adalah salah satu bentuk kearifan lokal yang selalu dikidungkan
oleh nenek moyang kita lewat pantun Madura ini. Hidup rukun
dan saling memaafkan akan membuat kita tenang hidup di dunia
ini, bahkan sampai mati pun kita akan merasakan manisnya
kerukunan yang telah kita lakukan semasa hidup di dunia.
Muhammad Tauhed Supratman 139
BAB 7
MAKNA PANTUN BAGI
ORANG MADURA
A. MAKNA KONOTATIF
Pantun Madura menurut Tajib (tt: 20) terdiri dari empat baris.
Baris pertama dan kedua disebut sampiran sedang baris ketiga
dan keempat merupakan isi sebuah pantun. Baris ketiga dan
keempat inilah yang mengandung makna dari setiap pantun,
untuk lebih jelasnya ditunjukkan dalam pantun berikut ini:
Bannya’ macem cabbi rorro
Ta’ mara cabbi mekkasan
Pon banyya’ lanceng seterro
Penta’a mare tellasan (Supratman, 2016: 30)
Isi pantun di atas mengandung makna, bahwa orang Madura
pada umumnya mempunyai adat istiadat yang tinggi, sehingga
untuk melamar seorang gadis setelah Hari Raya, jika melamar
sebelum Hari Raya bagi orang Madura harus menanggung beban
yang berupa seperangkat pakaian dan lainnya. Dapat pula
dijelaskan seorang gadis menjadi rebutan karena sang gadis
tersebut dapat menunjukkan kecantikannya baik jasmani
maupun rohaninya (dapat menjaga kesucian badan dan kesucian
batinnya) sehingga pemuda tersebut menginginkan untuk
140 HUMANITAS MADURA
dijadikan istrinya. Tema pantun di atas adalah tertarik karena
kecantikannya.
Pan-sampanan ja’ nga-nengnga
Ngarambang talena panceng
Abakalan ja’ na-perna
Paraban karena lanceng (Supratman, 2016: 43)
Makna yang terkandung dalam pantun di atas, ketika
bertunangan jangan terlalu akrab supaya tidak terjadi hubungan
yang tidak diinginkan oleh keluarga (diluar nikah), agar setelah
nikah tetap perawan dan jejaka (pada malam pertamanya).
Dapat pula dijelaskan ada pemuda lain yang lebih menginginkan
gadis tersebut (difitnah), agar pemuda itu mengurungkan niat
untuk menikahinya, atau bisa saja gadis itu tidak perawan,
sehingga pemuda tersebut mudah dipermainkan (perempuan
yang hanya cinta pada uangnya saja atau hartanya). Tema
pantun di atas adalah jangan terlalu akrab bergaul.
Paraona empon mabbar
Mowa’ pandan gabay teker
Lamon dika onggu neser
Maddha bula duli slabar (Supratman, 2016: 30)
Maksud yang terkandung isi pantun di atas, merupakan
ungkapan seorang gadis yang telah menerima cintanya dari
seorang laki-laki itu, karena laki-laki tersebut mungkin telah
teruji sifat dan kepribadiannya, sehingga sang gadis itu meminta
untuk dilamarnya terhadap pemuda pujaannya itu. Atau dapat
pula dijelaskan dari sang pemuda belum dapat menunjukkan
kepastiannya atau ketulusan hatinya untuk melamar, atau sang
gadis terlalu lama menunggunya, sehingga ia ingin secepatnya
untuk dilamar. Tema pantun di atas adalah menerima cintanya.
Settong dhuwa’ tello’ empa’
Ata’ kajang palesteran
Monta’ endha’ duli ngoca’
Muhammad Tauhed Supratman 141
Me ta’ lanjang pamekkeran (Supratman, 2016: 19)
Isi pantun di atas mengandung makna, bahwa pemuda atau
laki-laki yang sedang mencintai seorang gadis untuk
dipinangnya, atau mungkin sang lelaki itu ingin mengetahui
kepastiannya dari sang gadis tersebut, karena sang gadis itu
masih belum menunjukkan kepastian cintanya terhadap lelaki
tersebut (gadis itu belum terbuka hatinya), atau dapat pula
dijelaskan dari sang gadis itu punya pandangan lain, sehingga ia
meragukan, mungkin saja pemuda tersebut belum teruji
ketulusan hatinya. Hanya sang pemuda itu tidak sabar menunggu
jawaban dari sang gadis itu diterima atau tidak, karena cintanya
telah membara sehingga ia tidak sabar. Tema pantun di atas
adalah ingin mengetahui kepastian cintanya.
Katajjan molongnga burne
Malathe sandha’ kembangnga
Sanajjan bula mabanne
E ate tadha’ enggana (Supratman, 2016: 18)
Pantun di atas mengandung makna, walaupun cintanya
sangat dalam diantara pemuda dan pemudi itu, namun seakan-
akan tidak menampakkan di khalayak ramai, bahwa keduanya
sudah menjalin asmara (cinta). Akan tetapi meskipun demikian
di hati kedua pemuda dan pemudi itu tetap bergelora terhadap
yang dicintai atau disayangi. Dapat juga diartikan cinta yang
diam-diam untuk sementara waktu, sehingga pada akhirnya
dapat mengejutkan orang lain, bahwa cinta keduanya telah lama
terjalin hubungan asmara. Tema pantun di atas adalah keduanya
sudah terjalin hubungan asmara.
Are satto ka mekkasan
Mamaca’a malem mengguna
Lamon esto ja’ abekkasan
Terro acaca’a se saongguna (Supratman, 2016: 20)
Isi pantun di atas mengandung makna, ada seorang pemuda
mencintai seorang gadis dengan harapan untuk mendatangi sang
142 HUMANITAS MADURA
pemuda secara langsung agar kepastian cintanya dapat diketahui
secara pasti. Dapat pula dijelaskan cintanya seorang gadis
terhadap pemuda, karena sang gadis itu malu untuk menyatakan
cintanya secara terus terang pada pemuda yang dicintainya,
sehingga ia memberi kabar pada orang lain dalam menyatakan
cintanya. Tema pantun di atas adalah mengharap kepastian
cintanya.
Are’-are’ alalancor
E gulungnga kalama’a
Re-kare oca’ taloccor
Mon burung se baremma’a (Supratman, 2016: 19)
Bila ditelaah isi pantun di atas mengandung makna, seorang
pemuda atau laki-laki yang sedang mencintai seorang gadis
namun cintanya telah diketahui orang banyak, bila tidak terjadi
maka sang pemuda harus menanggung malu. Dapat pula
dijelaskan karena cinta sang pemuda telah terlanjur, maka tidak
harus mempertanggungjawabkan atas cintanya itu pada sang
gadis yang dicintainya itu. Tema pantun di atas adalah cintanya
sudah terlanjur.
Ser-eseran obi manis
Jang-lajangan dhauna nangka
Ker-pekkeran sambi nangis
Jang-bajangan sanggu dika (Supratman, 2016: 20)
Makna isi pantun di atas menunjukkan seorang pemuda
atau laki-laki yang sedang mabuk cinta pada seorang gadis,
sehingga ia tidak dapat melupakan, bahkan telah menghantui
dirinya, karena cintanya sangat dalam sehingga bayangan yang
timbul dianggap gadis yang dicintai tersebut. Dapat pula
dijelaskan cinta seorang gadis terhadap pemuda yang telah lama
ditinggal sehingga menjadi pikiran yang selalu membayangi
benak si gadis. Tema pantun di atas adalah sedang mabuk cinta.
Ser-eseran obi manis
Obi nangka e taneyan
Muhammad Tauhed Supratman 143
Ker-pekkeran sambi nangis
Ngabas dika ma’banneyan (Supratman, 2016: 20)
Isi pantun di atas mengandung makna bahwa seorang
pemuda telah jatuh cinta pada seorang gadis yang telah menjadi
dambaan hatinya namun setelah menjalin cinta sekian lama,
sang gadis mengabaikan cintanya dan tidak mengakui jalinan
cinta yang telah lama disepakati berdua. Tema pantun di atas
adalah sedang jatuh cinta.
Samper sarong ka babana
Mon mennya’ dhumpa kapelar
Pekker kerrong ka robana
Mon enga’ rassa ta’ kellar (Supratman, 2016: 21)
Makna isi pantun di atas, menunjukkan cinta seorang
pemuda pada seorang gadis yang wajahnya selalu membayangi
pikiran pemuda, sehingga ia tidak mampu menahan bayangan
wajah sang gadis bahkan ingin selalu dekat dengan sang gadis
dambaannya. Ketika ia sangat merasa tidak mampu untuk
menahannya. Tema pantun di atas adalah terbayang-bayang
sang kekasih.
Sello’ sesser pote tolang
Mamatana le’ pale’ obi
Lamon neser maddha maelang
Kastana mo-temmo budhi (Supratman, 2016: 20)
Isi pantun di atas, menunjukkan pemuda dan pemudi yang
telah jatuh cinta namun diantaranya belum mendapat restu dari
orang tua, sehingga sang pemuda tersebut memeberanikan diri
mengajak lari sang pemudi dengan menanggung resiko yang
akan terjadi demi mendapatkan restu dari orang tua agar
cintanya dapat terlaksana. Tema pantun di atas adalah cinta
tidak mendapat restu orang tua.
Samper leres klambi dhalem
Senga’ cambur ban jai’na
144 HUMANITAS MADURA
Mon alerek sambi mesem
Bula lebur pon ri’ bari’na (Supratman, 2016: 19)
Pantun di atas mengandung makna, ada seorang lelaki yang
mencintai seorang gadis namun sang lelaki itu merasa ragu
untuk mencintai sang gadis tersebut, ketika sang gadis memberi
harapan kepada lelaki yang mencintai akhirnya pemuda itu
memberanikan diri mengutarakan cintanya pada sang gadis
tersebut. Atau cinta seorang gadis pada lelaki yang kebetulan
lebih dulu mencintai dirinya, sehingga dengan tanpa keraguan
lelaki tersebut mengutarakan cintanya. Tema pantun di atas
adalah cintanya secara diam-diam.
Sapa rowa andhi’ tarnya’
Arummanes e baddhana
Sapa rowa andhi’ ana’
Ma’ manes bibir babana (Supratman, 2016: 28)
Pantun di atas mengandung makna ada seorang pemuda
yang bertemu dengan seorang gadis yang membuat penasaran
sang pemuda dari mana gadis tersebut berasal lebih-lebih ia
menunjukkan kecantikannya yang membuat pemuda itu jatuh
cinta dan berkeinginan untuk melamarnya. Tema pantun di atas
adalah mempertanyakan asal-usul sang gadis.
Geluduk monye eteter
Moga nangka lecangana
Kejjudan mata se kacer
Moga dika rasananna (Supratman, 2016: 28)
Isi pantun di atas mengandung makna, bahwa seorang laki-
laki sedang jatuh cinta pada seorang gadis dengan harapan sang
gadis tersebut selalu mengenangnya, sehingga kedutan di mata
sang pemuda itu yang merasani adalah gadis dambaannya. Tema
pantun di atas adalah mengenang orang yang dicintainya.
Ataneya cao jai
Namen temmo babana nangka
Muhammad Tauhed Supratman 145
Asareya tao bai
Me’ta’ nemmo cara dika (Supratman, 2016: 28)
Makna isi pantun di atas menunjukkan seorang lelaki atau
pemuda yang hanya mencintai seorang gadis dan di hatinya
tidak ada gadis lain selain dari gadis yang menjadi dambaan sang
pemuda tersebut, karena cinta-nya sangat dalam. Dapat pula
dijelaskan selain cantik wajahnya cantik pula rohaninya sehingga
pemuda mengaku tiada gadis lain selain dia di dunia ini. Tema
pantun di atas adalah cintanya hanya untuk seorang gadis.
Sattananga esassa’a
Esebbida noro’ lorong
Emanna se tapesa’a
Kare abid se along-polong (Supratman, 2016: 28)
Pantun di atas mengandung makna yang menunjukkan
jalinan cinta antara pemuda dan pemudi, sehingga ia tidak mau
lepas begitu saja karena merasa lama berhubungan dan merasa
kasihan bila ia lepas atau berpisah karena keduanya sudah ada
ikatan yang sangat dalam, yakni ikatan cinta kasih. Tema pantun
di atas adalah cintanya sudah mendalam
Alajâr nojjhu Bisokè,
Ĕpotossa talè calaghâna,
Sanajjân dhika pon alakè,
Ĕ antossa marè randhâna. (Supratman, 2016: 30)
Isi pantun di atas mengandung makna, bahwa seorang lelaki
atau pemuda yang mencintai seorang gadis namun cintanya tak
tersampaikan karena sang gadis tersebut telah diperistri orang
lain. Meskipun demikian pemuda yang mencintai tetap akan
menunggu walaupun ia menjadi janda karena tidak ada pilihan
lain selain yang menjadi dambaan tersebut. Tema pantun di atas
adalah cinta yang tidak tersampaikan.
Somor dhalem koro’ kata’
Lente odhi’ erao’a
146 HUMANITAS MADURA
Lamon gellem toro’ oca’
Mate odhi’ etoro’a (Supratman, 2016: 18)
Makna yang terkandung dalam pantun di atas,
menunjukkan seorang pemuda atau lelaki sedang jatuh cinta
pada seorang gadis, jika cintanya diterima ia mengikuti
kehendak sang gadis tersebut, karena cintanya sangat dalam,
boleh dikatakan cinta sehidup semati. Tema pantun di atas
adalah rela berkorban demi orang yang dicintainya.
Penangnga pon ta’ tenggiya
Mon lowe’ talena rending
Emanna mon ta’ daddhiya
Mon kole’na mare eseddhing (Supratman, 2016: 26)
Pantun di atas mengandung makna, bahwa seorang pemuda
dan pemudi yang telah terjalin hubungan cinta yang terlalu
akrab dan berani menanggung segala resiko. Dapat pula
dijelaskan cintanya seorang pemuda untuk membuktikan
cintanya sang gadis pada pemuda tersebut. Tema pantun di atas
adalah jalinan cinta yang akrab.
Dalimana mandar manessa
Mon terrong mandar ketterra
Mon enga’ mandar nangessa
Lamon kerrong mandar entarra (Supratman, 2016: 26)
Isi pantun di atas menunjukkan seorang pemuda yang
sedang mencintai seorang gadis, namun pemuda tersebut tidak
berani untuk menyatakan cintanya hanya ia selalu mengharap
kedatangan gadis yang dicintainya. Cinta yang demikian terjebak
dalam cinta “platonis” yakni cinta yang hanya ada dalam angan-
angan belaka. Tema pantun di atas adalah cinta dalam angan-
angan.
Makna konotatif adalah makna yang berupa kesan-kesan
atau asosiasi-asosiasi biasanya yang bersifat emosional yang
ditimbulkan oleh sebuah kata disamping bahasa kamus atau
Muhammad Tauhed Supratman 147
definisi utamanya (Tarigan, 1983:59). Untuk lebih jelasnya dapat
ditunjukkan oleh beberapa pantun berikut ini.
Katarate pajikaran
Mano’ ngortog dha’ temorra
Reng alake ja’ tokaran
Ma’ le totog saomorra (Supratman, 2016: 41)
Pantun di atas mengandung makna suatu nasihat kepada
orang yang berkeluarga atau bersuami dalam kehidupannya
bersuami istri harus hidup rukun jangan sampai terjadi
perselisihan agar kehidupannya tentram dan kekal sampai akhir
hidupnya dalam bersuami dan beristri. Tema pantun di atas
adalah orang berkeluarga jangan sering bertengkar.
Ngacelleng bigina duwa’
Nompa’ jaran labu napang
Ja’ neng-senneng bine’ dhuwa’
Panas bharang eaja otang (Supratman, 2016: 42)
Isi pantun di atas mengandung makna suatu peringatan atau
nasihat kepada orang yang bersuami istri, agar tidak kawin lagi
atau beristri lagi karena orang yang beristri kadang tidak dapat
mencukupi kebutuhan hidupnya apalagi beristri lagi, maka ia
akan mengalami kebutuhan hidup dalam sehari-hari. Tema
pantun di atas adalah jangan beristri dua.
Ngala’ sere epepesa
Esarengnga gan sakone’
Kaneserre oreng towa
Semeyara kabit kene’ (Supratman, 2016: 46)
Pantun di atas mengandung makna suatu nasihat orang tua
kepada anaknya, agar menyadari bahwa orang tua yang
memelihara sejak kecil sampai dewasa betapa beratnya orang
tuanya yang mengasuhnya sejak kecil. Dapat dijelaskan ada
seorang anak telah berani menentang aturan-aturan yang
148 HUMANITAS MADURA
berlaku dalam keluarga tersebut. Tema pantun di atas adalah
taat kepada orang tua.
Mera pote campor biru
Akonengan kembang gaddhing
Nyara perte bi’ taronggu
Kasenneyan tembang gendhing (Supratman, 2016: 50)
Isi pantun di atas mengandung suatu nasihat, agar setiap
orang tetap memelihara tentang kesenian yang ada khususnya
kesenian yang terdapat di daerahnya terutama tembang
gendhing untuk tetapnya terpelihara agar tidak lenyap begitu
saja. Tema pantun di atas adalah memelihara kesenian daerah.
Mon aodheng ja’ sangerra’
Etelko’a tatalena
Mon epandeng ja’ agella’
Bula tako’ ka lakena (Supratman, 2016: 42)
Pantun di atas mengandung makna yang berisi suatu
sindiran halus yang memperingatkan agar orang itu sadar dari
hal-hal yang kurang baik atau disukai oleh masyarakat pada
umumnya. Tema pantun di atas adalah menjauhi hal-hal yang
kurang baik.
Ngarè’ lalang ka Panglègur,
Panglègur bânnya’ bâtona,
Ta’alanglang dika lèbur,
Rèng lèbur bâdâ bâktona. (Supratman, 2016: 42)
Isi pantun di atas mengandung makna yang berisi sindiran
halus atau nasihat agar orang itu sadar terhadap hal-hal yang
kurang berguna agar tidak terjadi pada suatu hal yang tidak
diinginkan. Dapat pula dijelaskan suatu peringatan agar
mengingat batas waktu yang telah ditentukan. Tema pantun di
atas adalah ingat batas waktu yang ditentukan.
Namen magi’ tombu sokon
Muhammad Tauhed Supratman 149
Tabing kerrep bannya’ kalana
Pong-pong gi’ odhi’ papadha rokon
Ma’le slamet pola tengkana (Supratman, 2016: 44)
Makna isi pantun di atas berisi suatu peringatan agar orang
sadar dalam kehidupannya bila ia rukun, sehingga apa yang akan
diperbuat menjadi selamat dalam kehidupannya. Atau suatu
nasihat agar hidupnya tentram dan damai perlu hidup rukun dan
berbuat suatu kebajikan. Tema pantun di atas adalah hidup
rukun dengan siapapun.
Koneng konengnga konye’
Entar kolla nonton sape
Ja’ nyeng-manyeng daddi reng bine’
Mon ta’ epola ta’ paju lake (Supratman, 2016: 44)
Pantun di atas mengandung makna yang berisi suatu
sindiran halus atau pedas terhadap wanita yang berisi
peringatan agar seorang wanita jangan terlalu bertingkah. Tema
pantun di atas adalah peringatan untuk wanita bertingkah laku
yang baik.
Ka Sampang karoma sake’
Toan dhukter capengan pote
Ta’ gampang daddi reng lake’
Mon ta’ penter ta’ gampang olle (Supratman, 2016: 45)
Isi pantun di atas mengandung makna yang berisi suatu
sindiran halus yang berupa peringatan agar jadi seorang laki-laki
harus mempunyai pengetahuan yang luas, sehingga dengan
pengetahuannya mudah untuk memperoleh apa yang ia
inginkan. Tema pantun di atas adalah pentingnya pengetahuan
yang luas.
Pan-sampanan ja’ nganengnga
Juko’ langgung epalappae
Abakalan ja’ na-perna
150 HUMANITAS MADURA
Mon ta’ langgeng erassae (Supratman, 2016: 45)
Makna isi pantun di atas berisi suatu sindiran yang sangat
keras memperingatkan agar orang itu sadar sehingga tidak
terjadi pada hal-hal yang tidak diinginkan, terutama bagi orang
yang sedang bertunangan supaya selamat atau terhindar dari
perbuatan yang hina itu. Tema pantun di atas adalah jangan
terlalu akrab bergaul.
Sabu keccek akopeyan
Somorra badha e dhaja
Lamon lecek sakaleyan
Saomorra ta’ ekaparcaja (Supratman, 2016: 46)
Pantun di atas mengandung makna suatu sindiran halus
atau sindiran pedas yang memberi peringatan pada seseorang,
agar dalam kehidupannya selalu berbuat jujur atau bertingkah
laku yang tidak merugikan orang lain. Dapat dijelaskan suatu
nasihat dalam berbicara untuk menghindari berbicara dusta.
Tema pantun di atas adalah berbuat jujur dalam hidup.
Perreng odhi’ ronto biruna
Parse jenno rang-rang tombu
Oreng odhi’ neko kodhuna
Nyare elmo pataronggu (Supratman, 2016: 44)
Isi pantun di atas menunjukkan suatu nasihat pada
seseorang agar dirinya sadar betapa pentingnya mencari ilmu
dengan ilmunya itu orang lebih manusiawi. Dapat pula dijelaskan
suatu peringatan setiap orang senyampang masih hidup
diwajibakn mencari ilmu sampai akhir hidupnya. Tema pantun
di atas adalah pentingnya menuntut ilmu
Ka bara’ bara’ arena
Ka temor kolare nyangsang
Ja’ berra’ berra’ atena
Panglepor ate seposang (Supratman, 2016: 45)
Muhammad Tauhed Supratman 151
Makna isi pantun di atas menunjukkan suatu nasihat atau
peringatan bila mengerjakan sesuatu hal jangan menjadi beban
atau penyesalan, ia memperingatkan dalam mengerjakan
sesuatu dianggap sebagai hiburan, sehingga tidak bosan dan
merasa pekerjaannya yang menyenangkan. Tema pantun di atas
adalah nasihat untuk menghibur diri.
Paraona nyerrang kapal
Nyabbur manggar tengnga tase’
Ce’ taona masang akal
Ngala’ samar ka selake’ (Supratman, 2016: 52)
Pantun di atas mengandung makna yang berisi sindiran
pedas yang memberi peringatan pada seseorang agar menjadi
sadar atas perbu-atan yang dilakukan, karena perbuatan
tersebut merupakan perbuatan yang hina bahkan menyesatkan
dirinya sendiri. Tema pantun di atas adalah sadar akan
perbuatannya.
Oreng ghate ngala’ ate
Mon apesa ja’ kasossa
Otang pate nyerra pate
Otang rassa nyerra rassa (Supratman, 2016: 51)
Bila dikaji secara mendalam isi pantun di atas merupakan
sindiran halus dan sindiran keras yang memperingatkan
seseorang untuk tidak berbuat hal-hal yang merugikan orang
lain, melalui isi pantun di atas supaya orang sadar dalam
perbuatan mesti ada balasannya. Tema pantun di atas adalah
setiap perbuatan ada balasannya.
B. MAKNA KONTEKSTUAL
Pantun sebagai sebuah karya sastra, tentunya ditulis atau
diciptakan sebagai refleksi ungkapan dari masyarakat pemilik
pantun tersebut. Tidak terkecuali dengan pantun Madura.
Refleksi masyarakat Madura dengan aktivitas kehidupannya
152 HUMANITAS MADURA
dapat kita tunjukkan dalam makna isi pantun-pantun Madura
berikut ini.
Dalam masyarakat Madura terdapat tradisi, jika seorang
laki-laki mencintai seorang gadis akan mengungkapkan “Pon
bannya’ lanceng se terro/penta’a mare tellasan”, ungkapan ini
menunjukkan pernyataan dari seorang laki-laki yang
mendambakan seorang gadis untuk melanjutkan kehendaknya
atau melamarnya. Biasanya yang demikian ini telah mendapat
restu dari orang tuanya. Memang di kalangan masyarakat
Madura, tradisi yang berkembang, jika ada pemuda dan pemudi
yang telah menjalin cinta kemudian berkehendak meminangnya
masih dimusyawarahkan terlebih dahulu dalam keluarganya,
bahkan sampai pada pihak saudara-saudaranya (saudara orang
tuanya) setelah direstui dapat dilanjutkan. Tradisi yang
demikian terutama dari pihak perempuan. Ada lagi tradisi yang
berkembang jika ada orang yang mau melamar apakah diterima
atau tidak jawabannya masih menunggu satu minggu, karena hal
tersebut masih dimusyawarahkan. Hal semacam ini merupakan
gambaran masyarakat Madura yang “Bapa’ babu’ guru rato”
artinya masyarakat yan patuh pada orang tua, guru atau
pemimpin dan pemerintah.
Isi pantun Madura yang berbunyi “Abakalan ja’ na perna/
paraban karena lanceng”, hal ini dalam masyarakat Madura tidak
menjadi kebiasaan meskipun ia bertunangan, ungkapan tersebut
memberi isyarat pada pemuda dan pemudi yang bertunangan
hendaknya jangan terlalu akrab, sebab keakraban dua orang lain
jenis yang sama hijau dan belum ada ikatan nikah, di masyarakat
Madura tidak menghendaki, agar tidak menjadi perguncingan
orang lain, meskipun telah bertunangan harus menjaga jarak.
