The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kisah-kisah langka. Terjemah Kitab an-Nawadir Karya Syaikh Syihabuddin al-Qulyubi

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by romlishofwan, 2022-05-26 00:05:05

e-Book Cerita

Kisah-kisah langka. Terjemah Kitab an-Nawadir Karya Syaikh Syihabuddin al-Qulyubi

Keywords: an-Nawadir

seekor kuda yang sangat bagus datang di depan pintu rumah Yazdajard. Konon,
belum ada seorang pun yang pernah melihat kuda sebagus itu. Para prajurit
Yazdajard berusaha keras untuk menangkapnya, namun tak ada seorang pun yang
mampu, bahkan mereka telah mengejar sampai di dekat istana, tempat di mana
kuda tersebut berhenti. Kebetulan Yazdajard sedang ada di istana itu, beliau
berkata: Sesungguhnya kuda ini merupakan hadiah dari Allah, khusus untukku.
Lalu Yazdajard mendekati kuda tersebut dan mengelus-elus bagian muka dan
punggungnya. Anehnya, kuda itu benar-benar takluk, kemudian Yazdajard
memasang dan mengikatkan pelana dengan kuat. Kemudian Yazdajard menarik
tali pelana dan mengikatnya dengan erat serta menghadapkannya ke arah bokong,
dengan tujuan menjinakkan. Mendadak, kuda tersebut menyepakkan kaki
belakangnya dengan kencang, tepat di ulu hati Yazdajard. Kontan Yazdajard
tergeletak lunglai dan meninggal dunia. Tidak ada yang tahu pasti, dari mana
asalnya Yazdajard datang dan ke manakah ia pergi. Banyak orang berkomentar:
raja ini datang diutus oleh Allah swt untuk –membuktikan- kehancuran dirinya,
kita semua merasa lega karena telah terbebas dari kelaliman dan ketiraniannya.
Segala puji bagi Allah swt atas segala Karunia.

Kisah ke- 113: Menjaga kesucian dan kemuliaan jiwa
Alkisah Imarah bin Hamzah datang menemui khalifah al-Manshur dan
duduk di samping beliau. Pada hari itu sang khalifah sengaja ingin melihat
praktek-praktek penyimpangan. Mendadak ada seorang laki-laki berdiri dan
berteriak lantang: wahai Amir al-Mukminin! Sesungguhnya saya adalah orang
yang teraniaya. Al-Manshur bertanya: siapa yang menganiaya dikau? Ia
menjawab: ini dia orangnya, Imarah bin Hamzah-lah yang telah mengambil
pekarangan dan ladangku.
Kemudian khalifah al-Manshur memerintahkan orang tersebut ganti posisi
dan mengendalikan amarahnya yang meledak-ledak. Lalu Imarah berkata: wahai
Amir al-Mukminin! Jikalau laki-laki ini mengklaim pekarangan milikku, maka
saya tidak akan marah padanya. Bahkan, saya akan menghibahkan pekaranganku
itu kepadanya. Imarah pada saat itu tidak berani berdiri dari tempat duduknya,
seperti halnya yang dilakukan oleh si laki-laki, demi menghormati al-Manshur,

sekalipun ia sudah kehilangan pekarangan yang dihibahkan. Melihat tindakan
Imarah tersebut, para pembesar kerajaan dan semua orang yang hadir di balai
agungnya khalifah al-Manshur merasa kagum atas kemuliaan dan kebesaran jiwa
Imarah.

Kisah ke- 114: Sekilas peristiwa Abdullah bin Mubarak dan ayahnya
Konon di kota Madinah ada seorang yang terkenal dengan sebutan Nuh
bin Maryam. Dia adalah salah seorang kepala suku dan sekaligus sebagai
penghulu yang memiliki harkat-martabat dan kharisma. Nuh bin Maryam
mempunyai seorang putri yang sangat cantik lagi menarik. Sudah sekian banyak
para pejabat, kepala suku dan suadagar-saudagar kaya mencoba melamarnya.
Namun, tak seorang pun di antara mereka yang bisa menggetarkan hati sang putri.
Melihat kelakuan putrinya itu, Nuh bin Maryam menjadi bingung.
Nuh bin Maryam mempunyai seorang budak Hindi yang hitam-legam
bernama Mubarak. Juga, hamparan perkebunan yang penuh dengan berbagai
macam pepohonan. Nuh berkata kepada budaknya: pergilah kamu ke kebun dan
jagalah buah-buahnya. Mubarak segera menjalankan perintah tuannya untuk
menjaga buah-buahan selama dua bulan penuh. Pada suatu ketika tuannya datang
ke kebun dan berkata kepada Mubarak: wahai Mubarak ambilkanlah setangkai
buah anggur untukku. Setelah dipetikkan, ternyata buah anggur tersebut rasanya
pahit. Nuh berkata: mengapa engkau petikkan buah anggur yang pahit untukku,
padahal banyak sekali buah anggur di kebun ini? Mubarak menjawab: wahai
tuanku! Di kebun ini, saya tidak mengetahui anggur mana yang rasanya manis.
Nuh berkata: Subhânallâh! Dua bulan penuh kamu berada di kebun ini, tapi kamu
tidak bisa membedakan antara anggur manis dengan anggur yang pahit rasanya?
Mubarak menjawab: demi hakmu wahai tuanku, hamba tidak pernah mengunyah
sebutir pun dari anggur-anggur ini. Nuh bertanya: kenapa kamu tidak mau
memakannya? Mubarak menjawab: wahai tuanku! Sesungguhnya tuan hanya
memerintahkan hamba untuk menjaga dan bukan memakan buah-buahan yang ada
di kebun ini. Hamba tidak berani mengkhiyanati dan menentang perintah tuan.
Mendengar jawaban itu, Nuh merasa kagum atas prinsip keberagamaan dan
keamanahan Mubarak.

Selanjutnya, Nuh berkata kepada Mubarak: kamu telah membuat aku
simpatik dan aku jadi ingat satu hal, maka janganlah kamu sekali-sekali
menentang perintahku ini. Mubarak menjawab: saya hanya taat kepada Allah dan
tuan saya. Lantas Nuh bin Maryam yang juga seorang penghulu itu bercerita:
sesungguhnya aku mempunyai seorang putri yang cantik. Sedangkan para lelaki
yang mau melamarnya dari golongan para pejabat, bangsawan sampai saudagar-
saudagar kaya nyaris tak terhitung. Aku tidak tahu dengan siapa aku harus
mengawinkan putriku. Maka dari itu, tunjukkanlah kepadaku sesuai dengan
pendapatmu. Mubarak menjawab: wahai tuanku! Jika pada masa Jahiliyah orang-
orang cenderung suka dengan garis keturunan, harta dan agama mereka.
Sedangkan orang-orang Yahudi-Nashrani lebih condong kepada factor kecantikan
dan ketampanan fisik semata. Akan tetapi, pada zaman Rasulullah saw, para
pengikut beliau lebih cenderung dengan factor keberagamaan dan ketakwaan.
Lain halnya pada zaman kita sekarang, orang-orang lebih condong kepada factor
kekayaan harta, harkat serta martabat. Nah! Sekarang tuan pilih di antara sekian
periode ini. Nuh menjawab: aku lebih suka dengan factor keberagaam dan
ketakwaan. Oleh sebab itu, aku ingin mengawinkan kamu dengan putriku, karena
aku menemukan factor keberagamaan, keamanahan dan banyak kebaikan pada
dirimu. Mubarak berkata: wahai tuanku! Saya adalah seorang budak Hindi yang
hitam dan tidak berdaya, serta tuan telah membeli saya dengan harta tuan.
Bagaimana bisa tuan tiba-tiba mau mengawinkan saya dengan putri tuan dan
mana mungkin putri tuan mau menerima saya? Nuh sang tuan berkata: ayo ikut
denganku! Dan lihat saja, apa yang terjadi setelah sampai rumah nanti.

Sesampainya di rumah, Nuh bin Maryam yang juga seorang penghulu itu
berkata kepada istrinya: sesungguhnya pemuda ini adalah seorang yang saleh, taat
menjalankan agama lagi bertaqwa. Saya ingin mengawinkan pemuda ini dengan
putri kita, bagaimana menurut pendapatmu? Si istri menjawab: untuk masalah ini
saya serahkan kepadamu, namun tolong izinkan aku untuk menemui dan
membicarakan terlebih dahulu kepada putri kita dan setelah itu aku akan kembali.

Dalam beberapa saat si istri sudah menemui putrinya. Ia menceritakan apa
yang dikehendaki oleh ayahnya. Sang putri menjawab: masalah ini saya serahkan
kepada ayah dan ibu sekalian dan saya sekali-sekali tidak akan pernah berani

menentang keputusan kalian. Kemudian si istri kembali menemui Nuh
(suaminya). Ia menceritakan jawaban sang putri. Lantas mereka sepakat untuk
melaksanakan perkawinan. Kedua mempelai telah diberikan bekal hidup berupa
materi yang cukup dan tak lama kemudian mereka telah dikaruniai seorang anak
yang diberi nama Abdullah yang terkenal dengan sebutan Abdullah bin al-
Mubarak.

