The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by SUHENDRO BUDI NURCAHYONO, 2023-11-01 20:29:58

LEGENDA PLUMPANG.docx

LEGENDA PLUMPANG.docx

Sehimpun Legenda Bumi Plumpang Oleh: Guru Penulis Kecamatan Plumpang Penyunting: Heri Kustomo, Budi Wasasih, Sriyatni


Kata Pengantar Bismillahhirahmanirrahim. Assalamualaikum wr.wb. Puji syukur tak terhingga kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberi kemudahan terbitnya buku ini. Hanya karena petunjuk, rahmat, dan rida Allah SWT, segenap teman-teman guru di Tuban dengan penuh kebersamaan terus berkarya. Berkarya menulis buku sebagai penanda bahwa Guru Tuban memiliki kreativitas dan terus belajar. Guru Tuban punya semangat untuk menuturkan cerita-cerita lisan (folkore) masa lalu para leluhur Tuban, untuk siswanya. Dengan harapan para siswa dapat meneladani perilaku kebajikan dan semangat kepahlawanan para pendahulu Tuban. Saya selaku ketua Ikatan Guru Penulis Tuban (IGPT) memberikan apresiasi yang luar biasa kepada para guru yang telah menyumbangkan tenaga, pikiran, dan waktu untuk menyelesaikan tulisan-tulisan ini. Tulisan legenda tempat-tempat di Tuban, yang nantinya diharapkan dapat menjadi bacaan bermutu bagi para siswa. Tentu karya buku ini tidak akan terwujud tanpa kerja keras semua pihak yang terlibat di dalamnya. Ucapan terima kasih tak terhingga untuk Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, khususnya Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban, yang telah memberi ruang para guru untuk berkarya. Apresiasi setingi-tingginya dari IGPT kepada Bapak Abdul Rakhmat, S.T., M.T. selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban, yang telah mendukung semua kegiatan guru-guru di Tuban. Tak lupa pula Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, terima kasih segala bantuan dan motivasinya, untuk guru-guru Tuban terus berkarya dan menebar kebermanfaatnan. Segala bantuan dan fasilitas yang telah luar biasa diberikan kepada para guru di Tuban semoga menjadi berkah dan kemajuan pendidikan di Tuban. Akhirnya, terima kasih Allah SWT telah memberi petunjuk kita, memberi kekuatan kita, dan senantiasa mempertemukan kita dengan kebaikan-kebaikan. Terima kasih semua yang terlibat dalam kegiatan Tuban Sembada (Semarak Penulisan dan Pembacaan Cerita Legenda Kabupaten Tuban) ini. Harapan besar kami buku ini dapat menyemai lahirnya Profi Pelajar Pancasila di Kabupaten Tuban. Alhamdulillahirabbil alamin. Wassalamualaikum wr.wb. Tuban, Oktober 2023 Ketua Ikatan Guru Penulis Tuban (IGPT) Sriyatni M.Pd.


Sambutan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban Syukur tak terhingga saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah menakdirkan guru-guru di Tuban menulis legenda masing-masing desa wilayahnya. Hanya rida Allah SWT, kerja besar ini dapat menghasilkan karya yang dapat dibaca dan dipelajari oleh semua siswa, guru, akademisi, serta masyarakat Tuban secara luas. Atas rida Allah pula, buku legenda tentang Tuban ini menjadi khasanah literasi dan studi kemanusiaan bagi bangsa Indonesia. Selaku Kepala Dinas Pendidikan yang menginiasi penulisan dan pembacaan legenda Tuban dalam rangka bersyukur di Hari Jadi Tuban (HJT) dan Hari Guru pada tahun 2023 ini, saya memberikan apresiasi yang luar biasa kepada guru-guru Tuban yang tergabung dalam Ikatan Guru Penulis Tuban (IGPT). IGPT-lah yang memiliki ide dan mewujudkannya hingga karya besar ini dapat kita nikmati manfaatnya. Kolaborasi guru-guru kita di semua kecamatan se-Kabupaten Tuban begitu kuat sehingga di semua kecamatan lahir satu buku kumpulan legenda daerah Tuban. Belajar dan kerja bersama yang dilakukan guru kita ini merupakan tonggak besar dalam perjalanan pendidikan di Kabupaten Tuban. Peristiwa-peristiwa masa lalu tentang tokoh dan kejadian baik yang bersifat mitos, cerita tutur, maupun data pengakuan seseorang mampu direkam ke dalam tulisan dalam buku ini. Setiap cerita selalu memiliki nilai pendidikan yang dapat menginspirasi pembaca, khususnya siswa-siswa di Tuban. Nilai edukasi dalam masing-masing cerita ibarat temuan emas terpendam di bumi Tuban. Keraifan khas lokal Tuban ada di buku ini. Kebajikan-kebajikan leluhur kita ada di buku ini. Membaca dan mempelajari cerita dalam buku kumpulan legenda Tuban ini mampu melahirkan pikiran baru untuk bersama-sama “Bangun Desa, Nata Kutha” Tuban ke depan.


Semoga segala jerih payah para guru yang tergabung dalam proyek besar penulisan buku legenda Tuban ini dicatat sebagai ibadah. Keikhlasan segenap guru-guru yang tergabung dalam IGPT saya yakin mendapatkan balasan yang amat besar dan berkah dari Allah SWT. Jariyah para penulis cerita selalu dikenang dan menjadi goresan penting dalam perjalanan literasi Tuban. Terima kasih. Terus berkarya guru Tuban. Terus menebar manfaat guru Tuban. Salam literasi. Salam terus berkemajuan pendidikan Tuban. Tuban, Oktober 2023 Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban Abdul Rakhmat, S.T., M.T.


Sambutan Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur Bismillahirahamanirahim Puji dan syukur selalu tercurahkan kepada Allah Swt. atas rahmat dan anugerah-Nya sehingga tersusun buku kumpulan cerita legenda dalam rangka menyambut Hari Guru Nasional, Hari Pahlawan, Hari Jadi ke-730 Kabupaten Tuban, dan Harlah ke-4 Ikatan Guru Penulis Tuban (IGPT). Tuban Semarak Penulisan dan Pembacaan Cerita Legenda atau Tuban Sembada menjadi tema besar yang “melegenda” dalam rangkaian inventarisasi cerita rakyat dan telah memberikan konstribusi besar terhadap pengembangan bahasa dan sastra, khususnya di Jawa Timur, dan akan tercatat di Museum Rekor Indonesia sebagai Penulisan dan Pembacaan Legenda oleh Guru dengan Penulis dan Pembaca Terbanyak. Legenda memiliki peran dan fungsi yang strategis dalam rangka membangun karakter masyarakat. Jika mengingat masa kini, hadirnya gerakan globalisasi yang mengesampingkan hal-hal yang bersifat lokal makin memudarkan peran dan fungsi cerita rakyat tersebut. Dengan kondisi seperti itu, tentunya penggalian nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat dalam berbagai cerita rakyat, khususnya yang disebut dengan legenda setempat, menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Keberadaan legenda sangat diperlukan oleh masyarakat sebagai catatan, kronologis sejarah, panduan hidup dalam berperilaku, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, yang mengarah pada pendidikan budi pekerti, sikap hidup, dan tata perilaku yang susila sehingga mampu membangun watak manusia yang luhur dan mulia. Saya sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh IGPT dan Pemerintah Kabupaten Tuban untuk menghimpun dan menghadirkan cerita legenda melalui kegiatan Tuban Sembada yang jumlahnya sangat banyak. Saya juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada penulis yang telah berupaya untuk mengumpulkan dan menginventarisasi cerita legenda yang luar biasa ini. Semoga buku kumpulan legenda ini dapat memberi manfaat, wawasan, dan menambah khazanah budaya, bahasa, dan sastra daerah khususnya dan Indonesia pada umumnya. Wasalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh Surabaya, 12 Oktober 2023 Dr. Umi Kulsum, M.Hum.


Daftar Isi Kata Pengantar Sambutan Daftar Isi Kyai Sengkelat dan Pagebluk Majapahit Dwija Kakang Adhi; Marduki Marduni Santet Pring Sedhapur Wahyu Pulung untuk Sang Carik Ngrayung Legenda Kuwu Legenda Kuwu legenda Joko Tarub Sendang Morosemo Sumberagung Legenda Gunung Kindrakila Jejak Petilasan Watu Rongko Babad Desa Ngrayung Asal Usul Desa Kepohagung Kisah Syekh Sulaiman Penyebar Agama Islam di Desa Kesamben Legenda Desa Kedungsoko, Sir-Siran Petilasan Migit Babad Dusun Sepatgaleh Desa Sembungrejo Asal Usul Nama Desa Plumpang Legenda Dewi Sirep Legenda Desa Sumurgung Joko Kembang Mbah Buyut Wongso GOA BAJUL Legenda Desa Jatimulyo Legenda dan Prasejarah Dusun Parengan Legenda Chenghui Ki Ageng Kemplung Ngino Sang Bujuk Rayung “Sayyid Ahmad Badri Martolaksono” Embung Lencong


Kyai Sengkelat dan Pagebluk Majapahit Pertapaan Empu Supo di Dermawuharjo Grabagan Al kisah, rona merah saga masih memoles ufuk barat. Walau dari sela tebalnya dedaunan jati di pegunungan Dermawu, hal itu masih sangat jelas terlihat. Dua sosok laki-laki muda baru saja memasuki gubuk kecil beratap daun jati kering. Wajahnya terlihat merah kehitaman karena berhari-hari tertampar terik mentari. Sekujur tubuhnya masih mengalir keringat segar yang tiada henti. Mereka adalah Sunan Kalijaga yang ditemani Empu Joko Supo Mandrangi. Sunan yang masih belia itu konon baru saja dari Demak menghadiri rencana pendirian masjid agung Demak bersama para wali tanah Jawa lainnya. Malam terus merambat ke tengah. Ruang padepokan Empu Supo yang tidak jauh dari sendang belerang itu hanya ditemani temaram minyak jarak. “Empu Supo,” panggil Sunan Kalijaga sambil terpejam. Kedua tangannya masih menyilang di dada. “Hamba Kanjeng Sunan,” jawab keturunan seorang empu ternama dari Majapahit itu sambil menundukkan diri. “Bolehkan aku meminta bantuanmu?” pinta Sunan Kalijaga sambil membuka matanya yang bersorot tajam. “Apa yang bisa hamba lakukan Kanjeng Sunan?” tanya Empu Supo lirih. “Bisakah Kau membuatkan sebilah keris untukku?” tanya Sunan Kalijaga. “Mampukah hamba Kanjeng? Banyak empu lainnya yang lebih termasyhur Kanjeng Sunan,” Kilah Empu Supo merendahkan diri. “Jangan terlalu merendahkan diri Empu Supo. Aku meminta bantuan sebagaimana isi dari istikharahku beberapa waktu yang lalu. Tiga kali kuulangi, hasilnya tetap sama. Nama


yang muncul adalah dirimu.” terang Sunan Klijaga sambil menepuk pundak kanan Empu Supo. Suasana tiba-tiba hening. Tak satupun kata menyapa udara di ruang yang berdinding sesek dari kulit bambu itu. Cukup lama mereka terdiam seribu bahasa. Lalu terdengar suara. “Baiklah Kanjeng. Apapun yang bisa hamba lakukan, akan hamba lakukan untuk Kanjeng Sunan,” yakin Empu Supo menyanggupi permintaan orang yang sangat dikasihinya itu. “Alhamdulillah. Aku hanya punya bahan ini. Terimalah. Jadikan besi ini sebagai pusaka sakti mandraguna untukku,” ujar Sunan Kalijaga sambil menyodorkan besi akadiyat yang besarnya hanya seukuran biji kemiri kepada Empu Supo. Seketika Empo Supo terbelalak matanya melihat kilau cahaya yang muncul dari benda yang diberikan Sunan Kalijaga. “Baiklah Kanjeng. Mohon bersabar untuk menunggu jadinya pusaka yang Kanjeng inginkan. Mulai fajar besok tinggalkan hamba.” pesan Empu Supo sambil mengelus-elus bahan keris yang diberikan Sunan Kalijaga. Dini hari terus merangkak menuju fajar. Sejak saat itu Empu Supo menuju ke pertapaannya. Seperti biasanya saat pembuatan sebilah keris, agar mendapatkan hasil yang sempurna diriya harus melakukan ritual semedi dan tapabrata. Apalagi yang memesan pusaka itu adalah seorang Sunan Kalijaga. Sudah barang tentu dirinya akan mengerahkan semua kemampuannya mewujudkan keris permintaan sosok yang sangat dikaguminya dalam penyebaran ajaran Islam di Jawa. Beberapa hari kemudian, Empu Supo mulai menyalakan perapiannya. Ketika api itu telah siap, dibakarlah bahan keris itu di tungku besar yang biasa digunakannya membuat pusaka. Namun, aneh, Bahan yang diberikan Sunan Kalijaga berupa besi akadiyat itu ternyata tidak bisa dibakar dengan api. Beberapa kali hal sama diulangiya hal itu. Nemun hasilnya tetap sama. Hampir putus asa Empu Supo saat itu. Namun, ada yang berbisik ke telinganya agar dirinya memijat-mijat saja bahan keris itu dengan japamantra yang pernah diajarkan ayahnya. Jadi selama prosesnya, tangan kanan Empu Supo hanya memijat-mijat benda itu. Matahari telah genap empat puluh kali bersalin rupa. Maka, terbentuklah sebilah keris berliuk 13. Sinar kemerahan yang dipancarkannya pun luar biasa indah. Semua kemampuan Empu Supo telah dicurahkan untuk mengumpulkan energi-energi positif yang berasal dari seluruh penjuru tanah Jawa. Energi-energi itu telah terbungkus menjadi satu kekuatan dahsyat di keris baru itu. Pada suatu siang, Sunan Kalijaga berkunjung ke padepokan Empu Supo. Maka, diserahkanlah keris yang baru saja jadi itu kepada Sunan Kalijaga. Ketika benda pusaka itu


