46 MIMPI SANG DARA 9B-08 Banyubiru Putra Dewa Pagi menjelang saat seorang gadis yang biasa dipanggil dengan nama Dara mulai menjerang air untuk membuat segelas teh panas. Dara, ialah gadis yang hidup dengan sejuta mimpi di dalam sebuah rumah berdinding tinggi. Dara merupakan gadis yang tumbuh di dalam keluarga berkecukupan, bahkan bisa dibilang sangat kaya. Namun sayangnya, Dara tidak bisa menopang tubuhnya sendiri tanpa menggunakan bantuan kursi roda, sehingga merasa diacuhkan bahkan saat berada di istana mewah tersebut. Kedua orang tua Dara selalu mengacuhkannya karena merasa tidak ada yang bisa diharapkan dari gadis dengan kursi roda tersebut. Sementara kakaknya mungkin saja malu mempunyai adik dengan kondisi seperti Dara. Setiap hari Dara hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar dan sesekali mengarahkan kursi rodanya menuju arah taman. Gadis yang berusia 17 tahun tersebut sangat senang untuk menggambar di taman guna menghilangkan pikiran buruknya yang menyesali keadaannya.
47 Suatu pagi Dara jatuh dari kursi rodanya, namun tidak ada seorangpun di dalam rumah tersebut mendekat untuk menolongnya. Rasa kecewanya terhadap hal tersebut membuat Dara memiliki kekuatan untuk menggerakan kursi rodanya ke arah taman kompleks, berniat menenangkan diri. Saat sedang terisak di taman, tiba-tiba Dara dihampiri oleh seorang gadis seusianya dengan kondisi yang sama. Gadis tersebut mengulurkan tangan untuk Dara dan mulai menyebutkan namanya, yaitu Hana. Mereka berdua mudah sekali akrab, mungkin karena keduanya saling mengerti kondisi masingmasing. Tiba-tiba Hana berkata, “Dara, ingatlah bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang terlahir sia-sia. Mungkin kita tidak bisa berdiri tegak layaknya manusia lain. Tapi, kita masih punya hak untuk merasakan bahagia. Cobalah untuk menerima dirimu sendiri, Dara.” Lalu, akhirnya gadis itu berpamitan pada Dara. Semenjak pertemuannya di taman dengan Hana, Dara mulai merenungi kata-kata yang diucapkan oleh gadis tersebut. Dara berpikir bagaimana ia bisa seutuhnya menerima dirinya ketika orang di dekatnya tidak mendukungnya sama sekali. Dara mencoba mencerna perkataan dari Hana secara perlahan, meskipun seringkali ia menangis ketika teringat kenyataan bahwa
48 ia hanyalah seorang gadis yang diacuhkan. Hal yang dipikirkan oleh Dara adalah bagaimana ia bisa mewujudkan mimpinya dengan kondisi tersebut. Mimpi Dara adalah menjadi seorang pelukis yang karyanya bisa dipajang di dalam pameran besar. Hal yang dilakukan Dara untuk memulainya adalah rajin membuat lukisan. Kesibukan tersebut juga dilakukan Dara untuk tidak memikirkan mengenai dirinya yang selalu diacuhkan dan mulai memahami perkataan Hana. Perlahan mimpi sang Dara mulai terwujud saat diam-diam ia sering memposting lukisannya melalui media sosial. Hingga suatu hari ada seseorang datang ke rumah Dara untuk menemui gadis itu guna mengajaknya untuk bergabung di dalam sebuah pameran lukisan. Kedua orang tua Dara terperangah mendengar ucapan pria tersebut, sebab tidak menyangka bahwa Dara si gadis kursi roda bisa menghasilkan karya lukisan yang indah. Dara hanya tersenyum melihat respon kedua orang tuanya dan memilih menerima tawaran pameran tersebut. Berbagai lukisan indah dipajang dalam pameran yang diberi tema Mimpi Sang Dara. Orang tua Dara menghadiri pameran tersebut dan merasa terharu atas pencapaian putri yang selama ini
49 diacuhkannya. Sementara Dara merasa lega bisa menerima keadaan fisiknya dan memanfaatkan apa yang dimiliki.
50 SECERCAH CAHAYA HARAPAN MASA DEPAN 9B-09 Bilqis Evelyna Setiawan Cahaya matahari yang tertutup mendung, terdengar langit bergemuruh yang menandakan akan turun hujan. Hari yang sangat menyedihkan bagi seorang pemuda yang bernama Andi fauzan. Terlihat dari lorong sekolah ada seorang pemuda yang lungai, dia melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan sekolah karena prestasi di sekolah yang buruk. Di perjalanan menuju ke rumah dengan menggunakan bus, Andi selalu membayangkan masa depan sehingga dia lupa pemberhentian bus biasa dia turun. Di halte tersebut, dia bertemu dengan temannya yang bernama Lucky. Kemudian, Lucky bertanya, “Hei Andi, mau pulang bareng?” Andi pun menjawab, “Iya, boleh. Terima kasih, Lucky. Maaf merepotkan,” ujar Andi. Selama di perjalanan, Lucky penasaran apa yang sedang Andi lakukan. Diapun bertanya, “Andi kamu habis dari mana? Nggak di Akademi? Apa kamu Izin bermalam?” Andi menjawab, “Anu.. Aku keluar,” jawab Andi. Lalu Andi mulai menjelaskan
51 semuanya kepada Lucky. Tak ada satu pun yang bisa dia perbuat untuk menolong Andi, hanya bisa memberi saran dan semangat kepada Andi agar tegar dalam menjalani cobaan dari Sang Pencipta. Setelah sampai di rumah, Andi pergi melangkah menuju ke rumahnya yang kebetulan keluarganya sedang duduk di depan menikmati Indahnya hujan. Tiba-tiba keluarganya terkejut saat melihat buah hati mereka pulang dalam keadaan termenung. Andi langsung berdiri di hadapan mereka dan bersujud meminta maaf atas kegagalannya di Akademi. Beruntungnya, Andi memiliki keluarga yang pengertian dan perhatian itu langsung menyuruhnya untuk beristirahat. Satu minggu berlalu, Andi memutuskan untuk merantau sambil membawa lamaran pekerjaan. Dengan bermodalkan sepeda motor dia pergi melamar di setiap kawasan industri. Namun sayang, tidak ada satupun yang menerimanya dengan berbagai alasan. Karenanya, Andi mulai hilang semangat. Dia pergi ke sebuah kedai kopi yang ada di pinggiran kota. Suatu hari dia melihat seorang warga asing keturunan Asia yang sedang minum kopi di samping tempat duduknya. Ternyata dompetnya tertinggal, Andi pun langsung membayar tagihan warga turunan Asia tersebut. Lalu, mereka berkenalan. Orang tersebut berasal dari negeri
52 matahari terbit, bernama Ryan. Melihat kondisi Andi yang sedang murung, Ryan menanyakan hal yang sedang menimpa Andi. Andi menjelaskan semuanya hingga membuat Ryan bersimpati kepadanya. Tak terasa hujan mulai reda. Kini saatnya Ryan untuk kembali ke negeri asalnya. Sebelum itu, dia meminta nama lengkapnya sambil memberikan sebuah formulir pendaftaran karyawan baru. Di penghujung waktu, Ryan berpamitan pada Andi. Sejenak, Ryan menasehati Andi, “Jangan patah semangat, ya. Ingat, cahayamu sudah menantimu di depan sana,” ujarnya. Tak terasa, akhirnya pelaksanaan seleksi penerimaan karyawan baru di perusahaan asing pun dimulai. Andi mengikuti seleksi itu dengan penuh semangat. Tentunya tidak lupa dengan berdoa kepada penciptanya. Setelah mengikuti rangkaian seleksi karyawan, Andi menunggu hasil seleksi dengan penuh harapan. Saat pengumuman hasil seleksi, ternyata nama Andi muncul di bagian paling bawah. Meskipun panggilan terakhir, betapa terkejutnya dia saat bertemu Ryan. Dan Ryan menjelaskan bahwa Andi akan bekerja di tempatnya. Sungguh bahagia hati Andi. Setelah dinyatakan diterima sebagai karyawan, Andi akan mengikuti program magang selama empat tahun dan pulang membawa kebanggaan bagi keluarganya.
