146 MIMPI 9B-21 Natasya Dwi Rahmadani Di tengah kota, ada sebuah sekolah yang melakukan perjalan menuju tempat perkemahan di Tinjo Asri. Di perjalanan, seorang siswa kelas 9 bernama Tasya bermimpi bahwa pada saat tiba di Tinjo Asri, dia sahabatnya yaitu Azahra, Patya, Nisa, Rilis dan seorang dua laki-laki yaitu Satya dan Biru sedang bermain petak umpet. “Permainan petak umpet dimulai,” sorak sahabat Tasya. Mereka melakukan hompimpa, Biru kalah. Tiba saatnya Biru untuk menghitung dan berjaga, sedangkan yang lain bersembunnyi. “1… 2… 3… 4… 5… Biru menghitung di lapangan. Satya bersembunyi di kamar mandi yang paling pojok. Patya bersembunyi di aula kosong yang lama sudah tidak terpakai bersama Azahra dan Rilis. Sedangkan, Tasya dan Nisa masih mencari tempat untuk bersembunyi. Selang waktu, hitungan pun sudah mencapai angka 8 tepat pada saat Nisa menemukan tempat untuk bersembunyi di belakang kantin. Dan Tasya juga
147 menemukan tempat untuk bersembunyi, tepat di kamar mandi perempuan. Pada saat Tasya melamun tiba tiba seorang kakek-kakek muncul di hadapannya dan berkata, “Jika mau pulang selamat, petak umpet harus berakhir menjelang sore. Jika tidak berakhir tepat waktu, kepala temanmu akan di penggal,” Tasya pun terkejut dengan perkataan kakek itu dan Tasya mulai melamun. “Sekarang sudah siang, tetapi Biru belum menemukan keberadaanku,” dalam lamunan Tasya. Akhirnya, Tasya memilih untuk mengumpulkan teman-teman nya agar bisa pulang selamat. Tiba saatnya Tasya sampai di lapangan, ia tidak melihat teman temannya itu melainkan melihat kakek-kakek tadi. Tasya terkejut ketika melihat kakek itu membawa kepala manusia (kepala Biru). Kemudian, Tasya terbangun dari mimpinya dan sudah sampai di Tinjo Asri. Setibanya di Tinjo Asri semua tampak sama seperti di mimpi Tasya. Lalu, ia menceritakan mimpinya tersebut kepada temantemannya. Singkat waktu, malam pun tiba. Tasya sedang melihat teman-temannya bertengkar karena hendak ke kantin bawah sendiri. Namun, feeling Tasya tidak enak, akhirnya Tasya dipindah ke tempat aula kosong bersama Saski dan Adin.
148 Sesampainya di aula kosong itu, tiba-tiba Tasya ingin ke kantin menyusul teman-temannya. Saat Tasya kelur dari pintu, Tasya melihat pocong sedang berdiri di samping pohon tua. Ia pun memilih untuk kembali ke dalam aula. “Kenapa, Sya?” tanya Saski dengan cemas. Setelahnya, Saski melihat keluar aula bersama Adin. Mereka juga melihat pocong itu. Kemudian ia berkata, “Sya, tidak usah takut. Ini tidak mengganggu,” seru Saski dan Adin. Tasya pun mengusul mereka berdua tanpa ragu. Saat Tasya hendak menyusul mereka, Tasya melihat Saski berubah menjadi aneh dan mempunyai wajah yang menyeramkan membuat Adin berlari ketakutan. Adin berlari menuju kantin dan memberi tau teman-teman yang lainnya. Dan Tasya berlari kembali ke arah aula kosong itu. Di aula kosong, Tasya melihat Saski sedang tiduran dan bermain HP di aula. Kemudian ia bingung dan berteriak, “SASKIIII!!” teriak Tasya dengan raut wajah panik. Saski pun bingung melihat Tasya yang panik. “Kenapa Sya, ada apa?” tanya Saski dengan kebingungan. Di tengah kebingungan, tiba-tiba seorang perempuan datang dan tertawa seram. Saski pun berlari meninggalkan Tasya sendirian di aula kosong. Perempuan itu terbang menuju ke arah
149 Tasya dengan tertawa kencang di sertai wajah yang menyeramkan. “AAAAAAAA!!!!!” teriak Tasya dengan panik. Di akhir inilah Tasya terbangun dari mimpinya. Keringat bercucur deras dan raut wajah cemas akan terjadi hal nyata seperti mimpinya. Setalah itu, Tasya bergegas mengambil air wudhu untuk melakukan sholat dan berdoa agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti mimpinya tadi.
150 TEMAN 9B-22 Nayantra Fitria Chandra Maheswari Kadang, di tengah kerumunan teman-teman di sekolah, aku suka menyempatkan waktu untuk duduk sendiri. Diam di sana tanpa berbicara apa-apa, mengamati mereka semua sambil berpikir, “Besok kalau kita udah lulus masih bisa gini lagi nggak ya?” Pertanyaan itu terus berputar setiap kali aku sedang bersama mereka. Kadang membuat overthinking dan menjadi down. Kadang juga bisa membantu untuk nikmatin momen yang ada. Selagi mereka masih ada, sebelum nanti tiba pada saatnya perpisahan. Aku nggak tahu, ketika perpisahan itu tiba, kami harus bersikap bagaimana. Karena semua orang pasti nggak suka sama yang namanya perpisahan. Berat, sakit, dan sulit. Yang berujung pada rasa kangen dan kesadaran kalau kita semua pada akhirnya, Ya sendirian. Namun, pada suatu kesempatan, aku juga sempat berpikir, Mungkin perpisahan ada untuk mengajarkan kita untuk tidak bergantung dengan orang lain. Mengajarkan kita, kalau semuanya pasti bersifat sementara, dan tidak akan bisa kita genggam selamanya.
151 Aku selalu berharap masa-masa ini tidak akan pernah berakhir. Masa-masa di mana kami menghabiskan waktu bersama. Menjalani suka duka bersama, namun itu semua tidak akan mungkin. Karena setiap ada pertemuan pasti akan selalu ada perpisahan, mau tidak mau, siap tidak siap, kita semua akan mengalami sebuah perpisahan. Ada satu skenario yang terngiang di kepalaku, ketika besok secara tiba-tiba, entah kapan, aku bertemu salah satu dari temanku yang dulu, di antara hari yang sedang berjalan. Lalu kami masih bisa tersenyum, menyapa satu sama lain pada suatu kesempatan tanpa ada perasaan canggung, mengingat kami pernah berbagi kenangan yang sama. Terima kasih karena telah menemaniku di tiga tahun ini, terimakasih telah berbagi suka dan duka, dan banyak kenangan yang takkan terlupakan hingga tua nanti. Ingatlah selalu hal-hal yang telah kita lewati bersama. Kini kita tidak akan lagi berlari bersama, tertawa bersama, dan lelucon yang takkan terlupakan di sekolah. Doa yang terbaik untukmu kawan-kawan ku. Sukses selalu dan hati-hati di jalan menuju masa depan yang indah. Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Semoga kita dapat dipertemukan kembali di masa depan nanti.