Abdullah bin Mubarak adalah sebuah nama yang tidak asing lagi, baik di
kalangan para ulama maupun auliya` (para wali). Di antara kekeramatan Abdullah
yaitu: pada suatu hari datanglah sepuluh orang ulama besar untuk bertamu. Dalam
pada itu, Abdullah tidak mempunyai sesuatu pun yang bisa dihidangkan untuk
menghormati mereka, kecuali hanya seekor kuda yang biasa ia pergunakan untuk
pergi menunaikan ibadah haji dan sekaligus sebagai kendaraan perang. Dengan
kondisi seperti itu, Abdullah rela menyembelih kudanya, lalu ia masak untuk
hidangan tamu-tamunya. Istri Abdullah berkata: kamu kan tidak mempunyai harta
apapun selain kuda ini. Namun mengapa kamu tega menyembelihnya demi
mereka? Seketika itu Abdullah bin Mubarak masuk ke dalam rumah dan tak lama
kemudian beliau keluar kembali sambil membawa sejumlah harta (uang dan
perhiasan), yang nilainya tidak kurang dari harga kuda dan mas kawin si istri.
Harta tersebut langsung diberikan kepada si istri dan beliau langsung
menceraikannya. Abdullah bin Mubarak berkata: seorang wanita yang membenci
para tamu tidak berguna bagiku.

Setelah beberapa hari kemudian, ada seorang laki-laki datang menemui
Abdullah bin Mubarak. Laki-laki itu berkata: wahai Imam al-Muslimin! Saya
mempunyai seorang anak gadis yang telah ditinggal mati oleh ibunya. Anak
gadisku itu, setiap hari merobeki baju-bajunya, dengan raut muka yang tampak
sedih karena telah ditinggal sang ibu. Tampaknya, dia ingin datang ke tempatmu
ini. Oleh karena itu, saya mohon agar engkau bisa berbuat sesuatu untuk
menenangkan fikiran dan menghibur hati anak gadisku itu. Saya berharap, mudah-
mudahan engkau berhasil menghiburnya.

Selanjutnya, anak gadis tersebut datang ke tempat (pengajian. Pent)
Abdullah bin Mubarak. Dan pada saat beliau naik mimbar, beliau mengutarakan
suatu ucapan yang sangat menghibur, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum ibu

untuk menghibur anak gadisnya. Setelah mendengar ucapan Abdullah bin
Mubarak, si anak gadis langsung jadi simpatik dan hatinya pun menjadi luruh.
Anak gadis tersebut segera bangkit sambil berkata: aku tidak akan kembali dan
tak akan mengingat lagi ucapannya. Dengan komitmennya itu, si anak gadis pergi
menemui sang ayah, seraya berkata: wahai ayah! Saya mohon kabulkanlah satu
permintaanku. Sang ayah bertanya: apa yang kamu minta? Ia menjawab: seperti
apa yang ayah katakana bahwa, sekian banyak pemuda dari berbagai kalangan
telah melamarku melalui ayah. Nah! Saya bersaksi di hadapanmu serta di hadapan
Allah, hendaknya ayah tidak mengawinkan aku kepada pemuda manapun selain
Abdullah bin al-Mubarak. Sebab, di dalam diri Abdullah bin Mubarak terdapat
prinsip keagamaan yang kokoh.

Akhirnya, sang ayah mengabulkan permintaan anak gadisnya yang semata
wayang itu. Ia dikawinkan dengan Abdullah bin al-Mubarak dan setelah kawin
dengan gadis itu, Abdullah bin al-Mubarak lebih meningkat tingkat
perekonomiannya (daripada dengan istrinya yang dulu). Di antara sebagian harta
yang tampak dimiliki oleh Abdullah bin al-Mubarak adalah kuda yang dipakai
untuk berjihad ke jalan Allah saja ada sepuluh ekor. Pada suatu malam Abdullah
bin al-Mubarak bermimpi melihat ada seorang yang mengatakan: jika kamu
menceraikan seorang wanita pikun demi Aku, maka akan Kugantikan kepadamu
seorang gadis yang masih perawan. Dan jika kamu sembelih seekor kuda demi
menjalankan perintah-Ku, maka Aku akan memberikan kepadamu sepuluh ekor
kuda, hendaknya kamu mengetahui bahwa, satu kebajikan akan dibalas sepuluh
kali lipat dan “Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang
berbuat baik” [Qs. al-Taubah (09) 120]. Wallâhu A’lam.

Kisah ke- 115: Mendahulukan urusan agama daripada urusan dunia
Alkisah di zaman Bani Israil, hiduplah sepasang suami-istri yang saleh dan
salehah. Kemudian Allah swt menurunkan wahyu kepada seorang nabi kala itu,
untuk menyampaikan Firman-Nya kepada si Fulan yang merupakan hamba Allah
yang saleh. Firman itu mengatakan bahwa, sesungguhnya Allah swt telah
menetapkan separoh dari umur si Fulan sebagai orang kaya dan separohnya lagi
sebagai orang miskin. Jika si Fulan memilih jadi orang kaya pada usia muda,

maka Allah swt akan mengabulkannya dan akan menjadikan ia miskin di usia tua.
Begitu pula sebaliknya, jika si Fulan memilih jadi orang miskin pada usia muda,
maka Allah swt akan mengabulkannya dan akan menjadikan ia kaya di usia tua.

Tak ayal, nabi tersebut segera menyampaikan Firman Allah swt kepada si
Fulan. Mendengar Firman yang berupa tawaran itu, si Fulan segera berunding
dengan istrinya, seraya bertanya: bagaimana menurut pendapatmu? Si istri
berkomentar: kamu pasti bingung! Si Fulan mengusulkan: “menurutku, lebih baik
aku memilih miskin pada waktu muda, karena dalam usia muda aku masih kuat
untuk bersabar menerima kemiskinan. Juga, masih kuat menjalankan ibadah
kepada Tuhanku. Akan tetapi jika aku sudah tua, rasanya aku tak mampu lagi
menerima kemiskinan itu dan rasanya aku juga tidak sanggup lagi beribadah
secara tekun”. Si istri berkata: “bagaimana kamu ini, jika pada waktu muda kamu
dalam kondisi miskin, tidak mungkin kamu bisa konsentrasi ibadah kepada Allah
swt, karena kita akan disibukkan dengan urusan pekerjaan, sehingga kita tak ada
waktu untuk mengingat shalat dan memberi sedekah. Akan tetapi jika kita
memilih kaya pada waktu muda, maka kita akan mampu melakukan semua itu
karena badan dan stamina kita masih penuh energi”. Si Fulan berkata: “ bagus
sekali usulanmu, wahai istriku! Aku akan memilih usulanmu.

Kemudian Allah swt menurunkan wahyu kepada salah seorang nabi Bani
Israil kala itu, dengan Firman-Nya: “Katakanlah kepada si Fulan beserta istrinya
bahwa, ketaatan kalian kepada-Ku telah begitu membekas, konsentrasi kalian
dalam beribadah kepada-Ku telah begitu tinggi dan kalian juga telah sepakat
dengan niyat yang tulus untuk berbuat kebaikan. Maka sesunguhnya Aku telah
menjadikan seluruh usiamu sebagai orang yang kaya-raya. Hidup-teruslah kalian
dalam taat beribadah kepadaku dan bersedekahlah sesukahati kalian agar kalian
mendapat kebaikan dunia-akherat. “dan Allah Dia-lah yang Maha Kaya (tidak
memerlukan sesuatu) lagi Maha terpuji” [Qs. Fâthir (35) 15].

Kisah ke-116: Perjalanan hidup sang kupu-kupu malam
Konon pada zaman dahulu ada seorang wanita yang melahirkan seorang
anak gadis dalam status budak. Dengan statusnya itu, ia berkata kepada anaknya:
kita telah terpenjara di dalam kobaran api. Setelah itu, mereka keluar dari dalam

rumah (yang ada di bantaran laut. Pent) dan ternyata di balik pintu ia bertemu
dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu bertanya kepada si wanita yang notabene
seorang budak sebagai berikut: seperti apa –anak- perempuanmu ini terlahir?,
pasti ia terlahir dengan status budak. Laki-laki itu meramalkan bahwa,
sesungguhnya budak (yang masih kecil) ini akan dikehendaki (dilacuri) oleh
seratus orang laki-laki dan akan dikawini sebab status budaknya. Namun setelah
itu ia akan mati di dalam jaring laba-laba. Si wanita budak itu berkata di dalam
hatinya: saya tidak mau anakku ini dikehendaki (dilacuri) oleh seratus orang laki-
laki, maka dari itu saya harus membunuhnya.

Sesaat kemudian, si wanita itu mengambil sebilah pisau belati yang amat
tajam, lalu membedah perut anak gadisnya. Laki-laki tersebut tidak tahan, setelah
melihat apa yang dilakukan oleh si wanita, ia langsung melompat ke atas perahu
dan pergi begitu saja. Kontan keluarga solidaritas budak perempuan itu keluar dan
memberikan pertolongan kepada si anak gadis, dengan menjahit perutnya yang
tersayat oleh goresan pisau belati dan mengobatinya. Beberapa bulan kemudian,
bekas goresan pisau belati di perut si gadis itu sudah sembuh dan pulih seperti
sedia kala, kecuali bekas luka goresan yang masih tampak. Semakin hari gadis
budak itu semakin tumbuh dewasa dengan paras yang cantik.

