The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

light novel Puti-legenda siamang putih-siska dian utami

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Siska Dian Utami, 2023-08-10 07:59:16

light novel Puti-legenda siamang putih-siska dian utami

light novel Puti-legenda siamang putih-siska dian utami

Keywords: light novel,fiksi remaja

1


2


3


4


5


6 Content • Prolog • BAB I : Wujud Baru Dari Sebuah Awal • BAB II : Kehidupanku Dalam Festifal Budaya • BAB III : Kadang Rapek Kadang Maranggang • BAB 4 : Tidak Terduga • BAB 5 : Akhirnya Festifal Budaya • Enpilog • Profil Penulis


7


8 Kebisingan yang sayup-sayup ku dengar mulai memudar. Keinginanku untuk bertahan sudah lama hilang. Sejak kutukan ini, aku kehilangan semuanya. Harapanku, keinginanku, dan impian yang selama ini aku damba-dambakan. Pada akhirnya aku tidak mendapatkan hubungan yang aku impikan. Jikalau aku lebih sabar dalam menungunya apakah ia akan datang?, apakah perasaan yang membuatku mendapat penyesalan teramat sangat ini tidak akan terjadi?. Walau aku tau itu akan percuma saja, tapi tubuh dan hatiku tetap ingin melaksanakannya. Berharap tunanganku akan Kembali dan mematahkan kutukan ini. Namun setelah begitu lama waktu berlalu tunangan yang ku tunggu tidak kunjung datang. Sampai tersiar kabar kapal yang ia tumpangi terkena badai hebat yang menghancurkan kapalnya tampa sisa. Bukan itu yang membuatku merasakan garam dalam tenggorokanku. Melainkan kabar bahwa ia ikut serta membawa istrinya dalam perjalanan tersebut. Benar kalian tidak salah dengar, tunanganku membawa serta istrinya. Ia ternyata sama tidak setianya denganku. Semenyesal apapaun aku harus menyebutnya, ternyata cinta yang kami bagikan hanya sekedar ketertarikan semata. Betapa benarnya cinta membuat orang menjadih bodoh. Seharusnya sejak awal aku tidak pernah mempercayai mimpi bodoh itu. Tapi kesendirianku membutakan semua indra kerasionalanku. Penantianku selama ini percuma saja. Bahkan disaat ada pemuda lain yang ingin menikahiku, karena sumpah yang sudah aku ubar dengan sembrono. Aku pada akhirnya akan tetap menjadi siamang putih. Pilihanku hanya dua menanti kepulangan tunanganku yang sudah pasti itu akan memakan seumur hidupku. Karena pada akhirnya Ia sama tidak setia seperti ku, kapalnya hancur karnanya. Jika aku mengambil pilihan menikah maka kutukan itu menimpaku yang kini sudah terjadi.


9 Apapun yang aku ambil pada akhirnya tidak ada yang menguntungkan ku. Namun semua sudah terlanjur, saking senangnya ada pemuda yang ingin meminangku. Aku menerimanya begitu saja tampa ngengingat sumpah konyol sebagai jaminan kesetiaan terhadap tunanganku. Sekarang aku sudah Lelah, Tubuh ini sudah tidak sanggup lagi, aku belum sempat meminta maaf pada bundo atau inyiak. Seharusnya aku lebih sabar lagi dan tidak bersikerah dengan mimpi itu. Pandangaku mulai buran, nafasku mulai tersendat. Ini adalah akhirnya, Dingin sekali, apa aku sedang tenggelam?, kenapa sulit saekali membuka mata?, suara-suara apa yang ku dengar ini?, apa akhirnya aku akan mati?, apa yang sudah ku lakukan dalam kehidupanku?. Bagaimana aku bisa mati dalam penyesalan ini?. Kenapa bising sekali?, seseorang tolong aku!. Perlahan mata ku dapat terbuka yang dengan sekejab langsung ku tutup Kembali karena kelebihan cahaya. Suara bising mulai terdengar lebih heboh lagi, penglihatanku belum terlalu pulih. Aku mulai mengejapkan mataku sesering yang aku bisa agar mendapatkan penglihatanku Kembali. “ Sayang kamu sudah bangun nak?! Syukurlah kamu membuat ibu sangat kahwatir!...” sambil menyeka wajahnya dengan sesengukan,”…jangan lakukan itu lagi ibu mohon dengan


10 sangat…” aku tidak terlalu menyimak apa lagi yang dikatakan Wanita yang menyebut dirinya ibuku. Telingaku berdenging sangat kuat dan tiba-tiba ingatan yang entah apa datang membabibuta dalam kepalaku. Sakit sekali, aku mulai merintih menerima begitu banyak ingatan itu. “ cepat panggilkan dokter!...” setelah mendengar kalimat tersebut aku Kembali kehilangan cahaya dan semuanya menjadi gelap Kembali. Perasaan hampa macam apa ini?, rasanya seumur hidupku belum pernah merasakannya. “ayah ibu aku mendapatkan nilai sempurna untuk matematika, lihat!, lihat!” semangat seorang gadis kecil dengan lompatan kekanak-kanakannya. Apakah ini ingatan seseorang?, tapi ada apa dengan perasaan tidak nyaman ini?. Anak itu tampak sangat ceria. “wah selamat ya nak kamu hebat ibu bangga padamu benarkan ayah?” “anak ayah memang hebat, kamu mau apa untuk perayaan ini?” Walau ucapan selamat itu sangat berharga namun dengan sikap mereka yang hanya fokus pada benda bersegi dalam genggaman mereka. “ayah ibu aku di sini loh, jangan lihat hp terus” regek gadis kecil itu wajahnya yang ceria langsung tertekuk dengan cemberut dibibirnya. “ah sayang ayah lihat kok, percaya deh sama kamu. Jadi mau apa untuk hadiahnya?, nanti ayah minta mbok tiem beliin” masih dengan fokus pada hp nya. “ibu akan membelikanmu boneka beruang yang besar, jadi kamu tunggu saja ya. Ibu butuh menemui rekan kerja dulu ya” buru-buru beranjak dari tempatnya duduk, tampa memandang gadis kecil yang sejak tadi menantikan perhatiannya. “tapi aku…” bahkan sebelum kaliamatnya selaesai ia sudah disela.


11 “ayah juga harus pergi, sepertinya ada masalah di dapur resto yang perlu kehadiran ayah” mengusak pucuk kepala gadis kecil kemudian berlalu begitu saja. “tapi aku tidak menginginkan hadiah apapun” ucapnya dengan sedih, “lihat aku sekali saja, itu sudah lebih dari cukup” gadis yang malang air matanya sudah mengalir di pipi cabynya. Bagaimana bisa orang tuanya bersikap acuh seperti itu, gadis kecil itu hanya menginginkan kasih sayang orang tuanya. Apa begitu sulit untuk memberi cinta dan kehangatan kasih sayang padanya. Ingatan Kembali beralih, kini ia melihat remaja tanggung dengan seragam putih biru. Gadis ini tampak tidak bersemangat dengan wajah Lelah yang tidak sesuai dengan usianya. Tampak beberapa lembar kertas dalam genggamannya. Wajahnya tampak berharap tapi dibalut dengan kekecewaan dan rasa sakit yang dalam. Genggemannya tampak menguat, ia terlihat menghembuskan nafas berat kemudian tersenyum dan mulai melangkahkan kakinya. “ayah ibu mau melihat hasil ulangan harianku?, aku baru menerima hasilnya hari ini” seliap kata yang ia lontarkan mengandung harapan. “sayang tampa melihatnyapun kami tau kalau nilainya sempurna, kamu selalu membangakan kami” “ayah dan ibu akan menghadiri makan malam dengan rekan bisnis kami, kamu mau ikut dengan kami” Perkataan kedua orang tuanya menghancurkan semua harapannya, rasanya ia bahkan mendengar retakan pada hatinya. “tidak udah, aku akan makan di rumah saja lagipula aku ada tugas” kepalanya mulai tertunduk karena poninya menutupi Sebagian dari wajahnya kedua orang tuanya tidak dapat menyaksikan ekpresi yang ia buat.


12 “kamu memang anak yang rajin ya, kalau begitu nanti kami akan membawakan hadiah untuk semua pencapaianmu” dengan itu mereka pergi meningalkan remaja yang putus asa akan perhatian orang tuanya. “seharusnya kita tetap miskin saja kalau dengan itu kalain akan Kembali ada untukku” tenggelam dengan kekecewaannya ia bergegas lari kemarnya. Pandangan matanya tampak kosong ia menatap lembaran-lembaran dengan nilai sempurna dengan tidak minat. “kalian tidak memiliki arti apapun lagi, jadi lebih baik kalian musnah saja” api mulai membakar kertas tersebut dalam sekejap menghaguskannya menjadi debu. “kalau menjadi baik dan berprestasi tidak membawa ayah dan ibuku Kembali padaku bagaimana kalau kita lakukan yang sebaliknya? Apakah itu akan membawa mereka padaku?”. “ondeh mandeh…apa yang kau fikirkan gadis kecil?!, itu tidak akan membawa hal baik” ia tau suaranya tidak akan mencapai apapun untuk gadis tersebut. Walau aneh ia yakin ini ingatan yang sedang ia lihat. Bahkan ia belum tau siapa nama gadis malang itu. Kilatan beralih dengan setiap pelanggaran yang dilakukan gadis itu, dari mulai berpakaian dengan berantakan, sering terlambat datang dalam kelas. Tidak mendengarkan gurunya pada setiap kesempatan.bahkan ia mulai bergaul dengan anak berandalan di sekolahnya. Benar-benar kebalikan dari gadis kecil yang awal ia lihat, kini tidak ada lagi gadis baik dengan senyum cerah yang ia lihat pada awalnya. Kini yang ada di depannya hanya seorang anak yang menginginkan perhatian orang tuanya apapun resiko dalam Tindakan sembrononya. Tapi sepertinya semua kelakuan buruknya sudah ditutupi dengan baik oleh orang tuanya. Bahkan guru-guru seakan menutup mata dengan semua ulah yang ia perbuat. Bahkan dengan semua kebobrokannya ia tetap menjadi siswi yang jenius. “kamu lihat itu dia si pembuat onar yang selalu lepas dari masalah” “heh..! anak manja yang punya orang tua super kaya”


