The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Strada Budi Luhur, 2023-09-14 01:02:25

Penelitian kualitatif-m. sobry

Penelitian kualitatif-m. sobry

M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 138 Penelitian Kualitatif 2. Analisis Selama di Lapangan Analisis data dalam penelitian kualitatif hampir semuanya dimulai pada waktu pengumpulan data. Jika analisis data dimulai hanya setelah data terkumpul, peneliti akan kehilangan banyak kesempatan berharga yang dapat diambil sekaligus. Menunggu sampai dengan data terkumpul seluruh- nya, kemudian memulai menganalisisnya dapat menyebabkan beberapa masalah yang signifikan selama analisis data (Douglas Ezzy, 2002). Ibaratnya peneliti “menyelam sambil minum air”. Hal tersebut dapat menjadi salah satu upaya strategis untuk meminimalisir waktu, tenaga dan biaya pe- nelitian. Namun perlu diperhatikan bahwa hal tersebut tidak dilakukan sambil melakukan sesi wawancara, melakukan observasi dan dokumentasi. Namun dilakukan setelah suatu sesi wawancara, observasi ataupun dokementasi selesai dalamperiode tertentu. Contohnya peneliti melakukan sesi wawan- cara atau observasi ke-1, setelah selesai baru ia boleh meng- analisis. Kemudian melakukan sesi wawancara/observasi ke-2, setelah wawancara ke-2 berakhir, ia boleh melakukan analisis, demikian seterusnya. Sebab tidak mungkin peneliti sambil mendengarkan atau mencatat hasil wawancara melakukan analisis. Cara tersebut dapat mencederai kesempurnaan proses wawancara, observasi dan dokumentasi. William L. Goodwin and Laura D. Goodwin (1996) menambahkan bahwa analisis data selama pengumpulan data memerlukan catatan peneliti (observer’s commont) atau komentar pewawancara (interviewer’s comments) segera setelah satu sesi wawancara lengkap. Komentar-komentar tersebut adalah pikiran peneliti, perasaan, dan ide-ide untuk tahap selanjutnya dalam pengumpulan data, gagasan awal tentang tema dan hubungan, dan sebagainya. Sejalan dengan


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 139 itu, peneliti kualitatif menggunakan teknik penulisan memo untuk dirinya sendiri selama pengumpulan data, bahkan, ini adalah teknik yang kadang-kadang disebut sebagai "memoing". Memo ini adalah ringkasan singkat dari data yang dikumpulkan dan poin penting yang muncul; memo cenderung mengalir bebas, informal, dan semakin analitik selama penelitian berlangsung. Untuk menganalisis data selama di lapangan, ada dua teknik yang sering digunakan yaitu teknik Miles dan Huberman dan Teknik Spradley a. Teknik Miles dan Huberman Matthew B. Miles dan A. Michael Huberman (1994) memetakan bahwa ada tiga komponen yang saling berinteraksi dalam proses analisis penelitian kualitatif yaitu reduksi data (data reduction), penyajian data (data display) serta penarikan simpulan dan verifikasi (conclusion; drawing/verifying). Hal tersebut dapat secara sederhana dilacak melalui gambar sketsa proses analisis data model interaktif, berikut ini: Komponen Analisis Data; Model Interaktif Perspektif Miles & Huberman (1994) Pengumpulan data Reduksi Data Simpulan Penyajian Data


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 140 Penelitian Kualitatif Dalam diagram tersebut terlihat bahwa hubungan antar komponen model interaktif dalam analisis data kualitatif merupakan proses yang berlanjut, berulang dan terus-menerus terutama antara reduksi data dan penyajiannya, antara reduksi dan simpulan, sehingga pada ahkirnya diperoleh data jenuh. 1) Data reduction (reduksi data) Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, klasifikasi, penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar/mentah” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Jadi, reduksi data berfungsi membentuk data-data mentah yang banyak lagi terserak menjadi data yang lebih kecil dan sederhana sambil tetap menjaga struktur tujuan penelitian. Data yang dihasilkan dalam sebuah penelitian tidak terbatas jumlahnya. Semakin lama peneliti berada di lapangan, semakin kompleks pula data yang dihasilkan. Data-data yang terkumpul merupakan data kasar yang bercampur aduk antara informasi penting dengan yang tidak mendukung sama sekali berupa kata-kata dan kalimat-kalimat “sampah“ yang tidak berguna dalam penelitian. Data-data“kasar atau mentah”dalambentuk transkrip tulisan biasanya tertulis dengan kata atau dan kalimat yang tidak jelas dan kadang-kadang disingkat-singkat. Dalam bentuk transkrip percakapan, informasi yang disampai- kan saat wawancara kadang-kadang isinya tidak beraturan. Jika terus menerus ditumpuk, data mentah akan semakin semerawut dan sulit dipilah. Oleh karena itu peneliti harus segera melakukan langkah awal analisis yaitu reduksi data. Reduksi data berarti menyaring data-data “kasar” yang noninformatif menjadi data-data “halus” yang informatif. Pe- neliti membuang data-data yang dianggap “sampah”. Dalamtahapan ini peneliti berusaha memilih dan memilah data-data yang penting, mendukung, dan sesuai dengan permasalahan


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 141 yang diteliti. Hanya dengan cara inilah diperoleh gambaran yang jelas mengenai data yang telah terkumpul, yang pada gilirannya memperlancar proses penelitian selanjutnya. Untuk melakukan reduksi dengan baik dan benar, Parwito (2007) setidaknya merekomendasikan tiga langakah, yaitu pertama, melibatkan langkah-langkah editing, pe- ngelompokan, dan meringkas data. Kedua, menyusun kode- kode dan catatan-catatan (memo) mengenai berbagai hal, termasuk yang berkenan dengan aktivitas serta proses-proses, sehingga peneliti mendapatkan tema-tema, kelompok, kelompok, dan pola-pola data. catatan yang dimaksud di sini tidak lain adalah gagasan atau ungkapan yang mengarah pada teorisasi berkenaan dengan data yang ditemui. Catatan mengenai data atau gejala tertentu dapat dibuat sepanjang satu kalimat, satu paragraf, atau mungkin beberapa paragraf. Ketiga, sebagai langkah akhir dari tahapan reduksi, peneliti menyusun rancangan konsep-konsep serta penjelasan-penjelasan berkenaan dengan tema, pola, atau kelompok-kelompok data yang bersangkutan. 2) Data display (penyajian data) Display data merupakan tahapan kedua setelah reduksi data. Display tidak kalah penting dengan proses reduksi. Melalui proses ini peneliti akan dapat menemukan data yang lebih jelas dan informatif. Sehingga tepat bila display didefinisikan sebagai “an organized, compressed assembly of information that permits conclusion drawing and action.”– Penyajian data adalah aktivitas terorganisir, yang dikompresi dengan perakitan informasi yang memungkinkan menggambarkan simpulan dan tindakan. Peneliti juga dapat memahami situasi sosial yang sedang terjadi dalam penelitian-


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 142 Penelitian Kualitatif nya. Sehingga ia lebih tahu tindakan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Untuk memperoleh hasil yang valid, Miles dan Huberman (1994) mengingatkan agar proses display data dilakukan dengan sebaik-baiknya. Semakin baik proses pe- nyajian, semakin valid pula analisis kualitatif yang dihasilkan. Dalam tahapan ini, peneliti menyajikan data dalambentuk uraian singkat, yang tersusun dalam kalimat-kalimat yang sederhana. Kalimat-kalimat tersebut disusun saling ber- hubungan satu dengan lainnya secara naratif. Cara inilah yang paling banyak digunakan dalam display data (Miles Huberman, 1994). 3) Conclusion; Drawing/verifying Analisis ketiga yang tidak kalah penting dengan dua tahapan sebelumnya adalah conclusion, yaitu menarik simpul- an dan melakukan verifikasi data. Maksimal atau tidak tahapan ini, baik atau tidak simpulan yang dihasilkan sangat di- pengaruhi oleh kedua tahapan sebelumnya; reduksi dan display data, dan kemampuan peneliti mencari tahu makna fenomena, kejadian, dan benda yang dijumpai sejak permulaan penelitian. Peneliti juga berusaha mencatat penjelasan mengenai sebab akibat dan proposisinya, serta konfigurasi-konfigurasi yang mungkin terjadi. Dalam perspektif Miles dan Huberman (1994), penarikan simpulan hanyalah sebagian dari satu kegiatan dan konfigurasi yang utuh. simpulan-simpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. Peneliti sebaiknya meng- utamakan sikap kritis, skeptis dan terbuka untuk mendapatkan simpulan yang valid. Oleh karena itu simpulan harus di- verifikasi terus menerus hingga diperoleh simpulan “jenuh”, yang tidak memberikan peluang terhadap simpulan lain. Hal


