The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Psikologi Islam Dari Konsep Hingga Pengukuran

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Kamaruddin S.Pd.I, 2024-05-23 09:57:04

Psikologi Islam Dari Konsep Hingga Pengukuran

Psikologi Islam Dari Konsep Hingga Pengukuran

92 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran Allah Subhanahu wa ta’ala dalam firmannya, “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (Qur’an 91: 8). Gambar di bawah ini memudahkan kita untuk memahami komponen jiwa secara keseluruhan. Gambar Komposisi Nafs (Jiwa) E. Tingkatan Nafs Al-Qur’an secara tersurat menyebutkan tingkatan-tingkatan nafs, yang pertama adalah an-nafsu laammaratun bis-su (pribadi yang banyak menyuruh kepada keburukan dan kejahatan, an-nasful lawwamah (pribadi yang suka mencela dan menyesali diri atas keburukan yang dilakukannya), dan an-nafsul muthmainnah (pribadi yang tenang, terkendali didalam kesalihan). Ketiga jenis nafs ini merupakan kecenderungan yang ada dalam diri manusia, sehingga sifatnya tidak mutlak. Para ahli tasawwuf kemudian menambahkan empat tingkatan lagi, sehingga urutannya menjadi: a. An-nasfu laammaratun bis-su, pribadi yang selalu menyuruh kepada kejahatan. “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, ekcuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku...” (Al-Qur’an surat Yusuf 12: 53). b. An-nasful lawaamah, pribadi yang menyesali diri. “Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)” (Al-Qur’an surat Al-Qiyamah 75: 2).


Prinsip-Prinsip Tentang Fisik dan Jiwa 93 c. An-nafsul mulhamah, pribadi yang mampu menyerap dan mengaktualisasikan ilham. “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (Al-Qur’an surat Ash-Shams 91: 7-10). d. An-nafsul muthmainnah, pribadi yang tenang, nafsu yang sudah mendapatkan tuntutan dan pemeliharaan yang baik, sehingga menjadi tenteram, bersikap positif, menolak perbuatan jahat dan keji, menjauhkan diri dari godaan manusia, jin, dan lain sebagainya. “Hai jiwa yang tenang” (Al-Qur’an surat Al-Fajr 89: 27). e. An-nafsur radhiah, pribadi yang sudah ridha/rela terhadap ketentuan Allah. Nafsu ini memiliki peranan penting dalam mewujudkan kesejahteraan. “Hai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya” (Al-Qur’an surat Al-Fajr 89: 27-28). f. An-nafsul mardhiyah, pribadi yang sudah diridhai Allah. “Hai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jam’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku” (Al-Qur’an surat Al-Fajr 89: 27-30). g. An-nafsul kamilah, pribadi yang sempurna, yang digambarkan secara konkret oleh para sufi sebagai pribadi Rasulullah saw. Pembagian tingkatan nafs ini kemudian dijadikan oleh Basaroedin (dalam M.F. Baihaqi, 2008) sebagai alat muhasabah dan introspeksi. Ia mengaitkan perkembangan kepribadian seorang muslim dengan usia. Namun, karena konsepnya masih terlalu abstrak dan kualitatif, ia kemudian mengadopsi rumus perhitungan IQ yang memungkinkan konversi tingkatan nafs ke dalam


94 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran kategori-kategori tertentu, seperti dungu, bodoh, lalai, sederhana, baik, dan cermat. Kata sifat yang menggambarkan kategori ini pun diadopsi dari sitilah-istilah yang digambarkan dalam Al-Qur’an, sehingga memiliki perbedaan makna dengan kategori pada kecerdasan inteligensi. Hal yang menarik dari tulisan ilmiah karya Basaroedin (dalam Baihaqi, 2008) ini adalah ia membagi nafs ke dalam rentang usia pertumbuhan manusia, yaitu : 1). Usia 2-7 tahun : an-nasfu laamaratun bis-su. 2). Usia 7-10 tahun : an-nafsul musawwalah. 3). Usia 10-15 tahun : an-nafsul mulhamah. 4). Usia 15-25 tahun : an-nafsuul muthmainnah. 5). Usia 25-40 tahun : an-nafsul radhiyah. 6). Usia 40-60 tahun : an-nafsul mardhiyah. 7). Usia 60-wafat : an-nafsul kamilah. Upaya Basaroedin ini perlu mendapatkan apresiasi atas dukungannya terhadap upaya rekonstruksi Islam dalam kajian psikologi. Hanya saja klasifikasi yang dibuat oleh Basaroedin ini masih perlu diuji secara psikometris. Pemberian bobot dalam setiap nafs dengan membandingkan tingkatan ancaman hukuman untuk perilaku tertentu masih dirasa kurang manfaatnya secara kuantitatif, sehingga instrumen ini masih membutuhkan pengujian lebih lanjut. Ruang inilah yang dapat dimanfaatkan oleh ilmuwan psikolog muslim lainnya untuk membantu upaya rekonstruksi Islam dalam psikologi. F. Jiwa yang Sehat dalam Pandangan Islam Adz-Dzakiy (2002: 457) menyebutkan manakala seorang hamba telah berhasil melakukan pendidikan dan pemberdayaan jiwanya (mental), maka ia akan dapat mencapai tingkat kejiwaan yang sempurna, yaitu integrasi dari jiwa muthmainnah, jiwa radhiyah, dan jiwa mardhiyah. Seseorang yang telah mencapai tingkatan ini memiliki stabilitas emosional yang tinggi dan tidak mudah mengalami stres, depresi, dan frustrasi. Jiwa muthmainnah adalah jiwa yang senantiasa mengajak kembali pada fitrah Ilahiyah. Indikasi jiwa muthmainnah telah muncul dalam diri seseorang dapat terlihat dari perilaku, sikap, dan gerak-geriknya yang tenang, tidak tergesa-gesa, penuh pertimbangan dan perhitungan yang matang, tepat, dan benar. Prasangka negatif tidak mudah bersarang dalam pikirannya. Orang dengan jiwa muthmainnah juga


Prinsip-Prinsip Tentang Fisik dan Jiwa 95 mampu menerima dan menelusuri hikmah yang terdapat dalam setiap peristiwa, baik peristiwa yang menyenangkan maupun menyakitkan. Semua peristiwa tersebut ia yakini sebagai bentuk kasih sayang Allah. Jiwa radhiyah adalah jiwa yang tulus, memiliki kebeningan hati, serta bersikap lapang dada terhadap Allah, baik kebijaksanaan-Nya, qudrat-Nya, maupun iradat-Nya. Jiwa radhiyah mendorong seseorang untuk bersikap tawakal, ikhlas, dan sabar dalam menjalani hidup, baik dalam menjalani perintah Allah, menjauhi larangan Allah, serta menerima takdir Allah. Adz-Dzakiy (2002: 459) mengibaratkan, hampir-hampir ia tidak pernah mengeluh, merasa susah, sedih, dan takut dalam menjalani kehidupan ini. Jiwa mardhiyah adalah jiwa yang memperoleh gelar kehormatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa keimanan, keislaman, keihsanan, dan katauhidan yang terus menerus. Jiwa ini akan terus berusaha mendaki ke hadirat Allah, sehingga tidak muadh terdistorsi dan mengalami dekadensi. Integrasi ketiga jiwa tersebut merupakan perwujudan manusia sempurna (insan kamil). “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimatkalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar” (Al-Qur’an surat Yunus 10: 62-64). Jiwa yang telah mencapai tingkatan muthmainnah merasa tenang dari segala huru-hara saat kembali menghadap Allah. Ia kembali kepada Tuhan dalam keadaan ridha, yang merupakan kesempurnaan maqam sifat yang Allah janjikan surga. Sementara bagi manusia yang jiwanya belum tenang dan belum memperoleh cahaya Ilahi, akan sangat sulit untuk diajak kembali kepada fitrah Rabb-Nya. Jiwa ini disebutkan Adz-Dzakiy (2002: 460) dalam keadaan buta, tuli, dan bisu sebagai akibat terlalu banyaknya kotoran dan kemungkaran, serta kedurhakaan yang menutupi fitrahnya. G. Latihan Keseimbangan Jiwa Seperti telah dijelaskan sebelumnya, jiwa terdiri dari beragam komponen


96 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran yang memiliki sifat dan kecenderungan yang berbeda. Setiap komponen jiwa tersebut juga memiliki fungsi masing-masing yang tidak dapat dipisahkan sebagai sebuah kesatuan. Dengan demikian banyak komposisi yang bermacam-macam antar individu, ditambah intervensi waktu dan perjalanan hidup seseorang yang memungkinkan ia untuk berubah, terdapat dinamika yang demikian kompleksnya berada dalam satu manusia saja. Jiwa atau mental yang sehat adalah ia yang mampu mengenali dirinya, menyadari secara penuh apa yang terjadi padanya, kemudian menerima dan berupaya menyeimbangkan konflik-konflik kepentingan yang ada dalam dirinya. Islam sendiri telah memberikan petunjuk dari Sang Pemilik Hidup melalui Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam terkait cara-cara yang dapat dilakukan manusia untuk dapat mencapai kebahagiaan dan ketenangan hidup. Ada beragam cara yang dilakukan oleh manusia untuk mencapai ketenangan hidup. Mulai dari cara yang logis, spiritualis, hingga irrasional. Ilmu-ilmu praktis di luar aliran mainstream psikologi juga bertebaran menawarkan pelatihan dan workshop untuk memperoleh ketenangan dan kebahagiaan hidup. Muslim yang memiliki ajaran sempurna seharusnya memilih ajaran-ajaran Islam sebagai jalan hidup (way of life), mencukupkan diri pada Islam, agar memperkokoh agama ini dan menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Penjelasan di bawah ini akan memaparkan beberapa cara yang dapat ditempuh seorang muslim untuk melatih keseimbangan jiwa. a. Mengenal diri Semua manusia yang diberikan akal sehat pada dasarnya memiliki kemampuan untuk mengenali jiwanya. Saat seseorang mampu mengenali jiwanya dengan baik, ia akan mampu secara efektif menggunakan aspek kepribadiannya yang tepat pada tiap situasi tertentu. Beberapa hal yang perlu diingat saat melakukan latihan pengenalan diri adalah secara sadar memahami bahwa emosi yang kita miliki bukanlah semata diri kita. Dalam ilmu neurolinguistik, pemahaman ini membedakan antara peta dengan wilayah. Artinya, persepsi kita terhadap sesuatu, ataupun emosi yang kita rasakan terhadap suatu kejadian, bukanlah kejadian itu sendiri. Ada banyak hal dan cara pandang untuk melihat persoalan yang sama. Bagi orang yang memiliki jiwa muthmainnah, ia memandang musibah dengan rasa sabar, serta memandang nikmat dengan rasa syukur.


Prinsip-Prinsip Tentang Fisik dan Jiwa 97 b. Kesadaran terhadap diri dan dunia Tingkat kepekaan tiap individu berbeda-beda. Indera yang kita miliki sebagai manusia merupakan hal yang paling maju jika dibandingkan dengan indera yang dimiliki oleh organisme lain, seperti tanaman dan hewan. Seorang manusia mampu melihat sel, serta mikroorganisme yang ukurannya jauh lebih kecil daripada dirinya adalah berkat alat inderawi berupa mata. Melalui indera ini pula kita dapat melakukan klarifikasi terhadap persepsi diri sendiri. Sesuatu yang awalnya kita persepsikan sebagai ular besar, ternyata adalah akar pohon yang besar. Suara isakan tengah malam ternyata adalah gemerisik dahan yang tertiup angin. Manakala seseorang telah mampu merasakan kepekaan terhadap dirinya, ia pun akan mampu merasakan hal tersebut pada orang lain. Dalam terminologi yang dikenal psikologi, hal ini menumbuhkan sikap empati terhadap sesama. c. Melatih taubat Fitrahnya jiwa untuk berada dalam jalan (cahaya) Tuhannya membuat ia merasa asing manakala berada dalam jalan ‘Tuhan-tuhan’ yang lain (nafsu, kecintaan berlebih pada dunia, syahwat, amarah, benda-benda materialistis). Qalbu sebagai pengumpul pajak sekaligus polisi juga dapat dengan mudah terpengaruh, meski ia sudah menetapkan pilihan untuk berada pada jalan kebaikan. Oleh karena itu, melatih taubat yang sebenar-benarnya mutlak diperlukan agar jiwa dapat menuju jalan muthmainnah. Taubat yang dimaksud adalah menyadari kesalahan, mengoreksi semaksimal mungkin. Jika kesalahan itu kepada manusia, maka hutang wajib dibayar semampunya, menyakiti hati orang lain wajib memohon maaf, mengembalikan hak-hak orang lain yang pernah dirampas, serta bertekad menjauhi segala bentuk maksiat yang tidak Allah sukai. d. Berpuasa Terdapat banyak hikmah baik dibalik puasa. Dalam puasa, banyak nilai-nilai pendidikan jiwa yang diajarkan, seperti menahan diri dari segala hal yang disukai oleh syahwat. Dengan puasa, seorang individu melebur rasa egoisnya, serta menumbuhkan empati kepada sesama. Puasa juga mengajarkan kita agar tidak menjadi budak dari kebiasaan-kebiasaan kita yang buruk, mulai dari pola makan yang buruk, kebiasaan melepaskan amarah, serta merasa aman tanpa ada pengawasan dari Allah.


