The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by SUHENDRO BUDI NURCAHYONO, 2023-11-01 20:29:58

LEGENDA PLUMPANG.docx

LEGENDA PLUMPANG.docx

M.Busro Al Kahfi, lahir di Tuban, 29 Maret 1998. Ia anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan suami istri bapak Anwar Bashori dan Zulaichah. Ia menikah dengan Resti Suliyanti pada tahun 2022 dan dikaruniai anak bernama Afnan Birru Al Kahfi. Saat ini penulis bertempat tinggal di Rt 02 Rw 03 dusun Jati Desa Jatimulyo Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban. Pendidikan dasar yang pernah ditempuh, TK Manba’ul Ulum dusun Morosemo desa Sumberagung pada tahun 2004. Kemudian melanjutkan pendidikan di SDN Sumberagung III dan lulus pada tahun 2010. Setelah tamat sekolah dasar, ia melanjutkan pendidikan di Pondok pesantren Sunan Drajat Paciran Lamongan, kurang lebih 6 tahun ia mengenyam bangku pendidikan dan mencari ilmu di sana. Masa MTS dan MA ia habiskan di pesantren itu. Tepatnya pada tahun 2012 ia lulus sebagai salah satu siswa MTS Sunan Drajat, dan lulus sebagai salah satu siswa MA Maarif 7 Sunan Drajat pada tahun 2015. Ketika duduk di bangku MA ia tercatat sebagai salah satu pengurus Osis bidang olahraga dan seni. Ketertarikan di dunia organisasi itulah yang membuatnya menyukai organisasi. Tercatat ada beberapa organisasi yang pernah ia ikuti diantaranya: IPNU, Posyandu Remaja, Pik Remaja, PMII, Lembaga Pers Mahasiswa, dll. Setelah lulus MA dan memutuskan untuk boyong dari pondok. Ia melanjutkan study di Sekolah Tinggi Makhdum Ibrahim (STITMA) pada tahun 2015. Dia mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Ia menjadi mahasiwa camlaude, dan dinyatakan lulus pada tahun 2019. Dalam karir di dunia pendidikan, penulis mengawali karirnya sebagai salah satu guru PAI di SDN Sumberagung I pada tahun 2017, dan menjadi ASN PPPK tahun 2022 di SDN Sumberagung III Legenda Gunung Kindrakila


Cerita rakyat ialah cerita yang berasal dari masyarakat dan berkembang dalam masyarakat pada masa lampau, yang disebarkan secara lisan dari mulut ke mulut secara terun temurun. Sebuah cerita rakyat dapat mengandung berbagai macam nilai yang dapat menjadi panduan hidup masyarakat dalam perilaku bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang akan mengarah pada pendidikan budi pekerti, sikap hidup, dan tata perilaku yang susila sehingga mampu membangun watak manusia yang luhur dan mulia (Santosa, 2010:141-142). Itulah mengapa, penting sebagai generasi berikutnya untuk terus melestarikan budaya yang ada di Indonesia melalui cerita rakyat ini. Terlepas dari itu, Kindrakila yang melegenda di daerah setempat. Berikut ini sekilas legenda Kindrakila yang dikenal dengan cerita legendanya yang hingga kini masih dipercaya oleh masyarakat setempat dan sekitarnya. Kindrakila, salah satu gunung yang memiliki ketinggian 782 di atas permukaan laut di kawasan Desa Sumberagung. Desa yang berada di Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Desa ini memiliki luas wilayah: 1.310 ha dan 450 ha berupa hutan. Desa Sumberagung dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga yaitu di sebelah utara berbatasan dengan Desa Gesing, di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Ngayung, di sisi sebelah barat berbatasan dengan Desa Ngino, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Magersari. Pemandangan alamnya masih sangat asri nan memesona karena belum tersentuh oleh tangan-tangan jahil manusia. Hamparan pohon hijau yang menjulang tinggi, dengan rerimbunan semak belukar di bawahnya seolah membuktikan keasriannya. Burung-burung beterbangan di sekitaran gunung, dan masih banyak kita jumpai kera liar yang hidup di alam bebas, cuaca di sekitar gunung sangat sejuk dan menyenagkan. Gunung Kindrakila Bentuk dari Gunung Kindrakila, mudah didaki oleh siapa saja dan memungkinkan orang yang belum pernah naik gunung sekalipun bisa mendaki untuk menikmati panorama


alamnya. Gunung tersebut sudah ada ratusan tahun lalu dengan kata lain terbentuk karena proses alam, namun demikian Gunung Kindrakila memiliki sejuta misteri dan mitos yang menyelimuti. Masyarakat Tuban, khususnya warga Desa Sumberagung telah meyakini bahwa Gunung Kindrakila memiliki banyak mitos yang jarang orang dari luar daerah mengetahuinya. Gunung Kindrakila terdapat destinasi yang belum termanfaatkan diantaranya ada Gua lawa, Gua Macan, Gua Pecah, Gua Jin, Gua Menik, Gua Barat, Sendang Bendha, Sendang Pancuran dan Jatipanji. Konon ceritanya Gua Lawa merupakan gua yang banyak kelelawarnya. Gua Macan yaitu gua yang ada macannya. Gua Pecah karena di tengah-tengah kondisi gua itu pecah terbelah menjadi dua sehingga berfungsi untuk menampung debit air saat curah hujan tinggi sehingga Dusun Sundulan Desa Sumberagung tidak pernah banjir. Goa Menik sendiri dulu ada orang bertapa untuk mengasingkan diri dari hiruk pikuk dunia yang bernama Menik. Goa Barat yaitu ketika memasuki gua tersebut ada terpaan angin yang kencang sehingga diberi nama Barat yang berasal dari bahasa jawa. Sedangkan Goa Jin dipercaya masyarakat sekitar banyak penunggunya dari alam lain, sehingga tidak ada yang berani mendekati Goa Jin tersebut kecuali dengan orang yang lebih paham dengan makhluk astral. Tempat tersebut pernah dipakai salah satu stasiun TV dalam acara UKA UKA dari bandung Jawa Barat untuk menelisik kisah misteri dan keangkeran dari Gunung Kindrakila. Sendang Bendha ini berada di bawah Gunung Kindrakila, dinamakan Bendha karena banyak pohon bendha. Sedangkan Sendang Pancuran dikisahkan terjadi karena cakar dari Semar, Garing, Petruk dan Bagong letaknya juga sama berada di bawah kaki Gunung Kindrakila. Sendang Pancuran Selain goa dan sendang, ada tempat pertapaan yang diberi nama Jatipanji. Kisah nama dari Jatipanji berawal dari Kerajaan Mataram. Konon dikisahkan ada seorang rakyat biasa yang ditokohkan pada masa itu oleh Raja Mataram. Ternyata orang yang ditokohkan


tersebut merupakan orang yang memiliki banyak kelebihan di antaranya dipandang dari kesaktiannya. Karena di masa itu terjadi peperangan antara Kerajaan Mataram dan Belanda, akhirnya orang yang ditokohkan tersebut pergi dari Kerajaan Mataram. Beliau lebih memilih untuk mengasingkan diri agar terhindar dari urusan dunia. Tokoh itu mencari ketenangan dengan melakukan pertapa di hutan belantara tepat di atas Gunung Kindrakila. Pohon Jatipanji yang digunakan untuk bertapa tersebut berukuran sangat besar berdiameter + 1--1,5 daripada pohon jati lainnya. Warna ketiga pohon keramat itu pun berbeda pula dengan pohon jati lainnya, warnanya lebih terlihat cerah dari warna jati pada umumnya, bentuknya pun demikian teksturnya membentuk serat yang lebih besar. Pohon Jatipanji sudah hidup ratusan tahun, pohon jatinya memiliki wujud berbeda dengan pohon-pohon yang lain. Hal ini seolah-olah menunjukkan bahwa pohon tersebut memiliki nilai histori tersendiri. Tapi sayang dari ketiga pohon tadi ada salah satu pohon yang roboh termakan usia. Letak dari jati panji hampir dikelilingi batu cadas sangat besar dan rerimbunan akar yang menjalar di antara semak belukar sehingga terkesan nuansa mistisnya. Gambar Jati Panji Berdasarkan uraian dari kisah-kisah yang ada di Gunung Kindrakila ternyata Indonesia terkenal dengan deretan pegunungannya yang magis, dan eksotis justru hal tersebut yang menjadi salah satu daya tarik utama bagi para pendaki dan petualang untuk menemukan kebenaran dari cerita legenda dan mistis tersebut. Nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat dalam legenda Gunung Kindrakila diantaranya: Kita harus bisa menjaga kelestarian alam untuk kelanjutan hidup bagi anak cucu kita. Dengan cara bisa memanfaatkan kearifan lokal yang ada sehingga tetap bisa menjaga nilai-nilai moral, nilai religius dari kepercayaan masyarakat sesuai dengan kehidupan sehari-hari.


Uraian dari kisah yang sudah disampaikan tentang legenda Gunung Kindrakila berkaitan dengan hal-hal sejarah dan mistis. Selain itu, berkaitan juga dengan berbagai mitos yang ada tentang Gunung Kindrakila. Setelah membaca cerita rakyat ini saya berharap semoga generasi pemuda yang menjadi penerus bangsa dapat memahami dan mengetahui keberadan dari Gunung Kindrakila sehingga bisa menjaga dan melestarikan Gunung Kindrakila. Daftar Pustaka


Santosa, Puji. 2010. “Wedhatama, Wirawiyata, dan Tripama: Ekspresi Ilmu Keutamaan Seorang Raja Jawa: dalam Abdul Hadi (Editor). Kakawin dan Hikayat: Refleksi Sastra Nusantara. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Narasumber: 1. Wawancara dengan Minto perangkat desa tanggal 4 September 2023 2. Wawancara dengan tokoh masyarakat Mudzakir tanggal 6 September 2023 Profil Penulis


Penulis bernama Hj. Nuryati, S.Pd. Tempat lahir di Tuban, 5 April 1979. Ia alumnus Unisda Lamongan jurusan Bahasa Indonesia. Sekarang menjadi PNS Pendidik di SMP Negeri 1 Plumpang, Tuban. Selain mengajar juga menjadi wanita pengusaha dalam bidang jasa penggilingan padi. Penulis pernah mencoba menulis puisi solo dengan judul Antologi Puisi ”Bias Cahaya Hati”, membuat Antologi 40 Cerita Pendek Karya Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri Kabupaten Tuban “Jejak Bulan” dengan judul “Rahasia Besar di Balik Jendela”, dan membuat artikel di Masa Pandemi dengan judul “Kembali Tersenyum dengan Pembelajaran Tatap Muka” yang dimuat dalam buku karya bersama “Torehan Cerita”. Dia juga menulis Kumpulan Kearifan Lokal Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban solo dengan judul “Tradisi Tumpeng Seribu Dumbek”, membuat tulisan kisah inspiratif Karya WIN (Wong Indonesia Nulis) dengan judul “Gadget menjadi Pilihan menghibur anak”, membuat tulisan mengisi waktu libur dengan judul “Memenuhi Undangan-Mu, Ya Allah” yang dimuat dalam buku karya bersama “Nuansa Liburan”, membuat Antologi pengalaman cinta pertama dengan judul “Cinta Pertamaku, Tambatan Hatiku” yang dimuat dalam buku karya bersama “First Love”, Melakukan sesuatu yang positif jauh lebih baik daripada diam berpangku tangan. Adapun untuk hasil Bismillah saja. Sebuah moto yang luar biasa. Jejak Petilasan Watu Rongko


Gambar watu Rangka Al kisah tersebutlah sebuah daerah bernama Watu Rongko. Sebutan itu ditujukan untuk sebuah batu yang cukup besar dan bentuknya seperti rangka (tempat menyimpan keris). Batu ini diyakini masyarakat setempat sebagai warisan leluhur pada masa Kerajaan Pajang. Kerajaan ini merupakan kerajaan yang sangat besar di Pulau Jawa. Mengingat kebesaran dan kemakmuran itulah Sultan Panjang masih berusaha mempertahankan eksistensinya sebagai kerajaan kuat dan hebat. Terlepas dari semua kemasyhuran Kerajaan Pajang ternyata ada masalah besar yang mengganjal yaitu keberadaan Kerajaan Mataram. Akhirnya Sultan Pajang memerintahkan para bupati daerah perbatasan untuk berkumpul dab bersiap melakukan peperangan dengan Mataram. Bupati tersebut antara lain menantu Sultan Panjang yakni, Adipati Demak, Adipati Tuban, Adipati Banten, dan putra Pangeran Bemowo. Konon berita tentang persiapan perang terdengar oleh Raja Mataram yakni Panembahan Senopati. Senopati merasa takut dan gentar karena kekuatan Kerajaan Pajang sangat luar biasa. Senopati langsung menyusun strategi dengan meminta bantuan Nyi Roro Kidul penguasa Pantai Selatan dan Kyai Juru Mataram minta tolong Dewa Penjaga Gunung Merapi. Singkat cerita Panembahan Senopati berhasil memukul mundur pasukan Sultan Pajang dengan strategi yang hebat. Sultan Pajang dan pasukannya banyak yang tewas dan kocar-kacir menyelamatkan diri. Hal ini terjadi karena kekutan gaib konon memerintahkan penguasa Merapi untuk membuat gunung itu mendadak meletus dan memuntahkan lahar kemana-mana. Namun, masih untung semua keluarga kerajaan masih terselamatkan. Konon waktu itu timbul pemberontakan besar di Pajang melawan kekuasaan Sultan Agung. Pemberontakan tersebut dibantu sekelompok masyarakat yang tidak puas


terhadap Mataram. Kerajaan Pajang selalu ditindas Kerajaan Mataram. Lama-kelamaan Kerajaan Pajang lemah dan berantakan sehingga raja terakhir dari Pajang melarikan diri ke Giri dan Surabaya. Kisah pelarian para bangsawan Kerajaan Pajang yang tersebar dan tercerai berai akibat kalah perang melawan Kerajaan Mataram sungguh sangat berat dan menyedihkan. Daerah bukit terjal, tandus, hutan belantara, dan berbagai hewan buas tak menjadi halangan. Semua harus bergerak menjauh dari jangkauan Kerajaan Mataram. Semua berusaha mencari wilayah baru untuk melanjutkan kehidupan. Tak ada kata lelah dalam mencari sumbu kehidupan. Apa pun risiko selalu diterjang demi kehidupan baru dan anak cucunya nanti. Akhirnya rombongan keluarga kerajaan memutuskan untuk beristirahat dan menetap di daerah yang cukup terjal dengan deretan pegunungan yang cukup menyeramkan ditambah lagi hutan dan rumput serta tanaman liar masih begitu lebat dan menakutkan. Meskipun daerah ini masih kering dan terjal keluarga bangsawan tetap memutuskan tinggal karena mereka berkeyakinan daerah ini kelak akan maju dan berkembang. Saat itu tiba-tiba mereka menemukan ada beberapa sumber mata air yang melimpah, sendang, dan rawa-rawa yang merupkan sumber air. Meskipun sulit dan terjal dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, daerah singgah ini mereka sebut dengan nama Rengel yang berarti daerah ngrengkel-ngrengkel atau ereng-ereng (tebing) dan angel (sulit). Betapa sulitnya kehidupan masyarakat waktu itu ditambah lagi kondisi geografis yang penuh bebatuan dan terjal. Saat dalam pelarian, masyarakat setempat mendengar kabar adanya keluarga bangsawan hebat yakni Pajang ingin tinggal di daerah bebatuan dan terjal. Masyarakat asli yang belum begitu pandai dan mengerti tentang cara mengolah tanah yang baik sangat senang dan berusaha sekuat tenaga membantu keluarga bangsawan tersebut serta melindunginya agar pelariannya aman dari kejaran pasukan musuh. Semua keluarga bangswan mengubah penampilan sebagaimana masyarakat petani biasa dan membaur saling membantu untuk mengubah dan membangun Desa Rengel menjadi lebih baik. Semenjak kehadiran keluarga bangswan, wilayah Rengel mulai menggeliat maju di bidang pertanian dan perdagangan. Lalu, masyarakat setempat diajari untuk mengolah tanaman yang baik dan memajukan dunia perdagangan. Di sela-sela usaha tersebut kemampuan spiritual saat itu mulai berkembang perlahan-lahan dan terus berkembang pesat. Setelah beberapa lama dirasa masyarakat setempat sudah mulai maju, keluarga bangsawan Pajang tetap harus melanjutkan perjalanan hidupnya untuk pergi ke tujuan semula yakni ke Giri dan Surabaya.


Betapa sedihnya masyarakat saat mengetahui bahwa keluarga bangsawan harus pergi lagi ke Giri dan Surabaya. Bahkan keluarga Adipati Tuban sudah memberi keleluasaan untuk tetap tinggal, akan tetapi keluarga bangsawan harus tetap melanjutkan perjalanan. Betapa berat hati dan dan perasaan para keluarga Bangsawan yang harus meninggalkan desa dengan masyarakat yang baik, ramah, suka menolong, religius, rajin bekerja, dan banyak kebaikan-kebaikan yang mereka rasakan. Lalu, keluarga bangsawan menancapkan rangka keris ke tanah sebagai tanda cinta kasih dan bersyukur mereka selama dalam pelarian telah mendapat kebahagiaan dan ketenangan hidup. Rangka keris itu sekarang dikenal masyarakat sebagai Watu Rongko. Hal ini melambangkan kekuatan dan kegigihan dalam berjuang serta keterikatan emosional warga sekitar dengan Kerajaan Pajang. Gambar Watu Rangka Narasumber: Ponco Bagyo (Guru dan Budayawan yang tinggal di Rengel)


Berbagai tulisan dari internet dengan perubahan dan penambahan sesuai alur cerita Profil Penulis Dendi Yulianto, S. Pd, pengajar SMPN 1 Plumpang yang beralamt di Jalan Raya Plumpang 27, Plumpang, Tuban. Bidang Keahlian yang dimiliki sebagai pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia. Alamat rumah Jalan Gayam 7 No. 4, Perumnas Tasikmadu. Palang Tuban. Pendidikan yang pernah ditempuh SDN Babat 1, SMPN 1 Babat, SMAN 1 Babat dan S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Negeri Surabaya. Riwayat Pekerjaan yang pernah ditempuh, SMPN 6 Tuban Tahun 1994-1998, SMAN 3 Tuban Tahun 1996-1998 dan SMPN 1 Plumpang Tahun 1998 - Sekarang. Babad Desa Ngrayung


Pada zaman dahulu masih banyak daerah berupa hutan belantara yang ditumbuhi semak belukar yang lebat tak terkecuali wilayah Plumpang. Saat itu wilayah Plumpang berada dalam daerah kekuasaan Kabupaten Tuban pada masa Pemerintahan Bupati Anom di tahun 1723 M – 1730 M. Ada salah satu hutan belantara yang mana banyak sekali ditumbuhi pohon Rayung, sehingga konon disebut alas Rayung. Pohon Rayung adalah sejenis tanaman yang hampir mirip dengan rumput gajah namun jika diberikan ke hewan ternak bisa menyebabkan keracunan pada hewan tersebut. Suatu Ketika datanglah seorang lelaki tua yang ingin melaksanakan babat alas rayung yang bernama mbah Moro yang datang dari daerah sebelah alas Rayung. “Sepertinya alas ini kalau dibabat bisa kumanfaatkan untuk ladang dan tempat tinggal, mungkin suatu saat akan banyak juga yang akan datang ke daerah ini”, kata mbah Moro. Singkat cerita Mbah Moro akhirnya tinggal di alas rayung dan membuat ladang untuk bercocok tanam. Setelah mbah moro cukup lama bertempat tinggal di alas rayung datang lagi seseorang yang ingin melaksanakan babat alas rayung yang bernama Surobonto yang akhirnya menjadikan tanah bekas babatannya menjadi tempat tinggal. Surobonto juga mengajak keluarganya untuk menetap di alas rayung hingga turun-temurun. Lambat laun banyak berdatangan orang untuk melaksanakan babat alas dan akhirnya bertempat tinggal di alas Rayung yang dulunya hanya hutan belantara sepi. Semakin lama alas Rayung semakin banyak yang berdatangan dengan tujuan babat hutan untuk ladang dan tempat tinggal Bersama dengan keluarganya sehingga semakin banyak lagi yang tinggal di alas tersebut. Akhirnya mereka berkeinginan untuk membuat daerah tersebut menjadi sebuah Desa yang bernama NGRAYUNG yang berasal dari kata NGERAH babat alas RAYUNG, Ngerah berarti memerintah, kata Rayung karena hutan tersebut banyak ditumbuhi pohon rayung. Di Desa Ngrayung ada salah satu tokoh yang sangat dihormati bisa dikatakan adalah sebagai sesepuh yang dikramatkan oleh penduduk setempat. Mereka menyebutnya Mbah Guru. Penduduk Desa Ngrayung mengaku jika mereka adalah keturunan anak cucu Mbah Guru. Berikut sedikit kisah tentang mbah Guru. Kisah Mbah Guru


Dikisahkan dahulu setelah cukup banyak penghuni di alas Rayung berdirilah sebuah padepokan yang mengajarkan ilmu kanoragan kepada murid-muridnya. Padepokan itu dipimpin oleh seseorang yang sakti dan bagus ilmu kanoragannya dan dianggap sesepuh di alas Rayung, semua muridnya sangat menghormatinya, hingga pada suatu hari datanglah seseorang Pengembara dari luar daerah tersebut karena suatu kesalahpahaman Pengembara tersebut berhadapan dengan beberapa murid padepokan tersebut. Konon kebiasaan buruk penduduk alas Rayung mereka gampang sekali tersulut emosi sehingga langsung menyerang dan mengeroyok pendatang baru yang tidak dikenal. “Wahai Kisanak, siapakah kau yang berani melewati daerah ini?” bentak salah satu murid di padepokan tersebut. “Aku hanya Pengembara yang kebetulan melewati daerah ini?” Jawab Pengembara “Lancang sekali kau kisanak, melewati daerah ini tanpa seijin kami”, bentak salah satu murid. Akhirnya mereka mengroyok Pengembara tersebut, namun sayangnya mereka kalah ilmu. Pengembara tersebut ternyata lebih tinggi ilmu kanoragannya sehingga mereka kalah walau menyerang dengan keroyokan. Salah satu murid melarikan diri untuk melapor kepada pimpinan padepokan di alas Rayung. “Kakang, tolong kami …, ada seseorang yang mengalahkan kami…”, murid itu berkata dengan nafas terengah-engah. “Kenapa bisa seperti ini, siapa yang melakukannya?”, Tanya pimpinan. “Ada Pengembara lewat daerah ini kakang, dan kami bertarung dengannya” Jawab murid. “Ayo kita susul teman-temanmu!”, perintah pimpinan.


Akhirnya mereka mendatangi tempat Pengembara itu bertarung. “Hei Kisanak, hentikan!” “Beraninya kau melukai murid-muriku” “mereka bukan lawanmu, akulah lawanmu!” pimpinan padepokan tersebut berteriak kepada Pengembara. Lalu Pengembara itu berhenti dan menjawab, “mereka yang menyerangku dulu, aku hanya membela diri”. “Hadapi aku, akulah guru mereka!”, teriak pimpinan padepokan. “sebenarnya aku tidak mau membuat keributan disini” Jawab Pengembara “Sudahlah, tak usah banyak bicara, aku juga ingin mencoba seberapa hebat ilmu kanoraganmu!” balas pimpinan padepokan. Akhirnya Pimpinan padepokan tersebut bertarung dengan Pengembara. Pertarungan mereka sangat sengit. Mereka sama-sama memiliki ilmu kanoragan yang tinggi. Hingga lama mereka bertarung akhirnya Pengembara bisa mengalahkan pimpinan padepokan itu. Pimpinan padepokan tersebut tersungkur oleh serangan Pengembara. Dengan nafas terengah-engah Pimpinan Padepokan tersebut berusaha bangkit dan setelah menenangkan diri dia bertanya kepada Pengembara tersebut, “Siapakah sebenarnya kau kisanak?” “llmu kanoraganmu sangat tinggi, bahkan kau bisa mengalahkanku “tambahnya. “Aku hanya seorang Pengembara yang kebetulan lewat daerah ini, namun murid-muridmu malah menyerangku dengan mengeroyok”, Jawab Pengembara. “Wahai Kisanak, ilmu kanoraganmu lebih tinggi dari ilmuku jika kau bersedia jadilah Guru di padepokan ini, untuk mengajar murid-murid disini sehingga ilmu yang mereka dapat akan lebih bagus lagi”, Kata guru. “Mengapa Kisanak langsung menawariku untuk menjadi guru padepokan ini, kita tak saling mengenal sebelumnya, aku hanya tak sengaja lewat daerah ini”, Jawab Pengembara. “Kau bisa mengalahkanku yang sudah dianggap mereka guru mereka, kau pantas menjadi guru padepokan ini kisanak”, “Jadilah Guru di padepokan ini, aku juga akan belajar ilmu kanoragan denganmu kisanak” tambah nya lagi.


