ANTOLOGI CERITA PENDEK WANASABA
PROGRAM GERAKAN SENIMAN MASUK SEKOLAH
(GSMS)
Ditulis Oleh:
Siswa/Siswi SMPN 1 Wanasaba
Produk Program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS)
Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi
2022
i|P a g e
“Menulis Tradisi”
Penulis :
Usfa Laura Febrianti, Byrul Waly Daen, Baiq Evika, Widia
Yulastri, Alya Wani, Dela Aulia Putri, Rizkia Febriani, Windi
Anggraini Fitri, Yasmin Putri Wulandari, Fairuz Al Mumtaz,
Noura Aindi Al Maghfirah, Geisha Azzahra Anastasya,
Nadira, Mawaddatus Sopiah, Rena Pardaenatul Aula, Mutiara
Adeka Syabani, Baiq Putriarni Hardianti, Baiq Hidayatul Aeni,
M.Riski, Sarah Amelia Imani
Editor:
Zainul Muttaqin, M.Hum.
Desain cover dan Lay Outer:
Diterbitkan oleh: CV. PUTRA RINJANI
PENERBIT DAN PERCETAKAN
Jl. Anggrek 6. No.45 Perumahan LA. Resort– Lombok-
NTB.
Email: [email protected]
Hp. +681938312295
Tahun Cetak: Oktober 2022
Link Akses: cvputrarinjani.id
ISBN : 978-623-5297-18-7
2|Page
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Salam sejahtera untuk kita semua atas nikmat Allah SWT
sehingga kita bisa menikmati hidup dan menjadi bagian dari para
pemikir sebagaimana titah Allah dengan kata “Iqra”.
Melihat animo dari siswa-siswi SMPN 1 Wanasaba ini
seperti energi baru yang harus diberikan ruang untuk aktualisasi
kedirian mereka.
Membaca karya mereka dalam buku ini seperti membawa
kita pada zaman reneisance yang menjadi embrio guncangan dunia
modern saat ini. Terminologi ini sepertinya sangat pantas
disematkan kepada siswa-siswi SMPN 1 Wanasaba atas ikhtiar
mereka dalam memupuk pemahaman tentang tradisi melalui
cerita yang disajikan dengan sangat runtut dan indah. Aspek ini
seringkali luput dari pengamatan kita, bahwa anak-anak kita
sejatinya butuh ruang untuk mengaktualisasikan kedirian dan
potensi mereka untuk menjadi insan yang maju dalam berpikir
dan konsisten dalam merawat tradisi. Sedikit tidak kegiatan GSMS
ini menjadi salah satu ruang yang diberikan oleh Dirjen
Kebudayaan dan ditindaklanjuti oleh Dinas Kebudayaan Lombok
Timur untuk menstimulus kecintaan peserta didik kita pada aspek
seni sastra dan budaya luhur.
Mengambil judul “Menulis Tradisi” menjadi potret bahwa
tradisi seringkali hanya sebatas ritual dan lisan tanpa ada
dokumentasi tekstual dalam bentuk pembukuan secara massif
dalam banyak aspek seni budaya yang ada di Lombok. Judul
dalam buku ini memberi peringatan awal kepada kita bahwa dunia
menulis apalagi menulis tradisi adalah tantangan tersendiri yang
tidak semua orang sukai, namun siswa-siswi SMPN 1 Wanasaba
ini justru melakukan hal sebaliknya dan ini harus diapresiasi
setinggi-tingginya. Sekali lagi terima kasih atas bukti cinta dalam
iii | P a g e
menjaga, merawat dan mengingatkan masyarakat tentang
pentingnya menulis tradisi.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
iv | P a g e
SAMBUTAN
Assalamualaikum, warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, yang telah
memberikan nikmat yang tak terhingga kepada kita sehingga kita
bisa menikmati nikmatnya iman, dan dalam keadaan yang tak
kekuarangan satu apapun.
Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) 2022 ini
merupakan wadah yang cukup baik sebagai ruang mengasah
talenta dan bakat dari anak-anak kami di SMPN 1 Wanasaba.
Kami melihat bahwa kegiatan semacam sangat positif dan perlu
untuk diadakan ke sekolah setiap tahun. Banyak siswa-siswi yang
memiliki kecerdasan non akademis akan sangat terbantu dengan
adanya aktifitas mengasah imajinasi seperti ini.
Kita akui bahwa menulis karya sastra tidak semudah yang
dibayangkan, sebab aktifitas ini tidak hanya menuntut kuatnya
imajinasi namun kuatnya bacaan dan pengamatan sosial menjadi
domain yang tidak bisa dipisahkan. Sebab itulah, penguatan
literasi menjadi sebuah keharusan untuk dijalankan. Pasca
pandemi menjadi modalitas untuk kembali menstimulus kegiatan
literasi siswa setelah dua tahun lamanya terhimpit gerak dan ruang
berkegiatan. Hadirnya kegiatan seni Sastra dari GSMS manjadi
angin segar bagi siswa dan siswi kami untuk kembali
menunjukkan semangat mereka untuk terus belajar seni sastra.
Cerita yang ditulis dalam buku ini menjadi pemantik
sekaligus menjadi bahan renungan kita bersama bahwa tradisi
selalu menjadi ruang belajar nilai dan rujukan cara bersosial. Buku
ini menjadi menarik sebab ditulis oleh siswa-siswi yang masih
senang dengan dunia bermain. Ketika anak seusia mereka harus
bermain, mereka justru meluangkan waktu untuk memikirkan
masa depan tradisi mereka yang selama ini didengar dan diketahui
melalui cerita verbal dari satu titik ke titik lain.
v|P a g e
Kami sangat mengapresiasi dan berharap agar kegiatan ini
tetap dilaksanakan setiap tahun untuk menunjang potensi anak
didik kami demi mewujudkan pelajar pancasila dan merdeka
belajar itu sendiri. Sekian dan terima kasih.
Wassalamualaikum, warahmatullahi wabarakatuh
Kepala Sekolah,
Dr. H. Akhmad Zaenal
Abidin, M.Pd.
vi | P a g e
Prakata
Asslamualaikum, wr, wb.
Alhamdulillah atas segala karunia Allah sehingga antologi
cerita pendek yang menelisik lika-liku cerita dan tradisi masa lalu
Desa Wanasaba dan sekitarnya bisa rampung ditulis oleh siswa
siswi SMPN 1 Wanasaba. Shalawat dan salam selalu kita
hantarkan kepada Nabi Muhammad SAW sebab atas
bimbingannya sehingga kita bisa menikmati nikmatnya belajar dan
menuntut ilmu.
Buku antologi yang hadir di tangan para pembaca
merupakan salah satu, bahkan unsur terkecil yang bisa disajikan
oleh adik-adik siswa-siswi SMPN 1 Wanasaba yang peduli dengan
konservasi nilai tradisi. Mengingat semakin hari pengetahuan
tentang tradisi dan warisan budaya daerah mulai ditinggalkan dan
hanya menjadi kenangan indah cerita masa lalu.
Buku ini sedikit tidak menjadi bukti representasi
kegelisahan siswa-siswi SMPN 1 Wanasaba tentang tradisi dan
masa lalu mereka yang semakin pudar dan ditinggalkan. Buku ini
pula diberikan judul “MENULIS TRADISI” sebagai pemantik
dan pengingat akan kearifan budaya lokal yang sejatinya harus
terus dirawat dan dilestarikan. Selama ini berbagai cerita, entah itu
mitologi, legenda bahkan jenaka yang seringkali kita disuguhkan
dalam narasi verbal memiliki kelemahan ketika tidak disandingkan
dengan tulisan. Daya ingat yang terbatas dan banyaknya para
sesepuh dan pelingsir yang meninggal dunia menjadi beban
tersendiri jika khazanah masa lalu yang dimiliki Desa Wanasaba
tidak dibukukan dengan baik. Oleh sebab itulah kumpulan cerita
pendek ini hadir sebagai domain mengenang masa lalu yang
menyimpan jutaan cerita demi kebaikan generasi masa depan.
Cerita dalam antologi ini secara kepenulisan mungkin
masih jauh dari kata sempurna, tapi memulai dengan semangat
ingin mengabdi untuk tradisi lokal menjadi tantangan tersendiri
bagi siswa-siswi SMPN 1 Wanasaba yang perlu diapresiasi
setinggi-tingginya. Di usia yang sangat belia ini mereka
vii | P a g e
menyempatkan diri untuk memikirkan nasib budaya dan tradisi
mereka.
Produk berupa antologi cerita pendek ini juga tidak lepas
dari dukungan Dirjen Kebudayaan sebagai penyalur bakat dan
minat kesustraan anak sekaligus sebagai luaran untuk program
Seniman Masuk Sekolah bidang sastra tahun 2022.
Seniman,
Zainul Muttaqin, M.Hum.
viii | P a g e
DAFTAR ISI
Kata Pengantar .........................................................................iii
Kata Sambutan ......................................................................... iv
Prakata....................................................................................... v
Daftar Isi ..................................................................................vi
Lisung Batu ............................................................................... 1
Melaq Tangke.......................................................................... 17
Selaq Ngeres............................................................................ 20
Batu Dare ................................................................................ 28
Mangan Rampak ..................................................................... 52
Timba Tatar............................................................................. 64
Selamet Gumi.......................................................................... 71
Petak Umpet............................................................................ 97
Meregot Kepeng.................................................................... 101
Memangar ............................................................................. 109
Manuk Kumbung .................................................................. 121
Main Rempak........................................................................ 129
Kokoq Tumang ..................................................................... 139
Beldokan ............................................................................... 143
Begasingan ............................................................................ 148
Bebentengan.......................................................................... 157
Asal-Usul Kokoq Juet ........................................................... 166
Bodo Lambek ........................................................................ 173
Gobak Slodor ........................................................................ 176
Pelecing................................................................................. 182
ix | P a g e
LISUNG BATU
Usfa Laura Febrianty
Konon, cerita dari Papuq Baloq banyak menyisakan hal
yang sampai saat ini masih dipendam dalam sanubari penduduk
desa kecil ini. Desa ini tak banyak dikenal, sebab hanya bermukim
beberapa keluarga saja. Itupun mereka membangun rumah
terpisah satu dengan yang lainnya. Ketika malam, desa ini
diselimuti oleh rasa tenang dan sejuk. Tenang sebab tak ada
kebisingan dan hura-hura penduduknya, sejuk sebab desa ini
masih dikelilingi oleh pepohonan besar yang rimbun dan
meNakutkan.
Di pelosok desa yg bernama Bagek Papan. Suatu rumah
yang berdiri di penghujung desa dan dihuni oleh tiga anggota
keluarga. Rumah ini terletak di atas sungai lebih tepatnya berdiri
di atas tebing, di seberang jalan terdapat jembatan yang
menghubungkan antara dua daerah yaitu Dusun Bampak dan
desa Bagek Papan. Di bawah jembatan tersebut terdapat sungai
yang cukup angker dan penuh misteri. Warga Bagek Papan
menyebutnya Lisung Batu.
Sungai ini letaknya yang sangat curam dan dalam, tak
sedikit yang mengetahui lisung batu ini. Sungai ini terkenal dengan
keangkeran nya, banyak warga setempat bilang banyak makhluk
halus yang menghuni sungai ini, satu atau sudah dua orang desa
Bagek Papan pernah sesekali melihat penampakan makhluk yang
tak kasat mata. sungai ini di penuhi dengan tumbuhan liar yg
hidup mengelilingi bawah jembatan tersebut yg menghalangi
pandangan menyebabkan sungai ini tak bisa dilihat oleh mata dan
pohon bambu yang hidup menjulang tinggi menyebabkan suasana
di daerah sana sangat minim dengan cahaya.
Amaq Sam dan Inaq Seni juga sering kali di ganggu oleh
makhluk halus yang tinggal di sana, entah itu mereka melihat
barang yang beterbangan atau sekedar mengetok pintu tapi tak
ada wujudnya di malam hari. Amaq Sam sebagai kepala keluarga
yang banyak dikenal oleh masyarakat desa sebagai pejudi dan
1|P ag e
tukang mabuk, kerjaannya setiap hari hanya bisa menghamburkan
uang hasil jerih payah sang istri. Amaq Sam adalah kepala keluarga
yang sangat tidak bertanggung jawab, ia tak pernah menafkahi
aNak nya dan sang istri. Istrinya, Inaq Seni, terkadang
mendapatkan belas kasihan dari warga atau tetangga sekitar,
karena ia harus bekerja untuk mendapatkan uang dan menghidupi
aNaknya. Setiap hari Inaq Seni menjual baju atau pergi ke ladang
orang untuk menanam padi dan mendapatkan upah yang tak
seberapa. Penghasilan satu satunya adalah dari menjual baju dan
itu pun kadang ia tak mendapatkan untung disebabkan tawar
menawar dari ibu-ibu.
ANak mereka yang bernama sandi, kini sudah duduk di
bangku sekolah menengah pertama. Kini, Inaq Seni harus lebih
giat untuk mencari uang. Kalau di tanya mengapa bukan Amaq
Sam yang pergi mencari uang? Jawabannya, setiap hari Amaq Sam
tidak ada dirumah. Amaq Sam kadang pulang ke rumah hanya
malam hari dan itupun rata rata dalam kondisi mabuk tak
sadarkan diri. Setiap ia bertemu sang istri entah itu di jalanan atau
di rumah, ia akan meminta uang dengan cara paksa dan Inaq Seni
pun harus memberikannya karena ia takut kalau tak dikasi
aNaknya lah yang akan menjadi imbasnya. Kadang Inaq Seni ingin
sekali melawan, tapi ia tak akan tega jika sang aNak yang akan di
pukuli habis-habisan sebelum Amaq Sam diberi uang. Sandi, aNak
semata wayang mereka sekarang sudah meranjak dewasa. Saat
bermain, ia sering diejek sebab baju yang sering dipakai sudah tak
layak, uang saku untuk pergi ke sekolah pun kadang Sandi tak
punya. Ia sendiri sadar dan harus memaklumi keaadan dan
kondisi kedua orang tua nya.
Hari ini, Inaq Seni mendapatkan uang dari hasil kerja
kerasnya selama dua minggu bercocok tanam di kebun pak RT. Ia
sangat bersyukur sebab bisa membiayai kebutuhan sekolah
aNaknya. Inaq Seni pergi menyimpan uang yang berjumlah
500.000 di dalam laci yang sudah agak lapuk dengan konci yang
sudah karatan dimakan usia. Setelah itu ia pergi ingin
2|P ag e
menghampiri sang aNak untuk memberi tahu agar nanti sore ia
pergi ke toko alat tulis untuk membeli kebutuhan sekolah Sandi.
"Nak, Alhamdulillah ibu dapat rejeki, insyaallah besok
pagi kita pergi untuk membeli kebutuhan sekolah mu" ucap Inaq
Seni menghampiri aNaknya.
"Yang benar bu?, Kalau begitu aku tak sabar untuk pergi
membeli alat tulis yang kuimpikan" ucap Sandi sambil mengulas
senyum. Ia sangat senang mendengar perkataan ibunya, akhirnya
setelah sekian lama ia bisa membeli perlengkapan alat tulis untuk
sekolah.
"Baiklah, ibu ingin pergi menjual baju sisa kemarin agar
ada tambahan untuk makan seminggu kedepan" ucap Inaq Seni
sambil membereskan baju baju yang masih baru dan dimasukkan
ke dalam kantong kresek besar, dan akan dijual kepada warga
sekitar "Iya bu, hati hati" ucap sandi mengingatkan.
Saat ibunya pergi meninggalkan rumah, Sandi yang
merasa kesepian di rumah akhirnya memutuskan untuk pergi
bermain bersama temannya di lapangan dekat rumahnya. Saat
ingin beranjak dari duduknya. Ia mendengar suara dari dalam
rumah seperti ada benda yang jatuh?, Sandi ingin mengecek ke
dalam tapi keburu temannya sudah memanggil jadi ia
mengurungkan niatnya untuk melihat benda apa tadi yang
terjatuh, "sepertinya ada kucing di dalam" pikir Sandi dan pergi
kemudian mengunci pintu rumah.
Saat menjelang siang, Inaq Seni pulang membawa
sekantong keresek yang ia bawa tadi pagi dan hanya laku beberapa
saja, itupun masih dihutang oleh warga. Saat sampai depan
rumah ia melihat pintu sudah terbuka lebar. "knapa Sandi tak
mengunci pintunya?" Ucap Inaq Seni dalam hati. Inaq Seni
melangkahkan kakinya menuju dalam rumah. Ia heran, mengapa
barang barang yang sudah tersusun rapi sekarang sudah tergeletak
di lantai?. Inaq Seni memanggil Sandi tapi nihil jawaban.
"ANak itu, di suruh untuk tetap di rumah, malah pergi"
omel Inaq Seeni sambil memungut barang-barang yang berserakan
3|P ag e
di lantai. Ia ingin pergi kedapur tapi ditunda, sebab matanya
menangkap sosok bocah kecil yang berlari dengan cepat di dekat
jendela.
"aNak siapa itu?" Gumamnya dalam hati.
Inaq Seni punya tetangga tapi seingatnya tak ada yang
memiliki aNak seumuran seperti itu, ia mengangkat bahu tanda
tak acuh. Inaq Seni pun berjalan menuju dapur dan memasak
makan siang untuknya dan Sandi. Jika bertanya kemana Amaq
Sam?. Huuuhh… Inaq Seni pun tak tahu kemana suaminya pergi.
Tapi Inaq Seni pikir, ini sudah dua hari berlalu Amaq Seni belum
pulang. Biasanya saat menjelang tengah malam Amaq Sam selalu
mengetuk pintu. Entahlah Inaq Seni tak ingin ambil pusing
tentang Amaq Sam.
Saat menjelang sore, Sandi tiba di rumah. Ia mengetuk
pintu dan Inaq Seni membuka dengan cepat. Saat sedang mencuci
kaki, Inaq Seni bertanya perihal kejadian tadi siang. Siapa yang
membuat barang-barang di dalam rumah berantakan?. Sandi
menautkan kedua alisnya, tanda kebingungan. Ia menengok ke
arah ibu seolah-olah menunjukkan bahwa ia tak pernah
menyentuh barang-barang yang dimaksud. Sebab saat ibunya
pergi ia juga langsung pergi bermain. Selang beberapa menit
kemudian, “ohh ya, sekarang saya ingat!, Apaa karena kucing itu
ya?” Tetapi ia belum yakin apakah itu kucing atau bukan. Ia
menjelaskan ke Inaq Seni bahwa sebelum pergi bermain ia
mendengar suara benda jatuh tapi ia tak sempat melihatnya. Inaq
Seni hanya menganggukkan kepala.
Saat ingin membuka pembicaraan, tiba tiba pintu terbuka
Amaq Sam sedang berdiri sempoyongan. Ia berjalan tertatih tatih
sambil mengatur keseimbangannya. Inaq Seni hanya diam saja
sebab ia harus terbiasa dengan kondisi suaminya. Amaq Sam
duduk di kursi yang sudah lusuh di dekat TV yang layarnya
menayangkan sesekali dua kali gambar berkedip disebabkan sudah
lama sekali terpakai. Amaq Sam pun langsung memejamkan
matanya. Melihat suaminya tertidur Inaq Seni tak ingin
mengganggunya. Sandi melangkahkan kakinya menuju kamar, saat
4|P ag e
Inaq Seni ingin beranjak dari tempat duduknya. Amaq Sam
berbicara dengan nada yang kecil sekali, ia meminta uang untuk
bermain judi bersama teman temannya. Ia tak mau terlihat lEmah
karena kekalahan yang dialami semalam. Inaq Seni menggelengkan
kepala, dan mengatakan kalau tak ada uang. Mendengar hal itu
Amaq Sam membuka matanya yang terpejam, dan melihat Inaq
Seni langsung menangkupkan kedua tangannya pertanda
memohon. Ia memohon agar jangan menyakiti Sandi. Inaq Seni
terisak kecil dan tak berani mengeluarkan suara tangisnya karena
ia tahu dalam kondisi seperti ini Amaq Sam sangat tak suka
mendengar suara tagis. Melihat suaminya terpejam kembali, Inaq
Seni pergi ke dapur untuk membuatkan suaminya secangkir the.
Kurang sabar seperti apalagi Inaq Seni? Hanya saja ia salah
memilih suami. Amaq Sam yang tak tahu diri, tak bertanggung
jawab dan semena mena sangatlah tidak baik, tetapi Inaq Seni
dengan sabar menerima semua kenyataan yang menimpanya. Saat
di ruang tamu, Inaq Seni keheranan, ia tak menemukan seseorang
pun, kemana suaminya itu? Bukankah ia tadi tertidur di sini?
Apakah di dalam kamar? “ gumam Inaq Seni sambil meletakkan
secangkir teh yang ia buat di atas meja. Ia pergi memeriksa
kamarnya dan nihil, tak ada orang juga, apakah Amaq Sam pergi
lagi? Inaq Seni menggelengkan kepalanya tanda tak habis pikir
dengan suaminya itu.
Siang itu, karena Inaq Seni membuat lauk sayur
kebanyakan. Akhirnya Ia berinisiatif membagikannya ke tetangga.
Namun, saat tiba di rumah salah satu warga, ia melihat
kerumunan orang berdiri di depan halaman salah satu warga. Inaq
Seni yang penasaran pun menghampiri orang-orang tersebut.
"ada apa ini?" Tanya Inaq Seni kepada wanita sebaya yang berdiri
di sampingnya.
"Ini, sedari tadi Inaq pu'ah ribut dengan suaminya perkara
kalung masnya hilang dengan tiba-tiba" ucap wanita itu. Inaq Seni
pun menganggukkan kepala. Ia kemudian pergi dan memberikan
sayur yang telah dimasak tadi kepada tetangganya.
5|P ag e
Saat menjelang malam, seusai membersihkan peralatan
dapur Inaq Seni pergi ke ruang tamu dan Sandi tergeletak di lantai
sudah memejamkan mata, pulpen di tangannya masih tersangkut
di celah celah jarinya, dan buku tampak berserakan ke mana
mana. Inaq Seni pun merapikan semua yang berserakan di lantai.
Saat ingin menaruh buku, Inaq Seni melihat laci di dekat TV
terbuka, ia meletakkan buku Sandi yg ia bawa tadi dan berjalan
menuju laci. Saat teringat sesuatu, seketika mata Inaq Seni melotot
dan langsung mengobrak abrik isi laci, “astaga…!”. Uang yang ia
simpan di laci hilang. Inaq Seni kemudian mengacak-acak lemari
untuk mencari uang tersebut, sebab uang itu sangat dibutuhkan
sekarang. Ia memejamkan mata sejeNak dan teringat bahwa tadi
siang, suaminya pulang ke rumah dan tiba tiba pergi begitu saja,
pasti ulah suaminya lagi, pikir Inaq Seni.
Ia bergegas pergi menuju pos ronda yang sering ditempati
oleh sekumpulan pemabuk seperti suaminya. Ia berlari dengan
perasaan campur aduk dan Ketika sampai di pos ronda ia melihat
Amaq Sam sedang tertawa dengan keras bersama temannya. Ia
dengan sekuat tenaga memberanikan diri untuk menghampiri
suaminya dan tetap berjaga-jaga agar kejadian yang tidak
diinginkan terjadi. Suara tawa yang keras tiba tiba hilang dan
pandangan semua orang tertuju kepada Inaq Seni. Amaq Sam
menaikkan alisnya tanda bingung dan Inaq Seni menjelaskan
bahwa ia ingin meminta kembali uang yang diambil oleh suaminya
tadi siang. Mendengar hal itu, Amaq Sam berdiri dari tempat
duduknya dan “gubraaakkk!” suara keras dari meja tempat ia
duduk.
"Heh…jangan menuduhku sembarangan, mana buktinya
hah…?!!" timpak Amaq Sam dengan wajah memerah.
Ia berteriak bahwa bukan dia yang mengambil uang dari
laci yang dimaksud. Amaq Sam pergi menuju pos ronda dengan
tangan kosong tanpa sepeserpun uang dri rumah. Mendengar
pengakuan dari sang suami, Inaq Seni berbalik badan dan pergi
dari tempat itu. Inaq Seni semakin bingung “jadi siapa yang
mengambil uang itu? Tidak mungkin Sandi” ucapnya bergumam.
6|P ag e
Sesampainya di rumah, Inaq Seni duduk dengan lemas dan
raut wajah yang sedih. Ia sangat pusing akan hal ini. Apa yang
akan dia katakan kepada Sandi nanti? Padahal Ia sudah terlanjur
berjanji kepada aNaknya itu kalau besok pagi ia akan pergi
membeli perlengkapan alat tulis sekolah. Saat sedang melamun,
suara ketokan pintu terdengar jelas.
”Tok..tok..tok”
“siapa yang bertamu malam malam? Jawab Inaq Seni
sambil berjalan membuka pintu dan ternyata pak RT yang
membawa sekantong keresek. Pak RT membagikan sedikit sayur
disuruh oleh istrinya hasil panen kemarin. Inaq Seni menerimanya
dengan senang hati dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Saat
melihat pak RT dengan raut cemas, Inaq Seni bertanya
"Pak RT, kenapa tampak cemas begitu? ada apa pak?
Tanya Inaq Seni singkat. Namun belum saja dijawab, pak RT
buru-buru mau pergi sebab ada seorang yang melapor bahwa ada
tetangganya yang kehilangan emas yang disimpan. Inaq Seni yang
mendengarnya pun terkejut, dia juga menceritakan kejadian yang
ia alami beberapa jam yang lalu. “sepertinya ada maling yang
berkeliaran di desa ini. kita harus segera mengambil tindakan agar
tidak terlambat” sambung Pak RT kemudian pamit untuk pulang
dan menyelesaikan masalah ini.
Saat ingin kedapur untuk membawa sayuran yang Pak RT
berikan tadi, Inaq Seni berpikir keras, siapa yang mengambil uang
dan emas warga? Dan kalaupun itu maling, apakah ada maling
saat siang hari?, Pikirnya, Inaq Seni sangat pusing dan berniat
untuk pergi tidur, mengistirahatkan tubuh nya, sebaiknya masalah
ini ia selesaikan besok saja.
Keesokan harinya, Inaq Seni pergi membeli sayur
ketempat langganan kebutuhan masaknya. Saat sedang memilah
sayur, ia tak sengaja mendengar ocehan dari ibu-ibu yang tak jauh
dari tempatnya, "kata Pak RT nanti malam ingin melakukan
percobaan, seperti nya di desa kita ada maling yang berkeliaran,"
ucap salah satu ibu yang mengguNakan daster merah maroon itu.
7|P ag e
Pak RT sejak tadi malam berencana dan berniat untuk
membongkar dalang dari pencuri harta benda warganya yang
hilang entah kemana. Ia ingin menyimpan beberapa uang yang
nominalnya cukup banyak di dalam lemarinya dan memasang
sebuah CCTV yang akan mengintai semua kegiatan di kamar
tersebut agar kejadian akhir-akhir ini yang meresahkan warga
desanya bisa ditemukan dengan cepat. Inaq Seni yang mendengar
nya pun bergegas pulang setelah selesai membeli kebutuhan
memasak.
Matahari mulai tak menampakkan diri, warna oren ke
kuningan menghiasi warna langit dan adzan maghrib pun sudah
terdengar jelas. Malam ini adalah malam senin, saat Inaq Seni
menemani Sandi mengerjakan tugas sekolahnya. Tiba-tiba ia
mendengar suara bising dari luar. ia penasaran apa yang terjadi?.
Saat membuka pintu ia melihat sekumpulan warga yang
menjunjung obor tinggi tinggi dan berlari menuju jembatan di
seberang jalan. Inaq Seni dengan penasaran mengikuti langkah
warga yang sedang marah.
Ia pun menepuk pundak seorang remaja di depannya dan
bertanya, apa yang sedang terjadi?, Remaja itu mengatakan saat
Pak RT memantau CCTV yang ia pasang di dalam kamarnya,
seorang bocah tanpa baju berlari dengan cepat menuju lemari
pak RT dan menembus masuk kedalam lemari tersebut, beberapa
saat kemudian pak RT tersadar bahwa itu bukan bocah biasa,
melainkan makhluk halus yang dinamakan, Tuyul. Saat itu pak RT
berteriak minta tolong kepada warga setempat agar keluar dan
membantunya dalam menangkap bocah tersebut. Saat ini pak RT
sedang mencari belian Sasak untuk mendeteksi di mana tempat
singgah mahluk halus itu?.
Keadaan masih riuh, pak RT datang membawa Belian
Sasak dan menuntunnya untuk pergi ke sungai di belakang rumah
Inaq Seni. Dengan berjalan perlahan dan dibantu oleh warga, pak
RT dan belian Sasak sampai di dasar sungai Lisung Batu di bawah
jembatan. Banyak warga yang sedang memperhatikan gerak gerik
apa yang dilakukan oleh pak RT dan belian Sasak tersebut.
8|P ag e
Dengan bermodalkan sebuah obor yang di pegang di tangan
kanannya. Malam ini, air sungai sedikit surut tidak seperti
biasanya dan itu memudahkan pak RT untuk menyebrang. Pak
RT dengan hati hati berjalan agar tak tergelincir dengan bebatuan
licin yang ia pijaki. Saat di pertengahan sungai ia dan belian Sasak
itu terkejut dan menemukan sebuah batu yang aneh berukuran
seperti kursi dan di sebelah batu itu terdapat sebuah batu besar
seperti besarnya manusia pada umumnya. Belian pun mengelus-
elus batu itu sambil membacakan beberapa ayat suci Al-Quran
dan seketika di hadapannya muncul berbagai macam perhiasan,
uang dan batangan emas memenuhi kursi tersebut. Pak RT sangat
terkejut dan belian tersebut mengambil air dari sungai
mengguNakan kedua telapak tangannya dan membasahi batu.
Seketika air dari sungai mengalir deras dan muncul sesosok bocah
tanpa baju di hadapan belian, sedangkan pak RT tak melihat
apapun.
Belian itu pun berbicara sendiri dan kembali membacakan
ayat suci Al-Quran seketika dengan perlahan air sungai menjadi
lebih deras lagi. Pak RT dengan hati hati mengambil semua benda
berharga yang berserakan di atas batu itu kemudian naik ke atas
sungai untuk menemui warga yang kehilangan dan
mengembalikan benda milik mereka . Warga berterima kasih
kepada pak RT dan belian itu.
Belian Sasak pun menceritakan kisah tentang batu yang
seperti kursi tadi. Belian Sasak percaya bahwa tempat itu adalah
tempat tinggal mahluk gaib yang biasa mengambil harta warga
setempat. Sebab malam ini adalah malam senin maka warga
sekitar menamainya Tibu Senen. Sejak hari itu lah tempat Lisung
Batu terkenal karena keangkerannya dan diceritakan secara turun
temurun oleh warga setempat. Sejak kejadian itu, Inaq Seni
dengan raut wajah lega menerima kembali uangnya. Ia harus
memberitahu Sandi bahwa ia bisa membeli perlengkapan sekolah
yang ia impikan besok pagi. Ia menyesal telah menuduh suaminya
sebagai pelaku yang mengambil uangnya di laci. Inaq Seni belajar
bahwa ia tak ingin menuduh orang dengan sembarangan tanpa
9|P ag e
bukti dan seketika ia langusng meminta maaf akan kepada
suaminya yang kebetulan duduk di pojok kerumunan warga.
Amaq Sam dengan sikap yang belum sadar memeluk istrinya.
Begitupun Sandi yang kelihatan senang Ketika ayah dan ibunya
saling peluk, sebagai tanda tidak ada pertengkaran lagi dalam
keluarga mereka.
10 | P a g e
MELAQ TANGKEL
Byrul Waly Daen
Sudah dua minggu lamanya Umar memikirkan acara tujuh
bulanan istrinya. Kini, ia telah sepakat untuk bermusyawarah
dengan keluarganya dan keluarga istrinya. Besok pagi, Umar, Inaq,
Amaq dan mertuanya akan berkumpul di pantai Pulau Lampu
untuk membahas rencananya sekalian Pelesir dengan istri. Sambil
minum teh hangat buatan istri, Umar masih memikirkan apa yang
akan disampaikan ketika semua keluarganya bertemu di pantai
esok. Emah sesekali mencubit Umar yang tampak serius sembari
memegang kening, bak orang yang sedang ditagih kreditur. Emah
meyakinkan Umar bahwa jaga nama baik kedua keluarga, jangan
sampai salah ucap.
Saat langit sore menyapa, Umar dan Emah sudah berada
di pantai bersama keluarga. Sebelum berbicara Umar menarik
helaan nafas dan berkata "Inaq, amaq dan Inaq tuan mengajak
kalian berkumpul untuk membahas rencana Umar untuk
membuat acara 7 bulanannya Emah” ucap Umar sembari
merunduk. “Acara MELAQ TANGKEL maksud Umar, ke?
Sambut mertuanya dengan wajah tak berwarna. Semburan
jawaban dari mertuanya seketika membuat detak jantung Umar
mulai berdetak lebih keras dari biasanya. Umar untuk kesekian
kalinya memegang erat tangan istrinya.
“Hmm….gimana nih pendapat Inaq, Amaq dan Inaq tuan
terkait dengan acara yang ingin Umar adalah" Putus Umar.
"Ya kalo menurut Inaq sih bagus-bagus aja, ya gak, Maq?”
Perkataan Inaq Ican tersebut mendapati anggukan
pertanda setuju dari Amaq Udin, namun disisi lain ada Inaq tuan
yang hanya diam tersenyum kecut di sebelah Emah, ada rasa tidak
setuju dengan usulan dari menantunya (Umar). Emah yang berada
disebelah INak tuan hanya diam terduduk lesu sembari mengelus
perut buncitnya. Emah tau bahwa Inaq tuan tidak akan setuju
dengan niat baik suaminya (Umar). Emah sangat mengenali Inaq
tuan nya yang tak percaya akan ritual dan tradisi lainnya.
11 | P a g e
"Tidak, Inaq tuan tidak setuju dengan usulanmu. Mar.
Apa-apaan pake buat acara Melaq Tangkel segala kamu ini.
Dimana-mana orang kalau 7 bulanan tu USG, lihat jenis kelamin
aNaknya . Kamu malah mau buat acara tidak jelas gitu" Mata
Inaq tuan (Uyah) membulat sempurna, tangannya mengepal erat
seperti orang yang sedang di adu domba.
"Nak tuan, jangan kaya gitu" Tegur Emah yang merasa
tak eNak dengan Inaq dan Amaq mertuanya (Amaq udin). Emah
hanya bisa menatap sendu ke arah suaminya, tatapan yang
memberikan arti tersirat kepada suaminya agar memecah
kecanggungan saat ini. Emah tau dan dia yakin pada suaminya
kalau ia pasti bisa meredakan emosi yang menguasai Inaq tuannya
walaupun harus extra sabar jika ingin berbicara dengan bundanya
yang begitu cepat terbawa emosi dan tersinggung dengan
perkataan orang lain. Emah tau persis sifat Inaq tuan-nya yang
selalu ingin sesuatu yang terbaik untuk putri semata wayangnya.
Ditengah tengah kecanggungan yang sedang menguasai
mereka seketika Inaq Ican mengeluarkan suara yang nyaring
"kamu ini, ga ngerti tradisi apa, dimana - mana orang 7 bulanan tu
buat acara Melaq Tangkel, bukan USG kaya gitu. Itu sama aja
dengan kamu gak percaya Tuhan. Gak percaya akan tradisi nenek
moyang kita" Sambut Inaq Ican yang tak Terima dengan perkataan
Inaq tuan (Uyah) yang tak percaya akan tradisi dan ritus
budayanya. Rasanya ingin sekali Inaq Ican menampar mulut Inaq
tuan Uyah dengan wajan gosong.
Ya, seperti inilah jadinya jika Inaq Ican dan Inaq tuan
(Uyah). Disatukan sifat mereka yang jelas jelas bertolak belakang.
Yang satu sangat percaya akan tradisi dan yang satunya lagi orang
yang sangat anti dengan tradisi dan ritual yang ada. Dengan latar
keluarga mereka yang sangat jauh berbeda. Beginilah jadinya jika
mereka disatukan pasti ada saja yang akan dibuat menjadi
permasalahan yang akan terus diperbesar mau bingung namun,
itulah Inaq Ican dan Inaq tuan (Uyah). dan jika mau marah tak akan
bisa karena mereka akan lebih marah meskipun itu salah mereka,
12 | P a g e
mereka berdua (Inaq Ican dan Inaq tuan (Uyah) sudah seperti tikus dan
kucing yang tak pernah akur
Amaq Udin yang dari tadi hanya diam memperhatikan istri dan
warang-nya yang terus - terusan adu mulut kini tak tinggal diam
dengan dada nya yang naik turun. mata yang memerah dan
nafasnya yang tak beraturan
"BRAKKK" suara meja yang begitu keras membuat Inaq
Ican, Inaq tuan Uyah, Umar dan Emah seketika hampir jantungan.
"maaf" hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Amaq
Udin. Inaq Ican dan Inaq tuan Uyah yang sedari tadi berdebat pun
langsung terdiam membisu. Jika Amaq Udin sudah mulai
bertindak Inaq Ican tak akan berani berbuat macam -macam. Inaq
Ican yak bisa berkata-kata lagi seketika nyalinya menciutt. Inaq Ican
langsung menunduk, ada rasa yang tak bisa dijelaskan di dalam
hatinya. Ia kesal kepada Amaq Udin yang tiba tiba memotong
perkataannya dan ikut campur, bukannya membela dirinya.
Inaq Ican, Amaq Udin dan Inaq tuan Uyah pun pulang ke
rumah masing-masing meniggalkan Umar dan Emah. Umar dan
Emah kini harus bergulat dengan pikirannya masing-masing yang
terus menghantui. Emah resah tak karuan akibat perkataan Inaq
tuan Uyah di pantai. Jika harus memberitahu suaminya. Ia tak
akan berani karena Inaq tuan Uyah melarangnya memberitahu
suaminya. Sebab itu Emah perlu mengumpulkan seribu niat
untuk membuka pembicaraan dengan suaminya, Umar.
"Kak, gimana kalo kita gak usah buat acara 7 bulanan?"
sapa Emah dengan wajah tertunduk. Umar yang tadinya terus
berkutat dengan pikirannya pun heran akan perkataan istrinya.
Umar seketika membuka matanya tak percaya akan apa yang
dikatakan istrinya. Mengapa Emah tiba-tiba berbicara seperti itu.
Umar kembali bingung. "Sudahlah jangan membahas hal itu lagi"
balas Umar kesal kemudian keluar dari kamar.
Pagi-pagi sekali Emah izin kepada suaminya untuk pergi
arisan. Umar merasa istrinya sedang berbohong karna ia
mengetahui kapan jadwal arisan istrinya. Secara diam diam Umar
13 | P a g e
mengikuti Emah pergi. Setibanya di lesehan "Papuk Baloq" Emah
mencari keberadaan Inaq tuannya. Setelah ketemu ia segera
menghampirinya. Kini Emah duduk berhadapan dengan Inaq tuan
Uyah, "apa yang dikatakan Inaq tuan sehingga tak memberikan
izin pada Emah untuk memberitahu Umar" Kata Uyah.
"Jadi gini, Inaq tuan tak setuju bila suamimu mau
membuat acara tradisi Melaq Tangkel seperti itu. Mau ditaruh di
mana muka ibu. Bila teman-teman bisnis ibu mengetahui hal itu.
Inaq tuan ingin kamu melakukan USG dan kita membuat acara
pesta kejutan untuk mengetahui jenis kelamin aNakmu. Jika
suami dan ibu mertuamu gak sanggup untuk membiayai acara
pesta itu. Biar Inaq tuan aja yang mengeluarkan dana. Suami dan
ibu mertuamu itu sangat…" Ucapan Naq tuan Uyah terpotong
kala Umar datang secara tiba-tiba.
"Ooo ternyata kamu arisan menjelekkan suami dan ibu
mertuamu bersama Inaq tuanmu yang paling kaya, yang paling
punya segalanya ini?. Inaq tuan jangan pernah menganggap rendah
keluarga saya. Saya hanya ingin membuat acara Melaq Tangkel
bukan karena saya gak mampu membiayai Emah USG, tapi saya
tidak bisa meninggalkan tradisi dan adat yang ada" Napas Umar
kini tak keruan, tangannya ia kepal erat erat. Umar salah paham
akan apa yang diucapkan oleh bunda uyah, emosi yang membara
kini telah menguasai Umar sehingga perkataan yang keluar dari
mulutnya tak jelas, tak keruan. Dengan dada yang naik turun,
rahang yang mengeras wajah yang telah memerah bagaikan api
Umar tanpa memikirkan perkataannya yang keluar pun langsung
berkata "jika Inaq tuan terus-terusan seperti ini, maka bawa saja
putri manjanya Inaq tuan untuk tinggal di rumah mewah Nak
tuan" Nada suara Umar mulai meninggi.
Emah yang tak Terima Inaq tuannya dibentak di depan
banyak orang langsung berdiri tegak dan melayangkan tamparan
keras ke pipi Umar "PLAKKKKK". Spontan Umar diam
memegang pipi merahnya yang terasa memanas. Sesekali Umar
mengusap pipi yang memiliki bekas tanda tangan perempuan
yang sangat ia cintai.
14 | P a g e
"Jaga ucapanmu, kak. Jika seperti itu maumu, akan ku
turuti" ancam Emah. Emah pun menarik tangan Inaq tuannya
untuk keluar dari lesehan dan meninggalkan Umar. Umar
bingung atas perlakuan istrinya. Ia tak pernah menyangka Emah
senekat ini bahkan berani menamparnya di depan mertuanya.
Umar diam, termenung. Rasa bersalah pada Emah, istrinya yang
lucu dan lembut Emah seketika hilang. Umar merasa bersalah
karena telah membentak mertua dan istrinya bahkan sampai
menyuruh Emah untuk pergi dan tinggal bersama Inaq tuannya.
Namun di satu sisi sikap mertuannya yang selalu saja
merendahkan keluarganya tak bisa ia biarkan begitu saja. Apalagi
Ketika istrinya berani menampar nya di depan mertuanya sendiri.
Benar-benar perempuan yang berbeda.
Kini, sudah dua hari Emah tinggal di rumah ibunya.
Rumah dimana ia tumbuh menjadi perempuan dewasa. Dua hari
ini pula Emah tidak bertemu bahkan saling menanyakan kabar
dengan suaminya. Ada rasa rindu kepada suaminya, Umar.
Namun jika ia ingat cara Umar berbicara dengan lantang kepada
ibunya Ketika di lesehan waktu itu, Emah seketika menepis rasa
rindu pada Umar. Kini usia kandungan Emah sudah 22 minggu
berjalan.
Pagi itu, Inaq Ican dan Amaq Udin berkunjung ke rumah
menantunya. Sesampainya di rumah Inaq Ican justru tak
menemukan menantunya, si Emah. Ia mengira Emah sedang
berada di dapur, namun saat ia cek tak ada seorangpun. Namun,
saat hendak kembali ke ruang tamu Inaq ican mendengar suara
pintu kamar mandi terbuka "Inaq dan Amaq sudah lama?" sapa
Umar sembari berjalan menuju kamarnya.
"Mar, Emah dimana? " Ucap Ibunya lembut sepertinya
sangat merindukan menantunya. Umar menjelaskan semuanya
mengenai kejadian di lesehan kemarin. Tanpa mengucapkan
sepatah kata pun Inaq Ican langsung pergi ke luar rumah tanpa
memperdulikan cerita Umar lagi.
"Inaq, Umar belum selesai bicara" teriak Umar memanggil
Ibunya, namun Inaq Ican tetap saja pergi. Kini, hanya ada Umar
15 | P a g e
dan bapaknya. Amaq udin menyuruh Umar untuk tetap tenang
dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Amaq Udin faham
dengan apa yang terjadi pada aNaknya, ini semua persoalan salah
faham saja.
Disisi lain Inaq Ican telah sampai di kediaman Inaq tuan
Uyah. Tanpa salam ia langsung masuk menerobos ke dalam
rumah. Di ruang tamu, Emah sedang asik duduk memakan buah
sambil menonton TV. Alangkah malangnya nasib aNaknya, si
Umar yang dirundung bingung dan sedih. Inaq tuan Uyah baru
saja selesai memasak dan hendak memanggil putrinya untuk
makan langsung terkejut melihat besannya, Inaq Ican sudah ada di
ruang keluarga.
"Uyah, bagaimana bisa kamu dan putrimu tenang sekali
makan, tidur setelah kalian merendahkan saya diam-diam. Jangan
kalian pikir jika saya membuat acara Melaq Tangkel sebab saya
tidak mampu mengadakan pesta tujuh bulanan kandungan
menantu saya" Ucap Inaq Ican tertawa remeh.
"Bukannya kamu orang kaya dan berpendidikan?.
Seharusnya kalian lebih arif dan bijak dalam melihat hal ini " jelas
Inaq Ican sambil menatap wajah besannya. Inaq tuan Uyah yang
sudah geram dengan ucapan Inaq Ican pun mengangkat
tangannya dan hendak menampar Inaq Ican, namun untung saja
Umar datang tepat waktu dan menahan tangan Inaq tuan Uyah
dengan kuat. "emah bisa bisanya kamu halnya diam melihat inaq
tuan mu hendak menampar mertuamu?" bentak Umar dengan
suara lantang dan menarik Inaq Ican keluar dari rumah mertuanya
itu.
Dan kini Emah sedang duduk di balkon kamarnya
menikmati angin malam dan sesekali ia meneteskan air mata. Ia
bertanya pada dirinya sendiri apakah harapannya yang indah akan
hilang? Apakah ia harus mengubur dalam dalam semua mimpinya
yang telah lama ia nantikan. Bagaimana kelanjutan hidupnya
nanti?. Apa ia harus membesarkan aNaknya tanpa ada sosok ayah
dalam hidup mereka kelak. Sungguh Emah tak mampu
membayangkan, sakit hatinya terasa ter-iris. Ia pun meneteskan
16 | P a g e
buliran bening. Ia bingung apakah ia harus menghubungi Umar,
atau menuruti perkataan bundanya untuk tak menghubungi
Umar.
Di sisi lain, di sebuah ruangan yang terlihat tua penuh
dengan barang antik terdapat Amaq Udin yang terduduk
menghadap jendela melihat pemandangan yang indah pada sore
hari yang cerah. Amaq Udin bingung bagaimana cara
mendamaikan istri dan besannya agar aNak dan menantunya
dapat berkumpul kembali. Yang terlintas dalam beNaknya hanya
Amaq Agus yang bisa memberikan solusi atas masalah ini. Ia pun
segera menemui Amaq Agus. "Can, aku mau pergi kerumah Agus,
bentar, ya" kata Amaq Udin polos.
"Mau ngapain? Jangan lama" Putus Inaq Ican
Sesampainya di rumah Amaq Agus, Amaq Udin langsung
masuk seperti biasa.
"Gus…."
"Ya, Din. Tumben banget. Ada apa nih?" jawab Amaq
Agus sambi berjalan menemui Amaq Udin. Ia kemudian
mempersilahkan Amaq Udin untuk duduk di ruang tamu. Amaq
Udin tanpa Panjang kalam mulai menceritakan masalah yang
menimpa keluarganya.
"aku bingung Gus. Istriku mau acara 7 bulanan
menantuku harus membuat acara MELAQ TANGKEL namun
besanku maunya 7 bulanan harus USG dan membuat pesta.
Gimana menurutmu Gus?" ucap Amaq Udin dengan suara
pesimis.
Amaq Agus sedikit bingung bagaimana caranya untuk
mendamaikan kedua wanita itu. Amaq Agus terdiam sejeNak dan
beberapa menit kemudian terlintas ide. "Din gimana kalo kamu
buat 2 acara sekaligus. Di hari pertama kalian mengadakan acara
Melaq Tangkel dan di hari kedua kamu pergi membawa menantimu
USG. Gimana?" jawab Amaq Agus penuh yakin.
“Aku maunya seperti itu, tapi istriku salah faham sama
menantu dan besanku. Bahkan Umar pun ikut-ikutan”
17 | P a g e
"Menurut aku sih Din. Bujuk satu persatu dimulai dari si
Uyah. Nanti minta menantumu Emah buat bujuk bundanya nanti
kamu tinggal lurusin kesalahfahaman antara Umar, istrimu dan
Uyah. Nah nanti kalo udah selesai semua permasalahan baru dah
kamu buat acara 7 bulanan" saran Amaq Agus sembari mengelus
Pundak Amaq Udin.
Amaq Udin berpikir sejeNak, kemudian menganggukkan
kepala. Baginya mungkin ini bukan solusi terbaik, tapi tidak salah
jika harus dicoba. Amaq Udin pun mencoba menelpon Emah dan
memberitahunya tentang rencananya untuk menyatukan dua
keluarga ini. Amaq Udin dan Emah akan memulai aksi mereka
untuk mendamaikan kembali Inaq Ican dan Inaq tuan Uyah.
"Inaq tuan ada yang mau Emah bicarakan. Inaq tuan mau
denger gak?" Kata Emah lembut.
"Tentu Inaq akan dengarkan. Bicaralah Nak".
"Usia kandungan Emah sekarang menginjak 24 minggu
bentar lagi kandungan Emah bakal memasuki bulan ke 7. Emah
gak mau kalo nanti aNak Emah lahir saat dua keluarga besar ini
masih menyimpan amarah dan permusuhan. Emah gak mau lihat
bunda sama mertua Emah terus-terusan kaya gini. Di sini ada
Emah, Umar dan calon bayi yang menjadi korban karena
keegoisan Naq tuan dan Inaq Ican. Jika Emah meminta agar bunda
gak egois lagi gimana. Nak Tuan mau baikan kan sama Inaq Ican?.
Nanti kita akan membuat acara Melaq Tangkel sebagai bentuk kita
peduli tradisi dari mertuaku, dan setelah itu kita bisa membuat
acara pesta pengumuman jenis kelamin setelah USG. Naq Tuan
mau kan baikan sama Inaq Ican? " Bujuk Emah sambil mengelus
tangan ibunya.
Inaq tuan Uyah tak tega melihat putrinya harus memohon.
Dengan berat hati ia mengangguk pertanda setuju. Setelah
mendengar jawaban ibunya, Emah langsung menghubungi Amaq
Udin untuk memberi tahu bahwa Inaq tuan Uyah setuju
melakukan acara Melaq Tangkel dan USG setelah acara itu.
Dan kini, di malam yang gelap diterangi oleh cahaya bulan
dan bintang. Emah berada pada balkon kamarnya. Sudah dua
18 | P a g e
minggu Emah kembali ke rumah suaminya dan besok pagi usia
kandungannya tepat 7 bulan dan acara Melaq Tangkel akan
dilaksaNakan. Pagi sekali, Inaq Ican dan Inaq tuan Uyah
menyiapkan bunga untuk persiapan ritual Melaq Tangkel pada
acara 7 bulanan Emah. Acara akan dimulai tepat pukul 09.00
WIta. Emah kini telah berganti pakaian dengan kain gendongan
yang dililitkan ditubuhnya begitu pula dengan Umar. Emah dan
Umar duduk di atas karpet dan ditemani oleh bak mandi yang
berisi air bunga dengan nampan yang berisi kepala dan beban
tumbuhan yang lainnya. Emah dan Umar duduk sebelahan dan
siap melaksaNakan tradisi Melaq Tangkel yang dimulai dengan
pembacaan doa dan sholawat dilanjutkan dengan Amaq Udin
menuangkan siraman air bunga pada Emah dan Umar. Terakhir,
Inaq Ican dan Inaq tuan Uyah langsung mengolesi kapala Emah
dengan perasan air kelapa yang sudah dicampur dengan bahan
lainnya. Wajah keduanya begitu ceria dan Bahagia. Tak lupa
mertua Emah, Inaq Ican dan ibunya Inaq Tuan Uyah.
Kini, Emah, Inaq tuan Uyah dan Inaq Ican duduk bercanda
dan tertawa bersama. Emah dan Umar tersenyum bahagia melihat
kedua orangtua mereka akur kembali.
"Maaf ya Can, kemarin aku sempat gak setuju dan
membuat hubungan kedua aNak kita menjadi renggang" Kata
Inaq tuan Uyah meminta maaf dengan tulus.
”tak apa. itu hal yang wajar dan besok kita akan membuat
acara pengungkapan jenis kelamin cucu kita" Senyum di bibir Inaq
Ican terus merekah. Sedangkan di atas tangga ada Amaq Udin
tersenyum simpuh melihat kedua perempuan itu mulai akur lagi.
Amaq Udin merasa tenang telah mendamaikan kedua wanita yang
berada didepannya.
19 | P a g e
SELAQ NGERES
Baiq Evika Dewi
Pada zaman dahulu, di sebuah desa bernama Wanasaba.
Tinggallah sepasang suami istri bernama pe Sulahan dan Naq
Subaidah. Mereka membangun rumah tepat di tepi kokoq Songgen
(sungai). Di tepi kokoq Songgen terdapat pepohonan yang rindang.
Dan di tepi kokoq Songgen terdapat beberapa rumah warga
Wanasaba termasuk rumah suami istri tersebut. Warga sekitar
menjadikan kokoq songgen sebagai tempat mencuci baju, mencuci
piring dan sebagai tempat aNak-aNak mandi. Pe Sulahan dan Naq
Subaidah sudah menikah 9 tahun lamanya, namun mereka belum
juga di karuniai seorang aNak. Mereka sangat ingin memiliki
aNak. Terutama Naq Subaidah, dia sering pergi ke dukun untuk
mencari obat-obatan. Saat sakitpun bukannya pergi ke rumah
sakit Naq Subaidah malah pergi ke dukun, itupun tanpa
sepengetahuan suaminya.
Sampai suatu ketika, Naq Subaidah dikabarkan hamil oleh
bidan yg ada di desanya. Pe Sulahan dan Naq Subaidah sangat
bahagia, karena penantian mereka selama 9 tahun sudah
terbayarkan. Bukan hanya mereka berdua yang bahagia, tetapi
para tetangga pun ikut senang dengan kehamilan Naq Subaidah,
karena tidak lama lagi akan ada suara tangisan bayi yang terdengar
di desa mereka.
Semenjak kehamilannya, Naq Subaidah sangat dekat
dengan salah seorang tetangganya bernama Naq Dihin. Hampir
setiap hari Naq Dihin selalu ada di dekatnya, bahkan pada saat
malam pun Naq Dihin seringkali menginap di rumah Naq
Subaidah. Sebenarnya Pe Sulahan merasa terganggu dengan
adanya Naq Dihin. Apalagi Naq Dihin seorang wanita yang di
tinggal mati suaminya. Suami Naq Dihin meninggal karena jatuh
dari pohon kelapa saat sore Jumat. Pe Sulahan tidak mau warga
berfikir yang tidak-tidak dengan keluarganya. Pe Sulahan sudah
membicarakan perihal Naq Dihin kepada Naq Subaidah, tetapi
respon Naq Subaidah malah biasa saja.
20 | P a g e
Sampai suatu ketika saat azan subuh berkumandang, Naq
Subaidah merasakan sakit di perutnya, Naq Subaidah pun
memanggil Pe Sulahan, untungnya Pe Sulahan baru selesai
mengambil air wudhu. Dengan panik Pe Sulahan mengecek
keadaan istrinya, saat melihat Naq subaidah yang kesakitan Pe
sulahan lalu memindahkan Naq Subaidah ke kasur dan pergi
untuk memanggil bidan yang ada di desa.
Ketika matahari pagi sudah muncul barulah terdengar
suara bayi yang bergema dari rumah Pe Sulahan. Selesai
melahirkan bidan tersebut menyuruh Pe Sulahan untuk
menguburkan ari-ari aNaknya tepat di depan rumah mereka. Tak
lupa Pe Sulahan membungkus tali pusar aNaknya mengguNakan
kain bersih lalu di ikat mengguNakan tali dan di gantung di atas
tempat menjemur dalam rumah agar aNaknya selalu cocok
mengguNakan pakaian dan selalu ngangenin. Para tetangga
sekitar yang mendengar kabar kalau Naq Subaidah sudah
melahirkan pun beriring-iringan untuk menjenguk Naq Subaidah
dan melihat bayi Naq Subaidah.
Ada salah satu dari mereka yang bertanya kepada Naq
Subaidah perihal Naq Dihin yang tidak pernah datang semenjak
Naq Subaidah mendekati hari-hari melahirkan. Naq Subaidah juga
bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut, karena nyatanya
Naq Subaidah juga merasa heran, tetapi ia tak ambil pusing karena
mungkin Naq Dihin tengah sibuk dengan urusannya sendiri.
Sampai suatu ketika terdengar kabar dari desa sebelah bahwa ada
Selaq ngeres. Para warga sekitar mulai bergosip tentang Selaq ngeres
sembari mencuci pakaian mereka di kokoq Songgen. Mereka
bergosip bahwa Selaq ngeres hanya keluar di malam-malam
tertentu, seperti malam Jum'at Kliwon untuk mencari orang yang
sakit parah.
Selaq ngeres identik dengan pakaian serba putih.
Kedatangan Selaq ngeres di tandai dengan adanya angin semilir dan
akan datang apabila mencium bau amis darah. Pe Sulahan yang
sedang ada di dapur untuk membuat kopi pun tidak sengaja
mendengar perkataan para tatangga yang membahas Selaq ngeres.
21 | P a g e
Entah kenapa Pe Sulahan malah curiga dengan satu orang. Ia pun
dengan segera memberitahu kecurigaannya kepada istrinya, Naq
Subaidah. Tetapi sayang sekali, Naq Subaidah malah mengira Pe
Sulahan berbohong karena Pe Sulahan tidak terlalu suka pada
Naq Dihin. Pe Sulahan yang mendengar kata istrinya sangat kesal
karena istrinya sangat tidak percaya padanya dan malah lebih
percaya pada orang itu.
Pada malam hari, bertepatan dengan malam Jumat. Pe
Sulahan yang takut kalau keluarganya kenapa-napa lalu pergi
untuk mengambil Al-Quran dan membacanya di dekat aNak dan
istrinya agar mereka selalu dilindungi oleh Allah SWT. saat
hendak keluar untuk mengambil wudhu Pe Sulahan melihat
seseorang berpakaian serba putih seperti sedang mandi di kokoq.
Pe Sulahan heran siapa yang mandi tengah malam begini. Saat
hendak pergi mengambil senter orang itu sudah menghilang entah
kemana. Baru saja mau mengambil Al Quran Pe Sulahan
mendengar tangisan kencang dari aNaknya dengan tergesa-gesa.
Pe Sulahan dengan cepat berlari ke kamarnya untuk melihat
aNaknya yang menangis. Untung saja istrinya langsung
menenangkan sang aNak, namun aNaknya belum juga berhenti
menangis. Pe Sulahan pun membantu Naq Subaidah
menenangkan aNaknya dengan cara menepuk-nepuk pelan
pundak aNaknya. Perlahan aNaknya pun kembali tertidur. Pe
Sulahan kemudian menceritakan apa yang dia lihat kepada
istrinya, akan tetapi respon Naq Subaidah yang biasa-biasa saja
yang kemudian membuat Pe Sulahan geram sebab istrinya tidak
mempercayai yang dikatakan.
Keesokan harinya, ada seseorang yang mengetuk pintu
rumah mereka, saat pintu terbuka ternyata itu adalah tetangga
rumah mereka. “ada apa, bu?” tanya Pe Sulahan karena melihat
wajah panik tetangganya sembari mempersilahkannya untuk
duduk.
"Apakah kamu tau bahwa kuburan ari-ari aNakmu telah di
bongkar?" ucap tetangganya dengan wajah meyakinkan. Tanpa
22 | P a g e
mengomentari pertanyaan tetangganya, Pe Sulahan langsung
berlari ke tempat ia mengubur ari-ari aNaknya.
Pe Sulahan kaget bukan kepalang padahal kemarin tempat
dia menguburkan ari-ari itu sangat bersih dan rapi namun kenapa
sekarang terlihat seperti dibongkar seseorang. Dila cobokan dan
uang koin yang ditaruh di atas gorong (sangkar ayam) tampak
berserakan di dekat kuburan ari-ari yang dibongkar. Pe Sulahan
tiba-tiba terpikirkan apa yang dikatakan tetangganya beberapa hari
lalu tentang Selaq Ngeres. Bahkan, istrinya Pe Sulahan pun
sebenarnya sudah tau tentang Selaq Ngeres dari tetangganya tapi ia
tidak percaya. Waktu itu, ketika istrinya sedang mencuci pakaian
aNaknya di kokoq Songgen Naq Subaidah kembali teringat dengan
Naq Dihin yang sejak kelahiran aNaknya tidak pernah terlihat
bahkan Naq Dihin seperti di telan bumi. Tak berselang lama ada
beberapa tetangganya yang datang untuk mencuci baju juga. Salah
seorang dari mereka berkata.
"Naq Subaidah, apa kamu tahu kabar kalau orang yang
tinggal di dekat rumahmu jatuh dari pohon kelapa dan kakinya
bongkang (rusak) karena tertusuk kayu di bawah?" ucap ibu yang
sedang membilas baju.
Naq Subaidah hanya menggelengkan kepala sebab setelah
selesai melahirkan ia jarang keluar rumah. Entah datang darimana
Pe Sulahan berlari sembari memberi saran kepada istrinya tentang
ari-ari aNaknya yang digali orang. Naq Subaidah diam kemudian
segera menghampiri suaminya. Raut wajahnya kini tak sedingin
sebelumnya. Ia tampak panik Ketika mendengar ari-ari aNaknya
hilang diambil orang. “kok bisa hilang? Siapa yang
mengambilnya?” ucapnya panik. Suaminya kemudian menjelaskan
penjang lebar dan Naq Subaidah duduk terdiam. Pikirannya sudah
kemana-mana. Ia tak habis pikir, di saat Bahagia memiliki aNak
saat ini, ia terpaksa harus merelakan bagian dari darah dagingnya
diambil orang tak dikenal. Pe Sulahan memeluk Subaidah yang
mulai berlinang air mata. Sedangkan ibu-ibu yang melihat dan
mendengar hal itu pun kaget serta turut perihatin dengan musibah
yang dialami Naq Subaidah.
23 | P a g e
"Aku dengar Selaq Ngeres sangat suka menghisap darah
orang yang selesai kecelakaan, bagaimana kalau nanti kita semua
begadang dan aku akan mengawasi rumah orang yang kecelakaan
itu dan apabila aku melihat Selaq Ngeres atau orang yang
mencurigakan aku akan memukul pentungan untuk mengumpulkan
para warga. Gimana?" ucap Pe Sulahan dengan wajah penasaran.
Naq Subaidah setuju dangan perkataan suaminya, lalu Naq
subaidah meminta kepada 2 orang tetangganya itu untuk segera
memberitahukan pak RT tentang rencana mereka. Setelah selesai
mencuci pakaian 2 orang tersebut pergi untuk memberitahu pak
RT tentang rencana mereka. Pak RT yang awalnya kurang setuju
karena mungkin itu akan menggangu warga yang lain. Akan tetapi
setelah berdiskusi dan menimbang secara seksama salah satu dari
mereka menjelaskan dan menunjukkan bukti bahwasa Selaq Ngeres
itu ada. Akhirnya pak RT pun menyetujui rencana warganya.
Di lain tempat, tepatnya di rumah Naq Subaidah dan Pe
Sulahan. Naq Subaidah tengah berdebat dengan suaminya pasal
Selaq Ngeres yang dicurigai Pe Sulahan. Naq Subaidah tidak habis
pikir dengan kecurigaan suaminya dan bagaimana bisa suaminya
itu curiga dengan orang yang begitu baik yakni Naq Dihin. Pe
Sulahan curiga dengan Naq Dihin semenjak Naq Dihin yang
sering menginap di rumahnya saat istrinya hamil waktu itu.
Sebenarnya dulu Pe Sulahan juga tak sengaja melihat Naq Dihin
keluar dari rumahnya tengah malam saat Pe Sulahan akan pergi ke
kamar mandi. Waktu itu Pe Sulahan melihat sesosok wanita yang
memiliki postur tubuh mirip seperti Naq Dihin dan berpakaian
serba putih. Saat Pe Sulahan ingin melihat lebih jelas sosok itu
dengan sekejap malah menghilang. Kecurigaan Pe Sulahan
semakin kuat saat pagi tiba, Pe Sulahan tidak melihat Naq Dihin di
rumahnya lagi.
Di saat lamunannya Naq Subaidah menepuk pelan paha
suaminya untuk memberi tahu apa yang dia lihat. Pe Sulahan
langsung menengok istrinya. Pe Sulahan langsung bertanya “ada
apa?” dan Naq Subaidah hanya memberikan isyarat dengan
tunjukan tangannya. Saat menengok arah tunjukan istrinya, Pe
24 | P a g e
Sulahan melihat seseorang berpakaian serba putih sama persisi
seperti yang pernah dia lihat waktu itu.
Setelah memastikan orang tersebut benar-benar orang
yang di curigainya. Pe Sulahan dengan cepat memukul pentungan
untuk memberi isyarat kepada Pak RT. Lantas dengan cepat Pak
RT, warga dan pak ustadz langsung pergi ke rumah Pe Sulahan.
Sesampainya di sana pak RT langsung bertanya kepada Pe Sulahan
di mana orang yang mencurigakan tersebut. Pe Sulahan yang
sudah menitipkan sang aNak di rumah orang tuanya merasa aman
karena aNaknya pasti akan aman di sana. Pe Sulahan serta Naq
Subaidah langsung menuntun pak RT dan yang lain untuk ke
rumah tetangganya yang kecelakaan. Saat sudah sampai, Pe
Sulahan mencoba untuk membuka pintu rumah tersebut dan
mereka sedikit terkejut karena pintunya tidak terkunci. Tidak
berselang lama mereka semua langsung masuk untuk melihat dan
mencari orang yang mereka maksud. Baru saja masuk mereka
semua merasa langit yang tadinya sangat Benyak bintang yang
menghiasi kini di gantikan dengan awan mendung, ayam yang
semula tidak ada suaranya kini mulai berkokok tidak jelas seakan
tau apa yang terjadi, kucing yang tadinya tertidur kini mengaung
layaknya melihat musuh. Entah kenapa angin yang tadinya biasa-
biasa saja kini terasa sangat dingin dan lantai yang mereka injak
terasa sangat menusuk.
Mereka semua langsung mencari yang mereka curigai saat
membuka pintu kamar tetangganya Pe Sulahan sangat terkejut
melihat orang yang berpakaian serba putih tengah menghisap
tepat diluka yang parah tersebut. Pe Sulahan lalu memanggil
semua orang yang mencari di sekitar untuk melihat dan pak
ustadz yang mendengar panggilan Pe Sulahan langsung masuk ke
dalam kamar tersebut. Tetapi yang membuat mereka heran adalah
bagaimana mungkin Pe Ucin (orang yang kecelakaan) tidak sadar
padahal lukanya tengah dihisap oleh orang yang tidak diketahui.
Pak ustadz langsung membaca doa dan betapa terkejutnya mereka
saat orang itu melihat ke arah pak ustadz penuh curiga dan orang
itu adalah Naq Dihin.
25 | P a g e
Naq Subaidah sangat terkejut melihat orang yang selama
ini dia bela di depan suaminya kini tengah menatap ke arah pak
ustadz dengan mulut yang dipenuhi darah. Naq Subaidah kecewa
bagaimana mungkin orang yang dikenalnya sangat baik malah
menjadi sosok yang meNakutkan. Pak ustadz lalu menyuruh
beberapa orang untuk pergi ke rumah Naq Dihin untuk mencari
kendi yang berisikan air karena sejatinya orang yang seperti Naq
Dihin pasti sering mencari ilmu dan menaruh di kendi.
Pe Sulahan dan beberapa orang warga termasuk Naq
Subaidah pergi ke rumah Naq Dihin untuk mencari kendi
tersebut. Saat sampai di sana mereka melihat pagar-pagar rumah
yang terbuat dari kayu yang sudah lapuh, tembok yang diguNakan
bukanlah tembok semen tetapi tembok bedek dan hanya ditutupi
oleh koran dan kalender bekas dengan jendela yang bolong akibat
di makan rayap. Saat memasuki rumah Naq Dihin, Lantai rumah
tersebut bukanlah tehel akan tetapi masih mengguNakan tanah.
Ada sebagian genteng yang bocor karena termakan terik matahari
dan derasnya hujan. Mereka semua hampir saja kembali ke rumah
Pe Ucin karena tidak menemukan kendi tersebut di mana-mana
tetapi mereka semua mendengar panggilan Naq Subaidah dari
sebuah kamar yang sepertinya kamar Naq Dihin, di sana mereka
melihat Naq Subaidah sedang menunduk di bawah Baton (kasur)
yang sudah lapuh untuk mengambil kendi yng mereka cari.
Naq Subaidah dan yang lain langsung pergi ke pak ustadz
untuk memberikan kendi tersebut. Saat sampai di sana, Naq
Subaidah langsung memberikan kendi ke pak ustadz. Ia pun
heran kenapa Naq Dihin malah digantung terbalik. Tapi, Naq
Subaidah tidak berani bertanya karena Naq Dihin terus saja
memberontak dengan kukunya yang panjang berlumuran darah.
Pak ustadz membacakan sesuatu ke dalam kendi tersebut
kemudian beliau langsung memecahkan kendi itu. Saat kendi
tersebut pecah Naq Dihin langsung memuntahkan paku, katak,
dan begitu banyak darah. Pak ustadz menyuruh yang lain agar
tidak terlalu panik. Saat Naq Dihin sudah tenang dan kembali
26 | P a g e
sadar barulah pak ustadz dan beberapa warga kembali
membalikkan posisinya seperti semula.
“kenapa Naq Dihin menjadi Selaq Ngeres?. Apakah dari
keturunan atau yang lain?” tanya pak ustadz lembut.
Naq Dihin pun menceritakan awal mula dia menjadi Selaq
Ngeres. Dulu dia dan suaminya hidup biasa-biasa saja. Naq Dihin
yang selalu pergi ke dukun untuk mencari ilmu gaib sampai suatu
ketika dia mendengar kabar kalau suaminya jatuh dari pohon
kelapa dan meninggal. Sejak saat itulah Naq Dihin sangat sedih
kehilangan suami tercintanya. Naq Dihin akhirnya memutuskan
untuk pergi ke dukun guna mencari cara agar suaminya bisa
kembali sebab Naq Dihin percaya kalau suaminya masih bisa
hidup. Dukun tersebut menyuruh Naq Dihin mencari ari-ari bayi
yang baru meninggal agar dia bisa berkomunikasi dengan
suaminya.
Pak ustadz yang mendengar cerita itu pun mengatakan
“orang yang sudah meninggal dunia tidak akan pernah bisa
kembali apalagi berbicara dengan manusia, sebab mereka sudah
berada pada alam yang berbeda. Kita tidak boleh pergi ke dukun
untuk mencari ilmu-ilmu hitam karena itu termasuk musyrik”
tegas pak Ustadz sambil menatap wajah Naq Dihin yang masih
berlumuran darah.
Seketika Naq Subaidah pun berjanji bahwa dia tidak akan
pergi ke dukun lagi, karena dia takut akan terjadi hal serupa
seperti Naq Dihin. Naq Dihin yang sudah mengerti langsung
meminta maaf kepada semua orang terutama Naq Subaidah dan
mengaku bahwa dialah yang memakan ari-ari aNaknya Naq
Subaidah. Naq Subaidah, Pe Sulahan dan semua orang yang ada di
sana sudah memaafkan Naq Dihin.
27 | P a g e
BATU DARE
Geisha Azzahra Anastasya
Alkisah di sebuah kerajaan yang terdapat di pulau
Lombok, hiduplah seorang dedare (gadis) bangsawan yang tengah
berusaha menyelinap kabur dari rumahnya sendiri tanpa seorang
pun yang mengetahui. Panas terik di siang hari tak pernah
menghalanginya setiap ia ingin kabur. Sesekali ia ditemukan akan
kabur. Tatapi ia sangat cerdik dengan membuat buat alasan agar
meyakinkan orang orang di rumah seakan akan ingin pergi
menemui temannya. Rambut panjangnya, senyum manis yang
menggambarkan keceriaan, serta parasnya yang cantik, membuat
setiap orang memandangi dengan terkagum kagum. Dedare itu
kabur dan terus saja berlari bukan tanpa alasan. Kali ini, wajah
suram nan kersut ia bawa setelah menerima kabar yang buruk.
Dedare yang dikenal dengan nama Baiq Sri Ayu itu terhenti di
depan rumah yang jauh dari keramaian. Ia memandangi seorang
bajang (pemuda) rakyat biasa yang tengah berkebun sendirian
dengan senyuman lembut. Ia menghampirinya tak takut pakaian
indahnya akan ternodai oleh tanah dan lumpur. Bajang tanpa
orang tua dengan nama Arijin itu terkejut melihatnya si Baiq
dengan wajah ceria namun tak alami. Ia sepertinya sedang
berupaya untuk menyembunyikan sesuatu.
"Jangan mendekat! Pakaianmu akan kotor nanti!" ucap
Arijin dengan wajah kaget.
"Tapi aku tak peduli"
"Ayu, kau selalu saja seperti ini ya!"
"Sejak lahir, aku sudah seperti ini" balas Baiq Ayu spontan
seperti merasa puas dengan jawaban yang tidak memperdulikan
apa yang dikatakan. Walau sudah di cegah, namun dedare yang
dipanggil dengan nama Ayu itu, tetap saja mendekat dengan
bajunya yang mulai terkena lumpur. Arijin pun hanya bisa pasrah
karena Ayu yang tak bisa dilarang.
Setiap harinya, Ayu selalu menemui Arijin yang
merupakan teman semasa kecilnya. Namun, tak satupun orang
28 | P a g e
mengetahui bahwa mereka adalah sahabat. Mereka selalu saja
menghabiskan waktu bersama dalam berbagai hal seperti;
Berkebun, memasak, makan bersama, berjalan jalan dan banyak
hal lain lagi. Saling mengerti satu sama lain sudah hal wajar bagi
mereka yang bersahabat sejak kecil. Karena itu, Arijin menyadari
ada sesuatu yang aneh pada diri Ayu kali ini.
Ayu yang selalu saja tak bisa berhenti bicara, kali ini
berbeda. Ia hanya membawa wajah sedih. Arijin belum
memberanikan diri untuk bertanya karena merasa itu adalah suatu
hal yang tak pantas untuk di ceritakan kepadanya. Melihat Ayu
yang tampaknya tidak sedang baik-baik saja memaksa Arijin
memberanikan diri untuk mamancing Ayu agar mau menjelaskan
ada apa gerangan sehingga ia tidak seperti biasanya.
"Ayu, ada yang ingin ku bicarakan" ucap Arijin dengan
wajah serius sembari menatap mata Ayu.
"Apa itu?"
"Ada yang berbeda darimu hari ini. Biasanya kau
berbicara banyak hal denganku, tapi hari ini kau tak banyak
bicara. Apa ada yang kau sembunyikan dariku?". Ayu sempat
linglung ketika mendengar pertanyaan Arijin.
"Eehh.. Aku seperti biasanya kok. Tidak ada yang
kusembunyikan. Ngomong-ngomong cepat habiskan
makananmu, nanti keburu dingin" balas Ayu yang mengalihkan
pertanyaan Arijin. Namun, Arijin terus saja menanyakan hal yang
sama beberapa kali. Namun Ayu terus saja menghindari
pertanyaan tersebut. Muak dengan tingkah Ayu, Arijin berdiri dan
memukul meja dengan keras sembari membentaknya karena
terbawa emosi.
"Prak…!!. Ayu!, kau selalu saja keras kepala. Katakan yang
sebenarnya terjadi?" gertak Arijin dengan wajah yang berbeda.
Ayu hanya menunduk, tak bicara namun merintikkan air mata
yang kini membasahi bajunya.
"Aku akan menikah. Tadi siang, aku baru saja dilamar
oleh seorang bangsawan" balas Ayu dengan wajah sayu sambal
menatap wajah Arijin yang sudah mulai berubah. Arijin pun
29 | P a g e
terdiam kemudian memaksa tersenyum mendengar kabar
tersebut.
"Kenapa kau menangis? Ini kabar yang
membahagiakanmu. Jika kau bahagia, aku pun akan bahagia"
balas Arijin yang berusaha meyakinkan Ayu tentang lamarannya
itu. Namun, seketika Ayu menangis dan menengok ke arak arah
Arijin yang tengah tersenyum. Ayu heran mengapa Arijin terlihat
bahagia mendengar kabar itu.
"Apakah kau akan bahagia apabila aku menikah dengan
orang lain?"
"Tentu saja aku bahagia. Kau akan menikah kan?"
Ayu Kembali merintik menangis memandang Arjin.
"Ayu? Kenapa kau menangis? Baiklah aku minta maaf
karena membentakmu. Jadi jangan menangis ya!"
Arijin yang mendekat mencoba menghapus air mata Ayu.
Tetapi, ia menepas tangan Arijin, dan menghapus air matanya
sendiri. Ayu perlahan bangun dan melangkahkan kaki berniat
untuk pergi.
"Kamu mau kemana, Ayu? Makananmu kan belum
habis?"
Ayu tak menggubris ucapan Arijin dan terus berjalan
menuju pintu keluar dan tiba-tib Ayu menghentikan lankahnya. Ia
membalikkan badan dengan pipi yang tampak basah.
"Arijin, kau kira kenapa aku bersedih ketika aku akan
menikah dengan seorang bangsawan? Itu karena aku
mencintaimu" balas Ayu dengan suara terbata kemudian pergi
seiring datangnya malam. Ayu pergi dengan suasana hati tak baik-
baik saja. Wajah Arijin pun seketika berubah sebab ucapan Ayu.
Ia tak bisa berkata apapun dan hanya bisa memandang Ayu yang
perlahan menjauh darinya.
Ayu yang tengah berlari kecil seraya menangis masih
memikirkan betapa tak pekanya Arijin terhadap perasaannya.
Mata yang dipenuhi dengan bulir bening dan malam yang mulai
pekat menghalangi pandangannya sehingga ia jatuh tersandung
batu ketika sampai di jalan utama kerajaan. Seorang wanita tua
30 | P a g e
yang kebetulan dari arah belawanan menghampirinya sembari
mengulurkan tangan.
"Kau tidak apa-apa, Nak?" sapanya lembut sembari
membangunkan Ayu dari tanah.
Ayu terkejut, sebab wajah wanita tua itu mengingatkannya
kepada seseorang yang sudah tidak ada lagi di dunia. Ia seperti
ragu untuk menerima pertolongan dari wanita tua itu. Tetapi
akhirnya ia menggenggam tangannya dan bangun dengan kaki kiri
yang terluka.
"Sepertinya kakimu terluka. Ikuti aku, berjalanlah dengan
hati hati. Aku akan mengobati mu" jawabnya pelan
sembari meyakinkan Ayu.
Ia pun membawa Ayu yang sedang terluka menuju
rumahnya. Dengan menggiling sedikit kunyit, wanita tua itu
mengoleskannya secara perlahan di lutut dan kaki kiri yang terluka
tersebut dan memberi Ayu segelas air untuk diminum.
"Sekarang ceritakan kepadaku! Kenapa kau menangis dan
terjatuh, sedangkan kau ini bukan aNak kecil lagi." Tanya
perempuan tua itu sambal tetep mengoleskan racikan kunyit ke
kaki Ayu.
Ayu menunduk dengan tangan melakukan aktivitas aneh.
Merasa malu karena diduga ia menangis hanya karena terjatuh.
"Aku bukannya menangis karena terjatuh. Ada suatu
hal."
"Maukah kau menceritakannya padaku?" mendengar
tawaran itu, Ayu ragu untuk menceritakan hal yang sangat privasi
kepada orang yang baru saja ia temui. Ia kemudian terdiam
menunduk.
"Aneh sekali. Kenapa kau tak memandang wajahku ketika
bebicara?
"Ketika aku melihat wajahmu, aku teringat dengan wajah
ibuku yang sudah meninggal semasa aku kecil"
"Kalau begitu, anggap saja aku ibumu. Panggil aku Ibu
Minah" bujuknya sambal menatap wajah Ayu.
31 | P a g e
Ayu yang mendengar ucapan itu, menoleh melihat wajah
wanita tua yang bernama ibu Minah itu. Wajahnya dan sifatnya
yang mirip, membuat ia ingin bertemu dengan ibu nya.
"Apakah aku harus merayumu terlebih dahulu? atau
melakukan sesuatu atau melakukan sesuatu agar kau
mau menceritakannya? Percayalah aku. Kau akan merasa baikan
ketika kau menceritakan segalanya" bujuk Inaq Minah.
Ayu yang sudah tak bisa menahan air matanya pun, tanpa
pikir panjang langsung menceritakan masalah yang membuatnya
tampak bersedih. Ibu Minah memegang tangan Ayu untuk
menenangkannya.
"Tenang Nak!. Banyak orang pernah memiliki masalah
seperti itu. Contohnya aku."
"Benarkah?. Pilihan mana yang kau pilih? Menikah
dengan orang yang kau cintai, atau dengan bangsawan
namun kau tak mencintainya? Pastinya kau memilih untuk
menikah dengan orang yang kau cintai kan? Kan?".
Kini Ayu sudah tak takut lagi untuk memandang Ibu
Minah dan menunjukan wajah penuh harapan.
"Aku menuruti ucapan orang tuaku untuk menikahi
bangsawan walau tidak mencintainya. Aku juga
menerima kabar bahwa orang yang kucintai itu menikah.Tetapi
sekarang aku bahagia dengan pasanganku dan orang itu pun
sama"
Ayu perlahan memalingkan wajah. Terlihat agak kecewa
dengan jalan yang ibu Minah pilih karena ia hanya ingin hidup
bersama orang orang yang ia sayangi.
"Tetapi, kau berhak memilih jalan hidupmu sendiri.
Hidupmu adalah milikmu" cetus Inaq Minah pelan.
Mendengar ucapan itu Ayu kembali memandang ibu
Minah dengan dengan tatapan penuh keyakinan. Ia tergerak
kembali untuk memperjuangkan cintanya setelah mendengar
ucapan tersebut.
"Terima kasih ibu, aku telah memikirkan sesuatu. Aku
harus pergi!"
32 | P a g e
Ayu pun segera meninggalkan rumah Ibu Minah, namun
dengan cepat ibu Minah menghentikannya dengan menggenggam
tangan Ayu.
"Tunggu Nak. Apapun usaha yang kau lakukan jika ia
bukan jodohmu maka kau takkan pernah memilikinya"
Tanpa basa-basi lagi. Ayu pamit pergi meninggalkan ibu
Minah dan berlari untuk menemui Arijin sekencang mungkin
tanpa henti.
Ia berhenti dari lari cepat tepat di depan rumah Arijin dan
perlahan melangkah membuka pintu kayu. Arijin masih tampak
tertidur pulas di atas meja. Sisa mereka makan sudah tampak rapi.
Memang Arijin tipikal aNak yang suka kerja keras dan tidak suka
melihat barang-barang berserakan.
"Arijin bangunlah!. Aku ingin memastikan sesuatu" teriak
Ayu dari depan pintu. Mendengar suara yang keras akhirnya
Arijin terbangun dan terkejut Ketika melihat Ayu berdiri di depan
pintu.
"Ayu?. Kenapa kau kemari malam malam begini? Ada
apa?" ucap Arijin dengan wajah kaget setengah sadar. Ayu masih
berdiri dengan terengah-engah karena lelah berlari tanpa henti.
Ayu pun berjalan pelan menuju Arijin dan duduk di kursi tepat di
depan Arijin.
"Beri aku air terlebih dahulu. Cepat!" ucap Ayu ketus.
"Kau ini selalu saja seperti ini" balas Arijin sembari
mengambilkan air dari kendi.
"Arijin, aku ingin memastikan sesuatu. Aku harap kau
jujur" tegas Ayu sambal menapat Arijin serius. Arijin hanya
mengangguk dengan ragu tuk menjawab pertanyaan yang akan
diberikan. Ayu menatap mata Arijin dengan penuh kepastian dan
keseriusan.
"Apakah kau mencintaiku?"
Daaaarrr….!!. pertanyaan itu membuat Arijin semakin
kehilangan empati pada Ayu. Keadaan itu pulalah yang semakin
membuat canggung yang mengharuskan Arijin mengalihkan
topik pembicaran.
33 | P a g e
"Apa yang kau bicarakan? Ini sudah malam sebaiknya kau
pulang atau kau akan dimarahi nanti"
"Apakah kau mencintaiku?"
"Sudah ku bilang apa yang kau bicarakan? Ayo pulanglah
ini sudah larut malam. Nanti kerajaan akan mencarimu"
”Apakah kau mencintaiku?"
Entah sudah berapa kali pertanyaan yang sama Ayu ulang.
Namun, Arijin justru berjalan menjauh dan membelakangi Ayu
seperti tak ingin mengatakan bahwa persoalan ini tak penting ada
dalam dirinya.
"Seharusnya kau tak mencintai orang sepertiku. Aku tak
pantas di cintai oleh dirimu."
"Apa masalahnya?" ucap Ayu sambal berdiri dengan raut
wajah kecewa.
"Ayu, sekarang sudah larut malam. Pulanglah. Mana
mungkin juga seorang bangsawan mencintai orang miskin
sepertiku. Tolong kamu berpikir dengan sehat. Kita hanya teman,
tak lebih dari itu" balas Arijin dengan keadaan membelakangi
Ayu.
Ayu tak mau kalah, ia mendekat dan berhenti tepat di
depan wajah Arijin. Pandangan yang tajam tak ingin memalingkan
wajahnya dari Arijin.
"Nyatanya aku mencintaimu daripada seorang bangsawan
itu" Ayu Kembali meyakinkan Arijin tentang perasaannya.
Seketika Ia berteriak dengan mata yang mulai mengeluarkan bulir
bening dengan deras.
"Kukatakan sekali lagi. Apakah kau mencintaiku?"
Arijin kembali menghindar dari pertanyaan Ayu. Ia
berjalan menuju kursi dan duduk dengan tangan yang mengusap
air mata.
"Ya. Aku mencintaimu" balas Arijin pelan dan tertunduk.
Sesaat, jawaban itu seperti angin segar yang menutup
tangis dan isak rasa dalam diri Ayu. Kini ia merasa tenang dan
lega dengan jawaban Arijin.
"Tetapi, aku tidak akan pernah bisa menikah denganmu"
34 | P a g e
Belum berapa menit rasa Bahagia itu dating, kini jawaban
Arijin Kembali mencampakkan harapan itu. Ayu menatap serius
kea rah Arijin.
"Kenapa?"
"Kau seorang bangsawan, sedangkan aku hanyalah rakyat
biasa tanpa orang tua dan miskin. Dengan begitu, apakah orang
tuamu akan setuju?".
Ayu pun mendekati Arijin kembali berupaya
membujuknya untuk mau menikah dengannya.
"Aku pasti bisa meyakinkan ayah. Kamu tidak perlu
khawatir. Kamu mau menikah denganku saja maka sisanya adalah
urusanku"
”Ayu. Kau selalu saja seperti ini. Keras kepala. Apa kau
gila ingin menikah denganku. Apakah kau tau bagaimana aku
sampai berpikir untuk membawamu kabur dan menikah. Tetapi
aku tau, itu sangat berisiko dan tak baik untuk masa depanmu
Ayu. Coba kau pikirkan dengan matang. Kamu jangan terlalu
membawa perasaanmu" Arijin berteriak sembari menghadap Ayu
dengan tangis kesedihan.
Ayu diam, tak bersuara. Bulir bening tak henti membasahi
pipinya. Perlahan ia usap dan pamit untuk pergi meninggalkan
Arijin. Kini Arijin hanya bisa memandang Ayu dari kejauhan.
Arijin seperti kehabisan tenaga. Ia duduk kembali di kursi depan
meja makannya. Satu tangan ia guNakan untuk memegang
kepalanya. Ia merunduk, menangis, dan menyesali dengan
ucapannya kepada Ayu.
"Apa yang telah aku lakukan?" ucap Arijin membatin.
Ayu berlari sembari menangis tersedu menuju Istana dan
menguatkan dirinya agar bisa meyakinkan Ayahnya untuk
menikah dengan Arijin. Sebelum ia masuk menuju rumah, Ayu
mengusap air matanya terlebih dahulu agar tak ditau sedang
bersedih. Ketika ia memasuki rumahnya, tidak ada satupun lilin
yang menyala menerangi ruangan. Ayu pun memeriksa sekitar dan
berusaha mencerna suasana. Ia pun menyadari bahwa seisi
rumahnya sudah terlelap tidur.
35 | P a g e
Dengan cepat ia menuju tempat tidur dan memikirkan
cara agar bisa menikah dengan pria pilihannya, Arijin.
"Percuma saja. Aku tak terpikirkan cara apapun. Mungkin
satu satunya cara agar aku bisa menikah dengan Arijin, adalah
dengan meyakinkan Ayahku. Tapi itu hampir mustahil juga"
gumam Ayu sambil membolak-balikkan badannya di atas tempat
tidur.
Dinginnya angin malam yang berhembus dan nyanyian
burung hantu menghiasi suasana malam. Sesekali ia memandang
ke luar jendela. Memandang langit yang dipenuhi bintang dengan
rembulan, tapi tidak dengan kekuatannya memandang sang
kekasih, Arijin.
Saat malam hari, tidak ada satupun orang di luar sana.
Saat itu pun, Ayu menyadari bahwa satu hal. Ia bangun dari
tempat tidur, berlari menuju luar kamar. Ia menemukan ide baru
untuk melancarkan aksinya untuk menikahi Arijin.
"Jika ini berhasil, aku tak perlu membujuk ayah. Namun
ketika aku gagal maka satu- satunya cara adalah merayu
ayah agar memberi izin" celetuk Ayu sembari pikirannya
memikirkan berbagai macam cara agar ia bisa menikah dengan
sang kekasih.
Namun ketika sudah di depan pintu keluar, salah satu
pelayan melihatnya tampak sedang berlari dan Ayu pun terhenti.
"Kenapa nyonya berlari malam-malam begini?" cetus
pelayan yang sedang patrol.
"Aaaaahaha..Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin
berolahraga saja". Glagat Ayu pun bisa diterka sang pelayan,
sebab Ayu memang dikneal tak terbiasa berbohong dan kini ia
menunjukkan wajah aneh secara tak sadar.
"Nyonya mau kemana?. Bukannya harus tetap jaga
Kesehatan sebab pernikahanmu akan dilansungkan dua hari lagi.
Sebaiknya nyonya tidur saja" saran pelayan agar Ayu balik ke
kamarnya.
"Kau juga kenapa belum tidur?"
36 | P a g e
"Aku sedang patrol dan kebetulan hendak mengambil
sebotol air. Aku juga sedang tidak bisa tidur"
"Ohh begitu ya, baiklah. Kalau begitu aku akan Kembali
ke kamar"
Ayu gagal melancarkan rencana utama gara-gara si
pelayan. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain kembali ke
kamarnya. Tetapi ia tak punya banyak waktu lagi untuk
memikirkan cara. Ayu terbaring di atas ranjangnya seraya
memikirkan rencana baru. Namun saat malam semakin larut ia
tertidur pulas.
Suara kokokan ayam yang begitu keras yang membuat
Ayu terbangun dan terkejut ketika ia sedang tidur nyenyak.
Rambut berantakan serta liur yang sudah kering. Suara kokokkan
ayam yang masih terdengar, membuat gendang telinga Ayu terasa
hampir pecah. Dengan kedua tangannya, ia menutup telinga agar
suara berisik tersebut tak terlalu terdengar.
"Pagi pagi begini sudah berisik. Ayam siapa itu?. Jika saja
ayam itu bisa kusembelih baru tau rasa dia" gerutu Ayu yang
terbangun oleh kokokan ayam kerajaan.
Ayu beranjak bangun segera menuju kamar mandi dengan
kedua tangan masih menutup telinganya. Dengan baju indahnya
di pagi hari ia keluar dari kamarnya setelah mandi dan merapikan
kamar tidur. Ayu yang sedang berdiri di depan pintu kamar,
melihat ayahnya yang sedang duduk menikmati pagi dengan
secangkir kopi. Ia belum siap untuk mengatakan keinginan yang
sebenarnya. Tetapi tidak ada waktu lagi untuk berdiam diri. Tanpa
pikir panjang ia menghampiri ayahnya pelan.
"Selamat pagi ayah"
"Ohh… kau sudah bangun?" sapa Sang Raja sambil
memegang erat tangan putrinya itu. Ayu terdiam menunduk.
Telapak tangannya seperti membeku ketika ingin mengatakan
keinginannya menikah dengan Arijin.
"Ayah. ada yang ingin ku bicarakan"
37 | P a g e
"Tak seperti biasanya kau. Biasanya kau langsung
mengeluarkan kata kata tanpa henti" cibir ayahnya sedangkan Ayu
hanya menunjukkan tawa kecil dengan sedikit paksaan.
"Ini tentang pernikahanku"
"Ada apa, sayang?"
"Emm.., aku tidak bisa menikah dengan bangsawan yang
kau pilih" ucap Ayu dengan wajah merunduk.
“braakk….” Suara keras dari meja
"Kenapa kau lancing sekali ingin menolak pernikahan
ini?" gertak sang Raja
"Maaf, Ayah. Aku mencintai orang lain dan aku ingin
menikah dengannya" ucap Ayu merayu
"Boleh saja. Tapi apakah ayah boleh mengetahui siapa
dan keturunan bangsawan mana dia?"
Ayu pun mulai dihujani perasaan khawatir. Nafasnya mulai tak
beraturan dan kepalan tangan di atas pangkuannya mulai
melakukan akrobatik yang usil.
"Ayah, maafkan aku. Orang itu bukanlah seorang
bangsawan melainkan hanyalah rakyat biasa" jawab Ayu pelan
sambil tak kuasa menahan suasana yang sudah tak asyik lagi. Sang
Raja diam, kemudian melepas senyum pada Ayu.
"Sudah hentikanlah. Pagi-pagi kau sudah memberiku
lelucon" jawab Sang Raja abai.
"Ini bukanlah lelucon pagi hari ayah. Aku bersungguh
sungguh. Aku mencintai seorang pria rakyat biasa."
Ayahnya meletakkan secangkir kopi itu Kembali di atas
meja dan bangun menghadap Ayu, putri jelitanya. Ia pun seketika
bangun dari duduknya tak tau apa yang akan terjadi lagi
kedepannya.
"Paak…..!!” telapak tangan sang Raja mendarat di pipi
Ayu.
“Kau tau kita apa? Kita ini bangsawan dan kau ingin
menikahi pria rakyat biasa?. Bagaimana dengan reputasi kita.
Camkan itu"
38 | P a g e
Suara tamparan di pipi Ayu dan teriakan ayahnya yang
begitu keras, membuat seluruh pelayan rumah keluar memeriksa
keadaan.
"Tapi ini hidupku ayahnya. Ini tidak adil"
Ayu terpaksa dihadapi dengan situasi yang rumit. Ayu
melawan kembali dengan berteriak tak bisa menahan emosi lagi.
Namun tindakan itu membuat keadaan semakin parah.
"Dasar aNak tak tau malu. Beraninya kau melawan
ayahmu sendiri"
Ayahnya mulai mengangkat tangan kanannya bersiap
untuk menampar Ayu sekali lagi. Namun para pelayan melerai
pertengkaran tersebut agar tak semakin memarah. Ayu yang mulai
mundur perlahan, segera kabur menghindari ledakan amarah
ayahnya.
“Ayu, dengarkan! Apa yang kau sukai dari pria rakyat
biasa itu? Apakah dia juga mencintaimu? Apakah dia
pantas untukmu dan keluarga ini? Apa saja yang sudah lakukan
untukmu sehingga kau berani melawan ayahmu?!!"
Seketika langkah Ayu terhenti mendengar ucapan ayanhya
tersebut. Ia berbalik mendekati ayahnya.
"Ayah ternyata sama sekali tak mengerti banyak tentang
aNakmu sendiri"
”Apakah orang itu lebih penting dari ayahmu?. Aku ingin
menyelamatkan hidupmu"
"Jujur sejatinya Dari Ayah akan menghancurkan hidupku"
Ayu kembali pergi meninggalkan Sang Raja dan rumah
dimana ia tumbuh besar. Ia terus berlari tanpa tujuan, tanpa tau
apa yang harus dilakukan, tanpa tau tempat behenti. Ia berlari di
tengah-tengah keramain sehingga ia tak sengaja menabrak
seseorang wanita yang tengah membawa sekantung buah jeruk
ditangannya. Buah buah itu jatuh berceceran ditengah jalan.
"Maafkan aku. Aku tak sengaja" Dengan wajah cemas
yang masih berlinangkan air mata, ia membantu memungut jeruk
milik wanita itu.
"Tidak apa apa" Ayu menoleh ke arah wanita itu.
39 | P a g e
"Ibu Minah?. Kenapa kau ada di sini?" ucap Ayu kaget
Ketika yakin kalau Wanita yang ditabrak itu adalah Ibu Minah
yang pernah menolongya waktu itu.
"Nak?. Kenapa kau berlari di tengah tengah keramaian?
Sekarang bisakah kau membantuku untuk memungut buah buah
ini?"
"Ya, Tentu saja, bu. Dengan senang hati" balas Ayu
dengan wajah masih sendu.
Mereka mulai memunguti buah yang jatuh tersebut. Ibu
Minah pun mengajak Ayu untuk mengunjungi rumahnya kembali.
Sepanjang perjalanan Ayu hanya terdiam tak bercakap apa apa.
"Ada apa lagi denganmu lagi, Nak?. Kenapa wajahmu
menjadi kusut dan sendu begitu?"
"Memang ada sesuatu. Akan kuceritakan saat sampai
rumah Ibu Minah nanti" balas Ayu sambil mempercepat Langkah
menuju rumah Ibu Minah. " Baiklah kalau begitu"
Ibu Minah tetlihat sangat kawatir terhadap Ayu walaupun ia
bukanlah siapa-siapa. Sesampainya di rumah ibu Minah. Ayu
menceritakan semua yang terjadi dengannya dan ayahnya.
"Gara gara itu aku tak ingin pulang kembali. Aku tak tau
harus berkata apa kalau aku bertemu dengan ayahku".
Mendengar hal itu ibu Minah menawarkan sesuatu.
"Bagaimana kalau kau menginap di rumahku saja untuk
sementara waktu?"
"Bolehkah?"
"Aku menawarimu karena aku sangat ingin kau menginap
di sini" balas Ibu Minah dengan senyum lepas dan Ayu yang tak
bisa menahan rasa bahagianya pun kini menunjukkan senyum
indahnya.
"Kalau begitu aku akan membuat camilan yang banyak
dulu. Tunggu di sini. Aku akan membeli bahannya di pasar. oke"
ucap Ibu Minah dengan gaya ramahnya.
Kini, Ayu yang masih menunggu di teras rumah ibu
Minah. Merasa bosan tak tau harus berbuat apa. Ia berpikir untuk
memasuki dan menyusuri rumah ibu Minah berniat agar rasa
40 | P a g e