LAPORAN PAWAI
BUDAYA
OLEH
KELAS VIII E
SMP NEGERI 5 BOJONEGORO
TAHUN 2022
KELOMPOK 1
TRADISI RUWATAN DENGAN SENI WAYANG
Pada suatu ketika dewwa siwa bercengkerama dengan permainsurinya yang sangan
cantik, yaitu dewi uma. Mereka terbang di atas samudera dengan naik lembu tunggangannya
bersama lembu andhini. Di atas samudra itu siwa melihat permainsurinya sangat menggairahkan,
sehingga timbul hasratnya untuk bersatu rasa. Tetapi dewi uma tidak berkenan dihati, maka
benih siwa jatuh ditengah lautan.
Setelah masa benihnya itu berubah menjadi makhluk, kian lama kian besar. Akhirnya
menjadi raksasa besar dan sakti. Ia naik ke suralaya, tempat bersemayan dan ia minta agar
ditunjukkan manusia- manusia yang bagaimanakah yang menjadi mangsanya. Dewa siwa
mengakui bahwa ia adalah putera siwa sendiri, dan diberi nama bathara kala. Siwa menyebutkan
macam – macam manusia yang yang termasuk anak sukerta.
Maka dewa kala segera turun ke dunia untuk mencari mangsa, yaitu manusia – manusia
yang telah tentukan baginya. Ia menuju ke danau madirda. Sepeningal dewa kala, siwa sadar
bahwa jumlah manusia yang disebutkan jadi terlau banyak, apabila tidak dihalangi mungkin
manusia akan punah dari muka bumi. Dewa wisnu kemudian memakai nama dalang
kandhabuana, bertugas meruwat manusia-manusia sukerta yang ditakdirkan menjadi umpan
dewa kala. Diceritakan, ada seorang janda di desa Medang kawit, bernama sumawit. Ia
memiliki seorang anak laki-laki. Menjelang remaja bernama joko jatusmati. Karena ia anak
tunggal, supaya selamat ia disuruh ibunya mandi di Danau Madirda.
Setelah sampai di danau itu ia berjumpa dengan Dewa kala. Dewa kala minta kesediaan
anak itu untuk dimakan, karena ia termasuk menjadi mangsanya. Sadar ada bahaya mengancam,
Joko segera melarikan diri. Sedangkan dewa kala mengejar kemana saja ia pergi. Ia
bersembunyi diantara orang-orang yang sedang mendirikan rumah.
KELAS VIII–E (1)
(2)
1) ADIB NUVAL AULIAN (32)
2) AL. AQASHA PUTRA PRAMADANI (29)
3) ZANNY PUTRA PERDANA
4) VERA SETYA HERLINA
KELOMPOK 2
Pawai Budaya di Kota Bojonegoro
Minggu (28,08,2022) dan Senin (29,08,2022) Bojonegoro mengadakan pawai budaya.
Minggu pawai budaya untuk umum (warga yang mewakili daerahnya) dan Senin untuk SD/MI dan
SMP/Mts.
Pawai budaya sangat menarik bagi warga, pawai ini selalu menampilkan keragaman budaya
Indonesia.Wilayah Indonesia tersebar dari Sabang sampai Merauke dengan beraneka ragam budaya
yang berbeda-beda. Hal ini dapat kita buktikan ketika ada kegiatan pawai budaya. Ada pakaian adat,
rumah adat, tari-tarian, lagu daerah, adat-istiadat, alat musik dan masih banyak lagi yang berbeda
antara satu daerah dengan daerah yang lain.
Salah satu kategori SMP yaitu SMPN 5 mengikuti karnaval urutan nomor 06 yang memuat
tema "Sirna Sengkala" yaitu Ruwatan Murwangkala ing Khayangan Api. Ruwatan Murwangkala
merupakan rangkaian upacara tradisi Jawa untuk membersihkan diri atau mensucikan diri dari
marabahaya sehingga bisa hidup sejahtera.
SMPN 5 Bojonegoro menampilkan adegan "Buto Ijo" yang membuat semua orang ingin
melihatnya. Selain itu, juga terdapat patung buto ijo yang sangat besar di bagian pertengahan. Serta
juga terdapat iringan musik gamelan saat melakukan atraksi. Adapun kostum yang
dikenakan oleh siswa-siswi yaitu kostum buto dengan riasan buto di wajah, kostum penari dengan
beragam warna, terdapat juga siswi yang membawa tumpeng dan juga bingkisan buah-buahan, dan
masih banyak lagi.
Para siswa-siswi SMPN 5 Bojonegoro memperegakan perannya masing-masing dengan
sangat bagus dengan barisan yang tertata rapi. Di penghujung acara setelah semua sekolah
menampilkan adegannya masing-masing, juri mengumumkan juara dari pawai budaya tingkat
SD/MI dan SMP/Mts. SMPN 5 Bojonegoro mendapatkan peringkat juara harapan 1. Walaupun
tidak mendapatkan juara pertama, para siswa-siswi SMPN 5 Bojonegoro sudah puas karena bisa
mendapatkan juara.
Anggota kelompok 2:
- Alma Belinda P. (03)
- Andhika Dwi U. (04)
- Arya Zeta P. Y (05)
- Vino Putra P. (31)
KELOMPOK 3
Pawai Budaya SMPN 5 Bojonegoro
Minggu (28/08/22) Bojonegoro mengadakan pawai budaya dan sekaligus memeriahkan HUT RI
Ke-77. Pawai budaya ini di ikuti oleh SD/MI, SMP/Mts, SMA/SMK, dan umum (warga yang
mewakili daerahnya untuk mengikuti Pawai Budaya). Hari Minggu (28/08/22) diikuti peserta dari
katergori SMA/SMK dan Umum. Tidak hanya Hari Minggu, di Hari Senin (29/08/22) juga ada
yaitu diikuti oleh peserta kategori SD/MI dan SMP/Mts.Di hari Senin (29/08/22) memuat kategori
SD/MI dan SMP/Mts dengan jumlah 26 peserta. Pawai Budaya ini dihadiri oleh Bupati Bojonegoro
yaitu Hj. Anna Mu‟awanah. Kegiatan tersebut dimulai sekitar pukul 08.00 dari start Jalan Mas
Tumapel hingga finish di Jalan Imam Bonjol.
Adanya kegiatan tersebut bertujuan sebagai salah satu bentuk perayaan HUT RI, Selain
perayaan HUT RI pawai budaya ini juga memiliki banyak manfaat mulai dari menjaga kebudayaan
hingga untuk salah satu acara budaya yang banyak dinikmati turis Internasional.