152 CATATAN AKHIR SEKOLAH 9B-23 Nayla Noer Ayomi Gak tau harus memulai dengan kata seperti apa, memulai dari mana. Karena begitu banyak kenangan tentang kita. Awal melangkahkan kaki ke sekolah ini pun terasa asing. Memasuki sudut kelas ‘7B’ pun terasa aneh dengan melihat suasana baru serta wajah-wajah baru. Ya… kita belum saling mengenal. Tapi dari situlah persahabatan tercipta. 1 tahun pertama kita saling mengenal dan berkumpul tanpa melihat aku dan kamu. Terlihat indah memang, indah karena yang terlihat adalah kita, bukan permusuhan. tahun ke 2 berganti menjadi kelas ‘8H’. Saat itu kami mulai merasakan bagaimana sekolah yang sesungguhnya. Karena, saat tahun lalu kita hanya bisa melakukan sekolah online. Tahun ke 3 berganti menjadi kelas ‘9B’. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga sudah sampai di akhir semester. banyak kenangan indah di setiap tahunnya. tak pernah terjadi perbedaan di antara kami semua. Itu memang fakta yang terlihat di antara kita semua. Sandiwara putih biru ini akan segera mendekati kata ‘lulus. Dan mungkin yang ada di pikiran kalian
153 adalah perpisahan. But actually, It’s not a really good bye. Akhir adalah masa awal di mana kita akan membuka kehidupan yang sebenarnya. Kebersamaan kita indah, tak ada yang tak indah dalam catatan akhir sekolah. Sebuah pertemuan, perkenalan, pertemanan, persahabatan, bahkan percintaan mengiringi perjalanan kisah kita di sini, di sekolah ini. Dunia dan masa yang tak akan pernah kita lupakan, masa-masa penuh kenangan, penuh estetika yaitu, putih biru. Ingatkah kalian ketika kita tak ingin mendengar apa yang harusnya kita dengar? Ingatkah kalian ketika kita tak mau menulis apa yang seharusnya kita tulis? Ingatkah kalian ketika kita tak mau membaca apa yang seharusnya kita baca? Entah kenapa setiap hari selalu ada hal yang membuat kita tertawa bersama saat di kelas. Kadang juga ada hal yang membuat kita menangis dan sedih. Namun, itu semua tak akan bisa kita rasakan lagi setelah kita berpisah. Tidak ada suara tertawa kalian yang selalu membuat ricuh dan rusuh. Tidak bisa melihat lagi tingkah konyol kalian yang selalu membuat kita semua tertawa
154 ataupun kesal. Dan kini kita mulai membuat pilihan untuk melanjutkan perjalanan ini. Aku dan kamu, kita adalah bagian sebuah cerita di masa putih biru. Kita telah lalui 1008 hari yang terangkum dalam 144 bulan, dan dikumpulkan dalam waktu 3 tahun. Bersama-sama kita melukis pelangi dalam sebuah kertas putih bersih. Perbedaan yang melebur dalam kebersamaan itu mewarnai masa putih biru ini. Putih biru… Masuk bareng, keluar bareng. Hanya tangis bahagia yang ingin aku lihat dari sepasang indra penglihatanmu kawan. Menyadari betapa besar perjuangan kita, betapa besar harapan yang kita cita-citakan bersama, betapa tulus pertemanan kita, betapa indah hari-hari yang telah kita lalui, serta betapa hangatnya sebuah persahabatan. Kita mempunyai jalan masingmasing, menggapai angan, meraih asa, mewujudkan segala mimpi dan mencetak kesuksesan. Beri tanda ceklis biru untuk masa ini. Masa di mana kita belajar, berkarya dan bermain bersama. Semuanya terasa indah dan layak diceritakan yang tiada tara maknanya. Ya, masa-masa terakhir di putih biru. Kita semua berusaha mewujudkan lukisan impian yang telah dilukiskan dalam sebuah kanvas raksasa di angkasa.
155 Indah, indah, dan indah itu yang terekam jelas dalam benak ini. Persahabatan kita indah lebih dari sekedar indah yang telah menjadi darah abadi di tempat ini. Dan, biarkan kami membuat alasan di mana engkau dapat tersenyum manis di sana nantinya. Terima kasih untuk segalanya. pelajaran yang pernah engkau ajarkan indah penuh makna, penuh warna, dan penuh estetika dalam perjalanan 3 tahun masa putih biru ini teman adalah segalanya. Karena jika tak ada teman, kenangan ini tak mungkin ada untuk kita semua. Masa SMP kita punya cerita tentang tawa, air mata dan yang paling penting adalah cinta. Masa SMP kita adalah masa dimana kita bisa tertawa & menangis bersama, masa dimana kita tak pernah bersenangsenang sendiri. Dan meja, kursi, papan dan kelas ini menjadi saksi bisu perjalanan hitam putih 3 tahun masa SMP ini. Di mana nanti kita akan merindukan semua canda tawa itu. Kenanglah semua ini dalam senyuman kawan. KARENA TAK ADA AKU, TAPI KITA…
156 KERA YANG PINTAR 9B-24 Neesha Abigail Musim hujan sudah datang seminggu terakhir. Kera-kera yang tinggal di lereng gunung sedang bimbang. Mereka bingung, haruskan mencari tempat lain yang aman? Atau mengungsi ke rumah-rumah warga kampung di bawah lereng? Mereka tahu, tanah di lereng gunung telah gundul dan kera-kera cerdik itu merasa sebentar lagi akan longsor karena hujan. Di hutan dalam lereng gunung tempat tinggal kera-kera itu, hiduplah seekor ular piton besar. Ular piton adalah pemangsa yang hebat. Ia membuat sarang di bekas pohon yang ditebang. Ular piton hidup menyendiri, sepi, dan menunggu sesuatu untuk dimangsa. Saat lapar tiba, ular piton berwarna cokelat motif batik itu keluar dari sarang. “Mendung!” gumam si piton. “Mulai gerimis! Sebentar lagi hujan pasti lebat. Aku suka sekali. Saat seperti ini banyak sesuatu yang bisa kumangsa.” Ular itu tahu setiap hujan turun binatang-binatang penghuni hutan di lereng gunung hanya bisa berteduh, kadang di bawah pohon, kadang di goa-goa kecil tempat persembunyian mereka.
157 Tidak banyak yang bisa mereka lakukan selain berteduh menunggu hujan reda. Ing calon mangsanya. Lidahnya menjulurjulur lucu. Saat berjalan santai di bawah hujan, si piton pun melihat seekor kera mungil yang sedang berteduh di bawah pohon aren. Kera itu menggigil. “Ah, santap siang yang enak ini,” gumam Piton. Ia sudah membayangkan kelezatan setiap inci tubuh kera yang renyah. “Pasti gurih!” batinnya. Andai saja semua itu bisa dilakukannya dengan mudah. Kemudian, ia mencari-cari strategi untuk segera menyergap si kera agar tepat sasaran. Sesampainya di dekat kera mungil itu, si piton mendengar si kera sedang merintih, seperti kesakitan. Si piton tiba-tiba berubah pikiran. “Ah, sakit apa dia?” tanya Piton dalam hati. Piton kembali melata mendekati kera yang menggigil dan merintih sendirian. “Hei, Kera? Kau menggigil? Kau merintih? Kau sakit? Demam?” tanya Piton setelah menampakkan diri di depan kera mungil itu. “Piton? Kau membuatku kaget. Mau ke mana kau, hujanhujan begini?”