Persis seperti apa yang telah dikatakan oleh laki-laki dulu itu, ternyata
dengan modal kecantikannya itu malah disalahgunakan untuk melacur, sehingga
seluruh keluarganya pun mengusirnya. Gadis yang berprofesi sebagai pelacur itu,
setiap hari datang dari pantai satu ke pantai yang lain dan menjajakan tubuhnya
kepada para laki-laki hidung belang.

Pada suatu hari ada seorang laki-laki, mantan seorang budak yang telah
sukses berkarier datang ke pantai, tempat di mana si gadis pelacur itu sering
mangkal. Mantan budak yang telah menjadi saudagar kaya itu langsung menemui
seorang ibu mucikari di tempat itu. Ia mengatakan: carikan aku gadis desa ini
yang paling cantik untuk saya kawini. Ibu mucikari itu menjawab: di tempat ini
ada seorang gadis yang amat cantik-rupawan, namun sayangnya ia adalah seorang
pelacur. Saudagar itu menjawab: datangkan saja ia padaku.

Kemudian ibu mucikari itu segera pergi menemui si gadis pelacur, ia
berkata: sungguh telah datang seorang saudagar kaya ke tempat ini dengan tujuan

mencari seorang istri. Lalu si ibu mucikari kembali menemui saudagar kaya
sambil mengatakan bahwa, gadis yang saya maksud itu sudah ada di dekat ini,
dengan temperamen dan penampilan begini-begini. Setelah itu, si gadis pelacur
berkata kepada ibu mucikari: aku telah meninggalkan dunia pelacuran dan jika
bapak saudagar itu benar-benar menghendaki aku, maka kawinkanlah aku
dengannya. Selanjutnya si ibu mucikari itu mengutarakan kesediaan si gadis
kepada bapak saudagar dan akhirnya mereka pun jadi menikah.

Rupa-rupanya suatu peristiwa –kekhawatiran- yang maha dahsyat telah
menimpa mantan budak laki-laki yang notabene pernah mendengar ramalan
tentang kisah si gadis budak. Pada suatu hari, tatkala mereka berdua sedang duduk
mesra, saudagar itu bercerita kepada istrinya tentang riwayat yang pernah ia
dengar dari salah seorang laki-laki tentang seorang gadis budak yang sadar setelah
melacur dengan seratus orang laki-laki hidung belang. Si istri berkomentar: Demi
Allah, sesungguhnya saya adalah gadis budak itu, dan kamu bisa buktikan bekas
goresan pisau belati di permukaan perutku. Si istri menambahkan: sesungguhnya
aku juga telah melacur dengan para lelaki hidung belang. Saking banyaknya, aku
tidak sempat menghitung, apakah mereka semua itu genap seratus orang, atau
kurang dan atau bahkan lebih. Sang suami yang saudagar itu berkata: menurut
ceritanya, gadis budak itu akan mati karena jerat dan racun laba-laba. Akan tetapi
kamu tidak usah khawatir, kita akan membuat sebuah benteng. Kemudian sang
suami itu membangun benteng yang kokoh di sebuah padang yang luas.

Betapapun daya-upaya yang dilakukan manusia, takdir Tuhan tak mungkin
bisa dilawan. Pada hari itu, pada saat pasangan suami istri yang sama-sama
mantan budak itu beristirahat santai di bentengnya, tanpa mereka sadari ada
seekor laba-laba yang sedang merayap-rayap di atas atap. Sang suami berkata:
awas ada laba-laba, menjauhlah dariku dan aku akan membunuh laba-laba ini. Si
istri berkata: ini pasti laba-laba yang akan membunuhku, Demi Allah! Tidak akan
kubiarkan siapapun yang boleh membunuh laba-laba itu selain aku. Kemudian si
istri tersebut mencoba untuk menggerak-gerakkan jaring laba-laba yang ada di
atas atap, sehingga laba-laba itu jatuh ke lantai. Si istri segera menghampirinya
dan langsung menjepit laba-laba tersebut dengan jempol kakinya. Kontan tubuh
laba-laba itu hancur, namun tanpa di duga racun laba-laba telah mengalir di

sekitar daging dan kuku jari-jemari si istri. Tiba-tiba kaki si istri menghitam
hingga ke sekujur tubuhnya. Oleh karena ketahanan tubuhnya mulai melemah dan
tidak segera mendapat pertolongan medis, akhirnya si istri meninggal dunia.
Sebagaimana Allah swt pernah Berfirman: “Di mana saja kamu berada, kematian
akan mendapatkan kamu” [Qs. Al-Nisâ` (04) 78].

Kisah ke- 117: Ummu Ja’far dan orang fakir
Ada dua orang laki-laki tuna netra sedang duduk di jalan yang biasa dilalui
oleh Ummu Ja’far. Mereka sengaja melakukan perbuatan itu, karena sebagaimana
diketahui, Ummu Ja’far adalah seorang ibu yang terkenal dermawan. Salah
seorang dari mereka sudah beristri dan mempunyai anak-anak. Dia berdo`a: “Ya..
Allah! Karuniailah hamba rizki, dari kemurahan-Mu yang Maha Luas”.
Sedangkan laki-laki buta yang satunya adalah masih bujang dan tidak mempunyai
anak-istri. Dia berdo`a: “Ya.. Allah! Karuniailah hamba rizki, dari kemurahan hati
Ummu Ja’far”.
Beberapa saat kemudian , Ummu Ja’far keluar sambil memberikan dua
keping uang Dirham kepada orang buta yang berdo`a atas Kemurahan Allah dan
dua buah roti kepada orang buta yang berdo`a atas kemurahan hati Ummu Ja’far.
Selain kedua buah roti tersebut, Ummu Ja’far juga memberikan seekor ayam
panggang yang mana di dalam perut ayam tersebut telah dimasukkan sepuluh
keping uang Dinar kepada orang buta yang masih bujang, dan beliau sengaja tidak
memberitahukan kepada mereka berdua.
Ternyata, orang buta bujangan yang berdo`a atas kemurahan hati Ummu
Ja’far itu tidak berhasrat menerima pemberian yang berupa makanan, dan dia
malah menukarkannya dengan dua keping uang Dirham kepada temannya. Dan
temannya yang sudah berkeluarga tersebut setuju. Setelah berjalan satu bulan,
kemudian Ummu Ja’far mengutus beberapa orang untuk menanyakan kepada
orang buta yang berdo`a atas kemurahan hati Ummu Ja’far: apakah pemberianku
telah mencukupi semua kebutuhanmu? Orang buta tersebut membalas: katakan
kepada majikan kalian, apa yang telah ia berikan kepadaku? Ummu Ja’far
menjawab: tiga ratus Dinar. Lalu orang buta bujangan itu menyangkal: tidak,
Demi Allah! Dia hanya memberikan seekor ayam panggang dan dua buah roti

setiap hari, kemudian aku menjualnya dengan harga dua Dirham kepada temanku.
Ummu Ja’far berkata: benar apa yang dilakukan laki-laki buta temanmu itu,
karena ia mencari Anugrah Allah, maka Allah swt pun mencukupi semua
kebutuhannya dari arah yang tiada pernah ia sangka sebelumnya dan
kecukupannya itu pun tanpa ia sengaja. Sedangkan kamu mencari kemurahan
hatiku, maka Allah swt pun menghalangimu secara sengaja, supaya ummat
manusia bisa mengetahui, baik kefakiran maupun kecukupan itu adalah datang
dari Allah swt. Dan segala puji hanya untuk-Nya.

Kisah ke- 118: Keutamaan diam dan imbalannya
Telah diriwayatkan dari Dzinnun al-Mishri Rahimahullâh. Beliau pernah
lewat di sebuah taman nan hijau. Di taman itu ada seorang pemuda yang sedang
menjalankan shalat di bawah pohon apel. Oleh karena beliau tidak mengetahui
bahwa si pemuda itu sedang menjalankan shalat, maka beliau langsung
mengucapkan salam kepada si pemuda. Dan otomatis si pemuda itu tidak mau
menjawab. Kemudian beliau mengulangi salamnya dan lagi-lagi si pemuda itu
tidak mau menjawab. Terpaksa si pemuda itu menyingkat shalatnya dan setelah
usai ia langsung menulis bait syair dengan menggoreskan jarinya di atas tanah
yang berbunyi:
Lidah itu dilarang bicara, karena dapat menimbulkan hina dan bahkan
bahaya.
Jika kamu bicara, maka ingatlah kepada Tuhanmu,
Jangan pernah lupakan Dia dan pujilah dalam segala kondisi.
Setelah beliau (Dzinnun) membaca bait syair itu langsung menangis tiada
henti dan setelah selesai menangis beliau juga menulis bait syair dengan
menggoreskan jarinya di atas tanah sebagai berikut:
Tak seorang penulis pun yang tak akan sirna, dan masa akan setia
(menjadi saksi abadi) atas sebuah tulisan tangan.
Janganlah engkau menulis dengan telapak tanganmu, tanpa suatu rahasia
pun yang bisa engkau lihat pada hari kiamat.
Dan pada saat si pemuda itu membaca tulisan beliau, maka ia langsung
menjerit histeris, dan seketika itu juga ia meninggal dunia. Lantas beliau segera

mempersiapkan segala kebutuhan perawatan jenazah. Tiba-tiba beliau mendengar
suara yang menyeru: tak seorang pun yang dapat mengurus pemuda ini selain para
malaikat. Mendengar seruan itu, beliau langsung mendekatkan tubuhnya di dekat
pohon dan melakukan shalat beberapa raka’at di bawahnya. Seusai melakukan
shalat, beliau menengok tempat beliau meletakkan jenazah si pemuda dan ketika
itu jenazah tersebut sudah tiada, tanpa meninggalkan jejak maupun berita. Maha
Suci Dzat yang banyak Memberi nikmat kepada para hamba yang tiada terbilang.