Dalam pantun Madura yang berbunyi “Lamon dika onggu
neser/ maddha bula duli slabar”, menggambarkan ungkapan
seorang gadis yang setuju pada seorang laki-laki yang mencintai,
karena gadis tersebut telah mengetahui sifat dan kepribadian
sang lelaki itu, sehingga sang gadis meminta secepatnya untuk
dilamarnya, memang pada dasarnya masyarakat Madura bila
berkaitan dengan cinta, masih tetap berhati-hati, hal tersebut
Muhammad Tauhed Supratman 153
merupakan gambaran masyarakat Madura yang cenderung
menjaga nama baik keluarganya.
Isi pantun “Mon ta’ endha’ duli ngoca’/ma’ ta’ lanjang
pamekkeran”, dalam masyarakat Madura terdapat tradisi turun
temurun, jika seorang pemuda atau laki-laki yang mencintai
seorang gadis akan meminang seorang gadis, apakah cintanya
diterima atau ditolak, jika diterima ia melanjutkan jalinan
cintanya, namun jika ditolak, maka sang pemuda meminta
ketegasan dari sang gadis untuk secepatnya mengatakan bahwa
cintanya ditolak “ma’ ta’ lanjang pamekkeran”, hal yang demikian
bagi masyarakat Madura jika ada gadis yang diganggu laki-laki
akan menimbulkan hal yang negatif (carok) karena orang
Madura umumnya terkenal melindungi wanita.
Dalam masyarakat Madura khususnya yang terkait dengan
masalah jalinan cinta biasanya terungkap dalam pantunnya
“Sanajjan bule mabanne/e ate tadha’ enggana”, ungkapan ini
merupakan refleksi antara wanita dan laki-laki yang menjadi ciri
khas masyarakat Madura dalam menjalin hubungan cintanya,
agar orang lain tidak mengetahui, maksud tersebut untuk
menghindari perguncingan negatif ia kalau cintanya tulus kalau
tidak biasanya orang Madura menanggung malu. Dalam
kehidupan masyarakat Madura bila berkaitan dengan jalinan
cinta akan terungkap dalm pantunnya “Lamon esto ja’
abekkasan/terro acaca’a se saongguna”, ungkapan yang
demikian merupakan cermin masyarakat Madura dalam
hubungan bercinta, karena orang Madura meskipun terjadi
hubungan cinta selalu menjaga jarak, agar tidak menjadi
perguncingan orang lain, sehingga sang lelaki masih ragu dan
ingin untuk bertemu secara langsung, maka terungkaplah
pantunnya “Lamon esto ja’ abekkasan/terro acaca’a se
saongguna”, gambaran ini pada dasarnya agak ragu atas
ketulusan cintanya seorang gadis pada lelaki yang mencintai
tersebut.
Isi pantun Madura yang berbunyi “Rekare oca’
taloccor/mon burung se baremma’a, merupakan ungkapan yang
menunjukkan pernyataan dari seorang lelaki pada seorang gadis,
sehingga sang lelaki harus mempertanggungjawabkan atas
154 HUMANITAS MADURA
pernyataan tersebut agar sang gadis tindak menunggu cintanya
yang telah terlontar untuk menjaga kehormatan dan menjunjung
tinggi nama baik keluarganya. Dalam masyarakat Madura
khususnya yang berhubungan dengan cinta pasti dijadikan
persoalan yang serius sehingga trungkap dalam sebuah
pantunnya “Ker pekkeran sambi nanges/jang bajangan sanggu
dika”, gambaran ini menunjukkan ungkapan seorang pemuda
yang sangat dalam cintanya terhadap seorang gadis, sehingga
menjadi angan-angan biasanya yang demikian ini merupakan
jalinan cinta yang tidak pasti atau bisa saja jalinan cinta yang tak
tersampaikan ini menunjukkan angan-angan tinggal angan-
angan.
Isi pantun yang berbunyi “Ker pekkeran sambi
nanges/ngabas dika ma’ banneyan”, ungkapan ini merupakan
pernyataan seorang pemuda yang sedang menjalin cinta yang
kelihatannya tidak memberi kepastian, hal yang demikian
merasa cintanya diabaikan, sehingga pemuda tersebut merasa
kecewa biasanya masyarakat Madura bila cintanya dikecewakan
ia tetap berusaha dengan jalan lain untuk mendapatkan cintanya
lagi.
Dalam kehidupan menjalin cinta masyarakat Madura
biasanya terungkap dalam pantunnya “Pekker kerrong ka
robana / mon enga’ rassa ta’ kellar”, ini menunjukkan refleksi
sebuah cinta dari seorang laki-laki yang selalu mendambakan
kekasihnya dekat dengan dirinya, tetapi bagi seorang gadis tidak
menghendaki hal-hal yang demikian tanpa ada suatu ikatan.
Dalam kehidupan bercinta pada umumnya masyarakat
Madura, jika terjadi jalinan cinta antara pemuda dan pemudi, bila
seorang pemuda tidak direstui oleh keluarga sang gadis, maka
terungkap dalam sebuah pantunnya “Lamon neser maddha
maelang/mon kastana motemmo budhi”, kebiasaan seperti ini
dalam masyarakat Madura sering terjadi, karena sifat orang
Madura bila keinginannya tidak terlaksana ia menanggung malu
bila sang gadis tersebut tidak diraihnya.
Isi pantun yang berbunyi “Mon alerek sambi mesem/bule
lebur pon ri’ bari’na”, ini menunjukkan refleksi dari seorang
pemuda yang secara diam-diam mencintai seorang gadis, ia
Muhammad Tauhed Supratman 155
terungkap dalam pantun tersebut, ketika sang gadis telah
memberi harapan tentang cintanya, memang dalam masyarakat
Madura jika masuk pada cinta sangat dalam khususnya kaum
pemuda tidak berani menyatakan cintanya secara langsung,
karena tradisi yang demikan tetap melekat di kalangan
masyarakat Madura pada umumnya.
Di Madura pada umumnya, jika mencintai seorang wanita
terungkap dalam pantunnya “Sapa rowa andhi’ ana’/ma’ manes
bibir babana”, hal tersebut menggambarkan seorang lelaki yang
baru jatuh cinta pada seorang gadis yang baru dikenalnya, cinta
yang demikian merupakan pelampiasan dari seorang laki-laki
tersebut.
Isi pantun yang berbunyi “Kejjudan mata se kacer/moga
dika rasananna”, ini menunjukkan sebuah cinta seorang laki-laki
yang merasa dirinya sebagai pujaan dari seorang gadis yang
mencintainya, ia merasa bangga walaupun tidak bertemu secara
langsung dengan gadis dambaannya, hal yang demikian bagi
masyarakat Madura merupakan suatu penghargaan yang tak
dapat dilupakan.
Di kalangan masyarakat Madura bila mencintai seorang
gadis yang sesuai dengan harapannya, seakan tidak ada gadis
yang lain di dunia ini, sehingga terugkap dalam sebuah
pantunnya “Asareya tao bai / ma’ ta’ nemmo cara dika”, ini
sebuah ungkapan rasa cinta yang sangat dalam dari seorang
lelaki terhadap gadis yang diinginkannya, jika tidak dapat
terlaksana apa yang diinginkan biasanya, ia akan putus asa dan
tidak akan mencari lagi untuk selamanya.
Ungkapan sebuah pantun yang berbunyi “Emanna se
tapesa’a / kare abit se along-polong”, ini merupakan sebuah
refleksi dari seorang laki-laki yang telah lama menjalin
hubungan cinta terhadap gadis pujaannya, di kalangan
masyarakat Madura bila terjadi hubungan cinta yang telah lama,
maka sang lelaki itu harus mempertanggungjawabkan atas
cintanya pada sang gadis tersebut.
Isi pantun yang berbunyi “Sanajjan dika pon alake / e
antossa mare randana”, ini merupakan ungkapan yang betul-
156 HUMANITAS MADURA
betul cintanya sangat dalam dari seorang pemuda terhadap gadis
yang menjadi pujaannya ungkapan tersebut tidak mampu lagi
mencari gadis lain, kecuali gadis yang menjadi pujaan tersebut.
Di kalangan masyarakat Madura dalam kehidupan bercinta
terungkap dalam pantunnya yang berbunyi “Sokkor gellem toro’
oca’/mate odhi’ etoro’a”, ini merupakan sebuah ungkapan dari
seorang pemuda yang digunakan untuk bersilat lidah dalam
memadu cinta kasih untuk menarik perhatian pada seorang
gadis, agar keinginannya dapat tercapai.
Isi pantun yang berbunyi “Emanna mon ta’ daddhiya/mon
kole’na mare e seddhing”, merupakan sebuah refleksi dari
seorang pemuda untuk tercapainya sebuah cinta dari seorang
gadis yang menjadi idolanya, ini pun untuk memengaruhi sang
gadis, agar jalinan cinta yang telah lama dibina bersama bisa
terlaksana dengan baik.