158 “A-aku. Aku mau lewat saja. Aku suka hujan-hujanan. Karena aku bisa bermain air. Kau belum jawab pertanyaanku, Kawan?” kata Piton lagi. “Hmm, ya, kakiku memang sedang sakit. Seseorang tadi membuat jebakan di ujung hutan. Aku sempat terjepit jebakan besi. Aku dikira tikus apa, ya? Dijebak dengan benda mirip jebakan tikus. Lihat ini, kakiku luka. Untung aku bisa melepaskan diri,” rintih Kera. “Aih, lukamu lumayan parah, Kawan. Darah masih mengucur, tuh! Kalau kau tak bersihkan bisa membusuk kakimu.” “Benar juga. Akan ada banyak kuman sepertinya. Dan sekarang aku sudah merasakan ada kuman-kuman menjalar di tubuhku. Ah, jangan-jangan sebentar lagi aku mati membusuk, berbelatung. Bagaimana ini, Piton? Ah, kenapa kau tak makan aku saja? Cepatlah!” kata Kera memelas. Piton sedikit bimbang. Ia merasakan dilema, perutnya memang lapar, tetapi ia jijik membayangkan kera itu sudah dipenuhi kuman yang sebentar lagi membusuk. “Ah, tidak, tidak. Aku tak tega, kawan. Kau sedang teraniaya. Tak boleh memangsa lawan yang sedang teraniaya.”
159 Padahal dalam hati, Piton takut kalau kuman dalam kera itu akan berpindah ke tubuhnya. Selera makan Piton hilang seketika. “Oh, begitukah, kawan?” “Ya, tentu saja!’’ “Baiklah, kalau begitu aku akan mencari air di sungai untuk membersihkan lukaku ini. Boleh aku pamit?” “Baiklah. Kau tenang saja, kawan. Lain kali aku tak akan memburumu. Meskipun kau sudah sehat kembali.” “Kau janji, Piton?” “Iya. Aku janji. Sana, pergilah. Sembuhkan lukamu dulu. Aku pun mau melanjutkan perjalananku. Aku mau cari tupai saja. Sebenarnya aku sedang lapar,” ujar Piton. “Hmm, baiklah. Selamat berburu, kawan! Semoga kau dapat tupai yang gemuk.” “Terima kasih, Kera.” Ular piton itu melata lebih dulu, meninggalkan kera mungil yang banyak akal. Si Kera kini terbengong-bengong. Dalam hati ia tertawa sambil berkelakar, “Begitu mudah menyelamatkan diri dari ancaman ular. Tak kusangka, meski tampilannya
160 menyeramkan kadang ia baik juga. Pantas, sekarang ular-ular seperti piton itu sering diburu manusia, dijadikan binatang peliharaan. Ya, ternyata mereka memang lucu dan sedikit bodoh.
161 SEGALANYA UNTUK SEMUA ORANG 9B-25 Nhena Lestari Mustofa Dulu aku sering takut kalau ngga punya temen. Tapi sekali dikasih temen banyak banget sama Tuhan, kenalan sana sini, hangout di mana-mana, aku jadi paham artinya kesepian. Ada orang yang bilang kalau kamu punya banyak teman, sama aja kamu ngga punya siapa siapa. Ibarat ‘kutu loncat’. Ketika temen kamu banyak mungkin bisa dapet ajakan main di sana sini. Dateng ke situ, nongki ke sana, sampai kamu lupa mana dulu yang harus diprioritaskan. Aku pernah di posisi itu, dan sempat membuatku berpikir kalau aku harus ada di setiap kejadian yang mereka alami. Tapi, masalahnya adalah kita tidak harus segalanya untuk semua orang. Di masa ini, aku sadar konsep people come and go itu ada benarnya. Orang datang dikehidupan kita sebagai teman. Lalu, pergi meninggalkan kita sebagai kenangan yang layak buat dijaga. Selanjutnya? Kita bakal sendirian, karena ada jalan hidup yang harus kita lalui dengan sendirinya.
162 Jadi, jangan takut kalau kamu cuma punya temen dikit. Justru, kamu harus menjaga dengan benar pertemanan itu. Karena mereka lebih bernilai dari pada yang kamu pikirkan. Aku ngga tau, ketika perpisahan itu tiba kita harus bersikap bagaimana. Karena semua orang pasti ngga suka sama yang namanya perpisahan. Berat, sakit, sulit yang berujung pada rasa kangen dan kesadaran kalau kita semua pada akhirnya. YA SENDIRIAN. Terima kasih udah hadir. Seburuk apapun ending-nya, aku beruntung bisa bertemu dengan kalian. Dan terima kasih juga sudah pernah melukis hari-hariku dengan indah. Sampai jumapa lagi, Hati-hati di jalan ya!
