The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kisah-kisah langka. Terjemah Kitab an-Nawadir Karya Syaikh Syihabuddin al-Qulyubi

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by romlishofwan, 2022-05-26 00:05:05

e-Book Cerita

Kisah-kisah langka. Terjemah Kitab an-Nawadir Karya Syaikh Syihabuddin al-Qulyubi

Keywords: an-Nawadir

Dengan menyebut Asma Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah menjadikan manusia yang
mendapatkan pertolongan. Mereka itu adalah hamba-hamba-Nya yang bisa
menasehati diri sendiri. Juga, Dzat yang telah menuangkan rasa manis ke dalam
gelas minuman sang hamba dengan cinta-Nya. Shalawat dan salam semoga tetap
mengalir kepada pusaran rotasi Asma’ dan Sifat, yaitu junjungan kita Nabi
Muhammad saw yang memiliki segenap sifat kesempurnaan, berikut keluarga,
para sahabat dan orang-orang yang mencintainya. Juga, mertuwa-mertuwanya
beserta orang-orang yang menolong dan menjadi pengikutnya. Karena mereka
adalah orang-orang yang menampakkan kesetiaan kepada beliau dan menjadi
sumber inspirasi yang tak pernah kering. Mereka jugalah yang menjaga mutiara-
mutiara faedah yang hampir punah. Dan tak lupa kita haturkan shalawat kepada
orang-orang yang selalu mengikuti jejak kebaikan mereka kapanpun dan di
manapun.

Amma Ba’du. Buku yang ada di tangan pembaca ini memang kecil
bentuknya, namun di dalamnya terdapat pengetahuan yang sangat melimpah-ruah.

Kisah ke- 1: Keutamaan membaca Basmalah
Adalah seorang wanita shalihah yang mempunyai suami munafik. Setiap
kali hendak mengucapkan atau melakukan suatu pekerjaan, wanita tersebut selalu
menyebut asma Allah. Sehingga suami –yang munafik- itu berkata (di dalam hati),
sungguh aku akan mengerjai dan mempermalukan istriku, jika ia masih selalu
melakukan kebiasaannya. Lalu suami itu memberikan sekantung uang kepada
istrinya sambil berkata, jagalah uang ini baik-baik dan simpanlah di tempat yang
aman. Setelah uang diterima dan diamankan oleh si istri, tiba-tiba –secara diam-
diam- sang suami mengambil uang tersebut dan menceburkannya ke dalam sumur.
Kemudian sang suami meminta uang tadi kepada si istri, dan si istri pun langsung
begegas menuju tempat di mana ia menaruh uang suaminya, seraya mengucapkan
Bismillâhi al-Rahman al-Rahîm. Kontan, Allah swt memerintahkan malaikat Jibril
as untuk segera mengambil uang di dalam sumur tadi, dan mengembalikannya ke
tempat semula. Betapa kagetnya sang suami, ketika si istri merogoh kantong uang

dan mengembalikannya dalam jumlah dan wujud sama seperti sedia-kala, dengan
kondisi yang masih basah. Maka sang suami tersebut langsung bertaubat kepada
Allah swt dan menyesali perbutannya.

Gambar 1: Ada seorang suami berwajah angker duduk di atas balai-balai
sedang melongo dan tercengang, saat merogoh kepingan uang dalam kantong
dengan jumlah sama seperti semula. Sementara itu, si istri shalehah tengah duduk
di atas tikar pandan sedang menunduk hormat di depan suami dan bayangan
malaikat Jibril mengawasi dari atas sumur.

Point Hikmah: Allah Swt akan senantiasa memberikan pertolongan
kepada hamba yang beribadah kepada-Nya secara ikhlas. Dalam cerita tersebut
kita bisa mengambil dua pelajaran yang sangat berharga. Pertama, betapa seorang
istri yang taat kepada suami –sekalipun suaminya Munafiq- namun karena
ketaatannya tersebut didasarkan atas niyat ibadah kepada Allah secara tulus-
ikhlas, maka Allah Swt pun menolong si istri. Sebab menurut al-Qurtubi, ditinjau
dari segi makna, Bismillah itu sendiri adalah memohon pertolongan (al-Isti’ânah).
Jika seseorang hendak melakukan suatu pekerjaan, seperti membaca buku,
kemudian ia mengucapkan Bismillâhir Rahmânir Rahîm, artinya si pembaca
sedang berdo’a: Aqra`u Musta’înan Billâh (saya membaca buku dengan memohon
pertolongan kepada Allah). Atau seseorang hendak menulis dan memulainya
dengan bacaan Bismillâhir Rahmânir Rahîm, artinya si penulis sedang berdo’a:
Aktubu Must’înan Billâh (saya menulis dengan memohon pertolongan kepada
Allah).

Pelajaran kedua, bahwa di zaman yang serba sarat faham materialisme ini,
kita musti harus pandai-pandai memilih pasangan hidup. Sebab, hampir tiap hari
kita mendengar berita –bahkan menyaksikan fakta di sekeliling kita- tentang profil
rumah tangga yang tidak pernah rukun. Sadarkah kita, apa sebabnya? Tak lain dan
tak bukan ialah karena mereka hanya mengukur segala sesuatu dari segi lahiriah,
seperti kekayaan materi dan kecantikan fisik, serta melupkan sisi batiniah yang
lebih shalihah. Padahal, istri shalihah dapat mendatangkan Hidayah (petunjuk dan
penyadaran) dari Allah, bahkan bagi suami munafik sekalipun.

 al-Qurtubi, al-Jâmi’ Liahkâm al-Qur`an, J. 1, h. 100

Kisah ke- 2: keutamaan menjalankan shalat di tengah malam
Ada seorang pria yang sedang membeli budak laki-laki. Berkatalah budak
tersebut kepada majikannya, wahai tuanku, bolehkah aku mengajukan tiga hal?
Pertama, janganlah tuan melarang saya untuk menunaikan shalat saat tiba
waktunya. Kedua, saya bersedia melayani tuan pada siang hari, namun janganlah
tuan memberi kesibukan kepadaku saat malam hari. Ketiga, hendaklah tuan
menyediakan sebuah pemondokan yang tidak akan dimasuki oleh siapapun
kecuali saya. Maka sang majikan pun menyetujui tiga prasyarat yang diminta oleh
budak laki-laki itu seraya berkata, kamu berhak mendapatkan apa yang kamu
ajukan, dan pilihlah di antara beberapa pemondokanku ini!
Kemudian mereka berdua berjalan mengitari beberapa pemondokan yang
dimiliki oleh sang majikan, sehingga sampailah mereka di sebuah pemondokan
yang sudah rusak, dan budak itu pun lebih suka memilihnya. Tak ayal lagi sang
majikan pun bertanya, mengapa engkau memilih pemondokan yang sudah rusak?
Si budak pun langsung menimpali, wahai tuanku, apakah tuan tidak mengetahui
bahwa pemondokan tuan yang rusak ini di mata Allah swt adalah laksana kebun
yang subur dan makmur? Maka jadilah budak itu menempati pemondokannya saat
malam tiba.
Pada suatu malam sang majikan mengadakan sebuah pesta minum dan
hiburan bersama mitra-mitranya. Dan ketika malam telah larut, sedangkan para
mitra pun telah beranjak pulang ke tempat masing-masing, adalah sang majikan
yang masih terjaga. Ketika malam telah larut, sang majikan masih belum bisa
tidur dan berkeliling menelusuri pemondokan, tiba-tiba matanya meneropong
menuju sebuah pemondokan di mana si budak tinggal. Betapa kagetnya sang
majikan, ketika tiba-tiba ia melihat seberkas sinar terang di atas atap yang
memancar dari langit. Ternyata, di dalam pemondokan itu si budak sedang
bersujud dan bermunajad kepada Allah swt sambil berdo`a: Wahai Tuhanku,
hamba telah menunaikan tugas yang Engkau embankan kepada hamba. Di siang
hari hamba berkhidmad kepada tuan kami, jikalau hamba tidak disibukkan oleh
kewajiban hamba, niscaya hamba akan mencurahkan seluruh waktu hamba untuk
mengabdi dan beribadah kepada Engkau. Oleh karena itu ampunilah hamba dan
tuan hamba. Tatkala itu, sang majikan terus memperhatikan apa yang dilakukan

oleh si budak hingga fajar subuh tiba, dan pada saat itulah seberkas sinar terang
yang terpancar dari atas langit tadi sirna. Setelah melihat peristiwa tersebut, sang
majikan mendatangi dan memberitahukan kepada istrinya.

Pada malam berikutnya dan pada waktu yang sama, sang majikan kembali
bersama istrinya untuk memperhatikan apa yang diperbuat oleh si budak. Seperti
halnya peristiwa pada saat malam sebelumnya, seberkas sinar terang dari atas
langit itu datang lagi, dan si budak pun tetap asyik dengan aktifitasnya untuk
bersujud dan bermunajad kepada Allah hingga terbit fajar.

Keesokan harinya, pasangan majikan ini mengundang si budak seraya
berkata: atas Nama Dzat Allah, mulai sekarang kamu merdeka, agar kamu bisa
beribadah dan mengabdi sepenuhnya kepada Allah. Sang majikan juga tak lupa
menceritakan kejadian istimewa dan karamah Allah swt yang mereka saksikan
oleh karena perbuatan si budak.

Mendengar berita itu, si budak langsung mengangkat tangannya sambil
berdo`a: Wahai Tuhanku, bukankah hamba telah memohon kepada-Mu agar
Engkau tidak membuka rahasia pada diri hamba, oleh karena Engkau telah
membukanya, maka cabutlah nyawa hamba agar hamba dapat berjumpa dengan-
Mu. Seketika itu juga, seorang budak yang saleh itu jatuh tersungkur dan
meninggal dunia dengan mendapatkan Rahmat dari-Nya.

Gambar 2: Seusai menikmati jamuan, para mitra bisnis majikan
berbondong-bondong pulang. Tampak sang majikan tengah terpana, saat
pandangan matanya tertuju ke arah pemondokan si budak yang diliputi sinar
cemerlang dari atas langit dan si budak tengah bersujud di dalamnya.

Point Hikmah: Dalam kehidupan social, selamanya tak akan pernah lepas
dari stratifikasi (tingkatan kelas). Jika system perbudakan telah berangsur punah,
maka system lama tersebut telah bermetamorfose dan berganti nama dengan
perburuhan. Hanya Islamlah satu-satunya agama yang sangat akomodatif terhadap
semua strata sisial. Sebab di dalam ajaran Islam, yang bisa mendapat Karamah
Tuhan bukan hanya kaum bangsawan, bos atau majikan. Juga, untuk menebus
dosa kita umat Islam tidak disyaratkan harus membayar mahal kepada seorang
Syaikh atau Kyai, seperti system penebusan dosa bagi agama lain. Konsep Islam
adalah: “Inna akramakum ‘Indallâhi Atqâkum” (Sesungguhnya yang paling mulia

di antara kalian menurut Allah yaitu orang yang paling bertaqwa). Kisah di atas
adalah pelajaran sekaligus tamparan bagi kita yang hanya mau disibukkan oleh
keperluan “bisnis duniawi” semata. Sementara kita lalai, bahwa dengan
menjalankan shalat (ibadah sunnah) pada malam hari, adalah merupakan “bisnis
ukhrawi” yang sangat menjanjikan. Allah Swt berfirman:
“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasannya kamu berdiri (sembahyang)
kurang dari dua pertiga malam, atau seper dua malam aau sepertiganya dan
(demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah
menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali
tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi
keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-
Qur`an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit
dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah;
dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa
yang mudah (bagimu) dari al-Qur`an dan dirikanlah sembahyang , tunaikanlah
zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan
apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh
(balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan paling besar
pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang”. [Qs. Al-Muzzammil (73) : 20].

Kisah ke- 3: Hakekat melakukan ibadah
Pada suatu ketika, ada seorang hamba Allah yang tengah melakukan
shalat. Ketika ia membaca surat al-Fatihah dan sampai pada ayat “Iyyâka na’budu
(hanya kepada-Mu kami menyembah)”, terbesit di dalam hatinya bahwa ia adalah
seorang hamba yang telah melakukan ibadah dengan sebenarnya. Tiba-tiba ia
seperti mendengar bisikan yang berbunyi “bohong kamu”, sesungguhnya kamu
masih beribadah karena makhluk. Lalu ia bertaubat dan menjauhkan diri dari
ummat manusia.
Mulailah ia untuk melakukan shalat, dan ketika ia membaca surat al-
Fatihah pada ayat “Iyyâka na’budu”, tiba-tiba ia mendengar bisikan yang berbunyi

“bohong kamu”, sesungguhnya kamu masih beribadah karena istrimu. Maka ia
pun menceraikan istrinya.

Kemudian ia mulai melakukan shalat lagi, dan ketika sampai pada ayat
“Iyyâka na’budu”, kembalilah ia mendengar bisikan yang berbunyi “bohong
kamu”, sesungguhnya kamu masih beribadah karena hartamu. Lantas ia langsung
mensedekahkan seluruh hartanya.

Untuk kesekian kalinya ia melakukan shalat, dan ketika sampai pada ayat
“Iyyâka na’budu”, ia masih saja mendengar bisikan yang berbunyi “bohong
kamu”, sesungguhnya kamu masih beribadah karena pakaianmu. Maka hamba
yang ingin beribadah dengan benar ini pun segera melapaskan pakaiannya dan
memberikan kepada orang lain.

Setelah ia tidak mempunyai apa-apa –hanya sekedar menutup aurat dengan
Lumpur- sang hamba ini kembali menunaikan shalat. Dan ketika sampai pada
ayat “Iyyâka na’budu”, barulah ia mendengar bisikan yang berbunyi bahwa,
sungguh engkaulah hamba yang sebenarnya.

Gambar 3: Ada seorang hamba sedang melakukan shalat di dalam masjid,
sedangkan di sekelilingnya terdapat banyak orang –termasuk istrinya- tengah
bercengkerama sambil memperhatikan shalatnya.

Point Hikmah: Di dalam terminology Tasawwuf, pada prinsipnya seorang
hamba Allah (‘Abid) akan melewati beberapa fase untuk benar-benar bisa
mendekatkan diri kepada Allah. Fase terendah –yang dilalui oleh kebanyakan
umat Islam- adalah Syari’at. Pada fase ini, orang yang melakukan shalat
(Mushalli), asalkan sudah memenuhi syarat dan rukun –sekalipun di liputi oleh
fikiran-fikiran keduniaan- maka shalat orang tersebut sudah dianggap sah. Walau
demikian, kita harus tetap berupaya untuk bisa meraih fase yang lebih tinggi dan
sampai kepada hakekat ibadah itu sendiri. Pengembaraan spiritual sang hamba di
dalam kisah tadi merupakan preseden yang sangat baik bagi kita. Betapa Shalat –
dan ibadah apa pun- yang dilakukan berdasarkan riya’ (pamer) ataupun karena
takut, sungkan, kepada orang lain, nilainya sama dengan nol. Dalam konteks ini
Nabi Muhammad Saw pernah mengingatkan bahwa riya` yang melandasi
perbuatan sebaik apa pun, akan dapat memusnahkan nilai kebajikan yang
terkandung di dalamnya, persis seperti kemampuan api menghabiskan kayu bakar.

Ketika orang beramal karena ingin dipuji orang, dia tak dapat pahala apa pun,
kecuali hanya pujian dari orang dengan disebut pemurah. Orang melakukan
kebajikan karena hanya takut terhadap sangsi atasan, dia tak akan memperoleh
pahala apa pun dari kebajikannya, kecuali hanya sebatas terhindar dari sangsi
atasannya. Adalah sungguh indah ungkapan dari seorang sufi yang bertindak apa
pun ditempatkan dalam kerangka Ilâh. Ilâhî Anta Maqshûdi, wa Ridhâka
Mathlûbî, Tuhanku hanya Engkau yang aku tuju dan hanya rela-Mu yang aku cari.

