The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by perpustakaansmakpenabur, 2022-05-11 02:50:46

OUR ALTERNATE ENDING - AMANDA CHRISTABEL (12 IPS)

NOVEL#FICTION

Di rumah Reina…

"Coba papa mau liat rapor kamu!"

"Tuh kan liat kamu turun!. Ada dua faktor
kenapa nilai kamu turun. Pertama, itu pasti
gara-gara kamu asik pacaran gak belajar.
Udah papa duga dia itu anak yang gak bener,
pasti dia udah bawa pengaruh buruk buat
akademi kamu!"

"Pa!, papa!, Itu jangan ngehina Bryan kalau
papa itu gak kenal Bryan sepenuhnya. Papa
gak boleh ngehakimin dia kaya gini!. Dia itu
anak yang baik pa!, Dia sayang samaa
Reinaa, papa jangan pandang dia sebelah
mata!"

"Dan faktor kedua adalah karena novel-novel
yang gak jelas itu!!. Kamu itu buat apa sih
ngabisin waktu kamu buat nulis-nulis sampah
kayak gitu?!!. Kan Udah berapa kali papa
bilang kamu itu harusnya jadi arsitek! Biar
kamu bisa nerusin usaha papa!"
"Tapi gimana aku mau jadi arsitek, kalau aku

gambar aja kayak ceker ayam"

"Kalau kamu gak bisa gambar ya belajar
dongg Reina!!, Makanya kamu jangan
ngehabisin waktu kamu dengan hal yang
enggak berguna kaya gitu!. Penulis itu gak
ada masa depan Reii!, Kamu gak akan sukses
kalau jadi penulis!"

“Sehina itukah aku dihadapan papa kalau
kamu dapet nilai jelek?. Apakah papa lihat
semua kerja keras aku menjadi orang yang
papa idam-idamkan?. Semua novel dan
tulisan yang papa bilang sampah, itu semua
mimpi aku pa!. Itu juga pelarian dari stress
dan tuntuttan nilai, aku kerjain semua itu
siang malem dan berharap itu jadi karya yang
bagus. Aku juga berdoa biar papa bisa nerima
semua hasil karya aku”

“Tapi kayaknya semuanya sia-sia aku berdoa
setiap malam, karena apa?. Karena papa
cuman mentinggin nilai aku pa!, bukan kerja
keras aku!. Aku ini manusia bebas pa!,
manusia merdeka!, aku bisa nentuin kemana
jalan dan mimpi aku!”

"Pa!, Ini hidup akuuu!, Aku yang ngatur
kemana jalan yang mau aku tuju pa!, Ini
hidup aku, bukan hidup papa!. Jadi papa gak
usah ngatur-ngatur!", Reina segera naik ke
kamar nya dengan deraian air mata. Dia tidak
menghiraukan teriakkan papa nya yang
semakin kencang

(nasib sial, sesuatu yang sudah kamu
kerjakan dengan susah payah tapi itu tidak
pernah cukup)

"REINA!!, Berani kamu melawan kata-kata
papa?!"

"Pa, udah pa, Reina berhak buat marah, dia
berhak buat punya waktu sendiri"

Malam itu Reina menjadi sangat hancur, dia
tidak bisa berfikir jernih. Dia tidak mengerti
kenapa papanya selalu saja memaksakan
kehendaknya, sekalipun mimpi anaknya
sendiri. Apakah dia tidak mempikirikan
anaknya sendiri?. Apakah anaknya harus
terus menjadi seperti impiannya?, apakah
anaknya harus selalu berhasil untuk mencapai
target nya?. Mungkin target itu memang

memiliki makna dan tujuan yang bagus. Tapi
apakah tujuan itu memang sesuai dengan
mimpi dan jalan yang ingin dicapai oleh yang
menjalankan nya?.

Mungkin tidak, mungkin itu terlalu
membebani, mungkin itu membuat kita
merasa terlalu terintimidasi, dan mungkin itu
membuat kita merasa seperti sapi yang selalu
dicambuk untuk terus membajak sawah. Tapi
percayalah semua tujuan itu memang
memiliki makna dan latar belakang mengapa
itu menjadi tujuan.

Target dan tujuan yang setiap orang tua
inginkan dan yang ingin dicapai memang
terlalu kejam dan tidak memfikirkan perasaan
anaknya. Mungkin itu terlalu kejam dan
mereka tidak memfikirkan apa akibatnya, tapi
yang mereka inginkan adalah melihat
anaknya berhasil. Itu memang mimpi dan
tujuan yang bagus, tapi mungkin cara dan
perilaku mereka untuk mengajarkan dan
untuk mendidiknya saja kurang tepat. Tapi
pada dasarnya semua orang tua ingin yang
terbaik untuk anaknya.

***

Brenda dan teman-temannya sedang duduk-
duduk di kursinya sambil membicarakan
yang menarik. Samar-samar, sepertinya
mereka sedang membicarakan tentang
program akhir tahun yang sebentar lagi
datang. Biasanya setelah UAS dan
pembagian rapor UAS, adalah waktunya
untuk program akhir tahun, yaitu jalan-jalan.
Mereka mempunyai program akhir tahun agar
para siswa mereka tidak stress setelah
menghadapi musim ujian yang membuat otak
mereka menjadi bisulan. Di program akhir
tahun ini mereka jalan-jalan ke luar negri,
empat negara biasanya.

"Kita akhir tahun kira-kira bakal jalan-jalan
kemana ya?", Brenda memulai topik
pembicaraan dengan sebuah pertanyaan
kepada teman-temannya
"Hmmmm, mungkin kita bakal ke… Belgia?,
Atauuu ke Dubai!, Iya Dubai!, Kita kan gak
pernah ke Dubai, ayok kita ajuin ke sana!",
Berlin terlihat bersemangat atas usulnya,
yaitu ke
Dubai

"Bisa jadi..., tapi gak ah!, Gue udah pernah
ke Dubai!, Gak mau!, ke negara lain aja!”,
ucap
Stella

"Tapi gue gak tau bisa ikut atau enggak",
serah Alexa, dia juga sedih karena tahun ini
dia tidak bisa menghabiskan liburan akhir
tahun nya bersama teman-teman dekat nya.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka
menghabiskan liburan mereka bersama-sama
"Yahhh Lexxx..., Kenapa?, Kok mendadak?",
Stella juga menyayangkan keputusan Alexa
yang sangat mendadak
ini
"Iyaaa, tadi papi juga kasih tauin nya
mendadak", sesal Alexa
" Emang lu mau kemana sih?", tanya Cindy
"Kan papi mau perjalanan bisnis sama rekan
kerjanya, jadi gue harus ikut dehhhh"
"Yahhh kok gitu sihhh, kan lebih enak jalan-
jalan sama kitaa", ujar Berlin
"Iya gue juga mau nya begitu"

"Gaissss", teriak seorang siswa dari kelas
mereka, yang membuat Brenda kaget bukan

kepalang "Astaga, kenapa sih?!, Bikin
kaget ajaaa!", gerutu Brenda
"Di mading udah ditempel pengumuman
tentang program akhir tahunnn"
"Oh my God, akhirnya dipasang jugaaaa.
Ayokk, ayokk kita liat!"