Ungkapan sebuah pantun yang berbunyi “Mon enga’ mandar
nagessa/lamon kerrong mandar entarra”, pernyataan ini
merupakan gambaran dari seorang laki-laki yang sedang mabuk
asmara terhadap seorang gadis dambaannya yang demikian
cinta seorang lelaki menganggap dirinya lebih berharga dari
gadis tersebut, atau cintanya seorang lelaki yang tidak direstui
dari keluarga sang gadis, sehingga sang lelaki bertindak kurang
baik untuk membuat sang gadis selalu ingat pada lelaki yang
mencintainya.
Pantun baburugan (pantun nasihat) adalah sebuah pantun
yang merupakan sebuah refleksi masyarakat Madura untuk
memberi suatu nasihat atau peringatan agar menghindari
perbuatan yang tidak dikehendaki oleh masyarakat, untuk lebih
jelasnya marilah kita simak isi pantun berikut ini.
Dalam sebuah kehidupan di kalangan masyarakat Madura
dalam aktivitasnya agar tercipta sebuah kehidupan yang lebih
baik, sehingga terungkap dalam pantunnya yang berbunyi “Reng
alake ja’ atokaran/ma’ le totog saomorra”, gambaran ini suatu
nasihat atau peringatan pada orang lain, agar dapat
mengendalikan diri bila terjadi suatu hal yang kurang baik dalam
Muhammad Tauhed Supratman 157
kehidupan keluarga, atau mengurangi kesalahpahaman dalam
berkeluarga.
Isi pantun yang berbunyi “Ja’ neng-senneng bine dhuwa’ /
panas barang raja otang”, gambaran ini menunjukkan suatu
nasihat atau peringatan pada orang lain, agar dirinya sadar
untuk tidak berkeluarga lagi, karena orang yang berkeluarga
lebih dari satu pada umumnya dikalangan masyarakat Madura
tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan hidupnya namun
setelah dijalani baru ia sadar, bahwa dirinya tidak mampu
menanggung kebutuhan yang semakin kompleks.
Dalam kehidupan masyarakat Madura masih kental dengan
norma-norma yang berlaku untuk memberi sindiran atau
peringatan, terutama dalam sebuah pantun yang berbunyi
“Kaneserre oreng towa/semeyara kabit kene’”, ini suatu nasihat
atau peringatan pada kaum muda agar dirinya sadar betapa
beratnya orang tuan dalam memelihara dari sejak kecil sampai
dewasa, agar tidak menyia-nyiakan kasih sayang orang tuanya.
Dalam kehidupan berbudaya di kalangan masyarakat
Madura sangat memprihatinkan, sehingga tertuang dalam
sebuah pantunnya yang berbunyi “Nyara perte bi’
taronggu/kasenneyan tembang gendhing”, ini menunjukkan
sebuah nasihat atau peringatan, agar masyarakat Madura sadar
akan pentingnya suatu kesenian khususnya tembang tersebut,
hilangnya suatu budaya Madura, akan hilang pula pandangan
masyarakat Madura atau kepercayaan daerah lain. Suatu daerah
dikenal oleh daerah lain jika daerah itu menunjukkan aktivitas
budayanya.
Ungkapan sebuah pantun yang berbunyi “Mon epandeng ja’
agella’/bula tako’ ka lakena”, isi pantun tersebut menunjukkan
suatu nasihat atau peringatan pada orang lain, agar menghindari
hal tersebut, karena di kalangan masyarakat Madura bila
berhubungan dengan seorang wanita secara gelap akan
menimbulkan carok, timbulnya carok dalam masyarakat Madura
hanya permasalahan wanita.
Isi pantun yang berbunyi “Ta’ alang-lang dika lebur/reng
lebur badha baktona”, menunjukkan suatu peringatan, agar
158 HUMANITAS MADURA
mengingat waktu yang telah ditentukan atau norma-norma
dalam sebuah kehidupan, misalnya seorang pemuda
mengunjungi seorang wanita, tidak boleh lebih dari pukul 09.00
malam, tidak boleh menggunakan type recorder yang keras lebih
dari pukul 10.00 malam.
Untuk menciptakan suasana yang damai dalam kehidupan
masyarakat Madura ditunjukkan dalam sebuah pantunnya yang
berbunyi “Pong-pong gi’ odhi’ papadha rokon/ma’ le slamet pola
tengkana”, isi pantun tersebut merupakan sebuah nasihat dalam
kehidupan berkeluarga, agar senantiasa menciptakan lingkungan
keluarga yang tentram, aman dan sentosa sehingga terbentuk
sebuah keluarga yang sehat.
Isi pantun yang berbunyi “Ja’ nyeng-manyeng daddi reng
bibe’/ mon ta’ e pola ta’ paju lake”, pernyataan pantun tersebut
memberi suatu peringatan pada seorang wanita supaya tidak
menjadi perguncingan orang dalam kehidupannya, hal yang
demikian dalam kehidupan masyarakat Madura tidak
dikehendaki.
Dalam kehidupan masyarakat Madura seorang lelaki lebih
banyak dituntut mencari ilmu dibandingkan orang wanita, hal
tersebut terungkap dalam sebuah pantunnya yang berbunyi “Ta’
gampang daddi reng lake’/mo ta’ penter ta’ gampang olle”, ini
suatu nasihat pada seorang lelaki untuk mencari pengetahuan
yang lebih luas, karena seorang lelaki akan menjadi tumpuan
hidup dalam kehidupan yang semakin kompleks.
Di kalangan masyarakat Madura dikenal dengan masyarakat
yang selalu menjunjung tinggi martabatnya, hal ini tertuang
dalam bunyi pantunnya “Abakalan ja’ na perna/mon ta’ langgeng
erassae”, ini merupakan sindiran pedas yang memperingatkan
antara pemuda dan pemudi sekalipun sudah bertunangan tidak
boleh terlalu akrab, apalagi dalam lingkungan masyarakat
Madura dikenal dengan masyarakat yang relegius dila-rang
keras sebelum ada ikatan nikah.
Masyarakat madura dikenal dengan masyarakat yang
telegius tidak menghendaki berkata dusta dengan norma-norma
yang berlaku tetap melekat dalam kehidupan masyarakt Madura
Muhammad Tauhed Supratman 159
sehingga tertuang dalam sebuah pantun yang berbunyi “Lamon
lecek sakaleyan/saomorra ta’ ekaparcaja”, ungkapan ini
menunjukkan suatu ajakan untuk menghindari berkata dusta,
karena sifat orang madura pada umumnya menghendaki
bersikap dan berkata jujur ini sesuai dengan adat yang berlaku.
Isi pantun yang berbunyi “Oreng odhi’ neko kodhuna/nyare
elmo pataronggu”, ungkapan pantun tersebut menunjukkan
suatu nasihat pada setiap orang untuk menuntut ilmu, karena
menuntut ilmu suatu kewajiban bagi orang yang masih hidup,
karena dengan ilmunya itu akan menunjukkan karisma
seseorang, walaupun dari golongan mana seseorang tersebut
hanya dapat ditentukan karena ilmunya.
Dalam memenuhi kebutuhan hidup seseorang, di tengah
kehidupan yang semakin kompleks dan tidak dapat dikendalikan
namun pekerjaan semakin sulit sehingga tertuang dalam
pantunnya yang berbunyi “Ja’ berra’-berra’ atena/pang lepor ate
se posang”, ini menunjukkan sebuah kehidupan di kalangan
masyarakat Madura yang harus disadari, ketika melakukan suatu
pekerjaan jangan merasa suatu beban yang sangat berat, tetapi
suatu pekerjaan yang menyenangkan, sehingga dirasa ringan dan
sukses.
Dalam kehidupan yang semakin kompleks tersebut, kadang
orang tidak sadar dengan apa yang diperbuat, padahal perbuatan
tersebut sangat menyesatkan, sehingga perlu orang lain untuk
memberi suatu peringatan dengan melalui sebuah pantunnya
yang berbunyi “Ce’ taona masang akal/ngalak samar kalakena”,
ini menunjukkan suatu larangan pada seseorang untuk dihindari,
agar tidak terjadi suatu hal yang tidak diinginkan oleh semua
masyarakat khususnya masyarakat Madura.
Di kalangan masyarakat Madura boleh dikatakan secara
umum merupakan sebuah kehidupan yang sangat keras,
sehingga terungkap dalam sebuah pantunnya yang berbunyi
“Otang pate nyerra pate/otang rassa nyerra rassa”, ungkapan ini
menunjukkan sifat orang Madura yang begitu keras dengan
melalui isi pantun di atas agar orang sadar untuk menghindari
hal-hal yang tidak dikehendaki tersebut.
