“Iya pak…”
Mereka semua segera berkumpul
mengelilingi pak Joko. Matanya yang belo
dan kepalanya yang botak menambah kesan
seperti monster di film fantasi.
“Jadi baiklah anak-anak…, karna semuanya
udah pada ngumpul bapak akan jelaskan
kegiatan pada malam hari ini”, ujar Pak Joko
“Jadi malam ini tugas kalian untuk akhir
tahun adalah . Kalian dan grup kalian diminta
untuk ke setiap pos untuk nyelesain teka-teki,
waktu maksimal nya jam 12:00 pagi, jadi
selesai gak selesai kalian harus tetep
ngumpul di aula. Mengerti?”
“Iya pak…”
“Oh iya, ada 8 pos jadi akan ada 8 teka-teki
yang harus kalian kerjakan. Nanti di setiap
pos kalian dikasih kertas yang berisi teka-
teki, nanti jawaban dari teka-teki itu adalah
sebuah benda, dan benda itu ada di pos
tersebut. Jadi nanti benda-benda itu semua
dibawa sampai akhir pos untuk penilaian.
Kalian bebas mau ke pos berapa aja, gak
urutan gak apa-apa. Ngerti gak nanti bapak
ngomong apa?”
“Ngerti
pak…”
“Kalau kalian semua udah ngerti silahkan
kalian berkumpul sama grupnya masing-
masing dan boleh mulai pencariannya”
***
Pos pertama adalah Lab Biologi…
Audrey, Bryan, Rendy, Reina dan Keisha
menyusuri lorong untuk mencari pos 1
“Kok gelep banget ya…”, ujar Audrey
“Kayaknya lampunya sengaja dimatiin
deh…”, ujar Reina
“Kita kayak syuting film horror tau…” , ujar
Keisha
“Be-bentar deh…, gak bakalan ada hantu
kannn…?”, Audrey menatap teman-temanya
satu persatu dengan tatapan ragu
“Maksud lu hantu noni Belanda?”, tanya
Rendy memastikan
“I-iya…, itu hoax kan…? Gak beneran kan?”
“Gini aja lu baru takut, biasanya kan lu
bentak-bentak gue…”
“Ihhhh!, gak berpengertian banget sih lo…”
“Udah-udah banyak bacot banget lu orang!.
Sekarang kita cari posnya aja!, ribet sama lu
roang mah!”, gerutu Bryan dengan nada
tinggi, yang menyudahi pertengkaran
mereka
“Idih!, kok jadi elu yang sensi…”, ujar
Audrey
Sementara di kelompok Brenda…
“Ini kita dimana sih…?, kok gak keliatan
apa-apa…?”, tanya Clara
“Biasanya kalau siang-siang gampang banget
nyarinya, kalau dibutuhin aja susah nyarinya.
Kita udah 30 menit loh gak nyampe-
nyampe”, gerutu Berlin
“Kita gak kesasar kan…?, kayaknya kita
udah pernah lewatin ini…”, ujar
Tara
“Gak usah nakut-nakutin deh…”, ujar Berlin
“Kayaknya gue ngenyium bau darah deh…”,
ujar Stella
“Enggak kok, udah deh gak usah nakut-
nakutin. Elu kan kalau malem idung nya
emang suka mampet”, ujar Brenda
“Gue udah minum obat kok dirumah, beneran
tauuu, gue beneran nyium!”, jawab Stella
“Wait, wait, wait. Ini Panitia OSIS gak ada
rencana buat nakut-nakutin kan…?, soalnya
gue juga ngenyium bau darah…”, ujar Tara
“Bren…, i-itu apa-an kok putih-putih?”,
Cindu menepuk-nepuk pundak Brenda sambil
tubuhnya bergetar ketakutan
“Apaan sih Cin…?, gak ada apa-apa lohh”
Karena penasaran mereka semua berbalik
untuk melihat sesosok putih yang membuat
Cindy ketakutan.