98 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran e. Mengasingkan diri Mengasingkan diri sesekali merupakan salah satu cara untuk menjernihkan hati. Dalam tatanan kehidupan sosial, seringkali jiwa terpengaruh oleh hal-hal di sekitarnya, baik itu tekanan pekerjaan, lingkungan sekitar, maupun akhlak dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Dengan mengasingkan diri sejenak, kita memberi jeda pada jiwa untuk menenangkan diri dan melihat dengan lebih jernih mengenai kehidupan. Mengasingkan diri menurut Islam adalah dengan berkhalwat bersama Allah. Mendirikan sholat di sepertiga malam untuk berdoa dan bermunajat kepada Allah, maupun berzikir disela-sela kesibukan pada jam-jam sholat wajib. Mengasingkan diri penting bagi kesehatan spiritual individu, agar tidak menjadi budak dari kehidupan dunia yang serba materialistis. f. Mengasihi orang lemah Islam adalah agama yang penuh cinta kasih dan kepedulian terhadap kaum yang lemah. Terdapat banyak ayat maupun anjuran untuk mengasihi anak yatim, larangan menghardik mereka, serta keutamaan menyantuni anak yatim. Selain itu, memberi makan orang fakir dan miskin juga merupakan sedekah yang baik. Islam sebagai agama memiliki tradisi berbagi pada saat Idul Fitri dan Idul Adha, guna mengurangi kesenjangan sosial, seta mempererat persaudaraan. Zakat, infak, dan sedekah merupakan ajaran yang memiliki keutamaan besar, yang melambangkan pengorbanan hamba atas hartanya pada jalan Allah. g. Mengingat mati Detik-detik menjelang kematian Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengumpulkan sahabat-sahabatnya. Mereka sangat sedih, kemudian Rasulullah menghibur mereka dengan berkata, “Aku tinggalkan dua orang guru, yang pertama adalah guru yang berbicara, yang kedua adalah guru yang diam.” Beliau kemudian menambahkan, “Guru yang berbicara adalah Al-Qur’an, sedangkan guru yang diam adalah kematian.” Merenungi kematian merupakan sarana luar biasa bagi jiwa untuk mengeluarkan kita dari perilaku lama (Frager, 2003: 228). Memikirkan kematian juga membuat kita berpikir melintasi ruang dan batas, bahwa hidup tidak hanya untuk hari ini, melainkan juga untuk hari akhir. Maka jika hanya ada hari ini untuk berbuat kebaikan, alangkah ruginya apabila tidak kita


Prinsip-Prinsip Tentang Fisik dan Jiwa 99 manfaatkan untuk membawa kita pada perjalanan menyenangkan menuju surga. Pada akhirnya, setiap upaya yang dilakukan untuk melatih jiwa ini bertujuan untuk melahirkan ketundukan pada Allah Ta’ala. Semakin seseorang menyadari dinamika-dinamika nafs-nya, semakin kecil kekuatan nafs tersebut untuk menguasai diri individu. Dengan mengingat Allah dan akhirat sebagai tempat kembali, seseorang tidak akan terlalu senang terhadap nikmat yang ia rasakan, dan juga tidak akan terlalu bersedih atas kehilangan yang menimpanya. Dalam hubungan terhadap sesama, individu yang memiliki keseimbangan jiwa akan mudah empati kepada kaum yang lemah, sehingga tercipta masyarakat madani yang gemar tolong menolong dalam kebaikan serta kokoh dan tidak mudah terpecah belah. Daftar Pustaka Adz-Dzakiy, H. B. (2002). Konseling & Psikoterapi Islam, Penerapan Metode Sufistik. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru. Baharuddin. (2007). Paradigma Psikologi Islami, Studi tentang Elemen Psikologi dari Al-Qur’an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Baihaqi, M. F. (2008). Psikologi Pertumbuhan. Bandung: Rosdakarya Frager, R. (2003). Hati, Diri, & Jiwa, Psikologi Sufi untuk Transformasi. Jakarta: Serambi. Nashori, F. (2005). Potensi-potensi Manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Taufiq, M. I. (2006). Panduan Lengkap & Praktis Psikologi Islam. Jakarta: Gema Insani.


Tipologi Kepribadian dalam Psikologi Islam 101 TIPOLOGI KEPRIBADIAN DALAM PSIKOLOGI ISLAM Capaian Pembelajaran Setelah membaca bab ini diharapkan: 1. Mahasiswa mampu menjelaskan macam-macam kepribadian dalam perspektif psikologi Islam yang meliputi: kepribadian amarah, kepribadian lawwamah, kepribadian mutmainnah. 2. Mahasiswa mampu menjelaskan macam-macam kepribadian muthmainnah yang meliputi kepribadian mukmin, muslim dan muhsin. 3. Mahasiswa mampu menjelaskan bentuk-bentuk kepribadian mukmin. 4. Mahasiswa mampu menjelaskan benrtuk-bentuk kepribadian muslim. 5. Mahasiswa mampu menjelaskan bentuk-bentuk kepribadian muhsin. 6. Mahasiswa mampu menjelaskan macam-macam kepribadian menurut QS Al-Baqarah, yaitu: kepribadian mukmin, kafir, dan munafik. A. Ragam Kepribadian Manusia Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, jiwa (nafs) manusia memiliki tiga daya yaitu, qalbu, akal, dan nafsu. Kepribadian sesungguhnya produk dari interaksi diantara ketiga komponen tersebut. Berdasarkan dominasi salah satu aspek dari aspek yang lain, menurut Abdul Mujib (2006) terdapat tiga macam kepribadian manusia yaitu: 1. Kepribadian amarah (nafs al-Amarah) adalah kepribadian yang cenderung pada tabiat jasad dan mengejar pada prinsip-prinsip kenikmatan. Sesuai dengan firman Allah surat Yusuf ayat 53: “...dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang”. Kepribadian amarah adalah kepribadian yang cenderung melakukan perbuatan-perbuatan yang rendah sesuai dengan naluri primitifnya, sehingga ia merupakan tempat dan sumber kejelekan dan perbuatan tercela. Ia mengikuti tabiat jasad dan mengejar pada prinsip-prinsip kenikmatan (pleasure principle) syahwati. Bentuk-bentuk tipologi kepribadian


102 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran amarah adalah, syirik, kufur, riya’, nifaq, zindiq, bid’ah, sihir, membanggabanggakan kekayaan, dan lain sebagainya. 2. Kepribadian lawwamah (nafs al-Lawwamah) adalah kepribadian yang telah memperoleh cahaya qalbu, lalu ia bangkit untuk memperbaiki kebimbangan antara dua hal. Kepribadian lawwamah adalah kepribadian yang didominasi oleh akal. Firman Allah QS Al-Qiyamah ayat 2 : “...dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” Bentuk-bentuk tipologi kepribadian ini sulit sekali untuk ditentukan, sebab ia merupakan kepribadian antara, yakni antara kepribadian amarah dan muthmainnah, yang bernilai netral. Maksud netral di sini dapat berarti: a. Tidak memiliki nilai buruk atau nilai baik, tetapi dengan nilai gesekan motivasi, netralitas suatu tingkah laku itu akan menjadi baik atau akan menjadi buruk. b. Ia bernilai baik menurut ukuran manusia, tetapi belum tentu baik menurut ukuran Tuhan, seperti rasionalitas, moralitas, dan sosialitas yang dimotivasi oleh antroposentris (insaniyah). 3. Kepribadian muthmainah adalah kepribadian yang telah diberi kesempurnaan cahaya qalbu, sehingga dapat meninggalkan sifat-sifat yang tercela. Firman Allah QS Al-Fajr ayat 27-28: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” B. Bentuk-bentuk Kepribadian Menurut Mujib Menurut Abdul Mujib (2006), bentuk-bentuk kepribadian ini sebagaimana pernah digambarkan dalam Al-Qur’an dan hadis terbagi atas tiga bagian, yaitu: 1. Kepribadian Mukmin, yang memiliki enam bentuk kepribadian yaitu, kepribadian Rabbani atau Illahi, kepribadian Malaki, kepribadian Qurani, kepribadian Rasuli, kepribadian Yawn akhiri dan kepribadian Taqdiri. a. Karakter Kepribadian Rabbani (al-Syakhshiyat al-Illahiyat) Kepribadian Rabbani adalah kepribadian yang mampu menginternalisasikan sifat-sifat dan asma-asma Allah Swt ke dalam tingkah laku nyata sebatas pada kemampuan manusiawinya. Apabila Maha Kaya (al-Ghaniy) maka kepribadian Rabbani menghendaki adanya


Tipologi Kepribadian dalam Psikologi Islam 103 hartawan yang kaya raya. Apabila Allah Maha Benar (al-Haq) maka kepribadian Rabbani menghendaki adanya kebenaran dalam melakukan sesuatu. Dan begitulah seterusnya. b. Karakter Kepribadian Malaki (al-Syakhshiyat al-Malakiyat) Kepribadian Malaki adalah kepribadian yang mampu menginternalisasikan sifat-sifat malaikat yang agung dan mulia. Karakter kepribadian malaki di antaranya adalah menjalankan perintah Allah Swt, tidak bermaksiat, bertasbih kepada-Nya, menyampaikan informasi kepada yang lain, membagi-bagi rezeki untuk kesejahteraan bersama, dan sebagainya. c. Karakter Kepribadian Qur’ani (al-Syakhshiyat al-Quraniyat) Kepribadian Qur’ani adalah kepribadian yang mampu menginternalisasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam tingkah lakunya yang nyata. Karakter kepribadian Qur’ani di antaranya adalah membaca, memahami, dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan sunnah, sebab ia memberi petunjuk, rahmah, berita gembira bagi orang muslim yang bertakwa, memberikan wawasan yang totalitas untuk semua aspek kehidupan, dan sebagainya. d. Karakter Kepribadian Rasuli (al-Syakhshiyat al-Rasuliyat) Kepribadian Rasuli adalah kepribadian yang mampu menginternalisasikan sifat-sifat Rasul yang mulia. Karakter kepribadian Rasuli di antaranya adalah jujur (al-shidq), dapat dipercaya (al-amanat), menyampaikan informasi atau wahyu (al-tabligh), dan cerdas (al-fathanat). e. Karakter Kepribadian yang Berwawasan Masa Depan (Hari Akhir) Kepribadian ini menghendaki adanya karakter yang mementingkan jangka panjang daripada jangka pendek atau wawasan masa depan daripada masa kini, memiliki sikap tanggung jawab, melakukan salat, zakat, dan selalu bertakwa, tingkah laku yang penuh perhitungan sebab nanti semuanya diperhitungkan (hisab). f. Karakter Kepribadian Takdiri Kepribadian Takdiri adalah kepribadian yang menghendaki adanya penyerahan dan kepatuhan pada hukum-hukum, aturan-aturan dan sunnah-sunnah Allah Swt. Karakter kepribadian ini di antaranya adalah mengetahui dan mematuhi sunah-sunah Allah Swt, baik sunnah qur’ani maupun sunnah kauni.


104 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran 2. Kepribadian Muslim, yang memiliki lima bentuk kepribadian yaitu kepribadian Syahadatain, kepribadian Mushalli, kepribadian Shaim, kepribadian Muzakki, dan kepribadian Haji. a. Kepribadian Syahadatain Syahadatain berasal dari kata “syahida” yang artinya bersaksi, menghadiri, melihat, mengetahui, dan bersumpah. Istilah syahadatain kemudian dinisbatkan pada satu momen di mana individu mengucap dua kalimat syahadat dengan ucapan: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.” Kalimat Syahadat terdiri atas dua kesaksian. Kesaksian pertama berkaitan dengan keyakinan bahwa tiada Tuhan selain Allah, sedangkan kesaksian kedua berkaitan dengan kepercayaan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Kepribadian syahadatain adalah kepribadian individu yang didapat setelah mengucap dua kalimat syahadat, memahami hakikat ucapannya serta menyadari akan segala konsekuansin persaksian tersebut. b. Kepribadian Mushalli Mushalli adalah orang yang salat. Salat secara etimologi berarti memohon (do’a) dengan baik, yaitu permohonan keselamatan kesejahteraan dan perdamaian hidup di dunia dan akhirat kepada Allah Swt. Kepribadian Mushalli adalah kepribadian individu yang didapat setelah melaksanakan salat dengan baik, konsisten, tertib, dan khusyuk, sehingga dia mendapat hikmah dari apa yang dikerjakannya (salat). Jika salatnya baik, maka seluruh perilakunya dianggap baik, tetapi jika salatnya buruk, maka perilakunya dianggap buruk pula. Karena, salat merupakan amalan yang dihisab atau dihitung di akhirat kelak nanti. c. Kepribadian Shaim Shaim adalah orang yang berpuasa. Puasa secara etimologi berarti menahan (Al-Imsak) terhadap sesuatu, baik yang bersifat materi maupun non-materi. Dan menurut istilah, puasa adalah menahan diri di waktu siang hari dari segala yang membatalkan yang dilakukan, seperti; makan, minum, dan hubungan seksual dengan niat dimulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Kepribadian Shalim adalah kepribadian individu yang didapat setelah melaksanakan puasa dengan penuh keimanan dan ketakwaan, sehingga ia dapat mengendalikan diri dengan


Tipologi Kepribadian dalam Psikologi Islam 105 baik. d. Kepribadian Muzzaki Muzzaki adalah orang yang telah membayar zakat. Zakat secara etimologi berarti berkembang (El-namw) dan bertambah (Al-ziyadah), baik secara kuantitas maupun kualitas (keberkahan). Orang yang membayar zakat, hartanya cenderung bertambah bukan semakin berkurang. Menurut istilah, zakat adalah mengeluarkan sebagian harta kepada orang yang berhak menerimanya ketika telah mencapai batas (nisab). Kepribadian Muzzaki adalah kepribadian individu yang setelah membayar zakat dengan penuh keikhlasan, sehingga ia mendapatkan hikmah dari apa yang telah dilakukannya. e. Kepribadian Haji Haji adalah orang yang telah melaksanakan haji. Haji secara etimologi berarti menyengaja (Al-Qashd) pada sesuatu yang diagungkan. Menurut istilah, haji adalah menyengaja pergi ke Baitullah (ka’bah) untuk melaksanakan syarat (Islam, baligh, berakal, merdeka, dan mampu), rukun (niat ihram dari miqat, wuquf di Arafah, tawaf ifadhah, sa’i, cukur dan tertib) dan wajibnya (ihram di miqat, menginap di Muzdhaliffah, menginap di Mina, melontarkan jumrah, dan tawaf wada’) pada bulan yang ditentukan (Syawal, Dzul Qaidah dan Dzul Hijjah). Kepribadian haji adalah kepribadian individu yang didapat setelah melaksanakan haji yang semata-mata karena Allah Swt, sehingga ia mendapatkan hikmah dari apa yang telah dilakukannya (haji). 3. Kepribadian Muhsin, yang memiliki multi bentuk kepribadian. Banyak ulama merumuskan jenis-jenis kepribadian muhsin, namun rumusan yang paling lengkap sebagaimana yang dikemukakan oleh Abu Ismail Abdullah al-Anshari yaitu: a. Tingkatan permulaan, meliputi kesadaran, taubat, introspeksi, kembali kejalan Allah, berpikir, berzikir, menjaga diri, lari dari keburukan menuju jalan Allah, latihan spiritual, dan mendengar dengan suara hati. b. Tingkatan pintu-pintu masuk, meliputi kesedihan, ketakutan, kekhusyu’an, rendah diri di hadapan Allah, ketekunan, harapan, dan kecintaan. c. Tingkatan pergaulan, meliputi pemeliharaan diri, menghadirkan hati


106 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran kepada Allah, kehormatan, ketulusan, pendidikan, kontinyu, tawakal, pelimpahan wewenang, keterpecayaan dan penyerahan. d. Tingkatan etika, meliputi sabar, rela, berterima kasih, malu, jujur, mementingkan orang lain, kerendahan hati dan kejantanan. e. Tingkatan pokok, meliputi tujuan, tekad, hasrat, sopan santun, keyakinan, keintiman, mengingat, butuh rahmat dan merasa kaya materi. f. Tingkatan terapi, meliputi baik, ilmu, hikmah, pandangan batin, firasat, kehormatan, ilham, ketenangan, ketentraman dan cita-cita. g. Tingkatan keadaan, meliputi cinta, cemburu, rindu, kegoncangan, haus, suka cita, keheranan, kilat, dan cita rasa. h. Tingkatan kewalian, meliputi sadar setelah memperhatikan, waktu, jernih, gembira, rahasia, napas, keterasingan, tenggelam, dan kesanggupan hati. i. Tingkatan hakikat, meliputi ketersingkapan, penyaksian, keterlihatan, hidup, ketergenggaman, keterbentangan, mabuk, lupa, ketersambungan, dan keterpisahan. j. Tingkatan puncak, meliputi pengetahuan yang gaib, peniadaan materi, penetapan rohani, pembuktian, mendapatkan, pengosongan, ketersendirian, penyatuan, dan pentauhidan. C. Bentuk-bentuk Kepribadian Menurut Najati Menurut Utsman Najati, kepribadian dalam perspektif Psikologi Islam dapat pula kita lihat melalui tafsir Al-Qur’an, antara lain dalam Surah Al-Baqarah ayat 1-20 sebagai berikut: Alif laam miim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan sholat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dan mereka yang beriman kepada kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan


Tipologi Kepribadian dalam Psikologi Islam 107 atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.” Mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada syaitansyaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan Kamu, kami hanyalah berolok-olok.” Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan


108 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu (QS Al Baqarah 1-20). Berdasarkan ayat-ayat tersebut, menurut Najati (2005) kepribadian manusia terbagi menjadi tiga, yaitu: 1. Kepribadian Orang Beriman (Mu’minun) Mereka ini adalah golongan manusia yang meyakini tentang keberadaan Allah dengan seyakin-yakinnya. Tidak cukup itu saja, untuk membuktikan keimanan yang bersemayam di dalam hati tersebut, merekapun mengikrarkannya dengan lisan, kemudian mewujudkannya dengan praktekpraktek ibadah yang mereka lakukan setiap harinya. Itulah ciri iman (attashdiqu bilqalbi wattaqriru billisani wal’amalu biljawarih/arkani). Keimanan seseorang akan sempurna ketika ketiga unsur ini benar-benar diaplikasikan. Begitupun sebaliknya, ketika salah satunya tidak terlaksana, maka dia belum termasuk al-mukminu al-haqiqiyyu (mukmin yang sejati). Dikatakan beriman bila ia percaya pada rukun iman yang terdiri atas iman kepada Allah Swt, iman kepada para malaikat-Nya, iman kepada kitabkitab-Nya, iman kepada para rasul-Nya, percaya pada hari akhir, dan percaya pada ketentuan Allah (qadar/takdir). Rasa percaya yang kuat terhadap rukun iman tersebut akan membentuk nilai-nilai yang melandasi seluruh aktivitasnya. Dengan nilai-nilai itu, setiap individu seyogyanya memiliki kepribadian yang lurus atau kepribadian yang sehat. Orang yang memiliki kepribadian lurus dan sehat ini memiliki ciri-ciri antara lain: Akan bersikap moderat dalam segala aspek kehidupan, Rendah hati di hadapan Allah dan juga terhadap sesama manusia, senang menuntut ilmu, sabar, jujur, dan lain-lain. Gambaran manusia mukmin dengan segenap ciri yang terdapat dalam Al-Qur’an ini merupakan gambaran manusia paripurna (insan kamil) dalam kehidupan ini, dalam batas yang mungkin dicapai oleh manusia. 2. Kepribadian Orang Kafir (Kafirun) Kelompok yang kedua adalah orang-orang kafir, yaitu orang-orang yang ingkar akan keberadaan Allah. Jangankan untuk menjalankan perintahperintah-Nya, sekadar untuk memercayai-Nya saja, mereka enggan. Mereka justru mengejek orang-orang yang beriman, dan mengatakan bahwa mereka


Tipologi Kepribadian dalam Psikologi Islam 109 adalah orang-orang yang bodoh, yang tidak berilmu. Demikianlah predikat yang diberikan oleh mereka kepada orang-orang yang beriman. Ciri-ciri orang kafir yang diungkapkan dalam Al-Qur’an antara lain: 1. Suka putus asa, 2. Tidak menikmati kedamaian dan ketenteraman dalam kehidupannya, 3. Tidak percaya pada rukun iman yang selama ini menjadi pedoman keyakinan umat Islam, 4. Mereka tidak mau mendengar dan berpikir tentang kebenaran yang diyakini kaum muslim, 5. Mereka sering tidak setia pada janji, bersikap sombong, suka dengki, cenderung memusuhi orang-orang beriman, 6. Mereka suka kehidupan hedonis, kehidupan yang serba berlandaskan hal-hal yang bersifat material. Tujuan hidup mereka hanya kesuksesan duniawi, sehingga sering kali berakibat ketidakseimbangan pada kepribadian. 7. Mereka pun tertutup pada pengetahuan ketauhidan, dan lain-lain. Ciri-ciri orang kafir sebagaimana yang tergambar dalam Al-Qur’an tersebut menyebabkan mereka kehilangan keseimbangan kepribadian, yang akibatnya mereka mengalami penyimpangan ke arah pemuasan syahwat serta kesenangan lahiriah dan duniawi. Hal ini membuat mereka kehilangan satu tujuan tertentu dalam kehidupan, yaitu beribadah kepada Allah dan mengharap rida-Nya untuk mengharap magfirah serta pahala-Nya di dunia dan akhirat. 3. Kepribadian Orang Munafik (Munafiqun) Adapun golongan ketiga, adalah golongan orang-orang munafik, yaitu mereka yang secara dzahir menampakkan keimanan mereka di hadapan orang-orang mukmin, namun, batin mereka, hati mereka sebenarnya mengingkari hal tersebut. Karena perilaku mereka ini mencerminkan orang-orang beriman, maka untuk mendeteksi keberadaan mereka ini relatif sulit. Al-Qur’an dan As-Sunnah hanya memberikan ciri-ciri tentang mereka. Dan salah satu dari pada ciri orang munafik ialah ketika mereka mengerjakan salat, maka mereka mengerjakanya dengan malas-malasan. Sedang di dalam hadis, Rasulullah saw menerangkan, bahwa ciri-ciri mereka itu ada tiga, pertama, ketika ia berjanji, ia mengingkari.


110 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran Ketika berbicara, ia berdusta. Dan yang terakhir, ketika ia dipercaya, maka ia berkhianat. Ciri kepribadian orang munafik yang paling mendasar adalah kebimbangannya antara keimanan dan kekafiran serta ketidakmampuannya membuat sikap yang tegas dan jelas berkaitan dengan keyakinan bertauhid. Di antara sifat atau watak orang munafik yang tergambar dalam Al-Qur’an antara lain: a. Mereka “lupa” dan menuhankan sesuatu atau seseorang selain Allah Swt b. Dalam berbicara mereka suka berdusta c. Mereka menutup pendengaran, penglihatan, dan perasaannya dari kebenaran d. Orang-orang munafik ialah kelompok manusia dengan kepribadian yang lemah, peragu, dan tidak mempunyai sikap yang tegas dalam masalah keimanan e. Mereka bersifat hipokrit, yakni sombong, angkuh, dan cepat berputus asa Daftar Pustaka Mujib, Abdul. (2006). Kepribadian Dalam Psikologi Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Najati, M. Utsman. (2005). Psikologi dalam Al Qur’an: Terapi Qur’ani dalam Penyembuhan Gangguan Kejiwaan. Jakarta: Pustaka Setia


Perkembangan Hidup Manusia Perspektif Psikologi Islam 111 PERKEMBANGAN HIDUP MANUSIA Perspektif Psikologi Islam Capaian Pembelajaran 1. Mahasiswa mampu memahami perkembangan hidup manusia dari perspektif Psikologi Islam. A. Pendahuluan Manusia merupakan makhluk yang dinamis yang pasti akan mengalami perubahan sepanjang hidupnya. Perubahan yang dialami manusia dapat berupa perubahan fisik dan non-fisik. Perubahan inilah yang disebut dengan perkembangan. Menurut Hurlock (2004) mengartikan istilah perkembangan sebagai serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Hasan (2006) menuturkan bahwa perkembangan berarti segala perubahan kualitatif dan kuantitatif yang menyertai pertumbuhan dan proses kematangan manusia. Dari beberapa pengertian perkembangan menurut para ahli tersebut, pengertian perkembangan menurut Islam adalah proses pertumbuhan dan perkembangan pada aspek fisik (kuantitatif) maupun non-fisik (kualitatif) individu yang didasarkan pada Al-Qur’an dan hadis. Dalam paradigma psikologi Islam, perkembangan hidup manusia sangat berhubungan erat dengan ketentuan Allah Swt. Allah Swt telah menyampaikan tentang perkembangan hidup manusia melalui beberapa tahapan yang progresif dan tahapan manusia ini terjadi bukan atas dasar kebetulan, namun berdasarkan pada ketetapan, ketentuan dan rancangan Allah Swt. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt pada ayat berikut ini, “Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan segalanya dengan ukuran-ukuran dengan serapi-rapinya” (QS. Al-Furqon: 2). Mengenai perkembangan manusia yang melalui beberapa tahapan progresif, Allah Swt berfirman, “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka


112 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah” (QS. Al Hajj: 5). Teori perkembangan manusia psikologi, arus utama berparadigma bahwa kehidupan dimulai sejak prenatal hingga masa degeneratif saat menjadi lansia. Di semua buku psikologi perkembangan akan menyajikan berbagai teori perkembangan manusia beserta tugas-tugas perkembangannya. Menurut pandangan psikologi arus utama, kehidupan manusia berlangsung sejak prenatal (dalam kandungan) hingga masa lansia. Individu akan menemui tugas-tugas pada tiap tahapan usia yang harus dikuasainya agar perkembangannya optimal. Apabila individu mengalami keterlambatan atau hambatan pada salah satu tahapan perkembangan, maka hal tersebut dapat memprediksi pencapaian individu pada tahapan perkembangan berikutnya. Konsep ini berlaku bagi tiap aspek perkembangan manusia antara lain perkembangan kognitif, perkembangan moral, perkembangan sosial individu. Secara umum, perspektif psikologi Islam mengenai perkembangan manusia tidak banyak berseberangan dengan teori perkembangan hidup manusia sebagaimana yang telah disajikan oleh psikologi atus utama. Namun psikologi Islam memiliki pandangan yang sedikit berbeda dengan pandangan psikologi atus utama mengenai perkembangan hidup manusia yakni dalam paradigmanya. Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa paradigma psikologi islami adalah berdasarkan pada paradigma tauhid, oleh karena itu pandangan tentang perkembangan hidup manusia pun berparadigma tauhid, yaitu meyakini adanya eksistensi manusia sebelum di dunia (baca: roh manusia), saat berada di dunia (prenatal hingga lansia dan mati), hingga eksistensi manusia


Perkembangan Hidup Manusia Perspektif Psikologi Islam 113 setelah kematian yakni kebangkitan roh pada Yaumil Akhir. Perbedaan paradigma ini menyebabkan psikologi Islam menyajikan tugas-tugas perkembangan yang berbeda dengan tugas-tugas perkembangan psikologi atus utama. Namun prinsip perkembangannya mirip, yaitu apabila tugas perkembangan individu pada salah satu tahap perkembangan tidak tercapai, maka pada tahapan perkembangan berikutnya akan mengalami keterlambatan atau hambatan. Perlu dipahami bahwa paradigma tauhid yang dijadikan landasan perkembangan hidup manusia dalam psikologi Islam ini akan sangat memengaruhi persepsi, sikap dan perilaku individu dalam semua aspek kehidupannya. Pada bab ini akan dijelaskan mengenai perkembangan hidup manusia dari perspektif psikologi slami yang berdasarkan pada paradigma tauhid. B. Perkembangan Hidup Manusia Menurut Nashori (2003) perkembangan hidup manusia dalam perspektif psikologi Islam dipahami melalui beberapa fase yaitu: 1. Pra Lahir 2. Kehidupan di dunia a. Fase Bayi b. Fase Kanak-kanak c. Fase Tamziz d. Fase Amrad e. Fase Taklif f. Fase Futuh g. Fase Lansia 3. Pasca mati Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, paradigma psikologi islami adalah paradigma tauhid, sehingga keyakinan tentang hidup sebelum kelahiran dan pasca kematian akan sangat memengaruhi bagaimana individu berpikir, bersikap dan berperilaku dalam kehidupannya di alam dunia. Pada subbab ini akan dijelaskan mengenai pandangan Islam mengenai kehidupan manusia sebelum kelahiran. Kehidupan Pra-Lahir Dalam perspektif psikologi Islam, eksistensi manusia dimulai sejak kehidupan


114 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran sebelum kelahirannya di dunia. Manusia memiliki roh yang telah hidup sebelum manusia terlahir di dunia yang disebut dengan hari mitsaq. Eksistensi manusia dimulai dari penciptaan roh, penciptaan jasad dan pembentukan jiwa manusia. 1. Penciptaan roh Dalam perspektif Islam, kehidupan manusia dimulai sejak sebelum dilahirkan ke dunia. Sebelum manusia dilahirkan ke dunia, maka Allah Swt telah terlebih dahulu menciptakan roh-roh manusia. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt, “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, aka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya rh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (QS. Al Hijr: 28-29). Roh manusia diciptakan Allah segera setelah penciptaan Adam. Allah mengusap punggung Adam dengan tangan kanan lalu keluarlah roh-roh manusia dari tangan kanan-Nya. Kehidupan manusia dimulai bahkan sebelum kelahirannya di dunia ketika manusia masih berada di alam roh atau yang disebut dengan hari mitsaq (perjanjian). Hal tersebut disampaikan di dalam Al-Qur’an bahwa roh pernah bersaksi bahwa Allah Swt adalah Tuhannya. “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan), atau agar kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu? Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran)” (QS. AL-A’Raaf: 172-174).


Perkembangan Hidup Manusia Perspektif Psikologi Islam 115 Ayat di atas memiliki pengertian bahwa fitrah manusia telah mengakui Allah Swt sebagai Tuhannya bahkan sejak sebelum di dalam kandungan. Ayat di atas menjelaskan beberapa hal antara lain tentang materi pembentuk manusia yaitu dari tanah dan roh. Tanah menunjukkan komponen materiil manusia yang akan menjadi jasad, sedangkan roh merupakan komponen imateriil manusia yang akan masuk ke dalam jasad manusia. Allah Swt merahasiakan ilmu tentang ruh kepada ciptaan-Nya sebagaimana dalam firman-Nya, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS. Al Isra’: 85). 2. Penciptaan jasad Penciptaan jasad manusia dimulai sejak pertemuan antara sel sperma dan sel telur melalui beberapa fase dalam kandungan yaitu nuthfah, ‘alaqah, dan mudghah. Hal ini sesuai firman Allah Swt, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (QS. Al-Mu’min: 12-14). Ayat di atas menjelaskan bahwa perkembangan manusia di dalam kandungan melewati beberapa tahap yaitu: a. Pertama, dari sari pati tanah (Sulalatin min tin) b. Kedua, dari sari pati tersebut menjadi air mani bertemu dengan ovum yang dikenal dengan fase pembuahan (nutfah) c. Ketiga, dari nutfah menjadi segumpal darah (‘alaqah) d. Keempat, dari ‘alaqah menjadi segumpal daging (mudghah) e. Kelima, dari mudghah menjadi tulang belulang (idham) f. Keenam, dari idham menjadi tulang belulang yang dibungkus oleh daging


116 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran (lahm) Lantas dari fase ini Allah Swt menjadikannya sebagai makhluk yang berbeda dari sebelumnya yaitu manusia Tahap perkembangan pranatal: 1. Tahap Nutfah Tahap nutfah ini merupakan tahapan di mana sel sperma dan sel telur bertemu dan terjadinya pembuahan, yang lantas akan terbentuk zigot. 2. Tahap ‘Alaqah Tahap ‘alaqah ini dikenal dengan tahap embrio. ‘Alaqah dalam bahasa Arab memiliki tiga pengertian yaitu pertama, sebagai sesuatu yang menggantung, kedua yaitu segumpal darah, dan ketiga yaitu lintah. Pengertian pertama ‘alaqah sebagai sesuatu yang menggantung memiliki makna bahwa pada tahapan ini embrio menunjukkan bahwa ia menggantung dengan tali pusar yang menempel pada dinding rahim Ibu. Pengertian kedua ‘alaqah sebagai segumpal darah memiliki makna bahwa pada tahap ini perkembangan fisik bayi sudah menunjukkan adanya pembentukan jantung pada tahap awal yang menyerupai segumpal darah. Pengertian ketiga ‘alaqah sebagai lintah memiliki makna yang menakjubkan. Berdasarkan pada penelitian mikroskopik pada embrio manusia menunjukkan bahwa pada tahapan ini struktur tubuh embrio manusia memiliki kemiripan yang erat dengan struktur tubuh lintah. Tidak hanya sekadar struktur tubuh yang sangat menyerupai lintah, namun juga aktivitas embrio manusia pada tahapan ini menyerupai aktivitas lintah pada umumnya yaitu menghisap (baca: menyerap) sari pati dari induk untuk dapat membantunya tumbuh besar. Aktivitas embrio pada tahap ini adalah menyerap sari makanan dan oksigen pada ibu yang dapat membantu embrio tersebut berkembang dengan pesat. Tahap ini dikenal dengan trisemester pertama kehamilan, di mana umumnya ibu hamil akan merasakan kelelahan dan lemas karena sari pati dalam tubuhnya senantiasa diserap oleh embrio (bayinya). Pada tahap ini perkembangan organ dasar manusia sudah mulai terbentuk meskipun belum sempurna seperti jantung, mata, dan tangan. Ketiga pengertian ‘alaqah ini menunjukkan mukjizat Al-Qur’an yang


Perkembangan Hidup Manusia Perspektif Psikologi Islam 117 mampu secara rinci menjelaskan tahapan perkembangan janin pada masa di mana tidak ada teknologi canggih yang dapat mengungkapkannya. Baru seabad yang lalu, perkembangan manusia pranatal dapat diungkapkan dengan menggunakan teknologi yang canggih. Namun, penjelasan ini telah disampaikan Allah Swt kepada Nabi Muhammad di dalam Al-Qur’an lebih dari 1400 tahun yang lalu. Pada tahap ini Allah Swt akan meniumpkan roh pada janin. Dalam persepektif Islam, takdir manusia akan diberikan seiring dengan ditiupkannya roh ke dalam janin. Hal ini diungkapkan dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, “Allah mewakilkan satu malaikat pada rahim. Lantas malaikat itu berkata, Wahai Tuhanku, apakah ‘Alaqah ini (berkembang)? Wahai Tuhanku, Apakah Mudghah ini (berkembang)? Apabila Allah menghendaki penciptaan embrio itu, maka malaikat kembali berkata, ‘Wahai Tuhanku, apakah laki-laki atau perempuan? Sebagai orang yang celaka atau bahagia? Dan kapan ajalnya tiba? Lantas semua ketentuan itu akan ditulis sejak di dalam perut ibunya” (HR Bukhari). Adapun hadis lain di mana Rasulullah bersabda, “Jika tahapan itu sudah mencapai 42 hari, Allah akan mengutus satu malaikat. Malaikat itu akan membentuk embrio tersebut, menciptakan pendengaran dan penglihatan; kulit, daging, dan tulangnya. Kemudian malaikat itu berkata, wahai Tuhanku, sebagai laki-laki atau perempuan? Maka Tuhanku akan memutuskan sesuatu yang Dia kehendaki dan malaikat akan menulis ketentuan itu. Setelah itu malaikat itu kembali berkata, wahai Tuhanku, kapan ajalnya? Maka Allah akan berfirman sesuai dengan apa yang Dia kehendaki dan malaikat akan menulisnya. Lalu malaikat berkata lagi, wahai Tuhanku, (bagaimana-kadar) rezekinya? Tuhanku akan memutuskan sesuatu yang Dia kehendaki dan malaikat akan menulisnya. Baru setelah itu malaikat keluar dan membaca lembaran catatan di tangannya. Dia tidak akan menambah maupun mengurangi sesuatu yang diperintahkan kepadanya” (HR. Muslim). Dari Abi Abd Rahman Abdillah Ibn Mas’ud ra. berkata, ”Rasulullah saw


118 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran mengatakan kepada kami bahwa kejadian manusia sesungguhnya adalah seorang dari kalian dikumpulkan dari perut ibumu selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi alaqah dalam waktu yang sama, kemudian menjadi mudghah juga dalam waktu yang sama. Sesudah itu malaikat diutus untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diutus untuk melakukan pencatatan empat hal, yaitu rezkinya, usianya, amal perbuatannya, dan celaka atau bahagianya” (HR. Muslim). Rasulullah bersabda, ”sesungguhnya dalam proses kehamilan nutfah tidak berubah dalam rahim selama 40 hari, setelah itu ia menjadi ‘alaqah, lalu mudghah dalam waktu yang sama. Kalau Allah enghendaki untuk menyempurnakannya, Allah mengutus malaikat yang akan berkata kepadanya laki-laki atau perempuan, celaka atau bahagia, pendek atau tinggi, kurang atau lebih kekuatan dan umurnya, sehat atau sakit. Semua itu akan dicatat. Seorang sahabat bertanya, lalu apa gunanya kalau semua itu telah ditentukan? Beliau menjawab, ’berbuatlah, karena masing-masing akan diarahkan kepada tujuan penciptanya” (HR. Ahmad). 3. Tahap Fetus Tahap ini dimulai dari minggu ke delapan hingga proses kelahiran. Pada tahapan ini penciptaan manusia makin sempurna dengan terbentuk dengan jelas bentuk tubuh janin seperti manusia, wajah, tangan, dan kaki telah terlihat jelas, otak, dan alat indera. 3. Pembentukan Jiwa Manusia (Pertemuan roh dan jasad) Pada usia 120 hari dalam kandungan, malaikat atas perintah Allah Swt menghembuskan roh-Nya (the Spirit of God) ke jasad manusia. Pertemuan jasad dan roh inilah yang disebutkan sebagai jiwa. Dengan demikian, bayi berusia 120 hari telah dapat disebut memiliki jiwa manusia. Dalam persepektif psikologi Islam, apa yang dilakukan orangtua memberikan pengaruh atas anak dalam kandungan. Dengan demikian terdapat beberapa hal yang perlu sangat diperhatikan oleh orangtua saat menanti kelahiran bayi, antara lain: a. Hubungan seks yang sah dan tidak sah (menikah atau tidak menikah, meminta perlindungan Allah)


Perkembangan Hidup Manusia Perspektif Psikologi Islam 119 Hubungan seks yang didahului oleh hubungan yang legal ataupun tidak legal (baca: menikah atau zina) akan memengaruhi perkembangan jiwa bayi selama dalam kandungan. Hubungan seks yang didahului oleh hubungan yang legal (menikah) merupakan hubungan yang dihalalkan oleh syariat. Dengan demikian, hubungan seks yang dilakukan dalam pernikahan tidaklah berdosa, bahkan dapat menjadi ladang pahala bagi pasangan suami istri karena merupakan ibadah. Di antara hal yang perlu diperhatikan suami istri sebelum melakukan hubungan seks adalah dengan memperhatikan adab-adab sebelum berhubungan. Di antara adab tersebut adalah pasangan suami istri sangat dianjurkan untuk berwudhu, salat dan berdoa sebelum melakukan hubungan seks. Hal ini bertujuan agar hubungan seks yang akan dilakukan itu bernilai ibadah dan setan tidak akan ikut mengganggu hubungan tersebut. Dengan demikian, apabila dari hubungan tersebut Allah Swt menghendaki dan menakdirkannya menjadi keturunan, maka keturunan tersebut akan dijaga dari godaan setan. Hal ini sesuai dengan perintah Allah Swt sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw untuk berdoa sebelum berhubungan seks yang artinya, “Bismillah. Ya Allah, jauhkanlah setan dari kami dan jauhkanlah setan dari apa yang dianugerahkan kepada kami.” Menurut Nabi, barang siapa yang membaca doa ini sebelum bersetubuh, jika ternyata mendapatkan anak, maka setan tidak akan mampu membahayakannya (Suwaid, 2004). Ada pula doa yang biasa dibaca oleh Hasan al-Bashri, “Ya Allah berkatilah apa yang Engkau anugerahkan kepada kami, dan janganlah Engkau biarkan setan memperoleh bagiannya dari apa yang telah Engkau anugerahkan kepada kami.” Hubungan seks yang dilakukan oleh pasangan tidak sah (baca: zina), akan sangat sulit didahului oleh berwudhu, salat maupun berdoa. Hal ini dikarenakan tidak adanya sifat Ihsan (merasa diperhatikan oleh Allah Swt) pada pasangan ini. Dengan demikian, hubungan seks pasangan ini tidak


120 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran akan memperhatikan adab, bahkan yang dilakukan oleh pasangan ini adalah bermaksiat yang tentu akan menyebabkan kemarahan Allah. Jika berdoa pun tidak dilakukan, maka tidak ada jaminan perlindungan oleh Allah Swt untuk dijauhkan dari setan saat berhubungan seks pada pasangan ini. Lantas apabila Allah menakdirkan adanya keturunan dari hubungan pasangan tidak sah ini, maka anak ini akan lebih rentan terhadap godaan setan. b. Fisik Makanan yang dikonsumsi oleh orangtua (ibu) juga kan memengaruhi perkembangan bayi dalam kandungan. Ibu hamil tentunya sangat dianjurkan untuk memakan makanan yang halal dan thoyyib. Makanan yang halal sudah jelas ketentuannya oleh syariat. Makanan yang haram seperti babi, darah, bangkai serta khamr (zat yang memabukkan) sangat dilarang dalam Islam. Makanan yang thoyyib adalah makanan yang baik untuk dikonsumsi seperti sayur, buah, gandum, beras, kacang-kacangan, ikan, ayam, daging, dan susu. Selain daripada haram dilihat dari bentuknya, maka pasangan suami istri yang sedang menantikan buah hati juga perlu sangat memerhatikan kehalalan sumber nafkah yang digunakan untuk membeli barang-barang yang dikonsumsi. Hal ini berarti bahwa pasangan suami istri perlu memerhatikan apakah uang yang diterimanya berasal dari kerja keras yang halal, dan bukan dari cara yang haram misalnya uang hasil korupsi, mencuri, mengurangi timbangan untuk memperoleh lebih banyak laba, maupun dari penipuan. Sumber nafkah yang halal ini apabila digunakan untuk membeli makanan, maka akan memberikan keberkahan pada makanan yang dibeli. Makanan yang keberkahan ini akan masuk ke dalam tubuh istri dan bayi sehingga akan memengaruhi perkembangan jiwa bayinya. Sumber nafkah yang halal dan berkah akan menghasilkan keturunan yang hatinya lembut dan tunduk, mudah untuk dinasehati agama, mudah pembentukannya, serta kelak akan dapat menjadi anak yang sholeh/sholehah. Adapun sumber nafkah yang haram digunakan untuk membeli barang-barang yang dikonsumsi, maka makanan tersebut tidak akan berkah, atau justru dapat mencelakakannya. Makanan dari sumber nafkah yang haram akan masuk ke dalam tubuh istri dan bayi sehingga orangtua akan mengalami kesulitan dalam mendidik anak tersebut dikarenakan sulit pembentukannya, sulit menerima nasehat agama sehingga beresiko untuk mengalami kesulitan dalam mendidiknya. Islam telah


Perkembangan Hidup Manusia Perspektif Psikologi Islam 121 meletakkan betapa pentingnya menjemput nafkah yang halal sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw, “Barangsiapa mati lantaran bekerja untuk mencari harta halal maka mati dalam keadaan diampuni dosanya” (HR. Ibnu Asakir dari Anas). c. Psikis (afeksi/emosi dan kognisi) Perasaan dan intensitas pemikiran orangtua yang positif dan tenang saat istri hamil dapat memengaruhi perkembangan emosi dan kognitif anak. Perasaan dan intensitas pemikiran orangtua yang positif akan menghasilkan anak yang lebih cerdas emosi dan intelektualnya. Hal ini dapat dilakukan dengan berkomunikasi dengan anak sejak dalam kandungannya. Selain itu, perkembangan emosi dan kognisi anak dapat dioptimalkan dengan memperdengarkannya pada lantunan ayat-ayat Al-Qur’an baik yang dibaca sendiri oleh orangtua, maupun melalui rekaman murotal. Kondisi psikis ibu akan memengaruhi perkembangan emosi anak. Ibu yang menjalani kehamilannya dengan afeksi yang tenang (tidak cemas, tidak sering marah, tidak tertekan) akan melahirkan anak yang berkepribadian tenang dan cenderung diliputi oleh afek positif. d. Spiritual/kedekatan kepada Allah Perkembangan spiritual anak dimulai sejak dalam kandungan. Kuantitas dan kualitas ibadah yang dilakukan orangtua khususnya ibu pada saat hamil akan memengaruhi perkembangan jiwa anak. Apabila orangtua tertib menjaga dan memperhatikan kualitas ibadah, maka anak akan tumbuh sebagai anak yang cerdas spiritual atau qalb-nya. Kehidupan Di Dunia 1. Fase Bayi (0-2 Tahun) Pada fase bayi, perkembangan fungsi indera (pendengaran, penglihatan, perasa, perabaan, penciuman) dapat dioptimalkan dengan banyak memberikan stimulus kepada anak. Fungsi indera pendengaran dapat distimulasi dengan melakukan adzan dan iqomah sesaat setelah dilahirkan. Fungsi indera mata dapat distimulasi dengan menunjukkan beberapa jenis warna terang dan bentuk pada


122 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran anak. Penguatan perkembangan spiritual pada anak dapat dilakukan dengan memberikan adzan sebagai penegasan kesaksian atas keesaan Allah dan pemberian nama yang baik sebagai doa. Penguatan perekembangan kognitif dapat dilakukan dengan memberikan stimulasi yang kaya (warna, suara, tekstur, bau) akan berpengaruh terhadap kemampuan kognitif anak. Perkembangan emosi anak dapat dioptimalkan dengan pemberian rasa nyaman yang akan menghasilkan kepercayaan dan kelekatan terhadap orangtua. Hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti perintah Allah Swt untuk menyusui anak hingga usia 2 tahun. Berdasarkan pada hasil penelitian didapatkan bahwa aktivitas menyusui ini tidak hanya sangat baik untuk perkembangan fisik bayi, namun juga sangat baik untuk menciptakan kelekatan kepada orangtua sehingga berdampak pada kecerdasan emosional pada anak sejak dini. Pada fase bayi ini, orangtua diperintahkan untuk memberikan nama-nama yang baik karena nama baik mengandung doa. Nama yang baik dicirikan dengan hal yang menunjukkan penghambaan pada Allah, meniru nama-nama nabi, dan nama yang memiliki gambaran yang positif. Sedangkan nama-nama yang buruk adalah nama yang menunjukkan penghambaan terhadap selain Allah, nama-nama Allah, nama setan, nama yang memberi gambaran negatif, dan nama tokoh sejarah yang antagonistis. Islam sangat memperhatikan pemberian nama yang baik ini. Hal ini dikarenakan nama memiliki fungsi pada seseorang yaitu stimulus yang terus menerus yang memengaruhi persepsi seseorang terhadap dirinya, memengaruhi, memotivasi seseorang, doa orang lain untuk si pemilik nama. Dalam psikologi, pemberian nama ini berkaitan dengan pembentukan konsep diri anak. Apabila anak dipanggil dengan nama yang baik (artinya), maka anak akan mengidentifikasikan dirinya sesuai dengan nama tersebut. Karena nama akan terus digunakan untuk memanggil, maka seiring dengan pemanggilan nama tersebut, anak akan mengidentifikasikan dirinya memiliki ciri sebagaimana arti baik dari nama tersebut, sehingga konsep diri positif akan terbentuk darinya. 2. Fase Kanak-Kanak (2-7 Tahun) Ciri utama fase ini adalah eksplorasi. Secara psikomotorik, anak pada fase ini menyukai melihat segala sesuatu yang baru (binatang, tumbuhan, mainan) dan


Perkembangan Hidup Manusia Perspektif Psikologi Islam 123 muncul keinginan yang besar untuk mencobanya. Perkembangan kognitif anak pada fase ini akan tampak pada kemampuan anak untuk bertanya begitu banyak hal, termasuk pertanyaan mengapa (yang membutuhkan alasan). Pada akhir fase ini anak diharapkan sudah dapat belajar menulis dan membaca. Perkembangan emosi anak melibatkan fase temper tantrum yaitu fase di mana anak suka menarik perhatian orang lain dengan marah atau mengamuk. Hal ini terjadi karena masih sangat terbatasnya anak untuk menjelaskan keinginannya secara spesifik, maupun cara untuk mengungkapkan perasaannya yang kompleks. Seiring dengan perkembangannya, fase temper tantrum anak akan berkurang karena semakin baik kemampuan mereka untuk memahami dan mengutarakan perasaan mereka, serta semakin baik kemampuannya untuk menjelaskan keinginan mereka secara spesifik. Perkembangan spiritual anak pada fase ini dapat dioptimalkan meskipun anak belum mampu berpikir secara abstrak. Anak hanya mampu untuk melihat segala sesuatu yang semata-mata bersifat fisik, tapi juga dapat dilatih untuk dapat memaknai secara spiritual. Hal ini dimisalkan dengan anak yang mampu melihat indahnya pelangi, dan sebagai orangtua dapat mengajarkan pada anak bahwa pelangi adalah ciptaan Allah Swt. Dengan demikian, pendidikan tauhid sudah dapat dimulai dari fase ini. Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa pendidikan tauhid perlu diberikan secara terus menerus disertai kasih sayang dan kesabaran. 3. Fase Tamziz (7-10 Tahun) Pada fase ini anak memasuki fase di mana ia dipersiapkan untuk menjadi ‘abdullah (hamba Allah). Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orangtua dan pendidik untuk dapat mempersiapkan anak menjadi ‘abdullah yaitu dengan memastikan bahwa anak lulus tugas perkembangannya pada fase tamziz ini yaitu: 1. Memiliki pengetahuan tentang cara menjalin hubungan dengan Allah. 2. Memiliki kemampuan untuk menjalin hubungan dengan Allah (salat, puasa, dsb). 3. Mampu membedakan yang baik dan yang buruk (pahala dan dosa). 4. Mampu membedakan tingkatan hukum (wajib, sunnah, sunnah muakkad, mubah, makruh, halal, haram). Catatan penting dalam fase ini yang perlu ditekankan adalah prinsip


124 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran pengenalan konsekuensi positif lebih didahulukan daripada konsekuensi negatif. Dengan demikian, anak diajarkan untuk mencintai Allah Swt dan Rasulullah melebihi kecintaannya pada makhluk lainnya. Bukti kecintaan mereka pada Allah Swt dan Rasulullah adalah dengan menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya serta menjadikan Rasulullah sebagai idolanya. Jika iman telah tertanam berdasarkan pada mencintai Allah Swt dan Rasulullah, maka esensi ibadah dapat dipahami sejak dini. Dengan demikian, kelak anak akan beribadah kepada Allah Swt dan mengikuti sunnah Rasulullah karena kecintaan mereka pada-Nya, bukan hanya karena sekadar menjalankan kewajiban ritualistik saja. Selain itu, pada fase ini anak akan belajar tentang tanggung jawabnya terhadap Allah Swt. Anak sudah mulai mengetahui apa saja yang diwajibkan, didorong dan yang dilarang dalam agama. Dengan demikian, pada fase ini anak diharapkan sudah mengetahui cara menjalin hubungan dengan Allah Swt agar ketika tiba saatnya baligh (pubertas), maka anak mampu menjalani tanggung jawabnya terhadap Allah Swt. Keberhasilan pada fase ini ditunjukkan dengan anak yang sudah mampu melaksanakan perintah Allah Swt terutama mendirikan salat tanpa paksaan ataupun hukuman dari orangtuanya. Sebuah hadis yang menjadi rujukan cara mendidik anak fase tamyiz berkenaan dengan ibadah paling utama yaitu salat adalah sebagai berikut, “Bila anak telah berusia tujuh tahun perintahkanlah dia untuk melaksanakan salat dan saat berusia 10 tahun maka pukullah bila dia meninggalkannya” (HR. Abu Dawud). Orangtua perlu mempersiapkan anak untuk memimpin dirinya sendiri selama fase tamyiz ini. Orangtua perlu mendidik anak untuk mampu menentukan pilihannya sendiri pada fase ini. Sebelum memasuki fase amrad yang umumnya sudah mencapai baligh, maka anak akan bertanggung jawab penuh atas pilihanpilihan hidupnya dan harus memiliki pengetahuan untuk bertanggung jawab atas tindakan baik ataupun buruknya (mengenai dosa dan pahala). Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah, “Diangkat pena (untuk mencatat amal) dari tiga macam orang: anak kecil hingga ia pubertas (ihtilam), orang tidur hingga terjaga dan orang gila hingga ia sadar”


