The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by perpustakaansmakpenabur, 2022-05-11 02:50:46

OUR ALTERNATE ENDING - AMANDA CHRISTABEL (12 IPS)

NOVEL#FICTION

“Morning Reii…”, sapa Audrey manis
“Morning, kenapa lu senyum-senyum kaya
gitu?, kesambet ya lu?”, jawab Reina
“Enak aja kesambet, Reii…, gue minjem pr
lu ya…, Reina kan baik….”, bujuk Audrey
“Ada maunya aja lu baek, makanya dari tadi

gue udah mencium niat-niat tersembunyi dari
lu nih”, kata Reina seraya mengambil buku pr

nya dan meminjamkannya sama Audrey
“Maacihh”, jawab

Audrey

Selesai Audrey menyalin jawaban dari Reina,

Pak Man membunyikan bel, yang membuat

semua anak yang baru datang segera berlari

menuju kelas mereka. Disertai pengumuman

dari speaker kelas.
“Selamat pagi anak-anak, di harapkan semua

anak-anak dari kelas 12 IPA-1 dan 12 IPA-2,

harap segera turun ke lapangan karena
pelajaran olahraga akan segera dimulai”

Mendengar pengumuman seluruh anak IPA-1

dan IPA-2 segera turun menuju lapangan.

Sesampainya di lapangan, mereka segera

berbaris
“Anak-anak, kalian lari keliling lapangan

dulu, bapak mau ke ruang guru ada buku

yang harus bapak ambil”, kata guru olahraga
Mereka segera berlari keliling lapangan, dan
Brenda segera menjalankan aksinya. Dia
segera berlari mendekati Reina dan…

BRAKK
Brenda mendorong Reina sampai jatuh ke
lapangan
“Eh, lu gila ya!, anak baru kok belagu!.
Emang lu fikir lu siapa?!”, teriak Brenda
kencang
“Lu keganjenan banget ya deket-deket sama
cowok gue!!”,
Reina hanya bisa meringis kesakitan
Brenda berjongkok menyamai tubuh Reina
yang
tersungkur
Brenda menangkup keras pipi Reina
“Heh!, jawab dong!, Kan gue nanya, emang
lu siapa?!, ngerebut pacar gue, hah?!”,
“Brenda sakit Brenda…”,Reina tidak bisa
berbuat apa-apa lagi, dia hanya meringis
kesakitan
Tidak mendengar rintihan Reina, Brenda
segera menampar pipi mulus milik Reina,
yang membuat gadis itu kembali meringis
kesakitan

Kejadian itu membuat heboh dan menjadi
tontonan seluruh anak SMA Saint Dalton,
Rendy melihat kejadian itu dari pinggir
lapangan, dan dia tersadar bahwa cewek yang
disakiti Brenda itu Reina. Rendy segera
berlari menemui Reina dan melerai mereka

“Brenda udah!!, Lu gila ya?!, kesian itu
Reina nya kesakitan”, sentak Rendy
Melihat Reina dibela, Brenda segera
menjenggut rambut Reina keras
“Apa kesian?!, sama anak belagu kayak
dia?!, elu kali yang gila!”
“Udah Brenda!!, Gue udah muak! lu
perlakuin Reina kaya gini!” Rendy berteriak
di depan muka Brenda yang membuat Brenda
semakin marah
Rendy segera membantu Reina berdiri
dengan sisa tenaga nya
“Rei lu gak papa?, Gue bawa ke UKS ya…”,
ucap Rendy
“Udah!! Gue aja yang bawa dia ke UKS,
ucap Bryan yang tiba-tiba datang, seraya
menarik tangan Reina dan melihat Rendy
tajam
Brenda berusah melepas genggaman tangan
Bryan

“Bryan kamu ngapain sih megang tangan
dia!”, gerutu Brenda

Rendy secara reflek mennyekal tangan Reina
untuk menghentikan Bryan membawannya ke
UKS.
Melihat tangan Reina di pegang,
dihempaskannya tangan Rendy ke udara

Bryan melirik Rendy dengan tajam “Reina
aman sama gue!”, Bryan menekankan
nadanya, dan seraya berjalan menuju UKS
dengan tangan yang masih setia memegang
Reina
“Bryan!, kamu gak usah pegang-pegang
tangan dia!, Bryan!”, teriak
Brenda

Melihat tangan nya dipegang, membuat pipi
Reina merah
merona
“Oh My God!, tangan gue dipegang sama
Bryan!, kayaknya luka gue udah sembuh
deh…, gak usah diobatin…”, batin
Reina

Sesampainya di UKS, Bryan segera
menyuruh Reina duduk dan dia segera

mencari obat untuk mengobati

Reina
“Mana sini kakinya gue obatin”, kata Bryan

seraya mengoleskan obat merah ke lutut

Reina
“Auu, sakit…”, kata Reina
“Iya, tahan
dulu…”,
“Tadi rambutnya rontok gak?, abis ditarik
sama Brenda?”, kata Bryan dengan reflek

memegang kepala

Reina
“Oh My God!, ganteng banget ciptaan
Tuhan…, kapan lagi gue bisa sedeket ini

sama Bryan, di perhatiin gini sama Bryan.
Kalau gini, gue sakit terus gak papa deh…,
rela gue…”, teriak Reina dalam hatinya

Bryan menatap Reina dengan tatapan

khawatir.
“Rambut nya gak rontok kan…?”, Bryan

kembali memastikan bahwa rambut Reina

gak ada yang rontok. Dan dengan cepat Reina

tersadar dari lamunannya, dan menjawab

pertanyaan Bryan dengan menutupi
kegugupannya. “E-enggak-enggak kok…,
gue gak papa”,

“Aduhhh.. Reina sabar, sabar gak boleh

teriak. Harus di control, harus dijaga
gengsinya, gak boleh-gak boleh…”, Reina

berbicara sendiri di

benaknya
“Syukurlah…”, kata Bryan sambil mencubit

hidung Reina gemas
“Ihhh Bryan, apaan sih, nyebelin banget…”,

kata Reina
“Nyebelin tapi kangen kan…”, jawab Bryan
“Kaya ada yang ngomong…, tapi siapa ya…,
hahaha”, tawa Reina
“Gue seneng Rei ngeliatin lu kalau lagi
ketawa, daripada ngeliat lu nangis...”, kata

