LAPORAN PAWAI BUDAYA
SD/SMP TAHUN 2022
NAMA ANGGOTA KELOMPOK 1:
1.CARRISA TALITHA SINAGA/8G/08
2.FIRDA AULIA/8G/14
3.ZALIFA IHWANI/8G/32
4.TAUFIK SAFAAT/8G/31
PAWAI BUDAYA SMPN 5 BOJONEGORO
"Ruwatan"
Arti Ruwatan:
Ruwat adalah salah satu upacara dalam kebudayaan Jawa yang ditujukan untuk membuang
keburukan atau menyelamatkan sesuatu dari sebuah gangguan. Seseorang atau sesuatu yang
telah diruwat diharapkan mendapat keselamatan, kesehatan, dan ketenteraman kembali.
Ruwatan diyakini sebagai sarana pembebasan dan penyucian diri dari segala malapetaka dan
kesialan hidup/sukerta. Mereka yang telah melakoni ruwatan dipercaya akan terbebas dari
sukerta. Meskipun tidak sebanyak dulu, ritual ruwatan masih dapat dijumpai di masyarakat
hingga kini.
Latar Belakang Ruwatan:
Ruwatan berasal dari kata “ruwat”, artinya menghapuskan, membebaskan (kutukan,
kemalangan, kesialan, dll). Sedangkan ruwatan adalah sebuah kegiatan yang dipercaya oleh
masyarakat Jawa sebagai upacara ritual pembebasan/penghapusan malapetaka. Ada berbagai
hal unik dan menarik dalam upacara ritual ruwatan tersebut. Diantaranya, pergelaran wayang
kulit dengan lakon Murwakala.
Makna Ruwatan:
Makna dari Ruwatan adalah meminta dengan sepenuh hati agar orang yang diruwat dapat
lepas dari petaka dan memperoleh keselamatan. Oleh sebab itu, upacara Ruwatan dilakukan
untuk melindungi manusia dari segala macam bahaya yang ada di dunia.
Daftar Pusaka:
Makna Ruwatan:
https://guruinovatif.id/@drasrisuprapti/tradisi-ruwatan-bebaskan-dari-marabahaya-dan-
kesialan-yang-penuh-
makna#:~:text=Makna%20dari%20Ruwatan%20adalah%20meminta,bahaya%20yang%20ad
a%20di%20dunia.
Arti Ruwatan:
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ruwat
Latar Belakang Ruwatan:
https://www.academia.edu/39712489/Makalah_Ruwatan
Deskripsi Tampilan:
Pawai budaya dengan nomor urut 06 ini yang membuat kita tertarik dan menyukainya. Di
nomor urut 06 ini yang bertemakan “Sirna Sengkala Ruwatan Murwakala Kayangan Api”
yang dibawakan oleh SMPN 5 BOJONEGORO. Kostum yang dikenakan oleh anak anak
SMPN 5 BOJONEGORO ini juga sangat menarik dan bagus, seperti ada buto ijo, pasukan
buto ijo, dan masyarakat yang juga mengenakan busana yang menarik dan cantik. Dan lebih
menariknya lagi ada patung buto ijo yang sangat besar dan musik yang dimainkan oleh anak
anak SMPN 5 BOJONEGORO tersebut sangatlah menghibur bagi masyarakat yang
menyaksikannya, dan tarian yang diperagakan oleh pasukan masyarakat pun sangat kompak
dan bagus. Nilai nilai yang dikembangkan dalam tampilan tersebut adalah kemandirian dan
tanggung jawab.
Dokumentasi Pawai:
LAPORAN PAWAI BUDAYA
SD/SMP TAHUN 2022
NAMA ANGGOTA KELOMPOK 2:
1.DENISYA NABILLA O. (10)
2.REVA AMELIANA P. (26)
3.AMANATUS SHOLIKHAH (03)
4.ANIKA AVRIL M. (05)
Pawai Budaya Nomor Peserta 06 Dari SMP Negeri 05 Bojonegoro
Dengan Tema “Sirna Sengkala Ruwatan Murwakala ing Kayangan Api”
Ruwatan murwakala adalah salah satu upacara adat yang dilakukan untuk
membebaskan diri dari gangguan Batara Kala. Ritual kuno di candi vang dibangun pada abad
12 itu bernama Ruwatan Murwakala. Ritual ini merupakan tradisi Jawa kuno untuk
mengeluarkan sisi buruk dari jiwa manusi. Jalannya ritual ruwatan biasanya dilakukan
dengan memotong rambut hingga melarung atau menghanyutkan sesaji. Meskipun ritual
kuno tradisi itu masih bisa disaksikan hingga sekarang.
Latar Belakang dan Sejarah Ruwatan Murwakala :
Menurut keyakinan kuno, banyak sekali hal atau peristiwa yang dapat mendatangkan
malapetaka apabila tidak menghiraukan dan berikhtiar secara khusus. Maka, agar dapat
terhindar dari bencana yang setiap saat bisa terjadi, diharuskan melakukan ruwatan
tersebut. Adapun beberapa kategori orang yang harus diruwat menurut salah satu dalang
veteran Banyuwangi, Ki Asmoro Sampir, sebagai berikut. Pertama, anak yang dianggap
mempunyai nasib buruk disebabkan faktor kelahirannya, salah satunya yakni ketika seorang
anak saat lahir ing tengah wayah bedug (tepat jam 12 siang). Kedua, anak yang membawa
tubuh cacat sejak lahir atau sering sakit-sakitan. Ketiga, orang yang dianggap bersalah
karena telah melanggar pantangan adat atau secara disengaja atau tidak sengaja merusak
benda yang memiliki unsur kepercayaan kuno. Tak hanya itu, bayi lahir kembar pun
termasuk kedalam kategori anak sukerta (harus ruwat).
Bhatara Kala sendiri, dalam kisah pewayangan merupakan anak Batara Guru yang lahir
karena nafsu atas Dewi Uma. Yang kemudian, benih olo (niat jelek) jatuh ke tengah laut dan
menjelma menjadi seorang anak raksasa yang memiliki wajah buruk rupa. Dimana anak itu
memiliki gigi dan taring tajam layaknya monster. Kemudian, anak raksasa tersebut di bawa
ke khayangan oleh Bhatara Narada untuk menghadap ayahnya (Bhatara Guru). Karena
dianggap tidak memilik tata krama, yakni si anak raksasa selalu memakan anak manusia
yang ditemuinya. Ketika raksasa ini menghadap ayahnya untuk meminta makan, oleh Batara
guru diberitahukan hanya boleh memakan manusia yang berdosa atau sukerta. Atas dasar
inilah yang kemudian dicarikan solosi, yakni dengan melakukan ritual ruwatan murwakala
tersebut. Agar terhindar dari bakal calon mangsa Bhatara Kala. Menurut Ki Guno, kata
murwakala berasal dari kata purwa (asal muasal manusia). Pada lakon ini, yang menjadi titik
pandangnya adalah kesadaran atas ketidak sempurnanya diri manusia. Dimana setiap
langkahnya selalu terlibat atau rentan dengan kesalahan yang bisa mengakibatkan
timbulnya bencana atau kliru lelakon ing urip.
Sumber : https://www.timesindonesia.co.id/read/news/227170/mengenal-ritual-kuno-
ruwatan-murwakala-di-banyuwangi
Hasil Pengambilan Gambar Pada Saat Pawai Budaya SMP Negeri 5 Bojonegoro :
LAPORAN PAWAI BUDAYA
SD/SMP TAHUN 2022
NAMA ANGGOTA KELOMPOK 3:
1.MOCHAMAD NIZAR TAUFANI (20)
2.KATON ESA GIRINDRA KUSUMA (17)
“SIRNASENGKALA/RUWATAN NGRUWO KHAYANGAN API’’
Purwokolo….Kisah Bhatara kala yang turun kedunia untuk memangsa anak
manusia penanggung Sukerta.Bathara Guru mengutus seorang darang jemaat
wisnu untuk memimpin prosesi ruwatan,sehingga manusia selamat dari ancaman
Bhatarakala.
Murwokolo adalah simbol bahwa sifat angkara murka menjadi sumber kehancuran
hidup manusia yang bisa dihindari dengan mensucikan jiwa dan mendekatkan pada
Sang Maha Kuasa.
Dari cerita yang diangkat dalam kegiatan pawai budaya tersebut kita dapat
mengambil hikmah bahwasanya dengan hati yang bersih dan mendekatkan diri pada
Sang Pencipta maka kita akan memiliki budi pekerti yang baik dan akan dijauhkan
dari sifat angkara murka.
DOKUMENTASI PAWAI;
LAPORAN PAWAI BUDAYA
SD/SMP TAHUN 2022
NAMA ANGGOTA KELOMPOK 4:
1. ANDIKA DWI PUTRA (4)
2. ARMAN FIRMANSYAH (6)
3. MUHAMMAD SYAHDAN FAKHRI R (23)
4. RAFFA ADITIYA AGUS SAPUTRA (25)
Kelompok pawai budaya (SMPN 4 Bojonegoro)
TRADISI RUWATAN DENGAN SENI WAYANG
Pada suatu ketika Dewa Siwa bercengkerama dengan permaisurinya yang sangat
cantik, yaitu Dewi Uma. Mereka terbang diatas samudera dengan naik lembu
tunggangannya bernama Lembu Andhini. Di atas samudera itu Siwa melihat permaisurinya
sangat menggairahkan, sehingga timbul hasratnya untuk bersatu rasa. Tetapi Dewi Uma tidak
berkenan
dihati, maka benih Siwa jatuh di tengah lautan. Setelah masa benihnya itu berubah menjadi
makhluk, kian lama kian besar. Akhirnya menjadi raksasa besar dan sakti. la naik ke
Suralaya, tempat bersemayam
para dewa, menemui Siwa. ia bertanya siapakah yang menurunkannya dan ia minta
agar ditunjukkan manusia-manusia yang bagaimanakah yang menjadi mangsanya. Dewa
Siwa mengakui bahwa ia adalah putera Siwa sendiri, dan diberi nama
Bathara Kala. Siwa menyebutkan macam-macam manusia yang termasuk anak
sukerta. Maka Dewa Kala segera turun ke dunia untuk mencari mangsa, yaitu manusia-
manusia yang telah ditentukan baginya. Ia menuju ke Danau Madirda. Sepeninggal
Dewa Kala, Siwa sadar bahwa jumlah manusia yang disebutkan tadi terlalu banyak, apabila
tidak dihalangi mungkin manusia akan punah dari muka bumi. Dewa Wisnu kemudian
memakai nama Dalang Kandhabuana, bertugas meruwat
manusia-manusia sukerta yang ditakdirkan menjadi umpan Dewa Kala. Diceritakan, ada
seorang janda di desa Medang Kawit, bernama Sumawit.
memiliki seorang anak laki-laki. Menjelang remaja bernama Joko Jatusmati. Karena
ia anak tunggal, supaya selamat ia disuruh ibunya mandi di Danau Madirda. Setelah sampai
di danau itu ia berjumpa dengan Dewa Kala. Dewa Kala minta
kesediaan anak itu untuk dimakan, karena ia termasuk menjadi mangsanya. Sadar ada bahaya
mengancam, Joko segera melarikan diri. Sedangkan Dewa
Kala mengejar kemana saja ia pergi. Ia bersembunyi di antara orang-orang yang sedang
mendirikan rumah.
LAPORAN KEGIATAN PAWAI BUDAYA
TINGKAT SD/SMP TAHUN 2022
Nama Anggota Kelompok 5:
1.M.SULTHAN AL AZMY (18)
2.AFGAN DWI ANDIKA (01)
3.DIMAS RAMADHAN (12)
Pawai Budaya Nomor Peserta 06 Dari SMP 5 Bojonegoro Dengan tema
"Ruwatan’’
Ruwatan adalah sebuah tradisi upacara adat yang sejak dulu hingga sekarang masih
dilestarikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas. Meruwat berasal dari kata ruwat
dalam bahasa jawa, yang memiliki arti membuang sial atau menyelamatkan orang dari
gangguan tertentu. Gangguan itu bisa dikatakan sebagai kelainan dari suatu kondisi yang
umum dalam suatu keluarga maupun pada diri seseorang. Gangguan yang harus diruwat
yakni gangguan bagi seseorang yang sosial lainnya. Ruwatan bagi masyarakat jawa adalah
suatu bentuk usaha yang bertujuan agar kelak setelah menjalani ruwatan mendapatkan berkah
berupa keselamatan, kesehatan, kedamaian, ketentraman jiwa, kesejahteraan dan kebahagiaan
bagi diri sendiri secara khusus maupun bagi keluarga dalam lingkup yang lebih besar lagi.
Sejarah Ruwatan:
Diceritakan ada seorang tokoh bernama Batara Guru yang beristrikan dua orang wanita, yaitu
Pademi dan Selir.Dari Pademi ia menurunkan anak laki-laki bernama Wisnu dan dari Selir
juga menurunkan anak laki-laki bernama Batarakala.Setelah dewasa, Batarakala tumbuh
menjadi seorang yang jahat. Ia kerap mengganggu anak-anak manusia untuk
dimakannya.Konon, sifat jahat Batarakala ini disebabkan oleh hawa nafsu sang ayah, Batara
Guru yang tidak terkendalikan.Dulu, Batara Guru dan Selir sedang bercengkrama
mengelilingi samudera dengan menaiki punggung seekor lembu.Tiba-tiba, hasrat seksual
Batara Guru timbul dan ingin bersetubuh dengan istrinya. Namun, Selir menolak, sehingga
jatuhlah air mani Batara Guru ke tengah samudera.Air mani ini kemudian berubah menjelma
menjadi raksasa yang dikenal dengan nama Batara Kala.Konon katanya, Batara Kala
meminta makanan yang berwujud manusia kepada Batara Guru.Batara Guru pun
mengizinkan dengan syarat manusia yang ia makan adalah wong sukerta.Wong Sukerta
adalah orang-orang yang mendapat kesialan, contohnya anak tunggal.Oleh sebab itu, setiap
anak tunggal harus diruwat agar terhindar dari malapetaka dan kesialan.
LAPORAN PAWAI BUDAYA
SD/SMP TAHUN 2022
NAMA ANGGOTA KELOMPOK 6:
1.MELINDA AMELIA (19)
2.PARAMITA DWI AGUSTINA (23)
3.TASYA DWI WINDA (29)
4.INTAN NUR A INI (16)
PAWAI BUDAYA SMPN 5
BOJONEGORO
Pawai Budaya di Kabupaten Bojonegoro pada hari kedua, Senin (29/8/2022) berlangsung
semakin semarak dan penuh ceria. Sebanyak 26 peserta tingkat SD/MI dan SMP/MTs
memeriahkan perayaan HUT ke-77 RI. Keragaman seni dan budaya dirangkum dalam satu
kegiatan yang gegap gempita. Warga antusias menonton pawai budaya ini.
Beragam tema dibawakan oleh peserta baik di tingkat SD sederajat, maupun di tingkat SMP
sederajat. Mulai dari Kirab Pusaka Ki Andong Sari, Tari Kembang Mayang yang bernuansa
merah menggambarkan simbol Kahyangan Api, hingga melestarikan Budaya Tayub dalam
rangkaian prosesi pengantin Jawa. Juga ada yang bertema Kanjeng Soemantri.
Selain itu, juga ada peserta yang menampilkan penggambaran Panji Wayang Krucil untuk
mengenalkan pada generasi milenial dan Ruwatan Murwakala. Di tingkat SMP sederajat
beberapa di antaranya menampilkan Tirto Sumur Pitu dan Ragam Rondo Songo.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Kabupaten Bojonegoro Budiyanto
mengatakan, tujuan kegiatan untuk menggali, melestarikan seni budaya tradisional, dan
memeriahkan HUT ke-77 Republik Indonesia.
Pawai Budaya hari kedua ini mengusung tema Keberagaman Seni Budaya Tradisional
Bojonegoro. Turut serta 26 peserta dengan rincian 17 kelompok peserta dari tingkat SD/MI
dan 9 kelompok peserta dari tingkat SMP/MTs.
"Untuk pawai budaya hari kedua ini rute berubah. Mengingat hasil analisa dan evaluasi tim
keamanan kemarin. Perubahan arah rute tidak mengubah jarak tempuh," jelas Budiyanto.
Rute mulai dari Jl Mas Tumapel - Jl Imam Bonjol - Jl Kartini - Jl Teuku Umar - Jl Panglima
Sudirman - Jl MH Thamrin - Jl Mastrip - Finish Jl Imam Bonjol depan Satlantas.
Lebih lanjut, Budiyono memaparkan untuk dewan juri hari ini ada tiga orang. Di antaranya
Heri Prasetya Seniman dan Koreografer dari Jawa Timur, Budayawan dan Dosen STKW
Jawa Timur Supatmo, Seniman Muda dan Alumni STKW Jawa Timur di Bojonegoro
Supriadi.
Masih dalam kesempatan sama, Bupati Bojonegoro Anna Mu'awanah melihat pawai kedua
semakin ramai. Maka, Bupati berpesan untuk menjaga kesehatan melihat rute yang ditempuh.
"Jika kelelahan, sebaiknya jangan dipaksakan. Yang penting partisipasinya," ujar Bupati saat
sambutan sesaat sebelum pemberangkatan peserta pawai.
Bupati menuturkan, Bojonegoro memiliki sumber-sumber budaya yang perlu digali dan
dikembangkan. Dikembangkan dengan daya dukung kreatifitas artifisial, batik, hingga seni
musik.
"Kami segera menyiapkan kreatifitas anak muda yaitu Nglenyer Fashion Week yang sebentar
lagi kita laksanakan dengan beberapa tema menggali potensi batik dan tenun yang ada di
Kabupaten Bojonegoro," ucapnya.
Bupati berharap, dengan event selanjutnya ini dapat mendorong putra-putri terhadap
passionnya. Di antaranya seperti tata boga maupun di bidang busana. Sebab, seluruh potensi
itu merupakan bagian dari karakter di dalam pengembangan diri.
"Dengan mengetahui passion, mereka sudah membuat pondasi yang kuat untuk meraih masa
depan lebih baik. Mudah-mudahan Pawai Budaya berjalan lancar," imbuh Bupati.
Hadir Bupati Bojonegoro didampingi Bapak Ali Dupa, Jajaran Forkopimda, Sekda, Jajaran
Asisten dan Staf Ahli, para dewan juri, para peserta dan seluruh warga yang turut.
