96 “I-ini buku apa? K-kenapa Kak Aksa buat ini untuk saya?” Ray dengan isak tangis perihnya, bertanya kepada Jo yang langsung dijawab oleh lelaki blasteran itu hangat, “Kamu bakal tau semuanya setelah baca buku itu, Ray. Baca.” “Dengan begitu kamu akan tau semuanya. Kamu akan tau seberapa berharganya kamu di mata Aksa. Seberapa besar cinta Aksa untuk kamu. Kamu, memang segalanya untuk Aksa.” Demi Tuhan saat ini suasana di rumah Rayi benar-benar sungguh kelabu. Dengan Rayi yang akhirnya menangis kencang, memeluk buku dari Aksa begitu erat, ibu yang keluar dari rumah khawatir besar sebab anak putrinya itu seperti baru saja kehilangan separuh jiwa di tubuh, dan Jo yang mengelus pundak Rayi berusaha menenangkan. Rayi tidak pernah membayangkan. Aksa yang memang sejak awal sudah menarik hatinya, ternyata benar-benar hampir sempurna dengan sifat dan bakat yang sungguh Rayi kagumi. Aksa berkata dalam buku bahwa ia tak pandai merangkai kata. Tapi lihat, sejak tadi Rayi tak bisa berhenti menangis sebab memang rangkaian kata yang dibuat oleh Aksa memang sebetulbetulnya indah tak terpungkiri. Ia membuat jatuh cinta berkalikali dan sakit hati berkali-kali juga untuk seseorang yang membacanya.
97 Rayi dengan tangis yang masih berderai lantas berdiri. Hatinya mantap untuk berubah, memilih untuk jujur pada kebahagiannya sendiri. Ia lekas masuk ke dalam kamar, berganti baju seadanya, mengambil segala barang yang sekiranya penting untuk dibawa, dan langkahkan kaki cepat menuju Jo untuk kemudian mengajak lelaki itu mengantarkannya pergi menuju Aksa. “Ayo, Kak. Ayo kita pergi sekarang. Kita masih punya waktu kan? Kak Aksa belum berangkat kan? Ayo, Kak. Saya gak mau terlambat untuk kedua kalinya.” Keadaan Rayi masih kacau. Begitu hebatnya memang Aksa dalam menyadarkan lewat kata-kata di bukunya yang cemerlang. Perempuan tersebut kemudian meminta izin kepada ibunya di samping untuk pergi ke bandara, menyusul Aksa, yang tadi sempat mati-matian ia benci keberadaannya. Sang ibu tentu saja mengangguk. Tangis di matanya juga sama tumpah, tapi tak mau menyia-nyiakan waktu, ia segera menyuruh kedua muda-mudi di depannya itu untuk berangkat menemui Radian yang sepertinya sudah sampai di Jakarta. Rayi tak mau lagi terlambat. Sudah cukup ia melukai dirinya sendiri. Kini ia sebenar-benarnya harus mengakui bahwa ia memang terus mencintai Aksa dan Rayi tak mau kehilangan lelaki mengagumkan tersebut.
98 Pedal gas ditekan sekuat mungkin. Jalanan tak lebih dari sekelebat bayangan. Kedua insan di dalam mobil tersebut berharap-harap cemas. Semoga Tuhan masih membiarkan sang anjing bernama ‘waktu’ untuk tak melahap mereka habishabisan. Ya, semoga mereka masih diberikan kesempatan. Boleh jadi jarak dari Bandung ke Bandara Soekarno Hatta hanya sejengkal jari, Rayi akan tempuh itu dengan mudah, tinggal melompat beberapa langkah lalu kemudian sampai. Namun ia membentang 180 kilometer, memerlukan waktu normal paling cepat 3 jam perjalanan melalui rute tercepat. Setelah melewati rintangan yang sudah merenggut waktu mereka, Rayi dan Jo akhirnya sudah sampai di Bandara. Kedua insan tersebut berlarian seperti orang kesetanan demi menemui lelaki yang Rayi cintai. Rayi menghela napas panjang. Jaraknya dan Aksa kini hanya menyisakan beberapa meter lagi. Hanya tinggal menghitung jari, Rayi bisa sampai ke tujuan utama. Ia tak henti berjalan. Terus melangkah. Jaraknya dan Aksa kini hanya menyisakan beberapa meter lagi. Hingga pada akhir di sisa perjalanannya, Rayi, kini bisa sedikit memperlambat gerak. Sebab Aksa si lelaki pemenang hatinya sudah bisa ia lihat sekarang dengan mata kepalanya sendiri.
99 Rayi mendekat. Antara matanya dan mata Aksa kini saling bertautan erat. Aksa jelas terkejut. Ia tak menyangka bahwa perempuan yang ia sayangi 8 tahun lamanya itu benar-benar datang, nyata wujudnya di sini. Namun, ia tetap masih membisu dengan raut wajah terpaksa dibuat kaku. Sementara Rayi, ia tersenyum haru seraya menyusut beberapa bulir air mata yang membasahi pipi. “Saya udah baca bukunya sampai halaman terakhir. Bukunya bagus dan beneran bisa buat saya sadar seutuhnya. Saya jadi bener-bener sadar kalau Kak Aksa emang punya perasaan setulus itu sama saya. Sama Kak Rama dan juga sama ibu. Saya mau ngucapin makasih yang sebesar-besarnya karena Kak Aksa mau mencintai saya sebegitu hebatnya. Makasih udah menjelaskan semuanya sejelas-jelasnya. Makasih udah selalu menghargai setiap kenangan yang pernah kita laluin bareng dulu.” Di sisi lain Jo dan Jeff, yang akhirnya juga bertemu, jelas tak mau berkata banyak. Mereka berdua tau kalau kedua insan tersebut memerlukan waktunya sendiri. Waktu terakhir. Waktu bagi keduanya mengucapkan kata-kata perpisahan. Oleh karena itu, dengan wajah sendu dan langkah sedikit gontai, Jo menghampiri Aksa, memeluk sahabat dekatnya itu erat, lalu berkata lirih penuh makna.
100 “Sa, gue bawa 'dunia' lo sekarang ke sini. Gue bawa dia, seseorang berarti segalanya di hidup lo. Maaf. Cuma ini yang bisa gue dan Jeff lakuin. Semoga lo suka. Semoga lo seneng dan baikbaik selalu di sana. Best of luck, Sa. I'm so lucky to have you as my brother.” Aksa tersenyum. Ia mengangguk dan ucapkan terima kasih kepada Jo yang sudah melangkah mundur beberapa jarak. Memberikan ruang bagi Rayi dan Aksa yang pada gilirannya memang harus berpisah secara baik-baik juga. Aksa lalu menatap Rayi di depannya. Ia masih bergeming untuk kemudian tak lama, berjalan menghampiri perempuan berusia 21 tahun tersebut dan mengelus surai indahnya dengan penuh kelembutan. Ia tak bicara. Sungguh. Beberapa detik ia hanya mengelus rambut Nami dan pandangi perempuan tersebut dengan tatapan penuh keteduhan. Tak ada kata-kata yang terlontar. Hanya perasaan, yang kini saling berinteraksi. “Makasih, Kak. Makasih banyak karna udah mau bertahan sampai sejauh ini untuk membahagiakan saya.” “Mungkin di waktu ini, kita emang gak ditakdirin buat bareng, Kak. Takdirnya jahat, dia gak mau liat kita bahagia.”
101 “Tapi saya yakin, kita pasti bakalan ketemu lagi.” “Mau satu tahun lagi, mau sepuluh tahun lagi, bahkan seratus tahun lagi, bakal saya tungguin. Asalkan saya bisa ketemu sama Kak Aksa lagi, saya bakal tunggu selama apapun itu.” “Saya bakal jaga diri baik-baik, Ray. Saya janji gak akan lupa makan sama lupa istirahat.” “Saya gak akan lupa untuk pulang.” “Saya juga sama-sama menyayangi kamu. Lagi-lagi, gak akan pernah berubah. Meskipun takdir mungkin gak mengizinkan, saya, tetap akan menyayangi kamu hingga waktu terbaik yang diperkenankan. Selamanya, kamu cinta terbaik di hidup saya.”
