PSIKOLOGI ISLAM : DARI KONSEP HINGGA PENGUKURAN Seri Hibah Penulisan Buku Islam dalam Disiplin Ilmu Dr. H. Fuad Nashori, M.Si., M.Hum, Susilo Wibisono, S.Psi., M.Si Nita Trimulyaningsih, M.Si., Psikolog Fani Eka Nurtjahjo, M.Psi., Psikolog Annisaa Miranty Nurendra, M.Psi., Psikolog Hariz Enggar Wijaya, M.Psi., Psikolog Wanadya Ayu Krishna Dewi, S.Psi., M.Si
iv KATALOG DALAM TERBITAN (KDT) PSIKOLOGI Islam: Dari... Psikologi Islam Dari Konsep Hingga Pengukuran / Fuad Nashori; Susilo Wibisono; Nita Trimulyaningsih; Fani Eka Nurtjahjo; Annisaa Miranty Nurendra; Hariz Enggar Wijaya; Wanadya Ayu Krishna Dewi; --.Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia, 2016. --.236 hlm. ; 24 cm ISBN 978-602-60361-6-2 e-ISBN 978-602-60361-8-6 Seri Hibah Penulisan Buku Islam dalam Disiplin Ilmu Penulis : Dr. H. Fuad Nashori, M.Si., M.Hum, Psikolog Susilo Wibisono, S.Psi., M.Si Nita Trimulyaningsih, M,Si., Psikolog Fani Eka Nurtjahjo, M.Psi., Psikolog Annisaa Miranty Nurendra, M.Psi., Psikolog Hariz Enggar Wijaya, M.Psi., Psikolog Wanadya Ayu Krishna Dewi, S.Psi., M.Si Editor Teks : Helmi Roichatul Jannah Editor Tataletak : Saldo Maulana Desain Sampul : Qisti Rahmahtillah PSIKOLOGI ISLAM : DARI KONSEP HINGGA PENGUKURAN Terbitan: Oktober 2016 M / Dzulhijjah 1437 H Cetakan ke-1 Untuk kalangan sendiri sebagai materi proses pembelajaran dan tidak diperjualbelikan. Kampus Terpadu UII, Jl. Kaliurang Km 14,5, Yogyakarta 55584, INDONESIA Tel. (0274) 896 447 Ext. 1301; Fax. (0274) 896 445 http://www.uii.ac.id; e-mail: [email protected] Penerbit: Hak cipta © 2016 dilindungi UndangUndang. Dilarang mengutip, menjiplak atau memfotokopi sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apa pun tanpa izin tertulis dari Penerbit.
v Kata Pengantar Terima kasih kepada Allah Azza wa jalla yang berkenan memberikan kesehatan, kekuatan, dan berbagai karunia lainnya sehingga memungkinkan penulis untuk mengerjakan dan menyelesaikan buku ini. Apa yang bisa penulis baca dan pahami dari Al-Qur’an adalah karunia yang luar biasa. Terima kasih kepada Nabi Muhammad yang telah memberi pendidikan kepada semua manusia, termasuk kepada penulis, sehingga mendorong penulis untuk memahami dan mempraktikkan ilmu tersebut. Hadis-hadis yang luar banyaknya menjadikan penulis paham betapa luasnya bentangan pengetahuan beliau. Terima kasih kepada umat Islam awal maupun masa kini yang menunjukkan kinerjanya yang luar biasa, sehingga apa yang mereka katakan dan lakukan banyak memberi inspirasi kepada penulis. Terima kasih kepada orang-orang berjasa seperti Umar bin Khatthab, Ali bin Abi Thalib, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ismail al-Faruqi, dan banyak nama yang pandangan atau kisah hidupnya penulis jadikan sebagai rujukan buku ini. Terima kasih kepada pimpinan Universitas Islam Indonesia, khususnya BPA (Badan Pengembangan Akademik), yang telah memotivasi dan memberikan hibah penulisan buku kepada kami. Buku ini merupakan amanah dari BPA yang kami terima melalui program hibah penulisan buku teks. Terima kasih kepada pengurus Asosiasi Psikologi Islam (API), salah satu sub-organisasi yang berhimpun dalam Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), yang aktif menggairahkan wacana psikologi Islami di Indonesia, terutama atas dorongannya kepada seluruh pengurus dan anggotanya untuk mengaktifkan kemampuannya dalam merumuskan teori, melakukan penelitian, dan melakukan berbagai aplikasi psikologi Islami. Terima kasih kepada kepada pengurus Imamupsi (Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi se-Indonesia) yang selama ini terbukti menjadi jaringan yang efektif untuk memarakkan pengembangan wacana psiklogi islami. Sebagian isi tulisan ini disampaikan dalam forum ilmiah nasional yang diselenggarakan oleh Imamupsi. Terima kasih kepada mahasiswa peserta matakuliah psikologi Islam prodi psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, karena sebagian materi ini telah disampaikan dalam perkuliahan.
vi Semoga ilmu tentang potensi-potensi manusia ini dapat menginspirasi Anda bahwa terbentang berbagai kemungkinan pengembangan diri bagi manusia. Jangan lepaskan cara berpikir dan cara memandang sesuatu sesuai dengan cara pandang Al-Qur’an dan Al-Hadis. Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat sebagai penelaah buku ini, seperti Dr. Munthoha, SH, Dr. dr. Farida Juliantina, serta para editor Dr. Ahmad Rusdi dan Yudi Kurniawan, M.Psi., Psikolog. Terima kasih kepada seluruh pembaca yang menyempatkan diri membaca tulisan ini. Semoga ilmu Anda bermanfaat dan menjadikan Anda lebih mencintai Allah Azza wa jalla, Rasul-Nya, sesama umat manusia. Penulis akan lebih berterima kasih bila Anda berkenan mengirimkan tanggapan untuk perbaikan isi buku ini. Perlu kami sampaikan bahwa buku ini adalah hasil karya bersama. Bagian 1 yang terdiri atas Pengantar Psikologi Islam, Aliran Psikologi Kontemporer: Sekilas Sejarah dan Kritik, dan Paradigma dan Pola Pengembangan Psikologi Islam ditulis H. Fuad Nashori. Bagian 2 berisi Fitrah, Insan Kamil, dan Potensi Manusia (Nita Trimulyaningsih), Prinsip-prinsip tentang Fisik dan Jiwa (Fani Eka Nurtjahjo), Tipologi Kepribadian dalam Psikologi Islam (Annisa Miranty Nurendra), dan Perkembangan Hidup Manusia: Perspektif Psikologi Islami (Wanadya Ayu Krishna Dewi). Bagian 3 terdiri atas Psikologi Islam dalam Bidang Pendidikan (Hariz Enggar Wijaya), Psikologi Islam dalam Bidang Klinis (Nita Trimulyaningsih), Psikologi Islam dalam Bidang Industri dan Organisasi (Annisaa Miranty Nurendra), Psikologi Islam dalam Bidang Sosial (Wanadya Ayu Krishna Dewi). Bagian keempat berisi satu tulisan saja, yaitu Metode Penelitian Psikologi Islam (Susilo Wibisono). Kami berpikir bahwa karya ini masih jauh dari sempurna. Segala tanggapan dan saran perbaikan akan kami terima dengan senang hati. Wallahu a’lam bi ash-shawab.
vii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI PENGANTAR PSIKOLOGI ISLAM Pengertian Psikologi Islam 1 Momentum Psikologi Islam Indonesia 2 Momentum Psikologi Islam Dunia 6 Membedah Wilayah Baru 7 Dampak Psikologi Islam 9 Penutup 16 ALIRAN PSIKOLOGI KONTEMPORER: SEKILAS SEJARAH DAN KRITIK Pengantar 25 Kritik terhadap Psikoanalisis 25 Kritik terhadap Behaviorisme 34 Kritik Terhadap Psikologi Humanistik 36 Penutup 38 PARADIGMA DAN POLA PENGEMBANGAN PSIKOLOGI ISLAM Ontologi 41 Epistemologi 45 Aksiologi 53 Pola Pengembangan Psikologi Islam 54 Penutup 58 FITRAH, INSAN KAMIL, DAN POTENSI MANUSIA Fitrah Manusia 63 Insan Kamil 66 Potensi Manusia 67
viii PRINSIP-PRINSIP TENTANG FISIK DAN JIWA Prinsip-prinsip tentang fisik dan jiwa 75 Pengertian Nafs 77 Kisah diturunkannya Nafs 83 Komponen Jiwa Manusia (Nafs) 86 Tingkatan Nafs 90 Jiwa yang sehat dalam pandangan Islam 92 Latihan Keseimbangan Jiwa 94 TIPOLOGI KEPRIBADIAN DALAM PSIKOLOGI ISLAM Ragam Kepribadian Manusia 99 Bentuk-bentuk kepribadian menurut Mujib 100 Bentuk-bentuk kepribadian menurut Najati 104 PERKEMBANGAN HIDUP MANUSIA: Perspektif Psikologi Islam Pendahuluan 109 Perkembangan Hidup Manusia 111 Relasi Manusia 128 PSIKOLOGI ISLAM DALAM BIDANG PENDIDIKAN Urgensi pendidikan 131 Tauhid Sebagai Paradigma 133 Terbentuknya Pengetahuan Awal pada Manusia 136 Belajar dan berpikir 141 Peranan Akal dalam Belajar dan Islam 143 Kesimpulan 144 PSIKOLOGI ISLAM DALAM BIDANG KLINIS Tentang Psikologi Klinis 149 Psikologi Klinis Islami 150 Kesehatan Jiwa 150 Jiwa yang Sakit (Psikopatologi dalam Psikologi Islam) 152 Asesmen/Pengukuran dalam Psikologi Islam 156 Intervensi dalam Psikologi Islam 158
ix Model Aplikasi Psikologi Klinis Islam 161 PSIKOLOGI ISLAM DALAM INDUSTRI DAN ORGANISASI Ruang Lingkup Psikologi Industri Dan Organisasi 167 Perspektif Organisasi dalam Islam 168 Manajemen Sumber Daya Manusia dalam Perspektif Islam 171 Bekerja dalam Perspektif Islam: Etos Kerja Islami 172 Kajian Kepemimpinan dalam Perspektif Islam: Kepemimpinan Profetik 178 Perkembangan dan Alternatif Topik Pengembangan Psikologi Islami dalam PIO 180 PSIKOLOGI ISLAM DALAM BIDANG PSIKOLOGI SOSIAL Perilaku Prososial 191 Peacebuilding: Akhlaq Meminta Maaf Dalam Islam 197 METODE PENELITIAN PSIKOLOGI ISLAM Pendahuluan 207 Memosisikan Metode dalam Psikologi Islam 213 Wilayah Kajian Psikologi Islam dan Implikasi Metodologisnya 222 Pengukuran Konstruk dalam Psikologi Islam 227 Penutup 235
Pengantar Psikologi Islam 1 PENGANTAR PSIKOLOGI ISLAM Capaian Pembelajaran: 1. Mahasiswa mampu memahami pengertian psikologi Islam 2. Mahasiswa mampu memahami momentum psikologi Islam di Indonesia 3. Mahasiswa mampu memahami momentum psikologi Islam di dunia 4. Mahasiswa mampu memahami psikologi Islam membedah wilayah baru 5. Mahasiswa mampu memahami dampak kehadiran psikologi islami A. Pengertian Psikologi Islam Para ahli menggunakan berbagai sebutan untuk wacana ini, di antaranya adalah psikologi Islam, psikologi islami, psikologi modern dalam perspektif Islam (modern psychology in islamic perspective), psikologi kenabian (profetik), psikologi sufi, psikologi Al-Qur’an, psikologi qurani, nafsiologi, dan psikologi motivatif. Namun, sebutan yang paling banyak digunakan adalah psikologi islami dan psikologi Islam. Keduanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Islamic Psychology dan ke dalam bahasa Arab menjadi ‘ilm al-nafs al-islamy. Dua istilah itu dianggap memiliki pengertian yang sama, namun untuk keperluan pengembangan ilmu para ahli bersepakat untuk menggunakan istilah psikologi Islam. Konferensi IV Asosiasi Psikologi Islam - Himpsi (2015) mengambil keputusan untuk mengubah istilah psikologi islami menjadi psikologi Islam, baik pada nama asosiasi maupun nama kajian. Sebelum 2015 bernama Asosasi Psikologi Islami, kini berubah menjadi Asosiasi Psikologi Islam. Sebelumnya nama resmi kajian adalah psikologi islami, kini menjadi psikologi Islam. Tim ad hoc API yang menyampaikan hasil kajiannya dalam konferensi bahwa baik pengguna istilah psikologi islami maupun psikologi Islam sepakat untuk menempatkan Al-Qur’an dan Al-Hadis sebagai dasar pengembangan ilmu dan memosisikan wacana ini sebagai bagian dari psikologi kontemporer. Istilah Islam dipandang lebih tepat dibandingkan dengan istilah islami. Ini juga yang menjadikan digunakannya nama ilmu ekonomi Islam, sosiologi Islam, ilmu hukum Islam, ilmu kedokteran Islam, dan sejenisnya. Oleh sejumlah ahli, Psikologi Islam (Islamic Psychology) diartikan sebagai berikut:
2 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran Suatu studi tentang jiwa dan perilaku manusia yang didasarkan pada pandangan dunia Islam (Nashori, 2010). Corak psikologi yang berlandaskan citra manusia menurut ajaran Islam yang mempelajari keunikan dan pola perilaku manusia sebagai ungkapan pengalaman interaksi dengan diri sendiri, lingkungan sekitar, dan alam kerohanian, dengan tujuan meningkatkan kesehatan mental dan kualitas keberagamaan (Bastaman, 1995). Kajian Islam yang berhubungan dengan aspek-aspek dan perilaku kejiwaan manusia agar secara sadar ia dapat membentuk kualitas diri yang lebih sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat (Mujib & Mudzakir, 2001). Dari tiga pengertian di atas dapat dipahami bahwa psikologi Islam adalah corak ilmu yang secara sadar didasarkan pada ajaran atau pandangan Islam dengan fokus pada kondisi jiwa dan perilaku manusia. B. Momentum Psikologi Islam Indonesia Sebagai suatu gerakan, psikologi Islam dimulai pada tahun 1990-an. Usahausaha pemunculannya sudah dimulai pada tahun 1970-an. Namun, ide-ide yang diusung psikologi Islam sesungguhnya telah dimiliki ilmuwan muslim zaman keemasan Islam. Nama psikologi islami atau psikologi Islam sebagai sebuah gerakan keilmuan pertama kali muncul di Indonesia. Menarik untuk dicatat, bahwa yang pertama-tama memberi nama psikologi Islam adalah ilmuwan Indonesia. Dalam Kongres I Asosiasi Psikologi Islami (2003), Hanna Djumhana Bastaman (2005), salah seorang pendiri Asosasi Psikologi Islam, mencatat bahwa awal mula kebangkitan psikologi Islam adalah saat terbit Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Islami KALAM pada tahun 1992-1994. Jurnal KALAM yang secara struktural bagian dari Keluarga Muslim Psikologi (KMP) UGM terbit sampai enam edisi. Fuad Nashori adalah pemimpin umum/penanggung jawab jurnal tersebut, M. Darmin Ahmad adalah pemimpin redaksinya, Sus Budiharto adalah pemimpin perusahaannya. Manajemen merombak buletin Islam menjadi jurnal pemikiran psikologi islami setelah mendapat persetujuan dari Ketua Umum KMP UGM. KMP UGM sendiri
Pengantar Psikologi Islam 3 adalah organisasi pendiri dan penyelenggara pertama Musyawarah Nasional Fosimamupsi (Forum Silaturrahmi Mahasiswa Muslim Psikologi Indonesia) yang di belakang hari menjadi Imamupsi (Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi Indonesia). Agak berbeda dengan Bastaman, Nashori (2002) mencatat bahwa awal mula psikologi Islam di Indonesia adalah saat pertama kali terbit buku Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi karya Djamaludin Ancok, Suroso, dan Fuad Nashori berlangsungnya Simposium Nasional Psikologi Islami I di UMS pada tahun 1994. Keduanya diperkenalkan kepada khalayak pada bulan Oktober 1994. Buku Psikologi Islami karya Ancok dan Suroso, bersama buku Integrasi Psikologi dengan Islam, di atas disebut Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir (2001) sebagai “kitab suci” psikologi islami. Disebut demikian karena, buku inilah yang dijadikan sejenis “rujukan wajib” untuk telaah psikologi Islam. Buku ini selain berisi telaah kritis atas berbagai konsep psikologi modern, juga berisi pemikiran dasar tentang psikologi Islam. Selain buku di atas, pada tahun 1994 terbit pula buku kapita selekta psikologi islami yang ditulis secara keroyokan oleh para penggagas psikologi Islam di Indonesia, seperti Arif Wibisono Adi, Hanna Djumhana Bastaman, Fuad Nashori, Sukanto MM, Achmad Salim Sungkar, Sofia Retnowati, dan sebagainya. Judulnya Membangun Paradigma Psikologi Islami (1994). Buku yang diinisiasi dan diedit Fuad Nashori berisi panorama pemikiran dari berbagai ahli tentang jejak awal pemikiran dan kerangka dasar psikologi islami. Simposium Nasional Psikologi Islami I di UMS pada tahun 1994 adalah peristiwa akademik yang mengawali dan menjadi tonggak pertama temu ilmiah psikologi Islam di Indonesia. Yang menarik dicatat adalah para penggerak utama Simposium Nasional Psikologi Islami I adalah para aktivis Fosimamupsi. Pada awalnya, proposal kegiatan tersebut dirancang di UGM, kemudian dipresentasikan di hadapan pimpinan Fakultas Psikologi UMS, dan UMS mengambil posisi untuk memelopori gerakan psikologi Islam. Penulis artikel ini adalah saksi sejarah peristiwa tersebut dan mengambil bagian dalam inisiasi dan pelaksanaan kegiatan tersebut. Tampil sebagai pemakalah adalah Nurcholish Madjid, M. Quraish Shihab, Hanna Djumhana Bastaman, Subandi, Arif Wibisono Adi, dan Noeng Muhadjir, dll. Makalah-makalah yang dipresentasikan dalam Simposium Nasional Psikologi Islam akhirnya dibukukan menjadi Psikologi Islam yang diedit oleh Thoyibi dan Ngemron (1996). Sejak 1994, wacana psikologi Islam berkembang sangat pesat di Indonesia.