163 AKU DAN SOBATKU 9B-26 Putra Al-Malik Arditya Di sebuah desa terdapat tiga remaja yang bersahabat sejak kecil. Rumah mereka saling berdekatan sehingga sering keluar bersama. Saat di TK mereka berangkat ke sekolah bersama-sama. Bila salah satu belum siap, yang lainnya akan sabar menunggu. Setelah mereka siap, baru berangkat bersama-sama. Ketiga remaja itu bernama Al, Ilham dan Bintang. Tetapi, Bintang lebih tua satu tahun dari Al dan Ilham. Saat Bintang kelas 1 SD, Al dan Ilham masih di TK. Walaupun berbeda kelas mereka tetap menjaga persahabatan di antara mereka. Setelah pulang sekolahpun mereka tetap bermain besama teman-teman yang lain. Tiga sahabat ini sangat suka bermain sepak bola setiap hari, mereka kumpul di lapangan tepat pukul 15.00. Bersama teman-teman yang lain mereka mengumpulkan uang untuk membeli bola plastik yang harganya Rp 3.500. Setelah mereka mendapatkan bola. Bintang, Al dan ilham mulai bermain dengan semangat hingga menjelang magrib. Mereka pulang ke rumah masing-masing untuk mandi dan mempersiapkan untuk berangkat ke musholla dekat rumah mereka. Saat azan tiba, mereka berangkat bersama-sama hingga pulangnya pun mereka
164 juga bersama-sama. Sebelum pulang mereka menyempatkan untuk ngobrol sebentar, walaupun mereka masih mempunyai PR, Hampir setiap hari mereka berkumpul bersama, apalagi saat hari libur. Mereka bisa bermain sampai lupa waktu dan larut malam. Sampai-sampai Ilham dimarahi ibunya. Dani kena marah gara-gara pulang terlalu malam. Hari demi hari mereka lalui bersama dengan penuh canda dan tawa. Ketika Bintang naik ke SMP. Al dan Ilham berada di kelas 6 SD. Mulai sejak itu mereka bertiga jarang bermain dan keluar bersama. Bintang jadi jarang keluar rumah karena ia mulai serius dengan pelajaranya. Tetapi Al dan Ilham menyadari bagaimana kesibukan yang dialami Dafidz. Di kelas 6 SD ini. Al dan Ilham masih bisa bermain bersama, tetapi mereka merasa kurang puas karena tidak hadirnya Bintang. Saat Al dan Ilham naik ke SMP, mereka pisah sekolah. Sehingga, mereka tidak bisa kumpul bersama lagi. Ketiga remaja ini memiliki sekolah yang berbeda, dan mereka sudah tidak bisa bermain bersama lagi karena pulangnya sore hari. Mereka sudah lelah seharian sekolah, jadi lebih memilih istirahat di rumah. Tiga sahabat ini menekuni pelajaranya masing-masing Dengan belajar giat dan rajin mereka berharap mendapat nilai yang terbaik. Jadi, mereka tidak memiliki waktu luang sedikitpun
165 untuk bermain bersama. Mereka lebih memlih bermain dengan teman-teman di sekolahnya. Di sekolahnya, Ilham mendalami permainan sepak bola, dengan mengikuti sebuah SSB. Sedangkan Al lebih memilih untuk mengembangkan ilmunya, untuk itu in mengikuti KIR. Sedangkan Bintang yang lebih tua satu tahun dari mereka lebih mereka mengembangkan agamanya, sehingga ia mengikuti BDI. Ia menjadi remaja yang alim, rajin mengaji dan sholat ke masjid. Saat tiga sahabat itu di SMA mereka melanjutkan keahliannya ke ekskul masing-masing. Mereka memilih kegiatan yang tidak jauh beda dari SMP
166 BESTIE 9B-27 Raefa Rosada Puteri Namaku Putri dan Sekar adalah nama sahabatku. Ia sahabatku yang selalu bersamaku. Sedari lahir kami sudah bertetangga, lahir di rumah sakit dan tanggal yang sama membuat kami menjadi sahabat dan sudah seperti saudara. Pada zaman sekolah pun aku dan sekar selalu bersekolah di tempat yang sama, kita berdua siswi yang biasa saja tidak terlalu pintar tetapi tidak terlalu bodoh. Aku dan ia si cupu yang selalu menasehatiku jangan begini jangan begitu. Meskipun begitu, ia sahabat terbaikku yang selalu ada di saat aku membutuhkannya. “Sudahlah kau cari yang lain saja. Masih banyak lelaki yang lebih tampan,” komentarku. Sekar sangat menyukai Kevin, lelaki berparas tampan, smart, dan manis. Sekar sudah ditolak dua kali, tetapi ia masih tetap pada pendiriannya. “Aku ini perempuan yang pantang menyerah dan gak patah semangat mengejar cinta,” celotehnya, membuatku ingin menyumpal mulutnya yang cerewet itu.
167 “Aku pergi dulu,” kataku. “Loh mau ke mana kau?” “Clubbing,” jawabku Dugem, kesenangan jauh dari gaya hidup membosankan Sekar yang pulang kampus belajar di rumah. Kalau zaman sekarang, orang-orang menyebutnya mahasiswi kupu-kupu (kuliah-pulang). “Kau mabuk lagi,” kata seorang pria yang samar-samar ku kenali wajahnya. “Siapa kau?” “Pangeran yang mencintaimu.” Aku tak ingat apa yang terjadi setelahnya. “Di mana aku?” kulihat wajah Sekar melemas dan menatapku penuh kecemasan. “Jangan banyak bergerak dulu, kau masih belum pulih,” Ia mencegahku untuk bangkit.
168 Kuperhatikan sekelilingku dan melihat tempat ini. Aku tahu ini rumah sakit, infus, bau obat, semua ini… Kenapa aku berada di sini? “Kau mabuk dan mengendarai mobil bersama teman-teman clubbing-mu yang lain,” Sekar menjelaskan. “Apa?” tanyaku berusaha bangkit, tapi kakiku terlalu sakit, aku seperti tak punya kaki. “Tolong jangan banyak bergerak dulu!” pinta Sekar khawatir. “Kenapa ini?” Aku sama sekali tak bisa menggerakan kakiku. “Dokter bilang kau harus menggunakan tongkat untuk kakimu,” jelasnya lagi. “Maksudmu aku lumpuh?” Keringat bercucuran di keningku. Sekar tak berani menjawab pertanyaanku, ia tak bergeming. “Tolong jawab aku!” desakku lagi. “Kau tidak lumpuh, kau hanya tidak bisa berjalan normal kembali.” Sekar hanya memperhalus kata-katanya. Aku tahu itu artinya sama, aku lumpuh. Bagaimana bisa? “Lalu bagaimana dengan temanku?”
169 “Mereka selamat, tapi mereka melarikan diri entah ke mana. Saat polisi datang, mereka buru-buru pergi. Kata beberapa orang saksi mata.” Aku menjadi hening, tak ku sangka akan seperti ini. Aku ditinggalkan sendiri dan mereka melarikan diri. Sebenarnya aku masih belum mengerti. Ku pinta Sekar untuk menceritakan detail kejadian yang sebenarnya. “Tidak ada yang menyangka kalau kamu bisa bertahan. Sudah seminggu ini kamu dalam keadaan koma,” jelasnya lagi. “Benarkah? Apakah mama dan papa datang menjengukku?” Aku mendadak teringat dengan kedua orang tuaku yang selama ini terlalu sibuk dengan karirnya. “Mereka masih di luar negeri, Put. Aku tidak bisa menghubungi mereka.” “Bahkan orang tuaku tidak peduli padaku,” batinku. Kupandangi lekat wajah Sekar yang setia menemaniku. Seseorang masuk dengan kemeja putih liris, manis, ia pria yang ditaksir Sekar, Kevin. Pria itu tersenyum kepada Sekar dan kemudian kepadaku. Sudah terjadi sesuatu antara mereka, aku telusuri gerak-geriknya.
170 “Sekarang Kevin adalah pacarku, Put,” akui Sekar. Ternyata banyak hal yang terjadi yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Sekar menaklukan hati Kevin. Katanya, selama ini ia ditolak bukan karena ia tidak disukai. Itu karena Kevin sedang menunggu waktu yang tepat. Kevin telah memantapkan hatinya kepada gadis cantik bernama Sekar. Wanita yang berkarakter pantang menyerah, disiplin, sahabat terbaik yang juga sahabatku sekaligus saudaraku. “Kau tak perlu sedih begitu, masih ada aku dan Kevin yang akan menemanimu,” katanya tulus. Senyum Sekar sangat menenangkanku. Aku salah, Sekar bukanlah anak cupu, dia wanita berani dan akulah si wanita cupu itu. Terima kasih Sekar. Terima kasih karena masih bersamaku. Aku juga ingin membalasnya. Suatu hari nanti aku juga akan menjadi sepertimu. Bukan sekedar wanita keren, tapi juga wanita yang berhati tulus.
