PROSIDING SEMINAR
SENI PERTUNJUKAN BERBASIS
KEARIFAN LOKAL
Penulis :
R. Chairul Slamet
Pande Made Sukerta
Martinus Miroto
Nengah Bawa Atmadja
I Nyoman Sedana
KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN
PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA
INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR
FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN
DENPASAR, BALI
PROSIDING SEMINAR
“SENI PERTUNJUKAN BERBASIS
KEARIFAN LOKAL”
Penulis :
R. Chairul Slamet
Pande Made Sukerta
Martinus Miroto
Nengah Bawa Atmadja
I Nyoman Sedana
ISBN : 978-602-73711-0-1
Editor :
I Nyoman Sedana
Penyunting :
Rinto Widyarto
Desain Sampul dan Tata Letak
Dedi Gusman
Penerbit
Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar, Bali
Produksi :
Jl. Nusa Indah No. 8
Denpasar Timur, 80235
Telp. 0361 - 227316
Fax. 0361 – 233100
Email : [email protected]
Distributor Tunggal :
Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar, Bali
Jl. Nusa Indah No. 8
Denpasar Timur, 80235
Telp. 0361 - 227316
Fax. 0361 – 233100
Email : [email protected]
Cetakan pertama, Oktober 2016
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara
apapun tanpa izin tertulis dari penerbit
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMER 19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA
Lingkup Hak Cipta
Pasal 2 :
1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi pencipta atau pemegang Hak cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptannya, yang timbul
secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ketentuan Pidana
Pasal 72 :
1. Barang siapa dengan sengaja atau tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) atau pasal 29 ayat (1) dan (2)
dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah),
atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00 (Lima milyar rupiah).
2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil
pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah).
ii
KATA PENGANTAR
Prosiding ini diterbitkan untuk memberikan informasi secara umum kepada para
peserta seminar, nara sumber serta panitia pelaksana kegiatan seminar ini, sebagai
petunjuk atau penyelenggaraan agar pelaksanaan seminar berlangsung sesuai dengan
ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Seminar ini.
Pentingnya Seminar ini, maka perlu diberikan penjelasan tentang latar belakang,
tujuan, pendekatan, dan materi kegiatan, kepanitian, jadwal kegiatan, peserta dan lain-lain
yang terkait dengan pelaksanaan seminar seni pertunjukan. Oleh karena itu, hal-hal yang
belum diatur serta masalah yang timbul dalam penyelenggaraan seminar ini dapat
diselesaikan pada saat kegiatan seminar berlangsung. Kami sangat berharap semua peserta
dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik sesuai dengan jadwal yang dirancang agar tujuan
dan hasil yang diperoleh dari seminar ini dapat memberikan sumbangan yang berharga
untuk memperlancar pelaksanaan kegiatan tahunan dari Fakultas Seni Pertunjukan,
sebagai langkah kebijakan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Kementerian Riset
Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia untuk pengembangan pendidikan
kesenian di Indonesia. Selanjutnya prosiding ini menjadi sangat penting bagi dokumentasi
ilmiah para peserta Seminar khususnya dan Fakultas Seni Pertunjukan, untuk itu langkah
awal penerbitan prosiding diupayakan oleh Fakultas Seni Pertunjukan agar dapat terwujud.
Demikian semoga prosiding ini dapat bermanfaat bagi para ilmuwan dan pembaca
sekalian.
Penanggung jawab,
I Wayan Suharta
iii
DAFTAR ISI iii
iv
KATA PENGANTAR vi
DAFTAR ISI viii
PENGANTAR EDITOR xi
RUMUSAN HASIL SEMINAR NASIONAL
LAPORAN KETUA PANITIA PENYELENGGARA 1
7
MAKALAH UTAMA 13
18
1. Ensemble Etnik Nusantara Sebagai Rintisan Identitas 34
Pengembangan Musik Nasional
R. Chairul Slamet 49
58
2. Seni Pertunjukan Berbasis Riset 66
Pande Made Sukerta 74
Penciptaan Seni Berbasis Riset
Martinus Miroto 78
89
3. Seni Pertunjukan Berbasis Kearifan Lokal 102
(Perspektif Kajian Budaya) 112
Nengah Bawa Atmadja 116
4. Teori Cipta Seni Konseptual
I Nyoman Sedana
MAKALAH PENDAMPING
1. Seni Pertunjukan Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal
“Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Pengkemasan Seni
Pertunjukan pariwisata”
Ida Ayu Trisnawati
2. Membongkar Ideologi di Balik Pertunjukan Tari Sesandaran
di Desa Adat Tanjung Benoa, Bali
Ni Made Ruastiti
3. Seni Pertunjukan dalam Dinamika Global Lokal: Panggung
Pertunjukan Pertama di Bali, Sebuah Desain Hibrid
I Gede Mugi Raharja
4. Stereotip Pertunjukan Joged Bumbung di Bali
I Wayan Winaja
5. Revitalisasi Musik Tradisional Sasak:
Menghidupkan Kembali Nilai-Nilai Kearifan Lokal
di Era Globalisasi
I Gede Yudarta
6. Revitalisasi Kearifan Lokal dalam Pusaran Arus Globalisasi :
Studi Kasus Geliat Musik Mandolin "Bungsil Gading"
I Komang Sudirga
7. Bali Agung: The Legend of Balinese Goddesses Sebuah Seni
Pertunjukan Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal
I Gde Made Indra Sadguna
8. Pendidikan Karakter dalam Seni Pertunjukan
Ni Ketut Dewi Yulianti
9. Seni Pertunjukan Wayang dalam Dinamika Global-Lokal
I Dewa Ketut Wicaksana
iv
10. Pengembangan Perangkat Pembelajaran 126
Cerita Rakyat Bali Untuk Penunjang 141
Pengembangan Moral dan Nilai Agama Anak Usia Dini 154
I Kadek Widnyana 165
173
11. Wayang Kulit Bali di Era Global: Kasus Tayangan 182
Wayang Cenk Blonk di Stasiun Dewata-TV 197
I Made Marajaya
12. Dari "Gegendingan" Kemusik Pop Bali Sampai
Lagu Pop Daerah Bali Gaya Pkb
Ni Wayan Ardini
13. Bali Fusion Pop Musik
I Wayan Sudirana
14. Pendidikan Seni Bermutu Berbasis Kearifan Lokal: Monolog
Cerita Rakyat pada Dramaturgi Perfilman
Ni Wy. Suratni, Nyoman Lia Susanthi
15. Localgenius Knowledge Seni Tradisi Bali Sebagai Sumber Belajar
di Sekolah Dasar
Ni Luh Sustiawati, Ni Ketut Suryatini, Anak Agung Ayu Mayun Artati
16. Tari Penyambutan Dalam Industri Budaya:
Sebuah Representasi Identitas
I Gusti Ngurah Seramasara
v
PENGANTAR EDITOR
PROSIDING SEMINAR NASIONAL
Puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
limpahan rakhmatNya Prosiding Seminar Nasional bertajuk Seni Pertunjukan Berbasis Kearifan
Lokal ini dapat dipersembahkan. Seminarnya sendiri telah diselenggarakan oleh Fakultas Seni
Pertunjukan (FSP) ISI Denpasar di Gedung Cita Kelangen lantai 2 ISI Denpasar pada hari Senin
tanggal 17 Oktober 2016. Renstra ISI Denpasar 2015-2019 telah mengamanatkan terselenggaranya
seminar tingkat nasional dan internasional sebagai salah satu indikator kinerja. Oleh karena itu,
seminar tingkat internasional beserta prosidingnya juga diharapkan segera menyusul.
Lima makalah utama dan enam belas makalah pendamping dalam prosiding ini telah dibahas
oleh peserta seminar nasional berjumlah total 145 orang, meliputi seluruh dosen Fakultas Seni
Pertunjukan ISI Denpasar, sebagian Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar, Fakultas Sastra
UNUD Denpasar, UNHI Denpasar, Fakultas Dharma Acarya IHDN Denpasar, IKIP PGRI Bali,
ditambah Mahasiswa FSP dan FSRD ISI Denpasar serta Karyasiswa S2 ISI Denpasar. Pemilihan
tema dan topik seminar ini dilandasi oleh visi FSP untuk menjadi pusat unggulan seni pertunjukan
berbasis nilai-nilai kearifan lokal dan berwawasan universal. Visi tersebut diaktifkan ke dalam
delapan topik untuk dikembangkan oleh para pemakalah sebagai berikut:
1) Seni Pertunjukan Berbasis Riset;
2) Pendidikan Seni Bermutu Berbasis Kearifan Lokal;
3) Kolaborasi Seni Pertunjukan Nusantara;
4) Desakraliasi Seni Pertunjukan Bali;
5) Hak Cipta Seni Pertunjukan Berbasis Kearifan Lokal;
6) Seni Pertunjukan Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal;
7) Seni Pertunjukan dalam Dinamika Global-Lokal;
8) Dampak Ekonomi, Teknologi, dan Budaya Baru dalam Kajian dan Ciptaan Seni
Pertunjukan.
Sebelum enam belas makalah pendamping menyusul secara kronologis, mulai dari prodi Tari,
Karawitan, Pedalangan, Musik, dan Sendratasik, tampilan prosiding ini diawali dengan lima
makalah dari lima pembicara utama, yakni:
1) Drs.Chairul Slamet, M.Sn (Dosen ISI Yogyakarta);
2) Prof. Dr. Pande Made Sukerta, S.Kar (Guru Besar ISI Surakarta);
3) Dr. Martinus Miroto, M.FA (Dosen ISI Yogyakarta);
4) Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, MA (Guru Besar Undhiksa Singaraja); dan
5) Prof. DR. I Nyoman Sedana, MA (Guru Besar ISI Denpasar)
Seminar dan prosiding kali ini tidak hanya menghasilkan konsep, metode, model yang
memperkaya ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni pertunjukan, tetapi satu hal yang tampak
spesial dan prestisius adalah buat pertama kalinya dipresentasikan Teori Cipta Seni berbasis
kearifan budaya nusantara dan kosmologi wayang. Dalam teori ini puluhan-puluhan konsep
bersinergi membentuk satu sistem ide terorganisir yang dapat menjelaskan gejala / fenomena,
keterkaitan aneka variable cipta seni secara mendalam dan komprehensif. Variable-variable cipta
seni yang dimaksud mulai dari sumber penciptaannya (berkembang dari unsur mata pencaharian),
sastranya (dari unsur budaya pengetahuan), komposisi (dari unsur organisasi sosial), produk (dari
unsur teknologi), fungsi (dari unsur ekonomi), makna (dari unsur spiritual), dedikasi (dari unsur
kesehatan), eksistensi (dari unsur seni), hingga ilmu dan nilai cipta seninya (dari unsur budaya
pendidikan). Atas interelasi nyata di antara konsep-konsepnya, teori Cipta Seni ini bisa digunakan
oleh pencipta dan pengkaji seni dalam karya tulisnya sebagai fondasi untuk membangun
prediksi/hipotesis dan sebagai kerangka dasar menyusun-kembangkan analisis, baik sebagian
ataupun seluruhnya. Mengingat hakikat seni memang lebih imaginatif dari pada logis, maka Teori
Cipta Seni ini berbasis kosmologi metafisik, meskipun struktur konfigurasi dan sifat-sifat
vi
keindahan ilahi yang tersebar harmonis di sekitar inti kosmologi persis menyerupai cara fisikawan
melukiskan delapan orbit elektron yang selalu bergerak di sekitar nucleus Atom. Penggambaran
atribut Bhatara Guru sama dengan partikel Atom yang mengejawantah di segala lini. Proton dan
neutron yang selalu nempel pada inti Atom persis merepresentasikan ilmu dan nilai cipta seni yang
selalu nempel pada sentral kosmologi. Akhirnya editor mengucapkan terima kasih kepada
Pimpinan, Panitia, dua puluh satu presenter, beserta ratusan peserta seminar atas kerjasama yang
baik. Berbagai kritik dan saran bagi peningkatan kwalitas karya akademik ini sangat diapresiasi dan
mohon maaf bila ada yang kurang berkenan. Semoga prosiding ini ada gunanya!
Denpasar, 28 Oktober 2016
Editor Prosiding
tdd
Prof. DR. I Nyoman Sedana, MA.
Formulator Teori Cipta Seni, Teori Seni Ripta, dan Teori Seni Widya Filsafat
vii
RUMUSAN HASIL SEMINAR NASIONAL
Dari paparan para pembicara dapat dirangkum beberapa hal pokok sebagai berikut:
1. Makalah dengan judul “Ensemble Etnik Nusantara Sebagai Rintisan Identitas
Pengembangan Musik Nasional” oleh R. Chairul Slamet
Ensemble etnik nusantara memiliki spirit yang tak akan pernah terbunuh, melainkan
tumbuh dalam suatu proses budaya yang terus menerus dalam bentuk konvensi, transformasi,
konflik, inovasi, bahkan anarki dan sebagainya. Ensemble etnik nusantara juga merupakan proses
dan hasil pewarisan budaya yang tidak dimaknai sebagai benda yang harus dielus-elus, tetapi
sebuah proses penerimaan, penolakan serta perubahan sesuai dengan kondisi kekinian dan
kedisinian. Kemunculan karya tradisi baru merupakan respon terhadap berkembangnya peradaban
dan mempunyai konsekuensi logis terhadap produk budaya saat ini dan mendatang. Orisinalitas
hasil olah intuisi tetap mengusung unsur local jenius yang menjadi identitas dari masing-masing
etnis nusantara. Contoh aplikasinya terlihat dalam Gangsadewa, salah satu komunitas musik etnis
kontemporer yang mewadahi berbagai ragam bunyi tradisi dari multi instrumen nusantara.
Gangsadewa sangat kompeten dalam mengangkat potensi aspek ragam bunyi nusantara dan
sebagai media ekspresi serta perintisan identitas musik nasional dengan spirit kekinian yang
berorientasi global, dengan tujuan menciptakan identitas nasional dengan skala internasional.
Kesadaran estetik dalam formasi timnya menjadi frame work untuk menghasilkan sebuah
bangunan kompositorik berbasis musik tradisi lintas etnis nusantara. Melalui Gangsadewa kita
diajak untuk tampil dengn identitas kenusantaraan sebagai representasi idealisme serta
kepribadiaan insan seni Indonesia di kancah musik dunia.
2. Makalah dengan judul “Seni Pertunjukan Berbasis Riset” oleh Pande Made Sukerta
Penciptaan karya seni bagaimanapun sederhananya dan siapapun penciptanya tindakan
riset selalu dilakukan. Riset, baik dalam konteks kajian maupun penciptaan karya seni perinsipnya
sama, hanya sudut pandang dan keperuntukannya yang berbeda. Tindakan riset dalam konteks
kajian adalah merumuskan masalah, kemudian melakukan deskripsi dan analisis masalah yang
diteliti yang pada akhirnya menghasilkan simpulan dan temuan. Tindakan riset dalam konteks
penciptaan karya seni, tidak ada masalah yang dibahas dan dianalisis, tetapi hasil penelitiannya
akan digunakan sebagai obyek imajinasi yang akan digunakan untuk mewujudkan sebuah karya
seni. Untuk memperoleh data baik riset dalam konteks kajian maupun penciptaan karya seni
menggunakan cara observasi, wawancara, dan studi kepustakaan dan/atau dokumen. Penciptaan
karya yang melalui riset dapat berbentuk penggalian, pengembangan, penciptaan karya baru yang
dapat bersumber dari berbagai fenomena, yaitu: musikal, sosial, budaya, dan sumber lain di
antaranya instrumen (khusus musik). Riset merupakan bagian dari proses yang dilakukan pada
awal dan tengah penggarapan karya seni. Aplikasi riset dalam proses mencipta karya seni,
dilakukan pada bagian awal dan tengah pada saat proses penciptaan. Hasil riset yang dilakukan
pada bagian awal digunakan untuk mewujudkan gagasan isi, dan riset pada bagian tengah
dilakukan pada saat proses penggarapan karya seni. Karya seni yang dipertunjukan adalah hasil
riset dari pencipta atau penyusunnya.
3. Makalah dengan judul “Seni Pertunjukan Berbasis Kearifan Lokal (Perspektif Kajian
Budaya)” oleh Nengah Bawa Atmadja.
Seni pertunjukan tidak dapat dilihat hanya sebagai pentas nilai seni, tetapi bisa pula
dipandang sebagai pentas ideologi, nilai-nilai dan/atau kearifan lokal sebagai penjabaran
fungsional dan aspek pragmatisnya. Apapun makna pertunjukan selalu melibatkan subjek yang
menonton, dan objek yang ditonton – agen yang melakukan tindakan kepenontonan, yakni seni
pertunjukan. Hubungan antara penonton dan objek kepenontonan terjalin dalam tindakan
komunikasi, yakni Siapa? Mengatakan apa? Melalui saluran apa? Kepada siapa? Dengan efek
viii
seperti apa?. Seni pertunjukan sebagai media komunikasi yang berlangsung melalui proses
exchange of meaning memiliki titik temu dengan ide Kajian Budaya tentang agensi. Titik temu ini
mengakibatkan seni pertunjukan dapat dikaji melalui pendekatan Kajian Budaya. Seni pertunjukan
dan penonton sebagai konsumennya selalu terikat pada sistem sosiokultural yang terdiri dari tiga
komponen dasar yakni: superstruktur ideologi, struktur sosial, dan infrastruktur material. Ada
enam peran seni pertunjukan dalam pelestarian sistem sosiokultural, yakni: sebagai pembentuk,
sebagai cermin, sebagai pengemas, sebagai guru, sebagai ritual, dan sebagai “Tuhan”. Pandangan
seni untuk seni, atau pergelaran demi kenikmatan cita rasa (estetika) semata, tidak sepenuhnya
benar, sebab seni terkait dengan bidang sosial, politik, ekonomi, bahkan religio-spiritual. “Seni
membuat kita „melihat‟ sifat-sifat ideologi, dan dengan demikian membawa kita pada pemahaman
yang lebih menyeluruh tentang ideologi”. Manusia bukanlah makhluk statis, melainkan dinamis,
berubah menurut zaman dan kebudayaannya. Kesenian sebagai modal kultural dan/atau modal
simbolik secara mudah dialihkan menjadi modal ekonomi guna menjaga kelangsungan hidup
sistem ekonomi pariwisata. Pencipataan seni bagi pariwisata memang penting, namun jauh lebih
penting jika seni diciptakan bagi sistem ekonomi subsistensi.
Gejala ini merupakan tantangan bagi para seniman agar seni pertunjukan yang diciptakan
mampu merangkul sebanyak mungkin kelompok sosial dan/atau kelas sosial sehingga daya
ekonomi subsistensinya menjadi lebih tinggi. Seni dapat digunakan sebagai media untuk
membatinkan kearifan lokal yang bersumberkan pada superstruktur ideologi. Muncul gagasan agar
seni pertunjukan tidak hanya menghibur, tetapi memiliki pula ciri transformatif. (Re-) Interpretasi
dan (re-) kontekstualisasi terhadap kearifan lokal dapat dituangkan dalam seni pertunjukan –
sesuai dengan peran media sebagai pembentuk dan guru. Sasarannya, tidak hanya mewariskan
kearifan lokal, melainkan apabila perlu ada aspek transformatif emansipatifnya. Seni pertunjukan
transformatif terikat pada dua aspek, yakni mengekang dan membebaskan. Dewi Saraswati sebagai
Dewi (Ilmu) Pengetahuan dan Dewi Komunikasi Hindu. Tindakan komunikasi paling dasar adalah
memakai kata-kata. kata-kata merupakan esensi dari komunikasi. seni pertunjukan termasuk
dalam lingkup komunikasi, yakni sarana/media komunikasi (tradisional) dalam konteks
penyampaian suatu pesan dengan harapan, tidak semata-mata berefek rekreatif, tetapi juga efek
lain misalnya pendidikan. secara denotatif dan konotatif Saraswati sebagai Dewi Komunikasi Hindu
= Dewi Seni Pertunjukan. Hindu secara holitik integralistik memuat habitus bagi mengembangkam
seni pertunjukan sebagai tontonan dan tuntunan, termasuk di dalamnya peran transformatif
emansipatif. Sasaran, menjadikan karya seni tetap terikat pada cita-cita ideal, yakni masyarakat
yang hamonis secara sosial, ekologis, dan teologis.
4. Makalah dengan judul “Penciptaan Seni Berbasis Riset” oleh Martinus Miroto.
Penciptaan seni berbasis riset yang difokuskan pada karakteristik khusus bidang penciptaan
seni pada dunia tari disebut Penelitian Penciptaan Tari. Penelitian Penciptaan Tari merupakan
gabungan atas penelitian kualitatif, praktik koreografi, practice-based research, dan practice-led
research dengan tujuan memproduksi pengetahuan di bidang praktik tari. Hans Hedberg, Dekan
Fakultas Seni Murni, Universitas Gothenberg menyatakan bahwa dalam penelitian artistik seniman
menciptakan karya seni dan meneliti proses kreatif sehingga menambahkan akumulasi
pengetahuan. Mika Hannula dalam Artistic Research: theories, methods and practices menyatakan
bahwa artistic research merupakan perpaduan penelitian kualitatif dan karakteristik khusus
praktek artistik. Pada bidang penciptaan tari, komponen eksperimen dan eksperien terdapat dalam
koreografi. Koreografi, dalam konteks tari kontemporer, melibatkan aktivitas bereksperimen
melalui tindakan improvisasi untuk menuju komposisi. improvisasi dan koreografi merupakan satu
kesatuan dalam proses berkarya tari. Koreografi juga mengandung komponen pengalaman, bahwa
melalui pengalaman ekspresif, yang memerlukan perasaan, penjelasan, dan pernyataan diri, tari
memberikan koreografer suatu perasaan relasi harmoni dan integrasi diri dengan dunia. Sebagai
aktivitas kreatif, tari dapat menghubungkan individu dengan lingkungannya dengan cara yang unik
ix
dan sangat personal. Eksperimen dan eksperien dalam praktik penciptaan tari merupakan modal
khusus yang menjadi landasan dalam suatu penelitian penciptaan tari. Koreografer-peneliti perlu
menyesuaikan diri dengan lingkungan akademis tanpa harus kehilangan keunikan-keunikan
pribadi sebagai seniman tari. Artistic reseach memiliki maksud dan tujuan sangat luas antara lain:
pemroduksian informasi, pengembangan metode, pengembangan pengertian, penginterpretasian
karya seni, pemroduksian pengetahuan, analisis kritis atas seni, pemikiran kembali peran seniman
dalam konteks sosial. Secara faktual, seniman tari (penari, koreografer, sutradara teater tari) dapat
menghasilkan karya seni, metode penciptaan, teknik tari, metode pembelajaran tari, dll.
Pengetahuan yang didasari oleh ciptaan karya seni menghasilkan informasi, pemahaman, teori,
kritik, analisis, pemikiran, dan sebagainya, sedangkan pengetahuan yang didasari oleh pengalaman
panjang dalam berkesenian yang menghasilkan pemahaman baru tentang praktik seperti metode,
teknik, dan model. Penelitian penciptaan tari mempraktikkan metode penelitian penciptaan yang
ilmiah dan alamiah. Tantangan perguruan tinggi seni Indonesia adalah diperlukannya metode
penelitian penciptaan seni yang sesuai dengan budaya, sejarah, dan fakta kekinian Indonesia.
