pun Ali Maksum pergi. Termasuk saat pelariannya dari Mataram. Pada masa itu Kerajaan Mataram mengalami keruntuhan sekitar tahun 1724 M. Dalam pelariannya itu Ali Maksum akhirnya menempati daerah yang sampai sekarang disebut dusun Lingit. Sedangkan Ali Maksum lebih akrab dipanggil Mbah Ngali. Mbah adalah sebutan untuk orang yang sudah tua dan memiliki kharisma. Ilustrasi kuda tunggangan Mbah Ngali pada saat pelarian dari Mataram. “Terus kapan Mbah Ngali itu meninggal Gus?” rasa penasaran Wanto mendengar kisah yang diceritakan Bagus itu. “Kalau masa sekarang ya tidak ada satupun orang yang tahu kapan Mbah Ngali meninggal.” Yang berkembang sampai sekarang ya hanya kejadian-kejadian yang dihubungkan dengan kharisma Mbah Ngali.” Seperti cerita ini, bahwa dulu ada orang bernama Sukadi warga dusun Lingit yang sedang berlayar di lautan. Ketika itu kapal yang ditumpangi diterjang badai yang hampir tenggelam. Semua penumpangnya meloncat ke laut. Saat itu Sukadi juga tercebur ke laut. Dengan keras ia menyebut nama Mbah Ngali. Katanya,”Mbah Ngali….Mbah Ngali tolong Mbah.” Tanpa tahu darimana datangnya, tiba-tiba Sukadi mendapati batang pisang di depannya. Batang itu pun langsung diambilnya untuk alat bertahan di laut sampai akhirnya bisa selamat sampai di tepi laut.”
“Wah…Gus ceritamu membuat aku merinding. Itu benar terjadi atau hanya omong kosongmu saja Gus…” ujar Tarno yang baru datang bergabung di warung itu. “Yaa terserah kamu, No…saya ini asli orang dusun Lingit jadi cerita-cerita tentang Mbah Ngali itu pasti saya tahu karena dapat cerita dari kakek nenekku dulu,” tegas Bagus menyakinkan Tarno. “Ayo ikut aku ke rumahku, kamu bisa tanya lansung pada kakekku. Kebetulan kakekku masih hidup yang sekarang usianya sudah 80 tahun,” ajak Bagus pada Tarno yang masih nyengir karena tidak percaya. “Ayo siapa takut, biar nanti ketahuan bohongmu, Gus!” ejek Tarno. Mereka bertiga akhirnya beranjak meninggalkan warung kopi itu menuju rumah kakeknya Bagus. Saat sampai di rumah kakek Bagus, mereka bertiga langsung bertemu kakek di dalam rumah. Tanpa basa basi Bagus langsung menyampaikan keinginannya pada kakek. ”Kek…ini lo teman-teman ingin tahu banyak cerita gaib tentang dusun Lingit. Daripada mereka ini tidak percaya dengan ceritaku, ya sudah tak ajak saja bertemu kakek biar mendengarkan sendiri,” ungkap Bagus pada kakeknya. “Ooo begitu…ya tidak apa-apa, kakek akan bercerita tentang dusun Lingit yang kakek ketahui,” jawab kakek menjelaskan. Mulailah kakek bercerita sementara tiga pemuda itu duduk di bawah tepat di hadapan kakek. “Tiba-tiba saat Belanda datang di dusun Lingit sudah ada makam Mbah Ngali itu’’ terang kakek dengan jelas. Makamnya terlihat berbeda dengan makam-makam yang lain. Di bagian samping ada makam Mbah Jiwo Lelono dan bagian depan juga terdapat makam yang diyakini warga makam Ibu Nyai Siti Fatimah. Konon nama dusun Lingit itu mempunyai kisah mistis yang jarang diketahui oleh warga masyarakat. Kata Lingit itu berasal dari kata Ngalingit nyingit yang artinya Mbah Ngali yang kelihatan samar-samar. Sebenarnya sosok Mbah Ngali adalah orang yang pintar dalam menyebarkan agama Islam di daerah itu. Bahkan ada yang menyebut Mbah Ngali adalah Waliyullah.
