Gatau deh buat apaan. Aku sih nurut aja, soalnya…” Pandangan mata Felis beralih ke tangan Diva yang mengisyaratkan uang. “Kan lumayan buat jajan Fel. Hahahaha.” Felis hanya membalas dengan senyuman manis mendengar itu. “Tapi aku liat tadi kamu dari Gang Mawar? Nggak belanja di Mpok Gula?” Felis kembali bertanya. “Enggak. Om Ravi mintanya cuma beli di warung Tuan Siong. Kemarin-kemarin juga gitu. Mungkin udah langganan kali.” “Ohh.” “Tapi daftar belanja yang dikasihin aku aneh banget deh.” “Kenapa emangnya?” Felis penasaran mendengar tuturan Diva yang barusan keluar. “Liat sendiri nih.” Diva memberikan sebuah kertas.


25 Di situ tertulis macam bahan makanan yang harus dibeli. “Tempe 2 batang, kacang panjang 5 untai, telur puyuh 3 butir, merica 20 butir,” guman Felis membaca daftar belanja itu. “Ini apaan sih? Aneh banget,” komentar Felis sembari mengembalikan daftar itu kepada Diva. “Mungkin ini cuma dimengerti antar Pak Siong sama Om Ravi aja kalii. Bahkan yang gaada didaftar aja dikasihin ke sini. Pantas Om Ravi senang.” “Sudah dulu Fel, sampai ketemu besok di sekolah ya!” Final Diva lalu melanjutkan perjalanan ke rumah. Keesokan paginya, bel yang dibunyikan untuk menandakan istirahat sudah bunyi. Membuat seluruh siswa kelas 9-Beta bernafas lega setelah 2 jam pelajaran IPA yang menguras seluruh otak dan energi. “Fel, mau ke kantin?” Ajakan Diva disambut baik oleh Felis, “Boleh ayo. Aku pengen batagor Kang Adi.” “Mau ikut, Ga?” tawar Felis kepada Arga. “Engga, terima kasih. Kalian aja,” tolak Arga dengan halus. “Okayy,” jawab Felis lalu menarik Diva untuk keluar kelas.


26 “Jadinya 10.000 semuanya neng,” ucapan Kang Adi membuat Diva spontan mengeluarkan 1 lembar 10 ribu di saku bajunya. “Makasih ya kang!” Lalu pergi membawa 2 bungkus batagor di tangannya. “Ini Fel, tanpa timun.” “Widihh, keliatan sedepp.” “Oh, iya ini 5000 kan?” Felis memastikan ketika ia hendak mengganti uang Diva. “Gausah diganti. Uang aku masih banyak berkat kerjaan mendadak dari Om Ravi,” balas Diva lalu tertawa kecil. “Astaga, yaudah. Makasih yaa,” ucap Felis yang kemudian dibalas jempol karena batagor sudah masuk ke dalam mulut Diva. “Oh iya, hari ini aku diminta beli belanja lagi. Mau ikut?” “Hmm… Boleh deh, lagian di rumah doang juga bosen.” “Sipp, nanti aku samper ya,” kata Diva lalu dibalas anggukan semangat oleh Felis. Tok! Tok! Tok!


27 “Fell, Feliss!” Ketukan Pintu dan sahutan Diva untuk kedua kalinya akhirnya disambut oleh sang pemilik rumah, Felis. “Ayo, Fel!” “Ma, aku pergi sama Diva ya, gak lama kok! Assalamualaikum.” pamit Felis kepada ibunya. “Waalaikumsalam. Hati-hati ya.” “Kita samper Arga yuk?” ajak Felis sembari menarik Diva membelok ke rumah Arga. “Ini mau ke mana memangnya?” tanya Arga yang seakan diculik oleh dua gadis sepantaran di depannya. “Warung Pak Siong. Mau beli belanjaan Om Ravi, tetangganya Diva,” jelas Felis. “Ngapain ngajak aku deh? Masih asik main game juga.” “Justru itu, aku ajak biar kamu gak main game terus…” jawab Felis bercanda sambil tertawa bersama Diva. Yang dibercandakan hanya menatap mereka berdua dengan tatapan sebal. Tangan Pak Siong cekatan memasukkan segala sayur-mayur ke dalam keranjang belanja milik Diva. Di tengah tumpukan


