Pantun ini menggambarkan bahwa pekerjaan meminta-
minta hendaknya dijauhi. Zaman sekarang ini, pengemis
bukanlah sebagai aib melainkan sebagai profesi yang
menghasilkan pundi-pundi uang. Beberapa waktu lalu pernah
tertangkap pengemis kaya yang membawa puluhan juta.
Pekerjaan ini memang tidak membutuhkan modal materi, modal
yang dibutuhkan hanyalah tenaga dan kuat menghadapi rasa
malu.
Sastra lisan ini berhasil mengingatkan kita bahwa meminta-
minta bukanlah hal yang baik untuk dikerjakan. Uang memang
menjadi hal yang utama untuk menjalani kehidupan, akan tetapi
menjaga harga diri jauh lebih penting bagi masyarakat Madura.
Mencari suami yang bertanggung jawab sangat penting
untuk mempertahankan harga diri:
Orèng matè bâu mayyit,
È sabâ’ bâbâna bhâruma,
Alakè jhâ bit-abit,
Ta’ kèra tao rassana bhunga.
(Orang mati berbau mayat,
Diletakkan di bawah dipan,
Bersuami jangan terlalu lama,
Tak mungkin hidup bahagia.) (Supratman, 2016: 50)
Pantun ini menggambarkan kehidupan rumah tangga yang
tidak harmonis oleh karena itu lebih baik bercerai dari pada
tidak bahagia dan jadi omongan orang. Kekerasan dalam rumah
tangga menjadi ancaman yang luar biasa untuk perempuan yang
mempunyai suami yang tidak bertanggung jawab. Bercerai akan
menjadi pilihan terakhir jika suami terus melakukan hal yang
mengecewakan istri dan istri tidak lagi mendapatkan
kebahagiaan. Suami hendaknya menjadi panutan seorang istri,
bisa menafkahi istri lahir dan batin untuk menjaga agar
hubungan keluarga bisa harmonis. Kekacauan dalam rumah
Muhammad Tauhed Supratman 89
tangga bisa menjadi gosip yang tidak sedap di lingkungan
tetangga dan bisa menurunkan harda diri seseorang.
Ngarè’ belta nyambi sadâ’,
Mon motta èsambi kèya,
Tadâ’ kasta neng è adâ’,
Ghi’ kasta è budi kèya.
(Menyabit benta (jenis rumput) pakai sadha’ (celurit kecil),
Rumput teki dibawa juga,
Tidak ada penyesalan di depan,
Tetapi menyesal dibelakang hari.) (Supratman, 2016: 64)
Pantun ini menggambarkan bahwa sebaiknya kita harus
menjaga harga diri dan reputasi agar tidak menyesal karena
penyesalan selalu datang di akhir bukan di awal. Masyarakat
Madura cenderung kasar dalam menghadapi masalah apalagi
yang berkaitan dengan pelecehan terhadap harga diri. Kekerasan
(carok) yang banyak terjadi di Madura adalah untuk
mempertahankan harga diri.
Kekerasan memang selalu jadi jalan keluar terakhir jika
masalah sudah tidak bisa diselesaikan dengan jalan damai. Sikap
yang baik dan saling menghargai merupakan cara yang baik agar
tidak terjadi kekerasan dan terjadi penyesalan setelah
melampiaskan kemarahan dengan cara kekerasan. Pantun
berikut bisa mengingatkan agar kita tidak menggunakan
kekerasan untuk melampiaskan kemarahan:
Bân-ghibâna jhâ’ pacèccèr,
Ngala’ ghutos neng è ampèr,
Ajhâlâna pèngghir kacèr,
Ma’ta’ ngantos mangghi kalèr.
(Barang bawaannya jangan sampai tertinggal,
Mengammbil gutos (tali yang terbuat dari bambu muda) di
serambi,
90 HUMANITAS MADURA
Kalau berjalan di sebelah kiri,
Agar tidak mendapatkan celaka.) (Supratman, 2016: 65)
Pantun ini menggambarkan bahwa kita sebagai pribadi
harusnya bisa menjaga sikap di jalan yang baik agar tidak
terkena musibah. Berjalan di jalan yang baik akan membuat kita
tidak merasa malo atau terhina dikemudian hari. Berbuat hal
yang tidak baik akan membuat kita tidak disukai, jadi
pembicaraan, atau bahkan dibenci orang. Masyarakat Madura
sangat tidak suka merasa terhina, oleh karena itu pantun ini
mengingatkan manusia Madura untuk tidak berjalan di jalan
yang salah. Masyarakat Madura merupakan masyarakat yang
bekerja keras, tercermin dalam pantun berikut:
Kasar alos dâun pellè,
Pangosoddhâperrèng sèttong,
Alako jhâ’ tellep tellè,
Nyèttong jhuntrong mostè ontong.
(Kasar halus daun serut,
Penghapusnya bambu satu,
Kalau bekerja jangan sampai untung-untungan,
Kalau tekun pasti beruntung). (Supratman, 2016: 66)
Pantun ini menggambarkan bahwa laki-laki dan wanita
harusnya bersungguh-sungguh dalam bekerja untuk
mendapatkan kesuksesan. Masyarakat Madura memang terkenal
sebagai masyarakat yang bekerja keras, pantang menyerah,
selalu berjuang meskipun pekerjaan yang dilakukan cenderung
kasar tetapi tetap dilakukan dengan tekun untuk mencapai
kesuksesan. Kesuksesan yang ingin dicapai tentu saja untuk
menjaga martabat keluarga untuk kehidupan yang lebih baik.
Pantun di bawah ini mengingatkan kita untuk pandai bersikap:
È tèmor ghruwâ ampon nyonar,
Tandhâna arè pon ngombâr,
Klamon dhika ka pasar,
Muhammad Tauhed Supratman 91
Jhâ’ ngangghuy rarengghân anyar.
(Di timur itu sudah bersinar,
Tandanya matahari sudah terbit,
Kalau engkau pergi ke pasar,
Janganlah memakai perhiasan yang baru.) (Supratman,
2016: 66)
Pantun ini menggambarkan seseorang yang selalu menjaga
harga diri dengan menempatkan hal yang benar di posisi yang
benar. Masyarakat Madura sangat menghargai nilai-nilai luhur,
salah satunya terdapat ungkapan jhalana jhalane, pa tao neng
eneng pa tao acaca (artinya: yang menjadi kewajiban harus
dilaksanakan sesuai dengan aturan, harus tahu kapan diam dan
kapan harus berbicara).
Masyarakat sosial sangat menghargai seseorang yang
pandai bersikap dan menempatkan diri dengan baik. Seseorang
yang bisa menempatkan dirinya dalam kehidupan bersosial
pastinya akan menjunjung tinggi harga diri dan martabat. Pantun
berikut menunjukkan ilmu sangat penting untuk meninggikan
derajat manusia:
Ngangghuy kalambhi jita tèron,
Nèngghu dèmo ngettok tongkol,
Dhunynya rèya ongghâ toron,
Dhining èlmo èkasangkol.
(Memakai baju kain titoron,
Menonton demo memotong jantung pisang,
Keberadaan harta naik turun,
Sedangkan ilmu tetap abadi.) (Supratman, 2016: 65)
Pantun ini menggambarkan bahwa ilmu bisa meninggikan
derajat seseorang karena ilmu bisa diajarkan sedangkan harta
bisa datang dan pergi. Ilmu memang selalu bisa menjadi
penopang atau tumpuan dalam berbagai hal. Segala hal dapat
92 HUMANITAS MADURA
diraih dengan ilmu yang diperoleh dengan baik. Ilmu bisa
membuat seseorang dihormati, disanjung, dan ilmu juga bisa
diajarkan kepada generasi selanjutnya, sedangkan harta bisa
hilang, tapi ilmu bisa membuat harta kembali datang. Pantun
berikut juga menggambarkan pentingnya ilmu untuk
kesejahteraan hidup:
Ka Sampang mellèya mondhu,
Karanjhânga meltas kabbhi,
Ta’ ghâmpang dhâddhi rèng bhudhu,
Salanjhângnga mellasaghi. (Ke
sampang beli mondhu
Keranjangnya rusak semua
Tidaklah enak jadi orang bodoh
Sepanjang hidupnya merasa sengsara.) (Supratman, 2016:
66)
Pantun ini menggambarkan seseorang yang tidak bisa
menjaga martabat jika tidak pandai dan hidupnya akan selalu
sengsara. Cara untuk menjaga martabat adalah mencari ilmu dan
belajar sungguh-sungguh.
Pengalaman yang luas juga akan membantu kita untuk
menjadi orang yang pandai. Banyak pengalaman dan ilmu akan
membuat kita lebih mudah dalam mencari pekerjaan, sehingga
hidup akan terus lebih baik dan tidak akan sengsara.
Muhammad Tauhed Supratman 93
BAB 5
NILAI-NILAI KEHIDUPAN
ORANG MADURA
A. NILAI KEBENARAN
Nilai kebenaran merupakan kenyataan yang bersumber pada
kebenaran rasio, kebenaran faktual, dan kebenaran fungsi atau
kegunaan. Dalam mencari kebenaran, minimal kita gunakan tiga
teori antara lain teori koherensi, korespondensi, dan
pragmatisme fungsional. Ketiga teori tersebut memiliki
kesamaan, antara lain: melibatkan logika, bahasa, dan
pengalaman.
Realita sosial memang selalu aktual untuk dibicarakan,
karena di dalamnya terangkum profesi kehidupan. Kesusastraan
adalah cabang dari ilmu sosial yang telah turut mengangkat
realita sosial melalui berbagai karyanya. Inilah yang oleh
Budiman (1985: 95-98) disebut sebagai sastra kontekstual. Dari
karya sastra kontekstual kita dapat melihat ketinggian kemajuan
peradaban serta kebudayaan setiap masyarakat, dari waktu ke
waktu.
Bagi masyarakat Indonesia yang sebagian besar anggotanya
masih sangat akrab dengan budaya tutur, maka wajar jika telaah
sosial didekati melalui sastra lisan. Papareghan, sebentuk pantun
dalam bahasa Madura tergolong dalam sastra lisan, juga bisa
94 HUMANITAS MADURA
digunakan sebagai alat untuk meneropong realita sosial
masyarakat Madura.
Realitas sosial kehidupan masyarakat Madura menunjukkan
bahwa pantun Madura telah berhasil “memotret” fenomena
kehidupan masyrakat Madura dari waktu ke waktu. Semua
pantun yang terkumpul dalam Paparegan: Pantun Madura Puisi
Abadi tersebut mengungkapkan realitas kehidupan masyarakat
Madura dalam kehidupan sehari-hari, seperti terlihat dalam isi
pantun berikut:
Somor dâlem koro’ kata’
Tèmbâna è jhâi’a
Lamon ghellem toro’ oca’
Makè nyabâ è bâghiyâ.
(Sumur yang dalam digali katak
Timbanya akan dijahit
Asalkan kau patuh mencintaiku dengan sepenuh hati
Nyawa sekalipun akan diserahkan.) (Supratman, 2016: 18)
Ungkapan kebenaran pada isi pantun tersebut bersumber
dari kenyataan yang ada di masyarakat Madura secara tidak
langsung. Dalam kehidupan nyata sehari-hari dalam kehidupan
masyarakat Madura, sebesar apa pun cintanya kepada sang
kekasih tidak mungkin nyawa akan dikorbankan begitu saja,
tetapi makna yang tersirat dari pantun tersebut mengungkapkan
keseriusan dan kesungguhan cinta seseorang kepada
kekasihnya. Keseriusan dan kesungguhan seseorang yang sedang
bercinta akan mengungkapkan seperti dalam pantun:
Mano’ neter gunong daja
Epega’a pakannanna
Ja’ kobatir noro’ bula
Seepenta etekkananna.
(Burung berjalan di gunung utara,
Muhammad Tauhed Supratman 95
Akan ditangkap diberi makan,
Jangan khawatir ikut aku,
Apa saja yang diminta akan dikabulkannya.) (Supratman,
2016: 27)
Pengorbanan untuk sang kekasihnya tersebut tentunya hal-
hal yang realistis (masuk akal), seperti bunyi lagu-lagu Madura,
“kor ja’ minta bintang ban bulan”, karena orang Madura hanya
punya alat untuk menjolok “janor koneng”. Dengan kata lain
karena cintanya terhadap sang kekasih, kebiasaan orang Madura
juga menggunakan ungkapan yang isinya sama yakni: Lamon
ghellem toro’ oca’/Matè odhi’ è toro’a. Pantun ini pun secara
nyata tidak mungkin terjadi, tetapi janji setia orang yang sedang
bercinta akan berjanji sehidup semati. Ungkapan janji setia
tersebut juga tercermin dalam pantun:
Ka Sorbaja lem-malemma
Lente odi’ e rao’a
Kor padha ngen-angenna
Mate odi’ etoro’a.
(Ke Surabaya di kala sore
Jam satu pergi ke Semarang
Asalkan sama keinginannya
Akan mencintaimu seorang.) (Supratman, 2016: 24)
Cinta memang sesuatu yang sangat esensial dalam hidup
manusia. Akibat cinta yang tidak kesampaian mungkin seseorang
akan merasa seperti isi pantun:
Ka gunung ngala’ nyarowan
Kope belle kabaddha’a,
Pekker bingung ta’ karowan,
Nape bula katamba’a.
(Ke gunung mengambil lebah
96 HUMANITAS MADURA
Botol pecah dijadikan wadahnya
Pikiran bingung tidak karuan
Apakah yang akan saya jadikan obatnya.) (Supratman, 2016:
20)
Pantun ini menunjukkan kepada kita bahwa orang yang
sedang kebingungan karena suatu hal (dalam bercinta—pen.)
yang tidak diingikan menimpa dirinya akan merasa kebingungan
seorang diri, dan menganggap dunia ini sempit, padahal kata
ungkapan Melayu yang sangat popular bahwa “dunia tak selebar
daun kelor” karena cinta yang sangat dalam dan rindu tidak
terobati maka:
Ser-eseran obi manis,
Jang-lajangan dauna nagka,
Ker-pekkeran sambi nangis,
Jang-bajangan sanggu dika,
(Irisannya ubi manis,
Layang-layang dari daun nangka
Termenung sambil menangis
Bayang-bayang dikira engkau.) (Supratman, 2018: 19) .
atau dalam pantun lain:
Samper sarong ka babana
Mon mennya’ dumpa kapelar
Pekker kerrong ka robana
Mon enga’ rassa ta’ kellar.
(Kain panjang, sarung ke bawahnya,
Minyaknya tumpah ke tiang
Pikiran kangen akan wajahnya,
Kalau ingat rasanya tak tahan.) (Supratman, 2018: 20)
Muhammad Tauhed Supratman 97
Itulah gambaran sebagian besar orang yang sedang
dimabuk cinta akan selalu merasa terkenang atau teringat secara
terus menerus kepada orang atau kekasih yang sangat
dicintainya, dengan ungkapan lain:
Dhâlimana mandhar manissa
Terrongnga mandhar kettarra
Mon enga’ mandhar nangissa
Mon kerrong mandhar entarra.
Tidak hanya perasaan cinta yang gagal, akan membuat
orang bersedih hati atau kecewa, cinta yang sudah berjalan lama
pun, jika di tengah perjalanan cinta itu ada yang berubah akan
mengalami hal seperti yang disitir dalam pantun:
Ser-eseran obi manis
Obi nagka e tanean
Ker-pekkeran sambi nangis
Ngabas dhika abannean,
(Irisannya ubi manis,
Layang-layang dari daun nangka,
Termenung sambil menangis,
Bayang-bayang dikira engkau.) (Supratman, 2018: 19) .
Sehingga:
Ghu’imma bada keteran ngortok
E tas nangka e tanean
Ghu’imma badâ paraban patot
Ngabes dhika abannean,
(Di mana ada perkutut berbunyi,
Di atas nangka di halaman,
Di mana ada perawan yang pantas,
98 HUMANITAS MADURA
Melihat engkau berbeda dari kemarin.) (Supratman, 2016:
26)
Karena kesetiaan sang kekasih atau istri berubah, jangan
salahkan jika sang suami menginginkan wanita lain.
Kerinduan seseorang kepada kekasihnya yang sudah lama
tidak bertemu akan seperti yang diungkapkan dalam pantun:
Ka tase’ ngala’a bulung
Ngatale’e somangka ngabber
Ngompa’ nase’ rassa burung
Ngatale’e dhika ngombar.
(Ke laut mengambil agar-agar,
Melihat semangka terbang,
Menyap nasi menjadi gagal,
Melihat engkau datang.) (Supratman, 2016: 22)
Isi pantun ini munjukkan kepada kita bahwa orang yang
sedang memendam rindu yang sangat dalam, akan melupakan
segala hal yang dihadapinya apabila secara tiba-tiba bertemu
dengan yang dirindukannya. Rasa rindu seseorang yang sedang
mabuk asmara kepada kekasihnya itu tidak akan pernah
berakhir, sebagaimana yang disitir dalam pantun:
Kalesmana salekarang
Ngenom jhamo copa’aghi
Taresnana bula ghi’ korang
Mon katemmo sapa’aghi,
(Flunya sakit salekarang,
Minum jamu diludahkan
Kasih sayangnya masih kurang,
Jika bertemu tolong disapa.) (Supratman, 2016: 22)
Muhammad Tauhed Supratman 99
Sampai tidur sekalipun terkadang mengigau orang yang
sangat dirindukannya, seperti yang tergambar dalam pantun:
Olar-olar alengker
Lar jingdaun nyengnga’ dai
Ta’kellar ngoca’ neser
Maske tedung enga’ bhai.
(Ular-ular melingkar,
Ular hijau menyengat dahi,
Tak tahan nyatakan cinta,
Walaupun tidur ingat terus atau mengigau tentang dia.)
(Supratman, 2016: 23)
Sehingga:
Mano’ ngortog dâ’ temorra
Ngatela’e reng ngangghuy kalong
Dhar pada’a lanjhang omorra
Ma’le abit se along-polong.
(Burung berbunyi di dahan yang ke Timur,
Melihat orang memakai kalung,
Semoga kita sama-sama panjang umur,
Agar agak lama kita berkumpul.) (Supratman, 2016: 25)
Kalau kita sama-sama panjang umur, tentu saja akan lebih
lama lagi hidup berdua, dan apa pun yang dirasakan sang
kekasih ingin kita rasakan juga, sebagaimana terungkap dalam:
Namen belta ning salokke’
Du ma’manggha e kemme anna
Ngeding berta dhika sake’
Du ma’manggha ekone’anna.
100 HUMANITAS MADURA
(Menanam tembakau hanya sepetak,
Sepertinya akan dikencingi,
Mendengar berita engkau sakit,
Berkeinginan (aku) akan menjemputmu.) (Supratman,
2016: 25)
Hubungan cinta kasih yang penuh fenomena seperti
kemesraan dan kerindunduan yang terungkap dalam paparan di
atas perlu ditindak lanjuti menjadi sebuah hubungan yang lebih
serius dan sungguh-sungguh (bertunangan), seperti yang
dipaparkan dalam pantun:
Paraona ampon mabbhar
Moa’ pandhan ghabay teker
Lamon dhika onggu neser
Maddha bula dhuli salabar.
(Perahunya sudah berangkat,
Mengangkut pandan dibuatkan tikar,
Jika engkau benar-benar kasihan (cinta),
Marilah aku secepatnya dilamar.) (Supratman, 2016: 30)
Pantun ini menunjukkan kepada kita bahwa dalam menjalin
cinta kasih perlu adanya ketegasan kejenjang yang lebih serius
dengan melibatkan orang tua kedua belah pihak. Keseriusan dan
kesungguhan dalam menjalin cinta kasih kejenjang pertungan
tersebut haruslah memperhatikan norma-norma yang berlaku
seperti agama dan etika yang ada, sehingga apa yang disitir
dalam isi pantun:
Pan-sampanan jha’ nga-nengnga
Ngarambang talena lanceng
Abhaka-lan jha’ na-perna
Paraban karena lanceng,
(Main perahu jangan ke tengah (kaut),
Muhammad Tauhed Supratman 101
Terapung talinya kail,
Bertunangan jangan terlalu akrab bergul,
Keperawanannya nanti terenggut si pemuda.) (Supratman,
2016: 42)
Atau
Pan-sampanan jha’ nga-nengnga
Jhuko’ langgung epalappae
Abhakalan jha’ na-perna
Mon ta’ langgheng erassae,
(Main perahu jangan ke tengah lautan,
Ikan tengiri diberi bumbu,
Bertunangan jangan terlalu akrab bergaul,
Kalau tidak kuat iman terjerumus hubungan badan di luar
nikah.) (Supratman, 2016: 45)
Tidak terjadi pada masyarakat kita, Madura yang terkenal
religius tersebut. Kedua pantun nasihat di atas menggambarkan
kepada kita, walaupun sudah ada ikatan pertunangan antara
laki-laki dan perempuan, hendaknya jangan sampai terjerumus
pada pergaulan bebas, di luar nikah, akibatnya /........../Paraben
karena lancen//, atau /....../Mon ta’ langgeng erassae//.
Namun kenyataan yang terjadi dalam masyarakat kita,
Madura, nasihat dari dua pantun tersebut /Abakalan ja’ na-
perna/ sudah tidak diindahkan, sehingga apa yang dipotret oleh
isi pantun itu telah menjadi kenyataan, baik di masyarakat
Madura, maupun di luar Madura.
Ternyata, dalam pantun Madura tidak hanya
mengungkapkan kebenaran cinta kasih semata, tetapi pantun
Madura juga mengungkapkan kebenaran kehidupan yang lebih
luas dan kompleks seperti: hidup berumah tangga, hidup
bertetangga, dan pergaulan dalam kehidupan sehari-hari.
102 HUMANITAS MADURA
Dalam kehidupan berumah tangga banyak kita dapatkan
nilai kebenaran seperti terungkap dalam pantun berikut:
Katarate pajikaran
Mano’ ngortog da’ temora
Reng alake jha’tokaran
Ma’le totog saomorra.
(Burung berbunyi di dahan yang ke timur,
Melihat orang memakai kalung,
Semoga kita sama-sama panjang umur,
Agar agak lama kita berkumpul.) (Supratman, 2016: 41)
Pantun tersebut memberikan nasihat kepada kita bahwa
hidup berumah tangga jangan sering-sering bertengkar, karena
hal tersebut akan mengganggu keharmonisan hidup berumah
tangga. Kehidupan rumah tangga yang harmonis akan
melanggengkan biduk rumah tangga tersebut, seperti yang
disitir oleh pantun:
Ta-mattana mon paste tao
Melle somangka ekeba’a
Mon nyettong engghi barinto Bula
ban dhika pon seabiddha (Yang
matang sudah pasti tahu,
Membeli semangka akan dibawa,
Kalau kita menyatu seperti ini,
Aku dan kau akan lama berkeluarga.) (Supratman, 2016:
48)
Sehingga rumah tangga yang harmonis tersebut berharap:
Mano’ ngortog dâ’ temorra/Ngatela’e reng ngangghuy
kalong//Dhar pada’a lanjhang omorra/Ma’le abit se along-
polong.//.
Muhammad Tauhed Supratman 103
Keharmonisan dalam rumah tangga akan terganggu apabila
salah satu pihak sudah tidak seia sekata seperti di awal
kehidupan berumah tangga tersebut, karena salah satu pihak
mungkin seperti tertuang dalam pantun:
Paraona nyerrang kapal
Nyabbhur mangghar tengnga tase’
Ce’ taona masang aka
Ngala’ samar ka selake’
(Perahunya menyerang kapal,
Melempar sauh di tengah lautan,
Bisanya menyusun strategi,
Mengelabui sang suami.) (Supratman, 2018: 52)
Sehingga
Ser-eseran obi manis
Obi nagka e tanean
Ker-pekkeran sambi nangis
Ngabas dhika abannean
(Irisannya ubi manis
Ubi nangka di halaman
Termenung sambil menangis
Melihat kau (kasih sayangnya berubah.) (Supratman, 2018:
19)
Jika badai dalam rumah tangga seperti yang diimplisitkan
dalam isi pantun di atas (/........//Ker-pekkeran sambi
nangis/Ngabas dika abannean//) jangan salahkan salah satu
pihak jika akan: Ghu’imma bada keteran ngortok/E tas nangka e
tanean//Gu’imma badâ paraban patot/Ngabes dhika abannean//.
