M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 88 Penelitian Kualitatif agar hasil yang telah diperoleh dapat memberikan simpulan dan gambaran yang sesuai dengan karakteristik populasi. Artinya simpulan penelitian tersebut dapat digeneralisasi terhadap populasi. Urgensi posisi sampling dalam penelitian “kuantitatif” menuntut peneliti untuk memahami dengan baik mengenai konsep sampling yang meliputi teknik atau prosedurnya, ukuran sampel, dan pemahaman yang mumpuni tentang populasi yang hendak dijadikan sampel. Pemahaman yang baik tentang teknik sampling dapat mengarahkan peneliti pada penentuan sampling yang baik pula. Adapun dalam perspektif penelitian kualitatif, infor- man sebagai bagian dari populasi tidak relevan jika ditentukan besaran ukuran informan dengan menggunakan statistik. Tidak ada jaminan pasti bahwa yang terjaring dalam perhitungan statitistik tersebut dapat memberikan data dan informasi yang dapat menjawab permasalahan penelitian. Bahkan mungkin terdapat banyak informan yang terjaring dengan kualifikasi yang tidak layak dijadikan nara sumber penelitian. Oleh karena itu penentuan size (ukuran) sampel dalam konteks kuantitatif tidak terlalu dipentingkan. Yang terpenting adalah informan yang dipilih memiliki kemampuan, kredibilitas dan kapabilatas yang mumpuni untuk menjawab permasalahan penelitian. Oleh karena itu, ukuran sampel atau jumlah sampel yang diambil menjadi persoalan yang amat penting jika pendekatan pe- nelitian yang rencanakan adalah penelitian kuantitatif. Sedang- kan pada penelitian kualitatif, ukuran sampel tidak terlalu diperhitungkan, karena yang dipentingkan adalah kekayaan informasi. Artinya walaupun jumlah informan hanya sedikit, namun memiliki informasi yang luas, maka sampelnya lebih bermanfaat daripada banyak namun minim informasi. Dalampenelitian terdapat sejumlah teknik sampling, namun dalam
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 89 konteks kualitatif tidak semua teknik tersebut dapat digunakan. Secara umum teknik sampling yang digunakan dalam pe- nelitian dikelompokkan menjadi dua yaitu probability sampling dan nonprobability sampling. 1. Probability Sampling Secara tradisional, penggunaan probability sampling merupakan teknik standar dalam penelitian sosial (Denscombe, 2007). Probability sampling merupakan teknik sampling dengan memberikan peluang yang sama kepada semua anggota populasi untuk dipilih menjadi bagian dari sampel. Menurut Harry T. Reis dan Chrales M. Judd (2000), probability sampling mengacu pada prosedur dasar seleksi di mana unsur- unsur dipilih secara acak dari kerangka sampling dan setiap elemen telah diketahui. Langkah awal yang harus dilakukan dalam teknik sampling ini adalah membuat sampling frame (kerangka sampel), yaitu daftar yang berisikan nama setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai anggota sampel. Dalamdaftar tersebut, tidak ada prioritas di antara populasi untuk dijadikan sampel. Setiap anggota memiliki peluang yang sama untuk menjadi bagian dari sampel. Melihat definisi di atas, maka dalam penelitian kualitatif teknik ini tidak layak digunakan, karena yang diperlukan dalam kualitatif adalah kekayaan informasi. Se- hingga tidak semua anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk menjadi sampel. Hanya anggota yang memiliki kekayaan informasilah yang akan dipilih. a. Simple random sampling Simple Random Sampling (SRS) is a type of probability sampling in which the units composing a
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 90 Penelitian Kualitatif population are assigned numbers. A set of random numbers is then generated, and the units having those numbers are included in the sample (Earl Babbie, 2013) –Simple RandomSampling (SRS) adalah jenis probability sampling di mana satu unit menyusun populasi yang ditandai dengan penomoran (sebagai kode). Satu unit bilangan acak kemudian dihasilkan, dan unit yang mendapatkan nomor tersebut dimasukkan dalamanggota sampel. SRS merupakan teknik sampling yang sederhana. Itu dapat diketahui dari penamaannya yaitu “simple”, yang berarti mudah dan sederhana. Dikatakan sederhana karena teknik ini dilakukan melalui prosedur yang sederhana yaitu secara acak. Dalam teknik ini peneliti tidak perlu memperhatikan strata apapun yang terdapat pada populasi itu. Biasanya, teknik seperti ini diterapkan pada anggota populasi yang dianggap homogen. Teknik sampling ini sering digunakan pada penelitian yang bersifat deskriptif dan umum. Karakater populasi yang berbeda-beda merupakan kondisi yang tidak penting untuk dipermasalahkan dalam analisis yang direncanakan. Misalnya, populasi tersebut terdiri dari anggota dengan jenis kelamin yang berbeda, status sosial yang beranekaragam, serta jabatan, profesi, hoby yang berbeda dan perbedaan-perbedaan lainnya. Perbedaan tersebut sesungguhnya bukanlah hal yang dipertimbangkan, karena tidak memiliki relevansi dan korelasi dengan hasil penelitian. Oleh karena itu semua anggota populasi diberikan peluang yang sama untuk menjadi bagian dari anggota sampel. b. Proportionate stratified random Proportionate stratified random sampling adalah teknik pengambilan sampel dari anggota populasi yang
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 91 dilakukan secara acak dan berstrata secara proporsional. Teknik ini dilakukan jika anggota populasi yang hendak diteliti heterogen (tidak sejenis). Prosedur teknik sampling ini adalah dengan cara membuat lapisan-lapisan (strata) atau klasemen. Kemudian, dari setiap lapisan diambil sejumlah subjek, responden secara acak. c. Disproportioned stratified random Disproportionate stratified random sampling adalah pengambilan sampel populasi yang dilakukan secara acak dan berstrata tetap, namun sebagian ada yang kurang proporsional pembagiannya. Sampling ini dilakukan bila anggota populasi heterogen (tidak sejenis). d. Area random Area random disebut juga cluster sampling, yaitu teknik sampling yang dilakukan dengan cara mengambil wakil dari setiap wilayah geografis yang ada. Teknik ini dapat digunakan pada kondisi populasi atau sumber data yang sangat luas. Misalnya seorang peneliti yang hendak meneliti keadaan penduduk suatu propinsi. Maka tidak mungkin peneliti dapat menggali data dan informasi dari seluruh penduduk propinsi tersebut. Oleh karena itu peneliti harus mengambil perwakilan sebagai sampel dari setiap kabupaten yang ada di propinsi. Penelitian yang dilakukan di wilayah kabupaten, maka peneliti mengambil masing-masing perwakilan dari tiap kecamatan. Demikian pula peneliti yang hendak mengkaji populasi di sebuah kecamatan, maka ia harus mengambil perwakilan dari masing-masing desa kecamatan tersebut. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikaan sumber data, maka
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 92 Penelitian Kualitatif pengambilan sampelnya didasarkan pada daerah populasi yang telah ditentukan. Peneliti yang menggunakan teknik ini biasanya melalui dua tahapan; pertama, menentukan sampel daerah, dan kedua, menentukan orang-orang yang ada di daerah itu secara sampling juga. 2. Nonprobability sampling Nonprobability sampling merupakan kebalikan dari probability sampling, yaitu teknik sampling yang tidak memberikan peluang atau kesempatan sama kepada setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Menurut Henry (1990) nonprobability samples are selected based on the judgment of the researcher to achieve particular objectives of research at hand. – Sampel nonprobabilitas dipilih berdasarkan penilaian dari peneliti untuk mencapai tujuan tertentu penelitian. Teknik ini tidak sebebas probability sampling. Nonprobability lebih selektif memilih anggota populasi yang akan dijadikan anggota sampel. Sampel yang dipilih adalah sampel yang memiliki kemampuan dan we- wenang dalam menjawab permasalahan penelitian. Dalam perspektif kualitatif, teknik ini tentu dapat dianggap relevan. Sebab sampel kualitatif tidak mensyaratkan ukuran sampel. Namun lebih menitikberatkan pada kekayaan informasi yang dimiliki oleh anggota yang dijadikan sampel (informan). a. Sampling sistematis Sampling sistematis ialah teknik sampling yang dilakukan dengan cara mengambil anggota sampel berdasarkan atas urutan dari populasi yang telah diberi nomor urut. Teknik ini digunakan jika peneliti dihadapkan pada masalah ukuran
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 93 populasi yang banyak dan tidak dapat mengambil sampel secara random karena alasan tertentu misalnya peneliti tidak memiliki alat untuk menggunakan random. b. Sampling kuota Sampling kuota merupakan teknik sampling yang digunakan untuk menetukan anggota sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sesuai kuota atau jumlah yang diinginkan. c. Sampling insidental Sampling insidental merupakan teknik pengambilan sampel yang didasari atas kebetulan semata. Artinya siapa pun anggota populasi yang secara kebetulan (incidental) bertemu dengan peneliti dapat diambil sebagai anggota sampel. Namun, peneliti juga perlu mempertimbangkan orang yang kebetulan ditemui itu, apakah ia cocok sebagai sumber data atau tidak. Jika sesuai dengan data yang diinginkan, peneliti dapat memasukkannya dalam anggota sampel. d. Purposive sampling Purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Teknik ini menurut para ahli amat relevan digunakan dalam penelitian kualitatif. Dari namanya, teknik ini menggambarkan bahwa sampel yang dipilih berdasarkan tujuan dan maksud (purpose) tertentu peneliti. Poulasi yang dijadikan sampel dengan teknik ini adalah orang atau data yang diyakini memiliki informasi yang luas sesuai kebutuhan penelitian.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 94 Penelitian Kualitatif e. Sampling jenuh Sampling jenuh adalah teknik pemilihan sampel yang digunakan jika anggota populasi dijadikan sebagai sampel sekaligus. Artinya, peneliti di lapangan menjumpai jumlah populasi yang relatif kecil, kurang dari 30 orang, sehingga “mau tidak mau” peneliti harus menjadikanya seluruh populasi tersebut sebagai sampel. Atau sampling jenuh digunakan pada penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. Sampling jenuh sering diistilahkan dengan sensus, yaitu semua anggota populasi dijadikan sebagai sampel. f. Snowball sampling Dari segi nama, snowball sampling merupakan se- bagai teknik sampling yang diadopsi dari cara kerja bola salju. Bola salju kecil yang menggelinding lama-lama akan menjadi besar. Sehingga dapat dipahami bahwa teknik sampling ini merupakan penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian menjadi besar. Prosedur dalam penetuan sampel ini yaitu pertamatama dipilih satu atau dua orang. Namun karena satu atau dua orang tersebut dianggap belum lengkap memberikan data dan informasi, maka peneliti mencari orang lain yang dianggap mampu melengkapi data yang telah diperoleh dari sampel atau informan sebelumnya. Demikian seterusnya bertambah dan bertambah sesuai dengan data yang dibutuhkan peneliti. Tidak hanya mencari, peneliti juga dalam hal ini dapat meminta petunjuk dari sampel (informan) sebelumnya mengenai siapa informan yang dapat melengkapi data dan informasi yang telah diberikan tersebut. Biasanya dalam satu tema permasalahan, antara informan yang satu dengan yang lainnya saling