171 DI ANTARA YANG TERSAYANG 9B-28 Rahma Aulia Rosyaada Hingga aku tak menyadari dan tak menyangka akan jadi bahan gosip orang-orang di kampus. Kedekatan ku dengan seorang cowok ternyata telah menyita sedikit perhatian para penghuni kampus. Tak hanya mahasiswa, bahkan dosen pun mengakui keberadaanku. Bagaimana tidak? Cowok yang pernah membuatku merasa senang, sedih, kecewa bahkan marah ternyata orang yang cukup terkenal di fakultasku. Dia terkenal dengan sebutan 'cowok berhati batu'. Hampir semua orang mengenal dia adalah cowok yang anti cewek. Sebagai pendatang baru aku tak mengerti mengapa sebutan itu begitu melekat pada dirinya. Sebut saja namanya Arga. Dan di luar dugaan, ternyata banyak juga orang yang membenci dia. Aku tak tau jelasnya apa alasan mereka membenci Arga. Tiap kali aku adu argumen dengan teman-teman, mereka selalu saja berkata, “Iya, iya, dia adalah segalanya buatmu. Puji dan bela aja terus… Udahlah gak ada gunanya kita debat sama orang yang lagi jatuh cinta, susah!” Di suatu sore…
172 “Makanya banyak-banyak membaca biar pintar. Wawasanmu sempit banget sih!!” Itulah kalimat yang pertama kali meluncur dari mulut Arga saat aku tanya tentang tugas bahasa Inggris. “Ihh… Mentang-mentang pinter terus seenaknya ngomong sama orang. Pantes aja banyak yang benci ini cowok. Sombong!" kataku dalam hati dengan tetap sabar mendengarkan ceramah Arga yang tak mengenal arah itu. “Udah paham?” Kata Arga mengagetkanku. “Udah. Thanks ya,” jawabku singkat sambil berdiri serasa mau melangkahkan kaki. Arga memanggilku, “Mau kemana?” “Pulang.” Aku memandang wajahnya yang tersenyum. “Tumben senyum. Ada nih?” tanyaku dalam hati. “Bentar. Eh kamu tau gak lagu-lagu terbaru sekarang?” tanyanya. “Enggak,” jawabku dan langsung kembali duduk. “Kalau lagu ini, tau nggak?” tanyanya lagi.
173 Aku mendengar dengan seksama lagu yang dia putar di windows player-nya. Aku menggeleng. Lalu dia bilang, “Ini lagu Romance, judulnya Ku Ingin Kamu.” Aku menganggukkan kepala seolah-olah mengerti lagu itu. Padahal denger juga baru kali ini. “Kamu mau aku kasih lagu ini?” tanyanya tiba-tiba. “Boleh…” jawabku sambil memberikan flashdisk biruku. Sejak itu, hubunganku dengan Arga semakin dekat. Hampir tiap hari kita ketemu dan mengobrol. Entah ngobrol tentang apa aja, yang pasti selalu ada topik diskusi. Aku mulai mengenal satu persatu teman Arga. Salah satunya adalah Gavin. Gavin itu cowok yang selalu digandrungi oleh para mahasiswa. Mungkin malah ada fans club Arga kali. Aku tak tau. Orang yang bisa dibilang masuk kategori cakep, apalagi dia jenius. Siapa sih yang gak mau deket sama dia? Sayangnya dia itu biang gosip. Parahnya lagi aku adalah salah satu partner dia dalam urusan gosip menggosip tentunya. Hahaha. “Ver, ayo ikut aku! Ada yang ingin aku omongin,” ajak Arga tiba-tiba saat dia lewat di depan. Aku yang lagi asyik ngobrol
174 sama Leona langsung secepat kilat mengikuti Arga masuk sebuah ruangan yang lumayan kecil dan adem itu. Lalu Arga pun memberitahuku, “Verrr, lo tau ga sih sebenernya? Gavin itu udah punya cewek, lo harus sadar hal itu, Ver!!” Seketika aku hanya terdiam berpikir selama ini ternyata Gavin hanya memberi harapan saja, dia tidak pernah memberitahuku kalo dia udah punya cewek. Lalu aku pun menjawab, “Gua ga tau. Dia ga pernahh bilang ke gua.” “Ver, temen lu aja tau hal itu.” “T-temen? Temen gua siapa yang tau kalo Arga udah punya pacar?” “Kurnia, Ver. Kurnia. Dia tau semua.” “K-Kurnia? Lo yakin dia tau Vin?” “Iyaa gua yakin!” 5 menit kemudian aku menghubungi Kurnia. Meminta konfirmasi kenapa dia tidak cerita padaku bahwa dia tahu fakta jika Arga sudah punya pacar. Lalu, Kurnia menceritakan semua
175 dan dia minta maaf karena tidak langsung memberitahu ku saat itu. Lilin yang tadinya berdiri dengan tegaknya pun meleleh. Mataku pun tak mau kalah bersaing. Terus mengalir membanjiri pipiku. Aku tak tahu bagaimana kelanjutan kejadian itu hingga aku terbangun di pagi harinya. Ketika air mataku pun keluar perlahan-lahan. Aku merasa hampa. Kini aku kehilangan dua orang yang aku sayangi. Sejak itu aku tak lagi menghubungi Kurnia. Semua teman dekatku pun membenci mereka berdua. “Udahlah, Ver. Anggap aja kamu tak pernah kenal dengan mereka,” ucap Erika. “Jangan down. Harus tetap semangat dong!! Kamu masih punya kita,” tambah via. Karena mereka lah aku hampir saja lupa dengan sakit hatiku dan aku mulai semangat lagi melanjutkan perjuangan hidup. Tiba-tiba... Aku melongo melihat seorang cewek yang lagi jalan sama Arga. Ternyata dia adalah Tyas. Orang yang pernah dekat dengan ku.
176 “Nggak ada cewek lain apa?” ujar teman-temanku dengan sewotnya. Aku hanya tersenyum sinis. Gavin adalah orang yang tak punya masalah denganku dan dia tahu semua perkembanganku. Aku menoleh, ternyata ada Gavin di belakang yang sedari tadi memperhatikanku. Kami pun tersenyum.Ternyata dalam satu bulan aku harus kehilangan dua orang yang aku sayangi sekaligus. Betapa pedih dan rapuhnya hatiku menerima kenyataan hingga aku merasa enggan membuka hatiku untuk orang lain. Special for someone who ever full my heart every time and someone who want I call bro, I love till the end of the world.