28 bahan makanan, Pak Siong menyelipkan bungkusan. Ketiga remaja itu menatap dengan sedikit aneh, namun mereka hanya berpikir mungkin itu bonus untuk Om Ravi karena menjadi pelanggan setia di warung itu. Setelah semua beres dimasukkan, Diva membayar semua belanjaan itu dan pamit kepada pak Siong. “Ternyata Pak Siong baik hati. Ia memberikan banyak bonus untuk Om Ravi karena ia pelanggan setia,” cetus Felis di tengah perjalanan. “Betul! Aku heran mengapa yang tidak ada didaftarpun tetap di masukkan,” jawab Diva seraya mengipas-ipaskan daftar belanja Om Ravi. Arga menatap semua itu dengan aneh. Ia merasa ada yang janggal dari semua ini. Diambilnya daftar itu dari tangan Diva lalu membaca daftar itu dengan kening berkerut. “Kenapa, Ga?” tanya Felis ketika melihat temannya itu. “Coba bongkar keranjang belanja itu, Div,” minta Arga sambil menunjuk keranjang belanja yang masih digenggam erat oleh Diva. Diva serta Felis akhirnya menuruti permintaan Arga walau masih tak mengerti apa yang terjadi. Ketika mereka membuka


29 bungkusan yang diletakkan di tengah keranjang belanja itu, Arga menyeletuk “Bingo.” Bungkusan itu berisi banyak perhiasan, Diva dan Felis akhirnya mengerti. Om Ravi dan Pak Siong adalah komplotan pencuri perhiasan yang selama ini menjadi buron polisi. Dengan ini Arga membawa keranjang, daftar belanja, serta kedua temannya untuk menemui ayahnya. Om Ravi memang pintar. Ia menyebut tempe untuk bongkahan emas, kacang panjang untuk kalung, telur puyuh untuk bros permata, dan merica untuk mutiara. “Kerja bagus anak-anak. Berkat kalian Ravi dan Siong dapat ditangkap dan setelah ini akan diserahkan kepada kepolisian,” ucap Pak Bagus sambil tersenyum bangga melihat ketiga remaja di depannya. “Saya akan beri kalian 1 es krim per anak sebagai imbalan ya.” Mendengar itu, sontak Diva dan Felis bersorak dan mengucap terima kasih kepada pak Bagus.


30 SALAH 9B-06 Auramega Astiadhara Rilys Dayana “Gila lo! Ide konyol lo ini bisa bikin masalah besar tau ngga sih?” “Lah, itu tujuan gue. Gimana sih lo, lupa ya?” “Segitu bencinya ya lo?” “Ngga gue doang kok.” Dari kejauhan, seseorang mendengarkan obrolan-obrolan tersebut dalam diam, tanpa ekspresi apapun. Baginya, itu sudah menjadi hal biasa. Seolah tak memedulikannya, ia melanjutkan perjalanannya menuju perpustakaan, tempat favoritnya untuk menghabiskan waktu luang. Ia adalah Jean, ketua kelas 12 MIPA1. Ia murid kesayangan para guru. Ia memiliki kehidupan yang sangat tertutup hingga tidak ada satupun teman-temannya yang mengetahui tentang keluarganya. Balik dari perpustakaan, baru saja menginjakkan kakinya di depan pintu kelas, Jean sudah disambut oleh Sheera, Nana, Gavin, dan Evan. Mereka mengajaknya untuk melakukan sesuatu. Namun Jean tidak setuju karena tahu itu bukan hal yang


