The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kisah-kisah langka. Terjemah Kitab an-Nawadir Karya Syaikh Syihabuddin al-Qulyubi

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by romlishofwan, 2022-05-26 00:05:05

e-Book Cerita

Kisah-kisah langka. Terjemah Kitab an-Nawadir Karya Syaikh Syihabuddin al-Qulyubi

Keywords: an-Nawadir

Kemudian si pencuri meletakkan kembali barang-barang tersebut, maka
pintu rumah segera terbuka dan begitulah seterusnya, sampai berulang lebih dari
tiga kali. Akhirnya, suara tanpa wujud itu kembali dengan mengatakan: jika
Rabi’ah tidur, maka Dzat yang ia cintai (Allah) tidak pernah mengantuk dan tidak
pula tidur. Dengan terpaksa si pencuri meninggalkan barang-barang milik Rabi’ah
dan keluar melewati pintu.

Kisah ke- 72: Keberkahan semangat Syari’at Islam
Pada suatu hari khalifah Ali bin Abi Thalib didatangi serombongan warga
dengan membawa seorang pencuri (yang telah tertangkap). Ali bertanya, kamu
telah mencuri? Ia menjawab tegas, ya! Ali mengulang pertanyaannya sampai tiga
kali, dan si pencuri selalu menjawab, ya! Akhirnya Ali bin Abi Thalib
menginstruksikan agar pencuri itu dipotong tangannya. Setelah tangannya
dipotong, pencuri itu mengambil potongan tangannya dan keluar dari tempat itu.
Ketika pencuri itu berjalan dengan membawa potongan tangannya sendiri,
ia bertemu dengan Salman al-Farisi. Salman bertanya: siapa yang memotong
tanganmu? Ia menjawab dengan mantap: yang memotong adalah sang penegak
agama, menantu rasulullah saw, suaminya bunga surga (Fathimah), putra
pamannya rasulullah saw dan pemimpin orang-orang yang beriman, beliau adalah
khalifah Ali bin Abi Thalib. Salman bertanya, beliau itu orang yang telah
memotong tangan anda, tapi mengapa engkau malah memujinya? Si pencuri
menjawab, ya! Hanya dengan memakai tangan satu seperti ini aku bisa selamat
dari siksa yang lebih pedih.
Selanjutnya Salman memberitahukan pengalaman tadi kepada khalifah
Ali. Lantas beliau mengundang si pencuri tersebut dan seorang budak hitam di
kediamannya. Setelah mereka berkumpul, beliau memerintahkan agar budak
hitam itu menyambung tangan si pencuri. Kemudian beliau menutupi tangan
pencuri itu dengan sapu tangan dan berdo`a kepada Allah. Setelah berdo`a beliau
membuka sapu tangannya dan ternyata atas izin Allah tangan si pencuri bisa pulih
seperti sedia kala.

Kisah ke- 73: Pertanyaan salah dan jawaban yang benar
Suatu ketika raja Romawi mengirimkan surat kepada Ibnu Abbas ra yang
isinya berupa pertanyaan: “apakah pantas seorang yang kedatangan tamu lalu
menyuruh tamu itu keluar dari rumahnya? Maksud saya adalah Adam dan Hawa
yang telah dikeluarkan dari surga”. Kemudian Ibnu Abbas ra membalas surat itu
yang isinya: “sesungguhnya tuan rumah itu tidak mengeluarkan tamunya, namun
beliau hanya mengatakan, lepaslah pakaian kalian dan penuhilah hajat kalian!
Begitulah umumnya seorang tamu ketika melepaskan pakaian dan ingin pergi ke
toilet untuk buang hajat dan setelah itu ia akan kembali masuk rumah dan
menikmati hidangan.

Kisah ke- 74: Orang yang menggantungkan cita-cita hanya kepada
Allah swt.

Di zaman Bani Israil ada dua orang pria bersaudara yang bekerja sebagai
nelayan ikan. Salah seorang di antara mereka mukmin dan satunya lagi kafir.
Sebelum pergi ke laut, pria kafir bersujud kepada berhala dan ketika melemparkan
jaringnya ke tengah laut selalu penuh dengan ikan. Adapun pria mukmin ketika
melemparkan jaringnya hanya mendapatkan seekor ikan, padahal ia selalu memuji
kepada Allah, mensyukuri nikmat dan sabar terhadap ketentuan maupun ketetapan
Allah.

Pada suatu hari ketika istri pria mukmin naik ke atas panggung rumahnya,
ia melihat istri iparnya yang kafir memakai segala perhiasan yang mahal.
Kemudian hatinya menjadi deg-degan dan saat itulah setan berperan. Istri pria
kafir berkata kepada istri pria mukmin: rayulah suamimu agar mau menyembah
“Tuhan” suamiku! Dengan begitu kamu akan bisa seperti aku.

Betapa gelisah hati istrinya pria mukmin tatkala turun dari rumah
panggungnya. Ketika itu sang suami ingin menemuinya, namun air muka sang
istri tampak berubah, lalu sang suami bertanaya: ada apa denganmu? Ia angkat
bicara: kamu memilih mana, menceraikan aku atau ikut menyembah “Tuhan”
saudaramu? Sang suami bertanya: aduhai sayangku! Apakah kamu tidak takut
kepada Allah, ataukah memang kamu telah kufur? Sang istri membalas: tidak

usah banyak omong! Tidak sadarkah kamu bahwa aku tidak memakai apa-apa
sedangkan istri saudaramu penuh dengan perhiasan?.

Tatkala sang suami sadar bahwa istrinya tidak sedang bercanda, maka ia
berkata: jangan bersedih sayang! In sya Allah (jika Allah menghendaki) besok aku
akan pergi ke tempat penyaluran tenaga kerja, dan aku akan digaji dua Dirham
(perak) setiap hari. Nah! Dari gajiku itu akan aku berikan semua kepadamu agar
kamu bisa mendapatkan semua yang kamu inginkan.

Keesokan harinya, di pagi buta sang suami berangkat ke tempat
penyaluran tenaga kerja dan berkumpul bersama para calon tenaga kerja yang
lain. Apesnya, tak ada seorang pun yang mau menjadikan pria mukmin ini sebagai
buruh. Karena sudah putus asa, sore itu si pria mukmin pulang dengan tangan
hampa. Ketika itu ia pulang lewat pesisir dan di pesisir inilah ia menyembah Allah
hingga malam, kemudian buru-buru pulang.

Sesampainya di rumah sang istri bertanya, dari mana saja kamu? Sang
suami menajawab: aku bekerja kepada Raja dan beliau berjanji akan memberikan
upah dengan syarat kerja dulu selama tiga hari. Sang istri bertanya: berapa
upahnya? Sang suami menjawab: Raja ini Maha Pemurah dan kekayaannya tidak
bisa dihitung, namun beliau menawarkan kepadaku, jika aku bekerja selama
tigapuluh satu hari maka beliau akan memberikan apa saja yang aku inginkan, dan
inilah yang aku pilih.

Hari demi hari telah berlalu, hiburan dan rayuan terus diberikan oleh sang
suami kepada istrinya dan ia hanya bisa pergi ke pesisir setiap hari untuk
menyembah Allah. Setelah genap tigapuluh hari, sang istri berkata: jika besok
kamu tidak membawa upah yang kamu janjikan itu maka ceraikanlah aku.

Pada hari ke tigapuluh satu sang suami keluar rumah dengan perasaan
sedih dan pada saat itulah ia berjumpa dengan seorang Yahudi yang menyapa:
kamu sekarang sibuk? Sang suami menjawab: ya! Maka orang Yahudi ini
menyarankan: hendaknya kamu jangan makan apa-apa dalam “bekerja” di sisi-
Nya. Lantas sang suami tersebut melakukan puasa pada hari itu dan pada saat
itulah Allah swt menurunkan wahyu kepada malaikat Jibril agar membuat uang
duapuluh sembilan Dinar (emas) beseta nampannya dari cahaya untuk diberikan
kepada istrinya pria mukmin.

Selanjutnya, dengan menjelma menjadi seorang laki-laki malaikat Jibril
menemui istrinya pria mukmin dan mengatakan: aku adalah utusan Raja di mana
suamimu telah bekerja kepada-Nya selama duapuluh sembilan hari. Adapun
mengapa di hari ke tigapuluh suamimu tidak mendapatkan upah? Karena hari ini
ia bekerja kepada orang Yahudi, dan jika ia mau kembali bekerja kepada-Nya,
maka Sang Raja akan memberi tambahan.

Setelah menerima duapuluh sembilan Dinar (emas) dari laki-laki tersebut,
istri pria mukmin ini pergi ke pasar. Setelah Dinar-dinar tadi ditukarkan, ternyata
setiap kepingnya ditawar orang senilai seribu Dirham (perak), karena pada
kepingan Dinar itu terdapat tulisan yang berbunyi: “La Ilâha Illallah Wahdahû Lâ
Syarîka Lahû”.

Ketika di hari tigapuluh satu itu sang suami pulang, sang istri bertanya:
dari mana kamu hari ini? Sang suami menjawab: aku bekerja pada seorang
Yahudi. Sang istri berkata: aduhai sayang betapa ruginya engkau! Mengapa
engkau bekerja kepda orang lain dan meninggalkan Raja itu?. Setelah sang istri
bercerita tentang apa yang baru saja ia alami maka sang suami langsung menangis
hingga pingsan. Setelah sadar, sang suami berkata kepada sang istri bahwa dirinya
belum melakukan ibadah (kepada Allah) dengan sebenarnya.

Setelah peristiwa ini, sang suami mukmin ini menceraikan istrinya dan
pada suatu malam ia pergi ke puncak gunung untuk beribadah kepada Allah swt
hingga akhir hayatnya. Semoga Allah swt memberi Rahmat.

Kisah ke- 75: Keutamaan Hari Asyura`
Di hari Asyura` (10 Muharram), ada orang fakir mengadu kepada seorang
hakim. Ia berkata, semoga Allah swt mengagungkan para hakim, aku adalah orang
miskin yang mempunyai keluarga. Pada hari ini aku mengharapkan belas
kasihmu, agar kiranya tuan berkenan memberi kami sepuluh potong roti dan
daging serta uang dua Dirham untuk memberi makan anak-anak kami, semoga
Allah swt membalas amal baik tuan. Lalu hakim berjanji untuk memberikan
permintaan si fakir pada waktu Zhuhur. Ketika waktu Zhuhur tiba, maka
datanglah si fakir kepada hakim, namun ia berjanji lagi untuk memberikan pada
waktu Ashar. Kemudian si fakir kembali dengan tangan hampa sambil menunggu

waktu Ashar. Setelah tiba waktu Ashar maka si fakir kembali menemui hakim
sedangkan anak-anaknya menunggu di rumah dalam keadaan sangat lapar. Akan
tetapi, lagi-lagi hakim itu berjanji untuk memberinya waktu Maghrib. Rupa-
rupanya si fakir masih sabar dan ketika waktu Maghrib tiba, sedangkan hakim
malah mengatakan, aku tidak mempunyai sesuatupun yang bisa kuberikan
padamu, maka si fakir pun kembali pulang. Dengan hati nan pilu, si fakir
menangis, ia tidak bisa membayangkan bagaimana ia bertanggungjawab di depan
anak-anaknya?

Air mata si fakir masih mengalir, sambil terus menelusuri jalan tiba-tiba si
fakir melewati depan orang nashrani yang sedang duduk di pintu rumahnya dan ia
menyapa: aduhai kawan! Mengapa engkau menangis? Si fakir bergumam, engkau
tidak perlu tahu keadaanku! Rupa-rupanya orang nashrani itu memaksa, Demi
Allah! Ceritakanlah apa sebenarnya yang terjadi denganmu? Maka terpaksa si
fakir bercerita tentang pertemuannya dengan pak hakim. Kemudian orang
nashrani bertanya: menurutmu sekarang ini hari apa? Tidak tahukah kamu bahwa
sekarang adalah hari Asyura`? lantas orang nashrani itu menerangkan beberapa
keutamaan dan berkahnya hari Asyura` dan memberikan roti dan daging yang
lebih banyak daripada yang diminta si fakir kepada pak hakim serta uang senilai
duapuluh Dirham sambil berkata: ambillah ini untuk mencukupi semua
kebutuhanmu beserta keluargamu dan aku akan memberimu hal yang sama pada
setiap bulan, sebagai penghormatanku kepada hari Asyura` yang sangat
diagungkan oleh Allah swt.

Dengan hati yang berbunga-bunga si fakir pulang kepada anak-anaknya,
dan mereka pun bukan main girangnya. Ketika menyaksikan kegembiraan anak-
anaknya, si fakir langsung berteriak lantang: Yaa Allah! Engkau telah
menganugerahkan kegembiraan kepada kami, maka cepatlah Engkau anugerahkan
pula kegembiraan kepadanya (orang nashrani).

Ketika malam tiba dan pak hakim telah tidur terlelap, ia mendengar suara
tanpa wujud yang mengatakan: angkatlah kepalamu! Maka ia segera mengangkat
kepalanya. Tiba-tiba ia melihat dua buah istana megah yang mana temboknya
masing-masing terbuat dari emas dan perak. Pak hakim berdo`a: wahai Tuhanku!
Untuk siapakah dua istana megah ini? Maka datanglah jawaban yang mengatakan:

dua istana ini sebenarnya adalah untukmu jika kamu bersedia memenuhi
kebutuhan orang fakir tadi. Oleh karena kamu tidak bersedia, maka dua istana ini
adalah untuk orang nashrani. Sekonyong-konyong pak hakim bangun dengan
perasaan takut, ia mengumpat dan menyesali perbuatannya sendiri. Malam itu
juga, pak hakim bergegas menemui orang nashrani lalu bertanya: budi baik apa
yang baru saja kamu perbuat? Maka dibalasnya dengan pertanyaan pula: untuk
apa kamu bertanya? Lantas pak hakim menjelaskan tentang ganjaran orang
nashrani yang ia lihat (melalui mimpi) karena telah menolong si fakir. Orang
nashrani berkata: sesungguhnya aku tidak menggadaikan amal baikku dengan
emas yang memenuhi bumi, namun saksikanlah wahai pak hakim, sesungguhnya
aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah, dan aku
bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Allah swt telah menutup lembaran hidup orang nashrani tersebut dengan
kebaikan dan keutamaan. Di akhir hayatnya, orang nashrani tadi telah
mengucapkan dua kalimah syahadat. Semoga Allah swt merahmati dan
menjadikan surga sebagai tempat tinggalnya.

Kisah ke- 76: Penempaan jiwa dan perilaku orang-orang shalih
Telah diceritakan oleh Ibrahim bin Adham ra. Ia berkata: pada suatu hari
aku pergi Haji ke Baitullah al-Haram. Di tengah perjalanan aku merasa sangat
kedinginan, lalu terbesit keinginanku untuk singgah di dalam gua yang ada di
permukaan gunung. Tiba-tiba ada seekor harimau besar yang datang
menghampiriku sambil bertanya: siapakah yang menyuruhmu masuk ke tempat ini
tanpa izin dariku? Aku menjawab: aku adalah orang asing yang lancing, tapi
malam ini aku ingin menjadi tamumu, maka dari itu biarkanlah malam ini aku
menginap dan membaca al-Qur`an sampai pagi.
Keesokan harinya, ketika aku ingin melanjutkan perjalanan sang hari mau
berkata: wahai Ibrahim! Kamu sungguh hebat, betapa tidak? Semalam suntuk
kamu saya biarkan tidur di dekatku. Padahal, Demi Allah sudah tiga hari ini aku
belum makan apa-apa. Kalau bukan karena menjadi tamuku, pasti kamu sudah
saya mangsa. Oleh karena itu bersyukurlah kepada Allah dan pergilah!. Ketika
aku (Ibrahim bin Adham) telah usai menunaikan ibadah Haji dan kembali ke

persemayaman ibadahku, dalam kurun waktu kurang lebih duapuluh tahun, aku
sangat berhasrat untuk memakan buah delima dan aku sangat berharap sekali.