177 TEMAN PERTAMA 9B-29 Reza Janya Riswanto Pernahkah kalian merasa kesepian, tidak mempunyai teman dan sangat dikucilkan? Aku Shanisa Oktaviana. Pada suatu hari tanggal 1 Januari, aku sangat berharap dapat membuat kehidupan di sekolahku lebih baik. Di sekolah ini, aku tidak punya teman. Sungguh menyedihkan, bukan? Aku tidak pernah dilirik oleh siapapun. Aku dipandang rendah dan sering sekali dihina oleh mereka. Mereka yang membenciku. Semua ini hanya karena rumor yang sengaja diedarkan oleh seseorang yang amat memarahiku, dia Andika. Sekolah ini memang dipenuhi oleh anak orang kaya, yang mungkin dapat setiap hari menikmati makanan yang enak dan menonton TV layar lebar. Eksistensiku di sekolah ini dikarenakan beasiswa yang kudapat. Andika menyebarkan berita bahwa aku hanya merupakan anak panti asuhan yang dulunya dibuang oleh kedua orangtuaku. Rumor itu benar, itu fakta. Aku sangat tahu diri. Meski begitu, aku sangat kecewa ketika Andika dapat memengaruhi dan menghasut seluruh siswa untuk tidak berteman
178 Oh, bahkan untuk tidak menghiraukan diriku sama sekali. Tentu saja, Andika sang cassanova yang notabenenya seorang ketua OSIS dan anak direktur terkenal pasti akan dipatuhi oleh semua warga sekolah. Tidak akan ada yang berani mencari masalah dengannya. Seringkali aku berpikir mengenai dua hal: Mengapa andika begitu memusuhiku? Kapan aku dapat mempunyai teman? Seperti biasa, aku sedang berada di kelas dan duduk di bangku paling pojok belakang. Ruangan kelas ini dipenuhi murid-murid yang saling mengobrol dan bercanda tawa. Sementara aku hanya diam memperhatikan mereka. Bel telah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Ketika aku hampir saja memutuskan untuk tidur, mataku menangkap sosok guru yang memasuki ruangan kelas. Setelah ceramah panjang lebarnya, Miss Leina dengan wajah cerianya memberikan pengumuman. “Hari ini, kelas kalian kedatangan murid baru.” Bertepatan dengan perkataan Miss Leina, sesosok cowok bertubuh jangkung memasuki kelas. Banyak siswi yang berbisik-bisik mengenai cowok tersebut. Ia berdiri di depan papan tulis, dan senyumnya mereka. “Halo, nama gue Axel. Pindahan dari SMA Evanthius karena pengen nyoba yang baru. Salam kenal.” Setelah beberapa siswi
179 cewek yang genit dan centil itu bertanya seputar info pribadi Axel seperti. “Pin BBM lo apa?” “Udah punya pacar belum?” Akhirnya, Miss Leina kembali berujar sebelum topik tersebut benar-benar melenceng. “Axel, kamu boleh duduk di tempat kosong yang kamu mau.” Yang ku tahu, setelah ucapan Miss Leina tersebut, cowok itu melangkah menghampiri bangku tepat di sampingku yang membuat seisi kelas bungkam. “Hai, nama lo Shanisa Oktaviana ya? Gue panggil lo apa?” Axel selalu saja berusaha mengobrol denganku, meski selalu ku akhiri dengan mengabaikannya atau pergi menjauhinya. Jujur, aku sangat kasihan kepada murid baru itu jika ia harus berurusan dengan singa macam Andika. Tapi, kali ini ia menahan lenganku. “Yah, jangan kacangin mulu dong. Kenapa, sih?” Entahlah, ia memang sangat percaya diri. Aku hanya memutar bola mata malas, lalu akhirnya membalasnya.
180 “Lo gak usah deket-deket gue. Murid lain aja pada ngelihatin sinis,” ucapku sekejam mungkin. Tampaknya ia belum menyerah, justru nyengir lebar. “Wah, jahat banget. Gue tahu lo ada masalah sama dia, tapi gue gak peduli.” Aku mengangkat satu alis. Sepertinya, murid baru seperti dia nyari mati. “Lo bisa ngomong gitu, sampe lo ketemu Andika beneran.” Aku menghempaskan tangannya dan pergi meninggalkannya dengan tatapan mengintimidasi dari murid di sekitarku. Baru saja aku melangkah ke toilet, seseorang menahan bahuku dan mendorong tubuhku ke dinding tembok dengan keras. Aku meringis kesakitan, lalu berusaha melihat siapa gerangan orang yang melakukan hal ini kepadaku. Andika, as usual. Cowok itu menyeringai, tatapannya membunuh. “Gue denger, lo deketin Axel ya? Lo minta gue keluarin dari sekolah ini, huh?” Ia memberi jeda, “Udah baik dikasih beasiswa, malah ngelunjak.” Ia menggertakku dengan keras. Aku hanya bisa memejamkan mata. Kekuasannya di sekolah ini memang bagaikan segalanya. Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Karena aku memang bukanlah siapa-siapa. Namun di saat itu juga, Axel datang. Ia membelaku, dan menentang segala perkataan Andika. Yang membuatku
181 bingung adalah ketika Andika tidak mengancam Axel sama sekali dan hanya membalas ucapan Axel dengan dingin. Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka. Yang ku tahu, semenjak kejadian itu aku mempunyai sahabat baru, Axel. Semenjak itu pula, aku tidak lagi merasa kesepian dan Andika tidak lagi menggangguku. Entahlah, cerita ini mungkin sudah selesai namun kehidupanku akan terus berlanjut. Aku tidak tahu apakah akan terjadi hal-hal lain. Namun aku tahu, bahwa sahabat yang kini ku miliki akan selalu, selalu ada di sampingku. Ini tanggal 1 Januari. Namaku Shanisa Oktaviana, dan kini kehidupan di sekolahku telah dihiasi oleh warna.
182 HARGA KEJUJURAN 9B-30 Saskia El Malika Sejak dulu, kita pasti sering mendengar bahwa jujur itu segalanya dan jujur itu mahal harganya. Awalnya menurut saya jujur itu memang perlu tapi belum tahu apa akibatnya jika kita tidak berkata jujur. So menurut saya, kalo nggak jujur sekali atau dua kali tidak masalah, tapi sekarang pikiran saya berubah. Sebelumnya, jujur dapat diartikan dalam bahasa baku adalah ‘mengakui atau berkata sesuai kebenaran yang ada’. Dalam penerapannya pasti secara hukum tingkat kejujuran seorang biasanya dinilai dari cara bicara ketepatan pengakuan atau apa yang dibicarakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan apa yang terjadi. Jujur itu mahal banget loh harganya, karena sekali kita udah berbohong, selanjutnya? Ya, bener banget kita bakal terus berbohong untuk menutupi bohong yang kita yang pertama. misalnya jika kita sudah berbohong maka diungkit lagi oleh seseorang yang menanyakan kita pasti berbohong lagi untuk menutupi kebohongan yang disampaikan itu.