Kisah ke- 4: Ibadah orang-orang saleh
Pada suatu hari, ‘Isham bin Yusuf mendatangi majlisnya Hâtim al-
Ashamm, ia ingin mengajukan suatu hal kepadanya. ‘Isham berkata kepada
Hâtim, wahai Aba Abdur Rahman (nama lain Hâtim. Pent) bagaimanakah engkau
melakukan shalat? Maka Hâtim pun langsung mengarahkan pandangannya ke
arah Isham sambil berkata: jika waktu shalat telah tiba, aku langsung bergegas dan
melakukan wudhu, baik wudhu lahir maupun wudhu bathin. Isham kembali
bertanya, kalau wudhu lahir sih aku tahu, lantas bagaimana engkau melakukan
wudhu bathin? Hâtim menjawab, jika wudhu lahir aku membasuh anggota-
anggota badanku dengan air. Sedangkan wudhu bathin, aku membasuh bathinku
dengan tujuh perkara yaitu: Pertama, dengan bertaubat. Kedua, menyesali (kesia-
siaan). Ketiga, meninggalkan cinta kepada dunia. Keempat, menjauhi pujian orang
lain. Kelima, tidak gila pangkat dan kedudukan. Keenam, menjauhi sifat dendam.
Dan ketujuh adalah menjauhi sifat hasad atau dengki. Setelah itu aku pergi ke
masjid dan membentangkan seluruh badan, maka pada saat itulah aku bisa melihat
ka’bah. Aku melaksanakan shalat sebagai wujud dari rasa kewaspadaanku dan
kebutuhanku. Pada saat itu pula aku merasa seakan-akan Allah sedang
memperhatikan aku, surga ada di samping kananku, neraka ada di samping kiriku,
dan malaikat maut ada di belakangku. Aku juga merasakan bahwa diriku sedang
menginjakkan kakiku di atas al-Shirâth (jalan yang terbentang di atas neraka
menuju surga), dan di sinilah aku merasakan bahwa shalat yang aku lakukan
adalah shalat terakhir kalinya. Lalu aku mulai berniyat, melakukan takbir dengan
baik, dan membaca (ayat-ayat al-Quran) dengan merenungi maknanya.
Selanjutnya, aku ruku’ dengan perasaan rendah, bersujud dengan perasaan hina,

dan bertasyahud dengan penuh harapan serta melakukan salam dengan penuh
ikhlas. Inilah shalatku yang sudah saya lakukan selama kurang-lebih tigapuluh
tahun. Kemudian dengan berlinang air mata, Isham berkata kepada Hâtim, semua
perkara yang engkau lakukan ini merupakan suatu pekerjaan yang belum tentu
bisa dilaksanakan oleh setiap orang kecuali dirimu.

Gambar 4: Seorang pria kharismatik tengah duduk bersila berhadapan
dengan sahabatnya, sambil memberi penjelasan tentang cara ia melakukan shalat.
Gambarkan pula, bagaimana pria kharismatik tersebut berdiri khusyu dengan
kedua tangan yang bersedekap dan tampakkan gambar ka’bah secara imajinatif di
hadapan pria itu.

Point Hikmah: Kwalitas ibadah seseorang itu tidak semata-mata
ditentukan oleh seberapa banyak rakaat shalat yang ia kerjakan, berapa puluh
tahun ia menjalani puasa, berapa Triliun ia bersedekah, atau berapa ratus kali ia
pergi Haji ke Mekkah. Akan tetapi, kwalitas ibadah seseorang akan sangat
ditentukan oleh kebersihan jiwa dan kekhusyu’an hatinya. Sebab, sekalipun ada
orang yang menghabiskan waktunya untuk mengerjakan shalat dan menjalani
puasa, namun apabila di dalam hatinya masih diliputi rasa dendam, dengki atau
karena ingin dipuji orang, maka ia hanya mendapat kelelahan berjungkir-balik dan
kekosongan perut. Begitu juga, bila ada orang yang sedekahnya Miliaran dan
Hajinya berkali-kali, namun jika masih doyan korupsi demi mempertahankan
pangkat dan jabatan, maka orang semacam ini janganlah sekali-kali merasa yakin
untuk menjadi ahli surga berkat sedekah dan Hajinya. Dalam paparan Hatim
kepada Isham di atas merupakan bukti bahwa selain nilai ritual, shalat adalah
pengejawentahan dari ibadah social. Mari kita telusuri, filosofi apa yang
tersimpan di balik shalat sebagaimana dicontohkan oleh Hatim? Ketika anda
pahami apa yang dimaksud dengan wudhu batin yang terdiri dari tujuh komponen
tadi, maka sebagai kata kuncinya adalah Firman Allah yang berbunyi: “Innash
Shalâta Tanhâ ‘anil Fahsyâ`i wal Munkar” (Sesungguhnya Shalat itu mencegah
perbuatan keji dan munkar).

Kisah ke- 5: Keutamaan Istiqamah
Pada zaman dahulu –di kalangan Bani Israil- ada seorang raja yang muda-
belia. Di dalam menjabat, pemuda itu tidak pernah merasakan nikmatnya menjadi
seorang raja. Maka ia pun mengungkapkan perasaan itu kepada para punggawa. Ia
bertanya, adakah orang-orang merasakan hal yang sama sepertiku? Mereka
menjawab, sesungguhnya seluruh ummat manusia ingin berbuat yang lurus
(Istiqamah). Sang raja kembali bertanya, lantas siapakah yang bisa meluruskan
aku? Para punggawa itu menjawab, yang bisa meluruskan engkau adalah para
ulama`. Mendengar jawaban itu, sang raja berkenan untuk mengundang seluruh
ulama` dan orang-orang saleh yang ada di negaranya. Setelah mereka semua
berkumpul di dalam istana, sang raja berkata: mari semua, silahkan duduk
mendekat! Jika kalian ingin memerintahkan sesuatu yang harus saya taati, maka
katakanlah. Dan jika kalian melihat suatu perbuatan ma’siyat yang kami kerjakan,
maka halaulah kami dari kemaksiyatan itu. Maka para ulama` dan orang-orang
saleh itu pun melakukan apa yang diminta oleh sang raja.
Mulai saat itu, sang raja berbuat yang lurus dan istiqamah selama empat
ratus tahun. Namun, tiba-tiba Iblis –semoga Allah melaknatnya- mendatangi sang
raja. Sang raja bertanya, siapa kamu? Ia menjawab, saya Iblis, lalu Iblis menggoda
dengan pertanyaan: kalau boleh tahu, siapakah sebenarnya kamu ini (kok usiamu
bisa sepanjang itu? Pent). Sang raja menjawab saya adalah seorang laki-laki
keturunan nabi Adam. Iblis berkata, kalau kamu termasuk keturunan nabi Adam,
mestinya kamu juga meninggal seperti anak keturunan nabi Adam yang lain, saya
jadi sangsi, kamu ini pastilah Tuhan, maka ajaklah seluruh manusia untuk
beribadah kepadamu. Ternyata, tipu daya Iblis itu pun merasuk ke dalam jiwa
sang raja.
Pada suatu ketika sang raja naik ke atas panggung sambil berkata, wahai
manusia! Sesungguhnya aku akan mengutarakan suatu persoalan yang pastinya
akan menjadikan bulu kuduk kalian berdiri. Seperti yang kalian ketahui, aku telah
memimpin di negeri ini selama empat ratus tahun. Jikalau aku termasuk anak
keturunan nabi Adam, mestinya aku sudah mati bersama orang-orang
sepantaranku. Jadi, sebenarnya aku ini adalah Tuhan, oleh karena itu sembahlah
aku. Kemudian Allah swt mengutus seorang nabi di zaman itu untuk

menyampaikan Firman-Nya yang berbunyi, sesungguhnya Akulah yang akan
meluruskan raja itu seperti sedia kala. Ketika raja itu durhaka kepada-Ku, Demi
keagungan-Ku dan kemuliaan-Ku, raja itu akan segera dikalahkan dan dikuasai
oleh Bakhtanashar (raja baru dan lalim dari Bani Israil yang sangat legendaris).
Selanjutnya, Bakhtanashar pun datang untuk menyerang raja tersebut dan
merampas gudang kekayaannya yang terdiri dari tujuh puluh kapal dan penuh
dengan perhiasan. Wallâhu A’lam.

Gambar 5: Ketika raja muda sedang duduk angkuh di singgasana bersama
para pungawa, tiba-tiba ada serdadu menyerang di bawah komando Bakhtanashar.

Point Hikmah: Dalam al-Qur`an sendiri banyak kita jumpai kisah-kisah
nyata di luar logika yang menerangkan tentang “kekonyolan” Bani Israil, seperti
permintaan mereka agar diturunkan makanan langsung dari atas langit. Sehingga
tak aneh, jika dikatakan bahwa Bani Israil adalah umat yang istimewa (wa
fadhdhalnâkum ‘alal ‘âlamîn). Bahkan, sampai sekarang pun –sekalipun
minoritas- bisa dikatakan Israillah yang mewarnai dunia bersama Amerika dan
poros Yahudinya. Terlepas dari pertanyaan bisakah Israil kita tempatkan ke posisi
second setelah Islam, yang jelas Rasulullah dan Khulafaurrasyidin pernah
membuktikan hal itu. Dan yang paling penting untuk kita jadikan pelajaran dari
kisah tadi adalah, selama orang itu masih aspiratif kepada nasehat yang baik,
niscaya kebaikan dan kejayaan pasti akan datang. Namun perlu diingat, bahwa
Iblis dengan segala tipu-dayanya tidak akan pernah tinggal diam jika
kebersahajaan merajalela di atas dunia. Di sinilah kita dituntut untuk selalu
Istiqâmah (konsisten) dengan kebaikan untuk menghalau godaan Iblis dan setan.

Kisah ke- 6: Sikap nylenêh (Kontroversi) itu –terkadang- baik
Adalah khalifah Harun al-Rasyid (dari dinasti Bani Abbasiyah. Pent), ia
mempunyai seorang budak perempuan yang berkulit hitam dan buruk rupa. Pada
suatu hari sang khalifah menaburkan bilangan uang dinar kepada para budak yang
lain. Tak ayal, semua budak berhamburan untuk memunguti dinar-dinar itu. Akan
tetapi, budak hitam perempuan milik khalifah itu malah berdiri tertegun sambil
memperhatikan apa yang diperbuat oleh sang khalifah, dan tak mau ikut berebut
memunguti dinarnya.

Sang khalifah heran, maka beliau pun bertanya, mengapa kamu tidak ikut
berebut memunguti dinarku? Si budak menjawab, jikalau mereka mencari
dinarnya khalifah, maka yang saya cari adalah sang pemilik dinar.

Mendengar jawaban itu, sang khalifah semakin kagum dan memuji atas
sikap budaknya. Singkat cerita, gosip segera menyebar ke telinga para gubernur
bahwa khalifah Harun al-Rasyid jatuh cinta pada seorang budak perempuan kulit
hitam. Setelah mendengar gosip ini, sang khalifah segera mengklarifikasi dan
mengundang para gubernur untuk berkumpul di istananya.

Pada kesempatan kali ini, di istana khalifah –selain para gubernur- beliau
juga berkenan menghadirkan para budak yang sebelumnya telah memunguti uang
dinar. Dan dalam pertemuan itu, setiap budak diberikan sebuah gelas yang terbuat
dari yaqut (kwarsa mutiara).

Setelah semuanya berkumpul dan para budak pun telah memegang gelas
satu-persatu, maka sang khalifah pun angkat bicara. Beliau memerintahkan agar
gelas yang ada di tangan para budak itu dilemparkan. Tentu saja, para budak itu
tidak ada yang mau melemparkannya. Namun begitu tiba giliran si budak hitam,
ia malah melemparkan dan memecahkan gelas tersebut.

Selanjutnya, sang khalifah angkat bicara lagi. Nah lihatlah! Apa yang
diperbuat oleh budak ini? Sekalipun ia buruk rupa, akan tetapi manis dalam
perilaku. Lalu khalifah bertanya kepada budak itu, mengapa kamu
memecahkannya? Si budak menjawab, tuan telah memerintahkanku untuk
memecahkannya, maka menurut pendapat saya bahwa dengan memecahkan gelas
itu otomatis akan mengurangi perbendaharaan khalifah. Namun jika saya tidak
memecahkannya, maka tetap saja ada yang kurang, yaitu berarti saya tidak
mengindahkan perintah khalifah.

Adapun kekurangan yang pertama itu lebih utama. Karena dengan
demikian berarti saya telah menghormati perintahnya khalifah. Mungkin dengan
memecahkan gelas itu saya tampak seperti orang gila, namun jika gelas itu tetap
saya pegang, maka saya akan divonis sebagai seorang hamba yang membangkang.
Demikianlah, bagi saya tindakan yang pertama lebih saya sukai daripada tindakan
kedua. Mendengar uraian budak hitam yang lain daripada yang lain ini, para
gubernur yang hadir di istana khalifah pun jadi terpana. Dan akhirnya mereka

meminta maaf terhadap sang khalifah, karena telah menilainya dengan yang
bukan-bukan. Allah swt Maha Mengetahui –maksud- dari perkara-perkara
semacam ini.

Gambar 6: Gambar Khalifah Harun al-Rasyid sedang duduk di
singgasana bersama para Gubernur, sedangkan di depan mereka tengah berdiri
beberapa budak perempuan –termasuk budak hitam- yang kesemuanya emoh
(tidak mau) melempar dan memecahkan gelas kwarsa dari yaqut, kecuali si budak
hitam.

Point Hikmah: Petuah ataupun titah seorang khalifah (baca Presiden)
adalah “Yurisprudensi” yang harus dijalankan oleh rakyat, dan barangsiapa berani
melanggar maka harus berani menanggung akibatnya. Inilah “akidah” yang
dipegang oleh setiap penguasa wilayah dari dulu hingga kini. Namun tidak semua
penguasa memaknai titahnya secara tekstual dan kaku. Sehingga adakalanya ia
sengaja bertitah nyleneh, namun di balik kenylenehannya itu ada tujuan baik yang
mengandung hikmah. Adalah Harun al-Rasyid, seorang khalifah dari Bani
Abbasiyah yang terkenal bijak dan mempunyai karakteristik seperti itu, dan di
zamannya pulalah imperium Islam pernah terwujud. Di antara ciri kebijakan
Harun al-Rasyid adalah sengaja melontarkan titah dan perilaku nyleneh, dengan
harapan agar rakyatnya bisa menginterpretasikan secara cerdas seperti yang
dilakukan oleh si budak hitam. Jadi tak heran jika di zamannya bisa melahirkan
tokoh-tokoh cerdas semacam Abu Nawas dan para filosof muslim.

Kisah ke- 7: Tentang kedermawanan
Ada seorang laki-laki sedang tidur di dalam masjid. Ia memiliki dua buah
celana kolor yang diletakkan di dekat tempat tidurnya. Namun begitu ia terjaga,
tiba-tiba celana kolornya tidak ada di tempat. Ketika itu, ia tidak melihat seorang
pun di dalam masjid itu selain Ja’far al-Shadiq yang sedang mengerjakan shalat.
Seusai shalat, Ja’far langsung dipegang oleh laki-laki itu. Melihat tingkah laki-laki
yang aneh ini, Ja’far bertanya: ada apa dengan dirimu? Ia menjawab: aku telah
kehilangan dua buah celana kolor, sedangkan aku tidak mendapati seorangpun di
sekelilingku kecuali engkau. Lalu Ja’far bertanya lagi, berapa harga celana
kolormu itu? Laki-laki itu menjawab, seribu Dinar.

Setelah mendengar keluhan laki-laki itu, Ja’far langsung pulang ke
rumahnya untuk mengambil uang sebanyak seribu Dinar dan memberikannya
kepada laki-laki malang tadi. Ketika laki-laki tersebut telah mengantongi seribu
Dinar, ia langsung beranjak pergi ke tempat para sahabat dan sekutunya. Tiba-tiba
para sahabat tersebut berkata, sesungguhnya celana kolormu ada pada kami. Dan
kami minta maaf, karena kami hanya bercanda untuk mengerjai kamu.

Begitu celana kolornya ketemu, laki-laki itu langsung teringat dengan
orang yang telah mengganti nilai tukar celananya. Pada saat itu juga, para
sahabatnya memberitahukan bahwa yang telah memberikan uang seribu Dinar tadi
adalah saudara sepupunya rasulullah saw yaitu Ja’far.

Oleh karena laki-laki tersebut merasa malu, maka buru-buru kembali ke
tempat Ja’far untuk mengembalikan uang pemberiannya. Akan tetapi, Ja’far
bukannya mau menerima uangnya, malah berkata: sesungguhnya kami jika telah
mengeluarkan sesuatu dari –harta- milik kami, maka kami pantang sekali untuk
mengambil kembali. Semoga Allah swt memberikan Ridlo-Nya kepada mereka.

Gambar 7: Sosok laki-laki kumal dengan menenteng sekantong uang
dinar sedang menghadap dan hendak menyerahkannya kepada Ja’far, namun
tampak Ja’far bersikeras tidak mau menerima.