Pada suatu malam nafsuku berkata: Demi Allah! Jika tidak kamu penuhi
keinginanmu, niscaya kamu akan malas beribadah. Aku menjawab: wahai
nafsuku, bersungguh-sungguhlah! Jika aku sudah masuk ke tempat keramaian
nanti, niscaya akan aku penuhi keinginanku untukmu. Akhirnya aku singgah di
suatu daratan nan luas dan pada saat itulah aku melihat pohon yang aku cari-cari
yang tidak lain adalah pohon delima. Pohon itu kebetulan penuh dengan buah
yang matang, maka akupun memetik satu dan kumakan. Akan tetapi ternyata buah
itu terasa asam, lalu aku petik kedua, ketiga dan keempat kalinya, namun tak
satupun yang rasanya manis. Nafsuku kembali berkata: aku hanya ingin delima
yang manis! Kemudian aku melangkahkan kaki ke sebuah kebun, di situ aku
melihat seorang laki-laki yang sedang memetik delima. Tanpa basa-basi aku
langsung meminta delimanya dan ia pun memberiku sebuah delima. Akan tetapi,
lagi-lagi buah delima itu terasa asam, lalu aku beritahukan semua hal tersebut
kepada laki-laki pemilik kebun. Laki-laki itu berkata: wahai Ibrahim!
Kendalikanlah keinginan nafsumu, Demi Allah, sesungguhnya aku telah
mengolah kebun delima ini selama empat puluh tahun dan aku tidak pernah
menjumpai satu buah delima pun yang rasanya asam.

Mendengar keterangan laki-laki tadi, aku merasa heran dan langsung
beranjak pergi, tiba-tiba aku melihat seorang pemuda yang sedang mendapat
cobaan. Tubuh pemuda itu penuh dengan tawon-tawon yang menyengat dan
belatung-belatung yang sedang menggerogoti ruas tubuhnya. Pemuda itu
mengatakan: Segala puji bagi Allah Dzat yang telah memberi kesehatan kepada
kami di antara makhluk ciptaan-Nya yang banyak mendapat cobaan. Melihat
tingkah laku pemuda itu aku menjadi bertambah heran, aku bertanya: menurutmu
cobaan apa yang lebih besar daripada apa yang kamu terima itu? Kemudian
pemuda itu memandangi aku sambil berkata: wahai Ibrahim! Sengatan tawon-
tawon di badanku ini lebih baik daripada hasrat memakan delima. Akan tetapi
Allah swt Maha Mengetahui bahwa sebenarnya kamu adalah hamba yang suka
dengan tantangan, maka dari itulah Dia mengganti rasa manis dengan yang asam.

Mendengar kata-kata pemuda itu aku langsung terjungkal pingsan dan
ketika siuman, aku berkomentar: engkau telah mencapai maqam (yang setinggi
itu), lantas mengapa engkau tidak minta kesehatan dari sakit yang kamu derita?
Pemuda itu menjawab: wahai Ibrahim! Dia itu Dzat Yang Maha Kuasa kepada
kawula-Nya. Dia akan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya dan akan
melaksanakan kehendak itu. Ketahuilah wahai Ibrahim! Berapa banyak hamba-
hamba Allah yang sabar dengan cobaan dan rela atas kehendak-Nya? Demi Allah,
kalaupun tubuhku harus mereteli (terpotong) satu-persatu, maka tiada hal lain
kecuali semakin bertambahnya cintaku kepada-Nya. Setelah itu, aku (Ibrahim bin
Adham) meninggalkan pemuda tersebut dengan penuh simpatik dan hanya Allah
jualah Yang Maha Mengetahui.

Kisah ke- 77: Pengalaman orang-orang terpilih yang mengagumkan
Telah diceritakan dari Ibrahim al-Khawash ra. Ia berkata: sebagian orang
mulia pernah bertanya kepadaku tentang hal apa yang membuat aku kagum tatkala
aku bertamasya? Aku menjawab: ketika aku pergi ke pantai atas kehendak Allah
sampai berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Pada suatu hari aku membuat
keranjang-keranjang yang kemudian aku lemparkan ke tengah laut, lalu aku
berfikir ke manakah keranjang-keranjang tersebut hanyut? Kemudian aku berjalan
menelusuri pantai hingga akhirnya sampai di muara (pertemuan antara aliran air
laut dengan sungai). Aku berhenti sejenak di tepi sungai itu, tiba-tiba aku melihat
ada seorang nenek tua lagi lemah yang sedang duduk sambil menangis. Aku
bertanya: mengapa nenek menangis? Ia menjawab: aku mempunyai lima orang
anak perempuan yang telah ditinggal mati oleh bapaknya dan hidup kami selalu
kekurangan. Kami tidak tahu apa yang harus kami perbuat, maka terbesit
keinginanku untuk pergi ke tepi sungai ini dan di tempat ini, tiba-tiba aku
mendapati sebuah keranjang lalu aku mengambil dan menjualnya ke pasar. Dari
hasil penjualan keranjang tadi, aku membeli makanan buat putri-putriku dan
begitulah kebiasaanku setiap hari. Akan tetapi hari ini aku sungguh apes, karena
sejak tadi tak satu keranjang pun yang mengapung di depanku, sedangkan putri-
putriku menunggu kedatanganku.

Setelah mendengar uraian nenek tua itu, aku (Ibrahim al-Khawash) pun
ikut menangis seraya berdo`a: Wahai Tuhan kami! Seandainya aku tahu bahwa
nenek ini memiliki lima anggota keluarga, niscaya aku akan membuat keranjang
yang lebih banyak lagi. Kemudian aku berkata kepada nenek itu: jangan bersedih
nek! Akulah sang pembuat keranjang. Sambil terus menghibur, kami menuju
rumah nenek itu untuk kemudian pulang ke desaku. Di dalam benakku terus
berfikir tentang ciptaan Allah swt, hingga akhirnya aku tertidur di bawah pohon
dan pada saat itulah setan menghampiriku sambil berkata: bangkitlah kamu dari
tempat ini! Aku membalas: pergi kau, aku ingin istirahat. Tiba-tiba ada orang
berkata: wahai Khawash, ada yang datang dan di belakangnya adalah anak-anak
kecil kelaparan, bagaimana kamu bisa tidur? Aku tahu bahwa ini adalah nasehat,
maka hilanglah rasa kantukku dan aku langsung melompat. Lantas orang tersebut
berkata lagi: wahai Ibrahim, aku membawa dua jenis barang halal dan haram.
Barang halal yang kami maksud adalah buah delima yang kupetik dari atas
gunung ini, sedangkan barang haramnya adalah dua ekor ikan yang saya dapat
dari dua orang nelayan yang kutemui di jalan, namun salah seorang di antara
mereka ada yang berkhiyanat. Maka ambillah yang halal dan tinggalkan yang
haram. Selanjutnya, aku (Ibrahim al-Khawash) mengambil delima dan langsung
pergi ke tempat nenek tua. Dari pagi sampai sore aku masih belum menemukan
nenek tua tersebut.

Pada suatu ketika, tatkala aku sedang berada di masjid bersama jama’ah,
tiba-tiba aku mendengar hiruk-pikuk yang bersaing di luar. Kontan aku keluar
dengan lewat di atas gang sambil mengendap-endap. Ketika aku hendak kembali
dengan melewati gang, tiba-tiba ada seekor anjing menggonggong dan berdiri di
depanku. Lantas aku bergegas ke masjid, aku masih sempat befikir sejenak lalu
kembali ke tempat semula. Tatkala aku melihat anjing tadi masih menggerak-
gerakkan ekornya, maka aku segera merapatkan tubuhku di dekat pintu rumah.
Akan tetapi tiba-tiba aku melihat ada seorang pemuda tampan dengan perawakan
tegap hendak keluar, ia memandangi aku lalu berkata: jangan heran dengan
gonggongan anjing itu kepadamu, karena itu bisa menjadi pelajaran bagi orang
yang ingin memahami, sehingga kamu bisa melewati garisku. Mulai sekarang
berikrarlah untuk tidak kembali ke tempatmu.

Selanjutnya, pemuda tampan tersebut memecah semua bejana (yang ada di
rumahnya) lalu bertaubat dengan taubat nashuha, sehingga ia tak lagi minta
pertolongan kecuali hanya kepada Allah swt dan tidak henti-henti berdzikir
kepada-Nya, serta selalu meningkatkan pengabdian kepada Allah swt, sehingga ia
benar-benar merasa yakin dan bertemu dengan Tuhan alam semesta, setelah ia
menjadi salah seorang wali Allah yang taat dan manusia pilihan yang ikhlash.
Semoga Allah swt memberi keridlaan kepada mereka semua.

Kisah ke- 78: Tipu daya orang-orang jahat atas orang baik.
Pada zaman Bani Israil ada seorang hamba ahli ibadah yang menyendiri
untuk beribadah kepada Allah swt di dalam sebuah biara tua. Hamba tersebut
setiap hari nyaris dikunjungi oleh kepala negara di waktu pagi dan petang,
sehingga hal ini mengundang kecemburuan di kalangan penduduk yang lain.
Akhirnya mereka sepakat untuk memfitnah hamba itu dengan seorang perempuan
cantik tiada banding di zaman itu.
Pada suatu malam wanita cantik itu datang menghampiri hamba Allah tadi,
ia berteriak dengan suara lantang: wahai orang yang sedang menyendiri untuk
beribadah kepada Sang Pencipta jin dan manusia! Demi Dzat yang Satu lagi
Pemberi nikmat yang banyak. Juga, demi Musa Ibnu Imran dan Muhammad yang
diutus pada akhir zaman. Aku ingin bertanya satu hal kepadamu, sanggupkah
kamu menyelamatkan aku dari segala godaan setan? Malam menjadi gelap,
sedangkan kita jauh dari perkampungan dan aku takut dengan segala yang akan
terjadi. Perlahan-lahan wanita cantik itu menanggalkan pakaiannya satu-persatu
dan ketika ia sampai di dalam biara, ia segera melemparkan pakaian tersebut ke
muka hamba Allah, lalu terlentang di hadapannya dalam keadaan telanjang bulat
untuk memancing gairah kelelakian hamba itu. Melihat kelakuan si wanita cantik,
hamba Allah segera memejamkan matanya dan mengendalikan gejolak nafsunya
sambil berkata: tidak malukah kamu jika ada orang yang melihat tingkahmu?
Wanita itu menjawab: tidak usah banyak omong! Cepatlah segera kamu nikmati
kecantikanku dan keindahan tubuhku! Hamba Allah berkata: sanggupkah kamu
memakai pakaian dari pelangkin (ter) dengan api yang menyala di sekujur
tubuhmu dan kamu menghapus ibadahku yang telah kulakukan sekian lama?

Tidak takutkah kamu dengan api yang tiada padam dan siksa yang tiada henti?
Kemudian wanita cantik itu kembali dengan rayuan gombalnya dan hamba Allah
kembali berkata: nyalakanlah api kecil! Lantas si wanita segera mengisi lampu
dengan minyak tanah. Seketika itu sumbu dibakar, sambil memandangi temaram
cahaya lampu si wanita meletakkan jempol tangannya di atas api lampu tersebut.
Tak bisa dipungkiri, api tersebut mulai membakar jari-jemari wanita cantik itu
satu-persatu, hingga sampailah ke telapak tangannya. Kemudian hamba Allah
berkata: itu baru api dunia, bagaimana dengan api akhirat? Tiba-tiba wanita cantik
itu menjerit sekeras-kerasnya, sampai jatuh tersungkur dan meninggal dunia.
Melihat kejadian ini hamba Allah bingung sendiri, lalu menutupi tubuh wanita
cantik yang telanjang dengan pakaian yang ditanggalkan tadi dan menshalatinya.

Seketika itu Iblis langsung berkoar di tengah kota bahwa, ada seorang laki-
laki hamba Allah yang taat sedang berzina dengan perempuan cantik, lalu
membunuhnya di dalam biara tua. Berita ini pun segera sampai ke telinga kepala
negara, tanpa menunggu cahaya subuh, sang kepala negara segera bergegas
menuju tempat kejadian perkara (TKP). Kepala negara bertanya: di manakah
perempuan itu? Hamba Allah menjawab: ia ada di dekatku. Kepala negara
berkata: suruh ia turun untuk menemuiku! Hamba Allah menjawab: ia telah mati.
Mendengar jawaban tersebut, kepala negara semakin yakin dengan apa yang
didengarnya, lantas berteriak lantang: wahai orang yang meninggalkan perkara
dunia! Kamu telah merusak ibadahmu kepada-Nya. Kamu juga tidak takut kepada
Dzat yang Mengetahui perkara yang ghaib dan yang tampak. Berani sekali kamu
membunuh ummat-Nya, tidak takutkah kamu dengan balasan yang telah kamu
perbuat?. Setelah mendengar betapa wibawanya orang yang baru saja bicara,
hamba Allah menjadi bingung, ia tidak tahu harus berkata apa.

Selanjutnya kepala negara memerintahkan untuk menghancurkan biara
tersebut dan membelenggu leher si hamba Allah dengan rantai, lalu
menggiringnya ke tempat eksekusi. Sementara itu si wanita cantik yang telah
menjadi mayat juga digotong bersama mereka dengan papan kayu. Sang kepala
negara memerintahkan agar berita ini dipublikasikan dengan sebuah poster
(baliho) seperti halnya para pelaku zina di sepanjang jalan. Juga, jangan sampai

ada seorang pun yang berani memberi pertolongan dan mencegah rencana ini
maupun memberi belas-kasihan.

Pada saat baliho diletakkan di atas kepalanya, tiba-tiba si hamba Allah
mengerang, hati beserta lisannya berkata: wahai Dzat Yang Mengetahui segala
rahasia! Sebelum ia melanjutkan kata-katanya, mendadak ada suara yang berseru:
jangan lanjutkan do`amu! Karena semua penduduk langit telah menangisi
nasibmu. Sesungguhnya Aku (Allah swt) telah menantimu dalam kondisi apapun.
Jika kamu teruskan jeritanmu, maka langit ini akan berguncang. Seketika itu Allah
swt mengembalikan nyawa wanita cantik tersebut, maka jadilah si wanita hidup
kembali. Semua orang yang hadir di tempat itu melihat si wanita dengan heran, ia
berseru: Demi Allah! Sesungguhnya hamba Allah ini adalah orang yang teraniaya.
Ia tidak pernah berzina denganku dan sampai saat ini aku masih gadis, sekali lagi
Demi kebenaran Dzat yang Hidup lagi Menghidupkan. Kemudian wanita itu
menceritakan kejadian yang sebenarnya.

Setelah mendengar uraian dari wanita itu, sang kepala negara menyesal
atas apa yang telah ia lakukan kepada si hamba Allah, ia mengatakan:
sesungguhnya ini adalah tipu daya yang amat besar. Mendadak si hamba Allah
berteriak kencang dan langsung meninggal dunia. Ia dikebumikan bersama wanita
itu setelah mati kedua kalinya. Maka tidak ada daya dan kekuatan apapun kecuali
hanya milik Allah swt Yang Maha Luhur lagi Maha Agung. Maha Suci Dzat
Yang Maha Mengetahui lagi Kekal Azali.

Kisah ke- 79: mengendalikan nafsu untuk mendapat Ridla Allah swt
Ada seorang laki-laki miskin yang tinggal bersama istri dan anak-anaknya.
Sudah genap tiga hari mereka belum makan apa-apa, maka si istri berkata kepada
suami: apakah kamu tidak melihat anak-anak kita dengan wajah pucat dan
perutnya yang kosong? Mereka tidak mempunyai kesabaran seperti kita! Sang
suami menjawab: Demi Allah! Aku sudah berkeliling ke sana kemari menawarkan
diri bekerja untuk mendapatkan upah 2/6 Dirham, namun tak seorangpun yang
mau menerimaku. Lalu si istri berkata: ambillah kerudungku ini dan juallah
sepantasnya, setelah itu belikan kebutuhan pangan untuk anak-anak kita.

Sang suami menuruti usulan si istri, ia menjual kerudung tersebut senilai
genap dua Dirham, lalu bergegas membeli makanan. Dalam pada itu, ia
mendengar seorang laki-laki berkata: hormatlah kalian kepadaku karena Allah dan
karena cinta kalian kepada Rasulullah saw, wahai orang yang mau memberi
pinjaman kepada Allah yang Maha Kaya! Sesungguhnya aku adalah orang yang
sama sekali tidak memiliki harta apa-apa. Tiba-tiba suami tadi berkata: ambillah
uang dua Dirham ini, karena Allah dan karena cintaku kepada rasulullah. Oleh
karena suami ini tidak berhasil membeli makanan, maka ia tidak berani dan akan
sangat malu jika langsung pulang menemui istrinya. Kemudian sang suami itu
pergi ke masjid untuk melakukan shalat dan seusai shalat ia merenungi apa yang
baru saja dilakukan.

Malam hampir tiba, sang suami itu belum juga pulang, janji membawa
makanan untuk si istri dan anak-anaknya telah ia lewatkan begitu lama.
Sesampainya di rumah, si istri bertanya: apa yang kamu upayakan dengan
kerudungku tadi? Lupakah kamu bahwa anak-anak kita benar-benar kelaparan?
Lantas sang suami bercerita dengan kejadian yang sebenarnya dan si istri pun
berkata: jika benar apa yang kamu katakan, maka sesungguhnya Allah swt adalah
Dzat yang Maha Kaya lagi Mencukupi –kebutuhan- hamba-Nya, sungguh mulia
apa yang kamu kerjakan kepada Raja yang Maha Luhur. Kalau begitu, ambillah
alat takaran ini lalu juallah dan belikan kebutuhan pangan untuk kami.

