bosannya hilang. Ia berniat memasuki kamar milik ibu Minah.
Dengan gerakan tubuh seperti mengendap endap ia masuk ke
dalam kamar dengan perlahan.
"Semoga tak ada kecoa di dalam sana" gumam Ayu sambil
mendengus pelan.
Ayu merasa lega tidak ada kecoa di dalam sana, namun lemari di
sudut ruang kamar itu membuatnya penasaran akan isinya.
"semoga isinya dapat membuatku tak bosan" ucapnya Kembali
meyakinkan diri.
Setalah ia membuka lemari tersebut ternyata isinya
hanyalah tumpukan pakaian lusuh. Ia merasa kecewa sebab tidak
ada yang bisa membuatnya menghilangkan kebosanan. Namun
satu barang yang membuatnya terpukau yaitu kerudung putih
yang sangat indah sekali. “Aku akan mencoba memakainya"
gumam Ayu pelan sambil mengambil kerudung putih.
Ayu pun segera membawanya keluar rumah ibu Minah
dan langsung mencobanya. Tiba-tiba suara ibu Minah terdengar
jelas dari kejauhan memanggil nama Ayu.
"Nak Ayu. Lari…. Cepat lari dari rumah" teriak Ibu
Minah sambil berlari kencang. Ayu pun kebingungan mengapa ia
tiba-tiba diminta untuk berlari.
"Ada apa bu?"
"Cepat larilah. Tapi jangan sampai wajahmu terlihat.
Pakailah kerudung yang kau pakai itu untuk menyembunyikan
wajahmu". Tanpa alasan Ayu pun pergi berlari tanpa tujuan yang
jelas. Setelah berlari cujup jauh. Ayu terhenti mengingat ucapan
ibu Minah.
"Untuk apa aku berlari? Jangan perlihatkan wajah saja, itu
sudah cukup kan?"
Ayu memakai kerudung yang diambil dari lemari ibu
Minah untuk menyembunyikan wajahnya dan kembali menuju
jalan utama untuk mencari alasan kenapa ia diminta untuk berlari.
"Kerajaan ini damai saja. tidak ada keributan apa apa"
Dengan santai ia berjalan menyusuri jalan tersebut dan
masih dalam keadaan memakai kerudung. " Kenapa para pelayan
41 | P a g e
ayah ada di mana-mana?. Untung saja sudah kuceritakan
segalanya kepada ibu Minah, kalau tidak tamatlah aku.
Mungkin sebaiknya aku berlari saja" gumam Ayu dalam hati.
Ayu masih merasa tenang dengan hal tersebut. Orang
yang dipercaya oleh ayahnya, dan dibayar mahal untuk
melaksaNakan tugas ada di mana-mana membuat Ayu menyadari
bahwa ia sedang dicari. Ia berlari menuju arah sebaliknya. Namun
ketika ia berlari angin kencang datang yang membuat kerudung
itu terbang. "Gawat!!. Kalau begini aku akan ketahuan". Ia pun
berlari sekencang mungkin agar tak disadari oleh mereka yang
sedang mencari.
Salah satu dari pelayan tersebut telah menyadari dan
melihat wajah Ayu yang tanpa kerudung.
"Itu dia. Cepat tangkap" ucap pelayan yang mengenali
wajah Ayu tanpa kerudung. orang itu berteriak agar para pesuruh
lainnya sadar. Pelayan pelayan lain melihat dan ikut mengejarnya.
Ayu mulai panik dan takut dengan apa yang terjadi. Panas
matahari di siang hari membuat pelayan ayahnya semakin mudah
mencari Ayu. Namun, Ayu bukanlah aNak bodoh yang hanya
berlari dan menunggu ditangkap oleh para pelayan itu. Ayu cukup
jago dalam hal itu.
Ia pun bersembunyi di balik pohon besar seraya
menunggu pelayan ayahnya pergi. Orang-orang itu pergi menuju
tempat lain untuk mencarinya, sedangkan Ia berlari menuju arah
sebaliknya sejauh mungkin sampai tak ada yang menyadari.
"Sebaiknya aku harus menemui Arijin dan merencaNakan sesuatu
bersama" gumam Ayu saat sedang menyekap diri di balik pohon
yang besar.
Ia mulai bangun dari posisinya dan melangkah keluar
secara pelan. Sebab terlalu panik dan cemas, ia tak
memperhatikan jalan dan terjatuh karena ranting yang tak sengaja
ia injak. suara benturan tubuhnya karena terjatuh itu membuat
semak-semak yang ada di belakangnya bergerak dan berbunyi.
"Apa itu?" gumam Ayu dalam hati. Sebab Ia merasa
penasarn dengan hal itu. Dengan keringat yang mulai menetes
42 | P a g e
jatuh, Ayu memberanikan diri untuk memastikan tidak ada yang
membuntutinya. Dengan tangan sedikit gemetaran, ia mendekat
menuju semak-semak. semak-semak itu mengeluarkan suara
kembali dengan gerakan yang sedikit gila. Sesuatu keluar yang
membuatnya terkejut.
"Whaaa…!!. Syujurlah, aku kira apa apa. Ada-ada saja
mereka ini" Ketika seekor induk kucing dan satu ekor aNaknya
keluar. Merasa terancam, induk kucing itu mengembangkan
rambutnya dan mengeong dengan keras. Mereka seperti
kelaparan, namun Ayu tak membawa apa-apa.
"Syukurlah. Aku kira apa apa. Maaf ya aku tak membawa
makanan" ucap Ayu pelan sambil memohon maaf pada sang
kucing.
Ayu melanjutkan perjalanan menuju tempat Arijin. Ketika
malam dating, ia pun tiba di depan rumah Arijin. Ketika Ayu
mencoba mengetuk pintu rumah, ia kembali mendengar suara
dari kejauhan. Suar ini sedikit berbeda dengan yang sebelumnya.
"Ini bukanlah suara hewan. Ini suara langkah kaki yang mendekat.
Bagaimana ini?" gerutu Ayu dalam hati sambil matanya streo
melihat keadaan. Bukanlah suara semak-semak. kali ini ia
mendengar suara langkah kaki seseorang yang jauh di sana.
kakinya mulai gemetar, keringat dingin pun tak terasa bercucuran,
nafas yang tak beraturan membuatnya sedikit sulit untuk
melanjutkan aksinya. suara itu mulai mendekat namun Ayu
membatu, masih saja berdiri dan fokus mendengar suara tersebut.
Ayu berusaha untuk membuka pintu kayu rumah Arijin.
"Kenapa pintu ini dikunci? Di mana Arijin?"
Ia pun berlari menuju kebun yang ada di belakang rumah
Arijin. Mengambil batu yang agak runcing dan mulai membuat
pesan di batang pohon mangga dekat kebun. Suara langkah kaki
itu berhenti, namun Ayu dengan segara mengukir batang kayu
tersebut dengan cepat. Suara langkah kaki tersebut kembali
terdengar mendekat. Sosok lelaki mulai terlihat dibalik dinding
rumah Arijin. Dengan sigap Ayu melempar batu yang ia guNakan
untuk mengukir pesan di atas batang pohon tersebut. Batu
43 | P a g e
tersebut mengenai perut lelaki yang membuntutinya. Ia pun
berlari meninggalkan rumah Arijin.
"Sudah kuduga. Salah satu pelayan ayahku menyadari dan
membuntutiku sampai di sini. Jangan sampai mereka menyelidiki
rumah siapa yang kukunjungi" Ayu yang kini sedang kelelahan,
hanya berlari ia lakukan sejak siang. Penglihatannya seperti dunia
sedang berputar dan mulai memudar. Ia kehabisan tenaga untuk
berlari lebih jauh lagi. Ayu terjatuh dan mulai nampak terlihat
butiran air perlahan terjatuh dari kedua matanya dan kehilangan
kesadarannya.
Sebuah cahaya mulai memasuki selak selak kelopak mata
Ayu yang membuatnya perlahan membuka mata. Ia terbangun di
atas pangkuan Arijin yang sedang duduk di atas sofa nampak
berpakaian seperti seorang bangsawan.
"Apa tidurmu nyenyak?" sapa Arijin Ketika melihat Ayu
membuka mata dengan memegang kepala. Kebingunangan,
menatap sekitar dan berusaha mencerna suasana. Rumah indah
nan nyaman dengan nuansa mewah layaknya rumah seorang
pedagang sukses, membuat ia bertanya tanya.
"Aku sedang berada di mana?"
"Tentu saja kita ada di rumah"
"Aku berada di rumah siapa?"
"Ada apa denganmu?. Ini kan rumah kita yang seperti
biasa?. Bangun dan bersihkan dirimu. Aku akan mempersiapkan
barangnya. Kita akan pergi". Arijin bangun kemudian pergi
mempersiapkan barang-barang.
"kita pergi kemana?" mendengar jawaban itu. Arijin
berhenti dan berbalik memandang Ayu yang bampak sedang
kebingungan.
"Jangan bilang kau juga lupa hari ini hari apa. Hari ini
adalah hari kelahiran Manda. Kalau begitu bangunkan dan
mandikan Manda terlebih dahulu. Aku akan mempersiapkan
barang barang".
44 | P a g e
Ayu kembali dibuat kebingungan dengan ucapan Arijin
yang kini bangun dan pergi menuju salah satu ruangan di rumah
tersebut.
"Manda itu siapa?"
Tiba tiba seorang aNak kecil keluar dengan baju tidur dan
rambut berantakan sambil mengusap usap mata dengan
tangannya.
"Ibu?" aNak mecil itu mendekat sambil memeluk kaki
Ayu.
"Di mana ibumu, dik?"
ANak kecil itu terus saja memanggil Ayu sebagai ibunya
tanpa menjawab pertanyaan Ayu. Ketika sedang mencari barang,
Arijin mendekat menuju aNak kecil tersebut dengan wajah
kebahagian.
"Wah. Putri ayah sudah bangun" ketika ia datang, Arijin
langsung menggendong aNak kecil tersebut.
"Siapa aNak ini?"
"Tentu saja Manda aNak kita. Iya kan Manda? Ayu,
untung saja ayahmu mengijinkan kita untuk menikah. Kalau aku
tak menikahimu, putriku takkan secantik ini. Untuk hari ini aku
saja yang memandikannya ya!" cerita Arijin yang semakin
membuat Ayu kebingungan.
"Bagaimana dengan barang barangnya?"
"Bisakah kita bertukar pekerjaan?. Aku sesekali ingin
memandikan putriku sendiri"
"Apa yang perlu kusiapkan?"
"Bisakah kau mencarikanku lilin? Sepertinya ada banyak
likin di gudang. Sebelum itu buka pintu rumah di bagian depan.
Tadi malam aku menguncinya dari luar karena takut Manda akan
diam diam mengikutiku ketika ada pertemuan." Setelah
perbincangan itu selasai, Arijin pergi untuk memandikan Manda
untuk pergi berkunjung kerumah Kakeknya. Kini tugas Ayu
hanyalah mencari lilin seperti yang diminta oleh Arijin.
"Untuk apa ia mencari lilin?" ucap Ayu dengan seribu
penasaran dalam beNaknya. Ayu pun pergi menuju gudang untuk
45 | P a g e
mencari lilin. Ia menemukan lilin di dalam kotak kardus kecil
dengan sekotak kecil batang korek apinya. Ia keluar membawa
kotak tersebut dengan batang korek apinya.
"Kenapa sepi sekali? Apakah mereka sudah pergi duluan
menuju rumah ayah?".
Ayu menyalakan api pada satu batang lilin besar di salah
satu ruangan yang dipenuhi dengan kain-kain tak terpakai serta
penuh dengan kertas. Ia pun pergi meninggalkan tempat tersebut
tanpa tau, pakaiannya yang menyenggol lilin yang menyala
tersebut, kemudian membakar kain-kain yang ada di sana.
"Sepertinya mereka benar-benar meninggalkanku. Kalau
begitu aku akan kepasar dulu untuk membeli buah dan sayur
untuk ayahku" Ucap Ayu meyakinkan diri.
Sebelum keluar rumah, Ayu sejeNak mendengar suara
aNak kecil didampingi dengan suara pria dewasa di salah satu
kamar tersebut. Namun, Ayu hanya menganggap suara yersebut
sebagai hayalannya saja. Ia pun keluar rumah melalui pintu
belakang dan menguncinya dari luar. Tanpa kecemasan dan
kekawatiran ia melanjutkan membeli sesuatu dengan santai tanpa
tau suatu hal yang akan menimpanya ke depan.
Sampai pada saat para warga membuat keributan di duga
ada kebakaran di salah satu rumah yang dihuni oleh seorang pria
dewasa dengan satu putrinya. Asap yang mengepul ke atas dari
rumah yang terbakar tersebut, membuat Ayu tersadar bahwa asal
dari asap tersebut adalah rumahnya sendiri. Keranjang yang
dipenuhi dengan buah, terjatuh dari pegangannya ketika
mengetahui kabar tersebut. Ayu berlari dengan rintikan air mata
yang begitu deras. Ia berhenti berlari ketika sampai di depan
rumahnya. Sekelompok warga yang tengah membawa dua korban
yang telah diselimuti oleh kain tersebut, dari tempat kejadian. Ayu
mendekati mayat korban tersebut. Dengan tangis tak bersuara,
sekujur tubuhnya yang terasa lemas, dan tangannya yang
bergemetaran, mencoba untuk membuka kain yang menyelimuti
korban yang di duga seorang pria dewasa. Dengan perlahan, ia
mulai menarik kain yang menutupi wajah pria dewasa tersebut.
46 | P a g e
Namun, karena tak tahan dengan apa yang ia lihat, ia menarik
kain tersebut dengan kencang.
Ayu terkejut dan terbangun dari tidurnya sebab air dingin
yang disiram ke wajahnya oleh pesuruh ayahnya. Dalam keadaan
menangis ia terbangun dari mimpi buruknya, dan mulai mengenali
tempat dan keadaanya yang sekarang.
"Cepat bangun!. Ini sudah siang. Aku sudah letakkan
makanan di sampingmu" orang itu pun keluar. Terdengar sebuah
suara, seperti sedang mengunci pintu.
"Ini gudang rumahku. Ini sudah siang. Seingatku aku
pingsan pada sore hari. Jadi aku tertidur selama satu hari. Aku
dibawa dan dikurung di sini ya? Sisanya kuserahkan padamu,
Arijin"
Ayu menoleh ke samping kirinya yang terdapat makanan,
yang hanya berupa nasi dan sebotol air. Ia membuka botol itu
kemudian diguNakan untuk membasuh tangannya untuk
menyuap nasi. Baru sesuap nasi ia masukan ke mulutnya. Ayu
sudah meneteskan air mata memikirkan situasinya yang sekarang.
Hanya beberapa suap nasi yang ia makan, ia berhenti mengetahui
dirinya yang tak punya nafsu makan. Ayu mendengar sesuatu dari
balik pintu gudang. Suara langkah kaki mendekat menuju pintu
dan suara membuka kunci.
"Sudah selesai makanmu? Cepat bangun dan ikuti aku”
ucap suara lelaki dewasa
"Kemana?" jawab Ayu polos
"Sudahlah jangan membantah" gertak lelaki itu. Ayu
kemudian dibawa paksa oleh pelayan ayahnya bersama dengan
ayahnya sendiri, entah ingin kemana. Ayu diajak keluar rumah
dengan ayahnya, beserta orang orang yang dipercaya oleh
ayahnya.
"Ayah, kita mau kemana?" tanya Ayu pelan sambil
mengemis kepada Ayahnya.
Kedua kalinya ia bertanya hal yang sama. Namun, ayahnya
hanya diam berjalan menuju tujuan. Mereka pun sampai di depan
sebuah rumah yang terkenal akan pembuat songketnya. Ayu
47 | P a g e
mulai mengerti tujuan ayahnya membawanya menuju rumah
tersebut. Ketika mereka memasuki rumah tersebut, karena Ayu
baru pertama kali memasukinya, ia sedikit kagum dengan rumah
tersebut yang di penuhi oleh songket indah.
"Cepat pilih songket yang kau sukai. Songket pilihanmu
akan kau guNakan di hari pernikahan mu"
"Tidak ayah. Aku tidak akan menikah dengan bangsawan
itu!. Aku akan menikah dengan laki laki pilihanku!"
"Cepat pilih!!. Kerjaanmu hanya mengoceh terus"
"Baiklah. Aku akan memilih songket pilihanku. Aku akan
mengeNakannya ini di hari pernikahanku. Tetapi, dengan
laki laki pilihanku juga" Ayu memilih songket pilihannya dan
menyerahkannya kepada ayahnya.
"Ini songket pilihanku. Songket merah ini melambangkan
perasaanku, ayah. Aku ingin kau memahaminya!"
Ayu menyerahkannya sembari menunjukkan wajah penuh
amarah dengan mata sayunya. Mereka pun kembali lagi menuju
rumah. Ayu dikurung kembali di gudang rumahnya. Sayangnya
sudah tak ada lagi yang bisa ia lakukan. Ayu hanya bisa
mempercayai Arijin bahwa mereka saling mencintai.
Sampai pada sore menjelang malam, di tengah tengah
kesunyiannya, terdengar suara dari pojok gudang. Sebuah kotak
kardus besar seperti bergerak sendiri di pojok ruangan. Kali ini,
Ayu tak takut lagi akan suatu hal serupa seperti itu.Ia mendekati
kotak tersebut, yang tak lain ialah tikus yang berada dalam kotak.
Tikus itu pun keluar dan membuat kotak itu pun terbuka. Isi
kotak itu menarik perhatian Ayu, yang berisikan pakaian pakaian
usang yang tak layak pakai. Ia satu persatu mengeluarkan pakaiam
itu. Dua hal yang ia simpulkan, bahwa pakaian tersebut berupa
pakaian orang orang yang tak berada. Dan satu hal kesimpulan
lagi yang membuat ia kebingungan, bahwa warna pada semua
pakaian itu adalah biru, hijau, dan kuning.
"Semua warnanya hanyalah biru, hijau, dan kuning. Tetapi
kenapa bisa? Semua warna itu adalah warna kesukaan ibuku"
48 | P a g e
Satu lagi yang baru ia sadari. Sebuah foto dengan
bingkainya yang terbalik tertimbun semua pakain usang itu. Tak
pikir panjang lagi karena penasaran, ia mencoba membalik foto
tersebut. Namum, lagi lagi suara langkah kaki mendekat dari balik
pintu gudang. Mendengar itu, Ayu bergegas mengemasi kembali
pakaian pakaian terdebut tanpa mengetahui foto siapa yang
sebelumnya di bawah pakaian usang itu. Ayu merangkak kembali
menuju tempat seblumnya dan pura pura tertidur membelakangi
pintu. Pintu itu dibuka oleh orang di balik pintu itu sendiri.
"Ayu, ini sudah sore! Jangan terlalu banyak tidur, atau kau
akan sakit nanti! Aku membawa makanan untukmu.
Kau selalu saja seperti ini ya! Bermalas malasan" seru pelayan
yang membawakan Ayu makanan.Seketika pintu dikunci kembali.
Betapa terlejutnya Ayu mendengar suara lembut itu. Ia bangun
dan melihat makanan yang dibawakan untuknya. Nasi dengan
lauk sayur, buah buahan, dan satu botol air, semakin membuat ia
bingung.
"Tunggu!. Apakah ada pelayan ayahku yang sebaik itu?”
tanya Ayu penasaran, namun sang pelayan tak menjawab
sedikitpun.
Kerana kelaparan, tanpa pikir panjang ia langsung
membasuh tangan dan menyikat habis makanan tersebut. Ia
merasa sudah lama ia tak makan sebanyak itu. Namun, karena
kebanyakan makan, entah kenapa ia merasa sangat mengantuk
dan tina tiba tertidur pada saat itu juga.
Di tengah kesunyian malam, dan Ayu yang terlelap sebab
kekenyangan. Seseorang mengetuk pintu gudang dengan agak
keras, membuat Ayu terkejut dan terbangun.
"Siapa?. Pintunya tidak dikunci dari dalam!" ucap Ayu
dengan rasa takut. Namun, orang itu terus saja mengetuk pintu.
Ayu kebingunangan.
"Siapa itu? Mengapa ia mengetuk pintu? Kalau itu orang
rumah, kenapa ia mengetuk pintu, padahal pintu ini tak
dikunci dari dalam" gerutu Ayu yang merasa terganggu dengan
ketukan seseorang malam-malam begini. Ia pun mencoba
49 | P a g e
mendekati pintu gudang. Suara ketukan mulai mereda dan
berhenti. Ayu dengan tenang, mencoba membuka pintu. Ayu
membuka pintu, perlahan mundur teratur dengan sedikit takut.
Namun, tak seorang terlihat dibalik pintu gudang. Ia mencoba
melewati pintu gudang, berniat memeriksa siapa yang mengetuk
pintu barusan. Tiba-tiba, seseorang dengan sigap membungkam
mulut Ayu dan membawanya menuju tempat yang gelap.
Tangannya mulai bergemetaran, jantung yang berdetak kencang,
dengan linangan air mata. Ayu mencoba melawan melepaskan
bungkaman dari orang itu dan berlari menuju tempat yang lebih
terang dan berbalik.
"Siapa kau?" ucap Ayu merengek keras.
Wajah orang itu tak terlihat jelas karena berada dalam
kegelapan. Memakai seragam yang dikeNakan oleh para pelayan
di rumahnya. Orang itu mulai berjalan mendekati Ayu.
"Aku datang untuk membawamu kabur bersamaku"
Ayu pun mundur perlahan. Wajah orang itu mulai terlihat
sedikit demi sedikit karena mendekati ruangan yang bercahaya
dan mulai terlihat jelas. Melihat wajah orang itu, Ayu terdiam
seketika menangis dan perlahan mendekati orang itu.
"Kau tak seperti biasanya, Ayu. Biasanya ketika kau
melihatku, kau tersenyum lebar bukannya menangis"
Ayu berlari mendekat dan memeluk orang itu yang
ternyata Arijin. Ia sedang bekerja, menjadi pelayan ayahnya.
"kau benar-benar melakukannya ya"
"Tentu saja aku melakukannya karena mencintaimu.
Tetapi kau jahat juga. Kau memintaku untuk membawamu kabur
dengan segala cara. Aku berpikir keras, memutar balikan kepala
untuk menemukan cara. Tetapi kita tak bisa berlama-lama. Kita
harus segera menuju rumahku. Dan kita akan menikah secara
diam-diam di sana pada pagi harinya" ucap Arijin meyakinkan
Ayu.
"Baiklah. Tapi bagaimana cara kita keluar dari sini?"
celetuk Ayu ragu.
50 | P a g e
"Tenang. Aku melamar kerja dan meminta ditugaskan
sebagai penjaga keamanan. Aku pun diberi kunci semua ruangan."
Dan akhirnya Ayu berlari kencang Bersama Arijin, lelaki
yang sangat ia cintai. Restu menikah dengan kekasih membuatnya
harus rela meninggalkan kebahagiaan dan fasilitas mewah di
istana. Sebab cinta akan selalu menui derita dan Bahagia.
51 | P a g e
MANGAN RAMPAK
M. Riski
Senja mulai menampakkan dirinya di desa yang begitu luas
dengan sawah yang hijau milik masyarakat desa Wanasaba. Desa
itu memiliki banyak dusun terutama dusun Baret Orong, dusun
yang terletak di tengah-tengah desa. Di jalanan yang tidak terlalu
lebar di depannya terdapat kebun kelapa milik tuan tanah Arab.
Kini masyarakat Baret Orong sedang melakukan acara
begawe (gotong royong yang menjadi ciri khas suku sasak jika ada
masyarakat yang akan mengadakan pesta ) untuk sepasang ikatan
dedara dan bajang berdarah biru-biru yang akan merarik (Menikah)
besok. Raden Aji bajang berparas gagah khas lelaki berdarah biru
Sasak. Kegagahannya semakin terlihat dengan kulitnya yang
mulus dan putih sehingga pembuluh kapilernya terlihat. Raden Aji
terkenal sebagai bintang desa karna kegagahanya yang bisa
memikat hati siapapun. Dengan wajahnya yang berahang tegas
dan dagu yang terbelah, di tambah dengan belahan bibir yang
manis bak gula semakin memperdalam aura kegagahanya dan
Raden Icak dedare inges bak putri mandalika. Wajahnya berbentuk
berlian dengan hidung yang tegas khas orang Belanda sebab
ibunya adalah Noni Belanda yang menetap di Wanasaba.
"sekarang keputusan ada di tanganmu, Icak ?. Kau lebih
memilih kakakku ataukah aku?" ucap Raden Aji yang sedang patah
hati dengan wajah tampa warna.
"aku sudah terlanjur cinta dengan kakakmu, Aji. Di saat
aku patah hati dengan tingkahmu dialah yang menguatkanku. Di
saat aku berduka dia yang menghiburku, di saat aku kesusahan dia
yang menolongku. Kamu di mana? Smartphone-mu selalu mati
ketika dihubungi. Chat-ku tidak kamu baca apalagi balas. Lelaki
yang pergi tampa alasan sepertimu tidak pantas untukku miliki.
Maaf " ucap Raden Icak dengan dahi mengkerut.
"Haaaahhhhh...Sekian banyak penjelasanku kamu masih
tetap tidak percaya?. Apakah kau lupa masa-masa Bahagia kita.
Kita bernyayi bersama di bawah deras hujan dan kau juga sudah
52 | P a g e
berjanji akan siap kunikahi. Kemana semua janji-janjimu? " Ucap
Raden Aji dengan mata berkaca-kaca.
"…dan kamu juga Raden Aji. Kau adalah saudaraku
bukan? ku sendiri, kenapa kau harus ada dalam hidupku"
“brakkkkk….” seketika semua yang ada di meja terlempar
dan pecah di lantai marmer. Semua yang ada di sana terdiam
"selama ini, aku mengalah karnamu. Selama ini kau selalu
menginkan apa yang aku punya dan merebutnya dariku. Tapi,
tidak untuk Icak. Kamu dengar sendiri kan Icak bilang apa. Dia
jelas-jelas sudah menolakmu. Paham…!!"
Sambil menahan amarah Aji keluar dari rumah megah
dedara yang membuat hatinya hancur. Kini tinggal Raden Aji,
Raden Icak, orang tunya dan orang tua Icak. Rumahnya di tepi
jalan dengan di depannya kebun yang luas ditumbuhi pohon
kelapa yang menjulang tinggi ditambah sampingnya sawah yang
luasnya kurang lebih 1 hektar yang tentu saja milik Raden Sarib
yang merebutnya dari keluarga belanda kala itu.
Tengah malam pun tiba, udara terasa dingin sebab angin
musim dingin bulan Agustus dari Australia sampai ke pulau
Lombok. Semua orang yang terlihat memakai jaket tebal untuk
mengahangatkan tubuhnya.