31 baik, dan akhirnya berujung debat. Agar tak berkepanjangan, Sheera dan teman-temannya meninggalkan Jean, keluar kelas menuju gedung A. Gedung yang dikhususkan untuk kegiatan ekstra dan terdapat ruang kendali cctv. Karena jam istirahat, semua sedang pergi ke kantin untuk mengisi perut. Jadi tidak ada kegiatan apapun yang menjadikan bangunan 3 lantai tersebut lengang. Untuk mengalihkan perhatian Pak Joko sang petugas cctv, Sheera dan Nana memecahkan cermin yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Sedangkan Gavin dan Evan bersembunyi untuk mengambil momen yang tepat agar bisa menyelinap ke dalam ruang cctv. Kini perhatian Pak Joko berhasil teralihkan. Lalu, Sheera dan Nana membuat alur cerita bahwa mereka melihat makhluk tak kasat mata di ruang musik. Karena Pak Joko tidak percaya, mereka mengajak Pak Joko pergi ke ruang musik. Sementara, Gavin dan Evan mengambil kesempatan tersebut untuk masuk ke ruang cctv, merusak sambungan kabel cctv dan menghapus video cctv 1 jam sebelumnya untuk menghilangkan jejak. Setelah semuanya berjalan, Gavin dan Evan pergi meninggalkan gedung tersebut menuju kantin, disusul Sheera dan Nana. Mereka berempat membahas rencana berikutnya untuk mengeluarkan guru sejarah di SMA Lentera Bangsa ini, yaitu Bu Indah. Mereka merasa benar, karena banyak siswa yang tidak


32 menyukai Bu Indah. Di detik pertama masuk kelas, beliau langsung mengambil absen siswa untuk ditunjuk namanya maju ke depan dan diberi soal-soal mematikan. Siswa yang tidak bisa menjawab, dihukum membaca ulang pelajaran di pojok kelas sampai bisa menjawab ulang dengan benar. Beliau juga sering memosisikan dirinya sebagai guru tatib (tata tertib) di sekolah. Setiap siswa yang melanggar peraturan akan mendapatkan hukuman yang berat, salah satunya yaitu lari mengelilingi lapangan sekolah 100 kali yang luasnya 504 m² itu. Meskipun berat hati dan ragu akan ide Sheera, Nana, Gavin dan Evan tetap melakukan rencana tersebut. Mereka bertekad menyelamatkan seluruh siswa dari cengkraman monster menyeramkan. Sepulang sekolah, Nana, Gavin dan Evan pergi menemui Bu Indah untuk meminta pelajaran tambahan dengan alasannya esok pagi akan mengikuti seleksi peserta Olimpiade Sejarah. Sementara di ruang kepala sekolah, Sheera sudah menghadap Pak Ridwan sang kepala sekolah. Saat Pak Ridwan menyuruh Sheera untuk duduk, dengan sengaja ia menyenggol vas bunga hingga pecah. Reflek, Pak Ridwan segera keluar memanggil staf kebersihan untuk membersihkan pecahan vas tersebut. Pada kesempatan ini, Sheera segera berlari menuju meja kerja Pak Ridwan, membuka beberapa laci untuk mencari barang penting yang ia incar. Lalu ia menemukan flashdisk dengan tulisan ‘Olimpiade’ dan


33 mengambilnya. Setelah menutup laci-laci tersebut, ia bergegas kembali menuju tempat jatuhnya vas bunga tadi. Tak selang lama, muncul Pak Ridwan dengan petugas kebersihan. Setelah semuanya bersih, Sheera berkonsultasi dengan Pak Ridwan membahas olimpiade. Ia mengajukan diri untuk mengikuti seleksi olimpiade yang sebenarnya sudah di tutup. Sheera memohon agar ia dapat diberi kesempatan mendaftar secara langsung meskipun sudah terlambat, dengan janji akan belajar keras dan memenangkan olimpiade. Setelah menimbang bahwa Sheera juga merupakan siswa berprestasi, Pak Ridwan mengizinkannya untuk mendaftar dan mengikuti seleksi esok pagi. Keesokan harinya, puluhan siswa sudah berada di aula sekolah untuk diseleksi. Selama 30 menit, mereka bergulat dengan simulasi soalsoal olimpiade. Hingga bel berbunyi, menandakan bahwa waktu mengerjakan sudah habis. Satu persatu keluar dari aula dan kembali ke ruang kelas masingmasing melanjutkan rutinitas pelajaran seperti biasanya. Tiba saatnya jam istirahat, terjadi keributan di ruang guru yang membuat para siswa berkumpul mendekat. Pak Ridwan sedang mengeluarkan amarahnya kepada Bu Indah. Pasalnya, flashdisk penting miliknya ditemukan berada di meja kerja bawahannya itu. Segala tuduhan kini jatuh pada Bu Indah.