160 HUMANITAS MADURA
BAB 8
PENUTUP
Studi atau kajian terhadap teks sastra lisan Indonesia, khususnya
pantun Madura, sangat menarik dan bernilai humanitas untuk
dilakukan. Pantun Madura sebagai salah satu warisan leluhur yang
mungkin mulai dilupakan oleh masyarakat penuturnya ini sarat
dengan nilai-nilai humanitas, baik lokal maupun universal. Nilai-
nilai humanitas tersebut dapat dijadikan bahan renungan, kajian,
telaah, dan bahkan refleksi diri bagi masyarakat Madura yang hidup
di zaman milenium ini. Studi ini pula berupaya untuk
mengungkapkan dimensi humanitas Madura tersebut dari berbagai
aspek.
Bertolak dari hal tersebut, dapat dipaparkan simpulan sebagai
berikut. Pertama, bahwa sikap hidup orang Madura yang tercermin
dalam pantun-pantun Madura meliputi sikap terhadap Tuhan, sikap
terhadap sesama, dan sikap terhadap dirinya. Sikap terhadap Tuhan
yang terdapat dalam Paparèghân: Pantun Madura Puisi Abadi
digambarkan dengan sikap religius yang sangat tinggi antara lain
mengungkapkan pentingnya ilmu agama yang diajarkan sejak dini,
mondok sebagai jalan untuk memperdalam ilmu agama, jangan
berlebihan dalam menyukai sesuatu, menjalankan ibadah salat,
menjalankan ibadah haji, menjalankan ibadah puasa, sabar dan
ikhlas dalam menerima kehendak Allah, tidak menyekutukan Allah,
dan rajin menuntut ilmu. Sikap terhadap sesama yang terdapat
dalam Paparèghân: Pantun Madura Puisi Abadi digambarkan dengan
kerukunan dan kebersamaan antara lain mengungkapkan hidup
rukun antartetangga, antarkeluarga, antarsaudara, rukun antar
Muhammad Tauhed Supratman 161
suami-istri, menepati janji, tidak suka mengobral janji, sikap
terhadap lawan jenis, menghormati kedua orang tua, dan setia
kepada pasangan. Sikap terhadap pribadi yang terdapat dalam
Paparèghân: Pantun Madura Puisi Abadi digambarkan dengan naluri
yang tegas dan harga mati orang Madura antara lain
mengungkapkan pentingnya harga diri, menjaga harkat dan
martabat, serta menjaga diri dan keluarga dari sifat tercela.
Kedua, sastra lisan seperti pantun Madura ini mengandung
berbagai nilai kehidupan yang bisa kita jadikan bahan pemikiran
bagi kita yang hidup di era digital yang serba modern ini. Nilai
tersebut adalah, nilai kebenaran, nilai estetis, nilai moral, dan nilai
religius. Nilai kebenaran dalam kumpulan Paparegan: Pantun
Madura Puisi Abadi antara lain mengungkapkan masalah-masalah
kebenaran yang terkait dengan berkasih-kasihan (kesetiaan,
pengorbanan, kesungguhan, dan ketulusan), kehidupan berumah
tangga, dan hidup bermasyarakat. Nilai estetis dalam kumpulan
Pantun Madura Puisi Abadi antara lain: pantun digunakan sebagai
bentuk pengucapan tidak langsung untuk menyampaikan maksud
dan tujuan seseorang kepada orang lain, menggunakan pola
kesejajaran yang bersajak ab-ab atau aa-aa, dalam setiap barisnya
berisi delapan suku kata (guru bilangan, dalam bahasa Madura-
pen.), dan sering memanfatkan benda-benda yang ada di lingkungan
sekitarnya sebagai sampiran. Selain itu sering juga menggunakan
sarana retorika seperti: repetisi, ironi, dan hiperbola. Nilai moral
dalam kumpulan Pantun Madura Puisi Abadi antara lain: anjuran
untuk hidup rukun dalam bertetangga, etika pergaulan lawan jenis,
etika hidup berumah tangga, dan etika menghormati kedua orang
tua. Nilai religius dalam kumpulan Pantun Madura Puisi Abadi
antara lain: sikap rida, ikhlas, anjuran mengerjakan salat,
berperilaku jujur, menuntut ilmu pengetahuan, dan menjaga
pergaulan dengan lawan jenis.
Ketiga, pantun Madura tidak hanya mempunyai nilai. Tetapi
dalam teks-teks pantun tersebut juga terkandung kearifan lokal dari
masyarakatnya. Kearifan lokal tersebut antara lain: kearifan lokal
bentuk komunikasi dengan Tuhan, dan kearifan lokal bentuk
komunikasi antar manusia. Kearifan lokal bentuk komunikasi
dengan Tuhan dalam Paparèghân: Pantun Madura Puisi Abadi pada
umumnya terlihat pada kearifan lokal Madura kategori komunikasi
162 HUMANITAS MADURA
dengan Tuhan erat kaitannya bagai-mana masyarakat Madura
dalam beragama atau menjalankan perintah agama. Orang Madura
identik dengan insan religius (Islam). Kearifan lokal bentuk
komunikasi antar manusia dalam Paparèghân: Pantun Madura Puisi
Abadi pada umumnya terlihat pada tingkah laku saling
menghormati dan saling menghargai. Menghormati seseorang
dengan melihat usia, seperti kepada orang yang lebih tua, guru,
orang yang dituakan karena kebijakannya, orang kaya yang juga
dihormati sebab orang kaya diharapkan bisa membantu si miskin,
demikian pula harus menghormati orang yang berilmu dan orang
yang memiliki status seperti ulama dan umara. Sedangkan saling
menghargai dimaksudkan agar kita tidak bersikap maunya sendiri,
memaksakan kehendak terutama kepada mereka yang lebih muda
dari kita. Selesaikan segala sesuatu dengan orang lain dengan cara
santun, bijak dan cerdas.
Keempat, pantun Madura ternyata sarat dengan makna,
terutama pada isi pantun tersebut. Kajian tentang makna terhadap
teks-teks pantun secara garis besar berkaitan dengan makna
konotatif dan makna kontekstual. Pantun-pantun Madura secara
konotatif, khususnya isi pantun se-kaseyan (pantun cinta kasih)
mengungkapkan makna yang berkenaan dengan cinta kasih dari
seorang pemuda kepada seorang pemudi, atau sebaliknya. Isi
pantun baburugan (pantun nasihat) secara umum mengungkapkan
makna yang berkenaan dengan nasihat dari orang yang lebih tua
kepada orang yang lebih muda. Sedangkan secara kontekstual
makna isi pantun se-kaseyan (pantun cinta kasih) merupakan
refleksi sikap dan ungkapan masyarakat Madura waktu itu,
khususnya yang terkait dengan ungkapan dan sikap cinta kasih
pada zamannya. Sedangkan secara kontekstual makna isi pantun
baburugan (pantun nasihat) merupakan refleksi sikap kepedulian
orang tua kepada orang muda dalam menjalin rutinitas hidup
kemasyarakatan, sehingga dengan pantun tersebut diharapkan agar
orang yang lebih muda selalu mencontoh yang lebih tua dalam
kemasyarakatan.
Muhammad Tauhed Supratman 163
GLOSARIUM
abhantal syahadat asapo’ iman (berbantal syahadat berselimut
iman). Ungkapan tersebut menunjukkan
betapa pentingnya agama sebagai
sandaran hidup. Bagi orang yang tidak
menjalankan perintah agama, masyarakat
Madura menyebutnya èdhina pangèranna
(ditinggal Tuhannya).
Ango’an poté tolang etembhang poté mata” (lebih baik mati daripada
harus menanggung malu). Ini merupakan
ungkapan orang Madura dalam
mempertahankan harga dirinya. Ungkapan
ini yang sering diselesaikan dengan cara
carok.
Carok : merupakan tradisi bertarung yang
disebabkan karena alasan tertentu yang
berhubungan untuk mempertahankan
yang menggunakan senjata
bernama celurit. Carok merupakan jalan
terakhir untuk menyelasaikan masalah
dalam rangka mempertahankan harga diri
sebagai orang Madura. Carok ini sudah
banyak ditinggalkan oleh masyarakat
Madura.
Estetika : merupakan salah satu cabang filsafat yang
membahas tentang keindahan.
Etika : suatu norma atau aturan yang dipakai
sebagai pedoman dalam berperilaku di
164 HUMANITAS MADURA
masyarakat bagi seseorang terkait dengan
sifat baik dan buruk.
Etnik : kelompok sosial dalam sistem sosial atau
kebudayaan yang mempunyai arti atau
kedudukan tertentu karena keturunan,
adat, agama, bahasa, dan sebagainya.
Foklor : adat istiadat dan kebudayaan yang
diwariskan secara turun-temurun dari
generasi ke generasi. Foklor terdiri
bebrapa jenis, antar lain: mitos, legenda,
dongeng, nyanyian rakyat, upacara, sastra
lisan, dan sebagainya.
Imajis : sesuatu yang menimbulkan daya bayang.
Daya bayang ini biasanya menyaran pada
pancaindra manusia.
Kearifan lokal : merupakan aturan yang hanya identik
dengan satu lokal daerah saja. Kearifan
lokal berkaitan dengan karya akal budi,
perasaan mendalam, tabiat, bentuk
perangai, dan anjuran untuk kemuliaan
manusia.
Kearifan lokal Madura: merupakan pengetahuan yang khas
tentang masyarakat Madura dan
merupakan milik masyarakat atau budaya
Madura yang telah berkembang secara
turun temurun sebagai hasil proses
hubungan timbal balik antara masyarakat
Madura dengan lingkungannya.
Kejung : kidung. Pantun yang dinyanyikan oleh
seorang sinden atau pemain ketoprak.
Licentia poetica : kebebasan mencipta
Muhammad Tauhed Supratman 165
Madura : nama pulau yang terletak di sebelah timur
laut Jawa Timur, yang besarnya kurang
lebuh 5.168 km2 dengan jumlah penduduk
hampir 4 juta jiwa.
mon bâ’na ètobi’ orèng sakè’, jhâ’ nobi’en orèng artinya kalau kamu
dicubit merasa sakit, jangan mencubit
orang. Filsafat hidup orang Madura yang
berbentuk ungkapan.
Paparegan : nama pantun dalam bahasa Madura.
Pantun : jenis puisi lama yang setiap baitnya terdiri
atas empat baris serta memiliki sampiran
dan isi.
Pantun agama : jenis puisi lama yang berisi tentang nilai-
nilai atau hal-hal yang bersumber dari
agama. Di Madura pantun agama banyak
bersumber pada agama Islam.
Pantun baburugan : sejenis puisi lama yang berisi tentang
nasihat-nasihat demi kebaikan hidup.
Pantun, se-kaseyan
(pantun cinta kasih) : jenis puisi lama yang bertemakan cinta
kasih dengan segala liku-likunya.
Pantun loco
(Pantun lelucon) : jenis puisi lama yang bertemakan tentang
hal-hal yang mengandung kelucuan dan
membuat orang tertawa terpingkal-
pingkal.
Sampiran : baris ke satu dan ke dua dalam pantun.
Sampiran ini kadang kala bermakna,
kadangkala tidak. Sampiran ini merupakan
kiasan dalam sebuah pantun.
Sikap hidup : pandangan hidup dari suatu kelompok
masyarakat tertentu.
166 HUMANITAS MADURA
DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 1990. Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: Sinar Baru.
Badrun, Ahmad. 1983. Pengantar Ilmu Sastra (Teori Sastra).
Surabaya: Usaha Nasional.
Basrowi. 2005. Pengantar Sosiologi. Bogor: Ghalia Indonesia.
Busri, Hasan. 2010. Simbol Budaya Madura dalam Cerita Rakyat
Madura. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Universitas
Negeri Malang.
Chaer, Abdul. 1995. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta:
Rineka Cipta.
Danandjaya, James. 1984. Foklor Indonesia. Jakarta: Grafiti Pers.
Eddy, Nyoman Tusthi. 1991. Kamus Istilah Sastra Indonesia. Ende,
Flores: Nusa Indah.
Effendi, Usman. 1954. Sastra Indonesia. Djakarta: Pustaka Rakyat.
Ghazali, A. Syukur. 2001. Beberapa Pemikiran Tentang Pembinaan
dan Pengembangan Seni Budaya. Makalah “Dialog Sehari Seni
Budaya Madura”. 28 Oktober 2000. Tidak Diterbitkan.
Hamka. 1976. Tafsir Al-Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Heryanto, Ariel. 1985. Perdebatan Sastra Kontekstual. Jakarta: CV
Rajawali.
Hidayat, Ainur Rahman. 2013. Kearifan Lokal Madura dalam
Interpretasi Filsafat Ilmu. Surabaya: Pena Salsabila.
Huky, Wila. 1985. Pengantar Sosiologi. Surabaya: Usaha Nasional.
Jonge, Huub De (ed). 1985. Agama, Kebudayaan, dan Ekonomi Studi-
Studi Interdisipliner tentang Masyarakat Madura. Jakarta:
Rajawali Pers.
Muhammad Tauhed Supratman 167
Julian, Royyan. 2013. Pandangan Hidup Etnik Madura dalam
Kumpulan Puisi Nemor Kara. Skripsi tidak Diterbitkan.
Malang: Universitas Negeri Malang.
Lubis, Farhan Azis, 2014. Pengertian Kearifan Lokal (online).
http://pangeranarti.blogspot.com/2014/11/pengertiankearif
anlokallengkap.html, 15 April 2017,3:45
Mahayana, Maman S. 2015. Kitab Kritik Sastra. Jakarta: Yayasan
Pustaka Obor Indonesia.
Mahayana, Maman S. 2005. Sembilan Jawaban Sastra Indonesia,
Sebuah Orientasi Kitik. Jakarta: Bening Publishing.
Mahmud, Kusnan K. 1987. Sastra Indonesia dan Daerah. Bandung:
Angkasa.
Moeliono, Anton M., dkk. (eds). 1990. Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Jakarta: Depdikbud dan Balai Pustaka.
Moleong, Lexy J. 2000 . Metodologi PenelitianKualitatif. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Muljana, R. B. Slamet 1951. Bimbingan Seni Sastra. Djakarta: J. B.
Wolters Groningen.
Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press.
Parkamin, Amron dan Noor Bari. 1973. Pengantar Sastra Indonesia.
Jilid II. Bandung. C.V. Sulita.
Pateda, Mansoer, 1996. Semantik Leksikal. Flores: Nusa Indah.
Pradopo, Rachmad Djoko. 2000. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah
Mada University Pres.
Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Estetika Sastra dan Budaya.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rifai, Mien Ahmad. 2007. Manusia Madura. Yogyakarta: Pilar Media.
. 2007. Manusia Madura: Pembawaan, Perilaku, Etos
Kerja, Penampilan, dan Pandangan Hidupnya seperti
Dicitrakan Peribahasanya. Yogyakarta: Nuansa Angkara.
168 HUMANITAS MADURA
Sadik, A. Sulaiman. 2013. Selintas Tentang Bahasa dan Sastra
Madura. Pamekasan: Bina Pustaka Jaya.
Sadik, A. Sulaiman. 2004. Tumbuh dan Berkembangnya Sastra
Madura. Pamekasan: Bina Pustaka Jaya.
Salam, Burhanuddin. 1997. Etika Sosial Asas Moral dalam Kehidupan
Manusia. Jakarta: Reneka Cipta.
Slamet Muljana, R. B. 1951. Bimbingan Seni Sastra. Djakarta: J. B.
Wolters Groningen.
Sutarto, Ayu, Marwoto, dan Heru S. P. Saputra. 2010. Mutiara yang
Tersisa I: Kearifan Lokal dalam Cerita Rakyat Madura.
Surabaya: Kompyawisda Jatim.
Sudikan, Setya Yuwana. 2013. Kearifan Budaya Lokal. Sidoarjo:
Damar Ilmu.
Sumarna, Cecep. 2006. Filsafat Ilmu dari Hakikat Menuju Nilai.
Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Supratman, M. Tauhed. 2016. Paparèghân Pantun Madura Puisi
Abadi. Yogyakarta: Ganding Pustaka.
Supratman, M. Tauhed. 2017. Fungsi Papareghan (online).
https://www.researchgate.net/publication/315316711_Fung
si_Papareghan_Pantun_Madura_bagi_Masyarakatnya,
diakeses 13 April 2017, 08 : 27
Supratman, M. Tauhed. 2017. Sikap Hidup Orang Madura dalam
Pantun (online). http://fkip.unira.ac.id/wp-
content/uploads/2017/03/SIKAP-HIDUP-ORANG-MADURA-
DALAM-PANTUN-ISI.pdf, diakeses 13 April 2017, 08: 38
Supratno, Haris. 1998. Transformasi Cerita Dewi Rengganis dalam
Naskah ke dalam Pertunjukan Wayang Sasak (Sebuah Kajian
Sastra Bandingan). Surabaya: Puslit IKIP Surabaya.
. 1999. Transformasi Cerita Damarwulan ke Dalam
Pertunjukan Wayang Krucil di Tuban (Sebuah Kajian Sastra
Bandingan). Surabaya: Puslit IKIP Surabaya.
Tajib, Mohammad. Tanpa Tahun. Sastra Madura Jilid I. Pamekasan:
Tanpa Penerbit.
Muhammad Tauhed Supratman 169
Tarigan, Henry Guntur. 1883. Pengajaran Semantik. Bandung:
Angkasa.
Taufiq, Akhmad. 2017. Sastra Multikultural: Konstruksi Identitas dan
Praktik Deskursif Negara dalam Perkembangan Sastra
Indonesia. Malang: Beranda.
Waluyo, Herman J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.
. 2000. Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Wirjoasmoro, M. 1953. Panyeddha’ I. Djogjakarta: Balai Bahasa.
Wahyuni, Niniek Sri dan Yusniati. 2004. Manusia dan Masyarakat.
Jakarta: Ganeca Exact.
Wiyata, A. Latief. 2013. Mencari Madura. Jakarta: Bidik-Phronesis
Publishing.
Yasin, Moh. Fatah. 2004. Representasi Pandangan Hidup Masyarakat
Madura dalam Sastra Madura Modern. Disertasi tidak
diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.
170 HUMANITAS MADURA
TENTANG PENULIS
Muhammad Tauhed Supratman lahir di Pamekasan, 27 November
l970. Menyelesaikan pendidikan SD (1984) dan SMP Negeri 1
(1987) di Pademawu, kemudian melanjutkan ke Sekolah Pendidikan
Guru Negeri (1990) di Pamekasan, Madura. Sejak SPG kelas II,
Tauhed, aktif menulis di media massa, baik lokal maupun nasional.
Sejak lulus SPG sampai dengan tahun 1997, Tauhed menjalani
hidupnya sebagai gepeng (gelandangan dan pengangguran), tetapi
tidak pernah meninggalkan dunia tulis-menulis. Tahun 1997
melanjutkan kuliah di FKIP Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia, Universitas Madura. Alumnus FKIP Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Univesitas Madura,
Pamekasan (2001) ini menulis puisi, menggunakan bahasa
Indonesia dan bahasa Madura. Karya-karyanya berupa sajak,
cerpen, dan esai sastra dipublikasikan di: Jawa Pos, Karya Darma,
Mimbar Pembangunan Agama, Mingguan Guru, Aula, Radar Madura,
Surya, Surabaya Post, Kidung, Bende (Surabaya), Simponi, Inti Jaya,
Kompas (Jakarta), Suara Muhammadiyah (Yogjakarta), Sahabat Pena
Muhammad Tauhed Supratman 171
(Bandung), dan sebagainya. Alumni Lembaga Jurnalistik Mandiri
Jakarta 1993, Spesialisasi ilmu Kewartawanan.
Sajaknya “Nyanyian dari Kampus” terpilih dan dibacakan di
Radio Nederland, di Helvirsum, Belanda dalam rangka HUT ke-53
Republik Indonesia. Kumpulan sajaknya bersama penyair lain:
“Puisi Rakyat Merdeka” (Grasindo dan Ranesi, 2003), “Duka Aceh
Duka Bersama” (Logung Pustaka dan Dewan Kesenian Jawa Timur,
Februari 2005), “Dari Are’ Lancor ke Hati Rencong” (Pustaka Indecs,
Pamekasan, Maret 2005), “Malsasa 2005”. (Surabaya: Alfa Media
dan Forum Sastra Bersama, Desember 2005), “Nemor Kara”
(Antologi Puisi Modern Berbahasa Madura, Departemen Pendidikan
Nasional, Balai Bahasa Surabaya: Oktober 2006), “Pamekasan di
Mata Penyair” (Dewan Kesenian Pamekasan, Pamekasan: Januari
2007), “Surabaya 714” (Surabaya: Forum Sastra Bersama Surabaya
dan Taman Budaya Jawa Timur, Juli 2007), “Wanita yang Membawa
Kupu-Kupu” (Komite Sastra Dewan Kesenian Sumenep dan Sanggar
Lentera STKIP Sumenep, 2009), Malsabaru (Malam Sastra bagi
Guru), Surabaya: Forum Sastra Bersama Surabaya dan UPT
Dikbangkes dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Mei 2011,
Malsasa X Retrospeksi Malsasa Surabaya 722. Sidoarjo: Satu Kata
Book@rt Publising, Yogya dalam Napasku. (Yogyakarta: Balai
Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan,
2016), Nyanyian Gerimis. (Banda Aceh: Hiski Aceh dan Bandar
Publising, 2017), Antologi Puisi Wangian Kembang (Kuala Lumpur:
Persatuan Penyair Malaysia dan Dewan Bahasa dan Pustaka, 2018).
Sedangkan antologi sajak tunggalnya adalah: RAPSODI MAWAR
DAN GERIMIS (Penerbit Ganding Pustaka, Yogyakarta, Juni 2015),
dan PAPAREGHAN: PANTUN MADURA PUISI ABADI. (Penerbit
Ganding Pustaka, Yogyakarta, Juni 2016).
Tauhed banyak melakukan penelitian tentang sastra. Hasil-
hasil penelitiannya tersebut adalah September 2018. “Sajak-Sajak
Wowok Hesti Prabowo sebagai Refleksi Dunia Politik” (Book
172 HUMANITAS MADURA
Chapter dalam Buku Sastra Terapan; dari Konsep ke Aplikasi editor
Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Pd., Ketua Himpunan Sarjana
Kesusastraan Indonesia Pusat). Yogyakarta, Textium), September
2017. “Nilai-Nilai Kehidupan dalam Pantun Madura” (Book Chapter
dalam Buku Sastra Etnografi editor Prof. Dr. Suwardi Endraswara,
M.Pd., Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia Pusat).
Yogyakarta, Morfolingua), September 2017. Cerpen Indonesia dan
Pelanggaran HAM. (Book Chapter dalam Buku Sastra Humanitas
editor Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Pd., Ketua Himpunan
Sarjana Kesusastraan Indonesia Pusat). Yogyakarta, Morfolingua).
21 April 2017. Sastra Madura Terputus dengan Generasinya.
Pemakalah utama di Universitas Negeri Jember, 20-30 April 2016.
Sikap Hidup Orang Madura dalam Pantun. Seminar Nasional di
Prodi PBSI, Universitas Negeri Makassar, 2-3 Oktober 2015. Fungsi
Pantun Madura bagi Masyarakatnya. Seminar Nasional di Prodi
PBSI, Universitas Sanata Darma, Yogyakarta, 25 April 2015. Potret
Sosial dalam Pantun Madura. Seminar Nasional di Prodi PBSI,
Universitas Sebelas Maret, Solo, 13 Desember 2014. Representasi
Nilai-nilai Kehidupan dalam Pantun Madura. Seminar Nasional di
Prodi PBSI, Universitas PGRI Kediri, 24-25 Oktober 2014. Wajah
Pendidikan Indonesia dalam Novel. Seminar Nasional di Prodi PBSI,
Universitas Sebelas Maret, Solo, Juli 2014. Kemiskinan dalam Novel
Indonesia. Jurnal Kependidikan Interaksi, Volume 9, Nomor 2.,
Januari 2014. Korupsi Dalam Cerpen Indonesia. Jurnal
Kependidikan Interaksi, Volume 9, Nomor 1., Juni 2012 Pelanggaran
Hak Asasi Manusia dalam Kumpulan Cerpen “Soeharto dalam Cerpen
Indonesia” editor M. Shoim Anwar. Universitas Madura Pamekasan.,
2009. Identitas dalam Sastra Madura. Departemen Pendidikan
Nasional, Pusat Bahasa, Balai Bahasa Surabaya, 2009.
Tanggal 18 s.d. 20 Juli 2017, anggota Himpunan Sarjana
Kesusastraan (Hiski) Surabaya ini mengikuti Musyawarah Nasional
Sastrawan Indonesia II (Munsi II) yang diselenggarakan oleh Pusat
Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa,
Muhammad Tauhed Supratman 173
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. Tanggal 28 s.d. 31
Oktober Tauhed mengikuti Kongres Bahasa Indonesia XI di Hotel
Gran Sahid Jaya Jakarta. Ketua Bidang Pengkajian dan Penelitian di
Lembaga Kajian Madura di Universitas Madura Pamekasan 2017-
2022.
Wakil Dekan I dan staf pengajar di almamaternya itu rajin
mengikuti kegiatan ilmiah dan beberapa kali menjadi pembicara
nasional tentang Pantun Madura. Kini tinggal di Jl. Jembatan Serang
3, Tanjung, Pademawu, Pamekasan, Madura, 69381. e-mail:
[email protected] dan HP/WA: 081 230 335522.
174 HUMANITAS MADURA