Point Hikmah: Sebuah preseden yang sangat baik telah dilakukan Ja’far
agar kita bisa mengikutinya. Selain sikap “Muru’ah” (menjaga harga diri), hal lain
yang lebih ingin ditampakkan oleh Ja’far al-Shadiq adalah kesabaran, pemaaf,
haibah (kharismatika) dan al-Sakha` (dermawan). Sikap semacam itu sangat sulit
diikuti bagi orang yang hanya mengikuti nafsu. Bisa kita bayangkan, seandainya
Ja’far itu orang yang tidak bisa mengendalikan nafsu amarah, niscaya ia bukan
hanya mau mengambil uangnya kembali, pasti laki-laki kumal tersebut akan
dicaci-maki. Maha Suci Dzat yang telah berfirman: “Lan tanâlul birra hattâ
tunfiqû mimâ tuhibbûn” (Sekali-kali kamu tidak akan bisa meraih kebajikan,
sebelum kamu mau menafkahkan –harta- yang kamu cintai).

Kisah ke- 8: Keutamaan orang yang taat
Ada cerita tentang seorang pemuda dari golongan bani Israil yang
menderita sakit keras. Sampai-sampai ibu si pemuda ini bernadzar (melontarkan

ucapan –penuh resiko- yang akan ia jalani) yaitu, “jika Allah swt meneyembuhkan
sakit anaknya, maka sungguh ia akan keluar dari alam dunia selama tujuh hari”.
Ternyata benar, setelah nadzar diucapkan oleh sang ibu, Allah swt
menyembuhkan sakit si pemuda, akan tetapi sang ibu tidak segera melaksanakan
nadzar yang telah ia ucapkan.

Pada suatu malam, ketika sang ibu sedang lelap dalam tidurnya, tiba-tiba
datanglah suara yang mengatakan: cepatlah engkau penuhi ucapan (nadzarmu) itu,
agar kalian tidak tertimpa suatu cobaan dari Allah swt yang lebih dahsyat lagi!
Keesokan harinya, sang ibu ini memanggil putra kesayangannya dan
menceritakan tentang kejadian yang ia temui tadi malam.

Singkat cerita, sang ibu meminta agar putranya mau menguburnya hidup-
hidup selama tujuh hari. Maka dengan terpaksa si pemuda pun mau menuruti
kemauan ibunya. Ketika sang ibu mulai masuk ke liang lahat, ia berdo`a: Wahai
Tuhanku-junjunganku! Hamba telah melaksanakan dan memenuhi apa yang telah
hamba nadzarkan. Oleh karena itu, semoga Engkau selalu menjaga dan
melindungi hamba dari segala mara-bahaya selama berada di dalam kuburan.
Setelah berdo`a, sang ibu meminta agar putranya segera menutup liang lahatnya
dengan gundukan tanah untuk kemudian kembali ke rumah.

Sepeninggal si anak, sang ibu tersebut melihat dari arah kepalanya
seberkas cahaya terang yang masuk dari lubang fentilasi. Dari situ ia melihat ada
sebuah taman indah, yang mana di dalamnya terdapat dua orang perempuan cantik
yang menyapa: wahai ibu! Sedang apa kamu di situ? Kemarilah mendekat! Tiba-
tiba lubang fentilasi menjadi besar seperti pintu. Maka beranjaklah sang ibu dari
ruang kuburnya untuk menghampiri dua orang perempuan cantik tadi. Ternyata,
di dalam taman tersebut terdapat sebuah telaga yang amat jernih dan kedua wanita
cantik itu sedang duduk di tepi telaga. Kemudian sang ibu pun ikut duduk
bersama mereka sembari mengucapkan salam. Anehnya, salah seorang dari
mereka tak mau menjawab salam dari ibu itu. Maka sang ibu pun bertanya
penasaran, mengapa kamu tidak mau menjawab salamku? Bukankah kamu
termasuk orang yang mampu berbicara? Lalu wanita itu menjawab: sesungguhnya
–mengucapkan dan menjawab- salam adalah suatu ketaatan, sedangkan aku
adalah termasuk orang-orang yang tidak taat.

Ketika mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba ada seekor burung
yang hinggap dan mengipas-ngipaskan sayapnya di atas kepala salah seorang dari
kedua wanita cantik tadi. Tak lama kemudian ada seekor burung lagi yang
hinggap dan mematuk-matukkan paruhnya di atas kepala wanita yang satu lagi.
Lantas sang ibu ini bertanya kepada wanita pertama, bagaimana kamu bisa
mendapat kemuliaan ini? Wanita pertama itu menjawab, dulu ketika masih di
dunia aku mempunyai seorang suami yang sangat aku taati, dan ketika aku
meninggal dunia ia rela atas kepergianku. Oleh sebab itulah Allah swt
memberikan kemulian ini kepadaku.

Setelah mendengar jawaban dari wanita pertama, maka tak lupa sang ibu
juga bertanya kepada wanita kedua, lantas mengapa kamu mendapatkan siksa
semacam ini? Wanita tersebut menjawab, sesungguhnya aku adalah termasuk
wanita shalihah ketika hidup di dunia. Namun, dulu saya tidak taat kepada suami,
dan ketika saya meninggal dunia suamiku itu masih murka terhadapku. Oleh
sebab itulah Allah swt menjadikan kuburanku sebuah taman sebagai imbalan dari
perbuatanku yang shalihah. Akan tetapi, di sisi lain Allah swt menyiksa aku
seperti ini karena dulu saya tidak taat kepada suami. Maka dari itu saya minta
tolong wahai ibu, jika ibu telah kembali ke alam dunia nanti temuilah suamiku
dan mintakan maaf segala kesalahanku kepadanya, semoga ia mau memaafkanku
dan merelakan kepergianku

Tujuh hari telah berlalu, kedua wanita cantik itupun segera mengingatkan
kepada sang ibu, bangunlah bu! Kembalilah ibu ke alam dunia, karena putra ibu
telah menunggu. Tepat sekali, di hari ke tujuh itu si anak sedang menggali tanah
di mana ia dulu mengubur ibunya hidup-hidup untuk melaksanakan nadzar.

Maha Besar Allah, ibu yang dikubur selama tujuh hari tadi ternyata masih
dalam keadaan segar bugar. Tanpa ditulis dalam Koran berita inipun segera
menyebar ke seluruh penduduk, bahwa sang ibu telah menunaikan nadzar yang
diucapkannya sendiri.

Keesokan harinya, seluruh penduduk berdatangan satu-persatu untuk
berkunjung dan mendengarkan pengalaman sang ibu selama berada di alam kubur.
Tidak ketinggalan juga suami dari wanita shalihah, namun tetap mendapatkan
siksa yang ditemui oleh sang ibu. Setelah bertemu dengan suami dari wanita

tersebut, sang ibu itu segera menceritakan pengalamannya, termasuk bagaimana
pula ia bertemu dengan si istri. Selanjutnya, suami itupun memaafkan kesalahan
dan merelakan kepergian si istri.

Pada malam harinya, ketika sang ibu sedang tidur tiba-tiba ia bermimpi
melihat wanita kedua yang pernah ia temui di alam kubur sambil berkata, terima
kasih bu! Sekarang saya telah bebas dari siksa kuburku karena pertolonganmu.
Semoga Allah swt membalas kebaikanmu dan mengampuni dosamu.

Gambar 8: Ada sebuah pemakaman umum, tampak beberapa batu nisan
dan seorang pemuda menenteng sebuah cangkul yang telah usai ia gunakan untuk
mengubur dan memasangkan tanda (batu nisan) yang agak terpencil dan beranjak
pulang. Sedangkan di dalam pekuburan itu tampak sang ibu sedang menghampiri
dua orang gadis cantik yang tengah duduk santai di sebuah taman di tepi telaga.
Tampak pula seekor burung cantik bertengger di atas kepala salah satu dari kedua
gadis sambil mengipas-ngipaskan sayapnya. Dan seekor burung ganas sedang
bertengger dan mematuk-matukkan paruhnya di atas kepala gadis yang lain.

Point Hikmah: Dua jenis taat dapat kita ambil hikmah dari kisah ini.
Pertama, taat kepada Allah.Walaupun nadzar yang diucapkan oleh sang ibu itu
penuh resiko, namun karena ia rela melakukannya demi membayar janjinya
kepada Allah, maka sang ibu itu mendapat imbalan dari Allah berupa keselamatan
dan pengalaman yang luar biasa. Memang, nadzar itu mempunyai kekuatan
tersendiri bagi orang yang bercita-cita untuk mencapai sesuatu, walau demikian
kita tidak boleh semata-mata mengandalkan nadzar tanpa ada satu usaha rasional.
Sehingga dalam ajaran Islam pun tidak melarang umatnya untuk bernadzar,
selama nadzar itu tidak membahayakan eksistensi iman dan akidah. Kedua, taat
kepada suami. Selagi suami itu tidak memerintahkan perbuatan ma’siayat, maka
istri wajib mentaatinya. Sebab, pertanggungjawaban istri adalah kepada suami,
sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Kullukum râ’in wa kullukum masûlun ‘an
ra’iyyatihi…..wal mar`atu masûlun ‘an mâli zaujihâ” (Kalian semua adalah
pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban dari apa yang kalian
pimpin….dan setiap istri bertanggungjawab atas harta suaminya). Kisah kedua
gadis tersebut setidaknya telah menjadi ibrah, betapa keridhaan suami bagi istri
adalah ibarat keridhaan orang tua terhadap anak. Karena setelah orang tua

mengijabkan (menyerahkan) –tanggungjawab- atas putrinya kepada calon suami,
maka pada saat itulah tanggungjawab orang tua menjadi lepas.

Kisah ke- 9: Kharismatika (Karamah. Bag. I)
Dari Abdullah bin al-Mubarak ia berkata, aku pernah lama tinggal di
Makkah. Pada suatu ketika datanglah musim kemarau yang teramat panas, semua
manusia telah melakukan shalat Istisqa` di padang Arafah. Akan tetapi, hujan tak
juga turun dan justru suhu udara malah semakin panas. Akhirnya mereka semua
sepakat untuk berkumpul kembali di padang Arafah pada hari Jum’at. Seusai
menunaikan shalat Jum’at, satu-persatu mereka beranjak meninggalkan padang
Arafah. Sepeninggal mereka, aku melihat seorang kulit hitam yang sudah renta
sedang melaksanakan shalat dua rakaat, kemudian ia berdo`a kepada Tuhan.
Seusai berdo`a, ia langsung bersujud seraya mengatakan: Demi Keagungan-Mu,
saya tidak akan mengangkat kepalaku sehingga Engkau menyiram hamba-Mu
dengan air hujan. Tiba-tiba aku melihat segumpal awan yang semakin lama
semakin tebal, dan tak lama kemudian hujan pun turun dengan derasnya. Segala
puji hanya bagimu Ya Allah.
Dengan basah kuyub, laki-laki kulit hitam tadi pergi meninggalkan padang
Arafah. Perlahan-lahan aku membuntutinya, sampai pada suatu tempat aku
melihat dia kembali berkumpul dengan sekawanan budak yang diperdagangkan.
Buru-buru aku kembali ke rumah untuk mengambil beberapa keping uang Dinar
(emas) dan Dirham (perak). Setelah itu aku kembali lagi ke tempat penjualan
budak dan berkata kepada penjualnya: sesungguhnya aku membutuhkan seorang
budak laki-laki, apakah kamu mempunyai persediaan? Lalu penjual itu
menunjukkan kepadaku sebanyak tiga puluh budak laki-laki. Aku bertanya lagi,
apakah kamu masih mempunyai persediaan yang lain? Penjual itu menjawab,
tinggal satu lagi dan ini sungguh sial, tak satu majikanpun yang mau menawar
karena dia adalah budak hitam yang renta. Aku berkata, coba perlihatkan budak
itu kepadaku. Ternyata, penjual itu mengeluarkan budak yang beberapa waktu lalu
aku lihat di padang Arafah. Lantas aku menawar, berapa budak ini kamu jual?
Penjual itu menjawab, umumnya sih saya jual duapuluh Dinar, tapi untuk yang

satu ini saya tawarkan kepada tuan hanya sepuluh Dinar. Aku berkata tidak! Justru
aku akan membelinya duapuluh tujuh Dinar.

Tanpa basa-basi lagi, uang langsung aku berikan dan budak itu langsung
kubawa pergi. Sesampainya di rumah budak tersebut bertanya, wahai tuanku!
Mengapa tuan membeli saya dengan harga sebegitu mahal? Bukankah tuan telah
mengetahui bahwa saya ini lemah dan tidak akan bisa mengabdi kepada tuan?
Aku menjawab, jangan berkata seperti itu! Sesungguhnya aku membelimu bukan
untuk aku jadikan budak, akan tetapi sebaliknya aku membelimu karena aku ingin
menjadikan engkau sebagai tuanku dan aku sebagai budakmu. Budak itu bertanya,
mengapa tuan melakukan hal ini? Aku menjawab, karena kemarin aku melihat
engkau berdo`a kepada Allah swt dan Allah mengabulkan do`amu. Sungguh aku
telah melihat kharismatika dan kekeramatan yang ada pada dirimu. Budak itu
bertanya, jadi tuan telah melihat kejadian kemarin? Aku menjawab, benar! Dia
bertanya lagi, apakah dengan demikian tuan akan memerdekakan hamba? Aku
menjawab, atas keagungan Allah swt mulai sekarang kamu meredeka.

Di tengah-tengah dialog antara aku dengan budak yang telah merdeka
tersebut, tiba-tiba terdengar suara yang mana aku sendiri tidak tahu dari mana
sumbernya, suara itu berbunyi: Wahai Ibnu al-Mubarak! Berbahagialah kamu,
karena sesungguhnya Allah swt telah mengampuni segala dosamu. Setelah itu,
aku mengambil air wudhu dan melakukan shalat dua raka’at. Seusai shalat, aku
meluapkan rasa syukur: segala puji hanya untuk-Mu Ya.. Allah, pada kesempatan
ini aku telah dimerdekakan oleh tuanku yang kecil, bagaimana jadinya seandainya
aku dimerdekakan oleh Tuhanku Yang Maha Besar?.

Melihat apa yang aku lakukan, budak merdeka tadi pun segera mengambil
air wudhu dan melakukan shalat dua raka’at. Seusai shalat dia langsung
menengadahkan kedua-belah tangannya ke atas langit sambil berkata: Wahai
Tuhanku! Engkaulah Yang Maha Mengetahui pengabdianku kepada-Mu selama
tigapuluh tahun ini, dan selama ini pula hamba memohon agar Engkau tidak
membuka apa –yang tersimpan- di dalam diriku. Oleh karena sekarang Engkau
telah membukanya, maka hamba memohon agar engkau mencabut nyawaku agar
hamba dapat kembali kepada-Mu.

Seketika itu juga, tuan kecilku tadi jatuh tersungkur dan pergi untuk
menghadap-Nya. Aku langsung membungkusnya dengan kain kafan seadanya,
lalu menshalatinya dan menguburkannya. Pada malam hari, aku bermimpi melihat
seorang laki-laki yang teramat tampan dan mengenakan busana yang sangat
bagus. beliau bergandeng tangan dengan seorang laki-laki tampan yang lebih
besar lagi dan berpakaian bagus pula. Mereka berjalan mendekati aku sambil
berkata: wahai Abdullah bin al-Mubarak! Tidakkah kamu merasa malu kepada
Allah? Aku bertanya, siapa kalian? Beliau menjawab: aku adalah Muhammad
Rasulullah dan ini adalah bapakku nabi Ibrahim. Aku bertanya, bagimana aku
tidak malu kepada Allah, aku merasa sudah banyak melakukan shalat kepada-
Nya. Beliau berkata, seorang waliyullah telah meninggal dunia, namun engkau
hanya memakaikan kain kafan seadanya.

Keesokan harinya, aku menggali kembali kuburan tuan kecilku lalu
mengganti kain kafannya yang lebih bagus nan indah. Selanjutnya aku menshalati
dan menguburkannya. Semoga Allah swt merahmati tuan kecilku.

Abu al-Qashim pernah ditanya: manakah yang lebih utama, seorang ahli
maksiyat yang bertaubat ataukah seorang kafir yang kembali beriman? Beliau
menjawab bahwa, seorang ahli maksiyat yang bertaubat itulah yang lebih utama.
Karena sesungguhnya seorang kafir tatkala masih dalam kekafirannya itu
merupakan ajnabiy (bukan golongan Islam). Sedangkan seorang ahli maksiyat,
sekalipun ia bergelimang dengan dosa, namun toh masih kenal dengan Tuhannya.

Seorang kafir jika telah masuk Islam, ia akan naik tingkatannya dari al-
Ajnabiy (bukan Islam) kepada al-‘Ârif (orang yang baru mengenal Tuhan).
Sedangkan seorang ahli maksiyat jika bertaubat, derajatnya akan naik dari al-ârif
(orang yang telah mengenal Tuhan) kepada al-Ahbâb (orang-orang yang dicintai)
sebagaimana Firman Allah swt: “Sesungguhnya Allah swt mencintai orang-orang
yang bertaubat”. Wallâhu A’lam.