34 Dimulai dari putusnya sambungan cctv dibeberapa ruangan dan terbukti pulang terlambat dari jam pulang biasanya diduga untuk membantu kelancaran aksi mencurinya. Tidak ada bukti yang dapat membantu Bu Indah menampik tuduhan-tuduhan tersebut. Ia hanya bisa pasrah. Percuma jika melakukan pembelaan, ia tetap akan kalah. Setelah beberapa jam proses interogasi dan dilanjutkan diskusi antara kepala sekolah, pihak yayasan dan guru, keputusan memecat Bu Indah diambil. Bukan hanya masalah flashdisk, keluhan dari para siswa akan sifat sadis guru tersebut juga mengaruhi keputusan itu. Hari itu, detik itu juga Bu Indah telah diberhentikan sebagai guru sejarah di SMA Lentera Bangsa. Tampak ia berjalan lunglai keluar sekolah dengan beberapa barang-barang pribadinya yang ada di dalam kardus. Pelupuk matanya menggenang, pandangannya kabur, tapi sekuat tenaga berusaha untuk berjalan tegak. Ia tidak mau terlihat kalah, karena memang tidak melakukan semua tuduhan yang diberikan. Kedisiplinan yang ia terapkan kepada para siswa ia tujukan untuk membentuk karakter yang kuat, mau bekerja keras, tidak manja dan bertanggungjawab. Seperti profesinya sebagai guru sejarah, ia meninggalkan begitu banyak sejarah di sekolah itu. Sebagian besar siswa merasa senang jika Bu Indah sudah tidak lagi


35 mengajar, namun ada juga yang merasa terpukul atas kepergiannya. Di penghunjung jam pelajaran sekolah, hasil seleksi diumumkan. Terdapat 2 anak terpilih yang akan mewakili sekolah mereka, yaitu Jean Evandi dan Sheera Catarina dari kelas 12 MIPA-1. Keduanya memang siswa terbaik, namun sifatnya sangat berbanding terbalik. Mungkin karena mereka saling merebutkan posisi pertama dalam jajaran siswa terbaik hingga keduanya bermusuhan. Tetapi, kali ini mereka ditakdirkan bersama di ajang olimpiade, yang membutuhkan sikap kebersamaan tanpa ada dendam satu sama lain. Olimpiade berlangsung masih satu bulan lagi, Namun, Jean dan Sheera sudah harus mempersiapkan diri sejak sekarang. Setiap harinya setelah pulang sekolah mereka berdua selalu pergi berlatih dan belajar bersama, bahkan sampai langit berubah menjadi gelap. Singkat cerita, kini Jean dan Sheera sudah berada di sebuah aula besar milik salah satu universitas ternama. Berjuang bersama dalam ajang olimpiade nasional ini. Soal satu ke soal berikutnya mereka kerjakan dengan sangat teliti. Bercucuran keringat di wajah mereka karena berusaha keras menguras otak untuk menemukan jawaban yang tepat, diperparah dengan ketegangan karena tanggung jawab yang sangat besar. Meskipun sesekali kehilangan fokusnya, mereka bisa lalui hal tersebut dan kembali