DOKUMENTASI;
LAPORAN PAWAI BUDAYA
SD/SMP TAHUN 2022
NAMA ANGGOTA KELOMPOK 7:
1.GALANG H.S (15)
2.SATRIA DWI N.(27)
3.GILANG EKA G.(21)
4.FERDYO NAUFAL M.(13)
PAWAI BUDAYA SMAN 4 BOJONEGORO
Asal usul kanyangan api
Menurut cerita warga dulu terdapat seorang pembuat benda pusaka Kerajaan Majapahit
bernama Mbah Kriyo Kusumo. Setelah bertahun-tahun membuat benda pusaka di
perkampungan, Mbah Kriyo Kusumo kemudian bertapa dan tirakat di tengah hutan. Dia
membawa api dan menyalakannya di bebatuan, tepat di sebelah tempatnya bersemedi. Api
itulah yang menyala hingga saat ini dan menjadi cikal bakal Kayangan Api di Kota
Bojonegoro. Selain ada Kayangan Api di sebelah barat sumber api terdapat kubangan lumpur
yang
berbau belerang yang biasa di sebut warga Sumur Blekutuk. Menurut kepercayaan saat
itu Mbah Kriyo Kusumo masih beraktivitas sebagai pembuat alat-alat pertanian dan
pusaka seperti keris, tombak, cundrik dan lain-lain. Mbah Kriyo Kusumo atau Empu Supa
atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah
Pande yang berasal dari Kerajaan Majapahit. Ada bukti historis penting yang menguatkan
kahyangan api dengan ditemukannnya 17 lempeng tembaga yang berangka 1223 / 1301
Masehi. Penemuan prasati di Desa Mayangrejo, Kecamatan Kalitidu pada 12 Maret 1992
tersebut, berbahasa Jawa Kuno yang menurut penelitian berasal pada zaman Raja Majapahit I
yakni, Kertarajasa Jaya Wardhana. Isi dari prasasti tersebut, adalah pembebasan desa
Adan-adan dari kewajiban membayar pajak dan juga ditetapkannya daerah tersebut
sebagai sebuah sima perdikan atau swantantra. Penghargaan ini diberikan oleh Raden Wijaya
terhadap salah satu rajarsi (pungawa, red)
atas jasa dan pengabdiannya yang besar terhadap Kerajaan Majapahit saat itu. Dan
rajarsi tersebut tidak lain adalah Empu Supa yang lebih masyur dengan sebuatan Mbah
Pande. Menurut cerita, api tersebut hanya boleh diambil jika ada upacara penting seperti yang
telah dilakukan pada masa lalu, seperti upacara Jumenengan Ngarsodalem Hamengku
Buwono X dan untuk mengambil api melalui suatu prasyarat yakni selamatan atau
wilujengan dan tayuban dengan gending eling-eling, wani-wani dan gunungsari yang
merupakan gending kesukaan Mbah Kriyo Kusumo. Oleh sebab itu ketika gending
tersebut dialunkan dan ditarikan oleh waranggono atau penembang macapatan, tidak
boleh ditemani oleh siapapun. Kepercayaan tersebut, dipegang teguh oleh masyarakat
Bojonegoro. Ini terbukti, pada
acara ritual pengambilan api tersebut juga dilakukan digelar. Terlebih, pengambilan api
PON yang pertama dilakukan dipimpin oleh tetua masyarakat yang dipercaya pada saat
itu. Sementara untuk prosesi tersebut meliputi, asung sesaji (menyajikan sesaji) dan
dilanjutkan dengan tumpengan (selamatan). Latar belakang
Jawa Timur menyimpan beragam potensi wisata. Potensi itu bukan hanya
wisata air terjun, kuliner maupun wisata pantai. Salah satu kabupaten yang
memiliki kekayaan alam, budaya dan peninggalan sejarah di Provinsi Jawa Timur
adalah Kabupaten Bojonegoro. Terdapat suatu tempat wisata yang disebut
Kayangan Api, Kayangan Api merupakan sumber api yang tak kunjung padam
yang terletak pada kawasan hutan lindung di Desa Sendangharjo Kecamatan
Ngasem, sebuah desa yang memiliki kawasan hutan sekitar 42,29% dari luas desa
(http://disparbud.bojonegorokab.go.id). Gambar 1.1 Foto Prosesi Pengambilan Api Abadi di
Kayangan Api
Sumber : (disparbud.bojonegorokab.go.id)
Kayangan Api menyimpan banyak sekali potensi dibidang wisata
alamnya terutama sekali panorama alami keindahannya, namun pemerintah daerah
Kabupaten Bojonegoro minim sekali kegiatan promosi dari Kayangan Api dengan
optimal contohnya disekitar 1,5 km sebelum Wisata Kayangan Api hanya ada 1
baliho besar tentang Kayangan Api, isi dari baliho pun tidak hanya tentang
Kayangan Api tapi juga wisata-wisata lain, juga promosi diinternet atau media
solsial yang dilakukakan pemerintah Kabupaten Bojonegoro tetang wisata
Khayangan Api yang isinya hanya foto-foto tentang Khayangan Api dan sedikit
video dokumentasi, bukan promosi. Perlunya dilakukan upaya promosi yang lebih
fokus dan intensif dengan mempertimbangkan aspek-aspek peluang pasar
potensial tanpa merusak Kayangan Api. Untuk mengenalkan Kayangan Api di
mata dunia sangat dibutuhkan media promosi. Kayangan Api dikenal karena keindahan
alamnya yang masih alami dan
juga kisah dibaliknya yang menurut cerita masyarakat, Kayangan Api adalah
tempat bersemayamnya Mbah Kriyo atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah
Pandhe berasal dari kerajaan Majapahit. Menurut mbah Djuli selaku juru kunci
dari Kayangan Api, “dulu terdapat seorang pembuat benda pusaka Kerajaan
Majapahit bernama Mbah Kriyo Kusumo. Setelah bertahun-tahun membuat benda
pusaka di perkampungan, Mbah Kriyo Kusumo kemudian bertapa dan tirakat di
tengah hutan. Dia membawa api dan menyalakannya di bebatuan, tepat di sebelah
tempatnya bersemedi. Api itulah yang menyala hingga saat ini dan menjadi cikal
bakal Kayangan Api” (http://travel.detik.com). Sumber api, oleh masyarakat
sekitarnya masih ada yang menganggap keramat dan menurut cerita, api tersebut
hanya boleh diambil jika ada upacara penting. Saat ini Kayangan Api yang
letaknya sekitar 25 km dari ibukota Bojonegoro dijadikan sebagai obyek wisata alam dan
dijadikan tempat untuk upacara penting yakni Hari Jadi Kabupaten
Bojonegoro, ruwatan masal (http://disparbud.bojonegorokab.go.id). Tempat wisata ini telah
dibenahi dengan berbagai fasilitas seperti
pendopo, tempat untuk membeli jajanan, jalan penghubung kelokasi juga fasilitas
lainnya. Pengembangan wisata alam Kayangan Api diarahkan pada peningkatan
prasarana dan sarana transportasi, juga telekomunikasi dan akomodasi yang
memadai. Pada tahun 2000 lalu Kayangan Api digunakan sebagai tempat
pengambilan Api PON XV. Kayangan Api merupakan wisata alam yang sangat
strategis karena berada ditengah-tengah hutan yang rimbun. Keindahan dari
Kayangan Api tersebut merupakan perpaduan antara alam dan budaya serta
sejarah, yang dimana telah mampu menjadi magnet kuat untuk menjadikan
Kayangan Api sebagai destinasi wisata yang diunggulkan. Menurut Drs. Iskandar, M.Si.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten
Bojonegoro mengatakan untuk saat ini Kayangan Api sedang mengalami
pengembangan potensi wisata di Bojonegoro dan harus dipertahankan karena
wisata seperti ini jarang ada di tempat lain. Keistimewaan Kawasan Kayangan
Api semakin lengkap dengan dipermudahkannya akses jalan menuju wisata
tersebut, ditambah dengan panorama alam sekitar dan hutan yang masih asri, hamparan
sawah yang luas, udara yang sejuk, semuanya merupakan perpaduan
alam yang begitu sempurna dan indah. Sebuah wisata akan terlihat menarik jika dapat
memanfaatkan keindahan
dari pesona alam sekitar yang ada di Kayangan Api dan tata lingkungannya. 1.2 Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan
masalah : “Bagaimana merancang media promosi wisata Kayangan Api berbasis
videografi sebagai upaya pengenalan pariwisata Kabupaten Bojonegoro?” 1.3 Batasan
Masalah
Atas dasar dari uraian diatas, perlu adanya suatu batasan masalah agar
dalam proses pengerjaan promosi wisata Kayangan Api di Kabupaten Bojonegoro
lebih fokus. Agar pemecahan masalah dapat dijalankan dengan efektif dan tepat
sasaran, maka diperlukan batasan-batasan masalah sebagai berikut:
a. Tempat yang diangkat dalam perancangan promosi wisata yaitu Kabupaten
Bojonegoro, Jawa Timur .
b. Perancangan promosi wisata alam yang ada di Kabupaten Bojonegoro yaitu
wisata Kayangan Api.
c. Perancangan promosi wisata yaitu berbasis videografi
1.4 Tujuan
Atas dasar pada perumusan masalah di atas, maka tujuan dari
perancangan ini adalah sebagai berikut:
a. Merancang media promosi wisata Kayangan Api berbasis videografi sebagai
upaya pengenalan pariwisata Kabupaten Bojonegoro.
b. Memperkenalkan dan mempromosikan wisata Kayangan Api Kabupaten
Bojonegoro kepada masyarakat luas agar keberadaannya lebih dikenal
masyarakat secara meluas. 1.5 Manfaat
1.5.1 Manfaat Teoritis
Penelitian ini sebagai bahan referensi sumbangan pemikiran bagi dunia
pendidikan guna menambah wawasan untuk penelitian selanjutnya, khususnya
yang terkait dengan perancangan media promosi wisata berbasis videografi
sebagai upaya pengenalan pariwisata. 1.5.2 Manfaat Praktis
a. Manfaat perancangan media promosi wisata berbasis videografi adalah
untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas tentang wisata Kayangan
Api di Kabupaten Bojonegoro dan diharapkan menjadi daya tarik minat
wisatawan untuk mengunjungi wisata Kayangan Api ini sebagai tujuan
pariwisata di Kabupaten Bojonegoro.
b. Sebagai sumber referensi Dinas Pariwisata Kabupaten Bojonegoro untuk
mendukung promosi wisata alam dalam menarik minat wisatawan untuk
berkunjung.
DOKUMENTASI;
LAPORAN PAWAI BUDAYA
OLEH:
KELAS VIII H
SMP NEGERI 5 BOJONEGORO
TAHUN 2022
SIRNA SENGKALA RUWATAN MURWOKOLO
KAHYANGAN API
Oleh :
Muhammad Iqbal Harvian
8H
Absen 20
SEKOLAH MENENGAH NEGERI 5 BOJONEGORO
TAHUN AJARAN 2022/2023
SIRNA SENGKALA RUWATAN MURWAKALA KAHYANGAN API
Pada kegiatan pawai budaya Kabupaten Bojonegoro tingkat SD/SMP yang diadakan pada
hari Senin tanggal 29 Agustus 2022, SMPN 5 Bojonegoro mengambil judul “SIRNA
SENGKALA RUWATAN MURWAKALA KAHYANGAN API”. Dengan sinopsis
dengan kreator Bapak Khoiri Sudarmono.
Murwolo, kisah Bethara Kala yang turun ke dunia untuk memangsa anak manusia
penanggung sukerto. Bathara Guru mengutus seorang jemaat wisnu untuk memimpin proses
ruwatan sehingga manusia selamat dari ancaman Bethara Kala. Murwakala merupakan
simbol bahawa sifat angkara murka menjadi sumber kehancuran hidup manusia yang bisa
dihindari dengan menyucikan jiwa dan mendekatkan diri pada Sang Maha Kuasa
(http://www.salin.co.id/pawai-budaya-bojonogoro)
Scanned by TapScanner
Scanned by TapScanner
Scanned by TapScanner
LAPORAN TUGAS PAWAI BUDAYA
Hari/tanggal:senin,29 Agustus 2022
Anggota kelompok:
Andrea azmil ulya(4)
Davin agus prasetyo(8)
Arka setya andipa(6)
SENDRATARI "NAGARUDA".
Bojonegoro mengadakan pawai budaya Sendratari Ramayana merupakan sebuah
pertunjukan yang menggabungkan tari dan drama tanpa dialog yang mengangkat
cerita Ramayana.[1] Sendratari Ramayana menceritakan kisah tentang usaha Rama
untuk menyelamatkan Sinta yang diculik oleh Rahwana.[2] Sendratari Ramayana
merupakan salah satu media dalam menyajikan wiracarita atau epos Ramayana,
media lain seperti seni sastra, seni rupa, dan bebagai seni pertunjukan.[3] Sendratari
mengutamakan gerak-gerak penguat ekspresi sebagai pengganti dialog, sehingga
dengan sendratari diharapkan penyampaian wiracarita Ramayana dapat lebih mudah
dipahami dengan latar belakang budaya dan bahasa penonton yang berbeda.[3]
Penampilan cerita Ramayana dalam bentuk seni pertunjukan tari terdapat di
berbagai negara antara lain Kamboja, Srilanka, Thailand, Laos, Malaysia, Filipina,
Singapura, Indonesia, dan India.[4][5]
6
Sendratari Ramayana di Indonesia pertama kali dipentaskan pada 26 Juli 1961 di
panggung terbuka Candi Prambanan.[3] Pertunjukan pertama kali ini digagas oleh
Letjen TNI (purn) GPH Djati Kusumo yang pada bulan April 1961 membentuk tim
proyek untuk membangun panggung terbuka di depan Candi Prambanan.[3][6]
Panggung terbuka yang dirancang Harsoyo dari Universitas Gadjah Muda berukuran
panjang 50 meter, lebar 12 meter ini memiliki tempat duduk sampai 3.000 buah.[3]
Proyek Sendratari Ramayana koreografinya ditangani oleh Soerjohamidjojo dan
Soeharso, melibatkan 865.000 orang terdiri dari penari, penabuh gamelan, dan
perancang busana
LAPORAN TUGAS PAWAI BUDAYA
Hari/tanggal:29/Agustus/2022
Kelas :8H
Anggota kelompok:
Pashya putri amelia (22)
Rahmatul Maulida (24)
Shifa putri dzikriana (29)
Zalika safarin azura (32)
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menyelenggarakan Pawai
Budaya Kabupaten Bojonegoro tahun 2022 tingkat SMA/SMK/MA
sederajat, perguruan tinggi dan umum. Serta tingkat SD/MI dan
SMP/MTS sederajat.Pawai budaya tersebut bertemakan adat
istiadat budaya Indonesia.para peserta pawai budaya menampilkan
budaya dari wilayah Indonesia,antara lain baju
adat,kesenian,reog,drumband,dan banyak lagi lainnya.
Salah satu tema pawai budaya Bojonegoro adalah PENGANTIN
PINJUNG IRAS PUTRI dari SD NEGRI CAMPUREJO 1. Pengantin
pinjung iras putri adalah pengantin khas Bojonegoro.Pinjung Iras
Putri Bojonegoro ditetapkan menjadi tata rias khas Bojonegoro
pada tahun 2004 dengan di kukuhkan oleh Ketua Umum Himpunan
Ahli Rias Pengantin Indonesia "Melati". Yang menjadi ciri khas khas
pengantin Bojonegoro ini salah satunya pada ornamen baju, hiasan
di dahi dan hiasan di sanggul. Serta, warna pakaian dominan hijau
dan hitam.
Agar menarik, busana pengantin Pinjung Iras Putri Bojonegoro ini
kemudian sedikit dimodifikasi sesuai perkembangan zaman tanpa
meninggalkan pakemnya. Yakni pada unsur garis yang diterapkan
adalah garis lengkung yang memiliki makna luwes dan kombinasi
warna yang melambangkan kemurnian, kemakmuran dan
ketegasan.
PAWAI BUDAYA
TARI KEMBANG KAYANGAN
Oleh :
1. RAFFI YUSUF AL AZIZ (23)
2. SENOPATI JAGAT LANANG T. D. (28)
SEKOLAH MENENGAH NEGERI 5 BOJONEGORO
TAHUN AJARAN 2022/2023
Tari Kembang Kahyangan
Tari ini merupakan jenis tarian selamat datang yang terinspirasi dari fenomena alam
Kahyangan Api Bojonegoro yang kemudian di visualkan melalui simbol gerak lincah pada
penari putri berparas cantik dan mempesona.
Para penari mengenakan balutan kain merah menyala symbol api abadi yang tak pernah
padam. Tari ini menceritakan legenda Mbah Kriyo Kusumo pembuat pusaka di Kahyangan
Api Desa Sendangharjo Kecamatan Ngasem. Dengan semangat para seniman sehingga
mampu menjaga dan melestarikan kebudayaan serta pariwisata daerah Kabupaten
Bojonegoro.
Tari kembang kahyangan, ekspresi dari apa yang Margayubagyo tawarkan kepada para tamu
yang datang berkunjung ke Bojonegoro. Diharapkan para seniman Bojonegoro kedepannya
menjadi pemantik untuk meningkatkan produktivitas budayanya.
Pawai budaya
202
2
Laporan Analisis SMPN 1 Bojonegoro
Iwak Munggut
SMPN 1 Bojonegoro
Kelompok 1
Agung Yudha Pratama (01)
Ahmad Rizky S.(02)
Satria Surya Kencana (26)
M.Nur Rohmad. S(22)
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Nama kegiatan: Pawai budaya
Waktu pelaksanaan: 29 Agustus 2022
Tempat: Alun -alun Bojonegoro
Tema Pawai Budaya: Keberagaman Budaya
Tradisional Indonesia
Tema SMPN 1: Peristiwa Iwak Munggut
Penutup: Sekian Yang dapat kami sampaikan.
Terimakasih
Wasalammualaikum
Warahmatullahi wabarakatuh
pawai SlMapPoNr2aBnoajonnaelgisoirso
budaya
KELAS VIII-I
kelompok 3:
1.Devina Aulia P. (09)
2.Dhanis Dhihaurahman S. (10)
3.Frans Noah Gathan (12)
4.Imelza Rizky Destita (15)
MENGANALISIS
1.nama kegiatan:
pawai budaya
2.waktu pelaksanaan:
selasa,29 Agustus 2022
3.tempat kegiatan:
alun-alun kota Bojonegoro
tema:
sendratari "NAGARUDA"
nagaruda adalah kesenian lokal
kabupaten Bojonegoro
penutup:
demikian laporan dari kelompok
kami , kurang lebihnya kami
mohon maaf sebesar besarnya.
SEKIAN TERIMAKASIH
2022
PAWAI BUDAYA
EKSOTIKA KHAYANGAN API
SMP NEGERI 7 BOJONEGORO
1. Anindya Noer Afifah
2. Daviena Syava Valerie
3. Maulidyah Avriliana Putri
4. Stefani Alifia Putri Kirana
Assalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh
Nama kegiatan: Pawai Budaya
Waktu pelaksanaan: 29 Agustus 2022
Tempat: Alun-alun Bojonegoro
Tema Pawai Budaya: "Keberagaman Seni
Budaya Tradisional Indonesia"
Tema SMPN 7: EKSOTIKA KHAYANGAN API
Penutup: Sepertinya hanya itu yang kita
jelaskan, sekian dari kita, Terimakasih
Wassalamu'alaikum warahmatullahi
Wabarakatuh
PAWAI BUDAYA
SMP NEGERI 6 BOJONEGO
KELOMPOK 7
1. WILDAN BAARIK MULATAZAM
2. M RIDHO MAULANA A
3. RAFID ARDA A
4. ARGA DIRA