Masyarakat meyakini bahwa Mbah Ngali memiliki karomah yang luar biasa. Banyak kejadian mistis yang menunjukkan kelebihan beliau. Menurut ceritanya pada masa penjajahan Belanda banyak warga pribumi yang akan dibunuh saat malam hari. Mendengar kabar itu warga berusaha bersembunyi. Sebagian bersembunyi di semak-semak, di atas pepohonan yang besar, dan sebagian lagi bersembunyi di dalam makam Lingit. Orang Belanda berusaha mencari warga pribumi di rumah warga masing-masing, ternyata rumah mereka kosong, Belanda pun masih berusaha mencari ke tempat-tempat lain. Kebingungan tentara Belanda itu pun menimbulkan pertanyaan di hati masing-masing. “Jangan-jangan warga pribumi sudah mengungsi ke tempat lain?” pikir salah satu tentara. Dalam keheningan itu muncullah obrolan di antara para tentara Belanda itu, sambil terus berjalan mencari keberadaan warga pribumi. “Hai… prajurit, pada pergi kemana warga di sini? “Saya tidak tahu Tuan, mari kita cari mungkin masih ada di sekitar sini, “ kata seorang prajurit itu. (Prajurit ini sebenarnya warga pribumi yang berkhianat dan bergabung dengan Belanda). “Bagaiman kau ini, hee prajurit…!!? Kamu kan orang sini mengapa tidak tahu ke mana mereka pergi, dasar bodoh kamu…!” bentak komandan Belanda itu. “Mungkin pada bersembunyi di makam itu, Dan!” jawab yang lainnya. “Ayo cepat kita cari … warga pribumi itu!” ajak seorang komandan pasukan Belanda dengan marah. Tidak lama kemudian, Belanda sampai di depan makam Lingit sebelah Barat tetapi tidak bisa melihat apa pun di hadapannya. Selain karena malam hari makam Lingit juga dipercaya tidak bisa dilhat oleh orang-orang yang berniat jahat. Mitosnya makam tersebut terdapat penunggu tak kasat mata. Penunggu itu diyakini adalah Mbah Ngali. Belanda masih berusaha mencari. Karena kebingungan Belanda akhirnya menembaki ke arah makam secara membabi buta. Warga pribumi melihat peluru-peluru senapan Belanda yang mengarah ke atas. Hal yang terjadi di luar nalar, peluru-peluru itu melesat
berputar ke atas saat melewati salah satu cungkup makam terbesar di makam Lingit. Belanda pun ketakutan dan pergi meninggalkan makam. Mereka yang bersembunyi di makam merasa tenang karena meyakini bahwa dalam makam tersebut dilindungi oleh sosok gaib yaitu perempuan tua. Legendanya perempuan tua itu di sebut Nyai Ratu Siti Fatimah berasal dari Kerajaan Mataram. Nyai Ratu selalu berpenampilan baju Jawa berwarna hitam kekuningan berselendang dahu merah. (Selendang berwarna merah yang menjuntai di tangan). Ilustrasi Nyai Ratu Siti Fatimah konon sebagai istri Mbah Ngali Pada masa itu diceritakan Belanda tidak berhasil menemukan warga pribumi. Akhirnya seluruh pasukan Belanda merusak isi makam Lingit pada siang harinya. Kejadian itu dilihat oleh penunggu gaib makam Lingit sebelah Barat, yaitu Nyai Ratu Siti Fatimah. Dia marah besar dengan kelakuan pasukan Belanda tersebut. Mitosnya Nyai Ratu sangat membenci dengan orang yang berpakaian tentara karena seperti pasukan Belanda. Sampai saat ini jika ada warga desa Lingit yang menjadi tentara maka akan meninggal dunia dengan usia masih muda. Hal itu diyakini oleh warga karena diganggu penjaga tak kasat mata di sekitar makam, yang tidak senang jika ada warga Lingit yang menjadi tentara. Meskipun ada yang berhasil menjadi tentara maka tidak lama juga meninggal dengan penyebab yang tak diketahui.
Di makam Lingit sebelah timur pernah ada kejadian dua bulan lalu bertepatan bulan Agustus tanggal dua terjadi kejadian mistis. Adittiya warga Lingit berhasil lolos menjadi tentara pangkat TNI AU taraf bintara bertugas di Surabaya. Tiga bulan lalu tepatnya bulan September tanggal empat ia pulang ke rumah untuk menemui keluarganya. Beberapa hari kemudian tanpa sebab Adittiya mulai linglung dan terkena penyakit aneh. Tak biasanya ada penyakit seperti yang dialami Adittiya. Setelah dibawa ke dokter pun tidak diketahui nama penyakitnya. Sekitar satu minggu berjalan, Adittiya pun meninggal dunia. Sementara di makam Lingit sebelah Selatan juga ada kejadian tak terduga. Warga Dusun Lingit yang melangsungkan pernikahan, pengantin laki-lakinya menaiki kereta kuda dan melintasi makam Lingit itu. Tiba-tiba kuda tersebut merasa ketakutan seolah-olah ada sesuatu yang mengganggunya. Pengantin pun terjatuh dan kereta kudanya hancur. Kudanya pun meringkik-ringkik seperti ketakutan dan kejang-kejang. Akhirnya kuda tersebut meninggal dunia. Salah satu rombongan pengantin itu mencari informasi tentang kejadian itu. Warga sekitar menyarankan bertanya pada sesepuh desa yaitu Mbah Sadiran. Menurut Mbah Sadiran dipercaya bahwa kuda tidak bisa melintasi makam Lingit, dikarenakan adanya danyang jaran (artinya kuda penunggu makam). Konon dikisahkan danyang jaran itu merupakan penjelmaan sesajen kuda yang dijadikan tumbal oleh warga Lingit pada zaman dahulu. Setelah kejadian itu setiap ada orang yang menaiki kuda maka akan dialihkan ke jalan lain. Setiap tahunnya warga Dusun Lingit mengadakan acara Haul atau Sedekah Bumi. Berbagai sesajen yaitu nasi dan minuman dihasilkan dari dana iuran sekampung. Ada lima dupa biasanya diletakkan di bawah pohon. Mitosnya dupa tersebut bisa menghilangkan aura jahat .Jika tidak diadakan acara Haul maka warga Dusun Lingit akan terkena pagebluk. Pagebluk yaitu penyakit secara tiba-tiba menyerang warga dan banyak yang meninggal. Selain itu tanaman-tanaman petani pun terkena hama penyakit.