dikeluarkan dari sarungnya, betapa terperanjat Sunan Kalijaga. Sejenak ditutupkan kedua tangan ke mata karena silau cahaya kemerahan yang memancar dari keris liuk 13 itu. “Subhanallah. Alhamdulillah. Sunggah indah keris buatanmu Empu Supo. Keris ini memancarkan cahaya kemerah-merahan. Hal ini sebagai filosofi keberanian dan semangat untuk berjuang di jalan Allah. Keris ini kuberi nama Kyai Sengkelat. Terima kasih Empu Supo telah Kau wujudkan keinginanku,” ucap Sunan Kalijaga sambil mengusap lembut seluruh permukaan keris itu dengan jari telunjuk kanannya. ****** Waktu terus melaju laksana anak panah yang melesat dari busurnya. Majapahit, kerajaan besar yang dimulai dari hutan Tarik, lalu merambat menggapai kejayaan dengan Amukti Palapanya Gajah Mada, kini menuruni curamnya siklus takdirnya. Kala itu Bhre Kertabumi memegang kendali kuasa. Majapahit tak lagi seperti era Gajah Mada. Majapahit kini semakin kerdil dan penuh tragedi perang saudara. Suatu hari, terjadilah pagebluk yang mencengkeram di ibukota Majapahit. Penyakit ini sangat ganas. Tidak saja menakutkan, tetapi mematikan. Wabah ini menyerang siapa pun tak pandang usia dan kasta. Siapa pun yang diserang perutnya akan membesar, nafasnya sesak, tidak lama kemudian meninggal dengan kulit membusuk perlahan. Kalaupun bisa bertahan itu pun dengan bantuan paranormal dari aliran hitam. Banyak pula yang harus bertahan hidup dengan menumbalkan bayi dan anak-anak tak berdosa sebagai syaratnya. Gurita pagebluk ini mengikuti hembusan angin menerobos gerbang istana. Tidak tanggung-tanggung, sang putri mahkota, Ayu Sekar Kedaton pun tiada berdaya dirajam wabah hitam ini. Perutnya tiba-tiba membesar, sesak nafas, kulitnya mengeriput, dan tenaganya entah lenyap ke mana. Putri mahkota nan jelita itu harus berbaring tiada daya di kaputren ditemani dayang-dayang istana. Sang Prabu telah memanggil paranormal dan tabib istana. Sang Putri ternyata hanya mampu bertahan hidup, tenaganya semakin terbenam ke dasar samudera. Sang Raja telah memerintahkan Rakryan Mahamantri untuk membuat sayembara dengan hadiah sangat menggiurkan. Entah sudah berapa ratus orang pintar hadir ke istana, namun belum bisa myembuhkan sang Putri. Baginda tidak punya pilihan lain kecuali bersemedi. Usaha memohon petunjuk kepada Pencipta itu membuahkan hasill. Petunjuk didapatkan Maharaja dengan jelas. Pagebluk yang melanda Majapahit itu laksana gumpalan awan hitam tebal yang menyapu dan menutupi seluruh wilayah Majapahit. Penyebabnya adalah kekuatan jahat yang ada di keris Condong Campur sedang menebar angkara murka dan penyakit. Konon, menyadari adanya perpecahan, Maharaja mengumpulkan seratus empu dari aliran hitam dan putih untuk membuat satu keris. Tujuannya adalah menyatukan seluruh


kekuatan hitam dan putih mengatasi perpecahan di Majapahit. Keris itu pun terwujud dan diberi nama Kyai Condong Campur. Beberapa waktu lamanya, keris itu mampu bekerja dengan baik. Namun, suatu ketika aura hitam di keris itu berulah semakin mengacaukan perpecahan, bahkan menebar pagebluk di seluruh Majapahit. Kala itu, mentari baru saja menampakkan rupa di ufuk timur. Sang Raja yang baru saja keluar dari ruang semedinya, langsung menuju pasewakan agung. “Hai, Rakryan Mahamantri. Kuperintahkan dirimu untuk ke Tuban menemui Sunan Kalijaga. Memohonlah kepada Sunan Kalijaga untuk datang ke istana dengan membawa keris piandelnya. Kalau bisa secepatnya. Kasihan Putri Ayu Sekar Kedaton!” titah baginda dengan suara tegas dan suasana hati tegang. “Sendika dhawuh, Baginda. Saat ini juga hamba berangkat,” jawab Mahamantri sambil menunjukkan sikap menghormat junjungannya. Selanjutnya, suara derap kaki kuda secepat kilat menggema di udara. Rakryan Mahamantri diikuti empat puluh prajuritnya meninggalkan istana, membelah hutan belantara menuju ke utara. Utusan Majapahit itu tanpa ragu menyusuri jalan-jalan setapak menuju Tuban untuk menemui Sunan Kalijaga. “Kanjeng Sunan Kalijaga, hamba Mahamantri, mendapat titah Maharaja untuk menemui Kanjeng,” ujar Rakryan Mahamantri sambil memberikan sungkem kepada Sunan Kalijaga. “Ada titah apa Mahamenteri?” tanya Sunan Kalijaga dengan muka terkejut. “Hamba diutus untuk meminta bantuan Kanjeng Sunan. Pusat kota Majapahit sedang dilanda pagebluk besar Kanjeng. Banyak warga yang menjadi korbannya. Wabah itu menyerang begitu ganas dan mengerikan. Mereka banyak yang mati lalu perlahan jasadnya membusuk. Putri Mahkota juga terjangkit wabah itu Kanjeng. Kedatangan hamba memohon agar Kanjeng berkenan datang ke istana dengan membawa keris Kyai Sengkelat untuk menyingkirkan pagebluk itu,” terang Rakryan Mahamantri yang gagal menyembunyikan kepanikannya. “Baiklah. Aku akan bersama kalian kembali ke istana,” jawab Sunan Kalijaga dengan suara tenang. Saat itu juga Sunan Kalijaga berkuda mengikuti iring-iringan pasukan berkuda menuju Kota Majapahit. Derap pasukan berkuda itu menghamburkan debu jalanan tanah liat ke angkasa raya. Ringkik kuda bergantian menemani gerak mereka mendekati istana raja. Sunan Kalijaga adalah tamu istimewa raja. Penyebar Islam asli Tuban itu diikuti pengawal khusus istana menuju pasewakan agung. Raja telah menunggu di singgasananya yang bertahta kilau emas permata diselimuti kegelisahan mendalam. “Sembah hamba, Paduka. Hamba mohon diperkenankan menghadap di pasewakan agung bersama Kanjeng Sunan Kalijaga,” ujar Mahamantri.


Untaian kata dari Mahamantri itu laksana membuyarkan dan menyentakkan hati Maharaja di tengah rajaman perasaan duka mendalam karena pagebluk menyerang Majapahit dan kini putri kesayangannya terbaring lemah. “Kanjeng Sunan Kalijaga. Selamat datang di istana Majapahit. Satu kehormatan, Kanjeng berkenan memenuhi permohonan kami untuk menyembuhkan pagebluk yang menimpa putri kami dan rakyat Majapahit,” ujar Maharaja sembari matanya berkaca-kaca merasakan kesedihan yang sangat dalam. “Sebenarnya apa yang terjadi Prabu?” tanya Sunan Kalijaga lirih. “Kanjeng Sunan. Beberapa waktu yang lalu saya mengumpulkan seratus empu dari golongan putih maupun hitam untuk membuatkan satu keris. Keininginanku agar perpecahan di Majapahit yang semakin meruncing dapat teratasi oleh kekuatan pusaka itu. Beberapa lama keris itu terwujud. Kuberi nama Condong Campur. Baru beberapa waktu keris itu sanggup meredam suasana perpecahan, namun tiba-tiba kekuatan hitam yang ada di dalam pusaka itu berontak dan membuat pagebluk yang sangat dahsyat. Rakyat ketakutan dan terancam kematian misterius. Purtri kesayanganku juga terserang wabah itu,” terang Maharaja sambil menghela nafas panjang. “Apa yang bisa hamba lakukan Gusti Prabu?” tanya Sunan Kalijaga dengan memagang dagunya sebagai tengara ikut larut dengan ucapan Maharaja. “Saya sudah bersemedi Kanjeng Sunan. Wangsit yang saya peroleh adalah pagebluk yang melanda Majapahit dan menimpa putriku bisa sirna apabila aku meminta bantuan Kanjeng Sunan Kalijaga dengan keris saktinya bernama Kyai Sengkelat. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati aku memohon Kanjeng Sunan berkenan menyelamatkan kami dari pagebluk ini,” terang Maharaja dengan suara agak terbata-bata. Sunan Kalijaga terdiam. Matanya terpejam. Kedua tangan di silangkan di dada. Ditariknya nafas dalam-dalam, ditahan sejenak, kemudian dihembuskan kembali. Tiga kali hal yang sama dilakukannya. Barulah sunan muda itu angkat bicara. “Bismillahi biaunillah... Insya Allah hamba mencoba membantu Majapahit,” yakinnya kepada Maharaja. Jawaban itu melegakan Maharaja dan seisi pasewakan agung. Tampak kilau cahaya menyapa wajah mereka yang semula tampak kuyu dan layu dirajang ketakutan karena adanya pagebluk itu.Saat itu juga Sunan Kalijaga memohon izin keluar ke halaman istana. Sunan Kalijaga mengambil sikap kuda-kuda penuh. Matanya tiba-tiba terpejam. Tangannya secara spontan mengikuti gerakan mengumpulkan kekaatan tenaga dalam melalui pernafasan. Tangan kanannya perlahan bergerak ke pinggang kiri. Dihunusnya perlahan keris liuk 13 itu lalu diacungkan ke angkasa. Cahaya kemerah-merahan memancar dengan sangat kuat dari batang Kyai Sengkelat. Bau sangat harum tercium memenuhi istana.


Terlihat Sunan Kalijaga yang mengenakan pakainan kesukaannya itu, berkomat-kamit merafalkan mantera-mantera. Perpaduan ilmu dari tanah Jawa dan kalimat-kalimat berbahasa Arab itu sungguh menakjubkan. Angin tiba-tiba datang dari empat penjuru arah mata angin dengan sangat kencang. Angin-angin itu menggiring mendung pekat untuk menjala langit Majapahit. Seketika Majapahit gelap pekat laksana malam tiada taburan gemintang. Mendadak muncul gumpalan api seukuran pusaka. Kobaran api itu melesat sangat cepat dari arah puncak Kelud. Tampaknya kobaran api itu adalah aura bawaan dari keris Condong Campur. Keris itu bersemayam di kaldera kawah Kelud saat diadakan upacara persembahan kepada Dewa. Persembahan itu berupa 5 gadis belia Majapahit sesuai weton di Jawa Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing. Kyai Condong Campur yang berselimut kobaran api itu berputar-putar di sekeliling istana. Sunan Kalijaga tetap menjaga posisi kuda-kudanya yang terus digempur deru angin. Seketika petir menyambar-nyambar tiada terkira. Sambaran-sambaran itu ternyata dapat ditangkap oleh Kyai Sengkelat. Melalui tubuh Sunan Kalijaga, kilatan petir itu lebur di bumi. Berkali-kali pusaka buatan seratus empu itu beraksi di udara dengan melontarkan sengatan-sengatan petir. Namun, aksi-aksi itu dapat dinetralkan oleh Keris Sengkelat dan Sunan Kalijaga. Giliran serangan berikutnya adalah guyuran hujan sangat lebat dari empat penjuru mata angin. Sebenarnya arah gempuran hujan itu memusat di satu titik yaitu istana. Seandainya hujan itu berhasil menyatu di satu titik, hancurlah istana Majapahit saat itu. Namun, Sunan Kalijaga yang tetap bertahan di posisinya berusaha melawan gempuran hujan itu dengan mendatangkan angin dari semua penjuru. Deru angin yang datang, ternyata sanggup memporak-porandakan hujan yang akan berkumpul di atas istana Majapahit. Hujan itu kemudian berpencar merata ke seluruh wilayah Majapahit. Tiada terasa hujan itu adalah kuasa Tuhan untuk membersihkan pagebluk dari bumi Majapahit. Merasa terteter kekuatannya, Kyai Condong Campur tak lagi kuasa mempertahankan posisinya. Kekuatan Kyai Sengkelat semakin menggila-gila. Kyai Condong Campur hilang keseimbangannya. Benda yang menebar aroma kematian itu sontak melesat sangat tinggi di kegelapan cakrawa. Terdengar teriakan yang sangat keras membelah angkasa. Terdengan tangisan mengiba menggema di udara. “Hai, Kalijaga. Pusakamu sangat digdaya. Malam ini aku mengakui kalah darimu. Namun, aku tidak akan pernah menyerah. Aku takkan biarkan wilayah Majapahit hidup dalam ketentraman. Ingat, setiap lima rutus tahun sekali aku akan kembali ke bumi membuat pagebluk yang mematikan!” ancam dari Kyai Condong Campur. Tidak lama setelah itu, pusaka penunggu Kelud itu melesat ke angkasa dan menjelma menjadi lintang kemukus atau bintang berekor yang sangat terang. Mula-mula


benda itu berputar-putar di angkasa istana, kemudian sekejap lenyap ditelan luasnya cakrawala. Hujan dan angin berangsur reda. Maharaja dan seisi istana bermandi senyum bahagia melihat kemenangan Sunan Kalijaga dan Kyai Sengkelad. Ada teriakan dari arah kaputren yang mengabarkan kanjeng Putri Ayu Kedaton telah sembuah dari sakitnya. Begitu pula ketika mentari membelalakkan mata, rakyat Majapahit sudah lepas dari cengkeraman pagebluk. Mereka bersorak-sorai bermandikan cahaya suka-cita. Maharaja Majapahit sangat gembira hatinya. Sebagai ungkapan terima kasih, Sunan Kalijaga diberikan hadiah yang sangat besar.***


Profil Penulis Heri Kustomo, S.Pd., M.Pd., Lahir di Tuban pada tanggal 20 Mei 1971. saat ini menjabat sebagai Kepala SMP Negeri 1 Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Penulis tinggal di Jln. Dewi Sartika 80, RT 01/RW 02, Desa Sawahan, Kecamatan Rengel, Tuban. Pendidikan tinggi yang ditempuh S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP PGRI Tuban, Angkatan 1989, Lulus 1994 dan Pendidikan Terakhir adalah S-2 Pendidikan Bahasa dan Sastra.Unesa Surabaya, Angkatan 2005, Lulus 2007. Riwayat Pekerjaan sebagai Guru SMP Negeri 1 Tuban, Tahun 1998-2001. Guru SMP Negeri 1 Rengel, Tahun 2001-2017. Kepala SMP Negeri 2 Soko, Tahun 2017-2020. Kepala SMP Negeri 1 Plumpang, Tahun 2020 sampai sekarang. Prestasi Karya Tulis: 1. Juara Harapan 1 Tingkat Nasional pada Sayembara Penulisan Naskah Buku Bacaan Tahun 2000 yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan Depdiknas dengan naskah berjudul “Terseret Arus.” 2. Juara I Lomba Penulisan Naskah Kesejarahan Daerah Jawa Timur tahun 2002 yang diadakan oleh Dinas P dan K Propinsi Jawa Timur dengan naskah berjudul “Palagan Prambonwetan.” 3. Juara I Lomba Penulisan Naskah Asal-Usul Desa Daerah Jawa Timur Tahun 2002 yang diadakan oleh Dinas P dan K Propinsi Jawa Timur dengan naskah berjudul “Asal-Usul Desa Mori.” 4. Juara II Lomba Karya Ilmiah Guru Tingkat Kabupaten Tuban dalam rangka Hardiknas tahun 2003. 5. Juara III Lomba Penulisan Naskah Kesejarahan Daerah Jawa Timur tahun 2003 yang diadakan Dinas P dan K Propinsi Jawa Timur dengan naskah berjudul “Kepet Berdarah Tahun 1949.” 6. Juara I Lomba Penulisan Naskah Kesejarahan Daerah Jawa Timur tahun 2004 yang diadakan Dinas P dan K Propinsi Jawa Timur dengan naskah berjudul “Prasasti Kambang Putih Anugerah Sima dari Mapanji Garasakan.”