53 ARTI KEJUJURAN 9B-10 Farel Saputra Maulana Waktu itu, saat aku masih duduk di bangku SMP, aku mengerti tentang apa itu kejujuran. Pilihan untuk berbohong dan jujur, hal itu yang aku hadapi saat aku menghadapi ujian sekolah. Saat ujian, teman sekelasku banyak yang mencontek dengan berbagai cara. Ada yang membawa catatan kecil hingga menyembunikan buku di bawah meja. “Zul, lo mau nyontek ga? Gue bawa contekan nih,” bisik Fadil di sebelahku saat ujian berlangsung. “Wih! Boleh juga,” ucapku dengan mengambil kertas kecil darinya. Pada saat itu, aku masih belum percaya buah dari sebuah kejujuran. Aku akan mencontek jika menghadapi ujian matematika, fisika hingga kimia karena aku kurang begitu suka dengan angka. Hingga akhirnya pengumuman kenaikan kelas pun tiba, aku dan teman-temanku begitu tegang saaat menunggu nilai rapot yang akan diberikan. Setelah aku menerima rapot dari wali kelas, beliau mengatakan bahwa aku naik kelas. Namun, saat aku membuka
54 rapot itu aku melihat nilai pelajaran matematika, fisika serta kimia mendapat nilai yang kurang memuaskan bahkan kurang dari rata-rata. Saat itu aku merenung, bernostalgia di saat aku ujian dan mencontek pada mata pelajaran tersebut. Kemudian, hasilnya sangat buruk. Sedangkan mata pelajaran lain yang kukerjakan dengan kemampuanku sendiri, dapat meraih hasil yang baik. Lalu, hal tersebut aku terapkan untuk menghadapi ujian di kelas berikutnya. Ketika ujian nanti, aku niatkan untuk berusaha jujur dalam mengerjakan soal yang diberikan. Sesulit apapun itu. Kali ini, materi yang telah kupelajari dan yang diajarkan guruku di kelas semuanya keluar. Tanganku menuliskan jawaban di LJK dengan tenang tanpa suatu keraguan. Hingga akhirnya pelaksanaan ujian pun selesai, kini hanya tinggal menunggu hasilnya. Hari pembagian rapot tiba. Aku kembali tegang dengan hasil yang akan aku dapat nanti. Kemudian, wali kelasku membacakan satu-persatu para siswa yang meraih peringkat lima besar paralel. Hingga tepat pembacaan siswa yang meraih peringkat pertama. “Siswa yang meraih peringkat pertama adalah…” ucap ibu wali kelas yang menggantung.
55 Semua siswa begitu tegang menunggu kelanjutan ucapan dari ibu wali kelas tersebut. “Zulfikar Al Husein,” lanjutnya sambil mengarahkan matanya padaku. Diiringi bahagia dan haru, atas kerja kerasku belajar selama ini tidak sia-sia. Kemudian, semua temanku memberi selamat padaku. Lalu, wali kelasku mengatakan bahwa peraih peringkat pertama akan mendapat beasiswa sekolah di SMA. Dirik. Aku begitu senang mendengarnya. Anggapanku tentang kejujuran itu memang benar. “Jujur itu membawa kebahagiaan, meski di awal begitu sulit.” – Zulfikar Al Husein
56 DUNIA MALAM 9B-11 Febrian Wahyu Sudrajat Jadi, apa lagi yang kau cari di tempat ini? Bukankah masa lalumu sudah berlalu? Lupakanlah. Untuk apa lagi kau ke sini? Lihatlah, kasihan suamimu yang menatapmu bingung di belakang kemudi. Kau tengok resah seperti sedang mencari sesuatu. “Siskaaaa!!” teriakmu tiba-tiba ke arah seseorang di seberang jalan. Siapa yang kau panggil? “Dita?? Kamu Dita??” Sekejap dia sudah berada di depanmu sebelum berbalik tanya. Hanya butuh satu anggukan, lalu kalian berpeluk erat layaknya sahabat yang lama tak berjumpa. Ternyata ada juga yang merindukanmu. Atau memang kau yang rindu padanya? Yang akan kau lakukan lagi denganya? Jalanmu bersama suami sudah lurus dan bersih, Andita. Jangan bilang kau ingin mengotorinya kembali. Ingatlah! Tempat ini tidak baik buatmu. Termasuk juga temanmu! Apa kau sudah lupa? Lepas dari pelukan ini, seperti malam beberapa bulan yang lalu. Setelah kau disuguhi senyuman khas miliknya. Selanjutnya, kau akan langsung digiringnya ikut berjejal bersama dengan mereka di pinggir jalan sana. Kemudian,
57 dia akan menampakan basa-basinya padamu, yang bahkan kupikir itu malah lebih mirip seperti menggoda, “Malam ini, siapa lagi yang akan kau jerat dalam permainanmu, Andita Nurmala?” Aku ingat betul saat dia berkata seperti itu padamu. Kau hanya tersenyum seraya matamu yang tetiba memutar. Tapi detik itu juga aku pun tahu bahwa itulah tanda bahwa kau sedang merencanakan sesuatu bukan? Persis yang pernah kau lakukan di masa sebelumnya. Awalnya kupikir kau itu seperti yang biasa orang bilang. Mungkin kau hanya sedang bernostalgia, tapi ternyata aku salah. Rupanya jerat hukum yang mengurungmu beberapa tahun sebelum malam itu tak sedikitpun membuatmu jengah. Kau masih saja terobsesi dengan dunia malammu di tempat ini. Apa kau tak peduli lagi dengan yang bernama bahaya? Kendati aksimu itu bisa dikatakan selalu berhasil. Tapi kau pun tahu bukan, ancaman beringas dari tangan-tangan kekar itu kapan saja bisa merenggut apapun yang diinginkanya darimu. Jika aku boleh bilang, kau ini terlalu batu, Andita. Di saat seperti itu, kau tetap saja berpura-pura tenang, bersibuk dengan seringaimu seperti berjejer teman-temanmu di pinggir jalan sana. Padahal siapa yang tahu di balik cermin
58 bulatmu itu kau tampakan raut yang mengkerut, menyusut sekeriput asa nuranimu. Dan seperti yang sudah-sudah, udara malam yang menusuk kulit hingga sum-sum itu pun seakan tak menggoyahkan tekadmu yang selangit. Lebih-lebih saat itu tak ada yang terlihat memperhatikanmu apalagi mencurigai. Kecuali satu, ya, wanita yang kini bersamamu. Sedang para temanmu yang lain, mereka hanya sibuk di tempatnya masing-masing, melenggok di depan cermin mungilnya atau asik dengan asap putih yang keluar dari sela bibir mereka yang merona. Sebenarnya, bukankah sejak lama kau sudah menyadari apa yang kau lakukan selama ini, Andita. Tempat ini, tempat ini jelasjelas tak selaras dengan napas dan kodratmu sebagai ibu. Anakmu memang belum mengerti waktu itu, bahkan hingga sekarang pun dia masih belum tahu apa pekerjaan ibunya selama ini. Kau hanya terlihat berpamitan kerja setiap dia akan pergi tidur, lalu setia membangunkanya kembali meski sang mentari pagi belum juga muncul ke permukaan. Bahkan dia juga pasti sadar betul saat kau selalu disiplin menyiapkan sarapan pagi untuknya, lalu mengantarkanya ke sekolah hingga ketika jam pulang sudah tiba. Kau pun tak pernah telat untuk menjemputnya kembali. Di matanya, pastinya kau adalah seorang ibu yang baik seperti ibuibu pada umumnya.sekarang?