Salah satu peserta dari katergori SMP yaitu SMPN 5 Bojonegoro yang mendapat nomor urutan 06
ini memuat tema “Sirna Sengkala” yaitu Ruwatan Murwakala Ing Kayangan Api. Ruwatan
Murwakala merupakan rangkaian upacara tradisi jawa yang bertujuan membersihkan diri atau
mensucikan diri agar terhindar dari marabahaya sehingga bisa bidup sejahtera. Salah satu tujuan
SMPN 5 Bojonegoro memuat tema tersebut yaitu untuk melestarikan dan aktualisasi adat budaya
daerah dan menumbuhkan rasa cinta terhadap tradisi dan budaya daerah.
SMPN 5 Bojonegoro menampilkan adegan yang membuat semua semua orang ingin melihat
nya.Selain itu SMPN 5 Bojonegoro juga membawa patung buta ijo yang sangat besar,Dan juga
ketika atraksi di mulai di iringi oleh alat musik gamelan.
Rute yang ditempuh para siswa SMP dan SD lebih dekat dari pada rute yang ditempuh oleh
siswa SMA/SMK dan umum.Para siswa siswi SMPN 5 Bojonegoro ada yang menggunakan
kostum buta ijo,penari,dan lain lain.Setelah semua siswa siswi sampai di finis juara pun diumum
kan dan SMPN 5 Bojonegoro mendapatkan juara harapan 1 walaupun tidak mendapatkan juara 1
semua siswa siswi SMPN 5 Bojonegoro sudah merasa cukup puas dan bahagia.
Nama Anggota Kelompok 3:
1. Aura Shifa Nuraini
2. Danandra Ligar
3. Riski Nur Rohman
4. Titania Azahra Suci R
KELOMPOK 4
PAWAI BUDAYA
Tradisi upacara adat panggih pengantin ini berasal dari, Dukuh Kepoh Agung (Pagun), Desa
Campurejo, Kec/Kab . Bojonegoro, Jawa Timur. Prosesi pertama di awali dengan "Sawur Gadang "
berasal dari kata 'SAWUR' yang berarti menabur/mbalang atau melempar. Sementara „GADANG '
memiliki arti mengharap, sehingga "Sawur Gadang" dapat dimaknai dengan menabur harapan di
dalam menemukan jodohnya.
Prosesi ini merupakan tahapan dalam proses upacara temu atau panggih pengantin Gaya Bojonegoro
atau biasa disebut Pinjung Iras Putri Dimana pada titik panggih / ketemu yang telah ditentukan ,
kedua rombongan mempelai putra dan mempelai putri berhenti tepat dibawah naungan Tarup kecil
yang dihias tuwuhan yang disebut "PACUL GOWANG". Di bawah Pacul.Gowang inilah proses
temu pengantin diawali, di mana kedua mempelai saling melempar genggaman tangan yang berisi
beras kuning dan gulungan daun sirih temu ros , yangdisebut GANTAL.
Di saat kedua mempelai saling melempar Gantal, disinilah para pengiring dari pihak mempelai putra
(yang masih bestatus perjaka ) dan para pengiring dari pihak mempelai putri ( juga yang masih
berstatus legan/belum menikah) saling melempar gantal,dan saling mendahului ke masing masing
lawan jenisnya sehingga proses temu pengantin ini menjadi sangat meriah. Inilah yang disebut
Prosesi “Sawur Gadang”.
Diawali pengantin pria yg melempar gantal mengenai dada mempelai putri yg bermakna bahwa (
mempelai putra telah menemukan pilihan hatinya). Kemudian dibalas oleh mempelai putri dengan
cara yg sama melempar genggaman yg berisi beras kuning & gulungan sirih temu ros mengenai lutut
mempelai putra yg bermakna Bahwa sebagai calon istri berkewajiban untuk selalu taat dan
menghormati calon suaminya.
Di saat kedua mempelai saling melempar Gantal inilah para pengiring dari pihak mempelai putra
para perjaka dan para pengiring dari pihak mempelai putri yang masih legan saling melempar gantal
saling mendahului ke masing-masing lawan jenisnya. Sehingga proses temu pengantin ini menjadi
sangat meriah, di sinilah yang disebut Prosesi “Sawur Gadang” , selanjutnya diharapkan pada proses
temu pengantin para pengiring yang masih lajang berharap juga dapat segera menemukan jodohnya .
Setelah semua dalam tahapan proses temu pengantin selesai dilaksanakan di rumah mempelai putri,
kemudian dilanjutkan Tradisi SINJO .
Kedua mempelai dengan diiringi oleh para pengiring putra membawa Jodang berisi makanan, lauk
dan buah , sementara pengiring putri membawa Tenong berisi kue kue, dengan dikawal pembawa
tombak paling depan dan dua perjaka pembawa Rontek Sapudar dibelakangnya , dinaungi di bawah
payung agung dan diarak oleh penabuh jedor tampak begitu sangat agung dan meriah beriringan
melalui jalan-jalan desa. Tradisi ini sebagai bukti legitimasi pengakuan syah dari masyarakat desa
saat melihat iringan pengantin disepanjang jalan yang dilalui kedua mempelai . Di mana telah
melaksanakan pernikahan yang sah secara adat, agama dan pemerintah
9
KELOMPOK 5
Pawai Budaya SDN Pacul 3 Bojonegoro
Minggu (28/07/22) Bojonegoro mengadakan pawai budaya dan sekaligus
memeriahkan HUT RI Ke-77. Pawai budaya ini di ikuti oleh SD/MI, SMP/Mts,
SMA/SMK, dan umum (warga yang mewakili daerahnya untuk mengikuti Pawai
Budaya). Hari Minggu (28/07/22) diikuti peserta dari katergori SMA/SMK dan
Umum. Tidak hanya Hari Minggu, di Hari Senin (29/07/22) juga ada yaitu diikuti
oleh peserta kategori SD/MI dan SMP/Mts.Di hari Senin (29/07/22) memuat
kategori SD/MI dan SMP/Mts dengan jumlah 26 peserta. Pawai Budaya ini dihadiri
oleh Bupati Bojonegoro yaitu Hj. Anna Mu‟awanah. Kegiatan tersebut dimulai
sekitar pukul 08.00 dari start Jalan Mas Tumapel hingga finish di Jalan Imam
Bonjol.
Salah satu peserta dari katergori SD yaitu SDN Pacul 3 Bojonegoro yang
mendapat nomor urutan 17 ini memuat tema “Tradisi Wiwit Sawah” yaitu Wiwit
10
yang memiliki arti “ mulai “. Dimana Tradisi miwit sawah merupakan tradisi yang
sudah ada sejak zaman dahulu dimana tradisi tersebut dilakukan supaya subur dalam
menanam padi, biasa dilakukan sebelum pemotongan padi dimulai. Salah satu tujuan
SDN Pacul 3 Bojonegoro memuat tema tersebut yaitu adalah bentuk rasa syukur
masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam ritual miwit diniatkan untuk
bersedekah atau berbagi kepada sesama. Dalam cerita legenda konon katanya
terdapat Dewi kesuburan alam yang diyakini oleh masyarakat Bojonegoro bahwa
terdapat Dewi yang berada di sudut pemetakan sawah yang biasa disebut Dewi Sri
atau Dewi Padi. Tradisi miwit sawah biasa dilakukan mulai dari pagi hari dan
biasanya terdapat sesaji diletakkan di sudut pekarangan yang akan ditanami padi.
Adapun sesaji yang biasa di bawa oleh masyarakat untuk di taruh di pojok
pekarangan sawah yang biasa disebut ucok bakal. Dimana itu dapat diyakini akan
mendapatkan kelimpahan dalam tanam padi. Di yakini padi akan tumbuh subur, dan
akan mendapatkan hasil yang bagus. Dalam proses pemotongan padi biasa dilakuakn
oleh orang laki-laki dengan membawa arit dan biasanya dilakukan oleh banyak
orang.
SDN Pacul 3 Bojonegoro menampilkan adegan yang membuat semua semua
orang ingin melihat nya. Selain itu SDN Pacul 3 Bojonegoro juga membawa properti
kereta Dewi Sri,dan juga ketika atraksi di mulai di iringi oleh alat musik gamelan.
Rute yang ditempuh para siswa SMP dan SD lebih dekat dari pada rute yang
ditempuh oleh siswa SMA/SMK dan umum.Para siswa siswi SDN Pacul 3
Bojonegoro ada yang menggunakan kostum kange yune,penari,dan lain lain. Setelah
semua siswa siswi sampai di finis juara pun diumum kan dan SDN Pacul 3
Bojonegoro tidak mendapatkan juara. Semua siswa siswi SDN Pacul 3 Bojonegoro
sudah merasa cukup puas dan bahagia bisa ikut serta meramaikan pawai budaya
tersebut.
NAMA KELOMPOK 5 :
1. MUKLIS RENO SAPUTRA
2. NALA INDRA PAMUNGKAS
3. RISMA AZZAHRA NUR SABILA
4. DIBRA REVA NITA
11
KELOMPOK 6
Pawai Budaya SMP MODEL TERPADU
Senin, (29/8/22) bojonegoro mengadakan pawai
budaya sekaligus memeriah kan HUT RI yang KE-77.
Pawai budaya ini di ikuti SD/MI, SMP, SMA, SMK dan
warga umum bojonegoro ( mewakili daerahnya untuk
mengikuti pawai budaya). Tepatnya hari minggu
tanggal 28 adalah pawai budaya yang di laksanakan
SMA,SMK dan umum warga bojonegoro. Hari senin
tanggal 29 adalah pelaksanaan pawai budaya SD/MI
dan SMP.
Adanya kegiatan pawai tersebut bertujuan sebagai salah satu bentuk HUT RI. Pawai
budaya yang di laksanakan ini juga memiliki banyak manfaat salah satunya dari menjaga
kebudayaan hingga untuk salah satu acara budaya yang banyak di nikmati turis internasional.
Salah satu peserta pawai SMP yaitu SMP MODEL TERPADU dengan tema
"GROPYOKAN IWAK" dari padangan. SMP MODEL TERPADU mempersembahkan
"Penari air, eceng gondok, dan ikan-ikan kecil seperti ikan koi, ikan sepat dan ikan-ikan lain
sebagainya". SMP MODEL TERPADU juga menampilkan SMA, SMP, SD masing-masing
mendapatkan gelar juara, SMA menempati harapan 1, SMP menempati juara 3, SD
menempati juara 3.
SMP MODEL TERPADU juga menampilkan adegan yang cukup memuaskan bagi
penonton pawai budaya. Selain itu SMP MODEL TERPADU juga membawa alat musik
tradisional yang di hiasi oleh bentuk tema ikan. Saat adegan(atraksi) di mulai juga di iringi
oleh alat musik tradisional.
Rute yang di tempuh pada saat pawai SMP dan SD pada tanggal 29 jaraknya lebih
dekat dari pada pawai SMA/SMK dan umum warga bojonegoro tanggal 28. Para siswa siswi
SMP MODEL TERPADU pada saat mempersembahkan tema penari air adalah menggunakan
12
kostum atasan putih dengan bawahan rok berwarna biru, penari eceng gondok menggunakan
kostum berwarna hijau dengan hiasan daun melingkar di kepala.
Nama kelompok 6: Dwi astipuspitaning jati (10)
: M. Tri nur rifki (17)
: M. Ervin saputra (19)
: Novereina nazaha A.E (22)
13
KELOMPOK 7
Sirna Sengkala
Ruwatan Murwakala ing Kayangan Api
Drama Sirna Sengkala di pentaskan di area alun" Bojonegoro. Pementasan drama
Sirna Sengkala ini dalam rangka pawai budaya. Sirna Sengkala menceritakan tentang
kisah Batarakala yang turun ke dunia untuk menangis anak manusia penanggung sugarta.
Bpk.Sudiro memprakasal dan menjadi sutradara drama Sirna Sengkela ini. Dari awal
sampai akhir pementasan ini sangat memukau.
Pertunjukan dimulai pada pukul 08.00. Pertunjukan dimulai dengan seorang Batara
Gulu yang mengutuskan seorang darang jamaan wisnu untuk memimpin prosesi ruwatan.
Drama ini diiringi alunan gamelan yang mengentak keras. Penonton bersorak kaget
sekaligus terpesona.
Purwakala kisah Batarakala yang turun didunia untuk memangsa anak manusia
penanggung sugarta. Bataragulu mengutus seorang darang jamaan wisnu untuk memimpin
proses rawatan sehingga manusia selamat dari ancaman Batarakala. Murwakala adalah
simbol bahwa sifat angkaramurka menjadi sumber kehancuran hidup manusia yang bisa
dihindari dengan menyucikan jiwa dan mendekatkan diri kepada yang maha kuasa.
Pertunjukan ini diakhiri dengan tarian.
14
Setelah sukses memukau para penonton pada acara pembukaan, para penonton dan
Bupati bojonegoro disugihi 100 anggota yang terdiri dari Batarakala, anak manusia, penari,
pembawa sesajen, dan lain sebagainya, yang menjadi inti drama. Musik gamblang
mengetakkan suasana.
Pementasan ditutup dengan memberi hormat kepada Bupati Bojonegoro. Irama
gamelan yang diiringi dengan penari-penari yang indah dan bersemangat. Para Batarakala
dengan semangat menghentakkan kaki dengan bergantian dan serempak. Pentas drama
Sirna Sengkala ini sangat indah, megah,dan fantastik. Tepuk tangan gemuluh mengiringi
akhir.
Pawai budaya 8E-7
-Eza arta maulana
-Mu'aazarah nurul ani
-Moch sendy S
-M agus dani S.
15
KELOMPOK 8
Pawai Budaya SMPN 2 Bojonegoro
Minggu (28/08/22) Bojonegoro mengadakan pawai budaya dan sekaligus
memeriahkan HUT RI Ke-77. Pawai budaya ini di ikuti oleh SD/MI, SMP/Mts,
SMA/SMK, dan umum (warga yang mewakili daerahnya untuk mengikuti Pawai
Budaya). Hari Minggu (28/07/22) diikuti peserta dari katergori SMA/SMK dan
Umum. Tidak hanya Hari Minggu, di Hari Senin (29/07/22) juga ada yaitu diikuti
oleh peserta kategori SD/MI dan SMP/Mts.Di hari Senin (29/07/22) memuat kategori
SD/MI dan SMP/Mts dengan jumlah 26 peserta. Pawai Budaya ini dihadiri oleh
Bupati Bojonegoro yaitu Hj.Anna Mu‟awanah. Kegiatan tersebut dimulai sekitar
pukul 08.00 dari start Jalan Mas Tumapel hingga finish.
Adanya kegiatan tersebut bertujuan sebagai salah satu bentuk perayaan HUT RI,
Selain perayaan HUT RI pawai budaya ini juga memiliki banyak manfaat mulai dari
menjaga kebudayaan hingga untuk salah satu acara budaya yang banyak dinikmati
turis Internasional.Salah satu peserta dari katergori SMP yaitu SMPN 2 Bojonegoro
yang mendapat nomor urutan 03 ini memuat tema “Nagaruda". Salah satu tujuan
SMPN 2 Bojonegoro memuat tema tersebut yaitu untuk melestarikan dan aktualisasi
adat budaya daerah dan menumbuhkan rasa cinta terhadap tradisi dan budaya daerah.
16
Rasa dengki selalu menghinggapi manusia yang berhati buruk, demikian juga dengan
Kadru.Setiap hari yang melihat Winata tidak kerepotan merawat Garuda, Kadru pun
merasa dengki.Dia pun mencari rencana jahat, agar Winata mau merawat 9 ekor naga
miliknya.Keesokan harinya Kadru pun menemui ayahnya. " Ayahanda seumur- umur
baik saya maupun adinda Winata belum pernah melihat kuda Uchaiswara, bilamana
ayahanda berkenan mendatangkan kuda Uchaiswara kemari agar kami bisa
melihatnya," ucap Kadru kepadaayahnya. ResiKasiyapa punmenjawab," Baiklah,
besok aku akan panggil kuda Uchaiswarakemari."Setelah menemui yang bisa terbang
itu," ucap Kadru kepada Winata.
Rute yang ditempuh para siswa SMP dan SD lebih dekat dari pada rute yang
ditempuh oleh siswa SMA/SMK dan umum.Setelah semua siswa siswi sampai di finis
juara pun diumumkan dan SMPN 2 Bojonegoro mendapatkan juara 1.
Tujuan kegiatan pawai budaya tersebut diadakan agar siswa siswi lebih bias
menghargai jasaperjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan seperti
sekarang yang bias kitanikmati sekarang ini. Dan para generasi penerus lebih
mencintai budaya bangsa yang jugaditampilkan pada pawai budaya serta
menumbuhkan semangat rasa cinta tanah air, kerukunanantar umat beragama dan
menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Nama kelompok:
1. Fendi Dwi Radtyanto (12)
2. Kaka Ardi Pratama (13)
3. Mafif Sahrul Ibrahim (14)
Sendratari Nagaruda
Pawai budaya adalah sebuah bentuk acara yang menampilkan iring-iringan dari kelompok
peserta yang membawa keunikan daerah masing-masing. Salah satu tema Pawai Budaya adalah
Sendratari Nagaruda, Kabupaten Bojonegoro pada bulan Agustus tepat nya pada hari kelahiran
bangsa Indonesia mengadakan Pawai Budaya yang di selenggarakan pada tanggal 28-29
tepatnya pada hari Minggu dan Senin. Peserta yang mengikuti Pawai Budaya tersebut adalah
siswa siswi SD,SMP,SMA dan SMK.
SMPN 2 Bojonegoro pada hari Senin menggunakan tema yang berjudul Sendratari Nagaruda.
Sendratari Nagaruda menceritakan tentang pertempuran Batik Madrim dengan Prabu Angling
Darma memperebutkan Dewi Setyowati.
Angling Dharma adalah seorang raja muda yang tampan, gagah perkasa, serta arif dan bijaksana.
Pada suatu hari, Prabu Angling Dharma berburu dihutan, k,etika berburu sang Prabu Angling
Dharma memanah seekor kijang dan kijang itu berlari sampai ke sendang, saat itulah sang
Prabu Angling Dharma melihat seorang gadis yang sedang mandi di sendang, gadis tersebut
adalah Dewi Setyowati yang merupakan anak dari bengawan manik sutra seorang tokoh yang
sangat disegani di daerah itu.
Sang Prabu merasa tertarik dan langsung jatuh cinta kepada Dewi Setyowati. Ketika Dewi
Setyowati didekati oleh sang Prabu, Dewi Setyowati merasa takut karena melihat sang Prabu
dengan bala tentaranya, Dewi Setyowati takut kalau mereka menyakitinya. Ketika melihat sang
Prabu dan perajuritnya mendekati dirinya, dengan rasa takut Dewi Setyowati langsung
bergegas berlari pulang
Sang Prabu yang tertarik oleh kecantikan Dewi Setyowati berusaha mengejarnya, ketika sampai
di rumah, sang Prabu berusaha memperkenalkan diri di depan Bengawan Manik Sutra (bapak
Dewi Setyowati). Mengetahui hal itu Batik Madrim yang merupakan anak angkat Bengawan
Manik Sutra berusaha menantang sang Prabu Angling Dharma dengan dalih jika sang Prabu
menang, maka beliau baru diizinkan untuk mempersunting Dewi Setyowati.
Setelah terjadi pertempuran, akhirnya sang Prabu Angling Dharma memenangkan pertempuran
itu, tetapi Dewi Setyowati belum mau menerima sang Prabu, dengan berbagai cara sang Prabu
terus berusaha mendekati Dewi Setyawati dan akhirnya Dewi Setyowati pun menerima
pinangan sang Prabu dengan syarat sang Prabu harus setia dengan Dewi Setyowati dan tidak
boleh memperistri wanita lain.
Setelah genap sudah satu tahun sang Prabu memperistri Dewi Setyowati, tetap saja Dewi
Setyowati belum mau melayani sang Prabu sebagai seorang istri. Namun, sang Prabu masih
tetap sabar. Pada suatu hari Dewi Setyowati melihat kemampuan sang Prabu Angling Dharma
yang memiliki ajian "aji ginem" yaitu ilmu yang dapat berbicara dengan hewan.
Dewi Setyowati ingin menguasai dan memilikinya akan tetapi Prabu Angling Dharma sudah
dipesan oleh gurunya untuk tidak boleh menurunkan ilmu yang dimilikinya itu pada orang lain.
Tetapi Dewi Setyowati tidak menerima alasan itu. Akhirnya Dewi Setyowati mengancam akan
bunuh diri. Tetapi sang Prabu tetap kekeh tidak mau memenuhi permintaan sang istri dan
sebagai bukti cintanya, sang Prabu rela mati membakar diri bersama istrinya.
Akhirnya sang Prabu meminta untuk para pengawalnya menyiapkan api yang besar, sesaat
ketika sang Prabu dan Dewi Setyowati akan melompatkan dirinya kedalam api, sang Prabu
mendengarkan percakapan dua ekor sepasang kambing kalu. Kambing betina ingin kambing
jantan mengambilkan janur yang terpasang di pangung untuk melompat ke api tetapi kambing
jantan tidak mau, dan kambing betina mengancam akan ikut bunuh diri membakar diri bersama
Dewi Setyowati tetapi kambing hitam menjawab "jika kamu ingin mati menerjunkan diri ke api,
terjunlah sana. Aku tidak mau menuruti permintaan istri yang sesat seperti Prabu Angling
Dharma" (ujar kambing jantan kepada kambing betina). Karena mendengar percakapan kedua
kambing itu sang Prabu pun tersadar dan tidak mau melompat di kobaran api bersama Dewi
Setyowati.
Setelah beberapa tahun kemudian, sang Prabu tetap hidup sendiri. Karena ia sudah berjanji
untuk setia pada istrinya, ketika ia melakukan pengembaraan beliau di goda oleh seorang
nenek dan cucunya yang menyamar menjadi cantik mirip dengan sosok Dewi Setyowati, yang
kemudian mengoyahkan iman sang Prabu Angling Dharma akhirnya hati sang Prabu pun luluh,
karena itulah sang Prabu dikutuk menjadi seekor burung belibis.
LAPORAN KEGIATAN
UNTUK MENGENAL PAWAI BUDAYA DI KOTA BOJONEGORO
Nama kelompok
1). M. Fahri P. (20)
2). Echidna Dino N. (09)
3). Sabilul aula I. (28)
PAWAI BUDAYA BOJONEGORO
Dinas pendidikan kabupaten Bojonegoro
2022/2023
TEMA RUWATAN
Ruwatan adalah salah satu bentuk upacara atau ritual penyucian yang hingga saat ini tetap dilestarikan
oleh masyarakat Demak, Jawa Tengah. Tradisi ini diberlakukan untuk melestarikan ajaran dari Kanjeng
Sunan kalijaga dan digunakan bagi orang yang Nandang Sukerta atau berada dalam dosa.
Meruwat bisa berarti mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan batin dengan cara mengadakan
pertunjukan atau ritual. Umumnya ritual tersebut menggunakan media Wayang Kulit yang mengambil
tema atau cerita Murwakala. Istilah Ruwat berasal dari istilah Ngaruati yang memiliki makna menjaga
kesialan Dewa Batara.
Di dalam kehidupan Masyarakat Jawa, dikenal tradisi ruwatan. Sedangkan ruwatan adalah salah satu
ritual penyucian yang masih banyak dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Jawa. Tradisi ini
dilakukan dengan menggunakan media Wayang Kulit. Tradisi ini dapat dilakukan oleh orang Jawa ketika
mengalami kesialan dalam
hidup.
LAPORAN KEGIATAN
SMP NEGERI 5 BOJONEGORO
Untuk mencintai budaya lokal di Kabupaten Bojonegoro
NAMA ANGGOTA KELOMPOK :
1. CAHAYA CITRA PUTRI DIARKA /07/8F
2. FEBYTA AURA PUTRI /10/8F
3. MELVINA DINATA FIZA /18/8F
4. SHERDHIYA ALFAIRA HANINDA /28/8F
5. TIARA DWI NUR PRISHARDINI /29/8F
PAWAI BUDAYA BOJONEGORO
DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN BOJONEGORO
TAHUN 2022/2023
• TEMA : IWAK MUNGGUT
Dengan kreator : Bapak Dwiyanto S.P.d
Pertunjukan dari : SMP NEGERI 1 BOJONEGORO
• Deskripsi/narasi tampilan :
Peristiwa iwak munggut atau disebut peladu atau ngumboh ini adalah sebuah fenomena
alam dan hanya dirasakan oleh orang pinggiran Bengawan Solo. Munggut merupakan
fenomena dimana ikan-ikan di Sungai Bengawan Solo dalam keadaan mabuk dan muncul
kepermukaan air akibat bergantinya kondisi air sungai dari jernih menjadi keruh dan momen
ini dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk menangkap ikan karena penangkapannya jauh
lebih mudah masyarakat berramai-ramai mencari ikan dengan membawa seser, susuk, cis,
jaring maupun juga jala.
• Nilai-nilai yang dikembangkan dalam tampilan Iwak Munggut :
Untuk mengenalkan ke masyarakat luas tentang budaya penangkapan ikan di Sungai
Bengawan Solo. Bertanggung jawab dalam kebersihan lingkungan diri sendiri pada
masyarakat luas di Bojonegoro. Yang paling penting pada area Sungai Bengawan Solo yang
sebagian masyarakat masih membuang sampah maupun limbah ke sungai.
• Dokumentasi :
LAPORAN PAWAI BUDAYA
SD/SMP TAHUN 2022
NAMA ANGGOTA KELOMPOK 1:
1.CARRISA TALITHA SINAGA/8G/08
2.FIRDA AULIA/8G/14
3.ZALIFA IHWANI/8G/32
4.TAUFIK SAFAAT/8G/31
PAWAI BUDAYA SMPN 5 BOJONEGORO
"Ruwatan"
Arti Ruwatan:
Ruwat adalah salah satu upacara dalam kebudayaan Jawa yang ditujukan untuk membuang
keburukan atau menyelamatkan sesuatu dari sebuah gangguan. Seseorang atau sesuatu yang
telah diruwat diharapkan mendapat keselamatan, kesehatan, dan ketenteraman kembali.
Ruwatan diyakini sebagai sarana pembebasan dan penyucian diri dari segala malapetaka dan
kesialan hidup/sukerta. Mereka yang telah melakoni ruwatan dipercaya akan terbebas dari
sukerta. Meskipun tidak sebanyak dulu, ritual ruwatan masih dapat dijumpai di masyarakat
hingga kini.
Latar Belakang Ruwatan:
Ruwatan berasal dari kata “ruwat”, artinya menghapuskan, membebaskan (kutukan,
kemalangan, kesialan, dll). Sedangkan ruwatan adalah sebuah kegiatan yang dipercaya oleh
masyarakat Jawa sebagai upacara ritual pembebasan/penghapusan malapetaka. Ada berbagai
hal unik dan menarik dalam upacara ritual ruwatan tersebut. Diantaranya, pergelaran wayang
kulit dengan lakon Murwakala.
Makna Ruwatan:
Makna dari Ruwatan adalah meminta dengan sepenuh hati agar orang yang diruwat dapat
lepas dari petaka dan memperoleh keselamatan. Oleh sebab itu, upacara Ruwatan dilakukan
untuk melindungi manusia dari segala macam bahaya yang ada di dunia.
Daftar Pusaka:
Makna Ruwatan:
https://guruinovatif.id/@drasrisuprapti/tradisi-ruwatan-bebaskan-dari-marabahaya-dan-
kesialan-yang-penuh-
makna#:~:text=Makna%20dari%20Ruwatan%20adalah%20meminta,bahaya%20yang%20ad
a%20di%20dunia.
Arti Ruwatan:
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ruwat
Latar Belakang Ruwatan:
https://www.academia.edu/39712489/Makalah_Ruwatan
Deskripsi Tampilan:
Pawai budaya dengan nomor urut 06 ini yang membuat kita tertarik dan menyukainya. Di
nomor urut 06 ini yang bertemakan “Sirna Sengkala Ruwatan Murwakala Kayangan Api”
yang dibawakan oleh SMPN 5 BOJONEGORO. Kostum yang dikenakan oleh anak anak
SMPN 5 BOJONEGORO ini juga sangat menarik dan bagus, seperti ada buto ijo, pasukan
buto ijo, dan masyarakat yang juga mengenakan busana yang menarik dan cantik. Dan lebih
menariknya lagi ada patung buto ijo yang sangat besar dan musik yang dimainkan oleh anak
anak SMPN 5 BOJONEGORO tersebut sangatlah menghibur bagi masyarakat yang
menyaksikannya, dan tarian yang diperagakan oleh pasukan masyarakat pun sangat kompak
dan bagus. Nilai nilai yang dikembangkan dalam tampilan tersebut adalah kemandirian dan
tanggung jawab.
Dokumentasi Pawai:
LAPORAN PAWAI BUDAYA
SD/SMP TAHUN 2022
NAMA ANGGOTA KELOMPOK 2:
1.DENISYA NABILLA O. (10)
2.REVA AMELIANA P. (26)
3.AMANATUS SHOLIKHAH (03)
4.ANIKA AVRIL M. (05)
Pawai Budaya Nomor Peserta 06 Dari SMP Negeri 05 Bojonegoro
Dengan Tema “Sirna Sengkala Ruwatan Murwakala ing Kayangan Api”
Ruwatan murwakala adalah salah satu upacara adat yang dilakukan untuk
membebaskan diri dari gangguan Batara Kala. Ritual kuno di candi vang dibangun pada abad
12 itu bernama Ruwatan Murwakala. Ritual ini merupakan tradisi Jawa kuno untuk
mengeluarkan sisi buruk dari jiwa manusi. Jalannya ritual ruwatan biasanya dilakukan
dengan memotong rambut hingga melarung atau menghanyutkan sesaji. Meskipun ritual
kuno tradisi itu masih bisa disaksikan hingga sekarang.
Latar Belakang dan Sejarah Ruwatan Murwakala :
Menurut keyakinan kuno, banyak sekali hal atau peristiwa yang dapat mendatangkan
malapetaka apabila tidak menghiraukan dan berikhtiar secara khusus. Maka, agar dapat
terhindar dari bencana yang setiap saat bisa terjadi, diharuskan melakukan ruwatan
tersebut. Adapun beberapa kategori orang yang harus diruwat menurut salah satu dalang
veteran Banyuwangi, Ki Asmoro Sampir, sebagai berikut. Pertama, anak yang dianggap
mempunyai nasib buruk disebabkan faktor kelahirannya, salah satunya yakni ketika seorang
anak saat lahir ing tengah wayah bedug (tepat jam 12 siang). Kedua, anak yang membawa
tubuh cacat sejak lahir atau sering sakit-sakitan. Ketiga, orang yang dianggap bersalah
karena telah melanggar pantangan adat atau secara disengaja atau tidak sengaja merusak
benda yang memiliki unsur kepercayaan kuno. Tak hanya itu, bayi lahir kembar pun
termasuk kedalam kategori anak sukerta (harus ruwat).
Bhatara Kala sendiri, dalam kisah pewayangan merupakan anak Batara Guru yang lahir
karena nafsu atas Dewi Uma. Yang kemudian, benih olo (niat jelek) jatuh ke tengah laut dan
menjelma menjadi seorang anak raksasa yang memiliki wajah buruk rupa. Dimana anak itu
memiliki gigi dan taring tajam layaknya monster. Kemudian, anak raksasa tersebut di bawa
ke khayangan oleh Bhatara Narada untuk menghadap ayahnya (Bhatara Guru). Karena
dianggap tidak memilik tata krama, yakni si anak raksasa selalu memakan anak manusia
yang ditemuinya. Ketika raksasa ini menghadap ayahnya untuk meminta makan, oleh Batara
guru diberitahukan hanya boleh memakan manusia yang berdosa atau sukerta. Atas dasar
inilah yang kemudian dicarikan solosi, yakni dengan melakukan ritual ruwatan murwakala
tersebut. Agar terhindar dari bakal calon mangsa Bhatara Kala. Menurut Ki Guno, kata
murwakala berasal dari kata purwa (asal muasal manusia). Pada lakon ini, yang menjadi titik
pandangnya adalah kesadaran atas ketidak sempurnanya diri manusia. Dimana setiap
langkahnya selalu terlibat atau rentan dengan kesalahan yang bisa mengakibatkan
timbulnya bencana atau kliru lelakon ing urip.
Sumber : https://www.timesindonesia.co.id/read/news/227170/mengenal-ritual-kuno-
ruwatan-murwakala-di-banyuwangi
Hasil Pengambilan Gambar Pada Saat Pawai Budaya SMP Negeri 5 Bojonegoro :
LAPORAN PAWAI BUDAYA
SD/SMP TAHUN 2022
NAMA ANGGOTA KELOMPOK 3:
1.MOCHAMAD NIZAR TAUFANI (20)
2.KATON ESA GIRINDRA KUSUMA (17)
“SIRNASENGKALA/RUWATAN NGRUWO KHAYANGAN API’’
Purwokolo….Kisah Bhatara kala yang turun kedunia untuk memangsa anak
manusia penanggung Sukerta.Bathara Guru mengutus seorang darang jemaat
wisnu untuk memimpin prosesi ruwatan,sehingga manusia selamat dari ancaman
Bhatarakala.
Murwokolo adalah simbol bahwa sifat angkara murka menjadi sumber kehancuran
hidup manusia yang bisa dihindari dengan mensucikan jiwa dan mendekatkan pada
Sang Maha Kuasa.
Dari cerita yang diangkat dalam kegiatan pawai budaya tersebut kita dapat
mengambil hikmah bahwasanya dengan hati yang bersih dan mendekatkan diri pada
Sang Pencipta maka kita akan memiliki budi pekerti yang baik dan akan dijauhkan
dari sifat angkara murka.
DOKUMENTASI PAWAI;
LAPORAN PAWAI BUDAYA
SD/SMP TAHUN 2022
NAMA ANGGOTA KELOMPOK 4:
1. ANDIKA DWI PUTRA (4)
2. ARMAN FIRMANSYAH (6)
3. MUHAMMAD SYAHDAN FAKHRI R (23)
4. RAFFA ADITIYA AGUS SAPUTRA (25)
Kelompok pawai budaya (SMPN 4 Bojonegoro)
TRADISI RUWATAN DENGAN SENI WAYANG
Pada suatu ketika Dewa Siwa bercengkerama dengan permaisurinya yang sangat
cantik, yaitu Dewi Uma. Mereka terbang diatas samudera dengan naik lembu
tunggangannya bernama Lembu Andhini. Di atas samudera itu Siwa melihat permaisurinya
sangat menggairahkan, sehingga timbul hasratnya untuk bersatu rasa. Tetapi Dewi Uma tidak
berkenan
dihati, maka benih Siwa jatuh di tengah lautan. Setelah masa benihnya itu berubah menjadi
makhluk, kian lama kian besar. Akhirnya menjadi raksasa besar dan sakti. la naik ke
Suralaya, tempat bersemayam
para dewa, menemui Siwa. ia bertanya siapakah yang menurunkannya dan ia minta
agar ditunjukkan manusia-manusia yang bagaimanakah yang menjadi mangsanya. Dewa
Siwa mengakui bahwa ia adalah putera Siwa sendiri, dan diberi nama
Bathara Kala. Siwa menyebutkan macam-macam manusia yang termasuk anak
sukerta. Maka Dewa Kala segera turun ke dunia untuk mencari mangsa, yaitu manusia-
manusia yang telah ditentukan baginya. Ia menuju ke Danau Madirda. Sepeninggal
Dewa Kala, Siwa sadar bahwa jumlah manusia yang disebutkan tadi terlalu banyak, apabila
tidak dihalangi mungkin manusia akan punah dari muka bumi. Dewa Wisnu kemudian
memakai nama Dalang Kandhabuana, bertugas meruwat
manusia-manusia sukerta yang ditakdirkan menjadi umpan Dewa Kala. Diceritakan, ada
seorang janda di desa Medang Kawit, bernama Sumawit.
memiliki seorang anak laki-laki. Menjelang remaja bernama Joko Jatusmati. Karena
ia anak tunggal, supaya selamat ia disuruh ibunya mandi di Danau Madirda. Setelah sampai
di danau itu ia berjumpa dengan Dewa Kala. Dewa Kala minta
kesediaan anak itu untuk dimakan, karena ia termasuk menjadi mangsanya. Sadar ada bahaya
mengancam, Joko segera melarikan diri. Sedangkan Dewa
Kala mengejar kemana saja ia pergi. Ia bersembunyi di antara orang-orang yang sedang
mendirikan rumah.
LAPORAN KEGIATAN PAWAI BUDAYA
TINGKAT SD/SMP TAHUN 2022
Nama Anggota Kelompok 5:
1.M.SULTHAN AL AZMY (18)
2.AFGAN DWI ANDIKA (01)
3.DIMAS RAMADHAN (12)
Pawai Budaya Nomor Peserta 06 Dari SMP 5 Bojonegoro Dengan tema
"Ruwatan’’
Ruwatan adalah sebuah tradisi upacara adat yang sejak dulu hingga sekarang masih
dilestarikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas. Meruwat berasal dari kata ruwat
dalam bahasa jawa, yang memiliki arti membuang sial atau menyelamatkan orang dari
gangguan tertentu. Gangguan itu bisa dikatakan sebagai kelainan dari suatu kondisi yang
umum dalam suatu keluarga maupun pada diri seseorang. Gangguan yang harus diruwat
yakni gangguan bagi seseorang yang sosial lainnya. Ruwatan bagi masyarakat jawa adalah
suatu bentuk usaha yang bertujuan agar kelak setelah menjalani ruwatan mendapatkan berkah
berupa keselamatan, kesehatan, kedamaian, ketentraman jiwa, kesejahteraan dan kebahagiaan
bagi diri sendiri secara khusus maupun bagi keluarga dalam lingkup yang lebih besar lagi.
Sejarah Ruwatan:
Diceritakan ada seorang tokoh bernama Batara Guru yang beristrikan dua orang wanita, yaitu
Pademi dan Selir.Dari Pademi ia menurunkan anak laki-laki bernama Wisnu dan dari Selir
juga menurunkan anak laki-laki bernama Batarakala.Setelah dewasa, Batarakala tumbuh
menjadi seorang yang jahat. Ia kerap mengganggu anak-anak manusia untuk
dimakannya.Konon, sifat jahat Batarakala ini disebabkan oleh hawa nafsu sang ayah, Batara
Guru yang tidak terkendalikan.Dulu, Batara Guru dan Selir sedang bercengkrama
mengelilingi samudera dengan menaiki punggung seekor lembu.Tiba-tiba, hasrat seksual
Batara Guru timbul dan ingin bersetubuh dengan istrinya. Namun, Selir menolak, sehingga
jatuhlah air mani Batara Guru ke tengah samudera.Air mani ini kemudian berubah menjelma
menjadi raksasa yang dikenal dengan nama Batara Kala.Konon katanya, Batara Kala
meminta makanan yang berwujud manusia kepada Batara Guru.Batara Guru pun
mengizinkan dengan syarat manusia yang ia makan adalah wong sukerta.Wong Sukerta
adalah orang-orang yang mendapat kesialan, contohnya anak tunggal.Oleh sebab itu, setiap
anak tunggal harus diruwat agar terhindar dari malapetaka dan kesialan.
LAPORAN PAWAI BUDAYA
SD/SMP TAHUN 2022
NAMA ANGGOTA KELOMPOK 6:
1.MELINDA AMELIA (19)
2.PARAMITA DWI AGUSTINA (23)
3.TASYA DWI WINDA (29)
4.INTAN NUR A INI (16)
PAWAI BUDAYA SMPN 5
BOJONEGORO
Pawai Budaya di Kabupaten Bojonegoro pada hari kedua, Senin (29/8/2022) berlangsung
semakin semarak dan penuh ceria. Sebanyak 26 peserta tingkat SD/MI dan SMP/MTs
memeriahkan perayaan HUT ke-77 RI. Keragaman seni dan budaya dirangkum dalam satu
kegiatan yang gegap gempita. Warga antusias menonton pawai budaya ini.