Seisi kelas segera berlari berbondong-bodong
pergi mengerumuni mading untuk melihat
pengumuman yang membuat mereka
penasaran setengah mati. Termasuk Brenda
dan teman-temannya, mereka segera berteriak
dan berlari menuju mading

Tapi pengumuman yang tadinya membuat
mereka penasaran, tapi sekarang malah
membuat mereka berteriak tidak percaya
akan kenyataan yang mereka lihat di depan
mata mereka.

"Hah?!, Sumpah kita akhir tahun gak
jalan?!", pekik Cindy tidak percaya atas apa
yang dia lihat di mading

"Ko- kok program akhir tahunnya jadinya di
sekolah sih?!, Siapa sih yang ngubah-ngubah
jadwalll?!, ishhh nyebelinn!!", gerutu Brenda
yang membuat semua orang jadi kaget dan
menganggap nya yang tidak-tidak. Dia

menjadi sangat kesal karena program akhir
tahun tidak jadi jalan-jalan ke luar negri.
Padahal dia udah beli baju baru, karen itu
adalah salah satu dari rencana nya untuk
membuat Bryan terpukau pada dirinya. Tapi
sekarang malah gagal atau buyar semua
bayangan-bayangn manis yang sudah dia
susun di dalam benaknya. Tapi semua mimpi
manis itu sudah tinggal kenangan, karna
mereka tidak jadi jalan-jalan saat program
akhir tahun kali ini.

"Udah di sekolah ada tugas akhir tahun pula,
ihhhh, nyebelin banget!, Kalau kaya gini kan
liburan juga gak tenang.", ucap Stella
"Untung gue gak jadi ikuttt, selamat...",
Alexa mengelus-elus dadanya, ternyata
keputusan nya untuk ikut papinya perjalanan
bisnis, ternyata itu bukan keputusan yang
buruk. Malah itu menyelamatkan nya dari
tugas sekolah yang pasti nya itu sangat
merepotkan

"Enak bener lu Lex, lu yang seneng kita yang
susahh!. Huhhh, gak aci luuu. Sebenarnya
siapa sih yang ganti-ganti?!”, cibir Clara

“Eh, tapi Lex. Kan itu wajib, coba lu liat di
paling bawah nya ‘Program ini wajib untuk
diikuti oleh semua siswa!’”, Stella menunjuk

kalimat yang berada paling bawah

pengumuman “Nah…,

nah, hayoloo. Gak bisa liburan”, ejek Cindy

“Issshhh!, kok wajib sihh?!”, kesal Alexa

“Yeeeyyy, Alexa gak jadi pergiiii!”, pekik

Berlin

Raut muka Alexa yang tadinya suram
bagaikan rumah tak berpenghuni itu pun
seketika bagaikan matahari. Dia menjadi
sangat senang sampai berlompat-lompat
kegirangan. Sepertinya dia menemukan ide
untuk tidak ikut. Dia berteriak kegirangan,
teman-temanya melihat Alexa dengan
kebingungan sekaligus takut. Mereka takut
mungkin Alexa kesurupan atau stress.

“Lex, lu baik-baik aja kan?, lu gak kesurupan
kan?”, Brenda bertanya sambil panik
“Oh My God!, gue dapet ide biar gak ikut!”,
pekik Alexa
“Apaan?!”, tanya
Clara
“Gue minta papi bujuk kepala sekolah aja.

Kan kepala sekolah itu sahabat nya papi,

pasti dia mauuu. Yesss!!, akhirnya, dewi
fortuna berpihak sama gue!”, Alexa menjadi

sangat bersemangat “Ishhh,

kok lu jadi pergi sihhhh?”, sesal Cindy

“Enak ya… lu punya koneksi…”, sesal Stella

“Ihhhhh, nyebelin dehhh!!. Udah wajib, ada
tugas lagiiii. Arghhhh!”
“Iya!, nyebelin bangett…”

“Gue gak ngerti isi pikiran itu orang!. Kalau
gue ketemu orang nya, sumpeh pengen gue
Pites itu leher, Arghhhhh."
"Kenapa pak kepala sekolah sekarang jahat
banget!, apa dia gak mikirin otak anak-
anaknya yang kebakar gara-gara ujian akhir
semester kemaren?!”, pekik Berlin

"Udahlah gais, kalian gak bosen apa ke luar
negri?, Paling akhir tahun kita jalan2 nya ke
negara-negara itu lagi. Kalau gak Italia,
Turki, Swiss, atau Paris ckckck kayaknya
sekolah ini gak pernah upgrade, bosen
gueee", ucap Stella, yang membuat Cindy
berbalik menatap nya tidak percaya

"Ihhh tapi kan... Gue masih mau ke Paris
lagi!. Gue masih mau ke museum nya...,

Bagus bangettt"
"Aduhhh, lu ngapain ngeharapin program
akhir tahun sekolah buat ke sana?, Emang lu
gak bisa sendiri?, Atau uang jajan lu
dikurangin?", sekarang giliran Brenda yang
menimpali perkataan Cindy
"Enak aja!, Semoga jangan deh, mit amit,
kalau uang jajan gue dikurangin. Gue gak
bisa beli gimana?. Jangan sampe, nightmare
tau gak?!"

" Lagian lu juga cuman mau liat museum aja

gak bisa pergi sendiri. Kalau lu gak mau

jauh-jauh, tuh, lu pergi ke kota tua aja tuh

banyak museum, sana pergi sana!", ucap

Clara "Enak aja!, Kan

beda isinya, bagus banget tau sumpah, gue

kangen ke sana lagi", kata Cindy yang masih

membela dirinya, kalau program akhir tahun

kali ini seharusnya memang ke Paris
“Kata pemerintah itu cintai negara mu
sendiri!”, ujar Clara

“Siap Ibu guru Clara…”, Cindy

menempelkan tangannya pada ujung alis nya,
dia membuat pose seperti hormat “Tapi tetep

gue pengen ke sanaaa, huaaa”, Cindy
memajukan bibirnya

"Udah ah, lu gak usah banyak bermimpi!,
kesian gua lama-lama ngeliat lu!, Paris-paris,
gue pengen ke Paris”, Brenda memperagakan
gaya Cindy saat dia merengek ingin ke Paris,
tapi namanya bukan memperagakan sih tapi
ngejek

“Gue gak kaya gitu ya, meragain nya”, Cindy
membela dirinya sendiri
“Udah kita makan aja, biar lu gak stress lagi!,
Ayok gue traktir lu di kantin", ucap Brenda
yang akhirnya mengeluarkan jurus
pamungkas nya, agar teman-temannya itu
diam dan tidak berbicara yang membuat
dirinya pusing saat mendengarkan
nya.