“Baiklah Kisanak, Jika diperbolehkan aku akan menetap di daerah ini, dan aku juga bersedia menjadi Guru di padepokan ini. Pengembara tersebut akhirnya berdamai dengan Pimpinan Padepokan dan murid-muridnya dan bersedia untuk tinggal di situ untuk memimpin Padepokan itu. “Wahai kalian yang berada di padepokan ini, Kisanak ini adalah guru baru kalian, yang akan mengajarkan ilmu untuk kalian. Hormati dan Patuhlah kepadanya seperti kalian menghormatiku sebagai sesepuh disini, jika sebelumnya guru kalian adalah aku, maka sekarang pimpinan dan guru kalian adalah kisanak ini, dan panggillah beliau dengan sebutan Mbah Guru karena ilmunya sangatlah tinggi daripada aku”. Selanjutnya Mbah Guru menjadi seseorang yang sangat dihormati di daerah alas rayung, selain memiliki ilmu kanoragan yang mumpuni Mbah Guru juga dikenal memiliki pengetahuan yang luas sehingga seluruh penduduk yang ada di daerah tersebut sangat segan terhadapnya. Mereka mengakui kesaktian ilmunya hingga anak turunnya. Makam mbah Guru Makam Mbah guru masih ada sampai saat ini di desa Ngrayung dan dikramatkan oleh penduduk setempat. Setiap tahun di Desa Ngrayung diadakan kegiatan Sedekah Bumi di dekat Makam Mbah Guru. Penduduk setempat menyebutnya “Manganan Mbah Guru”. Kegiatan tersebut berisi Doa Bersama dilanjutkan dengan membagi-bagikan makanan yang disediakan oleh penduduk saat kegiatan dan makan Bersama. Biasanya saat Manganan Mbah Guru didatangkan hiburan khas Jawa yaitu Langen Tayub guna menghibur para pengunjung yang datang ke makam Mbah Gur Profil Penulis


Utivia Liontin, lahir di Tuban, 10 Agustus 1989. Menempuh Pendidikan di jurusan PGSD FKIP Universitas Terbuka Surabaya. Domisili di Desa Semanding – Tuban, Ibu dari dua orang putri. Saat ini aktif mengajar di SDN Ngrayung Kecamatan Plumpang. Bisa dihubungi di IG: utivialiontin5 FB: Utivia Liontin email: [email protected] Asal Usul Desa Kepohagung


Sumur Gede saat ini Kepohagung adalah nama desa yang merupakan bagian dari kecamatan Plumpang kabupaten Tuban, dengan letak wilayah dibatasi oleh desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Sumurjalak. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Kesamben. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Kedungrojo, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Cangkring. Jarak tempuh desa 10 menit ke ibu kota kecamatan adalah 5 km. Desa yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani ini cukup tenteram dan asri sebagai ciri khas budaya pedesaan. Penduduknya sangat rukun dan suka bergotong-royong. Kepohagung mempunyai wilayah yang cukup luas. Ada 3 pedukuhan di desa ini, yaitu Dusun Grebegan, Dusun Popoan, dan Dusun Penebusan. Jarak antara ketiga dusun tersebut saling berdekatan. Desa ini adalah berupa daratan sedang yaitu sekitar 56 m di atas permukaan air laut. Jumlah penduduk Desa Kepohagung adalah terdiri dari 1148 KK, dengan jumlah total 3.607 jiwa. Tingkat pendapatan rata-rata penduduk Desa Kepohagung bervariasi. Secara umum mata pencaharian warga masyarakat Desa Kepohagung dapat teridentifikasi ke dalam beberapa sektor yaitu pertanian, jasa/perdagangan, industri dan lain-lain. Mayoritas penduduk Desa Kepohagung hanya mampu menyelesaikan sekolah di jenjang pendidikan wajib belajar sembilan tahun (SD sampai SMA). Rendahnya kualitas tingkat pendidikan di Desa Kepohagung, tidak terlepas dari terbatasnya sarana dan prasarana pendidikan yang ada, di samping tentu masalah ekonomi dan pandangan hidup masyarakat. Sarana pendidikan di Desa Kepohagung baru tersedia di tingkat pendidikan dasar 6 tahun (SD), sementara untuk pendidikan tingkat pertama dan menengah ke atas berada di tempat lain yang relatif jauh. Berdasarkan versi cerita atau sejarah yang bersumber dari sesepuh desa. Sebelum menjadi Desa Kepohagung wilayah ini dibagi menjadi 2 kepemimpinan, yaitu Popoan, Grebegan, dan Penebusan. Di mana setiap wilayah memiliki cerita tersendiri. Konon


dinamakan Grebegan karena masyarakat di daerah tersebut setiap ada masalah selalu gemrebeg ramai tapi pada akhirnya tidak menemukan titik temunya atau solusi. Hanya ramai saja. Sehingga diberi nama Grebegan. Dinamakan Popoan karena di tempat tersebut banyak pohon kepoh yang besar dan menjulang tinggi. Sedangkan Penebusan konon katanya setiap ada tawanan atau sandera yang ingin lepas dari penyanderaan harus memberikan tebusan terlebih dahulu. Dari kejadian itu akhirnya oleh masyarakat dinamakan Dusun Penebusan. Sejak tahun 1952 desa ini sudah diberi nama Desa Kepohagung. Konon desa ini banyak terdapat pohon kepoh. Ada pohon kepoh yang besar dan menjulang tinggi. Di bawah pohon tersebut terdapat sumber mata air yang sangat besar yang mengalir hingga ke seluruh desa sehingga dimanfaatkan untuk pertanian. Pada saat itu dipimpin oleh seorang lurah yang bernama Singgo Astro Joyo Kamsiyo dengan masa jabatan seumur hidup. Beliau adalah kepala desa yang dermawan, sangat terpengaruh oleh gaya kehidupan masyarakat Kepohagung. Karena banyak terdapat pohon kepoh yang besar dan terdapat sumber mata air yang sangat besar, maka beliau memberi nama desa itu dengan nama Desa Kepohagung. Dahulu warga tetangga desa pun mengambil air di sumur tersebut. Di sumur itu juga diadakan sedekah bumi setiap tahun. Dulu setiap sedekah bumi di sumur itu pasti menyembelih seekor sapi. Tetapi saat ini sumur itu sudah kering karena kemajuan zaman membuat setiap orang mempunyai sumur di rumah masing-masing. Mereka yang dulu mengangkat air dengan jun atau kaleng sekarang sudah tidak ada lagi. Sumur itu sekarang sudah tidak digunakan. Tetapi sampai saat ini setiap sedekah bumi di sumur itu diadakan pertunjukan langen tayub. Sebagai bukti untuk melestarikan tradisi atau warisan leluhur . Dulu desa ini udaranya sangat sejuk, asri karena banyak pepohonan, apalagi sembari memandang hijaunya sawah yang sedang ditanami padi. Namun sekarang seiring perkembangan zaman kondisinya tidak seperti itu lagi. Udaranya kini tercemar karena sudah dibangun banyak pabrik khususnya di Dusun Penebusan. Salah satu pabrik terbesar yang berada di Dusun Penebusan adalah PT Pentawira Agraha Sakti. Genteng rumah warga terlihat putih karena butiran-butiran debu hasil penggilingan batu gamping. Udaranya di ambang batas yang disebabkan oleh pabrik kapur yang tidak memenuhi standar dan asap dari pabrik pembakaran batu gamping yang tidak ada cerobongnya. Ini tentu turut berdampak negatif pada kesehatan masyarakat Desa Kepohagung. Sedangkan Dusun Grebegan dan Popoan yang dikelilingi persawahan yang subur dan makmur, dengan ditanami pohon-pohon rindang di sepanjang jalan yang berada di tepi sawah membuat suasana menjadi asri dan menyejukkan mata saat melintasi. Masyarakatnya sebagian bermata pencaharian sebagai petani, tetapi di Dusun Grebegan


masyarakatnya banyak yang merantau ke luar kota. Mereka mengadu nasib di kota lain khususnya Surabaya dengan berdagang mie pangsit. Hampir sebagian besar masyarakat Dusun Grebegan bisa membuat mie pangsit. Yang terkenal namanya dengan pangsit Mie Ayam Jakarta. Alhamdulilah mereka banyak yang sukses dengan usaha tersebut. Di Desa Kepohagung pusat pemerintahannya berada di Dusun Popoan, Kantor kepala desa berada di jalan utama desa, tertata rapi dengan dihiasi berbagai tanaman. Pemerintah Desa Kepohagung mempunyai inovasi untuk mendongkrak perekonomian warga. Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan Wisata Embung Popoan atau WEP yang berlokasi di Dusun Popoan. Pemdes Kepohagung berkolaborasi dengan karang taruna setempat. WEP berawal dari embung irigasi pertanian yang dikembangkan menjadi wisata kolam pancing. Pengelola wisata juga menambah fasilitas berupa sepeda air bebek dan lokasi foto di tengah embung. Sehingga lokasi tersebut bisa dijadikan tempat rekreasi. Demikian sekilas cerita tentang Desa Kepohagung. Betapa besar kuasa Allah, semoga kita semua senantiasa mensyukuri nikmatnya. Apabila ada kekurangan dalam hal ini, kami mohon ma’af yang sebesar-besarnya. Mohon saran atau pendapat dalam penulisan untuk menambah wawasan yang ada di Desa Kepohagung, atas berkenannya kami ucapkan terima kasih. Profil Penulis


Titik Novia Dwi Kumalasari, S.Pd. Bertempat tinggal di Dusun Grebegan Desa Kepohagung. Seorang guru SD yang bertugas di SDN Sumurjalak I, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Tidak ada yang sia-sia dalam belajar karena ilmu akan bermanfaat pada waktunya. Belajar dan terus belajar untuk menjadi lebih baik. Kisah Syekh Sulaiman Penyebar Agama Islam di Desa Kesamben


Makam Syekh Sulaiman Pada zaman dahulu, ada sebuah desa yang banyak sekali ditumbuhi pohon kesambi. Karena itulah, orang-orang yang tinggal di sana menamakan desa tersebut “Kesamben“. Sebagai desa yang berada di tepi Bengawan Solo, Kesamben rawan banjir. Mereka bersama-sama membuat tanggul yang sangat tinggi untuk melindungi desanya dari banjir yang bisa menerjang setiap saat. Penduduk Desa Kesamben memang terkenal selalu hidup rukun dan saling gotong-royong. Pada saat itu, para penduduk Desa Kesamben masih menganut kepercayaan atau adat tradisional, hingga suatu hari, datanglah seorang pengelana dari jauh. Ia adalah seorang ulama terkenal pada masa Kerajaan Mataram dan berasal dari Desa Muntilan, Jawa Tengah. Beliau bernama Syekh Sulaiman atau biasa disebut juga Mbah Buyut Santri. Beliau merupakan salah satu tokoh penyebar agama Islam. Awal mula kedatangan Syekh Sulaiman di desa tersebut mendapat penolakan dari warga,bahkan mengusirnya dengan kata-kata kasar. Mereka tidak ingin ada orang asing datang ke desanya. Sebenarnya, mereka takut orang tersebut mempunyai niat jahat di desanya. Karena pada masa itu, banyak sekali perampok atau begal yang berkelana di desa-desa dengan berpura-pura menjadi tamu atau pedagang. Bahkan para perampok tersebut tak segan-segan membunuh korbannya. Untunglah ada seorang warga yang paling disegani atau dianggap tetua desa. Dia berhasil membujuk mereka. Orang itu biasa dipanggil Ki Cokriyo atau si Pandai Besi. Ki Cokriyo langsung berteriak. “Pantaskah sikap kalian seperti ini kepada orang yang baru datang ke desa kita? Bahkan kita belum menanyakan siapa beliau dan apa tujuannya datang ke sini, tapi kalian sudah bersikap tidak sopan. Curiga boleh tapi jangan asal nuduh, apalagi sikap kalian yang mengusirnya dengan kata-kata kasar seperti tadi.”