Ternyata benar, sesosok wanita berbaju putih
dengan banyak bercak darah berjalan ke arah
mereka sambil memakai payung berenda
yang terlihat sangat tua.
“Mamaaa!!”
“Harusnya gue gak usah ikuttttt!, Huaaaa”,
mereka semua berlari terbirit-birit
***
“Lu gak takut…?”, tanya Rendy
“Tidak…, gue mah pemberani. Kan gue
setiap hari tinggal sendiri di apartemen, gak
ada apa-apa tuh…”, jawab
Keisha
“Kok jadi curhat”
“Hahaha, itu mah kenyataan bukan curhatan”
“Gais!, bentar deh…, ini Lab Biologi bukan
sih…?”, tanya Reina pada teman-temannya
“Hmmmm, tak tau!, gak keliatan”, ujar
Audrey, yang tidak memberi solusi sama
sekali
“Ya kita semua juga gak keliatan lah PA!”,
ujar Rendy
“Kayaknya sih iya…, yaudah yuk masuk
aja…”, Ucapan Keisha menjadi solusi untuk
mereka semua
Mereka akhirnya masuk ke Lab Biologi dan
mencari secarik kertas yang berisi teka-teki
untuk mereka pecahkan
“Ini nih teka-tekinya!, gue bacain ya…”, ujar
Keisha
“Mana, mana?, coba lu baca…”, ujar Audrey
“Aku kecil, berwarna merah. Aku bisa
menjadi panjang
dan menjadi pendek, siapa kah aku…?”
“Apaan coba…?”
“Kita gak dikasih clue apa?”
“Kalau kita disuruh cari di Lab Biologi,
berarti berhubungan sama manusia dan organ
dong…” “Bener-bener, tapi kan
organ yang warna merah itu banyak…, semua
organ malah warnanya merah. Gak clue yang
lain tah?”, ujar Audrey
“Ini mah bukan masalah nya ada clue atau
enggak tapi masalahnya otak lu nya yang
nyampe atau enggak bambang…”, jawab
Rendy
“Enak aja!”
“Tapi, Gue bingung deh, sebenernya
bambang itu siapa sih?”
“Iya, gue juga bingung, namanya selalu di
omongin
gitu…”
“Kupingnya si bambang itu gak panas apa di
ghibahin terus tiap hari?”
“Aduhhh!, kalian berisik banget sih!, kan kita
harus ngerjain tugas. Nilai gue itu harus
bagus!, gue gak mau hanya dengan omongan
kalian yang gak berguna itu nilai gue jadi
makin anjlok!”, teriak Reina
“Tapi walaupun nilai turun, lu tetep ranking”
“Kalau gue mah nilai kecil bodo amat, karna
udah takdir…”
“Kalau gue jadi elu mungkin orang gua bakal
nge gelar karpet merah sambil ngomong
selamat datang”, ujar Rendy
“Tapi gue bukan elu!, yang ke sekolah cuman
buat main-main. Gue harus dapet nilai yang
sempurna buat memuaskan semua ekspektasi
mereka!”
“Reina!, Cukup! lu nih sebenernya kenapa
sih?”, ujar
Bryan
“Kamu yang sebenernya kenapa, aku daritadi
ajakin ngomong gak kamu jawab!”
“Aku gak mau nilai aku anjlok lagi!, emang
salah ngomong kayak gitu?!”
“Kita semua disini mau nilai bagus lah!, siapa
yang gak mau. Jadi gak usah merasa kamu
yang terlalu tersiksa lah. Kita disini juga
tersiksa, harusnya kita liburan tapi malah
disuruh nyari teka-teki sampah kayak gini!”
“Wait, wait, gue gak mau terlibat dalam
pertengkaran rumah tangga nih…”, ujar
Audrey
“Mendingan kita sekarang cari bareng-
bareng, gak usah pake esmosi, pusing gue…”
“Usus bisa panjang pendek gak?”, tanya
Audrey
“Mungkin bisa kalau lu tarik-tarik”, jawab
Rendy
Jawaban dan pertanyaan seperti inilah yang
membuat semua orang speechless tidak bisa
berkata apa-apa. Jawaban dan pertanyaan
seperti inilah yang tidak memilki logika yang
mendasar.
“Jawaban macam apa itu…?, pantesan nilai
biologi lu gak pernah lulus, Sekarang gue
maklum kenapa guru biologi capek kalau
meriksa kertas ulangan punya lu…”
“Ckckck…, kok bisa sih mahluk seperti elu
masuk kelas IPA?”
“Kan lu juga masuk kelas IPA oge…”
“Tapi seenggak nya nilai gue masih ada yang
bisa dibanggain. Gak kayak elo…, merah
semua…”
“Hihhhh!, jangan menghina lu…, Nanti kalau
gue lulus lu kaget…”
“Hahaha never!”
“Wait, wait, kayaknya gue tau deh…”,
tanggapan Keisha langsung diserbu oleh
berbagai macam pertanyaan oleh teman-
teman kelompoknya. Terutama Rendy dan
Audrey, mereka sudah terlalu lelah dengan
pertanyaan yang tidak pernah bisa mereka
dapatkan jawabannya
“Kayaknya jawabannya lidah deh…?”, ujar
Keisha
Rendy dan Audrey beradu pandang, mereka
bingung dari mana asalnya Keisha bisa dapat
jawaban seperti itu. Yang mereka saja sudah
menyerah.
“Oh iya!, bener-bener!”, Reina berteriak
histeris
“Kan kalau kita julurin lidah dia panjang
kalau kita balikkin lagi ketempat nya bisa jadi
pendek!. Iya bener-bener, baru sadar gue…”
“Yaudah, ayok bawa itu manekin struktur
mulut, abis itu kita langsung ke pos lain”,
ujar Reina bersemangat, dia seperti
mendapatkan pencerahan dari semua teka-
teki yang susah dimengerti ini
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 12:00 pagi.
Pak Joko sudah mundar-mandir di depan aula
menunggu anak-anak menghampirinya
membawa jawaban dari teka-teki yang
diminta.
Semua kelompok segera menyerbu Pak Joko,
mereka berlomba-lomba untuk memberi tahu
jawaban yang mereka dapatkan. Kericuhan
pagi itu membuat kemarahan Pak Joko
memuncak.
“Aduh anak-anak ini!”,teriak Pak Joko
Semua pasang mata tertuju kepada Pak Joko,
yang tadinya berisik segera diam seketika.
Secara otomatis mereka segera berbaris.
***
“Baiklah anak-anak sekian acara kita hari ini,
kalian boleh kembali ke kelas untuk tidur”
kata Bu Saras
Semua murid segera berbalik menuju kelas
masing-masing dan tidur di tempat tidur yang
sudah disiapkan
Keesokan paginya…
“Bangun-bangunn…”, teriak Pak Joko
dengan speaker
“Sumpeh ini jam berapa sih?, perasaan masih
pagi udah teriak-teriak aja”, seru Rendy
sambal mengucek-ngucek matanya
“Baru jam 6 pagi?!”, seru Rendy setelah
melihat jam di handphone nya
“Bangun-bangun ayo semuanya bangun udah
pagi!”, ujar Pak Joko lagi
“Dah lah, ayok bangun-bangun”, seru Bryan
“Kalau udah bangun ayok cuci muka, terus
baris di aula”, ujar Pak Joko lagi
Semua murid segera berbaris di lapangan
dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya
dan energi yang belum terkumpul, mereka
sempoyongan berjalan ke lapangan, karena
jam segini masih terbilang pagi untuk anak-
anak konglomerat ini.
“Anak-anak di pagi hari ini lebih baik kita
senam pagi terlebih dahulu”
***
Setelah senam pagi selesai mereka segera
mandi dan mengambil sarapan yang sudah
dimasak oleh chef yang memang
dipekerjakan di kantin oleh SMA Saint
Dalton untuk memasak makanan mereka.
Mereka segera mengambil sarapan dan
mencari meja untuk duduk.
Empat orang anak penguasa SMA Saint
Dalton segera duduk di tempat biasa mereka,
siapa lagi kalau bukan Bryan,Keisha,Audrey,
dan Rendy.
“Lu,ambil makanan apa Drey?”,tanya
Keisha
“As usual, roti, soup, sama buah”, jawab
Audrey
“Sok bule lu…biasanya kan lu makan nasi
uduk sama lontong sayur tiap pagi”, semprot
Rendy “Gue cabein juga
mulut lu”, balas Audrey
Mereka berdua hanya bisa tertawa melihat
kelakuan dua anak ini, tanpa sadar Bryan dan
Reina sudah berbaikan
“Anak-anak setelah kalian sarapan, kalian
boleh pulang. Dan jangan lupa untuk melihat
pengumuman di website sekolah”, ujar Bu
Saras
“Iya bu”, ujar semua anak-anak
“Emang ada pengumuman apaan? Coba lu
cek”,ujar Rendy sambil menyenggol tangan
Audrey “Ntar-ntar gue buka
dulu”, jawab Audrey
“Oh my,Oh my. Ih mulai besok kita libur
UAS 1 bulan!”, ujar Audrey kegirangan
“Yes!, liburan kuy”, ajak Rendy
“Ayok aja sih, mau kemana emang?”, tanya
Bryan
“Kita ikut tour ke East America aja yang 11
hari, tadi gue baru liat di Instagram”, ujar
Keisha “Ihh boleh tuh,
kuy kuyy. Nanti lu kirim aja postingan nya
terus nanti gue suruh anak buah bapak gue
booking in”, ujar Audrey
“Oke oke”, jawab Keisha
“Kei,Rei nginep rumah gue yuk!, sekalian
bantuin gue pack in baju buat liburan”, ujar
Audrey sambil memelas menatap kedua
temannya
“Agak rempong ya bo…, baru aja
direncanain langsung pack in barang aja, ejek
Randy “Aduh aduh
princess capek, lu gak usah mulai perang
dunia ketiga deh, seneng banget cari perkara
sama gue”, timpal Audrey
“Kuy lah kita pergi ke rumah lu drey”, ujar
Keisha sambil menggandeng tangan Audrey
menuju parkiran
***
Di bandara…
Anak-anak konglomerat Saint Dalton ini
bergegas turun dari mobil dan menuju gate
mereka.
“Sekarang gue tanya lu, ini sebenernya lu
mau pulang kampung apa liburan sih mba,
banyak amat ni bawaan”, ujar
Rendy
“Biasalah cewek cantik kayak gue, banyak
yang sirik. Kepo amat sih lu, udah sana
buruan nanti ketinggalan pesawat”, ujar
Audrey sambil mendorong Rendy
“Kau cantik?!, nunggu sampe Nicki Minaj
nanem padi lah kau baru cantik dibilang sama
orang”, ejek
Rendy
“Jangan sekate-kate lu bilang gue gak cantik,
buktinya mantan gue berderet”, timpal
Audrey “Iya berderet tapi
di ghosting semuaaaa wle”, ujar Rendy
sambil menjulurkan lindah nya dan berlari
meninggalkan mereka
“Awas ya lu”, teriak Audrey sambil mengejar
Rendy
***
“Pesen chicken cordon blue sama orange
juice ya”, ujar Rendy sambil membolak-balik
buku menu
“Baik, ada lagi pesanannya?”, tanya
pramugari
“Sama chicken alfredo dibungkus boleh?”,
tanya Rendy dengan
bodohnya
“Lu pikir rumah makan padang?”, ujar Bryan
yang sudah menahan malu
“Ya gak papa, kali aja kalau dibungkus lebih
banyak”, jawab Rendy
“Maaf tidak bisa”, jawab pramugari
“Tapi kalau id Instagram nya bisa?”, goda
Rendy yang sedang menunjukkan sisi buaya
nya “Alay lu”, ujar Bryan
sambil memukul kepala Rendy
“Baik, saya permisi”, ujar si pramugari
sambil meninggalkan mereka
“Pasti si pramugari tadi langsung ambyar abis
digoadain sama gue”, kata Rendy dengan
bangganya
“Ambyar, ambyar, otak lu yang ambyar. Gini
nih kalau circle nya buaya semua, sungguh
lingkaran setan”, jawab Bryan
“Maksud lu geng motor gue? Itu namnya
bukan buaya bray, tapi strategi”, ujar Rendy
Bryan hanya geleng-geleng dengan
kelakukuan teman nya
***
“Para penumpang yang terhormat sebentar
lagi kita akan mendarat di John F. Kennedy
international airport ”
Geng Saint Dalton itu segera turun dari
pesawat, mengambil bagasi, dan segera
menuju ke hotel mereka.
Keesokan paginya setelah sarapan pagi keluar
dari hotel untuk berjala-jalan, karena hari ini
adalah hari bebas
“Itu kenapa rame-rame?”, tanya
Bryan
“Kayaknya ada pameran universitas”, jawab
Audrey
“Ren, temenin gue kesana yuk”, ajak
Bryan
“Gak ah, lu gak liat ini gue lagi ngobrol, lu
kan udah gede gak bakal ilang”, tolak Rendy
Tanpa basa basi Bryan segera menarik kerah
baju Rendy dengan bar-bar nya
“It’s pleasure to know you, save my number
okay”, ujar Rendy dengan sedikit berteriak
kepada sekumpulan cewek-cewek bule yang
barusan menjadi target nya
“Udah lu gak usah godain cewek disini.., tuh
bule gak bakal mau sama cowok tampang
pas-pas an kayak lu!”, ujar Bryan sambil
berjalan santay menarik kerah baju Rendy
“Heh!, lorang mau kemana?!”, teriak
Audrey
Bryan hanya melambaikan tangannya tanpa
menoleh kebelakang. Merasa dikacangi
ketiga cewek itu memutuskan untuk pergi ke
tempat lain
Rendy meraung dan melapaskan cengkraman
tangan Bryan dari kerah bajunya
“Nih ya tegaskan sama lu, sebagai Elle’s man
2021 gue merasa terhina lu bilang muka gue
pas-pas
an”
Bryan segera menutup mulut Rendy dengan
tangannya “Bacot lu!”
Dengan spontan Rendy menghempaskan
tangan Bryan dari mulutnya
Bryan merasa tertarik ketika melihat stan
New York university dan menghampirinya.
Sepertinya ia ingin mendaftar disana…
Tanpa basa basi ia segera tanda tangan dan
mendaftar untuk menjadi murid New York
university di tahun ajaran berikutnya
“Heh onta, lu emang yakin mau kuliah
disini?!. Lu tanda tangan gak pake mikir,
emangnya pengambilan sembako cepet-
cepetan?!”, ujar Rendy
“Gue udah ngobrol kok sama nyokap bokap
kalau gue mau kuliah di New York
university”, jawab Bryan
“Gila!, gercep amat lu. Tapi emang lu udah
ngomong sama Reina, kalau lu mau kuliah
disini?” “Oh iya, anjir gue lupa!”
“Tuh kan…, boneka santet ini, hal penting
gitu aja bisa lupa”
Di sisi Reina,Audrey, dan Keisha
“Aduhhh, merasa tersingkirkan gue disana…
Sekarang kita kemana dong?”, tanya Audrey
“Kita ke New York times square aja yuk!,
belanja!”, usul Reina
“Ayukk!!, tangan gue gatel banget mau
milih-milih baju”, ujar Keisha
Di hotel…
Setelah pulang dari jalan-jalan hari ini Rendy
segera mencepukan peristiwa yang sangat
membagongkan ini ke Audrey dan Keisha.
Akhirnya mereka bertiga langsung melabrak
Bryan dan menyuruh Reina menunggu di
kamar Rendy dulu.
“Bray, lu ini sebernya gila apa bego sih?!,
keputusan sepenting itu lu gak cerita-cerita!.
Oke lah lu gak cerita ke kita gak papa. Tapi
seenggaknya lu bilang dulu ke Reina”
“ Lu sebenernya mikirin apaan sih sampe
buat keputusan kayak gini?!”
“ Wah gila, lu sakit sih
Bray”
“ Aduh, lorang jangan keroyokan kayak
orang tawuran gini…”, ujar Bryan
“ Iya gue tau, gue salah. Gue salah gak kasih
tau kalian, gue salah gak kasih tau Reina.
Tapi gue udah mikirin ini mateng-mateng,
dan gue juga punya tujuan”
“Gini kita semua tau kalau lu udah pikirin
semuanya mateng-mateng. Dan kita semua
juga tau kalau kita semua pasti bakal punya
jalan sendiri-sendiri. Pasti kita bakal kuliah di
luar negri dan beda negara. Tapi masalahnya
sekarang adalah KENAPA LU GAK
BILANG-BILANG MAEMUNAHHH”
“ESMOSI EKEE”
Audrey langsung menyenggol tangan Rendy
“ Ini lagi adegan klimax ege!, serius dongg.
Important ini”
“Oke, sekarang lu mendingan ajak Reina
makan malem ngomongin ini baik-baik
sekalian take away buat kita”, saran Audrey
Setelah kekeyosan itu Rendy berganti baju
dan menghampiri Reina
Bryan memegang tangan Reina pelan “Rei,
dinner yuk”, sahut Bryan lembut
“Mereka gimana?, masa gak makan?”, tanya
Reina
“Mereka bisa di take away”
“Yaudah aku ganti baju dulu ya”
Bryan menganggukkan kepala nya sebagai
isyarat bahwa iya mengerti
Mereka berjalan menyusuri jalan malam di
kota New York. Bryan merasa gelisah, ia
tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi
Reina dan bagaimana nasib dari hubungan
mereka
Mereka sudah sampai di restaurant dan
menunggu makanan mereka datang
Reina terlihat menyuap makanan nya “Kamu
gak makan?”
“Ehmm, Reina aku mau ngomong…”
Terlihat kegelisahan dari sorot mata Bryan,
terlihat bahwa ia tidak siap untuk mengatakan
situasi yang ia rasakan. Ia khawatir
bagaimana perasaan Reina, ia khawatir
bagimana respon Reina, dan yang paling
penting ia khawatir bagaimana nasib dari
hubungan mereka.
Bryan terlihat mempersiapkan hatinya “Rei,
aku mau kuliah di New York…”
Reina masih terdiam ia masih tidak mengerti
apa yang terjadi
“Aku minta maaf, aku salah, aku gak kasih
tau apapun sama kamu, aku gak melibatkan
kamu dalam keputusan aku” Bryan menghela
nafas berat, terlihat keputus asaan dalam
dirinya, ia melihat bahwa ini adalah akhir
dari hubungan mereka.
Air mata Reina menetes dari pelupuk
matanya. Air mata kesedihan, air mata
kekecewaan itu sudah tak terbendung. Ia
berlari keluar dari restaurant itu, ia ingin
berlari sekencang-kencangnya ia lebih baik
tidak pernah mendengar kata-kata itu.
Bryan mengerjar Reina keluar restaurant, ia
terlihat duduk di pinggir trotoar dan
menangis. Bryan mencoba berlutut dan
berbicara kepada Reina
“Gimana janji kamu yang gak pernah
ninggalin aku, gimana janji kamu yang mau
kita sama-sama terus?!”
“Kamu pembohong! kamu adalah satu-
satunya nama yang gak akan pernah aku mau
ada di hidup aku”
Tangis Reina pecah, tangis yang sudah ia
bendung. Tangis dari segala kekhawatiran,
tangis dari segala ketakutan, tangis dari
segala keputus asaan yang tidak pernah
terungkapkan oleh kata-katanya
Bryan terlalu pasrah untuk membela dirinya,
ia tidak sanggup untuk meninggikan egonya
utuk membela dirinya
Bryan mengambil barang Reina restaurant, ia
mengantarkan Reina yang sedang menangis
sesenggukan itu ke hotel. Setelah sampai di
depan hotel, Bryan kembali lagi ke restaurant
untuk menenangkan diri.
Di restaurant Bryan duduk di tempat yang
sama, saat ia berbicara dengan Reina.
Terlihat seorang pria parubaya duduk di meja
sebelah Bryan berbicara kepada nya
“Sometimes everything that happen in our
lives doesn’t always end up the way we hope.
Everything has its time
Bryan terlihat bingung tetapi ia harus tetap
menanggapinya “ Thank you for your support
sir, I hope that I can see you again” Dan
Bryan segera meninggalkan restaurant itu
dan kembali ke hotel
Di sisi Reina
Mereka bertiga segera menyerbu Reina sesat
Reina kembali ke hotel “Reina kamu gak
papa?, kamu dianterin siapa?”
“Aku belum bisa cerita apa-apa sama
kalian…, aku butuh waktu sendiri dulu”,
jawab Reina yang masih terisak-isak
Selama sisa perjalanan itu Reina enggan
berbicara dengan Bryan suasana berjalanan
itu menjadi dingin.
Waktu berlalu dengan sangat cepat tidak
terasa murid kelas 12 SMA Saint Dalton akan
lulus. Murid-murid tampak rapi dengan toga
kelulusan mereka. Pagi ini semua murid
menjadi rempong, apalagi yang cewek-
ceweknya.
“ Girls…¸gimana penampilan Brenda hari
ini?”, tanya Brenda masih dengan gaya
hebohnya “Cucok
banget deh”, jawab teman-teman geng nya
Brenda sambi mengacungkan ibu jari mereka
“Gak kerasa banget kita udah mau lulus”,
ujar Cindy dengan mata yang hampir
berkaca-kaca “Utututu…
cup cup, udah lu jangan nangis muka lu
jelek!. Sayang itu foundation chanel gue..”,
jawab Clara blak-blakan
“Gila lo Clar!, gak tobat-tobat dari dulu”,
tegur Alexa “Tapi emang gak kerasa, kita
pasti jarang ketemu lagi, karena kita kan
kuliah di beda-beda kota, di luar negri
lagi…”
Mereka berlima berpelukkan karna ini bisa
menjadi hari terakhir mereka bisa bersama
lagi
Di lapangan…
“ Selamat pagi anak-anak ku semua…, Bapak
ini mengucapkan selamat hari kelulusan bagi
kalian semua. Selama tiga tahun ini kalian
sudah memberikan yang terbaik sebagai
seorang murid. Bapak Ibu guru disini juga
sangat bersyukur bisa mengajar dan
mengenal calon orang-orang hebat seperti
kalian. Bapak harap setelah lulus dari SMA,
kalian bisa menjadi orang yang sukses dan
bisa membanggakan nama sekolah dan
keluarga kalian. Itu saja dari bapak. See you
on top murid-murid ku sekalian”, ujar kepala
sekolah
Setelah kata sambutan dari kepala sekolah,
murid-murid SMA Saint Dalton sedang
melakukan foto kelas di tempat yang sudah
disediakan pihak sekolah. Terlihat Bryan dan
teman-teman cowok sekelasnya sedang foto
bersama. Reina pun menghampiri Bryan
dengan sebuah kotak ditangannya.
Melihat Reina dating, Bryan segera
menghampiri nya
“Makasih ya Bryan buat semuanya, kamu
membuat banyak perubahan di hidup aku.
Semoga kamu punyaa kehidupan yang baik
disana, semoga kuliah kamu lancar”
Reina memberikan kotak yang ada di
tangannya “Aku pikir lebih baik ini kamu
yang simpen. Aku gak tau mau kamu apain,
terserah kamu….”
Bryan membuka kotaknya dan
tersenyum“Besok flight aku ke new York,
kamu ikut anter aku ke bandara ya”
Reina hanya menganggukan kepalanya dan
pergi meninggalakan tempat itu, ia berlari
menuju rooftop sekolah. Melihat Reina yang
berlari sambil menangis, Rendy segera berlari
mengilkutinya.
Di rooftop ia menangis sekencang-kencang
nya
“Gue harusnya gak usah dateng hari ini, gue
harusnya gak boleh nangis hari ini!”teriak
Reina
Setibanya Rendy di rooftop ia segera
menghampiri Reina dan menenangkannya
Rendy berlutut di depan Reina dan berkata
lembut “Reina…” sambile megusap-usap
pundaknya “Rendyyy”, ujar
Reina sambil berlinang air mata ia segera
memeluk nya dan menangis keras di
pundaknya
“Kenapa gue harus ketemu sama dia?!,
kenapa gue harus suka sama dia?!!, harus nya
gue gak usah masuk sekolah ini”, teriak
Reina sambil menangis, ia memukul-mukul
kepalanya
Rendy segera mendekap Reina ke
pelukkannya dan menenangkan nya dengan
mengusah-usap kepalanya. Seraya berkata
“Don’t blame everything
Perlahan-lahan ia melepas pelukannya dan
memegang pipi Reina
“Hei, hei Reina... Dengerin aku, gak semua
yang kamu mau itu harus terjadi… Mungkin
kamu memang harus jalanin ini semua karena
akan ada yang jauh lebih
baik…”
Reina masih menangis sesegukkan
“ Besok Bryan mau ke flight ke New York
kamu anterin sampe bandara ya… say
goodbye sama dia. Kamu harus belajar
berdamai sama diri kamu sendiri dan sama
dia ya…”, ujar Rendy sama mengusap air
mata Reina
Reina hanya bisa mengangguk lemas
Hari itu menjadi hari yang tidak pernah ia
lupakan. Ia merasa tubuhnya tak memilki
jiwa didalamanya. Saat diantar pulang oleh
Rendy ia hanya diam tidak mengatakan
apapun. Dan berjalan dengan tatapan kosong
dan tidak memiliki energi sama sekali.
“ Do I work too hard for us? Is this the
ending of everything?
Can we make alternate ending for us? Is this
your another way to end it?
I’m just a kid who wants to be with you,
without knowing wthat the risk
Can go back to that time?
When everything comes back to the point
where we don’t know each other”
Pagi itu di bandara…, Reina hanya diam
tanpa satu kata pun. Dingin menyelimuti
kepergian Bryan
“ Reina…, aku pergi dulu ya… kamu baik-
baik disini”, Bryan mengusap-usap kepala
Reina Mata Reina berkaca-
kaca ia hanya mengangguk tanpa mengatakan
apapun. Ia sedang menahan tangisnya
“Bro, gue pergi dulu ya jaga Reina baik…”,
ujar Bryan
“Ati-ati ya bro disana, gue bakal terus jagain
Reina”, jawab Rendy
Bryan mengangkat koper nya dan berjalan
menuju mingrasi
Pada saat itu Reina tidak bisa menahan
tangisnya. Tangis Reina pecah, ia menangis
sejadi-jadinya di pelukkan Rendy. Pada saat
terendah Reina hanya ada Rendy yang selalu
di sisinya.
“When you fade away
We said that
We would be alright
But no matter how hard I
try
I can’t ignore your dying
feeling
So meet someone that better than
me
I hope you can smile with him”