102 JIKUU’S NO KIMYOU NA BOUKEN: GREAT REBELLION 9B-17 Muhammad Desga Ainun Warda Di suatu kota, terdapat 4 orang sahabat yang bernama Jikuu, Togirukun, Genevieve, dan Amarilys. Mereka semua sudah bersahabat sejak di dalam rahim sang ibunda. Jikuu, Togirukun, dan Amarilys memiliki suatu kesamaan, yaitu seorang wibu akut yang memiliki husbu maupun waifu 2D. Walaupun begitu, sifat Togirukun dan Amarilys masih bisa dibilang lumayan waras tidak seperti Jikuu, sifat kewibuannya yang sudah melebihi batas bahkan sampai setan yang menggodanya di semasa hidupnya itu sampai geleng-geleng kepala, goyang dumang, pargoy, sampai rela bertobat dan dijadikan mainan oleh anak-anak manusia ketika ia melihat kelakuan si Jikuu. Ia bahkan menganggap waifuwaifu-nya yang gepeng dari suatu karya orang lain itu akan menjadi nyata suatu saat nanti. Walaupun begitu, mereka bertiga tetap ingin bersahabat dengan beliau. Mereka juga sudah melalui suka dan duka bersama-sama, walaupun si wibu luar biasa stress itu lebih suka menertawakannya daripada membantunya.
103 Pada suatu ketika, mereka baru saja pulang belanja bareng di mall tua peninggalan kerajaan Majapahit yang buka selama 24 jam. Mereka membeli banyak sekali barang seperti sepatu, tas, lipstik, pakaian, hp baru, makanan mewah, dan masih banyak lagi karena kekayaannya akan harta yang banyaknya meliputi luas langit dan bumi. Mereka berbelanja di mall tersebut dari pukul 7 malam hingga jam 3 pagi. Usai berbelanja selama kurang lebih 8 jam itu, Mereka berempat pun segera mengangkat barang belanjaannya ke dalam truk trontonnya si Togirukun. Saking kayanya, belanja aja sampai pake truk. 30 menit kemudian, semua barang-barangnya sudah dimasukkan ke dalam truk dan Togirukun pun menyalakan truknya dan siap untuk kembali ke rumah. KKkrrr… Suara menyalakan mesin truk. Akan tetapi, sayang seribu sayang, dikarenakan Togirukun yang sudah mengantuk dan lelah karena hampir semalaman pergi berbelanja bersama sahabatnya. Ia mengendarai truk itu dengan kondisi mengantuk sehingga truk yang ia kendarai itu menjadi oleng dan menerobos ke arah jurang. Sebelum truk tersebut memblasak ke jurang, Jikuu melompat keluar dari truk untuk menyelamatkan diri. Tapi takdir tidak mengubah kenyataan, Jikuu malah tertabrak truk yang melaju dengan kecepatan cahaya
104 ketika ia melompat keluar dari truk yang ditumpangi sahabatnya. Alhasil, mereka mati semua… Beberapa lama kemudian, Jikuu berusaha membuka mata dan bertanya dalam hati dimana sekarang dia berada. Jikuu melihat ke kiri dan ke kanan, dan ternyata sahabatnya juga ada di dalam ruangan hitam nan misterius itu. Masing-masing dari mereka dibatasi oleh dinding tak terlihat sehingga mereka tak dapat mendengar suara yang diucapkan oleh orang lain. Mereka berusaha untuk berbicara satu sama lain, namun mereka tetap saja tak bisa mendengar apa yang diucapkan oleh sahabat mereka. Air mata mulai menetes pada wajah Jikuu yang terlihat seperti sedang berakting, rasa menyesal mulai menyelimuti isi hati dan pikirannya. Beliau mulai menyesal akan dosa yang ia lakukan semasa hidupnya karena tidak menjadi orang yang beriman dan berbudi luhur. Tiba-tiba, sebuah cahaya muncul di hadapan mereka semua dan membentuk sebuah pintu. Mereka menuai harapan yang tinggi agar mereka dapat hidup kembali. Ketika pintu itu terbuka, keluarlah seorang Dewa berbadan putih seputih-putihnya, memiliki tattoo berwarna merah di badannya, dan tentu saja berkepala botak. Dia lah Sang Dewa yang akan memberi pilihan kepada jiwa-jiwa manusia yang ada di ruangan ini. Apakah dia ingin hidup lagi atau langsung masuk ke neraka untuk
105 membersihkan dosa dan menuju ke surgawi. Dia lah sang ‘The God of Choices’, Krotas. Mereka diam mematung melihat seorang Dewa di hadapan mereka. Pada saat yang sama, secara mengejutkan mereka dapat mendengar apa yang diucapkan oleh sahabatnya. Tanpa banyak basa-basi, Krotas memberikan mereka dua pilihan, bereinkarnasi di dunia baru atau menikmati dunia akhirat. Tanpa berpikir panjang maupun dua kali, mereka serempak untuk memilih bereinkarnasi di dunia baru. Selanjutnya, Krotas memberikan pilihan beberapa elemen sihir yang bisa digunakan saat berada di dunia baru. Karena mereka saking bingungnya mau pakai elemen apa, butuh waktu hingga 69 jam sampai mereka selesai memilih. Sembari menunggu ningen-ningen (manusia-manusia) itu memilih, Krotas pun menyanyikan sebuah lagu untuk menenangkan suasana. Akhirnya mereka selesai memilih elemen yang mereka inginkan di dunia baru, tepat setelah Krotas menyanyikan lagu tersebut hingga selesai. Jikuu dan kawan-kawannya pun memejamkan mata dan dipindahkan oleh Krotas ke dunia baru. Sambil membaca mantra yang di dekte kan oleh Krotas. Wuuuuuusssssshhhhhh…
106 Mereka menghilang dari ruang hampa itu dan muncul tepat di balai desa Erdonaz, suatu desa di dunia baru yang mereka tinggali saat ini. Mereka mulai berlari-lari kecil bak seseorang yang sedang berhaji dari bukit Shafa menuju bukit Marwa. Sejauh mata memandang, mereka melihat hamparan sawah yang luas nan hijau, gunung-gunung yang menjulang tinggi dan berpayung awan, dan sebagainya. Mereka menghabiskan seharian penuh untuk berkeliling desa dan mencoba elemen sihirnya sebuah dataran padang rumput dibawah kaki gunung. Mereka mulai mengetes sihirnya setidaknya hingga matahari terbenam. Namun, hasil latihan mereka sia-sia karena mereka tidak dapat mengeluarkan sihir. Ketika matahari hampir terbenam, Amarilys dan Genevieve teringat sesuatu, bahwasanya mereka mendapat sebuah ‘Skill Book’ tepat setelah mereka tiba di desa Erdonaz. Dan ternyata, alasan mereka tidak bisa mengeluarkan skill dari elemen yang mereka pilih, dikarenakan mereka harus memiliki beberapa Light Point untuk mempelajari skill baru. Setiap skill membutuhkan jumlah Point yang berbeda. Semakin bagus skill nya, maka semakin besar pula Light Point yang dibutuhkannya.
107 Karena matahari sudah mulai tenggelam bagaikan seseorang yang tak dapat berenang di tengah laut dan suasana menjadi mulai gelap gulita bak masa depan seseorang yang tak mau belajar, mereka memutuskan kembali ke desa Erdonaz untuk mencari tempat penginapan dan mencari loker di keesokan harinya. Hari demi hari, mereka bekerja dengan sangat keras supaya mereka dapat membeli senjata dan mengalahkan monster demi mendapatkan sesuap Light Point. 9 bulan pun berlalu, akhirnya mereka dapat membeli 1 unit rumah beserta isinya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan mereka tak perlu lagi tidur di emperan pasar, kolong jembatan, maupun di sisi tempat sampah layaknya seorang gembel yang putus asa dan tak mau berubah. Beberapa saat setelah mereka membeli rumah tersebut, mereka memutuskan untuk melatih penggunaan skill mereka lagi. KKkrrr!!! Suara es yang membeku yang membuat suasana menjadi dingin. Ssshhh… Suara tumbuhan yang menjalar. HHhhh… Suara bayangan dari skillnya Amarilys.