Ki Cokriyo menatap semua orang yang ada di tempat itu dengan penuh amarah. “Di mana letak tata krama yang selalu kalian banggakan?” tambahnya lagi. Para warga langsung diam sambil menundukkan semua wajahnya mendengar teriakan itu. Lalu Ki Cokriyo berjalan mendekati orang asing itu. “Wahai, Kisanak, kalau kami boleh tahu, siapa kamu dan darimana asalmu?” tanyanya sopan. “Namaku Syekh Sulaiman. Aku berasal dari Desa Muntilan, Jawa Tengah.” “Lalu apa tujuan Kisanak datang kemari?” tanya Ki Cokriyo lagi. “Aku hanyalah seorang pengembara dan selalu mengikuti ke mana kakiku melangkah, tanpa tahu arah tujuanku. Bagaimana aku bisa sampai ke sini, mungkin karena kita berjodoh, Tuan,” ungkapnya jujur. “Apa maksud Kisanak sebenarnya, aku tidak mengerti,” kata Ki Cokriyo bingung. “Kita bertemu di tempat ini berarti itu sudah menjadi ketentuan Allah, Tuan,” jawab Syekh Sulaiman. Ki Cokriyo termangu. “Aku benar-benar tidak mengerti dengan perkataanmu. Ah, sudahlah, sekarang Kisanak ikut saya mampir ke rumah untuk beristirahat. Sepertinya Kisanak sudah kelelahan setelah perjalanan jauh.” Mereka berdua berjalan menuju rumah Ki Cokriyo dan diikuti beberapa orang penduduk yang memang kebetulan rumahnya dekat dengan Ki Cokriyo. Sesampai di rumah, Ki Cokriyo langsung mempersilakan tamunya untuk membersihkan diri di belakang rumahnya. Bahkan beliau memberikan sepotong pakaiannya kepada tamu tersebut untuk dipakai ganti karena bajunya sudah kotor. Tak lama kemudian, Syeh Sulaiman sudah tampak bersih. Wajahnya memancarkan cahaya yang menunjukkan sosok seorang wali. Ki Cokriyo tertegun menatap tamunya itu. Beliau merasa orang yang berada di depannya bukanlah orang biasa. Lalu dia mengajak tamunya untuk duduk di ruang dalam sambil mempersilakan memakan hidangan yang sudah disiapkan istrinya. Syekh Sulaiman menikmati hidangan tersebut dengan sangat sopan, tentunya tak lupa beliau mengucapkan doa sebelum dan sesudah makan dengan mengangkat kedua tangannya sebagai ucapan syukur kepada Allah. Ki Cokriyo hanya bisa memandang tamunya dengan penuh kebingungan. Selesai makan, Syekh Sulaiman minta izin meminjam sebuah ruangan bersih untuk beribadah. Beliau melaksanakan salat. Ki Cokriyo dan istrinya yang tak pernah mengenal hal itu hanya diam seribu bahasa. Mereka memperhatikan semua yang dilakukan Syekh Sulaiman tanpa berani bertanya apapun. Setelah malam tiba, Ki Cokriyo mengajak tamunya berbincang-bincang di balai depan rumahnya. Para tetangga dekat pun tak ketinggalan ikut nimbrung. Rasa penasaran


mereka sangat besar untuk mengetahui latar belakang orang asing itu. Sambil ditemani singkong rebus dan minuman kopi mereka mulai mengobrol. Ki Cokriyo mulai membuka obrolan dan bertanya. “Kisanak, boleh aku memanggilmu dengan sebutan Syekh saja?” “Tentu saja boleh, Kisanak. O ya, aku ingin mengucapkan terima kasih atas segala kebaikanmu yang sudah memberikan aku makanan, pakaian bahkan memberikan izin menginap di rumahmu. Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan pahala yang berlimpah,” ujarnya dengan halus dan sopan. “Allah, Allah … aku dengar kau menyebutnya sudah dua kali. Siapa Allah itu dan kalau boleh aku tahu apa yang kamu lakukan tadi dengan meminta izin tempat untuk beribadah seperti yang kauucapkan tadi.” sahut Ki Cokriyo tampak penasaran sekali di wajahnya. “Allah itu Tuhanku, Tuhan semua makhluk di muka bumi ini. Termasuk aku, kau, dan kalian semua. Allah adalah Tuhan yang patut kita sembah, kita muliakan sebagai tempat untuk memohon petunjuk dan meminta pertolongan. Aku beribadah tadi adalah wujud dari caraku menyembah Allah. Dengan berdoa aku meminta kebaikan dan perlindungan dalam setiap langkahku menjalani kehidupan ini,” jelasnya dengan bahasa yang santun dan bijak. “Lantas apa yang Syekh lakukan tadi sebelum dan sesudah makan dengan mulut seperti komat-kamit mengucapkan sesuatu sambil menengadahkan kedua tangan? Apakah Syekh sedang berdoa juga?” tanyanya penuh semangat. “Ya, benar, memang tadi aku sedang berdoa sebagai ucapan syukur. Aku berterima kasih atas makanan yang diberikan Allah melalui perantara Kisanak,“ jawab Syekh Sulaiman tegas. “Sebenarnya aku bukan hanya pengembara saja, perjalananku dari satu tempat ke tempat lainnya adalah untuk menyebarkan ajaran Allah, mengajak semua orang untuk menyembah dan berdoa melalui agama Islam. Salah satunya tempat ini, desa kalian. Seperti yang aku katakan tadi siang, Tuan, bahwa kita bertemu karena berjodoh dan sudah menjadi ketentuan Allah. Jadi aku ingin mengajak kalian untuk mulai belajar mengenal agama Islam dan menjalankan ajaranNya,” imbuhnya lagi dengan keseriusan yang terpancar dari matanya. “Maaf, Syekh. Bukannya kami tidak percaya dan menolak agama yang kau katakan tadi. Tapi, kami semua belum yakin dan percaya apa omongan dan juga agamamu benar. Sedangkan kamu saja orang asing di desa kami,“ sahut salah satu tetangga yang ikut nimbrung di situ. “Ya, benar. Kami belum percaya padamu,” ucap mereka kompak penuh emosi “Sudah … sudah … cukup! Kalian ini bisa tidak bicara baik-baik?” tegas Ki Cokriyo menghentikan warganya yang tampak mulai risuh.


“Maaf, Syekh, kami bukan menolak ajaranmu tapi kami memberimu kesempatan dan waktu untuk menunjukkan dan membuktikan pada kami tentang kebenaran atas agama yang kamu ajarkan. Bagaimana, apa kamu bersedia?” kata Ki Cokriyo “Ya, insyaAllah akan aku tunjukkan kebenaran agamaku,” jawab Syekh Sulaiman penuh percaya diri. “Untuk itu aku dan warga di sini mengizinkan kamu tinggal di sini. Besok kami semua akan membantumu mendirikan sebuah rumah di sebelah kebunku,” ungkapnya lagi. “Ya, benar, kami setuju dengan usulmu, Ki,” sahut semua warga kompak. Keesokan harinya mereka bersama-sama mendirikan sebuah rumah sederhana untuk Syekh Sulaiman. Mulai sejak itu Syekh Sulaiman mengajarkan agama Islam kepada semua warga. Mereka mengenal Islam melalui sikap, kebiasaan dan perilaku Syekh Sulaiman dalam sehari-hari. Dengan berjalannya waktu dakwah Syekh Sulaiman pun dapat diterima dan hasilnya banyak masyarakat Kesamben yang mengikuti ajaran agama Islam. Para warga pun sangat menghormati beliau dan mereka menyebutnya dengan “Mbah Buyut Santri.” Alhamdulillah. Seiring berjalannya waktu Desa Kesamben makin sejahtera dan tentram. Namun pada suatu masa terdapat sebuah wabah atau dalam bahasa Jawa disebut dengan nama pagebluk atau penyakit. Wabah tersebut dirasakan warga seperti badan terasa panas pada siang hari dan malam harinya meningal dunia. Wabah tersebut semakin meluas dan menyebar dengan cepat. Sebagai seorang yang menjadi panutan Mbah Buyut Santri mengutus Ki Cokriyo untuk pergi ke Blitar guna mencari tumbal untuk mengatasi wabah tersebut. Sepulang dari Blitar Ki Cokriyo membawa dua tumbal atau pusaka. Pusaka tersebut bernama Treppan dan Watusoko. Treppan berasal dari dua kosa kata yaitu trep yang berarti mancep dalam istilah Indonesia tertanam, dan yang kedua berasal dari kata pan yang berarti mapan. Makna dari kata tersebut bertujuan siapa pun yang menghuni wilayah Desa Kesamben akan hidup mapan sejahtera lahir maupun batin. Sedangkan pusaka kedua yaitu Watusoko juga berasal dari dua kosa kata watu dan soko. Watu berarti batu dan soko berarti cagak/ tiang. Makna tersirat dari kata tersebut adalah batu tersebut menjadi tiang penghadang agar banjir lahar tidak dapat masuk lagi ke Desa Kesamben. Kedua pusaka itu ditanam di dua tempat yang berbeda. Treppan ditanam di tengah-tengah desa. Sedangkan Watusoko ditanam di pinggir desa. Ajaib. Wabah atau pagebluk itupun hilang. Sampai saat ini peninggalan Mbah Buyut Santri yaitu Treppan dan Watusoko masih bisa dilihat di Desa Kesamben. Kedua pusaka tersebut kondisinya masih sama dari dulu hingga sekarang. Masyarakat sekitar pun tetap menjaga peninggalan tersebut dengan baik.


Treppan tampak dari depan bagian depan Watusoko Begitu pula dengan makam Syekh Sulaiman atau Mbah Buyut Santri pun selalu dirawat oleh penduduk sekitar. Bahkan biasanya ramai didatangi peziarah dari luar desa terutama kalau malam Jumat. Salah satu karomah yang masih dirasakan masyarakat sekitar yaitu jika mereka punya nazar akan mudah dikabulkan. Jika apa yang menjadi hajatnya terkabul maka mereka akan memanggang ayam atau menyembelih kambing. Untuk mengenang jasa dan perjuangan Mbah Buyut Santri di Desa Kesamben, penduduk selalu mengadakan kegiatan haul. Biasanya haul ini dilakukan pada bulan Sela hari Senin Pahing sembari diadakan pertunjukan wayang kulit serta tahlilan.


Profil Penulis Sussyana Dwi Kristanty,S.Pd., lahir di Tuban pada 5 Oktober 1980. Penulis berprofesi sebagai pendidik di SD Negeri Kesamben I Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban mulai tahun 2012. Berawal dari hobinya yang suka baca puisi dan buku-buku cerita, penulis mulai memberanikan diri untuk belajar menulis. Meskipun belum bisa membuat buku solo, tapi sudah memiliki buku antologi puisi ,cerpen dan pantun bersama guru penulis lainnya. Ketika manusia tak ingin meninggalkan jejak setiap langkahnya dalam menjalani pahit manisnya kehidupan ini, maka goresan tinta hitam pada lembaran-lembaran kertas adalah pilihan yang paling tepat. Segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita dan sekitarnya adalah sumber inspirasi terbaik untuk menciptakan karya-karya tulis yang berpotensi. Belajar dan Mencoba adalah prinsip utama penulis yang selalu dilakukan. Penulis dapat dihubungi di


Legenda Desa Kedungsoko, Sir-Siran Kedungsoko adalah sebuah desa yang terletak di wilayah selatan Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban. Desa yang terletak di dekat sungai Bengawan Solo ini, memiliki kekayaan alam yang melimpah hingga dalam satu tahun bisa panen raya hingga tiga kali. Secara geografis Desa Kedungsoko berdampingan dengan Desa Klotok di sebelah barat, Desa Patihan Kecamatan Widang di sebelah timur, di sebelah selatan Desa Kebomlati, dan di sebelah utara berdampingan dengan Dusun Kuwu Desa Penidon. Desa yang mayoritas penduduknya bermata pencahariaan sebagai petani ini, memiliki tiga dusun yaitu Dusun Sisir, Kedung, dan Bandungrowo. Pemerintahan Desa Kedungsoko yang berpusat di Dusun Sisir bukan tanpa sebab. Ada hal yang melatarbelakanginya. Dahulu kala sebelum nama Desa Kedungsoko terbentuk, desa ini bernama “Sir-siran” atau dalam Bahasa Indonesia disebut jatuh cinta. Menurut cerita narasumber, isitilah “Sir-siran” berawal dari kisah cinta seorang wanita yang berasal dari Sisir dan seorang pria yang berasal dari Dusun Lerep Patihan. Karena kecantikannya wanita ini dijuluki sebagai bunga desa. Tak heran jika pria Lerep tersebut jatuh cinta dengan wanita Sisir ini. Banyak pria yang menaruh hati, akan tetapi wanita ini memilih pria Lerep tersebut. Alangkah bahagianya pria Lerep tersebut, cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Hingga suatu hari mereka memutuskan untuk bertemu di suatu tempat.


Gambar Sumur Gede Sumur “gedhe” atau sumur sawah (tempat pertemuan yang disepakati untuk bertemu) Hari pertemuan pun telah tiba. Sang pria dengan bersemangat bersiap-siap untuk bertemu dengan pujaan hati. Ia pun tiba di sumur gedhe atau sumur sawah, tempat yang disepakati untuk bertemu. Detik demi detik, menit demi menit, pria tersebut setia menanti kedatangan wanita idamannya. Sementara di tempat lain, wanita Sisir tersebut bimbang dan berpikir apakah dia akan datang ke tempat itu atau tidak. Setelah lama berpikir, wanita itu memutuskan untuk tidak datang. Waktu telah berlalu, hari pun menjadi gelap, tetapi yang dinantikan tak kunjung datang. Pria tersebut pulang dengan penuh kekecewaan dan amarah di hatinya. Ia pun bersumpah dan meletupkan kata-kata amarah. “Hai, anak cucuku dan semua orang yang berasal dari Dusun Lerep. Jangansampai dari kalian ada yang menikah dengan orang Sisir. Jika tidak ingin marabahaya datang dalam kehidupan pernikahan kalian. Maka hindari pernikahan antara orang Lerep dan orang Sisir”. Ucapan pria ini diikuti dengan suara petir yang menggelegar. Tak disangka tiba-tiba pria tersebut berubah menjadi batu. Konon katanya batu tersebut hingga kini masih ada di Dusun Lerep. Tepatnya di sumur gedhe tempat yang mereka janjikan untuk bertemu. Keberadaan sumur tersebut juga masih dijaga dan digunakan warga sekitar sebagai sumber air minum. Sumpah pria Lerep itu, hingga saat ini masih diyakini oleh masyarakat Dusun Sisir dan Dusun Lerep. Tidak ada warga Sisir yang berani menikah dengan warga Dusun Lerep. Setelah kejadian tersebut, sesepuh menamai desa ini dengan nama SIR-SIRAN. Sesepuh


desa berpesan kepada warga setempat terutama kepada para pemuda dan pemudi bahwa jika punya janji harus ditepati karena janji adalah hutang. Seiring berjalannya waktu, karena kekayaan alam Desa Sir-siran yang melimpah banyak masyarakat yang berasal dari luar desa berbondong-bondong untuk mengais rejeki dan bersenang-senang di Desa Sir-siran. Wilayah desanya pun meluas. Nama Sir-siran diubah menjadi Sukorejo yang artinya bersuka ria. Sesuai dengan namanya, desa ini menjadi ramai dan banyak dikunjungi terutama di wilayah yang dekat dengan sungai Bengawan Solo. Di sana terdapat kedung atau blumbungan yang digunakan orang-orang untuk mandi atau berenang. Banyak pengunjung yang berasal dari dalam dan luar desa Sukorejo yang suka berenang di blumbungan tersebut. Suasananya yang sejuk, nyaman, dan air yang jernih membuat blumbungan itu semakin ramai dan semakin banyak pengunjungnya. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun sangat senang berkunjung ke blumbungan ini. Pagi, siang, dan sore pun tempat ini selalu ramai. Hal inilah yang menjadi alasan dan pertimbangan kepala desa pertama bapak Sapowan merubah nama Desa Sukorejo menjadi Desa Kedungsoko pada tahun 1950-an. Kedungsoko memiliki arti bersenang-senang di blumbungan. Profil Penulis ANA SAODAH ROZIK, S. Pd. Lahir di Tuban pada tanggal 19 Maret 1991. Penulis adalah seorang guru di SDN Kedungsoko I Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban Jawa Timur sejak tahun 2014 dan merupakan lulusan dari S1-PGSD UNIROW Tuban pada Tahun 2013. Saat ini, penulis menulis sebuah cerita tentang “Legenda Desa Kedungsoko, Sir-siran” sebagai pengetahuan tentang asal usul desa Kedungsoko berdasarkan cerita dari beberapa narasumber dan media elektronik yang berkaitan dengan cerita tersebut.


Petilasan Migit Desa Penidon berada di sebelah timur Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Desa Penidon terdiri dari tiga dusun, antara lain ; Dusun Penidon, Dusun Pakis, dan Dusun Kuwu. Di setiap dusun pastinya memiliki kisah dan cerita legenda yang berbeda-beda. Salah satunya adalah cerita tentang Petilasan Migit yang berada di Dusun Penidon. Lokasi Petilasan Migit tersebut berada dalam lingkungan sebuah masjid lama yang berukuran tidak terlalu besar. Nama “Migit” itulah yang membuat saya merasa penasaran, sehingga saya mencoba mencari tahu mengenai hal tersebut. Saya bertanya kepada seorang rekan guru yang kebetulan bertempat tinggal di sekitar Migit. Beliau bernama Ibu Sri Harwati,S.Pd (60 tahun). Namun, Ibu Sri memberikan saran kepada saya, agar menggali informasi yang lebih jelas tentang Petilasan Migit kepada Bapak Iswoyo (55 tahun), Bapak Iswoyo adalah seorang mantan guru di salah satu sekolah MI di Desa Penidon yang kebetulan sangat


peduli pada sejarah lokal, khususnya tentang cerita legenda di daerah Penidon dan sekitarnya. Narasumber: Bapak Iswoyo Menurut Bapak Iswoyo kata “Migit” sampai saat ini belum ada literaturnya yang dapat menjelaskan asal usul kata tersebut. Dalam KBBI pun belum ditemukan arti kata tersebut, akan tetapi dalam sastra Jawa Kuno, Migit berarti pasujudan atau tempat bersujud. Masih menurut beliau, kata “ Migit” itu sendiri terjadi dikarenakan salah pengucapan yang dilakukan oleh orang-orang tua terdahulu. Karena merasa kesulitan dalam mengucapkan kata masjid. Hal ini dipengaruhi oleh kepercayaan mereka sebelumnya, yaitu animisme dan dinamisme. Maka untuk menyebut nama masjid mereka menyebutnya dengan kata Migit atau semigit. Itulah mengapa petilasan yang berada di lokasi makam dekat Masjid lama tersebut dinamakan Petilasan Migit.


Gambar Masjid lama yang telah direnovasi Gambar makam Mbah Wongso dan keluarga Masih berdasarkan penuturan Bapak Iswoyo bahwa di dalam lokasi masjid tersebut terdapat tiga makam yang dikeramatkan oleh warga Dusun Penidon. Petilasan tersebut sekarang sudah mengalami perombakan atau renovasi dikarenakan kayu-kayunya yang sudah mulai lapuk. Makam atau petilasan tersebut merupakan tempat bersemayamnya jasad Mbah Wongso sekeluarga yaitu: 1. Mbah Syeikh Kyai Koharuddin bin Syeikh Abdullah As’ad (Mbah Wongso) 2. Mbah Kyai Raden Musa atau Kyai Musyafak (Putra menantu Mbah Syeikh Koharuddin) 3. Mbah Nyai Siti Pasinah binti Kyai Koharuddin (Putri Mbah Syeikh Koharrudin) Mbah Wongso sebenarnya memiliki nama asli Syeikh Kyai Koharuddin bin Syeikh Abdullah As’ad. Wongso menurut etimologi bahasa berarti keluarga, kerabat, trah (satu keturunan/ keluarga). Berdasarkan penuturan Bapak Iswoyo bahwa dahulu Syeikh Koharrudin bin Syeikh Abdullah As’ad (Mbah Wongso) merupakan sesepuh penyebar agama Islam atau aulia di Dusun Penidon. Beliau sangat disegani oleh warga desa karena selain beliau seorang aulia, ternyata beliau juga merupakan laskar dari Pangeran Diponegoro. Saat terjadi Perang Diponegoro pada tahun 1825 hingga 1830 dan akhirnya Pangeran Diponegara ditangkap dan diasingkan oleh kompeni Belanda maka lascar-laskarnya melarikan diri ke berbagai daerah. Salah satu dari laskar tersebut adalah Syeikh Koharrudin bin Syeikh Abdullah As’ad yang melarikan diri ke Dusun Penidon yang kemudian berganti nama Mbah Wongso, agar tidak dikenali oleh kompeni Belanda. Setelah beliau berganti nama menjadi Mbah Wongso, beliau mengubur seluruh senjata yang dimilikinya, seperti keris, tombak, dan pedang. Senjata-senjata tersebut dikubur dalam suatu cungkup tersendiri yang ukuran bangunannya lebih kecil.


Tempat penyimpanan senjata Maka dari itu di dalam petilasan tersebut masih ada satu makam kecil yang diyakini sebagai tempat menyimpan senjata milik Mbah Wongso ketika beliau masih menjadi laskar Pangeran Diponegoro. Mbah Wongso dalam menyebarkan agama Islam di Dusun Penidon dibantu oleh Mbah Kyai Raden Musa atau Kyai Musyafak (putra menantu Mbah Syeikh Koharuddin) dan Mbah Nyai Siti Pasinah binti Kyai Koharuddin (putri Mbah Syeikh Koharrudin). Dalam berdakwah beliau menggunakan strategi damai, sehingga masyarakat yang di kala itu masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme secara suka rela masuk agama Islam. Menurut cerita yang berkembang sampai saat ini, Petilasan Migit masih digunakan sebagai tempat berdoa bagi warga setempat yang akan pergi merantau atau membuka usaha. Tujuan mereka datang ke tempat tersebut untuk meminta doa dan restu supaya dimudahkan dalam usahanya. Bagi warga yang sudah berhasil di perantauan maupun yang sukses dalam usahanya, mereka akan dengan senang hati memberikan sumbangan berupa uang yang dikumpulkan dan akan dikelola oleh pengelola untuk kegiatan renovasi Petilasan Migit dan juga pelaksanaan acara sedekah bumi yang dilaksanakan di situ. Sedekah bumi ini diadakan di Petilasan Migit bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah swt karena cita-cita dan usahanya membuahkan hasil. Sejak dahulu sampai sekarang acara sedekah bumi di lokasi Petilasan Migit ini diisi dengan pertunjukan


tayub. Konon, menurut cerita Mbah Wongso sangat menyukai pertunjukan tayub. Hal ini dikaitkan dengan cara beliau dalam mengenalkan agama Islam dengan menggunakan kesenian tayub sebagai medianya. Namun sekarang zaman telah berubah. Sedekah bumi tidak hanya pertunjukan tayub, tetapi dikombinasikan dengan acara keagamaan yaitu pengajian. Walaupun begitu warga Desa Penidon khususnya maupun warga luar desa sangat antusias untuk menyaksikan acara sedekah bumi yang dilaksanakan di lokasi Petilasan Migit. Demikian sepenggal kisah tentang Petilasan Migit yang berada di Dusun Penidon Desa Penidon Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban. Dari kisah ini ada hikmah yang dapat kita petik yaitu menjaga peninggalan bersejarah dan melestarikan tradisi leluhur merupakan tugas generasi muda, dan kita patut bersyukur dengan keaneka ragaman budaya dan tradisi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Profil Penulis Penulis bernama lengkap Suharlin, S.Pd.SD, tempat lahir Tuban, 27 Desember 1973. Saat ini mengajar di SDN Penidon III Kecamatan Plumpang dan mengajar di kelas tiga.


Babad Dusun Sepatgaleh Desa Sembungrejo


Gapura Masuk Sepat Nggaleh Kisah ini telah menjadi sebuah cerita yang tersebar secara turun-temurun di kalangan warga Dusun Sepatgaleh yang terletak di pinggiran Sungai Bengawan Solo. Lebih tepatnya berada di sebelah timur Sungai Bengawan Solo yang dibatasi oleh tanggul tinggi yang sering disebut "Embong" oleh masyarakat setempat. Secara administratif, Dusun Sepatgaleh Desa Sembungrejo terletak di wilayah Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban Provinsi Jawa Timur dengan posisi dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah barat Dusun Sepatgaleh berbatasan dengan Desa Kedungrojo, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Plandirejo, sebelah timur berbatasan dengan Desa Bandungrejo, dan sebelah utara berbatasan dengan Desa Cangkring. Sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah bercocok tanam atau bertani. Berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat, desa ini pada masa penjajahan pernah dipimpin oleh seorang tokoh yaitu Bapak Niti Sumito. Beliau terpilih sebagai pimpinan desa yang pertama dan menjabat mulai tahun 1900-1944. Pada saat itu, kondisi desa dan penduduknya masih sangat memprihatinkan. Masyarakat hidup dalam penderitaan, kemiskinan dan jauh dari berkecukupan. Banyak penduduk yang menderita kelaparan dan jatuh sakit pada saat kepemimpinan Bapak Niti Semito. Pada tahun 1945, beliau meninggal dunia dan kepemimpinannya digantikan oleh Bapak Kusno yang menjabat pada tahun 1945-1954. Setelah masa kepemimpinan Bapak Kusno berakhir, penggantinya adalah Bapak Cokro Mujayin. Pada masa kepemimpinan Bapak Cokro Mujayin, kesejahteraan warga Desa Sembungrejo mulai ada peningkatan. Pembangunan pun mulai bergeliat, terutama dalam bidang pertanian, jalan desa, tempat ibadah, balai desa, dan gedung sekolah. Masa kepemimpinan beliau pun terhitung paling lama. Setelah masa kepemimpinan beliau berakhir, kepemimpinan desa dijabat oleh Bapak Harnoko. Beliau menjabat sebagai kepala desa selama 2 periode hingga akhirnya digantikan oleh Ibu Endang Sri Wahyuni. Kepemimpinan beliau selama 1 periode atau 8 tahun dan digantikan oleh Ibu Nunung Susanti. Pada masa kepemimpinan Ibu Nunung Susanti kesejahteraan warga Desa Sembungrejo banyak mengalami peningkatan. Antara lain dalam bidang pertanian, peternakan, perkebunan, dan juga pendidikan. Ekonomi kreatif pun mulai berkembang. Dengan memanfaatkan batang pisang yang sudah ditebang dan dikeringkan, sebagian warga membuat berbagai kerajinan sehingga bisa bernilai ekonomis. Hal ini tentu saja bisa meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan warga masyarakat.


Menurut penuturan dari seorang tokoh masyarakat, Desa Sembungrejo dahulu hanya ada satu dukuh saja yakni Bangoran. Adapun asal mula Dusun Sepatgaleh adalah bermula dari warga Dusun Ngeblek yang dulu bertempat tinggal di sebelah selatan Dusun Sepatrojo di seberang Bengawan Solo. Menurut cerita yang beredar, pada saat itu banyak warga Dukuh Ngeblek yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara mencuri, merampok, dan sejenisnya. Hal tersebut dilakukan karena pada saat itu mereka dalam kemiskinan, kelaparan, dan susah untuk mencari pekerjaan yang halal. Warga sekitar Bengawan Solo, pada saat-saat tertentu mempunyai tradisi menggelar pertunjukan wayang kulit. Pertunjukan ini mengunakan alat-alat seperti gong, kenong, saron, siter, gender, dan gendang. Peralatan tersebut pada masa itu sangat disakralkan dan bernilai jual lumayan tinggi. Karena faktor kemiskinan itulah, warga Dukuh Ngeblek tergoda untuk mencuri benda-benda tersebut. Hingga akhirnya tersiar kabar bahwa salah satu dari alat musik tradisional yakni "Pemukul Gong" hilang dari tempatnya. Selang beberapa bulan setelah kejadian tersebut terjadi peristiwa banjir bandang yang sangat besar. Warga Ngeblek menjadi panik dan berlarian ke sana ke mari untuk mencari tempat perlindungan. Banyak perabot rumah mereka yang hanyut terbawa arus banjir bandang. Derasnya arus air memporak-porandakan Dukuh Ngeblek hingga menenggelamkan dukuh tersebut. Setelah Dukuh Ngeblek tenggelam, penduduk terpaksa mengungsi dan tinggal di tempat-tempat seadanya, seperti di area makam dan di bawah pepohonan besar. Kondisi yang memprihatikan tersebut membuat mereka meminta tolong kepada warga terdekat yakni warga Dukuh Sepatrojo. Namun permintaan mereka ditolak karena melihat latar belakang mereka yang merampok, mencuri dan membegal. Warga Sepatrojo pun menolak dan tidak mengizinkan mereka untuk tinggal sementara di dukuhnya. Setelah tidak berhasil meminta bantuan ke Dukuh Sepatrojo, mereka mencoba meminta pertolongan ke desa lainnya yakni Dukuh Bangoran. Pimpinan warga Dusun Ngeblek pun tidak putus asa, tetap berupaya agar warganya bisa tinggal layak seperti warga pada umumnya. Ia menemui Bapak Niti Semito dan berjanji jika warganya diterima di desanya maka akan mengubah semua kebiasaan buruk yang pernah dilakukan seperti mencuri, merampok, dan perbuatan sejenisnya. Akhirnya permintaan tersebut diterima oleh Bapak Niti Semito, sehingga warga Dukuh Ngeblek pun berbondong-bondong pindah ke perbatasan Dukuh Bangoran dan Sepatrojo. Semua data dan identitas mereka diubah menjadi Dukuh Sepatgaleh oleh Bapak Niti semito. Mengapa diberi nama Sepatgaleh? Dalam bahasa Jawa “Galeh” memiliki arti pindah sedangkan kata “Sepat” diambil dari


penggalan Dusun Sepatrojo. Semenjak itu, Dusun Bangoran dan Sepatgaleh secara administratif termasuk wilayah Desa Sembungrejo. Desa Sembungrejo dalam bahasa Jawa memiliki arti "Nyambung ben rejo’’ atau menyambung agar menjadi ramai. Sampai saat ini warga Dusun Sepatgaleh dan Dusun Bangoran hidup rukun saling berdampingan dan tolong menolong. Untuk masuk ke Desa Sembungrejo ada dua gapura yang menandai Dusun Sepatgaleh dan Dusun Bangoran namun ketika berada di depan kantor Desa Sembungrejo, jalan itu menyambung menjadi satu. Untuk tempat pemakaman warga Dusun Sepatgaleh berada di bumi Dusun Sepatrojo menjadi satu dengan warga Dusun Sepatrojo Desa Kedungrojo. Salah satu tradisi yang pernah dilakukan oleh warga Dusun Sepatgaleh adalah “Nyadran”. Nyadran atau sedekah bumi ini biasa dilakukan di beberapa tempat seperti di makam Dusun Sepatgaleh, di pohon beringin selatan gapura Dusun Sepatgaleh dan di tepi Sungai Bengawan Solo. Tradisi tersebut dilakukan pada saat-saat tertentu misalnya menjelang panen raya sebagai wujud syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Adapun nyadran di pohon beringin yang pernah dilakukan oleh warga Dusun Sepatgaleh, mereka berbondong-bondong menyiapkan padi yang sudah diikat segendeng, setelah itu digantung di pohon beringin yang besar. Dengan diiringi pertunjukan langen tayub dan gong yang konon milik dari “Bajul Kliwon”. Tak lupa warga juga membawa sesajen yang ditaruh di ancak berbentuk persegi yang terbuat dari bamboo. Sebelum acara dimulai pemuka warga melakukan ritual membakar ‘’menyan" dengan tujuan agar hasil panen bumi melimpah ruah. Tetapi tradisi ini hanya sampai pada tahun 1962. Kini tradisi itu berangsur-angsur hilang tergerus oleh perkembangan zaman dan religius warga. Namun pohon beringin tersebut sampai sekarang masih ada dan berdiri kokoh yang letaknya berada di pintu masuk Dusun Sepatgaleh. Nyadran di pemakaman Dusun Sepatgaleh dilakukan setiap setahun sekali pada hari Sabtu Pahing menjelang panen raya. Sedangkan di Dusun Sepatrojo biasanya dilaksanakan pada hari Rabu Pahing. Walaupun tempat pemakamannya jadi satu namun menurut kepercayaan warga “danyangnya” berbeda. Danyang dalam bahasa Jawa berarti "sing bau rekso" atau yang menguasai bumi daerah itu. Menurut kepercayaan warga, danyang Dusun Sepatgaleh bernama Diponoyo sedangkan danyang Dusun Sepatrejo bernama Nur Said. Dalam acara nyadran di pemakaman ada hiburan semacam wayang. Tradisi yang disakralkan ini selalu dilakukan secara rutin dan turun temurun dengan tujuan agar senantiasa diberikan keselamatan dari mara bahaya, bencana, dan sebagainya.


Pada suatu waktu warga Dusun Sepatgaleh hampir tidak bisa mengadakan nyadran karena panen raya yang diharapkan tidak seperti biasanya. Banyak tanaman yang diserang hama. Karena kesulitan dalam keuangan, tradisi nyadran rencananya tidak diadakan. Tapi apa yang terjadi? Hanya selang beberapa bulan seakan-akan alam pun murka. Angin di sekitar Sungai Bengawan meluap seperti ingin memuntahkan airnya. Derasnya aliran sungai Bengawan pun menjulang tinggi sehingga tanggul bengawan pun hamper tak sanggup untuk membendung luapan air. Bumi seakan menangis rapuh tak berdaya (angkles) karena desakan air yang begitu deras. Akhirnya paku-paku bumi dari beton pun didatangkan dan segera ditancapkan di sana-sini sebagai penyangga tanggul agar tetap bisa berdiri tegap. Namun tanggul tinggi pun tidak sanggup membendung luapan air. Seluruh warga Dusun Sepatgaleh pun ke sana-sini bingung mencari pertolongan. Pemerintah kabupaten dan provinsi pun akhirnya datang meninjau langsung ke tempat kejadian yakni di tanggul Bengawan Solo Dusun Sepatgaleh. Bersamaan tanggul angkles ada seorang warga yang kesurupan di lokasi samping tanggul. Seorang perempuan paruh baya yang bernama Ramsi. Ia adalah seorang ibu rumah tangga, bersikap aneh layaknya seekor buaya merayap melenggak-lenggokkan badannya seperti buaya yang lagi marah dan merayap di atas tanah. Tidak sampai di situ saja, Ramsi pun mengatakan dengan bahasa Jawa "Aku nek gak ditanggapo wayang tak buak’i kabeh, deso Sepatgaleh tak dadekno nggawan kabeh njur tak gawe omah dewe". Kejadian kesurupan tersebut tidak hanya dialami oleh warga Dusun Sepatgaleh saja. Ada seseorang dari luar Dusun Sepatgaleh yang bertujuan untuk melihat di lokasi amblesnya tanggul juga ikut kesurupan. Menurut cerita, orang yang kesurupan ini berbadan tidak tinggi dan ia bersikap atau bertingkah seperti Bajul Kliwon. Akibat kejadian tersebut, banyak warga Dusun Sepatgaleh yang menyimpulkan bahwa bencana yang terjadi di Dusun Sepatgaleh dikarenakan warga berniat untuk meniadakan tradisi pertunjukan wayang tersebut. Oleh karena itu, warga Dusun Sepat Galih bersepakat dan guyub rukun untuk tetap mengadakan pertunjukan wayang dan menjalankan tradisi seperti sedia kala. Melestarikan tradisi nyadran atau sedekah bumi dengan menanggap wayang, langen tayub dengan diiringi alat-alat seperti gong sudah menjadi bagian turun temurun dari nenek moyang warga Dusun Sepatgaleh. Konon ceritanya dulu setiap ada wayang, ada seekor buaya yang menjilma seperti manusia tampan dengan perawakan gagah ikut "Beso". Ia sering melepas bajunya saat ikut "Beso" dengan gerakan yang luwes.


Suatu waktu ada seseorang yang mempergokinya ketika ia ingin "beso" selalu menaruh bajunya di bawah pohon pisang dan pada waktu itu seorang kakek yang melihatnya itu langsung mengikutinya dengan sembunyi-sembunyi. Kakek tersebut mengambil bajunya. Karena keasyikan ‘’beso’’ pemuda itu lupa waktu. Ketika matahari sudah terbit, pemuda itu ke sana ke mari mencari bajunya tetapi tidak berhasil menemukannya. Dan akhirnya ia berteriak dengan keras “Heiiii…… heiiiii dengarkan siapapun yang menemukan bajuku akan mendapatkan imbalan yang setimpal dariku”. Akhirnya, seorang kakek yang menyembunyikan baju tersebut juga ikut mendengar suara tersebut. Ia pun berpura-pura ikut mencari ke sana ke mari seakan-akan tidak tahu apa-apa. Namun akhirnya, si kakek dengan rasa takut memberanikan diri menghadap pemuda tampan tersebut untuk memberikan bajunya. Pemuda tampan menyambutnya dengan senang hati dan ia pun memenuhi janjinya untuk memberikan imbalan. Benar saja, pemuda itu memberi kakek tersebut dengan sebuah ‘’Kiso’’ sebuah tempat ayam yang terbuat dari anyaman daun kelapa dan di dalamnya berisi seperti rempah-rempah kunir. Kemudian si pemuda tampan berucap, ‘’Nanti sampai anak cucumu tidak akan dimakan oleh buaya ataupun diganggunya untuk seluruh warga pinggiran Bengawan Solo khususnya Dusun Sepatgaleh’’. Kemudian si kakek pun pulang dengan senang hati. Masih terngiang-ngiang di telinganya pesan dari pemuda tampan yang dipercayainya sebagai jelmaan dari seekor buaya. Ketika sampai di rumah, kakek tersebut segera membuka “Kiso” yang diberi oleh pemuda tampan tersebut. Terjadilah kejadian yang luar biasa. Si kakek matanta terbelalak karena isi kiso yang semula seperti rempah-rempah kunir itu ternyata berubah menjadi beberapa potongan emas. Setelah peristiwa itu, kehidupan kakek tersebut menjadi lebih makmur dan si kakek ini pun menceritakan kejadian itu kepada beberapa warga di sekitar rumahnya. Akibat kejadian tersebut, si kakek berpesan agar tradisi wayang ini harus dilestarikan sampai anak cucunya nanti dan tidak boleh dilupakan. Dalam versi yang lain, ada cerita Bajul Kliwon berpesan bagi seorang panjak pemimjam gong jangan dulu memukul gong sebelum acara dimulai. Bermula dari cerita itu, suatu ketika ada orang yang meminjam gong itu dan ia bukan warga Dusun Sepatgaleh. Ia adalah warga yang berasal dari utara Dusun Galeh “wong loran’’. Alhasil, yang meminjam gong tersebut melanggar pesan, tanjaknya memukul gong ”dung dung dung” sebelum acara dimulaii. Ia sadar telah melanggar pesan si Bajul Kliwon, dan setelah acara itu selesai ia berupaya untuk mengembalikan alat-alat tersebut. Suatu ketika ia melewati jurangan tempat pinggiran Bengawan Solo yang agak dalam. Tersiar kabara bahwa orang tersebut tidak kembali ke desanya sampai saat ini dan tidak diketahui keberadaannya. Konon katanya orang tersebut tenggelam ke dalam Bengawan Solo dan tidak diketahui


oleh satu orang pun. Oleh karena itu, warga sekitar bengawan tidak berani melanggar pesan yang diberikan pemuda tampan yang sering ikut “beso” ketika ada wayang saat tradisi “nyadran”. Warga sekitar mempercayai bahwa pemuda tampan tersebut adalah jelmaan dari bajul kliwon yakni buaya yang sering keluar pada pasaran kliwon. Akhir cerita, warga Dusun Sepatgaleh Desa Sembungrejo menjadi Desa pinggiran Bengawan Solo yang asri dan nyaman. Kehidupan warganya semakin “rejo” hidup rukun berdampingan saling gotong-royong dan selalu melestarikan tradisi secara turun temurun. Nasihat yang dapat kita petik dari cerita tersebut, kita sebagai generasi muda berkewajiban untuk melestarikan budaya lokal yang sebagai warisan leluhur kita sepanjang tidak bertentangan dengan agama yang kita anut. Nama Narasumber = Pasri, S.Pd Guru SDN Sembungrejo Kecamatan Plumpang Tuban Profil Penulis Gita Octavia,S.Pd, Penulis yang lahir di Tuban pada tanggal 21 Oktober 1993. saat ini bekerja sebagai guru tidak tetap di SD Negeri Sembungrejo. Motivasi hidupnya, Because Writed I know beauty literacy add experience and make new friends


Pesan pada pembaca: Menulislah tentang legenda Tuban maka kamu akan mengenal betapa kayanya Tuban ini akan budaya tradisi dan adat istiadat yang kelak akan kita ceritakan pada anak cucu. Asal Usul Nama Desa Plumpang Tempat batu alu dan lumpang di kuburan desa Plumpang Desa Plumpang sebuah desa kecil yang berada diujung selatan Kabupaten Tuban, masuk dalam wilayah atministrasi kecamatan yang bernama sama yaitu Plumpang.


Alkisah tokoh pewayangan Semar, Gareng, dan Petruk saat itu merasakan kalau bumi serong/miring karena posisi gunung kidul yang tidak seimbang (yang satu kecil dan yang satu besar). Semar berrencana memindahkan gunung yang kecil ke suatu tempat, untuk menyeimbangkan posisi gunung kidul. Mereka berunding menyusun rencana pemindahan gunung tersebut, malam itu juga mereka akan memindahkan gunung kecil itu. Kemudian mereka bertiga mengambil kayu kelor dan daun sembu’an, tidak lama kemudian mereka sampai di gunung kidul dan memikul gunung yang kecil itu dengan kayu kelor yang dibalur pohon sembuan. Dalam perjalanan malam itu, ada dua batu terjatuh di suatu tempat, mereka terburu-buru karena mendengar orang yang memukul-mukul bakul (tempat nasi) pertanda hari akan pagi dan karena takut ketahuan orang, maka mereka meninggalkan batu tersebut, hingga sampailah mereka di suatu tempat untuk meletakkan gunung itu, Sedang dua batu yang tertinggal di suatu tempat tadi yang mirip dengan “Alu” (alat untuk menunbuk padi) dan “Lumpang” (tempat menunbuk padi) maka Semar, Gareng dan Petruk menamakan tempat itu Alumpang nama “alu dan lumpang” hingga menjadi sebuah desa yaitu Desa Plumpang dan menjadi nama desa. Sampai sekarang batu yang berbentuk alu dan lumpang itu masih ada. Untuk memberikan gambaran tentang kejadian mari kita simak penggalan kisah berikut. Pada suatu masa ada tiga tokoh pewayangan yaitu Semar, Gareng, dan Petruk yang merasa kalau bumi itu serong/miring karena posisi gunung kidul yang tidak seimbang (yang satu kecil dan yang satu besar) salah seorang tersebut yaitu semar berinisiatif memindahkan gunung yang kecil ke suatu daerah untuk menyeimbangkan posisi gunung kidul. Mereka berunding untuk menyusun rencana pemindahan gunung tersebut, malam itu juga mereka akan memindahkan gunung kecil itu ke suatu daerah, Semar : “Wahai anak-anakku Gareng dan Petruk.” Petruk dan Gareng : “Iya Romo!” Semar : “Apakah engkau merasakan sebuah keganjilan pada bumi yang kita diami ini, anakku?” Gareng : “Saya merasakan bahwa bumi agak miring (kemudian Gareng bertaya pada Petruk), gimana kakang ku Petruk.” Petruk : “Mungkin perasaan kita aja, Reng.” (sambil memandang Gareng) Semar : “Saya rasa bumi kita ini agak miring ke selatan dan tidak seimbang, bagaimana kita pindahkan gunung kidul yang kecil tersebut ke utara.”


Gareng dan petruk : “Setuju Romo!” Kemudian mereka bertiga mengambil kayu kelor dan daun sembuan, tidak lama kemudian mereka sampai di gunung kidul dan memikul gunung yang kecil itu dengan kayu kelor yang dibalur pohon sembuan setelah dipikul di tengah perjalanan ada dua batu yang jatuh di suatu daerah karena mereka terburu-buru karena ada seseorang yang memukul-mukul bakul (tempat nasi) yang tandanya hari akan pagi dan karena mereka takut ketahuan orang maka mereka meninggalkan batu tersebut di daerah itu. Akhirnya Sampailah mereka disuatu tempat untuk meletakkan gunung itu, Semar (duduk dan berkata) : “Akhirnya tugas kita sudah selesai dan sekarang bumi kita sudah tidak miring lagi dan posisi gunung kidul sudah seimbang.” Petruk dan Gareng : “Iya Romo tugas kita selesai dan pagi pun belum datang.” Dari kejadian Semar, Gareng, dan Petruk memindahkan satu gunung yang kecil untuk menyeimbangkan gunung kidul maka, mereka memberi nama gunung Ngimbang. Sampai sekarang terletak di Desa Ngimbang kecamatan Palang Kabupaten Tuban. Dua batu yang tertinggal di suatu daerah tersebut mirip ALU( alat untuk menunbuk) dan LUMPANG (tempat menunbuk) maka Semar, Gareng dan Petruk menamakan daerah itu Plumpang yaitu nama “alu dan lumpang” yang di jadikan satu menjadi yang sekarang menjadi Desa Plumpang. Lama kelamaan menjadi Kecamatan Plumpang yang terletak di Kabupaten Tuban. Sampai sekarang batu yang berbentuk alu dan lumpang itu masih ada. Dahulu batu tersebut akan dipindahkan, ternyata batu itu kembali lagi ke tempat semula. Akan di pindahkan lagi tetapi tidak bisa. Alhasil batu itu sejak dahulu sampai sekarang masih ada tempat itu. Sekarang dijadikan makam Desa Plumpang dan batu itu berada di tengah-tengah makam, yang dikelilingi pagar besi dan menjadi asal-usul Desa Plumpang. Gambar sumur kulon


