M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 38 Penelitian Kualitatif Dalam bentuk yang sederhana dapat dilihat dalamcontoh berikut ini: Aspek Penelitian Topik Hulu Hilir Pendidikan Manajemen - Perencanaan - Pelaksanaan - Pengorganisasian - Pengawasan, dst. Pendidikan Kurikulum - Implementasi kurikulim 2013 - Kurikukulum berbasis ICT - Kurikulum berbasis lokal - Kurikulum PAI, dst. Demikian pula dengan aspek penelitian yang lain Semakin banyak aspek dan topik dapat dipetakan, maka semakin besar bagi calon peneliti untuk mendapatkan kriteria topik yang layak untuk ditentukan dalam penelitiannya. B. Identifikasi Masalah 1. Definisi Identifikasi Masalah Setelah topik ditentukan, selanjutnya adalah identifikasi masalah. Peneliti berusaha menemukan permasalahan- permasalahan yang mungkin muncul dalam topik yang telah ditentukan. Tanpa identifikasi masalah, maka proses penelitian akan mengalami kebimbangan. Sebab masalah-masalah itulah yang akan mengarahkan peneliti mengenai data apa, bagaimana mengumpulkan dan menganalisisnya.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 39 Pada dasarnya suatu penelitian berawal dari masalah yang dihadapi, sehingga memubutuhkan solusi pemecahan atau jalan keluar. Namun dalam praktiknya, kadang-kadang peneliti pemula lebih memikirkan judul yang hendak dirumuskan ketimbang menemukan masalah. Padahal dapat diyakini bahwa judul akan demikian mudah dibuat manakala topiknya dan masalahnya sudah terdeteksi. Jadi pada dasarnya rumusan judul yang hendak dibuat bersumber dari masalah yang dapat diidentifikasi melalui membaca literatur, merenungkan peng- alaman pribadi, menghadiri seminar ilmiah, membaca hasil atau laporan penelitian dan sebagainya. Lalu apakah yang dimaksud dengan “identifikasi masalah”?. Identifikasi berasal dari bahasa Inggris identification. Dalam kamus Oxford (1995) kata identification diterjemahkan act of identifying yang berarti tindakan mengenal atau proof of who or what yang berarti membuktikan siapa atau apa. Jadi identifikasi adalah usaha mengenali atau mem- buktikan sesuatu. Dalam KBBI (2008) identifikasi diterjemah- kan sebagai perbuatan menetapkan identitas seorang benda. Adapun masalah penelitian atau problem research oleh Frankfort Nachmias dan Nachmias sebagaimana yang dikutip McNabb (2010) mendefinisikan masalah penelitian sebagai “an intellectual stimulus calling for a response in the form of scientific inquiry”. – Stimulus intelektual yang meminta respon dalam bentuk penelitian ilmiah. Definisi senada juga diutarakan oleh Creswell (2008), yang penekanan- nya lebih kepada pendidikan. Namun tidak sama sekali merubah substansi dari definisi “masalah” itu sendiri. Ia me- nyatakan “Research problems are the educational issues, controversies, or concerns that guide the need for conducting a study.” – Isu-isu pendidikan, kontroversi dalam pendidikan, atau masalah-masalah yang memandu kebutuhan untuk me-
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 40 Penelitian Kualitatif lakukan studi (penelitian). Menurut Afifuddin dan Saebani (2012) masalah adalah sesuatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan. Jika demikian, masalah dalam penelitian bukanlah seperti masalah yang biasa dibayangkan semacam musibah atau malapeta, namun lebih kepada pendorong atau perangsang akademik yang menuntut jawaban dalam bentuk penelitian ilmiah. Atau barangkali tepat jika “masalah” dalam penelitian disebut dengan istilah “kegelisahan intelektual” atau “ke- galauan akademik” yang membutuhkan “jawaban akademis” pula melalui serangkaian kegiatan penelitian ilmiah. Di samping itu, masalah penelitian juga dapat di- pahami sebagai penyimpangan dari apa yang seharusnya dengan apa yang terjadi; Penyimpangan antara teori dengan praktik, penyimpangan antara perencanaan dengan pelaksana- an, dan penyimpangan pengalaman masa lampau dengan masa sekarang (Sugiyono, 2013). Jadi masalah adalah fakta atau realita yang tidak sesuai dengan kaedah, teori, kebijakan, aturan, norma, rencana, pengalaman lalu dan sebagainya. Contoh kecilnya dapat diilustrasikan dalam kalimat cerita pendek berikut: (1) Sebuah teori mengatakan “A” namun kenyataan yang dipraktikkan adalah “B, C, D, E, F dan seterusnya”. Keadaan ini merupakan “masalah” karena tidak sesuai dengan teori; (2) Seluruh PNS direncanakan mulai masuk kerja tanggal 19 Agustus, namun kenyataannya banyak yang tidak masuk bekerja pada tanggal tersebut. Ini juga merupakan masalah karena tidak sesuai dengan rencana; (3) Tempo dulu sebelum listrik masuk kampung, anak-anak gemar sekali mengaji setelah magrib, tapi sekarang, ketika listrik telah masuk kampung, kegemaran itu hilang. Ini pun adalah masalah karena pengalaman sekarang tidak sama dengan pengalaman
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 41 masa silam; (4) Aturan lalu lintas mengharuskan pengendara sepeda motor wajib menggunakan helm, namun banyak pengendara yang tidak menggunakan helm saat bekendaraan. Hal ini termasuk masalah juga karena tidak sesuai dengan aturan. Demikian dan seterusnya. Ilustrasi Masalah Penelitian 2. Kriteria Masalah yang Baik Sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dalam ruang sosial, agama, budaya, politik, pendidikan, ekonomi, kesehatan dan sebagainya, tentunya manusia memiliki banyak masalah, sehingga masalah “sebenarnya” dengan mudah dapat diidentifikasi. Walau mudah ditemukan, namun dalam proses peHARAPAN KENYATAAN
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 42 Penelitian Kualitatif milihan masalah sangat sulit untuk dilanjutkan ke level penelitian. Lebih-lebih jika kita menemukan atau ditawarkan masalah penelitian yang beragam, sehingga dengan sendirinya kita menjadi bingung. Dalam kondisi yang demikian maka perlu memiliki dasar pertimbangan mengenai masalah penelitian yang hendak dipilih, karena salah, keliru atau kurang pertimbangan dalammemilih masalah akan berakibat pada kelancaran penelitian. Bahkan boleh jadi penelitian akan terputus di tengah jalan. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus dijadikan pertimbangan dalam memilih dan menentukan masalah pe- nelitian yaitu sebagai berikut: a. Masalah harus memiliki nilai yang mencakup: pertama, nilai keaslian yaitu bukan tiruan dan sudah banyak diteliti. Sehingga diharapkan yang up to date; kedua, masalah harus menyatakan suatu hubungan, ketiga, masalah harus merupakan hal yang penting; keempat, masalah harus dapat diuji; dan kelima, masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan. b. Data harus fisibel yang meliputi: pertama, data dan metode penelitian benar-benar tersedia; kedua, biaya untuk me- mecahkan masalah secara relatif harus dalam batas-batas kemampuan; ketiga, waktu untuk memecahkan masalah harus wajar; keempat, biaya dan hasil harus seimbang; kelima, administrasi dan sponsor yang kuat; dan keenam, tidak betentangan dengan hukum dan adat. c. Masalah harus sesuai dengan kualifikasi peneliti yang meliputi: pertama menarik bagi peneliti; dan kedua cocok dengan kualifikasi ilmiah si peneliti (Nazir, 2005).