13 “dia bahkan bergaul dengan anak berandalan loh” “cewek liar donk!, sebaiknya jangan dekat-dekat dengannya nanti ketularan liar juga” “dia sangat sombong kan?, dengan berperilaku buruk, melanggar aturas sekolah tapi tetap menjadi yang teratas dalam akademik” “pasti dia mengolok-ngolok kita yang belajar susah payah sedangkan dia menyombongkan diri dengan pamer bahwa ia akan tetap menjadi yang teratas seperti apapun tingkah nya” “he jangan-jangan orang tuanya menyogok pihak sekolah untuk menyokong nilainya” “hei kalian jangan ngomong gitu dia bisa dengar loh” “ups aku pikir itu tong sampah yang di sana, manaku tau” “ah orang tuanya akan memarahimu” Mereka mulai tertawa seakan semua yang mereka ucapkan bukanlah masalah besar. Mungkin ia seharusnya tidak mendengarkan semua yang mereka katakana, kenapa pula ia tidak pergi saja dari sana. “kalau kau sangat menginginkan perhatian kenapa tidak mati saja pasti akan banyak yang melihtmu” “hei itu seharusnya menjadi pilihat yang tepat” setelah mengatakan kata penuh racun mereka tertawa dan beranjak dari sana meningalkan seorang yang bahkan menganggap saran mereka sebagai pilihat yang baik. “ndeh apolah kecek kalian ko?!, dak do nan lamak kalua dari muncuang kalian doh, kok tadanga dek iyiak ko lah kanai lado muncuang kalian mah. Anak gadis ngecek dak do raso jo pareso saketek e juo doh. Dak do tatakrama disiko doh ha” Keadaan Kembali berputar, kini tampaknya mereka dalam perayaan kelulusan sekolah menengah pertama. Gadis kecil itu tampak semakin lusuh saja dari terahir kali ia


14 melihatnya. Rasanya ia ingin memeluk dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. “liat tuh anak bermasalah kira-kira siapa yang akan datang untuknya ya?” “kau bercanda itu pasti orang tuanya tercinta” penuh dengan ejekan yang bahkan tidak ada usaha untuk menutupi volume suaranya seakan ingin memberi tau semua orang yang berada dalam ruangan tersebut. “siapa orang tuanya sekarang? Tukang kebunnya atau sopirnya?” “mungkin pengasuhnya” “bisa jadih tukang ojek pangkalan depan kali” tawa mulai terdengar dari Sebagian besar orang. “aku bersyukur tidak hidup di zaman ini, gadis disini sangat tidak sopan. Tidak ada mengambarkan bagaimana seorang gadis harus bertindak” ia marah sangat marah, bundonya selalu mengajarkan bagaimana bersikap sebagai seorang perempuan yang bermartabat. Ia sangat gatal ingin mengajari mereka bagaimana cara bicara serta memperbaiki segala tidakan bodoh yang mereka lakukan. “mereka melakukannya dengan sengaja” guman gadis yang sejak tadi menjadi bahan gunjingan mereka. Acara Nampak berjalan lancar, nama setiap siswa yang berprestrasi mulai dipanggil maju ke atas panggung. Sampai sebuah nama terucap yang membuat semua siswa terdiam menghentikan semua yuforia yang mereka gumamkan. “PUTI TANJUNG” ucap kepala sekolah dengan senyum formalitas, bahkan ia tampak sengaja melakukannya seakan ini semua hanya lelucon. “huh!!? Namo e samo mah dek wak” bahkan ia lebih dari terkejut mendengar nama yang begitu mirip dengan miliknya bedanya ia Puti Julia. “terimakasih” hanya itu yang dapat dikatakan Puti wajahnya tidak menunjukan kebahagiaan apapun.


15 “apa orang tuamu datang ?” tanya kepala sekolah dengan senyum yang semakin dipaksakan. “bukankah pertanyaan itu satu sekolah sudah tau jawabannya” dengan ketus Puti meningalkan panggung tampa mempedulikan suara tercekat yang hampir semua orang buat. Bahkan sebelum acara selesai Puti sudah meningalkan sekolah, rasanya ia bahkan tidak peduli dengan raport yang belum diterimanya. Sesampainya dirumah bukan orang tuanya yang menyambut kehadirannya, melainkan setumpuk hadiah dengan banak pita warna warni. Tidak satupun dari mereka yang mengubah suasana hatinya menjadi lebih baik. “apa mereka masih ingat kalau aku ini ada dalam hidup mereka?” lirihnya, tampa mempedulikan semua hadiah tersebut ia berlalu begitu saja kedalam kamarnya. Membaringkan tubuhnya tampa menganti seragamnya terlebih dahhulu. Ia terus menatap langit-langit tampa mempedulikan apapun, bahkan suara pengasuhnya yang memintanya untuk makan siang tidak ia hiraukan. Setelah sekian lama merenung ia mulai merasakan sesak, gelisah dengan perasaan yang tidak tenang. Pandangannya mulai tidak fokus, tanganya saling meremas dengan resah, keringat mulai mengalir dengan perlahan dari pelipisnya. “aku tidak tahan lagi” ucapnya dengan cepat duduk dan mulai menegok kiri kanan dengan gelisah, mencapai sebuah lagi dengan bergegas ia membukanya mengobrak-abrik isinya dengan tidak sabar. Sampai satu titi kia berhenti seakan telah mendapatkan apa yang ia cari. “ondeh untuak kana pisau ketek tun tu!?” Gores…! Tetesandarah mulai mengalir dari pergelangan tangannya, helaan nafas kepuasan mulai keluar, kalau diperhatikan lebih jelas lagi banyak bekas lain dari luka yang terlihat dari perbuatan serupa.


16 “aku tau ini sudah keterlaluan, tapi aku tidak bisa berhenti sekarang rasanya masih kurang” goresan lain mulai terlihat, bertambah dan Kembali bertambah. Seakan hanya dengan melukai dirinya dapat menghilakan rasa sakit dihatinya. “mangalah paja ko ha!?” secemas apapun ia tidak bisa melakukan apapun. Ini bahkan bukan kehidupannya. “kalau aku mati apa ayah dan ibu akan menatap aku ya?, mungkin sedikit saja mereka akan menangis dan berjanji akan ada untukku kalau aku membuka mata. Konyol mana mungkin, palingan mereka akan segera melangsungkan pemakamanku dengan cepat. lagipula rekan bisnis mereka lebih penting dari aku” kecewa dengan pikirannya sendiri ia mulai menatap darah yang mengalir dipergelangan tangannya. “sepertinya ini sudah cukup, aku harus membalutnya” walau kepalanya seakan mau pecah ia tetap beranjak dengan tertatih-tatih mencari kotak P3K. mulai membersihkan lukanya ia membalut dengan sangat baik seakan sudah biasa melakukannya atau memang sudah?. Kembali ingatan beralih pada banyak kejadian yang rata-rata semuanya menyedihkan. Baik di rumah atau di sekolah gadis kecil yang ia lihat pertama kali sudah sangat berbeda. Ia mulai merokok diawal tahun ajarannya di SMA, memilih untuk menjau dari setiap siswa yang ada di sekolahnya. Tidak peduli apa yang ia lakukan mereka jelas membencinya, bahkan yang tidak mengetahui Namanya akan tau rumor jelek tentang dia. Jadi setiap ada yang mendekatinya itu hanya basa-basi untuk mempermalukannya atau menyalahkannya atas Tindakan bodoh yang mereka lakukan. “woi anak bermasalah mau merokok lagi ya” “penyataan bodoh macam apa itu, ia kan bebas melakukan apapun di sekolah ini” “ah anak donatur kaya raya pasti ia sangat sombong dengan semua itu” “bukan sekali aku mendengar itu, dari smp dia memang sudah banyak ulah” “oh kamu teman smp nya pasti sulit bersaing dengan bocah manja kaya raya”


17 Dan masih banyak lagi bisikan yang ia anggap angin lalu. Semua itu bahkan bukan apa-apa masih banyak pernyataan buruk tentangnya yang coba ia abaikan sebisa mungkin. “bukankah perkataan kalian keterlaluan?” suara asing terdengar sangat nyaring karena intonasinya yang tidak yakin. Semua siswi yang tengan menyindir atau bergosip tersebut langsung teralihkan menatap sosok yang baru saja tiba. Kening mereka tampak berkerut karena mengetahui siapa yang bicara. “sudahlah aku tau kamu anak baik yang ingin berteman dengan semua orang tapi jangan dekati dia. Kamu hanya akan mendapat masalah darinya” “dengar dia tidak seperti siswa lain di sekolah ini, jadi kamu ngak perlu mendekatinya atau membelanya lebih jauh lagian ngak aka nada untungnya” “tapikan kalian itu…” muak mendengar ocehan mereka Puti lebih memilih beranjak menjauh. Padahal ia tidak memiliki niat untuk merokok tapi melihat pemandangan tadi menurunkan moodnya. “mungkin membolos beberapa jam pelajaran tidak akan merugikanku sama sekali” dengan santai ia mulai mencari tempat sepi untuk merokok, bahkan kalau ia merokok terang-terangan sekalipun tidak akan ada yang menghiraukan keberadaannya. Kebiasaan ini tetap berlanjut sampai penghujung semester satu, tidak dipungkiri walau dengan semua ulah yang ia lakukan nilai academicnya tidak mengalami kemerosotan. Otaknya entah mengapa dapa menangkap semua pelajaran dengan sangat lancar. Ini Sebagian memicu kecemburuan pada banyak siswa, yang pastinya tidak ia hiraukan sama sekali. Dihari pertama liburan ia merasakan dingin semkin menjalari tubuhnya. Orang tuanya baru mengabari kalau mereka akan melakukan perjalannan bisnis keluar kota hanya dengan catatan yang mereka titipkan pada art di rumahnya. “bukankah mereka bisa menelfonku?, ah betapa bodohnya pemikiraku, siapa aku sehinga mereka mau melakukan hal tersebut” dengan sinis ia menatap catatan di tanganya.


