The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kisah-kisah langka. Terjemah Kitab an-Nawadir Karya Syaikh Syihabuddin al-Qulyubi

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by romlishofwan, 2022-05-26 00:05:05

e-Book Cerita

Kisah-kisah langka. Terjemah Kitab an-Nawadir Karya Syaikh Syihabuddin al-Qulyubi

Keywords: an-Nawadir

tersebut yang akan kamu kawinkan denganku. Abu Hurairah membalas: jangan
begitu! Semua masalah ini tergantung pada keputusanmu. Ummu Khalid berkata
lagi: seandainya kamu tidak datang kepadaku, sesungguhnya akulah yang akan
datang kepadamu untuk bermusyawarah tentang masalahku ini, lalu sekarang
bagaimana, kamu kan yang mendapat mandat?. Akhirnya, Abu Hurairah
memutuskan: Demi Allah! Saya tidak pernah menyaksikan dari keempat orang
tersebut yang pernah dicium oleh rasulullah saw selain al-Husain.

Kesimpulannya, Abu Hurairah memilihkan al-Husain untuk Ummu Khalid
dan memberikan harta pemberian Muawiyah untuk biaya pernikahan mereka.
Setelah menikahkan mereka, Abu Hurairah kembali menghadap Muawiyah dan
menceritakan semua hal yang telah ia lakukan. Muawiyah bertanya: kamu telah
memberikan hartaku untuk orang lain? Abu Hurairah menjawab: sesungguhnya
tuan tidaklah mewarisi harta itu dari nenek-moyang tuan, akan tetapi harta itu
adalah milik Allah dan Rasul-Nya, maka dari itulah saya memberikan harta itu
kepada cucu rasulullah saw.

Sementara itu, ‘Adiy bin Hatim yang merasa telah dibohongi dan tidak
jadi mendapatkan putri sang khalifah datang ke Madinah al-Syarifah menuju
tempat al-Husain dan duduk di sisinya sambil menghela nafas panjang. Al-Husain
bertanya kepada ‘Adiy: kamu pasti kangen dengan Ummu Khalid? Adiy
menjawab: benar! Lalu al-Husain memanggil Ummu Khalid sambil bertanya:
apakah selama ini kamu sudah saya sentuh? Ummu Khalid menjawab: belum. Al-
Husain berkata: Nah! Mulai sekarang kamu saya cerai dan saya kawinkan kamu
dengan ‘Adiy suamimu yang dulu. Ketahuilah! Sesungguhnya aku tidak
mempunyai cita-cita untuk mengawinimu, akan tetapi semua ini aku lakukan demi
menolong dirimu. Setelah itu, al-Husain melantunkan sebuah syair sebagai
berikut: “kuberikan nikmatku kepadamu, wahai Ummu Khalid. Padahal banyak –
kesempatan- yang sirna bagi orang yang duduk (menunggu)”.

(Faedah) Dari Zaid bin Aslam ia menceritakan bahwa, konon kunci Bait
al-Maqdis itu ada di tangan Sulaiman Ibn Dawud as. Akan tetapi orang-orang
tidak ada yang percaya. Pada suatu malam, nabi Sulaiman datang untuk membuka
pintu Bait al-Maqdis dengan tangannya sendiri, namun dengan susah payah beliau
tak mampu. Lalu beliau minta pertolongan kepada jin, maka jin pun tidak sanggup

dan ketika minta tolong kepada manusia pun juga pada kesusahan. Akhirnya nabi
Sulaiman hanya duduk termenung sambil berfikir, barangkali Tuhan sedang
melarangnya untuk masuk ke Bait al-Maqdis. Dalam pada itu, mendadak ada
orang tua renta dengan memegang sebuah tongkat telah berdiri di hadapan nabi
Sulaiman, ia adalah salah seorang murid ayahnya (nabi Dawud as). Ia menyapa:
wahai nabiyyullah! Kelihatannya engkau sedang susah? Nabi Sulaiman
menjawab: saya memang lagi kesusahan untuk membuka pintu Bait al-Maqdis ini,
padahal saya sudah minta bantuan kepada jin dan manusia. Orang tua itu berkata:
bukankah aku telah mengajarkanmu beberapa kalimat (do`a), sebagaimana
bapakmu dulu juga membacanya ketika hendak mendekati pintu Bait al-Maqdis,
kemudian berkat kalimat tersebut Allah swt mau membukakannya? Nabi
Sulaiman menjawab: benar!

Selanjutnya, orang tua tersebut mengajarkan kalimat (do`a) sebagai
berikut: Ya..Allah! berkat cahaya dari-Mu hamba mendapat petunjuk, atas
keagungan dan keutamaan-Mu hamba mendapatkan kecukupan, hanya dengan-
Mu hamba (ingat) di waktu pagi dan sore. Dosa-dosa hamba –penuh- di sisi-Mu.
Maka ampunilah dosa hamba dan hanya kepada Engkaulah hamba bertaubat,
wahai Dzat yang Maha belas-kasih lagi Maha Pemberi anugerah.

Seusai dibacakan kalimat di atas, pintu Bait al-Maqdis langsung terbuka
atas seizin Allah swt. Wallâhu A’lam.

Catatan: Tentang sifat dan desain kursi nabi Sulaiman as.
Konon ketika nabi Sulaiman hendak memutuskan suatu perkara, beliau
memerintahkan kepada setan (jin) dan teman-temannya untuk membuat sebuah
kursi yang sangat indah. Hal ini dimaksudkan, agar jika ada orang yang bersalah
atau saksi yang memberi keterangan palsu, langsung bergetar seluruh sendi
tubuhnya, ketika melihat kursi tersebut.
Kemudian mereka (jin dan kawan-kawan) membuat kursi yang diinginkan
nabi Sulaiman dari gadingnya gajah yang dihiasi dengan intan permata dan
mutiara. Kursi itu diukir dengan hiasan berbentuk pohon anggur yang merambat
dan terbuat dari aneka tambang. Juga, pohon kurma yang terukir dari emas dan
tangkainya dari perak. Di atas ukiran pohon kurma tersebut, terdapat patung

seekor burung merak yang terbuat dari emas dan patung seekor burung garuda di
sampingnya yang juga terbuat dari emas. Dan di atas kepala kedua burung itu,
masing-masing terapat antenna yang terbuat dari jamrud warna hijau.

Adapun di depan kedua burung itu, ada dua ekor macan dari emas dan di
bawah kaki kursi itu, telah dipasang dua buah batu emas yang bisa memutar kursi
ketika nabi Sulaiman hendak melangkahkan kaki dari tangga bawah seperti
sebuah alat gilingan. Pada saat itulah, dua ekor burung tadi melebarkan sayapnya
dan dua ekor macan mengibaskan ekornya.

Pada saat nabi Sulaiman telah sampai di tangga paling atas dan siap duduk,
patung burung garuda emas tadi segera meletakkan mahkota di atas kepala nabi
Sulaiman, lalu meniupkan aroma misik yang sangat harum. Ketika nabi Sulaiman
sudah duduk, seekor burung dara yang terbuat dari emas segera menyerahkan
kitab Zabur kepada nabi Sulaiman untuk dibacakan kepada para hadirin. Telah
duduk di barisan kursi emas sebelah kiri beliau para ulama Bani Israil dan di
barisan kursi perak sebelah kanan, para pemimpin jin dan pada saat itulah proses
qadla` (penyelesaian atas suatu perkara) bisa dimulai.

Apabila para saksi datang ke tempat itu, reaksi hewan-hewan tersebut di
atas sudah bisa membuat mereka gemetar, sehingga dengan sendirinya para saksi
itu takut untuk memberikan kesaksian selain yang benar. Pada saat nabi Sulaiman
wafat, raja Bakhtanshar sangat berambisi untuk menduduki kursi itu. Akan tetapi,
ketika ia baru mau naik, salah satu dari dua ekor macan tersebut sudah memukul
betis dan telapak kakinya, sehingga ia tidak jadi naik. Usaha untuk menduduki
kursi itu terus diupayakan oleh raja Bakhtanshar tanpa rasa jera dan ia
membawanya ke daerah Anthakiyah. Sampai pada suatu saat, raja Bakhtanshar
bisa dikalahkan oleh raja Karas bin Sadas, lalu membawanya lagi kursi itu ke Bait
al-Maqdis. Setelahnya nabi Sulaiman, belum ada seorang raja pun yang bisa
menduduki kursi tersebut. Akhirnya kursi itu diletakkan di sebuah padang arena
dan hilang dengan sendirinya, tanpa seorang pun tahu bekas dan jejaknya.
Wallâhu A’lam.

Kisah ke- 31: Berbuat baik kepada kedua orang tua

Pada suatu hari nabi Sulaiman as. sedang terbang di angkasa bersama
angin. Dalam perjalanannya, beliau sempat terbang di atas samudera yang amat
dalam dan ombak samudera tersebut sangatlah tenang, tanpa ada badai yang
menghempas. Kontan nabi Sulaiman as memerintahkan angin untuk berhenti dan
beliau juga menyuruh setan (jin) dan teman-temannya menyelam, untuk
mengetahui ada kejadian apa di dalamnya.

Satu-persatu mereka mencebur dan ketika sampai di dasar samudera,
mereka menemukan sebuah cungkup (rumah kecil berbentuk kubah), yang terbuat
dari jamrud putih tanpa pintu. Hasil penemuan ini segera mereka laporkan kepada
nabi Sulaiman as dan beliau memerintahkan agar benda tersebut dikeluarkan dari
dasar samudera. Lalu mereka segera menjalankan perintah nabi Sulaiman dan
meletakkannya di hadapan beliau. Nabi Sulaiman sungguh heran, kemudian beliau
berdo`a kepada Allah swt agar cungkup itu bisa terbuka. Atas kehendak Allah
cungkup itu jadi terbelah dan pintunya pun terbuka. Ternyata di dalamnya ada
seorang pemuda yang sedang melakukan sujud kepada Allah swt.

Nabi Sulaiman as bertanya kepada si pemuda: apakah anda termasuk
golongan malaikat atau jin? Si pemuda menjawab: bukan keduanya, namun saya
adalah golongan manusia. Nabi Sulaiman melanjutkan: sebab apakah anda bisa
mendapatkan kemuliaan ini? Si pemuda menjawab: sebab berbuat baik kepada
kedua orang tua, karena dulu saya mempunyai seorang ibu pikun yang selalu saya
gendong, sebelum meninggal, beliau berdo`a kepada Allah untukku: Ya..Allah!
karuniailah kebahagiaan kepada puteraku dan setelah aku meninggal nanti, berilah
ia tempat yang bukan di langit juga bukan di bumi. Setelah beliau meninggal
dunia, saya berada di pinggir pantai dan saya melihat ada sebuah cungkup yang
terbuat dari jamrud putih. Ketika saya masuk ke dalamnya, atas kehendak Allah
swt cungkup itu langsung tertutup rapat dan saya sendiri tidak tahu, apakah saya
sedang berada di bumi atau diatas langit, atau bahkan di angkasa? Dan Allah swt
selalu memberi rizki kepadaku selama berada di dalamnya. Nabi Sulaiman as
bertanya: bagaimana caranya Allah swt mendatangkan rizki untukmu? Si pemuda
menjawab: apabila saya sudah merasa lapar, dari balik bongkahan batu itu tumbuh
sebuah pohon yang penuh dengan buah-buahan, lalu pohon itu meneteskan air
yang lebih putuh daripada susu, rasanya lebih manis daripada madu dan lebih

dingin daripada es. Dari semua itulah saya makan dan minum. Apabila saya sudah
merasa kenyang dan segar-bugar, dengan sendirinya pohon tersebut lenyap. Nabi
Sulaiman bertanya lagi: lalu bagaimanakah kamu bisa mengetahui waktu siang
dan malam? Si pemuda menjawab: jika fajar terbit, cungkup itu memutih dan
memancarkan sinar dan jika matahari terbenam, ia langsung menjadi gelap. Dari
tanda-tanda itulah saya bisa mengetahui keadaan siang dan malam.

Setelah nabi Sulaiman as merasa puas, beliau berdo`a kepada Allah swt,
maka seketika itu cungkup tadi tertutup dan membentuk seperti telur burung
kasuari. Kemudian nabi Sulaiman as memerintahkan kepada jin dan kawan-
kawannya untuk mengembalikan cungkup tersebut ke dasar samudera. Dan Allah
adalah Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Kisah ke- 32: Kerajaan nabi Sulaiman as
Nabi Sulaiman as pernah mengumpulkan tujuhpuluh ribu jenis burung
(aveas. Ltn) dan setiap jenisnya mempunyai warna yang berbeda-beda antara satu
sama lain. Burung-burung tersebut berkumpul di atas kepala nabi Sulaiman as
laksana mendung. Kemudian nabi Sulaiman bertanya kepada mereka semua
tentang bagaimana kehidupan mereka, di mana mereka bertelur dan menetaskan
telurnya. Mereka menjawab: di antara kami ada yang bertelur dan menetas di
angkasa, ada yang membawa dan menetaskan telur kami di sayap kami sendiri
dan ada juga yang membawa serta menetaskan telur dengan paruh. Bahkan di
antara kami ada yang selamanya tidak kawin dan tidak bertelur, apalagi menetas.
Imam al-Sadiy menceritakan bahwa, karpet nabi Sulaiman itu ditenun oleh
jin yang terbuat dari sutera dan emas. Karpet nabi Sulaiman as tersebut, mampu
menampung seluruh pasukan berikut kendaraan mereka masing-masing, baik kuda
maupun unta. Juga, seluruh jin, manusia dan segala jenis binatang. Jumlah
pasukan pengawal sebanyak satu juta batalyon. Karpet tersebut terbang melintasi
antara langit dan bumi, tepatnya dekat dengan mega-mega di angkasa. Karpet ini
bisa mengentarkan nabi Sulaiman as ke mana saja, dengan kecepatan tinggi
ataupun rendah, sesuai dengan kemauan beliau. Hempasan angin yang begitu kuat
sama sekali tidak berbahaya bagi semua pepohonan dan tanaman ataupun yang

lain. Di saat terbang seperti itu, apabila ada salah satu makhluk yang punya usul,
ia tinggal berbisik kepada nabi Sulaiman as.

Di atas bentangan karpet nabi Sulaiman as tersebut, terdapat sebuah kursi
untuk beliau yang terbuat dari emas dengan aksesoris intan permata. Adapun di
sekelilingnya, ada sekitar tigaribu bahkan ada yang mengatakan enamratus ribu
kursi, khusus diperuntukkan kepada para ulama dan pemimpin-pemimpin Bani
Israil. Mereka diiringi dan dikawal oleh sebanyak seratus pasukan setingkat
kompi, duapuluh lima di antaranya mengawal manusia, duapuluh lima mengaawl
jin, duapuluh lima mengawal semua jenis binatang buas dan dua puluh lima lagi
khusus untuk mengawal kawanan burung. Tugas jin adalah mengeluarkan intan
dan mutiara dari dalam samudera.

Adapun di dalam dapur nabi Sulaiman as, pada setiap harinya
menyembelih seratus ribu ekor kambing dan empatpuluh ribu ekor sapi. Sekalipun
mempunyai kekayaan yang tidak bisa dihitung dan rakyat dari semua makhluk
yang selalu tunduk, nabi Sulaiman as tidak pernah minta makan kepada mereka,
malahan beliau makan hasil kerja buah tangan sendiri berupa roti yang terbuat
dari gandum.

Konon pada suatu hari nabi Sulaiman as terbang dengan naik karpetnya
bersama sejumlah rombongan yang sangat banyak. Melihat anugerah dan karunia
Allah swt yang telah diberikan kepadanya begitu besar, nabi Sulaiman as pernah
merasa kagum terhadap diri sendiri. Dalam pada itu, karpet yang membawa beliau
bersama rombongan tiba-tiba oleng sehingga menjatuhkan sebanyak duabelas ribu
pasukan. Kemudian nabi Sulaiman as memukul karpet tersebut dengan tongkat
yang ada di tangan kanan beliau seraya berkata: jangan ceroboh wahai karpet!
Sang karpet menjawab: bersihkan dulu hatimu wahai Sulaiman!. Akhirnya nabi
Sulaiman as mengerti bahwa sang karpet berbuat seperti itu atas perintah Allah
swt. Kemudian nabi Sulaiman as langsung bersujud dan memohon ampunan
kepada Allah swt atas perasaan –‘ujub- yang melekat di dalam jiwanya. Wallâhu
Ta’âlâ A’lam.