Seminar Nasional Seni Pertunjukan Fakultas Seni Pertunjukan dengan tema Seni
Pertunjukan Unsnggul Berbasis Kearifan Lokal Berwawasan Nasional dapat dirumuskan sebagai
berikut. Ensemble musik etnik nusantara merupakan pewarisan budaya yang tidak pernah
terbunuh oleh jaman. Proses budaya terus menerus dilakukan dalam bentuk konvensi,
transformasi, konflik, inovasi bahkan anarkis sesuai dengan kondisi kekinian-kedisinian.
Orisinalitas hasil olah intuisi mengusung unsur lakl jgenius merupakan respon berkembangnya
peradaban saat ini dan mendatang. Gangsadewa, salah satu komunitas musik etnis kontemporer
sangat kompeten mengangkat aspek ragam bunyi nusantara serta perintisan identitas musik
nasional dengan spirit kekinian yang berorientasi global. Melalui gangsadewa kita tampil dengan
identitas kenusantaraan sebagai representasi idealism serta kepribadian insane seni Indonesia
dengan kesadaran estetik dalam kancah musik dunia. Penciptaan karya seni membutuhkan riset
dalam konteks merumuskan masalah, melakukan deskripsi dan analisis masalah yang pada
akhirnya menghasilkan simpulan dan temuan. Tindakan riset dalam konteks penciptaan tidak ada
masalah yang dibahas dan dianalisis, tetapi penulitiannya akan digunakan sebagai objek imajinasi
untuk mewujudkan sebuah karya seni. Data dalam konteks penciptaan maupun kajian digunakan
cara observasi, wawancara, dan studi kepustakaan atau dokumen. Penciptaan bisa dalam bentuk
penggalian, pengembangan, penciptaan karya baru yang bersumber dari berbagai fenomena. Karya
seni yang dipertunjukkan adalah hasil riset dari penciptaan atau penyusunnya.
5. Makalah dengan judul “Teori Cipta Seni Konseptual” oleh I Nyoman Sedana.
Pengkajian yang otentik dan validterhadap Seni Budaya Nusantara semestinya berdasarkan
kerangka teori seni dan metode yang tumbuh dari lingkungan geografi bersangkutan. Teori
penciptaan dan pengkajian seni yang kredibel bagi PT Seni harus mengandung sistem ide yang
sedikitnya memiliki tiga kegunaan: (1) sebagai landasan membuat prediksi atau hipotesis, (2)
sebagai kerangka menyusun analisis atau argumentasi, dan (3) memiliki kesatuan konsep yang
mampu menjelaskan variable-variable cipta seni yang terorganisir lengkap dan mendalam, yakni:
sumber cipta seni,sastra, komposisi, produk cipta, fungsi, makna cipta seni, dedikasi, dan eksistensi
ciptaan yang mengandung ilmu serta nilai cipta seni. Teori Cipta Seni meliputi-dan-diliputi oleh
teori Seni Ripta Kawi Dalang dan teori Widya Filsafat. dalam berbagai karya tulis ilmiah
penggunaan konsep-konsep seni lokal, termasuk Seni Ripta, Kawi Dalang, Seni Widya dan Filsafat,
beserta metode Sasmita (yang meliputi semita, isyarat, tanda, alamat) dan sejenisnya, masih lebih
banyak diabaikan daripada digunakan. Di bidang ilmu teater tradisi, Seni Ripta Kawi Dalang yang
meliput-dan-diliputi oleh Seni Cipta Konseptual sertaSeni Widya dan Filsafat semakin terkubur
oleh kecendrungan memuja estetika barat hingga saat ini. Penggunaan teori yang tidak relevan
malahan bisa menjauhkan pencipta seni dari karya seninya sendiri. Membandingkan, baru
kemudian memilih konsep yang lebih relevan kiranya jalan yang harus ditempuh. Epistemologi:
x
Jiwa dan Badan Seniman Representasi Dewa dan Bumi. Cipta Seni Konseptual, Seni Ripta Kawi
Dalang, Seni Widya dan Filsafat sedikitnya ditopang oleh lima jalur penalaran epistemologi yaitu
inspirasi alam imaginasi keindahan, deklarator rasa dan bhawa, tuntunan Tatwa,
formulasi mitologi, dan perayaan ritual.
Om Suasti Astu.
Yth: Bapak Rektor beserta jajaran
Bapak Dekan beserta jajaran
Para Narasumber
Para peserta Seminar.
Ijinkan kami membacakan rumusan hasil seminar Nasional Seni Pertunjukan Fakultas Seni
Pertunjukan dengan tema Seni Pertunjukan Unggul Berbasis Kearifan Lokal Berwawasan Nasional
sebagai berikut.
1. Ensemble musik etnik nusantara merupakan pewarisan budaya yang tidak pernah
terbunuh oleh jaman. Proses budaya terus menerus dilakukan dalam bentuk konvensi,
transformasi, konflik, inovasi bahkan anarkis sesuai dengan kondisi kekinian-kedisinian.
2. Orisinalitas hasil olah intuisi mengusung unsur lakl jgenius merupakan respon
berkembangnya peradaban saat ini dan mendatang.
3. Gangsadewa, salah satu komunitas musik etnis kontemporer sangat kompeten mengangkat
aspek ragam bunyi nusantara serta perintisan identitas musik nasional dengan spirit
kekinian yang berorientasi global.
4. Melalui gangsadewa kita tampil dengan identitas kenusantaraan sebagai representasi
idealism serta kepribadian insane seni Indonesia dengan kesadaran estetik dalam kancah
musik dunia.
5. Penciptaan karya seni membutuhkan riset dalam konteks merumuskan masalah, melakukan
deskripsi dan analisis masalah yang pada akhirnya menghasilkan simpulan dan temuan.
Tindakan riset dalam konteks penciptaan tidak ada masalah yang dibahas dan dianalisis,
tetapi penulitiannya akan digunakan sebagai objek imajinasi untuk mewujudkan sebuah
karya seni.
6. Data dalam konteks penciptaan maupun kajian digunakan cara observasi, wawancara, dan
studi kepustakaan atau dokumen.
7. Penciptaan bisa dalam bentuk penggalian, pengembangan, penciptaan karya baru yang
bersumber dari berbagai fenomena.
8. Karya seni yang dipertunjukkan adalah hasil riset dari penciptaan atau penyusunnya.
9. Seni Pertunjukan tidak dapat dilihat hanya sebagai penats nilai seni, tetapi harus dilihat
sebagai pentas ideologi yang melibatkan penonton dan yang ditonton.
10. Hubungan antara penonton dan yang ditonton terjalin dalam tindakan komunikatif melalui
proses exchange of meaning, memiliki titik temu sehingga pertunjukan dapat dikaji melalui
pendekatan kajian budaya.
11. Penonton sebagai konsumen terikat pada tiga komponen dasar: superstruktur ideologi,
struktur sosial dan infrastruktur material.
12. Pandangan seni untuk seni , atau pergelaran demi kenikmatan cita rasa (estetika) semata
tidak sepenuhnya benar, karena seni terkait dengan bidang sosial, politik, ekonomi, bahkan
religio-spiritual. Melalui seni kita dapat melihat sifat-sifat ideologi secara menyeluruh.
13. Penciptaan seni sebagai pariwisata memang penting, tetapi lebih penting jika diciptakan
bagi sistem ekonomi subsistensi. Gejala itu merupakan tantangan bagi seniman agar seni
pertunjukan yang diciptakan mampu merangkul kelompok sosial agar daya ekonomi
subsistensi menjadi lebih tinggi.
xi
14. (Re-)Interpretasi dan (re-)kontekstualisasi terhadap seni sebagai kearifan lokal dapat
dituangkan dalam seni pertunjukan sesuai dengan peran media yang sasarannya tidak
hanya mewariskan kearifan lokal, tetapi transformatif-emansipatif.
15. Tindakan komunikasi paling dasar adalah memakai kata-kata sebagai esensi dari
komunikasi. Seni pertunjukan dalam lingkup komunikasi adalah komunikasi tradisional
dalam konteks penyampaian pesan dengan harapan memiliki efek pendidikan.
16. Secara denotatif dan konotatis Saraswati sebagai dewi komunikasi Hindu adalah dewi seni
pertunjukan.
17. Penciptaan seni berbasis riset yang difokuskan pada penciptaan tari merupakan gabungan
penelitian kualitatif, praktek koreografi, practice-based research, dan practice-led reaserch
dengan tujuan memproduksi pengetahuan di bidang praktek tari.
18. Dalam penelitian artistik, menciptakan karya seni dan meneliti proses kreatif dapat
menambah akumulasi pengetahuan. ArtisticReaserch merupakan perpaduan penelitian
kualitatif dan karakteristik praktek artistik.
19. Koreografi dalam konteks tari komtemporer, eksperimen dan eksperien akan selalu melalui
tindakan improvisasi menuju komposisi. Improvisasi dan koreografi merupakan satu
kesatuan dalam berkarya tari.
20. Sebagai aktivitas kreatif tari dapat menghubungkan individu dengan lingkungannya dengan
cara yang unik faktual dan sangat personal.
21. Kreografer perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan akademis tanpa harus kehilangan
keunika-keunikan pribadi sebagai seniman tari.
22. Secara factual seniman tari dapat menghasilkan karya seni, metode penciptaan, teknik tari
dan lain-lainnya.
23. Penelitian penciptaan tari mempraktekkan metode penciptaan yang ilmiah dan alamiah,
merupakan tantangan perguruan tinggi seni di Indonesia untuk menghasilkan metode
penelitian penciptaan seni sesuai dengan budaya, sejarah, dan fakta kekinian di Indonesia.
24. Pengkajian dan penciptaan seni yang otentik semestinya berdasarkan kerangka teori seni
dan metode yang tumbuh di lingkungan geografi yang bersangkutan.
25. Teori penciptaan dan pengkajian seni sedikitnya memiliki tiga kegunaan: seabagai landasan
membuat prediksi atau hipotesis, sebagai kerangka menyusun analisis, dan mampu
menjelaskan variabel-variabel cipta seni.
26. Teori cipta seni meliputi Ripta Kawi Dalang dan Widya Filsafat. Dalam teater tradisi Ripta
Kawi Dalang yang meliputi cipta komseptual, widya, dan filsafat semakin kabur karena
kecendrungan seni teater memuja estetika barat hingga saat ini.
27. Penggunaan teori yang tidak relevan malahan bisa menjauhkan pencipta seni dari karya
seninya sendiri karena epistemology (jiwa dan badan seniman merupakan representasi
dewa dan bumi).
28. Lima jalur penalaran epistemology yaitu: insfirasi alam imajinansi keindahan, deklarator
rasa dan bawa, tuntunan tatwa, formulasi mitologi, dan perayaan ritual.
Dekmikianlah beberapa rumusan hasil seminar dengan tema Seni Pertunjukan Unggul Berbasis
Kearifan Lokal Berwawasan Universal yang disampaikan dalam forum ini, semoga dapat digunakan
sebagaimana mestinya. Akhirnya kami tutup dengan pramasanti Om Santi Santi Santi Om.
Tim Perumus
xii
LAPORAN KETUA PANITIA PENYELENGGARA
SEMINAR NASIONAL SENI PERTUNJUKAN, FSP ISI DENPASAR
Gedung Citta Kelangen, Senin 17 Oktober 2016
Om Swastyastu, Asallam walaikum waramatulai wabarakato, Syalam Sejahtera, Namo Budaya,
dan Selamat Pagi……
Yang terhormat, Bp. Rektor ISI Denpasar (dalam hal ini diwakili oleh Bp. WR I), beserta WR II, III,
& IV;
Yang saya hormati, Bp. Dekan FSP ISI Dps, beserta rekan WD II, dan III;
Yang saya hormati, Ibu Dekan FSRD ISI Dps, beserta rekan WDI,II, dan III;
Yang saya hormati, Bp. Biro B.A.A.K.K, dan Bp. Biro B.A.U.K ISI Dps;
Yang saya hormati, Ketua, Sekretaris, dan Lab. Jurusan/Program Studi Tari, Seni Karawitan, Seni
Pedalangan, Pendidikan Sendratasik, dan Musik di FSP ISI Dps;
Yang saya hormati, Bp/Ibu Narasumber dan Pemakalah dari ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, Undiksa
Singaraja, UNHI Denpasar, FSRD dan FSP ISI Dps.
Bapak/Ibu Dosen dan Karyasiswa S2, S3 Kajian Budaya UNUD Dps, yang saya hormati pula.
Pujastuti angayubagya saya haturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang
Maha Esa, atas kemuliaan dan kemurahanNya, memberkati kita semua dalam keadaan rahayu
rahajeng/sehat walafihat. Matur suksma saya sampaikan atas kehadiran bapak/ibu dan saudara di
Gedung Citta Kelangen ISI Dps, utk bersama-sama menghadiri acara Seminar Nasional Seni
Pertunjukan, FSP ISI Denpasar.
Bapak Rektor/WR I dan Bp. Dekan FSP ISI Dps, yang saya hormati. Izinkan saya melaporkan
sekilas pelaksanaan Seminar Nasional FSP ISI Dps kali ini. Sesuai visi FSP ISI Dps., yakni menjadi
pusat unggulan (centre of excellence) seni pertunjukan berbasis nilai-nilai kearifan lokal dan
berwawasan universal, dan misinya adalah, menyelenggarakan pendidikan tinggi bidang seni
pertunjukan yang berkualitas, meningkatkan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat untuk
pendidikan serta kemajuan seni, ilmu pengetahuan, dan teknologi, publikasi ilmiah serta
memantap-kan sistem pengelolaan akademik.
Salah satu program kerja unggulan dari FSP ISI Dps adalah Seminar Nasional yang
diselenggarakan pada hari ini, senin 17 Oktober 2016. Adapun tema yang diangkat dalam Seminar
Nasional Seni Pertunjukan kali ini, adalah Seni Pertunjukan Unggul Berbasis Kearifan
Lokal Berwawasan Universal, dengan pilihan topik sebagai berikut.
a) Seni Pertunjukan Berbasis Riset;
b) Pendidikan Seni Bermutu Berbasis Kearifan Lokal;
c) Kolaborasi Seni Pertunjukan Nusantara;
d) Desakraliasi Seni Pertunjukan Bali;
e) Hak Cipta Seni Pertunjukan Berbasis Kearifan Lokal;
f) Seni Pertunjukan Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal;
g) Seni Pertunjukan dalam Dinamika Global-Lokal;
h) Dampak Ekonomi, Teknologi, dan Budaya Baru dalam Kajian dan Ciptaan Seni Pertunjukan.
Dalam rangka menghasilkan kajian dan ciptaan seni pertunjukan sebagai sumber
pengembangan ilmu seni serta publikasi karya seni, sesuai dengan harapan pemerintah dalam
rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui potensi seni dan budaya lokal yang
berwawasan universal, maka seminar ini bertujuan untuk menghasilkan konsep, teori, metode,
model, maupun karya baru dalam rangka memperluas, memperkaya ilmu pengetahuan, teknologi
dan seni pertunjukan dengan pendekatan kreatif, riset, ekonomi, teknologi, didaktik, dan budaya.
Untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat serta pengembangan wawasan kreativitas
dan inovasi seni pertunjukan, kami mengundang narasumber/pembicara sbb: “…mohon dengan
hormat untuk berdiri……..
1) Prof. Dr. Pande Made Sukerta, S.Kar., M.Si (Dosen ISI Surakarta);
2) Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, MA (Dosen Undhiksa Singaraja);
3) Prof. Dr. I Nyoman Sedana, SSP., MA (Dosen ISI Denpasar);
4) Dr. Martinus Miroto, M.FA (Dosen ISI Yogyakarta); dan
5) Drs.Chairul Slamet, M.Sn (Dosen ISI Yogyakarta).
xiii
Kami juga mengundang pemakalah lainnya sebagai pendamping dengan kertas kerja (call for
paper) yang akan dimuat dalam buku prosedding. Ada 16 pemakalah yang berasal dari dosen FSP
ISI Dps, FSRD ISI Dps, dan UNHI Dps. Seminar Nasional Seni Pertunjukan ini dibiayai dari
Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, melalui DIPA ISI
Denpasar.
Peserta Seminar Nasional ini adalah seluruh dosen Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar,
Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar, Fakultas Sastra UNUD Denpasar, UNHI
Denpasar, Fakultas Dharma Acarya IHDN Denpasar, IKIP PGRI Bali, STIKOM Dps., dan
Karyasiswa S2 ISI Denpasar, serta Karyasiswa S3 Kajian Budaya UNUD Denpasar, yang
keseluruhannya berjumlah 145 orang.
Terlaksananya Seminar Nasional Seni Pertunjukan ini tidak terlepas dari bantuan berbagai
pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini, kami menghaturkan terimakasih tak terhingga kepada
Bapak Rektor ISI Dps., atas segala fasilitasnya, Bapak Dekan FSP ISI Dps, yang mempercayakan
kpd saya sbg ketua pelaksana. Bapak/Ibu Ketua, Sekretaris, dan Lab. di masing2 jurusan/prodi di
FSP, serta seluruh Panitia Seminar Nasional FSP ISI Dps. yg tak bisa sy sebutkan satu/per-satu,
saya haturkan matur suksma.
Menjadikan kegiatan ini sempurna dan unggul, adalah cita-cita kami, namun masih banyak yg
masih belum digapai, hal tsb karena semata-mata keterbatasan kami. Orang bijaksana
menyebutkan “tan hana wang suasta nulus”, atas kekurangan tsb, saya mewakili seluruh Panitia
Seminar Nasional FSP ISI Dps., nunas geng rena sinampura, mohon maaf sebesar-besarnya.
Ijinkan saya berpantun sebait ”…Klungkung Semarapura, jukut kang-kung mebasa sera, kirang
langkung nunas sinampura.
Sebelum laporan ini diakhiri, mohon kesediaan Bp. Wakil Rektor I yang mewakili Bp. Rektor
ISI Dps., untuk memberikan sambutan dan sekaligus membuka secara resmi kegiatan Seminar
Nasional Seni Pertunjukan, FSP ISI Dps. Demikian laporan singkat ini disampaikan, pamuput sineb
titiyang antuk pamara-santhi, Om Shanti shanti shanti Om
Denpasar, 17 Oktober 2016
Ketua Panitia Pelaksana,
ttd
I Dewa Ketut Wicaksana, SSP., M.Hum
NIP. 19641231 199002 1 040
xiv
ENSEMBLE ETNIK NUSANTARA
SEBAGAI RINTISAN IDENTITAS PENGEMBANGAN MUSIK NASIONAL
R. Chairul Slamet
Jurusan Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta
Email : [email protected]
Abstrak
Ragam budaya Nusantara menjadi daya tarik bagi para pemerhati seni budaya di seluruh dunia, salah
satu produk turunan dari hal tersebut adalah etnik Nusantara. Kemunculan berbagai komunitas etnik
nusantara atau berikutnya menjadi nusantara ketika menjadi bahan ajar di dunia pendidikan kita menarik
untuk dilakukan pengkajian mendalam. Gangsadewa sebagai salah satu kelompok berbasis pada
pengembangan musik etnis nusantara banyak melakukan inovasi maupun eksperimentasi dalam repertoar
hasil ekplorasi secara intens. Melihat pergerakan tersebut tidak lagi mengenai penggunaan multi instrumen
lintas etnik akan tetapi spirit nasionalisme serta kepedulian terhadap eksistensi etnik nusantara menjadi
fokus pengamatan secara kontekstual. Kajian terhadap eksistensi ensemble etnik nusantara berdasar pada
beberapa aspek yaitu; 1). etnologis, 2). Sosio antropologis, serta aspek musikologis. Gangsadewa dilakukan
secara simultan. Data diklasifikasi berdasar pada bentuk iringan, inovasi garap alat musik (instrument), nilai
filosofis, pemahaman estetis, yang melibatkan musisi professional secara langsung dan dianalisis secara
deskriptif. Observasi ini dimulai dengan tahap persiapan, pengamatan dan pengembangan dalam bentuk
kertas karya. Hasil pendalaman ini diharapkan dapat memberikan masukkan untuk pengembangan seni
budaya berbasis kekuatan local jenius secara berkelanjutan.
Kata Kunci : ensemble, nusantara, Gangsadewa, komposisi
LATAR BELAKANG
Nusantara dengan ragam budayanya telah menghasilkan berbagai produk turunan budaya
baik tangible maupun intangible. Salah satu produk budaya dalam konteks kesenian kita mengenal
tradisi. Secara etimologis tradisi adalah turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya
dalam lingkup sebuah komunitas/etnis. Perkembangan dari waktu ke waktu tradisi mengalami
penyesuaian dengan perkembangan jaman (kekinian/kontemporer). Hal tersebut wajar terjadi
secara konteks sosiologis sifat manusia selalu berkembang untuk mempertahankan eksistensi
mereka. Diversitas etnis nusantara dari Sabang sampai Merauke adalah asset bagi bangsa kita.
Dengan demikian langkah konkret selanjutnya adalah membuat aksi nyata dengan melakukan
berbagai pendalaman baik workshop maupun kajian serta asesmen terhadap musik etnik di
masing-masing daerah Nusantara.
Pengertian musik nusantara secara garis besar adalah dari seluruh penjuru nusantara dalam
berbagai bentuk. Kekayaan ritmis, melodis, serta harmoni khas nusantara menjadi daya tarik
tersendiri bagi pemerhati seni budaya dengan minat tradisi dari berbagai penjuru dunia.
Orisinalitas hasil olah intuisi tradisi menjadi identitas dari masing-masing etnis di negara kita
Indonesia raya. Hal tersebut, bisa kita lihat dari ragam instrumen perkusi misalanya gong, secara
fungsi maupun filosofis mempunyai berbagai makna dilain sisi secara teknis memainkan juga
memiliki banyak teknis memainkan sesuai masing-masing etnis. Kemampuan musikalitas seniman
tradisi menjadi inspirasi musisi dari manca negara maupun lokal dalam menghasilkan komposisi
sesuai latar belakang aliran musik mereka. Kita dapat mencermati berbagai karya kolaborasi antara
musisi mancanegara dengan musisi tradisi kita maupun musisi negeri kita tanpa menghilangkan
identitas lokal nusantara. Pada era tahun 60 an seorang Tony Scott mulai proyek kerjasamanya
dengan Jack Lesmana musisi jazz nasional mengaransemen beberapa karya lagu tradisional Bali,
berikutnya Eberhard Schuner pada paruh 70-an berkolaborasi dengan I Gedhe Kompiang Raka
musisi tradisi Bali menghasilkan karya Bali Agung, dan masih banyak musisi lain yang mengangkat
musik dari nusantara kita menjadi karya mereka.
1
Musik tradisi Nusantara mampu untuk go international baik sebagai karya guine utuh
maupun kolaborasi dengan seniman dari luar Indonesia. Trend world music membuka peluang
para komposer kita untuk mendalami lagi kekayaan Nusantara sebagai pondasi karya komposisi
mereka. Dengan leluasa ekplorasi dapat dilakukan menggunakan unsur musik tradisi kita, sesuai
kreativitas para praktisi musik maka berhasil memunculkan karya komposisi baru serta
memunculkan komunitas etnis (kontemporer) dari berbagai daerah. Respon dari pemerhati
terhadap musik etnik kekinian banyak memberi input bagi para komposer, dengan demikian karya
mereka bisa diapresiasi berbagai kalangan serta sempat dipentaskan di mancanegara sebagai duta
bangsa dalam bidang seni budaya. Gangsadewa sebagai salah satu komunitas musik etnis
kontemporer sangat kompeten dalam mengangkat potensi aspek ragam bunyi nusantara.
Konsistensi Gangsadewa melalui karya-karya komposisi berbasis pada kekayaan nuansa musik
nusantara menjadi sebuah identitas maupun secara presentasi karya Gangsadewa menjadi rujukan
beberapa kurator musik dari mancanegara seperti Jepang dan Australia untuk mementaskan karya
Gangsadewa di negara tersebut.
Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan lintas daerah menjadi sumber inspirasi bagi seniman
yang memperdalam pengetahuan serta wacana kesenian dari kota miniatur Indonesia ini.
Keberadaan komunitas dari berbagai etnis di seluruh nusantara bertemu di melting point
Yogyakarta memunculkan gagasan untuk mengggali kekayaan dari berbagai daerah dalam satu
wadah ensemble etnis nusantara dipelopori oleh kelompok gangsadewa. Gangsadewa mewadahi
berbagai ragam bunyi tradisi dari multi instrumen nusantara sebagai media ekspresi serta
perintisan identitas musik nasional. Kelompok ini berdiri di Yogyakarta pada tahun 2002 dengan
melibatkan musisi professional lintas disiplin. Sebagai kelompok gangsadewa terpanggil untuk ikut
terlibat melestarikan tradisi nusantara dengan spirit kekinian serta berorientasi global, dengan
tujuan menciptakan identitas nasional dengan skala internasional.1
SKEMA APLIKASI SENI PERTUNJUKAN ENSEMBLE ETNIS NUSANTARA
Latar belakang tersebut, prngamatan ini akan mencermati lebih dalam dampak langsung
maupun dampak ikutan dari inovasi iringan untuk etnik nusantara bagi masyarakat di nusantara
maupun mancanegara. Sebagai dasar pemikiran kita dapat melihat pandangan dari para pemerhati
budaya dalam menuangkan gagasanya terhadap dinamika berkembangnya suatu produk budaya
seiring berjalanya waktu. Menurut Chris Jenks Budaya adiluhung adalah cerminan dari tatanan
masyarakat yang memiliki pandangan filosofis, maupun nilai hidup berdasar pada keseimbangan
rasa, logika, maupun kepekaan terhadap gejala kosmis. Perkembangan sebuah budaya tidak
terlepas dari pemahaman masyarakat terhadap perubahan seiring kehendak waktu. Sehingga
memunculkan pergeseran fungsi dari nilai budaya pada suatau komunitas masyarakat. Prinsip-
prinsip panduan analisis fungsionalisme adalah ‗integrasi‘ dan ‗inter-relasi‘ dan dengan demikian,
kebudayaan dan struktur sosial dipandang sebagai dua hal yang identik, atau setidaknya
berkesinambungan. Hal tersebut mendorong kelompok musik gangsa dewa untuk membuat skema
komposisi musik lintas tradisi nusantara sebagai aplikasi maupun ekspresi estetis dengan identitas
genuine (origins) hasil ekplorasi terhadap berbagai unsur bunyi maupun ritmis nusantara. Proses
kreatif kelompok gangsadewa dimulai dengan mengakomodir aspek-aspek bunyi nusantara sebagai
antara gagasan musikal komposer dan player. Kesadaran estetik dalam formasi tim gangsadewa
menjadi frame work untuk menghasilkan sebuah bangunan kompositorik berbasis musik tradisi
lintas etnis nusantara.
Dalam format pertunjukan karya gangsadewa sebagai presentasi hasil observasi kreatifitas,
keutuhan serta orisinalitas repertoar menjadi sajian pokok serta diharapkan pesan filosofis musik
nusantara dapat diapresiasi oleh audience secara langsung. Sebagai contoh saat gangsadewa
menggelar karya dengan tag line ―Jogja Sounds of Archipelago‖ tema tersebut adalah hasil endapan
1 Gardika Gigih Pradipta dalam; Rekayasa bunyi dinamika budaya dalam proses kreatif musik gangsadewa, (hal:16).
tesis S2 Jurusan Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, 2015.
2
dari keragaman unsur budaya nusantara dan kota Yogyakarta dapat diumpamakan sebagai muara
serta menjadi komponen penting dalam konteks keistimewaan. Fenomena tersebut dibidik oleh
gangsadewa menjadi trigger gagasan kreatif, dalam kemasan pertunjukan musik lintas etnik
nusantara, dengan isu non primordial maka lahirlah mozaik bunyi dalam repertoar musik dan
menjadi satu kesatuan konsep pertunjukan nan harmonik. Penampil dari beberapa daerah seperti,
Kalimantan, Aceh, Bali, Lampung, Madura, Jawa sublime dengan orkestrasi tiup maupun ensemble
perkusi barat. Peristiwa tersebut menunjukan kekuatan musik nusantara sebagai sajian seni
pertunjukan dapat menjadi centre of interest. Secara skematik bagan proses transfer knowledge
gangsadewa adalah sebagai berikut:
Observasi dan Penggarapan
eksplorasi kompositorik
musik tradisi dari tim
nusantara gangsadewa
Karya
repertoar
ensemble
etnik
nusantara
Mencermati bagan proses tersebut dapat kita amati bahwa konsep ansamble etnis adalah
berkesinambungan dan simultan antar unsur akan memberikan kekuatan sebagai penopang
lahirnya repertoar ensemble etnik nusantara. Musik etnik adalah representasi dinamika kehidupan
dan akan terus berkembang melalui batasan ruang waktu. Kehadiranya bukan stagnan pada ruang
hampa akan tetapi berbanding lurus dengan pergerakan waktu. Keragaman etnik nusantara adalah
cerminan sejarah panjang peradaban di nusantara. Dengan berbagai konteks sosial musik etnik
memiliki peran serta fungsi tidak sekedar karya seni namun juga memiliki aspek, spiritual,
ekonomis serta ekologis (Simatupang, 1995).
Dalam pandangan di luar tradisi, sebuah proses kreatif sangat bersifat personal. Sehingga
dalam kelahiran karya-karya akan juga lahir metode-metode pespektif baru yang bersifat permanen
maupun pasti. Seperti halnya dalam pemahaman garapan kreatif karya musik barat yang selalu
mempertahankan relasi mikro dalam kesadaran personal membangun konstruksi imaginatif
musikalnya.
Dalam karya musik tradisi justru sebaliknya ia bersifat komunal, dengan demikian, bentuk
musikal sering terjadi pada saat pementasan salah satu karya melalui proses interaksi antar musisi.
Esensi kualitatif sebagai karya seni biasanya tidak bisa dipelajari dari notasi partiturnya, maka yang
terjadi adalah kesalah pahaman dari pihak lingkungan akademisi dalam karya-karya yang tidak
dilengkapi dengan partitur. Padahal kompleksitas kualitatif merupakan Ekspresi sosial yang tidak
kalah pentingnya dalam bahasan akademis. Transformasi budaya memang selalu terjadi, dalam
prosesnya bahkan stagnasi mungkin saja timbul pada suatu periode tertentu. Tapi spirit budaya
tradisional tak akan pernah terbunuh, ia tumbuh dalam suatu proses budaya yang terus menerus
dalam bentuk konvensi, transformasi, konflik, inovasi, bahkan anarki dan sebagainya (Suka
Harjana).
Proses kreatif dapat melakukan beberapa pendekatan seperti di bawah ini:
A. Tradisi - orientasinya lebih kuat idiom musikal yang telah ada sebelumnya.
B. Reinterpretasi – menampilkan kembali repertoar yang ada menjadikan suatu yang baru.
C. Kontemporer – Melepaskan diri dari kebiasaan yang ada.
Tradisi sebagai proses dan hasil pewarisan budaya tidak dimaknai sebagai benda yang harus
dielus-elus, tetapi sebuah proses penerimaan, penolakan serta perubahan sesuai dengan kondisi ke
3
kini-disinian. Dari sini manusia dapat berjarak dengan tradisi, sekaligus berangkat darinya untuk
melakukan rekonstuksi terhadap masa lalu untuk masa kini sehingga tradisi terutama adalah
tentang pola-pola perubahan sebagai usaha untuk membentuk wujud baru bagi perkembangan
yang merupakan insting natural ke arah pemekaran diri optimal yang berasal dari imagi kreatif.
Di Indonesia peranan budaya musik Etnis dapat dinilai sebagai hal yang sangat berperan
dalam berbagai macam ragamnya. Terutama keseluruhan budaya musik etnis itu senantiasa
mewakili salah satu aspek identitas Nasional. Pada Umumnya musik suatu budaya etnis dianggap
tradisi yang baku dan agak statis, padahal sebetulnya pada perkembangannya mengalami
evolusioner, hal ini memang kurang terasa oleh karena tradisi lisan. Pada perkembangan komponis
Indonesia justru dapat menghapus stigma bahwa budaya musik tradisi tidak lagi sesuatu yang statis
tapi justru sebaliknya. Hal ini, bisa kita lihat dari karya komponis Indonesia yang mempunyai latar
belakang budaya etnis.
MUSIK DALAM KATAGORI BERSUMBER DARI UNSUR ETNIS
Para komposer dalam katagori yang menggunakan idiom musik etnis mempunyai latar
belakang dari etnis tertentu. Pada tingkat pembaruan mereka masih sangat memperhatikan norma-
norma tertentu, kadang persoalan norma menjadi malasalah yang serius dalam kontek pertanggung
jawaban budayanya. Pengaruh budaya lain dalam proses garapnya tidak mengganggu, sehingga
disini kreativitas pribadi sangat menonjol. Kebanyakan model seperti ini sangat khas berkembang
di Indonesia. kalau kita lihat dari estetika permainan kelompok dalam proses penciptaannya yang
memberi kebebasan pada setiap pemainnya sangat khas untuk budaya Indonesia.
Proses kreatif mereka melalui aneka percobaan yang mirip suatu proses eksperimental,
namun pada saat karya semacam ini disajikan atau dipentaskan sudah ke luar dari fase percobaan
dan sudah menjadi karya yang pasti. Kalau kita perbandingkan dengan unsur eksperimental dalam
arti John Cage kadang juga ada, Misalnya hanya materi dasar serta garis-garis besar dapat
ditentukan sebelumnya, sedangkan proses perwujutannya terjadi secara spontan. Pada umumnya
para komposer yang mempunyai latar belakang etnis dalam proses garapannya bertolak pada
praktek langsung, keakrapan dengan musisi termasuk kesesuaian latar belakang menjadi sangat
penting.
Bagi orang yang mempunyai latar belakang di luar budaya ini, cara kerja semacam ini
dianggap kurang baik. Karena di luar budaya kita kwalitas pemain tidak dibicarakan. Sedangkan
dalam proses kelahiran karya komponis etnis kwalitas pemain menentukan kwalitas karya.
Dengan kata lain unsur sosial, proses kerja sama, kesatuan antara pencipta dan interpreter
jauh lebih diperhatikan, sehingga karya musik dengan orientasi pada tradisinya dapat sama-sama
mengekstraksi harmoni-harmoni baru, lanskap-lanskap melodies dengan plastis yang baru juga
dengan karakter-karakter ritmis yang baru juga. Pemahaman tersebut di atas merupakan kesadaran
kompositorisnya, karena kita harus ingat komposisi adalah satu-satunya definisi seni yang bersifat
estetis, dan apa yang tidak terkomposisi bukanlah karya seni.
Ada dua tataran pokok dalam komposisi: a. Komposisi teknis; meliputi kerja bahan material
yang sering kali menghampiri sains (matematika, fisika, kimia, anatomi). b. Komposisi estetis yang
merupakan kerja sensasi. Secara khusus modal utama dalam komposisi musik adalah inspirasi dan
imaginasi. Dari imaginasi baru diurai dengan kenyataan teknis garapannya. Inspirasi atau
imaginasi belum dapat mengusai kenyataan teknis itu (sejalan).
Kenyataan keteraturan teknis antara lain.
1. Keteraturan dinamis: Intensitas-intensitas serta kepadatannya.
2. Keteraturan fonetisnya, musik terdiri atas timbre-timbre dan berbagai cara permainannya.
3. Keteraturan kinetisnya musik terdiri atas aksen aksen, dari arsis-tesis serta berbagai tempo.
Yang menarik karya komposer yang berlatar belakang tradisi adalah:
1. Unsur kerja sama adalah metode tertentu untuk mentranfer unsur kesadaran kolektif
(kelompok) pada suatu karya seni yang lebih otonom.
4
2. Tingkat kerumitan suatu karya terletak pada variasi-variasi yang disebabkan oleh komunikasi
mikro antar pemain yang bersangkutan (adanya stimulus pada pemain).
3. Bentuk musikal sering terjadi pada saat pementasan karya melalui proses interaksi antar
musisi.
4. Esensi kualitas sebagai karya seni (atau teknik-teknik khususnya untuk mencapainya)
biasanya tidak bisa dipelajari dari notasi partitur. Partitur tidak memberikan petunjuk
sebenarnya tentang esensi karyanya.
5. Kompleksitas kualitatif pada karya-karya dengan pola garap tradisi lisan mucul pada proses
latihannya, yaitu kerjasama antar pemain yang bersangkutan serta adanya kedekatan secara
personal.
Dengan demikian proses latihan sekaligus proses garapan. Proses garapan melalui kerja sama
dengan musisi Sehingga sering terjadi notasi dibikin setelah karya tersebut dikuasai oleh musisi-
musisinya. Dengan kata lain mencari masukan dari musisi-musisi pendukung menjadikan inspirasi
bagi komposernya. Komentar seorang komposer Eropa, yaitu Karl-Heinz Stockhausen saat pernah
ditanyakan, mengapa dia selalu mencari sesuatu yang baru? Stockhausen menjawab, mudah-
mudahan saya senantiasa akan menjadi seorang yang mencari sesuatu, hanya dengan demikian
manusia bisa berkembang.
Penutup
Menurut Gadamer, karya seni merupakan endapan nilai dan norma suksesi antara tradisi
dan inovasi dari masa lalu sampai masa kini. Melalui ―rammemorazione‖ (kesadaran kembali),
maka ―kehadiran masa lalu‖ itu membantuk kekinian. Rasio tidak bisa mencapai emansipasi secara
total dari apa yang terjadi (di masa lalu) tanpa kehilangan bagian tertentu darinya. Dengan kata
lain, dalam sejarah selalu terjadi bahwa ada yang tertinggal dan ada yang terbangun, ada yang
tertangkap. Hanya dalam hermeneutik estetika bisa terjadi peleburan ―kelampauan― itu dan
selanjutnya penerapanya dalam ―kekinian‖. Demikian halnya, dengan kemunculan karya tradisi
baru sebagai respon terhadap berkembangnya peradaban tentu mempunyai konsekuensi logis
terhadap produk budaya saat ini dan mendatang namun tetap mengusung unsur local jenius
sebagai identitas nusantara. Seni pertunjukan khususnya musik saat ini menjadi satu asset
kekayaan intelektual dengan peluang go international oleh sebab itu sudah seharusnya kita tampil
dengn identitas kenusantaraan sebagai representasi idealisme serta kepribadiaan insan seni
Indonesia dikancah musik dunia.
Pengembangan riset terhadap dunia seni modern tidak bisa lepas dari sejarah sebelumnya
serta sangat kontekstual dengan saat ini. Praktek kreatif adalah bentuk revolusioner dan sangat
menarik untuk diamati lebih dalam. Seni dan humanistic menjadi obyek centre of interest yang
bersinergi serta terkait erat dengan karya yang dihasilkan dari sebuah proses kreatif. Hubungan
praktek kreatif oleh seniman dengan dunia riset sangat erat terutama dalam konteks inovasi dari
keberadaan suatu obyek atau subyek penelitian untuk mencermati serta mengkritis karya-karya
kekinian berbasis pada ide tradisi atau habitus bagi pelaku/praktisi seni. Keterhubungan
pengetahuan dengan praktek seni menentukan arah bentuk budaya pada umumnya (Smith and
Dean 2009).
Daftar Pustaka
Djelantik, A.A.M., 1990, Pengantar Dasar llmu Estetika Jilid II Falsafah Keindahan dan Kesenian, STSI
Press, Denpasar.
Djohanurani, Sri, 1999 ―Teks dan Konteks Sumber Penciptaan‖, SENI, Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan
Seni, Yogyakarta, Bp. ISI Yogyakarta VII/02,.
McFarlane, Thomas J., 2002, Jalinan Kata-Sabda Einstein dan Buddha, Penerbit Pohon Sukma, Yogyakarta.
Griffiths, Paul, 1986, The Thames and Hudson Encyclopaedia of 20TH-CENTURY, Thames and Hudson Ltd.,
London.
5
Harjana, Suka, 2003, Corat Coret Kontemporer Dulu dan Kini, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia
(MSPI), Jakarta.
Hastanto, Sri, 1997, "Pendidikan Karawitan: Situasi Problema dan Angan-angan", Wiled, Jumal Seni Sekolah
Tinggi Seni Indonesia Surakarta.
Kreitner, Robert, dan Angelo Kinicki, 2001, Organizational Behavior, Fifth Edition, Irwin/McGraw-Hill, New
York.
Mack, Dieter, 1995, Sejarah IV, Pusat Liturgi, Yogyakarta.
Mardimin, Johanes, (ed.), 1994, Jangan Tangisi Tradisi: Transformasi Budaya Menuju Indonesia Modern,
Kanisius, Yogyakarta.
Martopo, Hari, 2001, ―Perancangan Notasi Relief (Notrel) Untuk Pendidikan Tunanetra‖, Laporan Penelitian
Hibah Bersaing IX/1, DP3M Ditjen Dikti Depdiknas, Jakarta.
_____, 2003, ―Program Sebagai Representasi Estetik Era Romantik Abad Kesembilanbelas‖ dalam
Panggung, Jurnal Seni STSI Bandung, Nomor XXVI Tahun 2003.
_____, 2004, Metode Pembelajaran Biola Suzuki Ditinjau dari Perspektif Quantum, Tesis Pengkajian Seni
Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Munandar, Utami, 2002, Kreativitas dan Keberbakatan, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Prier SJ, Karl Edmund, 1996, llmu Bentuk , Pusat Liturgi, Yogyakarta.
Rustopo, (ed), 1991, Gendon Humardani: Pemikiran dan Kritiknya, STSI Press, Surakarta.
Sacher, Jack and James Eversole,1971, The Art of Sound: an Introduction to, 2nd Edition, Prentice-Hall Inc.,
New Jersey.
Supanggah, Rahayu, 2005, Bothekan, ISI Press, Surakarta.
6
SENI PERTUNJUKAN BERBASIS RISET
Pande Made Sukerta
Jurusan Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Surakarta
Email : [email protected]
Abstrak
Seni pertunjukan adalah salah satu bentuk seni yang mempertunjukan karya seni yang proses
penciptaannya melalui riset. Riset dalam konteks kajian dengan penciptaan karya seni perinsipnya sama
hanya sudut pandang dan keperuntukannya yang berbeda. Untuk memperoleh data baik riset dalam konteks
kajian dan penciptaan karya seni dengan cara observasi, wawancara, dan studi kepustakaan dan/atau
dokumen. Riset merupakan bagian dari salah satu proses yang dilakukan pada proses awal dan tengah
penggarapan karya seni. Hasil riset bagian awal proses penciptaan, digunakan untuk menyusun gagasan isi,
sedangkan proses riset yang dilakukan di tengah (pada saat proses penciptaan) di antaranya digunakan pada
saat melakukan kegiatan eksplorasi, pemilihan penyaji, dan penggarapan ruang. Sasaran penelitian dalam
penciptaan karya seni adalah fenomena atau peristiwa yang terkait dengan musikal, sosial, budaya, maupun
fenomena alam, dan bersumber dari media yang diciptakan. Hasil riset dalam seni pertunjukan berbentuk
penggalian, pengembangan, dan menciptakan karya baru. Penggalian dan pengembangan karya seni
dilakukan pada seni tradisi atau karya seni yang sudah ada sebelumnya, sedangkan menciptakan karya baru
adalah menciptakan karya yang sebelumnya belum ada baik yang menggunakan vokabuler tradisi dan/atau
non tradisi.
Kata Kunci : Seni Pertunjukan dan Riset
PENDAHULUAN
Pertama saya menyampaikan ucapan selamat atas terselenggaranya seminar nasional ini
dan terima kasih kepada Panitia Seminar Nasional Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni
Indonesia (ISI) Denpasar yang telah memberikan kesempatan saya untuk ikut berpartisipasi dalam
seminar ini, dengan harapan semoga sukses dan berhasil.
Seminar Nasional yang bertemakan ‖Seni Pertunjukan Unggul Berbasis Kearifan Lokal
Berwawasan Universal‖. Panitia Seminar Nasional telah menentukan 8 (delapan) topik. Di antara
sekian topik yang disiapkan oleh panitia, saya memilih‖Seni Pertunjukan Berbasis Riset‖. Dalam
konteks seni pertunjukan yang berbasis riset, terfokus pada karya seni dipertunjukan yang proses
penciptaan atau penyusunannya dilakukan melalui riset atau penelitian.
Mendengar kata riset atau penelitian dikalangan para seniman yang dikaitkan dengan
konteks seni pertunjukan, kesannya sangat serem atau menakutkan atau dianggap bersifat ilmiah
dan dirasakan tidak ada hubungannya dengan kegiatan proses penciptaan karya seni. Riset
dianggap sesuatu tindakan yang selalu dilakukan oleh para sarjana. Namun sebenarnya dalam
konteks seni pertunjukan khususnya dalam rangka penciptaan karya seni selalu dilakukan tindakan
riset. Setiap menyusun karya seni, bagaimana pun sederhananya karya seni dan siapapun yang
mencipta karya seni selalu didahului dengan riset.
Tindakan riset dalam konteks kajian, berbeda dengan tindakan riset dalam konteks
penciptaan karya seni, meskipun sama-sama mempunyai objek atau sasaran penelitian. Tindakan
riset dalam konteks kajian adalah merumuskan masalah, kemudian melakukan deskripsi dan
analisis masalah yang diteliti yang pada akhirnya menghasilkan simpulan dan temuan.
Tindakan riset dalam konteks penciptaan karya seni, tidak ada masalah yang dibahas dan
dianalisis, tetapi hasil penelitiannya akan digunakan sebagai obyek imajinasi yang akan digunakan
untuk mewujudkan sebuah karya seni. Para seniman pencipta karya seni, mengamati secara holistik
suatu obyek yang akan diangkat ke dalam karya seni. Kemudian hasil dari pengamatan atau data
yang diperoleh dalam penelitian tersebut, diolah atau digarap dengan berbagai macam proses
sehingga mewujudkan karya seni.
7
Untuk memperoleh data baik dalam konteks penciptaan karya seni maupun dalam konteks
pengkajian dengan cara observasi, wawancara, dan studi kepustakaan dan/atau dokumen.
Penelitian dalam konteks penciptaan karya seni, kegiatannya dapat berbentuk penggalian,
pengembangan, dan menciptakan karya baru. Karya seni dari hasil penggalian adalah menggali
karya-karya tradisi yang sudah lama tidak pernah disajikan atau dipertunjukan, kemudian digali
atau direkonstruksi kembali. Kegiatan pengembangan karya seni adalah mengembangkan atau
menggarap kembali karya seni yang sudah ada, kemudian dilakukan dekonstruksi atau perombakan
atau dikembangkan dari berbagai aspek yang terkait dengan estetik. Kegiatan menciptakan karya
baru adalah karya seni yang diciptakan yang menggunakan vokabuler atau media tradisi dan/atau
non tradisi.
Dengan demikian, sadar atau tidak sadar dalam rangka menciptakan karya seni, para
seniman selalu melakukan riset. Keberadaan karya seni di bumi ini, tidak secara tiba-tiba muncul
untuk dilihat, didengar, dan dirasakan, namun selalu melalui proses. Lama tidaknya proses
penciptaan karya seni, tergantung dari segala kemampuan seniman pencipta yang dimiliki. Proses
penciptaan karya seni terletak sebelum terwujudnya bentuk karya seni, sehingga apa yang dilihat,
didengar, dan dirasakan hanya wujud dalam hal ini adalah karya seni. Maka dari itu, sering kita
melihat seseorang kurang atau tidak menghargai karya seni, karena mereka yang diamati hanya apa
yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Mestinya harus menghargai sebuah proses penciptaannya.
Kita tidak bisa membayangkan kalau para seniman pencipta menyusun karya seni tanpa melakukan
tindakan riset, apa yang akan dikerjakan, apa yang dijadikan acuan dan seolah-olah tanpa arah
karena tidak mempunyai titik tolak untuk melakukan proses penyusunan karya seni.
RISET DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI
Riset dalam konteks penciptaan karya seni, dilakukan pada bagian awal dan bagian tengah
proses penciptaan (penggarapan karya seni). Riset yang dilakukan pada bagian awal dalam rangka
menyusun ide atau gagasan isi karya seni. Dari gagasan isi inilah seniman pencipta akan
menterjemahkan atau mengungkapkan lewat media ungkap sehingga menjadi sebuah karya seni.
Sasaran penelitian dalam konteks penciptaan karya seni, di antaranya adalah sebuah fenomena
atau peristiwa, baik fenomena yang terkait dengan musikal, sosial, budaya, maupun fenomena yang
terkait dengan alam. Selain itu objek penelitian dalam konteks penciptaan juga dapat bersumber
dari media yang diciptakan. Tindakan riset terhadap segala peristiwa dalam penyusunan karya seni,
dapat dilakukan pada seluruh jenis seni pertunjukan. Seperti misalnya ide atau gagasan seniman
karawitan akan diungkapkan atau diwujudkan lewat sumber bunyi. Dalam mengungkapkan ide,
dibutuhkan kreativitas untuk menuangkan gagasan atau ide sehingga menjadi sebuah garapan atau
karya seni. Saya yakin dengan sasaran penelitian yang sama, akan mewujudkan karya seni yang
berbeda-beda, karena sangat ditentukan oleh sudut pandang, kemampuan, dan kreativitas seniman
penciptanya. Riset yang dilakukan pada bagian tengah adalah riset dalam konteks penggarapan
karya seni, seperti ekplorasi, penentuan penyaji atau pelaku, dan penggarapan ruang.
Eksplorasi adalah suatu tindakan mencoba, mencoba, dan selalu mencoba. Tindakan
eksplorasi ini juga merupakan salah satu bentuk riset dalam menyusun karya seni. Misalnya dalam
menyusun karya baru musik atau karawitan, segala sumber bunyi disiapkan untuk dicoba sehingga
menimbulkan berbagai warna suara. Dari hasil percobaan sumber bunyi tersebut yang
menghasilkan warna suara, selanjutnya digarap sampai dapat mewujudkan bagian-bagian karya,
dan akhirnya mewujudkan sebuah karya musik. Eksplorasi juga dilakukan pada saat menyusun
bagian-bagian komposisi atau karya sehingga membentuk suatu alur suasana yang diharapkan oleh
seniman penciptanya. Tindakan eksplorasi ini dilakukan pada bentuk proses penyusunan atau
penciptaan karya seni kecuali penelitian yang berbentuk penggalian karya seni, seniman pencipta
tidak melakukan tindakkan eksplorasi. Tidakan eksplorasi dalam penyusunan karya seni, dapat
dilakukan pada seluruh jenis seni pertunjukan.
8
Menentukan penyaji atau pelaku seni juga merupakan bagian atau ruang lingkup dari
kegiatan riset, karena pemilihan penyaji atau pelaku seni untuk menyajikan karya seni tidak hanya
sekedar memilih, tidak karena kedekatan, melainkan menggunakan pertimbangan tertentu sesuai
dengan kebutuhannya. Penentuan penyaji yang didasarkan atas hasil pengamatan ini dapat
dilakukan pada seluruh jenis seni pertunjukan.
Penggarapan atau pemanfaatan ruang dalam seni pertunjukan juga merupakan aplikasi
hasil dari kegiatan riset yang telah dilakukan sebelumnya. Ruang juga merupakan bagian dari teks
atau karya seni. Penggarapan ruang dilakukan pada seluruh bidang seni pertunjukan.
Ada beberapa karya seni yang saya ketahui sebagai hasil dari kegiatan riset di antaranya :
1. Bapak I Wayan Beratha (alm.) dalam menciptakan gending Gesuri atau sekarang diberi nama
Bajra Danta. Beliau pernah menceritrakan kepada saya bahwa gending tersebut bertitik tolak
dari hasil pengamatan almarhum terhadap drumband saat berada di Amerika. Almarhum
sangat terkesan dengan suara dan sajian instrumen trompet. Kemudian drumband khususnya
suara trompet tersebut digunakan sebagai sumber ide dan diaplikasikan dalam ciptaannya yang
terwadahi dalam tabuhan gangsa. Selain itu almarhum juga terinpirasi dengan agama yang
dipeluk oleh Bung Karno, yaitu agama Islam. Dalam masjid tempat persembahyangan umat
Islam selalu menggunakan bedug. Penggunaan bedug inilah almarhum sangat terkesan,
sehingga sebagai sumber ide yang diaplikasikan dalam tabuhan kendang cedugan lanang.
Karya almarhum yang lain adalah gending Purwa Pascima yang diartikan dari Barat ke Timur.
Barat artinya mengambil unsur musik Barat yang bentuknya berupa irama ¾ yang jarang atau
tidak digunakan dalam tabuhan gending Bali. Irama ¾ ini kemudian diaplikasikan pada bagian
gending pekaad dalam gending Purwa Pascima.
2. Bapak Gede Manik (Alm.) saat menyusun gending dan tari Cendrawasih yang disusun tahun
1964. Beliau pernah menceritakan dengan saya bahwa dalam menyusun gending dan tari
Cendrawasih, sebelumnya almarhum mengamati gerak-gerik burung Cendrawasih. Kemudian
dari hasil pengamatan burung tersebut, diaplikasikan dalam gerak.
3. Saya sendiri sebuah pengalaman peribadi yang pernah saya lakukan, saat menyusun karya seni
yang diberi judul ‖Momong‖ yang disusun dalam rangka Pengukuhan Guru Besar tanggal 9
Agustus 2006 di Teater Besar ISI Surakarta.
Kata momong artinya mengampu. Karya ini bertitik tolak dari konsep rwa binedha yang
diartikan sesuatu yang berbeda dan menjadi satu kesatuan, seperti misalnya baik dan buruk.
Karya ‖Momong‖ melukiskan sebuah fenomena kehidupan yang hampir setiap orang
mengalaminya. Momong terkait dengan roso yang terbentuk setelah mengalami pergulatan
antara nilai baik dan nilai buruk. Kedua penilaian ini selalu berdampingan dan harus dicintai.
Tinggal bagaimana mensiasati dan mengendalikan diri kita sehingga mampu melampaui nilai
baik dan buruk untuk mencapai penyadaran diri.
Pertunjukan Karya ‖Momong‖
Dok. Pande Made Sukerta
Contoh lain karya-karya seni yang berbasis riset yang telah dilakukan para mahasiswa dalam
rangka menyelesaikan program doktornya adalah Dr. Ida Ayu Wimba Ruspawati, Dr. Kadek Indra
9
Wijaya, Dr. Kamarulzaman Bin Muhamed Karim, dan Dr. Al. Suwardi menyusun karya sebagai
berikut.
1. Karya ‖Re-Interpretasi Legong Tombol di Desa Banyuatis, Buleleng: Antara Memori
Kolektif dan Model Pembelajaran Kompleksitas‖ oleh Dr. Ida Ayu Wimba Ruspawati.
2. Karya ―Harkat Bunyi Alam Mangrove‖ oleh Dr. Kadek Indra Wijaya.
3. Karya ―Ghamuyi‖ oleh Dr. Kamarulzaman Bin Muhamed Karim.
4. Karya ‖Pelanet Harmonik‖ oleh Dr. Al. Suwardi.
Adapun penjelasan proses para seniman penyusun menciptakan karya seni adalah sebagai
berikut.
KARYA SENI ”RE-INTERPRETASI LEGONG TOMBOL DI DESA BANYUATIS,
BULELENG: ANTARA MEMORI KOLEKTIF DAN MODEL PEMBELAJARAN
KOMPLEKSITAS”
Karya seni Dr. Ida Ayu Wimba Ruspawati yang berjudul ‖Re-Interpretasi Legong Tombol di
Desa Banyuatis, Buleleng: Antara Memori Kolektif dan Model Pembelajaran Kompleksitas‖ yang
digunakan sebagai salah satu persyaratan untuk mencapai gelar Doktor di Pascasarjana ISI
Surakarta.
Dr. Wimba melakukan penelitian dalam bentuk penggalian atau merekonstruksi yang
terkait dengan Legong Tombol, yaitu penyusun atau penciptanya dan perjalanan Legong Tombol
sampai hidup dan berkembang di Desa Banyuatis. Merekonstruksi gerak tari Legong Tombol
dengan Meme Pintu (68 tahun), sedangkan gending tarinya adalah Bapak Gede Sueca (80 tahun).
Mengingat penari (narasumber)nya sudah tua, banyak gerak tarinya yang lupa. Dengan kelupaan
yang dimiliki oleh narasumber, maka Dr. Wimba dalam menggali atau merekontruksi tarian
tersebut, peneliti menggunakan menggunakan cara re-interpretasi. Dengan melakukan re-
interpretasi inilah, bagian-bagian yang hilang tersebut dapat diganti dengan gerak-gerak tari yang
baru hasil penafsiran ulang dari perbendaharaan gerak yang dimiliki oleh Tari Legong Tombol ini.
Pencipta tari Legong Tombol adalah Bapak I Wayan Rindi (Alm.). Dr. Wimba juga melakukan
penelitian tentang sejarah pejalanan kesenimanan Bapak I Wayan Rindi (Alm.) mulai dari belajar
menari saat berusia sangat muda, menjadi penari sampai menjadi guru tari atau seniman. Untuk
memperoleh data Bapak I Wayan Rindi (Alm.), Dr. Wimba menggunakan narasumber dan refrensi
di antaranya buku Rikka and Rindji: Children of Bali, karya Dominique Darbois tahun 1959.
Pertunjukan Tari Legong Tombol
Dok. Ida Ayu Wimba Ruspawati, 2015
Tari Legong Tombol disajikan oleh sepasang penari perempuan atau istilahnya ―kembar‖,
maka sering Legong Tombol ini disebut dengan tari Legong Kembar seperti penyebutan Tari
Trunajaya Kembar yang disajikan oleh sepasang penari perempuan.
KARYA SENI “HARKAT BUNYI ALAM MANGROVE”
Karya seni yang berjudul ―Harkat Bunyi Alam Mangrove‖ yang disusun oleh Dr. Kadek Indra
Wijaya yang digunakan sebagai salah satu persyaratan untuk mencapai gelar Doktor di
10
Pascasarjana ISI Surakarta. Dr. Kadek Indra Wijaya, upaya pelestarian dengan memasukan unsur
seni di hutan mangrove nantinya mampu menghantarkan masyarakat pada kepedulian penataan
mangrove serta menjadi ajang kreativitas untuk melestarikan hutan mangrove.
Hutan Mangrove
Dok. Kadek Indra Wijaya, 2016
Mangrove sebagai sumber inspirasi dengan segala potensi yang terdapat di dalamnya seperti
suara gemricik air, suara gesekan batang pohon mangrove, buah mangrove, nuansa alam yang
tenang, kicauan burung, dan lain-lain menjadi modal utama bagi pengembangan ide kreativitas.
Hasil dari potensi alam yang terdapat di hutan mangrove tersebut diwujudkan lewat alat musik
yang terbuat dari mangrove. Untuk memperoleh data yang dibutuhkan, Dr. Kadek Indra Wijaya
mengamati kondisi dan situasi hutan mangrove, untuk mengetahui di antaranya binatang-binatang
apa yang hidup di dalam hutan mangrove dan kapan pasang-surutnya air di hutan mangrove.
Dengan mengetahui kondisi dan situasi hutan mangrove, kemudian mulailah Dr. Kadek Indra
Wijaya memanfaatkan hutan mangrove tersebut sebagai sumber karya.
KARYA SENI ”GHAMUYI”
Karya ‖Ghamuyi‖ yang disusun oleh Dr. Kamarulzaman Bin Muhamed Karim tahun 2015
yang digunakan sebagai salah satu persyaratan untuk mencapai gelar Doktor di Pascasarjana ISI
Surakarta. Karya ‖Ghamuyi‖ merupakan karya hasil pengembangan dari kesenian Ghazal yang
sekarang kehidupannya sangat memprihatinkan. Dr. Kamarulzaman Bin Muhamed Karim, meneliti
atau menggali tentang kesenian Ghazal yang masih hidup. Dari hasil penggalian tersebut, kemudian
dianalisis bagian-bagian yang akan digarap atau dikembangkan. Hasil karya yang dipertunjukan,
oleh Dr. Kamarulzaman adalah beberapa lagu kesenian Ghazal dari hasil penggalian dan hasil
ciptaannya yang berupa pengembangan kesenian Ghazal. Bentuk pengembangan yang dilakukan
Dr. Kamarulzaman dengan menambah instrumen dan vokal. Selain itu dia menciptaankan sebuah
karya yang bersumber dari kesenian Ghazal.
Pertunjukan Karya ‖Ghazal‖
Dok. Kamarulzaman Bin Muhamed Karim, 2015
KARYA “PLANET HARMONIK”
Karya seni ini bersumber dari hasil penciptaan instrumen yang diciptakan oleh Dr. Al.
Suwardi, diberi nama ―Planet Harmonik‖. Karya ini penciptaannya tidak bersumber dari sebuah
11
fenomena atau peristiwa, melainkan bersumber dari sumber bunyi atau instrumen yang diciptakan
yang digunakan untuk mengungkapkan karyanya. Ada beberapa instrumen yang diciptakan oleh
Dr. Al. Suwardi, yaitu: instrumen klinthing, klunthung, klonthang, dari klonthong. Bunyi yang
dihasilkan oleh instrumen yang diciptakan, kemudian disusun menjadi sebuah karya yang diberi
nama ―Planet Harmonik‖ yang terwadahi ke dalam 2 (dua) karya, yaitu karya ―Pisungsung‖ dan
karya ―Nunggak Semi‖.
Pertunjukan Karya ―Planet Harmonik‖
Dok. Pande Made Sukerta, 2016
Keempat karya seni yang diciptakan tersebut di atas, merupakan hasil riset, dengan sasaran
riset yang berbeda.
PENUTUP
Dari pembahasan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa bentuk riset dalam konteks
pengkajian dan riset dalam konteks penciptaan karya seni adalah serupa tapi tidak sama. Riset
merupakan suatu proses yang dilakukan oleh para seniman pencipta karya seni baik dalam rangka
menciptakan karya seni tradisi maupun non tradisi. Penciptaan karya yang melalui riset dapat
berbentuk penggalian, pengembangan, penciptaan karya baru yang dapat bersumber dari berbagai
fenomena, yaitu: musikal, sosial, budaya, dan sumber lain di antaranya instrumen (khusus musik).
Aplikasi riset dalam proses mencipta karya seni, dilakukan pada bagian awal dan tengah
pada saat proses penciptaan. Hasil riset yang dilakukan pada bagian awal digunakan untuk
mewujudkan gagasan isi dan riset pada bagian tengah dilakukan pada saat proses penggarapan
karya seni, di antaranya melakukan kegiatan eksplorasi, pemilihan pelaku, dan juga penggarapan
ruang. Dengan demikian bahwa karya seni yang dipertunjukan adalah hasil riset dari pencipta atau
penyusunnya.
Demikian informasi yang saya sampaikan dalam Seminar Nasional ini, semoga dapat
bermanfaat untuk kita semua. Terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Bin Muhamed Karim, Kamarulzaman. 2015. ‖Ghamuyi‖ Disertasi (Karya Seni). Surakarta: Pascasarjana ISI
Surakarta.
Indra Wijaya, Kadek. 2016. ―Harkat Bunyi Alam Mangrove‖. Disertasi (Karya Seni). Surakarta: Pascasarjana
ISI Surakarta.
Puspawerti, Ida Ayu Wimba. 2015. ―Re-Interpretasi Legong Tombol di Desa Banyuatis, Buleleng: Antara
Memori Kolektif dan Model Pembelajaran Kompleksitas‖. Disertasi (Karya Seni). Surakarta:
Pascasarjana ISI Surakarta.
Sukerta, Pande Made. 2006. Kehidupan Sebagai Teks Komposisi Karawitan. Pidato Pengukuhan Dalam
Bidang Ilmu Komposisi Karawitan Pada Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta, Surakarta: Sekolah
Tinggi Seni Indonesia Surakarta.
______. 2011. Metode Penyusunan Karya Seni (Sebuah Alternatif). Surakarta: ISI Press.
Suwardi, Aloysius. 2016. ―Planet Harmoni‖. Disertasi (Karya Seni). Surakarta: Pascasarjana ISI Surakarta.
12
PENCIPTAAN SENI BERBASIS RISET1
Martinus Miroto
Jurusan Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta
Email : [email protected]
Abstrak
Diskusi mengenai penciptaan seni berbasis penelitian merupakan topik hangat di lingkungan
pendidikan tinggi seni di Indonesia. Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012
tentang Pendidikan Tinggi, pendidikan tinggi dibedakan antara pendidikan akademik dan pendidikan vokasi.
Undang-undang ini menegaskan bahwa jalur akademik berorientasi pada produk pengetahuan sedangkan
jalur vokasi mengarah pada penerapan keahlian.
Secara historis, pendidikan tinggi seni formal di Indonesia, yakni ASTI, ASKI, AMI, dan ASRI pada
awalnya berorientasi pada vokasi. Dengan merger-nya ASTI-AMI-ASRI menjadi ISI Yogyakarta pada tahun
1984, pendidikan tinggi seni berorientasi pada akademik. Konsekuensinya, Tugas Akhir karya seni mahasiswa
dituntut pertanggungjawaban akademis dalam bentuk karya ilmiah. Produk karya ilmiah seperti konsep,
proses, teori, analisis, sintesis, maupun metode bertujuan untuk penguasaan dan pengembangan
pengetahuan, teknologi, dan seni.
Pendidikan seni akademik pada minat utama penciptaan seni yang diarahkan untuk memproduksi
pengetahuan acapkali memunculkan konflik antar-seniman-akademisi. Misalnya, apakah produk
pengetahuan merupakan tujuan utama penciptaan seni? Pengetahuan macam apa yang diproduksi oleh para
senimanakademik? Metode penelitian apa yang tepat diterapkan pada bidang penciptaan seni dalam konteks
pendidikan akademik?
Permasalahan tersebut relevan didiskusikan kembali pada forum seminar ini. Melalui penelaahan
terhadap penelitian artistik (artistic research) yang telah diterapkan di berbagai perguruan tinggi seni di
Eropa, ditambah studi tentang practice-based research dan practice-led research, ditawarkan gagasan
penciptaan seni berbasis risetyang difokuskan pada karakteristik khusus bidang penciptaan tari yang disebut
Penelitian Penciptaan Tari. Penelitian Penciptaan Tari merupakan gabungan atas penelitian kualitatif, praktik
koreografi, practice-based research, dan practice-led research dengan tujuan memproduksi pengetahuan di
bidang praktik tari. Tawaran ini diharapkan membuka diskusi lebih lanjut, terutama oleh para seniman-
akademisi.
Kata kunci : konsep, teori, analisis, penelitian, metode, teknologi, dan seni
PENDAHULUAN
Diskusi mengenai penciptaan seni berbasis penelitian merupakan topik hangat di
lingkungan pendidikan tinggi seni di Indonesia. Berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun
2012 tentang Pendidikan Tinggi, pendidikan tinggi dibedakan antara pendidikan akademik dan
pendidikan vokasi. Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan
program pasca sarjana yang diarahkan pada penguasaan serta pengembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi melalui penalaran ilmiah. Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi program
diploma dan program sarjana terapan yang menyiapkan mahasiswa menguasai bidang pekerjaan
dengan keahlian terapan tertentu. Mahasiswa menjadi praktisi yang terampil untuk memasuki
dunia kerja sesuai dengan bidang keahliannya. Jelasnya, Undang-undang ini menegaskan bahwa
jalur akademik berorientasi pada produk pengetahuan sedangkan jalur vokasi mengarah pada
produk keahlian.
Secara historis, pendidikan tinggi seni formal di Indonesia, yakni ASTI, ASKI, AMI, dan
ASRI pada awalnya berorientasi pada vokasi. Dengan merger-nya ASTI-AMI-ASRI menjadi ISI
Yogyakarta pada tahun 1984, pendidikan tinggi seni berorientasi pada akademik. Konsekuensinya,
Tugas Akhir karya seni mahasiswa dituntut pertanggungjawaban akademis melalui karya tulis
sebagai produk pengetahuan seperti konsep, teori, metode, maupun model. Produksi pengetahuan
1 Topik ini dipilih berdasarkan salah satu subtema seminar, yakni ―Seni Pertunjukan berbasis riset‖ dalam ―Prospektus
Seminar Nasional Seni Pertunjukan FSP ISI Denpasar, Senin, 17 Okt 2016.‖
13
itu bertujuan untuk penguasaan dan pengembangan pengetahuan, teknologi, dan seni. Meskipun
demikian, mengingat sejarah pendidikan tinggi seni di Indonesia bermula dari pendidikan vokasi,
maka pada praktiknya, pendidikan seni akademis acapkali memunculkan berbagai pertanyaan.
Misalnya, apakah produk pengetahuan merupakan tujuan utama penciptaan seni? Pengetahuan
macam apa yang diproduksi oleh para seniman akademik? Metode penelitian apa yang tepat
diterapkan pada bidang penciptaan seni dalam konteks pendidikan akademik?
Permasalahan tersebut relevan didiskusikan kembali pada forum seminar ini. Melalui
penelaahan terhadap penelitian artistik (artistic research) yang telah diterapkan di berbagai
perguruan tinggi seni di Eropa, ditambah studi tentang practice-based research dan practice-led
research, ditawarkan gagasan penciptaan seni berbasis riset yang difokuskan pada karakteristik
khusus bidang penciptaan seni. Pada dunia tari dapat disebut Penelitian Penciptaan Tari. Penelitian
Penciptaan Tari merupakan gabungan atas penelitian kualitatif, praktik koreografi, practice-based
research, dan practice-led research dengan tujuan memproduksi pengetahuan di bidang praktik
tari. Tawaran ini diharapkan membuka diskusi lebih lanjut, terutama oleh para seniman-akademisi.
Akhir-akhir ini, sering muncul diskusi mengenai artistic research (penelitian artistik), yakni
penelitian berbasis-praktik seni. Penelitian artistik telah diterapkan pada program pascasarjana di
beberapa perguruan tinggi seni, antara lain di Academy of Fine Arts, Helsinki, Finlandia; dan
University of Gothernburg, Swedia. Apa itu artistic research? Hans Hedberg, Dekan Fakultas Seni
Murni, Universitas Gothenberg menyatakan bahwa dalam penelitian artistik seniman menciptakan
karya seni dan meneliti proses kreatif sehingga menambahkan akumulasi pengetahuan.2 Mika
Hannula dalam Artistic Research: theories, methods and practices, menyatakan bahwa artistic
research merupakan perpaduan penelitian kualitatif dan karakteristik khusus praktek artistik.3
Penelitian kualitatif menunjukkan keterlibatan antarsubjek berkomunikasi secara simultan.
Mereka saling memengaruhi dalam kehidupan sehingga hubungan antara peneliti dan objek yang
diteliti tidak dapat bersifat sebab-akibat melainkan akrab, empati, dan timbal balik.4 Karakteristik
khusus praktik kesenian antara lain adanya aktivitas eksperimen dan eksperien sehingga
menghasilkan sesuatu temuan yang mengejutkan dan di luar ekspektasi.5
Pada bidang penciptaan tari, komponen eksperimen dan eksperien terdapat dalam
koreografi. Koreografi, dalam konteks tari kontemporer, melibatkan aktivitas bereksperimen
melalui tindakan improvisasi untuk menuju komposisi. Dapat dikatakan bahwa improvisasi dan
koreografi merupakan satu kesatuan dalam proses berkarya tari. Koreografi juga mengandung
komponen pengalaman, bahwa melalui pengalaman ekspresif, yang memerlukan perasaan,
penjelasan, dan pernyataan diri, tari memberikan koreografer suatu perasaan relasi harmoni dan
integrasi diri dengan dunia. Sebagai aktivitas kreatif, tari dapat menghubungkan individu dengan
lingkungannya dengan cara yang unik dan sangat personal. Eksperimen dan eksperien dalam
praktik penciptaan tari merupakan modal khusus yang menjadi landasan dalam suatu penelitian
penciptaan tari. Dua modal itu merupakan dasar kreativitas dalam penciptaan tari, sekaligus dapat
menjadi dasar pemroduksian pengetahuan dalam wujud karya ilmiah. Penulisan karya ilmiah
sebagai pertanggungjawaban akademik bukanlah hal baru di Indonesia. Sejak berdirinya ISI
Yogyakarta, mahasiswa pada Minat Utama Penciptaan Seni telah memproduksi pengetahuan
melalui tulisan ilmiah. Namun, dengan munculnya penelitian artistik, sistematika dan metodologi
penulisan penciptaan seni dapat semakin dikembangkan sejalan dengan tuntutan pendidikan
akademik.
Lingkungan akademik memiliki kaidah penyusunan laporan dalam bentuk karya ilmiah
yang sistematis dan metodologis yang deskriptif, naratif, analitis, dan argumentatif. Dengan
demikian, koreografer-peneliti perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan akademis tanpa harus
kehilangan keunikan-keunikan pribadi sebagai seniman tari. Lebih jelasnya, hal ini dinyatakan oleh
Buterworth sebagai berikut:
2 Mika Hannula-Juha Suoranta-Tere Vaden. Artistic Research- theorie, methods and practices. Academy of Fine Arts,
Helsinki, Finland and University of Gothenburg / ArtMonitor, Gothenburg, Sweden, 2005. Hlm. 5
3 Mika Hannula-Juha Suoranta-Tere Vaden., op cit., hlm. 10
4 Septiawan Santana K. Menulis Ilmiah Metode Penelitian Kualitatif. Yayasan Obor Indonesia, 2010. Hlm. 33
5 Mika Hannula-Juha Suoranta-Tere Vaden., op cit., hlm. 10
14
Seniman-peneliti harus menjustifikasi keputusan-keputusan dan mendokumentasinya, dan
para pembaca harus dapat mengikuti proses riset dan ketelitian hasil baik di atas panggung
maupun di atas kertas. Pengetahuan yang dipaparkan harus terbaca.6
Sejalan dengan jalur pendidikan akademik yang diarahkan pada penguasaan serta
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui penalaran ilmiah, penerapan penelitian
artistik pada minat utama penciptaan seni sungguh relevan. Artistic reseach memiliki maksud dan
tujuan sangat luas antara lain: pemroduksian informasi, pengembangan metode, pengembangan
pengertian, penginterpretasian karya seni, pemroduksian pengetahuan, analisis kritis atas seni,
pemikiran kembali peran seniman dalam konteks sosial.7
Berbagai tujuan di atas menunjukkan luasnya maksud dan tujuan penelitian artistik yang
dapat dilahirkan melalui karya seni. Meskipun demikian, dalam konteks penelitian penciptaan tari
terkadang membingungkan antara artefak kreatif sebagai dasar kontribusi terhadap pengetahuan
dan produk penelitian artistik yang mengarah kepada pemahaman baru tentang praktik seperti
metode dan model pembelajaran. Apakah karya cipta seniman tari terbatas pada produk artefak
kreatif, yakni karya tari? Secara faktual, seniman tari (penari, koreografer, sutradara teater tari)
dapat menghasilkan karya seni, metode penciptaan, teknik tari, metode pembelajaran tari, dll.
Misalnya, Martha Graham menemukan teknik tari modern contraction and release; Trisha Brown
menemukan teknik koreografi minimalis; Pina Bausch menemukan dramaturgi tanze theater.
Mengingat penelitan artistik dilakukan oleh para seniman, penelitian ini dapat
menghasilkan dua kemungkinan utama, yakni: (1) pengetahuan yang didasari oleh ciptaan karya
seni yang menghasilkan informasi, pemahaman, teori, kritik, analisis, pemikiran, dan sebagainya;
(2) pengetahuan yang didasari oleh pengalaman panjang dalam berkesenian yang menghasilkan
pemahaman baru tentang praktik seperti metode, teknik, dan model. Seniman tari dapat
menciptakan karya seni, metode, teknik, dan model. Jadi, istilah ‗penciptaan‘ dalam Program
Penciptaan Seni Pascasarjana, sesuai dengan penelitian artistik, tidak terbatas pada penciptaan
karya dalam pengertian harafiah yakni membuat sesuatu hasil kesenian. Bisa saja, karya seorang
seniman berupa teknik, metode, maupun model yang ditemukan berdasarkan pengalaman
profesionalnya. Dalam konteks penelitian, hasil pengetahuan diakibatkan dari tindakan kreatif baik
yang menggunakan artefak sebagai subjek maupun pengalaman praktik sebagai ‗pengarah‘
ditemukannya pengetahuan.
Produk pengetahuan dalam penelitian artistik dapat ditelisik melalui penelitian yang
berbasis pada praktik, yakni practice based-research dan practice-let research. Practice based-
research (penelitian berbasis-praktik) menempatkan artefak kreatif sebagai dasar kontribusi
terhadap pengetahuan. Misalnya, sebuah karya tari dapat melahirkan pengetahuan tentang
perspektif teknologi cyberspace dari sebuah karya seni.8 Practice-let research (Penelitian dipimpin-
praktik) mengarah kepada pemahaman baru tentang praktik seni. Misalnya temuan metode
koreografi filmis.9
Penelitian berbasis-praktik merupakan penelitian yang berfokus pada praktik yang
dilakukan oleh para praktisi seperti seniman, desainer, kurator, penulis, pemusik. Para praktisi
melakukan riset bertujuan untuk menggeneralisasikan kebaruan yang tidak sekedar baru bagi
kreatornya. Misalnya, produk penelitian doktor berbasis-praktik merupakan hasil dari proses
struktur yang dikukuhkan dalam regulasi ujian universitas. Karya seni akademis bukan merupakan
hasil yang sekedar baru bagi penciptanya, namun merupakan produk dari sistem kuasa lingkungan
akademik.
Hal ini berbeda dengan ‗riset‘ sebagai kebiasaan dalam praktik berkesenian yang dilakukan
para praktisi di luar lingkungan akademik. Para praktisi melakukan ‗riset‘ sebagai bagian dari
kebutuhan praktik sehari-hari dalam pencarian pengertian-pengertian baru dan pencarian teknik-
teknik baru untuk merealisasikan gagasan. Kebaruan yang dicari merupakan bagian dari praktik
sehari-hari yang tidak secara langsung ditujukan untuk pemroduksian pengetahun umum,
melainkan lebih ditujukan untuk tujuan individual dalam konteks penciptaan karyanya.
6 Jo Buterworth dan Liesbeth Wildschut (ed.). Contemporary Choreography: A Critical Reader. Routledge Taylor &
Francais Grup London and New York, 2010. hlm. 158
7 Bettina Blasing, Martin Puttke, dan Thomas Schack (ed.). The Neurocognition of Dance: Mind, Movement and Motor
Skills. Psychology Press Taylor & Francais Grup, Hove and New York, 2010. Hlm. 18
8 Martinus Miroto. Pertunjukan Realitas Teleholografis Body in Between: Tubuh di antara nyata dan maya. Disertasi
Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 2014.
9 Ibid.
15
Tindakan penelitian penciptaan tari tentu saja menyesuaikan dengan kaidah akademik.
Pada umumnya, komponen riset dalam penelitian memiliki tiga komponen utama:
1. Menunjukkan pertanyaan atau permasalahan penelitian dengan tujuan yang mengarah pada
pengetahuan dan pengertian yang berkaitan dengan pertanyaan atau permasalahan tersebut.
2. Menunjukkan alasan penelitian dengan referensi karya terdahulu dan menunjukkan
kontribusi pada bidang kreativitas, cara pandang, pengetahuan, dan pemahaman dalam
bidang yang diteliti.
3. Memiliki metode penelitian untuk menjawab pertanyaan atau permasalahan penelitian.
Memberikan penjelasan logika antara metode penelitian dan penyediaan metode untuk
menjawab pertanyaan.
Karya ilmiah dalam penelitian penciptaan tari tentu saja mengikuti kaidah yang berlaku di
lingkungan akademik di atas. Sedangkan dalam proses penciptaan tari, masing-masing koreografer
memiliki cara yang alamiah menurut pilihannya. Oleh karena itu, penelitian penciptaan tari
mempraktikkan metode penelitian penciptaan yang ilmiah dan alamiah.
Penelitian penciptaan tari dimaksudkan sebagai cara pengungkapan keunikan-keunikan
penelitian penciptaan tari di lingkungan akademik untuk menghasilkan pengetahuan melalui karya
seni dan pengalaman kreatif. Berdasarkan pengalaman, terutama pada jenjang doktoral, berkarya
sekaligus menulis (disertasi) menjadi kendala tersendiri yang memaksa saya harus menyesuaikan
diri dengan tuntutan akademis. Namun, kerja ganda sesungguhnya merupakan kenikmatan
tersendiri. Aktivitas penyusunan kata ke dalam bentuk kalimat atau paragraf dengan warna-warni
deskripsi, narasi, refleksi, dan argumentasi memberikan keasyikan. Keasyikan itu mirip dengan
pengalaman dalam penyusunan gerak ke dalam bentuk motif-motif atau frase-frase koreografi
dengan permainan ruang, waktu, tenaga dan dramaturgi. Buku-buku yang mendampingi di meja
komputer pada proses penulisan mirip pengalaman improvisasi dan komposisi pada saat proses
penciptaan tari di studio.
Tantangan perguruan tinggi seni Indonesia adalah diperlukannya metode penelitian
penciptaan seni yang sesuai dengan budaya, sejarah, dan fakta kekinian Indonesia. Dalam konteks
koreografi kontemporer misalnya, metode koreografi Barat yang menjadi sumber acuan kurikulum
di perguruan tinggi seni belum tentu tepat diterapkan di masyarakat tertentu seperti di Papua,
Kalimantan, maupun Aceh. Pengertian-pengertian teoritis tentang koreografi tari kontemporer dan
tari kreasi baru masih sering rancu. Demikian pula diperlukan diskusi tentang penggunaan istilah
tari modern di Indonesia yang perlu mengacu pada sejarah tari secara umum di dunia dan secara
khusus di wilayah Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Bennahum, Judith Chazin (ed.). 2005. Teaching Dance Studies. Routledge New York and London.
Blasing, Bettina, Martin Puttke, dan Thomas Schack (ed.). 2010. The Neurocognition of Dance:
Mind, Movement and Motor Skills. Psychology Press Taylor & Francais Grup, Hove and
New York.
Blom, Lynne Anne dan L. Tarin Chaplin. 1992. The Intimate of Choreography. University of
Pittsburgh Press.
Borgdorff, 2012. Henk The Conflict of the Faculties: Pespectives on Artistic Research and
Academia. Leiden University Press.
Buterworth, Jo dan Liesbeth Wildschut (ed.). Contemporary Choreography: A Critical Reader.
Routledge Taylor & Francais Grup London and New York, 2010.
Denzin, Norman K dan Yvonna S. Lincoln (ed.). 2009. Handbook of Qualitative Research. Edisi
bahas Indonesia, penerjemah: Dariyatno, Badrus Samsul Fata, Abi, John Rinaldi. Pustaka
Pelajar,.
Hanna, Judith Lynne. 1987. To Dance is Human: A Theory of Nonverbal Communication. The
University of Chicago Press, Chicago and London.
Hawkins, Alma M. 1988. Creating Through Dance. Princeton Book Company.
Hawkins, Alma, M. 1991. Moving from Within: A New Method for Dance Making. A Cappella
Books.
Juha, Mika Hannula; Suoranta; Tere Vaden. 2005. Artistic Research- theorie, methods and
practices. Academy of Fine Arts, Helsinki, Finland and University of Gothenburg /
ArtMonitor, Gothenburg, Sweden.
16
Leavy, Patricia. 2015. Method Meets Art: Arts-Based Research Practice. The Guilford Press New
York London.
Miroto, Martinus. 2014. Pertunjukan Realitas Teleholografis Body in Between: Tubuh di antara
nyata dan maya. Disertasi Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Parviainen, Jaana. Bodies Moving and Moved: A Phenological Analysis of the Dancing Subject and
the Cognitive and Ethical Values of Dance Art. Tampere University Press,1998.
Santana, Septiawan K. 2010. Menulis Ilmiah Metode Penelitian Kualitatif. Yayasan Obor Indonesia.
http://risbang.ristekdikti.go.id/regulasi/uu-12-2012.pdf
17
SENI PERTUNJUKAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL
(Perspektif KAJIAN BUDAYA)
Nengah Bawa Atmadja
Jurusan Pendidikan Sejarah/ Sosiologi, Fakultas Hukum dan Ilmu
Sosial (FHIS), Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha)
Email : [email protected]
Abstrak
Manusia terikat pada sistem sosiokultural yang terdiri atas tiga unsur dasar, yakni superstruktur
ideologi, struktur sosial, dan infrastruktur material. Superstruktur ideologi dijabarkan dalam bentuk kearifan
lokal sebagai habitus bagi tindakan sosial. Aspek-aspek ini terkait secara berdialektika. Kearifan lokal
dibatinkan melalui pendidikan memakai seni pertunjukan sebagai medianya. Seni pertunjukan tidak saja
berperan sebagai media pendidikan-media sebagai guru (tuntunan melalui totonan), tetapi juga sebagai
media pembentuk, cermin, pengemas, ritual, dan tuhan. Keterkaitan kearifan lokal dengan superstruktur
ideologi secara berdialektika, begitu mencermati peran yang dimainkannya, mengakibatkan seni pertunjukan
dapat berperan sebagai pentas ideologi dan/atau kekuasaan serta sekaligus melembagakannya dalam
masyarakat. Kekuasaan adalah modal bagi manusia yang pemakaiannya dapat disalahgunakan sehingga
muncul hubungan kekuasaan yang hegemonik dan/atau dominatif-rentan terhadap ketidakadilan. Berkenaan
dengan itu maka seni pertunjukan mengemban missi tidak hanya melakukan pewarisan nilai, tetapi dapat
pula berperan transformatif. Artinya, seni pertunjukan mengembangkan pola berpikir kritis, disertai dengan
tindakan (re-) interpretasi dan (re-) kontekstualisasi kearifan lokal dan sekaligus menetralisir ketidakadilan
dalam masyarakat - akibat penyalahgunaan permainan kekuasaan. Hal ini bisa memunculkan konflik karena
transformasi dapat merugikan kelas atas. Konflik dapat di atasi dengan cara menerapkan nilai-nilai pada
Saraswati sebagai Dewi Komunikasi Hindu dan/atau Dewi Seni Pertunjukan Hindu.
Kata-kata Kunci: Sosiokultural, seni pertunjukan, kearifan lokal, Saraswati Dewi Komunikasi/
Pertunjukan Hindu.
PENDAHULUAN
Perspektif filsafat ketubuhan atau sosiologi tubuh menunjukkan bahwa manusia adalah
monodualitas, yakni terdiri atas tubuh dan roh sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Gagasan ini berimplikasi bahwa kebahagiaan hidup manusia tidak semata-mata ditentukan oleh
terpenuhinya aspek kebutuhan tubuh fisikal atau jasmaniah (makanan, pakaian, perumahan),
tetapi bergantung pula pada pemenuhan kebutuhan rohaniah antara lain kesenian. Dengan
demikian, kesenian merupakan suatu keniscayaan bagi keberadaan manusia.
Kesenian terdiri atas aneka jenis dan/atau bentuk antara lain seni pertunjukan. Perfomance
studies memilahkan seni pertunjukan mencakup tiga aspek atau jenis, yakni teater, tari, dan musik
(Pramayoza, 2013: v). Erving Goffman (dalam Prasad, 2014: 273) – terkenal sebagai penggagas
teori dramaturgi mendefinisi pertunjukan adalah ―segala macam aktivitas peserta dalam sebuah
peristiwa tertentu yang mempengaruhi peserta lainnya dengan cara apa pun‖. Pertunjukan
mencakup 12 bentuk, yakni ―pertunjukan dalam kaitannya dengan politik, sejarah, agama,
seksualitas, tubuh, ruang, dan hal-hal seputar kepenontonan, ekspresi lokal dan jaringan global,
gerakan anak muda, perdebatan estetika antara seni rendah dan tinggi, pasar, serta proses-proses
pelembagaan akademik dan nonakademik‖ (Prasad, 2014: 275).
Dengan demikian pertunjukan bermakna luas atau sempit. Makna luas mengacu kepada
segala aktivitas kepenontonan yang berlangsung secara meruang dan mewaktu yang berpengaruh
terhadap penonton. Sebaliknya, makna sempit mengacu kepada seni, yakni teater, tari dan musik
yang dipentaskan secara meruang dan mewaktu yang melibatkan aktivitas kepenontonan. Namun,
apapun makna pertunjukan selalu melibatkan subjek yang menonton, dan objek yang ditonton–
agen yang melakukan tindakan kepenontonan, yakni seni pertunjukan. Hubungan antara penonton
dan objek kepenontonan terjalin dalam tindakan komunikasi, yakni Siapa? Mengatakan apa?
Melalui saluran apa? Kepada siapa? Dengan efek seperti apa? (Laswel dalam Fiske, 2012: 50).
Berkenaan dengan itu pesan seniman melalui seni pertunjukan kepada penonton secara
otomatis akan menimbulkan efek. Dengan meminjam gagasan Lubis (2015) efek dapat melalui dua
proses, yakni: pertama, proses transmission. Artinya, pesan yang disampaikan oleh komunikator
18
kepada komunikan sesuai dengan harapannya sehingga komunikasi bersifat statis, mekanistis, dan
linier. Kedua, proses generating (exchange of meaning). Artinya, kedua belah pihak – komunikator
dan komunikan (seni pertunjukan) serta penonton terlibat dalam proses saling memproduksi dan
mempertukarkan makna. Dengan demikian proses komunikasi bersifat dinamis, interpretatif dan
interaktif.
Gagasan bahwa seni pertunjukan sebagai media komunikasi dalam perspektif pandangan
exchange of meaning sangat penting. Sebab, gagasan ini memberikan peluang bagi paradigma teori
kritis Kajian Budaya (Cultural Stuidies) untuk menelaah seni pertunjukan. Kajian Budaya
menekankan pada agensi, yakni interaksi sosial budaya – termasuk relasi dan interaksi komunikasi
tidak hanya sebagai konsumen makna (pasif), tetapi sebagai produsen makna (aktif). Pendek kata
penempatan seni pertunjukan sebagai media komunikasi yang berlangsung melalui proses
exchange of meaning memiliki titik temu dengan ide Kajian Budaya tentang agensi. Titik temu ini
mengakibatkan seni pertunjukan dapat dikaji melalui pendekatan Kajian Budaya.
KEARIFAN LOKAL: PERSPEKTIF SISTEM SOSIOKULTURAL
Seni pertunjukan dan penonton sebagai konsumennya selalu terikat pada sistem
sosiokultural. Hal ini terdiri atas aneka unsur seperti terlihat pada Bagan 1. Dengan mengacu
kepada Sanderson (2011) ada tiga komponen dasar sistem sosiokultural, yakni: pertama,
superstruktur ideologi, kumpulan ide yang mencakup ideologi umum, nilai dan norma, agama, dan
pengetahuan. Superstruktur ideologi berfungsi sebagai habitus atau skematan bagi tindakan
manusia dalam masyarakat. Kedua, struktur sosial, yakni tindakan nyata dalam konteks hubungan
antarmanusia pada masyarakat. Tautan antarmanusia tidak saja mengenal aneka bentuk
pengelompokan sosial, tetapi juga pelapisan sosial–implikasi dari ketimpangan kepemilikan modal
(ekonomi, sosial, budaya, kultural, tubuh, natural) – meminjam gagasan Plummer (2011). Begitu
pula mereka terikat pada keluarga – unit sosial terkecil dan terutama dalam masyarakat maupun
hubungan kekerabatan-kental dengan peran gender yang terkait dengan ideologi patriarki
(Dzuhayatin, 2015; Hearty, 2015). Struktur sosial mencakup pula kelompok sosial, sistem
kepolitikan, dan pendidikan guna menjaga kelangsungan hidup sistem sosial dan/atau struktur
sosial ajeg. Ketiga, infrastruktur material, yakni teknologi yang digunakan manusia untuk
beradaptasi dengan ekologi guna menjawab dinamika ekonomi dan demografi. Aspek-aspek ini
terkait secara berdialektika guna menjaga kehamonisan sistem organisme biologis dan/atau
struktur sosial – sistem sosiokultural secara keseluruhan.
19
Bagan 2.1
Seni Pertunjukkan Bagian dari Sistem Sisiokultural
Superstruktur Ideologi
Ideologi umum
Nilai dan norma
Agama/kepercayaan
Pengetahuan
Kearifan Lokal
Kearifan sosial
Kearifan ekologi
Seni Pertunjukan
Media sebagai pembentuk
Media sebagai cermin
Media sebagai pengemas
Media sebagai guru
Media sebagai ritual
Media sebagai ―Tuhan‖
Struktur Sosial Infrastruktur Material
Pelapisan sosial masyarakat Ekonomi
Gender dalam keluarga Teknologi
Kekerabatan & kelompok sosial Ekologi
Kepolitikan Demografi
Pendidikan
Penonton Seni Pertunjukan
Membentuk dan dibentuk oleh makna
denotatif dan konotatif pada seni
pertunjukan
Terjadi sirkulasi makna
Superstruktur ideologi sebagai kumpulan ide atau kognisi bersifat abstrak. Bagan 2.1
menunjukkan kondisi ini mengakibatkan superstruktur ideologi dijabarkan dalam bentuk kearifan
lokal, yakni konsep, proposisi atau ungkapan-ungkapan yang dirumuskan sedemikian rupa agar
lebih mudah diingat dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sasarannya, membentuk
manusia yang arif atau bijaksana, tidak sebatas kognisi, tetapi memraksis dalam ucapan dan
tindakan sebagaimana tercermin pada kehidupan masyarakat, yakni tercipta keharmonisan,
kerukunan, kedamaian, kesejukan atau ke-dayuh-an.
