The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Psikologi Islam Dari Konsep Hingga Pengukuran

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Kamaruddin S.Pd.I, 2024-05-23 09:57:04

Psikologi Islam Dari Konsep Hingga Pengukuran

Psikologi Islam Dari Konsep Hingga Pengukuran

42 Psikologi Islam dari Konsep Hingga Pengukuran Untuk dapat memaafkan, tidak bisa tidak manusia harus menggunakan dimensi kognitifnya, yaitu kemampuan berpikir. Dengan berpikir, orang akan sadar bahwa pemaafan memberikan keuntungan bagi manusia. Selanjutnya, dari dimensi afeksi, manusia akan merasakan kenikmatan memaafkan. 2. Perspektif Materialisme Perspektif materialisme (yang dipelopori Demokritos) hampir mirip dengan positivisme yang dipelopori oleh Auguste Comte. Aliran filsafat materialisme dan positivisme membatasi kenyataan sejati pada daerah ontis dunia anorganis (dunia materi). Segala sesuatu, kehidupan dikembalikan pada materi. Materi tunduk pada hukum-hukum tertentu sehingga kenyataan itu dipandang sebagai suatu mesin (mekanisme). Menurut Herbert Spencer (Wiramihardja, 2010), yang dapat kita ketahui hanya fenomena luar, meskipun melalui argumentasi kita dapat menduga apa yang tidak dapat diamati. Fenomena luar yang paling mungkin dipahami adalah perilaku lahir. Dilihat dari perspektif materialisme, segala sesuatu harus dilihat dari apa yang tampak atau dapat diamati (observable). Sebagai contoh, pemaafan adalah perilaku interpersonal dalam bentuk rekonsiliasi. Aliran materialisme akan mempertentangkan perilaku memaafkan dan perilaku membenci dan membalas yang juga dapat diamati. 3. Vitalisme Vitalisme adalah aliran filsafat yang mengharuskan daerah ontis dunia organis (alam hidup) yang memandang kehidupan sebagai kenyataan sejati satu-satunya. Vitalisme menolak materialism karena aliran filsafat yang disebut belakangan ini tidak memperhatikan totalitas, spontanitas, dan finalitas dunia organis (Wiramihardja, 2010). Menurut Schopenhauer, kita dapat mengenal neumenon melalui diri kita sendiri. Dorongan ialah hal tidak sadar, sedangkan yang menjadi hal sadar ialah kemauan. Untuk mencapai kebahagiaan orang harus meniadakan nafsunya, dan menerima kenyataan itu dan tidak melarikan diri dari kenyataan dengan cara meniadakan dorongan hidup. Nietzshe, yang merupakan Bapak Filsafat Vitalisme Moderen, mencitacitakan adanya ubermenchen (manusia sempurna, superman), yaitu manusia


Pardigma dan Pola Pengembangan Psikologi Islam 43 dengan dorongan hidup serta kemauan terhadap kekuasaan yang kuat yang tidak mengekor pada masa lalu (Wiramihardja, 2010). Dalam perspektif vitalisme, segala hal tidak dipandang sebagai realitas yang penting, kecuali kalau di dalamnya semangat, terutama semangat meraih kekuasaan. Sebagai contoh, keimanan atau kebersyukuran mungkin memiliki eksistensi bila ia dapat membantu pencapaian dan pelanggengan kekuasaan. Di antara tiga pandangan dalam ontologi, ontologi psikologi Islam paling dekat dengan perspektif idealisme. Sekalipun demikian, ontologi psikologi Islam juga mencakup aspek materi dan semangat. Sebagaimana sudah disebutkan di awal, psikologi Islam (Islamic psychology) dapat diartikan suatu studi tentang jiwa dan perilaku manusia berdasarkan pandangan dunia Islam (Islamic world view). Dua kata kuncinya adalah jiwa dan perilaku. Jiwa sendiri adalah suatu substansi yang ada dalam diri manusia yang memiliki pengaruh terhadap perilaku. Perilaku sendiri dapat diartikan sebagai ekspresi jiwa, baik yang tampak dan tak tampak. Jiwa manusia terdiri atas roh, qalbu, akal, dan nafsu. Roh (al-ruh) adalah substansi yang ada dalam diri manusia yang memiliki keterkaitan langsung dengan Tuhan (juga dunia gaib pada umumnya). Perlu diingat bahwa roh-lah yang pertama kali diciptakan Tuhan sebelum Dia menciptakan raga manusia. Roh memiliki sifat suci nan abadi. Qalbu (al-qalb) atau al-fuad adalah komponen dalam diri manusia yang mempunyai kemampuan memahami realitas/kebenaran melalui cita rasa. Ia dapat membedakan yang baik dan buruk, mengetahui keadaan orang lain sampai ke keadaan batinnya, mampu menerima pengetahuan yang intuitif, menjadi sumber kekuatan dalam diri manusia, mampu memahami realitas dunia gaib. Oleh hadis Nabi, qalbu ditempatkan sebagai center (pusat) diri manusia. Akal adalah komponen yang ada dalam diri manusia yang memiliki kemampuan untuk menerima pengetahuan, menyimpan pengetahuan, mengolah pengetahuan, dan juga menghasilkan pengetahuan baru setelah memproses beragam pengetahuan itu. Nafsu adalah pendorong perilaku manusia untuk berbuat sesuatu yang menguntungkan manusia dan mencegah sesuatu yang merugikan manusia. Dengan nafsu orang melakukan upaya untuk memperoleh kehidupan yang lebih menyenangkan. Komponen-komponen jiwa manusia sebagaimana telah dijelaskan di atas dapat berada dalam keadaan berkembang atau tidak berkembang, yang akhirnya


44 Psikologi Islam dari Konsep Hingga Pengukuran dalam keadaan berfungsi atau tidak berfungsi. Qalbu manusia yang seharusnya memiliki kemampuan sebagaimana yang telah disebut, bisa saja dalam keadaan mandul. Penjelasan atas kemandulan qalbu sesungguhnya banyak diungkapkan dalam hadis Nabi maupun penjelasan para ulama. Sebuah hadis Nabi menunjukkan secara tegas bahwa kalau seseorang meninggalkan bekasan yang bersifat negatif dalam jiwanya (yang biasa disebut dosa), maka bekasan negatif itu akan berperan sebagai noda hitam yang bakal menutupi qalbu manusia. Akibatnya, qalbu manusia mengalami proses penurunan fungsi. Karena itu, mengapa seseorang tidak peka terhadap kenyataan dan kebenaran, atau tidak mudah memperoleh ide-ide kreatif, tidak lain adalah karena qalbunya tidak dalam keadaan berfungsi secara baik. Akal yang semestinya dapat memiliki fungsi menerima atau menyerap pengetahuan ternyata ada kalanya tidak dapat menjalankan perannya. Ada sebuah ungkapan yang menggelitik kita bahwa otak kita –manusia Indonesia—katanya paling mulus dibandingkan otak orang lain atau bangsa lain. Kalau otak bangsa lain penuh kerutan atau berjonjot-jonjot, bagian luar otak bangsa Indonesia dalam keadaan halus. Ini menunjukkan bahwa otak kita tidak difungsikan. Kalau otak tidak dilatih untuk menerima dan mengolah pengetahuan, maka kemampuannya untuk menerima pengetahuan tidak berkembang. Sebaliknya, kalau seseorang memfungsikan akalnya, maka si akal akan memiliki kemampuan untuk menerima, mengolah, dan menjadikan sesuatu yang baru atas berbagai informasi yang diperoleh atau dimiliki manusia. Nafsu juga memiliki kondisi berfungsi atau sebaliknya tidak berfungsi. Nafsu yang berfungsi akan menjadikan manusia penuh gairah dalam kehidupan. Dalam kondisi penuh gairah, ada banyak hal yang ingin dilakukan. Gairah untuk meraih kehidupan yang baik dan sejahtera. Gairah untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain yang dicintai membangkitkan kekuatan dalam diri manusia. Semangat untuk menunjukkan bahwa diri ini mampu dan dapat menjadi the best of the best menjadikan seseorang bekerja penuh semangat. Orang-orang Eropa (terutama Anglo-Saxon) berbondong-bondong dengan penuh gairah dan harapan ke negeri Impian (Amerika) sekitar abad 17-18, karena keinginan untuk memperoleh hidup yang lebih baik. Sebaliknya, nafsu atau pendorong itu bisa melemah. Orang tidak lagi memiliki semangat hidup. Mudah putus asa. Bahkan akhirnya bisa disetir oleh kekuatan lain (sesama manusia, jin/setan) untuk melakukan perusakan. Juga bunuh diri.


Pardigma dan Pola Pengembangan Psikologi Islam 45 Sebagai contoh, kreativitas melibatkan aspek-aspek jiwa/kepribadian manusia di atas. Seseorang yang memiliki semangat hidup untuk memperoleh kemajuan, kebaikan di masa depan, kesuksesan akan berjuang dengan menggunakan akalnya secara optimal. Dengan akalnya, ia dapat menunjukkan kemampuannya berpikir kreatif. Ide-ide kreatif ternyata bukan hanya karena seseorang berpikir, tapi karena Tuhan berkenan mengirimkan ide atau ilham kepada hati manusia. Bisa jadi, saat sadar maupun saat tidur melalui mimpi, seseorang memperoleh ide yang kreatif. B. Epistemologi Sebagaimana diketahui, epistemologi berbicara tentang cara mengetahui. Cara mengetahui sesuatu adalah dengan memahami pengertian dan aspek-aspeknya. Pandangan dunia Islam memercayai bahwa ada jalan empiris dan rasional untuk memahami manusia. Namun, psikologi Islam sepenuhnya memercayai wahyu (dalam hal ini Al-Qur’an dan Al-Hadis) sebagai sumber kebenaran tentang manusia. Di samping menempuh jalan rasional dan empiris dalam memahami manusia, psikologi Islam juga menggunakan jalan tekstual dari kitab suci sebagai paradigma utama dalam memahami makhluk yang berpotensi paling mulia ini. Sebagai sumber ilmu pengetahuan, kitab suci dapat dijadikan sebagai bahan untuk memahami manusia. Selain kitab suci itu sendiri, interpretasi dari para ulama atau ilmuwan muslim atas Al-Qur’an dan Al-Hadis juga dapat dipakai untuk merumuskan dasardasar psikologi Islam tentang manusia. Keyakinan. Penempatan kitab suci sebagai sumber ilmu pengetahuan didasari oleh keyakinan adanya kepastian kebenaran terhadap isi kitab suci. Dalam paradigma ilmu pengetahuan Islam, sebagaimana dikatakan Hanna Djumhana Bastaman (2012) dikenal apa yang disebut sebagai metode keyakinan (method of tenacity). Dalam metode keyakinan, seseorang meyakini kebenaran sesuatu tanpa keraguan apapun di dalamnya. Dalam metode ini, yang absah dijadikan sebagai sumber yang diyakini kebenarannya adalah wahyu Ilahi, khususnya Al-Qur’an dan Al-Hadis. Penempatan kitab suci atau wahyu Ilahi sebagai sumber kebenaran dan sumber pengetahuan berangkat dari keyakinan bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta (The Creator) kehidupan ini. Sebagai pencipta, Dia tentu mengetahui dan memahami seluk beluk diri dan makhluk ciptaan-Nya itu. Dia ungkapkan pengetahuan-Nya tentang manusia itu melalui kitab suci. Dengan metode yang menempatkan pentingnya kepastian ini, psikologi Islam


46 Psikologi Islam dari Konsep Hingga Pengukuran menolak penempatan skeptisisme sebagai dasar pembentukan ilmu. Skeptisisme merupakan dasar pembentukan ilmu pengetahuan barat pada umumnya. Skeptisisme dapat diartikan sebagai cara berpikir yang menekankan pentingnya keraguan akan segala sesuatu. Keraguan, menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas (1998) dalam Islam and The Philosophy of Science, adalah pergerakan antara dua hal yang saling bertentangan tanpa ada kecenderungan pada salah satunya. Cara berpikir ini menempatkan segala objek sebagai sesuatu yang layak diragukan kebenarannya. Dalam keadaan demikian, objek dibiarkan bergerak tanpa kepastian. Kepastian yang bersifat sementara dapat dicapai setelah diuji secara rasional dan empiris. Selanjutnya, kepastian sementara itu diragukan lagi. Apa yang dilakukan ahli-ahli psikologi Islam untuk menempatkan kitab suci sebagai sumber ilmu pengetahuan—dalam konteks ini psikologi—mendapat dukungan dari ilmuwan-ilmuwan barat masa kini, baik secara eksplisit maupun implisit. Pandangan eksplisit ini secara terang-terangan mendukung gagasan kitab suci sebagai dasar ilmu. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Paul Feyerabend dalam buku Against Method yang pada intinya berpandangan bahwa selayaknya terdapat penerimaan kitab suci sebagai dasar pembentukan ilmu. Dukungan implisit ditunjukkan sejumlah ilmuwan dengan cara menjadikan kitab suci sebagai sumber rujukan mereka. Diungkapkan oleh Nashori (2010) dalam Agenda Psikologi Islami bahwa beberapa ilmuwan psikologi modern tidak lagi malu-malu menjadikan kitab suci sebagai rujukan ilmu pengetahuan yang mereka rumuskan. Danah Zohar dan Ian Marshall (2000) dalam Spiritual Quotient, tidak ragu mengutip Bibel, Veda, Tao Te Ching, Kitab Suci Zen, dan sebagainya, walaupun disayangkan ia tidak memasukkan Al-Qur’an dan Al-Hadis. Bahkan, ilmuwan seperti Sigmund Freud (2001, 2002) dalam The Interpretation of Dream dan Introductory to Psychoanalysis juga tak ragu mengutip berbagai ayat dalam kitab suci, terutama Bibel dan Talmud, untuk menguatkan argumentasinya. Ahli psikologi Islam, Hanna Djumhana Bastaman (2012), menandaskan bahwa salah satu tantangan berat yang dihadapi ilmuwan muslim adalah menjadikan orang—terutama ilmuwan yang beragama Islam—memiliki keberanian menjadikan kitab suci—Al-Qur’an dan Al-Hadis—sebagai rujukan dalam memahami manusia. Dengan keyakinan terhadap kebenaran kitab suci, maka ilmuwan muslim telah memilih pegangan utama yang dapat diandalkan kepastiannya. Salah satu bagian terpenting adalah dengan ibadah. Dalam pandangan Islam,


Pardigma dan Pola Pengembangan Psikologi Islam 47 hati akan menjadi bening, bila seseorang melakukan upaya yang bersifat vertikal, di samping upaya yang bersifat horisontal. Upaya yang bersifat vertikal dilakukan dengan perbuatan baik kepada Allah ‘Azza wa jalla, baik yang berisi penghapusan yang buruk dan penambahan yang baik. Penghapusan sesuatu yang buruk dilakukan dengan istighfar dan pertaubatan. Penambahan yang baik dilakukan dengan memperbanyak doa, dzikir, salat sunnat di samping salat wajib, membaca kitab suci, dan seterusnya. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Yusdani. “Jika kita mengalami kebuntuan dalam menulis, kita salat Hajat atau Tahajjud, jadi menurut saya kebiasaan seperti itu, jadi kalau mencari inspirasi, jalan keluar dari kebuntuan.” Hal serupa terjadi pada Ibnu Sina. Ibnu Sina dikenal sangat kreatif. Beliau banyak memberikan saham terhadap dunia ilmu pengetahuan melalui penemuanpenemuan barunya yang kreatif, baik di bidang filsafat, geologi, kimia, kosmologi, sastra, politik, dan bahkan dalam bidang psikologi pernah menulis kitab an-Najat tentang kebahagiaan jiwa. Keahliannya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang jarang tertandingi ini ternyata ditopang oleh perilaku ibadahnya. Tentang hal ini, sebagaimana dikutip Arsyad (1992), ia sendiri pernah mengungkapkan: “Setiap aku menyangsikan suatu persoalan dan tidak mendapatkan batas pengertian yang benar aku senantiasa ke masjid melakukan salat, memohon kepada Tuhan hingga terbuka bagiku pemecahannya dengan mudah. Aku pulang ke rumah dan meletakkan lampu di hadapanku lalu terus membaca dan mengarang. Bila rasa kantuk mendesak atau badanku merasa sangat letih aku lalu minum secangkir minuman hingga timbul kembali kesegaranku, dan aku teruskan membaca lagi. Tetapi jika kantuk tidak tertahankan aku lalu tidur. Biasanya aku bermimpi tentang soal-soal yang belum selesai dalam pikiranku. Di dalam mimpi itu kebanyakan persoalan-persoalan menjadi terang masalahnya.” Apabila upaya-upaya di atas telah dilakukan, maka hati akan menjadi bening. Bila hati bening, maka seakan-akan tidak ada pembatas antara Allah dengan manusia. Dalam keadaan demikian, pengetahuan dari Allah mudah datangnya. Bila Allah ‘Azza wa jalla mengirimkan pengetahuan-Nya, ia siap untuk menerimanya. Dalam suatu dikatakan bahwa pada saat-saat tertentu Allah melimpahkan karunia (di antaranya ilmu/ide) kepada manusia. Disebutkan dalam kitab Al-Munqidz min


48 Psikologi Islam dari Konsep Hingga Pengukuran adh-Dhalal (Al-Ghazali, 1998) suatu hadis yang berbunyi: “Ada saat-saat tertentu bagi Tuhan untuk melimpahkan karunia-Nya. Bersiaplah kalian” (HR Ibnu Najjar dari Ibnu Umar). Agar hati yang bening dapat dicapai, maka disarankan untuk memperbanyak doa. Sebuah riset mutakhir yang dilakukan Subandi dan Hasanat (2000) menunjukkan bahwa doa-doa menghadirkan pengaruh bagi kehidupan manusia, baik doa yang dialamatkan pada diri sendiri maupun doa yang diarahkan kepada orang lain. Doa agar orang lain dapat menjadi pribadi yang berkembang kemampuan berpikirnya pernah disampaikan Muhammad saw kepada Abdullah ibnu Abbas. Dalam kenyataannya, Ibnu Abbas tumbuh kembang menjadi seorang ahli tafsir. Doa juga bisa diarahkan kepada diri sendiri. Lebih dari pengaruh autosugesti, doa juga memiliki peranan untuk menjolok turun karunia yang disediakan Allah pada manusia. Bila doa itu dilakukan lebih intensif, maka itu berarti usaha menjolok turun karunia tersebut juga semakin keras. Karenanya kerasnya usaha dalam bentuk doa insya Allah akan berbuah turunnya karunia. Salah satu bentuk karunia adalah kuatnya cahaya kepahaman dalam diri manusia. Manusia yang memiliki cahaya kepahaman cepat memperoleh pengetahuan dan pemahaman atas segala sesuatu. Allah juga mengirimkan ilhamnya kepada manusia lewat mimpi. Tidak semua mimpi dapat menjadi ilham. Hanya mimpi yang berkualitas yang berisi ilham. Pada dasarnya ketika seseorang tidur, jiwa seseorang berada dalam genggaman Allah. Dalam sebuah kisah diceritakan dialog Umar bin Khattab radhiyallahu anhu dan Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhahu. Umar berkata: “Ada orang bermimpi aneh sekali. Ia mimpi melihat sesuatu yang tidak terbayangkan olehnya dan mimpinya begitu jelas. Kemudian ia mimpi lagi namun ia tidak melihat apa-apa.” Ujar Ali: “Bisakah ini kuuraikan, wahai Amirul Mukminin? Allah berfirman: ‘Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai batas waktu yang ditentukan.’ Jadi, Allah lah yang mematikan jiwa seluruhnya. Dan apa yang terlihat dalam mimpi, sementara jiwa berada di sisi Allah di langit, ia adalah mimpi yang benar. Sedangkan apa yang terlihat dalam


Pardigma dan Pola Pengembangan Psikologi Islam 49 mimpi, sementara jiwa telah dikembalikan ke tubuh, ia adalah mimpi yang tidak benar.” Bila jiwa seseorang bersih dan Allah berkenan memberikan pengetahuan dan sebagian rahasia ini kepadanya, maka ia akan mendapatkan ilham melalui mimpinya itu. Sebaliknya, bila jiwa seseorang kotor, sementara Allah sesungguhnya berkenan menyampaikan pengetahuannya kepadanya, maka jiwa orang tersebut melakukan penolakan atas pengetahuan atau rahasia dari Allah. Orang ini tidak bisa mendapatkan mimpi yang benar yang di dalamnya berisi ilham. Kalaupun ia bermimpi, lebih banyak mimpinya itu dipengaruhi oleh kondisi tubuh dan jiwanya yang diselimuti oleh kegelisahan. Diungkapkan oleh Ibnu Sina, mimpi yang benar terjadi karena adanya kontak antara jiwa manusia dengan dunia malakut atau malaikat di waktu seseorang tidur. Dari mimpi tersebut diterima wahyu atau ilham. Sedangkan mimpi yang buruk timbul dari pengaruh perasaan-perasaan fisik. Orang yang hatinya bening memiliki kemampuan untuk memahami pesanpesan dari mimpi yang benar. Melalui mimpi seorang raja, Nabi Yusuf mengetahui apa yang bakal terjadi di negerinya dengan cara menafsirkan mimpi sang raja. Dalam Al-Qur’an Surat Yusuf (12) ayat 46-49 diungkapkan: “Yusuf, hai orang yang dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh (bulir) gandum yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar kami kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.” Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh ahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.” Untuk memperbesar kemungkinan mendapatkan mimpi yang benar, di samping membersihkan hati, juga perlu dilakukan persiapan mimpi yang bermutu. Persiapan mimpi yang bermutu antara lain dilakukan dengan cara menyadari


50 Psikologi Islam dari Konsep Hingga Pengukuran sepenuhnya bahwa ketika tidur, jiwanya digenggam Allah. Ia berdoa sebelum tidur untuk menyerahkan hidup dan matinya kepada Allah. Menjelang tidurnya, ia perlu membasahi tidurnya dengan kalimat-kalimat Allah. Insya Allah mimpi yang baik akan menjadi milik kita. Dari sana kita boleh berharap akan mendapatkan mimpimimpi yang bermuatan ilham. Pertama: pendengaran. Perlu ditambahkan bahwa kemampuan akal, kalbu, dan nafsu bekerja sangat dipengaruhi oleh indra, yaitu pendengaran, penglihatan, dan perabaan. Pertama, stimulasi pendengaran dicontohkan oleh ibunda Imam Syafii. Kita tahu Imam Syafii adalah orang besar dalam khazanah pemikiran Islam, khususnya pemikiran fikih. Sudah pasti kapasitas otaknya luar biasa. Ia memiliki kemampuan mengingat informasi hadis yang teramat banyak. Lebih dari itu, kemampuannya yang sangat menonjol adalah menganalisis dan mensintesis serta mengaplikasikan ajaran Islam sehingga akhirnya banyak ijtihad fikihnya yang bertahan lebih dari seribu tahun. Sedemikian kuatnya argumentasi yang dibangunnya, sehingga sebagaian besar umat Islam mendasarkan ibadah dan muammalahnya berdasarkan kitab fikih yang disusun Imam Syafii. Syafii yang hebat ini—di masa kecilnya—ternyata distimulasi pendengaran secara optimum oleh ibundanya. Stimulasi yang bersifat terus menerus adalah mendengar bacaan ayat suci Al-Qur’an dari ibundanya yang hafidhah. Kita tahu seorang hafidhah yang aktif biasanya menghabiskan 3-4 hari untuk mengkhatamkan Al-Qur’an. Rata-rata ibunda Imam Syafii membacakan untuk Syafii 8-10 juz sehari. Kita bisa bayangkan banyaknya stimulasi kognitif oleh ibundanya: 5-8 jam sehari memperoleh stimulasi yang bersifat aktif. Dalam situasi demikian, neuron-neuron dalam otak Syafii kecil bekerja secara aktif. Terjadi sambung menyambung antara neuron satu dengan yang lain sehingga menghasilkan wadah kognitif dan spiritualitas yang luar biasa. Memang demikianlah keadaannya. Beberapa tahun setelah banyak duduk di pangkuan ibundanya, Imam Syafii mulai belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an. Hari demi hari ia pelajari satu per satu ayat-ayat suci Al-Qur’an. Orang melihat betapa cerdas Imam Syafii. Karena wadah kognitifnya yang demikian besar, ia mampu memasukkan asupan informasi secara optimum. Pada usia 7


Pardigma dan Pola Pengembangan Psikologi Islam 51 tahun, ia telah menghafal seluruh isi Al-Qur’an. Sekali lagi: Luar Biasa! Dalam konteks kehidupan kita saat ini, kita juga semestinya memperkaya stimulasi pada anak dengan berbagai aktivitas. Memberinya nama yang baik, mengajaknya bicara, menyanyikan lagu indah dan optimistik, memperdengarkan cerita-cerita yang baik, ceramah-ceramah dan murottal, mengajak dan mendorongnya ikut acara keagamaan, dan sebagainya adalah upaya untuk mengaktifkan otak dan hati anak. Kita dipersilakan untuk mencari sendiri secara kreatif apa yang bisa diberikan pada anak, baik dalam bentuk mengarahkan, memberi feedback, melarang, dan sebagainya. Catatan yang terpenting adalah informasi yang diberikan bersifat positif dan tidak menjadikan anak takut untuk berkembang, seperti cerita yang mengerikan, cerita dengan tokoh jahat, dan sebagainya. Kedua: Penglihatan. Sekarang mari kita lihat apa yang ditunjukkan ayahanda William James Sydis terhadap putranya. Bill, nama panggilannya, adalah seorang ahli matematika yang luar biasa. Matematika sendiri adalah bidang ilmu yang “sulit”. Capaiannya di bidang matematika luar biasa. Ia menjadi doktor dalam ilmu matematika pada usia kurang dari 20 tahun. Lebih kurang dua tahun berikutnya ia telah menjadi guru besar dalam bidang yang sama. Apa yang menjadi rahasianya? Ayahanda Bill adalah seorang psikolog. Ia tahu bahwa si anak dapat berkembang otaknya bila memperoleh stimulasi, yang salah satu yang terpenting adalah stimulasi penglihatan. Si ayah memberikan stimulasi yang penuh warna warni di sekitar boks dan di ruangan di mana Bill biasa tinggal. Diberinya stimulasi warna merah jreng pada langit-langit kamar. Digantinya stimulasi itu beberapa waktu kemudian dengan warna hijau jreng, lalu warna biru, dan seterusnya. Hari berganti hari, minggu berganti minggu stimulasi terus berganti. Ternyata, wadah kognitif William James Sydis ini besar luar biasa. Kapasitas belajarnya luar biasa. Sel otaknya bercabang dan beranting. Dalam konteks kehidupan saat ini, anak-anak kita pun layak untuk mendapatkan stimulasi ini secara optimum. Kita dipersilakan melakukan cara kreatif untuk memberikan stimualasi penglihatan ini pada anak. Kita tahu bahwa anak yang sehat selalu menginginkan ini. Mereka ingin melihat dunia ini dengan bermilyar warna-warninya. Kalau kita penuhi kebutuhan mereka, kita berarti


52 Psikologi Islam dari Konsep Hingga Pengukuran memberinya kesempatan untuk memperbesar wadah kognitifnya. Ada cerita menarik dari seorang kenalan saya yang kebetulan seorang hakim. Suatu ketika ia mendapati anaknya mengambil uang yang disimpannya di lemari tanpa bilang. Ini diulanginya berkali-kali. Wah, ini perilaku tidak baik dan tak boleh berlanjut, kata sang ibu dalam hati. Maka, ia ajak naik sang anak ke mobil dan berhenti di pintu masuk sebuah penjara. Ia berkata kepada anaknya: apa kau ingin masuk ke sana? Kalau kau suka mengambil uang tanpa diizinkan pemiliknya, kau bisa dipenjara seperti mereka. Apa yang dilihat anak ini berkesan sepanjang kehidupannya. Berdasar cerita kenalan saya tadi, si anak tidak lagi mengambil uang tanpa izin. Cerita berikutnya adalah seorang ayah yang mendapati anaknya yang suka membantah. Setiap kali orangtua bicara ada saja alasan untuk menolak perintah sang ayah. Si ayah ingin memberi pelajaran kepada sang anak bahwa orangtua itu penting. Nasihat orangtua adalah sesuatu yang patut menjadi perhatian. Maka, sang orangtua mengajak anak naik motor dan berhentilah mereka di depan pemakaman. Si ayah berkata: Nak, kamu tahu tempat apa ini? Si anak menjawab: “Makam”. Si ayah meneruskan: “Apa yang akan kamu rasakan kalau ayah tiba-tiba meninggal dunia dan dikubur di sini?” Si anak tidak segera menjawab. Ia diam. Tetapi sejak saat itu, si anak tidak lagi membantah kepada nasihat dan perintah orangtuanya. Tentang pentingnya stimulasi penglihatan ini, para pendidik dan ahli pendidikan sangat menyadari pentingnya masalah ini. Sebagaimana diungkapkan oleh Zakiah Daradjat, perilaku yang mereka tunjukkan akan dijadikan anak sebagai rujukan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa perilaku anak dipengaruhi oleh penglihatan mereka (83 persen), pendengaran (11 persen), dan penciumanpencicipan-perabaan (6 persen). Apa yang dilakukan orangtua membekas ”seribu kali” lebih besar dibandingkan dengan kata-kata yang bertentangan dengan perilaku orangtua. Maka, dapat dikatakan di sini, keteladanan orangtua sangat penting. Masalah moralitas dan spiritualitas ini sangat penting didekati dengan stimulasi penglihatan atau keteladanan. Si anak akan mudah menjadi hamba yang suka beramal bila si orangtua mudah memberikan sebagian rezeki kepada pengemis jalanan, tetangga yang membutuhkan, masjid yang sedang dibangun, dan seterusnya. Si anak juga akan mudah melakukan perilaku bermoral bila orangtua juga: tidak sembarangan meletakkan kaki di meja, membuang sampah


Pardigma dan Pola Pengembangan Psikologi Islam 53 dengan cara melempar, membicarakan orang lain, dan seterusnya. Kata orang, kalau anak melihat yang baik belum tentu ia meniruanya. Tapi kalau jelek, ia jauh lebih mudah menirunya. Ketiga: Perabaan. Yang tak kalah pentingnya ketika berkomunikasi dengan orang lain adalah dengan menyentuh mereka. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, sebagaimana diungkapkan oleh seorang sahabat yang waktu kecil disentuh Nabi. ”Pada suatu hari aku tengah salat dhuhur bersama Nabi saw. Seusai salat beliau keluar menuju rumah keluarganya, aku pun mengikuti Nabi saw ke rumahnya. Aku melihat anak-anak menyambut beliau, maka beliau pun mengusap kedua pipi mereka satu per satu. Ketika mengetahui bahwa aku mengikutinya, Nabi saw pun mengusap pipiku, dan aku merasakan tangannya yang dingin dan tersebar harumnya tangan Nabi saw seolah-olah tangan beliau baru saja dikeluarkan dari tempat minyak wangi” (HR. Muslim, dalam Hafizh, 1997). C. Aksiologi Aksiologi berbicara hakikat pencapaian penilaian atas kebenaran, kebaikan, keindahan, dan kesucian. Itu wilayah etika. Aksiologi juga berbicara tentang keindahan. Itu adalah wilayah estetika. Pertama: Etika. Aksiologi—sebagaimana dijelaskan di depan—berbicara hakikat penilaian atas kebenaran, kebaikan, keindahan, dan kesucian. Dalam kajian ini aksiologi khusunya etika akan menilai apakah keikhlasan, kesabaran, kebersyukuran, pemaafan, kerendahatian itu sesuatu yang baik-buruk, benarsalah? Keikhlasan biasanya dipertentangan dengan riya’. Manusia semestinya mengelola dirinya sehingga tidak suka pamer. Pamer hanya memperbesar egosentrisme manusia. Kesabaran biasa dipertentangkan dengan keputusasaan. Manusia semestinya dapat menjalani kehidupannya sekalipun kenyataan hidup sangat berat untuk ditanggung. Keputusasaan hanya mengantarkan manusia kepada kehancuran. Kerendahatian biasa dipertentangkan dengan kesombongan. Manusia semestinya menjauhkan diri dari sifat-sifat sombong. Sewaktu kesombongan mendominasi diri, maka manusia sedang menyiapkan kehancurannya. Memaafkan biasanya dipertentangkan dengan balas dendam, konflik,


54 Psikologi Islam dari Konsep Hingga Pengukuran kekerasan, dan agresivitas. Manusia semestinya berusaha mengelakkan pola balas dendam. Sewaktu kejahatan terjadi, hanya satu tanggapan yang dapat mengalahkannya. Pembalasan dendam hanya akan melanggengkan kejahatan itu. Keadilan hanya akan menghukumnya. Kejahatan hanya akan dikalahkan oleh kebaikan bila pihak yang disakiti bersedia menyerapnya, memaafkannya, dan menolak untuk membiarkannya menyebar lebih jauh. Kedua: Estetika. Sebagaimana telah diungkapkan di depan, estetika berbicara tentang keindahan. Dalam perspektif estetika, keikhlasan, kesabaran, kerendahhatian, dan pemaafan dimaksudkan untuk menghidupkan harmony (keselarasan). Salah satu pola kaidah yang menentukan pola pergaulan dalam masyarakat Jawa adalah prinsip kerukunan. Prinsip kerukunan, yang menyatakan bahwa dalam segala situasi manusia hendaknya bersikap sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan konflik (Magnis-Suseno, 1999). Orang-orang Jawa individu dituntut agar bersedia menomorduakan bahkan kalau perlu melepaskan kepentingan-kepentingan pribadi demi kesepakatan bersama. Oleh karena itu, tindakan yang mengusahakan kepentingan pribadi tanpa memperhatikan persetujuan masyarakat, atau berusaha untuk maju sendiri tanpa mengikutsertakan kelompok, dinilai kurang baik (Magnis-Suseno, 1999). Masyarakat Jawa juga mempunyai kecenderungan untuk menghindarkan diri dari konflik dengan sesama. Mereka lebih baik narima dan ikhlas. Narima berarti menerima segala yang ada tanpa protes dan pemberontakan, sedangkan ikhlas berarti bersedia untuk melepaskan individualitas sendiri (Magnis-Suseno, 1999). Berkaitan dengan pengungkapan perasaan, orang-orang Jawa dituntut kemampuan untuk mengatakan hal-hal yang tidak enak secara tidak langsung. Orang Jawa dianggap sopan bila dapat menghindari keterusterangan secara serampangan (Magnis-Suseno, 1999). D. Pola Pengembangan Psikologi Islam Sejauh ini, dalam memproses pengembangan psikologi Islam para pengkaji psikologi Islam menggunakan berbagai metode atau pola dalam pengembangan psikologi Islam. Ada beberapa pola pengembangan psikologi Islam (Nashori, 2011), yaitu objektivikasi, rekonstruksi teori, telaah kritis terhadap psikologi kontemporer, verifikasi, dan similarisasi. Objektivikasi. Objektivikasi adalah proses mentransformasikan pandangan-


Pardigma dan Pola Pengembangan Psikologi Islam 55 pandangan yang normatif (yang ada dalam kitab suci) menjadi pandangan yang objektif atau menjadi teori yang dapat diukur. Oleh banyak kalangan, apa yang ada di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis dipandang sebagai sesuatu yang normatif. Isi Al-Qur’an, kalau hendak dijadikan teori, harus mengalami transformasi menjadi objektif (Kuntowijoyo, 2002). Dalam hal ini, langkah yang perlu dilakukan adalah meneorikan apa yang dianggap benar, apa yang semestinya dilakukan manusia. Adapun teori yang baik, sebagaimana selama ini kita pahami, semestinya memiliki ciri-ciri: (a) konsisten secara logis, (a) bisa diuji dan (c) konsisten dengan data (Riyono, 1996). Teori selalu menyangkut sekurang-kurangnya keterkaitan dua hal. Bila hubungan antara hal satu dan yang lain itu logis, maka ia memenuhi ciri konsisten secara logis. Untuk teori-teori yang bersifat umum (grand theory), seperti proses penciptaan manusia, sifat asal manusia, potensi pengembangan manusia, dan perkembangan manusia, ciri konsiten secara logis ini amat penting. Bahkan, upaya objektifikasi untuk teori yang umum ini cukuplah hanya dengan ciri ini. Sementara itu untuk teori-teori yang bersifat khusus, ciri bisa diuji dan konsisten dengan data adalah ciri yang harus ada. Bisa diuji berarti bahwa teori tersebut dapat diukur dengan menggunakan metode-metode tertentu. Di kalangan ilmuwan Islam, metode penelitian ini bukan hanya metode yang selama ini dipandang ilmiah (scientific) seperti eksperimentasi, korelasi, komparasi, deskripsi, tapi juga metode yang lain seperti metode intuisi, metode otoritas, serta metodemetode yang lain. Agar dapat diukur, biasanya diawali oleh elaborasi atau uraian tentang hal yang diteorikan. Di dalamnya ada rumusan tentang pengertiannya, ciri-ciri, dan keterkaitannya dengan hal lain. Penjelasan pokok yang akhirnya dapat diukur biasanya disebut ciri-ciri, aspek-aspek, komponen-komponen. Konsisten dengan data artinya setelah dicek di kancah kehidupan nyata, teori ternyata didukung oleh kenyataan yang ada dalam kehidupan (Nashori, 2010). Sebagai contoh, berangkat dari ayat tentang “al-basith”, maka dapat dirumuskan teori tentang kelapangdadaan. Dalam berbagai ayat suci, Allah memerintahkan manusia untuk berlapang dada. Maka, kita dapat berteori bahwa pada dasarnya tingkat kelapangdadaan dalam diri manusia sangat beragam. Kelapangdadaan ditandai oleh beberapa indikator utama berupa kesadaran bahwa segala kejadian menyenangkan maupun tidak menyenangkan diciptakan Allah, kesiapan untuk menerima stimulasi yang tidak menyenangkan, keyakinan akan adanya hikmah di balik peristiwa, dan keyakinan akan adanya perbaikan keadaan


56 Psikologi Islam dari Konsep Hingga Pengukuran setelah berlangsungnya keadaan yang tidak menyenangkan (Nashori, 2005). Bila manusia memiliki keikhlasan atau ketulusan dalam berbuat sesuatu, maka mereka akan memiliki kelapangdadaan. Sebaliknya, bila dalam diri seseorang penuh dengan pamrih dalam melakukan sesuatu, maka dadanya akan menjadi sempit. Maka, bila orang yang lapang dada—sebagaimana Nabi Muhammad— dilempari batu, diludahi, atau ditumpakkan ke punggungnya kotoran hewan, ia tidak merespons secara reaktif. Dalam dadanya ada kesadaran bahwa setiap kejadian yang tidak menyenangkan pasti menghadirkan peringatan dan manfaat bagi yang menerima kejadian itu. Maka, setelah diberi perlakuan yang demikian, dadanya tetap terbuka: ia pun memberi ampunan, mengucapkan doa untuk kebaikan anak cucu dari si pengeroyok, dan mengunjungi dia yang suka meludahi dengan penuh pemberian ampunan/maaf (Nashori, 2005). Rekonstruksi teori. Rekonstruksi adalah upaya untuk menata berbagai pemikiran dan berbagai hasil temuan dalam suatu kerangka berpikir yang berdasarkan cara pandang Islam. Dalam rekonstruksi teori, kita menggunakan pandangan murni Al-Qur’an dan Al-Hadis, khazanah pemikiran Islam masa lalu-masa kini, yang dipadukan dengan khazanah ilmu pengetahuan dari seluruh umat manusia, dulu dan kini. Dalam rekonstruksi teori, isi pemikiran dan penelitian dari ilmuwan-ilmuwan sebelumnya hanya dipandang dan diperlakukan sebagai satu atau beberapa bahan dan tidak terelakkan bagi kita untuk menggunakan bahan-bahan lain sepanjang diambil dengan metode yang benar dan terdapat kepercayaan akan pandangan-pandangan dari orang lain. Kalau diandaikan sebagai bangunan, maka rekonstruksi teori dilakukan dengan memanfaatkan “bahan bangunan dari rumah-rumah” yang dirobohkan maupun dari bahan-bahan lain yang menjadikan “bangunan” aman, nyaman, estetis, serta memiliki fondasi yang kuat. Rekonstruksi teori dilakukan dengan pertimbangan: (a) untuk menghasilkan pemikiran yang komprehensif, (b) kita berorientasi kepada upaya menghasilkan konstruk yang lebih baik, lebih sempurna, dan sejauh mungkin ada originalitasnya, dibandingkan dengan pemikiran-pemikiran yang lebih dulu. Hal yang patut dihindari dalam melakukan upaya rekonstruksi adalah mengulang begitu saja pemikiran seseorang atau beberapa orang tanpa sikap kritis. Salah satu contoh rekonstruksi adalah upaya memahami mimpi manusia sebagaimana yang penulis jelaskan lebih lengkap dalam buku Psikologi Mimpi


Pardigma dan Pola Pengembangan Psikologi Islam 57 (Fuad Nashori, Penerbit Lubuk Agung, Bandung, 2011). Sigmund Freud (2001, 2002) mengungkapkan bahwa tidak ada penjelasan tentang mimpi kecuali tentang harapan (mimpi berisi harapan-harapan). Carl Gustav Jung (2003) berpendapat bahwa di samping mimpi harapan, manusia juga mengalami mimpi prospektif (penulis menyebutnya mimpi prediktif). Al-Qur’an dan Sunnah Al-Hadis menyebut mimpi yang berisi pengetahuan atau ide, mimpi yang berisi petunjuk, mimpi yang berisi peringatan, dan mimpi mengenai masa lalu (penulis menyebutnya mimpi retrospektif). Pemikir Islam Ibnu Qayyim al-Jauziyah (1999) menyebutkan adanya mimpi yang penulis sebut mimpi yang kuat. Masih ada mimpi yang lain: mimpi yang berisi gema masa lalu, mimpi yang terjadi karena keluhan fisik, mimpi yang terjadi karena kemasakan (mimpi basah). Setelah mencermati semua jenis mimpi, maka dapat dilakukan rekonstruksi teori (disimpulkan) mimpi terdiri atas mimpi jasmani/fisik (mimpi karena kelelahan/ sakit, mimpi karena faktor kematangan biologis, dan mimpi karena kondisi lingkungan yang amat kuat menstimulasi seperti suhu panas, mimpi nafsani/ psikologis (gema ingatan masa lalu, kondisi perasaan-pikiran menjelang tidur, harapan), dan mimpi ruhani/spiritual (mimpi ide, retrospektif, prediktif, petunjuk, dan peringatan yang kuat). Selain memperkenalkan pola objektivikasi dan rekonstruksi teori, ada pola lain yang patut untuk terus dilakukan, yaitu studi kritis atas psikologi modern dan verifikasi. Studi Kritis Islam atas Psikologi Modern. Yang dilakukan ahli psikologi dalam hal ini adalah melakukan upaya kritik-objektif atas berbagai asumsi yang dibangun para ilmuwan psikologi modern. Setelah objek kritik ditetapkan, maka yang dilakukan adalah menunjukkan apa yang menjadi kekuatan sekaligus kekurangan atau kelemahan psikologi barat. Sebuah contoh yang dapat disampaikan di sini adalah telaah kritis terhadap teori superego. Menurut Freud (2002), superego yang ada dalam diri manusia terbentuk karena adanya pendidikan moral dari lingkungan sosial manusia. Lingkungan sosial manusia selalu mengajarkan agar seseorang berbuat baik dan tidak berbuat hal yang sebaliknya. Terhadap teori di atas, para pengkaji psikologi Islam menandaskan bahwa hati nurani dalam diri manusia bukanlah semata-mata faktor eksternal, tapi secara inheren ia telah berada dalam diri manusia semenjak awal penciptaannya (Nashori, 2003). Faktor luar hanya berperan untuk menguatkan atau melemahkan potensi-


58 Psikologi Islam dari Konsep Hingga Pengukuran potensi tersebut. Argumen yang sering diberikan adalah manusia diciptakan dalam keadaan fitrah (suci, bersih, borpotensi positif secara fisik, psikologis maupun spiritual). Argumen tambahan yang dapat diungkapkan adalah sekalipun seseorang dikerangka oleh lingkungan sosialnya untuk memiliki perilaku yang buruk dan jahat, namun hati nuraninya tetap dapat berbicara: ia tetap mampu mentransformasikan dirinya, potensi-potensinya, menjadi pribadi yang baru (sebagaimana kasus Umar bin Khattab radhiyallahu anhu). Verifikasi. Verifikasi yang penulis maksud adalah melakukan penilaian terhadap kebenaran logis dan normatif suatu teori dengan menggunakan Al-Qur’an dan Al-Hadis. Penilaian ini dimaksudkan untuk mengecek apakah suatu teori itu sesuai atau bertentangan dengan pandangan Islam. Dalam hal ini adalah penilaian terhadap kebenaran teori yang bersumber dari budaya Barat, khususnya teoriteori psikologi yang berkembang dalam khazanah psikologi barat. Dalam verifikasi ini, akan dipastikan sejauh mana kecocokan teori sebelumnya dengan Al-Qur’an dan Al-Hadis. Contoh yang dapat diberikan adalah teori religiusitas yang berisi lima dimensi, yaitu keyakinan, ritual, pengamalan, pengalaman, dan pengetahuan. Setelah dinilai oleh Al-Qur’an dan Al-Hadis, teori religiusitas dari Glock dan Stark (1988) dinilai Ancok dan Suroso (2010) sesuai dan tidak bertentangan dengan pandangan Islam. Ancok dan Suroso menyebutnya menjadi dimensi akidah, ibadah, amal, ihsan, dan ilmu agama. E. Penutup Pola pengembangan psikologi Islam dapat dilakukan dengan berbagai macam pola yang lain seperti similarisasi, komplementasi, induktifikasi, dan sebagainya. Pola-pola tersebut dapat dibaca dalam buku Bastaman (2012) yang berjudul Integrasi Psikologi dan Islam. Demikian. Wallahu a’lam bi ash-shawab Daftar Pustaka Ancok, D., & Suroso, F. N. (2008). Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Al-Attas, S. M. N. (1998). Islam and The Philosophy of Science.


Pardigma dan Pola Pengembangan Psikologi Islam 59 Al-Jauziyah, I. Q. (1999). Ruh. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Al-Munzhiri, Z. D. (2002). Ringkasan Shahih Muslim. Bandung: Penerbit Mizan Arsyad, M. N. (1992). Ilmuwan Muslim Sepanjang Sejarah: Dari Jabar Hingga Abdussalam. Bandung: Penerbit Mizan. Baron, R. A., & Byrne, D. (2004). Social Psychology: Undersatnding Human Interaction. Boston: Allyn and Bacon. Bastaman, H. D. (2005). Dari KALAM sampai ke API: psikologi islami kemarin, kini, dan esok. Jurnal Psikologi Islami, 1(1), 5-16. Bastaman, H. D. (2011). Integrasi Psikologi dengan Islam. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar dan Yayasan Insan Kamil, 2012, hal. 30. Enright, R. D. (2002). Forgiveness is a Choice: AG Step By Step Process for Resolving Anger and Restoring Hope. Washington DC: American Psychological Association. Freud, S. (2001). Tafsir Mimpi. Yogyakarta: Penerbit Jendela. Freud, S. (2002). Psikoanalisis. Yogyakarta: Penerbit Ikon Teralitera. Hafizh, M. N. A. (1997). Mendidik Anak Bersama Rasulullah. Bandung: Al Bayan. Hurlock, E. B. (1993). Perkembangan Anak: Jilid I. Jakarta: Penerbit Erlangga. Jung, C. G. (2003). Memories, Dreams, Reflections: Memori, Mimpi, Refleksi. Yogyakarta: Penerbit Jendela. Kuntowijoyo. (2002). Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Penerbit Mizan. Mahfuzh, S. M. J. (2001). Psikologi Anak dan Remaja Muslim. Jakarta: Penerbit Al Kautsar. Magnis-Suseno, F. (1999). Etika Jawa: Sebuah Analisis Filsafati tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: PT Gramedia. Martin, A. D. (2003). Emotional Quality Management: Refleksi, Revisi dan Revitalisasi Hidup Melalui Kekuatan Emosi. Jakarta: Penerbit Arga. Mansur. (2005). Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Mujib, A., & Mudzakir, J. (2001). Nuansa-nuansa Psikologi Islam. Jakarta: Rajawali Press. Mujib, A. (2005). Pengembangan psikologi Islam. Jurnal Psikologi Islami, 1(1), 17-32. Nashori, H. F. (2003). Agenda Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Nashori, H. F. (2003). Potensi-potensi Manusia: Perspektif Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Nashori, F. (2005). Kelapangdadaan mahasiswa santri dan mahasiswa reguler.


60 Psikologi Islam dari Konsep Hingga Pengukuran Jurnal Psikologi Islami, 1(2), 131-140. Nashori, H. F. (2005). Potensi-potensi Manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Nashori, H. F. (2005). Profil Orangtua Anak-anak Berprestasi. Yogyakarta: Insania Cita. Nashori, H. F. (2005). Refleksi psikologi islami. Jurnal Psikologi Islami, 1(1), 33-42. Nashori, H. F. (2008). Kurikulum psikologi islami: telah kritis. Jurnal Psikologi (UIN Yogyakarta), 1(1), 49-60. Nashori, H. F. (2010). Agenda Psikologi Islami. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar. Nashori, H. F. (2011). Psikologi Mimpi: Perspektif Psikologi Islami. Bandung: Penerbit Lubuk Agung. Pennebaker, J. W. (2002). Ketika Diam Bukan Emas. Bandung: Mizan. Purwanto, Y. (2008). Kritik epistemologi menuju psikologi islami. Jurnal Psikologi Islami, 1(1), 1-26. Ramadan, T. (2007). Muhammad Rasul Zaman Kita. Jakarta: Penerbit Serambi. Riyono, B. (1996). Definisi psikologi islami. Jurnal Psikologika, 2(1), 3-19. Seligman, M. E. P. (1998). Building human strenghth; psychology’s forgotten mission. APA Monitor, 29(1), January. Shihab, M. Q. (2001). Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan Media Utama. Subandi. (2011). Penyusunan konstruk psikologi tentang sabar: model metodologi dalam psikologi Islam. Proceeding International Conference and the 3rd of Congress of Association of Islamic Psychology, Juli 2011. Sulaeman, D. Y. (2007). Doktor Cilik: Hafal dan Paham Al-Qur’an. Depok: Pustaka IIMAN. Thompson, L. Y., Snyder, C. R., Hoffman, L., Michael, S. T., Rasmussen, H. N., Billings, L. S., Heinze, L., Neufeld, J. E., Shorey, H. S., Roberts, J. C., & Robert, D. E. (2005). Dispositional fogiveness of self, other, and situation. Journal of Personality and Social Psychology, 73(2), 313-359. Tim Penerjemah Depag. (2006). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Departeman Agama R.I. Trenggana, S. (2008). Hubungan antara intensitas puasa Senin Kamis dan kesabaran. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII. Walton, E. (2005). Therapeutic forgiveness: developing a model for empowering victims of sexual abuse. Clinical Social Work Journal, 33(2), 193-207. Wiramiharja, S. (2011). Pengantar Filsafat Ilmu. Bandung: Refika Aditama.


Pardigma dan Pola Pengembangan Psikologi Islam 61 Worthington, E. L., & Scherer, M. (2004). Forgiveness is an emotion-focused coping strategy that can reduce health risks and promote health resilience: theory, review, and hypotheses. Psychology and Health, 19(3), 385–405. Zohar, D., & Ian Marshall. (2000). Spiritual Quotient. Bandung: Penerbit Mizan.


Fitrah, Insan Kamil, dan Potensi Manusia 63 FITRAH, INSAN KAMIL, DAN POTENSI MANUSIA Capaian Pembelajaran: 1. Mahasiswa mampu memahami paradigma fitrah 2. Mahasiswa mampu memahami kondisi kesempurnaan manusia 3. Mahasiswa mampu memahami potensi optimal manusia A. Fitrah Manusia Sebagai seorang muslim, kita tentu sangat akrab dengan istilah ‘fitrah’. Kata ini sering dipahami sebagai suci, kembali kepada keadaan semula. Istilah fitrah telah banyak dikaji oleh para ilmuwan psikologi Islam dan digunakan dalam pengembangan keilmuan psikologi Islam. Dalam tulisan ini, akan kita bahas sedikit mengenai apa itu fitrah dan bagaimana perannya dalam bangunan keilmuan kita. Dari segi bahasa, fitrah berasal dari kata ‘fathir’ yang berarti belahan. Makna baru yang lahir sesudahnya adalah muncul, kejadian, dan penciptaan. Dari beberapa tulisan yang ada, fitrah memiliki beberapa makna: “Suatu kecenderungan alamiah bawaan sejak lahir, penciptaan yang menyebabkan sesuatu ada untuk pertama kali, serta struktur atau ciri alamiah manusia, juga secara keagamaan maknanya adalah agama tauhid atau mengesakan Tuhan” (Baharuddin, 2007). “Citra asli yang dinamis, yang terdapat pada sistem-sistem psikofisis manusia dan dapat diaktualisasikan dalam bentuk tingkah laku. Citra unik tersebut telah ada sejak awal penciptaannya” (Mudjib & Mudzakkir, 2001). “Unsur, sistem, dan tata kerja yang diciptakan Allah pada makhluk sejak awal kejadiannya sehingga menjadi bawaannya” (Baihaqi, 2008). Di dalam Al-Quran, fitrah selalu disebutkan terkait dengan penciptaan langit, bumi, manusia, tauhid dan keimanan kepada hari akhir. Terkait dengan manusia, fitrah berhubungan dengan semua bawaan alamiah yang ditanamkan Tuhan


64 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran dalam proses penciptaan manusia, baik itu struktur, unsur, ciri alamiah, sistem, dan tata kerja. Meskipun secara kualitas perbuatan manusia dapat mengingkari fitrah tersebut, namun esensi tersebut tidak akan berubah dan hilang dari dirinya untuk selamanya. Jika fitrah tersebut dihilangkan maka eksistensi manusia akan menjadi hilang (Baharuddin, 2007, Mudjib & Mudzakir, 2001; Baihaqi, 2008). Ruang lingkup fitrah sangat luas dan untuk memahaminya kita bisa melihat pada beberapa penjelasan terkait hal-hal yang dimasukkan dalam ruang lingkup fitrah (Baharuddin, 2007; Mudjib & Mudzakkir, 2001): 1. Suci, berdasarkan hadis Nabi: “Setiap anak tidak dilahirkan kecuali dalam kondisi fitrah (suci). Maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, Majusi, atau Musyrik” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA.) Suci dalam hal ini diartikan sebagai kesucian psikis yang terbebas dari dosa warisan dan penyakit rohaniah (Mudjib & Mudzakkir, 2001). 2. Fitrah keagamaan manusia, yakni mengesakan Tuhan dalam agama tauhid, mengenal Allah baik melalui potensi eksternal (sumber daya di luar dirinya: al-asma’ yang telah diajarkan kepada manusia, al-amanah, wahyu, dll) dan potensi internal (Al-Jism, Al-nafs, al-ruh, al-aql, al-qalb, al-fitrah) (Baharuddin, 2007), berusaha terus-menerus untuk mencari dan mencapai ketauhidan tersebut (Mudjib & Mudzakkir, 2001). Potensi untuk ber-Islam, yakni berserah kepada yang Mutlak (Allah) (Mudjib & Mudzakkir, 2001). Kecenderungan untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah (Haque & Mohamed, 2009). 3. Potensi untuk selamat dan kontinuitas, yakni dalam hal proses penciptaan, watak, dan struktunya sebagaimana hadis qudsiy: “Sesungguhnya Aku (Allah) menciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan hanif. Maka setanlah yang menarik pada keburukan” (HR. Ahmad ibn Hambal dari ‘Iyadh ibn Umair) (Mudjib & Mudzakkir, 2001). 4. Perasaan yang tulus (al-ikhlas) 5. Kesanggupan atau predisposisi untuk menerima kebenaran, sebagaimana Firaun yang semasa hidupnya enggan mengakui kebenaran (Allah) namun


Fitrah, Insan Kamil, dan Potensi Manusia 65 ketika mulai tenggelam dan di ambang kematian ia mengakui adanya kebenaran tersebut (Yunus: 90). 6. Potensi dasar atau perasaan untuk memenuhi tugas perkembangan dalam melanjutkan keberlangsungan hidup (Mudjib & Mudzakkir, 2001). 7. Ketetapan atau takdir asal manusia mengenai kebahagiaan dan kesengsaraan hidup. Yang dimaksud dalam hal ini adalah ketetapan yang dibawa saat lahir seperti menjadi orang yang baik atau buruk, bahagia atau celaka (Mudjib & Mudzakkir, 2001). 8. Tabiat atau watak asli manusia, yakni daya dari daya nafs yang menggerakkan jasad manusia (Mudjib & Mudzakkir, 2001). 9. Sifat-sifat Allah yang ditiupkan pada setiap manusia sebelum dilahirkan, yang berbentuk asmaul husna (Mudjib & Mudzakkir, 2001). 10. Takdir atau status anak yang dilahirkan (HR. Al Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah); sepuluh kesucian biologis atau jasmaniah manusia (HR. Muslim dan Abu Dawud dari Aisyah RA.); hari yang tidak diwajibkan berpuasa (HR. Al Turmudzi dari Abu Hurairah RA.); berbuka puasa (HR. Al Turmudzi dari Abu Hurairah RA.); zakat fitrah (HR. AL Bukhari dari Ibn Umar); Salat Idul Fitri (HR. Al-Nasa’i dari Umar ibn al Khattab); hari raya Idul Fitri (HR. Al-Nasa’i dari Umar ibn al Khattab) dan salah satu asma Allah Swt sebagai Zat Pencipta (HR. Al Darimi dari Abu Hurairah) (Mudjib & Mudzakkir, 2001). 11. Potensi-potensi dasar manusia seperti mencintai dan kecenderungan kepada kesenangan dunia, lawan jenisnya, harta benda. Dalam hal ini, kualitas potensi dasar inilah yang menentukan perbedaan kebaikan manusia (Baharuddin, 2007; Baihaqi, 2008). 12. Potensi untuk berjalan dengan kedua kaki yang merupakan fitrah jasadiyah (Baharuddin, 2007; Baihaqi, 2008). 13. Fitrah akliyah berupa kemampuan mengambil kesimpulan berdasar kepada premis-premis tertentu (Baihaqi, 2008). Beberapa ruang lingkup fitrah tersebut memberikan gambaran (citra) pada kita akan sebagian dari kecenderungan bawaan manusia yang bersifat alamiah, yang membentuk identitas esensial manusia. Hal ini disebabkan karena manusia memiliki dua unsur pembentuk yang memiliki sifat yang sailng bertolak belakang: roh dan jasad. Sebagaimana diterangkan pada bab lain dalam buku ini, roh bersifat keTuhanan, dan memiliki potensi sebagaimana yang disebutkan dalam asmaul


66 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran husna. Potensi ini akan menjadi potensi manusia yang bila manusia mencapai insan kamil maka manusia kemungkinan besar akan mampu untuk mengoptimalkan penggunaan potensi ini untuk mencapai tujuan penciptaannya. Sebaliknya, saat sifat-sifat Tuhan itu tertuang dalam jasad manusia, hal itu menimbulkan percampuran sifat material, yang dikatakan oleh Frager (2003) memiliki sifat menarik kepada keduniaan dan materiil yang kuat, dan mengarah pada sifat kebinatangan dan keburukan. Interaksi antar nama-nama Allah; antar roh, jiwa serta jasad; dan dinamikanya lantas teraktualisasikan dalam berbagai kecenderungan dan dinamika biologis-psikis-sosiologis-dan spiritual manusia yang sebagiannya akan dijelaskan lebih lanjut pada seluruh buku ini. Hal ini menjadi landasan keyakinan dalam keilmuan (paradigma) psikologi Islam. Saat seseorang memiliki paradigma Psikologi Islam berarti mau tidak mau seseorang harus menggunakan paradigma fitrah, yakni perspektif biopsikososiospiritual dijadikan landasan dari satu bangunan utuh dalam setiap upaya untuk memahami, menganalisis, dan melakukan intervensi psikologi . Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa fitrah adalah semua bawaan alamiah yang ditanamkan Tuhan dalam proses penciptaan manusia, baik itu struktur, unsur, ciri alamiah, sistem, dan tata kerja yang bersifat alamiah, yang membentuk identitas esensial manusia. Fitrah ini berasal dari interaksi antar nama-nama Allah; antar roh, jiwa serta jasad; dan dinamikanya. Fitrah adalah salah satu nilai dalam paradigma tauhid yang dijadikan landasan dalam setiap upaya untuk memahami, menganalisis dan melakukan intervensi psikologis. B. Insan Kamil Berdasarkan paradigma fitrah, maka psikologi Islam mengakui adanya tingkatan-tingkatan jiwa yang akan dijelaskan pada bab lain buku ini. Dalam tiap rentang tingkatan jiwa terdapat perbedaan kualitas tiap aspek-aspek yang dimiliki yang menentukan dan ditentukan oleh seluruh aspek psikis manusia: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan akal dan wahyu sesungguhnya manusia akan mampu untuk memahami dunia di balik keragaman dan memahami kesatuan-kebenaran yaitu Allah itu sendiri. Dengan demikian, dengan segenap potensinya manusia hendaknya membebaskan diri dari ketundukannya terhadap keragaman sehingga mengenal Allah yang merupakan sumber eksistensinya. Berbagai macam tingkatan jiwa akan ditempuh oleh seseorang saat ia mulai


Fitrah, Insan Kamil, dan Potensi Manusia 67 dan mampu untuk menempuh perjalanan melawan dirinya sendiri menuju pada kondisi kesempurnaan-insan kamil-manusia sempurna-(nafs al-muthmainnah-nafs al-rodliyah-nafs al-kamilah). Dikarenakan semua manusia memiliki fitrah berupa kepemilikan sifat-sifat ketuhanan, maka setiap manusia memiliki kemungkinan untuk menjadi insan kamil (Mudjib & Mudzakkir, 2001). Masataka (2005) menambahkan bahwa di antara manusia, hanya individu yang bisa mencapai kualitas insan kamil dapat dikatakan sebagai insan kamil. Dalam artian, tidak semua manusia adalah manusia sempurna. Bila manusia tidak bisa mencapai kualitas insan kamil maka Ibn Arabi menyebutnya sebagai ‘manusia binatang’, yakni secara fisik memang memiliki bentuk manusia utuh dan sempurna, namun jiwanya masih bersifat dan memiliki sifat yang sama dengan binatang. Beberapa ciri dari insan kamil antara lain: 1. Pada posisi ini, semua potensi manusia akan bekerja menurut fitrahnya secara optimal, sehingga mengenali Tuhannya dan mampu mewujudkan peranannya sebagai khalifah dan abdullah di muka bumi (Baharuddin, 2003). 2. Mampu mengeksploitasi dan mengaktualisasikan nama-nama Tuhan. Mudjib dan Mudzakkir (2001) menyampaikan bahwa secara fitrah manusia telah membawa potensi sebagaimana yang disebutkan dalam asmaul husna. Hal ini merupakan konsekuensi bahwa manusia mendapatkan roh dari Allah Swt. Tugas manusia adalah mengaktualisasikan fitrah asmaul husna itu sebaikbaiknya dengan cara menginternalisasikan sifat-sifat itu ke dalam kepribadian sehingga manusia memiliki sifat rabbani atau ilahi dan menjadi insan kamil (Mudjib & Mudzakkir, 2001). Ibn Arabi menyampaikan bahwa perbedaan insan kamil dengan manusia binatang adalah bahwa insan kamil lebih mampu untuk meng-eksploitasi (tashrif) nama-nama Tuhan (Masataka, 2005). Berdasarkan hal tersebut insan kamil adalah sebuah kondisi di mana manusia mampu memenuhi tujuan penciptaannya, di mana setiap orang memiliki potensi untuk menjadi insan kamil. Beberapa potensi manusia yang mampu dimiliki oleh insan kamil dibahas dalam bagian selanjutnya tentang potensi manusia. C. Potensi Manusia Saat manusia menjadi seorang insan kamil, potensi manusia akan bekerja menurut fitrahnya secara optimal. Potensi ini penting dalam fungsinya untuk (Baharuddin, 2003):


68 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran 1. Manusia mengenali Tuhan 2. Manusia mewujudkan peranannya sebagai khalifah dan abdullah di muka bumi Bagaimana manusia bisa memiliki kemampuan ini? Dimensi-dimensi manusia yang mencakup jism, nafs, dan roh memungkinkan manusia untuk mampu melakukan penerimaan pengetahuan inderawi sampai tingkatan tertinggi berupa pengetahuan transenden yang sifatnya spiritual melalui iman, ilham, dan wahyu. Daya persepsi untuk menerima pengetahuan ini memiliki rentang tingkatan yang sejajar rentangan dimensi dengan jiwa manusia (Mudjib & Mudzakkir, 2001). Imam Al Ghazali mengkaitkannya dengan pengetahuan mistis (‘ilm laduni) di mana hati menerima secara langsung dari dunia gaib melalui jendela batin. Bagi manusia biasa, jendela ini terbuka hanya ketika tidur dan setelah kematian (Masataka, 2005). Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat memperoleh pengetahuan ini sebagai firasat (penglihatan mata batin), khathir (inspirasi), dengan cara yang sama para wali mendapatkan ilham (Masataka, 2005). Haque dan Mohamed (2009) menyatakan bahwa batas akhir dari kemampuan observasi dari alat sensori/indera manusia adalah kondisi di mana hati telah terbuka sehingga mampu melihat seluruh realitas melampaui material. Fungsi penting dari qalbu ini disebutkan dalam Al-Qur’an: “ ...mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah)...” (QS. 7: 179) “... lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar. Sesungguhnya bukan mata itu yang buta tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada” (QS. 22: 46) Haque dan Mohamed (2009) menyampaikan bahwa dalam konteks ayat tersebut, pada dasarnya mata dan telinga secara fitrah telah diciptakan untuk menyampaikan sensasi inderawi yang ditangkapnya untuk disampaikan kepada qalbu—yang seperti telah dijelaskan sebelumnya, akan berfungsi sebagai hakim


Fitrah, Insan Kamil, dan Potensi Manusia 69 dan pemerintah dari diri manusia, berdasarkan dari hasil penginderaan mata dan telinga. Qalbu akan melakukan interpretasi dan memaknai informasi sensoris yang diterimanya. Qalbu pula yang memiliki potensi psiko-spiritual—selain kemampuan afektif dan pemahaman—dan mampu untuk mempersepsikan keberadaan Tuhan dan realitas transenden lainnya (gaib). Meskipun qalbu memiliki potensi persepsi transendensi, namun tidak semua qalbu mampu untuk mengaktualisasikan potensi tersebut. Keberhasilan manusia sendiri untuk mengatasi dan membebaskan dirinya dari segala sesuatu yang dapat menjauhkannya dari realitas, adalah penentu bagi “terbukanya qalbu.” Dalam hal ini dikatakan saat individu mampu menyerah pada qalbu yang terdalam, maka qalbu akan menaklukkan pikiran dan semua fungsi psikis dari seluruh belenggu pikiran yang menahan pertumbuhan dan perkembangan qalbu dalam mewujudkan potensi gaibnya (Haque & Mohamed, 2009). Saat qalbu terbuka oleh cahaya tauhid, kecerdasan qalbu akan terwujud dalam bentuk kecerdasan transenden- Fuad- , tumbuh menjadi pusat seluruh komponen diri manusia, memerintah seluruh dorongan hewaniah dan nafsu sehingga konsisten dengan kecenderungan rohaniah diri manusia. Jendela qalbu juga dapat terbuka jika seseorang membersihkan hatinya dari amarah, hasrat dan kebiasaan-kebiasaan buruk lewat perjuangan spiritual (jihad) dan latihan spiritual (riyadhah). Kemudian, dia dapat melihat pada saat sadar apa yang orang lain lihat ketika tidur. Al Ghazali mengutip hadis nabi “bumi menjadi menyusut untukku, sehingga aku bisa melihat ujung timur yang paling jauh dan ujung barat yang paling jauh.” Para nabi memperoleh pengetahuan dengan cara ini. Kemampuan istimewa dalam mendapatkan pengetahuan sesungguhnya adalah potensi daya persepsi berupa inderawi naluri, rasional, emosional, spiritual dan transendental yang bersumber dari masing-masing dimensi jiwa manusia yang menghasilkan proses pemahaman yang sifatnya empiris, rasional intuitif, spiritual dan transendental (Mudjib & Mudzakkir, 2001). Selain kemampuan untuk mengetahui, terdapat kemampuan lainnya berupa kemampuan untuk memengaruhi objek lain. Kemampuan-kemampuan ini umumnya dimiliki oleh nabi dan wali Allah yang merupakan insan kamil. Tiga ciri khas kemampuan nabi dan wali (Masataka, 2005): 3. Apa-apa yang tersingkap dalam mimpi bagi orang-orang awam dikuakkan kepada nabi dan wali ketika terjaga.


70 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran 4. Sementara jiwa orang awam hanya memiliki dampak terhadap tubuh mereka sendiri, jiwa nabi dan wali memengaruhi tubuh-tubuh di luar tubuhnya dalam suatu cara yang bermanfaat bagi makhluk (yaitu mereka dapat melakukan keajaiban). 5. Sementara manusia awam mendapatkan pengetahuan lewat pengajaran, nabi dan wali memperolehnya tanpa pendidikan, dari batinnya sendiri dan pembersihan jiwa (pengetahuan mistis/ilmu laduni). Ketiga kemampuan tersebut digabungkan menjadi satu dalam kemampuan yang dimiliki oleh nabi/wali. Sementara sebagian orang yang lain hanya memiliki satu kemampuan dengan kualitas yang berbeda-beda. Pada umumnya, manusia hanya mendapatkan sebagian kecil dari tiga kualitas ini seperti mimpi, dan firasat (Masataka, 2005). Hal ini terkait erat dengan tingkatan pengetahuan dan keyakinan subjektif masing-masing individu (Mudjib & Mudzakkir, 2001). Kemampuan untuk mendapatkan kemampuan semacam ini tidak terbatas bagi para nabi dan wali karena potensi ini adalah inheren (tidak terlepas) dari esensi manusia (fitrah). Rasulullah pernah bersabda kepada para sahabat ketika melewati pekuburan Baqi’ dan beliau mendengar ahli kubur disiksa “... Seandainya hati kalian tidak kotor dan tidak terlalu banyak bicara, kalian pasti akan bisa mendengar apa yang aku dengar” (Najati, 2005). Kemampuan-kemampuan tersebut dikaruniakan kepada manusia sebab manusia mengemban amanah yang berat berupa kewajiban untuk mengabdi dan menjadi khalifah di muka bumi. Di dalam bahasa para sufi, hal itu disebut dengan istilah al-kasyf (terbuka, tersingkap). Berdasarkan uraian tersebut, jelaslah bahwa sesungguhnya manusia memiliki potensi yang lebih besar daripada yang banyak orang ketahui. Berikut akan dijabarkan beberapa kemampuan istimewa yang ditujukan agar individu mengenali dan memahami potensi diri. 1. Potensi Spiritual Inderawi Seperti telah dijelaskan sebelumnya, selain untuk mengindera hal-hal yang sifatnya fisik dan materiil seperti yang kita tahu selama ini, indera juga memiliki fungsi yang menjangkau area spiritual dan transendental. Hal ini dikatakan sebagai indikator potensi inderawi yang telah berfungsi secara baik dan benar dan dapat dialami oleh orang-orang yang benar-benar bertakwa kepada Allah Swt (Adz-Dzaky, 2001). Beberapa indikator tersebut antara lain:


Fitrah, Insan Kamil, dan Potensi Manusia 71 a. Penglihatan Penglihatan dapat menembus esensi dari apa dilihat. Hal ini dapat berupa penglihatan seseorang mengenai suatu benda apakah berasal dari yang halal dan hak atau tidak (Adz-Dzaky, 2001), al-istisyfaf yaitu melihat lokasi yang jauh, berada di luar jangkauan indera penglihatan, yaitu seperti saat Nabi Isa as dapat memberitahukan kepada orang-orang tentang makanan yang mereka makan dan yang disimpan. Selain penglihatan ghaib, hal itu bisa dimungkinkan karena ilham yang diberikan Allah Swt (Najati, 2005). Kisah lain adalah tentang al-istisyfaf (tembus pandang) yang terlihat dari hadis: “Apakah kalian melihat kiblatku di sini? Demi Allah khusyuk dan rukuk kalian tidak tersembunyi dariku. Sungguh aku melihat kalian dari balik punggungku” (HR. Bukhari) (Najati, 2005). b. Pendengaran Pendengaran dapat menangkap suatu yang baik maupun buruk, mendengar tasbih dari alam semesta (Adz-Dzaky, 2001). Sebuah hadis menyampaikan bahwa Rasulullah saw pernah melewati pekuburan Baqi’, dan Rasulullah saw mengetahui dua orang yang dikubur di antaranya sedang disiksa karena tidak pernah bersuci sehabis kencing dan seorang lagi karena menyebarkan fitnah (Najati, 2005). c. Penciuman Penciuman dapat membau aroma yang baik dan buruk, haram atau halal (Adz-Dzaky, 2001). Kisah di dalam Al-Quran mengenai Nabi Ya’qub As yang dapat mencium bau tubuh Yusuf as yang dibawa oleh rombongan kafilah dari Mesir, sedangkan Ya’qub as berada di tempat yang jauh (Qs. Yusuf, 94) (Najati, 2005). d. Pengecap Pengecap dapat merasakan makanan dan minuman yang halal dan haram, hak dan batil (Adz-Dzaky, 2001). e. Peraba Peraba dapat merasakan dan menangkap makna dan simbol dari apa-apa yang disentuhnya, apakah kebaikan atau keburukan (Adz-Dzaky, 2001). f. Kemampuan untuk mengetahui sesuatu


72 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran g. Prekognisi (Nashori, 2005) Kemampuan untuk mengetahui apa yang terjadi di masa depan tanpa menggunakan pemikiran/analisis melainkan melaui qalbu. Pengetahuan ini bisa diperoleh saat sadar melalui ilham, ataupun melalui mimpi. Hal ini bisa dilihat dalam kisah saat Rasulullah saw bermimpi mengenai masuknya kaum muslimin ke Mekkah dan beribadah di Ka’bah dalam keadaan aman, yang selanjutnya menjadi kenyataan (QS. Al Fath, 48:27) h. Retrokognisi (Nashori, 2005) Kemampuan manusia untuk mengetahui apa yang terjadi di masa lalu (di masa hidup seseorang maupun jauh sebelumnya), tanpa menggunakan indera. Misalnya: Nabi Muhammad w bisa mengetahui apa yang terjadi pada nabi-nabi zaman dahulu semisal di zaman Nabi Isa as, Musa as, dan Ibrahim as. Semisal pada hadis “Dari Ummu Syarik radhiallahuanha bahwa Nabi saw memerintahkan untuk membunuh wazagh. Beliau menyatakan, ‘dahulu wazagh yang meniup dan memperbesar api yang membakar Ibrahim” (HR. Muttafaq ‘alaih). i. At-takatsur/telepati dan istihtaf (Nashori, 2005; Najati, 2010) Telepati (at-takatsur) adalah kemampuan untuk membaca pikiran atau perasaan orang lain atau orang yang berada di tempat yang jauh. Sementara istihtaf adalah mendengar panggilan atau percakapan dari tempat yang jauh. Hal ini bisa kita lhat dari kisah Umar bin Khattab ra. Ketika sedang khutbah Jumat di Mekkah tiba-tiba berteriak “Hai Sariyah, ke gunung! Ke gunung!”. Setelah selesai salat, Ali bin Abi Thalib ra. menanyakan hal itu dan dijawab “Terlintas dalam pikiranku bahwa pasukan musyrikin mengalahkan pasukan muslimin, sementara mereka melewati sebuah gunung. Jika mereka naik ke gunung, mereka akan menang, sedangkan jika tidak mereka akan kalah. Maka keluarlah teriakanku tadi. “ Sebulan kemudian datanglah pasukan muslimin, yang mengatakan bahwa pada hari itu dan saat itu mereka mendengar teriakan Umar ra yang memerintahkan naik ke gunung. Mereka pun menurutinya dengan berlari naik ke gunung, sehingga dengan pertolongan Allah mereka dapat mengalahkan musuh.


Fitrah, Insan Kamil, dan Potensi Manusia 73 2. Kemampuan Berbicara dengan Makhluk Lain (Nashori, 2005). Makhluk lain dalam hal ini bisa berupa hewan, tumbuhan, maupun jin. Hal ini bisa dilihat dari kisah Nabi Sulaiman dalam QS. An-Naml “Dan Sulaiman menerima warisan dari Daud. Sulaiman berkata: “Rakyatku semua! Telah diajarkan kepada kami bahasa burung-burung dan diberikan kepada kami segala sesuatu yang diperlukan. Sesungguhnya pemberian ini adalah karunia yang nyata” (16). Suatu ketika dikumpulkan di hadapan Sulaiman seluruh tentaranya, terdiri dari jin, manusia dan burung-burung, diatur secara tertib dalam barisan (17). Akhirnya setelah mereka sampai di Lembah Semut, berkatalah seekor Ratu Semut: “Hai semut-semut! Masuklah ke sarangmu supaya tidak terinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, tanpa disadari mereka” (18). Sulaiman tersenyum senang mendengar perkataan semut itu, seraya mendoa: “Wahai Tuhanku! Berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada orang tuaku, supaya aku dapat menyumbangkan karya yang Engkau restui serta masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hambahambamu yang shalih”(19). .... datanglah Hud-hud seraya berkata: “Aku telah menemukan sesuatu yang belum engkau ketahui, bahwa aku datang dari Saba membawa berita yang mengagumkan, namun meyakinkan (22) ...” dst hingga kepada kabar berita tentang sebuah negeri yang dipimpin oleh Ratu Balqis dari burung hud-hud. 3. Kemampuan Istimewa dalam Memengaruhi Makhluk Lain a. Healing (Nashori, 2005) Healing adalah kemampuan menyembuhkan berbagai penyakit, baik penyakit fisik maupun non-fisik dengan sedikit atau tanpa obat. Hal ini dapat dilihat dalam kisah Rasulullah saw yang menyembuhkan mata Ali bin Abi Thalib dengan seizin Allah Swt lewat ludah Nabi Muhammad pada saat perang Khaibar. b. Memindahkan orang ke tempat yang jauh (Sholikhin, 2009) Hal ini bisa dilihat dalam kisah saat Syekh Abdul Qadir Al Jilani ra. sedang memberi ceramah, seseorang yang bernama Abul Mu’ali menghadiri pengajian beliau dan duduk tepat di depan. Di tengah pengajian, Abul Mu’ali mulai merasa ingin buang air kecil, namun merasa bahwa tidak sopan bila ditinggalkannya jamaah sehinga ditahannya keinginannya, hingga terasa tidak tahan lagi diapun berdiri. Tiba-tiba dilihatnya sang


74 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran syeikh turun dari anak tangga pertama mimbar ke anak tangga kedua, mendatanginya, dan melemparkan selendang beliau kepadanya, meskipun ia tetap melihat sosok syeikh di atas mimbar pertama. Seketika itu ia melihat dirinya berada di sebuah lembah dengan taman yang indah dan air terjun. Segera ia menunaikan hajatnya, salat dua rakaat dan sesudahnya syeikh kembali menarik selendangnya dan ia melihat dirinya kembali berada di majelis tanpa ketinggalan satu kata pun dari ceramah beliau. Sesudahnya ia menyadari bahwa ia meninggalkan kunci di lembah. Beberapa waktu setelah kejadian tersebut Abul Mu’ali menempuh waktu 14 hari dan tiba di lembah tempatnya dulu datangi. Ia menghampiri pohon yang sama dan menemukan kuncinya masih bergantung di dahan yang sama. Ini membuktikan bahwa perjalanan yang dulu dialaminya secara fisik dan rohani. Dari beberapa contoh dan gambaran potensi yang telah dijabarkan di atas, terlihatlah bahwa sesungguhnya manusia memiliki potensi yang sangat besar. Berbeda dari psikolog modern di mana tujuan dari proses pertumbuhan dan perkembangan adalah agar manusia mampu mengaktualisasikan potensi yang dimiliki, di dalam Islam potensi tersebut bukanlah sebuah tujuan, melainkan sebuah ‘karunia’ atau ‘amanah’ untuk menuju pada kebenaran sejati yaitu Allah Swt. Daftar Pustaka Adz-Dzaky, H. B. (2001). Psikoterapi dan Konseling Islam. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru. Baharuddin. (2007). Paradigma Psikologi Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Baihaqi, M. F. (2008). Psikologi Pertumbuhan: Kepribadian Sehat untuk Mengembangkan Optimisme. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Frager, R. (2003). Hati, Diri, & Jiwa, Psikologi Sufi untuk Transformasi. Jakarta: Serambi. Haque, A., & Mohamed, Y. (2009). Psychology of Personality (Islamic Perspectives). Singapore: Cengage Learning. Masataka, T. (2005). Insan Kamil: Pandangan Ibnu ‘Arabi / oleh Masataka Takeshita. (Ibn ‘Arabi’s Theory of the Perfect Man and It’s Place in The History of Islamic Thought. Harir Muzakki, Penerj.) Surabaya: risalah Gusti.


Fitrah, Insan Kamil, dan Potensi Manusia 75 Mudjib, A., & Mudzakkir, J. (2001). Nuansa-Nuansa Psikologi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Najati, M. U. (2010). Psikologi Qurani: Dari Jiwa hingga Ilmu. Bandung: Marja. Nashori, F. (2005). Potensi-Potensi Manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sholikhin, M. (2009). Menjadikan Diri Kekasih Ilahi: Nasihat dan Wejangan Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani. Jakarta: Erlangga.


Prinsip-Prinsip Tentang Fisik dan Jiwa 77 PRINSIP-PRINSIP TENTANG FISIK DAN JIWA Capaian Pembelajaran: 1. Mahasiswa mampu memahami keterkaitan antara fisik dan jiwa 2. Mahasiswa mampu memahami pengertian jiwa dari beragam paradigma 3. Mahasiswa mampu memahami komponen jiwa dan tingkatan nafs 4. Mahasiswa mampu mengenali jiwa yang sehat menurut pandangan Islam 5. Mahasiswa mampu mengenali teknik-teknik melatih keseimbangan jiwa A. Prinsip-prinsip tentang Fisik dan Jiwa Rene Descartes seorang filsuf Yunani modern mengemukakan teori yang menunjukkan akhir hubungan antara jiwa dan fisik (badan) hingga membentuk manusia sempurna. Namun, Descartes gagal menjelaskan bagaimana interaksi di antara keduanya. Salah satu slogannya yang terkenal, yaitu cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada), pada dasarnya merupakan penggambaran kerja organ manusia (otak) yang terkait erat dengan jiwa (mind). Istilah psikologi berasal dari kata psyche yang berarti jiwa, dan logos yang berarti ilmu. Pada masa awal perkembangannya, psikologi sering diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang jiwa manusia. Dalam mempelajari tentang jiwa, psikologi melihat perilaku manusia merupakan manifestasi dari proses jiwa atau mental. Sejarah psikologi yang saat ini berkembang di barat diyakini merupakan cabang dari dua paradigma besar, yaitu ilmu filsafat dan fisiologis. Artinya, para ahli filsafat dan fisiologis sejak dulu sudah meyakini adanya interaksi antara fisik dan jiwa. Psikologi kontemporer saat ini mengalami pergeseran makna. Psikologi yang dulunya dikenal sebagai ilmu jiwa, saat ini dipersempit menjadi ilmu yang mempelajari tentang proses mental dan perilaku manusia. Terlihat bahwa dalam psikologi modern yang banyak berkiblat ke barat, bahasan tentang jiwa (nafs) menjadi bahasan yang dihindari. Alasannya adalah karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak, tidak konkret, dan kurang objektif. Nashori (2005: 99) menyebutkan alasan tersebut tidak tepat, karena psikologi sendiri secara istilah merupakan gabungan kata antara psyche (jiwa) dan logos (ilmu). Nashori (2005)


78 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran menyebutkan salah satu tugas setiap ilmuwan psikologi adalah mengembalikan psikologi pada hakikatnya, yaitu sebagai ilmu tentang jiwa, di samping mempelajari perilaku yang merupakan ekspresi dari jiwa. Awalnya manusia terdiri dari dua substansi, jasad dan roh. Ketika dua elemen ini bertemu, terbentuklah substansi yang bernama jiwa (nafs). Roh digambarkan sebagai substansi yang berasal dari Tuhan dan mewariskan sifat-sifat suci. Jasad merupakan substansi yang pada awalnya suci, namun sangat rentan terhadap pengaruh yang terjadi di luar dirinya. Jiwa (nafs) sebagai substansi gabungan dari dua elemen ini memiliki kedua sifat, suci dan rentan. Al-Kasyani (dalam Nashori, 2005: 104) mengemukakan pandangannya mengenai interaksi antara roh dan tubuh yang mengalami kesulitan komunikasi disebabkan berasal dari dua substansi yang memiliki sifat bertolak belakang. Roh yang bersifat murni, suci, dan tidak terbagi, bertemu dengan tubuh yang bersifat wadag dan terbagi-bagi (murakkab). Oleh karena itu, agar kedua substansi ini dapat berkomunikasi maka diciptakanlah perantara, yaitu jiwa (nafs). Seperti telah disebutkan sebelumnya, jiwa memiliki kecenderungan untuk terpengaruh oleh potensi yang ada di dalam dirinya maupun hal-hal eksternal di luar dirinya. Perbedaan komposisi besarnya pengaruh maupun potensi inilah yang kemudian melahirkan adanya perbedaan antara individu yang satu dengan individu yang lain. Bila ia memiliki potensi buruk, namun di kelilingi hal-hal yang baik, jiwa itu dapat saja tumbuh menjadi pribadi yang baik. Namun sebaliknya, apabila jiwa yang memiliki potensi baik, namun tumbuh di kelilingi hal-hal yang buruk, jiwa tersebut dapat memiliki kecenderungan yang besar pada keburukan. Al-Qur’an memberi gambaran mengenai interaksi antara fisik dan jiwa, bahwa jika nafs (jiwa) dipelihara dari nafsu dan syahwat, kualitas manusia tersebut dapat meningkat. Sebaliknya, jika jiwa banyak dipengaruhi perbuatan maksiat, ia akan cenderung menjauhi kebaikan: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (Al-Qur’an surat Al-Naazi’aat 79: 40-41). Ayat di atas menunjukkan dengan demikian, jika nafs (jiwa) dipelihara menjadi baik, maka cenderung menggerakkan manusia kepada perbuatan dan perilaku


Prinsip-Prinsip Tentang Fisik dan Jiwa 79 yang baik. Dalam pandangan psikologi Islam, keterkaitan antara fisik dan jiwa dijelaskan secara konkret dan dari beragam perspektif, baik kajian tekstual kitab suci, maupun secara filosofis melalui pandangan tasawuf. Dalam bahasan-bahasan mengenai manusia, Islam memahami adanya dua entitas yang berbeda, namun membentuk satu kesatuan dengan membawa potensi dari masing-masing entitas tersebut. Dalam penjelasan berikutnya, jiwa akan dibahasakan dengan menggunakan istilah nafs. B. Pengertian Nafs Nafs memiliki beberapa pengertian, baik secara etimologi, maupun kajiankajian tekstual dan pemahaman sebagian kalangan dalam Islam. Dalam bab ini akan dipaparkan beberapa pengertian nafs yaitu secara etimologi, gambaran nafs dalam Al-Qur’an, pandangan tasawuf, serta paradigma psikologi Islam. a. Etimologi Kata nafs pada dasarnya memiliki banyak makna, sehingga harus dipahami sesuai dengan konteks penggunaannya. Dalam khasanah pemikiran Islam, terkadang makna sebuah kata memiliki kemiripan dengan terminologi lain yang serupa. Sebagai contoh, terminologi akidah dengan iman, akhlak dengan amal saleh, memiliki kemiripan makna. Demikian pula dengan nafs, ia memiliki beberapa pengertian. Secara etimologi, nafs berarti jiwa. Kata nafs sering muncul dalam Al-Qur’an dan hadis yang merujuk pada arti sebagai diri (self), atau hati (qolb). Dalam Islam, nafs diartikan sebagai kondisi yang suci atau fitrah. Artinya, ia tidak melekat pada atribut tertentu, entah itu baik atau buruk. Hal ini dikarenakan dalam nafs, dapat lahir kebaikan ataupun keburukan. b. Gambaran Al-Qur’an Kata nafs sering disebutkan dalam ayat-ayat suci Al-Qur’an. Didalam Al-Qur’an, kata nafs disebut sebanyak 297 kali dalam berbagai bentuk dan makna. Sebagian besar di antaranya mengacu pada diri manusia dan totalitas manusia, baik secara fisik dan psikis. Dalam surat Ar-Rad ayat 11, kata nafs merujuk pada apa yang terdapat dalam diri manusia itu sendiri yang menghasilkan tingkah laku. Untuk dapat memahami makna nafs yang ada di dalam Al-Qur’an tentu


80 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran tidak dapat lepas dari metode tafsir yang ilmiah. Taufiq (2006) dalam bukunya yang berjudul Panduan Lengkap dan Praktis Psikologi Islam membahas tiga jenis tafsir ilmiah dari Al-Qur’an dan as-Sunnah (al-adits). Metode tafsir ilmiah sangat dibutuhkan dalam menentukan batasan ilmu pengetahuan dan definisi manusia, sehingga Al-Qur’an dan as-Sunnah tetap menjadi sumber teks utama kajian-kajian keislaman maupun ilmu pengetahuan. Hal ini juga sejalan dengan proyek besar ilmuwan muslim untuk merekonstruksi Islam pada kajian-kajian psikologi. Beberapa kajian dalam Al-Qur’an yang menyebutkan definisi nafs di antaranya adalah: 1. Nafs dimaknai sebagai jiwa terdapat dalam: a. Al-Ma’idah: 45 “Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa...” b. As-Sajdah: 13 “Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi)nya...” c. Al-Baqarah: 286 “Allah tidak membebani (jiwa) seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” d. Al-Baqarah: 231 “Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat dzalim terhadap (jiwa) dirinya sendiri.” 2. Nafs dimaknai sebagai nyawa, sehingga apabila nyawa (nafs) seseorang tercabut dari jasadnya, maka ia telah bertemu dengan kematiannya. Hal ini disebutkan dalam: a. Surat At-Taubah: 55 “Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka.” b. Al-An’aam: 93 “... Para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), ‘keluarkanlah nyawamu. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan...” 3. Nafs diartikan sebagai tempat di mana hati nurani berada disebutkan dalam: a. Surat Ali-Imran: 28 “Dan Allah memperingatkan kamu terhadap (siksa)-Nya.” b. Surat An-Nisaa’: 79 “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan)


Prinsip-Prinsip Tentang Fisik dan Jiwa 81 dirimu sendiri.” c. Surat Al-Maa’idah: 116 “Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib.” 4. Nafs diartikan sebagai totalitas manusia seperti disebutkan dalam surat Al-Ma’idah: 32 “... Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” 5. Nafs diartikan sebagai bagian dalam diri manusia (wadah) yang menghasilkan perilaku disebutkan dalam surat Ar-Ra’d: 11 “... Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Ayat-ayat di atas menunjukkan beragam penggunaan kata nafs yang berbeda-beda, sesuai konteks ayatnya. Namun pada intinya, kebanyakan dari makna di atas merujuk pada sebuah definisi bahwa nafs ada pada perbincangan tentang manusia, baik itu bagian dalam proses yang tidak nampak (jiwa, nurani) maupun yang nampak (tingkah laku, akibat dari tindakan). Nafs juga digambarkan oleh Al-Qur’an memiliki sifat-sifat tertentu. Ia digambarkan sebagai sesuatu yang bersifat netral, yang mampu menampung kebaikan dan keburukan. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Asy-Syams: 7-8, “Demi nafs penyempurnaan ciptaannya, Allah mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketakwaan.” Ayat di atas dapat diartikan bahwa nafs memiliki potensi untuk menangkap hal-hal yang baik dan hal-hal yang buruk, yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan perilaku yang baik ataupun yang buruk. Meskipun pada awal penciptaannya nafs bersifat netral, namun ia dapat mengalami kecenderungan baik ataupun buruk. Selain menceritakan mengenai penyebutan nafs untuk konteks tertentu, Al-Qur’an pada dasarnya juga mengajak manusia untuk menyucikan dan menjaga nafs. Hal ini dikarenakan manusia adalah makhluk yang sangat lemah. Ia bahkan tidak menyadari dirinya sedang terjebak dalam sebuah keburukan, sehingga manusia selalu bergantung pada Allah agar diberi petunjuk untuk


82 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran menempuh jalan-jalan keselamatan. Sejalan dengan Al-Qur’an, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajak manusia untuk menyikapi kehidupan dengan seimbang, seperti disebutkan dalam hadis Riwayat Bukhari no. 1968: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, ‘mengapa keadaan kamu seperti itu?’ Wanita itu menjawab, ‘saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.’ Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, ‘makanlah, karena saya sedang berpuasa.’ Salman menjawab, ‘saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.’ Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan sholat malam. Salman pun berkata padanya, ‘tidurlah.’ Abu Darda’ pun tidur kembali. Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan sholat malam, Salman lagi berkata kepadanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka sholat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penulihal masing-masing hak tersebut.” Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” Hadis ini meriwayatkan pentingnya kesimbangan antara kebutuhan jasad/fisik dan kebutuhan hati. Kebutuhan jasad atas diri sendiri berupa mandi bila badan kotor, makan bila perut lapar. Kebutuhan hati adalah pemenuhan hak orang lain sehingga terhindar dari perbuatan dzalim.


Prinsip-Prinsip Tentang Fisik dan Jiwa 83 c. Pemahaman Tasawuf Berbeda lagi dengan pandangan tasawuf atau yang lebih dikenal dengan sufistik. Nafs dalam paradigma sufi memiliki makna sesuatu yang melahirkan sifat-sifat tercela, yang mengantarkan pemilik sifat tersebut pada perilaku yang buruk. Terkadang istilah nafs diartikan sebagai “ego”. Namun dalam bahasa Arab, kata nafs lebih populer menunjukkan arti sebagai “diri”. Frager (2003: 86) mengungkapkan dalam pandangan tasawuf, nafs merujuk pada sifat-sifat dan kecenderungan buruk diri kita. Pada tingkatan terendah, nafs dapat membawa manusia pada kerusakan dan kesesatan. Para penganut tasawuf memandang hidup ini adalah tentang berjuang melakukan hal-hal yang harus kita lakukan, dan juga berjuang lebih keras untuk menghindari perilaku buruk yang merusak. Pilihan kata berjuang dipilih karena pada dasarnya pikiran manusia bersifat terbagi-bagi. Ada sebagian dari diri manusia yang cenderung menyuruh pada kebaikan, namun ada sebagian dari diri manusia pula yang cenderung pada hal-hal yang buruk namun tampak indah dan menyilaukan bagi mata inderawi. Nafs yang berakar pada jasad dah roh memiliki kecenderungan sifat materialistik sekaligus juga spiritualistik. Nafs yang berada pada tingkatan paling dasar tertarik pada kesenangan dan keuntungan duniawi. Namun bisa jadi suatu saat nafs bertransformasi lebih tertarik kepada Tuhannya dan menjadi berkurang ketertarikannya pada duniawi. Secara umum dapat dikatakan istilah nafs mengacu pada pembicaraan mengenai sisi dalam manusia yang dapat berpotensi baik ataupun buruk. Beberapa tingkatan nafs menurut pemahaman tasawuf akan dijelaskan pada sub bab berikutnya. d. Paradigma Psikologi Islam Paradigma psikologi positif yang saat ini berkembang pada dasarnya sejalan dengan prinsip potensi baik yang ada pada nafs. Baharuddin (2007: 91-92) dalam bukunya membahas stratifikasi psikis manusia yang ada di dalam Al-Qur’an. Al-Nafs di sini dipandang sebagai sebuah elemen dasar psikis manusia. Nafs digambarkan dalam ilustrasi sebagai sebuah wadah yang mampu menampung dimensi-dimensi lain, seperti akal, qalbu, roh, dan fitrah. Setiap istilah tadi menggambarkan penekanan makna dari sisi-sisi di dalam diri manusia. Sebagai elemen dasar, nafs memiliki potensi baik/positif, maupun potensi buruk/negatif. Kecenderungan manusia untuk berbuat baik,


84 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran diyakini datang dari Tuhan; sedangkan kecenderungan manusia untuk berbuat buruk adalah berasal dari ketertarikan manusia terhadap benda-benda yang sifatnya manterial ataupun tidak kekal. Pada dasarnya potensi jiwa pada hal-hal yang baik lebih besar dibanding potensi terhadap hal-hal buruk. Penjelasan mengenai potensi baik manusia akan dipaparkan lebih lanjut dalam bab selanjutnya. Meski memiliki fitrah untuk menuju pada kebaikan, namun hal-hal yang buruk justru seringkali dikelilingi oleh hal-hal yang lebih menarik jiwa manusia untuk mendekatinya. Dibutuhkan kesadaran penuh dan kejernihan hati seorang manusia untuk dapat meniti jalan yang baik, sesuai potensi yang ada dalam dirinya. Hal ini juga menunjukkan hikmah untuk memelihara kesucian jiwa (nafs) dan menghindari hal-hal yang dapat mengotorinya. Fungsi dari penyucian diri ini adalah untuk membawa seseorang pada kesempurnaan diri. Dalam kaitannya dengan psikologi, nafs yang suci membawa seseorang lebih dekat pada kesehatan mental, karena berkurang konflik-konflik dan rasa bersalah yang ada dalam hatinya. Sebaliknya, nafs yang cenderung diisi oleh hal-hal negatif membawa seseorang lebih dekat pada kondisi jiwa yang tidak tenang, penuh tekanan, rasa bersalah, dan beban mental. Baharuddin (2007: 91-92) menyebutkan setidaknya ada 4 pengertian nafs menurut Al-Qur’an, pertama berkaitan dengan nafsu; kedua nafs memiliki kaitan dengan nafas kehidupan; ketiga berhubungan dengan jiwa; dan keempat berkaitan dengan diri manusia. Keterkaitan antara fisik dan jiwa dalam perspektif Islam dapat dipahami sebagai dua entitas yang baru dapat membentuk manusia secara utuh jika digunakan bersama. Nafs yang berada dalam tubuh fisik membuat manusia dapat hidup, berperilaku, dan bermasyarakat; sementara ketika nafs dicabut oleh malaikat keluar dari bentuk fisiknya, tubuh manusia tidak lain adalah bangkai. Namun ketika nafs terpisah dari wujud fisiknya, ia tidaklah mati. Hikmah digambarkannya nafs dalam berbagai bentuk dan makna yaitu menunjukkan pemahaman yang utuh mengenai jiwa manusia. Al-Qur’an sebagai sumber rujukan utama hidup manusia memberikan demikian banyak informasi mengenai jiwa, agar manusia mengenal dirinya sendiri. Dengan mengenal dirinya sendiri, manusia akan lebih mudah mengenal Tuhannya.


Prinsip-Prinsip Tentang Fisik dan Jiwa 85 C. Kisah Diturunkannya Nafs a. Paradigma Tasawuf Dalam pandangan tasawuf, Tuhan menciptakan alam semesta ini dalam sekali perintah, Kun! (Jadilah!). Kata kun terdiri dari huruf kâf yang mewakili kesempurnaan, dan nûn yang mewakili cahaya. Maka penciptaan alam semesta ini terwujud dari cahaya yang sempurna. Sebelum menciptakan alam material, Tuhan telah terlebih dulu menciptakan jiwa. Jiwa-jiwa ini berada dalam dunia lain yang berwujud roh. Dunia roh ini berada dekat dengan Tuhan. Kondisi jiwa saat itu mengenal siapa Tuhan mereka dan mereka pun merasa senang bahwa Tuhan telah menciptakan mereka (Baharuddin, 2007: 94). Adz-Dzakiy (2002: 17) menyebutkan asal manusia secara esensial bermula dari Allah, bersifat cahaya, roh (hidup), dan gaib (tidak tampak oleh kasat mata). Manusia pada awalnya bahkan tidak dapat didefinisikan dengan kata-kata, maupun huruf dan bunyi. Hanya Allah Ta’ala yang dapat mengetahui dan memahaminya. Hal ini menunjukkan asal manusia ialah rohaniyah, baru kemudian menjadi gabungan antara rohaniyah dan jasmani setelah ditiupkan roh (jiwa manusia) kedalam tubuhnya. Ayat Al-Qur’an yang menunjukkan penciptaan manusia pada awalnya adalah: “Maka apabila Aku telah menyempurnakan dalam proses penciptaannya (Adam), dan Aku telah meniupkan dalam dirinya Roh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (Al Hijr, 15:29). Tuhan lalu mengirimkan jiwa-jiwa ini ke dunia material melalui empat elemen penciptaan (Adz-Dzakiy, 2002: 17). Pertama, jiwa melewati elemen air dan menjadi basah, kemudian jiwa tersebut melewati tanah dan menjadi berlumpur. Lalu ia melewati elemen udara menjadi tanah liat, dan melewati api sehingga menjadi tanah liat panggang. Tanah liat ini yang kemudian menjadi cikal bakal penciptaan tubuh manusia pertama, yaitu Nabi Adam ‘alaihi salam. Berbeda dengan penciptaan Nabi Adam, keturunan manusia setelahnya melewati elemen air (air mani) dan proses kejadian dalam kandungan atau rahim ibu: “Kemudian Kami telah menjadikan saripati itu air mani di dalam tempat


86 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran yang kokoh. Kemudian Kami menjadikan air mani itu segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, lalu Kami jadikan segumpal daging itu tulang-belulang, kemudian tulang-belulang itu kami bungkus dengan daging, Kemudian Kami jadikan ia seorang makhluk yang berbentuk lain. Maka Maha Berkah Allah lagi Maha Pencipta yang paling Baik. Kemudian, setelah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu akan dibangkitkan pada hari Kiamat“ (Al-Qur’an Surat Al-Mu’minuun, 23: 13-16) Proses penciptaan ini pula mengiikutsertakan emosi, pikiran, serta akal. Bersama dengan penciptaan ini pula tuhan mewarisi sifat-sifat-Nya, sehingga tiap individu adalah perantara antara surga dan neraka. Hanya saja, saat jiwa sudah turun dalam dunia material, jiwa menjadi lupa terhadap rahasia yang terdapat dalam diri mereka sebelum penciptaan dunia material terjadi. Sebagai makhluk material, jiwa memiliki kecenderungan untuk tertarik pada hal-hal yang bersifat duniawi. Di sisi lain, sebagai jiwa yang sudah menyatu dengan tubuh manusia ini Tuhan memberikan beragam karunia berupa kesadaran, akal dan kehendak. Akal adalah kemampuan untuk mengenal hal baik dan buruk, kehendak adalah kemampuan memilih hal baik ataupun hal buruk, serta kesadaran identik dengan kebijaksanaan dalam berkehendak dan bertindak. Dalam fitrahnya, manusia memiliki potensi untuk membedakan kebaikan dan keburukan. Hanya saja, ia kurang menggunakan kebijaksanaan dalam memilih kehendak. Kurang kuatnya kehendak untuk memilih kebaikan dikarenakan lemahnya keyakinan. Dalam situasi inilah jiwa manusia mudah dicondongkan pada keburukan. b. Paradigma Ulama lain Ada beberapa ulama lain yang membahas mengenai roh dan jiwa manusia. Salah satunya adalah seorang ulama masyhur, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah membahas penciptaan roh di dalam kitabnya Al-Ruh li Ibnul Qoyyim. Dalam beberapa hadis nabi, roh diciptakan setelah penciptaan Adam di surga. Terdapat bermiliar-miliar roh yang kemudian akan ditiupkan menjadi jiwa manusia. Dalam kitab Al-Muwaththa’, seorang Imam Malik menyampaikan ketika Umar bin Khatthab ditanya tentang ayat yang berbunyi, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka.