Makam Lingit yang sepi dan angker meskipun siang hari(Foto lokasi makam) Menurut Mbah Sadiran, empat makam Dusun Lingit tersebut mempunyai cerita mistis berbeda-beda. Tiga cerita mistis diantara makam itu sudah dikisahkan di atas. Yang satu lagi makam sebelah utara sangat dihormati oleh warga sekitar dikarenakan ada penunggu yang tak kasat mata yaitu biasanya di sebut Mbah Buyut. Tidak ada yang mengetahui nama aslinya. Ia mempunyai nama samaran Shekh Mahmut Wijoyo. Konon pernah ada kejadian yaitu warga yang melintasi di dekat makam dengan bersepeda. Orang tersebut tidak mau turun dari sepeda bahkan tidak mengucapkan salam. Setelah beberapa waktu orang tersebut terjatuh dan meninggal di tempat seketika . Ada juga kejadian mistis lain, ada sebuah mobil yang diparkir di dekat makam Lingit pada malam hari. Pengemudi mobil itu tertidur, tiba-tiba terbangun karena mendengar suara kuda meringkik-ringkik di atas mobilnya. Ia pun melihat ke belakang ternyata ada kuda yang menaiki mobilnya. Karena ketakutan, orang itu lari ke rumah. Keesokan harinya ada kejadian aki mobil itu meledak tanpa sebab dan mobilnya terbakar. Mitosnya setiap malam jumat wage memang sering ada suara kuda berjalan melintasi desa. “Itulah cucu-cucuku sekilas cerita mistis Penunggu Makam Lingit,” ucap kakek mengakhiri ceritanya. Keberadaan Makam Lingit itu sekarang dikelilingi rumah warga. Kesan angker atau mistis di sekitar makam juga sudah mulai berkurang, tinggal mitos danyang jaran yang belum bisa menerima adanya kuda yang melintas di
dekat Makam Lingit. Semoga dengan kisah di atas masyarakat lebih mengenal luas tentang Makam Lingit dan berhati-hati. Lepas dari benar atau tidaknya cerita tersebut, yang jelas masyarakat Dusun Lingit meyakininya.
Profil Penulis Penulis bernama Sunaryani, S.Pd. Terlahir di Tuban pada tanggal 4 Desember 1970. Ia adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara yang semuanya mengabdi sebagai guru. Ia alumnus IKIP Widya Darma Surabaya tahun 1994. Ia pertama kali diangkat PNS ditempatkan di SMPN 2 Singgahan, selama12 tahun. Kemudian dimutasi sampai sekarang bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 3 Plumpang. Raden Anggoleo
Konon, pada zaman dahulu, ada seorang pemuda yang tampan dan suka berkelana. Pemuda tersebut bernama Raden Anggoleo. Pada suatu hari, pemuda tersebut mendatangi suatu tempat ditepi bengawan. Tempat tersebut masih sepi dan belum ada penduduknya, kemudian dia memutuskan untuk tinggal di tempat tersebut. Kemudian Raden Anggoleo membubak tempat itu dan diberi nama Desa Bandungrejo. Raden Anggoleo merupakan orang pertama yang mendatangi Desa Bandungrejo tersebut. Setelah ada beberapa orang yang menetap disitu, makin lama makin banyak penduduknya, sehingga mereka sepakat untuk mengangkat Raden Anggoleo sebagai pimpinan mereka. Raden Anggoleo merupakan orang yang sangat berjasa terhadap pertumbuhan dan perkembangan Desa Bandungrejo. Beliau merupakan pimpinan dan tetua di daerah tersebut, sehingga saat beliau meninggal, beliau dimakamkan di tepi sungai Bengawan Solo yang dulu merupakan jalur transportasi di jawa dan sangat ramai.. Sampai sekarang makam beliau masih ada dan dikeramatkan. Makam Raden Anggoleo atau biasa disebut warga setempat sebagai Punden ditepi Bengawan Solo. Sedangkan Desa Bandungrejo sendiri adalah sebuah desa yang terletak di ujung selatan Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban. Jarak dari Plumpang ke Bandungfrejo sekitar 6 km. Desa Bandungrejo adalah desa yang asri karena sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Di Desa Bandungrejo sawah terhampar hijau karena disini terdapat beribu-ribu hektar sawah . Desa Bandungrejo berbatasan langsung dengan Sungai Bengawan Solo. Jumlah air sungai Bengawan Solo yang melimpah sepanjang tahun dimanfaatkan warga untuk irigasi atau biasa disebut warga setempat dengan sebutan “HIPPA” ( Himpunan Petani Pemakai Air ). Ini adalah anugerah yang yang sangat besar yang senantiasa disyukuri warga setempat. Salah satu wujud syukur atas hasil bumi Bandungrejo adalah dengan menggelar sedekah bumi. Warga setempat menyebutnya "Manganan". Uniknya, Manganan di Desa Bandungrejo tidak dipusatkan di makam desa seperti pada umumnya, namun di sebuah lokasi yang dikeramatkan dan terletak di pinggir Bengawan. Mereka menamainya “Nggoleo” karena memang kegiatan tersebut
