The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Light Up The Dream adalah buku tentang perjalanan kebahagiaan, indahnya berbagi, bahagianya peduli sesama

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by aziza.nimah, 2022-01-09 08:32:46

Light Up The Dream

Light Up The Dream adalah buku tentang perjalanan kebahagiaan, indahnya berbagi, bahagianya peduli sesama

Tak terasa airmata berlinang tanda bahagia dan syukur atas Kuasa Tuhan. Hari itu, Pak Kasim baru merasakan punya listrik sendiri. Mimpi yang telah lama dinanti, istrinya terlihat menangis bahagia. Begitupula anaknya berlinang air mata sambil memeluk ibunya.“Silahkan bapak, mungkin ada yang perlu disampaikan,” kata pak H. Maskur.
Sambil mengusap air mata, pak Kasim didampingi istrinya menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya atas perhatian pegawai PLN.“Kami sangat bersyukur pada Allah dan berterima kasih sekali dengan PLN. Kami merasa tidak pernah mendaftar karena tidak punya uang, tiba-tiba ada yang datang memasang kabel dan meteran terus dinyalakan. Kami bingung dan gak percaya, tiba-tiba rumah kami sudah menyala listriknya. Terima kasih sekali PLN. Semoga diberi balasan berlipat dari Allah, diberi keselamatan, dilapangkan rezekinya, sehat semuanya. Terima kasih PLN, terima kasih bapak ibu semuanya, terima kasih”. ungkap Pak Kasim. Air mata bahagia kembali mengalir dipipi pak Kasim dan istrinya.
Usai menyelesaikan tugasnya di rumah Pak Kasim. Kemudian, Pak Maskur berpamitan untuk meneruskan penyalaan di rumah pak Merding. Setelah selesai penyalaan semua kembali ke kantor rayon untuk evaluasi bersama.
Tiba dikantor rayon, suasana riuh atas tugas mulia yang baru saja diselesaikan. Haru, bahagia, sedih menjadi satu.
“Teman-teman semua, barusan kita menyalakan rumah pak Kasim dan pak Merdin. Kita menyaksikan kondisi rumah beliau tadi, tentunya kita menjadi lebih bersyukur karena kondisi kita
Light Up the Dream
56


jauh lebih baik. Allah memberikan kelonggaran rezeki pada kita,”papar Pak Maskur.
Kita juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana air mata dari Pak Kasim sekeluarga dan Pak Merdin sekeluarga. Bahkan, Pak Merdin tidak mampu berkata apa-apa. Bahagia sekali mimpinya telah terwujud, bahagia sekali punya listrik sendiri dan tentunya kita lebih bahagia bisa membahagiakan orang lain.
Usai menyampaikan hal itu, Pak Maskur kemudian meminta teman-teman kantornya untuk mendata warga serupa. Termasuk meminta mengisi daftar untuk yang berdonasi.
“Nanti yang donasi kita harapkan yang menyalakan, agar getaran kebahagiaan lebih terasa. Kalau yang patungan ramai- ramai, kalau bisa nyalakannya juga sama-sama. Kalau gak bisa ya perwakilan,”papar Pak Maskur.
Gayung bersambut, hati tersentuh dan jiwa-jiwa mulia telah tumbuh. Semua ikut berpartisipasi hingga terkumpul sebanyak 20 orang lagi, sehingga dibulan ini saja akan dinyalakan sebanyak 22 rumah warga dhuafa. Tentu, hal luar biasa sekali semangat kebahagiaan yang muncul, Barru mengharu biru.
Semua niat baik ini terwujud atas sokongan semua pihak. Makanya, saya langsung terketuk menginformasikan kegiatan ini ke teman di Barru. Tujuannya agar bersama menyentuh hati melakukan hal yang menjadi bekal jariah kehidupan di akhirat kelak.
Saya selalu menyampaikan, jika kita bisa berinvestasi untuk masa depan kita melalui membantu masyarakat tidak mampu pada program BDT TNP2K yang belum punya listrik. Listrik kan
Light Up the Dream
57


--Bagian Dua--
MENGETUK HATI, MEMUDAHKAN SAFETY
58
akan dipakai selamanya, maka selama itu juga amal jariah akan mengalir.
“Masing-masing bisa berdonasi semampunya. Hitung-hitungan untuk biaya penyambungan, SLO, stroom awal dan instalasi sekitar Rp.500 ribuan. Kalau supervisor bisa dua, pegawai masing-masing bisa satu dan teman Alih Daya bisa patungan saja. Pesannya yang berdonasi yang menyalakan, agar merasakan kebahagiaan itu. Agar mengetahui kondisi rumah pelanggan sehingga banyak bersyukur. Saat menyalakan bisa melihat masyarakat bahagia dan kita juga menjadi Bahagia,”seruku menyemangati teman-teman PLN di Barru.
Gayung bersambut, usai dilakukan Code of Conduct (COC) semua pegawai setuju. Meski sebelumnya ada yang tak merespon karena tidak paham tentang Light Up The Dream.
Suara Yell-Yell itu terdengar riuh menutup briefing yang kami lakukan sebelum melaksanakan Pemeliharaan Terpadu Tuntas (PTT) di hari itu di Desa Masale, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros. Kegiatan PTT yang dilakukan ini ditujukan ke penyulang-penyulang jaringan listrik yang butuh perhatian khusus. Hal itu dikarenakan jumlah gangguan yang banyak terjadi di sepanjang penyulang tersebut, sehingga masyarakat banyak yang mengeluh dan protes.
Penyebab utama gangguan di lokasi ini mayoritas disebabkan oleh dahan pohon atau batang pohon yang terkena langsung atau jatuh mengenai Jaringan Tegangan Menengah.
Light Up the Dream


Manager ULP Maros, Ahmad Amirul Syarif mengisahkan, disaat memulai pekerjaan PTT, termasuk memangkas atau menebang pohon yang berpotensi menyebabkan gangguan, sering terkendala dengan penolakan beberapa masyarakat yang tidak rela pohon produktifnya di pangkas maupun ditebang.
Kendala ini ditemui karena memang kurangnya komunikasi dan tidak seorangpun yang telah berkoordinasi, baik dengan stakeholder setempat ataupun tokoh masyarakat untuk perijinan pelaksanaan pemangkasan atau penebangan pohon di sekitar lokasi tersebut.
“Kami juga pernah melakukan komunikasi langsung dengan pemilik pohon, disampaikan aturan yang ada serta resiko gangguan listrik maupun stroom, tetapi tetap ditolak dengan alasan pohon produktif dan sumber kehidupan masyarakat,”katanya.
Disaat menemui kendala tersebut, tiba-tiba teringat Program Light Up The Dream yang baru saja kami ikuti di ULP Karebosi. Lalu, kami kemudian berpikir sepertinya ini kesempatan yang baik untuk bisa masuk dan berada di tengah masyarakat.
Melalui program tersebut maka dilakukan pendekatan ke kepala desa, menanyakan ke beliau “Apakah masih ada masyarakatnya yang belum mendapatkan Listrik PLN?,”ujarnya. Gayung bersambut ternyata ada warganya yang belum mendapatkan listrik PLN, serta letak rumahnya tepat di
Light Up the Dream
59


--Bagian Tiga--
LISTRIK GERAKKAN SENDI KEHIDUPAN
60
sekitar lokasi yang dibutuhkan untuk dipangkas atau dipotong pohon untuk mengamankan jaringan kami.
Atas inisiasi tersebut, para Pegawai PLN Maros waktu itu sepakat untuk mengumpulkan dana untuk menjalankan program ini. Kemudian, kami turun langsung dengan mengajak para stakeholder (kepala desa dan tokoh masyarakat) bersama- sama memberikan bantuan kepada warga tersebut.
Ternyata dengan menjalankan program ini, kami bisa masuk ke dalam masyarakat di mediasi stakeholder ke masyarakat di sekitar lokasi tersebut. Akhirnya masyarakat yang awalnya menolak dan agak terganggu dengan kegiatan yang kami rencanakan, sekarang malah mengikhlaskan. Bahkan mereka malah membantu proses pelaksanaan kegiatan pemangkasan pohon, sehingga operasional kami berjalan dengan lancar.
Saat ini bukan hanya penyulang di lokasi tersebut telah aman dari gangguan pohon dan listrik tidak kerap padam lagi. Namun, para stakeholder juga merasa Bahagia, karena insan PLN hadir ditengah masyarakat dan tentunya kebahagiaan tersendiri dari insan PLN Maros yang dapat berguna bukan hanya untuk perusahaan tetapi juga kepada masyarakat.
Energi listrik yang menjadi kebutuhan hidup saat ini, sudah menjadi kebutuhan pokok yang tidak bisa dipisahkan dengan kebutuhan lainnya. Bahkan penyediaan energi listrik sudah termasuk dalam salah satu infrastruktur utama selain jalan dan air bersih.
Light Up the Dream


PT. PLN dalam perannya menyediakan energi di tanah air mempunyai fungsi sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah, yakni sebagai agen pembangunan.
Kebutuhan akan energi listrik bukan saja pada perkotaan dan kawasan industri, melainkan sudah menjadi kebutuhan segenap rakyat di pelosok pedesaan bahkan di dusun-dusun terpencil yang termasuk dalam kawasan daerah 3T (terluar, terpencil, terbelakang).
Kebutuhan akan energi listrik untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat pra sejahtera ini adalah salah satu tugas dan peran PT. PLN agar rasio elektrifikasi dapat tercapai,
kata Bapak Hendrix Maxwell, MULP Polewali.
Light Up the Dream merupakan ide kreatif dari Unit Induk Wilayah Sulselrabar. Light Up the Dream ini adalah cara bagi kami untuk dengan bergotong-royong membantu saudara- saudara kita yang belum menikmati listrik. Untuk menyalurkan bantuan ini dan menjalankan program ini pastinya, kami dan tim harus mempunyai data dan persyaratan agar program ini bisa berjalan sesuai dengan harapan yang diinginkan.
Misalkan data yang diperoleh, kami sinkronkan dengan data pemerintah setempat yaitu kelurahan dan kecamatan. dan kelayakkan teknis misalnya, ketersedian material dan daya trafo yang tersedia.
Untuk kendala yang paling banyak ditemukan adalah sambungan rumah (SR) yang panjang, ini selain membutuhkan material twisted cable yang panjang juga penyambungan yang
Light Up the Dream
61


tidak maksimal karena menimbulkan drop tegangan (losses) tegangan pada konsumen sehingga secara persyaratan teknis tidak dapat di realisasikan.
Program Light Up the Dream ini adalah wadah bagi kami insan PT. PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Sulselrabar untuk menyalurkan bantuan kepada calon konsumen yang tidak mampu, kami sebagai insan PT. PLN sangat bangga dan patut bersyukur karena dapat kesempatan memberi kebahagian kepada masyarakat pra sejahtera.
Salah seorang warga yang menerima bantuan bercerita, jika di dusunnya sangat sulit diakses oleh mobilitas tetapi dengan adanya listrik sudah dapat membuat tersenyum.
Didaerahnya, infrastruktur jalan hanya dinikmati sepekan sekali. Itu hanya pada saat menjual hasil bumi dan berbelanja ke pasar. Tetapi kalau listrik dapat dinikmati sepanjang hari dan masih bisa beraktivitas di malam hari, karena dengan adannya penerangan ini bisa meningkatkan produktivitas rumah tangga dan anak-anak bisa belajar di malam hari karena semenjak minyak tanah tidak tersedia di pasaran otomatis lentera minyak tanah sudah tidak ada.
“Terima Kasih PLN sudah menjadi lahan kami mencari rejeki dan mendapat berkah dengan program Light Up The Dream,”ungkap warga dusun, Hasan, warga Polewali Mandar.
Light Up the Dream
62


--Bagian Empat--
ENERGI DIATAS PEMATANG KARIANGO
63
Rasa syukur disampaikan Manager ULP Kariango Pak Raka, karena sudah sejak dua minggu Light Up the Dream telah diterapkannya. Semakin Bahagia lagi, karena tak hanya PLN yang terlibat tapi juga Tenaga Ahli Daya (TAD) PLN ikut berpartisipasi.
“Jadi setiap Jumat kami ada semacam kotak amal atau celengan Jumat. Semua pegawai dan TAD menyumbangkan uang seikhlasnya. Saking semangatnya teman-teman bahkan sampai ada TAD yang menyumbangkan material memasangkan instalasi untuk warga kurang mampunya pak. Tidak mau dibayar, dan kalau ada sisa uang sumbangan tadi, setelah dipakai bayar BP, kami belikan beras,” ungkap Pak Raka.
Tak sampai disitu, Pak Raka juga menginformasikan ke saya jika satu wilayah yang bergerak, akan lebih banyak warga yang bisa dibantu. Setelah ikut terlibat langsung dan berkontribusi, banyak pegawai dan alih daya yang merasa senang dan bahagia. Bahagia bisa berbuat sesuatu yang memberi manfaat bagi orang lain, bahagia saat melihat orang lain bahagia.
“Barusan juga dinyalakan sambungan Light Up The Dream untuk Pak Billo, La Soppi dan I Rayya dari donasi teman-teman Kariango. Semoga barakah,”tutur Pak Raka.
Light Up the Dream


--Bagian Lima--
NYALAKAN MIMPI DI LAPPARIAJA
64
Disaat menyaksikan langsung kondisi rumah masyarakat yang memerlukan bantuan, melihat keluarganya yang sedang sakit, keterbatasan yang dimiliki, atau tempat tinggal yang jauh dari kata layak hati mestinya tersentuh. Muncul adanya keinginan kuat untuk sedikit meringankan beban, membantu agar lebih baik kondisinya.
Menerangi dengan cahaya Light Up The Dream untuk membuka ruang, sebagai wujud empati, indahnya berbagi, serta bahagianya membantu sesama.
Gerakan sosial di PT PLN
(Persero) Unit Induk Wilayah Sulselraba berupa donasi dari pegawai PLN untuk membantu pasang baru listrik bagi Rumah Tangga kurang Mampu, satu pegawai punya kewajiban membantu minimal satu warga kurang mampu. Program ini bernama Light Up The Dream
Listrik untuk Nyalakan Mimpi.
Program diharapkan dapat menumbuhkan rasa syukur dalam jiwa pegawai, agar semakin semangat untuk melakukan dan memberikan yang terbaik bagi perusahaan, masyarakat dan bangsa, dengan terus berinovasi, berprestasi, tangguh, pantang menyerah untuk sebuah impian agar menjadi yang terbaik.
Selain Gerakan mulia dengan kepedulian bagi masyarakat yang kurang mampu tersebut program "Light Up The Dream" ini juga mendukung kinerja meningkatkan Rasio Elektrifikasi (RE) berupa pemasangan listrik gratis daya R1/450 VA (BDT TNP2K).
Light Up the Dream


Seluruh pegawai di lingkungan PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Sulselrabar untuk berpartisipasi dalam program "Light Up the Dream" melalui srt General Manager Nomor 1798/STH.01.03/B16000000/2020 pertanggal 07 Juli 2020 perihal Penyampain Program Peduli Masyarakat (Light Up the Dream), juga bertepatan dengan Hari listrik Nasional (HLN) yang ke- 75 yaitu tanggal 27 Oktober 2020.
Bertepatan itu pula, ULP Patangkai, Lappariaja, Kabupaten Bone telah menyambung sebanyak 13 pelanggan dari 10 pegawai yang ada.
Manager ULP Pattangkai, Hasruddin menjelaskan, jika rasio elektrifikasi bulan Oktober ULP Patangkai setelah program ini juga bergulir adalah 99,7 %. Walaupun jumlah pelanggan baru sedikit yang dinyalakan melalui program ini, tapi turut mendorong angka rasio elektrifikasi di unit kami. Bahkan hal terpenting program ini sangat nyata dan tepat sasaran.
“ Jika kami mengamati di masyarakat yang tergolong kurang mampu bahwa menjadi pelanggan PLN dengan memiliki Kwh meter sendiri merupakan salah satu mimpi mereka, sungguh langkah ini merupakan terobosan insan PLN yang berperan aktif untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat,” ungkapnya.
Light Up the Dream
65


--Bagian Enam-
SERENTAK DI 75 LOKASI MENEBAR BAHAGIA
66
Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75, ditengah pandemi harus dibuat berbeda, semarak dan lebih bermakna. Menumbuhkan semangat patriotisme yang tinggi untuk mengabdi pada bangsa, loyalitas pada
perusahaan, memaksimalkan seluruh peluang dan potensi yang ada dan harus memberikan nilai tambah bagi perusahaan sebagai wujud budaya AKHLAK. Untuk mewujudkannya semua pegawai harus dilibatkan dan memberi kontribusi.
“Kita buat yang berbedalah pak Mun, biar lebih berkesan dan memiliki nilai lebih baik bagi pegawai, perusahaan maupun pelanggan” begitu permintaan pak Ismail Deu, selaku GM UIW Sulselrabar, kala itu pada saya.
“Siap pak, semua pegawai kami libatkan, berkontribusi dan memberi nilai tambah bagi perusahaan,”kataku.
Setelah diskusi dengan beberapa teman milenial disepakati beberapa kegiatan dalam rangka HUT RI ke-75. Dan terpenting dihari itu dilakukan penyalaan serentak listrik gratis Light Up The Dream di 75 titik oleh 75 pemimpin unit UIW Sulselrabar, Yakni sebanyak 60 unit rumah dinyalakan oleh ULP, 10 unit oleh UP3, satu unit di UP2D, tiga unit UP2K, serta satu unit kantor wilayah oleh General Manager (GM).
Light Up the Dream


Tak hanya itu saja, dilakukan pula penyalaan listrik desa (Lisdes) sebanyak 75 lokasi selama 2020, dan akan dipusatkan di Cenrana untuk lokasi ke-75 bersama Pemkab Maros.
Secara simbolis penyalaan 75 sambungan listrik serentak dilakukan GM PLN Ismail Deu dari lokasi Todupoli Makassar. Selanjutnya secara bergantian dipandu Manager UP3 Makassar Selatan (Bapak Raditya Hari) beserta ULPnya, MUP3 Makasar Utara (Ibu Yuli Ashaniasis) dan ULPnya, MUP3 Parepare (Bapak Ambo Tuwo) dan ULPnya, MUP3 Pinrang (Ibu Rizky Ardiana) dan ULPnya, MUP3 Bulukumba (Bapak Leandra Agung) dan MULPnya, MUP3 Mamuju (Bapak Setiyawan) dan MULPnya, MUP3 Palopo (Bapak Alimuddin) dan MULPnya, MUP3 Kendari (Bapak Arif) dan MULPnya, MUP3 Baubau (Bapak Agus Susanto) dan MULPnya, MUP2D (Bapak Aulia Mahdi), MUP2K Sulsel (Bapak Syarifuddin), MUP2K Sultra (Bapak Alamsyah) menyalakan serentak, hingga seluruh titik di 75 lokasi semua dinyalakan.
Ada beberapa unit yang menyalakan lebih dari satu pelanggan, bahkan ada yang sampai enam pelanggan dan mereka tetap lanjutkan dan dilaporkan ke UIW Sulselrabar. Hari itu, banyak masyarakat yang dinyalakan dari kepedulian pegawai se- PLN UIW Sulselrabar.
Setelah acara Sulselrabar
rombongan
Sulselrabar, MUP2K Sulsel & MUP3 Makassar Utara meluncur ke Cenrana untuk menyalakan listrik desa (lisdes) di lokasi
di UIW selesai, GM UIW
Light Up the Dream
67


--Bagian Tujuh--
MATAHARI KINI KIAN BENDERANG
68
tersebut. Sekaligus sebagai tanda 75 lokasi telah dinyalakan sepanjang 2020 sampai dengan bulan Agustus 2020, serta menyalakan dua pelanggan bantuan Light Up The Dream sebagai pertanda listrik telah masuk di kampung tersebut.
Sukacita disambut masyarakat bersama aparat setempat, mereka telah merdeka dari kegelapan dan siap menyongsong era baru setelah masuknya listrik di kampung ini.
PLN kembali hadir untuk mewujudkan mimpi masyarakat yang kurang mampu di Kabupaten Soppeng Provinsi Sulawesi Selatan. Melalui program Light Up The Dream yaitu listrik untuk nyalakan mimpi, seluruh pegawai PLN (Unit Layanan Pelanggan) ULP Soppeng berdonasi untuk menghadirkan listrik bagi masyarakat kurang mampu.
Sebanyak 10 masyarakat kurang mampu di Kabupaten Soppeng Provinsi Sulawesi Selatan telah diwujudkan mimpinya untuk mendapatkan listrik melalui program Light Up The Dream. Program yang digagas oleh PLN Unit Induk Wilayah Sulselrabar ini bertujuan untuk meringankan beban masyarakat yang kurang mampu dalam mendapatkan listrik saat pandemi ini.
Senin, Manager PLN ULP Soppeng Muhammad Reza Mulyadi secara langsung menyalakan listrik Ibu Matahari di Jalan. Pesantren Kabupaten Soppeng.
Saat penyalaan tersebut, Ibu Matahari menyampaikan rasa syukur dan terimakasihnya kepada PLN karena beliau sudah
Light Up the Dream


dapat menikmati listrik sendiri. "Saya mengucapkan terimakasih atas bantuan ini, semoga listrik yang ada sekarang ini dapat membantu keluarga dan cucu saya di rumah untuk memajukan kehidupan kami," ungkap Matahari.
Manager PLN ULP Soppeng Muhammad Reza Mulyadi mengaku sangat berbahagia dapat membantu masyarakat yang kurang mampu. "Ini adalah bentuk kepedulian kami pegawai PLN kepada masyarakat sekitar. Kami sadar bahwa insan PLN sangat dibutuhkan di saat pandemi ini, salah satunya melalui program Light Up The Dream," tutur Reza.
"Kami turut berbahagia melihat senyum di wajah Bu Matahari, karena kami insan PLN ULP Soppeng bahu membahu untuk berdonasi mewujudkan mimpinya. Bagi kami ini adalah bahagia sesungguhnya, karena pekerjaan kami dapat berguna Bu Matahari beserta masyarakat kurang mampu lainnya,"terangnya.
Rona bahagia tampak
betul dari wajah Matahari.
Ia kini bisa tersenyum
lebih cerah, secerah
namanya. Harapan untuk
memiliki listrik akhirnya
bisa dirasakan Matahari,
warga Desa Pesse, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Selama betahun-tahun, keluarga Matahari hanya mengandalkan listrik dari sambungan kWh milik tetangga.
Keterbatasan ekonomi menjadi alasan Matahari tak mampu memasang kWh sendiri untuk memenuhi kebutuhan listrik di rumahnya. Perempuan berusia 67 tahun ini juga tak mampu berbuat banyak. Ia hanya seorang ibu rumah tangga, yang juga
Light Up the Dream
69


harus merawat sang suami yang menderita kebutaan. Untuk kebutuhan sehari-hari, Matahari bahkan menggantungkan harapan hidup pada salah seorang putrinya yang bekerja di salah satu peternakan ayam di desanya.
Keinginan untuk memiliki listrik sendiri akhirnya terwujud. Matahari menjadi salah satu dari 496 warga di seluruh Indonesia Hingga pada Desember 2020 lalu yang berhasil menerima bantuan listrik melalui program Light Up The Dream.
"Saya mengucapkan terima kasih atas bantuan ini, semoga listrik yang ada sekarang ini dapat membantu keluarga dan memajukan kehidupan kami," ungkap Matahari.
Ibu lima orang anak ini mengaku bersyukur dan berterima kasih pada seluruh tim PLN. Rumah yang beralamat di Jalan Pesantren, Kabupaten Soppeng itu tak lagi menumpang sambungan listrik dari tetangga. Ia dan keluarga kini bisa menikmati listrik dengan daya 450 VA.
Program yang menyasar masyarakat prasejahtera ini merupakan program sosial inisiasi dari PT PLN (Persero). Di mana setiap karyawan PLN menyisihkan penghasilannya untuk menyalakan harapan banyak masyarakat yang belum memiliki listrik di berbagai daerah.
"Alhamdulillah bantuan ini bisa dinikmati oleh anak cucu saya untuk belajar," kata Matahari. Matahari sendiri menjadi salah satu penerima manfaat program Light Up The Dream atas rekomendasi dari salah satu tetangganya. Setelahnya, tim PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Soppeng melakukan survei dan menyatakan bahwa keluarga Matahari berhak masuk dalam program tersebut.
Light Up the Dream
70


--Bagian Delapan--
WANGI-WANGI DALAM SAMBARAN GT
71
Bantuan tersebut diharap mampu memberi lebih banyak manfaat bagi para penerima, terlebih di masa pandemi saat ini. "Kami turut berbahagia melihat senyum di wajah Bu Matahari. Sebab kami insan PLN ULP Soppeng sudah bahu-membahu untuk berdonasi mewujudkan mimpinya," jelas Reza.
Sebelumnya, salah seorang warga asal Kabupaten Pangkep juga sudah menikmati program listrik milik PLN ini. Serupa dengan Matahari, Sunu yang setiap harinya bekerja di peternakan sapi juga hanya mengandalkan sambungan listrik dari tetangga.
Ia mengaku tak mampu membayar biaya pasang baru listrik ke PLN. Jangankan untuk membayar biaya pasang baru listrik, untuk makan dan kebutuhan sehari-hari saja kata Sunu, masih sangat sulit. "Bantuan listrik gratis ini seperti mimpi, akhirnya kami bisa menikmati listrik sendiri di rumah," kata pria berusia 50 tahun ini.
General Manager PT PLN UIW Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat (Sulselrabar) Ismail Deu menyatakan program ini sudah diluncurkan sejak Agustus 2020 lalu.
Waktu menunjukkan pukul 12.15 WITA ketika pesawat Wings air mendarat di Bandara Matahora Wangi- Wangi. Sebuah bandara kecil seperti halnya bandara perintis.
Sejak pandemi jadi sepi, dimana penerbangan hanya sekali dari Kota Kendari, sehingga suasana di bandara tidaklah ramai.
Light Up the Dream


Dengan semakin sedikitnya pengunjung yang datang ke daerah ini, maka sangat mempengaruhi perekonomian disektor pariwisata, salah satunya jumlah keterisian kamar hotel.
Maklum daerah ini mengandalkan sektor wisata lautnya sebagai salah satu penopang ekonomi masyarakat. Beberapa teman unit menunggu di pintu kedatangan. Setelah berbasa- basi sebentar, lalu kami meluncur menuju penginapan untuk menaruh tas dan melanjutkan perjalanan ke pulau Kapota.
Pulau Kapota terpisah dari Pulau Wangi Wangi dan terdiri dari lima desa, listriknya disupply dari Pulau Wangi Wangi dengan jaringan listrik tegangan menengah yang dibentangkan diatas lautan sejauh 1,3 kilo meter sirkuit (kms).
Dari bibir pantai samping
penginapan dengan
mempergunakan kapal kecil
bermuatan 12 orang kami
menuju Pulau Kapota. Waktu
tempuh sekitar 10 menit
sampailah di Pelabuhan
Kapota. Siang ini, matahari terik menyambut seakan ingin menyampaikan pesan indah dan bahagia menyambut rombongan di daerah ini. Sejenak berfoto bersama untuk mengabadikan momen bahagia, dengan berbagai aksi dan gaya. Walaupun berada di pulau, tetap menjaga protokol kesehatan dan pakai masker.
Dilanjutkan dengan ikut Mobil Carry yang sudah termakan usia untuk menyusuri jalan sempit dan berbatu. Sejenak berhenti di sebuah tikungan jalan untuk proses penyalaan listrik masyarakat. Rumah panggung sederhana siang ini akan dinyalakan listriknya.
Light Up the Dream
72


Pak Sadar kalau gak salah dengar namanya tadi. Sempat Ada kejadian unik ketika spanduk yang dibawa ternyata salah. Akibatnya, semua jadi tegang dan saling berpandangan. “ Spanduknya lain ini, spanduknya lain ini”, sahut Mas Awang. “Lah tadi gimana ?,” tanya pak Talib.
“Sudahlah gak papa, nanti diedit, kita nyalakan saja dulu listriknya. Pak Sadar bisa disini pak, kita akan menyalakan listrik bersama-sama,” kata Pak Talib lagi.
“ Bapak, siang ini bersama teman teman menyalakan listrik di tempat bapak. Listrik ini hasil donasi teman teman PLN Wangi Wangi dalam program Light Up The Dream. semoga listrik bisa menerangi saat malam hari, bisa untuk belajar anak-anak, bisa untuk usaha bapak dan bisa memberi banyak manfaat. Mohan doanya agar kami melayani lebih baik lagi, rejeki barokah sehingga semakin banyak berbagi, hati kami semua terterangi untuk melakukan kebaikan,”ungkapku.
Pak Sadar kemudian menyampaikan rasa terima kasihnya. “Terima kasih sekali bapak atas bantuan listriknya, kami orang tidak mampu untuk pasang meteran karena hasil kami tidak seberapa. Terima kasih sekali pak,”ungkapnya.
Mobil bergeser di RT sebelah untuk menyalakan listrik tempat Pak Adi, disaksikan oleh keluarga akan dinyalakan bersama- sama. Setelah selesai Pak Ari menyiapkan beberapa kelapa muda yang dipetik dari halaman depan.
Dipersilahkan semua tim untuk meminum air kelapa yang sudah disiapkan. Semua ragu dan merasa tidak nyaman. Kubisikkan pada Pak Talib, diambil saja minuman kelapa ini nanti saat pulang mohon dihitung dan diganti untuk tambahan modal usaha.
Light Up the Dream
73


Pak Adi menceritakan, jika penghasilannya sebagai nelayan tidak mencukupi untuk memasang listrik dan keperluan lainnya. “Sudah lama sekali ingin punya listrik tetapi tidak mempunyai uang untuk bayar. Sudah juga mengajukan listrik gratis ke desa tetapi belum dapat. Akhirnya minta saja ke tetangga satu mata lampu agar tidak gelap gulita,” kisahnya.
Dia tidak menyangka tiba-tiba kemarin ada petugas PLN datang memasang listrik dirumahnya dan tidak dimintai uang sedikitpun. “Bilangnya ada yang membayarkan. Kami sangat berterima kasih sekali kepada petugas PLN yang telah berbaik hati memasangkan listrik di rumahnya. Hanya Allah saja yang bisa memberikan balasan. Terima kasih PLN,”paparnya.
Kapal bersandar disekitar hotel untuk menurunkan penumpang yang akan melanjutkan kegiatan. “Sebaiknya kita makan dulu disebelah itu pak, yang dipinggir laut, semua sudah siap,” kata Pak Talib memberi tahu. Semua rombongan menuju ruangan makan yang terletak di atas laut.
Sambil menikmati hidangan santap siang dengan menu khas daerah laut, ikan dengan berbagai cara masak, masing masing pegawai dipersilahkan untuk memperkenalkan diri dan menyampaikan keluhan, usulan, masukan, kritikan atau unek- uneknya.
Satu per satu menyampaikan sehingga tidak ada yang terlewat. Banyak sekali masukan yang diberikan, wajar sekali sebagai unit dikepulauan ujung pastilah banyak kendala dihadapi dalam operasional.
Pulau-pulau yang harus dilayani dengan karakteristik masyarakat yang berbeda beda mempunyai ekspektasi terhadap layanan berbeda pula. Daerah Wakatobi juga
Light Up the Dream
74


merupakan kawasan konservasi yang dilindungi terutama biota lautnya dan menjadi destinasi wisata yang mendunia, banyak turis lokal maupun mancanegara yang datang ke daerah ini.
Tuntutan layanan diharapkan sama dengan daerah asalnya, padahal kondisi sistem kelistrikan yang ada di Pulau Wangi Wangi sangatlah beda dan belum seandal dan berkualitas sebagaimana yang diharapkan.
Setelah santap siang selesai, segera menuju kolam ikan Giant Trevally (GT) yang ada di sebelah. Penasaran menyaksikan ikan besar-besar berukuran hampir 1 meter yang dipelihara. Berputar-putar, bergerak terus menunjukkan keaktifan dan respect pada lingkungan. “Jangan kesitu pak berbahaya, itu licin dan ikannya ganas,” kata Pak Talib. Kaget juga pak Talib mengingatkan.
Lalu, sisa-sisa makanan dilemparkan ke dalam kolam, byur dan ikan berebut untuk memangsanya, sebentar saja ludes dilahapnya. Teringat ikan piranha dengan gigi tajamnya melahap setiap mangsa tak bersisa. Setiap dilemparkan makanan kedalam kolam langsung diserbu, rebutan dan sebentar habis.
Ikan berputar putar terus menunjukkan keaktifan dan reaksi cepatnya. Setelah lebih 15 menit menyaksikan indahnya permainan ikan di kolam dan terlihat ikan berkumpul disisi jauh, berniat meninggalkan kolam sambil menyiduk air untuk pergi.
Light Up the Dream
75


Srett, tiba-tiba sambaran ikan mengenai jemari. Secepat kilat ditarik ke atas, namun goresan gigi ikan dengan tajam telah merobek kulit. Darah mengucur deras dan semua panik. Segera naik pak,
segera dibalut lukanya. Semua jadi terdiam, semua membisu dan bingung.
Darah segar masih mengucur dari jari telunjuk yang sobek. Segera mas Awang berlari ke toko kecil yang ada didepan sambil berlari. Dicarilah tissue dan kertas untuk menutup luka agar darah tidak semakin banyak yang keluar.
Sesaat Mas Awang tiba, segera dibalut dengan tansoplas agar darah tidak terus keluar setelah sebelumnya dicuci dengan air laut. Ngeri dan sakit memang rasanya, tetapi ditahan karena sebelumnya sudah diingatkan, bahwa sambaran GT sangat mengerikan. Beberapa kali tansoplas diganti untuk menghentikan darah yang keluar. Setelah tertutup segera berkemas menuju pelabuhan untuk menikmai keindahan alam Wakatobi yang sangat terkenal itu sambil nahan rasa sakit akibat goresan tajam gigi GT.
Sambaran GT menjadi kenangan indah di daerah ini. Hati-hati dengan setiap peringatan, karena itu untuk menyelamatkan bukan sekedar anjuran!.
Peralatan diving telah siap dan Mas Rahmad sang instruktur international sudah siap menunggu. Saya Rahmad pak, ini pak polisi Pak Lani yang siap menemani bapak.
Light Up the Dream
76


“Silahkan peralatan dipakai dan kita akan melakukan doa bersama serta briefing sebentar untuk mengingatkan,” kata Mas Rahmad membuka pembicaraan.
Standarisasi olahraga diving memang ketat dan Standar Operasional (SOP) mutlak harus dilakukan. Setiap penyelam akan didampingi satu guide, saat ini pak Polisi yang akan menemani sementara Mas Rahmad akan mengambil gambar serta video.
Setelah briefing dan pengecekan alat siap, ditemani Pak Talib, Mas Bima, Pak Rahmad dan dua orang guide mulai menyelam dari sisi kiri jembatan.
“Masya Allah, baru mulai nyelam disambut dengan karang yang indah sekali dengan ikan-ikan beraneka ragam. Semakin dalam menyelam semakin banyak macam karang yang belum pernah ditemui. Juga ikan- ikan berseliweran banyak sekali, persis aquarium yang luar biasa,”kagumku melihat biota bawah laut tersebut.
Menyusuri tebing karang dengan kedalaman 20 meter memberikan kesan yang sulit dilupakan. Memuji Allah setiap menyaksikan keindahan ciptaannya, begitu banyak jenis ikan yang disajikan, pantas saja kalau banyak wisatawan domestik maupun luar negeri yang menjadikan Wakatobi menjadi destinasi pilihan.
Allah Maha Kaya, Allah Maha Kuasa, Allah Maha Segalanya. Hanya pujian pada Allah yang mampu diucapkan. Sedang asyik menikmati, guide memberi aba-aba untuk stop, dihadang dan harus putar kembali.
Light Up the Dream
77


Sempat terdiam sejenak tetapi tetap saja guide menghadangkan tangan dan diminta putar kembali. Khawatir terjadi sesuatu, kami putar dan kembali ke lokasi awal disekitar pelabuhan. Guide minta kami untuk naik dan mengakhiri penyelaman. Sempat enggan untuk naik karena baru sebentar menyelam, isi tabung masih tersisa banyak dan karang serta ikan-ikan yang berwarna warni dengan ragam besaran sayang untuk dilewatkan.
Mas Rahmad selaku pemandu utama juga memberi isyarat untuk bergeser dan kembali kebibir pelabuhan untuk mengakhiri penyelaman. Ekspedisi kali ini harus diakhiri walaupun dengan sedikit ganjalan dihati. Tapi mungkin saja ada sesuatu yang dikhawatirkan serta kondisi darurat, sehingga kami semua naik untuk menyelesaikan penyelaman.
“Mas Rahmad, terima kasih sekali ya. Subhanallah, karang dan ikannya bagus bagus dan beraneka agam. Ikannya besar-besar, banyak lagi. Seperti di aquarium saja. Alhamdulillah sekali diberi kesempatan untuk bisa menikmati ciptaan Allah yang luar biasa ini,” kataku sama mas Rakhmad.
Dia menimpaliku, dan menyampaikan jika lokasi dekat dinding cukup berbahaya. “Iya pak, spot diving disini banyak sekali dan bagus bagus, nanti bapak ke sini lagi dan kita siap untuk menemani,”Sahut Mas Rakhmad dengan senyum khasnya.
Rakhmad meminta maaf, sengaja menghalangi karena diujung sana itu woll dengan kedamalaman tinggi. “Kami pernah mengecek sampai 60 Meter belum nampak tanda tanda dasarnya. Apalagi disitu arus deras memutar sehingga sangat berbahaya untuk penyelaman. Makanya kami halangi, kami stop dan harus kembali. Tadi sudah lebih 30 menit, sehingga kami rasa cukup dulu pak. Insyaallah lain waktu kita siap
Light Up the Dream
78


mendampingi, kata mas Rakhmad memberi penjelasan. Ternyata sudah cukup lama juga, padahal waktunya terasa baru sebentar,”paparnya.
Mas Rakhmad juga menunjukkan arah pergerakannya tadi yang lumayan jauh dari pelabuhan. Indahnya karang di tebing dan banyaknya ikan beraneka ragam telah menghipnotis dan melalaikan fikiran.
##ERATKAN SILATURAHMI KE BUPATI WAKATOBI ##
Malam sudah menjelang, sambil menunggu informasi kesediaan pak Bupati Wakatobi, kami berdiskusi dan menikmati makanan kecil yang sudah siap sejak tadi.
Disebelahnya berbagai menu ikan juga disiapkan untuk makan bersama tim PLN Wangi-Wangi. Tapi sementara belum disentuh, karena dapat info kalau pak Bupati ingin bertemu. “Pak, pak Bupati ingin bertemu sekarang, kita ke rumah dinas beliau saja sekarang,” kata Pak Talib.
Haji Arhawi, begitu nama bupati yang amanah ini. Beliau sudah menunggu di teras rumahnya, sambil bincang santai dengan Kepala Dinas Perdagangan dan Kepala Dinas Pemberdayaan masyarakat Kabupaten Wakatobi.
Sesaat tiba dilokasi beliau langsung menyambutnya. Silahkan masuk bapak, kita bahagia sekali bisa bersilaturahim dengan manajemen puncak PLN Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara.
“ Selamat datang di Wakatobi, semoga berkesan dan akan datang kembali ke sini,”sapaan ramah Bupati Wakatobi.
Light Up the Dream
79


“Terima kasih Bapak, salam hormat dari General Manager PLN Sulselrabar kami di Makassar semoga lain waktu bisa silaturahim ke Bapak. Juga dari Manajer UP3 Baubau titip salam ke Bapak,” jawabku.
Obrolan santai mulai dari sistem kelistrikan yang ada di Wangi Wangi, Kapota, Kaledupa, Tomia, Binongko dan beberapa pulau kecil disekitarnya.
Sebagai daerah destinasi wisata unggulan dan menjadi sumber ekonomi masyarakat, maka listrik begitu sentral dan besar pengaruhnya bagi kemajuan daerah.
“Ada beberapa investor hotel berbintang dan cold storage yang akan masuk, tetapi masih menunggu kesiapan ketersediaan listrik di daerah Wangi Wangi maupun Tomia termasuk di Binongko. Terus minta tambahan jam operasional dari 14 jam menjadi 24 jam sehubungan dengan operasional RS, Puskesmas, perkantoran dan sekolahan di pulau-pulau. Saat ini kalau PLN mati, maka dibackup dengan genset. Biaya genset mahal sehingga kewalahan sekali pemerintah daerah,”jelas Bupati Wakatobi.
Menanggapi permohonan tersebut, PLN sangat mengharapkan segera diinformasikan detail terkait RTRW Kabupaten Wakatobi, kepastian waktu operasi dan besarnya daya yang dibutuhkan untuk rencana pengembangan sistem kelistrikannya. Sebab, saat ini daya yang tersedia dan cadangan masih mencukupi untuk pengembangan daerah tersebut.
Light Up the Dream
80


Saat bupati menginginkan adanya bantuan listrik bagi masyarakat kurang mampu di Wakatobi dan adanya yang tidak tepat sasaran, maka PLN menyampaikan bahwa program CSR pemasangan listrik masyarakat tidak mampu sudah terealisasi hampir 200 pelanggan.
Maka, ungkap saya, dipersilahkan data-data pelanggan tidak mampu yang masuk dalam BDT TNP2K dapat disampaikan resmi oleh pemerintah Kabupaten Wakatobi. Data data BDT TNP2K bukan dari PLN, tetapi dari hasil survey yang dilaksanakan pemerintah yang bersumber dari survei kelurahan dan kecamatan serta diverifikasi dinas sosial setempat.
“PLN hanya menerima dari pemerintah. Jika tidak sesuai atau belum masuk maka proses survey melalui kepala desa, dientry pihak kecamatan dan verifikasi oleh dinas sosial, nanti PLN akan mendapatkan data BDT TNP2K tersebut,”ujarku pada Bupati.
Diskusi berlanjut dengan rencana pengembangan kawasan Wakatobi untuk beberapa destinasi wisata yang baru, untuk menggaet lebih banyak wisatawan agar bisa mendongkrak ekonomi masyarakat.
Dengan mengandalkan kekayaan keanekaragaman hayati lautnya wisatawan menjadi primadona. Beberapa budidaya ikan dan pengolahan juga sedang dirancang untuk kemajuan kawasan.
Tak terasa dua jam lebih berdiskusi dan segera pamit undur diri. Tak lupa menitipkan buku “Terang di Beranda Negeri, Perjuangan Anak bangsa dalam merawat Perbatasan NKRI” sebagai bentuk komitmen PLN dalam melistriki seluruh pelosok nusantara kepada pak Bupati.
Light Up the Dream
81


--Bagian Sembilan--
RAHA MENGGEMA
82
Keessokan harinya, Pukul 06.00 WITA ditemani Pak Talib dan Mas Awang menuju pelabuhan untuk melanjutkan perjalanan menyeberangi lautan selama 2,5 jam ke Pulau Buton untuk ekspedisi selanjutnya. Wangi Wangi dalam Sambaran Giant Trevally akan tetap menjadi kenangan.
Perjalanan hari ini lumayan panjang. Dimulai pagi pukul 07.00 WITA menggunakan kapal besi menuju Lasalimu, Kabupaten Buton dengan jarak tempuh kurang lebih 3 jam. Mendarat di pelabuhan dilanjutkan perjalanan darat menuju Pasar Wajo.
“Alhamdulillah bisa istirahat sejenak sambil mendengarkan masukan, usulan, keluhan dari teman teman ULP Pasar Wajo,”ungkapku.
Selang 1 jam dilanjutkan perjalanan darat menuju pelabuhan Murhum Kota Bau-Bau, jarak Pasar Wajo dengan Kota Baubau +/- 48 Km, tapi karena jalannya yang berkelok- kelok perjalanan ditempuh +/- 1,5 Jam.
Perjalanan kembali kami lanjutkan dengan rute laut menuju Raha Kabupaten Muna dengan naik kapal cepat selama 2 Jam. Sejenak setelah sholat dzuhur dijamak Ashar, dilanjutkan dengan penyalaan listrik bagi masyarakat tidak mampu Light Up The Dream.
Dilokasi tersebut sebanyak dua pelanggan yang tidak jauh dari lokasi Rumah Kreatif BUMN-PLN mendapatkan program gratis tersebut. Rasa bahagia saat melihat Pak Rahmat, wajahnya
Light Up the Dream


berbinar dan senyum merekah melihat listrik rumahnya telah menyala. Rumah yang belum selesai dibangun telah memiliki listrik sendiri. Saat diminta tanggapan atas penyalaan tersebut, pak Rahmat hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada PLN.
“Terima kasih PLN, terima kasih PLN atas bantuan dan kepeduliannya. selama ini kami pakai listrik hanya nyalur satu lampu dari tetangga dan tidak bisa memakai lebih. Sebelumnya kami sudah komitmen hanya untuk penerangan saja. Untuk pasang sendiri belum punya uang, syukurlah hari ini dipasangkan gratis oleh PLN, bantuan dari pegawai PLN yang peduli. Terima kasih PLN, semoga PLN makin jaya dan semua pegawainya diberikan keselamatan, kemurahan rezeki sehingga banyak membantu masyarakat. Terima kasih PLN,” kata pak Rahkmad penuh syukur.
Kegiatan dilanjutkan dengan sharing bersama pegawai ULP Raha dan ULP Mawasangka. Dimulai dengan perkenalan dari seluruh pegawai dan presentasi kinerja ULP Raha dan ULP Mawasangka, serta komitmen untuk mewujudkan kinerja terbaik.
Beberapa usulan dan masukan diberikan sebagai solusi atas kendala yang dihadapi. Juga komitmen untuk mencapai tunggakan nihil setiap bulan di Raha dan Mawasangka dengan pencapaian terbaik. mereka semua semangat untuk menggelorakan komitmen itu dan yakin sekali segera terwujud.
Luar biasa, disaksikan oleh Manajer UP3 Baubau Pak Agus Susanto, Manager Bagian Pemasaran Pak Syamsul Kamar, Manager Bagian Keuangan, SDM & Administrasi Pak Syaiful, Manager ULP Raha Pak Andi Muh Rizal dan tim. Mereka semua
Light Up the Dream
83


--Bagian Sepuluh--
DARMAWAN, DERMAWAN PADA DHUAFA
84
ingin meninggalkan legacy terbaik saat bertugas di Raha maupun Mawasangka.
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 17.15 WITA, Pak Agus menyampaikan untuk segera berangkat mengingat perjalanan kembali ke Baubau lumayan jauh sebab harus menempuh jalur darat dan laut, jadwal kapal cepat kecuali keesokan harinya.
Segera saja diakhiri sharing dan manajemen mendengar untuk melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Wamengkoli Buton Tengah Wilayah Kerja ULP Mawasangka. Benar saja, perjalanan Raha - Wamengkoli membutuhkan waktu sekitar 3,5 jam. Dikarenakan banyaknya jalan yang rusak dan ditutup oleh warga sebagai bentuk protes ke pemerintah. Pukul 21.10 WITA baru sampai di penyeberangan Wamengkoli Mawasangka untuk selanjutnya ikut kapal kecil (koli-koli) menyeberang kembali ke Baubau.
Ditengah perjalanan penyeberangan, dalam gelap gulitanya malam, suasana gembira masih terasa, cerita kecil saat menyalakan listrik Light Up The Dream di Raha terasa gemanya. Tuan rumah sempat grogi dan bingung karena tiba-tiba didatangi rombongan PLN, diajak foto dan mendapat bingkisan. Beliau khawatir kalau ada kesalahan atau ditagih uang. Saat diminta tanggapan juga masih kebingungan. Surprise bagi beliau.
Rapat Koordinasi dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru saja usai. Wakil
Light Up the Dream


Direktur (Wadirut) PLN Darmawan Prasodjo berkenan untuk tatap muka dan berkenan memberikan arahan kepada perwakilan pegawai yang ada di Kendari baik UP3, UPT, UPDK maupun UPP.
sambungan listrik gratis Program Light Up The Dream.
Program pemasangan dan penyalaan listrik bagi masyarakat tidak mampu yakni listrik untuk menyalakan mimpi. Dimana pegawai yang berdonasi akan difasilitasi untuk menyalakan sendiri listrik di pelanggannya, serta memberikan peralatan usaha bagi pelanggan sehingga pegawai mengetahui secara riil kondisi pelanggan tsb.
Program ini tentu bertujuan agar pegawai lebih bersyukur akan kondisinya, sehingga lebih tersentuh hatinya dan banyak beramal sholeh. Termasuk, saat menyaksikan listrik menyala dan pelanggan bahagia, pegawai akan merasakan pancaran kebahagiaan tersebut. Termasuk dapat merasa bahwa yang diusahakan memberi manfaat, sehingga lebih semangat dalam bekerja, lebih giat lagi mengupayakan agar listrik semakin andal, lebih peduli terhadap perusahaan, lebih cepat melayani pelanggan, serta lebih inovatif menghasilkan karya terbaik yang bisa bersinar dan menerangi hati dan jiwa.
waktu acara beliau berkesempatan menyerahkan derma atau sumbangan bagi masyarakat yang membutuhkan, berupa peralatan usaha dan
Memanfaatkan sempit sebelum berikutnya,
Light Up the Dream
85


-Bagian Sebelas--
LANCENG, SI MANIS SUMBER KEHIDUPAN
86
Pada program tersebut diberikan bantuan berupa peralatan usaha sesuai minat usaha pelanggan, tentunya yang paling mudah dan cepat menghasilkan pendapatan dan yang ada kaitannya dengan pemakaian listrik.
Pada kesempatan kehadiran Wadirut, diberikan hadiah blender untuk jualan juice dan modal dan bantuan setrika untuk usaha laundry dan modal usaha pada sejumlah penerima.
Saat Wadirut PLN Darmawan Prasojo menderma, rona bahagia terpancar diwajah penerima. Pada kesempatan itu, masyarakat menyampaikan rasa teruma kasih kepada PLN atas kepeduliannya bagi masyarakat yang kurang
mampu. Listrik sangat diidamkan oleh masyarakat dan peralatan usaha yang diberikan sangat membantu pekerjaan yang dijalani saat ini.
Sebuah desa dilereng Pegunungan Latimojong tepatnya di Jalan Seindin School, Desa Padang Lambe, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu menjulang tinggi. Disekitaran kawasan tersebut tampak sekelompok anak muda sedang bersiap- siap memanen hasil budidaya madu tawon Trigona SP (dikenal Lanceng kalau di Jawa atau lebah lulut kalau di Kalimantan).
Sebelumnya tawon ini dianggap sebagai hama yang banyak disekitar kampung itu oleh masyarakat setempat, tetapi setelah
Light Up the Dream


dibudidayakan menjadi sumber pendapatan bagi sebagaian masyarakat Padang Lampe. Usaha ini diprakarsai oleh Kelompok Tani Lestari dengan Ketua Surahmat, alumni Biologi Universitas hasanuddin Makassar.
Ketua Kelompok Tani Lestari, Surahmat, menceritakan awal mula merintis usaha ini dari diskusi warung kopi bersama teman-teman dan memanfaatkan potensi sekitar lingkungan. “Tak mudah membangun kelompok ini.
Kami hanya mengandalkan reruntuhan bangunan rumah yang dibedah oleh program pemerintah daerah untuk membuat box (kotak) lebah Trigona SP,” ujar Surahmat.
Budidaya Trigona SP kelompok tani Lestari ini dirintis pada akhir tahun 2017 lalu tanpa modal dan hanya memanfaatkan bahan dan potensi sekitar. “Alhamdulillah saat ini kami sudah produksi berkat bantuan CSR dari PT PLN,” ucapnya.
Bantuan CSR PLN ini merupakan kali kedua yang diterima oleh Kelompok Tani Lestari. Bantuan awal diterima pada Juni 2019 lalu oleh CSR PLN senilai Rp50 juta. “Sebelum dapat bantuan CSR PLN, kami hanya memiliki sekitar 20 box (kotak) madu. Setelah dapat bantuan, sekarang sudah ada sekitar 100 box yang tersebar di empat dusun di Desa Padang Lambe,” tegas Surahmat.
GM PLN UIW Sulselrabar, Ismail Deu, yang melihat langsung proses budidaya madu trigona ini sangat terkesan.“Sayapun kaget dengan adanya Kelompok Tani Lestari ini. Dan saya sangat surprise ada trigona yang sebelumnya dianggap hama
Light Up the Dream
87


oleh masyarakat, justru berbalik menjadi nilai ekonomi,” kata Ismail.
Diketahui madu ini sangat baik untuk kesehatan. Selain sebagai madu, sarang trigona ini juga sebagai sumber propolis.“Terima kasih kepada adik Surahmat sudah membawa dampak ekonomi untuk masyarakat. Ini satu kebanggaan PLN bisa membantu masyarakat di sini. Kami sangat support sekali. Kami akan terus membantu supaya menjadi kebanggaan desa ini,” tuturnya.
Ismail Deu juga berharap tak hanya 10 kelompok tani yang ikut membudidayakan madu Trigona, tapi kedepan Desa Padang Lambe ini bisa dikenal dengan desa madu trigona. Bantuan CSR PLN kali ini merupakan bantuan pelatihan dan pengembangan senilai Rp60 juta. “Kalau ada lagi desa seperti ini, kita akan bantu lewat CSR. Kita berusaha membantu masyarakat sekitar, apalagi kalau ini berkembang dengan baik bisa menjadi percontohan,”harapnya.
Ismail juga menceritakan,
hasil dari madu ini sudah
pernah diikutkan dalam
Festival Budaya PLN tingkat
Nasional. Peminat madu
inipun cukup banyak. Dengan
pengepakan yang cukup unik
didalam botol kecil dan
dipasarkan melalui sosial media. Saat mengunjungi langsung budidaya trigona, GM PLN UIW Sulselrabar juga menyicipi langsung madu trigona yang masih terbungkus sarang lebah Trigona SP.
Dari lokasi peternakan madu Trigona SP, rombongan menuju sebuah perkampungan di sekitar tambak Dusun Buntu Siapa,
Light Up the Dream
88


Desa Cimpu, Kecamatan Suli. Nampak beberapa rumah panggung sederhana berdiri dengan dinding papan yang sudah nampak rapuh.
Tangga rumah yang terlihat sederhana harus hati-hati melewatinya, agar tidak terpeleset. Hanya beberapa orang yang bisa ikut naik ke teras untuk menghindari kondisi yang tidak diinginkan.
Lelaki paruh baya diam menyaksikan kedatangan rombongan. Setelah diberikan masker, diajak oleh Mas Arif Manager ULP Bombana untuk mendekat di dekat kWh meter yang baru saja dipasang.
“Bapak, hari ini listrik dirumah bapak kita nyalakan bersama- sama. Hadir saat ini pimpinan kami, Pak Ismail Deu selaku GM PLN UIW Sulselrabar yang akan menyalakan langsung didampingi pak Kades. Mari sini pak kita nyalakan bersama” kataku
Wajah Pak Samsul datar dan sejak tadi diam saja. Saat diminta tanggapannya, beliau tidak percaya kalau hari ini rumahnya dipasangkan listriknya. Merasa tidak menghubungi siapapun dan tidak bayar apapun, tiba-tiba datang petugas PLN memasangkan kabel dan kWh meter untuk dinyalakan hari ini.
“Kami nanti bayar pakai apa ? kami tidak punya uang untuk pasang listrik,”kata Pak Samsul dengan wajah khawatir. Disampaikan bahwa listrik yang dipasangkan hari ini gratis, bantuan dari pegawai PLN. Jadi tidak perlu membayar apapun.
Mendengar hal itu, Pak Samsul sangat berterima kasih atas bantuan tersebut karena memang dia butuh penerangan. Selama ini masih pakai pelita, karena mau pasang listrik belum
Light Up the Dream
89


ada uang. Juga minta ke tetangga, tetapi karena listriknya kecil sering mati gak kuat.
“Sekali lagi terima kasih banyak Pak PLN. Alhamdulillah sudah ada kWH meter sendiri di rumah, impian yang sudah lama diidamkan akhirnya terwujud,”tuturnya. Ungkapan terima kasih dan rasa syukur yang dalam dari pelanggan tersebut yang beralamat di Dusun Buntu Siapa, Desa Cimpu, Kecamatan Suli ini yang baru saja mendapatkan bantuan listrik gratis dari pegawai PLN Belopa yang merupakan bagian program Light Up The Dream PLN.
Setelah sekian tahun menikmati penerangan hanya dengan cahaya pelita yang terkadang juga diselingi penerangan dari saluran listrik tetangga yang juga masih memiliki daya yang sangat terbatas..
Rasa syukur
pun
dan turut teman- Belopa dengan dan melistriki
bahagia
dirasakan
teman PLN
yang
keikhlasan,
semangat
bisa turut membantu dan berbagi kebahagiaan terhadap sesama khususnya terhadap masyarakat yang kondisi ekonominya masih tergolong kurang mampu.
Semoga berkah dan menjadikan motivasi buat insan PLN pada umumnya untuk senantiasa peduli dan berbagi kebahagiaan dengan sesama, serta menjadi energi positif bahwa PLN akan selalu hadir untuk kehidupan yang lebih baik.
Light Up the Dream
90


--Bagian Duabelas--
DAENG NGERO, DULU PEMABUK KINI MARBOD
91
Bau ikan bakar menyengat dipadu suara musik dan teriakan suara tak keruan. Itulah suasana pesta minuman keras yang sering kami dapati persis di belakang rumah setiap kunjungan mendadak ke Ballak Barakkaka ri Galesong (BBrG).
Di pekarangan rumah yang bersangkutan memang terdapat kafe dengan fasilitas seadanya berupa meja, kursi dan pembakaran ikan bibbikang tetapi cukup layak digunakan sebagai surga bagi peminum. Daeng Ngero sebagai pemilik dan penjual juga tertunjang hidupnya dengan keadaan ini.
Hanya saja sesungguhnya tempat ini menjadi sumber kegaduhan, karena pengunjung yang telah teler akibat minuman keras menjadi tak waras dan mengganggu ketertiban masyarakat lainnya.
Sekarang situasinya sudah sangat berbeda setelah berdirinya Masjid Al-Amin. Sang pemilik cafe Daeng Ngero telah diangkat sebagai Jannang Masigik Al-Amin atau Marbod dengan tugas utama membersihkan masjid dan sekitarnya, membunyikan speaker tanda telah masuk waktu shalat, azan pada setiap waktu shalat, merawat tanaman dan lainnya. Sementara Suri isterinya diangkat menjadi Jannang BBrG dengan tugas utama merawat, membersihkan BBrG, merawat tanaman dan melayani tamu, serta keluarga kecil kami pada saat kunjungan.
Rupanya ada beberapa orang tetangga mereka yang tadinya adalah pengunjung setia cafe telah ikut berubah pikiran mengikuti jejak Daeng Ngero, mengikuti shalat berjamaah lima waktu di Masjid Al-Amin.
Light Up the Dream


Masjid kecil yang tadinya hanya diperuntukkan salat waktu-waktu, ternyata sekarang telah dipakai untuk Salat Jumat berjamaah. Di masjid ini juga telah terbentuk majelis taklim
dan remaja masjid dengan berbagai kegiatan. Anggota mereka telah diajari membuat abon ikan, pengikat masker, kerajinan anyaman bambu, pemanfaatan limbah plastik menjadi tas cantik dan sebagainya.
Tujuan utamanya ialah agar mereka bisa hidup lebih produktif, sehingga membantu kesejahteraan ekonomi keluarga mereka. Sangat sulit mengubah pola perilaku masyarakat tetapi dengan contoh kongkrit yang ditunjukkan Daeng Ngero dan Suri, setidaknya membawa pengaruh yang signifikan sehingga anggota masyarakat yang lain dapat meninggalkan kebiasaan minum minuman keras. Sungguh suatu hidayah dari Allah SWT. Contoh kongkrit Daeng Ngero dan Suri seyogyanya menjadi sumber inspirasi bagi kita semua untuk mencegah sumber kejahatan dari hulunya.
Tanggung jawab sosial bagi keluarga kecil kami agar bagaimana upaya untuk memberikan jaminan kehidupan dasar bagi Daeng Ngero sekeluarga, sehingga dapat bertahan hidup dengan keadaannya yang terakhir ini.
Hari ini listrik Daeng Ngero dinyalakan, melalui program Light Up The Dream, sumbangan dari pegawai PLN Pak Hasyim Al Makkasary. Dengan senang dan bahagia menyaksikan petugas PLN memasang kabel dan meteran di rumahnya. Rupanya Tuhan mengabulkan doanya agar rumahnya mendapatkan listrik mandiri.
Light Up the Dream
92


--Bagian Tigabelas--
KADO AKHIR TAHUN PENUH MAKNA
93
“Terima kasih PLN, semoga jaya selalu dan terus melayani terbaik pada masyarakat,” kata Daeng Ngero penuh syukur.
Waktu menunjukkan pukul 05.32 WITA menit ketika mobil meninggalkan Kota Makassar menuju Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Jalan masih sepi karena masih pagi dan gerimis masih membasahi bumi.
Sejenak istirahat di Kabupaten Barru untuk buang air kecil dan salat dhuha, waktu menunjukkan pukul 07.15 WITA perjalanan dilanjutkan dan sampai di unit Polewali Mandar pukul 09.25 WITA. Pak Hendrik Maxwell Manager ULP dan Pak Setiawan Manager UP3 Mamuju rupanya sudah menunggu.
Setelah diperiksa suhu tubuh dan mencuci tangan, dipersilahkan masuk di ruang pelayanan untuk diskusi dengan teman-teman unit.
Diskusi terkait kegiatan operasional maupun pengembangan sumber daya kedepan, serta kesiapan milenial untuk menyongsong semua itu. Diskusi dilanjutkan di rumah makan sambil sarapan pagi bersama. Suasana santai menjadikan pembicaraan cair dan mengalir.
Setelah hampir 1 jam menunggu hidangan khas Polewali dihidangan dan dengan lahap semua menikmatinya. Karena sudah mendekati pukul 11 siang, ngobrol santai diakhir dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Mamasa. Jalan mendaki
Light Up the Dream


yang dilalui dipenuhi tikungan-tikungan tajam menyusuri perbukitan dan membelah hutan.
Maklumlah, Mamasa terletak di dataran tinggi yang ada di Sulawesi barat berbatasan dengan Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Kendaraan tidak bisa laju karena jalanan sempit dan banyak tikungan. Setelah hampir 3 jam perjalanan, sampai juga di Mamasa.
Bangunan berada di sepanjang tepi sungai membujur sejak batas kota hingga perkotaan. Rumah-rumah mempunyai arsitektur lengkung seperti rumah Toraja di Tana Toraja, ini karena mereka masih satu fam atau kedekatan budaya.
Kabupaten Mamasa terbentuk sejak tahun 2002 dimana terdiri dari 17 kecamatan, 13 kelurahan dan 181 desa. Penduduk asli Mamasa adalah suku mamasa yang merupakan sub suku dari suku Toraja. Rasio elektrifikasi (RE) total 95,20 % dimana rasio elektrifikasi PLN 49,58% dan non PLN 45,63% (menggunakan turbin (PL TM)/genset pribadi). Dikabupaten Mamasa juga terdapat 94 desa yang merupakan daerah 3T.
Dengan RE PLN yang rendah serta banyaknya daerah 3T, tidak menyurutkan semangat kami sebagai insan PLN untuk melistriki desa-desa pelosok. Jalurnya tentu memiliki medan sulit dan terjal, serta akses jalan kurang memadai untuk dilalui kendaraan. Ini dibuktikan sewaktu kami lakukan sosialisasi rencana pembangunan listrik di Desa Malimbong, masyarakat setempat menyambut kami dengan antusiasnya mereka berharap PLN segera melistriki desa mereka. Apalagi pembangkit turbin yang selama ini mereka pakai tidak memberikan kenyamanan sesuai harapan mereka.
Light Up the Dream
94


Dikabupaten Mamasa dikenal juga dengan tradisi unik yaitu tradisi Mebaba (penyembelihan kerbau pada saat upacara adat kematian) dan Mangngaro yang hanya ada di Nosu. Nosu merupakan kecamatan tertinggi di Sulbar, wilayah Nosu dikelilingi perbukitan dan hutan yang lebat suasananya sejuk dan dingin.
Nosu adalah Malinonya Sulawesi Barat, dipagi hari selalu diselimuti embun. Selain itu ada juga destinasi Wisata kuburan tua Minanga yang berusia ratusan tahun di perkampungan tradisional terpanjang di Mamasa, yakni
Desa Ballapeu, di Sesenapadang, wisata Kuburan Tedong- tedong di Kecamatan Balla, semuanya seperti di Toraja. Juga banyak tengkorak manusia yang sudah ratusan tahun.
Setelah menyusuri sungai cukup lama dan melewati pasar, sampai di kantor layanan Mamasa. Mas Hasbi selaku Manager ULP dan beberapa teman keluar ruangan dan mempersilahkan untuk masuk untuk diskusi. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 WITA kami minta ijin untuk melaksanakan sholah ke masjid terdekat di sekitar kantor unit Mamassa.
Di kantor layanan Mamasa memiliki pegawai 10 yang kesemuanya berasal dari luar Mamasa dan beberapa Alih Daya dari layanan teknik (yantek) billman dan mitra penyambungan baru atau penambahan daya.
Teman-teman Alih Daya ini sebagian besar adalah masyarakat setempat, sehingga memudahkan dalam komunikasi dan koordinasi. Masyarakat Mamasa sangat ramah, setiap
Light Up the Dream
95


berpapasan selalu menegur, padahal belum pernah ketemu dan mengenal sehingga menjadikan petugas di unit Mamasa lebih betah dan tidak merasa asing. Semua bersama-sama untuk memberikan layanan terbaik serta membangun kabupaten Mamasa.
Setelah berdiskusi dan semua pegawai memberikan masukan dan usulan, dilanjutkan dengan penyalaan listrik masyarakat yang tidak mampu di rumah Kakek David Sitaung dan Nenek Tasik beserta cucunya.
Tempatnya tidak terlalu jauh, dibelakang gereja. Instalasi dan SR telah ditarik oleh teman-teman, sudah dilaksanakan pengecekan, keluar SLO dan siap dinyalakan. Disaksikan oleh kakek, anak dan cucunya, kakek David Sitaung diajak bersama sama menyalakan listriknya. Tepuk tangan dan ungkapan suka cita terlihat dari keluarga ini sebagai kado perayaan malam tahun baru. Selama ini untuk penerangan pakai pelita dan masak pakai kayu. Keluarga kakek David tidak bisa menyambung listrik karena keterbatasan ekonominya. Pernah minta ke tetangga satu lampu tetapi saat ini tidak lagi.
Dengan adanya listrik mandiri
maka rumahnya menjadi lebih
terang, anaknya bisa belajar
dan nanti kalau masak akan
pakai listrik karena dianggap
lebih murah. Kado tahun baru
yang sangat mengesankan.
Saat dimintai tanggapan, hanya air mata yang berlinang dan isak tangis yang keluar. Beberapa kali mengusap air mata tanda bahagia karena listrik yang telah lama dinanti saat ini sudah
Light Up the Dream
96


dimiliki, “Terima kasih PLN, akhirnya kami bisa menikmati listrik,” kata Kakek David.
Berikutnya, penyalaan dirumah Nenek Tasik yang tinggal sendirian. Dirumahnya ada satu lampu yang dikasih dari cucunya yang tinggal disebelah rumahnya. Nenek merasa sangat bahagia punya listrik sendiri dan dipasangkan oleh orang orang PLN. Pegawai PLN sangat peduli masyarakat tidak mampu dengan menyambungkan secara gratis.
Kado awal tahun yang tidak akan dilupakan. Ini akan sangat membantu dan menolong. Air mata yang terus mengalir bahkan tidak mampu lagi berkata-kata. Sambil menyembunyikan wajah dibalik pintu, terdengar suara tangis haru. Kebahagiaan tiada tara atas bantuan tulus dari pegawai PLN. Rupanya inilah jawaban dari doa yang selama ini dipanjatkan..
Setelah selesai penyalaan, segera pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Makale Sulawesi Selatan. Rencana awal akan kembali ke Polewali dan lanjut ke Pinrang dengan waktu tempuh sekitar 7-8 jam, dan Jumat pagi baru ke Makale. Karena ada info jalan tembus dari Mamasa ke Makale atau Rantepao bisa dilalui dengan waktu sekitar 3 jam maka diputuskan melewati jalan ini walaupun belum pernah ada yang melewati. Jalanan tanah membelah dan menyusuri pegunungan dataran tinggi yang ada di perbatasan Sulawesi barat dan Sulawesi Selatan.
Sementara Pak Setiyawan Manager UP3 Mamuju bersama rombongan kembali melalui jalan tembus menuju Mamuju. Perjalanan disambut panorama keindahan alam Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), yang memang tidak diragukan lagi. Daerah yang ditetapkan sebagai daerah tujuan
Light Up the Dream
97


wisata di provinsi ke-33 ini dianugerahi keindahan alam yang mempesona.
Berada di daerah pegunungan, sebagian besar potensi wisata alam di Mamasa masih asri dan alami. Tidak mengherankan jika banyak spot wisata yang bisa dikunjungi ketika anda berkunjung ke daerah yang memiliki julukan Kondosapata itu.
Salah satu keindahan alam dan destinasi wisata baru di Mamasa yakni puncak Tanete Orong (Gunung Orong) di Desa Malimbong, Kecamatan Messawa, yang baru saja ditemukan warga setempat.
Di puncak Tanete Orong, pengunjung dapat menikmati hamparan awan di pagi hari sekitar pukul 05.30 WITA sampai pukul 09.00 WITA. Di tempat ini, mata pengunjung akan
dimanjakan dengan hamparan awan yang mengelilingi puncak tersebut.
Puncak Tanete Orong dapat ditempuh dengan perjalanan darat sekitar kurang lebih 150 kilometer atau sekitar 5 hingga 6 jam dari ibu kota Sulawesi Barat, Mamuju. Dari pusat Kota Mamasa, perjalanan kurang lebih 50 kilometer atau sekitar 1 jam. Puncak Tanete Orong merupakan destinasi wisata alam yang baru ditemukan di Mamasa.
Untuk menuju puncak Tanete Orong, pengunjung dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat sampai di Desa Malimbong karena akses jalannya cukup bagus. Dari Desa Malimbong, pengunjung akan mulai berjalan kaki menuju
Light Up the Dream
98


puncak Tanete Orong. Karena terbilang masih baru dan belum dijamah, akses jalan menuju puncak cukup terjal dan curam. Pengunjung disarankan untuk menggunakan sepatu gunung. Perjalanan dari kaki Tanete Orong sampai ke puncak memakan waktu sekitar 1,5 jam.
Puncak Tanete Orong terbilang masih sangat asri, karena belum ramai dikunjungi wisatawan dari luar. Olehnya itu, penduduk sekitar berharap kepada agar wisatawan yang ingin berkunjung ke daerah ini tetap menjaga keasriannya serta tidak membuang sampah di sembarang tempat.
"Tentunya ini menjadi satu kesyukuran bagi kami, karena di daerah kami memiliki wisata yang sangat indah. Tentu kami berharap kepada pengunjung yang mau datang ke sini untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat," kata salah seorang Tokoh Pemuda Messawa, Osmod Ompo.
Salah satu pengunjung dari Kabupaten Mamuju, Firdaus, yang juga tergabung dalam Komunitas Mamasa Berkasih mengaku sangat terpukau melihat keindahan hamparan awan yang mengelilingi puncak Tanete Orong. Ia merasa perjalanannya yang cukup jauh dari Mamuju terbayarkan dengan keindahan alam sekitar. Daus pun berharap warga dan pengunjung yang datang ke Puncak Tanete Orong untuk tetap menjaga kelestarian dan kebersihan di kawasan tersebut.
"Tinggalkan kenangan di sini (Tanete Orong), bawa pulang sampahmu. Mari kita jaga keindahan alam dengan tidak membuang sampah," ujarnya.
Light Up the Dream
99