Sang suami menuruti usulan istrinya. Ia segera berkeliling untuk
menawarkan kepada siapa saja yang mau membeli alat takarannya. Celakanya, tak
seorang pun yang mau membeli alat takaran itu. Ketika suami ini sudah benar-
benar kepayahan dan hendak kembali pulang, tiba-tiba ada seorang nelayan yang
sedang menenteng seekor ikan yang cukup besar. Sang suami itu berkata: wahai
saudaraku! Ambillah alat takaranku ini dan berikanlah ikanmu itu kepadaku. Pak
nelayan setuju, dan seketika itu juga sang suami segera membawa ikan tersebut
kepada istrinya. Ketika si istri melihat suaminya menenteng seekor ikan, tampak
air mukanya mulai berseri-seri. Ikan besar itu segera diterima oleh si istri dan
betapa kagetnya ia saat membedah perut ikan, ternyata di dalamnya terdapat
pernik-pernik mutiara yang tak disangka-sangka. Sang suami segera membawa
mutiara-mutiara itu kepada para pedagang di pasar dan rata-rata mereka

berkomentar: sungguh luar biasa, ini bukan jenis batu sembarangan, namun ini
adalah mutiara yang sangat mahal harganya. Sehingga tak ada satu jenis mata
uang pun yang mempunyai nilai tukar sama.

Akhirnya, sang suami itu melelang mutiaranya. Para pedagang di pasar itu
saling berebut untuk mendapatkan mutiara tersebut. Di penghujung pelelangan itu,
ada seorang pedagang yang berani membeli mutiara senilai empat belas ribu
Dirham. Tanpa menunggu lama, sang suami segera menjual mutiaranya kepada
pedagang tersebut dan pulang dengan mengantongi uang yang sangat banyak.
Betapa bahagianya si istri setelah mendapatkan rizki yang begitu melimpah,
namun tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri di depan pintu sambil berkata: wahai
Ahlullah! Sudilah kiranya tuan memberikan apa yang telah dianugerahkan Allah
kepadaku. Sang suami langsung menemuinya dan mengatakan bahwa, dari semua
yang kami dapatkan ini, kamu boleh mengambilnya separuh, sedangkan sisanya
biar kugunakan bersama keluarga, itupun jika kamu setuju dan jika tidak maka
kami akan menambahkan. Laki-laki itu berkata: oke! Aku setuju. Lantas ia segera
bergegas pergi dengan mengendarai unta.

Sambil bersantai di atas balai, sang suami menunggu laki-laki yang baru
saja minta sebagian anugerah yang ia terima. Rasa kantuk pun mulai menyerang
dan hanyutlah ia di alam mimpi. Di dalam mimpinya, ia bertemu dengan laki-laki
tadi berkata: sesungguhnya saya ini adalah malaiakat yang diperintahkan oleh
Allah swt untuk menguji kesabaranmu atas apa yang kamu terima. Aku juga
membawa kabar gembira bahwa, uang dua Dirham yang kamu berikan kepada
orang miskin kemarin telah diganti oleh Allah dengan yang lebih banyak. Juga di
akhirat nanti, Allah swt telah menyiapkan ganjaran yang tak bisa dilihat dengan
mata, didengar oleh telinga dan dibayangkan oleh hati siapapun. Hal ini semuanya
bisa kamu peroleh karena kamu telah melakukan suatu amal dengan penuh ikhlas
semata-mata karena Allah swt. Sesungguhnya Allah swt tidak akan
menterlantarkan orang yang beramal untuk-Nya. Sebagaimana Dia Berfirman di
dalam salah satu kitab yang diturunkan kepada para rasul: “Seandainya Aku tidak
menampakkan kekuasaan-Ku terhadap tiga perkara dunia, niscaya dunia ini akan
berantakan. Oleh karena itu pertama, Aku tampakkan Kekuasaanku atas hati yang
sabar bagi orang yang terkena musibah. Kedua, Aku kendalikan bau semua orang

yang meninggal dunia, karena jika tidak maka mayat mereka tidak akan ada yang
mau menguburkan*. Ketiga, Aku Perintahkan kutu untuk memakan gandum
(jagung, kacang-kacangan dan semua hasil pertanian. Pent), karena jika tidak
niscaya para saudagar kaya itu akan menimbunnya laksana emas dan perak. Aku
adalah Dzat yang Melaksanakan apa yang Aku Kehendaki dan Aku adalah Raja
yang Maha Mulia”. Wallahu A’lam. (al-Hadits al-Qudsiy)

* Terkait dengan hukum alam di atas, ada sebuah kisah yang mudah-
mudahan dapat kita ambil hikmahnya. Di bumi jawadwipa, tepatnya di dukuh
Santren –sebuah term yang diambil dari kata santri- kecamatan Singgahan
kabupaten Tuban Jawa Timur, terdapat sebuah bukit hijau yang memiliki sumber
air yang sangat besar, sehingga bisa mencukupi kebutuhan irigasi bagi masyarakat
sekitar. Di tempat itu juga, pernah dipakai lokasi shoting film Rhoma Irama.
Konon di tempat itu dulu terdapat sebuah padepokan (tempat para santri menimba
ilmu agama) yang diasuh oleh seorang guru yang sangat alim, beliau akrab
dipanggil dengan sebutan Mbah Ganyong. Di samping ilmu-ilmu Syari’ah, beliau
juga mengajarkan ilmu-ilmu Hakekat dan Ma’rifat. Mbah Ganyong mempunyai
banyak santri, namun ada salah seorang santri linuweh yang sangat ia sayangi
bernama Abdul Jabbar. Bahkan, para ahli hakekat masa itu menilai antara Mbah
Ganyong dengan Abdul Jabbar telah menempati maqam (tingkatan) yang sama,
yaitu Waliyyullah. Pada suatu ketika Allah swt berkenan memanggil ruh Abdul
Jabbar ke Hadirat-Nya, dan ternyata jasad yang ditinggalkan menyebarkan aroma
yang sangat harum. Tiba-tiba tanpa sadar Mbah Ganyong berceloteh: Lha wong
murid saya saja meninggal dunia dengan aroma yang begini harum. Apalagi saya,
seperti apa nanti harumnya?

Dengan bergotong-royong, Mbah Ganyong, para santri dan masyarakat
berduyun-duyun mengantar dan menguburkan jenazah Abdul Jabbar ke atas bukit.
Selanjutnya, padepokan tersebut tetap berjalan dengan pengajaran seperti biasa.
Tak lama kemudian, Mbah Ganyong segera menyusul murid kesayangannya.
Anehnya, jenazah Mbah Ganyong justru menyebarkan bau busuk yang sangat
menyengat, sehingga tak seorang pun yang berani mendekat. Akhirnya, dengan
memakai tutup hidung yang ekstra, para santri dan masyarakat setempat sepakat
untuk meletakkan jenazah Mbah Ganyong ke dalam lesung (alat tradisional yang

dipakai untuk menumbuk padi), lalu melemparkannya ke dalam jurang. Setelah
itu, jurang tersebut diurug dengan bebatuan dan tanah dari atas bukit. Sampai saat
ini lokasi tersebut masih terawat dan digunakan sebagai tempat ziarah dan wisata.
Biasanya diperingati haul Abdul Jabbar setiap 1 Muharram. Wallahu A’lam.

Kisah ke- 80: Menjaga Penglihatan Bagi Orang yang Bukan Muhrim
Telah dikisahkan oleh ahli hikmah bahwasannya ada salah seorang ulama
terkemuka saat itu yang sedang berjalan dan bertemu dengan seorang wanita
cantik yang bukan muhrimnya. Bukannya menikmati, orang alim ini justru malah
merasa berdosa, ia berdo`a: Yaa Allah! Engkau telah menjadikan mataku ini
sebagai nikmat dari-Mu dan aku sungguh khawatir jika nikmat ini akan berubah
menjadi siksa. Oleh karena itu, cabutlah penglihatanku! Dan seketika itu juga ia
menjadi buta.
Dengan kondisinya yang sudah buta, orang alim ini masih rajin pergi
berjama’ah ke masjid dengan dituntun oleh keponakan laki-lakinya yang masih
kecil. Setelah mengantarkan pamannya, anak itu biasanya langsung bermain-main
bersama anak-anak yang lain di sekitar situ. Jika sang paman memerlukan sesuatu,
ia segera memanggil keponakannya itu, namun wajar saja yang namanya anak
kecil terkadang kalau sudah asyik bermain tidak mau diganggu.
Pada suatu hari perasaan sang paman yang alim ini mengatakan bahwa di
sekelilingnya, di dalam masjid itu ada bahaya yang mengitarinya (ular. Pent).
Dengan panik sang paman memanggil-manggil keponakannya, namun si kecil tak
kunjung datang. Kemudian orang alim ini menengadah ke atas langit sambil
berdo`a: Yaa Allah Junjungan kami! Dulu Engkau berikan nikmat penglihatan
kepada kami, namun hamba takut jika nikmat tersebut berubah menjadi siksa,
maka dari itu hamba meminta agar Engkau cabut nikmat itu. Adapun sekarang
hamba sangat butuh penglihatan, maka dari itu hamba mohon kepada-Mu Yaa
Allah! Kiranya Engkau berkenan mengembalikan penglihatan hamba. Seketika itu
juga, orang tersebut kembali normal dengan penglihatannya. Allah swt Maha
Kuasa atas segala sesuatu.

Kisah ke- 81: Perbuatan Biadab dan Akibatnya

Pada zaman Bani Israil ada seorang laki-laki mandul, ia tidak bisa
memberikan keturunan kepada istrinya. Anehnya, jika ia keluar rumah dan
melihat ada anak yang sedang bermain, ia segera membujuk dan mengajak ke
rumahnya. Sesampainya di rumah, laki-laki itu langsung membunuh anak yang
baru saja ia ajak dan menguburnya ke dalam parit yang telah ia gali di dalam
rumah. Di sisi lain, istrinya telah memperingatkan dan melarang sang suami untuk
berbuat biadab seperti itu, namun ia tetap membangkang dan malah mengatakan:
seandainya Allah swt Murka atas perbuatanku ini, mestinya Allah sudah
memberikan balasan kepadaku sejak pertama kali aku melakukan. Si istrti
menegaskan: sesungguhnya Allah swt tidak akan membiarkan kelakuanmu, akan
tetapi apa yang kamu perbuat itu belum sampai pada puncaknya. Jika sudah, maka
Allah swt pasti akan membalasmu dengan siksaan.

Pada suatu hari, sang suami itu keluar rumah dan melihat dua orang anak
kakak beradik yang sama-sama mengenakan perhiasan. Kemudian kedua anak
tersebut dibujuk dan diajak main ke rumahnya. Setelah sampai di rumah, suami
itu langsug membunuh dan menguburkan keduanya ke dalam parit.

Sementara itu, sang bapak dari kedua anak tersebut kebingungan mencari
mereka ke sana ke mari. Karena sudah putus asa, akhirnya sang bapak itu melapor
kepada nabinya Bani Israil atas semua hal yang menimpa anaknya. Nabi bertanya:
apakah kedua anakmu itu memiliki alat yang biasa dipakai bermain? Sang bapak
menajwab: Ya! Mereka biasa bermain dengan anak anjing. Nabi berkata: jika
begitu, bawa ke mari anak anjing tersebut! Kemudian nabi memasangkan
cincinnya di antara kedua belah mata anak anjing, lalu melepaskannya. Nabi
berkata kepada sang bapak: ikutilah anak anjing itu!

Setelah menelusuri rumah-rumah penduduk Bani Israil, sampailah anak
anjing tersebut di rumah sang suami mandul. Anak anjing itu langsung
menghembus-hembuskan hidungnya, sebagai pertanda bahwa di rumah itulah
terjadinya pembantaian. Lantas si anak anjing menggerak-gerakkan ekornya dan
masuk ke dalam rumah tersebut. Ternyata, anak anjing yang cerdas ini pun
mengetahui galian parit yang sudah ditutup. Dengan hanya memakai kedua kaki
depannya, anak anjing tadi menggali parit dan tak ragu lagi di situlah tempat di
mana anak-anak hilang selama ini dikuburkan. Masyarakat Bani Israil pun segera

menggali parit tersebut dan ternyata benar, dua anak bersaudara bersama anak-
anak yang lain dikubur di tempat itu secara tidak manusiawi.

Berita ini segera mereka sampaikan kepada nabi, lalu nabi Bani Israil
segera bergegas menuju ke tempat kejadian perkara (TKP) bersama bapak dari
dua anak bersaudara yang terbunuh. Setelah ditangkap, nabi memerintahkan agar
sang suami yang mempunyai kelainan jiwa ini segera disalib. Setelah disalib
istrinya mendekatinya sambil berkata: bukankah aku sudah memperingatkan
sebelumnya? Dan aku juga katakan bahwa sesungguhnya Allah swt tidak akan
membiarkan perbuatan biadabmu begitu saja. Oleh karena kebiadabanmu sudah
kelewat batas maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah swt Maha Kuasa atas
segala sesuatu.

Kisah ke- 82: Di antara Mu’jizat Nabi saw
Dari Jabir bin Abdullah ra, ia berkata: aku pernah bersama-sama dengan
rasulullah saw di dalam suatu perjalanan. Aku mempunyai seekor unta yang aku
gunakan sebagai kendaraan dan mendadak lumpuh. Kemudian aku beritahukan
hal ini kepada rasulullah saw, maka beliau langsung berdo`a. Seusai berdo`a,
beliau berkata: sekarang naiklah! Lantas aku naik ke punggung unta yang sudah
bisa berdiri tegak. Kemudian nabi bertanya: bagaimana dengan untamu sekarang?
Saya menjawab: wahai rasulullah! Ia telah mendapat berkahmu. Nabi bertanya:
apakah kamu berminat untuk menjualnya? Aku menjadi tersipu-malu, karena aku
tidak punya kendaraan pengangkut air selain unta itu satu-satunya, namun aku
terpaksa mengatakan: ya. Nabi selalu memberi yang lebih kepadaku, sambil
mengeluarkan beberapa keping emas beliau bersabda: semoga Allah swt
mengampunimu, dan silahkan kamu kendarai untamu sampai di Madinah. Setelah
sampai di Madinah, nabi bersabda kepada Bilal: berikanlah harga yang sesuai, dan
jika perlu lebihkan! Setelah itu nabi saw mengembalikan unta itu –kepadaku- lagi.
Imam al-Suhaili mengatakan, hikmah dari pembelian nabi dengan harga
yang lebih lalu mengembalikannya lagi, itu merupakan isyarat implementasi dari
Firman Allah swt: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin,
diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka”. [Qs. Al-Taubah
(9) : 111]. Dalam ayat lain: “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala

yang terbaik (surga) dan tambahannya”. [Qs. Yunus (10) : 26]. Juga Firman-Nya:
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu
mati”. [Qs. Ali ‘Imran (3) : 169]. Semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan
keharibaan baginda Muhammad saw, keluarga dan para sahabatnya.

Kisah ke- 83: Mukjizat nabi Isa as dan Pengkhiyanatan Kaum Wanita
Ada seorang laki-laki Bani Israil yang mempunyai istri sangat cantik tiada
lawan. Laki-laki tersebut sangat mencintai istrinya, namun sayangnya si istri
keburu meninggal dunia. Di tengah kekalutannya itu, sang suami yang telah
ditinggal pergi tidak bisa melupakan, ia menunggui si istri di atas kuburnya
hingga berhari-hari sambil menangis. Pada suatu ketika nabi Isa as lewat di tempat
itu dan melihat apa yang diperbuat oleh sang suami tersebut. Nabi Isa bertanya:
apa yang membuatmu jadi menangis? Lalu sang suami itu menceritakan
semuanya. Nabi isa bertanya: apakah kamu suka jika istrimu itu saya hidupkan
kembali? Sang suami menjawab: tentu! Kemudian nabi Isa as memanggil
penghuni kuburan itu, ternyata yang keluar adalah seorang budak hitam dengan
nyala api yang keluar dari lubang hidung, kedua belah mata dan seluruh lubang-
lubang yang lain, ia mengatakan: Lâ Ilâha Illallâh ‘Îsa Rûhullâh.
Kemudian sang suami itu berkata: berarti bukan ini kuburannya wahai
nabiyyullah! Akan tetapi yang sebelahnya, sambil menunjuk ke arah kuburan
yang lain. Lantas nabi Isa as berkata: kembalilah kamu ke tempatmu! Maka budak
hitam itu pun segera terkulai menjadi mayat lagi. Nabi isa as menoleh ke arah
kuburan yang ditunjukkan oleh sang suami sambil berkata: bangunlah wahai
penghuni kuburan ini! Maka atas seizin Allah jua gundukan tanah itu terbuka dan
keluarlah sosok wanita cantik yang masih terurai dengan debu di bagian
kepalanya. Sang suami itu berkata: wahai Ruhullah! Ini dia istriku. Nabi Isa as
berkata: bawalah ia pulang!
Ketika mereka berdua telah sampai di rumah, sedangkan sang suami
merasa sangat lelah, ia berkata kepada wanita –mantan istrinya- yang baru
dibangkitkan nabi Isa as: aku telah begadangan sekian malam lamanya di atas
kuburmu, sampai-sampai aku sendiri merasa telah mati dan sekarang aku ingin
istirahat. Wanita itu berkata: istirahatlah! Lantas sang suami itu meletakkan

kepalanya dan tertidur di atas pangkuan si wanita. Dalam pada itu, tib-tiba ada
seorang pangeran yang sangat tampan lewat di depan si wanita dengan
penampilan memikat. Kontan si wanita meletakkan kepala sang suami di atas
tanah dan menyusul sang pangeran seraya mengatakan: ajaklah aku! Mereka pun
saling berjalan beriringan, namun tiba-tiba sang suami bangun dan si wanita tidak
lagi memangkunya, ia segera mencari dan akhirnya si wanita pun diketemukan
bersama sang pangeran. Sang suami berkata: wahai pangeran! Dia adalah istriku,
maka tinggalkanlah. Si wanita mengelak: bukan, saya adalah budak perempuan
sang pangeran dan sang pangeran pun membela: inginkah kamu merebut budak
perempuanku? Sang suami membalas: Demi Allah! Sesungguhnya dia adalah
istriku yang baru saja dibangunkan oleh nabi Isa as dari kuburnya.

Di tengah-tengah persengketaan itu, tiba-tiba nabi Isa as lewat dan
menengahi. Sang suami bertanya: wahai Ruhullah! Bukankah wanita itu adalah
istriku yang telah engkau hidupkan? Nabi Isa as menjawab: betul! Si wanita
mengelak: tidak! Dia itu pembohong, karena saya adalah budak perempuannya
sang pangeran. Nabi Isa as menegaskan: bukankah kamu ini wanita yang saya
hidupkan atas seizin Allah swt? Si wanita menjawab: Demi Allah! Bukan wahai
Ruhullah. Kemudian nabi Isa as berkata: kembalikan kepada kami apa-apa yang
telah kami berikan kepadamu! Seketika itu si wanita jatuh tersungkur dan
meninggal dunia. Nabi Isa as bersabda: barangsiapa ingin melihat sebuah pribadi
yang telah meninggal dunia dalam keadaan kafir, lalu saya hidupkan –atas
kehendak Allah- dan mati lagi menjadi orang yang mukmin, maka lihatlah sosok
seorang budak hitam sebelumnya. Dan barangsiapa ingin melihat sosok manusia
yang tadinya mati dalam keadaam mukmin, lalu saya hidupkan –atas kehendak
Allah- dan mati lagi menjadi orang yang kafir, maka lihatlah sosok wanita cantik
ini. Setelah peristiwa ini, sang suami bersumpah untuk tidak kawin lagi
selamanya, lalu ia mengasingkan diri untuk beribadah kepada Allah swt sampai
akhir hayatnya. Semoga Allah swt memberi rahmat.

Kisah ke- 84: Tampaknya Kebenaran Bagi Orang yang Pernah
Berbuat zhalim

Alkisah ada seorang laki-laki dari suku Kurdi berkumpul bersama-sama
dengan seorang pimpinan dalam satu meja makan yang mana di dalamnya
terdapat dua ekor burung puyuh yang dipanggang. Orang Kurdi itu mengambil
satu ekor lalu tertawa, maka sang pimpinan segera bertanya apakah makna dari
tertawanya itu? Orang Kurdi menjawab: suatu ketika aku pernah merampok
seorang pedagang, sewaktu aku hendak membunuhnya, ia merengek-rengek
kepadaku, namun aku tetap bersikeras. Ketika pedagang itu melihat bahwa saya
tidak sedang main-main, ia mencoba mengalihkan perhatianku dengan
memperlihatkan dua ekor burung puyuh yang bertengger di atas gunung.
Pedagang itu berkata kepada mereka: saksikanlah wahai burung puyuh! Apa yang
hendak dilakukan perampok ini kepadaku, sesungguhnya dia adalah pembunuh
berdarah dingin. Tanpa basa-basi, aku (orang Kurdi) langsung membunuhnya.
Dan ketika aku melihat dua ekor panggang puyuh ini, maka aku jadi teringat
betapa bodohnya pedagang tersebut ketika minta kesaksian dua ekor puyuh. Oleh
sebab itulah, aku tertawa.

Setelah sang pemimpin mendengar keterangan tersebut ia berkata: Demi
Allah! Sesungguhnya dua ekor puyuh itu telah menyaksikanmu di sisi orang yang
hendak mengambil alih kepemimpinanmu. Kemudian sang pimpinan itu memukul
tengkuknya si orang Kurdi. Lâ Haula walâ Quwwata illâ Billâh.

Kisah ke- 85: Sebuah Perumpamaan Bagi Orang yang Berakal.
Ceritanya ada Harimau, Serigala dan Musang sedang berunding. Mereka
sepakat untuk bekerja sama dalam berburu mencari mangsa. Di tengah perjalanan,
mereka berjumpa dengan mangsa berupa Keledai, Kijang dan Kelinci. Sang
Harimau berkata kepada Serigala: ini semua harus kita bagi rata! Serigala
menjawab: tidak perlu, ini sudah jelas bahwa, Keledai untukmu, Kelinci untuk si
Musang dan Kijang untukku.
Tiba-tiba sang Harimau langsung memukul dan menempeleng kepala
Serigala seraya berkata: kamu harus tahu bagian kita masing-masing!. Serigala
berkata: masalahnya sudah jelas bahwa, Keledai untuk makan siangnya sang raja,
sedangkan Kelinci untuk makan malamnya, dan Kijang adalah untuk camilannya.
Sang Harimau berkata: Semoga Allah membunuhmu atas pengertianmu dalam hal

pembagian ini. Serigala berkata: aku belum pernah merasakan tempelengan
seperti tadi, kemudian ia lari tunggang langgang.

Kisah ke- 86: Contoh Tipu-daya yang baik (Bag. I)
Ada seekor Harimau yang sedang menderita sakit, maka semua jenis
hewan pun pada menjenguknya selain Musang. Dengan demikian, maka marahlah
sang Harimau, ia ingin mengadunya dengan serigala. Keesokan harinya, datanglah
Musang kepada Harimau. Harimau bertanya: mengapa kamu tidak ikut
menjengukku? Musang menjawab: aku tidak hadir karena ketika itu aku sedang
mencari obat untukmu. Harimau penasaran: menurutmu obat apa yang cocok
buatku? Musang menjawab: obat itu adalah mata kakinya Serigala.
Ketika sang Harimau sedang mencongkel mata kakinya Serigala, maka si
Musang segera menyelinap lari meninggalkan Serigala yang kakinya sudah
mengalir darah. Serigala mengumpat: wahai setan belang! Jika kamu duduk di sisi
raja maka pikirkanlah apa yang akan keluar dari kepalamu?.

Kisah ke- 87: Contoh Tipu-daya yang baik (Bag. II)
Termasuk pelajaran berharga, adalah hewan Kancil yang lebih cerdik
daripada Musang. Konon sebabnya adalah, ia selalu pergi ke hutan untuk
beribadah kepada Allah swt. Pada saat si Kancil melakukan shalat, sang Musang
selalu datang menggoda. Melihat perbuatan Musang ini si kancil tidak bisa tinggal
diam, ia memakaikan pakaiannya pada sebuah tiang yang ia rangkai (menjadi
replica) persis seperti dirinya yang sedang berdiri melakukan shalat. Seperti
biasanya, sang Musang datang menggoda dan pada saat itulah si kancil secara
tiba-tiba menikam dan membunuh sang Musang dari belakang.

Kisah ke- 88: Pasrah kepada Allah swt dalam segala kondisi
Ada seorang laki-laki yang tinggal di dalam hutan, ia memiliki seekor
ayam jago yang sanggup membangunkannya ketika waktu shalat tiba, seekor
anjing yang menjaga hartanya dari ancaman pencuri dan seekor keledai yang siap
membawakan air dan tendanya pada saat ingin pergi. Pada suatu ketika laki-laki
ini mendatangi sebuah perkampungan yang terletak tidak jauh dari tempat

tinggalnya. Tiba-tiba datanglah berita bahwa, ayam jagonya telah dimakan
musang dan ia hanya berkomentar: In Syâ Allah, hal itu lebih bagus. Lalu datang
lagi berita bahwa, anjingnya telah mati dan ia juga berkomentar: In Syâ Allah, hal
itu akan lebih baik. Terakhir kalinya datang berita bahwa, sang musang telah
membedah perut keledainya, dan ia tetap berkomentar: In Syâ Allah, semua hal
tersebut akan lebih baik.

Pada saat hari menjelang malam, laki-laki ini bergegas pulang ke tenda
tempat tinggalnya. Ketika pagi hari tiba, laki-laki ini menjumpai perkampungan
yang baru ia kunjungi kemarin telah diserang musuh dan ternyata semua musuh
tersebut tercerai-berai karena kokok ayam jagonya, lolongan anjingnya dan
ringkikan keledainya. Ternyata semuanya selamat dan laki-laki itu sendiri tidak
habis mengerti dengan semua ini.

Kisah ke- 89: Tipu-daya Kaum Wanita
Alkisah ada seorang laki-laki Bani Israil yang sangat taat beribadah dan
menghindari kenikmatan dunia. Konon ia mempunyai seorang istri sangat cantik
rupawan yang sangat ia cintai dan ia gandrungi. Jika ia hendak keluar rumah, ia
selalu mengunci istrinya di dalam rumah. Pada suatu ketika ada seorang pemuda
yang secara kebetulan saling beradu pandang dengan si istri ini, sehingga tanpa
mereka sadari ternyata sama-sama jatuh hati.
Oleh karena mereka berdua sama-sama dirundung cinta, ibarat kata tak
jumpa sekejap laksana setahun rasanya. Dengan demikan, segala upaya mereka
lakukan agar bisa saling ketemu, terutama adalah membuat kunci duplikat, supaya
sang suami tidak curiga ketika meninggalkan si istri. Memang, satu-dua hari sang
suami tidak merasa curiga akan perselingkuhan si istri dengan sang pemuda. Akan
tetapi yang namanya bangkai, di mana pun ia disimpan, maka akhirnya tercium
juga. Sang suami merasa bahwa perlakuan si istri kepadanya mulai berubah, maka
sang suami pun mengutarakan hal ini kepada si istri: wahai sayangku! Ada apa sih
kok akhir-akhir ini tingkah lakumu jadi berubah? Maka dari itu, kamu harus
berani bersumpah kepadaku di atas gunung itu. Sedangkan gunung tersebut
terletak jauh di luar kota. Menurut mitos yang berkembang saat itu adalah bahwa
tidak seorang pun bisa selamat, jika ia berdusta.

Si istri bertanya kepada sang suami: apakah dengan sumpahku itu kamu
bisa lega? Sang suami menjawab: ya! Si istri bertanya: kapan kamu inginkan aku
melakukan sumpah? Sang suami menjawab: besok, jika Allah swt mengizinkan.
Ketika sang suami sudah keluar, maka sang pemuda datang dan si istri pun
memberitahukan semua hal tersebut kepadanya. Mendengar berita ini, otomatis
sang pemuda itu menjadi bingung karenanya. Si istri berkata kepada si pemuda:
kamu tidak usah panik, besok pakailah pakaian orang yang menyewakan
kendaraan dan bawalah seekor keledai, lalu cegatlah kami di pintu gerbang kota.
Besok aku aku akan berjalan kaki bersama suamiku dan ketika melihat kamu, aku
akan meminta suamiku agar mau menyewa keledaimu. Nah! Pada saat itulah,
kamu harus segera membawaku ke atas gunung dengan mengendarai keledaimu,
agar aku bisa melakukan apa yang telah aku janjikan kepada suamiku. Sang
pemuda berkomentar: sungguh rencana yang sangat jitu, aku cinta padamu. Sang
pemuda segera pulang dan mempersiapkan apa yang diperintahkan pujaan
hatinya.

Keesokan harinya, ketika sang suami mengajak pergi si istri untuk
melakukan sumpah, si istri berkata: sungguh aku tak mampu mendaki gunung,
bisakah kamu mengusahakan kendaraan?. Sang suami berkata: sudahlah kita jalan
saja, nanti barangkali diperbatasan kota ada orang yang menyewakan keledai.
Tepat sekali, pada saat mereka sampai di tapal batas kota, sang pemuda sudah
menunggu dengan berpura-pura menjadi tukang sewa keledai. Si istri berkata:
bang! Bolehkah keledaimu kami sewa setengah Dirham untuk mengantarkan kami
ke puncak gunung itu? Sang pemuda menjawab: silahkan.

Kemudian si istri tersebut naik keledai bersama sang pemuda, sedangkan
sang suami mengikutinya dari belakang. Ketika mereka semua telah sampai di
puncak gunung, si istri berkata kepada sang pemuda: tolong turunkan aku! Pada
saat sang pemuda hendak menurunkannya, tiba-tiba si istri ini lebih dahulu
menjatuhkan tubuhnya dengan pakaian terbuka sama sekali dan terlihatlah seluruh
auratnya oleh sang pemuda. Karena takut tidak selamat, sang pemuda berkata:
Demi Allah! Aku tidak merasa berdosa. Kemudian si istri tersebut bangkit dengan
membentangkan tangannya, di atas gunung itu si istri bersumpah bahwa dirinya
tidak pernah memperlihatkan auratnya kecuali kepada sang suami dan kepada

sang pemuda penyewa keledai. Seketika itu juga gunung menjadi bergetar hebat
karena tipu-daya si wanita. Dalam hal ini Allah swt Berfirman: “Dan
sesungguhnya makar (rencana jahat) mereka itu (amat besar) sehingga gunung-
gunung dapat lenyap karenanya”. [Qs. Ibrahim (14) : 46].

Kisah ke- 90: Cahaya netra (Pengetahuan supra)
Ada seorang ulama yang menceritakan, bahwa pada suatu ketika kami
membeli seekor kambing guling dari tetangga untuk suatu jamuan makanan kami.
Pada saat itu, tiba-tiba ada seorang fakir lagi miskin yang lewat di depan kami.
Maka kami pun menawarinya untuk mencicipi salah satu hidangan kami. Ia
mencicipi makanan kami hanya satu suap dan memuntahkannya kembali, lalu
pergi menyendiri. Ia mengatakan bahwa, ada sesorang yang melarangku makan.
Seorang ulama berkata: jika kamu tidak mau makan, maka kami juga tidak akan
makan. Ia malah berkata: aku sih orang miskin, tidak makan sudah biasa. Namun
jika kalian ikut-ikutan tidak makan, ya silahkan saja. Setelah itu ia pergi begitu
saja.
Sepeninggal orang miskin itu, kami semua menjadi tidak berselera.
Akhirnya, kami semua sepakat untuk memanggilnya kembali dan menawarinya
makan kambing guling bersama kami? Tak lama kemudian, si miskin itu datang
dan masih tetap bersikap seperti semula. Justru ia mengatakan bahwa, kambing itu
sebenarnya adalah bangkai (mati bukan karena disembelih. Pent), dan tetangga
kalian –pemilik kambing- itu sengaja menjualnya karena merasa sayang jika
dibuang sia-sia. Terpaksa kami semua tidak jadi makan dan memberikan kambing
guling itu kepada anjing. Kemudian kami bertanya: mengapa tuan tadi
memuntahkan makanan yang kami tawarkan dan mengatakan ada seseorang yang
melarang tuan? Ia menjawab: Demi Allah! Sesungguhnya sudah beberapa tahun
ini aku tidak punya gairah nafsu makan. Akan tetapi, setelah kalian menawariku
sate kambing, mendadak aku jadi sangat berhasrat, dan setelah aku mengetahui
bahwa di dalamnya ada penyakit, maka aku segera menekan hasratku. Lihatlah
wahai saudaraku, betapa –hebatnya- perlindungan Allah swt kepada hamba-Nya
(yang taat).

Kisah ke- 91: Berbuat baik yang Irrasional dan Rekonsiliasi kepada
musuh

Pada suatu hari, ada seorang laki-laki yang pakar di bidang agama lagi
shalih hendak pergi berburu. Di dalam perjalanan, tiba-tiba ia dicegat oleh seekor
ular besar yang sedang ketakutan. Ular itu mengatakan: tolong bebaskan aku dari
kejaran musuh yang mau membunuhku tuan, semoga Allah membalas budi baik
tuan. Baru saja sang pemburu hendak menutup ular dengan selendangnya, si ular
berkata: jika hanya begini, musuhku akan mengetahuiku. Sang pemburu bertanya:
lantas apa yang harus aku perbuat? Si ular berkata: jika tuan ingin berbuat baik,
maka bukalah mulut tuan dan aku akan masuk ke dalamnya. Sang pemburu
berkata: aku khawatir, kalau kamu membunuhku. Lantas sang pemburu pun
mengikat janji agar si ular tidak akan menyakitinya dan bahwa si ular juga
termasuk umat Muhammad saw. Kemudian sang pemburu membuka mulut dan
perlahan-lahan si ular pun masuk ke dalam mulutnya itu.

Dalam pada itu, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang membawa sebilah
pedang dan ia bertanya tentang apa yang dilihatnya, yaitu: mengapa engkau begitu
percaya kepada seekor ular dan mau melakukan hal itu? Mendengar pertanyaan
tersebut, sang pemburu beristighfar kepada Allah swt. Kemudian setelah ratusan
kali sang pemburu mengamati dan laki-laki itu tidak tampak lagi, maka sang
pemburu menjulurkan kepala ular dari dalam mulutnya. Setelah ular itu
memperhatikan kiri-kanan dan tidak ada lagi musuh yang mengintai, sang
pemburu memberitahukan bahwa musuh yang mengejarnya sudah lewat. Oleh
karena itu, sang pemburu meminta agar si ular keluar dari dalam mulutnya.
Apesnya, si ular justru malah mengatakan: sekarang tuan tinggal memilih dua
jalan kematian tuan, apakah limpa tuan aku lumat atau hati tuan aku hancurkan?
Sang pemburu berkata: Maha Suci Allah, mana janji yang telah kita sepakati?. Si
ular membalas: belum pernah aku melihat orang sebodoh kamu, sudah lupakah
kamu tentang permusuhanku dengan bapakmu –nabi Adam as- dan akulah
penyebabnya ia keluar dari dalam surga? Dan mengapa kamu mau berbuat baik
kepada musuh?. Sang pemburu menjawab: jika tidak ada pilihan lain kecuali
kematian bagiku, maka beri aku waktu untuk membuat tempat “peristirahatan

terakhir” di atas gunung ini. Si ular membalas: terserah kamu, sekarang apa
maumu?.

Selanjutnya, sang pemburu menatapkan wajahnya ke atas langit, seraya
berdo`a: “Wahai Dzat yang Maha Lembut, lembutlah kepadaku dengan –sifat-
kelembutan-Mu yang tersimpan. Wahai Dzat yang Maha Lembut lagi Maha
Kuasa, hamba memohon atas Kuasa-Mu yang menguasai ‘Arsy. Dan ‘Arsy pun
tidak mengetahui di manakah Engkau menetap. Wahai Dzat yang Maha
Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Luhur lagi Maha Agung. Yaa Allah Dzat
yang Maha Hidup lagi Menghidupkan, hanya atas pertolongan-Mulah hamba bisa
selamat dari ancaman ular ini. Lantas sang pemburu melangkahkan kakinya
menuju ke atas gunung.

Singkat cerita, tiba-tiba ada seorang tua kharismatik, dengan penampilan
yang menyejukkan. Aromanya begitu wangi dengan pakaian yang sangat bersih
dan ia memberikan secarik daun berwarna hijau. Orang itu berkata: makanlah
daun ini. Setelah sang pemburu memakan daun tersebut, maka tubuh si ular pun
keluar sepotong demi sepotong dan kondisi sang pemburu bisa tenang kembali.
Sang pemburu bertanya: apakah tuan, seorang laki-laki yang diutus Allah untuk
menyelematkan aku? Beliau menjawab: sungguh, ketika kamu berdo`a dengan
do`amu tadi, seluruh malaikat penghuni tujuh langit pada ribut dan memohon
kepada Allah swt. Dan Allah swt pun Berfirman: Demi Keagungan dan
Keperkasaan-Ku, Aku Mengetahui apa yang diperbuat oleh si ular kepada hamba-
Ku. Lalu Allah swt Mengutusku pergi ke surga untuk memetik daun Thuba dan
memberikannya kepadamu. Sedang aku di tetapkan bahwa bagiku hanya berbuat
baik dan tempatku adalah di beberapa langit. Adapun kamu, jika berbuat baik
harus vis a vis (berhadapan) dengan kejahatan dan jika seseorang berbuat
kebaikan lantas ia menyia-nyiakannya, maka Allah swt pun akan melepas
kebaikan tersebut. Wallâhu A’lam.

Kisah ke- 92: Sebuah Peristiwa yang terjadi pada zaman nabi Musa
Alkisah ada seorang laki-laki yang sedang memberi ceramah di hadapan
umat manusia pada zaman nabi Musa as. Orang itu mengatakan bahwa, telah
bercerita kepadaku nabi Musa as Kalîmullah, Najiyyullâh dan juga Shafiyyullâh.

Aktifitas ini hanya berlangsung begitu saja, sampai beberapa lama orang tersebut
tidak pernah menampakkan diri lagi. Sedangkan nabi Musa as sendiri, juga tidak
mengetahui kabar beritanya.

Pada suatu hari ada seorang laki-laki lain bersama seekor babi yang
dituntun memakai tambang berwarna hitam, sedang menemui nabi Musa as. Ia
berkata: wahai nabi Musa! Apakah engkau mengetahui si Fulan? Nabi Musa
menjawab: aku pernah mendengarnya. Laki-laki itu berkata: si Fulan tersebut
telah menjadi babi ini. Kemudian nabi Musa berdo`a kepada Allah swt agar si
Fulan dikembalikan ke wujud aslinya. Allah swt Berfirman: wahai Musa! Jika
kamu berdo`a kepada-Ku dengan do`a yang pernah dibaca oleh Adam, maka
selain dia tidak akan Aku kabulkan. Akan tetapi, perlu Aku beritahukan
kepadamu, mengapa Aku Berbuat demikian kepada si Fulan? Tidak lain adalah
karena ia memakan dunia dengan agama. Wallâhu A’lam.

Kisah ke-93: Orang yang menentang –kehendak- Ciptaan Allah swt
Ada si Fulan sedang berjalan-jalan dan melihat bunga bangkai (raflesia)
yang tumbuh di atas bumi. Ia berkata: betapa buruknya tumbuhan ini, sudah buruk
baunya tidak enak lagi, lalu apa tujuan Allah swt dengan menumbuhkan bunga
ini? Kemudian Allah swt menguji si Fulan tersebut dengan sebuah luka di salah
satu bagian tubuhnya. Anehnya, tak seorang dokter pun yang sanggup mengobati
lukanya, sehingga ia benar-benar sudah putus asa.
Pada suatu hari, si Fulan mendengar ada orang yang kurang waras
memanggil-manggil namanya di sebuah gang buntu. Si Fulan berkata kepada
orang-orang di sekelilingnya: biarlah orang yang kurang waras itu mengobati
lukaku. Semua orang bertanya: apa yang kamu harapkan dari seorang yang kurang
waras, bukankah para dokter ahli saja tidak mampu mengobati lukamu? Namun si
Fulan memaksa: tolong panggilkan dan beri kesempatan dia. Akhirnya, semua
orang mau menuruti kemauan si Fulan. Setelah luka si Fulan ini dilihat oleh orang
yang kurang waras tadi, ia memberi diagnosa agar dicarikan sebatang pohon
bunga bangkai (raflesia). Mendengar diagnosa yang ditawarkan, semua orang
tertawa geli. Dalam pada itu si Fulan jadi teringat tentang pengalaman masa
lalunya, tatkala ia pernah mengejek keberadaan bunga bangkai. Si Fulan berkata

kepada seluruh sanak keluarga dan orang-orang yang ada di sekitarnya: tolong
turutilah permintaan orang ini, karena sesungguhnya ia memiliki mata hati dan
mengetahui –segala persoalan- yang ia hadapi. Kemudian mereka mau menuruti
keinginan si Fulan dan mencari sebatang pohon bunga bangkai (raflesia). Pohon
tersebut dibakar, lalu abunya ditaburkan di atas luka si Fulan. Atas seizin Allah
swt, luka itu sembuh total dan si Fulan berpesan kepada para hadirin: ketahuilah
wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya Allah swt sengaja memberitahuku bahwa
seburuk apapun ciptaan Allah swt, ternyata masih mempunyai kekuatan dahsyat
untuk mengobati. Dia adalah Dzat yang Maha Waspada lagi Maha bijaksana.

Kisah ke- 94: Bertawakkal kepada Allah swt tentang masalah rizki
Adalah para ulama pengikut madzhab theology Asy’ariyyah. Di antaranya
adalah Abu Musa, Abu Malik dan Abu ‘Amir yang sedang melakukan hijrah
massal bersama rombongan menyusul Rasulullah saw. Di tengah perjalanan,
mereka kehabisan bekal. Lalu mereka mengirimkan seorang utusan untuk bertemu
dengan Rasulullah saw dalam rangka minta bantuan perbekalan. Setelah utusan itu
sampai di tempat Rasulullah, ternyata beliau sedang membaca ayat sebagai
berikut: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah
yang memberi rizkinya” [Qs. Hûd (11) : 6]. Kemudian utusan itu berkata (kepada
dirinya sendiri): bukanlah termasuk pengikut Imam Asy’ariy, jika ia berani
menentang Allah. Rupa-rupanya setelah mendengar ayat di atas, sang utusan
semakin yakin bahwa Allah sendiri-lah Dzat Pemberi rizki. Sehingga ia tidak jadi
masuk ke tempat Rasulullah saw dan justru malah kembali lagi. Setibanya di
tempat rombongan yang kehabisan bekal tersebut, sang utusan berseru:
berbahagialah wahai saudara-saudaraku semua, karena sesungguhnya telah datang
pertolongan. Mereka mengira bahwa sang utusan sudah bertemu dan mendapat
bantuan dari Rasulullah saw.
Di tengah-tengah ketidak pastian itu, mendadak datanglah dua orang laki-
laki yang sedang menenteng nampan berisi roti dan daging untuk konsumsi
mereka. Anehnya, hanya dua nampan itu terasa seperti utuh setelah mereka
makan, sehingga mereka bisa makan sepuasnya. Bahkan mereka saling berkata:
kembalikan saja lebihan makanan itu kepada Rasulullah saw.

Tak lama kemudian rombongan ini telah sampai di tempat Rasulullah.
Mereka mengatakan: wahai Rasulullah! Belum pernah kami merasakan makanan
yang lebih lezat dari apa yang telah engkau berikan kepada kami. Rasulullah saw
bersabda: aku tidak merasa pernah mengirim makanan kepada kalian. Akhirnya,
mereka menceritakan bahwa, sebelum itu mereka telah kehabisan bekal, lalu
mengirim seorang utusan untuk minta bantuan kepada beliau. Rasulullah
bertanya: setelah itu apa yang terjadi? Sang utusan menjawab: Allah swt telah
mengirimkan rizki kepada kami sehingga kami bisa menjadi kenyang.

Kisah ke- 95: Legenda Juha dengan namanya yang tak bisa dirubah
(ditashrîf).

Dari Hamzah al-Maidani, ia bercerita: bahwasannya Juha adalah orang
yang sangat tolol. Saking tololnya, suatu hari ia pernah menggali tanah di tengah
padang pasir. Ketika ada orang yang lewat dan mempertanyakan apa yang sedang
ia perbuat, ia menjawab: dulu aku memendam beberapa keping uang Dirham di
sekitar tempat ini, namun aku sendiri tidak tahu pasti, di manakah Dirham itu aku
pendam. Lalu orang itu bertanya: apakah ketika itu kamu tidak memberi tanda?
Juha menjawab: aku sudah melakukannya. Orang itu memastikan: lalu apa tanda
yang kamu gunakan? Juha menjawab: waktu itu aku dipayungi segumpal awan.
Lantas orang tersebut menertawakan Juha dan pergi meninggalkannya.

Di antara kekonyolan Juha yang lain adalah, di penghujung malam yang
gelap gulita ia keluar dari gang tempat tinggalnya. Tanpa disengaja, kaki Juha
menyandung jasad orang yang telah meninggal. Karena jengkel, Juha langsung
melemparkan mayat tersebut ke dalam sumur yang ada di rumahnya. Keesokan
harinya, bapaknya Juha melihat mayat tersebut, maka sang bapak langsung
mengeluarkan dan menguburkannya. Kemudian Juha mencekik leher dan
membunuh seekor domba, lalu menceburkannya ke dalam sumur yang sama.

Sementara itu di tempat lain, keluarga si mayit sedang panik mencari dan
menyisir kampung Kufah. Mendadak, Juha muncul untuk memecahkan kepanikan
mereka, seraya mengatakan: mayat keluarga kalian ada di dalam sumur kami.
Mendengar berita itu, keluarga si mayit pergi berbondong-bondong ke rumah Juha
dan langsung mencebur ke dalam sumur untuk mengeluarkan mayit yang sedang

mereka cari. Tiba-tiba Juha berceloteh: wahai kalian semua, apakah keluargamu
yang meninggal itu memiliki tanduk?. Benar, setelah mereka menemukan seekor
domba, bukannya marah, mereka malah tertawa geli akibat ulah si Juha.

Juga termasuk kekonyolan Juha, pada suatu hari Abu Muslim al-Khulani
menyuruh seorang laki-laki bernama Yaqthin untuk mengundang Juha. Suatu
kehormatan bagi Juha, ia memastikan akan hadir. Tepat di hari yang telah
ditentukan, Yaqthin datang ke tempat Abu Muslim. Ternyata, pada saat itu
Yaqthin tidak melihat Juha. Tak lama kemudian Juha nongol sambil berkata:
wahai Yaqthin dan Abu Muslim al-Khulani, ketahuilah bahwa Juha adalah sebuah
nama yang tidak bisa ditashrîf (diubah-ubah), seperti halnya kata Umar dan Amir.
Juha mempunyai akar kata Jâha, bisa juga dibaca Jahâ – Yajhû – Jahû. Wallâhu
A’lam.

Kisah ke- 96: Sebuah Preseden (teladan) buat orang yang mau
berfikir

Ada seorang manusia yang sedang lari terbirit-birit karena dikejar macan,
sehingga terjebur ke dalam sumur. Tak lama kemudian, sang macan juga terjebur
ke dalam sumur itu. Di dalam sumur tersebut, sang macan melihat ada seekor
beruang. Sang macan bertanya: berapa lama kamu sudah berada di tempat ini?
Beruang menjawab: sudah tiga hari dan aku hampir mati kelaparan. Sang macan
mengusulkan: bagaimana jika manusia ini kita makan bersama-sama agar kita
tidak mati kelaparan?. Beruang menimpali: bagaimana jika setelah itu kita masih
kelaparan?, mendingan kita bersumpah untuk tidak menyakitinya, namun kita
minta dia untuk mencari akal, bagaimana caranya agar kita semua bisa keluar dari
tempat ini. Karena dalam hal mencari akal, manusia lebih piawai daripada kita.
Akhirnya mereka sepakat dan bersumpah untuk tidak menyakiti manusia, dan
manusia pun segera mencari akal, bagaimana caranya agar dirinya bersama macan
dan beruang bisa keluar dari dalam sumur itu. Setelah melalui banyak usaha,
secara serentak mereka semua bisa keluar dan berhasil keluar. Dari sini dapat kita
simpulkan, ternyata pendapat beruang lebih genuine daripada pendapat sang
macan.

Kisah ke- 97: Strategi bersiasat
Ada seorang manusia yang lari terbirit-birit karena dikejar oleh seekor
harimau. Dalam perasaannya yang tak menentu itu, tiba-tiba ada sebuah pohon,
maka menyelinaplah manusia itu dan naik ke atas pohon tersebut. Ternyata, di
atas pohon telah bertengger seekor beruang yang juga sedang kelaparan sembari
makan buah-buahan. Tak lama kemudian, sang macan datang dan menunggu di
bawah pohon. Selanjutnya, sambil meletakkan jari telunjuk di atas bibirnya,
manusia menoleh ke arah beruang dan memberi isyarat kepada beruang untuk
diam, agar keberadaannya tersebut tidak diketahui oleh sang macan. Sambil
mencari akal, manusia itu meraba saku celananya yang terdapat sebilah pisau
tajam. Perlahan-lahan manusia itu memotong dahan pohon, tempat bertenggernya
beruang. Setelah dahan itu terputus, tubuh beruang terjatuh dan menimpa sang
macan. Untuk beberapa saat lamanya, antara beruang dan sang macan berkelahi
dan saling menerkam. Nah! Pada saat itulah, manusia turun perlahan dan
melarikan diri hingga selamat sampai di rumah atas pertolongan Allah swt.