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 143 tersebut dilakukan mengingat penelitian ilmiah adalah pe- nelitian yang dilakukan secara skeptis dan kritis. Ketiga tahapan analisis Miles dan Huberman di atas bila dilakukan dengan baik, benar, cermat dan tekun, sangat memungkinkan untuk mendapatkan simpulan yang valid, yang berimplikasi pada temuan baru yang belum pernah ada, atau dapat pula untuk mengembangkan temuan yang sudah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori (Sugiyono, 2013). b. Teknik Spradley Teknik Spradley secara umum terdiri enam proses analisis, yaitu pengamatan deskriptif, analisis domein, peng- amatan terfokus, analisis taksonomi, pengamatan terpilih, analisis komponensial, dan diakhiri dengan analisis tema. 1) Analisis Domain (Domain Analysis) Salah satu teknik analisis data yang sering digunakan adalah analisis domain yang dikembangkan oleh James Spradley. Teknik analisis ini sangat berguna untuk mengidentifikasi dan membedakan kelas item dalam konteks kajian budaya. Analisis domain dimulai dengan menggunakan pertanyaan deskriptif yang mendorong orang untuk menggambar- kan komponen-komponen dari dunia mereka tinggal (LeCompte dan Schensul, 2013). Analisis domain dapat dipahami sebagai proses awal dalam analisis data di lapangan, sebagai upaya peneliti dalammenemukan gambaran umum dari data yang telah dikumpul- kan, yang bertujuan untuk menjawab fokus masalah penelitian. Teknik ini menuntut peneliti untuk membaca data yang berupa


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 144 Penelitian Kualitatif catatan wawancara atau lapangan (field note) secara umum dan menyeluruh untuk menemukan domain yang terdapat dalamdata tersebut. Menemukan domain tidaklah mudah dalam data-data “kasar/mentah” yang dikumpulkan. Peneliti harus berusaha membaca dengan teliti dan detail serta memahaminya secara global. Pemahaman di sini bukanlah pemahaman mendalam, namun sekadar pengetahuan awal. Sebab dalam proses ini peneliti benar-benar dibebankan hanya memahami hal-hal penting mengenai kata, frasa dan kalimat untuk menemukan domain. Untuk mempermudah peneliti menganalisis dengan teknik domain, maka perlu dibuat guide line sederhana yaitu sebagai berikut: a) Tentukan jenis hubungan semantik yang akan Anda gunakan, apakah ruang (spatial), sebab-akibat (cause- effect), rasional (rationale), lokasi kegiatan (location of action), cara ke tujuan (means-end), fungsi (function), urutan (squence) atribut (atribution), ruang dan sebagainya (Bungin, 2010) b) Siapkan lembar kerja analisis domain! c) Siapkan sampel yang hendak dianalisis! d) Tentukan istilah acuan dan bagian yang sesuai untuk menemukan domain! e) Cek kembali domain yang telah ditemukan! f) Catatlah domain-domain yang telah ditemukan dalambentuk daftar yang teratur! Sedangkan Sanapiah Faisal dalam Bungin (2010) merekomendasikan 6 langkah yang juga dapat dijadikan pijakan dalam melakukan analisis domain, yaitu sebagai berikut:


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 145 a) Memilih pola hubungan semantik tertentu atas dasar informasi atau fakta yang tersedia dalam catatan harian peneliti di lapangan. b) Menyiapkan kerja analisis domain. c) Memilih kesamaan-kesamaan data dari catatan harian di lapangan. d) Mencari konsep-konsep induk dan kategori-kategori sim- bolis dari domain tertentu yang sesuai dengan suatu pola hubungan semantic. e) Menyusun pertanyaan-pertanyaan struktural untuk masing- masing domain. f) Membuat daftar keseluruhan domain dari seluruh data yang ada. Contoh analisis domain hubungan semantik Implementasi Kurikulum 2013 Hubungan Bentuk Contoh Sebab- akibat X adalah akibat/akibat dari Y Pergantian Kurikulum 2006 menjadi Kurikulum 2013 disebabkan oleh kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan yang bermutu Cara mencapai tujuan X merupakan cara mencapai tujuan Kurikulum 2013 merupakan jalan memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Fungsi X berfungsi untuk Y Kurikulum 2013 diterapkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia Urutan X merupakan tahapan Implementasi Kurikulum 2013 dilaksanakan terlebih dahulu di


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 146 Penelitian Kualitatif setelah Y sekolah-sekolah pilot project, kemudian semua sekolah secara nasioanl Atribut X adalah karakteristik/ atribut Y Pendidikan karakter adalah salah satu karakteristik Kurikulum 2013 Lokasi kegiatan X adalah lokasi kegiatn Y Madrasah merupakan lokasi penyelenggaraan Kurikulum 2013 2) Analisis Taksonomik (Taxonomy Analysis) Pada tahapan ini, peneliti berusaha memahami tiaptiap domain yang telah ditemukan dalam analisis domain. Sebab dalam tahapan analisis domain peneliti sekadar mem- baca data secara umum, dan tidak terperinci. Selanjutnya peneliti memfokuskan diri pada domain yang relevan dengan fokus masalah penelitian. Setiap domain dirinci menjadi sub- sub domain yang lebih khusus. Ada beberapa langkah praktis yang dapat ditempuh peneliti dalam analisis taksonomi, yaitu sebagai berikut: a) Pilih domein untuk dianalisis! b) Cari persamaan berdasarkan hubungan semantik yang sama digunakan untuk domein itu! c) Cari tambahan-tambahan istilah bagian! d) Cari domein yang lebih besar dan lebih inklusif! e) Buatlah draft taksonomi sementara! f) Lakukan wawancara terfokus berdasarkan draft taksonomi yang telah dibuat! g) Buat taksonomi secara lengkap berdasarkan hasil wawan- cara terfokus!


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 147 Contoh analisis taksonomi: penelitian tentang Kuri- kulum 2013: Analisis Domain Atribut/Karakteristik Kurikulum 2013 Analisis Taksonomik Pendidikan Karakter Pendidikan Anti Korupsi - Jujur - Bertanggung jawab - Bermusyawarah - Rajin membaca - Disiplin - Toleransi - Demokratis - Kerja keras - Komunikatif - Dan seterusnya - Jujur - Berani - Kerja keras - Kepedulian - Kemandirian - Tanggung jawab - Kesederhanaan


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 148 Penelitian Kualitatif 3) Analisis komponensial (Componential Analysis) Analisis komponensial berbeda dengan teknik analisis taksonomi yang menggunakan “pendekatan non-kontras antar- elemen”. Teknik analisis komponensial adalah teknik analisis yang cukup menarik dan paling mudah dilakukan. Menurut Bungin (2010), hal tersebut karena menggunakan “pendekatan kontras antar elemen”. Namun menurut penulis, mudah atau sukarnya kedua teknik analisis tersebut tergantung kemampuan berpikir dan minat peneliti. Lebih lanjut Bungin menegaskan bahwa teknik analisis komponensial secara keseluruhan memiliki kesamaan cara kerja dengan teknik analisis taksonomik. Hal yang mem- bedakan antara kedua teknik tersebut adalah hanya pada pen- dekatan yang digunakan oleh masing-masing teknik analisis. Teknik analisis komponensial digunakan dalam analisis kualitatif untuk menganalisis unsur-unsur yang memiliki hubungan hubungan-hubungan yang kontras satu sama lain dalamdomain-domain yang telah ditentukan, untuk dianalisis secara terperinci. Unsur-unsur atau elemen-elemen yang kontras akan dipilah oleh peneliti dan selanjutnya akan dicari terma-terma yang dapat mewadahinya. Secara praktis peneliti dapat menempuh sejumlah langkah dalam menerapkan teknik analisis komponensial yaitu sebagai berikut: a. Pilihlah domain yang akan dianalisis! b. Identifikasi seluruh kontras (perbedaan) yang ditemukan! c. Siapkan lembar paradigma! d. Identifikasi dimensi kontras yang memiliki dua nilai! e. Gabungkan dimensi kontras yang berkaitan erat menjadi satu! f. Siapkan pertanyaan kontras (berlawanan) untuk ciri yang tidak ada!


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 149 g. Lakukan pengamatan terpilih untuk melengkapi data! h. Menyiapkan paradigma (pola pikir) lengkap! 4) Analisis Tema Kultural (Discovering Cultural Themes) Analisis ini lebih familiar disebut analisis tema, yaitu seperangkat prosedur yang dilakukan untuk memahami secara menyeluruh (holistic) mengenai pengamatan yang sedang diteliti. Mengapa harus holistik, sebab setiap kebudayaan merupakan sesuatu yang terintegrasi dalam beberapa jenis pola yang lebih luas. Menurut Sanapiah dalam Sugiyono (2013) analisis tema atau discovering cultural themes, sesungguhnya merupakan upaya mencari benang merah yang mengintegrasikan lintas domain yang ada.