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 95 mengenal. Teknik ini sering digunakan ketika peneliti tidak banyak tahu tentang populasi penelitiannya. C. Teknik Sampling Penelitian Kualitatif Dari uraian sejumlah teknik sampling di atas, dapat disimpulkan bahwa hampir semua teknik sampling di atas hanya relevan digunakan pada penelitian kuantitatif, karena memang penelitian kuantitatif amat bergantung pada kuantitas sampel. Pemilihan sampel dalam penelitian kuantitatif tidak mementing kualitas sampel. Sebab, hasil yang diinginkan dari penelitian kuantitatif adalah generalisasi terhadap populasi. Oleh karena itu sampel seringkali ditentukan secara acak. Hal tersebut berbeda dengan penelitian kualitatif yang bergantung pada kualitas sampel. Semakin baik kualitas sampel, semakin berkualitas pula penelitian tersebut. Oleh karena itu sampel (informan) penelitian harus dipilih secara sengaja dengan pertimbangan kualitas sampel. Kaitannya dengan hal tersebut, maka teknik sampling yang paling relevan dengan penelitian kualitatif adalah teknik purposive sampling. Selanjutnya apabila dalam proses pe- ngumpulan data sudah tidak ditemukan informasi yang bervariasi, peneliti tidak perlu lagi mencari informan baru. Proses pengumpulan data dianggap selesai (Bungin, 2010). Namun, jika data yang ditemukan belum lengkap atau tidak bervariasi, peneliti sebaiknya melanjutkan dengan teknik snowball sampling. Peneliti mencari informan lain untuk melengkapi data dan informasi yang tidak lengkap atau tidak bervariasi tersebut. Oleh karena itu, untuk memperoleh informasi yang akurat dan lengkap, maka pemilihan sampel awal menjadi salah satu hal yang krusial untuk diperhatikan dalam proses sampling pada penelitian kualitatif. Informan sampel awal
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 96 Penelitian Kualitatif harus dicek apakah ia termasuk dalam kategori “informan kunci” atau tidak. Ketepatan dalam pemilihan sampel awal dengan kriteria “informan kunci” memiliki pengaruh terhadap keberhasilan proses sampling dan kelancaran dalam pe- ngumpulan data. Kondisi tersebut dapat menentukan efisiensi dan keefektifan penelitian. Dalam kaitan ini Spradley merekomendasikan lima kriteria yang perlu diperhatikan peneliti dalam memilih sampel informan awal yaitu sebagai berikut: 1. Memilih subjek yang telah cukup lama dan intensif menyatu dengan kegiatan atau medan aktivitas yang menjadi informasi. Di samping itu, dia juga menghayati secara sungguh-sungguh sebagai akibat dari keterlibatan- nya yang cukup lama dengan lingkungan atau kegiatan yang bersangkutan. Ini biasanya ditandai oleh kemampuan- nya dalam memberikan informasi dengan lancar, baik dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai masalah yang ditanyakan. 2. Memilih subjek yang masih terlibat secara penuh atau aktif pada lingkungan atau kegiatan yang menjadi perhatian peneliti. 3. Memilih subjek yang mempunyai cukup banyak waktu atau kesempatan untuk diwawancarai. 4. Memilih subjek yang dapat memberikan informasi yang, tidak cenderung diolah atau dipersiapkan terlebih dahulu, tanpa dibuat-buat. Mereka ini tergolong “lugu” (apa ada- nya) dalam memberikan informasi. Persyaratan ini cukup penting, terutama bagi peneliti pemula, dan berkaitan dengan upaya untuk memperoleh informasi yang lebih faktual. 5. Memilih subjek yang sebelumnya tergolong masih “asing” dengan penelitian, sehingga peneliti merasa lebih tertantang untuk belajar sebanyak mungkin kepada subjek, yang
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 97 berfungsi sebagai guru bagi peneliti. Pengalaman me- nunjukkan, persyaratan ini terbukti merupakan salah satu faktor penting bagi produktivitas perolehan informasi di lapangan (Sanggar Kato dalam Bungin, 2010). Kelima rekomendasi kriteria subjek (informan) di atas perlu diperhatikan dalam proses awal sampling, terlebih bagi peneliti pemula. Sebab informan yang memenuhi kriteri- kriteria di atas memiliki kekayaan informasi yang dapat di- pertanggung jawabkan. Lebih lanjut, Sanggar Kato dalamBungin (2010) menjelaskan mengenai pentingnya perhatian peneliti dalam menentukan sampel informan awal, khususnya dalam penggunaan teknik sowball sampling. Variasi sampel informan memang diperlukan agar tidak terbatas pada se- kelompok individu saja yang seringkali memiliki kepentingan tertentu, sehingga hasil penelitian menjadi bias. Terlepas dari itu semua subjek dalam penelitian kualitatif (baik yang dipilih sebagai sampel informan awal atau informan berikutnya), harus benar-benar memiliki predikat sebagai key informant yang sarat dengan informasi yang diperlukan sesuai dengan tujuan penelitian. D. Ukuran Sampel dalam Penelitian Kualitatif Dalam proses sampling, peneliti sebaiknya memahami dengan benar populasi yang hendak diteliti sebelum memulai penelitian. Peneliti harus dapat memetakan siapa informan atau data apa yang akan menjadi populasinya dan berapa jumlah- nya. Oleh karena itu, dalam proposal penelitian biasanya peneliti disarankan untuk memberikan gambaran terperinci mengenai populasi penelitiannya beserta alasan akademisnya, mengapa sampel tersebut dipilih dan mengapa jumlahnya sekian. Dalam penelitian kualitatif, peneliti sebaiknya menjelaskan dan menegaskan kriteria sampel yang dipilih menjadi
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 98 Penelitian Kualitatif informannya. Bahkan peneliti sebaiknya menyebutkan nama, kemampuan dan kewenangan informan sebagai sampel yang akan dimintai informasinya. Berbicara mengenai besaran ukuran sampel dalampenelitian kualitatif, para ahli menjelaskan bahwa ukuran sampel apakah kecil atau besar, itu tergantung pada jenis pertanyaan penelitian, materi, waktu dan sumber daya pe- nelitian. Umumnya sampel kualitatif terdiri dari unit contoh kecil diteliti secara mendalam. Ukuran sampel sangat berbeda dalam studi kualitatif, sampel besar jarang diperlukan dalampenelitian kualitatif. Studi kualitatif yang mencakup sampel besar memang ada tetapi jarang terjadi. Holloway dan Wheeler (2010) berpendapat: “sample size, however, does not necessarily determine the importance of the study or the quality of the data” – Ukuran sampel, bagaimanapun, tidak selalu menentukan pentingnya studi atau kualitas data. Jadi dalam penelitian kualitatif ukuran sampel bagai- manapun, tidak selalu menentukan pentingnya studi atau kualitas data. Data dan informasi yang berkualitas adalah data yang diperoleh dari sampel (informan) yang berkualitas pula walaupun jumlahnya sedikit. Sampel yang berkualitas adalah sampel yang mampu memberikan jawaban lengkap, cermat dan akurat mengenai permasalahan yang sedang diteliti.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 99 Bagian 7 TEKNIK PENGUMPULAN DATA Istilah “tehnik pengumpulan data” kadang-kadang diistilahkan dengan “metode pengumpulan data”. Dalam bab ini akan dibahas mengenai teknik pengumpulan data yang umum digunakan dalam penelitian kualitatif, yang meliputi observasi atau pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Penjelasannya, berikut ini: A. Observasi (Pengamatan) 1. Definisi Observasi Observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif. Sebagai salah satu teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif, observasi merupakan dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi (Nasution, 2003). Sehingga teknik ini sangat tepat digunakan dalampenelitian-penelitian sosial dan pendidikan. Sevilla dkk. (2006) mendefinisikan observasi secara sederhana sebagai proses di mana peneliti atau pengamat melihat situasi penelitian.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 100 Penelitian Kualitatif Definisi-definisi tersebut sesungguhnya memiliki pe- ngertian yang sama dan saling melengkapi. Sehingga observasi dapat didefinisikan sebagai teknik pengumpulan data yang mengandalkan penginderaan baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap objek yang diteliti. Sehingga data yang dihasilkan mampu mendeskripsikan setting penelitian, orang, kejadian, peristiwa dan makna-makna yang disampai- kan oleh partisipan (informan) mengenai hal-hal tesebut (Gray, 2004). Penjelasan Gray tersebut merupakan tujuan observasi dalam penelitian. Teknik observasi dalam pengumpulan data lebih akurat dibandingkan dengan teknik wawacara dan dokumentasi. Di mana melalaui teknik observasi memungkinkan se- seorang atau peneliti dapat mengindera; melihat, mendengar, mencium, meraba dan merasakan fakta-fakta yang ada di lapangan. Oleh karena itu Nasution (2003) secara tegas mengatakan bahwa observasi adalah dasar semua ilmu pe- ngetahuan. Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Memang, hampir semua orang pernah melakukan observasi dalam kehidupan sehari-harinya. Namun, observasi dalam sebuah penelitian berbeda dengan observasi atau pengamatan sehari-hari yang dilakukan bukan dalam konteks penelitian ilmiah. Dalam observasi penelitian, ketepatan data dan teknik yang digunakan merupakan sebuah tuntutan. Proses observasi haruslah runtun. Peneliti menghimpun data sesuai rumusan masalah yang ingin diketahui jawabannya. 2. Macam-Macam Observasi Secara umum data observasi dikumpulkan dalam dua cara yang berbeda yaitu laboratory observation (observasi