Prinsip-Prinsip Tentang Fisik dan Jiwa 87 Maka Umar bin Khatthab menjawab: “Aku pernah mendengar Rasulullah ditanya tentang ayat ini, lalu beliau menjawab: ‘Allah menciptakan Adam kemudian mengusapkan Tangan kanan-Nya ke sulbi Adam, hingga dari sana keluar anak-anak keturunannya” (dalam Nashori, 2005: 23). Baik dalam pandangan tasawuf maupun ulama lain, ada benang merah dalam penciptaan roh manusia. Pertama, jiwa manusia berasal dari Allah, bukan dari selain-Nya. Kedua, Allah mewariskan sebagian dari sifat-sifat-Nya kepada jiwa manusia. Terdapat roh Ilahi dalam diri (jiwa) manusia memungkinkan manusia memiliki potensi-potensi dasar sebagaimana sifat yang Allah miliki (Nashori, 2005: 24). Sebagai contoh, sifat Ar-Rahmaan (Pengasih) Allah dapat dilihat pada orang-orang yang dermawan, yang memberi tanpa pamrih, yang menolong tanpa mengharap piutang budi. Sifat Ar-Rahiim (Penyayang) Allah tampil dalam relasi kasih antara orang tua dengan anak, dan masih banyak lagi sifat-sifat Allah yang tercermin dalam perilaku manusia yang beriman kepada-Nya. Mengenai roh, Allah berfirman bahwasanya manusia hanya diberikan sedikit saja dari pengetahuan mengenai hal tersebut: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: ‘Roh itu termasuk urusan Tuhan-Ku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit saja” (Al-Qur’an surat Al-Israa’, 17: 85). Pemahaman umum mengenai ayat di atas menjelaskan bahwa pengetahuan manusia mengenai roh sangat minim. Adapun orang-orang yang diberikan pengetahuan lebih dibandingkan manusia awam lainnya ialah mereka-mereka yang terbiasa mengasah kepekaan jiwanya dalam mengenali diri dan Tuhannya, sehingga ia memahami hakikat dirinya. Jiwa (nafs) yang sekarang kita kenali sebagai totalitas manusia juga melalui penciptaan wujud fisik atau jasmaninya. Pembentukan jasad manusia sebagai wadah bagi roh berbentuk nutfah. Dalam pengertian harfiah, nuthfah berarti setetes cairan. Ada tiga jenis nutfah, yaitu nutfah laki-laki, nutfah perempuan, dan nutfah amsyaj (air mani yang sudah bertemu dengan sel telur dan menjadi kesatuan). Nutfah ini kemudian menjadi ‘alaqah, yang berarti sesuatu yang menempel dan melekat pada yang lain. ‘Alaqah ini berbentuk seperti daging.


88 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran Proses ketiga yaitu mudghah, yang secara harfiah ialah gumpalan yang telah dikunyah. Pada tahapan ini semua organ utama telah dibentuk, termasuk di dalamnya pendengaran, pengelihatan, tulang, daging, dan kulit. Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika 42 hari berlalu setelah nutfah berada di dalam rahim, Allah mengirimkan malaikat untuk membentuknya dan menciptakan pendengaran, penglihatan, kulit daging, dan tulangnya. Kemudian malaikat bertanya: ‘Wahai Allah, anak laki-laki atau anak perempuan?’ Allah menentukan apa yang diinginkan-Nya” (Hadis Riwayat Muslim). Ibn ‘Abbas memaparkan, pada saat calon bayi dalam rahim berusia 120 hari, Allah Azza wa Jalla meniupkan roh-Nya ke dalam jasad manusia. Pada saat itulah untuk pertama kali roh dan jasad bersatu. Al-Jauziyah (dalam Nashori, 2005) pernah menyampaikan bahwa sebelum peniupan roh, embrio memiliki gerakan atau persepsi. Beliau memberi gambaran gerakan embrio sebelum dipersatukan dengan roh seperti gerakan tanaman yang sedang tumbuh, yaitu alamiah dan nir sadar. Pada saat roh ditiupkan ke jasad, gerakan dan persepsi embrio menjadi sadar. Peristiwa bertemunya roh dengan jasad merupakan bukti kebesaran Tuhan. Hal ini juga sekaligus menjadi pembelajaran bagi manusia yang memiliki kesombongan dalam hatinya bahwa ia berasal dari setetes air yang hina, maka tidaklah pantas ia memelihara kesombongan tersebut di dalam hatinya. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman mengenai sejarah turunnya nafs ke dunia material yang kita hidupi saat ini membuat manusia lupa akan tujuan hidupnya. Hal tersebut juga dapat berpotensi membawa nafs pada kecenderungan cinta yang berlebihan terhadap dunia dan melupakan tempat kembalinya, yaitu akhirat. Dalam konteks psikologi, cinta yang berlebihan terhadap dunia merupakan sumber beragam penyakit mental yang sulit disembuhkan tanpa melepaskan kesombongan dalam dirinya. D. Komponen Jiwa Manusia (Nafs) Berbicara mengenai komponen jiwa manusia, ada beragam pandangan dan pendapat. Selain itu, konsep mengenai nafs sendiri memiliki banyak ruang


Prinsip-Prinsip Tentang Fisik dan Jiwa 89 lingkup pembahasan. Secara umum, beberapa dimensi dari nafs yang dikenal adalah roh, akal, nafsu, qalbu, dan inderawi. Roh tidak akan dapat eksis bila tidak ada jasad atau jasmani. Jasad adalah wadah yang memang disiapkan untuk roh. Saat roh dan jasad bersatu, timbul nafs yang memfungsikan keduanya. Sementara inderawi adalah hal-hal yang dapat manusia rasakan melalui wujud fisiknya. Dimensi inderawi ini diyakini juga sebagai wujud material dari sifat-sifat Allah yang diwariskan pada manusia. Allah memiliki sifat Al-Bashir (Maha Melihat), dan manusia dapat merasakan kenikmatan memandang sesuatau melalui matanya. Allah memiliki sifat As-Sami’ (Maha Mendengar), dan manusia dapat merasakan kenikmatan mendengar sesuatu melalui telinganya. Dan masih banyak lagi sifatsifat Allah yang dapat dirasakan manusia melalui inderawinya. Hanya saja, selama ini manusia masih banyak menggunakan inderawinya pada hal-hal yang bersifat material saja. Sejatinya, inderawi ini juga dapat digunakan untuk merasakan hal-hal yang bersifat spiritualisme, semisal dalam memahami hikmah suatu peristiwa. Dalam pengertian yang lebih jauh, nafs bahkan dapat menjadi sumber ilmu yang akan mengantarkan kita mengenal Allah melalui hati (qalbu). Beragam ruang lingkup pembahasan mengenai nafs salah satunya disebabkan karena keadaan dan fungsi jiwa itu berubah-ubah, maka diperlukan berbagai istilah yang berbeda untuk menandai fungsi dan keadannya saat itu (Baharuddin, 2007: 108). Saat bicara mengenai orientasi jiwa ke tempat asalnya, maka ia disebut sebagai roh. Saat jiwa melakukan pemikiran rasional, maka ia disebut sebagai akal. Ketika memperoleh pencerahan dari Allah melalui penyingkapan hijab (mukasyafah), maka ia disebut sebagai qalbu (hati). Menurut pandangan tasawuf, Al-Thirmidzi (dalam Frager, 1999) membahas adanya empat stasiun hati, yaitu dada (sudur, shadr), hati (qalb), hati lebih dalam (fu’ad), dan lubuk hati terdalam (lubb). Keempat stasiun ini mewakili area yang berbeda, dimulai dari area terluar, sampai area terdalam. Setiap area memiliki pintu masuknya masing-masing. Empat stasiun hati ini juga menunjukkan adanya tingkatan dalam hati manusia.


90 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran Dada secara istilah berarti hati dan akal. Sebagai kata kerja, ia berarti memimpin, menentang, melawan. Dalam pandangan tasawuf, dada terletak di antara hati dan hawa nafsu. Dada sebagai area terluar memimpin interaksi manusia dengan dunia. Namun, di dalam dada pula menjadi medan pertempuran antara dorongan negatif dan kekuatan positif. Jika muatan negatif seperti syahwat, dengki, sombong, kepedihan, penderitaan lebih kuat; dada akan diselimuti kegelapan. Sebagai akibatnya, hati akan menjadi keras dan sulit menerima nasihat. Sebaliknya, jika dada dipelihara dengan muatan positif seperti ibadah, doa, derma, serta prinsip-prinsip dasar kebaikan dalam ajaran agama, ia akan diliputi cahaya. Seperti telah disebutkan sebelumnya, dada dalam bahasa Arab memiliki akar kata yang sama dengan akal. Dengan demikian, ia juga merupakan tempat di mana pengetahuan yang dipelajari manusia tinggal melalui kajian, hapalan, diskusi, dan sebagainya. Akal berupa pengetahuan dapat membawa manusia dalam dua jalan, yaitu kesombongan dan kearifan. Manakala dada telah bersih, area selanjutnya akan terbuka, yaitu hati. Hati (qalbu) berisi prinsip-prinsip pengetahuan yang lebih mendasar. Hati merupakan tempat pengetahuan luar maupun batin. Pengetahuan luar mencakup informasi untuk bertahan hidup, seperti kecerdasan; sedang pengetahuan batin adalah pemahaman untuk memberikan makna dalam kehidupan. Hati merupakan rumah bagi takwa. Hati yang bersih dan selalu mengingat Tuhannya menjadikan manusia lebih hati-hati dalam bertindak. Hati lebih dalam (fu’ad) digambarkan sebagai tempat pengelihatan batin dan merupakan inti cahaya makrifat. Dengan cahaya makrifat, seseorang mampu


Prinsip-Prinsip Tentang Fisik dan Jiwa 91 memiliki kearifan batin, atau pengetahuan hakikat spiritual. Kaitan antara qalbu dan fu’ad saling melengkapi. Di sinilah letak keyakinan yang kuat. Jika qalbu memiliki pengetahuan, maka fu’ad memiliki pengelihatan. Meyakini adanya Tuhan dan hal-hal lain yang bersifat gaib atau belum terjadi adalah fungsi fu’ad. Pada beberapa diskusi lain, fu’ad memiliki kemiripan dengan terminologi dalam bahasa Inggris, mind. Dengan demikian, jika seseorang memiliki qalbu yang bersih, ia dapat lebih jernih melihat dan memahami persoalan dengan kearifan batiniyah melalui fu’ad. Lubuk hati terdalam (lubb) dalam bahasa Arab memiliki makna ‘inti’ dan ‘pemahaman batiniyah’. Lubb dalam pemahaman tasawuf menjadi dasar hakiki pemahaman agama. Cahaya hati lainnya didasari oleh cahaya dalam lubb yang berasal dari kemurahan Tuhan. Orang-orang dengan lubb yang terbuka adalah mereka yang telah berpaling dari segala bentuk keburukan. Ketika seseorang memiliki lubb yang bercahaya, ia lebih mudah mengenali kebenaran hakiki. Pandangan tasawuf mengenai nafs lebih diartikan sebagai sisi negatif manusia yang mengajak pada keburukan. Namun, jika kita menggunakan paradigma lain, nafs bisa dipandang sebagai manusia secara keseluruhan. Maka pembahasan mengenai manusia tentu tidak lepas dari unsur-unsur jasmani dan rohani. Telah disebutkan sebelumnya, jiwa (nafs) tidak akan dapat berfungsi tanpa adanya jasad (tubuh atau fisik). Jasad lekat dengan atribut keduniawian yang tidak kekal. Sementara unsur-unsur jiwa seperti roh berasal dari Tuhan yang bersifat abadi. Tingkatan unsur-unsur jiwa ini bersifat vertikal, dimulai dari dunia menuju ke Allah. Oleh karena itu, jasad maupun hal-hal yang bersifat keduniawian berada pada tingkatan yang paling bawah, sedangkan seiring kemampuan manusia melihat hal-hal yang bersifat hakiki berada pada tingkatan di atasnya. Adanya unsur jasad atau fisik membuat manusia memiliki kecenderungan menyukai hal-hal yang juga bersifat materialistik. Ia rentan terhadap godaan yang tidak kekal atau akan binasa, seperti harta, kedudukan, dan lain sebagainya. Dunia digambarkan memiliki daya tarik yang sangat kuat terhadap manusia, sehingga manusia yang memiliki kecintaan dan keterikatan yang besar kepada dunia, digambarkan berada pada tingkatan yang paling rendah. Namun karena jiwa juga berasal dari roh yang ditiupkan Allah dalam penciptaan manusia (Qur’an 32: 9; 38: 72), ia juga memiliki kecenderungan pada hal-hal positif yang bersifat ilahiah melalui penyucian hati dan jiwa (tadzkiyatun nafs). Hal ini juga dijelaskan


Click to View FlipBook Version