Bryan yang sukses membuat Reina tersipu

malu
“Iya, gue gak bakal nangis lagi, biar lu
seneng”, kata Reina dengan senyum

manisnya

Bryan sukses di buat baper sama senyum

manisnya Reina

Rendy hanya bisa mengintip lewat pintu UKS

yang sedikit terbuka, Rendy hanya bisa

marah dalam hati tanpa bisa berbuat apa-apa,

karena keadaan hanya bisa membuat dia

sebagai pemeran pengganti

“Rei…, aku suka sama kamu”, kata Bryan dia

sangat malu untuk mengatakannya
“Hah?”, Reina sontak kaget denger Bryan

ngomong gitu
“Aku tau ini emang kesannya cepet, tapi aku

beneran suka kok sama kamu, aku tulus. Aku

janji, gak bakal ada fans aku yang bakal bully

kamu, atau liatin kamu kaya paparazzi nanti

aku bilangin mereka, kalau perlu aku marahin
mereka semua “, kata Bryan dengan nada

yang terkesan lucu untuk diucapkan seorang

idola sekolah
“Aku mau”, jawab Reina
“Kamu tadi bilang mau?”,pertanyaan Bryan

membuat Reina hanya mengangguk malu

“Yes!,yes!, yaudah entar aku anterin pulang

ya, pacar”, kata Bryan yang bersorak

kegiranggan “Iya”, jawab

reina, pipinya sudah menjadi merah seperti

tomat

***

“Teng…Teng…Teng”, bel pulang sekolah
sudah berbunyi. Anak-anak segera keluar dari
kelas mereka dan melepas penat dari hari
yang melelahkan ini. Termasuk pasangan

baru yang satu ini nih. Bryan dan Reina,
sesuai janji yang tadi Reina pulang dianterin
sama Bryan
“Byeee Audrey!”, kata reina sambil
melambaikan tangannya kegirangan dari atas
motornya Bryan

“Byee hati-hati Rei”, jawab Audrey, sambil
membalas lambaian tangan
Reina
Rendy hanya melihat mereka dengan
perasaan marah dan cemburu, tak ada cara
lagi untuk mendekati Reina, karena Reina
udah sama yang lain, mukanya terlihat pasrah
“Ren!, lu kenapa mukanya asem gitu?”, tanya
Audrey
“Drey, gue mau buat pengakuan sama lu”,
kata Rendy

“Gue sebernernya suka sama Reina, tapi
semuanya udah gak mungkin lagi untuk gue
dapetin Reina, mereka udah pacaran. Gue gak
mungkin merusak persahabatan gue sama
Bryan untuk dapetin orang yang gak mungkin
bisa gue dapetin”, kata Rendy
“Lu yang sabar ya, masih banyak kok cewek
yang masih peduli dan sayang sama lu,

mungkin lu gak jodoh sama dia. Cari cewek
baru dong “, jawab Audrey
“Lu pikir cari cewek baru itu gampang?,

udahlah gue cabut!, gak berfaedah curhat
sama lu”, kata Rendy sambil mengambil

helm dan jaket nya
“Hihh!, enak aja, gue mau ikuttt, anteDrey
guee”, jawab Audrey
“Enggak”, kata Rendy dan segera menuju

motornya dan melesat meninggalkan Audrey

sendiri

Sore itu motor ninja merah milik Bryan

membelah jalan Jakarta dengan kecepatan

sedang
“Rei, makasih ya”, kata

Bryan
“Makasih kenapa?”, tanya Reina bingung
“Makasih karna kamu, satu mimpi aku
tercapai”, jawab Bryan
“Sama-sama”, kata Reina yang tersipu

dengan pipi nya yang sudah merah
“Kamu kayaknya suka baca buku puisi ya?,
makanya bahasa nya puitis kaya gitu”,lanjut

Reina
“Enggak lah, aku tuh ngomong dari hati yang
paling dalam”, kata Bryan

“Ehmmm, gombal”, jawab Reina
“Kok gombal sih?, kan aku beneran tulus
ngomongnya”, kata Bryan
“Iyain aja dehhh”, jawab Reina

Mereka larut dalam percakapan seru mereka.

Tak terasa, motor ninja merah milik Bryan

sudah sampai di depan rumah putih milik

Reina. Dan Icha keliatan nya sudah

menunggu di depan rumah.
“Makasih ya”, kata Reina
“Iya sama-sama, besok aku jemput lagi”,

jawab Bryan
“Iya”, kata Reina
“Siapa tuh kak?, calon kakak ipar ya?”, tanya

Icha
“Apaan sih Cha…” , jawab Reina
“Doain ya Cha, biar langgeng”, sahut

Bryan
“Iya, nanti Icha doain”, jawab Icha
“Aminn, aku balik dulu ya… bye Reina, bye
Cha”, kata Bryan seraya kembali menginjak

gas dan segera melesat menuju rumahnya
“Cieee, udah aku kamuuu, kayaknya ada
yang jadian nihh”, goda Icha
“Ya gitu dehhh”, jawab Reina

“Maamaaa kak Reina udah punya pacarrr!!,
Mama!”, teriak Icha sambil berlari masuk ke

rumah
“Aduhhh Ichaaa, jangan teriak-teriak
ngomongnyaaa”, sahut Reina sambil berlari

mengikuti Icha
“Kalian kenapa sih kok teriak-teriak?”, tanya

mama
“Itu mah kak Reina udah punya pacar”,

jawab Icha
“Wahh anak mama udah gede, yang mana sih
orang nya?, ganteng gak?”, tanya mama
“Itu mah yang tadi nganteDrey kak Reina
pake motor, ganteng banget mahh”, jawab

Icha
“Iya gak kak?”, lanjut Icha menggoda Reina
“Ichaa, mamaa”, jawab Reina seraya

memajukkan bibirnya

“Aduhh ada yang ngambekk”, goda

Icha
“Udah ah kalian, Reina kamu mandi gihh…,
nanti kita gosip lagi ya Cha”, kata mama
“Siap ma”, jawab

Icha

Reina segera menuju kamarnya dengan

senyuman tersungging di bibirnya

***

Pagi ini sesuai janji nya, Bryan menjemput
Reina di rumahnya. Melihat Bryan datang,
Reina segera berlari dan menaiki motornya.
Sedangkan mama dan papanya hanya melihat
dari jendela.
“Ma, itu anak siapa sih?, kok sering banget
ke rumah buat jemput Reina”, tanya papa
Reina
“Oo, itu pacar nya Reina pa…, keliatan nya
anak nya baik pa”, jawab mama Reina
“Itu kan menurut mama, kalau papa gak
yakin sama anak itu”, kata papa Reina
“Yaudahlah pa, kan itu keputusan nya Reina.
Selama Reina bahagia, ya kita harus dukung,
yaudah mama mau ke dapur dulu”, kata
mama Reina dan segera melenggang pergi
menuju dapur, sedangkan papanya masih
tetap memikirkan hubungan anak sulungnya
itu.

Sesampainya disekolah, mereka segera
menjadi pusat perhatian satu sekolah, karena
berita bahwa sang idola sekolah, Bryan telah
berpacaran dengan anak baru yaitu Reina

sudah tersebar di laman sekolah. Dan
membuat semua orang kaget dan histeris,
termasuk geng sang Queen Be.

Dan tatapan paparazzi itu kembali
mengahantui Reina, tapi Reina berusaha
untuk tidak menghindarinya, karena selama
dia menjadi pacar nya Bryan, dia akan tetap
mendapatkan sorotan mata itu terus.
“Itu rumor di timeline sekolah beneran tah?”
“Kayaknya mereka beneran pacaran deh”
“Oh My God!, Oh My God!. Panas!, gue
kepanasaan, panas!!”
“Sumpeh gue masih belom percaya kalau my
baby, hunny, bunny sweety, pacaran sama
anak baru yang belagu itu,,!. Aduhh, gue
pengen pingsan…”, ujar Brenda seakan-
seakan dia mau merebahkan tubuhnya ke
tanah

“Aduh, aduh Brendaa…, jangan pingsan
disini dongg!. Udah ayok kita ke kelas aja”,
kata Clara sambil membopong Brenda
menuju kelas bersama anggota geng nya yang
lain
“Kayaknya mereka bakal jadi pasangan yang
paling heboh di sekolah deh. Kontroversial”

“Tapi kayaknya mereka lucu gitu dehh”
“Gue akan berusaha bahagia buat my bebeb,
kalau dia bahagia gue juga bakal bahagia.
Walaupun gue gak relaaa, Bryaann”

Karena mereka tidak mau mendengar semua
celotehan murid tentang mereka, Reina dan
Bryan segera berlari menuju kelas mereka
dan menerobos semua kerumunan yang
mengelilingi mereka. Mereka sangat lelah
dikerumini orang-orang dengan seribu
pertanyaan yang sangat berisik.

Di tengah jalan mereka bertemu Audrey dan
Rendy yang sedang berjalan menyusuri
koriodor.

“Cieee, ada pasangan baru nihh, cuit cuitt.
Sumpeh gw gak percaya pas baca berita
kalian pacaran di timeline sekolah. Gue
langsung lompat dari tempat tidur pas baca
beritanya”, kata Audrey heboh
sendiri
“Congrast ya bro…, long last”, kata Rendy,
walaupun dalam hatinya dia sulit sekali
mengatakannya
“Thanks bro”, jawab
Bryan

“Jangan lupa pj ya…”, kata Audrey seraya
menarik tangan Rendy yang masih
memandangi Reina dengan tatapan sendu,
dan meninggalkan mereka berdua.
Reina dan Bryan segera masuk ke kelas
karena sebentar lagi bel masuk akan
dibunyikan

***

Empat pelajaran pertama hari ini telah
berakhir dengan baik, Pak Man sudah
membunyikan bel istirahat. Semua anak yang
suntuk karena pelajaran pertama, segera
keluar menuju kantin. Termasuk Reina dan
Bryan, pasangan yang lagi hot saat ini segera
menuju kantin dengan bekal makan siang
ditangannya, dan mereka segera mencari
tempat duduk dan duduk disitu. Di meja yang
terpisah dari Audrey dan Rendy, dan Rendy
hanya bisa meratapi nasibnya sambil melihat
mereka berdua
bersama.

Reina meletakkan bekal yang ia bawa ke atas
meja “Taraa, aku bawa bakal, kita makan
ya…”
“Wihhh, apa tuhh, emang kamu yang masak

sendiri?”, goda Bryan
“Iya dong…, tapi dibantuin mama sih…,
hehe. Kamu coba ya…”, kata Reina
“Aaaa”, kata Bryan seraya membuka

mulutnya lebar, Reina segera menyuapinya
“Ehmm, bilang sama mama kamu
masakannya enak!”, seru Bryan sambil

tersenyum manis menunjukkan lesung

pipitnya
“Nanti aku bilangin, tapi kan ini juga
termasuk masakkan akuu”, kata Reina
“Iyaa, yaudah sini cepet buka mulutnya aku
suapin”, kata Bryan seraya menyuapi Reina

Di meja lain, Rendy terlihat pasrah, sekaligus

cemburu, melihat mereka tertawa bersama
“Yang sabar ya Ren…”, kata Audrey sambil

mengelus pundak Rendy
“mungkin lu harus nyerah, karna semakin

keras lu coba, semakin sakit. Relain aja
Ren”,lanjut Audrey
“Tapi, gue gak bisa relain dia gitu aja…”,

kata Rendy
“Mungkin dia bukan jodoh lu, kalau takdir

udah bilang lu bukan buat dia, ya emang

selamanya lu gak sama dia. Masih banyak

kok cewek di luar sana yang peduli dan baik

sama lo, tunggu aja, pasti Tuhan kasih ya
terbaik kok”, kata Audrey
“Amin, udah gue mau ke taman dulu, disana
pemandangan nya lebih bagus daripada
disini”, kata Rendy dan pergi menuju taman
belakang sekolah dan lagi-lagi meninggalkan
Audrey sendiri.
Di sisi lain, bukan hanya Rendy yang kesal
dengan kebersamaan mereka, tapi juga
Brenda. Brenda berdecak sebal dengan muka
merah padam saat melihat mereka bersama.
“Sumpah, gue gak bakal tinggal diam,
apapun caranya bakal gue lakuin buat dapetin
Bryan lagi”, kata Brenda marah

Sedangkan di sisi lain, di taman belakang
sekolah. Rendy terlihat duduk frustrasi, dia
mengacak-ngacakan rambutnya sendiri. Dia
terlihat sangat marah, karena Bryan dan
Reina sudah resmi berpacaran.
“ARGHH”, teriak Rendy frustasi
“Kenapa sih, cinta gue gak berbalas?!,
ARGHH”, marah Rendy

***

Bel sekolah berbunyi, itu menandakan sudah
waktunya pulang sekolah. Laki-laki berambut

coklat itu pun segera mengambil jaket nya
dan pulang mengendarai motornya dengan
wajah merah padam, siapa lagi kalau bukan
Rendy. Hari ini Rendy dibakar api cemburu
karena Reina dan Bryan sudah pacaran.
Rendy adalah anak yang agak tempramental,
dia kadang kurang mengontrol emosinya.
Fikiran dia sangat kacau, dia sedang terbawa
emosi sekarang, dia mengendarai motornya
ugal-ugalan.

“Semakin keras usaha aku buat deketin
kamu, semakin pupus harapan aku buat
dapetin kamu. Karna apapun caranya kamu
gak akan pernah bisa aku milikkin. Karena
kamu lebih bahagia sama yang lain. Aku

harap aku bisa ngelepas kamu Rei”

Keesokkan harinya…
Di kelas, terlihat Bryan, Reina, Audrey,
Rendy sedang duduk-duduk membicarakan
sesuatu.
“Rei, nanti pas hari olahraga sekolah aku ikut
lomba basket”, kata Bryan semang

“Wihh, kapan?, aku mau nonton”, tanya

Reina
“Masih lama kayaknya, mungkin minggu
depan”. Jawab Bryan
“Gue juga ikut lomba basket Rei, sama

Bryan. Kita bakal ngewakilin kelas di lomba
basket”, kata

Rendy
“Ohh bagus dong…, Bryan, nanti pas kamu

lomba basket aku bakal duduk di paling

depan, terus bawa banner gede2 buat
semangatin kamu!. Biar kamu menang”, kata

Reina menyerukan idenya
“Okehh, pokoknya kamu harus dateng”, kata

Bryan
“Semakin keras usaha aku buat deketin kamu,

semakin pupus harapan aku buat dapetin
kamu. “Karna apapun caranya kamu gak akan

pernah bisa aku milikkin. Karena kamu lebih

bahagia sama yang lain. Aku harap aku bisa
ngelepas kamu Rei”, batin Rendy

BAB 5

Hari itu seisi sekolah, khusus nya anak-
anak seni, disibukkan dengan menyiapkan
acara terbesar sekolah, yaitu hari olahraga
atau sport day. Anak-anak seni itu terlihat
sibuk dengan kotak-kotak besar berisi
perlengkapan untuk acara. Mereka
menyiapkan banner, menggarisi lapangan,
menyiapkan piala dan banyak hal lain.
Lapangan menjadi penuh dengan murid-
murid, ada yang menghiasi lapangan,
berlatih untuk lomba besok, berlatih
cheers, atau hanya menonton mereka
latihan. Seperti Reina, dia terlihat duduk di
pinggir lapangan dengan air minum dan
sapu tangan di kedua tangannya. Dia
menunggu Bryan, Bryan terlihat berlatih
keras satu minggu ini.

“Kamu mau nontonin aku sampe
selesai?”,tanya Bryan yang tiba-tiba duduk

disamping Reina
“Hmmm, iya!. Kan biar pulangnya
barengan sama kamu”, kata Reina
“Nih minum..., kamu harus banyak
minum”, kata Reina seraya menyodorkan

sebotol air mineral ke Bryan
“Iya…, siap boskuu”, canda Bryan
“Hahaha”, tawa Reina

Bryan segera turun ke lapangan lagi untuk

latihan buat hari olahrga besok. Bryan

terlihat berjalan mematulkan bola, dan

mencetak poin. Akhirnya setelah beberapa

kali memasukkan bola, Bryan memutuskan

untuk berhenti.
“Udah yuk pulang…, aku capekk”, ajak

Bryan
“Yukk”, kata Reina dan berjalan

berdampingan dengan Bryan. Bryan

terlihat merangkul Reina “Ihhh

kamu keringetan, bauu tauu”, kata Reina

“Masa?, aku mah wangi teruss, gak mandi

juga wangi. Tapi… bau,bau juga suka

kan…”, goda

Bryan

“Aduhh, kamu ngomong apa?, aku gak
kedengerannn. Hehe”, kata Reina
“Hahaha, garing!”, jawab Bryan
“Aku kan gak ngelawak”, kata Reina
“Aduhh, kamu ngomong apa?, aku gak
kedengeran. Haha”, tawa Bryan
“Ihhh, itu kan kalimat aku, kok kamu
ambil-ambil”, kata Reina
“Iya dehh”, kata Bryan

***

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu, hari
olahraga pun dimulai

“Baiklah semua murid sekolah SMA

SAINT DALTON, hari ini kita akan

menyaksikkan pertadingngan basket yang
sengit dari kelas 12 IPA-1”
“Bryan!!!, semangat!!”
“Kyaaa, Bryannn!!”
“Rendy!!, kamu juga semangat!!”
“Bryan!! Semangat!!”, teriak Reina, yang

sontak membuat Bryan tersenyum di

tengan lapangan
“Bryan!!, Bryan!!, Bryan!!”
“Rendy!!, Rendy!!,
Rendy!!”

Kedua suporter itu keliatannya berlomba

meneriakki jagoan mereka masing-masing.

Seisi sekolah menjadi heboh, mereka

meneriakkan nama jagoannya masing-

masing. Tapi tetap, nama yang paling

banyak diteriakkan pastinya Bryan.

Seluruh siswi di SMA SAINT DALTON

menjadi terbius oleh pesona dan permainan

Bryan di lapangan.
“Oke, Bryan menangkap bola,
memantulkan bola, dan… GOL!!!. Bryan

mencetak poin pertama bagi kelas 12-IPA-
1!!”
“Yeeeyyyy,
Bryan!!!”
“Bryan!Bryan!Bryan!”
“GO!GO!GO! Bryan!!”
“Nomor punggung tiga yaitu Rendy

dengan teknik rebound nya berhasil
merebut bola, dan goll!!”
“Skor sementara adalah 3-1, yang dipimpin
oleh kelas 12 IPA-1”
“Bryan kembali merebut bola, tapi sayang

sekali, bola itu kembali direbut oleh lawan.

Terlihat Rendy dari yang kelas yang sama
juga, mengambil bola. Dann… goll!!,

Rendy memasukkan
bola”
“Baiklah, sepertinya Bryan telah
melakukan basket count”

“Drey, basket count apaan?”, tanya Reina
“Basket count itu, kalau pemain buat

pelanggarann waktu dia masukkin bola dan

dapet skor, nanti dia dapet lemparan
bebas”, jelas Audrey
“Aduh lu banyak nanya deh…, kayak

karyawan baru tau gak lo, udah dia aja!,

gue lagi fokus, soalnya lagi seru nihh.

Emang ya kata orang-orang, kalau orang

pinter di pelajaran dia goblok di olahraga.

Udah ah lu banyak nanya, liatin aja
ituu…”, kata Audrey sewot. Reina hanya

memajukkan bibirnya tidak mengerti

“Dia akan melakukan dua lemparan bebas,
mari kita lihat bersama-sama”
“Wahhh, lemparan pertama dapat

dilakukan secara mulus, tapi sayang sekali,

lemparan yang kedua ini hasilnya
mengecewakan”
“Yahh…”, sesal Reina
“Aduhhh, ini Bryan kenapa sih?!, kok bisa

gak masuk!”, kata Audrey kesal
“Yang sabar ya bro…”, kata Rendy seraya
menepuk-nepuk pundak Bryan, Bryan
hanya mengangguk dengan
kesal
“Tapi sepertinya setelah lemparan yang
gagal,Bryan membawa perubahan dengan
terus memasukkan bola”
Di menit-menit terakhir, Bryan banyak
memasukkan bola ke ring begitu juga
dengan Rendy. Yang membawa kelas 12
IPA-1 kepada kemenangan, dengan skor
55-31. Duo idola kita ini memang selalu
keren

“Bryan!Bryan!Bryan!”
“Yeeyyy, kita menang!!!!”, teriak Audrey
kegirangan
Reina memandangi Bryan dari tempat
duduk penonton, dan padangan mereka
bertemu. Reina mengancungkan jempol
nya sambil tersenyum bangga. Bryan
terlihat kegirangan, dan segera berlari
memeluk Reina. Yang membuat seisi
sekolah heboh.
“Oh My God, Oh My God, gue gak mimpi
kann…”

“Oh My God Bryan!, ini harus gue foto,

sebagai barang bukti untuk gue kirim ke

timeline
sekolah”
“Bryan kamu ngapain kamu peluk-peluk
dia?!, lepas itu lepas!”, kesal Brenda
“Yang sabar ya Ren…”, kata Audrey
“Makasih”, kata Bryan seraya melepas

pelukkannya

“Halo, perkenalkan nama saya Clarissa,

saya dari klub jurnalisme dan penyiaran.

Saya akan mewawancarai orang yang

mengikuti hari olahraga hari ini. Dan di

samping saya berdiri sang kapten tim dari

pemenang lomba basket pada hari ini.
Bryan.”
“Haii, nama saya Bryan, kapten dari tim
basket kelas 12 IPA-1”, kata Bryan
“Bryan ini kayaknya artis sekolah ya…,

soalnya ini banyak banget fans nya, dan

saya juga sering liat nama dia di timeline

sekolah. Benar begitu
Bryan?”
“Begitulah”, jawab Bryan seadanya
“Oke Bryan , hari ini saya akan bertanya

beberapa pertanyaan seputar hari olahraga

hari ini”
“Bryan sebernarnya ada teknik atau rahasia

gak sih buat jago bermain basket seperti
tadi”
“Hmmm, kayaknya sih gak ada ya. Saya

cuman berlatih memakai teknik dengan

baik setiap hari sama menaati peraturan
yang berlaku sih. Gak ada yang spesial”,

jelas Bryan
“Oo gitu, terus Bryan, apa sih yang

memotivasi kamu buat memenangkan
kompetisi hari ini?”
“Tentunya teman-teman dan pacar saya”,

kata Bryan
“Wahh…, jawaban yang tidak di duga
ya…, ternyata Bryan itu laki-laki yang

sangat romantis. Baiklah Bryan

terimakasih buat waktu nya, dan langgeng
ya hubungannya”
“Makasih”, jawab Bryan
“Baiklah, terimakasih telah menyaksikkan

wawancara kita pada hari ini. Saya Clarissa

dari klub jurnalisme dan penyiaran SMA

SAINT DALTON.

***

“Bryan ke café yuk, aku tau ada café bagus”,
ajak Reina sambil menggandeng tangan
Bryan
“Oke, sekarang udah berani peganggan
tangan nih…”, goda Bryan
“Ooh sorry”, kata Reina seraya melepaskan
peganggan tangannya
Bryan segera mengambil jari-jemari Reina
dan menggenggapnya erat
“Gak papa kok…, aku suka”, kata Bryan
sambil tersenyum. Yang otomatis membuat
Reina tersenyum malu

Mereka segera menaikki motor Bryan dan
menuju café yang Reina maksud. Motor
Bryan membelah jalan raya Jakarta di tengah
siang yang terik ini. Sambil mengobrol
mengisi kekosongan, dan terlihat Reina
terkikik geli. Sesudah sampai, mereka segera
mencari tempat duduk dan memesan
makanan. Di sana terlihat ramai, dan di
penuhi oleh banyak anak muda. Setelah
merek duduk, terlihat ada pramusaji yang
menghampiri mereka membawa daftar menu.
“Kamu mau pesen apa?, tapi katanya disini
cake nya enak”, kata Reina
“Kamu gak mau makan berat?, emang kamu

gak laper?, kalau aku mau pesen nasi”, jawab

Bryan “Ooo, aku enggak laper,

kamu pesen nasi aja. Nanti kamu coba kue
aku aja”, kata Reina
“Oke…, mbak saya pesen tom-yum nya satu
sama lemon tea”, kata Bryan
“Aku red velvet cake nya satu sama peach tea
yang mbak, tapi hangat”, kata Reina
“Oke, saya ulangi lagi ya pesanannya. Tom-

yum nya satu, red velvet cake, lemon tea,
sama hot peach tea ya… Ditunggu”, kata

pramusaji itu
“Iya”, jawab Reina

***

Setelah hari yang melelahkan ini Bryan
segera menuju rumahnya, dia abis nganterin
Reina pulang. Bryan segera memakirkan
motornya dan masuk ke rumahnya. Di dalam
rumah terlihat papa Bryan tengah duduk di
sofa sambil membaca koran.
“Bryan”, sahut papa Bryan, mendengar
namanya dipanggil, Bryan menengok
malas
“Papa liat berita kamu di timeline sekolah,
kamu punya pacar ya?, kok kamu gak cerita

sama
papa”,
“Emang sejak kapan papa ikut campur urusan
aku?, papa aja gak pernah anggep aku ada”,
sentak Bryan dan segera menuju kamarnya
dengan berapi-api, tanpa memperdulikan
papanya yang sudah berteriak memanggilnya.
Dia tidak suka orang yang sama sekali tidak
pernah menganggapnya anak mencampuri
urusannya.
“Bryan, Bryan”, teriak papa Bryan, tapi itu
sia-sia karena Bryan sudah pergi menuju
kamarnya
Papa Bryan menghembuskan nafasnya
pasrah, dia menyesali semua perbuatannya
dulu yang membuat Bryan menjadi anak
yang membangkang ke orang tuannya.

***

Pagi itu seperti biasa, Bryan menjemput
Reina di rumahnya dan mereka berangkat
sekolah bareng. Dalam perjalanan, mereka
terlihat sedang terlibat dalam percakapan
yang seru, mereka terlihat bercanda selama
perjalanan menuju sekolah. Mereka segera
sampai di sekolah, dan Bryan memakirkan

motornya di parkiran sekolah. Dan mereka
segera menuju kelas. Di lama sekolah sudah
tersebar berita tentang adanya anak baru.
Setelah rumor itu tersebar, banyak anak yang
membicarakan rumor yang ada di laman
sekolah.

Setelah Pak Man membunyikkan bel masuk
kelas, Bu Saras memasukki kelas 12 IPA-1
dengan seorang anak perempuan, yang kata
anak-anak lain ini adalah anak baru.
“Selamat pagi Bu Saras”
“Selamat pagi anak-anak, baiklah hari ini
kalian punya temen baru. Silahkan
perkenalkan nama kamu”, kata Bu Saras
“Hai, nama aku Keisha, Keisha Alvaro
Martine”

Dia adalah Keisha, anak dari hasil perceraian
pasangan yang paling kaya di Jakarta. Dan
merupakan pewaris tunggal dari perusahaan
ayahnya. Ayahnya adalah anak pertama dari
pemilik perusahaan keluarga yang cabangnya
sampai mendunia. Yup!, apalagi kalau bukan
Martine’s Company, Perusahaan ini memiliki
lebih dari 700 cabang di dunia dan 15 lahan
produksi dengan 22 ribu karyawan.

Kalau bisa dibilang kekayaan mereka bisa
membeli satu negara. Mereka bukan lagi
keluarga yang sangat kaya, mereka memiliki
semuanya. Semua keluarga mereka hidup
bergelimang harta, karna apapun yang
mereka hasilkan akhirnya akan menjadi uang.
Harta mereka pun tidak akan habis selama
tujuh turunan

Keisha, seorang perempuan cantik berumur
17 tahun, yang lahir dengan hidup mewah.
Walaupun bergelimang harta, sayangnya dia
bukan anak yang penuh kasih sayang. Saat
dia masih kecil, orang tuanya sering
bertengkar dan itu menjadi bekas yang
mendalam. Karena mereka sering bertengkar,
akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai.
Setelah orang tuanya berpisah, Reina
memutuskan untuk tinggal sendiri di
apartemen mewah di daerah menteng. Karena
masalah keluarganya, dia memiliki trauma
dan rasa sakit yang mendalam. Yang
membawanya ke dunia malam yang ia
gunakan sebagai pelampiasan.

Kira-kira seperti itu yang diberitakan oleh
media massa. Tapi kalau cerita yang

sebenarnya gak ada yang tau. Tapi banyak
juga berita yang bilang kalau itu bukan
kejadian sebenarnya, mungkin saja itu
bohong. Karna itu semua bisa dibuktikkan
dari aspek manapun, mereka punya uang,
harta, dan kuasa yang bisa mengontrol itu
semua. Mereka pasti bisa membayar media
massa untuk menyebarkan berita bohong dan
menutupi kejadian yang sebenarnya. Karna
mereka takut nama baik dari perusahaan
keluarga yang turun menurun itu tercoreng
nama baik, karna mereka sangat
mementingkan harga dan martabat keluarga,
dan tidak memperdulikan apapun situasinya.
Sekali lagi hanya Tuhan dan mereka yang
tau.

“Hah?!, sumpah?!, ini beneran?!. Dia anak
dari Kevin Martine?!”
“Oh My God, Oh My God!!, jadi dia yang
anak konglomerat itu?!”
“Berarti dia…, pewaris tunggal dari
Martine’s Company dong!!”
“Oh My God!, ini beneran kan…?!, gue gak
mimpi?!”

“Eh Ren!”, Audrey menyenggol bahu

Rendy
“Apee bawel?”
Audrey memajukkan bibirnya “Ini emang
bener anak nya Kevin Martine?”
“Mana gue tau!…, tapi bisa jadi sihh…”
“Iya kan…, feeling gue juga mengatakan

seperti itu!. Soalnya coba lu liat itu sepatunya

keliatan banget mahalnya!, coba lu liat design
nya beuhh! Fancy banget!!”
“Iya bener!!, sama tas nya juga tuhh, pasti
leather asliii”, timpal Rendy
“Pasti ituuu, tas nya kan juga edisi terbatas,
cuman 10 orang di dunia yang punya… gue
hampir aja dapet!”

“Hehh!, lu orang ini doyan bener ngeghibahin
orang…”, sahut Bryan, Audrey hanya
menyengir kuda “Lu juga Ren!, cowok kok

seneng amat ngegosip!”

“Kok salahin gue!, Audrey juga yang mulai

duluannn, gue mah cuman nambahin

doang!!” “Soalnya berita

nya lagi hot nihhh, mulut gue kan jadi gatel
buat gak ghibahin dia…”

“Tapi…”, sela Reina “Emang Kevin Martine
itu saha sihh?”, tanya Reina polos

“Oh My God Rei… lu gak tau??” Reina
menggeleng polos “Kevin Martine itu anak
pertama dari perusahaan Martine’s Company.

Perusahaan keluarga terkaya di Indonesia!,

mereka punya lebih dari 700 cabang di dunia

dan kekayaan nya mencapai 830, 08 triliun!,
gile gak lo!!” Audrey terlihat mejelaskannya

dengan semangat 45.

“DIAM!!” teriakkan Bu Saras membuat

semua kegaduhan itu menjadi hilang

seketika, semua anak yang tadinya berisik
menjadi diam gak berani buka mulut. “Kalian

ini!, heboh amat!!, bisa gak sih kalian ini!,
gak heboh gitu setiap ibu masuk??!!”
“Ya gimana gak heboh bu…, Namanya juga
ini anak konglomerat bu… Qian nya
banyak!!”
“Siapa sih bu yang gak heboh satu kelas sama

pewaris tunggal dari perusahaan ternama
nomor satu di Jakarta!”

“Bener tuh
Bu…!!”
“DIAM!, kalian ini!, kalau urusan duit aja
cepet!!”
“Hidup itu harus realistis Bu!”

“Kalau kalian sekali lagi berisik!, Ibu lakban
mulut kalian satu-satu!!”, mata Bu Saras
melotot, memelototi mata anak-anak murid
nya satu per satu.
1 钱= Qián = uang

“Keisha, silahkan duduk di sebelah Rendy”,
ujar Bu Saras seraya menunjuk kursi di
sebelah Rendy
Keisha segera menuju kursi sebelah Rendy.
Keisha terlihat menghampiri meja Rendy,
yang mencuri perhatian semua anak kelas 12
IPA-1.
“Hai!, nama gue Keisha”, kata Keisha sambil
menjulurkan tangannya di depan Rendy
“Ciee…Ciee”
“Gile Rendy di deketin sama
bidadari”
“Rendy hoky banget!, dideketin sama cewek
cantik!”
“Udah cantik kaya lagi!, tapi kan Rendy juga
kayaaa”
Keisha terlihat tersenyum mendengar
celotehan anak-anak kelas IPA-1, dia
sepertinya merasa didukung.
Rendy mengernyitkan dahinya bingung

“Nama gue Rendy”, kata Rendy seraya
membalas juluran tangan Keisha
“Anak-anak sudah berhenti bercandanya.
Perlakukan dia dengan baik!”, Bu Saras
menyudahi fenomena yang membuat heboh
semua murid di kelas 12 IPA-
1.
Melihat Bu Saras sudah memberi isyarat,
Keisha segera duduk ke tempat duduknya
dengan tersenyum puas. Dia bangga telah
menyelesaikan step pertama untuk mendekati
cowok pertama yang membuatnya tertarik
saat dia sampai di sekolah ini.

Flasback on

Pagi itu Keisha mengendarai mobil mewah
nya ke sekolah, dia menyusuri jalan kecil
menuju sekolah, jalan itu memang jarang di
lewati orang. Di sana, dari dalam mobil dia
melihat pria yang memakai seragam sekolah
sama dengannya. Dia terlihat sedang
berantem, tapi tak tau tujuannya untuk apa.
Dia terlihat menonjok berkali-kali perut pria
di depannya, seperti samsak di ring tinju. Dia
memukul nya dengan tatapan yang berapi-
api.

Keisha terlihat tersenyum dari dalam
mobilnya, menurutnya dia punya daya
tariknya sendiri. Reina segera menginjak
pedal gas nya dan berjalan memundurkan
mobil, menjauhkan diri dari pertarungan
melawan samsak itu, dan menuju ke
sekolah barunya.

Sesampainya di sekolah, dia tersadar
melihat cowok yang tadi, cowok yang ada
di jalan kecil tadi, cowok yang berhasil
menarik perhatiannya. Ternyata dia satu
sekolah dan satu kelas dengannya.

“Kamu hebat!, bisa buat aku terpesona dan
tertarik untuk mengenal kamu lebih dalam
lagi”, Keisha sudah terlanjur jatuh hati
dengan pesona laki-laki yang baru dia lihat
jalan tadi. Cewek nekat ini mungkin akan
berfikir untuk mendekatinya. Dia emang
agak nekat dan ambisius. Kalau dia sudah
punya target, dia akan mengerjanya dan
memastikan untuk mendapatkan apa yang
dia mau, termasuk laki-laki, karena tidak
ada laki-laki yang bisa berpaling dari nya,
karena sudah banyak cowok yang terbius
dengan pesonannya.

Flasback off

SMA SAINT DALTON memang salah
satu SMA yang terkenal mewah dan mahal
di seantera Jakarta, sekolah yang SPP nya
selangit, dan seribu fasilitas yang membuat
mata melongo, dan pastinya sekolah ini
membuat kanker alias kantong kering,
yang membuat semua orang tua berfikir
dua kali untuk memasukkan anak-anaknya
di sekolah ini. Contoh dari fasilitas mereka
adalah: perpustakan dengan 22 bahasa,
lapangan golf, gedung konser dengan
1.000 kursi, tempat berkuda dengan 30
kuda, kapal pesiar, dan spa. Setiap tahun
mereka juga study tour ke empat negara
sekaligus, dan biasanya mereka ada
program musim panas, kaya nginep di villa
atau semacamnya. Gimana mata dan
dompet gak melongo coba liat kaya gitu.
Kasihan dompet, uang nya harus abis terus.

Tapi dompet kering itu tidak berlaku oleh
orang tua dan murid-murid yang
bersekolah disini, karena sekolah ini
pastinya dipenuhi oleh anak-anak
konglomerat, anak-anak jutawan, bahkan

anak-anak miliarder, juga anak pemilik
perusahaan terbesar di Jakarta. Jadi tidak
kan heran kalau banyak supir-supir yang
mengendarai mobil-mobil mewah dan
menghentikan mobilnya untuk
mengantarkan anak dari majikkannya. Dan
alumni-alumni dari sekolah mahal ini, bisa
dipastikan masa depan nya cerah, dan
duitnya banyak, karena biasanya mereka
yang sekolah disini adalah pewaris tunggal
dari perusahaan orang tua mereka.

Seperti contohnya Reina walaupun dia
gaya nya biasa aja, tidak membuktikkan
kalau dia itu orang kaya tapi di adalah anak
dari arsitek ternama di Indonesia, Bryan,
dia adalah anak dari pemilik perusahaan
Cascade Company, perusahaan mereka
mencakup infrastruktur, real estate ,
Brenda, walaupun gayanya nyebelin dan
pede nya selangit tapi dia adalah pewaris
tunggal dari merk-merk baju ternama dan
Liliane cosmetic, dan gak salah lagi kan
kalau Brenda itu gayanya modis abis. Next,
Audrey dan Rendy, walaupun Audrey itu
gaya nya pecicilan, cerewet, dan gak bisa
diem, tapi mereka bersaudara dan keluarga

mereka memiliki perusahaan Albert Gold
Corp, mereka bergerak pada bidang
pertambangan emas. Tapi tetap dari semua
perusahaan di atas yang terkenal fantastis
itu, tapi tetap perusahaan Martine’s
Company lah yang berkuasa di atasnya,
dialah yang menjadi kunci dari perusahaan
itu, dia yang memegang kuasanya.

***

Saat jam istirahat, Keisha tidak menuju
kantin tapi dia menuju perpustakaan, dia
berfikir untuk mencari Rendy, siapa tau dia
disana.

Saat sampai di perpustakaan, Keisha
tersenyum, sepertinya dewa Fortuna
sedang memihaknya. Di sana, Rendy
terlihat sedang berjalan di sebelah rak
buku, menghampiri satu-satu rak buku
untuk mencari buku yang dia perlukan.
Keisha segera berlari kecil menghampiri
rak buku di sebrang rak buku yang sedang
Rendy singgahi.

Keisha mengikuti irama kaki Rendy, dia
pelan-pelan berjalan mengikuti Rendy,

sambil membawa buku yang ia jumpai
tadi.

Melihat aksi yang langka ini, seorang anak
baru mendekati seorang anak famous di
sekolah. Brenda dan geng nya tiba-tiba
berhenti, mereka ingin menjadi saksi dari
peristiwa langka ini, dan untuk menjadi
bahan ghibah tentu nya.

”Girls!, wait!, Itu keisha bukan sih?, itu dia
ngapain di situ?”, Brenda yang tiba-tiba
berhenti membuat semua teman-temannya
tiba-tiba berhenti
“Itu Keisha yang anak konglomerat itu kan?”,
Berlin menutup mulutnya tidak percaya, dia
tidak menyangka bahwa rumor-rumor yang
seliweran di laman sekolah itu emang
beneran
“Keisha pewaris tunggal Martine’s Company
kan?. Oh My God itu duitnya banyak
bangettt, itu kayaknya gak bakal abis tujuh
turunan”
“Bener banget, coba deh lu liat itu sepatunya,
aksesorisnya, jam tangannyaa, itu kan limited
editionn”
“Sumpah bagus bangettt jam nyaa, iri deh

guee. Masih ada gak ya?”
“Kayaknya masih ada dehh, tadi pagi gue liat
di website nya katanya masih ada”
“Fix!, abis pulang sekolah ini gue minta
beliin bapak gue, pokoknya gue harus beliii”,

seru keempat temennya yang heboh dan ribut

soal jam limited edition punyanya Keisha
“Aduhhh, kok lorang malah bahas jam
sihhh?”, ujar Brenda menghentikan

kehebohan mereka soal jam nya

Keisha

“Ya gimana…, namanya juga cewek, itu kan
jam nya lagi hype”
“Kan kita ngeliatin mereka dari jauh itu mau

ngeliat Keisha itu emang beneran deketin
Rendy atau enggak”, kata

Brenda
“Kayaknya iya deh, soalnya gue denger dari

anak sebelah, rumor-rumor nya emang
begituuu”
“Ini kayaknya emang beneran deh gais, coba
liat deh itu Keisha ngikutin Bryann”, Brenda

menunujuk pergerakkan kaki Keisha yang

sama dengan Bryan
“Oke, kayaknya gue bakalan share admin nya

laman sekolah dehh, sumpeh ini beritannya

bakalan viral di sekolah. “Anak dari

konglomerat Kevin Martine mendekati
penerus dari Albert Gold Corp ”
“Sumpah bener-bener!, gue setuju!, coba deh

lu bayangin kalau mereka beneran jadi,

wahhh gila! Gue gak bisa bayangin mereka

bakal sekaya apa!. Wahhh, kekayaan mereka

bisa beli sekolah ini, gila!, gue pengen jadi
anaknya dehhh”
“Imajinasi lu gak usah ketinggian dehh, gue

takut kalau lu jatoh sakit!. Gak ada cerita nya

juga lu bakal jadi anak mereka. Lu aja

seumuran sama merekaa, aduhhh yang bener-
bener aja deh lu kalau ngayal”, celetuk Clara
“Namanya juga ngayalll”, jawab

Alexa
“Udah ah ngeliattin nya, capek gueee, yuk
balik ke kelas”, ujar Brenda dan segera

berjalan menuju kelas yang diikuti keempat

temannya.
“Iya gue juga!, gak ada perkembangan!”