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 150 Penelitian Kualitatif


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 151 Bagian 9 PEMERIKSAAN KEABSAHAN DATA Bagian ini memuat uraian tentang usaha-usaha peneliti untuk memperoleh keabsahan temuannya. Ada beberapa upaya yang dilakukan oleh peneliti dalam proses pemeriksaan ke- absahan data, berikut ini: A. Perpanjangan Kehadiran Peneliti Perpanjangan kehadiran peneliti yaitu peneliti berada di lapangan penelitian hingga data yang dikumpulkan bersifat menjenuhkan. Menurut Moleong (2013) cara ini dapat; 1. membatasi gangguan dari dampak peneliti pada konteks, 2. membatasi kekeliruan (biases) peneliti, dan 3. mengkonpensasi pengaruh dari kejadian-kejadian yang tidak biasa atau pengaruh sesaat. Perpanjangan penelitian menjadi salah satu cara yang dapat digunakan dalam memeriksa kesahihan atau keabsahan data. Sebab dengan memperpanjang kehadirannya, peneliti dapat lebih lama dan lebih mendalam untuk mempertanyakan mengenai data-data yang diperlukan untuk menjawab per- masalahan penelitian. Proses yang demikian panjang dapat


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 152 Penelitian Kualitatif meyakinkan peneliti bahwa data yang telah diperoleh adalah benar-benar jenuh. B. Observasi mendalam Observasi/pengamatan mendalam sebagai salah satu cara memeriksa keabsahan data dilakukan dengan melakukan pengamatan secara lebih teliti dibandingkan dengan observasi sebelumnya, guna mengecek kevalidan data yang diperoleh. Pada tahapan ini kemungkinan data yang diperoleh lebih akurat jika hubungan peneliti dengan informan terjalin akrab. sehingga di antara keduanya telah diikat oleh hubungan emosional secara psikologis, yang berimplikasi pada sikap saling mempercayai, terbuka, dan kekeluargaan. Kondisi yang demikian, memberikan kepastian bahwa data yang diperoleh diyakini keabsahannya. Lalu berapa lama peneliti memperdalam observasi- nya? Waktu yang dibutuhkan untuk memperdalam suatu observasi tergantung pada tingkat kedalaman, keluasan dan kevalidan data yang diinginkan. Semakin lama, semakin me- mungkinkan peneliti menemui data yang mendalam, yaitu peneliti menemukan makna-makna yang tersembunyi di balik fenomena yang nampak. Demikian pula semakin lama observasi dilakukan, keluasan dan kevalidan data sangat mung- kin diperoleh. Biasanya keluasan informasi diperoleh bilamana muncul masalah baru, sehingga peneliti menambah fokus pe- nelitiannya, yang berimplikasi pada tambahan data atau infor- masi yang baru. Sedangkan kevalidan melalui observasi men- dalam merupakan pengecekan kembali apakah data yang diperoleh sesuai dengan kenyataan di lapangan atau tidak.


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 153 C. Pembahasan teman sejawat Teknik ini lebih gamblang dipahami sebagai teknik diskusi atau sharing dengan rekan-rekan peneliti yang kom- peten. Peneliti dalam hal ini meminta pertimbangan atau saran terhadap data yang telah dikumpulkan, sehingga dapat di- ketahui data mana yang kurang dan tidak valid. Teknik ini menurut Moleong (2013) memiliki dua manfaat, yaitu: pertama, agar peneliti tetap mempertahankan sikap terbuka dan kejujuran, dan kedua, diskusi dengan sejawat ini memberikan suatu kesempatan awal yang baik untuk mulai menjajaki dan menguji hepotesis kerja yang muncul dari pemikiran peneliti. D. Triangulasi Data Secara historis, popularitas triangulasi (penggabung- an) sebagai teknik pengumpulan data telah banyak digunakan pada sekitar tahun 1950-an dan 1960-an. Triangulasi merupakan teknik pengumpulan data yang paripurna dalam pe- nelitian kualitatif. Sebab teknik ini dapat meningkatkan validitas dan memperkuat kredibilitas data temuan. Menurut Denzin dalam Padgett (1998), data triangulation is the use of more than one data source (interview, archival material, observational data etc.) – Triangulasi data; penggunaan lebih dari satu sumberdata (wawancara, bahan-bahan arsip, data pengamatan, dll.). Sedangkan menurut Patton, pada dasarnya istilah triangulasi berasal dari kosakata navigasi, di mana lokasi ditentukan oleh jarak dari dua atau lebih titik lain. Dalam penelitian kualitatif, triangulasi data berarti bahwa temuan Anda dapat diverifikasi oleh sumber lain. Triangulasi merupakan strategi yang sangat baik untuk memastikan kepercayaan, terutama bila dikombi- nasikan dengan pemeriksaan peserta (Pitney and Parker, 2009).


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 154 Penelitian Kualitatif Triangulasi berarti bahwa peneliti mengambil per- spektif yang berbeda pada masalah yang diteliti, atau lebih umum dalam menjawab pertanyaan penelitian. Oleh karena itu Anda dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan berikut yang dapat membimbing Anda dalam mengambil keputusan dalamproses triangulasi: 1. Apakah masalah saya dalam studi ini memerlukan beberapa pendekatan metodologis? 2. Apakah pertanyaan penelitian saya fokus pada aspek yang berbeda atau tingkat masalah saya? 3. Apakah saya memiliki beberapa perspektif teoretik pada masalah saya? 4. Apakah ada tingkat yang berbeda dari informasi yang saya butuhkan untuk mengumpulkan dan memahami masalah yang saya diteliti? 5. Apakah kerangka waktu untuk studi saya dan sumber daya pada umumnya memungkinkan triangulasi untuk diguna- kan? 6. Dapatkah saya berharap peserta saya untuk terkena be- berapa metode atau apakah ini terlalu menantang mereka? (Uwe Flick, 2009). Triangulasi adalah gagasan bahwa Anda harus melakukan lebih dari satu hal dalam sebuah penelitian. Artinya, Anda seharusnya menggunakan lebih dari satu metode pe- nelitian, menggunakan dua atau lebih teknik untuk me- ngumpulkan data, atau menggabungkan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif dalam satu penelitian. Triangulasi adalah ide yang excellent jika Anda ingin melihat topik yang sama dari sudut yang berbeda (Michael D. Myers, 2013). Jadi, triangulasi secara sederhana dapat dipahami sebagai teknik pengumpulan data dengan menggabungkan berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 155 ada. Peneliti yang menggunakan triangulasi sebagai teknik pengumpulan data sebenarnya secara langsung dan bersamaan menguji kredibilitas data yang diperoleh melalui teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Artinya peneliti me- ngumpulkan data dan sumber data yang sama dengan teknikteknik yang berbeda. Dalam konteks praktis, triangulasi lebih meng- utamakan keefektifan proses dan hasil yang diinginkan. Oleh karena itu, triangulasi dapat dilakukan dengan menguji apakah proses dan hasil metode yang digunakan sudah berjalan dengan baik. Seperti (1) umpamanya peneliti menggunakan wawancara mendalam dan observasi untuk pengumpulan data. Pastikan apakah setiap hari telah terhimpun catatan harian wawancara dengan informan serta catatan harian observasi; (2) Setelah itu dilakukan uji silang terhadap materi catatan-catatan harian itu untuk memastikan tidak ada informasi yang bertentangan antara catatan harian wawancara dan catatan harian observasi. Apabila ternyata antara catatan harian kedua metode ada yang tidak relevan, peneliti harus mengonfirmasi perbedaan itu kepada informan; (3) Hasil konfirmasi itu perlu diuji lagi dengan informasi-informasi sebelumnya karena bisa jadi hasil konfirmasi itu bertentangan dengan informasi-informasi yang telah dihimpun sebelumnya dari informan atau dari seumber lainnya. Apabila ada yang berbeda, peneliti terus menerus menelusuri perbedaan-perbedaan itu sampai peneliti menemu- kan sumber perbedaan dan materi perbedaannya, kemudian dilakukan konfirmasi dengan informan dan sumber-sumber lain (Burhan Bungin, 2010). Dari penjelasn Bungin di atas, maka triangulasi bertujuan untuk menyelaraskan dan mencocokkan antara data atau informasi yang diberikan seorang informan dengan data informan lainnya. Sehingga jika data-data tersebut tidak saling


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 156 Penelitian Kualitatif bertentangan dan menuju titik jawaban yang sama, dapat dikatakan bahwa peneliti telah menemukan data jenuh sebagai jawaban dari satu masalah yang diteliti.