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 101 laboratorium) dan naturalistic observation (observasi alami). Menurut Jhonson dan Chritensen (2012), “Laboratory obser- vation is carried out in settings that are set up by the researcher and inside the comfines of research lab”. Definisi tersebut dapat dipahami secara sederhana bahwa observasi laboratorium merupakan observasi yang memerlukan pe- nyetingan sebelum melakukan observasi. Biasanya obeservasi semacam ini digunakan dalampenelitian yang bersifat eksperimen. Sedangkan naturalistic observation secara simple didefinisikan oleh keduanya sebagai “carried out in the real world” – pengamatan berbasis nyata dan alami. Untuk menjadikan “apa yang diamati” (objek) tersebut alami, maka peneliti harus sedapat mungkin me- masuki dunia nyata objek. Tipe observasi inilah yang di- gunakan dalam penelitian kualitatif. Berdasarkan peranan peneliti dalam proses observasi, maka observasi dibagi menjadi empat. Dalam hal ini, peneliti dapat memilih peran dalam mengumpulkan data yang di- butuhkan sesuai dengan keinginan, kemudahan dan keakuratan data yang diperoleh. Penjelasan keempat peran tersebut sebagai berikut: a) Complete participant (Berperanserta secara lengkap) Pengamat dalam hal ini menjadi anggota penuh dari kelompok yang diamatinya. Dengan demikian ia dapat mem- peroleh informasi apa saja yang dibutuhkannya, termasuk yang dirahasikan sekalipun. b) Observer as participant (Pengamat sebagai partisipan) Peranan pengamat secara terbuka diketahui oleh umum bahkan mungkin ia atau mereka disponsori oleh subjek.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 102 Penelitian Kualitatif Karena itu maka segala macam informasi termasuk rahasia sekalipun dapat dengan mudah diperolehnya. c) Participant as observer (Partisipan sebagai pengamat) Pengamat dalam hal ini tidak sepenuhnya sebagai partisipan tetapi melakukan fungsi pengamatan. Ia sebagai anggota pura-pura. Jadi tidak melebur dalam arti sesungguh- nya. Peranan demikian masih membatasi subjek menyerahkan dan memberikan informasi terutama yang bersifat rahasia. d) Complete observer (Peran lengkap pengamat) Biasanya hal ini terjadi pada penelitian eksprimen di labaratorium yang menggunakan kaca sepihak (one way screen). Peneliti dengan bebas mengamati secara jelas seubjek- nya dari belakang secara sedang subjeknya sama sekali tidak mengetahui bahwa ia sedang diamati. Di samping itu, observasi juga dibagi menjadi observasi “tidak tersetruktur dan terstruktur”. Pengamatan tidak terstruktur bersifat fleksibel dan terbuka. Situasi terbuka menghendaki pengamat melihat kejadian secara langsung pada tujuan (Consuelo G. Sevilla at al., 2006). Dalam melakukan observasi ini, peneliti tidak menggunakan draft ren- cana kegiatan observasi yang sistematis terstruktur. Peneliti secara bebas melakukan aktivitas pengamatan. Namun bukan berarti observasi semacam ini tidak direncakan sebelumnya. 3. Manfaat Observasi Observasi bermanfaat untuk mendapatkan data yang lebih ekstensif, luas dan faktual mengenai kondisi aktual objek yang diamati. Melalui observasi peneliti dapat dengan leluasa mengindera apa yang terjadi di lapangan penelitian. Patton
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 103 (1998) menyebutkan 6 manfaat observasi sebagaimana yang dikutip Nasution (2003) sebagai berikut: a) Dengan berada di lapangan peneliti lebih mampu me- mahami konteks data dalam keseluruhan situasi. Ia dapat memperoleh pandangan yang holistik atau menyeluruh. b) Pengalaman langsung memungkinkan peneliti mengguna- kan pendekatan induktif. Peneliti tidak dipengaruhi oleh konsep-konsep atau pandangan sebelumnya. Pendekatan induktif membuka kemungkinan melakukan penemuan (discovery). c) Peneliti dapat melihat hal-hal yang kurang atau yang tidak diamati orang lain, khususnya orang yang berada dalamlingkungan itu, karena telah dianggap “biasa” dan karena itu tidak akan terungkap dalam wawancara. d) Peneliti dapat menemukan hal-hal yang sedianya tidak akan terungkap oleh responden dalam wawancara karena bersifat sensitif atau ingin ditutupi karena dapat merugikan nama lembaga. e) Peneliti dapat menemukan hal-hal di luar persepsi res- ponden, sehingga peneliti memperoleh gambaran yang lebih komprehensif. f) Di lapangan, peneliti tidak hanya dapat mengadakan peng- amatan, akan tetapi juga memperoleh kesan-kesan pribadi. Misalnya merasakan situasi sosial. Keenam paparan Patton di atas dapat disimpulkan bahwa observasi memiliki manfaat yang tidak dapat diperoleh dari teknik pengumpulan data lainnya semisal wawancara dan dokumentasi. Teknik observasi dapat lebih luas merekamaktivitas, perilaku, perasaan, keadaan tempat penelitian dan sebagainya secara alami sehingga dapat memungkinkan data didapatkan lebih detail, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 104 Penelitian Kualitatif 4. Persiapan Sebelum Observasi Untuk mendapatkan data yang akurat, terpercaya dan meyakinkan dalam observasi, maka diperlukan persiapan yang matang sebelum memasuki lapangan. Dalam persiapan ini, peneliti melakukan perencanaan mengenai apa yang harus diobservasi dan bagaimana diobservasi. Perencanaan yang dibuat bukan sekadar perencanaan, akan tetapi ia harus ditulis dengan rapi dan sistematis. Dengan cara ini, peneliti akan lebih mudah mengetahui apa yang sudah dan belum diobservasi. Menurut Afifuddin dan Saebani (2012), ada beberapa kegiatan persiapan pra-lapangan yang harus dipersiapkan oleh seorang peneliti agar mendapatkan data yang layak dijadikan sumber analisis, yaitu: 1) Menyusun rancangan penelitian yang memuat latar belakang masalah dan alasan pelaksanaan penelitian, studi pustaka, penentuan lapangan penelitian, penentuan jadwal penelitian, pemilihan alat penelitian, rancangan pengum- pulan data, rancangan prosedur analisis data, rancangan perlengkapan yang diperlukan di lapangan, dan rancangan pengecekan kebenaran data. Namun, sebenarnya hal yang paling esensi sebelum me- masuki lapangan adalah membuat rumusan masalah. Rumusan masalah akan menuntun peneliti terhadap ma- salah, fenomena, gejala, variabel yang hendak diobservasi. 2) Memilih lapangan penelitian didasarkan pada kondisi lapangan itu sendiri untuk dilakukan penelitian sesuai dengan tempat penelitian. Jadi peneliti harus memilih lapangan penelitian sesuai dengan fokus masalah yang diteliti. Kesalahan dalam memilih lapangan penelitian berimplikasi pada kurang atau bahkan tidak tersedianya data.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 105 3) Melihat kondisi geografis, keterbatasan waktu, biaya dan tenaga. Oleh karena itu dalam proposal skripsi, tesis, disertasi dan penelitian lainnya seringkali calon peneliti diminta untuk melampirkan jadwal penelitian. Dalam pe- nelitian yang disponsori oleh seseorang atau sebuah lem- baga, calon peneliti tidak hanya diminta melampirkan jad- wal penelitian, namun juga diminta melampirkan estimasi dana yang dihabiskan dalam penelitian yang ditentukan. 4) Mengurus izin penelitian hendaknya dilakukan dengan mengetahui terlebih dahulu siapa yang berwenang mem- berikan izin. Pendekatan yang simpatik sangat perlu, baik kepada pemberi izin di luar jalur formal maupun informal. Secara formal, surat izin penelitian umumnya diurus di Badan Lingkungan Hidup dan Penelitian (BLPH) Provinsi. Sedangkan secara informal, pemberi izin penelitian adalah daerah, instansi atau lembaga yang dipilih sebagai lokasi penelitian. Oleh karena itu, calon peneliti harus melakukan membangun komunikasi yang baik dengan orang yang memiliki kewenangan di daerah, instansi atau lembaga yang akan dijadikan sebagai lokasi penelitian, agar penelitian yang direncanakan diizinkan dan berjalan lancar. Karena fakta di lapangan mengungkapkan, walaupun surat izin penelitian dari BLHP telah dikantongi, tidak sedikit calon peneliti yang tidak diberikan izin oleh instansi atau lembaga yang telah direncanakan sebagai tempat pe- nelitian. 5) Menjajaki lapangan penting, artinya selain untuk me- ngetahui apakah lokasi yang dipilih sebagai tempat penelitian sesuai untuk penelitian yang ditentukan, juga untuk mengetahui persiapan yang harus dilakukan peneliti. Secara terperinci, dapat dikemukakan bahwa penjajakan lapangan ini adalah untuk memahai pandangan hidup dan
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 106 Penelitian Kualitatif penyesuaian diri dengan keadaan lingkungan tempat tinggal. 6) Informan yang dipilih adalah orang-orang yang tahu tentang sitausi dan kondisi lokasi penelitian, jujur, terbuka, dan mau memberikan informasi yang benar. Memilih informan memang harus selektif, karena tidak semua orang dapat dijadikan referensi dalam penelitian. Memilih informan yang mengetahui setting lokasi pe- nelitian, jujur dan terbuka memang bukan perkara yang mudah. Namun hal tersebut akan menjadi mudah bila peneliti membangun komunikasi yang baik dan me- nunjukkan perilaku yang beretika. 7) Persiapan perlengkapan penelitian berkaitan dengan perizinan, perlengkapan alat tulis, alat perekam, jadwal waktu penelitian, obat-obatan dan perlengkapan lain sesuai ke- butuhan peneliti. Di samping persiapan-persiapan di atas, perlu juga dipersiapkan semacam guidelines (petunjuk) yang dapat meng- arahkan peneliti mengetahui apa yang sudah diamati dan apa yang belum, dan apa yang kurang. Sehinga peneliti dapat menambahkan hal-hal yang perlu diobservasi. Dalam hal ini Johnson dan Christensen (2012) mengemukakan semacampetunjuk (guidelines) yang memuat hal-hal pokok yang perlu diperhatikan dalam observasi langsung di lapangan yaitu sebagai berikut: 1) Siapakah kelompok itu? Berapa banyak orang di sana, dan apa jenis kelamin, identitas, dan karakteristik mereka? Bagaimana bentuk keanggotaan dalam kelompok atau bentuk peristiwa yang didapatkan? 2) Apa yang terjadi di sini? Apa orang-orang dalam kelompok itu melakukan dan mengatakan satu lain hal?