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 43 3. Cara Praktis Identifikasi Masalah Penelitian Ada banyak cara untuk menemukan masalah penelitian, namun secara praktis dapat dipoinkan sebagai berikut: Pertama Amati kegiatan masyarakat di sekitar Anda! Kedua Bacalah literatur sesuai dengan kualifikasi dan minat Anda! Ketiga Ulang dan perluas penelitian sebelumnya, jika Anda pernah melakukan penelitian! Keempat Lihat kembali catatan pribadi Anda dan pikir- kan! Kelima Serap keinginan masyarakat di sekitar Anda! Keenam Pikirkan materi yang Anda sedang pelajari! Ketujuh Hadiri seminar-seminar ilmiah! Kedelapan Mintalah saran dari dosen, teman, peneliti senior dan sponsor Anda (jika ada)! Kesembilan Renungkan pengalaman pribadi dan profesi Anda! Kesepuluh Lihat atau baca berita di media massa! Cara-cara di atas merupakan cara alternatif manakala peneliti tidak menemukan masalah dengan satu cara. Dengan demikian peneliti dapat mencoba cara yang lainnya. Untuk memudahkan hal tersebut hendaklah diiringi dengan doa, karena salah satu sumber penemuan ilham, termasuk di dalam- nya proses menemukan “kegelisahan akademik” (masalah penelitian) adalah intuisi. Intuisi akan bekerja maksimal bilamana hati dalam keadaan tenang dan tentram, dan keadaan tersebut tiada lain hanya diperoleh dengan berdo’a kepada- Nya.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 44 Penelitian Kualitatif 4. Model-Model Identifikasi Masalah Agar identifikasi masalah yang dilakukan efektif, ada tiga model identifikasi masalah yang dapat diterapkan. Ketiga model tersebut diadaptasi dari laman staff.uny.ac.id (diunduh 11/03/2014 pukul 17.30) sebagai berikut: a. Model system-elements Misalnya seorang peneliti hendak mengangkat masalah “Analisis Kesiapan Guru Menghadapi Kurikulum2013” an element Kurikulum (a system) Silabus Buku Paket Sumber daya/guru Sarana prasarana RPP Sumber daya/guru Siswa
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 45 b. Model view-points Dalam menggunakan model ini peneliti memaparkan point-point penting berupa sudut pandang dari masalah yang diteliti. Contohnya, seorang peneliti ingin mengidentifikasi masalah “fenomena banjir setiap tahun”, maka peneliti dapat membuat skema model view-points sebagai berikut: agama kesehatan sosial moral budaya psikologi c. Model kombinasi Dalam hal ini peneliti mengkombinasikan di antara dua sudut pandang atau lebih. Contohnya, seorang peneliti hendak menganalisis karya sastra, misalnya nilai moral (moral values) dalam novel Ketika Cinta Bertasbih, maka peneliti dapat membuat peta identifikasi masalah dalam model kombinasi sebagai berikut: Fenomena membuang sampah sembarangan
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 46 Penelitian Kualitatif Unsur instrinsik meliputi: -tema, penokohan, setting sosial dll. Unsur ekstrinsik meliputi: nilai islami, nilai budaya/adat istiadat, kebaktian kepada orang tua, dll. 5. Contoh Identifikasi Masalah Setelah peneliti mengidentifikasi masalah dengan salah satu model dari ketiga model di atas, maka langkah berikutnya adalah mendeskripsikannya. Berikut ini akan di- sajikan contoh hasil identifikasi masalah yang didapatkan dari hasil observasi atau survei awal: Novel
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 47 Masalah: Peran Komite Madrasah di MI. Nurul Karomah Sekotong Timur Lombok Barat Sejak diberlakukan kebijakan disentralisasi di bidang pendidikan, peran Komite Sekolah/Madrasah semakin di- harapkan untuk bersinergi dengan pihak sekolah/madrasah untuk membangun mutu pendidikan. Namun kenyataannya tidak sedikit sekolah/madrasah yang telah membentuk Komite Sekolah sampai dengan saat ini memiliki mutu pendidikan yang tergolong rendah, termasuk di antaranya adalah MI. Nurul Karomah Sekotong. Dalam hal ini ada sejumlah masalah yang mungkin muncul yaitu: 1. Apakah komite sekolah/madrasah telah berperan baik dalam meningkatkan mutu pendidikan? 2. Apakah pihak sekolah memberikan peran khusus kepada komite sekolah/madrasah? 3. Apakah peran yang diberikan pihak sekolah/madrasah dapat meningkatkan mutu pendidikan? 4. Bagaimana peran komite sekolah/madrasah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan? 5. Apakah bentuk kerja sama yang dilakukan pihak sekolah/madrasah dengan komite sekolah/madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan? 6. Apakah kendala yang dihadapi oleh komite sekolah atau madrasah dalam menigkatkan mutu pendidikan? 7. Apa solusi yang diupayakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi? 8. Mengapa komite diperlukan peran sertanya? 9. Apa perbedaan peran antara komite sekolah/madrasah dengan BP3? 10. Dan seterusnya.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 48 Penelitian Kualitatif C. Merumuskan Judul 1. Kriteria Judul Penelitian Syahrin Harahap (2011) mendefiniskan judul sebagai nama yang diberikan untuk pokok bahasan. Sedangkan Mayshuri dan Zainuddin (2009) mengatakan bahwa judul merupakan rangkaian kata-kata yang bisa berubah-ubah menurut kepentingan peneliti, asal mengubahnya tidak keluar dari substansi topik penelitian. Maka judul penelitian kualitatif dalam proposal pada dasarnya bersifat tentatif atau sementara sehingga dalam penelitian judul dapat berubah sesuai dinamika masalah di lapangan, sedangkan definitifnya setelah laporan ditulis. Bahkan Sugiyono (2013) menegaskan bahwa judul laporan penelitian kualitatif yang baik justru berubah, atau mungkin diganti. Ia beralasan bahwa judul penelitian kualitatif yang tidak berubah berarti peneliti belum mampu menjelajah secara mendalam terhadap situasi sosial yang diteliti, sehingga belum mampu mengembangkan pemahaman yang luas dan mendalam terhadap situasi sosial yang diteliti. Judul sebagai bagian terpenting dari penelitian, yang menggambarkan secara global mengenai fenomena atau masalah yang sedang diteliti. Judul sebagai muka depan sebuah penelitian, menjadi pertimbangan pembaca untuk tertarik atau tidak untuk membacanya. Terrie Nolinske (2013) dalam situs resmi “American Academy of Orthotist and Prosthetists” mengutip pendapat Portney LG. yang mengatakan bahwa kekuatan judul tidak dapat diremehkan. Judul dapat membujuk dan melibatkan seseorang untuk membaca abstrak dan, bagian- bagian penelitian selanjutnya. Oleh karena itu, judul harus bersifat informatif tanpa berbelit-belit atau bertele-tele. Juga, judul harus dirumuskan dengan baik dan benar dari kata-kata kunci (key words) keseluruhan uraian, serta dapat merangsang perhatian dan minat orang lain untuk membacanya.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 49 Di samping kriteria di atas, Nolinske mengatakan bahwa judul proposal penelitian harus ringkas namun cukup untuk memberikan pembaca gambaran tentang sampel dan variabel yang terlibat dalam penelitian panjang. Ringkasnya judul penelitian dalam arti tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek. Menurut Haryanto dkk. (2000) bahwa panjang maksimum sebuah judul penelitian berkisar 10 hingga 15 kata. Sedangakan menurut Masyhuri dan Zainuddin (2009), judul penelitian berkisar 6 hingga 12 kata. Lebih lanjut mereka berdua menyarankan; apabila sebuah judul yang disusun melebihi 12 kata, disarankan agar dibuat menjadi judul dan anak judul. Jadi dapat disimpulkan bahwa kriteria judul yang baik adalah judul yang menarik, relevan dengan topik, men- cakup atau menggambarkan keseluruhan isi tulisan, informatif dan ringkas. a) Menarik Pada dasarnya menarik atau tidaknya sebuah judul tergantung dari orang yang membaca. Jika ia peminat sastra, maka tentu judul yang menarik baginya adalah yang puitis. Namun jika orang itu peminat karya ilmiah, ilmuwan, atau peneliti (researcher) semisal dosen, guru, dan mahasiswa, judul yang menarik bagi mereka adalah yang ilmiah. Oleh karena itu untuk merangsang minat mereka terhadap judul yang dibuat, sudah seharusnya judul penelitian dibuat dengan bahasa yang ilmiah lagi benar. Di samping itu, judul penelitian yang menarik juga dilihat dari substansinya. Apakah judul yang diangkat tersebut tergolong aktual atau expired (kadaluarsa), apakah judul tersebut sering diangkat ataukah tidak. Apakah judul tersebut urgen untuk diteliti. Bila judul penelitiannya aktual lebih-lebih pertama kali diangkat, tentu akan lebih menarik untuk dibaca
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 50 Penelitian Kualitatif dan dijadikan refrensi. Namun jika sebaliknya, judul tersebut seringkali diangkat dan temanya juga sudah kadaluarsa, sangat sulit untuk menarik minat pembaca. Maka tidaklah heran kadang-kadang penguji proposal penelitian semisal skripsi, merevisi total, menolak bahkan melempar proposal tersebut karena sudah sering diangkat dan expired serta tidak mampu dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Terlebih saat ini sudah banyak ditemukan judul penelitian yang persis mirip, hanya diganti objek, lokasi penelitian dan waktunya saja sehingga hasilnya pun mirip atau bahkan sama. Judul yang demikian diyakini tidak akan menarik minat untuk ditelaah, atau boleh jadi akan dicela. b) Relevan dengan topik Dalam merumuskan judul penelitian, peneliti harus melihat relevansi antara topik dan judul. Keduanya laksana sepatu dan kaki yang harus sejalan. Jika topik penelitian tentang kurikulum, tentu judulnya pun harus dalam ranah pembahasan kurikulum. Tidaklah matching bila topiknya pembelajaran namun judulnya memuat tentang kebudayaan. Tidak tepat jika topiknya mutu pendidikan namun judulnya memuat manajemen rumah sakit, atau topiknya pendidikan karakter namun judulnya berisi hal-hal yang berkaitan dengan komunikasi. Demikian seterusnya. c) Informatif Judul yang informatif adalah judul yang dapat mem- berikan informasi mengenai tema dan isi sebuah karya ilmiah. Judul yang informatif dalam karya ilmiah biasanya memuat objek, subjek dan site (tempat) penelitian jika merupakan penelitian lapangan, dan kadang-kadang mencantumkan tahun. Oleh karena itu peneliti harus mencantumkan dalam penelitian
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 51 ilmiahnya secara jelas mengenai apa objek dan siapa subjek penelitian, serta di mana dan kapan dilakukan penelitian itu. d) Mencakup seluruh isi tulisan Judul merupakan wajah tulisan yang menggambarkan secara umum mengenai isi tulisan. Baik tidaknya judul pe- nelitian juga ditentukan oleh ketercakupan judul terhadap apa yang dibahas. Hal ini dimaksudkan agar orang yang ingin membaca atau menelaah proposal atau laporan penelitian, mendapatkan informasi awal tenatang isi buku walaupun secara global. Dan judul penelitian seperti inilah yang di- katakan sebagai judul yang informatif. e) Tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek Judul penelitian yang baik adalah judul yang mudah dipahami oleh pembacanya. Judul yang mudah dipahami tentunya yang ringkas, padat dan jelas. Namun perlu diketahui bahwa judul yang pendek dalam perspektif penelitian/karya ilmiah berbeda dengan tulisan-tulisan biasa semisal opini, cerpen, puisi dan sebagainya. Biasanya judul karya ilmiah semisal skripsi, tesis dan disertasi berkisar antara 10 – 14 kata. 2. Komposisi Judul Penelitian Kualitatif Pada dasarnya komposisi judul penelitian kualitatif dan kuantitatif adalah sama. Menurut Arikunto (2010) judul penelitian memuat enam unsur yaitu: 1) Sifat dan jenis penelitian (biasanya ditentukan dengan kata operasionalnya, semisal kata; peran, analisis, studi kom- parasi, persepsi dan sebagainya) 2) Objek yang diteliti (fenomena yang diteliti) 3) Subjek penelitian (informan atau narasumber)