108 BBbbrrrhhh… Suara air yang mengalir deras, sederas duit ketika mendekati hari raya. Seperti biasa, mereka berlatih sampai matahari terbenam, dan mereka bergegas untuk kembali ke desa Erdonaz. Tetapi ketika mereka kembali di desa Erdonaz, terlihat beberapa prajurit kerajaan menarik paksa seseorang gadis untuk dijadikan gadis penghibur bagi sang raja Lord of Light. Selain itu, para warga berbondong-bondong membawa hasil panen mereka ke dalam istana sebagai upeti untuk sang raja. Jika ada dari mereka yang memprotes kebijakan tersebut, dia akan langsung mendapat hukuman dari raja baik hukuman penjara maupun MATI. Mereka bertanya kepada penduduk setempat mengenai apa yang terjadi di sini dan alasan mengapa mereka tidak melawannya. Seorang penduduk menjelaskan apa yang terjadi dan memberitahu bahwa ada tempat persembunyian bagi para pemberontak yang disebut ‘Dark Wizard’ di wilayah Misty Marsh. Mereka segera pulang ke rumah untuk mempersiapkan barang yang dibutuhkan untuk perjalanan mereka menuju Misty Marsh dan mencari tempat persembunyian dari para pemberontak Lord of Light. Pada saat perjalanan pulang, mereka sempat membicarakan rencana mereka untuk memberontak aturan Lord of Light dan bergabung dengan Dark Wizard. Namun, sayang
109 seribu sayang suara yang diucapkan mereka berempat bisa dibilang sedikit keras, dan diketahui oleh salah satu pengintai Lord of Light. Pengintai tersebut segera kembali ke istana dan memberitahu sang raja tentang rencana mereka berempat itu. Raja teramat sangat marah, dan memerintahkan beberapa bawahannya untuk segera membunuh mereka. Tetapi, sang pengintai menyarankan agar sang raja mencuci otak sebagian dari mereka, agar mereka menjadi bawahan sang raja dan membantunya dalam melawan pemberontak yang akan dilakukan oleh Dark Wizard. Sang raja setuju, dan meminta para penyihir kerajaan untuk melaksanakan perintahnya ketika mereka sedang tidur di malam hari. Pada malam harinya, para penyihir mulai melancarkan aksinya menggunakan sihir tak terlihat agar tidak dapat dilihat oleh mereka jika ada salah satu dari mereka yang masih terjaga. Penyihir-penyihir itu mulai ritual pencucian otak Togirukun dan Amarilys. Selama kurang lebih 27 menit, ritual tersebut berhasil dilakukan dan penyihir-penyihir tersebut berlari keluar dari rumah mereka berempat. Pagiku cerahku, matahari bersinar. Ku gendong tas merahku di pundak. Fajar mulai menyingsing hari, menghangatkan suasana dari malam yang dingin sedingin es yang membeku. Kini semua orang bersiap melakukan kegiatan dan rutinitasnya
110 masing-masing. Mereka berempat mulai bersiap untuk melakukan perjalanannya menuju Misty Marsh. Akan tetapi, pada saat mereka hendak memulai perjalanannya ke Misty Marsh, Togirukun dan Amarilys bertanya mereka akan pergi kemana dan meminta Jikuu dan Genevieve untuk menjelaskan alasannya. Begitu Togirukun dan Amarilys mendengar alasan bahwa mereka akan menentang Lord of Light, mereka mengeluarkan senjata sihir Shuku No Buki. Shuku no Buki adalah senjata sihir yang dimiliki seseorang berdasarkan keterampilan dan elemen yang dimilikinya. Pagi yang tenang itu berubah menjadi menegangkan, karena keempat sahabat itu saling beradu kekuatan. Togirukun dan Amarilys berusaha untuk membunuh Jikuu dan Genevieve yang telah menentang peraturan Lord of Light. Pertemanan mereka mulai hancur akibat perbuatan licik yang dilakukan oleh seorang raja yang disebut Lord of Light. Dikarenakan Jikuu dan Genevieve yang masih belum bisa mengeluarkan Shuku no Buki dan darah yang dikeluarkan oleh mereka juga sudah mulai bercucuran, mereka memutuskan untuk melarikan diri menuju Misty Marsh dan menghindari pertarungan dengan sahabatnya. Genevieve merangkul Jikuu yang kakinya tak bisa berjalan dengan normal alias pincang sebelah dan berceceran darah. Mereka melarikan diri keluar desa dan mencari
111 keberadaan Misty Marsh. Sedangkan Togirukun dan Amarilys membiarkan mereka pergi untuk sementara waktu, dan apabila mereka kembali, Togirukun dan Amarilys berniat untuk membunuh mereka berdua sekaligus TANPA AMPUUUNNN!!! Beberapa jam setelah pertarungan sengit itu, mereka mulai berpisah. Togirukun dan Amarilys kembali ke istana kerajaan Lord of Light, sedangkan Jikuu dan Genevieve melarikan diri dan melanjutkan perjalanannya ke Misty Marsh. Luka yang diterima oleh Jikuu dan Genevieve bisa dibilang cukup parah, mereka kehabisan tenaga dan terkapar tak berdaya sebelum mereka sampai di Misty Marsh. Akan tetapi, pada saat Jikuu terbangun dari pingsannya, mereka telah berada di suatu kamar dan ditemani oleh seseorang. Orang tersebut adalah pemimpin regu pemberontak Dark Wizard yang bernama Kratos. Jikuu bertanya kepadanya, apa yang terjadi dan bagaimana ia bisa sampai di sini. Dengan senang hati, Kratos menjelaskan apa yang ditanyakan oleh Jikuu selama kurang lebih 30 menit. Tak berselang lama kemudian, Genevieve bangkit dari kemati-, maksudku bangkit dari pingsannya. Lalu, ia bertanya sama seperti Jikuu ketika baru bangun. Dan, Jikuu menjelaskan panjang lebar apa yang terjadi sehingga mereka bisa berada di Misty Marsh, dan tentu saja, Genevieve terkejut mendengar bahwa yang memimpin Dark Wizard adalah Kratos. Ya, dia tak menyangka bahwa seseorang kembarannya Krotas itu menjadi
112 pemimpinnya. Dan kalian atau apa yang terjadi selanjutnya? Benar, dia koma atau lebih tepatnya lagi pingsan selama 12 jam. Sembari menunggu Genevieve bangkit lagi, Jikuu memutuskan pergi agak menjauh dari tempat persembunyian Dark Wizard untuk mencari beberapa Light Point, memperoleh skill baru, dan melatihnya. Jikuu memutuskan untuk pergi ke perbatasan Misty Marsh dan Demon Abyss untuk melatih salah satu skill baru yang ia pelajari, Ice Age. Ia mulai merapalkan sebuah mantra dan secara mengejutkan, area di sekitar Jikuu membeku dan menjadi es yang dingin dengan cepat, termasuk pepohonan, binatang, bahkan monster yang berada di dekatnya. Tapi untungnya, esnya tersebut tidak mengenai Genevieve yang baru saja sampai di tempat itu untuk melatih skill juga. Di saat yang bersamaan, para iblis dari Demon Abyss yang sedang berhibernasi mulai terbangun dan mendatangi mereka berdua. Iblis-iblis itu datang dikarenakan suara yang ditimbulkan mereka berdua sangat keras dan skill Jikuu yang merubah suasana yang awalnya hangat menjadi sangat dingin. Iblis-iblis itu mulai menyerbu mereka berdua sekaligus. Namun sayang sekali, sebagian dari mereka berubah menjadi es dalam sekejap mata. Lantunan teriakan para iblis terdengar sangat keras dan merdu, cipratan darah mulai membasahi area itu dan pakaian mereka berdua. Di saat semua iblis berhasil mereka
113 kalahkan, tiba-tiba munculah sesosok zombie yang terlihat seperti seorang samurai dan memegang katana yang berlumut namun ujung pedangnya masih terlihat sangat tajam, serta sesosok tengkorak berlumut yang dapat menembakkan panah beracun. Dikarenakan mereka sedikit kelelahan karena berlebihan menggunakan kekuatannya dalam melawan beberapa iblis dari Demon Abyss, mereka tak sanggup melawan kedua monster itu. Pedang milik Jikuu dapat dipotong dengan mudah oleh Samurai Zombie, sedangkan tali busur milik Genevieve terputus akibat tembakan tengkorak yang akurasinya sangat tepat. Di saat-saat terakhir, tiba-tiba sebuah senjata muncul di samping mereka. Ya, itu adalah Shuku no Buki. Jikuu memiliki senjata sejenis kapak yang bernama Axcier, sedangkan Genevieve memiliki senjata sejenis panah bernama Shizen no Hōsoku. Mereka berdua berusaha sekuat mungkin menyerang balik, dan mereka bisa mengalahkan kedua monster tersebut. Jikuu mematahkan katana dan memenggal kepala zombie tersebut, sedangkan Genevieve menembakkan panah sihir dan menumbuhkan akar di bawah tengkorak tersebut dan mengikat serta menekan tubuh kerangka tengkorak tersebut hingga hancur berkeping-keping. Mereka pun kembali ke tempat persembunyian dengan beberapa luka, namun mereka juga merasa senang karena pada akhirnya mereka dapat mengeluarkan
114 Shuku no Buki, dan kini mereka hanya tinggal menunggu waktu untuk menyerang istana Lord of Light. Sudut pandang Jikuu dan Genevieve menuju Misty Marsh, selesai. Kini kita berpindah ke sudut pandang Togirukun dan Amarilys yang telah dicuci otak dan menjadi panglima perang pasukan kerajaan Lord of Light. Selang beberapa jam setelah mereka bertarung dengan Jikuu dan Genevieve, mereka pergi ke istana kerajaan dengan tubuh yang sedikit terluka untuk memberitahu sang raja bahwa Jikuu dan Genevieve akan memberontak peraturannya serta informasi mengenai tempat persembunyian regu pemberontak Dark Wizard. Raja merasa senang terhadap hasil pekerjaan dari penyihir-penyihirnya yang telah mencuci otak mereka berdua sehingga mereka menjadi bawahannya sang raja. Kemudian, raja menyuruh mereka berdua untuk mengobati luka-lukanya itu dan pergi ke Magical Castle untuk meningkatkan penggunaan skill dan Shuku no Buki milik mereka agar menjadi lebih kuat untuk melawan pemberontakan yang akan dilakukan oleh Dark Wizard. Togirukun dan Amarilys mematuhi perintah raja dan segera menuju ke Magical Castle. Selama berbulan-bulan, mereka menghabiskan waktunya di Magical Castle untuk mempelajari dan berlatih skill elemen dan Shuku no Buki mereka.