7. Juara I Putra Lomba Dongeng Kepahlawanan Daerah Jawa Timur Tahun 2004 yang diadakan Dinas P dan K Propinsi Jawa Timur dengan judul “Banjir Darah di Sungai Tambak Beras.” 8. Juara III Putra Lomba Dongeng Kepahlawanan Daerah Jawa Timur Tahun 2005 yang diadakan Dinas P dan K Propinsi Jawa Timur dengan judul “Pertumpahan Darah di Benteng Kumbakarna.” 9. Menjadi Tim Penyusun Buku “Sejarah Tuban” Tahun 2005 yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Tuban. 10. Menjadi Empat Nominator Lomba Penulisan dan Visualisasi Naskah Sejarah Jawa Timur Tahun 2006 dengan Judul “Perlawanan Tuban Terhadap Serangan Mataram Gelombang Kedua.” 11. Juara I Guru Berprestasi Kabupaten Tuban Tahun 2006. 12. Menjadi Tim Penyusun Buku “Tuban Bumi Wali” Tahun 2013 yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Tuban. 13. Menjadi Pemenang Sayembara Penulisan Buku Bacaan Anak Balai Bahasa Jawa Timur Tahun 2017 dengan judul “Terkepung Jubung.” Buku yang telah diterbitkan: 1. “Terseret Arus” (2001) oleh Mitra Gama Widya (Adicita Grup) Yogyakarta. 2. “Bukan Sekedar Peraut” (2001) oleh Mandira, Semarang. 3. “Kumpulan Naskah Cerita Rakyat Jawa Timur (Tuban)”, (2005) oleh Wahyu Media, Surabaya. 4. “Terkepung Jubung” (2017), Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (Dijadikan sebagai e-book bahan literasi nasional) 5. “Merah Putih di Atas Pusara” (2018), CV Asia Education,Bojonegoro 6. Antologi Puisi “Tentang Rasa” (2019), oleh Kun Fayakun, Jombang. 7. Kumpulan Naskah Sejarah “Tentang Tuban” (2019) oleh Kun Fayakun, Jombang. 8. Antologi Puisi “Balada Kambang Putih” (2019), oleh Kun Fayakun, Jombang. 9. Antologi Cerpen “Mawar di Pusara Ayah” (2019), oleh Kun Fayakun, Jombang. 10.Kumpulan Makalah Sastra “Menimang Sastra” (2020), oleh Kun Fayakun, Jombang Penulis bisa dihubungi melalui email, [email protected].


Dwija Kakang Adhi; Marduki Marduni Kupersembahkan tulisan ini untuk kedua buyutku; Marduki Marduni. Yang telah berpulang. Hampir seabad yang lalu. Tercerita. Manakala seorang cicit perempuan mewarisi kebisaan buyutnya. Maka bibit kesanggupan yang ia bawa memengaruhi keindahan kelok jalan kehidupan yang telah dipilihnya. Tak berlebihan pula jika ia berupaya mengabadikan kisah leluhurnya itu sebagai prasasti teori heriditas. Atas nama: bangga. *** Pertengahan Desember lalu. Di siang yang sejuk. Manakala aku sedang rebahan di kamar. Sebuah pesan masuk pada wall whatshaapku. “Dik, kukirimi geguritan hasil karyaku. Tolong dibaca, ya!” “Wah, kok aku lagi, Kak? Kemarin kan sudah,” balasku cepat. “Aku mohon. Please. Suaramu bagus. Kamu pintar ngolah nafas. Penggalan kalimatnya juga pas. Eh, kamu tahu nggak. Andai ada ketoprak lakon Ratu Shima Madeg Pandhita Ratu1 , kamu pantas jadi pemeran utamanya, lho.” Kubaca pesan itu sembari termangu. Namun jemariku segera mengetik. Memberi jawab. “Mengapa kausebut lakon ketoprak itu, Kak? Mengapa kauingatkan aku dengan elegi kenangan karenanya?” Seniorku itu membalas chatku dengan emoji minta maaf dan sebiji kata. Why? *** Lalu berlembar aku menjawabnya. Meneruskan cerita ibu. Perihal leluhurku. Nun. Di Dusun Ngrayung. Pada sebuah adegan pertunjukan ketoprak. Dengan lakon Ratu Shima Madeg Pandhita Ratu. Pada malam yang temaram. Di taman sari kerajaan. Derik jangkrik bersahutan. Menemani sepasang hati yang bahagia. Setelah lama tak bersua. Raja Kartikeyasingha membelai kepala Ratu Shima. Berpenuh cinta. “Dinda, engkau memang pantas menjadi Ratu Kerajaan Kalingga. Terima kasih sudah bersedia menggantikanku. Melanjutkan perjuanganku. Memakmurkan rakyat kita. Menjadikan Kalingga negeri yang gemah ripah loh jinawi ayem tentrem kertaraharja.” Ratu Shima tersipu mendengarnya. Entah sudah berapa purnama ia merindukan suara lembut suaminya. Belahan jiwa yang ia setiai. Ia bangkit dari duduk. Serta merta ia berlutut. 1 Judul lakon ketoprak yang bercerita tentang naik tahtanya Ratu Shima sebagai Ratu Kalingga menggantikan suaminya


“Kakanda, pujianmu sungguh menenteramkan hati. Adakah Kakanda tahu, aku bisa begini rupa karenamu. Berkat didik asuhanmu, Kakanda.” Raja Kartikeyasingha tersenyum. Terpesona dengan kehalusan budi sang maharani. “Jaga diri baik-baik, Dinda. Pimpinlah Kalingga dengan adil dan bijaksana. Jangan lupa pula. Asuh kedua anak kita menjadi insan yang berakhlak mulia.” Ratu Shima mendongak pelan. Paras tampan suaminya bersinar. Menyinari taman sari. Pun seluruh penjuru hatinya. “Inggih, Kakanda. Sendika dhawuh. Parwati dan Narayana aman bersamaku. Mereka bahagia tumbuh mendewasa bersama doa-doamu.” Raja Kartikeyasingha meraih kepala Ratu Shima. Mengusap-usapnya. Menerima kesungguhan baktinya. Tak lama kemudian Raja Kartikeyasingha berdiri. Pelan-pelan meninggalkan taman sari. “Kakanda, jangan pergi. Tetaplah di sini. Temani aku dulu, Kakanda. Barang sekejap lagi.” Ratu Shima terus merengek. Mengiba-iba. Namun Raja Kartikeyasingha tetap melangkah. Melewati balairung dan gapura kerajaan. Meninggalkan Ratu Shima sendirian. Ratu Shima terisak. Terbangun dari mimpi. Tiba-tiba suasana pertunjukan ketoprak berubah histeris. Hampir seluruh penonton perempuan merangsek ke depan. Turut memburu pemeran Raja Kartikeyasingha yang menghilang di balik kelambu layar. Dinding pementasan yang berupa gedhek pun roboh. Banyak penonton tertimpa. Mereka terinjak-injak. Hingga menimbulkan korban jiwa. Duka Marduni mengalun. Ia duduk termenung di bayang dhengklek. Di sebuah huma. Di tepian selatan Dusun Ngrayung. Sang pemeran Raja Kartikeyasingha itu menyesali mengapa kejadian serupa telah terulang untuk ketiga kali. “Sudahlah, Ngger. Semua sudah digariskan Gusti Allah. Panjang pendek umur manusia sudah tertulis di lauhulmahfuz.” Marduni menoleh. Ternyata suara ibunya. Perempuan ayu nan mulia itu berupaya untuk menghibur. Namun kesedihan Marduni masih mengendap. Bertumpuk-tumpuk memerangkap. Marduni menunduk. Jemarinya meraih lontar yang terselip di balik bayang dhengklek. Sebuah geguritan elegi tercipta. Dengan gurat aksara Jawa yang indah. Khas miliknya. “Adhi, indah sekali geguritanmu. Aku belum bisa menulis geguritan sebagus ini.” Marduki; kakangnya, bersuara di belakangnya. “Pujianmu berlebihan, Kakang. Aku hanya sebatas suka dengan puisi-puisi Jawa ini. Kakang lebih mumpuni,” rendah hati Marduni menyahuti. “Tidak, Dhi. Geguritanku belum sebagus itu. Kadang Kakang berpikir, betapa kamu mujur sekali. Apa-apa bisa. Mahir dan cendekia. Tampan pula.”


Marduni tersenyum dan meletakkan lontar geguritannya di dinding sesek2 dalam rumah. Kenangannya terbentang. Pada sindir-sindir tayub dan penonton-penonton perempuan yang ia temui. Saat beksan manganan Mbah Guru maupun Sumur Njaba. Mereka terkagum-kagum akan kepiawaiannya dalam mengolah sampur. Mereka terkesima akan ukel jemarinya. Mereka gandrung saat kakinya melangkah menyelaraskan irama gending. Mereka suka dengan udengnya. Bajunya. Pun senyum pikatnya. Siapakah yang salah? Jika akhirnya mereka mabuk kepayang hingga rela tidur di bawah ambennya? Oh, Gusti. Keluh Marduni dalam hati. Kata mereka aku seperti Arjuna. Sang lelananging jagat yang menggerakkan hasrat. Mereka ingin diperistri. Mereka ingin hidup bersama. “Adhi, engkau memang pantas bersedih atas musibah yang terjadi setelah pertunjukan ketoprakmu itu. Engkau pasti tak mengira mereka bakal melakukan hal bodoh seperti itu. Hingga jiwanya melayang. Keluarganya pasti sedih karenanya, Adhi,” ujar Marduki jujur. Mata Marduni basah. Mengerjap gelisah. “Iya, Kakang. Apa yang harus kuperbuat agar tidak terulang?” tanya Marduni hampir tak terdengar. Marduki menghela nafas. “Berhentilah dari ketoprak itu, Adhi. Juga dari beksan-beksan menawanmu.” “Apa? Kakang mau aku berhenti dari kelangenan3 yang kusukai sejak dulu?” sahut Marduni seakan tak terima. “Ini hanya usulanku saja, Adhi. Jika menurutmu baik, turutlah. Jika tidak, ya tidak jadi masalah. Namun aku yakin, jika engkau teruskan, kejadian-kejadian tak diinginkan itu akan terjadi lagi,” tegas Marduki. Semalaman Marduni tidak bisa memicingkan mata. Bayangan jerit tangis perempuan-perempuan pengagumnya itu melela. Terhampar di depannya. Menuntut tanggung jawabnya. Pagi harinya Marduni menemui Marduki. “Kakang, tekadku sudah bulat. Aku mau berhenti, Kakang.” Marduki tertegun. “Benarkah, Adhi? Apa engkau sudah memikirkannya masak-masak? Apa engkau ikhlas atas keputusanmu ini?” tanya Marduki bertubi-tubi. “Iya, Kakang. Untuk menyucikan niatku, aku akan melakukan laku, Kakang. Seperti yang sudah pernah dilakukan oleh Mbakyu Marsinah,” jawab Marduni berseri. Pada pagi berikutnya. Marduni berpamitan kepada orang tua dan kelima saudaranya. Tak ada tangis. Hanya iringan doa yang menyertai. 3 Hobi dan kesukaan 2 Dinding pembatas ruangan dari anyaman bambu yang tipis


“Adhi, sejauh apa pun engkau pergi, keluarga tetap menjadi rumah yang indah untuk kembali,” pesan Marduki. Marduni mengangguk. Mengingati diri. Langkahnya ringan ke barat daya. Pelan mengiring laju sang surya. Hari dan bulan berganti. Selepas dua purnama Marduni meninggalkan keluarganya, sampailah ia di sebuah tempat. Suasananya sepi. Gung liwang-liwung. Tak ada sato kewan yang melintas seperti yang ia temui sebelumnya. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah gua di depannya. Pelan ia mendekat. Alangkah terkejutnya ia. Di depan mulut gua ada mayat-mayat yang bergelimpangan. Gua apakah ini? Siapa yang membunuh orang-orang itu? Belum usai tanya di benaknya mendadak tubuhnya ditarik ke dalam. Entah oleh siapa. Yang pasti ia merasa seperti naik di atas juluran lidah seekor naga. Sesampai di dalam gua ia terkesima. Beraneka tetumbuhan dan hewan ada di sana. Seperti sengaja menunggu kedatangannya. Anehnya tetumbuhan-tetumbuhan itu tidak berbuah, akan tetapi semua memiliki daun-daun yang ranum. Ia teringat mbakyunya; Marsinah, yang melakukan laku kidang4 dengan memakan daun-daun muda selama perjalanan kembaranya dulu. Marduni pun meniru. Jika ia lapar maka dipetiklah daun-daun itu. Rasa bugar pada tubuhnya pun ia rasakan. Tiga hari Marduni berjalan menyusuri gua. Namun belum ada tanda bahwa jalan akan berujung. Marduni pun berhenti untuk bersemadi. Ia mohon petunjuk pada Yang Maha Wenang, apakah ia memang terperangkap dan tidak bisa ke luar dari gua itu? Tujuh hari selepas Marduni bersemadi. Tiba-tiba ia mendengar bunyi suara. Suara dari sekawanan kupu-kupu yang beterbangan di atas kepalanya. “Marduni, engkau tidak terperangkap di sini. Berjalanlah satu purnama lagi. Engkau akan menemui ujung gua. Ketahuilah, sebenarnya tempat ini bukan gua. Melainkan tubuh besar naga yang menghendakimu untuk masuk ke sini. Engkau terpilih, Marduni. Tidak seperti orang-orang yang sudah menjadi mayat di depan sana.” Marduni terperanjat. Tak menyangka bisa mendengar sato kewan tata jalma5 . “Oh, berarti mereka ingin masuk ke sini dan tidak bisa?” Satwa lainnya berkata. Mengiyakan. Marduni tertegun. Lantas mengucap syukur. Atas karunia Illahi padanya yang bisa bercengkerama dengan rupa-rupa hewan. Seingatnya hanya Nabi Sulaiman alaihissalam yang bisa. Pun Angling Darma. Maka itu Marduni berjanji akan menggunakan Aji Gineng dalam hal kebaikan saja. Ia tidak akan menyalahgunakan karomah Tuhan yang diberikan padanya. 5 berbicara 4 Ritual melakukan perjalanan suci dengan hanya memakan daun-daun muda


Tiga puluh hari kemudian. Entah di almanak keberapa. Marduni ke luar dengan tubuh yang bersinar. Kata hatinya bersuara kuat. Hidup harus ditumbuhkan. Ia bertekad akan mendarmakan sisa hidupnya menjadi orang yang berguna bagi sekelilingnya. Baik kepada manusia, hewan, maupun tumbuhan. Pun alam yang telah baik padanya. Suatu hari Marduni pergi begandring ke rumah mbakyunya yang bernama Ranggon. Ia ingin menemui suami mbakyunya. Tersebab oleh satu warta bahwa kakang iparnya; Suratman, sering ajag tikus di sawah. Ia memukuli tikus-tikus hingga berlumuran darah. Puluhan tikus mati karenanya. “Kang Ten6 , tolong jangan kauburu lagi tikus-tikus itu. Mereka kesakitan, Kakang. Kasihanilah mereka. Kau bisa meletakkan ular sawah untuk menghalau tikus-tikus itu. Itu lebih berguna. Atau menanam bunga kertas di pematang sawah agar tikus tidak mendekat. Karena tikus takut dengan warnanya.” Suratman tidak menggubrisnya. Ia malah tertawa. “Halah, biar mampus ia. Engkau jangan sombong. Kalau kau bisa ngomong dengan tikus-tikus itu, coba datangkan padaku. Malam ini juga. Aku ingin tahu engkau membual atau tidak.” Marduni terpaku. “Baiklah, Kang Ten. Bersiaplah.” Marduni menundukkan kepala. Komat-kamit sebentar. Lalu menghentak bumi tiga kali. Tak diketahui asal muasal datangnya, tiba-tiba ribuan tikus memenuhi balai rumah. Mereka menyerbu kaki Suratman. Suratman berteriak minta tolong. “Marduni… husah… husah… . Tolong hentikan. Hentikan. Hentikan. Gurak 7 jauh-jauh tikus-tikus itu!” Marduni menuruti. Dalam sekejap tikus itu pergi entah ke mana. Suratman pun akhirnya percaya bahwa Marduni benar-benar memiliki kemampuan seperti Angling Darma; tokoh yang sangat dipujanya dalam pertunjukan ketoprak. Sebelum Marduni pulang, ia menemui Ramdji. Telah lama ia menyimpan rindu untuk keponakannya yang bagus itu. Marduni melangkah ke luar. Ia memandang ke sekeliling. Di pojok pekarangan tampak Ramdji asyik bermain adu jangkrik dengan kawan-kawannya. Jangkrik-jangkrik itu dijantur. Marduni menghampiri. Suara tangis derik jangkrik menyayat hati. Minta tolong pada Marduni untuk dikasihani. “Marduni, tolong kami. Lepaskan kami dari bocah-bocah ini! Kami tidak mau diadu.” Marduni pun menyibak kerumunan bocah-bocah kampung itu. 7 Usir 6 Sapaan untuk kakak ipar (lelaki)


