MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL
DI
ERA MILENIAL
Nurbadriyah, M.Pd.
malik sembilanbelas
Model Pembelajaran Digital di Era Milenial
© Nurbadriyah, M.Pd.
Editor: Nurbadriyah
Perancang sampul: Ren
Penata letak: Nurbadriyah
Diterbitkan oleh:
malik sembilanbelas
Kp. Jambatan No.63 RT 02 RW 07
Kel. Sulaiman Kec. Margahayu
Kab. Bandung Prov. Jawa Barat
Surel: [email protected]
Kontak: 0852-6996-0006
Cetakan pertama, Desember 2021
xx + 186 halaman.; 14,8 x 21 cm
ISBN:
Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang.
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari Penerbit
PENGANTAR
SEKRETARIS DIRJEN GTK KEMDIKBUD RI
Prof. Dr. NUNUK SURYANI, M.Pd.
Guru dan sekolah dihadapkan dengan tantangan untuk
memenuhi kebutuhan semua peserta didik, terlepas dari tingkat
akademik, latar belakang sosial, dan lingkungan yang berbeda.
Peserta didik yang heterogen tentulah memiliki kemampuan dan
kebutuhan pendidikan yang berbeda pula. Maka dari itu guru
harus membedakan kurikulum untuk memenuhi kebutuhan
semua peserta didik, sehingga semua peserta didik
berkesempatan untuk belajar dan semakin berkembang. Salah
satu wujud sinergitas yang baik membangun pendidikan adalah
mewadahi guru untuk terus berkreasi. Dengan bahan ajar yang
dirancang sendiri tentulah disesuaikan dengan kebutuhan tanpa
keluar dari kurikulum yang berlaku akan menjadikan
pembelajaran lebih hidup, berkualitas, dan menyenangkan.
Buku ini berisi tentang variasi model pembelajaran dan beberapa
aplikasi digital. Sajian materi dibuat sangat sederhana agar dapat
diimplementasikan dengan mudah oleh para guru Indonesia
sebagai salah satu strategi agar peserta didik berperan secara
aktif di dalam proses pembelajaran.
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| iii
Harapannya, standar kompetensi lulusan dapat dicapai secara
maksimal yaitu bukan hanya menguasai pengetahuan saja,
melainkan dibarengi dengan keterampilan teknologi sesuai
tuntutan zaman.
Jakarta, 5 Desember 2021
Prof. Dr. NUNUK SURYANI, M.Pd.
iv | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
PENGANTAR
WAKIL WALIKOTA CILEGON
H. SANUJI PENTAMARTA, S.I.P.
Guru adalah titik sentral kurikulum. Suasana belajar yang
dihadirkan selama proses pembelajaran bergantung pada
kreativitas guru. Berkat usaha guru maka akan timbul motivasi
belajar siswa. Untuk itu perlu upaya pengembangan keprofesian
secara berkelanjutan agar tujuan Pendidikan tercapai sesuai
harapan. Penguasan kompetensi paedagogik harus sejalan
dengan tiga kompetensi lainnya yang harus dimiliki setiap
pendidik. Guru perlu mengembangkan gagasan secara kreatif
dan mengimplementasikannya dalam proses pembelajaran yang
berkualitas dan menyenangkan.
Penyajian variasi model pembelajaran dan penguasaan teknologi
dikemas apik dalam buku ini. Dengan membaca dan
mengimplementasikannya, guru akan menemukan resep jitu
menuju pembelajaran yang bermutu. Jika ingin mengubah
dunia, ubahlah sistem pendidikannya. Karena hal yang
mendasar ada di sana. Pendidikan akan mengubah pola pikir
manusia dalam menjalani kehidupan. Sistem pendidikan yang
baik adalah yang bisa mengayomi setiap kecerdasan masing-
masing orang agar bisa berkembang dan diterapkan di dalam
kehidupan. Pendidikan juga harus menghasilkan peradaban
yang tinggi dan berujung pada meningkatnya kesejahteraan.
Pendidikan harus berhasil membentuk karakter dan kepribadian
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| v
siswa agar semakin kuat imannya, semakin kokoh taqwanya dan
semakin indah akhlaknya. Semua metode, sarana, dan
kurikulum yang disajikan harus berpedoman pada UUD Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat 3. Dengan
demikian tujuan pendidikan nasional akan tercapai sesuai
harapan.
Cilegon, 5 Desember 2021
H. SANUJI PENTAMARTA, S.I.P.
vi | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
PENGANTAR
KEPALA CABANG DINAS PENDIDIKAN DAN
KEBUDAYAAN
WILAYAH KOTA CILEGON, SERANG, DAN
KABUPATEN SERANG
H. HOLIL BADAWI, S.Ag. M.M
Tuntutan global menuntut dunia pendidikan untuk selalu dan
senantiasa menyesuaikan perkembangan teknologi terhadap
usaha dalam peningkatan mutu pendidikan, terutama
penyesuaian penggunaannya bagi dunia pendidikan khususnya
dalam proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran,
Perubahan dalam gaya mengajar sangat memengaruhi suasana
belajar hingga akhirnya berdampak pada hasil. Terjadinya
interaksi dua arah, pembelajaran yang interaktif dan
menyenangkan sepertinya belum banyak dijumpai pada satuan
Pendidikan di sekitar kita. Semua tak kan lepas dari inovasi dan
kreasi guru dalam mengelola kelas dan merancang variasi model
pembelajaran. Terlebih lagi di zaman digitalisasi seperti
sekarang ini, guru dituntut melek teknologi dan
mengimplementasikan pembelajaran digital. Menyikapi era
digitalisasi, guru dan siswa diharapkan dapat memanfaatkan
teknologi digital, open sources contents, dan global classroom
dalam penerapan pembelajaran sepanjang hayat (lifelong
learning), flexible education system, dan personalized learning.
Sementara, kenyataannya sumber daya yang ada belum mampu
mendampingi era digitalisasi. Dibutuhkan upaya yang keras
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| vii
untuk mengejar ketertinggalan dalam dunia Pendidikan agar
dapat sejajar dengan negara maju lainnya. Buku ini berisi variasi
model pembelajaran berbasis digital. Di dalamnya sarat
informasi terkait inovasi yang dapat guru implementasikan
dalam mengemas pembelajaran berkualitas dan menyenangkan.
Setelah membaca buku ini, harapannya akan membuka mata hati
para pemerhati pendidikan. Sebagai pendidik, guru juga harus
menjadi seorang yang inovatif guna menemukan strategi atau
metode yang efektif. “Yang terpenting adalah setiap proses atau
produk inovatif yang dilakukan harus mengacu kepada
kebutuhan siswa. Hingga akhirnya wellbeing student akan
tercipta.