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 107 a) Apa perilaku berulang-ulang dan yang terjadi secara teratur? Dalam kejadian, aktivitas, atau rutinitas apa peserta terlibat? Sumber daya apa yang digunakan dalam kegiatan tersebut, dan bagaimana dialokasikan? Bagaimana kegiatan tersebut diselenggarakan? Apa perbedaan konteks sosial yang dapat diidentifikasi? b) Bagaimana orang-orang dalam kelompok berperilaku ter- hadap satu sama lain? Apa sifat partisipasi dan interaksi mereka? Bagaimana orang-orang terhubung atau terkait satu sama lain? Apa status dan peran yang jelas dalaminteraksi ini? Siapa yang membuat keputusan, apa ke- putusan itu dan untuk siapa? Bagaimana orang-orang mengorganisir diri atau interaksi mereka? c) Apa isi dari peserta percakapan? Apa pelajaran yang umumdan langka? Apa cerita, anekdot yang mereka pertukarkan? Apa bahasa verbal dan non-verbal yang mereka gunakan untuk komunikasi? Apa keyakinan dengan isi percakapan mereka menunjukkan? Apa Format percakapan yang akan diikuti? Apa proses yang mereka cerminkan? Siapa yang berbicara dan mendengarkan? 3) Di mana kelompok atau peristiwa itu terjadi? Apa latar fisik dan lingkungan dari konteks mereka? Apa sumber daya alam yang jelas, dan apa teknologi yang diciptakan atau digunakan oleh mereka? Bagaimana kelompok meng- alokasikan dan menggunakan ruang dan benda-benda? Apa yang dikonsumsi, dan apa yang dihasilkan? Apa penglihatan, suara, bau, rasa, dan tekstur yang ditemukan dalamkonteks apa yang digunakan oleh suatu kelompok? 4) Kapan kelompok bertemu dan berinteraksi? Seberapa sering pertemuan itu, dan berapa lama mereka bertemu? Bagaimana konsep kelompok tersebut menggunakan dan
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 108 Penelitian Kualitatif mendistribusikan waktu? Bagaimana peserta penelitian melihat masa lalu, sekarang, dan masa depan? 5) Bagaimana mengidentifikasi elemen terhubung atau saling terkait, baik dari sudut pandang peserta atau dari perspektif peneliti? Bagaimana stabilitas dipertahankan? Bagaimana asal perubahan, dan bagaimana cara mereka berhasil? Bagaimana unsur-unsur terorganisir diidentifikasi? Apa aturan, norma, adat-istiadat atau yang mengatur organisasi sosial suatu kelompok? Bagaimana kekuatan yang mereka miliki dikonsep dan didistribusikan ? Bagaimana kelompok terkait dengan kelompok, organisasi atau lembaga lain ? 6) Mengapa kelompok berperilaku seperti hal itu? Apa makna atribut yang mereka gunakan? Apa sejarah kelompok? Apa tujuan yang diartikulasikan dalam kelompok? Apa simbol, tradisi, nilai-nilai, dan pandangan umum yang dapat ditemukan dalam kelompok? Tidak hanya itu, demi persiapan pengumpulan data di lapangan, Patton (2002) merekomendasikan kepada calon observer (pengamat, peneliti) sebelum ia turun ke lapangan untuk melatih hal-hal yang meliputi: 1) Learning to pay attention, see what there is to see, and hear what there is hear; (Belajar untuk memperhatikan, melihat apa yang ada untuk dilihat, dan mendengar apa yang ada untuk didengar) 2) Practice in writing descriptively; (Praktek dalam menulis deskriptif) 3) Acquiring discipline in recording field notes. (Memperoleh disiplin dalam catatan lapangan perekaman) 4) Knowing how to separate detail from trivia to achieve the former without being overwhelmed by the latter; (Me- ngetahui bagaimana memisahkan detil dari hal-hal sepele untuk mencapai mantan tanpa kewalahan)
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 109 5) Reporting the strengths and limitations of one’s own perspective, which requires both self-knowledge and self- disclosure. (Pelaporan kekuatan dan keterbatasan sudut pandang sendiri, yang membutuhkan pengetahuan dan keterbukaan diri). 5. Merekam Data Observasi Hal yang terpenting dalam tahapan observasi adalah tahapan merekam data. Perekaman data mutlak dibutuhkan dalam observasi, mengingat terbatasnya daya ingat yang dimiliki manusia. Oleh karena itu tahapan ini amat menentukan kualitas dan kuantitas data yang diperoleh dalam penelitian. Baik tidaknya data yang didapatkan bergantung pada kreativitas pengamatan dan kemampuannya dalam menggunakan teknik observasi. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan dalammerekam data observasi yaitu sebagai berikut: a) Membuat catatan lapangan (field notes) Catatan lapangan merupakan cara klasik dalamobservasi yang mutlak digunakan sebelum ditemukan alat-alat perekam semisal tape recorder, camera, handy cam dan sebagainya. Sebelum alat-alat tersebut ditemukan, dapat di- katakan bahwa catatan lapangan hampir merupakan satu- satunya cara bagi peneliti untuk merekam pengamatan terhadap kegiatan dan perilaku seseorang atau kelompok tertentu (Dewalt & Dewalt, 2002). Cara inilah yang memang paling umum digunakan dalam merekam data observasi (Donald Ary at all) Catatan lapangan sering juga disebut catatan anekdot, yaitu catatan-catatan singkat yang dibuat oleh observer sendiri yang berisi tentang sikap, tingkah laku, kejadian, dan fenomena. Secara detail field notes memuat hal-hal berikut ini:
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 110 Penelitian Kualitatif 1) Tempat terjadinya peristiwa (space) 2) Orang-orang yang terlibat (actor). 3) Aktivitas: seperangkat tindakan yang dilakukan orang (activity), 4) Hal-hal fisik yang ditunjukkan (object) 5) Perilaku yang ditunjukkan (act) 6) Seperangkat kegiatan(event) 7) Waktu (time) 8) Tujuan (goal) 9) Perasaan atau emosi yang diekspresikan (feeling). (Spradley dalam Crabtree dan Miller, 1999) Sesungguhnya konten-konten field notes di atas me- nuntut kemampuan pengamat untuk dapat memainkan alat indera yang dimilikinya secara kreatif. Bogdan dan Biklen (dalam Morse dan Field, 1995) menegaskan bahwa dalamcatatan lapangan tersebut pengamat (peneliti) mencatat segala hal yang didengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan oleh peneliti dalam rangka pengumpulan data dalam penelitian kualitatif. Kemampuan pengamat dalam mengindera hal-hal yang terjadi di lapangan mempengaruhi tingkat kedetailan, keakuratan, dan keluasan data yang dibutuhkan. Demi memperoleh data yang maksimal dengan menggunakan media field notes, Benjamin at.al. (1999) merekomendasikan hal-hal berikut ini: 1) Record your notes as soon as possible after the observation (Rekam catatan Anda sesegera mungkin setelah pe- ngamatan). Semakin cepat Anda mengamankan catatan Anda setelah observasi, maka akan semakin akurat data yang Anda peroleh. Semakin lama Anda menunda perekaman atau pencatatan, maka semakin banyak data yang tidak akan terekam secara detail dan akurat akibat lupa yang
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 111 manusiawi. Taylor dan Bongdan (dalam Merriam, 2009) mengingatkan urgensi menulis field notes sesegera mungkin. Keduanya berpendapat bahwa “the more time that passes between observing and recording the notes, the poorer your recall will be and the less likely you will ever get to record your data” - Semakin banyak waktu yang lewat di antara pengamatan dan merekam catatan, (mengingatkan kembali) maka semakin miskin dan semakin kecil kemungkinan Anda untuk dapat merekam data". 2) Don’t discuss your observation with anyone until you have it recorded (Jangan membicarakan pengamatan Anda dengan siapa pun sampai semuanya terekam). Di antara sifat penelitian kualitatif adalah naturalistic (alami). Objek yang diobservasi sudah seharusnya tidak mengetahui tentang observasi tersebut. Membicarakan mengenai observasi yang dilakukan sebelum proses perekaman selesai dapat mempengaruhi objek yang diamati. Sehingga pengamatan dapat menjadi tidak alami atau kemungkinan besar apa yang hendak diteliti dibuat-buat. 3) Find a private place that has the equipment you need to do your work. (Cari tempat pribadi yang memiliki peralatan yang Anda perlu untuk melakukan pekerjaan Anda) Tempat privasi diperlukan sebagai tempat mencatat field notes yang kira-kira perlu dirahasiakan, sehingga tidak seorang pun yang tahu kecuali pengamat sendiri. Hal ini harus diupayakan demi kerahasiaan peristiwa dan ke- amanan semua unsur yang terlibat di dalamnya. 4) Plan sufficient time for recording.(Rencanakan waktu yang cukup untuk merekam) Waktu yang diperlukan dalam perekaman observasi ter- gantung pada kuantitas data yang diperlukan. Oleh karena itu sebelum pengamatan dilakukan perlu direncanakan
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 112 Penelitian Kualitatif waktu yang cukup agar efesien tergantung pada data yang dibutuhkan. 5) Don’t edit as you write or dictate (Jangan mengedit saat Anda menulis atau mendikte) Pengamat menulis segala hal yang terjadi di lapangan secara alami tanpa melakukan editing. Pengamat sebaiknya mengedit setelah proses pengamatan benar-benar berakhir. Di samping itu, editing yang dilakukan di saat proses perekaman dengan field note dapat memperlambat jalannya observasi, sehingga waktu yang telah direncanakan menjadi tidak cukup (tidak efesien). b) Membuat ceklis observasi Pada dasarnya ceklis observasi secara sederhana dapat dipahami sebagai daftar yang memuat nama-nama objek penelitian yang hendak diamati beserta gejala dan fenomena yang terjadi padanya. Ceklis dimaksudkan untuk mengecek kegiatan yang telah dilakukan sehingga dapat dibedakan mana kegiatan observasi yang belum dan sudah dilakukan, mana yang prioritas dan mana yang tidak. Dengan adanya ceklis dapat dipastikan kegiatan observasi akan mudah dilakukan, karena dalam daftar tersebut dicantumkan semua kegiatan yang direncanakan dalam observasi. Sehingga kegiatan observasi tersusun secara sistematis. Oleh karena itu ceklis harus di- persiapkan secara teliti sebelum melakukan observasi di lapangan. c) Merekam dengan menggunakan media elektronik Di era perkembangan teknologi ini memungkinkan seseorang dapat mencatat data dengan baik, mudah dan akurat dalam sebuah penelitian. Dalam observasinya peneliti dapat menggunakan kamera untuk merekam segala bentuk kejadian