36 mengerjakan dengan baik. Waktu terus berjalan mundur hingga akhirnya mencapai detik 0. Ya, waktu mereka sudah habis. Perpaduan wajah lega dan frustasi dari para peserta olimpiade menghiasi ruangan tersebut. Bergantian, mereka pergi meninggalkan ruangan itu untuk rehat sejenak. 2 jam kemudian, semua peserta kembali ke aula untuk mendengarkan pengumuman pemenang. Jean dan Sheera tak percaya, nama mereka dipanggil ke depan untuk menerima piala dan medali sebagai juara pertama. Untuk beberapa saat mereka masih terdiam sampai disenggol guru pendamping pengganti Bu Indah. Sujud syukur mereka lakukan, kemudian maju ke depan. “I know we’re deserve it, Je!” ucap Sheera dengan tubuh bergetar. Ironis, guru sejarah yang selama ini dengan keras membimbing mereka tidak bisa menyaksikan keberhasilan siswanya. Mata Jean berkaca, haru dan sedih menggemuruh jadi satu. Hari sudah sore, langit berubah warna menjadi jingga, matahari yang bersembunyi di balik awan kini perlahan mulai tenggelam. Setelah penyerahan piala ke sekolah, mereka mengistirahatkan otak dengan menikmati langit di sore itu, di rooftop sekolah. Hembusan angin menggoyangkan rambut keduanya. Pikiran terasa jernih kembali. Kemudian, Sheera


37 membuka obrolan, “Ternyata lo jauh berbeda ya sama bayangan gue dulu. Sorry, gue pernah berpikir yang buruk ke lo.” Mendengar itu, Jean menatap Sheera dalam dan berucap, “Lo akan selalu mengira semua orang salah jika lo terus menutup mata.” Sheera mengernyit heran, belum mengerti apa yang dimaksudnya. Jean kembali menjelaskan, “Bu Indah akan selalu jahat di mata lo. Padahal, semua yang beliau lakukan selama ini bukan tanpa tujuan. Beliau hanya ingin semua anak di sini jadi pintar, disiplin, rajin. Memang caranya aja yang kurang mengenakkan hati. Tapi bisa lo perhatiin sendiri setelah kepergian Bu Indah, anak-anak semakin liar dan susah dikendaliin. Jadi, sampe sini paham apa yang gue maksud?” Sheera tenggelam ke dalam pikirannya. Mendengar penjelasan dari Jean membuat Sheera mengerti ternyata selama ini ia salah menangkap semua kebaikan hati Bu Indah. Beliau bermaksud baik dengan memberi ilmu, membangun karakter, menaikkan nama baik sekolah tapi malah mendapat balasan buruk yang tak pantas didapatkan. “Gue tau persis perjuangan ibu gue buat jadi guru. Hidup di lingkungan keluarga terpandang tapi keluarga gue ngga dianggep karena jatuh miskin. Ibu gue banting tulang sendirian biar gue


38 ngga putus sekolah dan untuk menuhi mimpinya jadi guru. Tapi usahanya malah berakhir difitnah kayak gini sama lo. Gue sakit hati, Ra! Itu kenapa gue benci banget sama lo. Bukan karena lo saingan nilai sama gue, ngga Ra, engga!” Sesak di dada Jean. Namun, gadis di hadapannya ini masih kaget tak percaya mengetahui bahwa Bu Indah adalah Ibu Jean. Hening beberapa saat, hingga Sheera kembali berucap untuk minta maaf. Ia benar-benar merasa bersalah dan berdosa atas kesalahannya ini. Ia terlalu menutup mata untuk Bu Indah, karena kebencian yang membuncah. Sebagai rasa tanggung jawab, ia bersumpah akan mengembalikan nama baik Bu Indah. Keesokan harinya pada hari Jumat, 16 Desember 2022 upacara akhir tahun telah selesai dilaksanakan. Kini Sheera telah berdiri di hadapan ratusan siswa dan guru serta karyawan untuk berpidato sebagai perwakilan siswa. Ia berpidato tentang pengalaman selama 1 semester kemarin. Sebelum menutup pidatonya, Sheera membuat sebuah pengakuan dari kejahatan yang telah ia lakukan. Tak peduli jika semua orang akan membencinya, namanya menjadi jelek, atau bahkan akan di keluarkan dari sekolah. Itu semua sudah menjadi risiko baginya. Mengambil nafas dalam dan berusaha meyakinkan diri untuk speak up.