4 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran Berbagai temu-temu ilmiah, konferensi, simposium, seminar, dialog pakar, dan sebagainya digelar untuk memperdalam kajian ini. Berbagai perguruan tinggi— dengan dukungan kaum muda yang tergabung dalam Fosimamupsi/Imamupsi menggalakkan wacana psikologi Islam. Buku-buku psikologi Islam pun terbit dan mendapat respons yang sangat positif dari pembaca/peminat psikologi Islam. Era 1990-an adalah era simposium nasional. Era 2000 sampai dengan sekarang adalah era temu ilmiah. Berbeda dengan era 1990-an yang lebih banyak menyediakan panggung bagi mereka yang tergolong ahli, sejak era 2000-an panggung untuk ungkapkan pemikiran dan penelitian psikologi Islam disediakan untuk semua orang yang punya minat kepada psikologi Islam. Asosiasi Psikologi Islam—sebelum 2015 bernama Asosiasi Psikologi Islami— yang didirikan sejumlah aktivis psikologi Islam di UIN Syarif Hidayatullah pada 2002 adalah penggerak berbagai temu ilmiah nasional dan internasional psikologi Islam. Beberapa pendiri Asosiasi Psikologi Islami adalah Hanna Djumhana Bastaman (UI), H. Fuad Nashori (UII), Agus Sofyandi Kahfi (Unisba), Mujidin (UAD), Abdul Mujib, Rakhmat Mulyono, Netty Hartati, Zahrotun Nihayah, Fadhilah Suralaga (UIN Jakarta), Rahmat Azis (UIN Malang), Jarot Sugiyono, M. Shohib (UMM), Rahmat Ismail (Ketua Himpsi, praktisi), Asep Haerul Gani (praktisi), dll. Saat deklarasi Hanna Djumhana Bastaman ditunjuk sebagai ketua sementara dan H. Fuad Nashori sebagai sekretaris jenderal sementara sekaligus sebagai steering commitee untuk penyelenggaraan Kongres I Asosiasi Psikologi Islami. Kepengurusan sementara yang berlangsung 1 tahun ini secara formal tidak memperoleh legitimasi dari PP Himpsi. Dalam Kongres I di UMS Surakarta 2003, H. Fuad Nashori (UII) terpilih sebagai Ketua Umum dan Taufik Kasturi (UMS) sebagai Sekjen. Kepengurusan ini untuk pertama kali mendapat legitimasi dari PP Himpsi. API telah menghidupkan berbagai kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi untuk menelaah topiktopik khusus. Hasilnya adalah terselenggaranya berbagai kegiatan ilmiah yang dikenal dengan temu ilmiah/konferensi nasional dan internasional psikologi Islam, simposium nasional psikologi Islam, seminar nasional psikologi Islam, diskusi pakar psikologi Islam. Pergumulan pemikiran pada tahun 1990-an menunjukkan hasilnya pada era 2000-an. Dekade 2000-an adalah era paling subur atau dasawarsa penulisan buku-buku psikologi Islam. Bahkan buku bertopik psikologi Islam boleh dibilang mendominasi pasar psikologi Indonesia. Para pengkaji tampak sangat serius
Pengantar Psikologi Islam 5 mendalami wacana psikologi Islam. Abdul Mujib menerbitkan buku Nuansa-nuansa Psikologi Islam (bersama Jusuf Mudzakir, 2001), Kepribadian dalam Psikologi Islam, Roh dalam Kepribadian Islam. Achmad Mubarok menulis buku Jiwa dalam Al-Qur’an: Solusi Krisis Kerohanian Manusia Modern (2000), Psikologi Qur’ani (2001), Sunnatullah dalam Jiwa: Sebuah Pendekatan Psikologi Islam (2002), Psikologi Keluarga: Dari Keluarga Sakinah Hingga Keluarga Bangsa (2005). Fuad Nashori menulis buku Agenda Psikologi Islami (2002), Potensi-potensi Manusia: Perspektif Psikologi Islami bersama (2003) dengan Rachmy Diana Mucharam, Mengembangkan Kreativitas: Perspektif Psikologi Islami (2003), Psikologi Sosial Islami (2007). Yadi Purwanto menulis buku Memahami Mimpi: Perspektif Psikologi Islam (2003), Psikologi Marah: Perspektif Psikologi Islami (2005), Epsitemologi Psikologi Islami (2006), Etika Profesi (2007), Psikologi Kepribadian: Perspektif Psikologi Islami (2007). Baharudin membuat buku Paradigma Psikologi Islami (20--) dan Aktualisasi Psikologi Islami (2005). Subandi menulis buku Psikologi Dzikir (2009). Sentot Haryanto menulis buku Psikologi Salat (2009). Rafy Sapuri membuat buku Psikologi Islam: Tuntunan Jiwa Manusia Modern (2009). Pada tahun 2010-an penulisan buku psikologi Islam agak surut, namun masih muncul beberapa judul buku baru. Fuad Nashori menerbitkan buku Psikologi Mimpi: Perspektif Psikologi Islami (2011). Bagus Riyono menulis buku Motivasi dengan Perspektif Psikologi Islam (2012). Ali Ghazali dan Thobib Al-Asyhar menulis buku Psikologi Islam: Pesona Tradisi Keilmuan yang Mengintegrasikan Nilai-nilai Ketuhanan dan Sains (2012). Nama-nama lain juga memberikan kontribusi terhadap pengembangan psikologi Islam, namun mereka tidak menyebut gerakan atau wacana ini sebagai psikologi Islam. Hasan Langgulung, Zakiah Daradjat, Sukanto Mulyomartono, Zuardin Azzaino, Hamdani B. Adz Dzakiey, dan sebagainya. Apa yang menjadikan psikolog muslim bersemangat mengusung psikologi Islam atau modern psychology in Islamic perspective? Nashori (2002) menjawabnya: (1) kebangkitan Islam, yaitu adanya visi untuk menghidupkan prinsip-prinsip Islam baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan bersama, termasuk dalam pengembangan dan penerapan ilmu dan (2) adanya kritisisme dalam ilmu pengetahuan, terutama psikologi: psikologi kontemporer yang berkembang pada saat ini tidak cukup mumpuni dalam memahami fenomena yang terjadi pada umat Islam khususnya dan umat manusia pada umumnya. Adapun keterkaitan psikologi Islam dan islamisasi ilmu pengetahuan adalah
6 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran suatu gerakan keilmuan yang bermaksud menggunakan prinsip-prinsip Islam dalam pengembangan ilmu pengetahuan baru. Ismail al-Faruqi dan Muhammad Naquib al-Attas adalah nama-nama penting dalam panggung islamisasi ilmu. Syed Vali Reza Nasr adalah sebuah nama yang memandang penting adanya islamisasi disiplin-disiplin ilmu (Nashori, 2002). Itulah yang menjadikan psikolog muslim bersemangat untuk mengembangkan wacana psikologi Islam. C. Momentum Psikologi Islam Dunia Sejumlah ilmuwan modern yang dianggap sebagai inspirator pengembangan psikologi Islam adalah Malik B. Badri dan Muhammad Utsman Najati. Dalam makalah yang bertajuk Out of the Lizard’s Hole: The Why, The What, The How, and the Who of the Islamization of Psychology, yang disampaikan dalam International Conference of Islamic Psychology (Iconipsy) I yang diselengarakan Asosasi Psikologi Islami bersama Fakultas Psikologi UIN Malang, Malik Badri (2011) lebih suka menyebutnya sebagai Modern Psychology in Islamic Perspective. Malik B. Badri (1986) mulai dikenal setelah menulis buku The Dilemma of Muslim Psychologists. Buku yang ditulis Malik B. Badri pada tahun 1979 itu sangat populer di Indonesia setelah Siti Zaenab Luxfiati menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia menjadi Dilema Psikolog Muslim. Buku ini menjadi referensi dalam berbagai tulisan dan diskusi psikologi Islami pada akhir 1980-an dan awal 1990-an. Sekalipun dalam buku tersebut Badri belum menyebut nama gerakan ini sebagai psikologi Islam, semangatnya sangat jelas, yaitu hendak menampilkan pemikiran yang diinspirasi oleh Al-Qur’an dan Al-Hadis. Demikian pula M. Utsman Najati yang menulis menulis buku Al-Qur’an wa Ilm al-Nafs (1983) dan Al-Hadis al-Nabawy wa Ilm al-Nafs (1988) juga tidak menyebutnya sebagai psikologi Islam. Najati menyebutnya psikologi dalam perspektif Al-Qur’an dan psikologi dalam perspektif Al-Hadis. Najati tampaknya tidak meletakkan Islam dan psikologi sebagai suatu gerakan ilmu. Ia lebih memosisikan dirinya sebagai ahli yang dapat melihat aspek-aspek psikologis dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis, seperti emosi, kognisi, belajar (termasuk ilmu ladunni), dan sebagainya. Di level internasional, lahir International Association of Muslim Psychologists (IAMP) yang digerakkan Malik B. Badri. Organisasi yang menghimpun para ilmuwan dan praktisi psikologi ini didirikan di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2003. Organisasi ini mencoba menggugah kontribusi ilmuwan psikologi
Pengantar Psikologi Islam 7 muslim untuk membangun dunia yang lebih beradab. Salah satunya melalui konferensi internasional yang berlangsung sebanyak lima kali. Pada 2016 mereka menyelenggarakan konferensi internasional IAMP dengan tema Islamic Psychology: an Islamic and Cultural Perspective di Yogyakarta. Jauh sebelumnya, sejumlah ilmuwan muslim zaman keemasan Islam, banyak menulis tentang jiwa dan perilaku manusia, seperti Al-Ghazali, Ibnu Sina, Al-Faraby, Ibnu Araby, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, dan sebagainya. Mereka menjelaskan tentang jiwa dan perilaku manusia, namun sama sekali tidak menyebut psikologi yang mereka perkenalkan sebagai psikologi Islam. Tasawuf, Ilmu kalam, tafir Al-Qur’an, tafsir hadis adalah beberapa contoh studi Islam yang membedah masalah jiwa dan perilaku manusia. D. Membedah Wilayah Baru Salah satu yang akan dilakukan oleh psikologi Islam adalah membedah wilayah baru dalam diri manusia. Al-Qur’an dan Al-Hadis, dengan catatan kita meyakini kebenarannya, membentangkan kepada kita berbagai kemampuan manusia. Dalam psikologi Barat sangat ditekankan kemampuan berpikir dan kemampuan beremosi. Seringkali ditekankan bahwa kelebihan manusia dibanding hewan adalah kemampuan berpikirnya. Dalam pandangan Islam, kelebihan manusia atas manusia lain adalah tugas yang diembannya, potensi-potensi dasarnya, dan kemungkinannya. Berbeda dengan psikologi Barat yang tidak secara jelas memiliki pandangan mengapa manusia dilahirkan di bumi, psikologi islami mendasarkan diri pada pandangan Islam, yaitu manusia menjadi khalifah di bumi, menjadi pemimpin di bumi. Untuk mewujudkan tugas ini, Tuhan berkenan menciptakan manusia dalam keadaan fitrah, suatu keadaan di mana manusia memiliki pengetahuan, kecintaan, dan kesediaan untuk patuh terhadap Allah. Agar di dunia ini manusia benar-benar menjaga fitrahnya, Tuhan berkenan mengirimkan kepada manusia agama yang sesuai dengan fitrah manusia (QS. ar-Ruum, 30: 30), yang tidak lain adalah Islam yang hadir dengan kitab suci dan rasul-Nya. Salah satu pandangan psikologi Islam yang khas adalah bila manusia dapat menjaga kesucian dirinya, maka tabir atau penghalang antara dirinya dengan Allah akan tersingkap. Maka, salah satu yang khas yang dimiliki manusia adalah ilmu laduni. Tidak sebagaimana ilmu pada umumnya yang diperoleh melalui indera
