khasnya dan menautkan tangannya dengan tangan Ari. Kalau
begitu,saya permisi mari ucap Romi melangkah keluar dari
ruangan. Ari dan Roni saling tatap. Ari memberikan kode kepada
sahabatnya agar ikut bersama kembarannya.
Romi dan Roni sedang berada ditaman yang tak jauh dari
kantor polisi. Mereka duduk di salah satu kursi yang disediakan di
taman itu. "Apakah kamu sudah mengabari ibu?” Tanya Roni
kepada Romi dengan ragu. Romi tersenyum kearah adeknya
"sudah kemarin, mungkin nanti siang nyampe" balasnya singkat.
“Oh oke, kalau Mamiq sudah kamu kabarin?” ucap Roni lagi
sambil menampilkan raut wajah yang serius.
"Kalau Mamiq belum, karena aku belum terlalu dekat
dengan Mamiq. Walaupun bapak kandung sendiri. Aku merasa
malu untuk memberikan informasi itu, karena baru juga ketemu
sudah menyusahkan " papar Romi dengan raut wajah berbeda.
"Tidak perlu malu, itu adalah tanggung jawabnya sebagai
orang tua. Sebaiknya kamu kasih kabar saja daripada beliau
mendapatkan kabar ini dari orang lain. Tenang jangan panik,
semisalnya Mamiq marah aku akan selalu di sampingmu dan kita
jelaskan secara baik-baik semuanya" balas Roni meyakinkan Romi
sambil menepuk pundaknya.
"Baiklah kalau begitu aku akan memberitahu mamiq
masalah ini" balas Romi sambil mengeluarkan ponsel dari saku
celananya. Roni hanya diam memperhatikan Romi yang sedang
mengotak-atik ponsel miliknya. Setelah beberapa saat telepon itu
berdering, akhirnya orang yang ditelpon mengangkat telpon.
"Assalamualaikum, Miq " sapa Romi
"Waalaikumsalam, kenapa Nak" Romi melirik ke arah
adiknya yang sedang duduk untuk meminta persetujuan. Roni
Pun mengangguk dan tersenyum. "Kok diam aja Rom? "Tanya
Mamiq-nya pelan.
"Emm…Jadi gini Miq. Kemarin, aku menabrak seseorang
dan orang itu meninggal dunia. Jadi pihak polisi meminta Mamiq
untuk datang ke kantor polisi besok pagi. Maaf, menyusahkan
Mamiq lagi" ucap Romi dengan suara terbata-bata. Mamiq Jaya
91 | P a g e
menghela nafas "tidak apa-apa Nak. Itu adalah musibah. Tetapi
kamu tidak apa-apa kan?" tanya Mamiq Jaya dengan nada
khawatir.
"Alhamdulillah tidak apa-apa, Miq" jawab Romi.
“Alhamdulillah, ya sudah malam ini kamu tidur di rumah. Kita
berangkat ke kantor polisi bersama-sama besok. Kamu juga bisa
bertemu dengan adikmu” ucap Mamiq Jaya singkat.
"Tidak usah repot-repot, Miq. Malam ini aku tetap tidur
dikontrakkan, lagipula nanti siang Inaq sampai di Lombok.
Lagipula aku sudah bertemu dengan adikku tadi di kantor polisi,
sebab orang tua korban adalah sahabat Roni" balas Romi
seadanya. Selama tinggal di Lombok, Romi berteduh di sebuah
rumah kontrakan yang dibelikan oleh Mamiq Jaya. Mamiq Jaya
sangat terkejut kala Romi berkata korbannya ada sahabat dari
Putranya. "Sahabat Roni? Ari? atau Adit?" Tanya Mamiq Jaya
mewanti-wanti. “Adit, Miq” jawab jawab Romi polos.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun”. Ya udah kalau seperti itu
besok kita pergi ke kantor polisi untuk menyelesaikan kasus ini.
Jangan lupa telepon Mamiq jika kamu sudah siap berangkat.”
Assalamualaikum” ucap Mamiq Jaya lalu mematikan panggilan itu.
Pikiran Mamiq Jaya bercabang kemana-mana. Beliau
memikirkan bagaimana keadaan orang tua Adit sekarang. Pasti
keduanya tidak akan terima atas apa yang telah diperbuat Romi.
Hatinya gelisah, dia bingung akan berbuat apa esok. Di satu sisi
beliau memikirkan Amaq Sanip dan Inaq Odah sangat baik
kepadanya dan Roni. Di sisi lain, beliau punya tanggung jawab
untuk membantu putranya agar tidak mendekang di penjara
selamanya. “Aargh!” keluah Mamiq Jaya menggeram frustasi.
Langit biru berganti menjadi hitam, cahaya matahari
digantikan oleh cahaya bulan dan bintang. Di kediaman Amaq
Sanip, kedua pasang suami istri itu sedang berbicara serius di
depan TV yang masih menyala. Mereka sedang membicarakan
perihal kasus tabrak lari yang dialami putranya. Amaq Sanip
memberikan usul kepada istrinya kalau kasus itu tidak
diperpanjang, lagi pula pelakunya sudah mengakui kesalahannya
92 | P a g e
dan itu semua murni ketidaksengajaan. Inaq Odah awalnya ragu
untuk menyetujuinya. Tetapi semakin panjang pembicaraan
mereka, hati Inaq Odah luluh oleh perkataan-perkataan yang
diucapkan suaminya. Setelah lama berbincang, Amaq Sanip
menelpon Oni guna untuk membahas tentang persidangan besok.
"Assalamualaikum Nak" ucap Amaq Sanip
"Waalaikumsalam Amaq Kake?" jawab Oni menaruh
ponsel genggamnya di seberang tumpukan berkas-berkas penting.
Sebelum berbicara Amaq Sanip melirik istrinya yang sedang
duduk di sebelahnya. "Jadi gini Nak Oni, Amaq Kake mau
membahas perihal sidang besok. Sebaiknya sidang itu ditiadakan.
Kita selesaikan saja kasus ini" ucap Amaq Sanip sambil
mengusap-usap punggung tangan istrinya. Oni curiga setelah
mendengar perkataan Amaq Sanip. Dia memberhentikan sejeNak
menulis berita acara "apakah ada yang mengancam Amaq Kake
sehingga mengatakan hal seperti ini?" Tanya Oni dengan nada
yang mengintimidasi.
"Tidak, Nak. Ini semua murni kemauan saya dan istri.
Tidak ada unsur paksaan atau apapun itu dari pihak lain" jawab
Amaq Sanip serius. Oni terkagum sejeNak.
"Baiklah kalau begitu mau Amaq Kake. Sidang tetap
berjalan. Hukum tetaplah hukum. Jadi besok semua keluarga baik
dari pihak korban maupun pelaku tetap berkumpul, tetapi tidak di
ruang sidang melainkan ruangan yang tadi pagi. Sesuai permintaan
Amak Kake kasus ini akan diselesaikan dengan kekeluargaan"
putus Oni sambil melanjutkan menulisnya.
“Alhamdulillah. Terima kasih banyak, Nak. Kalau begitu
Amaq Kake tutup telponnya, ya. Assalamualaikum” balas Amaq
Sanip pelan.
"Sebenarnya aku belum sepenuhnya ikhlas atas apa yang
dilakukan Romi" ucap Inaq Odah tiba-tiba. Amaq Sanip langsung
menoleh ke istrinya dan mengatakan "Romi tidak salah. Ini semua
takdir Allah kita harus menerimanya dengan ikhlas" jawab Amaq
Sanip tenang walaupun sebenarnya hatinya belum menerima
sepenuhnya takdir yang menimpa putranya, tapi mau bagaimana
93 | P a g e
lagi. Semua sudah terjadi. Inaq Odah membenarkan perkataan
suaminya. Dia akan berusaha berdamai dengan keadaan walaupun
itu sangat susah. Beliau hanya mengangguk sebagai jawaban apa
yang telah dikatakan suaminya.
Malam berganti pagi Romi dan keluarganya sudah berada
di kantor polisi. "Inaq, Mamiq, sekali lagi Romi minta maaf karena
merepotkan kalian berdua dalam kasus ini" ucap Romi sekali lagi
saat mereka berada kantor polisi. Saat baru memasuki kantor
polisi, Amaq Sanip dan Inaq sudah menunggu di kursi Lorong
menuju ruang kumpul mereka. Amaq Sanip melambaikan tangan
ke Mamiq Jaya kemudian menghampirinya. Mereka bersalaman
lalu berbincang ringan dan ucapan maaf atas apa yang dilakukan
Romi terhadap Adit.
Mereka semua dipanggil Oni untuk memasuki ruangan.
Mamiq Jaya menyeringit bingung. Mengapa mereka dikumpulkan
diruangan ini? Kenapa tidak diruang sidang?
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat
pagi bapak ibu semua” sapa Oni.
"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada semua
yang berada di sini atas waktu yang luangkan bapak ibu.
Seharusnya pagi ini kita sudah berada di ruang sidang untuk
menentukan hukuman apa yang pantas untuk pelaku sesuai
dengan Pasal Undang-Undang Dasar. Tetapi sesuai dengan
permintaan keluarga korban, kasus ini tidak diperpanjang. Hanya
saja kami dari pihak polisi akan memberikan sangsi peringatan
kepada pelaku atas nama "Romi Sanjaya". Pihak polisi sudah
memutuskan untuk memberi hukuman yaitu: Romi akan tidur
disel tahanan selama dua hari; Pihak keluarga dari Romi Sanjaya
bersedia membayar biaya rumah sakit, dan segala pengeluaran
yang dikeluarkan saat pengobatan sampai pemakaman korban.
Diharapkan tidak ada protes baik dari keluarga korban dan
keluarga pelaku. Karena hukum tetaplah hukum. Dengan
pernyataan di atas kasus ini resmi ditutup!! " ucap Oni dengan
nada yang berwibawa.
94 | P a g e
Kedua keluarga yang berada didalam ruangan itu
tercengang setelah Oni mengatakan hal tersebut, terlebih-lebih
keluarga dari mamiq Jaya. Pernyataan yang dijabarkan Oni tak ada
sama sekali di beNak mereka. Bagi Mamiq Jaya bahwa Amaq
Sanip akan menuntut. Beliau akan meminta pertanggungjawaban
sesuai atas apa yang telah diperbuat putranya. Tetapi apa yang
dipikirkan benar-benar tidak terjadi.
Amaq Sanip tersenyum lalu berkata "Hahaha….kamu
sangat lucu aNak muda. Orang diluaran sana akan sangat senang
jika hukuman yang diberikan ringan. Tetapi kamu malah
sebaliknya. Ini semua memang kemauan saya dan istri tidak ada
negosiasi, unsur paksaan atau lain sebagainya. Ini murni kemauan
kami” jelas Amaq Sanip.
"Masya allah. baik sekali orang ini" ucap Inaq Santi dalam
hati. Romi menghampiri Inaq Odah dan Amaq Sanip lalu dengan
berjongkok "terima kasih banyak Inaq Kake, Amaq Kake" dengan
nada terharu sembil menangis di pangkuan Amaq Sanip.
Amaq Sanip mengurai pelukan itu lalu berkata "sudah-
sudah jangan menangis, kamu itu laki-laki harus kuat jangan
cengeng seperti ini" gurau Amaq Sanip sambil menepuk-nepuk
pundak Romi.
Setelah sekian lama diam, Inaq Santi akhirnya membuka
suara "untuk orang tua korban saya ucapkan banyak banyak
terima kasih atas keringanan yang diberikan kepada putra saya
dan saya akan menunaikan permintaan dari Inaq Odah dan Amaq
Sanip mengenai ganti rugi pengobatan dan pemakaman Adit".
“Mari kita temui pihak polisi untuk menjalani prosedur
yang berjalan” ucap Inaq Santi. Kini, Romi menjalankan
hukumannya dan Mamiq Jaya selaku ayah dari Romi menuntaskan
hukuman yang kedua.
Kini, satu bulan berlalu. Amaq Sanip dan Inaq Odah
sudah menjalani kehidupannya seperti biasa, tetapi dengan sedikit
rasa kesepian dan kesunyian. Sosok Aditiya tidak akan mudah
dilupakan oleh orang yang pernah singgah dihidupnya. Amaq
Sanip tetap menjalankan usaha ciloknya. Tetapi beliau sudah tidak
95 | P a g e
berjualan keliling. Sekarang ia menjual cilok-cilok buatannya itu di
sebuah toko yang lumayan besar yang berada di depan gang
rumahnya. Toko itu diberikan oleh Mamiq Jaya sebagai tanda
terima kasih dan ucapan maaf. Romi dan Inaq Santi pun kini
sudah kembali ke Dompu. Romi dan Roni memutuskan untuk
bertukar tempat tinggal kala mereka libur sekolah. Mereka semua
menjalani kehidupannya masing-masing seperti biasa, tanpa sosok
Aditiya yang selalu ceria, dan ramah kepada siapapun.
96 | P a g e
PETAK UMPET
Rizkia Febriani
Pada suatu hari di kampung Jorong Daya ada seorang
aNak Nakal bernama Aeng sedang ingin bermain petak umpet.