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 113 atau peristiwa dalam bentuk visual, atau handy cam dalambentuk audio visual. Bahkan kedua media tersebut dapat dengan mudah ditemui dalam satu alat elektronik yaitu hand phone (HP). Sehingga merekam data observasi dengan meng- gunakan media elektronik dapat dikatakan lebih mudah, efektif, praktis dan memiliki banyak manfaat di banding dengan media lainnya yang lain. 6. Kelebihan dan Kekurangan Observasi Sesungguhnya dari penjelasan-penejelasan di atas dapat disimpulkan mengenai kelebihan dan kekurangan obser- vasi sebagai salah satu teknik pengumpulan data yaitu sebagai berikut: a. Kelebihan observasi Di antara kelebihan teknik observasi adalah: 1) Memungkinkan bagi pengamat/peneliti secara langsung merekam kejadian, peristiwa, perilaku, sikap, kebiasaan, program, aktivitas dan sebagainya di lapangan penelitian. Sehingga, peneliti tidak terlalu perlu mengandalkan penginderaan orang lain. Namun kadang-kadang penginderaan orang lain juga diperlukan karena suatu alasan tertentu yang sifatnya mendesak. 2) Lebih memudahkan pengamat/peneliti dalam memperoleh data, karena data dapat diperoleh tanpa melakukan ko- munikasi dengan informan. Sebab, kadang-kadang subjek yang diharapkan sebagai informan enggan diajak ber- komunikasi atau berwawancara dengan alasan-alasan tertentu seperti informan tidak memiliki waktu luang, data hanya boleh diketahui oleh orang-orang tertentu dan sebagainya.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 114 Penelitian Kualitatif b. Kekurangan observasi Di antara kekurangan observasi yaitu: 1) Dari segi waktu, observasi membutuhkan waktu yang relatif lebih lama dari pada teknik lainnya semisal wawan- cara. Misalnya, peneliti hendak meneliti tradisi Waktu Telu suku Sasak, maka peneliti tersebut harus menunggu pelaksanaan tradisi-tradisi tersebut yang kadang-kadang pelaksanaannya sekali seminggu, sekali sebulan bahkan sekali setahun. 2) Dari segi motif, observasi tidak dapat mengungkap motif atau tujuan di balik kejadian, peristiwa, sikap, dan per- kataan objek yang diteliti. Motif sesungguhnya bersifat abstrak, sedangkan observasi hanya dapat mendeskripsikan secara indrawi mengenai perilaku secara rinci, dan lengkap, segala sesuatu hal yang sifatnya nampak. 7. Etika Observasi Kegiatan observasi sangat erat kaitannya dengan interaksi sosial, karena observer (pengamat) melibatkan hu- bungannya dengan manusia dan lingkungan sosial objek pe- nelitiannya. Jalinan hubungan yang baik akan mempermudah peneliti mendapatkan data yang diinginkannya. Salah satu yang memperkuat jalinan relasi dalam sebuah observasi adalah kemampuan peneliti bersikap santun sesuai nilai moral, adat, budaya dan nilai agama yang dijunjung di lokasi penelitiannya. Mustahil seorang peneliti mendapatkan data yang diinginkan- nya jika sikapnya berlawanan dengan etika yang dijunjug oleh masyarakat tempat ia meneliti. Di antara etika tersebut adalah: a) Peneliti meminta ijin kepada orang atau institusi yang memiliki wewenang secara birokrasi ke pmerintahan semisal dusun, kepala desa, lurah, kepala lingkungan dan
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 115 ataupun secara adat semisal tokoh adat atau tokoh agama, dengan menunjukkan surat ijin meneliti jika diperlukan. b) Peneliti memperhatikan tutur kata dan sikapnya, terutama di awal pertemuan awalnya dengan masyarakat yang akan menjadi objek pengamatannya. Oleh karena itu, ia harus menggunakan bahasa halus daerah setempat jika me- mungkinkan. Jika tidak, gunakan bahasa Indonesia sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. c) Peneliti mempermaklumkan bahwa kegiatan penelitiannya bersifat sukarela, dan bagi masyarakat yang tidak berkenan untuk diobservasi, maka tidak boleh dipaksakan. d) Dalam penelitian yang bersifat eksprimetal, maka peneliti harus menjelaskan secara detail mengenai bentuk-bentuk perlakuan terhadap calon objeknya. e) Peneliti berusaha melindungi kejadian, peristiwa, perkataan atau perilaku objek penelitian yang bersifat privasi, yang kebetulan diperoleh secara tidak sengaja dalam observasi. f) Peneliti tidak diperkenankan melakukan intervensi atau ikut campur secara berelebihan terhadap masalah yang dihadapi oleh narasumbernya. g) Peneliti harus memperhitungkan waktu yang tepat untuk melakukan sebuah observasi. B. Wawancara 1. Definisi Wawancara Secara historis, terma “interview” sudah digunakan pada abad XVII (Kvale dan Brinkma dalam Banister, Bunn, at. al., 2011). Teknik wawancara telah digunakan dalam pe- nelitian sejak sekitar seratus tahun lalu dan diasosiasikan pada tahun 1930-an dan 1940-an (Fontana dan Frey dalam Banister, Bunn, at. al., 2011). Sejak tahun 1980-an, wawancara atau interview menjadi topik yang hangat dibicarakan dalam metode
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 116 Penelitian Kualitatif diskusi (Kvale dan Brinkman dalam Banister, Bunn, at. al., 2011), dan pada tahun 1977 Atkinson dan Silverman men- deklarasikan bahwasanya kita hidup dalam sebuah ”lingkungan wawancara” (Banister, Bunn, at. al., 2011). Wawancara dalam penelitian kualitatif secara gam- blang dapat difahami sebagai teknik pengumpulan data dengan cara melakukan serangkaian wawancara atau tanya jawab dengan informan atau narasumber yang telah ditentukan. Menurut Estenberg dalam Sugiyono (2013), wawancara di- definiskan sebagi pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksi makna dalam suatu topik tertentu. Salah satu di antara keduanya berperan sebagai pewawancara (interviwer), yaitu yang mengajukan pertanyaan dan satunya lagi menjadi terwawancara (interviewee), yaitu yang menjawab pertanyaan. Proses semcam ini diistilahkan oleh Sevilla dkk. (2006) sebagai interaksi verbal. Dari berbagai penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa tehnik wawancara adalah proses memperoleh keterangan dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai. Beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang peneliti saat mewawancarai responden adalah intonasi suara, kecepatan berbicara, sensitifitas pertanyaan, kontak mata, dan kepekaan nonverbal. 2. Klasifikasi Wawancara Secara umum tehnik wawancara yang biasa digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam (in- depth interview), yaitu ikhtiar memperoleh data penelitian dengan cara melakukan tanya jawab secara langsung (face to face) antara peneliti sebagai pewawancara dan informan
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 117 sebagai terwawancara baik secara terstruktur atau pun bebas, yang dilakukan dalam waktu yang relatif lama dalam ke- hidupan sosial. Menurut Rajendra Kumar Sharma (2008) para ilmu- wan sosial mengklasifikasikan interview (wawancara) sangat variatif, yaitu sebagai berikut: a) Dilihat dari sisi keformalannya, interview dibagi menjadi dua tipe: 1) Interview formal. Pewancara/peneliti sudah mengetahui dengan pasti mengenai data, informasi yang hendak diperoleh dari terwawancara. Sehingga, ia terlebih dahulu menyusun dan memahami pertanyaan yang hendak diajukan kepada terwawancara secara sitematis untuk mendapatkan jawaban yang lebih spesifik. Mengingat keterbatasan yang dimiliki manusia, maka selain itu, pewawancara juga perlu menggunakan alat bantu seperti tape recorder, gambar, alat peraga dan sebagainya yang dapat membantu dalam proses wawancara. 2) Interview informal. Pewancara tidak memiliki instrument sebagai pedoman wawancara. Hubungan pe- wancara dan terwawancara dalam suasana biasa, wajar dan pertanyaan beserta jawabannya berjalan layaknya pembicaraan biasa (Moleong, 2013). Jadi, ciri utama dari tipe ini adalah lebih bersifat “santai” di bandingkan wawacara formal dan pertanyaan yang diajukan biasa- nya bersifat spontanitas-bebas tergantung apa yang terlintas dibenak pewawacara saat itu. Namun untuk tetap mendapatkan informasi yang baik, tentu pe- wawacara perlu memiliki alat kontrol berupa garis-garis besar permasalahan atau point-point penting yang hendak ditanyakan, agar pertanyaan tidak menjadi
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 118 Penelitian Kualitatif kabur. Sebagaimana halnya interview formal, pada informal juga disaran kepada pewawancara untuk menggunkan alat bantu rekam semisal tape recorder dan alat elektronik lainnya yang memiliki fasilitas recorder seperti hand phone (hp). b) Dilihat dari sisi jumlah pelakunya, interview dibagi dua tipe: 1) Interview personal. Interview personal merupakan proses wawancara yang dilakukan oleh pewawancara kepada terwawancara tunggal. Interview ini diharapkan dapat membuka sekat pemisah antara pewawancara dengan terwawancara, sehingga terwawancara dapat lebih bebas dan terbuka dalam menjawab pertanyan dan menyampaikan informasi penting mengenai topik yang diteliti. Untuk melakukan wawancara tipe ini, pe- wawancara sebaiknya memilih informan (terwawan- cara) yang memiliki banyak pengalaman terhadap topik yang diteliti, serta memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik agar informasi yang disampaikan menjadi jelas dan mudah dianalisis. 2) Interview kelompok. Interview yang dilakukan terhadap sekelompok orang yang terdiri dari dua orang atau lebih. Wawancara ini digunakan ketika tujuannya adalah untuk menggali persepsi atau pengalaman dari sekelompok kecil orang yang memiliki beberapa dasar umum untuk memberikan respon. Wawancara kelompok kadang-kadang disebut juga wawancara kelompok fokus karena biasanya topik yang diidentifikasi membentuk fokus dari suatu wawancara (Marguerite G. Lodico, at. al. 2010). Dengan mewawancarai lebih dari satu orang pada satu waktu peneliti mampu secara dramatis meningkatkan jumlah dan jangkauan peserta
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 119 yang terlibat dalam penelitian (Martyn Denscombe, 2007) c) Dilihat dari tujuannya, interview dibagi menjadi empat: 1) Wawancara diagnosis (Diagnostic Interview). Wawan- cara ini dilakukan untuk mendiagnosa penyakit atau masalah yang dihadapi oleh seseorang. Interviewsemacam ini biasanya digunakan oleh psikiater atau konselor untuk mengetahui permasalahn kliennya dan dokter untuk mengetahui penyakit pasiennya. 2) Wawancara pengobatan (Treatment Interview). Wa- wancara semacam ini biasanya dilakukan pada ranah konseling. Di mana konselor melakukan wawancara untuk menganalisis mengenai jalan keluar atau cara pengobatan yang akan diberikan kepada kliennya. 3) Wawancara penelitian (Research Interview) merupakan wawancara yang bertujuan untuk memperoleh jawaban dari permasalahan akademis tertentu. Wawancara inilah yang digunakan dalam setiap penelitian ilmiah. 4) Wawancara untuk memenuhi rasa ingin tahu (Inter- views to fulfil curiosity). Wawancara seperti ini sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Wawancara dalam konteks ini hanya bertujuan untuk sekadar menjawab rasa penasaran semata, tanpa ada tujuan ilmiah. d) Dilihat dari segi waktunya, interview dibagi menjadi dua: 1) Short-contact interview (wawancara kontak pendek). Wawancara yang dilakukan dalam limit waktu yang relatif singkat. Wawancara ini biasanya dilakukan oleh para wartawan. 2) Prolonged contact interview (wawancara kontak ber- kepanjangan). Wawancara ini dilakukan dalam waktu yang tidak terbatas atau berkepanjangan. Wawancara
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 120 Penelitian Kualitatif inilah yang sering digunakan dalam konteks penelitian kualitatif. Wawancara akan dihentikan jika data yang didapatkan telah mencapai titik jenuh. e) Dilihat dari jenis penelitiannya, interview dibagi menjadi tiga: 1) Interview kualitatif. Interview kualitatif adalah jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif. Di mana peneliti melakukan wawancara dengan sebaik dan selama mungkin demi mendapatkan kualitas data yang dicari. 2) Inteview kuantitatif. Interview kuantitatif adalah jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian kuantitatif. Peneliti dalam hal ini melakukan wawancara dengan banyak informan namun dalam jangka waktu yang relative singkat. Biasanya peneliti kuantitatif hanya membutuhkan jawaban singkat semisal jawaban “ya atau tidak”, “sering, sedang atau tidak sering”, “benar atau salah” dan sebagainya. 3) Interview mixed (campuran). Interview jenis ini dilakukan pada penelitian yang menggunakan jenis mixed method (metode campuran) dalam satu penelitian secara bersamaan. Peneliti dengan jenis ini melakukan wawan- cara dengan dua jenis, yaitu kualitatif dan kauntitatif. Bila yang dibutuhkan data kualitatif, peneliti akan menggunakan jenis wawancara kualitatif. Demikian pula jika peneliti membutuhkan data kuantitatif, wawancara yang digunakan bersifat kuantitatif pula. f) Dilihat dari segi “aturan mainnya”, interview dibagi menjadi dua: 1) Interview tidak langsung. Wawancara tidak langsung dapat dipahami sebagai wawancara yang dilakukan dengan cara tidak bertemu langsung/bertatap muka
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 121 dengan informannya. Biasanya peneliti/pewawancara berwawancara melalui e-mail, telpon, sms, dan surat non-elektrik. Wawancara semiasal ini biasanya diguna- kan bila informannya berdomisili di tempat yang jauh, atau dekat namun tidak dapat diakses karena sesuatu dan lain hal yang membahayakan informan maupun pewawancara/peneliti. 2) Terfokus. Wawancara ini dilakukan dengan cara bertemu langsung dengan informannya tanpa perantara apapun. 3. Wawancara Efektif Wawancara penelitian yang efektif adalah wawancara yang dapat memberikan informasi lengkap dan detail sesuai dengan waktu, dana dan tenaga yang dimiliki dalam suatu penelitian. Menciptakan wawancara yang efektif sesungguh- nya tidak sulit jika pewawancara/peneliti memperhatikan be- berapa hal yang direkomendasikan oleh Nasution (2003) yaitu memperhatikan isi wawancara, urutan pertanyaan dan rumusan pertanyaan. Penjelasannya berikut ini: 1) Isi wawancara Pewawancara sebagai pihak yang membutuhkan informasi atau data harus mampu mengendalikan isi wawan- cara agar tidak “ngalur ngidul”. Menurut Nasution, di antara isi pertanyaan yang dapat ditanyakan sebagai berikut: a) Pengalaman dan perbuatan responden. Pewawancara me- nanyakan pengalaman, pekerjaan, aktivitas, dan kegiatan yang dilakukan, serta rencana yang telah dibuat atau dilaksanakan. Contoh: Apa program yang telah dilakukan oleh Bapak/Ibu/Saudara/Saudari dalam upaya memajukan sekolah ini? Apa kegiatan siswa/wi Bapak pada saat jam
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 122 Penelitian Kualitatif istirahat (keluar main)? Apa strategi yang telah Bapak susun untuk mengurangi kemalasan guru? dan sebagainya. b) Pendapat, pandangan, tanggapan, penafsiran atau pikiran tentang sesuatu. Pewawancara mengajukan pertanyaan mengenai pendapat informan mengenai topik yang diteliti. Agar mendapatkan respon yang memuaskan dari ter- wawancara, maka pewawancara sebaiknya terlebih dahulu menguasai topik yang dikaji secara umum, agar tidak terkesan blank. Contoh: Bagaimana pendapat ustaz/ustazah mengenai moral remaja di kalangan pesantren? Bagaimana penafsiran Bapak terhadap undang-undang sisdiknas 2003? Apa tanggapan Saudari tentang pernikahan dini? dan sebagainya. c) Perasaan, respons emosional, yakni apakah ia merasa bahagia, cemas, takut, curiga, dan sebagainya. Pe- wawancara menanyakan mengenai respons emosional yang dirasakan terhadap topik atau masalah yang diteliti. Contoh: Apa perasaan Anda bila putra Anda telat pulang malam? Apakah Anda khawatir terhadap perilaku remaja saat ini? Bagaimana bentuk kekhawatiran masyarakat ter- hadap perilaku anak funk? dan seterusnya. d) Pengetahuan, fakta-fakta, apa yang diketahui tentang sesuatu. Pewawancara menanyakan fakta-fakta yang di- ketahui oleh informan. Seperti: Apa yang Anda tahu tentang kuburan tua ini? Apa fakta yang dapat digunakan dalam masalah ini? Bagaimana Anda dapat tahu kejadian atau peristiwa itu? dan seterusnya. e) Penginderaan, apa yang dilihat, yang dirasakan, yang di- dengar, diraba, dikecap atau dicium. Pewawancara me- nanyakan seputar penginderaan yang dialami informan pada masalah yang dikaji. Contoh: Perilaku apa yang Anda saksikan pada anak Anda pada saat ibunya bekerja menjadi
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 123 TKW? Apa yang Anda rasakan setelah Anda ditinggal istri bekerja sebagai TKW ? dan seterusnya. f) Latar belakang pendidikan, pekerjaan, daerah asal, tempat tinggal, keluarga dan sebagainya. Pertanyaan mengenai hal-hal tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang pokok dalam pengambilan data. Namun informasi tersebut dapat meyakini pembaca bahwa informan yang dijadikan ter- wawancara memiliki kapasitas mumpuni dalam penelitian yang dikaji. Oleh karena itu informan harus dipilih sesuai dengan konteks penelitian agar informasi yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan. 2) Urutan pertanyaan Sebenarnya tidak ada ketentuan mengenai urutan pertanyaan dalam suatu wawancara, namun ada beberapa saran yang layak untuk dipertimbangkan agar wawancara dapat berjalan lancar: a) Mulailah membicarakan topik yang dapat menciptakan kenyamanan di antara pewawancara dan terwawancara. Hindari isu-isu sensitif, yang dapat menyulut emosional terwawancara sehingga suasana wawancara tidak kondusif bahkan terancam batal. Bisa jadi terwawancara yang semula berkenan diwawancarai berubah menjadi menolak. b) Lanjutkan wawancara dengan pertanyaan seputar aktivitas dan kondis terwawancara saat ini. Gunakan bahasa-bahasa yang dapat menciptakan suasana keakraban dan ke- keluargaan, seperti menanyakan kondisi kesehatan ter- wawancara, apa aktivitasnya saat ini, bagaimana kondisi pekerjaannya dan sebagainya. c) Pewawancara melakukan warming/pemanasan terlebih dahulu. Artinya, sangat tidak etis bila pewawancara me- nanyakan mengenai informasi atau data yang diinginkan