8 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran dan akal pikir, ilmu ladunni diperoleh seseorang secara langsung dari Allah melalui ilham. Ilham sendiri dapat diartikan sebagai sejenis pengetahuan yang dikaruniakan oleh Allah kepada seseorang dan dipatrikan pada hati atau kalbunya, sehingga tersingkap olehnya sebagian rahasia dan tampak jelas olehnya sebagian realitas. Salah seorang dari kalangan utusan Allah yang sering menerima ilham adalah Nabi Sulaiman. Suatu saat Sulaiman dan ayahnya, Dawud, mengadili perkara dua orang laki-laki. Orang pertama adalah pemilik ladang. Orang kedua pemilik ternak. Pemilik ladang melaporkan bahwa orang kedua telah menggembalakan ternaknya dalam ladangnya sehingga membuat ladang itu rusak. Dawud dan Sulaiman tidak memiliki pengetahuan atau gagasan untuk memecahkan persoalan tersebut. Melalui ilham-Nya, Allah memberikan pengetahuan atau gagasan kepada Sulaiman, suatu ide yang sebelumnya tidak dimiliki Sulaiman. Ilham Allah kepada Sulaiman adalah suatu cara yang menenangkan pemilik ladang. Si pemilik ladang diberi hak untuk memanfaatkan susu, anak, dan bulu ternak itu sampai ladang itu menjadi baik kembali. Cara ini pun tidak merugikan orang yang kedua. Ternak akan dikembalikan kepada pemilik ternak setelah ladang itu baik dan tumbuh kembali tanaman-tanamannya. Melalui ilham, sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur’an Surat Al-Anbiya’ (21) ayat 78-79, akhirnya Dawud dan Sulaiman dapat memecahkan persoalan secara kreatif. Al-Qur’an memberi gambaran tentang berbagai kelebihan manusia. Di samping kemampuannya menyerap informasi dan mengolah informasi, manusia juga memiliki kemampuan ekstrasensoris. Kemampuan untuk mengetahui apa yang sudah terjadi di masa yang lampau, kemampuan untuk mengetahui apa yang terjadi di tempat yang jauh yang tak terjangkau oleh indera, peristiwa yang terjadi di masa depan, kemampuan untuk menyembuhkan, menyelesakan masalah, dan seterusnya. Menurut penulis, Al-Qur’an dan Al-Hadis membentangkan kepada kita wilayah-wilayah baru tentang diri manusia, suatu penjelasan yang selama ini tidak banyak diperoleh dari khazanah psikologi modern. Kini, kita menghadapi zaman baru. Syekh Muhammad Al-Ghazali memiliki optimisme bahwa kita sedang menyongsong zaman di mana peradaban yang akan datang adalah peradaban yang didasarkan pada cita-cita ilahiah. Salah satu yang pokok adalah diterimanya kitab suci sebagai dasar pembentukan ilmu pengetahuan. Secara tekstual diungkapkan oleh Al-Qur’an bahwa Al-Qur’an adalah sumber kebenaran. “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti
Pengantar Psikologi Islam 9 kebenaran dari Tuhanmu (Muhammad dengan mu’jizatnya) dan telah kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang.” (QS an-Nisa’, 4: 174). Kita berharap di masa-masa yang akan datang orang-orang semakin terbuka menerima kitab suci sebagai sumber pengetahuan atau sumber kebenaran. Seorang pemikir Barat yang mulai tercerahkan, Paul Feyerabend dalam buku Against Method, menandaskan bahwa kitab suci dapat dipergunakan sebagai sumber pengetahuan. Di masa-masa yang akan datang kita memerlukan sikap baru dalam memperlakukan Al-Qur’an dan Al-Hadis. Buku yang tengah kita pegang ini adalah buku yang menempatkan ayat-ayat nafsani sebagai salah satu rujukannya. Buku ini juga layak dijadikan pegangan, terutama karena menyandarkan pandanganpandangan tentang manusia yang didasarkan pada kitab suci yang terpercaya, Al-Qur’an dan Al-Hadis, yang merupakan penjelasan atas ayat-ayat suci Al-Qur’an. E. Dampak Psikologi Islam Dampak kehadiran psikologi Islam di tengah-tengah kehidupan masyarakat tampaknya belum benar-benar optimal. Namun, kehadiran psikologi Islam memberi sumbangan yang besar terhadap berkurangnya resistensi penolakan terhadap nilai-nilai Islam dalam pemikiran dan praktik psikologi. Pertama: meningkatnya kesadaran tentang pentingnya ayat-ayat dari kitab suci untuk memahami fenomena manusia secara komprehensif. Berbagai buku dan jurnal ilmiah psikologi Islam mempromosikan pentingnya kembali kepada wahyu dalam memahami manusia. Sekalipun para ahli psikologi Barat masih enggan menyebut ayat suci Al-Qur’an dan Al-Hadis dalam buku atau artikel mereka, namun ilmuwan muslim telah mengetahui bahwa kebenaran tentang manusia juga ada dalam kitab suci. Kedua: berkurangnya Islamofobia pada diri umat Islam. Pihak yang mengalami fobia terhadap Islam bukan hanya orang-orang non-muslim, tapi juga ilmuwan yang beragama Islam. Mereka menolak untuk menggunakan ayat-ayat suci (Al-Qur’an dan Al-Hadis) dalam perumusan teori, penelitian maupun aplikasi psikologi. Sebagai contoh, seorang guru besar psikologi di salah satu perguruan tinggi besar di Indonesia bilang: “Skripsi Anda (dalam bidang psikologi ini) bagus, tapi Anda cocoknya menjadi sarjana agama deh.” Sebuah ungkapan yang menunjukkan fobia terhadap Islam pada diri dosen psikologi. Pada tahun 1990-an, mahasiswa UI, Unpad, dan Unair mengeluh berkaitan dengan penolakan pihak pimpinan kampus
10 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran ketika mahasiswa berminat melakukan penelitian dengan topik religiositas Islam. Sekarang hampir seluruh perguruan tinggi membuka diri apabila mahasiswa meneliti topik-topik religiositas Islam dalam makna yang umum (psikologi agama) maupun dalam pengertian yang khusus berkaitan dengan religiositas Islam (seperti sabar, ikhlas, syukur, dan sebagainya). Saat ini Islamofobia itu sudah sangat berkurang. Ketiga: munculnya suasana kebebasan akademik dalam hal meneliti topiktopik perilaku manusia berperspektif psikologi Islam1. Berbagai riset menunjukkan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh religiositasnya, baik religiositas secara umum maupun aspek-aspek tertentu dalam agama Islam.1 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa religiositas berpengaruh terhadap kreativitas, kemandirian, gaya penjelasan, penerimaan diri, pemaafan, resiliensi, kesehatan mental, prokrastinasi, dan sebagainya. Keteraturan salat juga turut memengaruhi kecemasan, Beberapa contoh hasil penelitian dengan perspektif psikologi Islam dapat dilihat di sini 1. Religiositas Meningkatkan Kreativitas Siswa (Rachmy Diana, Jurnal Psikologika, Volume 3 No 7 Tahun 1999). 2. Religiositas Meningkatkan Kemandirian Siswa (Fuad Nashori, Jurnal Psikologika, Volume 4 No 8 Tahun 1999) 3. Religiositas Meningkatkan Gaya Penjelasan Positif (Yulianti Dwi Astuti, Jurnal Psikologika, Volume 4 No 8 Tahun 1999) 4. Religiositas Meningkatkan Penerimaan Diri (Hesti Badaria & Yulianti Dwi Astuti, Jurnal Psikologika Volume 9 No 17 Tahun 2004) 5. Religiositas Menurunkan Prokrastinasi (Hayyinah, Jurnal Psikologika Volume 9 No 17 Tahun 2004) 6. Religiositas dan Kebermaknaan Hidup Meningkatkan Kesehatan Mental Mahasiswa (Baidi Bukhori, Jurnal Psikologika Volume 11 No 22 Tahun 2006). 7. Religiositas Menurunkan Death Anxiety (M. Fakhrurrozi, Jurnal Psikologika Volume 13 No 25 Tahun 2008) 8. Religiositas dan Perilaku Cybersex pada Kalangan Mahasiswa (Fauzan Hafizha 1 Dalam beberapa tahun terakhir, mahasiswa program doktor psikologi Unpad menunjukkan minatnya yang luar biasa terhadap konsep religiositas, yang ditunjukkan banyaknya variabel religiositas dalam disertasi mereka.
Pengantar Psikologi Islam 11 & Ike Agustina, Jurnal Psikologika, Volume 18 No 1 Tahun 2013). 9. Pengaruh Identitas Keberagamaan dan Kejijikan Moral Terhadap Perilaku Cybersex (Agus Abdul Rahman & Rendi Permadi, Jurnal Psikologika, Volume 18 No 1 Tahun 2013). 10. Keteraturan Menjalankan Sholat dan Puasa Senin Kamis Menurunkan Agresivitas (Alif Muarifah, Sri Mulyani Martaniah, Jurnal Humanitas Volume 1 No 2 Tahun 2004). 11. Pengetahuan Poligami dalam Islam Meningkatkan Sikap Positif terhadap Poligami pada Wanita Islam (Yuli Pitriana & Emi Zulaifah, Jurnal Psikologika Volume 10 No 20 Tahun 2005). 12. Pengetahuan Agama tentang Pergaulan antar Jenis Kelamin Menurunkan Sikap Positif terhadap Hidup Bersama Sebelum Menikah pada Mahasiswa Muslim (Melly Selvyani, Jurnal Psikologi UIN Yogya Volume 1 No 2 Tahun 2008). 13. Dzikir Meningkatkan Kontrol Diri Manula (Rahmat Azis dan Yuliati Hotifah, Jurnal Psikologi Islami Volume 1 No 2 Tahun 2005). 14. Intensitas Dzikir Menurunkan Agresivitas Santri (Baidi Bukhori, Jurnal Psikologi Islami Volume 1 No 2 Tahun 2005). Dalam beberapa tahun terakhir kajian psikologi Islam sudah banyak yang mengarah ke hal-hal yang spesifik dalam ajaran Islam, seperti kesabaran, kebersyukuran, kelapangdadaan, keikhlasan, tawadhu’ (kerendahhatian), mimpi spiritual, dan sebagainya. Beberapa contohnya adalah: 1. Tema-tema Mimpi Psikospiritual Kyai: Tinjauan Psikologi Islami (H. Fuad Nashori, Jurnal Psikologika Volume 6 No 10 Tahun 2001). 2. Proses Kreatif Penulis Muslim Indonesia: Perspektif Psikologi Islami (H. Fuad Nashori, Jurnal Psikologika Volume 9 No 17 Tahun 2004). 3. Kelapangdadaan Penyintas Bencana di Yogyakarta (H. Fuad Nashori, Jurnal Religiusitas Volume 1 No 3 Tahun 2007). 4. Kebersyukuran sebagai Sebuah Strategi Coping (Arif Romdhon, Proceeding International Conference Association of Islamic Psychology 2011). 5. Patience and Prayer as Therapy Islam in Improving Subjective Quality of Life (Singgih Pandu Wicaksono, Proceeding International Conference Association of Islamic Psychology 2011). 6. Penyusunan Instrument Pengukuran Ikhlas (Lu’luatul Chizanah, Jurnal Psikologika Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013).
12 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran Keempat: keterlibatan terapi-terapi Islam dalam penyelesaian berbagai problem individual. Berbagai riset menunjukkan efektivitas terapi religius dalam meningkatkan kondisi psikologis yang positif dan menurunkan kondisi psikologis yang bersifat negatif. Menurut Nashori (2015), intervensi psikologi Islam dapat dibedakan menjadi dua, yaitu intervensi yang murni bersumber dari ajaran Islam (disebut intervensi islam orisinal) serta intervensi integrasi Islam dan psikologi kontemporer. Intervensi Islam orisinal dikembangkan berdasarkan pemahaman atas ayat Al-Qur’an dan Al-Hadis serta tafsir yang dilakukan ahli-ahli yang berkompeten atas Al-Qur’an dan Al-Hadis. Dari sini muncul berbagai terapi Islam orisinal, yang dapat dibedakan menjadi dua. Intervensi Islam orisinal ini dapat dibedakan menjadi terapi yang berbasis ibadah dan intervensi Islam orisinal yang berbasis akhlak. Beberapa intervensi Islam yang berbasis ibadah adalah intervensi Zikir, Doa, Al-Qur’an (baca, mendengarkan murattal, tadabbur), Salat (Sunnat, Khusyu’), Puasa, Haji, Zakat. Adapun intervensi psikologis Islam yang berbasis akhlak meliputi Ikhlas, Ridha, Syukur, Qanaah, Sabar, Lapang dada, Tawadhu, Pemaafan, Husnudzon, Tawakal, Muhasabah, dan Tafakkur. Pertama: Intervensi Islam Orisinal Ibadah. Perlu diberi catatan bahwa belakangan ini berbagai riset intervensi psikologi Islam berkembang secara luar biasa. Berikut ini beberapa contoh hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan terapi zikir, contoh pertama adalah efektivitas terapi zikir untuk meningkatkan resiliensi penderita low back pain/LBP (Khairiyah, 2012). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi zikir efektif dalam meningkatkan resiliensi penderita LBP. Contoh kedua adalah efektivitas terapi zikir al-Fatihah untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif rehabilitasi narkoba (Muzkiyyah, Nashori, Sulistyarini, 2015). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi zikir al-Fatihah efektif dalam mendongkrak kesejahteraan subjektif pelaku rehabilitasi narkoba. Beberapa contoh hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan terapi Al-Qur’an adalah sebagai berikut: (a) Efektivitas Penghayatan dan Dzikir Surat an-Naas untuk Mengurangi Gejala Obsessive-Compulsive Disorder (Fakhruddiana, 2011). Hasilnya adalah penghayatan surat an-Naas efektif mengurangi gejala obsessive-compulsive disorder. (b) Efektivitas Pelatihan Mendengarkan Al-Qur’an dalam Menurunkan Kecemasan Menghadapi Masa Depan pada Remaja (Utami & Urbayatun, 2015). Hasilnya pelatihan mendengarkan Al-Qur’an efektif menurunkan
Pengantar Psikologi Islam 13 kecemasan menghadapi masa depan pada remaja. (c) Pengaruh Mendengarkan Murattal Al-Qur’an dalam Menurunkan Tingkat Insomnia Mahasiswa Program Studi Psikologi (Wulandari, 2012). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas mendengar murottal Al-Qur’an efektif menurunkan tingkat insomnia. (d) Efektivitas Pelatihan Tadabbur Al-Qur’an untuk Menurunkan Stres Penderita Diabetes Mellitus (Habibah, 2015). Hasilnya pelatihan tadabbur Al-Qur’an efektif menurunkan stres penderita diabetes mellitus. (e) Efektivitas Terapi Tadabbur Al-Qur’an untuk Mengurangi Kecemasan Menghadapi Persalinan Pertama (Prapto, 2015). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi tadabbur Al-Qur’an efektif untuk mengurangi kecemasan menghadapi persalinan pertama. (f) Efektivitas Pelatihan Pemaknaan Surat al-Insyirah untuk Mengurangi Stres Mahasiswa yang Sedang Mengerjakan Skripsi (Az Zahra & Saidiyah, 2013). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan pemaknaan surat al-Insyirah efektif untuk mengurangi stres mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. (g) Perubahan Struktur Kognitif melalui al-Fatihah Efektif Menurunkan Stres Pasien Rematik (Umar Yusuf, 2015). (h) Keteraturan Membaca Al-Qur’an dan Menghayati Makna Ayat Al-Qur’an Efektif Meningkatkan Kemampuan Berpikir Positif Narapidana (Aida Dahlia Sufriani & Retno Kumolohadi, 2009). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan perubahan struktur kognitif melalui al-Fatihah efektif dalam menurunkan stres pasien rematik Intervensi berupa terapi salat juga terbukti efektif dalam menurunkan stres dan perilaku yang negatif. Berikut beberapa contoh penelitian yang menggunakan salat sebagai intervensi (a) Efektivitas Pelatihan Sholat Khusyu’ untuk Menurunkan Perilaku Seks Bebas Mahasiswa (Suri & Koentjoro, 2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan salat khusyu’ efektif menurunkan perilaku seksual pranikah mahasiswa yang berpacaran yang memiliki niat untuk berubah. (b) Pengaruh Salat Tahajud dalam Mengurangi Tingkat Stres Santri (Azam & Abidin, 2015). Hasil penelitian menunjukkan bahwa salat tahajud efektif mengurangi tingkat stres santri. (c) Pelatihan Salat Khusyu’ untuk Menurunkan Kecemasan pada Lansia Hipertensi (Wardani, Nashori, & Uyun, 2016). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan salat khusyuk efektif dalam menurunkan kecemasan lansia penderita hipertensi. Kedua: Intervensi Islam Orisinal Akhlak. Berikut ini akan ditunjukkan kemajuan-kemajuan riset intervensi Islam orisinal yang bertumpu pada akhlak, seperti kebersyukuran, kesabaran, pemaafan, dan sebagainya. Berikut ini
14 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran beberapa penelitian terapi kebersyukuran yang menggunakan konsep Islam. (a) Pengaruh Pelatihan Kebersyukuran dalam Meningkatkan Penerimaan Orangtua terhadap Anak Retardasi Mental (Aji, Nashori, Sulistyarini, 2013). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan kebersyukuran efektif meningkatkan penerimaan orangtua terhadap anak retardasi mental. (b) Pengaruh Pelatihan Kebersyukuran Efektif Meningkatkan Kualitas Hidup Penderita Penyakit Paru-paru (Cahyandari, 2015). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan kebersyukuran efektif meningkatkan kualitas hidup penderita penyakit paru-paru. (c) Pengaruh Pelatihan Kemampuan Bersyukur dalam Menurunkan Rasa Ketidakamanan dalam Bekerja pada Karyawan Honorer (Hamamah, 2010). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan kemampuan bersyukur efektif menurunkan rasa ketidakamanan dalam bekerja pada karyawan honorer. Intervensi psikologi Islam yang berbasis akhlak lainnya adalah terapi pemaafan. Salah satu contoh adalah penelitian yang berjudul Terapi Pemaafan La Tahzan untuk Meningkatkan Penerimaan Diri Wanita Korban KDRT Akibat Perselingkuhan Suami (Khaeryasdien & Koentjoro, 2015). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi pemaafan la tahzan efektif untuk meningkatkan penerimaan diri wanita korban KDRT akibat perselingkuhan suami. Intervensi psikologi Islam yang berbasis akhlak berikutnya adalah terapi kesabaran. Contoh penelitian intervensi pelatihan kesabaran adalah Efektivitas Pelatihan Kesabaran dalam Menurunkan Kecemasan terhadap Keputusan Status Kepegawaian Outsourcing (Rosanawati, 2010). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan kesabaran efektif dalam menurunkan kecemasan terhadap keputusan status kepegawaian outsourcing. Ketiga: Intervensi Integrasi Islam dan Psikologi Kontemporer. Ada beberapa intervensi integrasi Islam dan psikologi kontemporer yang dikembangkan para ilmuwan psikologi. Beberapa di antaranya adalah Terapi Kognitif Perilaku Islam, Pelatihan Kognitif Spiritual Islam, Relaksasi Zikir dan sebagainya. Berikut adalah sejumlah penelitian mutakhir tentang terapi Kognitif Perilaku Islam. (a) Terapi Kognitif Perilaku Religius untuk Menurunkan Gejala Depresi Siswa SMA (Trimulyaningsih & Subandi, 2010). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terapi kognitif perilaku religius efektif untuk menurunkan gejala depresi siswa SMA. (b) Efektivitas Terapi Kognitif Perilaku Religius Menurunkan Depresi Mahasiswa (Eva Yuliza, UII, 2013). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi kognitif perilaku
Pengantar Psikologi Islam 15 religius efektif menurunkan depresi mahasiswa. (c) Pengaruh Terapi Kognitif Perilaku Religius dalam Menurunkan Kecemasan pada Penderita Hipertensi (Irawati, UII, 2011). Hasil penelitian menunjukkan terapi kognitif perilaku religius efektif menurunkan kecemasan pada penderita hipertensi. (d) Efektivitas Terapi Kognitif Perilaku Islam dalam Menurunkan Kecemasan Penderita Hipertensi (Dony, 2012). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi kognitif perilaku Islam dalam menurunkan kecemasan penderita hipertensi. Berikutnya adalah sebuah hasil penelitian yang menunjukkan bahwa intervensi integrasi Islam dan pendekatan kognitif berpengaruh terhadap kondisi psikologis individu. Sebuah penelitian yang berjudul Efektivitas Pelatihan Kognitif Spiritual Islam dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri (Lestari, 2012). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan kognitif spiritual Islam efektif meningkatkan kepercayaan diri seseorang. Selanjutnya adalah beberapa hasil penelitian yang mengungkapkan bahwa intervensi integrasi antara relaksasi dan dzikir efektif dalam meningkatkan hal-hal yang positif pada manusia dan mengurangi hal-hal yang negatif pada diri individu. (a) Efektivitas Pelatihan Relaksasi Dzikir Meningkatkan Kesejahteraan Subjektif Istri yang Mengalami Infertilitas (Wahyunita, 2013). Hasil penelitian menunjukkan pelatihan relaksasi zikir efektif meningkatkan kesejahteraan subjektif istri yang mengalami infertilitas. (b) Pengaruh Terapi Relaksasi Otot Progresif dan Zikir dalam Menurunkan Kecemasan Hipertensi Esensial Pralansia (Luznizanuri & Nashori, 2013). Hasil penelitian menunjukan bahwa terapi relaksasi otot progresif dan zikir efektif menurunkan kecemasan hipertensi esensial pralansia. (c) Efektivitas Terapi Relaksasi Dzikir dalam Menurunkan Stres Penderita Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis (Sadif, 2013). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi relaksasi zikir efektif menurunkan stres penderita ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Berikut ini adalah hasil penelitian tentang intervensi integrasi Islam dan psikologi kontemporer, dalam hal ini adalah Terapi Kebersyukuran Berbasis Kognitif Perilaku. Beberapa contoh hasil penelitian adalah (a) Efektivitas Terapi Kognitif Perilaku Bersyukur dalam Menurunkan Depresi pada Remaja (Mutia, Subandi, & Mulyati, 2010). Hasil riset menunjukkan bahwa terapi kognitif perilaku bersyukur terbukti efektif menurunkan depresi pada remaja. (b) Efektivitas Terapi Kebersyukuran Berbasis Kognitif Perilaku dalam Meningkatkan Penerimaan Diri Pasien Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis (Safitri, 2013). Hasil penelitian
16 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran menunjukkan bahwa terapi kebersyukuran berbasis kognitif perilaku efektif meningkatkan penerimaan diri pasien ginjal kronis yang menjalani hemodialisis. (c) Efektivitas Terapi Kognitif Kebersyukuran dalam Meningkatkan Kebermaknaan Hidup Narapidana Penyalahguna Napza (Febiyanti, 2011). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi kognitif kebersyukuran efektif meningkatkan kebermaknaan hidup narapidana penyalahguna napza. Di bawah ini adalah hasil penelitian tentang intervensi integrasi Islam dan psikologi kontemporer, dalam hal ini adalah Terapi Pemaafan dengan Dzikir. Salah satu contoh hasil penelitian adalah Efektivitas Terapi Pemaafan dengan Dzikir dalam Menurunkan Tingkat Distres Istri Korban Perselingkuhan Suami (Rosdaniar & Koentjoro, 2012). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi pemaafan dengan zikir efektif menurunkan tingkat distres istri korban perselingkuhan suami. Selain itu, di bawah ini adalah hasil penelitian tentang intervensi integrasi Islam dan psikologi kontemporer, dalam hal ini adalah pelatihan relaksasi dengan membaca Al-Qur’an. Contoh hasil penelitian adalah Efektivitas Pelatihan Relaksasi dengan Membaca Al-Qur’an Efektif Menurunkan Stress pada Penderita Diabetes Pemula (Habibah, 2010). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pelatihan relaksasi dengan membaca Al-Qur’an efektif menurunkan stres pada penderita diabetes pemula. Di bawah ini adalah hasil penelitian tentang intervensi integrasi Islam dan psikologi kontemporer, dalam hal ini adalah Terapi Koping Religius. Efektivitas Pelatihan Koping Religius dalam Meningkatkan Resiliensi Penyintas Merapi (Mita Octarina & Tina Afiatin, UII, 2013). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan koping religius efektif meningkatkan resiliensi penyintas Merapi. Di bawah ini adalah hasil penelitian tentang intervensi integrasi Islam dan psikologi kontemporer, dalam hal ini adalah konseling islami dalam Kelompok. Pengaruh Konseling Islami dalam Kelompok untuk Meningkatkan Kesejahteraan Spiritual (Abdiah & Nashori, 2013). Hasil penelitan menunjukkan bahwa konseling Islami dalam kelompok efektif meningkatkan kesejahteraan spiritual. F. Penutup Ada suatu keprihatinan yang pernah disampaikan salah seorang penggagas dan salah seorang tokoh utama psikologi Islam di Indonesia, Hanna Djumhana Bastaman. Pribadi yang mengesankan ini menandaskan bahwa salah satu
Pengantar Psikologi Islam 17 tantangan berat yang kita hadapi adalah menjadikan orang—terutama ilmuwan yang beragama Islam— memiliki keberanian menjadikan kitab suci—Al-Qur’an dan Al-Hadis—sebagai rujukan dalam memahami manusia. Keprihatinan penulis buku Integrasi Psikologi dengan Islam ini terjadi karena adanya kecenderungan untuk melihat ayat-ayat Tuhan dari kitab suci secara mendua. Ketika seseorang hendak beribadah kepada Allah mereka jadikan ayat suci sebagai rujukan. Namun, dalam kerja-kerja ilmiah mereka enggan menggunakan ayat suci sebagai dasar atau rujukan. Malik B. Badri (1986) pernah mengkritik kecenderungan semacam ini sebagai kepribadian terpecah (split personality). Dalam diri orang yang memiliki kepribadian terpecah, kecenderungan satu dengan kecenderungan lain tidak teorganisir dalam suatu sistem, tapi berjalan sendiri-sendiri. Saat beribadah salat misalnya, seseorang menjadi muslim yang khusyu’ menghadapkan dirinya kepada Tuhan. Namun, setelah bekerja sebagai ilmuwan, cara kerja dan pola pikirnya sama sekali tidak berkaitan dengan salat. Ia menjelaskan segala sesuatu dengan “hukum-hukum alam” dan melupakan bahwa semua hal di semesta ini adalah ciptaan Allah dan bahwa tidak ada sesuatu yang bergerak kecuali dengan izin Allah. Implikasi penempatan kitab suci sebagai rujukan utama adalah menjadikan isi kitab suci sebagai rujukan dalam pembuatan norma. Sebagai contoh dalam kasus LGBT, salah satu pertanyaan penting adalah apakah lesbian, gay, biseks, dan transgender merupakan perilaku yang normal? Kalau merujuk kepada kitab suci, sebagai besar ilmuwan psikologi muslim berpandangan bahwa perilaku tersebut termasuk dalam kategori abnormal atau termasuk gangguan. Hal ini merujuk pada tafsir atas peristiwa bencana besar yang terjadi pada umat Nabi Luth di Kota Sodom dan Gomorah. Padahal pandangan ini berseberangan dengan pandangan Asosiasi Psikiatri Amerika dan Asosiasi Psikologi Amerika yang mengatakan bahwa LGB tidak termasuk gangguan, namun transgender masih termasuk gangguan. Penempatan kitab suci sebagai dasar pembentukan ilmu, khususnya psikologi, masih mendapat tantangan yang besar. Penulis pernah menemukan suatu fakta yang mengejutkan. Di suatu fakultas psikologi di salah satu perguruan tinggi negeri, beberapa mahasiswa yang mencoba menjadikan Al-Qur’an dan Al-Hadis sebagai rujukan diminta oleh pembimbingnya untuk memperbaiki skripsinya. Penyebabnya hanya satu, yaitu ia terlalu banyak menggunakan ayat-ayat Tuhan dalam kitab suci. Kecenderungan semacam ini biasa disebut sebagai Islamofobia. Seperti diketahui
18 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran Islamofobia adalah suasana psikologis yang berisi ketakutan yang berlebih-lebihan terhadap Islam atau terhadap simbol-simbol Islam yang seringkali tidak beralasan dan tidak berdasar pada kenyataan. Fenomena kepribadian terpecah dan Islamofobia menggambarkan bahwa ada kendala psikologis di kalangan umat Islam sendiri terhadap ajaran Islam umumnya dan terhadap kitab suci khususnya. Terhadap kenyataan ini, kita sangat mengharapkan agar masyarakat semakin terbuka terhadap informasi kitab suci yang sampai kepada mereka atau yang akan hadir kepada mereka. Sangat tidak elok bila menolak isi kitab suci sebelum memperoleh kesempatan untuk menelaahnya secara memadai. Demikian. Bagaimana menurut Anda? Daftar Pustaka Abdiah, N. A., & Nashori, H. F. (2013). Konseling Islami dalam kelompok efektif meningkatkan kesejahteraan spiritual. Tesis (tidak diterbitkan). Prosiding Seminar Nasional Psikologi. 9-10 November 2013. Aji, W., Nashori, H. F., & Sulistyarini, I. (2013). Pelatihan kebersyukuran efektif meningkatkan penerimaan orangtua terhadap anak retardasi mental. Jurnal Psikologi Integratif, 1(1), 97-104. Ancok, D., Suroso, S., & Nashori, F. (1995). Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-Problem Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Arsyad, M. N. (1992). Ilmuwan Muslim Sepanjang Sejarah. Cetakan Ketiga. Bandung: Penerbit Mizan. Astuti, Y. (1999). Religiositas Meningkatkan gaya penjelasan. Jurnal Psikologika, 4(8). Az Zahra, A., & Saidiyah, S. (2013). Efektivitas pelatihan pemaknaan surat al-Insyirah untuk mengurangi stres mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Jurnal Intervensi Psikologi, 5(1), 25-42. Azam, S., & Abidin, Z. (2015). Sholat tahajud efektif mengurangi tingkat stres santri. Jurnal Intervensi Psikologi, 6(2), 151-170. Aziz, R., & Hotifah, Y. (2005). Dzikir meningkatkan kontrol diri manula. Jurnal Psikologi Islami, 1(2). Badaria, H., & Astuti, Y. D. (2004). Religiositas meningkatkan penerimaan diri. Jurnal Psikologika, 9(17).
Pengantar Psikologi Islam 19 Badri, M. B. (2001). Dilema Psikologi Muslim. Jakarta: Al-Kautsar Bastaman, H. D. (1995). Integrasi Psikologi dengan Islam. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar & Yayasan Insan Kamil. Bastaman, H. D. (2005). Dari kalam sampai ke API: psikologi islami kemarin, kini, dan esok. Jurnal Psikologi Islami, 1(1), 5-16 Bukhori, B. (2005). Intensitas dzikir menurunkan agresivitas santri. Jurnal Psikologi Islami, 1(2). Bukhori, B. (2006). Religiositas dan kebermaknaan hidup meningkatkan kesehatan mental mahasiswa. Jurnal Psikologika, 11(22). Cahyandari, R. (2015). Pelatihan kebersyukuran efektif meningkatkan kualitas hidup penderita penyakit paru-paru. Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Program Pascasarjana Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia. Chizanah, L. (2013). Penyusunan instrument pengukuran ikhlas. Jurnal Psikologika,18(1). Diana, R. R. (1999). Religiositas meningkatkan kreativitas siswa. Jurnal Psikologika, 3(7) Dony, R. (2012). Terapi kognitif perilaku Islam efektif dalam menurunkan kecemasan penderita hipertensi. Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Program Pascasarjana Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII. Fakhruddiana, F. (2011). Efektivitas penghayatan dan dzikir surat an-Naas untuk mengurangi gejala obsessive-compulsive disorder. Laporan Penelitian. Yogyakarta: Lembaga Penelitian Universitas Ahmad Dahlan. Fakhrurrozi, M. (2008). Religiositas menurunkan death anxiety. Jurnal Psikologika, 13(25). Febiyanti, F. (2011). Terapi kognitif kebersyukuran efektif meningkatkan kebermaknaan hidup narapidana penyalahguna napza. Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Program Pascasarjana Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII. Ghazali, A., & Al-Asyhar, T. (2012). Psikologi Islam: Pesona Tradisi Keilmuan yang Mengintegrasikan Nilai-nilai Ketuhanan dan Sains. Jakarta: PT Saadah Cipta Mandiri. Habibah, N. (2010). Pelatihan relaksasi dengan membaca Al-Qur’an efektif menurunkan stres pada penderita diabetes pemula. Tesis (tidak diterbitkan).
20 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran Yogyakarta: Program Pascasarjana Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII. Habibah, N. (2015). Efektivitas pelatihan tadabbur Al-Qur’an efektif menurunkan stres penderita diabetes Melitus. Prosiding National Conference on Islamic Psychology. UII Yogyakarta. 8-9 Februari 2015. Hafizha, F., & Agustina, I. (2013). Religiositas dan perilaku cybersex pada kalangan mahasiswa. Jurnal Psikologika, 18(1). Hamamah. (2010). Pelatihan kemampuan bersyukur efektif menurunkan rasa ketidakamanan dalam bekerja pada karyawan honorer. Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Program Pascasarjana Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII. Hayyinah. (2004). Religiositas menurunkan prokrastinasi. Jurnal Psikologika, 9 (17). Khaeryasdien, A. D., & Koentjoro. (2015). Terapi pemaafan la tahzan untuk meningkatkan penerimaan diri wanita korban KDRT akibat perselingkuhan suami. Prosiding National Conference on Islamic Psychology. UII Yogyakarta. 8-9 Februari 2015. Khairiyah, U. (2012). Efektivitas terapi dzikir untuk meningkatkan resiliensi penderita. Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Program Pascasarjana Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII. Lestari, W. (2012). Pelatihan kognitif spiritual Islam efektif meningkatkan kepercayaan diri. Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Program Pascasarjana Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII. Luznizanuri, K., & Nashori, H. F. (2013). Terapi relaksasi otot progresif dan dzikir efektif menurunkan kecemasan hipertensi esensial pralansia. Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Program Pascasarjana Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII. McCarthy, P., & Houg, B. L. (2008). The role of spirituality in the ongoing recovery process of female sexual abuse survivors. Dissertation (unpublish). Minnesota: University of Minnesota. Muarifah, A., & Martaniah, S. R. (2004). Keteraturan menjalankan sholat dan puasa Senin Kamis menurunkan agresivitas. Jurnal Humanitas, 1(2). Mudzkiyyah, L., Nashori, H. F., & Sulistyarini, I. (2015). Efektivitas terapi dzikir al-Fatihah untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif rehabilitasi narkoba. Jurnal (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Program Pascasarjana Fakultas Psikologi
Pengantar Psikologi Islam 21 dan Ilmu Sosial Budaya UII. Mujib, A., & Mudzakir, J. (2001). Nuansa-nuansa Psikologi Islami. Jakarta: Penerbit Rajawali Mutia, E., Subandi, & Mulyati, R. (2010). Terapi kognitif perilaku bersyukur efektif menurunkan depresi pada remaja. Jurnal Intervensi Psikologi, 2(2), 181-192. Nadiah. (2006). Pelatihan manajemen qalbu efektif meningkatkan kemampuan problem solving mahasiswa. Jurnal Psikologi Islami, 2(3) Nashori, H. F. (1999). Religiositas meningkatkan kemandirian siswa. Jurnal Psikologika, 4(8). Nashori, H. F. (2001). Tema-tema mimpi psiko-spiritual kyai: tinjauan psikologi Islami. Jurnal Psikologika, 6(10) Nashori. H. F. (2004). Proses kreatif penulis muslim Indonesia: perspektif psikologi islami. Jurnal Psikologika, 9(17). Nashori. H. F. (2007). Kelapangdadaan survivor bencana di Yogyakarta. Jurnal Religiusitas, 1(3). Nashori, H. F. (2010). Agenda Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Nashori, H. F. (2015). Menuju intervensi Psikologi Islam. Prosiding National Conference on Islamic Psychology. UII Yogyakarta. 8-9 Februari 2015. Octarina, M., & Afiatin, T. (2013). Pelatihan koping religius efektif meningkatkan resiliensi penyintas merapi. Jurnal Intervensi Psikologi, 5(1), 95-110. Pargament, K., Feuille, M., & Burdzy, D. (2011). The brief rcope: current psychometric status of a short measure of religious coping. Journal Religions, 2, 51-76. Peres, J. F., Almeida, M., Nasello, A. G., & Koenig, H. (2007). Spirituality and resilience in trauma victims. Journal of Religion and Health, 46, 343-350. Pitriana, Y. & Zulaifah, E. (2005). Pengetahuan poligami dalam Islam meningkatkan sikap positif terhadap poligami pada wanita Islam. Jurnal Psikologika, 10(20). Prapto, D. A. P. (2015). Terapi tadabbur Al-Qur’an untuk mengurangi kecemasan menghadapi persalinan pertama. Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Program Pascasarjana Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII. Purwanto, Y., & Mulyono, R. (2005). Psikologi Marah: Perspektif Psikologi Islami. Bandung: Penerbit Refika Aditama. Purwanto, Y. (2006). Epistemologi Psikologi Islami. Bandung: Penerbit Refika Aditama. Purwanto, Y. (2007). Psikologi Kepribadian: Perspektif Psikologi Islami. Bandung: Penerbit Refika Aditama.
22 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran Rahman, A. A., & Permadi, R. (2013). Pengaruh identitas keberagamaan dan kejijikan moral terhadap perilaku cybersex. Jurnal Psikologika, 18(1). Romdhon, A. (2011). Kebersyukuran sebagai sebuah strategi koping. Proceeding International Conference Association of Islamic Psychology. Rosanawati, T. (2010). Pelatihan kesabaran efektif dalam menurunkan kecemasan terhadap keputusan status kepegawaian outsourcing. Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Program Pascasarjana Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII. Rosdaniar, & Koentjoro. (2012). Terapi pemaafan dengan dzikir efektif menurunkan tingkat distres istri korban perselingkuhan suami. Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Program Pascasarjana Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII. Sadif, R. S. (2013). Terapi relaksasi dzikir efektif menurunkan stres penderita ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Program Pascasarjana Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII. Safitri, R. (2013). Terapi kebersyukuran berbasis kognitif perilaku efektif meningkatkan penerimaan diri pasien ginjal kronis yang menjalani hemodialisis. Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Program Pascasarjana Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII. Sapuri, R. (2009). Psikologi Islam: Tuntunan Jiwa Manusia Modern. Jakarta: Penerbit Rajawali. Selvyani, M. (2008). Pengetahuan agama tentang pergaulan antar jenis kelamin menurunkan sikap positif terhadap hidup bersama sebelum menikah pada mahasiswa muslim. Jurnal Psikologi UIN Yogya, 1(2). Subandi. (2009). Psikologi Dzikir: Studi Fenomenologi Pengalaman Transformasi Religius. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sufriani, A. D., & Kumolohadi, R. (2009). Keteraturan membaca Al-Qur’an dan menghayati makna ayat Al-Qur’an efektif meningkatkan kemampuan berpikir positif narapidana. Jurnal Intervensi Psikologi, 1(1). Supradewi, R. (2008). Pelatihan dzikir menurunkan efek negatif mahasiswa. Jurnal Psikologi UIN Yogya, 2(1). Suri, P. I., & Koentjoro. (2014). Efektivitas pelatihan sholat khusyu’ untuk menurunkan perilaku seks bebas mahasiswa. Jurnal Intervensi Psikologi, 6(2), 181-192. Swank, N., & Pargament, K. (2005). God, where are you? evaluating a
Pengantar Psikologi Islam 23 spirituality-integrated intervention for sexual abuse. Journal of Mental Health, Religion and Culture, 8(3), 191-203. Trimulyaningsih, N., & Subandi, M. A. (2010). Terapi kognitif perilaku religius untuk menurunkan gejala depresi siswa SMA. Jurnal Intervensi Psikologi, 5(2), 180-194. Utami, N. R., & Urbayatun, S. (2015). Efektivitas Pelatihan Mendengarkan Al-Qur’an Efektif Menurunkan Kecemasan Menghadapi Masa Depan pada Remaja. Wahyunita, D., Afiatin, T., & Kumolohadi, R. (2013). Pelatihan relaksasi dzikir efektif meningkatkan kesejahteraan subjektif istri yang mengalami infertilitas. Jurnal Intervensi Psikologi, 6(2), 225-234. Wardani, Y., Nashori, H. F., & Uyun, Q. (2016). Efektivitas pelatihan sholat khusyu’ untuk menurunkan kecemasan pada lansia hipertensi. Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Program Pascasarjana Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII. Wicaksono, S. P. (2011). Patience and prayer as therapy islam in improving subjective quality of life. Proceeding International Conference Association of Islamic Psychology. Wulandari, E. D. (2012). Mendengarkan murattal Al-Qur’an untuk menurunkan tingkat insomnia mahasiswa program studi psikologi Universitas Islam Indonesia. Skripsi. Yogyakarta: Prodi Psikologi UII Yu X., & Zhang, J. (2007). Factor analysis and psychometric evaluation of the onnor-Davidson resilience scale (CD RISC) with Chinese people. Social Behavior and Personality, 35, 19-30. Yuliza, E. (2013). Terapi kognitif perilaku religius efektif menurunkan kecemasan pada penderita hipertensi. Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Program Pascasarjana Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII. Yusuf, U. (2015). Perubahan struktur kognitif melalui al-Fatihah efektif menurunkan stres pasien rematik. Prosiding National Conference on Islamic Psychology UII Yogyakarta. 8-9 Februari 2015.
Aliran Psikologi Kontemporer : Sekilas Sejarah Dan Kritik 25 ALIRAN PSIKOLOGI KONTEMPORER: SEKILAS SEJARAH DAN KRITIK Capaian Pembelajaran 1. Mahasiswa mampu memahami Mazhab Psikoanalisis dan Kritik terhadapnya 2. Mahasiswa mampu memahami Mazhab Psikologi Perilaku dan Kritik terhadapnya 3. Mahasiswa mampu memahami Mazhab Psikologi Humanistik dan Kritik terhadapnya A. Pengantar Sebelum psikologi Islam lahir, berbagai mazhab psikologi telah dihadirkan kepada pembelajar psikologi Islam. Bagian ini akan mengungkap pandanganpandangan penting mereka dan kritik terhadapnya. Telaah kritis ini akan diarahkan kepada beberapa aliran dalam khazanah psikologi modern. Seperti kita tahu, dalam psikologi modern ada tiga arus utama (mainstream) yang kini diakui sebagai aliran psikologi yang mapan, yaitu Psikoanalisis, Behaviorisme, dan Psikologi Humanistik. Sebenarnya masih ada satu lagi aliran baru yang cukup potensial untuk menjadi aliran yang mapan, yaitu Psikologi Transpersonal. B. Kritik terhadap Psikoanalisis Psikoanalisis adalah aliran psikiatri dan psikologi yang dikembangkan oleh Sigmund Freud. Beberapa buku Freud yang terkenal adalah Introductory to Psychoanalysis (1917), The Interpretation of Dream (1900), Totem and Taboo (1918). Buku-buku tersebut menjadi rujukan tulisan ini. Serba singkat akan dibahas tentang ketidaksadaran, id, superego, mimpi. Id. Teori Freud mengungkapkan bahwa satu-satunya hal yang mendorong kehidupan manusia adalah dorongan Id (libido seksualita). Dalam libido seksualita, seseorang berusaha mempertahankan eksistensinya karena bermaksud memenuhi hasrat seksualnya. Sedemikian perkasanya Id ini, hingga dialah satu-satunya sumber energi yang membuat seseorang berperilaku. Mengapa seseorang datang ke suatu majelis untuk berdiskusi, mengapa seseorang datang ke acara pengajian di masjid
26 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran atau mengikuti kebaktian di gereja, mengapa seseorang bersedia mencuci piring di rumah, atau mengapa seseorang bermimpi di malam hari? Semuanya adalah dalam rangka memenuhi dorongan biologis atau dorongan seksual, kata Freud. Teori semacam ini dianggap menyederhanakan kompleksitas dorongan hidup yang ada dalam diri manusia. Dalam perspektif Psikologi Humanistik, teori Freud ini hanya menjelaskan adanya kebutuhan yang paling mendasar dari manusia, yaitu kebutuhan fisiologis dan tidak tak mampu memberikan penjelasan untuk empat kebutuhan manusia yang lain. Teori Freud ini akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan kebutuhan seseorang akan aktualisasi diri atau juga kebutuhan untuk beragama. Sementara itu, ahli psikologi Islam mengkritik teori ini tak mampu menjelaskan tentang dorongan yang dimiliki umat beragama untuk menyembah Tuhan. Secara khusus, teori Freud ini tak mampu menjelaskan mengapa seorang Muslim berupaya untuk mendapat ridha dari Allah Swt. Ketidaksadaran. Menurut Freud (2002), untuk memahami dinamika psikologis manusia, pengkaji masalah manusia perlu memahami apa yang terjadi dalam alam ketidaksadaran. Ketidaksadaran menjelaskan sebagian besar realitas manusia. Di sana begitu banyak terjadi mekanisme bagaimana manusia eksis dalam hidupnya– disebut Freud sebagai mekanisme pertahanan diri, seperti sublimasi, fiksasi, regresi, proyeksi, introyeksi, rasionalisasi, dan sebagainya. Tanpa memahami ketidaksadaran, pengkaji masalah manusia akan gagal memahami siapa manusia. Freud membuat pengandaian yang sangat terkenal atas teori ini: kesadaran adalah puncak gunung es yang berada di permukaan laut; sementara yang berada di bawah permukaan adalah ketidaksadaran. Ketidaksadaran berisi dorongandorongan biologis (id, libido seksualita, dorongan seksual) dan ingatan-ingatan yang telah terpendam. Sedemikian perkasanya Id ini, hingga dialah satu-satunya sumber energi yang membuat seseorang berperilaku. Dari sini tergambarkan betapa besarnya atau betapa luasnya alam ketidaksadaran ini. Freud sendiri mengungkapkan bahwa teori-teori yang dirumuskannya dibangun dengan berdasarkan pengalamannya menangani klien-kliennya, terutama klien gangguan histeria. Berdasarkan pengalaman yang ditemuinya itu, Freud menjelaskan perilaku kliennya itu dengan penjelasan yang masuk ke dalam “ceruk-ceruk terdalam kepribadian manusia”. Dilatari keberaniannya menfasirkan dinamika psikologis itulah, Freud berspekulasi tentang adanya alam tak sadar yang mendominasi kehidupan manusia. Spekulasi yang luar biasa itulah yang menjadi
Aliran Psikologi Kontemporer : Sekilas Sejarah Dan Kritik 27 sumber kritik atas pandangan-pandangannya. Atas temuannya mengenai ketidaksadaran ini, Freud memperoleh tempat yang sangat memanjakannya, yaitu respon yang luar biasa dari berbagai kalangan, terutama seniman (Freud sendiri membangun teorinya dengan menggunakan karya seni, khususnya sastra, terutama dari zaman Yunani). Berbagai analisis kesenian menggunakan perspektif psikoanalisis ini (Prabowo, 1991). Untuk mengecek kebenaran teori tersebut, salah satu sudut pandang yang dapat digunakan adalah dasar-dasar penalaran atas teori ini serta implikasi yang merugikan akan penggunaan teori ini. Teori ketidaksadaran ini mengandaikan perilaku manusia dikendalikan oleh ketidaksadan dan cenderung menafikan kemampuan akal dan qalbu (hati nurani) yang melekat erat dalam diri manusia. Tidak seperti manusia abnormal yang lebih banyak dikendalikan hal-hal yang tidak disadari, orang-orang yang normal dan supernormal lebih didominasi oleh akal dan hati nuraninya. Sudah pasti sebagian besar manusia terkategori normal dan mereka memiliki pertimbangan-pertimbangan yang rasional dan juga memiliki kesadaran moral atas perilaku yang diaksikannya. Hal ini menandakan bahwa dalam diri manusia pada umumnya terdapat hati nurani dan akal. Kalaupun teori ketidaksadaran yang dikatakan Freud itu digunakan untuk menganalisis manusia, maka yang dapat dipahami hanyalah manusi-manusia yang terkategori abnormal, yang berbagai sisi kehidupannya dikendalikan oleh ketidaksadaran. Analisis kritis terhadap teori Freud ini juga dapat dialamatkan kepada implikasi atas penggunaan teori ini. Bila direnungkan lebih lanjut tentang teori Freud tentang ketidaksadaran ini, maka ada satu implikasi yang bakal kita hadapi. Bila kita memercayai keberadaannya, bukannya membangkitkan kita untuk melakukan usaha riil dalam kehidupan, tapi justru memanjakan kita dengan penjelasanpenjelasan yang spekulatif. Sebagai contoh adalah perspektif ketidaksadaran tentang hadirnya ide-ide yang kreatif. Setelah manusia berpikir dengan menggunakan seluruh/sebagian besar kemampuan kognitifnya seringkali ia tidak segera menemukan pemecahan masalah. Pikiran seakan berhadapan dengan tembok (Jawa: menthok). Tidak ada jalan lain. Para ahli kreativitas menyebutkan bahwa manusia membutuhkan masa inkubasi (masa pengeraman). Dalam masa ini sebaiknya orang tidak usah melakukan aktivitas berpikir. Menurut Freudian (Munandar, 2002), dalam situasi seperti ini pikiran yang berada dalam wilayah ketidaksadaran akan melakukan
28 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran organisasi yang diam-diam, tidak terstruktur, yang akhirnya muncullah pencerahan (enlightment) atau dalam psikologi kesadaran disebut Aha Erlebniz! Pandangan di atas menyampaikan sebuah pesan: saat seseorang berada dalam situasi tak mampu memecahkan masalah, ia hanya bisa menunggu: ketidaksadaran akan bekerja. Setelah berhadapan dengan tembok, boleh jadi seseorang akan melakukan usaha riil, seperti pergi ke pantai, menikmati merdunya musik klasik, atau berbuat permainan lain yang menyenangkan hati. Perilaku-perilaku yang disebutkan terakhir ini pada dasarnya adalah perilaku menunggu akan hadirnya ide-ide kreatif. Menurut penulis, bila pandangan kita ikuti kita tidak berbuat banyak. Kita memerlukan perspektif lain, di antaranya adalah memercayai bahwa dalam diri manusia terdapat komponen jiwa yang bernama qalbu (hati nurani). Bila manusia berpikir dan akal pikir tidak juga menemukan jawabannya, maka manusia dapat mengaktifkan hati nurani (qalbu). Qalbu yang berkembang baik seperti berlian yang bening, yang bersih, yang suci, yang siap menerima ilham atau pengetahuan, di samping kebaikan dan kebenaran (Qalbu yang tidak berkembang merupakan sejenis berlian yang penuh dengan kerak hitam). Qalbu dapat dikembangkan dengan perbuatan baik yang tulus pada Tuhan dan sesama serta melalui pertaubatan (Qalbu dapat dimandulkan dengan perbuatan yang menimbulkan implikasi buruk, sehingga menghasilkan noda-noda hitam). Bila hati atau qalbu telah berkembang, maka manusia seperti memiliki kesiapan menerima pencerahan dari Allah. Dengan kehendak-Nya Tuhan Allah zza wa jalla mengarahkan proses berpikir ke arah yang membuat mereka bisa menemukan sebagian realitas yang hendak Allah ilhamkan kepada mereka. Realitas-realitas itu tampak jelas bagi mereka, seakan-akan tiba-tiba dalam akal budi mereka terjadi iluminasi atau pencerahan. Karena itu, bila manusia melakukan aktivitas psikospiritual dalam situasi menthok, maka ia sama dengan menarik turun karunia Allah yang berupa al-’alim (kecerdasan). Cara yang dapat ditempuhnya adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah azza wa jalla dan melakukan perbuatan baik yang tulus ikhlas pada sesama. Salah satu contoh nyata tentang hadirnya ide-ide kreatif ke hati manusia adalah apa yang terjadi pada Ibnu Sina. Ibnu Sina dikenal sangat kreatif. Beliau banyak memberikan saham terhadap dunia ilmu pengetahuan melalui penemuanpenemuan barunya yang kreatif, baik di bidang filsafat, geologi, kimia, kosmologi, sastra, politik, dan bahkan dalam bidang psikologi pernah menulis kitab
Aliran Psikologi Kontemporer : Sekilas Sejarah Dan Kritik 29 an-Najat tentang kebahagiaan jiwa (Arsyad, 1992). Yang menarik adalah ia selalu mengaktifkan hatinya saat pikirannya berhadapan dengan tembok. Tentang hal ini, ia sendiri pernah mengungkapkan: “Setiap aku menyangsikan suatu persoalan dan tidak mendapatkan batas pengertian yang benar aku senantiasa ke masjid melakukan salat, memohon kepada Tuhan hingga terbuka bagiku pemecahannya dengan mudah. Aku pulang ke rumah dan meletakkan lampu di hadapanku lalu terus membaca dan mengarang. Bila rasa kantuk mendesak atau badanku merasa sangat letih, aku lalu minum secangkir minuman hingga timbul kembali kesegaranku, dan aku teruskan membaca lagi. Tetapi jika kantuk tidak tertahankan aku lalu tidur. Biasanya aku bermimpi tentang soal-soal yang belum selesai dalam pikiranku. Di dalam mimpi itu kebanyakan persoalan-persoalan menjadi terang masalahnya.” Dalam perspektif Islam, Allah adalah pihak yang mengendalikan sesuatu yang ada di alam semesta dan merencanakan segala urusannya. Termasuk yang ada dalam pikiran manusia. Superego. Pandangan lain Freud adalah bahwa manusia dilengkapi dengan komponen id-ego-superego. Id adalah komponen dasar atau alami manusia (ada semenjak keberadaan manusia). Tentang Id ini, ada sebuah penjelasan bahwa hakikat manusia adalah buruk, liar, kejam, kelam, non etis, egois, sarat nafsu, dan berkiblat pada kenikmatan jasmani (Bastaman, 2011). Superego adalah hati nurani, suatu komponen dalam diri manusia yang terbentuk karena pengaruh dari masyarakatnya, yaitu penanaman nilai-nilai/norma-norma dari masyarakat yang mengelilinginya. Ego adalah komponen yang memiliki tugas mengkompromikan kepentingan Id dan Superego. Dari sana ada satu pandangan yang sangat jelas bahwa hati nurani, atau nilai-nilai kebaikan secara inheren tidak ada dalam diri manusia, kecuali jika lingkungan mendidiknya atau mengajarkannya. Yang ingin kami soroti adalah implikasi bila kita memercayai bahwa hati nurani manusia akan tumbuh pada usia-usia awal perkembangan dan bila tidak tumbuh kita akan dapati manusia itu akan jadi makhluk yang tidak memiliki hati nurani (qalbu). Ada sebuah contoh, yaitu tentang anak jalanan. Dikarenakan anak jalanan tidak memperoleh pendidikan tentang nilai-nilai atau pendidikan hati nurani dalam masa-masa awal kehidupannya, maka tidak ada pilihan lain bagi kehidupan
