tiba saya tertegun dan membisu. Mulut seketika kaku, tak sanggup berkata-kata lagi.
Tamparan keras yang saya rasakan membuat hati ini terus memikirkan sebuah jalan keluar, agar tak ada lagi kisah sedih warga yang tak menikmati listrik.
“Baiklah,”ujarku dalam hati. Jika memang secara institusi belum bisa mewujudkan keinginan warga tersebut, seharusnya ada cara lain tak mesti langsung “wah”. Tapi, setidaknya mampu menghapus rasa kecewa mereka, termasuk untuk si nenek di Kampung Tumbit tempat berhenti tadi.
Solusi bisa sendiri ataukah urunan . “Masa sih, tidak bisa kalau setiap bulan mengusahakan satu atau dua pelanggan agar bisa tersambung listriknya. Hitung-hitung mengurangi rasa bersalah dan dosa. Kalau semakin banyak yang peduli dan membantu setiap bulan satu pelanggan saja, maka semakin banyak masyarakat yang dapat menikmati listrik secara mandiri. Rumahnya terang, anaknya bisa belajar, bisa mengaji, bisa menjahit, bisa buat es, bisa pakai pompa, bisa mendapatkan informasi, bisa beraktivitas untuk kehidupannya mereka,”kataku menguatkan hati.
Hal kecil itu, tentu bisa menyunggingkan senyum ceria ditengah kilauan cahaya lampu. Kehidupan mereka lebih baik tentunya. Tidakkah bahagia menyaksikan semua itu?,”ujarku dalam renungan dan lamunan yang terus menggelayut . “Masa tidak bisa melakukan apa-apa untuk saudara yang lain. Apa yang akan saya katakan dihadapan Allah di akhirat nanti?,”pikirku.
Light Up the Dream
6
--Bagian Dua--
SEPENGGAL KISAH DARI RUMAH SINGGAH ABAH DAN UMI “AHMAD DEGEL”
7
Walau sudah sekian lama kejadian itu, tetapi senantiasa hadir setiap menyaksikan ada rumah warga kurang mampu atau daerah pinggiran yang belum berlistrik. Sepertinya kejadian itu baru saja terjadi.
Tanggung jawab moral akan hadirnya energy yang menerangi setiap ruang rumah yang ditempati, mengalirnya energy yang menerangi hati setiap insan untuk lebih peduli..... semoga.. wallahu a’lam.
Rumah Singgah Darul Aitam Al-Islah berlokasi di Gang. Madrasah Cikaret Bogor, yang berdiri sejak tahun 1981. Rumah singgah ini dipimpin oleh Abah Ahmad Degel dan Umi Hikmah Zahir.
Sebuah rumah singgah untuk menampung janda-janda yang terlantar, anak yatim dan kaum dhuafa. Mereka yang di tampung di sini tidak hanya diberikan tempat tinggal, tapi juga diberikan kebutuhan hidup sehari-hari. Dana yang didapat untuk menghidupi rumah singgah ini berasal dari dana pribadi dan beberapa dari donatur.
Light Up the Dream
Abah beserta Ummi yang telah mendedikasikan hidupnya untuk kehidupan orang lain merupakan sosok yang patut dijadikan panutan. Beliau bukanlah tokoh besar yang berasal dari kalangan hartawan atau tokoh masyarakat, tetapi dari masyarakat biasa. Beliau seorang guru yang sadar betul akan perintah Tuhannya.
Mereka sadar betul akan tujuan penciptaan dirinya, yaitu menjadi hamba yang senantiasa mengabdi dan sekaligus mengelola atau memperbaiki kehidupan sesuai dengan kompetensinya. Hidupnya untuk memberi manfaat bagi lainnya.
Berawal dari kegemaran beliau membantu sesama, hadirnya seorang janda dengan tiga anak yatim yang membawa Abah mendirikan rumah singgah.
Tentu bukanlah perkara mudah bagi Abah untuk dapat menampung anak yatim lainnya, janda dhuafa, serta keluarga tidak mampu. Dibutuhkan kesadaran yang tinggi, kepahaman agama yang utuh dan komitmen yang kuat akan nilai-nilai Ilahiyah yang diyakininya.
Termasuk juga rasa tanggung jawab akan banyaknya kebaikan yang telah diberikan oleh Allah, dan janji Allah akan pertolongan dan balasan Allah di akhirat kelak menjadikan Allah sebagai tujuan dan jalan hidup telah dipilihnya. Syariat dijadikan ukuran agar tetap dijalan yang diridhoi. Makanya, di rumah
Light Up the Dream
8
singgah tersebut shalat jamaah dan mengaji menjadi menu wajib harian.
Dari aspek intelektual, beliau harus menghadapi tantangan untuk mendidik anak-anak, ibu janda, fakir miskin yang berasal dari masyarakat berpendidikan biasa. Apalagi, mereka memiliki karakteristik serta adat-istiadat yang beragam.
Belajar untuk terus komitmen melakukan dan memberikan yang terbaik sesuai perintah Tuhannya. Beliau sangat sadar akan arti penting pendidikan dalam pengertian yang sesungguhnya, sehingga menjadi prioritas utama dalam pengasuhan di rumah singgah. Pendidikan untuk menjadikan manusia seutuhnya, yang senantiasa memanusiakan manusia lain dan peduli karena makhluk Tuhan.
Dari aspek emosional lebih hebat lagi. Beliau sudah berusaha maksimal untuk memenuhi dan membantu kebutuhan hidupnya. Tetapi, sering didapati bahwa penghuni tidak peduli, melakukan tindakan yang kurang baik, tidak disiplin, tidak menghargai pemberian yang telah diterima. Dengan sabar dan tabah, tanpa marah dan menyesal tetap membantu mereka, tetap mencukupi mereka hingga tetap mencarikan solusi atas semua permasalahan yang dihadapi.
Light Up the Dream
9
Dalam kondisi sempit pun beliau akan mencarikan jalan keluar bagi penghuni rumah singgah. Kesabaran dan kesadaran akan janji Tuhannya telah mewarnai hidupnya, untuk mendedikasikan hidupnya bagi kebahagiaan orang lain.
Aspek ini yang terus ditata dan
diwariskan kepada penghuni maupun kita semua. Empati dalam arti yang sesungguhnya dan
bukan sekedar wacana atau cerita.
Dari aspek spiritual begitu mengagumkam. Keyakinan akan kebesaran Allah begitu kuat dan tinggi. Keyakinan akan Maha Kaya Allah sangat mendominasi. Maiyatullah (menghadirkan Allah) dalam hidupnya begitu kental. Karena perintah Tuhannya menjadikan kuat dan tetap semangat untuk terus melakukan kebaikan. Sikap tawadhu dan ikhtiar maksimal terus dilakukan demi kebaikan orang lainnya.
Abah sosok resilent leader yang perlu dijadikan teladan dimasa kini. Ucap, laku, rasa, pikir nampak serasi dalam pribadi santun dan rendah hati ini. Sebuah teladan nyata dalam kehidupan saat ini. Kembali kepada kita semua, apakah bisa mengambil teladan atas sosok beliau. Wallahu A’lam.
Light Up the Dream
10
--Bagian Tiga--
BUKAN TAK BUTUH SEMBAKO, LISTRIK MENDESAK
11
Cahaya matahari berpendar keseluruh penjuru, lambat laun warna terangnya pudar berganti gelap.
Matahari telah kembali
keperaduannya, menandakan
aktifitas lambat launpun juga tak seramai sedari tadi. Bahkan, mulai terasa sunyi dari aktivitas hiruk pikuk keramaian kota.
Wajah kosong anakku seakan
menggambarkan suasana batin
yang tiada menentu. Sementara
suami yang merantau di negeri seberang
sudah beberapa pekan tidak bisa dihubungi. Mungkin saja masuk daerah belantara yang tidak terjangkau sinyal, atau mungkin sedang melaut yang tidak bisa mengabarkan berita apa-apa.
“Semoga disana, di seberang pulau sana tetap sehat wal afiat selamat sebab kembalinya sangatlah dibutuhkan bagi keluarga ini,”kata Ibu Ita, melafalkan doa-doa untuk suaminya yang sedang berjuang mencari nafkah.
Sebagai penopang dan penguat keluarga ini, sebagai tulang punggung tegaknya bangunan ini. Duhai suamiku, istri dan anakmu menungguimu disini. Dalam suasana ini, air mata
Light Up the Dream
dalam iringan doa semoga mampu menggetarkan hatimu, menjadi penyambung rasa dan asa ini.
Lamunanku tersadar ketika pintu rumah diketuk oleh seseorang. Hati bertanya, siapa gerangan yang bersedia singgah di gubuk ini. Perasaan tidak ada lagi masalah dengan tetangga atau dengan siapapun. Perasaan tidak ada buat janji atau ingin ketemu dengan sanak saudara. Setelah tiga kali mengetuk, barulah kuberanikan membuka pintu.
Tetiba dua orang laki-laki datang membawa tentengan yang belum pernah kukenal, tak banyak basa-basi lalu memperkenalkan diri.
“Mohon ijin bu, saya Syahlan dari tim Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN. Kami diminta untuk menyalurkan sembako hasil donasi teman-teman. Mohon berkenan untuk menerimanya,” kata Syahlan sambil menyerahkan bingkisan sembako, karung beras dan amplop.