Dia berumur 7 tahun. Dia mempunyai dua teman bernama
Ardian dan Syarwi mereka berumur sama dengan Aeng. Ardian
aNak yang Nakal sedangkan Syarwi tipe aNak pendiam.
Pada siang hari, Aeng mengajak teman-temannya untuk
bermain petak umpet denganya. Mereka pun bermain di
rumahnya Aeng. Setelah lama bermain mereka kelaparan lalu
meminta di bikininkan makan oleh kakaknya Aeng.
Setelah itu kakaknya membuat nasi goreng untuk mereka
dan tidak lama setelah itu mereka pun pulang ke rumah masing-
masing untuk mandi karena sudah sore dan mereka harus pergi
mengaji di surau. Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tapi
mereka berdua bilang gak usah dan lebih bagusnya main Betak
Umpet.
Syarwi berkata "yuk kita main petak umpet lagi"
"ayok kita bermain. Tapi di mana?” ucapanya. Ardian
sepontan menjawab "Di rumahnya Kaka Erna aja kita maunya”
Aeng dan Syarwi pun setuju. Tanpa pikir Panjang mereka
langsung pergi ke rumah Erna untuk bermain petak umpet lagi.
Tapi mereka masih berdua "di rumah Erna, Aeng dan Ardian.
"tapi Aeng kita tidak seperti yang kemarin cara kita
bermain” ucap Ardian
"Terus gimana dong?” balas Aeng singkat.
"kita mau ngerjain Syarwi” bisik Ardian
"jangan deh. kasian dia aNak baik” bela Aeng
"gak papa dah sekali" celetuk Ardian singkat…hehe.
Kini, Petak umpet adalah sejenis permainan cari dan
sembunyi yang bisa dimainkan oleh minimal 2 orang yang
umumnya dilakukan di luar ruang. Tidak mudah menyerah dalam
bermain.
97 | P a g e
Beberapa menit kemudian Aeng dan Ardian pun
memanggil Syarwi untuk bermain petak umpet lagi dan Syarwi
keluar dari rumahnya.
“Syarwi ayok kita bermain petak umpet”
”ayok mau bermain di mana?” balas Syarwi polos
“dirumahnya kakakku, ayok”
“ooo ya udah. Ayok, eh Ardianya mana kok nggak ikut”
tanya Syarwi serius.
”Ardian sudah ada di rumahnya kakakku” jelas Aeng
meyakinkna Syarwi. Setelah itu mereka pun pergi ke rumah kaka
Aeng.
“Assalamualaikum, Ardian ayok kita bermain petak
umpet” panggil Aeng
“ayok kita bermain petak umpet”
“Ayok kita suit dulu siapa yang kalah dia yang jaga” dan
ketiga mereka pun setuju. Kemudian mereka suit dan Syarwi yang
kalah.
Aeng dan Ardian membuat rencana untuk ngerjain
Syarwi. Saat Syarwi menjaga benteng Aeng dan Ardian
bersembunyi jauh. Syarwipun menghitung 12345678 lalu mencari
Aeng dan Ardian. Beberapa menit kumudian Syarwi tidak
menemukan mereka lantas Syarwi menyerah memanggil kedua
sahabatanya itu. Aeng dan Ardian pun akhirnya keluar dari
tempat persembunyiannya. Setelah mereka capek bermain Aeng
mengajak teman-temannya untuk mandi di Kokok Mbuk “Syarwi,
Ardi yuk kita mandik di Kokok Mbuk soalnya gerah banget” Ucap
Aeng sambil menggaruk badannya.
”ayukkkk…” balas Syarwi dan Ardian.
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di Kokok
Mbuk. Mereka bertingga langsung mandi dan bermain di air yang
keruh dan saling lempar air. Melihat tingkah mereka yang rebut
Pak Mahrip marah mengejar mereka. Mereka lari tunggal
langgang sampai ke kubur Songgen. Saat mereka masuk kubur itu
ada banyak anjing dan mereka pun dikejar sampai akhirnya pak
Mahrip menyerah untuk mengejar mereka.
98 | P a g e
Tapi anjing kubur itu terus saja mengejar mereka sampai
keluar dari kubur dan tanpa sadar mereka terjatuh ke parit sawah.
Setelah itu mereka pulang ke rumah dan menceritakan hal serupa
kepada Inaq Aeng.
"itu akibat kamu mandi di telabah. Makanya jangan mandik
di sana lagi” tegas Inaq Aeng.
"nanti kita mandi lagi seru juga rasanya ketika kita dikejar
anjing dari kubur tadi” ucap Aeng
"ya sih, seru juga…hehe” mereka tertawa sambil saling
memandang.
Keesokan harinya Aeng pun mengajak Ardi dan syrawi
untuk bermain petak umpet lagi, Aeng berkata."Teman-teman
yuk kita main petak umpet lagi”
",nggak ah. bosen main itu-itu melulu” balas Ardian
"ya dari kemarin main itu-itu aja kita” tegas Syarwi.
"Hmmm, ya udah. Terus kita main apa lagi nih?” tanya
Aeng serius
"Gimana kita Jaja aja? Ujar Syarwi
"aku nggak Bawak uang”
"Kalo gitu kita bermain di heler depan jalan itu yuk”
Beberapa menit kemudian datanglah seorang Papuq yang
bernama Papuq Ida mengajak mereka ke kebun untuk memetik
kelapa.
"kalian mau ikut gak? Ucap Papuq Ida merayu
"kemana, Puq?
"pergi ke kebon” jawabnya singkat.
"kita mau ngapain di kebon, puq?” Jawab Ardian
penasaran.
"kita petik buah kenyamen”
"maaf, aku nggak ikut ah”
"kenapa, Yan?
"ntar aku dimarahi sama Inaq ku”
"ya udah kalau gitu kita pergi dulu sampai ketemu besok
ya” jawab Aeng
99 | P a g e
"oke” balas Ardian sambil pergi meninggalkan Papuq Ida
dan Aeng juga Syarwi.
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di kebon.
Aeng melihat pisang yang matang ia ingin mengambilnya tetapi
dimarahin sama Papuq Ida karna itu bukan pisang miliknya. Papuk
Ida pun mengajak mereka memetik kelapa kemudian meminum
air kelapa dan memakan isinya. Ketika sore datang Setelah, Papuq
Ida mengajak mereka pulang. Di tengah perjalanan Syarwi melihat
seekor monyet yang sedang memakan pisang milik orang. Syarwi
pun mengadu ke Papuk Ida.
"Papuq Ida lihat monyet itu memakan pisang orang” ucap
Syarwi penasaran
"di mana?” ucap Papuq Ida sambil melihat arah telunjuk
Syarwi.
"di sana, Puq”
"oh iya. Di sebelah timur itu, Puq Ida”
"ya udah. Kalian tunggu di sini. Papuq akan mengejarnya
dulu”. Mereka pun menunggu Papuk Ida cukup lama dan Ketika
malam sudah tampak mereka pulang ke rumah masing masing.
100 | P a g e
MEREGOT KEPENG
Baiq Hidayatul Aeni
Pada suatu hari di sebuah desa hiduplah seorang gadis
bernama Sulastri ia tinggal bersama ibunya sedangkan ayahnya
sudah meninggal sedari ia kecil. Setiap ada kegiatan Meregot Kepeng
Sulastri sangat gembira sebab tradisi ini merupakan tradisi turun
temurun yang dilakukan oleh masyarakat Wanasaba yang diadakan
sebagai acara penutup dari acara Molang Malik/Ngurisang.
Di suatu pagi Sulastri mengetahui kalau tetangganya akan
melakukan tradisi Meregot Kepeng,Sulastri merasa gembira ia
langsung menelpon Leha untuk mengajaknya mengikuti kegiatan
Meregot Kepeng
"Assalamualaikum, Leha" sapa Sulastri
"Waalaikumussalam ada apa Sulastri" balas Leha
"Katanya ada acara Meregot kepeng di tetangga sebelah,
kamu ikut gak kalo aku sih ikut" cetus Sulastri
"Iya aku ikut, panggil aku di rumah jam 16.00 ya. Meregot
Kepeng dilakukan sore" Leha
"Ya udah nanti aku panggil" Sulastri kemudian mematikan
panggilan telpon.
Sulastri sudah bersiap-siap. Ia terlihat memakai jilbab
berwarna hitam dengan balutan baju putih dan celana yang agak
longgar sambil melihat jam yang ada di tangannya. Kini sudah
menunjukkan pukul 16.00 Wita. Ia pun bergeas pamit pada
ibunya untuk pergi ke rumah Leha dan selang beberapa menit
Sulastri sudah sampai di rumah Leha. Ia melihat Leha sedang
memakai sandal
"Leha" teriak Sulastri dari halaman rumah. Leha langsung
berpamitan kepada ibunya dan ia menghampiri Sulastri kemudian
bergegas pergi ke rumah tetangga yang akan mengadakan acara
Meregot Kepeng.
Di Perjalanan Sulastri terpikir membuat strategi agar ia
mampu mendapatkan uang banyak. Ia tidak ingin jika pada
momen ini hanya melakukannya sendiri. Oleh sebab itu ia
101 | P a g e
memutuskan untuk mengajak Leha untuk berkompetisi dalam
acara itu.
"Leha, kamu mau gak kita buat strategi untuk dapat uang
yang banyak?" cetus Sulastri singkat
"Ya mau lah, caranya gimana" ujar Leha yang memang
tidak memiliki pengalaman dalam hal ini.
"Ya kamu pikirin dulu lah…haha" ledek Sulastri. Di saat
mereka berpikir maka terlintas di beNak ka mereasatu cara yang
menurut Sulastri sangat bagus dan kemungkinan akan ampuh
mendulang banyak uang nantinya.
"Leha, ada satu cara yang aku pikir itu sangat bagus" ujar
Sulastri semangat
"Apa itu. Cepat katakan. aku sudah tidak sabar" bisik
Leha
"Bagaimana kalau kita dorong orang saat pemilik acara
melempar uang itu. Nah, otomatis tangan mereka yang
menggenggam uang akan terbuka dan uang yang mereka pegang
jatuh. Jadi kita bisa ambil kembali uang yang sudah mereka
dapatkan itu" ucap Sulastri meyakinkan
"Aku gak setuju nanti kalau ketahuan gimana?. Atau kalau
orang yang kita dorong kemudian jatuh, terluka, atau yang lebih
parah dari itu bisa-bisa kita dipolisikan" balasa Leha yang sedikit
hawatir dengan ide Sulastri.
"Tenang saja, gak akan ketahuan kok. Nanti kita dorong
dari belakang. Aku aja deh yang dorong kamu yang ambil
uangnya gimana" bujuk Sulastri
"Gak mau nanti ketahuan dan nanti kamu ngasih uang ke
aku cuman sedikit gak sama rata" ledek Leha
"Nanti ku kasih uangnya sama rata asal kamu mau ya"
pinta Sulastri
"Tetep gak mau nanti kalau orang kenapa-kenapa gimana"
balasa Leha dengan pikiran bercabang.
"Ya kan mereka gak ngeliat kita, jadi aman dong" jawab
Sulastri yakin
102 | P a g e
"Gak ah. Kamu aja" seru Leha pasarah dengan
ketidakmampuannya. Sulastri masih saja membujuk Leha untuk
mengikutinya tetapi hasilnya nihil. Leha tetap saja tidak mau yang
pada akhirnya mereka berdua bertengkar dengan ide itu. Sulastri
akhirnya memutuskan untuk melakukannya sendiri.
Sesampainya di lokasi kegiatan mereka berdua melihat
ibu-ibu dan aNak aNak sudah memenuhi halaman rumah
meskipun kondisinya becek akibat hujan lebat tadi malam. Sulastri
dan Leha bergegas ikut menunggu kegiatan Meregot Kepeng dimulai.
Sulastri berada di barisan paling belakang karena tidak terlalu
banyak orang pada saat itu Sulastri dan Leha memilih berbeda
tempat tetapi mereka masih bisa saling melihat. Semua orang
tidak sabar menunggu kegiatan Meregot Kepeng dimulai.
Kini, tiba saatnya kegiatan Meregot kepeng dilaksaNakan
oleh seorang nenek-nenek melemparkan uang koin dan permen
yang sudah dicampur dengan beras dan kunyit kepada kerumunan
yang disertai sorakan kebahagiaan. Ada yang mengguNakan
kerudung, sarung untuk mendapatkan uang koin tersebut.
Tindakan itu tidak dilarang dan ada juga yang tidak
membolehkannya karena memang tidak ada aturan khusus di
kegiatan Meregot kepeng ini. Ada juga yang usil mengguNakan arang
untuk mengenai muka orang tetapi itu tidak jadi masalah karena
mereka sudah menganggapnya candaan. Ketika Sulastri ingin
mengambil uang tetapi ada seorang aNak yang menghalanginya.
Sulastri pun terpikir untuk melakukan aksinya. Ia mendorong
aNak itu hingga jatuh tersungkur. ANak itu menangis sejadinya
karena kakinya berdarah cukup parah. Sulastri panik ia tidak tahu
harus berbuat apa. Ini di luar dugaannya sebab selama Sulastri
melakukannya ia tidak pernah sampai membuat orang terluka.