Kisah ke- 119: Kasih sayang dan Pertolongan Allah kepada para
hamba-Nya.

Telah diriwayatkan dari Dzinnun al-Mishri juga, bahwasannya suatu
ketika beliau pergi ke tepi sungai nil untuk mencuci pakaian. Ketika beliau sedang
menuju tempat tersebut, tiba-tiba ada seekor kala jengking yang sangat besar
menghadang di hadapan beliau. Betapa takutnya Dzinnun, beliau langsung
memohon perlindungan kepada Allah swt agar diselamatkan dari ancaman bahaya
hewan itu. Perlahan-lahan hewan itu pergi dari hadapan Dzinnun menuju sungai
nil. Dan pada saat beliau sudah berada di tepi sungai nil, mendadak ada seekor
katak yang sangat besar dan menyembul dari permukaan air sungai. Herannya
lagi, kala jengking yang tadi itu tiba-tiba naik ke punggung katak dan mereka
langsung berenang menelusuri tepi sungai nil.

Dzinnun jadi penasaran, sambil terus mengamati beliau mengikuti kedua
hewan raksasa itu dari belakang, hingga sampailah mereka semua di sebuah tepian
muara. Di tempat itu, kala jengking turun dari punggung katak dan langsung
menuju ke sebuah pohon yang sangat besar, teduh dan rindang. Tanpa di duga, di
tempat itu ada seorang pemuda tak berjenggot tertidur di bawahnya dan
tampaknya ia sedang mabuk. Dzinnun mengucapkan kata: Lâ haula walâ
quwwata Illâ Billâh (tidak ada daya dan kekuatan apapun selain dari Allah). Kala
jengking itu datang dari satu sisi untuk menyengat si pemuda (menurut dugaan
Dzinnun). Kemudian Dzinnun mencari tempat yang tersembunyi agar bisa
membidik kala jengking tersebut ketika hendak mendekati si pemuda. Ketika
Dzinnun sudah berada di dekat si pemuda, tiba-tiba dari arah lain telah ada seekor
ular raksasa yang sudah siap memangsa si pemuda. Serentak kala jengking tadi

turun dan menyerang ular. Posisi kala jengking itu cukup menguntungkan, ia
dapat meringkus dan menancapkan sengatnya telak di bagian otak ular, hingga
akhirnya ular itu terkulai lemas dan mati. Lantas kala jengking itu kembali ke tepi
sungai nil dan di situ si katak raksasa telah menunggu dan siap mengantarkan kala
jengking kembali ke tempat asal.

Dari arah belakang, Dzinnun hanya bisa menyaksiakan kepergian kala
jengking dan setelah itu beliau kembali menghampiri si pemuda. Beliau
melantunkan bait-bait syair sebagai berikut:

Wahai sukma yang sedang tidur, Allah yang Maha Agung selalu menjaga.
Dari semua kejahatan yang dalam kegelapan.
Bagaimana kamu bisa terlena dari kedatangan Sang Raja.
Sebab bersama-Nya adalah berbagai anugrah dan kenikmatan.
Mendengar lantunan bait syair Dzinnun tersebut, si pemuda segera
terbangun dan Dzinnun pun langsung menceritakan peristiwa luar biasa yang baru
saja terjadi. Setelah usai mendengar uraian Dzinnun, si pemuda bertaubat dan
melepaskan pakaian mewah yang ia kenakan. Pemuda itu berganti dengan pakaian
pengembara yang sederhana dan ia kembali ke jalan yang benar untuk selamanya,
hingga akhirnya ia meninggal dunia. Semoga Allah swt memberikan Rahmat.

Kisah ke-120: Hukum karma pasti ada walau sesaat
Telah diriwayatkan dari Wahab bin Munabah, bahwasannya ada seorang
hamba Allah yang tekun beribadah dari kalangan Bani Israil. Ia menjalankan
ibadahnya di sebuah surau di bantaran sungai. Tidak jauh dari tempat itu, ada
seorang tukang laundry yang bergerak di bidang jasa pembersih dan perapi
pakaian. Pada suatu hari, datanglah seorang penunggang kuda yang membawa
celana dan baju. Di sungai itu, ia membasuh baju dan celananya dan setelah
kering, ia langsung mengenakan baju, namun ia lupa mengenakan celananya dan
langsung pergi begitu saja.
Tak lama kemudian, datanglah seorang nelayan ikan yang hendak
memancing. Di tempat itu, ia melihat ada sebuah celana yang tertinggal dan ia
langsung mengambilnya, lalu pergi. Sepeninggal nelayan ikan, si penunggang
kuda datang kembali ke bantaran sungai tersebut, dengan maksud untuk

mengambil celananya yang tertinggal. Oleh karena tidak menemukan celananya,
si penunggang kuda langsung menghampiri tukang laundry, lalu mengatakan: aku
tadi lupa dan meninggalkan celanaku di sini. Tukang laundry menjawab: aku tidak
melihatnya. Tiba-tiba si penunggang kuda naik pitam dan menghunus pedangnya
dan ia langsung membunuh tukang laundry.

Begitu hamba Allah melihat tetangganya dibunuh, hampir saja ia
menyebarkan fitnah. Namun sebelumnya ia lebih dulu memanjatkan do`a: wahai
Tuhanku! Seorang nelayan ikan telah mengambil sebuah celana milik penunggang
kuda, namun mengapa dia malah membunuh tukang laundry?. Ketika malam telah
tiba, sedangkan hamba Allah pun telah hanyut dalam tidurnya, pada saat itulah dia
bermimpi seperti mendapat wahyu dari Allah yang berbunyi: wahai hamba yang
shalih! Janganlah kamu membuat fitnah dan janganlah kamu sekali-sekali
mencampuri urusan Tuhanmu. Ketahuilah bahwasannya si penunggang kuda dulu
juga pernah membunuh bapaknya nelayan ikan dan merampas seluruh harta
miliknya. Adapun celana yang ia ambil itu adalah termasuk salah satu dari harta
bapaknya dulu. Memang, si tukang laundry itu tidak pernah mempunyai cela
dalam lembaran hidupnya kecuali hanya sekali. Sedangkan si penunggang kuda,
lembaran hidupnya penuh dengan kejahatan dan hanya sekali saja ia pernah
berbuat baik. Pada saat si tukang laundry dibunuh oleh si penunggang kuda, maka
cela yang ada pada dirinya menjadi terlebur dan kebaikan yang pernah dilakukan
oleh si penunggang kuda itu pun menjadi terlebur pula. Dan ketahuilah bahwa,
Tuhanmu akan menjalankan apa yang telah menjadi kehendak-Nya dan akan
memutuskan apa yang telah menjadi ketetapan-Nya.

Kisah ke- 121: Sabar dengan ujian
Alkisah ada salah seorang dari Arbâb al-Qulûb (kaum sufi) yang
mempunyai seorang kawan yang setia. Pada suatu ketika orang sufi ini
dipenjarakan oleh sang raja. Maka si kawan segera mengirimkan surat kepada
orang sufi yang ada di dalam penjara. Dalam suratnya si kawan menanyakan:
bagaimana kabarmu di rumah tahanan? Orang sufi menjawab: aku bersyukur
kepada Allah. Kemudian para prajurit membawa seorang tahanan lagi dari
seorang penganut Majusi yang sedang tidak beres system pencernaannya,

sehingga, sebentar-sebentar selalu ingin buang air besar. Orang Majusi ini
diborgol dengan rantai dan digandeng bersama orang sufi. Dengan begitu, setiap
kali orang Majusi hendak buang air besar, maka orang sufi pun terpaksa harus ikut
bersama dan berdiri menemani dalam toilet sampai selesai. Tentu saja orang sufi
ini merasa tersiksa dengan bau busuk tinja orang Majusi dan lagi beliau harus
selalu bersama dalam satu borgol ke mana pun orang Majusi bergerak. Berita ini
pun segera terdengar oleh si kawan dan ia segera menulis surat buat orang sufi. Si
kawan bertanya: bagaimana keadaanmu? Orang sufi menjawab: aku bersyukur
kepada Allah swt. Si kawan bertanya lagi: sampai kapan kata syukur ini akan
terus kamu ucapkan dan adakah suatu siksaan yang lebih berat dari apa yang
kamu alami di dalam penjara sekarang ini? Orang sufi menjawab: jika sabuk
pengikat pinggang orang Majusi telah dilepas, lalu diikatkan dipinggangku,
sungguh lebih sakit daripada siksaan di atas. Wahai saudaraku! Sesungguhnya aku
memang berhak mendapatkan yang lebih besar dari siksaan ini. Apabila Tuhanku
telah berkenan memberikan hal ini, maka bukankah syukur adalah suatu
kewajiban bagiku?

Kemudian orang sufi itu melogikakan sebagai berikut: jika aku pernah
mendengar bahwasannya ada seorang Syaikh yang tertimpuk dengan seember
debu, namun ia malah melakukan sujud syukur, maka bagaimana komentarmu?
Justru Syaikh itu malah mengatakan: sesungguhnya aku khawatir jika tertimpuk
dengan seember api. Maka dari itu, apibila aku dikehendaki untuk menerima
cobaan yang selevel dengan tertimpuk satu ember debu, tidak bolehkah aku
mengucapkan syukur? Wahllâhu A’lam.