Brenda membalikkan tubuhnya dan berjalan
menuju kantin, diikuti Cindy yang berlari-lari
kecil seraya menggandeng tangannya
"Asikkkk, kayak gini sering-sering ya Bren!"
"Hah?!, Ngarep lu", Brenda menoyor kening
Cindy samar

Alexa mengikuti mereka dari belakang
sambil sibuk dengan ponselnya. Seperti nya
dia sedang ingin menelfon papanya, kan dia
mau ngerayu papanya buat ngomong ke
kepala sekolah biar dia gak ikut program
akhir tahun.

“Vanilla cappucino nya satu ya mbak, yang
ice, terus sugar nya 50% aja, dan di take
away ya mbak”, Brenda menjelaskan
pesanannya secara rinci ke pelayan di kantin
“Ya elah Bren, kalau mau berbuat dosa, buat
aja gak usah setengah-setengah. Sekalian aja
sugar nya normal, gak usah setengah-
setengah, kalau lu juga buka hati-hati
setengah-setengah juga gak bakal dapet”, ujar
Stella

“Heh Stella!, lu tuh mau nyeramahin gue atau
mau curhat sih?. Udah ah terserah gueee, kan
yang penting gue udah berusaha gitu
lohhh…”, Brenda membela dirinya

Selama Stella dan Brenda berdepat untuk hal
yang sama sekali tidak berguna untuk
berlangsung nya kehidupan. Cindy masih saja
sibuk melihat-lihat minuman di papan menu,
Dia terlihat sangat jeli, dan menimbang-

nimbang minuman manakah yang harus dia
beli. Karena kesempatan Brenda mentraktir
teman-temannya itu hampir jarang sekali.
Setelah menimbang-nimbang antara satu
minuman dengan minuman lainnya, akhirnya
dia memutuskan.

“Mba, caramel macchiato nya satu ya…, di
take away juga”ujar Cindy
“Ya ampun Cinnn…, mikir mau pesen itu aja
lama bangetttt…”, cerca Clara
“Tau gak sih, menurut penelitian
gue”
“Ya ampun Cin… sok sok penelitian segala
loo…”
“Aduhhh, diem dulu…, gue itu udah

memperhatikan dari segala aspek, gue udah

memikirkan dari segi kuantitas nya, ekonomi

nya, presentasi nya. Dan semuanya itu

perfect!” “Lebay

lo!”, sahut

Berlin
“Dih
biarin!”
“Aduhhh!, udah udah, berisik tau gak!. Yang
tiga nya, samain aja caramel macchiato”,

Brenda menghentikan permasalahan mereka,

Brenda memberikan credit card ke pelayan
kantin”
“Oke mbak, diterima ya mbak kartunya”,

pelayan kamtin itu mengambil credit card

milik Brenda, menggesekkan kartunya dan

mengembalikkannya

“Ditunggu ya mbak minumannya, bila sudah

selesai akan kami panggil”, ujar pelayan

kantin itu “Tuh, kalian

minumannya udah gue bayarin jugaaa”,

Brenda menoleh ke Stella, Clara, dan

Berlin
“Thanks Bren!”, ujar mereka bertiga dengan

senyuman yang mengembang

“Gais, gue ke kantor kepala sekolah dulu
ya…, urgent!”, sahut Alexa
“Ati-ati Lex”, ujar Cindy
“Emang dia mau kemana?, kan cuman mau
ke kantor kepala sekolah doang, lebay lo!”,

sahut Berlin
“Iya!”, Alexa membalikkan badannya dan

melesat menuju ruang kepala sekolah, sambil

bergumam tentang omongan Cindy yang

terlalu bodoh untuk dikatakan

Brenda dan teman-temannya segera duduk

sambil menunggu minuman mereka dibuat.
“Itu Alexa emang nya mau ngapain ke ruang
kepala sekolah?”, pertanyaan Clara memulai

obrolan mereka, yang kayaknya bakalan

panjang

“Ya, mau minta ijin ke kepala sekolah lah,

kan tadi dia udah nelfon papinya”, ujar

Brenda “Iya bener-bener

tadi gue denger dia lagi telfonan sama
papinya”, kata Cindy
“Kira-kira dia bakalan dibolehin gak ya?, gak
pergi ke program akhir tahun?”, Clara pun

bertanya lagi
“Heh, kalian ini!, gak boleh ngeghibahin
temen sendiri…”, ujar Stella

Mereka semua terdiam dan larut dalam

pemikiran sendiri tentang omongannya Stella
“Eh, tapi kayaknya dia bakal dibolehin deh,
kan dia punya koneksi”, ujar Stella
“Tadi katanya gak boleh ngeghibahin temen

sendiri, tapi malah elu sendiri yang mulai.
Hihhh, ckckck”, ujar

Clara
“Iya Stella ini, kemakan omongan sendiri
luuu”,

“Mbak minuman udah jadi…”, pelayan
kantin itu menyodorkan nampan minuman
yang mereka pesan tadi tempat pengambilan
makanan
“Iya mbak”, seru Brenda, dia segera
mengambil minuman yang dia beli tadi dan
membawanya ke meja. Teman-teman nya
hanya terbengong heran, Brenda kenapa?, dia
kesambet apa?, soalnya di jarang banget nih
yang kaya gini-gini, baek!.

“Thanks, Bren”, mereka bertiga segera
mengambil minuman yang Brenda bawa
dengan senyuman tersungging

“Teng…, Teng…, Teng…”, bel masuk kelas
pun berbunyi
“Gais!, masuk yuk udah bunyi tuh bel masuk
kelas nya. Nanti kita dihukum lagi!, hari ini
gue lagi males berurusan sama si kepala
botak”, seru Brenda dan berbalik badan,
berjalan menuju kelas, di ikuti kelima
temannya
“Yokk…”, jawab
Cindy
“Itu kayaknya Brenda kumat lagi dehh...,
kayaknya dia tadi barusan baek. Kok

sekarang bossy lagi?”, bisik Stella sama Clara
yang ada disebelahnya
“Gak tau tuh, gue gak ngerti isi pikiran tuh
anak satu…, gak jelas”, Clara juga menjawab
dengan berbisik, takut ketahuan sama Brenda

Ngomong-ngomong, “si kepala botak”, ya
dibilang Brenda tadi itu Pak Joko. Dia itu
guru BK, emang sih kepala nya emang botak,
makanya di panggil si kepala botak sama
Brenda. Mereka ber-enam itu emang lumayan
sering ketangkep sama Pak Joko bolos kelas
ke kantin, abis di tangkep terus diceramahin
sampe dua jam, panas panaslah tuh kuping
diceramahin dua jam. Tapi lumayan lah, gak
usah belajar dua jam.

Saat sampai di kelas mereka segera duduk,
karena saat mereka datang itu bertepatan saat
Pak Richard datang, jadi selamatlah, gak
dihukum.

