192 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran Dari Nawwas bin Saman Al-Anshari ra., ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebaikan dan dosa. Maka Rasulullah saw bersabda, “Kebaikan itu adalah akhlak yang baik dan dosa itu adalah apa yang meragukan dalam dadamu dan kamu tidak suka bila diketahui orang-orang” (HR Muslim). Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra., dari NAbi saw, beliau bersabda, “Berikan makan kepada orang yang lapar, tengoklah orang yang sakit dan bebaskanlah tawanan” (HR Bukhari). Dari Abu Umamah ra. Ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Aku menjamin dengan satu rumah di pinggiran surga bagi orang yang mau meninggalkan perdebatan meskipun ia benar, dan satu rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun ia bergurau, dan satu rumah di bagian atas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya” (HR Abu Dawud). “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allah Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allah akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya” (HR Muslim no.2699). “Bantulah saudaramu, baik dalam keadaan sedang berbuat zhalim atau sedang teraniaya. Ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, kami akan menolong orang yang teraniaya. Bagaimana menolong orang yang sedang berbuat zhalim?” Beliau menjawab: “Dengan menghalanginya melakukan kezhaliman. Itulah bentuk bantuanmu kepadanya” (HR Bukhari). Dari Abu Hurairah ra., bahwasanaya Rasulullah saw bersabda, “Orang yang kuat bukanlah orang yang selalu menang bergulat. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah” (HR Bukhari).
Psikologi Islam Dalam Bidang Psikologi Sosial 193 Dari Abu Hurairah ra., ia berkata Rasulullah saw bersabda, “Musa bin Imran as berkata, ‘Wahai Tuhanku! Siapakah yang paling gagah diantara hamba-Mu di sisi-Mu?’ Allah berfirman, ‘Orang yang memaafkan di kala ia mampu membalas’” (HR Baihaqi, Syu’abul-Iman). Dari Ibnu ‘Umar r.huma., ia berkata Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada tegukan yang diteguk oleh seorang hamba yang lebih utama di sisi Allah daripada tegukan kemarahan yang ia tahan karena mencari keridhaan Allah Ta’ala” (HR Ahmad). Sebaliknya Islam melarang manusia untuk berperilaku antisosial seperti melakukan tindakan agresif dan kekerasan, menebar ketakutan, mencela dan menghina, maupun membuka aib orang lain. Sedemikian kerasnya larangan Allah Swt terhadap perilaku antisosial, maka terdapat ancaman dan celaan bagi orang yang tidak mau menolong serta berperilaku yang antisosial. Hal ini adalah karena perilaku antisosial merupakan perilaku yang jauh dari akhlak mulia. Hal ini disampaikan dalam hadis berikut ini, dimana Allah Swt mengancam manusia dengan ancaman yang sangat keras sebagai mana yang Allah Swt firmankan dalam ayat berikut ini, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang–orang yang zhalim” (QS Al-Hujurat: 11). Pada sebuah hadis Rasulullah saw bersabda, Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasululloh saw bersabda, “Sesungguhnya di antara dosa besar yang paling besar adalah penghinaan seseorang terhadap kehormatan seorang Muslim tanpa hak” (HR Abu Dawud).
194 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran Dari Abu Barzah Al-Aslami ra., ia berkata, Rasululloh saw bersabda, “Wahai orang-orang yang mengaku beriman dengan lidahnya, sedang iman belum masuk ke dalam hatinya! Janganlah kalian menggunjing orang Muslim dan jangan mencari-cari aib mereka. Karena barangsiapa mencari-cari aib mereka, maka Allah akan mencari-cari aibnya. Dan orang yang aibnya dicari-cari Allah, maka Allah akan mempermalukannya di rumahnya sendiri” (HR Abu Dawud). Dari Ibnu Abbas r.huma., dari Nabi saw., beliau bersabda, “Barangsiapa menutupi aib saudaranya (muslim), maka Allah akan menutupi aibnya pada hari Kiamat, dan barangsiapa membuka aib saudaranya yang muslim, maka Alloh pasti akan membuka aibnya, sehingga Allah mempermalukannya di rumahnya karena aibnya itu” (Ibnu Majah-At Targhib). Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab, “Menurut kami orang yang bangkrut adalah orang yang tidak mempunyai uang maupun harta.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut di antara umatku ialah orang yang pada hari Kiamat datang dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat. Tetapi ia juga pernah mencela orang, menuduh orang berzina, memakan harta orang, menumpahkan darah orang, dan memukul orang. Maka kebaikannya diberikan kepada orang-orang itu. Jika kebaikannya telah habis sebelum tanggungannya ditunaikan, maka dosa orang-orang tersebut diambi dan dilemparkan kepadanya. Lalu ia dilemparkan ke neraka” (HR Muslim). Dari Abu Hurairah ra., ia berkata Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa pernah menzhalimi saudaranya, baik terhadap kehormatannya atau yang lain, hendaklah ia minta penghalalan (maaf) darinya dari ini juga. Sebelum datang masa ketika tidak ada lagi dinar ataupun dirham (hari Kiamat). Jika ia mempunyai amal shalih, maka akan diambil sesuai dengan kezhalimannya. Jika ia tidak punya kebaikan, maka keburukan orang yang dizhaliminya akan diambil dan dibebankan kepadanya” (HR Bukhari). Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Rasulullah saw berdiri di hadapan sekelompok orang yang sedang duduk-duduk. Beliau bersabda, “Maukah kalian aku beritahu
Psikologi Islam Dalam Bidang Psikologi Sosial 195 tentang orang yang paling baik dan paling buruk di antara kalian?” Mereka terdiam. Beliau mengulanginya tiga kali. Maka seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepada kami tentang orang yang paling baik dan paling buruk di antara kami.” Beliau bersabda, “Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang kebaikannya dapat diharapkan dan orang lain aman dari keburukannya. Sedang seburuk-buruk orang di antara kalian adalah orang yang kebaikannya tidak dapat diharapkan dan orang lain tidak aman dari keburukannya” (HR Tirmidzi). Pada akhirnya, Islam mengajarkan bahwa melakukan bentuk kebaikan (kebajikan) akan berdampak sangat luas. Begitu juga apabila manusia melakukan suatu dosa (kejahatan). Oleh karena itu, Allah Swt menekankan sekali agar manusia senantiasa berperilaku prososial karena dampak dari kebaikan tersebut dapat dirasakan secara luas, sedangkan suatu kejahatan pun berdampak sangat luas. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt, “…bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi” (QS Al-Maidah: 32). B. Peacebuilding: Akhlak Meminta Maaf Dalam Islam Dalam berinteraksi sosial, individu tentunya tidak terlepas dari resiko berkonflik dengan orang lain. Hal ini merupakan suatu kewajaran. Namun apabila intensitas konflik interpersonal tersebut meningkat sehingga menyebabkan salah satu pihak merugi, maka konflik tersebut dapat berdampak pada rusaknya hubungan interpersonal. Menurut beberapa penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa permintaan maaf dari pelaku dapat memfasilitasi pemafaan (dari korban) dan memiliki kekuatan untuk memperbaiki hubungan interpersonal yang telah rusak (Beyens, Yu, Han, Zhang, Zhou, 2015). Proses kunci untuk menghindari perlaku balas dendam dan untuk melewati emosi negatif pada korban terhadap
196 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran pelaku adalah dengan cara pelaku menyampaikan permohonan maaf. Pelaku harus mengakui tanggung jawab nya dan mengekspresikan penyesalan (Lazare, 2004), menunjukkan perilaku bahwa pelaku adalah orang yang dapat dipercaya, dan bahwa kedua belah pihak memiliki nilia-nilai hidup yang sama. Dampak positif permintaan maaf pada konsiliasi dan pemaafan telah banyak dilakukakn dalam berbagai penelitian Psikologi Sosial (Darby dan Schlenker, 1982; McCullough dkk., 1997; Exline dan Baumeister, 2000; De Cremer dkk, 2011). Pada level kognitif, permintaan maaf mempengaruhi persepsi korban sehingga memandang pelaku dengan atribut yang lebih positif (Darby dan Schlenker, 1982; Ohbuchi dkk., 1989). Pada level afektif, permintaan maaf dapat mengurangi emosi negatif yang dirasakan korban seperti kemarahan (Ohbuchi dkk, 1989; Kirchhoff dkk, 2012) dan meningkatkan empati terhadap pelaku (McCullough dkk., 1997). Pada level behavioral, korban (penerima permintaan maaf) akan cenderung menahan perilaku agresif dan menyerang (Gold dan Weiner, 2000; Strang dkk., 2014). Dengan demikian, perilaku meminta maaf merupakan suatu hal yang diperlukan untuk tercapainya pemaafan, dan merupakan penawar (obat) bagi konflik interpersonal (Beyens, dkk., 2015). Pada kenyataannya, permasalahannya adalah bahwa seringkali permintaan maaf disampaikan oleh pelaku dengan kurang layak kepada korban, sehingga tidak dapat dipersepsi sebagai permintaan maaf yang tulus. Hal ini justru dapat mempersulit proses resolusi konflik. Terkadang terdapat permintaan maaf yang kurang layak dan hal ini disebabkan karena kesulitan seseorang untuk mengakui kesalahannya. Pengakuan terhadap kesalahan yang dilakukan seseorang menjadi perkara yang tidak mudah karena jika ia mengakui kesalahannya, maka hal tersebut membuat individu berpikir kembali mengenai citra dirinya (self-image) yang positif atau negatif. Hal ini disampaikan oleh Schumann (2014) bahwa manusia adalah makhluk yang sangat termotivasi untuk mempertahankan citra diri yang positif – seperti citra mengenai integritas diri, moralitas dan ketercukupan.” Inilah mengapa terkadang permintaan maaf menjadi sulit atau bahkan dilakukan dengan buruk atau kurang layak. Perilaku meminta maaf mengandung pengakuan bahwa perkataan atau perilaku individu telah menyakiti orang lain hal tersebut mengancam citra diri individu terhadap self ideal-nya. Terkadang permintaan maaf disampaikan dengan buruk seperti individu menjadi defensif, membenarkan perilaku (kesalahan) individu yang kesemuanya itu adalah dalam rangka mempertahankan ego individu.
Psikologi Islam Dalam Bidang Psikologi Sosial 197 Dalam penelitian yang dilakukan oleh Schumann (2014) menunjukkan bahwa terdapat beberapa hal penting yang harus diperhatikan seseorang agar permintaan maafnya dapat dipandang sebagai permintaan maaf yang baik dan layak sehingga korban dapat merasakan ketulusan dari permintaan maafnya tersebut. Terdapat beberapa hal yang perlu dilibatkan dalam proses permintaan maaf pelaku terhadap korban yaitu: 1. Pelaku perlu untuk benar-benar mengungkapkan penyesalannya dengan ucapan “Saya meminta maaf.” 2. Pengakuan terhadap kesalahan yang dilakukan. Hal ini mengandung pengertian bahwa pelaku mengakui bahwa ia bertanggungjawab penuh atas perilakunya. 3. Menyampaikan kepada korban bagaimana pelaku dapat memperbaiki keadaan agar menjadi lebih baik. 4. Berjanji untuk tidak mengulanginya dan akan berperilaku lebih baik lagi di kemudian hari. 5. Memastikan bahwa korban mengetahui bahwa pelaku mengetahui persis kesalahan yang dilakukan pelaku yang menyebabkan korban merasa disakiti atau dirugikan. Pelaku perlu menjelaskan apa yang terjadi, tanpa terdengar menyalahkannya kepada orang lain. Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa individu sebagai pelaku perlu melibatkan beberapa aspek penting dalam penyampaian permintaan maaf sehingga pelaku layak mendapatkan pemaafan dari korban. Dalam hal meminta maaf, Islam mengajarkan bahwa permintaan maaf yang layak kepada manusia itu memiliki konsep yang serupa dengan permintaan maaf kepada Allah Swt. Permintaan maaf kepada Allah Swt terangkum dalam bab pembahasan taubat. Dalam bahasa Arab, taubat ة َ ب ْ و َ ت) taubah) berasal dari perkataan َ َب و َ (tawaba (ت yang dari segi bermaksud kembali. Individu disebut َ تاب) taaba–telah bertaubat) adalah apabila dia telah kembali dari melakukan dosa atau telah meninggalkan dosa itu. Adapun dari sudut istilah, individu dapat disebut bertaubat apabika ia telah kembali dari melakukan maksiat atau dosa terhadap Allah Swt untuk menaatiNya. Sebagai makhluk yang tidak lepas dari salah dan khilaf, maka Allah Swt memerintahkan manusia untuk senantiasa bertaubat. Perintah tersebut terdapat pada firman Allah Swt,
198 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah wahai orang-orang yang beriman semoga kamu berjaya” (QS An-Nur: 31). “Dan mereka (orang-orang beriman) apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri, mereka segera ingat akan Allah lalu meminta ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak terus menerus dalam perbuatan dosanya itu, sedang mereka mengetahui (kesalahan dan akibat dari dosa itu)” (QS Ali Imran: 135). Taubat memiliki kedudukan sebagai amalan yang sangat tinggi di sisi Allah Swt. Taubat merupakan amalan yang sangat dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana yang tertuang dalam ayat berikut ini, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orangorang yang menyucikan diri” (QS Al-Baqarah: 222). Lebih dari sekedar perintah untuk bertaubat, taubat pun hukumnnya wajib bagi tiap mukmin sebagaimana yang Allah Swt firmankan dalam ayat berikut ini, “Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sungguh-sungguh” (QS At-Tahrim: 8). Perintah untuk tidak berputus dari rahmat Allah Swt agar manusia dapat menyegerakan taubatnya. Dalam ayat ini Allah Swt memberi peringatan kepada hamba-hambaNya yang melampaui batas ke atas diri mereka maksudnya adalah manusia yang melakukan dosa-dosa dan maksiat sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah Swt yang berbunyi, “Katakanlah wahai hamba-hambaKu yang telah melampaui batas ke atas diri mereka; janganlah kamu berputus harapan dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa-dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Pengasih” (QS Az-Zumar: 53).
Psikologi Islam Dalam Bidang Psikologi Sosial 199 Terdapat beberapa syarat agar taubat diterima Allah Swt. Syarat agar taubat manusia diterima Allah Swt harus memenuhi beberapa hal berikut ini: 1. Ikhlas untuk mencari keridhoan Allah Swt. 2. Mengungkapkan penyesalan atau perasaan sedih atas kemaksiatan atau kedurhakaan yang dilakukan sehingga berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. 3. Menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan menutupi keburukan-keburukan yang lalu dengan kebaikan (amal sholeh). 4. Menunaikan hak Allah Swt yang telah ditinggalkan. 5. Melakukan taubat sebelum ajal menjemput sesuai dengan firman Allah Swt yang berbunyi, “Dan taubat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang berbuat kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seorang diantara mereka barulah dia mengatakan, ‘Saya benar-benar taubat sekarang’” (QS An-Nisa: 18). Dalam pandangan Islam, manusia memang makhluk yang tidak luput dari kesalahan. Terkadang kesalahan yang dilakukan manusia berhubungan dengan orang lain, sehingga dapat menyakiti atau merugikan orang lain. Oleh karena itu, Islam mengajarkan manusia untuk meminta maaf kepada orang yang telah disakiti atau dirugikannya. Perilaku meminta maaf dalam Islam sangat ditekankan. Apabila manusia pernah berbuat kesalahan kepada Allah Swt, maka apabila individu memohon ampun dan bertaubat, niscaya Allah Swt akan mengampuni dan menerima taubatnya. Akan tetapi apabila manusia pernah berbuat kesalahan kepada manusia lainnya, maka yang harus dilakukan manusia untuk menebus kesalahannya adalah selain memohon ampunan Allah Swt, tapi manusia juga harus meminta kehalalan (meminta maaf) dari manusia yang telah disakiti atau dirugikannya. Hal ini disampaikan dalam hadis berikut ini, Dari Abu Hurairah ra., ia berkata Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa pernah menzhalimi saudaranya, baik terhadap kehormatannya atau yang lain, hendaklah ia minta penghalalan (maaf) darinya dari ini juga. Sebelum datang masa ketika tidak ada lagi dinar ataupun dirham (hari Kiamat). Jika ia mempunyai amal shalih, maka akan diambil sesuai dengan kezhalimannya. Jika ia tidak punya kebaikan, maka keburukan orang yang dizhaliminya akan diambil dan dibebankan kepadanya” (HR Bukhari).
200 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran Dari hadis di atas dapat diketahui bahwa perilaku meminta maaf kepada manusia merupakan perintah yang keras dari Allah Swt. Dengan demikian manusia perlu mengetahui adab meminta maaf kepada manusia. Adab meminta maaf mengikuti syarat diterimanya taubat oleh Allah Swt sebagaimana yang dijelaskan di atas. Dengan demikian, apabila syarat diterimanya taubat oleh Allah Swt menjadi konsep dasar adab meminta maaf terhadap sesama manusia harus memenuhi hal-hal sebagai berikut: 1. Ikhlas untuk mencari keridhoan Allah Swt. Hal ini mengandung pengertian bahwa individu sebagai pelaku akan meminta maaf kepada korban yang telah dizhaliminya berdasarkan niat semata-mata untuk mencari keridhoan Allah Swt. Ciri orang mukmin adalah hatinya tidak dapat tenang apabila ia masih memiliki kesalahan baik yang dilakukannya kepada Allah Swt ataupun kepada manusia. Dengan demikian, orang mukmin memahami betapa pentingnya meminta maaf (meminta kehalalan atas kesalahannya) pada orang lain itu merupakan perintah Allah Swt, maka permintaan maaf akan dilakukan semata-mata untuk mencari keridhoan Allah Swt. Orang mukmin memahami betul bahwa jika ia tidak meminta maaf kepada orang yang disakitinya di dunia, maka kesalahannya tetap akan dituntut dan dipertanggung jawabkan kelak di Yaumil Akhir. Bagi orang mukmin, tuntutan dari orang yang dizhaliminya saat Yaumil Akhir dapat menjadi sangat berat untuk dipikul. Maka hendaknya permintaan maaf itu disegerakan di dunia dengan niat ikhlas untuk mencari keridhoan Allah Swt. 2. Mengungkapkan penyesalan atau perasaan sedih atas kemaksiatan atau kedurhakaan yang dilakukan sehingga berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Dalam relasinya dengan sesama manusia, hal ini mengandung pengertian bahwa individu sebagai pelaku harus menyampaikan perkataan “Saya meminta maaf atas kesalahan yang saya lakukan.” Pernyataan ini mengandung pengertian bahwa individu menyesali perbuatannya serta mengakui kesalahannya merupakan tanggung jawabnya. Dengan memahami kesalahannya merupakan tanggungjawabnya, maka pelaku mudah untuk menyampaikan tekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi di kemudian hari. 3. Menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan menutupi keburukan-keburukan yang lalu dengan kebaikan (amal sholeh).
Psikologi Islam Dalam Bidang Psikologi Sosial 201 Dalam relasinya dengan sesama manusia, hal ini mengandung pengertian bahwa individu sebagai pelaku mengetahui persis kesalahan apa yang menyebabkan korban merasa disakiti atau dirugikan. Dengan demikian pelaku akan bertekad kuat untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut dan menutupi keburukannya (kesalahannya) di masa lalu dengan banyak melakukan perbuatan baik kepada korban. Hal ini dapat meningkatkan derajat kepercayaan korban kepada pelaku sehingga mendorong terciptanya islah (perbaikan) hubungan interpersonal di antara keduanya. 4. Menunaikan hak anak Adam yang telah disakiti atau dirugikan. Hal ini mengandung pengertian bahwa individu sebagai pelaku perlu untuk mengembalikan hak sesamanya.Contohnya adalah apabila pelaku meminjam barang temannya namun saat hendak dikembalikan, barang tersebut mengalami kerusakan. Maka pelaku perlu mengembalikan hal korban dengan mengganti kerusakan yang terjadi dengan memperbaikinya atau mencarikan pengganti barang yang telah dipinjamkan tersebut. Apabila hal ini berkaitan dengan kesalahan dalam hubungan interpersonal seperti menyebarkan berita palsu tentang korban, maka hak korban yang harus dipenuhi adalah dengan pelaku meminta maaf kepada korban dan harus memperbaiki nama baik korban yang telah tercoreng akibat dari fitnah tersebut. Selain itu pelaku harus banyak membicarakan kebaikan korban kepada orang lain sebagai upaya mengembalikan hak korban yang disakiti atau dirugikan. 5. Melakukan permintaan maaf sebelum ajal menjemput. Hal ini mengandung pengertian bahwa sebaik-baik permintaan maaf adalah yang dilakukan saat masih hidup di dunia. Permintaan maaf di dunia akan meringankan atau (atas izin Allah Swt) dapat menggugurkan tuntutan korban terhadap pelaku di Yaumil Akhir. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah saw yang berbunyi, “Dari Abu Hurairah ra., ia berkata Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa pernah menzhalimi saudaranya, baik terhadap kehormatannya atau yang lain, hendaklah ia minta penghalalan (maaf) darinya dari ini juga. Sebelum datang masa ketika tidak ada lagi dinar ataupun dirham (hari Kiamat). Jika ia mempunyai amal shalih, maka akan diambil sesuai dengan kezhalimannya. Jika ia tidak punya kebaikan, maka keburukan orang yang dizhaliminya akan diambil dan dibebankan kepadanya” (HR Bukhari).
202 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran Dari pemaparan di atas dapat diketahui bahwa perilaku meminta maaf mendapatkan penekanan yang sangat keras dalam Islam, karena hal tersebut merupakan perintah Allah Swt. Islam mengajarkan manusia untuk menunaikan hak sesama dan berakhlak mulia kepada sesama manusia. Oleh karena itu, baiknya adab permintaan maaf seseorang menunjukkan salah satu bentuk akhlak mulia seseorang. Apabila adab ini dilakukan maka perdamaian akan sangat mungkin terjadi dalam sebuah hubungan interpersonal sehingga dapat menjadi salah satu upaya mencapai resolusi konflik. Daftar Pustaka Beyens, U., Yu, H., Han, T., Zhang, L., & Zhou, X. (2015). The strength of a remorseful heart: psychological and neural basis of how apology emolliates reactive aggression and promotes forgiveness. Published online 2015 Oct 27. doi: 10.3389/ fpsyg.2015.01611 Darby B. W., & Schlenker B. R. (1982). Children’s reactions to apologies. J. Pers. Soc. Psychol. 43,74210.1037/0022-3514.43.4.742 De Cremer, D., Pillutla, M. M., & Reinders, F. C. P. (2011). How important is an apology to you? Forecasting errors in evaluating the value of apologies. Psychol. Sci. 22, 45–48. 10.1177/0956797610391101 Exline J. J., & Baumeister R. F. (2000). “Expressing forgiveness and repentance: benefits and barriers,” in Forgiveness: Theory, Research and Practice, eds McCullough M. E., Pargament K. I., Thoresen C. E., editors. (New York, NY: Guilford Press; ), 133–155. Gold G. J., & Weiner, B. (2000). Remorse, confession, group identity, and expectancies about repeating a transgression. Basic Appl. Soc. Psychol. 22, 291–300. Kirchhoff, J., Wagner, U., & Strack, M. (2012). Apologies: words of magic? The role of verbal components, anger reduction, and offence severity. Peace Confl. 18, 109–130. 10.1037/a0028092 Lazare A. (2004). On Apology. New York, NY: Oxford University Press McCullough, M. E., Worthington, E. L. J., & Rachal, K. C. (1997). Interpersonal forgiving in close relationships. J. Pers. Soc. Psychol. 73, 321–336. 10.1037//0022-3514.73.2.321 Ohbuchi K., Kameda M., Agarie N. (1989). Apology as aggression control: its role in
Psikologi Islam Dalam Bidang Psikologi Sosial 203 mediating appraisal of and response to harm. J. Pers. Soc. Psychol. 56, 219–227. 10.1037//0022-3514.56.2.219 Schumann, K. (2014). An affirmed self and a better apology: The effect of self affirmation on transgressors response on victims. Journal of Experimental Social Psychology, 54, 89-96. Strang S., Utikal V., Fischbacher U., Weber B., & Falk A. (2014). Neural correlates of receiving an apology and active forgiveness: an fMRI study. PLoS ONE 9:e87654. 10.1371/journal.pone.0087654
Metode Penelitian Psikologi Islam 205 METODE PENELITIAN PSIKOLOGI ISLAM Capaian Pembelajaran 1. Mahasiswa mampu memahami metode penelitian dalam paradigma Psikologi Islam A. Pendahuluan Ilmu pengetahuan adalah upaya untuk merespons dan memahami berbagai gejala alam semesta, mulai dari leval yang paling mikro hingga level yang paling makro. Perbincangan tentang semesta tentu tak terbatas pada apa yang tersirat dari definisi umum seolah alam adalah realitas di luar diri manusia. Manusia adalah bagian dari alam semesta yang dalam pemahaman teologis dapat diposisikan sebagai “ayat-ayat”-Nya juga. Maka, upaya untuk memahami alam semesta sebagai tugas ilmu pengetahuan adalah memahami apa yang ada di cakrawala (fi al-afaaq) dan apa yang ada di dalam diri (fii anfusikum) (Al Fushilat: 53). Sebagai respon terhadap gejala-gejala semesta yang bersifat dinamis, maka dapat dipastikan ilmu pengetahuan (sains) juga memiliki sifat yang sama. Berbagai bangunan dalam ruang ilmu pengetahuan senantiasa bersifat dinamis dan mengalami perubahan seiring dengan berkembangnya realitas. Pemahaman tentang kehidupan, pemahaman tentang materi, pemahaman tentang energi, bahkan pemahaman tentang perilaku manusia terus menerus berkembang atau bahkan berubah seiring dengan berbagai temuan baru dalam dunia sains. Pengembangan sebuah ilmu, setidaknya harus memperhatikan enam komponen. Hal ini ditegaskan oleh Archie J. Bahm, dalam karyanya yang terkenal dengan judul “What is Science.” Narasi tersebut memberikan penjelasan gamblang tentang enam komponen utama dalam sains, yaitu permasalahan, sikap, metode, aktivitas, kesimpulan dan pengaruh (efek). Masalah merupakan pijakan dasar bagi munculnya rumusan ilmu pengetahuan yang pada akhirnya akan menghasilkan aplikasi ilmu pengetahuan yang berdampak (efek) bagi realitas. Menurut Bahm, tidak semua masalahdapat dianggap sebagai problem ilmiah. Ada prasyarat yang harus dipenuhi untuk sebuah masalah agar menjadi sesuatu yang ilmiah, yaitu bahwa sebuah masalah dalam sains harus dapat dikomunikasikan. Seorang ilmuwan yang
206 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran menemukan suatu permasalahan, kemudian menganalisisnya secara pribadi dan tidak mengkomunikasikannya kepada pihak lain, belumlah dapat dikatakan ilmiah. Kedua, sebuah masalah dapat dikatakan sebagai komponen ilmu pengetahuan jika masalah tersebut dapat didekati dengan sikap-sikap ilmiah. Dan yang ketiga, suatu masalah dapat dipahami sebagai komponen ilmu pengetahuan jika permasalahan tersebut dapat didekati dengan menggunakan pendekatan-pendekatan ilmiah tertentu. Komponen kedua dari ilmu pengetahuan setelah masalah adalah sikap ilmiah. Sikap ilmiah merupakan posisi mental yang seharusnya dimiliki oleh seorang ilmuwan dalam menghadapi persoalan-persoalan ilmu pengetahuan. Menurut Bahm, sikap ilmiah ini setidaknya menuntut enam komponen, yaitu perasaan ingin tahun (curiousity), spekulatif, kesediaan untuk bersikap objektif, berpandangan terbuka (open-mindedness), kesediaan untuk bersabar dalam menyimpulkan dan pengakuan bahwa semua kesimpulan ilmiah bersifat tentatif (sementara). Tujuan keingintahuan dalam proses kerja ilmiah adalah sebagai dasar dari lahirnya pemahaman. Rasa ingin tahu akan mendorong seorang ilmuwan mengembangkan aktivitasnya melalui pencarian, penelitian, pengujian, eksplorasi dan eksperimen. Sikap ilmiah yang kedua adalah spekulasi. Seorang ilmuwan harus memiliki keberanian untuk mencoba memecahkan persoalan dengan mengajukan satu atau lebih hipotesis. Hal ini kadang berisiko terhadap tidak diakuinya pendapat ilmuwan tersebut. Spekulasi dalam konteks ini tentu saja bukan spekulasi yang tidak memiliki dasar, melainkan sejauh mana argumentasi logis dan teoretis yang dibangun menjadi dasar bagi pengembangan hipotesisnya. Pembuktian berdasarkan data akan menghasilkan konfirmasi atas hipotesis tersebut, apakah memperoleh dukungan empiris atau tidak. Sikap ilmiah yang ketiga adalah kesediaan untuk bersikap objektif. Apa itu objektif? Objektif adalah semakin menipisnya jarak antara realitas atau objek yang menjadi fokus pengamatan dan hasil pengamatan yang disampaikan. Sikap objektif mencakup kesediaan untuk mengikuti keingintahuan ilmiah (scientific curiosity), kesediaan untuk dibimbing melalui pengalaman dan akal, kesediaan untuk mengupayakan penghindaran terhadap berbagai kemungkinan bias, kesediaan untuk memandang hasil kajian sebagai sesuatu yang relatif dan berkembang, serta kesediaan untuk mengakui kekeliruan yang dihasilkan jika memang ditemukan bukti yang lebih kuat. Sikap ilmiah yang keempat adalah berpandangan terbuka. Hal ini diwujudkan
Metode Penelitian Psikologi Islam 207 dalam kesediaan untuk mempertimbangkan semua saran yang relevan dengan hipotesis, metode, dan bukti dari suatu permasalahan. Seorang ilmuwan yang berpikiran terbuka harus siap untuk memberikan toleransi bagi munculnya gagasangagasan baru, baik terkait objek yang menjadi fokus penelitian maupun metode dan pendekatan dalam melihat objek tersebut. Hal ini tentu saja meliputi toleransi terhadap gagasan-gagasan yang sangat mungkin bersifat kontradiktif dengan keyakinannya selama ini. Meneliti adalah sebuah kerja yang harus dijalankan secara sangat hati-hati dan penuh kesabaran. Oleh karenanya, sikap ilmiah kelima adalah kesediaan untuk bersabar dalam menarik sebuah kesimpulan. Prof. Sutrisno Hadi (2001), dalam artikelnya tentang Isu Uji Asumsi membagi kesimpulan menjadi dua level, yaitu kesimpulan yang bersifat konklusif dan kesimpulan yang bersifat indikatif. Meskipun kasus yang menjadi dasar bagi pembagian level kesimpulan tersebut berasal dari kajian statistika, namun sebagai sebuah kerangka pikir, tidak ada salahnya jika digunakan secara lebih luas. Sederhananya, kesimpulan yang bersifat konklusif adalah kesimpulan yang dibangun berdasarkan asumsi-asumsi yang konsisten dan bukti-bukti yang kuat serta jumlah yang banyak. Dalam sebuah kerja penelitian, ini dapat kita anggap sebagai sebuah sebuah kesimpulan final, meskipun tidak tertutup kemungkinan bagi lahirnya penelitian lain yang akan menghasilkan kesimpulan berbeda. Sementara, kesimpulan yang bersifat indikatif adalah kesimpulan yang dibangun berdasarkan bukti-bukti yang masih terbuka untuk diragukan dan cenderung belum konsisten sepenuhnya. Dua level kesimpulan ini tentu saja memerlukan kebijaksanaan dan kearifan seorang ilmuwan, bahkan untuk mengakui pada level mana kesimpulan yang dihasilkannya berada. Sikap ilmiah keenam atau terakhir yang disampaikan oleh Bahm adalah pengakuan bahwa semua kesimpulan ilmiah bersifat tentatif. Sebuah kesimpulan dalam ilmu pengetahuan atau sains adalah kesimpulan yang dibangun di atas fondasi asumsi dan pilar metode tertentu. Hal ini membawa konsekuensi logis bagi sifat relatif dan tentatif pada kesimpulan tersebut. Oleh karenanya, seorang ilmuwan harus berani untuk tetap berpendapat dan yakin terhadap hasil kerja intelektualnya selama ia merasa yakin bahwa itu adalah yang terbaik. Sebaliknya, ia juga harus merasa tidak yakin jika kesimpulan dan hipotesisnya telah tidak lagi memenuhi persyaratan pembuktian yang dibutuhkan. Oleh karenanya, sikap ilmiah yang paling mendasar adalah kemauan untuk bekerja keras dan percaya sepenuhnya pada sebuah proses.
208 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran Komponen ketiga dalam sains setelah permasalahan dan sikap ilmiah adalah metode. Metode dapat dipahami sebagai sebuah jalan untuk mencapai tujuan. Sebagaimana sebuah jalan, maka ia pasti beragam. Untuk mencapai satu tujuan yang sama, kita dapat menempuh jalan-jalan yang berbeda, sesuai dengan keyakinan kita tentang jalan mana yang paling baik dan paling kompatibel. Persoalan metode, bagi Bahm adalah persoalan yang kontroversial. Kontroversi yang pertama adalah metode ilmiah vs metode-metode ilmiah. Fokusnya adalah pada pertanyaan apakah metode ilmiah itu hanya satu atau banyak. Bahm menjelaskan keduanya, yaitu bahwa di satu sisi, metode ilmiah adalah satu, dalam pengertian bahwa metode ilmiah dapat dipakai dan diberlakukan pada semua ilmu. Namun di sisi lain, metode ilmiah juga banyak, dalam pengertian bahwa setiap disiplin ilmu memiliki metodenya sendiri, demikian juga setiap bentuk permasalahan akan relevan diselesaikan dengan menggunakan metode tertentu dan boleh jadi kurang relevan jika diselesaikan dengan metode lain. Secara historis, para ilmuwan dalam satu bidang kajian yang sama pada jaman yang berbeda sangat mungkin akan menggunakan metode yang berbeda dalam pengembangan ilmunya. Hal ini mengacu pada perkembangan teori yang terus berlangsung dan perbedaan eksistensi teknologi pada dua jaman yang berbeda. Metode penelitian dalam sains modern secara umum dibagi menjadi dua, yaitu metode kuantitatif dan metode kualitatif. Mengapa ada dua metode ini? Karena keduanya berangkat dari pijakan epistemologis yang berbeda. Metode kuantitatif berdiri di atas pijakan epistemologi positivistik, sedangkan metode kualitatif berdiri di atas epistemologi interpretatif. Jika yang pertama lebih pada upaya memahami fenomena berdasarkan kuantifikasi data, maka yang kedua lebih berkaitan dengan pandangan hidup, dunia batin, makna dan nilai sebagai bagian dari fenomena. Untuk dapat lebih baik dalam memahami fenomena dan membangun penjelasan yang akurat atas realitas, maka seorang ilmuwan seharusnya memahami dasar-dasar kedua metode ini. Dengan memahami epistemologi positivistik dan interpretatif, seorang ilmuwan akan memahami letak kekuatan dan keterbatasan kedua metode dalam menjelaskan realitas sosial. Kedua, seorang ilmuwan akan tahu persis kapan dan dalam jenis realitas sosial yang bagaimana masing-masing metode itu dapat digunakan, baik secara terpisah maupun digabungkan. Ketiga, paling tidak, seorang ilmuwan akan menghindari sikap fanatisme metodologis yang mendewakan satu pendekatan saja, dan cenderung menegasikan yang
Metode Penelitian Psikologi Islam 209 lain. Sikap yang demikian adalah sikap yang seharusnya dihindari dalam dunia ilmu pengetahuan, mengingat karakteristik ilmu pengetahuan yang seharusnya kontradiktif dengan dogma. Keempat, seorang ilmuwan akan mengetahui segala konsekuensi logis dari pilihan metode yang digunakan, baik dalam meletakkan posisi teori maupun yang menyangkut hak-hak dasar yang dapat digunakan dalam kedua metode itu. Tataran metode inilah yang akan menjadi fokus penulisan bab dalam buku ini. Komponen keempat dalam ilmu pengetahuan setelah metode adalah adanya aktivitas. Proses yang biasanya dilakukan oleh seorang ilmuwan adalah sebuah penelitian ilmiah (scientific research). Penelitian merupakan aktivitas yang dijalani oleh seorang ilmuwan dengan tujuan primer berupa pengembangan sebuah ilmu dan lahirnya pemahaman baru atas objek atau realitas. Pada kelompok ilmuwan alam, proses ini diharapkan akan melahirkan produk yang diorientasikan pada peningkatan kualitas kehidupan. Produk yang lahir dari aktivitas ini disebut teknologi. Sifat dasar teknologi adalah meningkatkan kualitas kehidupan, meskipun seringkali sebuah teknologi juga membawa persoalan sampingan, baik yang berkaitan dengan dampak penggunaan maupun etika. Setiap aktivitas ilmiah akan melahirkan sebuah kesimpulan. Sebagian besar atau bahkan hampir semua ilmuwan mengakui bahwa sebuah kesimpulan ilmiah masih bersifat tidak pasti, bukan hanya karena perbedaan metode dan teori, melainkan karena esensi tentatif dalam sikap ilmiah mensyaratkan seorang peneliti melihat sebuah kesimpulan ilmiah bukan sebagai sesuatu yang dogmatis. Kesimpulan sebagai output sebuah aktivitas ilmiah merupakan komponen kelima ilmu pengetahuan sebagaimana disampaikan oleh Bahm. Kesimpulan sebagai sebuah pemahaman yang dihasilkan dalam upaya untuk memecahkan masalah penelitian merupakan tujuan dari ilmu pengetahuan. Sifat dasar sebuah kesimpulan, paling tidak didasarkan pada pada beberapa kenyataan bahwa: (a) apa yang dianggap benar pada satu dimensi waktu dan tempat belum tentu dianggap benar juga pada dimensi waktu dan tempat yang lain; (b) ilmu pengetahuan merupakan sebuah proses yang menjadikan sebuah kesimpulan sebagai batu pijakan bagi kemajuan berikutnya; (c) keberagaman disiplin atau cabang ilmu pengetahuan kemudian menjadikan sebuah kesimpulan hanya akan relevan dalam satu ruang cabang ilmu pengetahuan saja. Hal ini mengarahkan pada satu kesiapan terhadap kenyataan bahwa sebuah kesimpulan ilmu pengetahuan tidak hanya bersifat tentatif dalam dimensi waktu, tapi juga
210 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran terbatas dalam satu konteks tertentu. Konteks ini dapat berupa lokasi, budaya, nilai-nilai, gender, bahkan agama. Komponen terakhir dalam sains adalah adanya efek atau pengaruh. Ilmu pengetahuan dapat memberikan pengaruh yang sifatnya langsung (ilmu terapan) dan pengaruh yang sifatnya tidak langsung. Ilmu terapan dapat jadi lebih nyata dibandingkan dengan ilmu murni. Ilmu terapan dipandang lebih nyata dibandingkan dengan ilmu murni karena tujuan ilmu mencakup peningkatan kualitas kehidupan dan kesejahteraan manusia. Selain itu, orang cenderung menghargai nilai-nilai ilmu pengetahuan ketika memperoleh manfaat dari aplikasi ilmu pengetahuan tersebut. Disamping itu, dalam era saat ini, terlebih di Indonesia, ilmu terapan ini cenderung lebih mendapatkan dukungan dana dari pemerintah, mengacu pada dampak langsungnya terhadap hajat hidup orang banyak. Ilmu-ilmu murni cenderung tidak memiliki dampak langsung terhadap kehidupan, melainkan dampak sosial bagi masyarakat dan peradaban secara lebih luas. Pembagian dunia menjadi Negaranegara maju dan Negara berkembang pada dasarnya dapat dilihat pada seberapa besar ilmu pengetahuan menjadi dasar dalam kehidupan sosial dan berbagai proses pengambilan keputusan yang dilakukan, baik pada level yang mikro maupun makro. Upaya mengembangkan sebuah cabang ilmu pengetahuan harus didasari pada pemahaman atas keenam komponen ini, terlepas dari berbagai problem dalam memahami istilah-istilah mendasar pada keenam komponen tersebut. Psikologi Islam berada di sebuah persimpangan. Ada sebagian kalangan ilmuwan yang menolak pola integrasi antara ilmu pengetahuan dan himpunan nilai tertentu seperti agama, bahkan menyebutnya sebagai sebuah oksimoron. Namun di sisi lain, tidak sedikit juga kalangan ilmuwan yang mengakuinya sebagai sebuah kajian ilmiah. Hal ini tidak perlu dijadikan sebagai persoalan yang berbelit, karena sebagaimana watak dasar ilmu pengetahuan yang terbuka atas beragam interpretasi, maka wajarjika ada kalangan tertentu yang menolak atau menerima suatu hal. Apa itu psikologi Islam? Sebuah cabang dari ilmu psikologi? Ataukah sebuah paradigma dalam melihat manusia? Berbagai kajian menyebutkan bahwa psikologi Islam sebagai corak psikologi yang berlandaskan citra manusia menurut ajaran Islam yang mempelajari keunikan dan pola perilaku manusia sebagai ungkapan pengalaman interaksi dengan diri sendiri, lingkungan sekitar, dan alam keruhanian, dengan tujuan meningkatkan kesehatan mental dan kualitas keberagamaan. Lebih lanjut, Nashori (2010) mengartikan Psikologi Islam sebagai
Metode Penelitian Psikologi Islam 211 suatu studi tentang jiwa dan perilaku manusia yang didasarkan pada pandangan dunia Islam. Mujib dan Mudzakir (2001) memaknai psikologi Islam sebagai Kajian Islam yang berhubungan dengan aspek-aspek dan perilaku kejiwaan manusia agar secara sadar dapat membentuk kualitas diri yang lebih sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Riyono (2013) menekankan bahwa konsepsi psikologi Islam tidak sekadar sebagai sebuah percabangan ilmu, melainkan bangunan asumsi dasar yang membedakannya dengan berbagai aliran psikologi konvensional. Asumsi dasar ini antara lain terkait dengan asumsi dasar tentang manusia yang dipandang sebagai makhluk yang berbeda dari binatang. Selain itu, kajian tentang manusia dalam psikologi Islam harus menekankan pada cara pandang yang utuh dengan melihatnya berdasarkan empat ranah, yaitu ranah kognitif (‘aql), ranah afektif (qalb), ranah konatif (iradah), dan ranah spiritual (ruh). Berdasarkan pengertian tersebut, maka pemahaman tentang psikologi Islam harus mempertimbangkan khazanah tradisi Islam, baik yang bersifat sakral (Al-Quran dan Hadis), maupun profan (kajian para cendekiawan Muslim tentang manusia) disamping tentu saja harus mengacu pada pemahaman empiris atas fenomena manusia dengan menggunakan kerangka pandang terintegrasi yang mencakup ranah kognitif, afektif, konatif, dan spiritual. Sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang terus menerus berkembang dan diharapkan mampu memberikan solusi bagi problem kemanusiaan, maka psikologi Islam harus berdiri di atas bangunan metode ilmiah yang kokoh. Tulisan ini setidaknya akan mengulas tentang berbagai metode yang dapat dilakukan dalam pengembangan bangunan ilmu psikologi Islam. B. Memosisikan Metode dalam Psikologi Islam Pertama, kita perlu menyamakan keyakinan kita tentang psikologi Islam. Hal ini mengacu pada ragamnya pemaknaan atas psikologi Islam. Psikologi Islam dapat dimaknai sebagai kajian terhadap perilaku dan proses mental manusia yang didasarkan pada pandangan dunia Islam, atau dapat juga dimaknai sebagai kajian psikologi yang berpijak pada asumsi dasar tentang manusia sebagai makhluk yang memuat empat ranah secara terintegrasi, yaitu ranah kognitif (aql), afeksi (qolb), konasi (iradah), dan spiritual (ruh). Pemaknaan yang terakhir ini tentu saja perlu dibatasi untuk membedakan antara kajian psikologi Islam dengan yang lain, mengingat bahwa keyakinan tentang ranah spiritual dalam diri manusia tidak
212 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran hanya ada dalam nilai-nilai ajaran Islam, melainkan juga semua agama bahkan budaya-budaya tertentu. Dalam Islam, kehidupan manusia hanya akan tercipta jika Tuhan meniupkan “ruh” pada janin yang berproses untuk menjadi tubuh fisik manusia. Ruh inilah yang menjadi akar kehidupan manusia. Asumsi ini tentu saja berbeda dengan psikologi konvensional yang berakar dari keyakinan nontheisme. Kehidupan manusia dalam konteks psikologi tersebut dipandang sebagai representasi dari proses fisik dalam tubuh manusia yang kemudian melahirkan kesadaran. Proses ini terjadi dalam fungsi vital manusia yang berupa otak sistem syaraf lainnya. Artinya, ketika otak berhenti berfungsi atau mengalami kerusakan yang parah, atau di sisi lain ada kerusakan yang parah pada organ vital manusia, maka kesadaran itu akan menghilang, dan kehidupan akan memasuki fase kematian. Tentu saja Islam tidak menegasikan semua hal tersebut. Tradisi Islam melihat semua proses tadi hanya sebagai jalan yang membuat tercerabutnya ruh sebagai komponen dasar kehidupan dari “rumah” sementaranya yang berupa tubuh fisik. Dan dalam tradisi Islam, terpisahnya antara komponen jasad dan ruh inilah makna kematian yang diyakini. Dalam keyakinan yang nontheistik, kehidupan telah berakhir ketika organ-organ dan fungsi vital dalam tubuh berhenti berfungsi, sementara dalam keyakinan yang mengintegrasikan ranah spiritualitas dalam diri manusia, kehidupan dalam pengertian luas tidak berhenti hanya pada proses kematian. Kematian diyakini sebagai akhir dari fase kehidupan material, sementara di luar alam material, masih ada alam-alam lain yang akan dijalani. Setiap tradisi spiritual memiliki keyakinannya masing-masing tentang kehidupan pasca kematian. Dalam keyakinan agama-agama Barat yang berkembang hingga saat ini (Yahudi, Kristen, Islam), kehidupan pasca-kematian akan dilihat berdasarkan nilai keyakinan dan perilaku individu tersebut. Jika individu memiliki keyakinan yang benar dan perilaku yang baik, maka ia akan dianugerahi surga. Namun jika sebaliknya, ia akan ditempatkan di neraka. Tradisi spiritual lain memiliki keyakinan yang berbeda-beda. Tradisi tertentu yang meyakini reinkarnasi misalnya, melihat bahwa kehidupan yang akan dijalani individu pasca kematiannya tergantung pada nilai perilakunya di dunia. Apa yang akan terjadi setelah raga atau tubuh manusia mati memang hanya sebatas keyakinan, karena sangat sulit untuk dibuktikan secara empiris. Islam sebagai sebuah ajaran tentu saja memiliki pijakan pokok yang menjadi pondasinya. Pijakan ini adalah Al-Quran dan Hadis (sunnah Rasul). Ini adalah sesuatu yang sifatnya prinsipil, sehingga penolakan atas hal ini maka dapat diartikan telah
Metode Penelitian Psikologi Islam 213 terlepas dari identitas Islam itu sendiri. Apa yang dimaksud pandangan dunia Islam dalam pengertian Psikologi Islam sebagaimana yang disampaikan di muka? Pandangan dunia Islam adalah pandangan Islam terhadap berbagai wujud yang ada di dunia. Hal ini terdiri atas keyakinan dan nilai-nilai Islam yang terepresentasikan melalui berbagai pemikiran para cendikiawan Muslim mulai era klasik hingga modern. Metode adalah cara. Pada prinsipnya, metode adalah cara untuk merumuskan jawaban atas suatu permasalahan atau menemukan pembuktian atas diterima/ ditolaknya sebuah hipotesis. Sebuah metode harus dibangun di atas kesadaran atas apa yang menjadi fokus penelitian dan apa yang diharapkan lahir dari sebuah penelitian. Hal ini akan menuntun seorang ilmuwan pada pemilihan cara yang paling tepat dalam mengumpulkan berbagai data dan informasi serta melakukan analisis atas data dan informasi tersebut. Prof. Heidi Shri Ahimsa Putra (2011), dalam kajiannya tentang paradigma ilmu mengartikan bahwa dalam konteks praktis, penelitian merupakan sebuah proses pengumpulan data. Maka berbicara tentang metode penelitian pada dasarnya adalah membahas tentang bagaimana sebaiknya seorang ilmuwan mengumpulkan data dan menganalisisnya. Secara lebih utuh, beliau juga menekankan bahwa pengembangan sebuah disiplin atau cabang ilmu harus memiliki pijakan paradigmatik yang kokoh. Hal ini tentu saja untuk membedakan antara ilmu pengetahuan yang terus menerus berkembang dengan dogma yang dipandang sebagai sebuah kebenaran absolut oleh para pengikutnya. Secara lebih utuh, gagasan tentang paradigma yang dikembangkan oleh Ahimsa Putra (2011) meliputi sembilan unsur yang saling berkaitan, meskipun dalam prakteknya ada unsur-unsur yang selalu eksplisit dan tidak selalu eksplisit. Secara lebih utuh, konsepsi paradigma dalam gagasan Ahimsa Putra disajikan dalam Gambar 1 di bawah ini:
214 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran Gambar 1. Unsur-unsur dalam Paradigma yang menopang Ilmu Pengetahuan Islam sebagai sebuah paradigma menjadikan prinsip tauhid sebagai asal sekaligus tujuan dalam pengembangan ilmu dan proses pembelajaran (Abu Sulayman, 1989). Tauhid merupakan peng-Esa-an atas Allah, yakni representasi keyakinan, sikap dan perilaku manusia bahwa segala sesuatu bersumber dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Penerjemahan prinsip tauhid dalam basis epistemologi ilmu pengetahuan antara lain dengan menjadikan ayat-ayat-Nya baik yang qouliyyah maupun kauniyyah sebagai basis utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, hal ini menuntut adanya pemahaman yang meluas dan mendalam atas basis utama melalui perangkat keilmuan yang dikonstruksi pada cendekiawan. Mengacu pada Gambar 1, penentuan metode penelitian dan metode analisis terkait dengan masalah yang dihadapi dan konsep-
Metode Penelitian Psikologi Islam 215 konsep yang dijadikan acuan. Secara umum, metode terbagi ke dalam dua bentuk, yaitu metode kualitatif dan kuantitatif. Jenis metode ini disebut berdasarkan karakteristik data yang dijadikan sebagai sumber analisis. Data kuantitatif adalah kumpulan simbol yang menunjukkan suatu jumlah (kuantitas) atau besaran dari suatu gejala. Kajian tentang perilaku agresif dengan penelitian ini menuntut agar peneliti mengkuantifikasi berbagai gejala atau indikator perilaku agresif kemudian mentransformasikannya dalam bentuk angka. Salah satu cabang matematika, yaitu statistika menjadi perangkat utama dalam melakukan analisis data kuantitatif. Data kualitatif tidak berupa angka tetapi berupa pernyataan-pernyataan mengenai isi, sifat, ciri, keadaan dari suatu gejala atau pernyataan mengenai hubungan-hubungan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Sesuatu ini bisa berupa benda-benda fisik, pola-pola perilaku, atau gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, bisa pula peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam suatu masyarakat (Ahimsa-Putra, 2011). Pokok-pokok perbedaan antara kedua metode ini disampaikan oleh Mahfudz (2005) sebagai berikut: Tabel 1. Pokok-pokok Perbedaan Metode Kuantitatif dan Metode Kualitatif Kuantitatif Kualitatif (1). Tujuan utama dalam penelitian survei adalah menjelaskan gejala sosial, menguji teori, membentuk fakta dan menunjukkan hubungan antar variable; (2). Proses yang digunakan bersifat deduksi, yaitu memverifikasi teori dengan mengembangkan hipotesa; (3). Menggunakan alur deduksi; (4). Fungsi teori dalam penelitian survei ada prinsip keterwakilan (representativeness) atau probabilitas dalam generalisasi hasil temuan, karena itu sampel sangat penting; (1). Tujuan utama dalam penelitian kualitatif adalah memahami (verstehen) terhadap fenomena sosial, mengembangkan konsep dengan grounded; (2). Proses yang digunakan bersifat induksi sehingga tidak ada teori yang dibuktikan atau tidak menguji hipotesa; (3). Menggunakan alur induksi; (4). Fungsi teori dalam penelitian kualitatif untuk memahami dan menafsirkan fenomena sosial;
216 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran (5). Dalam penelitian survei yang menjadi instrumen utama adalah kuisioner; (6). Teknik/metode yang digunakan biasanya eksperimen, survei, wawancara berstruktur dan pengamatan berstruktur. (5). Dalam penelitian kualitatif tidak ada prinsip keterwakilan atau probilitas, sehingga masalah jumlah sampel tidak dipersoalkan; (6). Teknik/metode yang digunakan: pengamatan terlibat, wawancara tak berstruktur (terbuka dan mendalam), life history, dokumen dan sebagainya. Jika demikian, apa yang membedakan antara psikologi Islam dan psikologi yang dibangun dengan perspektif lain? Sebagaimana disampaikan di awal bahwa metode adalah sebuah cara, oleh karenanya ia berlaku secara umum pada setiap disiplin ilmu pengetahuan dan di sisi lain setiap cabang ilmu pengetahuan akan memiliki metode-metodenya yang khas. Hal yang membedakan antara psikologi Islam dengan psikologi yang dibangun berdasarkan perspektif lain terletak pada unsur-unsur yang berimplikasi pada pemilihan metode penelitian yang akan digunakan. Unsur-unsur ini antara lain asumsi dasar, nilai-nilai, model, masalah yang diteliti, dan konsep-konsep. Asumsi dasar adalah pandangan-pandangan mengenai suatu hal (dapat berupa benda, ilmu pengetahuan, tujuan sebuah disiplin, dan sebagainya) yang tidak dipertanyakan lagi kebenarannya atau sudah diterima kebenarannya (Ahimsa Putra, 2011). Tindakan tidak mempertanyakan apa yang diasumsikan ini tentu saja bersifat relatif. Sesuatu yang diyakini sebagai sebuah kebenaran mendasar bagi sekelompok ilmuwan boleh jadi merupakan sesuatu yang masih dipertanyakan oleh kelompok ilmuwan lain. Asumsi dasar tentang manusia dalam psikologi Islam melihat bahwa manusia memiliki empat ranah yang sifatnya terintegrasi, yaitu ranah kognitif (aql), ranah afektf (qolb), ranah konatif (iradah) dan ranah spiritual (ruh). Asumsi ini yang membedakan antara psikologi Islam dengan psikologi konvensional yang melihat manusia hanya berdasarkan tiga ranah, tanpa menyinggung posisi manusia sebagai makhluk spiritual (Riyono, 2013). Nilai-nilai atau etos adalah seperangkat nilai yang menjadi dasar perilaku suatu golongan atau kelompok manusia. Nilai adalah sebuah landasan yang menentukan apakah sesuatu itu baik atau buruk, bermanfaat atau tidak bermanfaat. Dalam perspektif Islam, landasan etos yang seharusnya dijadikan pegangan setiap
Metode Penelitian Psikologi Islam 217 ilmuwan muslim adalah penghayatan (Ahimsa Putra, 2011). Nilai penghayatan ini kemudian diterjemahkan ke dalam empat etos kerja ilmuwan Muslim, yaitu etos kerja keabdian, etos kerja keilmuan, etos kerja kemanusiaan, dan etos kerja kesemestaan (Ahimsa Putra, 2011). Psikologi konvensional berusaha untuk melihat objek kajiannya secara objektif, dalam pengertian yang bebas nilai. Di sisi lain, Islam yang menjadi sumber inspirasi Psikologi Islam adalah sebuah sistem nilai, sehingga bangunan Psikologi Islam dapat dipastikan memiliki pijakan nilai-nilai tertentu yang menjadi motif bagi seorang peneliti untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Etos kerja keabdian menuntut seorang ilmuwan menjadikan kerja ilmu pengetahuannya sebagai wujud pengabdian atau ibadah kepada Allah. Oleh karenanya, orientasi dari setiap hasil kerja ilmu pengetahuannya adalah untuk memberikan andil bagi terwujudnya visi rahmatan lil ‘aalamiin atau rahmat bagi semesta alam. Model, dalam pengertian yang disampaikan Ahimsa Putra (2011) adalah perumpamaan, analogi atau kiasan tentang gejala yang dipelajari. Sebuah model senantiasa bersifat menyederhanakan (Ahimsa Putra, 2011). Khazanah Islam menyediakan banyak model atau analogi yang dapat dijadikan sebagai perangkat untuk membangun kerangka pemahaman tentang jiwa manusia. Model sebagai sebuah analogi atau amtsal bahkan banyak disajikan dalam ayat-ayat Al-Quran. Salah satu amtsal dalam Al-Quran contohnya adalah surah An-Nur: 35 yang artinya: ”Allah (laksana) cahaya di langit dan di bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus (misykat), yang di dalamnya ada pelita besar (mishbah). Pelita itu di dalam kaca (zujaajah) (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu (QS 24:35). Ayat tersebut memiliki nuansa yang metafisik. Al Ghazali dalam kitabnya yang berjudul misykatul anwar menggunakan ayat tersebut sebagai model untuk memperoleh gambaran mendasar mengenai konstruksi jiwa manusia, yang
218 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran meliputi unsur jasad yang disimbolkan dengan lubang di dinding yang tidak tembus (misykat), unsur jiwa yang disimbolkan dengan kaca (zujaajah), dan unsur ruh yang disimbolkan dengan pelita (mishbah). Khazanah Islam tentu saja memiliki banyak sekali model yang dapat dijadikan sebagai analogi dalam memandang suatu objek ilmu pengetahuan atau melakukan suatu proses pengkajian. Ahimsa Putra (2011) melakukan transformasi terhadap konsepsi rukun Iman dan rukun Islam untuk sebagai sebuah model perilaku peneliti. Rukun Iman sebagai sebuah model ditransformasikan sebagai berikut: Gambar 2. Transformasi Konsep Rukun Iman sebagai sebuah Model Kerja Ilmuwan
Metode Penelitian Psikologi Islam 219 Masalah yang menjadi fokus penelitian pada psikologi Islam berbeda dengan masalah yang menjadi fokus dalam kajian psikologi konvensional. Meskipun tentu saja perbedaan ini tidak berlaku secara menyeluruh. Upaya untuk mencegah dan mengobati alkoholisme misalnya, merupakan sebuah permasalahan yang menjadi fokus, baik bagi psikologi Islam maupu psikologi konvensional. Adapun yang lain, dalam melihat persoalan homoseksualitas misalnya, meskipun tidak dapat dilihat secara monolitik, namun kecenderungan psikologi konvensional dalam menyikapi masalah homoseksualitas adalah bagaimana membangun masyarakat agar mau menerima kehadiran kaum homoseks. Di sisi lain, fokus kajian psikologi pada kaum homoseks diarahkan pada upaya untuk menerima kondisi diri mereka sebagaimana adanya. Apalagi dalam DSM IV, homoseksualitas telah dikeluarkan dari kategori abnormalitas individu. Fokus pada masalah ini merupakan hal yang masuk akal dalam kerangka padang psikologi konvensional karena pijakan asumsinya terletak pada keyakinan bahwa homoseksualitas terjadi karena faktor genetik, sehingga tidak dapat ditolak. Fokus masalah dalam kasus ini membedakan antara psikologi konvensional dan psikologi Islam. Homoseksualitas dalam kerangka keyakinan Islam dipandang sebagai bentuk penyimpangan perilaku yang muncul berdasarkan berbagai pengaruh lingkungan dan gaya hidup tertentu. Oleh karenanya, fokus pada masalah homoseksualitas dalam kajian psikologi Islam diarahkan pada upaya untuk kembali pada orientasi seksual yang diterima dalam Islam, yakni heteroseksual. Faktor keempat yang membedakan antara psikologi Islam dan psikologi yang dibangun berdasarkan perspektif lain adalah konsep-konsep. Khazanah Islam menyajikan berbagai konsep yang relevan dengan psikologi manusia, baik dalam konteks indvidu maupun kelompok. Psikologi banyak melahirkan berbagai konsep yang digali dari fenomena psikologis manusia. Konsep yang menjadi trend akhirakhir ini dalam kajian psikologi positif adalah konsep kebahagiaan atau subjective well being. Dalam pemaknaan psikologi positif, subjective well being didefinisikan melalui beberapa komponen, yaitu kepuasan hidup secara menyeluruh, kepuasan hidup pada domain-domain yang penting (keluarga, pekerjaan, pendidikan, dan lainnya), perasaan positif dan diikuti dengan rendahnya perasaan negatif (Diener, 2000). Mengacu pada kondisi kejiwaan individu yang penuh dengan nuansa positif, dalam pandangan dunia Islam dapat ditemukan beragam konsep yang dapat menjelaskan hal tersebut. Dalam kitab Ihya’ Ulumudin yang ditulis
220 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran oleh Imam Ghazali misalnya, ditemukan banyak konsep psikologis yang relevan dengan domain kejiwaan manusia, khususnya Muslim. Konsep tersebut antara lain konsep taubat, konsep kesabaran (al-shobr), kebersyukuran (al-syukr), harapan kepada Allah (al-roja’), takut kepada Allah (al-khauf), penyerahan diri kepada Allah (tawakkal), kerinduan kepada Allah (al-Syauq), kerelaan kepada Allah (al-ridho), ikhlash, dan lain sebagainya. Konsep-konsep tersebut merupakan konsep dasar yang dapat dijadikan sebagai kerangka konseptual dalam menganalisis kondisi psikologis individu dan terlebih lagi mengupayakan solusi atas berbagai problem psikologis yang dihadapi manusia. Perbedaan antara psikologi Islam dan psikologi yang dibangun berdasarkan perspektif lain pada tataran asumsi dasar, nilai-nilai, masalah, dan konsep-konsep berimplikasi pada perbedaan beberapa hal yang dijadikan pijakan dalam membangun metode pengembangan. Namun demikian, secara umum, proses metodologis yang dijalankan cenderung sama. Dalam mengembangkan bangunan keilmuannya, psikologi konvensional menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif dengan beragam variannya. Demikian juga pengembangan kajian psikologi Islam. Pada wilayah asumsi dasar, nilai-nilai, masalah dan konsep-konsep, psikologi Islam dapat mendasarkan diri pada khazanah Islam, baik yang bersifat absolut (Al-Quran dan Sunnah) maupun yang bersifat relatif (interpretasi dan kajian para cendikiawan Muslim). Metode yang dipengaruhi oleh keempat hal tersebut senantiasa berimplikasi pada output yang sifatnya relatif. Sesuatu yang absolut, ketika didekati dengan metode yang berbasis pada kerangka berpikir relatif manusia pastinya akan menghasilkan output yang sifatnya relatif. Oleh karenanya, sebagaimana bangunan sains yang lain, nilai kebenaran output kajian yang dihasilkan oleh psikologi Islam juga akhirnya bersifat relatif dan tidak antikritik. Sebagai Muslim, orang memiliki konsekuensi untuk meyakini Al-Quran sebagai firman Allah dan hadis (terlepas dari ragam statusnya) sebagai sabda Rasul yang mengandung kebenaran absolut. Namun, ketika seorang ilmuwan menggunakan kerangka berpikir metodologis untuk mengambil kebenaran yang bersumber dari keduanya, maka output kebenaran yang dihasilkannya akan bersifat relatif. C. Wilayah Kajian Psikologi Islam dan Implikasi Metodologisnya Penulis melakukan identifikasi pola kajian terhadap 165 naskah yang dipresentasikan dalam dua konferensi Psikologi Islam. Konferensi pertama
Metode Penelitian Psikologi Islam 221 berskala Nasional dan konferensi kedua berskala Internasional. Mengacu pada proses identifikasi tersebut dapat diperoleh lima pola kajian dalam pengembangan psikologi islam. Lima pola kajian tersebut adalah dampak psikologis tradisi dan ritual Islam, kajian fenomena masyarakat Muslim, integrasi aplikasi psikologi dan nilai Islam, investigasi empiris konsep psikologi Islam, dan pengembangan instrumen ukur konstruk psikologi Islam. 1. Dampak psikologis tradisi dan ritual Islam Pola kajian ini fokus pada upaya untuk mengevaluasi dan membuktikan dampak tradisi atau ritual Islam secara psikologis, baik pada setting individu maupun kelompok. Mengacu pada orientasinya yang terfokus pada dampak sebuah stimulus terhadap perubahan respon, maka pola kajian ini umumnya menggunakan pendekatan eksperimental. Beberapa contoh kajian dalam pola ini antara lain efektivitas salat tahajud dalam mengurangi tingkat stress (Abidin & Azam, 2015), dampak terapi Qurani dalam mereduksi gejala depresi (Astuti, 2015), dampak mendengarkan ayat Al-Quran untuk menurunkan kecemasan (Utami & Urbayatun, 2015) dan lain sebagainya. Penelitian yang ditujukan untuk mengevaluasi dampak suatu tradisi atau ritual tertentu dalam Islam pada umumnya dilakukan dengan setting yang terkendali. Secara umum tidak ada perbedaan yang mendasar antara berbagai desain dalam metode eksperimen yang digunakan dalam kajian psikologi yang lain dan psikologi Islam. Eksperimen sebagai sebuah metode tentu saja bersifat general dan relevan untuk digunakan dalam berbagai bidang kajian. Meskipun, mengacu pada karakteristik perlakuan dan partisipannya, tidak semua desain dapat digunakan pada seluruh karakteristik perlakuan dan partisipan. Secara umum, metode eksperimen yang dilakukan dalam setting laboratorium dapat dibagi ke dalam dua jenis berdasarkan banyaknya partisipan yang digunakan. Dua jenis tersebut adalah eksperimen kelompok (group experiment) dan eksperimen kelompok kecil/individual (single case experimental design). 2. Kajian fenomena masyarakat Muslim Kajian fenomena masyarakat Muslim adalah kajian psikologi yang difokuskan pada upaya-upaya untuk memberikan solusi bagi kelompok Muslim tertentu. Kajian ini biasanya difokuskan pada berbagai persoalan yang dihadapi oleh umat Islam, baik dalam konteks lokal tertentu maupun
222 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran global. Sebagai contoh, fenomena islamofobia yang merupakan isu global dan berdampak luas pada masyarakat Muslim, khususnya yang hidup dalam setting minoritas. Melalui pola ini, output kajian diharapkan dapat memberikan nilai positif bagi upaya peningkatan kualitas dan pencegahan atas hal buruk yang menimpa masyarakat Muslim. Secara metode, pola kajian ini biasanya dikembangkan secara deskriptif, baik kulitatif maupun kuantitatif. Penelitian deskriptif difokuskan untuk memberikan gambaran dan pemahaman sebuah fenomena sebagaimana adanya fenomena tersebut. Pemilihan metode didasarkan pada tujuan spesifik kajian dan mengacu pada kemungkinan bentuk data yang dapat diperoleh, apakah bersifat kualitatif atau kuantitatif. Sebagai contoh, kajian yang dikembangkan dalam pola ini antara lain kesabaran ibu Muslim dalam mengasuh anak berkebutuhan khusus (Arifin, 2015), peran kelompok sebaya dalam pembinaan keagamaan remaja di lembaga pemasyarakatan anak-anak (Maslihah, 2015), leading organization pada organisasi umat Islam (Bantam, 2015), peran persepsi tentang lingkungan kerja psikososial terhadap komitmen organisasi pada lembaga pendidikan Islam (Wibowo, 2015), dan lain sebagainya. 3. Integrasi aplikasi psikologi dan nilai Islam Aplikasi disiplin psikologi dilakukan diterapkan pada berbagai level, baik level individu, kelompok, maupun organisasi. Sebuah upaya pembenahan mental melalui berbagai aktivitas semacam konseling, pelatihan dan pendampingan dapat dilakukan mulai pada level individu, kelompok maupun organisasi secara struktural. Berbagai macam bentuk perlakuan tersebut dapat diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam dengan mengacu pada berbagai kemungkinan konteks, khususnya terkait dengan partisipan yang dihadapi. Kajian dalam pola ini biasanya dilakukan secara konseptual untuk memberikan justifikasi teoritik tentang proses integrasi antara model strategi penyelesaian masalah atau pengembangan mental yang dijadikan fokus dengan nilai-nilai Islam. Lebih lanjut, kajian dalam pola ini juga dilakukan secara eksperimental untuk memberikan justifikasi empiris terhadap output integrasi yang dilakukan pada konteks kelompok tertentu. Model eksperimen yang diterapkan dalam kajian ini sama dengan eksperimen pada umumnya yang juga diterapkan dalam pola kajian yang pertama. Dalam pengamatan yang dilakukan penulis terhadap berbagai kajian dalam pola ini biasanya diperoleh dampak yang
Metode Penelitian Psikologi Islam 223 tidak signifikan terhadap variabel tergantung yang ingin diubah. Hal ini biasanya terjadi karena persoalan metode yang digunakan. Desain metode eksperimen dalam kajian psikologi pada prinsipnya dibangun berdasarkan dua pola dasar, yaitu pola dalam kelompok atau pengukuran berulang dan pola antar kelompok. Gambar 3. Pola Dalam Kelompok atau Pengukuran Berulang (kiri) dan Pola Perbandingan antar Kelompok (kanan) Melalui dua pola dasar ini, sebuah metode eksperimen dapat disusun dan dikembangkan dengan menggunakan prinsip perbandingan antar kondisi-kondisi yang dikehendak, misalnya antara kondisi pascaperlakuan dan kondisi pasca non perlakuan, baik pada kelompok sama dalam waktu beda maupun pada kelompok yang berbeda. Berbagai contoh kajian dalam pola ini antara lain penggunaan nilai taubat sebagai sebuah intervensi psikologi untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis (Wafda, 2015), konseling Al-Quran untuk penyelesaian masalah (Razak, 2015), terapi menulis berbasis spiritual untuk mengatasi gejala somatis pada klien yang mengalami episode depresif sedang (Kurniawan, 2015), terapi pemaafan berbasis nilai “La Tahzan” untuk meningkatkan penerimaan diri pada wanita korban kekerasan dalam rumah tangga (Dyorita, 2015) dan lain sebagainya. Justifikasi yang dibutuhkan dalam pola ini meliputi dua wilayah, yaitu justifikasi konseptual yang memberikan argumentasi teoritik atas relevansi integrasi bentuk intervensi dengan nilainilai tertentu serta justifikasi empiris yang dijadikan argumentasi faktual bahwa model baru yang dihasilkan mampu bekerja sebagaimana yang diasumsikan. 4. Investigasi empiris konsep psikologi Islam Kajian psikologi Islam merupakan upaya untuk mengintegrasikan antara
224 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran wilayah normatif yang sifatnya konseptual dan wilayah historis yang sifatnya empiris dalam kajian Islam. Berbagai sumber pengetahuan yang sifatnya tekstual dalam tradisi Islam memberikan berbagai konsep yang relevan dengan ranah psikologis individu. Dalam pola kajian investigasi empiris ini, berbagai konsep yang lahir dari tradisi Islam tersebut kemudian dikaji secara empiris dengan menggunakan pendekatan penelitian yang ada. Upaya ini bertujuan untuk memberikan penjelasan terhadap berbagai fenomena psikologis melalui berbagai konsep dalam tradisi Islam. Sebagai contoh, upaya untuk melihat fenomena kepemimpinan sebagai bagian dinamika psikologis dalam kelompok dengan menggunakan konsep kepemimpinan profetik yang didasarkan pada karakteristik dan kriteria kepemimpinan Rasulullah. Contoh yang lain misalnya, bagaimana menjelaskan fenomena kebersyukuran dengan menggunakan konsep kebersyukuran (al-syukr) dalam Islam yang tidak hanya mengandung dimensi horizontal sebagaimana konsep gratitude dalam psikologi positif, melainkan juga konsep vertikal yang mengatribusikan rasa bersyukur kepada Tuhan (Rahman, 2015; Gustirani, 2015). Dalam pola kajian ini, peneliti dituntut untuk mengintegrasikan apa yang disampaikan oleh teks terkait dengan konsep yang dikaji dan data empiris (baik kualitatif maupun kuantitatif) yang dihasilkan selama proses penelusuran data. Termasuk dalam pola kajian ini misalnya penelitian Mayasari (2015) yang mengembangkan model berpikir kritis berdasarkan mekanisme dialog ayat-ayat Al-Quran dalam mengkritisi perilaku masyarakat jahiliyah pada masa lalu. 5. Pengembangan Instrumen pengukuran konstruk psikologi Islam Pola kajian ini berorientasi untukmenghasilkan instrument pengukuran terhadap berbagai konstruk dalam tradisi Islam. Islam, sebagai sebuah ajaran, di dalamnya terkandung berbagai konsep psikologis yang sangat mungkin relevan untuk menjelaskan berbagai fenomena psikologis yang ada dalam diri individu. Salah satu upaya penjelasan tersebut, secara praktis dapat dilakukan melalui pengembangan instrument pengukuran psikologi terhadap berbagai konstruk psikologi Islam. Kajian dalam pola ini sebagaimana umumnya dimulai dari proses operasionalisasi konsep yang bertujuan untuk memperoleh defnisi operasional konstruk hingga pada tahap evaluasi validitas dan reliabilitas yang bertujuan untuk memperoleh instrumen yang layak digunakan. Tahap pasca operasionalisasi konsep dalam pola kajian
Metode Penelitian Psikologi Islam 225 ini adalah melakukan penulisan terhadap format stimulus (item-item) dan memberikan model peratingan/penskalaan yang akan digunakan. Berbagai konstruk psikologi yang telah dikembangkan melalui kajian empiris yang sifatnya kuantitatif antara lain pengembangan instrument tawakkal (Sartika & Kurniawan, 2015), religiositas muslim (Wahyuningsih, 2015), kepribadian berdasarkan Al-Quran (Ilhamuddin, 2015) dan lain sebagainya. Prosedur yang digunakan dalam pola kajian ini adalah prosedur yang sifatnya kuantitatif untuk mengevaluasi secara empiris berbagai properti psikometris yang dibutuhkan untuk menjustifikasi penggunaan sebuah instrumen ini. D. Pengukuran Konstruk dalam Psikologi Islam Akar pemisahan agama dan sains dalam tradisi modern berawal dari paradigma positivisme yang menuntut pemisahan tegas antara wilayah sains yang dapat dinalar secara saintifik dan wilayah mitos, termasuk di dalamnya agama. Pemisahan inipun tidak hanya berlaku pada kawasan metode, melainkan juga cara berpikir dalam melihat keduanya. Paradigma positivistik ini berawal dari kecenderungan untuk menarik cara pandang dalam ilmu-ilmu alam ke dunia ilmu sosial. Berdasarkan hal tersebut, kajian terhadap ilmu sosial terasa begitu eksak, yang ditandai dengan penggunaan pengukuran kuantitatif dan pemodelan matematika dalam menjelaskan fenomena sosial. Pada wilayah ilmu sosial kemudian juga dilakukan pemisahan antara kajian terhadap fakta-fakta sosial yang dapat dijelaskan secara saintifik dan tidak. Salah satu komponen dasar dalam penelitian yang dibangun di atas paradigma positivistik adalah proses pengukuran, termasuk di dalamnya pengukuran konstruk psikologi. Hal pertama yang perlu dilakukan dalam proses pengukuran psikologi adalah memosisikan objek ukur sebagai sebuah konstruk. Secara umum, konstruk psikologi dimaknai sebagai konsep buatan yang dibangun oleh para ahli untuk menjelaskan fenomena psikologis (DeVellis, 2003). Secara umum, konstruk juga dimaknai sebagai tingkat abstraksi tertinggi yang berguna untuk menginterpretasi data dan mengembangkan teori. Konstruk juga dikenal sebagai pola perilaku yang dimunculkan secara konsisten dan pada berbagai konteks yang berbeda oleh banyak individu (DeVellis, 2003). Lebih lanjut, DeVellis (2003) juga menjelaskan bahwa konstruk psikologis sangat mungkin mengalami perubahan dalam istilah dan pemaknaannya seiring dengan berkembangnya sebuah teori dan hasil-hasil
226 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran penelitian yang relevan. Mengacu pada hal tersebut, tidak ada perbedaan antara konstruk yang identik dengan keberagamaan individu maupun konstruk lain yang tidak identik. Psikologi Islam sebagai sebuah gagasan dalam ruang besar psikologi dan kajian islam terus mengalami perkembangan. Psikologi sebagai sebuah “sains”, tentu saja berkembang dengan landasan evolusi yang menolak agama beserta segala implikasinya bagi kehidupan manusia (Haque, 2000). Psikologi Islam bukanlah suatu upaya untuk melakukan kawin paksa antara psikologi dan Islam, melainkan upaya untuk melihat berbagai gejala kejiwaan manusia berdasarkan perspektif Islam. Mengacu pada hal ini, maka dalam Psikologi Islam tentu saja ada asumsi-asumsi yang berbeda dengan apa yang pernah dikembangkan dalam ruang besar psikologi Barat. Psikologi Barat meyakini bahwa manusia merupakan produk evolusi, sementara Psikologi Islam meyakini bahwa manusia merupakan ciptaan Allah yang diawali oleh Nabi Adam AS sebagai manusia pertama. Dalam Psikologi Islam juga diyakini bahwa manusia terdiri atas dua unsur, yaitu ruh dan raga. Ruh berasal dari Tuhan oleh karenanya bersifat abadi, sementara raga bersifat fana (dapat rusak) (Haque, 2000). Al Ghazali (Haque, 2000) menyatakan bahwa ruh atau jiwa merupakan yang merajai raga, sedangkan berbagai sistem tubuh merupakan pelayan bagi kecenderungan yang dimiliki oleh jiwa. Riyono (2013) menguraikan perbedaan asumtif antara berbagai aliran psikolog Barat dan Psikologi Islam. Psikoanalisis meyakini bahwa dorongan dasar bagi perilaku manusia adalah ketidaksadaran. Behaviorisme meyakini bahwa determinan utama perilaku manusia adalah proses belajar, imbalan dan hukuman, serta penguatan (reinforcement). Humanistik meyakini bahwa determinan perilaku manusia adalah kehendak bebas dan aktualisasi diri. Psikologi Islam memandang perilaku manusia sebagai interaksi antara persepsi terhadap risiko, toleransi atas ketidakyakinan, dan harapan (hope). Sebagai sebuah gagasan yang secara berkelanjutan diuji secara empiris dan metodologis, setiap asumsi memiliki sekumpulan bukti hasil penelitian yang menguatkan sekaligus juga melemahkan. Perbedaan asumsi dan nilai sebagai fondasi sebuah paradigma ilmu pengetahuan (Ahimsa Putra, 2011) tentu saja berimplikasi pada perbedaan teori yang digunakan dalam memotret kenyataan psikologis manusia. Sebagai contoh, dalam khasanah psikologi dikenal konsep kebahagiaan atau juga biasa dikenal dengan kesejahteraan subjektif (subjective well
Metode Penelitian Psikologi Islam 227 being). Secara definitif, Diener (2008) mendefinisikannya sebagai konstruk psikologis yang mengandung dimensi kepuasan hidup, kepuasan terhadap domain penting dalam kehidupan personal, perasaan positif yang tinggi, dan perasaan negatif yang rendah. Dalam tradisi Islam, representasi kebahagiaan diwakili oleh istilah sa’adah dan hasanah. Istilah hasanah dalam sebagai bentuk konstruksi psikologis dalam tradisi Islam dimaknai sebagai kebahagiaan yang tidak terbatas hanya pada dimensi kehidupan di dunia melainkan juga kehidupan di akhirat setelah kematian. Pemaknaan ini tentu saja memiliki cakupan yang berbeda dengan konstruk sejenis (happiness atau subjective well being) dalam tradisi Barat. Perbedaan ini sangat mungkin membawa implikasi metodologis terkait dengan konstruksi instrument pengukuran secara psikometris. Dalam perkembangannya, domain psikologi Islam terus mengalami perluasan karena ditopang oleh banyak pendekatan yang digunakan. Eksplorasi berbagai teori banyak dikembangkan melalui penggalian terhadap teks-teks Islam, baik yang bersifat sakral (Al-Quran dan Hadis) maupun berbagai kitab klasik tentang manusia yang ditulis oleh ilmuwan Islam klasik. Di samping itu, berbagai konsep yang lahir berdasarkan inspirasi ajaran Islam juga banyak dikaji secara empiris dengan menggunakan pendekatan penelitian yang ada. Proses konseptualisasi yang bersifat normatif dengan mengacu pada teks-teks dan proses evaluasi yang didasarkan pada realitas empiris masyarakat Muslim sangat mungkin untuk diintegrasikan menjadi sebuah tahapan kronologis dalam pengembangan kajian psikologi Islam. Psikologi memberikan manfaat bagi manusia melalui tiga fungsi. Pertama, pada wilayah konsep psikologi membantu memberikan penjelasan terhadap berbagai aktivitas mental individu maupun kelompok. Proses ini dilakukan melalui berbagai aktivitas akademik dengan menggunakan metode-metode yang relevan digunakan. Kedua, psikologi memiliki fungsi untuk membantu proses asesmen untuk memperoleh gambaran empirik mengenai dinamika mental individu. Proses ini dilakukan dengan mengacu pada pemahaman konseptual terhadap suatu proses mental atau konstruk psikologi yang dihasilkan oleh proses sebelumnya. Ketiga, wilayah intervensi yang memberikan solusi praktis bagi persoalan mental individu maupun kelompok. Intervensi ini didasarkan pada bagaimana hasil asesmen yang diperoleh. Mengacu pada tiga hal tersebut, maka psikologi Islam sebagai sebuah pendekatan dalam dunia psikologi juga dituntut untuk menghadirkan konsep yang
228 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran mampu menjelaskan perilaku dan proses mental manusia secara utuh, perangkat asesmen yang valid dan reliabel serta metode intervensi yang relevan serta solutif terhadap problem psikologis manusia. Ilmu pengukuran (measurement) merupakan cabang dari ilmu statistika terapan yang bertujuan membangun dasar-dasar pengembangan tes yang lebih baik, sehingga dapat menghasilkan tes yang berfungsi secara optimal, valid, dan reliabel (Azwar, 2015). Dalam ilmu pengetahuan sosial (social science), penelitian yang berbasis pada pengukuran empiris menjadi hal yang tidak terpisahkan dari kegiatan di perguruan tinggi. Pengukuran menjadi obyek perhatian penting dalam konteks penelitian ilmu sosial secara global karena adanya kebutuhan terhadap instrumen ukur yang valid dan reliabel. Misalnya, seorang ilmuwan psikologi tidak bisa membangun asumsi terhadap suatu perilaku ataupun peristiwa, tanpa dukungan teori dan data pengukuran yang baik. Dalam terapan ilmu pengukuran psikologi, sebutan yang lebih akrab digunakan adalah psikometri. Psikometri sendiri mengacu pada pengukuran atribut-atribut psikologis yang tampak sebagai sampel perilaku tertentu. Terdapat beberapa istilah yang sering digunakan untuk menyebut sebuah instrumen psikometri, diantaranya adalah tes, skala, inventori, dan lain sebagainya. Lee J. Cronbach (dalam Azwar 2015) mendefinisikan tes sebagai sebuah prosedur yang sistematis, yang dilakukan berdasarkan tujuan dan tata cara yang jelas. Aktivitas tes melibatkan pengamatan terhadap perilaku seseorang, kemudian mendeskripsikan perilaku tersebut dengan bantuan skala angka atau sistem penggolongan lainnya. Keberadaan dan pengembangan aktivitas pengukuran, terlebih dalam konteks psikologi, saat ini menjadi unsur yang bersifat kritikal. Dalam kegiatan penelitian, kebutuhan terhadap data dan pengukuran yang valid dan reliabel turut menentukan kredibilitas peneliti. Penelitian sendiri didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang terorganisasi, sistematis, dan merupakan proses logis untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang diajukan dengan menggunakan informasi empiris yang dikumpulkan guna keperluan itu (Suminto & Widhiarso, 2014). Kata ‘empiris’ pada definisi bersumber dari empirisme – suatu istilah dalam ilmu filsafat untuk menjelaskan teori epistemologi yang menganggap bahwa pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Pengalaman disini adalah sesuatu yang diterima melalui indera atau dapat diamati secara langsung melalui observasi di alam nyata. Konteks penelitian empiris dalam ilmu sosial (social science) seperti
Metode Penelitian Psikologi Islam 229 psikologi mengkhususkan obyek pengukurannya pada perilaku manusia dan lingkungannya. Perkembangan ilmu sosial yang pesat dalam beberapa dekade terakhir ini tidak lepas dari diterapkannya metode ilmiah yang cukup ketat, yaitu terdiri dari penelitian yang berbasis data empiris yang teruji. Suminto & Widhiarso (2014) menyebutkan penggunaan data sebagai basis penelitian sosial terbagi dalam dua jenis, yaitu data kuantitatif (dalam bentuk angka); dan data kualitatif (dalam bentuk kata-kata). Kedua jenis data tersebut membawa konsekuensi jenis penelitian empiris yang berbeda. Selain jenis data dan metode pengumpulannya yang berbeda, pola pikir tentang realitas sosial yang diteliti juga menentukan bagaimana akhirnya suatu peristiwa/perilaku kemudian dituangkan dalam konseptualisasi ilmiah. Ilmu psikometri sendiri lebih menekankan pada proses kuantifikasi atribut psikologis yang hendak diukur, berdasarkan konstruk teori yang ada. Azwar (2015) menjelaskan, atribut psikologis adalah suatu konstruk teoretik yang ada secara hipotetik dan dikonsepkan guna mendeskripsikan dimensi psikologis yang ada dalam diri individu. Tidak seperti pengukuran dalam ilmu eksakta, ketepatan deskripsi dalam ilmu psikometri sangat tergantung pada ketepatan definisi konstruk yang bersangkutan. Crocker dan Algina (dalam Azwar, 2015) menyebutkan beragam permasalahan yang dihadapi penyusun alat/ instrumen tes psikologi, diantaranya: 1. Tidak ada pendekatan tunggal dalam pengukuran konstruk apapun yang dapat diterima secara universal 2. Pengukuran psikologis pada umumnya didasarkan pada sampel perilaku yang jumlahnya terbatas 3. Pengukuran selalu mungkin mengandung eror 4. Satuan dalam skala pengukuran tidak dapat didefinisikan dengan baik 5. Konstruk psikologis tidak dapat didefinisikan secara operasional semata tetapi harus pula menampakkan hubungan dengan konstruk atau fenomena lain yang dapat diamati. Proses kuantifikasi atribut psikologis sendiri sebenarnya mengalami berbagai perdebatan oleh para ahli, baik dari internal ilmuwan psikologi maupun ilmuwan bidang lain. Misalnya apakah proses kuantifikasi yang diharapkan dari psikometri ini hanya sekadar evaluasi dari angka, ataukah harus bersifat rasio yang memiliki bilangan nol mutlak dan jarak yang sama antar interval? Perbedaan pandangan ini tentu membutuhkan beberapa konsep yang digunakan sebagai dasar berpikir
230 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran dalam memahami psikometri. Seperti adanya asumsi nomotetik didalam psikologi, yaitu hukum-hukum yang berlaku umum pada semua manusia, sebagai contoh semua manusia memiliki kecerdasan. Seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwa pengukuran merupakan sebuah usaha atau metode, maka dapat diasumsikan sebaiknya bersifat bebas dari nilai. Hanya saja, interpretasi atas output pengukuran seringkali dipengaruhi oleh nilai yang dianut oleh penafsir, sehingga yang paling ideal dalam pengukuran atribut psikologis adalah berangkat dari beragam asumsi yang disepakati bersama. Oleh karena itu, poin yang paling vital dalam sebuah pengukuran adalah jaminan validitas dan reliabilitas dari alat ukur itu sendiri yang harus dapat diuji dengan menggunakan kerangka pengujian yang baku. Dalam ilmu eksakta, pengukuran dapat memberikan hasil yang sangat akurat melalui proses kalibrasi instrumen yang digunakan. Sementara dalam ilmu sosial, asumsi dasar yang digunakan dalam pengukurannya selalu mengandung unsur eror, sehingga dibutuhkan pengujian ulang untuk menjaga proses pengukuran yang dilakukan dapat tetap menghasilkan informasi yang relatif sama. Reliabilitas menjelaskan seberapa jauh pengukuran yang dilakukan menghasilkan data yang tidak jauh berbeda, sehingga dapat menjadi tolak ukur keajegan sebuah instrumen dalam mengungkap konstruk yang ingin diukur. Dalam beragam literatur penelitian ilmu sosial, telah banyak disajikan beragam teknik pengukuran populer beserta cara mengestimasi reliabilitas yang terbebas dari karakter sampel (Sumintono, 2015). Konsep kedua yang menentukan kualitas instrumen yang akan digunakan adalah mengenai validitas. Validitas seringkali dikonsepkan sebagai sejauh mana sebuah tes mampu mengukur atribut yang seharusnya diukur (Azwar, 2015). Semakin tinggi validitas sebuah tes atau instrumen pengukuran, maka skor yang diperoleh dari setiap subyek yang diperoleh dari alat ukur tersebut tidak jauh berbeda dengan skor sesungguhnya, atau dengan kata lain eror pengkurannya kecil. Hanya saja, untuk mencapai kriteria validitas yang baik bukanlah tugas yang mudah bagi ilmuwan psikologi yang hendak membuat konstruk alat ukur baru. Hal ini dikarenakan pengukuran terhadap atribut-atribut psikologis dan sosial lainnya memiliki banyak faktor lain yang saling terkait dan dapat menjadi sumber eror. Persoalan yang akan lebih banyak dihadapi dalam pengukuran konstruk psikologi Islam sangat mungkin terletak pada tinjauan validitasnya. Hal ini karena, pendekatan yang umum dalam validitas adalah menggunakan kriteria eksternal.
Metode Penelitian Psikologi Islam 231 Validitas dan reliabilitas merupakan sebuah studi terhadap instrumen pengukuran psikologi yang memberikan jaminan bahwa dalam penggunaannya instrumen tersebut akan mengukur apa yang ingin diukur secara tepat dan ajeg. Hal ini merupakan jaminan agar interpretasi yang didasarkan terhadap data dan instrumen akan mampu memberikan penjelasan yang relevan dengan tujuan pengukuran. Pengukuran berbagai konstruk psikologi Islam harus dilakukan dengan basis asumsi bahwa psikologi Islam merupakan sebuah output pemikiran yang bersifat relatif dan terbuka terhadap bentuk tafsir yang lain. Psikologi Islam juga harus dipandang sebagai ruang yang luas dan mendalam sehingga mampu menampung berbagai perbedaan sudut pandang sejauh tidak berada dalam wilayah dasar yang sifatnya ushuuliyah sebagaimana dijelaskan dalam pokok bahasan sebelumnya. Mengacu pada sifatnya yang relatif dan terbuka, maka pengukuran terhadap berbagai konstruk psikologi Islam juga dipandang sebagai sebuah metode yang pasti bersifat relatif. Konseptualisasi konstruk psikologi Islam sebaiknya mengacu pada dua sudut pandang, yaitu sudut pandang teks yang sifatnya normatif dan sudut pandang realitas yang sifatnya empiris. Dalam konteks ini, peneliti harus membangun proses dialog antara apa yang dapat diinterpretasikan dari teks dan apa yang dapat digali dari realitas empiris. Sebagai contoh, kajian tentang konsep husnudzan yang merefleksikan bentuk pola pikir tertentu dalam tradisi Islam dapat dikonseptualisasikan dengan berbasis pada kajian teks tentang husnudzan dan indikator-indikator yang dipersepsikan sebagai manifestasi konstruk tersebut pada masyarakat Muslim. Tantangan lain yang dihadapi dalam mengkaji teks yang memuat konstrukkonstruk psikologis adalah adanya kemungkinan bahwa suatu konsep muncul dalam ragam ayat. Setiap ayat memunculkan sebuah pemaknaan yang berbeda karena masing-masing mengacu pada konteks asbabun nuzul yang berbeda. Berdasarkan hal ini, peneliti harus berhati-hati dalam menentukan apakah sebuah konstruk psikologi islam merupakan sebuah konstruk yang memiliki wilayah ukur yang luas dan multidimensional atau merupakan sebuah domain yang sempit (narrow). Sebagai contoh, konseptualisasi terhadap konstruk kesabaran (al-shobr) atau kebersyukuran (al-syukr) akan berhadapan dengan beragam ayat yang melahirkan perbedaan definisi tentang keduanya. Dalam konteks ini, peneliti harus
232 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran mampu mengintegrasikan setiap muatan ayat dan menemukan definisi dasar dari kedua konstruk tersebut. Semakin banyak ayat yang memuat tentang suatu konstruk, maka dapat dikatakan bahwa wilayah ukur yang dimiliki oleh konstruk tersebut juga semakin luas. Persoalan lain yang perlu diperhatikan dalam pengembangan pengukuran konstruk psikologi Islam adalah upaya menegaskan paradigma psikologi Islam dibandingkan dengan psikologi Barat yang berpijak pada nilai dan asumsi sains modern. Meski secara etimologis, dua kata yang digunakan sama, namun asumsi yang mendasari pengembangan sebuah konsep perlu dibedakan. Pengembangan pengukuran konstruk kebersyukuran (gratitude) yang dilakukan Froh, dkk (2011) hanya menekankan pada dimensi yang sifatnya intrapersonal dan sosial. Hal ini berbeda dengan nilai dasar dalam konsep kebersyukuran dalam Islam, di mana atribusi perasaan bersyukur tidak terbatas pada dimensi intrapersonal dan sosial, melainkan juga diarahkan kepada Tuhan. Perbedaan ini nantinya akan berdampak pada evaluasi validitas, khususnya ketika menggunakan validitas konvergen dan diskriminan. Tantangan lain yang perlu diperhatikan terkait dengan pengembangan instrumen pengukuran konstruk psikologi Islam adalah bagaimana mereduksi kemungkinan bias kepatutan sosial dalam item yang digunakan. Hal ini mengacu pada kenyataan bahwa nilai yang dijadikan sebagai landasan pengembangan instrumen merupakan sebuah nilai agama yang secara umum dipersepsi positif sehingga dalam proses pengukurannya sangat mungkin memunculkan respon normatif akibat bias tersebut. Hal ini membawa konsekuensi bahwa dalam menjamin validitas instrument secara isi (content validity), peneliti harus memastikan bahwa item-item yang digunakan tidak mengandung bias kepatutan sosial ini. Landasan lain yang harus dijadikan sebagai nilai dalam menyikapi pengukuran konstruk psikologi Islam adalah bahwa apa yang dihasilkan merupakan output dari sebuah proses metodologis, oleh karenanya selalu bersifat relatif. Dalam asumsi teori pengukuran klasik, maka sebuah pengukuran diyakini tidak dapat lepas dari eror yang sangat mungkin terjadi. Demikian juga dalam Psikologi Islam. Output proses pengukuran terhadap konstruk psikologi Islam juga merupakan sesuatu yang bersifat manusiawi oleh karenanya pasti mengandung eror dalam memotret konstruk psikologi sebagaimana yang diharapkan.
Metode Penelitian Psikologi Islam 233 E. Penutup Psikologi Islam sebagai bagian dari sains secara otomatis harus dikembangkan dengan menggunakan kerangka pemikiran dan metode yang mengintegrasikan antara ranah teoretis rasional dan bukti-bukti empiris. Berbagai perbedaan pada ranah implisit sebuah paradigma yang meliputi asumsi dasar, nilai-nilai, model dan masalah yang diteliti berimbas pada berbagai pola kajian yang akan membedakannya dengan bangunan psikologi dalam paradigma lain. Sebagai sebuah ilmu pengetahuan, psikologi Islam juga terus menerus berupaya untuk memberikan sumbangan pemahaman yang akurat terhadap realitas dan memberikan solusi yang tidak hanya berjangka pada kehidupan dunia, melainkan juga kehidupan akhirat sebagai spektrum yang jauh lebih luas. Orientasi nilai dalam kajian psikologi Islam mestinya terepresentasikan dalam harapan umat Islam sebagaimana dalam doa yang sangat terkenal, yaitu fi aldunyaa hasanah (beroleh kebaikan di dunia) dan fi al akhirah hasanah (beroleh kebaikan di akhirat). Dua hal ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena kebaikan di akhirat pada prinsipnya adalah konsekuensi logis dari kebaikan (bukan dimaknai sebagai kekayaan) di dunia. Prinsip inilah yang menjadi penopang bentukan metode penelitian psikologi Islam dalam memandang berbagai persoalan dunia dan menawarkan solusi yang relevan serta kompatibel. Daftar Pustaka Abidin, Z & Azam, M. S. (2015). Efektivitas Salat Tahajud Dalam Mengurangi Tingkat Stres Santri Pondok Islam Nurul Amal Bekasi Jawa Barat. Makalah dalam 1st National Conference on Islamic Psychology, tanggal 27-28 Februari 2015. Abu Sulayman, A. H. (1989). Islamization of Knowledge: General Principles and Work Plan. Virginia: International Institute of Islamic Thought. Ahimsa-Putra, H. S. (2011). Paradigma Profetik, Sebuah Konsepsi. Makalah dalam Seminar Ilmu Profetik, 4 April 2011. Yogyakarta: FPSB UII. Arifin, S. (2015). Kesabaran Ibu yang Mengasuh Anak Berkebutuhan Khusus. Makalah dalam 1st National Conference on Islamic Psychology, tanggal 27-28 Februari 2015. Astuti, R. D. (2015). Al Quran sebagai Penyembuh dalam Terapi Qurani pada Penderita Depresi (Studi Kualitatif). Makalah dalam 1st National Conference on
234 Psikologi Islam: Dari Konsep Hingga Pengukuran Islamic Psychology, tanggal 27-28 Februari 2015. Azwar, S. (2015). Dasar-dasar Psikometri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Bahm, A. J. (1980). What is Science. New Mexico: World Books. Bantam, D. J. (2015). Survey leading organization pada organisasi Islam. Makalah dalam 1st National Conference on Islamic Psychology, tanggal 27-28 Februari 2015. DeVellis, R. (2003). Scale Development: Theory and Applications. SAGE Publication. Diener. E. (2000). Subjective well being: the science of happiness and a proposal for national index. American Psychologist, 55(1), page: 34-43. Diener, E. (2008). Assessing subjective well being: progress and opportunities. Social Indicator Research , 31(2), 103 Dyorita, A. (2015). Aplikasi Metode Dakwah Rasulullah sebagai Bentuk Intervensi untuk Meningkatkan Kesehatan Mental Klien. Makalah dalam 1st National Conference on Islamic Psychology, tanggal 27-28 Februari 2015. Froh, J. J., Emmons. R. A., Huebner. E. S., Fan. J, Bono. G., & Watkins, P. (2011). Measuring grattude in youth: assessing the psychometric properties of adult gratitude scale in children and adolescents. Psychological Assessment, 23(2). Gustirani, N. A. (2015). Hubungan kebersyukuran dengan resiliensi pada penyandang difabel fisik non-bawaan. Makalah dalam 1st National Conference on Islamic Psychology, tanggal 27-28 Februari 2015. Hadi, S. (2001). Isu Uji Asumsi. Buletin Psikologi, tahun IX. No. 1. Haque, A. (2000). Psychology and religion: two approaches to positive mental health. Intellectual Discourse, 8(1). Ilhamuddin, (2015). Konstruksi Tes Kepribadian Islam berdasarkan Kajian Al Quran dan Hadis. Makalah dalam 1st National Conference on Islamic Psychology, tanggal 27-28 Februari 2015. Kurniawan, Y. (2015). Spiritual Writing Therapy pada Klien yang Mengalami Episode Depresif Sedang dengan Gejala Somatis. Makalah dalam 1st National Conference on Islamic Psychology, tanggal 27-28 Februari 2015. Mahfudz. A. S. (2005). Metodologi Penelitian. Jakarta: lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Maslihah, S. (2015). Peran Kelompok Teman Sebaya dalam Pembinaan Keagamaan Remaja di Lapas Anak. Makalah dalam 1st National Conference on Islamic Psychology, tanggal 27-28 Februari 2015. Mayasari, R. (2015). Model of Critical Thinking in the Quran as The Basis for
Metode Penelitian Psikologi Islam 235 Development of Islamic Character. Makalah dalam 1st National Conference on Islamic Psychology, tanggal 27-28 Februari 2015. Mujib. A., & Mudzakir. (2001). Nuansa-nuansa Psikologi Islami. Jakarta: Rajawali Press. Nashori, F. (2010). Agenda Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Rahman, N. N. (2015). Gratitude and tendency of body dysmorphic disorder among teenage girls. Makalah dalam 1st National Conference on Islamic Psychology, tanggal 27-28 Februari 2015. Razak, A. (2015). Problem Solving berbasis Konseling Al Quran. Makalah dalam 1st National Conference on Islamic Psychology, tanggal 27-28 Februari 2015. Riyono, B. (2013). Motivasi dalam Perspektif Psikologi Islam. Yogyakarta: Quality Publishing. Sartika, A., & Kurniawan, I. N. (2015). Pengembangan Alat Ukur Tawakkal: Studi Validitas. Makalah dalam 1st National Conference on Islamic Psychology, tanggal 27-28 Februari 2015. Sumintono, B., & Widhiarso. W. (2014). Aplikasi Model Rasch untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Cimahi: Trim Komunikata Publishing House. Utami, N. R., & Urbayatun, S. (2015). Pengaruh Pelatihan Mendengarkan Al Quran dalam Menurunkan Kecemasan Menghadapi Masa Depan pada Remaja di Panti Sosial Bina Remaja. Makalah dalam 1st National Conference on Islamic Psychology, tanggal 27-28 Februari 2015. Wafda, J. (2015). Taubat sebagai Alternatif Treatment Psikoterapi Islam dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia. Makalah dalam 1st National Conference on Islamic Psychology, tanggal 27-28 Februari 2015. Wahyuningsih, H. (2015). Analisi faktor konfirmator dan model Rasch : pengujian dimensionalitas skala religiusitas muslim. Makalah dalam 1st National Conference on Islamic Psychology, tanggal 27-28 Februari 2015. Wibowo, U. D. A. (2015). Peran Persepsi tentang Lingkungan Kerja Psikososial terhadap Komitmen Organisasi pada Lembaga Pendidikan Islam. Makalah dalam 1st National Conference on Islamic Psychology, tanggal 27-28 Februari 2015.