Kisah ke- 122: Rela atas Kehendak Allah dan balasannya
Konon nabi Isa as pernah berdo`a: Wahai Tuhanku! Tunjukkanlah hamba
salah seorang di antara para wali (kekasih-Mu). Mendadak ada suara yang
memanggil: Wahai Musa! Naiklah ke atas gunung ini, lalu turunlah menuju
sebuah jurang, maka kamu akan bisa melihat apa yang kamu inginkan. Lantas
nabi Musa as menuruti perintah tersebut. Benar, di sana beliau melihat ada padang
rumput yang sangat luas dan sebuah rumah di bawah tanah. Nabi Musa as

berkenan masuk ke rumah itu dan ternyata beliau melihat ada seorang pasien
penderita kusta yang tergeletak, laksana seonggok tulang yang tak berguna.

Kemudaian nabi Musa as mengucapkan salam: Assalâmu ‘alaika yâ
waliyyullâh! Orang tersebut menjawab: Wa ‘alaika al-Salâm yâ kalîmullâh. Nabi
Musa as bertanya: dari mana kamu mengetahuiku? Orang itu menjawab: aku
adalah seorang laki-laki yang tak pernah dikunjungi oleh seorang pun ketika aku
menderita penyakit ini. Sungguh aku telah berdo`a kepada Allah pada setiap
malam, agar aku dipertemukan denganmu dan Allah sekarang telah mengabulkan
do`aku. Nabi Musa as bertanya: Aduhai (mengenaskan sekali), lalu siapa yang
melayanimu dan siapa yang memberikan makanan beserta minumanmu? Orang
itu menjawab: sesungguhnya aku mempunyai seorang anak laki-laki yang pulang
dan pergi ke dalam jurang ini pada setiap hari. Ia memetikkan sesuatu (makanan)
yang dingin untukku dan dengan makanan itulah aku makan dan berbuka. Nabi
Musa as berkata: aku akan sangat senang, jika aku bisa melihat putramu itu.

Selanjutnya, orang tersebut menunjukkan arah menuju tempat anaknya dan
nabi Musa as pun bergegas mencarinya. Tak lama kemudian nabi Musa as sudah
sampai ke tempat tujuan. Ternyata, beliau melihat seorang anak yang sangat
tampan bagai rembulan. Melihat ketampanan anak itu, nabi Musa as jadi
tercengang dan beliau berkata: Maha Suci Allah yang telah membuat tampan para
makhluk-Nya. Di dalam ketercengangan nabi Musa as, mendadak ada seekor
binatang buas yang langsung menerkam si anak. Nabi Musa as tak mampu berbuat
banyak, dalam beberapa detik saja beliau sudah mendapati si anak menjadi mayat.
Beliau pun marah (kepada diri sendiri), kemudian berdo`a: Wahai Tuhanku! –
Mengapa- Engkau biarkan seorang wali dan kekasih-Mu tergeletak dalam keadaan
seperti itu tanpa seorang pelayan?

Kemudian Allah swt Mewahyukan kepada nabi Musa as agar kembali ke
tempat orang tua si anak. Allah swt Memerintahkan, agar nabi Musa as melihat
sendiri, bagaimana kesabaran dan kerelaan oang tua itu. Lantas nabi Musa as pun
segera kembali ke tempat orang tua si anak dan memberitahukan tentang peristiwa
yang dialami oleh sang putra. Mendengar berita yang disampaikan oleh nabi Musa
as, orang tua tersebut malah tertawa gembira dan mengangkat tangannya ke atas
langit seraya berdo`a: Wahai Tuhanku! Engkau telah menganugerahkan kepadaku

seorang putra dan aku mengira, bahwa putraku itu akan hidup lama setelah
kepergianku. Namun, setelah Engkau legakan hatiku –karena kepergiannya-,
maka cabutlah nyawaku, dan bawalah aku untuk menghdap-Mu dalam keadaan
sujud. Selanjutnya orang tua si anak yang seorang wali dan juga penderita kusta
itu bersujud dan setelah nabi Musa as mencoba untuk menggerakkan tubuh orang
itu, ternyata sudah meninggal dunia. Nabi Musa as berkata: Wahai Tuhanku!
Seorang wali dan kekasih-Mu telah terkapar di tempat ini, sedangkan anaknya
terkapar di dalam jurang. Kemudian malaikat Jibril as pun turun untuk
memandikan dan mengkebumikan kedua mayat mereka. Setelah itu, nabi Musa as
pun kembali pulang.

Kisah ke- 123: Keutamaan sabar dan tawakkal
Telah diriwayatkan dari Aba Hamzah al-Khurasani. Bahwasannya, di
antara sekian tahun beliau pernah melakukan ibadah haji selama satu tahun penuh.
Nah! pada saat itu beliau sedang menelusuri sebuah jalan dan tiba-tiba beliau
terjerembab ke dalam sumur. Hampir saja nafsu beliau berontak dan minta tolong,
namun beliau segera sadar dan berkata: tidak! Demi Allah saya tidak akan
meminta pertolongan. Belum lagi rasa kekhawatiran yang melanda Aba Hamzah
itu pudar, ada dua orang laki-laki melintasi mulut sumur. Mereka tidak
mengetahui bahwa di dalam sumur itu ada orang yang terjebur. Salah seorang dari
mereka berkata: Kemarilah! Bagaimana jika sumur ini kita tutup, agar tidak ada
orang yang terjebur ke dalamnya? Dan ternyata mereka berdua pun sepakat.
Segala sesuatu seperti bambu dan kayu telah mereka masukkan ke dalam
sumur tersebut hingga penuh. Aba Hamzah berusaha untuk menenangkan hatinya
sambil berkata: aku akan berkontak batin dengan salah seorang dari mereka yang
dekat dengan jiwaku. Setelah beliau diam, beberapa saat kemudian mulut sumur
pun menganga dan ada seseorang yang menjulurkan kakinya seperti sambil
berkata: bergantunglah dengan kaki ini. Maka Aba Hamzah pun segera
bergantung dan ditarik keluar dari dalam sumur. Setelah keluar, ternyata yang
didapati Aba Hamzah adalah seekor binatang buas yang langsung pergi
meninggalkannya. Tiba-tiba ada suara yang menyeru: Wahai Aba Hamzah!

Bukankah dengan begini akan lebih baik? Aku telah membebaskanmu dari
kerusakan dengan perantaraan tempat yang rusak.

Kisah ke- 124: Sosok pemimpin yang ramah dan mengikuti
kebenaran

Pada zaman pemerintahan khalifah Hisyam bin Abd al-Malik, konon
bencana kelaparan pernah melanda suluruh rakyat. Tak ayal, banyak aktifis dan
para tokoh masyarakat pun menghadap kepada Khalifah. Di antara mereka adalah
Darwas bin Habib al-Ajali, yang mengenakan pakaian Jubbah kebesaran orang
sufi dan surban yang diikatkan di atas kepala hingga menutupi telinga. Ketika
khalifah Hisyam melihat penampilan Darwas yang tampak berada di sudut
ruangan, dengan nada marah beliau berkata kepada Darwas: Apakah kamu masuk
bersama dengan orang-orang ini? Darwas segera memahami bahwa kehadirannya
merisaukan sang Khalifah, maka ia berkata: “Wahai Amir al-Mukminin! Aku
sengaja tidak mau diistimewakan dan aku sudah cukup merasa terhormat bisa
bergabung dengan mereka di majlismu ini. Ketika aku melihat semua orang ini
berbondong-bondong menuju tempat ini, maka saat itulah aku masuk bersama
mereka. Jika engkau mengizinkan aku bicara maka aku akan berbicara”. Lantas
khalifah Hisyam berkata: Demi Allah! atas ketokohan bapakmu, maka bicaralah.
Karena saat ini aku tidak melihat seorang tokoh pun selain dirimu. Darwas
berkata: Wahai Amir al-Mukminin! Sungguh aku telah meneruskan (perjuangan.
Pent) beliau bersama kita semua selama tiga periode. Pada periode pertama,
sumber minyak sungguh telah melebur. Periode kedua, kami memakan daging.
Dan pada periode ketiga, telah menghisap tulang sumsum. Demi Allah, di dalam
genggamanmu terdapat harta yang melimpah. Jika engkau ingin mendapatkan
tempat di sisi-Nya, maka dengan hartamu itu kasihanilah hamba-hamba-Nya. Jika
engkau ingin mendapat tempat di hati rakyatmu, maka untuk apa engkau
sembunyikan hartamu? Dan jika hartamu masih engkau simpan, maka segera
sedekahkanlah kepada rakyatmu. “Sesungguhnya Allah memberi balasan kepada
orang-orang yang bersedekah” [Qs. Yusuf (12) 88]. Dan “Sesungguhnya Allah
tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik” [Qs. Al-Taubah (9) 120].