18 “non jangan ngomong begitu, orang tua non kerja kan buat membahagiakan dan mencukupi semua kebutuhan non jadi mereka sangan menyayangi non lebih dari apapun” hibur art nya. “mbok kalau aku minta ayah dan ibu pulang sekarang apa mereka akan datang?” tanyanya dengan wajah yang agak aneh. “mungkin agak sulit non soalnya nyonya bilang ini perjalanan yang penting” “apa kematianku akan membawa mereka pulang?” gumaman tidak yakin yang bahkan tidak terdengar jelas. “non ngomong sesuatu?” “tidak ada mbok, saya ke kamar aja kalau gitu ada yang mau saya kerjakan jadi jangan ada yang mengganguku ya” setelah itu Puti dengan tegap berjalan kekamarnya. Puti Kembali merenung dengan sebuah botol dengan banyak pil di dalamnya. Tatapan matanya kosong pada bingkai yang terletak pada salah satu dindingnya. Gambaran keluarga yang sangat Bahagia penuh dengan kasih sayang walau kekuarangan finansial. “aku ingi Kembali pada masa itu lagi, jadi ayah ibu datanglah sebelum aku benarbenar menemui kakek di sana” setelah itu ia menuangkan banyak pil pada tanganya dan menelannya tampa menenggak air sama selali. Ia melakukannya berulang kali sampai ia jatuh lemas di lntai. Bahkan belum cukup dengan itu ia menyayat nadinya dengan lebih dalam dari biasanya. Menutup mulutnya dengan tatapan horror Puti Julia tidak sanggup lagi menyaksikan akhir dari gadis cerah yang pertama kali ia lihat. Gadis dengan nama yang sama dengannya namun memiliki kehidupan yang sangat jauh dari yang ia jalani. Kehidupanku yang lalu terasa sangat sempurna, aku memiliki orang tua yang sangat menyayangiku, seorang kakek yang akan melalukan apapun untuk menyenangkanku. Dalam kesempurnaan itu aku merasa selalu ada ruang kosong yang harus segeraku isi.


19 Seperti apapun aku berusaha untuk mencari tau apa itu selalu pertanyaan yang menyertainya. Sampai suatu hari sebuah mimpi hadir dalam tidurku. Mimpi yang begitu tenang, sangat sejuk sampai rasanya aku tidak ingin Kembali membuka mata untuk melihat kenyataan. Di sana aku melihat seorang pemuda yang membelakangiku. Memandang begitu jauh kedepan. Aku penasaran apa yang ia lihat sampai tidak menoleh kearahku. Aku terus memperhatikan sekitarku. Memandang hamparan bunga cantik yang begitu mempesona mataku. Aromanya sangat harum saat aku hendak memetic setangkai mawar putih tiba-tiba ada sebuah tangan yang menghentikanku. “ jan diambiak, bungo tu yo rancak tapi batangnyo banyak duri luko tangan tu beko.” (jagan mengambilnya, bungga itu memiliki duri yang akan melukaimu sebetapa cantiknya ia). Suara seorang pemuda yang begitu halus, aku belum pernah mendengar suara yang sehalus ini sebelumnya. Tangan pemuda itu masish benggenggam tanganku rasanya sangat hangat. Aku Kembali kemandang bunga yang hendak ku petik tadi. Mawar putih yang begitu indah sangat harum. Aku begitu menginginkannya sampai lupa betapa banyak duri yang ada untuk melindunginya. “ jikok adiak nio bia denai ambiak an untuak adiak, tapi tarimo lah jok tangan adiak surang indak di siko doh.” (jika sangan menginginkanya aku akam memberikannya untukmu, tapi kamu harus mengambilnya sendiri dengan tanganmu bukan di sini). Saat aku mendak memandang wajahnya tiba-tiba angain kencang menerbangkan banyak dedaunan, mengaburkan pandanganku akan pemuda di depanku. Aku melihat bibirnya mulai mengatakan sesuatu tapi tidak ada suara yang dapat ku dengar. Mata yang tertutup mulai mengejap membiasakan dengan banyaknya cahaya sampai mendapatkan penglihatanya Kembali. Ruangan itu serba putih dengan tirai yang tampak tertiup angin dengan lembut. Cahaya sore menembit jernihnya dinding kaca. Pemandangan yang indah untuk menyambut hari. Ia mulai menggerakan jari-jarinya yang terasa kaku, sepertinya ada yang menusuk tangannya. Hidungnya juga terasa ada yang mengganjal. Ia Kembali melihat-lihat menggerakan tangan yang tidak memiliki beban ke keningnya. Dapat dilihatnya tangan itu memiliki perban.


20 Wajahnya menjadi sangat bingung, tubuhnya terasa sakit tapi ia berusaha untuk duduk agar dapat melihat semuanya dengan lebih baik. Walau ringisan mengiringi usahanya ia berhasil duduk dengan bersandar di kepala Kasur. Ia mulai memperhatikan sekitarnya, aroma yang ia cium cukup menyengat agaknya ia tidak menyukai aroma semacam ini. Sebelum dapat mempelajari lebih lanjut keadaannya pintu terbuka dengn perlahan. Ia memandangi pintu itu samapa terlihat dua orang satu perempuan dan satu laki-laki mereka tampak terkejut melihatnya. “ sayang kamu sudah baikan?” Wanita itu begitu lembut dalam setiap kata seakan takut menghancurkanku bila terlalu keras. Aku hanya memandanginya tampa mengatakan apapun.


21


22 “ nak doter bilang kedaanmu sudah mulai pulih tingal menunggu beberapa hari lagi kamu bisa pulang.” Pria di sampingnya mulai berbicara juga dan entah kenapa itu terdengan memuakan ditelingaku. Padalah mereka tampak begitu menyayangiku lalu apa sebapnya perasaan memuakan ini hadir. “ jadi kalian sadar kalau punya anak “ kata-kata itu secara alami keluar dari bibirku, entah kenapa itu terasa benar untuk diucapkan. Mereka tampak tertegun dengan pandangan seperti aku baru menusuk mereka dengan belati. “apa itu begitu menyakitkan sampai kalian membuat wajah seperti itu?, apa hanya dalam keadaan dimana aku mati kalian akan menyadari keberadaanku” rasanya sangat sakit, mataku mulai memanas, cairan bening mulai menghalangi pandanganku. Mereka berdua tampak sangat ketakutan dengan banyaknya lontaran kata maaf yang entah apa artinya bagi pemilik tubuh ini. Sekarang semuanya jelas, setelah menjalani hukuman atas keteledoranku dimasa lalu dan mati dalam rasa benci karena penghianatan dan penantian. Aku terbangun dalam tubuh seorang gadis yang kesepian, sangat menyedihkan, bagaimana bisa ada kehidupan seperti ini. Walau memiliki orang tua dengan harta yang berlimpah segala kebutuhan terpenuhi. Tapi apa artinya rumah mewah dengan segala isinya kalau hanya di isi dengan kekosongan. Gadis ini sangat frustasi untuk mendapatkan perhatian orang tuanya Melakukan segala macam kenakalan di sekolahnya, membuat masalah dengan teman sekelasnya. Tapi semua itu sekan tidak ada artinya, dengan uang semua masalah akan beres dalam sekejap. Ia melakukan semua itu berulang kali sampai dirinya muak memikirkan cara untuk menarik perhatian orang tuanya. Sehinga dengan semua rasa putus harapan ia mulai menyayat nadinya. Membiarkan cairan darah mengalir dengan seyumam ia memandangi botol obat tidur ditaganya yang lain. “ kalau sudah begini ayah dan ibu akan ada untukku, mereka akan memelukku dengan sangat erat. Kalau aku mati ayah dan ibu akan berada di sampingku, mengatakan bahwa mereka meyayangiku, mengatakan bahwa mereka akan ada untukku. Tapi sepertinya aku yang tidak akan ada lagi untuk mereka…” air mata mulai megalir di pipiku.


23 “ apa hanya ini yang bisa menarik perhatian mereka?, ayah ibu aku kesepian aku sangat kesepian, kakek aku akan menemuimu tunggu aku ya. Ayah dan ibu tidak menyayangiku lagi kek. Mereka tidak pernah menghadiri setiap acara di sekolahku lagi, mereka selalu sibuk kek.” Pandanganya mulai kabur udara seakan pasir yang memasuki paru-parunya. “ selalu menggantikan kehadiran mereka dengan hadiah yang tidak aku butuhkan, jadi hanya sekali ini maafkan aku kek karena menyusulmu dengan cara ini...” pandanganya sudah mulai gelap dengan perlahan ia menutup mata menerima rasa dingin yang menjalar keseluruh tubuhnya dengan perlahan. “… ayah aku menyayagimu, ibu aku sangat mencintaimu maaf harus pergi sekarang, aku sangat menyesal…” dengan itu ia kehilangan daya akan tubuhnya, sebelum benar-benar terlelap ia mendengat teriakan yang begitu meyayat hati tapi ia sudah tidak memiliki tenaga untuk mengkhawatikan apapun. Setelah semua drama yang memilukan dalam ruangan rawat VIP dengan kedua orang tua pemilik tubuh ini. Kini mereka hanya diam saling memikirkan apa yang kemudian hari akan terjadi dalam keluarga mereka. Penyesalan tampak jelas tergambar pada wajah yang mulai mengerut akan penuaan. Air mata senyap terus mengalir menganak sungai di pipinya. Ia menangis dalam segala penyesalan baik kehidupan sebelumnya ataupun kehidupan yang akan ia jalani. Betapa tidak adilnya, dimana pemilik tubuh ini begitu mengharapkan kasih sayang dan hangatnya suasana keluarga. Bagaimana ia bisa melanjutkan hidup dengan penyesalan dan rasa tidak enak di tenggorokannya. “ sayang, kita akan bicara lagi nanti. Ayah dan ibu akan keluar sebentar ya” dengan helusan lembut pada pucuk kepalanya dengan penuh kehati-hatian. Ibunya juga melakukan hal yang sama namun ditambah dengan kecupan di dahinya. Mereka tersenyum lembut sebelum menutup pintu seringan sentuhan kupu-kupu.


24 Di luar setelah pintu tertutup, kaki sang ibu tidak sanggup lagi menopang tubuhnya, dengan sigap lengan suaminya memeluk tubuh rapus Wanita yang telah memberinya seorang putri yang begitu ia cintai. “ bagaimana aku menyebut diriku ini seorang ibu, da?, aku tidak pernah menyadari apa yang terjadi dengan bayi kecilku semua itu salahku seharusnya aku lebih memahaminya.” Tagisanya mulai menyesakan dada. “ini semua bukan salahmu, semua yang terjadi merupakan kesalahan kita karena beranggapan memberi Puti semua kemewahan akan menyenangkannya. Namun, justrus apa yang kita lakukan menghancurkannya secara perlahan” mereka semakin mengeratkat pelukan itu untuk saling menopang hati mereka yang seakan remuk memikirkan apa yang mungkin terjadi jika ia tidak bebetulan pulang karena ada berkas yang tertingal di rumah mereka. Menyaksikan bagaimana putri yang ia begitu cintai ingin mengahiri hidupnya karena semua stes yang ia alami karena mereka. Bagaimana ia akan menghadapi putrinya untuk kemudian hari. Pasti akan sulit untuk mengembalikan senyuman pada wajah ayu gadisnya. Saling menguatkan lewat dekapan hangat untuk mendukung rapuhnya hati air mata atau isakan tangis yang coba mereka redam agar tidak menarik lebih banyak pengunjung. Waktu terus berjalan sampai hari kepulangan Puti tiba. Ia pulang dijemput oleh kedua orang tuanya. Sangat mengejutkan hal tersebut dapat terjadi, ia berfikir mungkin akan supir atau orang suruhan orang tuanya seperti biasa. Walau dengan wajah yang sangat terkejut ia hanya menurut naik mobil dalam keheningan yang dirusak oleh kedua orang tuanya dengan banyak obrolan kecil. Seolah ingin menunjukan mereka sebagai keluarga. Semua hal yang diimpikan pemilik tubuh ini, gadis yang tampak sangat sedih duduk dalam kesendirian dengan keadaan gelap. Ia hanya bisa memandangi gadis itu, bibirnya tampak mengatakan sesuatu tapi tidak ada yang dapat ia dengar. Rasanya ia pernah mengalami hal yang sama dalam kehidupanya yang lalu.


25 Akhirnya mereka sampai, gerbang besar itu terbuka dengan sendirinya hal yang membuatnya tabjuk dengan teknologi di zaman ini. Rumah dibalik pagar ini sangat besar dengan segala kemegahanya. Betapa kesepiannya gadis ini dalam rumah sebesar itu tampa adanya kehangatan keluarga. Ibunya tidak mau jauh darinya, membantunya dalam setiap Tindakan yang ia lakukan. Seakan ia merupakan berlian yang perlu selalu digaja dengan hati-hati. Ia tidak menolak semua perhatian dan tatapan lembut sang ayah. Mencoba membiasakan diri dengan segala kehangatan keluarga yang begitu dinantikan gadis ini. Ia tidak akan menolak semua itu, namun ia juga merasa kurang enak hati dengan semua perhatian ini. Walau bagaimanapun ia merasa salah kalau mencoba menjauh dari keluarga yang mencoba menjadi utuh setelah pecah berkeping-keping. Senyum yang coba ia ukir begitu sulit untuk terbentuk di wajahnya enah berapa lama gadis ini tidak menunjukan senyumnya. Sehingan wajahnya terasa sangat kaku untuk berekpresi. Kini ia sudah berada di kamar yang ia yakanin merupakan kamar yang akan ia tempati mualai sekarang. Semuanya tampak normal bahkan terlalu normal untuk kamar gadis yang depresi dengan semua pemikiran buruknya. Ia memandang kesegala arah melihat meja belajar dengan banyak tumpukan buku novel fiksi yang ia tau dari ingatan gadis itu dalam kepalanya. Ayah dan ibu nya terus menatapnya dengan lembut sebelum keluar, sebelum menutup pintu kamar ia mendengar ibunya mengatakan agar keluar untuk makan siang nanti yang ia balas dengan anggukan seta senyum tipis. Ia duduk bersimpuh pada karper yang tergelar dekat kasurnya, menyandarkan keningnya pada Kasur yang begitu empuk terasa. Ia memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah ia akan menjalani kehidupan seperti gadis ini atau menjadi dirinya sendiri.


26 Hanyut dalam pikiranya ia tertidur pulas, ia Kembali merasa dejavu melihat tama dengan banyak bunga di depannya. Tapi bukan pemuda yang ia lihat kali ini melainkan gadis yang ia Yakini merupakan pemilik tubuh yang ia tempati kini. Posisi membelakangi yang familiar ia memandang tanganya, menatap pakaian yang ia kenakan. Saat itulah ia menyadari bahwa ini merupakan tubuh asalinya. Kembali ia memandang kedepan dengan sedikit tersentang ia menatap pemandangan didepanya. Gadis itu sedang menatapnya dengan binar ceria dimatanya. “ aku sanagt senang mengetahui bahwa ayah dan ibu sangat mencintaiku” suaranya begitu halus sampai hanya terdengar seprti bisikan semata. “ kalau begitu kembalilah mereka menunggu mu” gadis itu hanya menggeleng sebagai respon dari ajakannya.


27


28 “lihat!, sekarang kamu pemilik tubuh itu, lakukan semua yang menurutmu adalah dirimu. Jangan mencoba menjadi aku yang bukan kamu. Aku yakin ayah dan ibu akan tetap mencintai dirimu sebagaimana mereka mencintaiku.” Angin berhembus pelan menerpa rambutnya yang sedikit menghalangi pandangan. “ jaga ayah dan ibu untukku, perlakukan mereka seakan mereka adalah orang tuamu sendiri. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja” Kembali aku mendengar suara lembutnya. “lalu bagaimana dengan mu? Apa yang akan kamu lakukan?” gadis di depanku tersenyum kemudia mulai berbalik menjauh. “ aku akan tinggal Bersama kakek disini, jadi bangunlah ibu sudah memanggilmu” setelah mendengar kata-kata tersebut aku tersentak kaget. Benar saja ibu sudah ada dihadapanku dengan tatapan yang kahwatir. Apa aku mengigau begitu parah kenapa harus memandangku seperti itu. “ sayang apa kamu mimpi buruk?, keringatmu banyak sekali. Ayo kita makan dulu cuci mukamu biar lebih segar ibu dan ayah akan menunggu di meja makan.” Dengan itu ibu keluar kamar meningalkanku dalam keheningan. “ menjalani kehidupan kedua dengan menjadi diri sendiri, menjadi aku yang original bukankah itu akan terlalu mencolok di zaman ini? Apalagi dengan sikap gadis-gadis di zaman ini sangat bobrok aklaknya” renggutku mengingat betapa tidak sopannya gadisgadis dalam ingatan pemilik tubuh ini. Kemudian semua berjalan sebagaimana mestinya. Orang tuaku mencoba menjaga suasana hangat keluarga dengan berbagi hal yang menyenangkan. Sampai aku merasa terbiasa dengan perhatian mereka. “ nak berhubung kamu sudah pulih kapan kamu akan mulai ke sekolah Kembali?.” “ Da, Puti baru pulang mungkin biarkan istirahat lebih lama jangan membicarakn sekolah dulu”


29 “ semunya terasa baik-baik saja sekarang, bukankah ayah dan ibu juga harus berkerja? Jadi besok aku akan mulai Kembali ke sekolah” “ sayang kamu yakin mau langsung sekolah besok? Ibu tidak apapa kalau kamu mau istirahat beberapa hari lagi” “ dengarkan ibumu kalau begitu, bagaimana nak? Pekerjaan bisa kami tunda untuk sementara waktu. Kita bisa liburan sebagi keluarga” Ibunya tampak mendukung argumen sang ayah dengan pandangan meyakinkannya untuk Kembali membolos. Bahkan ia belum pernah bersekolah seperti ini juga sebelumnya tapi mendapat ingatan gadis pemilik tubuh benar-benar membuatnya semakin pahit. Mengetahui hubungan buruknya dengan semua teman sekolahnya tidaklah menyenangkan. Apalagi harus menghadapi semua perbedaan kebiasaan dengan kehidupanya yang lalu. “ aku tau ayah dan ibu ingin keluarga ini utuh Kembali, jadi kita tidak perlu terburuburu akan apapun. Masih banyak hari lain untuk mengisi waktu keluarga kita yang telah lewat. Jadi, mari kita mulai dengan perlahan bagaimana?.” Setelah mengatakan itu ia merakan pelukan dari kedua orang tuanya, tidak lupa pula segala macam syukur yang dilontarkan ibu dengan iringan air mata yang dapat kurasakan. Ayah tampak begitu bangga akan apa yang baru saja ku ucapkan. Suasana menjadi tenang hening seakan tuli tidak ada yang benar-benar dapat ku dengar. Ini adalah kehidupanku yang baru. Suasana yang jelas sangat berbeda dari yang dulu ku jalani. Namun apa yang akan benar-benar berubah dalam perjalananku yang baru?, Gadis Minang akan tetap menjadi gadis minang dimanapun ia berada. Aku yang akan membuktikanya, betapa Anggun dan eloknya pesona Gadis Minang.