“Terima kasih,” jawab Ibu Ita, setengah tidak percaya. Keduanya tiba-tiba datang, sama sekali tak kukenali. Hati kecilku berkata, sebenarnya sangat membutuhkan tetapi rasa kurang percaya tetap ada. Mungkin Allah mendengar doa kami, sehingga mengirimkan mereka kesini,”ujarku penuh tanya.
Setelah bertanya kondisi keluarga dan kegiatan usaha, dia bertanya terkait kondisi gubuk kami. “Rumah ini belum ada listriknya bu?,”tanyanya lagi.
Light Up the Dream
12
Lalu kusahuti pertanyaannya dengan menyampaikan, jika rumah ini sebelumnya telah ada sambungan listrik dengan menyalur ke tetangga, tetapi diputus sama yang punya setelah beberapa hari sebelumnya memberitahukan. “Saya sudah memohon bantuan agar jangan diputus dengan membayar seperti biasa, tetapi tetap diputus dengan alasan takut kalau terjadi korsleting dan melanggar aturan PLN. Akhirnya hanya bisa pasrah,”paparku menjelaskan ke Pak Syahlan.
Ibu Ita bercerita, jika pasca diputus, dia sangat bingung entah kemana meminta sambungan listrik untuk pondoknya. “Listrik ini sangat kami butuhkan agar anak bisa belajar dan charge handphone, sehingga anak bisa online. Tetapi sejak tadi pagi gak boleh lagi, diputus. Pondok kami gelap. Tetangga enggan membantu, sekarang semua serba sulit mau usaha apa-apa juga susah selama musim pandemi,” kata ibu Ita dengan berlinang air mata sambil memegangi kepala anaknya.
Usai bertanya, petugas dari YBM terus melayangkan pertanyaan padaku. “Ibu ada KTP atau KK, kalau masuk data di Basik Data Terpadu (BDT) Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) nanti coba kami bantu,”tutur Syahlah sambil mencoba menenangkan.
Lalu kujawab dengan suara lirih, “KTP saya ada di Gowa, saya tidak tahu apakah masuk atau tidak. Kami ini orang susah,”ujar Ibu Ita.
Syahlah kemudian memintaku untuk menyerahkan foto copy KTP untuk dibantu dicekkan. “Mohon bantuan foto copy KTP saja bu, coba kami croscekkan dan nanti diusahakan. Semoga
Light Up the Dream
13
besok sudah ada ya bu. Terima kasih, mohon ijin kami permisi. Wassalamu alaikum,” kata Syahlan sambil keluar dari pekarangan rumahku.
Usai keduanya hilang dari pandangan, Ibu Ita kemudian dalam hati mengucap syukur dan rasa terima kasih. “Terima kasih ya, pak,”ungkapnya.
##
Usai menemui Ibu Ita, mobil yang ditumpangi Syahlan dari YBM melanjutkan perjalanan menuju daerah Antam untuk menyalurkan sembako yang sudah dipersiapkan. Targetnya hari ini 30 kantong harus tersalurkan langsung ke penerima. Di perjalanan masih terbayang wajah sedih ibu Ita dan putranya.
Ditengah perjalanan, saya mencoba membuka pembicaraan ke Mas Syahlan. “Mestinya kita bisa berbuat lebih dari sekedar sembako. Coba diingat tadi itu, sewaktu diserahkan bingkisan sembako wajah Ibu Ita datar saja, kosong tanpa asa,”ujarku.
Saat ditanya lampu, wajah Ibu Ita langsung terlihat sedih. Rupanya yang dibutuhkan saat ini dan paling mendesak adalah listrik. Sembako penting, tetapi lampu listrik sangat mendesak bagi beliau.“Kalau yang kita serahkan lampu listrik menyala dirumahnya, pastilah beliau sangat bahagia sekali,”seruku pada mas Syahlan.
Light Up the Dream
14
Dibenak saya, jika mengharapkan sambungan listrik melalui program pemerintah tentu bakal lama. Maka dari itu, perlu dipikirkan solusi cepat dan tidak membebani. Bahkan, dapat mendorong kita sebagai
pegawai PLN untuk melakukan amal jariah membantu sesama.
Untuk itu, saya perlu mengajak dan menggerakkan teman sejawat atau siapapun untuk berdonasi. Tentu, bisa dibayangkan bahagianya saat nanti listriknya menyala akan ada tangisan bahagia tentunya.
Pada program ini tak semudah mengajak orang melakukan donasi lainnya. Maka dari itu, agar lebih meyakinkan para donatur mereka akan diajak melihat kondisi pelanggannya langsung. Tak sampai disitu saja, nanti yang berdonasi difasilitasi untuk menyalakannya dan menyerahkan sendiri termasuk barang-barang kalau mau usaha. Pastinya akan membuat pemberi donasi lebih bahagia, begitupun penerima bantuan akan merasa lebih senang lagi.
Dengan melihat kondisi pelanggan secara langsung, dia akan lebih bersyukur dengan kehidupannya jauh lebih baik dan jauh lebih beruntung. Saat menyalakan listrik, dia akan melihat wajah-wajah bahagia dari keluarga itu, sehingga dia menyadari bahwa apa yang dilakukan menjadikan orang lain bahagia.
Light Up the Dream
15
Apalagi, listrik yang menyala menjadikan orang lain gembira. Orang tidak suka listriknya mati, sehingga menguatkan semangat dan tekad untuk terus mengusahakan agar listrik handal dan berkualitas.
Termasuk pegawai yang bukan bidang teknikpun, maka akan memaksimalkan perannya mensupport orang operasi, karena kesadaran akan pentingnya listrik yang senantiasa menyala dan andal.
Saat menyerahkan bantuan peralatan usaha, dia merasakan keyakinan akan kehidupan yang lebih baik dimasa datang dengan sebuah tekad usaha maksimal.
Upaya ini tentu akan mendorong jiwa-jiwa kreatif menangkap setiap peluang. Akan semakin gigih dalam memperjuangkan mimpi dan cita-cita. Bahkan semakin sadar pentingnya bersinergi, berkolaborasi dan peduli pada sesama.
Tak hanya itu, akan semakin semangat untuk membangun menciptakan pasar baru bagi dirinya. Saat membantu orang lain, sesungguhnya dia sedang mempersiapkan rezeki untuk dirinya sendiri.
“Baik pak, besok kudatangi dan kutanya keperluan peralatan usaha dan nanti kita adakan. Tapi yang biasa dulu pak ya?. Tidak mahal-mahal,” kata mas Syahlan sambil tersenyum.
Untuk memulai, saya bisa mempraktekkan dulu di unit yang terdekat, agar bisa langsung dievaluasi. Apalagi, unit tersebut
Light Up the Dream
16
-- Bagian Empat—
DARI MILENIAL, LAHIR IDE BRILIAN “LIGHT UP THE DREAM”
17
yang menginformasikan kalau ada kendala saat penertiban dan pemeliharaan kWh meter atau perampalan pohon.
Mereka kita ajak memakai cara tersebut dan semoga menjadi solusi atas hambatan sosial yang dihadapi. “Sebentar kuhubungi dan kuajak mencoba ini. Berbagi kebahagiaan untuk solusi kegiatan operasional, insyaallah bisa”kataku.
Kabar baik itu datang akhirnya. Dimulai dengan informasi baik, ada teman kita yang akan berbagi kepada sesama dengan cara membantu masyarakat yang tidak mampu, dengan memasangkan listriknya lengkap instalasi, langsung menyalakan listrik sendiri dan membantu keperluan usaha.
Dia ingin menyalakan mimpi dan membangun harapan baru. Ada ide nama programnya? tanyaku pada Staf PLN UIW Sulselrabar Bagian SDM, Mas Bagus Satrio dan Bagus Dhaka.
“Pegawai maksudnya pak ?” tanya Bagus Satrio. “Iya pegawai berdonasi, tetapi setelah itu boleh juga orang lain, semua kita fasilitasi. Semacam perjalanan kebahagiaanlah,” sahutku. “Beri nama program Light Up The Dream saja pak, maknanya Listrik untuk Nyalakan Mimpi, bagaimana pak apakah setuju?,”kata Bagus Satrio.
Light Up the Dream
Ide itu sangat bagus dan pas, tentunya sangat keren karena pesannya sangat kuat, listrik untuk nyalakan mimpi. Usai mendapat ide tersebut, langsung saya menghubungi teman sejawat di PLN, Supervisor Pelayanan dan Administrasi ULP Soppeng Franklin Ginther, spesialis ahli desain. Lalu saya ceritakan ada teman yang buat program Light Up The Dream, yakni Listrik untuk Nyalakan mimpi.
Saya meminta tolong untuk dibuatkan design mock up program tersebut. Gayung bersambut, tanpa banyak tanya Franklin langsung mengeksekusi ide tersebut. Dan betul, sejam kemudian sudah dikirim design mock up untuk simbolis penyalaan Light Up The Dream. Semuanya lancar, ide dan design klop dan semuanya lahir dari para milenial yang memiliki ide brilian.
####
Waktu telah menunjukkan pukul 15.15 WITA, Pak Saerul Saguni Manager ULP Karebosi kala itu, juga belum memberi data. Kemarin minta bantuan data empat calon pelanggan kurang mampu yang belum punya listrik secara mandiri dan alat usaha yang diperlukannya.
Saya mencoba menghubunginya, namun hasilnya nihil. Bisa jadi beliau sedang sedang sibuk melayani masyarakat atau sedang mengawasi pekerjaan dilokasi remote atau tindak lanjut penyelesaian kendala yang
Light Up the Dream
18
disampaikan kemarin belum ada hasilnya. Ah, tidak mungkin, pasti kalau belum jelas akan dia laporkan. Tak menunggu berhari-hari, akhirnya data calon pelanggan yang dibutuhkan telah ada.
"Pak Saerul, mohon bantuan dapat didaftarkan listriknya, sekaligus mohon bantuan teman instalatir pasang instalasinya, Sertifikat Laik Operasi (SLO) dan alat usaha dasar yang dibutuhkan. Mohon dihitungkan berapa biayanya, nanti ditransfer. Mohon bantuan ya ?,” Pintaku pada pak Saerul.
Tidak menunggu lama,“Baik pak, kami selesaikan dulu saja, nanti buktinya kami kirimkan ke Bapak, siap pak,” katanya
pak Saerul lagi. “Mohon ijin tanya pak, nanti langsung diserahkan saja barangnya atau bagaimana ?,” tanya pak Saerul.
“Nanti Ahad pagi kita bisa gowes ya, tidak perlu banyak-banyak yang ikut karena masih masa pandemi. Sambil menyalakan dan menyerahkan bantuan," kataku. Usai menyimak pemberitahuanku, kemudian semuanya menyatakan kesiapannya dan segera melaporkan untuk persiapan program Light Up The Dream tersebut.
Usai hal itu dinyatakan siap, kemudaian saya menghubungi Manager PLN Makasar Utara Ibu Yuli untuk diajak gowes bersama. "Bu Yuli yang baik hati, hari Ahad pagi bisa gowes di
Light Up the Dream
19
--Bagian Lima--
GOWES ANTARKAN KEBAHAGIAAN
20
Karebosi. Kan lama tidak gowes sejak pandemi" tanyaku. Usulan itu disambut baik Ibu Yuli untuk melakukan gowes.
“Baik pak, kami siapkan. Di Karebosi pak ya ? Siapa saja pesertanya pak ?” Tanya bu Yuli. “Teman teman sana saja, kami mohon ikut gabung nanti,”tuturku.
Waktu menunjukkan pukul 06.15 WITA, beberapa orang teman sudah berkumpul di ULP Karebosi, keceriaan tampak menghiasi wajah wajah mereka, terlihat sehat dan bugar semuanya.
Setelah saling menyapa dan berbincang ringan, Pak Saerul menyampaikan kalau semua persiapan sudah dilakukan. "Jadi ini ceritanya sepedaan sambil mau penyalaan listrik dan penyerahan bantuan ya pak ? Kalau yang saya tangkap seperti itu," kata bu Yuli sebelum memulai kegiatan saat itu. “Iya bu. Kita sepedaan sehat, bergembira dan sekaligus berbagi dengan sesama, agar lebih bahagia. Perjalanan kebahagiaanlah bu,” jawab saya sebelum memulai bersepeda.
Dipimpin Supervisor Distribusi UP3 Makassar Utara, Andi Ahmad Rahmatullah (Yogi Manis) dan Manager ULP Maros, Mas Ahmad Amirul (Irul) di depan, serta Mas Rakhmad dan Mas Dayat dibelakangnya, kemudian diikuti teman-teman lainnya.
Light Up the Dream
Bersama teman sejawat,
saya menyusuri jalan utama
Gunung Latimojong,
kemudian menyusuri jalan
percabangan melewati
lorong-lorong. Setelah 30
menit perjalanan, melewati
jembatan Jalan Galang dan
masuk ke dalam tanah pekarangan kosong, serta beberapa rumah bedeng, seperti tempat pembuangan sampah. Sepeda kemudian kami parkir disamping rumah-rumah bedeng. Beberapa teman dengan sigap mengeluarkan sembako dari mobil yang baru saja tiba. Untuk menuju tempat tersebut, mobil harus melewat jalan lain yang lebih besar.
Kami kemudian menuju sebuah rumah bedeng kecil berdinding kayu dan seng dengan lantai semen kasar. Pintu yang terbuka setengah menandakan si empunya rumah ada di dalam. Setelah mengucapkan salam kepada pemilik rumah yang bernama ibu Wati. Kepada beliau yang sudah berusia lanjut, kami menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami.
“Ibu, pagi hari ini, kami datang mau menyerahkan bantuan dan menyalakan listrik yang telah dipasang dirumah ibu. Semoga listrik ini bisa membantu, memberi manfaat, menyinari rumah ini dan menerangi hati kita semua. Mohon bisa diterima ya bu,” Saya berkata mewakili teman-teman yang bersama kami hari itu.
Light Up the Dream
21
“Terima kasih banyak pak. Sudah dibantu dipasangkan listrik dirumah kami. Kami ini orang susah, sehingga tidak ada uang untuk pasang listrik sendiri. Penghasilan juga tidak pasti, jadi ya, begini” Ibu Wati berkata sambil menyeka air matanya. “Kita nyalakan bersama sama, nek. Karena tinggi, nenek bisa pegang mock up ini saja. Senyum nek ya,”kata Bu Yuli.
Setelah selesai proses penyalaan listrik, Bu Yuli menyampaikan, “Sekaligus mohon ini bisa diterima sedikit bingkisan dari teman teman, semoga bermanfaat ya nek.” kata Bu Yuli.
“Terima kasih sekali, Bu. Kami sudah dibantu. Rumah kami akan terang, cucu kami bisa belajar lebih baik. Mimpi kami punya listrik sendiri terwujud. Terima kasih, Bu,” kata Ibu Wati sambil menitikkan air mata penuh haru.
Rona kegembiraan dan kebahagiaan terpancar dari wajah beliau. Senyumnya mengembang sebagai tanda hatinya berbunga akan karunia yang diberikan Tuhan. Bersama- sama kami pun mengabadikan kenangan penuh kebahagiaan tersebut dalam sebuah foto.
Rumah Bapak Sukri hanya berjarak sekitar 60 meter dari rumah Ibu Wati, berbelok disebelah kanan. Pekerjaan Pak Sukri sebagai pemulung sampah. Pagi itu beliau sedang dirumah dan belum berangkat bekerja. Setelah mengucapkan salam, kamipun bergegas menyampaikan tujuan kehadiran kami dikediaman beliau.
“Tabe Bapak, kami pagi ini bersama teman-teman ingin menyerahkan dan menyalakan listrik yang telah dipasang di
Light Up the Dream
22
rumah Bapak Sukri. Mohon dapat diterima dan semoga bisa memberi manfaat,” kata Bu Yuli. Pak Sukri bersama Bu Yuli kemudian menyalakan listrik tersebut, didampingi dengan Pak Saerul Saguni, Mas Rakhmad dan mas Amirul. “Sekaligus kami serahkan bingkisan. Semoga memberi manfaat pak,” sambung Bu Yuli.“Terima kasih sekali atas perhatian dan kepedulian PLN pada kami orang kecil. Semoga Allah yang akan membalasnya,” kata pak Sukri.
“Makasih, Pak. Kami permisi untuk melanjutkan perjalanan. Terima kasih,” Bu Yuli menyampaikan rasa terima kasih untuk doa yang diberikan dan permisi untuk melanjutkan perjalanan.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju daerah Tempat Pelelangan Ikan (TPI), disekitar pelabuhan. Mas Rakhmad kemudian bertanya pada saya,”Pak, jan jane iki program opo toh ? (Sebenarnya ini program apa) ? Kita ini sedang ngapain toh Pak ?. Bingung saya ini, apa bagi-bagi listrik gratis gitu ?. “Nanti setelah selesai dan istirahat, kami sampaikan maksud dan tujuan kegiatan ini,” sahutku.
Setelah melewati lorong kecil berjarak 100 meter, kami singgah dirumah Bapak Mukti untuk menyalakan listrik di rumah beliau, kemudian menyerahkan bantuan berupa panci besar sesuai keperluan usahanya. Kondisi Pak Mukti sedang sakit dan harus menggunakan kursi roda untuk berjalan, sehingga istri beliau yang ikut menyalakan listrik bersama-sama tim PLN.
Selanjutnya ke rumah Ibu Ida yang tidak jauh dari rumah pak Mukti untuk menyalakan listrik dan menyerahkan bantuan kompor dan alat memasak bakso sesuai kebutuhan usahanya.
Light Up the Dream
23
Pagi ini ada empat pelanggan yang dinyalakan oleh Tim Gowes Karebosi dan Makasar Utara.
Rute gowes akhirnya selesai di Unit Layanan Pelanggan (ULP) Karebosi. Riuh rendah suasana saling bersautan diselingi tawa kebahagiaan. Keringat yang membasahi badan menjadi penghias dan penyegar raga.
“Masuk dulu, pak. Sudah siap bubur kacang hijau di kantin,” kata Bu Yuli.
Semua kemudian masuk ke kantin dan mengambil tempat untuk menikmati santapan bubur kacang hijau dengan lahapnya. Setelah hidangan dalam mangkok habis, Mas Rakhmad kembali bertanya tentang kegiatan penyalaan lisrik tadi. Rupanya beliau masih penasaran dengan kegiatan tersebut.
menjaga juga sebuah perjalanan kebahagiaan. Perjalanan kebahagiaan melihat saudara kita yang lain bahagia, dengan menyalakan listrik dirumah dan membantu kebutuhan mereka. Semoga hal tersebut bisa membantu mewujudkan mimpi-mimpi mereka
Light Up the Dream
Akhirnya
menjelaskan,
kegiatan
menikmati
Kota Makassar pagi ini,
selain untuk kesehatan, merupakan
saya pun bahwa bersepeda keindahan
24
yang telah lama tertunda, karena ketiadaan sambungan listrik untuk kebaikan kehidupan.
Beberapa teman telah menyisihkan uang dan berdonasi. Hasil donasi itu kemudian diwujudkan dalam bentuk material, dibayarkan biaya sambungan listrik ke PLN dan dibelikan peralatan usaha yang dibutuhkan. “Jadi semua yang kami bagikan itu dari kumpulan donasi teman teman Karebosi. Dan saat menyalakan tadi, teman teman bisa langsung melihat kondisi masing-masing pelanggan,”tuturku.
Melihat rona kebahagiaan, keempat keluarga saat listriknya dinyalakan serta menerima bantuan. Mendengar kata-kata yang mereka sampaikan tadi, ucapan rasa syukur sangat tulus dan menyentuh.
Karena saat ini sudah ada listrik yang terpasang dirumahnya. Mereka tidak pernah meminta-minta dan tidak kenal dengan teman-teman. Namun, karena Allah, mereka dipertemukan dengan kita untuk dapat membantu mereka memasang dan menyalakan aliran listriknya.
Hal ini bahkan mampu menyulut semangat teman-teman Tenaga Alih Daya (TAD) untuk ikut mengumpulkan sumbangan guna membantu masyarakat yang kurang mampu untuk memiliki sambungan listrik.
Bahkan, mereka bahu membahu mengumpulkan sedikit demi sedikit rejeki yang dimiliki untuk berbagi kebahagiaan kepada masyarakat yang membutuhkan. “Kami yakin sekali bahwa teman-teman yang menyumbang merasakan kebahagiaan dan
Light Up the Dream
25
menjadi lebih bersyukur, setelah melihat kondisi masyarakat yang kita datangi tadi. Berbagi dan peduli sesama adalah wujud rasa syukur kita. Rasa bahagia muncul dihati melihat listrik yang menyala dirumah pelanggan yang mendapatkan bantuan,”kataku.
Masyarakat yang bahagia karena listriknya terus menyala akan menyemangati kita untuk bekerja lebih baik lagi. Sebab ketika listrik padam, mereka menjadi sedih, tidak bahagia lagi. Kita lebih peduli kebutuhan pelanggan. Kita makin teliti melakukan inspeksi jaringan dan melakukan pemeliharaan agar jangan sampai terjadi gangguan. Right of Way (ROW) kita maksimalkan, penambahan jaringan dipercepat, dan teman- teman yang di bidang administrasi juga makin semangat untuk membantu teman operasional agar kontinuitas layanan tidak terganggu. Intinya semua bersemangat untuk memaksimalkan perannya agar listrik tetap menyala dan pelanggan bahagia.
Berikutnya, sering kali kita menemui hambatan dari aspek social dalam operasional. Misalnya pada saat ganti meter, penertiban P2TL, pemutusan, pemangkasan pohon, penanaman tiang, pemasangan jaringan sering kali terkendala. Salah satu cara untuk melakukan pendekatan pada masyarakat adalah dengan kegiatan seperti ini. Membantu masyarakat tidak mampu yang belum memiliki listrik, sambil melakukan komunikasi dengan tokoh masyarakat akan pentingnya kegiatan operasional PLN demi menjaga pasokan listrik, supaya tetap aman, andal, sesuai aturan dan tidak terganggu.
Light Up the Dream
26
--Bagian enam--
DARI PASANG KAYU, SEMANGAT MELISTRIKI MENGGELORA
27
Kegiatan ini menjadi media komunikasi efektif agar keberadaan kita semakin bisa diterima dihati masyarakat. Daerah-daerah yang kita kunjungi hari ini adalah salah satunya, dimana teman- teman Karebosi sering kali kesulitan dan dihambat saat akan melakukan perbaikan meter pelanggan, melaksanakan penertiban, melaksanakan pemutusan dan rencana pemeliharaan jaringan.
“Semoga dengan kegiatan ini para pelanggan PLN disana dibukakan hatinya untuk mengijinkan teman- teman PLN, dalam melakukan tugasnya untuk menjaga kualitas layanan PLN,”harapku.
Sepasang batang pohon kayu bakau atau mangrove itu masih berdiri tegak, meski telah berumur ratusan tahun. Bahkan saat daerah tersebut belum ada penduduk yang tinggal. Sepasang pohon kayu bakau yang ada tepi Pantai Babia, Kelurahan Pasangkayu, Sulawesi Barat.
Lalu ikhwal cerita ada nelayan yang sedang berlayar, namun karena cuaca buruk akhirnya menyelamatkan diri dengan menambatkan kapalnya di dua batang pohon bakau atau mangrove tersebut. Saat kapal ditambatkan di kayu yang berdiri sepasang tersebut, ajaibnya laut menjadi tenang.
Light Up the Dream
Sehingga nelayan tersebut berhasil selamat. Daerah tersebut hingga saat ini disebut Pasangkayu.
Pasangkayu merupakan daerah ujung utara di Propinsi Sulawesi Barat (Sulbar), sekaligus menjadi unit paling ujung di sisi utara wilayah kerja UIW Sulselrabar. Akses ke Pasangkayu sekitar 3 jam dari Palu lewat Donggala dan 6,5 jam dari Mamuju, ibukota Sulawesi Barat melalui akses jalur darat.
Semangat untuk melistriki negeri terus menggelora, tak hanya di Makassar. Semangat itu juga membara di Pasangkayu, Sulbar.
Memulai pembicaraan dengan Mas Arifuddin Manager ULP Pasangkayu, saya kemudian menanyakan kondisi disana terkait keberadaan masyarakat kurang mampu yang masuk dalam program BDT TNP2K tapi belum menikmati listrik. “Apa bisa dicarikan dua pelanggan untuk uji coba bantuan ke masyarakat. Sekaligus kamu hitung berapa biayanya untuk menyambung rumah tersebut ?” whatsapp ke Mas Arifuddin, Selaku Manager Unit
Layanan Pelanggan (MULP) Pasangkayu.
Pasca berkabar, sudah tiga hari belum juga ada informasi. Apakah Mas Arifuddin sibuk menyelesaikan pekerjaan. Lalu, saya mencoba menanyakannya lagi. “Mas untuk data pelanggan tidak mampu (dhuafa) yang bisa dipasang listrik gratis sudah dapat?. Kalau hanya dapat dua pelanggan dulu
Light Up the Dream
28
tidak apa-apa. Dicoba dulu saja, terima kasih,”saya mengirimkan pesan.
Alhamdulillah direspon, rupanya tim di ULP Pasangkayu sedang melakukan survei. Sambil menunggu hasil survei, saya kemudian memberitahukan rincian biaya pemasangan listrik BDT TNP2K .
Mengambil sampel dari sebelumnya, kemudian saya menyampaikan jika untuk listrik gratis CSR yang lalu per pelanggan sekitar Rp 495.500. Itu untuk harus dipastikan, apakah memungkinkan dengan biaya
tersebut.
Keesokan harinya, Mas Arif menginformasikan sudah mendapatkan dua pelanggan yang siap disambung atas nama Muna berlokasi di Karossa dan Saharuddin berlokasi di Bobana. Keduanya adalah petani penggarap dan rumah tinggal mereka termasuk kurang layak. Dalam keseharian masih memanfaatkan pelita sebagai penerang, maklum untuk pasang listrik sendiri belum mempunyai kelonggaran rezeki.
Usai memastikan keduanya penerima bantuan yang tepat. Lalu, Mas Arif dan Tim ULP Pasangkayu memfasilitasi untuk pemasangan instalasi, Sertifikasi Laik Operasi (SLO), pembayaran biaya penyambungan ke payment point dan pemasangan alat pembatas dan pengukurannya.
Light Up the Dream
29
--Bagian Tujuh--
MENEBAR KEPEDULIAN DI TANAH LA SINRANG
30
Setelah selesai pemasangan Mas Arif melaporkan via WA. “Alhamdulillah, sudah terpasang dua pelanggan pak. Alhamdulillah pelanggan tersebut sudah bisa menikmati listrik,”kata Arif. Pelanggan sangat berterima kasih telah dipasangkan listriknya, apalagi selama ini tidak pernah mendaftar atau minta bantuan. Tetapi secara tiba tiba dipasangkan listriknya oleh orang PLN. Beliau sangat berterima kasih dan bahagia sekali..
“Semoga berkah dan dilipatgandakan pahalanya, serta menjadi amal sholeh buat Bapak dan keluarga,”jelas Arif menyampaikan rasa senang dua penerima bantuan listrik tersebut.
Pada zaman penjajahan Belanda, sekitar tahun 1856, telah lahir seorang putera yang bernama La Sinrang di Dolangan, salah satu daerah di bawah kerajaan Sawitto. Dolangan merupakan salah satu desa di kecematan Mattiro Bulu Kabupaten Pinrang.
Ayah La Sinrang bernama La Tamma. Sedangkan ibunya bernama I Rahima. Sejak lahir La Sinrang telah memiliki keistimewaan, yakni dadanya di tumbuhi bulu-bulu yang arahnya berlawanan keatas (bulu sunsang), yang menurut kepercayaan orang tua dahulu suatu bertanda bahwa anak tersebut mempunyai ciri-ciri tabiat pemberani dan suka membela kebenaran jika kelak sudah dewasa.
Light Up the Dream
Sejak masih kanak-kanak La Sinrang sudah di berikan pendidikan moral dan etika oleh orang tuannya. Yang dilandasi dengan Siri dan Pecce, yang merupakan konsep kebudayaan masyarakat Bugis Makassar dan selalu menjadi penekanan dan pembinaan La Sinrang. La Sinrang juga suka membantu saudara lainnya yang membutuhkan, sehingga dikenal sangat baik disekitarnya. Nilai-nilai kepedulian dan berbagi yang diwariskan telah mengakar di masyarakat Sawitto.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga senantiasa sehat wal afiat dan barakah. Mas, kalau di tempat sampean kemarin ada program Corporate Social Responsibility (CSR) listrik gratis, berapa biaya satu paket Biaya Pemasangan (BP) instalasi dan SLO?,” tanyaku pada Mas Andi Armin.
“Iya Pak ada, kalau pelanggan tersebut terdaftar BDT TNP2K diskon BPnya 50% jadi satu pelanggan paket pasang baru SLO dan instalasi Rp. 475.965,” jawab Mas Armin.
Tak berhenti sampai disitu, saya kemudian menanyakan keberadaan masyarakat kurang mampu yang bisa dipasangkan listriknya. Lalu, sayapun meminta untuk dicarikan dua sampai tiga untuk uji coba.
“Siap pak, kebetulan beberapa hari lalu saat kami melakukan pemeliharaan mendapati dua pelanggan yang belum memiliki listrik dan layak untuk dibantu. Rumah dinding anyaman bambu dengan sekat tripleks dan satunya berdinding seng, lantainya semen kasar. Besok kami pastikan NIK dan KK nya pak”, balas Mas Armin lagi.
Light Up the Dream
31
Esok harinya Mas Armin mengabarkan bahwa kedua calon pelanggan tersebut masuk dalam BDT TNP2K sehingga bisa diproses penyambungannya. “Mas, mohon bantuan saat penyalaan ada pegawai PLN yang kesana ya, melihat langsung kondisi pelanggan dan menyalakannya,” pintaku.
Lalu kemudian dibalas oleh Mas Armin.“Baik pak, Insya Allah kami usahakan yang akan menyalakan bersama teman-teman Sawitto,”tutur Armin,
Sore hari, Mas Armin mengirimkan foto penyalaan kedua calon pelanggan dan menyampaikan ucapan terima kasih dari pelanggan karena sudah dibantu. Sementara ini masih pakai lentera, dan hari ini telah terpasang listrik secara mandiri. Pelanggan sangat bahagia bahkan sampai meneteskan air mata karena haru dan bahagia. “Mas Armin, bagaimana perasaan teman-
teman saat menyaksikan kondisi rumah pelanggan dan melihat pelanggan menteskan air mata saat listriknya dinyalakan?,”tanyaku dengan menggebu.
Mas Armin bercerita betapa bahagia tak terkira pelanggan tersebut, dan itu juga dirasakannya sebagai orang yang menyaksikan langsung ekspresi penerima bantuan.
Light Up the Dream
32
--Bagian Delapan--
PESONA SAVANA RAWA AOPA WATUMOHAI
33
“Kami semua merasa bersyukur karena kondisi kami jauh lebih baik dan diberikan kelonggaran rezeki oleh Allah. Saat pelanggan meneteskan air mata karena haru dan bahagia. Kami semua merasa tersentuh, bahkan beberapa teman matanya berkaca-kaca menyaksikan tadi. Kebahagiaan yang dirasakan kedua pelanggan itu juga membahagiakan hati kami. Terima kasih support Bapak dan telah difasilitasi untuk membahagiakan pelanggan tersebut,”ungkap Armin.
Usai meneruskan donasi tersebut, kemudian Mas Andi Armin dan Tim Sawitto tergerak dengan mengajak yang lainnya untuk bersedekah mengumpulkan donasi membantu saudara lain yang kurang mampu dan belum mempunyai listrik sendiri.
“Semoga menjadi amal sholeh Mas Armin sekeluarga beserta teman-teman Sawito, mendapatkan balasan berlipat dari Allah SWT dan barakah. Semoga makin semangat dalam membangun Bumi La Sinrang Sawito. Terima kasih banyak atas bantuan teman teman semuanya,”ucapku.
Sesaat, saya terbuai akan
bukit-bukit rumput saling berkelindan
pesona
yang
layaknya gelombang di lautan hijau. Seperti lokasi syuting “Teletubbies” yang sempat hits beberapa puluh tahun lalu.
Light Up the Dream
Padang savana memang merupakan salah satu lanskap yang paling menakjubkan di kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TN RAW), berlokasi di Sulawesi Tenggara. Kompleks seluas 23.000 hektare ini memadukan padang rumput dengan tumbuhan agel, lontar, bambu berduri, serta belukar.
Terlihat di kejauhan, berbatasan dengan Padang Sabana, Gunung Watumohai dengan hutannya yang lebat. Tidak terlalu tinggi, namun memberikan rasa dan nuansa yang berbeda dan sepertinya layak untuk dijadikan salah satu referensi untuk pendakian.
Hiking, trekking, junggle trekking, photo hunting, penelitian, camping atau kegiatan lain bisa dilakukan di Gunung Watumohai. Eksotik memang savana di Bombana. Sebentar berjalan dan naik salah satu bukti kecil ini saja sudah mendapatkan pengalaman luar biasa dan panorama yang keren, apalagi jika menyusuri lebih dalam lagi. Tentu sangatlah menyenangkan dan membahagiakan.
Di daerah inipun saya tergerak untuk mengajak menebar bahagia seperti ditempat sebelumnya. Saya kemudian menghubungi Mas Agus Wahyu yang bekerja sebagai Manager PLN Unit Layanan Pelanggan (MULP) Bombana menanyakan terkait keberadaan masyarakat kurang mampu.
Termasuk menanyakan berapa biaya pemasangan listrik baru untuk golongan R1/ 450 Volt Amphere (VA) khususnya mereka yang masuk program TNP2K. “Cak mohon info, berapa biaya pasang listrik di Bombana, tarif R1 / 450 VA, rumah warga
Light Up the Dream
34
dhuafa masuk dalam BDT TNP2K untuk satu paketnya?,” tanyaku.
Mas Agus Wahyu kemudian menimpali dengan menjelaskan, jika untuk pemasangan CSR listrik gratis sekitar Rp 475.000. “Apakah ada keluhan pelanggan pak, kami bisa segera tindaklanjuti,” kata Mas Agus.
Saya kemudian meminta ke Mas Agus untuk mencarikan penerima manfaat bantuan BDT TNP2K yang belum punya listrik untuk uji coba dipasangkan dan akan difasilitasi. Tak menunggu lama, saya langsung memperoleh tujuh pelanggan Bombana yang akan dipasangkan listriknya. “Siap pak, diperoleh tujuh pelanggan. Alhamdulillah tadi ditawarkan di grup pegawai Bombana dan sama ikut berdonasi, terkumpul lima yang ikut berpartisipasi. Segera kami proses penyambungannya pak”,
jawabnya mantap.
Seperti ditempat sebelumnya, tentu saya menyarankan untuk pegawai ikut dalam proses saat listrik dinyalakan. Tiga hari kemudian Mas Agus memberikan informasi, bahwa listrik sudah menyala.
“Alhamdulillah pak, listrik tujuh pelanggan sudah menyala dan teman-teman berbagi ikut ke lokasi. Bahkan ada beberapa
Light Up the Dream
35
--Bagian Sembilan--
AIR MATA NENEK TUMPAH DI PEKKABATA
36
teman pelayanan teknik (yantek) dan billman ramai-ramai untuk menyalakannya. Melihat kondisi pelanggan mereka jadi tertegun, ternyata masih banyak masyarakat yang dibawah kehidupan kita. Dia tidak tahu besok akan seperti apa. Saat dinyalakan, pelanggan menangis pak, jadilah semua sama menangis haru,”ungkap Mas Agus menggambarkan.
Sangat diisyukuri, jika program Light Up The Dream terus mendapat respon baik dari pegawai. Bahkan menggugah rasa kepedulian pegawai, apalagi yang dibantu ini rupanya sudah puluhan tahun mendambakan sambungan listrik. “Alhamdulillah hari ini terwujud. Begitu bahagia dan senang pak. Terima kasih kami telah dilibatkan dan diajak dalam kegiatan yang membahagiakan ini pak. Insha Allah akan kami coba rutinkan bersama teman teman di sini,”tuturnya.