Serang, 5 Desember 2021
H. HOLIL BADAWI, S.Ag. M.M
viii | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
PENGANTAR
PENGAJAR DIKLAT CAWAS BANTEN 2021
HARGIO SANTOSO, S.Pd., M.Pd.
Di dunia pendidikan, teknologi memberikan pengaruh cukup
besar. Kedua hal ini tak dapat dipisahkan karena peran keduanya
saling berhubungan satu sama lain. Pendidikan merupakan satu
aspek yang dipercaya dapat membuka peluang meningkatkan
kualitas dan kesejahteraan hidup. Namun, jika pendidikan tidak
berjalan secara maksimal, tentu tidak akan memberikan dampak
yang baik pula. Keberadaan teknologi dapat menjadi salah satu
jalan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Karenanya guru
harus berdampingan dengan perkembangan zaman yang di
dalamnya terdapat kemajuan teknologi. Begitu pentingnya peran
guru dalam meningkatkan taraf hidup orang banyak.
Teknologi merupakan salah satu media yang dapat membantu
proses guru mengajar dan siswa belajar, sehingga teknologi
dapat membantu guru menfasilitasi peserta didik untuk
memperoleh literasi seluas-luasnya.
Pemahaman bahkan keterampilan tentang pemanfaatan
teknologi bagi seorang guru amatlah penting, agar guru mampu
mengarahkan pada dampak positif dari teknologi serta
mencegah hal-hal negatif dari teknologi.
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| ix
Buku ini dapat dijadikan referensi para guru karena berisi
tentang variasi model pembelajaran yang dapat diaplikasikan
guru dalam mengelola kelas. Pemanfaatan berbagai aplikasi
digital dapat dikombinasikan dengan varian model sesuai
dengan materi pelajaran yang akan disampaikan.
Jakarta, 5 Desember 2021
HARGIO SANTOSO, S.Pd., M.Pd.
x | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
PENGANTAR
MENTOR CAWAS BANTEN 2021
Hj. ELA NURLAELA, M.Pd.
Fenomena pengunaan media sosial sebagai media online
semakin marak akhir-akhir ini. Kalangan muda sebagai generasi
milenial atau digital native merupakan pengguna terbesar dalam
penggunaan media sosial saat ini. Namun sayangnya, digitalisasi
masih belum begitu tampak. Proses pembelajaran yang
berlangsung hampir di setiap sekolah masih konvensional.
Model pembelajaran yang digunakan masih ceramah.
Pembelajaran masih satu arah dan berpusat pada guru. Sumber
belajar masih menggunakan buku paket. Tidak sedikit guru yang
masih memberikan materi pembelajaran dengan tulisan dan
serangkaian tugas pekerjaan rumah yang menumpuk tanpa
memberi penjelasan yang menarik. Suasana belajar mengajar
jadi terkesan monoton dan kenyataan ini sungguh menjenuhkan.
Jika ini dibiarkan, Pendidikan Indonesia akan lumpuh total.
Buku ini menyajikan paparan variasi model pembelajaran yang
dapat dijadikan referensi para guru untuk diimplementasikan di
kelas, baik kelas nyata maupun kelas maya. Selain itu, disajikan
pula bentuk inovasi pembelajaran yang mengolaborasikan
model pembelajaran dengan platform dan aplikasi edukasi.
Dalam satu sebaran link, materi pelajaran berupa video
pembelajaran, penilaian interaktif, dan buku digital yang
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| xi
semuanya siap dipelajari dari mana pun, kapan pun, dan dimana
pun.
Sebagai filter informasi, guru wajib mengetahui lebih dulu
semua informasi yang ada di ruang publik. Guru tidak bisa tutup
mata dan menolak kehadiran teknologi. Semakin dilarang, siswa
akan semakin penasaran untuk mengetahui lebih dalam tentang
teknologi. Karenanya, berikan kebebasan belajar pada siswa
agar mereka semakin pandai menentukan sikap terhadap semua
perubahan zaman, yang pasti akan mereka rasakan. Inilah arti
“merdeka belajar” yang sesungguhnya. Guru dan siswa
memiliki kebebasan dalam berinovasi, menambah wawasan
dalam berpikir kreatif dan kritis.
Bogor, 5 Desember 2021
Hj. ELA NURLAELA, M.Pd.
xii | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
PENGANTAR
KEPALA SMA NEGERI 5 CILEGON
ELLY HERLINA, S.Pd., M.Pd.
Untuk menjadi seorang guru, diperlukan berbagi macam
pengetahuan dan pengalaman. Guru sebaiknya dapat
memodifikasi serta mengantarkan pengetahuan dan
pengalamannya kepada para peserta didik melalui cara yang
variatif dan menarik. Dengan begitu, guru dapat menjadi agen
pembelajaran yang dapat membawa peserta didik sampai
pada tujuan pendidikan. Dalam proses pembelajaran guru
akan memberikan layanan dan memfasilitasi siswa agar bisa
menangkap informasi dengan baik. Oleh karena itu, seorang
guru diharapkan mampu membangkitkan semangat belajar
dan meningkatkan ketertarikan siswa pada pelajaran.
Buku ini berisi tentang cara merancang model pembelajaran
yang kreatif dan menyenangkan sehingga menarik minat
belajar siswa. Penyajian materi pelajaran melalui teknologi
informasi akan menjadi daya tarik tersendiri dalam
pendistribusian materi pelajaran. Deskripsi variasi model
pembelajaran dalam buku ini, dapat dijadikan acuan guru
dalam mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa.
Hasilnya, siswa dapat dengan mudah menyerap materi yang
disampaikan guru dan tujuan pembelajaran pun dapat
tercapai.
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| xiii
Penerapan model pembelajaran berbasis digital akan
menarik perhatian siswa, karena di dalamnya bukan hanya
menampilkan tulisan, gambar, suara, dan video saja, tetapi
juga dapat diakses dengan mudah kapanpun, dimanapun, dan
oleh siapa pun. Dengan adanya model pembelajaran yang
bervariasi tersebut, maka suasana belajar pun akan lebih
kondusif.
Cilegon, 5 Desember 2021
ELLY HERLINA, S.Pd., M.Pd.
xiv | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
KATA PENGANTAR
Implikasi dari Industrial Revolution 4.0 adalah Education 4.0.