“Selamat pagi anak-anak”, salam Pak
Richard
“Pagi
pak…”
“Langsung saja…, kalian sudah lihat
pengumuman tentang program akhir tahun di

mading sekolah kan…”, Pak Richard

memastikan kalau semua anak sudah melihat

pengumuman tentang program akhir tahun di
mading “Udah pak…”
“Baiklah…, sesuai pengumuman yang tertera

di mading, program akhir tahun kita kali ini
akan kita laksanakan di sekolah…”

“Kenapa kita gak jalan-jalan aja kayak tahun-
tahun kemarin pak?”, Brenda mengacungkan

tangannya, dan menyuarakan pendapatnya

yang masih belum bisa menerima kalau

program akhir tahun diadakan di sekolah

“Iya pak…, emang enak di sekolah?”
“Bener pak…, mending juga kita jalan-
jalan”
“Oh iya pak…, kok akhir tahun ada tugas
sih?”
“Anak-anak…, bapak tidak tahu…Karena itu

semua sudah diatur dan disetujui oleh kepala
sekolah”

“Baiklah anak-anak, sekarang bapak akan
membacakan--”
“Gais!, gue dibolehin gak ikut program akhir
tahun!!, Yeeeyyy”, teriak Alexa dari ujung

pintu

Seisi kelas segera menoleh ke asal suara
dengan ekspresi kaget. Sedangkan Brenda
dan teman-temannya memasang muka panik,
dan memberi isyarat kalau ada Pak Richard
yang sedang memperhatikannya sambil
berdecak pinggang

“Alexa!, ngapain kamu disitu ayok duduk!”
Alexa pasrah dia gak tau kalau Pak Richard
ngeliatin dia dari tadi, ngeliatin dia saat dia
teriak-teriak gak jelas. Dia hanya bisa
menyengir kuda “Hehehe, ma-maaf pak…,
saya baru dari ruang kepala sekolah tadi…”

Alexa segera berlari menuju meja nya, dan
menceritakan apa yang terjadi di ruang
kepala sekolah tadi.

“Jadi gimana-gimana?”, Brenda
penasaran
“Katanya gue boleh di izinin gak ikut
program akhirn tahun”, jawab nya

Flashback on

Alexa mengetuk pintu ruang kepala sekolah
“Permisi pak…”
“Ya, silahkan masuk…”, setelah mendapat
persetujuan dari pak kepala sekolah. Alexa

segera masuk dan berjalan dengan hati-hati.
Selain karna dia takut, dia juga membawa
harga dan martabat keluarga nya di depan
kepala sekolah

“Wah, ternyata kamu Alexa. Sudah lama
sekali saya sudah tidak melihat anak dari
sahabat saya Alex”, ujar pak kepala sekolah
seraya mengangkat tangannya menyambut
kedatangan Alexa. Tingkah pak kepala
sekolah emang agak absurd, tapi kalau marah
ngeri parah, contohnya pas insiden
berantemnya Bryan sama Rendy

“Iya pak”, Alexa mengangguk pelan, dia

segera duduk di sofa yang ada di ruang

kepala sekolah “Jadi kenapa

nih, Alexa datang ke ruangan saya?, tumben-
tumben sekali”, ujar pak kepala sekolah
“Jadi terus terang saja pak, maksud dan

tujuan saya ke sini adalah ingin meminta ijin
untuk tidak mengikuti program akhir tahun”,

Alexa ngomong nya emang harus baku gitu,

biar meyakinkan

“Memang nya kenapa?, ada masalah?”, tanya

pak kepala sekolah
“Bagaimana bapak langsung saja bicara

dengan papi saya, biar jelas dan clear
semua”, Alexa segera meletakkan ponsel nya
di meja kepala sekolah, yang sudah
tersambung dengan papi nya

“Selamat pagi Roy”, sapa papi nya Alexa dari
telfon
“Iya jadi gimana ya?, ini kenapa Alexa gak
bisa ikut program akhir tahun?”, tanya pak
kepala
sekolah
“Jadi gini, gua di akhir tahun ada perjalanan
bisnis. Jadi otomatis anak-anak dan istri harus
ikut, makanya Alexa gak bisa ikut program
akhir tahun”

“Kalau alasan nya seperti itu, ya tidak apa-
apa”, Alexa bersorak dalam hatinya “Karena
banyak sekali anak-anak yang tidak jelas
alasannya”

“Makasih pak!”, Alexa bersorak gembira,
senyuman melengkung di wajahnya “Tapi
kamu harus dikasih tugas, karna tidak ikut
program akhir tahun”, ujar pak kepala
sekolah. Seketika senyuman di wajah Alexa
sirna ketika dia mendengar kata-kata tugas
keluar dari mulut pak kepala sekolah

“Kamu harus buat esai lima halaman tentang
liburan kamu nanti”, ujar pak kepala sekolah
“Yahhh kok gitu sih pak?”, sesal Alexa, tapi
kata-katanya sudah disela oleh papinya
“Alexa…, udah gak papa. Makasih Roy, atas
waktu dan keputusannya”, ujar papinya
Alexa dan segera memutuskan sambungan
telfonnya.

Alexa menjadi kecewa karna dia harus
mengerjakan tugas di tengah-tengah liburan
nya itu “Yaudah makasih ya pak…” Alexa
segera keluar dari ruang kepala sekolah dan
kembali ke kelasnya

Flasback off

“Wah gila hoky banget lu!”, seru
Berlin
“Kalau gue gak ikuut program akhir tahun,
gue disuruh buat essay lima halaman tentang
liburan gue
nanti”
“Hmmm…, berat juga ya lima halaman”, ujar
Cindy
“Tapi, yaudahlah, yang penting lu uda di
setujuin. Cuman buat essay kan?”, ujar Stella
“Gampang itu mah!, tinggal suruh aja

karyawan di kantor bapak lu buat kerjain”,
lanjutnya

“Sudah dulu anak-anak ngobrol nya,
perhatikan bapak dulu…”
“Jadi sekaranng akan bapak bacakan
kelompoknya. Satu kelompok terdiri dari
enam orang, dan ada beberapa yang lima
orang. Dan orang-orang nya campur dari
kelas lain”, ujar Pak Richard

“Baiklah, kelompok pertama di kelas ini
terdiri dari: Leon, Bobby, Stephani, Michael,
Jane, Tony. Kelompok kedua: Brenda, Berlin,
Stella, Clara, Cindy, dan Tara”, ujar Pak
Richard

“Ciee…, ada yang mau satu kelompok sama
ratu galak nih yeee…”, ejek Alexa
“Isssshhhhh, diem lah lo Lex!”, seru Brenda

Mereka emang gak suka sama Tara sih, karna
dia emang galak, makanya mereka namain
ratu galak. Tapi bukan hanya itu, katanya
Tara itu agak seleboran, terus agak tomboy,
pokoknya beda banget lah sama kehidupan
mereka yang anggun, feminim, bak princess.

“Untuk kelas 12 IPA -1, kelompok nya

adalah: Bryan, Rendy, Audrey, Keisha, dan

Reina” “Ihhhh, kok Bryan satu

kelompok sama sih anak belagu itu lagi

sihh?!”, gerutu Brenda “Iya…,

dasar!, awas aja dia kalau macem-macem!”

***

“Tapi untung deh, program akhir tahun kali
ini gue satu kelompok sama kalian”, ujar
Audrey “Jadi mengurangi stress tau gak!, gak
liburan pas akhir tahun”

Audrey, Reina, Bryan, Rendy, dan Keisha,
sedang duduk-duduk di kantin sambil
menikmati makan siang mereka. Seperti
murid-murid yang lainnya, mereka juga
sedang membicarakan tentang program akhir
tahun nanti.

“Tapi kenapa ya tahun ini kita dikasih
tugas?”, tanya Audrey “Kan tahun-tahun lalu
juga gak ada tugas”
“Iya ya…, kan biasanya enggak… Kenapa ya
kepala sekolah buat peraturan kayak gini?”,
Bryan menanggapi pertanyaan Rendy dengan
pertanyaan baru

Sama seperti anak-anak lain, yang pertanyaan
nya itu-itu aja, gak ada berkembang-
berkembangnya. Mereka selalu bertanya hal
yang sama berkali-kali, dan jawaban yang
sama-sama nihil. Sampe kotak sarang sekolah
penuh dengan pertanyaan : “Kenapa program
akhir sekolah gak jalan-jalan?”, “Kenapa
program akhir sekolah ada tugas?”, “Kenapa
program akhir sekolah malah diadain di
sekolah?”. Semua guru menjadi pusing
membaca kotak saran yang dipenuhi oleh
pertanyaan yang membuat orang bingung
gimana cara jawab nya.

“Emang biasanya kayak gimana?”, kali ini
Keisha yang bertanya, maklumlah karna dia
kan anak baru, jadi gak tau apa-
apa

“Jadi biasanya, kalau program akhir tahun
itu, kita jalan-jalan ke luar negri. Kita
biasanya jalan-jalan satu angkatan ke empat
negara. Setiap kelas itu punya destinasi yang
beda-beda, dan setiap tahun destinasi nya
juga ganti-ganti. Tapi gak tau tuh kepala
sekolah, kenapa juga di ganti-ganti?”, jelas
Rendy panjang lebar

“Ooo”, Keisha hanya bisa beroria, karna
sebelumnya dia tidak pernah mencari tahu
tentang sekolah yang sekarang ia jalani ini.

“Sayang banget tau gak sih, kita tahun ini gak
jalan-jalan”, gerutu Audrey “Padahal gue
udah pengen banget jalan-jalan sama temen-
temen seangkatan. Huhhh!, tapi tahun ini kita
gak bisaaaa!”, rengek Audrey. Sama seperti
murid-murid yang lain, mereka juga sangat
menyayangngkan berubahnya program akhir
tahun ini, yang tidak seperti tahun-tahun lain

“Tapi ya…,ada satu yang jadi pertanyaan
gue selama ini ”, Reina membuat teman-
temannya kepo dan penasaran
“Apa?”, tanya Keisha

“Kenapa ya, kita gak jadi jalan-jalan, malah
di kasih tugas. Tugas apaan coba?,
pertanyaan tentang pelajaran apa coba?. Kan
kita udah akhir tahun, udah selesai semua
pelajaran juga, tinggal kenaikkan kelas. Jadi
pertanyaan apa juga yang mau ditanyain
selain pelajaran?. Gue bingung dehh…, kan
gak mungkin pertanyaan pelajaran, apa
mungkin pertanyaan nya tentang pelajaran
matematika?”

“Kalau matematika gue ampun sih…, gue

gak bisa, nilai gue aja pas-pas an. Nyampe
KKM udah syukur”, ujar Audre

“Tapi kalau dipikir-piki…, masuk akal juga

pertanyaan lu Rei kok gue gak kesampeain
sampe ke situ ya?”, Audrey bingung, selama

ini dia kemana aja, gak mikir sampe ke situ
“Karna otak lu gak sampe Audrey, ketinggian

itu pertanyaan buat otak lu yang kurang se-
ons itu”, cerca Rendy

“Issshhhh!, enak aja lu nih!, mau gue

lempar?. Gini-gini gue pernah rangking dua

tau!” “Dua dari

belakang hahaha”, Rendy menjulurkan

lidahnya untuk mengejek Audrey. Rendy

hobi nya dari dulu emang ngejek Audrey,

sampe Audrey marah. Tapi justru disitu

momen yang paling seneng pas kita ngebuli

oraang

Mata Audrey sudah melotot hampir mau

keluar saat dia mendengar jawaban Rendy
“Enak aja beneran tau!, lu emang beneran
mau gue lempar?!, Hah!”, Audrey rasanya

ingin melempar Rendy dengan mangkok

yang ada di depannya

“Ampun, ampun, santay dong nengg, calm
down… Gue cuman bercanda santay…”,

Rendy berusaha menghindar dari amukkan
Audrey

“Santay-santay, pala lu peyang santay!. Itu
namanya lu udah merendahkan harga diri gue
tau!”, Audrey membela dirinya
“Harga diri, harga diri… Omongan lu
ketinggian tau gak?!”, jawab Rendy, yang
membuat Audrey menjadi makin

panas
“Ihhhh!, awas lu Ren!”

“Udah ah kalian ini!, berantem mulu, kayak
Tom&Jerry tau gak?”, Reina melerai
pertengkaran mereka berdua yang sangat

tidak berfaedah ini
“Tuh, lorang dua itu dengerin pacar gue yang
paling cantik dan bijaksana ini…”, Bryan
merangkul Reina
“Hahaha, lucu lu!”, Audrey berdecak
pinggang sebal
“Bilang aja lu iri!”, ujar Bryan

“Issshhhh!!”, Audrey beranjak dari duduk

nya seraya ingin melempar Bryan dengan
mangkok yang sudah ada di tangannya. Tapi

sayang perbuatannya itu sudah lebih dulu
ditahan sama Reina, dia menghindari
pacarnya dari amukkan dan lemparan
mangkok oleh Audrey. Kan gak mungkin
satu sekolah heboh gara-gara tragedi
pelemparan mangkok oleh Audrey dan
Bryan. Kalau Bryan kenapa-napa bisa di
amuk massal sama semua fans nya Bryan.
Apalagi sama geng nya Brenda yang super
ribet itu.

By the way…, Audrey, Rendy, sama Bryan
itu sering banget berantem dari orok sampe
gede. Mereka sahabatan tapi sering banget
berantem, mereka berantem sampe gak bisa
itung pake jari tau gak, sangking banyaknya.
Apalagi Audrey sama Rendy, itu mah gak
usah ditanya lagi. Mungkin karna mereka
saudara dan satu rumah kali, karna sering
ketemu jadi ada aja yang diributtin, sampe
rumah gak bisa tenang kalau ada mereka.

Sedangkan di meja si queen be…, kayak di
mejanya Bryan, sepertinya mereka sedang
membicarakan tentang program akhir tahun
juga

“Itu masukkin ratu galak ke grup chat kita”,
ujar Brenda pada teman-temannya
“Ehhh, kenapa?”, Stella menjadi heran, kan
sebenernya Brenda itu gak suka sama Tara

“Kan dia satu kelompok sama kitaaa buat
program akhir tahun bambangg…”, kata
Brenda geram, melihat kelakuan teman-
temannya, yang pertanyaan nya kebanyakan
“Terus bilang di grup kalau kita entar malem
bakal kumpul di café the rose”

“ngapain?”, tanya Cindy polos
“Ya buat ngebahas masalah program akhir
tahun lahh”, ujar Brenda

Cindy emang polos sih, tapi polosnya itu jadi
bikin kesel. Kayaknya dia lebih pantes
dipanggil lola bukan polos, iya lola, alias
loading lama!. Cindy itu otaknya emang lola
banget, cantik-cantik kok lola?. Karena
kelolaannya itu dia sering ngebuat Brenda,
Stella, Clara, sama Berlin geregetan sama dia.
Tapi dia itu gak sadar, kalau sebenernya
temen-temenya itu pengen banget ngebejek-
bejek kepalanya. Tapi kan gak mungkin, dia
dibejek-bejek massal. Tapi kesel.