dilaksanakan di sekitar makam Raden Anggoleo. Setahun sekali, warga menggelar “Manganan Nggoleo” di lokasi ini. Warga berbondong-bondong terutama ibu-ibu menuju Nggoleo dengan membawa berkatan yang biasanya ditaruh di bak atau tempat nasi yang biasa digunakan selamatan yang berisi nasi dan lauk pauk. Warga rame-rame jalan kaki bersama menuju lokasi. Kegiatan ini biasanya dipimpin oleh tokoh agama, acaranya warga bersama-sama membaca tahlil dan doa bersama. Setelahnya, warga akan menikmati makan bersama, kadang mereka juga saling tukar makanan ( icip-icipan). Kadang-kadang Manganan Nggoleo diakhiri dengan lempar makanan ke bengawan. Konon, lempar makan ke Bengawan adalah sesajen untuk dimakan buaya putih, sosok yang dianggap warga setempat sebagai penjaga air Bengawan. Menurut mereka acara tersebut agar air tetap melimpah untuk mengairi sawah yang menjadi mata pecaharian utama warga setempat. Disamping kegiatan Manganan warga setempat juga selalu memberi sesajen di tempat tersebut saat mereka punya hajatan, misalnya acara pernikahan dan sunatan. Kalau acara pernikahan warga yang punya hajat terutama pernikahan yang anak laki-laki asli Desa bandungrejo, mereka selalu menaruh kopyah yang mau menikah dimakam Raden anggoleo. Menurut Bapak haji Haryanto sebagai nara sumber kegiatan menaruh kopyah di tempat tersebut adalah syarat supaya acara yang mereka laksanakan berjalan dengan lancar dan pernikahanya langgeng sampai kakek nenek. Selain menaruh kopyah biasanya mereka membawa sesajen berupa nasi, lauk pauk biasanya berupa telur dll. Dan pada saat yang bersamaan, anak –anak desa selalu mengincar menu dari sesajen tersebut terutama anak laki-laki. Menurut pak Haji Haryanto pada saat dulu masa kecilnya, beliau dan teman-teman selalu mengincar menu sesajen tersebut dan sering berebut sama teman-teman untuk memakan sesajen tersebut. Para orang tua mengganggap sesajen tersebut dimakan oleh Raden Anggoleo. Manganan Nggoleo adalah bentuk kearifan lokal yang dilaksanakan turun temurun. Dibalik tradisi yang memiliki nilai keunikan, ada makna dibalik Manganan
Nggoleo, yakni wujud syukur kepada Tuhan melalui doa tahlil. Karenanya, Manganan Nggoleo adalah agenda tahunan yang mengawinkan religi dan tradisi. PROFIL PENULIS
Perkenalkan Nama Saya Lilis Purwari, S.Pd.SD selaku Guru SDN Bandungrejo Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban. Aku lahir di Tuban, 30 April 1983. Orang tuaku bernama Almarhum Bapak Kandim dan Ibu Hj. Susialsikin. Alhamdulillah aku diangkat PNS pada tahun 2008 di Dinas Pendidikan. Seiring perjalanan waktu, aku di pertemukan Allah dengan seorang Laki-laki yang sholeh yang mendampingiku dalam keadaan suka maupun duka. Beliau bernama Bapak Haryanto. Kami mempunyai tiga anak. Yang bernama M. Amrulloh Haryanto, Arfa Marefa haryanto dan M. Rizqy rohmatulloh Haryanto. M Amrulloh Haryanto sekarang sudah bekerja sebagai pilot di sebuah maskapai penerbangan di Jakarta, Arfa marefa Haryanto sekarang sudah duduk di bangku SMA tepatnya kelas 11 di SMA N I Tuban, sedangkan M. Rizqy Rohmatulloh Haryanto sekarang duduk di kelas 4 SDN Sembungrejo, tepatnya di desa kami sendiri. Semoga Allah memberikan kesehatan dan keberkahan hidup sehingga kami bisa mendampingi perjalanan hidup mereka semua hingga mereka beruntung dunia dan akhirat. Aamiin ya robbal alamin. Kami berdomisili di Dusun Banguran RT/RW 06/02 Desa sembungrejo Plumpang Tuban. Demikian biodataku semoga bermanfaat bagi pembaca tercinta. Terima kasih.