39 “Nafsu saya sudah tidak tertahankan ingin mengeluarkan Bu Indah dari sekolah ini. Padahal, tidak ada dosa apapun yang beliau perbuat. Justru beliau harus pergi meninggalkan sekolah ini untuk menanggung dosa besar anak muridnya yang bodoh seperti saya. Saya mengaku salah telah melakukan semua tuduhan yang diberikan pada Bu Indah. Saya yang menghapus dan merusak sambungan cctv hingga mencuri flashdisk milik Pak Ridwan. Itu semua saya yang melakukan. Oleh karena itu, saya siap menerima hukuman yang diberikan. Saya hanya ingin mengembalikan nama baik Bu Indah. Saya sangat berharap beliau kembali ke sekolah ini. Sekali lagi saya minta maaf. Saya benar-benar menyesalinya.” Dari kejauhan, seorang wanita yang merupakan mantan guru sejarah menangis mendengar pengakuan Sheera. Bukannya merasa benci atas kejahatan yang telah Sheera lakukan padanya, namun ia malah bangga atas keberaniannya mengakui kesalahannya di depan warga sekolah. Ia merasa bangga telah berhasil menjadi seorang guru. Peran guru bukan hanya sampai muridnya bisa menguasai materi pelajaran saja, tetapi bagaimana cara mendidik untuk membangun karakter pada muridnya. Seusai pembacaan pidato tadi, Sheera dipanggil menemui kepala sekolah. Di sana sudah ada Bu Indah dan beberapa guru lainnya. Bersama-sama membahas ulang permasalahan yang terjadi satu bulan lalu. Menghabiskan waktu yang cukup lama


40 hingga berakhir pada keputusan bahwa Bu Indah akan kembali menjadi guru sejarah di SMA Lentera Bangsa dan Sheera tetap menjadi anak murid di sekolah ini. Dan dengan hati yang besar, Bu Indah memaafkan segala kesalahan yang telah Sheera lakukan padanya.


41 SUKA DUKA TAMASYA KE NGREMBEL 9B-07 Aurellifah Putri Az-Zahra Pada hari Kamis di pagi yang cerah, aku sedang sibuk menyiapkan segala macam keperluanku untuk bertamasya bersama ibu dan Radit keponakanku. “Ndah, kamu beli jajan dulu untuk piknik nanti di warung depan,” celetuk ibuku. “Baik bu, nanti aku belikan bolu kukus dan arem-arem, biar aku kenyang di sana hehehe,” ujarku. “Ya sudah, buruan sana beli jajannya, takutnya nanti kita ketinggalan rombongan,” jawab ibuku. Kemudian aku bergegas mengambil motorku dan pergi ke warung depan jalan raya. Setibanya di warung, aku membeli 4 bolu kukus, 3 arem-arem dan 3 lunpia. Setelah itu, aku aku kembali pulang dan melakukan sarapan. Lalu, aku Bersiap menuju ke sekolahnya Radit. Sesampainya di sekolah, aku memarkirkan motorku dan tak lupa menguncinya, karena akhir-akhir ini sedang maraknya pencurian.