30


31 Derap Langkah beriringan dengan melodi yang bersemangat. Pagi ini merupakan tahun ajaran baru dengan semangat baru. Begitulah mereka mengatakannya, dan begitulah kelihatannya dari senyuman dan saling sapa seakan mereka sudah berpisah begitu lama. Sebagai bagian kecil dalam kelompok ini tentu ia juga cukup bersemangat. Bukan karena ia memang sangat menyukai bentuk sekolah ini. Tapi menjalani kehidupan persekolahan tidak seburuk yang ia bayangkan. Masih teringat awal ia menginjakan kaki di sekolah ini, semua orang terus mengawasi Langkah yang ia ambil. Seakan benda aneh melekat di wajahnya atau ia memakai seragam yang batik di hari senin. Wajah mereka seakan kagum dengan bisikan menanyakan siapa dirinya atau apakah ia merupakan anak baru di penghujung tahun ajaran. Walau sedikit banyaknya ia mengerti dengan pandangan menghakimi itu. Mau bagamanapun penampilannya sangat berbeda sehinga wajar mereka memandangnya sebanyak ini. Ia hanya pura- pura tidak peduli dan membalas pandangan mereka dengan senyuman kecil. Wajah mereka langsung memerah dengan sikap gugup yang aneh. Sampai di depan pintu yang ia Yakini sebagai kelasnya saat ini dengan menghirup nafas Panjang sambil mengeluarkannya perlahan ia membuka pintu dengan hati-hati. Begitulah yang ia rencanakan sebelum pintu itu terbuka dengan sendirinya. Dihadapannya kini berdiri seorang siswa dengan wajah kaget karena melihatnya ia langsung mundur dengan pekikan kaget kalau bukan karena suasana yang agak tengang ia akan menertawakannya. Kini perhatian kelas tertuju padanya, ia tidak membenci itu sama sekali tapi menempati tubuh ini sekarang rasanya seakan ia sedang dihakimi lewat pandangan menilai dari mereka semua. Untuk mengurangi rasa gugup yang entah kapan ia miliki, tampa mempedulikan perhatian berlebihan teman sekelasnya ia pergi menuju tempat duduknya di bagian belakang sudut kanan dekat jendela. Senyaman-nyamanya ia pada kesunyian ini sudah cukup berlebihan, sambil menghembuskan nafas yang entah kapan ia tahan tanganya mulai menarik kursi kebelakang meletakan tasnya pada sandaran kuri dan mulai menduduki kursi dengan tenang. Semua itu diperhatikan semua teman sekelasnya seakan itu merupakan pertunjukan yang sangat menarik.


32 “ jadi..” ia mulai mengeluarkan suara dapat didengarnya pekikan lucu lain dari temantemanya. “…selamat pagi kalau begitu” diiringi dengan senyum simpul yang mendapat rspon aneh dari teman-temanya. Sepertinya ia membuat memreka bingung. “ hmm permisi kamu siapa ya?” “ bukankah sekarang cukup aneh menerima siswa baru di pernghujung tahun ajaran?” “ kenapa kamu tidak datang Bersama guru? Ini bangku sudah ada yang menempatinya” “ ya kalau mau duduk di sana kami juga tidak keberatan tapi nanti orang ya duduk di sini bisa marah loh” “dari sekolah mana sebelumnya?” “kenapa pindah sekolah di penghujung semester?,” Banyak pertanyaan yang terlontar dari mulut teman-temanya bahkan sebelum ia dapat menjelaskan apapu mereka terus mengoceh tampa henti sehinga ia hanya membalas semua pertanyaan itu dengan senyuman gugup. “ oi! Jangan mengajukan pertanyaan secara mambabibuta padanya. Biarkan ia menjelaskan keadaannya dari pada kalian mengoceh terus” salah satu siswa mengambil inisiatif untuk menghentikan pertanyaan beruntun itu. Ia memberikan senyum terimakasih padanya. “ ini Puti, Puti Tanjung. Bukankah ini kelasku?, bagaimana kalian bisa lupa hanya karena aku tidak menghadiri kelas selama beberapa hari?” setelah mengatakan itu kelas menjadi heboh dengan pekikan tidak percaya dari mereka semua. Sebelum ada yang bisa melontarka pertanyaan apapun bel berbunyi, pertanda kelas akan segera dimulai. Semua pertanyaan yang akan mereka lontarkan Kembali mereka telan. Kelas berjalan sebagaimana mestinya, walau tetap ada banyak pandangan penasaran dari temannya bahkan guru yang mengajar juga tampak bingung dan tabjuk dengan dirinya. Sunggu ia tidak pernah membenci perhatian tapi sekali lagi tubuh ini tidak menyukainya.


33 Kembali kesaaat sekarang ini hari-hari berjalan baik menurutnya begitu. Sebagian siswa mengeluh dengan nilai mereka atau orang tua mereka yang meminta mereka meningkatkan nilai pendidikannya. Ada yang mengeluh tentang rendahnya nilai dari guru tertentu yang mereka bilang sangat pelit. Bahkan ada yang begitu tidak menyukai wali kelasnya karena membokar semua kelakuan mereka pada orang tuanya. Terkadang ia merasa terlalu santai atau memang orang tuanya yang benar-benar ingin ia nyaman dengan suasana keluarga yang hangat. Ia sempat syok melihat semua catatan dan buku-buku yang ia miliki. Semuanya tampak kacau di beberapa sisi dengan coretan yang entah apa maknanya. Tapi saat ia melihat catatannya yang lain itu tampak lebih baik dan saat ia mulai mabacanya entah kenapa ia mengerti dengan sangat isi yang terkandung di dalamnya. Ya setia orang punya caranya sendiri dalam belajar jadi ini pasti salah satunya. Disaat pengambilan rapot dengan mengejutkan kedua orang tuanya menghadiri acara tersebut. Bahkan teman sekelasnya juga heran dengan kehadiran mereka. Saat giliranya maju kedepan guru walinya sangat bersemangat tentang betapa baiknya ia menjalani pembelajaran. Wajah Bahagia dan penuh rasa syukur mengiringi setia pencapaianya. Orang tuanya juga menanggapinya dengan sangat antusias sampai ia merasa malu sendiri dibuatnya. Kenangan itu buyar saat seorang teman menyentuh bahunya. “ Puti masih pagi udah bengong aja kesabet ntar loh” ucapnya dengan nada main-main.


34 Tampilannya masih seceria biasa dengan bando aneh di kepalanya yang berwarna merah. Ia memakai jaket kuning sebagai pelengkap seragamnya. Rambut berwana merah muda halus dengan potongan pendek. Sebagai siswi ia termasuk yang agak bandel dengan memakai rok lumayan pendek walau sering ditegur guru ia selalu pandai berkilah yang ujung-ujungnya tetap memakai rok pendek yang lain. “ sangat bersemangat seperti biasa ya, Anu “ sahutku dengan nada bercanda yang ia balas dengan dengusan tidak suka karena mengodanya. “ hei jangan dipotong namaku jadi terdengar aneh tau, yang lengkap napa Anulika gitu jangan Anu aja, kan aneh” ia mulai merekeng seperti anak keci yang mendapat perhatian dari beberapa siswa yang lewat karena suaranya yang melengking.


35


36 “ Ok ini masih pagi jadi sebaiknya kita masuk kelas” balasku sambil Kembali berjalan. “ aku liat pr biologi ya semalem ketiduran” ia mulai merayu dengan alasan yang selalu sama setia saat. “ ya terserahlah lihat saja jadi berhenti merengek dan mulai berjalan ke kelas pagi ini dengan Pak Anton kan?, ku dengar dari bisikan senior beliau galak jadi ayo cepat” aku mulai berjalan cepat dengan Anulika yang mengikuti di belanngku. Tampa melihatnya saja aku tau ia sedang tersenyum sumbringah sambil melompat kecil seperti bocah dikasih permen saja. Baru mencapai Lorong sudah banyak yang menyapa orang yang beriringan jalan dengangku. Seperti disetiap dua Langkah kami harus berhenti karena banyak siswa yang menyapanya. Bukan hanya menyapa tapi tentu dengan obrolan rendom bahkan nulai antusias disaat-saat tertentu. Sungguh rasanya perjalanan menuju kelas terasa sangan Panjang karena ini. Berdiri disampingnya membuat aku mau tidak mau menyapa teman-temanya juga. Bahkan hampir tidak ada yang aku kenal banyak adik kelas bahkan kating juga menyapanya. Jadi wajar kalau aku tidak mengenali Sebagian besar dari mereka. Setelah menempuh perjalanan yang begitu pendek namun membutuhkan waktu seumur hidup kalau mau melebih-lebihkan. Tapi ia tidak pernah membenci semua itu, mungkin karena menurut ingatannya Anulika adalah orang yang benar-benar tulus mendekatinya sebagai teman. Selebihnya hanya bertindak sebagi teman kalau ada maunya saja. Jadi setelah ia yang memiliki tubuh ini untuk diatur dan dijalankan sesuai seperti apa adanya. Ia mulai meninggalkan teman toxic tersebut. Memang membutuhkan waktu sedikit tapi ia berhasil menyingkirkan mereka. Dikehidupannya sebelumnya ia hanya menerima perilaku baik dari setiap orang. Tidak aka nada yang berani mengusiknya atau berkata buruk padanya. Seberapa pun ia berbuat baik pasti tetap ada yang membencinya kususnya para gadis di desanya dulu. Terkadang ia merasa tidak pernah benar-benar meiliki teman dalam hidupnya.