Dulu, Kelurahan Pekkabata merupakan pusat niaga wilayah teritorial Arung Paria (swapraja Paria), sekarang Desa Paria. Pekkabata berasal dari kata “Pakka Bata Paria” yakni jalan menuju Paria. Disebut Pakka Bata karena jalan itu merupakan percabangan jalan utama ke desa Paria. Itulah alasan diejakan bersama Pakka Bata Paria. Kata "Pakka Bata, dalam Bahasa Indonesia yaitu "Jalan bercabang. Tepatnya percabangan jalan menuju ke Paria.
Light Up the Dream
Pekkabata menjadi pusat kota, karena mudah di akses. Letaknya pas sebelah jalan bagian timur trans Provinsi Sulawesi. Penduduknya mayoritas transmigran dari Kabupaten Sidenreng-Rappang (Sidrap), bahkan ada dari Jawa hingga ada kampung berasal dari nama Jawa yakni Taman Sari dan Sidomulyo. Uniknya lagi sebelah barat bermukim etnik berbeda dibilang Pattinjo sedangkan di Pekkabata adalah suku Bugis.
Bisa jadi ada pengaruh dialek-bahasa transmigran sehingga ejaan “Pakka Bata Paria” berubah menjadi Pekkabata Paria hingga sekarang di sebut Pekkabata.
Ada juga sebagian orang tua mengatakan, sebelum mejadi kelurahan, Pekkabata di pimpin oleh Arung Paria. Cuman pusat keramaiannya di Pekkabata. Itulah yang menjadi cikal bakal sehingga dibuat pasar Pekkabata sebagai pusat perdagangan masyarakat.
Saat ini Pekkabata adalah ibu kota Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang. Awalnya setiap camat-lurah yang memimpin di Kecamatan Duampanua merupakan keluarga bangsawan yang digilir dari tiap-tiap kecamatan di Pinrang, ada dari pihak keluarga Arung Paria dan bangsawan lain. Penetapannya dari penunjukan langsung Bupati. Jadi pemimpin dari bupati hingga kecamatan-kelurahan mempunyai irisan darah. Tapi sekarang sudah berubah mengikuti sistem pemerintahan dan perpolitikan zaman kekinian.
Seperti melihat sebuah lukisan pemandangan gunung yang indah dengan warna-warni tanaman bunga mempesona. Ada
Light Up the Dream
37
perbukitan, sangat indah. Belum lagi dibelakangnya ada lembah dan tanaman berwarna-warni. Lokasi itu menjadi salah satu tempat pegawai PLN Mas Hidayat melakukan pemeliharaan jaringan, yang sebelumnya terjadi kerusakan akibat angin kencang dan mengakibatkan tiang listrik roboh.
Ditempat Mas Hidayat ini, saya kembali meminta bantuan untuk mencarikan masyarakat yang hendak dibantu untuk dihadirkan listrik dirumahnya. Memulai pembicaraan, sayapun memintanya agar dicarikan sekitar tiga pelanggan untuk dibantu pasang listrik dirumah mereka. “Bantu carikan ya, tiga pelanggan untuk dipasang listrik dengan paket kompilit. Biayanya tak perlu khawatir, nanti difasilitasi,”papar saya ke Mas Hidayat.
Menunggu tiga hari, kemudian Mas Dayat menyampaikan kalau rumah yang akan dipasang agak jauh dari pemukiman warga dengan kondisi yang kurang terawat, sehingga dibutuhkan kabel yang lebih panjang. Bagi saya itu tak menjadi soal, termasuk ketika disampaikan ada rumah yang dihuni nenek- nenek bersama cucunya dan semuanya sama sekali belum menikmati listrik.
Mendengarkan laporan tersebut, langsung saya tergugah dan meminta ke tim Pekkabata mempercepat proses pemasangan listrik tersebut. Hasilnya, ada kepuasan luar biasa dirasakan pegawai disana melihat wajah pemilik rumah yang begitu bahagia.
“Bukan main senangnya teman-teman disana menyaksikan sendiri kondisi masyarakat yang kekurangan, membantu
Light Up the Dream
38
--Bagian Sepuluh--
SEGARNYA IKAN DAN MINAS SINJAI
39
memasang instalasi dan sambungan meter, menyalakan bersama sama pelanggan. Sampai- sampai pelanggan bercucuran air mata tidak bisa menyampaikan apa-apa,”ujar Mas Hidayat bercerita kisah haru biru tersebut.
Bahkan, kata Mas Hidayat, si nenek pun hanya bisa berkata PLN Makanja' (Bahasa Bugis) yang berarti PLN Terbaik. Haru dan bahagia bercampur jadi satu. Pengalaman yang terlalu sulit untuk dilupakan. Pengalaman yang begitu membekas dihati. Pelajaran berharga dari kehidupan nyata di daerah ini.
“Terima kasih mas ya. Semoga menjadi amal sholeh Mas Hidayat dan teman teman Pekkabata, dan mendapatkan balasan berlipat dari Allah SWT,”doaku pada tim di Pekkabata.
Sebelum terbentuknya Sinjai, wilayah tersebut terdiri dari beberapa kerajaan kecil yang tergabung kedalam beberapa konfederasi atau persekutuan, diantaranya persekutuan Tellu Limpoe yang terdiri dari kerajaan- kerajaan dekat pesisir pantai, yakni Kerajaan Tondong, Bulo-Bulo Dan Lamatti.
Light Up the Dream
Selanjutnya ada persekutuan Pitu Limpoe yang terdiri dari kerajaan- kerajaan di daratan tinggi, yakni Kerajaan Turungen, Manimpahoi, Terasa, Pao, Manipi, Suka dan Bala Suka. Di antara kedua persekutuan itu, hanya Tellu Limpoe lah yang memiliki pengaruh besar.
Sekalipun kerajaan-kerajaan tersebut
tergabung ke dalam persekutuan,
namun pelaksanaan roda pemerintahan tetap berjalan pada wilayahnya masing- masing.
Lalu, dari mana asal-usul nama Sinjai itu muncul ? Terdapat beberapa versi kisah yang menceritakan sejarah kemunculan dan penamaan Sinjai.
Versi yang pertama mengatakan bahwa nama Sinjai berasal dari kata Sinjai dalam bahasa Bugis yang berarti disatukan oleh jahitan, maksudnya adalah hubungan kekerabatan antara kerajaan-kerajaan di wilayah itu sangat erat bagaikan disatukan oleh jahitan.
Hal ini diperjelas dengan adanya gagasan dari La Massiajeng, Raja Lamatti ke-10 untuk memperkokoh persaudaraan antara kerajaan Bulo-Bulo dan Lamatti dengan ungkapannya “Pasijai Singkerunna Lamatti na Bulo-Bulo” artinya satukan keyakinan Lamatti dengan Bulo-Bulo. Setelah La Massiajeng wafat, ia digelari dengan nama Matinroe Risijaina.
Light Up the Dream
40
Menurut sejarawan Universitas Hasanuddin, Prof Dr Mattulada, secara etimologis Sinjai berasal dari kata sanjai dalam bahasa Makassar yang berarti sama banyaknya. Tradisi lisan atau yang sudah tercatat dalam lontara, menceritakan pada pertengahan abad XVI, ketika raja Gowa ke-10, Tunipallangga Ulaweng (1546-1565) berlayar kembali ke Gowa setelah berperang melawan Bone.
Ketika kapalnya berlayar di sekitar Pantai Mangarabombang, raja Gowa menengok ke daratan dan bertanya, “apaka anne rate? Kere jai balla’na ri Maccini Sombala?” (Negeri apakah di daratan itu? Mana lebih banyak rumah dibandingkan dengan Maccini Sombala?) Perwira yang mengawal raja Gowa menjawab, “Sanjai, sombangku” (sama banyaknya tuanku), raja Gowa kemudian mengulang kata itu “Sanjai.”
##Pelelangan Ikan Lappa Sinjai##
Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lappa Merupakan tempat pelelangan ikan yang terletak di Kelurahan Lappa, Kecamtana Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai yang berjarak Sekitar 3 km dari pusat kota Sinjai dengan titik kordinat S 5°6'24.1092", E 120°16'15.9528". Tempat ini merupakan pusat aktifitas transaksi hasil laut para nelayan yang ada di Kabupaten Sinjai.
Light Up the Dream
41
Setiap malamnya kita bisa
melihat transaksi
menawar antara penjual dan pembeli, serta aktifitas para
nelayan membongkar tangkapannya.
Pembeli yang datang bukan hanya dari Kabupaten Sinjai tetapi dari Luar Kabupaten, juga bahkan ada yang datang dari luar Provinsi Sulawesi Selatan.
Selain itu banyak juga pengunjung yang datang hanya untuk menikmati wisata kuliner hasil tangkapan laut yang masih segar dengan harga yang terjangkau. Caranya pun terbilang gampang, anda cukup membeli ikan yang sesuai selera kemudian membawanya ke rumah makan yang disukai. Pemilik rumah makan langsung menyambut dan membakarnya. Sambil Menunggu ikan dibakar, anda dapat menikmati Minuman Asli Sinjai (Minas).
Jika berkunjung ke tempat ini pada malam hari akan banyak pengalaman berbagai kuliner dengan ragam sensasinya. Asli segar dan lezat.
yang sedang hasil
tawar-
Light Up the Dream
42
Dengan keberagaman
demografi, mulai dari gunung,
lembah, laut bahkan pulau,
Kabupaten Sinjai menyimpan
makna tersendiri, dan tentunya
keberagaman masyarakat dalam
satu Kabupaten yang
menjadikan Kabupaten Sinjai
sebagai Kabupaten yang unik di Sulawesi Selatan.
Kolaborasi dengan pemerintah daerah serta usaha untuk membantu masyarakat miskin yang belum berlistrik di Sinjai juga tak pantang surut dengan adanya program Light UP The Dream, sebuah program untuk membantu masyarakat miskin menggapai menggapai mimpinya melalui penyalaan listrik gratis.
Ditempat ini juga, saya mengajak pegawai PLN melanjutkan program Light Up The Dream. Di Sinjai, niat tulus membantu masyarakat kurang mampu menikmati listrik dibantu oleh Manager ULP Sinjai Bapak Andhika.
Melalui bantuan Cak Andhika, saya meminta dicarikan pelanggan sesuai kriteria program tersebut. Tak menunggu lama, dua hari dua penerima bantuan ditemukan, yakni Hasbi di Dusun Jenna, Sinjai Selatan dan Safaruddin di Dusun Bongo Sinjau Utara sudah menikmati listrik.
Menapaki dua lokasi ini bukan perkara mudah, karena tim ULP Sinjai harus melewati jalur berkelok bahkan harus melewati sungai kecil agar sampai pada pelanggan tersebut.
Light Up the Dream
43
--Bagian Sebelas--
MEMULAI MIMPI DI TEPI DANAU TEMPE
44
“Alhamdulillah, dengan adanya Program Light Up The Dream dirasa sangat bermanfaat bagi keluarga yang diberikan bantuan. Bahkan istri Bapak Safaruddin tidak henti-hentinya menitikkan air matanya. Semua merasa senang dan bahagia atas program tersebut. Terima kasih Bapak kami telah dilibatkan,”kata Cak Andhika.
Wajo, juga dieja Wajo’, Wajok, atau Wajog. Merupakan sebuah kerajaan efektif bersuku Bugis yang berkembang disisi timur Semenanjung Sulawesi selatan. Wajo didirikan pada abad ke-15 Masehi, dan mencapai puncaknya pada abad ke-18, ketika kerajaan ini menjadi hegemon selama beberapa waktu di Sulawesi Selatan, menggantikan Bone.
Wajo mempertahankan kemerdekaannya hingga dipaksa bergabung dengan Hindia Belanda setelah ekspedisi Sulawesi Selatan pada awal abad ke-20. Kerajaan ini terus bertahan dalam beragam bentuk hingga pertengahan abad ke-20, ketika daerah Swapraja Wajo diubah menjadi Kabupaten. Wajo yang merupakan bagian dari Republik Indonesia.
Pemimpin tertinggi Wajo dipilih melalui musyawarah para perwakilan dari daerah-daerah bawahannya. Bersama dengan enam orang pejabat tinggi lainnya. Ia bertugas untuk mengurus pemerintahan sehari-hari di Wajo. Dewan tertinggi ini masih
Light Up the Dream
disokong lagi oleh 33 orang pejabat dari tiga wilayah utama Wajo, yang mencakup banyak daerah- daerah bawahan dengan penguasa dan adat masing- masing.
Jabatan-jabatan pemerintahan ini biasanya dipegang oleh kalangan ningrat. Selain mereka, terdapat pula golongan orang merdeka dan budak dengan hak-hak yang lebih sedikit. Sebagian besar masyarakat diaspora Bugis pada abad ke- 18 dan 19 berasal dari Wajo. Perniagaan Wajo maju pesat pada masa ini, hingga mampu mencapai tempat-tempat yang jauh di berbagai pelosok Asia Tenggara Maritim.
Kemajuan dalam bidang perdagangan ini disebabkan oleh dukungan politik, legal, dan finansial yang diberikan oleh sesama masyarakat diaspora maupun oleh pemerintah Wajo di tanah air.
Berbicara Wajo, tidak akan lepas dari pembicaraan suatu tempat yang bernama Danau Tempe. Danau Tempe merupakan danau banjiran yang dapat berubah bentang alamnya menurut musim.
Pada musim penghujan akan terbentuk Kompleks Danau Tempe dapat mencapai luas 26 ribu hektar, bahkan bisa mencapai 47 ribu hektar jika terjadi hujan terus-menerus. Pada musim kemarau, Kompleks Danau Tempe akan terbagi menjadi tiga danau, yaitu Danau Tempe, Danau Sidenreng, dan Danau Taparang Lapompaka (Danau Buaya).
Light Up the Dream
45
Danau Tempe memperoleh pasokan air utama dari Sungai Bila dan Sungai Walanae serta 28 anak sungai lainnya. Curah hujan dari hulu kedua sungai ini yang tinggi mempengaruhi debit air pada Danau Tempe. Curah hujan pada Sungai Bila berkisar antara 2.000 hingga 3.000 mm, sedangkan Sungai Walanae berkisar 1.500 hingga 2.500 mm. Selain itu, danau ini juga menjadi hulu bagi Sungai Cenranae yang mengalir ke laut. Pada saat kondisi hujan di hilir Sungai Cenranae (curah hujan rata-
rata 2.000 mm). Sehingga ketika curah hujan tinggi baik di hulu ataupun hilir, debit air Danau Tempe dapat meninggi hinga membanjiri daerah sekitar.
Danau Tempe tidak memiliki kawasan hutan yang cukup di sekelilingnya. Hutan hanya dapat ditemui pada daratan antara Danau Tempe dan Danau Sidenreng yang berupa hutan rawang.
Danau Tempe setiap tahunnya mengalami masalah pendangkalan. Terjadi pendangkalan hingga 30 cm tiap tahun. Hal ini akan terasa ketika musim hujan, air akan melimpah membanjiri kawasan pemukiman. Pendangkalan ini disebabkan karena sedimentasi tanah dan lumpur yang terbawa dari sungai dan anak sungai yang mengairi danau, sedangkan aliran keluarnya hanya satu sungai.
Light Up the Dream
46
Permasalahan lainnya adalah pertumbuhan eceng gondok yang sangat pesat dan ekspansif yang dapat merusak pemukiman warga sekitar danau. Untuk menghalaunya, Pemerintah Daerah setempat membangun tiang panjang dari kayu, berjejer sepanjang 100 meter.
Diseberang sana, ada asa yang ingin diwujudkan agar bahagia bisa terurai. Niatan melistriki rumah warga terus tak terbendung. Bersama mas Dwi, harapan membantu kaum dhuafapun berlanjut.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga senantiasa sehat wal afiat dan barakah. Mas Dwi, kalau di tempat kamu masih ada masyarakat kurang mampu (TNP2K) yang belum mempunyai listrik sendiri?. Mohon bantuan, coba dicarikan ya, untuk uji coba penyambungannya. Satu paket lengkaplah seperti program CSR sebelumnya,” tanyaku pada Mas Agus Dwi.
“Baik pak, nanti kami bicarakan dengan teman teman di Sengkang dan laporkan ke Bapak,” jawab Mas Agus Dwi. Mas Agus Dwi dan teman Sengkang terus mencoba membangun mimpi bagi masyarakat tidak mampu yang belum berlistrik agar bisa menikmatinya ditengah tenangnya Danau Tempe, sore itu.
Di daerah tersebut ada empat pelanggan yang mendapat kesempatan menerima bantuan melalui program Light Up The Dream. Pada momen pemasangan listrik gratis bagi kaum dhuafa tersebut, Manager ULP Sengkang dipimpin oleh Pak Muchsin dari sebelumnya dijabat Pak Agus Setiyawan.
Light Up the Dream
47
48
~~Bagian Dua Belas~~
TERANG, TAK LAGI SEBUAH MIMPI
Temaram cahaya berwarna-warni menerangi suasana perkotaan di kota Anging Mammiri. Jika melihat suasananya, bisa dipastikan kota ini bergelimang cahaya. Namun siapa sangka, ditengah melimpahnya temaran cahaya tersebut masih ada warga Makassar tak menikmati listrik.
Miris, tentu iya. Apalagi kondisinya rumah tersebut berada dipusat kota Makassar. Adalah Baso Dg. Sikki, tinggal di rumah yang sangat jauh dari kata “layak”, hanya beralaskan ubin yang ditempeli plastik, dinding dari seng yang sudah lapuk, atap yang tentu saja kadang bocor ketika hujan.
Meski kondisinya benar-benar memprihatinkan tak menyurutkan niatnya tuk mengepulkan asap dapurnya. Tekadnya satu, bagaimana agar istrinya bisa menikmati makan disetiap harinya. Ekonomi yang serba terbatas rupanya mempengaruhi kondisi rumahnya tak memiliki penerangan alias listrik.
Sehari-harinya Baso Dg Sikki hanya mengandalkan pelita sebagai penerang ditengah kegelapan malam.
Doanya tak putus, memimpikan rumahnya terang benderang seperti laiknya rumah kebanyakan orang.