“Ram. Ramdji. Tolong hentikan, Nak. Tolong lepaskan jangkrik-jangkrik itu. Jangan diadu. Andai engkau bisa mendengar tangisnya. Mereka kesakitan, Cung. Tolong lepaskan, ya!” Ramdji menatap pamannya dengan gugup. Ia mengomando kawan-kawannya untuk melepaskan jangkrik yang diadu. Ramdji teringat akan peristiwa yang barusan telah dialami oleh bapaknya. Kedua peristiwa itu tersebar ke seluruh penjuru Dusun Ngrayung hingga desa-desa tetangga. Namun Marduni tetap rendah hati. Ia yakin Aji Gineng8 itu titipan Illahi. Maka itu tidak boleh dinodai. Apalagi dipamerkan untuk menyombongkan diri. Hari-hari Marduni selanjutnya terasa sangat menyenangkan. Ia menjadi dwija di Kadipaten Tuban. Letup kegembiraan tergambar pada binar matanya. Senyumnya teduh melegakan. Tak banyak impiannya. Ia hanya ingin anak muridnya menjadi orang yang beradab. Taat pada Tuhan. Welas asih pada manusia dan hewan. Pun tetumbuhan. Serta bijak menikmati alam. Segenap bakat dan kemampuan yang ia miliki tercurah pada murid-muridnya. Dari belajar menulis aksara Jawa hingga mencipta geguritan. Dari nembang uran-uran hingga bermain seni peran. Betapa gembira hati Marduni melakukan pengasuhan-pengasuhan itu bersama kakangnya tercinta; Marduki. Meskipun kemampuan kakangnya tidak sebagus dirinya, akan tetapi Marduni tidak besar kepala. Ia rendah hati seperti padi. Yang mentes berisi dijaga derik jangkrik di sawah milik bapaknya. Ikatan cinta antara keduanya semakin erat. Hingga suatu masa. Setelah tiga puluh tujuh purnama Marduni mengabdi. “Adhi, kulihat akhir-akhir ini Hapsari sering menemuimu. Hapsari mencintaimu, Dhi. Bisa jadi Hapsari telah jatuh cinta padamu sejak ia bersamamu bermain ketoprak dulu. Bukankah ia Ratu Shimamu?” Marduni terperanjat. Tak disangka kakangnya mengetahui hal yang telah lama dipendamnya. Marduni teringat akan sebuah lontar yang berisi gurit kasmaran kiriman dari Hapsari. Kala itu. Sepulang Marduni bekerja sebagai dwija pada hari pertama. Cepat-cepat ia menyelinap ke belakang. Lalu mengambil lontar yang disimpannya di bawah tikar pandan. Segera ia membakarnya agar Marduki tidak sampai turut membacanya. “Aku sudah membacanya, Dhi. Ya, sudahlah. Terima saja perasaan cintanya. Aku ikhlas kalau ia ditakdirkan menjadi adik iparku, meski aku menyukainya sejak lama,” suara Marduki membuntuti. Marduni terkejut. Ia menubruk Marduki. Ia mengatakan tak pernah punya perasaan apa pun pada Hapsari. Untunglah, keduanya tidak berlarut-larut dalam menyikapi cinta segitiga itu. Mereka fokus pada pengabdiannya. 8 Ilmu yang bisa mengerti bahasa binatang


Ternyata jiwa mereka memang terpanggil untuk mengangsur pengetahuan dan pendidikan kepada murid-muridnya. Sang kakang pun amat bahagia. Rasa cintanya pada Hapsari tak sebanding dengan rasa sayangnya pada sang adik. Mereka tanpa lelah mengabdikan diri menjadi penyuluh negeri. Hingga suatu hari. Di saat mereka selesai mengajar dan duduk bersama di tritis rumah. “Kakang Marduki. Jika suatu hari aku tidak ada lagi di dunia ini, tolong lanjutkan perjuanganku. Anugerah bakat dan kemampuan yang diberikan kepada kita patut ditularkan pada sesama. Kita tak pernah punya apa-apa. Bahkan diri kita. Semua yang ada pada kita hanya sekadar titipan-Nya, dan kelak kita akan kembali. Semoga pada suatu masa nanti keturunan dari keluarga kita ada yang mewarisi darah kita. Meski saat berpulang nanti kita belum berumah tangga. Insya Allah akan ada anak-anak dari keponakan kita yang menjadi guru. Seperti kita. Menjadi guru seni dan Bahasa Jawa. Aku yakin, Kakang. Karena laku prihatin dan kesungguhan doa kita selama ini.” Marduki seakan mengerti. Saat kematian adiknya telah dekat. “Iya, Dhi. Semoga Gusti Allah mengabulkan semua harapan itu. Amin.” Sepuluh hari berikutnya. Tepat usia adiknya menapak pada hitungan ketiga puluh lima. Langit berwarna tembaga. Aroma tanah basah berbaur dengan harum bunga. Sepasang kembar mayang tertancap. Tiada ratap. Marduki bersimpuh di samping gundukan makam. Jemarinya mengusap nisan sembari berkata, “Dwija Kakang Adhi; Marduki Marduni. Kita akan selalu bersama, Dhi.” Nyatanya takdir memang tak salah alir. Empat puluh hari kemudian. Nama Marduki tertancap di samping makam Marduni. Lengkap dengan kembar mayangnya. Ia meninggal setelah makan sekerat ubi. Pemberian dari ibunya Hapsari. *** “Demikian cerita leluhurku, Kak. Aku memanggilnya Mbah Buyut Marduki dan Mbah Buyut Marduni. Beliau merupakan paman dari kakekku; Simbah Carik Ramdji.” “Oh, Gusti Allah. Dzat yang Maha Pemenuh Doa. Bersyukurlah engkau, Dik. Telah memiliki keduanya.” “Inggih, Kak. Syukurku tak terkira. Di antara keluarga besar kami sepertinya aku yang mewaris darah beliau.” “Iya. Kan sudah terbukti. Bahkan dunia mengakui. Dengan prestasi-prestasimu dalam Bahasa Jawa dan Seni.” “Hehe. Inggih, Kak. Alhamdulillah. Makanya kedua leluhurku itu mau kutulis sebagai legenda dalam penulisan Tuban Sembada. Gimana, Kak? Kira-kira bisa nggak?” “Ya bisalah. Kan tergolong legenda kegaiban. Juga ada sumbernya. Siapa yang menceritakan perihal kedua buyutmu itu padamu?”


“Tentu ibu, Kak. Ibu yang selalu memenuhi gejolak antusiasku. Lha pertanyaanku ya terus melaju, Kak. Karena awalnya tuh aku dengar cerita dari tetanggaku yang bernama Mbah Dasimo. Beliau mengatakan bahwa Mbah Buyut Marduni bisa ngomong dengan hewan. Wah, keren, kan, Kak?” balasku panjang lebar. “Iya, iya. Ya sudah. Segera kautulis. Biar bisa kubaca.” “Siap, Kak.” “Oh ya. Jangan lupa sering mengirim doa buat beliau.” “Iya, Kak. Jumat kemarin aku berkesempatan menziarahinya. Ini makamnya.” Serta merta kukirim foto makam keduanya. Obrolan lewat whatshaap pun terhenti. Aku terpacu untuk memulai. Membuahkan prasasti literasi.


Santet Pring Sedhapur Setiap manusia adalah perjalanan bagi manusia lainnya, dan setiap perjalanan selalu terbuat dari dua hal, pertemuan dan perpisahan. Kematian Marduki yang mendadak membuat keluarga sangat bersedih. Peristiwa ini kemudian dikaitkan dengan sekerat ubi yang telah dimakan Marduki sebelum pergi. Kasak-kusuk pun terdengar di antara warga. Apa ubi pemberian dari ibunya Hapsari itu beracun? Ataukah ada hal lain yang perlu dicurigai? Mendapati kenyataan seperti itu orang tua Marduki bersikap bijaksana. Mereka menanggapi kasak-kusuk tetangga dengan hati yang sumeleh. Mereka mengatakan bahwa umur anaknya memang sudah digariskan hanya sampai segitu. Para warga pun akhirnya bisa menerima apa yang dikatakan orang tua Marduki. Namun ada satu warga yang masih terpukul atas kepergian Marduki. Ialah Rukmini, seorang janda kembang yang tinggal dekat rumah orang tua Marduki. Ia menangis berhari-hari. Bahkan ia nekad nyekar9 ke makam Marduki. “Kakang, mengapa engkau pergi secepat ini? Mengapa, Kakang? Sedangkan engkau belum tahu perasaanku padamu. Aku mencintaimu sejak dulu, Kakang,” ratapnya bersimbah air mata sembari memegang erat nisan Marduki. Ternyata Rukmini memang telah lama jatuh hati pada Marduki. Meskipun tidak setampan adiknya, Marduni, akan tetapi di mata Rukmini sosok Marduki adalah sosok yang menarik pula. Baginya, Mardukilah arjunanya. Untuk itu tidak heran jika Rukmini kerap menarik perhatian Marduki dengan mengirim makanan hasil masakannya. Kulup lembayung, jangan sendhegan, sambal bajangan, masin, 10 dan makanan lainnya pernah ia kirimkan untuk Marduki. Namun sayang. Yang melahapnya justru bukan Marduki, akan tetapi anak-anaknya Marsinah, mbakyu sulung Marduki. Beberapa kali Marsinah memberitahukan ini pada Marduki, akan tetapi Marduki justru tidak keberatan jika makanan-makanan itu dimakan keponakan-keponakannya. Rupanya Marduki memang tak punya perasaan apa pun pada Rukmini. Marsinah iba karenanya. Namun Marsinah tak bisa berbuat banyak untuk membantu Rukmini mendapatkan cinta adiknya itu. Ia hanya berharap semoga Rukmini tidak mengalami kisah pilu seperti Hapsari yang meninggal selang sepuluh hari kematian sang pujaan hati, Marduni, adik bungsunya. 10 urap daun kacang panjang, sayur daun sendhegan yang mirip dengan bayam, sambal mangga, botok yang terbuat dari nasi sisa yang diproses dengan fermentasi secara alami, lalu dibumbui dan didiamkan selama dua hari 9 berziarah


Namun takdir telah terpeta. Alangkah kaget Marsinah saat mendengar berita kematian Rukmini. Tepat dua puluh satu hari setelah Marduki pergi. Ndhuk 11Saat melayat ia berkesempatan melihat paras Rukmini untuk yang terakhir kali. “Oalah,. Kok ya pendek umurmu,” kata Marsinah iba. Terbawa rasa sedihnya itu ia pergi ke rumah adik perempuannya, Ranggon, untuk menghibur diri dengan bermain bersama keponakan-keponakannya, Ramdji dan Maritun. Kedua anaknya ia bawa pula. Saat hendak berangkat ke rumah Ranggon tiba-tiba ada seorang tetangganya yang berkunjung ke rumahnya. Seorang pria yang merintih kesakitan karena terjatuh dari pohon jati. Kakinya mengalami patah tulang. Marsinah segera mengobati orang tersebut dengan cupu manik naga miliknya. Cupu yang ia peroleh saat melakukan laku kidang di Alas Nglirip itu ia ganggang12 di atas bedhiyang13 . Tak lama kemudian muncul gelembung-gelembung berupa minyak mengelilingi cupu itu. Selagi hangat Marsinah lalu mengoleskannya pada area kaki yang sakit. Pelan ia urut. Orang tersebut mengaduh panjang. Marsinah melanjutkan pengobatan sangkal putung14 dengan hati-hati. Karena kedua anaknya sudah tak sabar ingin pergi ke rumah adiknya, Ranggon, cupu manik naga itu tak sempat ia simpan di bilik kamarnya. Cupu itu ia bawa serta. Ia memasukkannya pada kantung kecil dan diselipkan pada udet. Sesampai di rumah Ranggon, Marsinah menitipkan cupu itu pada adiknya. “Dhi, titip ini, ya.” “Ini apa, Mbakyu?” “Cupu manik naga, Dhi.” “Oh, ini cupu manik naga yang kauperoleh saat laku kidang 15dulu?” “Iya, Dhi.” “Mbakyu, coba ceritakan padaku. Tentang asal muasal engkau memerolehnya.” “Buat apa?” “Biar aku bisa menceritakannya pada suamiku, Suratman.” “Oh, aku kira kamu sedang ngidam ingin aku bercerita.” “Mungkin juga, Mbakyu,” jawab Ranggon sembari mengelus kandungannya yang telah berusia 8 bulan. “Baiklah, Dhi. Dengar baik-baik, ya!” Marsinah mulai bercerita. Cupu itu diperolehnya pada saat ia sedang berada di tengah Alas Nglirip. Waktu itu hampir tengah hari. Ia melihat seekor anak macan sedang terjepit di 15 ritual melakukan perjalanan suci dengan hanya memakan daun-daun muda 14 pengobatan tradisional dengan membetulkan atau meluruskan kembali orang yang patah tulang 13 perapian 12 bakar 11 panggilan untuk anak / adik perempuan di Tuban


antara rumpun bambu. Ia mendekat lalu memberi pertolongan pada anak macan itu hingga bisa lepas. Lalu Marsinah melanjutkan perjalanan. Tepat saat matahari berada di atas kepala ia melihat seekor ular besar sedang mengeluarkan cupu maniknya. Ia ambil cupu manik itu dan dibawanya pulang. Mulai saat itulah cupu itu ia gunakan untuk mengobati orang-orang yang patah tulang. Marsinah senang karena bisa membantu orang-orang yang membutuhkan. Selesai bercerita, Marsinah diserang kantuk yang luar biasa. Ranggon memintanya tidur di peturon16 . Dua jam Marsinah tertidur. Ia mimpi bertemu dengan kedua adiknya, Marduki dan Marduni. Di sisi lainnya ia juga melihat Hapsari dan Rukmini yang sedang tersenyum padanya. “Mbakyu Marsinah, mari ke sini,” ajak keempatnya ramah. Marsinah pun menyanggupi. Ia berjalan mendekat. Kedua tangannya terulur menggapai. Bibirnya tersenyum menggumamkan nama mereka. “Mbakyu, Mbakyu Marsinah. Ayo, bangun! Bangunlah, Mbakyu! Jangan nglindur17 seperti ini,” guncang Ranggon panik. Untung tak dapat diraih. Malang tak dapat ditolak. Marsinah menghembuskan napas terakhirnya di pangkuan Ranggon. Kejadian memilukan itu sangat membekas di ingatan Ranggon. Tiap hari ia pandangi kantung kecil berisi cupu manik naga milik kakak perempuannya tercinta. Tak kuasa ia menahan kesedihan. Suratman yang mengetahui itu meminta benda kenangan itu. “Bagaimana jika aku saja yang membawa cupu manik naga ini? Agar engkau tidak selalu terkenang Mbakyu Marsinah. Akan aku simpan cupu ini sebaik-baiknya. Apabila ada yang membutuhkan akan aku gunakan.” Ranggon mengangguk. Lalu tak diduga ia berkata. “Kakang, jika aku tidak ada lagi di dunia ini, tolong asuh ketiga anakmu dengan sabar. Engkau boleh beristri lagi. Asal istrimu nanti gemati18 pada anak-anakmu. Jangan lupa pula. Jaga dan gunakan cupu manik milik Mbakyu Marsinah baik-baik.” Suratman melongo mendengarnya. Dan memang benar. Sebulan kemudian Ranggon meninggal, setelah berjuang melahirkan anak bungsunya. Suratman memenuhi wasiat istrinya. Ia rawat anak-anaknya dengan sabar. Ia juga menikah lagi. Cupu manik naga itu ia wariskan secara turun temurun pada keluarga istri barunya yang memang ditakdirkan kuat dan mampu menggunakan cupu itu dengan baik. 18 perhatian dan sayang 17 mengigau 16 tempat tidur