183 Mungkin dalam pemikiran sempit kebohongan kita tidak akan ketahuan, tapi sekali saja kita berbohong dan ketahuan, pasti kita akan berbohong lagi berbohong lagi berbohong lagi, padahal menurut pepatah kecil-kecil lama-lama menjadi bukit, yang awalnya merasa bersalah karena berbohong lama-lama menjadi sebuah kebiasaan untuk berbohong. Apa coba enaknya berbohong? Saya juga kadang bohong beberapa kali untuk hal yang menurut saya tidak penting, tapi sejujurnya bohong itu nggak enak selain bikin saya kepikiran karena perkataan bohong tadi. Terus bagaimana jika ketahuan? Pastinya kita akan dicap jelek karena sudah berbohong dan nggak dapat percayaan lagi dari orang yang kita bohongin. Sulit loh mendapat kepercayaan dari orang. Ketidakjujuran seseorang diakibatkan kurangnya rasa tanggung jawab atau apa yang telah dia lakukan sengaja maupun tidak sengaja. Malahan yang ada rasa bersalah karena sudah tidak bicara apa adanya. Pastinya sebisa mungkin kita berbicara apa adanya dan tidak berbohong, karena ya kalian tahu sendiri dampak atau akibat karena tindakan berbohong. Maka dari itu harga sebuah kejujuran
184 itu pastinya mahal. Terkadang kita harus membiasakan diri untuk tidak melakukan kebohongan.
185 BERANJAK DEWASA 9B-31 Shakira Beauty Zahra Setiawan Dinginya angin malam di malam hari, aku sedang mendengarkan sebuah lagu. Lagu yang akhir-akhir ini sering aku dengar ketika memasuki minimarket. Lagu dari Hindia yang berjudul Secukupnya. Lagu tersebut cukup populer saat ini, ditambah dengan dijadikannya lagu ini sebagai soundtrack dari film Indonesia yang banyak menarik minat masyarakat untuk menontonnya. Mungkin karena lirik dari lagu tersebut sangatlah relate untuk kehidupan para manusia dewasa saat ini. Dari awal liriknya saja sudah menampar para manusia yang hobi overthingking sebelum tidur. Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur tenang? Haha entahlah. Rasanya semakin aku beranjak dewasa, semakin tidurku tidak pernah tenang. Rasa takut akan tidak bisa mewujudkan ekspektasi diri dan keluarga selalu sukses membuatku tak tenang.
186 Beberapa keinginan terkadang harus tidak sesuai dengan kenyataan. Beberapa mimpi terkadang harus rela menjadi hal yang tidak pernah terjadi. Belajar menerima apa apa yang sudah ditakdirkan semesta adalah salah satu caraku menjadi lebih dewasa. Dewasa itu bukan tentang persoalan usia. Sebab manusia itu pasti menua. Namun, tak semua mampu berpikir secara dewasa. Menjadi dewasa, kita makin berteman dengan diri sendiri. Aku pikir proses dewasa itu adalah kata kunci di hidup. Bagaimana kita memaknai kehidupan ini, tentang diri kita, tentang orang di sekitar kita, tentang semua situasi yang terjadi. Dewasa yang kita bayangkan waktu kecil akan indah. Pada kenyataanya itu hanyalah omong kosong belaka. Karena itu hanya sekedar bayangan. Bukan kenyataan. Pada akhirnya, masa kecil hanyalah permulaan. Ya, kami semua berkawan dengan sebentar, kadang kami tertawa mengingat bodohnya dunia. Ekspektasi melampaui batas yang tak di terka.
187 AKU DAN MIMPIKU 9B-32 Vinza Yulia Restu Putri “Aku dan mimpiku.” Gantunglah cita-citamu setinggi langit dan bermimpilah setinggi langit. Karena jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang. Kata-kata itulah yang terus aku jadikan penyemangat sampai saat ini. Namaku Anita, seorang gadis yang terlahir dari keluarga sederhana. Kini aku duduk di bangku sekolah menengah atas tepatnya kelas 11. Aku memiliki sebuah impian yang menurutku sangat besar, yang mungkin atau bahkan tidak mungkin bisa terwujud. Tapi aku yakin aku bisa. Aku yakin bahwa apa yang aku impikan ini akan terwujud. Impian terbesarku adalah melanjutkan sekolahku ke universitas, khususnya universitas tinggi negeri dengan jurusan kedokteran. Tentunya ya jurusan yang paling banyak peminatnya dan paling mahal juga. Mungkin orang di luar sana sudah memiliki tabungan puluhan bahkan ratusan juta untuk masuk ke dalam jurusan ini. Itulah yang terkadang membuatku kehilangan kepercayaan diri. Untuk membeli baju seragam baru saja aku harus berpikir berkali-kali.
188 Apalagi memiliki tabungan sebanyak itu? Dari mana aku bisa mendapatkan uang itu? Selama ini, aku belajar dengan giat bahkan aku selalu berdoa kepada Tuhan agar impianku ini bisa tercapai. Aku ingin melihat kedua orang tuaku bangga dengan apa yang aku capai. Aku yakin suatu saat nanti yang entah kapan datangnya, aku bisa membuat ayah dan ibuku tersenyum melihatku mengenakan baju wisuda. Setahun berjalan begitu cepat. Tak terasa sekarang aku sudah duduk di kelas akhir sekolah menengah atas. Inilah saatnya semua yang aku usahakan bertahun-tahun lamanya akan ku perjuangkan sepenuhnya agar apa yang aku impikan bisa terwujud. Setiap hari aku mempelajari materi-materi yang belum ku mengerti dan ku ulang materi-materi yang sudah diajarkan oleh bapak dan ibu guru dari pagi hingga malam hari. Hari berganti hari bahkan bulan sudah berganti bulan. Kini, soal ujian akhir itu sudah di depan mataku. Aku membaca doa terlebih dahulu, lalu aku mengerjakan soal-soal itu dengan hatihati supaya aku bisa mendapatkan hasil yang maksimal.
189 Hari di mana yang aku impikan tiba aku sangat puas dengan hasil ujian akhir sekolahku. Aku memutuskan untuk mengikuti tes di universitas tinggi negeri yang aku impikan. Di rumah, ibu selalu menasihatiku agar aku selalu menjalankan shalat tahajud dan berdoa yang terbaik untuk hasil tes nantinya sampai akhirnya setelah menunggu hampir dua minggu lamanya, Hasil tes keluar rasanya sedih, marah, hancur, kecewa. Aku tidak diterima di universitas tersebut. Padahal, ini impian terbesarku semua yang sudah aku lakukan bertahun tahun lalu rasanya sia sia. “Nak, kamu tidak boleh menyalahkan takdir!” ujar ibuku yang melihatku menangis di kamar. “Tapi bu, aku sudah bersusah payah, aku sudah berusaha. Apa karena kita dari keluarga yang kurang mampu makanya aku tidak diterima di sana?!” jawabku marah. “Bukan begitu, Nak. Allah sudah membagi rezeki bagi hamba-hamba-Nya dan mungkin sekarang bukan rezekimu. Tetap semangat, ya,” ucap ibuku. “Iya bu, maafin aku ya. Aku belum bisa membahagiakan ibu dan ayah.” Balasku.