--Bagian Empatbelas--
TAHUN BARU, KABAR BARU PENUH HARU DI KETE KESU
100
Kete’ Kesu merupakan wisata favorit terletak di provinsi Sulawesi Selatan kawasan Kab. Toraja Utara. Kete’ Kesu adalah suatu desa wisata di kawasan Toraja yang dikenal karena adat dan kehidupan tradisional masyarakat dapat ditemukan di kawasan ini. Di dalam Ketekesu terdapat peninggalan purbakala berupa kuburan batu yang diperkirakan berusia 500 tahun lebih. Di dalam kubur batu yang menyerupai sampan atau perahu tersebut, tersimpan sisa-sisa tengkorak dan tulang manusia.
Hampir semua kubur batu diletakkan menggantung di tebing atau gua. Selain itu, di beberapa tempat juga terlihat kuburan megah milik bangsawan yang telah meninggal dunia.Terletak 4 km di bagian tenggara Rantepao, Kete’ Kesu terdiri dari padang rumput dan padi yang mengelilingi rumah adat Toraja, yaitu Tongkonan. Sebagian rumah adat yang terletak di desa ini diperkirakan berumur sekitar 300 tahun dan letakknya berhadapan dengan lumbung padi kecil.
Tidak hanya terdiri dari 6 Tongkonan dan 12 lumbung padi, Kete’Kesu juga memiliki tanah seremonial yang dihiasi oleh 20 menhir. Di dalam salah satu Tongkonan terdapat museum yang berisi koleksi benda adat kuno Toraja, mulai dari ukiran, senjata tajam, keramik, patung, kain dari Cina, dan bendera Merah Putih yang konon disebutkan merupakan bendera pertama yang dikibarkan di Toraja. Selain itu, di dalam museum ini juga terdapat pusat pelatihan pembuatan kerajinan dari bambu.
Light Up the Dream


Kete’ Kesu merupakan kawasan cagar budaya dan pusat berbagai upacara adat Toraja yang meliputi pemakaman adat yang dirayakan dengan meriah (Rambu Solo), upacara memasuki rumah adat baru (Rambu Tuka), serta berbagai ritual adat lainnya. Pada bulan Juni - Desember, berbagai upacara dan perayaat adat umumnya dilakukan oleh masyarakat sekita di lokasi ini.
Beberapa makam adat di Kete’ Kesu telah ditutup dengan jeruji besi untuk mencegah pencurian patung jenazah adat (tau-tau).
Beberapa jenazah dapat dilihat jelas dari luar bersama dengan harta yang dikuburkan di dalamnya. Peti mati tradisional (erong) yang terdapat di desa ini tidak hanya berbentuk seperti perahu, namun juga ada yang berbentuk kerbau dan babi dengan pahatan atau ukiran yang menghiasi.
Kete’ Kesu memang unik. Begitu memasuki lokasi ini, berderet tongkonan dan alang sura yang saling berhadapan. Tongkonan adalah rumah adat Toraja, sedangkan alang sura merupakan lumbung padi. Tongkonan-tongkonan di Kete’ Kesu memiliki ukiran yang indah. Tanduk kerbau berderet di depannya, menandakan tingginya status sosial si pemilik rumah.Tongkonan dan alang sura dimiliki secara turun temurun.
Tongkonan-tongkonan di Kete’ Kesu sudah tua, bahkan ada yang diperkirakan berumur sekitar 300 tahun. Atapnya yang terbuat dari susunan bambu sudah ditumbuhi rumput liar. Namun, pemiliknya sengaja tidak membersihkannya. Rumput
Light Up the Dream
101


ini bisa berguna untuk mencegah kebocoran dari air hujan. Selain deretan tongkonan dan alang sura, kita juga bisa melihat ukiran dan pahatan patung di Kete’ Kesu. Beberapa penduduk desa memang ahli mengukir dan memahat patung.
Mereka juga terbiasa membuat tau-tau , patung yang digunakan untuk upacara pemakaman dalam adat Toraja. Mereka juga sering menggunakan keahlian untuk mengukir peti mati dan rumah adat. Di belakang deretan tongkonan, ada kompleks pemakaman yang berdinding batu kapur. Konon, makam- makam tua di sini berumur hingga 700 tahun.
Tulang-tulang dan tengkorak berserakan di dalam gua dan di sekitar pemakaman. Peti-peti mati atau erong dipahat menyerupai bentuk perahu, kerbau, dan babi. Ada juga patane atau makam modern yang berbentuk rumah-
rumahan. Puluhan tau-tau yang membisu, terkunci di dalam sebuah ruangan khusus. Kalau tidak dikunci, ada saja orang yang berniat jahat dan mencuri tau-tau itu. Kete’ Kesu memang salah satu warisan Toraja yang istimewa. Kete’ Kesu telah menyimpan banyak cerita tentang budaya Toraja.
Malam ini sambil menikmati hidangan yang sudah disiapkan bersama teman teman PLN ULP Rantepao, mengikuti video conference (vicon) keandalan menyambut tahun baru dengan jajaran Manajemen PLN UIW Sulselrabar.
Pak Awaluddin Hafidz selaku Genaral Manager memimpin langsung dari Control Command Center (CCC) yang ada di PLN UP3 Makassar Selatan bersama jajaran manajemen. Seluruh
Light Up the Dream
102


unit melaporkan kondisi kelistrikan yang ada di daerah masing masing.
Alhamdulillah semua aman terkendali termasuk yang ada di Rantepao. Acara vicon selesai dan dilanjutkan makan bersama dalam suasana penuh keakraban sambil diskusi ringa,n serta menampung berbagai usulan serta masukan. Seperti pada kebanyakan unit PLN, 8 dari 10 Pegawai PLN ULP Rantepao adalah anak rantauan, karena bagi Pegawai PLN kalimat “bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia” adalah salah satu ikrarnya, dan ikrar inilah yang akhirnya mempertemukan kami di Toraja.
Momen kebersamaan pada acara Tahun Baru seperti ini tentu akan menjadi kenangan tersendiri, karena dari berbagai penjuru kami bersama berkumpul pada malam itu bercerita bagaimana hari-hari dilalui selama di PLN, bagaimana suka duka pekerjaan suka duka di perantauan sembari menikmati perayaan Tahun Baru di Toraja, tanahnya para Raja.
Walaupun dalam suasana terbatas karena adanya larangan pelaksanaan perayaan Tahun Baru selama masa pandemi, suara dentuman menggelegar masih terdengar di depan penginapan.
Rupanya penyalaan kembang api menandai pergantian tahun tetap dilaksanakan. Walaupun jauh sekali jika dibandingkan tahun tahun sebelumnya, dimana jalanan ramai dengan masyarakat yang menikmati berbagai pertunjukan. Sebaliknya, malam ini jalanan terlihat sepi. Kami parkir tak ada pesta kembang api, sehingga segera saja istirahat. Ternyata gelegar menggema memecahkan keheningan malam di kota ini, bersautan untuk menyemarakkan suasana, menghiasi langit yang sedikit gerimis mengiringi.
Light Up the Dream
103


Pagi ini perjalanan dilanjutkan menuju daerah Sa’dan, Toraja Utara untuk menyalakan listrik dua warga yang terletak disekitar pasar desa, tepatnya di To’Karau. Pak Rudi Amry Parrara dan Ibu Hajarah. Pak Rudi kesehariannya jualan di pasar dan Ibu Hajarah sebagai penjual bakso. Kios sekaligus rumah Pak Rudi yang sudah tidak layak akan segera di rehab setelah mendapatkan bantuan dari keluarganya, sehingga listrik tersebut sangat dibutuhkan termasuk untuk membantu usahanya.
Demikian juga Ibu Hajarah yang jualan bakso, listrik sangat membantu usahanya untuk penggilingan daging maupun untuk penerangan warungnya, sehingga waktu jualan menjadi lebih lama, terang dan pembeli juga merasa lebih senang.
“Terima kasih PLN, kami bisa menikmati listrik. Semoga bisa membantu keberlangsungan usaha kami,” ungkapnya penuh haru. Dengan adanya listrik ini, biaya yang dikeluarkan juga semakin murah dibandingkan. Sebelumnya harus membayar iuran rutin kepada tetangganya ketika ingin menggunakan lampu di rumahnya.
Tim Rantepao sangat sigap menyiapkan pelaksanaan penyalaan ini. Semua merasa bersemangat dan ingin ikut ambil bagian dalam proses penyalaan ini. Instalasi rumah dan pemasangan APP (Alat Pengukur dan Pembatas) semuanya dipasang bersamaan dengan perayaan Tahun Baru tepatnya pukul 00.00 WITA. Tujuannya agar keesokan paginya tepat di awal tahun Pak Rudi dan Bu Hajarah dapat menikmati listrik
Light Up the Dream
104


--Bagian Limabelas--
MENYALAKAN ASA JULIUS DI RANTETAYO
105
baru dari PLN. Itulah salah satu bukti insan PLN selalu bersemangat untuk melistriki dan membantu masyarakat yang membutuhkan, sekaligus senantiasa berusaha untuk meningkatkan layanan kepada masyarakat.
Londa menjadi salah satu objek wisata favorit di Kabupaten. Toraja Utara. Objek wisata ini merupakan sebuah makam yang terletak di sebuah tebing batu. Di tebing tersebut, terdapat gua- gua yang berfungsi sebagai makam. Di gua tersebut, terdapat peti mati dan jenazah, tulang, maupun tengkorak yang berusia ratusan tahun.
Selain itu, ketika berkunjung ke Londa, wisatawan juga akan disuguhkan penampakan patung yang berjajar di bibir tebing batu. Patung-patung ini sering disebut Tau Tau oleh masyarakat setempat. Patung tersebut tidak lain merupakan patung dari jenazah yang dimakamkan di Londa.
Selain di Londa, wisatawan juga dapat menemukan pemakaman tebing batu di Kete’ Kesu. Tempat ini hanya berjarak 4 km dari Kota Rantepao. Selain pemakaman, pengunjung juga dapat melihat rumah adat Tongkonan yang menjadi kebanggaan masyarakat Toraja. Rumah adat ini tidak lain merupakan tempat penyimpanan sementara jenazah sebelum dimakamkan.
Light Up the Dream


Click to View FlipBook Version