Bagan 2.1 menunjukkan kearifan lokal dapat dipilahkan menjadi dua, yakni: pertama
kearifan sosial – berwujud konsep, proposisi atau ungkapan-ungkapan yang menjadikan manusia
bertindak arif dan bijaksana pada lingkungan sosialnya. Kedua, kearifan ekologis, yakni konsep,
proposisi atau ungkapan-ungkapan yang menjadikan manusia mampu bertindak arif dan bijaksana
dalam lingkungan alam. Lingkungan alam sekala dan niskala – Tuhan, dewa-dewa, roh leluhur,
bhuta kala, tonya, memedi, wong samar, dll. Dengan demikian sasaran hubungan harmoni bagi
kearifan lokal adalah berdimensi horizontal dan vertikal, sekala dan niskala yang bertautan secara
holistik-integralistik.
20
Kajian Atmadja dan Ariyani (2016) menunjukkan bahwa kearifan lokal memiliki berbagai
ciri, adapun ciri-cirinya sebagai berikut.
1. Kearifan lokal merupakan hasil pemikiran komunitas lokal sebagai abtraksi dari
pengalaman mereka dalam berinteraksi dengan lingkungan alam sekala niskala dan/atau
lingkungan sosialnya secara mewaktu.
2. Abstraksi pengalaman ini dituangkan dalam bentuk konsep, proposisi atau ungkapan-
ungkapan yang memuat nilai-nilai yang menjadikan warga komunitas menjadi orang
berkarakter arif dan bijaksana.
3. Nilai-nilai dalam kearifan lokal secara dekonstruktif terkait dengan superstruktur ideologi,
yakni tidak saja pengetahuan, tetapi juga ideologi umum, agama dan kepercayaan yang
berlaku dalam suatu komunitas.
4. Kearifan lokal dituangkan dan/atau merupakan media yang sangat ampuh bagi pencapaian
kurikulum kultural yang berlaku dalam suatu komunitas.
5. Kurikulum kultural tidak saja memuat apa yang secara ideal harus dilakukan oleh warga
komunitas agar menjadi orang yang arif dan bijaksana, tetapi memuat pula tata cara
penginternalisasiannya secara turun-temurunmelalui proses sosialisasi dengan melibatkan
berbagai agen pendidikan yang tumbuh dan berkembang dalam suatu komunitas.
6. Proses sosialisasi secara kontinyu mengakibatkan kearifan lokal tumbuh dan berkembang
menjadi tradisi dan bersembunyi pada alam bawah sadar. Kondisi ini mengakibatkan
warga komunitas jarang mempertanyakan kearifan lokal secara epistemologis.
7. Nilai-nilai kearifan lokal dipercaya memuat kebenaran fungsional dan pragmatis sehingga
diikuti dan dipertahankan secara lintas generasi dan diposisikan sebagai modal budaya
atau modal simbolik bagi komunitas.
8. Kearifan lokal sebagai konsep maupun ungkapan bukan bersifat spontan, melainkan hasil
pemikiran mendalam atas dasar fakta empirik sehingga teruji kebenarannya. Ukuran
kebenaran kearifan lokal adalah nilai fungsional dan/atau nilai kepragmatisan
(kebergunaan) bagi pencapaian kelangsungan hidup yang harmonis pada diri manusia
(tubuh dan roh) dan masyarakat sebagai pendukungnya.
9. Kearifan lokal adalah nilai-nilai luhur sehingga dapat berfungsi sebagai landasan etika bagi
perilaku yang baik dan benar guna mewujudkan keharmonisan sosial, ekologis, dan
teologis.
10. Kearifan lokal mampu menradisi dan menjadi pedoman hidup karena dikonstruksi dari
perpaduan olah rasa, olah pikir dan budaya masyarakat, nilai-nilai kepercayaan kepada
Tuhan, dan aspek ekologis. Dengan demikian kearifan lokal membumi atau tumbuh dan
berkembang dari bawah, bukan dikomando dari atas (pihak yang berkuasa).
11. Kearifan lokal sebagai pedoman bertindak dirumuskan dengan konsep proposisi-proposisi
atau ungkapan-ungkapan tradisional yang bersifat baku. Artinya, bentuk tuturan atau
unsur-unsur katanya tidak boleh diganti dan/atau ditambah maupun dikurangi dengan
kata lainnya.
12. Kearifan lokal sebagai proposisi atau ungkapan tradisional memiliki kata kunci sebagai
pokok pikiran yang dikomunikasikan kepada warga komunitas sebagai pemiliknya.
13. Kata-kata pada proposisi atau ungkapan kearifan lokal berdaya tarik, mudah diingat dan
provokatif. Dengan demikian warga komunitas sebagai pemiliknya mudah mengingat dan
terdorong untuk mengaktualisasikannya secara meruang dan mewaktu.
14. Kearifan lokal merupakan resep bertindak yang dapat ditafsirkan dan direvitalisasikan
sehingga dapat berlaku secara berkelanjutan.
15. Kearifan lokal memuat aspek-aspek kecerdasan atau kebijaksanaan yang bersifat asli atau
otentik. Kata asli tidak berarti ketertutupan, melainkan memiliki daya keterbukaan.
Artinya, bahan baku untuk membentuk kearifan lokal tidak hanya berdasarkan
21
pengalaman komunitas lokal dalam berinteraksi dengan sesamanya secara meruang dan
mewaktu, tetapi bisa pula ditambah dengan unsur-unsur budaya luar.
16. Walaupun pembentukan kearifan lokal terbuka bagi kebudayaan dari luar sebagai bahan
bakunya, namun penerimaannya bukan melalui proses memetik, tetapi lewat proses local
genius–daya olah/kreativitas yang tinggi atau melalui proses lokalisasi–kegeniusan
melokalkan unsur kebudayaan dari luar guna membentuk suatu kebudayaan baru yang
berbeda bahkan bernilai lebih tinggi daripada kebudayaan yang aslinya. Lokalisasi tidak
bisa dilepaskan dari kearifan komunitas setempat baik dalam proses maupun
kegunaannya. Gagasan ini mengakibatkan kearifan lokal lazim disamakan dengan local
genius.
17. Kearifan lokal bisa disamakan dengan narasi kecil, yakni ide yang lahir pada komunitas
lokal, bentukan institusi-institusi lokal, berdasarkan nilai-nilai yang unik, dan mengacu
kepada aturan-aturan main yang bersifat partikular dan indigineus.
18. Tradisi kecil bisa bercampur dengan tradisi besar–agama-agama dunia dan paham-paham
besar dari Barat. Pencampuran ini melalui hibriditasi sehingga terbentuk budaya hibrid,
yakni budaya campuran.
19. Kearifan lokal sebagai ide pada saat memraktikkannya, tidak saja berwujud tindakan
sosial, tetapi juga artefak yang menyertainya. Hal ini bersifat khas sehingga tidak
mengherankan jika kearifan lokal dapat mencerminkan dan/atau terkait dengan identitas
suatu komunitas lokal.
20. Kearifan lokal bukan agama–bukan barang sakral melainkan produk budaya sehingga
setiap saat bisa ditinggalkan oleh pendukungnya–nilai kefungsionalan dan kepragmatisan-
nya memudar bagi pencapaian tujuan dalam masyarakat–banyak kearifan lokal yang
secara perlahan-lahan dilupakan dan akhirnya lenyap pada suatu masyarakat.
Kearifan lokal pada masyarakat Jawa lazim disebut ―etika atau ajaran moral dengan istilah
pepali, unggah-ungguh, suba sita, tata krama, tata susila, sopan santun, budi pekerti, wulang
wuruk, pitutur, wejangan, wursita, dan wewarah (Purwadi dalam Kriyantono, 2014: 346).
Syuropati (2015) dalam bukunya berjudul ―Kumpulan Mutiara Kearifan‖ sangat bagus karena
memuat sekitar 800-an kearifan lokal pada masyarakat Jawa. Pada masyarakat Bali kearifan lokal
sebagai konsep, proposisi dan ungkapan-ungkapan tradisional dapat dijumpai pada folklor yang
disebut paribasa Bali.
Bagan 2.1 menunjukkan kearifan lokal tidak saja terkait pada struktur sosial, tetapi juga
dengan infrastruktur material secara berdialektika. Misalnya, orang Bali mengenal kearifan lokal
untuk melukiskan orang yang sial secara berlebihan ―sudah jatuh ketimpa tangga‖ dengan
ungkapan ―bangkung mati, keladi telah, gelogor uwug (babi betina mati, keladi makanan babi
habis dan kandangnya pun rusak‖. Ungkapan ini mengacu kepada latar belakang ekologi dan sistem
ekonomi petani, mereka terbiasa memelihara ternak babi – termasuk ternak domestik sehingga
menyatu dengan kehidupan keluarga orang Bali.
Agama Hindu mengenal karma phala Orang Bali melokalkan hukum karma phala dalam
bentuk kearifan lokal, yakni ungkapan berbunyi ―apa ane kapula, keto ane kalap‖. Gagasan ini
sama dengan ungkapan orang Jawa, yakni ―nguduh woh pakerti‖. Artinya, dalam kehidupannya
manusia memetik (nguduh, ngalap) hasil (woh, phala) dari perbuatannya (karma, pekerti). Jika
seseorang menanam jagung maka dia pasti akan memanen jagung. Kearifan lokal ini terkait dengan
basis ekonomi dan ekologi, yakni sebagai petani. Mengingat keterkaitannya dengan karma phala
maka ungkapan kearifan lokal ini dapat diposisikan sebagai lokalisasi atau local genius terhadap
agama Hindu.
Pencapaian tujuan ideal kearifan lokal adalah harmoni, rukun atau damai pada tiga tataran,
yakni sosial, ekologis, dan teologis – Tri Hita Karana. Harmoni berbasis hierarki yang diikuti
dengan berbagai kategori lainnya. Gagasan ini terlihat misalnya pada beberapa aspek dalam
kehidupan manusia sebagai berikut.
22
Tinggi : Rendah
Dewa : Raksasa
Manusia : Binatang
Siwa : Sisya
Raja (gusti) : Panjak (rakyat)
Laki-laki : Perempuan
Suami : Istri
Orang tua : Anak
Guru : Murid
Kanan : Kiri
Kaja : Kelod
Gunung : Laut
Dhana : Bhakti
Baik : Buruk
Benar : Salah
Paparan ini menunjukkan–berpegang pada perspektif strukturalisme bahwa pada
masyarakat berlaku peta kognisi yang memilahkan segala sesuatu secara rwa bhineda atau
berdikotomik secara vertikal. Bagan 2.1 menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan pencerminan
secara berdialektika dengan struktur sosial yang mengenal pelapisan sosial-keniscayaan karena
ketimpangan kepemilikan modal. Kearifan lokal tidak saja merupakan pencerminan strukrur sosial,
tetapi juga melegitimasinya. Keharmonisan terwujudkan melalui proses, yakni agen yang be-rwa
bhineda terlibat dalam tautan koneksitas berkomplementer dan mempertukarkan dhana-bhakti.
Gagasan ini dapat dicermati pada masyarakat Bali. Misalnya, hubungan antara raja (gusti,
tuan) dan rakyat (panjak, kaula, hamba) adalah berhierarki – atasan dan bawahan. Tautan ini
dapat mewujudkan keharmonisan jika keduanya mampu berkomplementer guna mempertukarkan
dhana-bhakti. Dhana-bhakti adalah kearifan lokal – bahkan budaya politik bagi penciptaan
hubungan harmonis antara raja-rakyat atau penguasa/rakyat. Raja – dalam konteks kekinian
adalah bupati, gubernur atau anggota DPR/D harus dana (suka memberi, filantropi) kepada
rakyatnya dalam bentuk dhana (artha dhana, widya dhana, dan abhaya dhana). Sebaliknya,
rakyat membalasnya dengan bhakti atau hormat berwujud kesetiaan dan/atau dukungan kepada
raja/penguasa (Atmadja, 2014) – rakyat memberikan suaranya pada saat pemilihan bupati,
gubernur dan/atau DPR/D. Pada akar rumput gagasan ini dapat dibandingan dengan ungkapan
orang desa, yakni ―bani ngidih, bani makidihan atau bani nyilih, bani masilihan‖. Pendek kata,
harmoni sosial terwujudkan jika seseorang bersedia memupuk modal sosial berbentuk resiprositas,
yakni mempertukarkan dhana dan bhakti.
Rwa bhineda yang hierarkis secara esensial adalah bersifat netral. Namun, menjadi tidak
netral karena dikaitkan dengan kategori baik/buruk dan benar/salah – berpegang pada gagasan
post-strukturalisme. Dengan demikian hubungan antara dua kategori yang berlawanan dapat
berdimensi kekuasaan atau politis. Artinya, kategori yang satu tidak saja diposisikan lebih tinggi
daripada ketegori lainnya, tetapi juga menguasainya. Misalnya, raja/rakyat, laki-laki/perempuan
atau suami/istri tidak saja yang satu lebih tinggi daripada yang lainnya, tetapi juga berdimensi
kekuasaan – raja menguasai rakyat atau laki-laki (suami) mengusai perempuan (istri). Penguasaan
memunculkan dan/atau diperkuat/dilegitimasi oleh ideologi. Ideologi yang melandasi tautan
antara raja dan rakyat adalah ideologi dewa raja - dalam konteks kekinian berlaku sistem demokrasi
berbaur dengan bapakisme. Gagasan ini berimplikasi banyak bupati mencari kesaktian atau jimat-
jimat (dhana dari suatu kekuatan adikodrati) guna menjadikan dirinya sebagai dewa raja. Begitu
pula tautan antara laki-laki (suami) dan perempuan (istri) – suami (laki-laki) terhadap istri
(wanita) tidak netral, melainkan berbasiskan ideologi, yakni ideologi patriarki yang terkait dengan
ideologi gender.
Pendek kata, hubungan antara dua kategori – agen yang terlibat di dalam rwa bhineda
adalah berdimensi kekuasaan atau politis. Kondisi ini terkait dengan kualitas tertentu yang
23
bersumberkan dan/atau memunculkan suatu ideologi. Ideologi ini berlanjut dan/atau tercermin
pada kearifan lokal. Akibatnya, terjadi hubungan kekuasaan berdimensi hegemonik dan/atau
dominatif yang dilakukan oleh agen yang berada pada strata atas terhadap mereka yang berada
pada lapisan bawah. Gejala ini tercermin pada hubungan antara penguasa dan rakyat dalam negara
atau suami dan istri dalam keluarga. Hubungan dominatif sangat rentan akan kekerasan – paling
tidak kekerasan simbolik atau kekerasan bahasa.
SENI PERTUNJUKAN = PENTAS IDEOLOGI/KEKUASAAN
Bagan 2.1 menunjukkan bahwa seni pertunjukan tidak terlepas dari sistem sosiokultural.
Seni pertunjukan berperan mempertahankan sistem sosiokultural dalam masyarakat. Dengan
mengacu kepada Ibrahim dan Akhmad (2014) – bagan 2.1 ada enam peran seni pertunjukan dalam
pelestarian sistem sosiokultural, yakni: pertama, seni pertunjukan sebagai pembentuk. Artinya,
seni pertunjukan memiliki daya untuk membentuk dan/atau mempengaruhi masyarakat guna
mewujudkan suatu tujuan yang ideal dalam konteks kekinian dan/atau di masa depan. Kedua, seni
pertunjukan sebagai cermin, yakni berperan merefleksikan kembali kepada kita peristiwa-peristiwa,
perilaku, identitas, hubungan sosial, ideologi atau nilai-nilai penting dalam masyarakat–mencakup
kearifan lokal. Ketiga, seni pertunjukan sebagai pengemas. Artinya, pesan dan/atau tampilan seni
pertunjukan adalah kemasan atas dasar penyeleksian yang terikat pada kepentingan bahkan
ideologi tertentu tanpa mengabaikan aspek estetika. Keempat, seni pertunjukan sebagai guru, yakni
agen pendidikan guna menanamkan pengetahuan, nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam
masyarakat. Kelima, seni pertunjukan sebagai ritual. Seni pertunjukan sebagai budaya populer
dapat berubah menjadi kegiatan seperti ritual agama. Gejala ini terlihat misalnya pada gaya
kepenontonan acara musik atau sinetron di TV, yakni banyak orang menontonnya secara rutin.
Gejala ini mirip dengan bagaimana manusia melakukan ritual agama dan/atau sembahyang harian
wajib dalam suatu agama. Keenam, seni pertunjukan sebagai ―Tuhan‖. Misalnya, tokoh yang
diidolakan dalam suatu sinetron dipuja tak ubahnya seperti ―Tuhan‖. Gejala ini tercermin dari
peniruan secara total atas penampilannya, yakni ibarat mengikuti ajaran agama dari Tuhan, tanpa
sikap kritis meniru mereka meniru gaya hidup bintang sinetron atau bintang film yang
diidolakannya secara total.
Dengan mengacu kepada Simatupang (2013) gagasan ini mencerminkan bahwa pandangan
seni untuk seni, atau pergelaran demi kenikmatan cita rasa (estetika) semata, tidak sepenuhnya
benar, sebab seni terkait dengan bidang sosial, politik, ekonomi, bahkan religio-spiritual. Aspek-
aspek ini jarang berlangsung secara terpisah, tapi berkelindan dalam pada seni pertunjukan.
Dengan demikian ―senyatanya lebih sering terjadi adalah negoisasi kepentingan dan tujuan yang
menjadi ‗rangka‘ pergelaran‖ (Simatupang, 2013: 166).
Bagan 2.1 menunjukkan bahwa peran seni pertunjukan sebagai guru dan pembentuk masa
kini dan/atau masa depan, tidak bisa dilepaskan dari superstruktur ideologi termasuk di dalamnya
kearifan lokal. Seni pertunjukan adalah media yang berkewajiban mewujudkan kurikulum lokal.
Sasarannya, mewujudkan masyarakat harmonis melalui pelestarian terhadap sistem sosiokultural.
Gagasan ini sejalan dengan pendapat Eagleton (2002) bahwa seni adalah produk budaya. Seniman
sebagai agen produsen seni, tidak membuat sendiri bahan bakunya, melainkan mereka memakai
bahan-bahan yang sudah ada dalam sistem sosiokultural, seperti nilai, dongeng, simbol, dan
ideologi. Gagasan ini dapat dibandingkan dengan pendapat Aristoteles (dalam Wiryomartono,
2001: 21) tentang seni sebagai mimesis, yakni ―suatu model berupa pernyataan dalam bentuk karya
yang menjalin hubungan antara manusia dan realitasnya baik secara sosial maupun alamnya‖.
―Sang seniman menggunakan alat-alat produksi tertentu–teknik-teknik khusus dari seninya –
untuk mengubah bahan-bahan yang berupa bahasa dan pengalaman menjadi suatu produk
tertentu‖ (Eagleton, 2002: 124) – berbentuk seni pertunjukan sebagai barang budaya yang siap
dikonsumsi guna memenuhi selera budaya konsumennya.
24
Bertolak dari gagasan ini maka seni pertunjukan tidak dapat dilihat hanya sebagai pentas
nilai seni, tetapi bisa pula dipandang sebagai pentas ideologi, nilai-nilai dan/atau kearifan lokal
sebagai penjabaran fungsional dan aspek pragmatisnya. Sasarannya, mempertahankan bangunan
sistem sosiokultural agar tetap ejeg secara berkelanjutan (Wiryomartono, 2001; Soetomo, 2003;
Eaton, 2010; Eagleton, 2002). Gagasan ini tidak saja tercermin pada alur cerita, tetapi juga pada
karakter dan/atau dialog para pemainnya. Tindakan mereka pada ruang pentas diiringi dengan
teknologi kesenian guna memperkuat aksentualisasi pesan seni dan ideologi yang disampaikan
kepada penonton beserta makna-makna yang terkandung di dalamnya, baik secara denotatif
maupun konotatif.
Gagasan ini dapat dicermati misalnya pada pertunjukan arja. Arja secara esensial
merupakan pentas ideologi dewa raja. Raja yang menyimbolkan dan/atau berada pada sisi
kebenaran dan kebaikan sebagai titik sentral dalam pertunjukan arja, acap kali digambarkan
sebagai insan yang dekat dengan dewa. Dia dicintai oleh rakyat, karena mampu menyeimbangkan
dhana-bhakti – diucapkan oleh panasar dan kartala (punakawan) – pola ini umum berlaku pada
seni pertunjukan di Bali khususnya yang mengambil kisah tentang raja. Begitu pula joged bumbung
sebagai seni pertunjukan rakyat secara esensial dapat diposisikan sebagai pentas ideologi patriarki
yang berlaku pada masyarakat Bali (Atmadja, 2010a).
Pola ini berlaku pula pada kehidupan negara. Jones (2015) menunjukkan pada era Orde
Baru, seni pertunjukan berperan penting bagi menyebarluasan ideologi pembangunanisme. Pada
masa Orde Baru dilakukan pula pembatinan Pancasila antara lain lewat pelembagaan P4 (Pedoman
Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Film boneka anak-anak Si Unyil merupakan contoh
sangat penting, karena dia melakonkan P4 dan sekaligus menginternalisasikannya pada anak-anak
guna mewujudkan insan Pancasilais (Atmadja dan Ariyani, 2016). Gagasan ini berkaitan dengan
adanya hubungan yang erat antara ideologi dan kesenian. ―Seni membuat kita ‗melihat‘ sifat-sifat
ideologi, dan dengan demikian membawa kita pada pemahaman yang lebih menyeluruh tentang
ideologi‖ (Eagleton, 2002: 34-35). Dengan demikian wajar jika pada masa Orde Baru ―negara
menjadi satu-satunya pihak yang berhak menentukan arah seni pertunjukan serta produksi
kebudayaan lainnya‖ (Hatley, 2014: 4).
SENI PERTUNJUKAN : PERSPEKTIF PERUBAHAN SOSIAL
Dengan mengacu kepada Georg Simmel (dalam Hardiman, 2016) manusia bukanlah
makhluk statis, melainkan dinamis, berubah menurut zaman dan kebudayaannya. Dewasa ini
manusia memasuki suatu zaman baru, yakni Era Globalisasi yang terfokus pada kedidayaan
kapitalisme global.
Kapitalisme global memoles dunia menjadi sebuah panggung kehidupan, tempat segala hal
yang ada di dunia ini menjadi tak lebih dari komoditas. terjadi komodifkasi dunia
kehidupan. Di dalam masyarakat kapitalisme global, eksploitas dan komodifikasi segala
sumber daya dan konsumsi produk-produknya bahkan mencapai titik puncaknya. Ketika
semua hal menjadi komoditas, ia tak lebih dari seonggok benda atau barang dagangan, tidak
hanya cinta, tidak pula kesetiaan, tidak keperawanan, tidak nilai, semua aspek kehidupan
terserap dalam fetish, pemujaan akan benda-benda, sehingga memungkinkan
berkembangnya ideologi materialisme dalam dunia kehidupan (Ibrahim dan Akhmad, 2014:
44).