Kisah ke- 33: Sifat Murah hati dan Pemaaf yang disertai Ilmu

Raja Bahram pada suatu hari pergi berburu ke tengah hutan bersama
dengan beberapa prajurit. Tiba-tiba beliau melihat seekor keledai, beliau segera
membuntuti dan menjerat keledai tersebut dan para prajurit hanya bisa
membiarkan dengan penuh rasa khawatir –atas keberanian- beliau. Kemudian
beliau turun dari punggung kuda untuk menyembelih keledai. Mendadak ada
seorang anak gembala melintasi daratan itu. Beliau berkata: wahai anak gembala!
Tolong pegang –kendali- kudaku. Aku akan menyembelih keledai ini, lalu anak
gembala tersebut memegangnya.

Belum lagi sang raja menggoreskan pedangnya ke leher keledai, ketika
menoleh, beliau melihat si anak gembala sedang memotong tali dan hendak
mengambil intan yang menggantung di leher kudanya. Sang raja membiarkan apa
yang diperbuat oleh si anak gembala dan beliau berkata: sesungguhnya melihat
aib (kejelekan) seseorang itu merupakan aib tersendiri.

Kemudian sang raja tidak jadi menyembelih keledai dan langsung naik ke
punggung kudanya serta membiarkan si anak gembala yang telah mencuri intan.
Ketika beliau kembali menemui para prajuritnya, salah seorang perwira bertanya:
wahai tuan raja yang berbahagia! Di manakah intan yang tadinya menggantung
pada leher kudamu? Sang raja tersenyum ramah, lalu berkata kepada perwira:
intan itu telah diambil oleh orang yang tidak pernah menemui benda semacam itu
dan kelihatannya ia memang benar-benar tidak pernah melihat benda itu. Oleh
karena itu, jika salah seorang di antara kalian ada yang melihatnya maka
janganlah kalian merebutnya.

Kisah ke- 34: Sifat Zuhud, Jujur dan Bijaksana
Raja Kisra adalah orang yang terkenal sangat bijaksana. Konon ada
seorang laki-laki ingin membeli rumah kepada laki-laki yang lain. Akan tetapi,
secara kebetulan sang pembeli melihat bahwa di dalam rumah itu ada gudangnya,
lalu sang pembeli menemui sang penjual dan memberitahukan hal tersebut. Sang
penjual berkata: aku sedang menjual rumahku kepadamu, aku tidak mau tahu
apakah di dalam rumah itu ada gudang atau tidak. Sang pembeli berkata: kamu
harus mengambil gudang itu terlebih dahulu, karena aku hanya mau membeli
rumah.

Perdebatan antara sang penjual dan sang pembeli jadi semakin panjang,
sampai fokusnya mereka berdua mengadu kepada raja Kisra. Ketika mereka
berada di hadapan raja Kisra dan telah mengungkapkan masalah gudang, maka
raja Kisra diam dan berfikir untuk beberapa saat, lalu berkata: apakah kalian
berdua mempunyai anak? Sang penjual menjawab: saya mempunyai seorang anak
laki-laki yang sudah baligh. Sedangkan sang pembeli menjawab: saya mempunyai
seorang anak perempuan juga sudah baligh.

Kemudian raja Kisra punya usul: sebaiknya kawinkan saja anak kalian,
agar di antara kalian terjalin hubungan kerabat, lalu kalian bisa memberikan
gudang tersebut, demi kesejahteraan mereka berdua. Lantas antara sang penjual
dan sang pembeli tersebut saling menjalin hubungan keluarga (besanan. Jw), hal
ini mereka lakukan berkat usulan sang raja.

Ada yang menceritakan bahwa, pada suatu ketika raja Kisra mengangkat
seorang direktur di sebuah instansi (perpajakan). Kemudian direktur itu
mengirimkan proposal kepada raja kisra yang intinya meminta agar pajak bumi
(agraria) dinaikkan setinggi mungkin. Setelah proposal itu diterima oleh raja
Kisra, beliau langsung menolak usulan dan menghukum direktur tersebut.

Menurut raja Kisra, setiap raja yang mengambil harta rakyat secara zhalim
maka selamanya tidak akan mendapat keberuntungan, lalu keberkahan akan
hilang dari bumi raja tersebut dan berubah menjadi bencana. Kemudian raja kisra
menulis surat kepada direktur, yang isinya sebagai berikut: “raja dengan raja, raja
mempunyai tentara, tentara –perlu- uang, uang untuk kemakmuran negara dan
negara akan makmur bila keadilan bisa ditegakkan”. Wassalâm.

Sebagian orang bijak ketika ditanya, manakah yang lebih utama bagi
seorang raja, keberaniankah, atau keadilan? Beliau menjawab: apabila keadilan
sudah melekat pada diri seorang raja, maka keberanian itu sudah tidak lagi
diperlukan. Wallâh al-Mu’în.

Kisah ke- 35: Keutamaan Mandi pada Hari Jum’at
Nabi Isa ibn Maryam as pada suatu hari bertemu dengan seorang pemburu
yang telah memasang jaringnya dan mendapatkan seekor kijang betina. Ketika
kijang itu melihat nabi Isa as, atas kehendak Allah swt, mendadak bisa berbicara

seraya mengatakan: wahai Rûhullah! Sesungguhnya saya ini mempunyai anak-
anak yang masih kecil-kecil. Sedangkan saya sudah terjaring di jala ini selama
tiga hari. Maka dari itu, mintakanlah izin kepada sang pemburu, agar saya bisa
menyusui anak-anak saya dan memberitahukan kepada mereka tentang nasibku,
lalu setelah itu saya akan kembali ke tempat ini.

Selanjutnya, sang pemburu berkata kepada nabi Isa as: tidak mungkin
kalau dia mau kembali ke jaringku lagi. Kijang betina memastikan: jika saya tidak
kembali, maka sesungguhnya saya lebih buruk daripada orang-orang yang
mendapati air pada hari jum’at, namun ia tidak mau mandi. Lantas sang pemburu
meminta agar kijang betina itu mau mengikat janji. Setelah berjanji, kijang betina
segera menemui dan menyusui anak-anaknya, untuk kemudian kembali ke jaring
karena takut dibilang ingkar janji.

Setelah itu nabi Isa as melangkah pergi dan menemukan sebuah bata
merah yang terdiri dari emas, lalu Allah swt memerintahkan nabi Isa as agar bata
emas tersebut dilemparkan ke arah sang pemburu sebagai tebusan dari kijang
betina. Ternyata, sang pemburu sudah tidak ada di tempat semula dan kijang
betina tersebut telah disembelih. Lalu nabi Isa as berkata: Allah swt telah
menghilangkan keberkahan sang pemburu akibat ulahnya sendiri.

Kisah ke- 36: Keutamaan sedekah pada hari jum’at kepada mayit
Di daerah Samarkand ada seorang laki-laki yang menderita sakit, ia
bernadzar, jika Allah swt menyembuhkan penyakitnya, maka ia akan bersedekah
dengan semua hasil kerjanya pada hari jum’at, apabila ada pahalanya akan ia
peruntukkan kepada kedua orang tuanya.
Rupa-rupanya Allah swt mengabulkan do`a laki-laki tersebut. Selanjutnya
ia bekerja sepanjang hidupnya untuk dibuat sedekah. Pada hari jum’at, ia berputar
kesana-kemari, namun tidak mendapatkan sesuatu pun yang bisa dibuat sedekah.
Kemudian ia meminta fatwah kepada orang alim, beliau memerintahkan: sekarang
keluarlah kamu, lalu carilah kulit semangka kemudian cuci sampai bersih.
Selanjutnya pergilah ke tempat orang-orang miskin dan lemparkan kulit semangka
tadi ke arah keledai-keledai mereka. Nah! Jika hal itu ada pahalanya, maka

peruntukkan pahala itu kepada kedua orang tuamu, dengan begitu kamu sudah
memenuhi nadzarmu.

Siang itu juga laki-laki itu segera melakukan apa yang telah difatwahkan
oleh orang alim. Kemudian pada malam harinya (malam Sabtu), laki-laki itu
bermimpi bertemu dengan kedua orang tuanya yang sedang memeluk dirinya.
Mereka mengatakan: wahai anakku! Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu
yang sangat baik dan bermanfaat bagi kami, kami bisa makan buah semangka dan
kami sangat gembira dengan apa yang telah diwajibkan Allah swt (nadzar)
kepadamu.

Di dalam riwayat yang lain, gubernur Khurasan pernah melihat bapaknya
(yang sudah meninggal dunia) menegur: wahai Amir (pak gubernur), dia
menyangkal: jangan panggil aku Amir, namun panggil aku Asir (orang yang
tertawan). Kemudian sang bapak berkata: wahai anakku, jika kamu memakan
daging, maka jangan lupa untukku, dengan kamu berikan kepada kucing atau
anjing. Lantas jika –hal itu- ada pahalanya, maka jadikanlah pahala itu untukku,
karena dengan perbuatanmu itu aku bisa ikut menikmati. Atas dasar itulah ada
sebuah riwayat (Hadits) yang menyebutkan: sesungguhnya arwah orang-orang
yang sudah meninggal dunia itu akan berkumpul di dalam rumah mereka pada
malam Jum’at untuk menunggu do`a dan sedekah orang-orang yang masih hidup.

Kisah ke-37: Cahaya Mata Hati dan Tawakkal kepada Allah swt
Pada zamannya Malik bin Dinar, ada dua orang bersaudara Majusi yang
menyembah api. Saudara kecil berkata kepada saudara besar: wahai saudaraku!
kamu telah menyembah api ini selama tujuhpuluh tiga tahun dan aku telah
menyembahnya selama tigapuluh lima tahun. Sekarang kemari dan lihatlah!
Apakah api ini masih membakar kita sebagaimana ia membakar orang lain yang
tidak menyembahnya? Jika ia tidak membakar kita, maka kita akan terus
menyembahnya dan jika ia masih mau membakar kita, maka kita berhenti
menyembah. Kemudian mereka segera menyalakan api, lalu saudara kecil
bertanya kepada saudara besar: apakah kamu yang akan meletakkan tangan di atas
api terlebih dahulu ataukah saya? Saudara besar menjawab: kamu kan yang punya
usul, maka kamu yang duluan. Saudara kecil mengalah, ia meletakkan tangannya

di atas api lebih dahulu. Ternyata, kulit tangan saudara kecil terkelupas,
sekonyong-konyong ia mengaduh: Aah.. aku sudah menyembahmu sekian tahun
lamanya, namun kamu masih saja menyakiti aku.

Selanjutnya saudara kecil berkata: wahai saudaraku! marilah kita sekarang
menyembah Dzat yang mana sekalipun Dia kita tingalkan selama limaratus tahun,
Dia tetap mau mengampuni kita, karena kita telah taat sekalipun hanya sekejap
dan meminta ampunan sekalipun hanya sekali. Saudara besar setuju dengan
usulan sang adik, lalu ia berkata: mari kita pergi ke tempat orang yang mau
menunjukkan kita ke jalan yang lurus. Akhirnya, mereka berdua sepakat untuk
pergi ke tempat Malik bin Dinar.

Di dalam rumah Malik bin Dinar, mereka berdua berkumpul dan ditemui
bersama dengan jama’ah pengajian –tamu agung- yang lain. Pada saat mereka
berdua melihat Malik bin Dinar, saudara besar –mengajak keluar sebentar- dan
berkata kepada saudara kecil: jelas sekali, rasanya tidak mungkin bagiku untuk
memeluk agama Islam, aku telah menghabiskan masa hidupku untuk menyembah
api, jika aku masuk Islam, maka seluruh keluargaku akan mengejek aku, karena
sesungguhnya menyembah api itu lebih aku pilih daripada aku harus diejek oleh
keluargaku sendiri. Saudara kecil menghibur: jangan kamu lakukan hal itu, sebab
kalaupun mereka mengejekmu, paling hanya seketika dan akan segera sirna. Akan
tetapi, jika kamu terus menyembah api, selama itu pula –dosa- akan terus
terbayang di matamu.

Saudara tua tetap bersikeras dan tidak mau mengindahkan kata-kata
adiknya, ia mengatakan: Terserah, jalan mana yang akan kamu tempuh wahai
adikku yang punya cita-cita. Setelah itu saudara besar pulang ke rumah,
sedangkan saudara kecil kembali ke tempat Malik bin Dinar bersama dengan
anak-istrinya dan ikut pengajiannya sampai selesai. Setelah Malik bin Dinar
selesai berceramah, saudara kecil mendekati beliau dan menceritakan tentang
kisah hidupnya serta apa yang menjadi keinginannya sekarang ini. Saudara kecil
minta agar Malik bin Dinar mau membantu untuk mengislamkan dirinya bersama
anak istrinya, lalu Malik bin Dinar pun membantu.

Di antara jama’ah Malik bin Dinar lainnya, adalah seorang pemuda miskin
yang berpamitan pulang untuk bertemu anak dan istri. Malik bin Dinar berkata:

jangan pulang dulu, tunggulah sampai teman-temanku memberikan sesuatu
untukmu. Sang pemuda menjawab: aku tidak membutuhkan apa-apa kok!. Setelah
diizinkan, sang pemuda bergegas pulang dan memasuki perkampungan. Di
kampung tersebut, sang pemuda melewati sebuah rumah yang sangat ramai dan ia
cenderung memilih jalan itu.

Pada malam itu sang pemuda tidur pulas setelah mengikuti pengajian
Malik bin Dinar. Di pagi hari istrinya berkata: kita tidak mempunyai sesuatupun
yang bisa dimakan hari ini. Sekarang pergilah kamu ke pasar dan carilah
pekerjaan, jika kamu mendapatkan upah, maka belikan makanan untuk anak-anak
kita. Kemudian pemuda itu segera pergi ke pasar dan menawarkan diri kepada
para majikan untuk diberi pekerjaan, dengan harapan akan mendapatkan upah.
Apesnya, tak seorang majikan pun yang mau mempekerjakan dirinya. Di dalm
hati sang pemuda berkata: aku bekerja hanya untuk Allah swt, lalu ia
melangkahkan kakinya ke tempat perkampungan yang lain. Hari sudah sore, di
kampung itu sang pemuda hanya bisa melakukan shalat sunnat sambil menunggu
Maghrib, kemudian ia pulang ke rumah dengan tangan hampa. Si istri bertanya:
kamu tidak membawa sesuatupun untukku? Ia menjawab: aku telah bekerja untuk
Sang Raja, namun hari ini aku belum mendapatkan imbalan, barangkali besok aku
akan berikan imbalan itu kepadamu.

Malam itu terpaksa keluarga sang pemuda harus tidur dengan menahan
lapar. Pada pagi harinya, sang pemuda pergi ke pasar dan melakukan seperti
halnya yang telah ia lakukan kemarin. Namun, lagi-lagi ia pulang sore hari dengan
tangan hampa. Kali ini ia mengatakan kepada si istri: sesungguhnya Sang Raja
telah menjanjikan upah kepadaku besok hari Jum’at.

Pada hari Jum’at pagi, sang pemuda pergi ke pasar dan melakukan hal
yang sama dengan dua hari sebelumnya. Ketika hari menjelang siang, sang
pemuda melakukan shalat dua raka’at, lalu mengangkat kedua tangannya sambil
berdo`a: wahai Tuhanku! Sungguh telah Engkau muliakan aku dengan Islam dan
Engkau berikan aku mahkota hidayah, maka demi kehormatan agamu-Mu dan
demi hari yang penuh berkah ini, aku mengangkat tanganku untuk bisa memberi
nafkah keluargaku. Sesungguhnya aku sangat malu dengan mereka dan sangat

khawatir jika kelakuan mereka berubah (murtad) karena janji Islam kepada
mereka yang selalu berubah pula.

Adzan telah dikumandangkan, sebagai pertanda bahwa khutbah Jum’ah
segera dimulai. Sang pemuda langsung bergegas menuju masjid jami’ dan
melupakan kelaparan yang telah menimpa anak istrinya. Tanpa sepengetahuan
sang pemuda, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang sangat tampan datang dan
mengetok pintu rumahnya. Si istri segera membukakan pintu, ternyata laki-laki
tampan itu sedang membawa nampan emas yang ditutupi dengan sapu tangan tipis
yang juga terbuat dari emas. Laki-laki tampan berkata: terimalah ini dan katakan
kepada suamimu, ini adalah upah kerjamu selama dua hari, jika kamu menambah
kerjamu, niscaya kami akan menambahkan upah lagi.