190 “Sstt… Sudah yaa, belumm rezekimu.” Karena ucapan ibu aku akhirnya tersadar berusaha bangkit kembali dan husnudzon kepada Tuhan. Mungkin ini bukan rezekiku, aku tetap berdoa agar Tuhan memberikanku jalan yang terbaik nantinya. Dari kejadian ini, aku belajar bahwa tidak diterima bukan berarti masa depanku terhenti sampai di sini. Aku berusaha untuk bangkit menemukan jati diriku yang sesungguhnya pada sore hari itu, Dengan ditemani senja dan satu gelas Aqua, aku menuangkan semua emosiku ke dalam kertas dan pena. Lalu aku baca ulang aku merasa bahwa diriku memiliki bakat dalam bidang menulis. “Ah bagaimana kalau aku membuat novel saja?” batinku. Kemudian aku membuat cerita dan kujadikan sebuah novel. Lalu, aku mengirimkan novelku ke penerbit buku. Butuh waktu beberapa bulan karena semuanya butuh proses. Sampai akhirnya, aku mendapatkan kabar bahwa penerbit itu senang dengan ceritaku dan pembaca pun puas. Saat ini, namaku sudah dikenal banyak orang. Aku sadar, kedua orang tuaku bangga dengan apa yang telah aku capai. Sekarang aku telah menjadi penulis terkenal. Aku pun tidak pernah menyangka akan diundang dalam acara yang
191 diselenggarakan oleh universitas yang dulu menjadi narasumber inspirator. Walaupun tidak kuliah di tempat itu, setidaknya kaki ini pernah berada di tempat impian itu.
192 TENTANG PENULIS Aditya Ibrahim Telp: 081390225630 Instagram: @ditya_ibrhm Alamat: Jl. Sikluwung Asri Rt 06/ Rw 01 Agista Shafa Pratama Telp: 082134228225 Instagram: @agistashafapr Alamat: Jl. Banteng Jangli RT 02/RW 03 Andini Permata Sari Telp: 088227310475 Instagram: @3andiniii_ Alamat: Jl. Srinindito Selatan II No. 7 RT 04/RW 02, Ngemplak Simongan Arvin Satya Sulistiyo Telp: 08883929594 Instagram: @arvinsatya__ Alamat: Jl. Karanggawang Baru RT 02/RW 06 Aulia Tarra Sennapatya Telp: 081391671334 Instagram: @atrll_ Alamat: Jl. Ngemplak RT 01/RW 09 No. 9A Auramega Astiadhara Rilys Dayana Telp: 081216254894 Instagram: @amarilysdyn Alamat: Perumahan Mutiara Kedungmundu, blok D2 Aurellifah Putri Az-Zahra Telp: 083844210177 Instagram: @neptuneezwl Alamat: Jl. Lamper Lor No. 1056 RT 01/RW 03 Banyubiru Putra Dewa Telp: 088239772468 Instagram: @bnyusyaalalaa Alamat: Jl. Lamper Mijen Utara RT 08/RW 06 Bilqis Evelyna Setiawan No. WhatsApp: 0895366987300 Instagram: @callmemaybeeee__ Alamat: Jl.Patiunus Raya No.16 Farel Saputra Maulana Telp: 088233985946 Instagram: @farelmln__ Alamat: Jl. Mbanteng RT 07/RW 10
193 Febrian Wahyu Sudrajat Telp: 088232037422 Instagram: @biansahja Alamat: Jl. Pancur Sari RT 11/RW 04 Fridha Wijaya Telp: 085742035726 Instagram: @fridhaawijaya Alamat: Karanganyar Gunung RT 04/RW 02 No. 360 Hafizh Yassar Arrahman Telp: 083842008516 Instagram: @hapizpza Alamat: Jl. Karanganyar Gunung RT 05/RW 02 Intan Nur Kholifah Telp: 085802791679 Instagram: @hlyntsn_ Alamat: Jl. Cinde Selatan III RT 07/RW 08 No. 107 Kalista Nadine Telp: 088239491063 Instagram: @kallnadne_ Alamat: Jl. Kinibalu RT 02 RW 02 Kelurahan Tandang, Kecamatan Tembalang Maria Aulia Ramadhani Khairunissa Telp: 085866322687 Instagram: @_phlowshie Alamat: Jl. Tanah Putih II RT 06/RW 02 No. 78B Muhammad Desga Ainun Warda Telp: 088806098709 Instagram: @saajiku76 Alamat: Jl. Karanggawang baru RT 03/RW 06 Muhammad Jagad Satria Telp: 081392043106 Instagram: @satrianezha Alamat: Jl. Tandang Ijen RT 11/RW 11 Muhammad Reyfan Permana Telp: 087714333569 Instagram: @repan_rockefeller Alamat: Jl. Kaba Utara 3 RT 09/RW 12 Nadinda Putri Elysia Telp: 08995206233 Instagram: @nnadelys Alamat: Jl. Tegalsari Timur XII No. 257 RT 04/RW 07 Natasya Dwi Rahmadani Telp: 088980104621 Instagram: @ntzl07 Alamat: Jl. Saputan Barat IX RT 02/RW 01
194 Nayantra Fitria Chandra Maheswari Telp: 08985961798 Instagram: @nayaftria.__ Alamat: Jl. Kaliwiru III No. 5 Nayla Noer Ayomi Telp: 088239065525 Instagram: @hy.nayl Alamat: Jl. Belimbing 2 No. 367F Neesha Abigail Telp: 0895332938181 Instagram: @xjeshaa Alamat: Jl. Genuk Perbalan No. 12 RT 02/RW 05 Nhena Lestari Mustofa Telp: 087825136727 Instagram: @nhenalstrmstf Alamat: Jl. Taman Kinibalu IV Putra Al-Malik Arditya Telp: 088291749181 Instagram: @ardityyaa_ Alamat: Jl. Taman Duku No.7 RT 02/RW 05 Raefa Rosada Puteri Telp: 081226375464 Instagram: @rf.arsd Alamat Rumah: Jl. Karanggawang Baru RT 03/RW 06 Rahma Aulia Rosyaada Telp: 083174783371 Instagram: @_ochaasya Alamat: Jl. Genuk Sari Atas RT 07/RW 09 Reza Janya Riswanto Telp: 081336400622 Instagram: @rhfzr_ Alamat: Jl. Bancar Asri RT 05/RW 01 Saskia El Malika Telp: 088226331887 Instagram: @ssssaskya Alamat: Jl. Jomblang Perbalan RT 01/RW 02 No. 773 Shakira Beauty Zahra Setiawan Telp: 082136473579 Instagram: @shabwtty Alamat: Perumahan 369 View No. 9 Vinza Yulia Restu Putri Telp: 081226375456 Instagram: @vnzylia_ Alamat: Jl. Candi Losmen IV RT 02/RW 09
Kumpulan Cerpen @_kelas9behh K a r y a M u ri d K e l a s 9 B TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA