Karya sastra hasil daya cipta karsa rasa manusia timbul
atau terjadi baik oleh katrena hubungan manusia dengan
manusia (hablum minannas) maupun oleh hubungan manusia
dengan khaliqnya (hablum minallah) dalam melaksanakan
eksistensi kemanusiaan, fitrah manusia secara hakiki sebagai
seorang muslim kaffah. Di samping itu karena agama Islam
bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan,
akan tetapi juga memberikan kewajiban kepada manusia
sebagai penguasa di atas bumi (khalifah fil ardh) agar
menyusuh orang lain berbuat kebaikan dan mencegah
berbuat kesalahan. Sikap pasif atau tidak peduli dipandang
sebagai suatu kesalahan dan sikap fatalisme (Latief, 2008:
167).
Hubungan antara sastra dan religi sangatlah erat, karena
Alquran sebagai kitab suci agama Islam merupakan bentuk
sastra terbaik sari semua tulisan yang ada. Bahrum Rangkuti
dalam Atmosuwito menyatakan “bahwa Alquran dan Bible
penuh dengan tulisan yang berbobot dan literer” (1989: 124).
Dengan demikian kitab suci Alquran selain berisi tulisan-
tulisan suci agama Islam, juga megandung tulisan-tulisan
sastra. Begitu pula dengan kitab-kitab agama yang lain, kitab-
kitab agamanya ditulis dalam bentuk sastra, bahkan ada yang
berbentuk puisi (Atmosuwito, 1989: 124-125).
Contoh sifat sastra yang ada dalam kitab suci Alquran
sebagai berikut ini:
“Bacalah demi Tuhanmu yang telah menciptakan alam.
Telah diciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah
(sungguh) Tuhanmu Maha Pemurah yang mengajarkan
(menulis) dengan pena hal-hal yang gelap bagi manusia” (Qs.
Al-‘Alaq: 1-3).
Ayat-ayat di atas memiliki makna yang luas, sekalipun
penekanannya hanya ditujukan pada kata Iqra’ (bacalah), dan
pada Qalam (pena). Dengan dua ka-ta itu sebenarnya tersirat
makna agar manusia senantiasa membaca (tanda-tanda alam
dan isinya), dan kemudian tulislah dalam suatu karya (untuk
menerjemahkan sifat-sifat Tuhan) guna dijadikan sebagai
pedoman (penjelasan).
Muhammad Tauhed Supratman 39
Hakikat karya sastra adalah keindahan. Sebagai akibat
pemanfaatan unsur-unsur bahasanya, melalui aspek stilistika,
dan keseimbangan komposisi antar unsur-unsurnya, yang
tercermin melalui totaliyas karya, maka yang digunakan
sebagai tolok ukur keindahan suatu karya sastra adalah
keindahan bahasa itu sendiri.
Ratna (2011: 154) menjelaskan bahwa dalam pengertian
yang lebih luas, kesusastraan sebagai hasil kebudayaan yang
pada gilirannya harus berfungsi untuk masyarakat, maka
masalah-masalah yang berkaitan dengan pendidikan dan
pengajaran, moral pada umumnya, tidak bisa dilepaskan dari
ciri-ciri karya sastra secara keseluruhan.
Ciri-ciri pendidikan dan pengajaran, dan aspek-aspek
moral lainnya tentu tidak bisa dan tidak harus dikeluarkan
dari hakikat karya sastra secara keseluruhan. Sastra yang
secara etimologis berasal dari akar kata sas dan tra
(Sansekerta) yang diartikan sebagai alat untuk mengajar jelas
mengimplikasikan etika (Ratna, 2011: 156).
Dengan demikian hubungan antara sastra dengan
kearifan lokal sangat erat dan tidak dapat dipisahkan sesuai
dengan hakikat utama karya sastra sebagai alat untuk
mengajarkan dan medidik nilai kearifan lokal bagi
masyarakat pembaca. Karya sastra bermutu baik yang
mengandung nilai kearifan lokal untuk masyarakat
pembacanya.
D. KONSEP MAKNA ISI PANTUN MADURA
1. Pengertian Makna
Makna adalah bagian dari bahasan semantik atau bagian
dari linguistik, seperti halnya bunyi tata bahasa komponen
makna dalam hal ini juga memiliki tingkatan tertentu. Apabila
komponen bunyi menduduki tingkatan kedua, dengan
demikian pada tingkatan terakhir diduduki oleh komponen
makna, hubungan komponen itu sesuai dengan keadaan
bahwa (a) bahasa pada awalnya mengacu pada lambang-
40 HUMANITAS MADURA
lambang bunyi abstrak, (b) lambang-lambang merupakan
seperangkat sistim yang memiliki bentuk dan hubungan
tertentu (c) seperangkat sistem yang memiliki bentuk dan
hubungan itu mengasosiakannya adanya makna tertentu.
(Palmer, dalam Aminuddin 1988: 15)
2. Konsep Makna Konotasi
Makna konotasi merupakan bagian dari pembicaraan
tentang diksi. Dalam memilih kata-kata supaya tepat dan
menimbulkan gambaran yang jelas dan padat itu penyair
pasti mengerti denotasi dan konotasi sebuah kata.
Sebuah kata itu mempunyai dua aspek arti, yaitu
denotasi artinya yang menunjuk, dan konotasi yaitu arti
tambahannya, denotasi sebuah kata adalah definisi kamusnya
yaitu pengertian yang menunjuk benda atau hal yang diberi
nama dengan kata itu, disebutkan atau diecritakan
(Alterbern, dalam Pardopo, 2000: 54).
Bahasa yang denotasi adalah bahasa yang menuju
kepada korespondensi, atau lawan satu antara tanda (kata
itu) dengan (hal) yang ditunjuk (Wellek, dalam Pradopo,
2000: 54). Jadi satu kata itu menunjuk satu hal saja, yang
seperti ini ialah ideal bahasa ilmiah. Dalam membaca sajak
orang harus mengerti arti kamusnya, arti denotatif, orang
harus mengerti apa yang ditunjuk oleh tiap-tiap kata yang
dipergunakan.
Namun dalam puisi (karya sastra pada umumnya),
sebuah kata tidak hanya mengandung aspek denotasinya saja.
Bukan hanya berisi arti yang ditunjuk saja, masih ada
konotasinya atau arti tambahannya, yang ditimbulkan oleh
asosiasi yang keluar dari denotasinya. (Pradopo, 2000: 58).
Warriner, Etal (dalam Tariga, 1983: 59) makna konotatif
adalah kesan-kesan atau asosiasi-asosiasi biasanya yang
bersifat emosional yang ditimbulkan oleh sebuah kata
disamping bahasa kamus atau definisi utamanya. Zgusta
(dalam Pateda, 1986: 61) berpendapat makna konotatif
adalah makna semua komponen pada semua leksem
Muhammad Tauhed Supratman 41
ditambah beberapa nilai yang mendasar biasanya berfungsi
designatif.
Kridalaksana berpendapat “aspek makna sebuah atau
sekelompok kata yang didasarkan atas perasaan atau pikiran
yang timbul atau ditimbulkan pada pembicara (penulis) dan
pendengar (pembaca). Dengan kata lain makna konotatif
merupakan leksikal + x. Misalnya, /berilah ia amplop agar
urusanmu segera selesai/, leksem amplop memiliki makna
konotatif yang lain jika kita mengatakan, /saya membeli
amplop di warung/. Pada kalimat /berilah ia amplop agar
urusanmu segera selesai/, leksem /amplop/ bermakna
konotatif uang yang diisi di dalam amplop atau yang biasa
disebut uang semir, uang sogok, uang pelicin, uang pelancar.
Sedangkan Keraf (1980: 29) menyatakan bahwa makna
konotatif disebut juga makna konotasional, makna emotif,
atau makna evaluatif. Makna konotatif adalah suatu jenis
makna dimana stimulus dan respons mengandung nilai-nilai
emosional.
Chaer (1995: 65) menambahkan bahwa sebuah kata
disebut mempunyai makna konotatif apabila kata itu
mempunyai “nilai rasa” baik positif maupun negatif. Jika tidak
memiliki nilai rasa maka dikatakan tidak memiliki konotasi.
Dari berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
makna konotatif adalah makna tambahan atau makna
sekunder selain makna yang utama.
Dengan demikian makna konotatif akan berhubungan
dengan nilai rasa apakah perasaan senang, jengkel, jijik, dan
sebagainya. Itu sebabnya sering mengatakan leksem (x)
mengandung makna konotatif yang lain dari bahasa saya.
Misalnya orang Gorontalo akan tersenyum kalau ada orang
berkata/uraian ini membosankan sebab bertele-tele/ sebab
leksem/tele/mengandung makna konseptual yakni alat
kelamin perempuan dalam bahasa Gorontalo (Pateda, 1986:
2).
42 HUMANITAS MADURA
3. Konsep Makna Kontekstual
Makna kontekstual (contextual meaning situasional
meaning) muncul sebagai akibat hubungan antara ajaran dan
situasi. Misalnya pada situasi kedukaan akan digunakan
leksem-leksem yang bermakna ikut berduka cita, leksem-
leksem yang menggambarkan rasa ikut bela sungkawa. Maka
leksem /lapar/ dalam kalimat, waktu itu saya lapar/akan
berbeda dengan kata makna leksem lapar dalam kalimat
(saya lapar bu, minta nasi/. Pada kalimat kedua, leksem
/lapar/ ditambah dengan situasi betul-betul lapar dan
menginginkan nasi. (Pateda, 1986: 64).
Parera (1990: 18) menambahkan bahwa “teori
kontekstual mengisyaratkan sebuah kata atau simbol ujaran
tidak mempunyai makna jika ia terlepas dari konteks”,
sehingga makna sebuah kata terikat pada lingkungan kultural
atau ekologis pemakai bahasa tertentu. Kertamihardjo (dalam
Kaswanti Purwa, 1993: 27-28) mengatakan bahwa konteks
adalah kode yang digunakan. Seseorang yang
mengungkapkan isi hatinya dalam bahasa daerah kepada
temannya akan merasa lebih bebas, akrab dan mudah
berkembang ke arah hubungan pribadi. Di beberapa daerah,
termasuk Jawa Timur seseorang yang menggunakan bahasa
Indonesia ketika disapa dalam bahasa daerah ada perasaan
enggan, hormat, dan sebagainya pada dirinya sehingga ia
memilih kode formal. Konteks selanjutnya terdapat di dalam
bentuk pesan beserta isinya. Seseorang yang pandai
bergurau, misalnya, dapat meyampaikan berupa suatu berita
penting sehingga benar-benar diterima sebagai berita di Jawa
Timur terdapat kebiasaan di kalangan sementara orang yang
pandai menyampaikan isi hati mereka lewat perikan. Di
tempat lain ada orang yang pandai menyampaikan pesannya
lewat khotbah dan ada pula yang lewat drama, puisi, atau
lewat surat-surat cinta.
Muhammad Tauhed Supratman 43
BAB 4
SIKAP HIDUP
ORANG MADURA
A. SIKAP TERHADAP TUHAN
Masyarakat Madura sangat erat dan lekat dengan masyarakat
yang religius. Etnik Madura adalah masyarakat religius. Sikap
religius mereka berakar dari agama Islam yang mereka anut.
Berdasarkan ajaran Islam tersebut mereka mengenal sifat-sifat
Tuhan (Julian, 2013: 45). Mayoritas masyarakat Madura
memeluk agama Islam sehingga banyak sekali pondok-pondok
pesantren, masjid, ataupun sekolah-sekolah yang berbasis Islam.
Potret realitas masyarakat Madura terdahulu yang lekat dengan
kerelegiusannya dapat kita lihat dalam sastra lisan atau sastra
tutur yang berupa pantun.
Pantun merupakan rekam sosial dari masyarakat terdahulu,
tapi masih relevan dengan keadaan saat ini meskipun keadaan
zaman sudah sangat berubah. Zaman yang semakin modern
seperti sekarang ini, di Madura semakin banyak berdiri sekolah-
sekolah di pondok pesantren yang tentunya berbasis Islam.
Pondok pesantren yang semakin menjamur menunjukkan
fondasi Islam di masyarakat Madura sangat kuat bahkan sejak
zaman dahulu seperti yang tergambar dalam pantun berikut:
44 HUMANITAS MADURA
Kalarassa gheddhâng bighi
Gheddhâng maddhu amanèsan
Malaraddhâ kana’ ngajhi
Neng èpondhug atangèsan
(Kelarasnya pisang biji,
Pisang muda sangatlah manis,
Sulitnya anak-anak belajar mengaji,
Di pondok sering menangis). (Supratman, 2026: 67)
Ungkapan pantun di atas menggambarkan bahwa sejak
dahulu pondok pesantren merupakan tempat yang terpercaya
untuk menuntut ilmu agama. Ilmu Agama sangat penting dalam
kaitan antara manusia dengan Tuhan pencipta alam semesta.
Keberadaan pondok pesantren yang semakin banyak saat ini
menunjukkan masyarakat Madura dari waktu ke waktu tetap
menjadi insan yang religius.
Pantun di atas juga menggambarkan pentingnya mengaji
untuk anak-anak Madura bahkan mulai diajarkan oleh orang tua
sejak usia dini. Belajar mengaji dirasa sangat penting untuk
mengajarkan dan mengarahkan anak-anak Madura agar semakin
dekat dengan agama dan Tuhan sejak anak-anak.
Pantun agama sebagai sastra lisan membuat masyarakat
Madura memiliki sikap yang baik terhadap Tuhan. Sikap yang
baik terhadap Tuhan ini tercermin dalam pantun berikut:
Ngarè’ lalang ka Panglègur,
Nompa’ rata sampèranna,
Ta’alanglang dhika lèbur,
Kor jhâ’ loppa ka pangèranna.
(Menyabit ilalang ke Panglegur,
Naik kereta pakai kain panjang,
Tidak melarang kau gemar sesuatu,
Muhammad Tauhed Supratman 45
Asalkan jangan lupa pada Allah) (Supratman, 2016: 67)
Kesukaan kita terhadap sesuatu hendaknya jangan terlalu
berlebihan. Sikap berlebih-lebihan dalam menyukai sesuatu
tersebut akan membuat kita rugi waktu, rugi uang, rugi tenaga
karena terhipnotis dan tertipu keinginan sendiri yang mungkin
saja keinginan itu tidak penting atau tidak bermanfaat bagi diri
sendiri maupun orang lain.
Pantun ini juga menjelaskan dan mengingatkan kita agar
selalu mengingat Allah sebagai Tuhan kita. Mengingat Tuhan
akan membuat kita mempunyai sikap yang baik dalam
kehidupan. Pantun ini membuat hubungan horizontal antara
Pencipta dan makhluk ciptaan semakin kental, hal ini
menunjukkan bahwa orang tua terdahulu sudah mengajarkan
kita untuk selalu mengingat Tuhan. Mengingat Tuhan dalam hal
ini juga berarti bahwa kita harus mematuhi ajaran-Nya agar
selalu tetap berada di jalan yang benar dan diridai Allah.
Isi pantun ini mengajak kita untuk senantiasa
mendahulukan Allah dari pada yang lainnya. Banyak sekali orang
terlalu mencintai dunia, barang-barang, harta benda, emas
permata, mencintai seseorang, terlalu menyayangi hewan-hewan
peliharaan, mencintai batu-batuan seperti batu akik yang
sekarang ini sangat digandrungi kaula muda maupun tua.
Mencintai suatu hal hendaknya jangan terlampau berlebihan,
alangkah lebih baik jika kita mencintai duniawi dengan
sederhana dan menempatkan Allah pada posisi yang setinggi-
tingginya.
Sikap terhadap Tuhan adalah hal yang penting terbukti
dengan adanya pantun agama salam sastra lisan/sastra tutur
Madura. Berbicara tentang agama tentulah akan berkaitan
dengan sikap kita terhadap Tuhan. Menjalankan segala perintah-
Nya merupakan kewajiban bagi umat Islam. Sikap terhadap
Tuhan dalam menjalankan perintah Allah dapat kita lihat melalui
pantun berikut:
Sanga’ empa’ karanjhângnga
Sapo poret ètastassa
46 HUMANITAS MADURA
Ajjhâ’ loppa kabhâjângnga Ma’
salamet aheradda. (Sembilan
empat keranjangnya, Sapu lidi
dilepasnya,
Janganlah lupa akan sembahyangnya,
Agar selamat di akhiratnya). (Supratman, 2000: 62)
Pantun ini menjelaskan betapa pentingnya mendekatkan
diri terhadap Tuhan dengan cara mengerjakan perintahnya
seperti sembahyang (salat). Puisi ini juga mengingatkan kita
untuk tidak lupa mengerjakan salat, hal ini menunjukkan bahwa
masyarakat Madura merupakan masyarakat yang taat beragama.
Salat lima waktu adalah kewajiban untuk setiap pemeluk ajaran
Islam, maka dari itu salat sangat penting untuk menjaga
hubungan baik antara hamba dengan pencipta.
Pantun di atas juga menegaskan bahwa setelah kematian
masih ada dunia akhirat. Orang Islam percaya semua perbuatan
kita di dunia akan menentukan nasib kita di akhirat. Setiap
perbuatan baik akan diberi pahala oleh Allah, dan setiap
perbuatan yang buruk akan diberi ganjaran yang setimpal oleh
Allah, untuk menjaga hubungan dengan Allah hendaknya kita
saling mengingatkan sesama umat Islam untuk mengerjakan
perbuatan yang baik terutama menjalankan perintah Allah
terlebih perintah yang wajib seperti salat harus kita utamakan.
Pantun ini mengajak kita untuk melakukan ibadah salat agar
kelak di akhirat kita selamat dan ditempatkan dalam tempat
yang baik dalam surga-Nya.
Pantun yang juga mencerminkan perintah Allah untuk salat
juga terdapat dalam pantun:
Ka Sorbhâjâ mellè palappa,
Ka Salembhu mellè klasè,
Asombhâjâng jhâ’ pa loppa’
Dâri sobbhu sampè’ isya’.
Muhammad Tauhed Supratman 47
(Ke Surabaya membeli rempah-rempah,
Ke Masalembu membeli tikar pandan,
Sembahyangnya jangan sampai lupa,
Dari subuh sampai isya). (Supratman, 2016: 69)
Pantun ini mengingatkan orang Islam untuk tidak lupa
mengerjakan ibadah salat dari subuh sampai isya karena salat
merupakan ibadah wajib pemeluk agama Islam. Salat merupakan
tiang agama, maka dari itu sebagai orang Islam wajib
mengerjakannya jangan sampai meninggalkan salat. Pantun
berikut juga merupakan perintah Allah untuk menjalankan
ibadah salat:
Tèmon tarnya’ jhâ’ neng-penneng,
Papolong bân terrong perrat,
Lamon ghenna’ tanto senneng,
Slamet dhunnya ahèrat.
(Mentimun, bayam jangan dibiarkan,
Dikumpulkan dengan terung beracun,
Kalaulah lengkap tentulah senang,
Selamat di dunia dan akhirat). (Supratman, 2016: 69)
Pantun ini juga menggambarkan bahwa seseorang dalam
melakukan ibadah harusnya genna’ atau sempurna misalnya
salat dilakukan dari subuh sampai isya agar selamat dunia
sampai akhirat, karena kehidupan yang kekal hanya di akhirat
sementara kehidupan dunia hanya sementara, jadi sebagai
manusia wajib melakukan ibadah salat setiap waktu agar
selamat di dunia dan di akhirat.
Melihat betapa banyaknya pantun yang berisi anjuran
melaksanakan salat, maka dapat terlihat dengan jelas bahwa
masyarakat Madura sangat menjaga salatnya seperti juga yang
terlihat dalam pantun berikut:
Mellè nangka neng è pasar,
48 HUMANITAS MADURA
Manjâlin bân ghulâ jhâbâ,
Lamon mangkat bâjâ asar,
Jhâ’ sampè’ maghrib neng è sabâ.
(Membeli nangka di pasar,
Rotan dan gula Jawa,
Kalau berangkat saat asar,
Jangan sampai magrib di sawah). (Supratman, 2016: 60)
Pantun ini mengingatkan kepada kita agar jika berangkat ke
sawah sore-sore jangan sampai terlalu malam agar tidak salat
maghrib di sawah, pulang lebih awal agar bisa mandi setelah
bekerja di sawah sehingga bisa bersih ketika akan melaksakan
salat magrib. Pantun yang juga menggambarkan perintah salat
terdapat dalam:
Tomang bâto è opènna,
Pobuwi soko samarèna,
Lèmang bâkto pasamporna,
Tambâi du’a sabbhân arèna.
(Tungku batu untuk mengkukus,
Diberi kaki setelah selesai,
Lima waktunya disempurnakan,
Ditambah doa setiap harinya). (Supratman, 2016: 70)
Pantun ini menggambarkan bahwa sebagai orang Islam
hendaknya kita melakukan salat lima waktu diiringi dengan doa
yang tulus, karena setiap doa pasti didengar Allah. Agama
menjelaskan bahwa doa adalah senjatanya orang Islam. Allah
sangat menyukai orang yang berdoa dan memohon kepada-Nya.
Beribadah dan berdoa disertai usaha keras akan membuat
seseorang akan lebih sukses dalam kehidupan di dunia dan di
akhirat.
Muhammad Tauhed Supratman 49
Kebersihan merupakan jalan untuk mencapai kesehatan.
Kebersihan sangat diperlukan baik dalam kehidupan
bermasyarakat. Kebersihan sebelum beribadah yakni juga sangat
diperlukan seperti yang tertera dalam pantun berikut:
Ngala’ bâddhâ bân-sarombân,
Nyambi padi ghân sakessè,
Dhika jhâghâ jhâ’ bân-abân,
Dhuli mandi ma’lè bhersè.
(Mengambil wadah sembarangan,
Membawa padi hanya sebakul,
Kau bangun jangan kesiangan,
Cepatlah mandi agar bersih).(Supratman, 2016: 56)
Pantun ini menggambarkan betapa pentingnya kebersihan
bagi masyarakat Madura baik untuk menjalankan ibadah
ataupun dalam kehidupan sehari-hari. Kebersihan dalam agama
sangatlah penting karena kebersihan adalah sebagian daripada
iman. Hidup bersih merupakan kebutuhan yang mutlak
diperlukan oleh setiap umat manusia untuk beraktivitas di
dalam maupun di luar rumah.