Inovasi dalam dunia pendidikan di era Industrial ini dapat dilihat
sebagai sebuah respons kreatif. Dalam hal ini manusia
diharapkan dapat memanfaatkan teknologi digital, open sources
contents, dan global classroom dalam penerapan pembelajaran
sepanjang hayat (lifelong learning), flexible education system,
dan personalized learning. Sementara, sumber daya yang ada
belum mampu mendampingi era digitalisasi. Dibutuhkan upaya
yang keras untuk mengejar ketertinggalan dalam dunia
Pendidikan agar dapat sejajar dengan negara maju lainnya.
Pembelajaran tatap muka yang sekarang sedang berlangsung,
memaksa kita sebagai pendidik untuk selalu berbenah. Pendidik
bukan hanya harus mampu mentransfer ilmu, tetapi juga harus
terampil merancang model pembelajaran. Sebagai pendidik, kita
juga harus menjadi seorang yang inovatif guna menemukan
strategi atau metode yang efektif. Yang terpenting adalah setiap
proses atau produk inovatif yang dilakukan harus mengacu
kepada kebutuhan siswa. Hingga akhirnya wellbeing student
akan tercipta.
Sebagai pendidik, guru adalah model yang berhadapan dan
berinteraksi langsung dengan peserta didik dalam proses
pembelajaran. Suasana belajar sangat memengaruhi hasil
pembelajaran. Karenanya guru harus pandai mengelola kelas
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| xv
terutama dalam merancang variasi model pembelajaran.
Keterampilan merancang variasi ini diperlukan guna
meningkatkan hasil belajar mengajar secara maksimal, sesuai
dengan kriteria ketuntasan pembelajaran dan standar kompetensi
lulusan di setiap satuan pendidikan.
Variasi model pembelajaran juga salah satu upaya untuk
mengakomodir tingkat kemampuan berpikir dan karakter siswa
yang beragam. Dari perbedaan itu guru harus memiliki cara jitu
agar mampu memberikan proses pembelajaran yang bermakna
dan tujuan pembelajaran dapat dicapai sesuai harapan.
Di era digitalisasi ini, variasi model pembelajaran pun akan lebih
efektif, menarik, dan menyenangkan jika dibarengi dengan
penguasaan teknologi. Sebagai sumber daya manusia yang
hidup di era serba otomatis, kita tak bisa tutup mata dan antipati
terhadap itu semua. Merancang model pembelajaran berbasis
digital membantu meningkatkan kualitas Pendidikan. Selain
penggunaannya yang praktis, juga dapat diakses dimana pun dan
kapan pun. Sebagai filter, peran guru dapat mengarahkan siswa
menjadi adaptif, kreatif, tidak gaptek, dan mulai berdamai
dengan perkembangan zaman. Variasi model pembelajaran
berbasis digital diharapkan dapat mencipta Sekolah berkelas
dengan lulusan yang berkualitas.
xvi | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
DAFTAR ISI
Pengantar
Sekretaris Dirjen GTK Kemdikbud RI
Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. ..............................................iii
Pengantar
Wakil Walikota Cilegon
H. Sanuji Pentamarta, S.I.P....................................................... v
Pengantar
Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Wilayah Kota Cilegon, Serang, dan Kabupaten Serang
H. Holil Badawi, S.Ag. M.M. .................................................vii
Pengantar
Pengajar Diklat Cawas Banten 2021
Hargio Santoso, S.Pd., M.Pd....................................................ix
Pengantar
Mentor Cawas Banten 2021
Hj. Ela Nurlaela, M.Pd.............................................................xi
Pengantar
Kepala SMA Negeri 5 Cilegon
Elly Herlina, S.Pd., M.Pd.......................................................xiii
Kata Pengantar ....................................................................... xv
Daftar Isi ...............................................................................xvii
Diferensiasi dan Solusi.............................................................. 1
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| xvii
Kooperatif (CL, Cooperative Learning).................................... 5
Problem Based Learning (Pembelajaran Berbasis Masalah) .. 13
PAIKEM ................................................................................. 18
Problem Posing ....................................................................... 20
Everyone is Teacher................................................................ 23
The Power of Two and Four ................................................... 27
Index Card Match.................................................................... 28
JIGSAW .................................................................................. 32
Examples Non-Examples........................................................ 36
Numbered Heads Together ..................................................... 38
Two Stay Two Stray ............................................................... 40
Make a Match.......................................................................... 43
Flipped Classroom .................................................................. 45
Cooperative Script................................................................... 51
Student Team Achievement-Divisions (STAD) ..................... 54
Mind Maping........................................................................... 58
ARTIKULASI......................................................................... 61
Demonatrative Model ............................................................. 65
SCRAMBLE ........................................................................... 69
Kolaborasi Model Pembelajaran dengan Aplikasi sebagai
Inovasi ..................................................................................... 74
Pemanfaatan Google Docs sebagai Media Pembelajaran ....... 78
Liveworksheet Solusi Penilaian Interaktif .............................. 80
xviii | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
Pemanfaatan Website sebagai Media Pembelajaran............... 85
Pemanfaatan Google Classroom sebagai Media
Pembelajaran........................................................................... 97
Pemanfaatan Google Form sebagai Media Pembelajaran..... 110
Pemanfaatan Whats App sebagai Media Pembelajaran........ 123
Pemanfaatan Tellagami sebagai Media Pembelajaran.......... 144
Pemanfaatan Google Drive sebagai Media Pembelajaran .... 149
Pemanfaatan Quizizz sebagai Media Pembelajaran.............. 154
Pemanfaatan Google Meet sebagai Kelas Virtual................. 166
Pemanfaatan Zoom sebagai Media Pembelajaran ................ 168
Pemanfaatan Kinemaster sebagai Media Video
Pembelajaran......................................................................... 170
Penutup.................................................................................. 176
Daftar Pustaka ....................................................................... 180
Tentang Penulis..................................................................... 183
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| xix
xx | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
DIFERENSIASI DAN SOLUSI
Dalam proses pembelajaran, masih banyak guru yang hanya
melakukan tugas sebatas mentransfer ilmu tanpa tahu
bagaimana mengemas pembelajaran menjadi menarik perhatian
siswa, sehingga banyak ditemui siswa yang kurang memiliki
motivasi untuk lebih giat belajar di sekolah. Salah satu realita
yang kita temukan pada saat pembelajaran di kelas adalah
penggunaan sumber belajar yang kurang maksimal. Mpun
pembelajaran dilakukan secara klasikal, guru lebih sering
menggunakan ceramah tanpa memperhatikan minat lain yang
dimiliki oleh siswa seperti penggunaan media (alat peraga)
untuk siswa yang visual, adanya diskusi, eksperimen,
demonstrasi, dan praktik untuk siswa yang kinestetik.
Penggunaan model yang kurang bervariasi atau inovatif, hal itu
dibuktikan dengan guru tidak mau keluar dari zona nyaman.
Tidak mau meng-upgrade diri dengan mengikuti pelatihan
peningkatan kompetensi. Ini tentu saja akan berdampak pada
proses pembelajaran yang konvensional dan terkesan tanpa ada
persiapan. Apabila tidak ada variasi dalam kegiatan
pembelajaran maka siswa akan mengalami kebosanan dan
kejenuhan karena pembelajaran yang monoton akan
mengakibatkan siswa tidak antusias dan kurang partisipatif
dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| 1
Kejenuhan ini akan berdampak buruk bagi daya tangkap siswa
terhadap materi yang akan disampaikan oleh guru, karena
apabila siswa sudah merasa bosan atau jenuh maka mereka
tentunya tidak akan semangat dalam menyimak pelajaran dan
cenderung akan mengalihkan perhatian mereka pada hal lain
seperti ngobrol, membuat gaduh, atau tidak menutup
kemungkinan tidur. Tak ada asap jika tidak ada api. Semua yang
dilakukan siswa sebagai akibat dari suasana pembelajaran yang
tidak teroganisir.
Jika masih ada guru yang mengajar beracuan hanya pada
ketercapaian nilai ketuntasan, artinya guru masih egois dalam
melaksanakan dan mencapai tujuan pembelajaran. Ada lagi guru
yang mengukur ketuntasan belajar mengajar dari
terselesaikannya materi pelajaran yang harus disampaikan. Nah,
kalau kedua acuan pembelajaran tersebut masih diterapkan,
berhentilah bermimpi menyetarakan Pendidikan Indonesia
dengan negara maju lainnya.
Di satu sisi, guru dihadapkan pada permasalahan pembelajaran
yang klasik. Siswa tidak aktif, malas, atau kerap mengalihkan
perhatian saat guru menerangkan pelajaran. Kondisi seperti ini
sering dijumpai. Akibatnya guru mengeluhkan kondisi siswa
yang kurang responsif. Di sisi lain, siswa jenuh dengan
pembelajaran yang monoton, ceramah, ditambah lagi dengan
tumpukan tugas dari setiap guru yang harus segera diselesaikan.
Saling menyalahkan tentu tidak akan memecahkan persoalan.
Dari beragam permasalahan, latar belakang, dan karakter peserta
didik, kita banyak belajar. Pembelajaran berdiferensiasi dapat
jadi solusi alternatif ketika guru terhambat masalah tersebut.
2 | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang
memberi keleluasaan pada siswa untuk meningkatkan potensi
dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar
siswa.
Pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya berfokus pada produk
pembelajaran, tapi juga fokus pada proses dan konten/materi. Di
sini siswa diberi keleluasaan untuk mengembangkan konten
pelajaran sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya.
Siswa juga diberikan kebebasan berkreasi dalam menggali dan
berbagi pengetahuan yang dimilikinya. Konsep diferensiasi
adalah belajar menyesuaikan karakter, bakat, dan minat
individu. Guru harus multitalenta membaca kegemaran atau
kecenderungan minat dan sumber belajar dari masing-masing
siswa. Visual, audio, atau kinestetik. Jadikan keberagaman itu
menjadi suasana belajar yang kondusif, menyenangkan, dan
berkualitas.
Meski guru tak selalu tahu, tapi guru dapat melihat dan
mengamati gaya belajar, aktivitas, dan cara mereka berinteraksi
dengan lingkungan. Dari perbedaan itu guru harus mampu
memilih dan merancang model pembelajaran yang bervariasi.
Pada prinsipnya, pembelajaran berdiferensiasi adalah
pembelajaran yang berpihak pada anak, yaitu pembelajaran yang
menyesuaikan kebutuhan, kapasitas serta gaya belajar setiap
anak yang berbeda-beda. Penentuan model pembelajaran tidak
lepas dari diferensi dengan tetap mempertimbangkan tujuan
pembelajaran. Kesinambungan model pembelajaran dengan
tujuan pembelajaran cenderung akan mempermudah dalam
penyusunan model pembelajaran secara menyeluruh. Ketika
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| 3
keduanya sinkron dan penggambaran keseluruhannya sudah
jelas, penyusunan strategi dan metode pembelajaran bisa
menjadi lebih mudah.
Dalam buku ini semua uraian tentang variasi model
pembelajaran berbasis digital secara gamblang dijabarkan,
lengkap dengan video pembelajaran guru dalam mengelola
kelas. Pembaca bukan hanya membaca deskripsi penjelasan
tentang variasi model pembelajaran berbasis digital, tetapi juga
dapat melihat kegiatan nyata hasil demonstrasi guru. Para guru
mempraktikkan penggunaan variasi model pembelajaran
berbasis digital untuk kemudian disesuiakan dengan keragaman
gaya, karakter, dan kemampuan siswa dalam mengikuti proses
pembelajaran. Sehingga pembelajaran menyenangkan dapat
dirasakan oleh guru dan siswa. Pembentukan karakter akan
terwujud dalam dinamika kelompok yang dihadirkan selama
pembelajaran. Hingga akhirnya wellbeing student akan tercipta
sesuai dengan harapan Pendidikan Indonesia.
4 | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
KOOPERATIF
(CL, COOPERATIVE LEARNING)
Model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran
dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu
mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, dan
memahami materi secara mendalam.
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan
antara materi yang diajarkan dengan keadaan yang terjadi secara
nyata di lingkungan siswa. Pada konteks ini mengarahkan siswa
mengaitkan antara pengetahuan yang dimilikinya dan cara
menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan mereka,
baik dalam keluarga maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Pembelajaran kontekstual dapat dimulai dengan sajian atau
tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait
dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling).
Sehingga manfaat dari materi yang disajikan akan terasa dan
motivasi belajar siswa muncul dengan sendirinya. Proses dalam
CTL akan menstimulus daya ingat siswa terkait peristiwa yang
dialaminya dalam kehidupan nyata. Bukan hanya itu, dunia
pikiran siswa pun menjadi konkret, sehingga suasana belajar
menjadi kondusif, nyaman, dan menyenangkan.
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| 5
Pada prinsipnya, pembelajaran kontekstual akan
mengembangkan kemampuan sosial siswa. Selama
pembelajaran, mereka tidak hanya mendengarkan, menerima
materi, menonton tayangan, atau mencatat. Melainkan juga
mereka menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata sehari-
hari. Pembelajaran yang dilakukan atas dasar pengalaman
adalah sesuatu hal yang tak kan pernah mereka lupakan.
Indikator model pembelajaran kontekstual yang membedakan
dengan model pembelajaran lainnya adalah:
1. Siswa sebagai subjek belajar
2. Siswa belajar melalui kegiatan kelompok
3. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata
4. Kemampuan didasarkan atas pengalaman
5. Tujuan akhir adalah kepiasan diri
6. Prilaku dibangunatas kesadaran
7. Pengetahuan yang dimiliki individu berkembang sesuai
dengan pengalaman yang dialaminya
8. Siswa bertanggung jawab dalam memonitor dan
mengembangkan pembelajaran
9. Pembelajaran bisa terjadi dimana saja
10. Keberhasilan pembelajaran dapat diukur dengan
berbagai cara (bukan hanya melalui tes)
Model pembelajaran CTL akan memotivasi siswa untuk
memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan
mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka
sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa
6 | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat
diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan/konteks ke
permasalahan/konteks lainnya. Dengan konsep ini, hasil
pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses
pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan
siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari
guru ke siswa.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa
mencapai tujuannya. Guru harus lebih kreatif dan inovatif dalam
menyusun strategi daripada memberi informasi. Tugas guru
mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk
menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa).
Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari
apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola
dengan pendekatan kontekstual.
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| 7
CTL sebagi suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 asas atau
komponen. Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses
pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL
1. Konstruktivisme Adalah proses pembangunan baru dalam
struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman.
2. Inkuiri Adalah proses pembelajaran didasarkan pada
pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara
sistematis.
Proses inkuiri dilakukan dalam beberapa langkah:
Merumuskan masalah
Mengajukan hipotesis
Mengumpulkan data
Menguji hipnotis berdasarkan data yang
ditemukan
Membuat kesimpulan
3. Bertanya (Questioning)
Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan
menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai
refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan
menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan
seseorang dalam berfikir. Dalam suatu pembelajaran yang
produktif.
kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk: dalam
1) menggali informasi dan kemampuan siswa
penguasaan materi pelajaran
2) membangkitkan motvasi siswa untuk belajar
8 | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
3) merangsang keingintahuan siswa terhadap
sesuai
4) memfokuskan siswa pada suatu yang diinginkan
5) membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan
sesuatu
4. Komunitas Belajar (Learning Community)
Konsep Masyarakat Belajar (Learning Community) dalam CTL
menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui
kerjasama dengan orang lain. Dalam kelas CTL, asas ini dapat
dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok
belajar.
5. Pemodelan (Modeling)
Merupakan proses pembelajaran dengan
memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh
setiap siswa.
6. Refleksi (Reflection) Merupakan proses pengendapan
pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara
mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa
pembelajaran yang telah dilalui.
7. Penilaian Nyata (Authentic Assessment)
Adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan
informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa.
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| 9
Langkah-langkah pembelajaran CTL antara lain:
1. Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih
bermakna
dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan
mengkonstruksi
sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
2. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua
topik
3. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
4. Menciptakan masyarakat belajar
5. Menghadirkan model sebagia contoh belajar
6. Melakukan refleksi diakhir pertemuan.
7. Melakukan penialain yang sebenarnya dengan berbagai cara.
Ciri kelas yang menggunakan pendekatan konstektual
1. Pengalaman nyata
2. Kerja sama, saling menunjang
3. Gembira, belajar dengan bergairah
4. Pembelajaran terintegrasi
5. Menggunakan berbagai sumber
6. Siswa aktif dan kritis
7. Menyenangkan, tidak membosankan
8. Sharing dengan teman
9. Guru kreatif
10 | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
Kelebihan dari model pembelajaran CTL
a. Memberikan kesempatan pada sisiwa untuk dapat maju terus
sesuai dengan potensi yang dimiliki sisiwa sehingga sisiwa
terlibat aktif dalam PBM.
b. Siswa dapat berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan
data, memahami suatu isu dan memecahkan masalah dan
guru dapat lebih kreatif
c. Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka pelajari.
d. d. Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa tidak
ditentukan oleh guru.
e. Pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
f. Membantu siwa bekerja dengan efektif dalam kelompok.
g. Terbentuk sikap kerja sama yang baik antar individu maupun
kelompok.
Kelemahan dari model pembelajarab CTL
a. Dalam pemilihan informasi atau materi di kelas didasarkan
pada kebutuhan siswa padahal, dalam kelas itu tingkat
kemampuan siswanya berbeda-beda sehinnga guru akan
kesulitan dalam menetukan materi pelajaran karena tingkat
pencapaianya siswa tadi tidak sama
b. Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama
dalam PBM
c. Dalam proses pembelajaran dengan model CTL akan nampak
jelas antara siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan
siswa yang memiliki kemampuan kurang, yang kemudian
menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi siswa yang kurang
kemampuannya
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| 11
d. Bagi siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran
dengan CTL ini akan terus tertinggal dan sulit untuk mengejar
ketertinggalan, karena dalam model pembelajaran ini
kesuksesan siswa tergantung dari keaktifan dan usaha sendiri
jadi siswa yang dengan baik mengikuti setiap
pembelajaran dengan model ini tidak akan menunggu teman
yang tertinggal dan mengalami kesulitan.
e. Tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri
dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan
penggunaan model CTL ini.
f. Kemampuan setiap siswa berbeda-beda, dan siswa yang
memiliki kemampuan intelektual tinggi namun sulit untuk
mengapresiasikannya dalam bentuk lesan akan mengalami
kesulitan sebab CTL ini lebih mengembangkan
ketrampilan dan kemampuan soft skill daripada kemampuan
intelektualnya.
g. Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa akan berbeda-
beda dan tidak merata.
h. Peran guru tidak nampak terlalu penting lagi karena dalam
CTL ini peran guru hanya sebagai pengarah dan pembimbing,
karena lebih menuntut siswa untuk aktif dan berusaha sendiri
mencari informasi, mengamati fakta dan menemukan
pengetahuan-pengetahuan baru di lapangan
12 | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
PROBLEM BASED LEARNING
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH
Dalam pengimplementasian model pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) ada sejumlah kegiatan yang harus
dilakukan siswa, siswa tidak hanya mendengar, mencatat,
kemudian menghafal materi pelajaran, tetapi melalui model
Problem Based Learning (PBL) siswa menjadi aktif berpikir,
berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya
membuat kesimpulan.
Aktivitas pembelajaran dalam PBL diarahkan untuk
menyelesaikan masalah. Problem based learning ini
menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses
pembelajaran. Artinya tanpa masalah pembelajaran tidak akan
mungkin bisa berlangsung.
Pemecahan masalah menggunakan pendekatan berpikir secara
ilmiah. Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu
persoalan yang tidak rutin, belum dikenal cara penyelesaiannya.
Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara
penyelesaian (menemukan pola, aturan, atau algoritma).
Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Model
pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan
untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| 13
otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang
kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Kondisi yang tetap harus dipelihara adalah suasana kondusif,
terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan
menyenangkan agar siswa dapat berpikir optimal.
Indikator model pembelajaran ini adalah:
metakognitif
elaborasi (analisis)
interpretasi
induksi
identifikasi
investigasi
eksplorasi
sintesis
generalisasi,
inkuiri.
Langkah-langkah model Problem Based Learning (PBL)
1. Fase 1: Orientasi siswa pada masalah, Guru menjelaskan
tujuan pembelajaran, menjelaskan perlengkapan penting
yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada
aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.
2. Fase 2. Mengorganisasi siswa untuk belajar, Guru
membantu siswa mendefinisikan dan
14 | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan
dengan masalah tersebut.
PBL memiliki prinsip sebagai berikut:
Konsep Dasar (Basic Concept)
Pendefinisian Masalaah (DefiningtheProblem)
Pembelajaran Mandiri (Self Learning)
Pertukaran Pengetahuan (Exchange knowledge)
Penilaian (Assessment)
Tujuan Model Problem Based Learning
Tujuan dari pembelajaran Problem Based Learning, yaitu:
1. Untuk mendorong kerjasama penyelesaian tugas antar
siswa.
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| 15
2. Memiliki elemen-elemen belajar mengajar sehingga
mendorong tingkah laku pengamatan siswa dan dialog
dengan lainnya.
3. Melibatkan siswa dan menyelidiki pilihan sendiri yang
memungkinkan mereka memahami dan menjelaskan
fenomena dunia nyata.
4. Melibatkan ranah (kognitif, afektif, dan psikomotorik)
pada siswa secara seimbang sehingga hasilnya bisa lebih
lama diingat oleh siswa.
5. Dapat membangun optimisme siswa bahwa masalah
adalah sesuatu yang menarik untuk dipecahkan bukan
suatu yang harus dihindari.
Kelebihan Model Problem Based Learning (PBL)
Kelebihan dari model Problem Based Learning ini, yaitu:
1. Siswa lebih memahami konsep yang diajarkan sebab
mereka sendiri yang menemukan konsep tersebut.
2. Melibatkan secara aktif memecahkan masalah dan
menuntut keterampilan berpikir siswa yang lebih tinggi.
3. Pengetahuan tertanam berdasarkan skemata yang
dimiliki oleh siswa sehingga pembelajaran lebih
bermakna.
4. Siswa dapat merasakan manfaat dari pembelajaran sebab
masalah-masalah yang diselesaikan langsung dikaitkan
16 | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
dengan kehidupan nyata, hal ini dapat meningkatkan
motivasi dan ketertarikan siswa terhadap bahan yang
dipelajari.
5. Menjadikan siswa lebih mandiri dan dewasa, mampu
memberi aspirasi dan menerima pendapat dari orang
lain, menanamkan sikap sosial yang positif diantara
siswa.
6. Pengkondisian siswa dalam belajar kelompok yang
saling berinteraksi terhadap pembelajar dan temannya
sehingga pencapaian ketuntasan siswa dapat diharapkan.
Selain itu, Problem Based Learning (PBL) diyakini pula
dapat menumbuh kembangkan kemampuan kreativitas
siswa, baik secara individual maupun secara
berkelompok.
Kekurangan model Problem Based Learning (PBL)
Selain memiliki kelebihan, Problem Based Learning (PBL) juga
memiliki kekurangan diantaranya persiapan pembelajaran (alat,
problem, dan konsep) yang kompleks, sulitnya mencari
permasalahan yang relevan, sering terjadi mis konsepsi, dan
memerlukan waktu yang cukup Panjang.
Model pembelajaran ini mengajarkan pada siswa cara
memecahkan masalah dan memerlukan pengetahuan baru yang
harus dipelajari untuk memecahkan masalah yang ada.
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| 17
PAIKEM
Sebuah model pembelajaran terpadu yang sangat trend di era 90-
an ini memfokuskan diri pada pelaksanaan KBM yang aktif,
inovatif dan menyenangan. PAIKEM Sesuai dengan
kepanjangannya: Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif,
dan Menyenangkan.
Pembelajaran
Proses bertemunya antara guru dan siswa, siswa dan siswa,
untuk menambah ilmu pengetahuan sebagai bekal hidup di masa
depan.
Aktif
Dalam hal ini menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran
guru harus menciptakan suasana yang asyik dan menarik,
sehingga siswa aktif untuk bertanya, mempertanyakan dan
mengemukakan pendapatnya. Dalam prosess belajar tersebut,
siswa harus aktif membangun pengetahuannya.
Inovatif
Yang dimaksud ialah dalam proses pembelajaran diharapkan
muncul ide-ide, gagasan atau inovasi baru yang positif dan lebih
baik.
18 | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
Kreatif
Dalam setiap proses pembelajaran, guru harus mampu
menciptakan kegiatan yang bergam, tidak monoton serta mampu
membuat alat bantu atau media belajar yang sederhana yang
dapat memudahkan pemahaman siswa.
Efektif
Yakni selama proses pembelajaran berlangsung dalam
mewujudkan ketercapaian tujuan pembelajaran, siswa dapat
menguasai kompetensi serta keterampilan yang diharapkan.
Menyenangkan
Suasana belajar mengajar yang nyaman dan menyenangkan.
Siswa selaku subjek belajar tidak merasa takut, canggung dan
tertekan serta berani untuk mencoba.
Inti dari PAIKEM ini adalah menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan dan tujuan pembelajaran tercapai. Kini, konsep
PAIKEM diterapkan pada model-model pembelajaran lainnya,
seperti jigsaw, gallery walk, card sort, dll.
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| 19
PROBLEM POSING
Problem Posing adalah salah satu model pembelajaran yang
unik. Di sini siswa menyusun pertanyaan sendiri atau memecah
suatu soal menjadi pertanyaan-pertanyaan yang lebih sederhana
sehingga mengacu pada penyelesaian soal.
Problem posing sangat tepat digunakan dalam berlatih soal atau
latihan soal menjelang ujian sekolah. Problem posing di
dalamnya terdapat aktivitas pemecahan masalah melalui
elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-
bagian yang lebih simpel sehingga mudah dipahami.
Beda dengan model-model pembelajaran yang lain, Problem
posing menjadikan siswa belajar mandiri melalui pengajuan soal
dan pengerjaan soal tanpa bantuan guru.
Alurnya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi
kekeliruan, cari alternatif, menyusun soal-pertanyaan
Langkah-Langkah Model Pembelajaran Problem Posing dapat
dipraktikkan melalui dua cara, secara individu dan kelompok.
Cara pertama
1. Guru menjelaskan materi pelajaran kepada siswa.
2. Guru memberikan latihan soal secukupnya.
20 | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
3. Siswa diminta mengajukan 1 atau 2 soal yang menantang
beserta penyelesaiannya.
4. Pada pertemuan berikutnya, secara acak, guru meminta siswa
untuk menyajikan soal dan penyelesaiannnya di depan kelas.
Dalam hal ini, guru dapat menentukan siswa secara selektif
untuk mengerjakan soal dari temannya.
5. Guru memberikan tugas rumah secara individual.
Berdasarkan uraian di atas, langkah-langkah pembelajaran
matematika dengan model problem posing yang digunakan
dalam penelitian ini dapat dijabarkan dalam tabel di bawah
ini.
Cara kedua
1. Menyampaikan topik dan tujuan pembelajaran serta model
pembe- lajaran yang akan digunakan. Memperhatikan dan
memahami penjelasan guru.
2. Menyampaikan materi pelajaran. Memperhatikan penjelasan
guru dan terlibat aktif dalam pembelajaran.
3. Membagi kelas menjadi beberapa kelompok heterogen yang
masing- masing beranggotakan 4-5 orang. Menempatkan diri
pada kelompok masig-masing.
4. Memberikan latihan soal secukup- nya yang dikerjakan
secara ber- kelompok. Berdiskusi untuk mengerjakan soal
yang diberikan oleh guru secara berkelompok.
5. Memberikan kesempatan kepada beberapa kelompok secara
selektif untuk mengerjakan soal di depan kelas. Perwakilan
kelompok mengerjakan soal di depan kelas dan siswa lain
memperhatikan.
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| 21
6. Memberikan contoh cara membuat soal. Memperhatikan
contoh soal yang diberikan guru.
7. Memberikan kesempatan kepada masing-masing kelompok
untuk menyusun soal yang menantang beserta
penyelesaiaannya dari situasi yang diberikan. Menyusun soal
beserta penyele- saiaannya dari situasi yang diberikan
8. Memberi kesempatan kepada perwa- kilan kelompok untuk
mempresen- tasikan soal beserta penyelesaiannya yang telah
dibuat di depan kelas. Perwakilan kelompok mempresen-
tasikan hasil kerjanya di depan kelas dan siswa lain
memperhatikan.
9. Memberi kesempatan kepada kelompok menanggapi hasil
presentasi kelompok lain untuk menanggapi hasil presentasi.
kelompok lain.
10. Mengajak siswa membuat kesim- pulan tentang materi yang
telah dipelajari. Menarik kesimpulan tentang materi yang
telah dipelajari.
22 | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
EVERYONE IS TEACHER
Model pembelajaran yang satu ini lebih mengarah pada strategi
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Strategi
pembelajaran everyone is a teacher here yaitu:
1. Pembelajaran berpusat pada siswa
2. Siswa menemukan bukan menerima pembelajaran
3. Sangat menyenangkan dan mengoptimalkan potensi siswa.
Everyone is a teacher here memberikan kesempatan kepada
siswa untuk berperan sebagai guru bagi kawan-kawannya, yang
dimaksud disini sebagai pengajar siswa akan diminta oleh guru
untuk membuat pertanyaan pada sebuah kertas kemudian kertas
ditukar kepada temannya, kemudian temannya akan menjawab
pertanyaan dalam kertas tersebut.
Langkah-langkah penerapannya sebagai berikut:
Bagikan kertas, mintalah siswa untuk menuliskan
pertanyaannya tentang materi yang dipelajari.
Kumpulkan kertas tersebut, dikocok dan dibagikan kembali
secara acak kepada masing-masing siswa dan usahakan
pertanyaan tidak kembali kepada yang menulisnya.
Undang salah satu dari mereka untuk membacakan
pertanyaan dan jawabannya, kemudian mintalah kepada
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| 23
teman sekelasnya untuk berkomentar dan melengkapi
jawabannya.
Kembangkan diskusi secara lebih lanjut dengan cara siswa
bergantian membacakan pertanyaan di tangan masing-
masing sesuai waktu yang tersedia.
Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi, dan tindak lanjut.
manfaat penerapan strategi pembelajaran aktif everyone is a
teacher here adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan partisipasi kelas baik keseluruhan dan
individu
2. Mengaktifkan peserta didik.
3. Membangkitkan respon siswa.
Kelebihan dan Kelemahan Strategi Everyone Is A Teacher Here
1. Materi dapat diingat lebih lama.
2. Mendukung dan meningkatkan proses pembelajaran.
3. Dapat mengetahui mana siswa yang belajar dan tidak
belajar.
Terdapat Kelemahan-kelemahan pada penerapan strategi
pembelajaran everyone is a teacher here dalam meliputi yaitu:
1. Pertanyaan yang diajukan siswa tidak sesuai dengan
tujuan pembelajaran.
2. Membutuhkan waktu yang lama untuk menghabiskan
semua pertayaan untuk kelas besar.
3. Siswa tidak mampu menjawab pertanyaan
24 | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
Terdapat Kelemahan-kelemahan pada penerapan strategi
pembelajaran everyone is a teacher here dalam meliputi yaitu:
1. Pertanyaan yang diajukan siswa tidak sesuai dengan
tujuan pembelajaran.
2. Membutuhkan waktu yang lama untuk menghabiskan
semua pertayaan untuk kelas besar.
3. Siswa tidak mampu menjawab pertanyaan
Namun kelemahan tersebut bukanlah masalah yang berarti
dalam penerapan strategi pembelajaran everyone is a teacher
here sebab permasalahan tersebut dapat diatasi melalui:
1. Untuk pertanyaan yang tidak sesuai dengan tujuan
pembelajaran maka guru perlu memberikan penjelasan
materi di awal agar soal yang dibuat siswa tidak
menyimpang dari tujuan pembelajaran.
2. Untuk kelas besar, maka guru dapat membentuknya jadi
beberapa kelompok disesuaikan dengan jumlah siswa
dalam kelas tersebut. sehingga dalam menjawab
pertanyaan guru dapat melalui perwakilan kelompok
yang ditunjuk guru, namun setiap siswa tetap
bertanggung jawab dalam membuat soal.
3. Siswa diperbolehkan mendiskusikan jawaban bersama
kelompoknya.
Melalui penerapan strategi ini siswa akan lebih mudah
menguasai materi pembelajaran yang disampaikan. Karena
dalam strategi ini, siswa bertindak sebagai sumber informasi,
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| 25
pengolah informasi dan pemberi saran. Dengan kata lain melalui
penerapan strategi pembelajaran everyone is a teacher
here mampu yaitu:
1. Melatih siswa berpikir kritis melalui kegiatan membuat
pertanyaan
2. Berani mengemukakan pendapat kegiatan menambah
jawaban teman.
3. Dan juga mampu menumbuhkan karakter siswa untuk
bertanggung jawab terhadap kewajibannya sebagai seorang
pelajar.
Dengan bermain peran, siswa sebagai guru untuk siswa lainnya,
menjadikan siswa belajar dengan aktif, siswa membuat satu
pertanyaan pada kartu soal terkait materi yang baru saja dibahas
siswa bersama guru. Disinilah terjadi tanya jawab antara
pembuat pertanyaan dengan siswa yang bertugas menjawab
pertanyaan, kemudian dilakukan secara bergilir dengan arahan
guru.
26 | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
THE POWER OF TWO AND FOUR
The Power of Two and Four (Menggabung 2 dan 4 kekuatan)
adalah model active learning yang kegiatannya untuk
meningkatkan belajar kolaboratif dan mendorong kepentingan
dari keuntungan sinergi itu, karenanya dua kepala lebih baik dari
pada satu. Implementasi model the power of two terdapat
prosedur untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal.
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Berikan permasalahan yang berkaitan dengan materi,
mintalah kepada siswa untuk mengerjakan secara
perorangan.
Siswa diminta berpasangan-pasangan untuk
mendiskusikan jawabannya kembali, dan sepakati
bersama hasilnya yang baru.
Siswa diminta bergabung setiap dua pasang menjadi satu
kelompok, diskusikan kembali dan sepakati bersama
hasilnya yang baru.
Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi, dan tindak
lanjut.
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| 27
INDEX CARD MATCH
Index Card Match (Mencari pasangan kartu yang sesuai)
Model pembelajaran aktif tipe index card match (ICM) adalah
metode atau cara belajar siswa yang dikembangkan untuk
menjadikan siswa aktif mempertanyakan gagasan diri sendiri
atau gagasan orang lain dengan cara mengulangi materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya melalui teknik
mencari pasangan kartu yang merupakan soal atau jawaban.
Ini merupakan model pembelajaran berkelompok (Learning
Community) dengan tujuan untuk membangkitkan semangat
siswa dengan mengikutsertakan peserta didik ikut berpartisipasi
dalam proses pembelajaran.
Model pembelajaran kooperatif tipe index card match
berhubungan dengan cara–cara untuk mengingat kembali materi
yang sudah diajarkan sebelumnya, menguji pengetahuan serta
kemampuan mereka saat ini dengan teknik mencari pasangan
kartu yang merupakan jawaban atau soal sambil belajar
mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana
menyenangkan.
Beberapa aktivitas belajar siswa pada model pembelajaran aktif
tipe index card match seperti, bertanya, menjawab pertanyaan,
memperhatikan, mendengarkan uraian, bergerak mencari
pasangan kartu, memecahkan soal dan bersemangat yang akan
dilakukan oleh siswa. Konsep bermain sambil belajar yang
28 | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL
terdapat dalam metode ini membuat pembelajaran tidak
membosankan.
Prinsip-prinsip yang digunakan dalam model pembelajaran aktif
tipe index card match adalah sebagai berikut:
1. Memahami sifat peserta didik. Pada dasarnya peserta didik
memiliki sifat rasa ingin tahu atau berimajinasi. Kedua sifat
ini merupakan dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir
krisis dan kreatif. Untuk itu kegiatan pembelajaran harus
dirancang menjadi lahan yang subur bagi berkembangan
kedua sifat tersebut.
2. Mengenal peserta didik secara perorangan. Peserta didik
berasal dari latar belakang dan kemampuan yang berbeda.
Perbedaan individu harus diperhatikan dan garis tercermin
dalam pembelajaran. Semua peserta didik dalam kelas tidak
harus selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan
berbeda dengan kecepatan belajarnya. Peserta didik yang
memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk
membantu temannya yang lemah (tutor sebaya).
3. Memanfaatkan perilaku peserta didik dalam berorganisasi
belajar. Peserta didik selain alami bermain secara
berpasangan atau kelompok. Perilaku yang demikian dapat
dimanfaatkan oleh guru dalam pengorganisasian kelas.
Dengan berkelompok akan mempermudah mereka untuk
berinteraksi atau bertukar pikiran.
4. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif
mampu memecahkan masalah. Pada dasarnya hidup adalah
memecahkan masalah, untuk itu peserta didik perlu dibekali
MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL| 29
kemampuan berpikir kritis dan kreatif untuk menganalisis
masalah, dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan
masalah, dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan
masalah. Jenis pemikiran tersebut sudah ada sejak lahir, guru
diharapkan dapat mengembangkannya.
5. Menciptakan ruangan kelas sebagai lingkungan belajar yang
menarik. Ruangan kelas yang menarik sangat disarankan
dalam index card match. Hasil pekerjaan peserta didik
sebaiknya dipajang di dalam kelas, karena dapat memotivasi
peserta didik untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan
inspirasi bagai peserta didik yang lain. Selain itu pajangan
dapat juga dijadikan bahan ketika membahas materi pelajaran
yang lain.
6. Memanfaatkan ruangan kelas sebagai lingkungan belajar
yang menarik. Ruangan kelas yang menarik sangat
disarankan dalam kelas, karena dapat memotivasi peserta
didik untuk bekerja lebih dan menimbulkan inspirasi bagi
peserta didik yang lain.
7. Memanfaatkan lingkungan sebagai lingkungan belajar.
Lingkungan (fisik, sosial, budaya) merupakan sumber yang
sangat kaya untuk bahan belajar peserta didik. Lingkungan
dapat berfungsi sebagai media belajar serta objek belajar
peserta didik.
8. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan
kegiatan. Pemberian umpan balik dari guru kepada peserta
didik merupakan suatu interaksi antar guru dengan peserta
didik. Umpan balik hendaknya lebih mengungkapkan
kekuatan dan kelebihan peserta didik dari pada
kelemahannya. Umpan balik juga harus dilakukan secara
30 | MODEL PEMBELAJARAN DIGITAL DI ERA MILENIAL