Isi pantun: /Gu’imma badâ paraban patot/Ngabes dhika
abannean//(Supratman, 2018: 23) ini, merupakan langkah awal
bagi seorang suami untuk membagi perhatian kepada wanita
104 HUMANITAS MADURA
lain (beristri dua), walaupun beristri dua tersebut dalam
kenyataannya di masyarakat akan menambah banyak persoalan,
seperti yang terungkap dalam pantun berikut:
Ngacelleng bighina dhuwa’
Nompa’ jharan labu napang
Jha’ neng-senneng abine duwa’
Panas bharang raja otang
(Berhitaman buah duwet,
Naik kuda jatuh tertelungkup,
Janganlah suka beristri dua,
Menyakitkan dan banyak hutangnya.) (Supratman, 2018:
42)
Isi pantun tersebut dengan tegas dan gamblang
menggambarkan kepada kita bahwa pada umumnya orang yang
beristri dua tersebut tidak mempunyai kesiapan lahir maupun
batin, dan hanya memperturutkan hawa nafsu semata, sehingga
menambah sengsara dalam rumah tangganya. Meskipun ada
sebagian orang beristri dua tersebut, dalam membina kehidupan
rumah tangganya kelihatan harmonis, karena telah ditopang oleh
kesiapan lahir dan batin. Dalam kehidupan nyata di masyarakat,
orang yang beristri dua tersebut, cenderung melupakan dan
bahkan meninggalkan istri pertamanya, padahal sastra lisan kita
(baca pantun Madura) telah memberikan nasihat dengan jelas
dan tegas bahwa:
Jha’ mina’an penang towa
Penang ngoda atalowan
Jha’ adhina’an bine setowa
Bine sengoda ghi’ ta’ karowan
(Jangan menginang pinang tua,
Pinang muda membuat pening kepala,
Jangan meninggalkan istri yang tua,
Muhammad Tauhed Supratman 105
Istri muda masih belum menentu.) (Supratman, 2018: 50)
Pantun Madura juga mengungkapkan kebenaran bahwa kita
sebagai anak hendaknya patuh dan taat kepada orang tua kita,
seperti disitir oleh pantun: Ngala’ sere epepesa/Esarenga ghan
sakone’//Kaneserre oreng towa/Semeyara kabit
kene’//(Supratman, 2018: 46). Isi pantun tersebut
menggambarkan kepada kita bahwa seorang anak harus
mempunyai rasa kasih sayang kepada kedua orang tua kita,
karena beliaulah yang mengasuh, membesarkan, mendidik, dan
membiayai hidup kita.
Dalam kehidupan sehari-hari juga tidak biasa lepas dari
bidikan pantun Madura seperti hidup jujur, bertingkah laku yang
sopan, anjuran giat bekerja, saling memaafkan, dan anjuran
untuk mencari ilmu dengan sungguh-sungguh. Sikap hidup jujur
dalam kehidupan sehari-hari sangat diperlukan oleh kita sebagai
anggota masyarakat, seperti sebuah ungkapan yang sangat
terkenal yang berbunyi “kejujuran adalah mata uang yang
berlaku di mana-mana” (pepatah Cina). Ungkapan serupa
pepatah cinta tersebut dapat kita jumpai dalam pantun Madura:
Sabu keccek akopean
Somorra bada e daja
Lamon lecek sakalean
Saomorra ta’ ekapartaja
(Sawo kecik berbotol-botol,
Semurnya ada di sebelah Utara,
Kalaulah licik satu kali,
Seumur hidupnya tak akan dipercaya lagi.) (Supratman,
2018: 46).
Isi pantun tersebut mengajarkan kepada kita bahwa dalam
hidup yang hanya sekali ini kita hendaknya berperilaku jujur,
karena kalau kita berbuat licik satu kali saja kepada masyarakat,
selamanya tidak akan dipercaya, karena begitu kuatnya hukum
konfensi yang ada dalam masyarakat kita (Madura). Masyarakat
106 HUMANITAS MADURA
Madura yang terkenal religius ini memang mempunyai suatu
hukum konfensi yang sangat kuat dalam masyarakatnya. Orang
Madura, khususnya yang tua-tua masih meyakini kebenaran
hidup bahwa, orang yang tidak ingin tertipu oleh orang lain
hendaknya jangan menipu orang lain, seperti tergambar dalam
pantun berikut:
Ajam panda’ e co-pecco
Kabubur baddhai kereng
Mon ta’ endha’ e co-koco
Jha’ lebur co-ngoco oreng
(Ayam kati dipatuk-patuk,
Ubur-ubur wadahnya kereng (tempat ikan),
Kalau tidak mau diejek,
Janganlah gemar mengejek orang). (Supratman, 2018: 44)
Membaca sastra lisan seperti pantun-pantun yang
diungkapkan di atas, ternyata banyak kita jumpai kebenaran-
kebenaran yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, khususnya
masyarakat Madura. Pantun Madura ternyata telah mampu
memotret kehidupan yang ada di sekitar masyarakat yang
melahirkan pantun tersebut, di antaranya: kebenaran dalam hal
berkasih-kasihan, kesetiaan dalam menjalin cinta kasih,
kehidupan berumah tangga, hidup jujur, bertingkah laku yang
sopan, anjuran giat bekerja, saling memaafkan, dan anjuran
untuk mencari ilmu dengan sungguh-sungguh.
B. NILAI ESTETIKA
Nilai estetika atau keindahan, merupakan nilai yang
bersumber pada unsur rasa manusia dan perasaan. Sebuah karya
seni –baca pantun Madura— dikatakan bernilai estetik apabila:
(1) mengungkapkan perasaan dan intuisi, (2) mengobyektivikasi
keindahan rasa nikmat, (3) keindahan sebagai tangkapan akali,
(4) sebagai ekspresi pengalaman.
Muhammad Tauhed Supratman 107
Pantun merupakan salah satu jenis puisi asli Indonesia.
Hampir di semua daerah di Indonesia dapat kita jumpai tradisi
berpantun. Pantun sangatlah cocok untuk suasana tertentu,
seperti halnya juga karya seni lainnya hanya tepat untuk suasana
tertentu pula. Dalam upacara perkawinan banyak digunakan
pantun untuk sambutan; sehingga timbul suasana keakraban dan
terjalin komunikasi. Gadis dan jejaka yang berkenalan, bercinta,
atau menyatakan kasihnya juga sering menggunakan pantun
karena ungkapan secara langsung dipandang kurang tepat.
Ungkapan langsung dalam pantun diberi antara oleh sampiran
sehingga penerima ungkapan (orang yang dimaksud) itu tidak
merasa terkejut. Tanggapan orang yang diajak bicara pun jika
bersifat kasar juga tidak begitu menyakitkan hati karena
tanggapan itu diperantai oleh sampiran.
Pantun Madura tersebut dalam satu baitnya terdiri empat
baris, baris pertama dan kedua disebut sampiran, sedangkan
baris ketiga dan keempat dinamakan isi. Rima dalam pantun
Madura sangat mendapatkan perhatian untuk menjaga
keindahan bagi pendengaran, karena pantun Madura ini
merupakan sastra lisan atau folklor.
Dalam pantun Madura, baris kesatu dan kedua yang kita
kenal dengan nama sampiran itu kadang-kadang tidak
mengandung arti apa-apa, kadang kala mempunyai arti. Tetapi
aspek bunyi yang terdapat dalam sampiran itu seakan-akan ada
hubungan estetis dengan baris ketiga dan keempat yang kita
kenal dengan nama isi pantun tersebut. Antar baris kesatu
dengan baris ketiga, dan baris kedua dengan baris keempat,
terjalin benang halus yang dipadukan oleh persamaan bunyi.
Perlu diperhatikan bahwa selain bunyi perlu juga diperhatikan
bahwa sampiran-sampiran dari pantun Madura tersebut dapat
membangkitkan imajinasi kita untuk menangkap alam lain yang
kadang-kadang imajis dan bahkan surealistis. Somor dhâlem
koro’ kata’//Tèmbâna è jhâi’a/Lamon ghellem toro’ oca’/Makè
nyabâ è bâghiyâ//.
Keberadaan sampiran dari pantun Madura juga memiliki
kecenderungan yang sama dengan pantun Melayu seperti yang
diungkapkan oleh Mahayana (2005: 189-190) bahwa: 1)
108 HUMANITAS MADURA
sampiran lazimnya mengungkapkan citraan alam dan benda-
benda konkret, 2) hubungan antarkata dalam satuan sintaksis
dan semantis, seringkali tidak logis, 3) sebagai konsekuensi butir
kedua, maka kalimat dalam sampiran tidak mudah dipahami, 4)
satuan kalimat dalam sampiran tampak lebih kompleks, dan 5)
mengingat sampiran lebih menekankan pada bunyi, dan bukan
makna, maka ada semacam licentia poetica yang digunakan
pemantun, yaitu kebebasan untuk menyimpang dari kenyataan,
dari bentuk atau aturan konfensional untuk menghasilkan efek
yang dikehendaki.
Untuk lebih jelasnya marilah kita perhatikan pantun
Madura berikut ini: Ka Tajjân molonga burnè/Malathe sandhâ’
kembhângnga//Sanajjân bulâ mabenne/E ate tadha’ enggâna//
//. Pantun ini secara estika, menunjukkan bahwa kebiasaan
orang Madura dalam mengungkapkan perasaan cintanya kepada
lawan jenisnya tidak secara langsung, tetapi dilakukan dengan
cara menggunakan orang ketiga.
Demikian halnya dengan isi pantun Madura tersebut
sebagian besar juga memiliki kecenderungan yang sama pula
dengan pantun Melayu antara lain: 1) perkara tingkah laku,
moral yang semuanya berpulang pada diri individu, 2) hubungan
antarkata dalam satuan sintaksis dan semantis, dapat diterima,
dan logis, 3) tata kalimat relatif dapat dipahami, 4)
menggunakan kalimat sederhana, dan 5) memperhatikan
konfensi yang berlaku. (Mahayana, 2005: 190)
Pada umumnya pantun Madura bersajak ab-ab. Estetika
dalam pantun juga terletak pada kombinasi bunyi dalam pilihan
kata yang digunakan. Pola kesejajaran bunyi di akhir pantun
tersebut secara umum bersajak ab-ab. Kalambina cè’ potèna/È
sèkot ka Giligentèng//Mon jhânjina cè’ mastèna/Karè ngantos
samalem bhentèng//.
Ternyata secara keseluruhan pantun Madura telah
memanfaatkan ungkapan yang tidak langsung. Pengungkapan
secara tidak langsung ini dapat kita lihat dalam penggunaan
bahasa kias hiperbola seperti: Somor dâlem koro’ kata’/Tèmbâna
è jhâi’a//Lamon ghellem toro’ oca’/Makè nyabâ è bâghiyâ//, dan
pantun: Sekkar mellok buwana nangk./Nyareddhem buwana
Muhammad Tauhed Supratman 109
malatha/Mon mella’ bada e mata/Mon meddhem bada e ate//.
Sedangkan pantun: Aeng asat jha’ jhalai/Ta’kera bada
jhuko’na/Oreng bangsat jha’balai/Ta’kera bada tako’na// ini
menggunakan bahasa kias ironi.
Secara keseluruhan pantun Madura memiliki nilai-nilai
estetis seperti: pola persajakan, repetisi, pemanfaatan citraan
alam sekitar pantun diciptakan, dan penggunaan bahasa kias.
C. NILAI MORAL
Nilai moral merupakan nilai yang bersumber pada
kehendak manusia, kemauan, atau karsa. Karya sastra, seperti
pantun Madura dikatakan bernilai moral apabila menawarkan
pesan yang berhubungan dengan sifat-sifat luhur kemanusiaan,
memperjuangkan hak dan martabat manusia. Pantun Madura,
baik secara langsung maupun tidak langsung telah “memotret”
fenomena kehidupan masyarakat Madura dari waktu ke waktu
dan mampu memberikan ajaran moral atau moral kepada
pembacanya, seperti terlihat dalam pantun berikut: Pan-
sampanan jha’ nga-nengnga/Jhuko’ langghung
epalappae/Abhakalan jha’ na-perna/Mon ta’ langgheng arassae//
(Terjemahannya: Main perahu jangan ke tengah lautan atau ikan
tengiri diberi bumbu//Bertunangan jangan terlalu akrab
bergaul/kalau tidak kuat iman, terjerumus hubungan badan di
luar nikah//). Atau: Pan-sampanan jha’ nga-
nengnga/Ngarambang talena panceng// Abhakalan jha’ na-
perna/Paraban karena lanceng// (Terjemahannya: Main perahu
jangan ke tengah lautan/terapung talinya kail//bertunangan
jangan terlalu akrab bergul/keperawanannya nanti terenggut si
pemuda//).
Pantun di atas menggambarkan kepada kita bahwa moral
bertunangan jangan terlalu akrab supaya tidak terjadi hubungan
yang tidak diinginkan oleh masyarakat lebih-lebih oleh
keluarganya, misalnya saja sampai terjadi hubungan di luar
pernikahan, agar nantinya setelah menikah tetap perawan dan
jejaka. Baik saat menikah dengan tunanganya, maupun saat
menikah dengan pemuda lain (jika pertunangan putus). Dapat
110 HUMANITAS MADURA
pula dijelaskan, jika bertunangan jangan terlalu lama, karena
dikhawatirkan dua orang yang berlainan jenis itu tergoda untuk
segera melakukan hubungan di luar nikah (zina).
Maksud pantun di atas secara moral mendidik pemuda-
pemudi khususnya yang sedang bertunangan agar tetap menjaga
jarak dalam bergaul, dan wajib memegang nilai-nilai atau norma-
norma baik norma agama maupun norma masyarakat sebagai
pedomannya. Hal di atas dimaksudkan agar tidak berakibat fatal
dalam hidupnya, terlebih kehidupan di akhirat kelak. Dua pantun
di atas sangat jelas bagi kita, menggambarkan kehidupan
masyarakat Madura yang terkenal religius itu.
Di samping fenomena pergaulan lawan jenis di luar nikah
tersebut, pantun Madura juga mengajarkan, sikap seorang anak
terhadap kedua orang tuanya, seperti terlihat dalam pantun:
Ngala’ sere epepese/Esarenga ghan sakone’//Kaneserre oreng
towa/Semeyara kabit kene’ (Terjemahannya: Mengambil sirih
akan ditumbuk/akan disaring sedikit demi sedikit//sayangilah
kedua orang tuanya/yang merawat kita sejak kecil//)
Maksud pantun di atas bahwa moral seseorang itu telah
mapan atau sukses dalam kehidupannya baik secara moril
maupun materiil janganlah sampai lupa diri, maksudnya
seseorang itu harus tetap ingat kepada jasa-jasa orang tua yang
merawat, membesarkan, dan mendidiknya sejak kecil. Hal ini
bisa berbentuk sikap santun, patuh, atau pemberian yang berupa
materi.
Isi pantun di atas mendidik seorang anak, agar setelah
dewasa dalam keadaan apa pun (kaya/miskin) agar tetap atau
selalu berbakti kepada kedua orang tuanya, lebih-lebih pada
orang tua perempuan yang telah mengandung, menyusui, dan
membesarkannya.
Selain itu, pantun Madura juga telah memberikan gambaran
moral kehidupan dalam pergaulan. Dalam pergaulan hidup
sehari-hari kita jangan sampai berperilaku tidak jujur kepada
siapa pun, seperti terdapat dalam pantun: Sabu keccek
akopean/Somorra bada edajha//Lamon lecek sakalean/Saomorra
ta’ ekaparcajha (Terjemahannya: Sawo kecik berbotol-
Muhammad Tauhed Supratman 111
botol/semurnya ada di sebelah utara//kalaulah licik satu
kali/seumur hidupnya tak akan dipercaya lagi//)
Pantun di atas menggambarkan sebuah hukuman yang
berbentuk hukuman moril kepada seseorang yang telah
berperilaku tidak jujur atau melakukan sebuah kebohongan.
Siapa pun yang pernah melakuakan tindakan tidak jujur
walaupun hanya satu kali, maka selamanya ia tidak akan
dipercaya. Dapat pula bermakna, tidak mudah bagi masyarakat
untuk mempercayai kembali seseorang yang pernah berbohong,
walaupun hanya satu kali. Dan pantun di atas mendidik
masyarakat agar selalu bertindak jujur dalam kehidupannya, dan
mencegah berprilaku tidak terpuji tersebut.
Dalam kehidupan bertetangga juga bisa kita lihat dalam
pantun Madura yang telah berhasil “memotret” kehidupan
bermasyarakatnya, seperti bunyi pantun: Namen magi’ tombu
sokon/Tabing kerrep bannya’ kalana//Pong-pong gi’odhi’
papadha rokon/Ma’ le salamet pola tengkana//
Pantun di atas mengajarkan kepada kita bahwa dalam hidup
bertetangga, kita harus rukun, saling menghormati, dan tolong
menolong. Jika sudah demikian maka hidup akan terasa senang
dan tenteram, jauh dari rasa permusuhan. Pantun tersebut juga
mendidik masyarakat akan pentingnya hidup rukun dalam
bertetangga atau bermasyarakat.
Dari paparan di atas, dapat kita ketahui bahwa secara
umum pantun Madura mengungkapkan nilai-nilai moral, antara
lain: bersikap jujur, tenggang rasa, saling menghormati, saling
memaafkan, patuh kepada orang tua, dan sopan dalam bergaul.
D. NILAI RELIGIUS
Nilai religius atau keagamaan juga banyak kita temukan
dalam pantun Madura. Upaya menyelipkan nilai-nilai agama ke
dalam sebuah karya sastra seperti pantun bertujuan
memberikan nasihat agar yang dinasihati itu tidak menyimpang
dari ajaran agama yang dianutnya (baca Islam). Nilai-nilai
religius seperti menerima takdir dari Allah Subhanahu wata’ala
dapat kita jumpai dalam pantun: Dari larangnga gula//Sakate
112 HUMANITAS MADURA
tello soko/Dari pon palanga bula// Keng epaste se sabarinto.
Pantun ini mengajarkan agar kita selalu menerima dengan rida
dan iklas segala yang terjadi karena semua itu adalah kehendak-
Nya.
Ternyata dalam pantun Madura tidak hanya rela menerima
dengan rida dan ikhlas akan kehendak Allah saja dalam
menjalani hidup ini, tetapi, dalam pantun juga disarankan agar
kita rajin menuntut ilmu seperti yang digambarkan dalam
pantun: Perreng odhi’ ronto biruna/Parse jenno rang-rang
tombu/Oreng odhi’ neko kodhuna/Nyare elmo pataronggu.//. Isi
pantun ini merupakan manifestasi dari sebuah hadis Rasullullah
yang artinya: “Tuntutlah ilmu pengetahuan, sekali pun ke Negeri
Cina, maka sesungguhnya mencari ilmu itu wajib atas tiap-tiap
orang Islam.” (Al Hasyimiy, 1977: 160).
Dalam pantun yang lain ditegaskan bahwa kita wajib
berbakti kepada orang tua, karena beliaulah yang memelihara,
mendidik, dan membesarkan kita, seperti dalam pantun: Ngala’
sere epepesa/Esarenga gan sakone’//Kaneserre oreng
towa/Semeyara kabit kene’//. Pantun ini merukan manifestasi
dari firman Allah dalam Alqur an Surat Luqman ayat 14 yang
berbunyi: “Dan kami wasiatkan kepada manusia terhadap kedua
Ibu Bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan
payah bertambah payah dan memeliharanya dalam masa dua
tahun. Bahwa bersyukurlah kamu kepada Allah dan kepada kedua
orang tuamu; kepada-Ku lah tempat kembali.” (dalam Hamka,
1976: 155) dan hadis nabi “Surga itu terletak di telapak kaki
ibu”.
Selain itu, agama kita (baca: Islam) menganjurkan bahwa
kita selalu menempuh jalan yang benar, baik, berkata jujur, tidak
memiliki sifat iri, dengki, dan hasut kepada sesama manusia.
Anjuran tersebut dapat kita simak dalam 3 isi pantun:
/....../Lamon lecek sakalean/Saomorra ta’ ekapartaja//
/…….../Lamon onggu dika neser/Maddha ngangghuy jalan socce//
/...../Ajja’ denggi ja’ kaniaja/Kodu enga’ da’ kadusana// Pantun-
pantun yang bernilai religius ini menggambarkan: keridaan,
keikhlasan, keimanan, berperilaku jujur, anjuran menuntut ilmu,
berbakti kepada orang tua, dan menjaga pergaulan dengan lawan
jenis.
Muhammad Tauhed Supratman 113
BAB 6
KEARIAFAN LOKAL
MADURA
A. KOMUNIKASI DENGAN TUHAN
Menurut Sudikan (2013: 44) bahwa kearifan lokal
didefinikasikan sebagai nilai-nilai luhur yang terkandung dalam
kekayaan budaya lokal berupa tradisi, pepatah, dan semboyan
hidup. Kearifan lokal dipandang lahir dan berkembang dari
generasi ke generasi seolah-olah bertahan dan berkembang
dengan sendirinya. Tidak ada ilmu dan teknologi yang mendasari
lahinya kearifan lokal, bahkan tidak ada pendidikan dan
pelatihan untuk meneruskannya.
Kearifan lokal Madura dapat dikelompokkan dalam lima
kelompok, yaitu (1) komunikasi dengan Tuhan, (2) komunikasi
antarmanusia, (3) komunikasi dalam keluarga, (4) komunikasi
dalam masyarakat, (5) komunikasi dengan alam. (Sadik, 2013:
118)
Madura sebagai etnik yang salah satu dari karakternya
adalah Islam, sejak dini generasi Madura sudah diusahakan
untuk dihubungkan dengan penciptanya. Seorang ibu yang akan
menidurkan anaknya, ia selalu bersenandung a-bhantal sadhat,
asapo’ iman, apajung Allah, asandhing nabbhi. Makna senandung
tersebut demikian mantap terserap sehingga ketika si anak
mulai dapat berucap dengan lancar dia akan selalu membaca dua
114 HUMANITAS MADURA
kalimat syahadat sebelum ia merebahkan kepalanya ke bantal.
Hatinya berbisik sebelum matanya terpejam selalu berserah diri
kepada Allah, dan meyakinkan keimanannya terhadap Allah,
malaikat Allah, kitabullah, rasul dan nabi Allah, serta yakin akan
hari akhir, dan yakin akan takdir itu datang dari Allah semata
(Sadik, 2013: 119).
Keariafan lokal bentuk komunikasi dengan Tuhan dalam
paparèghân pantun madura puisi abadi dapat di lihat dari
beberapa kutipan berikut:
Ngarè` lalang ka Panglègur
Nompa` rata sampèranna
Ta` alanglang dhika lèbur
Kor jhâ` loppa ka pangèranna
(Supratman, 2016: 68 )
Editor menerjemahkan secara bebas patun di atas ke dalam
bahasa Indonesia adalah menyabit ilalang ke Panglegur/naik
kereta pakai kain panjang/tidak melarang kau gemar
sesuatu/asalkan jangan lupa pada Allah (Supratman, 2016: 68).
Pantun ini memberikan sebuah nasihat kepada kita, apabila kita
suka terhadap sesuatu jangan sampai kita berlebih-lebihan dan
terlena akan keindahan dan kenyamanan dari hal tersebut,
senang (lèbur) dalam pantun ini bermakna sangat luas senang
terhadap lawan jenis, senang bermain, senang terhadap profesi
sehingga lupa terhadap Tuhan. Berlebih-lebihan akan membuat
kita rugi waktu, dan rugi ruang. Masyarakat Madura menyebut
Tuhan itu adalah Pangeran. Pangeran dalam konteks Madura
adalah Tuhan yang menciptakan segala yang ada di dunia ini.
Pantun ini juga mengingatkan kita agar selalu ingat terhadap
Allah yang telah menciptakan dan memberikan kita nikmat
dalam menjalani kehidupan di dunia ini, juga mengingatkan
kepada kita supaya tidak lupa terhadap tuhan dan segala
perintah yang sudah diwajibkan kepada kita. Kata “kor jhâ`
loppa” di sini dapat dilihat jangan lupa itu kita bisa melakukan
dengan cara berzikir, doa, mengaji, dan perintah yang lain.