Setelah menerima dan membuka isi nampan tersebut, si istri sungguh
kaget, karena di dalam nampan tersebut terdapat seribu Dinar emas. Lantas si istri
mengambil satu Dinar dan membawanya ke tukang emas. Padahal tukang emas
itu seorang pengikut agama Nashrani, namun ketika menimbang Dinar tersebut ia
menjadi heran, karena Dinar itu timbangannya lebih berat daripada satu-dua Dinar
emas biasa. Kemudian tukang emas itu memandangi bentuk ukirannya dan ia
menyimpulkan bahwa Dinar tersebut adalah pemberian dari alam akherat. Tukang
emas bertanya kepada si istri: dari manakah kamu mendapatkan benda ini? Lalu si
istri menceritakan dengan panjang-lebar. Kontan tukang emas Nashrani itu
terpikat dengan ajaran Islam, ia mengatakan: ajaklah saya masuk Islam! Dan
seketika itu juga tukang emas Nashrani mengucapkan dua kalimat syahadat.
Setelah itu tukang emas langsung menukar satu Dinar tersebut dengan seribu
Dirham seraya mengatakan: sekarang belanjalah kamu dan jika sudah selesai
beritahu aku. Selanjutnya si istri berbelanja makanan yang enak-enak dan
membeli semua kebutuhan rumah tangganya.

Sementara itu sang pemuda masih melakukan hal yang sama dengan hari-
hari kemarin. Setelah ia shalat Maghrib dan takut pulang dengan tangan hampa
lagi, ia menyempatkan diri untuk melakukan shalat dua raka’at, lalu membuka
sapu tangan dan mengisinya dengan debu. Ia berkata dalam hati: jika nanti istriku
bertanya tentang upah pekerjaan, maka aku akan mengatakan, inilah tepung yang
saya peroleh dari upah pekerjaanku.

Ketika sang pemuda sampai di rumah, ia melihat permadani telah
terbentang di atas lantai rumahnya. Juga, aroma makanan yang mengundang
selera. Ia lalu menyembunyikan sapu tanganya di balik pintu supaya tidak
diketahui oleh si istri. Setelah itu sang pemuda bertanya tentang apa saja yang
telah dilakukan oleh isterinya dan segala sesuatu yang ia lihat di dalam rumahnya.
Setelah si istri mengutarakan semuanya, sang pemuda langsung bersujud dan
bersyukur kepada Allah swt. Ternyata si istri telah menemukan sapu tangan
suaminya di balik pintu dan ia menanyakan apa isinya? Karena takut malu, sang
pemuda ingin menyahut dan membuangnya jauh-jauh. Akan tetapi ketika ia
membuka sapu tangan itu, ternyata atas kehendak Allah swt debu yang ia bungkus
sebelumnya telah berubah menjadi tepung. Sang pemuda langsung sujud syukur
kepada Allah swt untuk kedua kalinya atas anugerah dan kemuliaan yang ia
terima. Setelah itu sang pemuda hanya mengabdikan diri kepada Allah swt sampai
akhir hayatnya. Semoga Allah swt selalu merahmati.

Kisah ke- 38: Berdagang dengan Allah swt
Di dalam rumah sahabat Ali ra. Ada lima anggota keluarga, yaitu:
Fathimah, al-Hasan, al-Husain dan al-Harits. Pada suatu ketika mereka berlima
pernah tidak makan sama sekali selama tiga hari. Ketika itu fathimah mempunyai
satu buah sarung, lalu ia memberikannya kepada sahabat Ali ra suaminya, agar
sarung tadi dijual. Kemudian sahabat Ali ra menjualnya seharga enam Dirham dan
sebagian dari hasil penjualan itu akan beliau sedekahkan kepada orang-orang
fakir. Dalam pada itu, tiba-tiba malaikat Jibril as datang dalam wujud manusia
bersama seekor unta penghuni surga. Jibril menyapa: wahai bapaknya Hasan!
Belilah untaku ini! Ali menjawab: saya tidak mempunyai uang yang cukup untuk
membelinya. Jibril berkata: kamu boleh mengkreditnya. Ali bertanya: berapa
untamu kamu jual? Jibril menjawab: dengan harga seratus Dirham. Kemudian
sahabat Ali membeli unta tersebut dengan uang sebesar enam Dirham sebagai
cicilan pertama. Setelah memberikan uangnya, sahabat Ali ra segera mengambil
tali kendali besrta untanya dan melangkah pergi. Dalam perjalanan berikutnya,
sahabat Ali ra bertemu dengan malaikat Mikail yang berpenampilan seperti orang
kampung pedalaman. Mikail bertanya: apakah untamu ini akan kamu jual, wahai

bapaknya Hasan? Sahabat Ali ra menjawab: ya. Lalu Mikail bertanya: berapa saya
harus membayarnya? Sahabat Ali ra menjawab: dengan seratus Dirham. Mikail
menambahkan: saya akan beri kamu untung sebesar enampuluh Dirham.

Setelah sahabat Ali ra menerima uang seratus enampuluh Dirham, beliau
segera pergi dan pada kali ini beliau bertemu lagi dengan orang pertama yang
telah menjual unta kepadanya, yaitu malaikat Jibril. Jibril bertanya: kamu sudah
menjual untanya, wahai bapaknya al-Hasan? Sahabat Ali ra menjawab: sudah.
Jibril menagih: nah! Sekarang berikanlah hakku. Lantas sahabat Ali ra
memberikan uang sebesar seratus Dirham kepada Jibril dan sisanya enampuluh
Dirham, beliau bawa pulang dan diberikan kepada Fathimah.

Menerima uang sebanyak itu, Fathimah bertanya: dari manakah kamu
mendapatkan ini semua? Sahabat Ali menjawab: aku telah menanamkan saham
kepada Allah swt sebanyak enam Dirham, lalu Allah swt memberi untung
kepadaku setiap satu Dirham dengan kelipatan sepuluh. Selanjutnya sahabat Ali ra
bergegas menemui rasulullah saw, lalu menceritakan tentang semua hal yang baru
saja dialaminya. Rasulullah saw bersabda: wahai Ali! Ketahuilah, bahwa
sebenarnya si penjual itu sebenarnya adalah malaikat Jibril dan sang pembeli itu
sebenarnya adalah malaikat Mikalil. Sedangkan unta yang dijual tersebut,
sebenarnya adalah unta kendaraan Fathimah nanti pada hari kiamat. Rasulullah
saw menambahkan: wahai Ali! Aku telah memberikan tiga hal kepadamu, dimana
ketiganya belum pernah aku berikan kepada siapapun, yaitu: Pertama, kamu
memiliki istri seorang tokoh wanita nomor satu di surga. Kedua, kamu memiliki
dua orang anak laki-laki, di mana keduanya juga akan menjadi tokoh pemuda di
dalam surga. Ketiga, kamu memiliki seorang mertua yang merupakan tokoh para
nabi dan rasul. Maka dari itu, bersyukurlah kepada Allah swt atas semua yang Dia
anugerahkan padamu dan memujilah kepada-Nya atas semua keutamaanmu.
Wallâhu A’lam.

Kisah ke-39: Buah Sedekah yang diterima oleh Orang-orang mati
Telah diriwayatkan dari Abi Qalabah bahwasannya ia telah bermimpi
melihat sebuah tempat pemakaman yang terbelah. Kemudian mayit-mayit yang
ada di dalamnya pada keluar dan duduk di tepi pemakamannya masing-masing.

Lalu setiap orangnya pada membawa sebuah nampan yang terbuat dari cahaya.
Anehnya, di antara mereka ada seorang laki-laki yang tidak bisa melihat
tetangganya, padahal di sekitarnya ada cahaya terang-benerang.

Kemudian Abi Qalabah bertanya kepada laki-laki itu: mengapa aku tidak
melihat adanya cahaya pada dirimu? Ia menjawab: karena sesungghnya mereka –
para mayit lain- itu pada mempunyai anak-anak dan teman-teman yang selalu
mengirimkan do`a dan memberi sedekah, itulah sebenarnya hakekat cahaya yang
mereka terima. Sedangkan saya hanya mempunyai seorang anak laki-laki satu-
satunya yang tidak shalih dan tidak mau memberi sedekah kepadaku. Oleh karena
itulah saya tidak punya cahaya dan saya merasa malu sekali dengan tetangga-
tetanggaku.

Begitu Abu Qalabah bangun dari tidurnya, ia segera mengundang putra
mayit laki-laki di atas kemudian ia ceritakan semua hal yang ia lihat di alam
mimpi. Setelah mendengar uraian Abu Qalabah dengan panjang-lebar, kemudian
putra mayit laki-laki di atas berkata: mulai saat ini saya bertaubat dan tidak akan
kembali ke jalan yang selama ini saya tempuh. Lantas si putra mulai kembali taat
beribadah dan selalu berdo`a serta bersedekah kepada bapaknya yang sudah
meninggal.

Tak lama lagi Abu Qalabah bermimpi, ia melihat tempat pemakaman
seorang laki-laki di atas yang sebelumnya gelap-gulita, namun sekarang menjadi
sangat terang-benerang. Bahkan, cahaya yang terpancar di situ laksana mentari
dan lebih besar daripada cahaya tetangga-tetangga sekitarnya. Mayat laki-laki itu
berkata: wahai Abu Qalabah! Atas jasamu kepadaku, semoga Allah swt membalas
yang lebih baik. Berkat nasehatmulah anakku selamat dari ancaman siksa api
neraka dan berkat jasamu itu saya tidak lagi merasa malu dengan tetanga-tetangga
di sekitarku. Alhamdu Lillâh.

Kisah ke- 40: Qana’ah dan menerima sesuatu yang sedikit
Telah diriwayatkan dari Uwais al-Yamaniy, ia berkata: ada seorang laki-
laki yang sedang sakit dan ia mempunyai empat orang anak. Tiba-tiba salah
seorang di antara keempat anak itu berkata kepada saudara-saudaranya: siapa di
antara kalian yang mau merawat bapak, namun tidak akan mendapatkan harta

warisan sedikitpun? Ataukah saya yang merawatnya dan saya tidak akan
mendapatkan harta warisan sedikitpun?. Ternyata, ketiga saudara itu tidak ada
yang mau merawat sang bapak. Maka anak yang memberikan tawaran itu
sendirilah yang merawatnya hingga sang bapak meninggal dunia dan ia tidak
mendapat bagian harta warisan sedikitpun.

Pada malam pertama, saat anak yang tidak mendapat warisan ini tidur,
tiba-tiba ia bermimpi. Di dalam mimpinya sang bapak berkata: datanglah kamu ke
suatu tempat, lalu ambillah uang seratus Dinar yang tiada berkah. Setelah bangun
pagi, anak ini bercerita kepada sang ibu, lalu sang ibu menyuruh untuk
mengambilnya, namun si anak ini tidak mau. Pada malam kedua, sang bapak
datang lagi dan berkata kepada si anak: datanglah kamu ke tempat begini-begini,
lalu ambillah uang sepuluh Dinar yang tiada berkah. Pada pagi harinya, si anak
bermusyawarah dengan sang ibu, lalu sang ibu menganjurkan agar si anak mau
mengambilnya, namun si anak tetap tidak mau. Pada malam ketiga, sang bapak
datang lagi menemui si anak sambil berkata: datanglah kamu ke tempat begini-
begini, lalu ambillah uang satu Dinar yang ada berkahnya.

Keesokan harinya, si anak langsung mengambil uang satu Dinar di tempat
sebagaimana yang telah ditentukan oleh sang bapak. Dan setelah ia kembali dari
tempat pengambilan uang itu, mendadak ia melihat seorang laki-laki yang sedang
menjual dua ekor ikan. Si anak bertanya: berapakah ikanmu ini kamu jual? Ia
menjawab: satu Dinar. Lantas si anak ini membelinya, namun betapa kagetnya,
ketika ia sampai di rumah dan hendak membelah ikan, ternyata di dalam perut
ikan tersebut terdapat dua intan permata. Selanjutnya si anak pergi membawa
salah satu intan itu kepada seorang juragan dan juragan itu membelinya dengan
harga yang sangat mahal. Kemudian sang juragan tersebut berkata kepada si anak:
intan ini tidak pas jika tidak disandingkan dengan pasangannya, maka dari itu
ambillah intan yang satu, nanti akan saya bayar dengan harga yang tidak kalah
mahalnya.

Selanjutnya si anak langsung pulang dan mengambil intan yang satu lagi
untuk dijual kepada sang juragan. Kemudian sang juragan pun menepati janji dan
membeli sepasang intan dengan harga yang sangat mahal. Dengan keikhlasan si
anak untuk menerima sesuatu yang sedikit ini, ia bisa mendapatkan sesuatu yang

jauh lebih melimpah, karena ia mendapatkan keberkahan dari sang bapak yang
telah meninggal dunia, semoga Allah swt selalu merahmati.

Kisah ke- 41: Berbuat baik kepada kedua orang tua dan buruknya
sifat “ujub”
Pada suatu hari nabi Dawud as sedang membaca kitab Zabur. Di saat
membaca, hati beliau menjadi gemetar, lalu berkata: tidak ada manusia di dunia
ini yang ibadahnya seperti saya. Kemudian Allah swt menurunkan wahyu, seraya
berfirman: naiklah kamu ke gunung ini, niscaya kamu akan melihat seorang petani
yang telah beribadah kepadaku selama tujuh ratus tahun dan memimta ampunan
atas dosa yang telah ia perbuat. Padahal, petani tersebut tidak pernah melakukan
dosa kepada-Ku. Sebab apa petani itu meminta ampunan, karena pada suatu hari
ia sedang lewat di atas loteng, sedangkan ketika itu ibunya berada di bawah loteng
dan terkena debu akibat langkah kakinya.
Atas dasar itulah petani tersebut selalu melakukan ibadah kepada-Ku
melebihi ibadahmu. Wahai Dawud! Pergilah kamu sekarang ke tempat petani itu
dan berilah ia kabar gembira bahwa Aku telah memberikan ampunan kepadanya.
Seketika itu juga nabi Dawud as pergi ke atas gunung yang dimaksud. Di sana
beliau melihat seorang laki-laki yang sangat kurus. Saking kurusnya sampai-
sampai tulang-belulangnya tampak menonjol dan hal itu tidak lain adalah karena
seumur hidupnya hanya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah swt.
Saat itu si petani sedang melakukan Takbirat al-Ihram, lalu nabi Dawud
menunggunya sampai ia selesai melakukan shalatnya. Seusai shalat, nabi Dawud
mengucapkan salam dan petani itupun menjawab salam beliau. Petani itu
bertanya: siapakah tuan? Nabi Dawud menjawab: jika saya tahu bahwa tuan
adalah nabi Dawud as, maka saya tidak akan menjawab salam tuan. Mengapa
demikian, karena tuan telah melakukan suatu kesalahan dan belum beristighfar
kepada Allah swt. Juga, tuan telah naik ke atas gunung ini dengan seenaknya.
Demi Allah, saya pernah lewat di atas loteng, sedangkan ketika itu ibu saya
sedang berada di bawah loteng sehingga beliau terkena debu akibat ulah langkah
kakiku. Kemudian aku mengasingkan diri untuk beribadah –kepada Allah swt-
selama tujuhratus tahun. Padahal saya sendiri tidak tahu pasti, apakah ibu saya

marah gara-gara ulahku itu, ataukah tidak. Karena itu pula saya selalu beristighfar
kepada Allah swt, sebab saya mengira bahwa ibu saya marah kepadaku. Nah!
Agar ibu saya dan Allah swt meridlai perbuatanku, maka saya beribadah di sini
selama tujuhratus tahun dan tidak mempedulikan lezatnya makanan maupun
minuman, hanya karena saya takut dengan siksa dari Allah swt. Maka dari itu,
pergilah sekarang wahai nabi Dawud, karena tuan telah menghambat ibadah saya.

Kemudian nabi Dawud as berkata: sesungguhnya Allah swt telah
mengutus aku menemuimu untuk memberitahukan bahwa Allah swt telah
mengampuni dosamu dan meridlai perbuatanmu. Juga ibumu ketika meninggal
dunia telah merelakan apa yang pernah kamu perbuat, karena sesungguhnya
ketika itu ibumu tidak sedang berada di bawah loteng yang kamu lewati dan
terkena debu karenamu. Mendengar berita ini, si petani langsung mengatakan:
Demi Allah, saya sudah tidak suka lagi dengan kehidupan ini. Lantas si petani
bersujud dan berdo`a: wahai Tuhanku! Genggamlah –nyawaku- di dalam
kekuasaanmu. Maka seketika itu si petani meningal dunia, semoga Allah swt
selalu memberikan rahmat kepadanya.

Kisah ke- 42: Mencegah durhaka kepada kedua orang tua
Telah diriwayatkan dari Atha` bin Yasar, bahwasannya ada suatu kaum
yang sedang melakukan perjalanan jauh dan singgah di suatu daratan. Pada suatu
malam tiba-tiba mereka mendengar bunyi ringkikan keledai yang bertubi-tubi.
Sehingag bunyi ringkikan itu membuat mereka tidak bisa memejamkan mata.
Kemudian mereka semua bergegas mencari, dari manakah sumber suara itu.
Mendadak mereka melihat ada sebuah rumah tua dan di dalam rumah tua itu ada
seorang nenek jompo. Mereka bertanya kepada nenek: kami mendengar ada suara
keledai meringkik-ringkik di sekitar sini, sehinga kami semua tidak bisa
memejamkan mata. Akan tetapi kami kok tidak melihat adanya keledai di rumah
nenek? Si nenek menjawab: itu adalah suara putraku, dulu ia pernah berkata
seperti ini kepadaku: wahai keledai! Pergilah kamu. Kurang-lebih seperti itulah,
sehingga terpaksa aku mendo`akannya menjadi keledai. Akhirnya, ia meringkik
terus tiap malam hingga pagi hari. Sekelompok kaum itu berkata kepada si nenek:
antarlah kami untuk melihatnya. Setelah mereka berangkat, ternyata tempat yang

dituju si nenek itu adalah kuburan. Konon leher anaknya si nenek itu benar-benar
menyerupai leher keledai. Lâ Haula Walâ Quwwata Illâ Billâh al-‘Aliy al-‘Azhîm.

Kisah ke- 43: Qana’ah (menerima apa adanya)
Alkisah ada seorang hamba yang ahli ibadah dari golongan Bani Israil.
Untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari, hamba tersebut selalu kekurangan,
sehingga pada suatu hari ia pergi ke sebuah arena dalam rangka untuk
menyembah kepada Allah swt dan meminta sesuatu. Pada suatu hari ada suara
yang memanggil: wahai sang hamba! Bentangkanlah tanganmu dan ambillah.
Lantas sang hamba membentangkan kedua tangannya dan ternyata di atas tangan
tersebut terdapat dua permata laksana intan yang bersinar. Kemudian intan
tersebut dibawa pulang dan ditunjukkan kepada istrinya, lalu berkata: rasanya
saya sudah aman dari bahaya kemiskinan.
Pada suatu malam sang hamba bermimpi seperti sedang berada di alam
surga. Di dalam surga itu ia melihat dua istana, lalu dikatakan padanya: ini adalah
istanamu. Kemudian ia melihat dua singgasana yang terbuat dari emas merah dan
perak dengan atap mutiara. Dikatakan padanya: dua singgasana ini adalah
untukmu dan untuk istrimu. Ketika ia melihat atap dari kedua singgasana tersebut,
ternyata ada dua tempat kosong seukuran dua intan, lalu ia bertanya: mengapa
tempat ini kosong? Dikatakan padanya: tempat itu sebenarnya tidaklah kosong,
akan tetapi kamu terburu-buru memintanya semasa di dunia.
Tatkala sang hamba bangun –dari mimpinya- ia langsung menagis dan
memberitahukan hal tersebut kepada si istri. Si istri berkata: berdo`alah kepada
Allah swt agar kedua intanmu itu dikembalikan ke tempat semula. Lantas sang
hamba pergi ke arena (tempat ia mendapatkan dua intan) dan membawa kedua
intan seraya berdo`a dengan merendahkan diri kepada Allah swt, agar kedua intan
dikembalikan ke tempat asalnya. Sang hamba terus memohon, hinga pada
akhirnya ada yang mengatakan: sesungguhnya Aku akan mengembalikan ke
tempat asalnya. Segala puji bagi Allah, yang telah mengabulkan segala do`a.

Kisah ke- 44: Kekeruhan Dunia Bagi Setiap Manusia

Yazid bin al-Walid telah memberi komando kepada anak buahnya
bahwasannya, dalam perjalanan sehari penuh ia tak mungkin lewat di depan
manusia tanpa alasan alergi maupun susah. Ia katakana, bahwa aku ingin pada
hari ini tak melihat apa yang ku katakan tadi. Kemudian anak buahnya segera
menyiapkan tempat untuk bersantai yang dihias dengan bunga-bunga harum nan
wangi, sebagaimana layaknya pelayanan kepada para raja pada umumnya.

Yazid mempunyai seorang budak perempuan bernama Hananah yang
sangat ia cintai, sebab kecantikan dan keindahan suaranya. Dalam rombongan itu,
Hananah berada di belakang Yazid dengan menempati tempat yang teduh dan
tertutup. Sementara itu, teman-teman minumnya persis di hadapannya, sehingga
Yazid bersama mereka bisa melihat dan menggoda Hananah, dan sesekali waktu
mendengarkan suaranya. Begitulah seterusnya sampai tiba waktu Ashar.

Kemudian anak buah Yazid menghidangkan buah delima dan Yazid pun
mengambil satu buah, lalu meletakkan biji delima di atas tangannya. Ia meminta
agar Hananah mau memakan biji delima dan setelah dimakan ternyata biji delima
tersebut nyangkut di dalam tenggorokan Hananah. Seketika itu juga Hananah
meninggal dunia dan Yazid pun terundung duka-cita yang amat mendalam. Tidak
lama kemudian, setelah menanggung duka selama empat hari, Yazid segera
menyusul Hananah ke alam baka dengan kebiasaan maksiyatnya. Wallâhu A’lam.

Kisah ke- 45: Salah satu Mu’jizat Rasulullah saw
Sahabat Anas bin Malik ra telah menceritakan: Pada suatu hari rasulullah
saw datang ke rumah Fathimah ra. Kemudian Fathimah mengadu kepada
rasulullah saw: wahai ayah! Sesungguhnya sudah tiga hari ini kami belum makan
apa-apa. Rasulullah saw menjawab: wahai Fathimah! Jika kalian baru tiga hari,
maka sesungguhnya aku sudah empat hari belum makan apa-apa. Lantas
rasulullah saw melepas dan menunjukkan sebongkah batu pipih yang diikat
dipermukaan perut beliau untuk mengganjal rasa lapar.
Selanjutnya rasulullah saw keluar dari rumah Fathimah seraya
mengatakan: Aduuh.. kasihan sekali Hasan dan Husain cucuku, mereka pasti
kelaparan. Rasulullah saw terus berjalan menelusuri jalanan Madinah, hingga
akhirnya beliau keluar dari kampung Sakaki yang masih termasuk wilayah kota

Madinah. Mendadak rasulullah saw melihat seorang A’rabi (Badwi) yang sedang
menimba air di sumur. Lalu rasulullah saw mendekat, sementara orang Badwi itu
tidak mengetahui bahwa orang yang sedang mendekatinya adalah seorang nabi.
Nabi bertanya: wahai A’rabi! Apakah kamu tidak butuh pembantu? A’rabi
menjawab: saya butuh seorang pembantu untuk menimba air sumur ini.

Kemudian A’rabi itu menyerahkan timbanya kepada nabi dan memberikan
imbalan berupa kurma tiga biji, lalu pergi sebentar. Sebelum mulai menimba, nabi
memakan tiga biji kurma tersebut, lalu menimba sebanyak delapan timba. Pada
saat nabi hendak menimba pada hitungan kesembilan, tiba-tiba talinya terputus
dan terjeburlah timba tersebut ke dalam sumur. Saat itu nabi hanya bisa diam
karena kebingungan. Tak lama kemudian si A’rabi datang marah-marah dan
menempeleng muka nabi saw sambil menyerahkan duapuluh biji kurma. Nabi
tetap menerima imbalan dari A’rabi, lantas beliau mengambil timba yang terjebur
ke sumur yang amat dalam itu hanya dengan tangannya yang mulia, untuk
selanjutnya melemparkan ke dekat si A’rabi dan pergi meninggalkannya.

Melihat keajaiban itu si A’rabi jadi berfikir sejenak dan meyakinkan diri
bahwa orang tersebut pasti adalah nabi. Setelah punya keyakinan seperti itu si
A’rabi segera mengambil sebilah pedang dan memotong tangan kanannya yang
telah berani menempeleng nabi saw lalu ia pingsan. Tidak lama kemudian
datanglah serombongan pengendara unta yang hendak memberi minum untanya.
Ketika mereka melihat orang A’rabi yang sedang pingsan, mereka segera
memberi pertolongan dan menyiramnya dengan air. Pada saat si A’rabi siuman,
rombongan itu bertanya: apa yang terjadi denganmu? Si A’rabi menjawab: aku
telah menempeleng muka seseorang dan menurut dugaanku dia itu adalah
Muhammad saw. Oleh karena aku takut mendapatkan siksa, maka aku memotong
tanganku sendiri yang telah berani menempeleng beliau.

Selanjutnya si A’rabi mengambil potongan tangan kanannya dengan
tangan kiri dan lalu pergi ke masjid. Di dalam masjid si A’rabi berteriak: wahai
kalian para sahabat Muhammad, di manakah Muhammad? Kebetulan pada saat itu
sahabat Abu Bakar, Umar, dan Utsman sedang duduk-duduk di masjid itu.
Kemudian para sahabat ini bertanya: mengapa kamu mencari Muhammad? Si
A’rabi menjawab: katakan saja padanya bahwa aku ada perlu dengannya. Tiba-

tiba sahabat Salman datang dan langsung mengajak si A’rabi yang menenteng
potongan tangannya sendiri ke rumah Fathimah ra. Pada saat itu, setelah
rasulullah saw mendapatkan beberapa biji kurma, beliau sedang memangku Hasan
di paha kanan dan Husain di paha kiri sambil menyuapi mereka dengan kurma
tersebut. Sementara itu si A’rabi telah sampai di depan rumah Fathimah ra, ia
memanggil: wahai Muhammad! Rasulullah saw segera menyeru kepada
Fathimah: lihatlah! Siapa gerangan yang ada di luar? Fathimah langsung
membuka pintu dan ternyata di depan pintu telah berdiri si A’rabi dengan
membawa potongan tangan kanannya sendiri yang terus mengalirkan darah.
Melihat hal itu, Fathimah langsung melapor kepada rasulullah dan beliau pun
segera bergegas menemui si A’rabi. Nabi saw bertanya: mengapa kamu
memotong tanganmu sendiri? Si A’rabi menjawab: aku tidak merasa nyaman
dengan memakai tangan kanan yang telah berani menempeleng wajahmu. Maka
nabi saw bersabda: masuk Islamlah kamu, niscaya akan selamat. Si A’rabi
berseru: wahai Muhammad! Jika engkau adalah seorang nabi, maka
kembalikanlah tanganku ini seperti sedia kala. Kemudian nabi saw memegang
tangan si A’rabi dan menyambungnya kembali, lalu beliau mengusap-usap tangan
si A’rabi dan meludahinya sambil mengucapkan Tasmiyah (Bismillâh al-Rahmân
al-Rahîm). Atas seizin Allah, maka bersambunglah tangan kanan si A’rabi dan ia
lalu masuk agama Islam. Al-Hamdu Lillâh.

Kisah ke- 46: Memakan hak orang lain dan akibatnya
Telah diceritakan tentang Abi Yazid al-Bustamiy bahwasannya ia telah
mengabdi dan beribadah kepada Allah swt sepanjang tahun, namun beliau belum
bisa merasakan nikmatnuya ibadah tersebut. Demikian ini beliau laporkan kepada
ibundanya tercinta. Beliau katakan: wahai ibunda! Sesungguhnya aku selama ini
belum bisa merasakan manisnya taat beribadah, maka dari itu amitilah ibu!
Apakah di antara yang aku makan ini ada sesuatu yang haram, baik semenjak aku
berada di dalam rahim ibu sampai dengan ibu menyusuiku? Lantas sang ibu
berfikir panjang, lalu berkata: wahai putraku! Ketika kamu dalam kandunganku,
aku pernah naik ke sebuah hamparan tanah lapang. Di sana aku melihat ijanah
(sejenis buah) yang membuat aku tergiur, sehingga aku memakannya, kurang

lebih hanya seukuran semut tanpa seizin orang yang memilikinya. Abu Yazid
berkata: hanya itukah bu! Sekarang pergilah ke tempat orang yang mempunyai
iajanah itu dan ceritakanlah hal ini.

Selanjutnya sang ibu pergi ke tempat orang yang mempunyai ijanah dan
mengutarakan permasalahannya. Si pemilik ijanah berkata: engkau sudah aku
halalkan. Sesampainya di rumah sang ibu memberitahukan kepada putranya dan
setelah itu Abu Yazid bisa merasakan manisnya taat beribadah.

Kisah ke- 47: Hati-hati dan menjaga diri dari unsur menipu dalam
perdagangan

Pada suatu ketika Abu Hanifah ra berkongsi dalam perdagangan bersama
orang Bashrah. Abu Hanifah mengirimkan tujuhpuluh buah baju sutera kepada
orang Bashrah tersebut dengan menyertakan tulisan, bahwa di antara ketujuh
puluh baju sutera itu ada salah satunya yang cacat dan itu adalah baju milik si
Fulan. Apabila kamu sudah menjual seluruhnya, maka akan tampaklah baju yang
cacat itu.

Kemudian orang Bashrah itu menjual baju sutera dari Abu Hanifah secara
keseluruhan dengan mendapatkan uang tiga puluh ribu Dirham, lalu orang
Bashrah tersebut menemui Abu Hanifah. Abu Hanifah bertanya: apakah kamu
melihat baju cacat yang kumaksud? Orang Bashrah itu menjawab: maaf saya
benar-benar lupa. Dengan demikian, akhirnya Abu Hanifah mensedekahkan
semua uang hasil penjualan baju sutera tadi.

Kisah ke- 48: Keutamaan garis keturunan
Ada seorang Qadli (penghulu) yang meninggal dunia. Ia meninggalkan
istrinya dalam keadaan hamil dan melahirkan seorang putra. Pada saat si kecil
sudah mulai tumbuh dewasa, sang ibu menyuruhnya belajar pada seorang
pujangga yang sangat alim. Kemudian si kecil ini dituntun oleh sang guru untuk
membaca Bismillah. Kontan Allah swt membebaskan sang penghulu tadi dari
siksaan. Allah swt berfirman kepada Jibril: wahai Jibril! Sesungguhnya Aku tak
pantas menyiksa penghulu itu, padahal putranya selalu berdzikir kepada-Ku.

Maka dari itu wahai Jibril, pergilah dan tentramkanlah. Lantas malaikat Jibril
pergi dan menentramkan sang penghulu. Semoga Allah swt selalu Merahmati.

Catatan: (Sebuah riwayat mengatakan bahwa, di akhirat nanti, seorang
Qodli (penghulu) itu ibarat sedang meletakkan sebelah kakinya di atas neraka
dan sebelahnya lagi di atas surga. Pent)

Kisah ke- 49: Semangat menuntut ilmu dan dialog yang baik
Pada suatu hari Hatim al-Asham memasuki wilayah kota Baghdad,
dikatakan padanya: sesungguhnya di tempat ini ada seorang Yahudi yang
mengalahkan para ulama. Hatim menjawab: kalau begitu saya akan bicara
padanya.
Ketika si Yahudi bertatap muka dengan Hatim, ia menanyakan beberapa
hal, yaitu: Apa yang tidak dapat diketahui oleh Allah swt? Sesuatu apa yang tidak
dimiliki oleh Allah swt? Hal-hal apa saja yang tidak ada di dalam Khazinah-
khazinah (peti-peti tersembunyi-Nya Allah swt)? Apa sajakah yang dikehendaki
oleh Allah swt kepada setiap hamba-Nya? Sesuatu apa yang akan diikatkan oleh
Allah swt kepada hamba? Dan apa yang akan dilepaskan oleh Allah swt?. Lalu
Hatim bertanya kepada si Yahudi: jika saya menjawab pertanyaan-pertanyaanmu
itu, apakah kamu akan langsung masuk Islam? Si Yahudi menjawab: ya!
Selanjutnya Hatim menjelaskan: Hal yang tidak diketahui oleh Allah swt
adalah sekutu dan anak. Sesuatu yang tidak dimiliki oleh Allah swt adalah sifat
aniaya. Allah swt berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada
manusia sedikitpun” [Qs. Yunus (10) : 44). Adapun yang tidak ada di dalam
Khazinah-khazinah Allah adalah kefakiran. Sebagaimana Firman-Nya: “Dan
Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan”
[Qs. Muhammad (47) : 38]. Sesuatu yang dikehendaki oleh Allah terhadap
hamba-Nya adalah “pinjaman”, disebutkan di dalam Firman-Nya: “Siapakah yang
mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan
hartanya di jalan Allah)” [Qs. Al-baqarah (2) : 245]. Sedangkan sesuatu yang
akan diikatkan oleh Allah swt kepada hamba-Nya adalah sabuk (penjerat. Pent)
bagi orang-orang kafir. Dan sesuatu yang akan dilepaskan oleh Allah swt adalah
juga sabuk (penjerat) bagi hamba-hamba yang dikasihi-Nya.

Setelah mendengar jawaban ini semua, atas kehendak Allah swt si Yahudi
ikut masuk Islam dengan Hatim al-Asham.

Kisah ke- 50: Berfikir tentang keadaan alam akhirat
Telah diceritakan dari Abi Yazid al-Bustami, bahwasannya pada suatu hari
ia keluar rumah dengan bekas tangis yang masih tampak di matanya. Ada yang
bertanya kepadanya: tuan kenapa? Ia menjawab: aku mendengar berita bahwa, ada
seorang hamba yang datang ke tempat penghitungan amal di hari kiamat nanti
beserta seorang seterunya. Si hamba mengadu: Aduhai..Tuhanku, dulu ketika di
dunia hamba adalah seorang pejagal. Lalu datanglah seorang laki-laki kepadaku
sambil meraih daging dariku. Laki-laki itu meletakkan jari-jemarinya di atas
daging jagalanku dan mencuwilnya sedikit, tanpa memberikan ganti rugi
kepadaku. Padahal, aku sungguh membutuhkan potongan daging itu untuk
menggenapi jumlah timbangan. Kemudian Allah swt memerintahkan untuk
memberikan imbalan atas semua kebaikan laki-laki itu sesuai dengan proporsinya.
Adapun timbangan laki-laki itu telah sedikit berkurang sebesar Dzarrah, tapi
masih dominan amal baiknya, lalu ia diperintahkan untuk masuk surga. Dan
setelah dikurangi lagi dengan perseteruannya, maka laki-laki itu segera
diperintahkan untuk masuk neraka.
Sejak saat itulah aku (Malik bin Dinar) tidak tahu lagi apa yang harus
kuperbuat.

Kisah ke- 51: Berhati-hati dengan perkara Syubhat apalagi Haram
Dari Ibrahim bin Adham ra, bahwasannya ia pada suatu masa pernah
tinggal di Makkah. Ketika itu ia habis membeli satu buah kurma kepada seorang
laki-laki. Tiba-tiba dua buah kurma jatuh ke atas tanah dekat kaki Ibrahim bin
Adham. Ibrahim mengira bahwa kedua kurma yang jatuh itu termasuk bonus
pembeliannya. Ia langsung mengambil dan memakan keduanya dan setelah itu ia
bergegas menuju Bait al-Maqdis. Sesampainya di sana ia masuk ke dalam
cungkup yang terbuat dari bongkahan batu besar tempat menyepi. Di dalam
cungkup itu tertera tulisan yang berbunyi: Tempat ini hendaklah dikosongkan
sejak selesai shalat Ashar hingga malam hari, karena akan dipakai oleh malaikat.

Waktu itu Ibrahim bin Adham sengaja bersembunyi dan menunggu
kepergian semua orang, agar ia bisa menginap di tempat itu. Ketika hari sudah
malam dan para malaikat pun pada datang, maka mereka berkata: di sini masih
ada manusia yang tertinggal. Lantas salah satu dari para malaikat itu mengatakan:
dia adalah Ibrahim bin Adham, seorang ahli ibadahnya tanah Khurasan. Dan yang
lain pun meyakinkan, memang benar. Ada malaikat yang lain mengatakan lagi: ini
dia orangnya yang setiap hari amal ibadahnya diterima di atas langit. Malaikat
yang satu menyahut, memang benar, namun sejak satu tahun terakhir ini amal
ibadahnya menggantung di angkasa dan sejak itu pula semua do`anya tidak
terkabulkan, disebabkan karena buah kurma.

Setelah para malaikat selesai memberikan komentarnya masing-masing,
mereka langsung menyibukkan diri untuk beribadah hingga terbit fajar. Keesokan
harinya, juru kunci cungkup itu datang membuka pintu dan tak lama kemudian
Ibrahim bin Adham pun keluar. Ia langsung menuju Makkah dan bergegas menuju
sebuah warung. Di sana ia melihat ada seorang pemuda yang sedang menjual
kurma. Ibrahim bin Adham bertanya: dulu yang menjual kurma di sini adalah
seorang kakek-kakek, sekarang di manakah dia? Pemuda itu menceritakan, bahwa
kakek-kakek itu sebenarnya adalah bapaknya dan sekarang telah meninggal dunia.

Mendengar berita kepergian kakek penjual kurma, Ibrahim bin Adaham
lantas bercerita pula tentang dua buah kurma yang ia anggap bonus. Setelah
menyimak kejujuran Ibrahim bin Adham, si pemuda itu berkata: untuk urusan
kamu denganku telah ku anggap halal, namun saya masih mempunyai seorang ibu
janda dan seorang saudara perempuan. Ibrahim bin Adham bertanya penasaran: di
manakah mereka? Si pemuda menjawab: mereka ada di rumah.

Tanpa basa-basi, Ibrahim bin Adham langsung mencari rumah tinggal si
pemuda itu bersama ibu dan saudara perempuannya. Setelah ketemu, ia mengetok
pintu dan tak lama kemudian ada seorang nenek tua renta yang berjalan dengan
bantuan tongkat. Ibrahim bin Adham menyalami dan nenek itu pun menjawab
salamnya serta mempersilahkan Ibrahim bin Adham duduk di ruang tamu. Nenek
itu bertanya: apakah keperluan tuan? Kemudian Ibrahim bin Adham bercerita
panjang lebar dan si nenek pun berkata, untuk urusan tuan denganku, telah

kuanggap halal. Selanjutnya Ibrahim bin Adham juga minta halal kepada anak
perempuannya si nenek.

Setelah melakukan semua itu, Ibrahim bin Adham kembali ke Bait al-
Maqdis dan masuk ke cungkup seperti yang pernah ia lakukan tempo hari.
Kemudian para malaikat masuk dan saling berkomentar: ini dia Ibrahim bin
Adham yang amal ibadahnya menggantung dan do`anya selalu tidak terkabulkan
selama setahun. Namun semenjak ia berbuat sesuatu untuk halalnya dua buah
kurma, maka mulai saat sekarang amal ibadahnya diterima di sisi-Nya, semua
do`anya terkabulkan dan Allah swt pun mengembalikan derajat kemuliaannya.

Ibrahim bin Adham langsung menangis dan selanjutnya ia hanya mau
makan setiap tujuh hari sekali dengan makanan yang halal.

Kisah ke- 52: Orang yang mengikuti hawa nafsu dan setan
Alkisah ada seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil. Ia bernama Kyai
Barshisho yang sangat terkenal dan ia melakukan ibadah di sebuah surau yang
tersembunyi sepanjang tahun. Pada suatu hari sang raja melahirkan seorang putri
jelita. Karena sang raja merasa takut, bilamana setelah dewasa nanti sang putri
akan dijamah oleh banyak orang, maka ia menitipkannya kepada Kyai Barshisho
tanpa diketahui oleh manusia lain.
Hari demi hari, Kyai Barshisho terus merawat sang putri di tengah
kesibukannya beribadah kepada Allah swt. Sampai pada akhirnya, pada saat sang
putri telah menjadi dewasa, datanglah Iblis –semoga Allah melaknatnya- dalam
wujud seorang Syaikh (orang tua alim) untuk menggoda dan melemahkan iman
Kyai Barshisho.
Singkat cerita, Iblis berhasil menggoda Kyai Barshisho bersama sang putri
dan keduanya telah melakukan perzinahan. Akibat dari perbuatan tersebut maka
hari demi hari pun kandungan sang putri semakin membesar. Dalam kondisi
seperti ini, tiba-tiba Iblis datang kepada Kyai Barshisho, lalu berkata: kamu adalah
orang yang dikenal ahli Zuhud (tidak tergiur dengan keduniaan). Oleh karena itu,
jika sang putri ini benar-benar jadi melahirkan karena ulahmu, maka seluruh
manusia akan menghina kamu. Sekarang bunuhlah sang putri dan jika bapaknya
menanyakan, jawab saja bahwa dia telah mati, saya yakin bapaknya akan percaya

kepadamu dan setelah itu kuburkanlah. Akhirnya, Kyai Barshisho mau menuruti
semua perkataan Iblis. Akan tetapi yang namanya Iblis tetaplah Iblis, setelah
mempedaya Kyai Barshisho, ternyata Iblis menjelma menjadi seorang laki-laki
dengan penampilan seperti orang alim, lalu menemui sang raja. Di hadapan sang
raja Iblis melaporkan kejadian yang dialami oleh sang putri bersama Kyai
Barshisho. Iblis meyakinkan kepada sang raja, apabila tuan raja tidak percaya,
silahkan tuan menggali kuburan putri tuan. Jika dia mengandung anak laki-laki,
berarti apa yang telah aku katakan adalah benar dan jika saya berbohong, silahkan
tuan membunuh saya.

Selanjutnya, sang raja pun melaksanakan pembuktian seperti yang telah
diberitahukan oleh iblis. Ternyata benar, setelah sang raja menggali kuburan sang
putri dan membedah kandungannya, ia melihat adanya janin laki-laki. Begitu
terbukti, sang raja langsung menyeret Kyai Barshisho dengan unta dan
menyalibnya menuju alun-alun keraton. Dalam kondisi seperti ini, iblis membisiki
telinga Kyai Barshisho: kamu telah melakukan zina karena perintahku dan kamu
melakukan pembunuhan pun juga karena perintahku. Oleh karena itu saya
tawarkan, jika kamu mau beriman kepadaku, niscaya aku akan menyelamatkanmu
dari siksaan sang raja. Betapa malangnya nasib Kyai Barshisho, setelah kesekian
kalinya ditipu dan bahkan mau beriman kepada iblis, tiba-tiba iblis tidak jadi
menyelamatkannya, malah justru menyingkir. Kyai Barshisho bertanya kepada
iblis: mengapa kamu tidak jadi menyelamatkanku? Iblis menjawab: aku takut
kepada Allah, Tuhan semesta alam. Kemudian iblis menghilang.

Kisah ke- 53: Orang-orang pilihan dan yang mendapatkan ridla dari
Allah swt.
Telah diriwayatkan dari Dzinnun al-Mishri –Rahimahullâh- bahwasannya,
pada suatu ketika ia masuk ke masjid al-Haram. Tanpa disengaja Dzinnun melihat
seorang laki-laki yang terisolasi di bawah tiang dalam keadaan telanjang sambil
berdzikir kepada Allah swt dengan penuh haru. Lantas Dzinnun mendekatinya dan
memberi salam, seraya bertanya: siapakah tuan? Laki-laki itu menjawab: saya
adalah orang asing. Dzinnun melanjutkan: siapakah nama tuan? Ia menjawab:
saya adalah seorang laki-laki yang sedang dicari oleh Dzat yang telah saya

tinggalkan. Dzinnun menambah: apa katamu? Tiba-tiba laki-laki itu menangis dan
Dzinnun pun ikut menangis karenanya.

Mereka berdua terus menangis, sampai pada akhirnya laki-laki telanjang
tersebut menghembuskan nafasnya yang terakhir. Kemudian Dzinnun
melemparkan sarungnya untuk menutupi tubuh laki-laki itu sementara, lalu ia
segera pergi mencari kain kafan. Setelah Dzinnun kembali, ternyata mayat laki-
laki tersebut sudah tidak berada di tempat, dalam hatinya Dzinnun menjerit: Yaa..
Allah, Dzat yang Maha Suci! Siapakah gerangan yang lebih dahulu mengambil
laki-laki itu dariku?. Setelah kepayahan mencari kain kafan, Dzinnun merasa
ngantuk dan ia segera tertidur. Di dalam tidurnya, Dzinnun bermimpi telah
didatangi suara tanpa wujud yang mengatakan: “Wahai Dzinnun! Laki-laki ini
adalah yang dicari-cari oleh setan sejak di alam dunia, namun setan tidak bisa
menemukan. Malaikat Malik, sang penjaga neraka pun mencarinya, namun tidak
menemukan pula. Juga, malaiakt Ridlwan sang penjaga surga, namun ia pun tidak
menemukan. Lalu Dzinnun bertanya kepada suara itu: kalau begitu, di manakah
laki-laki itu sekarang? Suara itu menjawab: ia sedang duduk di atas singgasana di
sisi Sang Raja, Dzat yang Maha Kuasa.

Berdasarkan peristiwa tersebut, manusia di dalam beribadah kepada Allah
swt diklasifikasikan menjadi tiga bagian, yaitu: Pertama, Rahbâniy adalah orang
yang menyembah kepada Allah swt dengan didasari rasa takut. Kedua,
Hayawâniy adalah orang yang mau menyembah kepada Allah swt karena
mengharapkan Rahmat dan Ampunan-Nya. Ketiga, Rabbâniy adalah orang yang
menyembah kepada Allah swt semata-mata, tanpa mengenal dunia, akhirat, surga
neraka dan bahkan tidak mempedulikan jiwa beserta ruhnya.

Dari ketiga kelas tersebut, kelas Pertama pada hari kiamat nanti akan
dikatakan padanya bahwa, engkau telah terbebas dari api neraka. Kelas Kedua
akan dikatakan padanya: masuklah kamu ke dalam surga. Sedangkan kelas Ketiga
akan dikatakan padanya: Inilah –Allah swt- kekasihmu, Inilah yang engkau cari
dan yang engkau inginkan. Demi keagungan-Ku dan Demi kemulyaan-Ku,
tidaklah Aku ciptakan semua surga ini kecuali untuk orang sepertimu.

Kisah ke- 54: Strategi Penyampaian Mauizhah (nasehat) secara tepat

Alkisah ada seorang raja kafir yang mempunyai seorang wazir (menteri)
yang shalih. Ceritanya, menteri itu meluangkan waktu untuk memberi Mauizhah
(wejangan) kepada sang raja. Pada suatu malam sang raja membangunkan
menteri: bangkitlah kamu, mari kita berkuda dan berkeliling untuk mengetahui
bagaimana kondisi rakyat. Mereka berdua pun segera melakukan rencana, dan
ketika mereka sedang melewati suatu jalan, tiba-tiba mereka melihat sebuah bukit
yang terdapat cahaya api sedang menyala. Tak ayal lagi mereka berdua segera
bergegas naik ke atas bukit dan menghampiri sumber cahaya. Ternyata di atas
bukit itu terdapat sebuah rumah, dari dalam rumah tersebut terdengar alunan suara
lagu-lagu dan petikan gitar. Di tengah-tengah mereka ada seorang laki-laki
memakai jubah sedang bersandar pada kain sutera yang halus dan di sekelilingnya
terdapat kendi yang terbuat dari bahan keramik. Sedangkan istrinya duduk
menghormat di samping laki-laki itu bak seorang permaisuri. Demikian pula, laki-
laki itu duduk seperti seorang raja yang menghormati permaisurinya.

Melihat pemandangan itu raja kafir berkomentar bersama menterinya:
barangkali mereka berdua melakukan hal ini pada setiap malam. Bertepatan
dengan pembicaraan itu, menteri mengambil kesempatan untuk menasehati
rajanya. Menteri berkata: wahai sang raja! Aku khawatir bilamana engkau hanyut
dengan permainan seperti mereka. Raja kafir menyanggah: bagaimana bisa
begitu? Menteri menjawab: sesungguhnya kerajaanmu di mata orang yang
mengetahui –bentuk- kerajaan adalah tidak berbeda dengan jubah laki-laki yang
engkau saksikan di depan matamu. Begitu pula sandaran suteramu dan
mahkotamu. Sesungguhnya jasadmu dan pakaianmu bagi orang yang bisa
membedakan antara benda bersih dan yang kotor adalah sama dengan dua orang
yang engkau saksikan itu. Sang raja kafir bertanya kepada menterinya: kira-kira
siapa yang beranggapan seperti itu wahai menteri? Menteri menjawab: mereka itu
adalah orang-orang yang beranggapan bahwa kehidupan kota hanya ada
kesenangan tanpa ada kesusahan, ada gemerlapan tanpa ada kegelapan dan
kenyamanan tanpa ada ketakutan. Kemudian sang raja kafir berkata kepada
menterinya: apa sebabnya kamu tidak memberitahukan hal ini kepadaku
sebelumnya? Menteri menjawab: sebab kharismamu, sehingga aku menjadi segan.
Raja kafir bertekad: jika hal ini benar seperti apa yang kamu definisikan, maka

aku harus menjadikan siang dan malam hariku di dalam kebenaran itu. Menteri
bertanya: apakah tuan raja berkenan memerintahkan saya untuk membantu
mencari kebenaran itu? Raja kafir menjawab: silahkan!

Setelah jarak beberapa hari, menteri mengatakan kepada sang raja kafir:
wahai tuan raja! Saya telah menemukan apa yang tuan kehendaki berupa bait-bait
syair di atas kuburan leluhur tuan raja. Raja kafir bertanya penasaran: bagaimana
bunyinya? Menteri menjelaskan, syair itu adalah sebagai berikut:

Sudah butakah matamu dari dunia padahal kamu bisa melihat?
Kamu tidak tahu apa isi dunia, padahal kamu pembawa berita.
Engkau dirikan mercusuar seakan engkau hidup abadi,
Padahal besok engkau tinggalkan mercusuar itu.
Engkau buat bangunan megah di atas dunia,
Sedang kuburmu amatlah sempit.
Buatlah apa yang kamu ingin buat,
Semegah apapun rumah mayit tetaplah kuburan.
Setelah mendengar bait-bait syair di atas, sang raja yang tadinya kafir itu
langsung bertaubat kepada Allah swt dan masuk Islam. Betapa indahnya
keislaman sang raja dan sebab Islam itulah beliau selamat.

Kisah ke- 55: Tawakkal kepada Allah swt dan sabar atas Qadla-Nya
Telah diriwayatkan dari Malik bin Dinar ra. Ia berkata: pada suatu hari aku
hendak melakukan ibadah haji. Ketika itu aku sedang berjalan menelusuri padang
pasir dan tiba-tiba aku melihat seekor burung gagak yang membawa sepotong roti
dalam cengkeramannya. Di dalam hati aku bertanya, kok ada seekor burung gagak
terbang sambil mencengkeram sepotong roti, apakah gerangan yang dilakukan
oleh burung itu?. Kontan aku membuntutinya, hingga sampailah burung gagak itu
di dalam sebuah gua. Ternyata di dalam gua itu ada seorang laki-laki terbelenggu
kaki dan tangannya. Sedangkan burung gagak tersebut menyuapkan roti sedikit
demi sedikit, lalu pergi lagi. Setelah burung gagak itu pergi, aku bertanya kepada
laki-laki yang terbelenggu tersebut: siapakah kamu? Ia menjawab: saya adalah
salah satu dari jamaah haji yang bernasib buruk, seluruh harta kami dirampas oleh
sekawanan perampok, lalu saya diikat dan dikucilkan di tempat ini. Kurang-lebih

selama lima hari, saya bersabar tidak makan dan tidak minum. Setelah saya benar-
benar merasa tidak tahan menahan lapar, saya berdo`a kepada Allah sebagai
berikut: Aduhai Dzat yang Berfirman bahwa, orang yang terpaksa akan
dikabulkan, jika ia mau berdo`a kepada-Nya. Sekarang ini saya benar-benar
terpaksa, maka kasihanilah kami! Atas do`aku ini, Allah swt mengutus seekor
burung gagak yang setiap waktu memberi saya makan dan minum.

Kemudian aku (Malik bin Dinar) melepaskan belenggu ikatan laki-laki itu,
lalu kami berdua begegas pergi meninggalkan gua. Di dalam perjalanan, kami
merasakan dahaga yang teramat sangat dan ketika kami menelusuri hutan
belantara, kami melihat sebuah kolam air yang terdapat banyak kijang di
sekelilingnya. Kami mengucapkan al-Hammdu Lillah, sungguh kami telah
mendapatkan kolam. Lantas kami segera turun ke kolam dan semua kijang-kijang
itupun saling berlari. Ketika kami sampai di bibir kolam, tiba-tiba air kolam
menjadi dalam, lalu kami mengambilnya dengan memakai timba untuk sekedar
melepas dahaga dan mendinginkan muka. Setelah itu aku mengadu: Wahai
Tuhanku! Sesungguhnya kijang-kijang itu tidak pernah melakukan Ruku’ dan
Sujud kepada-Mu, namun Engkau memberi air kepada mereka dengan begitu
mudah. Sedangkan aku setiap waktu melakukan Ruku’ dan Sujud kepada-Mu,
untuk mengambil air saja aku harus menggayuhnya sepanjang seratus Dzira’.
Mendadak ada suara yang mengatakan: wahai Malik! Sesungguhnya kijang-kijang
itu hanya berpasrah kepada-Ku, maka Aku memberinya air dengan mudah.
Sebaliknya, kamu telah berpasrah kepada seutas tambang dan timbamu.

Kisah ke- 56: Perilaku orang-orang yang sampai di jalan Allah swt
Telah diceritakan dari Dzinnun al-Mishriy, bahwasannya ia mempunyai
seorang kemenakan putri yang sangat rajin bekerja dan beribadah kepada Allah
swt. Alkisah kemenakannya itu telah hilang barang sebulan. Dzinnun sendiri
sudah susah payah berusaha mencari ke manakah kemenakannya itu pergi
meninggalkan rumah. Terbesitlah keinginan Dzinnun untuk meminta petunjuk
kepada Allah dengan melakukan shalat dan berpuasa sepanjang siang dan malam.
Akhirnya pada saat Dzinnun tidur, di dalam mimpinya ia mendengar suara tanpa
wujud yang mengatakan: jika kamu ingin mencari kemenakanmu itu, maka

datanglah kamu ke suatu arena. Serentak Dzinnun terbangun sambil berkata:
Maha Suci Allah, bagaimana ia bisa sampai ke tempat itu?.

Kemudian Dzinnun mempersiapkan bekal berupa makanan dan air minum
untuk menempuh perjalanan dalam upaya mencari kemenakannya. Apesnya,
sudah genap sepuluh hari namun sang kemenakan belum juga ketemu, hingga
Dzinnun hampir putus asa dan memutuskan untuk pulang esok hari, karena ia
benar-benar sudah kelelahan. Akan tetapi, baru saja Dzinnun terlelap mendadak
ada seseorang yang menyandung kakinya, serentak Dzinnun pun terbangun.
Ternyata, sang kemenakan sudah bertengger di depannya. Sambil tersenyum
manis sang kemenakan berkata: wahai tamu yang bisa membahagiakan! Apa saja
yang engkau panggul di atas punggungmu itu? Dzinnun menimpali: kami ini
sudah kehilangan kamu selama sebulan. Sang kemenakan berkata: wahai
pamanku! Demi Allah, aku tengah berada di dalam Mihrab (tempat
peribadatanku), kemudian benar-benar tumbuh dalam kesadaranku bahwa,
Tuhannya langit, daratan, lautan, tempat sepi dan juga tempat yang ramai itu
semata hanyalah satu. Kemudian aku sungguh bertekad untuk menyembah-Nya di
tempat Mihrab yang sepi selama sebulan dan di tempat yang ramai selama
sebulan, agar aku bisa melihat “bukti” Kemuliaan dan kekuasaan-Nya. Oleh
karena itulah, aku pergi ke arena ini sejak empatpuluh hari yang lalu dan ternyata
benar, aku bisa merasakan sepenuhnya bahwa Dialah Dzat yang Maha mencukupi
semua kebutuhanku, yang tidak bisa dilakukan oleh makhluk manapun. Setelah
memberikan penjelasan itu, sang kemenakan meneteskan air mata lalu terdiam.

Sementara itu, Dzinnun sendiri merasakan kelaparan yang teramat sangat.
Belum lagi Dzinnun bertanya mengenai makanan, sang kemenakan memandangi
Dzinnun seraya bertanya: wahai pamanku! Sepertinya paman merasa lapar?
Dzinnun menjawab: benar. Selanjutnya sang kemenakan menengadah ke atas
langit sambil berdo`a: Wahai Tuhanku, sungguh pamanku merasa benar-benar
lapar, sayogyanya Engkau memperhatikan dia seperti Engkau telah
memperhatikan aku di sisi-Mu!. Dzinnun menceritakan, Demi Allah, belum lagi
sang kemenakan itu menyelesaikan do`anya, tiba-tiba Dzinnun dihujani makanan
berwarna putih seperti salju, dan ia lalu memakannya. Setelah itu Dzinnun
berkata: wahai keponakanku! Ini baru Manna (nama makanan sebagaimana yang

diturunkan kepada kaum Bani Israil pada zaman Nabi Musa. Pent) lalu manakah
Salwa –juga jenis makanan yang sama-? Sang kemenakan menjawab: Manna
turun setelah Salwa. Seketika itu juga, buah Salwa jatuh bertebaran di
sekelilingku. Dzinnun berkata: Demi Allah, sungguh aku merasa menjadi orang
yang mendapatkan Ridla Allah swt karenanya.

Kisah ke- 57: Keutamaan cinta kepada Ilmu dan orang-orang yang
memilikinya.

Ka’b al-Ahbâr ra berkata: sesungguhnya –pada hari akhir nanti- Allah swt
akan menghitung amal perbuatan seorang hamba. Jika amal buruknya lebih
banyak daripada amal baiknya, niscaya hamba itu akan diperintahkan untuk
dibawa masuk ke neraka. Dan ketika para malaikat membawanya, Allah swt
memerintahkan kepada malaikat Jibril as: temuilah hamba-Ku tersebut, lalu
tanyakan kepadanya, apakah ketika hidup di alam dunia ia pernah duduk di
majlisnya orang Alim? Maka dengan itu Aku akan memberikan syafa’at
(pertolongan). Kemudian malaikat Jibril menemui si hamba dan melaksanakan
apa yang diperintahkan oleh Allah. Ketika Jibril bertanya kepada si hamba,
apakah kamu pernah duduk di majlisnya orang Alim? Si hamba menjawab: tidak.
Lantas Jibril menghadap kepada Allah dan berkata: Wahai Tuhanku! Engkau
lebih mengetahui tentang kelakuan hamba-Mu, ternyata ia menjawab, tidak.
Selanjutnya Allah swt memerintahkan malaikat Jibril kembali bertanya kedua
kalinya kepada si hamba: apakah kamu mencintai orang Alim? Si hamba
menjawab: tidak. Lantas ketiga kalinya Allah memerintahkan untuk bertanya:
apakah kamu pernah makan bersama orang Alim? Si hamba masih menjawab:
tidak. Keempat kalinya Allah perintahkan: pernah kamu menempuh perjalanan
bersama orang Alim? Si hamba menjawab: tidak. Kelima kalinya Allah
perintahkan: apakah namamu sama dengan nama orang Alim ataukah kamu
mempunyai garis keturunan dari orang Alim? Si hamba menjawab: tidak. Terakhir
kali Allah perintahkan kepada Jibril untuk bertanya: apakah kamu mencintai
orang yang cinta kepada orang Alim? Ternyata si hamba menjawab: ya.
Kemudian Allah swt berseru kepada malaikat Jibril: tariklah hamba-Ku itu dan
bawa ia ke dalam surga, karena Aku telah mengampuni dia. Sekian.

Kisah ke- 58: Keutamaan lafazh “Lâ Haula walâ Quwwata Illâ Billâh”
Alkisah khalifah al-Ma`mun berkenan memberikan limaratus Dirham
kepada orang Nashrani. Sebelumnya, beliau mengutus seorang penunggang kuda
untuk menelusuri keberadaan si Nashrani. Di dalam perjalanan, ketika sudah
mendekati tempat tinggal orang Nashrani, si penunggang kuda melihat seorang
laki-laki yang sedang memanggul sekeranjang rumput. Anehnya, ketika di atas
panggulan keranjang laki-laki itu selalu miring. Lantas laki-laki tersebut
membetulkannya dan keranjang itu malah miring lagi ke arah yang lain. Akhirnya
laki-laki tersebut mengucapkan kalimat: Lâ Haula walâ Quwwata Illâ Billâh.
Melihat hal ini, orang Nashrani tadi jadi terheran dan ia juga mengagungkan
kalimat ini. Kemudian sang penunggang kuda utusan khalifah al-Ma`mun
bertanya: kamu mau mengagungkan kalimat ini, tapi mengapa kamu tidak
beriman kepada Allah swt (masuk Islam)? Orang Nashrani itu menjawab: aku
telah belajar kalimat itu dari malaikat langit. Mendengar jawaban tersebut, sang
penunggang kuda menjadi terheran dan ketika ia kembali menghadap khalifah al-
Ma`mun, ia menceritakan pengalamannya bersama orang Nashrani. Selanjutnya,
khalifah al-Ma`mun memanggil orang Nashrani itu dan bertanya: bagaimana
kamu mempelajari kalimat ini dari malaikat? Orang Nashrani menjawab: dulu
saya mempunyai seorang paman yang amat kaya dan ia memiliki seorang putri
yang amat cantik. Lalu aku melamarnya, namun beliau tidak menerima lamaranku
dan malah mengawinkannya dengan laki-laki lain.
Pada saat malam pertama, suami dari putri pamanku itu meninggal dunia.
Kemudian aku melamar untuk kedua kalinya dan beliau masih tidak mau
menerima lamaranku dan mengawinkannya dengan laki-laki yang lain lagi. Begitu
juga halnya, laki-laki ini juga meninggal pada saat malam pertama. Ketiga kalinya
aku mencoba untuk melamarnya lagi dan yang terjadi adalah hal yang sama. Oleh
karena setiap laki-laki merasa takut dan tidak ada lagi yang mau melamar putri
pamanku, terpaksa aku melamar lagi untuk keempat kalinya. Akhirnya, pamanku
mau mengawinkan aku dengan putrinya. Sewaktu aku sedang berdua bersama
istriku, tiba-tiba setan menghampiriku dengan sosok yang menyeramkan sebesar
potongan gunung. Sambil berteriak setan bertanya kepadaku: mengapa kamu bisa

menggaulinya? Aku menjawab: karena aku masih keluarganya. Setan bertanya:
apakah kamu tidak tahu apa yang aku perbuat kepada setiap laki-laki sebelum
kamu? Aku menjawab: aku mengetahuinya. Setan menawarkan: kamu akan
selamat, jika kamu merelakan istrimu ini pada malam hari untukku dan di siang
hari untukmu, jika tidak maka aku akan membunuhmu seperti mereka. Akhirnya
aku setuju dan peristiwa ini berlangsung selama satu masa.

Pada suatu malam setan berkata kepadaku: malam ini aku akan naik ke
atas langit untuk menguping (mencuri berita langit). Oleh karena malam ini
adalah giliran istrimu untukku, apakah kamu mau ikut naik ke atas langit
bersamaku? Aku menjawab: mau. Kemudian setan membawa kendaraan seperti
unta sambil berseru: naiklah bersamaku dan berpeganglah dengan erat!. Dengan
kendaraan tersebut, kami berdua melesat ke udara. Di atas sana aku mendengar
para malaikat mengucapkan “Lâ Haula walâ Quwwata Illâ Billâh”. Tatkala setan
mendengar kalimat tersebut, ia segera terkulai dan jatuh seperti mayit, sedang aku
pun jatuh di dekatnya. Setelah beberapa saat setan mulai siuman, ia lalu berkata
kepadaku: pejamkanlah matamu! Setelah aku pejamkan mata, tiba-tiba aku sudah
berada di depan pintu rumahku. Sewaktu aku tengah berdua dengan istriku, aku
berkata kepada istriku: tutuplah semua lubang dan fentilasi yang ada di rumah ini.
Lantas kami segera menutup semuanya.

Waktu Isya` telah tiba, tibalah saatnya setan datang meminta giliran
kepada istriku. Aku segera menutup pintu dan memasang mulutku di depan daun
pintu sambil mengucapkan kalimat “Lâ Haula walâ Quwwata Illa Billâh”. Dari
dalam rumah, aku mendengar suara gemeluduk kencang. Lalu aku mengulangi
bacaan kalimat tersebut sampai tiga kali. Tiba-tiba istriku berteriak memanggil
dan aku pun segera masuk ke kamar. Istriku bertanya: mengapa kamu
mengucapkan kalimat tersebut? Aku menjawab: pada bacaan pertama, setan sudah
berada di dalam rumah dan ia sedang mencari-cari celah untuk melarikan diri,
akan tetapi ia tidak menemukannya. Ketika kalimat tersebut aku baca untuk kedua
kalinya, ada seberkas api yang turun dari langit untuk mengepung setan itu.
Setelah kalimat tersebut aku ucapkan ketiga kalinya, api itu membakar setan dan
ia langsung menjadi abu. Allah swt telah menyelamatkan kami dari gangguan
setan yang terlaknat, sebab kalimat tersebut.

Setelah khalifah al-Ma`mun menedengar uraian orang Nashrani ini, beliau
mempersilahkannya kembali pulang, dan beliau berkenan memberikan sejumlah
Dirham yang sengaja ingin dipersembahkan sebagaimana di atas. Wallâhu A’lam.

Kisah ke- 59: Keutamaan cinta melihat Dzat Allah swt
Haritsah bin Abi Aufa mempunyai seorang tetangga yang beragama
Nashrani. Alkisah tetangga itu sedang sakit keras hingga mendekati ajal. Sebagai
tetangga yang baik, sekalipun yang sakit beragama lain, Haritasah merasa
berkewajiban untuk menjenguknya. Haritsah menyarankan: masuklah kamu ke
dalam agama Islam, saya menjamin kamu akan masuk surga. Di surga itu penuh
dengan kenikmatan tiada tara. Di dalamnya juga terdapat bidadari-bidadari cantik
dan gedung-gedung megah seperti ini dan ini. Si Nashrani berkata: saya ingin
yang lebih dari itu. Haritsah meyakinkan: masuklah kamu ke dalam agama Islam,
saya jamin kamu akan bisa bertemu dan melihat Dzat Allah swt di dalam surga. Si
Nashrani menjawab: sekarang saya masuk Islam, karena tiada hal lagi yang lebih
utama daripada melihat Dzat Allah swt. Setelah masuk Islam, si Nashrani segera
meninggal dunia. Pada malam harinya, di saat Haritsah tidur, ia melihat si
Nashrani sedang naik kendaraan di dalam surga. Haritsah menyapa, kamukah si
Fulan? Ia menjawab: benar. Apakah yang telah diberikan Allah kepadamu? ia
menjawab: tatkala ruhku dicabut, ia segera melesat menujui ‘Arsy. Lalu Allah swt
berkata padaku: engkau telah beriman karena semata-mata kerinduanmu kepada-
Ku. Oleh karena itu, sekarang kamu mendapatkan ridla-Ku dan bisa bertemu
denganku. Haritsah berkata, segala puji bagi Allah, Dzat yang telah memberikan
segala sesuatu kepadamu.

Kisah ke- 60: Orang yang bisa menasehati diri sendiri karena Allah
Adalah seorang laki-laki yang sedang berfikir dan instropeksi diri. Setelah
ia mencoba menghitung-hitung, ternyata umurnya sudah mencapai enampuluh
tahun. Setelah dihitung-hitung pula, ternyata jumlahnya adalah duapuluhsatu ribu
limaratus (21.500) hari. Tiba-tiba laki-laki itu menjerit, ia berkata: Aduhai...
hancurmina, jika dalam sehari aku berbuat satu kali dosa, bagaimana aku harus
mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah swt nanti? Tiba-tiba laki-laki itu

pingsan, dan setelah siuman ia mencoba menghitungnya lagi. Kontan laki-laki itu
jatuh tersungkur. Tatkala para tetangga sekitar melihat dan menggerak-
gerakkannya, ternyata laki-laki itu telah meninggal dunia. Semoga Allah swt
memberi Rahmat kepadanya. Mari kita mencoba untuk menghitung kembali, jika
dosa sekali dalam sehari sudah seperti itu, bagaimana jika dalam sehari kita
berbuat dosa sebanyak sepuluhribu kali?

Kisah ke- 61: Keburukan orang yang tidak mau memberi maaf
terhadap sesama

Pada suatu hari Iblis datang menemui Fir’aun (secara sembunyi-
sembunyi). Iblis menegur: kamu tidak mengetahui kedatanganku wahai Fir’aun?
Fir’aun menjawab: saya tahu. Lantas Iblis berkata: kamu telah melupakan aku
tentang satu hal. Fir’aun bertanya: apa itu? Iblis menjawab: kamu telah berani
kepada Allah swt dengan pengakuanmu sebagai tuhan. Padahal, aku yang
notabene jauh lebih tua, jauh lebih pandai dan jauh lebih kuat daripada kamu,
sekali-kali aku tidak pernah berani untuk mengaku sebagai tuhan.

Fir’aun menjawab: kamu memang benar, akan tetapi tahukah kamu bahwa
aku akan bertaubat? Kemudian Iblis berkata: sebentar wahai Fir’aun! Kamu
jangan melakukan hal itu. Sebab penduduk Mesir telah menerima kamu sebagai
tuhan. Jika kamu bertaubat, aku khawatir nantinya seluruh penduduk Mesir akan
ramai-ramai meninggalkan dan bahkan berbalik untuk memusuhi kamu. Lantas
mereka akan merampas seluruh hartamu dan kamu akan menjadi orang yang hina-
dina. Fir’aun menegaskan: benar katamu! Akan tetapi tahukah kamu bahwa, di
permukaan bumi ini ada orang yang lebih bejat daripada kita? Iblis menjawab: ya,
yaitu orang yang jika dimintai maaf oleh sesama namun ia tidak mau menerima.
Nah, orang macam inilah yang lebih bejat daripada aku dan kamu. Setelah itu Iblis
pergi meninggalkan Fir’aun. Semoga Allah swt melaknat keduanya.

Kisah ke- 62: Kebaikan orang yang segera mau mejawab pertanyaan
Pada suatu hari Hisyam bin Abdul Malik naik ke atas mimbar di kota
Damaskus. Ia berkata: wahai penduduk Syam! Sesungguhnya Allah swt telah
menghilangkan wabah penyakit Tha’un di antara kalian sebab kekhalifahanku

(kepemimpinanku). Tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri sambil berkata:
sesungguhnya Allah swt telah mengasihi kami lantaran –pertemuan- kami
denganmu. Sementara wabah Tha’un telah menimpa kami dan tahukah kamu
bahwa ada seorang laki-laki yang mempunyai harta dan anak, namun ia sedang
menderita sakit yang sudah mendekati ajal? Laki-laki itu berkata kepada putra-
putranya: wahai anak-anakku! Bagaimana penilaian kalian terhadapku? Mereka
menjawab: engkau adalah bapak kami yang paling baik. Lalu sang bapak berkata:
jika saya mati nanti, kuburkanlah saya dengan beton yang sangat rapat dan
timbunlah kembali jika ada angin kencang. Mudah-mudahan Allah swt tidak
mengetahui tempatku.

Tepat, setelah sang bapak meninggal putra-putranya segera melaksanakan
pesan tersebut. Setelah itu Allah swt menemui sang bapak yang tengah berada di
kuburan itu, seraya Berfirman: wahai hambaku! Mengapa kamu lakukan hal ini?
Sang hamba menjawab: semata-mata karena rasa takutku kepada Engkau Ya
Allah. Sebab Engkau tidak akan memberikan dua siksaan kepada hamba-Mu di
alam dunia sekaligus di akhirat. Sekian. Di dalam cerita ini agaknya sangat tidak
rasional, maka renungkanlah.

Kisah ke- 63: Sekelumit tentang kisah nabi Hidlir as
Telah diceritakan bahwasannya, pada suatu hari nabi Hdlir as sedang
duduk di pantai. Tiba-tiba ada orang yang datang dan meminta seraya berkata:
Demi Allah, berilah aku sesuatu tuan! Kontan nabi Hidlir as jatuh pingsan.
Setelah beliau siuman, beliau berkata: aku tidak mempunyai sesuatupun selain
sekujur tubuhku, akan tetapi kamu malah meminta sesuatu kepadaku atas
kebenaran Dzat Allah swt. Maka dari itu aku akan menyerahkan sekujur tubuhku
kepadamu. Juallah aku agar kamu bisa mendapatkan uang dan berbelanja.
Tanpa berfikir panjang, orang tersebut segera membawa nabi Hidlir as ke
pasar dan menjualnya kepada seorang laki-laki yang bernama Sahim bin Arqam.
Sahim membawa nabi Hidlir as ke rumahnya. Di belakang rumah itu, Sahim bin
Arqam memiliki sebuah kebun. Ia memberikan sebilah linggis kepada nabi Hidlir
as dan memerintahkannya untuk memindahkan gunung ke kebun tersebut.
Sedangkan jarak antara kebun dengan letak gunung yang dimaksud adalah tidak

kurang dari satu pos (satu kilometer). Setelah itu Sahim bergegas pergi untuk
suatu keperluan.

Sementara itu, nabi Hidlir as sudah mulai membongkar gunung dengan
linggisnya sedikit demi sedikit. Setelah Sahim pulang, ia bertanya kepada salah
seorang keluarganya: apakah kalian sudah memberi makan kepada budak kita?
Serentak semuanya bertanya: budak yang mana? Kami tidak pernah merasa
mempunyai seorang budak. Tanpa banyak bicara Sahim langsung mengambil
makanan dan membawanya ke kebun. Betapa kagetnya Sahim, sesampainya di
kebun ia melihat gunung yang sebesar itu dan terletak sekian jauhnya, sudah
dipindahkan semua. Sementara nabi Hidlir yang telah menjadi budaknya sedang
melakukan shalat. Melihat keajaiban tersebut, Sahim hampir jatuh pingsan.
Setelah nabi Hidlir melakukan shalat, Sahim bertanya: beritahukan padaku,
siapakah kamu sebenarnya? Nabi Hidlir as menjawab: saya adalah hamba Allah
yang menjadi budakmu. Sahim menegaskan: saya mohon, Demi kebenaran Dzat
Allah swt beritahukan padaku, siapakah kamu sebenarnya? Beliau menjawab:
saya adalah Hidlir as. Mendengar jawaban itu Sahim langsung jatuh pingsan.
Setelah sadar, ia segera bertaubat dan mohon ampun kepada Allah swt, seraya
berdo`a: Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau siksa kami sebab peristiwa tadi.
Karena sesungguhnya hamba tidak mengetahui bahwa beliau adalah Hidlir as
nabi-Mu. Kemudian nabi Hidlir as bersujud sambil berdo`a kepada Allah swt:
Demi Kebenaran-Mu, Ya.. Tuhan! Hamba menjadi seorang budak, dan Demi
Kebenaran-Mu pula hamba kembali merdeka.

Selanjutnya nabi Hidlir as mohon pamit kepada Sahim dan kembali ke
tempat semula, yaitu di tepi pantai. Sesampainya di sana, nabi Hidlir as melihat
seorang laki-laki tengah berdiri di atas laut seraya berkata: Wahai Tuhanku! Hidlir
sekarang sudah kembali merdeka, maka terimalah dia. Lalu nabi Hidlir as
menyapa laki-laki tersebut: siapakah tuan sebenarnya? Ia menjawab: saya adalah
Syadun, dan Hidlir pun memperkenalkan diri: sayalah Hidlir. Syadun berkata:
“wahai Hidlir! Kamu telah mencari dunia dan kamu juga telah menjadikannya
sebagai tempat tinggalmu”. Kata-kata ini diucapkan karena memang pada
dasarnya nabi Hidlir as mempunyai sebuah tempat peribadatan di tepi pantai. Jika
beliau hendak pergi ke daratan, beliau pasti menyempatkan diri untuk

memnyembah kepada Allah swt terlebih dahulu di dalam tempat peribadatan
tersebut. Setelah itu beliau menanam pohon, yang mana bayang-bayang pohon itu
sendiri juga ikut menyembah Allah swt. Mendadak ada suara yang memanggil:
“wahai Hidlir! Ketika kamu bersujud, dunia itu membekas ke alam akhirat. Maka
Demi Keagungan-Ku dan Kemuliaan-Ku, Aku tidak akan Rela akan kecintaanmu
kepada dunia”. Lantas nabi Hidlir as memohon kepada Syadun: wahai Syadun!
Kembali berdo`alah kamu kepada Allah, sampai Allah swt mau menerima
taubatku. Syadun pun berdo`a kepada Allah swt dan Allah pun mengampuni nabi
Hidlir as lantaran do’a Syadun. Wallâhu A’lam.

Cerpen: Keutamaan orang yang menangis karena merasa takut
kepada Allah swt

Di dalam sebuah riwayat –Hadits- disebutkan bahwasannya ada seorang
hamba yang datang pada hari kiamat kelak dengan segenap amal perbuatannya.
Setelah dihitung-hitung, ternyata amal buruknya lebih banyak daripada amal
baiknya. Maka orang itupun langsung diperintahkan menuju neraka. Mendadak
bulu matanya berbicara: Wahai Tuhanku! Sesungguhnya Muhammad saw nabimu
pernah bersabda: barangsiapa yang bisa menangis karena merasa takut kepada
Allah swt, maka matanya diharamkan masuk ke neraka. Atas dasar Hadits ini,
hamba mohon agar dilepaskan dari kedua mata orang ini, setelah itu biar saja ia
masuk neraka. Kemudian Allah swt menawarkan kepada bulu mata: mengapa
kamu tidak mau meminta sesuatu kepada-Ku? Bulu mata menjawab: hamba
merasa takut kepada-Mu wahai Tuhanku! Dan Allah swt pun Berfirman: sungguh
Aku telah memuliakan orang ini lantaran kamu, maka dari itu, masuklah kalian ke
dalam surgaku.

Kisah ke- 64: Mendahulukan taat dan menomorduakan urusan dunia
Pada suatu hari, tatkala sedang bekerja di ladang, Hamid al-Lafaf. ra ingin
pergi menunaikan ibadah Jum’at. Padahal, keledai tunggangannya sedang kabur
dari sisinya, sedangkan ia juga harus menggiling gandum yang sudah hampir
menjadi tepung. Juga petakan sawah yang minta diairi.

Sejenak Hamid berfikir, jika aku pergi menunaikan shalat Jum’at, maka
pekerjaan-pekerjaanku ini otomatis akan tertunda. Mendadak fikirannya berubah,
dalam hati ia berkata bahwa, pekerjaan akherat itu jauh lebih utama. Tanpa
banyak pertimbangan, Hamid segera pergi menunaikan shalat Jum’at. Begitu ia
kembali dari shalat Jum’at, ternyata sawah yang tadi kekeringan sudah terairi dan
keledainya sudah berada di dalam kandang.

Sementara itu istri Hamid sedang membuat roti di dapur. Hamid
mempertanyakan kejadian aneh ini kepada istrinya dan dia menjawab: beberapa
saat tadi saya mendengar daun pintu rumah sedang diketuk. Setelah saya buka,
ternyata keledai kita sedang dihantar pulang oleh seekor singa. Adapun mengapa
petakan sawah kita bisa terairi? Karena tetangga sebelah yang sawahnya
berdempetan dengan kita tadi sedang mengairi sawahnya sendiri. Akan tetapi,
pada saat itu ia tertidur, akhirnya air yang ada di sawahnya membeludak dan
mengalir ke tempat kita. Begitu juga halnya dengan tepung, tetangga kita tadi
datang membawa tepung gandum yang sudah selesai digiling. Ketika ia pulang,
ternyata karung gandum kita secara tidak sengaja tertukar dengan karung gandum
miliknya. Begitu sampai di rumah ia sadar, oleh karena merasa bersalah ia
kembali ke sini dan memberikan ganti rugi kepada saya.

Kemudian Hamid mendongakan kepala ke atas langit sambil berkata:
Wahai Tuhanku! Aku penuhi satu hajatku untuk-Mu dan Engkau penuhi tiga hajat
untukku. Segala puji hanya untuk-Mu.

Kisah ke- 65: Beberapa kemuliaan bagi orang yang bertaubat kepada
Allah swt

Pada zaman Bani Israil (kaum nabi Musa as), ada seorang laki-laki yang
mendapat ujian untuk melakukan zina. Seusai berbuat zina, laki-laki itu pergi ke
laut untuk mandi. Sebelum ia menceburkan seluruh tubuhnya ke dalam laut, ia
berharap untuk bisa berbuat zina lagi. Laki-laki itu berbicara sendiri bersama air
(melihat wajahnya dan berkaca dari permukaan air. Pent). Ia berkata: celaka! Ini
adalah tampang yang lebih buruk daripada batu, bagaimana pula jika
dibandingkan dengan manusia yang lain? Tidak malukah kamu wahai diriku? Jika
kamu masih mempunyai rasa malu, sebelum kamu mandi, pikirkanlah sekali lagi!

Rupa-rupanya, setelah melihat wajahnya sendiri laki-laki Bani Israil
tersebut merasa takut dan ia tidak jadi mandi. Malahan ia segera berlari ke atas
gunung untuk berkontemplasi dan menyesali perbuatannya. Di atas gunung itu, ia
berbaur bersama para pendosa lain yang juga sedang melakukan ibadah dan
bertaubat.

Pada suatu waktu, orang-orang yang sedang melakukan taubat di atas
gunung itu berkenan untuk turun dan pergi ke laut. Akan tetapi, laki-laki Bani
Israil tadi tidak mau ikut. Pasalnya ia merasa malu, bahwa di tempat itu ada sosok
bayangan yang selalu memperlihatkan dosa-dosanya di masa yang lalu. Setelah
rombongan mereka sampai ke laut, tiba-tiba dari dalam air itu, sosok bayangan
dimaksud bertanya: di manakah teman kalian yang satu itu? Mereka menjawab: ia
tidak mau ikut karena merasa malu terhadap sosok yang menampakkan dosa-
dosanya di masa lalu. Sosok bayangan itu berkata: jika kalian sudah kembali,
tolong katakan kepadanya agar ia mau datang kembali ke sini untuk beribadah
kepada Allah swt di sisiku.

Begitu rombongan pulang, pesan tersebut lekas disampaikan kepada laki-
laki Bani Israil. Tanpa banyak bicara, laki-laki ini langsung pergi ke laut untuk
beribadah kepada Allah swt hingga akhir hayatnya. Konon jasad laki-laki ini
dikebumikan di tempat itu pula dan dari atas kuburannya tumbuh tujuh batang
pohon cemara kembar yang tidak ada sebelumnya.