KEGIATAN DI MAKAM RADEN ANGGOLEO (MANGANAN NGGOLEO)
NARASUMBER H. HARYANTO ASAL USUL SEDEKAH BUMI SUMUR ETAN DAN SUMUR LOR DESA CANGKRING KECAMATAN PLUMPANG KABUPATEN Pada zaman dahulu Ketika itu ada 2 sosok manusia di tengah – tengah alas belukar, mereka berunding untuk membuka lahan baru untuk dijadikan sebuah
pemukiman adapun beliaunya adalah Mbah Buyut Santri dan Mbah buyut Ganti. Mbah buyut Santri adalah seseorang yang datang yang berasal dari jawa tengah yakni “Raden Santri” yang merupakan kerabat sunan muria. Mbah buyut Santri berkata : “ wahai sahabatku ganti, bagaimana kalau kita membuka lahan di sini?” Mbah buyut gantipun menjawab “ Baiklah sahabatku Santri, aku rasa tempat ini sangat cocok untuk membuka lahan baru, tempatnya tenang teduh, dan subur”. Akhirnya Mbah buyut Santri dan Mbah buyut ganti sepakat untuk membuka lahan baru ditengah-tengah alas tersebut. Lama-kelamaan lahan yang dibuka oleh Mbah buyut Santri dan Mbah buyut Ganti terdengar sampai keluar karena kesuburanya sehingga banyaklah penduduk luar desa yang pindah dilahan yang baru dibuka oleh Mbah Buyut Santri dan Mbah Buyut Ganti, akan tetapi dikarenakan penduduk asli tidak ada yang mengenal ilmu agama mereka berguru ilmu pada Mbah buyut Santri dan Mbah buyut Ganti sehingga penduduk terkelompokan menjadi dua. Meskipun mereka terbagi menjadi dua antara murid Mbah buyut santri dan Mbah buyut Ganti mereka hidup dengan rukun saling membantu, menolong dan bekerja sama. Suatu saat terjadilah musim kemarau yang sangat panjang sehingga menyebabakan kekeringan dilahan tersebut. Wargapun merasa cemas dan kawatir karena persediaan pangan mereka semakin hari semakin menipis. Seorang penduduk berkata
“ persediaan pangan kita semakin hari semakin menipis sedangkan lahan pertanian kita tidak bisa ditanami apapun, apa yang harus kita lakukan adakaah jalan keluar untuk kita?” Seorang penduduk lainpun menimpali “ bagaimana kalau kita pergi ke Mbah Buyut santri dan Mbah buyut ganti saja meminta petuah pada beliau berdua untuk mengatasi masalah kita ini”. Penduduk lainpun menimpali “ baiklah aku setuju usulan mu, bagaimana jika kita bagi tugas saja yang menjadi murid Mbah buyut santri datanglah ke Mbah buyut Santri untuk meminta petuah, karna aku murid Mbah buyut Ganti aku dan murid-murid Mbah buyut ganti akan mendatanginya untuk meminta petuah.” Akhirnya penduduk mendatangi Mbah buyut Santri dan Mbah buyut Ganti. Adapun tempat padepoka Mbah buyut Santri ada di selah utara dan padepokan Mbah buyut ganti ada di sebelah timur. Dari sisnilah muncul sebuah mukjizat dari kedua padepokan Mbah buyut Santri dan Mbah buyut Gantai keluarlah sumber mata air yang meluap. Kedua mata air yang meluap tersebut disambut dengan suka cita dan penuh rasa syukur oleh semua penduduk desa. Dan dilahan tersebut menjadi subur kembali tanpa harus kekurangan air baik dimusim kemarau yang panjang karna sumber mata air tersebut sudah di jadikan sumur oleh penduduk sumur yang terletak disebelah utara tempat padepokan Mbah buyut santri disebut sumur Lor. Adapun sumber air yang ada di padepokan Mbah buyut Ganti disebut penduduk sumur Etan. Hinga sampai saat ini untuk mensyukuri atas anugrah tersebut diperingati oleh warga sekirar dengan
sedekah bumi setiap tahunnya yaitu sedekah bumi sumur lor dan sedekah bumi di sumur Etan. Sumur Lor Sumur Etan
Profil penulis Nama : Siti alfi kunjanah, S.Pd Tempat kerja : SDN cangkring Kec. Plumpang-Tuban Alamat Kantor : Desa. Cangkring Kec. Plumpang-Tuban Narasumber : Mbah Cokro Embung Lencong Siang itu pada hari Kamis Pahing, Dusun Sumurgung sangat ramai. Ada Pak Salam nanggap langen tayub, karena punya hajat mantu anak mbarepnya. Tentu tetangga-tetangga juga sibuk jadi pelandang di sana. Gamelan terdengar bertalu-talu penuh wirama. Suara waranggana nan merdu membawakan tembang-tembang langen tayub permintaan para pengibing, sangat indah dinikmati. Ada pramugari yang bertugas mengatur jalannya tayub agar teratur dan tidak terjadi keributan. Maklumlah orang tempo dulu sangat haus kesenian. Langen tayub merupakan hiburan yang sangat ditunggu-tunggu oleh warga desa. Orang-orang dari manca desa juga datang. Ada yang datang karena diundang yang punya hajat, ada pula yang datang
sekadar ingin menyaksikan jalannya langen tayub dan bertemu dengan teman-temannya. Di Tengah semua orang sibuk dan menikmati langen tayub ada tiga orang anak Parmi, Parti, dan Parsih (bukan nama sebenarnya). Mereka tidak menyukai langen tayub. Mereka lebih suka bermain di tempat lain. Tanpa izin orangtua, mereka berangkat bermain menuju embung. Kira-kira mereka baru berusia 10, 8, dan 4 tahun. Mereka pergi mandi dan bermain air di embung, tanpa pengawasan orangtua. Di Tengah asyik bermain, Parti terpeleset dan tercebur di area embung yang dalam. Dua orang saudaranya tidak bisa menolong karena mereka tidak bisa berenang. Parmi sudah berteriak-teriak minta tolong. Namun, karena suasana sangat ramai tidak ada orang yang mendengar. Malang tak bisa ditolak, apalah daya tubuh kecil Parmi kalap di embung itu. Akhirnya para penduduk tahu kalau ada anak-anak yang hanyut di embung, setelah parmi tidak bernyawa. Apa daya semua sudah terjadi sebagai suratan takdir dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Mitosnya warga Dusun Sumurgung dilarang punya hajat besar di hari Kamis Pahing. Hal ini karena hari tersebut adalah hari keramat, hari manganan atau sedekah bumi di Dusun Sumurgung. Namun, dari peristiwa tersebut, orang tua melarang keras anak-anaknya bermain di area embung. “Le, Nduk ojo onok, sing cedhak embong yo, mundhak diuntal demit!” (Le, Nduk, jangan bermain di dekat embung ya, nanti bisa dimakan setan!” Dari himbauan tersebut kami anak-anak sangat patuh dan takut sekali bila berada di dekat embung. Ketika pergi ke sawah dan lewat saja ketakutan itu ada. Cepat-cepat kami menggandeng tangan ayah atau ibu. Memang anak-anak jika bermain, apalagi di air, di jalan, atau di tempat-tempat yang berbahaya harus didampingi oleh orang dewasa, agar jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan bisa cepat diambil tindakan.