Gambar 9: Panorama padang Arafah tempo dulu yang masih gersang.
Rombongan (jama’ah) berbondong-bondong pulang tampak semakin jauh.
Tinggallah Abdullah bin Mubarak sedang mengintai seorang budak hitam yang
sudah tua-renta sedang bersujud di tengah padang Arafah. Tampak pula gumpalan
mendung yang memuntahkan air hujan di atas tempat itu.

Point Hikmah: Dengan tanpa tujuan untuk menjeneralisasikan bahwa
hujan yang turun di padang Arafah itu semata-mata berkat do`anya pak tua hitam,
sebagaimana yang diceritakan oleh Abdullah bin al-Mubarak. Yang jelas, Istisqa`
adalah sebuah praktik shalat yang di antara “pahalanya” langsung ditampakkan
oleh Allah Swt yaitu berupa hujan. Bukan hanya Istisqa`, di dalam Islam juga
masih terdapat praktik ritual semacamnya, seperti shalat Istikharah dan lain-lain.
Jika kita tarik hikmah secara arif, hal tersebut bukan berarti Allah Swt menafikan
dan tidak mengabulkan upaya penduduk Makkah, namun budak hitam –yang
konon wali- itu adalah sebagai katalisator atau wasîlah atawa perantara. Dapat
kita bayangkan, Makkah merupakan sahara yang tidak mempunyai DRA (Daerah
Resapan Air) dan bercurah hujan sangat rendah, tentu saja sulit turun hujan.
Bandingkan dengan Indonesia yang banyak hutan belantara, banyak DRA dan
beriklim tropis, kok seandainya masih sulit turun hujan, kira-kira yang salah
alamnya atau manusianya yang sewenang-wenang menebangi hutan? Dan masih
banyak hikmah lain yang masih bisa kita ambil dari kisah di atas.

Kisah ke- 10: Kharismatika (Karamah. Bag. II)
Ada seorang laki-laki telah bercerita: pada suatu ketika kami sedang
berada di dalam kapal bersama para pedagang untuk mengarungi samudera. Tiba-
tiba ada badai dan angin kencang yang menerjang kapal kami. Tak ayal lagi, kapal
kami pun oleng dan kami semua merasa takut yang teramat-sangat.
Di bagian dek paling atas, ada pria yang mengenakan selimut dari kain
wol. Badai tak kunjung hilang, semakin lama maka semakin banyaklah air yang
masuk ke dalam dek-dek kapal kami. Dan yang pasti, beban kapal kami semakin
berat. Kami semua sudah putus asa, bagaimana nasib jiwa dan harta-benda kami.
Di saat kami semua sedang stress, tiba-tiba pria yang ada di dek atas tersebut
langsung berdiri di atas genangan air untuk melakukan shalat. Sebelum ia shalat,
kami semua meminta: Wahai waliyullah! Tolonglah kami. Akan tetapi pria itu tak
mau menoleh sedikitpun. Maka kami segera ingat dengan Dzat yang Maha Benar
dan Maha Memberikan kekuatan. Kami berdo`a: Aghitsnâ wa adriknâ (tolonglah
dan penuhilah –hajat- kami Ya.. Tuhan). Pria tadi menoleh sambil berkata: apa
yang kalian perbuat, bukankah Dia itu tidak hadir di tengah-tengah kita? Kami

menimpalinya dengan jengkel, jangan bercanda kamu, apakah matamu tidak
melihat badai dan topan yang menerjang perahu kita? Pria itu lalu menghibur
kami, dekatkanlah diri kalian kepada Allah swt. Kami bertanya, bagaimana kami
harus mendekatkan diri kepada Allah? Pria itu menjawab, dengan tidak
memikirkan lagi harta dunia. Kami menjawab, apa yang kamu katakana itu sudah
kami lakukan. Pria itu berkata, Nah! Sekarang dengan menyebut Asma Allah,
keluarlah kalian dari dalam kapal. Dengan menyebut Asma Allah, kami keluar
satu-persatu dan berdiri di sekeliling pria tadi. Setelah kami semua berkumpul,
maka dengan berjalan di atas air kami segera menuju ke tepi samudera. Pada
peristiwa itu, jumlah awak kapal lebih dari duaratus personil. Setelah kami semua
sampai di tepi samudera, kami sempat menyaksikan bagaimana kapal kami
beserta isinya amblas ditelan samudera. Selepas kami menyaksikan tenggelamnya
kapal kami, pria tadi angkat bicara: oleh karena kalian tidak gila dengan harta
dunia, maka dari itulah kalian selamat dan bisa keluar dari badai yang menerjang.
Kemudian kami bertanya, Demi Allah! Sesungguhnya tuan ini siapa? Ia
menjawab, saya adalah Uwais al-Qurniy. Lalu kami bercerita, sesungguhnya harta
yang ada di dalam kapal kami tadi adalah amanat yang diberikan oleh seorang
dermawan dari Mesir untuk dibagikan kepada orang-orang miskin yang ada di
kota Madinah. Uwais bertanya, apakah seandainya Allah swt mengembalikan
harta tadi kalian akan benar-benar membagikannya kepada fakir-miskin di
Madinah? Kami menjawab, pasti! Kemudian Uwais melakukan shalat dua raka’at
di atas air dan seusai shalat ia berdoa di dalam hati. Jauh dari apa yang kami duga,
tiba-tiba kapal dan harta-benda kami mengapung di atas permukaan air mendekati
kami.

Selanjutnya kami menaikai kapal dan berlayar menuju Madinah dan pada
saat itu tiba-tiba Uwais sudah tidak bersama kami. Sesampainya di Madinah, kami
segera membagi-bagikan harta amanat tersebut kepada fakir-miskin dan mulai
saat itulah tidak ada lagi penduduk kota Madinah yang miskin.

Gambar 10: Dua ratus awak kapal tengah sampai di tepi samudra sambil
melongok menyaksikan kapal “Titanic” mereka yang perlahan-lahan mulai
tenggelam. Tampak Uwais al-Qurniy sedang berkojah dan berdiri di tengah
kerumunan mereka.

Point Hikmah: Berdasarkan kisah tersebut, Uwais al-Qurniy
menyimpulkan bahwa, di dalam kondisi apa pun fikiran kita jangan sampai dibuat
“gila” oleh harta. Apalagi di saat kritis seperti itu, boro-boro mikiran harta, bisa
selamatkan jiwa dan akidah saja sudah untung. Yang menarik adalah, bagaimana
Uwais al-Qurniy bisa mengembalikan sifat amanahnya dua ratus orang berkat
karamah dan kekharismatikannya. Kisah ini bisa kita imajinasikan, barangkali
Allah Swt sengaja memberikan peringatan kepada mereka yang tadinya
mempunyai keinginan untuk ambil bagian (baca Korupsi) dari harta amanat
tersebut. Bisa kita analogikan pula bahwa, dalam kondisi genting –menjelang
tenggelamnya kapal “Titanic”- itu adalah kiamat lokal. Bagaimaan jadinya, jika
pada hari kiamat yang sebenarnya nanti? Sidang Pembaca yang budiman! Marilah
kita renungkan Firman Allah berikut: “Pada hari –di mana- langit menjadi
seperti luluhan perak, Gunung-gunung menjadi seperti bulu (yang beterbangan),
Dan tidak ada seorang teman akrabpun menanyakan temannya, sedang mereka
saling melihat. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya)
dari adzab hari itu dengan anak-anaknya, istrinya, saudaranya, dan kaum famili
yang melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya,
kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya. Sekali-kali tidak
dapat. Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak, yang mengelupaskan
kulit kepala, yang memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling (dari
agama). Serta mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya. Sesungguhnya
manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan
ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali
orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu “tetap” mengerjakan
shalatnya. Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi
orang miskin yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang
tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan
orang-orang yang takut terhadap adzab Tuhannya. Karena sesungguhnya adzab
Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). Dan orang-
orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau
budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada
tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah yang

melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang
dipikulnya) dan janji-janjinya”.

Kisah ke- 11: Keutamaan Pasrah Pada Kehendak Allah
Adalah seorang bernama Thariq al-Shadiq. Ia dijuluki al-Shadiq oleh
karena suatu peristiwa yang dialaminya. Ketika ia terperangkap di sebuah sumur
tua, ada serombongan orang yang baru saja pulang dari ibadah Haji. Di tengah
perjalanannya, rombongan Haji tersebut berhenti di sekitar sumur tua. Tiba-tiba
salah seorang dari rombongan ada yang mengusulkan, bagaimana kalau mulut
sumur ini kita tutup saja, supaya tidak ada orang yang terjebur ke dalamnya?
Thariq berkata kepada diri sendiri, jika kamu memang orang yang percaya kepada
kehendak Allah maka diam dan tenanglah! Ceritanya, rombongan haji itu setuju
usulan temannya dan jadilah mereka menutup sumur tua sebelum kemudian
beranjak pergi. Senja telah tiba, hari semakin gelap dan Thariq pun tercekam
dalam kegelapan. Thariq mengisahkan, bahwa dari dalam kegelapan itu muncul
dua sinar yang menyala, sehingga ia berhasrat untuk melihat kedua sinar itu. Kata
Thariq: Aku tersentak, ternyata sinar yang menyala itu adalah sorotan sepasang
mata ular naga yang sangat besar. Bulu kudukku berdiri, jantungku terasa mau
copot ketika naga itu mencoba mendekati aku. Di tengah kegalauanku, aku
berkata lagi kepada diriku sendiri: Kalau begitu jelaslah sekarang, siapa
sebenarnya orang yang jujur di antara orang-orang yang bohong. Ketika mulut
naga itu ada di depanku aku menyangka dia pasti akan memangsa aku.
Ternyata naga itu seakan lewat begitu saja dan aku sudah pasrah akan
nasibku. Kemudian naga itu merayap ke tebing sumur, ekornya mengikat leher
dan mengangkat kedua-belah kakiku. Dengan penuh mesra laksana ibu
menggendong anaknya, naga itu membawaku ke dalam rongga sumur. Perlahan-
lahan naga itu menurunkan aku. Ketika berada di kedalaman sumur, aku
mendengar suara tanpa wujud yang mengatakan: Ini adalah bagian dari kasih
sayang Tuhan kepadamu, ketika ada musuh yang mengancam keselamatan dirimu.
Karena peristiwa inilah Thariq dijuluki dengan shadiq (orang yang jujur).

Gambar 11: Ada sebuah sumur tua yang dalam dan berrongga. Tampak
seekor naga besar sedang merayap di tebing sumur. Tampak ekornya melilit leher

sampai pada bagian kaki Thariq. Kemudian naga itu mengangkat dan
mengamankan Thariq di kedalaman rongga sumur.

Point Hikmah: Barangkali naga dimaksud bukan sembarang naga. Boleh
jadi itu adalah jelmaan Malaikat. Peristiwa semacam ini tidak mustahil dan bisa
saja dialami oleh setiap hamba Allah yang saleh, sebagai bentuk pertolongan
Allah Swt. Pengalaman sama juga pernah dialami oleh Ashhâbul Kahfi ketika
menghindari kejaran pasukan pemerintahan raja yang sangat tiran dan memaksa
rakyat untuk menyembah selain Allah. Yang terpenting adalah, dalam kondisi apa
pun manusia hendaklah selalu ingat (dzikir) dan Tawakkal (memasrahkan) segala
urusannya kepada Allah Swt. Dus, Tawakkal dan dzikirlah sebagai kata kunci agar
manusia merasa tenang dan kehadiran Tuhan seakan selalu nampak di dalam
hatinya. Bukankah Allah Swt telah berfirman: “Alâ Bidzikrillâhi Tathmainnul
Qulûb” (Ingatlah, dengan berdzikir kepada Allah niscaya hatimu menjadi tenang).
“Wa ‘Alallâhi fal yatawakkalil mu`minûn” (Dan hanya kepada Allah jualah orang-
orang mukmin itu berpasrah).

Kisah ke-12: Keutamaan orang yang Tabah dan Teguh Imannya
Pada zaman khalifah Umar bin al-Khaththâb ra, pasukan perang tentara
Romawi telah menawan banyak sekali tentara Islam. Maka dari itu, sang khalifah
mengirimkan seorang pria perkasa penuh wibawa untuk bernegosiasi dan
menyelidiki tentang pribadi pimpinan perang tentara Romawi. Setelah pria itu
sampai di markas kediaman pemimpin tentara Romawi, ia langsung dipanggil
untuk menghadapnya. Sedangkan di tempat itu terdapat pagar betis dari rantai
yang dibentangkan. Sehingga dengan demikian tak seorang pun yang akan
menghadap sang pemimpin kecuali dengan merunduk seperti orang yang sedang
ruku’. Melihat cara seperti itu, pria muslim tadi tidak mau menghadap dan hanya
tertegun di depan markas. Kemudian pimpinan perang tentara Romawi itu segera
memerintahkan anak buahnya untuk melepas rantai tersebut.
Setelah rantai dibuka, pria muslim itu masuk ke markas dan berbicara
panjang lebar dengan sang pemimpin. Pemimpin Romawai berkata, masuklah
kamu ke dalam agamaku, nanti cincin –kekuasaanku- akan aku ikatkan kepada
jemarimu dan kamu akan saya beri tanah perdikan yang akan kamu kuasai dari

wilayah Romawi. Pria itu bertanya, berapa luas wilayah Romawi? Dia menjawab,
kurang-lebih sepertiga atau seperempat dari wilayah kekuasaanku. Pria itu
berkomentar: walaupun wilayah Romawi meliputi seluruh dunia yang penuh
dengan emas dan mutiara, maka aku tidak akan mau menerimanya, jikalau saat itu
aku tidak lagi bisa mendengarkan alunan adzan. Lalu pemimpin Romawi
bertanya, apa yang kamu maksud dengan adzan? Pria muslim menjawab, adzan
adalah Asyhadu an Lâ Ilâha Illallah wa Asyhadu anna Muhammadan Rasulûllah.
Pemimpin Romawi memutuskan bahwa, tawanan ini tidak bisa diajak kompromi
lagi, karena di dalam hatinya telah melekat rasa cinta yang amat mendalam
kepada Muhammad dan rasanya tak mungkin jika saat ini ia disuruh keluar dari
agamanya. Kemudian pemimpin Romawi itu memerintahkan anak buahnya agar
mempersiapkan sebuah tungku besar berisi air dan direbus di atas kobaran api.
Selanjutnya jika air tersebut telah mendidih, hendaklah pria tersebut dilemparkan
ke dalamnya. Dan ketika saat itu tiba, pria muslim tadi membaca Bismillâhir
Rahmânir Rahîm, lalu masuk ke dalam tungku tersebut dari satu arah dan keluar
dari arah yang lain. Lantas semua orang yang hadir di tempat itu pun pada takjub
keheranan.

Pemimpin Romawi masih belum puas, ia memerintahkan agar pria itu
dimasukkan ke dalam sebuah ruangan gelap dan hampa. Pria muslim ini tidak
diberi makan maupun minuman halal, dan justru malah disuguhi daging babi dan
arak selama empatpuluh hari-empatpuluh malam. Hari demi hari telah berlalu,
akhirnya tibalah saatnya pria muslim tadi keluar dari “neraka” Romawi. Ketika
pintu dibuka alangkah kagetnya si petugas, karena makanan dan minuman yang
dihidangkan tidak disentuh sedikitpun. Mereka bertanya, mengapa kamu tidak
mau makan? Bukankah ajaran Muhammad telah membolehkan untuk memakan
apa saja di saat terpaksa? Pria muslim itu menjawab, jika aku memakannya
niscaya kalian akan bersorak gembira. Sedangkan aku mengharapkan agar kalian
bisa bertambah murka.

Pemimpin Romawi tidak mau menyerah, ia berkata: oleh karena kamu
tidak mau makan apa yang kami suguhkan, maka bersujudlah kepadaku! Agar aku
merasa lega dan kamu beserta tawanan yang lain bisa kami bebaskan. Pria muslim
itu menjawab, sesungguhnya dalam ajaran Muhammad tidak diperkenankan sujud

kepada siapapun kecuali kepada Allah swt. Pemimpin Romawi memberi
alternatif, ciumlah tanganku! Nanti kamu beserta tawanan muslim yang lain akan
kami bebaskan. Pria muslim menjawab, hal inipun tidak diperbolehkan kecuali
hanya untuk seorang bapak, pemimpin yang adil atau para guru yang mengajarkan
ilmu. Pemimpin Romawi mengatakan, kalau hal ini kamu masih saja tidak mau
melakukan, maka ciumlah keningku! Pria muslim menjawab, aku mau
melakukannya tapi dengan satu syarat, yaitu dengan caraku sendiri.