Cupu manik naga itu masih ada. Hingga kini. Dan masih digunakan untuk membantu orang-orang yang patah tulang. Pada suatu malam. Di pelataran rumah. Saat hening merayapi relung hati sepasang suami istri yang tak lain adalah kedua orang tua Marsinah bersaudara. “Kakang, mengapa keempat anak kita begitu cepat dipanggil Yang Kuasa? Mustinya kita yang terlebih dulu menghadap, Kakang,” keluh sang istri. “Aku pun tidak tahu, Istriku. Dari si bungsu Marduni, lalu kakangnya, Marduki, kemudian si sulung Marsinah, dan adiknya, Ranggon, susul menyusul meninggalkan kita. Sekarang tinggal Ruminah dan Rumirah. Duh, Gusti. Nestapa apa ini?” tanyanya sembari mendongak ke langit yang gelap. Hari-hari berikutnya adalah hari yang benar-benar memprihatinkan. Kedua orang tua itu menjalani kehidupan dengan hati yang suwung19 . Mereka sakit-sakitan. Mereka melangut kepada keempat anaknya yang telah tiada. Duka keluarga pun terus menjalar. Pada akhirnya mereka dijemput ajal. Saat para tetangga melayat, ada seseorang yang nyeletuk. “Sepertinya keluarga ini sedang kena teluh. Ini namanya santet Pring Sedhapur20 .” Orang-orang pun berbisik menjawab. “Iya. Benar. Mereka sekeluarga kena santet yang mengerikan itu.” Ruminah dan Rumirah yang duduk di samping jenazah kedua orang tuanya mendengar bisik-bisik itu. Mereka saling berpandangan. Kemudian tangan mereka bergenggaman. Pada malam harinya. Saat anaknya sudah berangkat tidur. Ruminah masih terjaga di rumahnya. Ia menjerang air untuk membuatkan wedang sereh. “Kakang, ini diminum,” ujar Ruminah kepada suaminya. “Terima kasih, Istriku. Di saat engkau sedang sedih begini, engkau masih melayaniku. Semoga Gusti Allah memanjangkan umurmu,” ucap suaminya mendoakan. Ruminah mengaminkan. Pun seluruh dedaun serta alam raya yang terjaga. Semuanya turut mengirim doa panjang umur untuk Ruminah. Lalu berlanjutlah percakapan sepasang suami istri itu. “Istriku, apa yang ada di pikiranmu menanggapi perkataan orang-orang tentang santet Pring Sedhapur itu?” “Berat hatiku untuk mengatakannya, Kakang.” “Katakanlah. Bukankah aku tak pernah marah atas perkataanmu selama ini padaku, hmm…?” ucap suaminya sembari membelai gelung rambutnya. Ruminah melihat pancaran kelembutan kasih dari lelaki yang amat dicintainya itu. Ia merebahkan diri di pangkuan suaminya. 20 ilmu santet yang menghabisi seluruh anggota keluarga secara beruntun 19 kosong, hampa


“Kakang, andai benar santet Pring Sedhapur itu yang menimpa keluargaku, aku tidak mau mengira-ngira siapa yang mengirimkannya. Kata orang-orang, bisa jadi itu kiriman dari keluarga Hapsari yang tak rela atas meninggalnya Hapsari, sepekan sebelum Marduni meninggal. Jujur, aku hanya takut, Kakang. Aku khawatir teluh mengerikan itu akan sampai padaku dan adikku Rumirah. Karena banyak orang mengatakan bahwa teluh itu akan membawa kematian anggota keluarga satu ke anggota keluarga lainnya tak berselang lama,” keluh Ruminah panjang lebar. “Iya, istriku. Kalau kita runut memang demikian. Dari Marduni hingga kedua orang tuamu kemarin hari. Sepertinya sesuai namanya, Pring Sedhapur, yaitu bambu serumpun yang dilambangkan sebagai satu ikatan keluarga. Demikianlah cerita yang berkembang di kehidupan masyarakat Jawa seperti kita. Lalu, apa yang ingin kaulakukan untuk menghindari teluh itu?” “Kakang, bolehkah aku pergi ke luar Jawa?” “Ke mana?” “Ke mana saja. Berturut pada kehendak langkah kaki.” “Baiklah, Istriku. Mari kita pergi bersama. Kita bawa anak kita.” “Tidak, Kakang. Izinkan aku pergi bersama anak lelakimu saja. Jika engkau turut pergi, siapa yang akan merawat dan menjaga kedua orang tuamu?’ terbayang di pelupuk mata Ruminah keadaan kedua mertuanya yang sudah renta. Apalagi ia tahu kedua mertuanya itu sangat sayang kepada suaminya karena merupakan anak ruju21 . Suami Ruminah menghela napas panjang. Buru-buru Ruminah menambahkan. “Jika Gusti Allah berkehendak suatu saat lagi kita bersama, pasti itu akan terjadi, Kakang. Begitu juga sebaliknya.” “Baiklah, Istriku. Aku izinkan engkau pergi. Meskipun berat hatiku, tapi perpisahan memang harus terjadi. Seberangilah lautan, Istriku. Santet Pring Sedhapur itu akan berlalu.” jawab suami Ruminah dengan suara parau. “Terima kasih, Kakang. Aku juga akan mengajak adikku Rumirah menghindari teluh itu.” Tak dapat terkata bagaimana haru biru kesedihan kedua hati mereka. Tubuh mereka menjelma menjadi rumah-rumah yang menampung sejarah keluarga. Karena pada kenyataanya, setiap manusia adalah perjalanan bagi manusia lainnya, dan setiap perjalanan selalu terbuat dari dua hal, pertemuan dan perpisahan. Perjalanan Ruminah dan anak lelakinya, Wardjono, serta Rumirah telah sampai di Surabaya. Di sana Ruminah dan adiknya mburuh pada seorang kaya yang berprofesi 21 bungsu


sebagai nakhoda. Majikannya itulah yang kemudian membawa mereka berlayar. Ruminah dan adiknya dipercaya menjadi tukang masak untuk anak buah kapal. Entah berapa pelabuhan yang ia singgahi. Namun ketiganya masih kerasan tinggal di kapal. Hingga suatu hari. Saat kapal bersandar di Pelabuhan Borneo. Tiba-tiba ketiganya ingin turun dan tak ingin lagi melanjutkan perjalanan. Mereka ingin menetap di situ. Sang majikan mengizinkan dan memberi sangu berupa uang tambahan upahnya bekerja. Setahun kemudian terbetik kabar suami Ruminah menikah lagi. Ruminah mengikhlaskannya seperti sang suami mengikhlaskan langkah kakinya menghindari santet Pring Sedhapur. Gusti Allah menuntun langkah Ruminah menjadi perawat di Rumah Sakit Jiwa Samarinda, Kalimantan Timur. Demikian pula Rumirah yang menjadi bidan di Tarakan, Kalimantan Utara. Keduanya mengabdi sebagai pegawai negeri sipil. Alhamdulillah. Mereka tak berhenti bersyukur. Keduanya pun dianugerahi Gusti Allah umur yang panjang. Hingga beranak pinak dan melanjutkan kehidupan, terhindar dari teluh yang mengerikan. Sesekali mereka pulang ke kampung halaman. Diajaknya serta keponakan, cucu, dan cicitnya yang di Ngrayung, Plumpang, Tuban, menikmati kehidupan di Samarinda. Hingga kini banyak yang menetap di sana. Namun ada juga yang kembali ke Tuban. Seperti yang dialami penulis cerita ini, Budi Wasasih, yang merupakan generasi keempatnya, pernah tinggal di sana selama 8 tahun dari tahun 1990 hingga 1998. Katur : Buyut Ruminah tuwin Buyut Rumirah Laha fatihah Bumi Mbah Guru Ngrayung 25 September 2028 ####


Wahyu Pulung untuk Sang Carik Ngrayung Untuk beliau yang telah mendapatkan wahyu pulung Carik Ngrayung: Simbahku tercinta: Ramdji bin Suratman. Simbah. Kutulis kisah ini hari ini. Saat gending tayub mengalun dari belahan utara bumi Ngrayung. Simbah tahu? Hari ini ada manganan Mbah Guru. Aku bercerita pada cicitmu; Daniar, perihal rengginang besar yang memenuhi jodang. Juga onde-onde kacang tunggak buatan Simbah Putri yang rasanya masih kuingat hingga sekarang. Pun seladah terong lengkap dengan aroma ale22 yang menguar. Tak lupa panggang ayam kampung yang nikmatnya minta ampun. Makanan-makanan tradisional itulah yang menggugah kenanganku tentangmu. Tatkala aku bersukaria turut duduk di belakang jodang dan sibuk membagikan makanan. Setelahnya aku baru diimbuhi23 Simbah Putri secentong nasi beralas daun jati. Lengkap dengan bumbu jawanya yang khas. Meresap di lidah dan hatiku. Mbah, betapa aku ingin mengulangnya lagi. Masa indah itu menggenang di ingatan. Belum selesai aku bercerita tiba-tiba Daniar melesat ke luar, Mbah. Ke rumah ibu. Ia bertanya pada ibu tentang kebenaran ceritaku. Lalu ibu memulai cerita. Bahkan ibu bercerita dari awal. Tentang wahyu pulung itu. Daniar terkesima dan segera merekam di ponselnya. *** Inilah kelengkapan tutur cerita ibu. Namaku Rasmidah. Aku adalah putri sulung dari seorang mandor jalan bernama Ramdji. Manakala awal tahun 1970, aku berusia 16 tahun dan sedang mengandung anakku yang pertama. Di suatu siang yang kerontang. Terjadilah percakapan serius antara aku dan bapakku. “Ndhuk, bapak mau ikut pilihan Carik Desa Ngrayung. Bagaimana menurutmu?” “Lho, kok bisa, Pak. Lha bapak kan mandor jalan. Seorang pegawai negeri. Apa boleh, Pak?” “Boleh, Ndhuk24 , tapi ya harus ke luar dari pekerjaanku yang sekarang.” “Jangan, Pak. Sayang, Pak. Bapak kan sudah pegawai negeri.” 24 panggilan untuk anak / adik perempuan 23 diambilkan makan 22 serupa tauge besar yang aromanya khas membangkitkan selera


“Namun bapak ingin mencoba, Ndhuk. Jiwa bapak terpanggil untuk menjadi perangkat desa. Bukankah melayani warga desa adalah pekerjaan yang mulia?” Tanya itu menggetarkan hatiku. “Tolong dipikirkan lagi, Pak. Memang benar melayani warga desa adalah pekerjaan yang mulia, akan tetapi untuk ikut rebutan carik itu biayanya besar, Pak. Bapak harus ingon-ingon25 dulu. Harus menarik simpati warga dulu. Iya kalau jadi. Kalau gagal, bagaimana?” “Belum mencoba kok takut gagal, toh, Ndhuk. Andaikan gagal ya tidak apa. Berarti bapak memang tidak ditakdir menjadi carik.” Akhirnya aku diam. Karena meskipun telah kulontarkan banyak tanggapan, tetapi bapakku berteguh pendirian. Niatnya tak bisa kugoyahkan. Padahal aku masih terkenang berbahagia hati menjadi anak pegawai negeri. Setiap bulan bapak mengajak kami menemani mengambil gaji di Tuban. Biasanya aku dan adikku, Warto, diajak naik kereta api ke sana. Dari Stasiun Ngrayung hingga Stasiun Tuban. Rupa-rupa yang terbeli. Dari ental yang dibungkus daun lontar, langsep prunggahan yang segar, kacang godhog, rempeyek, dumbeg, pasung26 , dan tak lupa kembang gading yang menawan. Bahkan aku masih ingat juga saat bapak kecopetan. Waktu itu aku dan adikku memaksa bapak menuruti kami melihat leyang-leyong27 di Klenteng Kwan Sing Bio. Di tengah keramaian itulah amplop yang berisi gaji bapak sebulan raib diambil orang. Untung bapak masih menyimpan uang untuk ongkos pulang. Di lain bulan bapak mengajak kami sowan ke rumah atasan bapak yang bernama Pak Wiji. Rumahnya di Karang. Rumah gebyog nan besar itu tampak megah. Di tengah pelataran tumbuh pohon gading yang menjulang. Harumnya menyebar. Sebenarnya Pak Wiji juga telah turut menahan bapak agar tidak ikut pilihan carik. Namun lagi-lagi bapak tidak menerima sarannya. Akhirnya Pak Wiji pun menuruti meskipun dengan berat hati. Lalu ingon-ingon pun dimulai. Ibu meminta bantuan simbok-simbok tetangga untuk memasak di dapur menyiapkan hidangan. Mula-mula hanya sepuluh orang yang datang. Lama-lama berpuluh-puluh warga yang harus kami layani tiap malam. Hal itu berlangsung sebulan sebelum pemilihan. Jagung satu jegong28 dan padi berpuluh gedheng29 ludes semua. Begitu juga dengan gebingan30 satu grobogan besar. Karena sudah diniati maka kami tidak merasa rugi akan hal itu. Justru kami berterimakasih atas segala bantuan dan doa dari warga. Banyak pendukung bapak yang rela menjadi relawan untuk blusukan ke rumah warga agar memilih bapak. Pada malam ingon-ingon itu bapak tidak lupa 30 singkong kering 29 ikatan besar 28 ukuran satu bagian ruang 27 barongsai 26 jajanan khas Tuban 25 menjamu


menyampaikan visi misinya, bagaimana nanti kinerjanya apabila menjadi carik Ngrayung. Bapak berupaya menarik minat warga dengan berbaik sangka dengan keempat lawannya. Waktu itu kandidatnya ada 5. Masing-masing punya kemampuan yang tidak dapat diremehkan. Dan yang pasti semuanya mempunyai pendukung yang fanatik. Waktu pemilihan telah dekat. Kami gentur berdoa agar bapak diberi kekuatan. Acara melekan31 di rumah bapak semakin ramai. Percakapan-percakapan yang berisi harapan agar bapak menang menjadi topik yang menarik. Tak ketinggalan mereka juga membuka obrolan tentang pulung. Dalam tradisi masyarakat Jawa, pulung adalah cahaya yang jatuh dari langit berwarna biru kehijauan. Cahaya itu terlihat seperti manik-manik keemasan dan tembaga. Meski tidak semua orang bisa melihatnya, tapi banyak yang meyakini bahwa pulung adalah pertanda calon akan menang dalam pemilihan. Memang tidak masuk akal, akan tetapi hal itu merupakan kearifan lokal dari warisan para leluhur. Pulung merupakan keberkahan, anugerah bagi yang menerimanya, yang dianggap dapat mengangkat derajat orang yang mendapatkannya. Sore itu bapak terlihat gelisah. Kuhampiri beliau sembari kubawakan secangkir kopi dan selepek tiwul bertabur parutan kelapa. Bapak tersenyum menyambutku. “Aroma kopi buatanmu segar sekali, Ndhuk,” puji bapak. “Iya, Pak. Silakan diminum. Tiwulnya juga gurih, Pak. Enak dimakan sore-sore begini,” tawarku. Bapak mengambilnya dengan suka hati. “Ndhuk, andaikan pulung itu tidak jatuh di dekat rumah bapak, apa itu pertanda bapak akan gagal dalam pemilihan nanti?” tanya bapak padaku. “Kata orang-orang juga begitu, Pak. Namun ya sudahlah. Ada atau tidak adanya pulung itu nanti, jangan menjadikan bapak gelisah begini. Kan kata bapak kita tidak boleh menyerah sebelum mencoba,” aku mencoba mengingat-ingat kata-kata bapak kapan hari itu. “Iya, Ndhuk. Terima kasih, ya. Kamu selalu menyemangati bapak.” “Sama-sama, Pak. Semoga bapak begja32 .” “Amin.” Obrolan sore itu kami tutup dengan secercah harap. Hari-hari berikutnya kulihat bapak lebih tenang. Bapak mengurangi makan dan tidur dengan berpuasa. Laku batin ini ternyata mengundang energi yang luar biasa. Mendekati hari pemilihan bapak terlihat sumringah. Senyumnya menebar. Tak ada gurat kekhawatiran di wajahnya. Rupanya bapak memang telah siap untuk berlaga. 32 beruntung 31 berjaga mengurangi tidur


Tiga hari sebelum pemilihan, suasana kampanye reda. Masing-masing kandidat tak terlihat lagi secara terang-terangan mengunggulkan jagonya. Semuanya berdebar menanti pulung, si wahyu restu gaib yang terdoa. Malam menjelang pemilihan. Rumah bapak ramai oleh pendukungnya. Hingga larut malam mereka belum pulang. Masing-masing berusaha menenangkan debur dadanya sendiri. Mengenyahkan kekhawatiran andai bapak tidak jadi. Jika mereka kemit33 bapak di dalam rumah, maka aku bersama suamiku menggelar tikar di bangku panjang yang ada di depan rumah bapak. Tak dipungkiri aku pun ikut terbawa arus kegelisahan. Bagaimana kalau bapak gagal? Suamiku berusaha menghibur. Lalu entah kenapa tiba-tiba aku teringat ayam jago yang ada di kandang. Ayam itu amat kunanti kokoknya. Kata orang tua itu bisa menjadi pertanda baik. Namun hingga hampir tengah malam suara kokoknya belum terdengar. Aku menghela napas panjang. Aku wiridan. Kusebut asma Allah sembari air mataku berderaian. Aku ingat kebaikan bapak. Beliau sangat dermawan kepada tetangga. Maka itu banyak tetangga yang menitipkan anaknya ke bapak. Jadi pangon atau apalah. Yang penting bisa makan. Dalam keheningan malam itu lalu aku berdoa. Lama. Ya Allah, berilah restu untuk bapakku. Aku yakin bapakku pantas mendapatkan anugerah-Mu. Aku yakin bapakku akan amanah menjalankan tugasnya. Aku tahu bapakku, ya Allah. Aku sangat tahu bapakku. Baru saja kuusapkan tapak tangan ke wajah, tiba-tiba seberkas cahaya berbentuk bola bergerak pelan dari arah barat. Aku tertegun. Mengikuti bola biru kehijauan itu. Ia berputar-putar sebentar di udara lalu bergerak ke timur. Ke arahku. Cahayanya berkharisma dan gemerlapan sekaligus meneduhkan. Mataku enggan berkedip. Apa ini yang dinamakan pulung? Tubuhku gemetaran. Suamiku kuguncang. “Lihat, lihatlah itu. Apakah itu yang dinamakan pulung?” telunjukku mengarah ke arah pulung. “Mana? Mana?” tanya suamiku cepat. “Itu. Masa engkau tidak melihat?” Suamiku menggeleng. Kulihat pulung itu akhirnya berhenti di rumpun bambu tepi sungai. Tepat di sisi kiri rumah bapak. Lalu menghilang. Suamiku masuk ke rumah dan mengabarkan. “Istriku telah melihat pulung. Pulung itu jatuh di rumpun bambu samping rumah ini.” Semua berteriak,”Allahu akbar. Allahu akbar.” Tiba-tiba air mataku berderaian lagi. Karena sejurus kemudian kokok ayam jago itu terdengar. 33 menjaga


Esoknya. Suasana haru menyelimuti hatiku. Betapa tidak. Dengan mengenakan hem putih dan berjas serta berpeci hitam. Bapak terlihat sangat gagah. Roman mukanya tenang berwibawa. Bapak diiring pendukungnya menuju balai desa. Takbir dan sholawat menggema sepanjang jalan. Entah bagaimana rupa hatiku saat itu. Yang pasti aku tidak ikut. Karena yang berhak memilih adalah kaum lelaki yang sudah dewasa. Satu keluarga satu orang. Maka para perempuan berdiam di rumah. Aku dan ibu mendawam doa. Berwirid lama. Kami memohon pertolongan Gusti Allah. Tiba-tiba suamiku pulang berkabar. “Perolehan biting padi dan jagung saling menyusul, Mi34 . Terus rapalkan doa. Ini masih penghitungan. Semoga padi yang menang. Aku ke sana lagi,” ujar suamiku sembari membawa kendi berisi air minum untuk bapak. Aku mengangguk. Bapak memang mendapat undian gambar padi. Sedang Pak Kandar mendapat gambar jagung. Pak Guno, Pak Kasiyan, dan Pak Taji, berturut-turut mendapat gambar undian kedelai, mangga, dan pepaya. Tak kuasa aku menahan rasa penasaranku. Lalu aku menuju sawah belakang rumah. Kupekakan telingaku untuk mendengar suara penghitungan dari balai desa. “Jagung” “Terus” “Jagung” “Terus” “Mangga” “Terus” Aku ndremimil35 . Melangitkan doa. “Padi” “Terus” “Padi” “Terus” “Padi” “Padi” “Padi” “Padi” “Teruuus” Suara sorak sorai pendukung bapak terdengar. Aku kembali ke rumah. Belum kukata apa-apa. Tiba-tiba ibu ngleles. Tak sadarkan diri. Kata simbok-simbok tua, itu pertanda bahwa bapak yang akan jadi. Aku mengamini dalam hati. 35 mendawam doa 34 panggilan bapak ke ibu, karena bernama Rasmidah, maka dipanggil Mi.


Demikianlah. Akhirnya perhelatan akbar atas nama pesta demokrasi itu usai. Seluruh pendudung bapak lega karena bapaklah yang menjadi pemenangnya. Mereka mengiring bapak sampai rumah. Kuelus perutku sembari kukata, “Simbahmu jadi carik.” Bapak mencium kepalaku. Dan lagi-lagi, aku menangis haru. Sepekan kemudian bapak dilantik di Tuban, setelah sehari sebelumnya menginap di hotel. Dalam foto hitam putihnya, bapak tampak sangat berkharisma. Entah mengapa. Aku sangat bangga. ***** Bagiku cerita ibu tentang Wahyu Pulung untuk sang Carik Ngrayung yang layak kuabadikan. Dalam deret kata dan kalimat yang mencerahkan. Bahwa pulung itu memang ada karena kuasa Tuhan. Dalam falsafah Jawa siapa yang mendapat pulung disebut kewahyon36 . Mereka adalah orang-orang pilihan alam. Ini bisa dikatakan demikian karena sejatinya alam mikro kosmos manusia sangat dipengaruhi makro kosmosnya. Artinya manusia adalah bagian komponen alam semesta di mana ia hidup. Itulah sebabmnya masyarakat Jawa secara khusus mempercayai ada tanda-tanda alam atas peristiwa yang akan terjadi. Demikian juga sebaliknya. Laku keprihatinan, usaha, dan gerakan lahir batin seseorang yang disebut sebagai putaran jagad cilik atau mikro kosmos, akan memberikan dampak yang berpengaruh langsung pada kehidupan alam semesta dan manusia di luar dirinya atau disebut makro kosmosBumi Mbah Guru Ngrayung 28 September 20 Profil Penulis Budi Wasasih lahir di Tuban, 31 Agustus 1972. Ia menyukai sastra sejak bersekolah di SMP Negeri Plumpang. Saat itu ia diminta menulis sebuah puisi oleh Bu Endang Suyati, guru Bahasa Indonesianya. Puisi perdananya berjudul Bapak (1985). Hobinya menulis puisi berlanjut ke bangku SPG Negeri Tuban. Beberapa kali karyanya mengisi mading sekolah. Juga cerpen-cerpennya. Cerpen pertama yang ia buat (juga atas perintah guru Bahasa Indonesianya, Pak Abdul Latif), berjudul Rasa Pramuka. Tiga puisinya yang pernah dimuat di Majalah Media Pendidikan terbitan Dinas Pendidikan Jawa Timur adalah Cita-citaku (2006), Bangkitlah Anakku (2006), dan Sepi (2017). Kini ia menjadi guru di SDN Plumpang III. Kecintaan pada profesinya turut menggairahkannya menulis Modul Tematik K13 bersama ketiga kawannya. Modul Pembelajaran Subtema Cita-citaku itu mampu meraih juara I dalam Lomba Penyusunan 36 mendapat wahyu


Modul Pembelajaran tingkat Kabupaten Tuban tahun 2018. Setahun kemudian ia menerbitkan buku tunggalnya Tonggak(2019). Pada tahun itu pula ia meraih juara 1 Lomba Kreativitas Guru tingkat Kabupaten Tuban dengan membuat Viklam (sebuah video pembelajaran IPA kelas VI yang berisi modifikasi lagu anak-anak zaman dulu). Buku tunggal kedua berisi kumpulan crita cekak yang berjudul Parti ia terbitkan pada tahun 2019. Puluhan antologi berupa puisi dan pentigraf ia ikuti bersama penulis-penulis se-Indonesia. Ia pun turut menulis Pantun Nasihat Guru se-Asean tahun 2020. Pada tahun itu pula ia meraih predikat Penulis Terbaik dengan judul buku Kreasi dan Inovasi Pendidikan. Kecintaannya pada Bahasa Jawa ia salurkan dengan turut membidani lahirnya buku kumpulan geguritan karya murid-muridnya yang berjudul Gurit Bocah Kidulan (2021). Buku ini yang mengantarnya menjadi finalis Tubernova (Tuban Berinovasi) tahun 2022. Selain itu ia dipercaya menjadi pembimbing siswa dalam Pekan Seni Pelajar tahun 2014 dan meraih juara 3 tingkat Kabupaten Tuban. Pun dengan panembrama. Ia juga telaten membimbing anak didiknya dalam Lomba Menulis Puisi (Juara 1 tahun 2021) dan Pidato Bahasa Jawa hingga juara 2 (dalam Lomba Hardiknas 2022) dan juara 1 dalam Lomba Hardiknas 2023. Ia pun turut mengantar muridnya menjadi juara 3 Lomba Cerdas Cermat tahun 2022. Pada Mei 2022 ia terbitkan buku tunggalnya yang ketiga berjudul Kia Bunga Sambu yang berisi ratusan gubahan puisi. Pada Oktober 2022 ia meraih juara 1 Lomba Best Practice Guru SD. Di awal tahun 2023 ia menerbitkan anak ruhaninya yang keempat yaitu buku berbahasa Jawa tentang Paugeran Nulis Geguritan Anak SD berjudul Teknik Wasasih Weweh. Ia pernah menjadi editor kompilasi crita cekak hasil karya guru se-Kabupaten Tuban yang berjudul Gelang Tali Lawe (2022). Puisinya juga pernah nyempil di majalah Homagi (majalah sastra internasional) tahun 2022. Kejuaraan yang paling berkesan baginya adalah manakala ia menjadi Juara 1 Guru Berprestasi jenjang Guru SD tingkat Kabuten Tuban tahun 2017. Karena baru sekali ikut lomba tersebut dan langsung menoreh prestasi kejuaraan. Bahkan saat itu ia yang paling rendah golongannya (IId) dibanding kesembilanbelas saingannya. Satu penghargaan lagi yang ia terima dari Radar Tuban pada September 2022 adalah terpilih sebagai Tokoh Pendidik Pelestari Bahasa Jawa. Ia memedomani Man Jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan menemukan. Kegemaran lainnya adalah berkebun. Hamparan taman bunga di depan kelas dan di rumah menjadi bukti giatnya. Bahkan pada sound yang terpasang di depan kelasnya dibuat sarang oleh lebah madu. Lebah-lebah itu menyukai bunga-bunganya. Selain dijadikan koleksi, bunga-bunga itu juga dijualnya hingga ke Halmahera. Kata teman-temannya ia bertangan dingin. Namun baginya, semua orang bertangan dingin, jikalau mau berusaha dan rendah hati senantiasa. Kerap ia dapat inspirasi untuk menulis saat menanam dan menyiram bunganya. Ia bertempat tinggal di Desa Ngrayung


Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban. Kontak handphone: 081318483633, pos-el. [email protected]. Legenda Kuwu Dalam pembahasan asal usul sebuah tempat, hal yang menarik untuk diketahui adalah nilai historis yang terkandung di dalamnya. Begitu juga dengan asal usul sebuah desa, latar belakang historis akan berpengaruh pada budaya, tradisi dan bahkan nama yang yang dimiliki oleh desa tersebut. Tidak cukup dikenal banyak orang, dusun Kuwu memiliki segudang cerita menarik untuk dibahas terutama yang berkaitan dengan asal usul dusun ini yang dimulai dari beberapa ratus tahun silam. Dusun Kuwu merupakan sebuah dusun kecil yang dihuni oleh (angka) kepada Keluarga dengan total (angka) penduduk. Secara geografis dusun ini terletak di desa Penidon kecamatan plumpang kabupaten tuban. dari arah utara dusun ini berbatasan dengan desa Penidon dari arah timur dusun ini berbatasan dengan kecamatan Widang, dari arah barat dusun ini berbatasan dengan Dusun Bandung Rowo dan dari arah selatan dusun ini berbatasan langsung dengan sungai Apur. Jika dilihat dari segi kekayaan alamnya, Dusun kuwu telah diberkahi dengan kekayaan pertanian yang melipah dan terbilang subur sehingga hampir masyakarat di desa ini menggantungkan hidupnya dari pertanian. Sebagai bentuk rasa rasa syukur kepada Tuhan atas karunia hasil pertanian yang melimpah, setiap tahunnya masyarakat dusun kuwu mengadakan acara tradisi bernama ‘manganan’ atau ‘nyadran’. Dalam Bahasa Indonesia istilah ‘manganan’ berarti ‘acara makan-makan’. Hal tersebut dikarenakan inti dari acara tersebut adalah makan makanan bersama yang mereka bawa dari rumah masing-masing yang kemudian dinikmati bersama masyarakat yang lain. Selain itu, untuk memeriahkan acara ada juga pertunjukan seni lengan tayub yakni yang terdiri dari music gamelan dan sinden dan masyarakat khususnya laki-laki menari dengan mengikuti irama musik gamelan. Budaya ini terus dipertahanankan dan dilestarikan dari generasi pendahulu sampai ke generasi penerusnya saat ini.


