SMP NEGERI 5 BOJONEGORO
kelas
VIII
2022 / 2023
EDITOR
wali kelas
LAPORAN
KEGIATAN PAWAI BUDAYA BOJONEGORO
LAPORAN KEGIATAN PAWAI BUDAYA BOJONEGORO
TANGGAL 29-08-2022 SDN CAMPUREJO I
(UPACARA ADAT TEMU PENGANTIN ATAU PINJUNG IRAS PUTRI)
DlSUSUN OLEH :
KELOMPOK 5
Bagus Cahyono (09)
Ilham Pramudya (15)
Farel Setiawan (13)
Alvano Fedrinan Filan (03)
KELAS VIII-A
SMPN 5 BOJONEGORO
Judul : Pawai Budaya Kabupaten Bojonegoro Tahun 2022
Tema : Upacara Adat Temu Pengantin atau Pinjung Iras Putri
Peserta : SDN Campurejo I
Kreator : Eko Purwanto
Pada hari Senin, 29-08-2022 mengusung tema ‘Upacara Adat Temu Pengantin atau
Pinjung Iras Putri’ Sekolah Dasar Negeri Campurejo 1 turut memeriahkan Pawai Budaya,
guna memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan Republik Indonesia
Ke- 77. Kegiatan tersebut diselenggarakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro
melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.Diketahui, pawai budaya ini merupakan kali kedua
setelah hari Minggu kemarin, juga dilaksanakan kegiatan serupa, dengan 28 peserta dari
tingkat SMA/SMK/MA dan Umum.
Tradisi upacara adat panggih pengantin ini berasal dari, Dukuh Kepoh Agung
(Pagung), Desa Campurejo, Kec/Kab. Bojonegoro, Jawa Timur. Prosesi pertama di awali
dengan “Sawur Gadang” berasal dari kata ‘SAWUR‘ yang berarti menabur/mbalang atau
melempar. Sementara ‘GADANG‘ memiliki arti mengharap, sehingga “Sawur Gadang”
dapat dimaknai dengan menabur harapan di dalam menemukan jodohnya.
Prosesi ini merupakan tahapan dalam proses upacara temu atau panggih pengantin
Gaya Bojonegoro atau biasa disebut “Pinjung Iras Putri” Dimana pada titik panggih/ketemu
yang telah ditentukan, kedua rombongan mempelai putra dan mempelai putri berhenti tepat
dibawah naungan Tarup kecil yang dihias tuwuhan yang disebut “PACUL GOWANG“. Di
bawah Pacul Gowang inilah proses temu pengantin diawali, di mana kedua mempelai saling
melempar genggaman tangan yang berisi beras kuning dan gulungan daun sirih temu ros,
yang disebut GANTAL.
Di saat kedua mempelai saling melempar Gantal, disinilah para pengiring dari pihak
mempelai putra (yang masih bestatus perjaka) dan para pengiring dari pihak mempelai putri
(juga yang masih berstatus legan/belum menikah) saling melempar gantal, dan saling
mendahului ke masing-masing lawan jenisnya sehingga proses temu pengantin ini menjadi
sangat meriah. Inilah yang disebut Prosesi Sawur Gadang.
Diawali pengantin pria yg melempar gantal mengenai dada mempelai putri yg
bermakna bahwa (mempelai putra telah menemukan pilihan hatinya). Kemudian dibalas oleh
mempelai putri dengan cara yg sama melempar genggaman yg berisi beras kuning &
gulungan sirih temu ros mengenai lutut mempelai putra yg bermakna Bahwa sebagai calon
istri berkewajiban untuk selalu taat dan menghormati calon suaminya.
Disaat kedua mempelai saling melempar Gantal inilah para pengiring dari pihak
mempelai putra para perjaka dan para pengiring dari pihak mempelai putri yang masih legan
saling melempar gantal saling mendahului ke masing-masing lawan jenisnya. Sehingga
proses temu pengantin ini menjadi sangat meriah, di sinilah yang disebut Prosesi Sawur
Gadang, selanjutnya diharapkan pada proses temu pengantin para pengiring yang masih
lajang berharap juga dapat segera menemukan jodohnya. Setelah semua dalam tahapan proses
temu pengantin selesai dilaksanakan di rumah mempelai putri, kemudian dilanjutkan Tradisi
sinjo.
SINJO, yakni kedua mempelai dengan memakai kaca mata hitam sebagai simbol
kesetiaan, lalu diarak keliling jalan-jalan desa menuju rumah sesepuh desa untuk
mendapatkan wejangan dalam membina rumah tangga menuju sakinah mawadah dan wa
rahmah.
Kedua mempelai
dengan diiringi
oleh para
pengiring putra
membawa Jodang
berisi makanan,
lauk dan buah,
sementara
pengiring putri
membawa Tenong
berisi kue kue, dengan dikawal pembawa tombak paling depan dan dua perjaka pembawa
Rontek Sapudar dibelakangnya, dinaungi di bawah payung agung dan diarak oleh penabuh
jedor tampak begitu sangat agung dan meriah beriringan melalui jalan-jalan desa. Tradisi ini
sebagai bukti legitimasi pengakuan syah dari masyarakat desa saat melihat iringan pengantin
disepanjang jalan yang dilalui kedua mempelai. Di mana telah melaksanakan pernikahan
yang sah secara adat, agama dan pemerintah.
Judul : pawai budaya kabupaten Bojonegoro Tahun 2022
Tema : syekh ali
Peserta : SDN pacul ll
Pada hari senin 29/8/22, mengusung tema 'syekh ali', pada hari tersebut peserta dari
SDN Pacul ll memeriahkan pawai budaya tersebut. Penonton disana terlihat sangat senang bisa
melihat pertunjukan dari SDN Pacul ll. Guna memperingati HUT RI yg ke-77, Pemerintah
Kabupaten Bojonegoro( Pemkab), menyelenggarakan pawai budaya di alun-alun Bojonegoro.
Diketahui, pawai budaya ini merupakan kali kedua setelah hari minggu kemarin, juga
dilaksanakan kegiatan serupa, dengan 28 peserta dari SD/MI/SMP.
Pada hari itu SDN Pacul ll, mengikuti pawai budaya tersebut dengan antusias dan sangat baik.
Saya juga senang dengan tampilan busana, atraksi, dan lain lain. Dengan tema 'syekh ali'
Peserta dari SDN Pacul tersebut menunjukan penampilan yang sangat menarik, hingga
penontom sangat suka dengan penampilan nya. Peserta tersebut dari desa Pacul kec/kab
Bojonegoro.
Judul : Pawai Budaya Kabupaten Bojonegoro Tahun 2022
Tema : Sirna Sengkala
Peserta : Smp Negeri 5 Bojonegoro
Kreator : Choyr Sudarmono
Pada tanggal 29 Agustus 2022 . Kabupaten Bojonegoro mengadakan Pawai budaya atau yang
biasa di sebut dengan karnaval. SMP Negeri 5 Bojonegoro ikut serta dalam kegiatan tersebut
guna memeriahkan HUT RI ke- 77. SMP Negeri 5 Bojonegoro mengusung tema " Sirna Sengkala
"
Pada tanggal 29 Agustus 2022 . Kabupaten Bojonegoro mengadakan Pawai budaya atau yang
biasa di sebut dengan karnaval. SMP Negeri 5 Bojonegoro ikut serta dalam kegiatan tersebut
guna memeriahkan HUT RI ke- 77. SMP Negeri 5 Bojonegoro mengusung tema " Sirna Sengkala
"
Nama kelompok :
Nazhila putri azahra
Salsabila aida rahmawati
Winda aulia sinta dewi
Aisyah nurul hidayah
Tema: sirnosengkolo ruwatan murungkala
khyangan api
Peserta: SMPN 5 BOJONEGORO
Kreator: choir Sudarmono
Pada hari senin 29-08-2022 mengusung tema"Sirnosengkala ruwatan murwakala
khayangan api" SMPN 5 BOJONEGORO turut memeriahkan pawai budaya guna
untuk memeriahkan peringatan HUT RI kemerdekaan INDONESIA ke 77.kegiatan
tersebut di selenggarakan pemerintah kabupaten Bojonegoro (Pemkab) melalui
Dinas kebudayaan dan pariwisata.Diketahui,pawai budaya ini merupakan kali ke 2
setelah hari minggu kemarin, juga di laksanakan kegiatan serupa,dengan 28
peserta dari tingkat SMA/SMK/MA dan umum
1.Ruwatan Massal Di Kayangan Api Bojonegoro 1
Suro 2022 ... Ritual Ruwat Gadis Kembang
Sepasang ruwatan batara kala
Sirno sirno sirno saking kersaning Gusti. ... pada
pakeliran wayang kulit disaat pelaksanaan
ruwatan
KARNAVAL PEMENTASAN TARI NAGARUDA
ANGGOTA KELOMPOK:
•Winda Shireena
•Emanuella Priskila
•Farel Mifian
•Desta Bayu
•M.Diki Maulana
Karnaval tari Nagaruda dipentaskan pada hari senin-29- Agustus 2022
diarea Alun-alun Bojonegoro (start- finish). Pementasan tari ini adalah
dalam rangka untuk memperingati NKRI (Negara Kesatuan Republik
Indonesia) yang ke - 77. Pertunjukan karnaval ini dimulai pukul 08.00-
selesai.
Tari Nagaruda ini merupakan tarian kesenian asli Bojonegoro yang
masih dilestarikan di kecamatan Ngambon. Tari tradisional ini berkisah
tentang pertempuran sengit antara Prabu Angling Dharma dan Batik
Madrim.
Prabu Angling Dharma dan Batik Madrim saling beradu kesaktian
dengan mengubah wujudnya menjadi Naga Raksasa dan Burung
Garuda untuk menikahi Dewi Setyowati yang terkenal akan
kecantikannya. Karnaval ini membuat para penonton terkesan akan
keindahan tari Nagaruda yang di tampilkan oleh " SMPN 2
BOJONEGORO"
Judul : Pawai Budaya Kabupaten Bojonegoro
Tema : Wayang Krucil
Peserta : SDN Kauman 1
Kreator : Siti Mahmudah
Pada hari Senin, 29-08-2022 SDN Kauman 1 membawakan tema Wayang Krucil,
guna untuk memeriahkan memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan Republik
Indonesia. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Pawai
Budaya ini merupakan Pawai Budaya yang ke dua setelah hari Minggu kemarin yang
dilaksanakan dengan serupa berjumlah 28 peserta dari tingkat SMA/SMK dan MA
Tema Wayang Krucil tersebut menceritakan tentang ibarat kau mutiara yang
terpendam dan tak dangkal lagi oleh zaman yang kian edan yang ada tinggal jejak arang atau
namamu. Wayang Kayu dua dimensi ini memang tinggal nama, namun pelakumu hampir tak
tersentuh dan tergenerasi lagi, perkembangan zaman menguburmu semakin dalam,
eksistensimu hanya disedekah bumi, itu pun hanya di beberapa desa pinggiran.
Kami sebagai generasi milenial tak ingin kehilanganmu sebagai peninggalan seni
budaya tradisional kami. Kami ingin mengangkatmu ke permukaan dengan harapan krucil
kembali terkenal dan dikenal, agar engkau kembali bisa berkelana, dikagumi, digemari
generasi masa kini. Kuharap kau sebagai Panji Pengembara, Panji Perkelana, atau Panji
Lelana.
Nama Anggota Kelompok:
1. Aurelia Zahira Asa (7)
2. Asyifa Putri Rufida (6)
3. Julian Tirta Putri (17)
4. Salsabilla Risma B. K. (30)
Judul : Pawai Budaya SMP Negeri 5 Bojonegoro Tahun 2022
Tema : Sirna Sengkala
Kreator : Khoir Sudarmono
Pada hari senin tanggal 29-8-2022 SMP Negeri 5 Bojonegoro mengusung
tema SIRNA SENGKALA turut memeriahkan Pawai Budaya, guna memperingati
kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang Ke-77. Kegiatan tersebut
diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.Pawai Budaya ini
merupakan Pawai Budaya yang ke dua setelah hari Minggu kemarin yang juga
dilaksanakan dengan serupa yang berjumlah 28 peserta dari tingkat SMA/SMK
dan MA.
Tema SIRNA SENGKALA tersebut mengusung cerita Ketika Batara Guru
dan istrinya Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu
Andini, dalam perjalanannya karena terlena, maka Batara Guru berhubungan
badan dengan istrinya di atas kendaraan suci Lembu Andini, sehingga Dewi Uma
hamil. Ketika pulang dan sampai di kahyangan Batara Guru kaget dan tersadar
atas tindakannya melanggar larangan itu. Seketika itu Batara Guru marah pada
dirinya dan Dewi Uma, dia menyumpah bahwa tindakan yang dilakukannya
seperti perbuatan Buto (bangsa rakshasa). Karena semua perkataannya mandi
(bahasa indonesia: cepat menjadi kenyataan) maka seketika itu juga Dewi Uma
yang sedang mengandung menjadi raksasa. Batara Guru kemudian mengusirnya
dari kahyangan Jonggring salaka dan menempati kawasan kahyangan baru yang
disebut Gondomayit.
Setelah itu dia melahirkan anak yang berwujud raksasa dan diberi nama
Kala atau Batara Kala.Mereka selalu membuat onar di mayapada(bumi) karena
ingin membalas dendam. Untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala harus
diadakan upacara ruwatan.Lakon-lakon seperti itu di dalam pedalangan di sebut
lakon murwakala. Batara kala selalu tidak berhasil memakan Pandawa karena
Pandawa selalu didekati titisan Wisnu yaitu Batara Kresna
Nama Anggota Kelompok:
1.RAKAPRANA AP
2.ORYZA SATIVA
3.BAGUS ANANDA R.S
4.ALVITO DWI P
SINAR SENGKALA
Pada hari Senin tanggal 29 Agustus 2022, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro
menyelenggarakan Pawai Budaya dalam rangka memperingati HUT RI-77. Karnaval budaya
ini melibatkan seniman lokal dari budaya ini melibatkan 9 SMP di Kabupaten Bojonegoro
kelompok kesenian dari JAWA TIMUR untuk meriahkan acara. Karnaval ini dimulai di start
dari alun-alun Bojonegoro dan berakhir di alun-alun Bojonegoro. Para juri juga turut serta
dalam pawai budaya ini dengan menaiki panggung dan menilai para pemain pawai budaya
ini. Ditampilkan pasukan Buto Ijo menakut-nakuti warga desa dan berbagai macam-macam.
Peserta parade mengenakan pakaian pasukan Buto ijo dan prajurit yang dikelompokkan ke
dalam kelompok “Buto ijo”adapun warga desa pada Pawai budaya tersebut menampilkan
Buto ijo dan warga desa tergabung dalam JUDUL SIRNA SENGKALA.
Nama anggota: Ananda Valentino Yanuar (05). Hafiz Satya Nugraha (15)
Ataya Fikri Rizqullah (06). Yofi Ariyanto (30)
LAPORAN PAWAI
BUDAYA
OLEH
KELAS VIII E
SMP NEGERI 5 BOJONEGORO
TAHUN 2022
KELOMPOK 1
TRADISI RUWATAN DENGAN SENI WAYANG
Pada suatu ketika dewwa siwa bercengkerama dengan permainsurinya yang sangan
cantik, yaitu dewi uma. Mereka terbang di atas samudera dengan naik lembu tunggangannya
bersama lembu andhini. Di atas samudra itu siwa melihat permainsurinya sangat menggairahkan,
sehingga timbul hasratnya untuk bersatu rasa. Tetapi dewi uma tidak berkenan dihati, maka
benih siwa jatuh ditengah lautan.
Setelah masa benihnya itu berubah menjadi makhluk, kian lama kian besar. Akhirnya
menjadi raksasa besar dan sakti. Ia naik ke suralaya, tempat bersemayan dan ia minta agar
ditunjukkan manusia- manusia yang bagaimanakah yang menjadi mangsanya. Dewa siwa
mengakui bahwa ia adalah putera siwa sendiri, dan diberi nama bathara kala. Siwa menyebutkan
macam – macam manusia yang yang termasuk anak sukerta.
Maka dewa kala segera turun ke dunia untuk mencari mangsa, yaitu manusia – manusia
yang telah tentukan baginya. Ia menuju ke danau madirda. Sepeningal dewa kala, siwa sadar
bahwa jumlah manusia yang disebutkan jadi terlau banyak, apabila tidak dihalangi mungkin
manusia akan punah dari muka bumi. Dewa wisnu kemudian memakai nama dalang
kandhabuana, bertugas meruwat manusia-manusia sukerta yang ditakdirkan menjadi umpan
dewa kala. Diceritakan, ada seorang janda di desa Medang kawit, bernama sumawit. Ia
memiliki seorang anak laki-laki. Menjelang remaja bernama joko jatusmati. Karena ia anak
tunggal, supaya selamat ia disuruh ibunya mandi di Danau Madirda.
Setelah sampai di danau itu ia berjumpa dengan Dewa kala. Dewa kala minta kesediaan
anak itu untuk dimakan, karena ia termasuk menjadi mangsanya. Sadar ada bahaya mengancam,
Joko segera melarikan diri. Sedangkan dewa kala mengejar kemana saja ia pergi. Ia
bersembunyi diantara orang-orang yang sedang mendirikan rumah.
KELAS VIII–E (1)
(2)
1) ADIB NUVAL AULIAN (32)
2) AL. AQASHA PUTRA PRAMADANI (29)
3) ZANNY PUTRA PERDANA
4) VERA SETYA HERLINA
KELOMPOK 2
Pawai Budaya di Kota Bojonegoro
Minggu (28,08,2022) dan Senin (29,08,2022) Bojonegoro mengadakan pawai budaya.
Minggu pawai budaya untuk umum (warga yang mewakili daerahnya) dan Senin untuk SD/MI dan
SMP/Mts.
Pawai budaya sangat menarik bagi warga, pawai ini selalu menampilkan keragaman budaya
Indonesia.Wilayah Indonesia tersebar dari Sabang sampai Merauke dengan beraneka ragam budaya
yang berbeda-beda. Hal ini dapat kita buktikan ketika ada kegiatan pawai budaya. Ada pakaian adat,
rumah adat, tari-tarian, lagu daerah, adat-istiadat, alat musik dan masih banyak lagi yang berbeda
antara satu daerah dengan daerah yang lain.
Salah satu kategori SMP yaitu SMPN 5 mengikuti karnaval urutan nomor 06 yang memuat
tema "Sirna Sengkala" yaitu Ruwatan Murwangkala ing Khayangan Api. Ruwatan Murwangkala
merupakan rangkaian upacara tradisi Jawa untuk membersihkan diri atau mensucikan diri dari
marabahaya sehingga bisa hidup sejahtera.
SMPN 5 Bojonegoro menampilkan adegan "Buto Ijo" yang membuat semua orang ingin
melihatnya. Selain itu, juga terdapat patung buto ijo yang sangat besar di bagian pertengahan. Serta
juga terdapat iringan musik gamelan saat melakukan atraksi. Adapun kostum yang
dikenakan oleh siswa-siswi yaitu kostum buto dengan riasan buto di wajah, kostum penari dengan
beragam warna, terdapat juga siswi yang membawa tumpeng dan juga bingkisan buah-buahan, dan
masih banyak lagi.
Para siswa-siswi SMPN 5 Bojonegoro memperegakan perannya masing-masing dengan
sangat bagus dengan barisan yang tertata rapi. Di penghujung acara setelah semua sekolah
menampilkan adegannya masing-masing, juri mengumumkan juara dari pawai budaya tingkat
SD/MI dan SMP/Mts. SMPN 5 Bojonegoro mendapatkan peringkat juara harapan 1. Walaupun
tidak mendapatkan juara pertama, para siswa-siswi SMPN 5 Bojonegoro sudah puas karena bisa
mendapatkan juara.
Anggota kelompok 2:
- Alma Belinda P. (03)
- Andhika Dwi U. (04)
- Arya Zeta P. Y (05)
- Vino Putra P. (31)
KELOMPOK 3
Pawai Budaya SMPN 5 Bojonegoro
Minggu (28/08/22) Bojonegoro mengadakan pawai budaya dan sekaligus memeriahkan HUT RI
Ke-77. Pawai budaya ini di ikuti oleh SD/MI, SMP/Mts, SMA/SMK, dan umum (warga yang
mewakili daerahnya untuk mengikuti Pawai Budaya). Hari Minggu (28/08/22) diikuti peserta dari
katergori SMA/SMK dan Umum. Tidak hanya Hari Minggu, di Hari Senin (29/08/22) juga ada
yaitu diikuti oleh peserta kategori SD/MI dan SMP/Mts.Di hari Senin (29/08/22) memuat kategori
SD/MI dan SMP/Mts dengan jumlah 26 peserta. Pawai Budaya ini dihadiri oleh Bupati Bojonegoro
yaitu Hj. Anna Mu‟awanah. Kegiatan tersebut dimulai sekitar pukul 08.00 dari start Jalan Mas
Tumapel hingga finish di Jalan Imam Bonjol.
Adanya kegiatan tersebut bertujuan sebagai salah satu bentuk perayaan HUT RI, Selain
perayaan HUT RI pawai budaya ini juga memiliki banyak manfaat mulai dari menjaga kebudayaan
hingga untuk salah satu acara budaya yang banyak dinikmati turis Internasional.
Salah satu peserta dari katergori SMP yaitu SMPN 5 Bojonegoro yang mendapat nomor urutan 06
ini memuat tema “Sirna Sengkala” yaitu Ruwatan Murwakala Ing Kayangan Api. Ruwatan
Murwakala merupakan rangkaian upacara tradisi jawa yang bertujuan membersihkan diri atau
mensucikan diri agar terhindar dari marabahaya sehingga bisa bidup sejahtera. Salah satu tujuan
SMPN 5 Bojonegoro memuat tema tersebut yaitu untuk melestarikan dan aktualisasi adat budaya
daerah dan menumbuhkan rasa cinta terhadap tradisi dan budaya daerah.
SMPN 5 Bojonegoro menampilkan adegan yang membuat semua semua orang ingin melihat
nya.Selain itu SMPN 5 Bojonegoro juga membawa patung buta ijo yang sangat besar,Dan juga
ketika atraksi di mulai di iringi oleh alat musik gamelan.
Rute yang ditempuh para siswa SMP dan SD lebih dekat dari pada rute yang ditempuh oleh
siswa SMA/SMK dan umum.Para siswa siswi SMPN 5 Bojonegoro ada yang menggunakan
kostum buta ijo,penari,dan lain lain.Setelah semua siswa siswi sampai di finis juara pun diumum
kan dan SMPN 5 Bojonegoro mendapatkan juara harapan 1 walaupun tidak mendapatkan juara 1
semua siswa siswi SMPN 5 Bojonegoro sudah merasa cukup puas dan bahagia.
Nama Anggota Kelompok 3:
1. Aura Shifa Nuraini
2. Danandra Ligar
3. Riski Nur Rohman
4. Titania Azahra Suci R
KELOMPOK 4
PAWAI BUDAYA
Tradisi upacara adat panggih pengantin ini berasal dari, Dukuh Kepoh Agung (Pagun), Desa
Campurejo, Kec/Kab . Bojonegoro, Jawa Timur. Prosesi pertama di awali dengan "Sawur Gadang "
berasal dari kata 'SAWUR' yang berarti menabur/mbalang atau melempar. Sementara „GADANG '
memiliki arti mengharap, sehingga "Sawur Gadang" dapat dimaknai dengan menabur harapan di
dalam menemukan jodohnya.
Prosesi ini merupakan tahapan dalam proses upacara temu atau panggih pengantin Gaya Bojonegoro
atau biasa disebut Pinjung Iras Putri Dimana pada titik panggih / ketemu yang telah ditentukan ,
kedua rombongan mempelai putra dan mempelai putri berhenti tepat dibawah naungan Tarup kecil
yang dihias tuwuhan yang disebut "PACUL GOWANG". Di bawah Pacul.Gowang inilah proses
temu pengantin diawali, di mana kedua mempelai saling melempar genggaman tangan yang berisi
beras kuning dan gulungan daun sirih temu ros , yangdisebut GANTAL.
Di saat kedua mempelai saling melempar Gantal, disinilah para pengiring dari pihak mempelai putra
(yang masih bestatus perjaka ) dan para pengiring dari pihak mempelai putri ( juga yang masih
berstatus legan/belum menikah) saling melempar gantal,dan saling mendahului ke masing masing
lawan jenisnya sehingga proses temu pengantin ini menjadi sangat meriah. Inilah yang disebut
Prosesi “Sawur Gadang”.
Diawali pengantin pria yg melempar gantal mengenai dada mempelai putri yg bermakna bahwa (
mempelai putra telah menemukan pilihan hatinya). Kemudian dibalas oleh mempelai putri dengan
cara yg sama melempar genggaman yg berisi beras kuning & gulungan sirih temu ros mengenai lutut
mempelai putra yg bermakna Bahwa sebagai calon istri berkewajiban untuk selalu taat dan
menghormati calon suaminya.
Di saat kedua mempelai saling melempar Gantal inilah para pengiring dari pihak mempelai putra
para perjaka dan para pengiring dari pihak mempelai putri yang masih legan saling melempar gantal
saling mendahului ke masing-masing lawan jenisnya. Sehingga proses temu pengantin ini menjadi
sangat meriah, di sinilah yang disebut Prosesi “Sawur Gadang” , selanjutnya diharapkan pada proses
temu pengantin para pengiring yang masih lajang berharap juga dapat segera menemukan jodohnya .
Setelah semua dalam tahapan proses temu pengantin selesai dilaksanakan di rumah mempelai putri,
kemudian dilanjutkan Tradisi SINJO .
Kedua mempelai dengan diiringi oleh para pengiring putra membawa Jodang berisi makanan, lauk
dan buah , sementara pengiring putri membawa Tenong berisi kue kue, dengan dikawal pembawa
tombak paling depan dan dua perjaka pembawa Rontek Sapudar dibelakangnya , dinaungi di bawah
payung agung dan diarak oleh penabuh jedor tampak begitu sangat agung dan meriah beriringan
melalui jalan-jalan desa. Tradisi ini sebagai bukti legitimasi pengakuan syah dari masyarakat desa
saat melihat iringan pengantin disepanjang jalan yang dilalui kedua mempelai . Di mana telah
melaksanakan pernikahan yang sah secara adat, agama dan pemerintah
9
KELOMPOK 5
Pawai Budaya SDN Pacul 3 Bojonegoro
Minggu (28/07/22) Bojonegoro mengadakan pawai budaya dan sekaligus
memeriahkan HUT RI Ke-77. Pawai budaya ini di ikuti oleh SD/MI, SMP/Mts,
SMA/SMK, dan umum (warga yang mewakili daerahnya untuk mengikuti Pawai
Budaya). Hari Minggu (28/07/22) diikuti peserta dari katergori SMA/SMK dan
Umum. Tidak hanya Hari Minggu, di Hari Senin (29/07/22) juga ada yaitu diikuti
oleh peserta kategori SD/MI dan SMP/Mts.Di hari Senin (29/07/22) memuat
kategori SD/MI dan SMP/Mts dengan jumlah 26 peserta. Pawai Budaya ini dihadiri
oleh Bupati Bojonegoro yaitu Hj. Anna Mu‟awanah. Kegiatan tersebut dimulai
sekitar pukul 08.00 dari start Jalan Mas Tumapel hingga finish di Jalan Imam
Bonjol.
Salah satu peserta dari katergori SD yaitu SDN Pacul 3 Bojonegoro yang
mendapat nomor urutan 17 ini memuat tema “Tradisi Wiwit Sawah” yaitu Wiwit
10
yang memiliki arti “ mulai “. Dimana Tradisi miwit sawah merupakan tradisi yang
sudah ada sejak zaman dahulu dimana tradisi tersebut dilakukan supaya subur dalam
menanam padi, biasa dilakukan sebelum pemotongan padi dimulai. Salah satu tujuan
SDN Pacul 3 Bojonegoro memuat tema tersebut yaitu adalah bentuk rasa syukur
masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam ritual miwit diniatkan untuk
bersedekah atau berbagi kepada sesama. Dalam cerita legenda konon katanya
terdapat Dewi kesuburan alam yang diyakini oleh masyarakat Bojonegoro bahwa
terdapat Dewi yang berada di sudut pemetakan sawah yang biasa disebut Dewi Sri
atau Dewi Padi. Tradisi miwit sawah biasa dilakukan mulai dari pagi hari dan
biasanya terdapat sesaji diletakkan di sudut pekarangan yang akan ditanami padi.
Adapun sesaji yang biasa di bawa oleh masyarakat untuk di taruh di pojok
pekarangan sawah yang biasa disebut ucok bakal. Dimana itu dapat diyakini akan
mendapatkan kelimpahan dalam tanam padi. Di yakini padi akan tumbuh subur, dan
akan mendapatkan hasil yang bagus. Dalam proses pemotongan padi biasa dilakuakn
oleh orang laki-laki dengan membawa arit dan biasanya dilakukan oleh banyak
orang.
SDN Pacul 3 Bojonegoro menampilkan adegan yang membuat semua semua
orang ingin melihat nya. Selain itu SDN Pacul 3 Bojonegoro juga membawa properti
kereta Dewi Sri,dan juga ketika atraksi di mulai di iringi oleh alat musik gamelan.
Rute yang ditempuh para siswa SMP dan SD lebih dekat dari pada rute yang
ditempuh oleh siswa SMA/SMK dan umum.Para siswa siswi SDN Pacul 3
Bojonegoro ada yang menggunakan kostum kange yune,penari,dan lain lain. Setelah
semua siswa siswi sampai di finis juara pun diumum kan dan SDN Pacul 3
Bojonegoro tidak mendapatkan juara. Semua siswa siswi SDN Pacul 3 Bojonegoro
sudah merasa cukup puas dan bahagia bisa ikut serta meramaikan pawai budaya
tersebut.
NAMA KELOMPOK 5 :
1. MUKLIS RENO SAPUTRA
2. NALA INDRA PAMUNGKAS
3. RISMA AZZAHRA NUR SABILA
4. DIBRA REVA NITA
11
KELOMPOK 6
Pawai Budaya SMP MODEL TERPADU
Senin, (29/8/22) bojonegoro mengadakan pawai
budaya sekaligus memeriah kan HUT RI yang KE-77.
Pawai budaya ini di ikuti SD/MI, SMP, SMA, SMK dan
warga umum bojonegoro ( mewakili daerahnya untuk
mengikuti pawai budaya). Tepatnya hari minggu
tanggal 28 adalah pawai budaya yang di laksanakan
SMA,SMK dan umum warga bojonegoro. Hari senin
tanggal 29 adalah pelaksanaan pawai budaya SD/MI
dan SMP.
Adanya kegiatan pawai tersebut bertujuan sebagai salah satu bentuk HUT RI. Pawai
budaya yang di laksanakan ini juga memiliki banyak manfaat salah satunya dari menjaga
kebudayaan hingga untuk salah satu acara budaya yang banyak di nikmati turis internasional.
Salah satu peserta pawai SMP yaitu SMP MODEL TERPADU dengan tema
"GROPYOKAN IWAK" dari padangan. SMP MODEL TERPADU mempersembahkan
"Penari air, eceng gondok, dan ikan-ikan kecil seperti ikan koi, ikan sepat dan ikan-ikan lain
sebagainya". SMP MODEL TERPADU juga menampilkan SMA, SMP, SD masing-masing
mendapatkan gelar juara, SMA menempati harapan 1, SMP menempati juara 3, SD
menempati juara 3.
SMP MODEL TERPADU juga menampilkan adegan yang cukup memuaskan bagi
penonton pawai budaya. Selain itu SMP MODEL TERPADU juga membawa alat musik
tradisional yang di hiasi oleh bentuk tema ikan. Saat adegan(atraksi) di mulai juga di iringi
oleh alat musik tradisional.
Rute yang di tempuh pada saat pawai SMP dan SD pada tanggal 29 jaraknya lebih
dekat dari pada pawai SMA/SMK dan umum warga bojonegoro tanggal 28. Para siswa siswi
SMP MODEL TERPADU pada saat mempersembahkan tema penari air adalah menggunakan
12
kostum atasan putih dengan bawahan rok berwarna biru, penari eceng gondok menggunakan
kostum berwarna hijau dengan hiasan daun melingkar di kepala.
Nama kelompok 6: Dwi astipuspitaning jati (10)
: M. Tri nur rifki (17)
: M. Ervin saputra (19)
: Novereina nazaha A.E (22)
13
KELOMPOK 7
Sirna Sengkala
Ruwatan Murwakala ing Kayangan Api
Drama Sirna Sengkala di pentaskan di area alun" Bojonegoro. Pementasan drama
Sirna Sengkala ini dalam rangka pawai budaya. Sirna Sengkala menceritakan tentang
kisah Batarakala yang turun ke dunia untuk menangis anak manusia penanggung sugarta.
Bpk.Sudiro memprakasal dan menjadi sutradara drama Sirna Sengkela ini. Dari awal
sampai akhir pementasan ini sangat memukau.
Pertunjukan dimulai pada pukul 08.00. Pertunjukan dimulai dengan seorang Batara
Gulu yang mengutuskan seorang darang jamaan wisnu untuk memimpin prosesi ruwatan.
Drama ini diiringi alunan gamelan yang mengentak keras. Penonton bersorak kaget
sekaligus terpesona.
Purwakala kisah Batarakala yang turun didunia untuk memangsa anak manusia
penanggung sugarta. Bataragulu mengutus seorang darang jamaan wisnu untuk memimpin
proses rawatan sehingga manusia selamat dari ancaman Batarakala. Murwakala adalah
simbol bahwa sifat angkaramurka menjadi sumber kehancuran hidup manusia yang bisa
dihindari dengan menyucikan jiwa dan mendekatkan diri kepada yang maha kuasa.
Pertunjukan ini diakhiri dengan tarian.
14
Setelah sukses memukau para penonton pada acara pembukaan, para penonton dan
Bupati bojonegoro disugihi 100 anggota yang terdiri dari Batarakala, anak manusia, penari,
pembawa sesajen, dan lain sebagainya, yang menjadi inti drama. Musik gamblang
mengetakkan suasana.
Pementasan ditutup dengan memberi hormat kepada Bupati Bojonegoro. Irama
gamelan yang diiringi dengan penari-penari yang indah dan bersemangat. Para Batarakala
dengan semangat menghentakkan kaki dengan bergantian dan serempak. Pentas drama
Sirna Sengkala ini sangat indah, megah,dan fantastik. Tepuk tangan gemuluh mengiringi
akhir.
Pawai budaya 8E-7
-Eza arta maulana
-Mu'aazarah nurul ani
-Moch sendy S
-M agus dani S.