59 Kau sudah memilih jalan yang benar bersama suamimu. Dialah surga untukmu. Bukankah dia sudah berhasil merubahmu menjadi lebih baik? Dia yang telah menolongmu, Andita. Karena dia kau telah diberikan profesi yang lebih mulia dibanding sebelumnya. Anakmu pun sepertinya tampak bahagia karena tak ditinggalkan ibunya lagi setiap malam. Andita. Aku memang mampu mendeteksi ketulusan niat sucimu di sana, jauh dalam relungmu. Saat itu kau hanya sekadar ingin bertahan hidup bersama anakmu ketika takdir benar-benar telah memusuhi. Kau terpaksa harus berjuang keras seorang diri demi masa depan anak gadismu itu. Meski kau pun sebenarnya menyadari, menjadi wanita penghibur bukanlah satu-satunya jalan yang terbaik bagimu. Kau bahkan pernah tercambuk petunjuk dari Tuhan bukan? Menempati ruang sel beberapa tahun setelah terciduk oleh para kawanan berseragam keamanan. Lalu, apa sebenarnya yang membuatmu berkeinginan kembali mendatangi tempat ini lagi? Benarkah hanya karena sebuah rasa rindu terhadap temanmu yang bernama Siska itu? Bagaimanapun, tidakkah kau ingat saat dia tiba-tiba menepuk pundakmu? “Dita… Ada tamu tuh, kok malah bengong?” Tampaknya dia senang sekali melihatmu yang kembali ‘mangkal’ bersamanya. Dan saat itu juga kau terbangun dari lamunan. Lalu, kau pun menyadari bahwa dia kemudian memberikan tamu miliknya itu
60 padamu secara cuma-cuma. Mungkin malam itu dia tahu kalau sudah berjam-jam di pinggir jalan kau belum juga mengantongi ‘mangsa’. “Eh, iya, mana?? Tapi, itu kan tamu kamu, Sis?” Hmm, Aku sempat meringis geli saat mimik dan kata-katamu itu tampak merendah. Pintar sekali kau dalam berpura-pura. Padahal, kau bahkan lebih membutuhkanya bukan? “Sudah bawa aja, dia juga pengenya sama kamu kok.” Entah bohong atau tidak, yang jelas dia terlihat bersungguhsungguh, membuat rautmu seketika berbunga, “Beneran buat aku??” Dan selepas itu pun kau mulai beraksi. Kau lemparkan senyum termanismu pada lelaki yang kemudian menarikmu cepat-cepat ke salah satu gubuk di tempat itu. Namun, siapa mengira kalau kedatanganya itu ternyata bukan untuk tujuan seperti para hidung belang pada umumnya. Lelaki itu justru ingin menolongmu untuk pergi. meninggalkan dan melupakan dunia malammu untuk selamanya. Kau yang saat itu diam-diam sedang menyiapkan obat tidur untuk aksimu seperti biasanya pun mendadak urung melanjutkan karena mendengar tuturnya yang mengalir deras dan bersungguh-sungguh.
61 “Jadi, maukah kau menerimaku sebagai imammu, Andita?” Aku yang selalu menjadi saksi setiap aksimu pun cukup terpana mendengarnya. Begitu juga denganmu. Dia yang mengaku sebagai guru ngaji dari anakmu tiba-tiba saja ingin melamarmu di tempat yang kotor ini. Tapi malam itu juga kau benar-benar telah berhasil membuatku dua kali lipat lebih terpana ketika kau memutuskan pilihan yang tepat untuk menerimanya. Dan sekaligus memenuhi permintaanya untuk mengakhiri dunia hitammu di tempat ini. “Dita, kamu serius akan mengajakku bekerja di butikmu??” Mendadak aku tersadar, ternyata kau sudah berada di mobilmu dan asik berbincang denganya. Percuma juga jika aku terus melontarkan hingga ribuan tanya sekalipun padamu. Selamanya kau tak akan pernah bisa mendengarkanku. Ya, karena aku hanyalah mahkota di kepalamu yang berkat suamimu kini telah ditutupi rapat oleh hijabmu. “Super serius Siska. Tapi kamu harus janji padaku untuk meninggalkan dunia malammu ini untuk selamanya.” “Ya, aku janji.” “Oh, iya satu lagi, semua yang bekerja di butikku wajib memakai hijab, termasuk kamu.”
62 ARTI SEORANG TEMAN 9B-12 Fridha Wijaya Rara adalah seorang siswi pada sekolah menengah pertama di kota ini. Di sekolah, Rara dikenal sebagai gadis pendiam. Sebagian besar temannya adalah laki-laki karena hobinya adalah bela diri. Hanya sedikit teman perempuan yang dekat dengannya karena Rara tidak suka banyak bicara. Suatu ketika diadakan lomba menyanyi antar kelas. Rara menjadi salah seorang anggota panitia dan mengikuti rapat persiapan lomba. Rara mencoba mengikuti lomba tersebut dan mulai berlatih. Sebagian besar teman perempuan tidak suka dengan lagu pilihan Rara karena merupakan lagu sedih, sedangkan lagu itu satu-atunya lagu yang menurut Rara bisa dinyanyikannya dengan sangat bagus karena merupakan lagu teristimewa buat Rara. Hasil rapat kelas memutuskan menggantikan Rara dengan siswa lain yang menyanyikan lagu pop, padahal Rara sudah mengirimkan lagunya ke panitia sebagai perwakilan kelas. Akhirnya kelas Rara memgirimkan satu wakil lagi selain Rara. Rara bingung dan bertanya kepada ibunya dia harus berbuat apa, ibunya menyarankan untuk tetap tenang, bila harus mundur
63 itu tidak menjadi masalah demi kebaikan bersama. Ibu juga memberikan semangat untuk menunggu hasil pemenang lomba nantinya siapa, itulah yang terbaik. Hari penentuanpun tiba, Rara mendapatkan juara II, sedangkan teman sekelasnya tidak menjadi juara. Rara bersyukur bisa mewakili kelas dan menjadi juara, dengan demikian akan mengangkat nama baik kelasnya. Ketua kelas menghampiri dan memberikan selamat kepada Rara diikuti seluruh teman sekelas ikut munyalaminya satu persatu sambil meminta maaf karena menganggap lagu Rara kurang bagus, tapi Rara dapat menyanyikan lagu itu dengan sangat luarbiasa sehingga menjadi juara. Setelah kejadian itu Rara menjadi seorang perempuan yang percaya diri, tidak pemalu serta tidak lagi pendiam. Teman Rara bertambah banyak dan saling mendukung untuk kepentingan bersama. Banyak pelajaran berharga telah didapatkan Rara, bahwa kita tidak boleh merasa malu atau tidak percaya diri. Kita harus percaya diri dan tidak boleh mudah menyerah dengan keadaan. Kita harus selalu maju dan berusaha menjadi yang terbaik demi mewujudkan cita-cita. Kita tidak boleh menghina atau merendahkan orang lain.
64 Kita harus terus berusaha terlebih dahulu sebelum mundur. Jika berhasil, kita maju terus dan ketika belum berhasil kita harus tetap bersabar, belajar lebih banyak lagi, agar kita bisa dalam hal apapun dan kita juga harus berteman dengan siapa saja dan tidak boleh pilih memilih teman.
65 MISTERI RAWA PEMBUNUHAN 9B-13 Hafizh Yassar Arrahman Awalnya, aku tidak percaya dengan hal ini. Namun setelah diselidiki, akhirnya aku menemukan jawaban kenapa aku harus percaya. Aku hanyalah seorang pelajar di salah satu SMA Swasta. Aku tinggal bersama abang. Aku yang biasanya sekolah menggunakan sepeda, kali ini sepertinya sangat malas naik sepeda dan kuputuskan untuk naik angkot. Aku bersama temanku Bagas, berjalan ke depan untuk mencari angkot. Untuk menuju ke simpang, butuh waktu yang cukup lama karena harus memutari kampung kami. Karena takut terlambat, kami berusaha memotong jalan dari semak belukar. Kami melihat tanda ‘Dilarang Masuk!’. Namun kami tidak menghiraukan, dan juga banyak cerita bahwa di daerah ini adalah tempat di mana mayat anak-anak tewas mengenaskan tanpa busana. Hal itu kutepis karena kepercayaanku terhadap Tuhanku.