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 52 Penelitian Kualitatif 4) Lokasi atau daerah penelitian (tempat dilaksanakan pe- nelitian) 5) Tahun, atau tahun akademik (waktu penelitian) Contohnya: 1) “Peran Guru Kelas dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas V MI. NW Selaparang Kediri Tahun Pelajaran 2012/2013” Peran : Jenis penelitian deskriptif Guru kelas : Subjek penelitian Minat belajar siswa : Objek penelitian MI. NW Selaparang Kediri : Lokasi penelitian Tahun pelajaran 2013/2014 : Waktu penelitian 2) “Respon Mahasiswa Fakutas Tarbiyah Terhadap Kinerja Dosen Fakultas Tarbiyah di IAIN Mataram Tahun Akademik 2012/2013” Respon : Jenis penelitian deskripsif Mahasiswa : Subjek penelitian Kinerja dosen Fakultas Tarbiyah : Objek penelitian IAIN Mataram : Lokasi penelitian Tahun akademik 2012/2013 : Waktu penelitian 3) “Analisis Metode Mengajar Guru Matematika di SMA NWKediri Tahun Pelajaran 2010/2011” Analisis : Jenis penelitian analisis- deskriptif Matode mengajar : Objek Guru matematika : Subjek SMA NW Kediri : Lokasi penelitian Tahun pelajaran 2010/2011 : Waktu penelitian
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 53 Bagian 4 LATAR BELAKANG, FOKUS, RUMUSAN MASALAH, TUJUAN PENELITIAN, MANFAAT PENELITIAN, DAN PENELITIAN YANG RELEVANA. Latar Belakang Masalah 1. Komposisi Latar Belakang Masalah (LBM) Latar belakang masalah, setidaknya dari segi namanya dapat dipahami sebagai bagian dari proposal yang men- deskripsikan situasi dan kondisi objek penelitian serta alasan rasional, argumen dan teori ilmiah yang mendasari mengapa masalah yang diangkat dalam proposal itu layak untuk diteliti secara akademik. Latar belakang masalah kadang-kadang di- sebut juga “Latar Belakang” saja. Atau dalam penelitian pustaka diistilahkan “Konteks Masalah”. Secara umum dalam latar belakang masalah, calon peneliti benar-benar harus mengeksplor hal-hal berikut ini: (1) Situasi, kondisi, fenomena, objek penelitian berdasarkan survei awal sehingga menarik untuk diteliti; (2) Data empirik me- ngenai fakta yang tidak sesuai dengan harapan; (3) Alasan pentingnya permasalahan yang diangkat, yang dapat ditinjau dari perspektif sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, agama, dakwah, kesehatan psikologi dan sebagainya. Juga, jika pe- nelitian tersebut merupakan penelitian kualitatif lapangan
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 54 Penelitian Kualitatif (field research), peneliti harus mendeskripsikan secara umummengenai tempat penelitiannya. Masyhuri dan Zainuddin (2009) secara rinci merekomendasikan dua pokok komposisi latar belakang masalah yaitu: a. Analisis situasi (empirik) yang meliputi: 1) Menggambarkan potret atau profil kondisi wilayah, lokasi penelitian. 2) Menggambarkan keadaan obyek sasaran yang akan diteliti. 3) Menggambarkan potensi keunggulan lokasi yang diteliti. 4) Menggambarkan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya lokasi yang diteliti. 5) Menggambarkan lingkungan yang relevan dengan per- masalahan yang akan diteliti atau lainnya yang dianggap perlu untuk diinformasikan berkaitan dengan permasalahan penelitian. Analisis empirik tersebut merupakan hasil dari survei awal peneliti. Di mana ia mengamati, memperhatikan dan membuat field note (catatan lapangan) mengenai fenomena, kejadian, dan kegiatan serta keadaan lokasi, tempat, instansi, ataupun orang yang akan dijadikan objek dalam penelitiannya. Kemudian catatan lapangan tersebut dianalisis dan diramu menjadi konsep empirik, tanpa diada-adakan, tanpa dilebihlebihkan dan tanpa dikurangkan sedikit pun. Konsep empirik inilah yang dituangkan dalam latar belakang masalah, dengan tujuan untuk meyakinkan pembaca bahwa memang masalah yang diteliti adalah fakta empirik yang terjadi di lapangan yang sangat urgen untuk diteliti. Oleh karena itu tanpa survei awal, latar belakang masalah akan sulit dideskripsikan secara empirik. Demikian pula dengan tahapan-tahapan penelitian berikutnya sangat ditentukan dengan kemampuan calon peneliti menyerap informasi dan data pada saat survei awal.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 55 b) Analisis teori, yakni analisis pemikiran yang mendasari penelitian atau dasar pemikiran. 1) Menjelaskan jawaban keingintahuan peneliti atas suatu masalah. 2) Mengungkapkan suatu gejala, tanda-tanda yang dapat dilihat dan dirasakan. 3) Mengungkapkan konsep (dari hasil analisis teori) 4) Mengungkapkan dugaan pada permasalahan yang akan diteliti. 5) Menerapkan dugaan tersebut pada suatu tujuan tertentu. 6) Mengemukakan hal-hal yang mendorong dalam melakukan penelitian. 7) Mengemukakan argumentasi penting dalam melakukan penelitian. 8) Memadukan hasil penelitian terdahulu yang telah diteliti. Analisis teori dalam latar belakang masalah merupakan hasil dari me-review literatur atau menelaah kembali bahan-bahan bacaan berupa buku, jurnal, inseklopedi, hasil penelitian ilmiah dan sebagainya, yang relevan mengenai masalah yang akan diangkat. Sehingga dari review tersebut dapat diperoleh informasi berupa teori dan data yang kemudian dipaparkan dalam latar belakang masalah dengan maksud untuk meyakinkan pembaca bahwa apa yang hendak diteliti memiliki dasar teori untuk dijawab. Perlu diingat bahwa tidak semua informasi dan data yang diinginkan tersedia baik dalam survei awal maupun dalamreview literatur. Atau semua data dan informasinya tersedia tetapi menjadi terbatas dengan kemampuan yang dimiliki calon peneliti. Namun secara substansial, yang diharapkan dalamlatar belakang masalah ini adalah kemampuan calon peneliti mendeskripsikan situasi, fenomena dan gejala yang diperoleh dari survei awal dengan baik dan mampu memaparkan
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 56 Penelitian Kualitatif konsepsi analisis teori yang didapatkan dari hasil membaca literatur dengan apik, sehingga latar belakang menjadi uraian yang menarik dan mayakinkan bahwa masalah tersebut secara ilmiah dan akademis layak diangkat ke permukaan atau diteliti. Secara sederhana, menurut Soekamto sebagaimana yang dikutip oleh Rianto (2004) bahwa latar belakang masalah yang relatif dianggap baik mencakup hal-hal sebagai berikut: 1) Situasi atau keadaan mengenai masalah yang ingin diteliti; 2) Alasan maupun sebab-sebab ingin menelaah masalah yang ingin diteliti; 3) Hal-hal yang telah diketahui atau belum diketahui me- ngenai masalah yang akan diteliti; 4) Pentingnya penelitian tersebut, baik secara teoretik dan atau secara praktis; 5) Penelitian yang akan dilakukan dapat mengisi kekosongan yang ada. Untuk mengetahui situasi atau keadaan masalah yang ingin diteliti tentunya dapat dilakukan dengan melalui survei awal. Dari hasil survei inilah kemudian akan berkembang menKomposisi Pokok Latar Belakang Masalah (LBM)
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 57 jadi sebuah alasan-alasan ilmiah mengapa penelitian tersebut layak diangkat, dan menjadi pengetahuan awal mengenai belum atau sering tidaknya masalah tersebut diteliti. Di samping survei awal, juga diperlukan penggalian informasi dan data dari buku-buku yang relevan dengan masalah yang akan diangkat, sehingga jelas tujuan dan manfaat penelitian baik dari segi teoretik maupun praktis. walaupun biasanya, tujuan dan manfaat dipaparkan dalam bagian khusus baik dalam proposal maupun laporan penelitian. Dalam hal ini peniliti berusaha mengkorelasikan penelitian yang diangkat dengan banyak aspek kehidupan manusia seperti manfaatnya di bidang sosial, politik, budaya, pendidikan dan sebagainya. 2. Cara Praktis Menulis LBM Sebenarnya, membuat deskripsi latar belakang ma- salah sangatlah mudah, jika sudah dilakukan survei awal dan atau review literatur. Kekuatan sebuah LBM sangat ditentukan oleh dua tahapan prapenelitian tersebut. Peneliti harus ber- usaha mengemukakan alasan logis (masuk akal) dan empiris mengapa ia meneliti suatu masalah, dengan tetap mengacu pada data prapenelitian (survei awal dan atau review literatur). Agar lebih mudah dipraktikkan, penulis akan paparkan be- berapa point langkah praktis dalam menyusun latar belakang masalah: a. Buatlah catatan sederhana dalam bentuk pointer atau dapat juga dalam bentuk skema “jaringlaba-laba” mengenai keadaan atau data yang Anda temukan di lapangan. b. Buatlah catatan sederhana dalam bentuk pointer mengenai teori atau data secara umum yang Anda temukan dalamreview literatur! c. Buatlah catatan sederhana mengenai alasan-alasan penting mengenai ketertarikan Anda dalam masalah yang diangkat!
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 58 Penelitian Kualitatif d. Buatlah catatan sederhana mengenai manfaat penelitian yang Anda angkat! e. Buatlah kerangka atau anatomi tulisan pembahasan “latar belakang masalah” dengan mengacu pada catatan atau pointer sederhana yang Anda buat! f. Kembangkanlah setiap pointer-pointer tersebut menjadi paragrap yang sambung-menyambung, berkorelasi, saling memiliki keterkaitan antara paragrap yang satu dengan yang lainnya! g. Buatlah satu paragrap simpulan dari paragrap-paragrap semua deskripsi yang telah Anda paparkan! h. Konsistenlah terhadap masalah dan fokus penelitian yang Anda angkat! i. Baca kembali setiap paragrap yang Anda buat! Contoh anatomi dalam menulis LBM Judul: “Analisis Kesiapan Guru dalam Implementasi Kurikulum 2013 di SMA. X” A. Latar Belakang Masalah (Paragraf 1; apa isu pergantian kurikulum secara umum) (Paragraf 2; bagaimana sejarah pergantian kurikulum di Indonesia) (Paragraf 3; apa alasan pergantian kurikulum) (Paragraf 4; apa kurikulum 2013 itu? Kemukakan secara umum sesuai hasil telah literatur awal!) (Paragraf 5; bagaimana keunggulan Kurikulum 2013? Kemukakan secara umum sesuai hasil telah literatur awal!) (Paragraf 6; mengapa penelitian dilakukan? Kemukakan “kegelisahan akademik” sesuai identifikasi masalah empirik yang ditemukan pada observasi awal di lapangan) (Paragraf 7; apa manfaat dan tujuan secara umum penelitian ini dilihat dari segi pendidikan dan atau sosial) B. Fokus Penelitian C. .....................................
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 59 B. Fokus Penelitian Pengertian Fokus Penelitian Fokus penelitian atau dalam penelitian kuantitatif dikenal dengan batasan masalah. Tahapan ini merupakan proses spesifikasi masalah-masalah yang berhasil ditemukan dalam tahapan identifikasi. Dalam hal ini peneliti akan me- nentukan fokus masalah yang masih bersifat umum dan berserakan yang berupa domain tunggal atau beberapa domain yang memiliki hubungan dengan situasi sosial yang hendak diteliti. Di samping itu, peneliti harus memutuskan permasalah- an yang akan diteliti atas dasar tingkat kepentingan, urgensi, dan feasibilitas masalah yang akan dipecahkan. Juga mem- pertimbangkan tenaga, waktu dan biaya penelitian sesuai kemampuan si peneliti. Lalu kapan masalah penelitian dianggap penting, urgen dan feasibel? Penting bilamana permasalahan tersebut akan semakin tidak terpecahkan bahkan akan memunculkan masalah baru bila tidak dilakukan suatu penelitian, dikatakan urgen (mendesak) bila permasalahan tersebut tidak segera diteliti maka akan semakin hilang kesempatan untuk meng- atasinya, dan dikatakan feasibel jika penelitian tersebut me- miliki sumber daya yang jelas yaitu para informan yang me- miliki kemampuan menjawab penelitian dan mudah diperoleh guna memecahkan masalah tersebut. Spradley merekomendasikan empat alternatif guna memudahkan para calon peneliti dalam menentukan fokus, yaitu sebagai berikut: 1) Menetapkan fokus pada permasalahan yang disarankan oleh informan; 2) Menetapkan fokus berdasarkan domain-domain tertentu; 3) Menetapkan fokus yang memiliki nilai temuan untuk pengembangan iptek;
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 60 Penelitian Kualitatif 4) Menetapkan fokus berdasarkan permasalahan yang terkait dengan teori-teori yang telah ada. Fokus penelitian dalam penelitian harus dilakukan. Ini mengingat adanya berbagai keterbatasan internal dan eksternal penelitian. Keterbatasan internal penelitian mencakup keterbatasan kemampuan peneliti dalam memperoleh data dan mengolahnya. Sedangkan keterbatasan eksternal meliputi keterbatasan waktu yang biasanya disesuaikan dengan ketentuan sponsor atau penyelenggara penelitian. Juga, keterbatasan referensi, literatur dan teori-teori yang melandasi penelitian ter- sebut. Oleh karena itu fokus penelitian harus didasari oleh penemuan-penemuan masalah dalam tahapan identifikasi ma- salah. Sehingga rumusan fokus penelitian tidak boleh muncul melainkan dari hasil identifikasi masalah tersebut. Merumuskan fokus penelitian dapat diilustrasikan secara sederhana seperti seorang penjahit yang kebanjiran orderan menjelang lebaran. Maka tidak mungkin ia dapat mengerjakan semua orderan tersebut. Ia mesti memilih dan fokus terhadap beberapa orderan sesuai dengan batas tenaga, modal dan waktu yang ia miliki atau yang ditentukan oleh si pengorder. Sehingga dapat dikatakan bahwa fokus penelitian adalah tahapan penelitian pra-lapangan untuk memusatkan pada permasalahan tertentu yang kemudian dijabarkan secara rinci di dalam rumus masalah. Agar fokus penelitian menjadi jelas, maka peneliti harus memaparkannya secara eksplisit dan tidak ambigu. Hal tersebut dapat mempermudah peneliti dalam merencanakan kegiatan-kegiatan umum sebelum turun ke lapangan. Fokus penelitian merupakan gambaran umum sebuah penelitian, yang dapat mengarahkan teknik pengumpulan data dan analisisnya sesuai dengan masalah yang diteliti.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 61 C. Rumusan Masalah 1. Definisi Rumusan Masalah Rumusan masalah merupakan sketsa dari sebuah rencana penelitian. Ia dapat dikatakan sebagai ruh dari sebuah penelitian. Tanpa rumusan masalah, arah penelitian tidak akan jelas dan hasilnya pun demikian bahkan gagal total. Rumusan masalah atau juga dikenal dengan istilah research problemoleh Usman dan Akbar (2009), rumusan masalah merupakan usaha untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan penelitian apa saja yang perlu dijawab atau dicarikan jalan pe- mecahannya. Hal senada juga dikatakan oleh Ulber Silalahi (2010), di mana rumusan masalah menurutnya adalah sesuatu hal yang dipertanyakan dalam penelitian yang akan dicari dan ditemukan jawabannya. Dua definisi tersebut memberikan kata kunci “kalimat tanya”. Artinya suatu rumusan masalah merupakan kalimat yang mempertanyakan suatu kondisi, gejala, fenomena, baik bersifat mandiri dan tidak terikat oleh fenomena, gejala dan situasi lainnya, maupun yang saling terkait di antara fenomena yang satu dengan yang lainnya, baik dalam kapasitasnya sebagai penyebab maupun akibat. Oleh karena itu calon peneliti dalam hal ini harus dapat merumuskan tiap poin masalah yang hendak ia teliti dengan menggunakan kalimat tanya yang baik dan benar. Membuat rumusan masalah yang baik dan benar me- nuntut calon peneliti untuk mampu mengoperasikan beberapa kata tanya dasar yang umum digunakan dalam merumuskan masalah. Ulber (2010) misalnya menyebutkan kategorisasi dasar untuk tipe pertanyaan penelitian (research question) seperti “what” (apa), “why” (bagaimana), “how” (bagai- mana), “which” (yang mana), “how far” (sejauh mana) dan sebagainya. Pada umumnya, dalam penelitian kualitatif pertanyaan-pertanyaan rumusan masalah lebih mengarah kepada
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 62 Penelitian Kualitatif jawaban-jawaban yang bersifat eksplanatoris dan deskriptif sehingga kata tanya yang sering digunakan adalah “what”“how”, dan “why” Dalam membuat rumusan masalah, kata tanya “what” dapat berfungsi sebagai pertanyaan klarifikatif, yang menuntut kejelasan mengenai fenomena tertentu. Contohnya, apa benar masyarakat Sasak memiliki sikap keras?. Juga sebagai pertanyaan desktiptif, yang menuntut penggambaran mengenai objek yang diteliti. Apa manfaat yang dirasakan oleh mas- yarakat setelah listrik masuk desa? Adapun “how”(bagaimana) dapat berfungsi sebagai pertanyaan yang menuntut penjelasan atau deskripsi, peng- gambaran tentang suatu proses, fenomena, gejala dan situasi benda. Contoh, bagaimana persepsi Tuan Guru terhadap nikah siri? Bagaimana peranan orang tua dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik? dan seterusnya. Sedangkan “why” (mengapa), menurut Ulber kata ter- sebut ternyata lebih menuntut jawaban yang lebih rumit dibandingkan dengan “how”, karena kata “why” seringkali meminta jawaban yang lebih bersifat metodologis dan teoretik. Tentunya menjawab pertanyaan dengan “why” dalam suatu penelitian bergantung pada disiplin ilmu yang dikaji. Contoh, mengapa pondok pesantren di pulau Lombok didominasi oleh label NW? Mengapa pendidikan multikultural perlu diaktualisasikan? dan seterusnya. 2. Karakteristik Rumusan Masalah Menurut Sugiyono (2013) rumusan masalah secara umum mememiliki tiga sifat atau karakteristik berdasarkan level of explanation (level penjelasannya) yaitu rumusan masalah deskriptif, komparatif dan asosiatif.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 63 a. Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang memandu peneliti untuk mengungkapkan atau me- motret situasi sosial ayang akan diteliti secara menyeluruh, luas dan mendalam. Secara aplikatif rumusan masalah deskriptif memiliki dua bentuk yaitu rumusan masalah deskriptif yang ber- hubungan dengan karakteristik dan yang berhubungan dengan frekuensi (Ulber, 2010). Rumusan masalah deskriptif yang berhubungan dengan karakteristik adalah bentuk rumusan masalah yang menuntut jawaban ber- dasarkan sifat, bentuk, model, jenis, ciri dan karakter objek yang diteliti. Contohnya. Apakah bentuk kemiskinan yang dialami oleh penduduk desa X? Bagaimana karakteristik kepemimpinan kepala sekolah yang bermutu? Bagaimana model pembelajaran TK yang efektif dan efesien? Dan seterusnya. Sedangkan yang berhubungan dengan fre- kuensi merupakan rumusan masalah yang menuntut jawaban berdasarkan keadaan objek yang diteliti baik dari segi proses maupun fisik, yang meliputi keadaan sering- kadang-kadang, tinggi-rendah, banyak-sedikit, jauh-dekat, besar-kecil dan lain-lain. Contohnya: Seberapa tinggi animo masyarakat dalam melaksanakan program KB? Seberapa besar perkembangan pondok pesantren X di bidang pemberdayaan ekonomi? b. Rumusan masalah komparatif merupakan perumusan permasalahan yang membandingkan antara satu variabel atau lebih dengan variabel lainnya atau dengan sampel yang berbeda-beda (Masyhuri dan Zainuddin, 2009). Secara praktis, rumusan masalah komparatif dalampenelitian kualitatif dapat bersifat; pertama deskriptif (komparatif-deskriptif). Contohnya: Adakah perbedaan sig- nifikan antara keperibadian antara anak pesantren dengan
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 64 Penelitian Kualitatif anak sekolah umum? Apakah perbedaan pandangan antara Amin Abdullah dan Hasan Hanafi terhadap pendidikan multikultural? Kedua, kausal-komparatif. Contohnya: Sejauh mana pengaruh kepemimpinan tuan guru dan kepala desa dalam meredam konflik? Apakah pengaruh IQ dan ISQ terhadap etos kerja karyawan? c. Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan masalah penelitian yang bersifat pertanyaan mengenai hubungan antara dua variable atau lebih, baik hubungan simetris, kausal maupun interaktif. 1) Hubungan asosiatif-simetris dapat dipahami sebagai suatu hubungan antara dua variable atau lebih yang kebetulan muncul secara bersamaan bukan hubungan sebab akibat atau pun saling mempangaruhi. Contoh- nya: Adakah hubungan antara motivasi kerja dengan profesionalisme? Adakah hubungan antara kelancaran membaca dan kemampuan menulis? 2) Hubungan asosiatif-kausal adalah hubungan yang menitikberatkan pada hubungan sebab akibat. Contoh- nya: Seberapa besar pengaruh metode pembelajaran terhadap hasil belajar siswa? Seberapa besar dampak limbah tahu terhadap kesehatan warga sekitarnya? 3) Hubungan asosiatif-interaktif adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi. Contohnya: Bagai- mana hubungan antara kharisma tuan guru dan kepemimpinannya? Bagaimana hubungan antara etos kerja dan karir? 3. Kesalahan Umum dalam Membuat Rumusan Masalah Kesalahan yang paling umum terjadi dalam merumus- kan masalah adalah “tidak terencananya penelitian awal dengan mantap”. Di mana peneliti pemula biasanya memulai pe-
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 65 nelitiannya dengan merumuskan judul terlebih dahulu tanpa melakukan tahapan identifikasi masalah. Tentunya jika dimulai dengan judul maka sudah pasti masalah yang akan dijabarkan dari judul tersebut akan dibuat-buat. Maka penelitian yang baik adalah penelitian yang berangkat dari masalah. Di samping itu ada beberapa kesalahan umum dalammerumuskan masalah yang harus diperhatikan oleh peneliti, yaitu sebagai berikut: a. Membuat-buat atau mengada-adakan masalah tanpa mem- baca atau revewing literature yang relevan dengan pe- nelitian sebelumnya; b. Merencanakan penelitian yang sifatnya terbatas dengan alasan unik, sehingga berpengaruh terhadap terbatasnya permasalahan; c. Peniliti tidak mempertimbangkan kemampuan fisik, finan- sial, tenaga dan waktunya, sehingga memaksakan diri untuk merumuskan masalah melebihi kemampuan yang ia miliki; d. Peneliti kurang mempertimbangkan kelemahan metodologi penelitian yang hendak digunakan, sehingga rumusan masalah dibuat sesuai selera pribadi peneliti; e. Merumuskan masalah tanpa mempertimbangkan secara matang kekuatan teori yang melandasi masalah tersebut; f. Terlalu umum dalam membuat rumusan masalah, sehingga berpengaruh pada umumnya simpulan hasil penelitian dan tidak fokusnya tujuan penelitian. g. Peneliti (khususnya peneliti pemula) kurang cermat meng- gunakan kata-kata operasional dalam rumusan masalah. Sering terjadi, seorang calon peneliti ingin menggunakan pendekatan kualitatif, namun rumusan masalah yang dibuat menggunakan kata operasional kuantitatif. Demikian pula dengan sebaliknya.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 66 Penelitian Kualitatif Oleh karena itu agar para peneliti, terutama peneliti pemula terhindar dari kesalahan-kesalahan di atas, maka perlu diperhatikan beberapa solusi praktis berikut ini: a. Lakukan identifikasi masalah secara maksimal! b. Kumpulkan referensi yang relevan dengan penelitian! c. Tentukan masalah benar-benar menarik bagi peneliti! d. Carilah hasil-hasil penelitian terdahulu yang belum ter- pecahkan! e. Pilihlah permasalahan yang sangat dibutuhkan oleh publik! f. Pilihlah permasalahan yang mudah dijangkau dan jangan memaksa diri! g. Buatlah kalimat rumusan masalah yang singkat, padat dan jelas! h. Konsultasikan/diskusikan rumusan yang telah dibuat ke- pada teman sejawat atau pembimbing! 4. Langkah Praktis Membuat Rumusan Masalah Sebelum membahas langkah praktis dalam merumus- kan masalah penelitian kualitatif, terlebih dahulu akan di- kemukakan beberapa hal yang harus diperhatikan oleh peneliti sebelum merumuskan masalah, di antaranya yaitu: a. Identifikasi masalah dengan cermat! b. Buatlah catatan-catatan pokok tentang identifikasi yang dilakukan! c. Tetapkan fokus masalah sesuai dengan minat, urgensi, kemampuan fisik, finansial dan keluangan waktu ber- dasarkan identifikasi masalah! d. Rumuskan masalah dengan bahasa ilmiah, akademis, singkat dan jelas! e. Konsistenlah menggunakan kata tanya operasional yang tepat dan sesuai dengan penelitian kualitatif!
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 67 f. Buatlah rumusan masalah dengan memperhatikan landasan teori yang diperoleh dari telaah pustaka! Karena untuk menjawab setiap rumusan masalah diperlukan landasan teori yang kuat. Adapun langkah praktis dalam menyusun rumusan masalah, maka Moleong (2013) dalam bukunya “Penelitian Kualitatif” merekomendasikan beberapa langkah sebagai berikut: Langkah pertama : Tentukan fokus penelitian! Langkah kedua : Cari berbagai kemungkinan faktor yang ada kaitan dengan fokus tersebut, yang dalam hal ini dinamakan subfokus! Langkah ketiga : Dari faktor-faktor yang berkaitan tersebut, adakan pengkajian mana yang sangat menarik untuk ditelaah, kemudian tetapkan mana yang dipilih! Langkah keempat : Kaitkan secara logis faktor-faktor subfokus yang dipilih dengan fokus penelitian! Langkah-langkah tersebut secara manual dapat dilihat dalam ilustrasi sederhana berikut ini: Fokus: Pengelolaan Kelas Masalah yang menarik diteliti perspektif peneliti: (1) Kebersihan kelas; (2) Organisasi kelas; (3) Gaya kepemimpinan wali kelas Rumusan Masalah: 1. Apa kriteria kebersihan kelas dipandang dari pengelolaan kelas? 2. Apa peran organisasi kelas dalam pengelolaan kelas? 3. Bagaimana gaya kepemimpinan wali kelas dalam pengelolaan kelas? Subfokus: kebersihan kelas, penataan sarana kelas, organisasi kelas, kepemimpinan wali kelas, inventaris peralatan kelas, dll.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 68 Penelitian Kualitatif D. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Penelitian Setelah merumuskan masalah, maka langkah selanjut- nya yang harus dilakukan adalah membuat tujuan penelitian (purpose statement). Secara konseptual, pada dasarnya semua penelitian memiliki tujuan yang sama yaitu “to answer a question”- untuk menjawab pertanyaan (Morse dan Field: 2002). Namun dalam penelitian kualitatif, menurut Maxwell dalam Hanauer (2010) bahwa “state the first purpose of qualitative research is: understanding the meaning, for participants in the study, of the events, situations, and actions they are involved with and of the accounts that they give of their liver and experiences”. Hal senada juga dikatakan oleh Boswell and Cannon (2011): “Generally, the purpose of qualitative studies is to explore new concepts and ideas about which little is known, or to discover new meanings for concepts. Kedua pendapat tersebut merupakan tujuan penelitian kualitatif secara umumyaitu untuk memahami hakikat informan, peristiwa, situasi dan tindakan dan pengalaman orang-orang yang terkait dengan peristiwa dan situasi tersebut, dan untuk mengekplorasi konsep dan ide yang baru diketahui atau masih jarang diteliti. Pendapat tersebut juga sama persis dengan apa yang diungkap Marriem (2009) bahwa “The overall purposes of qualitative research are to achieve an understanding of howpeople make sense out of their lives, delineate the process (rather than the outcome or product) of meaning-making, and describe how people interpret what they experience.” Marriemmenyebutkan bahwa tujuan penelitian kualitatif secara ke- seluruhan adalah pertama, untuk memahami bagaimana me- mahami kehidupan masyarakat; kedua, untuk menggambarkan
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 69 proses (bukan hasil), dan ketiga, untuk menggambarkan bagai- mana orang menafsirkan pengalaman mereka. Dalam tataran aplikasi, tujuan penelitian dapat di- pahami sebagai pernyataan peneliti mengenai apa yang hendak dicapai (Husaini dan Purnomo, 2009). Jadi tujuan penelitian ditulis dengan menggunakan kalimat “pernyataan”. Peneliti menyatakan tujuannya, mengapa ia meneliti setiap rumusan masalah yang telah dibuatnya. Karenanya, dalam merumuskan tujuan, peneliti biasanya berpedoman kepada rumusan masalah yang telah dibuatnya. Artinya, keluar dari rumusan masalah berarti tersesat, peneliti tidak akan sampai kepada tujuan yang hendak dicapai dalam penelitiannya. Oleh karena itu tujuan penelitian harus selaras dengan rumusan masalah. Jika rumusan masalahnya bersifat deskriptif, maka tujuannya juga harus deskriptif. Demikian pula pada rumusan masalah yang bersifat komparatif dan asosiatif, maka tujuan penelitiannya pun harus dinyatakan secara komparatif dan asosiatif. Menyatakan tujuan penelitian dianggap penting untuk dinyatakan baik dalam proposal maupun laporan penelitian, karena dapat memberikan informasi yang jelas dan tegas kepada pembaca - khususnya pihak-pihak yang terkait dengan penelitian - mengenai tujuan utama “mengapa penelitian tersebut dilakukan”. Di samping itu, adanya tujuan penelitian dapat menjadi instrumen evaluasi mengenai masalah mana yang sudah dan belum ditemukan jawabannya. 2. Menulis Tujuan Penelitian Sebenarnya, menulis tujuan penelitian tidaklah sulit, karena sebagaimana yang telah diuraikan di atas bahwa tujuan penelitian mengikuti rumusan masalah. Perbedaannya hanya terletak pada penggunaan kalimat tanya dalam rumusan masalah dan kalimat pernyataan dalam tujuan penelitian.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 70 Penelitian Kualitatif Namun umumnya tujuan penelitian selalu diawali oleh kalimat operasional. Sebab tujuan penelitian merupakan pernyataan operasional yang merincikan apa yang akan diselesaikan dan dicapai dalam penelitian (Moleong, 2013). Biasanya peneliti menulis kalimat “Penelitian ini bertujuan untuk ......”, atau “Penelitian ini memiliki tujuan .....” Contohnya: o Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ……….. o Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan ………….. o Penelitian ini memiliki untuk mengetahui ……… dll. Contoh Tujuan Penelitian Kualitatif Berikut ini akan disajikan beberapa contoh tujuan penelitian, yaitu: No. Rumusan Masalah Tujuan Penelitian 1 Apakah persepsi Tuan Guru mengenai nikah siri? Untuk memahami persepsi Tuan Guru mengenai nikah siri. 2. Bagaimana perilaku nikah siri di desa x? Untuk mendeskripsikan perilaku nikah siri di desa x 3. Bagaimana peran Tuan Guru dalam meminimalisir pernikahan siri di desa x? Untuk mengetahui peran Tuan Guru dalam meminimalisir pernikahan siri di desa x 4. Apa latar belakang terjadinya nikah siri di desa x? Untuk mengeksplor latar belakang terjadinya nikah siri di desa x E. Manfaat Penelitian Dalam sebuah penelitian baik kualitatif maupun kuantitatif diperlukan uraian manfaat penelitian. Dalam uraian tersebut, peneliti berusaha menjelaskan secara ilmiah dan akademis mengenai manfaat penelitian yang direncanakan. Hal tersebut dibuat untuk memperjelas kontribusi signifikan dari hasil penelitian yang dilakukan, sehingga penelitian yang direncanakan benar-benar meyakinkan pembaca dan pihak-pihak yang terkait dengan penelitian.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 71 1. Macam-Macam Sifat Manfaat Penelitian Secara umum, manfaat penelitian dibuat dalam dua bentuk yaitu manfaat yang bersifat praktis dan teoretik. Adapun penjelasannya berikut ini: a) Manfaat praktis Manfaat praktis merupakan implikasi nyata dari hasil penelitian yang dapat diterapkan atau diaplikasikan. Artinya, penelitian tersebut membantu memecahkan dan mengantisipasi masalah yang dialami oleh objek yang diteliti. Peneliti ber- usaha memaparkan secara logis mengenai manfaat hasil pe- nelitian tersebut. Kekeliruan yang sering terjadi dalam menulis manfaat penelitian adalah “peneliti menulis secara subjektif”, sesuai keinginan peneliti sendiri. b) Manfaat teoretik Manfaat teoretik dapat dipahami sebagai sumbangan ilmiah berupa penemuan teori baru atau penyempurnaan teori sebelumnya atau jawaban-jawaban ilmiah pendukung dalamrangka pengembangan ilmu pengetahuan di masa mendatang. Dalam hal ini, peneliti harus menegaskan bahwa penelitian yang dilakukan menghasilkan teori yang dapat dijadikan referensi pada ranah a, b, c, d dan seterusnya. 2. Langkah Praktis Menulis Manfaat Penelitian Ada beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan untuk memudahkan peneliti, terutama peneliti pemula dalammenulis manfaat penelitian yaitu: a) Tentukan bentuk atau sifat manfaat penelitian yang hendak ditulis, apakah praktis ataukah teoretik!
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 72 Penelitian Kualitatif b) Kaitkan setiap sifat manfaat penelitian ditulis dengan partisipan, objek permasalahan dan tempat penelitian serta disiplin ilmu yang diteliti! Contohnya: F. Penelitian yang Relevan Pada bagian ini perlu juga memuat hasil-hasil penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh penelitian lain namun relevan dengan penelitian yang akan dilakukan, dengan maksud untuk menghindari duplikasi. Di samping itu, untuk menunjukkan bahwa topik yang diteliti belum pernah diteliti oleh peneliti lain dalam konteks yang sama. Dengan demikian penelitian yang relevan perlu menunjukkan masalah apa yang diteliti, apa persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan dan perlu juga memunculkan kekurangan- kekuarangan apa yang terdapat dalam penelitian yang men- dahului tersebut sehingga perlu dilakukan penelitian kembali. Namun jika persoalan yang akan diteliti benar-benar baru dan belum pernah ada yang meneliti sebelumnya, maka penelitian yang relevan atau penelitian sebelumnya tidak harus dimuncul- kan. 1. Manfaat praktis Hasil penelitian ini secara praktis dapat dimanfaatkan oleh kepala sekolah, guru dan orang tua (partisipan) dalam mengurangi kemalasan murid (objek masalah) di sekolah x (tempat penelitian) dan sekolah lainnya. 2. Manfaat teoretik Secara teoretik, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai referensi bagi peneliti pada penelitian selanjut- nya dalam bidang pendidikan (disiplin ilmu).
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 73 Bagian 5 PENDEKATAN, JENIS, LOKASI DAN WAKTU PENELITIANA. Pendekatan dan Jenis Penelitian Dalam proposal maupun laporan penelitian harus mencantumkan pendekatan yang digunakan, apakah kualitatif ataukah kuantitatif. Untuk penelitian kualitatif memiliki jenis yang bervariasi. Berbeda dengan penelitian kuantitatif yang memang sudah memiliki pola yang standar. Oleh karena itu para ahli mengemukakan jenis penelitian kualitatif dalamjumlah yang berbeda-beda. Obiakor et. al. (2011) misalnya mengemukakan: “The types include case study (both single case studies and collective case studies), grounded theory, ethnography, action research, narrative research, phenol- menology, discourse analysis, conversional analysis, and ethnographic content analysis”.- Ada beberapa tipe atau jenis penelitian kualitatif yaitu; studi kasus, grounded theory, etnografi, penelitian tindakan, penelitian naratif, fenomenologi, analisis wacana, analisis konversional, dan analisis isi etno- grafi. Matthews dan Kostelis (2011) menyatakan bahwa ada beberapa jenis penelitian kualitatif yang masih eksis, yang meliputi penelitian etnografi, penelitian fenomenologi, studi kasus, dan penelitian naratif. Sedangkan menurut Jacob dalamMarshall - sebagaimana yang dikutip oleh Raco (2010) – bahwa jenis penelitian kualitatif ada enam yaitu; Ethology
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 74 Penelitian Kualitatif manusia (Human Ethology), Etnogarafi Holistic (Holistic Ehtnographi), Antropology Kognitif (Cognitive Antropology), Ethnogrphi Komunikasi (Ethnographi Communication), Intraksi Simbolik (Simbolic Intraction), Psikologi Lingkungan (Ecology Psycology). Creswell (1994) dalam Onwuegbuzie et. al. (2004) memberikan catatan bahwa: “the major types of qualitative research are historical, case study, phenomenological, ethnographic, and grounded theory.” – Jenis utama penelitian kualitatif adalah penelitian historis (biografi), studi kasus, fenomenologi, etnografi, dan grounded theory. Jadi, walaupun penelitian kualitatif memiliki jenis yang banyak, namun secara umum yang paling banyak digunakan dalam penelitian kualitatif hanya ada lima. Adapun penjelasannya berikut ini: 1. Biografi Penelitian biografi adalah studi tentang individu dan pengalamannya yang dituliskan kembali dengan mengumpul- kan dokumen dan arsip-arsip. Menurut Creswell dalam Raco (2010) meneyebutkan bahwa biografi masuk dalam katagori jenis penelitian kualitatif. Metode penelitian ini biasanya dilakukan dalam ranah sosial. Biografi juga diistilahkan sejarah lisan, narasi personal dan outobiografi. Stebbins (2006) me- nyatakan:“Biographical research includes autobiographies, biographies, diaries, oral histories, family stories and letters”. Dia menjelaskan bahwa berbagai jenis dokumen dapat ditulis untuk berbagai tujuan dan audien. Oleh karena itu ada teknik evaluasi khusus yang perlu digunakan dalam penelitian ketika menggunakan jenis biografi. Murray (2003) secara gamblang mendefinisikan pe- nelitian biografi sebagai “a record of another person’s life”, sebuah catatan kehidupan orang lain. Burton dan Bartlett
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 75 (2005) menambahkan definisi biografi tersebut yaitu; sebuah catatatan kehidupan orang lain atau aspek yang penting dari kehidupan orang lain tersebut. Lebih lanjut Murray menjelaskan – sebuah catatan biasanya dalam bentuk tertulis, tapi dapat juga berupa rekaman suara (audio recorded) ataupun rekaman video (video recorded). Atau bahkan dapat terdiri dari kombinasi media, seperti catatan tertulis disertai dengan foto dan kutipan disertai dengan audio recorded atau video recorded dari kehidupan itu. Dalam penelitian jenis biografi ini, yang paling penting diperhatikan oleh seorang peneliti adalah kemampuan peneliti untuk menggambarkan karakter unik dari kehidupan seseorang yang dia teliti, yaitu suatu kehidupan yang rincian dan pola kehidupannya tidak seperti orang lain. Sehingga biografi dapat menginformasikan para pembacanya tentang kegigihan, konsistensi, dan inkonsistensi dalam kehidupan subyek, dengan memberikan keterangan berdasarkan kontek sejarah-budaya di mana kepribadiannya berkembang. Pembaca juga dapat mengambil pelajaran tentang kehidupan yang disimpulkan dari perilaku yang terungkap dalam akun biographer yang diteliti (Burton dan Bartlett, 2005). Sebab secara umum tujuan penelitian biografi adalah untuk melacak pemikiran, kegiatan, dan prestasi tokoh tertentu, untuk dijadikan pembelajaran bagi orang-orang setelahnya. Sehingga tokoh yang dikaji memiliki sisi-sisi unik yang menarik dan penting diketahui khalayak. Dalam penelitian biografi, Stebbins (2006) member- kan rambu-rambu penting sebelum melakukan penelitian jenis biografi ini. Dia mengatakan:“Biographical research can involve:Studying the life and social context of famous person who had a significant impact on society, Developing an enhanced understanding of the works of particular author,
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 76 Penelitian Kualitatif Researching the lives of lesser-known individuals …… to develop a sense of how people experienced a particular historical event or time period.” Dari pemaparan Stebin tersebut dapat disimpulkan bahwa Penelitian biografis setidaknya memiliki tiga tujuan yaitu: (a) untuk mempelajari konteks kehidupan dan sosial orang terkenal yang memiliki dampak signifikan terhadap masyarakat; (b) untuk mengembangkan pemahaman yang di- sempurnakan karya penulis tertentu; (c) untuk meneliti ke- hidupan yang kurang dikenal orang, untuk mengembangkan rasa bagaimana orang mengalami peristiwa sejarah tertentu atau periode waktu. 2. Fenomenologi Fenomenologi adalah bagian dari metode kualitatif. Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau meng- ungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Dasar metode ini adalah filsafat fenomenologi. Menurut Raco (2010), fenomenologi sebenarnya berarti mem- biarkan gejala-gejala yang disadari tersebut menampakkan diri (to show themselves). Sesuatu akan nampak sebagaimana dan apa adanya (things as they appear). Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dalam sejarahnya, filsafat fenomenologi di- kembangkan oleh Edmund Husserl dan kemudian dikembang- kan oleh Giambattista Vico, Franz Brentano dan WilliamDilthey. Metode fenomenologi memiliki tujuan untuk me- nangkap dan memahami makna pengalaman, peristiwa dan keadaan sosial yang terjadi di sekitar kehidupan manusia.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 77 Fenomenologi yang dikembangkan oleh Husserl ini adalah fenomenologi transendental. Teori ini menekankan pada subjektivitas dan temuan esensi dari pengalaman serta me- nyediakan sebuah metodologi yang sistematis dan teratur dalam derivasi pengetahuan. Pendekatan Husserl ini disebut dengan pendekatan fenomenologi. Moustakes menjelaskan – dinamakan demikian karena fenomenologi hanya memanfaat- kan data yang bersifat sadar (penampilan objek). Dan model ini dianggap transendental karena mengandung apa yang dapat ditemukan melalui refleksi pada tindakan subyektif dan berkorelasi dengan sasaran mereka (Moustakes,1994). 3. Etnografi Creswell (2008) dalam bukunya – Educational Research; Planing, Conducting, and Evaluating Quantitaive and Qualitative Research - menulis definisi jenis kualitatif- etnografi sebagai berikut: “Ethnografhic design are qualitative research procedures for describing, analyzing, and inter- preting a culture-sharing group’s shared patternd of behavior, beliefs, and language that develop.” Melihat definisi di atas dapat dipahami bahwa Creswell memberikan kata kunci “budaya” sebagai sentral dari jenis penilitian kualitatif ini. Sedangkan budaya difahami sebagai sebuah “everything having it can include language, ritual, economic, political structures, life stages, interaction, and communication style”. Jadi, jenis penelitian ini lebih fokus dalam menyelidiki suatu kelompok kebudayaan dilingkungan yang alamiah dalamrentan waktu yang cukup lama dalam proses pengumpulan data baik berupa data observasi maupun data wawancara. Model penelitian ini berupaya untuk mempelajari peristiwa kultural,
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 78 Penelitian Kualitatif yang menyajikan pandangan hidup subyek sebagai obyek studi. (Endraswara, 2006). Disamping definisi Creswell (2008) di atas, Endras- wara juga mendefinisikan penelitian etnografi sebagai berikut: “Penelitian etnografi adalah kegiatan pengumpulan bahan keterangan atau data yang dilakukan secara sistematik mengenai cara hidup serta aktivitas sosial dan berbagai benda ke- budayaan dari suatu masyarakat.” Mengacu kepada semua keterangan di atas, tentu saja, dalam kasus etnografi antropologi sosial dan budaya selalu menjadi metode utama, tetapi sekarang memiliki kehadiran yang kuat di bidang sosiologi dan psikologi, serta diterapkan di banyak ranah seperti pendidikan dan kesehatan (Hammersley, 2002). Namun pada dasarnya etnografi digunakan pada pe- nelitian antropologi. Jenis penelitian etnografi merupakan “penelitian dasar” (basic research) dalam mengkaji antro- pologi, yang mengutamakan perekaman data dan pencatatan informasi secara deskriptif dan kemudian menganalisis beragama kehidupan kelompok tradisonal, umumnya, terutama komunitas pra baca-tulis (Liliweri, 2005). Jelas di sini bahwa etnografi adalah uraian dan penafsiran suatu budaya atau sistem kelompok sosial. Dalamhal ini, peneliti mempelajari pola perilaku, kebiasaan, dan cara hidup mereka. Etnografi adalah sebuah proses dan hasil dari sebuah penelitian. Sebagai proses, etnografi melibatkan pengamatan yang cukup panjang terhadap suatu kelompok, dimana dalam pengamatan tersebut peneliti terlibat dalamkeseharian hidup responden atau melalui wawancara satu per satu dengan anggota kelompok tersebut. Peneliti mempelajari arti atau makna dari setiap perilaku, bahasa, dan interaksi dalam kelompok.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 79 Berdasarkan definisi dan keterangan para ahli, jelas etnografi memiliki manfaat yang sangat besar dalam ranah sosio-antropologi dimana hasil penelitian etnografi akan dapat memberikan informasi-informasi penting mengenai teori-teori ikatan budaya, memahami masyarakat yang kompleks, dan memahami perilaku manusia. 4. Grounded theory Raco (2010) memaparkan bahwa grounded theory adalah salah satu jenis penelitian kualitatif, karena analisanya tidak menggunakan angka. Coraknya induktif, karena hendak menemukan teori baru. Objek penelitiannya adalah fenomena yang ada dalam konteksnya yang alamiah dan dimengerti sesudah data lapangan diperoleh, entah melalui wawancara atau observasi. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa dasar filosofis dari grounded adalah interaksi simbolik. Interaksi simbolik sendiri berasal dari psikologi sosial. Pertanyaan yang sering diajukan dalam penelitian adalah mana simbol yang umum atau biasa digunakan sehingga interaksi manusia dapat dimengerti. Inter- aksi simbolik menyatakan bahwa tindakan manusia selalu bergantung pada arti yang dipahami oleh manusia dalamlingkungannya. Peneliti dalam penelitian ini berasumsi bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak sekalipun sering kita percaya bahwa hal itu ada. Kebenaran adalah hasil interpretasi. Karena itu pengalaman langsung dan pengertian akan pengalaman tersebut adalah hal yang sangat penting dalam penelitian kualitatif. Sehingga menurut Raco, metode ini sangat cocok digunakan jika: Pertama, digunakan untuk menangkap arti dari pengalaman manusia. Setiap pengalaman manusia memiliki
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 80 Penelitian Kualitatif arti khusus, minimal untuk dirinya sendiri dan orang lain yang membaca atau mendengar pengalaman tersebut. Kedua, diyakini bahwa interaksi sosial bersifat dinamis. Artinya interaksi sosial yang terjadi di antara manusia mengalami dinamika atau perkembangan. Sebagaimana manusia selalu bergerak dan berubah secara dinamis, maka interaksi sosialnya pun bersifat dinamis dan terus mengalami perubahan. Ketiga, untuk memahami arti kontekstualnya dan di mana peneliti terlibat langsung dalam pemberian makna. Peneliti hanya dapat mengerti peristiwa, fakta, realita, atau gejala secara menyeluruh apabila peneliti memahami latar belakang peristiwa fakta atau kejadian tersebut. Keempat, bila terdapat keterbatasan teori untuk menerangkan suatu gejala, fakta atau realita. Peristiwa, fakta, gejala atau masalah, yang sering terjadi atau dialami oleh manusia setiap hari, tidak semua dapat diterangkan secara gamblang dan memuaskan secara ilmiah. Hal ini disebabkan oleh keterbatan teori yang men- dukung pemahaman gejala atau peristiwa tersebut. 5. Studi Kasus (Case Study) Secara historis, Emile Durkheim, seorang sosiolog Prancis adalah orang yang mengembangkan penelitian studi kasus. Ia termotivasi oleh dinamika fenomena-fenomena sosial yang kian hari makin kompleks di masyarakat. Studi kasus, atau oleh Woodside (2010) disingkat CSR (Case Study Research) mendefinisikannya dengan mengutip pendapat Yin sebagai berikut:“A case study is an empirical inquiry that investigates a contemporary phenomenon within its real life context, especially when the boundaries between phenomenon and context are not clearly evident; and in which multiple sources of evidence are used”.–Woodside menjelaskan bahwa studi kasus adalah penyelidikan empiris yang meliputi pe-
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 81 nyelidikan mengenai fenomena kontemporer dalam konteks kehidupan nyata, terutama ketika batas-batas antara fenomena dan konteks tidak jelas. Swanborn (2010) menegaskan bahwa pendapat yang lebih tepat, studi kasus adalah studi tentang fenomena atau proses yang berkembang dalam satu kasus. Hal senada juga dikatakan oleh Gerring (2007) bahwa “ A case study may be understood as intensive study of a single case….” Jadi penelitian studi kasus secara intensif hanya terpusat pada satu buah fenomena kasus di lapangan. Menurut Merriam dalamSimons (2009) bahwa“the qualitative case study can be defined as an intensive, holistic description and analysis of single entity, phenomenon or social unit. – Menurutnya, studi kasus sebagai bagian dari jenis penelitian kualitatif di- definisikan sebagai sebuah penelitian yang dilakukan dengan cara intensif, dengan proses pendeskripsian yang holistik (menyeluruh) dan hanya menganalisis entitas tunggal, satu fenomena atau unit sosial saja. Sedangkan menurut Simons sendiri bahwa “Case study is an in-depth exploration frommultiple pesrspektives of complexity and uniqueness of a particular project, policy, institution, programme, or system in a real life context.” Definisi pamungkas tersebut merupakan definisi yang komplit. Simons mengemukakan ranah penelitian studi kasus secara luas dan kompleks yang meliputi studi kasus pada proyek tertentu, kebijakan, institusi, program, dan sistem dalamkehidupan bermasyarakat. Studi kasus dapat dikatakan sebagai jenis penelitian multi-ranah yang relevan digunakan pada objek yang berbeda-beda. Secara praktis, studi kasus terfokus pada satu jenis kajian subjek atau fenomena yang diteliti secara mendalam. Sebab pada dasarnya studi kasus bertujuan untuk mengetahui
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 82 Penelitian Kualitatif tentang keadaan objek atau fenomena penelitian secara intensif. Misalnya peneliti mengkaji siswa SMP X sopir angkutan kota Mataram, karyawan perusahaan PT. “Bunga Rampai”, guru SMA X dan sebagainya. B. Lokasi dan Watu Penelitian Pemilihan lokasi penelitian bukanlah tanpa pertimbangan seperti kesesuaiannya dengan topik yang diangkat, memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri bagi peneliti. Sebab, salah memilih lokasi penelitian berdampak pada hasil penelitian yang tidak maksimal, atau bahkan mengalami kegagalan. Melakukan pertimbangan yang matang dalam pe- nentuan lokasi penelitian diharapkan dapat diperoleh sesuatu yang berarti, bermanfaat dan baru. Tidak tepat dan logis bila peneliti menentukan lokasi penelitian dilandasi alasan semisal dekat dengan tempat tinggal peneliti, peneliti marasa familiar dengan lokasi penelitian, karena memiliki teman atau informan yang sudah terlebih dahulu dikenal bahkan mungkin sahabat- nya dan sebagainya. Oleh karena itu peneliti hendaknya men- deskripsikan lokasi penelitian berdasarkan alasan yang logis dan akademis. Di samping itu, peneliti juga menguraikan dengan jelas mengenai letak dan keadaan geografis lokasi penelitian. Di samping menjelaskan lokasi, sebaiknya dijelaskan juga kapan waktu penelitian tersebut dilakukan serta berapa lama proses penelitian dilasanakan. Adapun berapa lama penelitian itu dilaksanakan, tergantung jenis masalah yang diteliti.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 83 Bagian 6 SUMBER DATA (Populasi & Sampel) A. Konsep Populasi dan Sampel 1. Definisi Populasi Kata populasi diserap dari bahasa Inggris yaitu “population”. Populasi juga disebut universium, universe, dan universe of discourse. Populasi atau universe adalah se- kelompok orang, kejadian, atau benda, yang dijadikan obyek penelitian. Dalam penelitian kualitatif ada beberapa definisi populasi yang dapat dijadikan konsep dasar. Di antaranya sebagaimana yang dikutip Satori dan Komariah (2012) adalah sebagai berikut: a) Gregory dalam Djailani (1998) secara lebih tajam meng- artikan popualsi sebagai keseluruhan objek yang relevan dengan masalah yang diteliti. b) Menurut Beiley, populasi adalah jumlah total dari seluruh unit atau elemen di mana penyelidik tertarik. c) Congelosi dan Taylor dalam Djailani, populasi adalah keseluruhan unsur yang diteliti. d) Menurut Burn (2000), populasi dapat berupa organisme, orang atau sekelompok orang, masyarakat, organisasi, benda, objek, peristiwa, atau laporan yang semuanya me-
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 84 Penelitian Kualitatif miliki dan harus didefinisikan secara spesifik dan tidak secara mendua. Sedangkan menurut Sugiyono (2013), populasi di- artikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik simpulannya. Dari definisi-definisi di atas, jelas secara sederhana populasi dipahami sebagai semua subjek atau objek sasaran penelitian. Dalam penelitian, subjek dapat berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, barang-barang hasil produksi se- perti hasil kerajinan tangan, industri, pertanian, pertambangan, dan lain-lain, benda yang tidak diproduksi seperti angin, air, batu, pasir, tanah, dan lain-lain. Di samping itu, subjek juga dapat dalam bentuk ungkapan baik verbal berupa kata, frasa, kalimat, paragraf dan teks, maupun nonverbal seperti dokumen tertulis. Dalam penelitian, status populasi sebagai subjek dan objek tersebut terkadang membingungkan, kapan populasi tersebut menyandang status objek dan kapan ia menyandang status subjek. Populasi penelitian bersatatus objek bila populasi itu bukan sebagai sumber informasi, melainkan sebagai materi yang diteliti baik yang bersifat abstrak maupun yang kongkrit. Dalam bahasa yang sederhana the object of research is the ambient environment being faced by an investigator - objek penelitian adalah lingkungan sekitar yang dihadapi oleh penyidik (Alexander M. Novikov and Dmitry A. Novikov, 2013). Sedangkan populasi penelitian yang berstatus subjek adalah sumber informasi yang meliputi manusia dan dokumen. Memang, dalam penelitian sosial manusia secara individual maupun komunal (kelompok) lumrah diposisikan sebagai informan. Dari merekalah peneliti dapat memperoleh informasi
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 85 tentang diri mereka dan fenomena-fenomena sosial yang me- ngitari mereka. Namun dalam penelitian tertentu populasi tidak hanya menyandang status subjek atau objek melainkan kedua-duanya sekaligus. Artinya populasi tersebut di samping sebagai infor- man yang berfungsi memberikan data dan informasi mengenai diri populasi tersebut dan segala sesuatu yang berhubungan dengan mereka, juga sebagai objek, substansi atau material yang diteliti. Contohnya penelitian tentang “kepemimpinan spiritual Tuan Guru Pondok Pesantren X se-Lombok Barat”. Dalam penelitian tersebut populasinya adalah Tuan Guru, yang diposisikan sebagai informan atau sumber data (subjek) se- kaligus material penelitian (objek). Jadi, populasi adalah sekumpulan objek atau sumber data penelitian (Suhadi dkk., 2003). Mereka menegaskan bahwa populasi sebagai objek sejalan dengan pendapat Tuckman yang menyatakan bahwa populasi adalah kelompok yang menjadi target atau sasaran studi (penelitian). Sedangkan populasi sebagai sumber data sejalan dengan pendapat Chao yang menyatakan bahwa populasi itu terkait dengan semua sumber data dalam cakupan lingkup penelitian yang ditetapkan. Sebenarnya istilah populasi dalam posisi sebagai objek tidak dipergunakan dalam penelitian kualitatif. Spradley dalam Sugiyono (2013) mengistilahkannnya dengan “sosial situation” atau situasi sosial. Sebab, penelitian kualitatif se- sungguhnya dilatarbelakangi oleh kasus tertentu dalam situasi sosial tertentu dan hasil kajiannya tidak diberlakukan terhadap populasi tersebut, namun ditransfer ke tempat lain yang memiliki kesamaan situasi sosial dengan situasi sosial pada kasus yang diteliti. Spradley menguatkan bahwa setiap situasi sosial yang terjadi, selalu dibentuk oleh tiga elemen yaitu
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 86 Penelitian Kualitatif tempat (place), pelaku (actor), dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis. Situasi sosial dapat dipahami sebagai peristiwa, kejadian, aktivitas, dan fenomena yang lumrah terjadi di semua tempat, yang melibatkan aktivitas serta pelaku tertentu. Bahkan di lingkungan yang sangat kecil pun seperti keluarga, situasi sosial kerap dijumpai. Pada posisi sebagai objek penelitian, situasi sosial dikaji untuk mengetahui atau memahami situasi yang terjadi di dalamnya. Oleh karena itu untuk mengetahuinya, peneliti dapat mengamati secara mendalam hal-hal yang berhubungan dengan segala aktivitas dan orang-orang yang terlibat dalam situasi tersebut pada tempat di mana situasi sosial tersebut terjadi. 2. Definisi Sampel Kata sampel diserap dari bahasa Inggris yaitu “sample” yang berarti contoh. Sedangkan “sampling” berarti penarikan contoh (Echols dan Shadily, 2000). Dalam KBBI (2008) sampel diterjemahkan sebagai sesuatu yang digunakan untuk menunjukkan sifat suatu kelompok yang lebih besar. Juga, diterjemahkan sebagai bagian yang mewakili kelompok atau keseluruhan yang lebih besar. Dalam suatu penelitian, “sepertinya” mustahil meng- gali informasi dari semua populasi penelitian. Dalam situasi demikian, populasi harus diperkecil menjadi sebuah sampel yang benar-benar representasi atau yang mewakili seluruh populasi. Oleh karena itu dapat dikemukakan beberapa alasan logis mengapa sampel lebih dipertimbangkan daripada populasi dalam suatu penelitian, di antaranya yaitu: Pertama pertimbangan efisiensi waktu, tenaga dan biaya yang dibutuhkan. Dengan adanya sampel memungkin tenaga, waktu dan biaya menjadi relatif lebih efesien daripada
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 87 mengandalkan informasi populasi. Dalam penelitian tertentu sampel pun amat berpengaruh terhadap dana, tenaga dan waktu yang dibutuhkan. Oleh karena itu peneliti harus meng- kondisikan antara jumlah sampel yang dibutuhkan dengan tenaga, waktu, dan biaya yang dimiliki. Kedua, peneliti mempertimbangkan masalah ketelitian. Pengambilan sampel dapat mempertajam ketelitian peneliti. Sebab penelitian terhadap populasi sangat mungkin terjadi “keteledoran” pada saat meneliti, mengumpulkan, dan menganalisis data. Peneliti profesional adalah peneliti yang mampu memperhitungkan dan merasionalisasikan antara biaya, waktu, dan tenaga yang dikeluarkan dengan tingkat keakuratan (presisi) yang akan diperoleh. B. Teknik Sampling Sampling adalah cara atau teknik penarikan sampel dari populasi. Ada juga yang mendefiniskannya sebagai proses pemilihan atau penentuan sampel (Bungin, 2010). Menurut Punch (2005), sampling adalah bagian penelitian yang penting baik dalam penelitian kuantitatif maupun kualitatif. Peneliti tidak bisa menggali dan mempelajari informasi dari semua orang di tempat yang varian. Keputusan sampling diperlukan tidak hanya tentang orang-orang yang diwawancarai atau peristiwa mana yang hendak diamati, tetapi juga tentang pengaturan dan prosesnya. Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya bahwa sampel yang ditentukan atau dipilih adalah yang representatif, yang mewakili populasi penelitian. Hal tersebut bila dilihat dari perspektif kuantitatif. Sebab tujuan sampling dalam penelitian kuantitatif pada dasarnya bertujuan agar simpulan apa yang diteliti dari sampel tersebut dapat diberlakukan terhadap populasi yang diwakili. Melalui teknik sampling diharapkan