Bukan hanya itu, budaya yang cukup menarik dan berbeda dari beberapa daerah lain di Indonesia adalah budaya lamaran yang telah ada dan terus dilestarikan hingga saat ini. pada acara lamaran masyarakat masih berpegang teguh pada tradisi dimana perempuan yang melamar laki-laki. Dalam hal ini pihak keluarga perempuan datang ke rumah pihak laki-laki dengan membawa seserahan yang telah disepakati. Budaya dan tradisi yang masih melekat pada masyakat dusun kuwu saat ini tentunya tidak terlepas dari tradisi leluhur yang telah ada sejak beberapa ratus tahun yang lalu. Dikisahkan pada tahun 900 masehi disebuah desa hiduplah masyarakat yang hidup rukun damai dan masih diselimuti oleh adat istiadat dan tradisi budaya yang kental. tidak berbeda dari kebanyakan tempat atau desa di Indonesia, selain dipimpin oleh kepala dusun, desa ini juga dipimpin oleh seorang pemimpin adat yakni ada seseorang yang menjadi sesepuh yang dihormati dan menjadi orang yang paling berpengaruh pada adat tradisi dan kepercayaan masyarakat. Beliau bernama mbah buyut bening. ‘mbah’ sendiri sebuah yang berasal dari bahasa jawa artinya kakek atau nenek. Sementara 'buyut' berarti 'moyang' sehingga mbah buyut berarti nenek moyang. Dalam artian lain mbah sendiri dapat merujuk pada istilah seseorang yang dituakan. Sehingga mbah buyut bening berarti nenek moyang yang bernama bening. Selain mbah bening, mbah truno pati saudara dari mbah bening juga menjadi sesepuh di desa ini. Sebagai seorang sesepuh adat, mbah buyut bening dan mbah buyut truno pati merupakan dua sosok yang banyak memimpin dan memberikan arahan kepada masyarakat desa dikala itu. contoh budaya yang telah disebutkan pada pembahasan sebelumnya merupakan contoh bagaimana budaya itu telah terbentuk dari jaman dahulu. adapun contoh lain terkait budaya adat yang sangat kental pada zaman mbah buyut bening ialah kepercayaan-kepercayaan terhadap yang dibawa oleh leluhur mereka. Konon diceritakan pada masa mbah buyut bening, dalam melakukan segala sesuatu masyarakat hanya berpengang pada kepercayaan leluhur dimana pada masa itu pengaruh agama belum masuk ke desa ini. Ketika seseorang ingin membangun rumah maka beberapa barang yang harus ada dan wajib digantungkan di atap rumah. ““Jika kalian ingin rumah kalian membawa suatu kebaikan, Ketika genteng mulai dipasang, kalian harus menyediakan segenggam tanaman padi kuning, paku dan barang syarat lainnya” kata mbah buyut bening. “Tapi jika kalian tidak menyediakan itu semua, maka rumah kalian akan mendatangkan keburukan untuk kalian!” ujar kembali mbah buyut bening.


Atas dasar rasa percaya kepada luluhur dan tidak mau terjadi hal yang buruk bagi keluarga, tidak ada satupun masyakarat yang berani melanggar syarat ini sehingga setiap masyarakat yang sedang mendirikan rumah mereka selalu akan menyediakan syarat tersebut. Hal lainnya adalah selalu menanyakan ‘hari baik’ kepada sesepuh ketika ingin mengadakan suatu acara besar yakni mulai dari membangun rumah, pernikahan, dan acara sedekah bumi sebagai acara tahunan masyarakat desa ini. masyarakat percaya sesepuhlah yang paling dapat diandalkan untuk menentukan hal baik ini. Ketika itu ada seorang warga yang dapat kepada mbah buyut bening. “Maaf mbah, saya ke sini mau meminta saran mbah anak saya mau menikah dengan seorang pria yang berasal dari desa B” kata seorang warga. “Ya, beri tahu aku weton (hari lahir) anak dan calan menantumu?”. Kemudian warga itu memberi tahu tanggal lahir anaknya dan calon menantunya. Dalam hal ini mbah buyut bening melakukan perhitungan jodoh menggunakan kelender jawa. Apabila weton atau tanggal lahir keduanya cocok maka boleh untuk dilanjutkan dan sebaliknya apabila tanggal lahir tidak cocok maka mereka harus pisah karena dipercaya akan membawa petaka bagi rumah tangganya kelak. Begitu pula dengan acara lainnya, setiap tahun warga selalu mengadakan sedekah bumi atau yang disebut ‘manganan’. Sebelum mengadakan acara tersebut, pemimpin desa harus sowan atau berkunjung ke rumah sesepuh desa yakni rumah mbah buyut bening untuk meminta saran hari baik untuk penyelenggaraan acara. “mbah seperti biasanya kita akan mengadakan acara sedekah bumi dan kita ingin meminta saran dari mbah kapan kita harus menggelar acara tersebut” kata pemimpin desa. Pada percakapan itu mbah buyut akan mencarikan hari baik untuk acara bisa dilaksanakan. Selain itu mbah buyut bening juga akan memberitahu warga untuk menaburkan bunga tujuh rupa dipersimpangan jalan dan memberikan sesajen sehari sebelum acara dimulai dan Ketika acara berlangsung. Hal ini diyakini bahwa apabila syarat tersebut dilakukan maka acara akan berjalan dengan lancer. Namun sebaliknya jika acara tidak dilakukan maka suatu hal yang buruk akan terjadi. Hal itu diyakini bahwa leluhur telah marah akibat tidak diberikannya syarat yang ia minta. Lebih buruk lagi apabila hal itu disengaja tidak dilakukan oleh warga desa diyakini akan ada bencana yang akan melanda desa tersebut entah badai, kekeringan, dan bencana lainnya.


Pada suatu hari, setiap selesai musim panen warga desa selalu menyelenggarakan acara tahunan yakni sedekah bumi atau manganan. Setiap kepala rumah tangga akan membawa makanan yang mereka masak dari rumah ke tempat acara. Semua makanan itu selain untuk dinikmati warga juga akan dibagikan kepada penabuh gamelan, sinden dan tamu yang diundang dari desa lainnya. Dalam setiap acara akan ada warga yang bertugas untuk mempersiapkan tenda, menghubungi penabuh gamelan dan sindennya serta ada yang bertugas untuk memberikan undangan ke desa lainnya. Selain itu juga aka nada warga yang bertugas untuk menamburkan bunga ke persimpangan jalan dan ada yang bertugas untuk mengurus sesajen untuk leluhur. Belum diketahui dengan jelas apakah ada sesajen yang kurang atau karena hal lain. acara kali ini sedikit berbeda, jika acara sebelumnya dapat terlaksana dengan baik, acara kali ini tidak. Ketika acara berlangsung, langit yang tadinya cerah berubah menjadi mendung gelap. “Wah, ada apa ini kenapa langit tiba-tiba mendung tidak seperti biasanya.” ujar mbah buyut bening. Pada keadaan seperti ini mbah buyut bening membacakan sebuah doa dari kepercayaan leluhur. Namun saat itu mendung hitam tidak kunjung menghilang. Beberapa saat setelah itu angin kencang mulai menerjang desa. Masyarakat mulai mencari tempat yang teduh untuk berlindung dan acara dihentikan sementara. Angin kencang tersebut membawa banyak abu yang menyapu desa tersebut. Karena banyaknya abu yang terbawa oleh angin masyarakat menjadi panik dan mulai bertanya-tanya apakah ini salah satu kemarahan nenek moyang akibat ada syarat yang dilupakan oleh warga dalam menyelenggaraan acara ini. untuk meredakan hujan abu tersebut sesepuh dan masyarakat mulai memanjatkan doa dari nenek moyang mereka agar hujan abu segera berhenti. Tidak lama kemudian, mendung hitam mulai hilang, angin kencang dan hujan abu mulai mereda perlahan. “Mbah kira-kira tadi itu kenapa ya, Ini baru pertama kalinya terjadi hal mengerikan seperti itu?” ujar kepada desa kepada mbah buyut bening. “Coba kamu periksa syarat sajen itu apakah sudah lengkap dan pastikan apinya masih hidup sebelum adanya mendung tadi ataukah apinya mati?” ujar mbah buyut bening kepada kepala desa. Kepala desa pun menanyakan kepada seorang yang bertugas mengurus sesajen. Ternyata setelah dicek sebelum ada mendung gelap, petugas sajen lupa untuk menyalakan apinya lagi karena api tersebut sudah dinyalakan dari pagi hari jadi sebelum apinya pada harus dinyalakan lagi.


“Selama acara api tidak boleh sampai padam jika tidak hal buruk seperti ini akan melanda desa lagi!” ujar mbah buyut bening. Untuk menebus kesalahan warga membuat sesajen baru yang diletakkan di sebelah sesajen lama dan menyalakan api di keduanya. Kemudian mbah buyut bening juga meninta agar acara dilanjutkan sampai selesai. Sebagai pengingat adanya peristiwa hujan abu ini, warga dan sesepuh sepakat untuk menamai desa ini menjadi ‘kuwu’ yang diambil dari udan awu atau hujan abu. Berapa tahun setelah kejadian ini mbah buyut bening dan sesepuh desa lainnya meninggal dunia. Mbah Buyut Bening di abadikan berupa sumur yang airnya selalu jernih atau bening konon Waupun musim kemarau tidak pernah habis atau sat sampai sekarang. Namun tradisi-tradisi yang ada di dusun ini terus dilestarikan hingga generasi selanjutnya.


Profil Penulis Rakup, S.Pd.SD, seorang Guru di SDN Penidon 2 adalah warga Dusun Kuwu Desa Penidon Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban. Sebuah dusun yang cukup ramai karena terletak di jalan nasional Tuban-Lamongan. Keseharian sebagai guru dan petani sangat memberi warna pada hidup saya. Lulusan S1 Universitas terbuka dengan beasiswa pemerintah pusat ini ingin selalu dusunnya lebih maju, dan tidak ketinggalan dengan dusun yang lain. Begitu juga siswa-siswa saya walaupun dari desa harus tetap semangat belajar.


Legenda Joko Tarub Sendang Morosemo Sumberagung (Sebuah Pelurusan Cerita Joko Tarub dan Petilasan Joko Tarub) Indonesia merupakan negara yang kaya akan cerita legenda, setiap daerah memiliki cerita sejarah yang nantinya menjadi ciri khas dari tempat asalnya, bahkan tak jarang nama sebuah daerah di ambil dari cerita setempat yang di yakini menjadi asal-usul dari nama daerah tersebut. Seperti nama daerah di pesisir pantai pulau Jawa yakni kabupaten Tuban, berasal dari kata “meTU BANyune” yang artinya keluar airnya,dimana saat itu Raden Dandang Wacana atau bupati Tuban pertama pada saat babat alas di temukanya sumber air yang sangat deras. Karena peristiwa itulah daerah tersebut di beri nama Tuban. Sama seperti di daerah-daerah Tuban lainya, di kecamatan Plumpang khususnya di dusun Morosemo desa Sumberagung juga ada sebuah daerah yang kental akan cerita legendanya, cerita ini cukup terkenal di kalangan masyarakat, orang-orang meyakini cerita tersebut adalah cerita nyata yang kelak akan banyak orang untuk datang mengunjunginya, tempat tersebut bernama Sendang Joko Tarub. Sebelum di ceritakan lebih lanjut tentang petilasanya, mari kita membahas sedikit tentang cerita Joko tarub. Cerita Joko tarub ini memiliki 2 versi, yang pertama adalah versi legenda dan yang ke-dua adalah versi aslinya. Ada beberapa daerah yang juga memiliki kisah tentang Joko tarub, namun kita akan fokus kepada cerita legenda Joko tarub menurut daerah di kecamatan Plumpang. Maka dari itu, penulis akan menceritakan 3 point penting dalam cerita ini, yang pertama adalah legenda Joko tarub, yang ke-dua adalah cerita asli Joko tarub (pelurusan sejarah Joko tarub) dan yang ke-tiga adalah Petilasan Jok tarub. 1. Legenda Joko Tarub Joko tarub adalah seorang pemuda yang gagah perkasa, ia memiliki nama asli kidang talangkas, di sebutkan ia adalah anak dari tokoh besar yang sedang berkelana, di tengah perjalanan ia tersesat dan di tolong oleh seorang janda yang kemudian menjadikanya anak angkat. Janda tersebut memiliki rumah yang beratapkan daun kelapa


persis seperti tarub, maka anaknya tersebut di beri nama Joko tarub, yang artinya seorang pemuda anak dari orang yang rumahnya seperti tarub. Pada saat remaja Joko tarub sangat senang berburu, suatu hari, Joko tarub bergegas ke hutan untuk berburu burung, di tengah hutan ia melihat 7 bidadari yang sedang mandi di telaga, karena terpikat kecantikanya, jaka tarub mengambil selendang milik seorang bidadari dan menyembunyikanya. Bidadari tersebut bernama Nawang wulan, ia sangat sedih, ia tak bisa kembali kekhayangan karena selendangnya telah hilang. Mengetahui hal itu, Joko tarub pun mendekat dan menawarkan pertolongan, ia mengajak bidadari tersebut pulang ke rumahnya. Setelah sampai di rumahnya, Nawang wulan bertemu dengan ibunya Joko tarub, ia sangat ramah dan membuat Nawang wulan pun nyaman di tempat itu, setelah beberapa saat, akhirnya Joko tarub menikahi Nawang wulan, sebelum menikah, Nawang wulan berpesan agar Joko tarub tidak bertanya tentang apapun yang terjadi setelah menjadi suami istri nanti. Karena terpikat akan kecantkanya, Joko tarub tidak berpikir panjang dan langsung menyanggupinya. Pada suatu hari, Nawang wulan ingin kembali ke khayangan, ia pun mencari selendangnya di telaga, mengetahui istrinya sedang tidak ada di rumah, jaka tarub penasaran dan membuka tutup tungku penanak nasi, ia terkaget karena istrinya menanak nasi hanya dengan 1 beras saja. Setelah Nawang wulan kembali dari danau, ia membuka tutup tungku penanak nasi, betapa kagetnya ia ketika beras itu tidak berubah menjadi nasi, akhirnya Nawang wulan menyadari bahwa Jaka tarub telah melanggar janjinya, ia pasti telah membuka tutup tungku itu. Nawang wulan sangat marah, Jaka tarub mengakui kesalahanya, ia berjanji tak akan mengulanginya lagi. Sejak saat itu, lumbung padi mulai berkurang, Nawang wulan pun harus menaiki lumbung padi untuk mengambil padi terakhir, namun, betapa terkejutnya ia ketika melihat selendangnya berada di bawah lumbung padi itu. Nawang wulang tersadar, ternyata yang mengambil selendangnya adalah suaminya sendiri. Ia pun kecewa, tanpa pikir panjang, Nawang wulan langsung memakai selendang itu, ia segera kembali ke khayangan dan meninggalkan suaminya dengan anak pertamanya Nawangsih, konon sesekali Nawang wulan kembali ke bumi hanya untuk menemui Nawangsih. Demikianlah cerita legenda dari cerita Joko tarub, cerita ini merupakan cerita legenda yang belum di ketahui kebenaranya. Dalam cerita tersebut, di kisahkan Joko tarub adalah seseorang yang usil, dimana ia mengintip bidadari yang sedang mandi dan