Inaq Senan selaku ibu dari aNak itu menanyakan kepada
semua orang siapa yang melukai aNaknya tetapi pada saat itu
tidak ada yang mengaku. Kini saatnya giliran Sulastri yang ditanya
tetapi Sulastri tidak mau mengakui kesalahannya. Inaq Senan
bingung siapa yang sudah melukai aNaknya. Inaq Senan sudah
bertanya kepada aNaknya tetapi aNaknya tidak melihat siapa yang
103 | P a g e
mendorongnya. Dari pada bingung Inaq Senan memutuskan
untuk melanjutkan kegiatan Meregot kepeng. Uang koin yang
dilemparkan sudah habis. Mereka bertanya satu sama lain tentang
berapa uang yang mereka dapat dari kegiatan Meregot Kepeng tadi.
Ada wajah yang riang sebab mendapatkan uang banyak dan tidak
sedikit pula yang tidak tersenyum sebab hanya mendapatkan satu
bahkan dua koiin uang saja. Saat semua orang yang berkompetisi
di acara itu mulai bubar. Leha memberaikan diri untuk
menghampiri Inaq Senan yang masih duduk dan sesekali meniup
bekas luka aNaknya.
"Assalamualaikum"kata Leha
"Wa'alaikumussalam. Ada apa Leha" jawab Inaq Senan
dengan nada pelan
"Saya mau memberitahukan sesuatu….?" Jawab Leha
singkat. Seketika Inaq Senan mengalihkan padangan ke arah Leha.
"Apa yang ingin kamu beritahu padaku. Cepatlah..!" pinta
Inaq Senan
Leha pun memulai cerita tentang kenapa aNaknya jatuh
dan terluka sampai ia menceritakan siapa pelaku dibalik jatuhnya
aNak Inaq Senan sendiri. Nama Sulastri mulai tertanam di beNak
Inaq Senan. Leha pun menyarankan kalau Inaq Senan pergi saja ke
rumah Sulastri untuk mengetahui apa yang sebenarnya. Inaq
Senan yang mendengar cerita itu tanpa pikir Panjang langsung
mengajak Leha pergi ke rumah Sulastri agar Sulastri tidak
mengelak Ketika ditanya akan perbuatannya.
Di saat perjalanan menuju rumah, Sulastri terlihat begitu
gelisah. Ia masih memikirkan kejadian tadi pagi. Pikirannya
kembali tidak karuan. Ia sesekali menendang batu kecil hingga
terlempar ke tengah jalan.
"Woooii…!!. Jangan menendang batu di jalanan nanti bisa
buat orang kecelakaan" teriak salah satu pengendara motor
"Mmm..ma..af pak" balas Sulastri dengan suara lirihnya.
Sesampai di rumah, Sulastri menyalami ibunya dan
langsung menuju kamar. Ibunya yang melihat sikap Sulastri yang
berbeda itu merasa heran. Ada apa dengan putrinya yang begitu
104 | P a g e
gelisah. Ia merasa ada yang tidak beres dengan putrinya yang
menyebabkannya harus pergi ke kamar Sulastri.
"Ada apa, Nak. Kenapa kamu gelisah" kata ibu dengan
lembut
"Ada masalah yang tidak bisa kuceritakan. Nanti kalau aku
ceritakan ibu pasti akan marah" balas Sulastri dengan ekspresi
mimic yang tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.
"Tidak. Ibu tidak akan marah. Coba kamu ceritakan nanti
ibu bantu cari solusinya" Sulastri mengangguk dan dengan suara
pelan ia menceritakan semua yang terjadi saat Meregot Kepang
kepada ibunya.
Tak lama kemudian ada suara orang mengetuk pintu
rumah. Kebetulan kamar Sulastri dengan pintu rumahnya
berdekatan, maka ia pun segera Sulastri membuka pintu. Di
depan pintu berdiri 2 orang aNak dan 1 orang dewasa. Sulastri
diam sembari memandang Leha. Tubuh Sulastri mulai
mengeluarkan keringat, dan kedua tangannya saling pegang untuk
menghindari rasa curiga dan was-was. Tanpa permisi Inaq Senan
langsung angkat bicara "Sulastri, tolong jelaskan apa yang
sebenarnya terjadi dengan aNak saya" ucap Inaq Senan sambil
menatap serius ke arah Sulastri.
Sulastri justru diam, tidak memberi tanggapan. Inaq Senan
mengulangi kembali kata katanya dan lagi-lagi tidak ada tanggapan
dari Sulastri. Kesabaran Inaq Senan sepertinya sudah habis. Ia
mengulangi kembali kata katanya dengan nada membentak sebab
Sulastri yang masih enggan untuk menceritakan apa yang terjadi.
Ibu Sulastri yang melihat drama ini pun heran kenapa aNaknya
tidak menjawab biasanya kalau ditanya dia langsung menjawab.
Ibunya bertanya-tanya dalam hati kenapa Sulastri berubah seperti
ini?. Namun tidak berselang berapa detik, ibunya mencoba
menepis pikirannya akan hal-hal tidak baik pada aNaknya.
Sambil merangkul Sulastri ibunya memberitahu kalau ia
ceritakan saja semuanya. Ibunya tidak akan marah. Hal ini harus
dilakukan agar Sulastri mau bercerita. Mendengar permintaan
ibunya, Sulastri akhirnya mau menceritakan semuanya. Sebelum
105 | P a g e
menjelaskan, Sulastri terpikir dari mana Inaq Senan tahu kalau
Sulastri pelakunya?. Sulastri dengan pede memberanikan diri
untuk bertanya dari mana Inaq Senan.
"Emm….ngomong ngomong dari mana Inaq Senan
mengetahui kalau saya pelaku dari jatuhnya aNak ibu?" tanya
Sulastri singkat
"Dari aNak ini" sambil menunjuk Leha. Kini semua
pertanyaan Sulastri terjawab tidak ada alasan lagi untuknya
menunda-nunda menceritakan apa yang terjadi.
Di saat Sulastri menceritakannya. Ia sendiri tidak pernha
terpikir kalau perbuatannya selama ini akan menjadi masalah
untuknya. Kini, Sulastri sudah selesai menceritakan semuanya.
Inaq Senan merasa tidak terima dan membisikkan sesuatu kepada
Sulastri. Bisikan itu membuat Sulastri sangat marah dan langsung
mendorong Inaq Senan dari hadapannya. Inaq Senan yang tidak
siap dan tidak menjaga keseimbangannya pun terjatuh. Inaq Senan
yang mendapatkan perlakuan seperti itu tidak terima dan ia pun
bangkit.
"apakah ibumu tidak pernah mengajarkan sopan santun
kepada orang tua?...haahh!!" teriak Inaq Senan
"Ibuku selalu mengajarkanku sopan santun, tetapi kalau
ibuku dihina aku tidak akan diam apalagi dihina oleh orang yang
tidak punya adab sepertimu" balas Sulastri ringkas.
"Apa maksudmu mengatakan aku tidak punya adab. Lihat
dirimu tidak ada sopan santunnya berbicara sama orang tua" kilah
Inaq Senan sambil menunjuk ke wajah Sulastri.
Tidak butuh waktu lama, adu mulut antara Inaq Senan dan
Sulastri terjadi. Hampir 10 menit berlalu Inaq Senan dan Sulastri
masih beradu mulut. Mereka berdua sudah seperti ayam yang
sedang di adu di arena sabung. Panas dan tidak terima adalah
pemantik yang kuat sehingga tak seorangpun mau mengalah. Ibu
Sulastri yang sedang duduk pun langsung berusaha melerai
keduanya, tetapi usahanya tidak membuahkan hasil karena
kekuatan Sulastri dan Inaq Senan terlalu besar. Ibu Sulastri pun
mengajak Leha untuk membantu melerai Sulastri dan Inaq Senan.
106 | P a g e
Di Saat Sulastri ingin menampar Inaq Senan untung saja
Leha dengan cepat memegang tangan Sulastri.
"Jangan ikut campur, ini urusanku dengannya" sambil
menunjuk Inaq Senan.
"Sulastri apa-apaan sih kamu. Dia ini, orang tua jangan
kamu seeNaknya berbicara apalagi menunjuk orang yang lebih tua
dari mu" balas Leha sambil berdiri di depan Sulastri.
"Kalau Kamu tidak tau masalahku dengannya, diam saja!"
ancam Sulastri.
Ibu Sulastri yang melihat itu kaget dan langsung memeluk
aNaknya dan menenangkannya dengan elusan di bagian
punggung seraya memberikan nasihat agar meminta maaf kepada
Inaq Senan. Sulastri butuh waktu untuk mengiyakan permintaan
ibunya. Meskipun amarah masih membuncah di dalam dadanya.
Ia kemudian menghampiri Inaq Senan.
"Saya minta maaf atas apa yang saya lakukan terhadap
aNak Inaq Senan dan Inaq Senan sendiri atas kelancangan saya
mendorong dan berbicara yang tidak seharusnya saya lakukan"
ucap Sulastri meruduk dan meneteskan air mata. Tidak ada suara
yang menyaut, hanya terdengar suara kicauan burung dan
hembusan angin sore yang menyejukkan. Sambil sesegukan
Sulastri mengatakan
"Saya tahu Inaq Senan pasti sakit hati atas apa yang saya
katakan. Jujur saja, emosi saya terpancing saat Inaq Senan
mengatakan hal buruk tentang ibu saya. Sekali lagi saya meminta
maaf sebesar-besarnya terhadap apa yang saya lakukan dan saya
berjanji tidak akan melakukannya lagi"
"aku masih sakit hati atas apa yang kamu lakukan
terhadap Senan aNak ku tetapi aku tidak tega melihatmu terus
menangis dan meminta maaf" balas Inaq Senan
"Sudahlah menangis, usap air matamu. Aku sudah
memaafkanmu" balas Inaq Senan. Sambil mengusap air matanya
Sulastri meminta maaf dan berterima kasih kepada Inaq Senan
karena sudah memaafkannya. Banyak hal yang sudah dilalui
Sulastri hari ini dan banyak juga pelajaran yang bisa kita petik dari
107 | P a g e
kejadian hari ini salah satunya menyelesaikan masalah harus
dengan kepala dingin agar tidak terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan
108 | P a g e
MEMANGAR
Baiq Putriani Hardianti
Pada suatu hari disebuah kampung Beak Daya berjejer
rumah penuh dengan warna. Ada warna hijau, kuning, abu, biru
dan lain sebagainya. Tinggallah satu keluarga yang rumahnya tidak
berwarna dan masih memakai rumah kikis (pagar). Satu keluarga
itu bernama Papuk Sahnum, dia memiliki suami dan aNak
perempuan satu-satunya. Suami Papuk Sahnum sudah meninggal
3 tahun yang lalu. ANak perempuannya bernama Rina, ia
berumur 30 tahun dan belum mempunyai suami sedangkan Papuk
Sahnum berumur 50 tahun. Dia juga memiliki saudara yang
bernama INak Iwan dan berusia 40 tahun.
INak Iwan mempunyai tanah sebelah rumah Papuk
Sahnum seluas 2 are. Papuk Sahmun meminta kepada INak Iwan
agar tanah kosong tersebut bisa dibagi dua karena ia ingin sekali
membangun rumah. Tetapi INak Iwan sendiri tidak mau
membagi tanah tersebut. Papuk Sahnum sampai memohon-
mohon kepada INak Iwan agar tanah bisa dibagi. Melihat sikap
Papuq Sahnum yang terus saja menanyakan agar tanah itu dibagi
membuat INak Iwan marah besar sampai ia katakan "Aku tidak
mau membagi tanah ku sedikit pun ke kamu karena tanah
tersebut hanya milikku.”
Papuk Sahnum sangat kecewa mendengar perkataan
saudaranya sendiri. Tak lama kemudian Papuk Sahnum merunduk
dengan wajah kecewa. Rina yang melihat wajah ibunya sedih
langsung menghampiriya dan bertanya "ibu, kenapa wajahnya
seperti gitu?. Ada apa?". Ucap Rina lembut.
"ibu lagi capek aja gak usah khawatir" balas Papuq
Sahnum meyakiNakn aNaknya.
"Gak usah bohong, Bu. Ceritakan saja masalah ibu pada
Rina" jawab Rina memohon.
Melihat aNaknya yang kekeh ingin tau persoalan yang
dialaminya membuat Papuq Sahnum menoleh dan memandang
wajah aNaknya. Banyak hal yang menjadi pertimbangan sampai
109 | P a g e
Papuq Sahnum menghela nafas pelan, sebab ia tahu masalah ini
sejatinya belum perlu diketahui oleh aNaknya, namun raut wajah
buah hatinya meluluhkan semua bimbang dan rasa pedih dalam
dirinya. Seketika juga ia memanggil Rina untuk mendekat. Ia
pegang tangan aNaknya, kemudian merunduk kembali. Sejurus
kemudian, ia bercerita tentang apa yang ia alami beberapa hari ini.
Ia ceritakan semuanya kepada aNak semata wayangnya. Hal ini
mungkin saja akan membuat luka dan amarah yang besar dalam
diri aNaknya, tapi ia sadar bahwa jika pendam sendiri maka
persoalan ini akan terus dirasa sepanjang hidupnya.