Selanjutnya Hisyam berkata: Demi Allah! Atas ketokohan bapakmu, aku
tidak akan meninggalkan satu pun dari ketiga pesanmu. Setelah itu khalifah
Hisyam memerintahkan kepada bendahara kerajaan untuk membagikan seratus
ribu Dinar kepada rakyat, dan seratus ribu Dirham untuk Darwas. Kemudian
Darwas bertanya kepada Hisyam: apakah setiap orang bisa mendapat bagian
sama? Hisyam menjawab: tidak, harta itu bukan dari Bait al-Mâl. Darwas berkata:
aku tidak membutuhkan atas harta sialmu, lalu Darwas memanggil penduduk suku
(kabilah) dari daerahnya, maka Hisyam pun membiarkan apa yang dia lakukan.
Setelah kabilah tersebut tiba, Darwas langsung membagikan sembilan puluh ribu
dari seratus ribu yang telah ia terima, kepada sembilan kabilah. Tinggallah
sepuluh ribu Dirham yang ada di tangan Darwas, dan ketika hal ini disampaikan
kepada Hisyam, maka beliau berkata: alangkah baiknya dia, sesungguhnya
kebaikan itu diturunkan hanya kepada pribadi yang mulia.

Kisah ke- 125: Cerita tentang Ummu Mu’awiyah
Hindun binti ‘Atibah adalah seorang wanita yang sangat cantik rupawan
dan juga hartawan. Bahkan, ribuan jenis satwa dan seribu orang budak pun telah
ia miliki. Ia juga mempunyai sebuah tenda di atas punggung binatang (sekedup)
yang mana dari masing-masing tiangnya telah dihias dengan untaian intan dan
mutiara. Suaminya bernama al-Fakih bin al-Mughirah, salah seorang pemuda dari
suku Quraisy. Al-Fakih adalah seorang yang tidak pernah berhenti kedatangan
tamu dan ia pun tidak pernah membatasi tamu-tamunya.
Pada suatu hari, al-Fakih keluar rumah untuk suatu keperluan. Di dalam
perjalanan ia berjumpa dengan seorang kawan, maka ia pun diajak mampir ke
rumah si kawan. Tanpa diduga, ternyata Hindun (istrinya) sedang berada di dalam
rumah itu. Al-Fakih hampir saja tidak percaya, sehingga ia benar-benar
memastikan bahwa dia adalah Hindun. Lantas di antara keduanya pun saling
bersilat lidah. Akhirnya, al-Fakih memutuskan: pertemukan aku dengan pihak
keluargamu, dan rupa-rupanya peristiwa ini telah mengundang omongan banyak
orang. Singkat kata, berita ini sampai ke telinga bapaknya Hindun (‘Atibah) dan
beliau langsung mengajak putrinya untuk berbicara empat mata. ‘Atibah berkata:
“Sungguh, banyak sekali orang yang membicarakan tentang perselisihanmu

dengan suamimu. Agar berita ini tidak semakin meluas, maka ceritakanlah
kepadaku dengan sejujurnya. Apabila apa yang telah aku dengar dari orang-orang
itu benar, maka aku akan membayar orang untuk membunuh al-Fakih secara
diam-diam dan serapi mungkin, sehingga tidak ada lagi nama al-Fakih dalam
kamus kehidupan kita. Dan jika berita yang aku dengar dari orang-orang itu salah,
maka aku akan menghakimi al-Fakih di hadapan seorang paranormal yang paling
pintar di tanah Yaman ini, agar kamu terbebas dari –perasaan bersalah- kepada al-
Fakih”. Selanjutnya, Hindun dengan mantap mengucapkan kata sumpah, bahwa
apa yang diomongkan dan disampaikan oleh banyak orang kepada bapaknya itu
adalah tidak sesuai dengan realitas. Maka ‘Atibah segera memanggil dan
menetapkan al-Fakih untuk dihakimi di hadapan seorang paranormal terkenal saat
itu juga. ‘Atibah berkata: engkau telah menjatuhkan malapetaka kepada istrimu,
maka kamu harus diadili.

Dalam proses pengadilan itu, pihak al-Fakih keluar bersama golongan
Bani Abd al-Dar, sedangkan Hindun keluar bersama serombongan wanita dari
Bani Umayyah. Pada saat kedua rombongan itu sudah mendekati tempat
paranormal dengan melintasi perkampungan yang berbeda, ‘Atibah melihat wajah
Hindun tampak pucat-pasi, dengan tingkahnya yang aneh dan seperti orang
linglung. ‘Atibah berkata: sepertinya aku tidak pernah melihat kamu bertingkah
laku aneh seperti ini? Hindun menjawab: “Demi Allah! Sungguh aku akan
melampaui peristiwa yang penuh resiko. Bagaimana tidak, karena akan ada
seorang laki-laki yang mana dalam vonisnya nanti, boleh jadi ia salah dan boleh
jadi ia benar. Maka dari itu, jangan biarkan ia menjatuhkan malapetaka kepadaku
dengan tanpa alasan apapun juga. Karena dengan malapetaka itu, aku akan terhina
dan merana sepanjang masa”. Lantas ‘Atibah (bapaknya Hindun) berkata:
“Tenanglah, aku mempunyai rencana rahasia kepada al-Fakih dan aku akan
mengujinya dengan rahasia itu. Apabila ia mengetahui rahasia tersebut, itu berarti
menunjukkan atas kepiawaian ilmunya dan kita akan minta fatwa kepadanya.
Namun, jika ia tidak mengetahuinya, maka kita akan meninggalkannya”.
Kemudian rombongan Hindun mengambil biji Hinthah (gandum) dan
meletakkannya di tempat saluran air kencing kuda. Setelah segala sesuatunya siap,
rombongan Hidun segera menghampiri dan menyambut al-Fakih dengan segala

hormat. Mereka berkata: Sesungguhnya kami sedang menyiapkan sebuah rencana
rahasia sebagai teka-teki buatmu, maka tebaklah, apa isi dari teka-teki itu? Al-
Fakih menjawab: sebuah biji yang kalian tutup. Kemudian mereka mengatakan:
kami ingin agar jawaban kalian lebih jelas lagi. Al-Fakih menjawab: biji gandum
yang kalian letakkan di dalam saluran kencing anak kuda. Mereka berkata: anda
benar, oleh karena itu lihatlah apa yang diperbuat oleh wanita-wanita itu! Lalu al-
Fakih turun dan melewati barisan wanita itu satu-persatu sambil bertanya: apa arti
semua ini? Akhirnya, sampailah al-Fakih di sisi Hindun dan menepuk pundaknya.
Al-Fakih berkata: Demi Allah! Kamu bukanlah seorang wanita pezina, sekarang
kamu telah terbebas dari omongan orang-orang itu dan kamu akan melahirkan
seorang anak yang akan menjadi raja dengan nama Muawiyah.

Setelah al-Fakih selesai berbicara, ia segera bangkit dan merangkul
Hindun serta mencium keningnya. Tiba-tiba Hindun membentak al-Fakih seraya
berkata: menjauhlah dariku! Demi Allah, sungguh aku akan berusaha
membesarkan anakku tanpamu, sampai ia menjadi raja. Akhirnya, al-Fakih
menceraikan Hindun dan ketika paranormal telah mengumumkan akan kelahiran
Muawiyah yang akan menjadi raja, banyak orang –terutama para pembesar- yang
menyambut gembira, sampai-sampai Abu Sufyan pun melamar Hidun. Kemudian
Abu Sufyan memberikan banyak harta yang melebihi harta milik Hindun dan
rupa-rupanya Hindun mau menerima lamaran itu. Tak lama kemudian, setelah
Abu Sufyan dan Hindun resmi menjadi suami istri, Hindun melahirkan anaknya
dan diberi nama Muawiyah. Dan setelah Muawiyah menjadi raja, kekuasaannya
meliputi dari segenap penjuru. Wallâhu A’lam.

Kisah ke- 126: Peristiwa yang tak kuduga.
Telah diriwayatkan dari al-Fadhl bin Rabi’, pada suatu hari, ketika aku
hendak membekam* khalifah Harun al-Rasyid, beliau berkata kepadaku: diamlah
seperti batu. Lalu aku menjawab: aku mempunyai seorang anak yang bisa
membekam dan dia sangat pendiam. Dia berkata: kalau begitu, bawa ia ke sini.
Lantas aku membawa anakku ke tempat al-Rasyid, dan aku memastikan agar
anakku diam dan tidak akan berucap kata serta penuh kesiapan. Setelah itu, aku
masuk ke ruangan al-Rasyid dan ternyata beliau tampak bermuram-durja. Al-

Rasyid berkata: “Wahai Fadl! Sesungguhnya anakmu itu pasti bertingkah dan kita
bisa buktikan nanti, maka dari itu, saya tidak menghendakinya”. Kemudian aku
minta tikar khusus buat anakku, dalam rangka ingin membuktikan apa yang beliau
katakan. Al-Rasyid bertanya: apakah anakmu ini belum pernah membekam sama
sekali? Anakku balik bertanya: wahai Amir al-Mukminin! Aku ingin bertanya
kepadamu tentang sesuatu. Al-Rasyid bertanya: apa itu? Anakku menjelaskan:
Mengapa engkau mengangkat Muhammad terlebih dahulu baru al-Makmun,
padahal al-Makmun lebih tua daripada Muhammad? Al-Rasyid berkata: saya akan
menjawab kalau kamu sudah selesai membekamku. Baru saja si anak itu diam,
tiba-tiba ia nyeletuk: wahai Amir al-Mukminin! Aku ingin bertanya kepadamu
tentang sesuatu yang lain. Al-Rasyid bertanya: apa itu? Si anak menanyakan:
mengapa engkau membunuh Ja’far bin Yahya? Al-Rasyid berkata: saya akan
menjawab pertanyaanmu setelah kamu usai membekamku. Belum lagi si anak
melakukan pembekaman, tiba-tiba ia berkata: aku masih ingin bertanya tentang
satu hal kepadamu? al-Rasyid berkata: tanyakan saja. Si anak menanyakan:
mengapa engkau memilih al-Raqah (sebagai ibu kota. Pent) dan bukannya
Baghdad, padahal Baghdad jauh lebih indah? Al-Rasyid berkata: kamu akan
mendapatkan jawaban, bilamana semua pertanyaanmu sudah habis. Setelah
berkata demikian, al-Rasyid dengan wajah yang riang memanggil pelayannya,
seraya berkata: janganlah engkau berikan minuman air dingin, jika engkau tidak
menghendaki ia mati. Karena sesungguhnya anak ini telah bertanya tiga hal
kepadaku. Seandainya pertanyaan itu diajukan oleh al-Manshur, niscaya aku tak
akan menjawabnya.