“Kalian jangan lupa ya entar malem kumpul
di café the rose, jangan ada yang telat!”,

Brenda mewanti-wanti temannya yang sering

ngaret ini
“Siap bu bos”, ujar Berlin

“Kita program akhir tahun ini nginep gak
sih?”, Reina bertanya pada Bryan yang ada di

sebelahnya
“Hmmm, kayaknya nginep semalem deh…”,

jawab Bryan
“Berarti harus bawa tas gede dong?, kan
bawa baju…”
“Ya gak gede-gede banget…, bawa tas jinjing
aja, kalau gak tas ransel”
“Ooo, nanti pas hari-h, kamu jemput aku
ya…, kan bawa tas nya berat”
“Kan emang setiap pagi kamu selalu aku
jemput…”, Bryan mencubit hidung kecil
Reina gemas “Nanti aku jemput kamu pake
mobil, biar bawa nya gak berat ya…”
“Iya!”, Reina sepertinya terlihat excited

Malamnya sesuai janji mereka tadi siang,

Brenda, Stella, Berlin, Clara, Cindy , dan

Tara, mereka semua sudah berkumpul di café

The rose. Alexa gak ikut karena kan dia gak

ikut program akhir tahun. Dan juga kemaren
malam dia langsung cus liburan sama
keluarganya.

“Jadi gais, kita ketemu di sini, karna kita mau
omongin tentang program akhir tahun. Apa
aja yang mau dibawa, terus apa yang mau
disiapin”, Brenda terlihat seperti ketua
kelompoknya, yang mengkoordinator setiap
anggota
kelompoknya
“Kita ada tugas apaan ya?, pas program akhir
tahun?”, tanya Clara
“Gak tau juga deh, tapi ya…, kan kemarena
papa ikut rapat dewan sekolah. Abis itu, kata
papi, tugas akhir tahun kali ini gak ada
hubungannya sama pelajaran”, ujar Berlin
“Kok aneh?, oh iya kita nanti berangkat dari
rumah nya jam 8 malem kan ke
sekolahnya?”, tanya Stella
“Iya…, tadi sih kata pengumuman di mading
kaya gitu…”, ujar Berlin

“Ini beneran program akhir tahun ini mau
diadain di sekolah?, malem-malem lagi?”,
Tara membuat mereka semua bingung
sekaligus penasaran. Karna kita semua tahu

kalau keputusan program akhir tahun bakal
diadain di sekolah dan itu udah ketok palu.

“Iyalah!, kan udah dicantumin juga di

pengumuman, Jam 8 malem. Emang

kenapa?”, ujar Cindy "Kalian

tau gak sih tentang rumor di sekolah kita?",

Tara memulai cerita nya dengan sebuah

pertanyaan yang membuat semua

mengernyitkan dahi

"Rumor apaan?", tanya Cindy

"Rumor hantu di sekolah kita"

"Oh iya gue tau", Clara menceritakan kepada

teman-temannya "katanya dulu, ada Noni

Belanda yang bunuh diri di gudang sekolah

kita"

"Te-terus", sepertinya Cindy udh mulai takut

"Dulu, seorang Noni Belanda sekolah disini,

dia sangat dibenci oleh teman-temanya"

"Setiap hari di pukul, disiksa, dan dianiaya

sama teman-temannya"

"Karna sering di siksa dan dianaya dia udah

gak tahan lagi, dan gak punya harapan untuk

hidup. Karna siksaan dan pukulan nya terlalu

sakit dan berkali kali"

"Terus, Noni Belanda gimana?", tanya Berlin

penasaran

"Akhirnya dia memutuskan untuk bunuh diri
di gudang sekolah kita"
"Arrrghhhhh, ko-kok ada sih cerita kayak
gitu?", gerutu Cindy
"Makanya kalau malem-malem kita ke
sekolah malem dan ngelewatin gudang
sekolah kita bakal nyium bau darah dan
teriakkan Noni Belanda itu", Tara mengakhiri
ceritanya tentang rumor hantu itu
"Ihhh!!, Udah ah gak usah ngomongin itu
lagi!.", gerutu Cindy, dia sudah tidak tahan
dengan semua cerita tentang rumor itu, dia
menjadi lebih takut karena malem ini adalah
malem jumat, kliwon lagi. Siapa sih yang gak
takut dengan malem jumat kliwon. Semua
orang masih percaya dengan mitos-mitos
yang beredar di jagat maya tentang malam
ini.
"Lu takut beneran Cin?", tanya Stella dengan
nada yang menggoda nya
"Lu emang gak tau kalau malem ini malem
Jumat tau!. Mana dirumah gue gak ada orang
lagi, pembantu gue doang!", Cindy emang
gak ngomong sih tapi mukanya pucet, terus
dia ngambek deh. Dan itu tandanya dia takut
tapi gak ngomong aja, biasa gengsi.

“Iyaa… gue tau ini malem jumat. Tapi lu gak
usah takut kali!, namanya juga rumor”, ujar
Tara “Ya tapi tetep aja…”,
Cindy masih membela dirinya, kalau
seharusnya Tara jangan menceritakan hal itu
di saat-saat seperti ini.

“Tapi gue emang pernah denger sih tentang
rumor tentang Noni Belanda ini. Soalnya
ceritanya terkenal di laman sekolah.
Kayaknya pernah trending deh di timeline
sekolah.”, ujar Brenda
“Tapi walaupun ceritanya terkenal dan udah
pernah trending, tapi kalau ketemu langsung
kan juga takut…”, ujar Cindy

“Heh PA!, alias pendek akal!, siapa sih yang
gak takut kalau ketemu hantu
langsung?!”,ujar Stella yang geregetan
dengan jawaban Cindy. Stella menggeleng-
geleng kan kepalanya, dia sudah kehabisan
akal menanggapi pertanyaan Cindy yang
sungguh menguras emosi.

Malam itu, mereka menginap di rumah
Brenda. Mungkin karena Cindy takut karena
cerita Tara, Cindy merengek untuk nginep di
rumah Brenda, akhirnya Clara, Berlin, Cindy,

dan Stella nginep di rumah Brenda. Setelah
mereka sepakat untuk menginap di rumah
Brenda, mereka segera meluncur menuju
rumah Brenda. Tak lama kemudia, Brenda
memberhentikkan mobilnya di depan sebuah
rumah bercat hitam, yup! Itulah rumah
Brenda. Mereka segera turun dari mobil nya
dan segera masuk menuju kamarnya.