Rendy berhenti di salah satu rak buku.
Keisha juga berhenti tepat di depan nya,
dia memberikan buku yang dia bawa,
disertai senyuman manis “Cari buku ya?”,
Rendy tidak menghiraukan perkataan

Keisha “nih buku nya”, Keisha
menyodorkannya
“1001 cara jatuh
cinta”
Rendy memutar bola matanya malas saat
melihat judul yang tertera di buku yang
diberikan oleh Keisha, dan tetap terus
berjalan mencari buku yang dia cari.
Walaupun dicuekkin, itu malah membuat
Rendy makin menarik.

Rendy tidak menyangka anak baru ini
walaupun cantik ternyata sangat
menganggu, dan membuat nya tidak
nyaman.

“Kapan kamu ada waktu?, waktu untuk
membuatku berharap. Berharap untuk

sesuatu yang tidak mungkin kita
wujudkan”

Keisha sepertinya memang punya 1001
cara buat deketin Rendy. Dia gak pernah
keabisan akal buat deketin Rendy. Dia
memang gak pernah nyerah buat deketin

Rendy, karna saat dia sudah memporoskan
dirinya pada satu orang, orang itu gak akan
pernah bisa menghindar. Karena, walaupun
sampai ke ujung dunia, bakal terus dia
kejer. Seperti fenomena berikut ini:

Fenomena 1:
Pas jam istirahat, Keisha menghampiri
Rendy yang sedang makan dengan
Audrey,Reina, dan Bryan. Rendy terlihat
sedang tersedak makanan, dan mencari
minuman. Melihat kejadian tersebut,
Keisha segera menghampiri Rendy untuk
mencari perhatiannya.
Keisha menyodorkan minuman dingin
yang dia bawa “Nih, minum”
“Ciee, ciee. Pas lagi dibutuhin, eh
penyelamat datang bawa minum”, Audrey
menyengol bahunya Rendy untuk
menggodanya
“Lu ngapain? Enggak usah gue gak
butuh!”, Rendy menolak pemberian
Keisha, walaupun dia emang butuh, tapi
karena Rendy gengsinya tinggi dia gak
mau nerima
“Udah nih minum aja, kan nanti gak lucu
kalau ada berita “Anak murid SMA

SAINT DALTON meninggal karena
tersedak saat memakan mie ayam”. Nih!,
buruan ambil”, Keisha kembali
menyodorkan minuman yang ia
bawa.
Karena dia terlalu kepepet, dia terpaksa
menerima minuman dari Keisha, daripada
dia mati tersedak.
Melihat minumannya di ambil, Keisha
tersenyum puas, ternyata usahanya tidak
sia-sia.

Fenomena 2:
Sebelum pelajaran di mulai, Keisha terlihat
menghampiri meja Rendy
Keisha menyodorkan ponsel nya ke
hadapan Rendy “Minta nomornya
telfonnya”
Rendy mengernyitkan dahinya bingung,
karena tiba-tiba mahluk asing ini meminta
nomor telfonnya “Buat
apa?!”
“Buat lu jadi pacar gue”, Keisha ngomong
secara blak-blakkan di hadapan Rendy
yang membuat Rendy semakin

menolaknya
“Enggak!, Ogah bener gue jadi pacar lu!”,
“Ihhhh!!, kok gak mau?!. Minta
nomornya!” Keisha bersikeras untuk

meminta nomor telfon Rendy
“Enggak! Gue tetep gak mau!”, kukuh

Rendy
“Yaudah kalau gak mau, kalau gitu gue

bakal ke ruang guru, abis itu minta nomor
telfon lu sama guru!, pilih yang mana?!”,

sepertinya Keisha meng skak mat Rendy,

dan dia tidak bisa berkutik. Dia tidak

menyangka bahwa cewek ini akan berlaku

seperti itu
“Yaudah-yaudah, mana sini handphone
lo!”, Rendy akhirnya menyerah dan

menadahkan tangannya meminta

handphone milik Keisha

Dengan senang hati, Keisha segera

memberikan handphone milik nya kepada

Rendy.

Rendy segera mengetik nomornya kasar

Sesudah mengetik nomornya, Rendy

segera mengembalikan handphone milik
Keisha “Nih handphone lo!,
puas?!”

“Puas!, puas banget!. Makasihhh!. Calon
pacarrr…”, Keisha mengatakannya dengan
percaya diri dan segera berbalik berjalan
menuju kursinya.
“Pacar?!, gak akan pernah sudi gue jadi
pacar luu…”
“Nanti lu juga bakalan mauuu”

Fenomena 3:
Pas jam istirahat, Rendy dan kawan-
kawannya sedang dalam perjalanan

menuju kantin untuk makan sandwich
langganan mereka.
Keisha tiba-tiba berlari dari belakang dan
menggandeng tangan Rendy. Yang
membuat harimau ini terusik.
“Lu ngapain sih…?!, lepasin!, gue gak
mau digandeng sama lo!”, Rendy merasa
terusik dengan sikap Keisha yang tiba-tiba
datang menggandeng tangannya
“Kalau gak mau gimana…?”
“ARGHHH!, lepasin gue!”, Rendy masih

berusaha melepaskan tangannya dari
Keisha. Tapi sepertinya usaha nya sia-sia,
Keisha malah makin erat menggandeng
tangan Rendy.
“Lu ngerti bahasa Indonesia gak sih??...

Lepasina!”, gerutu Rendy. Sepertinya

Keisha sudah membangunkan singa yang

sedang tidur
“Tidakkk…”, teriak Keisha manja
Rendy menghela nafas nya “Keisha
Maldini, lepasin gue se-ka-rang!!”
“Oh My God! Lu tadi nyebutin nama

lengkap gue!. Coba-coba ulang sekali
lagi…”, Keisha terlihat histeris namanya

dipanggil oleh Rendy
“Aduhhhh!!!, lu ini mahluk macam apa
sih??!!”, teriak Rendy sebal dengan sikap

Keisha
“Yaudah deh…, Keisha mau ke toilet dulu,
mau pipis”, ucap Reina tiba-tiba, dan

melepaskan gandengannya dari tangan

Rendy dan melenggang ke toilet

Rendy mengernyitkan dahi nya bingung,

sambil melihat kepergian Keisha yang
secara tiba-tiba “Kenapa sih cewek?!,

Sarap!. Tadi tiba-tiba ngegandeng tangan

orang mana kuat banget lagi!. Sekarang
malah tiba-tiba pergi gak jelas!!”

“Hahaha, tadi kocak banget sumpeh,

ngeliat muka lu tadi, pas lu marah-marah

gak jelas. Muka memerah, hidung


Click to View FlipBook Version