Selain itu ada kisah mistis di Embung Lencong. Dulu tempat ini sangat jarang dilewati. Selain banyak Semak belukar, juga tumbuh rimbunan rumpun bambu yang menambah seram tempat ini. Ada cerita si mbah juga. Siang itu si mbah sedang membersihkan daun-daun bambu di area embung, untuk dibakar dan dibawa oleh mbah kakung ke sawah untuk pupuk. Ketika sedang menyapu si mbah melihat saudaranya yang melintas di tempat itu. Si mbah pun menyapa, “Mau ke mana Kang, siang-siang begini kok lewat sini?” ternyata yang ditanya tidak menyahut. Si mbah putri pun pulang setelah menyapu. Sesampai di rumah semua yang ketemu si mbah heran. “Lho Yu, cangkeme sampean kok petot ngonu kui kenapa?” (Lho Yu, mulutnya kok bengkok itu kenapa?) Si mbah pun memegang mulutnya ternyata benar, mulut si mbah jadi petot tanpa sebab. Sejak itu si mbah berpesan, ketemu apa pun ketika di embung jangan pernah ditanya. Ternyata saudara si mbah tidak lewat embung siang itu. Saudara si mbah tidur di rumah. Entahlah siapa yang melintas dan ditanya oleh si mbah. Hal ini yang menyebabkan mulut si mbah petot hingga akhir hayatnya. Ada juga kisah tentang embung yang saya dengar, ada penunggu ratu ular atau Nyi Blorong di sana. Jika orang nyepi di sana dan bermaksud mencari pesugihan bisa, katanya. Ini saya mendengar sendiri. Dini hari si kecil rewel terus. Dia tidak mau tidur dan menangis terus menerus. Akhirnya kami orang tuanya mengajak dia keluar kamar dan mengendongnya. Namun, dia terus rewel dan merengek. Di antara menenangkan si kecil itu, tiba-tiba kami mendengar ada tapak kaki kuda sedang melintas. Ketoplak-ketoplak bunyinya jelas kami dengar. Sontak kami kaget dan berusaha melihat dari jendela. Ternyata tak ada apa pun yang melintas. Tapi, suara itu jelas terdengar. Ketika adzan Subuh berkumandang, kami keluar rumah. Ada pak dhe yang sedang mengeluarkan sapinya dari kandang dan mengikatnya di halaman. Kami bertanya kepada Pak dhe apakah mendengar suara kereta yang barusan melintas? Pak dhe
menjawab tidak. Namun, beliau berkata, mungkin Nyai yang baru pulang. Entahlah kami tidak paham, namun jalan di depan rumah kami lurus menuju embung. Hanya Allah yang tahu. Kita tinggalkan cerita tentang hal menakutkan anak-anak, yang diceritakan oleh orang tua kami secara turun temurun itu. Kita beralih ke nama Embung Lencong. “Mbah, kenapa sih, embung itu di namakan Embung Lencong?” tanyaku pada si mbah kala itu. “Iya nduk,begini ceritanya!” si mbah mulai bercerita dan aku mendengarkan dengan saksama. Dahulu jika musim kemarau tiba penduduk kebingungan mencari sumber air. Untuk keperluan sehari-hari saja sangat susah. Apalagi harus memberi minum ternak: sapi, kuda, dan kambing. Wah, susah sekali. Penduduk Dusun Sumurgung harus membawa jun (buyung) bagi perempuan, dan kaleng (blek) cat 20kg yang dipikul untuk mendapatkan air. Itu saja harus rebutan. Ada yang tengah malam pergi ke sumur menimba air, karena takut ketika siang tidak ada air yang mereka dapatkan. Akhirnya para pamong desa berembuk. Mereka meminta penduduk yang tanahnya luas untuk didermakan. Namun, banyak yang tidak setuju. Akhirnya terjadi perdebatan dan tidak menemuan titik temu. Beberapa waktu berlalu, kekeringan sangat dirasakan oleh warga dusun. Mereka kebingungan, tak tahu meminta bantuan pada siapa. Akhirnya ada tetua dusun yang mengalah. Dia memberikan sebidang tanahnya untuk dibuat embung. Penduduk bekerja bakti menggali tanah tersebut untuk membuat embung. Di tengah suasana kerja bakti masih ada yang adu mulut. Kurang luas, kurang dalam, dan tidak mampu menampung air dalam jumlah banyak. Suasana panas, tidak ada yang mau mengalah. Semua minta embung yang luas. Tapi tanahnya siapa yang digunakan?