Rina hanya bisa terdiam dan tidak menjawab apa-apa
sambil berpikir "Apa aku harus pergi keluar negeri agar luka
ibuku yang direndahkan oleh saudaranya sendiri akan terobati"
keluh Rina dalam hati. Ia peluk ibunya yang semakin hari semakin
kurus, entah sebab memikirkan persoalan tanah keluarga ataukah
memikirkan dirinya yang tak kunjung menikah. Tidak ada yang
sepesial bagi Rina kecuali kebahagian menyelimuti hari-hari
ibunya. Ia tidak ingin diusia ibunya yang lebih setengah abad ini
harus nestapa di tengah acuhan keluarganya sendiri.
Rina masih memeluk ibunya erat, seperti sebuah kekasih
yang tak ingin berpisah. Air mata masih bercucuran dari tepi bola
matanya. Suara tangis mengaung keras dalam rumah. Bathin yang
tersiksa memang tidak akan pernah menemukan rumah kecuali
yang lahir dari Rahim yang sama. Rina mengecup kening ibunya.
Sesekali ia menepis bulir bening yang keluar hanya karena ia ingin
ibunya tahu bahwa Rina bisa merasakan apa yang ibunya rasa saat
ini.
Merantau untuk bekerja mungkin menjadi solusi untuk
mengubah diri dan kehidupan keluarganya. Rina paham pilihan
ini memang berat, tapi tak ada cara lain untuk mengembalikan
marwah ibunya yang selama ini direndahkan. Ia hanya ingin
ibunya bahagia dan menikmati masa tuanya. Memiliki keluarga
besar saat ini tak ubahnya seperti hidup sebatang kara, tak ada
yang mau menolong bahkan sekedar bertanya saja tidak.
110 | P a g e
"Ibu aku mau bekerja di luar negeri. Aku ingin mencari
uang untuk membangunkan ibu rumah yang layak agar ibu tidak
mengemis-ngemis lagi pada saudara ibu" celetuk Rina sambil
memandang wajah ibunya.
"Ibu tidak melarangmu, Nak. Selama pekerjaanmu halal.
Tapi, apakah kamu punya uang untuk pergi ke Luar Negeri?"
ucap sang ibu.
"Aku punya sedikit tabungan, Bu" jawab Rina
meyakinkan ibunya.
“Tapi ada satu hal yang ingin kubicarakan dengan ibu"
“Ya udah kamu sampaikan saja"
"Aa….aaa…aku sudah memesan tiket tanpa memberitahu
ibu terlebih dahulu" balas Rina dengan wajah gugup. Papuq
Sahnum kaget sepontan.
"kenapa kamu tidak kasih tau ibu dulu" ucapnya tegas
semabil menyorot wajah Rina.
"Maaf ibu. Rina takut jika ibu tidak memberi izin"
Papuq Sahnum hanya diam dan tidak menjawab perkataan
Rina kali ini. Ia memalingkan wajahnya ke arah pintu. Banyangan
lama tentang ayahnya yang juga melakukan hal serupa dan tak
kunjung pulang sehinga dikatakan kalau ia sudah meninggal di
tanah rantau. Papuq Sahnum masih ingat betul masa-masa itu.
Suasana yang selalu membuatnya sedih jika diingat. Kini aNak
semata wayangnya ingin kembali pergi meninggalkannya entah
untuk berapa lama. Sedih, senang kini berkecamuk dalam hati dan
pikirannya. Jika ia izinkan, maka tak seorangpun yang akan
menjadi pelipur laranya saat kesedihan menerpa. Kalaupun ia
melarang Rina pergi, maka tidak akan pernah ada perubahan
dalam keluarganya.
Suasana hening, Rina berada tepat di belakang punggung
ibunya. Sedangkan Papuq Sahnum tak bersuara sedikitpun.
Rumah itu seperti Kawasan mati suri yang ada hanya hembusan
nafas pelan yang seolah-olah saling acuh sesame.
“jika memang itu menjadi keputusanmu, silakan pergi
aNakku. Raih apa yang sejatinya telah engkau impikan, untuk
111 | P a g e
dirimu dan keluarga kita. Ibu rasa-rasanya tak pantas melarangmu,
meski ibu tidak akan menemukan pelipur lara setiap pulang
bekerja. Pergilah, Nak. Semoga mimpimu terwujud” balas Papuq
Sahnum sembari menangis di depan pintu. Seketika Rina
memeluknya dari belakang. Tangis pun pecah. Alam menjadi
saksi akan pergulatan emosi dua hati.
Kini, hari itu pun tiba, Rina bergegas menyiapkan
perlengkapan yang akan dibawa dan menghampiri ibunya untuk
pamit pergi ke Malaysia.
“Jangan lupa dzikir, berdoa, sholat, dan meminta
perlindungan kepada yang di atas" ucap Papuq Sahnum sambil
memeluk erat Rina.
"insyaallah semua permohonan Ibu akan aku tunaikan di
rantau” balas Rina sembari mencium tangan dan kening ibunya.
"kamu berangkat bersama siapa?"
"Tenang aja Bu aku gak sendiri kok. Ada temanku juga"
Jawab Rina sembari menghilangkan keraguan pada ibunya.
“Ya udah hati-hati di jalan"
“Kalo ibu kangen, ibu bisa langsung ke Sarita aja biar dia
menghubungiku” Pesan Rina kepada ibunya sambil menahan air
mata.
Keesokan harinya, Papuk Sahnum lagi menyapu area
rumahnya yang kotor. INak Iwan tidak sengaja lewat sambil
menendang sampah yang sudah Papuk Sahnum sapu. INak Iwan
berteriak sambil
“Si Rina itu kemana ya kok tumben sekali ibunya yang
nyapu di luar”
Para tetangga yang mendengar terikan Inaq Iwan langsung
berlarian melihat Papuk Sahnum yang sedang menyapu di depan
rumahnya. INak Iwan menceritakan semuanya ke tetangga soal
Papuk Sahnum meminta agar tanah kosong tersebut bisa dibagi
dua. Papuk Sahmun merasa malu, lalu ia masuk ke rumahnya
sambil menahan tangis.
112 | P a g e
"Aku sudah merasa malu kepada semua tetangga karena
mereka sudah mengetahui semuanya" lirih Papuk Sahnum dalam
hati.
"Lihat kan dia sudah malu dan ia tidak akan berani keluar
rumah" Kata INak Iwan. Setelah mempermalukan Papuq
Sahnum, Ia pun langsung pulang kerumahnya sambil tertawa
karena merasa sudah puas.
"Kan tanah kosong tersebut juga milik suami Papuk
Sahnum kenapa INak Iwan memarahinya. Papuk Sahnum juga
kan punya hak atas tanah kosong itu" ucap salah satu tetangga
yang berbicara. Semua tetangga sudah tau tanah kosong itu dan
berhak untuk siapa. Kini semua tetangga pulang ke rumah
masing-masing namun ada salah satu tetangga yang menceritakan
apa yang terjadi kepada Sarita teman deket Rina. Setelah Sarita
mendengar gosip tersebut ia langsung menghubungi Rina dan
menceritakan semuanya.
"segitu gak sukanya dia sama ibuku. Pokoknya setelah aku
pulang dari luar negeri aku akan balas dendam atas derita yang
dialami ibuku" balas Rina dengan nada keras di speaker hp.
Beberapa hari kemudian Papuk Sahnum tidak pernah
sekali keluar rumah sampai tetangganya pun bilang kenapa dia
tidak pernah keluar rumah dengan aNaknya. Semua tetangga
akhirnya pergi ke rumah Sarita dan menanyakan "Si Rina sama
ibunya kok gak pernah keluar rumah hari-hari ini?”
"Rina sudah pergi beberapa Minggu yang lalu"
"pergi kemana?" para tetangga penasaran
"Dia pergi ke luar negeri untuk bekerja sebab, ia sakit hati
mendengar INak Iwan memarahi ibunya" Jawab Sarita lengkap.
Setelah itu, kini suasana berbalim. Semua tetangga
membicarakan INak Iwan atas perilakunya terhadap Papuk
Sahnum. Sampai akhirnya gosipan ini Tak terdengar jelas ditelina
INak Iwan.
"Saya salah apa sama kalian sampe kalian semua bicarain
saya di belakang?".
113 | P a g e
Sontak semua tetangga pun kaget mendengar INak Iwan
bicara.
"kenapa kalian semua membicarakan saya? Hah?" Kata
INak Iwan sambil teriak.
Salah satu tetangga mengatakan "kita berhak
membicarakanmu karena kamu sudah sangat keterlaluan kepada
Papuk Sahnum, betul gak ibu-ibu?" Semua tetangga menjawab
dengan serempak betulllll!!!!.
"Kalian semua tidak pernah tahu ceritanya seperti apa"
Jawab INak Iwan sambil marah
"Kita sudah tau cerita semuanya lagian tanah kosong
tersebut Papuk Sahnum juga berhak atas tanah itu karena
almarhum suaminya yang punya tanah kosong itu. Kamu tidak
berhak atas tanah kosong itu namun suami Papuk Sahnum tidak
tega melihatmu menderita sebeb sendirianmu yang tidak memiliki
tanah sedangkan keluarga yang lain punya sebab itulah tanah
kosong itu diberikan atas namamu" Jawab tetangga yang paham
betul asal-muasal tanah tersebut.
INak Iwan hanya bisa terdiam dan tidak menjawab apa-
apa kemudian ia langsung pulang kerumahnya. Sarita yang sedang
santai di dalam rumahnya mendengar keributan di luar sontak dia
langsung pergi ke luar untuk melihatnya.
"Ada apa ini kalian ribut sekali?" kata Sarita kaget.
"Ini nih Inaq Iwan baru datang langsung marah-marah"
Jawab tetangga.
"Ia marah-marah kenapa?" Jawab Sarita.
"Dia datang marah-marah sebab kami membicarakannya
dari belakang" Jawab tetangga.
"Wajar si INak Iwan marah karena kalian
membicarakannya" Jawab Sarita.
"kata kamu gak wajar membicarakannya ya. Wajar lah kan
dia membuat Papuk Sahnum tidak pernah keluar rumah. Cerita
tentang tanah kosong itu ia sudah membuat Papuk Sahnum
merasa malu di hadapan kami" Jawab tetangga. Sarita tidak
114 | P a g e
menjawab apa-apa dan pergi ke kamarnya untuk mengambil hp
lalu keluar lagi.
"Ayo kita pergi ke rumah Papuk Sahnum untuk melihat
kondisinya apakah dia sudah makan atau belum" Kata tetangga.
"Ya udah ayok" Jawab Sarita menguatkan. Sesampai
mereka di rumah Papuk Sahnum
"Assalamualaikum…." Kata Sarita dan tetangga yang
lainnya. Papuk Sahmun sama sekali tidak menjawab salam dan
para tetangga pun sangat cemas jika ada satu hal terjadi padanya.
Sarita pun perlahan membuka pintu. Pintu rumah Papuk Sahnum
ternyata tidak terkunci dan mereka kaget Ketika melihat Papuk
Sahnum terbaring di atas lantai. Sontak mereka kaget melihat hal
itu dan mengatakan
"Astaga Papuk Sahnum" Sarita dan tetangga langsung
masuk ke dalam untuk mengangkat Papuk Sahnum ke kamarnya.
Sementara tetangga yang lain pulang mengambil minyak kayu
putih untuk dioleskan agar ia sadarkan diri. Tak lama kemudian,
Papuk Sahnum sadar dan mereka menanyakan apakah ia baik-baik
saja, apakah ia sudah makan atau belum dan sebagainya.
Perbicangan pun Panjang lebar dan seperti tak tentu arah. Setelah
cukup lam di rumah Papuq Sahnum mereka akhirnya izin pulang
ke rumah masing-masing.
Sesampai di rumah Sarita langsung menghubungi Rina
dan mengatakan ke adaan ibunya. "Insha Allah aku akan pulang
beberapa tahun lagi" Kata Rina dengan suara meyakinkan.
"Ya udah tapi apa itu gak terlalu lama?" tegas Sarita.
"Lama si, tapi ya mau gimana lagi kan namanya juga
bekerja" Jawab Rina ringkas.
"Sarita aku punya satu permintaan padamu. Apakah kamu
bisa mengurus ibuku" kata Rina.
“Insha Allah, aku bisa merawat ibumu kok" Jawab Sarita
ringkas.
"Makasih ya, kamu memang temanku yang sangat baik.
Kalo kamu butuh uang untuk merawat ibuku aku akan kirimkan"
balas Rina penuh harap.
115 | P a g e
"Udah jangan kayak gitu. Aku punya uang kok dan aku
berhak balas budi ke kamu karena kamu sudah banyak
membantuku" Jawab Sarita.
"Sekali lagi makasih ya sebesar besarnya" Jawab Rina.
"Aku juga sangat berterima kasih kepada mu". Beberapa
tahun berlalu begitu saja. Rina menelpon Sarita bahwa ia akan
pulang beberapa hari lagi.
"Apa harus dijemput?"
"Gak usah aku mau ngasih surprise ke ibuku" Jawab Rina.
"Oh ya udah kalo itu mau kamu" Jawab Sarita.
"Besok kalo aku pulang insha Allah aku akan membawa
buah tangan yang akan kuberikan ke tetangga yang sudah
membantu ibu terutama kamu".
"Makasih tapi menurutku gak usah bawa apa-apa. Kamu
simpan aja dulu uangnya" Jawab Sarita.
"Gak apa-apa kok" Jawab Rina.
"Sarita jangan kasih tau ibuku dulu tentang kepulanganku"
Kata Rina.
"Kenapa?" Tanya Sarita penasaran.
"Kan aku mau ngasih kejutan. Alhamdulillah aku punya
sedikit rezeki dari Allah dan bisa mewujudkan keinginan ibu
selama ini" Jawab Rina meyakiNakn Sarita.
"Keinginan ibumu apa?" Tanya Sarita yang selalu saja
ingin tau.
"Ia pengen sekali membangun rumah sendiri” Jawab Rina
ringkas.
"Alhamdulillah kalau kamu bisa mewujudkan keinginan
ibumu" Jawab Sarita.
"Aku sudah membelikan tanah kosong tanpa
sepengetahuan nya" Jawab Rina.
"Aku pulang hari Selasa atau hari Rabu ya" Kata Rina.
"Kalo kamu sudah berangkat jangan lupa hubungi aku ya"
Jawab Sarita.
"Pasti aku hubungi kamu" Jawab Rina.
116 | P a g e
"Aku istirahat dulu ya kamu juga jangan lupa istirahat jaga
kesehatan jangan sampe sakit" Kata Sarita.
Rina langsung siap-siap mengemas barang yang akan
dibawa pulang dan langsung ke bandara biar gak ketinggalan
pesawat. Sesampai di bandara ia langsung menelpon Sarita
sahabatnya sendiri. Rina menelpon Sarita
"Sarita aku sudah di bandara dan mau naek pesawat.
Apakah kamu jadi jemput aku?" Tanya Rina ingin tau.
"Jadi dong, tapi aku mau mandi dulu sebentar oke".
"Iya, kamu jemput aku sama siapa?"Tanya Rina.
"Ada temanku" Jawab Sarita.
"Aku matiin telponnya dulu ya nanti lagi takutnya
ketinggalan pesawat" Jawab Rina.
"Okey hati-hati di jalan ya" Jawab Sarita. Telponnya pun
sudah terputus.
Beberapa jam berlalu, Rina akhirnya turun dari pesawat.
Ia mulai menelpon Sarita apakah dia sudah sampai atau belum.
"Apakah kamu sudah sampai di Bandara?" Tanya Rina.
"Iya. Aku sudah sampai kamu di mana?" Sarita nanya
balik.
"Aku di loby nih" Jawab Rina.
"Tunggu aku, aku akan segera ke sana" Jawab Sarita.
"Jangan matiin telponnya dulu takutnya nanti kita gak
ketemu" jawab Sarita.
"Okey"
"Oya, Rina kamu dimana aku sudah di loby ini".
"Kalo aku lambaikan tangan berarti itu aku dan kamu juga
harus melambaikan tangan" Kata Rina. Setelah mencari cukup
lama Rina pun mulai melambaikan tangan agar Sarita melihatnya.
Mereka berdua langsung berlari dan berpelukan saking
kangennya. Dari loby sampai ke mobil mereka berdua tidak
berhenti berbicara di dalam mobil pun juga begitu.
Perjalanan berjam-jam dari bandara ke rumah memang
waktu yang lama tapi mereka tidak sadar kalau mereka sudah
sampai di desa tepat pada pukul 12.00 siang. Rina melihat
117 | P a g e
tetangganya sedang duduk-duduk di teras rumah Sarita. Semua
tetangga kaget melihat Rina sudah pulang dari luar negeri dan
langsung menyambutnya dengan senyuman.
“tunggu aku disini ya aku kerumah dulu melihat ibu”
ungkap Rina. Rina pun langsung menuju ibunya dan ia melihat
kalau ibunya sedang memasak di dapur.
"Assalamualaikum ibu"Kata Rina.
"Wa'alikumsalam, siapa?" jawab sang ibu pelan sambil
mengecilkan api kompor.
"Aku Rina, bu" Jawab Rina sambil menahan air mata.
Sang ibu langsung berlari meninggalkan masakannya demi
aNaknya Rina."Kapan kamu pulang Nak?" Tanya sang ibu sambil
mencium dan memeluk erat RIna. Putri satu-satunya yang
merelakan waktu mudanya untuk pergi bekerja ke luar negeri agar
ibunya bisa hidup dengan layak.
"Tadi siang Bu" Jawab Rina meyakinkan.
"Kenapa kamu gak bilang sama ibu dulu" Jawab Papuk
Sahnum.
"Ia tidak mau aku kasih tau ibu kalau dia akan pulang.
Katanya dia ingin memberi kejutan pada ibu" Jawab Sarita pelan.
"Terus apa lagi yang dia bilang itaa" Tanya sang ibu.
"Dia bilang kamu gak usah kasih tau siapa-siapa dulu kalo
aku mau pulang karena, aku mau ngasih ibu kejutan gitu" Jawab
Sarita polos. Ibunya hanya bisa mengangguk pelan dan kembali
memeluk darah dagingnya dengan waktu yang cukup lama.
Beberapa jam pun kemudian mereka masih berbincang-bincang.
Rina ngasih tau ibunya kalo dia membawa oleh-oleh yang niatnya
akan di kasih ke tetangga. "masyaallah, Sangat bagus itu aNakku.
Silakan berikan kepada tetangga kita" Jawab sang ibu dengan rasa
bahagia.
Rina dan Sarita pun pergi ke tetangga untuk membagikan
oleh-oleh yang dibawa RIna.
"Rina ada sedikit rezeki dan ingin membagikannya
walaupun bukan uang. Kalian semua bisa ambil sama-sama satu”
ucap Rina dengan melepas senyum.
118 | P a g e
Kini, matahari mulai terbenam. Rina pun pulang ke
rumah, ia dipanggil ibunya untuk makan malam. Ketika sedang
menikmati makan malam, Rina mulai membicarakan tentang
keinginan ibunya waktu itu. "Apakah ibu ingin sekali membangun
rumah?" Tanya Rina singkat.
"Iya, Nak. Ibu ingin sekali" Jawabnya polos.
"Aku sudah membelikan ibu tanah seluas 2are" Jawab
Rina langsung.
"Beneran aNakku? kamu gak bohong kan?" Jawab sang
ibu.
"Beneran dong Bu masak aku bohong sama ibu" Jawab
Rina.
"Makasih banyak aNakku kamu sudah bisa mewujudkan
impian ibu selama ini" jawab sang ibu.
"Apa ibu mau besok kita ke sana melihat tanahnya" Tanya
sang aNak.
"Ya udah besok kita ke sana, kamu istirahat dulu kan baru
pulang" Jawab sang ibu.
"Ibu juga harus banyak istirahat jangan begadang" Jawab
Rina kemudian masuk ke dalam kamar.
Keesokan harinya tepat pada pukul 09.00 pagi Rina sama
ibunya siap-siap untuk pergi melihat tanah yang sudah dibeli. Rina
juga tak lupa mengajak Sarita. Rina membeli tanah kosong itu di
dusun Beak Lauk tidak terlalu jauh dari desa meraka sebab
mereka bisa jalan kaki ke sana.
Setelah melihat tanahnya mereka langsung pulang dan
Papuk Sahnum meminta rina agar segera memagar tanah itu. Rina
pun pergi ke rumah Papuk Tuan Suhaeli (orang pintar) di desa dan
meminta waktunya untuk memagar tanah yang sudah dibeli Rina
seperti permintaan ibunya. Papuk Tuan Suhaeli meminta agar
tanah itu dipangar besok Rabu. Papuk Tuan Suhaeli menyuruh
Papuk Sahnum membeli perlengkapan yang dibutuhkan untuk
memangar seperti, Lekok, pokrerake, nyaur, saot, isi Rondon gula
Abang, lekesan terdiri dari apur, sirih, Mayang buak, dan tembako.
Keesokan harinya Papuk Tuan Suhaeli datang ke rumah Papuk
119 | P a g e
Sahnum untuk memangar rumah terlebih dahulu kemudian
menuju tanah yang sudah dibeli Rina. Papuk Tuan Suhaeli
meminta kepada Papuk Sahnum agar perlengkapan mamagarnya
didiamkan sehari semalam. Pagi pun tiba Papuk Sahnum sudah
mengambil perlengkapan memagarnya dan para tetangga
membantu untuk meletakkan batu pertama pembangunan rumah
ibu Rina yang baru.
120 | P a g e
MANUK KUMBUNG
Alya Wani
Pagi hari cuaca nan cerah yang menyinari sebuah desa
yang ada dipinggir kota. Di desa ter sebut hiduplah sepasang
suami istri bernama Inaq Edah dan Amaq Cenah. Mereka adalah
keluarga yang berkecukupan yang tinggal di rumah tua yang
beratap daun aren. Setiap hari mereka selalu menjalani kehidupan
dengan penuh rasa sabar karna harus mendengar ocehan dari
sang mertua yang slalu bertanya kapan mereka mempunya
seorang aNak dan menerima cacian dan hinaan dari masyarakat
yang ada di desa tersebut. Setiap hari Inaq Edah selalu mengeluh
kepada Amak Cenah karna sudah tak sanggup mendengar ocehan
dari ibu mertuanya. Segala usaha telah mereka lakukan tetapi tetap
tidak ada hasilnya.
Suatu hari Amak Cenah yang sedang berbelanja kepasar
mendengar pembicaraan seorang pedagang tentang seorang
dukun yang bisa membuat orang mudah hamil. Dengan rasa
penasaran yang cukup besar amak cenah bertanya kepada
pedagang tersebut dan menanyakan di mana rumah dukun
tersebut. Tanpa berpikir panjang Amak Cenah langsung
meninggalkan pasar dan menemui istrinya di rumah. Saat tibanya
di rumah Amak Cenah langsung memberitahu INak Edah
tentang dukun tersebut. Mereka pun langsung menemui dukun
tersebut dan menjelaskan semua ikhtiar yang mereka lakukan
namun semuanya nihil.
Setelah beberapa bulan berlalu dengan rasa sabar dan
tabah yang begita besar akhirnya INak Edah dikabarkan hamil.
Berita kehamilannya pun sampai di telinga mertua. Sang mertua
pun sangat senang dengan kabar tersebut sampai ia mengadakan
syukuran besar besaran atas kehamilan sang manuntu yang selama
ini harapkan. Beberapa bulan berjalan usia kehamilan INak Edah
yang semakin besar dan menyusahkannya untuk melakukan
pekerjaan sehari-hari.
121 | P a g e
Pada suatu hari di mana INak Edah yang sedang
melakukan pekerjaan di rumahnya tiba-tiba ia merasakan sakit
perut dan langsung memanggil suaminya untuk membantunya.
Amaq Cenah yang sedang membelah kayu di belakang rumah
mendengar jeritan istrinya langsung berlari menemui istri yang
sedang menjerit kesakitan. Tanpa pikir Panjang Amaq Cenah
membawa istirnya ke puskesmas namun lagi-lagi ia merasa
kesusahan mencari alat transportasi. Amak Cenah terus berlari
untuk mencari alat transportasi sampai akhirnya ia menemukan
mobil pick up dan meminta agar mau membawa istrinya ke
puskesmas. Di perjalanan INak Cenah merasakan sakit yang luar
biasa hingga membuatnya pingsan. Keadaan INak Edah
membuat suaminya merasa ketakutan yang luar biasa. Tak
berselang lama akhirnya mereka sampai di puskesma.
Beberapa menit berlalu setelah melakukan pemeriksaan
yang begitu lama sang dokter menemui Amak Cenah dan
menyampaikan berita buruk tersebut "maaf pak, kami tidak bisa
menyelamatkan aNak bapak" seketika air mata berjatuhan. Rasa
kecewa yang begitu dalam membuat amak cenah hanya terdiam
tidak mengeluarkan satu kata pun. Berita tentang gagalnya Amak
Cenah dan INak Edah gagal mempunyai aNak sampai di telinga
sang mertua. Mertua sangat marah kepada INak Edah. INak
Edah hanya merunduk menangis dan meminta maaf sambil
memegang kaki ibu mertuanya. Setiap hari Amak Cenah selalu
menyalahkan INak Edah atas musibah yang mereka alami Seiring
berjalannya waktu rasa suka Amak Cenah kepada INak Edah
semakin kurang. Amak Cenah mulai membenci INak Edah tetapi
istrinya selalu sabar menjalani semua permasalahan tersebut.
Kini, beberapa bulan telah berlalu setelah menghadapi
musibah yang dialami dengan penuh rasa sabar yang
menghasilkan kebahagiaan. INak Edah dikabarkan mengandung
kembali dan hal itu membuat Amak Cenah dan kini ibu
mertuanya kembali menyayanginya. Bulan demi bulan berlalu
hingga usia kandungan Inaq Edah sudah memasuki usia sembilan
bulan. Kini momen yang ditunggu tunggu akhirnya datang, INak
122 | P a g e
Edah melahirkan seorang putri yang diberi nama Syalili Putri yang
dipanggil lili. Seiring berjalannya waktu Lili bertumbuh besar dan
menjadi aNak yang baik dan rajin dalam menuntut ilmu dan
membantu orang tuanya. Kini Lili sudah duduk di bangku kelas 3
SD. Setiap hari ia slalu berjalan kaki dengan bekal singkong rebus
untuk pergi ke sekolah. Di sekolah Lili selalu dibuli oleh teman
sekolahnya karna keadaan hidupnya yang tak berkecukupan tetapi
ia slalu sabar dalam menghadapi temannya. Bahkan ia selalu
berkata dalam hati "saya pergi ke sekolah untuk mencari ilmu,
bukan untuk ajang pamer"
Saat pembelajaran berlangsung di sela-sela Guru
menjelaskan Lili di lempari dengan sebuah kertas oleh temannya,
tetapi ia tetap sabar. Beberapa jam berlalu bel pulang pun
berbunyi Lili pulang dengan berjalan kaki. Di dalam perjalanan ia
menemukan teman-temanya yang sedang bermain. Lili ingin ikut
bermain tetapi ia ragu karna ia tidak punya mainan mewah seperti
teman-temannya. Lili pun pulang dengan lemas dan wajah yang
cembut. Sesampainya di rumah Lili mengucapkan salam dengan
suara yang lemas "assalamualikum, bu" raut wajah Ibu heran
dengan Lili yang sangat lemas
"Lili kau kenapa, apakah kau sakit?. Apakah temanmu
menjahilimu kembali" Lili menggelengkan kepalanya dengan
lemas dan pergi ke kamarnya. Malam pun tiba saat hendak makan
malam Amak Cenah betanya kepada aNaknya "kenapa wajahmu
cemberut seakan baru saja selesai mengerjakan pekerjaan yang
sangan berat" tegur sang ayah yang membuat Lili hanya tertunduk
lemas dan perlahan-lahan ia menceritakan tentang mainan baru
temannya yang dibelikan dari kota. Setelah mendengar cerita
aNaknya, Amak Cenah dan INak Edah langsung memenangi
aNaknya
"tenang saja aNakku. Insyallah ayah akan membelikanmu
mainan seperti temanmu" Lili hanya mengangguk lemas. Setelah
selesai makan, Lili langsung tidur dan ia bermimpi berada pada
sebuah kota besar yang dipenuhi oleh mainan yang begitu banyak.
123 | P a g e
Seketika mimpi itu tiba tiba sirna begitu saja saat Lili dibangunkan
oleh ibunya.
Pagi hari yang cerah diawali dengan wajah yang tersenyum
lebar dan harus menyiapkan mental untuk menghadapi cacian dan
hinaan dari teman-temannya. Saat hendak ke sekolah Lili
kesulitan saat mecari alat transportasi ke sekolah. Namun waktu
terus berjalan Lili sudah tak bisa lagi menunggu karna ia sudah
terlambat dan tanpa pikir panjang Lili memutuskan untuk
berjalan kaki, tiba tiba di tengah perjalan ia dikejar oleh seekor
anjing liar yang sedang kelaparan. Dengan rasa takut yang begitu
besar Lili berlari dengan sangat kencang di perjalanan di pinggir
jalan ia menemukan sebuah gubuk dan Lili beristirahat sebentar
untuk menghilangkan rasa lelah dan haus di saat peristirahatannya
di sebuah gubuk dan tiba-tiba suara pintu gubuk itu terbuka.
"Astaga…siapa itu?" Dengan keringat yang terus
berkeluaran Lili menengok belakang dan ia terkejut karna di
gubuk itu ada seorang nenek yang hidup sebatang kara. Perlahan-
lahan nenek itu mendekati Lili dengan perlahan
"Cu, siapa namamu? sedang apa kau di sini" dengan
tubuh yang gemetar dan keringat yang bercucuran Lili menatap
sang nenek
"maaf nek, aku hanya menumpang untuk menghindar dari
cengkraman seekor anjing yang mengerjarku" ucap Lili dengan
penuh polos. Sang nenek pun tersenyum lebar mengangguk
nganggukkan kepalanya
"Mmm….sekarang kau tak perlu takut sebab kamu telah
berada di tempat yang aman. Ayoo sini" pinta sang nenek karena
cuaca yang sedang turun hujan namun Lili dengan hati yang
terpaksa menerima tawaran sang nenek dan tidak pergi ke
sekolah. Di dalam gubuk tersebut, Lili tertawa gembira karna
cerita sang nenek tanpa ia sadari matahari sudah mulai tenggelam
di ufuk barat. Saat itu juga Lili berlari mengambil tasnya di atas
meja dan berpamitan kepada sang nenek
124 | P a g e
"kenapa kamu buru-buru sekali, cu?" sapa sang nenek
setelah melihat wajah yang panik Lili. Selang beberapa waktu Lili
akhirnya sampai di rumah.
"Assalamualaikum, ibu. ayah Lili pulang" Tanpa menunda
waktu Lili dilempari begitu banyak pertanyaan oleh ibu dan
ayahnya.
"Lili, kamu dari mana? kenapa kamu baru pulang dari
sekolah?. apakah kamu tau sepanjang hari ayah dan ibu
mencarimu kemana-mana?" ucap Ibu yang sedari tadi
menunggunya di pintu rumah denan perasaan yang tak menentu.
Lili hanya melepas senyum lebar keapda ibunya. Lili tidak
menjawap satupun pertanyaan dari ibunya. Saat makan malam ia
kembali menceritakan semua kejadian yang menimpanya sejak
berangkat ke sekolah. Jujur saja, kedua orangtuanya bingung
dengan semua cerita aNaknya, tetapi mereka juga ikut senang
karna melihat putri semata wayangnya bisa tersenyum dengan
lebar tanpa ada beban sedikitpun. Lili merapikan piring seusai
makan malam bersama orangtuanya. Tidak berselang lama ia pun
langsung masuk ke kamar dan istirahat sebab esok ia harus
berangkat ke sekolah lagi.
Terpaan sinar fajar mulai menyelimuti rumahnya. Lili
kemudian mempersiapkan dirinya untuk pergi ke sekolah. Di
sekolah Lili berusaha untuk selalu tersenyum meskipun teman
temannya tetap membulinya dan mengatakan bahwa dia adalah
aNak yang aneh sebab selalu senyum sendiri. Pembelajaran di
sekolah hari ini berlangsung denangan lancar dan sepulang
sekolah Lili pergi ke gubuk tempat si nenek tinggal. Ia pun
menghabiskan waktu pulang sekolahnya di gubuk itu setiap hari.
Hal ini membuat ayah dan ibunya bingung bahkan tidak sering
membuatnya resah-gelisah sebab Lili yang tidak langsung pulang
ke rumah hingga sore hari.
Tiba tiba Inaq Edah mengingat cerita aNaknya tentang
sebuah gubuk dan seorang nenek.
"suamikuu, mungkin aNak kita sedang berada di gubuk
yang pernah diceritakan pada kita. Apakah kau mengingatnya?"
125 | P a g e
dengan wajah yang rada bingung Amaq Edah berusaha mengingat
kejadian itu
"ohh….ya aku mengingatnya. Ayo kita ke sana" Inaq
Edah dan Amaq Cenah langsung pergi mencari gubuk itu. Dalam
perjalanan mencari gubuk itu, orangtua Lili bertanya kepada
setiap orang jalan sampai akhirnya mereka menemukan gubuk itu
dan langsung menyambanginya
"tok..tok…tok…Assalamu'alaikum. Apakah ada orang di
dalam?" Dengan wajah yang bimbang dan takut Amaq Edah terus
mengetuk pintu gubuk tersebut sampai pintu gubuk itu terbuka
"wassalamualaikum…siapa itu?" Seru sang nenek dari
dalam. Lalu, Amaq Edah dan istrinya menyampaikan maksud
kedatangan mereka ke gubuk itu. Sang nenek tersenyum dan
memanggil Lili untuk keluar. Saat lili keluar, Ia terkejut karana
ayah dan ibunya ada di depan gubuk sang nenek. Inaq Edah dan
Amaq Cenah pun berpamitan kepada sang nenek untuk
membawa Lili pulang sebab sudah sore
Sesampainya di rumah Lili dimarahi oleh ibu dan ayahnya
"Lili, mengapa setiap kamu pulang sekolah kamu slalu ke
gubuk itu?" Lili hanya tertunduk diam dan menangis
"di sana aku bisa bermain dan nenek itu selalu bercerita
kepadaku hingga aku bisa tertawa dengan lepas tanpa ada yang
menghiNaku" tutur Lili dengan mimic yang polos
"apakah kamu tau kamu sudah merepotkan nenek tua
itu?. Pokoknya mulai dari besok kamu tidak boleh lagi ke gubuk
itu. Mungkin dia nenek itu ingin menghasutmu dan membawamu
pergi jauh" ucap sang ibu. Lili berteriak dan tidak percaya dengan
semua perkataan ibunya.
Di sekolah lili selalu memikirkan tentang perkataan
ayahnya sampai ia tidak memperhatikan pelajarannya. “Teeetttt,
teeetttt” suara lonceng pulang berbunyi. Di perjalanan pulang Lili
hanya memikirkan apakah ia harus pergi ke gubuk itu atau tidak.
Satu sisi ia ingin menemui sang nenek dan disisi lain ia takut
dengan amarah ayahnya. Setelah berpikir panjang Lili
memutuskan bahwa ia akan pergi ke gubuk itu tanpa
126 | P a g e
sepengetahuan ayahnya untuk mengunjungi nenek. Ia pun
bergegas pergi ke gubuk. Sang nenek terkejut "Lili, kenapa kamu
ke sini?. Bukanlah kamu dimarahi oleh ayahmu apabila kamu
menemui nenek?" Lili kembali dibuat bingung, dari mana sang
nenek mengetahui semua kejadian dirumahnya waktu itu
"loh dari mana nenek mengetahui semua itu?". nenek itu
tersenyum
"mmm…ya begitulah nenek tidak bisa menjelaskannya
kepadamu, karna mungkin kamu tidak mengerti" jawab sang
nenek. Lili menghiraukan semua perkataan nenek itu dan ia
kembali bermain dan tertawa senang. Tanpa disadari waktu mulai
sore dan Lili bergegas untuk pulang. Hari demi hari di gubuk itu
membuat Lili mulai bosan dengan semua cerita sang nenek. Tiba-
tiba si nenek mengingat masa kecilnya yang pernah memainkan
sebuah permainan pada masa kecilnya yang bernama Manuk
Kumbung.
"Lili, apakah kamu mau nenek ajarkan permainan baru
yang namanya Manuk Kumbung?" dengan wajah yang bingung Lili
mengatakan "haa permainan apa itu nek, bagaimana cara
mainnya?"
"Tenang, nenek akan mengajarkan dan memberitaumu
caranya" lalu sang nenek menjelaskan cara bermainan Manuk
Kumbung
"Pertama-tama, kamu harus mencari teman untuk
bermain dan membutuhkan sebuah sarung agi setiap pemain. Saat
permainan dimulai satu pemain bertugas untuk menjaga dan
yang lainnya bersembunyi mengguNakan sarung tersebut" Lili
mulai tersenyum dengan girang
"waah…sepertinya seru, aku sudah tidak sabar untuk
mencobanya, nek" ucap Lili dengan penuh kegirangan. Namun
kini setelah hari sudah sore, Lili kembali berpamitan. Saat Lili
akan tidur ia selalu membayangkan betapa serunya permainan
yang diberitau oleh sang nenek sampai ia tertidur dalam keadaan
tersenyum. Haripun mulai pagi di sekolah Lili menceritakan
permainan yang diberitahu nenek kepadanya dan mengajak teman
127 | P a g e
temannya untuk bermain nanti sore. Mendengar semua itu teman-
temannya merasa penasaran dan ingin mencobanya.
Pada sore hari teman temannya datang kerumah Lili
"assalamu'alaikum Lili" Inaq Edah dan Amaq Cenah
bingung
"ada apa bu. kenapa di depan rumah kita" Inaq Edah dan
Amaq Cenah keluar dari rumahnya. Ia terkejut karna ada banyak
teman yang membawa sarung perorang di rumahnya.
"Ada apa ini. Kalian ada perlu apa sama Lili" perjelas
Amaq Cenah. Kini, semuanya terdiam dan ada salah satu dari
mereka yang mengatakan "kami ingin bermain dengan Lili"
ayahnya tersenyum
"Oooo sebentar. Lili, Lili, ini teman kamu nungguin kamu
untuk bermain" tidak lama kemudian Lili keluar dari rumahnya
sambil membawa sebuah sarung. Inaq Edah dan Amaq Cenah
kembali bertanya
"Lili ada apa ini. Kenapa kamu dan teman-temanmu
memegang sarung?" Lili tersenyum dengan wajah yang sedikit
bingung
"mmm…ibu dan ayah liat saja nanti" ucapnya ringkas.
Mereka pun memulai permainan sampai lupa akan waktu yang
sudah mulai gelap . Pada saat makan malam Amaq Edah dan Inaq
Cenah ingin bertanya tentang dari mana ia mendapatkan
permainan itu. Tetapi INak Edah dan Amaq Cenah tidak mau
ambil pusing tentang permianan itu asalkan putrinya tetap bisa
bermain tanpa ada kata hinaan dan cacian dari teman-temannya
lagi.
128 | P a g e
MAIN REMPAK
Mutiara Adeka Syabani
Di suatu desa bernama desa Wanasaba hiduplah seorang
janda miskin bernama Inaq Sur. Inaq Sur sehari-hari bekerja
menjual sayuran hasil kebun belakang rumahnya. Upah yang
didapatkan juga sangat pas-pasan untuk memasok kebutuhan
hidupnya. Belum lagi jika ia harus menghidupi putri semata
wayangnya yang bernama Nak Icak (Nak panggilan untuk aNak
perempuan di dareah Wanasaba).
Nak Icak merupakan aNak yang periang dan keras kepal
Nak Icak berusia sekitar 8 tahun. Ia merupakan aNak yang gemar
bermain dan ia memiliki banyak teman. Inaq Sur hidup sangat
sederhana ia dan Nak Icak hanya tinggal di sebuah rumah kecil 2
kamar dengan atap jerami berlantaikan semen yang sudah bolong
berdinding kikis yang ditempeli dengan kalender bekas. Suami
Inaq Sur yang bernama Amaq Hen sudah meninggal sejak lama
akibat tidak ada biaya pengobatan sehingga sakit yang dideritanya
semakin parah hingga akhirnya meninggal di saat Nak Icak masih
berusia 2 tahun.
Siang itu sangat terik Nak Icak yang sangat bingung
kenapa Inaq Sur belum pulang padahal hari sudah menjelang
siang. Ia sangat bosan meski sudah bermain dengan boneka
kesayangannya yang sudah lusuh dan terdapat bagian yang dijahit
agar isi boneka tidak keluar. Tiba tiba suara ketukan pintu
terdengar.
"Assalamualaikum…tok…tok…tok…Icak…Cak…buka
Cak!" Suara itu Nak Icak kenal betul, siapalagi kalau bukan
ibunya. Nak Icak yang sedang bermain bersama bonekanya
sontak terkaget dan membukakan pintu rumahnya. Dibalik pintu
yang terketuk terdapat seseorang yang tak lain dan tak bukan
adalah ibunya yang baru saja pulang dari pasar. Nak Icak
mencium punggung tangan ibunya lalu mereka duduk bersama di
baton di halaman rumah kecil mereka baton (tempat duduk seperti
meja yang dapat diduduki) yang terbuat dari kayu yang dibuat
129 | P a g e
sedemikian rupa dengan alat yang seadanya hanya mampu
diduduki oleh dua orang karena sudah usang.
"Cak, kamu bisa pakai ini. Inaq sudah kerja serabutan buat
tambahan tabungan untuk beli ini" Ucap Inaq Sur seraya
mengeluarkan sebuah pelastik kecil dari dalam kantong bajunya
yang kumal.
"Apa itu, Bu?" Icak memasang wajah yang bertaya-tanya
sambil membuka kantong tersebut dan ternyata isinya adalah
sebuah cincin emas yang sangat cantik.
"Sebenarnya sepulang dari pasar, Inaq bekerja serabutan
Nak untuk membeli cincin ini" Tukas Inaq Sur dengan wajah
tersenyum kecil sembari memakaikan cicin tersebut di jari mungil
Icak.
"Asstga…kok bisa longgar sih, tapi sudahlah lagi pula
longgar sedikit kamu bisa pakai saat jari jari tanganmu sudah agak
besar ya ini sedikit lagi pas kok" Inaq Sur terheran-heran dengan
ukuran yang dia belikan padahal dia tau betul ukuran jari tangan
aNaknya kenapa masih saja longgar. Inaq Sur melepas cincin
tersebut dengan perasaan kecewa sebab salah memilih cincin
untuk aNaknya.
"Iiiihhh….Inaq sih!. Aku akan tetap memakainya lagian
kan longgarnya cuma sedikit" Protes Nak Icak pelan.
Nak Icak dan Inaq Sur terus berdebat perkara cincin
tersebut setelah beberapa menit akhirnya Nak Icak mengalah .
Inaq Sur tersenyum mengambil kembali cincin tersebut lalu
memasukkannya ke dalam laci yang ada di lemari. Ketika itu Inaq
Sur pergi untuk membersihkan diri. Nak Icak yang sangat ingin
memakai cincin tersebut berlari ke kamar ibunya dan membuka
lemari untuk mengambil cincin tersebut dan memakainya. Nak
Icak segera meninggalkan rumah untuk pergi ke rumah temannya.
Di saat perjalanan terik mentari menyengat cukup keras
sehingga Nak Icak berhenti sejeNak di kedai es tepi jalan. Tidak
berselang lama, Nak Icak kembali berjalan menuju rumah
temannya. Sesampainya di sana ia mengajak Nak Ria untuk
bermain Rempak di Kokoq Songgen. Nak Ria dan Nak Icak
130 | P a g e
berjalan melewati gang dan akhirnya sampai di Kokoq Songgen.
Kokoq Songgen merupakan sungai yang terletak di depan kubur
Songgen desa wanasaba. Jalan yang dilalui merupakan tempat orang
berjualan lauk-pauk atau disebut ten ten.
Nak Icak dan Nak Ria akhirnya sampai di Kokoq Songgen
dan di sana ada banyak sekali aNak aNak seusia mereka yang
sedang memainkan Rempak di dekat bibir sungai. Bahkan ada juga
beberapa warga dan aNak-aNak yang mandi dan mencuci baju.
Nak Icak dan Nak Ria bermain Rempak bersama teman sebaya
mereka. Rempak merupakah permainan tradisional masyarakat
Wanasaba yang biasanya dimainkan oleh aNak-aNak. Rempak
sendiri memiliki banyak jenis, salah satunya adalah Rempak
Kelambi yang saat ini akan dimainkan oleh Nak Icak dan Nak Ria.
Kemudian mereka membuat garis garis petak lompat yang
berbentuk seperti baju. Lalu aNak-aNak lain yang ikut bermain
Rempak sibuk mencari katik yaitu batu yang diguNakan untuk
menandai petak mana yang tidak boleh kita injak. Permainan
dimulai dan cukup seru sebab seringkali kelompok Nak Icak
menjadi lawan kalah dan kadang saingan mereka. Tanpa disadari,
langit mulai redup pertanda hari sudah sore. Nak Icak dan Nak
Ria bergegas untuk pulang sama bersama aNak-aNak yang lain.
Sesampainya di rumah Nak Icak langsung dimarahi oleh
ibunya karena keluar rumah tidak meminta izin. Inaq Sur sangat
khawatir dengnnya. Nak Icak pergi untuk membersigkan diri di
dalam kamar mandi dan seketika ia baru tersadar Cincin yang
diberikan ibunya hilang. Dada Nak Icak serasa sesak, tangannya
bergetar, dan ia mulai panik. Bagaimana bisa ia seceroboh itu?.
Kakinya bergetar keringat dingin bercucuran gayung yang semula
ia pegang jatuh begitu saja tubuhnya serasa mati sebelah.
Malam hari pun telah tiba tak ada niatan Nak Icak untuk
memberitahu Inaq Sur perkara hal besar tersebut Nak Icak
sangat takut karena dibalik sosok penyayang Inaq Sur juga
memiliki watak pemarah dan tegas itu hal yang membuat Nak
Icak takut memberitahu hal itu. Nak Icak mengunci rapat rapat
kamarnya di malam itu lalu menumpahkan air matanya sambil
131 | P a g e
memeluk bantal agar tangisnya tidak terdengar suara ketukan
pintu kamar sontak membuat Nak Icak kaget dia segera
menghapus air matanya lalu bergegas membukakan pintu kamar
Inaq Sur yang melihat mata sembab dari Nak Icak lantas
memasang ekspresi seolah bertanya tanya hal apa yang terjadi
pada putri kesayangannya tersebut
"Nak, kenapa kamu menangis. Ada hal apa apa lagi?"
ucap Inaq Sur memdekap erat tubuh aNaknya yang sedari magrib
menangis.
"Maaf Inaq, aku sedang tidak eNak badan sebaiknya aku
tidur dulu ya" Inaq Sur mengangguk pelan. Ia paham jika putrinya
sedang kecapekan. Ia mencium pipi putrinya lalu bergegas keluar
kamar. Nak Icak menutup kembali pintu kamar lalu menangis
lagi. Sampai ia tak sadar jika ia tertidur dalam tangisnya malam
itu.
Terik mentari pagi menyapa pagi yang cerah di hari
minggu. Nak Icak terbangun lalu segera melakukan sholat
shubuh. Hawa dingin seakan akan menusuk tulang beberapa kikis
yang ada di rumah Nak Icak bolong sehingga hawa dinginnya
sangat terasa. Nak Icak melihat Inaq Sur yang sedang menata
sayuran di bakul untuk dijual di pasar tradisional Wanasaba. Nak
Icak yang melihat ibunya sedang menata sayur di bakul pun sedih
mengingat kerja keras ibunya untuk membelikannya cincin
tersebut . Bahkan ibunya rela menyisihkan uang tabungannya
selama bertahun-tahun demi membelikan aNaknya sebuah cincin.
Nak Icak termenung dan Inaq Sur yang melihat hal tersebut
langsung mencolek bahu putrinya yang membuatnya terkejut.
"Aduhh cak... Mikirin apa sih pagi pagi gini. Inaq mau
berangkat ke pasar. Ini uang jajannya nanti jangan main jauh-jauh
ya, Nak" Ucap Inaq Sur sembari memberikan uang logam yang
jumlahnya dua ribu lima ratus rupiah.
"Maaf Nak, Inaq belum ada uang. Sepulang dari pasar
nanti Inaq berikan lagi“ lanjut Inaq Sur kepada Nak Icak
kemudian pergi. Pagi ini Nak Icak berniat pergi ke rumah Nak
132 | P a g e
Ria untuk curhat ke Nak Ria atas kejadian yang sudah
menimpanya.
Sesampainya di rumah Nak Ria, Nak Icak melihat dua
teman sebayanya yang sedang duduk di rumah Ria. "Bee Nak
Icak yadi baru aja mau ke rumah buat manggil eh udah dateng
aja" Ucap Nak Ria.
"Iya nih main yokk…!" Ucap Nak Rita
"Ayokk" Ucap Nak Erna.
Mereka berempat akhirnya membuat garis garis untuk
bermain rempak dan kemudian mencari katik yang tepat untuk
bermain Rempak. Permainan akhirnya dimulai dengan Nak Erna
yang merupakan pemain pertama mulai melemparkan katiknya ke
petak lompat setelah memastikan katiknya tepat di petak lompat
Nak Erna mulai melompat, ketika sudah hampir selesai Nak Erna
tidak sadar telah menginjak garis petak lompat
"Yaahh ih kesel banget" Tukas Iengan mengerutkan
wajah
"Ya sudah. aku ya giliran kedua" Ucap Nak Rita dengan
membawa batu katik di tangannya. Nak Rita mulai melompat dan
tak sengaja menginjak garis lompat tetapi Nak Rita tetap
melanjutkan lompatannya seolah tak peduli.
"Eh, kamu curang!" Ucap Nak Ria sambil menunjuk ke
arah Nak Rita yang sedang melanjutkan lompatannya seakan tak
dengar Nak Rita tetap melanjutkan lompatannya seolah tak
mempedulikan sekitar.
Disebabkan Nak Ria yang geram lalu mendorong tubuh
Nak Rita hingga tersungkur ke tanah sontak Nak Icak dan Nak
Erna sangat terkejut atas apa yang Nak Ria lakukan. Nak Rita
menatap Nak Ria dengan tatapan tenang seolah tidak terjadi apa
apa lalu berusaha berdiri dengan telapak tangan yang sudah
tergores namun Nak Rita berhasil berdiri lalu menatap dengan
bengis sambil mendorong bahu Nak Ria, Nak Ria yang tak
Terima menjambak rambut Nak Rita dan Nak Icak hanya bisa
pasrah melihat pertengkaran kedua temannya tersebut. Nak Icak
133 | P a g e
dan Nak Erna sangat ingin melerai tapi pertengkaran mereka
nampak sengit segingga mengurungkan niat mereka berdua.
Dari kejauhan Inaq As datang berjalan tergopoh-gopoh
menuju ke arah tempat mereka bermain.
"Kalian, kenapa bertengkar dan saling pukul memukul
bikin ribut saja sudah main di tempat lain sana" ucap Inaq As
memasang wajah yang sangat kesal.
"Dia duluan!" Teriak Nak Rita dan Nak Ria serentak
secara bersamaan sambil saling menatap tajam.
Nak Icak yang mencoba menghindari kesalah pahaman
lalu menceritakan apa yang terjadi ke pada Inaq As .
"Jadi gitu " Kata Nak Icak dan Nak Erna selepas
menceritakan semua hal yang terjadi. Inaq As pun paham dan
mencobanya untuk tenang karena situasinya mereka berdua sama-
sama salah Inaq As tidak membela siapapun tidak membeda-
bedakan siapapun, walaupun Nak Ria adalah putrinya. Akhirnya
Inaq As pun berhasil melerai pertengkaran mereka berdua. Nak
Rita yang nampak kesal pun terdiam dan mengalah karena dia
yang sebenarnya salah lebih dulu. Nak Rita pun meninggalkan
rumah Nak Ria. Inaq As pun meninggalkan mereka yang sudah
damai. Setelah Itu Nak Erna pun berpamitan pergi.
Kini hanya tinggal Nak Ria dan Nak Icak karena yang lain
sudah pulang dan ini adalah waktu yang tepat untuk Nak Icak
curhat ke Nak Ria.
"Kamu tau gak cincin yang baru dibelikan Inaq-ku hilang"
ucap Icak membuka pembicaraan sembari menatap sayu ke arah
Nak Ria.
Nak Ria yang terkejut lantas melotot lalu berteriak
“loh…kok bisa sih!" Nak Icak yang enggan menceritakannya pun
terpaksa menceritakan kejadian tersebut.
"Oh kasian banget kamu" ucap Nak Ria menatap Nadia
sendu
"ya kasian lah terus aku harus bagaimana? punya ide?"
Tukas Nak Icak yang kesal karena jawaban singkat Ria padahal
Icak sudah menceritakan panjang lebar.
134 | P a g e
"Kamu ngaku aja kalau cincin itu hilang?. Simple kan?"
Seakan tak terima atas jawaban Nak Ria Nak Icak menatap Nak
Ria tajam.
"Kamu ga inget ya, Inaq-ku pasti sangat sedih dan akan
memarahiku sebab untuk membeli cincin itu dia harus bekerja
serabutan paruh waktu demi cincin itu!" Kesal Nak Icak dengan
banyangan tangis dan Lelah dari ibunya.
"Ya, sudah kamu dikasih solusi ga mau kalo gitu itu ya
deritamu sih" balas Nak Ria menepuk tangan Icak sambil tertawa
terbahak-bahak.
"Iiihhh…Riaa!. Kamu bisa serius gak sih. Kesel deh!" Nak
Icak menepak nepakkan kakinya yang enteng duduk di kursi.
"Itu demi kebaikanmu Nak Icak. Kalau ditunda-tunda
nanti Inaq-mu tau sendiri kan bahaya makin kesel dah itu lagian
juga yang nyuruh keras kepala tuh siapa coba?" tegas Ria sembari
menunjukkan jari telunjuknya ke arah kepala sebagai symbol aar
Icak mikir dengan baik.
Nak icak mengangkat sebelah alisnya " Ya, sudah nanti
aku pikirin sendiri ini sudah mau siang pasti Inaq sudah pulang
dari pasar" Nak Icak berdiri lalu hendak berpamitan ke Irma
"dadah Irma makasih sarannya"
Sesampainya di rumah Nak Icak termenung di teras
rumah. Memori tentang kerja keras ibunya seakan-akan berputar
di kepala. Ia menepuk kepalanya pelan dalam lubuk hati
terdalamnya ia ingin menceritakan hal tersebut kepada ibunya
namun pikirannya menepis hal itu. Bagaimanapun Inaq Sur
adalah seorang ibu yang galak. Hal itu membuat Icak semakin
bingung dia mengingat perkataan Ria sebelum Inaq Sur
menyadarinya sebaiknya Nak icakk ceritakan saja.
Gerbang rumah terbuka menampakkan sosok Inaq Sur
dengan bakul di kepala. Nak Icak segera mengambil tangan
ibunya lalu mengecup punggung tangannya. Inaq Sur masuk lalu
membersihkan tubuhnya. Nak Icak masih duduk enteng di teras
rumah, namun pikirannya kacau karena cincin dan harus
memberitahu ibunya ataukah tidak. Perasaaan itu berkecamuk
135 | P a g e
dalam tubuhnya. Dia tidak tau apa yang akan dilakukan. Dia
merasa bersalah, di satu sisi dia tak mau disalahkan sebab bukan
karena niatnya melainkan memang hilang begitu saja. Nak Icak
tak henti hentinya memarahi dirinya sendiri. Lama melamun tak
disangka ibunya sudah di depan mata sambil membawa teh di
tangan. Nak Icak yang terkejut. Ibunya tersenyum lalu merayu
anaknya dengan mencolek pipinya.
"Inaq, ada yang ingin kuceritakan!" Ucap Icak terbata-bata
namun ia sudah memutuskan membulatkan tekad untuk
memberitahu ibunya.
"apa itu? Ayo ceritakan? " Ucap ibunya yang masih
menyeruput the lantas memasang ekspresi penasaran dengan apa
yang sebenernya akan disampaikan oleh putrinya ini.
"Ibu tau kan kalau aku ini keras kepala. Cincin yang ibu
belikan kemarin aku ambil diam-diam di lemari dan aku pakai
buat main Rampak di rumah Ria dan ternyata hilang. Maafkan
Icak, bu" Ucap Nak Icak memelas dan memeohon ampun agar
ibunya tidak marah dan memberinya ruang untuk menyelesaikan
hal itu.
Tapi, beda dengan Inaq Sur, cangkir teh yang hendak dia
seruput terjatuh dan pecah. Nak Icak yang sudah menduga ini
terjadi lantas menangis histeris sambil meminta maaf berkali-kali
ke ibunya. Inaq Sur hanya diam. Dia tidak mengucapkan sepatah
kata pun.
"Icak! ... Kamu tau jerit payah Inaq cari nafkah. Kerja
keras paruh waktu demi cincin itu?. Kamu tidak tau bagaimana
Inaq bela-belain panas-panasan pergi ke pasar untuk cari nafkah
dan sekarang Ica lakukan hal ini. Sungguh, tindakanmu itu
mengecewakan Inaq." Ucap Inaq Sur dengan lemah lembut. Hati
Ica serasa teriris. Dia sudah membayangkan jika hal ini terjadi. Di
balik suara ibunya yang lembut terdapat kekecewaan yang
mendalam.
"Maaf, Bu. Icak minta maaf" Permintaan itu bergeming di
telinga ibunya.
136 | P a g e
"Kamu tau cincin itu sangat mahal. Kita mana mampu
membeli benda itu. Kamu yang tidak bisa sabaran menunggu
sampai cincin itu pas di jari karena kecerobohanmu" Inaq Sur
membentak Icak lalu melangkah memasuki kamar.
Sudah seminggu sejak kejadian itu Nak Icak tidak bisa
berbuat apa-apa. Sikap ibunya yang dingin dan cuek seakan
membuatnya canggung dan tidak betah di rumah. KIni jam
dinding menunjukkan pukul 14.00 siang. Nak Icak sedang duduk
di depan TV bersama ibunya dan tidak ada percakapan sedikitpun
yang terjadi di antara mereka bedua.
Hingga suara ketukan pintu terdengar. Sosok dibalik pintu
tersebut adalah Baiq Amel seorang gadis kuliahan yang
merupakan putri dari penjaga kedai tempat Nak Icak biasa
membeli es. Baiq Amel masuk lalu menyelamani punggung
tangan Inaq Sur. Inak Sur yang melihat detail wajah baiq Amel.
"Ada apa, Amel? " Tanya Inaq Sur dengan penuh sopan
santun.
"jadi gini kejadiannya sudah lama ibu saya menemukan
cincin di kedai dia tau kalau cincin tersebut adalah milik Nak Icak
dia ingin memberikannya tapi terburu buru karena harus
berangkat ke Yogyakarta untuk menghadiri acara wisudaku
sehingga tidak ada kesempatan untuk mengembalikan Cincinnya
makanya hari ini aku mau kembalikan.
Nak Icak sontak kaget, dia baru ingat kalau dia mampir di
warung tersebut sebelum cincin nya menghilang.
"apakah betul ini cincin milik Nak Icak?" Tanya Baiq
Amel sembari memberikan cincin tersebut.
"iya betul terima kasih kak" Tutur Nak Icak kemudian
Baiq Amel pamit Untuk cepat cepat pulang karena ada pekerjaan.
Inaq Sur mengantarkan Nak Amel sampai pintu gerbang
"terima kasih Baiq, sudah mengembalikannya" Ucap Inaq
Sur dengan wajah yang berbinar binar karena masih tidak
menyangkanya.
137 | P a g e
"sama sama kalau begitu saya permisi ya" sesampainya di
gerbang Baiq Amel berpamitan ke Inaq Sur dan Nak Icak lalu
pergi meninggalkan mereka.
Inaq sur lalu langsung memeluk anaknya untuk meminta
maaf. Nak Icak juga meminta maaf karena telah melakukan
kesalahan fatal. Nak Icak berjanji untuk menjadi anak yang tidak
keras kepala dan penurut agar bisa menjalani kehidupan seperti
biasa dan tidak ada kecanggungan diantara mereka.
138 | P a g e
KOKOQ TUMANG
Widia Yulastri
Dahulu kala, di daerah Lombok terdapat sungai yang
bernama Sungai Tanggek atau dalam bahasa sasak biasa disebut
"Kokoq Tanggek". Kokoq berakna Sungai, terbentang dari bawah
perape melewati beberapa desa sampai dengan Tanjung Menangis.
Salah satu desa yang di lewati oleh Kokoq Tanggek adalah desa
"Lengkok Embuk". Konon katanya Kokoq Tanggek merupakan raja
dari kokok lain di daerah Lombok. Asal muasal nama Tanggek
tersebut terbentuk karena kekuatan ghaib di kokoq tersebut.
Kekuatan ghaib tersebut berasal dari banyaknya roh-roh dan jin-
jin muslim serta hewan-hewan air seperti ikan tuna, ular piton,
dan lain-lain yang menghuni Kokoq Tanggek. Penghuni-penghuni
astral Kokoq Tanggek akan keluar ketika malam hari terutama
malam jum'at. Konon katanya ikan tuna dan ular piton itu
berukuran fantastis bahkan melebihi besar paha orang dewasa.
Akan tetapi penghuni-penghuni astral tersebut tidak mengganggu
siapapun jika ia tidak diusik terlebih dahulu.
Pada suatu pagi yang sangat cerah dengan indahnya
pemandangan sawah di bawah terik matahari yang sangat indah.
Warga desa Lengkok Embuk dan beberapa warga dari desa
tetangga terlihat sangat gembira saat sedang melakukan kegiatan
mereka masing-masing. Ada yang mencuci, main perahu-
perahuan menggunakan pelepah pisang, ada yang bercanda gurau,
dan ada yang asik berenang. Di tengah-tengah kegembiraan
mereka terlihat seorang anak yang bernama Udin naik ke sebuah
batu besar yang konon katanya batu besar itulah tempat penghuni
astral itu tinggal. Udin dengan bangga menyapa orang-orang yang
sedang tertawa lepas. Akan tetapi, seketika semua orang terdiam
saat melihat Udin di atas batu besar itu. Ibu Udin yang bernama
Jumi'ah langsung berteriak "Udin turun lekan batu ini, bahaye batu
ini anakku". Tapi Udin sama sekali tidak menghiraukan teriakan
ibunya, ia malah asyik sendiri sambil terlihat bangga karena ia
orang pertama yang bisa naik di batu besar itu. Setelah melihat
139 | P a g e
tingkah laku Udin, semua warga ikut berteriak "Udin turun" akan
tetapi Udin tetap tidak menghiraukan teriakan para warga.
Beberapa saat kemudian suara petir bergemuruh dan
terlihat dari kejauhan, air Kokoq Tanggek mulai berubah menjadi
kecoklatan atau biasa disebut lahar dingin dengan begitu banyak
sampah yang hanyut karena derasnya lahar dingin Kokoq Tanggek.
Udin pun terpeleset ia adalah orang pertama yang ikut hanyut
dengan sampah-sampah yang begitu banyak. Udin berteriak
"tolong tolong, tolong" akan tetapi tidak ada yang
menghiraukannya karena semua orang sibuk menyelamatkan diri
sendiri. Jumi'ah menangis melihat anaknya yang hanyut dari
kejauhan dan berniat menunggunya di tepi sungai dan
menyelamatkannya. Akan tetapi dalam waktu yang sangat singkat
lahar dingin Kokoq Tanggek menyapu bersih warga-warga yang
masih berada di sekitarnya termasuk Jumi'ah. Bencana tersebut
memakan banyak korban dan bencana itu berakhir setelah
berhari-hari.
Para warga sekitar yang selamat dari bencana itu
menemukan organ-organ tubuh dari para korban di sekitar
persawahan dan di sekitar Kokoq Tanggek. Ada yang menemukan
hidung, telinga, tangan, kaki, kepala, bahkan organ dalam dari
para korban. Bencana itu terjadi pada tahun 1994. Sejak saat itu,
tidak ada tanaman yang bisa tumbuh subur di desa tersebut.
Ekonomi warga semakin sulit karena tidak adanya penghasilan
atau pekerjaan yang bisa menghasilkan uang ataupun makanan.
Pada saat itu makanan yang bisa mereka makan hanyalah
kangkung, ubi, dan jagung. Dan untuk mendapatkan ubi dan
jagung itupun warga harus berusaha keras. Jagung yang hanya bisa
tumbuh setinggi 30cm pun buahnya sangat masih kecil dan dari
satu buah hanya ada sedikit butiran jagung yang bisa di makan.
Kangkung yang tumbuh menguning pun mereka makan karena
kelaparan dan bahkan ubi yang hanya sebesar jari kelingking
manusia pun mereka perjuangkan untuk didapatkan.
Bertahun-tahun kemudian perekonomian warga semakin
membaik, akan tetapi tidak ada satupun warga yang berani
140 | P a g e