66 Kami berjalan selangkah demi selangkah melewati semak belukar yang cukup tinggi. “Woi, udah deh mending kita balik aja, perasaan gua udah gak enak nih,” ujarnya. “Aelah, kenapa? Lu takut karena cerita warga tentang pembunuhan itu? Udah gak usah takut, hantu itu cuman mitos,” ujarku lagi. “Tta-ta tapi sumpah deh, ini tempat serem bener!” katanya sedikit tergagap-gagap. “Udah gua bilang hantu itu kagak ada! Udah, kalo lu mau balik, lu balik sono, gua jalan sendiri,” tegasku. Akhirnya dia diam dan tertunduk. Setengah jam kami berjalan, kami tidak menemukan ujung jalan tersebut, malah yang ada rawa-rawanya semakin lebat. Akhirnya, dia mulai ketakutan. “Betul kan apa gua bilang? Ini rawa udah gak jelas!” Gerutunya. “Gua kagak percaya hal begituan!” ujarku lagi. Tiba-tiba ada bau menyengat seperti bau busuk. Sangat menyengat dan membuatku ingin muntah. Setelah kulihat, ternyata di belakang kami ada mayat yang membusuk dan sudah
67 bercacing. Itu membuat kami ketakutan dan lari secepat mungkin. Bagas menggerutu lagi, “Apa gua bilang, hah? Ini rawa ada setannya! Tapi elu kagak percaya.” “Itu cuman mayat, bukan hantu!” jawab ku. Tiba-tiba kakiku tersandung. Aku melihat ada tangan yang menarik kakiku. Lalu, aku berteriak. Bagas yang berada di depanku menarik tanganku. Dan akhirnya, tangan itu melepaskan kakiku. “Thanks, Gas. Kalo gak ada elu mungkin gua ud…” Belum sempat menyelesaikan kalimatku, aku melihat sosok anak-anak dengan muka berdarah-darah tepat di belakang Bagas. Aku sontak menarik Bagas dan berlari secepatnya. Bagas bertanya, “Elu kenapa? Kok tiba-tiba berubah gitu mukanya?” “Tadi ada hantu anak cewek di belakang lu. Gua cepet-cepet dah narik lu biar tuh setan kagak nangkep elu. Karena kalo dia nangkap elu, berabe juga ntar gua,” jawabku.
68 Kami mengikuti arah kembali ke komplek dengan cara berlari secepat mungkin dan akhirnya sampai di ujung jalan. Kami memutuskan untuk beristirahat karena kelelahan. Setelah duduk sebentar karena lelah berlari, aku bertanya sama Riki, “Gas, kita udah terlambat masuk skolah kagak ya?” Spontan dia terkejut dan menjawab, “Waduh, mampus kita! Udah berapa lama kita di rawa tadi?” “Sekitar 1 setengah jam gitu dah?” jawabku. Namun setelah aku melihat jam tanganku, di situ menunjukkan pukul 06.00. Akhirnya, kami bersepakat untuk tidak masuk ke tempat seram itu lagi.Semenjak dari situlah aku percaya bahwa hantu itu memang ada.
69 RINTIK HUJAN 9B-14 Intan Nur Kholifah Aku menyukai hujan. Apa pun bentuk hujan aku suka. Aku suka hujan deras, seperti ratusan selendang mayang yang terjatuh dari langit. Aku suka hujan rintik-rintik yang dengan lembut menyentuh kulit seperti taburan buih. Ibuku kerap memarahiku jika aku berlama-lama menikmatinya. Ia berkata, “Ayo masuk, hujan seperti ini bikin kepalamu pusing nanti!” Selain hujan, aku juga suka aroma hujan. Aroma tanah kering yang mengurai setelah tertimpa hujan merupakan kenikmatan sendiri untukku. Baunya seperti tembikar yang baru saja keluar dari pembakaran. Aroma udara yang segar dan renyah setelah hujan deras reda mengingatkanku akan es krim vanila dengan wafer yang kering. Menyenangkan! Tertiup angin ke sana ke mari. Teksturnya kadang tebal kadang tipis. Semasa sekolah, bila tak ingat akan buku-buku yang kubawa dalam ranselku dengan sengaja aku berlari ke tengah hujan. Menikmati derainya yang membelai seluruh tubuhku. Tentu sesampai di rumah ibuku langsung mengomel, “Lupa terus bawa payung! Kan tadi pagi sudah Ibu ingatkan.” Atau di
70 lain waktu bunyi omelannya, “Kalau hujan berteduh dulu, nanti kalau sakit siapa yang rugi?” Padahal merayakan hujan sangat seru. Setelah beranjak dewasa, aku sering memainkan tetesan hujan yang bergulir dari pinggir payungku. Sering kali aku sengaja menadahkan tangan tepat di bawah cucuran atap hanya untuk menikmati tiap tetes yang memercik di tanganku. Aku pun hanya tertawa dalam hati ketika melihat anakku yang berusia dua tahun segera berlari mengambil payung mungilnya dan berdiri di bawah cucuran atap sambil menadahkan tangannya ketika hujan mulai datang. Aku bisa duduk berjam-jam di tepi jendela kamarku menatapi rintik hujan yang jatuh ke tanah. Menerka-nerka jika titik-titik itu bisa bicara, kira-kira apa yang mereka teriakkan ketika tubuh mereka jatuh terburai menabrak tanah dan batu? Keriuhan bunyi hujan dengan tempo cepat atau lambat tidak membuatku merasa bising. Justru di tengah gegap gempita akustik air itu, aku merasa hening. Seringkali aku lupa turun dari kendaraan umum karena menatapi rintik air yang jatuh di kaca mobil. Titik-titik itu seperti sprinter. Segera setelah menempel di kaca, kemudian berlari cepat ke arah belakang karena pengaruh kecepatan mobil. Aku hampir dapat mendengar teriakan-teriakan riang titik-titik air itu ketika menggelinding cepat di atas kaca.
71 Ada pepatah tentang air, sama seperti api. Kecil jadi kawan, besar jadi lawan. Apakah banjir mengubah persepsiku tentang hujan? Apakah hujan angin dan petir mengubah persepsiku tentang hujan? Aku tidak dapat menjawabnya secara logis. Ketika hujan angin dan petir datang, aku selalu refleks mematikan semua alat elektronik di rumah, kecuali lampu. Bagaimana dengan banjir? Kupikir banjir itu harusnya identik dengan kelimpahan, dan selayaknya dinanti dan disukai. Coba bayangkan banjir hadiah. Bagaimana dengan banjir air? Ketika jalanan banjir saat aku dalam perjalanan pulang ke rumah, yang kulakukan adalah melipat ujung celanaku sampai sebatas lutut, membungkus buku-bukuku dengan kantong plastik sebelum ku masukkan ke dalam ransel dan dengan percaya diri berjalan menembus limpahan air. “Hmm… Biasanya jam segini sangat cerah”, kata ku saat setelah melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 06.00. Lalu ibu menyahut, “Sekarang sudah mulai musim hujan ya… Jadi cuaca yang ga menentu kamu harus siap sedia jas hujan di tas,” raut wajah ibu sambil tersenyum. Ibu juga memberitahu kalau sekarang rawan banjir, karena intensitas hujan yang tidak menentu.
72 Seburuk-buruknya sepatuku jebol atau kakiku kena ruam dan gatal-gatal. Ketika membantu membersihkan rumah seorang teman yang habis kebanjiran, itu tidak bisa mengubah persepsiku tentang hujan. Kadang kala aku khawatir melihat genangan air yang makin lama makin tinggi, tetapi itu tidak menyurutkan kesukaanku pada hujan. Kupikir-pikir, ketakutan akan banjir itu sebenarnya merupakan ketakutan akan kehilangan. Kehilangan barang-barang yang rusak karena banjir atau kehilangan rumah yang terbawa arus air. Tetapi, semua hal itu tidak semua salah hujan. Kadang kala ada yang menyalahgunakan ekspresi hujan sebagai ekspresi kesedihan. Beberapa opera sabun di dalam negeri menampilkan hujan ketika si tokoh utama diusir dari rumah atau ketika si tokoh utama dizholimi. Tangisan si tokoh terasa lebih berderai-derai ketika ia menangis dalam hujan. Tentu kesan yang dihasilkan menjadi berlebihan menurutku. Dalam benakku hujan merupakan ekspresi cinta.