Para pamong juga bingung, hanya bantah-membantah dan nyaris ada perkelahian tentang pembuatan embung. Akhirnya pamong desa bisa meredakan kemarahan warganya. Warga dusun yang ada di tempat itu diminta membabat sebagaian rumpun bambu yang ada di sisi utara embung. Semua bekerja dengan giat dan berhari-hari bergantian per ER-TE. Alhamdulillah embung yang besar terbentuk. Namun, embung ini tidak bulat seperti embung yang lain, tetapi embung ini berbentuk huruf L dengan lencongnya di sebelah utara hasil pembabatan rumpun bambu. Oleh sebab itu masyarakat menamainya Embung Lencong. Masyarakat sangat senang dengan adanya embung. Ketika turun hujan semua air masuk ke embung. Jadi embung ketika kemarau dapat digunakan sebagai cadangan air. Selain itu jika hujan turun air tidak meluap ke mana-mana namun, ditampung di dalam embung. Jika pagi dan petang embung sangat ramai orang memandikan ternak, memberi minum, dan mengairi tanamannya. “Begitu cerita tentang embung yang sampai saat ini masih ada dan menjadi salah satu sumber kehidupan warga. Selain fungsi di atas embung juga dimanfaatkan penduduk untuk kolam ikan. Dari hasil ikan yang dipelihara bisa menjadi sumber protein penduduk dusun Sumurgung.” “Oh begitu ya mbah.” aku manggut-manggut tanda paham. Di balik kisah-kisah tentang Embung Lencong, sekarang tempat ini sudah tampil beda. Embung ini sudah ramai dan tidak ada rimbunan bambu. Semua sudah menjadi tanah pemukiman penduduk. Embung lencong masih ada, namun diproyeksikan untuk kolam ikan dan tempat wisata. Aroma mistis dan angker itu sudah tidak ada sekarang. Anak-anak dan orang dewasa banyak yang menggunakan area embung ini untuk berkumpul dan bermain bersama teman-temannya. Semoga kelak Embung Lencong yang melegenda di hati warga Dusun Sumurgung, Desa Sumurjalak, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban ini terwujud sebagai salah satu ikon wisata yang menjadi sumber kemakmuran warganya.
Dulu embung memang sangat bermanfaat. Di musim hujan mencegah banjir. Di musim kemarau digunakan warga untuk memandikan hewan ternak, minum hewan ternak dan menyiram tanaman seperti tembakau dan palawija. Maklumlah dulu belum ada sumur bor. Adanya sumur timba, itu pun akan mengering atau sat sumbernya, ketika musim kemarau. Masa dan zaman berubah silih berganti. Generasi pun berbeda, memang kita wajib percaya bahwa ada alam gaib yang diciptakan Allah untuk menghuni muka bumi ini. Namun, kepercayaan itu tidak boleh mengurangi rasa takwa kita kepada Allah SWT, Tuhan pencipta alam semesta dan segala isinya. Sudah kewajiban semua mahluk untuk selalu taat dan beribadah kepada Allah. Semoga kisah ini memberi manfaat dan pembelajaran berharga bagi semua. Semua hidup sesuai masa dan zamannya. Tugas kita menjaga alam agar tetap lestari dan bermanfaat bagi mahluk hidup. Sumurjalak, 16 September 2023
Gambar Embung Lencong saat ini Profil Penulis
Sriyatni, M.Pd., penulis adalah seorang guru SD yang bertugas di SDN Sumurjalak II, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Menulis merupakan hal yang paling menyenangkan dan membuat hati lapang tanpa beban. Penulis 8 buku solo dan puluhan buku antologi ini berharap dapat terus berkarya untuk mencetak generasi emas Indonesia. Ketua Ikatan Guru Penulis Kabupaten Tuban ini, ingin bermanfaat bagi sesama, dapat berbagi, dan menginspirasi. Penulis dapat dihubungi di email [email protected] atau wa 081332945680.
Penulisan cerita legenda dalam buku ini adalah bukti kecintaan para penulisnya terhadap warisan budaya leluhur yang kaya nilai-nilai kebijaksanaan. Mereka bertindak sebagai agen budaya dalam turut menjaga kontinuitas pengetahuan dari para pendahulu ke generasi penerus. Untuk Anda yang rindu menggali cerita legenda, buku ini wajib Anda miliki. (Dr. Much. Khoiri, M.Si, dosen Kajian Sastra/Budaya dan Creative Writing, sponsor literasi, editor/penulis buku dari Unesa Surabaya) Indonesia merupakan negara yang kaya akan cerita-cerita legenda yang memuat budaya dan kearifan lokal. Nilai-nilai luhur nenek moyang bangsa Indonesia ini termuat dalam folklor (cerita rakyat) dalam legenda yang belum digali secara maksimal. Cerita-cerita tersebut banyak tersebar pada masyarakat (informan) sebagai pewaris folklor yang ada di daerah. Oleh karena itu saya menyambut gembira dan dukungan kepada Ikatan Guru Penulis Tuban (IGPT) yang menggerakan memori kecerdasan guru-guru di Kabupaten Tuban. Para guru menggali cerita-cerita legenda yang tersebar di daerah, sebagai aset mulia keilmuan yang perlu ditularkembangan kepada generasi yang akan datang. Kumpulan cerita Legenda Tuban ini hadir sebagai sebagai salah satu usaha untuk menghayati keluhuran nilai yang diajarkan oleh generasi terdahulu, melalui kajian teks klasik cerita legenda yang tersebar di daerah. (Dr. H. Mustofa, M. Pd. Dosen Pascasarjana Unisda Lamongan) Buku ini adalah jendela magis ke dunia Jawa Timur, ditulis oleh para penggiat literasi berdedikasi. Mereka menghidupkan kembali legenda kuno dengan sentuhan modern yang memikat dan memesona pembaca dengan keindahan budaya dan kearifan lokal. Setiap halaman berisi imajinasi yang tinggi, dan menyimpan nilai-nilai luhur Jawa Timur. Karya ini adalah semangat hidup dalam melestarikan warisan luhur bangsa. Sebuah perjalanan tak terlupakan yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Widayanti Rose (Penulis Batman Teacher, Sumenep)