Brenda, Clara, Berlin, Cindy, dan Stella
sedang duduk-duduk cantik sambil memakai
masker lumpur milik Brenda.

“Aduhhh, gak enak tau kalau nginep gak pas
weekend… Besoknya masih harus sekolah
lagii”, gerutu Berlin
“Iyaaa…, gue juga gak suka!. Elu sih Cinn,
ngapain juga lu percaya kata-kata sih ratu
galak itu?, kan dia bilang jugaaa kalau itu
rumorr…”

“Kan namanya juga gue takut…, kan gue
dirumah sendirian”, ujar Cindy “Oh iya!,
gimana kalau besok kita bolos?, gak usah
sekolah?, kita ke mall aja! kita belanja buat
program akhir tahunn!”, seru Cindy, dia
terlihat sangat bersemangat kalau yang
namanya belanja

“Iya, bener-bener!. Gue pengen beli tas baru,
udah gak suka lagi model tas gue yang
dirumah”, ujar Berlin
“Iya!, gue ngajak kalian karna gue juga mau
beli baju buat besok!”, jawab Cindy

“Tapi tunggu!”, sela Clara yang membuat
teman-temannya penasaran sekaligus panik
“Kan papi anggota dewan sekolah…, kalau
papi tau, gue gak pulang kerumah terus besok
nya gue gak sekolah. Gimana?, bisa dihukum
gue!, bisa disita hp gue, abis itu uang jajan
gue dikuranginn!”, Clara sekarang menjadi
panik, mukanya menjadi pucat. Karna uang
jajan dikurangin sama dengan nightmare

“Oh iya, aduhhh, gimana dong?. Masa besok
kita gak jadi ke mall”, Berlin sekarang
menjadi ikutan panik

Brenda sedang sibuk dengan ponsel nya,
sepertinya dia lagi mencari informasi. Dia
sedang mencari-cari, kalau besok bisa gak
pulang cepet.

“Oh My God!, Oh My God!” Brenda
memukul-mukul lengannya Clara yang ada di

sebelahnya, dia jadi histeris karena apa yang
dia temukan di ponsel nya

“Aduhhh!, apaan sih Bren?, mukul-mukul!.
Sakit tau pukulan lu!”, ujar Clara yang
merasa terganggu karena pukulan nya
Brenda
“Iya, emang kenapa sih?, lu baca apa?, sampe
muka lu kayak orang kesurupan gitu”, tanya
Berlin

“Tau gak sih…, besok kita pulang cepet!,
yeeeeyyy”, Brenda memperlihatkan
ponselnya

“Hah?, sumpah sih?!”, Cindy segera
mengambil handphone Brenda dari
tangannya “Oh My God!, bener dongggg!”,
Cindy histeris dan berteriak sampe masker
nya mau retak “Oh My God, Oh My God,
masker gue mau retakk, masker guee”, seru
Cindy

“Iya!, katanya kita besok pulang jam 11.00.
Kan pas, mall juga buka sekitar jam segitu”,
ujar Brenda
“Hah?!, ngapain coba gue di sekolah cuman 3
jam?. Capek-capekin gue bangun pagi aja!”,

seru Stella
“Masih mending pulang cepet…”, jawab

Clara
“Daripada capek-capek bangun pagi,
mendingan besok kita bolos…”, ujar Stella
“Ya jangan-jangan dong…, nanti gue
dimarahin papi gimana?”, Clara menyengir

kuda

“Yaudah, berarti besok kita berangkat ke
sekolah”, ujar Brenda
“Tapi magerrr, besok gue males sekolahhh.
Huaaa”, Stella merengek seperti anak kecil
“Ya gimana dong?”, tanya Brenda,

sebenernya Brenda emang mau bolos juga
besok

“Gini aja”, Berlin menyuarakan usulnya
“Gimana kalau besok Clara aja yang masuk

sekolah sendiri, abis itu nanti pas jam 11.00
nanti kita berempat jemput Clara di sekolah,

terus langsung ke mall gimana?. Pada setuju
gak?”, lanjutnya

“Gue mah setuju-setuju aja”, ujar Cindy
“Yahhh…!, berarti besok gue ke sekolah
sendiri dong?”, sesal Clara
“Ya mau gimana lagi?, abis papi lu kan

anggota dewan sekolah. Kau lu kena, kita
juga bisa kena. Gak ma ikut-ikutan gue”, ujar
Brenda

“Udahlah gak papa, daripada uang jajan lu
dikurangin?”, ujar Stella
“Yaudah deh pasrah gue… Tapi kalian besok
jemputnya on time ya?”, ujar Clara
“Iyeee”, jawab Brenda, karna biasanya dia
yang bawa mobil

Akhirnya mereka segera bersih-bersih dan
tidur, karna sekarang jam sudah
menunjukkan pukul 11:00 malam.

BAB 9

Keesokkan nya hari Jumat…

Semua orang berlarian menuju gerbang
sekolah, mereka sangat sumringah bisa
pulang pagi. Karna jarang-jarang banget
kepala sekolah yang super menyeramkan itu
bisa berbaik hati memperbolehkan murid-
murid nya untuk pulang pagi.

“Ayok kita jalan-jalan!”
“Abis ini kita mau ke mana?, makan pasta
atau main ke ancol?”
“WOI, tungguin gueee”

Dari semua cuitan tadi, kita beralih pada
mobil Brenda yang sudah nangkring di depan
gerbang sekolah, nungguin Clara yang
sedang berjalan dengan anggung dan sungguh
lambat menuju mobil Brenda. Sepertinya
Audrey dan kawan-kawannya sedang
memperhatikan mereka sambil menghibah.

“Eh itu si ratu alay ngapain di situ?, nungguin
saha?”, Audrey memulai pengghibahannya
dengan menyenggol Rendy yang ada di
sebelahnya

“Kalau dari informasi yang gue denger dari
kelas sebelah, katanya mereka bolos, sumpeh
enak bener bisa tidur lama…, gue pengen”,
jawab Rendy

“Tunggu-tunggu, kalau mereka bolos, kenapa
gak sekalian enam-enamnya?, eh maksudnya
lima, kan Alexa udah pergi. Terus itu kenapa
Clara yang masuk sendiri, apa gak hampa
idupnya gak ada temen-temennya yang
ribetnya minta ampun”, ujar Audrey

“Hmmm, kalau menurut logika gue yang
sungguh kritis ini—“, belom aja dilanjutin
kalimatnya, Rendy udah ditabok aja sama

Audrey gara-gara kepedean “Heh!, gak usah
kepedean lu!, gak usah sok kritis!, nanti lo
kritis beneran gara-gara gue tabok mau?!”,
gara-gara siang hari yang panas ini, Audrey
juga ikutan panas

“Aduhhh!, kasar amat sih lo jadi cewek!,
udah-udah kita lanjutin dulu julid kita lagi
klimaks ini!. Kalau menurut gue, kan
bokapnya Clara itu anggota dewan sekolah.
Jadi karna itu dia gak bolos, karna takut
dimarahin, makanya dia takut bolos!”, ujar
Rendy