73 BUKU KUNO 9B-15 Kalista Nadine Hari ini, aku akan menemui Ms. Emil. Aku tidak tahu untuk apa Ms. Emil memanggilku. Shila dan Ghi masih sakit karena penyakit Haiku. Setelah makan siang, aku menuju ruangan Ms. Emil dengan membawa buku tebal yang akan kubaca untuk menemani tidurku nanti malam. Walaupun aku murid baru di Asrama Erly, rasanya aku sudah sangat akrab dengan Ms. Emil, apalagi dengan guru-guru dan para suster di Asrama Erly. Sebelum masuk, aku memperlihatkan kartu pelajar Asrama Erly. Aku mengetuk pintu ruangan Ms. Emil dengan pelan dan lembut. Setelah mendapat persetujuan dari Ms. Emil, aku segera masuk. Aku masuk ke ruangan Ms. Emil untuk pertama kalinya. Aku melihat arsitektur megah penuh dengan lampu-lampu yang unik dan kuno. Barang-barangnya antik dan sebagian berwarna gelap. Ms. Emil mempersilakan aku duduk. Aku duduk dengan menatap buku-buku Ms. Emil di rak-rak buku yang jumlahnya sangat banyak. Aku duduk di bangku megah yang terbuat dari kayu dengan ukiran yang langka dan memikat.
74 “Nany, apakah kamu mau membantu Ibu?” tanya Ms. Emil. Aku terdiam sejenak dan memperhatikan wajah Ms. Emil dengan saksama. Aku mengangguk setuju atas tawaran Ms. Emil. Aku melihat gerak-gerik Ms. Emil yang sedang mencari sebuah buku. Ms. Emil lalu mengambil salah satu buku di rak buku miliknya. Ms. Emil membawa sebuah buku tebal dan memperlihatkannya kepadaku. Label “BUKU KUNO” tertulis di sampul buku itu. Ms. Emil memperbolehkan aku membuka bukunya. Tulisan-tulisan kuno dihadirkan dalam buku. Gambar yang tidak kukenal juga terpampang di halaman-halaman Buku Kuno. Ms. Emil segera men- jelaskan sesuatu kepadaku. Aku segera menutup Buku Kuno itu dengan pelan. “Sebenarnya, sudah lama buku itu ada. Sekitar seabad yang lalu, buku itu diturunkan, tapi tidak ada yang bisa menjawab isi buku tersebut. Ibu akan memberikan buku itu kepadamu,” jelas Ms. Emil kepadaku. “Memang ada apa dalam Buku Kuno? Aku ini bukan keluarga Ms. Emil,” kataku kepada Ms. Emil “Buku tentang Tempat Rahasia yang ada di suatu Tempat di Asrama Erly. Ibu tahu potensimu, Nak ...,” kata Ms. Emil singkat. Ms. Emil segera menyerahkan Buku Kuno itu kepadaku. Aku menerimanya dengan beribu pertanyaan. Aku
75 baru dua minggu tinggal di Asrama Erly, tapi sudah banyak hal aneh yang terjadi kepadaku. Aku langsung berpamitan. Sesampainya di kamar, Suster Ghina segera keluar dari kamarku dengan membawa piring dan gelas yang telah kosong. Aku masuk dan menutup pintu dengan pelan. Kubuka almamater dan kusimpan Buku Kuno pemberian Ms. Emil di tempat tidur. Ghi dan Shila memperhatikan buku itu dengan aneh. “Nany, ini buku yang diberikan Ms. Emil?” tanya Shila sambil memegang Buku Kuno yang tebal itu. Aku segera menghampiri Shila, Ghi pun bergabung melihat. “Aku tahu ini sebuah Tempat Rahasia yang ada di Asrama Erly,” ujar Ghi memegang Buku Kuno yang sampulnya penuh dengan ukiran-ukiran tangan.. Aku tidak percaya karena belum kupelajari, tapi Ghi sudah mengetahuinya. “Yang memegang Buku Kuno ini harus menemukan Tempat Rahasia itu,” ujar Ghi yang membaca Menemukan Tempat Rahasia? Apakah karena itu Ms. Emil memberikan Buku Kuno ini kepadaku? Buku Kuno berisi petunjuk-petunjuk untuk mencapai Tempat Rahasia. Gambargambarnya adalah patung yang ada di Asrama Erly.
76 “Bagaimana kalau minggu ini kita mencari Tempat Rahasia?” ajakku kepada kedua sahabatku. Ghi dan Shila menyetujui ajakanku. Ghi segera membaca lebih lanjut isi Buku Kuno itu. Aku dan Shila hanya mendengar ucapan Ghi. Ternyata, Tempat Rahasia terletak di pojok Asrama Erly. Ruangan itu merupakan ruangan yang pa- ling susah dan ditakuti jika dilewati. Sebelum membuka pintu, kita akan diberi sepuluh pertanyaan tentang penemu yang sangat berjasa. Setelah itu, jika masuk, kita akan dipertemukan dengan anak tangga yang jumlahnya mencapai 2000 dan selalu bergoyang-goyang. Jika sampai di bawahnya, kita akan diberi pertanyaan tentang patung yang terdapat di Asrama Erly. Semua pertanyaan itu ada di dalam Buku Kuno. Dan, yang aneh, di halaman terakhir tertulis sesuatu. “Pesan terakhir ditulis di halaman belakang Buku Kuno itu. Berarti, kita sama saja tidak mengetahui apa-apa. “Aku tahu nama patung-patung yang berada di Asrama Erly, sebelum aku mendengar, mengetahui, dan memegang buku ini. Aku sudah tahu,” jelas Shila.
77 “Aku juga tahu nama-nama orang yang terkenal atau penemu,” kataku lagi. Ghi mengangguk setuju. Kami segera mengatur siasat untuk Minggu nanti. Semua mendapatkan tugas untuk menemukan Buku Kuno yang belum pernah didapatkan oleh orang-orang yang telah memegang dan membaca buku ini. Hari sudah malam. Aku segera mengganti baju dengan baju tidur karena dari tadi aku memakai baju seragam. Setelah itu, aku terlelap dalam tidur dengan mimpi-mimpi yang aneh tentang Buku Kuno. Minggu tiba. Kami bertiga telah siap untuk berpetualang menemukan Tempat Rahasia. Aku, Shila, dan Ghi berjalan pelan menuju ruangan pojok Asrama Erly. Buku Kuno dipegang oleh Ghi yang berjalan di depanku dan Shila berjalan tepat di belakangku. Akhirnya, kami sampai di pojok Asrama Erly. Ternyata benar, di sana ada lorong yang sangat gelap dan menyeramkan. Shila segera menyalakan lilin. Cahaya lilin hanya sedikit menyinari seluruh lorong itu. Kami segera berjalan dengan pelan. Rasa aneh kembali terasa dalam pikiranku. Seperti ada yang ingin mengganggu kami bertiga. Tiba-tiba saja, Ghi menghentikan langkahnya. Kami yang berada di belakang Ghi ikut berhenti.