30 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran mereka di masa-masa selanjutnya. Dalam pandangan teori superego, mereka akan tumbuh menjadi manusia yang tidak berhati nurani. Pertimbangan baik dan buruk tidak berkembang dalam diri mereka. Saat id yang ada dalam diri mereka minta dipuaskan, maka yang bakal terjadi adalah aktivitas pemuasan diri yang tidak diimbangi oleh kontrol dari dalam diri. Mereka akan menyeruduk apa saja yang ingin diseruduk, menendang apa saja yang ingin ditendang. Memeras apa yang bisa diperas, dan sebagainya. Dengan demikian, pandangan di atas merupakan merupakan suatu pandangan yang pesimistik. Sejumlah mazhab psikologi menolak pandangan di atas. Mazhab-mazhab baru percaya bahwa manusia memiliki potensi-potensi positif, sejak dari kelahirannya, baik secara kognitif, afektif, sosial, spiritual, juga fisik. Pandangan-pandangan psikologi humanistik dan pandangan psikologi islami menyampaikan pesan bahwa nilai-nilai kebaikan-kebenaran melekat pada diri manusia sejak awal penciptaannya. Lingkungan akan mengembangkannya atau memandulkannya. Dengan kekuatan yang secara inheren menetap dalam dirinya, potensi itu akan bersemi, berkembang, dan menjadikan manusia. Nurani akan tetap ada sekalipun lingkungan melumurinya dengan beragam kotoran. Bahkan sekalipun lingkungan kuat mengungkungnya, mengkonstruksi cara berpikir, berperasaan, dan berperilaku, nurani akan tetap memiliki kemampuan menunjukkan potensi-potensi kebaikannya. Penulis pernah berdialog dengan seorang pengasuh pondok pesantren khusus anak yatim yang mantan penjahat (perampok, penodong, dan sejenisnya). Menurut penuturannya, saat hendak beraksi melakukan pengambilan hak milik orang lain secara paksa selalu ada panggilan dari hati nuraninya untuk tidak melakukan tindakan jahat. Namun, dikarenakan dorongan ingin memiliki harta benda mendominasi dirinya, maka ia akhirnya memutuskan untuk meneruskan aksi jahatnya. Contoh yang paling jelas dalam sejarah adalah seorang tokoh bernama Umar bin Khattab. Sekalipun alam pikir, perilakunya (tega membunuh anak perempuan kecilnya) dikonstruksi oleh budaya Arab Quraisy yang jahiliyah di masanya, hati nurani Umar bin Khattab tetap berkembang dan berfungsi dengan baik. Dengan hati nurani yang difungsikan, Umar meninggalkan pola hidup urakan dan menuju kehidupan yang beradab. Di belakang hari Umar bin Khattab tumbuh menjadi pemimpin yang sangat empatetik, adil, dan berorientasi kepada kesejahteraan rakyatnya. Selain itu, Umar adalah pribadi yang demikian bersih nuraninya hingga dalam dirinya tumbuh kemampuan-kemampuan parapsikologis seperti
Aliran Psikologi Kontemporer : Sekilas Sejarah Dan Kritik 31 clairvoyance (kemampuan untuk mengetahui apa terjadi di tempat yang jauh tanpa menggunakan indera) dan psikokinesis (kemampuan memengaruhi benda atau peristiwa) (Nashori, 2003). Salah satu contoh nyata kemampuan Umar dalam clairvoyance adalah ketika Umar bin Khattab sedang berkhutbah di Masjid Nabawi Madinah. Di tengah khutbah, tiba-tiba Umar memberikan komando kepada panglima perangnya yang sedang berperang di perbatasan Syria. Umar bilang, “Saiyah! Mundur dan naiklah ke bukit!” Pada waktu khutbah itu Umar, dikarenakan kebersihan qalbunya, bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di tempat yang jaraknya ribuan mil dari tempatnya berpijak. Masa Lalu. Konsep Psikoanalisis yang terlalu menekankan pengaruh masa lalu (kecil) terhadap perjalanan manusia ini dikritik banyak kalangan, karena dalam diri aliran ini terkandung pesimisme yang besar pada setiap upaya pengembangan diri manusia. Setelah seseorang mengalami masa kecil yang kelam seakan-akan tidak ada lagi harapan baginya untuk hidup secara normal. Bagi Freud manusia adalah produk evolusi yang terjadi secara kebetulan. Dalam pandangannya, manusia hidup, lahir dan berkembang hanyalah sebagai akibat dari bekerjanya daya-daya kosmik terhadap benda-benda inorganik. Dalam buku On Creativity and The Unconscious (1958), Freud berpendirian: “Dalam perkembangannya ke arah peradaban, manusia memperoleh posisi berkuasa atas sesama makhluk dalam kerajaan binatang. Tapi tak cukup puas dengan superioritas ini, manusia mulai menciptakan jurang perbedaan antara sifatnya dengan sifat makhluk lain. Ia menyangkal makhluk lain memiliki akal, sedangkan dirinya sendiri dipertautkan dengan suatu jiwa yang abadi, dan mengklaim dirinya sebagai bercitra Ilahi agar putus tali persamaan antara dirinya dengan kerajaan binatang. Kita semua tahu bahwa setengah abad lebih yang silam, penelitian-penelitian yang dilakukan Charles Darwin dan para koleganya telah mengakhiri kecongkakan manusia. Sungguh manusia bukanlah makhluk yang berbeda, apalagi lebih unggul daripada binatang.” Mimpi. Sigmund Freud (2001, 2002) menandaskan tesisnya bahwa pemenuhan harapan menjadi kunci arti setiap mimpi sehingga tak ada satu pun mimpi lain selain mimpi tentang harapan. Freud mencontohkan mimpi anaknya yang di belakang hari dikenal sebagai salah seorang neo-Freudian. Pada waktu malam terdengar
32 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran Anna Freud kecil sedang memanggil-manggil gembira dalam tidurnya: “Anna F(r) eud, St’awbewy, wild st’abewy, om’lette, Pap!” Anna tampaknya sedang bermimpi. Apa yang dimimpikan Anna adalah ungkapan harapannya yang muncul dalam mimpi. Diterangkan oleh Freud bahwa Anna menggunakan namanya untuk menunjukkan suatu pemberian (menu yang dia sebutkan adalah semua yang tampak baginya sebagai santapan lezat; sedangkan dua stroberi yang muncul adalah semacam demonstrasi melawan aturan kebersihan yang diterapkan perawat rumah). Perawat rumah tidak suka jika dia makan terlalu banyak stroberi. Dalam mimpi ia membalas dengan memenuhi keinginannya akan stroberi. Tokoh utama psikoanalisis ini bahkan secara eksperimental sering membangkitkan keinginan-keinginannya sehingga muncul dalam mimpi. Jika di sore hari ia memakan ikan hering, buah zaitun, atau makanan lain yang diasinkan, maka malam harinya ia akan selalu bermimpi dan selanjutnya terbangun. Isi mimpinya adalah Freud sedang minum berteguk-teguk air yang rasanya sangat nikmat seperti dirasakan oleh seseorang yang meminum air dingin ketika kerongkongannya kering. Lebih lanjut, Freud mengungkapkan bahwa boleh jadi isi mimpi secara nyata tidak menunjukkan adanya harapan. Namun, jika dilakukan pelacakan atas isi pikiran mimpi, maka akan didapati harapan yang tersembunyi di balik mimpi. Contoh yang detil pernah diungkapkan Freud kepada seorang klien perempuan yang mencurigai suaminya berselingkuh dengan perempuan lain. Sekarang saya akan memberitahu Anda sebuah mimpi dengan isi yang berkebalikan (dengan teori Anda, pen.), mimpi di mana harapan saya tidak terpenuhi. Bagaimana Anda mempertemukannya dengan teori Anda. Mimpi itu sebagai berikut: Saya ingin menyajikan makan malam, tapi saya tidak mempunyai persediaan apa-apa kecuali ikan salmon yang diawetkan. Saya berpikir untuk pergi belanja, tapi saya ingat bahwa saat itu hari minggu malam, di mana semua toko tutup. Kemudian saya mencoba menelepon beberapa katering, tetapi telepon saya rusak. Jadi terpaksa saya harus melupakan keinginan untuk menyajikan makan malam. Setelah mendengar cerita mimpi di atas, Freud mendesak wanita tersebut. Ternyata sehari sebelumnya si wanita tersebut mengunjungi teman perempuan
Aliran Psikologi Kontemporer : Sekilas Sejarah Dan Kritik 33 yang sangat ia cemburui. Suaminya selalu memuji-muji perempuan tersebut setinggi langit. Inilah tafsir Freud tentang harapan tersembunyi wanita itu. “Begini. Seolah-olah, pada saat teman Anda menanyakan undangan makan malam tersebut, Anda berpikir demikian: ‘Tentu saja aku akan mengundangmu, sehingga kamu bisa makan di rumahku, menjadi gemuk, dan tetap saja menggairahkan di mata suamiku! Tidak, aku lebih memilih untuk tidak menyajikan makan malam lagi!’ Mimpi itu kemudian memberitahu kepada Anda bahwa Anda tidak bisa menyajikan makan malam. Dengan demikian, harapan Anda terpenuhi untuk tidak menyumbang apapun pada usaha pembentukan tubuh teman Anda tersebut.” Dengan penegasan itu Freud menutup pintu terhadap kemungkinan mimpi berisi ramalan masa depan, petunjuk apa yang seharusnya dilakukan, peringatan atas suatu hal yang semestinya dihindari, dan juga kejadian di masa yang lalu. Dalam skala yang lebih luas penolakan Freud tentang adanya mimpi yang berasal dari dunia supranatural didasarkan pada penolakannya terhadap realitas dunia supra-natural. Freud misalnya menyebut Tuhan sebagai angan-angan manusia semata dan bahwa orang yang melakukan ibadah penyembuhan kepada Tuhan disebutnya sebagai penderita obsesif-kompulsif (Ancok & Suroso, 2011). Terhadap teori Freud bahwa semua mimpi adalah pemenuhan harapan, penulis ingin mengungkapkan bahwa kalau kita memercayai tesis Freud ini kita tidak dapat mengambil manfaat apa-apa selain mengetahui kita memiliki harapan ini dan itu (yang sebagian besar merupakan pemenuhan dorongan seksual). Menurut penulis, sebagian mimpi memang merupakan upaya pemenuhan harapan, namun mimpi juga berisi informasi masa depan, masa lalu, petunjuk untuk melakukan sesuatu, dan bahkan peringatan untuk tidak melakukan sesuatu. Carl Gustav Jung (2003) sendiri–dalam buku Memories, Dreames, Reflections-- pernah menyebut adanya mimpi prospektif dan mimpi retrospektif. Mimpi prospektif adalah mimpi yang berisi isyarat-isyarat masa depan. Mimpi retrospektif adalah mimpi-mimpi yang berkaitan dengan realitas masa lalu sekalipun isi mimpi itu tidak pernah diindera oleh si pemimpi. Mimpi yang terakhir ini seperti memberitahu tentang peristiwa yang misterius yang terjadi di masa lalu. Tesis Freud di atas akan mengalami kesulitan ketika harus menganalisis peristiwa mimpi yang berisi tentang suara yang bakal diraup oleh salah satu partai
34 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran politik. Harapan dari aktivis partai adalah diraihnya lima belas kursi, dan siapapun aktivis partai berharap mampu mendulang suara yang optimal sehingga diperoleh 15 kursi. Si ketua partai, yang adalah seorang ulama yang dekat dengan Allah azza wa jalla, bermimpi bahwa kursi yang bakal diperoleh sebanyak 8 buah. Tidak ada kata lain untuk mengatakan bahwa isi mimpi seseorang boleh jadi merupakan ramalan atas peristiwa yang bakal terjadi di masa datang. Waktu itu … (sebuah partai) di … (sebuah kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta) membuat perkiraan berapa kursi yang bakal diperoleh. Berdasarkan mimpi, saya memperoleh petunjuk bahwa jumlah kursi partai tersebut adalah 8-9 buah. Teman-teman memprediksi 15 buah. Saya tetap yakin 8. Hasil benarnya, 8 buah. Implikasi dari memercayai teori Freud adalah kita hanya dapat mengetahui harapan kita. Tidak mungkin bagi kita untuk memperoleh gambaran tentang masa depan. Tidak mungkin kita berharap memperoleh pengetahuan yang sesungguhnya tentang siapa calon jodoh kita kalau kita memercayai Freud. Tidak mungkin kita percaya pada ramalan Yusuf (padahal ia sungguh-sungguh terjadi). Dalam kenyataannya apa yang dikatakan Freud itu tidak seluruhnya benar. Banyak mimpi manusia yang tidak semata-mata berisi harapan, tapi berisi hal yang lain. C. Kritik terhadap Behaviorisme Behaviorisme (Aliran Perilaku) yang dipelopori oleh Ivan Pavlov, John B. Watson, dan B. F. Skinner mendasarkan diri pada konsep stimulus-respons. Mereka memandang bahwa ketika dilahirkan pada dasarnya manusia tidak membawa bakat apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulasi yang diterimanya dari lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang buruk akan menghasilkan manusia yang berperilaku buruk. Lingkungan yang baik akan menghasilkan manusia yang berperilaku baik. Pandangan semacam ini memberi penekanan yang sangat besar pada aspek stimulasi lingkungan untuk mengembangkan manusia dan kurang menghargai faktor bakat atau potensi alami manusia. Pandangan ini beranggapan bahwa apa pun jadinya seseorang, satu-satunya hal yang menentukan adalah lingkungannya. John B. Watson (Friedman & Schustack, 2006) pernah membuat pernyataan
Aliran Psikologi Kontemporer : Sekilas Sejarah Dan Kritik 35 betapa sentralnya pengaruh lingkungan. Ia berkata: “Berikan kepada saya selusin anak yang sehat dan kesempatan untuk membesarkan mereka sendiri, saya jamin akan dapat melatih siapapun dari mereka menjadi apapun, dari dokter atau pengacara sampai pengemis atau pencuri, tanpa melihat bakat, warna kulit, kecenderungan, atau hal apapun yang mereka miliki.” Pandangan psikologi perilaku ini merupakan pengulangan atas pemikiran John Locke. Locke memiliki teori yang sering disebut sebagai teori tabula rasa. Inti dari teori ini adalah jiwa manusia diandaikan sebagai kertas kosong. Apa jadinya manusia sangat tergantung dari tulisan yang digoreskan pada kertas kosong itu. Lingkungan memegang peran sentral, bahkan tunggal, terhadap merah hijaunya isi kertas itu. Terhadap Aliran Perilaku, kritik dapat diarahkan pada pengingkaran terhadap potensi alami yang dipunyai manusia. Padahal secara empirik perbedaan individual antara manusia satu dengan manusia lain begitu banyak terlihat. Ketika bayi dilahirkan sudah terdapat perbedaan antara anak yang satu dengan anak yang lain. Ketika masih bayi ada anak yang pandai tersenyum sementara anak yang lain lebih suka mengatupkan bibirnya. Perbedaan individual adalah sebuah kenyataan yang diingkari oleh Behaviorisme. Pandangan di atas mengandaikan lemahnya diri manusia. Manusia seakan tak punya daya yang bersumber dalam dirinya untuk menerima atau sebaliknya menolak stimulasi yang bersumber dari lingkungan sekitarnya. Padahal kepercayaan terhadap kekuatan internal menjadi sumber keyakinan akan potensi-potensi besar manusia. Di samping itu aliran ini mempunyai kecenderungan untuk mereduksi manusia. Bahkan menurut pandangan ini manusia tak memiliki jiwa, tak memiliki kemauan dan kebebasan untuk menentukan tingkah lakunya sendiri. Manusia laksana benda mati. Malik B. Badri, seorang psikolog muslim yang populer dengan buku Dilema Psikologi Muslim, juga mengecam kecenderungan reduksionistis yang menganggap perilaku manusia yang sangat unik dan majemuk tak ubahanya sebagai “mesin” yang bekerja karena menerima faktor-faktor penguat berupa ganjaran dan hukuman. Kompleksitas dalam diri manusia dipandang secara simplisistis oleh Behaviorisme.
36 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran Kritik yang lain terhadap aliran ini adalah menganggap manusia sebagai makhluk hedonis yang mempunyai motif tunggal untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan fisik dan lingkungan sosial dengan sikap mementingkan ke-kini dan di-sini-an (here and now). Lebih dari sekadar menyesuaikan diri dengan lingkungan, manusia mampu mengatur kehidupan dirinya dan lingkungannya. Dengan kemampuannya mengatur lingkungan, maka manusia mampu melakukan revolusi atau perubahan secara besar-besaran terhadap arah sejarah bangsa manusia. Lebih dari sekadar mencari kenikmatan, manusia juga berkehendak untuk mengabdi pada Tuhannya dengan tulus, ikhlas dan penuh kepasrahan. D. Kritik terhadap Psikologi Humanistik Karena adanya keraguan yang mendasar terhadap psikoanalisis dan aliran perilaku, maka sejumlah ahli menganjurkan untuk memperhatikan aliran ketiga, yaitu psikologi humanistik. Aliran yang dipelopori Abraham H. Maslow dan Carl Ransom Rogers ini sangat menghargai keunikan pribadi, penghayatan subjektif, kebebasan, tanggung jawab, dan terutama kemampuan mengaktualisasi diri pada setiap individu. Maslow menyampaikan pemikirannya dalam beberapa buku, seperti Motivation and Personality (1954), Toward Psycchology of Being (1962), The Psychology of Science (1966). Bahkan Logoterapi, suatu ragam Psikologi Humanistik yang ditemukan seorang neuropsikiater keturunan Yahudi-Austria Viktor E. Frankl, mendapat acungan jempol yang tinggi dari Badri sebagai pendekatan psikologis yang optimis dan banyak kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip Islam maupun pandangan masyarakat Timur tentang manusia. Tokoh psikologi Islam lain, Hanna Djumhana Bastaman, menulis sejumlah buku terkait dengan pandangan Maslow. Akhirnya begitu banyak psikolog muslim yang terpesona dengan psikologi humanistik. Bahkan sebagian psikolog muslim menganggap psikologi humanistik mewakili suara Islam pula. Malik B. Badri (1996) bahkan menganjurkan para psikolog muslim agar mempelajari aliran psikologi humanistik. Secara selintas psikologi humanistik mempunyai pandangan bahwa pada dasarnya manusia adalah baik dan bahwa potensi manusia adalah tidak terbatas. Pandangan ini tidak menekankan atau mendewakan masalah kuantitatif, mencoba tidak terpenjara oleh dualisme subjek-objek, dan mengakui kesamaan antar manusia. Akan tetapi, kalau telaah lebih lanjut, akan kita temui begitu banyak kejanggalan. Pandangan ini sangat optimistik dan bahkan terlampau optimistik terhadap upaya pengembangan
Aliran Psikologi Kontemporer : Sekilas Sejarah Dan Kritik 37 sumber daya manusia, sehingga manusia dipandang sebagai penentu tunggal yang mampu melakukan play-God (peran Tuhan). Manusia dipandang oleh aliran psikologi ini mampu mengontrol sepenuhnya diri sendiri. Kritik lain yang di belakang hari diberikan oleh aliran psikologi positif adalah tentang kurang ilmiahnya psikologi humanistik. Seligman (Juneman, 2009) yang mengkomparasikan psikologi humanistik dan psikologi positif mengungkapkan bahwa psikologi humanistik yang sudah sangat masyhur itu bukanlah sains. Seligman berkata: “Izinkan saya mengemukakan pikiran saya mengenai perbedaan antara psikologi humanistik dan psikologi positif. Terdapat dua perbedaan mendasar. Perbedaan pertama, para ahli psikologi humanistik bukanlah ilmuwan-ilmuwan empiris. Faktanya, beberapa dari mereka sungguh-sungguh merupakan ilmuwan yang berkarakter anti-empiris. Di tangan mereka, psikologi humanistik tidak merangsang sains. Psikologi humanistik menjadi modus perawatan (treatment) dan intervensi dalam kondisi absennya sains, dan psikologi humanistik memiliki sangat sedikit bukti empiris. Perbedaan yang kedua dapat Anda temukan apabila Anda seorang sarjana yang mempelajari Maslow, dan saya pikir hal ini tidaklah diintensikan. Para ahli psikologi humanistik telah menjadi bagian dari gerakangerakan yang membimbing orang kepada pengultusan (sanctification) individu, narsisme, gratifikasi individual, dan hal-hal tersebut merupakan epidemi yang melanda negara kita….” Kalau dicermati latar belakang terbentuknya psikologi humanistik, maka salah satu yang melatarbelakangi adalah kritik dan perlawanan terhadap psikologi perilaku atau aliran behaviorisme (Goble, 2006). Behaviorisme dikritik Maslow sebagai pandangan yang terobsesi untuk “menjadikan studi manusia seobjektif dan seilmiah mungkin sehingga mereduksikan perilaku manusia menjadi perkara kimiawi dan fisik semata”. Kritik terhadap obsesi ilmiah Behaviorisme menjadikan psikologi humanistik–sebagaimana dikatakan Seligman—seperti anti-empiris. Dari penjelasan di atas dapat dipahami mengapa psikologi positif sangat menekankan pentingnya riset. Psikologi positif ingin tampil berbeda dengan psikologi humanistik dengan memperbanyak riset dan mendasarkan pemahaman serta upaya peningkatan kekuatan manusia berbasis riset. Salah satu topik
38 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran kekuatan manusia yang banyak mendapat perhatian adalah pemaafan (forgiveness). Sejak akhir 1990-an, beberapa ahli psikologi positif menunjukkan komitmennya dalam penelitian pemaafan. Beberapa di antaranya adalah Enright, McCullough, Thompson, Fincham, Baumeister, dan sebagainya. E. Penutup Pemahaman akan mazhab psikologi merupakan hal yang penting yang membantu kita tentang siapa manusia. Ternyata ada beragam cara pandang dalam memahami manusia. Segala macam cara pandang ini memiliki beragam implikasi dalam memperlakukan manusia. Demikian. Wallahu a’lam bi ash-shawab. Daftar Pustaka Ancok, D., & Suroso, F. N. (1995). Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Arsyad, M. N. (1992). Ilmuwan Muslim Sepanjang Sejarah. Cetakan Ketiga. Bandung: Penerbit Mizan. Badri, M. B. (1996). Dilema Psikologi Muslim. Jakarta: Penerbit Al-Kautsar. Bastaman, H. D. (1995). Integrasi Psikologi dengan Islam. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar & Yayasan Insan Kamil. Berry, J. W., Poortinga, Y. H., Segall, M. H., & Dasen, P. R. (1994). Cross-Cultural Psychology: Reasearch and Application. New York: Cambridge University Press. Dee, N. (2001). Memahami Mimpi. Yogyakarta: LkiS. Freud, S. (2001). Tafsir Mimpi. Yogyakarta: Penerbit Jendela. Freud, S. (2001). Totem and Taboo. Yogyakarta: Penerbit Jendela. Freud, S. (2002). Psikoanalisis. Yogyakarta: Ikon Teralitera. Friedman, H. S., & Schstack, M. W. (2006). Personality: Classic Theories and Modern Research. Boston: Pearson Education. Gable, F. (2006). Mazhab Ketiga: Psikologi Humanistik Abraham Maslow. Yogyakarta: Konisius Hall, C. S., & Lindzey, G. (1998). Teori Kepribadian. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Juneman. (2009). Aplikasi psikologi positif dalam dunia bisnis (suatu kajian pustaka). Jurnal Humanitas, 6(2), 130-143.
Aliran Psikologi Kontemporer : Sekilas Sejarah Dan Kritik 39 Maslow, A. H. (1954). Motivation and Personality. New York: Harper & Row. Maslow, A. H. (1962). Toward Psycchology of Being. New York: Van Nostrand Maslow, A. H. (1966). The Psychology of Science. New York: Harper & Row. Munandar, S. C. U. (2002). Tafakkur dan Berpikir Kreatif. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Psikologi Islami Fakultas Psikologi Undip. Semarang, 9 Maret 2002. Nashori, F. (1997). Psikologi Islami: Agenda Menuju Aksi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Nashori, F. (2002). Mempertanyakan Implikasi Teori Psikoanalisis Freud. Makalah, disampaikan dalam Diskusi Membincang (Lagi) Freud. Penerbit Ikon Teralitera, Yogyakarta, 29 April 2002. Nashori, F. (2002). Mimpi Nubuwat: Menetaskan Mimpi yang Benar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Partadireja, A. (1997). Al-Qur’an, Mu’jizat, Karomat, Maunat, dan Hukum Evolusi Spiritual. Yogya: PT Dana Bhakti Prima Yasa. Prabowo, H. (1992). Surrealisme, Dali dan Freud. Majalah Mahasiswa Psikologi Indonesia. Edisi 10, th. IV, Mei 2002. Sirin, I. (1997). Ensiklopedi Takwil Mimpi Islam. Editor: M. Al-Akili Bandung: Pustaka Hidayah. Sumintardja, E. N. (2000). Konsep Manusia Menurut Psikoanalisis. Dalam Rendra Krestyawan (ed.). Metodologi Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
40 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran
Pardigma dan Pola Pengembangan Psikologi Islam 41 PARADIGMA DAN POLA PENGEMBANGAN PSIKOLOGI ISLAM Capaian Pembelajaran 1. Mahasiswa mampu memahami dasar-dasar ontologi Psikologi Islam 2. Mahasiswa mampu memahami dasar-dasar epstemologi Islam 3. Mahasiswa mampu memahami dasar-dasar aksiologi Islam 4. Mahasiswa mampu memahami pola-pola pengembangan Psikologi Islam A. Ontologi Pembahasan ontologis tentang kajian ini, yaitu objek psikologi Islam, dapat ditinjau dengan menggunakan tiga mazhab dalam filsafat, yaitu idealisme, materialisme, dan vitalisme. Tiga aliran filsafat ini telah berkembang sejak zaman Yunani Kuno hingga kini, sebagaimana dituturkan Wiramihardja (2010), masingmasing dipelopori oleh Plato (idealisme), Demokritos (materialism) dan Aristoteles (vitalismse). 1. Perspektif Idealisme Idealisme—kadang disebut spiritualisme—memandang roh sebagai kenyataan sejati. Tuhan, malaikat, jin adalah kenyataan. Mereka ada dan memberikan pengaruh terhadap kehidupan ini. Manusia sendiri adalah makhluk rohani, atau dapat dipandang sebagai makhluk rasional, makhluk yang berbudi atau rohani yang berbudaya, yang lebih menunjuk pada intelektualisme. Menurut Descartes, hakikat manusia adalah berpikir. Ungkapan popular yang digunakan oleh Descartes adalah cogito ergo sum (saya berpikir, maka saya ada). Menurut Plato, manusia dengan erosnya senantiasa menuju pada ide-ide. Ide-ide itu, menurut Agustinus, diciptakan oleh Tuhan (Wiramihardja, 2010). Ide-ide yang diciptkan Tuhan adalah kasih sayang, kebaikan hati, pemaafan, dan sebagainya. Dalam perspektif idealisme, dalam diri manusia ada realitas rohani yang namanya emosi, afeksi, konasi. Sebagai contoh, dalam ide ada yang namanya pemaafan. Pada pemaafan ada unsur konasi atau kemauan untuk memaafkan.