Selanjutnya pria muslim itu menempelkan lengan bajunya ke atas kening
pemimpin Romawi, lalu ia menciumnya dengan niyat mencium lengan bajunya
sendiri. Akhirnya pemimpin Romawi pun merasa lega dan mau melepaskan
semua tawanan tentara Islam. Ia juga memberikan banyak hadiah berupa harta
benda dan menulis sepucuk surat kepada khalifah Umar bin al-Khaththâb ra yang
berbunyi: “Seandainya utusanmu ini adalah warga negara dan pemeluk agamaku,
maka sungguh kami akan semakin mantap dalam beribadah”.

Ketika pria tersebut datang kepada khalifah Umar ra, maka sang khalifah
berpesan, janganlah harta ini kamu makan sendiri! Akan tetapi bagikanlah kepada
warga Madinah yang lain.

Gambar 12: Pria muslim dipenjarakan bawah tanah yang amat gelap.
Tatkala para petugas membuka pintu penjara dan mengeluarkannya, mereka
tercengang, betapa pria muslim tidak menyentuh secuwil pun hidangan yang
berupa daging babi dan minuman keras. Dan anehnya, pria muslim tetap dalam
kebugaran walaupun empat puluh hari telah disekap di dalam penjara tanpa makan
suatu apa.

Point Hikmah: Tidak ragu lagi, di mata pria perkasa utusan khalifah
Umar r.a. tersebut, harta, kedudukan, pangkat dan jabatan yang ditawarkan oleh
raja Romawi merupakan petaka. Adalah preseden yang harus kita ikuti, di mana
harga diri demi memelihara akidah merupakan modal utama untuk menciutkan
nyali musuh-musuh Islam dan justru inilah senjata yang maha ampuh. Bukan
hanya satu dua orang yang telah membuktikan, bahkan semua. Coba kita simak
kisah-kisah para Nabi terdahulu, orang-orang saleh yang termaktub dalam al-
Qur`an seperti Ashhâbul Kahfi, Ibu Masitoh dan juga para waliyullah. Mereka
tidak takut sama sekali dengan berbagai siksaan dan aniaya. Dewasa ini, dakwah

yang dilakukan oleh para missionaris dan musuh Islam tidak lagi dengan
berperang. Mereka mengemas missinya ekstra halus, dengan berlindung di bawah
bendera Hak Asasi Manusia (HAM), Pluralisme, Liberalisme dan lain-lain. Demi
menghalau missi mereka, kita tidak perlu takut kehabisan konsep. Sebab, Islam
telah mengajarkan metode dakwah yang sangat genuine, yaitu; “Ud’û Ilâ sabîli
Robbika bilhikmati wal Mau’izhatil Hasanati” (Serulah (manusia) kepada jalan
Tuhanmu dengan Hikmah (perkataan yang tegas dan benar) dan pelajaran yang
baik).

Kisah ke- 13: Keutamaan Malam Nishfu Sya’bân
Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Nabi Isa as pada suatu
perjalanannya telah melihat sebuah gunung yang menjulang tinggi, maka
muncullah hasrat nabi Isa as untuk naik ke puncak. Setibanya di puncak, tiba-tiba
nabi Isa as melihat padang membentang berwarna putih bersih laksana susu, lalu
nabi Isa as berjalan-jalan mengitari padang itu. Keindahan tempat itu ternyata
membuat nabi Isa as sungguh-sungguh terpana, dan Allah swt pun kemudian
menurunkan wahyu yang menawarkan kepada nabi Isa as: Wahai Isa! Maukah
kamu Aku tampakkan hal yang lebih menawan lagi dari apa yang kamu lihat?
Nabi Isa menjawab, mau wahai Tuhanku. Seketika itu hamparan padang yang
membentang jadi merekah, dari dalamnya muncul sesosok orang tua berjenggot
dan bercambang lebat. Tubuhnya penuh dengan bulu, tangannya memegang
tongkat berwarna hijau, di sekeliling orang itu terdapat buah anggur dan ketika itu
ia sedang menjalankan shalat.
Melihat pemandangan itu, nabi Isa as semakin terpana. Setelah orang tua
itu selesai shalat nabi Isa as bertanya, wahai Syaikh! Apa sebenarnya yang saya
lihat tentang dirimu? Beliau menjawab, ini adalah rizki –yang diberikan Allah-
kepadaku setiap hari. Lalu nabi Isa as bertanya, berapa lama tuan beribadah
kepada Allah swt di tempat ini? Beliau menjawab, empat ratus tahun. Kemudian
nabi Isa as bermunajad kepada Allah: Wahai Tuhanku sesembahanku! Kalau
boleh hamba ingin mengetahui, adakah di antara ciptaan-Mu yang lebih utama
dari apa yang hamba lihat? Kemudian Allah swt menurunkan wahyu:
“Sesungguhnya ummat Muhammad saw yang menjumpai malam nishfu

(pertengahan) bulan Sya’ban, kemudian ia mau menjalankan shalat sunnat di
dalamnya, maka bagi-Ku itu adalah lebih utama daripada ibadah empat ratus
tahun. Nabi Isa as berkata, aduhai! Alangkah bahagianya aku jika menjadi ummat
Muhammad saw.

Gambar 13: Di atas gunung ada hamparan padang luas yang merekah.
Tampak seorang kakek tua berjenggot dan bercambang lebat sedang menjalankan
shalat. Di sekitar kakek itu terdapat aneka buah hidangan, terutama buah anggur
yang menjalar dan tinggal memetik.

Point Hikmah: Betapa paripurnanya syari’at Muhammad Saw, sehingga
Allah Swt memberikan berbagai keutamaan kepada umatnya, melebihi umat-umat
Nabi dan Rasul-rasul sebelumnya. Maka tak heran jika ungkapan “kecemburuan”
nabi Isa tersebut sempat terucap. Kisah di atas disamping sebagai bahan renungan
buat kita untuk lebih bersyukur, adalah sebagai peringatan dan tamparan buat
umat Yahudi dan Nasrani (ahlil kitab) yang senantiasa mengingkari kerasulan
Muhammad Saw. Adalah kebodohan yang maha bodoh dan kesesatan yang
teramat sesat, jika umat Yahudi dan Nasrani ini tetap tidak mengakui eksistensi
Muhammad sebagai Rasul yang pungkasan (terakhir). Sebab, nabi Isa As yang
membawakan ajaran mereka saja mendambakan untuk menjadi umat Muhammad
Saw. Dan dalam hal ini Rasulullah Saw pun telah bersabda: “Walladzî nafsî
Biyadihi, lau kâna ‘Îsa ibn Maryama hayyan lawaza’ahû illattibâ’î” (Demi Dzat
yang Kuasa atas diriku, kalaupun Isa putra Maryam masih hidup maka ia pasti
mengikuti ajaranku).

Kisah ke- 14: Keragaman hukum
Sudah menjadi tradisi pada zaman nabi Ibrahim as, dalam menyelesaikan
suatu perkara dengan cara membakar tangan orang yang dicurigai melakukan
suatu kesalahan. Apabila ada orang yang dibakar tangannya tidak mempan, maka
berarti ia tidak bersalah. Akan tetapi bila tangannya terbakar, berarti ia bersalah.
Adapun system yang diterapkan oleh nabi Musa as terhadap kaumnya
adalah memukul terdakwa dengan tongkatnya. Jika orang itu tidak bersalah maka
tidak akan ada reaksi apa-apa. Sedangkan jika orang itu bersalah, maka tubuhnya
akan segera gemetaran.

Pada zaman nabi Sulaiman as jika ada orang yang akan diadili, maka
orang itu dihembus dengan angin kencang. Apabila ia tidak bersalah, ia akan tetap
diam di tempat. Namun jika ia bersalah, maka ia akan dibawa terbang oleh angin
dan dijatuhkan lagi ke permukaan bumi.

Pada zamannya Raja Dzulqarnain, orang bersalah akan tenggelam ke
dalam air, sedangkan yang tidak bersalah akan mengapung di atasnya. Adapun
pada zamannya nabi Dawud as ialah apabila orang itu benar maka ia akan bisa
menggayuh rantai yang digantungkan pada suatu ketinggian tertentu. Namun jika
orang itu bersalah, maka ia tidak akan dapat menggapainya.

Ketika zamannya Rasulullah Muhammad saw, pembuktian atas suatu
tindakan itu didasarkan atas sumpah yang diucapkan oleh orang itu sendiri. Atau
dengan cara mencari bukti-bukti materi sebagaimana Firman Allah swt: “Allah
menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”
[Qs. Al-Baqarah (2) : 185].

Diriwayatkan dari Imam al-Tirmidzi: “Sesungguhnya kemudahan adalah
lambangnya surga, karena segala kemudahan terdapat di dalamnya. Sedangkan
kesukaran adalah lambangnya neraka, karena segala kesukaran ada di
dalamnya”. Dan masih ada lagi riwayat yang lain.

Gambar 14: Apresiasikan lambang keadilan seperti pedang yang dihunus
oleh orang dengan mata tertutup atau timbangan.

Point Hikmah: Dalam setiap ajaran yang dibawakan oleh para Nabi dan
Rasul, Allah pasti menempatkan umatnya secara proporsional, sesuai dengan
tingkat “keintelektualan” mereka masing-masing. Jika pada zaman Nabi Ibrahim,
beliau mengadili terdakwa dengan cara membakar bagian tangan si terdakwa, hal
itu karena manusia pada zamannya cenderung dengan sesuatu yang langsung bisa
ditampakkan secara nyata. Di samping memang beliau punya mu’jizat dan
keahlian dalam bidang menjinakkan api, buktinya tatkala dibakar oleh raja
Namruzh, beliau sama sekali tak terbakar. Demikian pula di zaman Nabi Musa,
Dawud dan Sulaiman serta raja Dzulqarnain, bisa dikatakan umat mereka semua
‘rendah’ dalam tingkat keintelektualannya. Juga, memiliki kecenderungan yang
sama dengan umat Nabi Ibrahim.

Adapun di zaman Rasulullah Saw, konsep yang diterapkan dalam rangka
mengurai keterangan dari si terdakwa adalah dengan bersumpah. Tampaknya
sumpah itu memang mudah diucapkan dan sepertinya tidak ada resiko bagi si
pelanggar. Akan tetapi jika ditinjau dari aspek psikologis, sumpah bisa
menjadikan depresi dan kekuatan supra bagi orang yang mengucapkannya. Hal
inilah yang menjadi ciri perbedaan antara umat Rasulullah Saw dengan umat
Nabi-nabi terdahulu, sekaligus sebagai bukti bahwa umat Rasulullah Saw adalah
umat yang lebih tinggi tingkat keintelektualannya bagi yang mau menalar. Lebih
dari itu, maqâshidut tasyri’ al-Islâmiy (tujuan dan misi syari’at Islam) adalah
untuk mempermudah dan bukan mempersulit. Walhasil, dengan cara bersumpah
seorang yang bersalah tidak sampai terbakar oleh si jago merah atau sirna diterpa
sang angin. Allah Swt berfirman: “Yurîdu bikum al-yusra wala yurîdu bikum al-
‘usr” (Allah menghendaki kemudahan kepada kalian dan bukan kesusahan).

Kisah ke- 15: Keutamaan Puasa Ramadhan dan Enam Hari di Bulan
Syawal.
Dari Sufyan al-Tsauriy ra ia berkata, aku pernah tinggal di kota Makkah
selama tiga tahun. Di masjid Al-Haram, aku melihat seorang laki-laki penduduk
kota tersebut yang datang setiap waktu zhuhur untuk melakukan Thawaf di
Ka’bah dan shalat dua raka’at. Seusai shalat, laki-laki itu mengucapkan salam
kepadaku dan langsung pulang ke rumahnya. Timbullah perasaan simpatik dan
solidaritasku kepada laki-laki itu, apa lagi hal tersebut ia lakukan hampir setiap
hari.
Pada suatu hari laki-laki itu jatuh sakit dan ia mengundang aku untuk
menjenguknya. Ia berkata kepadaku, jika aku telah mati nanti mandikanlah aku
dengan tanganmu sendiri, lalu shalatkanlah dan kuburkanlah aku serta jangan
kamu tinggalkan aku sendirian sampai satu malam penuh. Tuntunlah aku dengan
kalimat Tauhid ketika malaikat Munkar dan Nakir menanyaiku.
Permohonan laki-laki itu telah aku sanggupi dan ketika ia benar-benar
meninggal dunia, maka semua permohonannya tadi aku penuhi. Termasuk ketika
malam harinya setelah ia kami kuburkan, aku juga bermalam di atas kuburannya.
Ketika aku dalam keadaan antara sadar dan tidur, tiba-tiba aku mendengar suara

yang memanggil-manggil namaku dari atas kepalaku. Katanya, wahai Sufyan!
Sesungguhnya orang yang kamu tunggui itu sama sekali tidak butuh akan
penjagaanmu, tuntunanmu maupun cinta-kasihmu. Karena pada dasarnya aku
telah menghibur dan menuntunnya ketika malaikat Munkar dan Nakir
melontarkan pertanyaan. Aku (Sufyan) bertanya, dengan apa kamu memberikan
semua itu? Suara itu berbunyi, dengan puasa Ramadlan yang ia lakukan, lalu
diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal. Aku (Sufyan) terbelalak dan
tidak ada seorang pun yang dapat kulihat di sekililingku. Buru-buru aku
mengambil air wudhu dan melakukan shalat sehingga aku tertidur kembali,
begitulah seterusnya yang aku lakukan sampai tiga kali. Akhirnya aku
berkesimpulan bahwa, suara tadi datangnya dari Allah swt dan bukan dari setan.
Seketika itu juga aku pergi meninggalkan kuburan laki-laki tadi sambil berdo`a:
Ya.. Allah! Tolonglah hamba sebagaimana puasanya orang itu dengan Kemulyaan
dan Kemurahan-Mu. Âmien...

Gambar 15: Ilustrasi Sufyan al-Tsauri yang sedang duduk bersila di atas
kubur di bawah temaram cahaya bintang hingga tertidur.

Point Hikmah: Kisah ini hanya mengungkapkan salah satu dari sekian
banyak fadhilah dan keutamaan puasa Ramadhan. Sebab, masih banyak
keterangan lain –terutama hadits-hadits Nabawi- yang menjanjikan kepada setiap
hamba yang menjalankan puasa Ramadhan secara khusyu’ dan disarkan atas
keimanan dan harapan untuk memperoleh ridha-Nya. Sebagaimana sabda
Rasulullah Saw: “Man shâma Ramadhâna îmânan wah tisâban ghufira lahu mâ
taqaddama min dzanbihi” (Barangsiapa menjalankan puasa Ramadhan dengan
didasari keimanan dan penuh harapan atas ridha Allah, maka akan diampuni
semua dosanya yang telah lalu). Juga, “Man shâma Ramadhâna wa atba’ahû
sittan min Syawâli fakaannamâ shâmad dahri” (Barangsiapa menjalankan puasa
Ramadhan dan mau menambahkan enama hari di bulan Syawal –setelah ‘Îdul
Fitri- maka ia laksana menjalankan (dan mendapat pahala) puasa sepanjang
masa). Lebih dari itu, sebenarnya puasa bukan hanya sekedar menahan makan,
minum dan segala hal yang membatalkan seperti hubungan seksual. Akan tetapi
jika ingin mendapatkan pahala puasa secara sempurna, hendaknya kita harus bisa
menangkap, pesan apa yang terkandung di dalamnya. Baginda Rasulullah sendiri

mengartikan puasa sebagai ‘jihad’ yang maha dahsyat, yaitu jihad melawan nafsu.
Sebab jika tidak berpuasa, kita selalu dihantui oleh ‘nafsu serakah’, baik nafsu
untuk menumpuk harta maupun nafsu untuk mengkonsumsi setiap makanan.
Namun dengan berpuasa kita malah dituntut untuk turut merasakan, sebagaimana
saudara-saudara kita yang hidupnya serba kekurangan. Dari sini kita akan
menyadari bahwa, harta yang kita kejar dan kita kumpulkan terdapat hak saudara-
saudara kita yang miskin.