Perkembangan Hidup Manusia Perspektif Psikologi Islam 125 (HR Abu Dawud, Tirmidhi, dan Hakim). 4. Fase Amrad (10-15 Tahun) Pada fase amrad ini, anak dipersiapkan untuk menjadi khalifatullah atau wakil Allah Swt di muka bumi. Tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai anak untuk dapat menjadi khalifatullah adalah dengan: a. Mengetahui tugas dan tanggung jawab manusia. b. Memiliki pengetahuan dan ketrampilan teknis bidang tertentu yang memberikan manfaat pada umat. c. Memiliki kemampuan menjalin relasi dengan sesama manusia. d. Mampu berpikir abstrak, menerima pengetahuan secara rasional dan empirik. e. Belajar Banyak hal tentang Islam. f. Rasio berkembang dan mewarnai tindakan. Anak pada fase persiapan untuk menjadi dewasa ini diharapkan dapat mampu melakukan peran sosial dan ekonomi, misalnya ikut terlibat dalam kegiatan sosial dan perniagaan. Perkembangan anak pada fase ini diharapkan mampu untuk membentuk pribadi yang telah mengenal serta mencintai Allah Swt dan Rasulullah sehingga mampu untuk melakukan ibadah kepada-Nya, serta memahami tanggungjawabnya kepada Allah Swt dan kepada manusia. Selain itu, anak pada fase ini diharapkan telah mandiri dan mampu untuk melakukan aktivitas pengambilan keputusan dan pemecahan masalah sederhana. Apabila perkembangan anak pada fase ini optimal, maka anak mampu berperan untuk memimpin dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum ia berperan untuk memimpin orang lain. 5. Fase Taklif (15-40 Tahun) Fase ini adalah saat di mana individu melakukan peran sebagai ‘abdullah (hamba Allah) dengan memperbanyak amal ibadah. Berbeda dengan fase tamyiz di mana anak dipersiapkan untuk menjadi ‘abdullah, pada fase ini individu diharapkan sudah mampu untuk melakukan perannya sebagai ‘abdullah. Kegiatan yang dapat dilakukan oleh individu pada fase ini adalah dengan melakukan perannya sebagai khalifah fil ‘ardh dengan melakukan amar ma’ruf nahi mungkar pada diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan lingkungan belajar atau kerjanya. Selain itu,


126 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran individu pada fase ini menunjukkan pengembangan diri dengan tidak memisahkan (mendikotomikan) agama dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kehidupan. Keberhasilan individu pada fase taklif ini akan banyak dipengaruhi oleh fase tamyiz dan amrad sebelumnya. Perkembangan yang optimal pada fase ini ditandai dari ciri antara lain: a. Fisik Fisik yang kuat dan siap melakukan berbagai tindakan b. Sosial Memiliki kemampuan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat c. Kognitif Memiliki kemampuan berpikir dalam berbagai tingkatan (mengetahui, memahami, analisis, sintesis) d. Emosi Memiliki kemampuan mengenali dan mengontrol emosi e. Spiritual Memiliki kemampuan untuk melakukan tugas ibadah kepada Allah Swt 6. Fase Futuh (40-60 Tahun) Fase futuh ini merupakan fase di mana individu dapat mengenal keberhasilan pada fase sebelumnya yaitu fase taklif. Keberhasilan pada fase taklif dapat dilihat ketika individu menginjak usia 40 tahun. Keberhasilan pada fase ini dapat dilihat berdasarkan pada kemampuan: a. Spiritual Kemampuan spiritual yang diharapkan dimiliki individu pada fase ini adalah individu lebih mudah untuk memahami segala sesuatu sampai ke tingkat hakikatnya. Hal ini dicontohkan dengan individu yang mampu untuk memahami hakikat kehidupan dan hakikat ibadah. Keberhasilan pada fase ini terlihat pada kemampuan individu untuk mampu memahami hakikat kehidupan yaitu bahwa tujuan hidup adalah untuk beribadah kepada Allah Swt dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk pulang ke kampung akhirat dengan bekal iman dan amal sholeh. Begitu juga dalam hal memahami hakikat ibadah, bukan sekadar kewajiban yang harus ditunaikan saja, namun individu mampu menikmati pengalaman menjalin berhubungan kepada Allah


Perkembangan Hidup Manusia Perspektif Psikologi Islam 127 Swt melalui ibadah tersebut. Ibadah tidak menjadi rutinitas yang membebani individu, justru menjadi sebuah kenikmatan hamba dalam menjalin hubungan yang dekat dengan Allah Swt. b. Kognitif Kemampuan kognitif yang diharapkan oleh individu pada fase ini adalah individu mampu memahami segala sesuatu secara lebih kontemplatif. Individu aktif dalam kegiatan perenungan mengenai realita sosial yang dihadapinya. Hal ini mengandung pengertian bahwa individu diharapkan mampu untuk berpikir untuk mencapai hikmah dari setiap kejadian yang dialaminya. Hikmah tersebutlah yang diharapkan dapat mengantarkannya menjadi lebih dekat kepada Allah Swt. c. Emosi Kemampuan untuk mengendalikan emosi negatif dan meningkatkan emosi positif pada fase ini diharapkan sudah menetap. Keberhasil pada fase ini ditandai dengan perasaan cintanya kepada sesama manusia semakin kuat. Kegagalan menjalani fase ini dapat dilihat terutama pada aspek spiritual dan afektif (emosi). Di antara indikator kegagalan pada fase ini adalah: a. Spiritual Individu masih lebih suka melayani hawa nafsunya sendiri (misalnya: korupsi, perzinaan) b. Emosi/afektif Individu semakin mementingkan diri dengan menunjukkan sikap dan perilaku yang serakah. 7. Fase Lansia (60-Dst) Fase lansia ini merupakan fase degenaratif yang ditandai dengan penurunan yang signifikan pada kemampuan fisik dan kognitif. Berikut adalah beberapa indikator keberhasilan dan kegagalan pada fase lansia ini: a. Fisik Pada umumnya, kemampuan fisik mengalami penurunan secara signifikan, namun kemampuan fisiknya dapat dipertahankan dengan terus menerus melakukan latihan fisik dan menjaga gaya hidup yang


128 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran sehat sampai tua. b. Kognitif Kemampuan berpikir semakin matang bila digunakan, namun akan mengalami penurunan ingatan bila tak digunakan. c. Emosi/Afektif Rasa sayang dan cinta sangat tulus. Kegagalan pada fase ini akan memunculkan perilaku kekanak-kanakan. d. Sosial Merasa bermakna bagi banyak orang. Kegagalan pada fase ini akan membuat individu merasa kesepian (hilangnya kawan-kawan lama, lepas dari dunia pekerjaan). e. Spiritual Sangat dekat dengan Allah Swt dan siap mati. Kegagalan pada fase ini akan membuat individu takut sakit saat mati dan siksa setelah kematian. Dari pemaparan perkembangan manusia di atas, dapat diketahui bahwa prinsip perkembangan psikologi arus utama mirip dengan psikologi Islam, yaitu apabila tugas perkembangan individu pada salah satu tahap perkembangan tidak tercapai, maka pada tahapan perkembangan berikutnya akan mengalami keterlambatan atau hambatan. Psikologi arus utama meyakini bahwa apabila individu tidak lulus tugas-tugas perkembangan pada salah satu tahapan perkembangannya, maka individu tersebut akan mengalami hambatan pada tahapan perkembangan berikutnya. Apabila pada tahapan perkembangan berikutnya individu tidak memperoleh perhatian dan penanganan untuk mengejar ketertinggalan dari tahapan perkembangan sebelumnya, maka beban tugas perkembangan individu akan makin berat untuk dicapai ke depannya. Dengan demikian individu berpotensi mengalami hambatan atau masalah dalam perkembangan kognitif, emosi, soial, dan moralnya untuk jangka panjang. Prinsip perkembangan psikologi Islam memiliki kemiripan dengan psikologi arus utama, namun terdapat satu perbedaan yang sangat signifikan yaitu pada paradigma psikologi Islam yang berparadigma tauhid. Dengan paradigma tauhid, psikologi Islam memandang bahwa setiap manusia memiliki fitrah yang tidak akan berubah yang telah diciptakan Allah Swt untuk manusia. Fitrah yang paling mendasar dan paling penting pada individu adalah fitrah (naluri) beragama, yaitu sejak lahir manusia telah memiliki bawaan tauhid, mengenal dan mengesakan Allah


Perkembangan Hidup Manusia Perspektif Psikologi Islam 129 Swt. Paradigma tauhid ini akan memengaruhi paradigma perkembangan manusia dalam psikologi Islam. Sebagaimana perkembangan manusia menurut psikologi arus utama, psikologi Islam juga memandang bahwa tidak lulusnya tugas-tugas perkembangan individu pada tahap perkembangan akan memengaruhi perkembangan individu pada tahap perkembangan selanjutnya. Dengan demikian, individu berpotensi mengalami hambatan atau masalah perkembangan aspek psikologi lainnya pada jangka panjang. Akan tetapi, dalam paradigma psikologi Islam, hambatan atau masalah pada tahapan perkembangan tertentu tidak bersifat definitif atau menetap sebagai kegagalan, karena dalam (psikologi) Islam meyakini bahwa suatu keadaan dapat berubah apabila individu memperoleh hidayah (petunjuk) ke arah perbaikan dirinya terhadap Allah Swt dan sesamanya. Manifestasi dari diperolehnya hidayah tersebut adalah individu akan melakukan banyak cara untuk menyucikan dirinya dari dosa, adanya mujahadah (semangat) dan upaya yang berkelanjutan untuk memperbaiki hubungannya dengan Allah Swt dan sesamanya, serta menutupi keburukan-keburukannya di masa lalu dengan kebaikan-kebaikan. Hal ini mengandung pengertian bahwa tidak ada kata terlambat untuk bertaubat dan memperbaiki diri dalam Islam kecuali saat roh sudah sampai di kerongkongan (sesaat menjelang kematian). Apabila proses penyucian diri ini dilakukan individu, maka sangat mungkin individu akan memperoleh petunjuk Allah Swt yang akan mengantarkannya untuk memahami hakikat sesuatu dan berperilaku yang diridhai Allah Swt sebagai indikator utama keberhasilan hidup di dunia. Tidak sedikit pengalaman para lansia yang dahulunya tidak beriman, ataupun beriman tapi tidak memahami hakikat hidup sehingga mengalami banyak masalah, namun lansia tersebut mendapatkan hidayah. Dengan diperolehnya hidayah, lansia tersebut melakukan upaya penyucian diri (bertaubat) dan memperbaiki diri. Lantas pada akhir hayatnya lansia tersebut memperoleh khusnul khotimah. Hal ini pernah dialami oleh seorang lansia pada masa Rasulullah dalam riwayat berikut ini: Dari Makhul rahimahulloh, ia bercerita bahwa seorang tua renta yang kedua alisnya menutupi kedua matanya datang dan berkata, “wahai Rasulullah! Ada seorang laki-laki yang telah berkhianat dan durhaka. Ia tidak membiarkan satu kebutuhanpun, tapi ia pasti akan cepat-cepat mengambilnya dengan tangan kanannya. Jikalau dosa-dosanya dibagikan kepada seluruh penduduk bumi tentulah dapat membinasakan mereka. Masih adakah taubat baginya?” Maka


130 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran nabi bersabda, “apakah engkau sudah masuk Islam?” Ia menjawab, “adapun saya, saya bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Maka Nabi saw bersabda, “sesungguhnya Allah mengampunimu selama kamu seperti itu dan mengganti keburukan-keburukanmu dengan kebaikan-kebaikan.” Orang tua tadi berkata, “wahai Rasulullah, juga pengkhianatan dan kedurhakaan saya?” Beliau bersabda, “juga pengkhianatan dan kedurhakaanmu.” Maka pergilah laki-laki itu sambil bertakbir dan bertahlil” (Tafsir Ibnu Katsir). Keterangan: Ia tidak membiarkan satu kebutuhan pun, tapi ia pasti cepat-cepat mengambilnya dengan tangan kanannya, maksudnya: ia senantiasa memenuhi segala kebutuhan nafsunya, syahwat, ataupun maksiat, tanpa menyisakan sedikitpun. (Al Faiq fi Ghairibil-Hadis). Dengan demikian, paradigma psikologi Islam mengenai perkembangan manusia merupakan paradigma yang positif. Sebagaimana yang diyakini dalam Islam adalah bahwa manusia diberi kesempatan oleh Allah Swt untuk terus berproses untuk semakin dekat kepada-Nya dan untuk memperbaiki dirinya. C. Relasi Manusia Sebagai salah satu entitas di bumi yang Allah Swt ciptakan ini, kita menyadari bahwa kita hidup berdampingan dengan makhluk Allah Swt yang lainnya. Allah Swt mengajarkan kepada kita bagaimana peran dan cara hubungan kita dengan keberadaan makhluk Allah Swt lainnya. Hal ini bertujuan agar perjalanan kehidupan manusia akan selamat di dunia dan akhirat. Adapun relasi manusia di dunia ini adalah dengan Allah Swt dan Rasulullah saw, diri kita sendiri, makhluk gaib, alam semesta (baik yang hidup maupun yang mati) serta dengan manusia lainnya (baik kepada sesama orang beriman dan yang tidak beriman). Berikut adalah beberapa cara berhubungan dengan semua entitas di dunia ini: a. Vertikal 1. Mempunyai pengetahuan cara menjalin hubungan dengan Allah Swt. 2. Memiliki kemampuan untuk melakukan ibadah mahdhah kepada Allah. 3. Memiliki kemampuan untuk melakukan ibadah ghairu mahdhah. 4. Memiliki pengalaman puncak saat/sesudah berhubungan dengan Allah Swt.


Perkembangan Hidup Manusia Perspektif Psikologi Islam 131 b. Tugas Manusia Horisontal 1. Memiliki kesadaran tentang tanggung jawab terhadap semua makhluk. 2. Objek relasi: Sesama manusia, alam fisik. 3. Memiliki wawasan atau pengetahuan yang memadai tentang makhluk hidup. 4. Objek relasi : Sesama manusia, alam fisik. 5. Memiliki pengetahuan dan ketrampilan teknis dalam bidang tertentu. 6. Memiliki kemampuan memahami diri sendiri. 7. Memelihara dan mengembangkan kekuatan dan kesehatan fisik. 8. Memiliki kemampuan mengontrol dan mengembangkan diri sendiri. 9. Objek relasi: diri sendiri. 10. Memiliki kemampuan menjalin relasi dengan sesama manusia. 11. Objek relasi: Manusia Lain 12. Memiliki kemampuan menjalin relasi dengan makhluk fisik lain. 13. Objek relasi: Alam Fisik. 14. Membebaskan diri dari pengaruh makhluk ghaib. 15. Objek relasi: Alam Gaib. Daftar Pustaka Hurlock, E. B. (2004). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga Mujib, A. (2007). Kepribadian dalam Psikologi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada Nashori, F. (2003). Potensi-potensi Manusia: Seri Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Purwakania, H. A. B. (2008). Psikologi Perkembangan Islami. Jakarta: PT. Raja Grafindo


Psikologi Islam dalam Bidang Pendidikan 133 PSIKOLOGI ISLAM DALAM BIDANG PENDIDIKAN “Pelajarilah Ilmu, sebab mencari ilmu karena Allah adalah kebaikan, menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya adalah tasbih, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya adalah sedekah dan membelanjakan hartanya kepada ahlinya adalah qurbah” - Mu’adz bin Jabal r.a - Capaian pembelajaran Bab ini mengulas isu-isu terkait psikologi pendidikan dengan perspektif Islam. Melalui pembelajaran pada bab ini diharapkan: 1. Mahasiswa mampu menjelaskan perbedaan paradigma yang melatarbelakangi kelahiran psikologi pendidikan, yaitu antara Islam dan Barat. 2. Mahasiswa mampu menganalisis sebab-sebab perbedaan paradigma yang melatarbelakangi kelahiran psikologi pendidikan, yaitu antara Islam dan Barat. 3. Mahasiswa mampu menjelaskan perbedaan pembentukan pengetahuan pada manusia, yaitu antara konsep Islam dengan rasionalisme dan empirisme. 4. Mahasiswa mampu menjelaskan terjadinya proses kognisi dan peran pentingnya dalam Islam. A. Urgensi pendidikan Tidak dapat dipungkiri, pendidikan memiliki peran vital dalam menentukan arah peradaban. Imam Tirmidzi meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad menyebutkan kunci sukses hidup di dunia maupun akhirat adalah dengan modalitas ilmu, dan tentu saja ilmu tidak dapat diperoleh tanpa adanya proses pendidikan. Sahabat nabi, Muadz bin Jabal, juga menguatkan peran penting pendidikan, yaitu Allah akan mengangkat bangsa-bangsa lantaran ilmu (Al Ghazali, 2002). Untuk itulah kita dapati dalam peradaban bangsa manapun pendidikan berperan penting. Umat Islam sebagai suatu bagian komunitas global, diakui memiliki kontribusi yang penting bagi peradaban manusia. Kita mengenal dalam dunia medis nama Abu Bakar Ar Razi yang dipandang sebagai ilmuwan paling besar sejarah kedokteran


134 Psikologi Islam dari Konsep Hingga Pengukuran (Sirjani, 2009). Begitu pula Al-Haytham sebagai peletak ilmu optik dengan metode eksperimen yang belum dikenal Eropa pada masanya serta para pakar sains lain dari dunia Islam. Contoh lain, Imam Ghazali selain dikenal sebagai ahli hukum Islam dan filsafat, beliau juga adalah praktisi sekaligus pemikir dalam dunia pendidikan. Tidak kalah penting, peradaban Islam telah menyuguhkan model institusi pendidikan tinggi jauh sebelum Eropa mengenal konsep universitas. Kelahiran universitas-universitas di Eropa pertama kali muncul adalah pada paruh kedua abad ke-12, seperti Universitas Cambridge tahun 1209 (Nakosteen, 2003). Guinness book of record mencatat bahwa universitas paling tua yang masih berdiri hingga kini ada di belahan dunia Islam, yaitu Universitas Karowiyun di kota Fez, Maroko yang didirikan pada tahun 859 M (http://www.guinnessworldrecords.com/worldrecords/oldest-university). Ini menunjukkan tradisi keilmuan telah lama menjadi perhatian masyarakat Islam terdahulu, sementara di belahan dunia lain (Eropa) masih mengalami abad kegelapan dengan sifat ortodoksi gereja. Pengembangan sains dalam dunia Islam menarik untuk dikaji. Bukan hanya pada hasil kreasi inovatif yang beragam, melainkan juga sosok pribadi saintis itu sendiri. Para ilmuwan muslim tersebut tidak hanya dikenal ahli dalam satu bidang tertentu, tetapi bahkan di beberapa bidang sekaligus (disebut dengan istilah polymath). Misalkan Ibnu Sina, tidak hanya ahli dalam dunia kedokteran, tetapi juga pada saat yang sama beliau adalah ahli hukum Islam dan juga filsafat. Contoh lain kita mengenal nama besar Al-Biruni yang oleh ahli sejarah George Sarton disebut abad ke-11 adalah era Al-Biruni sebagai bentuk pengakuan signifikansi pengaruh pemikirannya (Akmal, 2008). Al-Biruni yang dikenal di dunia barat sebagai Aliboron, memiliki bidang keahlian yang banyak, yaitu fisika, antropologi, psikologi, astronomi, kimia, sejarah, geografi, geodesi, geologi, matematika, farmasi, filsafat, dan sekaligus sebagai ahli hukum Islam (https://en.wikipedia.org/wiki/Al-Biruni). Lebih dari itu, ciri mendasar yang membedakan identitas sains yang dikembangkan oleh ilmuwan muslim adalah keterpaduan antara rasio dan agama. Suatu capaian yang hampir mustahil dilakukan dalam tradisi keilmuwan barat yang diwarnai dengan konflik sains vs agama. Perseteruan agama melawan sains tersebut terlihat jelas dalam pemikiran tokoh psikologi berpengaruh, Sigmund Freud. Ia menegaskan bahwa agama hanyalah penyakit syaraf yang akan mengganggu manusia sedunia (Pals, 2001). Satire Freud akan agama tentu berdampak dalam pengembangan sains, di mana bagi Freud ia meyakini bahwa jalan menuju


Psikologi Islam dalam Bidang Pendidikan 135 pengetahuan bukanlah agama, melainkan hanya karya ilmiah (Armas, 2005). Jamaknya saintis muslim pada abad pertengahan yang memberikan pengaruh pada pengembangan sains hari ini, mencerminkan progresifitas pendidikan pada masanya. Jika hari ini ahli-ahli psikologi pendidikan meyakini proses belajar mengajar hanya akan efektif jika dipandu oleh hasil-hasil riset dalam pendidikan, lalu bagaimanakah praktek pada masa Islam terdahulu? Sementara kebanyakan ilmuwan barat menganggap metode ilmiah berbasis eksperimen barulah muncul setelah cetusan ide Francis Bacon, jauh setelah periode kemunculan para ilmuwan muslim. Lalu jika tidak dipandang menggunakan riset ilmiah, panduan apakah yang digunakan para ilmuwan muslim tersebut sehingga mampu melejitkan potensi dirinya? Adakah para ilmuwan muslim tersebut menggunakan ‘psikologi’ dalam proses belajar-mengajar. Oleh karena itulah, menjadi penting hari ini kita menggali khasanah Islam terutama dalam ranah pendidikan, mencari tahu bagaimana formula dan praktek edukasi pada masa Islam memimpin peradaban pada masa lalu. Termasuk dalam hal ini adalah pemikiran dan praktek ‘psikologi’ dalam proses pendidikan pada masa tersebut. B. Tauhid Sebagai Paradigma Psikologi sebagai disiplin ilmu, telah berdiferensiasi dalam upaya menjawab persoalan manusia. Psikologi tidak dibiarkan dalam kondisi umum, melainkan beradaptasi menjadi kajian spesifik dalam beragam bidang kehidupan. Tidak terkecuali dalam dunia pendidikan, psikologi telah hadir memberikan respon atas persoalan yang muncul, baik dalam tataran teoretis maupun praktis. Santrock (2004) mendefinisikan bahwa psikologi pendidikan merupakan cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran & pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Sebagai disiplin ilmu sosial, ia masih dan terus berkembang mengikuti dinamika manusia. Pada awalnya, psikologi pendidikan kuat dengan citra sebagai panduan sekolah. Kemudian pada tahun 1940-1950-an, psikologi pendidikan dominan mengkaji perbedaan individu, asesemen, dan perilaku belajar. Seiring mulai bangkitnya aliran kognitif, fokus psikologi pendidikan pada era 60 dan 70-an mulai bergeser ke arah perkembangan kognitif dan memori (Woolfolk, 2009). Sebagai bagian dari ilmu psikologi, psikologi pendidikan tidak bisa terlepas dari ‘rahim’ yang telah melahirkan psikologi, yaitu empirisme, materialisme, dan


136 Psikologi Islam dari Konsep Hingga Pengukuran positivisme (Schultz, 2008). Nilai-nilai empirisme, materialisme dan positivisme tersebut pada intinya mengarahkan para pencari pengetahuan (kebenaran) untuk melepaskan diri dari otoritas agama yang dipandang tidak ilmiah, beralih menuju rasio dan pengalaman empiris saja. Meskipun ada sebagian ahli yang mencoba tidak melepaskan baju keimanannya ketika mencari pengetahuan, tetap saja peran agama terpisahkan kalau tidak bersifat subordinat. Artinya, ia tidak dapat dilepaskan dari milieu yang membentuk pengalaman manusia barat yang berdimensi budaya Greco-Yudeo-Kristen (Thoha, 2005). Akhirnya jalan tengah yang digunakan adalah pemisahan sains dan agama, yakni prinsip sekularisme (Husaini, 2007). Oleh karena itulah, mengkaji psikologi pendidikan tidak boleh hanya berhenti pada tataran teknis, melainkan perlu melihat hingga pondasi keilmuan paling dalam yang menopangnya. Agar kita tidak bias dengan nilai-nilai sekularisme yang dikandungnya. Berbeda dengan itu, Al-Faruqi (2003) menyebutkan bahwa intisari peradaban dalam Islam adalah prinsip tauhid, yaitu keyakinan dan kesaksian bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah. Keyakinan ini memengaruhi dan menentukan isi maupun bentuk peradaban Islam, termasuk dalam hal ini adalah pendidikan. Paradigma tauhid yang menyatukan dunia (sains) dan agama, menjadi landasan pembentukan dan pengembangan pendidikan dalam Islam. Wahyu yang pertama kali turun telah jelas menyatakan visi tauhid tersebut. Allah berfirman: “Bacalah, dengan menyebut nama Tuhan-mu yang telah menciptakan” (QS. Al-Alaq: 1). Shihab (2005) menjelaskan ayat tersebut tidak hanya merupakan perintah membaca baik teks maupun telaah terhadap alam, diri sendiri, dan masyarakat, melainkan juga dibarengi pengakuan Allah sebagai penciptanya. Bahkan Imam Al-Ghazali (2002) menegaskan berdasarkan pernyataan nabi, hakikat pencarian ilmu tidak lain adalah untuk mengenal Penciptanya. Nabi bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah petunjuknya, maka ia akan bertambah jauh dari Allah.” Berdasarkan hal tersebut, pengembangan psikologi pendidikan tentu saja dilakukan dalam kerangka tauhid tersebut, yaitu menelaah perilaku dan proses mental manusia dalam ranah pendidikan dengan tanpa menanggalkan dan meninggalkan identitas individu sebagai ciptaan-Nya. Oleh karena itu, secara umum prinsip tauhid harus hadir dalam telaah psikologi pendidikan. Manusia tidak hanya dipandang sebagai materi belaka, tetapi juga memiliki fitrah agama yang butuh dikembangkan dan dijaga.