15
KELOMPOK 8
Pawai Budaya SMPN 2 Bojonegoro
Minggu (28/08/22) Bojonegoro mengadakan pawai budaya dan sekaligus
memeriahkan HUT RI Ke-77. Pawai budaya ini di ikuti oleh SD/MI, SMP/Mts,
SMA/SMK, dan umum (warga yang mewakili daerahnya untuk mengikuti Pawai
Budaya). Hari Minggu (28/07/22) diikuti peserta dari katergori SMA/SMK dan
Umum. Tidak hanya Hari Minggu, di Hari Senin (29/07/22) juga ada yaitu diikuti
oleh peserta kategori SD/MI dan SMP/Mts.Di hari Senin (29/07/22) memuat kategori
SD/MI dan SMP/Mts dengan jumlah 26 peserta. Pawai Budaya ini dihadiri oleh
Bupati Bojonegoro yaitu Hj.Anna Mu‟awanah. Kegiatan tersebut dimulai sekitar
pukul 08.00 dari start Jalan Mas Tumapel hingga finish.
Adanya kegiatan tersebut bertujuan sebagai salah satu bentuk perayaan HUT RI,
Selain perayaan HUT RI pawai budaya ini juga memiliki banyak manfaat mulai dari
menjaga kebudayaan hingga untuk salah satu acara budaya yang banyak dinikmati
turis Internasional.Salah satu peserta dari katergori SMP yaitu SMPN 2 Bojonegoro
yang mendapat nomor urutan 03 ini memuat tema “Nagaruda". Salah satu tujuan
SMPN 2 Bojonegoro memuat tema tersebut yaitu untuk melestarikan dan aktualisasi
adat budaya daerah dan menumbuhkan rasa cinta terhadap tradisi dan budaya daerah.
16
Rasa dengki selalu menghinggapi manusia yang berhati buruk, demikian juga dengan
Kadru.Setiap hari yang melihat Winata tidak kerepotan merawat Garuda, Kadru pun
merasa dengki.Dia pun mencari rencana jahat, agar Winata mau merawat 9 ekor naga
miliknya.Keesokan harinya Kadru pun menemui ayahnya. " Ayahanda seumur- umur
baik saya maupun adinda Winata belum pernah melihat kuda Uchaiswara, bilamana
ayahanda berkenan mendatangkan kuda Uchaiswara kemari agar kami bisa
melihatnya," ucap Kadru kepadaayahnya. ResiKasiyapa punmenjawab," Baiklah,
besok aku akan panggil kuda Uchaiswarakemari."Setelah menemui yang bisa terbang
itu," ucap Kadru kepada Winata.
Rute yang ditempuh para siswa SMP dan SD lebih dekat dari pada rute yang
ditempuh oleh siswa SMA/SMK dan umum.Setelah semua siswa siswi sampai di finis
juara pun diumumkan dan SMPN 2 Bojonegoro mendapatkan juara 1.
Tujuan kegiatan pawai budaya tersebut diadakan agar siswa siswi lebih bias
menghargai jasaperjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan seperti
sekarang yang bias kitanikmati sekarang ini. Dan para generasi penerus lebih
mencintai budaya bangsa yang jugaditampilkan pada pawai budaya serta
menumbuhkan semangat rasa cinta tanah air, kerukunanantar umat beragama dan
menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Nama kelompok:
1. Fendi Dwi Radtyanto (12)
2. Kaka Ardi Pratama (13)
3. Mafif Sahrul Ibrahim (14)
Sendratari Nagaruda
Pawai budaya adalah sebuah bentuk acara yang menampilkan iring-iringan dari kelompok
peserta yang membawa keunikan daerah masing-masing. Salah satu tema Pawai Budaya adalah
Sendratari Nagaruda, Kabupaten Bojonegoro pada bulan Agustus tepat nya pada hari kelahiran
bangsa Indonesia mengadakan Pawai Budaya yang di selenggarakan pada tanggal 28-29
tepatnya pada hari Minggu dan Senin. Peserta yang mengikuti Pawai Budaya tersebut adalah
siswa siswi SD,SMP,SMA dan SMK.
SMPN 2 Bojonegoro pada hari Senin menggunakan tema yang berjudul Sendratari Nagaruda.
Sendratari Nagaruda menceritakan tentang pertempuran Batik Madrim dengan Prabu Angling
Darma memperebutkan Dewi Setyowati.
Angling Dharma adalah seorang raja muda yang tampan, gagah perkasa, serta arif dan bijaksana.
Pada suatu hari, Prabu Angling Dharma berburu dihutan, k,etika berburu sang Prabu Angling
Dharma memanah seekor kijang dan kijang itu berlari sampai ke sendang, saat itulah sang
Prabu Angling Dharma melihat seorang gadis yang sedang mandi di sendang, gadis tersebut
adalah Dewi Setyowati yang merupakan anak dari bengawan manik sutra seorang tokoh yang
sangat disegani di daerah itu.
Sang Prabu merasa tertarik dan langsung jatuh cinta kepada Dewi Setyowati. Ketika Dewi
Setyowati didekati oleh sang Prabu, Dewi Setyowati merasa takut karena melihat sang Prabu
dengan bala tentaranya, Dewi Setyowati takut kalau mereka menyakitinya. Ketika melihat sang
Prabu dan perajuritnya mendekati dirinya, dengan rasa takut Dewi Setyowati langsung
bergegas berlari pulang
Sang Prabu yang tertarik oleh kecantikan Dewi Setyowati berusaha mengejarnya, ketika sampai
di rumah, sang Prabu berusaha memperkenalkan diri di depan Bengawan Manik Sutra (bapak
Dewi Setyowati). Mengetahui hal itu Batik Madrim yang merupakan anak angkat Bengawan
Manik Sutra berusaha menantang sang Prabu Angling Dharma dengan dalih jika sang Prabu
menang, maka beliau baru diizinkan untuk mempersunting Dewi Setyowati.
Setelah terjadi pertempuran, akhirnya sang Prabu Angling Dharma memenangkan pertempuran
itu, tetapi Dewi Setyowati belum mau menerima sang Prabu, dengan berbagai cara sang Prabu
terus berusaha mendekati Dewi Setyawati dan akhirnya Dewi Setyowati pun menerima
pinangan sang Prabu dengan syarat sang Prabu harus setia dengan Dewi Setyowati dan tidak
boleh memperistri wanita lain.
Setelah genap sudah satu tahun sang Prabu memperistri Dewi Setyowati, tetap saja Dewi
Setyowati belum mau melayani sang Prabu sebagai seorang istri. Namun, sang Prabu masih
tetap sabar. Pada suatu hari Dewi Setyowati melihat kemampuan sang Prabu Angling Dharma
yang memiliki ajian "aji ginem" yaitu ilmu yang dapat berbicara dengan hewan.
Dewi Setyowati ingin menguasai dan memilikinya akan tetapi Prabu Angling Dharma sudah
dipesan oleh gurunya untuk tidak boleh menurunkan ilmu yang dimilikinya itu pada orang lain.
Tetapi Dewi Setyowati tidak menerima alasan itu. Akhirnya Dewi Setyowati mengancam akan
bunuh diri. Tetapi sang Prabu tetap kekeh tidak mau memenuhi permintaan sang istri dan
sebagai bukti cintanya, sang Prabu rela mati membakar diri bersama istrinya.
Akhirnya sang Prabu meminta untuk para pengawalnya menyiapkan api yang besar, sesaat
ketika sang Prabu dan Dewi Setyowati akan melompatkan dirinya kedalam api, sang Prabu
mendengarkan percakapan dua ekor sepasang kambing kalu. Kambing betina ingin kambing
jantan mengambilkan janur yang terpasang di pangung untuk melompat ke api tetapi kambing
jantan tidak mau, dan kambing betina mengancam akan ikut bunuh diri membakar diri bersama
Dewi Setyowati tetapi kambing hitam menjawab "jika kamu ingin mati menerjunkan diri ke api,
terjunlah sana. Aku tidak mau menuruti permintaan istri yang sesat seperti Prabu Angling
Dharma" (ujar kambing jantan kepada kambing betina). Karena mendengar percakapan kedua
kambing itu sang Prabu pun tersadar dan tidak mau melompat di kobaran api bersama Dewi
Setyowati.
Setelah beberapa tahun kemudian, sang Prabu tetap hidup sendiri. Karena ia sudah berjanji
untuk setia pada istrinya, ketika ia melakukan pengembaraan beliau di goda oleh seorang
nenek dan cucunya yang menyamar menjadi cantik mirip dengan sosok Dewi Setyowati, yang
kemudian mengoyahkan iman sang Prabu Angling Dharma akhirnya hati sang Prabu pun luluh,
karena itulah sang Prabu dikutuk menjadi seekor burung belibis.
LAPORAN KEGIATAN
UNTUK MENGENAL PAWAI BUDAYA DI KOTA BOJONEGORO
Nama kelompok
1). M. Fahri P. (20)
2). Echidna Dino N. (09)
3). Sabilul aula I. (28)
PAWAI BUDAYA BOJONEGORO
Dinas pendidikan kabupaten Bojonegoro
2022/2023
TEMA RUWATAN
Ruwatan adalah salah satu bentuk upacara atau ritual penyucian yang hingga saat ini tetap dilestarikan
oleh masyarakat Demak, Jawa Tengah. Tradisi ini diberlakukan untuk melestarikan ajaran dari Kanjeng
Sunan kalijaga dan digunakan bagi orang yang Nandang Sukerta atau berada dalam dosa.
Meruwat bisa berarti mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan batin dengan cara mengadakan
pertunjukan atau ritual. Umumnya ritual tersebut menggunakan media Wayang Kulit yang mengambil
tema atau cerita Murwakala. Istilah Ruwat berasal dari istilah Ngaruati yang memiliki makna menjaga
kesialan Dewa Batara.
Di dalam kehidupan Masyarakat Jawa, dikenal tradisi ruwatan. Sedangkan ruwatan adalah salah satu
ritual penyucian yang masih banyak dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Jawa. Tradisi ini
dilakukan dengan menggunakan media Wayang Kulit. Tradisi ini dapat dilakukan oleh orang Jawa ketika
mengalami kesialan dalam
hidup.
LAPORAN KEGIATAN
SMP NEGERI 5 BOJONEGORO
Untuk mencintai budaya lokal di Kabupaten Bojonegoro
NAMA ANGGOTA KELOMPOK :
1. CAHAYA CITRA PUTRI DIARKA /07/8F
2. FEBYTA AURA PUTRI /10/8F
3. MELVINA DINATA FIZA /18/8F
4. SHERDHIYA ALFAIRA HANINDA /28/8F
5. TIARA DWI NUR PRISHARDINI /29/8F
PAWAI BUDAYA BOJONEGORO
DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN BOJONEGORO
TAHUN 2022/2023
• TEMA : IWAK MUNGGUT
Dengan kreator : Bapak Dwiyanto S.P.d
Pertunjukan dari : SMP NEGERI 1 BOJONEGORO
• Deskripsi/narasi tampilan :
Peristiwa iwak munggut atau disebut peladu atau ngumboh ini adalah sebuah fenomena
alam dan hanya dirasakan oleh orang pinggiran Bengawan Solo. Munggut merupakan
fenomena dimana ikan-ikan di Sungai Bengawan Solo dalam keadaan mabuk dan muncul
kepermukaan air akibat bergantinya kondisi air sungai dari jernih menjadi keruh dan momen
ini dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk menangkap ikan karena penangkapannya jauh
lebih mudah masyarakat berramai-ramai mencari ikan dengan membawa seser, susuk, cis,
jaring maupun juga jala.
• Nilai-nilai yang dikembangkan dalam tampilan Iwak Munggut :
Untuk mengenalkan ke masyarakat luas tentang budaya penangkapan ikan di Sungai
Bengawan Solo. Bertanggung jawab dalam kebersihan lingkungan diri sendiri pada
masyarakat luas di Bojonegoro. Yang paling penting pada area Sungai Bengawan Solo yang
sebagian masyarakat masih membuang sampah maupun limbah ke sungai.
• Dokumentasi :