Kisah ke- 66: Keutamaan sebagian Asma Allah swt
Ketika nabi Nuh as –bersama kaumnya- telah naik perahu, perahu tersebut
mengapung di permukaan air hingga berada pada posisi tengah-tengah antara
langit dan bumi. Tak ayal ombak pun saling menghantam. Oleh karena temperatur
suhu air cukup panas, tidak heran jika aspal (bahan perekat perahu nabi Nuh as)
menjadi leleh, sehingga perahu beliau hampir tenggelam ditelan air.
Dalam kondisi yang benar-benar kritis tersebut, Allah swt mengajarkan
kepada nabi Nuh as untuk berdo`a dengan menyebut salah satu di antara Asma-
asma-Nya. Sebagaimana disebutkan di dalam kitab Taurat, Asma itu berbunyi:
Ahyan Syarâhiyan, yang mempunyai kesamaan makna dengan: “Yâ Hayyu yâ

Qayyûm”. Setelah Asma itu dibaca, kontan aspal perekat perahu nabi Nuha as
padat kembali dan beliau pun selamat bersama kaumnya.

Allah swt juga mengajarkan sebagaimana yang diberikan Allah swt kepada
nabi Nuh as untuk nabi Ibrahim as tatkala beliau dilemparkan ke dalam kobaran
api, sehingga beliau selamat dan tidak merasakan panas sedikitpun. Begitu halnya,
ketika nabi Ibrahim membawa putranya yaitu nabi Ismail as di tengah padang
pasir tanah al-Haram seorang diri, Allah swt juga mengajarkan kepada beliau
untuk membaca Asma di atas. Dan jika beliau memerlukan segala sesuatu, Allah
swt memerintahkan agar beliau berdo`a dengan Asma itu. Amalan ini juga
diajarkan oleh nabi Ibrahim as kepada istrinya. Sehingga ketika Hajar (salah satu
istrinya) bersama nabi Ismail as putranya, merasakan dahaga yang teramat sangat
dan tidak mendapati air setetespun, maka Asma tersebut dibaca dan keluarlah
sumber mata air yang diberi nama Zam-zam. Dan nama tersebut akan tetap abadi
hingga tiba hari kiamat nanti. Sekian.

Kisah ke- 67: Kemuliaan orang-orang mati Syahid
Disebutkan dalam suatu riwayat bahwa khalifah Harun al-Rasyid pernah
bertanya kepada Muhammad al-Bathâl (julukan untuk seorang panglima perang)
tentang: peristiwa apa saja yang membuat ia terkesan, ketika memimpin suatu
peperangan melawan tentara Romawi? Muhammad bercerita: pada suatu hari aku
sedang berjalan kaki menuju tanah lapang di negeri Romawi. Saat itu aku
mengenakan jaket panjang dan tutup kepala. Aku terus berjalan sambil
menundukkan kepalaku. Mendadak terdengar derap kaki kuda di belakangku. Aku
menoleh ke belakang dan ternyata benar, ada seorang laki-laki yang gagah sedang
menggebrak kudanya sambil membawa senjata. Begitu ia sudah dekat di sisiku, ia
segera turun dan mengucapkan salam kepadaku. Setelah aku jawab salamnya, ia
bertanya: apakah tuan tahu, siapa laki-laki yang mendapat julukan al-Bathâl? Aku
menjawab: kamu tidak usah susah payah mencari orang itu, karena ia sudah ada di
depanmu, akulah al-Bathâl. Tiba-tiba si penunggang kuda itu merangkulku dan
mencium kakiku. Aku bertanya: mengapa kamu lakukan hal ini? Ia menjawab:
saya datang untuk melayani tuan.

Selanjutnya aku mengajak melanjutkan perjalanan kepada si penunggang
kuda itu. Tak lama kemudian, tiba-tiba kami berdua dicegat oleh empat orang
laki-laki penunggang kuda. Temanku menawarkan: izinkan saya untuk mengusir
mereka tuan! Aku jawab: silahkan. Untuk beberapa saat lamanya, seorang
temanku tadi saling mengejar dan beradu senjata dengan keempat orang
penunggang kuda, hingga akhirnya mereka kembali memutar dengan membawa
mayat temanku, lalu mereka berdiri di hadapanku. Aku menantang mereka:
sebentar! Jika kalian ingin bermain-main denganku, biarkan aku memakai kuda
dan senjata temanku. Ternyata mereka setuju. Aku lekas menghunus pedang dan
naik kuda milik temanku, lalu aku berkata kepada mereka: ini tidak adil, masak
kalian berempat sedangkan aku hanya seorang diri. Jika kalian jantan, majulah
satu-persatu.

Aku melanjutkan cerita: wahai Amir al-Mukminîn (khalifah Harun al-
Rasyid), satu demi satu mereka aku babat habis dari atas punggung kuda. Akan
tetapi giliran orang keempat, ternyata ia sangat tangguh. Pertama-tama kami
saling bertarung dengan memakai tombak sampai patah. Setelah itu, aku meloncat
dari atas kuda dan mengambil tameng dan sebilah pedang. Sedangkan lawan
tangguhku itu juga melakukan hal yang sama. Kami melanjutkan di atas tanah dan
pertarungan ini malah semakin sengit. Percikan bunga api sesekali meletik ketika
senjata kami saling berbenturan dan bahkan kedua mata pedang kami juga sudah
sama-sama patah. Namun di antara kami belum ada salah satu yang bisa
ditentukan sebagai pemenang sampai matahari hampir tenggelam. Akhirnya aku
menawarkan: kita sudah bertarung mati-matian, namun di antara kita belum ada
yang menang. Sedangkan hari sudah semakin sore dan aku belum menjalankan
shalat yang diperintahkan oleh agamku. Dia berkomentar: begitu juga saya.
Ternyata dia adalah salah seorang pemuka agama Kristen. Lalu aku tawarkan lagi:
bagaimana jika malam ini kita beristirahat dulu untuk memulihkan tenaga dan
besok di pagi buta kita akan melanjutkan pertarungan. Dia menjawab: terserah
kemauanmu, saya akan siap meladeni.

Pada malam itu, saya terus melakukan shalat dan bermunajat kepada Allah
swt. Begitu pula lawanku si pembesar agama Kristen juga melakukan puja-pujaan
kepada tuhannya. Ketika rasa kantuk sudah mulai menyerang, mendadak dia

berkata kepadaku: wahai kalian orang Arab! Saya khawatir, kamu akan
mempedayaiku. Nah! Untuk menghindari hal itu, saya mempunyai dua buah genta
(lonceng kecil) yang menggantung pada kedua belah telingaku. Bagaimana jika
salah satunya saya pasang di telingamu? Lalu jika kamu ingin tidur, silahkan
bersandar kepadaku. Sehingga, kalau misalnya kamu bergerak (ingin melarikan
diri. Pent) genta itu akan berbunyi. Persyaratan itu aku setujui dan pada malam itu
aku tidur dalam posisi seperti dimaksud.

Ketika terbit fajar, aku lekas menunaikan shalat Subuh dan bermunajat
kepada Allah swt. Setelah stamina kami sudah pulih, kami mulai melanjutkan
duel. Pada babak pertama itu aku berhasil mencuri kelengahannya, sehingga ia
terjegal dan aku menduduki dadanya. Mata pedangku sudah siap menggorok
lehernya, namun tiba-tiba ia memohon: kasihanilah saya sekali ini saja. Aku
berkata: aku ampuni kamu. Kemudian kami berdiri dan saling memasang kuda-
kuda. Pada babak kedua ini, dia berhasil menjegal kakiku, sehingga dia bisa
menghimpitku dan meletakkan mata pedangnya di atas leherku. Aku berkata: tadi
kamu aku ampuni, apakah kamu tidak mau mengampuni aku? Dia menjawab:
sekarang kita impas. Lantas kami berdiri kembali untuk melanjutkan babak ketiga.
Saat ini dia berhasil menjegalku dan hampir menghujamkan pedangnya tepat di
ulu hatiku. Pada kesempatan ini, aku mengemukakan alasan demi alasan dan ia
pun bisa mentoleransi. Kami sudah siap untuk melanjutkan babak keempat.
Sebelum ia mulai menyerang, ia berkata: sekarang aku tahu bahwa kamulah yang
dijuluki al-Bathâl (sang pahlawan). Oleh karena itu, kali ini aku benar-benar akan
membunuhmu dan tanah Romawi akan menjadi harum dengan aliran darahmu.
Aku membalas: semua itu tergantung apa kehendak Tuhan. Dia berkata: nah!
Sekarang mintalah kepada Tuhanmu agar Dia bisa menghalangiku tatkala aku
mau membunuhmu.

Tahukah anda wahai Amir al-Mukminîn? Ternyata kawanku yang sudah
mati kemarin, tiba-tiba bangkit dan memenggal kepala lawan tangguhku sambil
membaca ayat: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di
jalan Allah itu mati: bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat
rizki”. [Qs. Ali ‘Imran (3) : 169].

Kisah ke- 68: Keutamaan Puasa “menjelang” Sepuluh Dzulhijah*
Dari Abi Yusuf Ya’qub bin Yusuf, ia berkata: aku mempunyai seorang
hamba sahaya (budak) yang wara’ (menjauhi kenikmatan dunia) dan bertakwa
kepada Allah swt. Namun, di depan banyak orang ia selalu menampakkan diri
sebagai orang yang bergelimang dengan banyak dosa dan kesalahan. Demikian
pula di dalam cara berpakaian, ia tampil seperti orang-orang fasiq pada umumnya
dan ia memang mempunyai performan seperti orang yang cerdik.
Sejak sepuluh tahun terakhir, aku selalu mengajaknya pergi ke Ka’bah
untuk melakukan Thawaf. Budakku itu selalu konsisten dalam menjalani puasa
Dawud, sedangkan saya sendiri selalu puasa sepanjang tahun. Ia berkata:
sesungguhnya tuan tidak akan mendapatkan pahala dari puasa yang sekarang tuan
lakukan. Sebab, pada dasarnya jiwa tuan sendiri berontak. Ia juga tidak pernah
meninggalkan puasa (dua hari. Pent) –menjelang- sepuluh Dzulhijah. Saat itu
kami berada di padang sahara (gurun pasir), lalu kami masuk ke dalam Thurthus
untuk berteduh barang sejenak. Mendadak ia meninggal dunia di Khirbah (tempat
reruntuhan puing) yang tak ada seorangpun di tempat itu.
Kemudian aku keluar dari tempat itu untuk mencari tempat penjualan kain
kafan. Ternyata, semua orang di tempat penjualan itu sedang membicarakan
tentang kematian budakku. Mereka juga berbondong-bondong untuk melayat dan
menshalati jenazahnya. Mereka mengatakan: seorang hamba yang zuhud dan
termasuk golongan wali Allah telah meninggal dunia. Setelah aku dapatkan kain
kafan dan bermaksud untuk kembali ke tempat jenazah budakku, aku hampir tidak
bisa mendekatinya, karena saking banyaknya orang yang berjejal melayat. Aku
memuji Allah: Maha Suci Allah, Dzat yang telah memberitahukan semua orang
akan kematiannya. Bahkan, mereka berbondong-bondong untuk melayat dan
menshalati jenazahnya sambil menangis. Setelah melakukan usaha yang
maksimal, aku bisa masuk dalam Khirbah. Sungguh suatu penghormatan terakhir
buat budakku, aku tidak pernah melihat kain kafan sebagus itu sebelumnya, yang
di hias dengan Khath warna hijau.
Semuanya tadi adalah merupakan balasan bagi orang yang mendapatkan
Keridlaan Allah swt dan Keridlaan tersebut bisa membekas di dalam jiwanya.
Aku senang bisa dipertemukan dan hidup bersama dengan orang semacam ini.

Setelah aku ikut menshalati, maka secara gotong-royong kami mengkebumikan
jenazahnya bersama orang-orang muslimin. Pada malam harinya, di saat seluruh
badan merasa capek, aku tertidur dan bermimpi dengan budakku yang telah
meninggal itu sedang menunggang kuda berwarna hijau dengan pakaian yang
serba hijau pula. Di tangannya tergenggam sebuah bendera dan di belakangnya
ada seorang pemuda yang sangat tampan lagi harum aroma tubuhnya. Sedangkan
di belakangnya lagi ada dua orang tua yang diiring oleh seorang menjelang tua
dan seorang pemuda. Aku bertanya kepada “arwah” budakku: siapakah mereka itu
semua? Ia menjawab: “pemuda itu adalah nabi Muhammad saw dan dua orang tua
yang ada di belakangnya adalah Abu Bakar dan Umar. Adapun seorang menjelang
tua itu adalah Utsman dan seorang pemuda satunya adalah Ali. Saya adalah
pemegang bendera yang diapit oleh mereka”. Aku bertanya lagi: ke manakah
tujuan mereka? Ia menjawab: berkunjung dan menjemput saya. Aku
menambahkan: dengan apa kamu dapatkan kemuliaan ini? Ia menjawab: dengan
Keridlaan Allah yang membekas dalam jiwaku dan berkat pahala puasa (dua hari
menjelang sepuluh Dzulhijah). Mendadak aku terbangun dan setelah kejadian itu
aku tidak pernah meninggalkan puasa itu selama hidupku. Wallâhu A’lam.

* Pada tanggal 10 Dzulhijah adalah merupakan hari yang diharamkan
berpuasa. Karena pada hari itu seluruh umat Islam merayakan hari raya ‘Ied al-
Adlha. Jadi, yang dimaksud puasa 10 Dzulhijah di sini Insya Allah adalah dua hari
sebelumnya yang sangat dianjurkan, yaitu tanggal 8 Dzulhijah (Yaum Tarwiyah)
dan tanggal 9 Dzulhijah (Yaum ‘Arafah).

Kisah ke- 69: Keutamaan Basmalah
Dari Abi Muslim al-Khulani, bahwasannya ia mempunyai seorang
tetangga wanita yang sangat membenci dan iri kepadanya. Singkat cerita, si
tetangga ini merencanakan pembunuhan dan berhasil membubuhkan racun ke
dalam makanan dan minuman Abi Muslim. Setelah sekian lama menunggu dan
racun itu tidak bereaksi, maka tanpa malu-malu si tetangga ini bertanya kepada
Abi Muslim: sudah lama aku membubuhkan racun ke dalam makanan dan
minumanmu, tapi mengapa kamu tidak mati juga? Abi Muslim balik bertanya:
mengapa semua ini kamu lakukan kepadaku? Ia menjawab: karena saya merasa iri

dengan posisimu sebagai seorang Syaikh yang terkenal. Dan Abi Muslim pun
menjawab pula: karena setiap kali aku hendak makan dan minum selalu membaca:
“Bismillâhi al-Rahmân al-Rahîm”. Setelah itu Abi Muslim memaafkan perbuatan
si tetangga.

Kisah ke- 70: Keutamaan bulan Rajab
Dari Maqatil bahwasannya ia bercerita: di balik gunung terdapat hamparan
tanah berbentuk cekung yang terbentang berwarna putih perak. Tempat itu
dipenuhi banyak malaikat dan ukuran dunia adalah tujuh kali lipat. Bilamana
jarum jahit dipegang oleh mereka, maka akan segera akan terbordir (terukir)
kalimat: “La Ilâha Illallâh Muhammad al-Rasûlullâh ”.
Para malaikat itu semua berkumpul di sekitar gunung pada setiap malam di
bulan Rajab. Mereka berdo`a dan memohon kepada Allah swt agar umat
Muhammad saw diberi keselamatan. Dalam do`anya mereka mengatakan: Wahai
Tuhan kami, limpahkanlah Kasih dan Sayangmu kepada umat Muhammad saw
dan janganlah Engkau menyiksanya. Mendengar ratapan dan tangis para malaikat
itu, Allah swt bertanya: “apakah yang kalian kehendaki?” para malaikat
menjawab: kami menghendaki agar Engkau mengampuni –dosa- umat
Muhammad saw. Dan Allah swt pun Berfirman: sesungguhnya Aku telah
mengampuni dosa-dosa mereka.

Kisah ke- 71: Kejadian yang menimpa Rabi’ah al-Adawiyyah
Ketika Rabi’ah al-Adawiyyah sedang tidur lelap, ada seorang pencuri –
yang berhasil- masuk ke dalam rumahnya. Setelah si pencuri berhasil
mengumpulkan harta kekayaan (termasuk pakaian-pakaian) milik Rabi’ah, ia
hendak keluar lewat pintu, namun rupanya pintu rumah itu tidak terlihat olehnya.
Sambil menunggu munculnya pintu, tiba-tiba si pencuri mendengar suara tanpa
wujud yang mengatakan: letakkanlah pakaian-pakaian itu, lalu keluarlah lewat
pintu. Tatkala si pencuri menuruti perintah, tiba-tiba pintu rumah itu terbuka, lalu
ia kembali mengambil barang-barang yang ia curi dan ternyata ia tidak bisa
melihat pintu lagi.


Click to View FlipBook Version