Muhammad Tauhed Supratman 115
Perintah yang harus kita laksanakan seperti yang tertuang dalam
pantun berikut ini.
Sanga` empa` karanjhângnga
Sapo poret è tastassa
Ajjhâ` loppa ka bhâjângnga
Ma` salamet ahèraddhâ
(Supratman, 2016: 68 )
Patun ini terjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai
berikut: Sembilan empat keranjangnya/sapu lidi
dilepasnya/janganlah lupa akan sembahyang/agar selamat di
akhiratnya (Supratman, 2016: 68 ). Pantun ini menjelaskan
bagaimana kita berkomunikasi deangan Tuhan. Kita sebagai
makhluk yang diciptakan oleh Tuhan (Allah) mempunyai
kewajiban yang harus kita jalankan seperti yang tertuang dalam
pantun di atas. Salah satu kewajiban yang harus kita kerjakan
adalah salat. Salat merupakan perintah wajib dari Tuhan kepada
umat Islam khususnya. Perintah salat yang disampaikan oleh
leluhur kita sejalan dengan hadis Nabi Muhammad saw adalah
sebagai berikut: “Assalatu `imadudin man aqomaha faqod
aqomad dina, wa man hadamaha faqod hadamad dina”. Salat
adalah tiang agama, barang siapa yang menegakkannya, maka
ialah menegakkan agamanya dan barang siapa merobohkannya,
berarti ia telah merobohkan agamanya. Apabila kita melanggar
perintah salat tersebut maka kita akan mendapatkan balasan
(siksaan) di akhirat nanti sesuai dengan pelanggaran yang kita
lakukan. Melaksanakan kewajiban salat akan membuat kita
bahagia di dunia dan di akhirat.
Sarong ghuri pojâs-pojâs
Kamèja sarah lontorra
Pong-pong lagghi` pâdâ bârâs
Parajâ dhika sokkorra. (Supratman, 2016: 68)
Terjemahan dari pantun di atas adalah Sarung gui pucat-
pucat/kemeja parah lunturnya/mumpung kita masih
116 HUMANITAS MADURA
sehat/perbanyaklah kau bersyukur (Supratman, 2016: 68).
Bentuk komunikasi dalam pantun ini adalah komunikasi dengan
Tuhan, marilah kita banyak bersyukur kepada Allah dan syukur
itu hanya milik Allah satu-satunya. Selama kita masih bisa
mengucapkan rasa syukur kepada Allah yang telah memberikan
nikmat sehat, dengan nikmat sehat yang telah diberikan oleh
Allah maka pantaslah kita mensyukurinya baik syukur kita
dengan lafal maupun dengan menjalankan perintah dan
menjauhi larangannya yang sudah ditentukan oleh syari`at
agama kita. Leluhur kita sudah mengajak kita selalu bersyukur
selama masih sehat, namun meskipun kita dalam keadaan sakit
harus ingat kepada nikmatnya. Sehat dalam konteks rohani dan
jasmani, nikmat sehat adalah nikmat yang utama dengan sehat
kita bisa melakukan semua aktivitas sehari-hari.
Mon mandi maddhâ pabecca
Mon becca tanto kobâssa
Mon yekin dâ` sè kobâsa
Maddhâ padâ apowasa. (Supratman, 2016: 68)
Pantun ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh
Supratma. Kalau mandi mari dibasahi/kalau basah terasa
enak/kalau yakin kepada yang Kuasa/mari sama-sama berpuasa
(Supratman, 2016: 68). Pantun ini memberikan pesan yaitu
mengajak kita sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah wajib
menyakani-Nya dan melaksanakan perintah-Nya, kata sè kobâsa
ini biasa digunakan oleh orang Madura untuk menyebut nama
sang pencipta (Allah). Meyakini dan iman kepada Allah perakara
wajib bagi kita, ketika kita sudah tidak percaya dan tidak yakin
kepada-Nya kesesatan dan kesengsaraan akan kita dapatkan.
Namun jika kita sudah meyakini dan percaya kepada sang kholiq
pastilah kita akan melaksanakan segala perintah dan perkara
yang diwajibkan kepada kita. Salah satu kebajiban kita sebagai
ciptaan-Nya ialah berpuasa. Puasa yang telah diwajibkan kepada
kita pada bulan Ramadhan, untuk menambah amal kita
ditambahkan dengan melaksanakan puasa sunah yang telah kita
ketahui bersama, sehingga kita mendapat tambahan pahala dari
Muhammad Tauhed Supratman 117
puasa tersebut. Amal puasa yang diterima oleh Allah akan
membuat kita bahagia nanti di akhirat.
Ka Sorbâjâ mellè palappa
Ka Salembhu mellè klasè
Asombhâjâng jhâ` paloppa
Dâri sobbu sampè` isya` (Supratman, 2016: 69)
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia dari pantun ini
adalah /ke Surabaya membeli rempah-rempah/ke Masalembu
membeli tikar pandan/sembahyangnya jangan sampai lupa/dari
subuh sampai isya (Supratman, 2016: 69). Bentuk komunikasi
dalam kearifan lokal Madura juga adalah komunikasi dengan
tuhan yang terdapat dalam pantun ini. Pantun ini mengingatkan
kepada kita bahwa jangan sampai teledor dan lupa atas perintah
yang diwajibkan oleh Allah yang berupa salat yang sudah
ditentukan waktu dan rekaatnya, yaitu mulai waktu subuh
(fajar) sampai isya. Salat perintah wajib yang harus kita
laksanakan jika kita sampai lupa dan tidak menggantinya maka
kita akan mendapatkan basalan di akhirat. Pa-loppa adalah kata
yang berasal dari bahasa Madura yang mempunyai arti lupa.
Lupa di sini multi tafsir di antara lupa dikarenakan ada beberapa
faktor, lupa karena sering tidak mengerjakan, lupa disebabkan
senag terhadap sesuatu, lupa karena jabatan.
Tèmon tarnya` jhâ` neng penneng
Papolong bân terrong perrat
Lamon ghenna` tanto senneng
Salamet dhunnya ahèrat (Supratman, 2016: 69)
Pantun ini terjemahan oleh editor ke dalam bahasa
Indonesia adalah Mentimun, bayam jangan
dibiarkan/dikumpulkan dengan terung beracun/kalaulah
lengkap tentulah senang/selamat di dunia dan akhirat
(Supratman, 2016: 69). Pantun ini menandakan ada komunikasi
dengan tuhan yaitu semua perkara yang sudah menjadi
kewajiban bagi kita harus terpenuhi dan dilaksanakan sesuai
tuntunan yang sudah disampaikan dan diajarkan kepada kita,
118 HUMANITAS MADURA
apabila kita sudah melaksanakan semua kewajiban itu
dilaksanakan sesuai dengan tuntunannya. Kata ghenna`
mempunyai arti lengkap, lengkap adalah dilaksankan semua
kewajiban-Nya yang ada dalam rukun Islam yang lima yaitu
melaksanakan baca syahadat, salat, puasa, zakat, haji, dan kita
juga melaksanakan rukun iman yang enam. Jika sudah kita
laksanakan semua maka keselamatan dan kebahagiaan akan
menjadi milik kita di dunia dan di akhirat nanti.
Namen maghi` tombu tarnya`
Sabeb sala tamennanna
Orèng odi` kodhu ènga`
Da` asal mola abâ`na (Supratman, 2016: 69)
Editor menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari
pantun ini adalah menanam biji asam tumbuh bayam/sebab
salah dalam menanam/orang hidup haruslah selalu ingat/asal
mula dirinya (Supratman, 2016: 69). Pesan pantun ini adalah
manusia oleh Allah diciptakan dari tanah liat dan dalam keadaan
yang lemah, kesempurnaan hanya milik Allah semata. Pantun ini
mengingatkan kepada kita bahwa kita ada yang menciptakan dan
diciptakan sebagai makhluk yang dhoif, sehingga kita harus
selalu ingat terhadap yang menciptkan dan ingat dengan
keadaan diri kita yang lemah. Sehingga kita akan merasa malu
jika kita akan bersikap sombong. Dengan demikian proses
komunikasi dengan tuhan akan terus berlangsung. Asal mula
penciptaan manusia diawali oleh Nabi Adam as, dia diciptakan
dari tanah liat dan juga diciptakannya Ibu Hawa dari sebuah
tulang. Kemudian mempunyai anak turun temurun sampailah
kepada kita, kita juga diciptakan dari barang yang hina (sperma).
Maka dari itu kita harus tahu dan merasa malu jika akan
menyombongkan diri. Hanya Allah Yang Mahasempurna,
kepada-Nya kita berserah diri dan memohon kekuatan, kekutan
hanya milik-Nya.
Mon tarnya` pon ekella
Gâbây kowa masang palappa
Mon ènga` ka asalla
Muhammad Tauhed Supratman 119
Dâ` Allo tanto ta` loppa (Supratman, 2016: 69)
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia dari pantun ini
adalah Kalau bayam sudah direbus/dibuat kuwah untuk
memasang rempah-rempah/kalau ingat akan asal
mulanya/kepada Allah tentu takkan lupa (Supratman, 2016: 69).
Pantun ini berkaitan dengan pantun sebelumnya. yaitu berkaitan
dengan asal mula diciptakannya manusia, apabila kita sudah bisa
ingat akan diri kita sendiri pastilah kita akan senantiasa
mengingat pencipta kita Allah Swt dan akan selalu melaksanakan
terhadap perintahnya dan menjauhi larangannya. Komuinikasi
dalam pantun ini adalah komuniksai dengan Tuhan.
Tomang bâto è openna
Pobuwi soko samarèna
Lèmang bâkto pasamporna
Tambâi du`a sabbhân arèna (Supratman, 2016: 70)
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia pantun ini
dilakukan oleh editor adalah sebagai berikut Tungku batu untuk
mengkukus/diberi kaki setelah selesai/lima waktunya
disempurnakan/ditambah doa setiap harinya. Pesan leluhur kita
yang tertuang dalam pantun ini kepada kita bahwa salat itu
termasuk dalam komunikasi kita dengan Tuhan yaitu Allah Swt.
Allah mewajibkan kepada kita salat lima waktu. Pantun ini
mengajak kita terus berkomunikasi dengan Tuhan melalui
perintah salat lima waktu tanpa ada yang ditinggalkan pada
setiap harinya dan salat tersebut disertai dengan doa pada setiap
kita melaksanakannya. Kata pasamporna dalam pantun ini
mempunyai arti kita dalam melaksanakan salat harus dilakukan
tepat waktu, lengkap syarat dan rukunnya, serta dilaksanakan
dengan khusyuk dan tuma`nina. Doa sebagai penyempurna dari
setiap kita melaksanakan salat, dengan lewat doa kita dapat
memohon pertolongan dan lindungan kepada Tuhan Yang Maha
Memberi Pertolongan.
Lampu nèon è adâ`anna
Lampu eddop è budiyanna
120 HUMANITAS MADURA
Lamon mampo kabâdâ`anna
Ongghâ hajji kawâjibhânna (Supratman, 2016: 70)
Supratman melakukan terjemahan ke dalam bahasa
Indonesia adalah lampu neon di depan rumah/lampu dop di
belakang rumah/ kalau mampu keadaan harta bendanya/naik
haji merupakan suatu kewajiban. Pesan dalam pantun ini adalah
mengingatkan kita akan rukun Islam. Rukun Islam mempunyai
lima tiang yang harus kita ketahui dan dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan-Nya, sehingga komu-nikasi dengan Tuhan bisa
terlaksana. Dalam rukun Islam ada satu perkara yang ditoleransi
untuk dilaksanakan, karena melihat terhadap kemampuan kita
dalam aspek jasmani, rohani, dan yang terpenting adalah uang
(ongkos) perjalanan haji. Apabila kita tidak mampu
melaksanakan haji dengan keterbatasan ongkos pulang pergi,
maka kita dianjurkan untuk melaksanakan salat jumat di setiap
minggunya. Namun jika sudah mampu melaksanakan haji
janganlah kita menundanya, karena haji adalah kewajiban bagi
kita yang sudah mampu melaksanakannnya. Meninggalkan haji
bagi yang mampu adalah perbuatan dosa, dosa akan membuat
kita sengsara di akhirat sana.