115 Pada suatu hari, raja memanggil Togirukun dan Amarilys untuk menunjukkan kekuatan sihir yang selama ini sudah mereka pelajari dan latih dari Magical Castle. Mereka diminta untuk datang ke Colosseum kerajaan untuk beradu kekuatan dengan pemimpin pasukan utama pertahanan kerajaan. Raja ingin melihat sejauh mana potensi mereka saat ini, dan jika mereka dapat mengalahkan pemimpin pasukannya utamanya, maka mereka akan ditunjuk oleh sang raja sebagai komandan utama pasukan kerajaan. Hal tersebut dilihat oleh banyak penonton dari seluruh prajurit kerajaan. Sorakan para penonton terdengar sangat keras hingga menggema ke desa Erdonaz. Serangan demi serangan, sihir demi sihir mereka keluarkan untuk memenangkan pertandingan ini agar raja tidak merasa kecewa dengan hasil latihan mereka. Pertandingan yang awalnya hanya sebagai uji coba ini, berubah menjadi pertarungan berdarah. Hal-hal menegangkan ketika memasuki akhir pertandingan, darah memenuhi arena pertandingan, pada saat yang sama terlihat sekilas bayangan dari bawah salah seorang pemimpin prajurit yang sedang dihadapi Amarilys. Bayangan tersebut terlihat sedang menggenggam erat lengan atas dan bawah orang tersebut. Siapa sangka, bayangan tersebut memutus kedua tangan orang tersebut. Tidak hanya itu, juga terlihat sebuah pusaran air di bawah lawan yang sedang dihadapi oleh Togirukun.
116 Beberapa saat setelahnya, air tersebut menyembur keatas sehingga membentuk sebuah duri. Air tersebut menembus tubuh lawannya dan mengeluarkan seluruh isi organnya. Para penonton terdiam seribu bahasa melihat hal-hal sadis tersebut. Justru sebaliknya, sang raja malah tertawa sangat keras melihat kekuatan sihir yang dikeluarkan oleh Amarilys dan Togirukun. Beliau sama sekali tidak merasa bersalah karena telah mengadakan acara ini. Tanpa berpikir panjang, sang raja langsung menyatakan bahwa Togirukun dan Amarilys telah menjadi komandan utama pasukan kerajaan Lord of Light. Karena alur perpisahan sudah selesai, saatnya masuk ke bagian Time Skip, di mana peperangan akan segera dilakukan… 3 tahun kemudian, semua anggota Dari Wizard bersiap untuk melakukan penyerangan terhadap Lord of Light. Akan tetapi, beberapa hari sebelumnya, seorang pemimpin mereka yang tidak lain dan tidak bukan adalah si Kratos, telah meninggal dunia. Kini mereka harus memilih pemimpin baru sebelum menyusun rencana penyerbuan. Seluruh anggota berkumpul di ruang utama untuk melakukan musyawarah, salah seorang anggota menyarankan agar Jikuu menjadi pemimpin mereka. Mendengar hal itu, semua anggota Dari Wizard menyatakan kesetujuannya. Akan tetapi, Jikuu menolak. Ia merasa tidak pantas untuk dijadikan seorang
117 pemimpin, karena menurutnya, seorang pemimpin harus lebih mengutamakan kepandaiannya dalam mengatur strategi peperangan. Sementara itu, ia merasa bahwa dirinya tak dapat mengatur strategi dengan bijak dan tepat, ia hanya bisa mengandalkan kekuatan sihirnya ketika berperang. Selanjutnya, Jikuu menyarankan bahwa yang akan menjadi pemimpin mereka adalah Genevieve, karena menurutnya bahwa Genevieve bisa mengatur strategi dengan tepat serta memiliki kekuatan sihir yang hebat. Tiba-tiba, datanglah seorang pemuda dan menyatakan kesetujuannya terhadap saran yang diberikan itu. Pemuda tersebut baru saja kembali dari desa Erdonaz untuk memata-matai gerak-gerik pihak kerajaan. Pemuda itu bernama Whiesnu, ia juga sahabat Jikuu dan teman-teman ketika mereka masih hidup di dunia sebelumnya. Beberapa bulan sebelum Jikuu dan ketiga sahabatnya kecelakaan, Whiesnu telah meninggal terlebih dahulu diakibatkan sebuah kecelakaan saat mengerjakan proyek pembangunan gedung. Para anggota Dark Wizard juga setuju, bahwa Genevieve akan menjadi pemimpin mereka. Setelah itu juga, mereka memulai rencana penyerangan yang akan dilakukan dikeesokan harinya. Malam sebelum penyerangan, Jikuu mengeluarkan kloningannya untuk memberi kabar penduduk desa Erdonaz agar mereka mengungsi ke desa Sorwey. Karena pihak Dark Wizard akan
118 melakukan serbuan besar-besaran di wilayah desa Erdonaz dan istana kerajaan. Fajar mulai menyingsing hari, menghangatkan suasana yang dingin. Pagi itu, suasana di desa Erdonaz sangat hening tak seperti biasanya. Pasukan kerajaan yang sedang berpatroli merasa curiga bahwa akan terjadi sesuatu. Dan benar saja, tiba-tiba langit menjatuhkan hujan es yang sangat teramat deras. Es-es tersebut melukai para prajurit yang sedang berpatroli di wilayah desa Erdonaz. Selain di desa itu, hal serupa juga terjadi di istana kerajaan. Beberapa prajurit mengalami luka-luka yang sangat serius, dari patah tulang hingga pendarahan yang parah. Kemudian, pihak kerajaan mengeluarkan sirine darurat untuk mengumpulkan seluruh pasukan infanteri, penyihir, dan juga pemanah. Seseorang pengawas di salah satu menara istana, melihat adanya segerombolan orang yang datang menuju ke gerbang depan kerajaan. Mengetahui hal itu, raja merasa sangat kesal dan marah. Ia mengutus Togirukun dan Amarilys untuk mengatasi mereka di gerbang depan kerajaan. Seluruh penyihir kerajaan, juga diutus untuk meluluhlantakkan para pemberontak itu dengan sihir ledakan yang hebat. Namun, untuk melakukan hal tersebut membutuhkan waktu yang sangat lama dan akan menelan korban jiwa dari sebagian besar penyihir yang terlibat dalam mengeluarkan sihir tersebut. Sembari mengulur waktu agar para
119 penyihir itu mempersiapkan sihir ledakan, raja memerintahkan Togirukun dan Amarilys untuk langsung menyerbu mereka sebelum mereka mendekat ke gerbang utama kerajaan. Mereka berdua langsung menerobos ke arah gerombolan pasukan Dark Wizard untuk mengulur waktu bagi penyihir kerajaan. Mereka juga mengeluarkan Shuku no Buki nya untuk melawan para pemberontak. Togirukun dengan Dagger of Sevenseas nya dan Amarilys dengan Yaan no Mikadzuki nya. Akan tetapi, mereka tidak menyangka bahwa mereka akan berhadapan dengan Whiesnu serta Trident Hell’s nya dan Genevieve serta Shizen no Hōsoku nya. Teriakan demi teriakan perang dikumandangkan oleh kedua pihak, darah bercucuran dimana-mana, banyak mayat yang tergeletak dengan tampilan yang mengenaskan, ditambah dengan meletusnya gunung berapi Uzwardo yang membuat langit menjadi gelap dan berkabut. Dengan memanfaatkan keadaan tersebut, Jikuu diam-diam menerobos masuk ke istana kerajaan untuk membunuh sang raja Lord of Light yang bernama Bourhend. Jikuu menebas semua prajurit kerajaan yang menghalanginya dengan menggunakan Shuku no Buki miliknya, Axcier. Ketika Jikuu masuk ke dalam istana, suasana di sekitarnya menjadi sangat dingin diakibatkan aura sihir yang dikeluarkan
120 oleh Jikuu. Darah para prajurit berceceran di lantai, dinding, interior, bahkan dipa kaian Jikuu. Jikuu yang merasa sangat marah terhadap raja Bourhend karena telah membuat persahabatannya menjadi hancur. Kemudian, ia berteriak sangat keras dan mencaci sang raja dengan kata-kata yang tidak senonoh. Amarah dan balas dendam, menyelimuti dan membutakan Jikuu, sehingga dia akan membunuh siapa saja yang dianggapnya adalah prajurit kerajaan. Beberapa saat kemudian, ia berhasil menemui raja Bourhend di singgasananya. Tanpa banyak berbicara, Jikuu segera mengeluarkan skill yang sama saat ia berlatih di Misty Marsh yaitu Ice Age dan Ice Spike. Seketika, ruangan itu menjadi membeku beserta dengan orang-orang yang ada di dalamnya kecuali raja Bourhend. Karena, Jikuu ingin membunuhnya dengan cara yang lebih sadis lagi daripada hanya mengubahnya menjadi es dan membelahnya. Ia ingin sang raja mati dengan cara memenggal kepalanya dan mengeluarkan seluruh isi organ tubuhnya. Duel 1 lawan 1 dimulai, Jikuu melesat dengan cepat ke arah Bourhend dengan Axcier nya, begitu juga Bourhend dengan Kaze no Yari nya. Mereka berdua telah dibutakan oleh amarah dan dendam sehingga mereka bertarung mati-matian dan tak akan menyerah hingga mereka mati. Tempat yang awalnya bersih mengkilap itu, berubah menjadi berwarna merah darah dan mayat
121 yang tergeletak tak berdaya. Angin dan es saling beradu dan membuat suasana menjadi sangat-sangat dingin. Selama kurang lebih 1 jam bertarung, akhirnya kemenangan jatuh di tangan Jikuu. Ia berhasil memenggal kepala raja Bourhend dengan kapak Axcier nya. Dan tak lupa, ia memotong dan mencincang tubuh sang raja sebagai ungkapan amarahnya yang selama ini ia pendam. Namun, ia harus merelakan tangan kirinya yang putus akibat tusukan Kaze no Yari milik raja Bourhend. Di saat yang bersamaan, Togirukun dan Amarilys mendapatkan kendali pikirannya lagi dan terjatuh lemas. Dan di saat itu juga, para penyihir juga sudah siap untuk mengeluarkan sihir ledakan yang akan seluruh istana kerajaan. Jikuu berusaha melindungi dirinya dengan menutupi dirinya dengan es yang sangat tebal. Sementara itu, di bagian gerbang utama kerajaan, Amarilys berusaha mengerahkan seluruh tenaganya untuk membuat pelindung bayangan yang akan melindungi dirinya dan seluruh para pasukan pemberontak. Ya, dan dalam sekejap seluruh area di kerajaan Lord of Light itu meledak dengan hebat layaknya dijatuhi beberapa bom nuklir. Beruntungnya, Jikuu dan Amarilys berhasil melindungi diri dan para regu pemberontak yang tersisa. Awan yang awalnya terlihat gelap dan dipenuhi kabut, mulai menyinarkan cahaya sebagai tanda akan dimulainya kehidupan baru yang akan lebih baik lagi. Peperangan ini berakhir dengan kemenangan dari pihak
122 pemberontak. Jikuu yang masih terselimuti dengan dendam, ia berusaha untuk membunuh semua prajurit dan penyihir kerajaan bawahan raja Bourhend yang tersisa di dalam maupun di luar istana. Namun, hal tersebut dapat dihentikan oleh Genevieve, Togirukun, dan Whiesnu sehingga korban jiwa yang ditimbulkan dalam perang ini tidak bertambah banyak. Seusai peperangan itu, orang-orang dari kedua pihak yang masih selamat dan tidak terluka parah, mulai mengurus mayat yang bergelimpangan di sekitar istana kerajaan maupun desa Erdonaz. Mereka membutuhkan sekitar seminggu penuh untuk mengurus semua mayat-mayat itu. Sehari setelahnya, diadakan pemilihan sebagai penerus kerajaan. Dikarenakan orang-orang dari desa Erdonaz merasa terselamatkan oleh para pemberontak yang dipimpin oleh Genevieve, para penduduk desa membuat kesepakatan untuk menjadikan Genevieve sebagai pemimpin kerajaan dan kawan-kawannya menjadi komandan utama pasukan kerajaan. Pada saat itu, nama Lord of Light diubah menjadi Shufuku no Hikari. Dan mereka berempat, memulai kehidupan baru yang damai didunia itu selamanya.
123 Art by: Nasrullah Dava Asyary 9H/27
124 ATLANTIS 9B-18 Muhammad Jagad Satria Pada hari Kamis tanggal 31 Agustus 2069 waktu pukul 20.00 WIB, aku baru saja pulang dari kampus. Sesampai di rumah, aku membersihkan diri dan siap untuk beristirahat. “Hah… Aku lelah sekali. Sepertinya aku akan tidur cepat malam ini,” kataku sambil berjalan ke arah kasur. “Ah… nyaman sekali!!” Dan akhirnya aku pun tertidur lelap. Keesokan harinya, aku bangun dari tidurku. Bukannya berada di kamar, aku terbangun di sebuah padang rumput yang luas dan tidak ada seorang pun sama sekali. “Dimana ini? Seharusnya aku tidur di kasur, tapi kenapa tibatiba aku berada di padang rumput? Apakah aku masih bermimpi? Mungkin, aku akan terbangun jika aku mencubit tubuhku dengan keras,” gumam ku, seketika aku langsung mencubit bagian tanganku dengan sangat keras dan cubitan itu benar-benar terasa sakit. Tapi aku masih belum kunjung bangun dan aku merasa bahwa aku terjebak di dimensi yang berbeda. Aku mulai menyusuri padang rumput itu untuk mencari orang-orang yang mungkin bisa membantuku. Setelah sekian
125 lama aku berjalan ke sana ke mari, aku belum juga menemukan seorang pun. “Hah… Sepertinya aku akan berusaha bertahan hidup di dunia ini hingga aku menemukan jalan untuk kembali ke duniaku yang sebenarnya,” kataku sambil kelelahan. Aku pun mulai mengumpulkan ranting pohon. Membuat peralatan dari batu, menebang pohon, mencari hewan dan tumbuhan yang bisa dimakan, membuat tempat tinggal sementara, dan lain-lain. Setelah aku bertahan hidup dan melakukan penelusuran selama beberapa hari, akhirnya aku menemukan sebuah pedesaan. “Akhirnya, sebuah pedesaan berada tepat di depan mataku,” kataku sambil berjalan ke arah pedesaan itu. Di desa itu, aku bertanya kepada setiap orang bagaimana cara keluar dari dunia ini. “Hai pak, apakah anda tahu bagaimana cara keluar dari dunia ini?” “Tentu saja anak muda. Ada satu cara untuk keluar dari dunia ini. Apakah kamu tersesat wahai anak muda?” kata seorang pustakawan. "Iya, Pak. ketika aku baru saja bangun dari tidurku, tiba-tiba aku berada di sebuah padang rumput,” jawabku.
126 “Betapa malangnya dirimu wahai anak muda…” Kemudian ia menimpali, “Yang harus kau lakukan adalah menjelajah 3 dimensi di dunia ini dan melawan 4 boss monster terkuat di dunia ini. Jika kau gagal atau mati saat melawan boss, secara otomatis kamu akan muncul kembali ditempat di mana kamu terakhir tidur. Tapi kau akan kehilangan semua barangbarang yang kau bawa.” “Ada 3 dimensi di dunia ini, yaitu Overworld, Nether dan The End. Serta ada 4 boss monster yang harus kau hadapi yaitu Warden di Overworld, Wither Boss di Nether, Ender Dragon di The End dan Elder Guardian di kota Atlantis yang sudah tenggelam di bawah laut pada dimensi Overworld,” lanjutnya. “Kamu harus mengalahkan itu semua agar mendapatkan bahan yang dibutuhkan untuk membuat Realism Portal. Kamu bisa tinggal di rumahku sampai kau bisa keluar dari dunia ini. Sebelum kau memulai perburuanmu, kau harus mempersiapkan semua perlengkapan yang terbuat dari berlian atau bebatuan Nether untuk melawan mereka semua,” jelas bapak pustakawan itu kembali. “Siap pak, aku tidak akan gentar jika itu memang yang harus aku lakukan!” kataku dengan nada yang bersemangat.
127 Keempat bahan yang dimaksud oleh bapak pustakawan itu adalah Bintang Nether, Balok Jiwa, Kristal Naga, dan Hati Lautan. Aku pun mulai melakukan hal-hal yang dibutuhkan untuk menjelajah dan melawan boss, seperti menambang berlian sebagai bahan utama untuk membuat armor yang super kuat. Setelah melawan para monster dan melalui jalanan yang lika-liku di dalam goa, akhirnya aku mendapatkan banyak berlian yang cukup untuk membuat peralatan yang super kuat. “Wow, berlian ini sangatlah banyak. Mungkin ini cukup untuk membuat peralatan yang aku butuhkan,” ujarku dengan kegirangan. Aku pun mulai menempa berlian-berlian itu menjadi peralatanku untuk menjelajah dimensi kedua, Nether. Aku membangun portal Nether dari obsidian dan memasukinya. Setelah masuk ke Nether, aku langsung mulai menuju suatu bangunan untuk mencari bahan pembuat portal menuju dimensi The End. Aku melawan para monster berapi yang bernama Blaze dan manusia tinggi yang dapat berteleportasi yang bernama Enderman demi mendapatkan bahan yang kubutuhkan. Setelah mendapatkan bahan-bahannya, aku kembali ke lokasi portal ku di Nether untuk menambang bebatuan Nether untuk meningkatkan kekuatan peralatanku. Usai menambang, aku kembali ke Overworld untuk menggabungkan bebatuan Nether
128 dan armor berlianku dan mulai mencari lokasi di mana portal The End itu bersembunyi. Selang beberapa hari semenjak aku keluar dari portal Nether, akhirnya aku menemukan sebuah bangunan di bawah tanah yang bernama Stronghold, tempat di mana portal The End itu tersembunyi. Aku pun mulai mengaktifkan portal itu dan segera masuk ke dimensi The End untuk melawan Ender Dragon agar bisa mendapatkan Kristal Naga. Tempat itu di kelilingi oleh pilarpilar tinggi dan terdapat Kristal End dipuncak pilar yang dapat meregenerasi kekuatan naga itu. “Ah! Kristal-kristal itu membuatku kesal dan hampir membuatku mati. Aku harus segera menghancurkan kristalkristal itu.” Aku pun menembakkan anak panah dan akhirnya mengenai kristal itu. Kemudian, kristal-kristal itu meledak. Setelah semua kristal-kristal itu meledak dan melakukan perlawanan yang sengit dengan sang naga, akhirnya aku berhasil mengalahkannya dan mendapatkan Kristal Naga. “Hah… akhirnya aku mendapatkannya. Kurang 3 bahan lagi yang harus aku dapatkan,” kataku sambil kelelahan.
129 Aku pun kembali ke lokasi portal ku di The End. Setelahnya, aku pergi ke Overworld dan memperkuat lagi perlengkapanku menggunakan buku-buku sihir. Lalu, aku mencari bangunan yang bernama Fortress di Nether untuk melawan Wither Boss. Akhirnya, aku menemukan bangunan gelap nan horror itu dan siluet tubuh dari Wither Boss. Terlihat samar-samar dari kejauhan. “Wow, tempat yang mengerikan. Banyak sekali tengkorak disini,” ucapku sambil merinding. Sesampainya di sana, aku langsung ditembak oleh Sang Wither Boss. Aku pun melakukan perlawanan terhadap Wither Boss itu demi mendapatkan bahan utama untuk membuat Realism Portal. “Cih… Mahkluk hitam nan mengerikan ini bermain curang. Dia memanggil para tengkorak-tengkorak untuk membantunya dalam melawanku,” ujarku sambil menahan rasa sakit akibat tembakan panah dari tengkorak dan efek racun dari serangan Wither. Sembari menahan rasa sakit yang begitu besar, aku berusaha bangkit dan melawan kembali Wither Boss itu. Setelah melewati pertarungan yang cukup panjang, akhirnya Wither Boss itu bisa
130 aku kalahkan dan para tengkorak-tengkorak itu tiba-tiba menghilang bersamaan pada saat Wither Boss itu kubunuh. “Akhirnya, kurang 2 bahan lagi yang harus ku cari di Overworld,” ucapku terbata-bata. Lalu aku kembali ke lokasi portalku di Nether dengan sedikit bantuan dari para Piglin, suatu suku penghuni hutan merah di Nether yang memiliki wajah seperti babi. Karena pertarungan sengit melawan Wither itu, aku menjalani penanganan khusus di pedesaan selama beberapa bulan hingga aku kembali dalam keadaan normal. Setelah menjalani proses penanganan yang cukup lama, akhirnya aku sudah kembali normal. Aku mulai mencari petunjuk mengenai keberadaan Atlantis tersebut, sehingga aku menemukan sebuah kuil kuno yang berada di tengah hutan lebat. Disalah satu bagian dinding kuil tersebut terdapat sebuah tulisan seperti abjad Yunani Kuno. Tak butuh waktu yang lama, aku langsung membongkar seluruh isi tas ku untuk mencari buku penerjemah bahasa kuno yang diberikan oleh Pustakawan di desa tadi. Setelah aku menemukan buku itu, aku langsung menerjemahkan kata demi kata dari tulisan Yunani Kuno tersebut. Selang beberapa jam, aku berhasil menerjemahkan kalimat tersebut. Hasil terjemahan dari kalimat itu adalah…
131 Kota Atlantis, kota yang hilang setelah muncul bencana gempa bumi dan banjir besar di Atlantis, dan hanya dalam satu hari satu malam, pulau Atlantis tenggelam dan menghilang pada tahun 9500 SM lalu. Kota itu berada di lautan lepas yang bernama Secret Ocean, lautan yang penuh dengan misteri dan rahasia yang belum pernah dipecahkan oleh manusia selama bertahun-tahun. Tanpa perlu pikir panjang, aku segera kembali ke desa untuk menyiapkan dan menambahkan kekuatan sihir untuk perlengkapan yang kubutuhkan seperti perisai, armor, senjata, dan sebagainya. Aku juga membeli peta lokasi Secret Ocean dari seorang kartografer di desa tersebut dengan biaya 60 zamrud. Selang beberapa saat aku bertransaksi, aku langsung mencari lokasi laut itu sesuai dengan arah dari peta. Berhari-hari aku berkelana, dan akhirnya aku menemukan lautan yang terlihat menyeramkan itu. Lautan lepas yang berwarna biru tua dan banyak bekas kapal yang rusak. Jauh di dalam laut itu, terlihat setitik cahaya yang membuatku berpikir bahwa itu adalah pusat dari Atlantis. Aku berpikir berkali-kali untuk memastikan bahwa itu benar-benar Atlantis. “Cahaya itu sangatlah terang sehingga aku bisa melihatnya dari atas ini, apakah itu benar-benar Atlantis yang hilang?” ujarku dalam hati. Beberapa menit aku merenung, akhirnya aku
132 memberanikan diri untuk menyelam ke dalam lautan tepat ke arah cahaya itu. Membutuhkan beberapa jam untuk mencapai cahaya itu. Cahaya itu terlihat semakin mendekat dan mendekat. Aku melihat sebuah pelindung yang di dalamnya terdapat sebuah kota yang bisa dibilang kuno. Banyak bangunan yang terbuat dari batu bata, bangunan yang berlumut, maupun yang sudah roboh. Aku mencoba menyentuh pelindung itu dan ternyata pelindung itu bisa ditembus. Pelindung itu hanya bisa menahan air dan binatang-binatang lautan. Tanpa pikir panjang, aku langsung menabrakkan tubuhku ke pelindung itu dan aku pun terjatuh dari atas kota tersebut. Beruntungnya, aku membawa sayap Elytra yang bisa membantuku untuk terbang. Aku langsung terbang mengitari seluruh kota tersebut. Dari atas, aku tidak melihat seorang manusia pun. Tiba-tiba, aku melihat cahaya dari sebuah kuil kuno raksasa yang berwarna emas dan sudah berlumut. Merasa curiga, aku langsung mendarat tepat di depan gerbang kuil tersebut. Pada saat yang bersamaan, terdengar suara misterius seperti monster. Aku mulai membuka gerbang kuil. Di dalamnya sangatlah luas serta terlihat tembok air tepat di belakang gerbang kuil. Ternyata, kuil tersebut adalah persinggahan dari sang penguasa lautan, Elder Guardian. Aku mulai melangkah masuk ke dalam kuil dan melewati tembok air tersebut, dan tiba-tiba saja pintu gerbang tadi tertutup dan aku
133 mendapatkan efek Mining Fatigue yang membuatku tidak bisa menghancurkan sesuatu dengan cepat. Aku merasa panik karena mungkin aku akan mati kehabisan napas dan kehilangan semua barang-barangku. Di tengah-tengah kepanikanku itu, aku melihat sebuah bayangan seperti ikan yang mulai mendekatiku. Ternyata itulah sang Elder Guardian. Tanpa berlama-lama, aku langsung menyerangnya menggunakan pedangku. Namun, hal itu sia-sia karena kecepatan pergerakan pedangku menurun drastis ketika aku bertarung di dalam air. Aku berusaha menghindari tembakan gelembung air dari mata Elder Guardian itu sembari memikirkan cara untuk menyerangnya dengan efektif. Lalu, pandanganku tertuju pada sebuah patung penguasa Atlantis, Raja Atlan yang membawa trisula emas yang mengkilap. Aku teringat ketika aku membaca buku panduan peralatan dari Pustakawan desa, dan buku itu mendeskripsikan tentang karakteristik dari trisula. “Pertarungan dalam air, kekuatan trisula sangat diunggulkan dari kekuatan lain, karena kecepatan serangan trisula tidak berkurang saat bertarung di dalam air. Tidak seperti senjata lainnya.” Kemudian, aku langsung bergerak mengambil trisula itu dan melesatkan lemparan trisula itu tepat ke arah mata Elder Guardian. Ketika aku melempar trisula itu, terdapat semacam
134 kekuatan gelembung air yang mengelilingi trisula tersebut dan trisula itu melesat dengan cepat menembus tubuh Elder Guardian. Tubuhnya terbelah menjadi dua dan menjatuhkan sebuah bola kecil berwarna biru mengkilap yang disebut Hati Lautan. Ketika aku mengambil bola itu, tiba-tiba terjadi gempa yang dahsyat hingga menghancurkan pelindung kota tersebut. Aku mulai bergegas keluar dari kota itu sambil membawa Trisula Atlan dan berenang kembali menuju permukaan laut. Ketika aku berusaha menyelamatkan diri, aku bertemu 2 Monster laut legendaris yang bernama Loch Ness dan Leviathan. Aku mulai bergumam dalam hati, “Hah… yang benar saja? Aku sedang berusaha untuk menyelamatkan diri tapi sekarang malah bertemu 2 monster legendaris?” Tapi beruntungnya, mereka tidak menyerangku karena aku membawa Trisula Atlan. Dan sebaliknya, mereka malah membantuku untuk mencapai permukaan laut. Seusai aku mencapai permukaan laut, aku meminta kedua monster itu untuk mengantarku pulang ke pedesaan dimana aku berasal. Aku tidak lagi melihat cahaya dari bawah laut itu, mungkin Atlantis telah hancur karena aku telah mengambil sesuatu yang penting bagi mereka. Kini, Atlantis benar-benar menjadi kota yang telah hilang. Perjalanan sambil menunggangi monster laut itu terasa lebih cepat, dan dalam kurun waktu 2 jam aku sudah sampai di pesisir
135 pantai desa itu. Para warga terkejut karena aku membawa pulang 2 monster laut yang legendaris. Aku mulai menenangkan para warga bahwa mereka akan patuh terhadapku selama aku memiliki Trisula Atlan. Aku beristirahat di desa itu untuk beberapa hari untuk memulihkan staminaku. Beberapa hari kemudian, staminaku sudah kembali seperti semula dan siap melawan boss monster yang terakhir. Ketika aku akan berangkat mencari lokasi boss monster yang terakhir, tibatiba para Golem penjaga pedesaan itu memberitahuku bahwa boss monster yang bernama Warden itu sangatlah kuat dari Wither Boss yang berada di Nether. Dan seketika aku pun raguragu untuk melawan Warden itu. Akan tetapi, para Golem penjaga itu berkata bahwa mereka akan membantuku dalam melawan Warden dan mendapatkan Balok Jiwa. Aku pun terharu dan sangat berterimakasih kepada para Golem itu karena telah mau membantuku untuk melawan Warden. Lalu, kami mulai menjelajah dimensi Overworld untuk mencari lokasi di mana Warden itu tinggal. Setelah beberapa hari menelusuri Overworld, akhirnya kami menemukan sebuah kota kuno yang tersembunyi dibawah tanah yang bernama Grand City yang sudah diselimuti oleh semacam lumut yang disebut dengan Sculk. Di situlah tempat bersinggah Warden tersebut. Kami semua bergegas menelusuri tempat itu untuk mencari Warden.
136 “Tempat ini lebih mengerikan daripada Fortress yang berada di Nether,” kataku sambil berjalan menelusuri kota itu. Karena suara langkah kami yang begitu berisik, tiba-tiba terdengar suara. ROAAAAARRRR!!!!! Warden itu muncul dari tanah tepat di hadapan kami. Kami semua pun terkejut dan bersiap untuk bertempur. Warden itu berteriak dengan suara yang sangat keras sehingga membuat seluruh kota itu menjadi bergetar. Warden itu ternyata tidak bisa melihat, dia menggunakan hidung dan telinganya untuk mendeteksi keberadaan kami. Karena suara langkah kaki Golem itu sangat besar, akhirnya Warden itu menyerang para Golem terlebih dahulu dan aku juga membantu para Golem untuk melawan Warden. Tetapi dalam kurun waktu 15 menit saja, kesepuluh Golem itu dapat dikalahkan dengan mudah oleh 1 Warden saja.
137 SEBUAH AWAL BARU 9B-19 Muhammad Reyfan Permana Pada suatu hari, tinggal lah seorang gadis kecil di sebuah komplek perumahan. Gadis tersebut bernama Santi. Santi termasuk anak yang peduli terhadap keluarganya walau pun dia hanya tinggal bertiga dengan ayahnya Yanto dan paman nya Edi. Yanto merupakan seorang supir taksi yang bekerja di pusat kota, sedangkan Edi adalah mantan veteran perang yang telah beralih profesi menjadi penjual perabotan rumah tangga. Pada suatu malam, Santi melihat jam tangan ayahnya yang rusak. Dia berniat untuk membawanya ke toko jam agar diperbaiki dan dapat dijadikan sebagai hadiah ulang tahun untuk ayahnya yang kebetulan besok lusa berulangtahun. Keesokan harinya, setelah pulang sekolah Santi pergi ke sebuah toko jam di pusat kota yang berada tidak jauh dari sekolahnya. Di sana sang pemilik toko langsung memperbaiki jam tangan ayahnya. Beberapa saat kemudian, berdedar berita di televisi yang menyiarkan bahwa sebuah kerusuhan telah terjadi tidak jauh dari toko tersebut. Sang pemilik toko yang gelisah segera menutup tokonya dan menyuruh Santi agar cepat pulang
138 ke rumah. Santi pun yang merasa bingung dengan tingkah laku sang pemilik toko hanya bisa terdiam. Sesampainya di rumah dia tidak melihat keberadaan sang ayah. Dia pun langsung beranjak ke tempat tidur. Malam harinya, Santi terbangun akibat haus. Segera ia mengambil segelas air dan lekas kembali. Namun, dia mendengar sebuah berita di radio yang menyiarkan tentang sebuah wabah telah menyebar hingga dapat membuat orang yang terinfeksi akan menjadi agresif. Tetapi, Santi tidak memedulikannya. Beberapa saat kemudian, ayahnya datang bersama pamannya yaitu Edi dengan menggunakan mobil. Mereka hendak membawa Santi pergi dari kota karena sebuah wabah telah tersebar di kota tempat mereka tinggal. Di perjalanan, mereka dihadapkan oleh kemacetan parah. Alhasil, mereka pun memilih mengambil jalan memutar. Saat sampai di perbatasan, mereka dicegat oleh beberapa tentara yang tengah memblokir jalan. Tetapi, Yanto tetap tancap gas dan melewatinya. Para tentara itu langsung menembaki mobil mereka dan menyebab kan ban mobil kempes. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk berpencar. Yanto yang bersama Santi berhasil ditangkap oleh salah satu tentara. Sang tentara langsung menodongkan senjata kepada mereka dan hendak menembak Yanto. Ia pun memohon untuk dibiarkan pergi.
139 Namun, sang tentara tetap menembaki mereka yang menyebabkan Santi terluka parah. Saat hendak menembak Yanto, untungnya Edi datang dan langsung menikam tentara itu dari belakang hingga tewas. Yanto langsung menggendong Santi yang tengah terluka parah dan hendak mencari pertolongan. Namun, takdir berkata lain. Santi yang tak kuasa menahan rasa sakit akibat tertembak dibagian perut itu akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. 20 tahun kemudian…. Yanto sekarang tinggal di zona karantina yang dikelola dengan ketat oleh Badan Penanggulangan Bencana Federal. Tempat tersebut menjadi salah satu tempat yang masih hidup di bawah undang-undang perang dan pemeriksaan yang ekstrem. Untuk mempertahankan kenyamanannya, Yanto harus mencuri, menjual, mengintimidasi, hingga menyelundupkan sesuatu. Di zona Karantina Yanto tinggal bersama dengan rekannya dalam penyelundupan, yaitu Velina. Suatu hari, Edi kesulitan menghubungi Yanto dan Velina. Ternyata, kedua orang tersebut sedang mencoba membeli aki mobil dari dealer lokal. Namun, Yanto membuat kesalahan dengan menjual kembali aki tersebut ke sebuah kelompok yang menentang pemerintah bernama Therapist Tera.
140 Yanto dan Velina mencoba mengambil kembali aki tersebut dan membuat kesepakatan. Tetapi, hal itu justru membuat keduanya masuk ke dalam masalah baru. Pemimpin kelompok tersebut meminta Yanto dan Velina untuk membawa seorang gadis remaja bernama Sarah ke sebuah tempat yang berada di luar zona karantina. Mereka sebelumnya sempat menolak tetapi ketika di tawari imbalan yang banyak, akhirnya mereka dengan berat hati bersedia mengantarkan Sarah. Sarah pun mau tidak mau mengikuti Yanto untuk diantarkan ke tempat tujuan. Pada malam harinya Yanto, Sarah dan Velina berusaha untuk keluar dari tempat karantina mereka mengendap-ngendap agar tidak ketahuan oleh para penjaga yang berpatroli. Setelah usaha yang cukup keras, akhirnya mereka berhasil keluar dari tempat karantina tanpa diketahui oleh para penjaga. Perjalanan mereka pun berlanjut siang dan malam. Hingga suatu ketika mereka berada di sebuah kota mati yang dipenuhi oleh orang orang yang terinfeksi. Di kota itu Yanto hendak mencari gedung tertinggi untuk mengawasi dari atas agar dapat menemukan sebuah bangunan gereja yang dituju. Setelah sampai di gedung, mereka naik ke lantai paling atas dan mengawasi di sana. Beberapa saat kemudian, mereka menuju ke arah utara untuk pergi ke gereja tempat mereka mengantarkan Santi ke tempat yang di maksud oleh pemimpin kelompok Therapist.
141 Setelah berjalan cukup lama akhirnya mereka sampai gereja tua yang terbengkalai. Di sana mereka tidak menemukan tanda tanda kehidupan hanya sisa sisa persediaan senjata dan beberapa tong berisi bahan peledak. Setelah berputar-putar, tiba-tiba mereka di serang oleh makhluk mutan aneh yang hendak mencabik-cabik mereka. Pertama kali makhluk tersebut menyerang Velina hingga terjatuh dari tangga. Yanto yang sedari awal sudah menyadari langsung melempar makhluk tersebut dan menusuknya berkali-kali hingga tewas. Yanto cukup kecewa karena merasa di tipu dan hampir putus asa. Tetapi Velina menyadarkan Yanto dan mengatakan untuk tidak menyerah sekarang. Apalah daya, hari sudah mulai petang dimana para orang orang yang terinfeksi akan menjadi sangat agresif. Kemudian Velina menyuruh mereka berdua untuk pergi, sedangkan dia akan menahan para infektan. Yanto merasa heran dengan Velina yang hendak berkorban demi dirinya. Tetapi semuanya terungkap ketika Velina mengakui bahwa dirinya telah digigit oleh makhluk tadi. Dengan berat hati Yanto meninggalkan Velina seorang diri. Beberapa saat kemudian, pintu gereja yang semula terkunci langsung di serbu oleh ratusan infektan. Saat itulah Velina langsung menembak tong berisi bahan peledak yang mana langsung meledakkan tempat itu bersamanya.
142 Momen-momen itupun menjadi salah satu momen tak terlupkan bagi Yanto. Setelah lama ditinggal anak tercintanya kemudian disusul oleh partner setianya dan sekarang dia hanya mempunyai Sarah. Lalu mereka berdua pergi ke arah utara menuju ke tempat terakhir yaitu saudara laki-lakinya Edi.
143 PERSAHABATAN SEJATI 9B-20 Nadinda Putri Elysia Saat ini aku berada di kelas 3 SMP. Setiap hari ku jalani bersama dengan ketiga sahabatku yaitu Aris, Andri dan Ana. Kita berempat sudah bersahabat sejak kecil. Suatu saat kami menulis surat perjanjian persahabatan di sobekan kertas yang dimasukkan ke dalam sebuah botol. Kemudian botol tersebut dikubur di bawah pohon yang nantinya surat tersebut akan kami buka saat kami menerima hasil ujian kelulusan. Hari yang kami berempat tunggu akhirnya tiba, kami pun menerima hasil ujian dan hasilnya kita berempat lulus semua. Kami serentak langsung pergi berlari ke bawah pohon yang pernah kami datangi dan menggali tepat di mana botol yang dahulu dikubur berada. Kemudian, kami berempat membuka botol tersebut dan membaca tulisan yang dulu pernah kami tulis. Kertas tersebut bertuliskan ‘Kami berjanji akan selalu bersama untuk selamanya’. Keesokan hari, Aris berencana untuk merayakan kelulusan kami berempat. Malamnya kami berempat pergi bersama ke suatu tempat dan di situlah saat-saat yang tidak bisa aku lupakan karena Aris berencana untuk menyatakan perasaannya kepadaku.
144 Akhirnya aku dan Aris berpacaran. Begitu juga dengan Andri, dia pun berpacaran dengan Ana. Malam itu sungguh malam yang istimewa untuk kami berempat. Kami pun bergegas untuk pulang. Ketika perjalanan pulang, entah mengapa perasaanku tidak enak. “Perasaanku ngga enak banget ya?” ucapku penuh cemas. “Udahlah, Ndi, santai aja. Kita ngga bakalan kenapa-kenapa,” jawab Andri dengan santai. Tidak lama setelah itu, hal yang dikhawatirkan Nindi terjadi. “Arissss awasss! Di depan ada jurang!” Teriak Nindi. “Aaaaaaaa!!!” Bruuukkk… Mobil yang kami kendarai masuk ke dalam jurang. Aku tak kuasa menahan air mata yang terus mengalir sampai aku tidak sadarkan diri. Perlahan aku buka mataku sedikit demi sedikit dan aku melihat ibu berada di sampingku. “Nindi… Kamu sudah sadar, Nak?” tanya ibuku. “Ibu… Aku di mana? Di mana Ana, Andri dan Aris?” tanyaku.
145 “Kamu di rumah sakit Nak, kamu yang sabar ya, Andri dan Aris tidak tertolong di lokasi kecelakaan,” jawab ibu sambil menitikkan air mata. Aku terdiam mendengar ucapan ibu dan air mataku menetes. Tangisku tiada henti mendengar pernyataan ibu. “Aris, mengapa kamu tinggalkan aku, padahal aku sayang banget sama kamu, aku cinta kamu, tapi kamu ninggalin aku begitu cepat, semua pergi ninggalin aku,” batinku berkata. Lantas, 2 hari berlalu dan aku berkunjung ke makam mereka. Aku berharap kami bisa menghabiskan waktu bersama sampai tua. Tetapi sekarang semua itu hanya angan-angan. Aku berjanji akan selalu mengenang kalian.