37 Kakeknya terlalu memanjakannya dengan segala sesuatu, sehinga itu membuat banyak pihak iri walau tidak ada yang menunjukan dengan terang-terangan. Terkadang aku berharap terlahir dikeluarga sederhana yang berkecukupan tampa memiliki kedudukan dalam masyarakat. Tapi, aku selalu bersyukur dengan kehidupan yang diberikan tuhan padaku. Bahkan untuk kehidupan kedua tau apapun orang menyebutnya. Sesampai di kelas suasana sangat ricuh karena keributan tentang tugas atau kegiatan tambahan yang akan mereka ambil sepulang sekolah. Biasanya kelas akan diam kalau guru sudah datang. Seakan tidak pernah ada keributan suasana langsung hening seketika. Anulika seperti biasa ia akan mulai berjalan dari satu bangku ke bangku lainnya untuk menyapa semua teman sekelas dengan ceria. Menanyakan apa yang mereka lakukan atau apa yang akan mereka lakukan nanti. Sangat menyenangkan melihat matahari kelas selalu menyinari pagi kelas. Setelah selesai dengan semua sapaannya Anulika Kembali menuju bangkunya belum gena pia duduk sudah berdiri lagi sambil berjalan ke arahku. “ Puti mana buku tugas biologimu aku salin dulu” dengan semangat ia mengutarakan maksutnya. Tampa banyak bicara aku menyerahkan padanya, dengan senyuman yang ia balas tidak kalah lebarnya. Kemudian ia Kembali ke bangkunya dengan semangat mencatat atau mengobrol dengan beberapa siswa yang menghampirinya. Kelas sangat menyenangkan untuk beberapa hal dan sangan membosankan untuk hal tertentu. Awalnya aku begitu sulit untuk menjalani keseharian ini, dengan banyaknya berpedaan dalam kebiasaan dantatkrama. Ia ingat saat pertama kali menginjakan kaki di sekolah ini. Cara mereka berpakaian terkadang membuatnya merasa sangat aneh, seperti mereka memakai rok atau celana yang terlalu pendek menurutnya sampai yang mengenakan baju terlalu melekat ketubuhnya. Bahkan ia yang melihatnya merasa sesak napas. Tapi ia memilih diam karena hanya ia yang merasa tidak nyaman. Dalam kehidupanya yang lalu anak gadis tidak ada yang memakai pakaian terbuka atau terlalu ketat karena akan menghalangi banyak kegiatan. Seperti menaiki tangnga Rumah Gadang yang cukup melelahkan kalau harus selalu tersandung karena memakai rok yang


38 terlalu ketat. Jadi ia mulai mempertanyaan apa yang mereka capai dengan memakai pakaian menyusahkan seperti itu. Dengan berat hati ia hanya bisa diam untuk sekarang ini, bahkan dengan segala kerisihannya memandang temannya Anulika dengan rok pendek itu ia hanya bisa mengeluh dalam hati ada apa dengan perubahan zaman. Ia mulai melihat banyaknya perbedaan dalam perilaku masyarakat terkadang ia terkesan tidak jarang ia mengelus dada karena tidak nyaman. Kelas Kembali berjalan sebagai mana mestinya dengan semangat dan keluhan yang hampir sama setiap harinya. Setelah bel istirahat berbunyi kelas langsung berhamburan keluar menuju kanti atau kemanapun mereka inginkan. “ ayo ke kantin puti sebelum kita kehabisan pastel Uniang Tatik” dengan penuh semangat Alunika menarikku menuju kantin. Walau aku perotes seperti apapun ia akan tetap melakukannya. “ jangan terlalu bersemangat nanti tersandung aku tidak mau jatuh bersamamu Anu” kataku dengan nada main-main. “ jangan mulai menggodaku lagi Puti, rok ku baik-baik saja. Lagian sejak pulang dari perjalananmu kamu jadi berubah banyak seakan jiwamu sudah bertukar saja. Padalah kamu juga pakai rok yang sama dengan ku dulu jadi jangan mengeluh terus.” Dengan nada merajuk Anulika terus mengiringiku. Untuk mengingat seperti apa tampilanku dulu terkadang membuat malu bahkan untuk sekedar membayangkannya. Setelah melewati beberapa erhentian teman seperti biasa untuk Anulika kami sampai di Kantin yang sudah ramai. Aku mendengan keluhan dari bibir teman disebelahku yang kubalas dengan senyuman saja. Mau bagaimanapun ini merupakan tempat favorit siswa, dengan segala jenis makanan guris yang menggugah selera. Anulika langsung membawaku menuju meja yang kosng di ujung Kantin dengan semangat Anulika memintaku untuk menjaga tempat ini dengan ia yang akan memesan makanan untuk kami. Tentu aku tidk masalah dengan apapun itu, sambil menunggu Anulika aku memperhatikan sekelilingku ada banyak siswa yang


39 mengobrol, ada yang tertawa begitu semangat dengan candaan yang entah apa. Terkadang ia merasa bukan pada tempatnya, semua terlalu berbeda terlalu asing baginya. Hal yang paling ia syukuri adalah Ayah dan Ibunya yang merupakan keturunan Minang asli. Sehinga ia tetap akan merasa dekat dengan dirinya yang dulu, orang tuanya merantau saat ia berusia delapan tahun. Semua merekalakukan dengan tekat yang begitu kuat, keinginan untuk membuat hidup menjadi lebih baik selain itu tentu saja melihat dunia dengan lebih terbuka. Merantau selalu menjadi cirikha masyarakat Miangkabau. Ia selalu melihat semangat kompetitif pada setiap perantau di desanya dulu. Kakeknya selalu bercerita kalau orang Minang mrantau untuk mencari pengalaman di negeri orang. Kalau dilihat dari kacamata masyarakat di zaman ini mungkin mereka akan berpikiran buruk seperti orang Minang merantau karena sudah memiliki banayk relasi atau orang dalam makanya mereka apat sukses di Nagari Urang. Padahal orangMinang yang merantau hanya membawa badan dan tekat kuat untuk sukses. Mereka begitu mempercayai tuhan yang maha esa untuk setiap Langkah dan perjuangan mereka. Orang Minangkabau disetiap langkahnya akan menyesuaikan diri dengan patokan hidup, dima bumi dipijak disinan langik dijunjuang. Kemampuan menyesuaikan diri inilah yang membuat perantau Minang bisa sukses dimanapun ia berada. Semakin jauh ia dari kampung Ranah Minang semakin besar rasa kerindua yang akan mereka miliki. Baik dikehidupan sebelumnya atau dikehidupannya yang sekarang ia selalu menyakini itu. Pembuktian yang ia liaht adalah orang tuanya sendiri. Seperti apapun jarangnya ia melihat tapi kedua orang tuanya terkadang menitikan air mata saat mendenggar lagu-lagu tentang Ranah Minang. Ia selalu ingin memeluk mereka tapi tentu itu akan membuat orang tuanya malu, jadi ia hanya akan memandang dengan senyum teduh pada orang tuanya lalu Kembali ke kamar dalam diam. Lamunanya Kembali buyar dengan kedatangan Anulika yang membawa banyak makanan ditemani beberapa orang yang aku Yakini temanya yang lain atau hanya ia mintai tolong membawakan makanan kami.


40 “ baik aku duduk di sini terimakasih sudah membantu, kalau mau silahkan duduk Bersama kami juga” dengan semangat yang selalu empat lima Anulika menawarkan meja kami. Tapi mereka menolak karena harus menghadiri pertemuan dengan temanya dari club seni. “ kami ada pertemuan ingat?, jadi sebaiknya kami pergi dulu kamu juga harus datang Anulika jagan ngak datang pula” “ia terlambat boleh ngak datang jangan” “ tentu aku akan datanga setelah makanan lezat ini berlayar ke kampus selatanku” “ istilah aneh lainya, baiklah kami pergi dulu Anulika dan teman nya juga sampai jumpa” “ aku akan datang tenang saja “ balas Anulika dengan semangat yang tidak pernah pudar. “ Puti ayo makan yang banyak biar cepat besar” Anulika berkata dengan humor. “ aku bukan anak kecil yang akan tumbuh besar dengan banyak makan Anu” balasku dengan nada kesal main-main. “ ayolah jangan panggil aku Anu lengkap-lengkap napa Puti jahat deh” dengan rengek an yang menyebalkan Anulika mulai mengoceh betapa Namanya akan terdengar aneh. “ berhentilah mengoceh cepat makan bukankah kamu akan ada pertemuan dengan club senimu. Jangan sampai tidak datang dan aku yang jadi kambing hitam ketidak hadiranmu itu.” Jelasku dengan pelan sebelum aku mulai makan denan tenang. “ terkadang aku heran denganmu, apa pergi berlibur dengan orang tuamu begitu berpengaruh seakan kamu mendapatkan jiwa gadis bangsawan tata bicaramu, gestur tubuhmu, caramu berpakaian, bicara bahkan bergaulpun seakan kamu bukan kamu.” Gumam Anulika sambil memakan nasi uduk dengan mulut penuh. Piti hampr tersedak makanan nya sendiri mendengar apa yang dikatakan Anulika. Apa ia begitu jelas dengan semua perubahan itu. Walau mendapat pandangan sekilas dari Anulia ia Kembali melanjutkan makannya tampa banyak merespon.


41 Mencoba mengalihkan perhatian Anulika dengan mengingatkan tidak baik bicara sambil makan. “ jangan berguman saat mulut penuh nanti tersedak.” Baru selesai Puti mengatakan itu Anulika langsung terbatuk-batuk, dengan sigap ia mengambilkan segelas air untuknya. “ baru dibilangin…” ucapnya sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan temannya ini. “ aduh untung nasinya ngak masuk idung” gerutu Anulika sambil batuk-batu kecil. “ ayo makan yang tenang” ajak Puti sambil meneruskan makannya. “ Puti kalau aku mati tersedak kamu akan jadi orang pertama yang akan aku hantui” “itu tidak akan terjadi, sebelum kamu mencoba menghantuiku ada dua malaikan yang akan menanyaimu dulu dalam kubu”\ “ kok jadi serius sih !?. Puti ngak sik ah !” “kalau tidak cepat makan nanti keburu habis jam istirahatnya, kita bisa debat lagi nanti” “aku akan kerumahmu dan menghabiskan semua kue yang ada dimeja tamu” “ tidak bisa ingat kamu ada jam kerja pulang sekolah” “ ah sial benar juga, ngak adil banget padahal kue di rumah mu enak” “kalau ngak enak ngapain disuguhin ketamu kalik” “tiba-tiba pengen kue kering mungki aku beli dulu sebelum maksuk kelas nanti.” Setelah itu tidak ada kata-kata lagi Anulika menurut dengan makan lebih tenang, sesekali akan mamelas saapaan siswa lain yang kebetulan lewat meja kami. Ia benar-benar memiliki banyak teman di sekelilingnya. Terkadang aku berfikir apa yang membuat kami dekat sehingga ia lebih memilih berjalan bersamaku dari pada temanya yang lain. Setelah menyelesaikan makan dan camilan yang Anulika pilih untuk kami dan membayar, kami berpisah jalan karena Anulika harus menghadiri pertemuan club seninya dan aku lebih memilih Kembali kekelas. Perjalanna akan terasa lebih singkat tampa harus


42 berhenti untuk menyapa setiap orang yang lewat. Walau akan lebih sepi juga tampa ocehan Anulika disetiap Langkah kami. Dalam perjalanan aku mendengar sorakan atau lengkingan siswi yang sangat mengganggu pendengaranku. Sehingga aku menengok kearah suara itu berasal, ternyata itu ada di lampangan bassket ada kating sepertinya dari seragam yang mereka pakai sedang bermain. Para siswi yang menontonnya sangat berisik tidakkah mereka punya harga diri untuk bersikap layaknya gadis. Kenapa mereka meneriaki lelaki seperti itu?, sungguh sulit untuk membiasakan setiap Tindakan ini dalam hidupku. Karena merasa tidak ada kepentingan dan telingaku mulai sakit rasanya jadi aku memutuskan untuk Kembali. Bahkan belum dua Langkah aku berjalan sudah menabrak orang di depanku. Bagus sekarang terdapat banyak kertas berserakan di lantai yang aku yakinin milik orang yang ku tabrak. “ maaf aku sedikit teralihkan sehingga tidak melihat kemana aku pergi” ucapku dengan rasa bersalah sambil membantu memungutu kertas yang berserakan di lantai. “ tidak masalah aku juga lengah tadi karena buru-buru” akhirnya ia mendengar orange yang ditabraknya berbicara. Dari kelihatannya ia bukan dari kelas Puti, penampilannya juga rapi dengan kacamata membingkai wajahnya yang tegas. Ia memakai semacam rompi yang kalau tidak salah merupakai bagian dari seragam yang hanya diwajibkan dipakai saat upacara saja. “ maaf karena aku jadi berantakan semuanya” sesalku saat mengembalikan kertas-kertas yang telah aku kumpulkan. Ia hanya memandangku sebentar lalu tersenyum tipis. “ bukan masalah lagi pula ini baik-baik saja tidak ada yang rusak jadi jagan meminta maaf terlalu sering…” ucapnya terjeda sesaat sebelum melanjutkan “ nah sepertinya kita belum pernah bertemu sebelumnya namaku Azada dari kelas 11-A salam kenal ya” ucapnya sambil mengulurkan tanganya padaku.


43 Aku memandangi tangan yang teruulur itu sesaat. Kenapa ia mengajak kenalas segala sih in ikan udah mepet jam masuk. Padahal capek banget pengen cepat=cepat rebahan di meja yang nyaman di kelas pakek nabrak sih ini. “halo kamu masih di sana?” sambil mengayunkan tangannya yang lain didepan wajah Puti. “ Aku Puti dari kelas 11-C salam kenal Kembali” balasku sambil menjaba tangannya yang terulur tadi. Saat aku sudah tidak merasa ada kepentingan lagi aku pamit undur diri. Namun sebelum aku dapat beranjak pergi tiba-tiba aku mendengar suara dari belakang Azada. “ kenapa masih disini Za?, kertas-kertas itu tidak bisa jaln sendiri ke kantor” kata-kata itu keluar dengan monoton diiringi kemalasan. Kemudian gadis itu memandangku. “ halo apa dia menganggu mu? Dia terkadang memang menyebalkan” lanjut gadis itu diiringi protesan kecil dari Azada. “ tidak, tadi aku yang menabraknya” ucapku dengan nada bersalah. “ kalau begitu ayo kita pergi masih banyak yang harus diurus” dengan itu Azada pergi begitu saja meninggalkan aku dan gadis yang belum kuketahui Namanya ini. “ hmm kenapa dia yang tampak marah sih?, ya sudah sampai ketemu lagi ya namaku Dhatu” dengan lambaian malas ia mulai berbalik setelah dua Langkah ia Kembali menengok kearahku sambil bertanya, “ oh iya siapa namamu?” lanjutnya dengan tatapan malas yang sama. “ aku Puti dari kelas 11-C salam kenal” dengan sedikit lambaian tangan aku membalasnya yang ia respon dengan senyum tipis kemudia pergi melanjutkan jalannya. Dhatu merupakan gadis dengan pakaian yang tertutup ia memakai kemeja lengan Panjang dengan hijab, sangan sedikit siswi yang memkai hijab di sekolah ini. Bisa dibilang baru dia yang ku lihat mengenakan hijab. Cara bicaranya seakan benar-benar malas hidup tapi tidak mau mati. Walau begitu ia sangat ramah dengan gesturnya aku tau dia anak yang baik. Mungkin memang sifatnya saja yang pendiam.


44 Setelah itu semua yang merupakan kejadian diaman aku berinteraksi dengan siswa asing aku sampai di kelas, yang ternyata Anulika sudah duduk dengan gelisah di bangkunya. Setelah melihatku ia langsung menghampiriku. “astagah darimana saja Puti!?, ku fikir kamu ngasar atau ada anak iseng yang ngangguin kamu” sambil mengguncang bahuku dengan heboh yang ditanggapi teman sekelasku dengan tertawa jenaka. Tentu semua pertanyaanya ku kujawab dengan sebagiman mestinya. Setelah semua penjelasan ia Kembali tenang, terkadang ia seperti kakak yang terlalu mengkahwatirkan adiknya yang baru mulai sekolah dasar. Kembali pada waktu Puti melewati lapangan bassket tampa ia sadari salah seorang pemain memperhatikan kehadiranya. Pemain itu sedang duduk di bangku cadangan karena terlambat datang. Ia sedang meminum sebotol air saat itu, kebetulan saat akan pergantian pemain ia melihat Puti dengan tidak sengaja. Karena penampilan Puti yang cukup berbeda dari siswi lainnya sehingga ia akan tampak mencolok. Berhubung ia masuk kelapangan ia berharap kalau Puti akan menyaksikan permainannya. Jadi ia coba menampilkan beberapa trik yang membuat para siswi menjerit histeris. Namun saat ia memperhatikan lagi ternyata gadis yang menarik perhatiannya sudah tidak terlihat lagi. Walau dengan semua sorak-sorai yang ia dapatkan sama sekali tidak membuatnya senang. Banyak teman sepermainannya yang menggodanya karena menarik banyak siswi menonton mereka yang ia tanggapi dengan godaan yang sama. “ woi Basil emang loh ya dasar cowok ganteng banyak penggemaar” ucap seorng teman sambil meninju main-main bahunya. “ kalau ada ni anak pasti yang nonton tiba-tiba jadi membludak” “bikin iri aja dah lo, pacaran gih biar penggemar lo berkurang” “ia sapa tau ada gitu yang nyantol sama gw sisanya”


45 Teman-temannya terus memborbardirnya dengan pertanyaan yang tidak penting menurutnya. Walau begitu ia hanya tertawa dengan antusias merangkul semua temannya. “dah lah gw laper mau cari makan dulu.” Dengan itu Basil buru-buru meningalkan rombongan bassketnya. Walau dengan sedikit usaha ia berhasil melewati kerumunan penggemarnya. Ia harus cepat kalau ingin menyusul gadis yang ia lihat tadi. Setidaknya mungkin bisa bikin insiden kecil biar mereka bisa kenal. Mungkin pura-pura tabrakan nah itu yang sering terjadi dalam drama Korea kan. Jadi mari kita lihat keberuntunganku. Setelah melewati tikungan diujung Lorong sepertinya ideku sudah dipakai orang lain. Lihatlah didepan ku sudah tersuguh adengan drama Korea yang paling parah itu dengan ketua osis lagi. Jelas kalau diliat dari manapun si ketua osis merupakan anak kesayangan guru dengan semua keformalannya. Sedangkan aku?, langganan guru bk karena sering cabut. Hedeh lawan berat ini mah. Kesal karena ideku dicuri aku memutuskan untuk bersikap sksd aja kali ya biar tetap dapat kesempatan buat kenalan. Tapi bahkan belum sempat terlaksana udah datang lagi orang yang lain. Gadis itu bahkan terlihat tidak memiliki semangat hidup, apa pekerjaan anggota osis menumpuk padanya ya? Udah lah kebanyakan mikir sebaiknya aku menyusul sebelum mereka pergi. Kesialan mungkin memang sedang bersahabat denganku baru juga melangkah sudah ditabrak sampai jatuh lagi. “oh maaf” dengan nada tidak niat aku mendengar orang yang di depanku ini menatapku dengan pandangan meremehkan. Sungguh menyebalkan kenapa harus bertemu dengan orang ini dalam keadaan begini sih?. Dewi Fortuna ku lagi liburan ya sial banget dah. “dari semua masyarakat bumi kenapa harus ketemu mahkluk kayak lu si?” ucapku sambil mengibas debu yang menempel pada pakaianku. “makanya jangan berdiri di situ, coba lu ngak berdiri di situ ngak bakalan ketabrak juga” seakan ingin mencari masalah ia mulai mempropokasi.


46 “lu kenapa banyak omong banget sih” jari telunjukku mengacung kewajahnya yang ia tanggabpi dengan dengusan sambil mendorong tanganku menjauh. “hmm..?” balasnya dengan wajah arogan yang membuat perempatan imajiner semakin banyak di pelipisku. Sebelum aku dapat membalasnya ia pergi begitu saja. Ingin rasanya mengupati sikapnya itu, apalagi dengan penampilannya yang sekarang sudah seperti preman saja. Rambutnya gondrong yang entah bagaimana caranya menghindari guru bk yang rempong itu. Kemudian apa-apaan dengan tindik di telingannya itu?. Padahal dulu ia baik-baik saja. “ sebenarnya apa yang terjadi sejak kejadian itu? Bin semakin hari semakin aneh saja sikapnya. Padahal Ayahnya sangat menghawatirkan keadaannya.” Aku mengusak-usak suraiku hingga berantakan kemudia melanjutkan niat awalku. Seharusnya begitu sampai bel berbunyi dan tujuan awalku harus hilang tidak terlihat lagi “dasar gara-gara lo ni Bin !, gagal dah gue kenalan sama tu cewek. Dahlah balek kelas aja” dengan itu aku melupakan niat awal untuk mengejar gadis tadi. Ya semoga kita bertemu lagi, dan semoga tidaak bertemu dengan pangeran neraka macam Bin yang akan menghancurkan semua wibawaku. Dari sudut pandang Bin yang kini sedang menuju Gudang di belakang sekolah ia memiliki wajah yang tampak sangat kesal. Tanganya terkepal erat hingga kukunya memutih, walau ia terhibur dengan perdebatan konyolnya dengan teman masa kecilnya . tidak mengobati setiap kata-kata yang diucapkan ayah padanya tempo hari. Ia tidak pernah membenci sosok ayah dalam hidupnya tapi sejak kejadian itu ia mulai menjauh dari mereka semua. Satu-satunya orang yang ia anggap sebagai teman juga mulai menjadih menyebalkan. Ia terus membela oaring tuanya dengan menyuruhnya pulang tampa mengerti seperti apa keadaannya. Mulai dari kejadian itu hubungan persahabatan mereka mulai memudar. Setia pertemuan selalu berat dengan propokasi yang ia mulai. Sesampainya di Gudang ia mulai bersandar pada dinding yang menghalangi pandangan orang untuk melihat kegiatannya. Tangan kanannya ia masukan kedalam saku untuk


47 mengambil benda bungkus bersegi denga isi yang tinggal sebatang saja. Mendesah Lelah ia menyelipkan rokok itu dikedua belah bibirnya. Menyalakan korek dengan api yang kucup keci, sepertinya mulai kehabisan daya. Belum lagi rokok itu terbakar sudah ada yang merebut benda perusak itu dari bibirnya. Ini membuatnya sangat kesal sampai ingin memaki orang yang sudah berani mengganggu kesenanganya. “ jadi ini orang yang sering buang puntung rokok sembarangan di sini” kata-kata itu terdengar sangat monoton dengan sedikit efek malas di dalamnya. “ bukannya aku peduli dengan kesehatanmu atau kesejahteraan waktu belajarmu. Karena ini sedikit menyusahkan ku juga jadi bisa berhenti merokok di sini.” Itu tidak terdengar sebagai permintaan melaninkan perintah mutlak. “ ngapain sih cewek ke sini jam pelajaran lo ngebolos juga ya cari tempat laen kalau ngak suka asap rokok” dengan niat ingin Kembali merebut rokoknya yang masih berada ditangan cewek tidak dikenalnya itu. Dengan menghela nafas berat iya mengambil tangan kanan Basil sambil meletakan rokok yang tadi ia ambil. “ aku tidak peduli lo mau ngerokok kek mau jungkir balik atau kemah sekalian di Gudang ini kagak penting buat gue tapi jangan ninggalin sampah susah mungutnya apalagi puntung rokok “ lalu gadis itu berbalik pergi begitu saja meningalkan Bin yang tercengang dengan


48


49 Tindakan gadis asing tersebut. Dengan kesal ia menghidupkan rokok kemudian menghirupnya dengan kuat sekuat ia menghembuskan asap putih Kembali. Setelah menghabiskan rokok itu ia berniat membuang puntungnya namun terhenti saat melihat tanda pengenal tergeletak didekat kakinya. Ia dengan kesal melempar puntung itu keluar pagar kemudian mengambil papan nama tersebut. “ hmm kayaknya punya cewek tadi deh, ini Dhatu? Aneh banget Namanya. yang jelas ni cewek mau ngak mau bakalan berurusan sama gue” dengan itu ia meningalkan Gudang menuju kelasnya yang lumayan jauh dari Gudang. Pada waktu yang berbeda kita melihat di sebuah kelas seorang siswi baru saja memasuki kelasnya dengan santai. Walau ada guru yang sudah mengajar di dalamnya seakan ia tidak terlihat. “Dhatu tanda pengenalmu mana?, osis bukannya wajib make ya?” kata seorang teman di sebelahnya saat melihat Dhatu duduk. Mendengar perkataan itu ia langsung memeriksa dan benar saja ia telah kehilangan tanda pengenalnya. Sepertinya ketingalan disuatu tempat atau terjatu dengan tidak sengaja. Wajahnya tidak menunjukan kecemasan sama sekali dengan santai ia menghadap temanya. “ mungkin terjatuh di suatu tempat, nanti akanku cari mudah-mudahan sudah ditemukan dan ia berbaik hati mengembalikannya kepadaku.” “ semoga saja, lagi pula kalau mau buat baru juga bakalan butuh waktu lama.” balas temannya. “ah iya juga kurang kerjaan banget emang kalau cuman buat satu aja palingan kalau pun iya harus barengan sama anak kelas satu” “ya kalau mau cepat sih bisa pakai biaya tambahan tapi lo mana mau kalau rugi” “tu tauk “ dengan memutar matanya malas Dhatu mulai meninggalkan percakapan mereka. Dengan tenang Dhatu mulai mengeluarka buku yang ia perlukan dalam pelajaran kali ini. Matematika, sungguh begitu menyenangkan di tengah hari yang terik ini. Masalah tanda


50 pengenal itu bisa diurus nanti. Lagi pula siapa siswa kurang kerjaan yang mau menyimpan benda itu, apa lagi bukan miliknya. Pelajaran berlanjut dengan banyak keluh kesah betapa membosankannya matematika di penghujung hari. Seakan hidup dipengasingan waktu begitu lambat berjalan, Sebagian siswa sudah mulai kehilangan focus, ada calon seniman yang sedang membuat steksa pada halaman belakang buku. Calon pematung handal yang sedang memahat sudut meja dengan penggaris. Calon musisi yang sedang mengarang bait syair indah untuk dinyanyikan. Semuanya tampak asik sendiri denga napa yang mereka minati sampai bel kebebasan berkumandang. Kelas tampak senang dengan berahirnya penyiksaan konsentrasi yang mereka alami. Setelah diizinkan untuk pulang oleh guru yang mengajar mereka mulai bersemangat melanjutkan hari. Tampaknya kantuk yang tadi mereka rasakan sudah hilang seakan tidak pernah ada. “Puti kamu habis ini mau kemana lagi?” tanya Anulika dengan penuh energi positif yang menyilaukan. “hmmm?, ya pulang ngak ada kegiatan juga kan” balas Puti seadanya, dengan memasukan buku terahir dalam tasnya ia beranjak dari singgah sana nyamannya. “ya masak mau langsung pulang sih, nongkrong dulu yuk di ruang club seni? Temenin aku bentaran.” Rengek Anulika sambil menarik-narik lengan Puti dengan lembut. “ kamu mah mana ada yang sebentar kalau udah mulai mengang kuas mah ngak bakalan berhenti sampai kamu selelsai.” “masak sih rasanya ngak deh.” Dengan wajah berfikir Anulika meletakan jari telunjuknya di dagu sambil mataya melihat keatas. “ yak amu mah mana sadar, aku yang harus nunggu yang ngerasain.” Ucap Puti dengan sebal. “ hehe.. mana ku tau ya maaf deh kalau gitu, jadi kamu pulang sendiri donk aku harus pergi kumpul dulu soalnya.” Serunya dengan rasa bersalah.


Click to View FlipBook Version