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 157 Bagian 10 KAJIAN PUSTAKA, DATA TEMUAN, DAN PEMBAHASAN A. Kajian Pustaka Kajian pustaka harus ada dalam penelitian kualitatif. Kajian pustaka oleh para ahli dikemukakan dengan istilah yang berbeda-beda. Ada yang mengistilahkan kajian teoretik, studi pustaka, tinjauan pustaka, acuan teori, ada juga yang mengistilahkan studi kepustakaan, dan ahli lain mengistilahkan acuan teoretik. Istilah-istilah tersebut sah-sah saja digunakan dalam penelitian, namun penulis lebih tertarik menggunakan istilah “Kajian Pustaka”. Penggunaan istilah-istilah tersebut, pada dasarnya merujuk pada upaya umum yang harus dilalui untuk mendapatkan teori-teori yang relevan dengan topik penelitian. Bila kita telah memperoleh kepustakaan yang relevan, maka segera untuk disusun secara teratur untuk di- pergunakan dalam penelitian. Jadi inti yang ingin disampaikan dalam bab ini adalah pemaparan teori-teori yang relevan dengan penelitian yang dilakukan, baik teori-teori yang bersumber dari pendapat para ahli yang dicuplik dari buku-buku, jurnal, majalah, hasil-hasil penelitian (tesis dan disertasi), dan sumber-sumber lainnya


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 158 Penelitian Kualitatif yang sesuai (internet, artikel di koran dll). Keseluruhan upaya tersebut, dikatakan sebagai upaya “Kajian Pustaka” untuk penelitian.Kajian pustaka dalam bagian ini biasanya disajikan pada bab khusus (biasanya dimunculkan pada bab II) yang berisi teori yang dibutuhkan untuk memandu sistematika atau menjelaskan hasil temuan untuk bahan analisis pada bab berikutnya. Kajian pustaka dibedakan menjadi dua bagian yaitu: pustaka konseptual dan pustaka penelitian. Pustaka konseptual meliputi konsep-konsep atau teori-teori yang ada pada buku- buku, artikel atau makalah ilmiah yang ditulis oleh para ahli. Sebaliknya pustaka penelitian meliputi laporan penelitian yang telah diterbitkan baik pada jurnal maupun majalah ilmiah. Bagi para pemula disarankan untuk menggunakan kajian pustaka yang berasal dari pustaka konseptual, untuk lebih memudahkan dalam merangkum dan mengkategorikan teori, sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal ini, semua penelitian, baik penelitian kualitatif maupun kuantitatif bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teori. Teori menurut Neumen (2003) adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena. Menurut Sugiono (2013) terdapat tiga kriteria ter- hadap teori yang digunakan sebagai landasan dalam penelitian, yaitu relevansi, kemutakhiran dan keaslian. Relevansi berarti teori yang digunaan sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Kalau yang diteliti masalah kepemimpinan, maka teori yang dikemukakan berkenaan dengan kepemimpinan, bukan teori


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 159 sikap atau motivasi. Kemutakhiran berarti terkait dengan kebaruan teori atau referensi yang digunakan. Keaslian terkait dengan keaslian sumber, maksudnya supaya peneliti meng- gunakan sumber aslinya dalam mengemukakan teori jangan sampai peneliti mengutip dari kutipan orang lain, dan se- baiknya dicari sumber aslinya. Dalam kaitan dengan sumber asli, menurut penulis tidak masalah peneliti mengutip dari kutipan orang lain. Yang terpenting adalah adanya kejujuran penulis untuk mencantumkan sumber di mana kutipan itu diambil. Untuk menguasai teori, diharapkan agar para peneliti rajin membaca. Sumber-sumber bacaan bisa berbentuk buku- buku, jurnal ilmiah, makalah ilmiah, kamus, maupun hasil penelitian. Menurut Sugiono (2013) peneliti kualitatif dituntut untuk mampu mengorganisasikan semua teori yang dibaca. Landasan teori yang dituliskan dalam proposal penelitian lebih berfungsi untuk menunjukkan seberapa jauh peneliti memiliki teori dan memahami permasalahan yang diteliti walaupun permasalahan tersebut masih bersifat sementara. Oleh karena itu landasan teori yang dikemukakan tidak merupakan harga mati, tetapi bersifat sementara. Peneliti justru dituntut untuk menemukan teori berdasarkan data yang diperoleh di lapangan selama pelaksanaan penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran teori dalampenelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalampenelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan. Sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu teori.


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 160 Penelitian Kualitatif Sesungguhnya kajian pustaka mempunyai beberapa fungsi, di antaranya: (1) Menyediakan berbagai konsep atau teori yang relevan dengan penelitian yang direncanakan; dan (2) Memberi rasa percaya diri bagi peneliti, karena melalui kajian pustaka semua konsep atau teori yang berhubungan dengan penelitian telah tersedia. B. Data Temuan Dalam sub bab ini disajikan berbagai data temuan lapangan baik data hasil observasi, wawancara maupun do- kumentasi. Data-data yang ditampilkan adalah data sesungguh- nya atau apa adanya berdasarkan temuan peneliti saat berada di lapangan. Paparan data hasil observasi harus dikuatkan dengan hasil wawancara dari berbagai sumber yang relevan sesuai dengan apa yang diharapkan dalam rumusan masalah serta dikuatkan juga dengan data-data yang yang didapatkan dari hasil sudi dokumentasi. Data hasil wawancara yang ditampilkan dalam sub bab ini hanya cuplikan-cuplikan inti dari masing-masing nara- sumber. Adapun cuplikan utuh hasil wawancara dari berbagai sumber dimunculkan pada halaman lampiran. Data-data yang ditampilkan harus tersusun secara sistematis dan harus bisa menjawab semua pertanyaan yang tercantum di dalam rumusan masalah. Jika dalam satu pe- nelitian terdapat 4 (empat) rumusan masalah, maka data temu- an harus bisa menjawab empat pertanyaan tersebut. C. Pembahasan Pemabahasan harus dilakukan secara tepat, cermat dan sistematis. Uraian kalimat pada pembahasan harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tertera pada rumusan masalah, dan harus singkron dengan data temuan.


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 161 Bagian 11 DATA DAN KRITERIANYA A. Definisi Data Data, dalam bahasa Inggris merupakan bentuk plural dari “datum” yang berarti materi atau kumpulan fakta yang dipakai untuk keperluan analisis, diskusi, presentasi ilmiah, atau tes statistik. Ada juga yang mendefinsikan data sebagai “the description of things and events that we face” - deskripsi dari sesuatu dan kejadian yang kita hadapi. Secara umum data adalah “a structured codification of single primary entities, as well as of transactions involving two or more primary entities”. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2010), data diterjemahkan sebagai berikut: (1) kenyataan yanga ada, yang berfungsi sebagai bahan sumber untuk menyusun pendapat; (2) keterangan yang benar; (3) keterangan atau bahan yang dipakai untuk penalaran atau penyidikan. Pada laman Boston University Libraries (diakses 16/10/2013) dirilis bahwa “research data is data that collected, observed or created for purposes of analysis produce original research result.” – data penelitian merupakan data yang dikumpulkan, diamati, atau dibuat untuk tujuan analisis untuk menghasilkan penelitian yang asli. Dalam website University of Leicester (diakses 16/10/2013), data penelitian didefiniskan sebagai “recorded


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 162 Penelitian Kualitatif factual material commonly retained by and accepted in the scientific community as necessary to validate research findings…” – bahan faktual yang direkam, yang secara umumdipertahankan oleh dan diterima dalam komunitas ilmiah yang diperlukan untuk memvalidasi temuan penelitian. Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa data penelitian dipahami sebagai informasi yang sebenarnya, sesuai fakta atau apa adanya, yang diperoleh melalui proses pengumpulan, pengamatan yang dapat dijadikan sebagai sumber analisis dalam suatu penelitian ilmiah, yang bertujuan untuk memvalidasi temuan dan menghasilkan penelian yang original. B. Kriteria Data Sebelum penelitian dimulai, terlebih dahulu harus diketahui kriteria data yang akan dikumpulkan berdasarkan sumber, cara memperoleh data dan waktu pengumpulan data. 1. Data Berdasarkan Sumbernya Dalam setiap penelitian, data dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu data internal dan external. Data internal merupakan data yang bersumber dari dalam seseorang atau sebuah instansi semisal lembaga, organisasi, dan sekolah yang diteliti. Data tersebut merupakan informasi yang menggambar- kan kondisi, aktifitas, program atau struktur di dalamnya. Contohnya penelitian terhadap seseorang (penelitian pemikiran tokoh). Dalam penelitian tersebut data internalnya dapat berupa informasi sifat, karakter, riwayat hidup dan pemikiran- pemikirannya dalam bidang tertentu. Dalam penelitian ter- hadap sebuah instansi, data internalnya dapat berupa struktur kepengurusan yayasan, daftar inventaris, grafik perkembangan yayasan, persepsi anggota yayasan dan sebagainya.