Setiap daerah pasti mempunyai cerita legenda dimasa lampau, termasuk Kabupaten Tuban. Salah satunya di Desa/Kecamatan Plumpang. Konon, asal mula nama Desa Plumpang ini dari kata “Alu” dan “Lumpang” yang merupakan alat untuk menumbuk padi yang terbuat dari kayu. “Alu” dan “Lumpang” ini bisa membawa keberuntungan dan juga bisa membawa musibah. Masyarakat dahulu percaya jika Alu tersebut mengahap ke Timur maka padi di Desa Plumpang bisa keluar semua atau bisa diartikan panen padi berlimpah. “Sebaliknya jika “Alu” tersebut menghadap ke utara maka hasil panen akan sedikit atau bisa dikatakan gagal panen,” ucap Rupinah (80) salah satu warga Desa Plumpang saat ditemui pada Selasa (2/11/2021). Orang dahulu juga percaya kalau ada katak Bende yang tempatnya di embong, maka padi akan berlimpah di desa tersebut. Di Desa Plumpang ada juga Sumur Kulon atau biasa disebut masyarakat Mur Kulon yang konon katanya pada zaman dulu dipakai masyarakat untuk bersemedi dan mencari ilmu dalam artian kesaktian, selain itu tempat ini juga dijadikan contoh terlebih dahulu masyarakat nuntuk mencari nomor/togel. Tak hanya masyarakat sekitar yang datang ke sumur tersebut, tetapi masyarakat dari jauh juga datang kesini untuk tujuan yang sama. Untuk mendapatkan kesaktian masyarakat zaman dahulu melakukan puasa setiap hari senin dan kamis selama empat minggu di Sumur Kulon. Cerita warga juga menyebutkan ada salah satu cara untuk membuat suami tidak mendekati wanita lain caranya dengan menggoreng beberapa bahan yaitu besi, kerikil, jarum, terong, pecahan kaca, dan bahan lain sampai ada 14 macam. Setelah bahan digoreng, bahan tersebut ditiup sebanyak sepuluh kali dan di sebelah kanan ada lampu ublik. Hal itu bertujuan agar suami yang ingin mendekati wanita lain tidak jadi. “Wesi, kerikil, terus ono dom, terong, beling reno 14 terus di goreng di wajan panas, Bar digoreng kene ono dilah ublik terus disebul ping 10 supoyo bojo nek ape merek wong wedok ora sido (Besi, kerikil/batu kecil, terus ada jarum, sayur terong, pecahan kaca 14 macam digoreng di tempat penggorengan yang panas, selesai digoreng ada lampu minyak terus ditiup 10 kali agar suami saat akan mendekati wanita lain tidak jadi),” jelas Rupinah.


Masyarakat dahulu juga percaya jika ada orang hilang dicuri makhluk halus mereka akan mencari dengan menggunakan Gong. Gong adalah salah satu alat musik yang cara memainkannya dengan cara dipukul. Zaman dulu masyarakat menggunakan gong untuk mencari orang hilang dengan cara gong diletakan di barongan (rumpun bambu) dan dipukul berkali-kali. Tak lama setelah gong ditabuh konon diyakini makhluk halus di sekitar akan muncul dan orang yang hilang akan ketemu. ”Dicari dengan gong nung, nung, nung gong ditaruh di atas barongan, do teko nduk (makhluk halus) dan orangnya ketemu yang hilang Profil Penulis BAMBANG SUWARTO, S.Pd.SD, penulis adalah seorang guru SD yang bertugas di SD Negeri Plumpang V, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.


Seorang Pekerja keras, ingin belajar, berkarya, berbagi, dan membantu, guru-guru lain untuk tetap bersemangat dalam berkarya, berekspresi, dan meninggalkan jejak kebaikan di masa depan. Penulis bisa dihubungi lewat WA : 081332865953, email : [email protected] bekerja keras dan berjuang demi menggapai karya yang positif Legenda Dewi Sirep Sebuah sudut di Desa Kedungsoko, di tengah-tengah alam yang subur dan damai, terletak sebuah dusun yang diberi nama Dusun Sisir. Di balik nama Sisir, terungkap cerita lama yang tetap hidup dalam ingatan masyarakat sekitar, seakan-akan sebuah pesona yang tak terlupakan. Asal nama "Sisir" ternyata berasal dari kata "naksir" atau "sir-siran," diambil dari kisah seorang perempuan yang menjadi pusat perhatian banyak lelaki. Cerita dimulai dengan seorang perempuan cantik bernama Dewi Sirep, atau yang sering disebut sebagai Roro Kuning oleh penduduk setempat. Kecantikannya memikat hati banyak laki-laki di desa-desa sekitarnya, namun sayangnya, cintanya tak pernah terwujud. Banyak yang


mencoba mendekati, namun hatinya tetap tak tergoyahkan, tak ada satupun laki-laki pengagum Roro Kuning yang berhasil memenangkan hatinya. Cerita legenda berlanjut, konon, Dewi Sirep adalah anak dari seorang sesepuh bernama Mbah Nameng. Mereka hidup pada zaman Kerajaan Mataram dan melakukan perjalanan yang akhirnya membawa mereka ke bantaran sungai Bengawan Solo. Mereka menetap dan membentuk sebuah perkampungan yang kelak menjadi cikal bakal desa. Suatu hari, Dewi Sirep memutuskan untuk pergi ke Pasar Medang Kamulan yang berada di seberang sungai. Namun perjalannya terhenti ketika seorang pemuda dari Desa Patihan, yang dikenal sebagai Jaka Langgar, menghadangnya. Pemuda itu dengan berani menyatakan perasaannya pada Dewi Sirep, yang tampak seperti bidadari. Namun Dewi Sirep menolaknya. Meskipun ditolak, Jaka Langgar tetap berusaha keras mendapatkan hati Dewi Sirep. Akhirnya Dewi Sirep meminta Jaka menunggu di luar pasar, sampai dia selesai berbelanja. Sang pemuda setuju dengan syarat tersebut, dan Dewi Sirep pergi. Di tepi Bengawan Solo, seorang pemuda yang penuh harap telah menantikan kepulangan Dewi Sirep sepanjang hari. Namun ternyata, sang dewi tidak muncul sesuai dengan janjinya. Kecewa, pemuda itu akhirnya pulang melewati jalan lain. Di sepanjang jalan, ia merenungkan alasan mengapa Dewi Sirep memutuskan tidak melanjutkan pertemuannya. Prasangka, curiga, dan rasa cemburu membakar hatinya menjadi abu. Amarah yang telah membakar hatinya, membuat Jaka Langgar kehilangan nalar. Kesaktiannya dikeluarkan. Di tengah perkampungan ramai, ia mengucapkan sebuah sumpah yang menggetarkan bumi. Dia bersumpah bahwa anak turun Desa Patihan tidak akan pernah direstui menikahi seorang wanita dari Dusun Sisir. Mitosnya malapetaka akan menimpa salah satu pasangan jika sumpah ini diingkari. Sesaat setelah mengucap sumpah tersebut, tiba-tiba tubuh Jaka Langgar tersungkur ke tanah. Cerita ini telah menjadi legenda yang berlangsung hingga saat ini. Di kedua desa tersebut, tidak ada yang berani menikahkan anak-anak mereka karena takut akan kutukan pemuda itu. Jaka Langgar, seperti yang disebutkan dalam legenda, dikatakan telah menjadi penunggu gaib Desa Patihan. Mitos ini masih dipegang teguh oleh masyarakat dan terus menjadi bagian dari cerita turun temurun. Konon, ada peninggalan sejarah yang menggoda imajinasi, yaitu berupa batu kuno yang menyerupai sebuah arca manusia. Asal-usul batu ini tetap menjadi misteri. Beberapa


mengatakan bahwa batu itu adalah pemuda Patihan yang berubah wujud menjadi batu, sementara yang lain mengklaim bahwa itu adalah perwujudan pemuda Patihan yang melanggar sumpah dengan menikahi gadis Dusun Sisir. Sayangnya, batu itu, yang seharusnya menjadi saksi bisu sejarah, telah terbelah-belah oleh tangan jahil manusia, seolah cermin dari keadaan sejarah yang terpinggirkan. Sekarang, situs itu hanya dilindungi oleh pagar kayu bambu seadanya, sementara misteri di dalamnya terus memikat rasa penasaran. Tak jauh dari sana, di selatan situs misterius itu, terhampar sebuah pasarean yang penduduk setempat dengan hormatnya menyebutnya sebagai makam Sunan Langgar. Akan tetapi, beberapa orang menyebutnya sebagai makam Syekh Abdul Kadir. Namun, tak hanya batu kuno dan makam yang menyelimuti daerah ini dengan aura mistis. Mbah Muridan, penjaga setia tempat itu, berbicara tentang tumpukan batu bata merah kuno yang ditemukan di lahan persawahan. Beberapa batu bersejarah tersebut kini disimpan di Balai Desa Patihan Widang, mengharapkan agar masa lalu bisa mencerahkan masa kini. Situs yang tak terpisahkan dari cerita Dusun Sisir Kedungsoko dan Desa Patihan ini mampu menyentuh ruang batin masyarakat, membuka pintu rahasia sejarah yang sebelumnya terlupakan. Kisah ini meyakini bahwa Dewi Sirep adalah penunggu gaib Dusun Sisir Desa Kedungsoko, sedangkan Jaka Langgar melindungi Desa Patihan dan kini menjadi situs Langgar yang misterius. Hingga hari ini, tradisi berlanjut, seperti urut-urutan catatan sejarah yang tak pernah putus. Setiap tahun, ketika hari Selasa Kliwon tiba, terutama setelah panen raya kedua, Dusun Sisir merayakan Haul atau sedekah bumi di makam tersebut. Ritual ini diwarisi dari generasi ke generasi, dengan menyembelih seekor kambing kendhit, kambing hitam yang memiliki sedikit warna putih melingkar di perutnya. Dahulu kala, saat perayaan Haul atau sedekah bumi di Dusun Sisir, terjadi suatu kejadian yang tak terlupakan. Saat pertunjukan wayang akan dimulai, berkelebatan siluet gelap yang mengambang di langit disertai angin kencang yang menyebabkan wayang-wayang berhamburan ke udara. Ketika itu, ketakutan melanda seluruh masyarakat yang hadir, dan pertunjukkan pun dibatalkan. Kejadian ini menjadi pembicaraan panas di seluruh desa, dan masyarakat mulai merasa gentar akan pertunjukkan-pertunjukkan saat haul. Mereka percaya bahwa ada sesuatu yang jahat tersembunyi di balik kejadian misterius ini.


Tetapi, di tengah ketakutan yang melanda, muncul seorang kakek berpakaian serba putih. Dia adalah seorang tokoh berwibawa yang diyakini memiliki kekuatan luar biasa. Sang kakek itu memberikan nasehat bijak kepada masyarakat Dusun Sisir. Dia menyarankan agar mereka mengadakan pengajian dan doa bersama sebagai gantinya. Dengan tekad yang kuat, masyarakat Dusun Sisir memutuskan untuk mengikuti nasihat Sang kakek tersebut. Mereka berkumpul untuk mengadakan pengajian yang penuh kekhidmatan saat perayaan haul dan sedekah bumi. Setiap tahun, tradisi ini terus berlanjut, dan masyarakat merasa aman dan tenang. Kisah Dewi Sirep dan asal usul Dusun Sisir ini telah melegenda di wilayah Desa Kedungsoko, Kecamatan Plumpang, Tuban. Meskipun masih menjadi misteri apa sebenarnya yang terjadi pada pertunjukan wayang misterius itu, masyarakat meyakini bahwa nasihat Sang kakek telah menyelamatkan mereka dari bahaya yang tidak terduga. Kebenarannya mungkin hanya Tuhan yang tahu, namun cerita ini tetap hidup dalam ingatan warga dengan pesona dan misterinya yang tak terlupakan. Profil Penulis Muhammad Makhdum, sehari-hari mengajar sebagai guru IPA di SMP Negeri 3 Plumpang. Alumnus Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang (2006) dan Magister Pendidikan Dasar Sains Universitas Negeri Malang (2017). Selama kuliah antara tahun 2000 s.d. 2006, numpang tidur di Pesantren Ashabul Kahfi Malang dan Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. Pernah mendapatkan kesempatan mengikuti short course pendidikan sains di Hangzhou Normal University, Zhejiang, China, pada tahun 2016. Masih belajar menulis dan baru menghasilkan enam gelintir buku. Penulis dapat disapa di facebook dan instagram dengan akun Muhammad Makhdum. Beberapa karya lain penulis dapat diintip di https://linktr.ee/supermakhdoemz


Click to View FlipBook Version