melakukan aktivitas di sekitar batu besar yang biasa disebut
Tumang. Kokoq Tanggek tetap dikunjungi untuk mengambil air
karena Kokoq Tanggek adalah satu-satunya sumber air warga pada
saat itu. Akan tetapi setelah bencana itu, ada beberapa kejadian
yang aneh dan menakutkan di Kokoq Tanggek itu bahkan pada
siang hari.
Tepat pada sore hari senin, ada salah satu warga yang
bernama amat. Ia baru pulang dari sawahnya dan untuk pulang ke
rumah ia harus melewati Kokoq Tanggek. Di perjalanan ia merasa
ada yang aneh dan bulu kuduknya merinding. Tiba-tiba ada suara
orang yang meminta tolong dan Amat pun menoleh ke belakang
ternyata tepat dibelakangnya terlihat Kuyang yang meminta tolong.
Amat pun kaget dan lari sambil berteriak "kuyang kuyang tolong
arak kuyang" akan tetapi tidak ada satupun warga yang mendengar
teriakannya tersebut, karena meskipun ia berteriak. Suaranya tidak
terdengar oleh warga lain. Setelah jauh dari Kokoq Tanggek Amat
mulai merasa tenang dan ia tidak menceritakan kejadian itu
kepada siapapun.
Keesokan harinya di malam hari selasa ada seorang warga
dari desa tetangga yang bernama Epul baru selesai mandi di Kokoq
Tanggek. Ia tidak tau menau tentang kejadian yang menimpa
Amat, dan Epul pun sangat santai bahkan ia selesai sampai
menjelang isya. Saat akan pulang, ada suara yang memanggilnya
"Epul kete ne arak ku sade ante" (kesini ada yang mau saya kasih)
Epul pun langsung kaget akan tetapi ia tidak berani menoleh
karena perasaannya sudah tidak enak dan bulu kuduknya
merinding. Suara itu terdengar lagi di telinga Epul dan ia pun
memberanikan diri untuk menoleh dan ternyata di belakangnya
ada sosok makhluk besar dan tinggi bahkan mencapai tinggi
pohon kelapa dan bermata merah. Epul langsung berlari sambil
berteriak akan tetapi lagi-lagi suara Epul tidak terdengar oleh
warga sekitar.
Keesokan harinya Epul menceritakan kejadian itu ke
kepala desa di desanya kemudian kepala desa itu tidak percaya
dengan cerita Epul "darak be ke makhluk ngebo ruang. sang perasaan
141 | P a g e
de doang jage Epul". Epul pun tidak mau menyerah ia menceritakan
kejadian yang menimpanya itu ke teman-temannya, akan tetapi
teman-temannya pun tidak percaya bahkan mereka
mentertawakan Epul setelah mendengar ceritanya. Dan Epul pun
pasrah seraya berkata "lamun dek de bek pade percaya jak jemak be sik
de idapya ampok de pada sadu ". Epul pun pulang ke rumah dengan
perasaan kesal karena tidak ada yang mempercayainya.
Lalu seminggu setelah Epul bercerita, kepala desa itu
berpatroli kemudian sampailah ia di tepi Kokoq Tanggek. Ia
berjalan dengan penuh percaya diri tanpa rasa takut sedikit pun
karena ia kira cerita Epul hanyalah khayalannya saja. Akan tetapi,
tak lama kemudian ada suara langkah kaki yang di dengar oleh
kepala desa lalu ia langsung menoleh akan tetapi tidak ada
siapapun. Lalu ia kembali menoleh ke depan dan ternyata di
depannya ada sosok makhluk persis seperti yang di ceritakan oleh
Epul. Sang kepala desa pun berlari ketakutan dan lagi" tidak ada
yang mendengar suara teriakannya.
Setelah kejadian itu, kepala desa menceritakan semuanya
dan meminta maaf kepada epul karena telah mentertawakannya
lalu kepala desa tersebut mengajak beberapa kepala desa dan
warga sekitar untuk melakukan zikir bersama agar tidak ada
kejadian yang seperti itu lagi. Dan kemudian setelah zdikir itu,
tidak ada kejadian aneh akan tetapi mahluk itu tetap menghuni
Kokoq Tanggek akan tetapi ia tidak pernah mengganggu warga lagi.
Dan penghuninya menjaga warga Lengkok Embuk dari segala mara
bahaya seperti ilmu Hitam, sihir, dan lain lain yang menyebabkan
warga tidak nyaman.
142 | P a g e
BELDOKAN
Rena Pardaenatul Aula
Matahari yang begitu cerah angin sepoi-sepoi yang
meniup sekujur badannya, ada seorang anak laki-laki dan Papuq
laki dan perempuan (Kake dan nenek) nya. Tinggal di desa yang
bernama MAMBEN LAUK. Surya dan Papuq Sanip, mereka
sedang duduk di teras rumahnya dan saling berbagi cerita. Surya
pun langsung bertanya apa saja sih permain Papuq dulu? Papuq
Sanip menjawabnya dengan antusias karena ada salah satu
permainan yang paling disukai nya, dan paling populer menurut
nya, yaitu bermain Beldokan. Surya yang mendengar itu langsung
mengerutkan dahinya karna heran mengapa Papuq nya begitu suka
dengan bermain Beldokan yang di sebut Papuk Sanip tadi.
Tanpa aba-aba ia langsung bertanya kepada Papuq Sanip
mengapa Papuk Sanip begitu suka dengan bermain Beldokan?.
Papuq Sanip langsung masuk ke dalam rumah tanpa menjawab
pertanyaan Surya yang tadi dilontarkan. Surya pun kesal karena
pertanyaannya tidak di jawab dan beberapa menit kemudian
Papuq Sanip langsung ke luar dan membawa sesuatu di tangannya
yang seperti bambu runcing namun kecil dan juga ada sedikit
hiasan di bambu itu. Surya yang melihat itu langsung menaikkan
satu alisnya dan terlihat bingung. Setelah duduk di teras rumah,
Papuk Sanip langsung menyerahkan bambu kecil yang memiliki
hiasan unik itu kepada Surya, dengan antusias Surya langsung
mengambil bambu kecil itu.
Sudah lama mata Surya melihat bambu yang menurut nya
cantik dan unik itu. Ia langsung kembali bertanya kepada Papuk
Sanip, bambu yang unik dan cantik ini untuk apa. ,Papuq Sanip
langsung mengulurkan senyuman lebar dan memberitau bahwa
itu yang di namakan Beldokan, yang menurutnya Beldokan begitu
populer di saat-saat ia masih anak-anak seperti Surya. Taklama
kemudian Papuq Sanip mengambil Bambu kecil itu. Setelah Papuq
Sanip masuk lagi ke dalam rumah Papuq Sanip membawa
segulung kertas yang sudah basah. Seketika Surya terdiam dan
143 | P a g e
memperhatikan apa yang akan dilakukan Papuq Sanip. Di sisi lain
Papuq Sanip begitu seneng karna teringat masa masa lalu dan
sekalian memasukkan kertas yang sudah penyek ke dalam
Beldokan yang ada di tangannya.
Setalah memasukkan kertas itu, Surya yang sedari tadi
hanya melongo melihat Papuq Sanip memainkan Beldokan. Suara
Beldokan itu cukup keras. Lalu Papuq Sanip memberikan Beldokan
itu ke Surya. Surya terdiam sebentar melihat Beldokan yang ada di
tangannya. Papuq Sanip yang sudah peka dengan muka Surya yang
terlihat bingung Papuq Sanip langsung memberitahu dan
mengajarkan cara memainkannya dengan cara mendorong kertas
yang ada di dalam Beldokan itu.
Taklama kemudian, karna kertasnya tidak bisa ke luar
Surya dengan tenaga yang kuat mendorongnya dan tiba-tiba alat
yang digunakan untuk mendorong kertas dari Beldokan tersebut
patah. Muka yang sudah terlihat takut akan dimarahi Papuq Sanip
pun kian ditampakkan Udin. Beberapa menit sebelumnya setelah
mengajarkan Surya bermain Beldokan. Papuq Sanip pergi karna ada
keperluan sebentar. Surya yang masih terlihat bingung bagaimana
caranya memperbaiki Beldokan yang dipegang saat ini. Hampir
sudah sekitar satu jam duduk dan memikirkan cara agar tidak
dimarahi oleh Papuq Sanip, Surya pun masuk ke dalam rumah.
Di sore harinya Papuq Sanip baru pulang, langsung
menemui Surya yang berada di depan televisi. Telinga yang
mendengar hentaan kaki yang menuju ke arahnya. Surya langsung
membalikan badan mungilnya ke arah suara. Surya sontak kaget
ternyata Papuq Sanip sudah pulang dan langsung menemuinya. Ia
menduga Papuq Sanip akan mencari Beldokan miliknya. Papuq
Sanip dengan sigap langsung duduk di dekatnya dan
memperlihatkan giginya yang sudah jarang, keheningan yang
sudah lama akhirnya dipecahkan oleh Papuq Sanip.
Mulut yang sudah siap bertanya Papuq Sanip mencari
dimana Beldokan Miliknya itu!. Surya yang dari tadi takut dan
mencari alasan agar tidak dimarahi Papuq Sanip langsung
memberikan Beldokan tersebut. Papuq Sanip dengan mata yang
144 | P a g e
berbinar-binar mengambil Beldokan itu dari tangan Surya. Di saat
mau memainkannya, Papuq Sanip merasa ada yang kurang.
“Di mana alat dorongan untuk Beldokan ini” cetus Papuq
Sanip. Setelah memberikan Beldokan tersebut Surya langsung
melangkahkan kaki dari sana.
Papuq Sanip yang terlihat bingung langsung memanggil
“Surya…Surya” suara Papuq Sanip memanggil Namanya. Dadanya
langsung berdetak kencang karna dugaan yang ia pikirkan benar
terjadi yaitu Papuq Sanip akan marah.
Sudah cukup lama Surya di kamar, akhirnya ia pun keluar.
Di ruang tamu sudah ada Papuq Sanip dan Papuq Tukik yang
sedang bicara sudah terlihat muka Papuq Sanip yang marah. Surya
berpikir pasti Papuq Sanip sedang membicarakan dirinya dengan
Papuq Tukik. Kaki yang gemetar air yang sudah bercucuran di
badan Surya mata yang berkaca-kaca akhirnya ia pun duduk di
dekat Papuq Tukik, keheningan yang berjalan beberapa menit
setelah itu dihentikan oleh Papuq Sanip. Tanpa panjang lebar
Papuq Sanip langsung bertanya kepada Surya dengan nada yang
agak kasar, Surya yang sedang memegang tangan Papuq Tukik,
langsung menjawabnya dengan suara yang gemetar. Sudah lebih
beberapa jam Papuq Sanip memarahi Surya. Papuq Sanip
langsung beranjak dari duduknya menuju kamar. Surya dengan
mata yang merah bekas air tangis dan Papuq Tukik langsung
memeluknya. Papuq Tukik memberitau Surya bahwa akan
membantunya agar Papuq Sanip tidak marah lagi dengan Surya.
Malam pun tiba setalah selesai melakun kewajibannya,
Papuq Tukik langsung menemui Surya untuk makan malam
bersama tapi Surya masih takut akan dimarahi lagi oleh Papuq
Sanip. Papuq Tukik yang sudah memahami itu langsung pergi dan
kembali lagi untuk memberikan makanan kepada Surya, karna
Surya takut dimarahi lagi jadi Surya makan di dalam kamarnya.
Papuq Tukik dan Papuq Sanip selesai makan malam mereka
langsung duduk di dapan televisi, Papuq Tukik langsung
memberitahu kepada Papuq Sanip untuk jangan marah lagi sama
Surya karna Surya kan gak sengaja mematahkan alat pendorong
145 | P a g e
Beldokan itu dan Surya juga belom terlalu bisa bermain Beldokan.
Papuq Sanip langsung menghadap ke Papuq Tukik dengan mata
yang kesal. Papuq Tukik lagi lagi memberi tau untuk memaafkan
Surya, Papuq Sanip yang diam langsung membuka mulut, dan ia
akan memaafkan Surya walau agak berat untuk di maafkan karna
Beldokan itu adalah kenangan yang sangat penting bagi nya, tapi ya
sudah lah, dan Papuq Sanip juga akan mengajarkan Surya
bagaimana cara bermain Beldokan yang benar supaya nanti Surya
bisa menjadi pemain yang hebat.
Di pagi yang cerah, bunga bunga yang segar di halaman
rumah,Surya yang duduk di teras sekalian menikmati keindahan
alam, hari ini Surya libur karna ada tanggal merah jadi para murid
di liburkan untuk hari ini. Seorang laki laki dan perempuan paruh
baya menghampirinya, Surya yang melihat itu agak kaget karna
melihat Papuq Sanip yang datang ke arah nya bersamaan dengan
Papuq Tukik, ia merasa gelisah dan takut,masak masih pagi harus
kena Omelan lagi! Papuq Sanip duduk di ikuti oleh Papuq Tukik
bersebelahan dengan Surya. Beberapa menit kemudian Papuq
Tukik masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan sarapan pagi
untuk Papuq Sanip dan Surya. Papuq Sanip mulai mendekat
kepada Surya di sisi lain Surya yang mulai tegang akan diomelin
lagi oleh Papuq Sanip seperti kemarin. Papuq Sanip memberikan
Beldokan yang kemarin sudah sempat di buat yang tidak di ketahui
oleh Surya,namun Surya pun menolak untuk mengambil Beldokan
tersebut,karna takut patah seperti kemarin lagi,Papuq Sanip
tersenyum kepada Surya dan memberitau bahwa ia tidak marah
lagi dan akan mengajarkan Surya bermain Beldokan yang benar
supaya jadi pemain yang hebat dan handal, seperti Papuq Sanip
dulu.
Disaat Papuq Sanip masih kelas 3 SMK ia mengikuti
lomba. Ditahun ini akan diadakan lomba bermain Beldokan siapa
yang cepat mengabiskan kertas yang disiapkan oleh panitia yang
menjadi peluru Beldokan. Hitungan ke tiga semua peserta bersiap
“1..2…3…!” sudah beberapa menit Papuq Sanip duluan
146 | P a g e
menghabiskan peluru atau kertas tersebut dengan cepat dan
akhirnya ia yang menjadi pemenang.
Makanya Papuq Sanip menyimpan Beldokan itu sampai
sekarang dan wajar ia marah kepada Surya karena merusak
Beldokan yang pernah dipakai saat perlombaan dulu dan bisa
Memenangkan perlombaan, dan sekarang Papuq Sanip mau
mengajarkan Surya supaya bisa seperti Papuq Sanip menajdi
pemain Beldokan yang hebat. Dan pada saat Papuq Sanip
memberikan Beldokan itu lagi ke Surya, Surya langsung mengambil
nya dengan senyuman yang lebar dan ia juga dari kemarin
kemarin udah pengen dan bermimpi ingin manjadi pemain
Beldokan yang hebat.Sekarang mimpinya sebentar lagi akan
terwujud yaitu menjadi pemain Beldokan yang hebat.
Beberapa bulan kemudian. Di desanya dia adakan
perlombaan karna menyambut Tujuh belasan dan salah satu nya
ada perlombaan bermain "BELDOKAN" akhirnya Surya
mengikuti lomba tersebut. Pas hari perlombaan Surya Papuq Sanip
dan juga Papuq Tukik ikut melihat perlombaan dan sekalian mau
mendukung Surya yang akan tampil hari ini. 1 jam lamanya
perlombaan Beldokan akhirnya di mulai dan yang pertama tampil
itu Surya Papuq Tukik dan juga Papuq Sanip mulai mendukung
cucunya Surya harus bisa menang hari ini seperti Papuq Sanip
dulu!!Semua penonton berteriak dengan kencang.
Tak lama Surya sudah menghabiskan semua peluru yang
ada dan Surya pun memenangkan perlombaan Beldokan di tahun
ini. Dia langsung diberikan piala, uang saku dan satu piagam.
Papuq Sanip langsung memberikan pelukan hangat kepada cucu
tersayangnya karna menurutnya tidak sia-sia ia mengajarkan
cucunya itu bermain Beldokan.
Sesampainya di rumah, keluarga kecil itu makan malam
bersama dan diiringi dengan canda gurau yang tampak bahagia.
147 | P a g e
BEGASINGAN
Yasmin Putri Wulandari
Firdaus adalah anak dari Pak RW yang bernama Pak Jamil
di desa nya. Bapaknya terkenal memiliki harta yang sangat banyak
atau bisa dikatakan berkebutuhan cukup. Firdaus ini adalah tipikal
anak yang nakal dan sombong. Ia slalu memamerkan harta benda
yang dimilikinya dan juga sering merendahkan temannya yang
nasib hidup nya tidak seperti dia. Begitupula dengan kedua orang
tua nya yang memiliki sifat tak jauh beda dengan sang anak,
angkuh dan sangat sombong sekali. Suka memperlihatkan harta
mereka di hadapan warga sekitar, terutama sang ibu Bu Dayah, ia
sering kali mendewa dewakan apa yang ia punya sehingga
membuat orang yang mendengarnya sangat muak, banyak yang
berpendapat bahwa kekayaan yang pak RW dan bu RW dapat itu
adalah hasil dari korupsi uang jatah warga dari pemerintah desa,
tapi entah kenapa tidak ada yang berani menindak lanjuti masalah
ini.
Di desa Pak RW dan keluarga nya sangat di hormati oleh
warga-warga di sana, terutama anak semata wayangnya yaitu
Firdaus. Tidak sedikit warga yang jengkel akibat peraturan Pak
RW. Bayangkan saja ia menyuruh warga, ketika anaknya melewati
mereka atau sedang berjalan wajib di berikan sapaan sepatah dua
patah kata, ya memang saling menyapa itu sangat lah baik tapi
apakah harus?? Semua warga berharap hari hari ini cepat berlalu.
Sore harinya di lapangan yang sangat luas Firdaus sedang
bermain begasingan. Begasingan merupakan permainan
tradisional Lombok. Permainan begasingan ini hampir sama
dengan daerah lainnya, perbedaan nama dan bentuk yg menjadi
pembeda di setiap daerah. Permainan begasingan ini bisa di
mainkan di setiap kalangan mulai dari aNak-aNak, remaja dan
juga dewasa. Begasingan/gasing ini terbuat dari kayu yang
lumayan keras dengan bentuk yg berbeda beda di setiap
daerahnya. Begasingan/Gasing ini terdiri dari, bagian kepala,
bagian badan, dan bagian kaki. Cara memainkan permainan
148 | P a g e
begasingan ini adalah, dengan cara melilitkan tali yg cukup
panjang hingga habis pada leher gasing, lalu melemparkan gasing
ke tanah. Permainan Begasingan ini bisa dimainkan dengan cara
perseorang dan per group. Permainan yg dimainkan perseorang
biasanya ada 2 atau 3 orang, sedangakn bermain dengan cara per
group biasanya beranggotakan minimal 2 org dalam satu group.
Karena permainan begasingan ini lebih dominan di kalangan para
laki-laki, Firdaus juga sangat lah gemar bermain begasingan.
Di saat permainan akan dimulai datanglah satu teman
Firdaus, yang bernama Ruhman. Ruhman yang selalu menjadi
korban bully si Firdaus. Ruhman adalah anak dari seorang petani,
Ruhman tinggal bersama bapak nya Pak Majdi. Di rumah yang
tidak begitu luas, ibu Ruhman meninggal beberapa tahun yang lalu
saat melahirkannya. Ruhman memiliki sifat yang baik dan itu
adalah hasil didikan dari sang bapak, tumbuh tanpa figur seorang
ibu adalah suatu hal yang sangat berat bagi nya, kadang ia merasa
iri hati melihat anak-anak seusianya yang diperhatikan oleh
sesosok ibu, tapi ia harus ikhlas menerima semuanya karna ini
sudah takdir Tuhan. Ketika Firdaus melihat Gasing yg di pegang
oleh Ruhman, ia sontak berkata:
“Woi anak yatim apakah kamu berani melawanku
bermain Begasingan?” sapa Firdaus
“Jika kamu memaksa oke, aku berani melawanmu
bermain Begasingan” balas Ruhman dengan santai
“Kalau begitu, besok siang setelah Shalat Dzuhur aku
tunggu kamu di lapangan ini” pinta Firdaus dengan mendekat ke
arah Ruhman.
Firdaus sudah mewanti-wanti permainan ini agar ia bisa
mengalahkan Ruhman dan mempermalukannya.
Keesokan harinya Saat tiba di lapangan, Firdaus membawa
segerombolan temannya yang berdiri di sekelilingnya sedangkan
Ruhman sendirian tapi ia tetap menerima tantangan ini. Setelah
Hom pim pa Firdaus mulai melilitkan tali di kepala gasing nya dan
melemparkannya ke tanah, dan tibalah giliran Ruhman untuk
melesatkan gasing miliknya. Ia mulai melilitkan tali di kepala
149 | P a g e
gasingnya dan menghempaskannya ke tanah, tapi sialnya kaki
Firdaus yang berada di hadapannya terkena ujung gasing yang
tajam dan mengakibatkan kaki Firdaus berdarah pada ujung
jempol kakinya. Ruhman yang melihat itu merasa panik dan was
was, demi apapun ia tak sengaja melakukan hal itu. Ia tak tahu
bahwa gasingnya akan meleset dan mengenai kaki Firdaus. Saat itu
teman Firdaus mendorong bahu ruhman dengan kencang. Mereka
menuduh Ruhman melakukan ini dengan sengaja, tetapi Ruhman
menjelaskan bahwa ia tak tahu kejadiannya akan seperti ini.
Firdaus pun dibantu berdiri oleh para temannya dan menatap
Ruhman yang berada dihadapannya.
“Awas saja kamu Ruhman. Aku akan mengadukanmu
kepada Bapakku karna kamu telah melukai kakiku dengan gasing
milikmu” ancam Firdaus sambil mangarahkan telunjuk ke kening
Ruhman.
“Demi apapun, aku tidak sengaja melakukan hal itu. Aku
tidak tau kalau gasingku akan meleset dan mengenai kakimu”
balas Ruhman dengan tenang
“Aaarrghh....bodo amat yg jelas kamu telah melukai
kakiku hingga berdarah seperti ini” pungkas Firdaus dengan kesal.
Ruhman yg mendengar perkataan itu pun langsung
keringat dingin dan berusaha menjelaskan semuanya banwa ia tak
sengaja melakukan hal itu. Firdaus telah sampai di rumahnya dan
itu pun dengan bantuan para teman-temannya. Masalahnya ia tak
bisa menggerakkan kakinya dikarenakan perih yang ia rasakan
pada ujung jempol kakinya. Ia terduduk di ruang tamunya dan
memanggil bapak dengan suara yg keras. Selang beberapa menit
kemudian bapaknya muncul dari balik pintu dan melihat Firdaus
telah terduduk di kursi dengan keadaan kaki yang terluka.
“Ada apa ini?, mengapa kakimu bisa terluka seperti ini?”
ucap sang ayah dengan wajah penasaran.
“Ini semua gara-gara si Firdaus. Anak Petani yang miskin
itu. Ia dengan sengaja melukai kakiku menggunakan gasing
miliknya” pungkas Firdauas membela diri.
150 | P a g e
“Awas saja kamu Ruhman. Berani sekali kamu melukai
kaki anakku. Kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu ini”
ucap sang Ayah menenangkan anaknya.
Dua hari berlalu, luka kaki Firdaus itu sudah sembuh. Ia
dan bapaknya mendatangi rumah Ruhman sambil mengetok pintu
rumah Ruhman dengan keras.
"RUHMAN…RUHMAN…RUHMAN. Keluar kamu!"
Ruhman dan bapaknya yang mendengar suara keras itu pun
langsung keluar. Di dalam hati, Firdaus sudah mewanti-wanti
untuk melihat Ruhman tersiksa.
“Apa benar kamu telah melukai kaki Firdaus saat
bermain begasingan Haahh?” tanya ayah Firdaus. Firdaus yang
mendengar perkatan sang bapak pun ikut bicara dan melebih
lebihkan cerita.
“Yaa benar, ayah. Dia telah melukai kakiku dengan
sengaja hingga luka dan berdarah seperti ini” balas Firdaus.
“Nak, apakah benar yang di katakan oleh Pak Rw dan
Firdaus itu?” colek Ayah Ruhman yang ingin mendengar
penjelasan dari anaknya.
“hmmmm.. a..a..aku..” balas Ruhman terbata
“Ayo Nak jawab. Kamu gak perlu takut. Ceritakan kepada
ayah apa yang telah terjadi dan apa yang telah kamu lakukan?”
tekan ayah Ruhman kepada anaknya. Meskipun telah ditanya oleh
sang bapak Ruhmantetap terdiam dengan raut wajah yang
ketakutam lantaran takut menceritakan apa yang sebenarnya
terjadi. Firdaus yang melihat Ruhman terdiam tanpa suara pun
merasa puas, karena ia telah membuat Ruhman seolah-olah
menjadi orang yang bersalah.
“Kalau begitu Pak RW, dan Firdaus saya selaku Bapaknya
Ruhman meminta maaf sebesar-besarnya atas keteledoran anak
saya saat bermain dengan anak bapak” pinta ayah Ruhman sambil
menundukkan kepala.
“Aku tidak akan memaafkan kalian sebelum kalian ganti
rugi dengan jumlah uang 10 jt” gertak ayah Firdaus.
151 | P a g e
“Tapi ini kan hanya hal yang sepele saja Pak Rw toh juga
1-2 hari saja luka yang ada di kaki Firdaus itu akan mereda. Saya
juga mana mungkin mempunyai uang yang sebanyak itu” perjelas
ayah Ruhman yang tidak terima dengan permintaan pak RW.
Berselang beberapa menit, Firdaus pun berbicara “Jika
kalian ingin di maafkan maka Ruhman harus mau melawanku
bermain Begasingan/duel main Begasingan lagi” pinta Firdaus.
“Ji.. Ji.. Jika itu yang bisa membantumu untuk
memaafkanku dan Bapakku aku terima tantanganmu itu” balas
Ruhman sambil merunduk.
“Okee, tapi syaratnya... Jika aku kalah kamu dan bapakmu
tidak perlu ganti rugi, tetapi jika aku menang kamu dan bapakmu
harus ganti rugi dengan jumlah uang yang telah ditentukan”
perjelas Firdaus pada Ruhman dan ayahnya.
“Hmmm, okee. Saya terima” ucap Ruhman yakin.
Firdaus lalu menyuruh sang bapak untuk membuatkannya
acara pertandingan begasingan khusus untuk menyelesaikan
masalahnya dengan Ruhman. Ia menyuruh bapaknya untuk
membuat pertandingannya di lapangan seberang dan mengajak
para warga untuk menyaksikan pertandingan itu.
Beberapa hari kemudian, segala kebutuhan
pertandinganpun sudah selesai di rancang. Pertandingan
begasingan yang sesuai perjanjian antara Firdaus dan Ruhman pun
akan segera di selenggarakan. Pak Jamil (RW) ingin melihat sejauh
mana kemampuan anaknya si Firdaus dalam bermain Begasingan.
Tetapi, tadi malam salah satu teman anaknya memberitahunya
bahwa, kemampuan Ruhman untuk bermain begasingan sangatlah
hebat. Mengetahui hal itu Pak Jamil pun tak tinggal diam ia tak
ingin anaknya dikalahkan oleh siapapun. Pak Jamil merancang niat
jahat yaitu menyuap salah satu panitia begasingan dengan
beberapa nominal uang.
“Apakah kamu mau membantuku dalam pertandingan
ini?” ketus pak RW
“Membantu bapak? Bagaimana caranya?” balas panitia
gasing ringkas
152 | P a g e
“Jadi, nanti saat permainan Begasingan di mulai kamu harus
membantu Firdaus agar dia bisa memenangkan permainaan itu.
Bagaimanapun caranya yang penting kamu harus bisa membuat
Firdaus menang. Ok” pinta pak RW dengan lirikan
“Ta...Ta...Tapi pak…”
“Tenang saja pasti ada amplopnya kok, yang penting
kamu menepati janji saja” imbuh pak RW sambil menepukkan
uang yang dibungkus amplop di depan panitia Begasingan.
“Hehehe….kalo begitu siap laksanakan. Semua pasti akan
berjalan dengan lancar..hehe” balas panitia begasingan dengan
senyum simpuh.
Tapi, dibalik semua percakapan itu Pak RW di dengar
langsung oleh Pak Majdi ayah si Ruhman. Pak Majdi sebenarnya
ingin langsung menegur Pak Jamil tetapi ia ingin menunggu waktu
yang tepat untuk membongkar kejahatan yang dilakukan oleh pak
RW tersebut. Sekarang di lapangan, suasana begitu ricuh dan
dipenuhi oleh warga setempat yang ingin melihat pertandingan
begasingan itu, tak sedikit yang mendukung Ruhman, dikarenakan
warga setempat tak begitu menyukai Firdaus.
Acara yg ada di lapangan ini sudah dipenuhi dengan para
warga yang antusias akan pertandingan begasingan ini. Pak Jamil
pun datang dengan panitia yang sudah ia siapkan sambil
mengeluarkan beberapa lembar uang bernilai seratus ribuan dari
kantong celana nya dan menyelipkan nya di tangan sang pelatih,
Pak Majdi yang melihat itu pun menyeringai dan sudah menduga
ini semua akan terjadi. Pertandingan pun akan segera dimulai.
Firdaus dan Ruhman sudah berada di tengah-tengah warga yang
sedang menonton. Sesudah mereka berdua hom pim pa dan
ternyata yang menang adalah Ruhman. Tak perlu ber lama-lama
Ruhman langsung menghempaskan gasingnya ke tanah dan tibalah
giliran Firdaus ia juga langsung menghempaskannya ke tanah.
Tanpa disadari di saat itulah si panitia ini melaksaNakan
aksinya sehingga membuat gasing Ruhman berputar dengan
lambat sedangkan gasing milik Firdaus masih berputar dengan
begitu kencang. Karna geram dengan melihat perilaku si panitia
153 | P a g e
itu Pak Majdi pun ingin membongkar rahasia Pak Jamil. Ia
berteriak sekeras-kerasnya sehingga para warga yang mendengar
teriakan itu pun sontak menyorotkan kedua buah matanya kepada
Pak RW, tak perlu berlama-lama ia langsung menceritakan semua
perjanjian dan perkataan yang telah ia dengar dari Pak RW dan si
panitia. Di samping itu Pak Jamil dan panitia terlihat sangat panik
karna seluruh warga telah mengetahui apa yg telah ia rencanakan.
Mereka berdua sempat ingin melarikan diri dari lapangan ini tapi
sudah terlambat karena mereka berdua sudah di kepung oleh
seluruh warga yang berada di lapangan ini.
Pak RW terus menyangkal, bahwa semuanya tak benar
dan itu semua hanyalah omong kosong. Untuk memastikan
semuanya warga di sana memeriksa semua bagian kantong saku
celana Pak Jamil dan juga kantong saku celana si panitia ini dan
ternyata hasilnya para warga menemukan uang ratusan ribu yang
berada di kantong saku celana panitia itu. Para warga lalu
meringkus kedua nya dan membawa mereka ke rumah Pak kades
(Kepala desa). Firdaus dan Ruhman yang melihat hal itu pun
langsung berlari meninggalkan gasingnya dan mengikuti para
warga itu.
Sesampainya di rumah Pak kades, Pak Majdi yang menjadi
saksi dari kejadian itu pun bercerita kepada Pak kades bahwa Pak
Jamil telah membuat acara begasingan dan berbuat curang di saat
permainan berlangsung. Di rumah Pak kades suasan semakin
ricuh, sesekali Pak kades menenangkan para warga yang tersulut
emosi dan rasa yang tak sabaran. Pak Jamil yang berusaha mencari
pembelaan atas dirinya, tak pernah sempat karena jejeran kalimat
yang keluar dari mulut warga satu persatu dibongkar karena
tindakan ketidak adilannya, sedangkan si panitia ini hanya terdiam
tanpa bersuara sedikitpun.
Kericuhan dan keramaian suara-suara yang tidak karuan
ini membuat pak kades berteriak dengan keras "DIAAMM!!!.
kalian semua bisa diam tidak semuanya bisa diselesaikan dengan
baik" sontak seluruh warga terdiam dan tak ada satupun yang
berani bersuara.
154 | P a g e
“Apa alasanmu sehingga kamu bisa berbuat curang seperti
ini?” tanya pak Kades kepada pak RW.
“Aku hanya tidak ingin anakku Firdaus dikalahkan oleh
siapapun sehingga aku berbuat curang seperti ini” balas pak RW
dengan percaya diri.
“Yaa gak gini juga lah caranya. tau diri dong. Kamu punya
jabatan sebagai RW seharusnya berperilaku adil dan memberikan
contoh, bukan melakukan hal sebaliknya” tegas pak Kades.
“Ini juga yang jadi panitia, udah tau perbuatan gak baik
malah dilakukan”
“Maafkan kami pak Kades. Kami hanya menjadi bahan
suruhan dari Pak RW saja” balas panitia Begasingan yang
diberikan uang oleh pak RW.
Suasana di rumah Pak Kades semakin mencekam
ditambah lagi dengan para warga yang masih terbawa-bawa
amarah. Firdaus yang berada di antara para warga seketika merasa
malu karena melihat sang bapak yang sedang mengakui segala
kesalahannya dan ketidakadilan yang telah di perbuat. Ruhman
yang melihat hal itu langsung berlari menuju bapaknya ia
memberitahu sang bapak agar memaafkan semua kesalahan yang
telah diperbuat oleh Pak RW. Ruhman juga tidak tega melihat pak
RW ditindas seperti ini, ya walaupun ini semua akibat dari
kesalahannya.
Pak Majdi akhirnya memberitahu Pak Kades untuk
memaafkan Pak RW, tapi Pak RW harus berjanji kepada seluruh
warga dan Pak Kades, bahwa ia tidak akan mengulangi hal ini lagi.
Awalnya pak kades masih ragu-ragu dengan keputusan Pak majdi,
tapi karena dengan belas kasihnya Pak Kades pun
memepertimbangkan segala keputusan itu, dan ia pun
menganggukkan kepalanya serta memberitahu semua warganya
agar memaafkan kesalahan yang telah diperbuat oleh Pak RW dan
panitia.
Setelah mendengar perkataan dari Pak Kades, para warga
yang ada di sana awalnya tak setuju karena keputusan itu, tapi
dengan bujukan Pak Majdi, akhirnya para warga setuju untuk
155 | P a g e
memaafkannya. Mendengar hal itu, Firdaus, juga meminta maaf
kepada Ruhman karena telah membuat-buat cerita di saat Ruhman
tak sengaja mengenai kakinya saat bermain begasingan kemarin
itu.
Ruhman yang melihat Firdaus dengan raut muka yang
penuh dengan penyeselan memaafkannya dengan ikhlas dan
berjabatan tangan. Firdaus juga menyadari bahwa semua ini juga
akibat dari kesalahannya, jika ia tidak melebih-lebihkan cerita dan
tidak menyuruh sang bapak membuat pertandingan itu, mungkin
semua ini tidak akan terjadi.
Setelah kejadian beberapa minggu yang lalu, Desa ini
sekarang menjadi desa yang tentram tanpa adanya peraturan yang
menjengkelkan sedikit pun. Pak RW juga selalu berperilaku adil
dan baik terhadap para warga setempat yang membuat para warga
semakin nyaman tinggal di desa ini. Firdaus dan Ruhman juga
berteman baik setelah kejadian itu se hari-harinya selalu dilalui
bersama-sama dengan keceriaan dan candaanya. Sesekali Pak
Kades sering ber jalan-jalan di desa. Ia sangat senang dan gembira
karena melihat semua telah pulih kembali dan Pak RW juga telah
menepati janjinya.
156 | P a g e
BEBENTENGAN
Fairuz Al Mumtaz
Pagi hari di Desa Mamben Daya, Kecamatan Wanasaba, ayam
berkokok membangunkan seorang aNak yang bernama Saiful.
Saiful ialah seorang aNak yang berumur 8 tahun yang sekarang
menginjak kelas 2 SD tinggal bersama kedua orang tuanya di
sebuah rumah yang cukup luas, dan memiliki pagar kayu yang
sudah tua tembok rumahnya juga sudah lusuh dan dicoret-coret,
rumah tersebut terletak di Mamben Daya. Saiful sangat
bersemangat untuk memulai harinya dengan mandi dan sarapan
yang dibuatkan oleh ibunya. Ibunya bernama Suhijjah yang biasa
dipanggil Inaq Saiful, ia kini berusia 38 tahun. Ia memiliki sifat
yang pemarah tapi sangat sayang kepada aNaknya, Saiful. Inaq
Saiful memiliki pekerjaan untuk membuat kue dan berkeliling
menjualnya, biasanya dibantu oleh aNaknya, Saiful. Setelah siap,
Saiful pun bergegas untuk berangkat ke sekolah.
Pulang bersekolah, Saiful tidak sabar untuk bermain
dengan teman-temannya dilapangan. Setelah sampai dilapangan,
ada 7 temannya yang sedang menunggu Saiful untuk bermain.
"Apa yang akan kita mainkan, ada yang punya ide?" tanya
Saiful.
"Gak tau ah, kemarin kan kita bermain banyak permainan,
jadi bosan kalau main yang itu itu aja" jawab teman Saiful.
"Iya juga ya. bosan bermain itu itu aja"
Setelah lama berifikir. Akhirnya si Udin yang baru saja
datang mengatakan “Ahaa!, Aku punya ide, bagaimana kalau kita
bermain Benteng, soalnya aku jago main dulu" ucapnya dengan
ceria.
Semua orang pun setuju kecuali Saiful. Saiful sangat buruk
dalam bermain Benteng terlebih lagi Saiful memiliki badan yang
lumayan berisi, jadi ia tak ingin bermain Benteng, tapi karena yang
lain setuju Saiful jadi terpaksa untuk ikut bermain.
Saiful akhirnya bermain dengan 3 teman group yang lain,
dan memilih batu sebagai Benteng, begitu pula lawan groupnya.
157 | P a g e
Setelah lama bermain, group Saiful masih saja mendapat 0 score,
semua orang menyalahkan Saiful karena buruk dalam bermain.
Hal itu membuat Saiful kecewa dan sedih yang membuat Saiful
memiliki keinginan untuk menjadi mahir dan selalu menang
dalam bermain Benteng.
Keseokan harinya, setelah pulang bersekolah. Saiful
segera berangkat kelapangan sebelum temannya datang agar dapat
berlatih bermain Benteng lebih awal. Setelah beberapa menit
berlatih, teman Saiful pun datang dan segera bermain Benteng.
Saiful sangat percaya diri akan menang karena sudah berlatih,
akan tetapi tetap saja Saiful yang kesusahan berlari tidak dapat
menang karena memiliki badan yang lumayan berisi.
Tak lama kemudian," Eh Saiful, kamu maju sana selagi
musuhnya masih lengah" pinta salah satu teman Saiful.
"Tapi kalau aku tertangkap gimana. aku kan larinya
lambat, bahkan kamu tau itu" balas Saeful
"Udah sana. Aku tidak diperbolehkan untuk menyerang
sama teman yang lain. Jadi aku jaga saja di sini."
"T-tapii..."
"Sudah sana tidak usah tapi tapi maju saja apa susahnya
sih!"
"Ya sudah deh.."
Saiful yang ragu pun segera berlari berharap ia berhasil,
akan tetapi karena Saiful lambat lawan pun menyadari Saiful yang
menuju markasnya lawanpun menangkap Saiful.
"Tertangkap!. Haha larimu sangat lambat, jadi mudah
bagiku untuk menangkapmu" ucap lawan main Saiful dengan
tertawa riang.
"Yahhh, padahal sedikit lagi itu.."balas Saiful sambil
mengakui kekalahannya.
Saiful sangat kecewa karena tertangkap dan tak bisa
mencetak satu score pun. Permainan pun akan berakhir dengan
score 3-9 Group Saiful akan kalah lagi. Jadi Saiful dan temannya
menjaga markasnya dengan sangat ketat. Beberapa menit
kemudian, semua rekan group Saiful sudah tertangkap kecuali dia
158 | P a g e
sendiri, Saiful tidak bisa menyelamatkan temannya, kalau tidak
markasnya akan diserang dan dia akan kalah. Saiful sangat takut
karena ia cuma sendiri dan lawan berenam. Saiful panik dan
merentangkan tangannya untuk menjaga markasnya dibagian
depan, Saiful masih berusaha untuk menjaga markasnya agar tidak
kalah, tapi tiba tiba salah satu lawan menyergap markas Saiful dari
belakang yang membuat team Saiful menjadi terkalahkan.
Semuanya menyalahkan Saiful karena tidak becus menjaga
markasnya. Semua orangpun menertawakan Saiful karena ia tak
pernah memenangkan permainan.
Saiful sangat kesal dan menantang untuk bermain 1 ronde
lagi tapi tetap saja, Saiful tidak bisa memenangkan pertandingan.
Saiful pun sedih dan berlari pulang kerumahnya. Malam harinya
Saiful berbicara sendiri di kamarnya
"Padahal kan aku sudah berusaha untuk mempertahankan
markas, lagian kan mereka juga semuanya tertangkap, mana bisa 1
orang bisa melawan 6 orang. Besok sepulang sekolah aku yakin
aku pasti bisa bermain Benteng dengan lebih baik daripada
sebelumnya. Aku kan anak terpintar di kelas bahkan aku selalu
mendapat juara 10 besar. Lihat saja, besok aku akan
memenangkan permainan dan mengalahkan mereka semua" keluh
Saiful dalam hati meyakinkan dirinya bahwa ia bisa mengalahkan
lawan main Bentengnya itu.
Keesokan harinya sepulang Saiful sekolah. Ia mengganti
bajunya dan langsung berangkat untuk bermain di lapangan
bersama temannya. Di lapangan semua orang sedang menunggu
Saiful karena kalau tidak jumlah orang tidak akan pas jika ia tidak
datang. Saiful bermain dengan 5 orang temannya, begitu pula
dengan lawan saat menjaga markas ia mengobrol dengan seorang
temannya yang cukup mahir bermain Benteng.
"Eh kamu gimana sih caranya bisa jago main Benteng,
sedangkan aku lari aja kesusahan" ucap Saiful yang kepo dengan
kecepatan temannya.
159 | P a g e
"Aku bermain Benteng dari dulu dan aku juga memiliki
badan yang kecil jadi jika aku mau menyergap markas musuh
mereka akan kesusahan melihatku" balas temannya.
"YEEY! Kena" suara teriak lawan, ternyata lawan
mencetak score karena Saiful dan temannya yang berjaga sedang
mengobrol.
"Tu kan kamu sih mengajak ngobrol, musuh jadi dapat
point kan!" cetus teman Saiful geram
"Ya maaf, lagian kan kamu juga mau kuajak mengobrol".
"Tetap aja, kamu yang salah!".
"Lah kok aku saja yang disalahkan, kamu juga ngobrol
kan!"
Mereka pun adu bicara, tapi ditenangkan oleh yang lain.
Kini Saiful ngambek dengan temannya.
"Huh awas aja kamu, kalau kamu tertangkap tidak akan
kuselamatkan" balas Saiful.
"Idih ngancem ya? Tapi tetap saja, aku gak peduli, wee".
"Terserah kamu biar gak ada yang selametin kamu!"
"Biarin aja!"
Tak lama kemudian Saiful sedang berusaha untuk
menyelamatkan temannya, tapi ia gagal ia malah ikut tertangkap.
"HAHAHA…tuh kan udah aku bilang kalau kamu
tertangkap tidak akan aku selamatkan, haha".
Saiful sangat kesal, tapi akhirnya ia diselamatkan oleh
temannya yang lain.
"Tuh kan, aku tidak butuh bantuanmu, temanku bukan
kamu doang, weee" balas Saiful ringkas.
Kini score group Saiful masih 5 sedangkan lawan sudah
mendapatkan 8 score. Tak lama kemudian, Inaq Saiful memanggil
Saiful
"Saiful, Saiful bantu ibu jualan kue yukk ibu lagi capek
nihh..." panggil sang ibu yang memintanya untuk berkeliling
untuk menjual kue.
"Tapi bu, aku kan lagi main" kesal Saiful.
160 | P a g e
Tapi Saiful harus membantu ibunya kalau tidak ia tidak
diperbolehkan bermain lagi bersama teman-temannya dilapangan.
"Teman teman, aku bantu ibuku jualan ya. Nanti aku
balik, janji aku bakalan cepat, okeee".
"Iya terserah" jawab mereka pasrah.
Setelah selesai membantu ibunya berjualan, Saiful segera
berlari menuju lapangan berharap temannya masih di sana.
Sampainya dilapangan Saiful melihat temannya baru saja selesai
bermain permainan Benteng. Saiful meminta temannya untuk
bermain 1 permainan lagi.
"Main lagi yuk, sekali permainan aja.. kumohonn" pinta
Saiful.
"Ya udah, tapi sekali aja ya, kita udah lelah..."
Karena Saiful memaksa jadi semua orang setuju. Saat
bermain, Saiful tidak fokus yang membuat groupnya menjadi
kalah score. Teman Saiful menyalahkan Saiful
"Eh kamu ini, udah memaksa untuk bermain, malah
mainnya gak becus, huh"
Saiful pun hanya terdiam tapi masih melanjutkan
permainan. Setelah lama bermain, group lawan saat ini hanya
membutuhkan 1 score lagi agar bisa memenangkan permainan,
semua rekan group Saiful panik karena sebentar lagi mereka akan
kalah. Karena takut kalah, semua orang setuju untuk maju
menyergap markas lawan dan Saiful menjaga markas, tapi karena
tidak fokus, Saiful tidak melihat lawannya ternyata sudah
menyentuh markasnya. Semua orang menyalahkan Saiful karena
tidak fokus dan membiarkan lawannya menang.
"Apasih Saiful gak becus main tapi maksa buat main lagi,
tau gitu tadi aku gak usah ikut main aja!" ucap teman Saiful kesal
dengan kekalahan beruntun.
“Aku capek tau!. Habis keliling jualan kue" Saiful
membela diri.
"Tapi kan kamu sendiri yang memaksa untuk bermain,
tadi kan kita sebenarnya gak mau, dasar kamu itu ya" gertak
temannya yang menyatakan bahwa Saifullah yang salah.
161 | P a g e
Saiful lalu pulang karena disalahkan, lagi pula hari itu
sudah sore dan Saiful menjadi kotor karena seharian bermain. Di
rumahnya Saiful langsung segera mandi kemudian membantu
ibunya membuat kue untuk dijual besok pagi.
Bangun dari tidur, Saiful kembali membantu ibunya
berjualan kue keliling sampai kue habis. Setelah itu, Saiful berjalan
kaki ke lapangan yang biasanya tempat ia dan teman-temannya
bermain. Di lapangan Saiful diajak bermain Benteng oleh temannya
dan langsung disetujui saja.
"Pas banget kamu datang Saiful, kita lagi kurang 1 pemain
lagi nih.."
"Ya udah ayook" balas Saiful girang.
Pertama Tama mereka melakukan Hom-pim-pa untuk
menyesuaikan pemain. Di dalam permainan, Saiful mendapat
seorang rekan group yang bernama Udin. Udin ialah salah satu
anak yang mahir dalam bermain Benteng. Saiful sangat bahagia
karena groupnya memiliki peluang besar untuk memenangkan
permainan. Tidak lama bermain group Saiful sudah mendapat 6
score sedangkan lawan hanya 3. Salah satu lawan yang bernama
Asep juga mahir bermain Benteng, ia sangat tidak ingin kalah, dia
akan melakukan apapun agar bisa menang. Kali ini dia memiliki
rencana untuk medorong salah satu lawannya agar bisa
menyerang markas lawan dan mencetak score.
"Huh, mereka pikir aku akan kalah, jawabannya adalah
tidak, aku sudah memiliki rencana agar bisa menang, hahaha".
Sebentar lagi, Asep akan melaksanakan aksinya. Ia
mendorong Udin. "Dukk" Suara Udin jatuh
"Aduhhh sakit bangetttt..". Semua orang terkejut dan
segera menghampirinya, Asep langsung segera berlari menuju
markas musuh. Tapi kaki Udin berdarah, ternyata kaki Udin
terkena sebuah batu krikil yang tajam, Asep terkejut. Dia tidak
menyangka di sana akan ada sebuah batu krikil. Semua orang pun
membujuk Udin dan membawanya pulang kerumahnya. Udin
tinggal di sebuah rumah yang kecil, tertempel banyak sekali poster
didinding, atap nya ada sedikit bocor. Saiful sangat khawatir
162 | P a g e
dengan Udin dan pergi kerumahnya untuk menjenguknya. Setiap
hari Saiful selalu menjenguk Udin. Hingga suatu hari akhirnya
Udin pun sembuh, Udin pun langsung pergi ke rumah Saiful.
"Terima kasih ya, sudah sering menjengukku hingga aku
lekas sembuh.. aku bisa balas kamu dengan bagaimana" balas
Udin kepada Saiful dan kawan-kawannya.
"Tidak apa-apa. Aku ikhlas kok, tapi kalau kamu
memaksa, kamu mau gak mengajariku bermain Benteng, soalnya
aku udah latihan tapi hasilnya sama saja, hehe..." balas Saiful
memelas.
"Mana bisa latihan main Benteng cuma sendiri.. hadeh, ya
udah itu mah gampang" balas Udin sambil menepuk bahu Saiful.
Beberapa hari kemudian setelah Udin sudah baikan. Saiful
pergi kelapangan karena akan diajari bermain Benteng oleh Udin.
"Yey, akhirnya sekarang aku bisa bermain Benteng jauh
lebih baik daripada sebelumnya… terima kasih yah" ucap Saiful
yang merasa lebih baik dari permainan minggu kemarin.
"Sama-sama, kamu juga kan udah sering menjengukku
selagi aku masih sakit, sedangkan teman yang lain tidak pernah
menjengukku, makanya aku mau mengajarimu cara bermain
Benteng dengan baik" balas Udin singkat. Kini, Saiful sudah
berlatih bermain Benteng dengan Udin. Ia sangat percaya diri
untuk memenangkan permainan nanti. jadi. Di lapangan, Saiful
langsung mengajak teman-temannya untuk bermain Benteng.
"Main Benteng yukkk aku lagi seneng nih".
"Iya iya…"
"Hehe, gak papa kan?"
"Terserah".
Semua orang pun setuju untuk bermain. Tak lama
bermain group Saiful sudah mencetak 5 score, semua orang
tercengang.
"Wah kok kamu tiba tiba jago banget sih main Benteng,
padahal sebelumnya kamu itu yang paling tidak bisa bermain".
Saiful pun tersenyum bahagia, kini ia bisa bermain Benteng
dengan sangat baik,
163 | P a g e
"Iya, makanya jangan ngeremehin aku!" balas Saiful.
Lalu Saiful pun melanjutkan permainan. Saiful menantang
salah satu lawan untuk mengejarnya.
"Eh kamu!".
"Aku?"
"Iya kamu! Kejer aku yuk kalau bisa".
"Huh gampang itu mah…"
Lalu lawan tersebut pun setuju karena ia sendiri tahu
bahwa Saiful larinya lambat, jadi akan mudah untuk menangkap
Saiful. Tapi ternyata itu adalah salah satu tak tik agar bisa menang,
rekan group Saiful segera menyergap markas lawan, lalu
memenangkan permainan.
"Wah Saiful kamu jago banget kamu mau gak ajarin kita
bermain Benteng, padahal sebelumnya kita tuh lebih baik daripada
kamu".
"Hehehe iya nih, aku sudah diajari oleh seseorang, dan
akhirnya aku bisa bermain sebaik ini". Karena senang, Saiful
mengajak teman temannya ke Kokok Juet.
"Karena aku sudah mahir bermain Benteng, aku bakal ajak
kalian ke Kokok Juet, nanti aku beliin Beberoq dehh".
"Wah beneran nih? Yaudah kapan nih kita pergi Saiful?".
"Sekarang aja yuk mumpung kita udah gerah, karena habis
main Benteng, tapi aku mau izin dulu ya ke ibuku".
"Ya udah kita mau izin juga".
Sesampai di rumah Saiful menyampaikan niatnya untuk
meminta izin kepada ibu untuk bermain bersama temannya.
"Ibu aku mau izin ya ke Kokok Juet".
"Sama siapa aja".
"Temen temen aku lah buk, ada yang sudah kelas enam
kok, jadi tenang aja..".
"Ya udah hati hati, nih uang buat belanja…"
"Iya bu.. makasih ya".
"Iya sana pergi aja.., eh jangan lupa bawa baju ganti ya".
"Siap Bu. Ya udah Saiful berangkat dulu ya,
Assalamualaikum…"
164 | P a g e
"Waalaikumsallam".
Setelah diberikan izin Saiful bertemu dengan kawan-
kawannya di lapangan tempat mereka biasa bermain Benteng.
"Kalian diizinin gak?" tanya Saiful memastikan temannya
sudah mendapatkan izin dari orang tua mereka
"Iya ayo!".
"Ya udah sekalian kita beli Beberoq juga ya…"
Mereka kemudian berlari menuju Kokoq Juet.
"Wah seru banget ya, tapi airnya dingin banget…"
"Iya ya, Ya udah kita naik dulu yuk, dingin dingin begini
enaknya makan Beberoq" ucap salah satu teman Saiful yang paling
cepat larinya.
"Iya, ayuk".
Akhirnya sembari menunggu air Kokoq yang masih
dingin mereka pun menikmati beberoq yang dibeli di pinggir
jalan. Tawa dan saling sindir melebur menjadi satu yaitu rasa
bahagia. Kini satu jam pun sudah berlalu.
"Teman teman, kita pulang aja yuk nanti orang tua kita
khawatir".
"Bentar lagi ya…"
"Ayolah".
"Ya udah deh ayo… lagian sudah sore juga ni"
Pada akhirnya berkat sifat kebaikan hati, kerja keras, dan
sifat pantang menyerah Saiful bisa mencapai keinginannya walau
itu tidak secepat yang dapat dipikirkan. Apapun yang dihadapi
Saiful selalu maju dan mencapai keinginannya, yakni Mahir
bermain Benteng.
165 | P a g e
ASAL USUL KOKOQ JUET
Noura Aindi Al Maghfira
Alkisah di sebuah pulau kecil di kaki Gunung Rinjani
terdapat desa yang sangat indah, asri dan damai. Rumah-rumah
yang berjejer dengan cat warna warni menambah suasana hati
gembira. Angin berdesir, bertiup menari-nari melambai kesana
kemari di antara hijaunya pepohonan. Perkampungan yang
dikenali banyak orang dengan sebutan Desa Mamben. Desa
Mamben terkenal memiliki Kokoq (sungai) paling luas antara Kokoq-
kokoq yang lain.
Dulu, sejak masih Zaman Purba. Perumahan yang
terpelosok di sebuah perkampungan (desa). Desa yang memiliki
keterbatasan lahan akibat panas ( Kemarau ) yang tidak ada
pepohonan atau sungai. Dan sebagian besar sulitnya pekerjaan
sangat dirasakan warga kampung tersebut. Itulah sebabnya, warga
memilih untuk pindah ke kawasan perkampungan lain. Dari
sekian warga yang memilih kawasan lain masih ada saja yang mau
bertahan di perkampungan tersebut. Satu keluarga yang tidak
keluar dari pedesaan itu, keluarga itu memiliki latar belakang yang
tidak mencukupi kebutuhan hidup (miskin).
Satu keluarga ini adalah sepasang suami istri dan ke dua
anaknya. Suaminya bernama Amak Badriah sedangkan istrinya
bernama Inaq Badriah. Kedua suami istri ini memiliki nama yang
sama karena, memiliki peran (Peraman) dari anak pertamanya
yang dua tahun lalu sudah meninggal akibat memiliki penyakit
keturunan, (lak Badriah).
Kedua suami istri ini dikenal sebagai orang baik. Mereka
rela setiap hari menitipkan nasi bungkus kepada anak panti
asuhan meskipun penghasilan yang tak mendukung. Amaq Badriah
bekerja sebagai tukang kebun penanam Buah Juet. Buah Juet
berbentuk bulat kecil, kulit ungu kehitaman dan memiliki biji di
dalamnya. Amaq Badriah menjual buah Juet dengan kemasan satu
mika Rp.10.000. Amaq Badriah menanam di sebuah perkebunan
yang jauh jaraknya dari perkampungan. Amaq Badriah pergi
166 | P a g e
dengan berjalan kaki. Sejauh apapun orang bekerja, di dalam
perkampungan tersebut tidak ada yang namanya kendaraan.
Pagi hari yang cerah, matahari mulai naik perlahan
menyinari bumi. Ayam tidak lagi berkokok karena mereka harus
mencari makan. Pun demikian, para warga pergi ke tempat
bekerja masing - masing. Nampak Amaq Badriah segera memakai
capingnya, memanggul cangkulnya, dan bergegas pergi ke kebun
untuk bercocok tanam. Amaq Badriah melakukan tanam pupuk
bibit buah Juet yang di buatnya sendiri.
Mulai menjelang sore, Amaq Badriah pulang sedikit agak
cepat dari sebelumnyadan istri bertanya kepada sang suami. "pak,
kok cepet kali pulangnya, gak kayak biasanya?” dengan raut wajah
penasaran.
Amaq Badriah pun tidak menjawab ia hanya berdiri dan
diam. Inaq Badriah mempersilahkannya duduk lalu
membuatkannya segelas kopi. Si istri kembali bertanya, "kenapa,
cepat kali pulangnya?
Lalu, Amaq Badriah menjawab dengan wajah yang kesal.
"maaf Buk, hari ini sepi dan penghasilan kita kosong!!”
Inaq badriah mengerti dan memahami keadaan di desa sini,
ia tidak memarahi suaminya, sesulit apapun keadannya Amak
Badriah akan terus berusaha menafkahi istri dan anak-anaknya
sedikit demi sedikit.
Keesokan harinya, sebelum bekerja, Amaq Badriah di sini
pergi ke Panti asuhan, di mana para anak panti tinggal dan di sana
Amaq Badriah menitipkan nasi bungkus. Pagi menjelang siang,
matahari semakin tinggi. Amaq Badriah pulang dengan cepat
daripada kemarin dan istrinya pun bertanya: "apakah bapak tidak
dapat penghasilan hari ini??
"iyaa akhir-akhir ini kita sama sekali belum dapat
penghasilan, bu” jawab Amaq badriah meyakinkan istrinya.
Dengan melihat suaminya yang tiap hari bekerja dan
penghasilan yang begitu gitu saja, Inaq Badriah sangat khawatir
dengan kesehatannya yang sudah lanjut usia. Akhirnya, istrinya
Amaq Badriah memutuskan untuk mulai menanam di lahan milik
167 | P a g e
Pak. RT belakang rumah dekat sungai. Amaq Badriah pergi
menuju rumah Pak.RT untuk meminta izin mau menggunakan
lahan tersebut. Pak.RT pun sangat setuju dan di izinkannya
menanam di sana.
Kemudian hari, Amaq Badriah mulai menanam, dengan
melihat sosok wajah Amaq Badriah yang begitu Lelah. Pak.RT
pun membantu mempromosikan ke desa-desa setempat untuk
mau membeli buah Juet ke Amaq Badriah. Pak.RT mulai
mempromosikan hasil buah Juet Amaq Badriah.
“yok, yok semuanya pergi ke rumah Amaq Badriah untuk
membeli buah juet, segar dan manis!.” Ucap pak RT yang setiap
hari mempromosikan buah Juet Amaq Badriah.
Para desa setempat lain ikut pergi ke desa mamben untuk
membeli dengan sangat laku ya Amaq Badriah sampe kehabisan
stock buah untuk dijual.
Langit mulai gelap, Amaq Badriah pulang dengan wajah
yang sangat senang, ia memberitahu istrinya kalo stock buahnya
sudah habis dijual. Istrinyapun sangat senang. Amaq Badriah pergi
membasuh muka dan beranjak menuju tempat tidur untuk
beristirahat, Amaq Badriah tidur dengan sangat lelap. Di tengah
malam tiba tiba Amaq Badriah bangun dari tempat tidur dan
membangun kan istrinya.
Ternyata Amaq Badriah bermimpi, ia bermimpi buruk
tentang lahan yang ia gunakan menanam. Amaq Badriah
memberitahukan istrinya tentang mimpi itu, ia bermimpi seolah
olah akan ada seseorang yang akan membeli tanah itu dan
menggusurnya. Istrinya pun sangat khawatir dengan mimpi itu
seolah olah akan terjadi. Amaq Badriah meminta solusi dari sang
istri. Dan istrinya pun tidak begitu peduli dia hanya masuk dan
kembali beranjak ketempat tidur.
Keesokannya, tiba-tiba Inaq Badriah mengatakan kalo dia
sudah punya rencana. Inaq Badriah memberitahu Amaq Badriah
dengan berbisik-bisik, Inaq Badriah berencana untuk mengambil
sertifikat itu dari tangan Pak.RT.
168 | P a g e
"bagaimana kalo kita bunuh tu si Pak.RT” ucap sang istri
yang sontak membuat Amaq Badriah kaget.
"ngaco kamu bu. bapak gak mau nanggung resikonya”
balas Amaq Badriah sembari memalingkan wajah.
“trus kita mau makan apa?
" yaa mau gak mau bapak harus balik ke tempat bekerja
dulu.
"terserahh!!
Amaq Badriah gak nyangka kalo rencana istrinya begitu
kejam. Hari demi hari Amaq Badriah selalu berpikir bahwa
mimpinya itu akan terjadi. Lalu, Amaq Badriah menyetujui
rencana istrinya.
"Baiklah, akan ku ikuti rencana kamu” ucap Amaq badriah
dengan berat hati.
Langit mulai gelap, mereka berdua akan menjalankan
rencananya di tengah-tengah malam. Mereka membawa beberapa
alat senjata tajam seperti pisau atau semacamnya. Setelah mereka
tiba di rumah pak RT. Mereka masuk lewat pintu gerbang masuk
yang semula digembok dan dibuka menggunakan palu.
Mereka masuk lewat jendela kamar Pak.RT dan
mengeluarkan senjata tajam yang mereka bawa. Inaq Badriah
meraba-raba ke tubuhnya lalu menekan pisau ke perut pak RT
sampai darah menyembur keluar dan baju Inaq Badriah terkena
percikan darah tersebut. Tiba-tiba mereka melihat cahaya dari
luar, ternyata itu senter milik penjaga rumah Pak.RT. Mereka
takut ketauan Amaq Badriah langsung mengambil sertifikatnya
dan keluar melewati jendela. Mereka menyeleder diam-diam dari
sudut dinding. Dan dengan tidak sengaja suaminya menginjak
sepatah kayu kecil dengan bersuara. Wajah Inaq Badriah keringat
dingin. Penjaga rumah Pak RT diam-diam menghapiri suara itu.
Tiba - tiba ia dialihkan oleh panggilan hapenya dan mereka
berhasil lolos.
Matahari mulai keluar, kekhawatiran mereka sudah
menjadi lega, sulit dipercaya omongan Inaq Badriah yang begitu
meresahkan.
169 | P a g e
"akhirnya ya rencana kita berhasil juga ya..hahahah” ucap
Inaq Badriah dengan wajah yang begitu licik.
Amaq Dris (Pengaman rumah pak RT) memasuki rumah
Pak.RT untuk mengambil minuman, dan ia pun penasaran
dengan Pak.RT yang belum keluar dari sedari tadi pagi.
"gak biasa biasanya Pak.RT belum bangun jam segini?
Ucap Amaq Dris yang menerima telpon dari rapat desa. Amaq
Dris menggedor pintu tanpa ada sahutan, ia pun mendobrak pintu
dengan tubuhnya sendiri.
Amaq Dris terkejut melihat darah bergelinang di atas lantai
dari tubuh Pak.RT. Suara ambulans yang datang dari jauh menuju
rumah Pak.RT yang akan dibawa ke rumah sakit. Dalam
perjalanan nyawa Pak.RT tidak bisa ditolong. Kata dokter,
tusukan senjata tajam masih menempel di bagian tubuh Pak.RT,
dan sepertinya ia tidak bisa tertolong. Amaq Dris terheran heran
dengan kasus ini. Ia pun pergi ke Kantor Polisi. Amaq Dris
meminta Polisi untuk menyelidiki kasus pembunuhan ini.
Matahari mulai tinggi, dengan mendengar berita duka dari
Amaq Dris, Amaq Adnan (merebot masjid), langsung menyiarkan
kematian Pak.RT. Amaq Badriah seperti tidak peduli atau bersalah
dengan kematian Pak RT yang berbeda dirasakan oleh tetangga
yang merasa kehilangan sosok yang baik.
Minggu berlalu begitu saja. selanjutnya, Amaq Dris
mendapat laporan dari Kapolres bahwa mereka tidak menemukan
bukti apapun selama penyelidikan kasus ini, dengan itu polisi
meminta Amaq Dris untuk menutup kasus ini.
"saran saya, lebih baik anda menutup kasus ini karena,
tidak ada jejak yang kami temukan selama penyelidikan” ucap
Kapolsek yang menangani kasus pak RT.
Amaq Dris terpaksa menyetujui saran dari Polisi untuk
menutup kasus ini dan tidak ada penyelidikan lanjutan dari
Kantor Polisi.
Semakin hari jualan Amaq Badriah selalu habis di borong
pembeli. Inaq Badriah tidak sengaja mendengar bisik-bisik para
pembeli yang keberatan dengan harga buahnya, Amaq Badriah
170 | P a g e
selalu menaikkan harga jual yang semula satu Ikat Rp.10.000 dan
menjadi Rp.30.000 warga keberatan dengan harga itu, karena
penghasilan mereka tak seimbang dengan harga sembako yang
sekarang dan warga selalu meminta diskon. Tapi kini Amaq
Badriah selalu bersikap keras terhadap pembeli, sikap Amaq
Badriah telah berubah serratus persen.
Dan minggu - minggu ini mereka berdua jarang - jarang
menitipkan nasi bungkus di panti Asuhan. Para warga desa
berharap akan sikap keluarga ini kembali seperti dulu, kata
mereka. Dengan serakahnya, Amaq badriah juga menanam di
lahan kedua almarhum pak.RT.
Mereka sekeluarga berencana untuk healing ke kebun.
Keesokan harinya, mereka sekeluarga mempersiapkan yang
dibawa untuk healing, seperti satu gulung tikar dan sekantong
rantang nasi+lauknya, mereka sangat menikmati healing suasana
tersebut. Lama kemudian, matahari sudah mulai merendah, istri
dan kedua anaknya pulang sebelum langit gelap dan Amaq
Badriah akan menginap di kebun sampai esok hari.
Tidak terasa hari sudah gelap, pepohonan rimbun yang
berderet di sekitar menambah mencekamnya suasana, air pun
tidak lagi membiaskan cahaya, yang ada hanya kegelapan. Tiba-
tiba di tengah malam mendengar suara petir yang berkisar. Amaq
Badriah mulai dengan perasaan yang tidak enak dan bergegas
pulang entah melewati tangga batu yang setinggi pohon. Dengan
di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba Amaq Badriah terlilit akar
panjang lalu terseret angin kencang.
" tolong...tolong...tolong aku!!" Teriak Amaq Badriah yang
begitu keras, meskipun berkali-kali ia minta tolong dengan suara
yang hampir habis tetap saja tidak ada yang membantu. Ia tidak
sadar bahwa ia berada di tengah sungai yang gelap dan tidak ada
seorang pun berada di sana.
Sang istri bergegas menuju sungai untuk menemui Amaq
Badriah. Tiba di perjalanan sang istri menuju ke bawah, jalan batu
ke bawah sangatlah licin, dan Inaq Badriah tidak sengaja
171 | P a g e
menginjak bawahan bajunya lalu terpelosor dan berguling-guling
hingga kepalanya terbentur, kini jenazah terdampar di tepi sungai.
Pagi, seorang petani lewat dan dengan tidak sengaja si
petani melihat jenazah sepasang suami istri. Suara ambulans yang
berbunyi dari arah mau menuju persungain, mereka di bawa ke
puskesmas, cepat lambatnya mereka tidak tertolong atau telah
tiada. Dan kedua anaknya dititipkan ke panti, dan meskipun
mereka berdua telah berubah dan jarang-jarang menitipkan nasi
pembina ibu panti asuhan tetap akan menerima kedua anak
almarhum atas kebaikannya dulu yang tidak pernah terlupakan.
Kedua anak Amaq Badriah ini berencana untuk meminta pembina
panti mengundang para warga untuk bersilaturrahmi ke rumah
almarhum Inaq dan Amaq Badriah atas jasanya yang dulu tidak
pernah terlupakan.
Dengan mengenang kematian Amaq Badriah atau Inaq
Badriah, masyarakat akan membangun sungai itu lebih luas lagi
dan secara resmi akan di beri nama Kokoq Juet. Itulah pendapat
dari warga sebagai balas budi Amaq Badriah atas bantuannya pada
anak panti asuhan. Kini, Kokoq Juet itu di kenal luas masyarakat
dari desa lain.
172 | P a g e
BODO LAMBEK
Dela Aulia Putri
Pagi hari di Desa Wanasaba, ayam berkokok cuaca sangat
dingin membangun kan anak yang sedang tidur nyenyak di atas
ranjang yaitu Nak Icak. Ia adalah anak sulung yang sangat
disayang oleh Amaq Rohimin dan Inaq Roh. Pagi itu Nak Icak
dibangunkan untuk mandi dan sarapan karna akan pergi ke
sekolah.
Saat perjalanan menuju sekolah, Nak Sodah (teman sejati
Nak icak) bercerita tentang jin yang sering menangkap anak kecil
yang seumuran mereka. "Pakkk!!! Suara tangan Nak Sodah yang
dari belakang ingin menakuti Nak Icak tiba-tiba memukul
punggung Icak. Nak Icak semakin takut tentang cerita jin itu.
Mereka melanjutkan perjalanan, saat melewati rumah yang sudah
30 tahun terbengkalai mereka saling menakuti diri sambil berlari
kencang ke arah gang yang mereka tak tau arahnya, sampai
akhirnya mereka telat berangkat sekolah 16 menit lamanya karna
kecerobohan mereka sendiri.
Sesampainya di sekolah Nak Icak dan Nak Sodah
langsung bergegas ke kelas dan ternyata teman-temannya sudah
mulai belajar. “Tok..tok…tok” suara pintu kelas yang diketok
Nak Icak sambil gugup membuka pintu ruang kelas 5. Ibu guru
membuka pintu ruang kelas tersebut dan melihat dua anak
muridnya yang udah terlambat 20 menit. Bu guru menyuruh
mereka menaruh tas di bangku dan lalu mengambil sapu dan
menyapu ruang kelas. Setelah itu mereka berdua diperintahkan
untuk duduk kembali ke bangku mereka serta diberi peringatan
agar tidak mengulanginya lagi. Belajar pun berlansung dengan
baik sampai akhirnya bel keluar main berbunyi. Nak Icak dan
teman-temannya pergi ke kantin untuk beli jajan dan dimakan di
ruang kelas. Tak berselang lama lonceng masuk kelas pun
berbunyi mereka kemudian kembali belajar sampai bel pulang
berbunyi.
173 | P a g e
Saat pulang sekolah, Nak Icak biasanya langsung pulang.
Di dalam perjalanan pulang ia mengingat lagi cerita yang tadi pagi
diceritakan Nak Sodah. Cerita itu selalu menghantui pikirannya
sehingga ia tidak fokus di jalan. Hampir saja ia menabrak sepeda
motor di depannya. Begitu sesampai di rumah Nak Icak
membuka pintu dan mengucap salam namun pemandangan yang
tidak enak ia temukan yaitu orang tuanya sedang bertengkar.
“prak!!” Suara piring yang di jatuh kan secara sengaja oleh
Inaq roh.
Melihat itu Nak Icak prustasi lalu ia masuk ke dalam
kamar kemudian menangis. Kini kamar nya mulai berantakan, ia
seperti putus asa dengan apa yang ia lihat. Ia kemudian kabur dari
rumah sebab tidak tahan dengan pertengkaran orang tuanya.
Dalam perjalanan kabur, Nak Icak sejatinya takut dengan
kegelapan tetapi karna dia tidak ingin pulang akhirnya ia
beranikan diri menerobos pekatnya malam yang seram. Saat di
perjalanan dia bertemu dengan temannya dan dia menceritakan
apa yang sedang dirasakan. Setelah temannya mendengar
ceritanya ia pun langsung dibawa ke suatu tempat yang jauh dari
desa.
Orang tua Nak Icak yang masih bertengkar tiba-tiba sadar
jika anaknya yang tidak ada di kamar. Amaq Rohimin yang
sifatnya seperti singa tanpa berfikir panjang menyalahkan Inaq
Roh karena kecerobohannya menjaga anak. Tetapi apakah mereka
sadar merekalah yang membuat anaknya pergi dari rumah. Amaq
Rohimin hanya mementingkan egonya sendiri tanpa berpikir
panjang akan keadaan keluarganya. Inaq Roh yang disalahkan
merasa sakit hari dan pergi ke kadus untuk melaporkan bahwa
anak sulungnya Nak Icak hilang sejak pagi hari itu. Mendengar
laporan dari Inaq roh, kadus pun ikut mencari dan membantu
mengumumkan di masjid besar agar bisa ditemukan segera.
Mendengar Nak Icak hilang warga langsung heboh. Semua warga
mencari di semua tempat, mencari ke sekolah, di pasar sampai, di
kuburan tetapi tetap tidak ada satupun orang yang tau tentang
keberadaan Nak Icak sama sekali.
174 | P a g e
Bagaimana kehilangan Nak Icak menjadi tidak biasa,
sebab ia sangat disayang dan di besarkan selama 10 tahun
kemudian tiba-tiba menghilang dari rumah. Amaq rohimin yang
masih marah tidak bisa mengucapkan apa-apa. Saat itu juga tiba-
tiba Inaq Roh ingat bahwa ada jimat yang dimiliki Nak Icak. 10
tahun yang lalu ia diberi jimat oleh neneknya, karna neneknya
merupakan orang yang mengerti dunia jin. Jimat itu dapat
mendatangkan keberuntungan, Inaq Roh spontan mencari di
lemari dia masih ingat tempat ia menaruhnya. Amaq Rohimin ikut
membantu mencari sampai akhirnya Inaq Roh menemukannya di
belakang lipatan baju yang tersimpan lama. Ia pun menemukan
jimat yang dicarai dan Inaq Roh membaca doa agar anaknya
segera ditemukan, tiba-tiba angin sangat kencang langsung
memunculkan Nak Icak di depan mata Amaq Rohimin dan Inaq
Roh. Spontan mereka berdua memeluk anak sulungnya yang
hilang itu. Suasana kini berubah menjadi bahagia dan wargapun
ikut bagagia dengan kembalinya Nak Icak . Setelah lama ditanya
ternyata Nak Icak disembunyikan oleh jin yang bernama Bodo
Lambek.
175 | P a g e
GOBAK SELODOR
Windi Anggraini Putri
Di sebuah desa yang bernama Mamben hiduplah seorang
anak yang bernama Merna. Ia memiliki badan yang gendut,
hidung yang mancung, bulu mata yang lentik dan warna kulitnya
yang sawo matang. Merna memiliki tiga orang sahabat yang
bernama Lisna, Hera dan Ririn.
Pada sore hari Merna sedang duduk di teras sambil
memainkan hp. Tiba-tiba Ririn datang sambil berteriak
memanggil namanya. "Merna…merna" ucapnya dan Merna pun
menoleh ke samping dan melihat Ririn yang sedang berjalan
untuk menghampirinya dan duduk di samping sambil berkata
"Merna, Lisna sama Hera kemana ya?" ucap Ririn sambil
melihat ke arah Merna.
"Aku nggak tau" ucapnya pelan.
"Apa jangan-jangan mereka pergi ke pantai gak. Kan
keluarga mereka sering berpergian" ucapnya Ririn menebak.
"Saya kurang tau sebab aku baru saja keluar dari rumah"
ucap Merna pelan pada Ririn yang sedang meraba kantong
celananya. Sebab penasaran, Merna pun bertanya pada Ririn
"Ririn, kamu kenapa sih kaya orang kebingungan gitu?.,
Ada apa?" ucap Merna pelan pada Ririn yang sedang meraba
kantong celananya.
"Aku sedang mencari hp ku" ucapnya sambil khawatir
"Mungkin ketinggalan di rumah. Tadi pas kamu ke sini
kamu gak bawa hp?" balas Merna sambil menenangkan Ririn.
"Ia, ya. Mungkin ketinggalan di rumah. Ya udah aku
pulang dulu. Ini juga udah mau magrib" ucapnya menjawab
ketenangan dirinya.
176 | P a g e
"Ya udah pulang aja. Semoga ketemu hp nya" ucap Mirna
sembari melepas senyum.
"Iya, makasih. Dadah" ucapnya lalu pulang.
Pada malam hari, setelah Merna shalat magrib ia pun
teringat akan hp Ririn yang hilang. Lalu ia mengambil hp untuk
coba menghubungi Ririn untuk bertanya padanya apakah hp nya
sudah ketemu atau belum. Lalu Merna membuka aplikasi WA dan
mencari kontak Ririn dan ia pun mengirim pesan padanya
"assalamualaikum" Ucap Merna. Jika ada balasannya
berarti HP Ririn sudah ketemu namun jika tidak ada balasan
berarti HP Ririn belum ditemukan ucap Merna dalam hati. Tak
lama setelah pesan dikirim ada jawaban dari Ririn
"Waalaikumsalam" balasnya.
“Alhamdulillah karena hp Ririn tidak hilang” balas Merna
dengan emoji senang.
Lalu ada notifikasi dari Ririn
“Merna buat grup WA yu sama Hera dan Lisna” pinta
Ririn
“Ya udah buat aja nanti tambahin aku kalau grupnya
sudah jadi” balas Merna singkat
“ya aku buat dulu”
Ke esokan paginya Merna bangun pagi karena ia akan lari
pagi. Sontak saja ia langsung mengambil sepatu yang berada di rak
sepatu lalu keluar rumah menunggu Ririn, Lisna, dan Hera.
Sembari menunggu mereka datang Merna memainkan hp dan tak
lama Ririn datang kemudian Hera dan disusul Lisna
"Ya udah ayo kita berangkat" ucap Lisna.
"Iya, ayok nanti keburu siang" balas Ririn.sambil lari dan
disusul sama yang lain. Selama perjalanan tak ada yang bicara
hanya ada suara kendaraan yang mereka dengar karena sudah
lelah kami pun memutuskan untuk pulang.
177 | P a g e
Tapi sebelum pulang Ririn bilang nanti akan main dan
kami hanya menganggukkan kepala pertanda setuju. Tak lama
setelah itu kami berkumpul di halaman rumah Ririn lalu
berdiskusi memainkan permainan apa. Tak lama Lisna berbicara
"Kita mau main apa nih?" tanya Ririn
"Bagaimana kalau kita main Gobak Selodor aja" ucap kami
pun menyetujuinya dan langsung membuat garis. Setelah garisnya
jadi kami pun bersuit untuk menentukan siapa yang akan main
duluan dan siapa yang berjaga. Merna bersuit Sama Hera Lisna
dengan Ririn setelah kami bersuit Merna dengan Hera yang
menang sedangkan Hera dengan Lisna kalah.setelah itu kami pun
memulai bermain.
Merna dan Lisna masih berada di garis pertama karena
kami belum bisa melewati garis itu, namun tiba-tiba Lisna mampu
menerobos garis pertama di saat Hera lengah ia tak membuang
kesempatan untuk langsung masuk ke garis yang selanjutnya.
Akan tetapi tak berselang lama Lisna tertangkap di garis yang
kedua oleh Ririn. Akhirnya kami pun kalah dan sekarang giliran
timnya Ririn yang akan bermain.
Terik matahari sangat menyengat dan keringat keluar
berhamburan dari tubuh kami. Pada akhirnya kami pun
memutuskan untuk berhenti bermain dan pulang. Dalam
perjalanan pulang Merna memiliki pirasat bahwa sesuatu akan
terjadi tapi entah nyata atau tidak.
"Habis dari mana saja. kenapa baru pulang?" ucap ibu
dengan suara yang tinggi.
“Habis main, Bu" ucapku lalu ibu berbicara padaku
"Main-main doang yang ada kamu itu sudah besar"
ucapnya dengan amarah
"ada pertandingan main Gobak Selodor dengan desa
sebelah yang diadakan lusa bu karena itulah aku bermain sambil
178 | P a g e
latihan agar menang ketika perlombaan nanti" ucap Merna sambil
menahan air mata yang ingin jatuh.
"Kamu udah besar, kenapa memainkan permainan anak
kecil. Sudah kamu gak usah ikut lomba itu lagi" balas ibu tanpa
Ingin dibantah.
Akhirnya Merna pun masuk kamar dan mengunci pintu
lalu aku membaringkan tubuhku dikasur sambil menangis karena
tidak dikasih ikut lomba. Seiring berjalannya waktu Merna pun
terlelap dan ketika ia bangun dari tidur. Ia berjalan ke arah kaca
melihat dirinya yang berantakan dan mata yang sembab karena
menangis sepanjang malam. Tak lama Merna pun keluar dan
menuju ke kamar mandi dan membasuh mukanya kemudian
keluar setelah itu.
Merna berjalan keluar rumah dan berpapasan dengan
ibunya. Namun ia hanya cuek dan menunjukkan muak padanya
namun ia bersikap seperti biasa seolah-olah tak terjadi apa-apa.
Keesokan harinya Merna pun berangkat ke sekolah dan melihat
uang di meja samping TV. Ia pun berjalan dan mengambil uang
jajan yang di taruh oleh ibu. Karena ia masih kesal sebab Merna
ingin mengikuti lomba bermain Gobak Selodor antar desa. Setelah
itu ia pun berangkat ke sekolah bersama Hera. Dalam perjalanan
tidak ada yang berbicara hanya ada keheningan dan suara
kendaraan yang berlalu lalang serta suara daun yang jatuh tertiup
angin. Kami sibuk melamun dan Merna melamun bagaimana cara
membujuk ibunya agar ia diberikan kesempatan untuk ikut lomba
itu.
Tak lama kami pun sampai di sekolah dan berpisah sebab
kelas berbeda. Setelah sampai di kelas Merna duduk dan
bergabung bersama yang lain, namun tak lama kemudian suara
mic pertanda bahwa pak guru sedang memberikan pengumuman
agar siswa pulang karena akan ada rapat guru. Akhirnya kami pun
179 | P a g e
pulang ke rumah masing-masing dalam perjalanan pulang terlintas
di benakku untuk membeli roti Roma Kelapa karena ibuku suka
sekali. Setelah itu Merna memutuskan meminta izin lagi ke ibunya
dan akhirnya ibu memberikannya izin untuk ikut lomba.
"Ini buat ibu agar ada cemilan nonton TV" ucap Merna
sambil tersenyum.
"Pasti ada maunya. tapi kalau mau diijinkan ikut lomba
gak akan ibu kasih" ucapnya dengan muka datar sambil terus
menatap TV.
"ayolah, Bu. Hanya sekali ini saja" ucap Merna sambil
memelas berharap agar diijinkan. Dan tak lama kemudian ia
diberikan ijin bermain. Merna bersyukur karena telah diberikan
ijin ia pun memeluk ibunya. Merna meminta ijin keluar untuk
menemui Lisna, Hera dan Ririn..Ibunya pun mengangguk dan
Merna melepaskan pelukannya kemudian pergi ke rumah Ririn.
Setelah sampai di rumah Ririn Merna memberitahu mereka dan
mereka sangat bahagia karena Merna ikut bermain dan mereka
pun membuat strategi agar bisa mengalahkan lawan. mereka
Mereka berkumpul di lapangan untuk melaksanakan
pertandingan setelah itu wasit menyuruh mereka untuk memasuki
area lapangan yang akan ditempati. Setelah itu wasit menyuruh
perwakilan dari masing-masing tim untuk maju satu orang untuk
melaksanakan suit dan di grupnya Merna yang mewakili untuk
maju.
Kami memulai bermain dan tim lawan sudah dua yang
suda bisa melawati garis dan mencetak gol jadi kami ketinggalan
skor, namun tak lama kemudian Ririn berhasil menangkap Riska.
Jadi giliran kami yang main dan mereka yang jaga. Hera dan Lisna
sudah melewati garis pertama dan pada akhirnya Lisna yang
mencetak gol jadinya dengan skor 2-1. Tak lama Merna dan Ririn
melewati garis pertama disusul oleh Lisna setelah itu Hera
180 | P a g e
mencetak gol lagi. Merna masih di garis kedua, tapi tak lama
kemudian ia melewati semua garis dan mencetak gol jadi skornya
2-3. Berhubung waktunya sudah habis dan akhirnya kami bisa
memenangkan lomba ini.
181 | P a g e
PELECING
Sarah Amalia
Pada suatu hari di sebuah desa kecil hiduplah dua saudara
perempuan yang bernama Maemunah dan Siti adalah anak sulung
dan ia sangat jahat tapi, meskipun begitu Maemunah sangat suka
berbagi dan sayang kepada adiknya yang baik dan penolong
namun pelupa. Maemunah tidak pernah mendengarkan ujaran
adiknya sehingga mereka berdua selalu berselisih. Maemunah dan
Siti merupakan keluarga yang sangat miskin. Mereka merasakan
kelaparan hampir setiap hari dan akan beruntung jika memiliki
sedikit singkong untuk dimakan.
Suatu hari, Siti sedang duduk di meja makannya sambil
memandang langit lewat jendela. Tiba tiba ia mendengar suara
misterius yang entah berasal darimana. Ia mulai menyadari suara
misterius itu berasal dari perut nya yang tak berisi.
“haha! Ternayata itu suara dari perutku. Mungkin karna
aku belum makan selama berhari-hari dan sekarang tidak ada
makanan untuk di makan. Mungkin jika aku jalan -jalan aku akan
lupa betapa laparnya aku” ucap Siti sembari tertawa seorang diri.
Ia pun pergi menuju sawah untuk berjalan-jalan dan tidak
membawa apa-apa selain satu botol air minum. Ia terus berjalan
dan segera berhenti ketika ia merasa kelelahan.
“oh!. Aku merasa sangat lelah, mungkin sebaiknya aku
harus minum” ucap Siti pelan dan tiba -tiba anak burung terjatuh
dari atas pohon tepat di depan Siti. Ia terkejut dan langsung
mengambil anak burung tersebut.
“oh!, Anak burung yang malang. Kenapa kau bisa jatuh”
ujar Siti seorang diri.
Siti pun menengadah ke atas pohon dan dia melihat ada
sarang burung. Untung saja sarang burung yang ada di pohon itu
tidak terlalu tinggi dan Siti mencoba menaruh anak burung
tersebut ke sarangnya. Kini, Siti melanjutkan perjalanannya dan
kembali beristirahat di bawah pohon yang rindang. Ketika sedang
beristirahat dan minum air. Ia terkejut karna tiba-tiba seorang
182 | P a g e
nenek tua muncul di depanya dengan menggunakan jubah
berwarna putih dan tampak sangat menyeramkan. Wajah yang
hitam, dekil dan seluruh pakaiannya dipenuhi dengan lumpur
sehingga Siti merasa ketakutan.
“ehek…ehek. Nak, maukah kau memberikanku air? aku
sangat haus” pinta sang Nenek tua yang batuk parah. Meskipun ia
tampak menyeramkan, Siti merasa kasihan kepadanya dan ia pun
memberi air yang dibawa.
“oh tentu saja!. Ini, minumlah sebanyak yang kau mau.
Aku harap kau akan cukup dengan itu” ujar Siti sambil
menyodorkan air putih dalam kendi.
“oh!. Kau baik baik sekali. terima kasih banyak anakku.
Biarkan aku membayar kebaikanmu ini” balas Nenek dengan baju
putih itu. Dalam ledakan cahaya, tiba- tiba nenek tua itu merubah
dirinya menjadi wanita cantik. Siti pun kagum dengan apa yang
dilihat.
“wow!!. Nenek cantik sekali” pukau Siti yang masih
terpana dengan kecantikan sang nenek.
“karna kau telah menolongku ketika aku terjatuh dari atas
pohon dan memberikanku air” balas nenek tua yang kini menjadi
perempuan yang sangat cantik.
“jadi itu kau?” tebak Siti sambil menggaruk kepalanya.
“iya. Itu aku dan sekarang apa yang kau inginkan akan aku
berikan padamu tidak peduli apapun itu” pinta sang gadis cantik
di depan Siti. Sitipun menceritakan segalanya dan betapa miskinya
mereka dan bagaimana mereka harus tetap kelaparan berhari-hari.
“hmm…aku mengerti. Ketika pulang ke rumah kau akan
menemui cobek yang tergeletak di atas meja dan itu adalah
cobek Ajaib” ucap gadis cantik itu.
“cobek ajaib?. Serius?” tukas Siti penasaran
“ya, cobek ajaib. Kau terus berkata "buat, cobek kecil,
buat" dan cobek akan membuat pelecing sebanyak yang kau mau.
Dengan cara kau dan kakakmu si Maemunah tak akan merasa
kelaparan lagi. ketika kau selesai makan dengan puas maka
ucapkanlah.
183 | P a g e
"Berhenti, cobek kecil, berhenti. Maka cobek kecil selesai
membuat pelecing” jelas gadis cantik yang berada di depan Siti.
“waoooww…luar biasa sekali. Kalau begitu aku akan
segera pulang” ungkap Siti sambil menyegerakan langkahnya
menuju rumah.
“tunggu. sebelum kau pergi, aku harus memberi taumu
satu hal yang terakhir”.
“hal apa itu?”
“untuk memiliki cobek kecil ini selamanya kau harus
merawatnya. kalau kau tidak melakukannya, apapun yang tidak
pantas kau dapatkan maka kau akan mendapatkannya. Dan kalian
berdua akan merasa kelaparan lagi. ingat kata-kata ini atau kalian
berdua akan mendapatkan banyak masalah” ujar gadis cantik ini
mengingatkan Siti apa yang harus diingat yang menjadi pantangan
menerima cobek ajaib.
“oh baiklah, terima kasih penyihir yang baik hati. aku akan
segera pulang dan akan menjaga apa yang engkau pinta dariku
tadi” balas Siti meyakinkan.
“Makan yang enak Siti…hehehe” jawabnya sambil tawa
kecil
“tunggu dulu. Bagaimana kau bisa mengetahui namaku?”
tanya Siti penasaran, namun sang penyihir telah hilang dan tidak
kembali lagi.
Siti segera kembali ke rumah dan menemukan cobek di
atas meja seperti apa yang dikatakan sang penyihir itu. Maemunah
berdiri di dekat meja dan menatap cobek itu.
“Siti. Apakah kau membawa cobek ini ke rumah?” tanya
Maemunah penasaran.
“ya. Apakah aku luar biasa?” ledek Siti
“Luar biasa?. Namun yang luar biasa adalah ketika kau
menemukan cara untuk memasukkan makanan ke dalam cobek
itu untuk dimakan” pungkas Maemunah sambil mengacuhkan
Siti.
“Maemunah, kau akan sangat merasa senang jika kau
mengetahui bahwa itu adalah cobek ajib yang akan memberikan
184 | P a g e
kita makanan untuk selamanya” jelas Siti yang sontak mengusik
konsentrasi Maemunah.
“kasihan sekali adikku yang malang ini. Karna kita tidak
memiliki makanan, aku menyadari perut kita yang mulai
menyusut. Tapi, sebenarnya otakmu juga sudah mulai menyusut
lebih kecil lagi” olok Maemunah dengan tingkah aneh adiknya.
“hahaha…aku akan buktikan padamu. Siti memandang
cobek itu dan berkata "buat, cobek kecil, buat" dan setelah Siti
mengahiri manteranya, cobek mulai membuat pelecing yang lezat
. Maemunah yang melihat hal itu sangat kagum dengan adiknya.
Kini mereka berdua memandang cobek itu dengan wajah
gembira. Dalam sekejap pelecing selesai dan aromanya yang lezat
memenuhi ruangan dan membuat kedua gadis itu lebih lapar dari
sebelumnya.
Sebelum mereka berdua sebelum mencicipinya
Maemunah mengambil piring ke dapur dan Siti menghentikan
cobek itu membuat pelecing yang berkata "Berhenti, cobek kecil,
berhenti" dan cobek itu selesai membuat pelecing. Setelah selesai
membuat, Maemunah datang dengan piring dan garpu di kedua
tangannnya.
Mereka berdua mencicipinya dan itu adalah pelecing
terlezat yang pernah mereka makan. Dengan cara ini kau mereka
makan sesuka hati dan tidak pernah kelaparan lagi. Mereka tidak
pernah merasa bosan karna rasanya yang sangat lezat. Tetapi
suatu hari, Siti memutuskan untuk pergi ke luar.
“aku harus ingat untuk memberi tau Maemunah mantra
untuk menghentikan cobek membuat pelecing sebelum aku pergi.
“ada apa Siti? mengapa kau menatapku seperti itu?” ucap
Maemunah dengan raut wajah penasaran.
“ya, ada sesuatu penting yang harus ku katakan
kepadamu” pinta Siti.
“sesuatu yang penting? Hahah! hal penting apa yang bisa
kau ceritakan?” tanya Maemunah gelagak tawa.
“kau ini bena-benar jahat!. Baiklah, aku tidak akan
memberi tau mu apa – apa” pungkas Siti kesal.
185 | P a g e
“aku yakin kau lupa dengan apa yang ingin kau
sampaikan”
“a a aku tidak lupa. Aku pergi dulu. Tapi, ketika ia pergi
dan berada di depan pintu ia mengingat mantranya kembali.
“oh!. Aku ingat sekarang, ya. Itu tidak akan jadi masalah
karna dia sudah sarapan di pagi hari ini dan aku yakin dia tidak
akan merasa kelaparan lagi. Tetapi, setelah beberapa saat
Maemunah mulai merasa lapar.
“hmmm, aku ingin makan pelecing yang lezat itu. Tapi, Siti
tidak ada di di sini. Jadi, aku aku akan memakan semuanya untuk
diriku sendiri” ucap Maemunah dalam hati.
Ia kemudian pergi menuju cobek dan menepuk tangan
dengan gembira sambil melantunkan mantranya " Buat , cobek
kecil , buat" dan detik berikutnya cobek mulai membuat pelecing
yang lezat dan sangat di sukai oleh Maemunah dan ia
menciumnya dengan rakus.
“wow!. Pelecing ini enak sekali. Dan aku merasa kenyang
sekarang. Oh! aku lebih baik memberhentikan cobek ini untuk
membuat pelecing. Hmm, tapi, apa mantranya? oh! "Berhenti,
membuat, cobek "tapi, itu bukan kata-kata yang tepat dan Siti
tidak pernah memberi tauku mantra untuk menghentikan cobek
membuat pelecing. Oh tidak! Apa yang harus aku lakukan a a.a
cukup tidak ada pelecing lagi dan hentikan pelecing konyol mu
itu” teriak Maemunah yang bingung dengan banyaknya pelecing
yang dibuat oleh cobek Ajaib itu.
Tidak peduli apa yang ia katakan dan cobek tersebut terus
membuat pelecing yang lezat dan lebih banyak lagi. Maemunah
yang malang terus berteriak ke cobek itu tatapi, tidak ada yang
berhasil. Setelah beberapa saat Siti kembali ke rumah.
“aku yakin tidak ada hal buruk yang terjadi. Lagi pula, apa
salahnya melupakan mantra konyol itu?. Hmmm? apa yang
keluar dari bawah pintu itu? aku seperti mencium bau pelecing”
ucap Siti yang melihat melalui jendela belakang dan mengintip apa
yang sedang terjadi di dalam rumah. Kini seluruh rumah dipenuhi
dengan pelecing yang lezat. Peralatan dapur dan kursi dipenuhi
186 | P a g e
dengan pelecing dan Maemunah kini tenggelam ke dalam
gelombang tumpukan pelecing.
“oh..Ini sebuah bencana dan di mana Maemunah?” saat
itulah Siti melihat Maemunah yang malang berdiri di atas meja
yang perlahan - lahan tenggelam ke dalam pelecing yang terus
keluar dari cobek ajaib itu.
“oh, apa yang harus aku lakukan dan mengapa Siti belum
juga pulang?” teriaknya sambil tak tahan dengan aroma pelecing
yang menggurita.
“Maemunah! Maemunah! aku di sini dan apa yang sedang
terjadi?” teriak Siti kepada Maemunah.
“oh adikku yang manis. tolong katakan mantra sihir dan
hentikan cobek mengerikan ini dari membuat pelecing lebih
banyak lagi” pinta Maemunah dengan serius kepada Siti.
"Berhenti , cobek kecil , berhenti" ucap Siti yang
membuat cobek itu berhenti membuat pelecing.
“syukurlah sudah berhenti. Tapi, rumah ini sangat
berantakan. Maaf karna aku lupa memberi taumu mantra untuk
menghentikan cobek membuat pelecing. Ini semua adalah salahku”
ucap Siti ringkas.
“tidak, aku juga harus disalahkan dan aku juga seharusnya
bertanya dan mendengarkan apa yang akan kau katakan hari ini.
Maaf karna aku terlalu sombong dan jahat kepadamu” sambut
Maemunah yang merasa bersalah dengan sikapnya yang tak
pernah merasa puas.
“tapi, apa yang akan kita lakukan sekarang?. Rumah kita
penuh dengan pelecing dan membersihkannya akan memakan
waktu berhari – hari” ucap Siti yang melihat rumah mereka penuh
dengan pelecing.
Maemunah dan Siti berpikir sejenak dan akhirnya mereka
menemukan ide.
“ada begitu banyak orang miskin di desa ini. mengapa
tidak berbagi pelecing saja ke mereka?” ucap Maemunah yang
segera memberitahu Siti.
187 | P a g e
“oh ya. Aku yakin ada banyak orang yang juga kelaparan
dan pasti mereka akan merasa senang Ketika kita kasih mereka
pelecing yang lezat ini” balas Siti dengan sumringah. Siti akhirnya
pergi untuk memberi tau semua orang miskin yang ada di dekat
rumahnya untuk datang makan pelecing.
“hai semuanya kami memiliki pelecing lezat untuk kalian
makan. Aku yakin kalian semua pasti akan menyukainya. Bawa
piring dan garpu kalian lalu datanglah untuk makan” ucap Siti
memberitahu warganya yang miskin. Kini semua orang dengan
mata yang terbuka dan senyum cerah. Maemunah mengisi piring
di dalam menuangkan pelecing dengan penuh semangat kepada
semua orang yang datang.
“terima kasih Maemunah dan Siti. Kami belum makan
selama beberapa hari dan kami sangat berterima kasih kepada
kalian berdua” ucap salah seorang warga.
Setelah beberapa jam berlalu, rumah itu kosong dan tidak
ada lagi pelecing. Maemunah telah keluar dan berdiri dan berdiri di
samping Siti. Melihat semua wajah orang - orang yang bahagia
dan senyum cerah, Maemunah dan Siti sangat bahagia.
“rasanya akan lebih jika kita memperhatikan mereka dan
memberi mereka pelecing yang lezat itu” ucap Siti.
“ya, kita sudah memiliki begitu banyak pelecing untuk
dimakan selama beberapa hari. Tetapi, kita tidak pernah
membagikannya sama sekali” balas Maemunah dengan penuh
sesal.
“mari berbagi pelecing kepada orang miskin dan yang
membutuhkan dan mari kita beri mereka makan agar tidak
kelaparan lagi” pinta Siti kepada kakaknya.
Setiap hari mereka pergi jalan-jalan ke rumah semua orang
miskin dan memberi mereka makan pelecing yang lezat. Ini
berlangsung lama dan pada suatu hari seseorang anak kecil
mendatangi mereka. Dia mengenakan pakaian robek dan kotor.
“kakak-kakak yang baik hati. maukah kau berbaik hati
untuk menawarkan cobek yang membuat pelecing ini. Aku datang
jauh dan ibuku sedang sakit. Aku tidak punya apa-apa dan boleh
188 | P a g e
kah aku membawanya” pinta anak lelaki yang beridiri tepat di
depan rumah SIti.
Siti menyenggol Maemunah dengan tangannnya dan lalu
berkata “apa yang akan kita lakukan Maemunah? kalau ia
mengambil cobek kita, maka kita akan kelaparan lagi”.
“tidak apa-apa lagian pula kita kita juga sudah makan
dengan puas dan akan jadi buruk bagi ibumu kalau ia tidak makan
sama sekali”.
Jadi, Maemunah mengambil cobek itu ke dalam lalu
memberikannnya kepada anak kecil itu sambil berkata
“adek bisa mengambil cobek ajaib ini untuk ibumu dan
berikan ia makan yang enak. Semoga ibumu akan jadi lebih baik
ketika sudah selesai makan” ucap Maemunah menenangkan anak
lelaki itu.
“terima kasih kakak-kakak yang cantik dan baik hati” ucap
lelaki lusuh itu. Dan segera anak kecil itu berubah menjadi
penyihir wanita cantik yang pernah ditemui oleh Siti.
“oh! Penyihir pelecing” jawab Siti pelan
“aku sangat terkesan dengan kalian berdua. Kalian telah
belajar untuk saling peduli dan juga telah membantu orang
muskin di desa ini”.
“apakah itu berarti?”
“ya. Itu artinya kau bisa menyimpan cobek ajaib ini dan
kalian berdua pantas” ucap Nenek Sihir.
“yay. Kita makan pelecing lezat setiap hari” teriak Siti
kegirangan. Dan bahkan setelah itu mereka terus memberi makan
orang miskin yang lapar. Mereka berdua merasa sangat bahagia
ketika melihat senyum yang ada di wajah orang-orang miskin
tersebut keluar dengan tulus.
189 | P a g e