Rupanya, Allah SWT mengijabah doanya menghadirkan listrik dirumahnya. Semua itu bermula saat ada petugas dari PLN yang lewat depan rumahnya lalu mampir sejenak untuk bercerita.
Light Up the Dream
Kemudian keesokan harinya, tim dari PLN datang untuk memasang listrik gratis di rumah bapak Baso Dg. Sikki.
Tak rumit Baso Dg Sikki bisa menikmati listrik, makanya ketika rumahnya dipasangi serangkaian instalasi listrik membuatnya keheranan. Semakin tak menyangka lagi, ketika disebutkan listrik tersebut gratis alias cuma-cuma.
“Namun setelah dijelaskan bahwa ini adalah program Light Up The Dream yang merupakan wujud dari kepedulian Pegawai PLN kepada masyarkat hingga menyisihkan sebagian dari penghasilannya, untuk memberikan pemasangan listrik gratis dengan tarif rumah tangga daya 450 VA, bapak Baso Dg. Sikki langsung sujud syukur dan mengucapkan terima kasih,” ungkap Manager UP3 Makassar Selatan, Raditya Hary Nugraha bercerita.
Senyum sumringah terpancar di raut wajahnya, rasa bahagia yang tak mampu diucapkannya dengan kata-kata, hanya rasa syukur dan ucapan terima kasih yang terus ia ucapkan seraya berdoa agar kebaikan ini dibalas oleh Allah SWT.
Program Light Up The Dream adalah program pengembangan pegawai PLN sebagai wujud kepedulian pada masyarakat dengan menyisihkan sebagian penghasilannya untuk memberikan pemasangan listrik gratis, lengkap dengan instalasinya, golongan tarif rumah tangga daya 450 VA yang terdaftar pada Basis Data Terpadu (BDT) TNP2K dari pemerintah.
Light Up the Dream
49
BAB II
MENYEMAI ASA, MENYENTUH RASA
Light Up the Dream
50
Alhamdulillah, uji coba pelaksanaan di tujuh Unit Pelayanan Pelanggan (ULP) menghasilkan respon positif dari teman- teman semua. Banyak yang tersentuh dan ikut ambil bagian dalam kegiatan ini. Bahkan ada beberapa yang ramai-ramai patungan Rp50.000 untuk membantu sesama. Getaran kebahagiaan yang begitu kuat telah mengusik banyak jiwa. ingin rasanya ikut terlibat sesuai dengan kemampuannya.
Ada juga yang sudah memulai membuat celengan yang ditaruh dikantor untuk teman- teman mengisikan dan setiap Jumat dibuka untuk membantu sesama. Geliat yang tidak boleh dihilangkan, bahkan harus dikembangkan keseluruh unit agar menjadi gerakan moral yang terus menggema.
Semakin banyak yang terlibat, maka akan semakin banyak yang mendapatkan manfaat. Semakin banyak yang ikut andil maka akan semakin banyak yang tersentuh hatinya dan mendapatkan kebahagiaan hakiki,
Bahagia manakala melihat orang lain bahagia. Bahagia bisa memfasilitasi orang lain bahagia. Bahagia manakala bisa melakukan sesuatu yang berguna untuk masyarakat. Dengan kolaborasi dan semangat membantu yang lainnya, melakukan yang terbaik bagi bangsa dan Negara ini. Bisa jadi ini kecil tetapi akan bermakna bagi yang membutuhkan.
Light Up the Dream
51
“Cukup Allah, Rasul-Nya dan Orang-Orang Mukmin Sebagai Saksi. (QS. 9 ; 105)
“Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan."Wakafaa billahi syahidaa. (Cukup Allah yang menjadi saksi)" (QS. 4 : 79)
Seluruh apa yang telah digagas sejak awal rupanya mendapat respon baik dari seluruh pegawai PLN. Bahkan, program ini diluncurkan sebagai bagian program kepedulian bagi masyarakat yang tidak mampu atau dhuafa. Bentuknya berupa pemasangan listrik lenglap instalasinya “Light Up The Dream” daya R1/450 VA (BDT TNP2K).
Untuk menyukseskan hal tersebut, pegawai diharapkan ikut andil dan dapat mendaftarkan diri ke ULP terdekat jika ada penerima manfaat. Tak hanya itu, pegawai penyumbang yang meresmikannya. Begitulah kira-kira isi surat pemberitahuan ke seluruh unit di UIW Sulselbar.
Setelah pelaksanaan uji coba, selanjutnya program tersebut disosialisasikan keseluruh unit di UIW Sulselrabar untuk mendapatkan respon dan masukan.
Luar biasa, ternyata diluar dugaan dalam waktu dua hari ada 42 unit menyatakan siap untuk ambil bagian. Karena respon yang besar, perlu dijelaskan lebih detail teknisnya agar lebih menggema dan semua tidak merasa terbebani. Justru, hal ini menjadi salah satu solusi dalam operasional layanan atas kendala yang dihadapi.
Light Up the Dream
52
Untuk itu, pendekatan humanis dan psikologis dalam berkomukasi dan pelibatan stakeholder untuk mencari solusi bersama. Menyentuh hati dengan membuka diri, bukan hanya dengan ketentuan dan aturan.
Agar seluruh program berlangsung transparan, maka dijelaskan rincian dari pelaksanakan perjalanan kebahagiaan program Light Up The Dream sebagai bentuk kepedulian, sekaligus meningkatkan ratio elektrifikasi dengan pemasangan listrik (LKP instalasi) daya 450 VA (DPT TNP2K).
Dimana, pada program tersebut pegawai diharapkan berpartisipasi paket @Rp500.000 per pelanggan dan bisa memilih satu hingga seterusnya. Demi memudahkan proses donasi pegawai maka dibuka pendaftaran melalui link yang akan dibagikan atau melalui Supervisor Pelayanan Pelanggan (Spv PP) di unit pelaksana dan Supervisor Pelayanan dan Administrasi Unit Layanan Pelanggan (Spv PA ULP).
Kemudian, pegawai bisa mendaftarkan tetangga/ calon pelanggan (capel) yang memenuhi kriteria pada link atau ke Personal in Contact (PIC). Tak sampai disitu saja, untuk ULP menyiapkan calon pelanggan jika pegawai tidak mendaftarkan capel dan diharapkan pegawai dapat melakukan peresmian
Light Up the Dream
53
~~~Tidak ada balasan untuk kebaikan, melainkan kebaikan pula (QS. 55 : 60) ~~
--Bagian Satu--
MENGUNTAI BAHAGIA KASIM, JADI IMUN PENYEMANGAT
54
atau penyalaan pada pelanggan tersebut nantinya desain mock up akan dibagikan.
“Setelah mendapatkan tambahan penjelasan, Alhamdulillah sebanyak 60 unit siap untuk ambil bagian dalam program kebahagiaan tersebut,” syukur kupanjatkan.
Prosesnya sangat tertata, makanya mekanisme pengumpulan diserahkan ke unit layanan dan dilaporkan hasilnya setiap awal bulan untuk saling menginspirasi, mensupport dan memanfaatkan terutama untuk solusi atas terjadinya kendala operasional yang ada di unit masing masing.
Tertegun, Pak Kasim Warga Kabupaten Barru. Entah mimpi apa dia semalam, tiba-tiba pegawai PLN mendatanginya untuk meminta data Nomer Induk Kependudukan (NIK) dan Kartu Keluarga (KK). Berselang beberapa hari kemudian, petugas PLN datang meminta izin untuk memasang instalasi, menarik kabel dan memasang meteran.
Kehadiran petugas PLN membuatnya kaget, apalagi dia tidak pernah merasa mendaftar untuk memasang instalasi listrik. Itu
Light Up the Dream
diperkuat dengan kondisi ekonominya yang sangat terbatas alias tak mampu.
Belum usai rasa kagetnya, berselang kemudian datang serombongan pegawai PLN dengan mobil hendak menyalakan listriknya.
“Saya tidak pernah daftar pak. Lah nanti siapa yang bayar?, kami tak ada uang sama sekali,” kata Kasim pada petugas PLN dengan terbata-bata. Belum sempat hilang kagetnya, rombongan PLN sudah tiba di teras rumah panggungnya untuk menyalakan. Karena banyak orang datang, istri dan anaknya juga ikut keluar, takut kalau ada apa apa dengan suaminya.
Usai menyampaikan kegelisahannya, petugas PLN langsung menimpalinya dengan menyampaikan jika listrik ini bantuan dari pegawai PLN sehingga tak perlu membayar. “Listrik ini bantuan pegawai PLN, listrik subsidi jadi tidak perlu bayar pak. Listrik ini merupakan bantuan donasi dari teman-teman, semoga bisa menerangi rumah bapak,” timpal petugas PLN Barru, MULP Pak Maskur.
Maskur menyampaikan niat baik pegawai PLN untuk membantu keluarga Kasim, tidak hanya untuk kebutuhan penerangan. Tapi juga membantu anak-anaknya bisa belajar daring, bisa untuk mengaji, charge handphone maupun nonton TV serta kebutuhan lainnya.
“Mari kesini pak kita nyalakan bersama sama,”ajak pak Maskur. Mendengar hal itu, Pak Kasim menurut saja, bersama-sama Pak Maskur memegang meteran dan menyalakan listrik. Sementara istri dan anaknya diam terpana.
Light Up the Dream
55