Beragam tema dibawakan oleh peserta baik di tingkat SD sederajat, maupun di tingkat SMP
sederajat. Mulai dari Kirab Pusaka Ki Andong Sari, Tari Kembang Mayang yang bernuansa
merah menggambarkan simbol Kahyangan Api, hingga melestarikan Budaya Tayub dalam
rangkaian prosesi pengantin Jawa. Juga ada yang bertema Kanjeng Soemantri.
Selain itu, juga ada peserta yang menampilkan penggambaran Panji Wayang Krucil untuk
mengenalkan pada generasi milenial dan Ruwatan Murwakala. Di tingkat SMP sederajat
beberapa di antaranya menampilkan Tirto Sumur Pitu dan Ragam Rondo Songo.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Kabupaten Bojonegoro Budiyanto
mengatakan, tujuan kegiatan untuk menggali, melestarikan seni budaya tradisional, dan
memeriahkan HUT ke-77 Republik Indonesia.
Pawai Budaya hari kedua ini mengusung tema Keberagaman Seni Budaya Tradisional
Bojonegoro. Turut serta 26 peserta dengan rincian 17 kelompok peserta dari tingkat SD/MI
dan 9 kelompok peserta dari tingkat SMP/MTs.
"Untuk pawai budaya hari kedua ini rute berubah. Mengingat hasil analisa dan evaluasi tim
keamanan kemarin. Perubahan arah rute tidak mengubah jarak tempuh," jelas Budiyanto.
Rute mulai dari Jl Mas Tumapel - Jl Imam Bonjol - Jl Kartini - Jl Teuku Umar - Jl Panglima
Sudirman - Jl MH Thamrin - Jl Mastrip - Finish Jl Imam Bonjol depan Satlantas.
Lebih lanjut, Budiyono memaparkan untuk dewan juri hari ini ada tiga orang. Di antaranya
Heri Prasetya Seniman dan Koreografer dari Jawa Timur, Budayawan dan Dosen STKW
Jawa Timur Supatmo, Seniman Muda dan Alumni STKW Jawa Timur di Bojonegoro
Supriadi.
Masih dalam kesempatan sama, Bupati Bojonegoro Anna Mu'awanah melihat pawai kedua
semakin ramai. Maka, Bupati berpesan untuk menjaga kesehatan melihat rute yang ditempuh.
"Jika kelelahan, sebaiknya jangan dipaksakan. Yang penting partisipasinya," ujar Bupati saat
sambutan sesaat sebelum pemberangkatan peserta pawai.
Bupati menuturkan, Bojonegoro memiliki sumber-sumber budaya yang perlu digali dan
dikembangkan. Dikembangkan dengan daya dukung kreatifitas artifisial, batik, hingga seni
musik.
"Kami segera menyiapkan kreatifitas anak muda yaitu Nglenyer Fashion Week yang sebentar
lagi kita laksanakan dengan beberapa tema menggali potensi batik dan tenun yang ada di
Kabupaten Bojonegoro," ucapnya.
Bupati berharap, dengan event selanjutnya ini dapat mendorong putra-putri terhadap
passionnya. Di antaranya seperti tata boga maupun di bidang busana. Sebab, seluruh potensi
itu merupakan bagian dari karakter di dalam pengembangan diri.
"Dengan mengetahui passion, mereka sudah membuat pondasi yang kuat untuk meraih masa
depan lebih baik. Mudah-mudahan Pawai Budaya berjalan lancar," imbuh Bupati.
Hadir Bupati Bojonegoro didampingi Bapak Ali Dupa, Jajaran Forkopimda, Sekda, Jajaran
Asisten dan Staf Ahli, para dewan juri, para peserta dan seluruh warga yang turut.
DOKUMENTASI;
LAPORAN PAWAI BUDAYA
SD/SMP TAHUN 2022
NAMA ANGGOTA KELOMPOK 7:
1.GALANG H.S (15)
2.SATRIA DWI N.(27)
3.GILANG EKA G.(21)
4.FERDYO NAUFAL M.(13)
PAWAI BUDAYA SMAN 4 BOJONEGORO
Asal usul kanyangan api
Menurut cerita warga dulu terdapat seorang pembuat benda pusaka Kerajaan Majapahit
bernama Mbah Kriyo Kusumo. Setelah bertahun-tahun membuat benda pusaka di
perkampungan, Mbah Kriyo Kusumo kemudian bertapa dan tirakat di tengah hutan. Dia
membawa api dan menyalakannya di bebatuan, tepat di sebelah tempatnya bersemedi. Api
itulah yang menyala hingga saat ini dan menjadi cikal bakal Kayangan Api di Kota
Bojonegoro. Selain ada Kayangan Api di sebelah barat sumber api terdapat kubangan lumpur
yang
berbau belerang yang biasa di sebut warga Sumur Blekutuk. Menurut kepercayaan saat
itu Mbah Kriyo Kusumo masih beraktivitas sebagai pembuat alat-alat pertanian dan
pusaka seperti keris, tombak, cundrik dan lain-lain. Mbah Kriyo Kusumo atau Empu Supa
atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah
Pande yang berasal dari Kerajaan Majapahit. Ada bukti historis penting yang menguatkan
kahyangan api dengan ditemukannnya 17 lempeng tembaga yang berangka 1223 / 1301
Masehi. Penemuan prasati di Desa Mayangrejo, Kecamatan Kalitidu pada 12 Maret 1992
tersebut, berbahasa Jawa Kuno yang menurut penelitian berasal pada zaman Raja Majapahit I
yakni, Kertarajasa Jaya Wardhana. Isi dari prasasti tersebut, adalah pembebasan desa
Adan-adan dari kewajiban membayar pajak dan juga ditetapkannya daerah tersebut
sebagai sebuah sima perdikan atau swantantra. Penghargaan ini diberikan oleh Raden Wijaya
terhadap salah satu rajarsi (pungawa, red)
atas jasa dan pengabdiannya yang besar terhadap Kerajaan Majapahit saat itu. Dan
rajarsi tersebut tidak lain adalah Empu Supa yang lebih masyur dengan sebuatan Mbah
Pande. Menurut cerita, api tersebut hanya boleh diambil jika ada upacara penting seperti yang
telah dilakukan pada masa lalu, seperti upacara Jumenengan Ngarsodalem Hamengku
Buwono X dan untuk mengambil api melalui suatu prasyarat yakni selamatan atau
wilujengan dan tayuban dengan gending eling-eling, wani-wani dan gunungsari yang
merupakan gending kesukaan Mbah Kriyo Kusumo. Oleh sebab itu ketika gending
tersebut dialunkan dan ditarikan oleh waranggono atau penembang macapatan, tidak
boleh ditemani oleh siapapun. Kepercayaan tersebut, dipegang teguh oleh masyarakat
Bojonegoro. Ini terbukti, pada