78 “Tutup telinga kalian. Jangan sampai mendengar suara biola!” perintah Ghi. Aku dan Shila segera menutup kedua telinga kami dengan erat. Kecuali Ghi, dia tampak santai. Tiba-tiba saja, aku melihat seorang laki-laki bertubuh kurus datang sambil memainkan biola. Sebisa mungkin aku tidak mendengarkan suara biola itu. Lakilaki itu mendekat dan mendekat. Aku tidak pernah melihat lakilaki itu sebelumnya. “Xixixi ... kalian pasti mau menemukan Tempat Rahasia. Kalian harus melewati beberapa tahap. Memusnahkan biola ini dengan suaranya yang bisa mematikan orang yang mendengarnya,” kata laki- laki itu tertawa dan memainkan biolanya kembali. “Alnakabaksu Inhagitsu Naimane!” ucap laki- laki itu agar suara biolanya memiliki kekuatan penuh. Ghi bersikap santai sambil menutup matanya. “Mantranya aneh,” gumamku. Aku dan Shila bertatapan satu sama lain. Laki- laki itu semakin mendekati kami bertiga. Sampai detik ini, Ghi belum mengeluarkan mantra untuk memusnahkannya. Aku dan Shila
79 mulai khawatir. Aku berpikir kalau kami bertiga tidak akan selamat. Biola itu sudah mulai terdengar di telingaku karena lakilaki itu sudah ada tepat di depan Ghi. Tiba-tiba “Alkabaitzu raikaiju saikaname!” ucap Ghi. Laki-laki itu terpental dan pingsan seketika. Aku lihat biola dengan suara yang mematikan itu sudah rusak karena terjatuh. Ghi segera menceritakan semua tentang laki-laki itu. Laki-laki yang bernama Khasima itu seorang Jepang yang mengikuti pertempuran, sampai akhir- nya meninggal, dan dikubur di lorong ini. Kepala sekolah kesembilan akhirnya menghidupkan kembali Khasima untuk menjaga Tempat Rahasia ini. Aku dan Shila tidak percaya. Pantas saja, dari 100 orang yang mencari Tempat Rahasia, hanya 13 orang yang berhasil melewati lorong yang dijaga Khasima. Kami bertiga lalu berjalan sampai akhirnya menemukan sebuah pintu. Ada tempat untuk menyimpan buku bertuliskan ‘SEBELUM MASUK, HARAP SIMPAN BUKU KUNO YANG ANDA BAWA’. Pesan itu ditulis dengan tangan. Tempat me- nyimpan buku tampak berdebu dan kayunya pun sudah lapuk dimakan usia. Setelah itu, tempat me- masukkan buku secara perlahan keluar
80 dengan memberikan kunci masuk Tempat Rahasia. Shila segera mengambil kunci itu dan memasukkannya ke lubang pintu. KREEEK... Bukan pintu yang terbuka, melainkan pertanyaan. Betul saja, pertanyaan yang tadi aku ingat, sekarang sudah hilang dan musnah. Pertanyaan yang disajikan adalah tentang penemu dan orang-orang terkenal. Mudah-mudahan aku bisa menjawabnya. Aku tidak boleh salah. Aku menarik napas dalam- dalam dan sepuluh pertanyaan disajikan. Pertanyaan pertama muncul dengan tiba-tiba. Siapa yang menemukan bilangan nol? Ghi dan Shila langsung menatapku. Aku langsung mengetik huruf-huruf yang telah disediakan di depan pintu Tempat Rahasia. “Algorismi,” jawabku dan rasa ragu menyelimuti pikiran. Langsung aku menekan tanda enter. Tiba-tiba, muncul pertanyaan kedua. Kami bertiga bernapas lega karena pertanyaan pertama sudah terlewati. Siapa yang pertama kali melihat Samudra Pasifik? Pertanyaan itu membuatku bingung seribu keliling. Aku langsung mengetik kata ‘Balboa’ dan tanpa ragu menekan enter. Langsung muncul pertanyaan selanjutnya. Shila langsung menyemangatiku. Shila
81 akan membantu jika ada pertanyaan yang jawabannya dia ketahui. Sementara, Ghi hanya terdiam karena dia tahu, ini adalah tugasku. Siapakah yang menemukan vaksin 17 D untuk memerangi penyakit demam berdarah? Aku ingin menjawab, tapi Shila sudah mengetik hurufnya. Shila adalah ahli nama-nama dibidang kedokteran. ‘Max Theiler’ dan keluarlah pertanyaan selanjutnya. Sampai akhirnya, aku dan Shila tidak mengetahui ja- waban untuk pertanyaan nomor 4. Sama sekali tidak tahu. Siapakah nama presiden Amerika Serikat keempat? Aku tidak tahu tentang itu. Aku hanya tahu presiden Amerika Serikat yang pertama, George Washington. Shila pun begitu. Dia sama sekali tidak tahu tentang presiden Amerika. Ghi hanya terdiam. Padahal, yang bisa membantu hanyalah Ghi. “Ghi, ayolah! Kita perlu bekerja sama. Ayolah, Ghi. Untuk sekali ini saja,” bujuk Shila. Ghi terdiam sejenak. Karena tidak ingin menunggu lama, aku langsung mengetik nama ‘James Monroe’ dan .... “Tunggu! Itu presiden Amerika kelima!” cegah Ghi yang segera mengetik nama “James Madison” dan menekan enter tanpa ragu. Dan, muncullah pertanyaan selanjutnya yang masih berkaitan dengan presiden Amerika.
82 Siapakah presiden Amerika ke-26 dan ke-32? Ghi langsung mengetik nama kedua presiden itu dengan santai. ‘Theodore Roosevelt’ dan ‘Franklin Delano Roosevelt’, lalu menekan enter. Muncul pertanyaan keenam. Kami telah melewati lima tanyaan dengan penuh ketegangan. Pertanyaan selanjutnya muncul. Siapakah yang menemukan mesin cetak? Ini biar aku saja yang menjawabnya. ‘Johannes Gutenberg’. Aku menekan tanda enter tanpa ragu-ragu dan yeah! Benar jawabanku. Pertanyaan selanjutnya muncul. Siapakah yang membuat peta dunia? Dan, tahun berapakah dia dilahirkan? Shila langsung menatapku. Aku hanya tersenyum dan segera menjawab pertanyaan itu. ‘Gerardus Mercartor, lahir pada 1512’. Aku menekan enter dan muncul pertanyaan kedelapan. Tinggal tiga pertanyaan lagi. Shila dan Ghi mulai tersenyum. Siapakah yang menemukan penyakit TBC? Dan, apa penyebab penyakit TBC? Shila segera beraksi dan menjawab, ‘Robert Koch, penyebabnya bakteri Mycobacterium tuberculosis’. Shila menekan enter dan muncullah pertanyaan selanjutnya. Siapakah yang terbunuh karena penem- bakan di Dallas Texas? Dan, siapakah pembunuhnya? Ghi segera menjawabnya,
83 ‘John F. Kennedy dan yang membunuh Lee Harvey Oswald’. Tanpa merasa takut jawabannya salah, Ghi langsung menekan enter dan jawabannya benar. Muncul terakhir. Sebutkan nama personel The Beatles! Waduh.... Shila hanya tahu satu nama, yaitu John Lennon. Ghi juga hanya tahu satu nama, yaitu George Harrison. Tapi, aku ini penggemar beratnya The Beatles. Jadi, aku tahu semua nama personel The Beatles. Tinggal dua nama. Aku segera mengetik nama personel yang belum ditulis oleh sahabat-sahabatku. ‘Paul McCartney’ dan ‘Ringgo Starr’. Kami menekan enter secara bersamaan. Dan, pintu Tempat Rahasia terbuka. Tidak sia-sia aku menyukai pelajaran Sejarah. Kami bernapas lega dan segera memasuki Tempat Rahasia.Baru saja masuk, kami sudah dijamu dua ribu anak tangga Tangga itu bergoyang. Kami harus menjaga keseimbangan. Setiap melangkah, pasti goyangan itu ada. Kami mendengar orang bernyanyi, padahal kami tidak melihat ada orang. Kami tidak menghiraukan suara itu dan serius untuk menuruni anak tangga. “WAAA!!!” teriak Shila tiba-tiba. Kami tersentak kaget melihat Shila terjatuh dan berpegangan pada satu tangan. Aku dan Ghi segera membantu Shila untuk naik. Goyangan membuat
84 kami sulit untuk menaikkan Shila. Dengan kekuatan maksimal, ka- mi berdua akhirnya berhasil menggagalkan Shila terjatuh. Shila sekarang berjalan di tengah-tengah kami. Ghi di depan dan aku di belakangnya. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan. Sampai akhirnya, kami melihat pintu yang akan memunculkan pertanyaan- pertanyaan tentang patung yang ada di Asrama Erly. Sebelum itu, muncul pesan. KAMI AKAN MENANYAKAN TIGA PERTANYAAN TENTANG PATUNG. JIKA SALAH, KAMI AKAN KEMBALIKAN ANDA KE ASRAMA TEMPAT PATUNG YANG KAMU JAWAB SALAH. Pesan itu menghilang dan mulailah pertanyaan yang mengasah otak. Shila segera melihat patung yang akan dia jawab. Patung yang menyambut orang datang ke Asrama Erly sambil memegang bunga. Aku tahu jawabannya, tapi Shila telah menekan enter pada jawaban ‘Ratu Diandra’. Ratu Kota Berg yang pernah datang ke Asrama Erly. Jawaban itu benar dan pertanyaan segera diganti. Patung seorang anak yang duduk di pangkuan ayahnya. Shila kembali menjawabnya tanpa berbicara sepatah kata pun, ‘Fighweiter’. Patung Fighweiter berada di taman.