Al-Fadlal melanjutkan, pada saat saya sedang duduk, tiba-tiba Abu
Dalamah masuk ke ruangan al-Rasyid sambil menangis. Rupanya Abu Dalamah
telah berkomplot dengan Umi Dalamah (istrinya). Demikian agar kiranya Abu
Dalamah menemui khalifah Harun al-Rasyid dan mengadukan –nasib- Umi
Dalamah di hadapan beliau. Sedangkan Umi Dalamah sendiri pergi menemui
Zubaidah (istri Harun al-Rasyid) untuk mengadukan –nasib- Abu Dalamah.
Tatkala khalifah Harun al-Rasyid melihat Abu Dalamah yang sedang menangis,
beliau bertanya: apa yang membuatmu menangis? Abu Dalamah menjawabnya
dengan bait syair berikut:

Begitulah nasib sepasang suami-istri yang tinggal di padang sahara
Sama sekali jauh dari hidup aman, makmur dan sejahtera.
Di dalam kesendirian kami lalui hari demi hari
Tak ada satupun pandangan, sepi-sepi dan sendiri.
Setelah itu, Abu Dalamah meratap keras sambil berkata: wahai Amir al-
Mukminin! Umi Dalamah telah meninggal dunia, dan sekarang aku membutuhkan
uluran tanganmu untuk biaya perawatan jenazahnya. Kemudian, al-Rasyid
memberinya uang. Sementara itu, Umi Dalamah yang sedang menghadap
Zubaidah juga sambil menangis. Ketika Zubaidah bertanya: mengapa kamu
menangis? Umi Dalamah menjawab: sekarang Abu Dalamah yang telah melewati
hari-harinya hanya tinggal cerita, dan aku membutuhkan biaya perawatan
jenazahnya. Setelah Umi Dalamah selesai mendapatkan uluran tangan dari
Zubaidah, ia langsung pamit pulang. Baik Abu Dalamah maupun Umi Dalamah
sudah sama-sama pergi, lalu al-Rasyid masuk ke ruangan Zubaidah dengan raut
muka yang kusam, yang disebabkan oleh pertanyaan-pertanyaan putra al-Fadlal.
Juga karena berita kematian Umi Dalamah. Zubaidah menyapa al-Rasyid: aku
tidak pernah melihat mukamu sekusam ini. Lalu al-Rasyid mengutarakan ganjalan
hatinya. Mendengar uraian al-Rasyid, Zubaidah justru malah tertawa geli sambil
berkata: baru saja Umi Dalamah beranjak dari tempat ini untuk minta bantuan
biaya perawatan jenazah Abu Dalamah. Al-Rasyid berkata: apa kamu bilang?
Tahukah kamu bahwa Abu Dalamah juga baru saja keluar dari ruanganku untuk
minta bantuan biaya perawatan jenazah Umi Dalamah?
Al-Fadlal melanjutkan cerita, setelah itu khalifah Harun al-Rasyid keluar
dari ruangan Zubaidah sambil meluapkan tawa yang sejak tadi terpendam.
Sementara aku (al-Fadlal) yang dari awal terus menyaksikan perilaku al-Rasyid
semakin heran. Bagaimana tidak, beliau masuk ke ruangan Zubaidah dengan
wajah kusam dan setelah keluar beliau malah tertawa lepas. Kemudian aku minta
penjelasan beliau, dan beliau pun bersedia menceritakan semua peristiwa ini.
Selanjutnya, aku membantu anakku untuk membekam al-Rasyid sampai selesai.
Dan seusai berbekam, al-Rasyid berkenan mengundang Abu Dalamah seraya
bertanya: apa maksudmu dengan semua ini? Abu Dalamah menjawab: “Mah ya..
Amir al-Mukminin (jangan marah wahai Amir al-Mukminin) –dengan kata lain-

Abu Dalamah ingin menjawab: “sebab, jika tidak dengan cara seperti ini, kami
tidak akan mendapat pemberian Amir al-Mukminin”. Lantas kita semua tertawa
atas kecerdikan sepasang suami-istri ini. Wallâhu A’lam.

* Berbekam adalah suatu usaha untuk mengeluarkan darah kotor di
kepala, dengan menggores pada bagian tengkuk dan alatnya pun masih serba
manual dan tradisional. Hal ini biasa dilakukan oleh rasulullah saw dan orang-
orang zaman dahulu untuk menghilangkan rasa pening.

Kisah ke- 127: Kabar dari al-Mutamannah binti al-Haitsam.
Diriwayatkan dari al-Ashmu’i, bahwasannya telah datang suatu musim
(haji. Pent) yang dengan musim itu, orang-orang miskin dari segenap penjuru desa
mendatangi kami. Anehnya, di tengah kerumunan orang miskin yang semuanya
laki-laki itu, terdapat seorang gadis kecil-mungil yang cantik-jelita. Gadis itu
memohon dengan tutur kata yang sangat halus nan lembut, laksana hembusan
angin spoi. Kemudian al-Ashmu’i menerawangkan pandangannya, secara cermat
dan tepat kepada suatu focus yang juga dipandang oleh banyak orang. Namun,
tiba-tiba ia balik memejamkan kedua matanya dan membaca Ta’awwudz, seraya
meminta perlindungan kepada Allah swt, dari godaan setan yang terkutuk. Lantas
al-Ashmu’i bertanya: “wahai budak! Pantaskah dengan wajah cantikmu, kamu
pergi seorang diri bersama mereka (rombongan kaum laki-laki), pada musim –
haji- kali ini? Tiba-tiba gadis itu menangis, sambil melantunkan bait syair berikut:
Tak kan ku tampakkan diriku pada-Nya, tanpa melalui usaha
Keabadian Dia, adalah yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia.
Dia tiba kepadaku...
Karena –seperti yang kau lihat- masa demi masa semakin gelap-gulita.
Ku pasang hijab pada diriku dan ku mohon pertolongan-Nya
Karena kepergian al-Haitsam –bapakku- ku harus bersandar pada siapa..
Dengan terpaksa ku buka tirai
Yang ku tahu, Allah adalah Saksi yang Maha Mengetahui.
Tiba masanya kata menyerah di mulut setiap orang
Katakanlah ini benar, bahwa penguasa adalah uang.
Negeri Hijaz menjadi sangat asing bagiku,

Abu Rabi’ah adalah nomaden dan perantau yang pilu.
Selanjutnya, al-Ashmu’i menghampiri si gadis dengan maksud ingin
membantu sebisanya, seraya bertanya: siapakah namamu manis? Si gadis
menjawab: “al-Mutamannah binti al-Haitsam, bapakku meninggal dalam suatu
pertempuran dan aku hidup bersama sekelompok kaum seperti ini”. Setelah
mendengar jawaban itu, al-Ashmu’i langsung meninggalkan si gadis. Sebelumnya
mereka sepakat untuk mengadakan pertemuan di sebuah lapangan yang luas. Dari
pengalaman ini, al-Ashmu’i menceritakannya kepada Abi Kultsum yang nama
lainnya adalah Thauq bin Malik bin Thauq.
Setahun kemudian, Abi Kultsum dan gadis di atas berkenan mengunjungi
al-Ashmu’i dan mereka tinggal untuk beberapa hari. Pada suatu waktu, tatkala
kami semua sedang berkumpul, ada seorang pelayan muda yang tampan datang
sambil membawa bantal yang terdiri dari sejumlah pakaian dan sebuah kantong.
Kemudian kedua benda itu diletakkan oleh si pemuda di sisi al-Ashmu’i.
Sedangkan al-Ashmu’i sendiri tidak mau ambil pusing atas apa yang hendak
diperbuat oleh si pemuda. Ia mengembalikan perhatiannya kepada Abu Kultsum
yang langsung menyapanya: “wahai Abu al-‘Abbas! Aku bawakan untukmu
hadiah dari al-Mutamannah binti al-Haitsam. Allah swt telah meluluhkan hatinya
berkat engkau. Sebab, setelah engkau menceritakan pertemuanmu dengan al-
Mutamannah, aku langsung menawarkan dan mengawinkannya dengan seorang
pemuda yang datang melamarnya. Sebelum itu, aku sempat menyampaikan
nasehatmu kepadanya dan ia merasa sangat berterima-kasih atas apa yang telah
engkau perbuat. Begitu juga, saya menghaturkan penghargaan yang setinggi-
tingginya kepadamu”.

Kisah ke- 128: Intelektualitas dan intuisi kognitif.
Di belahan dunia arab, adalah seorang laki-laki yang sangat cerdik, sebut
saja ia bernama Syanun. Ia telah bersumpah untuk tidak menikahi perempuan
manapun, selain dengan orang yang pas dan serasi dengan dirinya. Dalam
usahanya untuk mendapatkan calon yang ia dambakan, Syanun mengembara dari
satu negeri ke negeri yang lain. Pada suatu waktu, Syanun ditemani oleh seorang
laki-laki. Sudah sekian jauh jarak yang mereka tempuh, namun di antara mereka

tidak saling bicara. Tiba-tiba Syanun bertanya kepada laki-laki tersebut: apakah
kamu yang membawaku, ataukah aku yang membawamu?. Si laki-laki membalas:
wahai bodoh! Mungkinkah seorang sopir membawa sopir? Dan Syanun pun
terdiam. Kemudian mereka berdua menghampiri sebuah tanaman hias yang
bertengger, lalu Syanun bertanya kepada si laki-laki: tahukah kamu, apakah
tanaman ini bisa dimakan ataukah tidak?. Si laki-laki membalas: wahai bodoh!
Apakah kamu melihat adanya sisa pada tangkai tanaman ini? Dan Syanun pun
terdiam. Lantas mereka melanjutkan perjalanan dan dalam perjalanan itu mereka
berjumpa dengan janazah (orang mati). Syanun bertanya: tahukah kamu, apakah
pemilik janazah ini masih hidup ataukah sudah mati?. Si laki-laki menjawab:
“seumur hidupku, belim pernah aku melihat orang sebodoh kamu. Tentu saja,
sang pemiliknya itulah, yang membawa janazah itu ke kubur dan secara otomatis
ia masih hidup.

Setelah hati laki-laki itu sudah tidak lagi sewot, ia berkenan mengajak
Syanun singgah di rumahnya. Laki-laki itu mempunyai seorang putri gadis
bernama Thibqah. Lalu ia menceritakan kepada putrinya, tentang berbagai
pengalamannya –termasuk pertanyaan-pertanyaan- Syanun selama dalam
perjalanan. Mendengar uraian sang bapak, gadis itu berkomentar: “aku tidak
melihat satu pun dari ucapan Syanun yang tidak benar, dan jawaban bapak
terhadap pertanyaan-pertanyaan Syanun itu tidak menyentuh pada substansinya.
Adapun yang beliau maksudkan dengan pertanyaan: “apakah kamu yang
membawaku, ataukah aku yang membawamu?, sama dengan, apakah kamu yang
bercerita kepadaku, ataukah aku yang bercerita kepadamu, sampai kita berpisah di
persimpangan jalan nanti?. Sedangkan yang beliau maksudkan tentang tanaman
yang bisa di makan atau tidak, itu sama dengan, apakah pemilik tanaman itu akan
memasang harga yang mahal atau tidak?. Dan pertanyaan beliau mengenai
janazah, maksudnya yaitu, apakah sepeninggalnya jenazah itu –pemilik
(keluarganya)- masih mengingatnya ataukah tidak?”.

Setelah mendengarkan uraian anakanya, si laki-laki itu segera keluar
menemui Syanun. Ia ceritakan tentang penafsiran putrinya atas pertanyaan-
pertanyaan Syanun dan dia juga berkenan atau rela untuk diperistri. Selanjutnya,
Syanun pun segera melamar dan memperistri si gadis, serta memboyongnya ke

tempat Syanun tinggal bersama kaumnya. Tampaknya, seluruh kaumnya tahu
bahwa pengembaraan cinta mereka berdua adalah buah dari daya intuisi yang
tinggi. Mereka mengatakan: Syanun dan Thibqah adalah pasangan yang sangat
serasi dan ideal. Wallâhu A’lam.

Kisah ke- 129: Mencari perlindungan kepada Allah swt.
Ada salah seorang ulama bercerita, bahwasannya ia pernah menjual
seorang budak perempuannya. Atas hal ini, ia merasa sangat menyesal dan malu
kepada setiap orang, jangan-jangan perbuatannya itu diketahui oleh mereka.
Kemudian ia menuangkan perasaannya ke dalam sebuah tulisan di atas telapak
tangannya dengan bentuk do’a, yaitu: “Wahai Dzat yang Maha Mengabulkan
segala do’a! Engkaulah yang Maha Mengetahui segala kehendakku”. Dalam pada
itu ia tidak mengucapkan sepatah katapun dan hanya mengangkat tangannya yang
telah terukir kata do’a itu ke atas langit.
Keesokan harinya, ada suara yang mengetuk pintu rumahnya. Setelah
ditanya: siapakah itu?. Orang itu menjawab: “saya adalah orang yang membeli
budak perempuanmu dan sekarang aku telah membawanya kembali kepadamu”.
Betapa riangnya hati ulama setelah mendengar jawaban itu dan ia pun langsung
menghampiri dan ingin menebusnya. Namun sang pembeli itu berkata: “aku tidak
mau minta tebusan atas budakmu ini, karena aku telah mendapatkan imbalan yang
jauh lebih besar daripada tebusan yang hendak kau berikan. Yaitu, ketika aku
tidur, sepertinya ada suara yang mengatakan: “Aduhai ketahuilah! Bahwa sang
penjual budak itu adalah termasuk salah seorang Waliyullah dan hatinya sangat
lekat dengan hati budak perempuannya itu. Jika engkau mau mengembalikan
kepadanya tanpa meminta tebusan sedikitpun, maka Aku akan memasukkanmu ke
dalam surga dan Aku akan memberimu ganti-rugi berupa bidadari”. Begitulah
kiranya balasan yang diterima, maka sang pembeli itupun mengembalikan budak
yang ia dapat dari ulama, dan langsung berpamitan tanpa mengambil tebusan.

Kisah ke- 130: Apa gunanya menghindari maut?
Pada zaman dahulu ada seorang raja yang lalim. Datanglah sang malaikat
maut menghampiri raja, dengan maksud untuk mencabut nyawanya. Ketika

malaikat maut ada di sisinya, sang raja bertanya: siapa engkau? Ia menjawab: saya
adalah malaikat maut yang akan mencabut nyawamu. Sang raja menawar: saya
mohon agar engkau menunda kematianku selama tujuh hari supaya aku bisa
mempersiapkan diri. Maka Allah swt pun menurunkan wahyu kepada malaikat
maut, yaitu: katakana padanya bahwa, aku akan menunda kematianmu. Lantas
malaikat maut pun mengabulkan permohonan sang raja.

Dalam limit waktu itu, sang raja sungguh memanfaatkan untuk
membentengi diri dari kematian. Ia memerintahkan kepada bawahannya untuk
membangun sebuah benteng yang kokoh. Di balik benteng tersebut, telah digali
sebanyak tujuh lapis parit dengan dinding-dinding beton dan pintu yang terbuat
dari baja dan timah. Di dalam benteng itu, dibangunlah sebuah istana megah yang
bisa diperkirakan dapat melindunginya dari ancaman maut. Sang raja bertitah
kepada para penjaga: janganlah kalian terlena sedikitpun, dan jangan sampai ada
seorang pun yang kalian biarkan masuk untuk bertemu denganku. Setelah sampai
pada batas waktu yang telah ditentukan, sang malaikat maut datang kepada raja.
Ketika raja melihat kedatangan malaikat maut, ia bertanya: dari arah mana, lewat
pintu apa dan siapakah yang memasukkanmu ke tempat ini? Malaikat maut
menjawab: aku dimasukkan oleh Sang Pemilik rumah. Kemudian raja memanggil
seluruh penjaga seraya bertanya: bukankah kalian sudah saya perintahkan untuk
menjaga tempat ini seketat mungkin, namun mengapa masih ada yang bisa
masuk?. Akhirnya, raja menyumpah kepada para penjaga, adakah di antara
mereka yang lengah? Ternyata, tak seorang pun di antara mereka yang lengah.
Terbukti bahwa semua pintu masih terkunci dan kunci itu ada di dalam
genggaman mereka masing-masing. Lantas malaikat maut berkata: sesungguhnya
Sang Pemilik rumah tidak terpengaruh dengan adanya benteng. Begitu juga
utusannya, tidak akan terhalangi oleh adanya tembok beton, pagar betis dan galian
parit. Raja lalim bertanya: jika demikian, lantas apa maumu? Malaikat maut
menjawab: mencabut nyawamu. Raja lalim bertanya: sudah pastikah itu? Malaikat
maut menjawab: tentu. Raja lalim bertanya: ke manakah nyawaku akan pergi,
ketika engkau telah mencabutnya? Malaikat maut menjawab: menuju rumah yang
telah engkau dirikan dan liang lahat yang telah engkau gali sendiri. Raja lalim
memastikan: aku telah membangun rumah? Malaikat maut menjawab: benar. Raja

lalim bertanya sekali lagi: lantas di manakah rumah itu? Malaikat maut menjawab:
Di dalam api yang bergejolak, Yang mengelupaskan kulit kepala, Yang
memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling (dari agama). Serta
mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya. [Qs. Al-Ma’ârij (70) 15-18].
Setelah berkata demikian, malaikat maut langsung mencabut nyawa raja lalim,
dan lalu pergi.


Click to View FlipBook Version