Psikologi Islam dalam Bidang Pendidikan 137 Dengan demikian jika kita sederhanakan, secara umum ada tiga paradigma dalam mengembangkan pendidikan, jika dilihat dari relasi agama dan ilmu. Pertama, paradigma yang menegasikan sama sekali Tuhan (agama), yaitu ateismematerialisme. Dunia (sains) dalam hal ini hanyalah semata wujud materi, tidak ada spiritualitas. Kedua, paradigma yang masih meyakini keberadaan Tuhan sebagai pencipta, tetapi pada saat yang sama menolak campur tangan Tuhan (agama) dalam ranah publik seperti pendidikan, ekonomi, sosial-budaya, maupun politik, yaitu sekularisme. Sains dan agama dalam hal ini dipandang berada pada dunia yang terpisah. Ketiga, paradigma yang tidak hanya meyakini keberadaan Al-Khaliq, tetapi juga tunduk mengikuti segala konsekuensi keimanan terhadap Tuhan, baik dalam konteks privat maupun publik, yaitu tauhid. Dunia (termasuk sains) dan agama bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan kesatuan. Ayat-ayat tercipta pada alam, dengan berbagai hukum-hukum yang dilahirkannya, sejalan dengan ayat-ayat yang tertulis pada lembaran wahyu. Perbedaan paradigma tentu saja akan berdampak pada cetakan peradaban yang dihasilkan. Meskipun paradigma ateisme dan sekularisme berbeda, tetapi pada tataran subtansi pada dasarnya sama, khususnya dalam menyikapi agama ketika ilmuwan mencari pengetahuan. Keduanya sepakat untuk meninggalkan dan menanggalkan otoritas agama dalam pencarian kebenaran sains. Semangat positivisme hanya menganggap peran agama sebagai bagian perkembangan masyarakat yang masih anak-anak. Sikap kebanyakan ilmuwan barat yang berjarak, kalau bukan memusuhi agama, dipandang wajar jika kita lihat secara sosio-historis. Agama menurut keyakinan dan pengalaman Eropa, dituduh sebagai penyebab kegagalan peradaban yang menyisakan trauma sejarah. Husaini (2007) menegaskan ada tiga alasan mendasar mengapa Eropa pada akhirnya mengambil jalan sekularisme. Pertama, adanya sejarah konflik gereja dan pemikir. Pada abad pertengahan yang dikenal dengan masa kegelapan, bukan hanya terjadi konflik Katholik dan Kristen, tetapi juga gereja dengan para filsuf maupun pemikir Eropa. Otoritas gereja yang mutlak, menyelesaikan perbedaan itu dengan ancaman atas nama Tuhan. Kasus Copernicus dan Galileo yang menabrak keyakinan gereja dengan teori heliosentrisnya, mewakili wajah kelam perseteruan agama dan sains di Eropa. Trauma yang mendalam membekas khususnya dengan adanya kekuasan mutlak gereja untuk menghukum orang-orang yang dipandang heretic (keluar dari agama),


138 Psikologi Islam dari Konsep Hingga Pengukuran yaitu adanya mahkamah inquisisi. Banyak korban yang mati dengan cara sadis melalui vonis mahkamah tersebut. Kedua, adanya masalah otentisitas Bible. Sejak awal hingga kini, para peneliti Bible menemukan kontradiksi dan kehilangan otentisitas Bible. Kitab suci merupakan dasar membangun keyakinan agama. Jika keberadaannya masih diperdebatkan, tentu saja menjadi terbuka terjadinya perbedaan atau lebih tepatnya pertentangan antar satu naskah Bible dengan yang lain. Sebagai contoh, hingga kini terdapat 5000 manuskrip Bible perjanjian baru dalam bahasa Yunani yang berbeda satu sama lain. Padahal Yesus sendiri tidak berbahasa Yunani, melainkan Hebrew Kuno yang sudah punah. Sehingga wajar para ahli Bible menyebut bahwa Bible lebih merupakan tulisan orang-orang yang mendapatkan inspirasi dari Tuhan, bukan wahyu. Ketiga, adanya problem teologis dalam ajaran Masehi. Bukan hanya kitab suci yang dipersoalkan, tetapi bahkan jantung dari agama itu sendiri, yaitu konsep ketuhanan Yesus. Apakah ia manusia atau Tuhan? Hal ini terlihat jelas dari ajaran Trinitas yang meyakini Yesus bukan hanya manusia, tetapi bahkan Tuhan itu sendiri yang menjelma. Keyakinan tersebut baru muncul setelah terjadinya Konsili di Nicea tahun 325 M yang disponsori oleh kaisar Romawi saat itu, yaitu Constantine. Sejak itulah, gereja mengadopsi teologi yang ‘resmi’ yaitu konsep trinitas. Selain itu juga ditetapkan Natal tanggal 25 Desember dari sebelumnya 6 Januari dan juga ditetapkan kota suci orang Kristen adalah Roma. Berdasarkan pengalaman masyarakat Eropa tersebut, kita bisa memahami mengapa pada akhirnya agama disingkirkan, baik dalam ranah publik secara umum, maupun dalam semesta pembicaraan sains. Sekularisme dipandang sebagai jalan tengah mengakhiri abad kegelapan Eropa. Oleh karena itu, adalah suatu hal yang aneh jika kita memaksakan diri mengambil paradigma sekular dalam pengembangan pendidikan. Mengingat konflik agama dan sains tersebut khas pengalaman Eropa, dan justru sains dalam Islam berjalan beriringan dengan harmoni. C. Terbentuknya Pengetahuan Awal pada Manusia Para ahli psikologi pendidikan umumnya meyakini, sebagaimana kebanyakan pemikir barat, gagasan belajar yang pada saat ini menjadi inti kajian psikologi


Psikologi Islam dalam Bidang Pendidikan 139 pendidikan, berasal dari warisan ide pada masa filosof Yunani Kuno. Schunk (2012) menyebutkan, konsep dasar belajar digali dari filsafat epistemologi, yaitu menjawab pertanyaan dari mana pengetahuan terbentuk atau diperoleh? Schunk (2012) menyederhanakan secara filosofi pertanyaan tersebut dijawab oleh dua aliran filsafat, yaitu rasionalisme dan empirisme. Plato mewakili ujung mata rantai aliran rasionalisme, sedangkan Aristoteles menjadi ujung mata rantai aliran empirisme. Secara ringkas, rasionalisme meyakini bahwa sumber pengetahuan adalah ide, sesuatu yang ada dalam pikiran manusia sendiri. Sebaliknya, empirisme meyakini bahwa sumber pengetahuan bukanlah ide itu sendiri, melainkan adalah pengalaman, yang merupakan dunia luar. Bukan dalam pikiran manusia. Sebab ide tidak akan ada tanpa adanya dunia luar. Perdebatan tersebut memang tidak berujung. Layaknya kita bertanya persoalan ayam dan telur, manakah yang muncul lebih dulu di antara keduanya? Menarik jika kita mencermati apa yang telah Allah sampaikan dalam Al-Qur’an. Sebenarnya jawaban itu mudah dijumpai di dalam wahyu yang sudah ada sejak 14 abad silam. Namun sayang, kesombongan intelektual manusia yang lebih memercayai dan yakin dengan pikiran sendiri daripada kalam Tuhan telah membutakan dirinya dari informasi berharga tersebut. Pengetahuan awal pada anak terbentuk melalui informasi yang diberikan orang tua atau orang-orang di sekitarnya. Orang tua tanpa perlu diperintahkan, secara alami mengajarkan pada anaknya nama-nama benda atau orang yang dilihatnya. Tanpa terasa kemudian, anak telah tumbuh dengan begitu banyak kosa kata yang membentuk bangunan informasi akan dunia, dan tentu saja adalah pengetahuan itu sendiri. Ada dunia materi yang berada di luar kepala anak, tetapi ia menjadi tidak berarti tanpa bantuan orang dewasa di sekitarnya untuk mengejanya, memberi nama dan makna. Ide di sini muncul dari informasi yang diwariskan oleh orang-orang di sekitar anak. Bagaimana dengan orang tua? Dari mana mereka mendapatkan informasi tersebut? Tentu berasal dari orang tuanya juga, terus informasi ini bergulir secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Pada akhirnya, kita pasti akan bertanya dari mana moyang manusia yang pertama belajar akan semua informasi itu? Apakah dengan eksperimen sebagaimana kaum empiris mengira? Atau dengan spekulasi akal pikiran sebagaimana kaum rasionalis menduga? Di sinilah para filosof berspekulasi, menimbang jawaban dengan hasil yang bersifat kemungkinan.


140 Psikologi Islam dari Konsep Hingga Pengukuran Sebenarnya pertanyaan epistemologi: dari mana pengetahuan diperoleh, menjadi mudah terjawab ketika kita mau menundukkan akal kita kepada sumber yang agung, yaitu wahyu. Al-Qur’an telah memberitakan kepada manusia, bagaimana Allah mengajarkan manusia pengetahuan. Tetapi tentu saja, kebanyakan para ahli yang mengidap positivisme ilmu akan menolak wahyu. Bagi mereka, wahyu bukanlah jawaban orang yang sudah dewasa, tetapi ide bagi anak-anak yang belum cukup matang pemikirannya, sebagaimana Comte membagi tahapan perkembangan masyarakat dari metafisik hingga positivistik. Allah sebagai Al-Khaliq atas makhluk, yang telah menjadi penyebab pengetahuan manusia terbentuk. Al-Qur’an telah menceritakan sejak 14 abad silam dalam surat Al-‘Alaq ayat 1-5: َ م َّ ل َ ِي ع َّ ُ٣ ال َم ر ْ ك َْ َ ال ُّك ب َ َر و ْ أ َ ر ْ ٍ ٢ اق ق َ ل َ ْ ع َ ِ من َ ان ِنس ْ َ ال ق َ ل َ َ ١ خ ق َ ل َ ِي خ َّ َ ال ِك ّ ب َ ِم ر ْ ِاس ب ْ أ َ ر ْ اق ٥ْ م َ ل ْ ع َ ْ ي م َ َا ل َ م َ ان ِنس ْ َ ال م َّ ل َ م ِ٤ ع َ ل َ ق ْ ِال ب “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan (1) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah (3) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (4) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5) Ayat yang mulia tersebut memberitakan kepada kita kesadaran akan penciptaan diri manusia, dan disusul kemudian kesadaran akan siapa yang pada hakikatnya telah mengajarkan ilmu maupun pengetahuan kepada manusia, yaitu Allah. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa selain kesadaran penciptaan manusia, Allah menjelaskan proses pengajaran itu dilakukan melalui media tulisan atau lesan (Ar Rifa’i, 2000). Begitu pula Shihab (2002) menjelaskan berdasarkan ayat tersebut, Allah mengajarkan pengetahuan kepada manusia melalui dua bentuk, yaitu tidak langsung dan secara langsung. Bentuk tidak langsung adalah melalui pena, yaitu tulisan yang harus dibaca manusia. Umumnya manusia, selain nabi dan rasul, mengalami proses belajar demikian. Tidak menerima langsung dari Tuhan. Nampaknya, model pembentukan pengetahuan inilah yang memicu perdebatan di kalangan filsuf, yaitu apakah pengetahuan lebih dulu berasal dari ide ataukah realitas empirik. Adapun bentuk yang langsung adalah tanpa melalui perantara


Psikologi Islam dalam Bidang Pendidikan 141 alat, yang disebut oleh Shihab (2002) dengan istilah Ilmu Laduni. Gambar 1. Skema pembentukan pengetahuan melalui perantara Model pengajaran pengetahuan yang langsung dari Allah, juga dipertegas dalam ayat lain. Sebagaimana pengetahuan terbentuk pada manusia pertama, yaitu Nabi Adam a.s secara langsung tanpa perantara pena. An Nabhani (2003) telah menjelaskan hal tersebut dengan dasar firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 31-33: ْ م ُ نت ُ ِن ك ءِ إ َ ُل ٰؤ َ َاءِ ه ْم س َ ِأ ُ ِون ب ِئ نب َ َ أ َال ق َ ةِ ف َ ِك ئ َ َل م ْ ََ ال ْ ع ُم َ ه َض ر َ َّ ع م ُ َا ث ه َُّ َ ك َاء ْم س َْ َ ال م َ َ آد م َّ ل َ َع و ٣١ َ َ ادِقِني ص “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!’” (QS. Al Baqarah: 31). َ ِكيم٣٢ ْ ُ ال لِيم َ ع ْ َ ال َنت َ أ َّك ِن َا ۖ إ ن َ ت ْ م َّ ل َ َا ع َّ م ِل َا إ َ َ ل م ْ َ ِ عل َ ل َك َان ْح ب ُ ُوا س َال ق “Mereka menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana’” (QS. Al Baqarah: 32).


Click to View FlipBook Version