Pendek kata, kapitalisme global atau sering pula disebut ideologi pasar mengakibatkan
terjadi komodifikasi dunia kehidupan sehingga kepemilikan uang menjadi suatu keniscayaan bagi
manusia. Uang adalah simbol kekayaaan. ―Kalau anda berhasil menjadi orang kaya, apa pun bisa
dibeli .... bahkan dari tingkat rendahan, untuk terus mengejar kekayaan sebanyak-banyaknya
karena kekayaan memberi banyak kemudahan dalam memperoleh kenikmatan hidup‖ (Marcuse
dalam Sudarminta, 2016: 114). Era Globalisasi disebut pula Zaman Duit, mengingat uang adalah
daya penggerak utama bagi tindakan manusia agar menjadi kaya dan/atau instan mendapatkan
25
kenikmatan hidup secara hasratiah (Atmadja, 2010, 2014a, Atmadja, Atmadja dan Mariyati, 2016a,
2016b).
Dampak komodifikasi dan/atau pengejaran manusia akan uang tercermin pada seni
pertunjukan joged bumbung di Bali. Atmadja (2010a) menunjukkan tarian joged bumbung
mengalami perubahan, yakni dari joged bumbung pakem menjadi joged bumbung ngebor - dilabeli
pula joged bumbung porno. Dalam perspektif strukturalisme genetik (Goldmann dalam Eagleton,
2002) gejala ini terkait dengan teks dan visi dunia. Seni pertunjukan sebagai teks secara
dekonstruktif memuat visi dunia yang mengacu kepada ideologi patriarki sebagai ideologi dominan
pada masyarakat Bali dan ideologi pasar sebagai ideologi dominan pada era kapitalisme global =
Zaman Duit. Akibatnya, tidak saja seni pertunjukan berubah menjadi komoditas, tetapi juga
goyangan tubuh penarinya. Dengan mengacu kepada Plummer (2012) dalam sistem ekonomi
kapitalis maka tubuh sebagai simbol eksistensi manusia – saya ada karena tubuh, merupakan pula
modal yang dapat dialihkan menjadi modal finansial. Dengan demikian joged bumbung ngebor
tidak saja sebagai pentas ideologi patriarki, tetapi juga pentas ideologi pasar - jual beli tubuh, penari
mendapatkan uang, sebaliknya pengibing dan penonton mendapatkan kepuasan libido lewat
pandangan mata.
Srukturalisme genetik memperhatikan pula aspek historis, yakni dimensi sejarah pada
masanya – menentukan teks dan visi dunia (Goldmann dalam Eagleton, 2002). Kajian Atmadja
(2010) menunjukkan bahwa kemunculan joged bumbung ngebor secara historis berkaitan dengan
kepopuleran penyanyi dangdut Inul Daratista dengan goyang ngebor-nya pada tahun 2003.
Weintraub (2012) menunjukkan bahwa kehadiran Inul dalam dunia musik dangdut dengan goyang
ngebor-nya, mempesona imajinasi berjuta-juta orang di tingkat lokal, nasional, dan internasional.
Penggemarnya sangat fanatik sehingga melahirkan Inulmania. Orang Bali pun menjadi Inulmania.
Dalam konteks inilah mereka ingin mendekatkan gaya ngebor penyanyi dangdut Inul yang jauh di
sana agar menjadi dekat di sini – joged bumbung ngebor sebagai representasinya.
Komodifikasi dunia kehidupan mengakibatkan pula kolektivisme telah berubah ke arah
individualisme bahkan mengarah kepada McDonaldisasi masyarakat (Ritzer, 2004, 2006, 2012).
Akibatnya, kearifan lokal pada masyarakat agraris tradisional, yakni saling menolong yang
disimbolkan dengan ungkapan ―bani ngidih, bani makidihan atau bani nyilih, bani masilihan”
kehilangan daya magisnya, sebab manusia selalu berpikir untung rugi, efisien, dll. Kondisi ini
memunculkan kearifan lokal baru sebagai pencerminan dari ideologi individualisme, yakni ―mati
iba, hidup kae‖ – biarkan orang lain mati, yang penting saya/kami hidup – investasi modal sosial
menjadi amat terbatas.
Kondisi seperti ini tidak saja karena kehidupan manusia mengalami komodifikasi yang
mengarah kepada McDonaldisasi, tetapi juga karena adanya berbagai teknologi masuk desa antara
lain TV. TV sebagai kotak ajaib menyihir anggota keluarga untuk tidak henti-hentinya melakukan
ritual menonton TV. TV menyediakan beragama hiburan yang tidak mengharuskan orang
menontonnya ke ruang publik, tapi cukup pada ruang privat, yakni ruang keluarga bahkan kamar
tidur – TV mendidik pula manusia menjadi homo consumer (Atmadja dan Ariyani, 2016). Kondisi
ini memberikan pukulan bagi seni pertunjukan, seperti arja, drama gong, wayang kulit, dll.
Walaupun demikian tidak bisa dipungkiri wayang Cenk Blonk merupakan perkecualian. Wayang ini
bertahan karena bertransformasi menjadi wayang post-modern sehingga konsumen yang menyukai
budaya populer mudah menerimanya (Atmadja dan Ariyani, 2016).
SENI PERTUNJUKAN : EKONOMI SUBSISTENSI >< EKONOMI PASAR
Perubahan sosial melanda masyarakat Bali, bahkan menjadi dambaan komunitas lain di
luar Bali, yakni pergeseran sistem ekonomi, yakni dari pertanian ke sektor industri antara lain
industri pariwisata. Dengan mengacu kepada model pemikiran meterialis sebagaimana
dikemukakan Sanderson (2011) dan Eagleton (2002) perubahan ini tidak saja memunculkan
adaptasi pada sistem ekonomi – aspek infrastruktur material, tetapi menimbulkan pula adaptasi
26
pada tataran struktur sosial dan superstruktur ideologi. Berkenaan dengan itu kesenian - seni
pertunjukan yang – ―berisikan kesan-kesan atau pengungkapan-pengungkapan simbolik yang
mempunyai nilai estetis, emosional atau intelektual bagi para anggota suatu masyarakat‖
(Sanderson, 2011: 63) mengalami pula penyesuaian.
Gejala ini ditandai oleh adanya pengembangan seni sebagai bagian dari industri pariwisata
dan/atau ekonomi periwisata.
Seringkali diungkapkan sebagai motivasi pemerintah daerah mengembangkan kebudayaan
dan kesenian di daerahnya adalah pariwisata. Seringkali diasumsikan bila kesenian tertentu
dikembangkan dan dikemas secara baik, maka dengan sendirinya wisatawan atau investor
akan datang membelanjakan uangnya di wilayah tersebut (Simatupang, 2013: 279).
Dengan demikian seni sebagai komoditas adalah titik sentral bagi pariwisata (Pitana dan
Gayatri, 2005). Kesenian sebagai modal kultural dan/atau modal simbolik secara mudah dialihkan
menjadi modal ekonomi guna menjaga kelangsungan hidup sistem ekonomi pariwisata.
Pengembangan ini berbingkaikan jargon industri kreatif - ―industri berbasis kreativitas
individu yang menghasilkan produk artistik yang memiliki dampak pada kesejahteraan masyarakat
baik ekonomi maupun budaya‖ (Hermantoro, 2011: 104). Namun, cita-cita ideal ini ―seringkali
tidak benar. Banyak contoh di daerah lain menunjukkan tidak adanya hubungan yang sebegitu erat
antara perkembangan kehidupan kesenian dan peningkatan kedatangan wisatawan. Kekeliruan
cara pandang semacam itu perlu dikoreksi‖ (Simatupang, 2013: 279-280). Caranya, menempatkan
kesenian sebagai bagian dari kegiatan ekonomi, tidak saja ekonomi pariwisata, tetapi juga ekonomi
lokal. Hal ni merupakan tantangan bagi seminan dalam menciptakan seni pertunjukan sebagai
konsumsi massal bagi komunitas lokal. Tujuan utama adalah memenuhi kebutuhan subsistensi,
bukan ekonomi pasar.
Dari perspektif ekonomi subsistensi ... maka pariwisata sebaiknya tidak diletakkan sebagai
tujuan utama kegiatan kesenian maupun kebudayaan. Konsumen kegiatan kesenian atau
pariwisata yang utama adalah warga masyarakat kita sendiri. Wisatawan, dalam negeri
maupun luar negeri, sebaiknya ditempatkan sebagai sasaran sekunder. Dengan demikian,
langkah terpenting dan paling awal untuk menumbuhkan iklim pariwisata dalam kesenian
dan kebudayaan lokal adalah menggarap konsumen lokal itu sendiri: warga masyarakat kita.
Merekalah tulang punggung kehidupan kesenian dan kebudayaan kita. Apabila, selera warga
masyarakat kita telah terbentuk untuk menyenangi dan mengapresiasi kesenian/
kebudayaan kita sendiri – barulah ada kemungkinan orang luar akan ikut tertarik untuk
mengapresiasinya. Langkah yang mendahulukan konsumen lokal ini juga strategis bagi
upaya menjaga kelangsungan seni budaya kita (Simatupang, 2013: 280-281).
Pendek kata, pencipataan seni bagi pariwisata memang penting, namun jauh lebih penting
jika seni diciptakan bagi sistem ekonomi subsistensi. Jika hal ini dapat diwujudkan maka sistem
ekonomi lokal akan bergerak. Begitu pula kecintaan mereka terhadap kebudayaan sendiri akan
semakin kuat - identitas etnik menjadi semakin lebih kokoh. Pencapaian ini akan memberikan pula
imbas bagi ekonomi pariwisata, yakni wisatawan pun tertarik ikut menikmatinya – ekonomi
pariwisata secara otomatis ikut bergerak ke arah kemajuan.
Pencapaian sasaran ini tidak mudah, sebab perubahan sosial (kasus masyarakat Bali) dari
masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern, bahkan terus berlanjut ke masyarakat
postmodern, ditandai oleh semakin kompleksnya diferensiasi sosial. Akibatnya, selera akan seni
pertunjukan semakin beragam, sebab pengonsumsiannya merupakan pencerminan dari posisi
seseorang dalam kelas sosial dan/atau kelompok sosial (Atmadja dan Ariyani, 2016). Gejala ini
merupakan tantangan bagi para seniman untuk menciptakan seni pertunjukan yang sesuai dengan
selera budaya kelompok sosial dan/atau kelas sosial yang menjadi konsumennya. Idealnya, tentu
saja seni pertunjukan yang diciptakan mampu merangkul sebanyak mungkin kelompok sosial
dan/atau kelas sosial sehingga daya ekonomi subsistensinya menjadi lebih tinggi.
27
SENI PERTUNJUKAN SEBAGI SENI TRANSPORMATIF
Paparan di atas menunjukkan bahwa seni dapat digunakan sebagai media untuk
membatinkan kearifan lokal yang bersumberkan pada superstruktur ideologi. Gagasan ini
mencerminkan bahwa kearifan lokal secara mudah bisa digunakan untuk mempertahankan
kekuasaan secara hegemonik. Begitu pula kejayaan ideologi pasar secara disadari maupun tidak
bisa masuk ke dalam seni. Sebagaimana dikemukakan Walter Benyamin (dalam Wiryomartono,
2001: 78) masyarakat modern cenderungan berkesenian dan karya-karya seni terlibat dalam
mekanisme pasar dalam arti komersial. Kondisi ini dapat mempengaruhi aura seni. Begitu pula
berbagai tayangan pada TV baik lewat pesan yang tersingkapkan maupun yang tersembunyi – level
sadar maupun tidak sadar (Soetomo, 2003) bisa menimbulkan homo consumer bahkan hedonisme.
Berkenaan dengan itu tidak mengherankan jika di kalangan penganut teori kritis Kajian
Budaya muncul gagasan agar seni pertunjukan tidak hanya menghibur, tetapi memiliki pula ciri
transformatif (Arvon, 2010; Sutrisno dan Verhaak, 1993; Eagleton, 2002). Hal ini mengacu kepada,
pertama, seni tidak sekedar mengajak manusia mengalami suasana rekreatif – dari sedih menjadi
gembira, tetapi yang lebih penting adalah menggoda, menggugah bahkan mengajak orang agar
menampilkan suatu kesadaran baru akan realitas sosial budaya yang ada di sekitarnya. Apa yang
tampak dipermukaan bisa saja baik-baik saja, namun di baliknya ada masalah-masalah yang
memerlukan pembenahan. Kedua, seni (pertunjukan) dapat berperan transformatif, yakni
menampilkan kepedulian terhadap nasib orang-orang lain yang terdesak oleh yang kuat, tidak
sebatas wacana, melainkan berlanjut pada usaha menunjukkan jalan kesadaran ke arah suatu
kondisi sosial yang lebih berkeadilan sosial.
Pencapaian sasaran ini memerlukan persyaratan, yakni pola berpikir kritis yang perlu
dikembangkan oleh para seniman.
Berpikir kritis adalah cara berpikir reflektif, beralasan, berfokus pada keputusan apa yang
dilakukan atau yang diyakini. Berpikir kritis adalah proses mengaplikasikan,
menghubungkan, menciptakan, atau mengevaluasi informasi yang dikumpulkan secara aktif
dan terampil. Berpikir kritis merupakan proses yang penuh makna untuk mengarahkan
dirinya sendiri dalam membuat suatu keputusan. Proses tersebut memberikan berbagai
alasan sebagai pertimbangan menentukan bukti, konteks, konseptualisasi, metode dan
kriteria yang sesuai (Supriyono, 2016: 32).
Pola berpikir kritis dapat diterapkan pada kearifan lokal baik isi maupun praktiknya.
Kearifan lokal tidak bukan dogma, tapi produk budaya sehingga bisa disaring lewat pola berpikir
kritis. Mengingat, pertama, dalam perspektif strukturalisme genetik kearifan lokal punya latar
belakang sejarah. Masyarakat terus berubah–membentuk sejarah baru sehingga selalu ada peluang
kearifan lokal sebagai produk sejarah akan kehilangan konteksnya. Kedua, kearifan lokal - gagasan
apa pun selalu memuat dua aspek berlawanan–baik dan buruk atau merugikan dan
menguntungkan. Dalam konteks ini pihak berkuasa dapat menafsirkan dan/atau memakai kearifan
lokal hanya pada aspek baiknya–tanpa mempertimbangkan keburukannya guna menekan orang
lain yang berbeda pendapat guna mempertahankan posisinya–kelas atas pada struktur sosial
(Atmadja, Atmadja dan Mariyati, 2016a)
Bertolak dari gagasan ini maka peran seni pertunjukan sebagai media pembentuk dan guru
atas kearifan lokal seperti terlihat pada Bagan 2.1, membutuhkan sikap kritis yang diarahkan pada
aspek isi dan/atau praktik sosial yang menyertainya. Aspek ini secara mudah dimanipulasi oleh
kelompok sosial atas/kelas berkuasa sehingga meminggirkan kelas sosial bawah/kompok sosial
yang dikuasai. Gagasan ini berimplikasi bahwa pewarisan kearifan lokal sebagai warisan nirwujud
(heritage intangible) tidak dilakukan secara otomatis, melainkan memerlukan kajian kritis yang
disertai dengan usaha ―senantiasa diciptakan kembali (recreated) oleh komunitas dan kelompok
sosial sebagai jawaban atas lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam dan sejarah mereka,
dan memberikan mereka perasaan identitas dan kesinambungan‖ (Marrie dalam Simatupang,
2013: 206). Pendek kata, kearifan lokal sebagai suatu habitus perlu diwariskan secara
28
menggenerasi, namun disertai dengan tafsir ulang, tidak semata-mata untuk menunjukkan adanya
kontinyuitas, tetapi yang lebih penting adalah mewujudkan kontekstualisasi dengan lingkungan
alam dan sosial.
(Re-) Interpretasi dan (re-) kontekstualisasi terhadap kearifan lokal dapat dituangkan dalam
seni pertunjukan – sesuai dengan peran media sebagai pembentuk dan guru. Sasarannya, tidak
hanya mewariskan kearifan lokal, melainkan apabila perlu ada aspek transformatif emansipatifnya,
yakni mengubah ketidakadilan karena kelas atas mengeksploitasi kelas bawah. Jadi, seni tidak saja
hiburan, tetapi juga media yang membawa perubahan ke arah emansipatoris. Dengan meminjam
gagasan Bertolt Brecht (dalam Arvon, 2010: 84) peran transformatif emansipatif mengakibatkan
seni pertunjukan dapat beperan sebagai agen perubahan baik ke depan maupun ke atas.
Kami sepakat bahwa segala sesuatu harus diubah
Dunia dan umat manusia
Terutama kegelisahan kelas
Karena terdapat dua jenis manusia
Eksploitasi dan pengabaian ...
Ketika Anda telah memperbaki dunia
Perbaikilah dunia yang telah diperbaiki tersebut
Tinggalkan dunia itu di belakang!
Jika ketika memperbaiki dunia Anda telah melengkapi kebenaran
Lengkapilah kebenaran yang telah dilengkapi tersebut
Tinggalkan kebenaran itu di belakang!
Jika ketika melengkapi kebenaran tersebut, Anda telah mengubah kemanusiaan
Ubahlah kemanusiaan yang telah diubah tersebut
Tinggalkan kemanusiaan itu di belakang!
(Bertolt Brecht dalam Arvon, 2010: 84).
Dengan berpegang pada gagasan ini dapat dikemukakan bahwa seni pertunjukan
transformatif terikat pada dua aspek, yakni mengekang dan membebaskan. Artinya, kearifan lokal
yang tidak berpotensi menimbulkan ketidakadilan terus diwariskan-jika perlu disertai dengan
reinterpretasi. Sebaliknya, jika memunculkan ketidakadilan maka kearifan lokal bahkan
supertruktur ideologi harus diubah sehingga peran seni pertunjukan sebagai seni transformatif
emansipatif menjadi tidak terhindarkan.
Kegiatan seperti ini dapat memunculkan masalah, yakni ―bersinggungan, bertabrakan
dengan arus lain yang mau mempertahankan kemapanan kehidupan, mau membekukan stabilitas
dalam tembok-tembok keras atas nama harmoni bersama, kerukunan bersama, dan
ketidakresahan?‖ (Strisno dan Verhaak, 1993: 149). Kondisi ini dapat memunculkan tindakan pro
dan kontra atau ada kelompok yang mendukung dan menolak – mengarah pada perang wacana
bahkan konflik. Seni pertunjukan pun kena getahnya – disanjung oleh yang pro dan dicaci maki
oleh yang kontra. Bahkan sebagaimana yang berlaku pada era Orde Baru seni pertunjukan dapat
―dikandangkan‖ dengan dalih menimbulkan disharmoni sosial – mengganggu ketertiban umum
(Jones, 2015).
Namun, pada Era Reformasi – acap kali diposisikan sebagai dikotomi dari Era Orde Baru,
demokratisasi mengakibatkan munculnya ruang yang lebih terbuka bagi seniman untuk
mengekspresikan potensinya. Gagasan ini tercermin dari semaraknya (seni) pertunjukan dalam
kaitannya dengan politik (demonstrasi) guna mempengaruhi kebijakan pemerintah atas suatu
masalah. Bersamaan dengan itu maka seni pertunjukan berpeluang melakukan tindakan kritis,
tidak saja terhadap kearifan lokal yang berlaku dalam masyarakat, tetapi juga terhadap kebijakan
pemerintah. Pemerintah tidak selayaknya menggunakan pendekatan kekuasaan dalam
mengatasinya, dengan suatu pemikiran bahwa walaupun keduanya berada pada posisi yang
berbeda – pro/kontra, namun di balik itu muaranya sama, yakni ―demi menjaga agar kehidupan
bersama tetap stabil (ini untuk kaum penertib sosial) atau pun demi tetap segar dinamika hidup
29
bersama justru karena dipertajam permasalahannya, dikomentari kepincangannya oleh kesenian
(ini menurut orang seni) (Sutrisno dan Verhaak, 1993: 149).
Namun bagaimanapun juga kegiatan (seni) pertunjukan tidak memaksakan kehendaknya di
luar batas asas normatif – mengatasnamakan kebebasan berekspresi. Mengingat, gagasan Geertz
(1973) bahwa manusia memang makhluk berkebebasan, namun bukan tanpa batas. Manusia ibarat
laba-laba, bebas bergerak, namun tetap sebatas jaring-jaring yang dibuatnya sendiri. Jaring-jaring
ini adalah asas nomatif yang membatasi kebebasan manusia. Manusia menerima pula jaring-jaring
buatan Tuhan, yakni agama. Jaring-jaring ini tidak membenarkan manusia melakukan tindakan
kekerasan – apalagi semua agama berintikan kasih sayang. Dengan demikain pendekatan
kekuasaan dalam memecahkan perbedaan pendapat perlu digantikan dengan pendekatan ―melalui
dialog kehidupan bersama ‗konsensus‘ matang yang bertolak dari akar budi jernih dan kebeningan
nurani‖ (Sutrisno dan Verhaak, 1993: 149).
SARASWATI: DEWI KOMUNIKASI/SENI PERTUNJUKAN HINDU
Gagasan di atas menunjukkan jaring-jaring yang membatasi tindakan manusia – termasuk
seniman dapat berasal dari agama. Dalam konteks ini menarik gagasan Atmadja (2016) tentang
Dewi Sawaswati sebagai i Dewi (Ilmu) Pengetahuan dan Dewi Komunikasi Hindu. Alasannya, nama
lain Saraswati adalah Dewi Kata-Kata atau Dewi Penguasa Lidah. Tindakan komunikasi paling
dasar adalah memakai kata-kata. Gagasan ini tercermin pada definisi komunikasi, yakni ―Siapa?
Mengatakan apa? Kepada Siapa? Melalui saluran apa? dan ―Apa efeknya? (Fiske, 2004) Gagasan ini
mencerminkan bahwa kata-kata merupakan esensi dari komunikasi. Dengan demikian penempatan
Saraswati = Dewi Kata-Kata = Dewi Komunikasi Hindu sangat tepat.
Seni pertunjukan adalah sarana komunikasi – ―melalui saluran apa seseorang
berkomunikasi – menyampaikan pesan dengan orang lain? Bertolak dari gagasan ini tampak bahwa
seni pertunjukan termasuk dalam lingkup komunikasi, yakni sarana/media komunikasi
(tradisional) dalam konteks penyampaian suatu pesan dengan harapan, tidak semata-mata berefek
rekreatif, tetapi juga efek lain, misalnya pendidikan – seni sebagai tontonan dan tuntunan. Gagasan
ini berimplikasi bahwa penempatan Saraswati sebagai Dewi Komunikasi Hindu secara langsung
maupun tidak langsung bisa pula dikaitkan dengan seni pertunjukan. Bahkan tidak berlebihan jika
dikatakan bahwa Saraswati sebagai Dewi Kata-Kata = Dewi Komunikasi Hindu secara otomatis
dapat pula disebut sebagai Dewi Seni Pertunjukan Hindu (seni pada umumnya). Apalagi kesenian
sebagai media komunikasi tradisional sulit memisahkannya dengan agama Hindu, mengingat
agama Hindu adalah inti kebudayaan Bali.
Gagasan ini penting dalam penempatan seni pertunjukan pada bingkai penciptaan dan/atau
seni transpormatif emansipatif. Artinya, seni pertunjukan dapat memakai Dewi Saraswati sebagai
habitus baik dalam penciptaan maupun seni transformatif dan emansipatif. Hal ini dilakukan lewat
penafsiran secara dekonstruktif – menggali makna denotatif dan konotatif terhadap aspek
ketubuhan dan atribut yang digunakan Dewi Saraswati (Atmadja, 2014). Dengan berpegang pada
gagasan ini dapat dikemukakan bahwa ada beberapa skemata bagi penciptaan dan daya
transformatif emansipatif seni pertunjukan, yakni:
(1) Seni pertunjukan berbasis keindahan, kecantikan, kehalusan dan daya tarik–simbolisasi
Saraswati adalah Dewi + wanita.
(2) Seni pertunjukan terikat pada kesucian–simbolisasi kain yang dikenakan Dewi
Saraswati dan bunga teratai sebagai tempat duduknya adalah berwarna putih.
(3) Seni pertunjukan terikat pada Catur Weda–simbolisasi Dewi Saraswati bertangan
empat.
(4) Seni pertunjukan terikat pada permainan rasa (indah, sedih, benci, marah, gembira,
suka, duka) dan kreativitas dalam konteks penciptaan karya seni–simbolisasi Dewi
Saraswati memainkan kecapi.
30
(5) Seni pertunjukan terikat pada agama dan/atau spiritualitas sebagai habitusnya–
simbolisasi tasbih.
(6) Seni pertunjukan terikat pada penggunaan ilmu dan teknologi. Setiap kesenian terdiri
dari tiga komponen, yakni ide tentang seni, sistem sosial sebagai pendukung seni (sekaa
dan penonton/penikmat) dan teknologi seni (gamelan, tata panggung), dapat berubah
sesuai dengan kemajuan zaman – simbolisasi buku atau lontar.
(7) Seni pertunjukan adalah sesuatu yang indah sehingga menggugah hasrat untuk
menikmatinya, termasuk hasrat libidinal paling tidak dalam bentuk penyaluran hasrat
seksial lewat pandangan mata – simbolisasi burung merak.
(8) Seni pertunjukan memilahkan antara kebaikan dan keburukan, kebenaran dan
kesalahan atau keadilan dan ketidakadilan. Hal ini dilanjutkan dengan keberpihakan
terhadap kebenaran, kebaikan dan keadilan – simbolisasi burung angsa.
(9) Seni pertunjukan terikat pada kesempunaan, keindahan dan kesucian – menjadikannya
sebagai hiburan bagi makhluk penghuni tri loka – bhur, bwah, dan swah. Misalnya,
pada masyarakat Bali dikenal seni pertunjukan untuk manusia (bwah) – balih-balihan
dan seni pertjukan bagi dewa – tari wali (swah) – tanpa mengabaikan ancangannya
yang disebut bhuta kala (makhluk demonik bhur). Dengan demikian - simbolisasi bunga
teratai yang dipegang Dewi Saraswati.
Pendek kata, gagasan ini mencerminkan bahwa secara denotatif dan konotatif Saraswati
sebagai Dewi Komunikasi Hindu = Dewi Seni Pertunjukan Hindu secara holitik integralistik
memuat habitus bagi mengembangkam seni pertunjukan sebagai tontonan dan tuntunan, termasuk
di dalamnya peran transformatif emansipatif. Sasaran, menjadikan karya seni tetap terikat pada
cita-cita ideal, yakni masyarakat yang hamonis secara sosial, ekologis, dan teologis.
Gagasan ini bisa dibandingkan dengan pendapat Plato (dalam Sudiarja, 1992) tentang seni,
yakni harus menuntun manusia ke arah kebaikan. Seni harus berguna dan bersifat mendidik ke
arah pengetahuan akan Kebenaran sejati dan dunia Ideal. Seni yang tidak menuruti aturan-aturan
negara atau bertentangan dengan hukum-hukum yang adalah seni yang merusak. Dengan demikian
Plato (dalam Sudiarja, 1992: 263) menyatakan bahwa ―kesenian mesti diatur, agar jangan
mengungkapkan keindahan-keindahan yang bertentangan dengan hukum dan kebiasaan pemujaan
dewa-dewa‖.
PENUTUP
Manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial terikat pada sistem sosiokultural,
terdiri atas tiga unsur dasar, yakni superstruktur ideologi, struktur sosial, dan infrastruktur
material. Setiap komponen terdiri atas aspek-aspek sebagai bagiannya. Kesemuanya membentuk
suatu sistem dan bertautan secara berdialektika guna menjaga kelangsungan hidup suatu
masyarakat.
Superstruktur ideologi dijabarkan dalam bentuk kearifan lokal sebagai habitus bagi
tindakan sosial. Kearifan lokal memiliki nilai fungsional dan pragmatis sehingga suatu komunitas
berusaha menjaga lewat pewarisan. Pewarisannya dilembagakan melalui pendidikan memakai seni
pertunjukan sebagai medianya. Seni pertunjukan tidak saja berperan sebagai media pendidikan–
media sebagai guru, tetapi juga sebagai media pembentuk, cermin, pengemas, ritual, dan tuhan.
Keterkaitan kearifan lokal dengan superstruktur ideologi mengakibatkan seni pertunjukan dapat
berperan sebagai pentas ideologi dan/atau kekuasaan. Penyalahgunaan kekuasaan mengakibatkan
hubungan yang hegemonik dan/atau dominatif sehingga rentan akan ketidakadilan.
Dalam konteks ini seni pertunjukan dapat beperan penting, yakni tidak hanya melakukan
pewarisan nilai, tetapi juga bertindak transformatif dan emansipatif. Artinya, seni pertunjukan
mengembangkan pola berpikir kritis dan kreatif guna melakukan tindakan (re-) interpretasi dan
(re-) kontekstualisasi terhadap kearifan lokal. Tindakan ini berlanjut dengan usaha menetralisir
ketidakadilan dalam masyarakat–akibat dari permainan kekuasaan. Kondisi ini dapat
31
memunculkan konflik karena transformasi berpotensi merugikan kelas atas – mendapatkan
kenikmatan dari ketidakadilan. Konflik dapat di atasi dengan cara menerapkan nilai-nilai yang
terkandung pada Saraswati sebagai Dewi Komunikasi Hindu dan/atau Dewi Seni Pertunjukan
Hindu. Nilai-nilai ini sangat penting guna mewujudkan perubahan sosial tanpa mengabaikan
keharmonisan.
DAFTAR PUSTAKA
Arvon, Henri. 2010. Estetika Marxis. (Penerjemah Ikramulah). Yogyakarta: Resist Book.
Atmadja, N.B. 2010. Ajeg Bali: Gerakan Identitas Kultural dan Globalisasi. Yogyakarta: LKiS.
Atmadja, Nengah Bawa, 2010a. Komodifikasi Tubuh Perempuan Joged “Ngebor” Bali. Denpasar: Pustaka
Larasan.
Atmadja, N.B. 2014. Saraswati dan Ganesha sebaai Simbol Paradigma Interpretativisme dan Positivisme:
Visi Integral Mewujudkan Iptek dari Pembawa Musibah Menjadi Berkah bagi Umat Manusia.
Denpasar: Pustaka Larasan & IbiKK Undiksha.
Atmadja, Nengah Bawa, Anantawikrama Tungga Atmadja dan Tuty Maryati. 2015. (Ngaben + Memukur) =
(Tubuh + Api) + (Uparengga + Mantra) = (Dewa Pitara + Surga): Perspektif Teori Sosial Kebutuhan
terhadap Ritual Kematian di Bali. Denpasar: Pustaka Larasan.
Atmadja, NB dan L.P.S. Ariyani. 2016. Sosiologi Media Perspektif Teori Kritis. (Buku dalam proses
penerbitan).
Atmadja, NB. 2016. Saraswati sebagai Dewi Komunikasi Hindu. Makalah Disampaikan pada Seminar
Nasional yang diselenggarakan oleh Program S2 Komunikasi Hindu IHDN tanggal 3 September 2016.
Atmadja, NB, Anantawikrama Tungga Atmadja, dan Tuty Mariyati. 2016a. Bali Pulau Banten Perspektif
Sosiologi Komodifikasi Agama. Yogyakarta: Larasan.
Atmadja, NB, Anantawikrama Tungga Atmadja, dan Tuty Mariyati. 2016b. Agama Hindu, Pancasila, dan
Kearifan Lokal Fondasi Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Larasan.
Brown, Phil. 2005. Psikologi Marxis. [Penerjemah. Afid Sadzali & Ema Rachmawati]. Yogyakarta: Alenia.
Dzuhayatin. Siti Ruhani. 2015. Rezim Gender Muhammadiyah Kontestasi Gender, Identitas, dan Eksistensi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Eagleton, Terry. 2002. Marxisme & Kritik Sastra. [Penerjemah. Zaim Rafiqi]. Depok: Desantara.
Eaton, Marcia Muelder. 2010. Persoalan-persoalan Dasar Estetika. Jakarta: Salemba Humanika.
Fiske, J. 2004. Cultural and Communication Studies Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. [Y. Iriantara
dan I.S. Ibrahim Penerjemah]. Yogyakarta: Jalasutra.
Geertz, Clifford. 1973. The Interpretation of Cultures. USA: Basic Books.
Hardiman, F. Budi. 2016. ―Simmel tentang Perancang Busana dan Pialang Saham‖. Dalam F. Budi Hardiman
ed. Filsafat untuk Para Profesional. Jakarta: Kompas. Halaman 79-96.
Hartley, Barbara. 2014. ―Pertunjukan Budaya Indonesia Pasca Orde Baru‖. Dalam Barbara Hatley, G. Budi
Subanar, dan Yustika Devi Ardhiani ed. Seni Pertunjukan Indonesia Pasca Orde Baru. Yogyakarta:
Universitas Sanata Dharma. Halaman 3-26.
Hearty, Free. 2015. Keadilan Gender Perspektif Feminis Muslim dalam Sastra Timur Tengah. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia.
Hermantoro, Henky. 2011. Creative-Based Tourism: Dari Wisata Rekreatif Menuju Wisata Kreatif. Depok:
Aditri.
Hough, Brett. 2014. ―Komunitas dan Kancah Budaya di Bali‖. Dalam Barbara Hatley, G. Budi Subanar, dan
Yustika Devi Ardhiani ed. Seni Pertunjukan Indonesia Pasca Orde Baru. Yogyakarta: Universitas
Sanata Dharma. Halaman 145-178.
Ibrahim, Idi Subandy dan B.A. Akhmad. 2014. Komunikasi dan Komodifikasi: Mengkaji Media dan Budaya
dalam Dinamika Globalisasi. Jakarta: Yayasan Obor.
Jones, Tod. 2015. Kebudayaan dan Kekuasaan di Indonesia: Kebijakan Budaya Selama Abad Ke 20 Hingga
Era Reformasi. [Penerjemah. Edisius Riyadi Terre]. Jakarta: Obor.
Kriyantono, Rachmat. 2014. Teori Public Relations Perspektif Barat & Lokal: Aplikasi Penelitian dan
Praktik. Jakarta: Kencana.
Kriyantono, Rachmat. 2015. Public Relations, Issue & Crisis Management: Pendekatan Critical Pulic
Relations, Etnografi Kritis & Kualitatif. Jakarta: Kencana.
Lubis, Akhyar Lubis. 2015. Pemikiran Kritis Komtemporer dari Teori Kritis, Cultural Studies, Feminisme,
Postklonial hingga Multikulturalisme. Jakarta: PT Raja Grafindo-Persada.
Pitana, I Gde dan Putu G. Gayatri. 2005. Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta: Andi.
Plummer, Ken. 2011. Sosiologi The Basics.[Penerjemah: Nanang Martono & Sisworo]. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
Pramayoza, Dede. 2013. ―Strategi Membaca ‗Pergelaran‖, Seorang Antropologi dan Sebuah Mozaik
Penelitian‖. Dalam Lono Simatupang. Pegelaran Sebuah Mozaik Penelitian Seni-Budaya. Yogyakarta:
Jalasustra. Halaman v-xvi.
32
Prasad, Ugoran. 2014. ―Beberapa Catatan dari Simposium Seni Pertunjukan di Indonesia‖. Dalam Barbara
Hatley, G. Budi Subanar, dan Yustika Devi Ardhiani ed. Seni Pertunjukan Indonesia Pasca Orde Baru.
Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Halaman 269-307.
Ritzer, G. 2004. Ketika Kapitalisme Berjingkrak Talaah Kritis terhadap Gelombang McDonaldisasi.
[Solichin dan Didik P. Yuwono Penerjemah]. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ritzer, G. 2006. The Globalization of Nothing Mengkonsumsi Kehampaan di Era Globalisasi. Yogyakarta;
Universitas Atmajaya.
Ritzer, G. 2012. Teori Sosiologi dari Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Terakhir Postmodern.
[Penerjemah Saut Pasaribu dkk.]. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sachari, Agus dan Yan Yan Sunarya. 1999. Modernisme Sebuah Tinjauan Historis Desain Modern. Jakarta:
Balai Pustaka.
Sanderson, Stephen K, 2011. Makrososiologi Sebuah Pendekatan terhadap Realitias Sosiologis. (Penerjemah
Farid Wajidi dan S. Menno). Jakarta: Rajawali Pers.
Simatupang, Lono. 2013. Pegelaran Sebuah Mozaik Penelitian Seni-Budaya. Yogyakarta: Jalasustra.
Soetomo, Greg. 2003. Krisis Seni Krisis Kesadaran. Yogyakarta: Kanisius.
Sudarminta, J. 2016. ―Marcuse versus Perusahaan Iklan‖. Dalam F. Budi Hardiman ed. Filsafat untuk Para
Profesional. Jakarta: Kompas. Halaman 97-119.
Suprijono, Agus. 2016. Model-model Pembelajaran Emansipatoris. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sutrisno, Mudji dan Christ Verhaak. 1993. Estetika Filsafat Keindahan. Yogyakarta: Kanisius.
Weintraub, Andrew N. 2012. Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia. [Penerjemah. Arif Bagus
Prasetyo]. Jakarta: KPG.
Wiryomartono, Bagoes P. 2001. Pijar-pijar Menyingkap Rasa: Sebuah Wacana Seni dan Keindahan dar
Plato sampai Derrida. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
33
TEORI CIPTA SENI KONSEPTUAL
I Nyoman Sedana
Guru Besar Ilmu Teater Tradisi, Jurusan Pedalangan FSP ISI Denpasar
Email : [email protected] & [email protected] HP 081999541284
Abstrak
Melalui puja puji kehadirat Tuhan (Hyang Widhi), Penguasa sembilan penjuru alam Dewata
Nawasanga kiranya telah berkenan melepaskan kita dari kecendrungan penjiplak teori asing. Astungkara!
kitadiberkati teori Cipta Seni, teori Seni Ripta, dan teori Widya Filsafat, lengkap dengan metode Sasmita-nya.
Teori Cipta Seni memberi kerangka analisis mulai dari Alam Imaginasi Keindahan sebagai sumber cipta seni;
ide/rasa yang mendesain; sarana dan skill yang dipakai mengolah. Empat hadiah Dewa Wisnu dari utara itu
disusul dengan lima unsur sastra yang menuntun dengan narasi cipta seni dari Dewa Iswara di timur.
Aktifnya tujuh elemen estetika Mahadewa membangun komposisi seni disusul sembilan atribut Brahma
mengorbitkan produk seni. Fungsi seni mengikuti tiga kekuatan superior Rudra. Makna cipta seni selaras
dengan enam atribut Sambhu yang menunggal mejadisatu dedikasi teo-eko-antro estetika Sangkara.
Eksistensi cipta seni dicapai bilamana delapan atribut Maheswara di tenggara diaktifkan, hingga empat
elemen ilmu dan empat nilai seni bertransformasi menjadi delapan Astadala Dewa Siwa paling
tengah.Semoga Alapadma MudraNYA meruwat kita agar dibolehkan masuk ke taman Kalimosada terapi
keindahan sorgawi: (1) Padma Herdaya, (2) Pranayuga, (3) Prabasemara, (4) Budhi Satyam, dan (5) Prabawa
Bhuwana.
Kata kunci: teori, cipta seni, kajian seni, relevansi
PENDAHULUAN
Bahwa sesungguhnya pengkajian yang otentik dan valid terhadap Seni Budaya Nusantara
semestinya berdasarkan kerangka teori seni dan metode yang tumbuh dari lingkungan geografi
bersangkutan. Seniman yang hidup dari suatu desa pasti bekerja dengan konsep-konsep artistik
yang dikenal dari lingkungannya sendiri sejak awal, bukan dengan konsep-konsep asing yang baru
diimpor setelah karyanya jadi. Analisis kesenian lokal dengan kaca mata teori asing pasti akan
terlihat berwarna asing, tidak otentik dan kurang valid! Kekuatan academic building sebuah
perguruan tinggi bukanlah dari banyaknya teori-teori asing yang diimpor, melainkan dari
penemuan konsep-konsep, sistem pemikiran, atau kesatuan ide dalam satu cabang ilmu yang
dikembangkan dari berbagai studi, eksperimen dan pengalaman, sehingga mampu menghasilkan
teori-teori yang kredibel. Teori penciptaan dan pengkajian seni yang kredibel bagi PT Seni harus
mengandung sistem ide yang sedikitnya memiliki tiga kegunaan: (1) sebagai landasan membuat
prediksi atau hipotesis, (2) sebagai kerangka menyusun analisis atau argumentasi, dan (3) memiliki
kesatuan konsep yang mampu menjelaskan variable-variable cipta seni yang terorganisir lengkap
dan mendalam, yakni: sumber cipta seni, sastra, komposisi, produk cipta, fungsi, makna cipta seni,
dedikasi, dan eksistensi ciptaan yang mengandung ilmu serta nilai cipta seni.
RELEVANSI TEORI CIPTA SENI DALAM PENCIPTAAN DAN KAJIAN SENI
Mulai dengan konteks diplomasi budaya serta relevansinya dalam era persaingan
kapitalisme global, kesenian Bali telah menginspirasi dunia sejak tahun 1931 dari Paris Colonial
Exibition, Perancis.1 Apanya dan bagaimana keunggulan teater dramatari Calonarang di mata
bangsa penjajah dunia saat itu?cukup diketahui dengan membaca bukunya Antonin Artaud
1 Beberapa sumber yang dikutip Wikipedia <https://en.wikipedia.org/wiki/Colonial_exhibition> menyebutkan bahwa:
Paris Colonial Exhibition dibuka pada tanggal 6 Mei 1931 dan berlangusng selama enam bulan dengan tiket terjual 33
juta. Berbagai kesenian etnis jajahan bangsa Eropah digelar pada beberapa bangunan permanen dan belasan museum
sementara pada areal 110 hektar di sekitar Bois de Vincennes, Paris.
34
berjudul The Theatre and Its Double ([1938] 1958).2 Rasionalnya, begitu kesenian kita telah
mampu memikat tiga juta wisatawan dunia per tahun—hampir sama dengan 3,3 juta jumlah orang
Bali—tentu senimannya juga memiliki teori dan metode kreativitas seni lokal yang kredibel, tanpa
meminjam teori asing. Peminjaman teori-teori pengkajian memang dibenarkan dalam hal
akademik manapun, tetapi ketika teori/metode/pisau analisis kita sendiri sudah lebih memadai
mengapa harus meminjam lagi? Mengingat visi unggul terlanjur didengang-dengunkan berbasis
kearifan lokal, tidak ada jalan lain kecuali melacak dan mempromosikan kearifan lokal yang
bermutu universal. Demi mencapai visi itu maka Teori Cipta Seni Konseptual ini perlu diinkubasi
bersama sehingga benar-benar matang untuk dicetak menjadi akademik building PT Seni kita, baik
bertaraf lokal maupuan lintas Negara, budaya, atau universitas.3
Sayangnya,dalam berbagai karya tulis ilmiah penggunaan konsep-konsep seni lokal,
termasuk Seni Ripta, Kawi Dalang, Seni Widya dan Filsafat, beserta metode Sasmita (yang meliputi
semita, isyarat, tanda, alamat) dan sejenisnya, masih lebih banyak diabaikan daripada digunakan.
Di bidang ilmu teater tradisi, Seni Ripta Kawi Dalang yang meliput-dan-diliputi oleh Seni Cipta
Konseptual serta Seni Widya dan Filsafat semakin terkubur oleh kecendrungan memuja estetika
barat hingga saat ini.
Terkuburnya kearifan lokal Kawi Dalang, bahkan terjadi pada acara Workshop dan
Pelatihan Dalang Wayang Ramayana yang diselenggarakan oleh Listibya Provinsi Bali pada tanggal
19 - 22 Nopember 2015 di Balai Diklat Pemprov Bali yang konon dibiayai oleh Bapak Gubernur Bali.
Jangankan panitia dan para peserta worskshop dari seluruh Bali, narasumberpun sama sekali tidak
menghiraukan tradisi kreatif seni Kawi Dalang yang berbasis kosmik, mensinergikan teo-eko-antro
estetika dengan mengaktifkan 51 atribut Dewata Nawasanga ke dalam aneka unsur seni
pewayangan. Padahal, tradisi kreatif Kawi Dalang4 ini tidak saja mampu menjadi ―Roh Abadi‖ Seni
Pewayangan ribuan tahun sebagai karya agung pusaka dunia (menurut UNESCO, 7 Nopember
2003), tetapi juga menginspirasi berbagai bentuk seni lainnya. Dalam buku Routledge Handbook of
Asian Theatre (2016) para sarjana teater Asia cendrung sepakat ketika memandang wayang sebagai
leluhur pertama ‗the first ancestor‘ dari semua bentuk teater Asia yang masih ada.
SENIMAN BERIMAGINASI UNTUK TRANSFORMASI, TETAP DITUNTUT
MENJELASKAN EKSPLORASI (SAAT TEORI ASING MEMAKSA PENGKAJI
MARGINALKAN KOMPONEN UTAMA)
Dari penelusuran sejumlah skrip karya seni beserta karya-karya tulis kajian seni banyak
ditemukan penggunaan konsep atau teori barat sebagai rujukan ataupun kerangka kerja, tetapi
relevansinya terkadang masih jauh, terlalu dicari-cari, atau bahkan dipaksa-paksakan. Sebagai
contoh, peminjaman teori komposisi (exploration - improvisation - forming) yang berasal dari
buku Creating through Dance (1964/88) oleh Alma M. Hawkins lebih cocok digunakan untuk
proses penciptaan komposisi tari masa kini, sebagaimana landasan pengembangan teori
bersangkutan. Tetapi bila digunakan lain, misalnya, untuk mengkaji penciptaan tari Barong
ataupun Legong, uraian eksplorasinya harus dicari-cari dan mengada ada, karena pengalaman
spiritual (ketemu bidadari dalam mimpi ataupun raja hutan Banaspati Raja) tidak berdasarkan
eksplorasi yang disengaja; melainkan secara kebetulan saja dalam kegiatan imaginasi/metafisik,
sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan para kreator/komposer muda di kampus seni.
Realitas upaya transformasi alam metafisik (berintikan imaginasi keindahan) ke dalam
karya seni, berdinamika dari satu seniman ke seniman lain, dari masa ke masa, dari ranah satu ke
2 The Theatre and Its Double (1958) semula terbit dalam bahasa Francis berjudul Le Theatre et son Double oleh
Gallimard dalam Collection Metamorphoses No. IV tahun 1938.
3 Sudah lumrah disebut theory of Bali Creative Art (BCA) ketika dipelajari oleh 14 mahasiswa dari berbagai Negara dari
tanggal 2 s/d 27 Mei 2016 di Bali. Aplikasi teori ini sudah terkirim ke London melalui artikel setebal 40 haman berjudul
―Directing Cymbeline Leon Activated God’s Attributes for the 38th Bali Arts Festival 2016”
4 Kawi Dalang: Creativity in Wayang Theatre. Disertasi untuk meraih gelar Ph.D (Doktor) di University of Georgia, USA,
2002.
35