Ngarѐ` lalang ka Panglѐgur
Panglègur bânnya` bâtona
Ta` alanglang dika lèbur
Rèng lèbur bâdâ bâktona. (Supratman, 2016: 44)
Pantun di atas diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
oleh editor sebagai gambaran awal untuk bisa dipahami oleh
kita, terjemahannya sebagai berikut menyabit ilalang ke
Panglegur/Panglegur banyak batunya/tidak melarang kau
menyayangi sesuatu/orang senang itu harus tahu waktu dan
tempatnya (Supratman, 2016: 44). Senang terhadap sesuatu
adalah hal yang biasa dan sudah menjadi kebutuhan bagi setiap
manusia, namun ketika kita senang terhadap sesuatu itu
janganlah sampai lupa terhadap kewajiban kita sebagai makhluk
yang telah diciptakan oleh Allah untuk selalu ingat kepadanya,
dan janganlah lupa terhadap waktu. Senang terhadap hal yang
Muhammad Tauhed Supratman 121
kita senangi harus kita atur dan sampai kita keterlaluan,
sehimgga lupa terhadap waktu yang sangat berharga ini.
Ngala` bâddhâ bân sarombân
Nyambi padi ghân sakembu
Dhika jhâghâ jhâ` bân abân
Dhuli mandi bhejâng sobbu. (Supratman, 2016: 56)
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia berikut ini
dilakukan oleh editor mengambil wadah
sembarangan/membawa padi dalam kembu/engkau bangun
jangan kesiangan/segera mandi dan salat subuh (Supratman,
2016 : 56). Kita hidup di dunia ini perlu juga yang namanya
istirahat, dan tidur. Tidur merupakan kebutuhan bagi tubuh kita,
apabila kita terlalu memaksakan akan untuk selalu bekerja maka
tubuh kita akan mengalami kelelahan. Di kala siang marilah
gunakan untuk bekerja dan malam gunakanlah untuk istirahat
tidur. Namun selain itu kita mempunyai kewajiban untuk salat.
Salat subuh adalah perintanh wajib yang harus kita laksanakan,
waktu salat subuh adalah bertepatan pada waktu di mana kita
enak-enaknya tidur, maka dari itu pantun ini menyarankan
kepada kita berlekas diri untuk mandi dan salat. Salat adalah
tiang agama yang harus kita selalu tegakkan.
Mellè nangka neng è pasar
Manjhâlin bân ghulâ jhâbâ
Lamon mangkat bâjâ asar
Jhâ` sampè` maghrib neng è sabâ (Supratman, 2016: 60)
Terjehaman ke dalam bahasa Indonesia dilakukan oleh
editor adalah sebagai berikut membeli nagka di pasar/rotan dan
gula jawa/kalau berangkat saat asar/jangan sampai magrib di
sawah (Supratman, 2016 : 60). Kita sebagai makhluk ciptaannya
tidak cukup hanya menunggu dan menunggu, kita harus bekerja
supaya nikmatnya dapat kita peroleh dan kita nikmati bersama,
kita hidup ini perlu ikhtiyar dan doa. Bekerja adalah syarat untuk
kita memperoleh nikmatnya, namun jangan sampai kita lupa diri
akan perintah salat dan lupa waktu.
122 HUMANITAS MADURA
B. KOMUNIKASI ANTARMANUSIA
Hidup berdampingan antar manusia harus dilakukan saling
menghormati dan saling menghargai. Menghormati seseorang
dengan melihat usia, seperti kepada orang yang lebih tua, guru,
orang yang dituakan karena kebijakannya, orang kaya yang juga
dihormati sebab orang kaya diharapkan bisa membantu si
miskin, demikian pula harus menghormati orang yang berilmu
dan orang yang memiliki status seperti ulama dan umara.
Sedangkan saling menghargai dimaksudkan agar kita tidak
bersikap maunya sendiri, memaksakan kehendak terutama
kepada mereka yang lebih muda dari kita. Selesaikan segala
sesuatu dengan orang lain dengan cara santun, bijak, dan cerdas
(Sadik, 2013: 119).
Keariafan lokal bentuk komunikasi antarmanusia dalam
paparèghân pantun Madura puisi abadi dapat dilihat dari
beberapa kutipan berikut:
Mon aodeng jhâ` tanggherrâ`
Etelko`a tolalèna
Mon epandhâng jha` aghelle`
Bulâ tako` kalakèna (Supratman, 2016: 42)
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia oleh editor sebagai
berikut Kalau berdaster jangan diikat/akan dilipat
belalainya/kalau dipandang jangan tersenyum/aku takut pada
suamimu (Supratman, 2016: 42). Pantun ini tersirat pesan
komunikasi antarmanusia. Orang yang sudah bersuami jangan
memberikan senyum terhadap orang lain. Dalam pantun ini
dianjurkan selalu menghargai dan menghormati terhadap suami
orang lain. Karena apabila suka mengumbar senyum pada orang
lain setidaknya akan membuat orang yang mamandang
mempunyai perasaan lebih dari biasanya. Apabila hal tersebut
terus terjadi maka akan menimbulkan perkara yang tidak
diinginkan, seperti salah paham yang akan menimbulkan
percekcokan di antara kita dan orang lain. Menjaga perilaku dan
sikap kita terhadap istri dan suami orang lain adalah kewajiban
yang harus kita lakukan bersama.
Muhammad Tauhed Supratman 123
Ajhâjhâi` dâlem roma
Maca sorat èpongkoran
Bâberri` bulâ panarèma
Dâ` dhika dâddhi sangkolan (Supratman, 2016: 42)
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia dari pantun ini
adalah Menjahit di dalam rumah/membaca surat di tempat
tersembunyi/kenang-kenangan dariku harap diterima/untukmu
semoga menjadi warisan. Editor menerjemahkan pantun ini
bermaksud agar pantun ini bisa dibaca oleh orang luar Madura
juga. Pesan yang ada dalam pantu ini adalah terimalah segala
sesuatu pemberian orang lain jangan memandang dari segi harga
dan bentuknya, meskipun barang tersebut tidak bagus bahkan
tidak berharga tinggi. Kita harus menghargai semua pemberian
orang lain, karena ketika pemberian itu diambil dengan senang
hati dan disimpan atau digunakan maka akan memberikan
dampak positif bagi si pemberi, merasa dihargai, dan dihormati
oleh yang menerima pemberian tersebut. Kata sangkolan berarti
warisan, warisan dari orang tua atau orang lain harus kita jaga
dan dirawat dengan baik.
Ngala` sèrè èpèpèssa
Èsarènga ghân sakonnè`
Kanèserrè orèng towa
Sèmèyara kabit kènè` (Supratman, 2016: 46)
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia pantun ini
dilakukan oleh editor sebagai berikut megambil sirih akan
ditumbuk/akan disaring sedikit demi sedikit/sayangilah kedua
orang tuanya/yang merawat kita sejakl kecil (Supratman, 2016:
46). Pesan pantun di atas adalah menghormati orang yang lebih
tua terutama orang tua kita adalah hal wajib bagi semua orang.
Orang tua kita yang telah merawat sejak lahir hingga dewasa
tidak segampang yang kita pikirkan, mereka bersusah payah
merawat kita, mengorbankan semua apa yang dia miliki.
Perjuangan dan pengorbanannya tidak dapat dibeli dengan uang
semata, hanyalah menghormati dan berbakti yang dapat sedikit
124 HUMANITAS MADURA
membayar jerih payah pengorbanannya. Kaneserre kata ini
dalam bahasa Madura berarti sayangilah. Sayangilah
mengandung makna yang sangat luas, kita menyayangi orang tua
tidak cukup hanya dengan kata-kata saja namun harus
menghormati dan berbakti, melaksanakan segala perintahnya,
membantu segala pekerjaan yang sekiranya kita bisa
membantunya. Sebelum menyayangi orang lain pantaslah dan
wajib bagi kita untuk menyayangi kedua orang tua kita. Pesan
pantun ini yang disamapaikan leluhur kita berkaitan dengan
hadis nabi, keridaan Allah tergantung ridanya kedua orang tua
kita, murknya Allah karena murkanya kedua orang tua kita.
Surganya kita ada pada kedua orang tua kita.
Sakè` ghighi è jâ-kajâ
Nga`-ngara`nga` sè aghusoa
Ejjhâ` dhengghi jhâ` kaniajâ
Kodhu ènga` dhâ` kadhusana (Supratman, 2016: 48)
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia dari pantun ini
adalah sakit gigi ditahan-tahan/badan meriang
diselimuti/janganlah dengki janganlah membenci atau
menganiaya/haruslah ingat akan dosanya (Supratman, 2016:
48). Pesan dalam pantun ini terdapat komunikasi antarmanusia
bahwa mengajak kepada manusia agar tidak melakukan
perbuatan dan perkataan yang bisa menyakiti orang lain. Dengki
dan menganiaya orang lain termasuk perbuatan yang dilarang
karena sangat tidak terpuji dan tercela, karena dapat menyakiti
orang lain. Dengki merupakan suatu sikap seseorang yang tidak
senang terhadap orang lain yang memperoleh keuntungan.
Dengki disebabkan adanya beberapa faktor di antaranya adalah
permusuhan, jika hal ini terus berlangsung maka akan
menjerumuskan kita terhadap penganiayaan terhadap orang
lain, perbuatan menganiaya akan mendapatkan balasan (dosa)
yang setimpal di akhirat sana bahkan di dunia ini akan
mendapatkan hukuman juga, jika kita suka berbuat hal demikian
maka kita tidak akan disenangi oleh orang lain.
Muhammad Tauhed Supratman 125
Alè` sellè` bâbâna nangka
Mellè sokon ka parènduwân
Adu alè` bulâ bân dhika
Maddhâ parokon jhâ` apadhuwân (Supratman, 2016: 48)
Editor melakukan penerjemahan ke dalam bahasa
Indonesia dari pantun ini adalah mencari kutu di bawah pohon
nangka/membeli sukun ke Parenduwan/aduh adikku, aku dan
engkau, marilah hidup rukun jangan bercekcok (Supratman,
2016: 48). Pesan yang ada dalam pantun ini adalah saling
menghormati dan menghargai antarmanusia yang lain,
menghormati yang lebih tua dan menghargai yang lebih muda.
Dalam pantun ini mengajak kita agar tidak bercekcok antar
orang lain dan selalu menjaga kerukunan dan keharmonisan
dengan sesama, parokon berarti rukunlah, rukun ini saling
membantu antar sesama, dan jangan samapai di antara kita ada
yang saling bermusuhan. Permusuhan hanya akan
menyempitkan jalan kita dalam mengarungi kehidupana ini.
Kerukunan akan membuat kita nyaman, sehingga dengan rukun
komunikasi antar manusia terjalin dengan baik dan tentram.
Ka pangkèng ngala`a jhubâdâ
Panebbhâ sabâ` è cagghâ
Soghi meskèn jhâ` pabidhâ
Panganggabbhâ katatanggâ. (Supratman, 2016: 52)
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia dari pantun ini
adalah ke kamar mengambil Jubada (makanan khas
Parenduwan, Sumenep)/sapu lidi kecil diletakkan di
cangga/kaya miskin jangan dibedakan/toleransinya kepada
tetangga (Supratman, 2016: 52). Pantun ini mengisyaratkan
jangan ada perbedaan toleransi kepada orang lain, jika kita
dalam keadaan ekonimi yang baik (kaya) jangan sampai
membuat kita berbuat tidak adil, tidak boleh meninggikan
derajat yang orang kaya, dan merendahkan orang yang miskin.
Pantun ini mengajarkan kita berbuat sama rata tidak ada yang
miskin dan si kaya harus sama-sama dihormati dan dihargai.
126 HUMANITAS MADURA
Maka dari itu komunikasi antarmanusia lain akan terjalin dengan
baik.
Tatello` pas èpapolong
Anangèg tada` sapedâ
Neng jhâlân neng è lon-talon
Kasopanan kodhu jâgâ. (Supratman, 2016: 59)
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia dari pantun ini
adalah Jika sudah tiga dikumpulkan/tetapi tidak ada
sepedanya/di jalan-jalan dan di tanah lapang/hendaknya
menjaga kesopanan (Supratman, 2016: 59). Pantun ini
mencerminkan perilaku orang Madura yang mengedepankan
kesopanan. Orang Madura ketika mau berkomunikasi antar
orang lain sangatlah berhati-hati, di mana pun kita berada baik
kita berada di jalan, di sawah, dan di rumah tetap harus menjaga
kesopanan terhadap orang lain, baik kepada yang tua, muda, dan
kepada sesamanya. Sikap sopan dapat diciptakan dari perbuatan
dan ucapan kita yang baik. Kesopanan akan membuat kita
memperoleh kedudukan yang tinggi di mata orang lain.
Kesopanan lebih tinggi nilainya dari pada kecerdasan,
kepintaran, dan kepandaian.
Palaènnaghi olorra
Ghânèko bennè rè-karèna
Mon cengkal ka pètotorra
Tanto bhudhu budhi arè (Supratman, 2016: 63)
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia dari pantun ini
adalah dipisahkan saja daging punggungnya/itu bukan daging
sisa/kalau membangkang pada petuahnya/akan menyesal di
belakang hari (Supratman, 2016: 63). Mentaati yang lebih tua
khususnya kepada guru yang telah mengajarkan kita sebuah
ilmu, kita harus menghormati dan mematuhi segala hal yang
diucapkan selagi tidak menyimpang syariat. Apabila kita tidak
patuh terhadap petuah dan ucapannya penyesalan dan
kebodohan akan kita alami nanti dikemudian hari. Guru sangat
berperan dalam kehidupan kita, dengan ilmu yang sudah
Muhammad Tauhed Supratman 127
diberikan kepada kita maka kita bisa membedakan mana yang
pantas kepada kita dan yang harus kita tinggalkan. Maka dari itu
patutlah kita untuk selalu menghormati dan mengikuti semua
perintahnya, jika kita tidak mengikuti dan tidak menghormati
atas segala pemberiannya maka kegagalan dan kebodohan akan
kita rasakan di hari esok.
Kataratè pajikaran
Mono` ngorto` da` tèmora
Rèng alakè jhâ` tokaran
Ma`lè toto` saomorra. (Supratman, 2016 : 41)
Editor menerjemahkan pantun di atas ke dalam bahasa
Indonesia sebagai berikut ke Terate daerah jikar/burung
berkicau di dahan yang ke timur/orang bersuami jangan sering
bertengkar/agar abadi (perkawinan), seumur hidupnya
(Supratman, 2016 : 41). Dalam mengarungi kehidupan rumah
tangga perlulah kita saling menjaga kehormatan, perasan dan
hati dari suami atau istri kita, janganlah saling bertengkar
supaya rumah tangga kita langgeng selamanya. Perlu kita
menjaga kerukunan dalam berumah tangga, dengan kita rukun
suami atau istri akan merasa betah dan selalu harmonis.
Sarkajâna è bhungkana
Nyalaghâ`â ka sabâna
Sè rajââ pangabruna
Jhâ` ka bâlâ tatangghâna. (Supratman, 2016: 45)
Pantun di atas diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
oleh editor sebagai gambaran awal untuk bisa dipahami oleh
kita, terjemahannya sebagai berikut srikaya di
pohonnya/membajak di sawahnya/besarkan
toleransinya/kepada tetangga sekitarnya (Supratman, 2016: 45).
Kerukunan dan saling toleransi antar tetangga sangatlah
berguna bagi kita, sehingga kita dapat merasakan nikmatnya
hidup bertetangga, maka dari itu kerukunan dan toleransi perlu
kita pelihara dan perlu kita jaga bersama. Tetangga merupakan
keluarga kedua dalam kehidupan kita, ketika ada tetangga sakit
128 HUMANITAS MADURA
atau berduka kitalah yang pertama menolong dan merangkul
mereka.
Aèng asat jhâ` jhâlâi
Ta`kèra bâdâ jhuko`na
Orèng bângsat jhâ` bâlâi
Ta` kèra bâdâ tako`na. (Supratman, 2016: 49)
Pantun di atas diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
oleh editor sebagai gambaran awal untuk bisa dipahami oleh
kita, terjemahannya sebagai berikut air habis jangan dijala/tidak
mungkin ada ikannya/orang jahat jangan dinasihati/tak akan
mengenal rasa takut (Supratman, 2016: 49). Orang yang suka
mengganggu ketenangan orang lain itu merupakan orang yang
mempunyai sifat jahat. Orang jahat jika dinasihati tidak akan ada
rasa takutnya, selagi dia tidak mendapat hidayah dan
pertolongan dari Allah SWT. Kita sebagai orang Madura yang
sudah terkenal dengan religinya jangan sampai kita mengotori
dengan sifat yang tidak terpuji. Marilah kita senantiasa
mengamalkan kearifan yang sudah dititahkan oleh leluhur kita
lewat sastra khususnya yang ada di dalam antologi pantun ini.
C. KOMUNIKASI DALAM MASYARAKAT
Dalam masyarakat Madura dikenal dan diajarkan sikap yang
baik dalam bermasyarakat. Ucapan dan doa, seperti saat kita
mengantar pertunangan, contoh “diharapkan pada semua yang
hadir, agar kita saling berdoa kepada Yang Esa semoga kita
selalu diberi rahmat-Nya dan dijauhi dari halang rintang yang
menyengsarakan baik saat ini maupun nanti di akhirat. Hati-hati
dalam berucap sebab bila air ludah sudah tumpah tidak dapat
dijilat kembali. Tidak boleh melakukan fitnah, orang yang suka
berfitnah akan dikatakan sebagai pedagang bakulan yang identik
dengan menipu atau membohongi orang (Sadik, 2013: 121).
Komunikasi dalam masyarakat Madura selalu
mengedepankan kejujuran dan kewaspadaan dalam berbicara.
Muhammad Tauhed Supratman 129
Pesan leluhur kepada orang Madura agar tidak berprilaku dan
berbicara buruk kepada orang lain umumnya di kalangan
masyarakat. Sesuai dengan ungkapan para leluhur orang Madura
yaitu Tè-ngatè mon acaca sa-bâb mon copa la ghâgghâr ka tana
ta` kennèng jhilât polè. Ungkapan ini mempunyai maksud tidak
boleh melakukan fitnah, orang yang suka berfitnah berarti suka
berbohong, seperti halnya seorang pedagang bakulan, dalam
bahasa Madura leluhur mengingatkan ajja` sampe`leceghân ma`lè
ta` è koca` colo` bâlijjhâ.
Keariafan lokal bentuk komunikasi dalam masyarakat
dalam paparèghân pantun madura puisi abadi dapat dilihat dari
beberapa kutipan berikut:
Ka Ghili nengghuwâ ajing
Katoprak korang kancana
Ta` parduli dhika raddhin
Mon ta` teppa` pola tèngkana (Supratman, 2016: 42)
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia dari pantun ini
dilakukan oleh editor adalah ke Gili menonton
pementasan/ketoprak kurang pemainnya/tidak perduli kau
cantik/jika tidak baik tingkah lakunya (Supratman, 2016: 42).
Kutipan pantun di atas ingin menjelaskan bahwa kecantikan dan
ketampanan tidak menjadi patokan untuk disukai dalam
kehidupan bermasyarakat bahkan tidak akan diperdulikan
apabila tidak mempunyai akhlak yang mulia atau tingkah laku
yang baik. Tingkah laku yang buruk akan menimbulkan
cemoohan dan sangki sosial bagi yang melakukan. Kata Raddhin
di sini berarti cantik, cantik sangat luas artinya cantik dari segi
wajah, cantik dari tingkah laku dan perkataan. Orang Madura
sangat mengedepankan akhlak (tingkah laku yang baik).
Meskipun cantik dan tampan jika bertingkah laku yang tidak
bagus akan ditampik, tidak akan dipilih oleh orang masyarakat
Madura.
Sèrèna sèrè konèng
Roko` èskot talèna mèra
130 HUMANITAS MADURA
Pamolèna bulâ ta` onèng
Sala lopot nyo`on sapora (Supratman, 2016: 43)
Terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia dari pantun
ini adalah sirihnya, sirih kuning/rokot kelobot talinya
merah/perginya kau, kutak tahu/jika ada kekhilafan dan
kesalahan kumohon maafmu (Supratman, 2016: 43). Pesan
dalam pantun ini adalah menjaga ucapan dan menjaga lisan
adalah salah satu bentuk komunikasi dengan masyarakat
Madura. Orang Madura yang sudah melakukan sesuatu dan
memberikan pesan terhadap orang lain khususnya masyarakat
luas dan men-jadi tuan rumah, pastilah mengucapkan maaf
terhadap kekhilapan yang dijumpai, meskipun itu tidak
disengaja. Hal ini dilakukan takutnya ada ucapan dan perbuatan
yang tidak disengaja menyinggung masyarakat lain.
Namen maghi` tombu sokon
Tabing kerrep bannya` kalana
Pong-pong ghi` odi` papadâ rokon
Ma`lèsalamet pola tèngkana. (Supratman, 2016: 44)
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia dari pantun ini
adalah menanam biji asam yang tumbuh sukun/gedek rapat
banyak kalanya/senyampang masih hidup hendaknya
rukun/agar selamat tingkah lakunya (Supratman, 2016: 44).
Dalam bermasyarakat kita harus memperhatikan kerukunan
dengan masyarakat lain. Selama kita hidup berbuatlah kebaikan
terhadap orang lain rukunlah dalam bermasyarakat, jika kita
sudah meninggal pasti akan mendapatkan perhatian dan rasa
duka cita yang mendalam dari masyarakat. Ketika kita sudah
rukun maka keselamatan dalam urusan tingkah laku pasti akan
kita rasakan bersama. Pantun ini juga mendidik masyarakat akan
pentingnya hidup rukun dalam bermayarakat. Maka dari itu
komunikasi dengan masyarakat lain akan terjalin dengan aman,
nyaman, dan tentram. Pesan inilah yang terkandung dalam
pantun tersebut.
Muhammad Tauhed Supratman 131
Ajâm pandâ` èco-pecco
Kabubur bâddhâi kèrèng
Mon ta` endâ` èco-koco
Jhâ` lèbur co-ngoco orèng. (Supratman, 2016: 44)
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia dari pantun ini
adalah ayam kati dipatuk-patuk/ubur-ubur wadahnya kereng
(tempat ikan)/kalau tidak mau diejek/janganlah gemar
mengejek orang (Supratman, 2016: 44). Dalam kehidupan
masyarakat sering kali kita melihat perilaku seseorang di sekitar
kita bercanda gurau dan saling ejek, namun pantun di atas
berpesan kepada kita jangan terlalu enak mengejek orang lain
apabila kita sendiri tidak mau diejek oleh orang lain. Manusia
ketika diejek pasti mempunyai perasaan malu, dan jangan
pernah merendahkan orang lain karena belum tentu orang
tersebut lebih rendah dari pada kita bahkan mungkin diri kita
sendirilah yang lebih rendah dari orang tersebut. Kata co-ngoco
dapat juga diartikan membohongi. Pantun ini ada kaitannya
dengan pantun berikut ini.
Sabu keccè` akopèyan
Somorra bâdâ è dâjâ
Lamon lècè` sakalèyan
Saomorra ta` èkapartajâ (Supratman, 2016: 46)
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia dari pantun ini
adalah Sabu kecik berbotol-botol/sumurnya ada di sebelah
utara/kalaulah licik satu kali/seumur hidupnya tak akan
dipercaya lagi (Supratman, 2016: 46). Pesan pantun ini adalah
berbohong merupakan perilaku yang tercela, perilaku yang
sangat tidak disenangi oleh para leluhur kita, pantun di atas
menerminkan bahwa ketika kita melakukan kebohongan satu
kali saja akan menimbulkan bekas bagi orang yang pernah
dibohongi serta kepada masyarakat lain yang mendengar
kebohongannya tesebut bahkan dari kebohongan itu akan
membawa orang yang berbohong tidak akan pernah dipercaya
lagi seumur hidupnya.