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 124 Penelitian Kualitatif secara langsung. Pewawancara sebaiknya mencari jalan agar tidak langsung menuju pertanyaan inti. d) Jangan segera bertanya mengenai masa lampau res- ponden. Pertanyaan demikian dapat membuyarkan “good mood” informan. 3) Rumusan pertanyaan Pertanyaan inti dalam wawancara akan efektif bilamana dirumuskan dengan baik, cermat dan teliti. Peneliti sebagai pewawancara harus terlebih dahulu merumuskan pertanyaan sebelum terjun ke lapangan. Amost (2002) merekomendasikan beberapa petunjuk praktis dalam merumuskan pertanyaan wawancara yaitu sebagai berikut: a) Question should be open-ended (pertanyaan bersifat terbuka). Dalam hal ini pewawancara melemparkan pertanyaan yang luas yang sifatnya terbuka dan mendorong terwawancara untuk menjawab dan berbicara secara bebas. Dalam hal ini pewawancara menghindari pertanyaan- pertanyaan yang bersifat dikotomis, yang hanya me- merlukan jawaban “ya atau tidak”. b) Question should used language that familiar to informants (pertanyaan hendaknya menggunakan bahasa yang familiar bagi terwawancara/informan). Poin ini kadang- kadang menjadi tantangan terberat pewawancara (peneliti). Pewawancara harus menyesuaikan kemampuan berbahasa- nya dengan tuntutan bahasa informan yang belum tentu memahami bahasa pewawancara. Jika hal itu tidak me- mungkinkan, maka pewawancara dapat menggunakan jasa translator, sehingga informasi yang diterima lebih di- pahami. Seperti mewawancarai daerah-daerah pedalaman, kampung-kampung pelosok yang belum tentu memahami bahasa Indonesia.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 125 c) Question should be clear (pertanyaan hendaknya jelas). Pertanyaan hendaknya tidak bertele-tele, mengambang, mengandung keambiguan dan membutuhkan penafsiran. Dalam hal ini, pewawancara dituntut memiliki keterampil- an untuk merangkai pertanyaan yang singkat, padat, dan jelas. Pertanyaan yang jelas memungkinkan nara sumber dapat memberikan jawaban yang jelas pula. Demikian pula sebaliknya, pertanyaan yang kurang jelas dapat memuncul- kan jawaban yang tidak efektif. Di samping itu pelaksanaan wawancara tidak efektif dari segi waktu, tenaga dan biaya yang telah direncanakan sebelumnya. d) Question should be neutral (pertanyaan hendaknya bersifat netral). Dalam wawancara kelompok, pertanyaan yang diberikan peneliti kepada setiap orang atau kelompok hendaklah berimbang. Dalam hal ini, peneliti tidak dalamposisi memihak salah seorang atau kelompok tertentu, melainkan berusaha “mengorek” semua informasi yang di- sampaikan oleh orang-orang atau kelompok-kelompok yang diwawancarai. Oleh karena itu, peneliti yang beretika adalah yang mau mendengarkan informasi semua pihak yang diwawancarai dengan baik. e) Question should respect informants and presume they have valuable knowledge. (Pertanyaan harus menghormati informan dan menganggap mereka memiliki pengetahuan yang berharga). Sebagai pihak yang membutuhkan infor- masi dari informan, maka sudah sepantasnya peneliti meng- hormati dan menghargai informannya. Peneliti sebaiknya selalu berperasangka baik bahwa mereka memiliki ke- kayaan informasi yang dibutuhkan oleh peneliti. f) Question should generate answers related to the objectives of the research (Pertanyaan harus menghasilkan jawaban yang berkaitan dengan tujuan penelitian). Pertanyaan
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 126 Penelitian Kualitatif penelitian yang efektif adalah pertanyaan yang dapat membidik jawaban sesuai dengan kebutuhan penelitian. Peneliti sebaiknya merumuskan pertanyaan yang jelas, sehingga jawabannya pun jelas. 4. Kelebihan dan kekurangan wawancara Seperti halnya teknik observasi, teknik wawancara pun memiliki kelebihan dan kekurangan. Di antara kelebihannya adalah sebagai berikut: a) Dalam proses wawancara, pewawancara dapat melakukan tindakan persuasif yang dapat memotivasi terwawancara untuk memberikan jawaban sebebas mungkin serta terbuka terhadap setiap pertanyaan yang diajukan. b) Dalam wawancara tidak terstruktur dan informal, pe- wawancara dapat mengembangkan pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan alur wawancara yang berkembang. c) Karena wawancara dilakukan dengan tatap muka (face to face), maka pewawancara dapat membaca situasi, mimik atau raut muka terwawancara sehingga jawabannya dapat ditaksir tingkat kebenarannya. Pewawancara pun dapat mencari jalan, cara atau strategi untuk bertanya kembali. d) Dalam wawancara interpersonal, pewawancara dapat me- nanyakan kegiatan-kegiatan privasi yang dilakukan ter- wawancara atau yang dilakukan oleh objek yang di- wawancarai. Namun, kode etik harus tetap dijunjung, yaitu tidak menyiarkan, menceritakannya kembali kepada orang lain. Adapun kekurangan teknik wawancara adalah sebagai berikut: a) Bagi pewawancara (peneliti) pemula, walau wawancara dilakukan secara tatap muka, namun sulit sekali mem-
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 127 prediksi jawaban yang diberikan informan itu benar atau tidak. Atau sulit mentaksir tingkat kevalidannya. b) Wawancara kadangkala menghambat kegiatan informan yang memiliki keterbatasan waktu, sehingga wawancara menjadi tidak efektif. c) Wawancara kadangkala memerlukan banyak biaya, se- hingga wawancara tidak efesien dan kurang ekonomis. Seperti pewawancara yang ingin mengetahui hal-hal yang sifatnya privasi, kadangkala terwawancara meminta imbal- an lebih untuk sesi-sesi wawancara yang dilakukan. atau para informan yang hendak diwawancarai tersebar di tempat yang jauh dari tempat tinggal pewawancara, se- hingga memerlukan biaya transportasi bahkan akomodasi untuk mendapatkan data dan informasi. 5. Etika Wawancara Etika menjadi pembahasan yang tidak dapat dipisah- kan dari proses penelitian, karena penelitian merupakan bagian dari interaksi sosial. Wawancara sebagai bagian dari proses penelitian hendaknya dilakukan dengan memperhatikan etika yang berlaku di lapangan. Ada beberapa etika umum yang dapat dipaparkan di sini yaitu sebagai berikut: a) Berkata, berperilaku dan menggunakan pakaian yang sopan. Di belahan bumi mana pun, kesopanan menjadi daya tarik bagi orang untuk bersimpati dan memberikan layanan yang terbaik. Sopan santun peneliti menentukan sikap terwawancara. Bila pewawancara/peneliti bersikap hormat dan menghargai terwawancara, dapat dipastikan pewawan- cara pun akan di hormati dan dihargai pula. b) Bila pewawancara telah membuat janji untuk melakukan wawancara dengan informan dalam waktu yang telah ditentukan, hendaknya pewawancara menepatinya dengan
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 128 Penelitian Kualitatif datang tepat waktu dan tidak membuat informan me- nunggu. Bila pewawancara berhalangan atau datang terlambat, hendaknya terwawancara/informan dikabari. Terlebih di era modern saat ini, pewawancara dapat mengiformasikannya via sms, telepon, e-mail dan sebagainya. c) Tidak mendebat narasumber/informan. Wawancara bukanlah sebuah diskusi atau ajang perdebatan, melainkan salah satu prosedur memperoleh data dan informasi per- masalahan yang dikaji. Pewawancara mendengar dan me- nulis jawaban dari informan tanpa melakukan bantahan yang dapat membuat informan tersinggung. d) Mendengarkan dengan baik informasi yang disampaikan informan. Salah satu bentuk penghormatan peneliti atau pewawancara kepada informan adalah mendengarkan informasi dan paparan data yang disampaikan dengan seksama, konsentrasi, dan terfokus, yang ditunjukkan itu dengan bahasa tubuh. e) Menghidari pertanyaan yang sifat menguji dan menggurui. Pertanyaan menguji dan menggurui dapat menjebak pewawancara dan informan dalam situasi yang tidak ber- sahabat. Informan merasa dijebak sehingga informasi yang dibutuhkan enggan dibeberkan. Situasi seperti memungkin- kan terwawancara merasa dilecehkan dan diremehkan. f) Menghormati permintaan informan bila nama atau jabatan- nya enggan dipublikasikan. Ada sebagaian informan yang tidak ingin nama, alamat, jabatan dan hal-hal privasi lainya dipublikasikan dalam laporan penelitiannya. Dalam hal ini biasanya pewawancara menulis nama informan dengan nama inisialnya, atau dengan nama samaran. g) Mengucapkan terima kasih bila wawancara telah berakhir. Pewawancara/peneliti yang baik adalah yang tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada informannya. Ucapan
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 129 terima kasih memiliki maksud untuk menguatkan ikatan silaturami dengan informan. Sehingga bilamana informasi yang diperoleh dirasa kurang, peneliti dapat kembali meminta untuk melakukan wawancara tanpa perasaan sungkan. Terutama bila peneliti menggunakan teknik triangalusi, yaitu mengecek kembali data yang telah dikumpulkan agar lebih valid dan meyakinkan. C. Dokumentasi 1. Konsep Dokumentasi Untuk mengetahui konsep dokumentasi dalam konteks penelitian, maka perlu dikemukakan konsep dasar mengenai dokumentasi berupa pengertiannya dari segi bahasa. Dokumen dalam “A Dictionary of the derivations of the English Language” diketahuai berasal dari bahasa Latin yaitu documnetum, yang terambil dari kata docere, yang berarti to teach, precept; - written instruction; - an official paper conveying information, or establishing the allegation of fact. Menurut McMillan dan Schumacher dalam Satori dan Komariah (2012), bahwa dokumen merupakan rekaman kejadian masa lalu yang ditulis atau dicetak, dapat berupa catatan anekdot, surat, buku harian, dan dokumen. Dokumen kantor termasuk lembaran internal, komunikasi bagi publik yang beragam, file siswa dan pegawai, deskripsi program dan data statistik pembelajaran. Menurut Moleong (2013), dokumen ialah setiap bahan tertulis ataupun film. Jadi dokumen merupakan rekam jejak yang memuat kejadian, ide, pandangan, penafsiran, jasa-jasa, dan kegiatan seseorang dalambentuk tulisan, photo, gambar, rekaman video, plakat, lembar- an, buku catatan harian, artefak, batu nisan, manuskrip, trans- krip nilai, raport, dan sebagainya.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 130 Penelitian Kualitatif Melihat definisi dokumen di atas, maka secara se- derhana dokumentasi dalam penelitian kualitatif dapat di- pahami sebagai salah satu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melihat, mengkaji, dan menganalisis dokumen-dokumen dan hal-hal yang memiliki keterkaitan dengannya, yang dibuat oleh subjek sendiri atau oleh orang lain tentang subjek tersebut. Sebenarnya teknik dokumentasi merupakan pelengkap dari teknik observasi dan wawancara. Artinya hasil penelitian kualitatif lebih akurat, kredibel dan dapat dipercaya jika didukung oleh dokumen-dokumen yang ada. Dokumen tersebut berfungsi untuk menyelaraskan, meluruskan dan atau menguat- kan hasil observasi dan wawancara. Contohnya, dalam suatu penelitian, informan memberikan informasi bahwa telah terjadi peningkatan kelulusan dari tahun sekian hingga tahun sekian, namun setelah peneliti melihat nilai ijazah ujian akhir dan rekapitulasi nilai raport siswa-siswi sekolah yang bersangkut- an, ternyata berlawanan dengan informasi yang diberikan. Maka dalam hal ini peneliti dapat meminta klarifikasi yang sebenarnya kepada informan. Sebagai sumber data, dokumen telah lama dimanfaat- kan untuk menguji dan menginterpretasi dalam banyak hal. Bahkan dokumen sering dimanfaatkan untuk meramalkan fakta masa lalu yang terjadi. Menurut Guba dan Lincoln dalamMoleong (2013), dokumen digunakan karena beberapa alasan yang dapat dipertanggung-jawabkan di antaranya yaitu: a. Dokumen digunakan karena merupakan sumber yang stabil, kaya, dan mendorong. b. Berguna sebagai bukti untuk pengujian. c. Keduanya berguna dan sesuai dengan penelitian kualitatif karena sifatnya yang alamiah, sesuai dengan konteks, lahir dan berada dalam konteks.