kembang kempis, tatapan tajam” , sahut
Audrey yang berada di sebelah Rendy
yang menjadi saksi dari fenomena tadi
“Hahaha gila ngakak!, tau gak sih muka lu
tuh cocok dijadiin sticker di grup whatsapp
emak-emak komplek, Hahaha. Gue udah
bayangin muka lu yang di jadiin sticker”,
lanjut Audrey yang masih ketawa-tawa
ngejekkin Rendy karena ekpresi muka nya
pas lagi marah-marah
“Apaan sih!!”, teriak Rendy marah
“Hahaha, emang dia fans lu kali”, timpal
Reina
“Tapi gue bingung deh, kenapa dia deketin
manusia yang bentukkan nya kaya lo, terus
kok dia tahan sih ngedektin lu?, gak kapok
gitu?…, bingung gue”, heran Audrey
“ARGHH, berisik tau gak sih!, banyak kali
cakap kau!”, geram Rendy
Bryan dan Reina terlihat sedang berjalan
beriringan menuju motor Bryan
“Bryan”
“Ya?” Bryan menolehkan padangannya
pada gadis disebelahnya, Reina
“Kayak ya, Keisha itu emang beneran suka
deh sama Rendy”
“Oh really?”
“Iyaa…, cara dia natap Rendy, cara dia
kasih perhatian itu beda. Aku bisa liat
tatapan mata dia, waktu dia ngeliat Rendy.
Kamu dulu kaya gitu gak ke aku?”
“Hmmmm, bisa
jadii…”
“Kok bisa jadi sih?!, bilang iya dongg”
“Iyaaaa” mendengar jawaban Bryan, Reina
tersenyum
***
Hari itu jam kosong, jam yang paling
ditunggu-tunggu anak SMA. Karena
mereka semua bisa melakukan apapun
yang mereka mau, seperti ngobrol, teriak-
teriak gak jelas, ke kantin makan bakso,
karena sedang tidak ada guru. Termasuk,
Reina dan Audrey, mereka sedang asik
mengobrol di kelas, gak tau ngomongin
apa. Kecuali Rendy, dia terlihat termenung
memikirkan sesuatu, dari raut mukanya,
sepertinya dia sedang memikirkan hal yang
serius.
Rendy terlihat menghampiri meja Reina
yang sedang asik ngobrol dengan Audrey.
“Audrey, gue boleh pinjem Reina nya
sebentar?”
“Ya…, terserah Reina nya”
“Kenapa Ren?”
“Ada yang mau gue ngomongin, pentingg”
“Oh ok…, bentar ya Drey, gue tinggal
dulu”
Mereka berdua akhirnya pergi ke taman
belakang sekolah dekat toilet dan
meninggalkan Audrey sendirian.
Mereka duduk dibawah pohon
beringin
“Lu mau ngomong apa Ren?”
“Aku sebernernya suka sama kamu Rei”
“Ren!”
“Aku tau kamu udah punya orang lain, dan
aku tau kamu gak akan pernah bisa aku
gapai. Tapi lebih baik aku ungkapin rasa
itu daripada hanya memendam dan
perlahan-lahan rasa itu buat aku makin
sakit”
Rendy meraih tangan Reina dan
memegangnya erat sambil duduk
mendekati Reina “Tapi aku beneran suka
sama kamu Rei, aku beneran sayang sama
kamu”
“Ren lepasin, Ren, lepasin!”, Reina
berusaha melepaskan genggaman tangan
Rendy
Tapi sepertinya Rendy gak akan pernah
melepaskannya
“Ren!, Lu gak usah sentuh-sentuh gue!!,
Lu gak usah kurang ajar ya!!”
“Dasar cowok brengsek!”
Reina berusaha melespakan gengaman
tangan Rendy dan segera berlari menuju
kelas
Di kelas, dia menangis sambil menidurkan
kepalanya di atas tangannya. Hari itu Reina
sangat kacau. Dia tidak menyangka bahwa
Rendy akan berbuat seperti itu kepadanya,
dia memang lelaki brengsek!. Dia merasa
sangat terhina. Seisi kelas menjadi heboh,
karena Reina nangis.
Audrey dengan cepat datang menuju kelas
dan menenangkan Reina.
“Rei, kamu kenapa?, kamu yang sabar
ya… udah…”, Audrey menenangkan
Reina sambil mengelus-ngelus punggung
Reina.
“Aku panggilin Bryan ya…?”
“Gak usah Drey, aku gak mau nanti kalau
Bryan berantem”
“Udah aku panggilin!, Bryan kan juga
harus tau masalah ini. Bobi tolong
panggilin Bryan dong, bilangin Reina
nangis!”
Bobi segera mencari Bryan dan memanggil
nya, Bobi bilang ke Bryan kalau Reina
nangis. Setelah mendengar itu, Bryan
panik dan segera berlari menuju kelas.
“Rei kamu kenapa?”, Bryan terlihat panik
saat melihat Reina menangis
“Yan, kita keluar dulu, gue ceritain”,
Audrey menarik Reina menuju depan
kelas, menjauhi kerumunan
“Jadi tadi pas gue ke toilet, gue denger
kalau tadi Rendy nembak Reina. Abis itu
gue liat Rendy berlaku kurang ajar ke
Reina. Makanya tadi pas gue liat itu gue
langsung panik, mau kasih tauin lo…”
Audrey menjelaskan semua yang dia
lihat
“Rendy!!!, mana dia?!!” Bryan menjadi
sangat marah atas semua perlakuan Rendy,
Bryan segera berlari mencari Rendy
Satu pukulan mendarat di perut Rendy
“Anjing!! Lu Ren!!!”
“Woi!, ada yang berantem woiii!!” semua
anak berbondong-bondong segera berlari
menuju
TKP
“Bryan!! Bryan! Bryan” mereka meneriaki
jagoan mereka seperti tontonan tinju
“ABISIN! ABISIN!” mereka sepertinya
tidak ingin melerai dan hanya menonton,
bahkan ada yang merekamnya
“Maksud lu apa?!!, berlaku kurang ajar
sama cewek gue?!!”, Bryan terus
menonjok perut Rendy tanpa ampun,
untuk melampiaskan
amarahnya.
Rendy membalas satu tonjokkan yang
langusng mendarat ke pipi Bryan “Cewek
cantik kaya dia siapa yang gak mau?!!!”
“Lagian kan gue duluan yang suka sama
dia, sekarang kenapa lu yang marah?!!”
satu tonjokkan lagi kembali mendarat di
pipi Bryan
“Gue tau!, LU NEMBAK REINA,
KARNA LU KURANG KASIH SAYANG
KAN?!!!, KARNA LU ANAK BROKEN
HOME. GUE TAU DARI KECIL LU
TUH GAK BETAH DI RUMAH KARNA
ORANG TUA LU BERANTEM
TERUS!!. MAKANYA LU SERING
NGINEP DI RUMAH GUE!” Rendy
berteriak membahas masa lalu
Bryan
“BACOTT!!!”, Bryan membanting keras
Rendy ke dinding dan terus menonjok
Rendy. Dia sangat marah karena Rendy
mengungkit-ungkit masalah keluarganya
yang gak mau di bahas
“LU TAU APA TETANG HIDUP
GUE?!!, HAH?!!, LU GAK USAH SOK
IKUT CAMPUR URUSAN GUE!!!”
“Lebih baik lu liat orang yang bener-bener
sayang dan peduli sama lu!, daripada terus
ngejer cewek yang gak pernah nganggep
lu ada!, dan itu cewek gue!.” Rendy
terdiam Bryan
menyeret paksa Rendy di sepanjang
koridor, Rendy sudah tak berdaya
“Bryan!!!, Rendy!!!!, UDAH!!!
BERHENTI!!”, teriak kepala sekolah
Mendengar namanya dipanggil Bryan
segera berhenti, dan mengatur
nafasnya
“IKUT SAYA KE RUANG GURU!!”,
kepala sekolah sudah memakai nada tinggi
Mendengar teriakan kepala sekolah, Reina
segera keluar dari kelas sambil
mengenggam tangan Bryan menuju ruang
kepala sekolah. Sedangkan Rendy dibawa
oleh guru ke UKS, Audrey dan Keisha
juga ikut.
Di ruang guru, semua guru menjadi
bingung dan shock melihat kejadian tadi.
Karena selama catatan sekolah dia tidak
pernah berantem. Karena Bryan sangat
sabar, Bryan akan marah ketika ada satu
hal yang sangat ia benci terulang.
“Bryan tenang, tenang…, ini sebenarnya
ada apa?”
“DIA UDAH BERLAKU KURANG
AJAR KE REINA PAK!!. SIAPAPUN
YANG MENYAKITI REINA!
KUBUNUH DIA!!”, Bryan berteriak
marah di ruang guru
“Bryan udah, tenang”, Reina menenangkan
Dilan dan menyuruhnya untuk kembali
duduk.
Bryan menarik tangan Reina dan segera
pergi meninggalkan ruang guru. Mereka
menuju taman belakang sekolah.
“Aku gak mau di sekolah ini lagi!, aku
muak!. Aku mau pergi”, Bryan berkata
pada Reina dengan nada kesal
“Yaudah kamu mau kemana?, aku ambil
tas dulu ya… Abis itu nanti kita pergi,
kamu tunggu disini ya…” Reina segera
beranjak pergi menuju kelas.
“Iya, aku disini”
Setelah Reina mengambil tasnya, mereka
menuju lapangan parkir sekolah memasuki
mobil Bryan.
“Tadi kamu kemana pas aku sama Rendy
ke taman belakang sekolah?”
“Aku ke ruang guru”
“Masa abis dari ruang guru, terus sekarang
dari ruang guru lagi”
“Hahaha, hobi aja aku ke sana, ademm…,
bisa nonton
tv”
“Haha, mana ada hobi ke ruang guru”
“Iya ya… mana ada. Yaudah sekarang
kamu mau kemana”, tanya Bryan seraya
men starter mobilnya
“Kemana aja!, yang penting sama kamu”.
Bryan tersenyum mendengar jawaban
Reina
“Kalau gitu kita lapangan aja, makan
batagor”
“Boleh”
Bryan segera mengendarai mobilnya keluar lapangan
sekolah.
“Bryan”
“Kenapa Rei?”
“Aku boleh nanya?”
“Boleh!”
“Waktu itu, pas dikantin. Kamu kenapa berantem sama
Rendy”
“Ohh itu, aku berantem sama Rendy karna belain kamu”
“Belain aku?, belain gimana?”
“Jadi waktu itu aku mau bilang ke Rendy mau deketin
kamu, soalnya Rendy pernah bilang kalau dia mau
deketin kamu, jadi aku suruh dia berenti. Abis itu aku
berantem deh sama dia”
“Terus, gak dipanggil ke ruang guru?”
“Enggak”
“Terus?”
“Gak usah terus-terus ah, nanti nabrak”
“Hahaha, jokes lama kamu mah”
Mereka terlihat tertawa bahagia
Di sisi lain, Rendy terlihat kesakitan di UKS saat luka dia
diobati oleh perawat.
“Auu, sakittt, pelan-pelan dong!”, Rendy masih terlihat
kesal dengan kejadian tadi, dia masih belum bisa
mengontrol amarahnya
“Rendy udah dong! Gak usah marah-marah, tahan ajaaa,
namanya juga lagi diobatin!”, Audrey membalas
gerutuan Rendy dengan amukkan
“Rendy udah selesai saya obatin, saya tinggal ya…,
permisi”, kata perawatan itu
“Iya makasih bu…”, jawab Audrey
“Makasih”, Keisha juga ikut menimpali, dan perawat itu
hanya tersenyum dan berlali pergi
“Ren, lu udah makan belom”, Keisha bertanya pada
Rendy yang masih terbaring di ranjang UKS
“Belommm”, ketus Rendy
“Kebetulan banget!, tadi gue abis beli bubur, gue suapin
ya…”, Keisha segera membuka wadah bubur itu
“Gak!, gue gak mau!”
“Gak ada penolakan!!, lu! Gue suapin!”, dengan terpaksa
Rendy membuka mulutnya, karena saat ini dia belum
punya tenaga untuk beradu bacot dengan Keisha
Keisha segera menyuapi Rendy “Good boy…”, Keisha
menepuk-nepuk pelan puncak kepala Rendy dengan
tersenyum manis, sedangkan Rendy hanya cemberut dan
pasrah. Keisha senang bisa ngurusin dan selalu ada di
sebelah Rendy kalau dia lagi kesusahan, walaupun Rendy
gak pernah memperlakukan sebaliknya.
Sejak saat itu Rendy dan Bryan tidak pernah terlihat
bersama lagi. Mereka seperti dua kubu yang terpisah.
Bryan dan Rendy masih terlalu marah karena kejadian
tadi dan mereka masih meninggi kan ego mereka masing-
masing. Bryan masih tidak menyangka bahwa sahabat
yang dia percaya sejak kecil melukai dan mengungkit
masa lalunya. Masa lalu yang tidak akan pernah ingin dia
ingat, masa lalu kelam yang dia benci, dan masa lalu
kelam yang ingin dia buang seperti sampah.
Dan akhirnya, pertengkaran Bryan dan Rendy tadi
diakhiri dengan skors tiga hari oleh kepala sekolah. Itu
mungkin keputusan yang terbaik untuk mereka
berdua.
BAB 6
“Kadang aku hanya ini menutup mata,
menutup mata untuk tidak melihat kenyataan
yang terlalu perih untuk dilihat. Karena yang
bisa kita lakukan hanya menutup mata dan
tidak peduli”
Dari luar nya Bryan emg ceria, tapi dia punya
banyak banget masa kelam dan rasa pahit
dalam di ya. Mungkin dengan cara itu dia
bisa menutupi semua rasa kelamnya.
Jadi dulu, waktu Bryan masih kecil orang tua
Bryan sering banget berantem, Bryan juga
sering banget ke rumah Rendy karena dia gak
betah di rumah, jadi kita yang selalu temenin
dia, dia sering nangis dan pergi ke rumah
Bryan, keluarga Rendy juga udah tau kondisi
keluarganya. Akhirnya, karena orang tua
mereka banyak konflik dan pertingkaian,
mereka memutuskan untuk berpisah. Hak
asuh Bryan akhirnya jatuh ke papanya Bryan
dan mamanya pergi ke luar negri. Hubungan
Bryan sama papanya juga gak terlalu baik.
Makanya Bryan sayang banget sama
mamanya, dia bakal ngelakuin apa aja buat
beliau.
Dia gak butuh mobil mewah atau apapun itu.
Gue tau yang dia pengen banget dan yang dia
butuhin cuman satu, keluarga yang utuh.
Mungkin seperti kira-kira cerita tentang masa
lalu Bryan yang diceritain sama Audrey.
Aku tidak menyangka kalau Bryan punya
masa lalu yang begitu kelam, karena itu
bertolak belakang dengan sifat dia yang
biasanya. Aku juga sadar kalau belakangan
ini dan setelah pertengkaran kemar, Bryan
sering ngelamun. Aku ingin menanyakan
tentang ini kepadanya, tapi aku sedang
mencari waktu yang pas, agar tidak melukai
perasaanya, dan merasa dia makin terluka.
“Bryan, aku udah lama mau nanya ini ke
kamu, tapi aku masih cari waktu yang pas,
karna aku takut buat kamu makin terpuruk,
dan buat kamu makin terluka”, Reina terlihat
seperti ragu-ragu
“Aku tau ini arahnya bakal kemana, aku tau
kalau Audrey udah ceritain kamu”
“Jadi, dari kecil aku emang gak pernah betah
tinggal di rumah, karna papa mama sering
banget berantem, hampir setiap hari. Aku
takut kalau mereka udah lempar-lemparan
barang, aku sampe sekarang takut kalau udah
denger ada benda yang jatuh, aku ngerasa
kalau bayangan yang kelam itu kembali lagi.
Akhirnya mereka mutusin untuk pisah,
mungkin ini keputusan yang terbaik untuk
mereka. Dan sekarang aku tinggal sama papa,
sedangkan mama udah pergi ke luar negri,
aku udah lama gak ketemu dia”, jelas Bryan,
dia terlihat menunduk sedih.
Dari sorot mata dia, aku merasakan adanya
masa lalu yang berat yang dia alamin. Mata
dia berkaca-kaca, aku cuman bisa nenanggin
dia sambil memeluknya.
“Jadi sekarang mama kamu dimana?” tanya
Reina ragu-ragu
“Mama sekarang tinggal di Milan, Italia. Aku
kangen sama dia”
Reina mengelus-ngelus puncak kepala Bryan
“Lebih baik kamu selesain masalah kamu
sama papa kamu, selama dia masih ada. Aku
tau ini emang gak mudah, tapi kalian harus
turunin ego kalian masing-masing. Walaupun
papa kamu udah buat sesuatu yang buat kamu
sakit hati, tapi itu tetep papa kamu, gak ada
yang namanya mantan ayah atau mantan
anak”
“Iya…, aku akan coba”
“Kamu punya
mimpi?”
“Aku mau jadi penulis novel, tapi kayaknya
papa gak setuju, kalau kamu?”
“Mungkin jadi ayah dari anak-anak kamu”,
Bryan terlihat tersenyum saat mengatakannya
“Hahaha”
“Kenapa papa kamu gak bolehin kamu jadi
penulis novel?”
“Kata papa, penulis novel itu bukan
pekerjaan yang patut diperjuangkan, dan
penulis itu gak punya masa
depan”
“Aku bakal bantuin kamu karena kamu udah
bantuin aku, buat ngeyakinin papa kamu
kalau kamu bisa jadi penulis yang sukses.
Karena semua masalah aku ataupun kamu
harus kita lewatin bareng-bareng, karna itu
artinya komitmen”, Reina tersenyum
mendengar jawaban Bryan, dia beruntung
mempunyai pacar yang bisa menuntun dan
memimpin ke jalan yang benar.
Sepanjang malam Reina berdiam diri di
kamarnya, jari-jarinya sibuk mengetik cerita
yang akan dia perjuangkan.
***
Malam itu, Bryan sedang berbaring di kasur
king size nya sambil memainkan ponselnya.
Saat lagi men-scroll instagram nya Reina
yang membuatnya tersenyum. Ponselnya
Bryan terlihat berdering, saat melihat nama
yang tertera Bryan membulatkan matanya
tidak percaya, dari posisi Bryan yang
berbaring dia segera berdiri dan mengangkat
telfonnya. Terlihat senyuman menghiasi
wajah Bryan, dia sudah lama sekali tidak
mendengar suara itu, karena selama ini
mereka cuman chat-an.
Keesokkan harinya…
Bryan segera bangun dan siap-siap pergi ke
sekolah, dia semangat sekali mau menjemput
Reina dan menceritakan semua nya.
Dia menginjak pedal gasnya menuju rumah
Reina, mereka segera pergi mejauhi rumah
Reina dan keluar gerbang perumahan. Motor
Bryan segera membelah jalan Jakarta, tapi
nampaknya mereka tidak menuju sekolah,
mereka berbelok menuju taman bermain.
“Bryan kok kamu belok?, kan kalau ke
sekolah itu lurus, emang kamu mau
kemana?”, tanya Reina panjang
lebar
“Aku mau ngajak kamu ke sesuatu tempat,
aku mau ngomong sesuatu sama kamu”
jawab Bryan
Saat sampai di taman Bryan segera
memakirkan motornya
“Sini duduk”, ajak Bryan sambil memukul-
mukul ayunan kosong yang ada di
sampingnya
“Iya”, Reina segera menghampiri Bryan dan
duduk disebelahnya
“Aku ada kabar baik”
“Kabar baik? Apaan?”
Bryan tersenyum kegirangan “Semalem
mama telfon aku”
Flashback on
“Halo mama!”, pekik Bryan kegirangan
“Halo Bryan, mama udah lama gak denger
suara kamu!, mama kangen”, kata mama
Bryan lewat telfon
“Bryan juga kangen sama
mama!”
“Mama punya kabar
baik!”
“Apa
ma?”
“Mama udah pesen tiket pesawat ke
Indonesia!, dan minggu depan mama bakal ke
Jakarta, ketemu kamu”
“Iya ma, pasti Bryan bakal ketemu
mama”
“Iya!, mama tunggu ya…, kamu sabar”,
Mama Bryan segera menyudahi percakapan
mereka dan memencet tombol merah
Flashback off
“Wahhh! Akhirnya”, seru
Reina
“Iya!, aku gak sabar banget ketemu sama
mama!. Nanti kamu temenin aku ya!!”
“Hmmm, aku mau sih, tapi…”
“Tapi apa?”
“Kan kamu udah gak ketemu sama mama
kamu, jadi kamu puas-puasin aja ketemu
sama mama kamu. Kamu pentingin mama
kamu aja, aku ketemu sama mama kamu
kapan-kapan kan bisa, jadi gak usah
pentingin aku, kamu dahuluin mama kamu
aja, aku gak papa kok!”
“Yaudah, kapan-kapan nanti aku bakal
kabarin kamu kalau mama mau ketemu”
***
Hari ini hari sabtu, hari libur sekolah.
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun
tiba, Bryan memekik kegirangan. Dia
akhirnya bertemu dengan mamanya, mereka
janjian bertemu di café Oliver. Bryan sudah
ada disana jauh sebelum jam bertemu. Bryan
sudah menyiapkan semuanya, Bryan tidak
sabar bertemu dengan mamanya. Dia
merapikan bajunya sambil menunggu
mamanya datang.
“Teng” Bel pintu café berbunyi, Bryan
melihat sosok itu, sosok yang baru saja
membuka pintu, sosok yang selama ini dia
rindukan.
“Hai ma!”, Bryan melambaikan tangannya,
sebagai pertanda mamanya bahwa dia ada
disini
“Hai Bryan!, kamu udah besar ya!”, mama
Bryan menjawab lambaian tangan anaknya,
dan segera duduk di kursi kosong di depan
anaknya
“Gimana kabar kamu?, mama udah lama gak
ketemu sama kamu!”
“Baik ma!, Bryan kangen bangett sama
mama”
“Mama juga kangen sama kamu!”
Papa baik? bryan terlihat menunduk dan
mengalihkan perhatiannya saat ditanya
tentang papanya
“Bryan…, sudah sepuluh tahun loh, udah
sepuluh tahun semenjak mama sama papa
kamu berpisah, lebih baik kamu maafin papa
kamu, mama tau kamu terlalu sakit hati sama
papa kamu, tapi bagaimanapun juga kan dia
tetep papa kamu, mama minta kamu buat
baikan sama papa kamu, ya?
Mama Bryan mengelus-elus puncak kepala
anaknya “Anak mama kan udah dewasa, udah
tau mana yang lebih baik untuk masa depan
kamu, mau gimana pun juga lebih baik kamu
baikan sama papa kamu, satu harapan mama
dari dulu, yaitu mau liat kalian berdua baikan.
Melihat kalian ngobrol dan makan sama-
sama kaya gini. Mama gak mau, gara-gara
papa kamu dan mama pisah, hubungan ayah
dan anak jadi gak baik. Bryan mau kan?,
baikan sama papa kamu?”
“Iya ma, Bryan usahain”
“Pinter anak mama, yaudah ayuk kita makan
dulu”
Bryan segera mengambil garpu di
sebelahnya, dan menggulung spaghetti
carbonara yang sudah dia pesan
“Oh iya, mama penasaran sama pacar kamu
itu, yang sering kamu ceritain”
Bryan terlihat menunduk, dia sepertinya
senang sekaligus malu dan kaget saat
mamanya membicarakan Reina
“Reina ma”, kata Bryan setelah dia
mengontrol degupan jantungnya
‘Iya Reina!, mama mau deh ketemu sama
dia!”
“Mama di Indonesia sampai kapan?”
“Sampai akhir tahun
mungkin”
“Oo, mama mau ketemu sama dia kapan?”
“Mungkin besok lusa,
bisa?”
“Okay!, nanti aku bilang sama dia”, Bryan
waktu mamanya bilang mau ketemu sama
Reina
***
Pada siang hari, Bryan ketemu sama
mamanya, malem hari Bryan ngapel dong
sama Reina kan malem minggu.
“Halo Reina”, ucap Bryan dalam
telfon
“Halo”
“Rei, ngapel yuk!, kan ini malem minggu
yuk!”
“Kayak di tahun 1990, aja
kamu”
“Hahaha, mau gak?”
“Boleh”
“Yes!, mau aku jemput atau kita ketemuan”
“Hmmm, kita ketemuan aja deh”
“Okay beb, kita ketemu di taman kemaren
ya”
“Iya!, bye!”
Reina menjadi bersemangat, dia segera ganti
baju dan bersiap-siap menemui Bryan.
“Bye ma, bye pa. Reina pergi dulu!”, kata
Reina melambaikan tangannya dan berlari
keluar rumah
“Bye Reina have fun ya…”, jawab mama
Reina
“Itu Reina mau kemana lagi
ma?”
“Ya ngapel lah pa…, kan hari ini malem
minggu, biasalah anak muda”
“Aduhhh, papa belom yakin sama anak itu…,
kalau ada apa-apa papa gak mau tanggung
jawab, karena papa udah ingatin”
“Yaudah papa mau ke atas dulu”, kata papa
Reina seraya bangkit dari duduknya
“Iya pa”
***
Sesampainya di sana, Reina segera berlari
menghampiri Bryan yang sudah duduk
menunggu dia.
“Gimana tadi ketemuannya”
“Baik!, aku seneng ketemu mama lagi!”
“Bagus dong!”
“Oh iya, kata mama, mama mau ketemu
kamu!”
“Wahhh, kapan?”
“Besok lusa
katanya”
“Okay!”
Bryan menarik tali ayunan Reina supaya
lebih dekat dengannya “Gimana?, deg degan
gak ketemu sama calon mertua?”
Tubuh Reina seketika mematung dia malu
saat Bryan memperlakukannya seperti itu
Reina segera memundurkan tubuhnya, dia
menunduk malu
“Deg-degan sih…, aku gak tau harus pake
baju apa, aku bingung nanti ngomong nya
gimana” “Hey, hey…, calm down
kamu gak usah gugup gitu mama tau kok
kalau kamu anak baik-baik, tanpa kamu harus
memberika effort
lebih”
Bryan meraih tangan Reina “Lagian, kan ada
aku, everthings gonna be okay”
“Iya”, Reina tersenyum lega mendengar
jawaban Bryan
“Yuk jalan-jalan!”, kata Bryan seraya
menadahkan tangannya
Reina membalas jabatan tangan Bryan
“Emang kita mau jalan-jalan kemana?
“Hmmm, kamu mau nya kemana?”
“Gak tauu, kita nonton live music aja yuk!”
“Boleh!”
***
Reina merapikan bajunya, penampilan itu
memang harus diperhatikan kalau mau
ketemu sama calon mertua. Bryan
membukakan pintu café untuk Reina, mereka
berencana bertemu dengan mamanya Bryan
di café Oliver kemarin.
Mereka segera masuk menemui mamanya
Bryan
“Hai ma!”, Bryan melambaikan tangannya
“Hai Bryan!”, mama Bryan memeluk
anaknya, Reina tersenyum melihat keduanya
melepas rindu setelah lama bertemu,
walaupun mereka sudah ketemu kemarin itu
tetap saja tidak
cukup.
Mama Bryan melepas pelukkan nya, dan
beralih melihat Reina.
“Ini Reina ma, pacarnya Bryan”
“Ini toh…, yang namanya Reina. Bryan
sering loh cerita tentang kamu sama tante,
ayo sini duduk”, mama Bryan mengajak
Reina duduk.
Bryan mengikuti mereka dari belakang,
Bryan senang melihat mereka bisa akur
walaupun baru pertama kali bertemu.
“Reina, jadi Bryan di sekolah gimana?”
“Bryan baik kok tante, rajin belajar
lagi!”
Mamanya Bryan tersenyum “Kalau dia nakal,
kamu marahin aja!, kalau perlu kamu laporin
tante
aja!”
“Iya tante…, Bryan baik kok”, Reina
mengelus-elus punggung Bryan
Mamanya Bryan tersenyum, dia senang
Bryan terlihat bahagia, dia senang melihat
Bryan mendapatkan lagi rasa kasih sayang
yang dia dambakan sejak dulu.
“Jadi kalian udah berapa lama pacaran?”
“Udah dua bulan ma…”
“Wah udah lama juga ya…, mama ikut
seneng kalau kalian seneng!”
“Makasih ya ma…”
“Nah…, ini makananya udah dateng…”, kata
mama Bryan
“Tinggal minumannya ya mas…”, lanjutnya
PRANGG
Secangkir teh jatuh ke lantai dari tangan
pramusaji. Reina reflek menutup telinga
Bryan mengingat masa lalunya
“Bryan kamu gak papa?, kamu tenang ya…”
Bryan hanya tersenyum rilih, dia berusaha
menahan agar semua kenangan yang pahit itu
tidak terulang lagi.
Mamanya Bryan kaget saat cangkir the itu
jatuh, tapi dia lebih kaget lagi saat muka
kaget dan takut Bryan itu muncul.
“Aduh…, maaf ya bu, sepatunya jadi basah.
Maaf ya bu”
“Udah mas gak papa…”
“Aduh, tas mama kotor, mama ke toilet dulu
ya… buat bersihin ini. Yuk Reina ikut tante
ke toilet bantu tante bersihin ini, Bryan kamu
tunggu di sini dulu ya… kamu makan duluan
aja” kata mamanya Bryan mengajak Reina
bersamanya
“Iya tante, Bryan kamu tunggu di sini dulu
ya…, kamu tenang ya…”, kata Reina seraya
menghampiri mamanya Bryan.
“Reina, kamu tau masa lalu Bryan dari
mana?”
“Waktu itu Bryan cerita sama aku tante”
“Kamu jangan pernah ungkit-ungkit masa
lalu itu lagi di depan Bryan lagi ya…”
“Iya tante, Reina ngerti
kok…”
“Bagus lah…, tante percaya sama kamu”,
mamanya Bryan menepuk-nepuk pundak
Reina Reina tersenyum
“Yaudah yuk kita makan…” kata mama
Bryan mengantar Reina
Reina tersenyum sambil berjalan beriringan
dengan mamanya Bryan.
***
Di langit bintang-bintang terlihat sudah
berjejer bersama bulan. Hari itu sudah
malam, Reina sedang terlfonan sama Bryan.
“Rei, kamu tadi di toilet ngomongin apa sama
mama?”
“Adalah…, rahasia cewek!”
“Emang ada rahasia cewek?”
“Ada dong…”
“Kamu gak mau kasih tau
aku?”
“Waktunya belom tepat untuk kamu tau.
Gimana?, udah mirip belom sama omongan
kamu yang waktu
itu?”
“Engak!, bagusan aslinya, lebih gentle!”
“Hahaha”
BAB 7
“aku ingin berubah untuk kamu dan selalu
ingin menjadi yang terbaik, tapi aku terlalu
keras untuk mencoba hingga aku lupa untuk
bernafas, dan istirahat sejenak dari
perubahan yang tidak pernah kamu lihat”
Setelah permasalahan hidup seorang anak
SMA yang rumit ini. Marilah kita melihat
kegalauan seorang anak perempuan yang
sedang berdiri di depan sebuah club elite di
daerah menteng. Dia adalah Keisha, malam
itu mobil putih Keisha sedang terpakir di
depan club elite itu. Dia bingung, ini seperti
memilih kebaikan atau kegelapan, masa
depan atau masa sekarang, club elite atau
Rendyy. Dia mau mencoba berubah untuk
Rendy, walaupun sering kelolosan juga,
seperti hari ini. Akhirnya iman Keisha
tergoyahkan juga, dia pun menginjak pedal
gas nya untuk masuk ke parkiran, dan
berpesta semalam penuh. Keisha akhirnya
lolos juga, sepertinya dia masih sakit akan
kata-kata Rendy tadi siang, mungkin karna
itu dia melampiaskan amarahnya sepanjang
malam.
Flashback on
“Hai pacar!”, Keisha tiba-tiba datang
menggandeng tangan Rendy saat dia sedang
bersama-sama temannya
“Aduhh!, ada ibu negara dateng, daripada
ganggu mendingan kita cabut!”
“Byee Ren, selamat menikmati…, ciee”
“Berisik lo pada!”, sahut Rendy
Rendy menghempaskan tangan Keisha kasar
“Gua bukan PACAR LU!, gua udah muak
sama semua kelakuan lo!. Sini ikut gue”,
Rendy menarik tangan Keisha menuju taman
belakang
Banyak sekali tanda tanya di kepala Keisha,
dia kaget waktu Bryan ngomong kaya gitu,
sekaligus juga senang, karena tangan dia
dipegang sama Rendy.
Setelah sampai di taman sekolah, Rendy
segera menghempaskan tangan Keisha ke
udara
“Lu harusnya nyadar diri, cewek kayak elu
gak pantes buat gue sukain!” Rendy
menunjuk Keisha
“Lu bilang lu udah berubah!, tapi tetep aja
sama kayak kemaren, sama-sama gak tau
diri!, sama-sama anak nakal!”
“Elu berubah tapi gak keliatan!, usaha elu
gak keliatan!”
“Gue emg anak broken home, yang suka
dugem, anak gak bener!. Usaha gue mungkin
belum keliatan tapi gue berusaha Ren, tapi
mungkin usaha gue belum keras. Tapi emang
pantes elu menjelek-jelekkan gue kaya gini?,
elu gak pantes Ren nganggep rendah orang
dari depannya doang, dan seumur hidup gue,
gue gak pernah ngerasa serendah ini” air
mata Keisha sudah penuh di pelupuk
matanya, tapi dia tidak ingin menangis disini,
dia tidak mau dianggap cewek yang lemah
oleh Rendy
“LU EMANG MANUSIA YANG GAK
PUNYA HATI REN!!”, Keisha segera berlari
meninggalkan Rendy menuju toilet, mata
Keisha berkaca-kaca, dia tidak dapat
memebendung air matanya, kata-kata Rendy
terlalu sakit untuk di terima.
Walaupun semua kata-kata dan perlakuan
Rendy yang sangat kasar dan tak pantas sama
Keisha, tapi dia tetap suka sama Rendy,
karena cuman dia yang membuat dirinya
tertarik. Keisha memang terlalu naif, terlalu
naif untuk sadar bahwa Rendy bukan lelaki
yang pantas memperlakukan dirinya seperti
itu. Karena Keisha percaya, sekecil apapun
usaha yang dia lakukan, pasti itu ada
hasilnya, walaupun harus bercucuran air
mata, harus mengalami sakit yang tidak
berdarah. Entah harus berkata apa lagi, inikah
yang namanya cinta itu buta?, ini namanya
kebodohan atau cinta?.
Flasback off
Keisha memang mau mencoba berubah untuk
Rendy, dia udah rajin belajar, tapi gak
mempan juga, karna otak lemotnya kalau di
suruh belajar ya akhirnya meledak juga tapi
kan dia udah berusaha, walaupun itu gak ada
efeknya apa-apa.
Keesokkan harinya, Keisha tidak masuk
sekolah, dia masih terlalu sakit untuk
menghadapi kenyataan, dia masih terlalu
sakit kalau harus berhadapan muka dengan
orang yang membuat nya menjadi sangat
hina.
“Drey”
“Hmmm?”
“Emang Keisha gak masuk
ya?”
“Gak tau gue, jangan-jangan… lu kangen ya
sama dia??”
“E-enggak, enggak, sejak kapan gue kangen
sama dia. Kan biasanya mahluk itu suka
berisik, suka gangguin gue, karna sekarang
gak berisik, jadi gue nanya dia kemana”
Audrey mengangguk-angguk, menandakan
dia mengerti tapi dengan maksud lain “Ooo,
bilang aja khawatir”
“Enggak! Dibilangin gue gak khawatir!,
ngomong-ngomong lu pernah ke rumahnya
gak?”
“Tadi katanya gak khawatir, kok sekarang
nanya rumahnya dimana?”, Audrey masih
terus menggoda Rendy, dia masih kepo
dengan hubungan mereka berdua
“Udah banyak nanya lu mah!, udah cepet
kasih gue alamatnya”
“Iye, iye, bentar! Gue tulis dulu”, Audrey
segera menulis alamatnya, dan memberikan
Rendy secarik kertas
“Thanks!”
Sepertinya Rendy merasa bersalah sama
Keisha, tapi sejak kapan Rendy pernah
merasa bersalah?, tapi gak tau Rendy
kesambet apa bisa nanyain alamat rumahnya
Keisha.
***
Sepulang sekolah, Rendy segera mengendarai
motornya menuju kawasan menteng, tempat
apartemen Keisha. Dia segera masuk, dan
mencari mencari apartemen Keisha berada.
Rendy memencet bel, dan menunggu untuk
Reina membuka kan.
Rendy menyodorkan makanan yang dia bawa
“Nih gue bawa makanan buat lo”
Keisha segera menutup pintunya kaget, dia
kaget Rendy tiba-tiba datang membawakan
dia makanan.
“Rendy mau ngapain ke apartemen gue?, kok
dia bisa tau?, apa dia ke sini mau minta maaf
ke gue?!”, Reina bergulat dengan pikirannya.
Dan seketika rasa sedih nya hilang atas
kejadian kemaren, tapi dia tidak boleh
memasang muka senang.
Keisha segera membukakan pintunya
kembali, dan Rendy masih setia di situ
dengan muka bingungnya.
“Lu ngapain disini?”, tanya Keisha
“Emang gue gak boleh dateng ke sini”, kata
Rendy dan nyelonong masuk ke dalam
Rendy melihat sekeliling “apartemen lu
bagus”,
“Ren!, lu mau ngapain ke sini?” Keisha
menghampiri Rendy
Rendy mendekatkan wajahnya ke wajah
Keisha, yang membuat Keisha mematung dan
degupan dadanya sangat kencang “Ya…,
mau nemuin lu lah”
“Gue mau minta maaf soal kemaren, sorry
ya…”
“Gue minta maaf, karena kata-kata gue
kemaren lu jadi gak masuk sekolah”
“Iya gak papa, gue ngerti lu emosi, gue
,ungkin yang udah bersikap di luar batas
sama lo, gue juga minta
maaf”
“Iya Kei gak papa” Keisha tersenyum
Rendy mengusap-ngusap kepala Keisha “Gue
baru sadar, ternyata lu tuh manis kalau lagi
senyum”
Pipi Keisha menjadi merah seperti tomat, dia
tidak membayangkan kalau Rendy akan
berbuat seperti itu padanya.
***
“Anak-anak, mulai minggu depan kalian akan
menghadapi UAS semester 2, jadi silahkan
persiapkan untuk UAS minggu depan”, ucap
Bu
Saras
“Dan sekarang jam kosong, karna kami ingin
rapat untuk UAS minggu depan. Dua jam lagi
akan ada bel pulang sekolah”
“Yeeyy! Pulang cepet!”
“Abis pulang sekolah ke mall
yuk!!”
“Akhirnya… pulang cepet!”
“Mengerti anak-anak?”, tanya Bu
Saras
“Iya bu…”
Karena minggu depan sudah UAS, semua
anak belajar seperti orang gila. Biasanya
anak-anak yang jarang masuk sekolah, yang
dua hari seminggu mereka biasanya
belajarnya pas UAS aja. Mereka datengnya
pagi-pagi banget, kalau biasanya mah boro-
boro, kalau telat pun syukur. Kayaknya itu
berlaku buat Keisha.
“Rei!, gue boleh minta tolong gak?”, sahut
Keisha sambil membawa beberapa buku
pelajaran “Kenapa Kei?”
“Tolong ajarin gue…”
“Oo boleh…, tapi emang beneran mau belajar
atau mau belajar demi Rendy nih?”
Keisha terlihat gugup, sepertinya niat dia
untuk minta tolong sama Reina udah
ketahuan “G- gue beneran mau belajar kok
Rei!, kan bentar lagi UAS”
“Yaudah sini aja”, setelah mendapat
persetujuan Keisha segera duduk disebelah
Reina
Rendy dan Audrey terlihat mengamati
mereka dari jauh
“Tuh liat!, dia tuh ada usahanya kok buat
berubah” Audrey menunjuk mereka samar
“Makanya lu tuh jangan liat dia dari
kejelekkannya, dari nakal nya, dari
perilakunya. Lu tuh liatnya dari yang kaya
gini!”, lanjutnya
“Ini paling cuman pencitraan, bentar lagi kan
juga UAS, makanya dia belajar!” Rendy tetap
kukuh dengan pendiriannya bahwa Keisha
memang tidak pernah punya niat buat
berubah.
“Makanya lu contoh dia tuh!, belajar juga lu
tuh!”, sahut Audrey
“Eh bambang!, lu juga ngaca!, lu emang
belajar?”
“Hehe, santay dong bro…”
“Tapi tunggu!, kok lu hari ini emosian lagi?,
kan kemaren perasaan lu baru baikkan sama
dia?, baru kerumah nya kan lu kemaren?, kok
sekarang jutek-jutekkan lagi?, berantem
lagi?”
“Aduhhh!, banyak amat sih pertanyaan
lu!”
“Ini tuh gara-gara liat muka lu! Makanya gue
emosi!”
“Enak aja!, orang muka gue cantik
gini!”
“Najis!, udah gue mau ke kantin dulu”
Rendy telah kembali dari kantin, dia terlihat
membawa dua minuman. Dia juga terlihat
menghampiri mejannya Reina.
Rendy meletakkan minuman yang ia bawa di
meja Reina “Kei, nih minuman buat lo…”
“Semangat ya belajarnya” Rendy mengusap-
ngusap kepalanya Keisha dan berlalu. Keisha
hanya menunduk
malu
“Cieee, kayaknya udah ada yang dapet lampu
ijo nih…”, goda Reina sambil menyenggol
pundak Keisha
Audrey menghampiri Rendy ke meja
nya
“Cieee…, kayaknya ada yang jatuh cinta
nih?, kalau udah beliin minum, abis itu
kerumahnya, abis itu ngusap-ngusap
kepalanya, kayaknya bentar lagi saudara gue
taken nih?”
“Apaan sih lu Drey!”
“Keisha cantik gak?”, goda
Audrey
“Cantik!”, Rendy melongo tak percaya, dia
ternyata sudah keceplosan menjawab
pertanyaan Audrey tentang
Keisha
“Uupps, kayaknya ada yang keceplosan
nih…, Keisha cantik kan?”
“Enggakk!”
“Ututuuu, ceritanya ada yang ngambek
nihh?”, Audrey terus menggoda Rendy
Kadang Rendy berfikir, apakah dia memang
sudah peduli dan memaafkan Keisha
sepenuhnya?. Sikap ini memang berasal dari
hati nya atau hanya perhatian biasa?. Apakah
dia memang benar mencintainya? Atau hanya
pelampiasan semata?. Tidak ada yang benar-
benar tau bagaimana perasaan Rendy pada
saat ini. Apakah dia benar-benar sudah
melupakan Reina dan membuka hatinya pada
Keisha atau tidak. Kita tunggu saja, karna
lebih baik menunggu daripada menjalani
hubungan yang tidak sama sekali kau
inginkan.
***
Sudah satu minggu sejak di umumkannya
UAS akan dimulai, sekarang semua anak
sepertinya punya kantung mata. Mungkin
mereka belajar dengan sangat keras, seperti
juara kelas kita, Reina. Dia terlihat lelah
karna belajar semalam suntuk, dia terlihat
berjalan dengan tidak ada tenaga. Melihat itu,
Bryan segera menghampiri nya.
“Hai pacarr!!”, Bryan segera berlari
mengahampiri
Reina
“Hai Bryan…”
Bryan mencubit pipi Reina gemas “Kok
lemes gitu?, semangat dongg!”
“Iya…, kayaknya aku semalem kurang tidur
deh…”
“Puk puk…, yaudah nihhh, aku beliin kopi.
Semangat ujiannya pacarrr” kata Bryan
mengusap -ngusap puncak kepala
Reina
“Makasihh!” Reina tersenyum
“Aduhhh, hari pertama UAS bukannya
belajar malah mesra-mesraan, ketawa-ketawa
disini”, ujar Audrey yang tiba-tiba datang
dari belakang
“Hahaha, lu nih Drey ngagettin aja!”, jawab
Reina
“Iya lu nihh!, tiba-tiba muncul aja entah dari
mana”, Bryan menoyor kepala Audrey “Tapi
katanya ya, kalau ada orang yang berduaan,
itu ketiga nya setan!”, Bryan melirik Audrey
dengan ujung matanya
Audrey menunjuk dirinya “Hehh!, maksud lu
gue setan gituu!!”
Bryan merangkul Reina yang ada
disebelahnya “Tau deh…, gue kan cuman
ngomong fakta…, Byeee…, selamat
menjombloo”, ujar Bryan dan pergi berlalu
meninggalkan Audrey
“Dasar lu ya!!, NYEBELIN!!”, teriak Audrey
“Itu kepalanya Audrey gak sakit tah?,
kepalanya kamu toyor gitu?”, kata Reina
mempraktekkan bagaimana Bryan menoyor
kepala Audrey
“Enggak lah…, itu mah udah jadi makanan
dia tiap hari!, yaudah yuk kita ke kelas!”
“Lah, bukannya kita dari tadi emang jalan ke
kelas ya?”, Reina bingung kayaknya
pacarnya ini error gara-gara kebanyakkan
belajar
“Kamu kenapa error gitu?, kebanyakan
belajar ya?”, lajut nya sambil bercanda
“Hahaha, aku mah masih sehat!”
Dan tadi itu adalah secuil kebahagiaan
sebelum mereka masuk ke dalam perangkap.
Di dalam kelas, semua anak hanya fokus
pada selembar kertas di hadapan mereka,
mereka menjadi frustasi dan kebertulan hari
ini pelajaran matematika, ya makin stress
lah. “Aduhhh ini
apaan sih?!”
“Sumpah gue gak ngerti jalan pikiran orang
yang buat soal ini!”
“Kok bisa 0,25 sih jawabannya?!, kok beda
sama jawaban gue!!. Aduhh!!, pasti ini kunci
jawabannya ngaco!, fix!”
“Kalau gue ketemu siapa orang yang ngebuat
soal ini!, gue bakal cukur rambutnya sampe
botak plontos!!, I HATE YOU MATHHH!!”
“Anjing!!, bisa diem gak sihh!!, ini gue lagi
ngerjain gak fokus tau gak!!”
Mereka menjadi sangat emosian dan cepat
marah. Mereka juga memarahi semua suara
bising di sekitar mereka. Biasa lah namanya
juga kelas anak pinter, goals mereka cuman
satu mendapat nilai yang sempurna, makanya
jadi kayak gitu, sensitif banget kalau lagi
ulangan!. Tapi kalau kelas orang pinter
kenapa ada Audrey sama Rendy ada di kelas
ini?, apakah mereka nyasar?.
“Teng,Teng,Teng”, Pak Man membunyikan
bel, yang tanda nya ulangan akan segera
dimulai. Semua orang menjadi panik.
Ditengah kepanikkan itu Bu Saras pun masuk
ke kelas dengan membawa setumpuk kertas
ulangan dan berjalan dengan santuynya
seperti tidak melihat sekeliling kalau anak-
anak nya sedang panik karena akan ada
bencana yang datang.
“Baiklah anak-anak, sebentar lagi kalian akan
menghadapi Ujian Akhir Semester hari
pertama, dengan pelajaran matematika.
Silahkan masukkan buku pelajaran kalian ke
kelas dan juga siapkan mental dan jiwa kalian
untuk mengerjakan soal hari ini”, ujar Bu
Saras “Aduhh
bu, saya belom cukup belajar!!”
“Lima menit lagi Bu…, saya belom
belajar…”
“Bentar bu…, sabar!, orang sabar disayang
Tuhan bu…”
“Semoga soalnya gak susah amin!, berkati
hamba-Mu ini ya Tuhan”
“Semoga gue bisa ngerjain ulangannya
amin!, dan dapat buktiin ke Rendy kalau gue
udah berubah!”, tekad Keisha dalam batinnya
“Sudah!, tidak ada perpanjangan waktu!,
letakkan semua buku kalian ke dalam laci!”,
ujar Bu Saras yang membuat anak-anak tidak
bisa berkutik lagi
Bu Saras berjalan dari satu meja ke meja
lainnya membagikan soal ulangan katanya
gini sambil matanya melotot hampir mau
keluar: “Kalian bagikan soalnya ke belakang,
JANGAN MENCONTEK!!, KALAU
KALIAN KETAHUAN MENCONTEK
SAMA SAYA!, SAYA TEBAS KALIAN
SEMUA!!”, Bu Saras melotot
memperhatikan anak-anaknya satu-satu.
“Kalau sudah dapat soalnya, silahkan kalian
kerjakan, selamat mengerjakan”, lanjut nya
Suasana UAS hari pertama ini sangat sunyi
dan mencekam, kayaknya kelas ini cocok
untuk menandingi kuburan. Semua anak
terlihat mengerjakan dengan tenang dan
serius. Tapi itu semua bertolak belakang
dengan sifat Audrey dan Rendy, mereka
memang tidak pernah serius. Audrey dan
Rendy kelihatannya sedang bisik-bisik di
belakang, entah lagi ngobrolin apa.
Kayaknya dua manusia itu emang gak bisa
diem!. Entah-entah apa yang mereka jadiin
topik buat dighibahin, dari ghibahin guru,
ghibahin temen nya sendiri, sampe abang-
abang yang jualan ketoprak depan sekolah
pun digibahin, katanya abang-abang itu
jualan nya pake daki kuntilanak makanya
enak, tapi walaupun ada daki kuntilanaknya
tapi tetep aja mereka sering makan disitu,
hadehh emang gak ada yang jelas idup
mereka, walaupun orang kaya tetep aja duit
harus irit!.
“Ren!”, bisik Audrey supaya gak ketahuan
Bu Sara yang lagi duduk di meja guru
“Ape?”, jawabnya dengan berbisik juga,
mereka sepertinya sudah ahli kalau ngobrol
pas ulangan
“Gue bosen!, kayaknya sepi banget nih kelas
udah kayak rumah yang lama gak
ditinggalin”
“Iyalah…, kayak idup lu sepi!”, Audrey
melengos sebal, apapun yang dia bicarakan
dengan Rendy pasti ujung-ujungnya bahas
hidup
nya
“Lu belajar gak Ren buat ulangan hari ini?”
“Coba liat deh, kayaknya semua anak di kelas
kita belajar, kayaknya cuman kita yang
belajar!”, lanjutnya
“Iyalah!,orang mereka tadi belajar nya heboh
banget!, kayak dirasukkin empat setan tau
gak… Tapi gue mah belajar!, elu kali yang
gak belajar!”, ujar Rendy
“Coba liat tuh catetan lu, kosong melompong,
bersih banget!. Kayak baju baru dicuci!”,
Rendy menunjuk buku catetan milik Audrey
yang ada di lacinya
“Eh bambang!, nagaca!, catetan lu juga
kosong”, ujar Audrey tak mau
kalah
“Gak papa, daripada lu udah bukunya
kosong!, hati lu juga kosong!”, lanjutnya
“Emang dasar lu ya!, kalau ngomong apa-apa
ujung-ujung nya pasti ke hati!, lagi galau lu
ya?, emang ya kalau orang lagi galau pasti
emosian, hadehh…”
“Kagak!, dalam kamus kehidupan gue itu gak
ada yang namanya galau, gak kayak elu yang
galau tiap hari”
“Basi!, emang yang kemaren-maren kalau
gak galau namanya apa?, elu sih bisa nya
ngatain orang doang”, omel Audrey panjang
lebar, mereka terlihat sangat berisik, yang
memancing amarah teman-teman mereka
sekelas
WOII!!, yang dibelakang bisa diem gak
sih??!!”, mereka terlihat sangat berisik,
membuat Tara menjadi marah, dia menjadi
sangat terganggu bila ada yang berisik saat
ujian, dan selama ujian dia menjadi sangat
emosioanal karena suara yang berisik itu bisa
memecah konsentrasinya.
“Santay dong neng”, sahut Rendy dari
belakang
“Kayaknya anak-anak disini gak ada yang
bisa diajak bercanda”, kata Audrey
“Sudah2 kalian lanjut kerjakan saja, kalian
juga seneng banget ngobro!, kamu juga
Rendy tadi gede banget suaranya", ujar Bu
Saras
"Emang Bu!, Omongannya doang yang gede,
tapi kelakuannya gak ada akhlak!, Makanya
otak dipake!", sindir Bryan tiba-tiba yang
memancing amarah Rendy
“Udah Yan, udah…”, kata Reina sambil
mengelus-elus tangan Bryan untuk
menenangkannya, dia kaget saat Bryan tiba-
tiba menyahutti Rendy dengan nada tinggi
Rendy menatap Bryan tajam"Heh! Maksud lu
apa?!, Lu gak usah pake nyindir2, kalau
berani ayok maju!", Rendy sudah mau berdiri
dan beranjak dari kursi nya tapi itu sudah
keburu di hentikan oleh Bu Saras
"Apa sih kalian ini!, Bryan Rendy sudah!",
ucap Bu Saras dengan nada yang tidak kalah
tinggi "Dia duluan nih bu?!", kata Rendy
membela dirinya
"Sudah Rendy!, Kalian itu kalau ada masalah
pribadi jangan di bawa-bawa ke sekolah dan
merugikan orang lain. Sudah kerjakan ujian
kalian sekarang!", Bu Saras menyudahi
pertengkaran
mereka
“Yang sabar ya Ren…”, kata
Audrey
Bryan tersenyum puas karna sudah bisa
membuat Rendy terdiam.
“Baiklah anak-anak, waktu mengerjakan
kalian sudah selesai. Kalian boleh bereskan
barang-barang kalian dan pulanglah dengan
selamat”, ujar Bu Saras tiba-tiba dari meja
guru “Bentar bu
bentar…”
“Satu nomor lagi bu…, sabar”
“Sudah, sudah tidak ada perpanjangan
waktu!, selesai tidak selesai sudah
kumpulkan saja!”, ujar Bu Saras tegas
“Capek ibu, marah-marah terus di kelas ini”
“Kumpulkan saja lembar jawab kalian di
meja Ibu”