42 “Anak-anak, ayo segera naik ke angkot!” teriak pak supir angkot. Mendengar hal itu, aku, ibu dan Radit berlari-lari kecil untuk menaiki angkot tersebut. Namun, aku dan ibuku berpisah angkot dengan Radit karena dia pergi bersama teman-temannya. Sekitar pukul 08.20, perjalanan wisata menuju Ngrembel dimulai. Anak-anak tampak senang dan bersemangat, energi mereka pun menular kepadaku dan kepada orang tua murid yang lainnya. Namun, tiba-tiba angkot depan kita menepi di pinggir jalan. Supir angkot yang menyupiri angkot yang aku tunggangi langsung pergi menghampirinya. “Lho, ada apa kok tiba-tiba berhenti?” tanya supir angkotku. “Anu pak, ban mobil yang belakang mendadak kempes,” jawabnya. “Dan setelah aku cek, ternyata ban cadangannya juga kempes,” lanjutnya. Lalu supir angkotku berkata, “Ya sudah, ini aku telponkan mekanik buat bawakan ban cadangannya.” Beberapa lama kemudian, mekanik pun tiba membawa ban cadangannya. Tak lupa untuk dipasangkan ke ban belakang angkotnya tadi. Setelah semuanya siap, bersama-sama kita


43 melanjutkan perjalanannya menuju ke wisata Ngrembel. Alur jalan yang dilalui cukup curam. Ya, jalannya naik turun. Saat perjalanan kami sudah sampai di daerah sekitar Goa Kreo, tiba tiba… Gubrakkk!! Mendengar hal itu, aku langsung melihat ke arah jendela. Terdapat dua orang tua yang naik motor sedang membawa anaknya yang berusia 10 bulan, jatuh ke pinggir jalan. Ayah dan ibu bayi tersebut tegeletak di sekitar motornya. Melihat itu, aku dan yang lainnya dengan sigap berlari menolong mereka. Segera kami menelepon ambulan supaya mereka dengan segera mendapat pertolongan yang lebih lanjut. Sembari menunggu ambulannya datang, aku berusaha memenangkan bayi tersebut yang terus-terusan menangis dengan cara menimang dan memberinya susu. Beruntungnya kecelakaan tadi membuat mereka jatuh ke rerumputan dan tidak ke aspal yang keras, jadi luka yang didapat tidak terlalu parah. Sekitar 10 menit menunggu, ambulan pun datang. Para petugas medis langsung membawa mereka ke dalam ambulan dan melarikannya ke rumah sakit terdekat. Mengetahui bahwa korban sudah dibawa pergi dengan aman, kami melanjutkan perjalanan menuju Ngrembel.


44 “Anak-anak, ayo kita turun dari angkot. Turunnya hati-hari ya, jangan berebut!” teriak bu guru. Pertama-tama hal yang sangat wajib dilakukan yaitu foto bersama di bawah tulisan ‘Wisata Ngrembel’. Seusai melakukan foto bersama, anak-anak berbaris sejajar ke belakang membentuk pola seperti kereta menuju bukit. Di dalam wisata Ngrembel, terdapat banyak sekali permainan dan satwa yang dipamerkan. Oleh karena itu, sangat cocok untuk dijadikan wisata edukasi (outing class) bagi para siswa. Sehingga akan lebih dekat dengan alam. “Tante, itu hewan apa namanya?” celetuk Radit kepadaku. “Oh, itu namanya bunglon. Menarik kan bentuknya?” jawabku. “Iya tante, aku suka sekali dengan warnanya,” balas Radit. Kami bersama-sama mengelilingi seluruh area wisata Ngrembel. Sesekali aku makan dan minum dari bekal yang aku bawa tadi, meskipun aku tau di ngrembel tidak diperbolehkan membawa makanan dari luar.


45 “Anak-anak, silakan bermain di sini sampai pukul 11.00 ya... Setelah itu segera berkumpul di angkot masing masing!” teriak sang kepala sekolah. Kami sangat menikmati wisata kali ini. Bermain ke sana ke mari dan bercanda tawa. Hingga waktu menunjukkan tepat pukul 11.00. Aku, Radit, ibu dan yang lain langsung bergegas kembali ke angkot. Setelah semua berkumpul di dalam angkot masingmasing dan siap untuk kembali, kemudian kami pergi meninggalkan wisata Ngrembel dan pulang menuju sekolah.


Click to View FlipBook Version