Legenda Desa Sumurgung Sumurgung sebuah dusun yang terletak di jalan raya Plumpang-Rengel, kurang lebih 1 km dari kota kecamatan Plumpang. Dusun yang sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani ini cukup tentram dan asri sebagai ciri khas budaya pedesaan. Udaranya masih sejuk karena tidak ada pabrik yang berdiri di desa ini. Penduduknya sangat rukun dan terkenal suka bergotong-royong. Sumurgung mempunyai wilayah yang cukup luas. Dusun Sumurgung termasuk agak tertinggal dari dusun-dusun tetangga. Kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anaknya pada pendidikan tinggi juga rendah. Ini pengaruh dari kultur petani yang hanya mengandalkan hasil panen saja. Itu pun kalau panen, kalau diserang hama akan lain lagi ceritanya. Jadi pendidikan adalah barang mahal bagi sebagian besar penduduknya. Mereka juga beranggapan bahwa untuk apa sekolah tinggi akhirnya juga tidak jadi apa-apa.
Konon Dusun Sumurgung belum ada, semua masih berupa hutan dan semak belukar. Namun, sudah ada beberapa orang penduduk yang tinggal di kawasan sungai yang jauh dari desa tepatnya di daerah Njukung atau utara Dusun Njalak. Sungai kecil itu akan mengering pada musim kemarau dan cukup menyulitkan masyarakat yang tinggal di Gal Pomahan namanya. Suatu hari ada seorang wali melewati Gal Pomahan. Rupanya sang wali kelelahan dan ingin sejenak beristirahat di tempat itu setelah melakukan pengembaraan. Didekatinya salah seorang yang sedang bekerja di ladang itu. “Ki Sanak bolehkah kiranya aku meminta seteguk air untuk menghilangkan dahagaku.” ujar sang wali. “Maaf Ki Sanak air persediaan kami tinggal sedikit, kami tidak bisa memberikannya untukmu, berjalanlah ke selatan mungkin ada air di sana.” jawab seseorang dari mereka. “Baiklah kalau begitu Ki Sanak aku akan melanjutkan perjalanan, terima kasih aku sudah diizinkan berteduh.” Sang wali pun melanjutkan perjalanannya ke arah selatan sesuai petunjuk orang-orang yang ada di Gal Pomahan itu. Ternyata di sana ada banyak orang yang sedang membabat pohon-pohon dan semak-semak untuk dijadikan tempat tinggal. “Hai Ki Sanak, bolehkah aku menumpang istirahat sejenak di tempat ini?” tanya sang wali kepada orang-orang yang ditemuinya. “Oh silahkan Tuan, ini minumlah barang seteguk air dan makanlah sedikit makanan untuk bekalmu meneruskan perjalanan.” kata tetua masyarakat yang sedang bekerja itu. Mereka kemudian bercerita sulitnya mencari air di tempat itu kala musim kemarau tiba. Mereka membabat hutan untuk membuat pemukiman dan mencari sumber air. Sang wali mendengarkan dengan seksama cerita orang-orang yang telah memberikannya makan dan minum walaupun mereka sedang dalam kesusahan. Sang wali terharu mendengar cerita itu. “Iya Ngger, kalian semua telah menolongku dari lapar dan haus dalam pengembaraanku, kelak tempat ini akan penuh dengan sumber air walaupun musim kemarau.” Usai berkata-kata sang wali berdiri dan sedikit menjauh dari kerumunan. Akhirnya beliau menancapkan tongkatnya dalam-dalam ke tanah. Tanpa diduga sebelumnya dari
bekas tongkat itu keluarlah sumber air yang sangat jernih. Seketika orang-orang yang berada di tempat itu bersungkem kepada sang wali seraya tak henti-hentinya berterima kasih. Setelah itu sang wali berpesan, “Buatlah sumur di tempat ini, kelak kalian akan tinggal di sebelah selatan sumur ini, jika zaman sudah ramai beri nama tempat tinggal kalian “Sumurgung” karena sumur ini akan terus agung atau banyak airnya. Kalian tidak akan kekurangan air walaupun musim kemarau.” Sebelum pergi sang wali menoleh ke arah utara. Ada pohon kepoh yang dihinggapi oleh banyak burung jalak. Akhirnya sang wali juga berwasiat sebelum pergi untuk memberi nama tempat di bawah pohon kepoh itu “Sumurjalak” karena berada di dekat sumur dan banyak burung jalaknya. Itulah cerita tentang Desa Sumurjalak yang diceritakan secara turun temurun dari zaman dahulu. Memang benar sumur dan pohon randu raksasa itu masih ada. Dulu di tahun ’80-an sumur Murgung namanya akan semakin melimpah airnya. Air yang melimpah ini mengalir hingga menjadi sungai yang sangat jernih sekali. Di sumur ini juga diadakan sedekah bumi setiap tahun. Dulu setiap sedekah bumi di sumur ini diadakan pertunjukan wayang. Konon penunggu sumur sangat menyukai wayang katanya. Namun sayang, sekarang sumur ini hanya tinggal legenda. Setelah tahun 1989 ada seorang nenek yang bunuh diri karena banyak hutang dengan masuk ke sumur ini. Sumur ini jadi tidak ada yang mengambil airnya. Sungguh tragis bukan semakin banyak airnya namun, ketika tidak ada orang yang mengambil airnya semakin habis. Setiap orang mengambil air di sumur ini, dulu selalu memasukkan uang logam ke dalam sumur, ini sebagai tanda terima kasih katanya. Setelah mengering uang logam mulai zaman Belanda ada di sumur ini ada. Karena mengingat cerita legenda sumur ini, akhirnya masyarakat bergotong-royong membersihkan sumur. Dan ajaib, setelah sumur ini bersih airnya kembali ada lagi dan cukup lancar. Kemajuan zaman membuat setiap orang mempunyai sumur di rumah masing-masing. Mereka yang dulu harus mengangkat air dengan jun atau kaleng sekarang sudah tidak ada lagi. Akhirnya sumur Murgung pun sepi. Namun, airnya tetap melimpah. Lagi-lagi petaka berulang, sumur yang airnya telah kembali deras dimanfaatkan oleh sebagian orang menggunakan diesel untuk mengairi sawah. Alhasil sumur ini kembali
berkurang sumber airnya dan sekarang sudah tidak digunakan lagi. Hanya tersisa bagunan sumur dan pohon randu gabret penanda sejarah Dusun Sumurgung. Demikian cerita ini diceritakan oleh Mbah Kasmijo sesepuh Dusun Sumurgung yang telah berusia 72 tahun. Semoga menjadi pengingat betapa kuasa Allah kepada hambaNya yang selalu berterima kasih dan bersyukur atas nikmatnya. Profil Penulis Ahmad Hadi Triana, S.Pd. Penulis adalah pendidik yang mengabdi di SDN Sumurjalak II Kecamatan Plumpang sejak tahun 2008. Pak Hadi sapaan akrabnya meniti karir mulai dari guru tidak tetap (GTT) sampai dikukuhkan menjadi ASN PPPK tahun 2021. Cerita legenda Dusun Sumurgung ditulis karena selama 15 tahun menjadi bagian dari masyarakat Dusun
Sumurgung. Semoga bermanfaat bagi siswa dan kemajuan pendidikan terutama kegiatan literasi. Joko Kembang Di Desa Klotok sebelah timur tepatnya di Dusun Dolok. Ada sebuah makam yang berdekatan dengan makam desa kedungsoko. Waktu itu ada seorang perjaka dan belum mempunyai seorang istri. Perjaka tersebut meninggal dunia dan waktu mau di makamkan. Pun terjadi perselisihan antara warga desa Kedungsoko dan Dolok. Akhirnya jenazah di makamkan, di Dusun Dolok tersebut. Akhirnya yang pertama dimakamkan adalah seorang perjaka, maka diberi nama Joko Kembang. Masyarakat Dusun Dolok Desa Klotok Kecamatan Plumpang, setiap tahunnya mempunyai tradisi manganan atau sedekah bumi di makam. Warga berbondong-bondong meramaikan acara tersebut. Setiap tahun manganan diadakan pada bulan September
atau bulan Oktober. Tradisi manganan atau sedekah bumi berlangsung dua hari berturut-turut. Acara manganan dilangsungkan di samping tempat pemakaman islam di Dusun Dolok. Kegiatan dimulai pukul 21.00 sampai pukul 23.00 diisi dengan rangkaian acara tahlil dan pengajian. Sedangkan hari berikutnya diisi acara seni karawitan dan tayuban. Gambar suasana sedekah bumi (manganan) Desa Klotok
Profil Penulis Puji Astuti, S.Pd.SD, penulis mengabdikan diri sebagai ASN guru di SDN Klotok II. Saat ini bertempat tinggal di Desa Sembungrejo RT 04/RW 01 Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban. Penulis bisa dihubungi di nomor HP 0856 5542 1616.
Mbah Buyut Wongso Penidon adalah sebuah desa yang berada diujung timur Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban Jawa Timur, yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Widang. Nama Desa Penidon berasal dari Pen yang berarti niat yang kuat dan Nidon yang artinya terlaksana (kelakon : bahasa jawa). Sehingga kata Penidon bisa diartikan terlaksananya niat yang kuat. Sebelum menjadi Desa yang ramai dan tentram dulunya Penidon adalah hutan yang sangat lebat. Sejarah Desa Penidon bermula dari lima prajurit kerajaan Mataram Kuno, pada tahun 1350 Masehi yang ingin berdakwah dan menyebarkan agama Islam diwilayah bantaran sungai Bengawan Solo. Kelima prajurit tersebut adalah Kerbut, Lingit, Wongso
Katiman, Terpan, dan Sembayat. Mereka melakukan perjalanan dari Mataram dengan mengendarai kuda. Lima prajurit tersebut kemudian menyebar dan menetap di lima daerah di sekitar sungai bengawan solo dengan kudanya masing-masing. Kerbut berdakwah di daerah yang sekarang bernama Bandung Rejo, Lingit berdakwah di daerah Klotok, Wongso Katiman berdakwah di Penidon, Terpan berdakwah di Lamongan, dan Sembayat berdakwah di daerah Gresik. Prajurit yang bernama Wongso Katiman oleh penduduk Desa Penidon saat ini, lebih dikenal dengan sebutan Mbah Buyut Wongso. Beliau yang menjadi cikal bakal Desa Penidon. Mbah Buyut Wongso membuka lahan yang pada saat itu masih berupa hutan yang lebat dan menjadikannya sebuah Desa. Mbah Buyut Wongso juga membangun sebuah Musholla dan sumur di daerah tersebut. Ia mengajak masyarakat sekitar untuk memeluk agama Islam. Pada saat itu, penduduk Desa Penidon masih banyak yang memeluk agama Budha. Dakwah Mbah buyut Wongso di Desa Penidon saat itu, tidaklah berjalan mudah.Tidak serta merta masyarakat mau menerima ajakan Mbah Buyut Wongso untuk memeluk Agama Islam. Banyak sekali rintangan yang harus dihadapi oleh Mbah Buyut Wongso. Mereka mencibir, mencaci maki, dan membenci Mbah Buyut Wongso. Namun dengan gigih dan sabar Mbah Buyut Wongso terus berdakwah. Kumandang Adzan dan lantunan ayat-ayat Al Quran selalu terdengar dari Musholla Mbah Buyut Wongso. Akhirnya kegigihan Mbah Buyut Wongso membuahkan hasil. Ajaran Mbah Buyut Wongso yang sarat dengan nilai-nilai kebaikan, semakin hari semakin menyentuh hati penduduk Desa Penidon. Setelah beberapa lama akhirnya penduduk Desa Penidon bisa menerima dakwah Mbah Buyut Wongso. Mereka berbondong-bondong memeluk Agama Islam, walaupun masih ada beberapa orang yang masih tetap bertahan dengan kepercayaan lama mereka. Orang-orang yang masih bertahan dengan kepercayaan lama ini merasa tidak senang dengan Mbah Buyut Wongso. Mereka menganggap Mbah Buyut Wongso adalah musuh mereka. Segala macam cara mereka lakukan agar Mbah Buyut Wongso dibenci oleh penduduk desa. Mereka kembali menganut agama lama yang mereka tinggalkan. Namun banyak juga yang mengikuti Mbah Wongso. Hal ini membuat Mbah Buyut Wongso merasa bahagia. Apa yang menjadi tujuannya yaitu ingin menyebarkan agama Islam di Desa Penidon tercapai, hingga akhirnya musibah itu datang. Di Desa Penidon terjadi “Pagebluk” atau terserang wabah penyakit. Wabah itu berupa penyakit kulit yang menular. Hampir seluruh penduduk Desa Penidon terserang penyakit kulit tersebut.
Semakin hari wabah penyakit kulit itu semakin parah. Segala aktivitas penduduk Desa Penidon terhenti karena wabah ini. Mbah Buyut Wongso merasa sangat sedih, apalagi dengan adanya pagebluk ini, dijadikan sebagai senjata bagi orang-orang yang tidak menyukai Mbah Buyut Wongso. Mereka berusaha untuk menyerang dan memojokkan Mbah Buyut Wongso. Mereka menyebarkan berita bahwa pagebluk ini terjadi karena adanya kutukan dari Tuhan mereka. Hal ini dikarenakan penduduk desa memeluk agama Islam. Mereka menjadikan Mbah Buyut Wongso sebagai penyebab dan sumber terjadinya musibah pagebluk ini. Penduduk desa termakan dengan hasutan orang-orang yang tidak menyukai Mbah Buyut Wongso tersebut. Mereka marah dengan Mbah Buyut Wongso. Mereka tidak mau lagi mendengar dakwah Mbah Buyut Wongso. Musala Mbah Buyut Wongso yang beberapa waktu lalu ramai dengan jamaah menjadi sepi. Tak seorang pun yang mau datang sembayang. Mbah Buyut Wongso tetap sabar dengan sikap penduduk desa. Beliau hanya ingin pagebluk cepat hilang dan penduduk kembali sehat dan bisa beraktivitas seperti semula. Akhirnya Mbah Buyut Wongso melakukan Semedi. Beliau memohon petunjuk kepada Allah untuk memberinya jalan agar bisa menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi. Dari Semedi yang dilakukan, Mbah Buyut Wongso mendapat Wangsit (petunjuk). Dalam wangsit yang didapatnya itu, ia diminta untuk melakukan perjalanan ke arah utara. Dengan ditemani kuda kesayangannya, Mbah Buyut Wongso berjalan menuju ke arah utara. Mbah buyut Wongso berjalan hingga sampai di daerah Tuban. Dalam perjalannya itu Mbah Buyut Wongso bertemu dengan beberapa Waliyullah, hingga akhirnya Mbah Buyut Wongso bertemu dengan Sunan Bonang (Raden Makdum Ibrahim). Sunan Bonang adalah salah seorang wali yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa, khususnya diwilayah Tuban. Kepada Sunan Bonang, Mbah Buyut Wongso menceritakan maksud dari perjalanannya. Setelah mendengar cerita dari Mbah Buyut Wongso, Sunan Bonang memintanya untuk pergi ke Sumur Srumbung dan mengambil air dari sumur tersebut. Sumur Srumbung adalah Sumur air tawar yang berada di tepi laut yang merupakan hasil dari kesaktian tongkat Sunan Bonang saat beradu sakti dengan seorang pendeta Brahmana dari India. Sunan Bonang berpesan kepada Mbah Buyut Wongso agar orang-orang yang terkena wabah penyakit kulit untuk mandi dengan air sumur Srumbung yang ia bawa itu.
Mbah Buyut Wongso bergegas menuju Sumur Srumbung dan mengambil air dari sumur itu. Setelah berpamitan dengan Sunan Bonang maka Mbah Buyut Wongso bergegas pulang kembali ke Desa Penidon. Ditunggangi kudanya dengan cepat. Ia ingin agar bisa segera sampai dan mengobati warga yang sakit. Sesampainya di Desa Penidon, Mbah Buyut Wongso memasukkan air sumur srumbung yang ia bawa ke dalam sumurnya. Segera dipanggilnya penduduk Desa. Namun tak ada seorangpun yang datang dan peduli dengan panggilan Mbah Buyut Wongso. Penduduk desa benar-benar terhasut dan merasa benci dengan Mbah Buyut Wongso. Namun Mbah Buyut Wongso tak patah semangat, ia terus membujuk warga untuk mau mandi air sumurnya. Akhirnya ada beberapa warga yang mengikuti permintaan Mbah Buyut Wongso untuk mandi di air sumur miliknya itu. Keajaiban pun terjadi, warga yang mandi dengan air dari sumur Mbah Buyut Wongso seketika sembuh dari penyakit kulit yang dideritanya. Sontak saja melihat keajaiban itu warga desa yang lain berbondong-bondong menuju ke sumur milik Mbah Buyut Wongso. Para warga mandi dengan air sumur tersebut, air sumur yang sudah dicampur dengan air sumur Srumbung milik Sunan Bonang. Penduduk Desa Penidon merasa sangat senang, demikian juga Mbah Buyut Wongso. Setelah melihat warga sembuh dari penyakit dan wabah pagebluk hilang dari desanya Beliau bersyukur pada Allah. Warga desa pun meminta maaf kepada Mbah Buyut Wongso. Mereka akhirnya kembali mengikuti Mbah Buyut Wongso memeluk agama Islam lagi. Sejak saat itu musala Mbah Buyut Wongso kembali ramai. Dengan sangat antusias para warga Desa Penidon belajar mengaji dan mendengarkan dakwah ajaran Islam yang diajarkan oleh Mbah Buyut Wongso. Begitulah, Mbah Buyut Wongso menjaga dan melindungi Desa Penidon hingga akhir hayatnya. Ia meninggal setelah berhasil mengajak warga Desa Penidon memeluk dan mengikuti Agama Islam semuanya. Mbah Buyut Wongso dimakamkan disebelah Musala yang dibangun. Oleh penduduk sekitar untuk mengenang jasa dan pengorbanan Mbah Buyut Wongso maka, setiap tahun diadakan acara haul (manganan). Mitos yang beredar di masyarakat kuda Mbah Buyut Wongso, sering muncul mengitari Desa penidon di tengah malam. Kalau ada kuda setelah melewati Desa Penidon, maka kuda itu akan mati. Oleh sebab itu di Penidon tidak pernah ada kuda yang berani lewat.
Gambar : makam Mbah Buyut Wongso Gambar : Manganan dan Haul Mbah Buyut Wongso Profil Penulis Jumi Ekawati, S.Pd, lahir di Tuban pada Tanggal 28 Agustus 1986 . Penulis adalah Seorang Guru di SDN Penidon I Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban Jawa Timur sejak Tahun 2007 sampai sekarang. Penulis pernah menulis dan
menerbitkan sebuah buku pada Tahun 2021 dengan Judul “Waktu yang Tepat”. Saat ini penulis menuliskan sebuah cerita tentang “Mbah Buyut Wongso” sebagai pengetahuan sejarah desa berdasarkan beberapa narasumber, dan bukti otentik yang ada di Desa Penidon. Selain itu penulis juga mencari sumber dari media sosial yang berkaitan dengan cerita yang ditulis. Goa Bajul ( Goa Buaya ) Pagi yang sangat indah matahari tersenyum kepadaku serasa hidup ini penuh dengan rasa bahagia. Saat itu kulangkahkan kakiku perlahan-lahan memasuki sebuah desa yang sangat indah pemandangannya membuat hati ini tertarik untuk melihatnya. Ini untuk yang pertama kalinya.Desa yang dekat dengan sungai bengawan solo dan gunung lai. Sebuah desa di mana terdapat gunung kapur .dengan jalan yang berliku liku. Tempat ini Bernama Pesuruhan tepatnya di Desa kesamben.
Konon ceritanya pada zaman dahulu, desa ini banyak ditumbuhi pohon kesambi. Pohon ini memiliki ukuran yang tingginya mencapai ukuran hingga 40 meter, dengan diameter batang hingga 2 meter. Biasanya batang pohon kesambi selalu bengkok dan bermata kayu. Buah dari pohon ini bentuknya mirip dengan buah kelengkeng tetapi rasanya masam. maka disebutlah dengan desa Kesamben. Desa Kesamben ini mempunyai banyak cerita legenda di antaranya Begede Buyut Santri, Sumber Brubulan, Sendang Gede, Goa Bajul dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Selangkah demi selangkah kaki ini melanjutkan perjalan memasuki Dusun Pesuruhan sambil menengok kanan dan kiri. Aku lihat hanyalah pohon-pohon hijau nan indah dan pegunungan. Di kiri jalan kulihat jurang yang cukup curam dan membuat hati berdebar jika melihatnya. Jalanan yang sepi hanya ada beberapa sepeda motor yang melintas membuatku ragu untuk melanjutkannya. Akan tetapi tidak menyiutkan nyaliku untuk melanjutkkan perjalanan. Setelah berjalan beberapa kilometer terbayarlah sudah lelahku, dengan disuguhi pemandangan yang sangat indah dan belum pernah aku melihat sebelumnya. Sebuah goa mirip dengan kepala buaya dan gunung yang masih alami. Dalam hati kecilku saat melihat goa tersebut berkata, “Apakah itu buaya sungguhan, ataukan tetesan air yang membentuk batu yang menyerupai kepala buaya?” Aku berhenti di tepi jalan tepat berada di depan goa tersebut, sambil duduk dan minum seteguk air yang ku bawa. Sambil duduk aku berkata pada diri sendiri, “Ya Allah begitu indah ciptaanmu, terima kasih hamba masih bisa menikmati apa yang engkau ciptakan.” Akan tetapi aku tidak bisa mendekat karena tempatnya yang tidak dapat dijangkau. Goa yang berada di atas, dan di bawahnya terdapat sungai yang airnya mengalir begitu jernih. Pohon-pohon liar yang tumbuh di sekitarnya membuat tempat ini masih terlihat sangat alami. Dengan melihat pemandangan itu membuat suasana hatiku menjadi tenang. Setelah 30 menit aku berhenti, lalu kulanjutkan perjalanan mendaki gunung tersebut. Setelah berjalan sekian lama akhirnya kutemukan pemukiman warga. Tanpa sengaja aku bertemu dengan seorang kakek tua. Kakek ini duduk di depan rumahnya. Akhirnya aku menghampiri si kakek sambil mengistirahatkan badanku sejenak. Aku menyapa, dan kakek pun menjawab sapaanku. Aku bertanya tentang goa yang kulewati tadi. Kemudian si kakek bercerita kepadaku.
Menurut ceritanya pada zaman dahulu, terjadinya Goa Bajul itu ada seorang pengembara. Ia melakukan perjalanan di malam hari menggunakan sebuah perahu menyusuri Sungai Bengawan Solo. Tidak ada yang mengetahui dari arah mana asal usul datangan pengembara itu. Tiba-tiba saja pengembara itu sampai di Desa Kesamben. Kemudian sang pengembara bergegas melanjutkan perjalanannya karena malam pun semakin larut. Setelah menempuh perjalanan yang begitu jauh ia menemukan sebuah gunung kapur. Dalam pikirannya ia merasa bingung apa yang harus dilakukan. Ketika melihat gunung, akhirnya ia berpikir untuk membelah gunung kapur ini menggunakan perahunya. Dengan kehendak Yang Maha Kuasa terbelahlah gunung kapur ini. Akan tetapi di tengah perjalanan ayam jantan berkokok. itu tandanya sudah pagi. Sang pengembara bingung. Ada apakah gerangan sedangkan waktu belum menunjukkan pagi, kenapa ayam sudah berkokok? Sang pengembara akhirnya terdiam dan berhenti di atas gunung kapur itu. Ketika sudah tidak dapat melanjutkan perjalanannya lagi, sang pengembara berkata, “Siapakah yang sudah menghentakkan penampi?” Ternyata ada seseorang yang menghentakkan penampi atau tampah. orang jawa mengatakan “ngedhukne tampah” karena akan membersihkan beras untuk memasak. Orang tersebut bernama “Mbok Rondo Mbegedangan”. Ia merupakan salah satu penguasa yang ada di desa Kesamben. Kemudian Mbok rondo mendatangi pengembara itu, kemudian perahu tersebut dibalik sebelum ada orang lain yang melihatnya. Akhirnya perahu tersebut berada di atas gunung dan berubah menjadi batu, kemudian gunung itu berbentuk seperti perahu terbalik.
Gambar Perahu di balik menjadi sebuah gunung Sekarang menjadi lahan pertanian. Setelah perahu tadi dibalik maka habislah airnya. Tanpa diketahui ternyata ada seekor buaya, yang terjepit diantara bebatuan dekat dengan perahu. Badan buaya ini yang terjepit oleh bebatuan tetapi kepalanya masih menjulur keluar yang kelihatan jelas. Sehingga orang-orang menyebutnya tempat ini bernama Goa Bajul. Ini karena batu tersebut berbentuk goa dan di depannya menyerupai kepala buaya bergelantungan. Ada yang berpendapat bahwa Goa Bajul itu adalah terbentuk dari tetesan-tetesan air yang membentuk kepala buaya. Benar tidaknya ini hanyalah sebuah cerita. Goa Bajul ( Goa Buaya ) Kini goa sudah tertutup oleh tumbuhan liar di sekitarnya, sehingga tidak dapat terlihat dengan jelas mulut goa dan kepala bajulnya. Kemudian sang pengembara ini di ajak oleh Mbok Rondo Mbegedangan ke tempat kediamannya di Kesamben. Di tempat itulah makam Mbok Rondo Mbagedangan saat ini. Setelah gunung ini pecah maka terdapat sebuah jalan setapak. Selang beberapa tahun kemudian ada seorang yang datang dari daerah Telo. Telo adalah nama sebuah desa yang ada di Kecamatan Grabagan. Ia datang ke tempat ini untuk bertani atau “mboro” istilah jawanya. Kemudian orang ini menanam sebuah pohon yang bernama sirih. orang jawa mengatakan suroh. Karena lahan yang masih kosong ia memperbanyak tanaman sirihnya. Sampai suatu waktu tanaman ini di jadikan sebagai penghasilan. Sebagai mata pencaharian penduduk setempat. Lama-kelamaan orang ini menetap di sini. Sampai akhirnya tempat ini dihuni banyak orang. Semua orang yang menetap di sini mayoritas
menanam pohon sirih juga. Maka disebutlah tempat ini dengan nama Pesuruhan dari kata suroh. Tempat ini sekarang dipadati dengan penduduk. Mereka bermatapencaharian sebagai petani sampai saat ini. Itulah cerita sang kakek yang saya dapatkan. Tak terasa hari pun mulai sore dan akupun segera untuk meninggalkan tempat ini. Profil Penulis Salah satu Penulis Tuban Sembada yang berjudul “ Goa Bajul ( Goa Buaya)” Penulis bernama lengkap Siti Muniroh, S.Pd. Tempat lahir Tuban, 10 September 1983. Ia menamatkan pendidikan di MI Salafiyah Kholidiyah Plumpang. Setelah itu melanjutkan
pendidikannya di SMPN 1 Plumpang dan di SMA Negeri Rengel. Lulus SMA pada tahun 2002 penulis melanjutkan study nya di IKIP PGRI Tuban dan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Penulis mencapai gelar Sarjana ( S1) pada tahun 2006. Kemudian pada tahun 2010 Ia kembali menambah ilmunya di dunia pendidikan dengan mengambil studi di Universitas PGRI Ronggolawe Tuban. Adanya program transfer bagi guru SD, ia mengambil jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan mendapatkan gelar Sarjana (S1). Penulis mengawali karirnya di SDN Kesamben II Kecamatan Plumpang sebagai guru Mulok Bahasa Inggris dan Pembina Ekstrakulikuler pramuka. Pada tahun 2010 penulis mendapatkan tugas rangkap untuk mengajar Mulok Bahasa Inggris di SDN Jatimulyo Kecamatan Plumpang. Selain itu juga membantu sebagai tenaga mengajar Bahasa Inggris di kejar paket B. Terhitung Tahun 2018 ia di amanahkan menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai guru sekolah dasar di SD Negeri Kesamben II Keamatan Plumpang sampai sekarang. Legenda Desa Jatimulyo Dahulu kala hiduplah keluarga kecil yang tak diketahui asal muasalnya. Mereka hidup berdua Si Mbok dengan anak satu-satunya. Ketika itu mereka hidup di hutan belantara. Hari demi hari mereka lalui, hingga sang anak tumbuh menjadi dewasa. Dia dipanggil dengan nama SEBHO yang artinya Kekuatan Besar. Dengan kekuatan besar tersebut, mulailah Ia melakukan penebangan pohon dengan alat ala kadarnya. Penebangan pohon ini dalam bahasa Jawa dikenal dengan sebutan “Bubak Bumi”. Bubak Bumi dimulai dari bagian selatan. Di sana ditemukan banyak pohon jati. Akhirnya Mbah Sebho menyebutkan “Jati” maka, bagian selatan dinamakan Dusun Jati. Setelah menamai dusun Jati, mereka meneruskan penebangan lagi hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Akhirnya bertumpuklah hasil tebangan pohon beserta ranting-ranting pohon. Sehingga penduduk dapat memanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Hingga tempat itiu menjadi ramai.
Saat bubak bumi hari berikutnya, ditemukan pohon yang sangat besar dan tinggi menjulang dibanding dengan pohon-pohon yang Ia tebang sebelumnya. Ia heran, maka dipandangilah pohon tersebut serta berucap Randu-randu. Akhirnya pohon besar itu dinamakan pohon randu. Setelah itu Sebho beristirahat di bawah pohon yang rindang. Dia teringat tumpukan kayu yang telah ditebangnya. Dia kembali ke Jati, untuk membakar kayu-kayu yang ditumpuk tadi. Setelah dibakar kayu tersebut menjadi bongkahan-bongkahan hitam. Sebo memberi nama bongkahan-bongkahan hitam itu areng. Areng-areng itu banyak digunakan oleh penduduk-penduduk di sekitar untuk berbagai keperluan. Banyak warga desa lain datang ke tempat itu mencari areng untuk keperluan sehari-hari. Akhirnya tempat itu di beri nama Ngareng. Yang sampai saat ini menjadi nama dusun di Desa Jatimulyo. Suatu hari ada seorang pengembara datang ke Jati. Dia meminta makan dan minum warga. Warga menyambutnya dengan baik. Kebetulan di tempat itu sedang dilanda kekeringan. Pengembara itu lalu berkomat-kamit berdoa memohon petunjuk Yang Maha Kuasa. Pengembara menancapkan tongkatnya ke tanah, lalu mencabutnya. Sungguh luar biasa dari situlah muncul sumber air. Akhirnya mereka menyebutkan dirinya TIRTA maka diilhami lokasi tersebut Mbah Buyut Tirta yang berarti Sumber Air. Sedangkan yang satu orang pengikut menyebutkan dirinya TOMPO yang berarti menerima. Alhasil dengan rahmat dan hidayah Allah SWT. Walaupun irigasi saat ini yang airnya didapat dari bengawan Solo dan sumur bor yang sekarang menjadi dusun yang cukup pangan, sejahtera serta gemah ripah loh jinawi. Selanjutnya setelah Sebho bertemu dengan Si Mboknya Ia sekaligus meminta ijin dan berpamit untuk bertapa. Dia berkeyakinan di bawah pohon randu yang besar itu ada sesuatu yang akan didapatnya. Tapi mengingat Sebho anak satu-satunya, Si Mbok enggan untuk memberikan ijin dan do’a restu. Namun keyakinan Sebho kuat dan tekadnya bulat. Akhirnya berangkatlah Sebho bertapa. Di tengah perjalanan langkah kaki Sebho terhenti. Rupanya Si Mbok memegangi kakinya dengan erat. Lantas Sebho berucap “Sejo Mbok” yang berarti “Sengaja Yakin Ibu”, Si Mbok juga berucap sambil melepaskan pegangan kaki anaknya “Joyo, Joyo”. Kini nama predikat menjadi SEBHO JOYO yang berarti Kekuatan Besar serta Selamat, Dengan lambaian tangan sang Ibu untuk memberikan do’a restu pada Sebho Joyo, sambil berucap bilamana besuk sudah zaman terang, lokasi tersebut dinamai “SEJOMBOK” kini lokasi tersebut di Dusun Ngareng RT 01/ RW 01. Akhirnya Si Mbok
pulang ke rumahnya di Dusun Jati. Sebho Joyo meneruskan langkah kakinya untuk bertapa di tempat yang Ia yakini, untuk mendekatkan diri pada Sang Yang Murbeng Dumadi. Hal ini dilakukan agar kelak warga Dusun atau Desa yang Ia bubak, selalu mendapat perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka juga mendapat Kesejahteraan dan kedamaian. Sang pertapa Sebho Joyo bertahun-tahun Muksolah, yang berarti menyatu dengan rohnya atau hilang tanpa raga kasar. Maka dari hal ini napak tilas dari Mbah Sebho Joyo, warga Dusun Ngareng khususnya memuliakan atau mengadakan ritual “Sedekah Bumi” setiap tahun. Tepatnya hari Ahad Pon antara bulan September/Oktober, yang maksud dan tujuan mengingat legenda dan sejarah Bubak Bumi Dusun Ngareng. Khususnya untuk memberikan rasa syukur dan berterimakasih atas jerih payah Mbah Sebho Joyo dan berkah dari Allah SWT untuk semua rezeki yang diberikan. Legenda dan Prasejarah Dusun Parengan Kala itu hiduplah dua insan pengembara yang tak lain bersaudara kakak dan adik. kini Kakang yang bernama CO’BAU dan Adik yang bernama REWENG, kedua insan tersebut sama sakti mandraguna. Suatu hari mereka mengadu kekuatan dengan taruhan di hutan lebat. Hutan yang penuh pohon Jati yang besar-besar dan tumbuh juga pohon-pohon lain.
Dengan sebutan Kakang yang bernama Co’bau yang diartikan seorang penggembala. Sebelum adu tanding kesaktian mereka berdua sepakat untuk menjadi keputusan kemenangan, “bilamana Kakang Co’bau kalah harus menggembala dan memelihara ternak dengan sebaik-baiknya. Itu berlaku sampai umur Kakang mendapati ajal. Sebaliknya bilamana adik dengan sebutan Reweng kalah harus menebang atau babat hutan dan mencangkul, supaya dapat ditanami sampai ajal menjemputnya. Sesuai dengan kesepakatan mereka berdua akhirnya adu kekuatan. Akhirnya berdua mengalami kelelahan tidak ada yang menang ataupun yang kalah. Kemudian merasa adik yang masih muda tenaga masih kuat Ia mengalah demi kakang yang Ia cintai. Sesuai kesepakatan dengan alat ala kadarnya dan tenaga supranatural, Ia dalam sekejab tanpa sebutan bulan demi bulan berhasillah Ia bubak bumi seluas dusun yang Ia tempati. lalu Ia didatangi dan ditanya oleh Kakangnya (Co’bau) “hai Adikku, tenagamu sangat luar biasa hanya beberapa hari saja engkau telah berhasil menebangi pohon-pohon yang besar dan mencangkuli pereng-pereng setinggi itu.” Lalu adik menjawabnya, “Semua itu peparingan Sang Yang Wenang, Kakangku karena kita ini hanyalah titah sa’wantah.” Kakaknya yang baik dan sayang sekali pada adiknya mereka mengangguk-angguk sembari memegang dagunya seraya berucap “Bilamana besuk zaman sudah terang tanah ini kita namai ‘’PARENGAN” lalu adiknya menyambung ucap “Sendiko Kakang”. Kemudian mereka berdua meninggalkan tempat itu dan berteduh di bawah pohon Jati. Pohon itu satu-satunya yang paling besar di sekitarnya. Konon Kakangnya (Co’bau) berpesan “Agar pohon yang satu ini sampai kapan pun jangan pernah ditebang!” sebagai adik Ia patuhi dan menghormati atas wasiat Kakangnya. Tahun demi tahun kakangnya sudah tua dan meninggal dunia. Si adik (Reweng) dengan hati yang sedih karena ditinggal seorang diri akhirnya memutuskan untuk bertapa dan berserah diri di bawah pohon Jati yang besar itu. Ia mengharap dan memohon Rida Peparingan Gusti Yang Maha Agung supaya anak cucu kelak selalu diberikan perlindungan, kesejahteraan, ketentraman dan mudah mendapat sandang dan pangan. Kini dengan saksi bisu bentuk prasasti pohon jati sangat besar yang pada saat ini masih hidup dan segar yang berdiameter atau garis tengah mencapai kurang lebih 3 (tiga) meter.
Dari alkisah tersebut diatas terbentuklah Dusun PARENGAN dan keberadaban kakang dan adik selalu memberi suri tauladan atau contoh yang baik dan bijak kapada kita semua. Kemudian dalam kisah prasejarah dan legenda atas terbentuknya dusun Jati, dusun Ngareng dan dusun Parengan. Dalam era pembaharuan dan pembangunan disekitar tahun 1948/1949 yang pada zaman kepala desa yang ke dua desa Jatimulyo yaitu Bapak Sastrodiharjo al Kadiran berpendapat bahwa, karena sebaik-baiknya dari sekian banyak pohon yang sejatinya kayu adalah kayu Jati yang sangat baik, kuat dan mulia. Maka dari kesimpulan tersebut mereka (Mbah Inggi Sastrodiharjo al Kadiran) menamakan desa Jatimulyo yang terdiri dari 3 (tiga) dusun tersebut di atas. Demikianlah sekupas legenda desa Jatimulyo, bilamana ada kurang dan lebihnya atas kupasan tersebut kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, dan semoga Allah SWT. selalu melindungi, memberi keamanan, memberi kesejahteraan serta hidayah dan inayahNya pada warga desa Jatimulyo khususnya agar semoga menjadi desa yang baldatun toyyibatun warobbun gofur dan warga Negara Indonesia umumnya. Aaamiiin ... Legenda Desa bersumber dari : - Kretek Desa - Hasil wawancara sesepuh Dusun/Desa - Tempat yang dikramatkan (Mbah Buyut) Profil Penulis Perempuan bernama lengkap Lasmirah ini lahir di Tuban, tepatnya tanggal 10 Juni 1984. Jenjang pendidikan Sekolah Dasar di SDN Jatimulyo I, MTs Plumpang, MAN Rengel, D2 PGSD UT, S1 PGSD UNIROW, S1 PAI STITMA Tuban, serta beberapa waktu yang lalu lulus PPG DALJAB dari LPTK Universitas Ponorogo.
Saat ini ia mengabdi di SDN Jatimulyo I sebagai guru PAI. Ia juga dipercaya menjadi bendahara I KKG PAI kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban masa bakti 2023 -2027. Selain mengajar di SD, ia juga menjadi guru sekaligus kepala TPQ Ar-rohmad di desa Jatimulyo Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban. Legenda Chenghui Mendengar kata Chenghui pasti di pikiran kita adalah nama orang China. Memang benar itu adalah nama saudagar China yang menetap di bantaran sungai bengawan solo pada masa kejayaan kerajaan majapahit, kala itu sugai bengawan solo menjadi jalur transportasi dan juga sebagai jalur alternatif untuk jalur perdagangan, Bengawan solo pada masa itu terbilang sangat ramai lalu lalang kapal kapal besar para saudagar dari beberapa
negara, khususnya china, persia, dan negeri timur tengah lainnya,karena ukuran luas bengawan solo berbeda dg saat ini dimana dulu sangat lebar, jadi bisa memungkinkan untuk lalu lalang kapal-kapal besar, dan singgah dibeberapa titik bantaran bengawan untuk melakukan transaksi jual beli / barter, bukti peninggalan yg masih ada dari kegiatan perdagangan adalah masih banyaknya koin- koin kuno dan perabotan gerabah mulai dari terakota, keramik, giok, kuningan, perunggu, tembaga, dan material lainnya, oleh para penambanng pasir disekitar lokasi. Karena gejolak politik Nusantara, maka banyak terjadi pergolakan dan pemberontakan di kerajaan majapahit, banyak huru hara dan kekacauan disana sini (era pergantian masa Majapahit ke Demak Bintoro).Setelah berkelana dan berdagang di nusantara ini. Beliau ( chenghui ) memutuskan untuk tinggal di wilayah bantaran bengawan solo, yang saat ini menjadi wilayah dukuh Mojoterong tepatnya di Desa kedungsoko Kecamatan Plumpang kabupaten Tuban, di situlah beliau mendirikan bangunan rumah tempat tinggal yang juga sekaligus digunakan untuk berdagang, dan akhirnya para penduduk sekitar juga ikut berdagang dari hasil bumi penduduk lokal akhirnya tempat itu berubah menjadi sebuah pasar kecil yang sangat ramai, dan di tempat itu juga chenghui mendirikan bangunan untuk pemujaan dewa-dewa ( sembah hyang ) sesuai dengan kepercayaan pendduk lokal saat itu yaitu agama hindu. Bukti adanya tempat pemujaan dewa-dewa ( sembah Hyang ) itu adanya patung /Arca budha di tempat itu. “ patung / Arca itu dibuang ke sungai bengawan solo oleh seseorang yang bernama Legiman “ ucap mbah Wo Pasir. Patung itu dibuang sekitar tahun 1965, sehingga patung itu hilang sampai sekarang belum ditemukan lagi, tapi di salah satu sudut tempat itu ada batu padas yang biasa digunakan masyarakat tempo dulu untuk membangun sebuah patung /arca, dan bongkahan batu itu masih ada sampai sekrang dan batu itu di berikan tempat yang tebuat dari bilah bambu yang dianyam oleh warga agar supaya batu sisa peninggalan sejarah itu masih tersimpan. Dulu tempat itu dikeramatkan oleh masyarakat sekitar sehingga tak jarang masyarakat sekitar maupun dari luar desa kedungsoko yang masih memberi sesajen di tempat itu untuk beberapa kepentingan pribadi mereka, di tempat itu juga ada tiga pohon asem jawa yang sangat besar, dan hal itulah yang membuat kesan angker serta keramat tempat itu. Mbah wo Pasir selaku perngkat Desa Kedungsoko waktu itu memutuskan untuk menebang pohon besar itu supaya tidak di salahgunakan oleh masyarakat yang ingin mujo ( memuja roh ), sekarang tempat itu sudah berubah menjadi lapangan voli dan juga lapangan untuk bermain anak-anak di sekitar dukuh mojoterong itu,lapangan itu diberi nama lapangan chenghui oleh masyarakat dukuh mojo terong
Ujar mbah wo Pasir “ di antara tempat yang lain tempat paling anggker di wilayah kedungsoko, lapangan chenghui lah yang paling angker “ karena dulu chenghui itu selain sebagai saudagar beliau juga orang berilmu, chenghui ini berperawakan tinggi besar ( gempal ), selain taat beribadah ( sembah Hyang ) beliau juga sangat dermawan sehingga masyarakat sekitar sangat menghormatinya, dan hal itu dapat kita jumpai setiap setahun sekali di tempat itu di adakan nyadran atau sedekah bumi untuk menghormati arwah /roh chenghui itu di adakan pesta dengan pagelaran langen tayub. Namun seiring berjalannya waktu dan di era modern ini tidak hanya pagelaran langen tayub. Malam sebelum pagelaran langen tayub juga di adakan acara tahlilan dan juga sholawatan. Hal itu tentu bertujuan untuk memutus rantai sesembahan sesajen. Hal ini masih dilakukan oleh masyarakat, walaupun hanya sebagian kecil. Dari situlah asal mula nama lapangan Chenghui, yang berada di Dukuh Mojoterong Dusun Kedung Desa Kedungsoko Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban. Sampai saat ini lapangan itu sering digunakan untuk kegiatan warga sekitar, seperti kegiatan PHBN meramaikan HUT Republik Indonesia dan berbagai kegiatan lomba khususnya pertandingan bola voli. Profil Penulis Agus Suprayitno,S.Pd, seorang pendidik yang lahir di Tuban pada tanggal 1 Maret 1985, aktif berdinas di SDN Kedungsoko III. Ikut serta menulis legenda untuk kado hari jadi Tuban ke 730. selain itu karya sederhana ini diharapkan dapat menjadi bahan bacaan siswa-siswa di Kabupaten Tuban.
Ki Ageng Kemplung Ngino Al kisah, di sebuah dusun yang terletak di sebelah barat pertigaan Ngino, hiduplah seorang laki-laki bernama Ki Ageng Turus, yang akhirnya juga dikenal sebagai Begede Ngino atau Kemplung Ngino. Bukan tanpa alasan kenapa akhirnya lelaki itu mendapatkan julukan tersebut. Tidak lain adalah karena kemampuan lebih yang dimilikinya sehingga mampu mengetahui hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh orang lain dengan mudah dan dalam beberapa kesempatan. Kesaktian laiinya adalah apa yang dia ucapkan secara spontanitas atau tanpa kesengajaan ternyata adalah sebuah kebenaran atau menjadi suatu kenyataan. Cerita dikenalnya Ki Ageng Turus menjadi Begede Ngino berawal pada saat Begede Ngino pergi berjalan sangat jauh. Konon, tibalah dia di sebuah sendang (sungai) yang
belum ada namanya. Di sana, dia bertemu dengan seorang bapak yang bernama Ki Ageng Dalem. Ki Ageng Dalem lalu bertanya, “Njenengan yah menten dugi mriki badhe kagungan kersa napa, pak?” “Aku tekan kene iki ngelak. Kudu ngombe,” jawab Begede Ngino. “Iki kok ana sendhang, jenenge sendhang apa?” lanjutnya. “Sendhang niki dereng wonten naminipun, Ki Sanak,” jawab bapak tersebut. “Lha njenengan nika mlampah badhe tindak pundi?” lanjutnya. “Kula niki mlampah-mlampah nerusaken lampah kula. Duka saking mriki mangke dumugi pundi lampahan kula,” jawab Begede Ngino. Bapak yang bertanya tadi kemudian mengajak Begede Ngino melanjutkan perjalanan bersama, “O, nggih ngaten, mangga mlampah sareng.” “Njenengan entosi rumiyin. Kula dugi mriki niki kalawau kepengen nginum rumiyin.” jawab Begede Ngino. Setelah minum air sendang, Ki Ageng Turus lalu berkata, “Mbesok yen ana reja-rejane jaman, sendang iki tak jenengke sendhang ngino, lan desane iki tak jenengke Desa Ngino.” Kata ngino berasal dari kata nginum yang artinya minum. Sendang ngino yang pada perkembangannya kemudian dikelola menjadi salah satu destinasi wisata di kota Tuban sekarang ini, akhirnya diganti nama oleh Pak Lurah menjadi Sendang Asmoro. Ki Ageng Turus kemudian kembali melanjutkan perjalanannya sampai bertemu dengan orang yang sedang makan semangka. Orang tersebut kemudian bertanya kepada Ki Ageng Turus, “Ki Sanak, semangka iki isine pira?” Karena memang belum tahu jawabannya, maka Ki Ageng Turus akhirnya menjawab, “Kula mboten ngertos semangka niku isine pinten. Nawi njenengan kepengen ngertos, nuwun sewu, kula nedi wekdal kinten-kinten setunggal minggu. Mangke menawi sampun kepanggih jawabanipun njenengan kula sanjangi.” Ki Ageng Turus lalu membuat perahu dari gedebog (batang pohon pisang) yang ditusuk dengan bambu dan digabungkan menjadi satu, dibuat sejajar, dan dilarungkan ke laut. Pada saat itu secara kebetulan, Ki Ageng Turus mendengar percakapan antara 3 orang yang juga sedang makan semangka dan bertanya, “Semangka iki isine piro yo?” “Lha mbuh ya, tapi mestine ya telu.” salah seorang dari mereka kemudian menjawab. “Lha kok isa telu, apa ae kuwi?”
“Sing siji iku kulit, sing loro iku banyu, sing telu iku daging,” sahut yang lain menambahi. Dari percakapan yang didengar tadi, Ki Ageng Turus akhirnya mendapatkan jawaban pertanyaan dari 3 orang yang pernah menanyakan tentang berapa jumlah isi semangka beberapa waktu yang lalu. Beliau akhirnya bisa menyampaikan jawaban tersebut kepada mereka. Ki Ageng Turus kemudian kembali melanjutkan lagi perjalanannya hingga sampai di sebuah rumah yang terlihat ramai karena sedang mengadakan acara hajatan (sedang punya kerja). Karena terlihat banyak orang dan ingin mengetahui apa yang sedang terjadi di rumah tersebut, Ki Ageng Turus akhirnya mendatangi rumah tersebut. Sesudah salam dan melihat ke dalam rumah, Ki Ageng Turus secara spontan bermaksud ingin berkata, “Ooo, banyak orang.” tapi, ternyata ucapan yang keluar dari mulutnya adalah, “Ooo, banyak lulang.” Saat itu, ada dua orang yang sedang bercakap-cakap dan salah satunya mengatakan kepada temannya bahwa dia telah menimbun banyak (angsa) dan lulang (kulit sapi) di bawah meja dimana mereka sedang bercakap-cakap tersebut. Begitu mendengar apa yang diucapkan oleh Ki Ageng Turus, dua orang yang sedang bercakap-cakap itupun terperangah kaget. Bagaimana Ki Ageng Turus bisa mengetahui apa yang telah ditimbun oleh salah satu dari mereka di bawah meja. Maka salah satu dari mereka pun bertanya, “Njenengan kok sanjang banyak lulang kenging napa, Ki Sanak?” “Kula niki wau sakjane badhe sanjang banyak orang, lha duka kok malah klentu sanjang banyak lulang. Tapi leres napa mboten nggih mbok menawi sampeyan sak estu mendhem banyak kalih lulang?” Kedua orang tersebut akhirnya mengiyakan dan membenarkan apa yang ditanyakan oleh Ki Ageng Turus. Lalu, begitulah dalam berbagai peristiwa. Beberapa di antaranya tersebut di atas, Ki Ageng Turus akhirnya dikenal sebagai seorang yang memiliki kemampuan lebih untuk bisa menebak atau mengetahui lebih banyak hal yang tidak mudah diketahui oleh orang kebanyakan. Suatu hari, Ki Ageng Turus yang saat itu sedang berjalan tanpa tujuan ke mana dan hanya ingin terus berjalan mengikutkan langkah kakinya. Akhirnya dia bertemu dengan salah seorang utusan dari Kerajaan Majapahit, Prabu Brawijaya terakhir. Orang itu adalah Damarwulan dari Tuban, putra dari Patih Bedawa yang diminta untuk mencari orang yang bisa menemukan golekan (boneka) kencana yang hilang dari keraton. “Nuwun sewu, Ki Sanak, kula utusan saking Majapahit” sapa Damarwulan kepada Ki Ageng Turus.
“Nggih, kula Ki Ageng Turus, wonten napa nggih?” jawab Ki Ageng Turus. “Kula pireng njenengan gadhah linuwih tinimbang tiyang sanesipun. Dos pundi nawi njenengan kula derekaken dateng Majapahit kangge madosi golekan kencana ingkang ical?” tanya utusan tersebut. Ki Ageng Turus menjawab bisa dan sanggup, sehingga akhirnya ikutlah Ki Ageng Turus ke Majapahit. Sesampainya disana, Ki Ageng Turus langsung diajak menemui Gusti Ratu dan diperintahkan untuk mencari golekan kencana. Ki Ageng Turus yang masih asing dengan lingkungan di Kerajaan Majapahit dan belum mendapatkan firasat apapun tentang di mana dan bagaimana menemukan golekan kencana. Akhirya dia mengatakan sanggup untuk mencarinya. Namun, meminta tempo waktu 44 hari. Waktu berlalu dan hari ke-44 pun sudah hampir tiba. Begede Ngino yang mulai merasa agak bingung karena belum juga mendapatkan jawaban atau mengetahui di mana golekan kencana itu berada, akhirnya yasa (membuat) planggaran (seperti rak bertingkat) yang diletakkan di atas jalan. Tujuannya adalah agar beliau dapat dengan segera mendapatkan petunjuk tentang golekan kencana. Planggrangan yang telah dibuat itupun akhirnya digunakan untuk semedi. Ki Ageng Turus methangkrong (duduk di atasnya) hingga beberapa waktu dan mendapatkan petunjuk sesuai dengan yang diharapkan. Setelah bersemedi selama beberapa waktu, Ki Ageng Turus benar-benar mendapatkan petunjuk itu. Beliau dapat mendengar percakapan antara 2 orang buruh (pembantu) Gusti Ratu yang bernama Badan dan Nyawa. “Eh, Dan Badan, iki nek sampek golekane ketemu, sida isa dipotong tenan guluku karo Raden Brawijaya, piye iki,” kata Nyawa ngresula (berkeluh kesah) kepada Badan. “Lha ya, umure awake dewe iki isa-isa mung karek sedina sewengi iki.” Ki Ageng Turus yang mampu mendengar permbicaraan antara Badan dan Nyawa itu akhirnya turun dari planggrangan dan sowan ke keraton menemui Gusti Ratu, kemudian berkata, “Nyuwun sewu, Gusti Ratu, kula sampun saged manggihaken tiyang ingkang ngicalaken golekan kencana.” “Sapa wonge Begede Ngino?” Gusti Ratu dengan tidak sabar segera bertanya kepada Ki Ageng Turus. “Nyuwun sewu Gusti, tiyang ingkang sampun ngicalaken golekan kencana punika Badan kalih Nyawa, abdi dalem Gusti piyambak,” jawab Ki Ageng Turus. Gusti Ratu yang merasa terkejut mendengar berita tersebut, segera meminta prajurit untuk memanggil Badan dan Nyawa. Gusti Ratu ingin memastikan terlebih dahulu apakah informasi yang telah disampaikan Ki Ageng Turus tersebut benar atau salah. Setelah
dihadapkan dan ditanya oleh Gusti Ratu, Badan dan Nyawa akhirnya mengakui bahwa benar, mereka telah menghilangkan golekan kencana tersebut. Namun karena mereka adalah buruh yang sudah lama mengabdi dengan baik dan setia di keraton, akhirnya mereka diampuni dan tidak diberi hukuman yang cukup berat oleh Gusti Ratu. Selanjutnya Gusti Ratu menanyakan di mana letak golekan kencana sekarang, dan Ki Ageng Turus pun menjawab, “Golekan punika sakmangke wonten ing ngandhap gedhokan jaran dateng pojok ler etan dipun tutupi watu gilar.” Dari keberhasilannya menemukan golekan kencana yang telah hilang dari keraton tersebut, Ki Ageng Turus kemudian mendapatkan tambahan nama Begede Ngino dari Gusti Ratu, dan diangkat menjadi seorang pujangga (pembesar) keraton yang dihormati dan disegani dan hidup layak di sana. Beberapa tahun berlalu, Begede Ngino yang sudah lama meninggalkan kampung halamannya, tiba-tiba merasa ingin sekali melihat rumahnya. Dia merasa rindu dan ingin kembali pulang ke rumahnya yang dulu yang sudah lama sekali dia tinggalkan di Ngino. Sayangnya, Begede Ngino tidak pernah diijinkan oleh Gusti Ratu untuk itu, hingga akhirnya Begede Ngino meminta putrinya yang bernama Inosari untuk membakar rumahnya, “Nduk, kowe muliha. Omahe obong. Mengko yen omahe wis kobong beluke mesti ketok saka keraton. Yen Gusti Ratu ngerti omahe awake dewe kobong, aku mesti bakal diijini mulih Ngino.” Maka berangkatlah Inosari memenuhi perintah ayahnya. Dibakarlah rumahnya. Setelah tampak asapnya dari keraton, Begede Ngino segera menyampaikan kepada Gusti Ratu tentang kebakaran rumahnya itu dan meminta ijin untuk pulang, “Gusti, nyuwun sewu, wonten keluk ingkang ketingal saking mriki, nika griya kula kobong Gusti. Kula nyuwun pamit badhe wangsul ningali griya kula.” Gusti Ratu yang tidak lagi punya alasan untuk mencegah Begede Ngino pulang, akhirnya mengijinkannya pulang, “Nek pancen omahmu kobong, muliha Begede Ngino. Gawanen para prajurit keraton sak perlune kanggo njaga awakmu ning perjalanan.” “Nggih, Gusti Ratu, matur nuwun,” jawab Begede Ngino dengan perasaan bahagia. Segera setelah mendapatkan ijin untuk bisa pulang, berangkatlah Begede Ngino bersama beberapa prajurit keraton yang telah dipersiapkan untuk mengawalnya. Namun di tengah perjalanan, Begede Ngino dicegat oleh saudaranya sendiri yang merasa iri dengan semua keberuntungan dan keberhasilan yang telah diraih oleh Begede Ngino. Karena adanya iri, dengki, dan amarah yang telah menguasai saudara Begede Ngino, maka perselisihan pun tidak dapat dihindari hingga berujung dengan pertempuran antar keduanya. Dalam pertempuran tersebut, Begede Ngino kalah dan terluka parah.
Walaupun dalam kondisi yang terluka parah, Begede Ngino masih tetap ingin pulang, sehingga dengan terpaksa Begede Ngino akhirnya harus dipondong (dipapah) oleh para prajurit keraton. Begede Ngino lalu kembali meminta para prajurit keraton untuk melanjutkan perjalanan. Namun tidak berselang lama, saat merasa lelah, Begede Ngino meminta tentara kerajaan yang memapahnya untuk berhenti sebentar dan berkata, “Kok kebangeten tenan aku diplara karo dulurku dewe ning kene. Mbesok yen ana rejane jaman, desa iki tak jenengke desa Mbanget.” Selanjutnya, Begede Ngino mengajak para prajutit keraton kembali melanjutkan perjalanan. Namun, baru beberapa saat berjalan lagi, Begede Ngino meminta untuk kembali berhenti dan berkata, “Lagi tekan kene gegerku rasane kok wis pegel. Mbesok yen ana rejane jaman, desa iki tak jenengke Desa Nggeger.” Karena kondisi lukanya yang cukup parah, maka saat baru beberapa meter kembali melanjutkan perjalanan, Begede Ngino meminta untuk kembali berhenti dan berkata, “Gegerku sing pegel iki tak sendekne sik ae. Mbesok yen ana rejane jaman, desa iki tak jenengke desa Landean.” Begitu seterusnya hingga kembali melanjutkan perjalanan lagi. Begede Ngino yang punggungnya terluka merasa seperti nglothok (terkelupas) kulitnya, kemudian berkata, “Kulit gegerku kok rasane kaya nglothok kabeh. Mbesok yen ana rejane jaman, desa iki tak jenengke desa Klotok.” Karena jauhnya perjalanan dan luka yang semakin parah, Begede Ngino akhirnya ditandu oleh para prajurit agar bisa segera sampai di Ngino. Hidup dan keinginan terkadang memang tidak bisa berjalan seiring. Begitu jugalah yang terjadi dengan Begede Ngino. Sebelum sempat sampai di Ngino, Begede Ngino telah meninggal di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Sundulan. Asal mula dari peristiwa semakin lelahnya para prajurit yang mengusung Begede Ngino, hingga akhirnya kepala mereka semakin lama semakin yundhul tandu yang digunakan untuk mengusung Begede Ngino. Karena jarak antara Sundulan dan Ngino masih cukup jauh, maka Begede Ngino akhirnya dimakamkan di Sundulan, Sumberagung. Makamnya sampai sekarang masih didatangi dan diziarahi oleh para penduduk Ngino dalam bulan-bulan tertentu sebagai bentuk penghormatan kepada Begede Ngino. Sedangkan anaknya, Inosari yang menikah dengan Sura Surung yang pada saat kematian keduanya akhirnya dimakamkan di kuburan Ngino dan di tepian sumberan (sumber air) Ngino.
Profil Penulis Terlahir pada tanggal 6 Juni 1979, Vera Khairun Nissa adalah seorang guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Plumpang, Tuban, Jawa Timur yang tinggal di perumahan Tasikmadu, Palang, Tuban. Sang Bujuk Rayung “Sayyid Ahmad Badri Martolaksono” Pagi itu, kuhirup udara pagi yang basah. Dingin… tetapi tak sampai menjadikanku menggigil. Jalanan belakang rumah pun masih begitu lengang. Ya, belum terlihat aktivitas para petani bercocok tanam. Kulangkahkan kaki menyetapaki "Dalan Anyar" jalan tembusan yang dibuat pemerintahan desa untuk kami warga Ngrayung Njar Kidul Pojok Manis kesayangan. Entahlah… sepanjang jalan yang terpikir hanya kenangan. Kenangan tentang "mbarongan" yang beberapa tahun silam dibabat habis untuk dijadikan jalan pemukiman. Ah... cerita masa kekanakan menyeruak, di pelupuk mata teringat almarhum Bapak yang sudah tenang di alam keabadian. Bersama leluhur kami tercinta menghuni surga FirdausNya. Semribit angin seolah menuntun langkah kaki ini menuju pemakaman. Tempat bapak kami disemayamkan. Benar, makam desa kami bersebelahan dengan ‘Dalan Anyar”. Dari kejauhan kukirimkan selaksa doa untuk almarhum-almarhumah yang
telah mendahului kami. Khususon ilaruhi arwahi, alfatihah. Ucapku dari lubuk hati yang terdalam. Ya Allah Gusti… jika kupandangi deretan pemakaman "saklebatan" teringat akan kematian. Bahwa yang lahir akan kembali kepadaNya. Begitulah kehidupan. Selepas surat alfatihah kulantunkan perlahan. Tetiba mata ini memandangi salah satu makam yang beda dalam pandangan. Ya… makam yang diparingi "omah-omahan" teduh di bawah rindangnya wit "kepoh", wit -witan yang identik tumbuh di lahan pemakaman. Makam siapakah gerangan? Itulah makam Sang "Bujuk Rayung", sang legenda dalam keagamaan. Pembaca yang budiman, Desa Ngrayung merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Plumpang. Yang terletak di sisi utara dengan Desa Plumpang tepatnya. Sebuah desa kecil dengan panorama kehidupan yang kental akan kearifan lokal. Legenda Desa Ngrayung bermula dari sebuah sungai yang terbentuk dari tanah alluvial. Di tepian sungai itulah banyak tetumbuhan rayung yang beranak pinak membentuk hutan. Pelepah daunnya keunguan. Bunga bunganya putih berambut panjang. Rayung muda bisa dijadikan makanan ternak. Tunasnyapun bisa dijadikan obat tetes mata jika dicampur dengan air. Daunnya pun seolah tak mau kalah. Jika dikeringkan bisa dimanfaatkan untuk atap rumah. Rayung.. mempesona, menjanjikan sebuah kehidupan bukan? Tak heran jika banyak orang berdatangan di Hutan Rayung. Pak Morolah orang pertama kali yang datang di Hutan Rayung. Beliau berasal dari Dusun Juwet Desa Magersari. Dengan semangat yang membara membabat sebagian hutan untuk dijadikan hunian. Kemudian datanglah orang kedua yg bernama Ki Surobonto dari Dusun Ngareng Desa Jatimulyo. Beliau memboyong keluarganya untuk menetap di Hutan Rayung. Waktu terus berlalu, hari berganti hari . Bulan dan tahun berlalu berganti. Mentari terus menyinari Hutan Rayung. Teduh sentosalah alam semesta. Suara gemericik air sungaipun berirama. Bersenda gurau dengan segerombolan pohon- pohon rayung. Di suatu senja yang indah, gemericik air sungai mengalirkan irama. Senada gemulai daun-daun rayung. Sejak pagi tampak burung-burung prenjak berterbangan mengitari hutan. Riang kepak dan suara ciutannya membawa kabar. Kabar akan kedatangan seorang suci dari Ngimbang Suwirek, Madura. Siapakah gerangan? Kiai Amatdari namanya. Maha suci Allah dengan segala ketetapanNya. Kedatangan beliau disambut suka cita oleh orang-orang yang lebih dahulu mendiami Hutan Rayung. Kiai Amatdari terkesima melihat antusias warga. Hingga Kiai amatdari membulatkan hati untuk tinggal di Hutan Rayung sampai akhir hayatnya. Dengan rendah hati Kiai Amatdari melakukan siar keagamaan mengajak warga untuk beribadah kepada Allah swt. Banyak petuah yang disampaikan beliau, salah satu di antaranya adalah bagaimanapun panjang usia yang diberikan kepada manusia jika kita tidak bertakwa apalah gunanya, mempercayai bahwa Allah satu-satunya pencipta, pengatur segala sesuatu dan yang berhak disembah serta tidak ada sekutu bagiNya. Ah… damainya hati warga tatkala Kiai Amatdari menyampaikan petuah-petuahnya. Dakwah sang Kiai pun menguar ke mana- mana, membelah angkasa raya. Banyak warga desa lain berdatangan ke Hutan Rayung. Ya… mereka ingin belajar tentang Islam. Ingin lebih
mendekatkan diri dengan Kiai. Dan akhirnya memperoleh ketenteraman tinggal di Hutan Rayung. Waktu terus bergulir, sejarah pun dimulai. Pagi itu Alas Rayung diguyur hujan. Padahal musim sedang kemarau. Warga berdiam diri di gubug mereka masing-masing. Para perempuan sedang memasak di pawon. Anak-anak mereka pun menunggu di depan tungku sembari menghangatkan badan. Para lelaki pun tak mau berpangku tangan, mereka menganyam daun-daun rayung kering dijadikan tikar untuk gelaran peristirahatan. Para warga mensyukuri karunia Tuhan sejak kedatangan Kiai Amatdari Hutan Rayung semakin subur. Kehidupan semakin bahagia sentosa. Hasil ladangpun melimpah ruah untuk kelangsungan hidup. “Hoooiiiiiiii…..” Suara lantang Ki Surobonto menggema memanggil para tetangga yang rumahnya tidak jauh bersebelahan. Mendengar teriakan Ki Surobonto tetangga-tetangga berhamburan keluar. Begitu juga dengan Kiai Amatdari. “Kiai. Ada kluwung di atas Alas Rayung” ujarnya sambil terengah-engah. Semua warga membuntuti, mereka ingin tahu apa yang sedang terjadi. “Subhanallah… ini semua atas kuasa Allah SWT. Jawab Kiai Amatdari sembari membuka kedua tangannya dan mengusapkan ke wajahnya. Semua warga turut melakukan hal yang sama seperti sang Kiai. Tiba-tiba dari berbagai arah banyak orang-orang berdatangan ke Hutan Rayung. Mereka adalah para orang tua yang membawa serta keluarganya. Tampak peluh keringat membasahi tubuh. Sesampai di hadapan Kiai mereka bersimpuh dan menghaturkan sebuah permintaan. “Kiai, bolehkah kami tinggal di Hutan Rayung ini? Kami ingin mengaji kepadamu Kiai. Ajari kami tentang ilmu keagamaan. Tunjukkan kami bahwa Tuhan itu ada.” “Bagaiman menurut kalian, Para warga?” “Mangga, Kiai, boleh saja. Karena menurut wejangan panjenengan kita harus saling mengasihi. Mereka berbondong – bondong ke sini mau mencari kehidupan yang lebih baik. Mereka ingin mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Para pendatang pun tersenyum lega. Mereka diterima dengan tulus. Kiai Amatdari menengadah. Mata hatinya memanjatkan keberkahan. Lalu sang Kiai mengelus jenggotnya dan berucap dengan khidmat. “ Para wargaku tercinta, seiring dengan bertambahnya warga yang ngerah babat Hutan Rayung dan tinggal di sini, maka sudah tiba saatnya hutan ini menjadi sebuah pemukiman. Kelak di keramaian zaman, kunamakan desa ini… Desa Ngrayung.” Seluruh warga terkesima dengan apa yang diucapkan oleh Kiai Amatdari. Pandangan takjub para warga tertuju pada sang Kiai. Sang Kiai pun melanjutkan perkataannya.
“Meskipun wilayahnya tidak seluas desa-desa yang lain, tetapi saya meyakini bahwa takdir Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, desa ini akan menjadi sebuah desa yang damai tenteram sentosa. Di desa kita ini kelak akan banyak didirikan bangunan-bangunan penting. Begitu juga dengan keturunan-keturunan kalian. Mereka nanti akan menjadi orang-orang yang cerdas dan pekerja keras. Mereka akan menjadi insan-insan yang berguna untuk nusa, bangsa, dan agama.” Semua warga menengadah dan serempak menjawab, “Aamin… aamin ya robbal alamiin.” Sejak saat itu tepat di bulan Agustus Tahun 1757 pelangi di Desa Ngrayung bersemarak, berkilau berdampingan dengan gesekan daun-daun rayung yang indah. Kehidupan masyarakatpun semakin damai. Begitupun dengan ibadah para warga yang semakin hari semakin tawadhuk. Mereka meyakini bahwa ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksankan perintah-perintahNya melalui lisan dan perbuatan. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah azza wajalla. Tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabah dan kecintaan. “Terima kasih, Kiai Amatdari, atas segala bimbingan panjenengan. Berkat petuah-petuah keagaaman, kini hati kami sudah bertuhan. Dialah Allah swt,” ucap warga penuh keharuan. Para pembaca yang berbahagia. Kiai Amatdari wafat pada 16 Jumadil Ula Tahun 1759 Masehi. Dengan berjalannya waktu kehidupan warga akhirnya membawa keberkahan. Keberkahan menemukan makam sosok yang telah memberi nama Desa Ngrayung. Hingga pada tanggal 26 Juli 2019, setelah bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Tuban yang diwakili oleh pembuka situs makam, yaitu KH. Ahmad Agus Abdullah Rubaid, makam Kiai Amatdari ditemukan di tengah pemakaman desa. Setelah ditelusuri ternyata Sayyid Ahmad Badri Martolaksono, beliau adalah keturunan ke-32 dari silsilah Sayyidatuna Fatimah Az-zahro binti Rasulullah Muhammad saw. Subhanallah.. Maha Suci Allah dengan segala takdirNya. Banyak orang yang berdatangan untuk berziarah ke makam Sunan Rayung atau Bujuk Rayung. Bujuk adalah kata yang berasal dari Madura. Bujuk mempunyai arti seseorang yang sudah meninggal dan menjadi pemandu dalam mengerjakan ibadah para warga desa. Sebagai bentuk rasa syukur, pemerintah desa pun menggelar haul tiap tahunnya. Selaksa doa kami kirimkan kepada beliau sang legenda. Sang legenda keagamaan di desa kami tercinta. Pembaca yang dirahmati Allah, Demikian secarik cerita yang dapat saya tuliskan. Semoga menjadi ladang keberkahan untuk desa kami tercinta. Desa Ngrayung tepatnya. Desa dengan segala kehidupan masyarakat yang menenteramkan. Desa yang mendapatkan keberkahan dari seorang Sunan. Terima kasih tak terhingga untuk pemerintah Desa Ngrayung khususon Bapak Rasmadi, SH. Yang telah berkenan memberikan referensi untuk penulisan legenda SANG BUJUK RAYUNG “AHMAD SAYYID BADRI MARTOLAKSONO”. Semoga Allah swt senantiasa memberi keberkahan dan kebahagiaan untuk kita semua. Aamiin.
Ngrayung, 5 Oktober 2023 Sekretaris Desa Ngrayung RASMADI, SH (Narasumber)
Tentang Penulis Deni Kartika, S.Pd., adalah seorang guru SD yang bertugas di SD Negeri Plumpang I, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Penulis lahir di Desa Ngrayung, Tuban, 4 April 1986. Anak ketujuh dari delapan bersaudara, menyelesaikan pendidikannya mulai dari SDN Ngrayung I, SLTP Negeri 1 Plumpang, dan SMK Negeri 2 Tuban. Kemudian melanjutkan pendidikan dan menyelesaikan kuliahnya di Universitas Ronggolawe Tuban Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan Universitas Terbuka jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Ia dapat disapa melalui kontak handphone 081358866298 email: [email protected]
ASAL-USUL DUSUN GUMENG Pada zaman dahulu. Sebelum kerajaan Majapahit berdiri. Ada sebuah kerajaan kecil yang berada di lereng gunung kapur yang panas. Kerajaan itu diberi nama Kerajaan Gumenggeng. Kerajaan di lerang gunung kapur tersebut dipimpin oleh seorang pengembara yang mempunyai wajah rupawan bernama Raden Arya Bangah. Karena ketampanan Raden Arya Bangah itulah maka banyak remaja putri yang jatuh hati kepadanya. Selain mempunyai wajah yang tampan rupawan Raden Arya Bangah juga mempunyai ilmu yang lebih tinggi. Ilmu itu ia peroleh dengan mewarisi ilmu ayahnya. Raden Arya Bangah merupakan satu-satunya penerus kerajaan ayahnya. Tapi sayang sekali saat ayahnya mangkat menjadi raja, Raden Arya Bangah tidak mau menggantikan posisi ayahnya sebagai raja di kerajaan ayahnya. Hal itu karena dari dulu Raden Arya Bangah memiliki cita-cita untuk mempunyai kerajaan sendiri sehingga dia memutuskan untuk mengembara ke arah selatan. Raden Arya Bangah dikenal sebagai pemuda yang pemberani dan ramah. Maka saat memutuskan untuk mengembara banyak dari rakyatnya yang ingin menemani Raden Arya Bangah. Akhirnya Raden Arya Bangah berangkat bersama rombongan menuju ke arah selatan. Di tengah perjalanan Arya Bangah beserta rombongan berhenti sejenak di dekat sebuah hutan untuk beristirahat. ”Pengawal apakah kamu melihat hutan kecil itu?” tanya Raden Arya Bangah sembari telunjuknya menunjuk ke hutan. ”Iya, Raden. Kami juga melihat hutan gerumbul di atas gunung berkapur,” jawab para pengawalnya. Raden Arya Bangah merasa tertarik dengan hutan itu dan mengajak rombongannya untuk membuka hutan. Setelah Raden Arya Bangah beserta rombongan selesai membuka hutan kemudian hutan tersebut berubah menjadi perkampungan kecil. Karena keramahan, kegigihan serta jiwa pemberani Raden Arya Bangah, perkampungan tersebut lama-kelamaan berkembang dan berubah menjadi kadipaten yang diberi nama Kadipaten Gumenggeng. Semua rakyat yang berada di kadipaten tersebut hidup dengan aman, damai dan sejahtera serta berkecukupan. Akan tetapi pada saat musim kemarau daerah lereng pegunungan kapur sangat panas. Banyak tumbuhan mati kekeringan, tanaman-tanaman pangan seperti jagung, ketela, dan padi tidak bisa hidup. Karena dilanda kemarau yang panjang dan terjadi kekeringan di seluruh Kerajaan Gumenggeng maka banyak rakyat yang kelaparan karena kekurangan bahan makanan dan kesulitan untuk mencari sumber air. Kejadian tersebut merupakan suatu ujian bagi Raden Arya Bangah selama kepemimpinannya. Raden Arya Bangah tidak tega melihat rakyatnya banyak yang kelaparan akibat kemarau yang berkepanjangan
itu. Melihat peristiwa tersebut akhirnya Raden Arya Bangah memutuskan untuk bertapa di gua untuk mendapatkan petunjuk dari Sang Kuasa. Setelah beberapa hari bertapa. Raden Arya Bangah masih gentur memohon petunjuk. Meskipun sangat berat karena udara panas dan pengap. Raden Arya Bangah sudah merasa tidak kuat untuk melanjutkan semedinya. Di saat-saat terakhir itulah Raden Arya Bangah mendapat petunjuk. Tiba-tiba ada sorot cahaya memenuhi ruangan gua. Cahaya itu berwana terang kebiruan. Raden Arya Bangah terbeliak. Cahaya itu memantulkan suara. ”Jika engkau ingin Kerajaan Gumenggeng selamat dari kekeringan dan kelaparan yang berkepanjangan ini, maka bertapalah di Gunung Andong. Jangan berhenti sebelum genap 60 hari. Jangan makan dan minum. Jangan pula tidur. Laku prihatinmu ini yang akan membawa rakyatmu mendapatkan apa yang diharapkan. Aku tahu rakyatmu butuh air untuk kelangsungan hidupnya.” Raden Arya Bangah terkesima mendengar suara gaib itu. Hatinya sangat bahagia. Satu petunjuk telah ia dapatkan. Raden Arya Bangah segera kembali ke kerajaannya. Karena sangat senang Raden Arya Bangah berlari sangat kencang. Tiba-tiba kakinya terperosok di lubang besar. Raden Arya Banggah berusaha bangkit dari lubang besar tersebut. Dengan tertatih-tatih menahan kakinya yang sakit Raden Arya Bangah tetap melanjutkan perjalanan pulang ke kerajaannya. Sesampai di kerajaan Raden Arya Bangah disambut gembira oleh rakyatnya. Karena kaki Raden Arya Bangah terluka maka untuk melaksanakan petunjuk dari Sang Kuasa diadakanlah sayembara. Penuh dengan keyakinan Raden Arya Bangah memanggil para pengawalnya dan berkata. ”Sampaikanlah kepada seluruh rakyatku bahwa aku akan mengadakan sayembara. Barang siapa ada yang mau bersemedi di puncak Gunung Andong maka akan aku beri hadiah berupa tanah yang luas.” Setelah dirasa cukup para pengawal pun kembali ke kerajaan. Berita tentang sayembara pun tersebar ke seluruh penjuru kampung. Pengumuman sayembara tersebut sudah tersebar luas dan banyak sekali yang ingin melakukan semedi tersebut, akan tetapi setelah mengetahui ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, banyak yang tidak sanggup melakukannya. Beberapa hari sudah berlalu. Muncullah seseorang yang bernama Kyai Jalak Ijo yang menyatakan kesanggupannya untuk bersemedi di atas puncak Gunung Andhong dengan memenuhi segala syarat-syaratnya. Karena syarat dirasa berat maka Kyai Jalak Ijo juga mengajukan syarat kepada Raden Arya Bangah yaitu dia harus ditemani oleh 2 orang. Raden Arya Bangah pun menyetujuinya. Akhirnya Kyai Jalak Ijo pergi ke puncak gunung ditemani satu patih dan satu pengawal. Semadi yang dilakukan Kyai Jalak Ijo sudah terlewati beberapa hari dan hampir berakhir. Tidak disangka-sangka pertapaan Kyai Jalak Ijo tersebut didatangi binatang buas. Binatang buas yang datang tidak hanya satu. Bermacam-macam binatang seperti harimau, ular cobra dan binatang
lainnya datang. Syukurlah Kyai Jalak Ijo ditemani patih dan pengawal jadi semadinya dapat tetap diteruskan dengan aman. Saat semadi sudah di hari terakhir yaitu hari ke 60, Kyai Jalak Ijo mendapat petunjuk untuk mendapatkan sumber air yang melimpah di lereng Gunung Andong. Petunjuk itu yaitu dengan mencukil tanah dan menancapkan tongkatnya lalu tanah yang dicungkil itu mengeluarkan air dan berubah menjadi sebuah gua yang berbentuk terowongan yang sangat panjang. Air melimpah yang didapatkan itu membuat warga Gumenggeng tidak lagi kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya. Akhirnya Kyai Jalak Ijo pun mendapatkan hadiah sesuai dengan janji raja. Kerajaan tersebut menjadi kadipaten yang aman, damai, dan sejahtera hingga mangkatnya Raden Arya Bangah. Setelah itu kepemimpinan Kerajaan Gumenggeng diserahkan kepada keluarga beliau karena putra beliau Raden Arya Bangah tidak mau diangkat menjadi raja dan lebih memilih bertapa di dalam gua. Tapi sayang saat abad ke-18 terjadi banjir yang sangat dahsyat sehingga semua lenyap, tetapi ada seseorang yang selamat dari banjir itu. Demi mengenang jasa Kerajaan Gumenggeng maka masyarakat memberi nama dusun tersebut dengan nama “DUSUN GUMENG”. Pengarang : Aulia Endah Kusumarini Tempat/ Tanggal Lahir : Tuban, 31 Agustus 1984 Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam Alamat : Desa Kesamben – Plumpang
JOKO TARUB Definisi Legenda menurut Pudentia adalah cerita yang dipercaya oleh beberapa penduduk setempat benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci atau sakral yang juga membedakannya dengan mite. Pengertian Legenda menurut Emies adalah cerita kuno yang setengah berdasarkan sejarah dan yang setengah lagi berdasarkan angan-angan. Berbeda dengan mite, legenda ditokohi manusia, yang mempunyai kekuatan luar biasa, dan seringkali juga dibantu makhluk-makhluk ajaib. Legenda juga merupakan cerita rakyat mengenai asal-usul sebuah tempat. Cerita rakyat dapat diartikan sebagai ekspresi budaya suatu masyarakat melalui bahasa tutur yang berhubungan langsung dengan berbagai aspek budaya dan susunan nilai sosial masyarakat tersebut. Dahulu, cerita rakyat diwariskan secara turun-menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya secara lisan. (Hutomo, 1991: 4). Dalam Untaian Sejarah Tuban (2005:1) dijelaskan: Legenda Kabupaten Tuban merupakan salah satu bagian penting dari wilayah Nusantara. Tuban sebagai kota Pelabuhan, menjadi wilayah perdagangan karena merupakan jalur lalu lintas dunia. Ini terbukti dari cerita kejayaan Tuban pada masa Airlangga menjadi bandar lalu-lintas perdagangan antar negara. Pada masa Jenggala Kambang Putih mendapat anugerah Sima dari Mapanji Garasakan. Pada masa Singhasari, Tuban juga memegang peranan penting. Pada tahun 1257 Kertanegara mengirimkan ekspedisi untuk menaklukkan Melayu melalui Pelabuhan Tuban. Masa Kerajaan Majapahit Tuban menjadi pintu gerbang utama kerajaan. Perkembangan perdagangan di Pelabuhan Tuban menjadi salah satu sumber kemakmuran kerajaan Majapahit. Kabupaten Tuban terletak di jalur pantai utara (Pantura) provinsi Jawa Timur. Sebelah utara berbatasan dengan laut Jawa dan selatan dengan Kabupaten Bojonegoro. Sebelah timur berbatasan dengan kabupaten Lamongan dan sebelah barat dengan kabupaten Blora dan Rembang provinsi Jawa Tengah. Secara administrasi Tuban dibagi menjadi 20 kecamatan dan 328 desa/kelurahan. Sumber air di kaki gunung yang melimpah ini membentuk sungai-sungai atau sendang. Ketika musim kemarau sumber air di tempat ini tetap mengalir. Raden Dandang Wacana memberi nama tempat ini Sumberagung. Di Dusun Morosemo Desa Sumberagung itu menjadi sebuah cerita rakyat. Di hutan Papringan (sekarang Bekti Harjo) inilah pertama kalinya nama Tuban berasal dan Raden Dhandang Wacana sebagai bupati Tuban pertama. Sesampainya di tempat tujuan Raden Dhandang Wacana menanapkan sebilah bambu dan mengambilnya Kembali. Dari situlah keluar air, metu-banyu menjadi
sumber mata air di Sendang Bekti Harjo. Kata Tuban berasal dari batu yang jatuh atau watu tiban. Ada juga yang menyebutkan dari sumber air di tepi pantai Boom yang airnya tawar, sehingga disebut metu banyu. Cerita Jaka Tarub dipilih oleh peneliti karena letak tempat ini sangat berdekatan dari tempat mengajar di sebuah Sekolah Dasar Negeri di Dusun Morosemo Desa Sumberagung. Munculnya cerita simpang siur di masyarakat yang belum jelas narasumbernya, membuat peneliti penasaran dan ingin menggali lebih dalam. Tokoh Jaka Tarub yang sering dianggap mitos dengan tokoh fiktif dan cerita yang dibuat-buat untuk pengantar tidur anak-anak. Keberadaan sendang, batu bercap jari, sawah grantek, dan batu berupa kura-kura, mendorong peneliti untuk mendapatkan cerita lisan yang jelas dari sumber terpercaya. Desa Sumberagung merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Plumpnag Kabupaten Tuban. Desa ini berlokasi di sebelah utara Desa Ngrayung. Kondisi masyarakat di Desa Sumberagung sudah cukup baik dan maju. Hal ini dapat lihat dari potensi masyarakatnya yaitu dalam bidang industri. Perekonomian di Desa Sumberagung sangat beragam. Hal itu dapat dilihat dari segi mata pencaharian penduduk Desa Sumberagung yang bekerjaa sebagai wiraswasta, guru, wirausaha, petani, peternak, dan lain-lain. Di Desa Sumberagung terdapat beberapa Industri Rumah Tangga seperti pembuatan Batik, Tape, Legen, dan lain-lain. Selain itu juga, ada satu pabrik yang berdiri di Sumberagung yaitu PT KFI (Kirana Food Internasional). Oleh karena itu, kehidupan masyarakat desa Sumberagung dapat dikatakan cukup baik dan sejahtera meskipun masih ada beberapa yang masih mengalami kekurangan. Branding desa untuk desa Sumberagung yang pelaksana pengabdian usulkan dengan potensi Desa Wisata adalah menggembangkan salah satu wisata yang dikelola oleh desa yaitu Sendang Joko Tarub. Pelaksana pengabdian memilih memberikan usulan observasi sendang Joko Tarub sebagai upaya peningkatan potensi desa. Melalui inovasi ini diharapkan baik pemilik maupun masyarakat sekitar dapat meningkatkan penjualan dan menambah penghasilan serta menciptakan kreativitas bagi masyarakat. Desa yang maju adalah desa yang mampu mengembangkan potensi yang dimiliki (Shoimah et al., 2021). Desa Sumberagung memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah. Lahan pertanian yang sangat luas dan wilayah yang mempunyai perairan yang sangat baik. Tak kalah dengan sumberdaya alam yang melimpah desa Sumberagung juga memiliki legenda yang cukup terkenal. Joko Tarub yang memiliki nama asli Kidang Telangsah dipercaya merupakan anak dari Syech Maghribi dan diadopsi oleh seorang janda yang tidak mempunyai anak, karena
rumah janda tersebut atapnya terbuat dari daun kelapa yang dibuat tarub, maka akhirnya anak tersebut dinamakan Joko Tarub. “Suatu saat janda tersebut punya rumah, rumahnya dikasih dari daun kelapa dibuat tarub, maka anak itu kemudian dinamakan Joko Tarub, padahal nama aslinya adalah Kidang Telansah karena meniru ibunya sedang menjalani puasa kidang telansah di tanah,” ucap Salam (54) salah satu Perangkat Desa Sumberagung, Kecamatan Plumpang, Tuban saat ditemui pada Minggu (03/09/2023). Pada saat ia sudah beranjak dewasa, menurutnya Joko Tarub pergi berburu burung di tengah hutan, dan tanpa sengaja bertemu tujuh bidadari yang sedang mandi di sendang tersebut. Salah satu dari tujuh bidadari itu bernama Nawang Wulan yang menikah dengan Joko Tarub hingga mempunyai seorang putri bernama Ningsih. “Setelah ia dewasa sampai berumur 19 tahun, di semak-semak itu dilihatlah ada tujuh orang, ini dari segi historisnya atau fiktifnya bahwasanya salah satu bajunya diambil oleh Joko Tarub, dicuri dan disimpan di rumahnya,” katanya. Itulah mengapa sendang tersebut dikenal sebagai Sendang Petilasan Joko Tarub. Sendang tersebut berada di tengah hutan yang berada di Desa Sumberagung, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban. Diera tahun 80 an sendang tersebut sempat menjadi obyek wisata yang ramai dengan pengunjung, namun saat ini kondisi dari tempat wisata tersebut cukup memprihatinkan. ”Dulu itu dibuat taman karena tanah itu dimiliki oleh Pemda, setelah Pemda geger sama warga kampung karena tanah itu bukan tanah Pemda, tapi tanah warga desa dan sidang dimenangkan oleh desa, setelah itu apa-apanya kan diambil oleh Pemda lagi, dan akhirnya kosong karena orang desa tidak mampu membangun itu lagi,” jelasnya. Menurut kepercayaan masyarakat yang beredar, seseorang yang mandi menggunakan air dari sendang tersebut maka tidak lama kemudian akan bertemu dengan jodohnya. “Ini kata orang ya, kalau orang sulit mendapatkan jodoh laki-laki sama perempuan, banyak orang yang ambil air disitu dibawa pulang untuk mandi, katanya tidak lama sudah mendapatkan jodoh, itu di Sendang Widodaren, itukan ada sendangnya seperti itu terus ada tempatnya sabun ada tangan njelarit seperti ini juga,” tutupnya
PROFIL GALIH HADI SAPUTRA, S.Pd. Penulis adalah seorang guru SD yang bertugas di SDN SUMBERAGUNG IV Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban Provinsi Jawa Timur. Penulis bisa dihubungi WA: 085648911234, email: [email protected].
LEGENDA WATU LUMBUNG Ada sebuah dusun yang bernama Dusun Tegalrejo, Desa Sumurjalak termasuk wilayah Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban. Dusun tersebut terletak jauh dari pemukiman dan daerahnya perbukitan yang berupa bebatuan. Dusun Tegalrejo penduduknya sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, di daerah tersebut tanahnya subur dan hasil panenya melimpah ruah. Dengan kehidupan bergotong royong inilah sebagai ciri khas penduduk tersebut menjadikan Dusun Tegalrejo ini terlihat asri dan tentram, udaranya pun segar karena jauh dari kawasan pabrik dan banyaknya hutan. Tak hanya persawahan, namun di Dusun Tegalrejo ini terdapat perbukitan yang disana terdapat sebuah batuan yang menurut mitos masyarakat sekitar batu tersebut mempunyai nilai sejarah atau masyarakat sekitar menyebut dengan “WATU LUMBUNG“. Watu berarti batu sedangkan lumbung sebutan untuk tempat menyimpan hasil pertanian (umumnya padi), berbentuk rumah panggung dan berdinding anyaman bambu. Batu yang berada di tempat tersebut berbentuk seperti lumbung sehingga masyarakat sekitar menyebutnya watu lumbung. Konon cerita di Dusun Tegalrejo ini terdapat perbukitan yang biasanya digunakan oleh masyarakat sekitar untuk bekerja, biasanya masyarakat sekitar ini menyebut Dusun Tegalrejo ini dengan sebutan Dusun Galboro, karena ada yang mengatakan bahwa orang yang bekerja di tegalan/ perkebunan itu biasanya sekalian boro (menetap sementara di ladang).
Pada suatu hari penduduk tersebut lama kelamaan banyak yang berboro tidak pulang ke rumahnya, dan menetap sementara di ladangnya dengan menikmati hasil panenannya sendiri yang melimpah ruah dan hasil panenanya tidak pernah habis.Sehingga penduduk tersebut bersepakat bergotong royong untuk membuat tempat menyimpan hasil panenannya.Maka dibangunlah sebuah tempat yng bernama lumbung untuk menyimpan padi tersebut sampai tempat itu masih tidak muat. Sehingga akhirnya ada penduduk pada waktu panen ada yang tidak dibawa pulang hasil panennya. Kebetulan di daerah dekat itu ada perbukitan yang biasanya tempat untuk berteduh ada pohon besar orang sekitar menyebutnya pohon karang jiwo. Dari asal-usul tersebut ada 2 tokoh yang bernama Joko Mursodo, Nyai Nambi, Sekar Melati Jati. Joko Mursodo dan Nyai Nambi adalah seseorang pengembara yang miskin yang kebetulan lewat di daerah itu. Daerah yang dekat dengan perbukitan tersebut tanahnya sebagian besar milik tanah Perhutani sehingga penduduknya bercocok tanam dengan cara membuka persil.Setiap habis bercocok tanam mereka semua beristirahat di sekitar ladang yng mereka tanami yaitu di perbukitan yang banyak tumbuh-tumbuhan dan batu-batuan.Pada suatu hari ada pengembara yang hidup sendiri di hutan yang terpencil itu yaitu bernama Joko Mursada beliaunya adalah seseorang pengembara yang miskin. Pengembara ini merasa sangat lapar lalu menghampiri di rumah salah satu penduduk untuk meminta sedikit makanan?. ”Wahai Tuan, sudikah engkau memberi sedikit saja makanan buat kami”?. kata pengembara itu. “Aku adalah seorang pengembara yang dari jauh yang saat ini merasa kelaparan.” kata pengembara itu. Namun pengembara itu ditolak oleh para penduduk. ”Maaf ki sanak kami tidak mempunyai makanan”, kata penduduk itu. “Tapi bukankah lumbung itu di dalamnya berisi bahan makanan?”,tanya pengembara tadi ”Ya itu memang sebuah lumbung, tapi sudah tidak ada isi bahan makanannya, melainkan isinya batu-batu”, kata penduduk. Dengan hati yang kecewa akhirnya si Pengembara itu tadi pergi karena tidak mendapatkan makanan. Si Pengembara itu kembali ke hutan menuju ke perbukitan yang di sana ada pohon besar dan berbatuan. Pengembara itu ingin pertapa untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan, di situ sangat terkejut dan kaget ternyata di dalam batu-batuan itu banyak sekali isi bahan makanan. Maka dikutuklah isi
bahan makanan penduduk tersebut menjadi tumpukan batu-batuan. Akhirnya apa yang terjadi penduduk semuanya sangat menyesal dan menyadari bahwa telah membohongi ki sanak tadi yang barusan minta makanan.Sebagai rasa syukur itu akhirnya penduduk tersebut setiap tahun sehabis panen mengadakan sedekah bumi dibukit itu dengan membawa makanan dan berdoa bersama.Sehingga sampai saat ini penduduk tegalreja menamakan batu batu besar diatas bukit itu bernama “LEGENDA WATU LUMBUNG”.
PROFIL PENULIS Resi, S.Pd. nama singgakat penulis ini semoga selalu mendapat keberkahan. Legenda adalah buku pertama yang saya tulis semoga bernfaat bagi semua. Penulis dapat dihubungi di posel [email protected] Pengajar di SDN SUMURJALAK III Desa Sumurjalak, Kec. Plumpang, Kab. Tuban Riwayat pengabdian pendidikan yang pernah ditempuh, 1991 – 1993 : Mengabdi di SDN Plumpang III Kec Plumpang. Kab Tuban 1994 – 1995 : Mengajar di SDN Mergosari II Kec. Singgahan Kab . Tuban 1995 - 2001 : Mengajar di SDN Mulyoagung III, Kec. Singgahan, Kab. Tuban 2001 - 2023 : Mengajar di SDN Sumurjalak III, Kec. Plumpang, Kab. Tuban. Lulusan S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ( PBSI ), UNIROW TUBAN Tahun 2010
Penunggu Makam Lingit “Percaya atau tidak…bahwa dunia gaib itu ada? “ tanyaku pada teman-teman yang sedang nongkrong di warung pojok kampung. ‘’Yaa jelas percaya Wan.., memang sering ada kejadian-kejadian yang diluar nalar manusia”, jawab seorang di antara mereka sambil nyeruput kopi panas di depannya. “Bagaimana kamu bisa seyakin itu, Gus?” tanya Wanto pada Bagus. ‘’Contohnya tidak jauh-jauh lah, Wan” sambung Bagus lagi. “Hal gaib itu terjadi di dusun Lingit yang berada di desa Klotok Kecamatan Plumpang. Di dusun Lingit ada kepercayaan masyarakat sekitar bahwa tidak boleh melintasi dusun Lingit dengan menaiki kuda. Jika dilanggar maka mereka akan kena musibah.” “Ya…ya…betul aku juga pernah mendengar itu, seolah tak percaya tapi memang terjadi begitu,” ujar Wanto ikut membenarkan jawaban Bagus. Bahkan aku juga mendengar cerita-cerita mistis yang seolah tidak masuk di akal.” “Iya betul Wan, banyak cerita mistis tentang dusun Lingit ini,” kata Bagus lagi. Dahulu ada kejadian rombongan keluarga yang meminang gadis di dusun Lingit dengan membawa kereta kuda juga mengalami musibah. Tiba-tiba sepulang acara pinangan di tengah jalan kudanya meringkik keras dan mengeluarkan busa dari mulutnya, akhirnya terjatuh dan mati seketika. Demikian juga keretanya hancur berkeping-keping. Sebelumnya sudah diberitahu bahwa kalau masuk dusun Lingit jangan membawa kereta kuda. Tetapi karena pada masa itu tidak ada kendaraan lain maka mereka memaksa memakai kereta kuda. Konon diceritakan bahwa dahulu ada beberapa orang prajurit pelarian dari Mataram yang bernama Ali Maksum. Selain itu dua diantaranya bernama Jiwo Lelono dan Nyai Siti Fatimah. Diyakini bahwa Nyai Siti Fatimah adalah istri Ali Maksum. Beliau memiliki kuda putih yang dijadikan kendaraan kemana