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 163 Sedangkan data eksternal merupakan data yang ber- sumber dari luar instansi yang diteliti. Data ini meng- gambarkan kondisi, kegiatan atau persepsi masyarakat di luar organisasi yang diteliti. Misalnya tanggapan masyarakat ter- hadap seorang tokoh atau terhadap suatu instansi yang diteliti. 2. Data Berdasarkan Cara Memperolehnya Berdasarkan kriteria ini, data diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang dikumpulkan secara langsung oleh peneliti sebagai orang yang memiliki kepentingan terhadap data tersebut. Contohnya lembar observasi langsung, transkrip rekaman wawancara, dan sebagainya yang diperoleh dan diolah langsung oleh peneliti sendiri. Sedangkan data sekunder merupakan kebalikan dari data primer, yaitu data yang di- kumpulkan secara tidak langsung oleh peneliti sendiri, misal- nya data yang terkait dengan sebuah penelitian yang diperoleh dari surat kabar, buletin, majalah, jurnal dan referensi lainnya, baik yang dipublikasikan maupun yang tidak. 3. Data Berdasarkan Waktu Pengumpulannya Kriteria ini mengelompokkan data menjadi dua yaitu: cross-section, time series dan data panel. Pertama, data cross- section merupakan data yang dikumpulkan pada waktu tertentu yang mendeskripsikan keadaan pada saat itu. Misalnya data perkembangan peserta didik grafik seluruh madrasah di ke- camatan x per tahun 2012. Kedua, data time series atau data berkala merupakan data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu yang menggambarkan kondisi, kecenderungan, minat dan sebagainya sesuai priode pengumpulan data. Contoh: nilai rata-rata siswa per minggu dalam bulan Januari.


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 164 Penelitian Kualitatif Data-data penelitian tersebut baik dalam riset tradisi- onal maupun digital dapat berbentuk dokumen (teks, kata- kata), catatan lapangan, buku harian, notebook, transkrip, kuesioner, kaset audio dan video, foto, film, slide, artefak, koleksi materi digital yang diperoleh dan dihasilkan selama proses penelitian, file data, dan lain-lain (University of Leicester, diakses 17/10/2013).


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 165 Bagian 12 PENUTUP (Bagian Akhir Penelitian) Dalam bagian akhir sebuah laporan ilmiah lazimditutup oleh bab penutup yang biasanya berisi dua poin pokok yaitu simpulan dan saran. A. Simpulan Simpulan merupakan bagian akhir dari sebuah laporan penelitian. Simpulan bukan ikhtisar atau rangkuman dari bab sebelumnya, melainkan hasil pemikiran reflektif yang me- wakili muatan utama dalam penelitian sesuai dengan rumusan masalah. Pada bagian ini peneliti berusaha menyimpulkan secara singkat, padat dan jelas serta komprehensif dan holistik. Peneliti dalam menyimpulkan hasil penelitiannya, hendaknya dilakukan secara deskriptif dan menghindari simpulan dalambentuk pointer. Untuk menghasilkan simpulan yang baik, ada be- berapa langkah praktis yang dapat dilakukan yaitu sebagai berikut: Langkah pertama : Mulailah menguraikan permasalahan penelitian secara garis besar dan deskriptif! Langkah kedua : Ringkaslah secara deskriptif isi setiap


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 166 Penelitian Kualitatif bab yang ada dalam penelitian! Langkah ketiga : Uraikan secara deskriptif mengenai hubungan setiap fakta dengan per- masalahan sehingga menghasilkan simpulan berupa jawaban dari per- masalahan yang diteliti! Langkah keempat : Uraikan implikasi, dampak dari sim- pulan atau jawaban penelitian jika ada! Langkah kelima : Konsistenlah terhadap simpulan yang dibuat sehingga memiliki relevansi dengan bab-bab terdahulu sesuai dengan pertanyaan dalam rumusan masalah! B. Saran Yang dimaksud saran dalam bab penutup sebuah karya ilmiah semisal skripsi, tesis dan disertasi adalah rekomendasi. Peneliti merekomendasikan mengenai ke- mungkinan adanya penelitian lanjutan yang dapat dilakukan oleh peneliti berikutnya yang relevan dengan penelitian. Sehingga rekomendasi tersebut merupakan jalan untuk menemukan permasalahan-permasalahan baru yang layak untuk diteliti dengan topik dan tema yang sama. Di samping itu, saran juga dapat berupa masukan kepada instansi/lembaga yang dijadikan objek penelitian, serta karyawan dan stakeholders-nya. Biasanya uraian saran ditulis dalam bentuk pointer. Karena antara saran yang satu dengan yang lainya berbeda-beda tergantung kepada pihak mana saran itu dialamatkan.


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 167 Bagian 13 SISTEMATIKA PENULISAN PROPOSAL & LAPORAN PENELITIAN A. Pendahuluan Pedoman penulisan proposal dan laporan penelitian bukanlah sesuatu yang baku. Masing-masing institusi/ lembaga/organisasi penyelenggara penelitian memiliki pe- doman yang berbeda-beda. Namun ada bagian-bagian yang lazim dipergunakan oleh semua instansi. Oleh karena itu, bagian ini akan membahas hal-hal umum yang berhubungan dengan penulisan proposal dan laporan penelitian secara teknis. Bagian ini sangat penting diperhatikan oleh peneliti. Aturan teknik penulisan secara umum sesungguhnya bertujuan untuk mengarahkan tulisan proposal dan laporan penelitian menjadi sesuatu yang memiliki nilai estetika. B. Teknik Penyajian Proposal dan Laporan Penelitian 1. Penyajian Verbal Menurut Soemanto (2008) penyajian verbal adalah penyajian hasil penelitian dalam bentuk kata-kata. Sebenarnya bukan hanya penyajian hasil penelitian, namun juga penyajian proposal. Proposal dan laporan penelitian merupakan karya ilmiah yang harus diperhatikan teknik penyajian verbalnya.


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 168 Penelitian Kualitatif Dalam hal ini, ada beberapa hal yang perlu di- perhatikan oleh peneliti yaitu: a. Jelas dan Tegas Penulis/peneliti menulis gagasan-gagasannya dengan jelas. Kata-kata yang ambigu dan membutuhkan penafsiran harus benar-benar dihindari. Kejelasan dan ketegasan sebuah gagasan tergantung kemampuan penulis memilih kata-kata dan menggunakan kalimat yang efektif. Jadi proposal dan atau laporan penelitian benar-benar dapat meyakinkan pembacanya. b. Obyektif. Obyektif adalah lawan dari kata subjektif. Penulis me- nuangkan seluruh gagasannya secara “apa adanya” sesuai fakta yang terjadi. Ia tidak boleh melibatkan perasaan dan keinginannya secara subjektif. Sikap objektif merupakan salah satu dari kelengkapan sebuah karya ilmiah. Semakian objek penulis memposisikan dirinya, karya yang dihasilkan pun makin ilmiah. c. Ringkas Kalimat yang digunakan hendaknya ringkas, namun me- miliki makna yang padat. Demikian pula susunan paragrap- nya. Keringkasan kalimat dan paragrap dapat dipahami isinya dengan mudah, dan sebaliknya akan sulit dipahami bila kalimat dan paragrap yang dibuat terlalu panjang dengan anak kalimat yang banyak. d. Selektif. Ada sejumlah kata yang harus dihindari dalam sebuah karya ilmiah semisal proposal dan laporan penelitian. Seperti penggunaan kata ganti “aku”, “saya”, “kami”, dan “kita”, termasuk kata “penulis” atau “peneliti” harus di- hindari, dan diganti dengan kalimat intransitif. Contoh:


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 169 Sebagaimana yang sering kita/saya/penulis/peneliti dengar bahwa ... (sebaiknya diganti dengan) Sebagaimana yang sering didengar bahwa ... 2. Penyajian Skematis dan Matematis Penyajian skematis adalah penyajian proposal atau laporan penelitian dalam bentuk skema, diagram dan atau ilustrasi. Sedangkan penyajian matematis merupakan penyajian berupa angka-angka dan simbol-simbol. Bentuk skematis dan matematis sering digunakan dalam penelitian kualitatif dan kuantitatif. Kedua penyajian tersebut digunakan untuk mem- berikan gambaran ringkas agar lebih mudah dipahami. Dalampenyajian ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu sebagai berikut: a. Isi tabel tidak perlu dideskrispsikan panjang lebar lagi. Sebab, penyajian tabel dimaksudkan untuk meringkas data yang banyak sehingga mudah dicermati dan dipahami. b. Tabel yang efektif adalah tabel yang disajikan dalam satu halaman utuh, agar lebih mudah dipahami isinya. Sehingga seorang penulis perlu menghindari pemotongan suatu tabel dalam bentuk terpisah. c. Agar mudah dilacak hendaknya tabel dinomori. d. Kata TABEL beserta nomornya diketik di tengah-tengah halaman kertas. e. Ukuran, keterangan atau simbul matematis sebaiknya di- singkat, umpanya: persen ditulis %, nomor ditulis no., tanggal ditulis dengan tgl. dan sebagainya. 3. Penyajian Visual Penyajian visual adalah penyajian hasil penelitian dengan menampilkan grafik-grafik, peta, gambar, dan sebagai-


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 170 Penelitian Kualitatif nya. Penyajian visual biasanya dimaksudkan sebagai kom- binasi atau pelengkap sajian matematis dan verbal. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyajian visual: a. Sajian visual hendaknya ditempatkan di belakang uraian matematis atau verbal mengenai hal yang relevan serta masih dalam teks. b. Tidak seperti dalam tabel, nomor, dan judul gambar/sajian visual hendaknya ditempatkan di bawah sajian visualnya (Soemanto, 2008) C. Teknik Penulisan 1. Jenis dan Ukuran Kertas Jenis kertas yang umum digunakan pada penulisan proposal dan laporan penelitian adalah kerta HVS berukuran A4 dengan ukuran margin; tepi kanan 3 cm., tepi kiri 4, tepi atas 4, dan tepi bawah 3. 2. Jenis dan Ukuran Huruf (Font). Jenis huruf yang umum digunakan dalam karya ilmiah termasuk proposal dan laporan penelitian adalah jenis Times New Roman dengan ukuran 12 pt. 3. Penomoran, tanda baca dan simbol Angka Romawi kecil (i, ii, iii, dan seterusnya) biasanya digunakan sebagai penomoran halaman pada bagian depan laporan penelitian. Sedangkan angka 1, 2, 3, dan seterusnya digunakan pada halaman isi proposal yang dimulai dari bagian latar belakang hingga akhir, dan isi laporan penelitian yang dimulai dari bab pendahuluan sampai bab penutup.Nomor halaman pertama proposal dan nomor halaman pertama laporan penelitian dalam setiap halaman babnya,


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 171 biasanya ditulis di bagian tengah bawah antara margin kiri dan kanan, yang berjarak 1,5 cm dari margin bawah. Sedangkan nomor halaman isi 2, 3, 4 dan seterusnya ditempatkan pada bagian pojok kanan yang berjarak 1,5 cm dari margin atas dan 0 cm dari margin kanan. Penomoran bab ditulis dengan angka Romawi besar (I, II, III dan seterusnya), kemudian sub bab ditulis dengan huruf besar atau kapital (A, B, C, D dan seterusnya), anak sub babnya ditulis dengan angka (1, 2, 3, 4 dan seterusnya). Penulisan nomor bagian dari anak sub bab ditulis dengan huruf kecil (a, b, c, d, dan seterusnya). Kemudian bagian-bagian berikutnya ditulis dengan angka 1, 2, 3, 4 dan seterusnya yang diikuti kurung penutup. Untuk lebih jelas, dapat dilihat dalamcontoh berikut ini: Contoh: BAB I A. …………. 1. …………. 2. ............... a. ………… b. .............. 1) …………. 2) ............... a) ………….. b) ................ (1) ………… (2) .............. (a) ………… (b) .............. B. ……. 1. ……….


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 172 Penelitian Kualitatif 2. ............. a. ……… b. ........... 1) ……… 2) ........... a) ......... b) ......... (1) ........ (2) ........ (a) ......... (b) ......... demikian seterusnya. 4. Istilah Asing dan Daerah Penulisan istilah-istilah asing atau daerah yang belumditemukan terjemahannya dalam baasa Indonesia diberi garis bawah (underline) atau dicetak miring (italic). Contoh: Transfer of technology (Inggris) Ora Ono (Jawa) Ara-ara bae (Lombok) Nyaman Tunu’ (Sumbawa Barat) Dll. 5. Footnote Dalam penulisan proposal, laporan penelitian dan karya-karya ilmiah lainnya, penyebutan rujukan tambahan menggunakan format catatan kaki (footnote). Footnote merupakan salah satu aplikasi otomatis dalam lembar kerja micrisoft word. Jadi catatan kaki tidak ditulis (diketik) secara “manual”. Jika ditulis secara manual, catatan kaki tidak akan teratur.


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 173 Bagi penulis pemula, aplikasi footnote dapat diakses melalui langkah-langkah manual berikut: a) Bukalah halaman kerja baru maka akan muncul deretan menu aplikasi di bagian atas halaman. b) Pilihlah menu “references” dan klik! c) Setelah itu akan muncul menu pilihan dan pilihlah “insert footnote”!Setelah itu foot note akan secara otomatis berfungsi. Atau, dapat pula diakses secara langsung dengan menekan tombol (Alt+Ctrl+F). Menulis footnote tidak terlepas dari aturan-aturan yang harus diikuti secara umum. Di antaranya adalah sebagai berikut: a) Catatan kakiy ang merujuk kepada buku secara teknik dimulai dengan menulis nama pengarang tanpa gelar apapun di depan dan belakang nama, kemudian diikuti tanda koma (,), judul buku yang ditulis dengan model Italic (miring), tanda kurung pembuka, nama tempat terbit, tanda titik dua (:), spasi, nama penerbit, tanda koma (,), tahun terbit, tanda tutup kurung, nomor halaman buku, dan diakhiri dengan tanda titik (.). Contoh: M. Sobry Sutikno, Manajemen Pendidikan; Tinjauan Umum dan Islam (Lombok: Holistika, 2012), 99. b) Jika buku tersebut dikutip kembali tanpa diselingi oleh buku yang lain, tidak perlu ditulis lengkap, melainkan cukup ditulis Ibid. yang dicetak miring, diikuti oleh tanda koma, nomor halaman buku, kemudian tanda titik. Contoh:


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 174 Penelitian Kualitatif M. Sobry Sutikno, Manajemen Pendidikan; Tinjauan Umum dan Islam (Lombok: Holistika, 2012), 99. Ibid., 95. Ibid., 30. Dan seterusnya. c) Jika buku tersebut dikutip kembali dan diselingi oleh buku yang lain, cukup ditulis nama populer pengarang buku, tanda koma, dua kata dari judul buku, tanda koma, nomor halaman, dan mengakhirinya dengan tanda titik. Contoh: Sobry, Manajemen Pendidikan, 45. d) Jika dua buku dijadikan rujukan secara berurutan dengan pengarang yang sama tetapi berlainan judul, penulisannya utuh seperti penulisan yang pertama (lihat point a). Contoh: M. Sobry Sutikno, Manajemen Pendidikan: Tinjauan Umum dan Islam (Lombok: Holistika, 2012), 99. M. Sobry Sutikno, Belajar dan Pembelajaran (Lombok: Holistika, 2013), 37. e) Jika artikel dalam jurnal dikutip, komponen footnote-nya adalah nama penulis artikel tanpa gelar di depan dan belakang, tanda koma, judul artikel ditulis biasa (tidak Italic/mirig) yang diapit antara dua tanda petik, tanda koma, nama jurnal, nomor jurnal (jika ada), tanda koma, nomor volume (jika ada), tanda kurung pembuka, bulan terbit, tanda koma, tahun terbit, tanda tutup kurung, dan nomor halaman yang diakhiri tanda titik. Contoh: Prosmala Hadisaputra, “Pemanfaatan Potensi Lokal: Upaya Strategis dalam Pemberdayaan Masyarakat”,


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 175 Komunitas: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam, Vol. 6 (Desember, 2013), 34. f) Bila artikel dalam buku “bunga rampai” dikutip, penulisan footnote-nya hampir sama dengan penulisan footnote artikel dalam jurnal. Nama pengarang tanpa gelar apapun di depan dan belakang, tanda koma, judul artikel diapit oleh dua tanda petik, tanda koma, bubuhan kata “dalam”, nama lengkap editor, bubuhan singkatan “Ed.” di antara dua kurung, judul buku “bunga rampai”, tanda kurung pembuka, nama tempat terbit, tanda titik dua, nama penerbit, tahun terbit, tanda kurug penutup, nomor halaman, dan tanda titik. Contoh: Nur Syam, “Penguatan Kelembagaan Ekonomi Berbasis Pesantren”, dalam A. Halim dkk. (Ed.), Manjemen Pesantren (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005), 248. Joan Dean, “Organising Learning”, dalam Margaret Preedy at. al. (Ed.), Educational Management: Strategy, Quality, and Resources (Berkshire: Open University Press, 1997), 95. g) Jika artikel tersebut dikutip dari surat kabar/koran, footnote-nya dimulai dengan menulis nama penulis artikel, tanda koma, judul artikel di antara dua tanda petik, tanda koma, nam surat kabar/koran, tanda kurung pembuka, tanggal, bulan dan tahun publikasi, tanda kurung penutup, tanda koma, nomor halaman dan tanda titik. Contoh: Prosmala Hadisaputra, “Pentingnya Pendidikan Lingkungan Hidup”, Lombok Post, (17 Januari 2013), 9.


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 176 Penelitian Kualitatif h) Jika materi kutipan diambil dari skripsi, tesis, atau disertasi yang tidak atau belum diterbitkan, penulisan footnote-nya ditulis mulai dari nama penulis skripsi/tesis/disertasi, tanda koma, kemudian judul skripsi/tesis/disertasi yang ditulis dalam posisi tegak (tidak Italic) di antara dua tanda petik, tanda kurung pembuka, tulisan “skripsi” jika skripsi, “tesis” jika tesis, dan “disertasi” bila karya tesebut merupakan disertasi, kemudian tanda koma, nama institusi, lokasi instusi, tahun ditulis, tanda kurung penutup, tanda koma, nomor halaman, dan terakhir tanda titik. Contoh: M. Sobry, ......................................................................... (Tesis, Universitas Sebelas maret, Surakarta, ........) M. Sobry, .............................................................................. (Disertasi, Uninus, Bandung, ......) i) Jika materi yang dikutip adalah ayat al-Qur’an, footnote- nya dimulai dengan menulis Q.S., nama surah, spasi, nomor surat di antara dua tanda kurung, tanda titik dua, nomor ayat, dan tanda titik. Contoh: Q.S. al-Baqarah (1): 56. j) Jika materi yang dikutip adalah hadis, footnote-nya dimulai dengan menulis nama lengkap perawi hadis, nama kitab hadis dengan cetak miring (Italic), tanda kurung pembuka, tempat terbit, tanda titik dua, nama penerbit, tanda koma, tahun terbit jika ada, jika tidak ada cukup ditulis “tt.” (tanpa tahun), tanda kurung penutup, tanda koma, nomor halaman, dan tanda titik. Contoh:


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 177 Abî Dâwûd Sulaimân bin Al-Asy’ats Al-Sajastânî, Sunan Abî Dâwûd (Riyadh: Bayt al-Afkâr al-Dawliyyah, tt.), 157. k) Jika materi yang dikutip bersumber dari buku terjemahan, footnote-nya dapat ditulis dengan pertama-tama menulis nama lengkap pengarang tanpa gelar apapun, judul buku setelah diterjemahkan yang ditulis miring, membubuhkan kata “ter.” Yang diikuti dengan nama lengkap penerjemah tanpa gelar apapun, tanda kurung pembuka, nama tempat terbit, tanda titik dua, nama penerbit, tanda koma, tahun terbit, tanda kurung penutup, nomor halaman, dan diakhiri tanda titik. Contoh: W. Montgomery Watt, Pengantar Studi Al-Qur’an, ter. Taufik Adnan Amal (Jakarta: Rajawali Press, 1991), 83. Jika penerjemahnya dua orang, kedua nama pengarangnya harus ditulis lengkap tanpa gelar apapun. Contoh: Erni Budiwanti, Islam Sasak: Wetu Telu Versus Waktu Lima, ter. Noor Kholis dan Hairus Salim HS. (Yogyakarta: LKiS, 2000), 105. Jika penerjemahnya lebih dari dua orang, cukup ditulis nama pengarang pertama tanpa gelar apapun dan dibubuhi “dkk.” (dan kawan-kawan). Sa’ad Riyadh, Jiwa dalam Bimbingan Rasulullah, ter. Abdul Hayyie al-Kattani dkk. (Jakarta: Gema Insani Press, 2007). 7.


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 178 Penelitian Kualitatif l) Jika materi kutipan bersumber dari internet, cotoh pengutipannya sebagai berikut: M. Sobry Sutikno, “.............................................” dalamhttp//www.sobrycenter.com, diunggah tanggal 03 Mei 2013, pukul 19.25 WITA. Jika materi bersumber dari wikipedia dan website yang tidak memiliki penulis jelas, contoh footnotenya sebagai berikut: www.wikipedia.org., diunduh pada 10 April 2013, pukul 20.01 WITA. m) Jika memfootnote hasil wawancara, terlebih dahulu ditulis nama sumber/informan, kemudian dibubuhi kata wawan- cara yang ditulis miring (Italic), tanda koma, lokasi wawancara, tanda koma, tanggal wawancara serta bulan dan tahunnya yang diakhiri tanda titik. Contoh: L. Sohimun Faishal, wawancara, Mataram, 27 Maret 2013. n) Jika memfootnote hasil observasi, terlebih dahulu ditulis kata observasi yang ditulis miring (Italic), kemudian tanda koma, tanggal beserta bulan dan tanggalnya yang diakhiri tanda titik. Contoh: Observasi,11 Januari 2013. 6. Kutipan Dalam penulisan karya ilmiah termasuk proposal dan laporan penelitian, kutipan dibagi menjadi dua, yaitu kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Kutipan langsung adalah teknik mengutip yang dilakukan secara langsung dengan menukil kalimat-kalimat yang ada di dalam buku yang di-


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 179 jadikan rujukan, tanpa mengubah bunyi dan redaksi materi yang dikutip. Kalimat yang dinukil sama dengan kalimat yang ada di buku sumber rujukan. Sedangkan kutipan tidak langsung adalah kutipan yang dilakukan secara tidak langsung yaitu dengan mengutip gagasan-gagasan yang terdapat dalam buku yang dijadikan rujukan. Kutipan langsung dibagi menjadi dua yaitu kutipan langsung kurang dari lima baris dan kutipan langsung lima baris atau lebih. Kutipan yang kurang dari lima baris biasanya ditempatkan dalam teks, yang diapit di antara dua tanda petik, dan jarak spasi yang digunakan adalah dua spasi. Sedangkan kutipan langsung lima baris atau lebih ditempatkan di bawah teks yang mendahuluinya. Kutipan tersebut menjorok masuk 8 atau 7 ketukan. Ada pula yang menggunakan 5 ketukan. Biasa- nya disesuaikan dengan letak alenia. Bila ketukan alenia meng- gunakan 8, ketukan kutipan langsungnya menggunakan 8 ketukan, dan seterusnya. 7. Daftar Pustaka/Referesensi Mencantumkan daftar pustaka merupakan suatu yang mutlak dilakukan di dalam sebuah karya ilmiah. Di samping untuk memperjelas sumber yang digunakan, juga merupakan etika intelektual seorang penulis. Referensi yang dimasukkan dalam daftar pustaka adalah refrensi yang dikutip. Refresensi yang hanya digunakan sebagai bahan bacaan tetapi tidak dirujuk dalam teks tidak dimasukkan dalam daftar rujukan. Sebaliknya, semua bahan pustaka yang disebutkan dalam skripsi, tesis, dan disertasi harus dicantumkan dalam daftar rujukan. Adapun teknik penulisan daftar pustaka pertama-tama dimulai dengan menulis nama lengkap pengarang tanpa gelar depan dan belakang, tanda titik, tahun terbit, tanda titik, judul


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 180 Penelitian Kualitatif buku yang ditulis miring (Italic), tanda titik, tempat terbit, tanda dua titik, nama penerbit, dan diakhiri tanda titik. Perlu diketahui bahwa penulisan nama pengarang dalam daftar pustaka dapat ditulis dalam dua model, yaitu pertama mempoisisikan nama belakang berada didepan. Kedua, tidak melakukan reposisi letak nama depan dan akhir. Artinya nama ditulis utuh tanpa dibalik. Contoh daftar pustaka dengan memposisikan nama belakang berada di depan, sebagai berikut: Azra, Azyumardi. 1999. Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu. Jabali, Fu’ad. 2010. Sahabat Nabi: Siapa, ke Mana, dan Bagaimana.Jakarta: PT. Mizan Publika. Sobry Sutikno, M. 2014. Pemimpin dan Kepemimpinan. Lombok: Holistica. Contoh daftar pustaka dengan tidak melakukan reposisi letak nama, sebagai berikut: Masnur Muslichah. 2007. KTSP: Pemebelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara. Zakiah Darajat. 2010. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang. M. Sobry Sutikno. 2014. Metode dan Model-model Pembelajaran. Lombok: Holistica. 8. Transliterasi Arab-Latin Transliterasi Arab-Latin dilakukan bilamana terdapat kata atau frase dalam bahasa Arab yang belum diindonesiakan. Penulisannya dapat mengacu pada pedoman transliterasi berikut ini:


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 181 Arab Latin Arab Latin Diptong/Mad ا A ط TH آ Â/â î/Î إِيْ ZH ظ B ب ’ ع Ts ت û/Û أُوْ Aw أوْ Gh غ J ج Ay أَيْ F ف H ح Q ق KH خ K ك D د L ل Dz ذ M م R ر N ن Z ز W و S س H ه SY ش ء SH ص Y ي DL ض ’


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 182 Penelitian Kualitatif


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 183 Bagian 14 PENELITIAN CAMPURAN (MIXED METHODS); SEBUAH PENGATAR A. Konsep Penelitian Metode Campuran (Mixed Methods) Mixed Methods dilihat dari penamaannya yang berarti “metode campuran”, dapat diketahui bahwa metode ini diterapkan dengan mencampurkan metode kualitatif dan kuantitatif dalam satu penelitian. Secara logika, penggabungan kedua metode tersebut dalam satu penelitian tentu lebih kuat dan lengkap dari pada menggunakan salah satu di antara keduanya. Sebab metode campuran merupakan pendekatan yang tidak hanya kuat dalam proses pengumpulan dan analisis data, namun juga dalam kesatuan fungsi di antara keduanya. Secara historis mixed method telah dikenal sejak tahun 1950-an dan seterusnya hingga tahun 1980-an. (Creswell &Clark, 2010) Pada tahun 1959 dua orang psikolog Campbell dan Fiske mencoba menggunakan banyak metode (multi- methods) dalam meneliti kebenaran watak-wakatk psikologis. Dalam proses penelitian, mereka berdua menggunakan multi- methods untuk mengupulkan data-data penelitian. Sedangkan Secara konseptual, metode campuran me- miliki ragam definisi di antaranya: 1. Menurut Cresswell dan Clark (2011), metode campuran merupakan desain penelitian dengan asumsi-asumsi filo-


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 184 Penelitian Kualitatif sofis serta metode inkuiri. Sebagai sebuah metodologi, ia melibatkan asumsi-asumsi filosofis yang memandu arah pengumpulan dan analisis campuran pendekatan kualitatif dan kuantitatif dalam banyak tahapan proses penelitian. Sebagai sebuah metode, berfokus pada pengumpulan, analisis, dan pencampuran kedua pendekatan kuantitatif dan kualitatif, dalam kombinasi, memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai masalah penelitian. 2. Menurut Tashakkori & Teddlie (2010), metode campur- an(Mixed Method/MM) didefinisikan sebagai jenis desain penelitian dimana pendekatan kualitatif dan kuantitatif digunakan dalam ragam jenis pertanyaan, metode pe- nelitian, pengumpulan data dan prosedur analisis, dan atau kesimpulan. 3. Greene dalam Tashakkori & Teddlie(2010) “intentional use of more than one method, methodology, and/or methodological tradition in same study or program of research– Penggunaan sengaja lebih dari satu metode, metodologi, dan/atau tradisi metodologis dalam studi atau program penelitian yang sama. 4. Bryman dalam Tashakkori & Teddlie (2010)“research that entails the collection and analysis of quantitative and qualitative data within a single project” – Penelitian yang memerlukan pengumpulan dan analisis data kuantitatif dan kualitatif dalam satu proyek. B. Mengapa Mixed Methods digunakan? Bergumulnya dua pendekatan dalam satu penelitian merupakan sebuah kekuatan dalam proses penelitian. Mixed methods menjadi sebuah pendekatan yang layak dipertimbangkan dalam penelitian, terutama penelitian berskala luas semisal desertasi. Creswell & Clark (2011) memaparkan se-


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 185 bagian di antara alasan mengapa metode ini layak digunakan dalam penelitian, yaitu: 1. Metode campuran penelitian memberikan kekuatan yang mengimbangi kelemahan dari kedua penelitian kuantitatif dan kualitatif. 2. Metode campuran penelitian membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh kuantitatif pendekatan kualitatif saja. 3. Metode campuran dapat menjembatani kesenjangan yang kadang-kadang berlawanan antara peneliti kuantitatif dan kualitatif. 4. Metode campuran penelitian mendorong penggunaan beberapa pandangan dunia, atau paradigma, bukan asosiasi khas paradigma tertentu dengan penelitian kuantitatif dan lain-lain untuk penelitian kualitatif. 5. Metode campuran penelitian ini adalah "praktis" dalam arti bahwa peneliti bebas untuk menggunakan semua metode yang mungkin untuk mengatasi masalah penelitian. 6. Kidder & Fine dalam Lee (1997) menambahkan, penelitian metode campuran memiliki keuntungan bahwa peneliti dapat memodifikasi prosedur mereka, asumsi, proposisi dan bahkan situs penelitian mereka. 7. Menurut Jick dalam Tashakkori & Teddlie (2013) menambahkan juga bahwa penggunaan beberapa metode dapat menetralisir atau membatalkanbeberapa kelemahan dari metode-metode tertentu. C. Cara Praktis Menulis Tujuan Penelitian Metode Campuran Secara teori penggunaan mixed methods bertujuan untuk meneliti secara keseluruhan tentang data dan informasi yang memuat unsur-unsur penelitian kualitatif dan kuantitatif.


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 186 Penelitian Kualitatif Dalam peroposal penelitian, peneliti harus mendeskripsikan mengenai tujuan mengapa ia menggunakan metode campuran dalam penelitiannya secara akademis dan logis. Proposal penelitian metode campuran perlu me- nyampaikan kedua pernyataan tujuan kuantitatif dan kualitatif. Pernyataan-pernyataan tersebut perlu diidentifikasi di awal penelitian yaitu dalam latar belakang masalah. Hal tersebut dapat menjadi rambu-rambu bagi pembaca untuk memahami mana tujuan kuantitatif dan mana tujuan kualitatif suatu penelitian. Pedoman perumuskan tujuan penelitian “metode campuran” tidaklah baku. Namun dalam sebuah instansi atau organisasi kadang-kadang membuat guideline sebagai pe- doman khusus dalam merumuskan tujuan. Secara umumperumusan tujuan dalam mixhed methods adalah seperti yang direkomendasikan oleh Creswell (2003) sebagai berikut: 1. Mulailah dengan kata-kata menandakan tujuan, seperti "tujuan dari...." atau maksud dari..." 2. Menunjukkan jenis metode desain campuran, seperti urut, secara bersamaan, atau transformasional. 3. Diskusikan alasan untuk menggabungkandata kuantitatif dan kualitatif dalam mengusulkan studi. 4. Jelaskan alasan mengapa data kualitatif dan kuantitatif dikombinasikan. 5. Terapkan karakteristik-karakteristik tujuan penelitian kualitatif dengan baik, seperti fokus pada satu fenomena utama dan menyebutkan strategi penelitian dan lokasi penelitian. 6. Terapkan karakteristik-karakteristik tujuan penelitian kuantitatif dengan baik. Seperti menyebutkan teori dan variabel-variabel, menghubungkannya atau membandingkan kelompok variabel-variabel, menyusun variabel-variabel dari variabel bebas terlebih dahulu, kemudian variabel


M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 187 terikat, menyebutkan strategi penelitian, merincikan para partisipan dan lokasi penelitian. 7. Pertimbangkan informasi-informasi tambahan tentang jenisjenis atau strategi-strategi pengumpulan data kualitatif dan kuantitatif. D. Hal-Hal Penting Sebelum Penelitian Mixed Methods Untuk merancang suatu penelitian dengan meng- gunakan pendekatan mixed method, peneliti sebaiknya mem- perhatikan beberapa hal penting yang direkomendasikan oleh Creswell (2013) yaitu: timing (waktu), weingthing (bobot), mixing (percampuran), dan theorizing (teoresasi). 1. Timing (waktu) Hal penting pertama yang harus diperhatikan peneliti dalam menggunakan pendekatan mixed method adalah waktu dalam melakukan pengumpulan data kualitatif dan kuantitatif. Dalam hal ini peneliti perlu menegaskan apakah penelitian yang hendak dilakukan pengumpulan datanya dilakukan secara bertahap (sekuensial) atau sekaligus dalam satu waktu (konkuren). 2. Weigthing (bobot) Karena metode campuran melibatkan dua pendekatan penelitian yaitu kualitatif dan kuantitatif, maka peneliti harus mempertimbangkan bobot campuran dalam penelitian. Dalamhal ini peneliti harus mempertimbangkan apakah bobot antara kedua pendekatan disamakan atau salah satu di antaranya melebihi bobot yang lain. Jika tidak disamakan, sebaiknya peneliti menentukan pendekatan yang mana (apakah kualitatif ataukah kuantitatif) yang diprioritaskan memiliki bobot yang


Click to View FlipBook Version