85 Patung seorang perempuan yang dikutuk menjadi batu. Shila segera menjawab, ‘Albaika’. Patung itu adalah patung kutukan. Siapa yang menganggapnya jelek akan dikutuk menjadi batu. Yeah! Shila memang hebat dapat menjawab tiga pertanyaan tentang patung. Pintu besar akhirnya terbuka dengan pelan. Sinar putih menyambut kami bertiga. Selama ini, belum ada yang masuk ke Tempat Rahasia. Aku melihat Buku Kuno kedua yang tersimpan di sebuah kotak yang ditutupi kaca. Kami berjalan selangkah demi selangkah. Kami melihat Buku Kuno itu memiliki ukiran-ukiran yang lebih hidup. Warna- warnanya juga lebih bermacammacam. Sebuah tombol biru terlihat. Ghi langsung menekannya. Terbukalah kaca itu dan tiba-tiba, muncul tulisan. SELAMAT! ANDA DAPAT MENGAKHIRI PE-TUALANGAN INI. SEBAIKNYA, ANDA MEMBAWA BUKU INI SECEPAT MUNGKIN. KHASIMA AKAN HIDUP KEMBALI DAN MENGAMBIL BUKU INI. BUKU KUNO PERTAMA DAPAT DIAMBIL DI TEMPAT ANDA MENYIMPANNYA. WAKTU ANDA HANYA 20 MENIT. TERIMA KASIH. Kami tersentak kaget, terutama Ghi. Ternyata, Khasima akan hidup kembali dalam waktu dua puluh menit. Aku membawa Buku Kuno kedua dan kami bertiga segera berlari. Tangga yang
86 banyak itu menyulitkan kami untuk sampai dalam waktu sepuluh menit. Aku berlari tidak menghiraukan goyangan tang- ga dengan terengah-engah. Begitupun Ghi dan Shila. Akhirnya, kami sampai di pintu yang pertama kami lalui. Shila mencari-cari kunci dan dengan cepat, Shila memasukkan kunci tersebut. Terbuka! Waktu tinggal lima menit lagi. Tempat buku yang menyimpan Buku Kuno pertama bergerak dengan lambat sekali sehingga Ghi memaksa mengambil buku tersebut. Khasima kembali hidup, tapi Ghi mencegah kita untuk keluar. “Ghi, nyawa kita taruhannya…” kata Shila khawatir. “Sebelum itu, kita kembalikan dia ke dunianya,” ujar Ghi. Aku mengerti apa yang Ghi pikirkan. Pasti, Khasima ingin kembali ke asalnya. Aku dan Shila berjalan mundur. Ghi membacakan mantra. Ini tidak seperti saat mengembalikan arwah Viole ke alamnya. Saat itu, aku berbicara langsung kepada Viole untuk mengembalikannya. Sementara Ghi? Dia mengembalikan Khasima dengan mantra. Tubuh Khasima yang telah mati sekarang hidup. Arwah Khasima berjalan semakin mendekati Ghi, tiba-tiba... Criinggg!!!
87 Cahaya menyinari seluruh lorong Tempat Rahasia. Khasima kini sudah tidak ada. Mantra Ghi berhasil mengembalikan Khasima. Kami keluar dari lorong dengan perasaan tenang. Ghi menutup lorong tersebut dan kami berjalan ke arah kantor Ms. Emil untuk mengembalikan Buku Kuno pertama dan Buku Kuno kedua kepada Ms. Emil. “Kalian berhasil?” tanya Ms. Emil tidak percaya. Kami mengangguk. Tidak pernah ada yang berhasil masuk dan menemukan Buku Kuno kedua. Ms. Emil sangat senang dan berterima kasih kepada kami. Dia lalu mengambil Buku Kuno pertama dan kedua yang kami bawa. Ternyata, Buku Kuno kedua ada- lah lanjutan petualangan dari Buku Kuno pertama. Kami bertiga mengeluh sambil duduk karena lelah. Petualangan yang sangat menegangkan. Kami tidak sabar ingin bertualang lagi mencari Buku Kuno ketiga.
88 CHANGED 9B-16 Maria Aulia Ramadhani Khairunissa Sudah tepat 20 hari anak tersebut tak mau bicara banyak. Makan dan minum tak selezat biasanya. Dan yang paling menyedihkan, ia tak mau pergi untuk melanjutkan pendidikannya. Tapi, mungkin sakit di kepala dan hatinya benarbenar sehebat itu. Sang ibu memakluminya. Perempuan itu bagai bunga yang tak memiliki hasrat untuk tumbuh. Ia biarkan dirinya terpetik, jatuh, dan perlahan-lahan mati. Tak ada yang tak peduli dengannya. Bahkan beberapa kali orang-orang baik menyiraminya dengan banyak air. Beberapa mengambilnya kembali untuk ditaruh di vas cantik agar ia bisa bernapas kembali. Tapi tetap, bunga itu, si perempuan hampa, lebih memilih untuk mati perlahan dalam kekecewaannya yang tak berujung. Ia hiraukan semua belas kasih serta perhatian yang diulur. Memilih percaya, pada pilihan yang membuatnya menderita. Rayi pilih untuk percaya dengan Sang Maha Kepalsuan. Maka kalimat pertama yang dilontarkan oleh wanita paruh baya tersebut bukanlah “Udah makan, Nam?” atau “Udah mandi, Nam?” atau mungkin “Kapan mau masuk kuliah lagi?”.