“Dia takut bolos?, emang lu pernah liat dia
langsung”, tanya Audrey

“Pernah!, waktu itu gue liat dia lagi marah-
marah!. Gile!, ngeri boy, udah kepala nya
botak, mukanya merah, matanya melotot.
Sumpeh boy, merinding gue liatnya!”, Rendy
menjelaskan ciri-ciri papinya Clara saat dia
marah dengan detail

“Hahahahah!, gila gue bisa ngebayangin
mukanya pas lagi marah, hahaha. Mukanya
ngeri malah ngakak gue!”, Audrey menjadi

terbahak-bahak mendengar deskripsi nya
Rendy

“Heh!, kutu kumpret!”, Bryan memukul
kepala mereka berdua dengan bola basket,
yang membuat mereka berdua kesakitan
“Lorang ini seneng amat ghibah, gak takut
dosa apa lorang?. Nghibahin orang tua lagi!,
kualat baru tau rasa lo!”, lanjutnya

“Ya gimana dong, kalau ada berita yang hot
harus dighibahin gak bisa itu namanya cuman
nonton doang!. Ghibah itu kebutuhan bro!,
nyeritain kehidupan orang itu nikmat bro!”,
ujar Audrey, dia merasa bangga karna telah
mengatakan itu pada Bryan

“Bener banget tuh Drey!, sebagai seorang
saudara dan temen seperghibahan gue dukung
kata-kata lo!”, seru Rendy menepuk-nepuk
pundak Audrey

“Heh!, nikmat-nikmat tapi dosa oge!.
Aduhhh, udahlah gue capek ngomong sama
lorang berdua, nguras tenaga tau gak!”

“Udah, kalian gak usah berantem, ayok kita
pulang” sahut Reina dia segera berjalan

menuju mobil Bryan diikuti keempat teman-
temannya

***

“Buruan La!”, teriak Brenda
“Iyaa…, santay kali!”, Clara mempercepat

gerakkan kakinya dan segera masuk ke dalam

mobil Brenda segera

menginjak pedal gas nya, dan berjalan

menuju mall.

Sesampainya di mall mereka segera berlari

kegirangan mencari baju yang menarik mata

mereka. “Gue pake baju apa

ya…?, dress warna pink atau blouse warna

putih?. Bagusan mana?”, Brenda bertanya

pada teman-temannya dengan mata berbinar-

binar
“Terserah lu lah, nanti kalau gue pilih yang

ini, lu malah gak suka terus ngamuk. Serba
salah kan gue”, curhat Cindy

“Emang lu mau nge impress siapa?, nge-
impress hantu-hantu cowok di sekolah?”, ujar

Stella
“Heh!, lu kalau ngomong jangan asal ya!.

Kalau didatengin baru tau rasa lu!. Gue tuh

mau nge impress my baby Bryan!. Nih ya
gue kasih tau, setiap hasil baik itu pasti ada
usaha di dalam nya”, ujar Brenda dengan
bangganya
“Lu gak usah sok bijak deh Bren…, gak
cocok sama karakter lu!”, ujar Clara

***

Hari ini adalah hari program akhir tahun!,
semua orang telah bersiap untuk hari ini.
Walaupun tidak sesuai dengan rencana awal,
semua panitia telah menyiapkan semuanya
dengan baik. Sesuai jadwal, mereka semua
berkumpul di aula sekolah pukul 7:30 malam.
Begitu kira-kira perintah dari OSIS.

Dan sesuai rencana awal Bryan menjemput
Reina di rumahnya.

“Bryan!!”, Reina berlari ke arah Bryan
sambil membawa tas nya. Bryan tersenyum
melihat Reina menghampirinya seperti anak
kecil
“Kayaknya ada yang seneng banget mau ikut
program akhir tahun…”
“Hehe, aku udah pelajarin semua
pengetahuan umum, biar aku dapet nilai yang

bagus. Terus papa gak marah-marahin aku
lagi deh gara-gara nilai aku”, Reina

menjelaskan semua rencananya
“Emang kemarin nilai kamu jelek?”
“Enggak juga sih…, tapi nilai aku nurun,
makanya papa marah… Makanya aku mau
dapet nilai bagus”
“Good girl…”, Bryan mengusap puncak

kepala Reina

“Reina…”, ujar papanya Reina sambil

menghampiri mereka
“Kenapa pa?”
“Itu katanya mama kamu, minum kamu
ketinggalan”
“Iya tah?, perasaan aku udah
bawa…”
“Kata mama kamu belom, coba kamu masuk
dulu”

Walaupun sedikit bingung, Reina tetap

masuk dan mengambil minumnya yang kata

papanya ketinggalan

“Halo om…”, ujar Bryan
“Ada yang mau om omongin sama
kamu…”
“Kenapa om?”

“Om bukan yang suka bertele-tele, jadi om
bakal to the point aja”
“Om mau kamu jauhin Reina”
“Jadi kita harus putus? emang nya kenapa
om?. Kita baik-baik aja kok”
“Enggak, kamu jangan langsung putusin dia,

Reina terlalu rapuh kalau kamu langsung

putusin dia. Kamu harus jauhin dia dan buat
dia benci sama kamu, baru kamu putusin dia”
“Sama aja dong om…, pada akhirnya Reina
bakalan sakit juga”
“Enggak, dia itu anaknya om, pokoknya
kamu ikutin kata-kata om aja”
“Emang ada yang salah sama aku om?, aku
beneran sayang kok sama Reina”
“Mungkin kalian saling sayang, tapi itu gak

cukup. Asal-usul kamu aja gak jelas, belum

punya SIM udah bawa motor, karakter

macam apa yang katanya bisa jagain anak
om?”
“Pokoknya om minta sama kamu buat jauhin
Reina”, Papanya Reina segera berbalik dan

berjalan masuk ke rumahnya

Dan Reina pun segera berangkat dengan

Bryan. Di perjalanan Bryan hanya dihiasi

dengan keheningan, walaupun Reina sudah

mencoba mengajaknya bicara. Iyalah, siapa
yang gak shock kalau tiba-tiba di suruh putus
pas lagi sayang-sayangnya, kan nyesek. Tapi
ya begitulah, Bryan tetap menuruti perintah
papanya Reina, dan akhirnya mereka sampai
di sekolah tepat pukul 7:30 malam. Alhasil,
Reina menjadi seperti tidak diperdulikan oleh
Bryan, akhirnya mereka berdua menjadi
menjauh, malam ini takkan seindah seperti
yang sudah direncanakan.

***
Di aula sekolah…

“Anak-anak yang baru datang silahkan taruh
barang-barangnya”
“Kira-kira gimana ya?, gue penasaran emang

apa serunya program akhir tahun di

sekolah…” “Kita malem ini

mau ngapain ya…?”
“Ya mana gue tau…, sepanjang sejarah gak

pernah ada ceritanya program akhir tahun di
sekolah”

“Heh!, taro barang itu pake tangan bukan
pake mulut…”
“Udah, udah!, ayok kumpul semua disini”


Click to View FlipBook Version