Buku ini adalah jendela ke dunia legenda budaya lokal yang tak ternilai. Penulis membawa kita dalam perjalanan ke dalam hutan cerita yang menyentuh jiwa, dalam pesona kisah-kisah yang telah bertahan lama. Ini adalah panggilan penulis kepada semua untuk menjelajahi, menghormati, dan mencintai kekayaan budaya lokal yang telah kita miliki. Para penulis buku ini membawa kita pada petualangan yang melewati lorong waktu, menuju dunia legenda budaya lokal yang kaya akan keajaiban dan kearifan. Dalam setiap halamannya, ia adalah pelukan hangat dari leluhur yang ingin berbicara pada generasi muda. Penulis mengundang kita untuk berlayar dalam lautan cerita yang tak pernah kering, untuk menemukan harta karun kebijaksanaan yang tak ternilai dalam akar budaya lokal. (Dr. Daswatia Astuty, M.Pd. Pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial Kemanusiaan. Penulis, Makassar) Kearifan lokal merupakan salah satu modal penting untuk menumbuhkan dan memperkuat karakter sebagai insan moderat. Karakter semacam ini penting mengingat perilaku ekstrim itu tidak baik. Cerita rakyat merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang bisa berkontribusi dalam konteks insan moderat. Realitas menunjukkan bahwa sebagian besar cerita rakyat masih dalam bentuk cerita lisan, belum dalam bentuk cerita tertulis. Upaya untuk menulis dan membukukan cerita rakyat merupakan upaya mulia dan penting. Tulisan membuat cerita rakyat menjadi lebih bertahan lama. Cerita tertulis juga membuat peluang persebarannya semakin luas. Pada titik inilah saya mengapresiasi upaya para guru dalam buku ini. Upaya semacam ini penting agar aneka kearifan lokal yang jumlahnya tidak terhitung juga bisa didokumentasikan. Buku ini telah memulainya. (Prof. Dr. Ngainun Naim., Guru Besar UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)
Menulis buku memang perlu semangat dan kerja keras, cerdas dan ikhlas. Semoga tulisan para guru di Plumpang ini dapat memberikan manfaat kepada kemajuan pendidikan di kecamatan Plumpang. Terus semangat berkarya membersamai analk bangsa. (Akhmad, M.Pd. M.M. Koordinator Pendidikan Kecamatan Plumpang) Cerita legenda adalah cerita lisan turun temurun dari para leluhur kita terdahulu. Plumpang mempunyai peninggalan-peninggalan penting dalam sejarah, sehingga penggalian cerita tentu dibutuhkan. Semoga cerita-cerita para guru Plumpang ini, dapat menjadi pemantik kegiatan literasi bagi para siswa. Terus berkarya dan penuh manfaat untuk kemajuan pendidikan di Plumpang. (Syaefiyudin, S. STP, M. AP. , Camat Plumpang)
Monumen Pengetahuan Ketubanan Warisan berharga untuk anak cucu tak lain adalah pengetahuan. Pengetahuan cerita-cerita legenda yang kita baca ini sebuah warisan berharga untuk generasi Tuban mendatang. Penghargaan yang luar biasa patut diberikan untuk para penulis Tuban. Mereka telah berhasil menggali ceruk-ceruk pengetahuan ketubanan. Kearifan lokal Tuban melalui cerita tutur di sekeliling kita, dalam buku ini merupakan monumen data kemanusiaan yang dapat mereferensi diri kita, untuk Tuban yang terus tumbuh dalam kebajikan. Terima kasih untuk semua yang terlibat dalam penulisan buku ini. Saya yakin karya para penulis Tuban ini, mampu menggerakkan spirit kemajuan Tuban ke depan atas motivasi cerita orang-orang baik Tuban masa dahulu. (Aditya Halindra Faridzky, S.E, Bupati Tuban) Bacaan Budi Pekerti Buku kumpulan cerita legenda Tuban yang ditulis para guru Tuban ini, sangat relevan sebagai bahan bacaan siswa Tuban. Semua cerita bersumber dari cerita-cerita tutur masyarakat Tuban yang memiliki nilai ketuhanan, moral, dan sosial. Selaku Kepala Dinas Pendidikan Tuban, saya mengucapkan terima kasih atas kreativitas para guru dalam penyediaan bahan bacaan siswanya. Karya para guru ini akan selalu dicatat oleh perjalanan zaman. Betapa Tuban memiliki banyak cerita. Cerita keluhuran budi pekerti manusianya. Inilah bagian perjuangan pendidikan kita: penanaman budi pekerti luhur melalui bahan bacaan kearifan lokal yang bersumber dari lingkungan siswa. Selamat guru Tuban. Terus berkarya. (Abdul Rakhmat,S.T, M.T, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban)