Percayalah,
Bahwa Tuhan telah merencanakan
setiap pertemuan-pertemuan hebat sejak jauh-jauh hari.
Dengan maksud yang kini belum kita mengerti, dengan
maksud yang masih harus kita cari dan pahami.
Termasuk pertemuan Anda dengan buku ini. Hari ini.
Selamat Berkelana!
GERAKAN MENULIS BUKU INDONESIA
i
Sanksi Pelanggaran Pasal 113
Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014
Perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987
Perubahan atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982
Perubahan atas Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Hak Cipta
(1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara
Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau
pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).
(2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau
pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau
huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara
paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau
pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau
huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara
paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
(4) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang
dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling
lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah). Pasal 114 Setiap Orang yang
mengelola tempat perdagangan dalam segala bentuknya yang dengan sengaja
dan mengetahui membiarkan penjualan dan/atau penggandaan barang hasil
pelanggaran Hak Cipta dan/atau Hak Terkait di tempat perdagangan yang
dikelolanya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10, dipidana dengan pidana
denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Pasal 115 Setiap
Orang yang tanpa persetujuan dari orang yang dipotret atau ahli warisnya
melakukan Penggunaan Secara Komersial, Penggandaan, Pengumuman,
Pendistribusian, atau Komunikasi atas Potret sebagaimana dimaksud dalam Pasal
12 untuk kepentingan reklame atau periklanan untuk Penggunaan Secara
Komersial baik.
ii
HUMANITAS
MADURA
MUHAMMAD TAUHED SUPRATMAN
iii
HUMANITAS MADURA
Copyright © Muhammad Tauhed Supratman
Penulis: Muhammad Tauhed Supratman
Editor: Aditya K. Putra Penata
Letak: F. D. Abdillah Penata
Sampul: Yurdi Andani Foto
Sampul: Mohammad Redy
Cetakan Pertama, April 2019
Cetakan Kedua, Juni 2021
x + 174 hal; 14,8 x 21 cm
ISBN: 978-602-457-157-3
CV OASE GROUP
Jalan Kartika, Gang Sejahtera 1 No. 3, Jebres,
Surakarta, Indonesia
Dicetak oleh
Percetakan CV Oase Group
Isi di luar tanggung jawab percetakan
Anggota IKAPI Provinsi Jawa Tengah
Katalog Dalam Terbitan
Hak cipta dilindungi Undang-Undang
All Right Reserved
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau
seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit
iv
PRAKATA
Puji syukur alhamdulillah, penulis panjatkan hanya kepada Allah,
Tuhan Yang Mahamulia, yang menganugrahkan kesehatan jasmani
dan rohani kepada penulis, sehingga penulis dapat merampungkan
naskah buku ini. Selawat dan salam penulis haturkan keharibaan
Baginda Nabi Muhammad saw. yang telah mengajarkan kita melek
literasi: membaca, yang kemudian menulis.
Buku Humanitas Madura ini merupakan kajian sosiologi sastra
lisan (pantun Madura), sebagai salah satu bentuk pengkajian sastra
dengan memanfaatkan teori-teori sosial untuk mengungkapkan
nilai-nilai yang ada di dalam karya sastra, khususnya pantun
Madura. Buku ini dalam kajiannya bersentuhan dengan kehidupan
sosial, budaya, dan adat istiadat masyarakat Madura. Oleh karena
itu, implikasi akademisnya, buku ini dapat dimanfaatkan bagi studi
sastra dalam upaya mengembangkan kajian-kajiannya pada mata
kuliah Sosiologi Sastra dan Sejarah Sastra Madura. Buku ini juga
bermanfaat bagi pemerhati sastra dan pemerhati masalah-masalah
sosial dan budaya, yang fokusnya pada persoalan kehidupan sosial
budaya masyarakat Madura.
Buku Humanitas Madura: Kajian Sosiologi Sastra Lisan ini lahir
dan ada di tengah-tengah pembaca karena jasa para guru dan dosen
v
yang telah membimbing, mendidik, dan mengajarkan penulis untuk
mencintai ilmu melalui keterampilan berbahasa, terutama
keterampilan membaca dan menulis. Kepada beliau, penulis
sampaikan rasa hormat dan terima kasih tiada tara.
Penulis mengucapkan terima kasih yang tulus dan ikhlas
kepada Bapak dan Ibu motivator, guru-guru saya, dan teman, yakni:
Dr. Ir. Rizsqina, M.P. (Rektor Universitas Madura), Dr. Faisal Estu
Yulianto, S.T., M.T. (Wakil Rektor I Universitas Madura), Drs. Ec.
Isnain Bustaram, M.M. (Wakil Rektor III Universitas Madura),
Rahmad, M.Pd. (Wakil Rektor III Universitas Madura), Drs. H. Abdul
Roziq, M.H., Dra. Sri Harini, M.M., Dra. Yanti Linarsih, M.Pd. (Dekan
FKIP, Universitas Madura), Sri Indriati Hasanah, S.S., M.Pd., Harsono,
M.Pd., yang telah memberikan dorongan moril bagi penulis untuk
terus berbuat. Terima kasih yang mendalam juga penulis sampaikan
kepada Saudara Royyan Julian, S.S., M.A. yang telah sudi menerima
penulis berdiskusi dalam berbagai hal berkaitan dengan sastra dan
penulisan buku ini. Semoga amal baik Bapak dan Ibu dicatat sebagai
amal saleh oleh Allah Subhanahu wata’ala. Amin, amin, amin ya
robbal alamin.
Penulis sampaikan terima kasih kepada istri tercinta Sitti
Haerani yang telah bersusah payah menemani penulis dan menjaga
anak-anak kami, Raeesa Fahmida Zahra dan Zafier Ahyansyah.
Semoga Allah Subhanahu wata’ala senantiasa melimpahkan karunia
kepada keluarga kami. Aamiin ya robbal alamin.
Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa karya kecil yang belum
pantas disebut karya ini masih banyak “retak”-nya. Untuk itu, tegur
sapa berupa kritik dan saran yang bersifat membangun senantiasa
penulis harapkan dari pembaca.
Mudah-mudahan buku yang masih jauh dari kata “sempurna”
ini ada pula manfaatnya –walaupun kehadirannya hanyalah sebutir
pasir di gurun luas– bagi para pembaca yang telah dengan sadar
memilih sastra, khususnya puisi, sebagai sebagian dari hidupnya.
Semoga.
Pamekasan, 11 Maret 2019
Muhammad Tauhed Supratman
vi
DAFTAR ISI
PRAKATA ........................................................................................................ v
DAFTAR ISI.................................................................................................. vii
BAB 1 HUMANITAS MADURA: PAPARAN AWAL ...............................1
A. PENGANTAR ..................................................................................................1
B. METODE PENULISAN ................................................................................8
BAB 2 PANTUN MADURA ....................................................................... 11
A. PENGERTIAN PANTUN MADURA......................................................11
B. CIRI-CIRI PANTUN MADURA...............................................................15
C. JENIS PANTUN MADURA.......................................................................17
BAB 3 HUMANITAS MADURA ............................................................... 22
A. SIKAP MASYARAKAT MADURA..........................................................22
1. Sikap Terhadap Tuhan ......................................................................22
2. Sikap Terhadap Sesama Manusia..................................................23
3. Sikap Terhadap Pribadi.....................................................................24
B. NILAI KEHIDUPAN...................................................................................26
vii
1. Pengertian Nilai....................................................................................26
2. Macam-macam Nilai ........................................................................... 27
a. Nilai Kebenaran atau Kenyataan ........................................... 27
b. Nilai Estetika .................................................................................. 29
c. Nilai Moral ....................................................................................... 29
d. Nilai religius....................................................................................30
C. KEARIFAN LOKAL ....................................................................................31
1. Pengertian Kearifan Lokal ...............................................................31
2. Kearifan Lokal Madura ...................................................................... 32
a. Komunikasi dengan Tuhan ...................................................... 33
b. Komunikasi Antarmanusia....................................................... 35
c. Komunikasi dengan Masyarakat ...........................................36
3. Sastra dan Kearifan Lokal Madura ...............................................37
D. KONSEP MAKNA ISI PANTUN MADURA.........................................40
1. Pengertian Makna................................................................................40
2. Konsep Makna Konotasi ...................................................................41
3. Konsep Makna Kontekstual.............................................................43
BAB 4 SIKAP HIDUP ORANG MADURA .............................................. 44
A. SIKAP TERHADAP TUHAN ...................................................................44
B. SIKAP TERHADAP SESAMA MANUSIA............................................64
C. SIKAP TERHADAP PRIBADI .................................................................82
BAB 5 NILAI-NILAI KEHIDUPAN ORANG MADURA ....................... 94
A. NILAI KEBENARAN..................................................................................94
B. NILAI ESTETIKA..................................................................................... 107
C. NILAI MORAL .......................................................................................... 110
D. NILAI RELIGIUS...................................................................................... 112
ix
BAB 6 KEARIAFAN LOKAL MADURA................................................114
A. KOMUNIKASI DENGAN TUHAN ...................................................... 114
B. KOMUNIKASI ANTARMANUSIA ...................................................... 123
C. KOMUNIKASI DALAM MASYARAKAT........................................... 129
BAB 7 MAKNA PANTUN BAGI ORANG MADURA ..........................140
A. MAKNA KONOTATIF ............................................................................ 140
B. MAKNA KONTEKSTUAL ..................................................................... 152
BAB 8 PENUTUP ......................................................................................161
GLOSARIUM ..............................................................................................164
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................167
TENTANG PENULIS.................................................................................171
viii
x
BAB 1
HUMANITAS MADURA:
PAPARAN AWAL
A. PENGANTAR
Etnik Madura mempunyai aneka ragam kekayaan budaya.
Koentjaraningrat menjelaskan bahwa konsep budaya dapat
diartikan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya
manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan
milik diri manusia dengan belajar (dalam Supratno, 1998: 1,
1999: 1). Sedangkan Speradley dan McCurdy (dalam Supratno,
1998: 1, 1999: 1) menegaskan bahwa “budaya juga dapat
diartikan pengetahuan yang diperoleh manusia dan memakainya
untuk menerangkan pengalaman dan membangkitkan tingkah
laku sosial”.
Salah satu kekayaan budaya etnik Madura adalah Pantun
Madura. Pantun Madura tersebut keberadaannya di tengah-
tengah masyarakat sekarang dapat dikatakan hampir punah dan
kurang mendapatkan perhatian dari generasi mudanya.
Pantun merupakan salah satu jenis puisi asli Indonesia.
Hampir di semua daerah di Indonesia dapat kita jumpai tradisi
berpantun. Pantun sangat cocok untuk suasana tertentu, seperti
halnya juga karya seni lain hanya tepat untuk suasana tertentu
pula. Dalam upacara perkawinan banyak digunakan pantun
untuk sambutan; sehingga timbul suasana keakraban dan
Muhammad Tauhed Supratman 1
terjalin komunikasi. Gadis dan jejaka yang berkenalan, bercinta,
atau menyatakan kasihnya juga sering menggunakan pantun
karena ungkapan secara langsung dipandang kurang tepat.
Ungkapan langsung dalam pantun diberi antara oleh sampiran
sehingga penerima ungkapan (orang yang dimaksud) itu tidak
merasa terkejut. Tanggapan orang yang diajak bicara pun jika
bersifat kasar juga tidak begitu menyakitkan hati karena
tanggapan itu diperantai oleh sampiran.
Pantun di daerah Melayu disebut dengan nama “pantun”, di
daerah Batak Mandailing disebut “Ende-ende”, sedangkan di
Pulau Jawa disebut “parikan”. Demikian pula dengan daerah lain
di nusantara ini. Di Madura, pantun kadang kala disebut
“paparegan”. Ada pula yang menyebutnya “kejung”, karena
ekejungangi, atau dikidungkan (Imron, 2005: 6). Tetapi secara
umum orang atau masyarakat Madura lebih sering menggunakan
istilah “pantun”. Pantun Madura tersebut dalam satu baitnya
terdiri empat baris, baris pertama dan kedua disebut sampiran,
sedangkan baris ketiga dan keempat dinamakan isi.
Rima dalam pantun Madura sangat mendapatkan perhatian
untuk menjaga keindahan bagi pendengaran, karena pantun
Madura ini merupakan sastra lisan atau folklor. Dalam pantun
Madura, baris kesatu dan kedua yang kita kenal dengan nama
sampiran itu kadang-kadang tidak mengandung arti apa-apa,
kadang kala mempunyai arti. Tetapi aspek bunyi yang terdapat
dalam sampiran itu seakan-akan ada hubungan estetis dengan
baris ketiga dan keempat yang kita kenal dengan nama isi
pantun tersebut. Antarbaris pertama dengan baris ketiga, dan
baris kedua dengan baris keempat, terjalin benang halus yang
dipadukan oleh persamaan bunyi (Imron, 2005: 6).
Penyair “Celurit Emas” (2005: 6) menambahkan bahwa
selain bunyi perlu juga diperhatikan bahwa sampiran-sampiran
dari pantun Madura tersebut dapat membangkitkan imajinasi
kita untuk menangkap alam lain yang kadang-kadang imajis dan
bahkan surealistis.
Keberadaan sampiran dari paparegan (pantun Madura) juga
memiliki kecenderungan yang sama dengan pantun Melayu
2 HUMANITAS MADURA
seperti yang diungkapkan oleh Mahayana (2005: 189-190)
bahwa:
1. sampiran lazimnya mengungkapkan citraan alam dan benda-
benda konkret,
2. hubungan antarkata dalam satuan sintaksis dan semantis,
seringkali tidak logis,
3. sebagai konsekuensi butir kedua, maka kalimat dalam
sampiran tidak mudah dipahami,
4. satuan kalimat dalam sampiran tampak lebih kompleks, dan
5. mengingat sampiran lebih menekankan pada bunyi, dan bukan
makna, maka ada semacam licentia poetica yang digunakan
pemantun, yaitu kebebasan untuk menyimpang dari
kenyataan, dari bentuk atau atruan konfensional untuk
menghasilkan efek yang dikehendaki.
Untuk lebih jelasnya marilah kita perhatikan paparegan
(Pantun Madura) berikut ini:
Nyare kaju ka alas lao’
Ta’nemmo gaggare jete
Oreng amadu panas perro’
Ta’nemmo jembarra ate
(Mencari kayu ke hutan selatan
tak mendapatkan ranting jati yang jatuh
orang dimadu itu sakit hati
sulit menemukan ketenangan batin) (Supratman, 2016: 40)
Demikian halnya dengan isi paparegan (pantun Madura)
tersebut sebagian besar juga memiliki kecenderungan yang sama
pula dengan pantun Melayu antara lain:
1. perkara tingkah laku, moral, etika yang semuanya berpulang
pada diri individu,
Muhammad Tauhed Supratman 3
2. hubungan antarkata dalam satuan sintaksis dan semantis,
dapat diterima dan logis,
3. tata kalimat relatif dapat dipahami,
4. menggunakan kalimat sederhana, dan
5. memperhatikan konfensi yang berlaku. (Mahayana, 2005: 190)
Pantun Madura berdasarkan isi (temanya) terdiri atas
empat macam, yaitu: (1) Pantun Sè-kasèan (Pantun Cinta Kasih),
(2) Pantun Bhâbhurughân (Pantun Nasihat), (3) Pantun Agama
(Pantun Agama), dan (3) Pantun Loco (Pantun Lelucon).
Perkembangan kebudayaan di tanah air umumnya,
khususnya di Madura, menunjukkan adanya gejala perubahan,
yakni masuknya budaya dan perpindahan penduduk yang
semakin mudah mengakibatkan arus budaya yang semakin kuat
mendesak kebudayaan daerah lain. Indarini (dalam Gazali; 2001:
9) menjelaskan bahwa ada tiga kemungkinan sikap masyarakat
di dalam menghadapi intervensi budaya luar, (1) tetap
mempertahankan jati diri dan tetap mempertahankan norma-
norma tradisional, (2) cenderung mengikuti atau hanyut sama
sekali ke dalam arus budaya luar, atau (3) cenderung
menggunakan filter penyaring budaya luar, sehingga budaya
tradisional tetap dipertahankan dan tetap mengikuti zaman
secara selektif. Perubahan itulah yang perlu dicermati melalui
penelitian, misalnya penelitian sastra lisan.
Dalam studi sastra lisan, seni sastra dalam bahasa Madura
digolongkan ke dalam studi foklor. Studi semacam ini menarik
dilakukan karena foklor merupakan bagian budaya tradisional
yang sangat merakyat. Mengkaji foklor dapat kita temukan ilmu
pengetahuan, pemahaman terhadap dunia mereka, nilai-nilai,
sikap asumsi, perasaan, dan keyakinan yang dimiliki oleh
masyarakat. Khasanah kebudayaan tersebut dapat ditemukan di
masyarakat dalam bentuk lisan atau perbuatan, misalnya
seorang laki-laki mencintai seorang perempuan, maka sang laki-
laki akan menggunakan pantun untuk mengungkapkan isi
hatinya contoh: /Ka Sorbaja lem-malemma/pokol settong ka
Semarang//Pokokna padha ngen-angenna /mayettongnga ka
dika sorang//. (Terjemahan: Ke Surabaya di kala sore/Jam satu
4 HUMANITAS MADURA
ke Semarang//Asalkan sama kehendaknya/akan setia padamu
seorang//--pen.) (Supratman, 2016: 40).
Khasanah tersebut bisa saja dimiliki oleh masyarakat lain,
sehingga masyarakat yang bersangkutan tetap mampu
berinteraksi dan dipengaruhi oleh khasanah budaya yang
dimiliki oleh masyarakat dengan kebiasaan yang berbeda
(Branvand, dalam Gazali, 2001: 9).
Foklor dalam bahasa Madura dapat dipandang sebagai
tradisi lisan, sebab seni budaya tersebut tergolong ke dalam
tradisi turun-temurun. Branvand (dalam Gazali; 2001: 10)
mengatakan bahwa: “yang tergolong ke dalam tradisi lisan
adalah bahasa rakyat, prosa rakyat yang berupa mite, legenda,
dan dongeng, serta nyanyian rakyat (pantun-pen) dan
permainan anak-anak”. Pengertian lisan sangatlah longgar.
Dikatakan demikian karena di dalam masyarakat yang belum
mengenal tulisan segala sesuatu disampaikan melalui bahasa
lisan termasuk di dalam karya sastra. Akibatnya, cipta budaya
yang dihasilkan oleh suatu masyarakat berbentuk sastra lisan
disampaikan secara lisan pula. Oleh karena itu sifat yang
demikian tradisi lisan bisa berbeda bentuk dan isinya dari suatu
tempat ke tempat lain, dari generasi ke generasi yang lain
(Gazali, 2001: 10).
Imron (dalam Huub de Jonge, 1985: 180) menjelaskan
bahwa walaupun Madura sudah lama mengenal dunia tulis
menulis, tetapi sampai sekarang belum ditemukan hasil karya
sastra yang benar-benar tua, sastra lama kebanyakan berupa
sastra lisan yang cukup diingat dalam kepala, kemudian
dialihkan dari mulut ke mulut yang tidak mustahil dalam
mengarungi perjalanan waktu bisa mengalami perubahan yang
disebabkan berbagai hal. Sehingga sebuah pantun di sebuah desa
pada saat ini terdapat dalam pantun sama yang ditemukan di
desa lain. Apalagi pantun yang sudah ada sejak puluhan tahun
yang lalu, yang sudah mengalami perubahan karena pantun
tersebut tidak tertulis.
Tetapi, di sisi lain ternyata puisi (pantun Madura – pen)
dapat dijadikan konvensi terhadap kegiatan sosial bahkan
menurut Imron (dalam Aminuddin, 1990: 142) puisi (pantun
Muhammad Tauhed Supratman 5
Madura) dapat juga menjadi kritik sosial yang mencoba
menganalisis gejala-gejala sosial dengan mempertentangkan
sistem simbol. Berdasarkan pernyataan di atas, tidak diragukan
lagi bahwa pantun Madura sebagai salah satu genre sastra yang
ada di Pulau Garam ini memang mengandung berbagai makna
yang dapat berguna bagi kehidupan kita, khususnya masyarakat
Madura. Seiring dengan kemajuan zaman dan perkembangan
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), pantun Madura
cenderung mendekati punah. Bahkan mungkin saat ini hanya
sebagian kecil masyarakat Madura yang masih mengungkapkan
pantun Madura dengan baik, padahal pada hakikatnya isi pantun
Madura tersebut mengandung makna yang sangat dalam sejalan
dengan budaya daerah ataupun budaya bangsa Indonesia.
Pantun Madura sebagai hasil karya sastra rakyat, tentunya
tidak terlepas dari bahasa sebagai medianya. Bahasa dan budaya
merupakan dua sisi mata uang yang berbeda, tetapi tidak dapat
dipisahkan. Bahasa merupakan cermin budaya dan identitas diri
penuturnya. Melalui bahasa, budaya kelompok masyarakat
tertentu bisa diketahui. Budaya tercermin dari apa yang
dikatakan oleh masyarakat penuturnya. Keistimewaan bahasa
yang dipakai suatu masyarakat atau bangsa tertentu membatasi
cara-cara berpikir dan pandangan hidup masyarakat atau bangsa
yang bersangkutan terhadap fenomena tempat mereka hidup.
Susunan bahasa dan keistimewaan lain yang dimilikinya
merupakan faktor dasar bagaimana suatu masyarakat
memandang hakikat alam dan tempat mereka berada. Bahasa itu
sudah terimplikasi secara langsung dalam “bentuk-bentuk
kehidupan” manusia. Bahasa tidak hanya dipandang sebagai alat
komunikasi antar penutur satu dengan yang lainnya, namun di
balik pemakaian bahasa tersirat pandangan hidup penutur, serta
lebih luas pandangan hidup serta identitas suatu bangsa
tertentu. Sikap hidup masyarakat tertentu dapat diketahui lewat
bahasa atau ujaran-ujarannya, demikian dari pernyataan di atas.
Ujaran-ujaran ini tidak hanya sekadar perbincangan sehari-hari,
namun bisa juga berbentuk ungkapan yang lebih filosofis. Salah
satunya yaitu dalam bentuk pantun. Ada orang yang mengatakan
bahwa jalan pintas untuk memahami segala sesuatu tentang
bangsa atau suatu budaya adalah dengan menelaah atau
6 HUMANITAS MADURA
mendalami pantun. Pantun muncul dari pengalaman hidup masa
lampau nenek moyang. Seluruh pengalaman dari segi mana pun,
diaktualisasikan lewat tradisi lisan yang berbentuk pantun.
Tidak hanya sekadar menjadi sebuah pantun yang tidak memiliki
fungsi apa-apa, pantun juga berfungsi sebagai pengukuh pranata
dan lembaga kebudayaan, alat pengawas dan pemaksa
pematuhan norma masyarakat, instrumen pendidikan, dan juga
alat komunikasi dalam kontrol sosial (Danandjaja, 1994: 32).
Pengaktualisasian budaya suatu masyarakat pun bisa terjadi
lewat sebuah pantun mengingat fungsi-fungsi dari pantun di
atas.
Pantun juga bukan ungkapan peraturan yang hanya bisa
menjadi pajangan, namun pantun bisa menjadi suatu spirit
dalam hidup manusia. Spirit atau semangat dalam diri manusia
bisa saja terlupakan akibat adanya suatu falsafah hidup dan
menjadi budaya pada masyarakat tertentu. Pantun dapat pula
sebagai alat penyemangat untuk menjalani kehidupan sehari-
hari yang pada akhirnya menjadi prinsip atau ideologi dalam
hidup. Jadi, tindakan yang selalu dilakukan manusia di setiap
detik hidupnya selalu bertumpu atau berpegang pada prinsip
dalam hidupnya.
Berbicara tentang pantun, di Indonesia yang terdiri dari
berbagai suku-suku bangsa tentu saja memiliki banyak warisan
budaya lisan berupa pantun ini. Salah satunya adalah pantun
Madura atau dalam bahasa Maduranya paparegen, (pari’an-
Jawa). Madura sangat unik sehingga peneliti menggunakan objek
kajian pantun dari Madura. Keunikannya itu bisa dilihat dari
bahasa serta perilaku orang Madura yang berbeda dengan orang
kebanyakan. Namun, banyak hal yang belum terekspos secara
maksimal di Madura. Bukan hanya kekayaan alamnya, tetapi juga
kekayaan budaya yang memiliki nilai luhur tinggi. Jika tidak
terjaga dengan baik, bukan tidak mungkin keluhuran itu akan
luntur digempur gelombang globalisasi. Kekayaan budaya ini
salah satunya adalah dalam bentuk pantun Madura.
Hal yang paling menonjol dan kental ketika orang
mendengar Madura adalah sikap manusia Madura yang sangat
menjunjung tinggi harga diri. Harga diri berarti penghormatan
Muhammad Tauhed Supratman 7
yang berlebihan pada diri sendiri serta orang lain seperti; orang
tua, tetuah adat, ulama, dan lain-lain. Pada dasarnya harga diri
yang sesungguhnya adalah merupakan harga diri atas
kemuliaan karakter manusia, yang meliputi keadilan,
ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran, dan kelembutan. Kita
dituntut untuk memiliki hal-hal tersebut agar bisa memiliki
harga diri yang tinggi yang sesungguhnya. Ungkapan di atas
dapat diwujudkan melalui pembelajaran setiap hari. Hari-
hari yang kita jalani, seharusnya dapat kita jadikan
kesempatan untuk mengikis karakter buruk dalam diri kita
dan mengembangkan kebiasaan baik untuk mewujudkan
harga diri yang sesungguhnya. Dengan inilah kita bisa
menjadi orang yang benar-benar berharga. Pengagungan
harga diri pun menjadi salah satu pribadi manusia Madura yang
pada akhirnya menjadi prinsip hidup orang Madura secara
umum. Bahkan ada pantun Madura yang memuat hal tersebut
yaitu: Orèng males tadhâ’ lakona/Lakona ngokor
dhâlika/Palerres tèngka lakona/Ma’ kantos kacalè dhika//
Terjemahan: Orang malas tak mau bekerja/kerjanya mengukur
tempat tidur/yang baik dalam bekerja/agar engkau tidak
ditegur// (Supratman, 2016: 55) Begitulah, salah satu sikap yang
dijunjung tinggi orang Madura tentang pentingnya manusia
melakukan perbuatan yang berguna bagi manusia lain. Oleh
karena itu, sejak dini orang-orang tua mengajak dan
menekankan kepada anak-anaknya agar memperhatikan tindak
perbuatan yang baik yang berguna bagi masyarakat. Pesan-
pesan moral yang seperti itu juga muncul dalam sejumlah
paparegan nasihat, di samping juga menekankan pentingnya
menjalankan syariat Islam, sebagaimana yang dinyatakan dalam
filosofi orang Madura, bahwa sejak bayi orang Madura telah
berbantalkan syahadat, berpayungkan perlindungan Allah, dan
berselimutkan selawat (abantal sadhat apajung Alla asapo’
salawat).
B. METODE PENULISAN
Buku ini merupakn pengembangan dari penelitian yang
dirancang sebagai penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif.
8 HUMANITAS MADURA
Ratna, Miles dan Huberman (dalam Taufiq, 2017: 5)
mengemukakan bahwa hal-hal yang terdapat dalam penelitian
kualitatif adalah data yang adal di dalamnya berupa kata, kalimat
dan paragraf yang relevan dengan fokus penelitian. Data
tersebut mungkin telah dikumpulkan dalam aneka macam cara
(observasi, wawancara, intisari dokumen, pita rekaman), dan
biasanya “diproses” kira-kira sebelum siap digunakan (melalui
pencatatan, pengetikan, penyuntingan, atau alih-tulis), tetapi
analisis kualitatif tetap menggunakan kata-kata, yang biasanya
disusun ke dalam teks yang diperluas. Data dalam penelitian ini
adalah data kualitatif, yaitu data yang berupa kata-kata yang
berkaitan dengan fokus kajian. Data penelitian ini adalah pantun
Madura yang mengandung sikap masyarakat Madura, nilai-nilai
kehidupan, kearifan lokal, dan makna isi pantun.
Sumber data yang digunakan berupa buku kumpulan
pantun yang berjudul Paparégân: Pantun Madura Puisi Abadi
editor M. Tauhed Supratman. Buku ini merupakan kumpulan
pantun Madura yang dikumpulkan oleh editor untuk
melestarikan sastra asli Madura berupa pantun. Pengambilan
sumber data didasarkan pada tujuan penulisan buku ini, yaitu
untuk mengkaji dan mengetahui lebih jauh tentang sikap
humanitas masyarakat Madura yang meliputi sikap masyarakat
Madura, nilai-nilai kehidupan, kearifan lokal, dan makna isi
pantun yang terdapat dalam Paparegan: Pantun Madura Puisi
Abadi.
Menurut Lofland dan Lofland dalam Moleong (2009: 157)
menjelaskan bahwa sumber data utama dalam penelitian
kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data
tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Sumber data penelitian
ini berupa buku kumpulan pantun yang berjudul Paparéghân:
Pantun Madura Puisi Abadi editor M. Tauhed Supratman. Buku
ini merupakan kumpulan pantun Madura yang dikumpulkan
oleh editor untuk melestarikan sastra asli Madura berupa
pantun. Pengambilan sumber data didasarkan pada tujuan
penelitian, yaitu untuk mengkaji dan mengetahui lebih jauh
tentang sikap masyarakat Madura dalam pantun Madura yang
meliputi sikap ketuhanan, sikap pribadi, dan sikap
kemasyarakatan yang terdapat dalam pantun Madura. Selain itu
Muhammad Tauhed Supratman 9
juga dalam pantun Madura juga terkandung berbagai nilai
kehidupan antara lain nilai kebenaran dan kenyataan, estetika,
etika, moral, dan religius. Pantun Madura juga mengungkapkan
persoalan yang bersumber dari kehidupan seperti (1)
komunikasi dengan Tuhan, (2) komunikasi antarmanusia, (3)
komunikasi dalam keluarga, (4) komunikasi dalam masyarakat,
dan (5) komunikasi dengan alam.
Hasil penelaahan kepustakaan ditemukan bahwa Bogdan
dan Biklen mengajuka lima buah ciri, sedang Lincoln dan Guba
mengolah sepuluh ciri penelitian kualitatif. Sebelas ciri ini
merupakan hasil pengkajian dan sintesis kedua versi tersebut
(Moleong, 2009: 8-13): (1) latar alamiah, (2) manusia sebagai
alat, (3) metode kualitatif, (4) analisis data secara induktif, (5)
teori dari dasar (grounded theory), (6) deskriptif, (7) lebih
mementingkan proses daripada hasil, (8) adanya batas yang
ditentukan oleh fokus, (9) adanya kriteria khusus untuk
keabsahan data, (10) desain yang bersifat sementara, (11) hasil
penelitian dirundingkan dan disepakati bersama.
10 HUMANITAS MADURA
BAB 2
PANTUN MADURA
A. PENGERTIAN PANTUN MADURA
Pantun adalah seni asli di Indonesia, ini nyata benar karena
pantun itu tersebar di kepuluan Indonesia, dengan bentuk dan
susunan yang semacam dengan nama lain. Di daerah Melayu bisa
disebut dengan nama pantun, di Daerah Batak Mandailing: Ende-
Ende, di Pulau Jawa: Parikan, di Jawa Timur: Lagu Ludruk, dan di
daerah Jawa Barat: Lagu Doger, lagu di atas semuanya
dinyanyikan orang (Muljana, 1951: 122).
Imron (dalam Huub de Jonge, 1985: 189) menjelaskan
bahwa paparegan (paparekan) ialah semacam puisi pendek yang
memakai sampiran. Satu bait terdiri dari empat larik, dua larik
sampiran, dan dua larik selanjutnya merupakan isi, dengan pola
rima a-b a-b. Paparegan yang lebih panjang dari itu ialah seperti
pantun dalam sastra Melayu.
Contoh:
Ka gunong ngala’ nyarowan
Kope bella kabaddha’a
Pekker bingong ta’ karowan
Nape bula katamba’a
(Ke gunung mengambil lebah
Muhammad Tauhed Supratman 11
Botol pecah dijadikan wadahnya
Pikiran bingung tidak karuan
Apakah yang akan saya jadikan obatnya). (Supratman, 2016:
20)
Menurut Djajadiningrat (dalam Muljana, 1951: 110-111)
pernah menulis tentang pantun dengan pemandangan beliau
tentang arti pantun yang sebenarnya, menurut beliau arti pantun
adalah “ibarat”. Parkamin dan Bari (1973: 153) menyatakan
bahwa dalam kesusasteraan Melayu, pantun termasuk puisi yang
digolongkan kepada puisi rakyat. Di kalangan rakyat, fungsi
pantun sangat hidup. Sedangkan Eddy (1991: 144), menyatakan
bahwa pantun termasuk karya sastra asli Indonesia. Bentuk ini
sudah ada sebagai karya sastra lisan sebelum bangsa Indonesia
menerima pengaruh kesusastraan asing. Dalam kesusastraan
daerah di kawasan Indonesia juga terdapat bentuk sastra sejenis
pantun. Waluyo (1987: 9) menyatakan bahwa pantun adalah
puisi asli Indonesia. Hampir di semua daerah di Indonesia
terdapat tradisi berpantun. Pantun tepat untuk suasana tertentu,
seperti halnya juga karya seni lainnya hanya tepat untuk suasana
tertentu pula. Dalam upacara perkawinan banyak digunakan
pantun untuk sambutan. Penggunaan pantun dalam acara
tersebut dapat membangun suasana keakraban. Gadis dan jejaka
yang berkenalan, bercintaan, atau menyatakan perasaan dan isi
hatinya juga menggunakan pantun karena ungkapan secara
langsung dipandang kurang tepat. Ungkapan langsung dalam
pantun diberi antara oleh sampiran sehingga penerima
ungkapan itu tidak merasa terkejut. Tanggapan orang yang tidak
bicara pun jika bersifat kasar juga tidak begitu menyakitkan hati
karena tanggapan itu diperantarai oleh sampiran.
Contoh :
Sattanangnga èsassa’a,
èsebbhiddhâ noro’ lorong
èmanna sè tapèsaa
Karè abid sè along-polong.
12 HUMANITAS MADURA
(Sapu tangannya akan dicuci,
Akan disobek sepanjang jalan,
Sangat kasihan untuk berpisah,
Karena sudah terlalu lama kita bergaul). (Supratman, 2016:
28)
Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa penciptaan
sampiran tidak berhubungan dengan makna isi. Namun
demikian sampiran itu seringkali juga mengandung makna, dua
baris yang merupakan sampiran itu adalah kesatuan makna pula.
Meskipun maknanya tidak berhubungan dengan makna baris-
baris berikutnya, makna sampiran hanya bersifat permainan.
Oleh sebab itu, bagian ini disebut sampiran.
Dengan demikian pantun selesai dalam satu bait saja, hal ini
mungkin juga disebabkan dalam pantun tidak ada tambahan bait
sehingga penciptaan pantun harus menuntaskan gagasan dalam
satu bait itu saja. Waluyo (1987: 11) menyatakan bahwa ada
beberapa ahli sastra berkebangsaan Belanda yang mengacaukan
pengertian pantun dengan wangsalan dalam kesusastraan Jawa.
Pantun sama dengan parikan dan tidak sama dengan wangsalan.
Di dalam parikan hanya ada saran bunyi pada dua baris yang
lazim disebut sampiran.
Saran bunyi dalam sampiran itu lazim menggunakan bahasa
daun-daunan (seperti juga kebanyakan pantun dalam wangsalan
dua baris pertama tidak hanya merupakan dasar bunyi tetapi
merupakan teka-teki yang akan terjawab pada unsur-unsur isi.
Contoh wangsalan:
Kulik priya (Tuhu), priyagung Anjani Putro (Anoman) Tuhu
Eman, Wong Anom Wdi kangelan teka-teki yang berbunyi kulik
priya atau burung kilik jantan dijawab dengan kata “Tuhu”
berarti sungguh. Pernyataan priyagung Anjani Putro “priya
perkasa putra Anjani adalah Anoman. Dalam isi dijawab dengan
kata “Anom yang berarti mida. Wangsalan ini memberi nasihat
kepada orang muda agar rajin dan tidak takut menderita.
Muhammad Tauhed Supratman 13
Sedangkan Waluyo (2000: 49) menambahkan pantun
adalah jenis puisi lama yang terdiri atas empat baris, memiliki
rima (persamaan bunyi) /ab-ab/ dengan baris pertama dan
kedua merupakan sampiran (semacam teka-teki) dan baris
ketiga dan keempat merupakan isi. Tajib (tanpa tahun: 20)
menyatakan bahwa pantun e dhalem settong bait agandhu’ 4
garis, kadaddiyan dhari: garis nomer settong (1) sareng gais
nomer dhuwa’ (2), enyamae: “samperan”, dineng garis nomer
tello’ (3) sareng nomer empa’ (4), enyamae: “esse”. Samperan
dhuwa’ garis kaator e attas, kengeng okarana agadhuwi makna
kengeng juga bunten. Dining esse se dhuwa’ garis e babana
samperan gella’ aropa okara se agadhuwi arte, cocok sareng
karebba oreng seaguna’agi pantun (pantun dalam satu bait
terdiri dari empat baris, baris pertama dan baris kedua
sampiran, baris ketiga dan keempat dinamakan isi. Pantun dalam
satu bait terdiri empat baris, baris pertama dan kedua disebut
sampiran sedang baris ketiga dan keempat disebut isi. Kedua
sampiran di atas dapat juga mengandung makna, dapat juga
tidak mengandung makna. Sedangkan dua baris berikutnya me-
ngandung arti cocok dengan orang yang menggunakan pantun).
Contoh:
Ngala’ sèrè èpèpèsa,
èsarènga ghân sakonè’,
Kanèserrè orèng towa,
Sèmèyara kabit kènè’.
(Mengambil sirih akan ditumbuk,
Akan disaring sedikit demi sedikit,
Sayangilah kedua orang tuanya,
Yang merawat kita sejak kecil). (Supratman, 2016: 46)
Menurut Wirjoasmoro (1950: 16-17) menjelaskan bahwa
pantun adalah puisi lama setiap bait ada empat baris, setiap larik
ada delapan suku kata baris pertama dan baris kedua sebagai
sampiran sedangkan baris ketiga dan keempat merupakan isi.
Berdasarkan paparan di atas pantun Madura adalah pantun yang
14 HUMANITAS MADURA
diciptakan masyarakat Madura untuk mengungkapkan suatu
perasaan yang sesuai dengan realita kehidupan masyarakatnya.
B. CIRI-CIRI PANTUN MADURA
Ciri-ciri pantun menurut Edy (1991: 145), memiliki
beberapa ciri struktur yang khas yaitu: (1) setiap untai terdiri
dari empat baris, (2) larik pertama dan kedua tidak ada
hubungannya dengan larik ketiga dan keempat, (3) larik pertama
dan kedua disebut sampiran yang fungsinya sebagai pemadan
belaka bagi larik ketiga dan keempat. Larik sampiran ini
mengandung tenaga penghimbau bagi pendengar atau pembaca
untuk segera mendengar atau membaca larik ketiga dan
keempat pada larik ketiga dan keempat tersirat makna tujuan
dan tema pantun, (4) suku kata setiap larik terdiri dari sembilan
sampai sepuluh kata, (5) memiliki sajak akhir dengan jenis sajak
silang. Sedangkan Badrun (1983: 58), menentukan ciri-ciri
pantun sebagai berikut:
Pertama : Tiap baris empat suku
Kedua : Tiap bait empat baris
Ketiga : Dua baris pertama disebut sampiran. Sampiran
berisi lukisan alam atau sesuatu yang menjadi cermin isi
Keempat : Dua baris kedua disebut isi. Isi pantun bermacam-
macam, misalnya: nasihat, suka dan duka dan sebagainya.
Kelima : Pantun bersajak
Menurut Parkamin dan Bari (1973: 53) bahwa ciri-ciri
pantun antara lain: tiap bait pantun terjadi dari empat baris, tiap
baris terdiri 8-10 suku kata yang bersajak akhir ab-ab. Tiap bait
pantun, isi atau maksudnya terdapat pada dua baris yang
terakhir, yaitu baris ketiga dan keempat. Dua baris yang
pertama, yaitu baris pertama dan kedua disbut sampiran, tidak
mempunyai arti yang terang.
Di tengah-tengah bait, sekonyong-konyong terdapat coupare
(potongan, simpangan) yaitu simpangan dalam jalan pikiran,
sehingga pantun terbagi dua, dua bagian ini menjadi ciri umum
Muhammad Tauhed Supratman 15
pantun, disebut sampiran dan isi. Arti terletak pada bagian
kedua yaitu baris ketiga dan keempat. Di sini disimpulkan
pikiran, perasaan, atau nasihat yang indah dan padat.
Adapun Pejnappel (dalam Parkamin dan Bari, 1973: 154-
155) meneliti pantun dengan nama “pantun” sebagai titik
pangkal permulaan, penelitian mengenai pantun dititikberatkan
pada kata “pantun” itu sendiri. Buah pikiran Pejnappel dapat
diringkas sebagai berikut: kedua baris yang pertama dari pantun
itu gunanya hanya untuk menyamakan bunyi dan jarang
mempunyai arti dengan kedua baris yang penghabisan. Bahwa
pantun Melayu itu tidak lain adalah perubahan perkataan
peribahasa, yaitu dengan jalan menghapus bagian akhir (bahasa)
dan selanjutnya menghaluskan perkataan Jawa “pari” menjadi
pantun. Seloka sama dengan pantun (Melayu): pada seloka sama
dengan paribasan (Jawa); jadi pantun sama dengan paribahasa
dari pari; bentuk kromo dipakai supaya perkataan kedengaran
lebih indah.
Pantun itu sebenarnya yang sebagian mengandung kiasan
atau sesuatu yang kurang terang, yang kemudian dijelaskan oleh
bagian berikutnya. Bagian pertama secara tersembunyi
mengandung arti. Pendapat tersebut diujikan kepada sebuah
pantun yang bunyinya sebagai berikut:
Telur itik dari Sanggore Pandan
terletak dilangkahi Darahnya
titik di Singapura Badannya
terlantar di Langkawi
Pejnappel menjelaskan, bahwa Sangora itu kerajaan yang
jauh letaknya, sedangkan Pandan terletak dilangkahi. Jadi kedua
baris yang pertama itu menyindir jarak tempat Kematian Tun
Jana Khatib yang jauh dari tempat kuburnya (Tun Jana Khatib
mati di Singapura, di kubur di Langkawi).
Alisyahbana (dalam Parkamin dan Bari, 1973: 163)
mengemukakan pendapatnya mengenai pantun. Dalam setiap
pantun sari isinya terdapat dalam kedua baris yang terakhir.
Dalam kedua baris itu disimpulkan dengan pendek dan indah
16 HUMANITAS MADURA
suatu pikiran, perasaan, nasihat, kebenaran, pertanyaan dan
lain-lainnya. Karena kesimpulan itu pendek dan sering
menggunakan perumpamaan yang menimbulkan pikiran dan
perasaan yang dalam, maka sifat kedua baris itu serupa dengan
peribahasa, pepatah, perumpamaan, kiasan, dan pemeo. Dan
sesungguhnya banyak peribahasa, pepatah, perumpamaan,
kiasan, atau pemeo yang bersama-sama dengan kedua baris
terakhir pantun.
Waluyo (1987: 8-9) menjelaskan bahwa pantun terdiri dari
atas dua bagian, yakni sampiran dan isi, sampiran merupakan
dua baris pantun yang memiliki saran bunyi untuk menuju isi.
Hubungan antara sampiran dengan isi hanyalah hubungan dalam
hal saran dan bunyi itu. Dua baris pantun yang menjadi sampiran
saling berhubungan. Sedangkan Pradopo (2000: 224-225)
menyatakan aturan-aturan pantun yang ketat yang telah menjadi
konvensi itu yang utama adalah (1) tiap bait terdiri dari empat
baris pada umumnya; (2) baris pertama dan kedua merupakan
sampiran; baris ketiga dan keempat merupakan isinya; (3) sajak
akhirnya berpola ab-ab; dan (4) tiap baris terdiri atas dua
periodus, tiap periodus terdiri atas dua kata pada umumnya.
Tajib (tanpa tahun: 20) menambahkan bahwa ciri pantun
Madura adalah baris pertama dan kedua disebut sampiran dua
baris tersebut dapat bermakna dapat juga tidak bermakna.
Sedangkan baris ketiga dan keempat disebut isi yang mempunyai
arti. Biasanya ada yang bersajak aa-aa, dan ada juga ab-ab.
Dengan demikian orang yang melagukan pantun ini tidak perlu
meringkas atau memperpanjang suku kata.
C. JENIS PANTUN MADURA
Menurut jenisnya pantun dibagi atas, Pantun anak-anak
dibagi dua macam: pantun bersuka cita dan pantun berduka cita.
Pantun muda dibagi dua: pantun dagang dan pantun
perhubungan. Pantun perhubungan ini dibagi empat macam: (a)
pantun berkenalan, (b) pantun berkasih-kasihan, (c) pantun
perceraian, (d) pantun beriba hati. Pantun jenaka, Pantun tua,
pantun ini dibagi tiga macam: a) pantun nasihat, b) pantun adat,
Muhammad Tauhed Supratman 17
c) pantun agama. (Badrun, 1983: 59). Edyy (1991: 145)
menjelaskan bahwa tema pantun sangat beraneka ragam, mulai
dari lelucon/humor sampai falsafah hidup dan agama. Hal ini
disebabkan karena pantun adalah kesusastraan lisan yang
mencerminkan seluruh segi kehidupan dan tradisi pemiliknya.
Berdasarkan temanya pantun dapat dibagi menjadi tiga
kelompok yaitu: (1) kelompok pantun anak-anak, (2) kelompok
pantun remaja/ dewasa, (3) kelompok pantun orang tua. Pantun
Madura menurut Moh. Tajib (tanpa tahun: 20) menyatakan
bahwa pantun eangguy e sastra Madura badha empa’ macem
enggi paneka: (1) pantun agama, (2) pantun baburugan, (3)
pantun se-kaseyan dan (4) pantun loco (pantun dipakai dalam
sastra Madura antara lain adalah: (1) pantun agama, (2) pantun
baburugan, (3) pantun, se-kaseyan dan (4) pantun loco).
Masing-masing kelompok menunjukkan kekhasan tema
sesuai dengan perilaku pemiliknya. Pantun anak-anak pada
umumnya bertemakan segala sesuatu yang menimbulkan suka-
duka dalam kehidupan anak-anak; misalnya tentang hadiah,
baju, rasa sedih ditinggalkan oleh ayah/ibu, oleh-oleh yang
menarik, hadiah hari raya, dan sebagainya. Pantun
remaja/dewasa bertemakan alam kehidupan remaja/dewasa,
perjuangan hidup, kerinduan, dan lain-lain. Tema cinta asmara
sangat dominan dalam pantun remaja/dewasa. Oleh karena itu
Klikert (dalam Eddy, 1991: 145) menyebut pantun dengan istilah
Minnezangen (lagu cinta kasih). Pantun orang tua sebagian besar
bertemakan pendidikan dan anak.
Sesuai dengan tema-tema tersebut pantun digunakan
menurut kebutuhan atau posisi masing-masing kelompok dalam
masyarakat. Pantun anak-anak dinyanyikan waktu bermain atau
digunakan sewaktu sedih. Pantun remaja atau dewasa, terutama
pantun cinta kasih, digunakan untuk bersilat lidah dalam
memadu cinta kasih. Pantun orang tua dipakai dalam
pertemuan-pertemuan adat sebagai selingan penegas dalam
berdialog atau berdebat. Di samping itu juga digunakan sebagai
kias atau ibarat ketika orang tua memberikan nasihat kepada
anak cucunya.
18 HUMANITAS MADURA
Effendi (1954: 42) mengatakan, berdasarkan isinya, pantun
dapat dibagi dalam enam bagian, yaitu (1) pantun cinta birahi,
(2) pantun teka-teki, (3) pantun nasihat, (4) pantun nasihat, (5)
pantun teka-teki, (6) pantun agama.Menurut Van Ophuysen
(dalam Parkamin dan Bari, 1973: 158) berdasarkan maksud dan
kegunaannya, pantun dibagi menjadi: Pantun anak-anak: (a)
pantun bersuka cita, (b) pantun berduka cita. Pantun orang
muda: (a) pantun dagang (nasib), (b) Pantun muda atau pantun
orang bercinta-cintaan: (1) pantun berkenalan, (2) pantun
berkasih-kasihan, (3) pantun perceraian, (4) pantun beriba hati.
Pantun orang tua: (a) pantun nasihat, (b) pantun adat, (c) pantun
agama. Dari paparan ciri-ciri dan jenis pantun di atas, dapat
penulis simpulkan bahwa pantun, baik pantun Indonesia,
maupun pantun Madura khususnya adalah salah satu bentuk
puisi lama yang ciri-cirinya terdiri empat baris atau larik tetapi
lebih dalam lagi ialah ringkasan pendek dari sepanjang
panjangnya, tetapi mempunyai batasan-batasan nyata.
Pantun sebagai hasil ciptaan manusia, tentunya tidak lepas
dari pengaruh orang yang kali pertama yang menciptanya
(mengucapkannya). Unsur-unsur di luar pantun seperti status
sosial, agama filsafat yang dianut, pendidikan dan lingkungan
masyarakat, tentu akan memengaruhi pantun yang
diciptakannya (Norgiantoro, 2000: 24-25).
Sebagai contoh orang yang biasanya tinggal di desa dalam
menciptakan pantun akan memanfaatkan sesuatu yang ada di
sekitarnya. Misalnya masyarakat tani akan menciptakan pantun
sebagai berikut :
Ka bârâ’, bârâ’ arèna,
Ka tèmor kolarè nyangsang,
Jhâ’ berrâ’, berrâ’ atena,
Panglèpor atè sèposang.
(Ke barat sudah mataharinya,
Ke timur siwalan (kering) tersangkut pohon,
Jangan terlalu berat beban di hati,
Muhammad Tauhed Supratman 19
Hiburlah hati yang resah). (Supratman, 2016: 45)
Pantun di atas, khususnya dalam sampiran dapat kita
temukan kata-kata yang merupakan ciri khas masyarakat desa
(masyarakat Madura pedesaan). Hal ini dapat kita lihat pada
diksi “kolare atau kalare”. Diksi “kolare” daun siwalan yang
sudah kering) dipilih oleh penulisnya karena benda tersebut
sangat akrab dengan masyarakat desa dan bila dilihat dari isinya
dari ungkapan pantun di atas suatu kehidupan masyarakat tani
di suatu desa tertentu yang menunjukkan dalam kehidupannya
berasal dari pohon siwalan sebagai penghidupan sehari-hari.
Dapat juga menunjukkan masyarakat adura sebagai tradisi
merantau dalam upaya mencari kehidupan yang lebih baik,
sehingga tertuang dalam ungkapan pantunnya.
Masyarakat pantai pun dalam menciptakan pantun akan
memanfaatkan hal-hal yang ada di sekitarnya seperti lajar,
calaga, dan sebagainya. Pemanfaatan diksi yang ada kaitannya
dengan masyarakat pantai yang dikenal sebagai masyarakat
nelayan yang pantang menyerah dengan keadaannya baik dalam
kehidupan sehari-hari, maupun dalam tadisi bercinta, sehingga
tertuang dalam pantun berikut ini :
Alajâr nojjhu Bisokè,
Ĕpotossa talè calaghâna,
Sanajjân dhika pon alakè,
Ĕ antossa marè randhâna.
(Berlayar menuju Basuki,
Diputuslah tali calaghana (alat perahu nelayan),
Walaupun engkau sudah bersuami,
Akan kutunggu jandamu). (Supratman, 2016: 30)
Sebenarnya tidak hanya lingkungan masyarakat
(masyarakat pantai, masyarakat petani) saja yang akan
memengaruhi terhadap penciptaan pantun Madura tersebut
masyarakat Madura yang terkenal dengan masyarakat yang
religius akan memengaruhi terhadap proses penciptaan pantun
20 HUMANITAS MADURA
Madura tersebut. Karena pengaruh tersebut maka diksi yang
terdapat dalam pantun itu adalah diksi yang berkaitan dengan
agama. Untuk lebih jelasnya marilah kita simak contoh pantun
berikut:
Sanga’ empa’ karanjhângnga,
Sapo poret ètastasa,
Ajjhâ’ loppa ka bhâjângnga, Ma’
salamet ahèraddhâ. (Sembilan
empat keranjangnya, Sapu lidi
dilepasnya,
Janganlah lupa akan sembahyangnya,
Agar selamat di akhiratnya). (Supratman, 2016: 68)
Dalam menciptakan pantun se-kesean pun nilai religius itu
juga mewarnainya sebagai bukti bahwa masyarakat Madura
memang betul-betul religius pantun se-kesean yang
bernuansakan agama ini dapat kita simak dalam contoh sebagai
berikut:
Ngarè’ lalang ka Panglègur,
Panglègur bânnya’ bâtona,
Ta’alanglang dika lèbur,
Rèng lèbur bâdâ bâktona.
(Menyabit ilalang ke Panglegur,
Panglegur banyak batunya,
Tidak melarang kau menyayangi sesuatu
Orang senang itu harus tahu waktu dan tempatnya)
(Supratman, 2016: 68)
Pantun di atas menunjukkan suatu kehidupan masyarakat
yang agamis. Sebagai contoh, masyarakat Madura yang agamis
ketika mau menidurkan anak-anaknya mengkidungkan lagu-lagu
pantun di atas yang merupakan suatu kebiasaan masyarakat
Madura di pedesaan yang betul-betul “abantal sahadad apajung
Alla”.
Muhammad Tauhed Supratman 21
BAB 3
HUMANITAS MADURA
A. SIKAP MASYARAKAT MADURA
Sikap masyarakat Madura adalah suatu perbuatan yang
didasarkan pada suatu keyakinan atau pendirian masyarakat
Madura dalam menyikapi hidup ini (Busri, 2010: 63). Sikap
masyarakat Madura yang tercermin dalam pantun Madura yaitu
sikap terhadap Tuhan, sikap terhadap sesama manusia, dan
sikap terhadap pribadi.
1. Sikap Terhadap Tuhan
Sikap terhadap Tuhan diwujudkan dalam menjalankan
ajaran agama dengan baik, karena mereka memandang
agama sebagai wahana untuk menjalin hubungan antara
manusia dengan Tuhan. Sikap terhadap Tuhan ini merupakan
wujud dari pemahaman orang Madura terhadap agam Islam
yang dianutnya.
Mayoritas masyarakat Madura beragama Islam. Ada
sebuah pepatah religius etnik Madura, abhantal syahadat
asapo’ iman (berbantal syahadat berselimut iman). Ungkapan
tersebut menunjukkan betapa pentingnya agama sebagai
sandaran hidup. Bagi orang yang tidak menjalankan perintah
agama, masyarakat Madura menyebutnya èdhina pangèranna
(ditinggal Tuhannya) (Zubairi, dalam Julian, 2013: 16).
22 HUMANITAS MADURA
Etnik Madura adalah masyarakat religius. Sikap religius
mereka berakar dari agama Islam yang mereka anut.
Berdasarkan ajaran Islam tersebut mereka mengenal sifat-
sifat Tuhan (Julian, 2013: 45). Sifat-sifat tersebut dapat kita
lihat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Madura.
Dasar keyakinan kepada Tuhan Yang Mahakuasa,
menunjukkan bahwa budaya Madura mengenal etika
terhadap Tuhan, yaitu dengan selalu memuji dan menyebut
nama Allah, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-
Nya (Busri, 2010: 64).
2. Sikap Terhadap Sesama Manusia
Suyitno (dalam Julian, 2013: 50-51) menjelaskan bahwa
manusia dalam menjalankan aktivitas hidup di masyarakat
selalu membutuhkan orang lain sebagai mitra sosialnya.
Mereka saling memerlukan bantuan dalam upaya
memperingan beban hidup yang dihadapi dan tidak dapat
diatasinya sendiri. Etika dalam hubungannya dengan sesama
selalu penuh dengan kehati-hatian (Busri, 2010: 64).
Hakikat hubungan manusia dengan manusia atau
sesamanya merupakan salah satu masalah dasar dalam hidup
manusia. Kehidupan di masyarakat, manusia sebagai individu
hanya merupakan unsur kecil yang dilingkupi oleh
komunitasnya, masyarakat, dan alam sekitarnya. Mereka
dalam kehidupannya bergantung kepada sesamanya.
Masyarakat Madura harus memelihara hubungan baik dengan
sesamanya (Koentjaraningrat dalam Julian, 2013: 51).
Bentuk pandangan masyarakat Madura mengenai
hakikat hubungan manusia dengan sesamanya,
dikonsepsikan dalam bentuk stratifikasi sosial (bhapa’,
bhabhu’, ghuru, rato), sikap bekerja sama (royongan), sikap
kesatria (ango’an potea tolang, e tembhang pote mata), sikap
perwira (bulang ling tuhu warsito), dan jujur
(jhujhur/ghate/ta’ anduri pandan) (Yasin, 2004 : 55-56).
Etika terhadap sesamanya pada jaman dahulu kurang
mendapat kesempatan untuk berinteraksi dengan dunia luar.
Mereka sangat berhati-hati, sehingga menyebabkan sesuatu
Muhammad Tauhed Supratman 23
yang datang dari luar dianggap merupakan ancaman bagi
dirinya. Masyarakat Madura meskipun pada dasarnya
konserfatif, yakni berusaha memelihara dan menjamin nilai-
nilai yang mengakar dalam dirinya, akan tetapi dari segi yang
lain, orang Madura menunjukkan naluri yang kuat untuk
menjaga harga diri dan kesopanannya, harus “andhap asor”
(artinya, rendah hati terhadap sesama sesuai dengan
ungkapan yang dianut masyarakat Madura “pa tao a jhalan,
jhalana jhalane, pa tao neng eneng pa tao acaca” (artinya:
yang menjadi kewajiban harus dilaksanakan sesuai dengan
aturan, harus tahu kapan diam dan kapan harus berbicara)
(Yasin, 2004: 56).
Sikap gotong royong dan kebersamaan senantiasa
melekat dalam kehidupan masyarakat Madura. secara idealis,
masyarakat Madura mengeahui bagaimana menghormati dan
berbuat baik kepada orang lain. Salah satu nilai budaya yang
mereka anut adalah sikap gotong royong dan kebersamaan
(Busri, 2010: 68).
3. Sikap Terhadap Pribadi
Sikap terhadap diri sendiri meliputi harga diri dan
martabat. Orang Madura akan merasa malo atau terhina jika
harga dirinya dilecehkan oleh (atau sebagai akibat dari)
perbuatan orang lain. Pelecehan harga diri ini sama artinya
dengan pelecehan terhadap kapasitas diri mereka. Padahal
kapasitas diri seseorang secara sosial tidak dapat dipisahkan
dengan peran dan statusanya (social role and status) dalam
struktur dan sistem sosial yang berlaku (Wiyata, 2013: 16).
Filsafat hidup orang Madura terdapat ungkapan mon
bâ’na ètobi’ orèng sakè’, jhâ’ nobi’en orèng (kalau kamu dicubit
merasa sakit, jangan mencubit orang). Pepatah ini bisa
menjadi panduan untuk memuliakan martabat kemanusiaan
orang lain, karena memuliakan dan menjaga nama baik
semestinya diupayakan dengan sungguh-sungguh, bahkan
menurut Imron lebih utama daripada mencari kekayaan
(dalam Julian, 2013: 20).
24 HUMANITAS MADURA
Etika dalam hubungannya dengan sesama selalu penuh
dengan kehati-hatian. Untuk itu selalu memelihara dan
menjamin nilai-nilai yang mengakar dalam dirinya, akan
tetapi senantiasa menjaga harga diri. Walaupun orang
Madura menilai mereka sangat kasar, namun penghormatan
terhadap nilai-nilai harga diri dan kesopanan sangat tinggi.
Tidak mengherankan jika harga diri diganggu, maka
kekerasan lebih banyak terjadi. Mereka tidak mau
diremehkan, tetapi tidak mau menonjolkan diri (Busri, 2010:
64).
Sikap menjunjung tinggi harga diri merupakan salah satu
prinsip orang Madura yang membedakan dengan budaya
lainnya. Prinsip ini tergambar dalam ungkapan “jâgâ jhâlâna
marongghina”atau”mon kerras pa akerrés”, artinya selalu hati-
hati sebelum dan dalam berbicara dengan orang lain. Harga
diri dan martabat merupakan nilai sangat erat mendasar bagi
masyarakat Madura dan selalu dipertahankan, motifasinya
adalah rasa malu (rasa “malo” atau “todus”). Ungkapan
Madura yang mencerminkan tradisi ini “tambhâna todus
maté” (artinya, obatnya malu adalah mati). Masyarakat
Madura meskipun dasarnya konservatif, yakni berusaha dan
menjamin nilai-nilai yang mengakar dalam dirinya. Orang
Madura menunjukkan naluri yang kuat untuk menjaga harga
diri (Wiyata dalam Busri, 2010: 59-60). Harga diri
masyarakat Madura diganggu, maka kekerasan pasti akan
terjadi. Tiang penyangga kuatnya tradisi tersebut tidak lepas
dari prinsip orang Madura “ango’an poté tolang etembhang
poté mata”, lebih baik mati daripada harus menanggung malu.
Ungkapan ini berlaku demi mempertahankan martabat, hak,
dan harga diri sebagai orang madura. Harga diri, martabat,
hak diganggu, maka kekerasan akan terjadi (misalnya, tradisi
carok). Hal ini tampaknya merupakan sebuah mitologi yang
berkembang secara turun temurun bagi masyarakat Madura
(Wiyata dalam Busri, 2010: 59).
Muhammad Tauhed Supratman 25
B. NILAI KEHIDUPAN
1. Pengertian Nilai
Berdasarkan sifatnya, nilai bisa bersifat ideal, universal,
dan praktis. Nilai bersifat ideal artinya nilai merupakan
konsep yang abstrak tentang keadaan yang baik, indah, dan
sebagainya. Nilai bersifat universal, artinya nilai ideal tentang
kebaikan, keindahan, dan keunggulan nilai tersebut diakui
semua manusia di mana pun keberadaannya. Nilai bersifat
praktis, artinya nilai ideal dan nilai universal yang telah
dipilih oleh suatu masyarakat tertentu dan diupayakan atau
diperjuangkan untuk diterapkan dalam kehidupan nyata (Tim
Musyawarah guru Bina Kewarganegaraan, 2004: 36).
Theodorson dalam Basrowi (2005: 79) mengemukakan
bahwa nilai merupakan sesuatu yang abstrak yang dijadikan
pedoman serta prinsip-prinsip umum dalam bertindak dan
bertingkah laku. Keterikatan atau kelompok terhadap nilai
relative sangat kuat dan bahkan bersifat emosional. Oleh
sebab itu, nilai dapat dilihat sebagai pedoman bertindak
sekaligus sebagai tujuan kehidupan manusia sendiri.
Sedangkan menurut Huky (1986: 146) nilai merupakan sikap
dan perasaan-perasaan yang diperlihatkan oleh individu,
kelompok ataupun masyarakat secara keseluruhan tentang
baik buruk, benar salah, suka atau tidak suka dan sebagainya
terhadap objek materiil atau nonmateriil.
Koentjaraningrat dalam Basrowi (2005: 80) menjelaskan
bahwa nilai merupakan konsepsi-konsepsi yang hidup dalam
alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai hal-
hal yang mereka anggap amat mulia. Sistem nilai yang ada
dalam suatu masyarakat dijadikan orientasi dan rujukan
dalam bertindak. Sedangkan Pepper mengatakan bahwa nilai
adalah segala sesuatu tentang yang baik dan yang buruk.
Sementara itu Perry mengatakan bahwa nilai adalah segala
sesuatu yang menarik bagi manusia sebagai subjek.
Dari beberapa rumusan di atas dapat disimpulkan bahwa
nilai merupakan sesuatu yang abstrak yang dijadikan
pedoman dalam bertindak dan bertingkah laku menyangkut
26 HUMANITAS MADURA
segala sesuatu yang baik atau yang buruk, benar salah, suka
atau tidak suka, tugas, kewajiban agama dan lain-lain.
2. Macam-macam Nilai
Wujud nilai ada tiga macam yakni: (1) Nilai fisik atau
materiil, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur
jasmani manusia. Artinya sesuatu objek dikatakan
mempunyai nilai materiil apabila memiliki daya guna,
berguna, memiliki asas guna bagi ismani manusia, misalnya
makanan, minuman, pakaian, kendaraan, dan sebagainya. (2)
Nilai aktivitas atau nilai vital, yaitu segala sesuatu yang
berguna manusia untuk dapat melakukan kegiatan, artinya
sesuatu objek dikatakan mempunyai nilai vital apabila objek
tersebut dapat mengakibatkan manusia mempunyai aktivitas,
misalnya transportasi, transaksi jual-beli, dan sebagainya. (3)
Nilai spiritual atau nilai rohani, yaitu segala sesuatu yang
berguna bagi unsur rohani apabila memiliki daya guna,
berguna, memilki asas guna bagi rohani manusia.
Nilai spiritual atau nilai rohani terdiri dari empat bagian
sebagai berikut: (a) Nilai kebenaran atau kenyataan yang
bersumber pada unsur akal manusia atau rasio, budi, atau
cipta. (b) Nilai estetika atau keindahan, yang bersumber pada
unsur rasa manusia dan perasaan. (c) Nilai moral atau nilai
moral, yang bersumber pada kehendak manusia, kemauan,
atau karsa. (d) Nilai religius, yang merupakan nilai
ketuhanan, nilai kerohanian yang tertinggi dan mutlak, nilai
religius ini bersumber pada kepercayaan atau keyakinan
agama yang dihayati dengan rasio dan hati nurani (Tim
Musyawarah Guru Bina Kewarganegaraan, 2004: 38).
a. Nilai Kebenaran atau Kenyataan
Kebenaran menurut Sumarna (2006: 113) tidak
semua manusia mempunyai persyaratan yang sama.
Paradigma kebenaran akan terasa sangat berbeda antara
teori yang satu dengan teori yang lain, bergantung dari
sasaran objek kebenaran tersebut. Dalam konteks filsafat
ilmu, tambah Sumarna (2006: 113), untuk mencapai
kebenaran, minimal ada tiga teori sebagai alat ukur
Muhammad Tauhed Supratman 27
kebenaran tersebut. Teori-teori tersebut antara lain:
koherensi, korespondensi, dan pragmatisme fungsional.
Ketiga teori tersebut memiliki perbedaan yang sangat
mendasar. Teori koherensi lebih mendasarkan diri pada
kebenaran rasio, teori korespondensi lebih mendasarkan
diri pada kebenaran faktual, sedangkan teori pragmatisme
fungsional lebih mendasarkan diripada fungsi dan
kegunaan kebenaran itu sendiri. Selain perbedaan
tersebut, ketiga teori kebenaran ini memiliki persaman,
antara lain: (1) ketiga teori tersebut melibatkan logika,
baik logika formal maupun logika material (deduktif dan
induktif); (2) melibatkan bahasa, yaitu adanya kerangka
pengujian terhadap pernyataan-pernyataan yang hendak
diuji kebenarannya, dan (3) pengalaman yang menduduki
tempat penting dalam mengetahui kebenaran.
Sumarna (2006: 113) menjelaskan bahwa teori
koherensi merupakan logika deduktif yang menguji
kebenaran-kebenaran terhadap kemungkinan adanya
relasi-relasi dengan anggota lain. Logika ini memastikan
bahwa simpulan itu benar jika premis-premis yang
digunakannya juga benar. Teori korespondensi
mengatakan bahwa kebenaran merupakan kesetiaan
terhadap realitas objektif, maksudnya, adanya kesesuaian
antara pernyataan tentang fakta, atau pertimbangan
dengan situasi yang dilukiskan oleh pertimbangan itu.
Dengan kata lain, dikatakan kebenaran korespondensi
apabila suatu pernyataan baru dianggap benar jika materi
pengetahuan yang dikandung oleh pernyataan itu
berkorespondensi (berhubungan) dengan objek yang
dituju oleh pernyataan tersebut. Sedangkan teori
pragmatisme dikatakan sebagai teori kebenaran kata
Sumarna (2006: 117) apabila suatu pernyataan dianggap
benar jika melalui pengukuran diketahui ada atau tidak
adanya fungsi kebenaran itu terhadap kebenaran praktis.
Dengan kata lain behwa suatu pernyataan menjadi benar
atau konsekwensi dari pernyataan itu benar apabila
mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.
28 HUMANITAS MADURA
b. Nilai Estetika
Estetika menurut Moeliono (1990: 236) adalah
cabang filsafat yang menelaah dan membahas tentang seni
seni dan keindahan serta tanggapan manusia terhadapnya.
Sumarna (2006: 199) menambahkan estetika merupakan
bagian dari tri tunggal, yaitu teori tentang kebenaran,
moral, dan estetika. Estetika merupakan suatu teori yang
meliputi: (1) penyelidikan mengenai yang indah, (2)
penyelidikan mengenai prinsip-prinsip yang mendasari
seni, dan (3) pengalaman yang bertalian dengan seni,
penciptaan seni, penilaian terhadap seni atau perenungan
terhadap seni.
Sumarna (2006: 199-120) menambahkan bahwa seni
(baca pantun—pen.) dianggap mengandung keindahan
atau bernilai Estetika apabila memiliki ciri: (1)
mengungkapkan perasaan dan intuisi, (2)
mengobjektivikasi keindahan rasa nikmat, (3) keindahan
sebagai tangkapan akali, (4) sebagai ekspresi pengalaman.
c. Nilai Moral
Moral menurut Moelionio (1990: 592) adalah ajaran
kesusilaan yang dapat ditarik dari suatu cerita, atau ajaran
tentang baik buruk yang diterima umum mengenai
perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; akhlak, budi
pekerti, susila. Suseno (1987: 192-193) mengatakan,
moral adalah “sejumlah ajaran, wejangan-wejangan,
khotbah-khotbah, patokan-patokan, kumpulan peraturan,
dan ketetapan; tulisan-tulisan bagaimana manusia harus
hidup dan bertindak agar menjadi manusia yang baik”.
Moral dalam karya sastra (baca: pantun Madura—Pen)
menurut Nurgiyantoro (2002: 321) biasanya
mencerminkan pandangan hidup pengarang yang
bersangkutan, pandangannya tentang nilai-nilai, dan hal-
hal yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada
pembaca. Kenny dalam (Nurgiyantoro, 2002: 321)
menambahkan bahwa moral “biasanya dimaksudkan
sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran
tertentu yang bersifat praktis, yang dapat diambil dan
Muhammad Tauhed Supratman 29
ditafsirkan lewat cerita yang bersangkutan oleh pembaca.
Nurgiyantoro menambahkan “... karya sastra mengandung
penerapan moral ..., sehingga pembaca diharapkan dapat
mengambil hikmah dari pesan-pesan moral yang
disampaikan dan diamanatkan”. (2002: 321). Sehingga
karya sastra senantiasa menawarkan pesan moral yang
berhubungan dengan sifat-sifat luhur kemanusiaan,
memperjuangkan hak dan martabat manusia.
d. Nilai religius
Relegius menurut Moelionio (1990: 739) adalah taat
kepada agama. Nilai religius ini bersumber pada
kepercayaan atau keyakinan agama yang dihayati dengan
rasio dan hati nurani (Tim Musyawarah Guru Bina
Kewarganegaraan, 2004: 38). Nilai religius ini dalam Islam
meliputi: (1) Beriman, yaitu meyakini bahwa Allah
sungguh-sungguh ada, (2) Taat, yaitu melaksanakan
perintah-perintah Allah dan mejahui larangan-larangan-
Nya, (3) Ikhlas, yakni kewajiban manusia beribadah hanya
kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan ikhlas dan
pasrah, (4) Tadluarru’ dan khusyuk, yakni dalam
beribadah kepada Allah hendaknya bersifat sungguh-
sungguh, merendahkan diri serta khusyuk kepada-Nya, (5)
Ar-Raja’ dan ad-Du’a, yakni manusia harus mempunyai
pengharapan (ar-Raja’ = optimisme) bahwa Allah akan
memberikan rahmat kepadanya. Dengan sikap ar-Raja’ ini
maka manusia memanjatkan doa pengharapan atas
rahmat dan istighfar, permohonan diampuni segala
kesalahannya, (6) Husnuddhan, yakni sikap manusia
berbaik sangka kepada Allah, (7) Tawakkal, yakni
mempercayakan diri kepada-Nya dalam melaksanakan
segala sesuatu pekerjaan yang telah direncanakan dengan
mantap, (8) Tasyakkur dan Qana’ah, yakni berterima kasih
atas pemberian Allah dan merasakan kecukupan atas
pemberian-Nya itu, (9) Malu, yakni sikap malu ini lebih
patut ditujukan kepada Allah, dengan sikap tersebut
seorang Mukmin malu mengerjakan kejahatan dan malu
ketinggalan dalam kebaikan, dan (10) Tobat dan Istigfar.
30 HUMANITAS MADURA
Manusia tidak lepas dari dosa dan noda (Salam, 1997: 14-
16).
C. KEARIFAN LOKAL
1. Pengertian Kearifan Lokal
Aronfreed dan Kohelberg yang dikutip Asih Menanti
dalam Latief (2012: 74) menjelaskan bahwa seseorang
dikatakan bermoral apabila tindakan-tindakannya sesuai
dengan nilai-nilai, aturan-aturan yang berlaku di masyarakat
saat itu, dan sebaliknya seseorang dikatakan tidak bermoral
apabila tindakannya menyimpang dari nilai-nilai, aturan-
aturan masyarakat. Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa
aturan-aturan dalam kehidupan masyarakat tertentu menjadi
tolok ukur dari kehidupan masyarakat tersebut. Kajian
tentang aturan-aturan atau adat istiadat juga berlaku di
masyarakat Madura. Setiap daerah memiliki karakteristik
adat istiadat yang khas atau berbeda dan hanya dapat ditemui
di daerah tersebut. Aturan yang hanya identik dengan satu
lokal daerah saja dikenal dengan istilah kearifan lokal.
Kearifan lokal menurut Sudikan (2013: 44) adalah nilai-
nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan budaya lokal
berupa tradisi, pepatah dan semboyan hidup. Kearifan lokal
dipandang lahir dan berkembang dari generasi ke generasi
seolah-olah bertahan dan berkembang dengan sendirinya.
Tidak ada ilmu dan teknologi yang mendasari lahinya
kearifan lokal, bahkan tidak ada pendidikan dan pelatihan
untuk meneruskannya.
Sedangkan Ma’mur (2012: 45) mengartikan kearifan
lokal atau keunggulan lokal adalah segala sesuatu yang
menjadi ciri khas kedaerahan yang mencakup aspek ekonomi,
budaya, teknologi informasi, komunikasi, ekologi, dan
sebagainya. Lubis menegaskan bahwa kearifan lokal dalam
bahasa asing sering dikonsepsikan sebagai kebijakan
setempat (local wisdom), pengetahuan setempat (local
knowledge) atau kecerdasan setempat (local genious).
Kearifan lokal juga dapat dimaknai sebuah pemikiran tentang
Muhammad Tauhed Supratman 31
hidup. Pemikiran tersebut dilandasi nalar jernih, budi yang
baik, dan memuat hal-hal positif. Kearifan lokal dapat
diterjemahkan sebagai karya akal budi, perasaan mendalam,
tabiat, bentuk perangai, dan anjuran untuk kemuliaan
manusia. Penguasaan atas kearifan lokal akan mengusung
jiwa mereka semakin berbudi luhur.
Rahyono (dalam Lubis , 2009: 7) memaparkan bahwa
kearifan lokal merupakan kecerdasan manusia yang dimiliki
oleh kelompok etnis tertentu yang diperoleh melalui
pengalaman masyarakat. Artinya, kearifan lokal adalah hasil
dari masyarakat tertentu melalui pengalaman mereka dan
belum tentu dialami oleh masyarakat yang lain. Nilai-nilai
tersebut akan melekat sangat kuat pada masyarakat tertentu
dan nilai itu sudah melalui perjalanan waktu yang panjang,
sepanjang keberadaan masyarakat tersebut.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat
disimpulkan bahwa kearifan lokal adalah hasil berpikir
manusia mengenai nilai-nilai budi pekerti luhur yang pada
akhirnya menjadi ciri khas masyarakat daerah tertentu.
Setiap daerah memiliki pandangan yang berbeda dalam cara
berpikir sehingga menghasilkan kearifan lokal yang berbeda
pula tiap daerah.
2. Kearifan Lokal Madura
Kearifan lokal menurut Sadik (2013: 104) adalah suatu
istilah yang dimiliki oleh kelompok masyarakat tertentu dan
tidak di luar kelompok tersebut. Jhuko’ bujâ cabbhi, sama
sekali tidak terdapat di dalam suku mana pun di negeri kita
kecuali di Madura. Ungkapan tersebut bermakna, makan apa
pun hanya dengan garam dan cabe sudah menyenangkan atau
nikmat. Istilah tersebut juga sering digunakan untuk
menunjukkan sikap merendah kepada orang yang sedang
disuguhi makan.
Sadik (2013: 118) menambahkan bahwa kearifan lokal
Madura dapat dikelompokkan dalam lima kelompok, yaitu (1)
komunikasi dengan Tuhan, (2) komunikasi antarmanusia, (3)
komunikasi dalam keluarga, (4) komunikasi dalam
32 HUMANITAS MADURA
masyarakat, (5) komunikasi dengan alam. Atas dasar tersebut
dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal Madura merupakan
pengetahuan yang khas tentang masyarakat Madura dan
merupakan milik masyarakat atau budaya Madura yang telah
berkembang secara turun temurun sebagai hasil proses
hubungan timbal balik antara masyarakat Madura dengan
lingkungannya. Hubungan timbal balik itu akan melahirkan
ungkapan, pribahasa, pantun, dan lain sebagainya.
Salah satu bentuk hubungan timbal balik tersebut akan
dijadikan nasihat dari orang tua kepada generasi berikutnya,
dan hal itu menjadi suatu konsep hidup dari masyarakat
tertentu (baca Madura). Rifai sebagai sosok ilmuan dari pulau
garam dan sebagai tokoh dan sesepuh orang Madura
mengungkapkan bahwa manusia Madura dinasihati untuk
selalu: 1) Menghormati sesepuh, hukum, dan agama. 2)
Menjaga mulut, perilaku dan kegiatan. 3) Menghindari sifat
kejam, keji, dan kekurangpasrahan. 4) Memiliki kesetiaan,
kesucian hati, dan kejujuran. 5) Mengusahakan pencapaian
kesepakatan, kesenangan hati, dan kebahagiaan batin. 6)
Mampu mengelola waktu, harta, dan kesehatan. 7) Mau lebih
giat belajar sampai tao bisa dhaddhi (tahu bisa jadi),
berinovasi dalam berusaha, dan tanggap memetik pelajaran
untuk diambil manfaatnya sehingga dapat hidup akrab
dengan alam untuk bisa mensyukuri semua nikmat berkat
Allah secara berkelanjutan (2007: 447-448).
a. Komunikasi dengan Tuhan
Madura sebagai etnik yang salah satu dari
karakternya adalah Islam, sejak dini generasi Madura
sudah diusahakan untuk dihubungkan dengan
penciptanya. Seorang ibu yang akan menidurkan anaknya,
ia selalu bersenandung a-bhantal sadhat, asapo’ iman,
apajung Allah, asandhing nabbhi. Makna senandung
tersebut demikian mantap terserap sehingga ketika si
anak mulai dapat berucap dengan lancar dia akan selalu
membaca dua kalimat syahadat sebelum ia merebahkan
kepalanya ke bantal. Dalam hatinya sebelum matanya
terpejam selalu berserah diri kepada Allah, dan
Muhammad Tauhed Supratman 33
meyakinkan keimanannya terhadap Allah, malaikat Allah,
kitabullah, rasul dan nabi Allah, serta yakin akan hari
akhir, dan yakin akan takdir itu datang dari Allah semata
(Sadik, 2013: 119).
Latief (2008: 175) mengungkapkan bahwa
religiusitas lebih melihat aspek yang di dalam lubuk hati
moving in the deep hart, riak getaran hati nurani pribadi,
sikap personal yang sedikit banyak merupakan misteri
bagi orang lain, karena berbataskan intimitas psikologis
yaitu totalitas universal (termasuk rasio dan rasa
manusiawi) ke dalam si pribadi manusia. Sikap religius ini
lebih mengacu kepada pribadi seseorang dengan
khaliknya, bertata laku sesuai dengan karsa Tuhannya.
Kearifan lokal Madura kategori komunikasi dengan
Tuhan erat kaitannya bagaimana masyarakat Madura
dalam beragama atau menjalankan perintah agama. Orang
Madura identik dengan insan religius (Islam).
Religiusitas berasal dari kata religi yang berarti
agama. Religius berarti taat pada agama. Menurut
Purwadarminta, istilah religio berasal dari bahasa Latin
relego, yang berarti memeriksa lagi, menimbang-nimbang,
merenungkan keberatan hati nurani. Sedangkan menurut
The World Book Dictionary dikatakan bahwa religiousity
berarti religius feeling or sentiment dengan kata lain
perasaan agama atau perasaan keagamaan. Perasaan
keagamaan menurut Subiantoro ialah segala perasaan
batin yang ada hubungannya dengan Tuhan. Misalnya
perasaan dosa (quiklt feeling), perasaan takut (fear to
God), kebesaran Tuhan (God’s glory) (1989: 123-124).
Tafsir At-Thabari, Al-Baghawi, dan tafsir Ibnu Katsir
menjelaskan arti hubungan dengan Tuhan ialah
“Perjanjian dari Allah, maksudnya adalah masuk Islam atau
beriman dengan Islam sebagai jaminan keselamatan bagi
mereka di dunia dan di akhirat”. Sehingga dapat kita
pahami bahwa untuk membangun hubungan kita kepada
Allah, kita mempunyai kewajiban untuk menunaikan hak-
hak Allah, dan apakah hak-hak Allah itu? Hak-hak Allah
34 HUMANITAS MADURA
ialah mentauhidkan dan tidak menyekutukan-Nya dengan
yang lain serta menjalankan syariat Allah. Misalnya: salat,
puasa, dan sebagainya
Kata ibadah secara harfiah dapat berarti menyembah
atau beramal baik. Kata ibadah dilihat dari sisi istilah
dapat diartikan sebagai beramal baik kepada Allah Swt
dan kepada seluruh makhluk-Nya agar memperoleh rida
dari Allah Swt. Allah Swt berfirman: “Tidaklah Aku
ciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah
kepada-Ku.” Firman Allah tersebut menyatakan bahwa
seluruh umat manusia wajib beribadah kepada-Nya. Allah
Swt telah menetapkan bentuk-bentuk ibadah yang
bermacam-macam kepada manusia. Hal ini dimaksudkan
agar manusia tidak merasa jemu dalam menunaikan
ibadah dan dalam pembagiannya terdapat penyucian bagi
sisi-sisi yang beraneka macam dan sudut-sudut yang
berbeda dari tabiat kemanusiaan dan sesuai dengan segala
perangai dan tingkatan yang ada di dalamnya. Ibadah
merupakan manifestasi atau perwujudan langsung dari
pengamalan aqidah, syariat, dan akhlak.
Sudikan (2013: 56) menegaskan bahwa dua kalimat
syahadat dan zikir senantiasa terucap waktu menjelang
tidur di setiap orang Madura untuk menebalkan iman
kepada Allah, Malaikat, Rasul, kitab, dan iman kepada hal
baik dan buruk yang datangnya dari Allah. Komunikasi
dengan Allah adalah sedari kecil belajar mengenal Allah,
dan menyadari diri sebagai ciptaan Allah dan meyakini
ciptaan Allah lainnya, melaksanakan perintah Allah dan
menjauhi larangannya.
b. Komunikasi Antarmanusia
Hidup berdampingan antarmanusia harus dilakukan
saling menghormati dan saling menghargai. Menghormati
seseorang dengan melihat usia, seperti kepada orang yang
lebih tua, guru, orang yang dituakan karena kebijakannya,
orang kaya yang juga dihormati sebab orang kaya
diharapkan bisa membantu si miskin, demikian pula harus
menghormati orang yang berilmu dan orang yang
Muhammad Tauhed Supratman 35
memiliki status seperti ulama dan umara. Sedangkan
saling menghargai dimaksudkan agar kita tidak bersikap
maunya sendiri, memaksakan kehendak terutama kepada
mereka yang lebih muda dari kita. Selesaikan segala
sesuatu dengan orang lain dengan cara santun, bijak, dan
cerdas (Sadik, 2013: 119).
c. Komunikasi dengan Masyarakat
Perilaku manusia supaya diterima dengan baik dalam
masyarakat Madura, maka individu harus menyesuaikan
diri dengan kearifan lokal Madura. Siapa yang sikap dan
perilakunya sesuai dengan kearifan lokal madura akan
diterima dengan baik, namun sebaliknya jika sikap dan
tindakannya tidak sesuai maka dengan sendirinya akan
tersisihkan dalam masyarakat Madura.
Dalam masyarakat Madura dikenal dan diajarkan
sikap yang baik dalam bermasyarakat. Ucapan dan doa,
seperti saat kita mengantar pertunangan, contoh
“diharapkan pada semua yang hadir, agar kita saling
berdoa kepada yang Esa semoga kita selalu diberi rahmat-
Nya dan dijauhi dari halang rintang yang menyengsarakan
baik saat ini maupun nanti di akhirat. Hati-hati dalam
berucap sebab bila air ludah sudah tumpah tidak dapat
dijilat kembali. Tidak boleh melakukan fitnah, orang yang
suka berfitnah akan dikatakan sebagai pedagang bakulan
yang identik dengan menipu atau membohongi orang
(Sadik, 2013: 121).
Komunikasi dalam masyarakat Madura selalu
mengedepankan kejujuran dan kewaspadaan dalam
berbicra. Pesan leluhur kepada orang Madura agar tidak
berprilaku dan berbicara buruk kepada orang lain
umumnya di kalangan masyarakat. Sesuai dengan
ungkapan para leluhur orang Madura yaitu Tè-ngatè mon
acaca sabâb mon copa la ghâgghâr ka tana ta` kennèng
jhilât polè. Ungkapan ini mempunyai maksud tidak boleh
melakukan fitnah, orang yang suka berfitnah berarti suka
berbohong, seperti halnya seorang pedagang bakulan,
36 HUMANITAS MADURA
dalam bahasa Madura leluhur mengingatkan ajja`
sampe`leceghân ma`lè ta` è koca` colo` bâlijjhâ.
Pentingnya komunikasi dalam kehidupan
bermasyarakat, supaya setiap orang selalu menjalin
hubungan baik antar sesama masyarakat, karena melalui
komunikasi kita dapat mengenal sikap, sifat, watak
maupun perasaan antara individu dan suatu kelompok
masyarakat. Selain itu komunikasi dalam masyarakat
penting dilakukan karena untuk menjalin keserasian dan
lebih pentingnya lagi adalah untuk menghindari konflik-
konflik yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebaliknya yang menyebabkan terjadinya konflik manusia
dalam kehidupan bermasyarakat yaitu karena terjadinya
miss communication. Hal ini terjadi karena karena mereka
kurang berinteraksi, sehingga akan menyebabkan suatu
kesalahpahaman, dan terjadilah hubungan yang tidak baik
antara kedua belah pihak.
Manfaat yang dapat kita ambil dari komunikasi dalam
kehidupan bermasyarakat sangatlah banyak, karena
dengan adanya komunikasi dalam kehidupan
bermasyarakat manusia manusia dapat memberi atau
menerima informasi-informasi baru bahkan dengan
adanya komunikasi manusia dapat menciptakan suatu hal-
hal yang baru.
3. Sastra dan Kearifan Lokal Madura
Karya sastra adalah bentuk pencerminan dari
masyarakat. Melalui karya sastra, dapat diketahui tentang
kehidupan sebuah masyarakat, baik dari wujud budaya,
ekonomi, maupun religiusitasnya. Namun demikian,
penampilan kembali sebuah masyarakat yang dilakukan oleh
satrawan berbeda dengan yang dilakukan penulis sejarah
yang bersifat lugas dan tekstual. Para sastrawan cenderung
menggunakan media dunia fiksi yang berdiri sendiri.
Sastra dapat diartikan sebagai sebuah produk budaya,
kreasi pengarang yang hidup dan terkait dengan nilai-nilai
kehidupan masyarakatnya. Sastra merupakan cerminan dari
Muhammad Tauhed Supratman 37
kehidupan masyarakat tempat pengarang tinggal. Pengarang
dalam hubungan sosialnya bersinggungan dengan nilai-nilai
kehidupan yang ada dan berkembang di tengah-tengah
masyarakat. Nilai-nilai tersebut seperti nilai pendidikan, nilai
moral, nilai sosial, nilai budaya dan nilai religius. Nilai-nilai
kehidupan yang menjunjung tinggi budi perkerti dan hal-hal
yang baik pada suatu daerah tertentu disebut kearifan lokal.
Jadi, karya sastra tidak dapat dipisahkan dengan kearifan
lokal daerah.
Kearifan lokal banyak terdapat dalam adagium sastra.
Kearifan lokal melalui ungkapan sastra cenderung mengarah
kepada pembinaan budi pekerti dalam konteks yang
mengarah untuk membangun diri sebagai pribadi yang hidup
ditengah-tengah masyarakat yang hidupnya dituntut sebagai
anggota masyarakat untuk memajukan masyarakatnya bukan
sebagai pribadi yang menjadi beban masyarakatnya (Sadik,
2013: 104).
Demikian kearifan lokal Madura melalui sastra berupa
pesan-pesan mulia dari leluhur yang oleh masyarakat Madura
dijadikan pegangan atau aturan dalam mencarai penyelesaian
dalam permasalahan pribadi maupun dalam masyarakat.
Secara umum hubungan sastra dengan kearifan lokal Madura
dapat disamakan dengan hubungan antara sastra dengan
religius dan moral. Kearifan lokal Madura mencakup
religiusitas dan moralitas. Religiusitas diwakili oleh kearifan
lokal komunikasi dengan Tuhan. Moralitas diwakili oleh
kearifan lokal komunikasi dengan manusia lain, komunikasi
dalam keluarga, komunkasi dengan masyarakat, dan
komunkasi dengan alam.
T.S. Eliot, seorang penyair Inggris pernah mengatakan
bahwa ukuran nilai suatu karya sastra harus dilihat dari
aspek etika dan keagamaan. Bila ada gagasan atau semacam
kesepakatan dalam suatu masyarakat tentang etika
keagamaan maka karya sastra haruslah baik sesuai dengan
etika keagamaan. Sumber etika maupun budaya di dalam
sastra adalah agama (Latief: 2008: 166).
38 HUMANITAS MADURA