"Apakah pemotongan sapinya sudah bisa di mulai?
"Tanya seorang lelaki berusia empat puluh tahun yang tak lain
adalah mamiknya Raden Aji dan Raden Aje. Namanya Raden sarin
yang biasa di panggil Raden Arip. Tubuhnya tinggi dengan
wajahnya yang berahang tegas menunjukkan dirinya adalah lelaki
yang tegas, apalagi dalam mengajar aNak-aNaknya yakni Raden
Aji dan Raden Aje.
"Iya pak sudah bisa di mulai" jawab seorang warga.
"iya, lakukanlah supaya cepat" kata Raden Arip dengan
wajah tersenyum.
Sapinya pun di potong sesuai syariat Islam. Pisau yg
diguNakan adalah pisau yang paling tajam yang telah diasah
setajam mungkin supaya proses pemotongannya cepat. Selesai
dipotong kemudian dikuliti dan dagingnya dicacah kecil-kecil.
53 | P a g e
Daging pun dimasukkan ke dalam dandang yang berada di
dekat Aman Gawe bernama Pe Acang, di dalam dandang itu
terdapat sesiong nangka yang telah di dipotong kini tinggal
dimasukkan ragi-ragian supaya cita rasanya semakin khas. Tidak
lupa juga ditambahkan banyak sekali cabai supaya pedas yang
menjadi cita rasa masakan orang-orang Sasak yang lada (pedas).
Di teras rumah Raden Arip ada beberapa inaq-inaq (ibu-ibu)
yang sedang memotong cabai untuk sesiong nangka dan jangan kelak
Ares yang terbuat dari batang pohon pisang yang masih muda.
Sambil mencacah cabai-cabai merah yang namanya ibu-ibu sangat
tidak lengkap tampa bergosip tentu saja mereka menggosipkan
tentang Raden Aji yang di tolak lamaranya dengan Raden icak dan
malah lebih memilih saudaranya sendiri yakni Raden Aje.
Kebetulan kamar Raden Aji berada di samping teras dia pun
mendengar ibu-ibu itu menggosipakan dirinya.
"Ni ibu-ibu kok resek banget sih?. Gak tau apa yang
digosipin denger. Kalo mau negosip di group WA aja kali. Duh
kesel banget sumpah.!. Gak tau orang lagi putus cinta" kata Raden
Aji dalam hati"
"Ehem-ehem. Mohon maaf ibu-ibu orang digosipkan
denger. Tuh kamarnya ada di sebelah" kata Raden Aji sambil
menahan tawa.
"Saya malu banget. Saya kerjain ah biar jera. Obat sakit
perutnya mana ya?. Nahh ini diaa.. rasaainn kalian. Biar sakit tuh
peruttt" ucap Raden Aji dalam hati.
Raden Aji pun pergi ke ruang atas untuk mematikan seklar
“tak tak tak” dia menaiki tangga, tangannya dilipat kebelakang
memegang serbuk obat sakit perut yang akan ditaruh di cabe.
Tapi..
"Kamu ngapain di sini?" Tanya Raden Arib.
"Aaaaaa... Ini miq..."
"Duhhh, mamiq (sebutan papa untuk kaum darah biru
Sasak) kenapa ada di sini sihhh? Seharusnya kan di luar. Gimana
dong" gumam Aji dalam hati.
" Di tanya kok malah diam" ucap mamik.
54 | P a g e
"Aaaaaa"
"Mamikkkkk. Dipanggili tuhh sama pak. Hj. Umangg" tiba-
tiba saja Aje muncul.
"Oh iya"jawab mamik.
"Mau ke mana?" Tanya Aji
"Kamar" jawab Aje singkat
Dengan bergegas Aji menurunkan seklar dan lampu
padam. Dengan cepat dia pergi ke teras dan mencampur cabai yg
telah dicincang oleh ibu-ibu dengan bubuk obat sakit perut
karena gelap tidak ada yang melihatnya melakukan itu.
“Dakkkk” Suara pintu kamar Aji
"huffff…untung saja saya berhasil. Rasainn tuh akibat
mulut gak bisa dijaga. Paling besok pagi ke puskesmas semua dah
dan acara pernikahan Aje akan huru-hara…hahahaha" tawa Aji
dari dalam kamar.
"Kenapa bisa mati lampu seperti ini? Padahal rumah yang
lain enggak mati lampu. Coba cek aja deh."kata Aje
Aje kemudian pergi ke seklar listrik rumahnya dan ternyta.
"Astagaaa"
Lampu pun kembali menyala dan seketika suara ribut
datang dari luar karna heboh listriknya dimatikan pemilik rumah.
"Ini pasti kelakuan Aji yang iseng" gumam Aje.
"Haeee, ada apa ini? Siapa tadi yang mematikan
lampunya? Kita malu sama masyarakat" kata Raden Arib dengan
marah.
"Tidak tau pak. Tiba-tiba saja seklarnya ke bawah,
mungkin longgar" jawab Aje tampa menuduh adiknya.
"Oh ya sudah lah. Kau harus siap-siap untuk
pernikahanmu besok, tidur yang cukup supaya kau bisa terlihat
cerah besok. Untuk begawenya biarkan mamik yang urus"
“Iya mik" jawab Aje dengan santun.
“Dor dor dor dor dor... “ Suara ketukan pintu kamar Aji.
"Kenapa?" Jawab Aji.
"Kamu kan yang mematikan lampunya tadi?. Kita malu
sama masyarakat" Aje berkata dengan wajah mengkerut.
55 | P a g e
"Enggak kok. Bukan aku" jawab Aji sambil mengkerutkan
keningnya.
"Sudah lah, Ji. Kamu enggak usah sakit hati seperti ini.
Aje enggak mau kalo kita sampe bertengkar seperti ini. Kita
bukan hanya terikat hubungan darah tapi juga sudah seperti
bromance. Aji enggak mau kan kalo harus sendiri. Lagian buat apa
Aji menikah dengan dedare yang cintanya sudah hilang dari Aji"
"Iya, mungkin Icak bukan jodoh saya" jawab Aji. Mereka
berdua pun berpelukan.
”Belajarlah untuk rela. Karna bahasa cinta yang paling
indah adalah merelakan" bisik Aje.
Di luar rumah orang-orang sibuk membantu begawe
sambil mengoceh akibat perbuatan ntah siapa yang mematikan
lampu yang mereka tidak tau.
Ibu-ibu sudah selesai mencacah cabai, kini cabainya di
masukkan ke dalam dandang yang sudah dimasukkan daging yang
telah dipotong.
Jam sudah menunjukkan pukul empat pagi. Udara
semakin dingin, tapi tidak terasa karna mereka di dekat perapian.
Jangan (lauk daging) nya pun sudah matang.
"Wah masak wah. Tekka ta mangan..!" Seru Pe Acang.
"wahh. Iya sudah matang, ayok kita makan dulu" jawab
warga yang lain.
"iya. Aku ambil nampan besar dulu ya"
Makan bersama di saat lauk sudah matang ketika orang
begawe di Lombok disebut mangan rampak, tujuannya untuk
mempererat hubungan masyarakat sekaligus mengisi perut
sehabis begawe yang dilakukan pada tengah malam sketika
jangannya sudah matang. Tujuan lainya untuk mencicipi masakan
yang mereka buat.
Mereka pun makan bersama, ada yang mengambil banyak
sekali nasi karna energinya sudah habis untuk membantu begawe.
ada juga yang hanya mengambil jangan-nya saja hanya untuk
mencicipi.
56 | P a g e
"Wahh eNakkk sekali. Pedasnya berasa, dagingnya
empuk" kata salah seorang warga.
"Iya, apalagi kalo sudah kelaparan seperti ini…haha"
jawab warga yang lainya.
Sehabis makan, mereka istirahat sejeNak. Sambil
berbaring di teras rumah Raden Arip.
"Ntah kenapa rasanya perut ku terasa mules. Apa karna
kepedesan dan banyak ambil jangan ya? " Keluh Pe Acang.
"Iya sama aku juga ngerasa mules" sahut warga yang
lainya.
“Butttttttttttttt. ."
“heeeiii suara kentut siapa itu?" Tanya Pe Acang dengan
wajah hampir tertawa terbahak-bahak.
"Aduh. maaf semuanya. Saya mau pulang ke rumah dulu"
“Hahahahhahahaha " eh iya aku juga"
"Aku juga"
Seketika pagi itu sepi, karna semua warga menderita sakit
perut dan harus bolak balik ke kamar mandi. Jalanan.yang masih
penuh dengan jangan abu dan dandang itu pun tidak ada yang
mengurus termasuk Raden Arip dan keluarganya, karna tak dapat
dipungkiri mereka juga ikut memakan jangan begawe tersebut
kecuali Aji yang tau semua jangan itu telah diracun oleh dirinya
sendiri.
"Kenapa semua kita sakit perut begini ya?. Pernikahanku
kan hari ini" keluh Aje." mamiq juga heran. Apa karena jangan
begawe yang kita makan ya?" jawab Raden Arip.
"mungkin saja" balas Aje
Pernikahanya pun ditunda sampai perut mereka sudah
kembali normal. Jangan begawe terpaksa harus dibuang karna sudah
tidak memungkinkan lagi untuk dikonsumsi manusia. Jangan-
jangan itu terpaksa harus berada di jalanan selama beberapa hari
tidak ada yang sanggup mengurus disebabkan sakit perut. Lauk
itupun terpaksa diganti dengan keteringan dari kota kecamatan.
3 hari kemudian…
57 | P a g e
Sang surya mulai menampakkan dirinya. Kini saatnya
kedua aNak darah biru itu untuk menikah. Dari gang perumahan
keluarlah Dedara Enges memakai baju elegan khas Sasak berwarna
emas lengkap dengan kain songket Lombok yang terkenal mahal
yang disertai mahkota bak tuan putri kerajaan Sasak. Dedare itu
tentu saja Raden Icak yang di sertai saudara perempuan yang
bertugas menjadi dayang-dayangnya. Mereka menuju musholla
untuk memulai akad nikah. Dari kejauhan terlihat Raden Aji yang
sudah siap untuk mengucapkan akad nikahnya. Dari speaker yg
terpasang di musholla itu, Raden Aji mengucapkan akad nikah
yang pertanda mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri.
Di pojok musholla Raden Aje berdiri, sambil menahan amarah
dan rasa tak rela kekasihnya direbut kakaknya sendiri. Di hari itu
ia sama sekali tak melihatkan wajah senang tersenyum gembira,
murung dan merasa kesal dengan kedua pasangan baru itu.
Setelah selesai pernikahan, mereka heran kenapa perut
mereka sama-sama sakit setelah memakan masakan begawe mereka
sendiri.
"Waduhhhh waduhhhh. Kita harus meminta penjelasan
kepada Raden Arip tentang hal ini" usul warga.
"iya perasaan tidak ada yang salah dengan masakan kita
kemarin" kata warga yang lain
“iya. bener tuh" kata warga yang lain serempak.
“Asssalamu alaaiikum Raden Aji” ucap salah seorang
warga.
"Waalaikumussalam"
"ada apa ini bapak ibu?" jawab Raden Arip
"Begini Raden. Kita mau membahas tentang sakit perut
kemarin karna jangan begawe pernikahan Raden Aji. Kira-kira
penyebabnya karena apa ya?" tanya salah seorang warga.
"Nah, maka dari itu saya pun bingung dengan apa yang
terjadi. Karena kita sekeluarga juga ikutan sakit perut seusai
memakan jangan begawe kemarin" jawab Raden Arip dengan jujur.
58 | P a g e
"Mungkin saja karna kalian tidak menjaga kehigenisan dari
masakan kalian sendiri" jawab Raden Aji dengan lantang dengan
senyum jahat.
"Mana mungkin begitu?" jawab warga.
"Pasti ada yang menaruh sesuatu di jangan itu"
"Siapa yang akan menarunya, hah?" tegas Aji dengan
wajah memerah.
Warga pun merasa tersinggung dengan kata-kata Aji dan
emosinya menjadi terpancing juga.
"Aji. Masuk kamu ke kamar" kata Raden Arip dengan
tegas. Saya minta maaf bapak-bapak ibu-ibu karna kelakuan Aji.
Mungkin masih sakit hati" kata Raden Arip dengan santun.
"Iya Miq. Saya masih sakit hati dengan ucapan kalian.
Kalian pantas mendapatkan musibah seperti ini” Kata Aji dengan
suara yang keras sambil menjedorkan pintu kamar.
"Astagfirullahalazim" ucap mereka yang ada di sana
melihat kelakuan Aji.
"Sekarang sudah pasti dia yang melakukannya" ucap
warga dengan kesal
"Iya,tidak mungkin dia diam saja."
"Atas dasarrr apa kalian menuduh aku seperti itu?"teriak
Aji dengan keras.
"Alah..sudah berabad-abad tradisi ini dilaksaNakan baru
sekarang ini terjadi" bawa mereka ke penjara bawaaaaaa...serettt
merekaaa.
"akkkhhhhhhh..jangannnn seperti itu bapak-bapak"
“kalo kalian sakit perut gara-gara masakan gawe itu.
Kenapa kalian tidak menyalahkan aman jangan-nya, siapa aman
jangan-nya?"
"hmmm...benar juga kata Raden Arip. Mereka tidak punya
urusan dengan masakan gawe kemarin.
"iya,yang menjadi aman jangannya kan pe acang.pasti dia
menaruh magic-magic di dalam jangan tersebut."
"iya benar,ayo kita tuntut Pe Acang"
59 | P a g e
“ayokkkkkkkk.”para warga yang sakit hati karna sakit
perut kemarin gara-gara jangan begawe itu pun pergi ke rumahnya
Pe Acang.
"Acang...acangg.......keluar kau..."
"Iiihhhhh….bau busuk apa ini?”
"iya, bau bangett..."
"Acang....acangggg.. "
"dari tadi tidak ada yang menyahutt"
"akhhggggggggg"
"kenapa?"
"ada apa?"
"bagaimana"
"lihatah, mereka telah terbaring tidak berdaya"
"innalillahi wa iinna ilaihi rojiun"
"ternyata Pe Acang dan keluarga telah meninggal. Kasian
banget, pasti karna keracunan jangan begawe kemarin"
"iya...pasti." padahal dialah yg akan kita tuntut untuk
kasus keracunan tersebut"
Pak RT pun datang dengan kadaan sehat wal afiat segar
bugar seperti tidak terdampak apa-apa padahal se RT sakit perut
bahkan araq yang meninggal.
"araq apa ne rame-rame bapak-bapak, ibu-ibu?"
"masak yak pe toang?"
"makanya araq apa?"
"ne kami sakit perut gara-gara memakan jangan begawe
Raden Aji kamarin. Kita mau menyalahakan Pe Acang atas
masalah ini tapi dia juga sudah meninggal karna tidak tahan
mungkin karna ada penyakit mag juga."
“Innalillahi”
"di acara begawe itu. siapa yang kalian lihat mencurigakan?”
"hmmmm..siapa ya"
"Tidak ada. Tapi....ada kejadian aneh pas di rumah Raden
Arip."jawab ibu-ibu yang sedang memperbaiki dasternya.
"Kejadian aneh apa bu?" tanya pak RT penasaran
60 | P a g e
"Tiba-tiba saja lampu di rumah Raden Aji mati. Entah
siapa yang matikan. Kita enggak tau" jawab ibu-ibu berdaster
hijau itu.
"Oh iya ya. Aku ingat" jawab ibu-ibu berdaster yang
satunya lagi.
"Hmmmm...tapi hubungannya mati lampu dengan
kejadian kemarin apa ya?" tanya pak RT.
"Oh iya ada lagi. Di pagi harinya setelah kita mangan
rampak. Saya ada menemukan cincin pak RT. Entah cincin siapa
saya gak tau. Warnanya perak. Saya lupa nanya ke yang lain karna
sakit perut. Ini cincinya." Kata ibu-ibu yang berada di kejadian
kemarin.
"Mungkin kah itu milik Aji atau Aje?" ucap ibu-ibu yang
lain.
"Mungkin saja. Pas mati lampu di rumahnya itu kan
cuman ada mereka di dalam dan kemungkinan besar itu milik Aji.
Kalo Aje mustahil sekali dia melakukannya, itukan pernikahannya
dia" jawab ibu-ibu yang lain.
"Nah bener tuh. Saya setuju"
"Hmm.......kita harus menanyakan ini kepada Raden Aji.
siapa tau dia bisa membantu kita" Kalo begitu mari kita tanyakan
ini di rumah Raden Aji dan Raden Icak"
”ayoooo...” kata para warga serempak dan berjalan ke
arah rumah Raden Aji.
Di rumah Raden Aji kemudian........
"emangnya kita bisa memanggil orang di rumah segede
ini?"
"kyaknya mustahil. Kalo begitu saya telpon orangnya dulu
buat disuruh keluar"
“tuttttt tuttttt tuttttt” suara nada dering hp
"hallo?. Iya Pe Slamet? kenapa?" jawab Raden Icak
"Suami kamu mana Icak"
"Dia lagi kamar mandi, pak"
61 | P a g e
"Ohhh…ini Den. Kita ingin membicarakan masalah sakit
perut warga kemarin"
"Ohhh iya pak. Ini saya bukakan gerbang ya pak"
"Silaq masuk bapak-bapak” ucap Raden Aji dengan ramah
"iya terima kasih sudah mempersilahkan masuk di
rumahmu yang mewah ini"
"Jadi, kami menemukan cincin di teras rumah Mamiq
kamu. Kemarin ini cincinnya. Apakah Raden mengenal ini?
"Hmmm...sepertinya saya pernah melihatnya. Astaga
itukan cincinya Aji"
"hahhhh...kalo begitu jadi dia pelakunya?"
"udah pasti dia pelakunya."
"iya benar..!. Pasti dia sakit hati karna Icak menikah
denganmu"
"sekarang dia di mana?"
"sudah jelas di rumah" mereka pun pergi ke rumah Raden
Arip.
“assalamualaikum...” teriak Pe Slamet
"Ajiiii Ajiiiiii keluar kamu"
"khammm….keributan apa sih ini?. Ganggu orang tidur
aja." Ucap Aji . Ia kemudian bangun lalu membuka pintu.
"ada apa ini bapak-bapak?"
"ini cincin kamu kan?" tanya warga serempak
"cincin itu kok ada di tangan kalian?"
"ohhhh berarti bener kamu yang sudah menaruh obat
sakit perut di jangan begawe milik Raden Aje kakak kamu sendiri."
"Oiiii…bapak-bapak ibu-ibu. Tolong jangan menuduh
sembarangan ya. Tuduhan kalian itu bukan saya"
"Alaaahh jangan mengelak kamu. Sebab perbuatan kurang
kerjaanmu itu banyak warga yang dilarikan ke rumah sakit.
Bahkan Pe Acang sampai meninggal kemarin gara-gara ulahmu
itu" kata Pe Slamet
"iya benarrrrr. !!!" kata warga serempak
"bukaaannn sayaaaa" balas Aje keras
62 | P a g e
"Sudah-sudah tenang" kata pak RT. “Sekarang kita lihat
vidio CCTV-nya. Biar tahu kita apa kamu salah atau tidak" seru
pak RT bijak. Para warga pun menonton vidio itu dan Aji sangat
kaget karna mukanya terlihat jelas sekali. Padahal, malam itu dia
sengaja mematikan lampunya. itu karna kamera CCTV pak RT
beresolusi 200 MP ultra night mode makanya bisa terluhat jelas
dengan resolusi 4k.
Setelah semua itu Aji kemudian dipenjara selama 15 thn
atas kasus tersebut yang meregang nyawa orang tak berdosa. Kini
dia meratap menyesal atas tindakan gabutnya yang berkedok sakit
hati.
63 | P a g e
TIMBA TATAR
Nadira
Pada suatu hari di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk
pikuk kota hiduplah sebuah keluarga sederhana yang sehari-
harinya adalah seorang pengadu ayam. Amaq Muah adalah lelaki
berusia (52 tahun), sedangkan Inaq Siti istrinya berusia 49 tahun.
Amaq Muah dan Inaq Siti mempunyai dua aNak yg pertama adalah
Udin yang berumur 18 tahun sedangkan Andi aNak kedua yang
berumur 14 tahun. Kedua aNak Amaq Muah dan Inaq Siti
mempunyai sifat yang berbeda . Udin menuruti sifat Amaq Muah
yang sering mengadu ayam. Udin selalu mengikuti Amaq Muah
pergi mengadu ayam. Di rumahnya Amaq Muah memiliki banyak
ayam jantan yang ia pelihara mulai dari warna hitam, putih,
sampai ayam warna warni pun ia punya, sedangkan Andi aNak
kedua dari Amaq muah dan Inaq Siti mengikuti sifat ibunya yg
begitu ramah, sopan, baik, santun, berbeda dengan Udin.
Suatu hari saat Udin pulang sekolah. Udin melihat ayam
yang sangat bagus sedang berkeliaran mencari makanan di depan
gerbang sekolah. Udin selalu melihat ayam tersebut sampai ia
ingin memiliki ayam itu karena saking bagusnya udinpun berpikir
bagaimana ia bisa mendapatkan ayam yang begitu mirip.
Sampai suatu malam tanpa sepengetahuan orang tuanya
Udin keluar dari rumah untuk mencuri ayam yang ia inginkan itu.
Sedangkan Amaq Muah sedang bermain judi di rumah temannya
sambil mabuk-mabukan karena sehari harinya adalah tukang adu
ayam, pejudi dan pemabuk. Sambil duduk di rumah temannya ia
membicarakan tentang pertarungan ayam yang akan diadakan. Ia
terus berbicara bersama temannya sampai dini hari, sedangkan
Inaq Siti dan Andi khawatir dengan keadaan Udin yg tidak ada di
rumah. Mereka terus mencarinya tetapi tidak ditemukan.
Merekapun memutuskan untuk pulang karena sudah dini hari.
Setelah Inaq Siti dan Andi sampai rumah, melihat Udin membawa
ayam yang ia curi dari kampung sebelah dengan begitu senangnya
Udin sudah mendapatkan ayam yang ia inginkan. Sedangkan Inaq
64 | P a g e
Siti dan Andi terus meratapi Udin yang baru pulang Inaq Siti pun
bertanya kepada Udin "kamu sudah dari mana kami mencarimu
kemana mana" tanya Inaq Siti.
"mau-mau saya jangan ikut campur" jawab Udin
"dan ayam yang kamu bawa itu, kamu dapat dari mana?
kamu mencuri?" tanya Inaq Siti
“jangan ikut campur tentang urusanku" kata Udin sambil
meneriaki Inaq Siti. Sedangkan Andi tetap diam melihat sang
kakak berdebat dengan ibunya. Udin pun memutuskan untuk
masuk ke dalam kamarnya karena ia sudah bosen mendengar
perkataan ibunya.
Inaq Siti terdiam mendengarkan perkataan aNaknya yang
begitu kasar kepadanya. “mengapa Udin menjadi begini. Dia yang
dulu sangat penurut kenapa sekarang malah menjadi orang yang
kasar?” Inaq Siti bergumam dalam hati. Inaq Siti dan Andi
memutuskan masuk ke dalam kamarnya masing masing untuk
tidur sebab sudah dini hari. Sedangkan Amaq muah masi setia
dengan ceritanya sambil bermain judi Amaq Muah setiap malam
selalu pergi kerumah temannya untuk mabuk-mabukan dan
bermain judi. Ia bahkan tidak memikirkan keadaan keluarganya
sedikit pun sebab itulah ia jarang pulang ke rumah.
Sampai suatu hari Amaq Muah sedang memandikan semua
ayamnya dan memberi ayamnya makan dan tak sengaja ia
melihat temannya sedang berjalan dan Amaq Muah pun
memanggilya
"hai, kau mau kemana?" tanya Amaq Muah dengan suara
lantang
"aku mau ke rumah mu" jawab temannya
"ada apa?" tanya aNak Muah penasaran
"aku ingin memberi tahumu bahwa besok akan ada
perlombaan ayam dengan taruhannya 200.000 ribu" kata
temannya
"baiklah, besok jam berapa akan diadakan" tanya Amaq
Muah
65 | P a g e
"sekitaran jam 10.30 di dekat pasar Minggu" jawab
temanya dengan suara meyakinkan
"baiklah, besok aku akan kesana" kata Amaq Muah
"….dan jangan lupa pilih ayammu yg lebih bagus untuk
bertarung. ok" kata temannya men”kan
"baiklah " kata Amaq Muah dengan wajah ceria. Setelah
temannya pergi Amaq Muah memeriksa kondisi ayamnya satu
persatu untuk dibawa besok ke pertarungan ayam karena ayam
Amaq Muah banyak ia pun memutuskan untuk bertanya kepada
Udin karena Udin yang selalu merawat ayam tersebut.
"mana ayam yang bagus dan jago untuk dibawa ke
perlombaan, Nak?" tanya Amaq Muah kepada Udin
"ini yang bagus. Tadi malam aku curi di kampung
sebelah"kata Udin percaya diri
"kenapa kamu mencuri punya orang" tanya Amaq Muah
"tadi di depan gerbang sekolah. Aku melihat ayam
tersebut berkeliaran di depan gerbang sekolah dan ayam itu
bertarung dengan ayam lain dan ayam ini menang " jawab Udin
sambil menunjuk ayam yang dimaksud.
Amaq Muah percaya sangat dengan perkataan Udin dan
memutuskan untuk membawa ayam untuk lomba. Amaq Muah
tidak marah dengan prilaku aNaknya karena sudah terbiasa. Saat
mentari sudah mulai naik Amaq Muah bangun lebih pagi karena
harus mempersiapkan ayamnya. Memberi nya makan dan minum
yang banyak agar saat bertarung nanti punya tenaga maksimal.
Amaq Muah pun membangunkan Udin untuk menemaninya pergi
ke tempat sabung ayam tersebut. Di perjalanan Amaq Muah dan
Udin membicarakan tentang pertarungan itu. Mereka penasaran
dengan siapa lawan mereka nanti setelah begitu banyak yang
mereka bicarakan tidak terasa merekapun sudah sampai di tempat
sabung ayam tersebut. Amaq Muah dan Udin duduk di tempat
yang sudah disediakan walupun hanya berlapiskan tanah dengan
karpet.
Amaq Muah terus mengelus ayamnya agar tenang dan
tidak takut saat bertarung. Setelah beberapa saat menit, mereka
66 | P a g e
pun dipanggil untuk menaruh ayamnya ke tempat yang sudah
disiapkan yang berbentuk melingkar dan diditutupi oleh pagar.
Pertarungan pun dimulai. Suara sorak yang mendukung ayam
pilihannya masing-masing selang beberapa menit bertarung ayam
Amaq Muah dikalahkan oleh lawan. Banyak luka sebab patukan
dari ayam lawan. Amaq Muah sangat marah ia menyesal sudah
mempercayai perkataan aNaknya. Ia tidak terima dengan
kekalahannya. Ia ingin mengulangi pertarungan tersebut sampai
Amaq Muah melempari ayam lawannya dengan batu sambil
mengatakan "aku tidak terima dengan semuanya ini. Kau sangat
curang" kata Amaq Muah dengan amarah yang sangat memuncak.
Tidak terima dengan perbuatan Amaq Muah, lawannya
pun mengambil batu yang lebih besar lagi dari batu yang dipakai
Amaq Muah melempar ayamnya tadi seraya berkata "apakah kau
kira aku tidak bisa melakukan hal yang sama seperti yg kau
perbuat pada ayamku" ucap lawanya.
Amaq Muah pun tidak terima lagi dengan perbuatan
lawannya
"Kenapa kau melempari ayamku?" tanya Amaq Muah
"aku juga tidak terima dengan apa yang kau perbuat
kepada ayamku" kata sang lawan
"aku juga tidak terima itu" kata Amaq Muah
"karena kau kalah makanya kau begini. Kenapa kau tidak
akui saja kekalahanmu, Muah" kata lawannya sambil meredam
emosi
"kau itu sangat curang. Pasti kau memberikan
memberikan ayammu sesuatu makanya sampai kuat seperti itu"
kata Amaq Muah
"tidak mungkin aku memberikan ayam sesuatu itu. Tidak
mungkin. Kau kalah makanya kau ngomong begitu, yak an? " kata
sang lawan.
Sebab sama-sama tidak terima satu sama lain akhirnya
mereka dilerai oleh orang orang yang sedang menonton
pertandingan itu. Udin pun terlibat dan bersusah payah melerai
pertengkaran itu hingga beberapa menit berlalu. Udin pun
67 | P a g e
mengajak Amaq nya untuk pulang. Di perjalanan, Amaq Muah
memberi tahu Udin agar pulang duluan sebab Amaq Muah ingin
mengikuti lawannya tersebut.
Amaq Muah pun pergi ke rumah lawannya sabung ayam
tadi, yaitu Amir. Amaq Muah bersembunyi dibalik pohon yang
besar depan rumahnya Amir. Setelah beberapa menit menunggu
akhirnya Amir pun keluar sambil membawa ayamnya ke sebuah
sungai yang bernama Timba Tatar. Amaq Muah mengikuti dari
belakang. Ia melihat Amir memandikan ayamnya di sungai
tersebut.
"Alhamdulillah, berkat sungai ini ayamku bisa
menang…haha" ucapnya sambil tertawa seorang diri. Setelah
Amaq Muah mengetahui semuanya Amaq Muah pun memutuskan
pulang.
Saat matahari mulai naik angin bertiup dengan damainya
langit biru yang dihiasi oleh awan putih. Apa yang dilihat kemarin
oleh Amaq Muah membuatnya harus memberitahu keluarganya
tentang hal itu. Namun, Inaq Siti tidak percaya "aku tidak percaya
dengan semua itu" katanya acuh
"kamu tidak percaya apa yang aku lihat?. Aku melihatnya
sendiri kok" kata Amaq Muah dengan suara meyakinkan.
"Apakah kamu tidak mempercayai perkataanku?" kata
Amaq Muah dengan menahan amarahnya. Udin dan Andi hanya
bisa melihat orang tuanya bertengkar, namun pada akhirnya Inaq
Siti yang harus mengalah. Hanya Udin yang percaya dengan
perkataan Amaq Muah
"besok, aku akan buktikan semuanya dan ini pasti benar"
tegas Amaq Muah kepada aNaknya.
Hari demi hari sudah berlalu, perlombaan yang ditunggu-
tunggu akhirnya tiba. Amaq Muah sudah mengetahui perlombaan
itu dari awal sebab itu ia terus mempersiapkan ayam yang akan ia
pasang untuk perlombaan. Ia pun memutuskan untuk pergi ke
sungai Timba Tatar untuk memandikan ayamnya agar bisa
menang. Amaq Muah terus menggosok badan ayamnya agar
bersih dan berharap perlombaan ini ia bisa menang. Beberapa
68 | P a g e
menit berlalu, ia pun pergi ke tempat perlombaan. Udin yang
sudah lama menunggu pun melihat Amaq Muah berjalan cepat
sebab perlombaan akan segara dimulai.
Amaq Muah pun mempercepat jalannya, sedangkan Inaq
Siti pasrah dengan kelakuan aNak dan suaminya. Andi yang
pendiam tidak pernah ikut campur dengan urusan Inaq Siti dan
Amaq Muah, sedangkan Udin dan Amaq Muah sedang bersenang-
senang di perlombaan itu. Perlombaan pun dimulai. Ayam Amaq
Muah mulai melakukan serangan yang cukup keras kea yam
lawan, sampai-sampai lawan tak diberikan kesempatan untuk
membalas patukan demi patukan sampai akhirnya pelipis ayam
lawan mengeluarkan darah yang cukup banyak dan ayam Amaq
Muah memenangkan perlombaan itu. Ia bersorak gembira, puas
dan Amaq Muah merasa tidak menyesal telah mengikuti Amir saat
memandikan ayamnya di Timba Tatar kemarin.
Amaq Muah mengatakan kepada Udin bahwa usaha kita
tidak akan mengkhianati hasil walaupun perkataannya dan
kesenangannya tersebut tidak sampai selamanya. Sampai akhirnya
suatu hari datanglah bencana besar menimpa keluarga Amaq
Muah yaitu banjir bandang. Rumahnya hanyut dibawa banjir yang
sangat besar. Istri dan aNaknya Andi ikut terseret derasnya air,
sedangkan Amaq Muah dan Udin hanya bisa menyelamatkan diri
mereka sendiri.
Semua yang didapatkan dari hasil main judi sabung ayam
habis seketika bersama keluarga tercinta dan ayam-ayam yang
diguNakan untuk lomba sabung tersebut. Kini Amaq Muah
kebingungan di mana ia harus mencari istri dan aNaknya yang
sudah terbawa arus deras disertai hujan lebat dan petir. Perasaan
Amaq Muah hancur sebab kehilangan istri dan aNaknya.
Sedangkan, Udin terus menangisi kondisi yang ada di sekitarnya
yang begitu menyeramkan.
Setelah beberapa minggu berlalu. Kondisi yang ada di
sekitar mereka sudah mulai membaik walaupun masih banyak
lumpur, benda-benda yang terhanyut masih banyak berserakan.
Amaq Muah dan Udin kini tinggal di pengungsian yang dibangun
69 | P a g e
oleh masyarakat dengan bergontong-royong. Amaq Muah terus
memikirkan istri dan aNaknya walaupun ia sudah tahu bahwa
mereka tidak dapat ditemukan kembali.
Beberapa bulan kemudian, kondisi sekitaran mereka
sudah mulai membaik seperti sebelum kejadian tersebut. Amaq
Muah dan Udin sudah meninggalkan pengungsian dan mereka
mulai mencari pekerjaan. Amaq Muah diminta oleh Udin untuk
tinggal di kontrakan saja, sebab Udin sudah mendapatkan
pekerjaan yaitu mencari kayu bekas. Udin harus bekerja keras
untuk menghidupi kebutuhan sehari-harinya bersama ayahnya.
Kini, Amaq Muah hidup dengan sederhana tanpa istri dan
aNaknya.
70 | P a g e
SELAMET GUMI
Mawaddatus Sofiah
Pagi ini, matahari yang masih malu menampakkan
cahayanya. Adit sudah siap dengan pakaian kerjanya, sebab hari
ini ia memutuskan untuk membantu Amaq Sanip berjualan cilok
keliling. Sebelum berangkat, Inaq Odah, istri dari Amaq Sanip
membantu mempersiapkan dagangan yang akan dijual, akan tetapi
perasaan Inaq Odah sedari pagi gelisah. Beliau juga tidak tahu apa
penyebabnya. Saat Inaq Odah memasukkan saus cilok yang sudah
terisi penuh ke dalam botol tiba-tiba saja saus itu tumpah ruah ke
lantai. Hal ini semakin membuatnya gelisah. Amaq Sanip dan Adit
yang mendengar ada suara barang jatuh langsung menghampiri
arah suara dan melihat botol saus yang berserakan di lantai. Inaq
Odah tampak memungut satu persatu botol tersebut.
"loh, kenapa bisa jatuh?" tanya Amaq Sanip dengan raut
wajah bingung
"mungkin karena aku membawa terlalu banyak botol
saosnya" jawab lembut Inaq Odah dengan tangan yang masih
mengambil satu persatu botol-botol saus yang berserakan.
"Inaq tidak apa?" tanya Adit langsung berjongkok guna
membantu ibunya membereskan botol-botol itu.
"Tidak apa-apa Nak. Hanya saja perasaan Inaq sedikit
gelisah. Tidak tahu apa penyebabnya" jawab Inaq Odah seadanya
sambil memasukkan botol-botol saus yang berada di genggaman
tangannya tadi ke dalam gerobak dorong cilok.
"Tidak akan terjadi apa Inaq, jadi Inaq tenang saja. Tidak
usah khawatir, doakan saja" jawab Adit sambil tersenyum ke arah
Inaq Odah dengan tangan yang masih memegang beberapa botol
saus.
"sudah…sudah, mending bereskan ini dulu terus kita
langsung berangkat" ucap Amaq Sanip, lalu melenggang masuk ke
dalam rumah untuk mengambil cilok yang akan dijual.
71 | P a g e
"Siap!" kata Adit dengan nada yang bersemangat, lalu
memasukkan botol saus yang berada di genggamannya ke dalam
gerobak.
Inaq Odah berjalan menuju berugak yang ada di
pekarangan rumahnya. Lalu duduk di sana. Adit yang telah selesai
memasukkan botol-botol saus ke dalam gerobak, melihat Inaq-nya
yang hanya duduk termenung di berugak. Adit tidak
menghampirinya karena ia ingin membantu Amaq Sanip untuk
menyiapkan barang-barang yang diperlukan untuk jualan.
Amaq Sanip yang baru saja keluar dari dalam rumah sambil
membawa panci besar yang berisi berbagai macam varian cilok
menampilkan raut kebingungan di wajahnya. Tidak biasanya
istrinya hanya duduk santai saat dia akan pergi berjualan. Amaq
Sanip menghampiri Inaq Odah setelah menaruh panci besar tadi di
gerobak.
"Kamu kenapa? " tanya Amaq Sanip sambil duduk di
samping istrinya.
"Perasaanku sedari tadi sangat gelisah. Sebaiknya kalian
jangan jualan hari ini. Kita jual saja cilok-cilok itu di rumah"
saran Inaq Odah dengan tangan yang saling menaut.
Amaq Sanip memegang tangan Inaq Odah "tidak akan
terjadi apa-apa. Kamu tenang saja. Itu hanya bisikan setan supaya
kita bermalas-malasan untuk mencari rezeki" ucap Amaq Sanip
dengan suara meyakinkan untuk menenangkan istri.
Inaq Odah tidak menjawab, tetapi ia berharap semoga apa
yang dikatakan suaminya itu benar dan tidak ada masalah.
Mungkin saja ini hanya perasaanya sebagai seorang istri entah
sebab kelelahan atau gak endak badan.
Adit datang sambil mendorong gerobak jualan yang sudah
siap. Ia pun memarkirkan gerobak itu di samping berugak.
"Gerobak sudah siap. Ayo Amaq kita berjualan keliling
sebelum kesiangan" ucap Adit sambil berjalan menghampiri
kedua orangtuanya.
"Terima kasih, Nak. Ayo kita berangkat" balas Amaq
Sanip yang mulai bangun dari duduknya lalu menyodorkan
72 | P a g e
tangannya ke arah Inaq Odah untuk dicium. Amaq Sanip
menghampiri gerobak yang terparkir di samping berugak untuk
memastikan apakah semua yang dibutuhkan sudah lengkap
ataukah tidak.
Adit duduk di tempat Amaq Sanip duduk tadi. Dia
memandang ibunya.
"Inaq tidak usah khawatir. Insya allah semuanya akan baik-
baik saja. Doakan kita supaya cilok cilok itu cepat habis dan cepat
untuk pulang" ucap Adit dengan suara lembut.
Inaq Odah hanya mengangguk pelan sembari melepas
senyum melihat putranya.
"Aamiin" hanya kata itu yang bisa terucap dari mulut Inaq
Odah.
Adit membalas senyuman Inaq-nya dan tanpa aba-aba ia
langsung memeluknya. Inaq Odah terkejut dan membalas pelukan
putranya dengan mengusap punggungnya.
Amaq Sanip tersenyum melihat kedekatan mereka. Jarang
sekali ada aNak laki-laki yang sangat dekat dengan ibunya. Amaq
Sanip bersyukur mempunyai aNak seperti Adit yang sangat
pengertian kepada orang tuanya.
"Kenapa? Tumben banget?" Tanya Inaq Odah
"tidak apa-apa supaya Inaq lebih tenang, jadi Adit peluk
deh" jawab Adit dengan suara yang riang sambil menggaruk
tengkuknya yang tidak gatal.
"Ada ada aja kamu ini " jawab ibunya sambil terkekeh.
"Ayo, Dit. kita berangkat" ucap Amaq Sanip dengan mulai
mendorong gerobak ciloknya.
"iya. kalau begitu Adit berangkat berjualan dulu ya, Naq.
Inaq baik-baik di rumah. Assalamualaikum" ucap Adit sambil
mencium tangan Inaq Odah lalu menghampiri Amaq Sanip yang
sudah menunggunya di depan gerbang rumah.
"Assalamualaikum" ucap Amaq Sanip dan Adit secara
bersamaan kemudian meninggalkan Inaq Odah yang masih duduk
seorang diri.
73 | P a g e
Saat Amaq Sanip dan Adit menghilang dari
pandangannya. Perasaan Inaq Odah semakin cemas tapi dia
berusaha mempercayai perkataan suaminya. Ia membatin dan
berdoa semoga rasa gelisah yang dialami hanyalah kegelisahan
biasa.
“cilok cilok, cilok eNak murah meriah” teriak Adit
sepanjang jalan yang dilewati. Baru saja keluar dari gang desa
pembeli mulai mengelilingi gerobak cilok Amaq Sanip. Mereka
semua mengantri satu sama lain agar tidak terjadi keributan.
Berselang lama mereka lanjut berkeliling sampai tak terasa
adzan dzuhur berkumandang. Amaq Sanip dan Adit berhenti di
tepi jalan raya yang ramai kendaraan.
"alhamdulillah ciloknya tinggal sedikit, Amaq" ucap Adit
setelah membuka panci besar yang berisi cilok. Isinya tinggal
seperempat dari jumlah yang dibawa dari rumah.
"iya, alhamdulillah Nak. Di seberang jalan sana ada
masjid. Kita sholat dzuhur dan istirahat sejeNak dulu di sana"
balas Amaq Sanip sambil menunjuk masjid yang berada di
seberang jalan raya.
"iya, tapi aku mau beli air mineral dulu di warung sana.
Nanti gerobaknya aku yang bawa. Amaq duluan saja ke masjid"
ucap Adit sambil menunjuk warung kecil yang berada tak jauh
dari tempatnya berdiri.
"baiklah, kamu hati-hati. Kalau begitu Amaq ke masjid
dulu" balas Amaq Sanip yang hanya dijawab dengan anggukan
oleh Adit.
Adit berjalan pelan menuju warung sambil mendorong
gerobak cilok seperti yang dikatakan dan Amaq Sanip pun mulai
menyeberangi jalan raya menuju ke masjid. Baru saja Adit selesai
memarkirkan gerobak cilok di samping warung. Matanya seketika
membulat ketika ia tak sengaja mengarah ke Amaq Sanip yang
menyeberangi dan di lawan arah terlihat mobil yang melaju
kencang. Adit pun berlari sembari mengingatkan Amaq-nya yang
tidak menyadari kalau ada mobil dengan kecepatan kencang.
74 | P a g e
“Amaq…!” teriak Adit dengan lantang sambil mendorong
tubuh Amaq-nya agar tidak ditabrak dan..
“Bruuuuggh!” suara tubuh Adit tergeletak di jalan.
"Astagfirullahhal'adzim" Amaq Sanip terpental sedikit jauh
dari jalan raya ketika sebuah tangan mendorongnya tidak terlalu
keras. Sambil meringis sebab siku dan lututnya luka. Beliau
melihat sekeliling untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi dan
siapa yang menolongnya. Tanpa memikirkan luka-luka di
beberapa bagian tubuhnya Amaq Sanip langsung berlari menuju
tempat orang yang telah menyelamatkannya tersebut tergeletak.
Kalau dihitung kira-kira sejauh 5 meter tubuh laki-laki itu
terpental dari lokasi tabrakan.
Amaq Sanip menangis melihat kondisi putranya, mata yang
terpejam, tubuh yang tak bergerak sama sekali, darah segar yang
terus mengalir dari kepala bagian samping akibat benturan dari
pembatas jalan, dan beberapa bagian tubuh yang terluka. Orang-
orang yang hendak ke masjid atau hanya sekedar melewati jalan
tersebut langsung menghampiri korban kecelakaan dan mobil
yang menabrak sudah hilang entah kemana. Dengan air mata yang
terus mengalir dari pipinya,Amaq Sanip terus menepuk pelan pipi
putranya " Nak bangun, Nak bangun Nak" lirih Amaq Sanip.
Sedikit demi sedikit kelompok mata itu terbuka. Adit
tersenyum getir melihat Amaq Sanip yang berada di sampingnya.
Adit merasakan sakit di seluruh bagian tubuhnya, terutama pada
bagian kepala dan telinganya yang terus bergeming. Saat akan
berbicara mulutnya terasa berat. Adit mencoba untuk berbicara
dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan
perlahan "ba-agai-mana ke-ada-an- a-a-maq?" ucapan Adit
tertahan hanya beberapa kalimat namun sangat sulit untuk keluar
dari mulutnya.
"Amaq tidak apa-apa Nak, sekarang jangan pikirkan
tentang Amaq. Cukup kamu pikirkan dirimu saat ini. Kamu harus
kuat. Kita akan ke rumah sakit sekarang!'' ucap Amaq Sanip sambil
memegang tangan putranya yang berlumuran darah.buliran air
mata terus membasahi pipi Amaq Sanip. Adit hanya membalasnya
75 | P a g e
dengan senyuman. Di Bibirnya yang penuh darah sedikit demi
sedikit bisa membaca syahadat tanpa bantuan siapa pun. Setelah
itu, Adit kembali tak sadarkan diri. Tangis Amaq Sanip semakin
pecah. " Tolong bantu aNak saya, tolong, tolong " teriak Amaq
Sanip dengan nada yang sangat lirih diselingi dengan isak
tangisnya.
Siapapun yang melihat keadaan Amaq Sanip sekarang pasti
akan iba, lihat saja deraian air mata mengalir deras membasahi
wajah paruh bayanya. Baju yang semula berwarna putih kini
berganti menjadi warna merah pekat dan rambut yang acak-
acakan. Tadi saat baru saja kejadian, ada salah seorang menelepon
ambulans dan keberuntungan, ambulans tersebut sangat cepat
datang. Beberapa petugas medis keluar dari mobil ambulans.
Tanpa berlama-lama petugas medis tersebut langsung
menghampiri korban dan langsung menaikkan tubuh korban
keatas berangkar lalu mendorongnya sampai dibawa ke dalam
ambulans. Amaq Sanip ikut masuk kedalam mobil dengan beberapa
petugas medis.
“ninu…ninu…ninu” suara ambulans menggema di
sepanjang jalanan menuju rumah sakit. Di dalam mobil ambulans,
Adit diberikan pertolongan seadanya karena alat yang tidak
lengkap membuat para petugas medis kesulitan. Tak henti
hentinya yang Amaq Sanip memanjatkan doa untuk keselamatan
aNaknya.
Saat sampai di rumah sakit Adit langsung dibawa menuju
UGD untuk ditangani. Dengan air mata yang masih terus
mengalir. Amaq Sanip ikut mendorong berangkar putranya
sampai di depan ruang UGD. Beliau sebenarnya sangat sangat
ingin ikut masuk tetapi salah satu suster melarangnya untuk
masuk. Amaq Sanip mondar mandir di depan ruang UGD,
perasaan campur aduk yang dialami sekarang. Beliau sampai lupa
menghubungi istrinya Inaq Odah. Baru beberapa saat Adit
ditangani di ruang UGD, pintu UGD tersebut dibuka oleh salah
satu suster. dari dalam ruangan keluar beberapa suster yang
mendorong berankar dimana Adit berbaring dan dokter yang
76 | P a g e
mengikuti dari belakang. Suster suster tersebut sedikit berlari
mendorong berankarkarena membawa pasien yang kritis.
Amaq Sanip dengan cepat menghampiri dokter laki-laki
yang menangani putranya. Dokter laki-laki yang bername Tag Aen
itu melihat keluarga pasien yang menghampirinya. Ia
memberhentikan langkahnya sejeNak. Amaq Sanip berdiri di
depan dokter laki-laki itu. Ia menormalkan nafasnya yang
tersengal, sebelum menanyakan perihal keadaan putranya. Dokter
Aen yang mengerti apa yang akan ditanyakan oleh keluarga
pasien. Jadi sebelum keluarga pasien menanyakan apa yang terjadi
dokter Aen terlebih dahulu membuka suara.
"Putra bapak akan kami pindahkan ke ruang ICU karena
kondisinya yang semakin buruk. Amaq Sanip hanya diam dengan
mata yang berkaca-kaca. Melihat keterdiaman keluarga pasien,
dokter Aen melanjutkan perkataannya. "kalau begitu saya permisi
dulu, mari" dokter Aen melenggang pergi mengejar para suster
yang membawa pasien keruangan ICU. Amaq Sanip pun buru-
buru untuk mengejar dokter laki-laki itu.
Di lain tempat Inaq Odah merasa ada sesuatu yang tidak
beres karena tadi sewaktu memasak gelas tiba-tiba jatuh sendiri.
Beliau langsung kepikiran dengan aNak dan suaminya. Inaq Odah
sudah menghubungi Amaq Sanip beberapa kali tetapi hasilnya
nihil, beliau juga mencoba untuk menelpon Adit, tetapi hasilnya
tetap sama, tak ada balasan. Tidak ada yang menjawab telepon
maupun membalas SMS darinya. Inaq Odah berusaha
menghubungi aNaknya kembali setelah sekian kali dan Adit
mengangkat teleponnya.
”Assalamu'alaikum, Nak”
”halo, ibu?
Dengan raut kebingungan Inaq Odah menjawab sapaan
orang yang di sebrang sana "mohon maaf ini siapa ya?. Kok
suaranya beda dengan suara aNak saya? "
“saya dari pihak Kapolsek menemukan HP aNak ibu di
tempat kecelakaan”
77 | P a g e
“apa?. Kecelakaan?. siapa yang kecelakaan pak?” tanya
Inaq Odah terkejut.
Bapak polisi menjauhkan teleponnya karena teriakan Inaq
Odah "loh, suami ibu belum mengabari kejadian yang menimpa
aNak ibu?. Tadi, Ada korban kecelakaan tabrak aNak berjenis
kelamin laki-laki. Untuk identitas jelas korban dan kronologi
kejadian belum ada yang tahu. Kami hanya mengetahui bahwa
korban dari kecelakaan tersebut adalah aNak dari penjual cilok
gerobak dan penabraknya melarikan diri. Pihak polisi masih
menyelidiki TKP. Sekarang korban dan ayahnya sedang berada di
rumah sakit " ucap bapak polisi dengan jelas.
“BRAK…!!” suara HP terjatuh dari genggaman Inaq
Odah. Beliau langsung berlari keluar rumah untuk mencari ojek
atau siapa saja yang bisa mengantarnya ke rumah sakit.
Amaq Sanip terus mondar mandir didepan ruangan ICU,
tetapi tak sengaja indra penglihatannya menangkap sosok wanita
yang tidak asing berlari ke arahnya. Wanita tersebut adalah Inaq
Odah dan langsung menghampiri Amaq Sanip.
“kenapa bisa begini hah?. Hiks.. aku sudah bilang jangan
berjualan keliling!”. lihat-! lihat sekarang apa yang terjadi?" ucap
Inaq Odah dengan luapan air mata yang mengalir membasahi
pipinya. Amaq Sanip langsung mendekap dan mengelus punggung
istrinya. Inaq Odah memberontak akan tetapi, Amaq Sanip terus
mengelus punggung istrinya, sampai akhirnya Inaq Odah tenang.
"maafkan aku, karena kecerobohanku aNak kita menjadi
korban." ucap Amaq Sanip menyesal, dengan tangan yang terus
mengusap punggung istrinya. Inaq Odah diam, hanya isak
tangisnya yang terdengar jelas. Sekarang pikiran Inaq Odah hanya
tertuju kepada aNaknya. Kini, 1 jam telah berlalu tetapi dokter
yang menangani Adit belum juga keluar hanya beberapa suster
yang keluar-masuk membawa-mengeluarkan alat medis dan obat-
obatan. Saat Inaq Odah dan suaminya menanyakan perihal
keadaan putranya kepada suster tersebut, mereka hanya berkata
"doakan saja semoga aNak bapak dan ibu baik-baik saja, kami di
dalam sedang berusaha sebaik mungkin" balas suster singkat.
78 | P a g e
Amaq Sanip baru ingat kalau beliau belum menunaikan
shalat zuhur. Ia pun meminta izin kepada istrinya untuk pergi ke
mushalla rumah sakit sambil mendoakan putranya agar diberi
kesembuhan. Inaq Odah hanya menganggukkan kepala.
Di dalam mushalla, Amaq Sanip berdoa "ya Allah ya Rab,
engkau yang memberikan segala macam penyakit dan engkau juga
yang menyembuhkannya, bantu putra hamba, sembuhkan dia,
hamba tau Engkau akan memberikan cobaan sesuai kemampuan
hambamu” dengan suara lirih dan air mata yang mengalir Amaq
Sanip terus meminta pertolongan kepada Tuhan.
Di dalam ruangan ICU tempat dokter dan para suster
sedang berusaha keras untuk menyelamatkan pasien mereka.
“Tiiiiiiiiiiiiittt…..tiiiiiiiitttt” suara alat pendeteksi nafas
seketika tak ada garis kurva nafas lagi di layer monitor kecil di
samping Adit.
“Innalillahiwainnailaihirojiun”
Para petugas medis pun meletakkan alat medis yang di
pegang masing-masing. Mereka sedih sebab pasien tidak bisa
diselamatkan, tapi apa boleh buat mereka sudah melakukan yang
terbaik.
Dokter keluar dari ruangan untuk memberitahu kabar
duka kepada keluarga pasien yang sudah menunggu di depan.
Sedangkan para suster melepas alat-alat medis yang menempel di
beberapa bagian tubuh pasien.
Amaq Sanip yang sudah selesai shalat langsung bergegas
menuju ruang ICU. Saat hampir sampai, Amaq Sanip melihat
dokter yang beru saja keluar dari dalam ruangan. Amaq Sanip
berlari kencang untuk menghampiri sang dokter guna
menanyakan keadaan putranya. Inaq Odah yang melihat dokter
laki-laki menanyakan keadaan putranya.
"bagaimana keadaan putra saya, dok?" tanya Inaq Odah
Dokter Aen menghela nafas sebelum mengakatakan apa
yang terjadi "kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi
Tuhan berkehendak lain"
79 | P a g e
“DEG…” Jantung Inaq Odah berpacu cepat begitu pula
dengan Amaq Sanip yang baru saja sampai di depan ruangan ICU
dan mendengar apa yang dikatakan dokter tersebut.
“Maksud dokter apa?” tanya Inaq Odah dengan mata yang
berkaca-kaca, perasaannya juga mulai resah.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi pasien
tidak bisa diselamatkan. Lukanya terlalu parah, terutama luka pada
bagian kepala. Beberapa tulang pasien yang mengalami retak"
Pernyataan yang dokter Aen membuat air mata Inaq Odah luluh.
Sedangkan Amaq Sanip hanya diam mematung dengan perasaan
yang campur aduk dan mata yang berkaca-kaca. Inaq Odah
hampir saja ambruk ke lantai kalau tidak ada Amaq Sanip yang
menahan tubuhnya. Amaq Sanip mendudukkan istrinya di kursi
sebelah kanan pintu masuk ruang ICU. Pasokan oksigen di sekitar
Inaq Odah seolah menipis hingga membuatnya susah untuk
bernafas. Tangan kanannya terus memukul dada guna
menghilangkan rasa sesak yang menyeruak.
Amaq Sanip yang melihat itu sontak mengehentikan aksi
istrinya dan mengusap punggung Inaq Odah untuk memberi
ketenangan, walau pada kenyataannya dia juga sakit, kaget,
mendengar berita putranya yang sudah meninggalkannya untuk
selama-lamanya. Dokter Aen yang menyaksikan itu, merasa iba.
Setelah dianggap kedua orang tua pasien tenang. Doketer Aen
mempersilakan orang tua pasien untuk masuk kedalam ruangan
ICU. Amaq Sanip merangkul Inaq Odah, lalu berjalan memasuki
ruangan ICU dengan bersama-sama. Tangis Inaq Odah pecah
Ketika melihat putranya yang berbaring di atas berangkar dengan
seluruh tubuhnya ditutupi oleh selimut khas rumah sakit.
Saat Amaq Sanip dan Inaq Odah sampai tempat di
samping beraangkar, Inaq Odah membuka sedikit selimut yang
menutupi seluruh tubuh putranya. "Usap air matamu sebelum
menyentuh kulit Adit " ucap Amaq Sanip sambil menahan tangan
istrinya yang akan membelai wajah putra mereka. Mengapa
demikian Amaq Sanip mengatakan hal tersebut? karena, kalau ada
air mata manusia yang masih hidup, terkena dengan kulit manusia
80 | P a g e
yang sudah meninggal dunia maka mayat tersebut akan kesakitan.
Dia akan berteriak sekeras mungkin karena sangat sakit,
diumpamakan teriakannya mampu terdengar sampai ujung langit.
Inaq Odah menuruti perkataan suaminya. Setelah selesai
mengusap sisa sisa air matanya, Inaq Odah membelai wajah
putranya dan mencuim tangan putranya yang terasa dingin. Amaq
Sanip hanya diam, kalau ditanya apakah beliau sedih? Tentu saja
,orang tua mana yang tidak sedih saat putranya meninggalkannya
untuk selamanya. Beliau ingin menangis tetapi tidak bisa, karena
beliau masih punya tanggung jawab, kalau beliau ikut-ikutan
menangis siapa yang akan memberikan semangat kepada istrinya
yang sedang terpuruk.
"Ikhlaskan, Adit sudah tenang dialam sana. Ini sudah
takdir, kita tidak akan bisa mengubah takdir yang sudah tertulis"
kata Amaq Sanip kepada istrinya sambil mengusap punggung
istrinya yang sedang mengusap wajah putra mereka. Inaq Odah
membenarkan perkataan suaminya, tetapi hatinya terasa berat
untuk mengikhlaskan. Apalagi ini yang meninggalkannya adalah
buah hatinya. Karena semua yang hidup akan mati tidak ada yang
kekal. Inaq Odah juga tidak menyalahkan suaminya karena ia tau
itu bukan kesalahannya.
"Aku akan berusaha walaupun ini sangat berat" jawab
Inaq Odah dengan suara getir. Dua Suster datang dan salah satu
diantaranya mengatakan kepada Amaq Sanip dan Inaq Odah kalau
jenazah akan dipersiapkan untuk pulang ke rumah duka. Sebelum
kembali menutup wajah Adit dengan selimut, Inaq Odah
mengusap wajah putranya dan mencium kening dan tangannya.
Baru setelah itu Inaq Odah menutup seluruh bagian tubuh Adit
dengan selimut. Setelah itu Inaq Odah melenggang pergi.
"Tunggu sebentar" ucap Amaq Sanip menghentikan
aktivitas suster yang mendorong berankar keluar ruangan.
"sebentar, saya akan bicara kepada aNak saya untuk
terkahir kali" lanjut Amaq Sanip sambil berjalan menghampiri
berankar. Kedua suster tersebut yang mengerti akan keadaan izin
untuk keluar, sementara ayah dari almarhum berbicara kepada
81 | P a g e
putranya. Amaq Sanip membuka selimut yang menutup tubuh
Adit sampai bawah wajah "Assalamualaikum Nak, Adit udah
tenang di sana. Maafin Amaq, Nak karena kecerobohan Amaq
Adit yang kena imbasnya. Amaq akan berusaha untuk mencari
orang yang telah membuatmu seperti ini. Amaq tidak akan
menuntut dia, Amaq hanya ingin tahu kenapa dia melakukan ini
dan kenapa tidak mau bertanggungjawab atas apa yang telah
dilakukan. Adit aNak yang baik, insyaallah akan ditempatkan di
tempat yang semestinya" ucap Amaq Sanip di samping brankar
Adit. Dengan tangan yang terus membelai lembut wajah putranya.
Amaq Sanip kemudian mencium kening putranya dan
menutupnya kembali dengan selimut tersebut.
Inaq Odah terus berjalan tak tahu arah, pikirannya kosong.
Suara ambulans menggema dari sebelah kanan. Inaq Odah dan Ari
sontak berdiri melihat Amaq Sanip yang keluar dari rumah sakit.
Amaq Sanip menghampiri Inaq Odah dan Ari , sedangkan para
suster langsung memasukkan Jenazah kedalam mobil ambulans.
"Mari pulang " ucap Amaq Sanip sambil menautkan
tangganya dengan tangan istrinya. Di kediaman Amaq Sanip,
seluruh warga desa maupun luar desa datang melayat ke rumah
duka. Ada yang tidak percaya dengan berita ini karena tadi pagi
Adit masih bersama Amaq Sanip pergi berjualan cilok seperti
biasa. Roni yang baru saja mendapatkan kabar jika sahabatnya
telah berpulang ke Rahmatullah sangat terkejut. Dia langsung
pergi ke rumah duka. Di rumah duka, orang-orang banyak yang
datang untuk melayat. Termasuk para guru dan siswa-siswi
SMAN 1 Wanasaba. Semua orang tidak percaya tetapi kita boleh
buat apa ini semua memang takdir.
Para bapak-bapak mengurus persiapan pemakaman putra
dari Amaq Sanip dan Inaq Odah, sedangkan para ibu-ibu
mempersiapkan tradisi "Selamet Gumi". Tradisi ini merupakan
tradisi yang dilakukan jika ada orang yang meninggal. Bapak-
bapak akan berkumpul di rumah duka setelah acara pemakaman
selesai. Meraka akan zikir, tahlil, tahmid, dan berdoa supaya
almarhum ditempatkan di tempat yang terbaik disisi Allah. Setelah
82 | P a g e
itu mereka Mangan Dulang yang disajikan dengan Nare
(nampan bundar) yang diisi oleh beberapa piring dan mangkuk
berisi nasi dan lauk pauk lalu ditutup dengan tembolak (tudung saji
khas Lombok) berwarna merah yang terbuat dari bambu dan
dihiasi dengan manik-manik di seluruh bagian atas tembolak.
Adit kini telah dimakamkan. Susana pemakaman yang
dingin dengan pepohonan yang bergoyang karena terpaan angin
dan langit yang tidak terlalu terik dan juga tidak mendung.
Pemakaman berjalan dengan lancar kini tinggal hanya tinggal Inaq
Odah yang memandang sedih gundukan tanah yang berada di
depannya. Amaq Sanip sudah pulang duluan, karena di rumah
akan diadakan acara selamet gumi jadi mau tak mau beliau harus
meninggalkan istrinya sendirian di pemakaman yang sepi ini.
Amaq Sanip juga sudah mengajak Inaq Odah untuk pulang
bersama tapi Inaq Odah menolak dan menyuruh suaminya pulang
duluan.
Inaq Odah hanya diam, sampai akhirnya beliau berbicara
kepada gundukan tanah yang ada di depannya "sekarang Inaq
ikhlas dengan kepergianmu, Nak. Inaq tahu semua makhluk hidup
akan mati tidak ada yang kekal selain Allah SWT. Insyaallah kamu
ditempatkan di tempat yang terbaik. Inaq pulang dulu untuk
melaksaNakan acara selamat gumi-mu. Insyallah, besok Inaq akan
ke sini lagi" Inaq Odah tersenyum sambil mengusap lembut batu
nisan yang bertuliskan Muh. Aditiya dan melenggang pulang ke
rumah.
Saat Inaq Odah sampai di rumah, ternyata acara Selamet
Gumi hampir selesai karena perjalanan dari pekuburan umum
sampai kediamannya cukup jauh dan ditempuh dengan berjalan
kaki. Susunan acara terakhir yaitu Mangan Dulang. Semua Dulang
yang telah disiapkan latas dibagikan kepada bapak-bapak yang
mengikuti acara Salamet Gumi. Biasanya 1 dulang 2 orang karena
di dalam Nare tersebut ada 2 piring nasi dan ada beberapa macam
lauk pauk. Lauk pauk wajib yang ada di dalamnya adalah Sesiong
dan Kelaq Ares atau Kelaq Nangke.
83 | P a g e
Acara Selamet Gumi berjalan dengan lancar. Para bapak-
bapak juga sudah pulang tinggal ibu-ibu yang membantu Inaq
Odah untuk membereskan Dulang-dulang itu.
Satu minggu berlalu setelah kejadian naas yang menimpa
putra Amaq Sanip dengan Inaq Odah dan 1 Minggu pula Amaq
Sanip bolak balik kantor polisi untuk mengetahui informasi
terbaru tentang perkembangan kasus tabraklari aNaknya.
Malam berganti pagi, Amaq Sanip dan Inaq Odah sudah
siap untuk berangkat ke kantor polisi karena tadi malam seorang
polisi menelpon suaminya. Beliau menyuruh keduanya untuk ke
kantor polisi karena pelaku tabrak lari sudah ditemukan. Di
perjalanan keduanya hanya terdiam dengan pikiran masing-
masing. Sesampainya di kantor polisi keduanya langsung
diarahkan ke suatu ruangan disamping sel tahanan. Setelah
memasuki ruangan tersebut kedua pasutri itu dipersilahkan
duduk, beberapa menit menunggu akhirnya ada tiga orang datang.
Dua orang polisi, dan satu lagi seorang laki-laki yang memakai
masker mungkin itu adalah pelakunya. Kedua Polisi tersebut
menyingkir ke sebelah meja yang diduduki oleh orang tua korban
dan pelaku, lalu salah satu Polisi itu menyeru supaya si pelaku
membuka masker yang dikeNakan. Setelah pelaku tersebut
membuka masker, betapa terkejutnya Amaq Sanip dan Inaq Odah
saat melihat wajah pelaku. Inaq Odah menggebrak meja dan
menghampiri si pelaku.
“PLAK…!!” tamparan keras yang didapatkan si pelaku
membuat seisi ruangan diam. Pelaku merasakan sensasi panas,
kebas dan mati rasa pada pipinya. Masih dengan napas yang
kembang kempis karena menahan emosi, Inaq Odah membuka
suara
"Kurang ajar kamu Roni!. Apa salah saya sehingga kamu
tega melakukan ini. Dengan santainya kamu datang ke rumah,
pura pura tidak tahu apa penyebab kematian Adit yang ternyata
kamu adalah pelakunya. Sahabat macam apa kamu ini. Saya sudah
menganggap kamu seperti aNak saya sendiri, saya beri kamu kasih
sayang yang tak pernah kamu dapatkan dari keluargamu sendiri.
84 | P a g e
Dasar manusia tak tau untung!” teriak Inaq Odah dengan raut
wajah murka. Amaq Sanip hanya diam dengan mata yang
menyorot tajam ke arah si pelaku.
Roni hanya diam dan menunduk tak berani mengangkat
pandanganya. Dia sadar bahwa dia bersalah tetapi waktu itu ada
satu pertemuan dengan seseorang yang tidak bisa ditinggalkan
oleh karena itu dia tidak menolong korban dan langsung pergi
begitu saja.
Suara decitan pintu yang terbuka mengalihkan perhatian
semua orang yang berada di dalam ruangan. Perlahan tapi pasti
orang itu masuk ke dalam ruangan, Ari. Ari diberitahu oleh
kakaknya bahwa pelaku tabrak lari Adit sudah ditemukan. Jadi, ia
memutuskan untuk ke kantor polisi. Ari melihat Inaq Odah yang
berdiri di depan si pelaku yang sedang menunduk. Raut wajahnya
seperti menahan sesuatu yang tak bisa dilampiaskan dan Amaq
Sanip yang duduk di kursi depan pelaku dengan raut wajah
hampir sama dengan istrinya.
"Tampakkan wajahmu, jangan menunduk seperti itu"
pinta Amaq Sanip dengan nada yang tajam. Roni langsung
mengangkat wajahnya dan “Daaarrr…!!” Ari terkejut melihat
pelaku yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Raut wajah Ari
yang tenang berubah memerah. Tatapan laki-laki itu sangat
tajam, jari jemari nya mengepal sehingga membuat kukunya
terlihat memutih. Ari mendekat ke arah Roni dan tanpa aba-aba
Ari mencengkeram kerah kemeja yang dikeNakan Roni.
“BUGH…BUGH…BUGH…” tiga pukulan mendarat mulus di
wajah Roni. Sedikit lagi pukulan yang keempat mengenai
rahangnya tetapi dengan sigap Roni dan satu teman
seperjuangannya menghentikan aksi yang dilakukan oleh Ari.
"Semua tenang dan kembali ke tempat masing-masing.
Kita dengarkan dulu penjelasan yang akan diberikan oleh pelaku.
Karena pihak polisi juga belum mengetahui apa tujuan dari tabrak
lari yang dilakukan" seru salah seorang polisi dengan suara yang
lantang nan berwibawa.
85 | P a g e
Inaq Odah kembali ke tempat duduknya dengan perasaan
yang campur aduk antara marah, kecewa menjadi satu. Ari
memberontak saat salah satu polisi yang bersama kakaknya tadi
menahannya "munafik kamu Ron, dasar manusia berengkesek..!!"
teriak Ari sambil memberontak dari dekapan polisi. Tetapi polisi
tersebut terus menjauhkan Ari dari pelaku. Ari sudah berada
sedikit menjauh tetapi tatapan matanya menajam ke arah kerah
laki-laki yang dinyatakan sebagai pelaku pembunuhan Adit.
Setelah semua tenang Oni (petugas polisi) mengambil
tempat di tengah antara kedua orang tua korban dan pelaku. Tak
lupa menyuruh Ari dan polisi lain untuk mendekat dan duduk
bersama-sama di meja introgasi. Lalu Oni memerintahkan pelaku
untuk mengemukakan alasan kenapa dia melakukan tabrak lari
dan bersembunyi dari penyelidikan polisi.
Dengan sedikit keberanian laki-laki itu berani
mengangkat kepalanya dan mulai berbicara “Sebelumnya saya
ingin meminta maaf sebesar-besarnya kepada orang tua korban
atas apa yang saya lakukan…”
"Kami tak butuh perohonan maafmu" desis Inaq Odah
dengan nada judes. Amaq Sanip langsung mengelus pundak Inaq
Odah guna untuk menenangkan. Padahal pada kenyataannya dia
sendiri belum menerima apa yang telah dilakukan oleh pelaku.
"Tolong, diam sampai pelaku selesai bicara. Silahkan
dilanjutkan" pinta Oni kepada orang-orang yang berada di dalam
ruangan. Laki-laki itu kembali melanjutkan ucapannya yang
terpotong " tetapi saya bukanlah….” Penjelasan Roni terpotong
oleh suara seseorang.
“Permisi…”
Semua orang mengalihkan pandangannya ka arah pintu.
Ada dua orang berdiri, satu bapak-bapak yang mengeNakan
pakaian lengkap polisi dan yang satunya lagi mengguNakan
pakaian santai ala aNak aNak laki-laki zaman sekarang.
Ari dan kedua orang tua Adit terkejut melihat lelaki yang
hanya mengguNakan pakaian santai. Ekspresi yang ditampilkan
laki-laki yang baru datang itu tak jauh beda dengan ekspresi orang
86 | P a g e
yang berada di dalam ruangan. Roni merasakan campur aduk
antara senang dan sedih. Dia senang karena orang yang dicari-cari
datang dengan sendirinya, tetapi dia sedih karena orang yang
dicari-cari itu datang pada waktu seperti ini.
"Maaf semuanya, saya ke sini sebab aNak ini mengaku
sebagai keluarga dari korban tabrak lari itu dan ingin
menyaksikan introgasi pelaku. Sebelumnya saya sudah melarang
tetapi aNak ini kekeh ingin menyelesaikan." Ucapan polisi yang
mengantar laki-laki itu membuyarkan keheningan di dalam
ruangan tersebut.
"Ya sudah tidak apa-apa pak. Terima kasih sudah
mengantarkannya kes ini" balas Oni lalu mengukir senyum simpul
ke arah teman polisi.
"Kalau begitu saya permisi dulu" jawab polisi itu lalu
melenggang pergi
"Kamu masuk" pinta Oni kepada laki-laki yang masih
bengong di ambang pintu.
Laki-laki itu masuk menghampiri orang orang yang
sedang duduk di meja.
"Saya Romi dan itu adalah kembaran saya Roni. Kami
adalah saudara kembar yang terpisah sejak bayi disebabkan bapak
dan ibu kami bercerai" serangkaian kalimat yang dikeluarkankan
lelaki itu membuat semua orang terkejut terlebih Roni yang
benar-benar tidak tahu apa-apa.
Romi melihat raut kebingungan yang tercetak jelas di
muka saudara kembarnya, Roni.
Roni tidak bisa mengelak kalau orang yang mengaku
sebagai kembarannya ini berbohong, terlihat dari wajahnya yang
hampir sama, hanya terletak perbedaan pada bentuk alis dan
bentuk bibir. Roni sama sekali tidak mengetahui bahwa dia
memiliki saudara kembar. Dulu bapaknya katakan bahwa dia
mempunyai kakak tetapi dia tidak menyangka kalau kakaknya
adalah saudara kembarnya sendiri. Roni pun sudah berusaha
untuk mencari keberadaan ibunya dan kakaknya itu selama 4
tahun ini, tetapi tidak ada informasi yang didapatkan karena
87 | P a g e
bapaknya sebagai narasumber tidak pernah mau membahas masa
lalunya. Bahkan sampai saat ini Roni juga tidak mengetahui wajah
ibunya sendiri.
"Bisa diperjelas apa yang kamu katakan tadi?" hardik Roni
kepada Romi.
Romi menarik nafas dalam-dalam "sesuai apa yang saya
katakan, saya adalah ROMI dan yang berdiri itu adalah Roni
saudara kembar saya. Saya tinggal di pelosok kota Dompu.
Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa kami tidak saling tahu
menahu jawabnya adalah karena orang tua kami bercerai. Saya
dibawa sama ibu dan Roni dibawa oleh bapak. Orang tua kami
menyembunyikan masalah ini karena ada satu dan lain hal yang
saya juga tidak tahu apa itu. Saya mengetahui kebenaran ini 2 hari
sebelum kejadian. Sekali lagi saya meminta maaf sebesar-besarnya
kepada pihak keluarga dan saya turut berduka cita atas
meninggalnya aNak ibu dan bapak. Waktu itu saya lagi buru-buru
untuk menemui bapak kandung saya. Saya menyetir mobil sewaan
dengan kecepatan di atas rata-rata karena saking senangnya mau
bertemu dengan bapak setelah belasan tahun tidak bertemu. Saya
hanya tahu wajah bapak dari foto. Hampir mendekati TKP ada
seseorang yang menelpon, dengan keadaan masih menyetir saya
berusaha mengambil telepon yang berada di dasbor mobil tetapi
sangat susah, jadi saya menurunkan pandangan saya tetapi saat
saya kembali mengarahkan pandangan saya ke jalan saya melihat
ada seorang bapak-bapak yang sedang menyeberang. Saya kaget
bukan main, yang seharusnya saya menginjak pedal rem tetapi
karena kagetnya saya salah injak yang saya injak itu pedal gas,
kecepatan mobil semakin kencang dengan pikiran yang
berkecamuk saya membanting stang mobil dan BUGH…” Romi
menarik nafas sebelum melanjutkan ceritanya.
"seperti ada yang mengenai kap mobil bagian samping.
Saya melirik ke samping, di sana ada bapak-bapak yang tadi mau
menyeberang itu baik-baik saja, jadi saya melanjutkan perjalanan
karena saya pikir bapak itu baik baik saja. Demi apapun saya tidak
melihat bahwa ada laki laki seumuran saya yang menyelamatkan
88 | P a g e
bapak itu. Setelah selesai bertemu dengan bapak. Keesokan
harinya setelah kejadian saya kembali lagi ke TKP untuk mencari
informasi tentang apa yang telah saya perbuat pak. Waktu saya
tahu kalau ada korban lain yang meninggal dunia saya merasa
bersalah dan tidak tahu harus melakukan apa" papar Romi
dengan pandangan menunduk dan kedua tangan yang saling
menaut.
Seketika suasana menjadi hening tidak ada suara. Romi
melirik orang tua korban, pandangan keduanya kosong, seperti
tidak ada tanda-tanda kehidupan. Lalu melirik kedua laki-laki
sebayanya itu, tatapannya tidak jauh beda dengan kedua orang tua
korban. Tetapi ada guratan emosi yang masih bisa ditangkap dari
raut wajah seorang laki-laki yang mengamuk tadi.
"Lalu mengapa kamu menghindari polisi? " tanya Oni
kepada Romi.
"Mohon maaf, sebelumnya pak. Saya mengaku
bahwasanya saya menghindari polisi, tetapi saya tidak ada niatan
sedikitpun untuk melarikan diri. Saya hanya butuh waktu untuk
mengumpulkan keberanian untuk menghadap polisi dan keluarga
korban. Saya bersiap untuk menjalankan hukuman yang berlaku"
Jawab Romi dengan nada yang menyesal.
Apa yang telah dikemukakan Romi membuat hati Inaq
Odah sedikit luluh, dia mengerti apa yang dirasakan aNak itu .
Tetapi Inaq Odah juga belum bisa menerima sepenuhnya alasan
itu, karena Romi tetaplah bersalah.
"Alasanmu kami terima. Suruh orang tuamu datang ke
kantor polisi besok. Kami akan membicarakan masalah ini
bersama mereka sebab kamu masih di bawah umur. Kalian semua
boleh pulang kita akan bertemu besok siang terima kasih" ucap
Oni melenggang pergi dari ruangan introgasi.
Amaq Sanip mendekati Romi yang masih terus
menundukkan pandangannya lalu berkata "kamu tidak usah
khawatir Roni. Saya akan bicara baik-baik dengan kedua orang
tuamu besok" sambil mengusap pundak Romi. Kalimat yang
dilontarkan Amaq Sanip sukses membuat rasa bersalah semakin
89 | P a g e
menyelimuti hati Romi. Tanpa aba-aba Romi bangun dari
duduknya dan langsung menubruk tubuh ringkih Amaq Sanip
untuk dipeluk. "Maafkan saya" gumam Romi dipelukan Amaq
Sanip dengan suara serak seperti menahan buliran air yang
menggenang di pelupuk matanya agar tidak terjatuh.
"Tidak apa apa aNak muda. Saya sudah mengikhlaskan
putra saya, ini memanglah takdir. Karena semua yang bernyawa
pasti akan mati" ucap Amaq Sanip sambil menepuk-nepuk
pundak remaja yang berada diperlukannya ini.
Ari dan juga Roni kagum akan apa yang dilakukan Amaq
Sanip. Inaq Odah terharu melihat sikap suaminya. Dia juga tidak
tega melihat aNak sebaik itu mendekam dipenjara di usianya yang
masih muda. Inaq Odah juga mengerti bagaimana perasaan aNak
itu terlihat dari mimik mukanya waktu menyampaikan alasannya.
Romi adalah aNak baik, sedikit tidak itulah yang ada di beNak
Inaq Odah.
Romi mengurai pelukan itu dan mencium tangan Amaq
Sanip. “Terima kasih banyak pak. Saya siap untuk menjalankan
hukuman yang berlaku” kata Romi kepada Amaq Sanip.
"Ya. Sudah kalau begitu saya dan istri pulang dulu. Kalau
kalian mau diam di sini tidak apa-apa, tetapi saya sarankan kalian
pulang juga" ucap Amaq Sanip sambil berjalan mendekati istrinya
yang hanya diam sejak mengetahui siapa dalang dari kasus tabrak
lari aNaknya hingga meregang nyawa Adit.
"mungkin mereka mau jadi penunggu ruangan ini"
sambut Inaq Odah. Ari bergidik ngeri mendengar apa yang
dikatakan oleh Inaq Odah "aku sih mau pulang, tapi gak tau sama
Roni. Mungkin beneran mau jadi penunggu ruangan ini.
Sepertinya ia merasa cocok…hahaha" ledek Ari sambil
merangkul Roni.
Tinggallah tiga aNak muda di dalam ruangan itu. Ari
mendekati Romi "Maaf, buat yang tadi" ucap Ari sambil
menyodorkan tangannya ke arah Romi"
"Tidak apa. Aku tahu perasaanmu. Saya yang salah, jadi
kamu tidak perlu meminta maaf" balas Romi dengan senyuman
90 | P a g e