Kisah ke-98: Sombong terhadap nikmat dan akibatnya
Alkisah ada sebuah keluarga yang hidup serba kecukupan. Pada suatu hari,
keluarga ini sedang makan bersama dengan menu ayam panggang yang berada
persis di hadapan sang suami. Dalam pada itu, datanglah seorang peminta-minta.
Ironisnya, si pengemis itu ditolak secara mentah-mentah dan diusir oleh sang
suami, sehingga ia terpaksa pergi dengan tangan hampa. Singkat cerita, keluarga
ini tidak terjalin secara harmonis, sehingga terjadi perceraian di antara mereka.
Setelah melewati masa iddah, si istri kawin lagi dan mendapatkan seorang
suami yang baik hati. Hal ini terbukti, ketika pada suatu hari mereka sedang
makan bersama dengan menu panggang ayam dan tiba-tiba datang seorang
peminta-minta telah berdiri di depan pintu rumah. Sang suami berkata kepada si
istri: berikan semuanya ayam panggang ini kepadanya. Sambil menyerahkan
ayam panggang, si istri mencermati, ternyata orang yang meminta-minta itu
adalah bekas suaminya yang pertama. Kejadian ini segera dilaporkan oleh si istri
kepada suaminya yang kedua. Sang suami berkata: Demi Allah, dulu saya juga
seorang yang sangat miskin, namun Allah telah memberiku banyak nikmat.

Adapun kemiskinannya (suami pertama) itu tidak lain adalah akibat dari
kekurangannya dalam mensyukuri nikmat Allah swt.

Kisah ke- 99: Kedermawanan dan kekikiran itu tergantung pada
pembawaan

Ada seorang A’robiy (badwi) menceritakan: dalam suatu perjalanan, aku
kemalaman, sehingga memaksa aku untuk mencari tenda (tempat singgah). Ketika
aku sudah berada di depan tempat singgah itu, Ibu pemilik rumah mengamati dan
bertanya kepadaku: siapakah laki-laki yang ada di luar? Aku menjawab: aku
adalah tamu. Ibu itu menambah: mengapa malam-malam begini bertamu?. Di
tengah sahara yang luas itu, di dalam rumah kecil, si ibu sedang menumbuk
tepung gandum dan mengadoninya untuk dibuat roti dan setelah menjdai roti, si
ibu duduk di meja makan sambil menyantap rotinya. Dalam pada itu, suaminya
muncul sambil membawa segelas susu. Sang suami bertanya: siapakah laki-laki
yang ada di luar? Aku menjawab: aku tamu yang kemalaman. Sang suami berkata:
selamat datang tuan, silahkan masuk. Lalu sang suami itu memberikan segelas
susunya kepadaku seraya mengatakan: silahkan diminum tuan, mungkin tuan
belum makan apa-apa. Aku membalas: tidak usah repot pak! Sungguh. Setelah itu
sang suami menemui istrinya sambil marah-marah, katanya: keterlaluan, kamu
makan sampai kenyang sedangkan ada tamu tak diberi hidangan sedikitpun. Si
istri membalas: peduli amat! Saya tidak akan menghidangkan secuwil makanan
pun kepadanya. Rupa-rupanya di antara mereka sedang terjadi pertengkaran,
sampai-sampai sang suami memukul kepala istrinya. Kemudian sang suami itu
keluar dan menyembelih untaku. Daging unta itu dipanggang dan dihidangkan
untuk jamuan makan malamku. Sang suami berkata: Demi Allah, saya tidak akan
membiarkan tamuku menginap dalam keadaan lapar. Setelah itu dia pergi
meninggalkan aku tanpa berucap sepatah katapun. Tak lama kemudian dia segera
kembali, sambil menuntun seekor unta dan dia kelihatan tersipu malu. Dia
berkata: ambillah ini, sebagi ganti dari untamu yang tadi saya sembelih dan saya
juga akan membekalimu sepotong roti dan daging untamu yang masih lebih.
Setelah segala sesuatunya siap, aku berpamitan dan melanjutkan perjalanan. Pada
kesempatan berikutnya, aku kemalaman dan mampir di tenda (tempat singgah)

saudaraku sesama A’rabi (Badwi). Ketika ibu pemilik tenda bertanya: siapakah
laki-laki yang ada di luar?, aku menjawab: aku adalah tamu. Si ibu berkata:
selamat datang, silahkan masuk pak! Lantas si ibu bergegas ke dapur untuk
membuat roti. Selain daripada roti, si ibu juga menghidangkan kepadaku sepotong
keju dan segelas susu. Juga, sepotong ayam panggang. Dia menawarkan: silahkan
dimakan pak! Setelah ditawari, aku jadi bernafsu untuk menghabiskan seluruh
hidangan. Ketika aku sedang menyantap makanan dengan lahapnya, mendadak
suaminya datang. Sang suami bertanya kepadaku: sipakah kamu? Aku menjawab:
tamu yang kemalaman pak. Sang suami berkata: kami sudah tidak menerima
tamu, sambil melangkahkan kakinya menuju kamar. Dia bertanya kepada istrinya:
mana makananku? Istrinya menjawab: saya hidangkan untuk tamu. Sang suami
bertanya: siapa yang menyuruhmu untuk memberikan makananku kepada tamu?
Perdebatan panjang pun tak bisa dihindarkan, sampai-sampai sang suami terpaksa
menampar wajah istrinya. Pertunjukan itu membuatku tertawa dan sang suami
ternyata tersinggung dengan ketawaku. Dia bertanya: mengapa kamu tertawa?
Lantas aku menceritakan pengalamanku kemarin. Dia berkata: Hai! Ketahuilah
bahwa, si istri yang kamu temui kemarin itu adalah saudaraku, sedangkan
suaminya adalah kakak kandung istriku. Mendengar jawaban ini, aku menjadi
semakin heran.

Kisah ke- 100: Etika orang-orang shalih
Ada seorang pemuda tampan yang sedang menggembala. Suatu ketika ia
sedang terjebak, di hadapannya telah bertengger seekor binatang buas yang siap
memangsa. Sebelum memangsa, binatang itu mendengus dan memelototi calon
mangsanya. Ada sebuah pertanyaan: apa komentarmu, jika kamu dalam kondisi
seperti itu? Dia menjawab: aku sedang berfikir tentang pendapat para ulama ahli
Fiqih ketika bercerita tentang pengalamannya dengan binatang buas.
Konon, pemuda ini pernah melakukan ibadah Haji bersama Sufyan al-
Tsauri. Dalam pada itu, mereka sedang dihadang oleh seekor binatang buas.
Melihat binatang itu, Sufyan menjadi sangat takut. Lain halnya denga si pemuda
ini, ia malah memegangi telinga binatang itu sambil mengelus-elus tubuhnya.
Maka binatang tersebut bukan lagi buas, malahan menjadi jinak dan bermanja

dengan menggerak-gerakkan ekornya. Pemuda itu berkata: Demi Allah, jika
bukan karena takut menjadi orang terkenal, maka aku akan meletakkan selendang
(surbanku) di atas punggung binatang itu, agar aku bisa menungganginya sampai
ke tanah suci Makkah.

Menurut cerita, konon pemuda ini juga pernah berjumpa dengan Imam
Syafi’i dan Imam Ahmad tatkala ia sedang menggembalakan kambingnya. Imam
Ahmad berkata kepada Imam Syafi’i: aku akan bertanya kepada penggembala ini
dan aku yakin bahwa ia pasti mengetahui jawabannya. Imam Syafi’i mencegah:
jangan kau lakukan hal itu! Imam Ahmad membalas: sudahlah, tidak usah cemas.
Tanpa banyak alasan, Imam Ahmad langsung menemuinya. Imam Ahmad
bertanya: wahai pemuda! Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang
melakukan shalat empat rakaat, namun hanya dengan empat kali sujud, apakah
yang mesti ia lakukan? Pemuda itu balik bertanya: tuan ingin jawaban dengan
madzhab saya atau dengan madzhab tuan sendiri? Imam Ahmad bertanya lagi:
apakah dalam persoalan ini ada dua pendapat? Si pemuda menjawab: benar. Imam
Ahmad berkata: kalau begitu sebutkan keduanya.

Kemudian si pemuda menguraikan: menurut madzhab tuan, orang tersebut
harus menambah dua rakaat dan melakukan Sujud Sahwi (sujud karena lupa).
Sedangkan menurut pendapat saya, orang tersebut hatinya harus ditata dan
ditempa agar tidak mengulangi kesalahan lagi.

Selanjutnya, Imam Ahmad bertanya lagi: bagaimana pendapatmu, jika ada
seseorang yang memiliki empatpuluh ekor kambing dan sudah mencapai haul
(genap satu tahun), apa yang mesti ia lakukan? Si pemuda menjawab: menurut
perspektif madzhab sampeyan, orang tersebut wajib mengeluarkan zakatnya satu
ekor. Adapun menurut pendapat saya adalah: seorang hamba tidak berhak
memiliki –sekecil apapun- atas harta tuannya.

Mendengar jawaban tadi, Imam Ahmad langsung jatuh pingsan dan
setelah beliau siuman, mereka saling berpamitan. Perlu diketahui, bahwa pemuda
tersebut adalah seorang yang Ummiy (tidak bisa baca-tulis). Apabila seorang yang
ummiy saja mampu melontarkan jawaban seperti itu, bagaimana dengan anda
yang menyandang gelar sarjana?

Imam Abu Hanifah dan Imam Malik pernah berkata: “jika ada seorang
ulama yang bukan Awliyâ` (para wali), berarti Allah tidak memiliki wali”. Di
antara do`a yang selalu dibaca oleh pemuda di atas adalah: “Wahai Dzat yang
Maha Lembut lagi Mengasihi, Dzat yang Memiliki ‘Arsy yang mulia, Dzat yang
Memulai dan yang Cerdas, Dzat yang Melaksanakan atas Kehendak-Nya, hamba
memohon Demi Keagungan-Mu yang tiada tara, Demi semua milik-Mu yang tak
pernah habis, Demi sinar wajah-Mu yang penuh dengan partikel ‘Arsy, dan Demi
Kekuasaan-Mu yang Menguasai seluruh makhluk. Hindarkanlah kami dari
keburukan orang-orang yang berbuat aniaya.

Sebuah tesis menyebutkan, bahwa pemuda tersebut dalam suatu
kesempatan pernah berada di dalam rumah Abdullah al-Qusyairi. Sebuah rumah
yang terkenal dengan sebutan Bait al-Sibâ’ (tempat tinggal binatang-binatang
buas). Karena pemuda tersebut pernah datang ke tempat itu untuk memberi makan
dan minum kepada binatang-binatang buas pada saat-saat tertentu.

Sahal bercerita, pada awal-awal (masuk Islam. Pent) dulu aku pernah
melakukan wudhu, lalu pergi ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at.
Sesampainya di masjid, ternyata jama’ah telah penuh, namun aku tidak perduli
dan langsung menerobos deretan mereka satu-persatu sehingga sampai di shaff
(barisan) pertama. Di shaff tersebut, aku duduk dan melihat seorang pemuda
tampan lagi kharismatik di sebelah kananku. Si pemuda menyapa: bagaimana
kabarmu, wahai Sahal? Aku menjawab: baik selalu, namun yang membuat diriku
heran adalah, dari manakah ia tahu namaku. Kemudian aku ingin buang air kecil,
namun aku merasa takut dan segan kepadanya. Dalam kondisi seperti itu, aku
merasa bingung, apalagi harus keluar dan menerobosi barisan. Sementara di sisi
lain, aku tak kuasa menahan kandung kemih yang hampir bocor. Maka tiba-tiba si
pemuda itu menoleh kepadaku seraya bertanya: kamu ingin buang air kecil wahai
Sahal? Aku menjawab: benar. Kemudian si pemuda melepaskan baju wolnya dan
menutupkannya ke badanku. Ia berkata: sekarang berdirilah dan penuhi
keinginanmu dan bersegeralah agar tidak ketinggalan shalat. Aku merasa
menyusahkannya, namun aku tidak mau ambil pusing, aku langsung berdiri.
Anehnya, tiba-tiba tampak di hadapanku sebuah pintu yang terbuka lebar dan ada
seseorang yang memanggil, wahai Sahal! Masuk dan penuhi hajatmu. Setelah aku

masuk, ternyata tempat itu adalah sebuah rumah besar yang terdapat pohon kurma
di sampingnya. Selain itu, di dalam rumah nyaman tersebut terdapat tempat
bersuci yang bersih dan sudah tersedia Siwak (pasta gigi) berikut handuknya.
Tanpa berfikir panjang, aku langsung melepaskan pakaianku untuk mandi dan
buang hajat. Setelah itu, aku berwudhu dan mengusap badanku dengan handuk.
Tiba-tiba seseorang memanggil, wahai Sahal! Kamu sudah penuhi semua
keinginanmu? Aku menjawab: sudah. Mendadak wol milik si pemuda sudah tidak
lagi kupakai dan aku sudah duduk di tempatku semula tanpa diketahui oleh
seorangpun. Aku tidak habis pikir dan merasa apa yang baru aku lakukan tadi
antara mimpi dan kenyataan.

Setelah kami menunaikan shalat Jum’at, aku mengikuti jejak si pemuda
dan ternyata ia pulang menuju rumah, tempat aku memenuhi semua hajatku
sebelumnya. Mendadak ia menoleh kepadaku sambil bertanya: kamu tidak
percaya wahai Sahal? Aku menajwab: percaya. Kemudian aku menghapus kedua
mataku, dan setelah kubuka ternyata tidak melihat lagi jejak si pemuda. Semoga
Allah swt meridlainya.

Kisah ke- 101: Anugerah Allah swt atas sebagian hamba-Nya
Di masa muda, Abdullah bin Jad’an adalah seorang yang tidak kreatif,
keras kepala, sering berbuat kriminal dan sering ditangkap oleh pihak berwajib.
Sampai-sampai kedua orang tua dan seluruh sanak-kerabatnya murka dan mereka
sepakat untuk mengucilkan Abdullah. Bahkan, mereka bersumpah untuk tidak
menerima Abdullah kembali ke rumah.
Dalam keputus-asaannya, Abdullah bin Jad’an melangkahkan kaki menuju
kota suci Makkah. Tepat di atas bukit pasir, perasaan Abdullah menjadi bimbang,
antara ingin bunuh diri dan tetap hidup. Ia terus melangkahkan kakinya, sampai
suatu ketika ia melihat sebuah gua di atas gunung. Lalu Abdullah masuk ke dalam
gua itu, ia berharap ada seekor ular atau apapun yang bisa mengakhiri hidupnya.
Khayalan Abdullah hampir menjadi kenyataan. Pada saat itu terlihat di
hadapannya seekor naga yang sangat besar, dengan sepasang matanya yang
menyala laksana cahaya lampu pitroma. Abdullah bin Jad’an mencoba untuk
mendekati naga, namun naga itu tampak enggan memangsa. Lalu Abdullah

membelakangi naga tersebut, namun lagi-lagi ia tidak bereaksi. Abdullah kembali
menantang naga di depan mulutnya, ternyata naga itu masih tidak bereaksi.
Akhirnya, Abdullah memukul kepala naga dan ternyata apa yang ada di hadapan
Abdullah bukanlah hewan yang sebenarnya. Lebih dari itu adalah sebuah patung
raksasa yang terbuat dari perak. Sedangkan sepasang matanya yang memantulkan
sinar itu terbuat dari dua mutiara. Selanjutnya, Abdullah bin Jad’an memecah
bagian kepala dan mengambil dua mutiara tersebut.

Setelah bagian kepala –patung- naga itu pecah, ternyata di belakangnya
ada sebuah ruangan seperti rumah. Lantas Abdullah masuk ke dalamnya dan di
situ ia melihat ada tulang-belulang berjajar panjang. Di antara tulang-belulang itu,
terdapat satu buah batok kepala (tengkorak) yang terbuat dari perak dan di
dalamnya tersimpan sejarah dan silsilah dinasti masa silam, dari keturunan raja-
raja. Abdullah terpana mengamati peninggalan tersebut, kemudian ia bangkit dan
menelusuri ruang bagian tengah. Luar biasa, tidak di sangka Abdullah yang
tadinya sudah frustasi menjadi bersemangat ketika melihat setumpuk segala jenis
intan, permata, berlian, mutiara dan emas. Lalu Abdullah bin Jad’an mengambil
benda-benda tersebut secukupnya dan menutup pintunya kembali.