Pantun ini juga menjelaskan pentingnya bangun pagi. Islam
mengajarkan untuk senantiasa bangun pagi untuk melaksanakan
ibadah salat subuh. Melakukan perintah Allah haruslah dengan
keadaan suci, maka dari itu kita sebaiknya membuat diri kita
bersih dari najis dan kotoran agar suci ketika menghadap Allah
untuk ibadah salat. Pantun tadi sejalan dengan pantun berikut:
Ngala’ bâddhâ bân-sarombân,
Nyambi padi ghân sakembu,
Dhika jhâghâ jhâ’ bân-abân,
Dhuli mandi bhâjâng sobbhu.
(Mengambil wadah sembarangan
Membawa padi dalam kembu
50 HUMANITAS MADURA
Engkau bangun jangan kesiangan
Segera mandi dan salat subuh.) (Supratman, 2016: 56)
Pantun ini menggambarkan betapa pentingnya kebersihan
bagi masyarakat Madura karena kebersihan adalah sebagian
daripada iman. Kebersihan ini terutama untuk menjalankan
ibadah. Pantun ini juga mengingatkan kita untuk bangun pagi
agar menjalankan salat subuh. Pantun berikut juga menjelaskan
mengenai kewajiban orang Islam yaitu kewajiban menjalankan
ibadah puasa:
Mon mandi maddhâ pabecca,
Mon becca tanto kobâssa,
Mon yekin dâ’ ka sè kobâssa’
Maddhâ padâ apowasa.
(Kalau mandi mari dibasahi,
Kalau basah terasa enak,
Kalau yakin kepada yang kuasa,
Mari sama-sama berpuasa.) (Supratman, 2016: 68)
Pantun ini menggambarkan bahwa jika seseorang meyakini
adanya Allah sebagai pencipta maka hendaknya sama-sama
saling mengingatkan untuk melakukan ibadah puasa. Puasa
merupakan rukun iman keempat yang wajib dilaksanakan umat
Islam. Islam mengajarkan kita untuk berpuasa wajib di bulan
ramadan. Puasa mengajarkan kita untuk menahan lapar dan
haus. Tidak hanya itu, puasa juga menahan hawa nafsu. Menahan
nafsu di sini memiliki arti yang sangat luas, kita harus menjaga
semua pancaindra agar tidak berbuat dosa. Puasa adalah
kewajiban bagi seluruh umat Islam, tidak kalah pentingnya dan
juga kewajiban umat Islam adalah melakukan ibadah haji seperti
pantun berikut:
Lampu nèon è adâ’anna,
Lampu eddop è budiyânna,
Lamon mampo kabâdâ’ânna,
Muhammad Tauhed Supratman 51
Ongghâ hajji kawâjibhânna.
(Lampu neon di belakang rumah,
Lampu dop di depan rumah,
Kalau mampu keadaan harta bendanya,
Naik haji merupakan suatu kewajiban.) (Supratman, 2016:
70)
Pantun ini mengingatkan kepada orang yang sudah mampu
dari segi materi dan batin agar segera melaksanakan ibadah haji
karena haji merupakan kewajiban umat Islam bagi yang mampu.
Pantun ini menyinggung yang mampu untuk segera
melaksanakan karena haji merupakan rukun Islam kelima.
Selain melaksanakan perintah Allah seperti salat, puasa, dan
naik haji, sebagai makhluk ciptaan-Nya kita wajib mengingat
Allah seperti yang tergambar dalam pantun berikut:
Namen maghi’ tombu tarnya’,
Sabâb sala tamennanna,
Orèng odi’ kodhu ènga’
Dâ’ asal mola abâ’na.
(Menanam biji asam yang tumbuh bayam,
Sebab salah dalam menanam,
Orang hidup haruslah selalu ingat,
Asal mula dirinya.) (Supratman, 2016: 69)
Pantun ini mengingatkan manusia agar terus ingat bahwa
kita bukan apa-apa tanpa Allah sebagai sumber pelindung dan
pemberi rejeki pada setiap makhluk ciptaan-Nya yang bertakwa.
Pantun berikut juga mempertegas keesaan Allah sebagai
pencipta kita:
Mon tarnya’ pon èkella,
Ghâbây kowa masang palappa,
Mon ènga’ ka asalla,
52 HUMANITAS MADURA
Dâ’ Allo tanto ta’ loppa.
(Kalau bayam sudah direbus,
Dibuat kuah untuk memasang rempah-rempah,
Kalau ingat akan asal mulanya,
Kepada Allah tentu takkan lupa.) (Supratman, 2016: 69)
Pantun ini mengingatkan kepada kita agar kita tidak lupa
dari mana kita berasal, jika kita ingat dari mana kita berasal, kita
pasti ingat kepada Allah yang menciptakan kita. Pantun ini
mempertegas bahwa hanya Allah tempat kita bergantung,
tempat meminta, tempat memohon segala pertolongan. Pantun
berikut mengungkapkan kepada kita untuk selalu mematuhi
perintah Allah:
Palaènaghi olorra,
Ghânèko bânnè rè-karèna,
Mon cengkal ka pètotora,
Tanto budhu budi arè.
(Dipisahkan saja daging bagian punggungnya,
Itu bukan daging sisa,
Kalau membangkang pada petuahnya,
Akan menyesal di belakang hari.) (Supratman, 2016: 63)
Pantun ini memberitahukan kepada umat Islam untuk tetap
berpegang teguh terhadap perintah Allah agar dikemudian hari
tidak menyesal. Perintah Allah di sini mempunyai aspek yang
sangat luas yakni menjalankan segala perintah-Nya dan
menjauhi segala larangan-Nya. Menjalankan segala perintahnya
yaitu melakukan semua kewajiban baik membaca syahadat,
salat, berzakat, puasa, dan naik haji bagi yang mampu.
Dalam kehidupan banyak hal yang digunakan seseorang
untuk mendapatkan hal yang disukainya sekalipun dengan cara
yang salah seperti pantun berikut:
Gu’imma sé nyémpangnga,
Muhammad Tauhed Supratman 53
Nyémpang lorong é addhâng makam,
Ta’ manglo sé ta’ posangnga,
Ménynya’ dhuyung maré é pasang.
(Di mana akan lewat,
Lewat di jalan dihadang makam
Tidak heran kalau dia tergila-gila,
Minyak duyung sudah dipakai.) (Supratman, 2016: 25)
Pantun ini menggambarkan bahwa seseorang dengan
sengaja menggunakan guna-guna untuk mendapatkan seseorang
yang dicintainya, padahal perbuatannya itu tidak diperbolehkan
agama. Pantun ini mengingatkan kita agar tidak melakukan
perbuatan musyrik dengan percaya kepada selain Allah. Pantun
berikut juga menjelaskan kepada umat Islam untuk tidak terjerat
musyrik:
Ngaré’ lalang ka Panglèghur,
Pangléghur bânnya’ bâtona,
Ta’ alanglang dhika lèbur,
Réng lébur bâdâ bâktona.
(Menyabit ilalang ke Panglegur,
Panglegur banyak batunya,
Tidak melarang kau menyayangi sesuatu
Orang senang itu harus tahu waktu dan tempatnya.)
(Supratman, 2016: 43-44)
Pantun ini menggambarkan seseorang yang sangat
menyukai sesuatu hingga lupa akan hal-hal lain hingga lupa akan
salat, mencari nafkah, dan lain sebagainya sehingga urusan yang
wajib terbengkalai karena terlalu sibuk dengan hal-hal yang
disuka. Pantun ini mengingatkan kita untuk tidak berlebihan
dalam menyukai sesuatu karena menyukai sesuatu harus tahu
tempat agar urusan dunia dan akhirat tidak terbengkalai dan
sama-sama berjalan. pantun berikut menunjukkan masih adanya
54 HUMANITAS MADURA
orang yang melakukan cara yang tidak benar untuk
mendapatkan seseorang yang dicintainya:
Konéng-konénga konyé’,
Éntar kolla nonton sapé,
Jhâ’ nying-manying dhâddhi réng biné’,
Mon ta’ épola ta’ paju lake.
(Kuning-kuning kunyit,
Pergi ke kolam menuntun sapi,
Jangan genit-genit jadi perempuan,
Kalau tidak dipoles tidak akan bersuami.) (Supratman,
2016: 44-45)
Pantun ini menggambarkan seorang wanita hendaknya
jangan genit-genit agar disukai lelaki kemudian dinikahi, karena
wanita yang genit biasanya tidak disukai lelaki dan hanya akan
dibuat mainan saja. Selain itu, pantun ini juga mengingatkan
kepada perempuan agar tidak genit dengan cara mendekatkan
diri kepada Allah agar tidak mudah dipola atau diguna-guna
lelaki. Kehidupan manusia pastilah tidak luput dari ujian dan
cobaan, hal yang perlu dilakukan adalah mensyukuri dan
menerima apa yang telah diberikan dan ditakdirkan Allah seperti
pantun berikut:
Dâri larangnga ghulâ,
Sakaté tello soko,
Dâri pon palanga bulâ,
Kéng é paste sé sabârinto.
(Dari mahalnya harga gula,
Sekati seratus lima puluh rupiah,
Sungguh nestapa hidup diriku,
Memang sudah suratan hidup seperti itu.) (Supratman,
2016: 43)
Muhammad Tauhed Supratman 55
Pantun ini menngambarkan sikap pasrah dan menerima
ujian dan cobaan yang diberikan Allah Swt. Dengan menerima
segala kehendak Allah kita akan merasa tenang dan ikhlas untuk
menjalankan kehidupan. Berbicara mengenai takdir tentulah kita
sebagai manusia tidak tahu apa yang akan terjadi. Kita hanya
bisa berusaha dan berdoa semoga Allah menakdirkan suatu yang
baik bagi kita, karena yang menentukan jalan hidup ini hanyalah
Tuhan pencipta alam, sementara manusia hanya mengikuti
takdir yang telah ditentukan. Pantun berikut juga
menggambarkan sikap pasrah:
Nyarè ghulâ nemmo sadâ’,
Asa-sassa ka songay bârâ’,
Lamon bulâ matè kaadâ’,
Dhika jhâ’ sossa jhâ’ ka berrâ’.
(Mencari gula mendapatkan sabit,
Mencuci baju ke sungai barat,
Kalau aku mati terlebih dahulu,
Kau jangan susah jangan sampai tak rela.)
(Supratman, 2016: 49)
Pantun ini mengingatkan bahwa hidup dan mati sudah
ditakdirkan Allah Swt maka yang ditinggalkan harus ikhlas
menerima. Ikhlas memang hanya mudah untuk dikatakan tapi
cukup sulit untuk dilakukan. Menerima kematian seseorang yang
disayang bukanlah hal mudah, tetapi jika kita ingat bahwa semua
yang hidup pasti akan mati dan akan kembali kepada Allah, kita
bisa menyadari bahwa hidup ini adalah kehendak Allah.
Kematian adalah hal yang mutlak akan di dapatkan
manusia, hanya saja terkadang manusia tidak siap untuk
ditinggalkan seseorang yang dikasihinya. Islam mengajarkan jika
ada yang meninggal kita dianjurkan untuk menghibur dan
mengurangi beban keluarga yang ditinggalkan. Pantun berikut
menggambarkan rasa syukur kepada Allah dengan cara ikhlas
dan bersyukur atas apa yang diberikan Allah:
56 HUMANITAS MADURA
Nyarè ghângan ka kobherrâ,
Bu-ambuwân rèng sèngarang,
Pakarangan cè’ lèbârrâ,
Wâ’ buwâân pon ta’ korang.
(Mencari sayur sebisanya,
Berhenti sebentar orang yang mengarang,
Halamannya begitu luas
Buah-buahan bermacam-macam.) (Supratman, 2016: 57)
Pantun ini menggambarkan sikap syukur rakyat Madura
atas banyaknya buah yang dihasilkan di pekarangan-pekarangan
yang luas, tentunya hasil buah yang melimpah tak luput dari
kerja keras orang-orang Madura. Sikap syukur dan berusaha
akan membuat seseorang akan merasa cukup dan ikhlas
menerima segala yang diberikan Allah. Pantun yang juga
menggambarkan sikap syukur yaitu:
Sèrèna pon ècandhi,
Mon maghi’ mandhâr cellengnga,
Serrèna bulâ ta’ andi’,
Mon paghi’ mandhâr sennengnga.
(Sirihnya sudsah diikat, Semoga
biji asam akan hitam, Karena aku
tidak punya (miskin),
Semoga nanti (di akhirat) menjadi bahagia.)
(Supratman, 2016: 51)
Pantun ini menggambarkan sikap menerima takdir Allah
tetapi tidak pernah putus asa, tetap berusaha dan berdoa kepada
Allah Swt. Definisi ta’ andi’ bukan selalu diartikan sebagai orang
miskin. Harta memang salah satu hal yang membuat manusia
senang, akan tetapi ta’ andi’ di sini mempunyai arti yang lebih
kompleks yaitu tidak mempunyai istri, pekerjaan, keluarga,
Muhammad Tauhed Supratman 57
teman. Hidup dalam era sekarang ini kehidupan yang penuh
kebahagiaan haruslah dicari agar hidup menjadi lebih baik ke
depannya. Pantun yang juga menggambarkan rasa syukur
terdapat pada:
Ghâjâm rèya ajâgâ bhungkana,
Tajhin bân polorra kèrèmanna,
Ajâm rèya rajâ ghunana,
Dhâghing bân tellor cè’ nyamanna.
(Gayam ini dijaga pohonnya,
Bubur dan isinya yang dikirimkan,
Ayam ini besar kegunaannya,
Daging dan telurnya sangat enak.) (Supratman, 2016: 62)
Pantun ini menggambarkan rasa syukur kepada Allah
karena rezeki yang melimpah dari Allah dilambangkan dengan
kata cè’ nyamanna. Pantun ini juga melambangkan bahwa
sesuatu yang kita pelihara dengan baik akan menghasilkan
sesuatu yang baik pula untuk kita. Pantun ini misalnya
menggambarkan syukur dengan hewan peliharaan unggas yaitu
ayam. Ayam yang kita rawat dengan baik tentunya akan
menghasilkan keuntungan dari penjualan daging dan telurnya.
Sastra selalu relevan dan mengikuti perkembangan zaman.
Sekarang ini banyak sekali masyarakat Madura yang memelihara
ayam pedaging atau ayam petelur untuk mata pencarian dan
mencari nafkah. Sungguh Allah menyukai orang yang berusaha
dan bersyukur. Pantun berikut juga menggambarkan rasa
syukur:
Sarong ghuri pojâs-pojâs,
Kamèja sara lontorra,
Pongpong lagghi’ padâ bârâs,
Parajâ dhika sokkorra
(Sarung guri pucat-pucat,
58 HUMANITAS MADURA
Kemeja parah lunturnya,
Mumpung kita masih sehat,
Perbanyaklah kau bersyukur.) (Supratman, 2016: 68)
Pantun ini menggambarkan rasa syukur yang tak terhingga
kepada Allah Swt karena telah diberikan kesehatan lahir dan
batin dari Allah Swt. Kesehatan merupakan hal terpenting dalam
hidup ini. Ada yang mengatakan bahwa kesehatan adalah harta
yang paling berharga. Sebagai makhluk yang beriman, sudah
tentu kita wajib bersyukur atas kesehatan yang diberikan karena
kesehatan merupakan modal awal untuk mencari rejeki dan
mencari nafkah. Selain ini,
Sakè’ ghighi èjâ-kajâ,
Nga’-ngara’nga’ sèaghusowa,
Ejjhâ’ dhengghi jhâ’ kaniajâ,
Kodhu ènga’ dâ’ ka dhusana.
(Sakit gigi ditahan-tahan,
Badan meriang diselimuti,
Janganlah dengki janganlah membenci,
Haruslah ingat akan dosanya.) (Supratman, 2016: 48)
Pantun ini mengingatkan kita untuk senantiasa berbuat baik
yaitu tidak dengki dan tidak membenci karena setiap perbuatan
akan memperoleh ganjaran dan balasan yang setimpal dari Allah
Swt. Pantun berikut juga menggambarkan rasa syukur dan
menerima atas kehendak Allah:
Mellè ghulâ bâddhâ rambing,
Ngala’ beddhi neng songay bârâ’,
Binè bulâ orèng ghumbing,
Maskè seddhi pèjher aghellâ’.
(Membeli gula wadahnya kain,
Mengambil pasir disungai barat,
Muhammad Tauhed Supratman 59
Istri saya bibirnya sumbing,
Walaupun sedih kelihatannya tertawa.)
(Supratman, 2016: 72)
Pantun ini menggambarkan bahwa rasa cinta terhadap istri
meskipun tidak sempurna fisiknya akan tetapi tetap bisa
menerimanya adalah suatu bentuk rasa syukur kepada Allah atas
takdir yang telah didapatkan. Pantun berikut menggambarkan
pentingnya kebersihan:
Ngènjhâm buku pas pabâli, Sè
andi’ ma’lè ta’ seddhi,
Sabbhân lagghu dhika mandi,
Jhâ’ loppa ngosso ghighi.
(Pinjam buku secepatnya dikembalikan,
Agar yang punya tidak merasa jengkel,
Setiap pagi hendaknya kau mandi,
Janganlah lupa menggosok gigi.) (Supratman, 2016: 58)
Pantun ini menggambarkan pentingnya kebersihan
terutama merawat gigi dan badan agar tetep bersih dan terawat.
Kebersihan sangat diperlukan untuk membuat diri dan
lingkungan menjadi indah. Dalam hidup ini tentunya kita harus
berbuat baik kepada sesama, akan tetapi jika terjadi kesalahan
maka hukum Islam terasa perlu dilakukan seperti pantun
berikut:
Orèng ghâtè ngala’ atè,
Mon apèsa jhâ’ kasossa,
Otang patè nyerra patè,
Otang rassa nyerra rassa.
(Orang baik hati mengambil hati,
Kalau berpisah jangan lah susuh,
60 HUMANITAS MADURA
Hutang nyawa dibayar nyawa,
Utang perasaan membayar perasan juga).
(Supratman, 2016: 51)
Pantun ini menggambarkan bahwa hukuman yang paling
setimpal adalah hukuman yang sesuai dengan perbuatan. Sesuai
dengan adanya hukum Islam yaitu hukum qishas. Mencari
nafkah memang penting, akan tetapi dalam perjalanannya, kita
tidak boleh membahayakan diri seperti yang tertera dalam
pantun berikut:
Rebbhâna ampon èghubhâs,
Marghâ namenna palotan,
Compet arè neng alas,
Tako’ mè’toro´sètan.
(Rumputnya sudah disabit,
Karena akan menanam ketan,
Senja hari di hutan,
Hati-hati diganggu setan.) (Supratman, 2016: 60)
Pantun ini mengingatkan agar jangan terlalu malam jika
pulang dari hutan agar tidak diganggu setan maksudnya dalam
perjalanan pulang seseorang akan sulit untuk melaksanakan
ibadah salat maka dari itu dikatakan takut diganggu setan. Selain
itu perjalanan malam di hutan akan menambah risiko berbahaya
karena banyak hewan-hewan buas yang tidak terduga. Pantun
ini juga menunjukkan pentingnya hutan bagi manusia dan
hewan:
Kalamon ta’ pènter sè nyarè nafka,
Ana’ binè’ apowasa ta’ abhuka,
Mon tadâ’ alas nèko bhâdhi sangsara,
Kèbân manossa bhâdhi mangghi pokpara.
(Kalau tidak pandai mencari nafkah,
Muhammad Tauhed Supratman 61
Anak-istri berpuasa tadak berbuka puasa,
Kalau tidak ada hutan akan sengsara,
Hewan, manusia akan mendapatkan celaka.) (Supratman,
2016: 62)
Pantun ini menggambarkan keesaan Allah Swt sebagai
penguasa alam yang telah memberikan kekayaan berupa hutan
untuk dijaga sebaik-baiknya karena jika hutan tidak ada atau
tidak dirawat, maka manusia dan hewan akan celaka. Salah satu
perintah dari Allah adalah mencari nafkah dengan sungguh-
sungguh seperti pantun berikut:
Perrèng odi’ èpamanjheng,
Pamanjheng nyoprè salosè,
Orèng odi’ kodhu bhâjheng,
Pabhâjheng nyarè rèjhekkè.
(Bambu hidup didirikan,
Didirikan agar tetap lurus,
Orang hidup itu hendaknya rajin,
Yakni rajin mencari rejeki.) (Supratman, 2016: 63)
Pantun ini mengingatkan bahwa kita sebagai manusia harus
pandai-pandai mencari nafkah agar rejeki terus mengalir dari
Allah. Meskipun rezeki sebenarnya sudah digariskan Allah, tapi
sebagai manusia wajib berusaha. Ilmu juga merupakan hal
terpenting dalam mencari rezeki dan rida Allah. pantun berikut
mencerminkan pentingnya mencari ilmu sesuai dengan perintah
Allah:
Ajhâmowa temmo latè,
Campor langkèr labân patè,
Bârinto kèya èlmo sarè,
Dâri lahèr sampè’ matè.
(Minum jamu temu lathe (jenis temu),
62 HUMANITAS MADURA
Dicampur langkir dan santan,
Demikian ilmu hendaknya dicari,
Dari lahir sampai mati.) (Supratman, 2016: 65)
Pantun ini menghimbau kepada semua orang untuk giat
menuntut ilmu karema ilmu sangat bermanfaat dari lahir sampai
ajal menjemput bahkan bisa menjadi bekal menuju akhirat.
Dengan ilmu kita bisa mengejar apa saja yang kita inginkan.
Pantun berikut juga menggambarkan pentingnya ilmu yang
bahkan lebih penting dari pada harta:
Ngangghuy kalambhi jita tèron,
Nèngghu dèmo ngettok tongkol,
Dhunynya rèya ongghâ toron,
Dhining èlmo èkasangkol.
(Memakai baju kain titoron,
Nonton demo potong jantung pisang,
Keberadaan harta naik turun,
Sedangkan ilmu tetap abadi.) (Supratman, 2016: 65)
Pantun ini menggambarkan bahwa kehidupan di dunia ini
penuh lika-liku kadang ada di bawah, kadang ada di atas seperti
rezeki kadang banyak kadang sedikit, tetapi ilmu tidak akan
hilang dan akan terus bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun
bagi orang lain, karena ilmu dapat ditularkan kepada generasi
selanjutnya. Pantun ini menggambarkan pentingnya ilmu agar
kita tidak susah menjalani kehidupan:
Ka Sampang mellèya mondhu,
Karanjhânga meltas kabbhi,
Ta’ ghâmpang dhâddhi rèng bhudhu,
Salanjhângnga mellasaghi.
(Ke sampang beli mondhu,
Keranjangnya rusak semua,
Muhammad Tauhed Supratman 63
Tidaklah enak jadi orang bodoh
Sepanjang hidupnya merasa sengsara)
(Supratman, 2016: 66)
Pantun ini menggambarkan bahwa setiap manusia harusnya
menuntut ilmu agar tidak bodoh karena orang yang tidak pandai
akan sengsara tidak akan mudah memperoleh pekerjaan dan
akan mudah ditipu orang. Pantun ini menunjukkan kepada kita
pentingnya belajar dari usia dini:
Sè malè’ ngabâs ka bulân,
Tabhârângka’ soko sè kènè’,
Tang alè’ ajhâr ajhâlân,
Atèngka’ ghân nè’-sakonè’.
(Berputar ingin melihat bulan,
Tersandung kaki yang kecil,
Adikku belajar berjalan,
Melangkah sedikit demi sedikit.) (Supratman, 2016: 72)
Pantun ini menggambarkan anak kecil yang sedang belajar
berjalan dengan tertatih-tatih, hal ini menjelaskan bahwasanya
manusia perlu belajar dan berlatih sungguh-sungguh sesuai
dengan keadaan hidupnya dengan menerima kehendak Allah.
B. SIKAP TERHADAP SESAMA MANUSIA
Masyarakat Madura pada umumnya merupakan masyarakat
yang peduli dengan sesamanya. Hakikat manusia dengan
sesamanya dalam masyarakat Madura dikonsepsikan dalam
benntuk sikap bekerja sama (royongan) (Yasin, 55-56).
Kegotong-royongan masyarakat Madura semakin terasa jika
sama-sama berada di perantauan. Rasa saling memiliki,
menghargai, dan rasa kekeluargaan sangat terasa sesama suku
Madura. Sikap terhadap sesama manusia tercermin dalam
pantun berikut:
64 HUMANITAS MADURA
Namen maghi’ tombu sokon
Tabing kerreb bânnya’ kalana
Pong-pong ghi’ odi’ papadâ rokon
Ma’ lè slamet pola tèngkana.
(Menanam biji asam yang tumbuh sukun,
Gedek rapat banyak kalanya,
Senyampang masih hidup hendaknya rukun
Agar selamat tingkah lakunya.) (Supratman, 2016: 44)
Pantun di atas menunjukkan bahwa masyarakat Madura
mencintai kedamaian, hidup rukun, dan tenteram dengan
tetangga, kerabat, dan sesama makhluk hidup. Manusia sebagai
makhluk sosial tentunya membutuhkan bantuan dan peran serta,
serta bantuan dari orang lain sehingga interaksi dengan orang
lain berjalan baik.
Hidup yang rukun membuat kita merasa nyaman menjalani
kehidupan karena dengan hidup rukun kita akan terhindar dari
permusuhan, pergaulan yang tidak baik, dan tingkah laku yang
negatif pun bisa kita hindari. Hidup yang rukun bisa terwujud
dari tingkah laku yang baik. Perilaku dan tingkah laku yang baik
dimulai dari diri sendiri agar menjadi panutan bagi orang lain
sehingga tingkah laku yang baik bisa tertular pada orang lain.
Tingkah laku yang baik salah satunya dari sikap yang jujur.
Sikap terhadap sesama manusia dalam masyarakat Madura
dikonsepsikan dalam bentuk kejujuran (jhujhur, ghatè/ta’ anduri
pandân). Pentingnya sikap jujur tercermin dalam pantun berikut:
Sabu keccèk akopèyan
Somorra bâdâ è dâjâ
Lamon lècèk sakalèyan
Saomorra ta’ è partajâ
(Sawo kecik berbotol-botol,
Semurnya ada di sebelah utara,
Muhammad Tauhed Supratman 65
Kalaulah licik satu kali,
Seumur hidupnya tak akan dipercaya lagi.)
(Supratman, 2016: 46)
Pantun di atas menunjukkan kepada kita betapa pentingnya
bersikap jujur terhadap sesama makhluk sosial. Pantun ini
memberitahukan kepada kita bahwa masyarakat Madura sangat
menghargai sikap kejujuran. Sikap jujur membuat diri lebih baik
karena pada dasarnya dalam hidup ini salah satu hal yang
membuat hidup kita menjadi sukses adalah kejujuran.
Berperilaku tidak jujur akan berdampak negatif bagi diri
sendiri, keluarga bahkan bagi lingkungan. Dampak bagi diri
sendiri di antaranya yaitu mengurangi kepercayaan orang lain
terhadap diri kita. Kepercayaan sangat penting untuk eksistensi
kita dalam masyarakat, jika melakukan suatu
kebohongan/keburukan di dalam kehidupan, maka akan
menghilangkan kebaikan yang kita lakukan sebelumnya dan
tidak akan mendapatkan kepercayaan lagi dari orang lain.
Sikap terhadap sesama yang paling penting adalah sikap
terhadap keluarga. Keluarga merupakan lingkungan pertama
dalam hidup kita. Orang tua merupakan orang yang paling
penting dalam keluarga, oleh karena itu kita harus berbakti
kepada kedua orang tua. Berbakti dan patuh terhadap orang tua
telah tercermin dan tertuang dalam pantun yang berbunyi:
Ngala’ sèrè èpèpèssa
Èsarènga ghân sakonè’
Kanèserrè orèng towa
Sè mèyara kabid kènè’
(Mengambil sirih akan ditumbuk,
Akan disaring sedikit demi sedikit,
Sayangilah kedua orang tuanya,
Yang merawat kita sejak kecil.) (supratman, 2016: 46)
66 HUMANITAS MADURA
Pantun di atas mengajak kita untuk senantiasa menyayangi
orang tua. Menyayangi orang tua juga berarti mematuhi perintah
orang tua, tidak membuat hati orang tua sakit, dan selalu
membuat orang tua merasa bangga dengan kita sehingga kita
menjadi anak yang semakin baik dan sukses karena doa orang
tua adalah doa yang paling tulus sehingga doa orang tua akan
selalu didengar dan dikabulkan Allah.
Pantun ini menggambarkan bahwa sejak dulu masyarakat
Madura telah menempatkan orang tua dalam posisi yang
istimewa, hal ini terbukti dengan adanya pepatah “bhapa’,
bhabhu’, ghuru, rato” yang artinya bapak dan ibu (orang tua)
terlebih dahulu, kemudian guru, dan terakhir adalah
ratu/pemerintahan. Jelaslah bahwa masyarakat Madura memang
dengan tegas menempatkan orang tua yang telah merawat kita
sejak kecil. Seberapa pun kita membalas jasanya pasti tidak akan
pernah cukup untuk membalasnya.
Ka Tajjhân molonga burné,
Malathé sandhâ’ kembhângnga,
Sanajjân bulâ mabenné,
Ẻ até tadâ’ engghânna.
(Ke Tajjan (nama desa di Sampang) ingin memetik burnih
Melati dipungut bunganya,
Walaupun aku kelihatan acuh tak acuh,
Tetapi cinta di hati tiada batasnya.) (Supratman, 2016: 18)
Pantun di atas menggambarkan seseorang yang sangat
mencintai dalam hati akan tetapi bersikap seolah-olah tidak
mencintai. Banyak sekali hal dalam hidup ini yang terkadang
tidak seperti yang kita pikirkan. Kehidupan sosial diperlukan
interaksi dengan sesama. Ada pepatah mengatakan bahwa kita
tidak bisa menilai orang dari luarnya saja, untuk kehidupan
percintaan misalnya, terkadang kita tidak perlu menunjukkan
seberapa besar kita mencintainya akan tetapi saat-saat tertentu
kita juga perlu untuk membuktikannya.
Muhammad Tauhed Supratman 67
Kalambhina cé’ poténa,
E sékot ka Ghilighenténg,
Mon jhânjhina cé’ masténa,
Karé ngantos samalem bhenténg.
(Bajunya sangatlah putih,
Akan dijahit ke Giligenteng (sebuah pulau di Sumenep)
Janjinya sudah sangatlah pasti
Ternyata (aku) menunggu semalam suntuk.) (Supratman,
2016: 18)
Pantun ini menggambarkan seseorang yang tidak
memegang janji. Orang yang tidak memegang janji akan
merugikan diri sendiri. Kehidupan sosial masyarakat perlu
adanya saling percaya antara sesama, jika tidak menepati janji
kita tidak akan mendapatkan kepercayaan dari orang lain.
Mengingkari janji sama dengan kurang menghargai orang lain
dan kurang menghargai waktu. Tidak menghargai orang lain
maksudnya orang akan merasa kecewa karena sudah terlanjur
berharap atas apa yang telah dijanjikan. Tidak menghargai
waktu maksudnya janji yang harusnya kita laksanakan sekarang,
akan tidak penting lagi jika dilaksanakan besok atau lusa karena
sudah tidak sesuai dengan harapan.
Somor dâlem koro’ kata’,
Témbâna é jhâi’â,
Lamon ghellem toro’ oca’,
Maké nyabâ é bâghiyâ.
(Sumur yang dalam digali katak
Timbanya akan dijahit
Asalkan kau patuh mencintaiku dengan sepenuh hati
Nyawa sekalipun akan diserahkan.) (Supratman, 2016: 18)
68 HUMANITAS MADURA
Pantun di atas menggambarkan seseorang yang mencintai
harusnya bisa bersikap patuh dan yakin kepada pasangan. Jika
sudah patuh terhadap pasangan maka bukan tidak mungkin
meskipun nyawa akan dipertaruhkan.
Seorang istri harusnya mematuhi perintah suami sebagai
nahkoda dalam bahtera rumah tangga. Mematuhi perintah suami
dalam hal ini adalah mematuhi setiap perkataan yang baik yang
akan membuat kehidupan berumah tangga menjadi tenteram.
Somor dâlem koro’ kata’,
Lénté odi’ é raoa,
Lamon ghellem toro’ oca’,
Mate odi’ é toro’a.
(Sumur yang dalam digali katak
Lidi muda akan diraut
Asalkan kaupatuh mencintaiku dengan sepenuh hati
Hidup nan matimu aku setia.) (Supratman, 2016: 18)
Pantun ini menggambarkan seseorang yang mencintai
harusnya bisa bersikap patuh dan yakin kepada pasangan. Jika
sudah patuh terhadap pasangan maka pasangan akan rela hidup
dan mati bersama.
Ungkapan Mate odi’ é toro’a (hidup dan mati bersama)
dalam kehidupan tidaklah mungkin terjadi. Ungkapan ini
menyimbolkan bahwa dalam kehidupan suami-istri segala yang
terjadi akan dihadapi bersama baik dalam suka maupun duka.
Dhâmar téra’ soro poter,
Ta’ kéra dhâddhi maténa,
Jhâ’ ra’-serra’ ngoca’ néser,
Ta’ kéra dhâddhi lakéna.
(Lampu hidup silahkan diputar
Tak mungkin akan menjadi padam
Muhammad Tauhed Supratman 69
Jangan keterlaluan mengungkapkan kasih sayang
Tidaklah mungkin menjadi suaminya.) (Supratman, 2016:
19)
Pantun di atas menggambarkan dalam menjalin hubungan
dengan lawan jenis sebaiknya jangan terlalu mendalam jika
belum menikah karena belum tentu sang laki-laki orang yang
bertanggung jawab.
Pantun ini mengingatkan kepada gadis Madura agar tidak
terjerumus dalam hubungan di luar nikah dan jangan terlalu
mencintai laki-laki dan terlena untuk melakukan hal-hal tidak
dipuji. Laki-laki biasanya akan meninggalkan wanita yang terlalu
mudah untuk ditaklukkan dan sang gadis pun akan merasa
kecewa karena tidak akan dinikahi.
Séttong duwâ’ tello’ empa’,
Ata’ kajhâng paléstéran,
Mon ta’ endâ’ dhuli ngoca’,
Ma’ ta’ lanjhâng pamékkéran.
(Satu dua tiga empat,
Atap kajang lantai plester,
Kalau tidak mau secepatnya dikatakan,
Agar tidak selalu menjadi pemikiran.) (Supratman, 2016:
19)
Pantun di atas menggambarkan kita harusnya tidak boleh
memberikan harapan palsu kepada orang lain agar orang tidak
merasa kecewa. Orang yang selalau memberikan harapan palsu
pasti tidak akan disenangi oleh orang lain. Pemberi harapan
palsu sama dengan penipu yang tidak akan mudah lagi untuk
dipercaya masyarakat. Pantun berikut juga menjelaskan betapa
jeleknya sikap memberi harapan palsu:
Séttong duwâ’ tello’ empa’,
Léma’ ennem lobânga soléng,
70 HUMANITAS MADURA
Mon ta’ endâ’ dhuli ngoca’,
Ma’lé ghâmpang nyaré laén.
(Satu dua tiga empat,
Lima enam lubang seruling
Kalau tidak mau (cinta) cepatlah katakan
Agar secepatnya mencari gadis lain.) (Supratman, 2016: 20)
Pantun ini menggambarkan kita harusnya tidak boleh
memberikan harapan palsu kepada orang lain agar orang tidak
merasa kecewa dan segera mencari pengganti. Seseorang
hendaknya tidak mudah membuat janji yang hanya akan
menyakiti hati. Membuat janji yang tidak pasti sama saja dengan
membuang waktu berharga orang lain. Pantun ini misalnya yang
menceritakan bahwa merasa sangat kecewa karena ditinggalkan
begitu saja oleh orang yang dicintainya padalal sudah berjanji
akan dinikahi. Pantun ini menunjukkan betapa berharganya
waktu yang terbuang untuk menunggu ketidakpastian.
Seandainya tidak berjanji seseorang tidak akan menunggu
terlalu lama dan segera mencari seseorang yang benar-benar
tulus mencintainya.
Kalésmana salékarang,
Ngénom jhâmo copa’aghi,
Tarésnana bulâ ghi’ korang,
Mon katemmo sapaaghi.
(Flunya sakit salekarang,
Minum jamu diludahkan
Kasih sayangnya masih kurang,
Jika bertemu tolong disapa.) (Supratman, 2016: 22)
Pantun ini menggambarkan penolakan cinta dari seseorang
akan tetapi tidak mau saling bermusuhan dan ingin terus disapa
meskipun telah ditolak. Pantun ini menggambarkan rasa
solidaritas yang sangat tinggi antar sesama manusia.
Muhammad Tauhed Supratman 71
Pantun ini juga mengingatkan kita untuk senantiasa
menyapa seseorang sebagai bentuk silaturahmi agar kehidupan
bermasyarakat bisa terjalin dengan harmonis. Pantun ini juga
mengingatkan untuk tidak bermusuhan karena permusuhan
hanya akan menimbulkan kerugian.
Ta’ nyassa calana loros,
Angén ghendhing pangolangan,
Jhâ’ sa-sossa polana ta’ tolos,
Oréng raddhin sé ta’ korangan.
(Tidak akan mencuci celana yang lurus,
Angin gending dibelokkan,
Jangan susah karena tak jadi (bercinta)
Orang cantik tidak sedikit.) (Supratman, 2016: 23)
Pantun ini menggambarkan sikap besar hati karena
dikhianati wanitanya, akan tetapi lelaki tersebut tidak menyerah
untuk mencari lagi gadis cantik yang akan tulus mencintainya.
Sikap menerima segala yang terjadi akan membuat hubungan
dengan sesama menjadi lebih baik.
Kehidupan yang rukun dan lingkungan yang damai akan
membuat kita lebih bersabar dalam menghadapi cobaan
sekalipun ditinggalkan seseorang yang dicinta akan membuat
kita sedih, tapi motivasi dari orang lain akan membuat kita kuat
dan bisa berusaha lebih baik lagi untuk mendapatkan yang kita
inginkan.
Nonpa’ jhârân aromasa todus,
Cometténa ondung ka perréng,
Nyapa’a dhika aromasa todus,
Ghi’ ngantossa tadâ’na oréng.
(Naik kuda merasa malu,
Cemetinya condong ke pohon bambu,
72 HUMANITAS MADURA
Mau menyapa dikau merasa malu,
Masih menunggu saat orang tidak ada.) (Supratman, 2016:
24)
Pantun ini secara moral menggambarkan sikap yang baik
karena malu jika terlihat orang lain sedang menyapa orang yang
dicintainya. Masyarakat Madura sangat menjunjung tinggi nilai
kesopanan.
Ka Sorbhâjâ ngala’ lem-malemma,
Lénté odi’ é raowa,
Kor padâ ngen-angenna,
Maté odi’ é toro’a.
(Ke Surabaya di kala sore,
Lidi muda akan diraut,
Asalkan sama keinginannya (cintanya),
Hidup dan mati aku setia.) (Supratman, 2016: 24)
Pantun ini menjelaskan dalam menjalin hubungan
hendaknya sama-sama mempunyai satu tujuan agar bisa
menjalani hidup dan mati sama-sama. Kehidupan rumah tangga
seringkali suami-istri terlibat rasa curiga dan saling tidak
menghargai satu sama lain. Menjalani kehidupan rumah tangga
yang baik harusnya mempunyai pemikiran dan tanggung jawab
dalam porsi yang sama agar tujuan yang ingin dicapai sejak awal
pernikahan bisa berjalan dengan baik agar bisa menjalani suka
dan duka bersama.
Mano’ ngortog dâ’ témorra,
Ngatéla’ oréng ngangghuy kalong,
Dhâr padâ’â lanjhâng omorra,
Ma’lé abit sé along-polong.
(Burung berbunyi di dahan yang ke timur,
Melihat orang memakai kalung,
Muhammad Tauhed Supratman 73
Semoga kita sama-sama panjang umur,
Agar agak lama kita berkumpul.) (Supratman, 2016: 25)
Pantun ini menggambarkan sebuah doa untuk orang yang
disayang agar selalu diberi umur yang panjag agar selalu senang
hidup berdampingan. Doa agar sama-sama diberikan hidup yang
panjang adalah sebuah harapan untuk selalu menjalani
kehidupan sosial dengan baik. Berbuat baik terhadap sesama
apalagi mendoakan seseorang dengan doa yang baik merupakan
suatu perbuatan yang mulia.
Pantun ini menggambarkan sikap rukun dalam menjalani
kehidupan. Kehidupan yang berkualitas ditandai dengan adanya
sikap saling menghargai dan saling menghormati orang lain.
Adanya ungkapan Ma’lé abit sé along-polong menunjukkan
bahwa masyarakat Madura sangat senang hidup berdampingan
dengan orang lain. Pantun berikut juga menggambarkan rasa
kepedulian terhadap sesama:
Namen belta néng salokké’,
Du ma’ mangghâ é kemméyanna,
Ngéding berta dhika saké’,
Du ma’ mangghâ é konéanna.
(Menanam tembakau hanya sepetak,
Sepertinya akan dikencingi,
Mendengar berita engkau sakit,
Berkeinginan (aku) akan menjemputmu).
(Supratman, 2016: 25)
Pantun di atas menggambarkan rasa kepedulian terhadap
orang lain yang sangat kental, hal ini menunjukkan bahwa
masyarakat Madura sangat menghargai dan peduli terhadap
orang lain. Tradisi Madura terutama di desa jika ada yang sakit
pasti masyarakat Madura akan berbondong-bondong untuk
menjenguk orang yang sakit. Kepedulian orang Madura tidak
hanya terlihat ketika menjenguk orang yang sakit saja, tetapi
74 HUMANITAS MADURA
ketika akan berangkat untuk menjenguk orang yang sakit akan
membawa oleh-oleh berupa beras, uang, ataupun makanan agar
orang yang sakit merasa senang dan tidak perlu memikirkan
makanan untuk keluarga orang yang sakit.
Pantun ini juga semakin menjelaskan rasa kepedulian pada
baris terakhir yang menggambarkan bahwa seseorang bahkan
rela untuk menjemput yang sakit untuk dirawat sendiri. Pantun
berikut menunjukkan pesan moral yang sangat bagus untuk
perempuan Madura:
Pénangnga pon ta’ tégghiyâ,
Lowé’ taléna rendhing,
Émanna mon ta’ dhaddhiyâ,
Mon kolé’na maré é seddhing.
(pohon pinang pastilah tinggi,
Serat waru pengikat rending (alat musik tiup tradisional),
Eman-eman kalau tidak jadi (bercinta),
Karena kulitnya (badannya) sudah disentuh.)
(Supratman, 2016: 26)
Pantun ini menggambarkan lelaki harusnya bertanggung
jawab terhadap wanita yang dicintainya. Kehidupan cinta kasih
seharusnya menjalin hubungan yang saling menguntungkan
antara dua belah pihak. Laki-laki harusnya tidak meninggalkan
perempuan begitu saja, sebaliknya perempuan tidak boleh
percaya begitu saja terhadap lelaki apa lagi lelaki tersebut tidak
berniat untuk menikahinya.
Pantun ini juga menggambarkan pentingnya bersikap baik
di depan maupun di belakang orang lain:
Pénangnga pon ta’ tégghiyâ,
Nyemmi konco’na perréng,
Émanna mon ta’ dhaddhiyâ,
Karé rammé cacana oréng.
Muhammad Tauhed Supratman 75
(Pohon pinang pastilah tinggi,
Serat waru pengikat rending (alat musik tiup tradisional),
Eman-eman kalau tidak jadi (bercinta),
Karena kulitnya (badannya) sudah disentuh.)
(Supratman, 2016: 26)
Pantun ini menggambarkan lelaki harusnya bertanggung
jawab terhadap wanita yang dicintainya agar tidak jadi
perbincangan orang. Harusnya dalam hubungan pacaran atau
menjalin cinta kasih laki-laki dan perempuan sama-sama
menjaga jarak agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Orang
lain dan masyarakat sekitar tidak akan menerima perbuatan
yang melanggar moral dan akan segera jadi perbincangan umum.
Sebelum perbincangan yang tidak baik terjadi sebaiknya lebih
berhati-hati dalam menjalin cinta kasih dan dilakukan dengan
cara yang positif.
Pantun berikut merupakan gambaran kasih sayang orang
tua terhadap anaknya:
Sekkar mellok buwâna nanggher,
Kaghâbâyâ nang-pénangan,
Mon éyolok dhuli nyandher,
Kaghâbâyâ mang-témangan.
(Bunga mellok buahnya randu alas,
Akan dijadikan pinang,
Kalau dipanggil secepatnya datang,
Akan dijadikan timang-timangan.) (Supratman, 2016: 27)
Pantun ini menggambarkan anak-anak harus patuh dan
segera datang ketika dipanggil orang tua. Sikap patuh terhadap
orang tua membuat orang tua merasa senang dan dihargai oleh
anak-anaknya. Anak yang baik hendaknya bisa membuat oreng
tua bahagia dengan perbuatan kita. Orang tua biasanya tidak
mengharap imbalan apa pun dari anak-anaknya. Sebagai seorang
76 HUMANITAS MADURA
anak kita harusnya sadar dan memberikan kasih sayang yang
tulus kepada orang tua kita, karena tidak ada orang tua yang
tidak sayang kepada anaknya, orang tua pasti sangat sayang
kepada anaknya.
Mano’ nétér ghunong dâjâ,
É péghâ’â pakananna,
Jhâ’ kobâtér noro’ bulâ,
Séépénta étekkananna.
(Burung berjalan di gunung utara,
Akan ditangkap diberi makan,
Jangan khawatir ikut aku,
Apa saja yang diminta akan dikabulkannya.) (Supratman,
2016: 27)
Pantun ini menggambarkan rasa tanggung jawab seorang
lelaki terhadap wanitanya yang rela memberikan apa pun untuk
kebahagiaan wanitanya. Pantun ini memang terkesan
berlebihan, akan tetapi banyak nilai yang bisa kita ambil dalam
pantun ini. Kebahagiaan seseorang yang kita cintai sangatlah
penting, akan tetapi tidak terlalu berlebihan juda, cukup
berusaha mencapai yang kita inginkan.
Séréna séré alar, Séré
alar dâri kolat, Serréna
bulâ ta’ kellar,
Ta’ kellar polana ta’ pélak.
(Sirihnya tunas sirih,
Tunas sirih dari jamur,
Sebenarnya aku sudah tak tahan,
Tidak tahan karena tidak setia.) (Supratman, 2016: 27)
Pantun ini menggambarkan seorang yang melarikan diri
karena kekasihnya tidak bertanggung jawab. Pantun ini
Muhammad Tauhed Supratman 77
mengingatkan kepada lelaki untuk bertanggung jawab jika tidak
ingin ditinggal kekasih. Pentingnya mencari nafkah untuk istri
tergambar sangat jelas dalam pantun ini. Akan tetapi istri juga
harus mengerti dan membantu kesusahan suami. Seorang suami
harusnya baik dan perhatian sekaligus memberikan kasih sayang
yang melimpah untuk istri, akan tetapi jika suami sudah tidak
sayang terhadap istri maka bukan tidak mungkin istri tidak
betah dan memilih hidup sendiri.
Sattanangnga é sasassa’a,
Ésebbhiddhâ noro’ lorong,
Émanna sé tapésaa,
Karé abid sé along-polong.
(Sapu tangannya akan dicuci,
Akan disobek sepanjang jalan,
Sangat kasihan untuk berpisah,
Karena sudah terlalu lama kita bergaul.) (Supratman, 2016:
28)
Pantun ini menggambarkan kesedihan karena akan
berpisah dengan orang yang dikasihinya karena sudah
terlampau lama menjalin kehidupan bersama. Pantun ini
menggambarkan rasa solidaritas yang sangat tinggi terhadap
sesama manusia.
Pantun berikut mengingatkan kita untuk selalu menepati
janji:
Arlojina pokol sanga’,
Ta’ kéra ghu-lagghu pole,
Mon jhânjhina soro paénga’,
Ta’ kéra gu-ragu polé.
(Arlojinya sudah jam sembilan,
Tak mungkin kembali pagi,
78 HUMANITAS MADURA
Janjinya suruh diingatkan,
Tidaklah mungkin ragu-ragu lagi.) (Supratman, 2016: 29)
Pantun ini menggambarkan jika kita sudah berjanji
harusnya ditepati dan saling mengingatkan jika ada yang tidak
ingat akan janjinya. Menjalani kehidupan sosial harusnya
dibutuhkan rasa saling percaya. Menepati janji adalah salah satu
contoh untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Pantun
ini juga mengingatkan kita untuk mengingatkan orang yang
berjanji untuk menepati karena bukan tidak mungkin sebagai
manusia kita lupa telah berjanji kepada orang lain, karena
manusia tempatnya lupa. Pantun berikut mengingatkan lelaki
untuk segera membuat ikatan yang baik dengan wanita:
Paraona ampon mabbhâr,
Moa’ pandân ghâbây téker,
Lamon dhika ongghu néser,
Maddhâ bulâ dhuli salebbâr.
(Perahunya sudah berangkat,
Mengangkut pandan dibuatkan tikar,
Jika engkau benar-benar kasihan (cinta),
Marilah aku secepatnya dilamar.) (Supratman, 2016: 30)
Pantun ini mengingatkan kepada pemuda untuk secepatnya
melamar wanita yang dicintainya. Secara moral pantun ini
menjaga perempuan-perempuan Madura agar segera
mendapatkan kepastian dari laki-laki. Secepatnya melamar
wanita juga menjaga kedua belah pihak dari perbincangan dan
omongan yang tidak baik dari tetangga sekitar. Pantun berikut
juga menggambarkan pentingnya tanggung jawab bagi seorang
lelaki:
Sapédana sapéda kempos,
Torona é Pakandhângan,
Nape dhika sé éantos,
Muhammad Tauhed Supratman 79
É antossa é katédungan.
(Sepedanya, sepeda bocor,
Akan turun di Pakandangan
Apa engkau yang ditunggu,
Akan ditunggu di tempat tidur.) (Supratman, 2016: 32)
Pantun ini merupakan bentuk keseriusan dalam menjalin
hubungan yaitu akan dinikahi. Pantun ini sebenarnya ingin
membuat perempuan merasa bahagia yakni dengan ungkapan
Nape dhika sé éantos yang berarti menyuruh perempuan
berhenti menunggu dan menyuruh perempuan untuk cemas
karena keputusan untuk menikah telah dibuat oleh lelaki
terbukti dengan ungkapan É antossa é katédungan yang berarti
akan segera dinikahi.
Tappor kélap ta’ matéya,
Nompa’ jhârân labu napang,
Mon ta’ pélak ta’ alakéya,
Panas bhârâng rajâ otang.
(Disambar petir tidak mati,
Naik kuda jatuh tertelungkup,
Kalau tidak bertanggung jawab, tidak akan bersuami,
Membuat diri kesal dan banyak utang.) (Supratman, 2016:
32)
Pantun ini menggambardan dalam hubungan rumah tangga
haruslah mencari laki-laki yang bertanggung jawab. Laki-laki
yang bertanggung jawab akan membuat wanita merasa aman
dan nyaman. Sebaliknya, lelaki yang tidak bertanggung jawab
akan membuat wanita merasa tidak tenang dan diliputi rasa
takut karena dampaknya sangat besar untuk kehidupan rumah
tangga. Dampak yang paling terlihat jika mendapatkan lelaki
yang tidak bertanggung jawab adalah seorang istri tidak akan
mendapat nafkah dari suami dan untuk mencukupi kebutuhan
rumah tangga yang banyak seorang istri harus berutang hingga
80 HUMANITAS MADURA
terlilit utang yang sangat banyak dan kehidupan rumah tangga
pun tidak akan tenteram. Pantun berikut menunjukkan rasa
kasih sayang yang sangtat luar biasa:
Saké’ bâu nompa’ rata,
Dhika alama’ labun poté,
Maské jhâu neng é mata,
Teptep semma’ dâlem até.
(Sakit bahu naik kereta,
Engkau beralaskan kain kafan,
Walaupun jauh di mata,
Tetaplah dekat di dalam hati.) (Supratman, 2016: 33)
Pantun ini menggambarkan rasa sayang yang sangat
mendalam bahkan meskipun jauh tetap dekat dalam hati. Pantun
ini biasanya dirasakan oleh orang yang sedang kasmaran
ataupun orang tua terhadap anaknya. Pantun berikut
mengingatkan kita untuk tidak menggunakan kekerasan jika
sedang menghadapi masalah:
Nasé’ sella nasé’ sokon,
Nasé’ segghâ karéna bâri’,
Mon sala bulâ jhâ’ tokol,
Bâlânjhâna nyaréya dhibi’.
(Nasi campur nasi sukun,
Nasi sego, sisa kemarin,
Kalau salah aku jangan dipukul,
Belanjanya (aku) akan mencari sendiri.) (Supratman, 2016:
34)
Pantun ini menggambar dan dalam hubungan rumah tangga
haruslah mencari laki-laki yang bertanggung jawab dan tidak
melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Dewasa ini banyak
sekali terjadi kekerasan rumah tangga. Kekerasan dalam rumah
Muhammad Tauhed Supratman 81
tangga disebabkan banyak faktor di antaranya rasa saling curiga,
tidak percaya, dan rasa cemburu pasangan. Hal ni bisa dihindari
dengan adanya komunikasi antara kedua belah pihak agar
masalah sekecil dan sebesar apa pun bisa diatasi. Permasalahan
yang besar dan tidak bisa diselesaikan berdua hendaknya
mengundang satu orang tokoh yang bisa menyelesaikan
permasalahan dan tokoh tersebut harus netral.
C. SIKAP TERHADAP PRIBADI
Sikap pribadi maksudnya adalah hal-hal yang harus dimiliki
manusia sebagai diri sendiri. Sikap terhadap diri sendiri ini
meliputi harkat dan martabat yang sangat di junjung tinggi oleh
masyarakat Madura. Harga diri dan martabat memang sangat
penting bagi masyarakat Madura, bahkan terkadang masalah
harga diri menjadi masalah pertaruhan nyawa. Masalah harga
diri yang terpotret dalam pantun Madura yaitu:
Nè’-kènè’ monyèna solèng
Nyambhelli pètè’ tadâ’ gâjina
Nè’-binè’ jhâ’ lèng-ngalèlèng
Capo’ pècè’ adâ’ ajhina
(Kecil-kecil bunyi seruling,
Menyembelih anak ayam tidak berlemak,
Anak gadis jangan sering keluyuran,
Disentuh lelaki tiada nilainya.) (Supratman, 2000: 50)
Pantun ini menginginkan gadis-gadis di Madura terlindungi
harga dirinya. Kehidupan modern ini banyak sekali hal-hal
negatif yang harus dihindari oleh gadis-gadis agar tetap menjadi
wanita baik-baik yang senantiasa memiliki harga diri terpuji.
Perkembangan alat-alat transportasi saat ini membuat semua
orang dengan mudah bertransportasi. Seringkali pantun dapat
dengan tidak sengaja meramalkan apa yang akan terjadi karena
pantun memang selalu relevan dengan keadaan zaman.
Kehidupan sekarang banyak sekali rerempuan yang suka
82 HUMANITAS MADURA
keluyuran dan pulang malam karena transportasi sangat mudah
didapatkan. Pantun ini mengingatkan agar perempuan/ gadis-
gadis Madura untuk menjaga harga diri agar nama baik keluarga
tidak tercoreng.
Pantun ini juga mengajarkan kepada wanita agar berhati-
hati saat berada di luar rumah, jangan sampai terjebak rayuan
lelaki yang tidak bertanggung jawab dan gadis madura harus
pandai menjaga diri agar tidak disentuh laki-laki yang tidak
bertanggung jawab, maka dari itu gadis-gadis Madura harus
pandai menjaga dirinya dan menjadi gadis baik dan tidak suka
berkeliling agar nantinya bisa menikah dengan lelaki yang baik.
Pantun ini menegaskan betapa pentingnya harga diri gadis-gadis
Madura.
Sejalan dengan pantun tadi yang menjelaskan betapa
pentingnya harga diri bagi masyarakat Madura, dalam pantun
berikut terekam betapa pentingnya harga diri bagi laki-laki
Madura, patunnya berbunyi:
Ka Sampang ka roma sakè’
Toan dokter acapèngan potè
Ta’ ghâmpang dhâddhi rèng lakè’
Mon ta’ pènter ta’ ghâmpang ollè
(Ke Sampang ke rumah sakit,
Tuan dokter pakai kopiah putih,
Tidaklah mudah menjadi lelaki,
Kalau tidak pandai sulit memeperoleh yang diinginkan.)
(Supratman, 2016: 45)
Pantun di atas menjelaskan kepada kita betapa pentingnya
harga diri dan martabat laki-laki Madura. Laki-laki Madura harus
pandai, mempunyai pola pikir dan pengetahuan yang luas, oleh
karena itu di sini disebutkan bahwa tidak mudah menjadi lelaki.
Lelaki Madura haruslah pintar agar sesuatu yang diinginkan
dapat tercapai. Menjunjung harga diri seperti ini membuat
masyarakat Madura menjadi Manusia yang bekerja keras,
Muhammad Tauhed Supratman 83
pantang menyerah agar dapat memperoleh apa yang
diinginkannya. Pantun berikut juga menggambarkan pentingnya
harga diri lelaki Madura:
Ta’ nyassa calana loros,
Angén ghendhing pangolangan,
Jhâ’ sa-sossa polana ta’ tolos,
Oréng raddhin sé ta’ korangan.
(Tidak akan mencuci celana yang lurus,
Angin gending dibelokkan,
Jangan susah karena tak jadi (bercinta)
Orang cantik tidak sedikit.) (Supratman, 2016: 23)
Pantun ini menggambarkan bahwa lelaki Madura sangat
menjaga harga diri yaitu jika menyukai perempuan namun
ditolak, lelaki Madura lebih memilih mencari gadis lain karena
gadis yang cantik masih banyak. Sekilas pantun ini terasa
sombong jika didengarkan atau dipahami sekilas. Akan tetapi
jika dilihat lebih mendalam, dapat terlihat bahwa memang
masyarakat Madura pantang untuk malo atau malu. Jika suatu
hubungan berakhir biasanya lelaki Madura akan mencari gadis
lain, daripada malu jika harus mengejar-ngejar seseorang yang
tidak lagi mengharapkannya.
Pantun berikut menggambarkan wanita yang pandai
menjaga martabatnya:
Tappor kélap ta’ matéya,
Nompa’ jhârân labu napang,
Mon ta’ pélak ta’ alakéya,
Panas bhârâng rajâ otang.
(Disambar petir tidak mati,
Naik kuda jatuh tertelungkup,
84 HUMANITAS MADURA
Kalau tidak bertanggung jawab, tidak akan bersuami,
membuat diri kesal dan banyak utang). (Supratman, 2016:
32)
Pantun ini menggambarkan bahwa wanita Madura dalam
mencari suami haruslah yang bertanggung jawab agar nantinya
tidak kesal karena banyak hutang karena tidak ada nafkah dari
suami. Pantun ini menunjukkan kepada kita bahwa wanita
Madura pandai menjaga martabatnya dengan cara memilih
suami yang mampu bertanggung jawab. Bertanggung jawab di
sini yaitu bertanggung jawab secara moral dan finansial agar
kehidupan rumah tangga berjalan baik dan tidak jadi bahan
omongan orang. Pantun berikut juga menjelaskan pentingnya
menjaga harga diri perempuan:
Lalilo buwâna kentang,
Molong kopi ka Bhândhârân,
Andi’ élong épaotang,
Éserra’na dhing bâjârân.
(Lalilo buahnya kentang,
Memetik kopi ke Mandaran,
Punya hidung diutangkan,
Akan dibayar setelah gajian.) (Supratman, 2016: 33)
Pantun ini mengingatkan perempuan Madura untuk
menjaga hak dan martabat agar tidak mudah percaya kepada
lelaki yang hanya obral janji. Perempuan Madura haruslah
mempunyai moral yang tinggi. Moral yang bagus akan membawa
perempuan Madura kepada sikap dan perbuatan yang baik.
Jangan terlalu percaya kepada lelaki yang pandai merayu. Lelaki
yang tidak baik bisa terlihat dari tingkah lakunya dalam
memperlakukan perempuan. Jangan mudah percaya terhadap
lelaki yang sering berjanji. Pantun berikut mengingatkan untuk
tidak tergoda hanya karena tampangnya saja:
Ghângan terrong karéna ghellâ’,
Kaléntheng bâi’na kapo,
Muhammad Tauhed Supratman 85
Obu’ gondrong lakar gâgâ’,
Make gânteng ta’ andi’ lako.
(Sayur terung sisa kemarin,
Kalenteng biji buah randu,
Rambut gondrong memang gagah,
Walaupun tampan tapi tak punya pekerjaan.)
(Supratman, 2016: 33)
Pantun ini menggambarkan bahwa perempuan Madura
lebih memilih lelaki yang punya malu dan bisa menafkahi
daripada tampan tapi tidak punya pekerjaan. Pantun ini jelas
menggambarkan bahwa perempuan Madura menginginkan laki-
laki yang bisa menafkahi dan mampu menjaga harga diri dan
martabat keluarga karena lelaki Madura adalah lelaki yang
menjunjung tinggi harga diri. Terbukti dari perempuan Madura
lebih memilih lelaki yang bisa menafkahi daripada memilih lelaki
yang tampan tapi tidak mempunyai pekerjaan.
Dhâlimana épencarra,
Ngarantong buwâna billâ,
Bâramma bulâ sé éntarra,
Macaltong aténa bulâ.
(Delimanya akan di tabur,
Bergelantungan buah maja,
Bagaimana aku akan menemuimu,
Hatiku hancur tak karuan.) (Supratman, 2016: 39)
Pantun ini menggambarkan seseorang yang tidak mau
menghadiri undangan karena merasa malu atau terhina pernah
dikhianati dan disakiti. Harga diri dan martabat merupakan nilai
sangat erat mendasar bagi masyarakat Madura dan selalu
dipertahankan, motivasinya adalah rasa malu (rasa “malo” atau
“todus”). Pantun berikut juga menggambarkan bahwa
masyarakat Madura sangat menjaga harga dirinya:
86 HUMANITAS MADURA
Ngacelleng bhighina dhuwâ’,
Nompa’ jhârân labu napang,
Jhâ’ neng-senneng abiné duwâ’,
Panas bhârâng rajâ otang.
(Berhitaman buah duwet,
Naik kuda jatuh tertelungkup,
Janganlah suka beristri dua,
Menyakitkan dan banyak hutangnya.)
(Supratman, 2016: 42)
Sastra selalu menjadi media penyampai nilai-nilai yang
sangat baik. Pantun ini misalnya sangat berusaha mengingatkan
masyarakat Madura untuk tidak mendua karena tanggung
jawabnya sangat berat. Pantun ini menggambarkan bahwa orang
Madura tidak menyenangi orang yang mempunyai istri dua
karena jika tidak bisa memberi nafkah akan mempunyai banyak
hutang dan akan membuat keluarga malu di hadapan
masyarakat. Pantun berikut mengajak kita untuk saling
menghargai orang lain:
Ajâm pandâ’ é co-pecco,
Kabubur bâddhâi kéréng,
Mon ta’ endâ’ é co-koco,
Jhâ’ lébur co-ngoco oréng.
(Ayam kati dipatuk-patuk,
Ubur-ubur wadahnya kereng (tempat ikan),
Kalau tidak mau diejek,
Janganlah gemar mengejek orang.) (Supratman, 2016: 44)
Pantun ini menyuruh kita agar menjaga harkat martabat
karena jika kita senang mengejek orang lain, kita juga akan
diejek orang, daripada malu sendiri maka lebih baik jangan
membuat malu orang lain terlebih dahulu. Sikap menjunjung
Muhammad Tauhed Supratman 87
tinggi harga diri merupakan salah satu prinsip orang Madura
yang membedakan dengan budaya lainnya. Prinsip ini tergambar
dalam ungkapan “jâgâ jhâlâna marongghina” atau “mon kerras
pa akerrés”, artinya selalu hati-hati sebelum dan dalam berbicara
dengan orang lain. Pantun ini menyuruh kita untuk bisa
mengendalikan lisan kita agar orang lain tidak merasa sakit hati.
Osok errèng sè koko,
Gâddhâng sasarat kèbâ ka bengko,
Lamon orèng dhâlmos alako,
Madhâng malarat ollèna bhâko. (Supratman, 2016: 46-47)
Pantun ini menggambarkan bahwa orang Madura adalah
pekerja keras meskipun sulit akan tetap dihadapi untuk
mendapatkan hal yang diinginkan. Masyarakat Madura
umumnya memang menanam tembakau untuk dijual daunnya
ketika pohon sudah berumur kurang lebih tiga bulan. Menanam
dan merawat tembakau tidak mudah, melalui proses yang sangat
panjang, memakan waktu dan tenaga sampai panen tiba. Pantun
ini menyimbolkan tembakau sebagai pedoman untuk
mengetahui orang itu malas bekerja atau tidak. Bertani
tembakau merupakan simbol kerja keras petani Madura untuk
menghidupi keluarga dan mempertahankan kehidupan yang
layak bagi petani Madura. Pantun berikut mengingatkan kita
untuk menjauhi perbuatan meminta-minta:
Mènta apa pao sapolo,
Bherrâs palotan sè edhâbui,
Maso’ nèspa ta’ tao malo,
Adu tarètan maddhâ jhâuwi.
(Sakit pinggang tidak ada orang melayat,
Meminta apa sapi sepuluh,
Puntung rokok orang yang lewat,
Termasuk kasihan tidak tahu malu.) (Supratman, 2016: 48)
88 HUMANITAS MADURA