89 Melainkan, menanyakan kondisi anaknya yang bukan rahasia, sangat terlihat miris. “Nak, Rayi masih pusing kepalanya? Badannya gimana? Udah enakan? Mau ibu buatin teh madu anget?” Ibu berkata penuh kelembutan. Sedangkan Rayi yang telah menghabiskan air dalam gelasnya, tersenyum tipis. “Gak usah, Bu. Rayi udah sehat.” Tak satu menit pun kata itu terucap, lalu Rayi dengan perawakannya yang semakin mengurus, berjalan lagi ke kamarnya untuk mengurung diri tak tahu berapa lamanya. Ibu khawatir. Sejenak ia berpikir bahwa memaklumi keadaan Rayi adalah pilihan yang terbaik. Namun beberapa saat kemudian, ia tersadarkan oleh kenyataan bahwa Rayi tidaklah boleh seperti ini terus. Sedih berlarut-larut. Marah memikul dendam. Lama-lama ia bisa mati karena terlalu lama berkabung untuk duka yang sudah delapan tahun lamanya berlalu. Oleh karena itu, dengan segala keyakinan, Ibu menahan tangan Rayi dan beranikan diri membahas semuanya lagi. Membahas semua tentang Aksa, Laksamana Rendri Pratama, yang beberapa hari lalu bersujud menangis minta diampuni. Anaknya yang malang. “Kalau ibu mau bahas dia, Rayi gak mau, Bu. Ibu boleh bahas tentang kuliah Rayi, ibu boleh bahas keadaan Rayi sekarang
90 gimana, ibu bahkan boleh bahas kejadian delapan tahun lalu yang sekarang udah Rayi inget dengan detail.” Bohong, dia tidak sepenuhnya ingat. Rayi hanya ingat separuh, sisanya adalah keyakinan yang dibuat-buat oleh Yudha si Iblis. Perempuan itu berbalik menatap Ibunya. “Asal jangan bahas tentang dia. Jangan sebut nama dia. Rayi selamanya gak akan bisa nerima, Bu.” Ibu bahkan belum berucap apapun, tapi Rayi sudah menolak mentah-mentah. Perempuan paruh baya tersebut lalu mengeratkan genggamannya pada tangan Rayi, kemudian berkata lirih penuh rasa sedih. “Bahkan Tuhan saja pemaaf, Ray. Ia selalu memaafkan dosadosa hamba-Nya bahkan yang besar sekalipun. Maafkan dia, Ray. Maafin Aksa. Dia juga korban di sini. Dia sama menderitanya dengan kita.” “Tapi Rayi bukan Tuhan, Bu. Rayi bukan seorang pemaaf,” kata-katanya mantap dan tegas. “Kalau Tuhan udah maafin dia. Gapapa. Syukur buat dia. Tapi Rayi tetep gak bisa. Rayi gak akan pernah bisa ikhlas!” Rayi dengan hatinya yang sudah kian membeku mencoba melepaskan genggaman sang ibu yang terus membujuknya tanpa kenal ampun. Ia sebetulnya tak sejahat itu untuk berkata demikian. Tuhan saja Maha Pemaaf, pun seharusnya manusia
91 yang hanya seukuran debu. Namun, hati Rayi memang benarbenar belum siap. Ketika harus membahas nama itu kembali, hatinya seakan melesak tak tahu tertusuk belati jenis apa. Maka ia pilih menjadi pembangkang. Memilih untuk menjadi arogan, daripada harus tersakiti lagi. Tok! Tok! Tok! Suaranya nyaring membuat Rayi segera melangkahkan kakinya menuju si sumber suara untuk membuka pintu. Akan tetapi, baru saja pintu dibukakan lebar, Rayi dengan tangan masih di atas engsel tiba-tiba ingin sekali menutup kembali pintunya rapat. Sebab, kini seseorang yang berdiri di depannya tidak lain dan tidak bukan adalah Jordan Raktama, sahabat dari orang yang sekarang ini menjadi pemicu debat antara ia dan ibunya yang tak kunjung berkesudahan. Rayi menatap malas. Hatinya sudah tak enak karena pasti niat kedatangannya ini adalah untuk membahas lelaki bernama Laksamana. “Ada apa Kak Jo ke sini? Saya lagi sibuk maaf ada kegiatan yang harus saya urus. Mungkin kalau ada perlu, kita bisa obrolin lain waktu.” Lagi-lagi Rayi menolak sebelum ada ajakan. Ia usir Jo bahkan sebelum ia sempat mengatakan satu kata patah pun dari
92 mulutnya. Sementara ibu, mendengar semua itu. Meski tak lihat siapa yang datang, ia ingin lekas pergi juga menghampirinya. Jo yang sadar bahwa Rayi memang sudah sepenuhnya dipenuhi kekecewaan lantas dengan senyum manisnya, berkata ramah dan sopan. “Sepuluh menit, Ray. Saya mau ngomong sepuluh menit aja sama kamu. Boleh?” Rayi diam tak memberikan jawaban. “Di luar juga gak apa-apa ngobrolnya. Saya cuma butuh sepuluh menit dan setelahnya saya bebasin ke kamu mau kaya gimana.” Pernyataan Jo aneh, menurut Rayi. Tapi ia makin penasaran dan tak bisa lagi menebak apa sebenarnya yang mau dibicarakan Jo. Alhasil, Rayi pun melangkah keluar, tutup pintu rumahnya, dan mengajak Jo duduk di kursi teras rumahnya. “Saya kasih Kak Jo lima belas menit. Kita ngobrol di sini aja biar ibu saya gak keganggu,” Jo mengangguk. “Okay, no problem. Saya juga gak akan banyak basa-basi karena kita berdua sama-sama dikejar waktu.” “Dikejar waktu?” tanya Rayi kebingungan.
93 “Ya. Pesawat Aksa berangkat nanti sore. Kita cuma punya waktu beberapa jam buat pergi ke bandara dan seenggaknya ketemu dia dulu sebelum dia check-in.” Rayi mengkerutkan kening keheranan. Masih bingung apa yang sedang Jo bicarakan. “Aksa bakal pergi ke London hari ini, Rayi. Dia bakalan menetap di sana. Gak akan pernah balik lagi ke sini.” Akhirnya Jo mengatakan secara gamblang dan sejelas-jelasnya. Membuat Rayi sontak terpaku untuk beberapa detiknya yang berharga. “Saya gak tau. Kamu tau soal ini atau engga. Tapi Aksa, memang dari dulu selalu dapet masalah dari ayah tirinya, si Yudha Wiyo berengsek itu. Dari kecil semenjak ayah kandungnya meninggal, Aksa gak pernah ngerasa tenang karena Yudha selalu ganggu kehidupannya. Entah karna uanglah atau tahta dikeluarga, Yudha intinya gak mau ngeliat Radian hidup bahagia.” Sambung jo. Jo menghembuskan napasnya kasar. Memejamkan matanya pelan sejenak. “Dan itu mungkin yang Yudha lakuin pas delapan tahun lalu dan sekarang. Ganggu kehidupan Aksa. Gak mau liat dia bahagia satu detik pun.”
94 Dengan begitu gagah, kali ini Jo menegakkan badannya. Manik coklatnya menatap Rayi teduh dan berkata dalam. “Ray, kalau kamu udah inget semuanya, saya bener-bener ikut seneng. Saya bersyukur karna akhirnya kamu gak harus menderita untuk nginget semua kejadian yang pernah kamu hadepin dulu.” Helaan napas berat-berat terdengar lagi. “Tapi, kamu salah sangka, Ray. Kamu salah percaya karena cerita yang kamu denger dari Yudha, pasti gak bener. Dia pasti bohong dan ngebuat Radian keliatan amat-amat salah diceritanya.” Suara Jo tercekat. Rasa sedih bercampur miris tiba-tiba menyeruak di hatinya. “Aksa itu hampir bener-bener gak pernah bahagia sepanjang hidupnya. Tapi dia baru bahagia pas dia kenal kamu sama almarhum kakak kamu, Rama. Segala hal tentang kalian, pasti gak akan pernah berhenti buat dia senyum, gak peduli bahasannya cuman sesingkat detik atau menit. Dia juga pada akhirnya sadar kalau dia bener-bener sayang banget sama kamu. Selamanya, cuma kamu Ray satu-satunya yang ada di hati dia. Gak pernah digantiin sama siapapun.”
95 “Jadi kalau kamu percaya dia ngorbanin kamu dan kakak kamu. Kalau dia ada di sana dan malah bersembunyi, gak melakukan apapun, saya yakin, itu semua cuma kebohongan yang dibuat-buat sama Yudha. Karena Aksa itu sangat-sangat menyayangi kalian berdua. Sangat-sangat gak mau kehilangan kalian. Kalian itu kehidupan Aksa, dulu, sekarang, dan untuk seterusnya. Gak mungkin dia ngelakuin itu. Saya berani bertaruh, berapapun konsekuensinya, Aksa gak pernah mengkhianati kalian.” Selesai. Akhirnya Jo menutup perkataan panjangnya tadi dengan pernyataan yang mantap tak terelakkan. Lelaki itu kemudian memberikan buku yang sedari tadi ia bawa di lengan kanannya kepada Rayi. Buku yang ternyata ditulis Radian rapi dengan judul yang langsung membuat Rayi tak berdaya menahan segala tangisnya. Jo melihat jamnya. Ia lalu berkata lagi dengan senyum lembut dan memandang Rayi yang tangannya sudah bergetar memegang buku yang berjudulkan namanya tersebut. “Masih ada waktu. Kamu bisa baca dulu buku itu dan pilih, mau ikut saya ketemu Aksa atau engga sama sekali. Semuanya saya kembalikan ke kamu. Yang terpenting, jangan ada lagi penyesalan di antara kalian. Saya gak mau ngeliat kalian selalu terluka buat kesekian kalinya.”