132 HUMANITAS MADURA
Mènta apa pao sapolo
Bherras palotan sè è dhâbui
Maso` nèspa ta` tao malo
Adu tarètan maddhâ jhâwui. (Supratman, 2016: 48)
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia dari pantun ini
adalah Apakah meminta mangga sepuluh/beras ketan dikatakan
saja, sangatlah nestapa tak tahu malu/marilah kawan kita jauhi
(Supratman, 2016: 48). Perbuatan tidak tahu malu bagi orang
Madura sangat dianjurkan untuk dijauhi, karena akan
menimbulkan perkara yang tidak nyaman didengar, karena rasa
malu sangat ditakuti oleh orang Madura. Hal ini
dikomunikasikan kepada orang banyak khususnya masyarakat
luas di Madura. Orang Madura sangat takut dengan yang
namanya malu, sampai ada pepatah orang Madura “dari pada
menyandang rasa malu lebih baik mati”. Inilah pesan yang ingin
disampaikan dalam pantun tersebut.
Nè` kènè` monyina solèng
Nyambhelli pètè` tadâ` ghâjhina
Nè`binè` jhâ` ngalèlèng
Capo` pècè` tadâ` ajhina. (Supratman, 2016: 50)
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia dari pantun ini
adalah kecil-kecil bunyi seruling/menyembelih ayam tidak
berlemak/anak gadis jangan sering keluyuran/disentuh lelaki
tiada nilainya (Supratman, 2016: 50). Masyarakat Madura sangat
menjaga nama baik dan harga diri, sehingga ketika ada seorang
perempuan yang suka keluyuran pasti akan mendapatkan
nasihat dari orang terdekat untuk tidak keluyuran. Keluyuran
merupakan perbuatan tidak baik karena dapat menimbulkan
efek negatif di mata masyarakat. Seorang perempuan yang sudah
terjamah, ternodai oleh laki-laki lain akan mendapatkan
cemoohan dan menghilangkan harga dirinya. Orang Madura
mempunyai kebiasaan jika ingin menikah pasti memilih
perempuan yang masih suci, dengan cara melihat dan
mengamati dari segi tingkah laku dan perkataannya. Ajhina
Muhammad Tauhed Supratman 133
berarti harga diri. Bagi orang Madura harga diri sangatlah
diutamakan.
Mellè sokon ka Bligâ
Karennèng bâddhâna nangka
Kodhu rokon bân tatangghâ
Ma` senneng odi`na dhika. (Supratman, 2016: 52)
Terjemahan dari pantun ini ke dalam bahasa Indonesia oleh
editornya adalah membeli sukun ke Blega/karennag (sejenis tas
dari janur muda) wadahnya nangka/hendaklah hidup rukun
dengan tetangga/agar kau hidup senang (Supratman, 2016: 52).
Pantun ini menganjurkan kepada kita untuk selalu berbuat baik,
tidak membuat keresahan dalam masyarakat, sehingga terjadilah
komunikasi dalam masyarakat harmonis dan selalu rukun.
Menjaga kerukunan bertetangga sangatlah penting supaya
memperoleh kesenangan dalam menjalani kehidupan di
masyarakat. Pantun ini berkaitan dengan pantun-pantun
sebelum dan berikut ini.
Ka bârâ` ka karangsokon
Mellè sokon jâ-rajâna
Tadâ` berrâ`na lalakon
Mon rokon bân tatangghâna. (Supratman, 2016: 53)
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia dari pantun ini
diambil dalam buku papareghan sebagai berikut ke barat ke
Karangsokon/membeli sukun yang besar-besar/tidak ada
pekerjaan yang berat/apabila kita hidup rukun dengan tetangga
(Supratman, 2016: 53). Pesan dalam pantun di atas adalah
apabila sudah rukun dengan tetangga, menjalin hubungan yang
baik, melakukan segala apa pun akan terasa ringan karena sudah
ada tetangga yang membantu meringankan beban yang kita
miliki. Kutipan baris tada` berra`na lalakon dari pantun di atas
ini dapat diartikan segala pekerjaan apabila dilakukan dengan
cara bergotong royong, saling membantu antar masyarakat maka
pekerjaan tersebut bakan terasa ringan. Seperti orang yang akan
membuat rumah jika dilakukan dengan cara kerja sama dan
134 HUMANITAS MADURA
gotong royong pastilah akan terasa ringan dan cepat
terselesaikan. Kerukunan bertetangga membuat kita nyaman
menjalani kehidupan di dunia ini.
Dhâging olor palèng powa
Rang-rang ongghu ra` ora`na
Toro` oca` ka rèng towa
Ajjhâ` pellang saoca`na. (Supratman, 2016: 57)
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia dari pantun ini
adalah daging punggung paling lunak/sangatlah jarang urat-
uratnya/patuh kepada orang tua/jangan membantah petuahnya
(Supratman, 2016: 57). Orang tua wajib kita taati, patuhi segala
perintah dan ucapannnya, jangan sampai kita mengingkari
walaupun satu kata darinya selama masih sesuai dengan aturan
dan norma yang berlaku di masyarakat. Apabila kita sudah tidak
patuh lagi kepada orang tua kita maka penyesalan dan
kesengsaraan akan menimpa kita. Kepada orang tua kita juga
harus patuh dan taat kepadanya, semua ucapannya harus kita
taati jangan sampai diingkari, pesan ini sesuai dengan isi sebuah
firman Allah, “… dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-
duanya telah beruia lanjut di sisimu maka janganlah katakan
kepada keduanya “Ah” dan janganlah kamu membentak
keduanya.” (Al-Isra`: 23). Pesan leluhur yang ada dalam pantun
di atas hampir sama dengan ayat ini, kepeda orang tua kita harus
patuh dan menghormati apalagi sampai membantah
perkataannya, meskipun dengan ucapan ‘ah/up’. Jika kita sudah
tidak lagi patuh orang tua kita kesengsaraan akan kita jumpai di
kemudian hari.
Ka Sampang ka Bâraji
Ghulâ Jhâbâ è bintaro
Ta` ghâmpang rèng ajhânjhi
Raghâ, nyabâ è kataro. (Supratman, 2016: 59)
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia dari pantun ini
adalah ke Samapang ke Baraji/gula jawa di Bintaro/tidak
gampang orang berjanji/jiwa dan raga taruhannya (Supratman,
Muhammad Tauhed Supratman 135
2016: 59). Orang Madura selalu mengedepankan dan
meninggikan rasa malu pada orang lain, ketika kita sudah
berucap maka ucapan kita akan selalu dipegang oleh orang itu,
apabila sudah berjanji pastilah akan ditepati karena apabila
sudah berjanji taruhannya adalah raga dan nyawanya. Pesan
para leluhur kita ini tedak keluar dari sebuah hadis yang
berbunyi “al wa`du dainun” yang berarti janji adalah utang. Utang
jawib untuk dibayar, jika tidak dibayar akan mendapat tagihan
nanti di akhirat. Pantun ini ada kaitannya dengan pantun di atas.
Sehingga komunikasi dengan masyarakat akan terjalin dengan
baik.
Mellè kasor ka taghenna È
ampara neng è roma
Andhâp asor pon kodhuna
Nèko tèngka sè otama. (Supratman, 2016: 60)
Terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia dari pantun
ini adalah Membeli kasur ke Tagenna/akan digelar di
rumahnya/hormat-menghormat itulah seharusnya/itulah
sebenarnya tatakrama yang utama (Supratman, 2016: 60).
Masyarakat Madura tidak hanya terkenal dengan perilaku kasar
dan caroknya, akan tetapi perbuatan baik serlalu dikidungkan
dan dikomunikasikan oleh orang Madura, lapang dada,
merendahkan diri adalah suatu perilaku yang utama dalam
masyarakat Madura. Berbicara tentang “tengka” tengka itu
bermakna perilaku. Perilaku yang ada pada orang Madura
sangatlah menentuka hidupnya, jika perilakunya baik maka akan
disenangi oleh orang lain namun begitu juga sebaliknya jika
mempunyai perilaku yang tidak baik akan tidak disenangi oleh
banyak masyarakat. Orang Madura mempunyai kebiasaan jika
ingin menentukan baik tidaknya seseorang, melihat kepada
tingkah laku dan dari apa yang ia ucapkan. Pesan ini yang ada
dalam pantun di atas.
Ngala` anduk ka budiyân
Mano` kèyong è ghâppora
Sè ta` sondhuk dâ` pangghâliyân
136 HUMANITAS MADURA
Ta` langkong nyo`on sapora. (Supratman, 2016: 65)
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia dari pantun ini
adalah mengambil handuk ke belakang/burung beo di Gappora
(nama desa)/yang tiada berkenan di hati/mohon maaf yang
tiada tara (Supratman, 2016: 65). Pantun di atas mengajarkan
kepada kita supaya berkomunikasi dengan masyarakat dengan
baik. Ketika orang Madura melakukan sesuatu hal di masyarakat
luas, pastilah akan menyampaikan kata maaf meskipun tidak
melakukan kesalahan apa pun. Orang Madura takut menyakiti
dalam perkataan dan perbuatan sehingga selalu menyampaikan
kata maaf kepda orang lain baik yang disengaja dan tidak
disengaja. Hal ini biasa dilakukan orang Madura ketika ada acara
seperti tasyakuran mantenan, khitan, haji dan yang lainnya.
Sebagai tuan rumah hal inilah yang biasa diucapkan olehnya.
Ngolak bherres sakobughân
Èka`essa` ngangghuy perrѐng
Ajjhâ` lebur wak-kowaghân
Ma` ta` matakerjhât orѐng. (Supratman, 2016 : 59)
Terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia dilakukan
oleh editor kulakan beras hanya semangkok/dikais pakai
bambu/janganlah gemar berteriak-teriak/agar tidak membuat
orang terkejut (Supratman, 2016 : 59). Menjaga sikap dan
ketenangan di masyarakat adalah kewajiban bagi kita, menjaga
lisan kita untuk tidak gemar berteriak-teriak, tidak membuat
kegaduhan sehingga tidak menimbulkan orang lain kaget dan
tidak mengganggu ketenagan di masyarakat.
Èntar manjhâ` ka Rong-ѐrong
Mano` bithak attas perrѐng
Ja` aghâjâ` neng ѐ lorong
Ma`lѐ ta` ѐ kacaca orѐng. (Supratman, 2016 : 60)
Terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia dilakukan
oleh editor sebagai berikut pergi menanam padi ke Rong-
erong/Burung pipit di atas bambo/Jangan bergurau di jalan-
Muhammad Tauhed Supratman 137
jalan/Agar tidak dibicarakan orang (Supratman, 2016 : 60).
Orang Madura sangat tidak senang terhadap orang yang suka
bergurau di jalan, karena dengan perilaku tersebut dapat
mengganggu terhadap orang lain. Apabila senang bergurau dan
main-main di jalan akan dibicarakan oleh masyarakat, karena
tindakan tersebut merupakan hal yang tidak baik di pandangan
masayarakat Madura.
Ajhâmma pon tak kotaghân
Tellor nestes dâlem Korong
Ajhâlân jhâ` pa` ampaghân
Jhâ` kantos mossa` ѐ lorong. (Supratman, 2016: 61)
Terjemahan berikut dilakukan oleh editor Ayamnya sudah
berkotek-kotek/telurnya menetas dalam sangkar/kalau berjalan
jangan berjejer/jangan sampai menutupi jalan raya (Supratman,
2016: 61). Pantun ini sangat berkaitan dengan pantun di atas,
ketika kita berjalan di jalan raya haruslah mempunyai etika dan
menjaga sikap. Berjalan dengan cara berjejer dengan teman atau
yang orang lain akan mengganggu pengguna jalan yang lain
karena jalan akan tertutupi oleh kita yang berjalan dengan cara
berjejer tersebut. Jalan raya bukan hanya milik kita, orang lain
juga memiliki hak dan kewajiban di jalan raya.
Kembhâng bhâbur kembhâng malatѐ
Tor-ator da` dinaju potrѐ
Ghânta kabbru dâlem atѐ
Rokon atong ghibâ matѐ. (Supratman, 2016: 64)
Terjemahan berikut dilakukan oleh editor bunga selasih
bunga melati/dipersembahkan untuk putri raja/saling
memaafkan di dalam hati/hidup rukun dan damai dibawa
sampai mati (Supratman, 2016: 64). Dalam mengarungi
kehidupan ini pastilah akan ada masalah baik itu yang ringan
maupun malasah itu berat. Orang Madura sebenarnya tidak
selalu keras dan suka terhadap yang namanya carok, akan tetapi
orang Madura juga mempunyai kearifan lokal yang dapat
mengatasi malasah tersebut. Saling memaafkan dan hidup rukan
138 HUMANITAS MADURA