Harta karun yang didapatkan oleh Abdullah itu rupa-rupanya tidak ia
makan sendiri. Ia memberikan harta tersebut kepada kedua orang tua beserta
seluruh sanak keluarganya. Juga, para fakir-miskin berikut tetangga-tetangga yang
telah membenci dan mengucilkannya. Setelah menempuh pengalaman yang penuh
resiko itu, semua orang termasuk kedua orang tua dan sanak keluarganya menjadi
semakin simpatik dan mau menerima Abdullah bin Jad’an di tengah-tengah
mereka. Dengan demikian Abdullah bin Jad’an semakin tertarik untuk berbuat
kebajikan. Rasulullah saw bersabda: aku pernah berteduh di bawah mangkok
besar (tempat berlindung) milik Abdullah bin Jad’an, di tengah sengatan sang
surya pada siang hari yang sangat panas. Aisyah ra bertanya: wahai Rasulullah!
Apakah –amal- Abdullah bin Jad’an dapat memberi manfaat bagi dirinya?
Rasulullah saw menjawab: tidak, karena dia belum pernah berdo`a: wahai
Tuhanku, ampunilah semua kesalahanku pada hari kiamat kelak. Wallâhu A’lam.

Kisah ke- 102: Evaluasi penguasa atas kinerja para karyawan

Al-Zuhri ra menceritakan, pada suatu hari aku menghadap khalifah Abdul
Malik bin Marwan. Beliau bertanya: dari mana sajakah kamu? Saya jawab: dari
Makkah. Beliau melanjutkan: siapa yang berkuasa untuk menyuruhmu? Saya
jawab: ‘Atha` bin Abi Robah. Lanjutnya: dia itu orang Arab biasa atau seorang
bangsawan? Saya jawab: seorang bangsawan. Dia bertanya lagi: dengan apa ia
berkuasa (kepada pengikutnya)? Saya jawab: dengan agama dan amanat.

Khalifah berkata: sesungguhnya ahli agama dan ahli amanat-lah yang lebih
berkuasa atas seluruh umat manusia, lalu siapa yang berkuasa atas tanah Yaman?
Saya jawab: Thawus bin Kisan. Selanjutnya, beliau mencerca pertanyaan kepada
saya sebagaimana di atas, dan saya juga menjawab dengan jawaban yang sama.

Khalifah bertanya: siapakah yang berkuasa atas tanah Mesir? Saya jawab:
Yazid bin Hubaib dan pertanyaan kali ini juga meliputi esensi yang sama dengan
pertanyaan pertama. Lantas beliau bertanya: siapakah yang berkuasa atas tanah
Syam? Saya jawab: Makhul al-Dimsyaqi, siapa yang berkuasa atas tanah
penduduk Jazirah? Saya jawab: Maimun bin Mahran. Siapa yang berkuasa atas
tanah Khurasan? Saya jawab: al-Dhahak bin Mazahim, siapa yang berkuasa atas
tanah Bashrah? Saya jawab: Hasan bin Abi al-Hasan. Dari serentetan para
penguasa di atas, telah dipertanyakan oleh beliau dengan esensi yang sama dengan
pertanyaan pertama.

Akan tetapi, pada pertanyaan terakhir, saat beliau bertanya: siapakah yang
berkuasa atas tanah Kufah, lalu saya jawab: Ibrahim al-Nakha’i yang berasal dari
golongan orang Arab, beliau berkata: “sialan kamu, wahai Zuhri! Kamu telah
menyinggung perasaanku. Demi Allah! Sungguh, golongan mawâli (non Arab)
akan tetap berkuasa atas orang Arab, sebagaimana mereka berpidato di atas
podium, sedangkan orang-orang Arab tetap –mendengarkan- di bawah mereka.
Saya komentari: wahai Amir al-Mukminin! Sesungguhnya –keberadaan Ibrahim-
itu adalah merupakan perkara Allah. Juga, sebagai –bukti- atas kebenaran Allah
dan agama-Nya. Barangsiapa yang menjaganya, maka ia akan berkuasa, dan
barangsiapa yang merendahkannya, maka ia sendiri yang akan jatuh. Dan
sesungguhnya Allah swt itu Maha Bijaksana lagi Maha Memberitahu.

Kisah ke- 103: Etika dan keampuhan do`a orang-orang shalih

Alkisah, Ya’qub bin al-Laits petinggi tanah Khurasan sedang menderita
penyakit kronis. Sehingga tak seorang dokter pun yang sanggup untuk
mengobatinya. Banyak orang yang mengusulkan bahwa, di tempat ini ada seorang
laki-laki shalih bernama Sahal bin Abdullah. Jika tuan berkenan, kami akan
menghadirkan beliau untuk mengobati tuan. Ya’qub berkata: silahkan datangkan
dia untukku. Dan setelah Sahal bin Abdullah datang, Ya’qub berkata: berdo`alah
kepada Allah swt agar aku disembuhkan dari penyakit ini. Sahal berkata:
bagaimana saya harus mendo`akan tuan, kalau tuan sendiri terus berbuat aniaya.
Maka Ya’qub pun bertekad untuk taubat dan kembali ke jalan yang benar, serta
menjauhi kezaliman.

Perlahan-lahan tekad Ya’qub sudah dilaksanakan. Dari mulai berbuat baik
kepada rakyat, sampai membebaskan nara pidana. Setelah itu, Sahal berdo`a: Ya..
Allah, seperti yang Engkau lihat pada diri Ya’qub. Engkau tenggelamkan
maksiyat, maka berilah dia kekuatan untuk taat dan sirnakanlah marabahaya
darinya.

Dalam suatu waktu, Ya’qub bangkit dari tempat pembaringannya, bak
orang yang sedang terlepas dari suatu ikatan. Kemudian Ya’qub berkenan
memberikan imbalan sejumlah harta kepada Sahal. Akan tetapi, Sahal tidak mau
menerima pemberian tersebut dan langsung berpamitan kembali ke desanya.

Pada saat kembali pulang, Sahal mendengar orang yang mengatakan:
alangkah baiknya, jika tuan mau menerima pemberian Ya’qub dan
membagikannya kepada orang-orang fakir. Sejenak Sahal menghentikan
langkahnya, sambil menatap ke bumi. Mendadak, semua jenis kerikil dan
bebatuan yang ada di tempat itu berubah menjadi permata. Sahal berkata kepada
orang-orang di tempat itu: ambillah sesuka hatimu! Apakah ada orang yang bisa
memberikan pemberian seperti ini, sehingga kalian masih membutuhkan harta
Ya’qub bin al-Laits? Lalu mereka berkata: kalau begitu tuan tidak perlu
mengambil harta Ya’qub untuk kami.

Kisah ke- 104: Etika dan Pengalaman hidup Syaikh Isa al-Hattâni
Konon Syaikh Isa al-Hattâni pernah berpapasan dengan seorang wanita
cantik dan kurang bermoral. Beliau berkata: nanti malam aku akan datang ke

rumahmu. Mendengar ucapan itu, si wanita menjadi girang dan begitu hari
menjelang petang, ia segera berdandan sedemikian rupa.

Tak lama kemudian, setelah shalat Isya` Syaikh Isa datang ke rumah si
wanita. Sesampainya di sana, beliau langsung menunaikan shalat dua raka’at,
kemudian keluar. Si wanita berkata: saya baru melihatmu, tapi mengapa kamu
keburu mau pergi? Syaikh Isa menjawab: cita-citanya berhasil, Insya Allah.

Pada suatu ketika, datanglah sesuatu yang membuat perasaan si wanita
menjadi cemas. Kemudian ia datang kepada Syaikh Isa dan mencium tangannya.
Syaikh Isa mengerti perasaan si wanita, maka beliau segera mengawinkannya
dengan salah seorang pemuda miskin. Beliau berkata kepada pihak keluarga
mereka: buatlah suatu walîmah (pesta dan resepsi), lalu buatlah bubur sebagai
hidangan dalam pesta itu, dan jangan sekali-kali kalian membeli perangkat pesta
sedikitpun. Pesan Syaikh Isa ini segera dituruti oleh mereka. Rupa-rupanya berita
ini telah terdengar oleh sang raja, yang mana beliau dulu pernah menjadi teman
akrab dengan si wanita. Kemudian sang raja memerintahkan seorang utusan untuk
mengirimkan dua krat minuman keras (miras) kepada Syaikh Isa dengan maksud
untuk mengejek. Kepada utusannya sang raja berkata: katakan kepada Syaikh Isa,
bahwa apa yang syaikh lakukan telah didengar oleh sang raja dan sang raja merasa
senang. Maka dari itu, ambillah dua botol miras ini untuk perangkat pesta.

Syaikh Isa berkata kepada utusan raja: kamu sudah terlambat, lantas beliau
mengambil salah satu botol miras dan menumpahkan isinya untuk diisi dengan
madu. Kemudian botol berikutnya juga beliau tumpahkan dan diisi dengan
mentega. Syaikh Isa berkata lagi: silahkan duduk, dan mari kita makan bersama-
sama. Utusan raja itu tak kuasa menolak, sehingga ia pun ikut bergabung dalam
acara pesta walimah tersebut, di mana hidangan senikmat itu belum pernah ia
temui sebelumnya. Setelah selesai makan, utusan sang raja pulang dan
memberitahukan semuanya kepada atasannya.

Mendengar cerita utusannya, sang raja jadi penasaran sehingga ia pun turut
hadir dalam rangka ingin membuktikan bukti kebenaran berita yang disampaikan
oleh sang utusan. Ternyata benar, setelah sang raja memakan hidangan, ia sangat
kagum dan langsung minta maaf kepada Syaikh Isa serta bertaubat di hadapan
beliau dengan sebenar-benarnya. Inilah sekelumit berkah dari Syaikh Isa ra.

Kisah ke- 105: Keadaan zaman bersama peralihannya
Muhammad bin Abdur Rahman al-Hasyimi bercerita: pada hari raya Ied
al-Adlha, aku berkunjung ke tempat ibuku. Duduk di sebelahnya adalah seorang
wanita dengan pakaian yang sangat dekil (kotor). Ibuku bertanya kepadaku:
tahukah kamu, siapa wanita ini? Aku jawab: tidak. Lalu ibuku memberitahuku,
dia adalah Atabah Ummu Ja’far al-Barmaki (salah seorang punggawa, di masa
pemerintahan khalifah Harun al-Rasyid. Pent). Kemudian aku menyalami beliau
dan bertanya: tolong ibu beritahu aku, ada masalah apa sebenarnya dengan ibu?
Beliau menjawab: saya akan mengutarakannya kepadamu secara global dan dalam
masalahku ini terdapat sebuah preseden (teladan) bagi orang yang mau
mengambil pelajaran darinya.
Pada sebuah hari raya seperti sekarang ini, saya bertemu dengan atasan
bersama empat orang dayang (term bagi wanita pembantu raja). Saya mengira
bahwa Ja’far putraku telah durhaka kepadaku. Sedangkan kedatanganku hari ini
kepada kalian tidak lain adalah, untuk meminta dua kulit kambing. Salah satu dari
kulit itu akan saya buat busana dan satu lagi akan saya buat selimut.
Kemudian aku ( Muhammad bin Abdur Rahman) memberinya limaratus
Dirham dan aku meminta agar beliau mengembalikannya dalam limit waktu
tertentu, sampai salah seorang di antara kami ada yang meninggal dunia. Dan
beliau pun telah menepati kesepakatan ini, semoga Allah swt memberinya rahmat.

Kisah ke- 106: Bentuk penipuan dan akibatnya
Ada salah seorang tentara islam sedang naik kuda dan bermaksud untuk
membunuh Alaj. Namun anehnya, kuda itu tidak mau melangkahkan kakinya.
Maka untuk sementara tentara islam itu mengurungkan niyatnya. Pada
kesempatan yang lain, si tentara ingin mengulangi niyat untuk kedua kalinya.
Namun, lagi-lagi kudanya tak mau jalan, dan ia pun terpaksa harus menunda lagi,
begitu seterusnya sampai tiga kali.
Dengan wajah lesu si tentara kembali ke markas, sambil menyesal atas
ketidakberhasilannya untuk membunuh Alaj. Di dalam hati si tentara bertanya,
apakah gerangan yang terjadi dengan kudanya, padahal kasus semacam ini tidak

pernah terjadi sebelumnya?. Sesampainya di markas, si tentara menyandarkan
tubuhnya di tiang tenda sampai tertidur, sedangkan kudanya masih berdiri di
hadapannya. Dalam tidurnya si tentara bermimpi, seakan-akan kudanya berkata:
apakah tuan marah, karena aku tidak bersedia mengantar tuan? Hal ini tentu ada
sebab, yaitu mengapa tuan kemarin membeli rumput untukku dengan Dirham
palsu?. Seketika itu juga si tentara terbangun dan pergi mencari tukang rumput
yang telah ia beri Dirham palsu, dan setelah ketemu ia langusung menggantinya
dengan Dirham yang asli.

Kisah ke- 107: Kebejatan pemerintah dan sikap para sahabat nabi
Seorang delegasi dari salah satu kabilah bernama Qais bin Harsyah,
mendapat perintah untuk bertemu dengan Rasulullah saw. Di hadapan Rasulullah
saw, delegasi itu berkata: wahai Rasulullah! Demi kerasulanmu aku berbaiat
kepadamu, bahwa aku tidak akan berbicara selain yang benar. Rasulullah saw
membalas: boleh jadi setelah ini nanti, dalam kurun waktu satu tahun Allah swt
akan memberikan cobaan kepadamu, dengan seorang pimpinan, yang mana kamu
tidak akan pernah bisa berbicara benar di hadapan pimpinanmu itu. Qais berkata:
Demi Allah, aku tidak akan berbaiat sesuatupun kepadamu, jika tidak aku penuhi.
Rasulullah saw memberi syarat: silahkan berbaiat, jika dengan baiat itu tidak ada
suatu bahaya keburukanpun yang menimpa dirimu.
Sesungguhnya Qais sangat tidak suka kepada Ziyad beserta putranya yang
berbuat kontroversi terhadap syari’at, berbuat zalim dan lain sebagainya. Tak
lama kemudian, perlakuan Qais ini terdengar oleh Ubaidillah putra Ziyad tersebut.
Kemudian Ubaidillah mengutus seorang utusan untuk mengundang Qais.
Setibanya Qais, Ubaidillah bertanya: kamukah orang yang telah berbohong
terhadap Allah dan Rasul-Nya? Qais menjawab: tidak, namun jika kamu berkenan
akan aku beritahukan siapa orangnya. Ubaidillah bertanya: beritahu aku, siapa
dia? Qais menjawab: dia adalah orang yang melakukan perbuatan dan
meninggalkan Kitâb Allah (al-Qur`an) beserta Sunnah Rasul-Nya (al-Hadits).
Ubaidillah bertanya lagi: siapa dia? Qais menjawab: tidak lain adalah dirimu
sendiri dan bapakmu serta orang-orang yang telah memilih kalian sebagai
pemimpin bagi umat manusia. Ubaidillah berkata: berarti kamulah orang yang

mengira bahwa tidak ada suatu bahaya keburukan yang akan menimpa dirimu.
Qais menjawab: memang benar. Ubaidillah berkata: Nah! Sekaranglah saatnya,
kamu akan tahu bahwa dirimu adalah pembohong.

Serentak Ubaidillah berteriak memanggil algojo. Pada saat Qais diletakkan
di tempat penyiksaan, dia berkata: Demi Allah, tiada jalan bagimu untuk
menyiksa diriku. Kemudian Qais menoleh sebentar dan baru saja algojo akan
menghempaskan cambuknya, ternyata tubuh Qais sudah terkulai dan meninggal
dunia. Semoga Allah swt memberinya Rahmat, Maha benar Allah dan Rasul-Nya.

Tidak ada yang menentang bahwa Qais-lah seorang sahabat yang
menemani Ka’b al-Akhbar sampai ke tanah Shifin. Di tempat itu Ka’b berkata: Lâ
Ilâha Illallâh, sesungguhnya di tempat inilah akan tumpah darah tentara muslim,
di mana belum pernah terjadi pertumpahan darah –sebanyak ini- di tempat yang
lain sebelumnya. Mendadak Qais jadi marah seraya berkata: kendalikan dirimu
wahai Aba Ishaq (sebutan Ka’b)? Hal ini semua tidak lain kecuali sesuatu yang
abstrak dan Allah jualah yang menggariskan dengan Ilmu-Nya. Maka Ka’b
membalas: tidak ada sejengkal tanah pun di muka bumi ini yang tidak di gariskan
oleh Allah swt di dalam kitab Taurat yang telah diturunkan kepada Musa bin
Imran. Juga, segala sesuatu yang akan terjadi sampai nanti di hari kiamat.