Kisah ke- 16: Keutamaan Konsentrasi Ibadah
Dalam sebuah kisah, ada seorang hamba Allah yang beribadah selama
seratus tahun di dalam surau. Melihat ketekunan hamba ini, setan –sang
penggoda- tidak bisa tinggal diam. Karena merasa was-was hamba Allah ini
akhirnya turun dari suraunya, kemudian menuju sebuah desa untuk mengunjungi
kerabat beserta teman-teman dekatnya yang seiman.
Singkat cerita, ada salah seorang di antara temannya yang menahan hamba
Allah ini untuk tidak segera kembali ke surau. Ia mengajak hamba Allah ini untuk
singgah di rumahnya. Setelah sampai di rumah ia mengikat sumpah dengan Nama
Allah agar hamba Allah tersebut mau menolong persoalan yang ia hadapi.
Akhirnya, hamba Allah mau menolong temannya dan tinggal bersamanya
selama tujuh bulan. Pada suatu malam hamba Allah sedang tidur dan ketika waktu
sahur (dini hari), tiba-tiba bangun serentak dan menjerit sekeras-kerasnya. Tak
ayal temannya (sang pemiliki rumah) langsung terbangun dan menghampirinya. Ia
bertanya, ada apa denganmu? Hamba Allah membalas, tolong cepat nyalakan
lampu! Setelah lampu dinyalakan, hamba Allah bercerita, aku bermimpi telah
bertemu dengan seorang pemuda tampan dan berpakaian putih bersih. Pemuda itu
mengatakan: “aku adalah Muhammad Rasulullah, kurang baik apa Allah dan
Rasul-Nya kepadamu sehingga kamu meninggalkan ibadahmu kepada-Nya?
Cepat kembalilah ke surau sebelum ajalmu tiba!”. Seketika itu, hamba Allah
langsung kembali ke surau dengan hanya makan daun-daunan dan minum air
hujan. Hamba Allah berdo`a: Wahai Tuhanku! Badanku hancur, hatiku menderita
dan lidahku senantiasa berbuat dosa. Ampunilah aku wahai Dzat yang Maha
Pengampun, Maha menutupi semua kesalahan dan Dzat yang Maha Mengetahui

perkara-perkara yang ghaib. Ketika hamba Allah ini sudah mendekati pintu
suraunya dan berhasrat untuk melangkahkan kaki ke dalam, tiba-tiba ia seperti
melihat tulisan sebanyak empat pokok pikiran yang berbunyi: “ketika kamu
pasrah kepadaku maka Aku Mencukupimu, ketika kamu tinggalkan Aku maka Aku
tinggalkan kamu dan ketika kamu kembali kepada-Ku maka Aku menerimamu,
ketika kamu menjauhi segala bentuk dosa maka Aku mengampuni dan mengasihi
kamu. Dan ketika kamu mengharapkan apa yang ada disisi-Ku maka Aku
berikan”.

Gambar 16: Ada sebuah surau kecil di atas gunung. Tampak seorang
kakek tua sangat letih sedang berdiri termangu di depan pintu. Di dalam benaknya
ia membaca dan memikirkan makna bait-bait syair yang tertulis indah (kaligrafi)
yang sebelumnya tidak ada.

Point Hikmah: Dalam asketologi kita tak perlu heran, jika ada orang yang
hidupnya hanya mementingkan ibadah kepada Allah dan menjauhi segala
kenikmatan dunia yang sarat dengan fitnah. Dan asketik (kezuhudan) ini hanya
bisa ditempuh oleh orang yang hatinya bersih dan mendapat bimbingan dari
Allah. Sehingga zâhid (orang yang telah zuhud dan bersih hatinya) akan
diperingatkan oleh Allah tatkala ia lalai. Inilah ilustrasi dari kisah di atas. Dus,
walaupun jalan tersebut tidak sembarang orang dapat menempuh, namun
setidaknya kita harus berupaya sedikit demi sedikit sampai menjadi zâhid.
Seorang zâhid juga bukan berati harus menjauhi segala kenikmatan dunia secara
un-sich seperti memakan makanan bergizi dan menggauli istri, namun hal-hal
semacam ini tetap menjadi kebutuhan yang bersifat dharuri atau primer. Sebab,
Rasulullah Saw pun juga mencontohkan seperti ini, sebagaimana dikatakan:
“Walâ tansa nashîbaka minaddunyâ” (Dan jangan kamu lupakan bagianmu dari –
kehidupan- dunia). Wallâhu A’lam.

Kisah ke- 17: Keutamaan Ikhlash
Pada suatu hari Imam al-Syibliy ra telah memberi wejangan kepada
majlisnya. Beliau memperingatkan agar para jama’ah takut kepada Allah. Dalam
mengucap kata Allah, beliau sangat bersemangat sampai-sampai ada seorang

pemuda yang hadir dan mendengarkan pidato beliau berteriak histeris, lalu jatuh
tersungkur dan meninggal dunia.

Rupa-rupanya pihak ahli waris tidak mau terima atas kematian si pemuda.
Mereka mengadukan hal ini kepada khalifah dan menuduh Imam al-Syibliy
sebagai penyebab kematian si pemuda. Khalifah bertanya, apa yang kamu
ucapkan ketika itu? Al-Syibliy berkomentar, wahai Amir al-Mukminin!
Hembusan nafaskulah yang sangat berhasrat dan ketika itulah suaraku keluar.
Nah! Apakah dosa jika aku menurutinya?. Mendengar apa yang dikatakan oleh al-
Syibliy, khalifah langsung menangis dan berkata kepada ahli waris si pemuda:
“Bubarlah kalian! Sesungguhnya ia tidak berdosa sama sekali”. Hanya Allah
jualah Dzat yang Maha tahu.

Gambar 17: Gambar Imam al-Syibli sedang berhojah pada suatu majlis
dengan penuh semangat dan dikelilingi oleh banyak jama’ah. Tampak gambar
seorang pemuda yang jatuh tersungkur dan langsung menarik perhatian para
jama’ah.

Point Hikmah: Yang menjadi pertanyaan, kira-kira masih adakah di
seantereo jagad sekarang ini seorang pemuda yang bisa langsung tersungkur bila
disebutkan Asma Allah secara khusyu’? Jawabnya, mungkin masih ada dan yang
paling mungkin adalah bagi mereka yang tersungkurnya bukan karena menghayati
keagungan Asma Allah, namun karena kaget dan jantungan. Lantas apakah juga
masih ada orang yang bisa berhojah sekaliber Imam al-Syibli? Jawabnya,
kalaupun ada janganlah dilakukan. Sebab, kalau di zaman khalifah perbuatan itu
tidak termasuk kriminal, karena Imam al-Syibli melakukannya secara ikhlas, akan
tetapi di zaman sekarang, perbuatan tersebut bisa masuk kategori kriminal dan
bisa dimasukkan delick hukum. Mendingan pakai system Manajemen Qalbu
(MQ) dan itu lebih disuaki. Hanya sebuah renungan.

Kisah ke- 18: Keutamaan Pasrah kepada Allah swt
Pada suatu hari Dzinnun al-Mishriy pergi ke laut untuk mencari ikan dan
ia pergi bersama puterinya yang masih kecil. Ketika sampai di laut ia segera
memasang jaring, dan tak lama kemudian seekor ikan segera masuk perangkap.
Sewaktu Dzinnun hendak mengambil ikan tersebut, tiba-tiba putrinya merasa iba

dengan nasib ikan yang megap-megap itu. Lantas si anak menyahut ikan yang
telah ditangkap dan melemparkannya kembali ke tengah laut.

Melihat tingkah putrinya yang aneh itu, Dzinnun bertanya: mengapa kamu
membuang ikan yang dengan susah-payah telah kita tangkap? Si kecil menjawab:
sungguh saya tidak tega memakan ikan yang selalu berdzikir kepada Allah swt.
Dzinnun bertanya, lalu kita harus berbuat apa? Si kecil menjawab lagi, sudahlah
kita pasrah saja kepada Allah, barangkali Allah swt akan mengirimkan sesuatu
yang tidak bisa berdzikir kepada-Nya.

Dzinnun menuruti apa kata putrinya dengan meninggalkan jaring ikan dan
diam termenung sampai datang sore hari sambil pasrah kepada Allah swt. Hari
telah senja, sedangkan di tempat mereka berdiam masih tak ada sesuatu pun yang
dapat disantap. Ketika hari telah berganti malam, kira-kira tepat waktu Isya’, tiba-
tiba Allah swt menurunkan hidangan dari langit kepada mereka dengan aneka-
ragam makanan dan begitulah seterusnya, sampai peristiwa tersebut berlangsung
selama kurang lebih duabelas tahun.

Dzinnun menyangka bahwa, semua yang ia dapati itu adalah sebagai
imbalan pahala dari shalat, puasa dan ibadah-ibadahnya yang lain. Pada suatu
ketika putrinya yang masih kecil itu meninggal dunia dan mulai saat itulah
hidangan yang biasanya datang dari langit tidak turun lagi. Sejak saat itu Dzinnun
menyadari bahwa hidangan yang turun dari langit itu adalah berkat karamah
putrinya.

Gambar 18: Dzinnun al-Misri sedang mengambil seekor ikan dari jaring
yang telah ia pasang seharian bersama putri kecilnya. Dan anehnya, si putri
langsung menyahut iekan itu dan melemparkannya kembali ke tengah laut.

Point Hikmah:

Kisah ke- 19: Belas Kasih
Sebuah riwayat menceritakan bahwa, pada suatu ketika Rasulullah saw
sedang keluar –dari rumah- untuk melakukan shalat ‘ied (hari raya). Di tengah
perjalanannya rasulullah saw melihat anak-anak kecil sedang bermain dan di antar
mereka ada seorang anak laki-laki yang sedang duduk di tepi jalan sambil
menangis dengan pakaian compang-camping. Lalu nabi saw menegur anak itu:

aduhai nak! Mengapa kamu menangis dan tidak bermain bersama teman-
temanmu? Anak itu menjawab, dan dia tidak mengira bahwa orang yang
menyapanya adalah nabi saw: betapa malangnya nasibku tuan! Bapakku telah
meninggal dunia dalam suatu peperangan bersama dengan nabi saw, ibuku kawin
lagi dengan laki-laki lain dan laki-laki itu telah menghabiskan seluruh harta milik
bapakku lalu mengusir aku. Sekarang aku tidak mempunyai makanan, minuman,
pakaian, tempat tinggal ataupun segala sesuatu yang kami butuhkan. Ketika aku
melihat anak-anak yang mempunyai bapak, lalu bermain dengan mengenakan
pakaian yang bagus-bagus, maka semakin bertambah parahlah kesedihanku.
Bagaimana aku tidak menangis tuan?

Kemudian rasulullah saw menarik tangan anak itu sambil bertanya, apakah
kamu mau menganggap aku sebagai bapakmu, Aisyah sebagai ibumu, Fatimah
sebagai saudarimu, Ali sebagai pamanmu, dan Hasan beserta Husain sebagai
saudara-saudaramu? Anak itu menjawab: mana mungkin aku menolak wahai
rasulullah?.

Setelah itu rasulullah saw menggendong anak tersebut dan membawanya
pulang. Sampainya di rumah, anak itu diberi pakaian yang sangat bagus dan diberi
makan yang enak-enak. Setelah berpakaian bagus, dan makan kenyang, anak
tersebut di bawa rasulullah saw keluar lagi. Dengan penuh suka cita, si anak
menemui teman-teman sepermainan. Betapa kagetnya mereka melihat dia, mereka
bertanya: kamu kan yang menangis kemarin, tapi mengapa sekarang kamu begitu
ceria. Dia menjawab: kemarin saya kelaparan tapi sekarang saya kenyang,
kemarin saya telanjang tapi sekarang saya berpakaian bagus, dan kemarin saya
sebatang-kara tapi sekarang rasulullah saw menjadi bapakku, Aisyah menjadi
ibuku, Fathimah menjadi saudariku, dan Ali sebagai pamanku. Lantas teman-
temannya berkata, wah! beruntung sekali kamu, betapa seandainya bapak-bapak
kami meninggal dalam peperangan tersebut? Tiba-tiba seorang anak yang lain
berlari menemui nabi dan merangkulnya, lalu menangis dan melumuri kepalanya
dengan debu sambil berkata: sekarang kami yatim – sekarang kami sebatangkara.
Kemudian Abu Bakar ra menanting dan menggendongnya.

Kisah ke- 20: Keutamaan orang yang kembali kepada Allah swt
Pada zaman nabi Dawud as ada seorang raja kafir yang lalim. Oleh karena
kaumnya nabi Dawud tidak bisa membiarkan kelalimannya maka mereka segera
melapor kepada beliau. Wahai nabi Dawud! Kami mohon agar engkau memberi
tindakan yang tegas. Orang itu telah menteror, membunuh dan menangkap teman-
teman kami. Akhirnya, nabi Dawud mengintruksikan agar raja kafir itu ditangkap
dan disalib di atas pohon di puncak gunung pada waktu sore hari.
Setelah prosesi penyaliban selesai, para penduduk segera pulang ke rumah
masing-masing. Malam itu si raja kafir dengan keadaannya yang tersalib sendirian
berdo`a kepada Tuhannya. Satu-persatu ia sebut nama-nama Tuhannya untuk
dimintai pertolongan. Mulai dari arca dan ruh-ruh leluhur, serta tidak ketinggalan
juga matahari dan bulan. Akan tetapi mereka semua tidak ada yang mendengar
dan bisa memberikan pertolongan.
Sejak saat itu si raja kafir sadar dan ingin kembali kepada Tuhan yang
sebenarnya yaitu Allah swt. Ia menyebut Asma-asma Allah dan berdo`a: Wahai
Tuhanku! Aku telah durhaka kepada-Mu dan menyembah selain Engkau, namun
mereka yang aku sembah itu tidak ada yang bisa memberikan pertolongan
kepadaku. Sekarang aku datang kepada-Mu, Engkaulah Dzat yang Maha Benar.
Hanya Engkaulah yang dapat memberikan pertolongan kepadaku, maka tolonglah
aku Ya.. Allah dengan Kasih dan Sayang-Mu. Allah swt berfirman: hambaku ini
telah sekian lama menyembah selain Aku, dan Tuhan-tuhan yang ia sembah itu
tidak ada yang mau menolongnya. Sekarang ia sadar dan berdo`a kepada-Ku,
maka Aku Mengabulkan do`anya, karena Aku adalah Dzat yang Maha
Mengabulkan do`a hamba yang teraniaya jika ia mau berdo`a. Oleh karena itu,
turunlah wahai Jibril, lepaskanlah salibnya dan turunkan dia dari atas pohon
dengan tanpa bekas luka sedikitpun. Maka malaikat Jibril segera melaksanakan
apa yang telah diperintahkan Allah kepadanya.
Keesokan harinya, orang-orang berkumpul menemui nabi Dawud agar
mereka diperkenankan untuk melihat kondisi si raja kafir dan nabi Dawud pun
mengizinkan. Sewaktu mereka tiba di puncak gunung, mereka semua hampir tidak
percaya. Ternyata si raja kafir masih segar bugar dengan tanpa bekas salib
sedikitpun dan justru ia malah sedang duduk termenung di bawah pohon.

Kemudian mereka melaporkan hal ini kepada nabi Dawud as, dan beliau pun
bergegas ke tempat itu. Melihat keanehan tersebut, nabi Dawud as segera
melakukan shalat dua raka’at dan berdo`a: Wahai Tuhanku! Ceritakanlah apa
sebenarnya yang sedang terjadi? Kemudian Allah swt menurunkan wahyu dan
Berfirman: wahai Dawud! Sesungguhnya hamba-Ku ini telah merendahkan diri
kepada-Ku maka dari itu Aku mengabulkan do`anya. Sedangkan jika Aku tidak
mengabulkan, lantas apa bedanya antara Aku dengan “Tuhan-tuhan” ia yang
terdahulu?. Demikian juga, Aku juga akan berbuat hal yang sama kepada hamba-
hamba-Ku yang kembali kepada-Ku. Wahai Dawud! Ajaklah ia beriman, karena
sesungguhnya ia adalah hamba yang baik dan telah beriman kepada-Ku. Akulah
Dzat yang Maha Berfirman dengan kebenaran dan Penunjuk jalan.

Kisah ke- 21: Zuhud (tekun beribadah)
Ada seorang ahli zuhud bercerita, pada suatu hari aku pergi ibadah haji. Di
tengah perjalananku, aku bertemu dengan seorang wanita yang sedang berjalan
dengan tanpa kendaraan maupun perbekalan, dan ia selalu berdzikir dan memuji
kepada Allah swt. Lalu aku mendekatinya sambil menyapa: wahai hamba Allah!
Ke manakah dikau hendak pergi? Ia menjawab, ke Baitullah al-Haram. Aku
bertanya, lantas mana perbekalanmu dan mengapa engkau tidak mengendarai
sesuatu? Ia berkomentar, kalau saja anda kedatangan banyak tamu, kemudian
tamu-tamu itu mengajak banyak orang ke tempat anda, apakah pantas tamu-tamu
itu sendiri yang menyediakan hidangan? Aku menjawab, tentu saja tidak! Lantas
ia berkata, nah! Begitu juga tamu-tamu Allah.
Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya kami sampai di suatu padang
yang luas (Arafah. Pent). Wanita itu berteriak, di mana “rumah” Tuhanku, di
mana “rumah” Tuhanku? Tiba-tiba seperti ada yang berkata kepadanya, sekarang
lihatlah tempat itu! Lalu wanita tersebut mendatanginya dan masuk masjid.
Dikatakan lagi bahwa, inilah “rumah” Tuhanmu. Wanita itu pun segera mendekat
dan meletakkan kepalanya di atas tangga Ka’bah, ia berkata: ini “rumah”
Tuhanku, ini “rumah” Tuhanku, demikian ia mengucapkan berulangkali, dan
semakin lama suaranya semakin tidak terdengar. Dan ketika aku melihatnya, tiba-
tiba ia sudah meninggal.

Kisah ke- 22: Keutamaan Ikhlas dan Cinta
Ada seorang wanita yang datang ke masjidnya rasulullah saw untuk
mendengarkan sabda-sabda beliau. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan
seorang pemuda dan mereka saling tanya-jawab. Sang pemuda bertanya, ke
manakah nona hendak pergi? Si wanita menjawab, ke tempat rasulullah saw. Sang
pemuda bertanya, engkau mencintainya? Si wanita menjawab, tentu saja! Sang
pemuda berkata: jika engkau benar-benar mencintai rasulullah, hendaklah engkau
mau membuka cadarmu, demi beliau. Setelah wanita itu mau membuka cadar,
sang pemuda memberanikan diri untuk memegang janggut si wanita sambil
berkata, ternyata engkau tidak berbohong.
Karena merasa terkecoh, si wanita menyesal atas kejadian itu dan
melaporkan kepada suaminya. Akhirnya suami wanita itu tidak terima dan
melaporkan kejadian tersebut kepada rasulullah saw. Kemudian rasulullah saw
bersabda kepada si suami: nyalakanlah api unggun, lalu perintahkan istrimu untuk
masuk ke dalam api itu jika memang ia benar-benar cinta kepadaku.
Suami itu segera pulang dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh
rasulullah. Akan tetapi si istri tidak mau masuk ke dalam kobaran api, lantas si
suami berkata: demi cintamu kepada rasulullah. Maka dengan senang hati si istri
masuk ke dalam api unggun sambil berkata, alangkah bahagia dan mulianya aku.
Kemudian si suami menutup istrinya di dalam api unggun dan kembali
menghadap rasulullah. Setelah menghadap rasulullah saw bersabda: sekarang
pulanglah kamu, dan lihatlah bagaimana keadaan istrimu! Sesampainya di rumah,
si suami segera membuka api unggun tadi dan ia mendapati istrinya sedang duduk
ditengah kobaran api. Si suami langsung mengeluarkan istrinya dari dalam api dan
ternyata, atas izin Allah swt si istri sama sekali selamat dan tidak terkena jilatan
api sedikitpun.

Kisah ke- 23: Lupa Dzikir Kepada Allah
Ada seorang laki-laki yang hidup nikmat selam tiga puluh tahun, namun
sayangnya ia tidak pernah ingat dan berdzikir kepada Allah swt sama sekali.
Lantas para malaikat mengadukan hal ini kepada Allah swt: wahai Tuhan kami,
sesungguhnya hamba-Mu si Fulan tidak pernah berdzikir dan ingat kepadamu

sejak sekian tahun lamanya. Maka Allah swt Berfirman kepada para malaikat:
Adanya mereka tidak ingat kepada-Ku itu karena mereka mendapat limpahan
nikmat dari-Ku. Seandainya ia Aku beri cobaan, niscaya ia akan ingat kepada-Ku.
Kemudian Allah swt memerintahkan kepada malaikat Jibril agar menyumbat
aliran keringat si Fulan dan malaikat Jibril pun langsung melaksanakan perintah
Allah tersebut. Ketika si Fulan merasakan bahwa aliran keringatnya tidak bisa
keluar, tiba-tiba ia berkata: Aduhai Tuhanku, aduhai Tuhanku! Maka pada saat itu
Allah swt menjawab: Labbaika-labbaika (selamat datang) wahai hamba-Ku, ke
mana sajakah kamu selama ini?

Kisah ke- 24: Mohon “amnesty” Kepada Allah swt
Pada suatu hari tentara khalifah Harun al-Rasyid melapor kepada beliau
bahwa mereka telah menangkap sepuluh orang kawanan perampok. Lantas para
tentara ini menunggu apa yang akan diperintahkan oleh sang khalifah. Tak lama
kemudian sang khalifah memerintahkan agar para perampok tersebut dibawa
menghadapnya secara keseluruhan. Tatkala bala tentara khalifah Harun al-Rasyid
hendak membawa kawanan perampok tersebut kepada beliau, mendadak salah
seorang dari kawanan perampok itu ada yang melarikan diri. Dengan susah-payah
bala tentara sang khalifah mengejarnya, namun tak tertangkap juga. Mereka
semua membayangkan bagaimana jadinya jika menghadap khalifah dengan hanya
membawa sembilan kawanan perampok? Beliau pasti akan mengatakan: kalian ini
pasti telah berkolusi dan mendapat bagian harta yang banyak dari perampok yang
satu itu, sehingga kalian mau melepaskannya, lalu beliau pasti akan menghukum
kita. Di tengah kekhawatiran itu, terbesitlah suatu rencana untuk menyeret
siapapun yang lewat untuk menggantikan posisi perampok yang telah melarikan
diri. Tak lama kemudian, ada kafilah rombongan orang yang pulang dari ibadah
haji dan para tentara itu pun segera menyeret salah seorang dari mereka untuk
melengkapi sembilan dari kawanan perampok.
Pada saat mereka semua sampai di tempat khalifah, beliau langsung
memerintahkan untuk memenjarakan sepuluh orang tersebut di dalam satu
ruangan. Baru beberapa hari mereka mendekam di dalam penjara, tiba-tiba si
penjaga sel menawarkan: apakah salah seorang di antara kalian ada yang

mempunyai kerabat dekat atau semcam relasi yang bisa menolong kalian untuk
minta amnesti (pengampunan) kepada sang khalifah? Mereka menjawab: ada!
Selanjutnya mereka semua menemui relasi yang dimaksud dengan membawa
uang tebusan setiap orang sepuluh ribu Dirham. Singkat cerita, mereka semua dari
sembilan kawanan perampok tersebut diberi amnesty oleh sang khalifah kecuali
Pak Haji yang malang. Si penjaga sel bertanya kepada Pak Haji: apakah bapak
mempunyai relasi yang dekat dengan sang khalifah? Pak Haji menjawab: tidak,
akan tetapi seandainya saya menulis sepucuk surat apakah pak penjaga mau
memberikannya kepada sang khalifah? Si penjaga menjawab: tentu! Pak Haji
berkata: kalau begitu, tolong saya minta satu lembar kertas beserta penanya.

Kemudian Pak Haji menulis surat yang isinya: Bismillâhir Rahmânir
Rahîm (Dengan menyebut Asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang). Dari hamba yang hina kepada Tuhan yang Maha agung. Amma
Ba’du, Sesungguhnya setiap makhluk itu mempunyai penolong baik ketika ia
melanggar hukum perdata maupun pidana. Begitulah nasib mereka sembilan
kawanan perampok yang telah mendapat pertolongan dan amnesty dari sang
khalifah. Adapun saya adalah satu-satunya orang yang tertinggal di dalam penjara
dan Engkaulah wahai Tuhanku, yang menjadi saksi sekaligus penolong hamba.
Padahal hamba adalah orang yang tidak bersalah. Setelah membaca isi surat ini si
penjaga sel malah berkata: aku tidak sanggup mengantarkan suratmu ini kepada
sang khalifah, lalu menurutmu bagaiman? Pak Haji berkata: letakkan saja di atas
atap penjara. Ketika surat itu di letakkan, dengan sendirinya terbang ke atas langit
bersama angin, seperti melesat bersama anak panah yang dihempaskan oleh busur
sekuat-kuatnya. Sewaktu khalifah Harun al-Rasyid tidur pada malam hari, ia
bermimpi melihat surat tersebut bersama para malaikat yang turun dari langit, lalu
mereka menangkap dan membawa terbang surat itu. Para malaikat itu berkata:
wahai Harun al-Rasyid! Kamu telah memberikan pertolongan dan membebaskan
sembilan kawanan perampok. Sesungguhnya Sang Pencipta, Tuhan yang Maha
Perkasa akan menolong seorang tawananmu, maka dari itu bebaskanlah dia, jika
tidak kamu akan binasa. Mendadak sang khalifah bangun dari tidurnya dengan
takut dan gemetar, lalu beliau langsung memanggil si penjaga sel seraya bertanya:
siapa lagi yang masih tertinggal di dalam sel? Lantas si penjaga sel menceritakan

semuanya. Sang khalifah memerintahkan: bawalah orang itu kemari! Ketika Pak
Haji yang dimaksud telah berada di depan khalifah, beliau langsung
menyambutnya dengan manisan dan Pak Haji pun langsung melahapnya hingga
kenyang. Setelah itu sang khalifah memerintahkan agar Pak Haji dibawa ke kamar
mandi dan disuruh memakai jubah kehormatan. Juga, diberikan tujuh puluh
hewan kendaraan, tujuh puluh budak laki-laki dan tujuh puluh budak perempuan.
Setelah itu sang khalifah memerintahkan petugas untuk pentas dan menyerukan
pernyataan sebagai berikut: barangsiapa meminta pertolongan kepada para
makhluk dengan uang tebusan sepuluh ribu Dirham, ia hanya mendapatkan
kebebasan (dari penjara). Sedangkan orang yang meminta pertolongan dari Sang
Pencpita, maka inilah imbalan yang diberikan oleh khalifah Harun al-Rasyid.

Kisah ke- 25: Keyakinan yang baik
Ceritanya ada gabungan liar (gali) dari kawanan penjahat untuk beroperasi
mencari mangsa di malam hari. Tatkala malam telah gelap-gulita, mereka
langsung menuju markas yang terletak di gurun pasir (sahara). Mereka segera
mengetok pintu markas dan mengatakan kepada pemilik markas: kami adalah
pasukan perang, jika diperkenankan, kami ingin menginap di markasmu malam
ini. Tanpa menaruh rasa curiga, sang pemilik markas langsung membukakan
pintu, lalu mempersilahkan mereka masuk dan menjamunya. Pemilik markas
melakukan semua ini semata-mata ikhlash karena Allah dan mengharapkan
berkah dari mereka. Dia mempunyai seorang anak laki-laki yang lumpuh dan
tidak mampu berdiri.
Setelah kawanan penjahat tersebut kenyang dan beristirahat, maka sang
pemilik markas buru-buru mengumpulkan bekas sisa-sisa makanan dan minuman
mereka, lalu memerintahkan kepada istrinya agar sisa makanan dan minuman itu
diusapkan ke sekujur tubuh sang anak, dengan harapan semoga Allah swt
menyembuhkan sang anak dari lumpuhnya sebab berkah dari pasukan perang itu.
Maka si istri pun menuruti perkataan sang suami.
Di pagi buta, para penjahat itu izin keluar sebentar. Mereka menuju ke
suatu tempat dan melakukan perampokan harta-benda. Ketika sore tiba, mereka
kembali ke tempat pemilik markas. Betapa herannya mereka, ketika melihat anak
sang pemilik markas bisa berjalan dengan tegap. Mereka bertanya kepada pemilik

markas: bukankah ini anakmu yang kami lihat kemarin dalam keadaan lumpuh?
Dia menjawab: ya, kami telah mengambil bekas sisa makanan dan minuman
kalian, lalu kami usapkan ke sekujur tubuhnya, ternyata Allah swt menyembuhkan
lumpuhnya oleh sebab berkah kalian semua.

Kontan para penjahat tersebut langsung menangis, mereka mengatakan
kepada pemilik markas: ketahuilah pak! Sesungguhnya kami bukanlah pasukan
perang, namun kami adalah para penjahat yang selalu melakukan perampokan.
Oleh karena Allah swt telah menyembuhkan anakmu sebab niyatmu yang tulus,
maka kami sekarang insyaf dan bertaubat kepada Allah swt. Setelah peristiwa ini,
mereka semua bergabung dengan para pasukan perang betulan dan jadilah mereka
para Mujahid di jalan Allah hingga akhir hayat.

Kisah ke- 26: Perbuatan makar (rencana jahat) sang Iblis
Iblis –La’natullah ‘Alaihi- pada suatu hari datang menemui Dhahak bin
Alwan dengan penampilan wujud seorang manusia. Iblis berkata kepada Dhahak:
wahai sang raja! Sesungguhnya saya ini adalah seorang koki (tukang masak) yang
handal, maka dari itu, jadikanlah saya sebagai juru masakmu. Dhahak (sang raja)
terpikat dengan tawaran itu dan ia pun menyerahkan urusan dapur kepadanya.
Pada masa-masa sebelum itu, manusia tidak ada yang berani makan
daging, maka untuk pertama kalinya Iblis yang telah menjadi koki itu memasak
telur dengan selezat-lezatnya. Iblis bertanya kepada Dhahak: apakah tuan
berkesan dengan telur masakanku tadi? Dhahak menjawab: sungguh!. Pada hari
kedua, Iblis memasak daging ayam dengan selezat mungkin agar tidak
mengecewakan majikannya. Kemudian pada hari ketiga, Iblis mulai menyembelih
kambing, lantas di hari keempat ia menyembelih unta dan sapi. Target utama yang
dikehendaki si Iblis adalah agar sang raja menjadi kanibal dan mau makan daging
manusia.
Iblis sengaja menghidangkan daging-daging hewan di atas dalam beberapa
hari, agar sang raja benar-benar bisa menikmati. Akhirnya, di sebuah kesempatan
Iblis berkata kepada sang raja Dhahak: Tuan telah memuliakan saya, maka dari
itu, perkenankanlah saya untuk mencium bagian atas pundak tuan. Dhahak tidak
keberatan sama-sekali dengan permintaan si Iblis, setelah itu, Iblis mencium

bagian bawah pundaknya Dhahak. Selesai dicium, mendadak kedua pundak
Dhahak tumbuh dua kelenjar gondok yang mengerikan, laksana dua ekor ular
dengan matanya yang menyala dan mulut menganga. Melihat kejadian ini,
Dhahak sadar bahwa si koki itu sebenarnya adalah Iblis yang menjadi biang
keladinya. Dhahak menyesal sambil berkata: kamu telah membinasakan saya,
kalau begitu apa obat penawarnya wahai orang yang terlaknat? Iblis menjawab:
gajih manusia, lalu ia menyelinap pergi tanpa meninggalkan jejak. Sebagaimana
apa yang dikatakan oleh Iblis, sejak menderita penyakit tersebut, Dhahak
menuruti apa kata Iblis, setiap harinya ia memerintahkan perdana menteri untuk
menyembelih empat orang yang gemuk-gemuk lagi sehat. Kemudian gajih mereka
ia ambil sebagai makanan penawar buat kelenjar gondok yang menyerupai dua
ekor ular di atas pundaknya. Kebiasaan ini terus berlangsung selama tiga ratus
tahun. Sampai pada suatu ketika sang perdana menteri wafat, lalu digantikan oleh
perdana menteri yang lain.

Seperti biasa, perdana menteri yang baru ini juga ditugaskan untuk
mencari empat orang pria, namun ia hanya menyembelih dua di antara dan
sebagai ganti, ia tambahkan dengan dua ekor kambing. Sedangkan dua yang lain
disuruh pergi ke atas pegunungan dan bermukim di sana. Hal ini berlangsung
selama tujuh ratus tahun, sampai mereka –yang di atas gunung- menjadi banyak
dan beranak-pinak. Mereka menerima hidup bersama kambing, sapi dan hewan-
hewan yang lain. Mereka semua ini adalah nenek-moyangnya kera.

Kisah ke- 27: Keutamaan Bismillah
Ada seorang pria Yahudi yang benar-benar jatuh cinta kepada seorang
wanita sesama Yahudi. Saking cintanya, ia bagaikan orang gila sehingga tidak
bisa merasakan –lezatnya- makanan dan minuman. Akhirnya, ia pergi ke tempat
Atha` -psikiater muslim- yang kondang, untuk mengetahui tentang keadaan
jiwanya. Kemudian Atha` menulis Bismillâhir Rahmânir Rahîm di atas kertas
kecil, lalu berkata kepada pria Yahudi: telanlah kertas ini, mudah-mudahan Allah
swt menunjukkan jalan kepadamu dan mendapatkan anugerah bersamanya.
Setelah menelan kertas tersebut, pria Yahudi berkata: wahai Atha`! saya
telah merasakan manisnya iman, hati saya sekarang menjadi terang dan saya juga

sudah bisa melupakan wanita Yahudi itu. Kemudian ia tertarik untuk masuk Islam
dan Atha` telah mengislamkannya berkat keutamaan Bismillah.

Berita keislaman pria Yahudi ini, rupa-rupanya sampai ke telinga si wanita
Yahudi yang menjadi pujaannya, maka ia pun segera menemui Atha` seraya
mengatakan: wahai Imam al-Muslimin! Sesungguhnya saya adalah wanita yang
disebut-sebut oleh pria Yahudi yang sekarang sudah masuk Islam. Kemarin saya
bermimpi bahwasannya dia telah datang kepadaku sambil berkata: jika kamu
ingin melihat tempatmu di dalam surga, maka datanglah kepada Atha`, karena
sesungguhnya dia mengetahui hal itu. Maka dari itu, sekarang saya datang
kepadamu untuk menanyakan di manakah surga itu? Lantas Atha` berkata kepada
wanita Yahudi: jika kamu menginginkan surga, maka pertama-tama kamu harus
membuka pintunya terlebih dahulu, baru kamu bisa masuk ke dalamnya.wanita
Yahudi bertanya penasaran: bagaimana saya bisa membuka pintu surga? Atha`
menjawab: ucapkanlah “Bismillâhir Rahmânir Rahîm”.

Kemudian wanita Yahudi itu langsung membaca kalimat tersebut dan
setelah membacanya, ia berkata: wahai Atha` saya telah menemukan cahaya
hatiku dan bisa menyaksikan malaikat-malaikat Allah. Akhirnya, atas berkat
kalimat Bismillah pula, wanita Yahudi itu masuk Islam. Setelah memeluk agama
barunya, wanita Yahudi pulang ke rumah. Pada malam harinya ia tidur dan
bermimpi bahwa dirinya telah masuk surga dan di dalam surga itu ia dapat
menyaksikan kemegahan istana surga dan keindahan kubah-kubahnya dengan
bertuliskan “Bismillâh al-Rahmân al-Rahîm, Lâ Ilâha Illallâh Muhammad al-
Rasulullâh”.

Pada saat ia membaca kalimat tersebut, tiba-tiba ada suara yang
menegurnya: wahai wanita yang sedang membaca! Demikianlah Allah swt
memberikan pahala atas apa yang telah kamu baca. Setelah bangun dari
mimpinya, wanita itu berkata: aduhai Tuhanku! Hamba sudah –merasa- di alam
surga, lalu Engkau mengeluarkan hamba dari dalam surga itu. Maka dari itu,
aduhai Tuhanku! Keluarkanlah hamba dari kesusahan dunia ini dengan
kekuasaan-Mu. Seusai berdo`a, tiba-tiba rumah wanita itu runtuh dan
menguburnya, maka jadilah ia sebagai orang yang mati syahid di jalan Allah

berkat kalimat “Bismillâh al-Rahmân al-Rahîm”. Semoga Allah swt selalu
merahmati dan segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.

Kisah ke- 28: Militansi Taat
Golongan orang shalih dan ahli hikayat telah menceritakan: pada suatu
ketika aku sedang melakukan thawaf (berjalan memutar) di Bait al-Haram. Tiba-
tiba aku bertemu dengan orang yang sedang bersujud sambil mengatakan: aduhai
Tuhanku! Apa yang akan Engkau Perbuat kepada hamba-Mu yang terhalang?.
Aku tidak perduli dengan apa yang diperbuat oleh orang itu, lalu aku melanjutkan
thawaf lagi. Setelah menambah satu putaran, ternyata aku masih melihat apa yang
diperbuat orang itu.
Ketika aku selesai melakukan thawaf dan laki-laki itu pun sudah bangun
dari sujudnya, maka aku langsung menanyakan tentang apa sebab laki-laki itu
berbuat demikian? Dia menjawab: ketahuilah! Sesungguhnya aku adalah salah
seorang di antara tentara muslim yang bertugas untuk menggempur benteng
pertahanan tentara Romawi. Kami pergi bersama panglima menuju Romawi
dengan jumlah pasukan yang cukup banyak.
Sebelum melancarkan penyerangan, sang panglima memilih sepuluh
prajurit berkuda dan aku termasuk di antaranya, untuk menjadi mata-mata.
Kemudian aku bersama sepuluh temanku bergegas menuju satu arena dan di sana
kami melihat enampuluh tentara kafir. Sedangkan di arena yang lain, kami melihat
enamratus tentara kafir lagi. Setelah mengetahui seberapa besar kekuatan lawan,
kami kembali menemui panglima untuk melaporkan hasil kerja kami. Panglima
memberi perintah agar kami bersama sepuluh prajurit berkuda tadi kembali ke dua
arena musuh yang telah kami mata-matai, beliau berpesan: sesungguhnya kalian
adalah orang-orang yang mendapatkan berkah, maka dari itu, teruslah kalian
memata-matai kegiatan mereka seperti yang pernah kalian lakukan!
Kami bersama kawan-kawan parajurit berkuda segera melaksanakan
amanat dari panglima. Celakanya, di tengah perjalanan kami disergap oleh seribu
tentara berkuda dari pihak Romawi. Kami dijadikan tawanan mereka dan dibawa
menghadap raja Romawi, lalu sang raja memerintahkan agar kami semua
dimasukkan ke dalam penjara.

Pada saat kami mendekam dalam penjara, kami mendengar berita bahwa
sang panglima bersama kawan-kawan prajurit kami yang lain, telah berhasil
menumpas habis tentara kafir yang berada di dua arena yang pernah kami mata-
matai, malahan di antara tentara kafir itu terdapat saudara sepupu raja Romawi
yang mati terbunuh. Menerima kekalahan ini raja Romawi semakin murka, ia
memerintahkan agar kami semua para tawanan dieksekusi. Di tempat
pembantaian (eksekusi) itu, mata kami ditutp rapat, lalu ada seorang laki-laki
berdiri tepat di depan sang raja mengatakan: sesungguhnya jika mereka
dieksekusi dengan mata tertutup, hal itu akan meringankan beban penderitaan
mereka. Maka dari itu, perintahkan kepada algojo agar membuka tutup mata
mereka masing-masing, agar satu sama lain saling bisa melihat seberapa dahsyat
penderitaan yang dialami oleh temannya.

Sungguh di luar dugaan kami, ketika mata kami terbuka, ternyata orang
yang berdiri di depan raja Romawi dengan mengenakan jubah sutera yang disulam
dengan emas itu adalah teman prajurit kami sesama muslim yang telah murtad dan
membelot, bergabung bersama tentara kafir. Melihat kenyataan ini kami tak
mampu berkata sepatah katapun. Kemudian kami menengadah ke atas langit dan
pada saat itu kami melihat sepuluh orang bidadari, masing-masing dari mereka
membawa sebuah nampan dan sapu tangan. Sedangkan di atas mereka terdapat
sepuluh pintu –surga- yang terbuka di langit.

Selanjutnya sang algojo membantai teman-teman kami satu-persatu.
Ketika salah seorang dari teman kami dibantai, maka pada saat itulah seorang
bidadari turun mengambil ruhnya dan membungkus ruh itu di dalam sapu tangan,
lalu meletakkannya di atas nampan untuk kemudian nik ke atas langit dengan
melewati pintu-pintu tersebut dan begitulah seterusnya. Sembilan kawan kami
sudah terbunuh, begitu pula sembilan bidadari telah pergi dengan membawa ruh
teman-teman kami. Tiba gilirannya algojo meletakkan pedangnya dileher saya dan
bidadari yang terakhir pun telah bersiap-siap untuk membawa ruhku, mendadak si
murtad berkata kepada raja Romawi: wahai sang raja! Jika semua tawanan
dibunuh sampai habis, lalu siapakah yang akan membawa berita duka ini kepada
tentara-tentara muslim? Maka sisakanlah satu orang ini untuk membawa berita
duka. Dengan demikian saya selamat dari pembantaian, maka bidadariku pun

pergi meninggalkanku sambil berkata: terhalang-terhalang!. Kisah inilah yang
memaksa saya untuk bersujud di dekat Bait al-Haram untuk berdo`a: wahai
Tuhanku! Apakah yang akan Engkau perbuat kepada orang yang terhalang? Dan
aku sudah mendapat jawaban dari Tuhan sebagai berikut: janganlah berputus-asa,
karena sesungguhnya anugerah Allah swt itu sangatlah besar.

Kisah ke- 29: Orang yang tidak sabar denga cobaan
Alkisah, ada seorang laki-laki yang mempunyai kebun anggur berikut
tanaman buah yang lain. Menurut cerita, tanaman itu mati karena musim dingin
telah tiba. Kemudian setan menggoda hati laki-laki ini dengan mengatakan: kamu
sudah taat beibadah kepada Allah swt, lalu bagaimana mungkin Allah
menghancurkan anggur dan tanamanmu? Tiba-tiba laki-laki tersebut menjadi
sangat emosi, lalu keluar rumah dan melemparkan kunci rumahnya ke atas langit
sambil berkata: tanaman-tanamanku telah kamu hancurkan, maka dari itu
tangkaplah kunci ini! Seketika itu juga kunci melayang, lalu setan kembali lagi
dengan mengalungkan seekor ular hitam di leher si laki-laki selama empatpuluh
hari sampai meninggal dunia. Ketika orang-orang hendak memandikan jenazah
laki-laki ini, ular hitam itu pergi dan setelah dikuburkan, maka ular itu pun
kembali menemani si laki-laki.

Kisah ke- 30: Menjaga gejolak jiwa
Pada suatu hari Yazid bin Muawiyah melihat seorang wanita yang sangat
cantik dari balik tirai. Dari penglihatan itu, Yazid langsung kasmaran. Adapun
wanita yang dilihat oleh Yazid tersebut adalah istri Adiy bin Hatim yang
mempunyai kecantikan sempurna dan mempunyai nama asli Ummu Khalid.
Alhasil Yazid jatuh sakit dan terbaring lama di atas ranjang karena kasmaran yang
ia pendam. Para handai taulan –terutama kerabat khalifah- berdatangan silih-
berganti untuk menjenguk Yazid. Akan tetapi, tak seorang pun yang bisa
mengetahui apa jenis penyakit Yazid, apalagi mengobatinya dan berita ini pun
tidak boleh disebar ke khalayak ramai. ‘Amr bin al-‘Ash berkomentar: masalah
penyakitnya Yazid ini tidak akan bisa terselesaikan kecuali oleh ibunya sendiri.
Kemudian Yazid diajak menyepi oleh ibunya, lalu sang ibu mencoba untuk

menanyakan, apa sebenarnya yang terjadi dengan Yazid? Yazid masih belum mau
membuka mulut, ia khawatir jika masih ada orang lain yang mengetahuinya.
Lantas sang ibu mengajaknya berjalan lagi di tempat yang lebih sepi dan mencoba
untuk mengulangi kembali pertanyaannya. Namun, lagi-lagi Yazid masih
kelihatan takut, begitu seterusnya sang ibu tidak pernah menyerah, sampai
akhirnya Yazid benar-benar mau membuka rahasia tentang dirinya.

Setelah berhasil mengetahui penderitaan puteranya, sang ibu
memberitahukan hal tersebut kepada bapaknya Yazid, yaitu khalifah Muawiyah
bin Abi Sufyan. Lantas sang khalifah berkonsultasi dengan ‘Amr bin al-‘Ash:
bagaimana caranya untuk mencari jalan keluar? ‘Amr bin al-’Ash berkata: berikan
saja harta yang banyak –sebagai tebusan- agar suami wanita cantik itu mau
meninggalkan istrinya. Muawiyah menuruti saran ‘Amr bin al-‘Ash, ia
mengundang ‘Adiy bin Hatim ke istananya untuk diberi harta yang melimpah dan
pakaian yang bagus-bagus, agar dia mau urbanisasi meninggalkan Madinah
menuju damaskus.

Rencana kedua telah berhasil, lalu Muawiyah bertanya lagi kepada ‘Amr
bin al-‘Ash: apa rencana kita selanjutnya? ‘Amr bin al-‘Ash menjawab: besok,
tatkla ‘Adiy berpamitan kepadamu untuk meninggalkan Madinah, maka tanyakan
kepadanya: apakah kamu mempunyai istri? Apabila ia menjawab: Ya, maka
pukullah wajahmu dengan tanganmu sendiri, lalu jangan berkata apa-apa.

Keesokan harinya, tatkala ‘Adiy bin Hatim menghadap khalifah dan
khalifah pun telah melakukan apa yang diusulkan oleh ‘Amr bin al-‘Ash, ketika
‘Adiy bin Hatim hendak kembali, tiba-tiba ‘Amr bin al-‘Ash sudah berada
didepan pintu rumah khalifah. Kemudian ‘Adiy bin Hatim bertanya kepada ‘Amr
bin al-‘Ash tentang tingkah laku khalifah yang aneh dan kelihatan susah. ‘Amr bin
al-‘Ash menjawab: wahai ‘Adiy! Sesungguhnya khalifah Muawiyah berkenan
untuk mengawinkan kamu dengan putrinya dan tahukah kamu bahwa putri-putri
raja itu tidak boleh dimadu? Itulah sebabnya beliau memberi harta yang banyak
kepadamu. Lantas ‘Adiy bin Hatim bertanya lagi: terus bagaimana menurutmu?
‘Amr bin al-‘Ash menjawab: begini saja, besok kamu menghadap beliau lagi dan
katakan kepada beliau: wahai Amir al-Mukminin! Sesungguhnya saya ini tidak
mempunyai istri.

‘Adiy bin Hatim yang lugu itu menurut saja dengan apa yang di katakan
oleh ‘Amr bin al-‘Ash. Sewaktu ia menghadap sang khalifah dan khalifah
bertanya: apakah kamu sudah mempunyai istri? Maka ia menjawab: tidak! Dan
Muawiyah pun memaksa: sekarang katakan, jika kamu sudah beristri, berarti
istrimu kamu thalak tiga (ba`in). Kemudian ‘Adiy bin Hatim menuruti apa kata
khalifah. Sebagai legitimasi atas apa yang dikatakan oleh ‘Adiy, Muawiyah
memerintahkan kepada sekretaris: catatlah apa yang telah dikatakan oleh ‘Adiy!

Dengan demikian istri ‘Adiy bin Hatim (Ummu Khalid) sudah tertalak.
Akhirnya, ketika masa iddah Ummu Khalid telah habis, khalifah Muawiyah
memerintahkan kepada Abi Hurairah dengan imbalan harta yang banyak, agar
melamarkan Ummu Khalid untuk Yazid putranya. Pada saat Abu Hurairah pergi
ke Madinah untuk melaksanakan perintah khalifah, ia bertemu dengan Abdullah
bin Umar yang menanyakan apa maksud kedatangannya? Kemudian Abu
Hurairah menceritakan tujuannya dan Abdullah bin Umar pun bertanya: apakah
kamu juga mau melamarkannya untukku? Abu Hurairah menjawab: Ya!

Setelah bertemu dengan Abdullah bin Umar, Abu Hurairah melanjutkan
perjalanan dan bertemu dengan Abdullah bin Zubair. Dia juga meminta agar Abu
Hurairah mau melamarkan Ummu Khalid untuknya dan Abu Hurairah pun tidak
keberatan. Terakhir kali Abu Hurairah bertemu dengan al-Husain bin Ali dan ia
juga meminta hal yang sama, maka ketika Abu Hurairah sampai ke tempat Ummu
Khalid, ia langsung mengatakan: suamimu (‘Adiy bin Hatim) sudah menceraikan
kamu dan sekarang sudah habis masa iddahmu. Oleh karena itulah, maka
Muawiyah menyuruhku agar melamarkan kamu untuk Yazid. Aku juga diminta
oleh Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair dan al-Husain bin Ali, agar
melamarkan kamu untuk mereka. Kemudian Ummu Khalid berkata: beritahukan
kepadaku criteria masing-masing dari keempat orang tersebut. Abu Hurairah
menjelaskan: orang pertama itu mempunyai harta yang melimpah, namun tidak
mempunyai pengetahuan tentang agama, dia adalah Yazid. Sedangkan dua orang
lainnya mempunyai harta dan pengetahuan agama, mereka adalah Abdullah bin
Umar dan Abdullah bin Zubair. Adapun yang terakhir sangat alim dengan
pengetahuan agama, namun tidak memiliki harta dunia, dia adalah al-Husain.
Lantas Ummu Khalid berkata: terserah kamu, siapa di antara keempat orang


Click to View FlipBook Version