menyembunyikan selendangnya. Hal ini berbanding terbalik dengan cerita aslinya Joko tarub. 2. Cerita Asli Joko Tarub (Pelurusan Sejarah Joko Tarub) Joko tarub atau lebih di kenal dengan Kyai Ageng Tarub ia lahir dengan nama Sayyid Ibrahim. Diperkirakan lahir di awal abad 14. Ayahanda beliau adalah Syekh Maulana Malik Ibrahim atau yang sering disebut Sunan Gresik. Kyai Ageng Tarub mempunyai istrl yang bernama Nyai Nawang Wulan dan dikarunia anak yaitu:Nawang sih/Syarifah Sufiyah, Nawang Arum dan Nawang Sasi. Ia memiliki murid yang sangat terkenal yaitu Raden Bondan Kejawan atau Lembu Peteng. Nasab Kyai Ageng Tarub beliau masih keturunan dari Rasulullah SAW. Kyai Ageng Tarub wafat sekitar akhir Abad 14. Setelah berpamitan dengan ayah dan ibu maka dilakukan perjalanan untuk menyebarkan dakwah Agama Islam, hingga suatu masa Sayyid Ibrahim melihat seorang wanita yang sedang berbicara di depan makam. Ternyata wanita itu Dewi Kasihan yang ditinggal wafat suaminya yang bernama Aryo Penanggungan, dan belum dikaruniai putra, karena sayangnya Dewi Kasian terhadap suaminya, walau sudah wafat setiap hari dia selalu menengok makam suaminya. Melihat keadaan wanita tersebut Sayyid Ibrahim merasa iba, karena hidup sebatang kara dan hidup sangat sederhana. Akhirnya beliau berpura-pura pingsan di dekat rumah Dewi Kasihan kemudian ditolong oleh perempuan tersebut. Setelah sadar dan menikmati hidangan yang disajikan, Sayyid ditanya oleh wanita tersebut berasal dari mana dan mau kemana. Sayyid menjawab bahwa dia sedang tersesat dan tidak tahu mau kemana karena hidup sebatang kara dan tidak mempunyai tujuan. Akhirnya pemuda tersebut diangkat anak oleh Dewi Kasihan dan di beri nama Jaka Tarub. Selain membantu Nyai Dewi Kasihan, kadang di waktu luangnya Jaka Tarub sering berburu keluar masuk Hutan. Setelah masuk di tengah hutan bertemu orang yang sangat tua, dia diberi aji–aji Tulup yang bernama Tulup Tunjung Lanang. Tulup inilah yang akhirnya menjadi aji-aji sangat luar biasa untuk Kyai Ageng Tarub atau Jaka Tarub. Suatu hari Joko Tarub memasuki hutan untuk mencari burung. Sampai diatas gunung, Joko Tarub mendengar suara burung yang sangat indah bunyinya, yaitu burung perkutut. Kemudian didekati dan dilepaskan anak tulup kearah burung tersebut namun gagal. Peristiwa ini konon menjadi cikal bakal nama daerah-daerah di kawasan tersebut. Di saat Joko tarub mengejar burung, rupanya ia mendengar suara wanita yang baru berlumban (mandi) di dalam sendang. Disaat itu Joko Tarub lupa burung yang dikejar dia beralih mengintai suara wanita yang mandi di dalam sendang. Ternyata para bidadari yang


sedang dilihat, akhirnya Joko Tarub mengambil salah satu pakaiannya bidadari yang dengan tutup kemudian dibawa pulang dan disimpan dibawah tumpukan padi (lumbung) ketan hitam. Joko Tarub kembali lagi ke Sendang dengan membawa sebagian pakaian ibunya. Setelah sampai didekat sendang ternyata para bidadari sudah terbang kembali ke surga. Tinggal satu yang masih mendekam ditepi sendang dengan merintih dan berkata : “sopo yo sing biso nulung aku, yen wadon dadi sedulur sinoro wedi, yen kakung sanggup dadi bojoku”. Di saat itu Joko Tarub mendekat dibawah pohon sambil mendengarkan ucapan bidadari tersebut dan menolong bidadari dengan melontarkan pakaian ibunya. Setelah bidadari berpakaian diajak pulang kerumah ibunya dan disampaikan kepada ibunya bahwa putri ini adalah putri dari sendang yang terlantar dan minta tolong kepada siapun : Jika yang menolong pria akan dijadikan suaminya. Akhirnya Joko tarub menikah dengan bidadari tersebut yang bernama. Nawang Wulan. Adapun sendang yang dibuat lomban para bidadari, sekarang dinamakan Sendang Widodaren. Menurut Habib Luthfi bin Yahya menjabarkan pengertian 9 Bidadari yang sedang mandi di Sendang itu hanyalah Bahasa kiasan yang menjelaskan bahwa para wanita-wanita tersebut sedang melakukan ngaji atau sedang menimba ilmu agama Islam. Jadi digambarkan bahwa wanita-wanita yang sedang menuntut ilmu agama Islam itu kelak akan menjadi Bidadari-bidadari penghuni Surga. Joko tarub berdakwah seperti ayahnya, ia turut menyebarkan agama islam di tanah jawa, dalam perjalanannya menyebarkan dakwah Agama Islam di daerah sekitar, Joko Tarub melakukannya dengan mengambil simpati masyarakat dan memberikan contoh teladan yang baik, beliau sering menjadi tempat tujuan untuk mengadu apabila terjadi permasalahan dan perselisihan yang terjadi pada saat itu. Tidak lupa beliau juga sering membagi-bagikan bahan makanan bagi yang membutuhkan. Sehingga dalam waktu singkat nama Joko Tarub semakin luas dikenal oleh masyarakat, ada juga sebagian masyarakat yang memanggilnya dengan nama Sunan Tarub. 3. Petilasan Joko Tarub Sendang widodaren, konon tempat ini adalah tempat dimana para bidadari turun ke bumi hanya untuk mandi, sendang widodaren inilah yang di maksud petilasan. Petilasan Joko Tarub ini berada di wilayah Dusun. Morosemo Desa Sumberagung Kecamatan Plumpang. akses untuk menuju tempat tersebut pun cukup mudah, karena hanya berjarak kurang lebih 200 meter dari jalan raya.


Sendang widodaren merupakan sumber mata air yang tempatnya tidak terlalu lebar, berbentuk leter L dimana ada beberapa mata air yang terus mengalir didalamnya, pada mata air terbesar ada di dalam sebuah bangunan, bangunan tersebut sudah di renovasi oleh pemerintah desa menjadi lebih baik, di bagian luar ada pagar pembatas yang menjulang sekitar 2 meter, tepat di samping sendang, ada batu besar yang di atasnya ada garis-garis searah seperti cengkeraman tangan. Konon, ini adalah tempat dimana bidadari meletakkan sabunya. Air dari sendang widodaren ini di gunakan warga khususnya dusun Morosemo untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, baik untuk memasak, minum, mencuci pakaian dll. Menurut Salam (55) salah satu pejabat desa tersebut, benar tidaknya cerita itu masih belum bisa di pertanggung jawabkan, yang terpenting kita harus banyak bersyukur karena mata air itu sangat bermanfa’at untuk penduduk sekitar. Diera tahun 80 an sendang tersebut sempat menjadi obyek wisata yang ramai dengan pengunjung. Menurut kepercayaan masyarakat yang beredar, seseorang yang mandi menggunakan air dari sendang tersebut maka tidak lama kemudian akan bertemu dengan jodohnya. Petilasan Joko tarub di era 80-90 an adalah tempat wisata yang bisa mendatangkan pengunjung dari berbagai daerah. Dulu tempat tersebut di kelola oleh Pemerintah Daerah Tuban, dengan mengusung konsep kebun binatang, pemerintah daerah memanfaatkan area yang cukup luas dengan alam yang asri itu dengan mendatangkan hewan-hewan langka, di lengkapi dengan air mancur dan alam yang indah serta beberapa fasilitas pendukung dari pemerintah daerah seperti, pembuatan jalan setapak, pembangunan pagar pembatas, pembangunan gerbang & tempat tiket, pembangunan saluran air bersih dan WC dll, bahkan tempat tersebut juga sering diganakan untuk konser musik untuk menghibur para pengunjung, pada saat itu, tempat ini benar-benar menjadi primadona pada zamanya. Beda dulu dengan sekarang, setelah pernah berjaya dengan obyek wisatanya, kini tempat tersebut mulai terbengkalai, hal ini berawal dari dugaan warga sekitar yang curiga dengan tanah tersebut milik desa yang di kelola oleh pemerintah daerah, masyarakat merasa tidak mendapat apa-apa karena semua pemasukan dari obyek wisata tersebut semuanya masuk pemerintah daerah. Dan benar adanya, setelah di persidangan, tanah tersebut memang milik desa. Akhirnya pemerintah daerah pun harus meninggalkan tempat tersebut, semua aset di dalam obyek wisata itu di bawa olehnya, dan perawatannya di serahkan sepenuhnya kepada pemerintah desa. Pemerintah desa tak mampu membiayai perawatan obyek wisata Joko Tarub, akhirnya tempat tersebut mulai terbengkalai dan di tinggalkan oleh para pengunjung. Pada


tahun 2000-an tempat tersebut di penuhi oleh semak belukar, tidak ada aktivitas wisata dari tempat tersebut, beberapa anak kecil datang hanya untuk mandi di sendang widodaren, sesekali ada anak-anak pramuka yang mengadakan kemah di kawasan yang dulunya wisata Joko Tarub. Kawasan Joko Tarub semakin parah ketika memasuki tahun 2013 an, tempat yang dulunya hutan alami itu, banyak pohon yang mulai di tebangi, hampir semua semak belukar di kiri kanan jalanan di bakar ketika kemarau untuk ladang pertanian. Hal ini membuat ekosistem pada kawasan tersebut rusak, hewan-hewan sudah tidak ada, pohon-pohon di tebang, bahkan sumber mata air yang dulunya melimpah kini semakin surut dan tidak mampu mencukupi semua warga, tercatat kurang dari 5 Rt yang masih bisa menikmati sumber air tersebut. Lingkungan yang rusak, alam yang sudah tidak asri, sumber air yang tak lagi melimpah adalah akibat dari orang-orang yang membuka ladang untuk kepentinganya sendiri, mereka adalah orang-orang yang serakah, mereka tidak memikirkan bagaimana anak cucu nanti tak lagi bisa menikmati karunia tuhan berupa alam yang sangat indah itu, mungkin 10-20 tahun lagi sumber airnya telah berhenti. Hal inilah yang membuat FPPL(Forum Pemuda Peduli Lingkungan) Joko Tarub tergerak hatinya. Nuyung (35) mengatakan bahwa pihaknya telah menanam ribuan pohon di sekitar kawasan Joko Tarub, rincianya adalah 300 pohon buah (Durian, jambu kristal dll), 1.000 pohon kacacil dan ratusan tanaman taman. Hal ini sebagai pengganti dari pohon-pohon yang telah di tebangi. Di sendangnya juga di isi dengan berbagai jenis ikan yang nantinya ekosistem air tawar itu tetap bagus dan bisa mengalir untuk mencukupi kebutuhan masyarakat. Upaya dari FPPL tidak membuahkan hasil, pohon-pohon yang telah di tanam itu di rusak oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, orang-orang yang tidak peduli pada lingkungan, satupun pohon tidak ada yang tersisa. Ikan-ikan yang berada di sendang juga hilang, hal ini menyebabkan kawasan Joko Tarub semakin parah. Dari pemerintah desa juga tidak diam akan hal itu, mereka berusaha mengangkat kembali agar wisata Joko Tarub bisa di nikmati lagi oleh khalayak ramai. Upaya tersebut berupa pembangunan kolam renang, kolam yang memiliki panjang sekitar 15 meter itu terbagi menjadi 2 bagian, yakni 1 setengah meter dan 2 meter. Bapak. Sunarto yang menjabat sebagai kepala desa menyatakan bahwa, dengan adanya kolam tersebut nantinya akan menjadikan kawasan tersebut menjadi ramai kembali. Upaya dari pemerintah desa juga di barengi terobosan-terobosan dari karang


taruna setempat, yakni karang taruna Bhakti Praja. Agus Syarofi sebagai ketua mengatakan, pihaknya ingin tempat tersebut kembali ramai, nantinya akan ada wahana flying fox, menghidupkan kembali bumi perkemahan dan adanya warung kopi yang nantinya semua akan di kelola oleh karang taruna. Pada tahun 2023 ini, terpantau kawasan Joko Tarub semakin parah, hutan sudah mulai gundul, monyet-monyet sering menyerang ke kawasan penduduk untuk sekedar mencari makan, kolam renang belum launching sampai sekarang, wahana-wahana juga belum ada, hanya ada warung kopi dan beberapa gubug sudah berdiri. Terpantau sekitar 20 meter dari sendang, tepatnya di samping pintu masuk kawasan Joko Tarub, pemerintah desa membuat tempat pembuangan sampah (TPS) di area tersebut, banyak sampah yang menumpuk, beberapa warga terkadang juga membakar sampah-sampah tersebut. Permasalahan tentang kawasan Joko Tarub ini tidak bisa hanya di selesaikan oleh pemerintah desa saja, melainkan semua elemen masyarakat terlibat aktif untuk menciptakan kawasan Joko Tarub yang kembali seperti dulu. Saat ini, pemerintah desa melalui ketua BPD Bpk. Slamet Effendy mengatakan, masyarakat sudah tidak di perbolehkan lagi membuka ladang di kawasan Joko Tarub, hal ini karena semakin banyaknya pohon-pohon yang sudah di tebang dan nantinya akan semakin merugikan kawasan tersebut. Pemerintah desa harus menampung aspirasi dari masyarakat khususnya para pemuda, dan mengedukasi kepada masyarakat luas untuk tetap menjaga kelestarian alam kawasan Joko Tarub. Masyarakat secara bergotong royong membersihkan area Joko Tarub, Pemerintah desa memikirkan wisata kreatif dengan memanfaatkan alam di kawasan tersebut, dan masyarakat bisa berjualan makanan atau oleh-oleh di dalam/sekitar kawasan wisata. Hal ini tentunya dapat membantu perekonomian dari masyarakat setempat. Para pemuda mengelola wisata, mulai dari parkir, tiket, Wc, kebersihan dll, hal ini juga bisa membuka lapangan pekerjaan untuk pemuda sekitar. Hal ini tentunya akan berdampak dengan pendapatan asli desa dari Bumdes yang di kelola dengan baik, dari dana tersebut bisa menjadikan Sumberagung menjadi desa yang lebih maju.


Daftar Pustaka Sudibya, Z.H. 1980. Babad Tanah Jawi. Jakarta: Proyek Peneribitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kartodirdjo, Sartono (ed.). 1977. Sejarah Nasional Indonesia Jilid III. Jakarta: Balai Pustaka. Http//Bloktuban.com.di akses 10 September 2023 Http//Surabaya.Tribunnews.com.di akses 10 September 2023 Http//Arsiptuban.go.id.di akses 11 September 2023 Narasumber 1. Bpk. Salam Perangkat Desa Sumberagung 2. Bpk. Sunarto Kepala Desa Sumberagung 3. Agus Syarofi Ketua Karang Taruna Bhakti Praja 4. Nuyung Muttaqin Ketua FPPL Joko Tarub 5. Bpk. Slamet Effendy Ketua BPD Desa Sumberagung Profil Penulis


Click to View FlipBook Version