Kisah ke- 108: Kehidupan sahabat pada masa Jahiliyah
Zaid bin Amr bin Nufail bin Abd al-Ghazi, atau juga dikenal sebagai putra
paman Umar bin Khaththab, sebelum diutusnya Rasulullah saw adalah penganut
taat agama nabi Ibrahim as. Dia tidak pernah menyembelih binatang untuk
berhala, memakan bangkai dan darah. Suatu hari ia bersama Waraqah bin Naufil
keluar dari agama nabi Ibrahim dan tertarik untuk memeluk agama Yahudi.
Jadilah Waraqah pemeluk Yahudi, sedangkan Zaid tidak. Tak lama kemudian,
mereka juga sama-sama tertarik dengan agama Nashrani. Pada kesempatan ini,
Waraqah kembali jadi pemeluk agama Nashrani, sedangkan Zaid masih tegar
dengan memeluk agama nabi Ibrahim as. Zaid berkata: dari kesekian agama,
ternyata tidak ada bedanya dengan apa yang dianut oleh kaum kami (para
penyembah berhala. Pent). Mereka semuanya masih mensekutukan Allah.

Pada suatu saat Zaid bertemu dengan seorang Rahib (pendeta) yang
menawarkan: kamu sekarang ingin mencari agama yang belum pernah ada di
muka bumi? Zaid bertanya: agama apa itu. Rahib menjawab: masih sama dengan
agama nabi Ibrahim. Zaid bertanya: bagaimana ajarannya? Rahib menjawab:
hendaklah kamu tidak mensekutukan Allah dan jangan mensekutukan sesuatupun
dengan Allah serta lakukanlah shalat di Ka’bah. Sejak saat itu Zaid menjalankan
ajaran tersebut hingga akhir hayatnya.

Konon Zaid juga pernah bertemu dengan Muhammad saw sebelum diutus
menjadi Rasul. Pada saat itu Muhammad hendak mulai makan bersama dengan
Abi Sufyan dalam satu tempat, dan kebetulan Zaid melintas di depan mereka,
sehingga Abi Sufyan mengajak Zaid untuk bergabung. Zaid berkata: wahai
keponakanku! Sesungguhnya aku tidak mau makan suatu makanan berupa daging
yang disembelih untuk menghormati berhala. Mendengar perkataan Zaid tersebut,
Muhammad tidak jadi makan dan prinsip itu beliau pegang sampai beliau diutus
menjadi seorang Nabi.

Dalam suatu riwayat disebutkan, bahwa Sa’id putranya Zaid di atas adalah
salah seorang dari sepuluh ulama terkemuka pada zaman Rasulullah, yang
mendapat jaminan surga dan termasuk kelompok Muhajirin pertama. Sa’id pernah
bertanya kepada Rauslullah saw: Wahai Rasulullah! Tentunya engkau telah
mengetahui, bagaimana perjalanan hidup ayahku. Apakah beliau mendapat
ampunan? Rasulullah menjawab: beliau sudah mendapatkan ampunan dan pada
hari kiamat nanti beliau juga akan dibangkitkan menjadi satu bersama aku dan
ummatku.

Kisah ke- 109: Kisah langka bersama khalifah Umar bin Abd al-Aziz
Pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah tertimpa
suatu musibah berupa kekurangan pangan (paceklik) yang sangat menghimpit.
Kondisi rakyat sudah semakin kritis, sehingga diutuslah seorang laki-laki pilihan
yang akan menjadi delegasi dari masyarakat Arab untuk berbicara dengan
khalifah. Di hadapan khalifah delegasi itu berkata: wahai Amir al-Mukminin!
Sesungguhnya kedatanganku ke sini adalah karena suatu tuntutan yang tidak bisa
ditunda lagi. Antara tulang dan kulit kami sudah hampir melekat, karena

kelaparan yang melanda sekian lama. Hanya ada satu tumpuan dan harapan hidup
kami, yaitu jika mendapatkan bantuan dari Bait al-Mâl (perbendaharaan negara).
Nah! Dari materi itu, tidak ada yang bisa diharapkan selain dari tiga eksponen,
yaitu: adakalanya langsung dari Allah swt, dari engkau pribadi, atau dari hamba
Allah yang lain.

Apabila bantuan itu datang dari Allah, kita semua tidak ada yang
membantah bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Kaya. Jika yang kami harapkan
itu datangnya dari engkau, maka segera buatlah mandat untuk mengucurkan
bantuan dari Bait al-Mâl, karena sesungguhnya Allah swt akan memberi imbalan
kepada orang-orang yang mau bersedekah. Dan jika –bantuan itu- datangnya dari
hamba, maka segera berikanlah hak seluruh rakyat dari Bait al-Mâl.

Mendengar ungkapan delegasi tersebut, khalifah Umar bin Abd al-Aziz ra
meneteskan air mata, kemudian beliau berkata: permasalahannya persis seperti
yang kamu ungkapkan wahai sang delegasi!. Kemudian khalifah memerintahkan
petugas untuk mengucurkan bantuan dari dana Bait al-Mâl. Ketika sang delegasi
telah menerima bantuan dan hendak berpamitan, khalifah berkata: wahai delegasi
yang meredeka! Sebagaimana engkau telah menyampaikan apa yang menjadi
kebutuhan hamba-hamba Allah dan engkau pula-lah yang menjadi penyambung
lidah mereka kepadaku, maka sampaikanlah semua do`a dan apa yang menjadi
kebutuhanku kepada Allah swt.

Selanjutnya delegasi Arab tersebut menengadah ke atas langit seraya
berdo`a: Aduhai Tuhanku! Demi Keagungan dan Kemuliaanmu, Perbuatlah
sesuatu untuk Umar seperti halnya apa yang telah diperbuat Umar untuk hamba-
hamba-Mu. Belum lagi delegasi Arab itu menyelesaikan do`anya, mendadak
hujan turun deras dari langit. Bersamaan dengan itu, turun pula bongkahan es
sebesar gentong. Lantas bongkahan es itu dipecah dan ternyata di dalamnya
terdapat sepucuk kertas yang bertuliskan sebagai berikut: peristiwa ini adalah
sebagai pembebasan Allah swt, Dzat yang Maha Agung kepada Umar bin Abd al-
Aziz dari siksa api neraka.

Kisah ke- 110: Berlaku Adil kepada rakyat dan masalah yang terkait

Seorang raja yang bijaksana bernama Anwisyrawan suatu hari pergi
berburu. Setiapkali ia menemukan binatang buruan, ia segera mengejar sendiri
dan meninggalkan bala-tentaranya. Dalam kesendiriannya itu, Anwisyrawan
merasa dahaga yang amat-sangat. Tanpa disengaja ia melihat sebuah pekarangan
yang letaknya tidak jauh dari tempat ia mengejar binatang buruan. Raja
Anwisyrawan segera menghampiri pekarangan yang ternyata merupakan
perkampungan penduduk.

Sang raja berdiri di depan pintu sebuah rumah dan mengetoknya, dengan
harapan ada orang yang mau memberinya air minum. Tak lama kemudian, ada
seorang bocah perempuan datang membukakan pintu. Namun, begitu si bocah
melihat sang raja, buru-buru ia kembali masuk ke dalam rumah untuk memeras
sebatang pohon gula (tebu). Setelah diambil cairannya, tebu itu dicampuri dengan
sedikit pasir dan dimasukkan ke dalam segelas air. Lalu si bocah membawanya
keluar dan memberikannya kepada sang raja.

Melihat segelas air gula yang tampak ada sedikit kotoran itu, sang raja
tidak langsung menghabiskannya, namun ia malah meminumnya sedikit demi
sedikit, sehingga hanya menyisakan sedikit endapan kotoran. Kemudian sang raja
berkomentar: minuman ini sungguh sangat lezat, namun akan lebih lezat lagi
kalau tidak ada kotorannya. Si bocah perempuan itu berkata: aku sengaja
mencampurnya ke dalam minuman tuan. Sang raja bertanya: mengapa kau
lakukan hal itu? Si bocah menjawab: ketika aku melihat tuan begitu sangat
kehausan, aku khawatir tuan akan menghabiskan minuman ini sekali tenggak,
sehingga tuan tidak mempedulikan lagi akan bahaya kotoran.

Mendengar jawaban si bocah, raja Anwisyrawan merasa kagum akan
kecerdasannya. Sang raja bertanya: berapa kali kamu memeras tebu? Si bocah
menjawab: satu kali perasan, maka sang raja menjadi semakin heran. Sepulangnya
sang raja dari berburu, ia mencoba melihat daftar nama-nama pembayar pajak,
ternyata tanah tempat tinggal si bocah pajaknya belum dilunasi. Maka dalam
benaknya sang raja bermaksud kembali ke tempat si bocah dan meminta agar dia
mau melunasi kekurangan pajaknya.

Pada kesempatan lain, sang raja berburu di tempat yang sama dan sengaja
mampir ke tempat si bocah tanpa mengajak siapapun. Setelah sampai di depan

pintu rumah si bocah, sang raja mengetok pintu dan minta segelas air minum.
Tidak asing lagi, si bocah yang dulu keluar membukakan pintu untuk kemudian
buru-buru kembali masuk dan menyiapkan air minum. Namun, dalam
mempersiapkan minuman kali ini si bocah agak terlambat. Saat si bocah
memberikan minuman, sang raja bertanya: kenapa kamu begitu lama? Si bocah
menjawab: sekarang ini kebutuhan tuan tidak hanya satu perasan tebu, tapi adalah
tiga. Sang raja bertanya: apa sebabnya? Si bocah menjawab: karena sebab
berubahnya niyat orang yang bijaksana. Sebagaimana telah aku dengar bahwa,
jika niyat seorang raja kepada kaumnya telah berubah, maka berkahnya akan
segera hilang dan niyat baiknya malah semakin sedikit.

Mendengar jawaban si bocah, sang raja menjadi tertawa dan ia segera
mencoba untuk menata hati kembali dan mengurungkan niyatnya untuk menarik
kekurangan pajak tanah si bocah. Malahan Anwisyrawan berkenan untuk
menikahi si bocah, karena ia merasa kagum akan kecerdasan si bocah.

Kisah ke- 111: Pengalaman seorang raja tatkala menyelidiki kondisi
rakyat

Raja Kisytast mempunyai seorang perdana menteri bernama Rost Rosy.
Dengan nama ini, dapat kita tebak bahwa dia adalah seorang yang saleh dan
bertakwa. Juga, sampai saat itu tak ada seorang pun yang mencelanya, namun juga
tak ada yang menilai baik. Pada suatu hari, perdana menteri melapor kepada sang
raja, bahwa rakyat telah menjadi arogan karena sikap adil kita terhadap mereka
yang terlalu banyak. Juga, karena kita jarang sekali memberi sangsi terhadap
mereka. Ada pepatah yang mengatakan: jika seorang raja berbuat adil, maka
rakyat akan menguji keadilannya. Dan sekarang ini, mereka telah mencium tanda-
tanda keruntuhan. Maka kita wajib memberikan sangsi dan menghalau mereka.
Terutama adalah mengisolasi para pembangkang, membasmi para perusuh yang
munafik dan mengeliminir orang-orang saleh.

Dalam merealisasikan usulan di atas, sang raja musti harus berkolusi
terlebih dahulu kepada perdana menteri dengan budget yang sangat mahal.
Adapun untuk alokasi biaya kolusi itu tidak lain adalah dengan cara menekan
pajak rakyat yang cukup berat. Ketika upaya tersebut sudah ditempuh, rakyat

sudah semakin miskin dan gudang harta kerajaan pun telah kosong, maka diam-
diam sang raja berkhianat untuk tidak berkolusi lagi dengan perdana menteri.
Ditambah lagi, setelah sang raja menyaksikan bahwa gudang harta benar-benar
kosong, sehingga untuk memberi kesejahteraan tentara saja tidak terpenuhi, maka
sang raja ingin mengetahui secara langsung bagaimana kondisi rakyatnya.

Dengan hati yang gelisah, sang raja berkuda di terik padang pasir. Dari
jarak jauh tampak ada sebuah tenda yang terbangun dengan permanen dan beliau
langsung menuju ke arah tenda itu. Sesampainya di dekat tenda, beliau melihat
beberapa ekor kambing yang sedang tidur dan seekor anjing yang terbunuh dan di
salib. Kemudian dari dalam tenda ada seorang pemuda gagah yang menghampiri
sang raja. Si pemuda mengucapkan salam dan sang raja langsung menjawabnya.
Setelah itu, si pemuda mempersilahkan sang raja turun dari atas punggung kuda
dan mengajak masuk ke dalam tenda. Di tempat tinggalnya itu, si pemuda
mempersiapkan hidangan dan memuliakan sang raja.

Ketika sang raja dipersilahkan menyantap hidangan, beliau berkata: aku
tidak akan mencicipi hidanganmu, sebelum kamu memberitahuku apa yang terjadi
dengan anjingmu. Lantas si pemuda menjawab: sesungguhnya anjing ini tadinya
adalah yang kupercaya untuk menjaga kambing-kambingku. Akan tetapi,
belakangan dia malah tidur bersama dan bersekongkol dengan srigala, untuk
mencuri kambing kami satu demi satu saat aku lengah. Aku jadi bertanya-tanya,
mengapa kambing-kambingku terus berkurang setiap hari? Pada suatu ketika, aku
melihat ada seekor srigala sedang mencuri seekor kambingku, namun anjingku
malah membiarkannya. Akhirnya, aku berkesimpulan bahwa anjing pengkhianat
inilah yang menjadi penyebab hilangnya kambing-kambingku. Sebagai
balasannya, aku membunuh dan menyalib anjing ini.

Setelah mendengar jawaban dari si pemuda, sang raja berfikir sejenak, di
dalam hatinya beliau berkata: rakyatku berarti kambing-kambing piaraanku. Maka
tidak ada pilihan lain bagiku, kecuali bertanya langsung kepada mereka, agar aku
bisa mengetahui apakah sebab-sebab timbulnya krisis yang melanda
pemerintahanku?. Usaha sang raja untuk mencari solusi ini cukup membuahkan
hasil. Buktinya, setelah beliau pulang ke istana dan mencoba untuk mencari
dalang intelektual di balik keterpurukan pemerintahan, beliau menyimpulkan

bahwa, semuanya ini terjadi oleh sebab kepicikan si perdana menteri. Beliau
bertitah: “Barangsiapa yang terpesona dengan sebuah nama –yang bagus- padahal
perilakunya bejat, maka ia akan bangkrut. Dan barangsiapa yang berkhianat dalam
mengumpulkan harta (korupsi dan kolosi) maka dia harus mati”. Selanjutnya,
beliau memerintahkan untuk menghukum dan menyalib si perdana menteri.

Kisah ke- 112: Watak Kecendikiaan sang raja
Alkisah raja Iskandar pernah mengutus seorang utusan untuk
mengantarkan surat kepada Daran bin Daran. Ketika sang utusan pulang dan
mengutarakan jawaban Daran (secara lisan), raja Iskandar merasakan adanya satu
kejanggalan dari jawaban Daran. Sang utusan meyakinkan, sesungguhnya aku
telah mendengar dengan kedua telingaku sendiri. Kemudian raja Iskandar menulis
lagi balasan obyektif, dan memerintahkan sang utusan untuk mengantarkan
kembali kepada Daran. Sewaktu Daran membaca balasan surat itu, ia malah
mengambil pisau dan memotong penggalan kata yang diangap janggal oleh raja
Iskandar. Daran menambah ungkapan, bahwa sesungguhnya niyat baik, sikap
egaliter dan ketegaran seorang raja itu bisa diketahui dengan melihat kejujuran
dan kebenaran perkataan orang yang diutusnya. Dan sekarang aku (Daran) telah
memotong kalimat tersebut, karena aku tidak pernah berkata seperti itu. Bagiku
(Daran) tidak ada jalan lain kecuali kamu (raja Iskandar) harus memotong lidah
utusanmu, karena sumber kejanggalan itu adalah berasal darinya.
Setelah raja Iskandar membaca surat balasan Daran, yang di dalamnya
terdapat klarifikasi atas kejanggalan kata yang tidak pernah ia ucapkan, raja
Iskandar bertanya kepada sang utusan: apa maksudmu dengan menyertakan
ungkapan kebohongan kepada rajamu? Sang utusan menjawab: karena rajaku
telah membatasi hakku dan selalu murka kepadaku. Raja Iskandar berkata: kurang
ajar kamu! Apakah aku mengutusmu untuk memperbaiki diriku atau untuk
memperbaiki dirimu? Kemudian raja Iskandar memerintahkan sang utusan untuk
menjulurkan lidahnya dan seketika itu pula lidah sang utusan dipotong.
Sebuah legenda menceritakan bahwa, orang pertama kali yang tidak
menampakkan diri sebagai golongan para raja dan justru ia mampu menyadarkan
kembali tingkah laku para raja adalah bernama Yazdajard. Pada suatu hari ada


Click to View FlipBook Version