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 131 d. Hasil pengkajian isi akan membuka kesempatan untuk lebih memperluas tubuh pengetahuan terhadap sesuatu yang diselidiki. 2. Macam-Macam Dokumen Pada umumnya dokumen dibagi menjadi dua macamyaitu dokumen pribadi dan dokumen resmi. Dokumen pribadi terbagi menjadi buku atau catatan harian, surat pribadi, dan otobiografi. Sedangkan dokumen resmi terbagi menjadi dua yaitu dokumen internal dan eksternal. Adapun penjelasannya berikut ini: a. Dokumen Pribadi 1) Buku Harian Buku harian atau yang lebih sering disebut dengan diary merupakan catatan-catatan penting tentang kejadian atau peristiwa yang dialami sehari-hari. Biasanya buku harian berisi kejadian yang amat berkesan, memiliki kenangan dan ber- sejarah. Juga, sebagai dokumen pribadi, diary merupakan kumpulan tulisan-tulisan yang bersifat privasi. Dokumen se- misal ini sering digunakan oleh para peneliti yang mengkaji pemikiran tokoh tertentu. 2) Surat Pribadi Surat adalah sarana komunikasi pribadi untuk me- nyampaikan informasi tertulis yang ditulis oleh seorang individu kepada orang atau instansi tertentu, yang bertujuan untuk memberitahukan, meminta, menyampaikan gagasan, pemikiran, dan sebagainya. Contohnya surat-surat Raden Ajeng Kartini yang berisi pemikiran, ide, gagasan bahkan ideologi yang terdokumentasi melalui surat menyurat.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 132 Penelitian Kualitatif 3) Otobiografi atau disebut juga autobiografi merupakan riwayat hidup pribadi seseorang yang ditulis sendiri. b. Dokumen Resmi 1) Dokumen internal dipahami sebagai dokumen yang di- peroleh langsung dari pihak internal individu ataupun suatu instansi/lembaga yang diteliti. 2) Dokumen eskternal dipahami sebagai dokumen yang diperoleh dari eksternal/luar individu atau instansi yang diteliti. 3. Langkah-Langkah Menyeleksi Dokumen Dalam penelitian kualitatif, tidak semua dokumen yang dikumpulkan memiliki nilai atau manfaat sesuai konteks penelitian yang sedang dilakukan. Oleh karena itu dokumen tersebut harus diseleksi sesuai dengan manfaat yang diinginkan. Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh dalammenyeleksi dokumen dalam penelitian kualitatif sebagai berikut: a. Mengidentifikasi situasi sosial di mana peristiwa atau kasus memiliki makna yang sama. Situasi sosial mempertimbang- kan waktu dan tempat di mana peristwa terjadi. b. Dalam hubungannya dengan identifikasi, perlu dikenali persamaan dan perbedaannya, yaitu memfokuskan pada satu objek, suatu peristiwa, atau suatu tindakan, diperlaku- kan secara sama pada situasi yang sama, di dalam batas- batas situasi sosialnya. Pada waktu yang sama, juga perlu dikenali bahwa suatu peristiwa yang sama akan ditanggapi secara berbeda, oleh individu yang berbeda, dan dalamwaktu dan tempat yang berbeda.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 133 c. Selanjutnya mengenali relevansi teoretik atas dasar tersebut (Tadjoer Ridjal dalam Burhan Bungin, 2011). 4. Keunggulan dan Kelemahan Dokumentasi Ada beberapa keunggulan dan kelemahan metode dokumentasi sebagai salah satu metode atau teknik pe- ngumpulan data yaitu: a. Keunggulan Dokumentasi Di antara keunggulan teknik dokumentasi sehingga layak dipertimbangkan dalam penelitian kualitatif adalah se- bagai berikut: 1) Metode dokumentasi menjadi pilihan terbaik bagi peneliti yang ingin mengetahui masa lampau. 2) Metode dokumentasi menjadi alternatif utama dalam pe- nelitian kualitatif ketika informan sulit atau bahkan tidak dapat diwawancarai, seperti informan yang telah meninggal dunia. 3) Sangat memungkinkan peneliti untuk bersikap objektif dalam penelitian karena dokumen atau data tersebut tidak dipengaruhi oleh kehadiran peneliti. 4) Metode dokumentasi dapat menjembatani atau meng- hubungkan informasi masa lalu seseorang dengan masa sekarang. b. Kelemahan Dokumentasi Di samping kelebihan-kelebihan di atas, metode dokumentasi juga memiliki sisi-sisi kelemahan yaitu: 1) Metode atau teknik dokumentasi kadang kala membutuhkan penafsiran yang mendalam tatkala dokumen yang dijumpai menggunakan bahasa verbal atau simbolik yang sukar dipahami.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 134 Penelitian Kualitatif 2) Dokumen atau tentang seorang tokoh yang tidak berkenan dipopulerkan dengan alasan tertentu pada masa lampau kadangkala tidak tersimpan secara baik atau bahkan tidak ada. 3) Data yang tersedia dalam sebuah dokumen kadangkala tidak lengkap karena dokumen ditulis bukan untuk pe- nelitian. 4) Dokumentasi yang tidak lengkap sangat rentan mem- berikan petunjuk atau informasi yang tidak lengkap pula atau bahkan sesat.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 135 Bagian 8 ANALISIS DATA A. Konsep Analisis Data Kualitatif Analisis data merupakan tahapan terpenting dalampenelitian. Dalam penelitian kualitatif, data-data yang ber- serakan dan rancau tidak akan berarti apa-apa jika tidak dianalisis dengan baik dan benar. Dapat diibaratkan bahwa data-data berserakan tersebut layaknya bahan mentah yang harus diolah menjadi barang jadi dan bermanfaat. Maka dalamproses analisis, data diatur, diseleksi, dikelasifikasikan dan diolah sehingga benar-benar menjadi data yang dapat menjawab permasalahan penelitian. Menurut Bogdan dan Biklen dalam Moleong (2013), analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah- milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesis- kannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceriterakan kepada orang lain. Ada juga yang men- definiskan analisis sebagai proses menyusun data agar dapat ditafsirkan (Nasution, 2003). Sedangkan menurut Satori dan Komariah (2012), analisis adalah suatu usaha untuk mengurai suatu masalah atas fokus kajian menjadi bagian-bagian se-
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra 136 Penelitian Kualitatif hingga susunan atau tatanan bentuk sesuatu yang diurai itu tampak dengan jelas dan karenanya bisa secara lebih terang ditangkap maknanya atau lebih jernih dimengerti duduk per- karanya. Menurut Sugiyono (2013), analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam ketegori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesis, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat simpulan sehingga mudah dipahami oleh peneliti sendiri dan orang lain. Definisi yang terakhir senada dengan apa yang dikemukakan oleh Hennie Boeije (2010), bahwa analisis kualitatif adalah segmentasi data ke dalam kategori yang relevan dan penamaan kategori ini dengan kode sementara secara simultan menghasilkan kategori dari data. Pada tahap pemasangan kembali kategori yang terkait satu sama lain untuk menghasilkan pemahaman teoretik dari fenomena sosial yang diteliti dalam hal pertanyaan penelitian. Definisi-definsi di atas nampak saling menguatkan, sehingga dapat disimpulkan dalan bentuk definisi yang lebih sederhana bahwa analisis penelitian kualitatif adalah tahapan penelitian untuk menyeleksi, mengklasifikasikan dan mengatur data serta menghubungkan antara data yang satu dengan data yang lain, agar dapat ditarik simpulan-simpulan. Jika definisi-definisi di atas dicermati, sesungguhnya analisis data kualitatif digambarkan sebagai proses yang meng- uras tenaga, waktu dan pikiran. Analisis data melibatkan rangkaian kegiatan-kegiatan fisik dan pikiran. Nasution mengingatkan agar peneliti cermat dan bersabar dalam proses analisis data. Sebab menurutnya, melakukan analisis data adalah pekerjaan yang sulit.
M. Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra Penelitian Kualitatif 137 Jamie Harding (2013) pun mengungkapkan hal yang sama bahwa discussion of the process of qualitative data analysis can sometimes bi confusing – diskusi tentang proses analisis data kualitatif kadang-kadang bias membingungkan. B. Tahapan dan Teknik Analisis Data Kualitatif Kadang-kadang analisis data diasumsikan hanya dapat dianalisis setelah pengumpulan data berakhir. Padahal analisis data sebenarnya harus sudah dimulai sebelum peneliti me- masuki lapangan penelitian. Analisis data oleh Nasution di- sebut juga dengan interpretasi data. Ia menegaskan bahwa interpretasi (analisis) sebenarnya harus dilakukan sepanjang penelitian. 1. Analisis Sebelum di Lapangan Sebagaimana yang dijelaskan dalam bab sebelumnya, penelitian kualitatif selalu dimulai dengan melakukan identifikasi masalah yang dilakukan melalui observasi awal dan telaah literatur. Setelah kedua langkah tersebut dilakukan, peneliti melakukan analisis terhadap data observasi awal dan telaah literatur yang telah diperoleh, yang dimanfaatkan se- bagai landasan dalam menentukan fokus penelitian. Jadi sebenarnya, sejak sebelum memasuki lapangan penelitian, peneliti sudah melakukan analisis data. Namun demikian fokus penelitian yang dihasilkan masih bersifat tentatif, yang memiliki peluang untuk berubah- ubah tergantung perkembangan masalah di lapangan. Data awal inilah yang dinalisis menjadi gambaran awal mengenai data dan informasi yang hendak dikumpulkan dari para informan.